Sweet Story 3: This is Love

SWEET STORY 3: This is Love
image

Presented by: Youngwonie

Cast:

Choi Siwon & Tiffany Hwang

Supported cast:

Nichkhun, Yuri & Minho

Genre: Romance

Rating: PG 17

Length: Series

Disclaimer: The story is mine. Don’t be a plagiator. Enjoy this story and don’t forget to comment. Your comment is oxygen to my finger and heart to write.

Ting! Tong! Ting! Tong!

Pintu dibuka. Siwon muncul dari balik pintu dengan penampilan yang cukup berantakan. Sepertinya ia baru saja bangun tidur.

“Hai!” sapa Tiffany sambil menunjukkan senyum terbaiknya.

“Hai.” Siwon balas tersenyum.

“Kau sudah makan?”

Alih- alih menjawab pertanyaan Tiffany, Siwon malah menatap heran pada gadis itu.

“Emm—tadi aku membuat makanan cukup banyak. Kalau kau mau, kau bisa datang ke tempatku dan kita makan malam bersama. Mungkin masakanku tidak seenak buatan Yuri, tapi aku membuatnya de—“

Chu!

Siwon membungkam Tiffany dengan ciuman singkatnya.

“Kau terlalu banyak bicara,”ucapnya setelah melepas tautan mereka. Tiffany yang masih kaget hanya bisa diam dengan pipi yang memerah. Siwon malah tersenyum senang melihat perubahan raut muka Tiffany.

“Aku akan ke sana sepuluh menit lagi.” ucap Siwon lagi.

“B—baiklah. Kalau begitu aku akan—menunggumu di rumah. Bye.”

“Bye.”

Tiffany berbalik dan berjalan masuk ke apartemennya. Cepat- cepat Ia menutup pintu apartemennya. Lalu bersandar sambil memegangi wajahnya yang memanas karena ciuman singkat tadi. Lalu menarik nafas dalam- dalam. Mencoba menetralkan debaran jantunganya yang begitu cepat.

“Ya Tuhan, kenapa aku jadi begini?” gumamnya.

Lima belas menit kemudian, Siwon sudah berada di meja makan bersama Tiffany di apartemennya. Ia tampil casual dengan t-shirt putih lengan panjang dan celana jeans hitam. Wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya. Rambutnya yang agak basah disisir rapi seperti biasa dan dari tubuhnya tercium parfum beraroma maskulin. Tiffany yang memperhatikan Siwon sejak kedatangannya tadi diam- diam tersenyum. Ia merasa lega karena Siwon terlihat baik- baik saja sekarang. Walaupun ia tahu Siwon masih berduka, setidaknya Siwon berusaha untuk tidak berlama- lama larut dalam kesedihannya.

Dan yang paling membuat Tiffany senang adalah melihat Siwon yang begitu menikmati masakan yang dibuatnya. Malam itu Tiffany membuat Tom gha khai dan Pad kra pao, serta Mo geng sebagai makanan penutupnya. Sebelumnya Tiffany sempat khawatir Siwon tidak menyukai masakan khas Thailand yang dibuatnya karena mungkin saja lidah Siwon tidak terbiasa dengan masakan Asia yang banyak menggunakan rempah- rempah itu.

“Sepertinya kau mulai punya kebiasaan memperhatikanku, Miss Hwang.”

“Apa?” Tiffany terkejut dengan pernyataan Siwon yang tiba- tiba itu.

Siwon malah menyunggingkan senyumnya.

“Bukankah ini aneh?”ucapnya kemudian.

“Maksudmu?” Tiffany masih bingung dengan pertanyaan Siwon.

“Bukankah kau membenciku? Tapi kenapa, saat aku demam kau begitu mengkhawatirkanku. Saat aku bersedih atas kematian ibuku, kau datang menemaniku. Dan sekarang, kau mengundangku makan malam di rumahmu. Padahal sebelumnya kau menolak ajakanku. Apa artinya semua ini, Miss Hwang?”

Tiffany diam. Namun kemudian matanya menatap Siwon dan menjawab pertanyaan yang diajukannya dengan mantap.

“Pertanyaan yang sama juga berlaku untukmu, Mr Choi. Bukankah kau juga membenciku karena aku menamparmu? Kenapa beberapa hari setelah itu kau menawari aku sarapan? Dan saat aku diganggu berandalan, kau datang menolongku. Juga saat aku pingsan, kau begitu mengkhawatirkanku sampai kau mengancam petugas rumah sakit. Apa artinya semua itu?”

Siwon tidak menjawab. Mereka berdua diam saling menatap satu sama lain. Menanyakan pada hati masing- masing atas pertanyaan- pertanyaan yang baru saja terlontar dari keduanya.

“Aku tidak tahu. Aku belum pernah begitu peduli pada orang lain selain keluargaku. Selain Yoona dan Yuri, aku tak pernah dekat dengan wanita manapun.”

Siwon menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan,”Dan kau, entah kenapa kau berbeda. Kau bisa membuatku marah sekaligus khawatir pada waktu bersamaan. Aku bisa tersenyum sendiri saat memikirkanmu. Dan aku bisa merasa nyaman berada di dekatmu.” Siwon akhirnya mengucapkan apa yang dirasakannya.

“Tapi, bukankah sekarang terlalu dini kalau mengatakan itu sebagai cinta?” Lanjut Siwon kemudian.

Tiffany mengangguk membenarkan,“Ya. Aku juga berpikir seperti itu.”

Sebenarnya ada sedikit perasaan kecewa dalam hati Tiffany mendengar kalimat terakhir Siwon. Setelah semua yang terjadi di antara mereka, mungkinkah ia berharap Siwon benar- benar jatuh cinta padanya. Tiffany sendiri juga masih meraba perasaannya. Apakah itu cinta atau bukan. Seperti yang dikatakan Siwon, terlalu dini untuk mengatakan itu sebagai cinta. Lalu apa selanjutnya sekarang?

“Sebaiknya kita biarkan saja semua mengalir apa adanya. Aku tidak ingin hal ini mengganggu kita. Aku ingin kita menjadi tetangga yang berhubungan baik sebagaimana mestinya.” Jelas Siwon yang sepertinya bisa membaca pikirannya. Dan Tiffany mulai berpikir, tak ada yang bisa diharapkan dari pria di depannya.

“Aku setuju. Tetangga yang berhubungan baik.”

Persetujuan Tiffany sebenarnya adalah cibiran. Namun Siwon tak menyadarinya.

“Ya. Tetangga yang berhubungan baik.” Ulang Siwon. Ia pikir semua akan baik saja setelah ini.

***

“Yuri menitipkan ini untukmu.”

Tiffany menerima kartu undangan yang diberikan Siwon padanya. Kartu undangan perayaan anniversary pernikahan Kyuhyun dan Yuri.

“Thanks.”

Hanya itu yang diucapkan Tiffany. Padahal sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu setelah makan malam waktu itu. Dan sebenarnya Siwon merindukan gadis itu. Merindukan suaranya, merindukan bantahan- bantahan yang selalu ditunjukkannya setiap mereka bertemu, merindukan sikap keras kepalanya yang bisa membuatnya marah sekaligus khawatir.

“Terima kasih sudah mengantarkannya untukku.” ucap Tiffany lagi karena Siwon hanya diam sedari tadi.

“Emm,,, kau tidak punya acara sekarang?” akhirnya Siwon membuka mulutnya.

“Tidak. Lalu?”

“Aku juga tidak kemana- mana. Bagaimana kalau kita—“

“Apa?”

“Bermain scrabble mungkin?”

“Bermain scrabble?”

“Ya.”

Malam itu adalah akhir pekan. Siwon hanya ingin menghabiskan waktu bersama Tiffany. Ia tidak punya ide sama sekali untuk mengajak Tiffany ke suatu tempat. Tiba- tiba permainan scrabble keluar begitu saja dari mulutnya dan ia berharap kalau Tiffany menjawab ‘ya’.

“Kedengarannya tidak terlalu buruk. Aku juga sedang bosan.”

“Jadi, di rumahku atau di rumahmu?”

“Di rumahku saja.”

Setengah jam kemudian, di atas karpet bermotif kotak- kotak berwarna ungu, keduanya sudah berbaring tengkurap saling berhadapan. Dengan papan scrabble di depan mereka.

“Sepertinya kau akan kalah, Mr. Choi. Lihat tak ada jalan lain lagi.” Tiffany tersenyum puas karena dia hampir saja menang.

Sedangkan Siwon terlihat tak terancam sedikitpun.

“Kau pikir aku akan kalah begitu saja. Jangan harap.”

Dengan tenang dia mengambil huruf demi huruf lalu disusunnya ke papan scrabble.

“Tada!!!”serunya senang.

“S.A.R.A.N.G?” Tiffany berseru melihat kata yang dibentuk Siwon.

“Itu kan kosa kata Hangul, bukan bahasa Inggris,” protesnya.

“Yang penting bisa membentuk kata kan?”

“Tetap saja tidak bisa. Kau curang.”

“Aku tidak curang.”

“Curang!”

“Tidak!”

“Curang!”

“Sekali lagi kau biang aku curang, aku akan—“

“Apa?” Tiffany duduk dan menyilangkan tangannya di depan dada.

Siwon ikut duduk lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany.

“Kau pasti tahu apa yang ingin kulakukan—“bisik Siwon di depan wajah Tiffany. Sontak wajah Tiffany memerah. Tapi kemudian ia disadarkan dengan bunyi bel apartemennya.

Ting! Tong! Ting! Tong!

Tiffany pun mendorong tubuh Siwon ke belakang menjauh darinya.

“Jangan harap kau bisa melakukannya.” Ucapnya sengit sebelum meninggalkan Siwon dan berjalan menuju pintu apartemennya.

Siwon hanya bisa terpaku di tempatnya.

“Kalau saja bel sialan itu tidak menggganggu, kami pasti sudah berciuman.”keluhnya.

“Tapi, siapa yang datang malam- malam begini?”

Karena penasaran, Siwon bangkit dari tempatnya menuju pintu apartemen menyusul Tiffany.

“Nickhun?!!!” Seru Tiffany setelah membuka pintu dan mendapati seorang pria tampan berdiri di depannya.

“Hai, Silly.” Sapa pria itu sambil menyungginggkan senyum yang sangat manis.

“Kyaa!!! Ini benar- benar kau.” Ia pun langsung melompat memeluk pria itu.

“Hey, hentikan. Aku bisa mati karena sesak nafas.”protes pria bernama Nickhun itu setelah cukup lama Tiffany memeluknya dengan erat. Akhirnya Tiffany pun melepaskannya.

“Maaf, aku terlalu senang kau datang.”sesal Tiffany.

“Aku tahu.”Nickhun tersenyum lagi.

“Kau jahat sekali, kenapa baru sekarang datang menemuiku.”

“Belakangan ini aku sibuk. Kau tahu kan, pasien- pasien di sana sangat tergila- gila padaku sampai- sampai tidak membiarkan aku libur seharipun.”

“Wah, sepertinya sainganku bertambah banyak.”

“Ehem!!!” Deheman keras itu pun membuat Tiffany dan Nickhun melihat ke arah Siwon yang dari tadi menyaksikan keakraban keduanya. Terus terang ia merasa tidak suka dengan kedatangan Nickhun. Apalagi melihat sikap Tiffany padanya yang menunjukkan kalau pria itu sangat dekat dengannya.

“Oh ya, kenalkan, dia Choi Siwon—tetanggaku,” Tiffany memperkenalkan Siwon pada Nichkhun.

“Dan dia Nichkhun. Sahabatku sejak kecil.”

Siwon akhirnya bisa menyalami Nichkhun dengan tersenyum setelah Tiffany memperkenalkannya sebagai sahabat, bukan kekasih.

“Hai, aku Nichkhun Horvejkul. Senang bertemu denganmu Mr Choi.” Nichkhun pun menyalami Siwon. Masih dengan tersenyum.

Setelah mereka berkenalan, Tiffany menyuruh Nichkhun masuk ke dalam. Siwon pun mengikuti mereka berdua masuk ke ruang tamu yang bersebelahan dengan ruang keluarga. Tempat Tiffany dan Siwon bermain scrabble tadi.

“Kalian sedang bermain scrabble?” tanya Nichkhun saat pandangannya tertuju ke arah ruang keluarga.

“Ya. Tapi kami sudah selesai.” Jawab Tiffany cepat.

“Tapi kita kan be—“

“Bukankah tadi kau sudah mau pulang?” protes Siwon langsung dipotong Tiffany dengan pengusiran secara halus. Siwon mengerutkan kening. Tapi Tiffany langsung memberinya isyarat untuk pergi. Akhirnya Siwon pasrah. Tiffany sepertinya tidak ingin dia mengganggu pertemuannya dengan pria bernama Nichkhun itu.

“Baiklah kalau begitu aku pulang dulu. Senang bertemu denganmu Mr—“

“Panggil saja aku Nickhun.”

“Yah, Nickhun. Sampai jumpa. Bye, Tiff.”

“Bye.”

Tiffany langsung menutup pintu apartemennya setelah Siwon keluar.

“Kanapa dengannya? Pria itu hanya temannya kan? Lalu kenapa dia mengusirku?”

Siwon kesal. Ia tidak mengerti dengan sikap Tiffany yang tiba- tiba mengusirnya.

“Apa Tiffany menyukai pria itu—? Tidak mungkin. Tapi, bisa saja kan? Pria itu adalah temannya sejak kecil, berarti mereka sudah saling mengenal cukup lama. Dan wanita koservatif seperti Tiffany kemungkinan akan menyukai orang yang sudah lama dikenalnya. Apalagi pria bernama Nichkhun itu sangat manis dan baik sekali padanya.” Siwon mulai pusing dengan pikiran- pikirannya.

“Akhhh!!! Kenapa aku harus memikirkannya? Lebih baik aku mandi dan pergi tidur.”

Satu jam kemudian, Siwon memang sudah mandi. Tapi ia tidak pergi tidur seperti rencananya. Bukannya tidak mau, tapi ia tidak bisa. Memikirkan Tiffany bersama pria lain di dalam apartemennya, membuat Siwon tidak bisa memejamkan matanya. Ia lebih memilih berdiri di depan pintu apartemennya sambil mengawasi apartemen Tiffany. Sesekali ia melirik arlojinya.

“Apa yang mereka lakukan di dalam? Kenapa sudah selarut ini pria itu belum juga pulang?”

Setelah itu terdengar suara pintu dibuka dari dalam apartemen Tiffany. Siwon buru- buru masuk ke apartemennya dan menutup pintunya dengan menyisakan celah kecil untuk mengintip apartemen Tiffany.

“Hati- hati di jalan.” Ucap Tiffany pada Nickhun.

“Kau juga. Jaga dirimu.” Balas Nickhun sambil menyentuh puncak kepala Tiffany. Tiffany terlihat senang dengan perlakuan Nickhun. Sebaliknya, Siwon yang melihatnya merasa ingin sekali memukul Nickhun saat itu juga. Namun ia berusaha menahan emosinya. Tidak mungkin kan dia tiba- tiba keluar lalu memukul pria itu di depan Tiffany. Siwon masih memikirkan reputasinya. Tapi perlakuan manis yang ditunjukkan Nickhun benar- benar membuat dadanya sesak.

***

Ting!

Tiffany baru saja menekan tombol lift untuk turun ke lantai bawah. Ia berencana pergi jogging pagi itu.

“Wait!!!” Tiba- tiba pintu lift tidak jadi menutup karena seseorang menahannya. Tentu saja orang itu adalah Siwon. Ia buru- buru masuk ke dalam lift dan berdiri di sebelah Tiffany. Pintu lift pun menutup.

“Hai!” sapanya pada Tiffany. Tiffany mengangkat alisnya melihat penampilan Siwon. Pria itu memakai setelan olah raga juga seperti dirinya. Apakah dia akan pergi jogging? Setahu Tiffany, selama ia tinggal di apartemen itu, belum pernah ia melihat Siwon keluar di minggu pagi untuk jogging. Biasanya ia juga pergi bekerja di hari minggu.

“Hey, berhenti menatapku seperti itu terus.”

“Kau mau kemana?”

“Tentu saja pergi jogging. Kau tidak lihat penampilanku?”

“Aku tahu. Tapi, tumben sekali.”

“Biasanya aku hanya jogging menggunakan treadmill. Tapi, sekali- kali aku juga ingin menghirup udara luar. Apalagi pagi ini sangat cerah. Iya kan?”

“Eoh.”

Pintu lift pun terbuka. Tiffany berjalan keluar duluan. Siwon dengan sigap mengikutinya. Keduanya pun berlari beriringan meninggalkan apartemen.

“Seberapa dekat kau dengan pria semalam.” Tanya Siwon tiba- tiba di tengah perjalanan mereka.

“Namanya Nichkhun. Apa kau tidak bisa mengingat namanya?” protes Tiffany.

“Ok. Seberapa dekat kau dengan Nichkhun itu?”

“Kami sangat dekat. Bahkan bisa dibilang kami berteman sejak lahir.”

“Oh ya?”

“Ya. Karena kami bertetangga. Ibunya dan ibuku juga sangat akrab. Dan kau tahu siapa yang mengajariku memasak masakan Thailand tempo hari, dia adalah ibunya Nichkhun. Yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri.”

“Jadi kalian juga seperti saudara kan?” Kali ini Siwon sangat antusias.

“Tidak juga. Bahkan orang tua kami inginnya kami bisa menjadi sepasang kekasih dan menikah.”

“What?” Siwon tiba- tiba berhenti dan menatap Tiffany yang juga ikut berhenti.

“Lalu kau setuju?” kali ini dia tampak khawatir.

Tiffany hanya malah terkekeh mendengar pertanyaan Siwon.

“Memangnya apa pedulinya kau tentang masalah itu?”

“Tentu saja aku peduli karena kita—“

“Karena kita apa?”

“Karena kita adalah tetangga yang berhubungan baik.”

“Allright. Kau harus garis bawahi kata TETANGGA YANG BERHUBUNGAN BAIK itu. Karena kau hanya tetangga, maka kau tidak berhak mengintervensi masalah pribadiku. Ok?”

“Tapi, Tiff—“ ucapan Siwon menggantung karena Tiffany kini sudah berlari kembali meninggalkannya.

“Hey, tunggu!!!”

Siwon mengejar Tiffany yang masih berlari. Sampai di tepi Sungai Manhattan, Tiffany berhenti. Ia menatap Sungai itu sejenak lalu memejamkan mata sambil menghirup udara pagi lalu menghembuskannya lagi. Setelah itu ia membuka lagi matanya. Siwon sudah berdiri di sampingnya dan memperhatikannya dengan intens.

“Sepertinya kau mulai punya kebiasaan memperhatikanku, Mr Choi.”

Siwon terkekeh dengan ucapan Tiffany.

“Bukankah itu kalimatku?”

“Terserah.”

“Ok. Bagaimana kalau kita cari sarapan di sekitar sini? Kau lapar kan?”

“Maaf. Sepertinya aku tidak bisa. Aku sudah janji akan sarapan dengan seseorang.”

“Oh ya?”

“Hmm. Itu dia sudah datang.”

Siwon berbalik melihat ke arah yang ditunjuk Tiffany. Lalu ia melihat sosok Nichkhun yang berlari mendekat ke tempat mereka. Nichkhun lagi?

***

“Itu artinya Oppa cemburu.”

Siwon mengernyitkan dahinya. Menatap Yuri yang sedang mengatur persiapan pesta ulang tahun pernikahannya yang ke lima. Kali ini Kyuhyun memang membuat perayaan besar untuk ulang tahun pernikahannya sekaligus merayakan kehamilan Yoona. Mereka mengundang beberapa kerabat dan relasi bisnis yang mereka kenal di kota itu.

“Maksudmu aku cemburu pada pria bernama Nichkhun itu?”

Yuri menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap Siwon,”Ya, cemburu. Karena Oppa mencintai Tiffany.”

“Aku—mencintai Tiffany?”

“Oppa masih belum sadar?”

“Tapi, Yul—“

“Aku belum pernah melihat Oppa begitu peduli pada seorang gadis sebelumnya. Tiffany sangat istimewa kan? Oppa selalu bersemangat saat menceritakan tentangnya. Dan Oppa cemburu saat melihat pria lain dekat dengannya. Apa itu bukan namanya cinta?”

Siwon diam. Memikirkan kata- kata Yuri.

“Kau tidak mau Tiffany bersama pria lain kan?”

Siwon diam. Yang berarti kalau jawabannya ‘Ya’. Dia tidak mau Tiffany bersama Nichkhun atau pria manapun.

“Kalau begitu katakan padanya bahwa Oppa mencintainya.”

“Haruskah aku melakukannya?”

“Oppa mau kalau pria bernama Nichkun itu mendahuluimu? Apalagi orang tua mereka sudah memberikan lampu hijau.”

Komentar- komentar Yuri seperti memanasinya. Siwon jadi bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, mungkin ia memang mencintai Tiffany. Tapi di sisi lain, ia belum siap untuk berkomitmen dengan seorang wanita. Dan Tiffany juga belum tentu benar- benar mencintainya. Siwon tidak ingin terjebak pada cinta sesaat yang akan berakhir suatu hari nanti.

Di tempat lain,

“Kapan kau kembali lagi ke Rio?”

“Aku belum tahu. Masih banyak urusan yang harus kuselesaikan lagi di sini.”

“Oh. Berarti kau masih lama di sini kan?”

Nichkhun mengangguk. Yang langsung direspon oleh senyuman bahagia dari sahabatnya itu. Mereka sedang berada di ruangan kerja Nichkhun untuk makan siang bersama dengan bekal yang dibawa Tiffany.

“Oh ya, pria bermarga Choi itu, sepertinya dia tidak suka padaku.”

“Ya. Dia memang cemburu padamu.”

“Cemburu? Sebenarnya hubungan kalian sejauh apa?” tanya Nichkhun kemudian.

“Entahlah. Awalnya kami saling membenci karena selalu bertentangan dalam beberapa hal. Lalu beberapa peristiwa terjadi dan kami menjadi dekat. Saling mengkhawatirkan satu sama lain. Saat aku mulai berpikir mungkin cinta sedang berkembang di antara kami, dia lalu bilang padaku,’Ini terlalu cepat jika disebut cinta’. Dan kami sepakat, kami hanya akan menjadi TETANGGA YANG BERHUBUNGAN BAIK.” Jelas Tiffany panjang lebar.

“Kau mencintainya?” Kali ini Nichkhun menatap serius kepada Tiffany. Namun yang ditanya hanya diam.

“C’mon, Tiff. Aku bisa membaca isi kepalamu tanpa kau bicara sekalipun. Kau mencintai pria tetanggamu itu kan?”

“Aku memang tak bisa berbohong di depanmu.”

“Kalau begitu kenapa tidak terus terang padanya?”

“Kalau orang itu adalah kau, mungkin aku akan langsung bilang. Tapi, Choi Siwon—aku tidak tahu bagaimana isi hatinya. Dan—aku aku pasti akan terlihat seperti pecundang kalau aku menyatakan cintaku pada pria yang terlalu percaya diri dan sombong seperti dia. Aku tidak akan pernah melakukannya.”

“Jadi kau lebih memilih untuk menarik ulur perasaanmu?”

“Sementara ini tak ada yang bisa aku lakukan.”

“Sampai kapan?”

Tiffany mengangkat bahunya. Nichkhun hanya bisa menggeleng melihat sikap sahabatnya itu.

***

Di pesta anniversary Kyuhyun dan Yuri.

Siwon duduk di depan bar sambil meneguk minumannya. Tatapannya lurus menghadap Tiffany dan Nichkhun yang sedang berdansa. Bersama pasangan- pasangan lainnya. Termasuk Kyuhyun dan Yuri. Sedangkan YoonA dan Donghae sedang mengobrol dengan teman- teman mereka di salah satu meja. Perayaan itu diadakan di ballroom hotel yang cukup luas. Bagian utama digunakan sebagai lantai dansa. Di salah satu sudut ruangan merupakan stand makanan dan di sudut lainnya terdapat meja bar yang cukup besar dan di setiap sisi terdapat meja- meja untuk duduk- duduk dan menyantap makanan.

Siwon tidak menghitung sudah berapa gelas yang dihabiskannya. Ia benar- benar membutuhkan minuman- minuman itu untuk menenangkan hatinya yang sedang dibakar cemburu. Lagi- lagi ia harus menyaksikan kedekatan Tiffany dan Nichkhun di depan matanya.

“Sepertinya pesta ini hanya untuk para pasangan, iya kan?” Tiba- tiba seseorang duduk di sampingnya. Siwon pun menoleh dan mendapati Minho, asisten Kyuhyun di kantor, sedang memesan minuman kepada bartender.

“Kau juga sendirian?” tanya Siwon pada Minho.

Minho hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia meneguk minuman yang sudah diberikan bartender padanya.

“Bukankah mereka sangat beruntung, Hyeong?” Minho menunjuk ke lantai dansa. Tempat beberapa pasangan sedang menari dengan alunan musik lembut yang mengundang keintiman mereka.

Siwon mengangguk membenarkan. Sementara matanya masih mengunci Tiffany dalam pengawasannya.

“Mereka bisa bersama orang yang mereka cintai. Pasti itu sangat menyenangkan.”

Pernyataan melankolis Minho membuat Siwon beralih menatapnya.

“Apa kau sedang patah hati?” tanya Siwon spontan.

“Ha ha ha Hyeong bisa saja. Apa aku terlihat seperti itu?”

“Ya. Aku pikir begitu.”

Minho terkekeh lagi. Lalu keduanya meneguk minuman masing- masing. Saat itu, Siwon melihat Tiffany berjalan menjauh dari lantai dansa. Sendirian.

“Maaf, aku harus pergi dulu.” pamitnya pada Minho.

Siwon bergegas mengikuti arah langkah Tiffany. Sepertinya Tiffany menuju Toilet. Siwon terus mengikutinya. Sampai ditoilet wanita, Tiffany masuk ke dalam. Siwon menunggunya sampai ia keluar.

“Kau?” kaget Tiffany melihat Siwon bersandar di dinding dekat pintu toilet.

“Kita harus bicara.” Siwon menatap Tiffany. Berusaha menunjukkan kesungguhannya.

“Lain kali saja. Nichkhun sedang menungguku.” Tolak Tiffany. Lalu ia berjalan melewati Siwon, namun Siwon menghentikannya dengan menarik pergelangan tangannya. Tiffany pun berbalik dan menatap kesal padanya.

“Apa yang kau lakukan?”

Siwon bukannya menjawab ia malah menyudutkan Tiffany ke dinding dan menghimpitnya.

“Lepaskan aku! Kau mabuk.”

“Aku hanya ingin bicara padamu, please!”

Mereka bertatapan. Cukup lama. Berkomunikasi tanpa berkata- kata. Sebelum akhirnya Tiffany menjawab.

“Ok, tapi lepaskan aku dulu.”

Siwon pun mundur dan melepaskan pegangannya pada pergelangan Tiffany. Tiffany menggosok pergelangannya tangannya yang sakit.

“Maaf.”

“Tidak apa- apa. Sekarang bicaralah.”

“Tidak di sini. Ikutlah denganku.”

***

Sunyi. Hanya suara angin di luar yang terdengar sesekali berhembus dan menyisakan embun di kaca mobil Siwon. Pemandangan jembatan Manhattan yang gemerlap dengan cahaya lampu yang menghiasinya terpapar di hadapan mereka. Tepat di sebelah mobil, Sungai Manhattan yang terbentang luas tampak tenang, menambah keheningan saat itu. Sudah 30 menit sejak Siwon menghentikan mobilnya di tempat itu. Namun, tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

“Apa kita akan di sini sampai pagi?” Tiffany yang sudah tidak tahan pada situasi itu akhirnya membuka percakapan. Dan Siwon tetap diam dengan pandangan tetap lurus ke arah jembatan.

“Aku akan pulang dengan taksi kalau kau terus diam seperti ini.” ancam Tiffany. Ia pun memegang kenop pintu untuk keluar dari mobil, namun tangan Siwon menghentikannya dan membawa tangan Tiffany ke dadanya. Tepat di jantungnya.

“Apa kau bisa merasakannya?” tanya Siwon sambil menatap Tiffany intens.

Tiffany bisa merasakannya. Jantung Siwon yang berdetak dengan cepat.

“Kau tahu, aku selalu seperti ini saat dekat denganmu.” “Walaupun otakku berusaha menolaknya, tapi ini tidak mau berhenti.”

“Aku tidak mengerti dengan ucapanmu.”

“Baiklah. Aku mencintaimu!”

“Apa?”

“Dr. Tiffany Hwang, aku mencintaimu.”

“Kau—mencintaiku?”

“Ya. Bukankah aku mengatakannya dengan jelas?”

“Tapi—“

“Tolong jangan buat ini lebih sulit lagi. Katakan kau juga mencintaiku, please!”

Tiffany yang terpaku pada pengakuan Siwon yang tiba- tiba dan to the point itu tidak tahu harus berkata apa.

“Katakan kau juga mencintaiku, Tiffany.” Sekali lagi Siwon memintanya.

“Tidak bisakah kau memintanya dengan lebih lembut? Itu terdengar seperti sebuah perintah.” Keluh Tiffany.

Siwon terpaku. Menyadari kata- katanya memang terdengar sedikit memaksa.

“Maaf. Aku memang terbiasa seperti itu.”

“Aku tahu. Kau memang seperti itu. Sombong, terlalu percaya diri dan pemaksa. Tapi—entah kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang seperti itu.”

“Apa?” Siwon melebarkan matanya mendengar ucapan Tiffany.

“Aku juga mencintaimu, Choi Siwon.”

“Sungguh?”

Tiffany mengangguk.

Tatapan Siwon melembut.

“Terima kasih.” Ucapnya sama lembutnya. Lalu Siwon mencium punggung tangan Tiffany dengan lembut juga.

Tiffany tidak habis pikir seorang Choi Siwon bisa selembut itu. Apakah itu karenanya. Karena Siwon benar- benar mencintainya. Tiffany pun tersenyum saat memikirkan hal itu.

“Kau terlihat sangat cantik saat tersenyum.” Ujar Siwon yang langsung membuat pipi Tiffany memerah. Siwon gemas melihatnya. Tanpa aba- aba, direngkuhnya tengkuk Tiffany. Menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lembut dan penuh perasaan. Perasaan hangat yang bernama cinta. Ya, ini adalah cinta.

To be continued…

79 thoughts on “Sweet Story 3: This is Love

  1. Sooo sweet.. SiFany’a saling menerima kekurangan masing-masing.. Next part selanjutnya thorr, tapi harus ada konfliknya yaa thorr *maksa* i’ll wait your fanfic

  2. Ugh sifany bikin greget banget disini, dan author kenapa harus ada dia, pengen nangis rasanya, hahaha *lebaymoodon ~.~”
    Oke bagaimanapun itu ceritanya semakin seru apalagi sifany udah sama-sama menyatakan cintanya jadi malah makin gemesssssssss >.<
    Penasaran sama kelanjutannya, ditunggu yah author youngwonie yang baik hati, semangat-semangat ^^

  3. Wah akhirnya sifany menyatakan perasaan masing2 hohohoho sosweet binggow ceritanya semoga part 4 segera diluncurkan y min hehehee buat adminnya whaiting !!!! :*

  4. Baca nih ff sambil dgr lagu A-Pink -Mr. Chu *mantap
    Tuh kn sm2 ngerasain yg nm’a cinta
    Jd so sweet gtu kn
    iih.. greget dh
    cepetan min lanjutan’a
    haha.. maksa ya.

  5. gilee orang kalo udah cinta mah beda ya..awalnya berantem mlulu klo udah cinta jd romantisan melulu..wkwkwk cinta emang hebat..

  6. Siwon cemburu ama nichkun.tadinya kirain nichkun kekasih fany,ehhh……ternyata teman masa kecil.hore……akhirnya siwon menyatakan cintanya pada fany’ Dr.Tiffany Hwang aku mencintaimu’ ,diakhiri dengan kisseu.
    Senang banget nih thor,couple sifany telah jadian.
    Next thor.jjang thor.hwaiting.

  7. kdktn yg trs menerus mnumbuhkn benih cinta keduany. aplg wkt nikon muncul siwon cemburu tp blm sdr. n skrg dgn ykin siwon blg cinta am fany bhkn fany jg. aduh sweet bgt mrk…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s