(AR) Sweet Story Part 7-End

SWEET STORY 7: Sweet Ending

SWEET STORY

Presented by: Youngwonie

Cast:

Choi Siwon & Tiffany Hwang

Supported cast:

Donghae, Nichkhun, YoonA, Bora, Yuri & Kyuhyun

Genre: Romance, Angst

Rating: PG 18

Length: Series

Disclaimer: The story is mine. Don’t be a plagiator. Enjoy this story and don’t forget to comment. Your comment is oxygen to my finger and heart to write.

 “Meskipun Tiffany tidak mengatakannya, sebagai sesama wanita, aku bisa merasakan tanda- tanda kehamilan yang ditunjukkannya.”

Perkataan Yuri terus terngiang di kepalanya. Membuat Siwon penasaran untuk mencari tahu kebenaran. Ia harus menemui Tiffany dan menanyakan langsung soal itu. Hanya Tiffany yang bisa memberinya jawaban pasti. Namun, sepertinya keinginannya menemui Tiffany harus tertunda. Pasalnya Siwon baru bisa pulang ke apartemennya hampir tengah malam. Pekerjaan yang menumpuk serta kemacetan karena salju yang cukup tebal di jalanan adalah alasan kenapa dia baru bisa pulang selarut itu.

Ting!

Pintu lift terbuka dan Siwon bersiap masuk ketika dilihatnya Tiffany berada di dalam lift itu hendak keluar. Tiffany melihat Siwon yang menatapnya heran. Namun ia mengabaikan keberadaan Siwon dan melewatinya.

“Kau mau kemana tengah malam begini?” Siwon tidak jadi masuk ke dalam lift. Ia malah mengejar Tiffany dan menghentikan langkah gadis itu.

“Aku rasa itu bukan urusanmu.” Jawab Tiffany dingin, seperti biasanya.

“Sebagai tetangga yang baik, aku hanya ingin mengingatkan, di luar cuaca sedang tidak bagus. Lagipula, seorang wanita keluar tengah malam begini sendirian—kau tidak takut diganggu preman seperti waktu itu?”

Mendengar itu, Tiffany sedikit ragu untuk melanjutkan niatnya. Tapi keinginannya untuk makan es krim begitu kuat. Dan saat cuaca seperti sekarang, tidak ada yang mau melayani delivery order.

“Aku bisa mengantarmu kalau kau tidak keberatan,” tawar Siwon. Ia sendiri penasaran kemana Tiffany hendak pergi di tengah malam saat salju turun seperti sekarang. Apakah urusannya sangat penting?

“Baiklah. Aku—mau kau mengantarku,”

“Apa? Kau mau—“

“Haruskah aku mengulangnya lagi Mr Choi?”

“Tidak tentu saja. Ayo.”

Siwon hampir saja melompat saking senangnya. Ia tidak menyangka Tiffany akan menerima tawarannya begitu saja. Biasanya sulit sekali mengajaknya bicara. Tapi kali ini, Tiffany akan berada di dalam mobilnya untuk beberapa menit ke depan. Setidaknya Siwon bisa mencuri kesempatan untuk menanyakan kebenaran tentang kehamilannya.

“Masuklah,” Siwon membukakan pintu mobilnya untuk Tiffany. Tiffany masuk dan ia memutar ke tempat duduk pengemudi.

“Ok, jadi kita mau kemana?”

“Kedai es krim di ujung jalan.”

“Es krim?”

“Bisakah kau berhenti menatapku dengan tatapan aneh itu? Aku hanya ingin makan es krim. Apa itu salah?”

“Tentu saja tidak, kalau saja saat ini bukan tengah malam di tengah badai salju.”

“Kalau kau tidak mau mengantarku ya sudah, aku akan pergi sendiri”

Tiffany bersiap keluar dari mobil tapi Siwon buru- buru mencegahnya.

“Tidak, jangan pergi please. Maafkan aku. Aku akan mengantarmu.”

Tiffany duduk kembali. Wajahnya masih kelihatan kesal. Siwon segera melajukan mobilnya meninggalkan area parkir sebelum Tiffany berubah pikiran lagi.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan café yang menjual es krim. Sayangnya, café itu sudah tutup.

“Mereka tutup. Sekarang bagaimana?”

“Kita cari yang lain. New York tidak hanya punya satu kedai es krim kan?”

“Kau benar- benar ingin makan es krim?”

“Aku benar- benar menginginkannya, sekarang.”

“Kenapa kau begitu menginginkannya?”

“Karena—entahlah. Hal ini tidak bisa aku jelaskan. Kau tidak akan mengerti karena kau tidak bisa merasakannya.” Jawab Tiffany sedikit kesal.

“Ok. Aku sudah berjanji akan mengantarmu, jadi kita akan mencari penjual es krim itu sampai ketemu. Kau senang?”

“Itu kedengaran lebih baik.”

Siwon mengemudikan mobilnya kembali. Mengelilingi kota di tengah hujan salju malam itu hanya untuk satu tujuan. Mencari es krim. Siwon tidak habis pikir, kenapa Tiffany begitu ingin makan es krim saat cuaca dingin seperti itu. Tengah malam pula.

Setelah lebih dari setengah jam mereka mencari, akhirnya Siwon menghentikan mobilnya di depan restoran cepat saji yang buka 24 jam dan mereka menyediakan es krim.

“Kau tunggu di sini saja. Biar aku yang masuk dan membawakan es krimnya,” titah Siwon setelah ia membuka seatbelt-nya.

“Shireo. Aku mau makan es krimnya di dalam sana,” tolak Tiffany.

Siwon hanya bisa mendesah pasrah,”Baiklah, tapi jangan keluar dulu ya.”

“Why?”

Tiffany mengerutkan keningnya, bingung. Tapi ia masih duduk di kursinya sampai Siwon memutar dan membukakan pintu untuknya. Siwon melepas mantelnya saat Tiffany turun dari mobil lalu memayungi mereka berdua dengan mantel itu agar tidak terkena butiran salju yang turun. Sejenak Tiffany terpaku dengan aksi yang ditunjukkan Siwon. Ia menatap mata Siwon yang memancarkan kehangatan.

“Ayo,” ajak Siwon sambil menunjukkan senyumnya. Tiffany mengangguk, lalu mereka berjalan beriringan menuju pintu utama restoran cepat saji itu.

“Duduklah, aku akan pesankan es krimnya.”

Tiffany menurut. Ia duduk di kursi terdekat sementara Siwon menuju konter untuk memesan. Dari kaca yang menjadi dinding restoran itu, Tiffany bisa melihat derasnya hujan salju di luar. Dan ia teringat perlakuan Siwon padanya tadi. Ada perasaan hangat yang mengalir di benaknya. Pria yang tidak mau berkomitmen itu saat ini bersamanya. Pria itu rela menembus hujan salju hanya untuk menemaninya di tengah malam saat seharusnya ia sudah berada di tempat tidurnya. Pria itu masih sangat peduli padanya.

“Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?”

Pelayan di belakang konter menyapa Siwon dengan ramah. Meskipun terlihat sekali ia sedang menahan kantuknya.

“Satu cup es krim dengan potongan stroberi dan buah kiwi, please.

Pelayan wanita berumur 30an itu melebarkan matanya, kantuknya hilang seketika.

”Anda yakin tidak salah dengan pesanan Anda, Tuan?”

“Itu bukan untukku, tapi untuknya. Katanya dia ingin sekali makan es krim,” Siwon menunjuk ke arah Tiffany yang masih memandang ke arah jalan. Membelakanginya. Pelayan itu pun mengangguk mengerti.

“Wanita hamil memang suka menginginkan sesuatu di luar logika.”

Siwon terkesiap,”Bagaimana kau tahu kalau dia sedang hamil?”

“Selain orang gila, hanya wanita hamil yang menginginkan es krim tengah malam saat hujan salju seperti ini. Dulu aku juga mengalaminya saat mengandung anak pertamaku.”

Siwon hanya tersenyum mendengar penjelasan sang pelayan.

“Ada lagi yang ingin Anda pesan?”

“Secangkir espresso kedengarannya tidak buruk.”

“Bisa menunggu sebentar, aku akan menyiapkan pesananmu.”

“Ok,”

Sambil menunggu, Siwon memperhatikan Tiffany yang masih membelakanginya. Kenapa ia tidak menyadari saat Tiffany begitu ngotot ingin makan es krim. Bahkan pelayan wanita yang tidak tahu apa- apa bisa mengerti keanehan yang ditunjukkan Tiffany. Tiffany sedang hamil. Sepertinya itu adalah kenyataan. Entah Siwon harus gembira atau tidak. Yang jelas, saat ini dia ingin selalu berada di sisi Tiffany. Ia tidak ingin Tiffany melaluinya sendirian.

“Ini pesanannya, Tuan. Semuanya 35 dollar.”

Siwon menyerahkan uangnya lalu mangambil nampannya,”Simpan saja kembaliannya untuk anakmu.”

“Terima kasih, Tuan. Semoga anak Anda nanti lahir dengan selamat.”

Siwon mengangguk dan mengamininya. Lalu ia berbalik menuju meja yang sudah ditempati Tiffany.

“Ini es krimmu.”

“Thanks.”

Siwon menyesap kopinya sementara Tiffany menyantap es krimnya. Tiffany terlihat sangat menikmati es krim itu tanpa merasa kedinginan. Siwon terus mengamati Tiffany. Badan Tiffany terlihat lebih berisi, pipinya lebih chubby dan wajahnya lebih bersinar. Kenapa Siwon baru menyadarinya sekarang?

Pandangan Siwon beralih ke bawah. Ke arah perut Tiffany yang baru sedikit membuncit. Selama ini bagian itu selalu tertutup mantel tebal sehingga Siwon tak pernah melihatnya meskipun mereka sering berpapasan. Pandangan Siwon beralih lagi ke wajah Tiffany. Seketika ia tersenyum melihat perubahan di wajah Tiffany.

“Kenapa?” tanya Tiffany curiga.

“Ada es krim di atas bibirmu.”

“Benarkah?” Tiffany menjilat bagian atas bibirnya.

“Bukan di situ, tapi di sebelahnya.”

Tiffany pun melakukan hal yang sama pada bagian lainnya.

“Sudah?”

Siwon menggeleng. Tiffany mencoba membersihkannya lagi dengan menggunakan tangannya, Tapi Siwon mencegahnya.

“Biar aku yang melakukannya.” Siwon memegangi tangannya. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany.

Deg!

Apa yang akan dilakukan Siwon? Apakah Siwon akan membersihkan noda es krim itu dengan lidahnya? Itu berarti Siwon akan mencium Tiffany. Jantung Tiffany terus berdegup kencang. Menanti saat lidah Siwon menyentuh bibirnya. Ia pun memejamkan matanya.

Dan, satu sentuhan lembut terasa di bagian atas bibirnya. Ibu jari Siwon menyapu noda es krim itu.

“Selesai,” ucap Siwon.

Tiffany pun membuka matanya kembali. Mereka saling bertatapan. Tatapan kecewa Tiffany yang dibalas tatapan bingung dari Siwon.

“Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?”

“Tidak. Aku hanya—aku sudah selesai. Ayo kita pulang.”

***

 

Siwon memarkir mobilnya. Mereka sudah sampai di pelataran apartemen. Siwon melirik Tiffany di sebelahnya. Wanita itu tertidur dalam perjalanan tadi. Siwon membelai rambut Tiffany dengan lembut. Sebenarnya ia tidak ingin membangunkan Tiffany yang terlihat sangat kelelahan itu. Tapi Tiffany tidak boleh terus tidur di mobil.

“Eungh—“ Tiffany melenguh. Terbangun karena belaian Siwon. Perlahan ia membuka matanya.

“Kita sudah sampai?” tanyanya.

“Hmm.”

“Maaf, aku ketiduran.”

“Kau kelihatan lelah. Lanjutkan tidurmu di kamar.”

“Hmm. Terima kasih sudah mengantarku.”

Tiffany melepas seatbelt-nya.

“Kau tahu, sudah berapa kali kau berterima kasih malam ini? Aku merasa seperti orang asing bagimu.”

Tiffany yang sudah memegang kenop pintu mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil. Lalu ia menatap Siwon yang sedang memandang lurus ke depan.

“Kau sudah berbuat baik padaku. Tentu saja aku harus berterima kasih.”

“Sebenarnya, ada satu kata yang ingin aku dengar daripada ucapan terima kasih itu.”

“Apa?”

Siwon menatap Tiffany intens“Kau—sedang hamil. Benarkan?”

Wajah Tiffany seketika memucat. Ia mengalihkan pandangannya dari mata Siwon yang mengintimidasinya.

“Lihat aku, Baby. Katakan yang sejujurnya, please—“

“Kau tidak berhak menanyakan hal itu padaku.”

“Tentu saja aku punya hak kalau anak itu adalah anakku.”

“Ya, aku memang sedang mengandung anakmu. Lalu apa? Apa kau akan menikahiku setelah mengetahuinya? Bahkan kau pernah bilang tidak menginginkan anak ini. Jadi apa bedanya kau tahu atau tidak?”

Saatnya Siwon yang terpaku dengan kata- kata Tiffany. Tiffany memang benar, Siwon bahkan belum memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah mengetahui kebenaran tentang calon anak mereka.

“Setidaknya, kita bisa menjaganya bersama- sama.” Siwon memegang kedua tangan Tiffany. Memohon.

“Kau lupa, kita sudah tidak bersama sekarang.”

“Aku ingin kita bersama lagi, Tiffany. Kita masih bisa kan? Demi anak kita.”

“Sebelum kau merubah pemikiranmu, aku tidak bisa bersamamu, Siwon.”

Tiffany keluar dari mobil Siwon setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Sedangkan Siwon masih termenung di dalam mobilnya.

***

 

Siwon melangkahkan kakinya memasuki lobi rumah sakit. Sebuket bunga lili dan sekeranjang buah- buahan berada di kedua tangannya.

“Selamat siang, aku ingin menjenguk Mrs. Yoona Lee. Bisa carikan ruangannya untukku?”

“Tunggu sebentar, Tuan. Saya akan melihat daftarnya.”

Resepsionis itu melihat dengan teliti di layar monitornya.

“Kamar no. 107. Dari sini belok ke kiri. Anda tinggal mencari nomor kamarnya.”

“Terma kasih.”

“Sama- sama.”

Siwon langsung melangkah ke arah yang ditunjukkan resepsionis tadi. Setelah sampai di depan kamar yang dituju, ia pun mengetuk pintu. Donghae muncul di balik pintu dengan tersenyum menyambutnya.

“Masuklah, Wonnie.”

Siwon memasuki ruangan bernuansa biru muda itu. Ia langsung menghampiri YoonA yang masih berbaring di ranjangnya.

“Chukkae, Yoong.”

“Gumawo, Oppa.”

“Special flower for special mom.”

Siwon menyerahkan bunga lili yang dibawanya dan menaruh buah- buahan di nakas.

“Kau romantis sekali, Oppa.” YoonA menenggelamkan hidungnya pada bunga yang masih segar itu untuk menghirup wanginya.

“Kau baru tahu, huh?”

“Kebetulan aku harus ke ruangan dokter sekarang, bisa aku titip YoonA padamu?” ucap Donghae pada Siwon.

“Pergilah,”

“Aku tinggal dulu, sayang.” Donghae mengecup kening YoonA sebelum keluar ruangan.

“Hmm. Jangan lupa lihat keadaan Donghyun sebelum kau kembali.”

“Ok.”

“Jadi namanya Donghyun?”

“Ya. Wajahnya seperti perpaduan antara Donghae dan Kyuhyun Oppa.”

“Ngomong- ngomong, dimana Kyuhyun? Tadi aku tidak melihatnya di kantor. Aku pikir dia masih di sini.”

“Sedang mengantar Yul Eonnie.”

“Mengantar Yuri?”

“Hmm. Yul Eonnie berada di sini semalaman. Membantu mengurus persalinanku.”

“Jadi mereka sudah baikan?”

“Sepertinya begitu. Kyuhyun Oppa sudah bisa menerima keadaan mereka sekarang. Walaupun mereka sudah tidak bersama sebagai suami istri, setidaknya kami masih bisa menjadi keluarga.”

“Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya.  ”

“Tadi pagi Fany Eonnie juga menjengukku.”

Siwon terdiam saat YoonA menyebut Tiffany.

“Oppa—aku sedih melihat kalian berpisah seperti ini. Apalagi, Fany Eonnie kabarnya sedang hamil. Dia pasti butuh banyak perhatian darimu. Mengalahlah padanya, Oppa. Demi anak kalian.”

Siwon masih diam. Ia teringat kenangan masa kecilnya. Saat malam ketika orang tuanya bertengkar hebat dan memutuskan untuk berpisah. Lalu ia terombang ambing di antara kedua orang tuanya yang saling berebut hak asuh atas dirinya. Ayahnya berhasil memenangkannya di pengadilan, lalu ibunya pergi keluar negeri bersama suami barunya. Setahun setelahnya, ayahnya meninggal dalam kecelakaan hingga ia harus tinggal di panti asuhan. Setelah enam bulan, ia baru keluar dari panti karena ayah Kyuhyun dan YoonA bersedia mengasuhnya. Hingga ia bisa menjadi seperti sekarang.

 

Siwon menatap bayi dalam boks di depannya. Di balik dinding kaca yang membatasinya, ia mengamati anak YoonA dan Donghae yang berjejer bersama bayi- bayi lainnya. Bibirnya melengkung saat melihat Donghyun menggeliat dari tidurnya. Benar yang dikatakan YoonA, wajahnya adalah perpaduan Donghae dan Kyuhyun. Bibir manisnya dari Donghae dan rahang yang keras milik Kyuhyun. Siwon membayangkan, apakah kelak anaknya akan mirip dengannya? Atau jika perempuan, pasti cantik seperti ibunya.

Perasaan hangat mengalir saat ia membayangkan bisa menemani Tiffany melalui proses persalinannya dan menggendong anak mereka untuk pertama kalinya. Saat itu, pasti menjadi saat paling bahagia dalam hidupnya. Tanpa terasa air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya.

Perasaan apakah ini?

Siwon memejamkan matanya lalu menghapus air mata itu. Dan saat ia membuka matanya kembali, dilihatnya bayangan Tiffany dari pantulan dinding kaca di depannya. Siwon langsung menoleh ke belakang untuk melihatnya. Tiffany memang berdiri beberapa meter dari tempatnya dengan seragam dokter yang masih melekat di tubuhnya. Saat pandangan mereka bertemu, Tiffany segera berbalik dan melangkah meninggalkan Siwon. Siwon berlari mengejarnya.

“Tunggu!”

Mau tidak mau Tiffany menghentikan langkahnya. Tapi tak keluar satu patah kata pun dari bibirnya.

“Kapan kau memeriksakan kandunganmu lagi?”

Tiffany mengangkat alisnya.

“Berikan aku kesempatan untuk melihatnya. Bagaimanapun, dia juga terikat denganku, Tiffany.”

Tiffany masih diam. Siwon hampir kehilangan harapan.

Ayolah, Baby. Berikan aku kesempatan.

“Besok lusa jam 10 di ruang tunggu Dr. Yoon.” Ucap Tiffany tiba- tiba.

“Apa?”

“Aku akan menunggumu di sana.” Tiffany tidak menghiraukan keterkejutan Siwon.

“Aku pasti akan datang. Aku janji.”

***

 

Hari itu tiba. Di ruang tunggu tempat praktik Bora, Tiffany duduk menunggu gilirannya bersama pasien- pasien yang lain. Ia melirik arlojinya. Pukul 10.15. Tapi Siwon belum muncul memenuhi janjinya. Sedangkan setelah ini adalah gilirannya.

Tiffany melihat sekelilingnya. Semua pasien yang merupakan ibu hamil yang sedang menunggu giliran sepertinya didampingi oleh suami mereka. Ada rasa iri terselip di hatinya. Dan ia berharap Siwon akan datang memenuhi janjinya.

Tiffany terus menatap ujung lorong ruang tunggu itu. Lalu muncullah Siwon dengan langkah tergesa- gesa menghampirinya.

“Maaf, aku terlambat.”

Tanpa sadar Tiffany tersenyum lega.

“It’s ok. Aku belum dipanggil.”

“Baguslah kalau begitu. Boleh aku duduk?”

Tiffany mengangguk. Siwon kemudian duduk di sampingnya.

“Kau lapar? Tadi aku membeli ini, makanlah selagi menunggu.” Siwon memberikan keripik buah pada Tiffany. Tiffany menerimanya dengan senang hati.

“Thanks.”

Siwon mengangguk. Ia senang bisa menemani Tiffany memeriksakan kandungannya. Ia juga melihat ke arah para pria yang mendampingi istrinya memeriksakan kandungan mereka. Mereka terlihat bahagia. Ada yang sedang mengelus perut istrinya yang sudah membesar, ada juga yang selalu memegang tangan istrinya dengan penuh rasa cinta. Tiffany pasti sangat iri ketika ia harus memeriksakan kandungannya sendirian dan melihat pemandangan seperti sekarang.

Siwon lalu menggenggam tangan Tiffany. Tiffany menoleh padanya dengan tatapan bingung.

“Biarkan aku melakukannya,” bisik Siwon. Tiffany membiarkannya. Sejujurnya, ia memang membutuhkan dukungan seperti itu dari Siwon.

“Eomma, aku mau keripik yang dimakan ahjumma itu. Ayo belikan aku.”

“Sabar, sayang. Nanti kalau Eomma sudah selesai, kita akan membelinya ya.”

“Shireo. Aku maunya sekarang.”

“Sini, Jiyoung ikut Appa. Kita beli di luar ya. Jangan ganggu Eomma, nanti adik bayinya sakit.”

“Shireo. Aku maunya sama Eomma.”

Percakapan keluarga kecil yang juga berada di ruang tunggu itu menarik perhatian Siwon dan Tiffany. Apalagi anak laki- laki berusia 3 tahun itu merengek meminta keripik yang sedang dimakan Tiffany.

“Adik kecil, ini untukmu.” Karena tidak tega melihat anak itu, Tiffany memberikan keripiknya.

“Jinjja?”

Tiffany mengangguk.

“Gumawoyo, Ahjumma cantik.”

“Cheonma.”

“Gamshamidha, agashi. Anda seharusnya tidak perlu memberikannya.” Ucap ibu dari anak itu.

“Tidak apa- apa, aku bisa membelinya lagi. Kasihan kalau dia merengek terus.”

“Anda mengerti bahasa kami, apa Anda berasal dari Korea?”

“Aku lahir dan besar di sini. Tapi ayahku orang Korea.”

“Oh, pantas saja. Kenalkan, namaku Taeyeon dan ini suamiku Heechul.”

Suami wanita itu yang sedang memangku anak mereka mengangguk.

“Aku Tiffany dan dia Siwon.” Tiffany ikut memperkenalkan dirinya dan Siwon.

“Kalian pasangan yang serasi. Apa ini anak pertama?” tanya Taeyeon menunjuk ke perut Tiffany.

“Ne. Bagaimana dengan Eonnie? Anak kedua?”

“Bukan. Ini anak keempat kami.”

“Keempat?”

“Benar. Anak pertama kami kembar. Dua- duanya laki- laki. Sekarang mereka sudah di elementary school. Jiyoung yang ketiga. Dan puji Tuhan, anak keempat kami ini kemungkinan perempuan.”

“Memangnya, sudah berapa tahun kalian menikah?” Karena tertarik dengan penuturan Taeyeon, Siwon ikut bertanya.

“10 tahun.” Jawab Heechul ikut bergabung.

Siwon dan Tiffany tercengang. Sepuluh tahun dengan empat anak. Dan mereka kelihatan sangat bahagia.

“Kalian tidak pernah bertengkar selama 10 tahun itu?” tanya Siwon lagi.

“Tentu saja pernah, bahkan sering. Tapi setelah itu, kami akan berbaikan lagi dan kembali mesra. Satu hal yang selalu kami ingat saat kami berselisih yaitu, kami punya cinta dan anak- anak yang lebih penting daripada masalah yang kami perdebatkan itu. Bagi kami, sepuluh tahun adalah waktu yang singkat. Kami ingin menghabiskan lebih banyak lagi waktu bersama- sama.”

Siwon merenung. Ternyata masih ada orang yang berpikir seperti itu di dunia ini. Apakah Ia dan Tiffany bisa seperti mereka? Siwon menggenggam tangan Tiffany lebih erat. Saat ini, dia bertekad untuk memantapkan hatinya pada Tiffany.

“Miss Tiffany Hwang!”

Nama Tiffany dipanggil. Setelah pamit pada pasangan Heechul dan Taeyeon, Siwon dan Tiffany memasuki ruangan tanpa melepas pegangan tangan mereka. Bora yang sudah menunggu di ruangannya terkejut dengan kehadiran Siwon bersama Tiffany.

“Kenalkan, dia Siwon. Siwon, ini Bora. Dokter kandungan sekaligus temanku.”

“Hai, apa kabar?”

“Baik. Senang sekali melihatmu di sini Mr. Choi, dan kau benar- benar tampan.”

“Terima kasih atas pujiannya.”

“Sama- sama. Baiklah, sekarang kembali ke bisnis. Sebelum melakukan USG, kita lihat hasil pemeriksaan tekanan darah dan berat badanmu. Bagus, berat badanmu bertambah 3 kg dari bulan lalu. Tapi, tekanan darahmu rendah. Kau kurang istirahat?”

“Sulit tidur di malam hari.”

“Aku sudah bilang kalau kualitas tidur sangat penting. Kalau kau merasa sulit untuk tidur di malam hari, kau bisa meminta bantuan pada Mr. Choi,” goda Bora.

“Maksudmu?”

“Berhubungan sebelum tidur bisa membantu tidur lebih lelap.”

Siwon dan Tiffany menatap satu sama lain.

“Trust me, its works.” Tambah Bora. Wajah Tiffany merona karena malu.

“Aish, kenapa kalian malu- malu seperti itu? Baiklah kita langsung saja melakukan USG. Ayo Fany, berbaringlah.”

***

 

Siwon menatap hasil foto USG Tiffany yang pertama. Lalu ia menempelkan hasil foto USG yang baru di samping foto itu. Senyumnya mengembang. Sebentar lagi akan ada yang memanggilnya ‘Daddy’. Tiffany berdiri di belakangnya. Melihatnya dengan perasaan haru sambil mengelus perutnya.

“Ini sudah malam, kau tidak pulang?”

“Bolehkah aku tidur di sini?”

“Tapi—“

“Please… Aku hanya ingin menemanimu. Siapa tahu kau butuh sesuatu tengah malam nanti.”

“Baiklah. Kau bisa tidur di sofa.”

“Aku tidak keberatan.”

“Kalau begitu selamat malam.”

“Selamat malam.”

Tiffany langsung ke kamarnya. Sedangkan Siwon menuju ruang tv dan membaringkan tubuhnya di atas sofa. Sofa Tiffany memang sangat nayaman untuk tidur, ada dua buah bantal di sana. Tapi panjangnya tidak mampu menampung tubuh jangkung Siwon. Sehingga kaki Siwon menggantung dari pergelangannya. Dan Tiffany tidak memberinya selimut. Siwon harus siap kedinginan. Tapi ia tidak mengeluh. Asalkan bisa menjaga Tiffany dan bayinya, Siwon rela melakukan apapun.

Di kamar, Tiffany belum bisa memejamkan matanya. Ia melirik jam digital di nakas. Pukul 1 dini hari. Ia bangkit dari ranjangnya dan keluar dari kamar. Dilihatnya Siwon yang sedang meringkuk kednginan di atas sofa. Lalu Tiffany kembali ke kamar dan mengambil selimut tebal dari dalam lemarinya. Ia menghampiri Siwon, duduk di sampingnya dan menyelimutinya sampai dada. Setelah itu, Siwon terlihat lebih nyaman dalam tidurnya. Tiffany memperhatikan wajah Siwon. Sudah lama sejak terakhir kali ia terbangun dengan melihat wajah Siwon yang tertidur di sisinya. Ia sangat merindukan saat- saat itu. Tanpa sadar, tangannya sudah menelusuri wajah Siwon. Dari kening, pipi, hidung, sampai ke bibirnya. Tiffany juga merindukan bibir itu. Tiba- tiba Siwon membuka matanya. Ia terbangun karena sentuhan Tiffany. Bibirnya mengecup jari Tiffany yang masih menempel di sana. Tiffany langsung menarik tangannya. Kaget.

“Kau tidak bisa tidur?”

“Aku—“

“Kau ingat kata Bora di rumah sakit tadi siang?”

Tiffany semakin kehilangan kata- kata. Siwon bangkit dari posisi tidurnya. Sekarang mereka duduk berdekatan.

“Kenapa kita tidak mencobanya?” bisik Siwon di telinga Tiffany.

“Mak—sudmu?”

“Kau tahu dengan jelas apa yang kumaksud, baby.” Siwon mendaratkan kecupan- kecupan ringan di leher dan telinga Tiffany. Tiffany tidak menolaknya. Ia hanya menggeliat merasakan sensasi yang sudah lama tidak dirasakannya. Kini Siwon beralih ke bibirnya. Dengan penuh ia mencium Tiffany. Melepaskan kerinduannya pada bibir lembut Tiffany yang selalu membuatnya tersiksa.

Siwon melepas tautan bibir mereka lalu menatap Tiffany,”I really miss you, Baby.”

“Me, too.”

Siwon mencium Tiffany lagi. Lebih dalam dan lebih intens. Hingga pergulatan mereka berakhir dengan menyatukan tubuh serta hati mereka kembali. Malam itu Tiffany bisa tidur nyenyak di pelukan Siwon.

***

 

Tiffany duduk di meja makan sambil mengamati Siwon yang sedang membuat sarapan untuk mereka berdua.

“Kau yakin tidak butuh bantuan?” goda Tiffany.

“Jangan bergerak dari tempat dudukmu. Aku hampir selesai dengan masakanku, baby.”

“Tapi aku sudah lapar sekali,” rengek Tiffany manja. Ia sengaja menggoda Siwon yang tidak membiarkannya melakukan pekerjaan apapun sejak mereka bangun tidur tadi.

“Tunggu sebentar, ok?”

“Oke,”

Ting! Tong! Ting! Tong!

Bel apartemen berbunyi.

“Bolehkah aku membuka pintunya?” tanya Tiffany. Siwon menoleh,”Tidak. Biar aku yang yang membukanya. Mungkin itu kurir susu segar yang aku pesan tadi. Kau tunggu saja di sini.”

Tiffany hanya menghela nafas,”Ok.” Ia mulai kesal dengan sikap protektif Siwon.

Please, aku hanya sedang hamil.

Siwon menuju pintu utama setelah mematikan kompor dan melepas celemeknya.

Cklek!

Siwon terkejut melihat sosok di balik pintu.

“Mr. Hwang?” Ayah Tiffany berdiri di hadapannya. Pria paruh baya itu menatapnya dengan sorot kemarahan. Meskipun wajahnya masih terlihat tenang dan menunjukkan wibawanya.

“Apa yang kau lakukan di rumah putriku?”

“Silakan masuk dulu, kita bisa membicarakannya di dalam,” jawab Siwon sopan. Ia membukakan pintu lebar- lebar dan memberikan jalan untuk ayah Tiffany. Mr Hwang masuk ke dalam diikuti Siwon.

“Siapa yang datang?“ teriak Tiffany sambil berjalan keluar dari dapur. Ia pun ikut terkejut saat melihat ayahnya.

“Dad?”

“Ada yang ingin kau ceritakan padaku, sayang?” pertanyaan itu lebih tepatnya adalah sindiran yang ditujukan ayah Tiffany padanya. Tiffany menunduk.

“Mr Hwang, biar aku yang menjelaskan se—“ Mr Hwang mengangkat tangannya di depan Siwon, isyarat agar Siwon tidak meneruskan ucapannya.

“Aku sedang bertanya pada putriku, Mr Choi. Jangan ikut campur.”

“Pergilah, Siwon. Biarkan aku bicara dengan Daddy.”

“Tapi, Tiff—“

“Tolong beri kami privasi.”

“Baiklah. Aku ada di sebelah kalau kau membutuhkanku.”

Siwon menatap Tiffany sekilas sebelum ia keluar. Tiffany menganggukkan kepalanya meyakinkan Siwon kalau ia akan baik- baik saja. Setelah membungkuk sopan pada Mr Hwang, Siwon keluar dari apartemen Tiffany. Tinggal Tiffany dan ayahnya di apartemennya.

“Duduklah, Dad. Aku akan mengambilkan minum untukmu.”

“Aku sedang tidak ingin minum. Duduklah. Daddy hanya ingin mendengar ceritamu.”

Menuruti ayahnya, Tiffany duduk sambil menunduk. Mencari kata- kata yang tepat. Yang bisa ia susun untuk dijelaskan pada ayahnya. Ia menghela nafas sebelum memulai penjelasannya.

“Aku mencintai Siwon. Sangat mencintainya, Dad. Sebesar apapun usahaku untuk menyingkirkannya, aku selalu gagal. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.”

“Kau belum mencobanya dengan keras, Nak.”

“Aku membutuhkannya. Aku—saat ini aku sedang mengandung anaknya.”

Mr Hwang menatap Tiffany. Matanya berkilat menunjukkan kemarahan dan kekecewaan.

“Kau serius dengan ucapanmu itu, sayang?”

Tiffany mengangguk mantap,”Tadinya aku juga berharap ini tidak terjadi. Tapi, mungkin ini adalah takdir yang dituliskan Tuhan untukku, Dad. Aku tidak bisa meninggalkan Siwon. Aku ingin Siwon selalu berada di sisiku. Sekarang dan selamanya.”

“Kau ingin hidup bersama pria yang tidak akan menikahimu?”

“Asalkan kami terus bersama- sama dan saling mencintai, tidak menikah juga tidak apa- apa.”

“Kau sadar dengan yang kau katakan, Tiffany?”

“Aku tahu aku salah. Tapi jika kesalahan ini bisa membuat kami bahagia, aku, Siwon dan anak kami nanti, aku akan melakukannya. Ku harap Daddy bisa memahami keputusanku.”

Diam, Mr Hwang berusaha mencerna kata- kata putrinya. Hatinya sakit membayangkan masa depan Tiffany dan anaknya nanti. Apakah Siwon benar- benar akan menjaga mereka dengan baik? Bagaimana kalau suatu saat pria itu meninggalkan mereka?

“Dad, please…berikan kami kesempatan untuk membuktikan kalau kami bisa bahagia.” Tiffany memohon.

“Kau benar- benar mencintai pria itu. Bahkan kau rela menanggalkan prinsipmu agar bisa bersamanya. Daddy kecewa padamu, Tiffany. Tapi kau sudah dewasa dan mengerti apa yang terbaik untukmu. Jadi, kali ini Daddy mengalah pada keputusanmu.”

“Benarkah?”
“Tapi, Jangan pernah berpikir untuk kembali ke rumah dan mengaku sebagai putriku—sebelum kau merubah keputusanmu.”

Deg!

“Dad, apa maksudmu?”

“Itu adalah konsekuensinya, Tiffany.”

***

 

 

 

Bugh!

Siwon tersungkur ke tanah karena pukulan Nichkhun. Tiba- tiba saja Nichkhun muncul di parkiran saat Siwon baru saja turun dari mobilnya dan memukulnya.

“Apa yang kau lakukan Mr Horvejkull?” Siwon bangkit dan berteriak marah atas perlakuan Nichkhun. Ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah.

“Kau pantas mendapatkannya Mr Choi.”

“Aku tidak merasa punya salah padamu.”

“Aku sudah peringatkan padamu, jangan mendekati Tiffany apalagi menyakitinya. Dan ternyata, kau melakukan lebih dari itu. Kau sudah memutuskan hubungan Tiffany dan ayahnya. Kau pantas untuk dibunuh karena keegoisanmu itu.”

Nichkhun pergi setelah mengatakan itu. Siwon melihatnya sampai mobil Nichkhun meninggalkan area parkir. Nichkhun mungkin benar. Tiffany sudah mengorbankan hubungannya dengan ayahnya demi bisa bersama dengannya. Siwon tahu itu. Ia juga menyesalkan hal itu harus terjadi. Satu hubungan harus berakhir karena hubungan yang lain.

 

“Kenapa bisa terluka seperti ini?” tanya Tiffany saat mengobati luka Siwon.

“Ada seseorang yang menghajarku karena aku membuat temannya lebih memilihku daripada ayahnya sendiri.”

“Nichkhun?”

“Hmm. Dia memang pantas melakukannya kan?”

“Kenapa bicara seperti itu, ini bukan hanya salahmu. Aku yang sudah mengambil keputusan. Jadi tidak seharusnya dia memukulmu.”

Siwon memegang tangan Tiffany dan menciumnya,”Baby, ayo kita ke rumah ayahmu dan meminta maaf padanya.”

Tiffany menarik tangannya dan menatap marah pada Siwon,”Itu berarti aku harus meninggalkanmu lagi. Kau mau kita berpisah? Lalu bagaimana dengan anak ini? Kau tidak memikirkannya?”

“Kita tidak akan berpisah kalau kita menuruti keinginannya.”

“Maksudmu?”

Siwon mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya dan membukanya. Diambilnya tangan Tiffany, lalu dipakaikannya cincin berbatu safir yang sudah lama ia simpan itu.

“Maukah kau menikah denganku?”

Diam. Tiffany terlalu shock dengan pernyataan Siwon yang tiba- tiba.

“Kenapa kau tidak menjawab?”

“Kau yakin dengan ini?”

“Aku benar- benar yakin. Seorang wanita yang rela meninggalkan keluarganya demi hidup bersamaku, pantaskah aku meragukannya?” Siwon mencium punggung tangan Tiffany yang sudah mengenakan cincin pemberiannya.

“Saat ini, kita saling mencintai. Lima tahun atau lima puluh tahun lagi, kita akan tetap seperti ini. Pernikahan tidak akan merubah apapun selama kita tetap menjaga cinta yang kita punya. Bersamamu, dan anak- anak kita nanti, aku yakin bisa melewati masa- masa itu dengan bahagia.”

“Aku tidak percaya kau bisa mengatakan itu.”

“Kaulah yang membuatku seperti ini, my baby. I love you.”

“I love you too.”

“Maaf, tidak ada makan malam di restoran mewah dan musik romantis kali ini.”

“Bagiku, kata- kata yang kau ucapkan terdengar lebih romantis dari lagu apapun di dunia ini. Soal makan malam di restoran, kenapa kita tidak pergi sekarang?”

“Tidak, malam ini—aku hanya ingin menghabiskannya di kamar berdua denganmu. Emm, bukan berdua, tapi bertiga dengan baby kita.”

Siwon mengecup perut Tiffany mesra sebelum menggendongnya ke kamar.

 

 

The End…

61 thoughts on “(AR) Sweet Story Part 7-End

  1. Akhirnya siwon menyadarinya,dan melamar fany.
    Chukae sifany.sweet happy ending.tapi thor,sifanynya kan belum melangsungkan pernikahamn dan juga apakah siwon berhasil minta restu dari Mr.Hwang untuk segera menikahi fany,kalo bisa bikin sequelnya thor.saya siap menunggu kok thor.keep writing ya thor.hwaiting.
    Sifany 4ever♥♥♥

  2. Oh so sweet ap yg dilkukn siwon. akhirny justru sang anaklh yg mempersatukn ortu mrk krn ank buah hati n cinta serta jembtn dlm klrg. SiFany I Love You…muach…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s