Sweet Story 5: The Commitment

SWEET STORY 5: The Commitment
image

Presented by: Youngwonie

Cast:

Choi Siwon & Tiffany Hwang

Supported cast:

Nichkhun, Yuri, YoonA, Kyuhyun & Donghae

Genre: Romance, Angst, Sad

Rating: PG 18

Length: Series

Disclaimer: The story is mine. Don’t be a plagiator. Enjoy this story and don’t forget to comment. Your comment is oxygen to my finger and heart to write.

Hai- hai…!!!!

Mian banget ya bau bisa post part 5-nya sekarang. Berhubung aku banyak kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan ditambah suamiku yang sempet drop dan butuh perhatian khusus, jadilah ff ini baru kelar.

Ok, karena readerdeul pastinya udah ga sabar, let’s check this out!

***SWEET STORY 5***

Tiffany menyeka butir– butir air yang melekat ditubuhnya dengan handuk. Termasuk wajah dan lehernya. Rasanya segar sekali setelah mandi di bawah guyuran shower.

Setelah memakai jubah mandinya, Tiffany keluar dari kamar mandi.

“Apa ini?”

Tiffany mengerutkan keningnya. Ia melihat sebuah foto tertempel di cermin riasnya. Foto meja makan. Tepat di tengahnya ada sebuah amplop dan setangkai mawar merah di atasnya. Karena penasaran, Tiffany langsung keluar kamar menuju meja makan.

Persis seperti di foto tadi, sebuah amplop dan mawar merah tergeletak di atas meja makan yang kosong itu. Tiffany mengambil mawarnya, mencium aroma mawar yang masih segar itu.

‘Pasti Siwon yang melakukannya. Tapi apa isi amplop ini?’

Tiffany mengambil amplop itu lalu membukanya. Matanya langsung berbinar melihat isi amplop itu. Dua lembar tiket pesawat New York- LA.

“Kau suka?” Tiba- tiba Siwon sudah memeluknya dari belakang dan menyandarkan lehernya di bahu Tiffany.

“Ini—“

“Kita akan merayakan thanksgiving di rumahmu.”

Tiffany berbalik, menatap Siwon meminta kepastian.

“Benarkah?”

Siwon mengangguk,”Setelah mengalami beberapa hal sulit belakangan ini, aku pikir aku juga butuh liburan. Dan rumahmu adalah tempat yang paling tepat untuk menghabiskan liburan thanksgiving nanti.”

“Ahh!!! Aku senang sekali.” Tiffany melompat memeluk Siwon saking senangnya.

“Terima kasih, Baby. Aku akan menelpon Daddy untuk memberitahunya.”

“Wait!!! Ini sudah malam. Daddy-mu pasti sedang istirahat. Lebih baik besok saja kau memberitahunya, Baby.”

Tiffany tidak jadi mengambil telepon.

“Kau benar. Kalau begitu aku akan ke kamar saja untuk ganti baju.”

“Kau juga tidak perlu melakukannya. Kau tidak akan membutuhkan pakaian sekarang,,,Dan kau juga tidak perlu berjalan ke sana.”

Siwon langsung membopong Tiffany ke kamar.

***

“Selamat, Yul. Kau puas kan sekarang?” cibir Kyuhyun saat ia berhadapan dengan Yuri di luar gedung pengadilan. Pengadilan sudah mengabulkan permohonan perceraian mereka.

“Ini demi kebaikan kita, Oppa.”

“Demi kebaikan? Kata- katamu sungguh naïf. Kau pikir apa yang kau lakukan itu adalah hal yang baik? Dasar wanita jalang!”

“Kyu!”

Kyuhyun hampir saja melayangkan pukulan pada Yuri kalau Siwon dan Donghae tidak mencegahnya. Sedangkan Yuri menunduk dalam pelukan Minho yang berusaha melindunginya dari serangan tiba- tiba yang dilakukan Kyuhyun tadi.

“Berani sekali kalian menunjukkan adegan menjijikan itu di hadapanku.” Kyuhyun semakin emosi melihat mereka dan bermaksud menyerang Yuri lagi.

“Kyu, sudah.” Bentak Siwon mengingatkan Kyuhyun.

“Minho, bawa Yuri pergi dari sini.”

Minho menuruti perintah Siwon dengan membawa Yuri dengan mobilnya meninggalkan gedung pengadilan.

“Ayo, Kyu. Sebaiknya kita pulang,” Ajak Donghae.

Siwon dan Donghae mengarahkan Kyuhyun sampai ke mobil Donghae. Lalu mereka melaju menuju apartemen Kyuhyun

Malam harinya di apartemen Kyuhyun,

“Seharusnya Eonnie tidak perlu repot- repot memasak untuk kami.”

Tiffany baru saja selesai memasak makan malam. YoonA ikut membantunya menyiapkan meja makan. “Tidak apa- apa, Yoong. Aku senang melakukannya. Oh ya, bagaimana kandunganmu? Perutmu sudah bertambah besar sekarang.”

“Usianya hampir 7 bulan. Dokter bilang semuanya baik- baik saja. Aku hanya perlu menjaga kesehatanku dan janinku.”

Tiffany menatap YoonA dengan perasaan haru.

“Bagaimana rasanya menjadi calon ibu? Kau kelihatan bahagia,”

“Rasanya—sangat luar biasa. Setiap hari, aku bisa merasakan dia tumbuh dan bergerak di dalam perutku. Aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Eonnie juga pasti akan merasakannya jika waktunya tiba nanti.”

“Ya, kau benar. Mendengarmu mengatakan hal itu, aku jadi ingin sekali merasakannya.”

“Kalau begitu, Eonnie tinggal bilang pada Siwon Oppa. Kalau dia setuju, kalian bisa merencanakan program kehamilan dari sekarang.”

“Entahlah, jangankan merencanakan punya anak, kami bahkan belum membicarakan soal pernikahan.”

YoonA menyentuh pundak Tiffany menunjukkan rasa simpatinya.

“Sabarlah Eonnie. Mungkin Siwon Oppa belum siap dengan pernikahan. Perceraian orang tuanya dulu membuat dia cukup trauma dengan pernikahan. Ditambah lagi masalahku dengan Donghae yang sampai sekarang belum jelas dan juga perceraian Kyuhyun Oppa dan Yul Eonnie. Mungkin semua itu yang membuatnya masih enggan untuk membicarakan pernikahan.”

Tiffany mengangguk membenarkan kesimpulan YoonA. Kemudian tatapannya beralih ke makanan yang sudah siap di meja.

“Well, sebaiknya kita panggil mereka sebelum makannnya dingin.”

“Biar aku yang memanggil mereka, Eonnie.”

***

“Kau siap?”

“Ayo.”

Mereka sudah sampai di rumah Tiffany. Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam, akhirnya mereka tiba di rumah yang didominasi warna putih itu. Siwon dan Tiffany turun dari mobil.

“Daddy—“

“Hai, sayang. Bagaimana kabarmu?”

Ayah Tiffany yang langsung menyambut mereka.

“Aku baik- baik saja. Hanya sedikit jetlag. Oh ya ini—Siwon.”

Tiffany memperkenalkan Siwon pada ayahnya.

“Apa kabar Mr. Hwang?” sapa Siwon pada ayah Tiffany.

Orang tua itu menatap Siwon sejenak. Diperhatikannya Siwon dari atas sampai bawah. Siwon terlihat salah tingkah dilihat seperti itu. Namun ia mencoba bersikap sebaik mungkin di depan Mr. Hwang.

“Jadi kau Siwon Choi?”

“Benar.”

Suasana menjadi canggung. Tiffany melihat Siwon dan ayahnya bergantian.

“Dad—kau tidak menyuruh kami masuk?”

Mr. Hwang masih bergeming. Namun kemudian ia tersenyum dan mengajak Siwon dan Tiffany masuk ke dalam rumah.

“Ayo, masuklah. Kalian pasti lelah.”

“Oh ya, dimana Chansung?” tanya Tiffany pada ayahnya sebelum ia naik ke kamarnya.

“Sedang berbelanja bersama Nichkhun untuk makan malam nanti. Bibi Ann dan paman Pat juga akan ke sini nanti sore.”

“Wah, aku sudah tidak sabar untuk bertemu mereka.”

“Kalian akan bertemu mereka sore nanti. Sekarang ajak Siwon ke kamar untuk istirahat.”

“Ok, Dad. Kalau begitu kami ke atas dulu.”

“Senang bertemu denganmu Mr. Hwang,” Siwon menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Mr. Hwang sebelum mengikuti Tiffany naik ke kamarnya. Mr. Hwang membalas dengan mengangguk penuh wibawa.

“Jadi kita sekamar?” tanya Siwon saat mereka tiba di depan pintu kamar Tiffany.

“Aku sudah bilang pada Daddy kalau kita tinggal bersama di New York. Jadi dia sudah mengerti.”

“Baguslah kalau begitu.”

***

Sore harinya,

“Kau sedang apa?”

Tiffany menghampiri Siwon yang berdiri di balkon menikmati pemandangan matahari terbenam di pantai di depannya.

“Melihat pantai. Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah ke pantai.”

Kemudian Tiffany memeluknya dari belakang.

“Lain kali kita ke sini saat musim panas, supaya kau bisa bermain di pantai sepuasnya. Tapi sekarang sebaiknya kita turun, semua orang sedang menunggu kita di bawah.”

Siwon pun mengikuti Tiffany menuju halaman belakang yang sekarang dipakai untuk berkumpul.

Halaman belakang rumah Tiffany sangat luas. Terdapat tiga bagian di sana. Sebelah timur merupakan sebuah kebun kecil namun memiliki koleksi tanaman yang beragam. Ayah Tiffany memang suka berkebun. Bagian tengah ada kolam renang yang cukup besar sehingga bisa dipakai berenang oleh seluruh keluarga. Dan di sebelah barat, merupakan area lapang yang sekarang dijadikan tempat untuk berkumpul. Di sana orang- orang sudah sibuk dengan tugasnya masing- masing. Nichkhun dan paman Pat, ayahnya sedang memanggang kalkun. Sementara adik laki- laki Tiffany, Chansung sedang membantu bibi Ann, ibu Nichkhun menyiapkan perlengkapan di meja makan.

“Ada yang bisa ku bantu?” tanya Tiffany mendekat ke bibi Ann.

“Bantu aku merapikan ini, sayang.” Jawab Bibi Ann lembut.

“Ok. Pekerjaan mudah.”

“Bagaimana denganku?” Siwon ikut bergabung.

“Kau bisa bantu Chansung membawa makanan dari dapur ke sini.”

“Baik. Aku akan menyusulnya.”

Siwon bergegas ke dapur yang letaknya dekat dengan halaman belakang itu menyusul Chansung. Sementara itu, Tiffany mengobrol dengan Bibi Ann.

“Pacarmu itu sangat tampan, sayang.”

“Dia memang tampan.”

“Kau sangat beruntung.”

“Justru aku khawatir karena ketampanannya itu.”

“Kenapa?”

“Karena setiap kami jalan bersama, dia selalu menjadi perhatian para gadis. Mereka selalu berbisik- bisik di belakang kami dan mengatakan kalau aku sangat tidak serasi berpasangan dengannya. Bukankah itu sangat menyebalkan? ”

“Sebaiknya kau tidak mendengarkan mereka. Kalian berdua sangat serasi dilihat dari sisi manapun. Mereka hanya iri.”

“Yah, kau benar Bibi. Oh ya, ngomong- ngomong, dimana Daddy? Aku tidak melihatnya sejak tadi.” tanya Tiffany sambil terus menata meja makan.

“Tadi dia ke gudang anggur. Kau tahu kan, ayahmu itu akan betah walaupun seharian di sana.”

“Sepertinya ada yang sedang membicarakanku?” Tiba- tiba ayah Tiffany datang dengan beberapa botol Rose wine di keranjang yang dibawanya.

“Hay, Dad. Tadi aku pikir kau menghilang kemana.”

“Aku tidak pernah kemana- mana. Kaulah yang selalu meninggalkan Daddy-mu ini sendirian.”

“Dad—jangan mulai lagi.”

“Ok. Well, kemana Mr. Choi?”

“Sedang membantu Chansung. Itu dia.”

Siwon bersama Chansung muncul dengan keranjang yang berisi makanan pembuka dan buah- buahan. Lalu mereka menyerahkannya pada Bibi Ann. Saat itu, Nichkhun dan Paman Pat juga sudah selesai dengan kalkunnya. Saatnya menyantap hidangan. Mereka pun duduk memutari meja makan. Mr Hwang duduk di kursi utama. Di sebelah kirinya ada Paman Pat, Bibi Ann dan Nichkhun. Lalu di sebelah kanannya, Chansung, Tiffany dan Siwon. Setelah Mr Hwang selesai memimpin doa, mereka pun mulai makan. Setelah makan, mereka mengobrol sambil memakan cemilan dan minum wine. Obrolan ringan mengalir begitu saja baik tentang football, berita dan rencana- rencana menjelang natal. Karena Siwon adalah anggota baru, tentu saja dialah yang menjadi pusat perhatian. Semua orang ingin mengenal lebih jauh tentang dirinya. Untungnya Siwon bisa mengimbangi mereka. Ia tidak terlalu kaku dan juga tidak terkesan asal bicara. Siwon mampu membawa dirinya dengan baik.

“Jadi, kapan kalian akan menikah?” tanya Mr. Hwang tiba- tiba. Kini semua perhatian berpusat pada Siwon dan Tiffany.

“Dad, kami belum memikirkan hal itu.”

“Kenapa? Bukankah kalian sudah tinggal bersama? Lebih cepat menikah akan lebih baik. Apalagi, Daddy sudah membayangkan punya cucu yang akan meramaikan rumah ini.”

Tiffany menatap ke arah Siwon di sebelahnya. Bukannya ia tidak mau cepat menikah, tapi masalahnya adalah sampai saat ini Siwon belum juga melamarnya. Seandainya Siwon melamarnya saat itu juga, Tiffany akan langsung menerimanya.

Siwon kelihatan tegang. Berbeda dengan menit- menit sebelumnya. Ia meneguk minumannya lalu menarik nafas.

“Kami—tidak akan menikah,”

Semua menatap ke arahnya sekarang. Terkejut dengan jawaban Siwon.

“Kau bercanda kan, Baby? Ini sangat tidak lucu kau tahu.” Tiffany berusaha mencairkan suasana dengan tertawa garing berharap Siwon ikut tertawa juga. Namun, Siwon justru terlihat sangat serius.

“Tidak. Aku tidak bercanda, Tiffany. Kita memang tidak akan menikah.”

“Ma—maksudmu? Aku tidak mengerti.”

Tiffany mencoba meminta penjelasan pada Siwon.

“Baby—“Siwon ingin mengemukakan alasannya namun ucapannya terhenti karena Mr. Hwang berdiri dari duduknya. Raut wajahnya berubah datar sejak mendengar jawaban Siwon tadi.

“Mr. Choi, bisa kau ikut denganku sebentar?”

Siwon mengangguk dan ikut berdiri. Tiffany menatap cemas pada kedua pria beda usia itu. Lalu keduanya masuk ke dalam rumah. Suasana meja makan berubah hening.

“Aku akan melihat mereka.” Tiffany bangun dari kursinya namun Chansung memegang pergelangan tangannya. Chansung menggeleng ke arahnya.

“Tidak, Tiff. Berikan mereka waktu untuk bicara.”

“Tapi—“

“Chansung benar.” Nichkhun ikut berkomentar.

“Kita tunggu saja mereka. Kau tidak perlu cemas, sayang.” Bibi Ann mencoba menenangkan Tiffany. Sedangkan paman Pat hanya mengangguk mendukung perkataan istrinya.

Tiffany menurut. Ia kembali duduk di kursinya. Namun perasaannya tidak bisa tenang begitu saja. Siwon baru saja mengatakan hal yang tidak terduga. Itu pun di hadapan ayahnya.

‘Kita memang tidak akan menikah’

***

Mr. Hwang keluar dari dalam rumah. Wajahnya masih datar sama seperti saat ia masuk tadi. Tiffany langsung menghampirinya dan memberondongnya dengan pertanyaan- pertanyaan.

“Dad, mana Siwon? Apa sebenarnya yang kalian bicarakan? Dia tidak serius dengan pernyataannya kan?”

“Tiffany, Daddy tidak pernah melarangmu berhubungan dengan pria manapun. Daddy hanya ingin kau menikah, punya anak dan memiliki keluarga yang bahagia. Tapi, bersamanya kau tidak akan mendapatkan itu, Nak.”

“Maksud Daddy?”

“Sekarang pilihannya ada di tanganmu, Tiffany.”

Hati Tiffany mencelos. Berarti Siwon serius dengan ucapannya. Tapi ia harus memastikan sendiri dengan bertanya langsung pada kekasihnya itu.

“Aku ingin bicara dengannya.”

“Pergilah. Dia ada di kamarmu.”

Tiffany langsung pamit menuju kamarnya untuk menemui Siwon. Saat Tiffany membuka pintu, Siwon sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah tertunduk ditopang oleh kedua tangannya. Tiffany menutup pintu dan bersandar sambil menatap ke arah Siwon.

“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Apa sebenarnya yang kau inginkan?”

Siwon balas menatapnya.

“Aku hanya ingin mencintaimu seperti sekarang. Selamanya tetap seperti ini. Aku tidak mau ada yang berubah. Tidak ada pernikahan, tidak ada anak- anak. Hanya kita berdua.”

“Tidak ada pernikahan? Tidak ada anak- anak? Kau pikir kita akan hidup seperti apa?”
“Kita hidup di Amerika. Dua orang tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan tidak akan menjadi masalah. Kita pasti bisa bahagia.”

“Jadi kau pikir seperti itu? Aku memang lahir dan dibesarkan di sini. Tapi ayahku selalu mengajarkan budaya timur padaku. Kita memang tinggal bersama dan melakukan hubungan intim hampir setiap hari. Tapi itu kulakukan hanya denganmu. Karena kita pasangan yang saling mencintai dan kupikir pada akhirnya kita juga akan menikah. Aku selalu memimpikan pernikahan yang bahagia dengan anak- anak di sekeliling kita.”

“Pernikahan hanya akan berakhir dengan perceraian. Dan anak- anak akan menjadi korban dari perceraian itu.”

Tiffany mengerutkan keningnya.

“Tidak semua seperti itu, Siwon. Banyak orang yang bahagia dengan pernikahan mereka.”

“Tapi kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku—hanya tidak ingin kita berpisah.”

Tiffany melangkah maju. Mendekat ke ranjang tempat Siwon duduk. Tiffany berdiri di hadapannya.

“Jadi kau tidak yakin kita akan melewatinya? Kau meragukanku? Meragukan cinta kita?”

“Bukan kau, tapi aku ragu pada diriku sendiri. Aku tidak yakin aku bisa—“

“Cukup! Aku sudah mengerti sekarang. Kalau kau memang tidak yakin, untuk apa kita terus melakukannya. Lebih baik berhenti sekarang.”

“Tiffany, apa yang kau katakan?”

“Kau tahu, sebuah hubungan didasari cinta dan keyakinan. Kalau saat ini saja kau tidak yakin, untuk apa menunggu sampai lima tahun atau sepuluh tahun. Kita tidak akan bisa melewatinya bahkan untuk lima bulan. Kita tidak akan bisa.”

Keduanya diam. Siwon mendekati Tiffany, mencoba untuk memeluknya. Namun Tiffany langsung menangkis tangannya.

“Jangan sentuh aku! Pergilah Siwon!”

“Baby—“

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, tolong. Pria yang tidak mau berkomitmen sepertimu tidak pantas memanggilku dengan panggilan itu. Pergilah Choi Siwon. Pergi dari rumahku!”

Siwon tidak bisa berbuat apa- apa. Tiffany terlihat begitu marah padanya. Tiffany sungguh- sungguh dengan perkataannya. Siwon pun mengemasi pakaiannya. Tiffany hanya mematung menyaksikannya.

“Aku pergi. Kalau memang itu yang kau inginkan.”

Siwon menatap rumah itu sekali lagi sebelum ia menjalankan mobilnya.

‘Sorry, Baby. Aku tidak bermaksud membuatmu terluka.’

Dari atas Tiffany melihatnya lewat jendela besar di kamarnya.

‘Seandainya kau berbalik dan merubah pemikiranmu. Aku pasti akan menerimamu kembali.’

Siwon pergi. Perlahan mobilnya menjauh dan akhirnya menghilang di balik jalan raya.

“Kau menyesal dengan keputusanmu?” Ayahnya muncul di belakangnya.

“Tidak, Dad. Justru aku menyesal karena tidak mengetahui hal ini dari awal.”

“Kau sudah mengambil keputusan yang benar. Lebih baik ini diakhiri sebelum semuanya terlambat.”

Tiffany mengangguk membenarkan ucapan ayahnya. Tapi dalam lubuk hatinya, ia masih ragu.

‘Apakah semua memang belum terlambat? Kalau memang benar, kenapa sakitnya seperti ini? Harusnya aku baik- baik saja kan?’

***

Tiga hari setelah liburan thanksgiving berakhir, Tiffany kembali ke apartemennya.

“Aku pu—“

Ucapannya tergantung. Ia baru ingat kalau Siwon sudah tidak tinggal di apartemennya lagi. Sehari setelah kepulangannya dari rumah Tiffany, Siwon langsung membereskan barang- barang miliknya dan memindahkannya kembali ke apartemennya. Mereka tidak akan tinggal bersama lagi.

Tiffany meneruskan langkahnya memasuki apartemen. Sepi. Dilihatnya setiap bagian apartemennya. Sofa, meja makan, dapur sampai ke kamarnya. Dan semua itu mengingatkannya pada Siwon. Tiffany punya kenangan indah bersama Siwon hampir di setiap bagian apartemennya. Ia meraba ranjang tempatnya duduk saat ini. Tidak akan ada tangan kekar yang akan melilit di perutnya lagi. Tidak ada dada bidang yang yang menyangga kepalanya lagi. Tidak ada kehangatan di musim dingin yang akan segera tiba nanti. Tidak ada Choi Siwon yang akan menemaninya. Tidak ada Choi Siwonnya lagi. Tidak ada Choi Siwon. Kata- kata itu terulang seperti mantra di kepalanya. Dan bulir- bulir cairan bening lolos dari pelupuk matanya. Tiffany menangis. Ia merindukan Siwon. Selama tiga hari tak bertemu dengan pria itu rupanya memberi pengaruh besar padanya. Tiffany kehilangan. Siwon sudah begitu melekat di hatinya. Di setiap organ tubuhnya.

Tapi Tiffany mencoba kuat. Ia tidak boleh terlalu merindukan Siwon. Akan semakin sulit menyingkirkannya jika kerinduan itu masih bersarang di hatinya.

Di apartemen sebelahnya, Siwon duduk di sofa ruang tamu. Ia tahu Tiffany sudah pulang. Siwon mendengarnya saat Tiffany membuka pintu apartemennya tadi. Ingin sekali ia berlari keluar dan menghampiri Tiffany. Ia merindukan Tiffany. Tapi ingatan saat Tiffany mengusirnya tempo hari, membuat egonya menguasai pikirannya.

‘Aku tidak akan menemuinya. Dia yang ingin aku pergi kan?’

Siwon mengambil cincin di sakunya. Cincin yang sama. Yang dulu ia beli untuk Tiffany. Ia melempar cincin itu ke sembarang arah. Siwon frustasi. Ia tidak ingin hubungannya dengan Tiffany berakhir. Tapi kenyataannya, ia dan Tiffany benar- benar sudah berakhir sekarang.

Ting! Tong! Ting! Tong!

Siwon menghampiri pintu utama dengan enggan. Dibukanya pintu itu dan seketika ia terkejut melihat siapa yang datang.

“Tiffany?!!!”

“Hai,” Ekspresi Tiffany sangat datar. Berbeda sekali dengan Siwon yang sangat terkejut dengan kedatangannya.

“H-hai,”

“Aku hanya ingin mengembalikan ini.”

Tiffany menyodorkan sebuah dasi. Dasi milik Siwon yang masih tertinggal di apartemennya.

“Terima kasih.” Siwon tidak tahu harus berkata apa lagi.

“Sama- sama. Permisi,” Tiffany langsung berbalik menuju apartemennya.

“Tiffany, tunggu. Kita harus bicara.“ Siwon menghentikan Tiffany sebelum ia sampai ke apartemennya. Tiffany memang menghentikan langkahnya, tapi ia tidak berbalik. Ia bicara dengan memunggungi Siwon.

“Kita hanya tetangga yang berhubungan baik, Mr. Choi. Aku merasa tidak ada yang perlu kita bicarakan.”

“Kita lebih dari sekedar tetangga yang berhubungan baik. Kau tahu itu dengan pasti.”

“Tidak, Mr. Choi. Sampai kau merubah cara berpikirmu, aku hanya akan menganggapmu sebagai tetanggaku. Bukan siapa- siapa. Aku hanya akan melakukan apa yang semestinya tetangga lakukan.”

“Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Kita hanya akan menjadi tetangga yang berhubungan baik. Tidak lebih.”

Siwon menunggu reaksi Tiffany.

“Selamat siang Mr Choi. Permisi.”

Hanya itu yang diucapkan Tiffany sebelum ia benar- benar masuk ke dalam apartemennya. Siwon pun berjalan ke apartemennya. Keduanya kembali membawa sikap keras kepala masing- masing.

‘Tetangga yang berhubungan baik’

Mereka kembali mengulang kalimat itu seperti mantra. Mantra untuk menguatkan hati mereka yang hancur lebur karena prinsip yang mereka pegang lebih kuat daripada cinta yang mereka punya.

***

“Minum ini. Kau kelihatan pucat sekali.”

Nichkhun memberikan secangkir coklat panas pada Tiffany. Siang itu Tiffany membantunya merenovasi apartemennya.

“Thanks. Belakangan ini aku memang lebih cepat lelah.” Tiffany meneguk minuman kesukaannya itu. Nichkhun lalu duduk di sampingnya.

“Mungkin karena gejala PMS,” ujar Nichkhun asal. Namun wajah Tiffany malah bertambah pucat setelah mendengar ucapan Nichkhun.

“Kau kenapa?”

“Tanggal berapa sekarang?” Tanya Tiffany serius.

Nichkhun mencoba mengingat- ingat,”17 Desember,”

“Tidak mungkin, kenapa aku bisa melewatkannya?” Tiffany terlihat bertambah panik.

“Memangnya kenapa Tiffany?”

“Aku seharusnya sudah mendapat haid bulananku pada awal Desember. Tapi, sampai sekarang aku belum—“

“Jangan bilang kalau kau—“

“Tidak mungkin. Aku tidak pernah melewatkan jadwal minum pil-ku. Jadi bagaimana caranya aku bisa hamil?”

“Mungkin kau hanya terlambat mendapatkan haid-mu. Atau—“

“Atau apa?”

“Kau ingat, waktu itu kau demam,”

“Dan Siwon memberiku antibiotik untuk meredakan demamku malam itu. Pilnya tidak akan bekerja karena pengaruh antibiotik. Berarti aku bisa saja—“

Tiffany tidak mampu menyelesaikan perkiraannya.

“Sebaiknya kau melakukan tes.”

Sesampainya di rumah, Tiffany langsung membuka bungkus testpack yang baru saja dibelinya. Bukan satu, tapi lima jenis testpack sekaligus. Ia langsung mencoba semuanya.

Sepuluh, dua puluh, sampai tiga puluh detik Tiffany menghitung, baru ia membuka matanya untuk melihat hasil kelima testpack yang dicobanya.

“Tidak!” jerit Tiffany tertahan. Melihat semua alat tes kehamilan itu memberikan hasil yang sama. Dia positif hamil.

To be continued…

http://thisislove4ever.wordpress.com/2014/12/01/sweet-story-5-the-commitment/

59 thoughts on “Sweet Story 5: The Commitment

  1. Oppa egomu terlalu tinggi ingin tiff selalu disampingmu tp kau tau mau mengikatnya *jiaaaahhh hahahhaha keren nih cerita bagooosss 👍👍👍

  2. Aigoooo oppa kau keras kepala sekali, ahhhhhhhh makin kesel sama Choi Siwon😦 Omo? Eonni hamil? Sumpah.. Aku ngerasainnya antara bahagia, kesel dan sedih.. Huhuhu eonni, sabar ne😦 :’)

  3. Kya…….siwon egomu terlalu tinggi dan ingin fany disampingmu,tapi tdk dengan menikah,secara tidak terikat,kasian fanynya.nah tuh kan fany hamil,mudah2an siwon balik lagi ke fany.Amin.
    Gak nyangka yuri berselingkuh sama minho.
    Daebak thor,lanjut thor.hwaiting.

  4. Ketakutnmu akn pernikhn justru bwt siwon egois. dia udh sakiti hati wanita. klo q diposisi fany psti sprt itu. pun hamil lbh baik sndiri n kmbli kpd klrg drpd berkorbn utk cwok kyk siwon.
    tp klo posisi siwon sbnrny dia hny tak ingin sakiti hati fany lg klo nyr pny ank. tp syg siwon km skrg calon appa bgmn? ap pemikiran km akn berubh??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s