(AF) Burning Rain Part 2 – End

Burning Rain

Burning Rain

Author                       : redwinebluesky

Genre                          : romance

Rating                         : 16

Length                        : Twoshoot

Cast                             :   Andrew Choi, Hwang Miyoung

-0-

Apa itu kebahagiaan?bagaimana aku bisa merasakannya? Kemana aku bisa mendapatkannya? Mengapa hatiku terasa lenyap sementara aku tau gumpalan darah itu masih bersarang rapi di tubuhku?

Pintu terbuka, dia datang.

Aku menghentikan isakanku. Menatapnya tak percaya atas semua rentetan perbuatan yang ia kerjakan untuk merusak hidupku. menatapnya dengan berjuta perasaan tak terima, dengan amarah dan kecewa yang meluap ruah.

“apa salahku?” aku tak mampu lagi menahannya. Apa salahku  Andrew Choi? Apa salahku hingga kau menghancurkan kebahagiaanku? Apa salahku hingga kau merenggut orang-orang yang ku cintai? Apa salahku hingga kau menancapkan kesedihan ini begitu dalam pada kisah ku?

“salahmu adalah karna tak pernah mendengarkan perintahku Young” ucapnya tanpa beban, melangkahkan tubuh tegapnya kearahku. Mendudukkan dirinya tepat disisi ranjangku, menghujani leherku dengan ciuman intensnya. Aku menatap wajahnya geram, dengan luka karna tak bisa melawan sementara matanya terpejam menikmati segala tindakan erotis yang justru semakin membuatku merasa sampah.

“kau harusnya sadar akulah penguasa hidupmu Sayang..” desahnya sambil jemarinya menagguhkan kacing piayamaku satu persatu. Air mataku semakin berderai, hatiku berontak sementara tubuhku tak bisa melakukan apapun. Aku tak kehilangan nyali , hanya kehilangan semangat untuk melakukan apapun lagi. bahkan bernafaspun terasa sangat melelahkan kini.

AUTHOR POV

Malam itu mendung. Gerimis mencakar langit dan siapapun yang melihatnya akan segera sadar bahwa bulan telah kalah telak, menyerahkan diri dibalik awan kelabu tebal yang seolah memperoloknya, mengangkat dagu kesombongan karna bisa membuat penampakan sang raja malam sirna.

Miyoung masih terus melangkahkan kakinya melewati gang-gang sempit yang super berbau lembab. Beberapa kali ia tercegak dengan bunyi dentingan beberapa botol bir kosong yang tak sengaja bersenggol oleh kaki jenjangnya. Gadis itu merapatkan matelnya dalam. Kira-kira dengan kecepatan ini tak sampai 3 menit lagi langkahnya bisa memasuki ruangan tempatnya melewati lelap sejak beberapa malam, fikirnya.

Gadis itu sedikit berjengit takut saat derap langkahnya terdengar berganda. Ada bunyi langkah lain yang tak seharusnya muncul mengiringi tumpuannya dan ia tau ini bisa jadi sebuah masalah. Maka dengan sedikit keberanian dan doa yang menggantung di ujung bibir gadsi itu mempercepat pijakannya, setengah berlari dengan hati was-was berharap rumahnya segera terlihat di depan mata.

Tapi kali ini terasa berbeda, segalanya makin jauh dan otaknya kehilangan kendali. Gadis itu malah memilih untuk belok kanan dipertigaan kedua saat tujuannya berada diujung lurus setelah belokan itu. Miyoung mengusap wajahnya frustasi, rambutnya yang bergelombang terombang ambing kesana kemari mengikuti gerak tubuhnya yang tanpa sadar mulai berlari. Sosok hitam berhasil tertangkap oleh iris coklatnya saat ia menoleh kebelakang, memperbanyak ketakutan yang fikirannya sedang kembangkan. Ada seseorang yang sedang ikut berlari di belakangnya dan Miyoung tak perlu menjadi secerdas Einstein untuk memahami situasi bahaya yang sedang mengejarnya bersama sosok hitam itu di belakang.

Rumahnya sudah semakin dekat dan suara langkah itu tak lagi terdengar. Dengan nafas terengah seusai jantungnya dipaksa terpompa secara marathon bersama uji adrenalin yang menakutkan gadis itu bertumpu pada kedua kakinya. Melepas lelah yang harus ditanggung pada puncak tumit akibat berlari sambil menggunakan heels runcing meski tak panjang. Belum sempat ia menetralkan tekanan darah dan menyeimbangkan tarikan nafas yang memburu, sebuah suara familiar lain secara terang-terangan kembali meremangkan bulu kuduknya.

“sudah puas bermain petak umpet Ny. Choi??”

Miyoung terpaku dengan tubuh yang rasanya baru saja dihujani air es. Kakinya bergetar tak kuat sementara perutnya bergejolak dengan irama tak menentu. Ia tak berbalik, tak berani berbalik dan menghadapi pria yang saat ini sedang berdiri tegap dengan sneyuman licik penuh kemenangan dibibirnya.

“aku fikir kau akan merengek setelah tau betapa kejamnya dunia. Aku tak menyangka kau bisa bertahan selama ini Baby” Miyoung tak bisa bernafas. Demi apapun yang ada dimuka bumi ini, ia berani bersumpah bahkwa ia lebih baik dijemput oleh malaikat maut sekarang.

“kau sepertinya masih terkejut Youngie”  Andrew maju secara perlahan dengan senyuman miring yang lebih mirip smirk . wajah cerahnya berbanding terbalik dengan wajah pusat pasi Miyoung. Di bawah cahaya lampu seadanya yang menerangi gelapnya hujan mala mini Miyoung tau kalau hidupnya sudah berakhir.

I miss You, really do” mata Miyoung membulat saat  Andrew mengibaskan rambut dan mengecup leher kanannya dengan penuh hasrat. Nafas gadis itu seakan benar-benar telah lepas meninggalkan raganya saat sentuhan yang dulu selalu menghiasi hidupnya itu kembali diterima dan direspon baik oleh panca indranya.

Andrew memeluk tubuh Miyoung dari belakang dan  meletakkan dagunya tepat di puncak kepala gadis itu. Miyoung baru saja akan berontak ketika ia menyadari sesuatu yang asing sedang menembus kesadarannya.

Andrew sedang tak baik-baik saja.  Andrew, pria brengsek yang menghancurkan hidupnya itu sedang tidak berada di kondisi prima. Kutuk dia yang masih memberikan perhatian untuk pria bejat yang harusnya ia hindari namun keadaan  Andrew benar-benar tak bisa diabaikannya begitu saja.

Kulit tangan Andrew yang bersentuhan langsung dengan tangannya terasa sepanas bara api. Pantas saja ia merasakan kehangatan yang tak wajar saat pria itu mendekapnya.

“ Andrew.. kk. Kau..”

BRUG!!!

-0-

Langkah kaki itu berdebum dan memantul kesegala ruangan. Dentuman suara yang berasal dai ujung higheels seorang wanita yang nampak berjalan dengan tergesa ambil menggendong seorang bayi mungil dalam rengkuhannya membuat kesadaran Miyoung bergerak cepat.

“bagaimana keadaannya?” Sora, kakak  Andrew tak bisa lagi menyembunyikan raut panik diwajah anggunnya.  Andrew bukanlah tipe manusia dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk. Seingatnya  Andrew adalah manusia yang paling tidak pernah sakit. Pria itu tak pernah mengeluh tentang kondisi tubuhnya yang tidak fit apalagi sampai drop hingga harus menerima rawat inap seperti sekarang.

“entahlah Eonie, kim ajussi belum keluar sejak tadi” Miyoung menggeleng khawatir. Sesaat  setelah  Andrew pingsan, beberapa orang pria berjas hitam-yang ia yakini sebagai kaki tangan  Andrew- datang menghampiri mereka. Ia sedikit merasa tertolong awalnya karna ada orang lain yang bersedia membantunya mengangkat tubuh besar Andrew namun ini sudah hampir sejam dan ia tak menemukan tanda-tanda bahwa  Andrew sudah lebih baik di dalam sana.

“bisakah Miyoung?” Sora menatap sehun yang sedang terlelap dan lengan Miyoung yang bebas secara bergantian. Isyarat bahwa ia ingin masuk mengecek keadaan adik satu-satunya tanpa membawa sehun turut serta. Miyoung yang faham segera membawa balita mungil itu kedalam gendongannya. Membiarkan Sora  masuk seorang diri tanpa membawa sehun adalah tindakan yang sangat bijak mengingat bahwa anak kecil sangat rentan tertular penyakit apalagi demam dan sejenisnya dan mereka sama-sama tak mau mengambil resiko dengan membiarkan bayi kecil menggemaskan itu  ikut jatuh sakit juga.

Sora masuk dan meninggalkan Miyoung dan sehun berdua di luar ruangan. Pemandangan pertama yang ia lihat ketika memasuki ruang rawat pribadi di rumahnya adalah tubuh pucat  Andrew dan selang impus yang menancap erat di daging pergelangan tangannya. Adiknya masih tak sadarkan diri, matanya terpejam erat dan satu-satunya hal yang membuatnya sadar bahwa  Andrew masih memmiliki nyawa adalah alat radiometric yang masih menampilkan garis berombak disetiap tarikannya.

“nona Choi” Kim ajussi menunduk hormat ketika menyadari bahwa Sora masuk dan memutuskan untukmengecek keadaan adik semata wayangnya secara langsung.

“mengapa ia bisa lolos?” bukannya menjawab sapaan hormat bawahannya, Sora malah melantunkan kalimat Tanya lain yang terdengar pelan namun penuh kekecewaan.

“entah darimana tapi tiba-tiba saja tuan muda Choi sudah tau bahwa kami mengetahui keberadaan nona Miyoung dan memutuskan untuk segera menemuinya” jawab Kim ajussi takut-takut. Bagaimanapun lolosnya  Andrew dari rumah mereka dalam keadaan sedang demam tinggi adalah mutlak karna kelalaiannya sebagai seorang pimpinan buttler disini.

“harusnya kalian bisa lebih hati-hati. Bukankah sudah berulangkali ku katakan bahwa kesehatan  Andrew adalah yang terpenting. Bagaimana bisa kalian yang jumlahnya jauh lebih banyak bisa kebobolan seperti ini. Untung saja ia pingsan saat sudah menemui Miyoung. Bagaimana jika belum sempat sampai disana kesadarannya sudah lebih dulu menghilang? Siapa yang mau mempertanggung jawabkannya?” cicit Sora tak puas. Ia pasti sudah gila karna mempercayakan keadaan asiknya pada penjaga-penjaga yang ternyata kemampaunnya berada pada definisi dibawah rata-rata.

“maaf nona. Saya janji ini tak akan terjadi lagi” pria berusia itu membungkuk dalam, menunjukkan rasa sesalnya yang teramat karna melalaikan pekerjaannya. Tidak, ini bukan mengenai seberapa banyak kerugian yang bisa ia terima jika majikannya yang satu ini memecatnya namun ini mengenai pertaruhan integritasnya sebagai pihak yang harusnya bisa selalu diandalkan.

“kau memang harus memastikan ini tak akan terjadi lagi atau aku akan memastikan berakhirnya nasibmu sebagai pekerja disini tuan Kim” putus Sora dengan suara dingin. Ia lalu melangkahkankan kakinya menuju luar ruangan setelah merasa memberi teguran yang cukup keras untuk para pekerjanya.

“dan kau  Andrew…”ucapnya ketika berada tepat di hadapan ranjang  Andrew. meskipun ia tau adiknya mungkin tak akan mendengar namun ia merasa tetap harus mengatakannya “berhenti merengek seperti seorang balita jika keinginanmu tak terpenuhi atau aku sendiri yang akan membantu Miyoung untuk benar-benar hilang dari hidupmu” tandasnya sebelum kembali berlalu, melanjutkan langkahnya keluar ruangan tepat dimana Miyoung dan sehun sedang menunggu dengan suara pantulan ujung higheels yang menggema keseluruh sudut ruangan tersebut.

-0-

“Eoniee, Lihat!!” Miyoung bersorak girang berusaha menarik perhatian Sora yang sedang merangkai bunga untuk segera menatapnya. Sora yang penasaranpun akhirnya terkekeh melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Sehun dengan mata segarisnya sedang melakukan higfive secara berkali kali bersama Miyoung. Balita itu tersenyum senang dan memperlihatkan deretan gusinya yang baru ditumbuhi beberapa gigi.

“~jangan membuatnya terus tertawa jika tak mau ku repoti tengah malam nanti Nona Hwang”

“maksud unnie?” Miyoung menghentikan kegiatannya lalu menyerahkan sehun kepada kwon ajhuma yang sudah siap untuk menyuapi sehun di kamarnya. Sehun kecil bahkan masih sempat melambaikan tanganya dengan gerakan tak teratur saat bayangannya mulai menghilang dari ruangan itu.

“anak kecil, jika terlalu banyak tertawa siang harinya maka saat menjelang tidur ia akan sangat rewel. Aku tak mau mengambil resiko itu dengan membiarkanmu membuatnya tertawa seharian lalu mengajukanku sebagai satu-satunya orang yang harus berjuang sendirian melawan kerewelannya saat ngantuk nanti malam” Sora memukul ringan kepala Miyoung dengan setangkai mawar putih yang sudah ia guntingi durinya.

“aw!” Miyoung mengaduh sambil mengusap-usap kepalanya yang terkena pukulan jahil Sora.

“jangan berlebihan Youngie~. Sayangnya aku bukan  Andrew yang bisa langsung percaya bahwa pukulan ringanku barusan benar-benar membuatmu sakit”

“Eonnieee” Miyoung merajuk sambil menarik-narik lengan Sora dengan manja. Segala tentang  Andrew kini membuatnya cepat gerah apalagi jika itu keluar dari mulut Sora.

”ah, tapi aku benar-benar tak menyangka bahwa adikku bisa sehebat itu. Ngomong-ngomong kau benar-benar tak mau bercerita tentang bagaimana  Andrew bisa menghamilimu, eum?” Sora menatap Miyoung dengan jahil sementara Miyoung langsung menyembunyikan wajahnya yang merona merah padam dibalik punggung Sora. Sora mungkin kakak  Andrew namun entah mengapa wanita itu lebih nampak sebagai  kakak Miyoung dan bukannya  Andrew. entah karna menurut pengakuan Sora sejak dulu ia memang lebih menginginkan adik perempuan ketimbang laki-laki atau karna Miyoung yang memang memiliki sifat dasar manja hingga membuat hubungan persaudaraan diantara keduanya benar-benar terlihat nyata.

“ngomong-ngomong Youngi`ah, kau sudah menjenguknya?”

“sudah Eonnie” balas Miyoung dengan ekpresi wajah ceria yang lenyap begitu saja. nya yang dimaksud Sora sudah pastilah si Tuan besar tampan bertempramen buruk,  Andrew Choi.

“lalu?” Sora menghentikan aktivitas memotong duri mawarnya lalu menatap Miyoung penuh minat.

“lalu apa? Apalagi selain ia mengusirku dengan keras sambil berkata  bahwa wajahku membuatnya mual!” Miyoung merengut, ngambek dengan perlakuan buruk Siwon yang terbilang sudah terlalu sering bertindak kasar padanya.

“hanya itu?” tuntut Sora tak puas.

“heum. Sebenarnya aku masih mau adu mulut dengannya namun wajah pucatnya membuatku tak tega. Entah apa jadinya kalau ia tau sarapan bubur yang tadi ia santap adalah buatanku, hehe” Miyoung dan Sora terkikik geli membayangkan bagaimana ekspresi  Andrew saat tau bubur yang ia santap sampai tandas setelah 2 kali meminta tambah adalah buatan tangan gadis yang wajahnya membuat mual.

“hahahha ia pasti akan langsung membunuh dirinya dengan memakan ubur-ubur sebanyak mungkin hinga tersedak dan kehabisan nafas saat tau itu buatanmu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana si tuan penuh harga diri itu merasa malu karna menyantap masakan lawannya dengan sangat lahap. Hahahah!” Sora tertawa sambil memegangi perutnya, tak perduli dengan beberapa maid yang menatapnya dengan tatapan aneh dan penuh Tanya.

“Eonnie, ssssttt! Jangan keras-keras” Miyoung mengulum senyumnya. Ia juga ingin tertawa sekeras Sora namun takut hal itu akan terdengar oleh  Andrew dan membuat pria itu benar-benar melakukan aksi bunuh diri seperti yang Sora perkirakan.

“oh ya..” Sora menjeda” kau tau alasanku pagi-pagi memanggilmu kemari??” dalam seketika Sora mengganti eksperi jenakanya dengan ekpresi dingin nan tegas seperti yang biasa Miyoung lihat saat Sora sedang memimpin meeting atau pertemuan penting perusahaan lainnya. Sedikit banyak perubahan ekpresi itu juga membuat Miyoung merasa gugup.

“anio. Wae Unnie?” Miyoung menggeleng lemah, sama sekali tak merasa bahwa ia bisa menemukan clue yang tepat untuk memaknai undangan calon kakak iparnya diwaktu sepagi ini.

“aku mau menceritakanmu beberapa rahasia” Sora mendekatkan wajahnya kearah Miyoung, berbisik ringan seolah yang ia akan katakan benar-benar sebuah rahasia besar yang akan menghancurkan dunia jika terbongkar sedikit saja.

“apa?”balas Miyoung turut berbisik sementara Sora malah kembali terkekeh geli.

“hahaha, gadis bodoh! Mengapa kau juga ikut berbisik??” tandasnya

“Eonnie!” Miyoung kembali merajuk. Ah, Choi Sora memang memiliki darah yang sama dengan darah yang mengalir di tubuh  Andrew, mengapa ia bisa mengabaikan itu?

“dulu, berita Omma mengandung  Andrew adalah kebahagiaan terbaik yang hadir di hidup kami.” Sora mengawali ceritanya, membuat Miyoung tertegun dengan seksama, menanti setiap kata yang akan keluar berikutnya. Wajah Sora nampak serius dengan seulas  senyum yang sedang membawa ingatannya kedalam masa berpuluh-puluh tahun lalu.

“Appa menjadi lebih sering dirumah, segala yang belum tuntas dikantor bukan menjadi halangan ketika itu. aku yang menyaksikan betapa kedua orang tuaku menyambut kehadiran  Andrew dengan suka cita turut merasakan bahagia. Aku dan Appa sepakat akan menjadi lebih manis untuk Omma agar adik kecil kami didalam sana tidak perlu ikut menjadi korban jika kami membuat Omma pusing. Semuanya berjalan dengan baik, kehadiran  Andrew sangat kami nantikan. Appa menjadi lebih antusias ketika tau bahwa saat itu  Andrew berjenis kelamin laki-laki. Semuanya dipersiapkan untuknya. Mulai dari kamar tidur hingga mainan yang banyak . Appa dan omma bahkan mulai mendiskusikan kapan  Andrew bisa mulai bersekolah, dimana ia akan melanjutkan studinya, les-les apa saja yang akan ia lakukan saat memiliki waktu senggang dan lain sebagainya.” Miyoung bisa merasakan suara Sora yang mulai bergetar.

“Hingga usia kandungan omma memasuki bulan kesembilan, kami tak memiliki firasat apapun. Kami masih ada, bahagia, hangat dan saling melengkapi sambil menunggu hadirnya calon anggota keluarga baru. Hingga hari itu tiba, hari dimana  Andrew lahir. Hari dimana Omma mengalami keadaan kritis karna kehilangan banyak darah hingga harus kehilangan nyawa ditengah persalinan. Andrew memang lahir, malaikat kecil yang kami nantikan kedatangannya memang menjadi anggota baru keluarga kami namun bersama kedatangan  Andrew, kami juga harus kehilangan Omma.” Miyoung menatap sora tak berkedip. Cerita ini, entah mnegapa tutur membuat hatinya sakit

“Sejak Omma meninggal, Appa semakin menenggelamkan diri dalam dunia pekerjaan. Aku yang kecewa dengan sikap Appa yang begitu cengeng menghadapi kepergian omma, mencari pelarian untuk menyembuhkan lukaku dengan menghabiskan hampir seluruh waktu yang kumiliki bersama teman-temanku.

Aku dan Appa terlalu sibuk mencari obat atas luka kami hingga melupakan sesuatu. Kami lupa bahwa dibanding rasa sakit yang kami terima ada hal yang jauh lebih penting yaitu  Andrew.  Kami melupakan  Andrew, meninggalkannya seorang diri dalam kesepian. Ia memang memiliki ayah dan kakak namun tak merasakan kasih sayang dari mereka.  Andrew tumbuh dan belajar seorang diri, tanpa dukungan moral ataupun kucuran kasih sayang ia bertahan dijalannya.”

“Saat bayangan omma kembali datang , Appa akan bekerja dan menginap dikantor selama berhari-hari. Aku akan memilih tinggal di asrama dan menghabiskan akhir pekanku dengan teman-teman sementara  Andrew kecil akan tetap dirumah dan menanti kami pulang meskipun kenyataannya saat itu kami tak kunjung pulang menemuinya.”

“Penantiannya akan berakhir dengan air mata yang terus ia bawa hingga terlelap. Kesakitan ini membuat kami melupakan keberadaannya. Kesepian yang timbul dari tingkah bodohku dan Appa membuat  Andrew menjadi pria keras dengan keangkuhan yang luar biasa kuat. Ia egois dan tak bisa dibantah namun aku memakluminya. Tak ada seorangpun diantara kami yang pernah mengajarinya tentang kasih sayang. Tak ada seorangpun diantara kami yang mengajarinya tentang betapa indahnya berbagi dan betapa mulianya memaafkan. ”

“Eonnie…” Miyoung tak bisa lagi membendung air matanya. Inikah sosok  Andrew yang selama Ini bersamanya? Seburuk itukah kesepian yang pria itu jalani seorang diri selama ini?

“ Andrew selalu menyalahkan dirinya atas kepergian Omma, fakta yang baru ku ketahui belakangan adalah alasan mengapa ia tak mau memiliki anak karna takut jika darah dagingnya akan kembali memakan korban. Ia takut jika mengandung anaknya, kau bisa meninggal seperti Eomma kami. Ia takut saat kau meninggal ia akan menjadi seburuk Appaku dulu dan anak kalian akan merasakan kesepian seperti yang pernah ia rasakan.” Nafas Miyoung tercekat, suaranya terikat di ujung tenggorokan.

“Ia mabuk lalu menemuiku dalam derai air mata beberapa hari setelah kau pergi. Dengan kacau ia terisak dan menceritakan beban yang selama ini ia tanggung sendiri. rasa kesepian yang kami jejalkan dalam otaknya, betapa ia lelah dengan itu. “ Sora meremas jemari Miyoung tersiksa.

“Aku pernah berada pada situasi dimana aku bisa menerima kasih sayang dengan begitu lengkap dari Appa maupun Eomma. Walaupun tak lama namun setidaknya aku pernah menerimanya, berbeda dengan  Andrew yang bahkan tak pernah merasakan apa dan bagaimana itu kasih sayang. Ia dibiarkan tumbuh begitu saja, meliar hingga melewati batas.”

“Aku bukannya sedang membela adikku Youngie, sungguh” Sora menggengam tangan Miyoung yang bergetar. menatap manik mata gadis itu sebelum kembali berucap

“namun ku mohon fahamilah dia. Aku, hanya ingin kau membantuku membuatnya faham bahwa kami bukannya tak pernah menyayanginya. Kami hanya lupa bahwa dulu, untuk kehadiran  Andrew kami bahkan bersedia kehilangan Eomma. Ku mohon teruslah berada disisinya, kuatkan ia dengan kehadiranmu. Tunjukkan padanya bahwa masih ada kasih sayang tulus yang terisa untuknya di dunia ini.” Sora menutup ceritanya dalam isakan. Miyoung yang ikut merasakan haru atas kehampaan yang selama ini menjadi bayangan dalam hidup keluarga Choi hanya bisa membawa Sora dalam pelukannya, meyakinkan wanita itu bahwa segalanya akan baik-baik saja melalui rengkuhan erat yang mereka bagi di senja berembun itu.

-0-

“aku akan benar-benar pergi” Miyoung menatap punggung  Andrew yang masih membelakanginya. Dari sudut ini ia bisa menyaksikan betapa kemeja kantor mahal itu nampak agak sedikit longgar ditubuh prianya.

Prianya?? Miyoung tersentak dan tersenyum masam ketika menyadari bahwa alam bawah sadarnya sudah terlalu jauh mengklaim  Andrew sebagai miliknya.

“aku serius  Andrew. aku tak akan lagi bertahan disismu jika kau masih belum bisa menerima kami” tantang Miyoung sementara  Andrew masih belum bergeming. Miyoung sudah terlalu lelah dengan kebungkaman pria itu. ia sudah mencoba berbagai cara selama 2 minggu ini namun  Andrew masih sama, menjadi seorang patung bisu dan tuli jika sudah berhadapan dengannya.

Maka Miyoung tak bisa menunggu lebih lama lagi, ini adalah finish untuknya beranjak pergi. Ia sudah menawarkan diri dengan merentangkan tangannya selebar mungkin dihadapan  Andrew namun pria itu terlalu keukuh dengan prinsipnya. Ia hanya akan menerima Miyoung atau tidak sama sekali.

Andrew bungkam.

Miyoung menghentak kakinya sebal, benar-benar berniat meninggalkan Andrew menuju kearah pintu keluar.

“dia terlihat begitu rapuh..”  Andrew bersuara, pelan namun berhasil menghentikan langkah Miyoung seketika.

“waktu itu adalah hari ibu dan semua orang merayakannya. Aku fikir akulah yang termalang dan menikmati keburukanku dalam kesendirian. Aku sudah hampir menangis, di atap sekolah air mataku hampir saja jatuh jika suara tangisannya tak lebih dulu mengganggu ritualku”

“kau menangis??”  Andrew menghentikan langkahnya di hadapan sesosok gadis yang tengah menyembunyikan tangisannya dengan  sepasang kakinya yang menekuk diatas tanah. Gadis itu menggeleng dengan wajah yang masih tenggelam didalam sela lengan yang ia lipat tepat diatas kakinya.

“lalu suara tadi apa?”  Andrew mengulum senyum jenaka lalu melirik tanda di lengan kanan gadis itu.

Ah, kelas satu rupanya, batin  Andrew.

“anggap saja kau sedang mendengarku kentut sunbae..” serak gadis itu menjawab  asal pertanyaan  Andrew. ia masih belum mau mengangkat wajahnya, terlalu malu jika ia ketahuan sedang menagis di atap sekolah saat teman-temannya yang lain sedang bersorak dan saling berebut cerita untuk mengisahkan betapa sempurnanya sosok ibu mereka selama ini.

“jika yang tadi kentut maka yang ini pasti menangis.”

Bruuut BBrutt Bruuttttt….

“aaaaaahhh, Sunbae kau jorokk!!!!” gadis itu segera menjauh sambil menutup hidungnya rapat-rapat .  Andrew  tertawa puas ditempatnya setelah berhasil memberikan Bom Nagashima di hadapan gadis itu secara langsung dan eksklusif.

“hahahahhahahah!”  Andrew masih terkekeh sambil memegangi perutnya yang benar-benar terasa sedang diaduk-aduk. Gadis itu memandanganya kesal, lalu ikut tertawa bersamanya beberapa saat kemudian. Siapa sangka rencana menangis panjang yang telah disusun olehnya kini berubah menjadi acara tertawa massal?

“jadi, mengapa kau disini?” Tanya  Andrew membuka percakapan.

“alasan yang sama seperti mengapa kau juga ada disisni sunbae” gadis itu tersenyum kecut. Ia  tak tau siapa pria yang sedang ia ajak bicara, nama maupun jurusannya namun ia begitu yakin bahwa pria ini adalah senior yang berada pada tingkatan 2 tahun diatasnya mengingat rooftop yang mereka tempati ini adalah bangunan milik kelas 3.

“kau tak punya Omma?” Tanya  Andrew to the point.

“kita tak punya omma” ralat gadis itu membenarkan.

“ah haruskah kita merayakan ini dengan membuat party , mungkin?” tawar  Andrew asal.

“ya, ayo kita rayakan dengan terbang ke akhirat. Menemui Tuhan dan melayangkan protes kepadanya. Mengapa mereka memiliki omma dan kita tidak”

 Andrew tersenyum, mulanya ia akan kembali membalas ucapan gadis itu dengan gurauan juga namun niatnya urung ia lakukan ketika kembali melihat gadis itu mengeluarkan air mata.

“ia membuangku. Meninggalkanku bersama Appa demi pria lain. Jika ia tak mencintai Appa paling tidak harusnya ia mencintaiku bukan? Bagaimanapun aku berasal darinya” gadis itu terisak, membuat  Andrew kehilangan bualan konyol yang selalu berhasil ia jadikan penghibur ketika merindukan sosok Ibu dihidupnya.

Ia tak pernah bersama perempuan menangis sebelumnya, ini hal baru baginya dan Andrew bingung harus berbuat apa.

Tak ada apapunlagi setelahnya, yang ada hanya sileluet tubuh seorang gadis yang terduduk sambil meringkuk dan seorang remaja pria yang berdiri canggung dihadapannya, tak melakukan apapun hingga senja datang mengganti petang.

Gadis itu mungkin melupakan momentnya, melupakan suara bahkan wajah sang remaja pria tapi tidak dengan pria itu.

Kenangan itu tetap tersimpan di hari-harinya hingga tahunan berganti dan ketika pria itu merasa pantas untuk kembali mendapatkan sesuatu yang harusnya sejak awal ia miliki, tak ada satu rintanganpun yang bisa membuatnya berhenti.

Miyoung menutup mulutnya tak percaya. Ia terperangah dengan segala kisah yang  Andrew beberkan.

“jadi sunbae itu..” Miyoung tak bisa lagi melanjutkan ucapannya ketika menyaksikan  Andrew secara perlahan membalikkan badan, menatapnya penuh rasa sedih dan kecewa.

“kau masih belum mengingatku. Ternyata benar, kejadian itu hanya begitu special untukku, tidak untukmu”  Andrew menggeleng lemah dengan air mata yang nyaris terjun bebas dikedua pelupuk matanya. Kedua insan itu saling menatap dengan perasaan yang berbeda.  Andrew dengan segala sakitnya dan Miyoung dengan segala keterkejutannya.

“aku.. aku..” bohong jika Miyoung melupakan itu. kejadian manis yang baru pertamakali ia alami dengan seorang pria. Bagaimana  Andrew membuatnya bisa tertawa dihari berat yang ia fikir akan panjang dan melelahkan. Bagaimana kehadiran  Andrew bisa meringankan bebannya sebagai anak yang besar tanpa Ibu, bagaimana kehilangannya ia saat  Andrew terpaksa pindah ke kanada sebelum tau isi hatinya dan bagaimana ia bisa tak menyadari bahwa nama korea  Andrew adalah Siwon, nama yang sama persis seperti yang Rooftop man itu sempat perkenalkan upadanya.

Bagaimana ia bisa seboh ini? Mengapa ia tak bisa mengenali  Andrew sejak pertama kali mereka bertemu sementara pria itu masih selalu mengingatnya?

Miyoung merutuki kebodohannya. Pantas saja selama ini ia acap kali merasa bahwa tatapan  Andrew terlalu menyedihkan saat menatapnya. Karna inikah? Karna ia masih belum bisa mengenali pria itu meskipun mereka telah hidup bersama selama kurun waktu 2 tahun?

“aku melepaskanmu Hwang Miyoung. Pergilah. Semuanya berakhir disini. Lanjutkan hidupmu yang sempat ku buat lusuh. Perusahaan ayahmu telah kembali ketangannya, pulanglah padanya. Ia menantikanmu”  Andrew mengecup kening Miyoung singkat sebelum melepaskan sentuhan itu.

Pria itu beranjak menjauh tanpa memberi celah pada Miyoung untuk menahannya. Kisah mereka membatu, mematung bersama waktu yang eleginya tak tersentuh haru.

Andrew akhirnya sadar, kerakusannya akan Miyoung hanya membuat semua pihak terluka, tak terkecuali dirinya.

-EPILOG-

Segala kehampaan dan luka ini adalah konsekuensi. Aku mencintainya namun tau cinta bukanlah muara indah untuk hubungan kami. Melepaskannya menyakitkan namun sudah seharusnya begitu. Cintaku padanya tak akan berubah meski semua sudah berbeda. Melupakannya membutuhkan usaha dan kerja keras namun melihatnya hidup dengan baik setelah bebas dari cengkramanku membuat kerja keras itu terasa lebih ringan. Dia tak lagi tersiksa, aku tak lagi merasa bersalah.

“tuan Choi?” Kwon Yuri, sekertaris baruku muncul dari depan pintu. Ia terlihat begitu manis dengan balutan kemeja kerja soft pinknya. Rok pendek yang membungkus ¾ tungkainya semakin menambah kesan seksi dan glamour khas para sekertaris perusahaan-perusahaan raksasa pada umumnya.

“ya?” balasku ramah. 3 bulan sudah Miyoung dan aku berhenti berhubungan. Kami tak lagi saling menanyakan kabar dan hilang kontak. Ia mungkin sudah terlalu bahagia dengan kehidupannya dan begitupun aku yang sudah terlalu malu untuk kembali muncul di harinya.

“jadwal anda hari ini sudah habis. Anda bisa pulang dan beristirahat. Kegiatan esok masih dalam tahap penjadwalan dan akan segera saya kirimkan ke surel anda sesaat setelah semuanya rampung” terang gadis itu ramah. Siapapun tak akan bisa menampik fakta bahwa Yuri adalah gadis dewasa dengan aura menggoda kaum adam yang super kental. Selain cerdas dan cekatan, ia juga memiliki kemampuan bersosialisasi yang luar biasa kuat, membuatku selalu merasa nyaman untuk membawanya ke transaksi maupun pembuatan perjanjian manapun selama sebulan ini.

“baiklah nona Kwon. Kau juga bisa beristirahat. Terimakasih untuk kerja kerasmu hari ini” balasku tak kalah formal.

“em, Sajangnim..”

“ya?”

“bagaimana kalau kita makan siang?” tawarnya malu-malu. aku cukup terkejut dengan tindakan agresifnya. Aigo, gadis ini ternyata…

Baiklah  Andrew, ini bukanlah kali pertama aku menerima undangan kencan oleh seorang gadis. Kau harus tetap Cool, tersenyum dan berkata baiklah, aku rasa..

Bruk!

Belum sempat aku menjawab, sosok lain sudah lebih dulu masuk tanpa ijin keruanganku. Gadis itu terlihat lebih berisi dibanding terakhir kali kami bertemu. 4 bulankan? Ah tidak, harusnya sekarang sudah memasuki bulan kelima.

“aku ingin makan siang bersama” cerocosnya secepat rel kereta api.

“nona anda..” Yuri hampir saja melayangkan aksi protesnya jika aku tak mengisyaratkan padanya untuk tetap diam.

“sekarang..?” tanyaku tak faham sementara ia malah mendengus kesal sambil mengerucutkan sudut bibirnya.

Si manja tukang ngambek itu kembali.

Aku mengikuti arah matanya dan menyadari apa yang membuatnya memasang ekspresi sekecut itu.

“Yuri`ssi. Bisa tinggalkan kami sebentar?” pintaku yang hanya dibalas oleh anggukan pasrah olehnya.

“aku ingin makan siang. Sekarang” titah Miyoung dengan intonasi yang lebih bossy daripada sebelumnya. Yuri sudah keluar dan tinggal kami berdua yang berada didalam ruangan ini.

“lalu?” tanyaku menuntut. Ia menatapku geram sambil menaikkan sebelah alisnya. Menelisik penampilanku dari atas kebawah lalu menggumamkan sesuatu yang membuatku seakan melayang.

“anak ini ingin makan siang bersama Appanya.” Ucapnya sambil menarik tangan kananku untuk menyentuh permukaan perutnya yang mulai membesar. Aku gugup tentu saja, ini kali pertama ia mengijinkanku menyentuh perutnya. Merasakan kehadiran makhluk yang sebelumnya ku tolak mentah-mentah.

Ini terasa luar biasa. Aku tak bisa lagi menahan hasrat untuk tak membawa tubuh yang sangat ku rindukan itu kedalam rengkuhanku. Minggu-minggu pertama kehilangannya adalah yang terberat dan kini setelah aku dengan berbaik hati mencoba untuk membebaskannya, ia kembali datang dan menawarkan diri padaku.

Demi Tuhan Hwang Miyoung, jangan salahkan aku jika kali ini kau benar-benar tak ku biarkan lepas.

“setelah ku fikir-fikir enak sekali kau meninggalkanku sementara aku sedang mengandung anakmu. Aku tak mau menerima alasan apapun. Kau harus cepat menikahiku karna ak…” segera ku bungkam mulutnya dengan ciuman.

Astaga, bagaimana bisa aku melepaskan diri dari wanita ini?

Bagaimana bisa aku menolak kehadirannya lagi, Tuhan?

Aku tak bisa menahan kerinduan ini lebih lama. Aromanya, sentuhannya, desahananya, ocehannya benar-benar membuatku hampir gila karna merindu. Aku tak perduli lagi dengan segala ego yang ku punya. Kali ini aku benar-benar berada pada titik dimana aku merasa yakin bisa menanggalkan segala harga diri yang ku punya demi mereka, untuk mereka dan dihadapan mereka –Miyoung dan anakku-.

“ya!!!’ teriaknya saat aku melepaskan tautan kami. Nafasnya memburu, berusaha mengambil oksigen sebanyak mungkin setelah ciuman panjangku menghabiskan seluruh pasokan udaranya.

“cepat nikahi aku dan berhenti tebar pesona. Kau harus segera memakai kembali cincin pertunangan kita agar tak bisa bermain dengan wanita lain diluar sana. dasar playboy, baru 3 bulan ku tinggal kau sudah kembali mencari mangsa” celotehnya sambil melangkah keluar ruangan ,menarik sebelah tanganku untuk memastikan  bahwa aku tetap mengikutinya dari belakang.

Dan seperti orang bodoh aku hanya tak bisa melepaskan mataku dari wajahnya. Umpatan-umpatan itu, bagaimana aku bisa sangat merindukannya?

“dengar  Andrew, kali ini kau tidak ada hak untuk membantah. Aku menjadi segemuk ini karenamu. Kehilangan job fashionshowku akibat ulahmu dan kau.. “ ia melayangkan pukulan ringan tepat di dadaku “harus membayar ganti rugi atas seluruh kontrak pemotretanku yang batal” ia menunjuk-nunjuk ku kesal karna sejak tadi aku tak bereaksi apapun untuk melawan titahnya.

Aku hanya tersenyum menatapnya, menatap wanita yang akhirnya sadar bahwa disisikulah tempat teraman dimana dia bisa menitipkan segalanya.

“terimakasih karna sudah bersedia pulang Baby” mengabaikan ocehannya, aku memeluknya erat, melepaskan semua gundah agar dia sadar bahwa masih dirinyalah yang terindah. Ia terpaku sesaat sebelum ikut membalas pelukanku beberapa detik kemudian.

“Maaf karna terlambat mengenalimu tapi percayalah aku juga mencintamu Siwon oppa…” bisiknya penuh ketulusan.

dan kalimat itu adalah…

 

 

 

 

……yang termanis sepanjang aku mereguk nafas

Kkeut

Maaf ya baru bisa send endingnya. Aku lupa hihihi :X

108 thoughts on “(AF) Burning Rain Part 2 – End

  1. sbnrnya aku bingung:’) di part sblumnya mnggunakan siwon tiffany kan yaa bkn andrew miyoung:’3 ahh tp ttp daebakk🙆 kirain sifany ga akan bersatu lg 😂😂

  2. Daebak thor.ternyata dulu sifany adalah junior dan senior,namun siwon lebih dulu mengenali fany.siwon bukannya tidak ingin punya anak,siwon trauma karna eommanya meninggal wkt melahirkannya,makanya siwon takut kalo fany mengikuti jejak eommanya.Tapi akhirnya sifany bersatu dan hidup bersama.
    Benar2 nice fanfic thor.next ya thor ffnya.fighting.

  3. fakta lg terungkp bhwa sifany adlh tmn masa kcl. n takdir kmbli persatukn mrk pun jln ug berat hrs dilalui fany krn arogansi seorg choi siwon.
    tp seorg ank yg telah sdrkn siwon btp dia cinta fany.
    squel hrs ad…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s