(AR) The Sister

FF Sifany Poster - The Sister

Title: The Sister

Author: @janisone

Main cast:  Tiffany Hwang – Lauren Hanna Lunde – Choi Si Won

Support cast: Jessica Jung

Length: Oneshoot

Genre: Family, Romance

Rating: 15

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan. Cerita ini murni hasil kerja kerasku.

Happy Reading!

“Tidak, Appa! Aku tidak mau. Ini gila!”

Seorang gadis berusia sekitar 25 tahun tampak beradu argument dengan seorang pria paruh baya dihadapannya. Diantara keduanya, terlihat seorang gadis kecil nan manis yang sejak tadi hanya diam menyaksikan apa yang dua orang dewasa itu lakukan.

“Coba Appa pikir, apa tanggapan orang-orang saat  mereka melihatku bersamanya. `Omo! Fany-ah, siapa ini? Apa dia anakmu? Kapan kau hamil? Kami bahkan belum menerima undangan pernikahanmu`…” Tiffany mempraktekkannya dengan ekpresi terkejut yang berlebihan.

“Mereka tidak akan berpikir sejauh itu. Mereka belum melihatmu hamil apalagi menerima undangan pernikahanmu jadi, jelas kalau dia bukan anakmu…”

“Lalu Appa ingin aku berbuat apa? Mengatakan kalau dia adalah adikku? Diumurku yang segini? Siapa yang akan percaya?…” Gadis berambut hitam itu melipat tangannya dengan kesal.

“Fany-ah, Appa mohon. Hanya kau yang bisa Appa andalkan. Coba kau ingat, kau baru dua kali bertemu dengannya, bukan? Appa harap dengan ini, kalian bisa menjadi lebih dekat…”

“Justru itu, Appa. Kami tidak dekat dan akan sangat canggung nantinya…”

“Lauren anak yang manis dan penurut. Kalian akan cepat akrab kalau kau memperlakukannya dengan baik…” Tambah sang Appa. Terus berusaha untuk meyakinkan putri sulungnya tersebut. Gadis bernama Tiffany Hwang itu membuang muka.

“Aku sudah putuskan. Sekali tidak tetap tidak!”

“Apa maksudmu? Dia adik kandungmu sendiri bukan orang lain…” Tuan Hwang tampak lelah. Dia tidak habis pikir kenapa putri sulungnya bersikap seperti ini.

“Kenapa harus aku, Appa? Selama ini dia baik-baik saja di Amerika. Kenapa sekarang dia harus tinggal denganku?…”

“Appa sangat sibuk di kantor, Fany-ah. Appa tidak sempat mengurusnya. Bibi Grace sudah terlalu tua untuk bekerja…”

Tiffany mendengus lalu menghempaskan tubuhnya disofa dengan kasar. Matanya menatap sebal sosok mungil yang duduk pada sofa lain diruangan itu.

“Appakan bisa mencari pembantu baru?…” Tiffany tetap pada pendiriannya. Bagaimana pun juga dia tidak ingin bocah itu tinggal bersamanya. Itu akan sangat mengganggu dan merepotkan.

Tuan Hwang menghela nafas. Sifat keras kepala putri sulungnya itu membuatnya sangat pusing.

“Kalau begitu Appa juga sudah putuskan. Mulai hari ini, Lauren akan tinggal bersamamu. Appa akan kembali ke LA sekarang juga…”

Tiffany terperangah tak percaya. Jadi orang itu jauh-jauh datang kesini hanya untuk memberinya beban berat ini? Tuan Hwang tersenyum lembut menatap putri bungsunya yang duduk manis disofa.

“Lauren, mulai sekarang kau akan tinggal dengan Fany Unnie. Jangan nakal dan sekolah-lah yang rajin. Appa akan sering-sering menelfonmu…”

Anak itu mengangguk manis. Rambutnya yang dikepang ikut menari seiring gerakan kepalanya.

“See you, dear…”

“See you, Dad…” Tiffany mencibir melihat adegan perpisahan ayah dan anak itu.

“Appa akan pulang sekarang. Appa percaya kalau kau akan menjaganya dengan baik…”

Tiffany memalingkan wajahnya. `Jangan banyak berharap.` batinnya sebal. Setelah Tuan Hwang meninggalkan rumah, kaki kecil Lauren melangkah mendekati gadis cantik nan jutek yang duduk bersedekap disofa.

“Sist, I`m hungry…” Ucapnya. Tiga belas jam perjalanan Amerika-Korea membuatnya lapar. Apalagi di pesawat dia tidak sempat makan karena ketiduran.

“So?…” Tiffany jengkel. Akan sangat menyebalkan jika bocah itu menyuruhnya memasak. Memasak untuk diri sendiri saja dia tidak pernah apalagi untuk orang lain?

“Make a plate of spaghetti for me, please…” Pintanya dengan nada memelas. Meyakinkan kakaknya itu kalau dia benar-benar kelaparan. Tiffany membuang muka.

“Tidak ada spaghetti …”

“Pizza?…”

“Tidak ada…”

“Hamburger?…”

“Ya! Kau pikir ini restoran?…”

Mendapat bentakan itu, Lauren menunduk sedih. Tiffany menatapnya sebal. Sesaat kemudian dia menghela nafas. Dia tidak ingin anak itu menangis dan membuat keributan. Dia menyukai ketenangan.

“Sudah, kau duduk saja disitu…” Suruh Tiffany. Dia segera beranjak menuju dapur untuk melihat makanan apa yang bisa dimakan. Pertama, dibukanya kulkas. Isinya penuh dengan sayuran, daging, susu, roti dan segala macam yang ia butuhkan untuk membuat makanan. Tiffany menggeleng. Dia tidak akan memasak. Jelas ia tidak bisa.

Tiffany menutup kulkas. Dia beralih untuk membuka lemari dan…

“Ah, ini saja…”

***Sifany***

Pipi chubby Lauren mengembung. Matanya menatap malas semangkuk makanan yang dihidangkan Tiffany.

“Waeyo, kau tidak suka?…” Tiffany bertanya. Bukankah anak itu lapar? Kenapa masih menunggu?

“Sist, it`s…”

“Ya! Berhenti bicara dalam bahasa Inggris. Ini Korea bukan Amerika. Bicara dengan bahasa Inggris tidak hebat disini. Kalau kau tetap ingin melakukannya, kembali saja ke Amerika sana…” Lauren mengerucutkan bibirnya.

“Unnie, mi instan tidak baik untuk kesehatan…” Katanya memberi tahu. Tiffany memutar bola matanya.

“Kau pikir, burger itu makanan sehat? Cepat makan atau aku akan membuangnya ke tempat sampah…”

Lauren mengangkat kedua tangan mungilnya. Menahan tangan Tiffany yang sudah ingin mengambil alih mangkuk berisi mi instan tanpa irisan daun bawang dan telur itu.

“Oke. Aku akan makan…” Ucapnya pelan. Dengan ragu diambilnya sumpit dan mulai memakannya.

Tiffany tersenyum. Cukup menyenangkan melihat bocah itu kesal dan merengut karenanya.

Sebenarnya, bukan tanpa alasan Tiffany membenci adiknya sendiri. Dia tidak menyukai anak kecil. Bagi Tiffany, anak kecil itu hanya akan membuatnya pusing. Mereka menyebalkan, suka mengganggu dan sebagainya. Apalagi dia adalah anak satu-satunya selama 19 tahun. Dia merasa ada yang hilang ketika anak itu hadir. Belum lagi kenyatakan pahit dimana sang Oemma harus mengorbankan dirinya bagi sang anak.

Nyonya Hwang meninggal setelah melahirkan Lauren. Dia mengalami pendarahan hebat dan tidak tertolong. Diusianya saat itu memang berbahaya dan sangat tidak dianjurkan untuk hamil. Namun Nyonya Hwang sangat menyukai anak kecil dan ingin memiliki anak yang banyak. Tapi sepanjang pernikahan mereka hanya ada Tiffany. Ketika Lauren hadir, dia tidak akan menyia-nyiakannya meski harus mengorbankan dirinya.

Awalnya, Tiffany tidak keberatan dengan kehamilan sang Oemma karena tahu kalau Oemmanya sangat menantikan hal tersebut. Tuan Hwang juga rutin menemaninya kerumah sakit untuk kontrol dan semacamnya. Tiffany rasa, semua usaha itu akan membuahkan hasil yang baik tapi kenyataannya malah sebaliknya.

Tifffany menghela nafas panjang. Dia tidak ingin mengingat hal yang menyakitkan dalam hidupnya itu lagi.

“Waeyo, Unnie?…” Lauren bertanya ketika melihat wajah muram sang kakak.

“Kau makan saja. Setelah itu masuk ke kamarmu dan tidur…”

“Aku harus menulis diary sebelum tidur, Unnie…” Tiffany menghela nafas.

“Terserah…” Tiffany beranjak meninggalkan meja makan. Lauren yang ditinggal tersenyum senang ditempatnya.

“Akhirnya aku bisa melihat Unnie setiap hari…”

***Sifany***

“Sist, wake up! Unnie, irronaaa!”

Lauren terus membangunkan Tiffany sementara sang kakak tetap terlelap diranjang. Tidak ingin siapa pun mengganggu hari liburnya yang berharga.

“Unnie, irona!” Lauren meloncat-loncat diranjang empuk Tiffany. Seolah-olah ia tengah bermain trampolin di rumah lamanya.

“Unnieeee!”

Pluk!

Anak berusia 6 tahun itu terdiam ketika sebuah bantal menghantam wajah super cutenya. Sang pelaku malah tidak peduli dan kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.

“Huhu, Appa. Unnie memukulku, Appa…”

Tiffany benar-benar frustasi. Dia duduk dari posisinya lalu menatap tajam Lauren yang menangis disampingnya.

“Huhuuu…”

“Ya, diamlah!” Hardik Tiffany.

“Huaaa…” Bukannya diam malah tangis palsunya makin kencang. Tentu saja itu pura-pura. Tidak ada air mata disana.

“Lauren!”

“Aku…hiks…aku akan adukan pada Appa. Unnie melemparku dengan benda keras. Huhuu…”

“Ya! Benda selembut ini kau bilang keras?…” Tiffany menunjukkan bantal lembut yang ia gunakan untuk melempar Lauren. Anak itu tersenyum sinis.

“Memangnya Unnie pikir Appa akan lebih percaya siapa?…”

Tiffany berdecak. `Sial` batinnya. Tentu saja Appanya akan lebih percaya bocah itu. Lauren tersenyum manis. Ia menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Tiffany.

“Unnie, temani aku jalan-jalan, ne? Aku ingin ke taman pagi ini…” Pintanya manis.

“Tidak mau. Kalau kau mau, minta temani saja pada Kim Ahjumma. Dia akan ada disini di pagi hari untuk membersihkan rumah dan menyiapkan makanan…”

Shiro! Unniekan dirumah, apa salahnya?…” Lauren tetap bersikukuh kalau Tiffany-lah yang harus menemaninya. Lagi pula dia tidak melihat siapa pun dirumah sejak semalam selain mereka berdua.

“Tentu saja salah. Ini hari liburku dan kau malah mengganggu…”

Tiffany kembali berbaring. Menutup tubuhnya dengan selimut dan bersiap untuk melanjutkan tidurnya.

“Terserah Unnie saja. Aku akan menelfon Appa dan menyuruhnya untuk memblokir kartu kredit Unnie…”

Tiffany terduduk seketika. Matanya menatap kesal Lauren yang berlari keluar kamar. Meski dia memiliki beberapa kartu kredit tapi dari Appanya adalah sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

“YA!”

***Sifany***

“Kau kepanasan, pororo-ya? Mianhe, tapi ini panas pagi. Bagus untuk kesehatanmu…” Lauren mendorong kereta bayi miliknya. Dimana diatas kereta itu terdapat sang boneka kesayangan.

Tiffany? Dia duduk disebuah bangku taman. Memperhatikan bocah itu dari jauh. Sungguh, hal seperti ini membuatnya bosan. Dari pada menunggu anak-anak bermain yang selesainya entah kapan, tentu lebih baik baginya tidur. Atau menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Tapi dia juga tidak akan tega meninggalkan Lauren. Walau dia tidak suka tetap saja ia tidak akan meninggalkan anak itu sendiri ditempat ini.

“Unnie, pororo sepertinya lapar…” Tiffany menarik nafas pelan.

“Lauren, dia benda mati dan tidak memerlukan makanan…”

“Dia temanku, Unnie. Beri dia makan juga…” Lauren menarik-narik rok Tiffany agar kakaknya bangkit dan membelikan beberapa makanan untuknya dan pororo. Tiffany menjauhkan tangan Lauren darinya.

“Lauren, bisakah kau tidak merengek-rengek seperti ini? Aku pusing. Sekarang kau main saja sana…” Usir Tiffany lalu mulai sibuk dengan I-phonenya. Lauren mencibir kesal. Tak mau berlama-lama disini, dia memilih mendorong kereta bayinya dan pergi.

Lauren menghentikan kereta bayinya disebuah pohon yang cukup rindang. Dipandanginya bonekanya dengan perasaan bersalah.

“Mianhe, pororo-ya. Unnieku tidak mau membelikanmu makanan. Dia memang galak dan tidak suka denganku. Tapi kau tidak perlu khawatir, dia Unnieku yang baik dan cantik…” Lauren menghela nafas pelan.

“Hanya saja dia sedikit pemarah…”

Lauren mengambil pororo lalu menggendongnya. Dia duduk dibangku taman sambil memeluk erat sang boneka. Sejujurnya, ia tidak terbiasa sendirian seperti sekarang. Selama ini ia selalu ditemani Bibi Grace yang ada kapan dan dimana pun untuknya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena perempuan itu sudah terlalu tua untuk mengurusnya.

Saat sang Appa ingin mencari pengasuh baru untuknya, Lauren menolak. Dari dulu, dia sangat mengagumi kakaknya, Tiffany. Dia tidak pernah ingat kapan mereka bertemu. Tapi dia selalu melihat Tiffany dari foto. Oleh karena itu, dia meminta pada Appanya agar ia bisa tinggal bersama Tiffany.

Lauren sangat senang karena sekarang ia sudah bertemu dan tinggal bersama kakaknya. Tidak peduli bagaimana sikap gadis itu terhadapnya. Bagi Lauren, ada hal yang tak ternilai ketika melihat mata Tiffany. Berada didekatnya membuat Lauren merasa lebih dekat dengan seseorang  yang amat ia rindukan.

Tiba-tiba sebuah ice cream muncul tepat didepan wajah Lauren. Gadis kecil itu mendongak. Melihat siapa yang memberikannya ice cream rasa strawberry berlapis cokelat tersebut.

Lauren mengerutkan dahinya. Seorang pria, tinggi dan sangat tampan berdiri dihadapannya. Tapi dia merasa tidak mengenal sosok tersebut.

Pria itu tersenyum dengan lesung pipi yang menghiasi wajah tampannya.

“Tadi ku dengar boneka-mu lapar, mungkin dia mau ice cream?…” Pria itu berujar.

“Ne. Tapi tetap saja, dia tidak bisa memakannya…” Lauren mengusap kepala boneka-nya dengan wajah cemberut.

“Kalau begitu untukmu saja…” Lauren kembali mendongak.

“Untukku?…” Tanyanya memastikan. Pria itu mengangguk.

Waeyo, kenapa Ahjussi sangat baik padaku?…”  Pria itu tertawa mendengar panggilan yang diberikan Lauren padanya.

“Gadis manis, aku tidak setua itu. Aku baru 28 tahun, panggil aku Si won Oppa…”

“Si won Oppa?…”

Pria bernama Choi Si won itu mengangguk. Diraihnya tangan kanan Lauren lalu menyerahkan ice cream itu disana.

Gumawoyo, Si won Oppa…”

Lauren tersenyum sangat manis. Mulai dijilatinya ice cream itu dengan lahap. Si won yang memperhatikannya tertawa lalu mengacak rambut anak itu gemas. Kemudian ia ikut duduk disebelah Lauren.

“Siapa namamu?…”

“Lauren…”

“Lauren? Anak blasteran?…”

Ne. Aku baru pindah kemarin. Aku dari LA…” Si won tersenyum. Mendengar kata Los Angelos mengingatkannya pada seseorang.

“Kenapa Oppa tersenyum?…”

Ne? Aniyo. Oppa hanya teringat dengan seseorang yang Oppa sukai. Dia juga berasal dari LA dan  sangat galak seperti Unnie-mu…”

Jjinja?…” Si won mengangguk.

“Apa dia cantik?…”

“Tentu saja cantik…” Si won menjawab pasti.

“Unnieku juga sangat cantik…”

Lauren tak kalah bangga. Si won tersenyum dan mengacak rambut anak itu lagi. Dia tidak tahu kenapa mudah sekali akrab dan terbuka dengan anak yang baru dikenalnya itu. Tapi mungkin obrolan ini baik untuk melepas penatnya setelah lelah dengan pekerjaan.

“Tadi ku dengar kau bicara tentang Unnie-mu yang galak dan pemarah…” Ujar Si won sembari memperhatikan Lauren yang memakan ice cream-nya dengan lahap. Dia memang mendengar semuanya karena ia berada dibalik pohon yang tadi sempat Lauren singgahi.

Ne. Unnieku sangat pemarah, Oppa. Dan dia tidak suka padaku…”

“Mwo? Wae?…”  Si won tampak penasaran. Bagaimana mungkin ada kakak yang seperti itu?

“Dia tidak suka anak kecil karena anak kecil menyebalkan…” Si won mengernyit. Sedetik kemudian ia tertawa.

“Alasan konyol macam apa itu?…” Tanya Si won tak habis pikir. Lauren tak menjawab. Ia sibuk menghabiskan ice cream-nya yang tinggal sedikit lagi.

***Sifany***

Tiffany melirik jam tangannya. Sudah hampir siang tapi anak itu belum juga kembali. Aish! Tiffany menghentakkan kakinya. Segera dicarinya keberadaan Lauren. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada anak itu karena dialah yang akan disalahkan Appanya nanti.

“Hahaha. Hentikan, Oppa. Geli…” Tiffany menghentikan langkahnya saat mendengar tawa itu. Seperti suara Lauren. Tapi siapa yang dipanggilnya Oppa?

Perlahan langkah Tiffany mendekati arah suara. Adiknya itu tampak asyik tertawa sambil berkejaran dengan seorang pria dewasa dipinggir danau. Tiffany menelan ludah. Apa yang sedang dilakukan orang itu bersama adiknya? Mereka saling kenal? Atau ini merupakan modus dari penculikan?

Tunggu, Tiffany sepertinya mengenal figure itu. Tapi siapa?

“Unnie…”

Lauren memanggil Tiffany kala ia melihat sang kakak berdiri tak jauh dari tempatnya dan Si won. Tiffany memperhatikan sosok tinggi yang masih membelakanginya itu. Secara bersamaan, pria tersebut juga berbalik kearahnya. Dan itu artinya, Tiffany dapat melihat dengan jelas siapa pria itu.

“Si won?…”

Mata Tiffany membulat sempurna. Ia sangat terkejut melihat pria itu ada dihadapannya. Dengan cepat Tiffany berbalik, berniat untuk pergi atau bahkan lenyap dari tempat itu. Tapi sayang, Lauren memanggilnya.

“Kenapa Unnie pergi tanpa mengajakku?…” Tanyanya.

Tiffany berdecak sebal. Dengan terpaksa dia berbalik. Lalu mendekat dengan wajah super juteknya. Si won tersenyum lebar dan berdiri disamping Tiffany. Dia cukup terkejut melihat gadis yang selalu menghindarinya itu kini mau mendekat.

“Jadi ini, Unnie-mu yang pemarah itu?…” Tanya Si won. Lauren mengangguk.

Ne. Waeyo, Oppa?…”

Aniyo…” Si won menatap mata Tiffany lembut.

“Aku tidak percaya ini. Kita bertemu dan saling tatap dari jarak dekat?…” Tiffany tersenyum kecut.

“Yeah. Dan kau menikmatinya, bukan?…”

“Itu artinya kita memang berjodoh. Kau saja yang terlalu gengsi untuk mengakuinya. Belum terlambat, kau bisa mengakuinya sekarang…” Tiffany tertawa pelan. Kepalanya mendongak untuk menatap pria tinggi itu.

“Ini masih siang, Tuan Choi. Bangunlah dari mimpimu…”

Si won tertawa. Tentu dia merasa lucu melihat wajah kesal Tiffany. Tak mau berlama-lama mendengar tawa menyebalkan pria itu, Tiffany memilih meninggalkannya dan segera mendekati Lauren.

“Lauren, ayo pulang…”

Shiro. Aku masih ingin bermain dengan Si won Oppa…” Lauren beralih mendekati Si won dan menggenggam tangannya. Tiffany mengepalkan tangannya saat Si won menyeringai senang.

“Ya, sudah. Kau pikir aku peduli?…”

Tiffany berbalik dan segera pergi. Lauren menunduk kecewa. Dia jelas sedih Tiffany berkata seperti itu. Apa Tiffany benar-benar tidak menyukainya?

Si won berjongkok kemudian memegangi kedua bahu Lauren.

“Pulanglah, nanti Unnie-mu marah…”

“Tapi aku masih ingin main bersama Oppa…” Cemberutnya.

“Kita bisa bermain lagi nanti. Oppa akan datang ke rumahmu…”

“Oppa tahu dimana rumahku?…”

“Tentu…”

Lauren tersenyum senang. Setelah pamit dia segera pergi menyusul Tiffany. Tak lupa dengan kereta bayi serta boneka kesayangannya. Si won tersenyum kecil memperhatikan keduanya dari kejauhan.

“Kau tidak berubah, Fany-ah…”

***Sifany***

Tiffany menutup pintu pagar setelah Lauren masuk dengan kereta bayinya. Dia mendengus melihat pemandangan yang menyebalkan itu. `Untuk apa bermain dengan benda mati?` pikirnya.

“Lauren…”

Ne, Unnie…” Lauren menatap Tiffany yang jauh lebih tinggi darinya.

“Kenapa kau bisa bersama Si won?…”

“Si won Oppa? Jadi Unnie sudah kenal dengan Si won Oppa?…”

“Kenapa malah balik bertanya? Jawab saja pertanyaanku…” Lauren mencibir sebal.

“Tadi Si won Oppa mendengar pembicaraanku dan Pororo. Pororo lapar tapi Unnie tidak mau membelikannya makanan…” Ceritanya dengan wajah sedih. Tiffany mendengus. Berlebihan sekali bocah ini.

“Lalu? Si won membelikan benda bodoh itu makanan?…” Lauren makin cemberut. Tak suka Tiffany menyebut teman kesayangannya benda bodoh.

“Pororo tidak bodoh, Unnie. Dia temanku…”

“Aish! Terserah kau saja…” Tiffany meninggalkan keduanya dihalaman rumah dan segera masuk.

Lauren terdiam ditempatnya.

“Pororo-ya,  jangan marah, ne? Fany Unnie sebenarnya ingin mengatakan kalau kau tampan tapi dia malu, hihi…”

Lauren dengan cepat masuk kedalam rumah karena matahari mulai terasa panas dikulit putihnya.

“Selamat datang, Agasshi…” Lauren mendapati seorang perempuan paruh baya didalam rumah mereka.

“Lauren Agasshi? Aigo, Anda manis sekali…” Perempuan itu mendekat untuk menyamakan tinggi mereka. Semalam, dia sudah mendengar dari Tiffany kalau adiknya akan tinggal disini. Sebab itu dia datang lebih pagi untuk menyapanya.

Lauren memperhatikan wanita yang mendekatinya itu dengan seksama. Merasa tak mengenalnya lantas ia bertanya.

“Ahjumma siapa?…”

“Ah, saya Kim Ahjumma. Ahjumma yang membersihkan rumah ini dan menyiapkan makanan untuk Tiffany Agasshi. Sekarang untuk Lauren Agasshi juga…” Kim Ahjumma menerangkan.

Jjinja?…” Lauren melompat senang. Dia tidak akan bertemu dengan mi instan lagi, bukan?

“Aigo, hati-hati Agasshi. Anda bisa terluka…”

“Ahjumma juga akan menyiapkan makanan untuk pororo, bukan?…”

“Pororo?…” Kim Ahjumma melihat boneka dalam kereta bayi disamping Lauren. Dia tersenyum kemudian mengangguk.

“Tentu, Agasshi. Ahjumma akan menyiapkan makanan untuk kalian semua…”

“Yeay…” Lauren bersorak senang.

“Ayo, Agasshi. Kita ke kamar untuk mandi kemudian sarapan…”

Ne, Ahjumma. Pororo-ya, kajja…”

***Sifany***

Mwo? Adikmu Lauren ada di Seoul? Sejak kapan?….” Jessica bertanya penasaran.

“Appa mengantarnya semalam. Kau tahu apa yang paling konyol? Dia bahkan langsung pergi setelah mengantar bocah itu…”

Jessica tersenyum saja. Dia tahu kalau Tiffany dari dulu memang menjaga jarak dengan yang namanya anak-anak. Terlebih setelah ada Lauren.

“Boleh aku berkunjung? Terakhir aku melihatnya tiga tahun lalu ketika aku berkunjung ke rumah kalian dimalam tahun baru. Dia pasti makin menggemaskan…”

Jessica tampak antusias. Namun dia terdiam saat tahu kalau Tiffany menatapnya tak suka. Gadis itu memukul lengan sahabatnya pelan.

“Ya, dimana-mana semua anak kecil itu menyenangkan. Kau calon Ibu dan harusnya kau menyadari itu, Fany-ah…” Tiffany memutar bola matanya tak peduli. Sekarang jam makan siang. Mereka sedang berada disebuah cafe tak jauh dari butik mereka.

“Sekarang dimana dia?…”

Nugu?…” Tiffany kembali menatap Jessica setelah melihat ke sekeliling café yang ramai oleh pengunjung.

“Tentu saja adikmu, bodoh!” Sebal Jessica. Gadis itu hanya berguman `Oh`. Menyebalkan sekali, bukan?

“Di rumah…”

“Sendiri?…”

Anni. Dia bersama Kim Ahjumma…”

“Kim Ahjumma? Bukankah Kim Ahjumma pulang setelah ia menyiapkan makan siang? Kenapa kau meninggalkannya sendirian dirumah? Kenapa tidak kau ajak ke butik?…”

“Hanya untuk hari ini. Lusa dia sudah masuk sekolah. Lagi pula dia akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir…”

Jessica hanya mengangguk. Mungkin benar mengingat rumah Tiffany terletak disebuah perumahan elit yang pengamanannya sangat terpercaya. Tapi tetap saja, Lauren pasti kesepian jika sendirian.

***Sifany***

Kaki kecil Lauren menyusuri setiap sudut rumah untuk mencari keberadaan Tiffany. Seingatnya kakaknya itu sudah pulang beberapa jam yang lalu. Setelah makan malam kakaknya menghilang entah kemana. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Tiffany sebab semalam mereka juga tidak mengobrol banyak. Sepulang dari butik kakaknya langsung tidur dan paginya kembali bekerja.

“Apa Unnie berenang? Tapi inikan sudah malam?…”

Lauren membawa pororo digendongannya menuju kolom renang dibelakang rumah. Sepi dan tidak ada siapa pun disana. Lauren baru akan beranjak dari sana ketika dia melihat ruangan yang berhadapan langsung dengan kolom renang. Dalam ruangan berdinding kaca itu dia bisa melihat Tiffany. Wajah sang kakak tampak serius dibalik meja kerjanya.

Lauren dengan cepat kembali masuk ke rumah. Langkahnya menuju pintu yang ada di sebelah kanan.

Lauren menyentuh knop pintu. Tidak terkunci. Dia pun membukanya kemudian masuk. Langkah kaki kecilnya terdengar halus pada lantai parquet berwarna cokelat itu.

“Unnie…”

“Oh my gosh…”

Tiffany terkejut seketika. Dia mengepalkan tangannya sebal. Kenapa bocah itu muncul dan mengganggu pekerjaannya?

Lauren berjinjit dengan tangan bertumpu pada meja. Ia ikut melihat apa yang Tiffany lakukan dengan pensil dan kertasnya.

“Aku tidak mengerti kenapa gambar seperti itu bisa membuat pakaian bagus…”

Tiffany tertawa singkat. Anak itu sedang mengejek gambarnya atau apa?

“Tentu saja kau tidak akan mengerti…” Cibir Tiffany lalu kembali pada apa yang sedang ia lakukan. Dia cukup sibuk untuk produk baru musim mendatang.

Lauren memilih melihat-lihat setiap isi ruangan itu. Ada sofa lengkap dengan meja  yang penuh dengan tumpukan majalah fashion. Ambalan-ambalan juga menempel pada dinding dengan berbagai macam bunga dan miniatur yang menghiasinya. Sebuah foto Tiffany berukuran besar juga terpajang disalah satu sisi ruangan. Foto berwarna hitam putih itu hanya memperlihatkan wajah serta punggung bagian atasnya.

“Seperti seorang model saja…”

Mworagu?…” Lauren menatap Tiffany dengan sedikit terkejut.

“Unnie mendengar sesuatu? Aneh sekali, aku tidak mengatakan apapun…” Kilahnya. Tangannya bergerak untuk meraih sebuah kotak kecil berlapis kaca. Kalung indah yang ada didalam sana membuatnya penasaran. Tapi belum sempat ia menyentuhnya, Tiffany sudah memperingatkannya.

“Ya. Jangan sentuh barang-barangku. Semua benda yang ada disini berharga, jadi jangan pernah masuk ke sini tanpa seijinku, arasso?…”

Lauren mendengus. Dengan wajah merengut sebal ia mendekati sofa. Berbaring disana dan mulai asyik bermain dengan pororo.

Tiffany menghela nafas. Kali ini bukan karena Lauren atau pun ulah anak itu. Tapi benda yang terletak rapi disudut ruangan. Setelah sekian lama ia kembali melihat dan mengingat benda itu. Sebuah kenangan yang diberikan seorang pria padanya. Pria brengsek lebih tepatnya. Aish! Kenapa benda itu masih ada disana? Dan kenapa semenjak bertemu pria itu semua yang telah mereka lalui bersama kembali muncul? Benar-benar menyebalkan dan membuatnya pusing. Harusnya ia sudah membuang benda itu sejak dulu.

Tiffany menggeleng dan kembali fokus pada sketsanya yang hampir jadi.

“Lauren, masuk ke kamarmu dan tidur. Besok kau harus masuk sekolah…” Tidak ada jawaban. Tiffany menoleh dan mendapati anak itu sudah tertidur disofa.

“Astaga, Lauren!”

***Sifany***

“Unnie, palli. Aku harus ke sokalah hari ini, Unnie!” Tangan kecil Lauren terus menarik selimut yang menutupi tubuh kakaknya. Merasa terganggu, Tiffany pun menepis tangan Lauren darinya.

“Aish!” Anak itu merengut sebal sebab Tiffany memperbaiki letak selimutnya untuk kembali tidur.

“Unnie, aku harus ke sekolah hari ini…”

So?…” Tanya Tiffany serak. Bahkan mata indahnya enggan terbuka.

“Unnie harus mengantarku ke sekolah…”

Tiffany berdecak sebal. Bagus sekali. Kemarin anak itu membangunkannya untuk diajak jalan-jalan. Dan sekarang anak itu ingin ia mengantarnya ke sekolah? Kenapa Appanya tidak menugaskan seorang babysitter untuk mengurus bocah itu?

“Kau bersiap saja. Nanti aku antar…” Lauren tersenyum cerah.

Jjinjayo, Unnie?…”

“Hmm…” Sahut Tiffany malas. Ditariknya selimutnya lebih dekat.

Lauren keluar dari kamar dengan senang hati. Dia segera masuk ke kamarnya untuk mandi. Jika dulu dia dibantu oleh Bibi Grace setiap saat, sekarang ia harus mengurus dirinya sendiri. Bahkan untuk makan saja dia harus memohon dulu pada kakaknya yang pemarah itu. Kim Ahjumma memang tidak bisa selalu diandalkan karena ia baru datang pukul sembilan pagi untuk membersihkan rumah. Kemudian pulang setelah menyiapkan makan siang sekaligus makan malam.

Begitu selesai dikamar mandi, Lauren segera memakai seragam sekolahnya. Dia akan memulai sekolahnya di TK yang baru. Rasanya cukup menyenangkan mulai sekolah dan punya banyak teman.

Lauren berlari kecil menuju tempat sepatunya. Dipakaikannya kaos kakinya dengan rapi lalu memakai sepatu. Setelah itu, ia meraih tas punggungnya dan siap berangkat. Anak itu tersenyum melihat dirinya yang sudah rapi dicermin. Dengan cepat ia keluar dari kamar dan membuka pintu kamar Tiffany. Begitu masuk, wanita yang merupakan kakaknya itu masih meringkuk nyaman diranjang.

“Unnie, aku akan menelfon Appa dan kau akan kehilangan kartu kreditmu!”

***Sifany***

Lima belas menit Tiffany selesai bersiap. Ditutupnya pintu rumah dan menghampiri Lauren yang menunggu diteras.

Kajja…” Ajaknya seraya berjalan cepat menuju mobil. Lauren mendengus dan bangkit mengikuti Tiffany.

“Unnie, kita tidak sarapan?…”

“Nanti aku akan membelikan roti untukmu dijalan…”

Lauren masuk ke mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Tiffany. Setelah anak itu duduk dengan nyaman, Tiffany pun menutup pintu. Kemudian ia segera duduk dikursi kemudi.

“Pakai seatbelt-mu…” Suruh Tiffany sembari ia meletakkan tasnya di jok belakang.

“Ini terlalu berat dan besar, Unnie…” Tiffany melirik anak itu sebal.

“Aish! Dasar anak manja…” Tiffany mendekat untuk memasangkan sabuk pengaman Lauren. Anak itu memejamkan matanya menikmati aroma segar yang dikeluarkan tubuh Tiffany.

Wae?…” Tiffany memperhatikan wajah adiknya yang tampak aneh itu.

“Unnie wangi sekali…” Ucapnya. Tiffany tersenyum.

Jjinja?…” Tanyanya dengan wajah bangga. Lauren mencibir.

Anni. Aku bohong…”

“Aish!” Tiffany mencubit gemas hidung anak itu lalu mulai menyalakan mesin. Lauren tersenyum manis ditempatnya.

***Sifany***

Gamsahamnida…”

Tiffany keluar dari sebuah toko roti dengan satu kantong penuh roti serta dua kotak susu ditangannya.

“Ini…” Lauren menerima kantong itu. Dalam perjalanan ia pun menikmati sarapannya dengan lahap. Wajarkan kalau ia lapar?

“Apa Unnie selalu sarapan seperti ini?….”

“Hanya kadang-kadang…”

“Jadi Unnie tidak akan menyiapkan bekalku?…”

“Bekal? Aku tidak sempat. Lagi pula di sekolahmu ada kantin. Kau bisa membeli makanan disana…” Jemari mungil Lauren membersihkan remahan roti dibibirnya.

“Tapi Bibi Grace selalu menyiapkan bekalku, Unnie. Appa bilang itu juga lebih baik dari pada makan dikantin sekolah…”

“Ya! Jangan cerewet. Kalau kau tidak suka kau kembali saja dengan Appamu itu…”

Lauren merengut. Pipinya mengembung dengan mulut yang mengerucut. Menggemaskan sekali.

“Unnie galak sekali…” Gumannya dan kembali mengunyah rotinya hingga habis.

***Sifany***

“Wah, sekolahnya besar sekali…”

Lauren memperhatikan gedung sekolahnya yang baru. Terlihat megah dan begitu indah. Halamannya juga luas dan teduh. Pasti menyenangkan saat bermain.

“Unnie, apa dulu Unnie juga bersekolah disini?…”

Anni. Saat seumuran-mu aku masih di LA, kau tahu?…”

Lauren mendengus dengan nada Tiffany yang agak sombong itu. Tiffany menarik tangan adiknya untuk segera masuk. Sekolah ini adalah salah satu Kinder garden terbaik di Korea. Untung saja dia tidak perlu repot mengurus kepindahan Lauren karena Appanya sudah mengurusnya.

Lauren terus memperhatikan seluruh penjuru sekolah. Benar-benar indah dan luas. Dalam perjalanan menuju ruang kepala sekolah itu, pandangan Lauren tertuju pada sosok yang berjalan di koridor. Sepertinya ia kenal orang itu.

“Unnie, ada Si won Oppa di sekolahku. Si won Oppa!”

Mwo?…”

Tiffany terkejut ketika Lauren melepaskan tangannya dan berlari menghampiri Si won. Si won yang tengah bersama seseorang pun menoleh ketika mendengar ada yang memanggilnya. Benar saja, ada seorang anak kecil sedang berlari dengan menggemaskan kearahnya.

“Lauren, kau sudah datang?…” Si won berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak itu. Dia sudah mendengar dari kepala sekolah kalau ada anak pindahan dari Amerika hari ini.

Ne. Aku akan sekolah disini. Kalau Oppa, sedang apa disekolahku?…”

“Oppa?…” Si won berdiri ketika Tiffany mendekat ke tempat mereka.

“Lauren, berhentilah bersikap sok akrab seperti ini…” Peringat Tiffany tak suka.

Wae? Kami memang sudah  saling kenal dan akrab. Bukan begitu, Lauren?…” Lauren menganggukkan kepalanya dengan bersemangat.

Ne. Majja…” Jawabnya pasti. Tiffany melipat tangannya. Pandangan matanya terlihat kesal dan tajam.

“Apa yang kau lakukan disini?…” Tanyanya dingin. Terlihat jelas kalau dia tidak suka ada pria itu disini. Si won hanya tersenyum- seperti biasa.

“Sebenarnya aku tidak ingin menyombongkan diri. Tapi karena kau sudah bertanya dengan nada seperti menginginkan aku enyah dari sini, baiklah. Sebenarnya, sekolah ini milik keluargaku…”

Mwo?…”

Tiffany sebenarnya terkejut bukan karena keluarga Si won adalah pemilik sekolah ini. Dia pernah menjadi orang terdekat Si won jadi dia tahu seberapa kaya Si won dan keluarganya. Tapi ia hanya kesal, kenapa Appanya harus memasukkan Lauren kesekolah milik keluarga Choi?

Jjinjayo, Oppa?..” Lauren tak kalah terkejut. Tapi ia sangat senang. Berbanding terbalik dengan Tiffany.

“Ck, kau pasti membelinya karena tahu kalau adikku akan bersekolah disini…” Cibirnya asal. Si won dan pria paruh baya yang ada bersamanya tersenyum menahan tawa mereka.

“Kau sangat lucu, Fany-ah…” Tiffany mengepalkan tangannya. Kenapa hatinya masih berdebar ketika Si won menyebut namanya dengan begitu akrab. Tak mau berlama-lama disini, Tiffany dengan cepat meraih tangan Lauren.

Kajja, kita harus menemui kepala sekolah…”

“Kepala sekolahnya disini, Fany-ah…” Langkah Tiffany terhenti.

Mwo?…” Ia terkejut. Pria paruh baya yang ada bersama Si won – yang sejak tadi juga dia acuhkan- adalah kepala sekolah?

Tiffany meringis dan dengan cepat memberi hormat. Si won hanya tersenyum melihatnya.

***Sifany***

Si won bersandar dikap Audinya yang terparkir dihalaman sekolah. Dia terlihat asyik menatap langit Seoul yang cerah sembari menunggu Tiffany. Setelah cukup lama menunggu, Tiffany akhirnya muncul. Gadis itu meliriknya sekilas kemudian berlalu menuju mobilnya yang terparkir disebelah mobil Si won.

“Kita saling kenal, Tiff. Tidakkah menurutmu aneh jika kita bersikap seperti orang asing?…” Tiffany menghentikan langkahnya.

“Kita memang orang asing, Si won…”

“Kau memperlakukanku seperti ini karena kejadian lima tahun lalu? Tiff, aku tidak pernah berbohong tentang perasaanku padamu…”

Tiffany berbalik. Pandangannya tertuju pada sosok Si won yang menatapnya dengan sendu.

Ne, tapi kau membohongiku. Kau menjadikanku kekasihmu karena taruhan yang kau lakukan bersama teman-temanmu! Hah…” Tiffany tertawa singkat.

“Itu sangat menjijikkan!” Kecam Tiffany. Si won merasa sangat bersalah. Berawal dari keisengannya bersama teman-temannya dia harus berakhir seperti ini dengan Tiffany.

“Aku tahu itu semua salahku. Aku minta maaf…”

“Aku sudah memaafkanmu. Boleh aku pergi sekarang?…” Si won menahan lengan Tiffany sebelum gadis itu menghilang dari hadapannnya.

“Tidak, Fany-ah. Kau belum memaafkanku. Kalau kau sudah memaafkanku, kau tidak akan bersikap seperti ini…”

“Lalu, kau ingin aku bersikap seperti apa? Kembali padamu, begitu? Tidak Si won! Kau sudah menghinaku dan melukai harga diriku. Aku membencimu!”

“Tiffany…”

“Aku harus bekerja. Aku pergi!”

Tiffany menangkis tangannya hingga terlepas dari genggaman Si won. Dengan cepat ia masuk ke mobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu. Matanya memanas. Hatinya ikut merasa panas dan rasanya akan segera meledak. Dia merindukan Si won. Terlebih setelah pria itu menyentuh kulitnya dengan hangat.

***Sifany***

Weekend. Seperti biasa, Tiffany memilih waktu istirahatnya untuk bersantai dirumah. Dia tidak memiliki agenda apa pun hari ini. Untung saja Lauren tidak merengek untuk diajak ke suatu tempat olehnya. Ngomong-ngomong, dimana anak itu?

Tiffany menemukan Lauren diruang tengah. Anak itu terlihat asyik dengan peralatan make-up dan merias wajahnya.

“Apa yang kau lakukan?…”

Tiffany menatap adiknya tak percaya. Dandanannya tampak rapi dengan bedak tipis, lipgloss berwarna pastel serta blash-on yang tidak berlebihan. Dari mana adiknya belajar hal-hal seperti itu? Kemaren Tiffany juga menerima paket dari seorang kurir. Anak itu bahkan bisa membeli baju dan sepatu secara on-line. Pasti dia sering melakukannya bersama bibi Grace selama di Amerika.

“Ya, pastikan kau menyimpannya dan membereskan kekacauan ini, aratchi?…”

“Unnie, bagaimana caranya memakai ini?…” Lauren menunjukkan maskara ditangannya pada Tiffany.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau memakai riasan?…” Bukannya membantu Tiffany malah bertanya.

“Aku akan pergi berkencan…” Tiffany tertawa seketika dibuatnya.

Mworagu?…”

“Aku akan pergi berkencan dengan Si won Oppa…”

“MWO?!”

Tit Tit

“Itu Si won Oppa…” Lauren meninggalkan maskaranya lalu mamasang bando pink miliknya. Bando itu adalah hadiah dari Appanya saat ulang tahunnya yang ke-6 sebulan lalu.

“Unnie, apa aku sudah cantik?…” Tiffany duduk disofa tanpa menjawab. Lauren mengerucutkan bibirnya kecewa.

“Pagi yang indah, bukan begitu Tiffany?…” Tiffany menatap tak suka Si won yang muncul diruang tengah rumahnya.

“Oppa, apa aku sudah cantik?…”

Lauren mengalihkan perhatian Si won. Pria dengan jeans dan hoodie biru muda itu memperhatikan penampilan Lauren dari ujung rambut sampai kaki. Dress merah muda dengan motif bunga itu terlihat manis saat ia kenakan.

“Sangat cantik, sayang. Tapi akan jauh lebih cantik jika kau menghapus riasanmu….”

Waeyo?…”

“Karena itu jauh lebih alami dan cantik…”

Lauren mengangguk paham. Dia turun dari sofa dan segera berlari menuju kamar mandi terdekat. Si won tertawa melihatnya. Pria tampan itu mengambil tempat tepat disebelah Tiffany. Wanita itu menatapnya penuh selidik.

“Hei, kau mempunyai kelainan?…” Kening Si won berlipat.

Mwo?…”

“Aku tidak peduli apa yang kau lakukan Si won tapi jebal, jangan adikku…” Si won tak kuasa menahan tawanya. Apa maksud dari tuduhan itu?

“Kau tenang saja. Dibanding adiknya aku lebih menyukai kakaknya…”

Tiffany menelan ludah gugup. Entah kenapa dia merasa seperti kembali pada lima tahun lalu. Dimana Si won sering mengatakan hal-hal yang manis dan baik tentangnya.

“Oppa…” Suara Lauren menyadarkan Tiffany akan pikirannya yang sudah melayang entah kemana.

“Oppa, apa aku sudah cantik?…”

“Wah, sangat cantik…” Pujinya seraya mendekat.

Si won mengambil sapu tangan dari saku jeans yang ia kenakan untuk mengelap sisa air diwajah cantik anak itu. Pikiran Tiffany kembali melayang. Perlakuan Si won pada Lauren sama dengan apa yang ia dapat lima tahun silam. Ketika ia menjadi kekasih pria itu.

Kajja, Oppa…” Ajak Lauren begitu Si won selesai mengelap wajahnya.

“Kau ingin ikut, Fany-ah?….”

“Jangan Oppa, inikan kencan kita. Tidak ada wanita lain yang boleh ikut…” Lauren protes tak setuju. Si won mengiyakan dengan tawa tertahan. Terlebih setelah melihat raut wajah Tiffany.

“Tapi sepertinya akan lebih menyenangkan jika kita pergi bersama…” Lauren melirik Tiffany.

“Unnie ikut dengan kami?…” Tanyanya. Gadis dengan kaos putih itu tersenyum sinis. Mengibaskan rambut hitamnya angkuh dan berlalu menuju dapur. Lauren mencibir sebal melihat tingkah sang kakak.

“Sepertinya Unnie-mu tidak ikut. Kajja…” Lauren mengangguk semangat.

Kajja…”

***Sifany***

Lauren duduk diatas bangku di halaman luas sebuah rumah. Rumah itu adalah sebuah panti asuhan. Tempat dimana Lauren melihat banyak sekali anak-anak yang seumuran dengannya.

Hari sebelumnya disekolah, Si won mengajaknya untuk jalan-jalan. Dalam agenda yang sudah diputuskan mereka akan jalan-jalan ke sungai Han, berbalanja dan mengunjungi tempat spesial. Ke sungai Han dan berbelanja sudah mereka lakukan. Tinggal sekarang mereka mengunjungi tempat spesial yang Si won janjikan. Awalnya, dia merasa agak aneh. Kenapa dia harus datang ke tempat seperti itu? Tapi setelah melihat dan mendengar apa yang terjadi, dia mengerti.

“Jadi, mereka juga tidak memiliki Oemma sepertiku?…” Suaranya terdengar parau. Matanya sibuk memperhatikan anak-anak yang bermain dengan hadiah yang tadi mereka bawa.

Si won merangkul anak itu dengan senyum diwajahnya.

“Hm. Bahkan ada yang tidak memiliki Appa, Unnie, Noona, Hyung atau Oppa…”

Lauren menatap satu-persatu wajah bahagia anak-anak yang tertawa senang saat memainkan mainan baru mereka.

“Aku beruntung masih memiliki Appa dan Unnie. Aku tidak sedih karena Oemma tidak bersamaku. Appa bilang, Oemma selalu bersamaku walau aku tidak bisa melihatnya. Benarkah itu, Oppa?…” Si won mengangguk pasti.

“Tentu saja…” Jawabnya cepat. Lauren tersenyum lebar memperlihatkan susunan giginya yang putih dan rapi.

“Oppa sering datang ke sini?…” Si won memberi anggukan pelan.

“Jika ada waktu Oppa akan datang. Tapi akhir-akhir ini Oppa sibuk dan belum sempat berkunjung. Bagaimana denganmu, apa kau suka?…”

Ne…” Lauren turun dari kursinya lalu meraih tangan Si won.

Kajja, Oppa. Kita main dengan mereka…”

Si won dengan senang hati menurunkan anak itu dari bangku. Kemudian mereka menghampiri kumpulan anak-anak tersebut. Lauren memperkenalkan dirinya dengan bantuan Si won dan anak-anak itu balas menyapanya dengan akrab.

Tersenyum puas adalah apa yang dilakukan Si won sekarang. Tujuannya mengajak Lauren kesini bukan hanya untuk sekedar bermain. Dia ingin Lauren tidak harus bersedih karena Oemmanya yang sudah tiada. Apa pun yang terjadi anak itu patut bersyukur karena masih banyak orang yang akan menyayangi serta menjaganya dengan baik.

***Sifany***

Seiring berjalannya waktu, Lauren dan Si won menjadi semakin akrab. Tiffany tahu itu karena adiknya selalu bercerita tentang Si won. Dan Si won  pun sudah beberapa kali mengunjungi rumah mereka untuk bermain dengan Lauren.

Tsk! Benar-benar menyebalkan melihat keduanya akrab seperti itu.

Tiffany melipat tangannya di balkon kamar. Dia tengah memperhatikan Si won dan Lauren yang tampak asyik memasang tenda mereka. Katanya, dua orang itu akan camping bersama. Bernyanyi didekat api unggun lalu tidur ditenda. Si won sebenarnya mengajaknya untuk ikut tapi ia menolaknya. Kenapa ia harus ikut? Tidak ada alasan baginya untuk ikut camping bersama dua orang menyebalkan itu.

“Ck, kekanak-kanakan sekali…” Cibirnya.

“Unnie…”

Omo!” Tiffany memegang dadanya terkejut. Dia berbalik dan mendapati Lauren sudah ada dibelakangnya.

“Apa? Kau ingin tidur disini karena tenda kalian tidak nyaman? Mianhe, aku menolak…” Lauren menggeleng.

Aniyo. Aku tidak bilang kalau aku ingin tidur disini. Si won Oppa bilang aku boleh tidur dilengannya…” Tangan Tiffany terkepal. Kenapa anak itu seolah tengah memanas-manasinya? Dan kenapa juga ia harus merasa seperti ini? Cemburu? Mustahil!

“Unnie, Si won Oppa butuh selimut…”

Mwo? Ck, katanya ingin kamping, kenapa tidak membawa perlengkapan? Kalau dia ingin selimut suruh saja dia pulang…”

“Tapi Unnie, diluar sangat dingin…”

“Memangnya siapa suruh kau melakukan hal ini. Sudah ada kamar yang nyaman malah tidur diluar…”

“Unnie, dimana selimutnya?…” Tiffany naik keranjang dan memilih untuk memejamkan matanya.

“Tidak ada selimut. Kau cari ditempat lain saja…” Lauren mendengus.

“Unnie pelit sekali…” Gumannya sebelum beranjak keluar kamar.

Dihalaman, Si won menambah kayu bakar untuk api unggun mereka agar tetap menyala dan memberikan kehangatan ditengah dinginnya malam. Si won bangkit ketika menyadari Lauren mendekat ke arahnya.

“Lauren, kau dari mana saja? Apa kau lapar?…” Anak itu menggeleng.

Aniyo. Tadi aku minta selimut pada Fany Unnie, tapi dia tidak memberikannya…”

Si won tersenyum. Digendongnya Lauren untuk mendudukkannya dikursi.

Gwenchana. Kita punya api unggun dan jaket yang hangat…” Lauren tersenyum cerah. Dia senang sekali kamping bersama Si won.

“Oppa…”

“Ya?…” Si won tersenyum melihat Lauren yang tampak menoleh kanan-kiri dengan waspada.

“Sebenarnya, tadi aku ingin mengajak Fany Unnie tapi belum apa-apa dia sudah marah-marah…” Ceritanya dengan wajah cemberut. Si won tertawa kecil.

“Tidak usah dipikirkan. Bukankah Unnie-mu memang seperti itu?…”

Ne. Wah, apinya indah sekali…” Lauren memperhatikan kayu-kayu kecil yang dibakar api itu dengan takjub.

“Benarkah?…” Lauren mengangguk.

“Oppa, kapan kita bernyanyi?…”

“Bernyanyi? Tentu saja sekarang…” Si won masuk ke dalam tenda. Setelah beberapa saat dia keluar dengan gitar ditangannya.

“Woah, Oppa keren sekali…”

Lauren bertepuk tangan riang. Si won duduk lesehan direrumputan didepan Lauren. Begitu petikan gitar terdengar, keduanya mulai menyanyikan lagu anak-anak dengan tepuk tangan yang keras. Mereka tampak sangat menikmati kebersamaan itu.

Sementara dikamarnya, Tiffany tampak mondar-mandir resah. Ia tengah memikirkan apa yang sedang dua orang itu lakukan mengingat mereka hanya berdua.

Tiffany mengepalkan tangannya. Tidak akan ia biarkan jika pria itu menyakiti adiknya yang masih kecil. Tiffany bukannya menuduh Si won akan berbuat macam-macam. Tapi ia merasa kalau pria itu pantas untuk dicurigai.

Tiffany merapikan sweater bahan rajutannya. Dengan cepat ia melangkah menuju tenda berwarna hijau lumut yang terpasang rapi di halaman samping rumah. Lauren dan Si won sepertinya sudah selesai bernyanyi. Buktinya tidak ada lagi siapa-siapa disana. Tanpa permisi, ia langsung membuka tenda dan masuk.

Waeyo, Unnie?…”

Lauren yang tengah berbaring dilengan Si won bertanya. Mereka sedang melihat sesuatu diponsel Si won. Curiga dengan apa yang dilihat dua orang itu, Tiffany dengan cepat merebut ponsel itu dari tangan Si won.

Tiffany menelan ludahnya dengan susah payah. Itu…gambar…

“Kapan Unnie berfoto dengan Si won Oppa? Apa saat itu aku sudah lahir?….”

Lauren bertanya dengan riang. Si won baru saja menunjukkan foto-fotonya bersama Tiffany pada Lauren.

Eoh. Mungkin waktu itu kau baru berumur sekitar dua tahun. Tapi Unnie-mu tidak pernah bilang kalau dia memiliki adik yang cantik…”

Lauren mengerucutkan bibirnya. Tentu dia merasa sedih. Apa Tiffany benar-benar membencinya? Tapi kenapa?

Tidak mau mengingat kenangan lama yang akan membuatnya terlena, Tiffany melempar ponsel itu pada Si won. Dia segera mengambil posisi disisi kanan tenda. Hingga Lauren berada diantara keduanya.

“Kau akan tidur disini?…”

“Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya tidak ingin kau melakukan sesuatu yang aneh pada adikku…” Si won tertawa dibuatnya.

“Sudah ku katakan sebelumnya, bukan? Aku lebih menyukai kakaknya dibanding adiknya…”

Tiffany hanya diam. Dia memilih memejamkan matanya untuk segera tidur. Si won dan Lauren saling lirik sejenak sebelum akhirnya ikut memejamkan mata mereka masing-masing.

***Sifany***

Lauren menyeret tasnya menuju gerbang sekolah. Sudah waktunya pulang dan lagi-lagi kakaknya terlambat menjemput. Kakaknya memang selalu sibuk setiap hari kerja. Dan tidak mau diganggu kalau hari libur.

Anak dengan tas punggung berwarna pink itu mendongak. Mata beningnya memandangi sebuah mobil yang berhenti tepat didepannya. Sebuah mobil yang ia yakini bukan mobil yang mengantarnya tadi pagi. Mobil yang juga membuatnya hampir selalu terlambat dipagi hari.

Pintu terbuka. Anak itu tersenyum saat menemukan sosok Si won keluar dari mobil tersebut.

“Si won Oppa…” Si won tersenyum seraya berjalan mendekati Lauren.

“Menunggu jemputan?…” Lauren mengangguk. Pipinya mengembung tanda ia sebal menunggu.  Si won mengacak rambutnya sayang.

“Mungkin Unnie-mu masih sibuk di butiknya. Bagaimana kalau kau ikut dengan Oppa? Oppa akan mengajakmu jalan-jalan…”

“Kencan?…” Tanyanya senang.  Si won mengangguk.

“Benar, Tuan Putri. Kita akan pergi kencan hari ini…”

“Yeay, asyik….” Lauren bersorak senang. Si won tersenyum lalu membukakan pintu mobil untuknya.

***Sifany***

`Aku menjemput Lauren dan akan mengajaknya jalan-jalan. Kau tidak perlu cemas. Aku akan menjaganya dengan baik`

Tiffany meletakkan kembali ponselnya usai membaca pesan singkat yang dikirim Si won. Syukurlah, dia sangat sibuk sekarang jadi dia merasa sedikit terbantu. Bahkan saking sibuknya dia tidak memiliki waktu untuk sekedar mengucapkan terima kasih.

“Tiff, bahannya sudah datang…” Terdengar suara Jessica dari luar ruangan.

Eoh. Aku segera kesana…” Tiffany meninggalkan polanya dan segera menuju gudang.

Si won memasukkan ponsel ke saku celananya. Disebelahnya Lauren tampak menunggu.

“Apa yang Unnie katakan?…”

“Mungkin Unnie-mu sedang sibuk jadi dia belum membalasnya…”

Lauren mengangguk dengan wajah cemberut. Tentu saja Unnie-nya sangat sibuk dengan pekerjaannya.

Kajja…”

Si won  meraih tangan mungil Lauren dan segera membawanya masuk. Lotte world adalah tujuan mereka hari ini. Ditaman bermain yang luas dan ramai itu mereka tampak asyik bermain. Keduanya terlihat seperti pasangan Ayah dan anak yang menghabiskan waktu bersama. Lauren sangat menikmati jalan-jalan kali ini karena Tiffany tidak bisa melakukan hal-hal seperti ini untuknya. Karena alasan itulah, Si won meluangkan waktunya untuk menemani Lauren.

“Oppa, aku lapar…”

Si won tertawa dan segera mengajak Lauren menuju sebuah café untuk mencari makanan. Si won berniat mengantar Lauren usai makan namun anak itu ketiduran. Jadi Si won memutuskan untuk membawa Lauren ke rumahnya.

***Sifany***

“Tsk! Memangnya mereka jalan-jalan kemana sampai sekarang belum juga kembali? Hongkong?…” Tiffany menggerutu sebal sembari mencari nama Si won dikontak ponselnya.

“Yeoboseyo?…”

“Ya! Kembalikan adikku!”

“Aku akan mengantarnya setelah ia bangun. Kami bermain di Lotte world sampai sore. Setelah makan malam dia ketiduran…”

“Aku akan menjemputnya…”

Si won tersenyum dan memindahkan ponsel itu ke kuping kanannya.

“Benarkah? Aku senang jika kau berkunjung. Kau masih ingat alamatnya, bukan?…” Si won hanya tersenyum ketika sambungan itu terputus begitu saja.

“Kau benar-benar tidak berubah, Fany-ah…”

Lima belas menit kemudian Tiffany sudah tiba di kediaman Si won. Si won yang sudah menunggunya segera membukakan pintu.

“Masuklah…”

Bruk!

Tiffany menabrak bahu Si won. Ia langsung masuk dan mencari keberadaan Lauren dari ruang tengah itu.

“Ingin minuman?…”

“Dimana Lauren?…”

“Dia dikamarku…”

Tanpa menunggu lagi, Tiffany langsung naik ke lantai atas menuju kamar Si won. Pria itu tersenyum lalu mengikutinya dari belakang.

“Lauren, bangunlah. Kita harus pulang…”

Lauren membuka matanya dengan malas ketika Tiffany menguncang dan mendudukkan dirinya.

“Lauren…”

“Ughh, Unnie…” Mata Lauren menatap sayu kearah Tiffany dan Si won yang mendekati ranjang.

“Biar aku yang menggendongnya ke mobil…”

Si won menggendong Lauren keluar. Tiffany membawa ransel serta tas yang berisi seragam sekolah Lauren yang ada disofa.

Si won menutup pintu mobil usai memakaikan sabuk pengaman Lauren.

“Hati-hatilah menyetir…”

“Aku bukan anak kecil lagi…” Tiffany menghidupkan mesinnya dan segera meluncur pergi.

“Tentu…”

Si won tersenyum menyaksikan mobil itu menghilang dari pekarangan rumahnya. Dia menghela nafas lalu menatap langit malam yang penuh bintang. Dia berharap banyak agar hubungannya dengan Tiffany kembali seperti semula.

Hubungan Si won dengan Tiffany berawal dari keisengan teman-temannya yang menantangnya untuk mengencani Tiffany. Walau semua itu berawal dari sebuah taruhan namun Si won benar-benar tulus mencintai Tiffany. Tiffany pun membalas cintanya. Namun cinta itu berubah menjadi kebencian ketika Tiffany mendengar kalau sebuah taruhanlah yang mengantarkan pria itu padanya.

Semenjak mereka berpisah, Tiffany selalu menghindarinya. Bahkan wanita itu tidak akan muncul diacara yang juga akan dihadiri olehnya. Si won tahu dia salah. Tapi apa waktu lima tahun yang telah mereka lalui seperti ini tidak memiliki pengaruh apa-apa? Rasanya sangat keterlaluan jika Tiffany terus memperlakukannya seperti sekarang.

***Sifany***

Usai pulang sekolah dan makan siang, Lauren memilih bermain dihalaman belakang dekat kolom renang. Dia hanya bermain dengan pororo. Kim Ahjumma sudah pulang. Kakaknya? Dia sudah mengajaknya tapi wanita itu menolak untuk bermain bersama. Dia sibuk.

Lauren sesekali memperhatikan Tiffany yang sibuk dimeja kerjanya dari luar. Sepertinya kakaknya memang sangat sibuk. Buktinya, dia tidak pernah berpaling dari meja kerjanya sedikit pun.

Tak lama kemudian, ruangan yang semula sepi itu mendadak berisik. Penasaran dengan apa yang terjadi, Lauren pun memperhatikannya. Dari dinding kaca itu dia bisa melihat sesosok wanita cantik lain muncul. Rambut cokelat kemerahannya dikuncir satu dengan poni yang menutupi kening lebarnya.

Lauren mendapati kalau kedua orang itu melihat ke arahnya. Mungkinkah wanita itu ingin bertemu dengannya? Sedetik kemudian Lauren bisa melihat kalau wanita itu mendekati dinding. Digesernya kaca tersebut hingga dinding itu terbuka. Dia keluar kemudian menghampirinya dan pororo yang tengah bermain dipinggir kolom renang. Wanita dengan wangi parfum yang menyegarkan itu tersenyum cantik ke arahnya.

Annyoeng…” Wanita itu, Jessica menyapanya dengan hangat. Lauren hanya diam memperhatikan wanita yang mulai duduk  dikursi yang tersisa.

“Lauren? Aigo, kau sudah tumbuh sangat besar ternyata…”

“Unnie, siapa?…” Gadis itu tertawa dengan indah dan cantiknya.

“Ah, kau tidak ingat padaku ternyata. Wajar kau tidak tahu karena waktu itu kau baru berusia 3 tahun…” Jessica menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman. Lauren menerimanya.

“Aku Jessica Jung. Teman Unnie-mu, Tiffany…”

“Teman Fany Unnie? Jadi aku boleh memanggil Unnie, Jessica Unnie?…” Tanyanya senang. Jessica mengangguk pasti kemudian berbisik.

“Dilarang memanggil Aunty, aratchi?…” Keduanya tertawa bersama.

“Aigo, kau menggemaskan sekali. Ayo, masuk. Unnie membawa banyak sekali mainan dan makanan untukmu…”

Jjinja?…”

“Tentu saja, ayo…” Jessica meraih tangan mungil Lauren untuk membawanya masuk. Tapi ia terdiam saat anak itu tak mau beranjak dari tempatnya.

“Eoh, wae?…”

“Aku ingin disini saja. Fany Unnie sedang bekerja, aku tidak boleh mengganggu…”

“Eih, kau takut pada Unnie-mu? Hei, kau tenang saja. Ada Sica Unnie disini…” Lauren tidak punya pilihan karena Jessica sudah menyeretnya pergi. Mereka pun masuk ke ruang kerja Tiffany.

“Lihat, banyak mainan dan makanan enak, benarkan?…”

Ne…” Lauren menerima sebuah permen lollipop dari Jessica.

“Makanlah, semua ini untukmu…”

“Untukku mana?…” Tiffany menyela. Jessica mendengus sebelum akhirnya melempar sebuah permen karet.

“Hanya ini?…” Tanyanya tak suka. Setidaknya dia ingin jus orange atau yogurt yang ada diatas meja.

“Kalau tidak suka kembalikan…” Tiffany mencibir lalu mengunyah permen karetnya. Jessica tersenyum saja lalu beralih pada Lauren.

“Oh,  ya. Cuaca panas sekali hari ini, bagaimana kalau kita berenang?…” Ajak Jessica antusias. Lauren mengangguk semangat.

“Aku belum pernah berenang dengan Fany Unnie. Unnie, ayo kita berenang bersama…” Ajaknya. Tiffany menggeleng.

“Kalian saja, aku sibuk…” Lauren cemberut. Tiffany memang selalu tidak punya waktu untuknya.

“Tiff, ayolah. Kita sudah lama tidak berenangkan, ne?…” Jessica memohon. Tiffany tak bergeming. Lauren menyentuh lengan Jessica untuk meminta perhatiannya.

“Kalau Fany Unnie tidak mau, kita ajak Si won Oppa saja, Unnie…” Bola mata Jessica melebar. Telinganya tidak salah dengar, bukan?

“Si won?…” Tanyanya tak percaya. Kepalanya perlahan bergerak kearah Tiffany.

“Tiff, bagaimana bisa Lauren…”

“Aku akan ganti baju sekarang…” Gadis itu pergi begitu saja. Tak mau mengatakan apa-apa pada sahabat baiknya itu.

“Sica Unnie, ayo. Kita harus ganti baju…”

“Eoh? Eoh…”

Jessica beranjak saat Lauren menarik tangannya keluar. Ada yang aneh, kenapa Lauren bisa menyebut nama Si won? Sepertinya dia melewatkan sesuatu dan harus segera bertanya.

***Sifany***

“Arghhhh!”

Teriakan Jessica terdengar begitu jelas dan sangat berisik. Tiffany tidak peduli dan tanpa ampun mendorong sahabat baiknya yang menggunakan tanktop putih dan hotpants hitam itu kedalam kolom renang.

Puas tertawa setelah melihat sahabatnya jatuh bebas, giliran Tiffany yang berteriak kencang saat seseorang berhasil mendorongnya masuk ke kolom. Jessica tertawa puas sementara Lauren yang sudah menyebabkan kakaknya jatuh pun hanya cengengesan dipinggir kolom. Diantara mereka bertiga, hanya Lauren yang menggunakan bikini sexy.

Beberapa menit kemudian ketiganya sudah asyik bermain. Bermain bola, berenang kesana-kemari, bahkan saling siram. Mereka tampak sangat menikmati waktu mereka bersama. Terlebih Luaren, dia senang bermain bersama Tiffany dan melihatnya tertawa dari dekat.

“Ku dengar dari Lauren, Si won sering kesini. Kau tidak pernah cerita kalau kau sudah berbaikan dengan Si won…”

Jessica bersandar dipinggir kolom untuk meminum jusnya. Tiffany ikut meminum bagiannya. Merasa haus, mereka memutuskan untuk istirahat. Lauren sudah lebih dulu istirahat dikursi dekat kolom renang meninggalkan pelampungnya.

“Aku tidak mengatakan apa-apa karena kami memang belum berbaikan…” Balasnya cuek. Jessica tersenyum simpul.

“Belum berbaikan artinya kau memiliki keinginan untuk memperbaiki semuanya. Aku benarkan?…”

Mworagu?…” Jessica meletakkan gelasnya sebelum menatap mata Tiffany dan bertanya.

“Menurutmu, bagaimana perasaanmu pada Si won sekarang?…”

Tiffany memalingkan wajahnya.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Jangan salah paham. Aku tidak akan memaafkan apa yang sudah ia lakukan padaku…”

“Hei, itu masa lalu dan terjadi ketika kita masih dibangku kuliah. Kau tahukan, apa yang dilakukan pelajar hanya untuk bersenang-senang?…”

“Dan mereka bersenang-senang untuk menghina dan melukai harga diriku? Itu konyol, Jessie…”

“Satu pertanyaan lagi, kenapa kau begitu marah? Apa karena kau ingin seandainya pertemuan kalian lebih baik dari ini? Kau berharap andai Si won menjadikanmu kekasihnya bukan karena taruhan?…”

Tifany bungkam. Yah, dia mengakui itu. Andai mereka bertemu karena takdir dan menjadi pasangan karena cinta? Bukankah itu akan lebih indah?

“Kau tidak bisa mengulang waktu. Namun ada kesempatan dimana kau bisa mengubah semuanya menjadi lebih baik…”

“Ck, dari mana kau belajar kalimat seperti itu?..” Cibirnya kesal karena merasa digurui. Jessica tertawa  seraya menepuk pundak Tiffany pelan.

“Jangan meremehkanku, Fany-ah. Aku lebih pintar darimu untuk urusan hidup dan cinta…”

Jessica berenang ke tengah kolom. Meninggalkan Tiffany yang hanya diam tempatnya.

“Unnie, ayo kita lomba berenang…” Ajak Lauren. Dia turun dari kursinya dan berlari menuju pinggir kolom.

“Awaaassss!”

Jessica memekik histeris. Tiffany berbalik dan dengan reflek menyambut tubuh Lauren sebelum adiknya itu terlentang dipinggir kolom.

Untuk beberapa saat dunia terasa berhenti berputar. Lauren merasa jantungnya berdetak cepat. Dia baru saja selamat dari sebuah peristiwa yang mungkin saja menyebabkannya masuk rumah sakit. Air yang menyebar dipinggir kolom tentu membuat lantai menjadi licin dan beresiko terpeleset.

“Kalian baik-baik saja?…” Jessica berenang mendekat.

Tiffany menghembuskan nafas lega. Dadanya terasa lapang karena sesuatu yang buruk tidak terjadi. Untung saja dia bisa menangkap tubuh Lauren tepat waktu.

Tiffany mengernyit ketika anak itu tersenyum dalam dekapannya.

“Unnie menyelamatkanku…” Ujarnya dengan senyum senang. Tiffany yang menyadari itu menjauhkan Lauren darinya.

“Jangan berpikir terlalu jauh. Anak tupai pun akan aku tolong jika dia jatuh didepan wajahku…” Ucapnya kemudian naik. Jessica ikut naik lalu duduk dipinggir kolom menemani Lauren.

“Kau tahu dia bohongkan?…” Tanyanya kemudian. Lauren mengangguk.

Ne.  Appa bilang Unnie menyayangiku. Hanya saja dia malu mengatakannya…”

Jessica memberikan high-fivenya.

“Tetap disini dan jangan berenang tanpa pelampungmu, aratchi?…”

Ne…” Jessica mulai bangkit lalu memakai jubah mandinya. Dia melangkah masuk menyusul Tiffany menuju dapur.

Tiffany menuangkan infused water-nya kedalam dua gelas saat menyadari Jessica ada dibelakangnya. Begitu mendekat, Jessica langsung meneguknya.

“Ah, menyegarkan sekali…” Ucapnya.

“Oh ya, ngomong-ngomong tentang Lauren, haruskah kau bersikap seperti itu?…” Kening Tiffany berkerut saat irisan buah lemon mengenai sudut bibirnya. Asam.

“Aku tahu bagaimana kau memperlakukan Lauren sejak dulu. Apa yang kau lakukan salah, Tiff. Dia tidak pantas menerima kebencianmu…”

Tiffany meletakkan gelasnya. Ditatapnya Jessica malas.

“Sica-ya…” Jessica mengangkat sebelah tangannya. Menahan gadis itu untuk membela diri.

“Aku juga tidak ingin bicara banyak. Kau hanya perlu tahu kalau kau salah jika menyalahkannya untuk kematian Oemma-mu…”

Tiffany tertunduk. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin, dari hati kecilnya, dia tidak menyalahkan Lauren sepenuhnya. Tapi entah kenapa setiap melihat anak itu dia mengingat kembali sang Oemma.

Jessica mengusap bahu sahabatnya pelan lalu tersenyum manis.

“Tidak perlu dipikirkan. Kau hanya perlu menerima dan menjalani semua ini dengan ikhlas. Kami akan berenang sekitar 10 menit lagi. Pesankan tempat makan malam, ya? Ku rasa kita harus makan malam diluar…”

Jessica berjalan keluar. Namun baru beberapa langkah ia berbalik.

“Ngomong-ngomong, kau tahu seperti apa rupa anak tupai?…”

Dahi Tiffany berkerut hebat.

“Mwo?…” Jessica hanya mengulum senyum lalu pergi.

Tiffany duduk termenung di meja makan. Sebenarnya ia ingin mencoba. Dia juga ingin akrab layaknya saudari pada umumnya. Tapi entah kenapa sangat sulit untuk memulainya.

Teriakan dan tawa Jessica bersama Lauren yang asyik berenang terdengar samar dari arah dapur. Gadis itu tersenyum miris. Mungkin akan lebih baik jika kakak Lauren itu Jessica bukan dirinya.

Tiffany baru akan bangkit untuk mengambil ponselnya ketika ia menyadari sesuatu. Sikunya terasa sakit untuk digerakkan. Setelah mencari tahu apa yang terjadi, tampak olehnya bagian sikunya lebam. Mungkinkah karena berbenturan dengan pinggir kolom renang saat ia menolong Lauren tadi?

***Sifany***

Oemma, hari ini aku senang sekali. Aku berenang dan bermain bersama Fany Unnie dan Sica Unnie. Appa benar, Unnie menyayangiku dengan baik. Hari ini, Unnie menolongku. Oemma melihatnya dari surgakan? Aku ingin memberitahu Appa tapi dia belum mengangkat telfonku. Oemma, jangan mencemaskanku karena Unnie menjagaku dengan baik. Tolong jaga aku dan Unnie juga, ya. Saranghae…

Lauren menutup diary bergambarkan beberapa princess Disney itu. Kemudian ditinggalkannya meja belajarnya untuk naik ke ranjang. Namun seseorang membuka pintu kamarnya. Lauren tersenyum saat melihat Tiffany diambang pintu.

Waeyo, Unnie?…”

“Turunlah. Ada susu dari Jessica. Kau harus meminumnya…”

Lauren turun dari ranjang dan segera menyusul Tiffany ke dapur. Setibanya disana ia langsung duduk di kursi. Menunggu susu hangat dalam termos yang sedang dituangkan Tiffany kedalam gelas.

“Ini…” Lauren menerimanya dengan senang hati. Selama makan malam direstoran dan dirumah Jessica tadi kakaknya memang lebih banyak diam.

“Kalau sudah selesai tidurlah. Besok kau harus ke sekolah…”

Tiffany menutup kembali termosnya. Saat itulah Lauren melihat sesuatu disiku kanan Tiffany. Lauren seketika menurunkan gelasnya.

“Unnie, apa yang ada  di sikumu?…”

“Eoh?…” Tiffany melihat sikunya sekilas. Lebam yang ada disana memang tidak besar. Namun karena kulitnya yang putih tentu saja akan mudah terlihat.

“Bukan apa-apa…” Jawabnya kemudian menyimpan termosnya lalu pergi. Lauren tersenyum. Dia tahu kalau lebam itu karena Tiffany menolongnya tadi siang.

Gumawoyo, Unnie…” Ucapnya tulus sebelum meneguk susunya sampai habis.

***Sifany***

Dirumah, Lauren tampak asyik bermain dengan pororo. Setelah menjemput dan mengantarnya pulang, Tiffany kembali ke butik. Jadi dia hanya bermain dan makan dengan makanan yang sudah dipesan Tiffany. Kim Ahjumma pulang lebih awal hari ini. Dia tentu saja bosan.

Lauren memperhatikan halaman rumah mereka yang dipenuhi bunga yang berwarna-warni. Tunggu, sepertinya dia memiliki ide untuk menghilangkan rasa jenuhnya.

“Aku akan menggambar…”

Lauren membawa pororo masuk. Tujuannya adalah ruangan paling belakang rumah ini. Dia tahu ruangan itu adalah ruang kerja Tiffany. Pasti kakaknya punya banyak alat gambar karena profesinya sebagai seorang desainer.

Lauren membuka pintu ruang kerja Tiffany.

“Wah, indah sekali…”

Lauren masuk. Untuk ketiga kalinya ia masuk dan memperhatikan ruangan itu lagi. Tidak hanya pada malam hari, saat siang pun ruangan ini tampak indah karena dia bisa melihat kolom renang dengan halaman yang hijau.

“Pororo-ya, ayo kita cari pensil dan kertas Fany Unnie…”

Lauren menaiki kursi kerja Tiffany. Diraihnya sebuah benda anyaman kecil dan panjang yang difungsikan Tiffany sebagai tempat berbagai macam jenis pensilnya. Lalu beberapa lembar kertas kosong disudut meja.

Lauren menutup pintu dengan sudah payah karena tangannya yang penuh. Begitu berhasil dia segera berlari menuju ruang keluarga.

“Pororo-ya, ayo kita menggambar untuk Fany Unnie…” Lauren menyandarkan pororo disofa dan memberikan boneka itu kertas serta pensil. Kemudian ia bertelungkup dikarpet putih berbulu tebal itu dan mulai menggambar.

Anak itu terdiam beberapa saat untuk berpikir.

“Pororo-ya, apa yang sebaiknya kita gambar?…” Lauren bertanya pada bonekanya.

Tit Tit

“Siapa itu? Fany Unnie? Pororo-ya, ayo kita lihat…”

Lauren meninggalkan perlengkapan menggambarnya lalu berlari menuju pintu depan. Ditariknya sebuah kursi kemudian naik untuk melihat layar intercom.

“Annyeong…”

“Wah, Si won Oppa!” Girang Lauren. Ditekannya salah satu icon pada layar datar itu. Tak lama Si won pun masuk.

“Oppa…”

Lauren turun dari kursi. Si won pun menghampirinya.

“Oppa sedang tidak banyak pekerjaan jadi Oppa putuskan untuk berkunjung. Kau sedang melakukan sesuatu?…”

Lauren mengangguk semangat.

Ne. Aku sedang menggambar untuk Fany Unnie…”

Jjinja?…” Lauren meraih tangan Si won untuk mengajaknya masuk.

“Oppa bisa menggambar?…” Si won tersenyum dan tampak mengusap tengkuknya.

“Sebenarnya Oppa tidak begitu bisa…”

“Kalau begitu aku akan mengajari Oppa…” Si won tertawa mendengarnya.

“Benarkah? Baik kalau begitu…”

Beberapa menit berlalu. Lauren sudah asyik dengan kertas dan alat gambarnya. Dia tampak sangat bersemangat setiap menggerakkan pensil dikertasnya. Disebelahnya, Si won juga tampak asyik sendiri. Dia menggambar mata kanan seorang gadis yang sangat bersih dan bening.

“Indah sekali, seperti mata Fany Unnie…” Komentar Lauren. Si won yang terkejut pun tersenyum.

“Benarkah? Oppa rasa yang asli jauh lebih indah…” Gumannya seorang diri. Si won pun melihat hasil kerja Lauren.

“Bagaimana dengan gambarmu?…” Lauren menunjukkan kertasnya pada Si won. Bisa dilihat disana ada gambar empat orang manusia. Sepertinya Lauren menggambar anggota keluarga mereka.

Si won mendekat.

“Siapa itu?…” Tanyanya ingin tahu.

“Pria ini adalah Appa. Wanita ini Oemma, yang ini Fany Unnie dan yang kecil ini adalah aku…” Terangnya. Si won mengangguk paham.

“Ah, kau menggambar Oemmamu juga?…”

Ne. Appa mengatakan kalau aku mirip dengannya. Sedangkan Fany Unnie mirip dengan Oemma. Aku tidak pernah melihat Oemma secara langsung tapi, melihat Fany Unnie aku seperti melihat Oemma. Rasanya sangat senang melihat Unnie setiap hari…” Si won termangu. Dia merasa sangat tersentuh oleh kalimat anak itu.

Lauren mengernyit karena Si won yang tiba-tiba terdiam.

Waeyo, Oppa? Apa gambarku jelek?…” Lauren bertanya sembari memperhatikan kembali hasil gambarnya. Si won hanya tersenyum lalu mengusap kepala anak itu.

***Sifany***

Tiffany tiba dirumah sekitar jam 5 sore. Diluar dia melihat sebuah Audi terparkir dipekarangan rumahnya. Sepertinya pria itu tidak memiliki pekerjaan sampai-sampai harus berkunjung ke rumahnya sesering ini. `Mau jadi apa Hyundai Group kalau CEO-nya selalu seperti ini?` Batinnya sembari memasuki rumah.

Begitu masuk, Tiffany bisa mendengar tawa kedua orang itu dari ruang keluarga.

“Oppa, aku ingin memberikan gambar ini pada Fany Unnie. Apa Unnie akan menyukainya?…”

“Tentu saja. Kau menggambarnya dengan hati, Unniemu pasti suka…” Lauren mengangguk senang. Kepalanya berputar ketika mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat.

“Itu Unnie…” Serunya senang.

Tiffany muncul, ia sangat terkejut melihat kertas dan alat tulis berserakan dilantai. Belum lagi ternyata semua benda itu adalah miliknya.

Lauren bangkit dari lantai. Dibawanya sebuah kertas yang baru saja ia gambar pada Tiffany.

“Unnie, aku mengambar untuk Unnie…”

“Apa yang kau lakukan dengan barang-barangku?!” Teriakan itu membuat Lauren terkejut. Kertas yang baru ia angkat perlahan ia turunkan. Dia sangat takut karena Tiffany tidak pernah seperti ini sebelumnya.

“U-Unnie…”

“Sudahku katakan dari awal, bukan? Jangan pernah menyentuh barang-barangku! Apalagi membuat sampah sebanyak ini! Kau selalu saja nakal dan tidak pernah mendengarkan. Apa salahnya menurut sekali saja?!”

“Hiks…hiks…”

Air mata Lauren jatuh diatas kertas yang ia gambar hingga bagian yang terkena air matanya memudar. Si won tidak tega melihatnya.

“Fany-ah, haruskah kau bersikap seperti ini? Dia hanya anak-anak. Lagi pula dia menggambar untukmu…”

“Aku tidak pernah menyuruhnya menggambar untukku. Dia hanya anak-anak? Dari awal aku tidak menyukainya karena aku tahu kalau dia menyebalkan dan selalu membuat kekacauan seperti ini. Dan kau Si won, berhenti ikut campur dan pulanglah…”

Si won menatap Tiffany tajam yang dibalas tak kalah tajam dari wanita itu. Tahu kalau keadaan akan bertambah buruk jika ia melanjutkannya, Si won memilih mengalah.

“Mianhe, Unnie. Aku selalu membuat Unnie marah dan tidak nyaman. Aku tahu Unnie tidak suka denganku tapi aku tidak marah karena aku menyayangi Unnie. Aku tinggal disini karena aku menyukai Unnie. Appa juga selalu mengatakan kalau Unnie menyayangiku dengan baik…”

Si won tertegun ditempatnya.

“Appa selalu bohong tentang itu. Kapan aku menyayangimu? Aku membencimu sejak awal karena kau pembunuh. Kau membunuh Oemma, kau tahu?!”

“TIFFANY!”

Si won menguncang bahu wanita itu untuk menyadarkannya. Memberi tahu kalau apa yang baru saja diucapkannya itu sangat salah. Salah besar.

Kertas yang ada ditangan Lauren perlahan jatuh dilantai. Ia ketakutan setengah mati. Tangan dan kakinya gemetar. Tidak hanya tuduhan Tiffany, bentakan Si won pada kakaknya itu juga membuatnya bertambah takut.

Si won menatap Tifffany tak mengerti.

“Kau benar-benar tega. Kau harusnya tahu kalau apa yang baru kau ucapkan itu salah. Kau tidak memikirkan perasaan Lauren? Dia masih kecil. Dia tidak tahu apa-apa dan kau menuduhnya dengan tuduhan yang kejam. Kau pikir hanya kau yang kehilangan? Bayangkan betapa kesepiannya dia saat tidak ada seorang Oemma dalam masa pertumbuhannya. Seorang Appa yang ia harapkan sibuk dengan pekerjaan. Dan kau? Apa yang sudah kau lakukan untuknya? Jawab aku, Tiffany!”

Tiffany membeku. Tangannya terkepal sampai buku-bukunya memutih. Ia takut. Ia tahu kalau ia sudah terlalu jauh.  Perkataan Si won benar dan telah menyadarkannya. Lauren tidak salah. Dialah yang salah karena selalu menyalahkan Lauren atas kepergian Oemma-nya.

Si won meninggalkan Tiffany yang mulai tampak menyesali dirinya. Dia berniat untuk menenangkan Lauren yang  mungkin merasa terguncang. Tapi dia sangat terkejut karena tidak menemukan Lauren disana.

“Lauren?…”

Tiffany ikut memutar kepalanya kesegala arah. Dari gelagat yang Si won tunjukkan sepertinya adiknya sudah tidak ada lagi disana.

“Lauren…” Tiffany memanggil lirih dengan air mata yang mengalir jatuh.

***Sifany***

Jalanan yang ramai dan dipenuhi oleh orang berlalu lalang membuat Lauren takut. Jelas ia merasa demikian sebab ia hanya sendiri. Sebenarnya ia tidak ingin berada diluar seperti ini. Tapi dia tidak ingin pulang. Dia telah membunuh Oemma yang selalu ia rindukan. Tiffany membencinya. Itu artinya Tiffany tidak ingin melihatnya.

Lauren mencium wangi masakan dari jajanan yang dijual dipinggir jalan. Rasa lapar mulai mengganggunya. Namun sepertinya ia akan tetap dalam keadaan seperti ini karena ia tidak membawa apa-apa. Bahkan pororo ia tinggalkan begitu saja dilantai.

Trotoar terasa panas ketika Lauren mendudukkan bokongnya disana. Kepalanya berputar memperhatikan sekeliling. Dia belum tiga bulan menginjakkan kakinya di Seoul. Jangankan untuk mengetahui dimana ia berada sekarang. Untuk pulang kerumah saja dia tidak tahu harus kearah mana.

“Unnie…” Bibir mungilnya bergetar menahan tangis. Ia ketakutan dan kelaparan.

***Sifany***

Malam hampir larut dan makin dingin. Walau begitu Tiffany sama sekali tidak berniat untuk pulang. Dia masih sibuk berlari dan bertanya kesana-kemari untuk mencari keberadaan Lauren.

Mianhe, Agasshi. Kami tidak melihat gadis kecil ini…”

Ahjussi penjual Jjajangmyun itu menyerahkan kembali foto yang ditunjukkan Tiffany. Tiffany sudah sangat lemas. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya. Dunia luar sangat kejam. Dia tidak mau siapa pun menyakiti dan memperlakukan adiknya dengan buruk. Sudah cukup Lauren menerima perlakuan buruk darinya selama ini.

Si won datang dengan berlari menuju tempat Tiffany. Melihat keadaan gadis itu, ia yakin kalau keberadaan Lauren masih belum ditemukan.

Si won memberikan kartu namanya pada Ahjussi itu. Dia juga melakukan hal yang sama pada setiap orang yang ia tanyai sebelumnya.

“Tolong hubungi kami jika Anda melihatnya, Ahjussi. Kami sangat mengharapkan bantuan darimu…”

“Baik, Tuan…”

Si won menundukkan kepalanya sebagai ucapan terima kasih. Setelah itu dilihatnya Tiffany yang tampak menyedihkan. Gadis itu membekap mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar.

Pria itu menghela nafas. Dia mendekat dan memeluk Tiffany untuk pertama kalinya setelah 5 tahun berlalu. Walau awalnya dia ragu karena yakin Tiffany akan menolaknya. Namun ia tersenyum ketika Tiffany balas memeluknya erat. Ya, gadis itu pasti butuh pegangan dan tempat bersandar. Terutama disaat seperti ini.

Gwenchana. Lauren akan baik-baik saja. Dia bukan anak yang cengeng…”

Tiffany mengangguk dengan derai air mata. Dia sangat berharap kalau adiknya akan baik-baik saja diluar sana.

***Sifany***

Guk Guk Guk

Seeokor anjing tampak mengelilingi seorang bocah yang tertidur disudut trotoar. Sesekali ia menjilati wajah anak itu untuk membangunkannya. Merasa terganggu, Lauren pun terbangun. Dia merasa geli ketika anjing berbulu cokelat itu menjilati wajahnya. Lauren tertawa karena geli. Tangannya terangkat untuk menjauhkan anjing itu dari wajahnya.

“Hei, kau membuatku geli…”

Gug Guk

Lauren tertawa. Dielusnya kepala anjing itu dengan sayang.

“Siapa namamu? Aku Lauren…”

Guk Guk

“Ah, kau tidak bisa bicara, ya…”

Guk Guk

Lauren kembali tertawa. Dengan sayang dipeluknya anjing itu mendekat.

“Kau mau menjadi temanku?….”

Guk Guk

“Jjinja? Gumawo…”

Lauren tersenyum. Kepalanya mendongak untuk melihat langit yang penuh dengan bintang. Sudah malam ternyata. Ia makin kedinginan dan lapar.

Tiba-tiba dari sudut gang, seorang wanita paruh baya dengan tubuh kurus mendekat. Dia tentu cemas melihat seorang anak kecil masih berada diluar rumah selarut ini. Orang tua macam apa yang akan membiarkannya?

Guk Guk

Anjing itu berputar mengelilingi Lauren. Ahjumma itu pun memilih bergerak lebih dekat untuk bertanya. Begitu ia melihatnya dengan seksama, ia sangat terkejut.

“Omo! Agasshi!” Perempuan baya itu mengusir anjing tersebut lebih dulu agar tidak mengganggu Lauren.

“Agasshi, apa yang kau lakukan diluar selarut ini?…” Lauren juga sama terkejutnya. Kim Ahjumma?

“Agasshi…” Kim Ahjumma berjongkok. Tangannya bergerak untuk merapikan rambut serta baju Lauren.

“Agasshi, apa yang kau lakukan disini? Tiffany Agasshi pasti mencari dan mengkhawatirkanmu…”

Lauren tidak menjawab. Dia hanya diam sambil memainkan jemarinya. Kim Ahjumma sangat prihatin melihatnya. Apa anak itu pergi dari rumah? Tapi kenapa?

Malam makin dingin. Kim Ahjumma memutuskan untuk membawa Lauren pulang. Lagi pula anak itu sepertinya belum ingin bercerita.

“Rumah Ahjumma tidak jauh dari sini. Agasshi ingin berkunjung?…” Lauren mengangkat wajahnya.

“Bolehkah?…” Tanyanya senang.

Kruyuk! Wajah anak itu memerah menahan malu. Seketika keduanya tertawa.

Kajja, Ahjumma akan membuatkan makanan untuk Agasshi…”

Jjeongmal?…”

Ahjumma mengangguk pasti. Diangkatnya tubuh Lauren yang masih duduk untuk merapikan celananya dari pasir atau tanah yang mungkin menempel disana.

“Ayo, Agasshi…” Ajaknya. Lauren menurut dan tersenyum dalam gandengan tangan Kim Ahjumma.

***Sifany***

“Selamat datang di rumah Ahjumma, Agasshi…”

Mereka tiba disebuah rumah kayu yang kecil. Walau pekarangannya sangat sempit dan rumahnya juga tidak besar, tapi Lauren merasa sangat senang. Anak itu tersenyum lebar. Dilepaskannya sepatunya setelah Kim Ahjumma mempersilahkannya untuk masuk. Selagi Ahjumma mengganti baju dan menyiapkan makanan, Lauren asyik menonton TV.

“Makanannya sudah siap, Agasshi…” Lauren duduk setelah Kim Ahjumma menyiapkan meja untuknya.

“Agasshi pasti lapar, bukan? Makanlah yang banyak…”

“Ne. Gumawoyo, Ahjumma…”

Kim Ahjumma tersenyum senang. Lauren menyantap makanannya dengan sangat lahap. Wajar anak itu lapar karena sekarang sudah jam 11 lewat. Dari penampilannya, Kim Ahjumma yakin pasti telah terjadi sesuatu pada anak itu. Dia bertanya-tanya, kenapa anak itu berkeliaran selarut ini? Apa  Tiffany tidak mencarinya? Kim Ahjumma sebenarnya sangat ingin bertanya tapi dia menahan diri. Anak itu pasti lelah dan butuh istirahat.

***Sifany***

Si won  meletakkan nampan yang ia bawa dihadapan Tiffany.

“Setidaknya makanlah walau hanya sedikit…”

Tiffany memalingkan wajahnya. Dia sudah ingin pergi mencari Lauren sejak matahari terbit tapi Si won selalu melarangnya.

“Lauren pasti baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas…”

Tiffany tersenyum miris. Bagaimana ia tidak khawatir kalau Lauren pergi karena dirinya? Jika sesuatu yang buruk menimpa adiknya, dialah yang patut disalahkan.

Tiffany memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya disana. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada adiknya.

Si won mengusap lengan gadis itu iba. Dia tahu kalau Tiffany menyesali apa yang sudah ia lakukan pada Lauren. Dia tahu kalau Tiffany sebenarnya sangat menyayangi Lauren. Buktinya, selama ini gadis itu tetap memperhatikan Lauren, bukan? Meski dengan caranya sendiri.

“Habiskan makananmu lalu kita akan mencari Lauren bersama…”

Tiffany mengangkat wajahnya.

Jjeongmal?…”

“Hapus juga air matamu lalu tersenyum. Walau bagiku kau terlihat cantik dalam keadaan apapun tapi akan lebih cantik lagi saat kau tersenyum…”

Tiffany tersipu sambil menghapus air mata dengan punggung tangannya. Dia duduk dengan rapi lalu mengambil sendoknya.

“Lihat, aku benarkan? Kau jauh lebih cantik kalau tersenyum…”

Tiffany menundukkan wajahnya. Tidak ingin memperlihatkan wajah meronanya dihapadan Si won. Tapi sepertinya percuma karena Si won sudah melihatnya sejak tadi.

“Setelah ku pikir-pikir, ada baiknya juga Lauren pergi dari rumah…” Tiffany mendongak dengan sendok yang masih berada dimulutnya.

Wae?…” Tanyanya setelah menelan makanannya.

“Setidaknya kau berubah menyayanginya, bukan?….” Tiffany terdiam. Andai ia bisa menyayangi Lauren lebih cepat, adiknya tidak perlu menderita dan kelaparan diluar sana.

“Saat kami pergi bersama, Lauren sering bertanya padaku. `Kenapa Unnie tidak suka padaku?` `Kenapa Unnie tidak sayang padaku seperti Appa? Bahkah bibi Grace yang merupakan orang lain saja menangis jika mengkhawatirkanku`…”

Hati Tiffany bergejolak. Pipinya kembali terasa panas karena aliran air matanya. Si won tersenyum. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata Tiffany.

“Kau benar-benar berpikir kalau dia yang membunuh Oemma-mu? Coba kau pikir, bagaimana perasaan Oemma-mu saat kau mengucapkan hal itu. Orang tua manapun akan melakukan apa saja demi anaknya bahkan mengorbankan nyawa sekalipun. Saat Oemma kalian tidak ada, harusnya kau mampu menggantikan sosoknya untuk Lauren. Dia mengandalkanmu, Fany-ah…”

“Kau tahu apa alasan Lauren ingin tinggal bersamamu? Kau sangat mirip dengan mendiang Oemma kalian. Karena itulah, setiap berada didekatmu dia merasa ada disisi Oemma yang sangat dirindukannya…”

Tiffany tidak tahan lagi. Dia terisak dalam pelukan hangat pria itu.

“Maafkan aku, Oemma. Maafkan aku….”

***Sifany***

Pintu kamar Lauren berbunyi pelan ketika Tiffany membukanya. Ruangan itu tampak sunyi. Tidak ada suara cerewet Lauren yang meminta bantuannya sejak kemarin. Langkah kaki Tiffany mendekat masuk. Ia duduk dimeja belajar tempat Lauren biasa menulis diary atau membuat tugas menggambarnya.

Tiffany mengambil sebuah kertas dengan gambar empat orang manusia disana. Matanya memanas. Gambar itu adalah gambar yang sempat dibuatkan Lauren untuknya.

Mata Tiffany mendapati sesuatu. Diantara buku gambar dan alat tulis itu, tampak sebuah buku diary bergambar beberapa princess Disney. Dengan cepat Tiffany meraih dan membuka lembar demi lembarnya.

Bahu Tiffany bergetar. Tulisan anak berusia 6 tahun itu memang tidak rapi. Tapi isinya mampu membuatnya terisak. Selama ini, Lauren sangat menyayanginya dan mengharapkan kasih sayang darinya.

“Kau disini?…”

Jessica masuk untuk melihat apa yang membuat gadis itu kembali menangis. Si won memintanya untuk menjaga Tiffany sementara ia pulang. Jessica benar-benar tidak pernah berpikir kalau hal seperti ini akan terjadi.

“Sudahlah. Tidak ada gunanya menangis seperti ini…”

“Aku sangat menyesal, Sica-ya. Aku memperlakukannya dengan jahat. Aku bahkan tidak pernah menggendongnya sekalipun…”

Tiffany terisak. Jessica mencoba memeluknya untuk memberinya ketenangan. Pengakuan itu memang benar. Setelah pemakaman Oemma-nya, Tiffany memutuskan untuk kembali ke Seoul. Setelah menetap disini dia baru sekali kembali ke Amerika. Jelas kalau dia tidak ada waktu untuk menggendong Lauren. Jangankan untuk menggendong, untuk melihat anak itu saja dulu dia sangat malas.

“Tidak perlu merasa menyesal. Wajar kau tidak pernah menggendongnya karena kalian tinggal terpisah…”

“Tapi aku yang menghindarinya. Dia pasti membenciku karena semua yang telah ku lakukan padanya…” Jessica tersenyum dipundak sahabatnya itu.

“Kau harusnya tidak berpikir seperti itu kalau kau tahu betapa ia menyayangimu. Ayo, sebaiknya kita turun dan makan. Kau harus memakan sesuatu agar tetap sehat…”

Tiffany menurut. Jessica benar. Ia harus tetap sehat agar bisa mencari dan menemukan Lauren dengan segera.

***Sifany***

Pagi sepertinya sudah datang. Buktinya Lauren bisa mendengar suara burung berkicauan dengan sinar matahari yang menyilaukan mata. Anak itu bangun dari kasurnya. Dia segera  menuju dapur karena mendengar suara yang cukup berisik dari sana.

Benar saja, saat ia datang, Kim Ahjumma terlihat sibuk mempersiapkan sesuatu disana.

“Ahjumma sedang melakukan apa?…” Lauren mendekat sambil mengucek matanya.

“Agasshi sudah bangun?…” Lauren mengangguk sembari memperhatikan apa yang Kim Ahjumma lakukan dengan bahan makanan itu.

“Pagi hari Ahjumma bekerja dirumah Agasshi untuk membersihkan rumah dan menyiapkan makanan. Tapi jika sore sampai malam, Ahjumma berjualan toppoki di warung pinggir jalan…” Lauren mengangguk paham.

“Jadi sebentar lagi Ahjumma akan ke rumah kami?….” Tanya Lauren ingin tahu. Kim Ahjumma tersenyum.

Aniyo. Ahjumma sudah minta izin untuk libur beberapa hari ini pada Tiffany Agasshi…”

“Ahjumma tidak mengatakan pada Fany Unnie kalau aku disinikan?…” Lauren menatap Ahjumma penuh harap.

Ahjumma menatapnya lembut. Dia sudah mendengarnya dari Lauren semalam. Selama ini Kim Ahjumma memang menyadari kalau Tiffany tidak menyukai Lauren. Namun hati kecilnya percaya kalau Tiffany sebenarnya sangat menyayangi Lauren.

“Tidak, Agasshi…” Jawabnya. Lauren mengangguk. Ia tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.

“Fany Unnie tidak menyukaiku. Mungkin sekarang Fany Unnie lebih senang karena tidak ada yang mengganggunya…”

“Tidak mungkin, Agasshi. Tiffany Agasshi pasti mengkhawatirkanmu…” Lauren terdiam. Andai saja seperti itu yang terjadi, ia pasti senang.

“Ahjumma mau kemana sekarang?…”

“Ahjumma akan membersihkan warung sebelum dipakai nanti sore…”

“Kalau begitu aku ikut, Ahjumma…” Kim Ahjumma menatapnya senang.

“Baik, Agasshi…”

Lauren tersenyum dan segera berlari menuju kamar mandi. Kim Ahjumma tersenyum kecil. Sebenarnya ia sangat ingin mengatakan pada Tiffany kalau Lauren ada disini. Namun ia menahan diri karena takut jika Lauren mengetahuinya anak itu akan pergi. Untung saja tadi Tiffany tidak menanyakan hal ini padanya. Andai Tiffany bertanya, ia pasti tidak bisa berbohong.

***Sifany***

Sore menjelang, Tiffany dan Si won masih terus mencari meski belum ada petunjuk tentang keberadaan Lauren. Mereka sudah menempelkan selebaran di beberapa tempat. Beberapa hari berlalu namun belum ada kabar. Tiffany sangat berharap akan ada yang menghubungi mereka.

Lauren keluar dari sebuah gang pertokoan. Ditangannya ada sekantong daun bawang yang akan ia antarkan pada Kim Ahjumma yang sedang berjualan. Saat menuju warung Kim Ahjumma, Lauren tidak sengaja melihat Tiffany keluar dari sebuah café bersama Si won. Ia sempat berlari beberapa langkah untuk mengejar. Tapi dia segera menghentikan niatnya.

Andwaeyo. Fany Unnie tidak menyukaiku. Dia tidak akan senang melihatku…” Lauren segera berbalik menuju warung tenda Kim Ahjumma.

Diujung jalan, Tiffany menghentikan langkahnya yang otomatis juga menghentikan langkah kaki Si won.

Wae?…” Si won bertanya.

“Si won, aku melupakan seseorang. Aku akan mengunjungi warung Kim Ahjumma. Siapa tahu Lauren pergi ke tempat Kim Ahjumma…” Si won mengangkat alisnya.

“Kim Ahjumma?…” Tanyanya. Ya, dia ingat wanita paruh baya yang baik dan hangat itu. Dulu, ketika dia masih bersama Tiffany, Si won sering bertemu dengannya.

“Kau tahu tempatnya?…”

Ne. Tidak begitu jauh dari sini….” Si won mengangguk. Diraihnya tangan kiri Tiffany karena tangannya yang lain memegang brosur Lauren.

“Kalau begitu, kajja…”

***Sifany***

“Ahjumma…” Lauren masuk ke warung Kim Ahjumma dengan kantong berisi daun bawangnya.

“Agasshi, Aigo…” Kim Ahjumma mengambil kantong yang dibawa Lauren. Daun bawang untuk soupnya ketinggalan dirumah. Dia sudah melarang Lauren tapi anak itu tetap bersikeras untuk menjemputnya sendiri.

“Untunglah, Agasshi kembali dengan selamat…”

“Ahjumma, aku sudah hapal jalan kerumah dan kesini…” Kim Ahjumma mengangguk sembari tersenyum.

“Ahjumma, aku minta toppokinya…” Seorang Ahjumma memanggil. Minta dibungkus seporsi toppoki untuknya.

Omo. Siapa anak itu Ahjumma? Apa dia cucumu? Bukannya kau tidak memiliki anak?…”

Kim Ahjumma melirik Lauren yang duduk dibelakangnya.

A-aniyo. Dia cucu dari temanku…” Kim Ahjumma menghalangi pandangan pembelinya itu agar tidak melihat wajah Lauren. Tapi pembeli yang juga tetangganya itu tampak masih penasaran.

“Tunggu, sepertinya aku pernah melihatnya. Ah, benar…” Ahjumma berambut keriting dan pendek itu menjentikkan jarinya.

“Dia mirip dengan wajah anak kecil pada brosur yang tertempel diseluruh kawasan ini…”

Anni. Sudah ku katakan kalau dia cucu temanku. Ini, bawa toppokimu dan pergilah…”

Ahjumma itu mengambil toppokinya dengan sedikit jengkel.

“Kenapa kau jadi sensitive sekali?…” Tanyanya dan segera pergi setelah membayar.

Kim Ahjumma menghela nafas. Dia tariknya sebuah kursi dan ikut duduk menghadap Lauren yang tampak menunduk sedih.

“Agasshi, kau tahu tentang itu, bukan? Tiffany Agasshi mencarimu…”

Lauren mengangguk.

“Tadi aku melihat Fany Unnie, tapi aku masih takut…” Kim Ahjumma meraih tangan mungil itu dan mengusapnya hangat.

“Tidak ada yang perlu ditakutkan, Agasshi. Tiffany Agasshi selama ini mencarimu. Dia pasti sangat mengkhawatirkan keadaanmu, Agasshi…” Lauren menatap Ahjumma dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya.

“Ahjumma, Unnie tidak menyukaiku. Aku membunuh Oemma…” Kim Ahjumma menggeleng dengan air mata yang mengalir jatuh.

“Itu tidak benar, Agasshi. Tiffany Agasshi mengucapkannya tanpa sadar. Dan dia pasti sangat menyesalinya…”

“Ahjumma, aku sangat menyayangi Unnie walau dia membenciku. Aku tidak pernah marah karena aku menyayangi Unnie seperti aku menyayangi Appa dan Oemma, hiks…” Kim Ahjumma memeluk anak yang mulai terisak itu. Berharap anak itu akan segera tenang.

Ne, Agasshi. Tiffany Agasshi juga sangat menyayangimu. Percayalah, hm?…”

Kim Ahjumma mendongak ketika sepasang pria dan wanita masuk ke warung tendanya. Ia terkejut bercampur senang karena orang itu adalah Tiffany dan Si won.

“Agasshi…”

Lauren menjauh dari pelukan Kim Ahjumma saat ia mendengar perempuan itu mengucapkan sesuatu. Ia berbalik melihat kearah pandang Kim Ahjumma. Ia terkesiap, ada Unnienya dan Si won dihadapan mereka sekarang.

Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam. Si won dan Kim Ahjumma merasa kalau mereka tidak harus mengeluarkan sepatah kata pun. Lauren menunduk diam. Tiffany menghapus air matanya. Ia sangat ingin memeluk adiknya sekarang.

“Sungguh keadaan yang sangat canggung, benarkan?…”

Tiffany berujar. Dia tersenyum kemudian menarik sebuah kursi. Ikut duduk didekat Lauren dan Kim Ahjumma. Anak itu masih menunduk diam.

“Ehem…” Tiffany berdehem.

“Tidak ingin memeluk, Unnie?…” Lauren mendongak ragu untuk menatapnya. Pandangan mereka bertemu. Mata keduanya berkaca-kaca menahan tangis.

“Bolehkah aku memeluk Unnie?…” Tanyanya dengan suara serak.

“Tentu…”

Tiffany tersenyum. Air mata yang sejak tadi ia tahan mengalir deras ketika Lauren  berhambur memeluknya.

Mianhe, Unnie…” Tiffany menggeleng.

“Kau tidak salah, sayang. Unnie yang salah karena membencimu tanpa sebab. Mianhe, mulai sekarang Unnie akan menjadi Unnie yang paling baik untukmu…” Janji Tiffany. Lauren menatapnya senang.

Jjeongmal?…”

“Tentu…” Lauren kembali memeluk Tiffany dengan erat. Si won dan Kim Ahjumma tersenyum lega menyaksikannya.

Si won berjalan mendekati keduanya.

“Tidak ada yang merindukan Oppa?….” Si won menggoda. Lauren tersenyum. Ia melepaskan pelukannya pada Tiffany dan beralih pada Si won.

“Aku rindu Oppa dan Pororo juga…”

“Oppa dan Pororo juga rindu bermain lagi denganmu dan membuat Fany Unnie cemburu…” Tiffany melotot sempurna.

“Ya!” Semua orang disitu tertawa kecuali Tiffany sendiri.

***Sifany***

Tiffany keluar dari warung tenda Kim Ahjumma bersama Si won yang menggendong Lauren yang sudah tertidur dibahunya.

“Sekali lagi terima kasih sudah merawat Lauren, Ahjumma. Aku tidak akan pernah melupakan hal ini…”

“Tidak perlu mengatakan hal itu, Agasshi. Aku bekerja untukmu, sudah seharusnya aku menjaganya dengan baik. Maaf jika aku tidak mengabari keberadaannya sejak awal…”

Gwenchanayo, Ahjumma. Kami mengerti. Lagi pula, ini baik bagi seseorang untuk menyadari dan memperbaiki dirinya…” Kim Ahjumma tersenyum mendengar ucapan Si won, begitu pula dengan Tiffany sendiri.

“Aku akan menjadi Unnie yang baik untuknya mulai sekarang…”

“Aku akan datang untuk bekerja mulai besok, Agasshi…” Kim Ahjumma membungkuk hormat mempersilahkan ketiganya pergi.

***Sifany***

Tiffany melangkah ringan bersama Si won dan Lauren yang tertidur pulas dibahu pria itu. Tiffany banyak diam dalam perjalanan. Mengingat semua sikap dan perkataannya pada anak itu membuatnya merasa sangat bersalah dan menyesal. Kenapa ia begitu egois hanya memikirkan diri sendiri? Bayangkan betapa kesepiannya Lauren tanpa Oemma, Appa dan kakak yang diandalkannya.

“Huft…”

Tiffany menghela nafas panjang. Mulai sekarang dia akan melakukan tugasnya dengan baik. Dia tidak boleh memperlakukan Lauren layaknya orang asing seperti dulu. Tiffany memperhatikan Si won yang menggendong Lauren disebelahnya. Dia tersenyum. Dia bersyukur karena Si won selalu ada  bersamanya. Pria itu sangat banyak membantu. Sepertinya Si won lebih pantas menjadi kakak bagi Lauren.

“Si won, kau pasti lelah. Biar aku saja yang menggendongnya…”

Gwenchana. Jangankan Lauren, menggendong kakaknya saja aku sanggup…”

Mwo?!”

Bugh!

Si won tertawa saja ketika tinju Tiffany mengenai lengannya. Tiffany mendengus. Ia memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum manisnya.

“Kau pikir dengan cara ini aku akan berubah pikiran?…”

“Mungkin saja…”

“Kenapa kau yakin sekali?…”

“Aku selalu yakin dengan hatiku, Fany-ah…”

Tiffany terdiam. Ya, setidaknya itu benar. Seiring berjalannya waktu yang mereka lalui bersama, Tiffany sadar kalau ia masih mencintai Si won. Bahwa hatinya tetap milik pria itu. Rasa marahnya selama ini memang bentuk dari kekecewaannya. Tapi tetap saja, selama lima tahun ini dia tidak pernah bisa berpaling dari Si won, bukan?

Si won menghentikan langkahnya untuk menatap wajah Tiffany.

Wae, aku benarkan?…” Si won menggoda.

“Tsk!” Tiffany mendorongnya pelan dan segera berlalu meninggalkan keduanya.

***Sifany***

Pagi-pagi sekali Tiffany sudah bangun. Habis menyiapkan sarapan sederhana dan mandi, ia membangunkan Lauren. Setelah itu, dia menyiapkan semua keperluan Lauren dan memakaikan seragamnya.

Tiffany merapikan poni Lauren dengan sisirnya.

“Ah, kyeopta…” Komentarnya senang. Lauren ikut tersenyum bahagia. Ia senang karena sekarang Tiffany memperhatikannya dengan baik.

Wae?…” Tiffany bertanya. Tahu kalau Lauren selalu menatapnya sejak tadi. Lauren menggeleng dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

“Ah, wae?…” Tiffany merajuk manja. Meminta adiknya tersebut menjelaskan arti pandangannya barusan. Lauren tertawa dibuatnya.

“Aku ingin mengatakan kalau Unnie cantik…”

Jjeongmal?…” Lauren mengangguk.

Gumawo. Tapi kau lebih cantik…” Balas Tiffany. Lauren menggeleng seketika.

Aniyo. Buktinya, Si won Oppa lebih menyukai Unnie dari pada aku…” Ujarnya sedih. Tiffany mencubit hidungnya gemas.

“Aish! Hei, kau masih kecil untuk hal-hal seperti ini, sayang. Tapi kalau dipikir-pikir, yeah, aku memang lebih cantik…”

Lauren mendengus dan segera berlari keluar kamar seraya berteriak.

“Appa! Unnie menyebalkan lagi…”

Lauren berjalan dengan wajah cemberut menuju sofa yang diduduki sang Appa. Tuan Hwang datang sehari setelah Lauren kembali. Dia tentu tahu apa yang terjadi saat brosur dengan wajah putri bungsunya terpampang hampir disetiap kawasan di Seoul ini.

Ketika mendengar kabar hilangnya Lauren dari orang-orangnya, Tuan Hwang ingin segera kembali ke Korea. Tapi dia menahan diri untuk melihat bagaimana Tiffany akan bertindak. Walau awalnya dia kecewa namun semua berakhir bahagia. Sekarang dia bersyukur karena hubungan kedua putrinya sudah jauh lebih baik.

“Hahaha…” Tuan Hwang menggendong tubuh kecil Lauren dan mendudukkan anak itu dipangkuannya.

Wae? Kalian bertengkar lagi?…”

Anni…” Lauren menjawab sembari menggeleng.

“Fany Unnie bilang dia lebih cantik dariku…” Adunya dengan memanyunkan bibirnya. Tuan Hwang tertawa.

“Lalu, kau tidak setuju dan marah?…”

Aniyo. Aku hanya iri saja, kenapa bukan aku yang jadi Unnie dan menikah dengan Si won Oppa…”

“Kau bisa menjadi pengiring pengantinnya, bukan?…”

Si won tiba-tiba muncul diruang tamu itu. Dia memberi salam pada Tuan Hwang sebelum duduk pada sofa yang lain. Seperti halnya hubungan Tiffany dan Lauren, hubungan Si won dan Tiffany juga menunjukkan perubahan yang signifikan.

Lauren masih cemberut dipangkuan Tuan Hwang. Sekarang Si won datang bukan untuknya lagi tapi untuk kakaknya, Tiffany. Jelas saja dia sedikit cemburu. Tuan Hwang mengusap kepalanya sayang.

“Lauren, kemarilah…” Si won memanggil. Lauren membuang muka membuat kedua pria itu tertawa.

“Aigo, dia belajar banyak dari Unnie-nya…”

Mworagu?!” Tiffany tak terima dengan ucapan Si won yang tertangkap oleh telinganya. Tawa Tuan Hwang kembali terdengar.

Wae? Yang dikatakan Si won memang benar, bukan?…”

Tiffany mendengus seraya menatap sebal kearah Si won. Dia segera mengalihkan wajahnya yang tiba-tiba memerah saat mata pria itu  mengedip kearahnya. `Sial, berani-beraninya dia melakukan itu saat ada Appa disini.` Batin Tiffany.

Si won bukannya bermaksud menggoda. Ia hanya senang karena melihat kalung yang ia berikan pada gadis itu 5 tahun lalu kembali menghiasi leher jenjangnya.

“Lauren, kajja. Kita harus ke sekolah…” Ajak Tiffany. Si won bangkit dari duduknya. Diambilnya Lauren dari pangkuan Tuan Hwang lalu menggendongnya.

“Appa, tolong temani Pororo bermain, ne? Dia akan kesepian selama aku di sekolah…” Semua yang ada disitu tersenyum.

“Baiklah, Appa akan mengajaknya keruang kerja Appa nanti…” Balas Tuan Hwang.

“Abboenim, kami akan berangkat sekarang…”

“Eoh, hati-hatilah…”

“Kami berangkat, Appa…” Pamit Tiffany pula. Tuan Hwang tersenyum memperhatikan kedua putrinya bersama pria tampan itu.

“Sekarang aku bisa bekerja dengan tenang…” Ujarnya kemudian sebelum membalas lambaian tangan Lauren.

***Sifany***

Matahari sudah terasa panas ketika Lauren turun dari Audi milik Si won. Tiffany keluar dari pintu sebelah kemudi dengan  tas punggung Lauren ditangannya.

“Belajarlah yang rajin dan jangan membuat masalah, aratchi?…” Pesan Tiffany.

Ne…”

“Oppa dan Fany Unnie akan menjemputmu nanti siang…” Lauren mengangguk mendengar apa yang dikatakan Si won.

“Unnie sudah menyiapkan bekalmu. Dihabiskan, ne?…”

Gumawoyo, Unnie…” Lauren menerima tas punggungnya.

“Lauren!”

Seorang anak laki-laki memanggil lalu berlari mendekat.

“Lauren, apa ini Unnie-mu yang cantik itu?…”  Tanya anak tersebut seraya menatap Tiffany dengan senyum lebarnya. Tiffany menatap adiknya lembut. Lauren bahkan bercerita pada teman-temannya kalau dia memiliki Unnie yang cantik.

Ne. Unnie, ini temanku, Leo…”

“Eoh. Hai, Leo…” Tiffany melambaikan tangannya.

“Hai, juga, Noona. Lauren selalu bercerita tentangmu. Aku senang sekali bertemu denganmu. Noona, apa kau sudah memiliki kekasih?…”

“Ehem…” Si won yang setia berada disebelah Tiffany berdehem. Leo menatap Si won yang mulai merangkul bahu Tiffany.

“Hai, Leo. Aku calon suami noona cantik ini. Apa kau mengerti?…”

Leo mengerucutkan bibirnya kecewa. Tiffany dan Si won tersenyum melihatnya.

“Unnie, Oppa, kami akan masuk sekarang…” Pamit Lauren.

“Eoh. Hati-hatilah…”

“Leo, kajja…” Leo mengangguk setuju. Namun sebelum pergi ia kembali menatap Tiffany.

“Noona, aku akan menjaga Lauren. Kau tidak perlu cemas…” Ungkapnya. Tiffany tersenyum.

“Benarkah? Gumawoyo…” Lauren dan Leo segera masuk. Meninggalkan Tiffany dan Si won yang masih berdiri digerbang sekolah.

Wae?…”

Si won bertanya karena Tiffany belum juga beranjak dari tempatnya. Dia masih memperhatikan Lauren yang tengah berjalan bersama teman-temannya. Ia tersenyum.

“Kau tahu? Semakin banyak hari dan waktu yang kami habiskan bersama, semakin aku mengerti tentang arti diriku untuknya serta arti dirinya bagiku. Ada hal yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata ketika kami saling berbagi cerita dan mendengarkan satu sama lain. Aku memang bukan Unnie yang baik sejak awal tapi, aku bahagia bahwa Tuhan menjadikan kami saudari. Dan juga, aku ingin mengucapkan terima kasih…”

Sepasang mata indah Tiffany menatap Si won lembut.

“Terima kasih karena kau sudah berbuat banyak untukku dan Lauren. Aku mungkin akan selalu jahat padanya jika tidak ada kau. Gumawo…” Si won mengangguk kemudian merangkul Tiffany menuju mobil.

“Sejujurnya, aku melakukan ini tidak mengharapkan apa-apa meski sekarang aku mendapatkan apa yang pernah lepas dariku. Tapi aku senang melihat kalian bahagia bersama. Langit memang tidak selalu cerah tapi, bukan berarti hujan adalah badai, bukan?…”

Tiffany tersenyum mendengar kalimat itu. Hidup memang tidak selamanya indah dan bahagia-bahagia saja. Akan ada banyak masalah dan ujian yang membuat kita menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya. Selama 6 tahun ini, Tiffany bukanlah kakak yang baik untuk adiknya. Namun masih banyak tahun-tahun berikutnya yang akan membuat persaudaraan mereka menjadi lebih indah.

THE END

 

102 thoughts on “(AR) The Sister

  1. Walaupun awlny blm trm khdirn lauren sesungguhny fany syg. tp ego mnglhknny. baik siwon maupn jessica sll nasehati agr tdk ksr dgn lauren smpe suatu hr lauren mnghlg krn perkataan fany yg ksr.
    fani mnyesl n sdr bhw spdia sgt syg adikny.
    sygi klr.
    thanks utk author crt ini mbrikn kita contoh akn hub sdr.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s