Baby Baby Part 5

Baby Baby Baby Part 5

image

Author             : Kireynalice

Type                : Sequel

Genre              : Mariage Life, Romance

Rating              : 17

Main Cast        : Hwang Mi Young, Choi Siwon

Other Cast       : Kim Tae Yeon, Park Jung Soo, Jung Soo Yeon, Lee Dong Hae, Choi Soo Young,

Cho Kyuhyun

Disclaimer           : Karakter tokoh dalam cerita ini hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot

cerita. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun. Kesamaan ide cerita merupakan hal yang tidak disengaja. Alur dan penokohan murni hasil pemikiran saya.

April, my baby-baby

Author’s POV

Seharusnya langit malam di puncak musim semi ini bertaburkan bintang. Tapi malam ini Seoul diguyur hujan yang cukup lebat. Langit terlihat begitu kelam tak berbintang. Angin pun bertiup kencang membuat udara menjadi dingin. Mi Young berdiri menghadap ke arah taman dari depan jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka, memperhatikan hujan yang menetes membasahi bumi dan ranting pohon yang bergerak-gerak karena tertiup angin. Dia memperbaiki letak kimono tidurnya yang sedikit terbuka untuk menghangatkan tubuh. Bukannya dia tidak merasakan udara dingin yang menusuk tulang, tapi dia sedang berusaha menjernihkan pikirannya dengan mencari udara segar.

Siwon direncanakan akan pergi ke Jepang selama 1 minggu untuk meninjau lokasi pembangunan kantor cabang perusahaan yang baru. Ini bukan pertama kalinya Siwon meninggalkannya karena urusan pekerjaan. Lagipula dia tidak akan benar-benar sendiri. Ibu mertuanya tidak akan pernah mengizinkannya tinggal di apartemen sendirian. Dia pasti akan mengutus Soo Young untuk menjemputnya. Tapi entah kenapa dia merasa tidak rela melepas kepergian suaminya kali ini. Tak lama kemudian, Mi Young merasakan sebuah pelukan hangat yang melingkar di pinggangnya. Pelukan dari seorang pria yang sangat dicintainya.

“Kau sudah pulang, Oppa?” Tanya Mi Young pada Siwon yang kini mengecup puncak kepalanya.

“Ne. Aku baru saja tiba. Bogoshipo.” Bisiknya lembut.

Mi Young kemudian berbalik menghadap ke arah suaminya. Dia lalu melepas dasi yang masih terpasang di leher Siwon.

“Waegurae?” Tanya Siwon sambil menatap wajah Mi Young yang terlihat begitu murung. “Apa hasil tes kehamilannya masih belum berubah?”

“Ani. Aku tidak pernah melakukannya lagi, Oppa. Aku sudah pasrah. Aku akan menerima apapun ketentuan Tuhan untukku.”

“Kalau begitu kau kenapa?” Tanya Siwon lagi.

“Ghwenchana.” Ujar Mi Young lirih.

Setelah selesai melepas dasi, kemeja, dan atribut lain yang melekat di tubuh suaminya Mi Young membalikkan badan. Dia bermaksud untuk menyiapkan air mandi suaminya. Tapi Siwon menahan pundak Mi Young. Pria itu membalikkan tubuh Mi Young agar kembali menghadap ke arahnya. Mi Young tidak mengatakan apapun dan menundukkan kepalanya.

Baby, tatap aku.” Pinta Siwon. Namun Mi Young masih tetap menundukkan kepalanya.

Siwon kemudian meraih dagu Mi Young dan membuatnya mau tidak mau harus menatap suaminya. Saat pandangan mereka bertemu Siwon baru menyadari bahwa mata Mi Young tampak sembab. Bahkan sisa jalur aliran air mata masih terlihat jelas di pipinya. Siwon merangkul Mi Young dan membawanya untuk duduk di sisi tempat tidur. Sementara dia berjongkok di hadapan Mi Young dan menggenggam tangan istrinya.

“Kau tidak ingin aku pergi?” Tanya Siwon sambil menatap wajah Mi Young yang mulai meneteskan air mata.

Baby, jawab aku. Kau tidak ingin aku pergi? Hmmm?” Tanya Siwon sekali lagi.

Mi Young semakin terisak mendengar pertanyaan Siwon. Dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya dia tidak ingin Siwon pergi, tapi dia tahu betapa pentingnya tugas Siwon kali ini. Perusahaan membutuhkannya dan dia tidak boleh egois.

“Mi Young-a, jangan menangis, Chagi. Kalau kau tidak ingin aku pergi maka bisa tetap disini. Aku akan meminta Appa untuk menggantikanku.” Ujar Siwon lembut sambil menghapus air mata di wajah istrinya.

“A.. ni.. kau.. harus pergi, Oppa.” Ujar Mi Young tersedu.

Hening yang cukup panjang. Hanya desah napas, isak tangis Mi Young, dan bisikan kalimat penenang dari bibir Siwon yang terdengar. Mi Young melonggarkan pelukannya dari tubuh Siwon dan mendongak untuk menatap wajah suaminya. Wanita itu kemudian menangkup wajah Siwon agar mendekat ke wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.

“Jelas aku harus tetap di sini.” Gumam Siwon.

Mi Young menggeleng pelan. “Ani. Pertemuan itu sangat penting. Oppa harus pergi.” Meskipun mulutnya berkata begitu, tapi jari-jari tangan kanannya tetap meremas rambut Siwon sementara tangan kirinya merengkuh punggung pria itu erat. Kedua tangan Siwon terangkat untuk membelai wajahnya.

“Tapi bagaimana denganmu?” Tanya Siwon khawatir.

“Ghwenchana. Aku akan baik-baik saja. Lagipula.. aku tidak boleh terlalu serakah.” Ujarnya yang kini sudah tenang.

“Maksudmu?”

“Selama 12 jam dalam sehari, akhir pekan dan ditambah dengan hari libur nasional, waktumu adalah milikku. Jadi aku harus rela membagi 1 minggu ini untuk pekerjaan.” Jelas Mi Young.

Siwon tertawa terbahak kemudian memeluk istrinya lagi. “Selain waktu selama 12 jam dalam sehari yang kuhabiskan dikantor dan waktu tambahan untuk lembur, seluruh sisa waktu dalam hidupku hanya untukmu, baby.” Mi Young hanya mengangguk dalam pelukan Siwon.

*********

Mi Young kembali berbaring dan menutupi tubuhnya hingga sebatas bahu dengan selimut. Tapi baru beberapa menit, Mi Young merasa tidak enak badan. Kepalanya terasa sedikit pening dan perutnya seperti dipilin hingga menimbulkan gelombang yang tidak menyenangkan. Air mata yang berusaha dia tahan kembali mengalir dengan derasnya. Saat ini dia sedang sakit dan Siwon tidak ada di sisinya.

Mi Young beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Satu jam kemudian dia sudah cantik dan rapi. Ia keluar dari kamarnya menuju dapur dan membuat segelas teh hangat untuk dirinya. Dia terlalu banyak menahan rasa rindu sehingga tidak bernafsu untuk makan.

“Kenapa kau baru turun, Eonni? Aku sudah menunggumu untuk sarapan sejak tadi.” Protes Soo Young saat melihat Mi Young. “Dan.. omo! Coba lihat matamu! Apa yang kau lakukan? Apa malam ini Eonni tidak bisa tidur lagi?” Pekik Soo Young setelah dia mengamati wajah Mi Young dengan lingkaran hitam di bagian bawah matanya.

“Mian. Seharusnya kau makan duluan saja. Aku sedang tidak lapar.” Jawab Mi Young lesu.

Soo Young menghela napas panjang. Beberapa hari ini kakak iparnya itu sering melewatkan waktu makannya. Seperti sekarang ini, saat waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 namun dia belum juga menyentuh makan paginya.

Soo Young pun terpaksa menarik tangan Mi Young menuju meja makan dan menaruh sepiring bibimbap kesukaan kakak iparnya itu. Tapi bukan memakannya Mi Young malah terpaku menatap makanan yang justru membuatnya kehilangan selera itu. Mencium aromanya saja sudah membuatnya mual.

“Aku tidak mau makan itu, Youngie.” Gumamnya sembari menjauhkan bibimbap itu darinya.

“Lalu kau mau makan apa? Biar kuminta Ahjumma untuk menyiapkannya.” Tanya Soo Young.

“Aku tidak lapar.” Tolaknya.

“Eonni, kau belum memasukkan apapun ke dalam perutmu pagi ini. Bahkan kau hanya makan 3 suap saja saat makan malam kemarin.”

“Tapi aku benar-benar mual.”

“Bukan hanya Siwon Oppa yang akan memarahiku, tapi Imo juga. Samchon apalagi. Dia pasti akan menjewer telingaku sampai putus. Aku mohon makanlah meskipun sedikit.”

Mi Young menghembuskan napas panjang. Soo Young benar. Dia mungkin bisa mengelabui Siwon karena suaminya itu baru akan pulang besok, tapi tidak dengan ibu dan ayah mertuanya. Mereka sudah menitipkannya pada Soo Young karena harus pergi ke Busan untuk menghadiri undangan pernikahan putri dari rekan bisnisnya dan mereka tentu akan memarahi Soo Young karena tidak bisa menjaga kepercayaan mereka.

Soo Young hanya menopang dagu sambil memperhatikan Mi Young dengan heran. Kakak iparnya itu melihat makanan yang tersaji di depannya dengan setengah hati. Seakan-akan dia dipaksa untuk memakan semangkuk ikan salmon.

“Eonni, ghwenchanayo?”

“Ne, Youngie. Ghwenchana.” Jawab Mi Young lesu.

Akhirnya dengan pasrah Mi Young pun terpaksa memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Namun baru saja 1 suapan yang masuk ke tenggorokannya, perutnya terasa diaduk-aduk seperti ada yang memaksa untuk keluar.

Mi Young menutup mulutnya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang perutnya berusaha menahan rasa mual yang kembali menderanya. Tapi bukannya mereda rasa mual itu malah semakin menjadi-jadi. Dengan segera Mi Young beranjak dari tempat duduknya memburu wastafel yang berada di ujung dapur. Soo Young yang merasa khawatir segera menyusul. Ia melihat Mi Young masih mengeluarkan isi perutnya.

“Hoek.. Hoek..” Dia berusaha mengeluarkan sesuatu yang membuatnya mual seperti ini, tapi tidak ada benda apapun selain air liur yang keluar. Mulutnya terasa begitu pahit.

“Eonni? Waeguraeyo?” Wanita itu belum bisa menjawab. Soo Young menyibak helaian rambut yang turun mengenai wajah kakak iparnya sembari memijat pelan tengkuk Mi Young.

“Ghwenchanayo?” Tanya Soo Young lagi. Terselip nada cemas dalam suaranya.

“Eoh.” Jawab Mi Young sedikit terengah. “Hanya masuk angin.”

Setelah mulutnya bersih, Soo Young membantu Mi Young untuk duduk kembali ke kursi meja makan.

“Masuk angin?”

“Eoh.” Jawab Mi Young. “Mungkin karena beberapa hari belakangan ini makanku tidak teratur. Perutku justru menolak saat aku memasukkan makanan.”

“Sekarang bagaimana perasaanmu?” Tanya Soo Young yang duduk disampingnya.

Mi Young terdiam sejenak. Rasa mualnya sudah hilang, sama dengan kedatangannya yang juga tiba-tiba. Dia juga merasa sesehat biasanya.

“Ghwenchana. Sebenarnya kini aku malah merasa sedikit lapar.”

Soo Young mengambilkan segelas air putih hangat dan menggorengkan beberapa butir telur untuknya. Mi Young memakannya dengan lahap. Siapa saja yang melihatnya pasti tidak akan mengira kalau 1 jam yang lalu dia mengalami masalah dengan pencernaannya.

Setelah selesai dengan sarapannya, mereka berdua menonton DVD drama yang baru Soo Young beli kemarin. Drama itu mengisahkan mengenai seorang wanita yang tidak puas dengan apa yang telah diraihnya sehingga dia memutuskan untuk kembali ke masa lalu demi memperbaiki kehidupannya. Saat sedang asyik menonton, sama seperti tadi pagi rasa mual yang tajam kembali menusuk perut Mi Young. Wanita itu menghambur turun dari kursinya dengan tangan membekap mulut. Setelah memuntahkan kembali semua isi perutnya, Mi Young merasa lebih baik meskipun seluruh tubuhnya terasa lemas hingga Soo Young harus menopangnya.

“Eonni, bagaimana kalau kau berbaring di kamar saja? Wajahmu terlihat pucat.” Kata Soo Young. Mi Young hanya mengangguk pelan dan mengikuti Soo Young yang memapah tubuhnya perlahan menuju kamar. Dia juga membantu Mi Young untuk berbaring di tempat tidur dan menyelimutinya.

“Istirahatlah. Aku akan menghubungi Kim Uisa dulu.”

“Hmmm..” Gumam Mi Young pelan. “Youngie, jangan beritahu Siwon Oppa.”

Soo Young hanya berdecak pelan sebelum akhirnya menjawab, “Baiklah.”

Author’s POV End

*********

Soo Young’s POV

Dan sekarang di sinilah kami berada. Di sebuah ruang tunggu pemeriksaan yang di depan pintu masuknya bertuliskan ‘Poli Obstetri dan Ginekologi’. Kami tengah menunggu giliran Mi Young Eonni untuk diperiksa oleh dokter.

“Apa kau masih mual, Eonni?” Tanyaku padanya.

Mi Young Eonni menggeleng. “Obat yang diberikan Kim Uisa tadi membuatku merasa lebih nyaman, Youngie. Sekarang mualnya sudah hilang. Tapi, kenapa dia menyuruh kita kemari? Kalau hanya nyeri lambung saja kenapa tidak dia obati?”

“Aku juga tidak tahu. Dia hanya menyuruhku untuk membawamu kesini. Katanya dia sudah menghubungi teman dokternya. Jadi kita hanya tinggal menunggu saja.” Aku kemudian melihat pintu ruang pemeriksaan di depannya yang bertuliskan ‘dr. Cho’ itu.

“Aku akan mengajukan protes pada Kim Uisa begitu kembali ke rumah. Aku paling tidak suka dengan bau rumah sakit. Baunya seperti antibiotik yang kuminum saat terkena radang tenggorokan. Selain itu, apa rumah sakit ini tidak memiliki berlian tampan? Aku hanya melihat suster yang berjalan mondar-mandir sedari tadi.” Kataku sambil menoleh ke arah kanan dan kiri.

Mi Young Eonni terkekeh melihat tingkahku. “Kalau kau ingin mencari namja tampan, seharusnya kau mencarinya di acara fashion show, Youngie. Bukan di rumah sakit seperti ini. Tapi siapa tahu yang akan memeriksaku nanti adalah dokter yang tampan.”

“Mwo? Tampan? Jangan terlalu berharap, Eonni. Kim Uisa tadi bilang kalau dia sudah menghubungi temannya. Itu artinya mereka sebaya. Mana ada namja berusia 50 tahun yang tampan? Kalau pun ada, silahkan saja. Aku tidak berminat.”

“Choi Mi Young.” Suara seorang suster memanggil nama Mi Young Eonni dari ambang pintu pemeriksaan.

“Eonni, Kajja. Namamu sudah dipanggil.” Kataku sambil membantu Mi Young Eonni untuk berdiri.

“Youngie, sepertinya aku ingin ke kamar mandi. Bisakah kau menemui dokternya dulu? Kalau kita tidak segera masuk aku takut kita harus menunggu giliran lebih lama lagi.”

“Baiklah, Eonni. Jangan lama-lama, ne?”

“Eoh. Aku akan segera kembali.” Katanya sambil berlalu meninggalkanku sementara aku menuju ruang pemeriksaan.

“Selamat sore, Uisa-nim.” Kataku sambil melangkah masuk menuju kursi yang terletak di depan meja kerjanya.

“Ne, selamat sore. Silahkan duduk, Nyonya.” Jawabnya tanpa memandang ke arahku.

Dia menundukkan kepalanya membaca kertas status pasien yang diberikan oleh suster yang memanggil Mi Young Eonni tadi.

“Mwo? Nyonya? Dasar orang tua! Apa dia tidak bisa membedakan suara mana yang sudah menjadi Nyonya dan mana yang belum? Tapi.. memang ada bedanya ya? Hihihi..” Kataku dalam hati.

Dokter itu kemudian mengangkat wajahnya dan menatapku dengan senyumnya yang sangat manis. Sesaat aku terpukau padanya. Aku memang sering melihat pria yang berwajah tampan, tapi kali ini terasa begitu berbeda. Entah kenapa hatiku bergetar saat melihat wajahnya.

End of Soo Young’s POV

Kyuhyun’s POV

“Selamat sore, Uisa-nim.” Suara seorang wanita menyapaku.

“Ne, selamat sore. Silahkan duduk, Nyonya.” Jawabku tanpa melihatnya. Aku sedang sibuk membaca status pasienku. Aku kemudian mendongak dan menatap wajahnya.

DEG!

“Neomu yeppo…” Bisikku tanpa sadar. Wanita cantik itu tengah duduk tepat di depanku dengan mata bulatnya yang menatap diriku. Oh.. tidak! Dia adalah pasienmu. Bersikaplah professional Kyuhyun! Dengan segera aku tersadar dan mengenalkan diriku padanya.

“Perkenalkan, saya Cho Uisa.” Kataku sambil mengulurkan tangan.

“N.. ne? Ah… ne..” Jawabnya terbata sambil menerima uluran tanganku. Tangannya begitu halus. Omona.. Ya! Cho Kyuhyun sadarkan dirimu! Wanita ini sudah menikah!

“Kim Uisa sudah menghubungi saya tadi. Jadi, apa yang anda rasakan?” Tanyaku berusaha untuk terlihat tenang.

“Mual dan muntah.” Jawabnya.

“Ah.. begitu ya? Kapan terakhir anda mendapat menstruasi?”

“Ne?” Wanita itu terlihat bingung dan malu. Jadi, kuulangi lagi pertanyaanku.

“Ah.. Aku memang belum mendapat periode rutinku bulan ini.” Jawabnya.

“Apa anda pernah melakukan tes kehamilan?”

“Tes kehamilan? Untuk apa aku melakukannya?” Tanyanya dengan kening yang berkerut.

Aku tersenyum. Kenapa wanita ini polos sekali?

“Tentu untuk mengetahui apakah anda hamil atau tidak.” Jelasku.

“Bagaimana aku bisa hamil kalau menikah saja belum.” Jawabnya. Aku terdiam sejenak untuk mencerna perkataannya.

“Lalu untuk apa Kim Uisa mengirimkan anda kemari, Nyonya Choi Mi Young?” Tanyaku padanya.

“Ah.. jhwesonghamnida, Cho Uisa-nim. Sepertinya anda telah salah orang. Yang mau diperiksa itu bukan saya, tapi kakak ipar saya. Dia sedang ke toilet, jadi saya masuk duluan karena takut harus menunggu giliran lagi.” Jelasnya.

Seketika itu juga aku tidak dapat menahan tawaku. Tanpa sadar aku tertawa terbahak. Entah kenapa hatiku merasa senang sekaligus lega mendengarnya. “Jhwesonghamnida, Agassi. Saya kira anda Nyonya Choi.”

“Ghwenchanayo, Uisa-nim. Terkadang kesalah pahaman memang sering terjadi di dunia ini.” Jawabnya.

Bersamaan dengan itu terdengar suara pintu yang diketuk dari luar dan beberapa saat setelahnya seorang wanita cantik dengan rambut yang bergelombang masuk ke dalam.

“Jadi, apa kali ini aku sudah bisa melakukan pemeriksaan pada Nyonya Choi yang sebenarnya?”

“Ne, Uisa-nim. Silahkan.” Jawabnya dan kami pun tertawa bersama meninggalkan Nyonya Choi yang mengerutkan dahinya karena tak mengerti.

*********

Setelah mengajukan pertanyaan dasar, aku meminta Nyonya Choi untuk berbaring di meja pemeriksaan. Dari sudut mataku dapat kulihat jika Nona Choi menggenggam erat tangan kakak iparnya sambil sesekali mencuri pandang ke arahku. Aish.. kenapa aku menjadi salah tingkah begini?

Aku menemukan sesuatu yang menjadi penyebab mual dan muntahnya setelah memeriksa dan memastikan dengan seksama. Setelah selesai melakukan pemeriksaan, gadis itu membantu Nyonya Choi untuk duduk di kursinya kembali.

“Jadi, apa yang terjadi pada Eonni, Uisa-nim?” Nona Choi bertanya dengan cemas. “Apa saluran pencernaannya bermasalah?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Ne. Dan semakin lama perut Nyonya Choi akan semakin membesar.” Jawabku serius.

“Me.. membesar? Ke.. kenapa begitu?” Kali ini Nyonya Choi yang terlihat terkejut.

“Tentu saja harus begitu. Karena itu berarti janin anda tumbuh.”

Mata gadis cantik itu terbelalak. “Ne?! Ja.. janin? Maksud anda Mi Young Eonni hamil?” Teriaknya.

“Ne. Nyonya Choi positif hamil. Usia kandungannya sekitar 10 minggu.” Kataku sambil tersenyum. Adik dan kakak ipar itu saling bertatapan. Mata keduanya terlihat berkaca-kaca karena bahagia. Mungkin saat-saat seperti inilah yang paling mereka nantikan.

“Saya akan memberikan resep asam folat yang baik untuk pertumbuhan sel otak janin anda dan juga obat mual. Obat ini hanya membantu mengurangi rasa mual dan tidak menghilangkannya sepenuhnya. Sehingga semuanya bergantung pada kebiasaan anda. Anda tetap harus makan karena janin anda membutuhkan gizi yang cukup. Prinsipnya jangan pernah melewatkan waktu makan dan makanlah dalam porsi sedikit tapi sering. Selain itu saya harap anda juga tidak melakukan aktivitas yang bisa membuat anda kelelahan. Terutama di usia kehamilan yang masih rentan seperti sekarang ini. Posisi terbaik saat tidur adalah berbaring miring ke kiri agar suplai darah dari jantung anda berjalan lancar.” Jelasku panjang lebar. Nyonya itu mengganggukan kepalanya.

“Kalau saya boleh tahu, Tuan Choi tidak mengantar anda?” Tanyaku sekedar untuk berbasa-basi.

“Suamiku sedang mengurus pekerjaannya di Jepang, Uisa-nim. Jadi, adik iparku yang mengantarku kesini. Ah.. ne.. perkenalkan namanya Choi Soo Young.” Jawabnya. Sesaat pandanganku dan Nona Choi bertemu hingga akhirnya aku memalingkan wajahku kembali ke arah Nyonya Choi.

“Kalau begitu saya akan mencetak hasil USG anda. Agar anda bisa memberikan foto janin anda pada Appanya.”

“Ne, Uisa-nim. Kamsahamnida. Selain itu bolehkan saya meminta nomor telepon anda? Kalau saya membutuhkan bantuan, saya akan segera menghubungi anda.” Pintanya.

“Tentu saja, Nyonya. Ini kartu nama saya. Anda bisa menghubungi saya kapan saja.” Kataku sembari menyerahkan kartu namaku padanya. Yang kuberikan bukanlah nomor telepon rumah sakit, tetapi nomor ponsel pribadi dan juga alamat rumahku. Tentu saja aku harus memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan bukan?

Kyuhyun’s POV End

Soo Young’s POV

“Youngie..” Panggil Mi Young Eonni padaku.

“Ne, Eonni.”

“Dokter yang tadi itu tampan ya?”

DEG!

Entah kenapa pertanyaan Mi Young Eonni mampu membuat jantungku seakan berhenti berdetak.

“Youngie?” panggilnya lagi.

“Ne? Ah.. ne, Eonni.” Jawabku gugup.

“Setidaknya selama 1 bulan sekali aku akan melihatnya di rumah sakit ini. Ah.. senangnya.” Katanya dengan riang sementara aku hanya mengerucutkan bibirku.

“Aish.. kenapa kau menjadi genit seperti ini, Eonni?” Tanyaku ketus. Mi Young Eonni hanya tertawa mendengar komentarku.

“Ini. Ambillah.” Katanya seraya menyerahkan secarik kertas padaku.

“Apa ini?” Tanyaku yang hanya dia jawab dengan senyum yang menunjukkan eye smile-nya. Aku pun membaca tulisan yang tertera diatasnya. ‘dr. Cho Kyuhyun.’

“Eonni, bukankah ini kartu nama Cho Uisa? Kenapa kau memberikannya padaku?”

“Karena kurasa kau lebih membutuhkannya dibanding aku.”

“Ne?”

“Sudahlah. Tidak usah pura-pura terkejut seperti itu, Nona Choi. Aku sudah tahu apa yang ada dipikiranmu. Jadi, karena kartu nama itu ada padamu mulai sekarang kau yang bertugas untuk mengatur jadwal pemeriksaanku. Dan sebagai imbalannya kau akan mendapatkan kentungan lain.”

“Apa?”

“Mengatur janji.”

“Janji pemeriksaan?”

“Ani.”

“Lalu janji apa?”

“Janji untuk berkencan.”

“Eonni!” Pekikku menahan malu.

“Wae?”

“Gumawoyo.” Kataku sambil memeluknya.

End of Soo Young’s POV

*********

Author’s POV

“Chagi!! Apa benar yang Soo Young katakan?” Tanya Nyonya Choi saat masuk ke dalam kamar Mi Young. Setelah Soo Young menghubunginya, Tuan dan Nyonya Choi memutuskan untuk segera pulang.

“Ne, Eomma.” Jawab Mi Young sambil tersenyum.

“Ah.. Eomma benar-benar senang. Gumawo, Chagi.” Katanya sambil mengelus rambut Mi Young.

“Mi Young-a, gomawo, Chagi. Impian kami untuk menjadi halmonie dan halabeoji akan segera terwujud berkatmu.” Tambah Tuan Choi lalu memeluk Mi Young singkat.

Nyonya Choi mengelus perut Mi Young yang masih rata. “Kira-kira dia tampan atau cantik ya, Yeobo?” Tanya Nyonya Choi dengan senyum bahagianya.

“Apa saja yang penting bisa membuat kita semua bahagia.” kata Tuan Choi bijak.

“Yeoja saja, ne? Agar kita bisa memakai baju yang sama dengannya.” Ujar Soo Young.

“Kenapa kita? Yang akan memakai baju sama dengan cucuku tentu saja hanya ibunya.” Sanggah Nyonya Choi.

“Imo.. semua ini juga bisa terjadi karena ideku. Yang mempersiapkan tempat romantis itu kan aku. Kalau tidak mana mungkin mereka pulang dengan membawa oleh-oleh ini.” Kata Soo Young sambil menengadahkan kedua tangannya ke depan perut Mi Young.

“Aish.. baiklah! Agar adil, bagaimana kalau kita semua memakai gaun yang sama juga dengannya? Pasti lucu sekali. Kita bertiga ditambah Se Na Eonni dan juga Tae Yeon. Omo! Aku hampir lupa! Soo Yeon juga pasti ingin ikut. Kalau begitu aku harus segera meneleponnya dan memintanya merancang untuk kita.” Kata Nyonya Choi antusias.

“Kata siapa dia yeoja? Cucu pertamaku adalah namja.” Celetuk Tuan Choi asal.

“Yeobo!!! Samchon!!!” Teriak Soo Young dan Nyonya Choi bersamaan.

*********

Kyuhyun memasuki gedung rumah sakit dengan wajah yang berseri-seri. Beberapa karyawan yang mengenalinya membungkukkan badan mereka untuk memberi hormat padanya. Pria itu pun membalas bungkukan badan mereka dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya. Tidak sedikit karyawan wanita yang saling berbisik dengan rekannya sambil memandang kagum ke arah pria yang menjabat sebagai dokter ahli kandungan dari cabang Seoul Hospital tersebut. Wanita mana yang tidak akan terpesona pada sosok seorang Choi Kyuhyun.

“Calon direktur rumah sakit!” Teriak seseorang saat Kyuhyun hendak memasuki ruangan yang di pintunya bertuliskan “Direktur” itu.

“Annyeonghaseyo, Kim Uisa-nim.” Sapa Kyuhyun saat dirinya telah membalikan badan dan melihat dengan jelas siapa yang memanggilnya tadi.

Dokter Kim memukul bahu Kyuhyun cukup keras hingga membuat pria itu meringis kesakitan. “Panggilan macam apa itu? Mana ada keponakan yang memanggil pamannya seperti itu.”

Ya.. Kyuhyun adalah keponakan dari Dokter Kim. Ibunya adalah adik kandung dari dokter umum itu. Rumah sakit tempat Tuan Hwang dirawat, Tae Yeon melahirkan, sekaligus tempat pemeriksaan kehamilan Mi Young itu adalah salah satu cabang rumah sakit milik keluarganya. Pada awalnya Kyuhyun tidak memiliki keinginan untuk meneruskan bisnis turun temurun keluarganya. Namun atas desakan dari kedua orang tua dan juga pamannya, pria itu pun bersedia mengambil kuliah jurusan kedokteran.

Dan setelah Kyuhyun menyelesaikan pendidikan dokter spesialisnya di Inggris 6 bulan yang lalu, ia langsung diminta oleh orang tuanya untuk menggantikan dokter kandungan yang mendapat beasiswa ke luar negeri. Pria itu pun sedang dipersiapkan untuk menjadi direktur rumah sakit ini karena sang paman harus menangani cabang rumah sakit mereka yang berada di Busan sementara ayahnya sendiri di Beijing. Dengan mempercayakan jabatan direktur padanya, Tuan Cho berharap Kyuhyun dapat bekerja secara mandiri sehingga dia akan terbiasa saat suatu hari nanti memimpin perusahaan sebesar Seoul Health Corp. Dia juga selalu menanamkan sikap profesional pada putera tunggalnya. Itulah sebabnya sebelum Kyuhyun dinyatakan resmi menjabat sebagai direktur rumah sakit ini, dia tetaplah seorang dokter biasa dan harus mematuhi segala peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak rumah sakit.

“Kita sedang berada di rumah sakit. Bukankah kita harus bersikap profesional, Uisa-nim?” Sahut pria yang bernama lengkap Cho Kyuhyun tersebut.

“Ya! Cho Kyuhyun! Kau ingin kupecat ya? Itu kan syarat yang diajukan ayahmu. Aku tak pernah memintamu melakukannya.”

“Baiklah.. baiklah.. aku tidak akan melakukannya lagi. Samchon benar-benar tidak bisa diajak bercanda. Tapi, apa yang Samchon lakukan di sini?” Tanya Kyuhyun.

“Maksudmu aku harus mengurung diri di ruanganku?”

“Aniyo. Bukan itu maksudku. Aku baru saja akan menemui Samchon.”

“Waegurae? Ada masalah apa?”

“Aniyo. Aku hanya ingin menceritakan sesuatu. Antara Samchon dan keponakan, juga antara sesama namja.”

“Ah.. matta! Bagaimana dengan keadaan Nyonya Choi? Apa diagnosa sementaraku sama dengan hasil pemeriksaanmu?”

“Ne, Samchon. Nyonya muda itu sedang mengandung 10 minggu.”

“Syukurlah. Akhirnya kabar yang membahagiakan itu datang juga.” Kata Dokter Kim sambil tersenyum.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya perlahan. “Hmmm… kabar baik memang selalu datang bersamaan dengan hal yang baik pula.” Ujarnya membuat pamannya tak mengerti.

“Apa maksudmu?” Tanya Dokter Kim padanya.

“Samchon.. apa kau percaya adanya cinta pada pandangan pertama? Apa kau pernah mengalaminya?” Kyuhyun malah balik bertanya.

“Kau tahu kalau aku dijodohkan dengan Imo-mu. Tentu saja aku tidak pernah mengalaminya. Tapi aku percaya kalau love at the first sight itu ada.” Jelas Dokter Kim yang Kyuhyun tanggapi dengan anggukan kepala.

“Mwo? Apa jangan-jangan..” Dokter Kim terperangah mendengar penuturan Kyuhyun, matanya sedikit melotot dan mulutnya sedikit menganga. “Bagaimana bisa?” Tanyanya masih dengan tatapan tak percaya. Pasalnya keponakan tersayangnya itu baru kembali ke Seoul 6 bulan yang lalu dan selama ini dia tidak pernah bercerita mengenai apapun termasuk untuk urusan dengan para gadis. Tapi sekarang dia mengatakan kalau dirinya mengalami cinta pada pandangan pertama.

“Nugu? Siapa gadis itu?” Lanjutnya.

“Nyonya Choi itu..” Kyuhyun memulai penjelasannya.

“Maksudmu Choi Mi Young?” Tanya Dokter Kim yang terlihat semakin heran dengan jawaban Kyuhyun.

“Iya. Dia..”

“Ya!” Belum sempat Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya Dokter Kim sudah lebih dulu memukul lengan keponakannya. “Dia itu sudah menikah dan bahkan sedang mengandung. Kau tidak boleh menginginkannya. Sadarlah, Cho Kyuhyun!” Tambahnya.

“Aish.. Siapa yang bilang kalau aku jatuh cinta padanya? Samchon sudah memotong perkataanku sebelum aku menjelaskannya.” Protes Kyuhyun.

“Karena kau begitu aneh! Lalu apa hubungan antara gadis idamanmu dengan Mi Young-ssi?” Tanya Dokter Kim tak mengerti.

“Dia membawa serta seorang bidadari cantik.” Sahut Kyuhyun dengan pandangan yang menerawang.

Dokter Kim yang sama sekali belum dapat mencerna pernyataan Kyuhyun menuntut sebuah penjelasan. “Maksudmu apa, Kyuhyun-a?”

“Apa kau mengenal saudara iparnya?” Kyuhyun malah balik bertanya.

“Tentu. Yang yeoja atau namja?”

“Gadis manis dengan senyum indah yang bernama Choi Soo Young.”

*********

Siwon’s POV

“AKU PULANG!!!” Ingin rasanya meneriakkan kata-kata itu saat aku menginjakkan kaki di Incheon International Airport ini. Tapi tentu saja hal itu tidak benar-benar kulakukan. Bagaimana mungkin aku berteriak di tengah-tengah kerumunan orang banyak. Kecuali kalau aku ingin dicap sebagai ‘pengusaha stress’. Ah.. ingin rasanya cepat tiba di rumah. Aku sudah tidak sabar ingin memeluk dan mencium baby-ku. Perubahan apa yang terjadi padanya selama 1 minggu ini? Apalagi hari ini adalah ulang tahun pertama yang kulalui bersamanya.

Malam ini aku langsung pulang ke apartemen kami karena Mi Young sudah menunggu disana. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Biasanya ritual rutin kami setiap selesai bepergian dari luar negeri adalah menginap di rumah keluargaku atau keluarganya. Tergantung dimana dia menginap di malam terakhir menjelang kepulanganku. Apa dia sedang menyiapkan sesuatu? Kejutan apa yang disiapkannya untukku malam ini? Langerie hitam yang begitu menggoda atau paket berendam bersama di dalam bathtube? Ah.. membayangkannya saja sudah membuatku bahagia.

Sayangnya Park Ahjumma-lah yang membukakan pintu apartemen untukku. Padahal aku ingin bersikap sedikit romantis dengan memeluk dan menggendongnya masuk ke kamar kami. Terpaksa niat itu harus kubatalkan dan berjalan sendiri menuju kamar.

Siwon’s POV End

Author’s POV

Setelah selesai mandi, Siwon langsung duduk di sebelah Mi Young yang tengah bersender di kepala tempat tidur. Tetapi istrinya itu malah berada di sisi yang biasa ditempatinya.

“Kenapa kau duduk di tempatku, Chagi?” Mi Young tidak menjawab dan hanya tersenyum.

“Kalau seperti itu bagaimana kau bisa memelukku? Bukankah kau tidak suka kalau harus tidur dengan posisi miring ke sebelah kiri?”

“Hmm.. aku memang tidak suka. Tapi mulai sekarang mau tidak mau aku harus terbiasa.” Jawab Mi Young. Siwon mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa yang Mi Young maksud.

Mi Young tersenyum lalu mencium pipi suaminya. “Happy birthday, Oppa.”

“Aku kira kau melupakannya. Tidak ada seorang pun yang mengucapkannya padaku hari ini selain Nona Baek.” Protes Siwon.

“Mana mungkin aku melupakan hari penting suamiku?” Jawab Mi Young yang membuat Siwon tersenyum.

“Kalau begitu, mana hadiahku?” Tagihnya.

“Emm.. kalau aku memberimu hadiah, apa yang akan kau berikan padaku?” Tantang Mi Young sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kenapa aku juga harus memberimu hadiah? Yang berulang tahun di sini kan aku.”

“Ya sudah. Kalau begitu aku tidak akan memberikannya padamu.” Kata Mi Young sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Siwon.

“Bagaimana kalau aku membuatmu terpekik sambil mengucapkan ‘Oppa saranghae’ sebagai hadiahku untukmu?” Tawar Siwon sambil mengecup pipinya.

“Oppa!” Siwon terkekeh dan menghentikan aksinya.

“Baiklah. Apa yang kau mau?” Tanya Siwon lembut.

Mi Young langsung membalikkan badannya dan tersenyum manis.

“Aku ingin Oppa meluangkan waktu 1x dalam sebulan untuk menemaniku ke rumah sakit.”

Siwon langsung menegakkan tubuhnya. “Kau sakit, baby? Apa yang terjadi padamu selama aku pergi? Apa Soo Young tidak menjagamu dengan baik?” Tanya Siwon sambil memegang kening dan leher Mi Young untuk mengecek suhu tubuh istrinya.

“Hmm.. aku merasa pusing, mual, dan terkadang muntah. Rasanya benar-benar tidak nyaman.” Adu Mi Young.

“Lalu kenapa kau tidak memberitahuku? Aku pasti akan langsung pulang kalau tahu kau sedang sakit.”

“Aku justru tidak memberitahumu karena tahu kalau kau akan seperti itu. Aku tidak mau membuatmu khawatir. Lagipula Soo Young sempat memanggil Kim Uisa untuk memeriksaku di rumah.”

“Apa yang dikatakan olehnya? Kau sakit apa?”

“Dia menyuruhku untuk memeriksakan diri ke temannya yang lebih ahli. Jadi aku ditemani Soo Young pergi ke rumah sakit untuk menemui Cho Uisa.”

“Cho Uisa?” Tanya Siwon.

“Ne. Dia menjelaskan apa yang terjadi padaku. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikan secara total mual dan muntahnya. Tapi tidak apa-apa. Aku justru mulai menikmatinya.”

Siwon tampak bingung mendengar penjelasan Mi Young. Dia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari perkataan istrinya itu. ‘Menikmati mual dan muntahnya? Bukannya tadi dia mengatakan kalau itu sangat tidak nyaman?’ Batinnya.

“Lalu.. apa hubungannya dengan hadiahku?” Tanya Siwon.

Mi Young tersenyum. Dia meraih tangan Siwon kemudian meletakkannya di atas perutnya yang masih rata. Siwon mengerutkan keningnya. Dia belum juga mengerti.

“Oppa… hadiahmu ada di sini.” Ucap Mi Young lembut yang sukses membuat Siwon terpana.

Baby Choi.” Bisiknya lagi seraya menatap kedua bola mata Siwon dalam. Pria itu membulatkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh istrinya.

“Kau… hamil? Aku akan menjadi Daddy? Anak kita?”  Tanya Siwon sedikit berteriak.

“Ne, Oppa. Anak kita.” Jawab Mi Young.

Untuk sesaat Siwon terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dan reaksi apa yang harus dia tunjukkan untuk mengekspresikan perasaannya. Perasaan terkejut, bahagia, haru, dan rasa lain yang tidak bisa digambarkan semuanya telah bercampur jadi satu. Penantiannya bersama Mi Young yang cukup panjang kini sudah membuahkan hasil. Dia langsung memeluk erat tubuh istrinya dengan sayang.

Baby.. Gumawo. Selain dirimu, ini adalah hadiah terindah yang pernah kuterima seumur hidupku.” Bisik Siwon sambil membelai rambut Mi Young.

Pria itu kemudian melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangannya ke perut Mi Young. Dia mengelus perut istrinya dengan sayang dan menciumnya lembut.

“Annyeong Aegi, ini Daddy. Gumawo karena kau sudah hadir di dalam perut Mommy. Kau harus tumbuh dengan sehat di dalam sana, ne. Daddy dan Mommy pasti akan memberikan yang terbaik untukmu. Daddy berjanji akan selalu menjagamu dan Mommy. Love you..”

Mi Young tersenyum sambil membelai rambut suaminya. Semakin hari dia semakin mencintai pria ini. Pria yang menjadi suami dan juga ayah untuk bayinya. Tanpa sadar air mata Mi Young mulai mengalir. Mendengar isak tangis istrinya, Siwon menghentikan kegiatannya dan menatap wajah Mi Young. Wanita inilah yang mengisi seluruh ruang dalam hatinya, terbayang dalam ingatannya, hadir dipelupuk matanya, dan juga memberikan kebahagiaan padanya.

“Kenapa kau menangis, Chagi?”

“Aku menangis karena bahagia, Oppa. Bahagia memiliki suami yang sempurna seperti dirimu dan sekarang ditambah dengan calon bayi kita.” Siwon menghapus air mata Mi Young lalu memeluk tubuh istrinya itu.

“Aku juga merasakan hal yang sama, Chagi. Tuhan benar-benar menyayangi kita. Aku mencintaimu dan juga aegi kita. Saranghae..” Kata Siwon sembari mencium kening Mi Young.

“Nado.” Jawab Mi Young singkat. Mata Siwon terbelalak. Baru sekali ini istrinya mengucapkan kata-kata itu selama pernikahan mereka.

“Tadi kau bilang apa?”

“Tidak. Aku tidak mengatakan apa pun.” Kilah Mi Young.

“Aish.. tadi aku mendengarmu mengatakan sesuatu.”

“Lalu?”

“Katakan, baby. Oppa ingin mendengarnya lagi.”

“Tidak bisa! Aku hanya akan mengatakannya sekali saja.”

“Ayolah, Chagi. Katakan lagi, eoh? Sekali saja.”

Mi Young menarik napas panjang sebelum akhirnya mengatakan, “Nado. Nado saranghae, Oppa. Jheongmal saranghae.”

Siwon tersenyum mendengarnya lalu memeluk tubuh Mi Young lagi.

*********

Bayangan tubuh seorang pria tercetak dengan sempurna di cermin yang memiliki tinggi sejajar dengan tubuhnya. Di gantungan baju yang terletak tepat di sebelah kanan cermin itu terdapat pakaian yang akan dia gunakan untuk bekerja. Setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk pria itu meraih kemeja berlengan panjang berwarna putih dan memakainya disusul dengan celana hitam yang senada dengan jasnya. Namun pergerakan pria itu terhenti saat akan meraih dasi berwarna dasar merah marun dengan motif garis-garis berwarna putih.

“Mi Young-a..” Panggilnya sedikit berteriak. Namun setelah menunggu cukup lama seseorang yang dia panggil tidak juga menghampirinya.

“Chagi..” Panggilnya lagi. Tetap tidak ada jawaban.

“Jadi kau ingin menggodaku, eoh? Baiklah..” Gumamnya pelan. “Baby..” Kali ini suaranya terdengar lebih keras dibandingkan dengan 2 panggilan sebelumnya.

Seseorang yang kini sedang sibuk di dapur karena tengah berkutat dengan adonan tepung yang dicampur dengan telur dan juga susu itu terpaksa harus menghentikan kegiatannya. Bukannya dia tidak mendengar panggilan suaminya, tapi dia hanya ingin menggodanya.

Dengan cepat dia mencuci tangan, melepas celemek dan melangkah menuju ke kamarnya. Sesampainya di sana dia tidak langsung menghampiri suaminya, tapi hanya berdiri di depan pintu dengan tangan yang terlipat di depan dada.

Pria itu menoleh ke arah pintu dan tersenyum sembari menunjukkan dasinya.

“Hari ini kami tidak melayani jasa pemasangan dasi, Tuan. Silahkan ke toko sebelah.” Ujar wanita bermata indah itu.

“Ah.. benarkah? Tapi apa disana mereka menerima cara pembayaran hug and kiss juga?” Tanya pria itu dengan wajah polosnya. Mi Young tertawa kemudian menghampiri suaminya.

“Tidak ada toko yang mau menerimamu kalau kau membayar dengan cara seperti itu, Tuan Choi. Hanya aku yang bersedia.” Katanya sambil mengambil dasi dari tangan Siwon dan memasangkannya di leher suaminya.

Siwon terkekeh kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Mi Young. Matanya tak pernah lepas memandang wajah istrinya itu. Mata indah yang memesona, pipi yang merona, dan bibir yang menggoda membuatnya selalu enggan meninggalkan rumah untuk bekerja.

“Nah, sudah selesai, Oppa.” Kata Mi Young sambil merapikan bagian dada suaminya dan tersenyum puas atas hasil pekerjaannya.

“Oppa, dasimu sudah terpasang.” Katanya lagi karena suaminya itu tidak melepaskan pelukannya juga. Siwon tidak bergeming. Dia malah mengendus-ngendus sesuatu dengan hidungnya.

“Kita sarapan apa pagi ini, Chagi? Apa kau membuat sesuatu dengan vanilla?” Tanyanya sambil menatap wajah istrinya.

“Ani. Aku membuat waffle dan ekspresso untukmu.”

“Jinjja? Aneh.. kalau begitu dari mana aroma vanilla ini berasal?” Tanyanya.

Mi Young tampak berpikir mengingat-ingat bahan apa saja yang dia gunakan untuk membuat makanan kesukaan suaminya itu karena seingatnya dia tidak pernah menggunakan vanilla. Sementara Siwon mulai mengendus lagi. Dimulai dari bagian lengan kanan dan kirinya, rambut di puncak kepala istrinya, baju istrinya, hingga tanpa Mi Young sadari pria itu mengeluarkan senyuman dan mencium bibirnya.

“Rupanya aroma vanilla itu berasal dari sini, baby. Rasanya selalu manis melebihi madu.” Kata Siwon membuat pipi Mi Young merona.

“Tokonya benar-benar akan tutup kalau kau mencium pelayan mereka serakus itu, Oppa.” Ujar Mi Young membuat Siwon terkekeh pelan.

Pria itu lalu berlutut di depan Mi Young dan mengelus perutnya lembut. “Apa kabar jagoan Daddy? Apa semalam tidurmu nyenyak?”

“….” Tentu saja tidak ada jawaban. Tapi Siwon tetap mengajaknya bicara meskipun pembicaraan itu lebih seperti monolog.

“Ah.. begitu ya? Daddy juga. Kau tahu, Daddy sangat iri padamu. Kau bisa menghabiskan sepanjang hari bersama Mommy. Sementara Daddy harus terus bermain dengan tikus yang ada di meja.” Mi Young terkekeh mendengar penjelasan yang Siwon berikan pada bayi mereka. Dia mengusap pelan rambut suaminya. Rupanya seperti ini rasanya saat suamimu mengelus perutmu pelan dan berbicara pada bayinya. Benar-benar mengharukan sekaligus menyenangkan.

“Jadi, jangan sering-sering mengganggu Mommy di malam hari, ne? Karena itu giliran Daddy.” Lanjutnya lagi yang kali ini membuat Mi Young harus menghentikan usapan sayang dan menggantinya dengan jeweran di kuping Siwon.

“Jangan mulai lagi, Oppa. Lagipula kenapa kau begitu yakin kalau bayimu adalah laki-laki?” Siwon tersenyum kemudian berdiri dan berbisik di telinga Mi Young.

“Karena aku pria yang agresif.” Mi Young mencubit kulit perut Siwon hingga suaminya itu meringis. Namun sesaat kemudian keduanya tertawa bersama.

“Oppa, jangan lupa kosongkan jadwalmu pekan depan. Sudah waktunya kita memeriksakan kehamilanku. Aku akan meminta Soo Young untuk mengatur jadwalnya.”

“Ne, istriku sayang. Tapi kenapa kita tidak membuat janji sendiri?”

“Tentu saja karena ada maksud tertentu di balik semua itu. Oppa tahu, dokter itu tampan dan sepertinya dia masih lajang.” Jawab Mi Young memberikan petunjuk.

Siwon terkekeh mendengarnya. “Jadi kita akan memanfaatkan kehamilanmu sebagai ajang mencari jodoh? Baiklah. Aku mendukungmu. Aku akan meminta Nona Baek untuk mengatur ulang semua jadwalku. I’m free next week.

“Awas saja kalau kau telat menjemputku lagi seperti minggu lalu saat Yoona mengundang kita ke pestanya.” Ancamnya “Waktu itu aku sampai berjamur menunggumu.”

“Ne, Nyonya Choi. Kenapa semenjak hamil baby-ku menjadi cerewet sekali? Seharusnya waktu itu aku datang lebih lama lagi. Mungkin kau akan lebih cantik kalau benar-benar berubah menjadi jamur.” Goda Siwon yang mendapat balasan wajah cemberut dari Mi Young.

“Kenapa aku semakin malas pergi ke kantor saat melihat wajah cemberutmu ini?” Godanya lagi membuat Mi Young tertawa.

“Aku lapar. Sepertinya sekarang sudah waktunya bagiku mendapat sarapan yang sebenarnya, Mr. Skinship.” Kata Mi Young.

End of Author’s POV

*********

Soo Young’s POV

Aku mengetuk-ngetuk meja makan dengan ujung jariku. Berkali-kali kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11.55 itu. Aish.. apa jam itu mati? Kenapa dari tadi hanya bertambah 5 menit saja? Pandanganku kemudian tertuju pada kartu nama yang sudah sejak 30 menit ini berada di tanganku. Minggu ini adalah waktu untuk memeriksakan kehamilan Mi Young Eonni. Sesuai dengan kesepakatan kami sebelumnya, akulah yang bertugas untuk membuat janji. Entah sudah untuk yang keberapa kalinya aku membaca tulisan “CHO KYUHYUN” yang tertera di atas kertas berwarna dasar kuning gading itu. Nama yang bagus. Sesuai dengan wajahnya yang tampan. Apakah dia sudah memiliki kekasih? Andai saja aku yang mendapat kesempatan untuk menjadi penguasa hatinya. Ya! Apa yang kau pikirkan Choi Soo Young?!

Alarm ponsel yang kuatur sebagai pengingat menyadarkanku dari dunia lamunan. Sudah jam 12 tepat rupanya. Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu datang juga. Kuraih ponselku dan mulai menekan nomor yang sesuai dengan deretan angka yang tercetak di kartu nama itu. aku menarik napas panjang sebelum menekan tombol hijaunya. Dan saat terdengar nada tunggu jantungku semakin berdebar kencang.

“Yeoboseyo..” Sapa seseorang di seberang sana.

Aku tidak langsung menjawab. Rasanya lidah ini begitu kelu. Entah kenapa jantung ini begitu berdebar saat mendengar suara itu. Suara pria yang berhasil membuatku terpukau pada pertemuan pertama kami.

“Yeoboseyo..” Sapanya lagi.

Aku masih diam. Aduh.. apa yang harus kukatakan? Kenapa otakku mendadak jadi kosong begini?

“Maaf, saya sedang sibuk. Kalau anda tidak memiliki kepentingan, saya akan..”

“Chakkammanyo!” Seruku. Aku tidak boleh membiarkannya memutuskan sambungan telepon bahkan sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun. “Jhwesonghamnida, Cho Uisa-nim. Saya ingin membuat janji untuk pemeriksaan.”

“Ah.. mianheyo. Saya kira ada yang menjahili saya tadi. Baiklah. Untuk Nyonya Choi Mi Young?” Tanyanya.

Mwo? Bagaimana dia bisa tahu?

“Ne.” Jawabku singkat.

“Apa saya bicara dengan Nona Choi?” Lanjutnya.

Heol! Kenapa dia bisa menebak dengan benar lagi?

“Ne. Ini saya Uisa-nim. Tapi bagaimana anda bisa mengenali kami?” Tanyaku heran. Kurasa Cho Uisa memiliki pasien yang cukup banyak. Tidak mungkin rasanya kalau dia mengenali kami satu persatu.

“Tentu saja aku tahu. Karena kakakmu adalah orang pertama yang membuat janji pemeriksaan denganku melalui nomor ini. Biasanya pasienku yang lain akan langsung menghubungi pihak rumah sakit.” Jelasnya.

“Ne? Ah.. jhwesonghamnida Uisa-nim. Aku tidak tahu. Aku hanya menghubungi nomor telepon di kartu nama yang anda berikan pada kakak iparku.” Jawabku sembari membolak-balikkan kartu namanya.

“Benarkah? Sepertinya aku telah keliru dengan memberikan kartu nama yang salah padanya. Yang ada di tanganmu sekarang adalah nomor pribadiku.”

Omo! Bagaimana dia bisa tahu kalau aku memang sedang memegang benda itu? Kulihat ponselku untuk memastikan bahwa kami tidak menggunakan layanan skype. Ck.. Tentu saja tidak Youngie babo! Bukankah kau yang menghubunginya?!

“Jhwesonghamnida. Saya kira pasien akan menghubungi anda secara langsung untuk membuat janji. Kalau begitu bisakah anda memberikan nomor telepon rumah sakit? Saya akan menghubungi resepsionisnya sehingga tidak harus mengganggu anda.” Pintaku. Bagaimana pun juga aku merasa tidak enak karena telah mengganggu waktunya.

“Aniyo. Tidak perlu. Biar aku yang mengatakannya pada susterku nanti. Anda tidak perlu menghubungi rumah sakit dan dapat tetap menghubungi nomor ini.”

“Apa tidak akan merepotkan anda Uisa-nim?”

“Ghwenchanayo. Saya justru merasa senang karena bisa membantu.”

“Kalau begitu, kapan Mi Young Eonni bisa bertemu dengan anda?”

“Emm.. bagaimana kalau hari Kamis pekan depan? Kebetulan saya tidak terlalu sibuk hari itu.”

“Ne. Nanti akan saya sampaikan padanya. Kamsahamnida, Uisa-nim.”

“Cheonmaneyo.”

Klik..

Pembicaraan kami berakhir sampai disitu. Omona… Ada apa dengan jantungku? Kenapa semakin hari kerjanya menjadi semakin abnormal? Kenapa juga dengan perutku? Rasanya ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam sana hingga menimbulkan rasa geli. Tuhanku.. Rasanya benar-benar aneh!

End of Soo Young’s POV

Author’s POV

Sekali lagi Soo Young mematut penampilannya di depan cermin. Kalau dihitung-hitung entah sudah berapa kali dia berganti penampilan dari 1 pakaian ke pakaian yang lain. Sebenarnya pakaian apapun yang dia kenakan akan tetap membuatnya terlihat cantik. Tapi dia ingin tampil sesempurna mungkin hari ini. Atas permintaan Nyonya Choi, Soo Yeon mendaftarkan Soo Young untuk mengikuti kencan buta. Bibinya itu khawatir kalau gadis itu hanya tertarik pada makanan dan tidak berminat untuk menikah.

Acara siang ini berlangsung di sebuah cafe di daerah sekitar Sungai Han. Soo Young akan pergi bersama dengan temannya karena Han Ahjussi sedang sakit sehingga tidak bisa mengantarnya. Saat melihat billboard di pintu masuk jalan bebas hambatan yang menampilkan iklan dari Seoul Hospital, Soo Young tiba-tiba memegang dadanya. Entah kenapa muncul suatu debaran yang aneh di hatinya. Pertemuan pertamanya dengan dokter tampan itu sukses membuat jantungnya berdegup kencang dan berdebar tak menentu. Sebenarnya dia sedikit berharap dapat bertemu kembali dengan pria yang berhasil mencuri perhatiannya itu.

Peserta yang lain sudah duduk bersama dengan pasangannya masing-masing saat Soo Young tiba. Rupanya mereka datang sedikit terlambat. Tidak ada lagi tempat yang dapat Soo Young pilih untuk duduk karena yang tersisa hanya kursi di sudut ruangan yang sudah diduduki oleh seorang pria. Mau tidak mau dia harus ‘berkencan’ dengan pria itu.

“Annyeonghaseyo..” Sapa Soo Young pada pria dihadapannya.

Pria yang sedari tadi menunduk itu mengangkat wajahnya perlahan. Seketika itu juga matanya terbelalak.

“Nona Choi?” Panggilnya saat melihat Soo Young.

Soo Young mengerutkan kening. Bagaimana pria ini bisa mengenalnya? Bukankah mereka baru bertemu hari ini? Soo Young mengamati wajahnya dengan seksama. Pria dihadapannya ini memakai kemeja lengan panjang yang dikancingkan hingga leher. Kumis dan jenggot yang menghiasi wajahnya menambah kesan tua. Belum lagi kacamata tebal yang dikenakannya, membuatnya semakin terlihat seperti kutu buku. Tidak salah lagi, mereka pasti belum pernah bertemu.

“Apa yang kau pikirkan, Nona?” Tanya pria itu. “Apa karena aku semakin tampan?”

Soo Young terhenyak. Bukankah itu suara..

“CHO UISA?” Pekik Soo Young.

*********

Kyuhyun mengemudikan mobilnya dengan hati yang berdebar. Rasa tegangnya bahkan melebihi saat dia mengikuti ujian mengemudi. Bagimana tidak, di samping kursi kemudinya Soo Young sedang terduduk dengan anggunnya.

“Emm.. mianheyo, Nona Choi. Dimana tempat tinggalmu?” Tanya Kyuhyun untuk memecah kesunyian.

Soo Young terkekeh pelan. Pria itu dengan percaya dirinya mengatakan akan mengantarkannya pulang saat di café tadi. Tapi kenyataannya dia belum tahu dimana Soo Young tinggal.

“Kenapa anda menertawakanku? Apa aku mengajukan pertanyaan yang salah?” Tanya Kyuhyun salah tingkah. Kyuhyun hanya memperhatikan Soo Young yang semakin terbahak hingga akhirnya dia menyadari kesalahannya.

“Ah.. aku hanya tahu alamat Nyonya Choi. Seharusnya aku meminta suster untuk menulis alamat keluarganya juga.” Canda Kyuhyun.

“Anda bisa mengantarku ke Gangnam-dong.” Jawab Soo Young singkat.

“Jinjja? Tempat yang terkenal karena dance gangnam style yang booming itu?” Tanya Kyuhyun dengan nada sumringahnya.

“Ne. Itu benar.” Jawab Soo Young lagi. “Apa Anda benar-benar mengenal tempat tinggalku karena lagu itu?” Jawab Soo Young lagi dengan nada bergurau. Kyuhyun hanya tertawa.

“Kalau boleh, akan lebih nyaman rasanya kalau anda memanggil namaku saja.” Kata Kyuhyun.

“Jinjja? Baiklah. Kalau begitu aku akan memanggil anda Kyuhyun-ssi. Tapi anda juga harus memanggilku Soo Young atau Youngie saja.”

Setelah itu suasana pun menjadi lebih hangat dengan perbincangan antara mereka berdua.

“Ah.. matta. Bagaimana keadaan Nyonya Choi?”

“Sudah membaik, Kyuhyun-ssi. Sepertinya obat yang anda berikan cukup membantu. Bagaimana dengan anda sendiri? Sepertinya kesibukan Anda semakin bertambah.”

“Masih sama seperti sebelumnya. Tetap dipenuhi Ahjumma dan Ahjussi.”

“Maksudmu?”

“Kebanyakan pasienku diantar oleh suaminya.” Jelasnya lagi, membuat Soo Young tertawa.

Saat itulah Kyuhyun semakin terpesona padanya. Gadis dihadapannya ini begitu ceria, sesuai untuk dijadikan sebagai pendamping bagi hidupnya yang membosankan.

Tanpa terasa mobil Kyuhyun telah tiba dihalaman rumah keluarga Choi.

“Terima kasih karena sudah mengantarku pulang, Kyuhyun-ssi.” Kata Soo Young sembari membungkukkan kepalanya.

“Ne, cheonmaneyo. Tidak usah merasa sungkan begitu.”

“Kalau begitu aku permisi dulu.” Pamit Soo Young. Saat Soo Young bersiap membuka pintu Kyuhyun menahannya.

“Chakkamman.” Kata Kyuhyun. Pria itu keluar dari mobil kemudian berjalan memutar arah untuk membuka pintu Soo Young.

Soo Young tersipu dengan sikap Kyuhyun padanya. Selama ini tidak ada pria yang membukakan pintu untuknya kecuali paman, kakak sepupu, dan juga supir keluarganya. Dia merasa diperlakukan seperti seorang putri.

“Kamsahamnida, Kyuhyun-ssi.” Ujar Soo Young dengan tersipu.

“Ne. Masuklah. Aku akan pulang setelah kau masuk.”

Soo Young tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya membungkukkan kepala sebelum berlalu meninggalkan Kyuhyun.

*********

Soo Young berjalan memasuki rumah dengan hati yang berbunga hingga tak lama kemudian ia mendengar teriakan seorang wanita yang memanggil namanya. Gadis itu memutar kepala untuk menoleh ke arah samping dan melihat kakak iparnya yang tengah membawa piring berisi cheese roll.

“Eonni.. kapan kau datang? Kenapa tidak memberitahuku? Aku kan bisa menjemputmu.” Kata Soo Young.

“Ghwenchana. Aku diantar oleh Go Ahjussi tadi.” Jawab Mi Young. Wanita itu kemudian menatap Soo Young sambil memicingkan sebelah matanya.

“Eonni.. kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Soo Young karena risih.

“Ya! Nona Choi. Siapa namja yang mengantarmu pulang?”

“A.. aniyo, Eonni. Namja siapa?” Tanya Soo Young gugup.

“Aish.. jelas-jelas aku melihatnya tadi.” Kata Mi Young.

Soo Young membulatkan matanya. “A.. Aku dan Kyuhyun-ssi tidak memiliki hubungan apapun, Eonni. Sungguh!”

“Kyuhyun-ssi? Kalau kau memang tidak memiliki hubungan apapun dengannya kenapa kau memanggil namanya langsung? Bukankah kita biasa memanggilnya Cho Uisa?”

Soo Young menggigit bibir bawahnya. “Kami tidak sengaja bertemu di acara kencan buta itu, Eonni. Dan karena aku tidak membawa mobil jadi dia mengantarku pulang.” Jelas Soo Young.

“Begitu ya? Tapi menurutku kalian itu pasangan yang serasi. Youngie-ya, apa kau tidak tertarik padanya?”

DEG!

Soo Young merasa tertangkap basah. Jantungnya berdebar kencang. “Ap.. apa yang kau katakan Eonni. Mana mungkin aku menyukai pria yang baru kukenal.”

“Apa kau tidak tahu dengan istilah love at the first sight? Kau bisa menanyakannya pada Siwon Oppa.” Mi Young terus menggoda Soo Young. Seketika itu juga pipi Soo Young memerah.

“Aigo.. wajahmu memerah, Youngie. Betul kan kau tertarik padanya?”

“Aish.. molla!” Teriak Soo Young sambil berlalu meninggalkan Mi Young.

Mi Young terus tertawa dan berusaha mengejar Soo Young. “Hahaha.. aku kan hanya bercanda. Kenapa kau jadi malu begitu? Lagipula apa kau tidak mau cheese roll-nya?” Sahut Mi Young.

“Shireo!!” Teriak Soo Young dari dalam kamarnya.

Mi Young tertawa terbahak-bahak melihat reaksi adik iparnya. Dia kemudian mengelus pelan perutnya dan berbicara pada bayinya. “Young Imo selalu mempunyai banyak cara untuk membuat Mommy dan Daddy merasa malu. Akhirnya sekarang Mommy menemukan cara untuk membalas dendam. Kalau rencana Mommy berhasil, kita juga bisa mendapat pemeriksaan gratis, baby.”

“Eoh? Sepertinya tadi Eomma mendengar suara Soo Young.” Nyonya Choi menghampiri Mi Young dari arah dapur sembari membawa nampan berisi teh.

“Ne. Dia baru saja datang.” Jawab Mi Young.

“Lalu kemana dia sekarang?” Tanya Nyonya Choi lagi.

“Ke kamarnya. Mungkin dia sedang berganti pakaian, Eomma.”

“Aneh. Biasanya dia akan langsung mencuci tangan saat melihat makanan.”

Mi Young hanya tersenyum. Dia lalu menuangkan teh dan memberikannya pada mertuanya.

“Eomma, bagaimana dengan menantu seorang dokter?” Tanya Mi Young sambil sedikit berbisik.

“Menantu? Untuk siapa?” Nyonya Choi balik bertanya dengan berbisik.

“Soo Young.”

“MWO?!” Nyonya Choi yang terkejut tanpa sengaja berteriak. Namun dia segera mengecilkan suaranya setelah sadar. “Soo Young? Memangnya dia sudah punya namjachingu?” Kali ini suaranya terdengar berbisik.

“Belum. Tapi sepertinya dia sedang dekat dengan seseorang.”

“Jinjja? Nugu?”

“Cho Uisa, dokter kandunganku.”

“Omo! Jinjja?!”

“Ne. Namja itu bahkan mengantar Soo Young pulang.”

“Ah.. Youngie.. aku kira dia hanya akan menyukai makanan saja. Tapi ternyata.. kalau begitu kita harus mendekatkan mereka. Tapi, bagaimana caranya mempertemukan mereka?”

Mi Young tersenyum. “Jangan khawatir, Eomma. Aku akan mencari caranya.”

“Dengan cara apa? Ayo ceritakan pada Eomma. Jangan membuat Eomma penasaran, Chagi.”

“Begini Eomma..”

*********

To Be Continued ^^

172 thoughts on “Baby Baby Part 5

  1. Seneng deh akhirnya fany hamil, dan jadi kado indah buat siwon oppa
    Ternyata fanybada maksud tersembunyi deh buat sooyoung sama kyuhun oppa
    Kekekeke

  2. Akhirnya fany benar2 hamil,chukae fany momy dan juga siwon dady.cie….ada couple sooyoung dan kyuhyun,ya walaupun kyuhyun baru dipasangkan sooyoung di part 5 ini.
    Next ya thor.dan juga thanks ffnya.jjang thor.
    Sifany 4ever♥♥♥♥♥

    Thor saya minta PW part 6 ya.
    Thanks ya thor.

  3. akhirnya tiffany hamil jg, membuat keluarga besar choi bahagia, apalagi siwon….finally ada jg jodoh buat sooyoung….moga cpet jadian ma kyu ya…

  4. Aaa cieee Fany eonni mau jadi Mommy bentar lagi ekhmmm… Happy! Siwon oppa bentar lagi jadi Daddy! Congratsss hehe^_^ Kyu oppa sama Soo eonni udh langsung aja biar nyusul wkwkwk
    Next ya

  5. yehhhhh sifany skr sangt bahagia ….benrkn miyoung hamil n siwon mendapatkn hadiahultah yg sangt istimewa…….skr giliran soyoong apa dia akan mendapatkn kebahagiaan a ..pensarn nh dg kelanjtan a next

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s