(AF) Secret Part 2

Secret Part 2

cover22

Just never trust anyone…

Author : @zha_yurie

Cast : Choi Siwon-Tiffany Hwang

Jung Jessica, Lee Donghae

Im Yoona, Kim Taeyeon, Kwon Yuri

Rating : PG16

Genre : Friendship, Marriage Life

 

Apa yang harus kulakukan saat cinta pertama dan cinta mati suamiku kembali lagi?

 

Ya, selama Siwon di sisinya ia pasti akan baik-baik saja. Tapi, bagaimana kalau nanti… Siwon justru meninggalkannya?

***

 

“Mommy, Sooyoung imo mengajakku jalan-jalan!”

“Benarkah? Kemana?”

“Aku mau mengunjungi Pulau Jeju, eonni.”ujar Sooyoung membalas, “aku ada pemotretan selama dua hari, dan setelahnya aku bermaksud jalan-jalan bersama Danny. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua, ya,kan, Danny-ya?”

Tiffany bertukar pandang dengan Siwon. Tentu saja sangat aneh mendengar permintaan Sooyoung. Bukankah beberapa hari yang lalu mereka baru saja memiliki waktu yang menyenangkan di Jepang? Dan juga…

“Kau modus, imo!”Danny menyahut cepat, “kita tidak pernah berdua,kan? Selalu ada ahjussi mengangguku!”

Sooyoung menggeram gemas pada Danny. Eih, anak ini semakin hari semakin mirip Daddy-nya saja.

“Danny harus bersekolah, Youngie.”tolak Tiffany halus, “lagipula kau bisa kan mengajak Kyungho oppa saja?”

“Kyungho oppa selalu mencari anak ini. Dia sangat menyukainya, eonni.”

“Kalau begitu, daripada selalu menculik anak orang kenapa kau tidak menikah dan segera punya anak, eoh?”sambar Siwon santai.

“Itu tidak semudah perkiraanmu, oppa.”Sooyoung menyahut dengan cemberut. Siwon dan Tiffany hanya terkekeh mengejek. “Ah ngomong-ngomong, bagaimana dengan rencana proyek Jaeshin? Apa itu berjalan lancar?”

“Ne, kita akan mendiskusikannya hari ini. Berdoalah supaya kita mendapat keuntungan dan kau bisa shopping sesuka hatimu!”

Sooyoung menyahut dengan bersemangat, sedangkan Tiffany –lagi- kembali resah.

***

Namun apa yang dikhawatirkan Tiffany tidak terjadi hari itu. Rapat antara pihak Jaeshin dan Safetech berlangsung dengan lancar. Bahkan hawa kekeluargaan menguar di antara mereka. Lee Donghae yang cakap berbicara bisa dengan mudah mendapat persetujuan dari pihak Jaeshin. Ditambah lagi dengan ide-ide dan gebrakan yang dicetuskan oleh Jessica, prospek proyek mereka akan semakin menjanjikan.

Sejauh yang Tiffany perhatikan, kekhawatirannya hanyalah semu belaka. Jessica yang ditakutkannya akan menyerang ternyata hanya diam mengikuti alur rapat dengan tenang. Karisma kebangsawanannya memang tidak bisa diabaikan, kecerdasan dan kelihaian kata-katanya juga tak diragukan, dan lebih dari itu ia sangat tenang. Bahkan saat mereka tak sengaja bertemu pandang, Jessica tidak menunjukkan ekspresi berlebihan seperti saat pertama mereka bertemu. Tidak juga menunjukkan ambisi saat ia menatap Siwon.

Entahlah, Tiffany merasa begitu kacau dengan dirinya sendiri. Terlebih saat mereka berempat melewatkan makan siang bersama di salah satu restaurant Italia. Siwon jelas-jelas memperlihatkan ketertarikannya pada pribadi Jessica. Ia berulang kali mengatakan kalau proyek mereka adalah prospek dengan masa depan terjamin karena ada Jessica dibaliknya.

“Kau benar-benar beruntung, Presdir Lee.”

Donghae tertawa ringan, “ya, seperti yang dikatakan banyak orang.”

“Jadi, kapan kalian berencana untuk menikah?”

Donghae bertukar pandang dengan tersenyum pada Jessica.

“Jessica ingin proyek ini berhasil sebelum membicarakan pernikahan kami. Karena itu dia sangat bekerja keras untuk ini.”

“Kau berlebihan, oppa.”timpal Jessica.

“Ini juga adalah proyek pertama Tiffany jadi kuharap kalian bisa bekerja sama dengan baik.”ujar Siwon.

“Ya, aku juga berharap begitu.”balas Jessica santai.

Pembicaraan mereka disela oleh dering ponsel Donghae dan Siwon yang bersamaan. Keduanya segera mengambil ponsel masing-masing dan pamit untuk menerima panggilan. Meninggalkan Jessica dan Tiffany duduk berhadapan berdua dengan canggung.

“Sudah lama tidak bertemu, Tiffany.”ujar Jessica pertama kali.

“Jangan berbasa-basi denganku, Jessica. Apa maksudmu bergabung dengan Jaeshin?”Tiffany menjawab dengan dingin.

Tawa kecil Jessica terdengar.

“Mwo-ya? Aku terkejut mendengar itu yang keluar dari mulut nyonya Jaeshin. Sambutanmu sangat tidak mencerminkan kedudukan dan martabat tinggimu itu, nyonya Choi!”

Tiffany tidak menyahut. Ia buang pandang ke arah luar, menolak tatapan Jessica.

“Jadi, karena kita sudah berdua begini aku akan menanyakannya secara langsung tanpa basa-basi lagi,”Jessica meletakkan kembali gelas winenya sebelum menatap Tiffany dengan tatapan datarnya, “Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?”

Tiffany mendengus kasar. “Ya, tentu saja.”

“Tapi, kenapa kau begitu ketakutan melihatku, Fany-ya?”

Tiffany tertawa sarkas, “semua orang sudah tahu rubah seperti apa dirimu, Jessica Jung. Bahkan anak baru lahirpun akan merasakannya.”

“Benarkah?”sahut Jessica tenang, “seseorang pasti sudah salah membesarkan rubah itu. Bukankah untuk menjadi sesuatu seseorang perlu alasan yang jelas?”

Tiffany refleks menahan napas melihat tatapan tajam Jessica. Tatapan itu menusuknya, jauh ke dasar hatinya. Ia berdehem pelan sebelum meraih gelas air minumnya.

“Meskipun pernikahanmu bahagia, sepertinya ada begitu banyak kebohongan diantara kalian. Sayang sekali Siwon tidak melihat dirimu yang sebenarnya, Tiffany. Aku penasaran apa yang akan terjadi padamu saat ia mengetahuinya. Menceraikanmu, mungkin? Ah tidak, itu belum cukup. Bagaimana kalau saham-saham dan kekayaanmu juga diambil kembali? Siwon juga mungkin perlu mengambil hak asuh anaknya. Keurae, mungkin akan seperti itu.”

Tiffany mati-matian berusaha menahan amarahnya meledak. Jessica senang mempermainkan ketakutannya tapi ia tidak akan membiarkannya mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Hati-hati ucapanmu pada nyonya Jaeshin, Jung Jessica! Kau akan menyesali perbuatanmu hari ini!”ia mendesis marah.

Jessica tidak menanggapi selain tersenyum mengejek. Karena di saat yang sama Siwon sudah kembali di samping Tiffany.

“Kenapa kalian saling diam seperti ini?”tegur Siwon.

“Tidak apa-apa. Nyonya Jaeshin sepertinya sedang tidak enak badan, Presdir Choi.”sahut Jessica.

“Benarkah? Apa kita perlu periksa di rumah sakit,sayang?”tanya Siwon cemas.

“Tidak usah khawatir, oppa. Hanya kelelahan biasa. Makan siang kita belum selesai.”

Sudut mata Tiffany melihat dengan jelas cibiran mencemooh Jessica. Seperti yang ditakutkannya, besok dan kedepannya, ini tidak hanya tentang Jaeshin dan Safetech tapi juga tentang pertarungan mereka. Tiffany bertekad, ia tidak akan pernah kalah dan membiarkan Jessica mendapatkan apa yang diinginkannya dari proyek itu. Ia harus mengalahkan Jessica, bagaimanapun caranya.

***

“Oppa, bagaimana menurutmu tentang… Jessica?” Tiffany bertanya hati-hati saat Siwon sedang berganti pakaian. Ia sendiri sudah sedari tadi duduk bersilang kaki di atas ranjang memperhatikan suaminya berganti pakaian tanpa canggung.

“Perwakilan Safetech itu? Dia cantik, cerdas, berbakat, kurasa Presdir Lee sangat beruntung mendapatkannya. Gadis yang menarik, bukan?”Siwon mengakhiri kalimatnya dengan kerlingan mata.

Tiffany mendengus, “jangan mencoba membuatku cemburu, Choi Siwon. Apa kau benar-benar menyukainya? Kau terlihat konyol saat menatapnya!”ujarnya ketus.

Siwon tertawa renyah sebelum beranjak duduk di hadapan Tiffany dan memegang kedua bahunya.

“Hey, haruskah berkali-kali kukatakan? You’re the only one, forever for me, darling!”bisiknya mesra.

Tiffany tersenyum kecil. Ya, ia tahu itu dengan baik. Tapi, tetap saja… seandainya tujuh tahun yang lalu Siwon tidak…

“Apa itu janji? Kau tidak akan pernah mengingkari kata-katamu,kan, Choi Siwon?”ujarnya serius.

“Kenapa kau serius sekali? Jadi, kau benar-benar cemburu,ya? Hey, dia hanya rekan kerja, yeobo! Lagipula, dengan adanya bidadari ini berkeliaran di sekitarku, bagaimana mungkin aku bisa melirik ke arah lain? Dan juga, kau lupa,ya? Dia itu sudah menjadi milik orang lain! Aigoo, kau ini sungguh manis saat cemburu!”Siwon menarik hidung Tiffany dengan gemas, membuat istrinya itu mengaduh kesakitan.

“Aku hanya memiliki kekhawatiran yang wajar untuk semua istri, oppa. Ini tidak berlebihan!”

“Ya sudah, mulai sekarang berhentilah cemberut. Jadi, dia alasan kamu terlihat gelisah akhir-akhir ini? Kau takut suami tampanmu ini berpaling? Haha, konyol sekali, Tippany!”

Tiffany tersenyum masam mendengar ledekan yang tak ada hentinya itu. Ah, oppa… seandainya kau tahu seberapa besar kekhawatiranku yang sebenarnya… Bisakah aku egois menginginkanmu selamanya berada di sisiku dan hanya melihatku saja? Bisakah aku berharap… ingatanmu tidak akan pernah kembali selamanya?

Tiffany tidak tahan lagi. Selagi Siwon masih tertawa, ia memeluk leher Siwon erat. Ditenggelamkannya wajahnya di dada Siwon, menghirup kehangatan yang selalu dirindunya itu.

“Aigoo, mianhae, yeobo… tapi tidak perlu malu…”ujar Siwon, masih terkekeh. Ia mengelus puncak kepala Tiffany dengan penuh sayang, menyalurkan kehangatannya.

Tiffany memejamkan mata.

 

Oppa, seandainya kau tahu seberapa besar kau dulu mencintainya…Seandainya kau ingat sedikit saja, bahwa kau pernah hampir mati karena cintamu pada Jessica… akh, bisakah kenangan itu hilang selamanya? Aku takut, oppa…

Takut jika ingatanmu akhirnya kembali lagi… dan kau akan ingat bagaimana dulu kau mencintainya… apa kau akan meninggalkanku? Apa kau akan kembali… membenciku?

 

“Hey, dear… apa kau sudah tidur?”bisik Siwon pelan.

“Hm, bisakah kita tidur sekarang, oppa?”balas Tiffany berbisik tak kalah lirih.

Siwon mengangguk dan bergerak hendak melepaskan pelukan Tiffany, tapi wanita itu menolak. Siwon hanya tersenyum. Ia lalu bergerak, menyibak selimut dan berbaring dengan Tiffany yang tetap memeluknya. Kadang-kadang Tiffany memang sangat suka bermanja-manja dengannya dan ia sangat menikmati saat-saat seperti itu.

Ia tak pernah berpikir jika Tiffany mungkin saja sedang menangis, atau tak ingin melepaskan pelukan karena tak ingin Siwon melihatnya menangis. Bagi Siwon, rumah tangga mereka sudah sempurna. Ia memastikan Tiffany mendapatkan cinta dan perhatian yang cukup darinya, begitu pula dengan Tiffany yang selalu memperlakukannya dengan jauh lebih baik. Tidak ada alasan bagi mereka untuk merasa kurang. Siwon tidak pernah berpikir jika rumah tangga mereka akan menghadapi badai. Kesempurnaan itu membuatnya sangat tenang. Atau mungkin saja…lengah.

Kenyataanya, Tiffany memang menangis malam itu.

***

 

Malam gelap. Lampu-lampu kantor telah dipadamkan sejak sejam lalu. Tapi bayangan hitam itu masih bekerja dengan lincah dalam gelap. Sebuah komputer menyala di hadapannya sementara jemarinya bergerak lincah menari di atas keyboard. Ia begitu tenang, yakin bahwa tak seorang pun akan menemukannya di sana. Bahkan tidak dengan CCTV sekalipun.

Sejam kemudian, ia telah selesai dengan pekerjaannya. Tentu saja ia harus melapor pada atasannya.

“Ya, aku sudah menyelesaikannya, nyonya. File hacking sudah bekerja. Paling lambat seminggu rencana ini benar-benar akan sempurna.”

Lalu, sebuah suara wanita, begitu lembut dan manis menyahut dengan tenang.

“Terima kasih, sisa bayaranmu akan segera kutransfer malam ini juga. Sugohaesseo!”

Dua kilometer dari gedung perkantoran itu, Jessica Jung baru saja menyelesaikan pembicaraan via teleponnya. Sebuah senyum tipis terukir di wajah cantiknya yang angkuh.

Ini belum seberapa, Tiffany. Mungkin akan sangat menyakitimu, tapi kau harus tahu seberapa jauh luka yang kau paksakan untukku. Maaf, sahabat.

“Chagi, kau belum tidur?”

Jessica menoleh dan segera tersenyum mendapati Donghae di depan pintu kamarnya.

“Mungkin pengaruh kopi yang kuminum tadi. Kau sendiri kenapa belum tidur? Apa pekerjaanmu masih banyak? Mau kutemani?”

Donghae tertawa sembari masuk dan menutup pintu.

“Akulah yang akan menemanimu. Kau membuatku khawatir akhir-akhir ini, Sica. Ayo, kau harus tidur!”Donghae menarik tangan Jessica dan mengiringnya naik ke ranjang.

“Kau tidak perlu melakukan ini, Oppa. Aku baik-baik saja, kau tahu?”bisik Jessica saat Donghae memeluknya.

“Sudahlah, kau tak pandai membohongiku. Tidurlah!”balas Donghae, mengelus kepala Jessica dan memberinya dekapan hangat.

Jessica tersenyum di balik dada Donghae. Ia menyukai cara Donghae menyayanginya. Dan hanya pria itu yang tahu bagaimana membuat ia merasa nyaman.

“Terima kasih, oppa…”bisiknya sebelum terlelap.

“Jangan terlalu memikirkannya. Kalau saatnya sudah tiba, dia akan menyerah. Kau terlalu memaksakan dirimu, Sica.” Donghae bergumam, masih terus mengelus kepala Jessica.

Donghaelah yang paling mengerti Jessica. Saat gadis  itu terpuruk dalam keputusasaan hingga nyaris melenyapkan nyawanya sendiri, ialah yang mengulurkan tangan. Dan ikatan mereka dimulai saat itu. Ketika Jessica menangisi pria bernama Siwon dan ia menyimpan luka pada gadis bernama Tiffany.

Sulit dipercaya ada begitu banyak kejutan dari mereka yang menanti. Siwon tidak mengingat Jessica. Tiffany tak mempedulikannya. Luka mereka semakin menganga. Tidak heran melihat Jessica begitu bekerja keras. Harus ada harga untuk luka mereka. Karena itu ia rela menyerahkan apapun untuk membantu Jessica. Meski harus dengan cara licik.

“Oppa,”

Donghae hampir terlelap saat suara Jessica tiba-tiba terdengar.

“Aku memiliki satu permintaan. Boleh kukatakan?”bisik Jessica parau.

“Hm, katakanlah.”

“Buatkan pesta untuk merayakan kerjasama kita dengan Jaeshin.”

Kantuk hengkang begitu saja dari Donghae.

“Kukira kau tidak lagi menyukai hal semacam itu. Kenapa tiba-tiba sekali?”

Jessica tersenyum kecil. “Entahlah. Aku hanya merindukan mereka. Kau akan melakukannya,kan, oppa?”

“Kau hanya menyakiti dirimu sendiri, Sica.”

“Tapi aku merindukan sahabat lamaku.”

Donghae menghela panjang. Terkadang ia sangat tidak mengerti kenapa Jessica begitu keras kepala.

“Mereka tidak lagi menganggapmu sahabat,”ujarnya. Berusaha untuk tidak  terdengar menyakitkan, tapi toh jemari Jessica mendadak meremas kemejanya dengan resah.

“Sica…”panggil Donghae cemas. Ia menjauhkan diri sedikit untuk melihat wajah gadis itu. Tapi Jessica secara refleks juga semakin menyembunyikan wajahnya. “Maaf, aku tidak bermaksud mengatakan kalau…”

“Kau benar, oppa,”potong Jessica lirih, “aku bukan lagi sahabat mereka. Ah, berapa lama aku tertidur selama ini? Bagaimana mungkin aku bisa lupa kalau mereka sekarang… membenciku. Menyedihkan sekali.”

Donghae tak tahu harus berkata apa. Ia hanya kembali memeluk Jessica, berusaha mengabaikan bahwa kemejanya mulai basah.

“tapi aku benar-benar merindukan mereka… sangat merindukan mereka…”

“Masih ada aku di sini, Sica. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jangan khawatir. Merekalah yang terlalu gegabah melepaskan seorang sahabat sepertimu. Baiklah, mari kita buktikan kalau mereka harus menyesal telah melepaskanmu. Bukankah itu tujuan kita? Untuk menang dari mereka?”

***

“Pesta perjamuan besok lusa? Kenapa mendadak sekali?”Tiffany baru saja selesai mandi saat Siwon memberitahunya tentang rencana itu.

“Donghae yang mengaturnya. Dia baru memberitahuku tadi subuh.  Dan kurasa itu bukan ide yang buruk,”balas Siwon santai.

Ia tidak tahu wajah Tiffany kembali cemas.

“Safetech yang memintanya…. Atau Jessica…?”tanyanya lirih.

Siwon tertawa, “Aigoo,kau ini… memang apa bedanya?”

Tiffany hanya  menanggapi dengan senyum kecil. Kenyataannya, ketakutan itu semakin menghantuinya dari hari ke hari.

“Persiapkan dirimu, dan jangan lupa mengundang teman-teman penggesek kartu kreditmu itu. Bisa-bisa mereka datang melabrak ke kantorku kalau tidak dikabari,”ujar Siwon. “Hey, sampai kapan kau mau mengenakan bathrobe, honey? Mau menggodaku lagi?”tambahnya sembari menyeringai saat menyadari Tiffany belum juga berganti pakaian.

“Byuntae!”desis Tiffany sebelum melemparkan bantal ke wajah Siwon yang hanya terkekeh.

***

Di sinilah ia, berdiri anggun menyandang gelar kehormatan nyonya muda Jaeshin Group. Tamu undangan silih berganti menyapa dan memberinya ucapan selamat. Kalau saja tidak ada sahabat-sahabat terbaiknya yang menemani, ia mungkin sudah mengeluhkan pesta itu. Siwon saja sudah sedari tadi sibuk berbaur dengan rekan bisnisnya.

“Sering-seringlah mengadakan perjamuan seperti ini, Tiffany,”ujar Yuri terkekeh. Di antara mereka, ialah yang paling sumringah.

“Bilang saja karena kau menikmati kehadiran para pengusaha muda yang tampan-tampan itu, eonni,”sambar Yoona sarkas. “Dari tadi kuperhatikan kau banyak tebar pesona,”lanjutnya tanpa mengindahkan tatapan kesal Yuri.

“Itulah tepatnya kenapa dia belum juga menemukan pasangan,”tambah Taeyeon.

“Yah, sejak kapan kau ikut-ikutan membela shiksin ini?”tukas Yuri cemberut.

“Sejak berkencan dengan pria yang lebih muda darinya, mungkin?”Lagi-lagi Yoona menyambar, kali ini disertai derai tawa meledek.

“Aigoo, rusa ini! Yah, apa kau tidak bisa membedakan mana sekutu mana musuh?”renggut Taeyeon. “Fany-ya, apa bisa kau minta tolong ahjussi berbadan kekar itu untuk menyeretnya keluar dari sini? Menyebalkan sekali mulut lebarnya itu!”

“Kau tidak boleh melakukannya, eonniii…”

Aegyo menyebalkan itu! Tiffany menghembuskan napas melalui mulutnya. Membuat Yoona semakin terkekeh puas. Ketiga wanita yang lebih tua darinya itu hanya bisa menggeleng kepala. Sampai sekarang, Yoona masih terdepan untuk urusan membuat orang jengkel, namun di saat yang sama juga semakin menyukainya.

“Omo, Presdir tampan kemari!”bisik Yuri antusias, memberi kode ke satu arah.

“Membicarakanku, ladies?”sapa Siwon ramah. Ia beranjak mendekati Tiffany dan memberinya kecupan mesra. Membuat ketiga wanita lainnya bergidik. “Kenapa memandangi kami begitu? Segeralah menikah kalau kalian juga ingin!”sambar Siwon sewot.

“Masih ingat kalau kau punya istri di sini, hm?”ujar Tiffany, mengabaikan ketiga kawannya.

“Tuhan pasti sudah mengutukku kalau sampai aku amnesia begitu, honey. Sayangnya, aku cukup rajin mendekatkan diri padanya dan selalu berbuat baik, jadi tidak alasan untuk mengutukku begitu,kan?”

“Eiih, so cheesy, Mr.Choi!”sela Yoona bergidik. Siwon seketika menoleh padanya. Sebuah smirk terbentuk di wajah tampan itu.

“Memangnya kau tidak pernah mendengar seperti itu dari kekasihmu? Ah, penggallah leherku kalau dia tak lebih cheesy dariku, rusa!”

“Yah, tahu apa kau tentang hubungan kami?”

“Hah, aku tahu semuanya! Memangnya kepada siapa Seunggimu itu berguru selama ini? Setiap kali kau merajuk, dia akan lari padaku meminta saran. Jadi, kau pikir aku tidak tahu apa-apa?” Tawa Siwon pecah seketika melihat wajah cemberut Yoona. Menang telak.

“Perbincangan ini kenapa jadi begini?”gerutuan Yuri menyela. “Stop, Choi Siwon!”Ia menyambar cepat saat Siwon menoleh padanya. “Aku tidak mau mendengar apapun darimu, oke?”

“Apa abeoji dan eomeonim  belum datang?”tanya Tiffany mengalihkan. “Aku belum melihatnya sedari tadi. Bagaimana dengan Sooyoung?”

“Jangan khawatir, mereka sudah dalam perjalanan kemari. Tadi ada delay penerbangan. Dan tidak perlu buang-buang waktumu mencemaskan Sooyoung. Aku sudah menyuapnya untuk bersenang-senang bersama Danny,”balas Siwon. “Nah, silahkan nikmati pestanya, ladies…”lanjutnya sembari tersenyum pada ketiga sahabat istrinya itu. Senyum yang disambut dengan cibiran.

Baru saja Siwon hendak membalas dengan sewot, kedatangan sepasang tamu mengalihkan perhatiannya. Ia menepuk punggung Tiffany pelan dan memberi isyarat pada mereka.

“Tamu kehormatan kita sudah datang,”ujarnya sumringah.

Dan pada detik itu, Tiffany mendadak merasa perutnya melilit-lilit. Ketika ketiga sahabatnya serentak menoleh terkejut padanya, ia menunduk resah.

Jessica Jung tampil menawan malam itu. Dengan dress putih dengan atasan terbuka, disertai kilau berlian di sabuk pinggangnya, ia berjalan anggun memasuki ruangan. Langkahnya tegap dan teratur, seirama dengan langkah Donghae yang merangkul pinggangnya mesra. Begitu melihat Siwon, pasangan itu segera menarik langkah menghampiri mereka.

“Selamat datang, Presdir Lee dan Nona Jung!”sambut Siwon ramah.

“Terima kasih. Aku tidak menyangka pesta ini diapresiasi dengan sangat baik oleh anda,”balas Donghae berwibawa.

“Oh ya, perkenalkan para wanita cantik ini adalah sahabat-sahabat baik istriku. Kau pasti mengenal dia, kan?”ujar Siwon sembari menuding Yoona. “Dia sering muncul di TV.”

“Tentu saja,”Jessica yang berujar. Senyumnya terlontar untuk Yoona. “Senang bertemu denganmu, Im Yoona-ssi! Kudengar kau sudah menerima proposal kerjasama dengan proyek ini. Kau akan menerimanya, bukan?”

Mendadak dijadikan pusat perhatian di tengah situasi tak mengenakkan itu membuat Yoona tertawa kikuk mengiyakan.

“Nah, ini Kim Taeyeon dan Kwon Yuri. Mereka sudah bersahabat baik sejak SMA. Dua wanita karier yang cukup sukses. Mungkin kelak Safetech bisa mengajak mereka  bekerja sama juga.”

“Haha, semoga kesempatan itu datang,”sahut Donghae.

Siwon sama sekali tak menyadari ketegangan yang sudah mencekik para wanita itu. Bahkan keresahan dalam genggaman Tiffany luput dari perhatiaannya. Pandangannya tertuju pada Jessica. Ketenangan dan senyum gadis itu membuat ia menyangka, mereka akan berteman dengan baik.

“Ehm, Presdir Choi, bagaimana kau kita berbincang terpisah?”sahut Donghae.

Siwon tertawa ringan, “ah, tentu saja. Biarkan para wanita ini berbincang juga. Honey, kutinggal dulu, ya?”

Tanpa canggung, tanpa peduli pada pandangan berpasang mata di sekitarnya, Siwon mengecup Tiffany mesra. Lalu tanpa memberi perhatian lebih pada perubahan raut muka Jessica, ia berlalu bersama Donghae. Suasana hatinya yang kelewat baik pun membuat ia tak menyadari kecemasan pada sinar mata Donghae saat melepaskan genggaman tangan Jessica.

“Nikmati pestanya, Nona Jung.”ujar Siwon sebelum benar-benar berlalu. Ditanggapi dengan anggukan dan senyum anggun.

“Well, kejutan apa ini?”Suara dingin Taeyeon membuka pembicaraan di tengah kecanggungan mereka.

Jessica tersenyum. “Oraenmanida, chingudeul. Sudah berapa tahun baru bisa kita berkumpul seperti ini? Lama sekali ya?”ujarnya tanpa terganggu dengan tatapan tajam Taeyeon.

“Im Yoona, kau benar-benar bekerja sama dengannya?”bisik Yuri tegas.

“Ah itu… aku tidak tahu… kalau dia…”

“Kau tambah cantik saja, Yoona-ya… Apa kabarmu, Yul? Kudengar fashion show terakhirmu di Paris berjalan sukses. Selamat, chingu!”

Chingu apanya?”Taeyeon menyahut kasar, sangat tak bersahabat. “Kenapa kau kembali lagi? Bukankah kau sudah memutuskan untuk melarikan diri selamanya?”

“Bukan berarti aku tidak bisa kembali, kan? Lagipula aku tidak datang sebagai Jung Sooyeon. Apa Tiffany tidak memberitahu kalian? Safetech memilihku, jadi disinilah aku,”balas Jessica tenang.

“Jadi apa maksudmu sebenarnya? Kau dan Donghae oppa… benar-benar berkencan?”tanya Yuri.

Jessica menoleh, tersenyum untuknya dan sekaligus menatap Tiffany.

“Tidak ada yang akan menghalangi, kan? Atau apa sekarang aku tidak boleh memilih siapa yang akan kukencani?”

Taeyeon mendengus. “Memangnya siapa yang mau peduli denganmu?”ejeknya.

“Begitulah…”gumam Jessica, tatapannya bersirobok dengan mata kalut Tiffany. “Siapa yang akan peduli pada kami? Aku sendiri bertanya-tanya tentang itu.”

Sebuah seringai mengejek. Tiffany membuang desah, terintimidasi oleh tatapan itu.

“Bagaimana pun aku sangat senang bertemu dengan kalian di sini. Seperti reuni, kan, Fany-ya?”lanjut Jessica, masih menyeringai.

“Kau benar-benar rubah, Jung Sooyeon. Berani sekali kau muncul setelah apa yang kau lakukan pada Tiffany. Ah, aku jadi penasaran, kenapa kau tiba-tiba mengajukan proyek kerjasama dengan Jaeshin? Tidak ada maksud tertentu bukan?”sela Yuri.

“Maksud tertentu? Seperti apa?”balas Jessica tenang.

“Entahlah… kurasa kau tidak terlalu bodoh untuk mengenal dirimu sendiri. Tapi kalau aku yang berada di posisi Tiffany, kurasa aku tak perlu berpikir dua kali untuk segera menyingkirkanmu dari sini.”

“Benarkah?”Jessica menoleh pada Tiffany, “Apa kau juga akan melakukan seperti itu? Mengusir dan membatalkan proyek? Apa nyonya Choi sudah memiliki keberanian semacam itu?”

“Eonni, sudahlah…”sela Yoona sungkan, “kenapa kalian malah bertengkar? Ini kan pertemuan kita setelah waktu lama…”

“Sepertinya kau belum tahu apa yang sudah dilakukan perempuan ini, Yoona. Aish, mengingatnya saja membuatku ingin muntah. Mian, Fany-ya, tapi kurasa aku harus mencari angina segar dulu. Berhati-hatilah!” dengan tatapan mata sinis membunuh, Yuri melenggos meninggalkan mereka.

“Fany-ya, aku harus membicarakan sesuatu denganmu. Ayo, lebih baik tinggalkan saja dia! Aku tidak bisa membiarkanmu dilukai lagi!”Taeyeon menarik lengan Tiffany, menjauhi Jessica yang bergeming.

Mereka benar-benar mengacuhkanku…

Jessica mendengus sinis. Sahabat macam apa itu?

“Eonni, apa kau baik-baik saja?”suara lirih Yoona terdengar. Jessica segera tersenyum.

“Memangnya aku terlihat menyedihkan sekarang? Jangan khawatir, mereka hanya belum tahu siapa yang sedang mereka hadapi sekarang!”

Tekadnya kembali terlapisi oleh baja kuat. Ambisi untuk membuat Tiffany bertekuk lutut di depannya semakin berkobar. Mata Jessica memincing penuh amarah melihat senyum Tiffany pada Taeyeon, pada sahabat-sahabat baiknya. Ah, waktu benar-benar telah merubah segalanya.

“Eonni…”panggil Yoona  cemas.

“Jangan khawatirkan aku!”sergah Jessica dingin, “dan jangan lupakan kesepakatan kita, Yoona. Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai kau membuka mulut tentang itu!”

“Tapi, eonni…”

Baru saja Jessica hendak menanggapi. Yuri sudah kembali menghampiri mereka. Masih dengan wajah juteknya.

“Apa kau lakukan di sini, Yoong? Tiffany ingin membicarakan sesuatu denganmu!”

Dan tanpa menoleh pada Jessica, Yuri menarik Yoona menjauh. Menyisakan luka yang kembali menganga pada batin Jessica. Pandangannya nanar, mengikuti keempat wanita itu. Dulu, tempatnya begitu terbuka di tengah mereka. Tapi sekarang bahkan persahabatan bertahun-tahun pun tak cukup kuat untuk menariknya kembali pada mereka. Ah, persahabatan apa yang abadi di dunia ini? Jessica menghela panjang, memutuskan untuk kembali ke sisi Donghae. Hanya pria itu tempat sandarannya sekarang.

***

“Apa kau baik-baik saja, Fany-ya?”tanya Taeyeon cemas. Diulurkannya segelas air dingin pada Tiffany.

“Tidak apa-apa,”lirih Tiffany.

“Kenapa kau tidak memberitahu kami kalau dia sudah kembali? Dan apa-apaan itu, kau menerima proyek kerja sama dengannya? Aish, Hwang Miyoung, aku jadi merasa tak mengenalimu lagi!”gerutu Yuri.

“Aku juga tidak tahu,”gumam Tiffany. Pandangannya tertuju pada sosok Jessica.

Harus diakuinya, pesona itu masih ada. Keanggunan dan keangkuhan seorang Jung masih melekat kuat dalam diri Jessica. Ketika dilihatnya Jessica bergabung dengan Donghae dan Siwon, perih menyayat-nyayat batinnya. Dua pria itu sama-sama berharga dalam kehidupannya. Dan sekarang Jessica berada di tengah-tengah mereka berdua sementara ia hanya mengawasi dari kejauhan.

“Jadi, Siwon oppa yang mengundangnya masuk? Ah, pria itu masih waras,kan?”

“Aku benar-benar mengkhawatirkanmu, Fany-ya…”lirih Taeyeon. “Apa kami perlu ikut campur? Aku bisa membantumu menyingkirkan perempuan licik itu!”ujarnya.

Tiffany menggeleng cepat. “Tidak usah. Biarkan aku yang mengurusnya.”

Pandangannya kembali tertuju pada mereka. Cemburu itu meradang nyeri menyayatnya. Ah. Tiffany menghela panjang. Jessica …apa kau benar-benar ingin bertarung denganku?

“Lihatlah, lihatlah, berani sekali dia menggoda Siwon. Fany-ya, biar kuberi pelajaran pada perempuan jalang itu!”ujar Yuri geram.

“Jangan, Yuri-ya! Meskipun aku tidak menyukai keberadaannya, dia adalah relasi kerja Jaeshin. Siwon oppa pasti tidak akan melepaskannya begitu saja. Biar aku saja yang mengurus ini, oke?”tukas Tiffany.

“Eonni, bagaimana kalau kau istirahat dulu? Sepertinya kau sangat kelelahan,”sela Yoona khawatir.

 

***

Jessica dengan senang hati menerima gelas wine yang disodorkan Siwon. Hanya mereka berdua di meja itu. Beberapa saat yang lalu Donghae pamit ke toilet.

“Aku mendengar rumor menyenangkan tentang pasangan Jaeshin yang harmonis. Perfect Couple? Kedengarannya sesuatu yang indah sekali. Sudah berapa lama kalian menikah?”ujar Jessica membuka pembicaraan.

Siwon tertawa kecil. “Kau sedikit terlambat mendengar rumor itu, nona Jung,”ujarnya. “Begitulah. Aku tidak meminta orang-orang memanggil kami dengan sebutan seperti itu. Kau tidak lupa kalau pewaris Jaeshin sudah berusia lima tahun lebih,kan? Pernikahan kami masih muda, tapi ya…. Setiap hari selalu terasa menyenangkan.”

Jessica tersenyum tipis di balik gelas winenya. Perih? Tentu saja. Lukanya belum mengering.

“Bagaimana dengan rencana pernikahan kalian? Kau dan Presdir Lee juga terlihat sangat cocok bersama.”ujar Siwon kemudian.

“Entahlah,”gumam Jessica. “Kami akan segera menikah. Sesegera mungkin.”

Keduanya bertukar senyum lalu kembali senyap.

“Jadi, bagaimana ceritanya putri Seoul berhasil merintis karir di Jepang? Apa tidak ada perusahaan di Seoul yang mau menerimamu sampai harus ke Jepang?”tanya Siwon berkelakar.

“Aku hanya ingin menghindari masa lalu.”

Siwon mengernyit. “Terdengar seperti ada luka dalam masa lalu seorang Jung Jessica. Apa itu benar?”

Jessica tertawa ringan. Tatapannya tertuju pada gelas wine yang dipermainkannya.

“Memangnya ada orang yang tak pernah terluka dalam masa lalu mereka? Aku hanya salah satu dari mereka. Mungkin terdengar sangat berlebihan, tapi semakin lama luka itu semakin mencekikku. Aku kehilangan sahabat dan juga cinta… menyedihkan sekali, kan? Tapi aku sangat berterima kasih pada mereka, karena aku berhasil menempati posisiku yang sekarang tak lain untuk menunjukkan pada mereka bahwa aku pun bisa. Begitulah… sebagian niatku datang kembali ke sini adalah untuk mencoba bernostalgia dengan masa lalu.”

“Wah, melihat dirimu yang sekarang.. bisakah kita mengatakan bahwa mereka yang mencampakkanmu itu adalah orang-orang yang menyedihkan?”ujar Siwon tersenyum.

Alis Jessica bergerak naik, disusul dengan senyum cantiknya.

“Benarkah? Mereka adalah orang yang menyedihkan?” Tawa Jessica lepas seketika. “Ah, menyenangkan sekali mendengar kaulah yang mengatakannya.”

“Memang seperti itu,kan?”sahut Siwon ikut tertawa. “Tapi, Lee Donghae benar-benar beruntung memilikimu, Jessica Jung. Percayalah.”

“Lebih beruntung dari dirimu dulu?”

Kening Siwon mengerut seketika. Sesuatu yang ganjil baru saja melintas di kepalanya, tapi senyum dan tatapan Jessica mengalihkannya.

“Terima kasih atas pujiannya, Choi Siwon. Istrimu pasti sangat bahagia dengan suami yang pandai memuji ini.”ujar Jessica kalem.

Siwon mengangguk-angguk. Ia mendadak terusik dengan keganjilan yang melintas sekilas tadi hingga bingung mau menanggapi apalagi. Tapi ia juga tak perlu repot-repot melakukannya, karena orang baru saja mereka bicarakan datang menghampiri.

Tiffany melemparkan pandangan membunuh pada Jessica begitu ia tiba di dekat mereka. Cemburu? Hey, istri mana yang tak terbakar hatinya melihat sang suami duduk bersama mantan kekasihnya? Terbawa oleh efek itulah Tiffany merasa hambar ketika Siwon mengecup pipinya.

“Kenapa baru bergabung, sayang?”sambut Siwon.

“Sepertinya kalian sudah cukup lama bersenang-senang.” Tiffany tak bisa mencegah nada sarkas itu keluar bersama kalimatnya.

Siwon tertawa dan merangkul Tiffany agar duduk di dekatnya. Tentu saja ia akan menanggapi itu sebagai cemburu yang wajar. Sementara Jessica, tersenyum anggun dan nampak berusaha keras untuk tak terusik dengan kemesraan yang diumbar itu.

“Kami membicarakanmu barusan, honey,”ujar Siwon pada Tiffany.

“Benarkah?” Tiffany bertanya pada Siwon, tapi tatapannya tajam terarah pada Jessica. “Apa hal menyenangkan atau seseorang berusaha menjatuhkanku?”

“Tentu saja hal yang menyenangkan. Kode etik perusahaan, aku tidak akan mungkin menjelek-jelekkan relasi kerjaku, kan?”balas Jessica tenang.

Tiffany tak membalasnya. Bukan karena tatapan mengintimidasi Jessica, tapi juga karena jemari Siwon yang mengelus-elus tangannya. Tentu saja itu memecah konstentrasinya. Saat ia menoleh pada Siwon, pria itu tersenyum manis.

“Kemana Direktur Lee?”tanya Tiffany kemudian, berusaha menepis kemarahannya.

“Mwo-ya?”renggut Siwon, “kau mencari pria lain sementara aku ada di sampingmu? Apa sekarang kau mencoba mengabaikanku, Nyonya Choi?”

Siwon dan tatapan menggodanya. Tiffany mau tak mau merasakan kemenangan luar biasa menyadari Jessica yang salah tingkah. Dan atas dorongan itu juga ia memasang senyum terbaiknya pada Siwon.

“Aigoo, kenapa kau semakin pandai merajuk, hm? Just you, honey…”

Jessica memalingkan wajah begitu Tiffany mendaratkan kecupan di pipi Siwon. Hatinya bergemuruh. Cemburu? Hey, ketika ia meninggalkan Korea beberapa tahun lalu, itu bukan karena ia tak mencintai Siwon lagi. Justru sebaliknya, karena ia mencintainya. Dan rasa itu masih sama.

“Kau aneh sekali. Apa yang terjadi?”

“Tidak ada apa-apa. Memangnya hanya kau yang boleh begitu?”

Perbincangan mereka hanya terdengar samar-samar oleh Jessica. Oh ayolah, salahnya sendiri memancing Tiffany. Bahkan ketika Donghae datang beberapa saat kemudian, rasa perih di ulu hatinya masih terasa ngilu.

“Wah, pasangan Jaeshin sudah ada di sini rupanya,”ujar Donghae tertawa ringan. Tersamar ia melirik Jessica dan segera tertohok menyadari ada kepingan luka dalam tatapan itu.

“Oh ya, kenapa aku tidak melihat Tuan Besar Choi?”tanya Donghae sembari duduk di samping Jessica. Sebelah tangannya menyusup ke bawah meja, mencari dan menggenggam jemari kurus Jessica.

“Ah, sebentar lagi mereka tiba,”ujar Siwon, melirik jam tangannya.

“Baguslah. Sudah lama sekali aku ingin memberi salam pada mereka. Iya, kan, chagi?”

Jessica mengangguk ketika Donghae menoleh padanya.

Seorang pelayan lalu menghampiri mereka, membisiki sesuatu pada Siwon.

“Mereka sudah datang. Aku akan menjemput mereka dulu. Yeobo, temani tamu kita ini, ya?”ujarnya sembari bangkit meninggalkan meja.

Gerah. Tiffany meraih gelas wine dan menyesap isinya perlahan.

“Lama tidak bertemu, Fany-ya…”ujar Donghae.

“Sepertinya begitu,”balas Tiffany dingin. “Jadi, kalian bersekongkol?”tudingnya.

“Kami sudah bertunangan,”kata Donghae.

“Baguslah. Tapi aku tidak yakin kalian benar-benar saling mencintai.”

“Kenapa?”tukas Jessica. “Karena Donghae oppa pernah mencintaimu setengah mati dan satu-satunya pria yang kucintai adalah Choi Siwon?”

Tiffany mendengus. Ia terlalu terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Jadi, dia benar-benar masih mencintai Siwon oppa?

“Sandiwara kalian rupanya sangat memuakkan!”desisnya.

“Lebih memuakkan dari sandiwaramu selama ini?”balas Jessica tenang. “Kau terlihat bahagia dengan pernikahanmu, tapi aku benar-benar tidak sabar menunggu akhir sandiwaramu, Tiffany. Haruskah aku yang mengakhirinya atau kau mau menunggu sampai Siwon yang mengakhirinya?”

“Berani-beraninya kau…”

“Sudahlah, Sica-ya…”ujar Donghae menyela. “Jangan terburu-buru begini! Ayo, temui Tuan Besar Choi!”ajaknya sembari berdiri.

“Aku tidak akan membiarkanmu kali ini, Tiffany. Kuharap kau sudah cukup puas dengan kenyamanan yang kauterima selama sepuluh tahun ini. Aku sudah menyingkir memberimu jalan, jadi kali ini kaulah yang harus menyingkir dari jalanku,”ujar Jessica sebelum meninggalkannya.

Tiffany menghela napas panjang, membiarkan pasokan udara di paru-parunya cukup agar ia tak perlu sesak napas. Kata-kata dan tatapan Jessica sangat mengusiknya. Hingga rasa dingin itu terasa jelas merambati tubuhnya. Terhunyung ia mencoba bangkit menghampiri mertuanya yang baru tiba. Tapi, tunggu dulu… Tiffany terperanjat tiba-tiba.

Oh, tidak! Jessica akan menemui mertuanya… Jessica datang untuk balas dendam… Jessica tidak akan membiarkannya tenang lagi… artinya, Jessica benar-benar datang untuk menghancurkan Jaeshin. Setelah mengintimidasinya, apa sekarang ia akan mengintimidasi mertuanya? Tiffany mendadak lemas. Jangan bilang kalau Jessica juga sudah tahu tentang keterlibatan mertuanya… Jangan bilang kalau Jessica ingin menghancurkan mereka secara keseluruhan… Jangan bilang kalau…

“Fany-ya, apa yang terjadi?”

Taeyeon tiba tepat waktu, menyangga lengannya hingga ia bisa bersandar beban pada sahabatnya itu.

“Aku harus istirahat sebentar, Tae-ya…”gumam Tiffany. Pandangannya nanar penuh ketakutan membaca keterkejutan di wajah mertuanya begitu Jessica menghampiri mereka. “Antar aku ke kamar, please…”pintanya.

“Oke, oke. Jangan khawatir, aku akan membantumu!”ujar Taeyeon tanggap. “Yoona-ya, panggilkan Siwon oppa!”

***

Siwon baru saja menyelesaikan pembicaraannya di telepon setelah mempersilahkan orangtuanya beristirahat di kamar hotel saat Yoona menghampirinya. Keningnya berkerut menyadari ekspresi wajah Yoona yang pucat.

“Wae? Kau sedang berakting di depanku? Disuruh Miyoungku meminta sesuatu?”ujarnya cepat.

Yoona berdecak kesal, “Turunkan kepedeanmu itu sesenti saja, Choi Siwon! Tapi aku memang dimintai menemuimu. Tiffany eonni mencarimu.”

“Kenapa bukan dia yang menghampiriku?”gumam Siwon tak mengerti.

“Dia sudah kembali ke kamar hotel. Cepatlah temui dia, oppa!”tukas Yoona cepat.

Siwon berpikir sesaat, sebelum segera bergegas meninggalkan ruang pesta. Sepeninggal Siwon, Yoona menghela panjang. Entah lega, entah tertekan. Baru saja ia hendak menyusul, sosok Donghae yang berjalan menghampirinya membuat ia mengurungkan niat.

“Dimana Jessica eonni?”tanya Yoona cepat begitu mereka berhadapan.

“Menemui Tuan Besar Choi. Bagaimana keadaanmu? Sudah lama sekali tidak melihatmu, shiksin.”ujar Donghae tersenyum.

“Apa maksudmu tersenyum di saat seperti ini,eoh?”gerutu Yoona, “bagaimanapun, terima kasih sudah menjaga eonni. Kau sangat membantunya, oppa. Sudahlah, aku tidak boleh terlihat akrab denganmu. Eonni yang lain akan menanyaiku macam-macam.”

“Yoona-ya,”panggil Donghae cepat sebelum Yoona meninggalkannya.

“Wae?”

“Tidak bisakah kau membujuk mereka? Berpura-pura itu tidak akan bisa bertahan lama. Kalau hanya begini terus, Jessica akan semakin tertekan dan itu akan sangat buruk untuk kesehatannya. Bicaralah dengan mereka, please.”

Yoona menghela panjang, “seandainya aku bisa melakukannya, itu pasti sudah terjadi sejak lama. Tapi, kau tahu sendiri,kan, terlalu banyak orang yang akan tersakiti kalau seperti itu. Melihat Siwon oppa dan Tiffany eonni juga hanya semakin membuatku merasa bersalah. Mereka juga… saling mencintai, oppa. Sangat mencintai,”lirihnya.

Donghae tersenyum tipis sebelum berujar pelan, “agaknya kau juga mulai berpihak dengan mereka,ya. Tidak apa-apa, aku juga tidak bisa menyalahkanmu. Kalau begitu biarkan saja permainan ini berjalan seperti takdirnya. Ah, aku harus menjemput Jessica. Senang bertemu denganmu. Jangan lupa mengundangku di pesta pernikahanmu nanti, deer!”

Sebelum berlalu, Donghae mengacak pelan rambut Yoona seperti yang sering dilakukannya dulu. Hal itu membuat Yoona cemberut, namun segera diliputi kesedihan. Ia menghela panjang, resah luarbiasa.

***

Plak. Plak.

Dua tamparan mendarat mulus. Tapi, itu belum cukup. Bersamaan dengan jeritan histeris Jessica, tamparan-tampraran lainnya kembali menyusul. Jessica terisak, histeris, menjerit dan memukuli apa saja yang bisa dijangkaunya dari tubuh Siwon.

“Brengsek! Kau brengsek, Choi Siwon!! Brengseeeek!!”

Drama itu terus berlangsung sampai setengah jam lamanya. Terdengar begitu pilu. Sementara Siwon yang tak bisa lagi membela diri hanya berusaha keras untuk tidak ikut menangis bersama Jessica. Sekujur tubuhnya terasa sakit oleh pukulan amarah Jessica, tapi hati dan perasaan bersalahnya jauh lebih besar. Sementara tak jauh dari mereka, meringkuk ketakutan di balik selimut yang menutupi tubuh polosnya, Tiffany juga terisak.

“Kau pikir apa yang baru saja kau lakukan, eoh? Kenapa kau melakukan ini padaku?! Jawab aku, Choi Siwon!!”jeritan Jessica kembali menggema, bersamaan dengan tangannya yang terkulai lemas, isakannya terdengar semakin pilu.

“Sica… aku benar-benar tidak tahu… Maafkan aku, Sica!”Siwon, tak lagi bisa menahan airmatanya, mengulurkan tangan ingin merengkuh Jessica ke dalam pelukannya. Tapi, secara refleks juga Jessica menjauhkan diri.

“Kau benar-benar busuk… Aku tidak tahu apa salahku sampai kau…”isakan Jessica menahan kata-kata itu.

Tiffany menahan nyeri yang menusuk-nusuk di hatinya. Ia kembali melihat betapa besar Siwon mencintai Jessica. Pria itu begitu rapuh, merasa sangat bersalah dan tersiksa. Agaknya ketika ia beranggapan jika Siwon tidak benar-benar mencintai Jessica, ia telah melakukan kesalahan besar. Karena alih-alih meminta maaf padanya, Siwon justru menudingnya penuh amarah dan berlari mengejar Jessica.

Ia terpuruk di sana. Terjebak dalam petaka yang diciptakannya sendiri. Kehilangan mahkotanya, juga kehilangan cintanya. Tiffany luruh dalam isakan tangis.

Kenapa harus Jessica? Kenapa Siwon memilihnya? Bukankah mereka yang saling kenal terlebih dahulu? Seharusnya Siwon melihatnya yang telah memendam cinta bertahun-tahun. Apa yang dimiliki Jessica yang tak dimilikinya?

Kecantikan? Mereka imbang. Pamor? Mereka tidak berbeda. Harta? Tiffany bahkan bertaruh Jessica tidak lebih kaya darinya. Terlebih karena sesungguhnya, keluarga Jessica akan segera terhapus dari jajaran chaebol Korea. Lalu apa? Kasih-sayang? Perhatian? Kesetiaan? Tiffany menang dari Jessica untuk semua itu!

Di saat Siwon sakit, ialah yang merawat Siwon sementara Jessica, sibuk menghabiskan waktu di tempat pemotretan. Ketika Siwon ulangtahun, selalu Tiffany yang pertama memberinya ucapan selamat ulang tahun. Ketika Siwon membutuhkan sesuatu, Tiffany yang selalu maju pertama. Sementara Jessica, meski ia bilang begitu mencintai Siwon, sikapnya selalu acuh. Bahkan ia lebih sering mementingkan hobi dan hal lainnya ketimbang Siwon. Tapi, kenapa Siwon tidak berpaling? Hati Tiffany teriris sembilu. Tercerai berai. Hancur. Dan kehilangan itu semakin sempurna ketika Siwon, dengan wajah memerah menahan marah, berteriak tepat di depan wajahnya.

“Jangan pernah berharap aku mau melihatmu lagi, Tiffany! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Kalau sampai Jessica tidak sudi memaafkanku, aku juga tidak akan pernah sudi berteman denganmu lagi!”

Ketika ia terisak, memeluk kaki pria itu memohon-mohon, Siwon dengan ringannya menendang dan menghempaskannya. Siwon benar-benar tak pernah melihat ke arahnya lagi. Karena bagi Siwon, kecelakaan yang mereka lakukan, adalah murni kesalahan Tiffany.

 

Decitan suara pintu membuat Tiffany tersentak. Buru-buru ia menghapus sisa tangisannya dan bermaksud memalingkan wajah dari tatapan Siwon. Tapi, Siwon telah menjadi pria yang begitu peka sejak pernikahan mereka.

Siwon jelas sangat terkejut ketika mendapati istri tercintanya nampak berantakan. Wajah cantik yang selalu dipujanya terlihat aneh karena mata yang sembab dan make-up yang tak lagi sempurna. Siwon bergegas menghampiri Tiffany dan berhasil menahan lengannya sebelum Tiffany mengelak.

“Ada apa, yeobo? Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi?”

Tiffany menggeleng, masih menyembunyikan wajah.

“Aku hanya lelah. Hanya lelah.”

“Kau berbohong. Apa yang terjadi?”desak Siwon sekali lagi.

Alih-alih menjawab, Tiffany memeluk Siwon erat. Dan airmata kembali tumpah di sana. Tiffany tak bisa menyembunyikan isakannya lebih lama. Sehingga ketika pelukan hangat Siwon ia terima, meledaklah tangisnya.

Siwon kebingungan. Sangat.

“Ah, apa yang sudah kulakukan, Tuhan?” Siwon berbisik cemas, menggerutu pada dirinya sendiri. “Apa aku menyakitimu lagi, sayang? Apa yang terjadi?”

Tangis Tiffany semakin menjadi-jadi. Rasanya beban berat itu semakin menjadi-jadi hanya karena ia mendapatkan kecemasan itu. Bahkan ketika Tiffany menangis, Siwon selalu menyalahkan dirinya sendiri. Persis seperti yang ia lakukan pada Jessica dulu.

“Sudah baikan?”tanya Siwon, kurang lebih setengah jam kemudian. Tiffany mengangguk, agak malu mengusap wajahnya. Pasti terlihat memalukan, gumamnya.

“Masih belum ingin bicara denganku?”desak Siwon pelan.

“Kau tidak akan pernah meninggalkanku, kan, Oppa?”Tiffany mendongak, menatap jauh ke dalam mata itu.

“Apa maksudmu? Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan bidadariku ini, hm?”

“Berjanjilah, oppa! Apapun yang akan terjadi nanti, kau harus berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkanku… atau memisahkanku dengan Danny. Kau mau berjanji,kan?”

Siwon mendesah berat. Merasa sangat pusing dengan desakan tak beralasan itu.

“Tiffany…”

“Aku takut, oppa.” Isakan Tiffany pecah lagi. “Aku selalu mimpi buruk akhir-akhir ini. Aku benar-benar takut kehilangan kau dan Danny, seperti yang terjadi di mimpiku.”

Ah, rupanya perkara mimpi. Siwon kembali mendesah panjang.

“Itu hanya mimpi, sayang.”ujarnya letih.

“Dan juga, kau harus memastikan Jaeshin aman… dari gangguan apapun. Kau akan melakukannya,kan?”

“Tentu saja, akan kulakukan.”

***

Akhir pekan yang buruk belum berakhir bagi Tiffany. Ketika mereka pulang ke rumah, sosok Tn&Ny Choi terlihat bercengkrama dengan Danny di ruang keluarga. Kejutan? Tentu saja. Tapi Tiffany mendadak teringat dengan Jessica. Mereka pasti datang karena masalah itu.

“Grandma, Daddy dan Mommy sudah datang!”

Teriakan lantang Danny menyadarkannya, disusul oleh tubrukan pelukan makhluk kecil itu. Tiffany berjongkok, memberikan pelukan dan ciuman sayang.

“Kenapa tidak memberi kabar kalau kalian sudah di sini? Kami tidak akan berlama-lama di pesta kalau tahu kalian menunggu,”ujar Siwon sembari beranjak duduk di sofa bersama mereka. “Yah, shikshin!”Ia menambahkan sembari menoleh pada Sooyoung yang sedang asyik membolak-balik majalah sembari menyelonjorkan kaki di sofa. Tidak sopan sekali, gerutu Siwon. “Ambilkan aku minuman!”perintahnya.

“Kenapa menyuruhku sementara kakimu panjang begitu? Ambil saja sendiri!”

Siwon berdecak kesal. Tapi rasa lelah membuatnya malas berdebat. Ia kembali menoleh pada orangtuanya.

“Ada masalah apa, Eomma?”

“Tidak ada. Hanya merindukan cucuku!”jawab Ny.Choi sembari menyambut Danny kembali ke pelukannya.

Tiffany ikut bergabung dengan mereka beberapa saat kemudian sembari membawa nampan berisi minuman untuk Siwon.

“Kami akan menginap di sini, Siwon-a. Tidak apa-apa,kan?”ujar Ny.Choi lagi.

“Kenapa mendadak sekali?”

“Aish, Oppa, pertanyaan apa itu?”Tiffany menyambar dengan menggerutu. “Eomeonim bisa menginap kapan saja. Ini kan rumah kalian juga, kenapa sungkan begitu?”lanjutnya sembari tersenyum cantik pada kedua mertuanya itu.

“Setidaknya aku memiliki menantu yang peka,”gumam Tn.Choi, ia menggeleng pelan melihat tingkah Siwon tadi. “Kau pasti kewalahan menghadapi anak bandel ini, Fany-ya. Maafkan dia, ya?”

Siwon memberengut kesal. Terlebih karena Danny tiba-tiba menertawakannya.

“Aish, apa-apaan itu, Abeoji!”gerutunya. “Yah, Choi Daniel! Kenapa kau tertawa?”

“Jarang-jarang dia melihat daddy-nya yang sok cool itu diomeli seperti ini, jadi rasanya wajar saja dia tertawa. Iya, kan, jagoan kecilku?”sahut Sooyoung. Sebuah tos persekutuan terjadi di depan wajah Siwon. Membuat pria itu makin mendengus.

Tiffany dan Ny.Choi hanya tertawa.

“Siapa jagoan kecilmu? Kau pikir itu anakmu?”gerutu Siwon.

“Itulah… kenapa sulit sekali melihat putri bandel ini memiliki keluarga sendiri?”tambah Tn.Choi. “Yang dilakukannya hanya berbelanja sepanjang hari dan berkeliling restaurant. Tidak heran sampai sekarang masih saja mengacau di rumah orang.”

“Abeoji!”seru Sooyoung tak terima, “kenapa kau malah menyudutkanku? Nan namchin isseoyo! Aish, kalian ini… selalu saja membahas pernikahan!”

“Makanya menikahlah dengan cepat! Biar pria tua ini merasa tenang!”

“Kenapa juga abeoji terganggu denganku? Aku juga tidak dibutuhkan di Perusahaan,kan? Jadi jangan khawatir, cepat atau lambatnya aku menikah itu tidak akan mempengaruhi saham!”

“Aigoo, aigoo… ayah dan putri ini tidak ada habisnya bertengkar! Sudah, sudah, sebaiknya kita istirahat! Danny-ya, bagaimana kalau tidur bersama grandma & grandpa?”

Danny bersorak, lalu kedua pasang tetua Choi itu beranjak terlebih dahulu meninggalkan ruang keluarga. Menyisakan Sooyoung yang masih menggerutu.

***

Jessica terperanjat kaget saat gelas berisi soda dingin itu ditempelkan di pipinya. Cengiran usil Donghae yang didapatinya ketika berbalik membuat ia mendengus cemberut.

“Melamunkan apa lagi, eoh?”tanya Donghae sembari duduk di samping gadis itu dan menyerahkan gelas sodanya. “Bagaimana pertemuan dengan mantan calon mertuamu itu, hm? Berjalan lancar?”lanjutnya berkelakar.

“Begitulah…”gumam Jessica mengambang. Pandangannya menerawang jauh ke atas langit Seoul yang hitam karena kehilangan banyak bintangnya malam itu. “Mereka sangat terkejut, Oppa…”

“Sudah diprediksi,”gumam Donghae santai.

“Dia bahkan masih memanggilku Nak, perempuan tua itu…”Jessica mendengus, “benar-benar aktris hebat. Dia bahkan masih saja berpura-pura menyayangiku saat kuperingatkan. Aku tidak pernah benar-benar membencinya, oppa… Dia sangat berharga seperti ibuku. Tapi tiap kali mengingat pengkhianatannya dan apa yang dilakukannya pada Emerald Corp, rasanya aku ingin membunuhnya.”

“Jadi, apa yang dikatakan Tuan Choi?”

“Dia tidak bisa menyangkal, tentu saja. Dia gemetaran,”ujar Jessica kemudian tersenyum kecil, “tidak lama lagi dia akan kehilangan muka melihat putra kesayangannya berlutut di depanku. Drama keluarga yang membosankan, bukan?”

Donghae tertawa kecil. “Sejauh ini rencanamu berjalan lancar, Sica. Lalu setelah ini apa? Bagaimana dengan Choi Siwon? Masih mengejarnya?”

Jessica menoleh ketika Donghae mengatakan itu. Senyumnya terbentuk, menyadari sorot ketidak-sukaan dalam nada bicara Donghae.

“Drama ini akan segera selesai begitu aku melihat Siwon berlutut di depanku dan Tiffany harus kembali pada kehidupannya yang sebelumnya. Hanya itu tujuan kita ke sini, Oppa, remember?”

“Jika Siwon mengingatmu kembali lalu menginginkanmu, bagaimana?”tanya Donghae lagi, mendesak.

Jessica menghela panjang lalu bersandar di bahu kokoh Donghae. “Aku tidak tahu,”gumamnya.

Donghae tersenyum miris. “Kau masih sangat mencintainya.”

“Dia sudah menjadi ayah dan suami dari sahabatku. Dan mereka adalah para pengkhianat yang membuatku kehilangan keluarga. Antara cinta dan luka itu… bagaimana aku bisa memilihnya, oppa? Sementara kita bisa duduk tenang di sini, hanya berdua…”bisik Jessica parau.

Donghae lalu meraih jemari Jessica. Sesaat ia tercenung. Gadisnya semakin kurus, ia membatin resah.

“Aku sangat menyukai genggamanmu, Oppa,”bisik Jessica lagi, mengamati jemarinya yang digenggam erat oleh Donghae. “Aku merasa sangat terlindungi selama ini. Terima kasih.”

Ia mendongak, tersenyum untuk Donghae.

“Cukup tetap berada di sisiku, Sica-ya…

***

Choi Siwon menghela napas panjang. Sudah hampir sejam yang dilakukannya hanyalah berdiam diri di depan kaca jendela kantor, mengawasi arus kehidupan yang tengah berlangsung di bawah sana.

Sesuatu menganggu pikirannya sejak kemarin. Hingga sekarang ia pun belum menemukan titik tenangnya.

Jessica Jung…

Jessica Jung…

Jessica Jung…

Ia membuang desah, letih. Siapa kau sebenarnya, Jessica Jung? Kekuatan apa yang kau miliki sampai membuat Tuan Besar Choi memintaku berhati-hati?

Ketukan di pintu ruangan itu mengalihkan perhatian Siwon. Segera ia memutar kursinya dan menyuarakan izin masuk.

“Ah, kau menemukannya?”tanyanya cepat melihat siapa yang masuk.

“Ini datanya, Presdir!”

Sebuah map disodorkan padanya. Setelah mengucapkan terima kasih dan membiarkan ajudannya itu pergi, Siwon kembali memutar kursi, menghadap ke jendela. Map itu pun langsung dibuka dan diteliti isinya dengan hati-hati.

“Dia bersekolah di SMA Haneul?”bisiknya tak percaya. “Kenapa aku tidak mengingatnya?”

Lalu ketika ia membuka lembaran berikutnya, selembar foto terjatuh. Siwon segera memungutnya dan langsung dipenuhi keterkejutan melihat wajah siapa di dalam foto itu.

Jessica dan Tiffany. Berangkulan erat, tersenyum cantik pada kamera.

Siwon mendesah keras. Sesuatu yang mengganjal itu semakin membesar. Apa-apaan ini? Umpatnya. Jadi, mereka sudah saling mengenal? Tapi, kenapa…

“Siwon-a, bisakah kau pertimbangkan kembali proyek dengan Safetech itu?”

Perbincangan semalam dengan ibunya kembali hadir dalam batang memori Siwon.

“Kenapa, eomma? Baru kali ini eomma berbicara seperti ini. Memang ada apa dengan Safetech?”

“Tidak, hanya saja… aku memikirkan Tiffany. Pasti terasa sulit untuknya…”

Ia sama sekali tak mengerti maksud pembicaraan itu. Dan karena itulah ia terus memikirkannya. Pertanyaan dan kebingungan semakin berlipat sekarang ini. Tiffany tidak pernah tenang sejak kerja sama mereka dengan Safetech dimulai. Ibunya sampai memperingatkannya untuk tidak menyakiti Tiffany apapun yang terjadi. Sementara ayahnya kemarin pun ikut memberikan batu beban di pikiran Siwon.

“Kalau kau bisa membatalkan proyek itu, sebelum terlambat, lakukanlah! Kalaupun ada kerugian, tidak usah terlalu mempertimbangkannya. Masih banyak rekan kerja yang bisa kita temukan selain mereka!”

Ada apa dengan Safetech? Ah, tidak…. Ada apa dengan Jessica Jung?

Dari laporan yang diberikan oleh ajudannya itu, Safetech termasuk salah satu perusahaan bersih dengan kinerja diakui mumpuni oleh banyak perusahaan. Hampir semua proyeknya mendapatkan keuntungan berlipat. Lalu, kenapa mereka harus menghindari Safetech?

Dan juga… jika Jessica dan Tiffany dulu pernah berfoto dengan pose ini, kenapa ia harus menghindarkan Tiffany dari Jessica?

Siwon mengerang. Sesuatu tiba-tiba berdenging dalam batok kepalanya, membuat ia mengeluarkan erangan kesakitan.

***

“Bagaimana dengan meetingnya, honey?”

Tiffany yang baru saja masuk di dalam ruang kerja segera tersenyum menyadari kehadiran Siwon di kursinya.

“Apa yang kau lakukan di ruanganku?”

“Aku lelah, jadi sebelum ambruk aku ke sini dulu untuk mengisi ulang energiku,”ujar Siwon sembari menarik Tiffany duduk di pangkuannya.

Tiffany hanya terkekeh atas tingkah suaminya dan melingkarkan lengan di leher pria itu.

“Aku mencintaimu, Choi Siwon…”bisiknya bergumam.

“Aku jauh lebih mencintaimu…”

Tapi, Siwon merasa ada getar berbeda ketika ia mengucapkan itu. Ia memang menyentuh wujud Tiffany, tapi kenapa pikirannya tidak tenang begini? Padahal ia sangat menggilai wanita ini… Ada ada dengan dirinya?

“Honey…”panggilnya beberapa saat kemudian.

Tiffany tersenyum, menunggu kalimat berikutnya selagi jemarinya mengelus wajah tampan itu penuh kasih.

“Kau tahu, aku akan sangat menghargai dan menjaga hubungan kita… jadi, bisakah kita tidak menyimpan rahasia satu sama lain?”

“Apa maksudmu, Oppa? Rahasia apa?”

Siwon menghela. Konsentrasinya pecah. Pikirannya kusut sementara jemari Tiffany begitu halus menerpa kulitnya.

“Bukan apa-apa…”gumamnya.

***

Tengah malam. Donghae menggeliat bangun. Tangannya meraba, mencari sosok yang selalu mengantarnya ke alam mimpi. Tapi ketika ia menemukan kekosongan, sontak ia terbangun. Jessica tidak ada di sampingnya.

Donghae segera duduk, mengabaikan kantuknya yang masih mencoba mengusik. Tapi kecemasan itu mendadak menguap saat ia melihat seberkas cahaya di bawah pintu ruangan sebelah yang terhubung dengan kamar itu. Perlahan, Donghae meninggalkan kasur dan menghampiri ruangan itu. Ia tahu apa yang selalu dilakukan Jessica di sana, dan ia paham sekali luka apa yang akan didapatinya jika ia selalu mengawasi gadis itu. Tapi ia harus melakukannya, agar yakin Jessica baik-baik saja.

***

“JUNG JESSICAAAAAA!!! SARANGHAEEEYOO!!!”

SMA Haneul gempar oleh teriakan itu. Para murid berlarian menghampiri jendela, menyaksikan seorang remaja berdiri di tengah lapangan, di atas bunga-bunga berbentuk love.

Ia ada di sana. Tertawa dan tersipu sekaligus. Ah, Choi Siwon… sebegitu nekatnya kah dirimu?batinnya.

Ketika kemudian ia digiring oleh teman-temannya, Siwon menyambut dengan wajah sumringah yang menjadikannya puluhan kali lebih tampan di mata Jessica.

Lalu setelah melewatkan hari-hari penuh kenangan, pada sebuah hari istimewa, Siwon menghampirinya. Di depan keluarga Jessica, pria itu menatapnya serius.

“Jung Jessica, would you be a mother for my childrens? Be my breath from now on and forever?”

Ia tersenyum haru, menatap memuja pada sosok itu. Lalu menoleh untuk mendapatkan anggukan persetujuan dari orangtuanya yang juga berbinar bahagia.

“I can’t say no, Oppa…”bisiknya parau.

Lalu mereka berpelukan, bertukar cinta dengan bahagia yang menggunung. Dan sebuah cincin disematkan di jari manisnya.

Jessica menghela. Merasakan perih itu menyayat-nyayat nadinya. Di tangannya terpegang sebuah kotak berisi cincin, yang sepuluh tahun lalu dikenakannya dengan bangga. Ketika ia mengelus permukaan cincin itu, setetes air terjatuh.

Aku tidak pernah meninggalkanmu, Oppa…

Ia mengeluarkan cincin itu, menyematkannya dengan hati-hati ke jari manisnya. Longgar. Jessica tersenyum miris. Bahkan jemarinya pun sudah mengurus demi menolak cincin pengikat hubungan mereka. Dilepasnya kembali dan diletakkan di kotak semula.

Dengan hati-hati dan tangan sedikit gemetar, Jessica meletakkan kotak cincin itu di atas meja, di tengah-tengah dua lilin besar yang memendarkan cahaya untuk menemaninya. Ada vas berisi bunga lili kuning di atas meja itu juga. Dan di dinding di hadapannya, puluhan lembar foto terpajang. Momen kebersamaan dan cinta mereka terekam jelas di sana. Lalu sebuah kotak tebal yang juga berada di atas meja itu diraihnya.

Puluhan lembar kertas undangan pernikahan yang sudah usang,  masih tersimpan rapi di sana. Ada juga puluhan lembar foto prawedding beserta brosur dan lembar perencanaan dari sebuah Wedding Organizer yang terkenal. Bahkan mereka telah membeli apartemen dan berburu perlengkapan rumah tangga.

Semuanya sangat sempurna saat itu kalau saja kejadian buruk itu tidak terjadi. Jessica mulai terbatuk-batuk kecil lalu semakin lama semakin keras. Ditepuknya dadanya perlahan, menghentikan batuk yang mulai menggila itu.

Segera ditutupnya kembali kotak itu dan mengembalikannya ke tempat semula, di atas meja kenangannya. Masih terbatuk, Jessica menoleh ke arah dinding di sebelah kanan. Ada puluhan lembar foto yang terpajang di sana. Foto yang merekam jejak cinta Siwon dan Tiffany. Keluarga kecil yang bahagia. Jessica tersenyum miris, terbatuk kecil ketika jemarinya mengelus salah satu foto yang menampilkan wajah lucu seorang bocah laki-laki.

Kalau saja dulu kejadian itu tidak terjadi… Akulah yang menjadi ibu untuk anak-anaknya…

Salahnya… Ini salahnya sendiri! Seharusnya ia tak mengundang mereka malam itu…

Seharusnya ia tak mengundang Tiffany malam itu!

Seharusnya mereka tak perlu mengadakan pesta lajang itu!

Padahal… hanya D-2 sebelum pernikahan mereka…

Jessica tersedak lagi. Terbatuk keras.

***

Suara batuk itu…

Donghae memejamkan mata, menahan kuat keinginannya untuk mendobrak masuk. Tidak boleh. Jessica akan sangat marah jika ia mengganggu privasinya. Tapi batuk itu semakin keras, semakin mengusiknya.

Demi Tuhan, Donghae jauh lebih tersiksa. Ia tak pernah bisa membiarkan Jessica terluka, sedikit saja. Tidak luka batin, tidak juga luka fisik.

Hampir kalah oleh keinginan kuatnya mendobrak masuk, Donghae mengumpat keras dan bergegas keluar kamar. Ia hanya perlu menjauh untuk tidak mendengar suara kesakitan Jessica.

Donghae mondar-mandir gelisah. Lalu meraih ponsel dan menghubungi sebuah nomor dengan agak tak sabaran.

“Maaf menganggu malam-malam,”ujarnya segera begitu panggilannya tersambung. “Berkas yang sudah dipersiapkan itu… pastikan besok pagi sudah tiba di tangan Choi Siwon.”

“Apa nona Jung sudah setuju?”

Donghae menghela, “Berikan saja pada Siwon, segera!”

Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi melihatnya tersiksa.

“jangan lupakan juga rencana tentang Jaeshin. Begitu Presdirnya terguncang, segera robohkan Jaeshin!”

***

 

Preview the Next Part :

 

Mwoya igeo, Tiffany Hwang?”

Puluhan lembar foto tersebar di atas meja itu. Bercampur dengan potongan-potongan artikel koran yang sudah lusuh.

“Kebohongan apa yang kau sembunyikan selama ini, Tiffany?”

 

“Kerugian perusahaan hampir mencapai 15 milyar dollar, Presdir. Apa yang akan anda lakukan?”

 

“Memangnya apa yang kau lakukan selama ini? Aku tahu kau tidak menyukai Jessica, tapi tidak bisakah kau bermain secara profesional? Bagaimana mungkin kau membiarkan proyek ini gagal,hah?”

 

“Kau masih mau mempertahankan Safetech, Oppa?”

“Mereka satu-satunya tumpuan harapan kita, Tiffany. Dibandingkan perusahaan lain, keberadaan mereka yang menjadi pilar utama proyek ini. Kita sudah gagal, tidak perlu ditambah dengan kemunduran mereka juga. Tolong, singkirkan dulu masalah pribadi dengan Jessica! Kita harus menyelamatkan Jaeshin terlebih dahulu!”

 

“Kenapa kau tidak menjual salah satu asetmu saja? Jaeshin Fashion sepertinya tidak terlalu buruk dibandingkan cabang lain. Jadi, bagaimana kalau kau menjual Jaeshin Fashion saja… kepadaku?”

 

“Apa kau tidak ingat?  Sepuluh juta won yang kau tinggalkan di rekeningku… bukankah itu uang tebusan ‘rasa bersalahmu’?”

 

“Berhentilah,eonni… Berhentilah membenci Jessica eonni!”

“Apa sekarang kau mengancamku, Yoona? Hanya karena kau tahu sesuatu tentang kejadian itu, kau pikir kau bisa mengancamku?”

“Aku benar-benar tak percaya ini kau, Tiffany eonni. Apa sekarang kau berubah karena ambisi bodoh itu? Untuk apa kau melakukan ini? Untuk Jaeshin? Untuk Siwon oppa? Apa harta kekayaan, nama besar dan cinta itu lebih berharga dari temanmu?

 

“Oppa, belajarlah melepasku… Hari ini atau besok, kau pasti akan kehilangan aku,kan?”

***

Hehe, maaf ya… kalau kelamaan begini. Dan mungkin terlalu banyak konflik ya? Maaf, maaf… saya memang tidak terbiasa menulis dengan genre soft-romance dan suka nggak puas kalau konfliknya gak meriah. Kok kedengarannya saya ini penulis tegaan ya? Hoho.

Kalau penyakit tegaan saya gak kambuh, ff ini akan selesai di part berikutnya. Alasan saya sering molor nyetorin ff memang itu ya, suka keliling-keliling mikirin konflik eh… tak tahunya tersesat. Kalau bukan dukungan para pembaca tercintaahh, mungkin saya sudah membangkai dalam labirin itu. Part ini saja baru saja diselesaikan kebut-kebutan setelah molor berminggu-minggu, hanya karena membaca komentar pembaca di part sebelumnya.

Apheuro manhi-manhi saranghaejuseyo…

Jangan kapok ya, deg-degannya. Hihi. Saya juga nulis ini sambil deg-degan weehh, jadi kalau pembaca gak sampai deg-degan kan gak adil namanya. *peace.

See you soon.

 

155 thoughts on “(AF) Secret Part 2

  1. Gapapa ko Thor,konfliknya juga udh luar biasa kok
    😂😂😂😂
    Sumvahhhh greget parah heuhh :’v gatau harus mihak siapa,pokoknya disini semuanya tersakiti ,#apaansi
    😘🙋 hwaiting thor

  2. huuuhhhh,,,, masih penasaran juga sama ini tiga manusia (?)
    orang dewasa itu rumit yahhh
    konfliknya panjang yaaa
    masih belum klimaks aliyas masih di ujung tanduk
    semoga di part selanjutnya bisa lebih cerah (?) hihihihi

  3. Aku speechless baca part ini.. Di satu sisi aku mendukung sifany tapi di sisi lain aku kasihan sama jessica.. Sebenernya ada masalah apa antara jessica dan tiffany? Siapa yg egois dalam cerita ini.. Dan sebenernya apa yg disembunyikan oleh orang-orang yg siwon gak tau? Huhuhuhuhu jujur aku terharu baca part ini.. Ntah kenapa rasa sakitnya jessica disini kerasa banget.. Ahh aku kebawa suasana nih baca ceritanya.. Good deh pokoknya 👍

  4. Wow…..konfliknya benar2 hebat thor.
    Ternyata benar sica ingin membalas dendam dan menghancurkan sifany sekeluarga beserta perusahaan.kykanya siwon mulai ingat jessica deh.moga2 aja biar masalah cepat selesai.kasin fanynya jadi stress karena masalah ini.
    Daebak thor…..ffnya.saya lanjut baca next partnya thor.tetap semangat ya thor.author jjang.

  5. Deg2 bacanya, di part ini sama2 tersudutkan, antara Tiffany dan Jessica. Tapi Tiffany, serendah itukah?😮 kasihan juga sama Jessica sampe makin kurus gitu. Akh daebakk authornim(y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s