(AR) Sweet Story Part 6

SWEET STORY 6: So Cold

SWEET STORY

Presented by: Youngwonie

Cast:

Choi Siwon & Tiffany Hwang

Supported cast:

Nichkhun, Yuri, Bora

Genre: Romance, Angst

Rating: PG 18

Length: Series

Disclaimer: The story is mine. Don’t be a plagiator. Enjoy this story and don’t forget to comment. Your comment is oxygen to my finger and heart to write.

FF ini pernah dipublish di: thisislove4ever.wordpress.com

 

 

 

Sepuluh, dua puluh, sampai tiga puluh detik Tiffany menghitung, baru ia membuka matanya untuk melihat hasil kelima testpack yang dicobanya.

“Tidak!” jerit Tiffany tertahan. Melihat semua alat tes kehamilan itu memberikan hasil yang sama. Dia positif hamil.

“Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin hamil. Tidak!!!” Tiffany melempar kelima alat itu ke sembarang arah. Tangisnya pecah. Ia terduduk di lantai kamar mandinya. Frustasi. Apa yang harus dilakukannya sekarang. Kenyataannya ia sedang mengandung di saat ia sedang mencoba melupakan ayah dari calon bayi itu.

“Apa yang harus kulakukan?”

***

 

Tiffany menatap pintu ruangan di depannya. Ia menarik nafas sejenak sebelum mengetuknya. Belum pernah ia merasa takut untuk masuk ke ruangan itu seperti saat ini.

Tok! Tok! Tok!

“Masuk,” terdengar jawaban dari dalam. Tiffany pun mengait kenop pintu hingga pintu itu terbuka. Di dalam ruangan itu, seorang gadis berambut hitam panjang sedang terlihat sibuk dengan kertas- kertas di mejanya. Ia tampak terkejut dengan kedatangan Tiffany.

“Hai!” sapa Tiffany.

“Hai,”

“Masih sibuk?”

“Hanya menyelesaikan laporan. Duduklah. Mau jus?”

“No, thanks. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, Bora.”

“Katakan saja.”

Tiffany menatap temannya yang bernama Bora itu, dia adalah seorang dokter kandungan.

“Aku—ingin melakukan USG.”

“Kenapa? Apa kau sakit?”

“Aku—hamil.”

“What?” Bora melebarkan matanya,”Aku pasti salah dengar kan?”

Tiffany menggeleng,”Aku memang sedang mengandung.”

“Tunggu dulu, aku tahu kau punya pacar dan tinggal bersama dengannya. Tapi, kau kan selalu meminum pil kotrasepsi yang biasa kau minta padaku. Jadi, bagaimana kau bisa hamil?”

“Aku melakukan kesalahan. Dan sekarang aku hamil.”

“Ya ampun Fany. Ini kabar gembira. Berarti sebentar lagi aku akan punya keponakan.” Bora terlihat sangat excited. Sebaliknya, Tiffany malah kelihatan tak bersemangat.

“Hey, kenapa mukamu ditekuk seperti itu. Kau akan menjadi ibu. Itu adalah hal yang sangat luar biasa. Jadi, seharusnya kau merasa senang kan?”

Bora menatap Tiffany. Menyelidik.

“Kenapa? Apa kau tidak menginginkannya?”

“Bukan. Hanya saja, dia datang di saat yang tidak tepat.”

“Maksudmu?”

“Siwon dan aku—Kami sudah tidak bersama.”

“Apa?” sekali lagi Bora terkejut.

“Dia dan aku punya pandangan berbeda. Kami tidak akan bisa bersatu. Aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.”

“Apa dia tahu soal anak ini?”

Tiffany menggeleng,”Aku belum memberitahunya. Sejak kami berpisah, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Mungkin dia pindah dari kota ini. Lagipula, dia pernah mengatakan kalau dia tidak menginginkan adanya anak- anak di antara kami, jadi apa gunanya aku memberitahunya.”

Bora memegang tangan Tiffany. Menyalurkan rasa simpatinya.

“Sudahlah, aku baik- baik saja. Kau tidak perlu mengasihani aku seperti itu, Bora. Ayo kita lakukan USG sekarang. Setelah ini aku harus ke supermarket untuk belanja. Aku tidak mau pulang terlalu malam. Udara sangat dingin di luar.”

“Maaf, aku terlalu terbawa suasana. Baiklah, sekarang berbaringlah di ranjang itu. Aku akan menyiapkan perlengkapannya.”

Tiffany melakukan apa yang disuruh Bora. Ia berbaring di ranjang pasien sementara Bora menyiapkan alat- alat yang diperlukan untuk USG.

***

 

Tiffany menenteng dua kantong plastik berukuran besar di tangannya. Kali ini belanjaannya memang bertambah banyak. Ia harus membeli bermacam- macam sayuran dan buah- buahan juga ikan untuk memenuhi kebtuhan nutrisi selama kehamilannya. Ditambah beberapa dus susu formula untuk mendukung pertumbuhan janinnya. Ia jadi bersemangat tentang kehamilannya setelah melakukan USG di ruangan  Bora tadi. Ia melihat sendiri ada seorang makhluk yang tumbuh di rahimnya. Seseorang yang akan memanggilnya ‘Mommy’. Walaupun masih berupa segumpal daging, Tiffany mulai merasakan arti keberadaannya. Ia tidak ingin calon anaknya merasakan kesedihan yang dialaminya. Ia ingin anak itu tumbuh dengan baik. Jadi ia bertekad untuk menjalankan hidupnya dengan baik dan melupakan masalahnya dengan Siwon. Demi anaknya. Anak mereka.

Tiffany memasuki lift untuk naik ke apartemennya. Saat lift hampir menutup, seseorang menahannya. Pintu lift pun terbuka. Sosok pria tinggi dengan balutan mantel hitam sepanjang lutut berdiri di depan pintu lift. Tiffany mendongak menatap pria itu. Jantungnya tiba- tiba berdetak tak beraturan saat matanya bertemu dengan mata pria itu. Mata elang milik seorang Choi Siwon yang sudah hampir sebulan tak dilihatnya. Mereka bertatapan cukup lama. Saling menyelidik. Menelusuri jejak kerinduan lewat mata masing- masing. Tiffany yang pertama memalingkan wajahnya. Ia tak kuat menatap mata Siwon lebih lama lagi. Bisa saja pertahanannya runtuh jika ia terus melakukannya. Dan ia bisa berakhir di pelukan pria itu. Pesona Siwon masih sanggup membalikkan perasaannya.

Siwon masuk ke dalam lift bersama sebuah koper ukuran sedang yang dibawanya. Sepertinya pria itu baru pulang dari luar kota untuk waktu yang cukup lama. Mungkin itu alasannya mengapa Tiffany tidak pernah melihatnya belakangan ini.

Mereka berdiri berdampingan. Siwon melirik ke arah belanjaan Tiffany yang cukup banyak. Biasanya mereka berbelanja bersama di akhir bulan seperti sekarang. Siwon merindukan saat- saat itu. Ia merindukan setiap saat kebersamaannya dengan Tiffany. Merindukan masakannya, sentuhan lembutnya, dan senyuman manis yang selalu menyambutnya. Siwon merindukan itu semua.

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai 8 tempat apartemen mereka. Menyadarkan Siwon dari lamunannya. Tiffany buru- buru keluar dari lift hingga tanpa sengaja ia tersandung. Tubuhnya hampir menyentuh lantai kalau Siwon tidak refleks menangkapnya. Mereka bertatapan lagi. Kali ini tidak lama karena belanjaan Tiffany yang jatuh berserakan di lantai. Tiffany segera melepaskan tubuhnya dari pelukan Siwon. Ia langsung berjongkok untuk membereskan belanjaannya. Siwon ikut berjongkok untuk membantu. Namun Tiffany menahannya.

“Tidak usah. Biar aku bereskan sendiri.”

“Biarkan aku melakukan tugasku sebagai tetangga yang baik.”

Siwon tetap membantu Tiffany memunguti ikan- ikan yang terbungkus sterofoam yang terjatuh di dekatnya.  Ia mengerutkan dahinya menyadari sesuatu.

“Bukankah kau tidak suka ikan?”

Tiffany terkejut dengan pertanyaan Siwon. Ia buru- buru mengambil ikan- ikan itu dari tangan Siwon dan memasukkannya ke dalam plastik. “Bukan urusanmu,”

“Maaf.”

Syukurlah dus- dus susu formula-nya tidak ikut terjatuh. Kalau tidak, Siwon pasti bertambah curiga padanya.

“Terima kasih sudah membantu. Selamat malam, Mr Choi.”

Tiffany pamit setelah belanjaannya beres. Ia langsung masuk ke dalam apartemennya tanpa memperdulikan Siwon yang masih menatapnya.

‘Aku sangat merindukanmu, Baby. Tidakkah kau bisa merasakannya? Kenapa sikapmu masih dingin padaku?’

Sedangkan Tiffany yang sudah berada di dalam apartemennya, berdiri bersandar di pintu. Diletakkannya belanjaannya di lantai begitu saja. Ia meraba perutnya yang masih rata.

”Maafkan Mommy, sayang. Mommy hampir saja membuatmu terluka. Untung Daddy-mu ada di sana. Kau sudah melihatnya kan? Dia masih mengkhawatirkan Mommy seperti sebelumnya. Tapi Mommy tidak bisa memberitahukan keberadaanmu sekarang. Belum waktunya. Sebelum kau benar- benar kuat. Karena Mommy tidak mau dia melukaimu, sayang.”

***

 

“Hai,” Nickhun datang dengan sebuah karton di tangannya.

“Hai, masuklah.”

Nichkhun mengikuti Tiffany masuk ke apartemennya.

“Kau tidak menunggu lama kan?” Nichkhun menyerahkan karton itu pada Tiffany dan Tiffany menerimanya dengan senang hati.

“Lumayan, aku hampir saja mati kelaparan. But, Thanks. Kau sudah membelikannya untukku.”

“Di luar salju sangat tebal. Sulit sekali menemukan pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan saat cuaca seperti ini. Untung aku menemukannya.”

Mereka sampai di ruang keluarga.

“Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan minum untukmu.”

“Biar aku saja, kau duduklah dan nikmati ubi bakarmu.”

“Baiklah, kau memang sangat pengertian.”

“Kau baru sadar kalau temanmu ini sangat baik?”

Tiffany mengangkat bahunya. Nichkhun hanya tersenyum menanggapinya. Lalu ia menuju dapur untuk membuat kopi.

Setelah meracik kopinya, Nichkhun menyalakan mesin pembuat kopi. Sambil menunggu, Ia bermaksud membuat salad buah untuk Tiffany. Siapa tahu tengah malam nanti ia kelaparan. Ibu hamil biasa mengalaminya. Saat membuka kulkas untuk mengambil buah,  dilihatnya foto hasil USG yang tertempel di pintu kulkas. Ia menatap haru pada foto itu. Lalu disentuhnya gambar hitam putih  itu.

“Baby, kau harus kuat. Karena kaulah yang membuat Mommy-mu bisa melewati semua ini.”

Setelah mengucapkan itu, Nichkhun kembali ke tujuannya mengambil beberapa buah dari dalam kulkas. Setelah mencucinya, dengan cekatan ia memotong- motong buah- buahan itu lalu membuat saus mayo dan melumurinya di atas buah- buahan yang sudah disajikannya di atas piring. Dan, selesai. Kopinya pun sudah jadi. Ia menyimpan salad buatannya ke dalam kulkas, menuang kopinya lalu kembali ke ruang keluarga dimana Tiffany masih sibuk dengan ubi bakarnya. Nichkhun terkekeh melihat cara Tiffany memakan ubinya sampai pipinya penuh dan menggembung.

“Kenapa? Ada yang lucu?”

“Aku tidak pernah melihatmu begitu tergila- gila pada ubi bakar seperti itu.” ujarnya sambil duduk di sofa berhadapan dengan Tiffany.

“Ini sangat enak. Kau harus mencobanya.”

“Tidak, terima kasih. Asalkan kau tidak menyuruhku keluar mencari ubi bakar di pinggir jalan lagi, aku sudah sangat bersyukur.”

“Jadi kau keberatan?”

“Sedikit. Seharusnya aku sudah menggulung tubuhku dengan selimut saat ini.”

“Tidurlah di sini. Aku tidak keberatan.”

“Aku tidak mau tidur di sofa. Badanku bisa sakit semua nanti.”

“Kau bisa tidur bersamaku di kamar. Bukankah waktu kecil kita sering melakukannya?” goda Tiffany.

“Kupikir itu bukan ide yang bagus untuk dilakukan sekarang. Apalagi dengan kebiasaan tidurmu yang suka menendang itu. Aku masih ingat saat kau, aku dan Chansung tidur bersama saat kita masih 7 tahun yang berakhir dengan aku terlempar ke bawah karena tendanganmu.”

“Saat itu kan kita habis bermain bola. Jadi hal itu terbawa ke dalam mimpi. Apalagi, badanmu yang dulu gemuk itu mirip sekali dengan bola. Iya kan?”

Tiffany tertawa terbahak- bahak. Nichkhun hanya mendengus kesal melihat Tiffany menertawakannya seperti itu. Tapi dalam hati, ia bersyukur Tiffany bisa tertawa lepas seperti dulu. Karena sejak perpisahannya dengan Siwon, Tiffany berubah menjadi pendiam. Lebih sering melamun dan susah sekali untuk terenyum apalagi tertawa. Mungkin kehadiran anak di kandungannya membawa dampak positif pada kejiwaannya.

“Lebih baik aku pulang sekarang. Sebelum badai saljunya datang dan aku terjebak dengan wanita hamil yang selalu merengak minta dibelikan makanan yang aneh- aneh.”

“Dasar perhitungan. Ya sudah pulanglah. Terima kasih ubinya.”

“Aku juga sudah buatkan salad untukmu. Makanlah kalau kau lapar nanti.”

“Benarkah? Ahh, kau memang baik sekali, Silly.”

Tiffany memeluk Nichkhun.

“Sudahlah lepaskan. Kasihan calon keponakanku.”

“Oh, kau benar.”

Nichkhun memakai mantelnya dan bersiap pulang. Tiffany mengantarnya sampai pintu depan.

“Kau yakin tidak mau memberitahu Siwon soal kehamilanmu?” ucap Nichkhun sebelum keluar.

“Belum saatnya. Aku pasti akan memberitahunya nanti.”

“Aku menyesal dulu membiarkanmu bersamanya.”

“Itu adalah pilihanku, Khun. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu.”

“Baiklah. Yang penting, kau harus jaga dirimu baik- baik.”

“Aku tahu. Thanks sudah mau direpotkan.”

“Anytime. Bye.”

“Bye.”

Tiffany menutup pintu apartemennya sementara Nichkhun menuju lift untuk turun. Sesampainya di lobi, ia melihat Siwon yang baru pulang. Mereka berpapasan. Nichkhun berhenti tepat di depan Siwon. Mau tak mau Siwon pun menghentikan langkahnya.

“Hai, Mr Choi” sapa Nichkhun ramah seperti biasa.

“Hai, Khun. Apa kabar?” Siwon pun menanggapinya dengan ringan.

“Mungkin itu yang seharusnya ku tanyakan padamu. Bagaimana kabarmu setelah mencampakkan sahabatku?” Nichkhun malah menjawab dengan cibiran.

“Aku tidak mencampakkannya. Dialah yang menyuruhku pergi.” Jawab Siwon masih berusaha bersikap tenang.

“Setidaknya dia telah melakukan hal yang benar dengan mengusir pria pengecut sepertimu.”

“Jaga bicaramu Mr Horvejkhul!” Siwon mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras mendengar sindiran yang dilontarkan Nichkhun.

“Lalu apa sebutan bagi seorang pria yang mengaku mencintai kekasihnya tapi tidak mau menikahinya? Kalau dari awal aku tahu kau pria seperti itu, aku tidak akan mengizinkanmu mendekati Tiffany.”

“Kau tidak punya hak apapun untuk mengatur hidupnya. Tiffany mencintaiku. Tak seorangpun bisa melarangnya. Bahkan sahabat karibnya sekalipun.”

“Itu dulu. Sebelum dia sadar siapa dirimu sebenarnya.”

“Percakapan ini tidak akan pernah selesai. Sebaiknya kita tidak membuang- buang waktu.”

“Kau benar. Lagipula aku harus segera pulang sebelum badai salju datang. Aku hanya ingin berpesan padamu, Mr Choi. Jangan sekali- kali mendekati Tiffany lagi. Apalagi menyakitinya. Kalau tidak—Aku sendiri yang akan datang untuk menghajarmu.“

“Asal kau tahu, aku tidak pernah takut pada ancamanmu. Aku dan Tiffany masih saling mencintai. Setelah kami menyelesaikan masalah ini, kami pasti akan bersatu lagi.”

“Kau—“ Nichkhun menarik kerah mantel Siwon. Dua orang petugas keamanan segera datang menghampiri mereka dan memisahkan Nichkhun dari Siwon.

“Maaf, Tuan. Anda tidak boleh membuat keributan di sini.” Ucap salah seorang petugas keamanan itu kepada Nichkhun. Lalu beralih menatap Siwon yang sedang merapikan pakaiannya.

“Anda tidak apa- apa, Tuan Choi?”

“Aku tidak apa- apa. Lepaskan dia. Biarkan dia pergi.” Jawab Siwo kalem.

“Mari Tuan, kami antar Anda ke luar.” Petugas keamanan itu mengarahkan Nichkhun ke luar lobi apartemen.

“Aku bisa pergi sendiri.” Nichkhun melangkah dengan kesal ke arah parkiran. Sedangkan Siwon menuju ke lift setelah mengucapkan terima kasih kepada petugas keamanan tadi.

***

 

Tiffany berada di restoran untuk makan siang. Siang itu dia tidak mau makan di kantin rumah sakit karena menunya yang membosankan. Jadi dia mencari restoran terdekat yang menyajikan hidangan yang cukup variatif.

“Tiffany?”

Tiffany menoleh saat mendengar namanya dipanggil.

“Yul? Hai, apa kabar?”

Yuri tersenyum. Dia kelihatan ceria hari itu.

“Baik. Bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kau lihat. Apa kau sedang menunggu seseorang?”

”Tidak. Aku hanya ingin bersantai sambil minum. Duduklah, kau sendirian kan?”

Tiffany mengangguk lalu duduk di kursi berhadapan dengan Yuri.

“Lama tidak melihatmu. Kau tinggal dimana sekarang?”

“Aku tinggal di apartemen Minho sejak perceraianku dan Kyuhyun Oppa.”

Wajah Yuri berubah datar saat menyebut perceraiaannya. Tiffany jadi merasa bersalah.

“Maaf, aku tidak bermaksud—“

“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Oh ya, mumpung kita bertemu di sini, bagaimana kalau aku traktir kau minum. Katanya wine di sini sangat bagus.”

“Terima kasih. Tapi aku tidak minum.”

“Kenapa?” Yuri mengerutkan keningnya. Setahunya, Tiffany adalah penggemar berat wine.

“Bukan apa- apa. Hanya sedang tidak ingin,” elak Tiffany. Tidak mungkin kan dia bilang pada Yuri kalau dia tidak mau minum karena sedang hamil.

“Oh, ya sudah. Bagaimana kalau kopi?” Yuri tidak menyerah.

Orange juice kedengarnnya lebih baik.”

Yuri menaikkan alisnya,”Ok, kalau begitu.”

Yuri memanggil pelayan dan memesan minuman untuk mereka berdua. Tiffany juga memesan mananan untuk makan siangnya. Yuri menatap  Tiffany setelah ia menyelesaikan pesanannya yang cukup banyak.

“Kau akan memakan itu semua?”

“Tentu saja. Aku ke sini memang untuk makan siang. Kenapa?”

“Tidak. Hanya saja kau tidak terlihat seperti biasanya. Yang kutahu kau selalu selektif memilih makanan untuk menjaga berat badan.”

“Untuk saat ini, aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Nafsu makanku sedang naik. Dan aku ingin memakan apapun yang aku inginkan sekarang.”

“Pantas saja badanmu lebih berisi dari sebelumnya. Dan menurutku, kau terlihat sexy dengan tubuhmu yang sekarang.”

“Benarkah?”

“Percayalah. Aku yakin Siwon Oppa juga berpikiran sama denganku. Oh ya bagaimana kabarnya?”

Mendengar nama Siwon, keceriaan di wajah Tiffany memudar. Yuri yang menyadari perubahan mimik Tiffany langsung bertanya padanya.

“Ada apa, Tiff? Apa kau dan Siwon Oppa sedang bertengkar?”

“Lebih buruk dari itu. Kami berpisah.”

“Apa? Kau bercanda kan, Tiff? Itu tidak mungkin. Bukankah kalian saling mencintai?”

“Cinta saja rupanya tidak cukup untuk membina suatu hubungan, Yul. Aku tidak sependapat dengan pemikiran Siwon yang tidak menginginkan pernikahan dalam hubungan kami. Jadi aku memutuskan untuk mengakhirinya.”

“Siwon Oppa tidak mau menikahimu?” Yuri bertanya dengan nada tidak percaya.

“Aku juga berharap kalau dia bercanda saat mengatakan itu. Tapi kenyataannya dia sungguh- sungguh. Bahkan dia mengatakan hal itu di depan keluargaku. Dia tidak hanya melukai perasaanku dengan pernyataannya itu. Tapi juga seluruh keluargaku.”

Tiffany hampir mengeuarkan air matanya saat itu juga. Tapi ia berusaha terlihat tegar di depan Yuri.

“Tiff, maafkan aku. Mungkin secara tidak langsung perceraianku dan Kyuhyun Oppa juga ikut mempengaruhi pemikiran Siwon Oppa.”

“Kau tidak perlu minta maaf, Yul.”

“Aku yakin Siwon Oppa mengatakan hal itu karena dia trauma pada kegagalan pernikahan orang- orang terdekatnya. Dulu orang tuanya juga bercerai. Dan hampir setiap hari dia juga menangani kasus perceraian. Mungkin yang ada di benaknya adalah pernikahan hanya akan membuat dua orang yang dulunya saling mencintai menjadi asing dan memutuskan untuk berpisah. Dia hanya terlalu mencintaimu dan takut untuk berpisah denganmu, Tiff.”

“Apapun alasannya, aku tidak bisa bersamanya jika dia masih berpikir seperti itu. Aku hidup bukan hanya untuk diriku sendiri. Aku punya orang tua dan keluarga yang punya mimpi melihatku menikah dan membangun keluargaku sendiri. Dan bersama Siwon, aku tidak akan mendapatkannya.”

***

 

Yuri mendatangi Siwon di kantornya usai pertemuannya dengan Tiffany di restoran. Sebenarnya ia enggan mendatangi kantor pengacara tempat Siwon bekerja karena besar kemungkinan ia akan melihat Kyuhyun di sana. Tapi memikirkan hubungan Siwon dan Tiffany yang berakhir hanya karena prinsip Siwon yang salah tentang pernikahan, ia memberanikan dirinya datang ke tempat itu dengan tujuan menyadarkan Siwon dari kekeliruannya. Ia tidak mau dua orang yang disayanginya itu berpisah. Terlebih, Yuri tahu kalau keduanya masih saling mencintai dan ada satu alasan yang harus Siwon ketahui. Alasan yang seharusnya bisa membuat Siwon merubah pemikirannya dan kembali pada Tiffany.

“Masuk,”

Yuri memasuki ruangan Siwon setelah pria itu memberikan izinnya.

“Yul? Kau di sini?”

“Aku sengaja datang untuk membicarakan hal penting denganmu.”

“Bicaralah.”

“Ini mengenai hubunganmu dengan Tiffany.”

“Jadi kau sudah tahu,”

“Aku bertemu Tiffany tadi di restoran. Dia menceritakan semuanya.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin bilang pada Oppa bahwa apa yang dikatakan Tiffany benar. Tidak seharusnya Oppa menjadikan pengalaman kegagalan pernikahan orang- orang terdekat Oppa sebagai acuan. Setiap orang punya jalan hidupnya masing- masing. Dalam hal ini, pernikahan tidak bisa disalahkan karena orang yang menjalaninya memutuskan untuk mengakhiri pernikahan itu sendiri. Oppa harus yakin dengan cinta yang kalian miliki, Oppa dan Tiffany pasti bisa menjalankan hubungan itu dengan baik. Temuilah dia dan bicarakan lagi hal ini. Aku tidak mau Oppa menyesal dikemudian hari. Apalagi saat ini Tiffany—“

Yuri ragu untuk menyelesaikan kalimat terakhirnya.

“Kenapa dengan Tiffany?”

“Dari yang kulihat tadi di restoran, aku yakin Tiffany sedang hamil.”

Ucapan Yuri sontak membuat Siwon melebarkan matanya.

“Tidak mungkin. Tiffany tidak mungkin hamil.”

“Meskipun Tiffany tidak mengatakannya, sebagai sesama wanita, aku bisa merasakan tanda- tanda kehamilan yang ditunjukkannya.”

“Tapi Tiffany selalu meminum pil pencegah kehamilan selama kami berhubungan.”

“Itu bukan suatu jaminan kehamilan tidak bisa terjadi. Bisa saja Tiffany pernah lupa meminum pil-nya. Kalau Oppa penasaran, sebaiknya tanyakan itu langsung padanya. Dan, aku harap Oppa bisa merubah pemikiran Oppa agar kalian bisa bersatu kembali. Aku sangat menyayangi kalian seperti saudaraku sendiri. Karena itu aku tidak mau kalian saling melukai dengan perpisahan ini.”

Siwon membisu. Dia bingung harus mengatakan apa. Pikirannya masih shock dengan pernyataan Yuri bahwa Tiffany sedang hamil. Dan janin yang dikandung Tiffany kemungkinan besar adalah anaknya. Darah dagingnya. Tapi kenapa Tiffany tidak pernah mengatakan hal itu padanya.

“Aku pergi. Kuharap Oppa memikirkan kata- kataku tadi.”

***

 

“Meskipun Tiffany tidak mengatakannya, sebagai sesama wanita, aku bisa merasakan tanda- tanda kehamilan yang ditunjukkannya.”

Perkataan Yuri terus terngiang di kepalanya. Membuat Siwon penasaran untuk mencari tahu kebenaran. Ia harus menemui Tiffany dan menanyakan langsung soal itu. Hanya Tiffany yang bisa memberinya jawaban pasti. Namun, sepertinya keinginannya menemui Tiffany harus tertunda. Pasalnya Siwon baru bisa pulang ke apartemennya hampir tengah malam. Pekerjaan yang menumpuk serta kemacetan karena salju yang cukup tebal di jalanan adalah alasan kenapa dia baru bisa pulang selarut itu.

Ting!

Pintu lift terbuka dan Siwon bersiap masuk ketika dilihatnya Tiffany berada di dalam lift itu hendak keluar.

 

 

To be continued…

52 thoughts on “(AR) Sweet Story Part 6

  1. Thanks ya yuri kasih tau siwon kalo fany hamil.
    Setelah siwon tau fany hamil,siwon bisa berubah pemikiran siwon,dan berharap segera menikahi fany.Amin.chukae fany segera jadi momy.
    Next part end thor.hwaiting keep writing thor.

  2. terkejut siwon!! ap yg akn km lakukn? ayo kejar fany ubh pmikiran km ttg pernikhn. bgmn pun km cinta fany….
    bertrm kshlh dgn yuri krn insting wanita jd th klo fany hamil…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s