(LFF) True Love

Title: True Love

true-love(1)

Author: ParkJi-rin a.k.a xolovetiffany a.k.a @liacatrien

Cast: Choi Siwon – Tiffany Hwang

Other cast: Choi Sooyoung – Kris Wu – Oh Sehun – Kwon Yuri – Sandara Park

Genre: Romance, Hurt

Rating:  PG-18

Length: Oneshoot

Disclaimer: The idea of this story is purely mine. Don’t forget to comment and like, if you enjoy this story. And i wanna say thankyou for the poster by  <a href=”http://posterfanfictiondesign.wordpress.com/request-officially-open/available-designer_sifixo/”>sifixo @ poster channel </a>

 

 

Dongjak-Gu (Seoul), South Korea

Seorang gadis berambut panjang kecoklatan termenung di atas tempat tidur.  Sudah sejak pagi ia uring-uringan dan kehilangan semangat untuk melakukan apapun. Sesekali ia melirik kearah ponselnya yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidurnya. Benda itu tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pesan atau panggilan masuk. Gadis itu mendengus lalu memutar tubuh membelakangi ponselnya. Hanya berselang beberapa saat, benda berbentuk persegi panjang tersebut mengeluarkan suara nyaring yang langsung membuat gadis itu setengah melompat dari tidur dan meraih ponselnya.

“Yoboseyo..”

“Yoboseyo Tiff..”

Tiffany, gadis berambut coklat itu, tersenyum setelah mendengar suara lelaki yang sangat ia rindukan beberapa waktu terakhir.

“Oppa, bagaimana kabarmu? Kau sudah lama sekali tidak mengabariku. Ehm, kau baik-baik saja kan disana?”

“Aku baik-baik saja Tiff. Mianhae..aku akhir-akhir ini sedang sibuk baru sempat meneleponmu sekarang. Pasti disana sudah tengah malam kan? Kau tidur sekarang ne. Oppa harus mengerjakan sesuatu,nanti kalau ada waktu aku akan menghubungimu lagi. Bye”

Belum sempat Tiffany menjawab pernyataan dari kekasihnya namun pria itu sudah memutuskan sepihak sambungan telepon mereka. Senyuman Tiffany yang tadi menghiasi wajah cantiknya perlahan-lahan menghilang. Bahkan pria itu tidak menanyakan kabarnya. Ia menutup matanya sejenak lalu mengatur nafasnya. Menahan emosi yang sudah membuncah di dalam dirinya. Ia meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Tiffany menatap kosong kearah langit-langit kamar, pikirannya berkeliaran kesana kemari. Ia berusaha berpikir positif bahwa kekasihnya itu memang sedang sibuk beberapa waktu ini. Tapi apakah sampai tidak ada waktu untuk mengabarinya walau hanya melalui pesan teks saja?

Choi Siwon, pria tampan idaman hampir semua wanita dan merupakan kekasih Tiffany. Mereka mulai menjalin hubungan sejak 8 bulan yang lalu. Mereka berkenalan lebih dari setahun yang lalu. Kakak Tiffany adalah sahabat Siwon, kakak Tiffanylah yang memperkenalkan mereka berdua. Pada awalnya tak ada tanda-tanda bahwa mereka akan menjalin hubungan. Bagi Tiffany, Siwon yang memiliki image ‘player’ bukanlah tipe idamannya. Yang disukai gadis itu adalah pria yang dewasa, dan bertanggung jawab. Begitu pula dengan Siwon, menurutnya sifat Tiffany yang sedikit naif dan memiliki image ‘anak rumahan’ sangat sangat sangat bukanlah tipenya. Namun entah sejak kapan perlahan-lahan mereka mulai tertarik satu sama lain, lalu memutuskan untuk menjalin hubungan. Siwon bersedia untuk meninggalkan image ‘playboy’nya dan menjadikan Tiffany sebagai yeojachingu satu-satunya. Memang belum bisa dibilang sebagai hubungan yang serius, tapi keluarga mereka sudah saling mengenal satu sama lain cukup dekat.

Hubungan mereka berjalan lancar namun sejak 5 bulan yang lalu Siwon memutuskan untuk pergi ke USA demi menangani sementara perusahaan Tuan Choi. Ini memang bukanlah murni keinginan Siwon, melainkan keinginan Appanya. 5 bulan yang lalu beliau jatuh sakit, dan jelas tidak memungkinkan untuk memimpin perusahaan di negara paman Sam itu maka Siwonlah yang menggantikan setidaknya sampai keadaan tuan Choi membaik. Tidak hanya Siwon, kakak Tiffany yang bernama Kris juga ikut kesana. Kris merupakan sahabat Siwon dan salah satu bawahannya di kantor. Siwon yang merasa asing untuk hidup di negara orang, memutuskan mengajak Kris dengan alasan Kris bisa membantunya dalam bekerja.

Tiffany berusaha mengingat sejak kapan sikap Siwon berubah. Oh ya, sejak 3 bulan yang lalu, batin Tiffany. Sejak 3 bulan yang lalu Siwon menjadi agak dingin terhadap kekasihnya itu. Awal tanda-tanda sikap dingin Siwon berupa balasan pesan teks yang sangat singkat, lama kelamaan Siwon jarang sekali menghubungi Tiffany. Tiffany bukanlah tipe agresif yang akan menelepon Siwon lebih dulu. Bukan maksudnya menuntut Siwon untuk selalu memberi kabar, tapi bagi pasangan yang menjalani Long Distance Relationship, komunikasi adalah hal yang sangat penting menurut Tiffany.

Tiba-tiba pikirannya melayang teringat akan apa yang dikatakan Kris beberapa waktu lalu. Kris pernah bilang mungkin sikap Siwon berubah karena sudah menemukan wanita lain. Hanya bercanda memang, namun itu mampu membuat Tiffany resah. Ditambah lagi image Siwon yang dulunya adalah ‘playboy’. Tiffany berusaha menepis pikiran negatif itu. Tidak mungkin, pikirnya. Dan kalau memang itu terjadi sudah pasti Kris akan memberitahunya, namun sampai sekarang Kris tidak mengklarifikasi apapun juga kepada Tiffany.

Tiffany melirik kearah jam yang menempel pada dinding kamarnya. Sudah hampir jam 12 malam, sebaiknya aku tidur, batinnya. Besok ia memiliki janji untuk pergi berbelanja dengan Sooyoung, adik Siwon. Sejak berpacaran dengan Siwon, hubungan Tiffany dan Sooyoung menjadi dekat. Sooyoung selalu bilang bahwa pasangan yang cocok untuk kakaknya adalah Tiffany. Jelas itu membuat Tiffany senang. Sooyoung kemarin baru saja pulang kembali ke Korea dari USA. Ia pergi kesana untuk berlibur sekaligus mengunjungi Siwon, kakak satu-satunya. Sooyoung sudah mengajak Tiffany untuk pergi bersama namun ditolak oleh gadis pemilik eyesmile itu, alasannya karena tugas kuliah yang tidak bisa ditinggalkan walaupun ia benar-benar ingin kesana.

Sebelum akhirnya menutup mata dan pergi menuju alam mimpi, Tiffany berpikir mungkin besok ia bisa menanyakan hal ‘itu’ kepada Sooyoung. Ia ingin memastikan apakah pikiran negatifnya adalah kenyataan atau hanya rasa takut yang berlebihan.

Manhattan (New York City) – USA

Siwon menatap pemandangan kota New York di siang hari melalui jendela besar yang ada di ruangan kantornya. Ia sedikit merasa bersalah atas apa telah ia lakukan kepada Tiffany. Sudah hampir beberapa hari ini Siwon tidak memberi kabar, bahkan beberapa saat lalu belum sampai 5 menit berbicara di telepon Siwon telah memutuskan sepihak sambungan teleponnya.

Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia bertingkah laku seperti ini. Ia akui ia mencintai gadis itu. Gadis itu jelas-jelas bukan tipenya. Namun sejak awal bertemu, perasaan ‘klik’ itu ia rasakan untuk pertama kalinya. Banyak orang berkata bahwa jika kita bertemu seseorang lalu merasakan sesuatu yang berbeda dan tidak pernah dirasakan sebelumnya -bukan hanya perasaan suka atau tertarik biasa- itu artinya orang itu adalah jodoh kita.

Siwon tersenyum getir, awalnya ia percaya dengan teori itu namun akhir-akhir ini keyakinannya berkurang karena sesuatu…

Sebuah pesan teks masuk ke dalam ponsel Siwon membuat pria tampan itu membuyarkan lamunannya. Ekspresinya berubah menjadi cerah saat membaca rentetan kata yang terpampang pada ponselnya. Ia membalas pesan teks itu lalu bergegas mengambil kunci mobil dan berjalan ke luar ruangan menuju tempat parkir.


From: Yuri-ah

Oppa, apa kau sibuk sekarang? Jika tidak, ayo kita makan siang bersama ^^

 


To: Yuri-ah

Tidak,aku tidak sibuk. Baiklah, aku akan menjemputmu, tunggulah sekitar 15 menit lagi.

 

 

 

 

Myeongdong (Seoul) – South Korea

Kedua gadis cantik yang memiliki tinggi badan yang cukup kontras itu memasuki sebuah restoran fastfood terkenal di daerah Myeongdong. Setelah memesan makanan pada counter pemesanan saatnya untuk mencari tempat duduk. Beruntung pengunjung restoran fastfood itu sedang tidak terlalu ramai. Sesaat setelah mendapatkan tempat duduk, kedua gadis itu mulai melahap makanan pesanan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sudah jelas mereka sangat lapar, ini sudah lewat jam makan siang dan sejak pagi mereka telah berkeliling dari mall satu ke mall lainnya untuk shopping.

Tiffany terkekeh saat melihat dongsaengnya yang sangat kelaparan sampai-sampai seperti akan memakan bulat-bulat piringnya sekaligus.

Merasa diperhatikan, gadis yang lebih muda beberapa tahun dari Tiffany itu memberhentikan acara makannya.
“Eonnie…jangan menertawaiku seperti itu.. Kau tahu, aku kelaparan sekali seperti tidak makan berminggu-minggu”

Tiffany kembali tertawa, ia tidak tahan dengan kepolosan gadis ini “Aigoo, sejak kapan kau tidak kelaparan, Youngie?”

Sooyoung mempoutkan bibirnya “Eonnie….”

“Ara ara, aku berhenti. Ngomong-ngomong, bagaimana acara liburanmu di Amerika? Apakah menyenangkan?”

Sooyoung yang sudah kembali melanjutkan makannya terlihat berpikir sejenak “Lumayan. Tapi aku sempat kesepian disana, seandainya Eonnie ikut kesana pasti akan menyenangkan. Siwon oppa dan Kris oppa selalu sibuk. Akhirnya aku lebih sering berjalan-jalan seorang diri”

Tiffany memangut-mangutkan kepalanya tanda mengerti. Berarti benar Siwon oppa sibuk, batinnya. Namun pikiran negatif itu kembali terlintas di benaknya. Apakah lebih baik ia menanyakannya sekarang pada Sooyoung? Terjadi pergolakan batin beberapa menit di dalam diri Tiffany sebelum akhirnya ia memutuskan untuk bertanya.

“Sooyoung”

“Hmm?” Sooyoung hanya bergumam karena sedang mengunyah makanan di dalam mulutnya.

“Di sana…apakah Siwon oppa bertemu dengan gadis lain? Maksudku, yang lebih dari sekedar teman…” Jujur, Tiffany takut jawaban apa yang akan didapatkannya.

Dan benar saja. Pertanyaan Tiffany membuat Sooyoung seketika menghentikan aktivitas makannya, terlihat jelas ia kehilangan nafsu makan seketika. Hati Tiffany mencelos. Baginya, reaksi Sooyoung saat ini adalah jawaban ‘ya’ secara tidak langsung.

Sooyoung tertawa, jelas sekali tertawa yang di buat-buat “Hahaha eonnie, kau dengar dari siapa Siwon oppa mempunyai gadis lain disana?”

“Tidak dari siapapun”

Hening. Sooyoung tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan. Melihat itu, Tiffany melanjutkan perkataannya “Hanya firasatku saja.. Apalagi akhir-akhir ini oppa jadi dingin sekali terhadapku.. Aku tahu ia sudah meninggalkan sifat ‘player’nya tapi siapa tahu tiba-tiba kumat….”

“Ada gadis lain” Sooyoung memotong perkataan Tiffany.

Tiffany menatap nanar kearah Sooyoung yang hanya menundukkan kepalanya memandangi makanan yang tidak akan lagi disentuhnya itu.

Jadi…benar?

“Tapi aku juga tidak yakin. Aku hanya sempat memergoki oppa 2 kali. Pertama saat sedang di apartemennya, aku melihat oppa tersenyum sendiri saat membaca pesan masuk di ponselnya. Aku sengaja berjalan dibelakangnya untuk melihat siapa pengirim pesan tersebut, sekilas aku melihat nama pengirimnya dan itu bukanlah namamu Eonnie. Lalu yang kedua, saat aku sedang makan siang sendirian aku melihat Oppa sedang makan bersama seorang wanita yang tidak aku kenal. Tentu saja oppa tidak melihatku saat itu..”

Ternyata benar, batin Tiffany.

“Tapi..tapi itu semua kan belum tentu benar eonnie. Siapa tahu itu hanya rekan kerjanya saja” Sooyoung mendadak panik saat melihat Tiffany yang diam tidak merespon dan hanya menunjukkan ekspresi datar.

“Aku tahu, Youngie. Jika ia pulang kesini, mungkin aku akan bertanya langsung padanya. Kau tidak usah panik seperti itu, ini bukanlah salahmu” Tiffany berusaha menahan air matanya dan tetap tersenyum.

Namun Sooyoung tahu itu hanyalah senyuman terpaksa. Ia tidak bisa membiarkan gadis yang telah dianggapnya sebagai kakak kandungnya ini bersedih. Tiba-tiba ia mendapatkan ide, walau ia tidak yakin ini dapat membuat Tiffany ceria kembali 100%. Tapi setidaknya ia berusaha..

“Oh ya! Aku baru ingat, Louis Vuitton sedang diskon besar-besaran! Ayo kita kesana sekarang Eon. Tenang sajaa, aku yang bayar”

Tiffany tersenyum mendengar perkataan Sooyoung, ia tahu gadis ini berniat untuk menghiburnya. Yaa, setidaknya Luis Vuitton bisa menyembuhkan hatinya walau hanya 1% “Benarkah? Ayo kita kesana”

 

Manhattan (New York) – USA

“Apa-apaan kau, Kris??”

Siwon terduduk di lantai, ia memeganggi ujung bibirnya yang sedikit berdarah. Sial, pukulannya ternyata keras juga, batin Siwon.

“Eoh, kau tanya aku apa-apaan? Kubalikkan pertanyaan itu padamu, Hyung. Kau yang apa-apaan? Kukira kau sudah berubah. Sudah kubilang, jangan mempermainkan adikku, Hyung!” Kris memandang Siwon dengan pandangan meremehkan,kilatan matanya menunjukkan kekecewaan.

Sejak beberapa bulan yang lalu, Kris lebih banyak menghabiskan waktu di Los Angeles di bandingkan di New York. Perusahaan Tuan Choi yang berpusat di Korea Selatan memiliki 2 cabang di Amerika, pertama di New York dan satunya lagi di Los Angeles. Tuan Choi sudah mempercayai Kris untuk menangani perusahaan yang ada di Los Angeles. Dan sejak saat itu Kris sudah jarang bertemu dengan Siwon. Jelas saja ia tidak mengetahui apa yang dilakukan Siwon tanpa ada dia disekitarnya. Tiba-tiba kemarin Kris mendapatkan waktu kosong dan memutuskan untuk ke New York demi menemui sahabatnya. Saat akan menuju ke kamar apartemen Siwon, tiba-tiba ada seorang gadis yang tidak dikenalnya keluar dari sana. Tanpa basa-basi Kris langsung menahan gadis itu dan bertanya kenapa ia bisa keluar dari kamar Siwon. Setelah mendengar penjelasan gadis itu yang mengaku bahwa Siwon adalah namjachingunya, Kris langsung meninggalkan gadis itu dan masuk kedalam apartemen Siwon. Kebetulan ia tahu passwordnya sehingga tidak perlu mengetuk terlebih dahulu. Siwon kaget setengah mati saat melihat Kris masuk kedalam apartemennya dengan tatapan marah. Sudah bisa ditebak adegan apa yang terjadi berikutnya. Tanpa aba-aba Kris meninju wajah Siwon, dan Siwon tahu alasannya melakukan itu. Ia tahu dengan jelas..

Siwon tertunduk, masih dengan posisi awalnya yang terduduk di atas lantai. “Apa..kau akan memberitahunya?”

Kris membalikkan tubuhnya, untuk sekarang ini ia muak jika melihat wajah sahabatnya ini “Tidak. Kau tahu aku bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Aku ingin kau yang memberitahunya secara langsung, Hyung. Jika kau memang sudah tidak ingin bersama lagi, tolonglah putuskan dia dulu secara baik-baik”

Siwon menumpu berat tubuhnya pada meja di sampingnya sebelum akhirnya ia dapat berdiri dengan sempurna. “Aku tahu.. Akan kulakukan. Minggu depan. Saat aku kembali ke Seoul..”

Dongjak-Gu (Seoul), South Korea

Walau akhirnya bisa bertemu setelah sekian lama, namun atmosfer yang Tiffany idam-idamkan tidaklah terjadi. Mereka hanya duduk dalam diam di ruang tamu rumah keluarga Hwang. Tiffany sudah menyiapkan hatinya. Ia sudah tahu apa yang akan di katakan Siwon hanya dengan melihat ekspresi wajahnya.

“Ehm..Tiff…” Siwon memecahkan kebisuan yang terjadi di antara mereka.

Tiffany tidak menjawab, ia hanya menatap Siwon yang masih menunduk.

“Aku pertama ingin minta maaf. Aku tidak bermak………”

Rentetan kata yang keluar dari mulut Siwon rasanya tidak masuk ke dalam sistem pendengaran Tiffany. Entah bagaimana ia merasa seakan-akan Tuhan menutup kedua telinganya agar ia tidak mendengar kata-kata yang pasti akan menyakiti hatinya.

“…..Aku minta maaf”

Mendadak seperti tersadar, Tiffany bisa mendengar suara Siwon lagi. Kata-kata terakhir Siwon sudah bisa membuat Tiffany mengerti walau ia tak mendengar keseluruhan penuturan dari Siwon. Ia sudah tahu, bahwa mereka telah berakhir.

Sudah 2 bulan berlalu dan mereka tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu. Tiffany mendengar dari Sooyoung bahwa Siwon telah kembali ke Amerika. Selama 2 bulan terakhir, Tiffany menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia merasa jauh lebih baik sekarang, kejadian yang terjadi di waktu itu membuatnya menjadi gadis yang lebih kuat. Kalau boleh jujur, setelah Siwon memutuskannya ia tidak merasakan sakit hati yang berlebihan. Bukan karena cinta Tiffany terhadap Siwon tidak tulus, tapi karena di dalam lubuk hati Tiffany ia tetap merasa bahwa Siwon adalah jodohnya. Dan seperti yang orang-orang katakan, jodoh pasti akan bersatu.

Kini Tiffany sedang berada di dalam taksi menuju ke kediaman keluarga Choi di daerah Cheongdam-dong. Hari ini adalah hari ulang tahun Sooyoung, anggota termuda
di keluarga itu. Sooyoung mengadakan pesta besar-besaran dirumahnya dan mengundang semua keluarga dan teman-teman terdekat.

Tiffany baru saja selesai kuliah lalu memutuskan untuk segera meluncur kesana. Ia tidak mau telat dan membuat kecewa dongsaeng favoritnya itu. Saat dalam perjalanan Tiffany tiba-tiba terpikir akan Siwon. Ia berkhayal apakah mungkin Siwon tiba-tiba akang datang dan ada disana. Lalu bagaimana jika ia membawa serta juga pacar barunya..

Tiffany menggelengkan kepalanya pelan, lalu tersenyum miris. Tidak mungkin, batinnya.
Tiba-tiba ia merasa pusing. Tiffany mengangkat tangan kanannya dan menyentuh dahinya pelan. Hangat. Astaga, sepertinya ia akan demam. Ia tidak bisa meneruskan perjalanan ke kediaman Choi lagi.

“Ahjussi, bisa tolong putar balik? Kita ke daerah Dongjak-Gu ne”

Dongjak-Gu (Seoul), South Korea

Sesampainya di rumah, Tiffany segera berjalan ke arah dapur dan mengambil obat demam di kotak p3k. Ia mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan, sepi sekali. Namun ini merupakan hal yang wajar karena sejak dulu Tiffany sering ditinggal sendirian di rumah karena ayahnya sering ke luar negri untuk keperluan bisnis dan ibunya tentu saja menemani sang suami.
Sesaat setelah menenggak obat demam, rasa pusing tersebut berangsur-angsur menghilang, dan suhu tubuhnya pun tiba-tiba turun. Aneh, kenapa cepat sekali reaksi obat ini, pikir Tiffany.

Ia bisa saja pergi sekarang ke acara ulang tahun Sooyoung, tapi entah mengapa ia merasa sangat malas untuk menjejakkan kaki keluar dari rumahnya. Tiffany mengambil ponsel dari tas, dan dengan cepat mengetik pesan teks untuk Sooyoung, mengabarkan bahwa ia tidak bisa datang karena merasa tak enak badan. Ini pertama kalinya Tiffany ‘sedikit’ berbohong kepada Sooyoung, namun apa mau dikata, Tiffany benar-benar tidak mood untuk pergi kemanapun sekarang ini. Entah mengapa ia merasa seperti ada sesuatu yang menahannya agar tidak ke pesta ulang tahun Sooyoung, namun ia tidak tahu apa itu.

Tiffany melemparkan tubuhnya keatas sofa yang berada di ruang keluarga. Ia sudah bersiap apa yang akan Sooyoung omelkan jika gadis itu sudah membaca pesan dari Tiffany yang mengatakan tidak bisa datang. Tidak berapa lama sebuah pesan masuk ke ponsel Tiffany. Dari Sooyoung.

From: Shikshin Youngie

Gwenchana eonnie. Tapi besok kita makan siang bersama, ne? Cepat sembuh, eon. Xoxo

Tiffany mengernyit bingung. Rasanya seperti bukan Sooyoung. Sooyoung yang ia kenal biasanya akan memaksakan kehendaknya sampai ia mendapatkan yang diinginkan, tapi kenapa sekarang tidak? Ada apa ini? Mungkin ia merasa tidak enak bila memaksaku datang karena aku bilang aku sedang sakit, batin Tiffany.
Tiffany melempar pelan ponselnya keatas sofa disampingnya. Ia mengambil remote tv di atas meja, lalu menyalakannya.

Tiffany’s POV

“Tiff..tiff”

Suara siapa ini? Sepertinya kukenal…

“Hwang Tiffany, bangun…”

Suaranya semakin jelas terdengar, dan bisa kurasakan sebuah sentuhan didahiku. Aku memaksakan untuk membuka mata. Aku berusaha membuat mataku beradaptasi dengan cahaya lampu terlebih dahulu, sebelum akhirnya terbuka sempurna. Yang pertama kali kulihat adalah wajah Kris yang nampak sedikit cemas. Ia membantuku duduk. Ya, Kris ada di Korea. Sejak 2 bulan yang lalu -atau lebih tepatnya sejak Siwon oppa dan aku putus- Kris memutuskan untuk tinggal bersamaku di Korea. Alasannya karena ingin menjagaku saat eomma dan appa dinas ke luar negri, namun aku tahu alasan lainnya karena hubungannya dengan Siwon oppa sudah merenggang sehingga tidak mungkin ia mau melanjutkan memimpin perusahaan dengan Siown di USA.

Aku melihat ke sekeliling. Ternyata aku masih di ruang keluarga, dengan tv yang masih menyala. Aku melirik kearah jam dinding, waktu menunjukkan pukul setengah 11 malam. Aigoo, ternyata aku tertidur saat sedang menonton.

“Gwenchana?” Kris mengusap pelan bahuku, sontak aku menolehkan wajahku menghadapnya.

“Eoh?” Aku menatapnya bingung.

“Kau sudah merasa lebih baik? Aku dengar dari Sooyoung, kau tidak datang ke pestanya karena tidak enak badan. Aku langsung pulang kerumah padahal baru sampai di sana, ponselmu kuhubungi tapi tidak diangkat. Tapi sepertinya suhu tubuhmu sudah normal..”

Aku mengibaskan tanganku dihadapannya “Aku baik-baik saja. Sebenarnya aku sudah merasa mendingan sejak tadi, namun entah kenapa aku merasa malas untuk kesana, aku juga tidak mengerti kenapa…” Aku mengangkat kedua bahuku.

“Jinjja? Kupikir karena kau sudah mengetahuinya…..” Kris memelankan suaranya.

“Mengetahui apa?”

“A-aniya.. Sudahlah, kau kembali ke kamarmu sekarang. Oppa mau berganti pakaian lalu tidur. Good night steph…” Seperti tiba-tiba tersadar bahwa ia telah mengucapkan sesuatu yang bukan seharusnya, Kris oppa terburu-buru berdiri dari duduknya dan hendak melangkahkan kaki ke dalam kamarnya namun segera kutahan.

“Oppa, katakan padaku apa maksudmu? Mengetahui apa?” Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu, dan yang pasti kakakku ini tidak pandai berbohong, apalagi terhadapku.

Kris membalikkan tubuhnya. Tubuhnya yang jauh lebih tinggi dariku, membuatku harus sedikit mengadah ke atas hendak melihat kejujuran dari matanya namun ia menolak berkontak mata denganku. “Sudah kubilang tidak ada apa-apa steph.. Tadi aku hanya salah bicara..” Ujarnya setenang mungkin.

“Oppa…..”

“Baiklah, baiklah…” Kris mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. See? Dia tidak bisa berbohong dariku.

“Tadi kukira kau tidak datang ke pesta Sooyoung karena kau tahu ‘dia’ ada disana”

“Dia? Dia siapa?”

“Siwon..dia sudah kembali lagi dari Amerika” Kris memutar kedua bola matanya, sepertinya ia malas untuk menyebutkan nama mantan sahabatnya itu.

“Oh..terus memangnya kenapa? Wajar kan dia hadir di pesta ulang tahun adiknya..” Aku memangut-mangutkan kepalaku dan berusaha merespon senormal mungkin, walau di hatiku sedikit tersirat rasa senang. Jujur aku senang dia sudah kembali. Artinya aku bisa melihatnya lagi, meskipun kami sudah tidak punya ikatan apapun.

“Memang..tapi dia tidak sendiri..dia datang dengan kekasih barunya…dan kekasih barunya itu bukanlah gadis yang 2 bulan lalu menghancurkan hubungan kalian..”

Strike. Ternyata inilah firasat yang menahanku agar tidak datang kesana.  Terjawab sudah kenapa Sooyoung seperti ‘senang’ aku tidak datang ke acara ulang tahunnya, pasti karena ia tidak ingin aku sakit hati. Bohong jika aku bilang bahwa aku baik-baik saja mendengar hal ini. Aku memang tidak terlalu sakit hati saat kami putus. Karena sesungguhnya di dalam lubuk hatiku, aku berharap kami akan kembali lagi bersama. Tapi aku tidak menyangka ia pulang kesini dengan membawa kekasih barunya. Secepat itukah? Semudah itukah aku digantikan?

Sinsa-dong, Gangnam-gu  (Seoul) – South Korea

Sooyoung mengaduk-aduk green tea lattenya dengan sedotan tanpa berniat sedikitpun untuk meminumnya. Sesekali ia mendongakkan wajahnya yang tertunduk untuk menatap wajahku. Kami memang sudah seperti kakak adik sungguhan karena seperti memiliki ikatan batin yang kuat. Aku tidak perlu mengeluarkan sepatah katapun dari mulutku namun Sooyoung sudah mengerti apa yang ingin aku tanyakan hanya dengan melihat ekspresi wajahku.

“Eonnie…pasti sudah mendengarnya dari Kris oppa?” Sooyoung kembali memfokuskan tatapannya kearah minuman berwarna hijau itu.

Entah kenapa kejadian ini hampir sama dengan beberapa bulan yang lalu dimana Sooyoung takut untuk memberitahu kebenaran padaku bahwa Siwon oppa berselingkuh. Demi Tuhan, kenapa mereka takut sekali berbicara kepadaku mengenai Siwon oppa seakan-akan aku akan hancur seperti terbuat dari porcelen. Well, walau sesungguhnya iya… Tapi aku lebih menyukai kejujuran, meskipun akan sakit pada akhirnya.

“Sudah..” Kataku pada akhirnya. “Bagaimana orangnya? Apakah dia cantik?”

“Eoh? Ah..ya, lumayan.. Tapi tidak secantik kau, eonnie. Lagipula walaupun ia bermanis-manis ria didepan kami entah kenapa aku merasa sikapnya itu palsu..”

“Jinjja? Itu pasti karena kau selalu memuji kecantikanku makanya menurutmu orang lain kalah cantik dariku, iya kan?” Aku berusaha mencairkan suasana dengan menggodanya. Alhasil dia tertawa namun tawanya tak berlangsung lama karena entah mengapa ia berhenti lalu menggengam tangan kananku yang tergeletak di atas meja.

“Eon..aku baru ingat ada urusan mendadak sore ini. Ayo kita pergi sekarang…”

Sooyoung berusaha menarik tanganku namun aku tidak bergerak sedikitpun. Sikapnya terlalu aneh, urusan apa? Jelas-jelas tadi dia bilang sedang tidak ada rencana apapun hari ini. Dan juga kenapa ekspresinya terlihat panik seperti melihat hantu….?

“Ah ternyata benar Sooyoungie…”

Sooyoung membatu. Ia mengulaskan senyuman kaku terhadap orang yang menyebut namanya. Aku membalikkan tubuhku untuk melihat siapa empunya suara lembut itu. Mataku menangkap sosok seorang gadis berambut pirang, wajahnya sangat cantik dan tubuhnya mungil. Ia mengamit lengan seorang pria…..yang sangat kukenal…

Choi Siwon.

Bisa kulihat Siwon oppa bereaksi sama shocknya denganku. Aku berusaha bereaksi senormal mungkin, namun seluruh anggota tubuhku tidak bisa diajak bekerja sama.

“Oh..ha-hai, dara eonnie…kebetulan sekali” Ujar Sooyoung kepada gadis yang tak kukenal itu.

“Wah, kalian makan siang berdua saja? Ngomong-ngomong ini siapa?” Gadis yang dipanggil Dara oleh Sooyoung tersenyum kepadaku.

“Ehm..ini…”

“Tiffany Hwang, teman Sooyoung” Aku berinisiatif mengulurkan tanganku. Bisa kulihat dari sudut mataku, Siwon oppa menatapku nanar. Kecewa mungkin karena aku hanya memperkenalkan diriku sebagai ‘teman Sooyoung’. Tapi untuk apa dia kecewa? Dia sudah melupakanmu Tiffany Hwang, jangan berharap….

“Senang berkenalan dengamu Tiffany-ssi. Aku Sandara Park, kau boleh memanggilku Dara saja” Dara menyambut uluran tanganku “Oh ya, ini adalah Choi Siwon, kakak dari Sooyoung dan kekasihku”

Aku hanya memangut-mangutkan kepalaku dan berusaha tersenyum. Jika seorang sutradara handal melihatku sekarang, mungkin ia akan mengajakku untuk bermain film karena aktingku yang sangat bagus saat ini. Aku berusaha bersikap senormal mungkin namun sesungguhnya aku hancur. Terutama jika melihat gadis itu, Sandara, mengamit lengan Siwon oppa dengan mesra. Pemandangan ini terlalu kejam untukku. Ini bukanlah seperti di drama-drama Korea, tapi mengapa kebetulan sekali kami bisa bertemu disini? Kenapa takdir begitu kejam di dalam kehidupanku?

Siwon’s POV

“Ehm..aku ada urusan yang harus diselesaikan sekarang. Senang berkenalan dengamu Dara-ssi, Siwon-ssi” Gadis itu, Tiffany, berdiri dari tempat duduknya, mengulaskan senyuman kecil sebelum akhirnya berjalan keluar dari restoran ini.

“Eonnie, tunggu! Oppa, Dara-eonnie, aku antarkan Fany-eonnie dulu ya. Ehm..bye!” Sooyoung melambaikan tangannya kearah kami lalu berlari kecil keluar dari restoran untuk menyusul Tiffany.

Setelah mereka pergi, aku dan Dara duduk di kursi yang sebelumnya mereka duduki. Seorang waitress mendatangi kami dan mencatat pesanan.

Ini pertama kalinya kami bertemu lagi setelah 2 bulan lamanya. Tidak ada perubahan yang signifikan, dia masih cantik seperti biasanya. Sebenarnya aku agak kecewa saat ia memperkenalkan dirinya hanya sebagai teman Sooyoung saja. Tapi aku tahu tidak mungkin memperkenalkan diri sebagai mantan pacarku didepan Dara. Selama 2 bulan ini aku berusaha untuk melupakannya, dan memutuskan hubunganku dengan Yuri. Dari awal aku memang tidak ada rasa apapun dengannya, saat itu perasaanku hanya sementara saja. Namun akhirnya aku bertemu Dara, aku merasa Dara-lah orang yang benar-benar ditakdirkan untukku karena aku benar-benar tergila-gila padanya. Tapi sekarang aku kembali bimbang saat melihat Tiffany, entah kenapa ada sesuatu di dalam diriku yang aku tidak tahu apa.

Author’s POV

Dongjak-Gu (Seoul), South Korea

Malamnya, Tiffany uring-uringan di dalam kamar. Ia masih memikirkan kejadian tadi siang. Ia tidak mengerti perasaannya sekarang, ia merasa sangat kecewa. Namun bukankah wajar jika ia kecewa, marah, bahkan bisa sampai benci? Walau ia tahu ia tidak bisa membenci lelaki itu.

Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Ia mengambil benda itu lalu membaca pesan masuk tersebut.

From: Sehun
Annyeong noona, besok kita bisa bertemu? Aku ingin mengajakmu pergi ke Lotte World^^

Sehun adalah teman dari salah satu sahabat Tiffany, Jieun atau yang lebih dikenal dengan panggilan IU. Jieun mengenalkan Tiffany kepada Sehun karena ia ingin Tiffany secepatnya melupakan Siwon. Tiffany awalnya tidak mau terlalu menanggapi lelaki ini, namun usahanya selama sebulan terakhir membuat Tiffany terkesan juga. Dan lagi ia merasa harus segera move on. Ia tidak ingin sendirian di bawah bayang-bayang masa lalu ketika Siwon sudah membuka lembaran baru dengan orang lain.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Ia sedikit ragu untuk memberi harapan kepada Sehun..tapi..kekecewaannya sekarang terhadap Siwon membuatnya tidak dapat berpikir jernih.

To: Sehun
Baiklah, besok jam berapa?🙂

Yongsan-gu (Seoul) – South Korea

Sudah 6 bulan berlalu sejak saat itu. Siwon sudah kembali menetap di Korea karena keadaan mr. Choi sudah membaik dan beliau memutuskan untuk kembali menangani perusahaannya di USA. Tidak hanya dengan alasan itu saja, alasan lainnya adalah karena ia tidak mau kembali ke tempat dimana ia bisa teringat tentang Sandara Park, mantan kekasihnya. Ya, mereka sudah putus. Bukan karena Siwon menduakan Dara, tapi sebaliknya. Hal itu terjadi saat 3 bulan yang lalu Siwon diharuskan untuk pergi ke Jepan untuk urusan bisnis. Rencananya selama seminggu, namun karena meeting berjalan cepat, business tripnya hanya memakan waktu 6 hari. Ia sengaja tidak memberi tahu Dara karena ingin memberinya surprise. Singkat cerita, Siwon memergoki Dara sedang bermesraan dengan lelaki lain yang bernama Kwon Jiyong. Terjadi adu mulut yang hebat di antara mereka, lalu akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Siwon merasa mungkin ini adalah karma untuknya karena telah banyak mempermainkan gadis-gadis di masa lalunya. Terutama gadis itu..Tiffany Hwang. Siwon teringat akan perkataan Dara saat mereka bertengkar saat itu. Dara berkata bahwa Siwon beberapa waktu terakhir seperti tidak fokus dengan dirinya, hal itu dimulai saat Siwon dan Dara bertemu dengan  Sooyoung dan Tiffany. Harus ia akui hal itu memang benar. Ia merasa seperti pria plin-plan yang tidak dapat membuat keputusan. Walau akhirnya ia berusaha untuk benar-benar melupakan Tiffany dan menjalani hubungan yang serius dengan Dara, namun Dara terlanjur menduakannya.

Tiffany Hwang, ia tidak bertemu lagi dengan gadis itu. Ia bisa saja mengunjungi rumah gadis itu. Tapi apa alasan yang akan ia utarakan jika gadis itu melihatnya ada di sana? Selain itu, Siwon mendengar dari Sooyoung bahwa Tiffany sudah menjalani hubungan dengan pria lain. Jelas hal tersebut membuat Siwon sakit hati. Namun ia sadar betul sakit hatinya tidak sebanding dengan luka yang ia torehkan di hati gadis itu. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyesal. Ia merasa benar-benar sudah berubah sekarang. Ia tidak tertaik untuk berkencan dengan gadis lainnya, apalagi untuk mempermainkan mereka.

Siwon tertegun. Ia sedikit mengucapkan doa dalam hati, apabila Tiffany memang jodohnya, ia berharap akan bertemu lagi dengan Tiffany secara kebetulan. Lamunannya buyar saat mendengar pengumuman bahwa film yang ingin ia tonton akan dimulai sebentar lagi. Siwon sedang berada di salah satu mall terbesar di Seoul, beban pikirannya akhir-akhir ini membuatnya membutuhkan refreshing. Ia bisa saja mengajak Sooyoung menonton bersama namun ia ingin sendirian sekarang.

Tiffany’s POV

Yongsan-Gu (Seoul), South Korea

“Sehunnie! Cepatlah, filmnya sudah di mulai”

Seorang lelaki berambut pink berlari kecil menghampiriku. Lelaki inilah yang telah menemaniku beberapa waktu terakhir. Ia terlihat kesulitan karena membawa 2 popcorn dan 2 cola hanya dengan kedua tangannya.

Kami berjalan memasuki ruangan cinema yang lampunya sudah dimatikan semua. Film sudah dimulai sejak 20 menit yang lalu. Posisi duduk kami tidak terlalu sulit untuk dicari.

Aku tidak memperhatikan sekelilingku karena terlalu terfokus akan film yang sedang ditayangkan. Film bergenre horror yang selalu menjadi favoritku, walau sebenarnya aku takut. Sebuah adegan yang tidak kusangka, membuatku sedikit terlonjak sampai-sampai tasku terjatuh. Aku membenamkan kepalaku ke lengan orang yang duduk di sebelah kananku. Tunggu, Sehun duduk di sebelah kiri.  Astaga betapa memalukannya ini, batinku.

Tapi aroma ini, sepertinya kukenal.. Aku perlahan mendongakkan kepalaku untuk melihat wajah orang ini. Aku tidak tahu apa yang lebih mengejutkan, film horror ini atau apa yang sedang kulihat sekarang. Pria itu menatapku intens. Ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Aku sungguh merindukan pria ini namun rasa kecewa atas apa yang ia lakukan sebelumnya menutupi kerinduan di dalam diriku.

Siwon’s POV

Aku memilih tempat di bagian agak tengah agar dapat melihat ke layar lebih jelas. Sudah hampir 20 menit film berjalan namun kedua kursi disebelah kiriku belum terisi. Tidak berapa lama, 2 orang berjalan memasuki ruang cinema. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah mereka namun entah kenapa aku merasa kenal dengan salah satunya. Perkiraanku semakin terbukti saat mereka berjalan semakin mendekat.

Tiffany Hwang.

Gadis yang beberapa waktu lalu baru saja berada di dalam pikiranku sekarang duduk disampingku. Aku rasa ia tidak menyadari kehadiranku karena ia bersikap biasa saja. Hampir 1 jam berlalu. Sesekali aku melirik ke arahnya. Aku sedikit terkekeh saat melihat ekspresinya. Aku ingat betul bahwa Tiffany menyukai film horor walau sebenarnya ia takut.

Aku sedikit terhenyak beberapa saat kemudian. Bukan karena hantu di dalam film yang tiba-tiba saja muncul, tapi karena Tiffany membenamkan wajahnya ke lenganku. Saat ia mendongakkan kepalanya menatap ke arahku, aku bisa melihat raut kekecewaan, kaget, dan…kerinduan pada kedua bola matanya.

“Noona, tidak apa-apa?” Pria disampingnya membuyarkan lamunanku.

Ia mengambil tasnya yang terjatuh lalu memperbaiki posisi duduknya dan tersenyum pada pria itu, Tiffany bersikap senormal mungkin “Gwenchana Sehunnie. Tadi aku hanya kaget, dan biasanya kau duduk di sebelah kananku saat menonton di bioskop. Aku jadi refleks membenamkan wajahku kearah kanan hehe”

Kami melewatkan sisa film dalam diam,sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesaat setelah film selesai, Tiffany dengan cepat menarik pria disampingnya lalu berjalan pergi menuju pintu keluar.
Aku membuang nafas berat, enggan untuk beranjak karena masih terpaku akan kejadian beberapa saat yang lalu. Pandanganku tertuju kepada benda yang sedikit bercahaya di dekat kakiku. Aku mengambilnya dan tertegun menatap benda itu. Jika dulu aku menganggap hal seperti ini adalah hal yang mustahil terjadi di kehidupan nyata, sekarang aku baru sadar betapa mungkinnya untuk terjadi.

La Isla Hotel (Jeju Island) – South Korea

Tiffany tidak habis pikir dengan takdir yang mempermainkannya akhir-akhir ini. Pertemuan-pertemuan yang terjadi secara kebetulan. Di saat Tiffany sudah hampir move on, pria itu hadir kembali dalam kehidupannya.

Ia berjalan memasuki sebuah hotel mewah di pulau Jeju. Ia ada disini atas permintaan Sooyoung yang memintanya untuk menemani gadis jangkung itu berlibur. Ia menangkap sosok gadis itu sedang membelakanginya dan berbicara dengan seseorang di lobby hotel.

“Sooyoungie…” Tiffany tersenyum ceria sambil berjalan ke arah Sooyoung.

Gadis yang dipanggil Tiffany membalikkan tubuh, sehingga membuat Tiffany dapat melihat siapa pria yang sedang berbicara dengannya itu.

Sooyoung berjalan mendekati Tiffany lalu berbisik kepadanya. “Mianhae eonnie. Aku tidak tahu Siwon oppa juga ada disini, dia bilang ia punya urusan bisnis dan akan bertemu klien di sini”

Tiffany hanya memangutkan kepala tanpa berniat untuk menjawab. Karena untuk sekarang, orang terakhir di muka bumi yang ingin Tiffany temui adalah Choi Siwon. Ia melihat Siwon tersenyum ke arahnya namun tentu saja Tiffany tidak membalas senyum itu.


Tiffany’s POV


Aku memiliki janji untuk melihat sunset dengan sooyoung di pantai ini.
Angin mengacak rambutku, membuatnya sedikit menutupi wajahku. Sesekali aku melihat jam tanganku. Sudah hampir jam 5 sore.
Dimana Sooyoung?

“Kau bisa masuk angin jika berdiri di tempat seperti ini dengan hanya memakai baju seperti itu”

Suara pria yang sangat kukenal membuatku menoleh ke samping kananku. Kulihat Choi Siwon berdiri disana sambil memandangi pantai yang ada di hadapan kami. Sejak kapan dia ada disitu?

“Tidak juga” aku memalingkan wajahku kembali menatap ke arah pantai.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik”

“Baik-baik saja dengan Sehun?”

Eoh. Bagaimana dia tahu nama Sehun. Pasti dia menanyakannya pada Sooyoung. “Begitulah” Jawabku singkat.

Kami terdiam beberapa saat. Aku tidak menyukai situasi canggung seperti ini. Aku mencoba beberapa saat menghubungi Sooyoung namun tidak aktif.

“Sooyoung tadi bilang padaku, ia tidak bisa kesini. Tadi eomma tiba-tiba kemari dan meminta Sooyoung untuk menemaninya jalan-jalan. Ia sudah beberapa kali mencoba menghubungimu namun sepertinya sinyalnya kurang baik” Seperti bisa membaca pikiranku, pria ini bisa menjelaskan pertanyaanku tentang keberadaan Sooyoung hanya dengan melihat raut wajahku.

Aku tidak membalas ucapannya dan hendak beranjak dari situ. Namun sebuah tangan menahan pergerakanku.

“Kau mau kemana?”

“Kembali ke hotel” Ucapku dingin sambil berusaha melepaskan tanganku dari tangannya.

“Kau sudah terlanjur kesini, bagaimana kalau kita makan?” Ia memasang tampang memohon. Ekspresi wajah yang dulu membuatku gemas setengah mati.

Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku namun aku mengiyakannya.
Kami melewatkan waktu makan malam kebanyakan dalam diam. Sesekali aku mencuri pandang kearahnya, dan bisa kurasakan iapun melakukan hal yang sama. Setelah selesai makan, kami berjalan menuju ke hotel tempat kami menginap. Rutenya harus melewati pantai tempat tadi kami bertemu.

Aku memeluk diriku sendiri sambil menahan rasa dingin dari angin malam yang menerpa tubuhku. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang hangat menutupi tubuhku. Sebuah jaket.
Siwon yang melakukannya.

“Gomawo..” Ucapku akhirnya dan kembali berjalan. Ia mensejajarkan langkahnya di sampingku.

“Tiff, aku punya sesuatu untukmu”

Perkataannya membuat langkahku terhenti dan memandanginya bingung. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda yang sangat kukenal.

Sebuah kalung.

Pemberian darinya saat kami masih menjadi kekasih.

Aku juga tidak tahu mengapa aku tidak bisa membuang kalung pemberian darinya ini.
Tapi bagaimana bisa benda itu ada di tangannya?
Aku merasakan wajahku memerah karena malu. Malu karena Siwon mengetahui aku masih menyimpan kalung darinya.

“Aku menemukannya saat kita bertemu di bioskop beberapa waktu yang lalu. Sepertinya terjatuh saat kau menjatuhkan tasmu” Siwon menyerahkan kalung itu sambil tersenyum.

“Oh..Gomawo” aku mengambil kalung dari tangannya, saat akan melanjutkan berjalan, ia menahan tanganku.

“Tiff..kenapa kau masih menyimpan kalung itu?” Siwon menatap mataku dalam. Berusaha mencari kejujuran disana. Pertanyaannya mampu membuat bibirku kelu.

“Apakah kau…masih mencintaiku?”

Aku mengibaskan tanganku dari genggaman tangannya “Kau bicara apa? Tolong jangan seperti ini Siwon-ssi. Aku sudah memiliki kekasih, kau juga sudah memiliki kekasih”

“Aku sudah putus”

Aku mengerutkan dahi dan menatapnya tak percaya. “Lagi? Kenapa kau suka sekali menyakiti hati wanita, eoh?”

“Kami putus karena aku memergokinya berselingkuh” Ia sedikit tertunduk lalu terkekeh sendiri. “Mungkin itu yang namanya karma”

Aku memandangnya iba. Setengah diriku merasa senang karena akhirnya ia mendapatkan hasil dari perbuatannya, namun setengahnya lagi merasa iba. Jujur, aku tak tega melihatnya terluka. Terkadang aku bertanya pada diriku. Jika ini bukan cinta, lalu apa?

“Tiff…jika aku memintamu kembali padaku dan memulai dari awal…apakah kau…”

Aku segera memotong ucapannya “Siwon-ssi, tolonglah mengerti aku sudah memiliki kekasih sekarang! Dan juga kau menginginkanku kembali karena kau sudah dibuang oleh mantanmu itu kan? Kau kira aku perempuan macam apa?”

Aku berjalan menjauh darinya.

“Aku tidak memintamu kembali padaku karena Dara memutuskanku. Tapi hal ini sudah kurasakan bahkan sejak setelah kita dulu berpisah, Miyoungie. Aku sungguh menyesal. Saat itu aku bimbang dengan perasaan hatiku sendiri. Tapi sekarang aku yakin. Karena sekarang, benar-benar hanya ada kamu”

Author’s POV

“Noona, kau melamun?” Seorang lelaki berambut pink menyerahkan minuman kaleng kepada gadis yang terduduk di kursi berwarna putih di taman.

Gadis itu tersenyum dan menerima pemberian dari lelaki tampan ini. “Ah aniya, aku tidak melamun. Dan gomawo minumannya”

Lelaki bernama Sehun itu mengambil posisi duduk di samping Tiffany. Ia menatap lurus kearah orang-orang yang sedang melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Ada yang sedang bermain, ada yang hanya duduk diam sambil membaca buku, ada juga yang sedang jogging.

“Kau tidak bisa bohong dariku noona, akhir-akhir ini kau sering sekali melamun” Sehun menyunginggkan senyumannya kearah Tiffany. Tiffany menjadi salah tingkah karena 2 hal, pertama karena senyumannya dan kedua karena Sehun bisa mengetahui bahwa ia melamun.

“Pasti tentang mantan pacarmu”

Ucapan Sehun membuat Tiffany membelalakkan matanya tak percaya. “M-mwo? Kau bicara apa Sehunnie..hahaha” Tiffany berusaha membuat tawa namun terlalu terdengar seperti dibuat-buat.

“Tentu saja aku tahu. Aku kan punya kekuatan membaca pikiran orang”
Sehun kembali tersenyum “Jadi benar kan?”

Tiffany memalingkan wajahnya, ia tidak mampu untuk menatap mata Sehun. Apa yang ia katakan benar. Tiffany selalu memikirkan Siwon. Sejak kejadian di Pulau Jeju, Tiffany benar-benar mengabaikan kehadiran Siwon. Bukan karena Tiffany membencinya namun karena ia takut gejolak perasaan di dalam dirinya ini semakin menjadi-jadi. Terutama setelah mendengar pengakuannya.

“Kau..masih mencintainya, Noona?”

Ucapan Sehun membuatku semakin gugup. “K-kau bicara apa? Kau adalah kekasihku sekarang”

“Tapi perasaanmu tidak untukku”

Aku menatapnya, sebelum akhirnya ia melanjutkan ucapannya yang membuat nafasku tercekat “Aku sudah tahu dari awal aku tidak punya harapan walau sudah berusaha sekeras mungkin karena hati dan pikiranmu hanya ada padanya kan? Mianhae,noona. Aku mengetahui semua cerita tentang bagaimana dulu hubunganmu dengannya dari Jieun noona” Sehun menggenggam tanganku lembut “Kita akhiri cinta sepihak ini saja ya noona? Kau harus mengejar cinta sejatimu itu”

Tiffany menggelengkan kepalanya tak percaya. “Aku tidak mau. Maaf jika aku tidak bersikap seperti pacar seperti seharusnya. Aku akan belajar lebih menjadi pacar yang baik…”

Sekarang giliran Sehun yang menggelengkan kepalanya “Tidak perlu, noona. Inilah yang terbaik. Ingat pesanku ya, kau harus mengejar sesuatu yang kau anggap benar. Tetap ikuti kata hatimu” Sehun tersenyum lalu melihat kearah jam tangannya “Baiklah, sekarang aku harus pergi. Sampai nanti noona”

Sehun beranjak pergi meninggalkan Tiffany sendirian duduk di bangku itu. Ia tidak bisa menahan Sehun karena apa yang dikatakan lelaki itu semuanya benar. Perasaannya memang tidak pernah tertuju padanya.

Sebuah pesan teks masuk ke dalam ponselnya. Dengan sigap ia berdiri dan berlari kecil menuju jalan raya hendak mencari taksi.

Gangnam-gu (Seoul) – South Korea

Tiffany tiba di rumah mewah bergaya eropa yang sudah lama tidak ia datangi. Ia menerobos masuk ke dalam dan tidak mendapati siapapun juga ada disana kecuali beberapa asisten rumah tangga. Ia menaiki tangga yang cukup tinggi dan berhenti di depan salah satu kamar. Ia mengetuknya pelan. Tak berapa lama seseorang keluar dari kamar itu.

“Eonnie? Kau cepat sekali sudah datang” Sooyoung membuka lebih lebar pintu kamar itu agar Tiffany bisa masuk.

“A-aku kebetulan sedang ada urusan di sekitar sini”
Tiffany mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Didapatinya Siwon sedang meringkuk di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya. “Bagaimana keadaannya?”

“Panasnya sudah sedikit turun. Tadi setelah kupaksa, ia mau makan. Tapi dia sering mengigaukan namamu saat tertidur”

Aku hanya terdiam tidak melepaskan tatapan mataku darinya sampai kurasakan tangan Sooyoung menepuk bahuku.

“Eon, aku titip oppa dulu ne? Dosenku sudah menunggu. Kalau ada apa-apa, telepon saja aku” sooyoung tersenyum kemudian berlalu.

Tadi saat di taman, Tiffany menerima pesan teks dari sooyoung yang mengatakan bahwa Siwon jatuh sakit. Dan Sooyoung ada keperluan mendadak di kampusnya, ia tidak bisa menitipkan Siwon begitu saja kepada asisten rumah tangga di rumah mereka. Tanpa berpikir dua kali, Tiffany langsung berlari mencari taksi dan pergi ke kediaman keluarga Choi.

Tiffany berjalan mendekati Siwon yang masih tertidur. Ia mengusap lembut rambutnya lalu meletakkan telapak tangannya pada dahi Siwon. Sudah tidak terlalu panas, batinnya.

Tindakan Tiffany ini membuat Siwon terbangun. Ia berusaha untuk membuka.

“Tiff?” Siwon berusaha untuk duduk namun dicegah oleh Tiffany.

”Diamlah, kau masih sakit”

”Terima kasih sudah mau datang..”

”Bukan masalah” Tiffany tersenyum lalu mengambil kain handuk untuk kompres.

Mereka lebih sering diam. Terlalu takut untuk mengutarakan isi hati masing-masing. Siwon ingin sekali menanyakan kembali tentang perasaan Tiffany padanya. Namun ia tidak mau membuat Tiffany kesal lalu meninggalkannya lagi. Selain itu ia belajar untuk tidak memaksakan jawaban dari Tiffany.

Siwon tahu bahwa Tiffany sudah putus dari Sehun. Bagaimana bisa? Ia pun tidak tahu bagaimana cara Sehun mendapatkan nomor ponselnya, tadi siang lelaki yang lebih muda itu mengirim pesan teks untuk Siwon yang memberitahu bahwa Siwon harus menjaga Tiffany baik-baik karena ia akan melepaskannya. Sejujurnya, Siwon sedikit merasa bersalah pada lelaki yang bahkan tak dikenalnya ini namun mungkin ini memang sudah jalan takdir.

Sebenarnya apa yang dilakukan Tiffany sekarang sudah merupakan jawaban untuk Siwon, ia tahu bahwa gadis ini masih memiliki rasa. Rasa yang sama seperti yang ia rasakan sekarang. Cinta?

1 tahun kemudian

 

Milan, Italy

 

Tiffany berjalan menelusuri lorong di gedung yang sangat besar ini. Ia berkeliling melihat-lihat sebentar, sebelum acara pewisudaannya dimulai. Setahun yang lalu ia mendapat beasiswa untuk meneruskan kuliah fashionnya di Milan, Itali. Memang rasanya berat meninggalkan Korea, terutama orang itu…. Hubungannya dengan Siwon telah membaik. Namun mereka masih menyandang status sebagai teman saja. Awalnya Tiffany tidak ingin terlalu terburu-buru memulainya lagi dengan Siwon, namun sekarang menjadi kebalikannya. Ia akan uring-uringan jika Siwon tiba-tiba tidak memberinya kabar karena sibuk. Ia mendengar dari Sooyoung bahwa Siwon benar-benar sudah berubah. Tidak ada gadis lain lagi di dalam kehidupannya. Hubungan pertemanannya dengan Kris juga sudah membaik.

Hari ini yang akan datang menghadiri pewisudaannya adalah eomma Tiffany dan Kris. Appa Tiffany tidak bisa hadir karena sedang ada perjalanan bisnis ke Singapur. Tiffany tiba-tiba berpikir, bagaimana jika tiba-tiba Siwon ada disini? Ah tapi tidak mungkin.

Ia kembali berjalan menuju hall di gedung itu, keadaan di sana memang cukup ramai. Entah bagaimana tiba-tiba ia merasakan seperti ada yang berbisik dalam hatinya. Memberitahunya untuk menengok ke belakang karena Siwon ada di sana. Awalnya ia tidak mau mengikuti bisikan hatinya, tapi entah mengapa perasaan itu sangat kuat. Saat ia membalikkan tubuhnya, ia bisa menangkap sosok yang sangat ia kenal sedang berdiri dan menengok ke kanan dan kiri seperti sedang mencari sesuatu. Dan akhirnya mata mereka bertemu. Tiffany tidak bisa menahan senyum bahagianya, ia berjalan ke arah Siwon yang juga sedang tersenyum.
”Sedang apa kau di sini?” Ucap Tiffany berpura-pura kesal.

”Eoh, memangnya aku tidak boleh kesini?”

”Tentu saja boleh. Tapi dimana eomma dan Kris oppa?” Tiffany mengerutkan keningnya.

”Mereka mendadak tidak bisa hadir. Akhirnya mereka memintaku untuk menggantikan” Ucap Siwon santai.

Tiffany melongo tidak percaya, bagaimana bisa eomma dan kakaknya itu bahkan tidak mengabari bahwa mereka tidak bisa datang.

”Kenapa wajahmu seperti itu? Bukankah harusnya kau senang karena ada aku disini?”

”M-mwo? Never in a million years” Tiffany mempoutkan bibirnya. Siwon tertawa keras karena puas bisa menggoda Tiffany.

“Ada yang ingin kusampaikan padamu” Tiba tiba intonasi suara siwon berubah serius.

” Apa? Kau ingin memintaku menjadi kekasihmu?”

Siwon menggelengkan kepalanya membuat Tiffany agak kecewa. Ini sama saja seperti ditolak. Namun tindakan berikutnya dari Siwon berhasil membuat nafas Tiffany tercekat, dan membuat orang-orang di sekitar mereka berhenti sejenak untuk melihat.

Siwon berlutut dan mengeluarkan sebuah cincin berlian ke hadapan Tiffany. Gadis itu sungguh tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang saking terlalu bahagia. Mungkin ini adalah akhir bahagia dari lika-likunya percintaannya sampai meneemukan cinta sejatinya. Tidak. Ini bukan akhir, namun awal.

”Tiffany Hwang, will you marry me?”

“I will”

Good relationships don’t just happen. They take time, patience, and two people who truly want to be together.

END

72 thoughts on “(LFF) True Love

  1. he mungkin udah takdir… karma berlaku won mangka.a jangan selingkuh tuh kan jadi diselingkuhin hahaha nice ff thor tp konflik.a kurang greget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s