(AF) Unexpected

Unexpected

unexpected

Author : Maghvira Ramadhania

Cast: Tiffany & Siwon

Genre: Romance, fluff

Rating: PG-15

Disclaimer: I just borrow the cast, and they’re belong to God & their parents. Leave a comment and hope you enjoy my imagination.

.
.
.
.

“Ugh!!” Gerutu Tiffany sambil menendang krikil tak berdosa di jalan sepi yang dilaluinya.

“Bagaimana bisa Tn. Kwon memecatku karena aku kurang cantik! Alasan macam apa itu?! dasar laki-laki!” lanjutnya, kembali menendang krikil yang lain.

“Ah sudahlah! lebih baik cepat-cepat pulang, lalu mandi dan menenangkan diri.” Namun sepertinya keinginannya harus tertunda. Bukan tertunda, melainkan harus pupus seketika setelah ia bertemu dengan Ny. Shim, pemilik kamar yang disewanya di tengah jalan dekat tempatnya itu.

“Hey Hwang Tiffany!” Panggilnya dengan senyum melekat dibibir berbalut lip-stick merah merona.

“Iya Ny. Shim ada apa?”

“Beruntung bertemu disini, jadi tak perlu jauh-jauh pergi ke tempat kerjamu.” Kini di kepala Tiffany berputar satu pertanyaan: Untuk apa wanita ini ingin mengunjunginya ke kantor?

“Cepat kau pulang, lalu kemasi pakaianmu dan barang-barang milikmu.” Tiffany membelalak seketika. “M-mwo? Bukannya aku sudah membayar uang sewa Ny. Shim? T-tapi kenapa aku harus pergi?!” tananyanya shock.

“Eish! Kau memang sudah membayar, tapi besok pagi-pagi sekali kontraktor akan datang dan menggusur rumahku.”

“Lalu dimana Ny. Shim akan tinggal?” padahal dalam benaknya sekarang adalah dimana ia akan tinggal sekarang? Tapi biarlah pertanyaan itu yang terlontar dari bibirnya.

Wanita 50 tahunan itu kembali tersenyum. “Anakku masih tinggal di dekat sini. Lagipula kontraktor itu membayar rumahku, apa yang harus aku khawatirkan.”

Tiffany terdiam. “Oya Tiffany, aku kasihan padamu, jadi ambil ini, untukmu.” Ucapnya sambil memberikan satu amplop berisi uang. “Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena kau sering membelikan makanan untukku.”

“Terimakasih ajhumma. Sekarang aku ambil barang-barang ku dulu ya. Sampai jumpa.”  Jawabnya dengan senyum lemah.

“Ah~ yaya, cepat ambil barang-barangmu. Sampai jumpa! Hati-hati nak!”

.
.
.
.
.

Tiffany terduduk di bangku taman kota. Kakinya sudah sangat lelah berjalan mencari-cari tempat, berharap ada kamar yang disewakan dengan harga murah, namun hasilnya sia-sia, semuanya penuh.

Walaupun ada, harganya tak sesuai dengan kantongnya saat ini, walaupun Ny. Shim sudah memberikan uang, tapi tetap saja tidak cukup. 500 ribu won. Banyak memang, tapi ia juga membutuhkan uang itu untuk yang lain, bukan untuk sewa kamar saja.

“Pertama dipecat, kedua harus kehilangan rumah, nanti apalagi?!” racaunya tak jelas.

Buk. Ah!

“Aish! Kepalaku!” Ia mengusap pelan kepalanya.

“Maaf nona, apa ada yang sakit?” tanya seorang pria berkulit putih yang datang menghampirinya sambil membawa bola basket yang tadi terlempar mengenai kepala Tiffany.

“Bodoh, jelas kepalaku sakit! Bolamu itu mengenai kepalaku cukup keras! Ish!”

“Maaf tapi itu tidak sengaja.” Jawab laki-laki itu, menundukan kepalanya sedikit.

“Ugh, hari ini benar-benar hari yang sial!” gerutunya tak jelas.

Laki-laki itu berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Tiffany yang masih mengomel tak jelas. “Hari yang buruk?” Tiffany menganggukan kepalanya. Ia merasa air mata sudah berkumpul di sudut matanya.

“Kau ingin berbagi cerita denganku?” gadis itu menggeleng. “Tidak.” Jawabnya dengan kesal.

“Yakin? Kudengar jika kau bercerita mengenai masalahmu, kau akan merasa lebih baik.” Lanjutnya lalu duduk tepat disebelah Tiffany.

“Aku adalah pendengar yang baik.” Katanya dengan lembut. “Bisakah kau diam?! Untuk apa memperdulikanku?!” Celetuk Tiffany.

“Namaku Siwon.” Ucapnya, dengan senyum di bibir tipisnya. Tiffany terdiam sambil terus menatap namja itu aneh. “Dan kau adalah?”

“Tiffany.”

“Baiklah. Jadi kau benar-benar tak ingin bercerita denganku?”

Gadis itu menarik nafasnya dalam, mengisi rongga paru-parunya. “Tidak.” Jawabnya tenang. “DAN JANGAN BERTANYA LAGI!” Sambungnya, lalu menarik koper serta sebuah tas yang dibawanya pergi.

Siwon terdiam sebentar sebelum akhirnya tersenyum dan tertawa kecil. “Dasar wanita.”

.
.
.
.
.

“Tiffany, apa kau yakin kau tidak apa-apa?” tanya Hyoyeon. Tiffany dan sahabatnya berada di toko yang menjual tteobbokki di dekat taman.

“Aku tak tau. Hyoyeon apakah kau tau bagaimana rasanya tiba-tiba kehilangan pekerjaan dan kehilangan rumah?” Hyoyeon menghembuskan nafasnya dan menatap sahabatnya dengan kasihan.

“Hey, kau tidak boleh terus seperti ini. Kau harus mencari tempat dan mencari pekerjaan.”

“Lalu? Aku tidak mempunyai cukup uang untuk menyewa tempat, bahkan satu kamarpun. Dan bagaimana bisa aku menemukan pekerjaan hari ini juga?” Jawabnya frustasi.

“Ini.” Hyoyeon menyodorkan sebuah kunci kepada Tiffany. “Untuk apa ini?” tanyanya sambil menatap Hyoyeon dengan penuh tanya. “Itu kunci apartemenku, kau bisa tinggal sementara disana sambil memikirkan kehidupanmu selanjutnya.”

“Kau tidak perlu melakukan ini-”

Hyoyeon menggenggam tangan Tiffany sambil tersenyum. “Kau adalah sahabatku Tiff, dan kau butuh bantuan. Jadi selagi aku bisa membantumu, kumohon kau terima bantuanku. Ok?”

“Terimakasih untuk bantuannya. Aku berhutang banyak padamu.” Jawab Tiffany, dan dibalas dengan senyum sahabatnya itu.

“Baiklah Tiff, sekarang aku harus kembali ke tempat kerjaku. Kau harus ke apartemenku dan beristirahat. Anggaplah milikmu sendiri dan mungkin kau bisa mencari lowongan pekerjaan menggunakan komputer milikku.” Kata Hyoyeon, lalu mengucapkan sampai jumpa pada sahabatnya.

.
.
.
.
.

“Ok Tiffany, kau hanya akan tinggal disini beberapa hari. Hari ini kau akan mencari lowongan pekerjaan.” Ucapnya pada diri sendiri dan melangkah masuk ke apartemen milik Hyoyeon.

“Kau hanya akan meminjam komputernya dan beristirahat di sofa miliknya.” Lanjut Tiffany. “Dan jangan sampai kau menghabiskan makanan yang ada di kulkas. Kau harus memberikannya beberapa uang setelah kau mendapatkan pekerjaan sebagai ucapan terimakasih.” Tiffany beranjak ke meja kerja Hyoyeon yang ada di ruang tv lalu menyalakan komputer.

“Ingat hanya beberapa hari.” Ia terdiam sejenak lalu membuang nafasnya pelan. “Kenapa aku berbicara sendiri?”

“Karena kurasa kau menikmatinya.” Ucap seseorang. Tiffany membeku, perlahan ia membalikkan badannya dan menemukan seseorang berdiri di belakangnya. Dan itu bukan orang asing, melainkan laki-laki yang baru ditemuinya, Siwon.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Tiffany kaget.

“Seharusnya pertanyaan itu untukmu. Apa yang kau lakukan disini?” Tiffany berdiri dari kursi yang semula di dudukinya. “Aku adalah sahabat Hyoyeon dan dia bilang aku bisa tinggal sementara disini.”

“Kau punya bukti?”

“Mengapa aku harus punya bukti?”

“Bisa saja kau penipu yang ingin merampok.” Tiffany menatap Siwon tak percaya, kemudian mengambil kunci yang tadi Hyoyeon berikan. “Ia memberikanku kunci ini satu jam yang lalu.”

“Bagaimana aku tau kalau saja ternyata kau mencuri kunci itu darinya.” Sekarang gadis itu mulai kesal. Ia berjalan kearah dimana terpanjang foto-foto kemudian mengambil sebuah foto berbingkai hijau.

“Ini, fotoku bersama dengan Hyoyeon.” Katanya sambil menunjukan foto itu pada Siwon yang masih tetap bersandar di tembok.

“Tak perlu berlebihan, Hyoyeon sudah memberitahu sebelumnnya kau akan kesini.” Setelah itu ia pergi dan Tiffany bergumam kesal lalu mengikuti namja itu.

“Kau butuh sesuatu?” tanya Siwon.

“Tidak. Mengapa kau bertanya?”

“Karena kau mengikutiku sampai ke kamarku.”

“Hanya memastikan bahwa kau bukan penyusup.” Siwon hanya tersenyum miring lalu membuka pintu kamarnya dan masuk dengan Tiffany masih mengikutinya. Kemudian Siwon mulai melepas pakaiannya, membuat Tiffany membalikan tubuhnya.

“A-apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan sedikit malu.

“Kelihatannya seperti apa? Aku sedang mengganti pakaianku bodoh.” Tiffany mengintip sedikit dan menemukan Siwon bertelanjang dada, bersiap melepaskan celananya. “Jika kau mau lihat lebih jauh, aku tidak masalah.” Ledek Siwon.

“M-maksud- yah! Untuk apa aku mau!” teriaknya lalu pergi meninggalkan Siwon yang tersenyum geli. Tiffany pergi ke ruang tv kemudian mendudukan dirinya di sofa. Tiba-tiba ia teriangat Siwon tanpa atasan, membuat pipinya merah merona. Seketika ia menggelengkan kepalanya, menjauhkan pikiran itu.

“Aku tak ingat Hyoyeon berbicara tentang teman satu apartemen.” Kata Tiffany pada dirinya sendiri.

“Itu karena aku baru pindah.” Tiffany menengokan kepalanya dan menemukan Siwon yang muncul dengan kaos serta celana santai.

“Kenapa kau menatapku dengan tatapan mengerikan itu?” tanya Siwon lalu berjalan menuju dapur dan membuka pintu kulkas.

“Hey apa yang kau lakukan!” protes Siwon ketika tiba-tiba pintu kulkas itu ditutup oleh Tiffany dan hampir menjepit jarinya. “Aku tidak mempercayaimu. Kau bisa saja seorang penyusup.” Siwon memutar bola matanya kesal.

“Hyoyeon sama sekali tidak berbicara tentang teman apartemennya.”

“Mungkin dia hanya tidak memberitaumu.”

“Aku sahabatnya dan ia memberitauku segalanya.” Siwon berusaha membuka kembali kulkas itu tapi gadis di hadapannya menghentikannya.

“Dengar, aku sudah tinggal disini selama 1 minggu, jadi bisakah kau menyingkirkan tanganmu itu? karena aku sangat lapar sekarang.”

“Punya bukti?”

“Aku tidak ingin memberitaumu. Satupun!” Tiffany dan Siwon saling melempar tatapan kesal satu sama lain.

“Beri aku bukti, lalu aku akan membiarkanmu megambil makanan didalam sini.”

“Kenapa kau tidak telpon Hyoyeon saja dan tinggalkan aku sendiri?” Tiffany terdiam, kemudian menelpon Hyoyeon. Mengapa hal itu tidak terpikirkan olehnnya dari tadi.

“Aku tidak mengizinkanmu membuka kulkas sampai panggilanku dengan Hyoyeon selesai.” Siwon kemudian melepaskan tangannya dari pintu kulkas.

“Baiklah, terserah apa katamu.” Jawabnya dengan kesal.

“Bagus, sekarang pergi ke ruang tv. Sekarang.” Namja itu melangkahkan kakinya dengan kesal ke ruang tv, kemudian menidurkan dirinya di sofa.

Tiffany berdecak sebal karena Hyoyeon tidak mengangkat telponnya. “Dia tidak menjawab.” Siwon bangun dari sofa, kembali ke dapur. “Sungguh?”

“Kau harus menunggu sampai ia kembali.” Ucap Tiffany tegas. “Oh ayolah, aku belum makan apapun dari tadi pagi.” Siwon berusaha menyentuh pintu kulkas sampai Tiffany memukul tangannya.

Namja itu pasrah dan kembali ke ruang tv. Sementara Tiffany tetap disana dan duduk di depan kulkas itu sambil memangku laptop milik Hyoyeon, mencari lowongan pekerjaan.

“Hey kau tau? Sofa disini sangat nyaman!” teriak Siwon, bermaksud agar Tiffany mau pergi dari sana. “Aku tak akan meninggalkan kulkas ini tanpa penjagaan.”

“Ayolah, aku sangat lapar.” Rengek namja itu membuat Tiffany geli dengan hanya mendengarnya.

“Delivery dari restoran saja.”

“Aku tidak punya uang tunai!”

“Kalau begitu beli saja di mini market.”

“Malas!”

Kemudian pintu apartemen terbuka, dan Hyoyeon muncul kemudian. “Hyoyeon!” teriak keduanya berbarengan.

“Woah~ ada apa ini? Tiff kenapa kau duduk disana?”

“Karena ia takut aku akan memakan semua makananmu.” Hyoyeon membulatkan matanya. “Maksudmu kau belum makan apapun hari ini?” Siwon mengangguk. “Maaf Siwon, aku belum memberitau tentanngmu pada Tiffany.”

“Lihat? Aku bukan seorang peyusup.” Ia menjulurkan lidahnya pada Tiffany, lalu pergi menuju kulkas untuk mengambil beberapa makanan.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau tinggal dengannya?” tanya Tiffany heran.

“Aku berbagi apartemen dengannya. Untuk meringankan biaya sewa.”

“Bukankah berbahaya tinggal dengan orang asing?”

“Sayangnya aku bukan orang asing.” Celetuk Siwon sambil mengunyah makanan di mulutnya, membuat Tiffany melirik sebal kearahnya.

“Dia sepupuku Tiff.”

“Maaf, aku tidak tau tentang itu.”

Hyoyeon tersenyum. “Eishh, tak perlu begitu. Ini salahku tidak memberitaumu sebelumnya.”

.
.
.
.
.

Hari selanjutnya, Tiffany bangun pagi-pagi sekali, ia mulai mencari lagi lowongan pekerjaan. Tiffany tidur di sofa walaupun Hyoyeon menyuruhnya tidur di kamar miliknya. Ia mengikat rambutnya dan mulai berkutik dengan komputer milik Hyoyeon.

“Seseorang bangun terlalu pagi.” Ia menengok dan menemukan Siwon dibelakangnya dengan rambut yang masih berantakan dan menurut Tiffany itu terlihat sedikit erm,sexy? ‘Aish Hwang Tiffany apa yang kau pikirkan?!’

“Hanya mencoba pindah dari apartemen ini secepat mungkin.” Jawabnya tanpa melepas tatapannya dari layar komputer.

“Kenapa kau bangun pagi-pagi sekali?” tanya Tiffany. Siwon yang sedang berkutik dengan cangkir kopinya terdiam lalu tersenyum jahil. “Kau ingin tau tentang kehidupanku ya?”

Tiffany memutar bola matanya kesal lalu membalikan tubuhnya, hingga ia bisa melihat Siwon yang sedang mengaduk kopi. “Kurasa aku harus berbuat sopan.”

“Baiklah jika kau mau tau. Aku akan berangkat bekerja.”

“Selamat pagi!” sapa Hyoyeon saat memasuki ruang tv. Ia sudah siap dengan pakaian kerjanya.

“Pagi.” Jawab Tiffany dan Siwon berbarengan, membuat senyum aneh di wajah Hyoyeon muncul.

“Kau sedang mencari lowongan pekerjaan Tiff?” Yang ditanya hanya menganggukan kepalanya ringan. Tiba-tiba Hyoyeon memiliki ide. “Hey Siwon, bukannya di tempatmu sedang mencari karyawan baru?”

Siwon mengangguk lalu berjalan kearah keduanya. “Yap kami sedang mencari karyawan baru.” Tiffany menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak ingin bekerja di tempat yang sama denganmu.”

“Baiklah, kurasa aku sudah menwarkannya padamu.” Lanjutnya sambil beranjak ke kamarnya.

“Kenapa kau tidak menerima tawarannya saja?” tanya Hyoyeon heran.

“Aku tak ingin bekerja bersamanya.”

“Kau tidak suka dengan Siwon? Dia laki-laki yang baik Tiff.” Tiffany menggelengkan kepalanya. “Aku membencinya karena dia jahat padaku.”

“Jahat padamu?”

“Ya, ia benar-benar membuat mood ku buruk kemarin. Dan bahkan sampai hari ini.”

“Dengar, Siwon begitu jika ia tertarik pada orang itu.” Tiffany terdiam. “Menurutnya aku menarik?” tanyanya aneh. Hyoyeon hanya menjawab dengan anggukan sambil tersenyum.

“Jika menurutnya kau tak menarik, ia akan berbuat biasa saja. bersikap manis, dan tidak mengganggumu.”

“Kau harus ambil kesempatan bekerja di tempatnya bekerja.”

“Memangnya ia bekerja sebagai apa?”

“Ia bekerja sebagai partner pemilik toko itu. Siwon di bagian bisnisnya, dan pemiliknya bekerja sebagai designer.”

“Dan aku sebagai?”

“Eish jangan tanya padaku. Tanya saja padanya.” Hyoyeon bangkit dari kursinya. “Aku harus pergi sekarang. Beritahu aku kau suka atau tidak dengan pekerjaanmu, ok?” dengan itu, Hyoyeon pergi dan meninggalkan Tiffany dan Siwon berdua di apartemennya.

“Hhh, apa yang harus kulakukan?” tanyanya pada diri sendiri. “Jika aku menerima tawaran Siwon, dengan begitu aku bisa keluar dari tempat ini dengan cepat. Tapi jika tidak, akan lama mendapatkan pekerjaan.”

“Itu benar.” Jawab Siwon yang tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya. Memakai pakaian yang rapih. “Kenapa kau selalu tiba-tiba datang dan menjawab pertanyaanku heoh?”

Siwon tak menghiraukan protes dari Tiffany. “Jadi kau akan menerima pekerjaan itu?” Tiffany mengangguk. “Kurasa aku akan coba.”

.
.
.
.
.

Beberapa hari kemudian, Tiffany bekerja di tempat yang Siwon tawarkan. Ia menjadi seorang pegawai toko yang melayani pembeli, meletakan pakai-pakaian dan lain-lain, menurutnya pekerjaan itu tidak buruk, selagi ia bisa menghasilkan uang, mengapa tidak?

Karena Tiffany merupakan pegawai yang pertama kali dipekerjakan, ia mengerjakan banyak hal. Sementara Siwon berkutik dengan keuangan dan partnernya, Yoona sebagai designer.

Tiffany sampai di toko tempatnya dan menemukan pintu ruangan Siwon terbuka. “Wow kau bekerja denga sangat baik.” Ucapnya sambil bersandar di dekat pintu. Siwon hanya tersenyum kecil. “Aku sangat perduli dengan bisnis ini. tentu aku bekerja keras.” Jawabnya lalu kembali berkutik dengan pekerjaannya.

Belum sempat Tiffany menjawab, Yoona datang. “Selamat pagi semuanya.” Sapanya riang sambil beranjak mendekati Siwon. “Pagi Yoong.” Balas Siwon hangat.

“Apa yang sedang kau kerjakaan?” tanya Yoona, mengintip kertas yang sedang Siwon lihat dihadapannya. “Aku sedang menghitung pendapatan dan pengeluaran toko ini.”

“Wow aku tak tau kita bisa mendapatkan keuntungan sebanyak itu.” lanjut Yoona, kemudian meletakan dagunya di pundak Siwon untuk memperjelas pengelihatannya. Interaksi yang tiba-tiba itu membuat Tiffany sedikit kesal.

Semakin lama ia melihat keduanya, semakin membuatnya kesal. Akhirnya Tiffany meninggalkan ruangan itu.

.
.

3 bulan berlalu, dan pendapatan Tiffany masih belum  mencukupi untuk membiayai kehidupannya.

“Tiff, bisa kau temani aku?” tanya Hyoyeon pada Tiffany yang sedang mencuci piring di dapur. “Kemana?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari piring-piring yang sedang dibersihkan. “Kau akan tau. Sehabis kau selesai, ganti pakaianmu dan temani aku, ok?”

Tiffany terdiam menatap Hyoyeon yang sedang tersenyum sumringah. “Ka-kau mengajakku ke tempat seperti ini? Untuk apa?” tanya Tiffany masih menatap aneh sahabatnya. Bagaimana tidak? Mereka sekarang berada tepat di depan sebuah butik gaun pengantin.

Hyoyeon kembali mengembangkan senyumnya dan menatap mata Tiffany. “Aku akan menikah babo! Memang kau lupa tentang apa yang kuberitau seminggu yang lalu? Donghae sudah melamarku dan kami akan menikah.”

“Aish, bagaimana bisa aku lupa! Maafkan aku. Jadi kau kesini mengajakku untuk membantumu memilih?” dan Hyoyeon mengangguk mantap. “Baiklah, ayo!”

 

“Kalian berdua darimana?” tanya Siwon yang sedang bersantai di sofa. “Aku mengajak Tiffany untuk membantuku memilih gaun pengantin.” Siwon langsung menatap Hyoyeon kaget. “Kau akan menikah?!” tanyanya shock.

“Hey santai saja, aku sudah memberitaumu 3 hari yang lalu, ingat?” yang ditanya menggeleng Hyoyeon hanya memutar bola matanya kesal. “Ah sudahlah.” Kemudian ia berlalu ke dapur untuk mengambil minum.

“Aku ingin bicara pada kalian berdua, bisa?” tanya Hyoyeon dari dalam dapur. “Bicara saja.” jawab Siwon asal.

Hyoyeon mendudukan dirinya di sofa, tepat di tengah-tengah Tiffany dan Siwon. “Begini, setelah menikah, aku tidak akan tinggal disini lagi.”

“Lalu?” tanya Siwon. “Dengarkan aku dulu Siwon.” omel Hyoyeon.

“Emm, Tiff bisakah kau tetap tinggal disini?” Kata-kata Hyoyeon sontak membuat Tiffany terlonjak kaget. “Ma-maksudmu? Aku tetap disini? Bersamanya?” tanya Tiffany sambil menunjuk Siwon.

“Hey memangnya kenapa jika kau tinggal bersamaku? Lagipula memang ada yang mau terus menerus tinggal bersama wanita cerewet sepertimu?”

“Memangnya aku juga mau tinggal dengan laki-laki pembuat onar dan darah tinggi sepertimu?”

“Aku juga tidak mau kena omel darimu setiap hari. Cih lebih baik aku tidur di kantor daripada bersamamu.”

“Kau pikir aku mau tinggal denganmu?!’

Hyoyeon yang sedari tadi mendengarkan ocehan-ocehan itu hanya bisa menutup telinganya. “CUKUP!!” teriakan Hyoyeon seketika menghentikan keduanya. “Maaf.” Kata Tiffany dan Siwon berbarengan.

Ia menghembuskan nafas pasrahnya pelan. “Aku tidak memaksamu Tiff, hanya saja aku takut akan memberatkan Siwon untuk biaya sewa. Lagipula bisa kau bayangkan seberantakan apa apartemen ini kalau ia tinggal sendiri?”

“Dan jika kau tinggal disini, biaya sewa juga lebih murah bukan? Kalian juga bekerja di tempat yang sama, jadi untuk apa pusing. Kumohon kau menegerti keinginanku. Tapi jika memang kau ingin hidup sendiri seperti dulu juga aku tidak masalah.”

Tiffany terdiam mencerna permintaan sahabatnya itu. Jika dipikir-pikir, tak ada salahnya ia berbagi apartemen dengan Siwon. Dan Hyoyeon benar, dengan begitu biaya kehidupannya akan lebih terjangkau jika ia tinggal dengan Siwon.

Tapi. Ya tapi. Bagaimana bisa ia tinggal dengan laki-laki aneh seperti Siwon? astaga, membayangkannya saja ia tak sanggup, apalagi menjalaninya.

“Entahlah, tapi aku akan memikirkannya.” Jawab Tiffany setelah berpikir cukup panjang. “Kuharap kau mengambil keputusan yang terbaik Tiff.”

“Oya, aku harus pergi dengan Donghae, mengurus beberapa hal lagi tentang pernikahanku. Jadi kutinggal ya? Anyeong!”

.
.
.
.
.

Satu bulan setelah pernikahan Hyoyeon. Satu bulan pula Tiffany dan Siwon tinggal hanya berdua di apartemen itu. Dan waktu satu bulanpun cukup untuk mengembalikan kondisi keuangan Tiffany.

Ia sudah memikirkan baik-baik tawaran Hyoyeon untuk tetap tinggal. Tapi ia memutuskan untuk pindah mencari tempat baru untuk ditinggali dan hidup sendiri seperti dulu.

Pagi-pagi sekali Tiffany sudah mengemaskan pakain dan barang-barangnya, dan tepat jam 7 pagi ia siap keluar dari apartemen milik Hyoyeon.

“Kau mau kemana? Pagi sekali, bukankah hari ini toko tutup?” tanya Siwon dengan matanya yang masih setengah terpejam. Ia belum menyadari 2 koper yang tergeletak disebelah Tiffany.

“Aku mau pindah, kurasa hampir 5 bulan disini cukup untukku.” Jawab Tiffany santai. Mata Siwon seketika terbuka sepenuhnya.

‘Siwon kau tak salah dengarkan?! Tiffany ingin pindah?! Apa maksudnya ini?!’

“P-pindah?!” tanyanya shock. “Kenapa kau kelihatan kaget begitu? Bukannya kau senang aku tidak disini heoh?” Siwon berdehem. “Bu-bukan begitu, tapi ta-tapi… tapi memangnya Hyoyeon mengizinkanmu?”

“Aku sudah menelponnya semalam, dan ia setuju dengan apapun keputusanku.” Siwon kembali terdiam mendengar penuturan Tiffany.

“Sudah ya, aku pergi dulu.” Tiffany menarik kedua kopernya menuju pintu depan. Dan tiap langkah yang diambilnya semakin terasa berat. ‘tidak Tiff, jangan berubah pikiran. Kau harus hidup mandiri.’

Siwon menatap punggung Tiffany sedikit nanar. ‘Ada apa denganku? Kenapa rasanya sulit untuk menerima kenyataan bahwa ia akan pergi? Tiffany benar, seharusnya aku senang kalu ia tidak tinggal disini lagi.’

Tiffany membalikan badannya kembali ke arah Siwon yang masih terdiam di tempatnya, dan itu membuat Siwon tanpa sadar tersenyum. ‘Aish mengapa dia harus tersenyum? Oh astaga! Tidak Hwang Tiffany, kau tidak boleh begitu.’

“Emm, jika kau lapar, aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Jadi makanlah sebelum dingin. An-annyeong.” Lalu ia kembali berjalan kearah pintu.

‘Siwon kau harus menghentikannya. Cepat hentikan! Katakan apapun yang jelas membuatnya tidak pergi! Oh ayolah!’

“Tunggu!” Panggilan Siwon membuat Tiffany berhenti, lagi. “Ya?” dan namja itu tak tau harus berbuat apa. ‘Bodoh, apa yang kulakukan?’

“A-a itu, emm kau…”

“Kau sudah sarapan? Jika belum kita makan bersama saja.” Tiffany menatap Siwon aneh. Tapi ia tak bisa berbohong mengenai hatinya yang tiba-tiba merasa bahagia mendengar penuturan itu.

“Tak perlu khawatir, aku sudah sarapan tadi. Jadi kau bisa memakan semuanya. Sudah ya, aku tak ingin membuang-buang waktumu. Anyeong.” Dan kali ini Tiffany benar-benar pergi dari hadapan Siwon. Meninggalkan namja itu sendiri di ruang yang seketika terasa sangat hampa.

“Hati-hati.” Ucapnya dengan lemah.

.
.
.
.
.

“Tiffany-sshi, kudengar kau tinggal dengan Siwon ya?” tanya Yoona sambil membantu Tiffany meletakkan beberapa baju baru di rak. “Aku sudah pindah 2 hari yang lalu.” Jawabnya masih sibuk dengan pakaian-pakaian baru di tangannya.

Pintu toko terbuka dan nampaklah Siwon yang datang dengan pakaian rapih. “Pagi Siwon.” sapa Yoona seperti biasa. “Emm, pagi Yoong.” Balas Siwon. “Kau sakit? Ada apa denganmu? Kenapa terlihat tidak bersemangat begitu?”

Mendengar itu Tiffany mengalihkan pandangannya kearah pintu depan. Matanya dan Siwon bertemu. Dan keduanya bertatapan cukup lama.

Baik Siwon ataupun Tiffany, mata mereka sama-sama menggambarkan suatu emosi yang mereka pun tak tau apa itu. Tapi yang jelas, keduanya sama-sama merindukan pertengkaran kecil mereka.

Pandangan keduanya berakhir setelah Siwon angkat bicara. “Hanya kurang tidur Yoong. Selebihnya aku baik-baik saja.”

“Begitu ya? Kalau begitu, jika kau merasa kurang enak badan, katakan saja padaku, ok?” ucapan Yoona hanya dibalas anggukan oleh Siwon yang kemudian beranjak pergi menuju ruangannya.

“Tiff!”

“A-ah ya? Ada apa Yoona? Kau mengagetkanku saja.” lalu ia mengambil beberapa baju yang terlempar ke lantai akibat ulah Yoona.

“Tidak, hanya saja sepertinya aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Siwon. Menurutmu bagaimana?” tanya Yoona sambil mengintip seklias pintu ruang kerja namja itu.

Tiffany juga merasakan hal yang sama. Tapi ia tak ingin ambil pusing tentang itu. “Aku tak tau.”

“Kau tidak melanjutkan pekerjaanmu lagi Yoona?” ucap Tiffany mengalihkan pembicaraan.

“Ah ya ampun aku lupa. Baiklah aku ke ruanganku dulu ya.” Kemudian ia berlalu ke ruangannya, meninggalkan Tiffany yang tenggelam dalam pemikirannya tentang satu hal. Perasaannya pada Siwon.

“Entahlah.” Ucapnya tak perduli.

.
.
.

6 months later

Waktu sudah menunjukan pukul 4:45, menandakan waktu untuk pulang bekerja. “Tiffany, Siwon aku duluan ya! Sampai jumpa~”

“Iya, hati-hati.” Balas Tiffany yang tengah membereskan beberapa pekerjaannya yang tersisa. Toko itu seketika diselimuti sunyi yang benar-benar terasa tak nyaman.

“Siwon, kau tidak pulang?” tanya Tiffany memecah kesunyian.

“Ya? Aa~ aku menunggumu.” Dan Siwon bersumpah untuk lain kali menjaga mulutnya agar tidak mengucapkan kata-kata seperti itu lagi. Sekarang Tiffany sedang menatapnya aneh. “Menungguku?”

“M-maksud-maksudku, ya aku menunggumu karena… karena aku takut kau akan berbuat jahat disini.” Wajah Tiffany langsung berubah masam.

“Bisakah kau tidak berburuk sangka padaku dan membuat mood-ku jelek sekali saja?” omelnya. Kata-kata Tiffany tidak membuat Siwon kesal sama sekali, karena ya ia sangat merindukan ocehan-ocehan gadis yang sedang merapihkan tasnya ini.

“Hey kau mau kemana?” tanya Siwon, menarik pergelangan tangan Tiffany, dan membuatnya juga menghentikan langkahnya menuju pintu.

“Aku. Mau. Pulang. Dan lepaskan tanganmu dari tanganku. Sekarang.” Sikap Tiffany benar-benar membuat Siwon ingin mengerjainya lagi dan lagi. Ia sungguh merindukan situasi seperti ini sekarang.

“Kita pulang bersama saja.”

“Tidak mau. Lagipula apartemenku tidak searah dengan apartemenmu.” Lanjut Tiffany kemudian berjalan kearah kiri.

“Kalau begitu aku main ke apartemenmu saja. bagaimana? Bolehkan?” Tiffany menatap kesal kearah tangan Siwon yang merangkul pundaknya.

“Lepaskan! Tidak boleh. Aku tidak mengizinkanmu mengunjungi apartemenku!”

“Memangnya kenapa? Eish dasar wanita pelit! Yoona saja tidak pernah seperti ini padaku.”

Kata-kata Siwon benar-benar membuat emosi Tiffany memuncak sampai ke ujung kepalanya. Terlebih namja itu membawa nama Yoona. Entah Tiffany benar-benar merasa aneh, cemburu mungkin?

Siwon menghentikan langkahnya saat Tiffany juga berhenti. Gadis itu menundukan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya, menahan marah dan air mata yang sudah berada di sudut matanya. Kemudian Tiffany berbalik menghadap Siwon.

“Yasudah kalau begitu kau ke apartemen Yoona saja! untuk apa ke rumahku! Sana pergi!” usirnya.

“Eyy, jangan begitu. Aku hanya bercanda aku-”

“CUKUP! AKU MEMBENCIMU SIWON!” mendengar itu Siwon terdiam. ini pertama kalinya ia melihat Tiffany begitu marah. Bahkan ia bersumpah kalau ia melihat Tiffany mengeluarkan air matanya, sebelum akhirnya gadis itu lari dari hadapannya.

“Aish! Dasar kau bodoh Siwon!” rutuknya.

.
.

Kini Tiffany sedang terdiam di taman. Yang tanpa ia sadari adalah taman yang juga merupakan tempat pertama kali ia bertemu dengan Siwon. Gadis itu terus mengeluarkan air matanya. Ia tak tau mengapa tapi rasanya ia benar-benar jengkel jika Siwon mengungkit-ungkit tentang Yoona.

“Aku membencimu Siwon! Ugh!” kakinya terus menghentak-hentak diatas daun kering, membuat daun itu remuk tak berbentuk.

Suara gemuruh yang cukup besar membuat Tiffany terdiam. “Sial. Kenapa harus hujan? Hari ini benar-benar!” ocehnya lagi. Kemudian ia bangkit dari kursinya. Belum sempat ia melangkah menjauhi kursi taman itu, hujan yang sangat deras turun, membuatnya basah seketika.

Tiba-tiba Tiffany merasakan ada seseorang berdiri disampingnya, dan memayunginya. Ia mendengakan kepalanya dan melihat Siwon yang tersenyum sambil membuka jaketnya untuk memayungi mereka berdua.

“Hey.” Sapa Siwon. Tiffany sama sekali tak berkata-kata dan terus menatap wajah Siwon dengat tatapan yang sama sekali tak dapat diartikan. Kaget, terharu, tak percaya, semua berbaur menjadi satu.

“Kau ingin semakin basah? Ayo!” kalimat itu menyadarkan Tiffany dari lamunannya.

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Kemudian Tiffany berusaha keluar dari payungan itu. “Eish dasar keras kepala! Memangnya kau bawa payung?”

Tiffany sama sekali tak menjawab. “Ayolah, sekali ini saja. anggap sebagai permintaan maafku, ya? Please~”

“Ya ya! Terserah!” Siwon tersenyum senang mendengar kata-kata Tiffany. “Kaja~” kemudian mereka berjalan beriringan dibawah naungan jaket Siwon sampai di depan apartemen kecil Tiffany.

“Maaf apartemenku tidak sebesar milikmu.” Ucap Tiffany membuka percakapan saat mereka sudah sampai di dalam apartemen miliknya.

“Tapi tempat ini nyaman.”

“Kau ternyata suka sesuatu yang klasik ya?” Lanjut Siwon. matanya melihat sekeliling apartemen Tiffany yang berinterior klasik. Sederhana, tapi tetap terlihat indah.

“Ambil ini!” Tiffany melemparkan handuk kearah Siwon. “Pakai itu untuk mengeringkan badanmu. Aku ke kamar dulu.”

Setelah Tiffany menutup pintu kamarnya, Siwon membukus badannya yang basah dengan handuk itu. ‘Harumnya sama dengan Tiffany.’ Batin Siwon. dan ia mulai mengingat-ingat kejadian-kejadian lucu selama ia tinggal bersama Tiffany dulu.

Flashback

“Siwon! apa kau tidak lelah bermain terus? Bisa-bisa matamu copot karena terus menerus melihat kearah layar tv.”

“Bawel sekali. Kau bicara begitu karena kau belum pernah mencobanya.” Jawab Siwon masih tak berkutik dari tempatnya.

“Yeah!” teriaknya senang saat ia berhasil mengalahkan musuh dalam game itu. “Kau mau coba? Tak perlu malu, ini sangat seru!” tawarnya pada Tiffany yang baru sampai di ruang tv.

“Baiklah.” Jawab Tiffany. Ia mendekat kearah Siwon dan memegang alat pengendali game itu.

“Kita battle, bagaimana?”

“Tawaranmu kuterima.” Jawab Tiffany menantang. Keduanya lalu bermain hingga tak kenal waktu. Merka tak menyadari langit sudah gelap, berarti mereka bermain selama 5 jam.

“Ah!!! Kenapa kau bisa mengalahkanku?! 8 kali! Gila! Bagaimana kau bisa?!” protes Siwon. Tiffany hanya tersenyum meremehkan. “Asal kau tau saja, dulu aku sering melakukan ini dirumah dengan adikku.”

“Kalau begitu lebih baik aku tidak mengajaknya battle.” Ucap Siwon tak jelas.

“Kau bilang apa?”

“Tidak. Kubilang, sikapmu saja seperti laki-laki.” Ledek Siwon. “Yak! Hati-hati kalau bicara! Ish dasar!” kemudian mereka saling mengejar satu sama lain mengelilingi sofa, seperti tom & jerry di tv.

“Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Dasar aneh.” Suara Tiffany menyadarkan Siwon dari kegiatannya. “Minum ini, untuk menghangatkan badanmu.” Lanjutnya menyodorkan sebuah gelas berisi coklat hangat yang masih berasap.

Siwon menatap gelas di genggamannya. “Minum saja. Jangan khawatir, aku tidak meletakkan racun disana.”

“Aku tidak berpikir begitu! Kau saja yang berpikiran buruk.”

Tiffany menggedikan bahunya. “Biasanya kau yang selalu berpikiran seperti itu padaku.”

.
.

Jam di rumah Tiffany sudah menunjukan pukul 10 malam, dan Siwon masih disana. “Aish kenapa hujan kali ini benar-benar deras, bahkan sampai sekarang belum berhenti juga.” Protes Tiffany.

“Bagaimana kau bisa pulang jika hujannya terus deras seperti ini?” tanya Tiffany pada Siwon yang masih meminum coklat hangat ke 4 nya.

“Tak tau.” Jawabnya enteng. Sunyi kembali melanda. ‘Apa aku izinkan dia menginap saja disini? Besok toko juga tutup, sepertinya tak masalah.’

“Erm, kalau kau tidak keberatan, kau bisa tidur disini.” Siwon menghadapkan dirinya kearah Tiffany yang sedang membereskan beberapa majalah.

“Sungguh?!” ucapnya antusias. “Ma-maksudku, memangnya tidak apa-apa?” Tiffany menggeleng. “Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena kau mengantarku pulang.”

.
.
.
.
.

Tiffany terbangun dari tidurnya karena suara gemuruh yang begitu keras. Ia lalu keluar kamar untuk mengambil segelas air.

Ia terdiam sejenak, melihat Siwon yang tertidur di sofa. Tanpa alasan yang jelas ia tersenyum tipis. Kemudian melangkah mendekati namja itu, lalu tangannya membenarkan posisi selimut yang digunakan Siwon.

Ia kembali terdiam. Jarinya perlahan menyentuh wajah tampan itu. “Astaga, badannya panas sekali.” Tiffany mulai panik. Sesegera mungkin ia kembali ke dapur untuk mengambil handuk kecil beserta air dingin di baskom.

Lalu ia meletakkan handuk yang sudah basah itu di kening Siwon. Karena kelelahan, ia duduk tertidur, tepat disamping Siwon.

Sinar matahari membangunkan Siwon dari tidurnya. Ia merasa pusing dikepalanya, tak sengaja ia menemukan handuk kecil bersemayam di keningnya. Dan ia tau siapa yang meletakkan itu, Tiffany. Karena ia juga menemukan gadis itu tertidur di karpet, dan kepalanya bersandar pada sofa yang juga digunakannya untuk tidur.

Senyum mengembak dipipinya, melihat wajah damai Tiffany yang sedang tertidur. “Hatchi!!!” karena bersin itu, Tiffany terbangun dari tidurnya. Dengan nyawa yang belum berkumpul sepenuhnya, ia menyapa Siwon. “Pagi, apa kau merasa baikan?”

Ia bangkin dari lantai dan duduk disebelah Siwon, lalu meregangkan tangan dan kakinya. “Semalam badanmu panas. Pasti gara-gara kau kehujanan.” Tiffany mengerucutkan bibirinya.

Cup.

Sebuah ciuman singkat mendarat di bibir  Tiffany, membuat gadis itu merona, dan seketika ia membuka matanya sepenuhnya. “Gomawo.” Lanjut Siwon sambil terus tersenyum.

Tiffany masih sama sekali tak bisa berbicara apapun, karena ia terlalu shock. “A-apa yang ka-kau lakukan?” tanya Tiffany menatap Siwon tak percaya.

“Aku? Mencium-mu. Kenapa?”

“Kau bilang kenapa?! Memangnya kau pikir kau bisa seenaknya saja menciumku?! Memangnya kau pacarku bisa menciumku begitu hah?!”

“Jadi, kalau aku pacarmu, aku bisa mencium-mu begitu?”

“Ten-tentu saja.”

“Baiklah~” kemudian Siwon berjongkok dihadapan Tiffany, dan menggenggam tangan gadis itu. membuatnya kembali membelalakan matanya.

“Hey, ka-kau mau ap-a?”

Siwon mengambil nafas dalam, berusaha menenangkan dirinya.

“Hwang Tiffany, selama ini aku mengatakan bahwa kau cerewet, dan suka marah-marah. Aku juga selalu mengganggumu. Tapi setelah pertama kali aku mengenalmu, bagiku kau adalah gadis yang berbeda. Aku menyukai cara hidup mandirimu, aku menyukai cara kau memperdulikan orang lain, aku juga menyukai caramu berbicara, apapun yang kau lakukan menarik untukku.”

“Apa maksudnya ini?” Tiffany berusaha melepas genggaman Siwon, tapi laki-laki itu menahannya.

“Dengarkan aku dulu, sebentar saja.”

“Setelah kau pergi meninggalkan apartemenku dan Hyoyeon, membuatku kacau. Aku tak bisa tidur dan terus memikirkanmu. Tiap kali aku menatap matamu, membuat jatungku berdetak tak beraturan. Semua itu membuatku menyadari bahwa aku, mencintaimu.”

“Would you be my girl?”

“N-neh? Apa? Kau bilang apa? Aish jangan bercanda, ini masih pagi.”

Siwon menangkup wajah Tiffany lalu mencium bibirnya untuk kedua kalinya. Tiffany berusaha mendorong tubuh Siwon menjauh, tapi namja itu lebih kuat. Bahkan ia makin memperdalam ciuman itu.

“Kau masih berfikir aku bercanda?” ucapnya saat melepaskan tautannya dengan Tiffany. Matanya menatap dalam mata hazel kecoklatan milik Tiffany. Gadis itu menggeleng, dan Siwon kembali tersenyum.

“So? Would you? Hwang Tiffany?”

“Aku, aku tak tau…”

“Aku tau kau juga mencintaiku Tiff.”

“Cih, percaya diri sekali kau!” namun jawaban Tiffany hanya ditanggapi oleh tatapan lembut Siwon, dan membuat dirinya diam seketika. Siwon terus menatapnya dengan tatapan itu, membuat Tiffany semakin gugup.

“Baiklah! Iya! Aku mengakuinya!”

“Kau mengakui apa?” ledek Siwon.

“Itu!”

“Apa?”

“Kau tau, itu!”

“Apa? Aku tak tau. Jadi katakan dengan jelas.” Siwon sebenarnya tau, hanya saja ia ingin mendengar Tiffany mengatakannya sendiri.

“A-aku mencintaimu.”

“Suaramu kecil sekali, aku tidak mendengarnya.” Namja itu kembali meledek.

Tiffany menarik nafasnya, menghirup oksigen sebanyak paru-parunya mampu. “Aku mencintaimu Choi Siwon!” ucapnya dengan lantang.

“Tak perlu begitu, aku sudah mendengar yang pertama.” Kemudian ia menarik Tiffany yang mulai kesal kedalam pelukannya. “Diam, jangan mulai mengoceh.” Ucapnya pada gadis itu. karena ia tau, sebentar lagi Tiffany akan mengeluarkan ocehannya.

“Memangnya kau siapa mengaturku?”

“Kekasihmu.” Dan satu kata itu membuat pipi Tiffany kembali memerah. Ia melepas pelukan Siwon dan berdecak. “Memangnya aku sudah setuju untuk menjadi kekasihmu?” protes Tiffany.

Siwon duduk disebelah Tiffany, menatap matanya sekali lagi. “Kuanggap yang tadi sebagai ya.” Kemudian ia kembali mencium singkat bibir Tiffany.

“Kau bersemu lagi, chagi~”

“Aku? Tidak. Hey dan siapa yang mengizinkanmu memanggilku begitu?! Aku punya nama!” Protes Tiffany –lagi.

Cup. Siwon kembali mencium bibirnya.

“Eyy! Tidak ada yang mengizinkanmu-” Cup. Kembali namja itu mencium bibir mungilnya.

“Sekali lagi kau protes, aku akan mencium-mu. Mengerti?”

“Ta-tapi..” Cup dan sekali lagi Siwon mencium gadis itu. “Kubilang jangan protes.” Baru Tiffany akan membuka mulutnya, Siwon sudah memotongnya. “Apa? Tadi kau bilang jika aku sudah menjadi kekasihmu, aku boleh mencium-mu yakan?”

Tiffany hanya mengangguk, tak berani mengeluarkan suara. Siwon kembali tersenyum melihat kekasihnya yang menurutnya sangat lucu jika tak tau harus berbuat apa.

Tangannya kembali merengkuh tubuh Tiffany kedalam pelukannya. “Saranghae~” Tiffany hanya mengangguk didalam dekapan Siwon, membuat namja itu sedikit kecewa. “Kau tidak ingin membalas kata-kataku?”

Tiffany menggeleng. “Kenapa?!” protes Siwon. gadis itu tak membalasnya, dan Siwon baru tersadar. “Ah~ saat kubilang kau tidak boleh protes, bukan berarti kau tidak boleh bicara, babo!”

“Aw!” sebuah jitakan mendarat di kening Siwon. “Apa maksudnya itu?!”

“Hukuman karena kau mengatai kekasihmu babo!” Siwon tersenyum jahil kearah Tiffany yang sedang melipat tangannya di depan dada.

“Kau bilang apa? Kekasih? Jadi kau setujukan jika aku menjadi kekasihmu~~”

“Hentikan! Aih! Hey Choi Siwon, hentika- hahahahhahahaha.” Tiffany tak bisa mengucapkan apapun karena Siwon menggelitikinya. “Cukup!” teriak Tiffany.

Keduanya duduk berdampingan di sofa sambil mengatur nafasnya, karena lelah saling menggelitik. Mereka saling menatap satu sama lain, lalu keduanya mulai mendekatkan wajahnya, dan HATCHI!!

“Ey, sekarang kau istirahat ke kamarmu.” Perintah Siwon, Tiffany hanya menggeleng. “Dasar keras kepala. Baiklah kalau begitu.” Ia menggendong paksa Tiffany ke kamarnya, menidurkan gadisnya yang sedang sakit itu di kasur.

“Diam disini, aku yang akan merawatmu sekarang, ok?” Tiffany menangguk pasrah. Sebelum Siwon keluar kamar Tiffany untuk membeli obat, ia mengecup lembut kening Tiffany. “Saranghae.” Ucapnya pada gadis itu.

.
.
.
.

So~ what do you think? Hahahahahahhahahahahaha! Akhirnya FF buat Dilla selesai juga! 3 kali ganti alur cerita, akhirnya ketemu yang kayak gini. Berterimakasihlah pada FF nya Hyonew hyahyahya.. ok abaikan. Jadi gimana? Lol. Aneh pasti, yakan? Niatnya mau bikin sad ending karena, I LOVE SAD ENDING. Bukan deh, mau bikin sad ending karena pengen bikin FF dari lagunya Taeyeon yang ‘Love that one word’ tapi ga nemu awal ceritanya, yasudah.

Abaikan curhatan tunangannya Sehun, adeknya Hyoyeon, iparnya Donghae (Liat kan tadi ada HyoHae couple disitu? Ceelah~ mereka nikah loh so sweet yah, ya ampun ga sanggup. Ok stop.)

HAPPY BIRTHDAY TO YOU MY KPOPERS FRIEND IN X GRADE, DILLA!! SEMOGA APAPUN YANG DICITA-CITAKAN TERCAPAI YA! SUKSES SELALU DUNIA AKHIRAT! JANGAN LUPA IBADAH DAN SAYANG SAMA ORANGTUA, sayang sama vira lebih boleh lagi, lol😄 abaikan. YA POKOKNYA YANG BAIK-BAIK DEH! ONCE AGAIN! HAPPY BIRTHDAY!! WISH YOU ALL THE BEST!!

Sorry ya kalo kelamaan, nyari idenya yang lama, ngetiknya Cuma butuh 48 jam kok, jadi ga lama. Curhat dikit, ini gue ambil dari ceritanya Hyonew yang judulnya unexpected love, tapi awal sama endingnya gue ganti, soalnya kurang gereget. Ga Cuma itu doang sih, banyak deh yang gue ganti. Tapi intinya inspirasinya dari situ. Maafkan diriku yang naro kiss scene nya kebanyakan, tapi unyukan? Hayo ngaku hahaha, gue aja ga bosen bacanya (promo) tapi ciyusan.

Oya sekali lagi sorry nih kalo kado ulang tahun lo cuma kayak gini. Abis gue ga punya uang T_T dan ga tau juga harus beli apa, so biar anti mainstream, ya gue bikin FF deh, lagian juga udah lama banget ga bikin FF.

Abis ini gue selesai, ciyusan. Emm, Selamat ulang tahun ya Dill, makasih udah jadi tempat curhat tentang tunangan gue (read: Sehun) kakak gue (read: Hyoyeon) dan ya pokoknya KPOP deh.. sekali lagi terimakasih, you made my first class in High School better.. kalo ga ada lo mungkin gue ga tau mau curcol tentang KPOP sama siapa di kelas. (aduh gue jadi sedih nih.) Jangan nyerah ya ngadepin masalah apapun, kalo lo mau cerita, I’m here for you🙂 gue siap kok dengerin cerita lo, apa aja. Jadi jangan malu-malu buat cerita ok? Thats what friend suppose to be right? So keep going~ FIGHTING

With love, Maghvira Ramadhania (read: calon istrinya Sehun)œ

73 thoughts on “(AF) Unexpected

  1. Dari awal siwon sama tiffany bertengkar eh ujung2nya jadian wkwk sifany so sweet😄 emang bener kali ya benci itu kepanjangannya bener bener cinta ? HAHAHA =)) keren dah ff nya keep writing yaa ditunggu ff lainnya

  2. Cute banget ceritanya, awalnya berantem2 ehhh ujung2 nya jadi cinta. Kayak cerita cinta anak jaman sekarang, awalnya berantem, gengsi, ujung2 nya mau juga hahaha. Btw ini hadiah ultah utk temen author ya, so sweet banget sih. Ngasih kadonya dibikinin ff, sifany pula. Jadi pengen punya temen kayak author, yg kayaknya udah seia sekata banget sama temennya. Ditunggu deh karya2 yg lain

  3. lucu amat sih mreka,. siwon oppa nunjukkin rasa suka nya dng ngjailin fany eonni,, hihihihi kyeopta😉 tp endingnya krg greget😉 dtunggu ff lainnya… fighting!!!!!

  4. Makasih ya vir, ya walaupun ulang tahun gue udah lewat beberapa bulan yg lalu. Tapi ini kado yg paling mainstream, gue nggak pernah dapet kado kayak gini satu pun. Makasih ya…🙆

  5. pas awal baca udah bikin senyum2 hehehe lucu lihat mereka berantem mulu dan akhirnya sama2 jatuh cinta juga uuuhhh so sweetnya😀
    ditunggu karya selanjutnya thor ^^

  6. Pertama kehilangan pekerjaaan lalu kehilangan tempat tggl,poor fany.dari benci jadi cinta,sifany so sweet banget deh,saling merawat dan menjaga.bagus ffnya thor,konfliknya ringan.
    Ditggu ff selanjutnya thor.tetap semangat thor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s