(LFF) The Secret of Tiffany

The Secret of Tiffany

The Secret of Tiffany

Title                  : The Secret of Tiffany

Author               : Bangau Biru

Length              : Oneshoot

Genre               : Romance, Friendship

Rating               : T

Cast                  :

  • Tiffany Hwang             [Tiffany]
  • Choi Siwon             [Siwon]
  • Nickhun Buck Horvejkul [Nickhun]
  • Erica Kim [Original Character]
  • Dan teman-teman

***

“Seorang bidadari turun dari langit dan menjadi murid baru di sekolahku”

Author POV

Sejak pagi tadi, tidak sekalipun matahari menampakkan wujudnya. Ia hanya menyinari dunia selama satu jam saja dan kemudian wujudnya hilang, tenggelam dalam awan mendung yang berhias guntur. Angin dingin berhembus perlahan, menerbangkan dedaunan yang telah terpisahkan dari pohonnya.

Siwon memperhatikan langit mendung dari jendela kelasnya. Posisi bangku Siwon yang berada di tengah kelas memudahkannya untuk memperhatikan penjuru kelas, termasuk jendela. Sepertinya hujan akan turun, pikirnya dalam hati. Beberapa hari belakangan ini, Seoul berteman baik dengan cuaca yang tidak menentu. Ada hari dimana sinar matahari begitu terik, ada hari dimana awan menjatuhkan tetesan air yang tidak terhitung jumlahnya. Siwon masih melamun, menghiraukan suasana kelas di sekitarnya. Angin dingin menerpa jendela kelas. Perlahan-lahan tetesan air turun, membasahi jendela, membasahi tanah dan lapangan sekolah. Hujan telah turun. Hari ini hujan kembali turun.

Suara wali kelasnya, pak Kim, nyaris tenggelam dalam hujan.

“……begitulah. Mulai hari ini, kelas kita mendapatkan murid pindahan. Kalian harus bersikap baik kepadanya dan berteman dengannya. Nah, silahkan masuk dan perkenalkan dirimu”

Pintu kelas terbuka. Semua mata menatap seorang gadis yang sedang memasuki kelas dengan perlahan. Siwon melirik anak baru tersebut. Kulitnya putih. Rambutnya panjang, berwarna coklat, dan bergelombang. Jika biasanya murid baru akan tersenyum, gadis ini justru sebaliknya. Tatapan matanya lembut, namun menyiratkan kesepian. Tatapan matanya lembut, namun memancarkan kesedihan. Ia terus menunduk dan terus menunduk.

“Salam kenal. Namaku Tiffany Hwang. Sampai tahun lalu masih bersekolah di California dan mengikuti keluarga pindah ke Korea. Semoga kita bisa menjadi teman baik. Mohon bimbingannya”

Terdengar suara riuh rendah dari penjuru kelas. Beberapa anak perempuan kasak-kusuk, sibuk menanyakan mengapa Tiffany bisa memiliki paras yang begitu sempurna. Beberapa anak laki-laki kasak-kusuk, bertanya-tanya apakah Tiffany sedang jomblo atau tidak. Hanya Siwon yang masih diam di tengah kelas. Tidak lepas ditatapnya Tiffany, yang menunduk dalam-dalam. Oh, mungkin ia malu dan belum terbiasa di kelas ini.

“Kalau begitu, Tiffany, silahkan duduk di bangku itu”, pak Kim menunjuk satu bangku di ujung, “Mulai sekarang, bangku di sebelah jendela itu menjadi bangkumu”

Wajah Tiffany memucat ketika mengetahui posisi bangkunya yang baru. Siwon menyadari hal itu. Di luar, hujan deras masih turun, guntur masih bersahutan dengan riang. Tiffany terlihat bimbang sejenak sebelum berucap, “Pak, bisakah saya mendapatkan bangku yang lain?”

“Memangnya kamu mau bangku yang mana?”

“Dimana saja, asalkan tidak dekat dengan jendela”

“Tapi semua bangku di sini sudah terisi”

“Tapi saya tidak mau duduk di sebelah jendela!”

Beberapa anak mulai bertanya-tanya. Mengapa Tiffany begitu menolak duduk di sebelah jendela hingga menjerit seperti itu? Bukankah bangku di sebelah jendela adalah bangku yang paling sempurna? Jika bosan atau suntuk pada pelajaran, bisa menatap hamparan langit. Apalagi kelas mereka berada di lantai tiga. Di musim semi, pemandangan bunga Sakura dan pepohonan terlihat sangat indah. Ketika musim dingin datang, pemandangan salju dimana-mana. Bukankah bangku di sebelah jendela adalah bangku yang sempurna?

“Tiffany, kenapa kamu tidak ingin duduk di sebelah jendela?”, salah seorang murid berseru, “Tidak bisa menyimpan contekan yaa??”

Beberapa murid tertawa karena gurauan tersebut, namun Tiffany tidak tertawa sedikitpun. Jangankan tertawa, tersenyum pun tidak. Jangankan tersenyum, Siwon bahkan ragu apakah Tiffany mendengar gurauan itu. Melihat Tiffany yang tidak bereaksi sama sekali, suasana kelas kembali hening. Beberapa saling lirik dengan temannya.

Siwon menyandang ranselnya dan berdiri, “Pak, saya bersedia pindah bangku. Tiffany bisa memakai bangku saya”

Semua mata menatap Siwon, termasuk Tiffany. Mengabaikan tatapan tanda tanya atau tatapan terima kasih—entahlah, Siwon tidak bisa membedakannya—, ia duduk di bangku kosong dekat jendela. Bangku yang seharusnya menjadi bangku Tiffany. Karena di luar hujan sedang turun dan angin bertiup keras, bangku itu menjadi dingin. Bahkan terdapat beberapa tetesan air yang menembus sela-sela jendela. Siwon bergeser, memberi jarak antara bangku dan jendela karena tidak ingin bukunya basah.

“Baiklah. Tiffany, duduklah di bangku itu”, pak Kim menunjuk bangku yang tadinya dipakai Siwon.

Kali ini, tidak ada bantahan, tidak ada jeritan. Tiffany duduk di bangku barunya dengan patuh. Siwon tidak habis pikir mengapa Tiffany tidak ingin memakai bangku di sebelah jendela. Padahal pemandangannya indah dan menyenangkan selain pemandangan ketika hujan. Satu-satunya resiko jika duduk di sebelah jendela hanyalah adanya air yang masuk dan membasahi bangku ketika hujan.

“Sombong sekali dirinya. Duduk di bangku sebelah jendela saja tidak mau”, terdengar bisikan sinis dari belakang.

“Hanya karena pindahan dari California, dikiranya ia bisa seenaknya saja di sini”, tambah yang lain.

Siwon mencoba bersikap tuli. Ia tidak begitu suka mendengar gosip tidak peduli tentang siapapun itu. Siwon membuka bukunya dan mencoba fokus kepada pelajaran. Tidak mengingat-ingat tentang Tiffany dan sikap anehnya tentang bangku lagi.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, perpindahan Tiffany menjadi peristiwa yang menggemparkan sekolah. Beberapa alasan mendasarinya. Pertama, karena sekolah tidak pernah kedatangan murid dari California. Kedua, karena paras Tiffany sangat sempurna untuk siapapun yang melihatnya. Dengan kulit yang putih, rambut panjang bergelombang, siapapun akan suka dengannya.

Hari ini, Siwon merasa suasana kelasnya menjadi lebih ramai dari biasanya. Murid kelas lain datang hanya untuk melihat siapakah yang bernama Tiffany, bahkan beberapa langsung mengajak berkenalan. Siwon yang menyukai suasana tenang hanya bisa bersabar. Rasanya ia malas membayangkan suasana berisik seperti ini akan terus berlanjut selama beberapa hari ke depan, mengingat Tiffany adalah murid di kelasnya.

Siwon menatap pemandangan di luar jendela. Hujan masih turun meski tidak sederas pagi tadi. Saat ini hanya gerimis kecil saja yang tersisa. Sembari menunggu jam pelajaran berikutnya, Siwon membuka novel Maze Runner yang tengah dibacanya. Perlahan-lahan ia tenggelam dalam buku tersebut namun suasana kelas tidak membiarkannya.

“Tiffany, apakah benar bahwa kamu pindahan dari California?”

“Apakah kamu bisa bahasa Inggris?”

“Saat ini tinggal dengan siapa? Dimana?”

“Boleh minta nomor ponselmu?”

Siwon menggeram dalam hati. Diliriknya Tiffany yang dikelilingi beberapa murid laki-laki yang entah kelas berapa dan siapa namanya. Siwon sungguh terganggu, namun apa yang bisa ia lakukan? Siwon sendiri mengakui bahwa Tiffany memang cantik. Rambutnya yang bergelombang dengan indah, aroma manis yang samar-samar tercium darinya, semuanya sangat menarik. Namun tidak perlu juga ribut-ribut hingga mengganggu orang lain.

“Cantik sekali ya”

Siwon menatap Kyuhyun, teman dekatnya yang memperhatikan seseorang. Siapa lagi jika bukan Tiffany. “Ya, begitulah”

“Aku belum pernah bertemu dengan gadis secantik dirinya. Apakah dia manusia?”

“Maksudmu?”

“Siapa tahu dia bidadari yang jatuh ke bumi”

“Imajinasimu berlebihan. Bidadari mana yang mau jatuh ke bumi. Bukankah kahyangan jauh lebih menarik?”

Kyuhyun menggelengkan kepala. “Kamu sama sekali tidak memiliki imajinasi”

Siwon mengangkat bahu. Sesungguhnya ia pun setuju jika Tiffany memang bidadari yang jatuh ke bumi, namun ia tidak akan mengakuinya karena tidak mau dijadikan bulan-bulanan oleh Kyuhyun. Siwon menghela nafas, memutuskan untuk tidak membaca lagi karena akan percuma, toh ia tidak bisa konsentrasi sama sekali.

Untuk kesekian kalinya, Siwon kembali menatap jendela. Langit masih mendung dan gerimis masih turun. Suasana kelas terpantul pada jendela. Siwon bisa melihat Kyuhyun membaca komik Naruto di sebelahnya. Siwon bisa melihat beberapa anak perempuan berbicara tentang make-up di pojok kelas. Siwon bisa melihat Tiffany masih dikelilingi beberapa murid laki-laki.

Tanpa Siwon sadari, ia tidak berhenti memperhatikan pantulan Tiffany hingga pelajaran berikutnya dimulai.

Ketika bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa pelajaran telah berakhir, gerimis masih turun. Beberapa murid yang tidak ada kegiatan langsung pulang dengan payung, ada yang masih berteduh, dan ada pula yang menerobos hujan. Kegiatan klub yang biasanya diadakan di lapangan seperti basket diadakan di gedung olahraga sekolah. Tidak ada ide kapan gerimis ini akan berhenti.

Siwon sedang membereskan barangnya ketika Kyuhyun bertanya, “Pulang sekarang?”

“Boleh”

Kelas sudah mulai sepi dan hanya beberapa murid yang masih belum pulang. Kalaupun ada murid, mungkin hanya beberapa laki-laki yang mengerumuni Tiffany dan mengajaknya pulang bersama atau sepayung berdua sekalian. Tiffany, entah karena alasan apa, menolak semua ajakan itu. Siwon melirik mereka sejenak dan langsung keluar kelas bersama Kyuhyun.

“Tiffany populer sekali. Bukan tidak mungkin dia langsung mendapatkan pengakuan cinta dalam seminggu ini”, gumam Kyuhyun.

“Ya, begitulah”, ujar Siwon singkat. Tidak terlalu peduli.

Gerimis masih turun perlahan. Siwon dan Kyuhyun membuka payungnya dan berjalan beriringan. Terdapat genangan air sepanjang jalan, sisa-sisa dari hujan sejak pagi. Setiap jengkal pepohonan basah karena hujan. Siwon dan Kyuhyun terus terdiam hingga keduanya berpisah di tikungan.

Tidak sampai dua puluh menit, Siwon telah sampai di rumah. Adiknya yang masih SD, Siwan, sedang menonton TV di ruang tamu. Ibunya sedang memasak di dapur. Siwon mengambil air mineral sembari berucap, “Ibu, aku pulang”

“Selamat datang. Nanti malam kita makan udang goreng lho”

“Wah, asyik”, ujarnya kalem.

Siwon naik ke kamarnya dan berganti baju. Ia merebahkan dirinya di atas kasur, menatap gerimis dari balik jendela kamar. Siwon tidak mengerti dengan cuaca di Seoul beberapa hari ini. Ada hari dimana matahari bersinar terik sepanjang hari, ada hari dimana hujan berkepanjangan terus turun seperti ini. Siwon melamunkan banyak hal. Ujian tengah semester, Siwan yang menjuarai olimpiade matematika, Kyuhyun yang sedang terpesona pada seorang adik kelas, dan Tiffany.

Tiffany. Sang bidadari dari kahyangan yang menjadi murid baru di kelasnya.

Siwon menguap beberapa detik sebelum jatuh tertidur.

Jam sudah menunjukkan pukul 19:00 ketika Siwon terbangun. Matahari sudah terbenam dan gerimis sudah berhenti. Siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencuci muka, kemudian turun ke lantai bawah. Ayahnya dan Siwan sudah duduk di meja makan. Hidangan udang goreng terlihat sangat menggiurkan, membuat perut Siwon yang kelaparan berteriak.

“Siwon, Ibu boleh minta tolong? Belikan saus di toko ya. Ibu lupa tidak beli saus ketika belanja tadi siang”

Siwon mengangguk.

“Aku ikut!”, seru Siwan.

Siwon mengangguk lagi. Ia memakai jaketnya dan keluar rumah bersama Siwan. Angin malam yang dingin langsung menyapa tubuhnya. “Siwan mau beli apa di toko?”, tanyanya.

“Hm… permen!!”

Siwon hanya tersenyum sambil membuka pagar.

“Kakak, sudah tahu belum kalau kita punya tetangga baru?”

“Sungguh?”

“Iya! Ibu bilang mereka pindahan dari Amerika”

Siwon tidak menjawab. Bahkan mungkin ia tidak mendengarnya. Ia terpaku pada sosok di depan rumah tetangganya. Sosok yang tadi sempat membayanginya. Kulit yang putih, rambut coklat panjang yang bergelombang, dan aroma manis dari tubuhnya. Bidadari yang jatuh dari kahyangan dan menjadi murid baru di sekolahnya.

Tenggorokan Siwon terasa tercekat, “….Tiffany?”

Di sanalah Tiffany berdiri. Di depan rumah tetangga yang telah lama kosong, masih mengenakan seragam sekolah. Sepertinya ia baru saja pulang. Entah apa saja yang dilakukannya hingga baru pulang jam segini.

Tiffany menatap Siwon.

“Selamat malam”, ucapnya kemudian. Singkat, dingin, tanpa senyuman sama sekali. Tanpa menunggu balasan atau lainnya, ia masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun lagi.

Siwon masih diam di tempat. Rasanya sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi. Ucapan Siwan beberapa menit yang lalu, yang mengatakan bahwa ada tetangga baru yang pindah dari Amerika, terngiang di telinganya.

“Seorang bidadari turun dari langit, menjadi murid baru di sekolahku, dan tinggal di sebelah rumahku”

***

Normalnya, setiap manusia yang berada di tempat baru akan mendapatkan teman. Bagaimanapun, manusia membutuhkan teman untuk membantunya, menemaninya, atau melindunginya. Siwon sendiri telah berteman dengan Kyuhyun sejak mereka masih duduk di sekolah dasar. Setiap manusia membutuhkan teman, dan sungguh, hal itu berlaku kepada setiap orang.

Namun, mungkin Tiffany adalah pengecualian.

Sudah dua minggu berlalu sejak ia pindah ke sekolah ini, namun ia belum mendapatkan seorang teman. Bukan berarti tidak ada yang ingin berteman dengannya. Beberapa murid perempuan sudah mengajaknya berkenalan, mengajaknya belanja atau menginap bersama, atau melakukan hal cewek lainnya, namun Tiffany selalu menolak. Beberapa murid laki-laki sudah menyatakan cintanya, mengajaknya berteman ataupun pacaran, dan sekali lagi Tiffany selalu menolak. Ia selalu sendirian. Memasang wajah angkuh nan sombong, mengeluarkan aura tidak ingin diganggu oleh siapapun, dan tidak pernah bicara apalagi tersenyum.

Hari itu, matahari bersinar dengan terik. Ramalan cuaca mengatakan bahwa matahari akan bersinar selama dua hari kedepan. Suasana kelas sebelum wali kelas datang sangatlah ramai. Setiap murid membicarakan hal-hal yang berbeda. Siwon dan Kyuhyun sendiri membicarakan tentang anime Naruto yang tamat pada tahun 2014. Suasana yang ramai itu sirna ketika seseorang membuka pintu kelas dengan cukup keras.

BRAK!

Semua orang menoleh. Tiffany berjalan dengan tenang, duduk di bangkunya, dan mulai mengeluarkan novel berbahasa Inggris. Sama sekali tidak tersenyum, apalagi mengucapkan ‘selamat pagi’ dengan manis. Beberapa orang mencibirnya.

“Lihat si Tiffany, gayanya angkuh sekali”

“Sombong sekali dia, pamer kemampuannya berbahasa Inggris segala. Iya, aku tahu nilai bahasa Inggris-ku memang hanya empat!!”

“Cantik tapi judes!”

Siwon hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar cibiran yang datang dari berbagai arah tersebut. Setiap hari ia mendengar hal yang serupa. Meskipun tidak akan mengatakannya kepada siapapun, Siwon sendiri mengakui bahwa Tiffany memiliki sifat yang sedikit jelek. Ia selalu cemberut, tidak pernah tersenyum, tidak pernah pula bicara jika tidak ada orang yang mengajaknya duluan. Siwon ingat suatu pagi ketika mereka berpapasan di depan gerbang, Siwon menawari berangkat bersama namun Tiffany malah meninggalkannya. Ia sendiri tidak menyangka Tiffany memiliki sifat seperti itu.

Semua cibiran tersebut berhenti ketika wali kelas, pak Kim, membuka pintu kelas. “Ayo, kalian semua kumpul ke halaman!! Hari ini kita akan bekerja bakti menyapu halaman sekolah, membersihkan kolam renang, menyiram tanaman, dan serangkaian hal menyenangkan lainnya!!”

Terdengar erangan dan keluhan dari seluruh penjuru. Ya, siapapun memang enggan kerja bakti di bahwa teriknya matahari, apalagi di musim panas. Namun mereka semua tahu bahwa sekali pak Kim memerintah, maka tidak ada siapapun yang sanggup melawannya.

“Aduh, rasanya malas sekali kerja bakti”, Kyuhyun meletakkan komiknya, “Mana sekarang aku sedang sibuk membaca Kuroko no Basuke”

Siwon menahan senyum, “Lanjutkan nanti saja setelah kerja. Ayo, yang semangat!”

Sekolahnya Siwon menerapkan sistem kerja bakti yang harus dikerjakan setiap kelas berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan. Tidak tahu termasuk beruntung atau tidak, kelasnya Siwon mendapatkan jadwal kerja bakti di musim panas. Sementara mereka bersimbah keringat menyapu halaman atau menyikat kolam renang, murid kelas lain hanya bisa bersorak, berteriak bahwa ada kuli di halaman.

“Baiklah! Murid laki-laki, kalian semua bersihkan kolam renang! Murid perempuan, ada yang menyapu dan ada yang menyiram tanaman!! Kerjakan sekarang!!”, seru pak Kim.

Siwon sedang melepas sepatunya ketika melihat Tiffany mengambil sapu dan mulai menyapu sendirian dalam diam. Ada sesuatu yang janggal dari penampilan gadis itu. Maka ketika Kyuhyun datang membawa dua alat pel, Siwon langsung mengemukakan pendapatnya. “Kyuhyun, apakah kamu tidak menemukan sesuatu yang aneh dari Tiffany?”

“Apanya?”

“Seragamnya”

Kyuhyun memperhatikan Tiffany, sama halnya dengan yang dilakukan Siwon. Tidak ada yang aneh dari Tiffany. Ia mengenakan seragam dengan benar dan sesuai dengan peraturan. Kalaupun ada yang berbeda, hanya….

“Kenapa seragamnya Tiffany berlengan panjang?”, tanya Siwon, “Bukankah sekarang musim panas? Apakah ia tidak tersiksa dengan seragam panjang seperti itu?”

“Mungkin dia tidak tahu kalau sekarang harus mengenakan seragam musim panas”

“Alasan yang bodoh sekali, Kyuhyun…”

“Mana aku tahu, Siwon. Daripada kamu terus-menerus memperhatikan seragam orang, bagaimana jika kita mulai menyikat kolam renang saja? Tuh, pak Kim sedang mencari mangsa!”

Siwon dan Kyuhyun mulai bekerja. Bersama dengan sejumlah siswa lain, mereka menyikat kolam renang yang sudah dikuras. Sesekali candaan terlontar dan gelak tawa terdengar. Siwon menyikat kolam dengan tenang. Sesekali memperhatikan Tiffany yang menyapu halaman sekolah.

Tiffany selalu sendirian. Siwon tahu hal itu. Sebagai tetangga dan teman sekelas, Siwon sudah berusaha mengajaknya berteman namun apa daya, Tiffany tidak pernah membiarkan siapapun dekat dengan dirinya. Jika didekati perempuan saja ia melipir, bagaimana jika didekati oleh Siwon yang laki-laki? Bukan tidak mungkin ia akan semakin menjaga jarak.

Siwon sendiri tidak tahu alasan mengapa Tiffany begitu menarik diri dari lingkungannya. Mungkin satu-satunya kalimat yang pernah Tiffany ucapkan padanya hanya ‘selamat malam’ ketika mereka berpapasan di depan rumah beberapa waktu yang lalu.

“Tiffany! Mau sampai kapan kamu menyapu halaman yang sudah bersih??”

Siwon menoleh. Di halaman sekolah, terlihat Tiffany dan beberapa anak perempuan. Sepertinya mereka sedang ada masalah. Salah satu siswi, Erica, berdiri di depan Tiffany dengan wajah angkuh. Terlihat sekali jika ia sangat membenci gadis pindahan dari California tersebut. “Kalau sudah selesai menyapu, cepat kamu siram tanamannya!”

Tiffany mundur selangkah. Wajahnya sedikit ketakutan namun ia berusaha menyembunyikannya. “Aku tidak bisa”

“Apa? Kamu tidak bisa menyiram tanaman? Selama di California, kamu belajar apa sih??”

Raut wajah Tiffany mengeras. “Bukan urusanmu!”

“Kamu memang aneh! Sudah memakai seragam musim dingin di musim panas, tidak pernah bicara, selalu menyendiri, sekarang tidak bisa menyiram tanaman!! Cantik bagaimana juga percuma jika judes sepertimu!!!”

Tiffany hanya diam.

“Apa kamu takut kulitmu yang putih itu tersentuh kami?? Hingga terus mengenakan seragam lengan panjang setiap hari!! Apa kamu takut kulitmu yang putih itu kotor kena tanah dan air?? Hingga tidak sudi menyiram tanaman!! Sok tuan putri sekali!!”

Wajahnya Tiffany memerah, kombinasi dari marah dan entahlah, apa lagi. “Kamu tidak mengerti apa-apa, jadi jangan bicara sembarangan! Siram saja sendiri, kenapa harus menyuruh aku?? Aku bukan pembantumu!!”

Tiffany membanting sapu dan pergi dari tempat itu. Bukannya mengejar atau terlihat menyesal, Erica dan teman-temannya justru semakin mencibir. Beberapa malah berucap “Biarkan saja anak aneh itu”

Pertengkaran kecil itu terlihat dari kolam renang. Bahkan beberapa siswa menghentikan kegiatannya hanya untuk menyaksikan. Setelah Tiffany pergi, mereka mulai bergunjing. “Tiffany memang aneh”

“Menyiram tanaman saja tidak bisa”

“Sayang sekali. Wajah cantiknya dihias dengan sifat yang buruk”

Siwon hanya bisa terdiam setelah mendengar dan melihat semuanya.

***

Pasca kejadian ketika kerja bakti, Tiffany semakin dijauhi oleh teman-teman. Bahkan ada yang tega menyindirnya secara frontal, meskipun Tiffany sedang ada di dekatnya. Tidak ada yang bicara dengannya, tidak pula berusaha mengajaknya berteman seperti dulu. Kabar ini sudah menyebar hingga ke kelas lain, membuat Tiffany dicap sebagai ‘anak aneh’, ‘gadis sombong’, dan julukan tidak sedap lainnya.

Siwon melirik Tiffany, kemudian menghela nafas. Sebagai teman sekelas sekaligus tetangga, ia merasa paling tidak enak kepada Tiffany. Apa boleh buat. Sekalipun Siwon sudah berusaha mengajaknya bicara, Tiffany tidak pernah menanggapinya. Apa lagi yang bisa ia lakukan?

Meski begitu, Tiffany terlihat baik-baik saja sekalipun ia sendirian. Ia tidak terlihat menyesal atau bersedih walau seluruh teman sekelas menjauhinya. Setiap disindir atau digunjing, ia akan bersikap tuli dan membaca buku dengan tenang. Meskipun sudah tahu penilaian orang lain tentangnya, Tiffany sama sekali tidak mengubah sikapnya.

Seperti hari ini.

“Teman-teman!! Pelajaran olahraga hari ini, kita akan berenang!!!”

Terdengar sorakan dari seluruh penjuru kelas. Di musim panas, berenang memang kegiatan yang paling ditunggu-tunggu. Apalagi berenang di sekolah. Sudah gratis, termasuk absensi olahraga pula. Siapapun tidak bisa menolaknya. Beberapa murid sudah keluar kelas, berlari-lari menuju ruang ganti. Entah mengapa mereka bersikap seakan mereka belum pernah berenang sebelumnya.

“Siwon, ayo kita ganti baju”, ajak Kyuhyun. Ia sendiri sudah tidak sabar menceburkan diri ke dalam kolam air yang dingin dan segar.

Siwon mengangguk. Tidak sengaja ia melihat Tiffany yang masih duduk tenang di bangkunya, membaca buku seakan tidak mendengar kabar gembira barusan. Entah atas dasar apa, Siwon mendekatinya. Mengetahui ada yang berdiri di sebelahnya, Tiffany mengangkat kepalanya.

“Pelajaran olahraga hari ini, kita berenang”, ujar Siwon perlahan, “Sudah tahu kan?”

Tiffany terdiam sejenak. “Aku tidak ikut”

Siwon mengerutkan kening. “Kenapa? Kamu sakit?”

Belum sempat Tiffany mengucapkan apapun, Erica yang kebetulan mendengar pembicaraan itu langsung memotong. “Sudahlah, Siwon, biarkan saja anak itu. Jika dia tidak ingin ikut berenang, ya sudah, terserah dia. Siapa tahu dia tidak sudi berenang bersama rakyat jelata seperti kita, bukankah begitu, tuan putri?”, ucapnya dengan nada menyindir.

Tiffany menatap Erica, kemudian kembali menatap bukunya, “Anggap saja begitu”

Warna merah menjalari wajah Erica. Perpaduan dari malu, marah, dan semacamnya. Ia berteriak “Terserah kamu saja, dasar sombong!!” sebelum keluar kelas. Siwon sendiri terpaku, sama sekali tidak menyangka Tiffany bisa berucap sinis seperti itu. Gadis itu bahkan tidak terlihat menyesal sedikitpun. Siwon bisa saja berdiri di sana sepanjang hari, jika Kyuhyun tidak menepuk bahunya, mengingatkan bahwa pelajaran olahraga akan dimulai sebentar lagi dan mereka belum ganti baju.

Masih diliputi rasa penasaran yang luar biasa, Siwon meninggalkan Tiffany sendirian di kelas.

Kejadian tadi begitu membekas di benak Siwon. Ia terus memikirkannya ketika berenang, ketika pelajaran berikutnya, bahkan hingga jam pelajaran berakhir. Siwon selalu mendengar tentang buruknya sifat dan sikap Tiffany setiap hari, bahkan terkadang ia melihatnya sendiri, namun baru kali ini ia berhadapan secara langsung. Ternyata Tiffany bersikap sinis kepada setiap orang. Meskipun bertetangga, Tiffany tidak terlihat mengenalnya sama sekali. Siwon bahkan ragu apakah Tiffany ingat bahwa rumah mereka bersebelahan. Sungguh, Siwon sama sekali tidak menyangka.

Ternyata, seseorang tidak boleh dinilai dari luarnya saja, pikir Siwon.

Lamunannya berhenti ketika Kyuhyun menepuk bahunya, “Kamu sedang apa? Kita pulang yuk”

Siwon mengangguk.

Kyuhyun membicarakan banyak hal, seperti anime Kuroko no Basuke, namun Siwon tidak terlalu menyimak. Kejadian tadi masih membayang-bayangi dirinya. Entahlah, Siwon sendiri tidak mengerti apa yang ia rasakan. Kecewa? Marah? Entahlah. Siwon sendiri tidak mengerti. Ia merasa tatapan Tiffany, ucapan Tiffany, semuanya begitu sinis dan menusuk hatinya. Meskipun Siwon tahu Tiffany bersikap seperti itu kepada setiap orang, namun tetap saja rasanya menyakitkan.

“Eh, bukankah itu Tiffany?”

Siwon menoleh. Dilihatnya Tiffany yang berjalan sendirian sambil mendengarkan lagu dari ponsel. Sebuah payung lipat tembus pandang digenggamnya di tangan kiri. Siwon mengerutkan kening melihatnya.

“Untuk apa ia membawa payung? Bukankah cuaca hari ini sedang cerah?”, tampaknya Kyuhyun menyadari hal yang sama, “Apalagi ia membawa payung itu setiap hari”

Siwon mengangkat bahu, memutuskan untuk tidak peduli. “Sudahlah, apa juga urusannya dengan kita. Jadi, bagaimana cerita lanjutan Kuroko no Basuke?”

Sementara Kyuhyun kembali menceritakan anime tersebut, Siwon melirik Tiffany dan payung lipat di tangannya.

Setiap hari, ada saja hal aneh yang Siwon temukan tentang Tiffany.

***

Hari ini hari Minggu dan cuaca sedang tidak menentu. Pagi tadi matahari bersinar dengan terik, kemudian awan mendung perlahan-lahan datang, dan rintik air mulai turun membasahi bumi. Siwon sedang berada di kamarnya, menyiapkan buku ke dalam ransel, kemudian turun menemui Ibunya yang sedang bersantai di ruang tamu.

“Ibu, aku berangkat les dulu ya”

“Hati-hati di jalan. Di luar hujan, jangan lupa pakai payung”

Siwon mengangguk. Ia menengok tempat payung namun tidak menemukan payung biru yang biasa ia pakai. Siwon mencarinya sekali lagi, namun ia masih belum menemukannya. Siwon mengerutkan kening. “Ibu, payungku mana ya?”

“Payung biru?”

“Iya”

“Kemarin patah karena dipakai main pedang-pedangan sama Siwan”, ujar Ibu kalem, seakan anak bungsunya tidak merusakkan apa-apa, “Pakai saja payungnya Siwan dulu”

Siwon mengambil satu-satunya payung yang ada. “Ibu bercanda? Ini gambarnya Angry Bird”

“Apa boleh buat, daripada kamu kehujanan lalu jatuh sakit”, Ibu tertawa sejenak, “Sudahlah, lekas berangkat sana. Nanti terlambat lho”

Siwon keluar rumah dengan menggerutu. Kenapa adiknya tidak main pedang-pedangan dengan payungnya sendiri? Kenapa harus dengan payungnya? Kenapa harus patah segala? Siwon tidak habis pikir. Siwon melirik gambar Angry Bird dari payung yang sedang menaunginya dan menghela nafas. Semoga ia tidak berpapasan dengan Kyuhyun atau ia akan dijadikan bulan-bulanan selama berminggu-minggu.

Hujan masih turun. Suasana kota sedang sepi karena jalanan menjadi licin ketika hujan. Beberapa orang yang berpapasan dengan Siwon menolehkan kepalanya sambil mengerutkan kening, ada pula yang tertawa sambil menunjuk-nunjuk, semua hanya karena Siwon mengenakan payungnya anak SD. Wajahnya memerah. Ia bertekad jika bertemu dengan toko payung atau semacamnya, ia harus mampir!

Di halte bus, beberapa orang sedang berteduh. Mungkin mereka tidak membawa payung, pikirnya sambil melirik halte bus tersebut. Siwon melanjutkan perjalanan, berhenti, kemudian kembali menatap halte bus. Dari beberapa orang yang berteduh di sana, sepertinya ia mengenal seseorang. Rambut panjang bergelombang dan kulit putih itu. Wajah yang judes nan sombong itu. Tatapan mata yang memancarkan kesepian itu.

“Tiffany?”, tanya Siwon, lebih kepada dirinya sendiri.

Siwon bertanya-tanya, apa yang dilakukan Tiffany di halte bus. Berteduh? Kalau begitu, dia tidak membawa payung? Siwon melihat jam tangannya. Masih ada waktu sebelum lesnya dimulai. Bolehlah jika ia menjadi ojek payung untuk hari ini. Siwon menyeberang jalan dan berhenti di depan halte bus.

Benar saja, itu Tiffany. Berdiri sendirian di pojok sambil memainkan ponsel. Siwon tidak tahu mengapa Tiffany begitu memojok bagaikan tikus yang dimangsa kucing, namun itu bukan masalah yang penting untuk dibahas. Siwon melipat payungnya dan mendekati Tiffany.

Tiffany menoleh.

Siwon tersenyum. “Selamat siang”

Reaksi orang yang wajar jika didatangi temannya ketika berteduh adalah “Apa yang kamu lakukan di sini?” atau “Wah, kebetulan sekali ya” atau mungkin sekalian “Antarkan aku pulang ya!”. Siwon sudah menduga Tiffany akan mengucapkan salah satu diantaranya.

Dan sungguh, reaksi Tiffany benar-benar di luar dugaannya.

“Jangan mendekat!”

“A-apa?”

“Kubilang, jangan mendekat!!!”

Siwon mengerutkan kening. Kenapa ia tidak boleh mendekat? Siwon tidak ingin modus dengan dekat-dekat juga sih, tapi kan hanya ‘mendekat’? Apakah ada sesuatu darinya yang membuat Tiffany bersikap seperti itu? Apakah ia bau? Atau karena sekarang ia memakai payung bergambar Angry Bird? Inipun toh payung adiknya.

Tapi daripada Tiffany terus menjerit dan orang-orang akan mengira Siwon hendak berbuat macam-macam, ia menurut saja. Siwon menyembunyikan payungnya yang basah di balik punggung. Setelah itu, barulah Tiffany terlihat sedikit lega. Siwon jadi benar-benar berpikir mungkin gadis ini sangat jijik pada Angry Bird. Siwon juga tidak terlalu menyukai karakter burung bulat itu sih, tapi sepertinya tidak sehina itu deh.

Mengabaikan Tiffany yang sangat manis dengan cardigan merah muda, Siwon maju selangkah tanpa maksud apa-apa, “Anu…”

Dan Tiffany mundur selangkah, “A-ada perlu apa?”

Siwon menyadari hal itu namun ia pura-pura tidak menyadari. “Apa yang kamu lakukan di sini? Berteduh?”

“Ya… begitulah…”

“Kamu tidak membawa payung?”

Tiffany tidak menjawab. Ia hanya diam menunduk. Siwon bertanya-tanya mengapa gadis di hadapannya ini bisa terlihat begitu cantik meskipun sedang tidak tersenyum. Siwon menggelengkan kepala. Kamu ini mikir apa sih?? Sadar, Siwon!!!, batinnya heran. Tatapannya jatuh kepada payung lipat tembus pandang di tangan Tiffany.

Nah…?

“Itu… payung kan?”, tunjuk Siwon, “Kenapa tidak pulang saja? Itu kamu bawa payung”

Bukannya menjawab, Tiffany justru menyembunyikan payung itu di balik punggungnya. Siwon benar-benar bingung dan heran dibuatnya. Pada titik ini, Siwon mulai memahami mengapa teman-temannya mengatakan Tiffany adalah anak yang aneh, bahkan cenderung gila. Siwon tidak pernah membuktikannya hingga hari ini.

Ia memanggilnya sekali lagi, “Tiffany?”

“Jangan ikut campur!!”, tiba-tiba Tiffany berteriak, membuat Siwon mundur selangkah, “Untuk apa kamu banyak tanya?? Kalau mau pulang, sana pulang sendiri!! Tidak perlu tanya macam-macam!!”

Siwon terpaku. Pertama kalinya diteriaki oleh Tiffany, ia tidak tahu harus berbuat apa. Tiffany membuang muka, tampak benar-benar tersinggung. Siwon bertanya-tanya apakah ia menanyakan sesuatu yang salah? Tidak kan? Lalu kenapa Tiffany bersikap seperti itu?

Orang-orang yang berteduh di halte dan beberapa pejalan kaki menatap mereka berdua, membuat Siwon merasa gerah. Ia merasa sebaiknya tidak berada di sini lagi. “Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Maaf… jika sudah mengganggu…”

Siwon keluar dari halte tanpa membuka payung Angry Bird milik adiknya. Setengah berlari menuju tempat tujuannya semula. Dibanjiri oleh air hujan dan tatapan dari orang-orang. Siwon tidak mengerti. Ia benar-benar tidak mengerti. Mengapa, mengapa Tiffany bersikap seperti itu kepadanya?

Sebuah lubang besar menganga di hatinya.

***

Ketika Siwon selesai les, matahari sudah terbenam. Hujan baru saja berhenti beberapa menit yang lalu. Siwon berjalan perlahan, menginjak genangan demi genangan air yang masih tersisa di jalan. Pikiran dan perasaannya berkecamuk.

Kejadian di halte bus beberapa jam yang lalu telah membuat Siwon kehilangan konsentrasi selama di tempat les. Siwon kena tegur empat kali karena ketahuan tidak menyimak pelajaran. Ia sendiri terlihat tidak menyesal sama sekali. Siapapun akan sulit berkonsentrasi setelah mengalami kejadian seperti itu.

Siwon tidak habis pikir.

Mengapa?

Mengapa Tiffany bersikap seperti itu?

Sejak hari kedatangan Tiffany ke kelasnya, Siwon merasa ada yang berbeda dari Tiffany. Gadis itu sama sekali tidak tersenyum, tidak bicara, dan terus menunduk. Tadinya Siwon mengira Tiffany bersikap seperti itu karena ia belum terbiasa dengan lingkungan yang baru, namun tampaknya ia salah menduga. Sudah sebulan sejak Tiffany masuk ke kelasnya dan sama sekali tidak ada perubahan yang berarti. Tiffany yang tadinya populer karena parasnya menjadi gadis yang paling dibenci karena sikap judes dan kata-kata kasarnya.

Sungguh, Siwon tidak habis pikir.

Mengapa Tiffany bersikap seperti itu?

Dalam perjalanan pulang, Siwon melewati halte bus tempatnya menemui Tiffany siang tadi. Halte bus kini kosong, hanya ada seorang nenek dan murid SMA di dalamnya. Tiffany sudah tidak ada. Mungkin dia sudah pulang, atau pergi ke suatu tempat, entahlah. Siwon menatap halte bus itu. Nanar.

“Jangan ikut campur!! Untuk apa kamu banyak tanya?? Kalau mau pulang, sana pulang sendiri!! Tidak perlu tanya macam-macam!!”

Siwon tidak pernah merasa begitu tersakiti karena ucapan orang lain.

Begitu sampai di rumah, Siwon langsung naik ke kamarnya. Diabaikannya ajakan Siwan untuk bermain PlayStation bersama. Tawaran untuk makan malam juga tidak dihiraukannya. Semua yang Siwon inginkan malam ini hanya sendiri.

Siwon membuka jendela kamarnya. Angin malam yang dingin berhembus menerpa dirinya. Dari jendela kamarnya, rumahnya Tiffany terlihat. Tetangga yang sama sekali tidak akrab dengannya. Jangankan akrab, mereka bahkan tidak pernah berangkat atau pulang sekolah bersama sekalipun mereka bisa melakukannya setiap hari. Yang Siwon tahu, Tiffany hanya tinggal berdua dengan ayah dan kakak laki-lakinya.

Lamunannya berhenti ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Tiffany. Siwon memperhatikan mobil itu. Seorang laki-laki keluar dari mobil. Siwon tahu orang itu. Ia adalah Nikchun, kakak laki-lakinya Tiffany. Mereka sempat berpapasan beberapa kali di depan rumah. Siwon terus memperhatikan. Nikchun membuka pintu mobil belakang dan menggendong Tiffany di punggung, kemudian mengunci mobil dan masuk ke dalam rumah.

Siwon melongo.

Apakah ia salah lihat? Tidak, sepertinya bukan begitu. Dengan jelas ia melihat Nikchun menggendong Tiffany dari mobil ke rumah. Dari mobil ke rumah!! Astaga, apakah Tiffany begitu manja hingga meminta gendong dari mobil ke rumah?? Andaikan Siwan yang meminta seperti itu, niscaya Siwon sudah membuangnya sedari dulu.

Sungguh, Siwon benar-benar tidak mengerti tentang Tiffany.

Tiba-tiba saja ia menyesal. Mengapa ia harus sedih dan bermuram durja karena teriakan anak manja dan sombong seperti Tiffany? Mengapa ia harus kehilangan konsentrasi hingga ditegur empat kali hanya karena anak seperti Tiffany? Siwon sungguh menyesal. Dianggapnya teriakan Tiffany di halte bus hanya angin lalu dan dilupakannya kalimat demi kalimat. Ia benar-benar menyesal.

Siwon menutup jendela dengan keras. Memutuskan untuk tidak terlibat lagi dengan anak aneh itu.

***

Suasana sekolah masih seperti biasa. Ramai dan tidak terkendali. Cuaca mendung hari ini tidak mempengaruhi keceriaan anak muda. Siwon sendiri sudah melupakan apa yang terjadi kemarin secara total. Ia tidak ingin mengingatnya lagi.

Hari ini, entah atas dasar apa, Kyuhyun ingin makan roti melon yang dijual di kantin. Siwon menemaninya ke sana. Setelah mendapatkan roti yang diinginkan Kyuhyun, juga sekotak susu cokelat untuk Siwon, mereka berdua hendak kembali ke kelas namun sebuah keributan terjadi.

PRANG!

Siwon dan Kyuhyun menoleh. Mereka menatap botol soda yang pecah tak berbentuk. Hanya beberapa meter dari pecahan botol, berdiri Erica dengan wajahnya yang seperti biasa. Angkuh dan tidak ingin mendengar bantahan. Ia menatap pecahan botol dengan tatapan yang sulit diartikan.

Sudah menjadi peraturan bahwa siapapun yang memecahkan botol atau jendela atau benda lainnya, ia yang harus membersihkannya tanpa bantuan orang lain. Namun Siwon merasa, dengan harga diri yang setinggi langit, Erica tidak akan sudi melakukannya. Ia bisa saja meminta siswa-siswa yang begitu memujanya, yang tidak akan menolak diperintah apapun, untuk membersihkannya. Bahkan mungkin jika Erica memerintahkan mereka untuk terjun dari lantai tiga puluh, mereka akan melaksanakannya juga. Ya, yang itu memang berlebihan.

Tiba-tiba Tiffany melintas.

Erica menganggapnya sebagai sebuah kesempatan, “Hei, Tiffany!! Cepat bersihkan tumpahan ini!!!”

Tiffany berhenti. Menatap Erica dan pecahan botol bergantian, kemudian berucap, “Siapa yang menumpahkan? Kamu kan? Lalu kenapa aku yang membersihkan? Toh kamu juga memiliki tangan”, dan dia langsung berlalu begitu saja.

Beberapa orang yang menyaksikan keributan itu menahan tawa. Wajah Erica merah padam menahan marah dan malu. Siwon yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala, kemudian berlalu bersama Kyuhyun.

“Kenapa Erica tidak pernah berhenti mengganggu Tiffany?”, tanya Kyuhyun tiba-tiba.

“Mungkin mereka musuh bebuyutan”, ujar Siwon ngawur, tidak begitu ingin membahas hal-hal tentang Tiffany lagi.

Meskipun Siwon meyakinkan dirinya untuk tidak peduli, pada kenyataannya ia terus memikirkan kejadian di kantin. Mau bagaimana ia menepis pikiran itu jauh-jauh, Siwon tidak bisa berhenti memikirkannya. Perasaannya mendung, semendung langit hari ini. Bel sekolah berdentang keras, membuyarkan Siwon dari lamunan. Jam pelajaran hari ini telah berakhir.

Siwon berdiri, “Aku ke kamar mandi dulu ya”, ucapnya pada Kyuhyun.

Masih sambil membaca Kuroko no Basuke, Kyuhyun mengangguk.

Siwon berjalan pelan ke kamar mandi. Sesekali masih memikirkan kejadian di kantin, kejadian di halte bus, dan kejadian-kejadian lain yang selalu berhubungan dengan Tiffany. Sebelum berbelok, ia berpapasan dengan Erica dan teman-temannya. Siwon memutuskan untuk pura-pura tidak melihat.

“Tiffany harus kita beri pelajaran!!”

Langkah Siwon berhenti.

“Bagaimana jika kita cegat lalu kita siram dia dengan air comberan??”

“Ide yang bagus!!”

“Setelah itu kita bisa menguncinya di gudang!!”

Suara tawa dari Erica begitu pilu di telinga Siwon. Ia berpura-pura tidak mendengar dan langsung pergi begitu saja. Siwon kehilangan minat untuk pergi ke kamar mandi. Ia langsung kembali ke kelas dengan wajah yang telah memucat.

Kyuhyun menatapnya. “Siwon, kamu sakit?”

“Tidak”, ucapnya. Mengingat-ingat percakapan Erica yang didengarnya beberapa saat yang lalu sudah membuatnya mual.

“Tapi wajahmu pucat. Lebih baik kita pulang sekarang”, Kyuhyun menyandang ranselnya, “Ayo pulang, ayo pulang”

Siwon mengikuti Kyuhyun. Kelas mereka sudah mulai sepi karena beberapa anggotanya langsung pulang sebelum hujan turun. Hanya ada beberapa anak yang masih berada di kelas dan salah satunya adalah Tiffany. Mengingat apa yang hendak dilakukan Erica kepadanya membuat Siwon mual dan merasa pusing, namun ia memutuskan untuk tidak ikut campur. Maka ketika samar-samar ia mendengar Erica berteriak, “Tiffany, ada harus kita bicarakan!!!”, Siwon langsung mempercepat langkahnya sambil menutup telinganya.

Siwon memutuskan untuk tidak peduli, juga tidak ikut campur.

Dengan jelas Siwon tahu maksud buruk Erica kepada Tiffany, namun ia memutuskan untuk pura-pura tidak tahu.

Siwon merasa yakin kepada pilihannya, namun kenapa ia merasa separuh dirinya sedang berteriak pilu?

Begitu sampai di rumah, Siwon tidak jauh berbeda dengan mayat hidup. Hari ini, orangtuanya ada urusan di luar dan hanya ada dirinya dengan Siwan di rumah. Tepat setelah Siwon masuk ke dalam rumah, hujan turun perlahan-lahan. Siwon menghela nafas, mengusir perasaan aneh yang terasa menghantuinya, dan naik ke kamarnya.

Siwon tidak bisa menahan diri untuk tidak membuka jendela kamar hanya untuk memastikan apakah Tiffany sudah pulang. Siwon duduk di sisi jendela. Menunggu dan terus menunggu. Hujan yang turun menemani penantiannya. Penantian akan seorang bidadari yang jatuh dari kahyangan dan tinggal di sebelah rumahnya.

DOK DOK DOK!!!!

Siwon menoleh. Seseorang menggedor pintu rumahnya, tapi siapa? Ia tidak bisa melihat siapa yang datang dari jendela kamarnya.

DOK DOK DOK DOK DOK!!!!!

Suara itu semakin keras. Siwon menatap jam di kamarnya. Pukul 19:00. Siapa yang datang jam segini, sambil menggedor pintu pula. Pintu kamarnya terbuka perlahan dan muncullah Siwan. Ia terlihat ketakutan. “Kakak, siapa yang ada di bawah? Aku takut…”

Siwon berdiri dan mengelus kepala adiknya. “Jangan takut. Biar Kakak yang membukakan pintu. Siwan di kamar saja ya”

Siwan mengangguk.

Setelah memastikan Siwan aman di kamarnya, Siwon turun ke bawah. Orangtuanya masih belum pulang dan hanya dia satu-satunya yang bisa melindungi Siwan jika memang yang datang adalah orang jahat. Siwon menahan nafas sejenak. Perlahan ia membuka pintu rumah.

Kemudian Nikchun datang menghambur dan memegang kedua bahunya.

“SIWON!!!! APAKAH KAMU TAHU DIMANA TIFFANY????”

Siwon tidak sanggup menutupi rasa kagetnya. Tiba-tiba saja Nikchun, kakak laki-lakinya Tiffany, datang menghambur padanya seperti ini. Mereka berdua tidak pernah bicara santai, sekalipun bicara kenapa harus seperti ini. “A-aku…”

“TOLONG!!!! KAMU SATU SEKOLAH DENGANNYA KAN??? TOLONG, JIKA KAMU TAHU KEMANA TIFFANY PERGI, TOLONG BERITAHU AKU!!!!”

Melihat Nikchun yang begitu mengiba, Siwon menjadi tidak tega. Ia membayangkan jika Nikchun tahu bahwa Tiffany sedang dijahili, mungkin ia bisa mati sekarang juga saking kagetnya. Siwon menarik nafas sejenak. “Aku… sepertinya aku tahu dimana Tiffany…”

Berdua dengan Nikchun, Siwon pergi ke sekolah. Dalam perjalanan, Nikchun terus meneriakkan nama adik perempuannya meski suaranya nyaris tenggelam dalam hujan. Siwon sibuk bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat Nikchun begitu mengkhawatirkan Tiffany hingga seperti itu. Sejak Tiffany hadir dalam kehidupannya, begitu banyak tanda tanya yang belum terjawab.

Sekolah sudah sepi ketika Siwon dan Nikchun sampai di sana. Tentu saja, siapa pula yang masih ada di sekolah pada pukul 19:30? Siwon menyusuri halaman sekolah, kolam renang, namun tidak menemukan Tiffany. Bangunan sekolah sudah dikunci dan rasanya tidak mungkin jika Tiffany masih berada di dalam sana. Ia nyaris putus asa jika tidak tiba-tiba teringat akan ucapan Erica.

“Setelah itu kita bisa menguncinya di gudang!!”

Siwon langsung berlari menuju gudang belakang sekolah. Tidak dihiraukannya pasir dan lumpur yang menempel di sepatu dan celananya. Melihat Nikchun yang begitu gencar mencari adiknya, Siwon tahu sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Apapun itu.

Langkah Siwon berhenti.

Di sanalah Tiffany berada. Terduduk begitu saja di sebelah gudang, tampak sama sekali tidak sadarkan diri. Sekujur tubuhnya basah karena air hujan. Yang membuat Siwon merasa ngeri, seluruh kulit Tiffany berwarna merah seakan ia hendak berubah menjadi Sailor Moon atau apa. Siwon tidak pernah melihat keadaan Tiffany seperti ini sebelumnya. Apa saja yang dilakukan Erica hingga Tiffany menjadi seperti ini?

Siwon tidak mengingat apa-apa. Terakhir yang ia ingat hanyalah suara sirine ambulan yang begitu menggema di telinganya.

***

Semuanya berlalu begitu cepat. Laksana terjadi dalam satu kedipan mata saja. Bayangan akan Tiffany dengan kulit merah masih terasa begitu nyata bagi Siwon, dan di sinilah ia sekarang. Duduk bersebelahan dengan Nikchun di sebelah ruang Unit Gawat Darurat. Menunggu seseorang yang sedang mendapatkan perawatan medis di dalam sana.

Siwon melirik Nikchun di sebelahnya. Ia masih terlihat khawatir dan gelisah namun tidak separah beberapa waktu yang lalu ketika mereka masih mencari-cari Tiffany di dalam hujan. Siwon merasa kepalanya pusing karena penuh sesak oleh pertanyaan. Apa yang sedang terjadi? Mengapa kulit Tiffany yang putih bisa berubah menjadi merah? Perawatan apa yang ia dapatkan di dalam sana? Juga segelintir pertanyaan lain yang mendesak untuk dijawab.

Dan Siwon tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. “Anu… sebenarnya apa yang sedang terjadi?”

Nikchun menatap Siwon. “Oh, Fany tidak memberitahukannya padamu?”

“Memberitahukan apa?”

“Kalau dia menderita penyakit Aquagenic Urticaria”

“Akua…. apa?”

“Alergi air”

Terasa ada petir besar menyambar Siwon. Meskipun Nikchun hanya mengucapkannya sekali,  kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Aquagenic Urticaria. Aquagenic Urticaria.

Alergi air.

Siapa yang menyangka bahwa Tiffany mengidap penyakit seperti itu?

“Ibu kami meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas”, Nikchun memulai ceritanya, “Sejak saat itu, akulah yang melindungi Tiffany dari air. Tidak peduli ia memohon, merengek minta diajak ke laut atau diajari berenang, aku tidak pernah memenuhi permintaannya. Ayah kami bahkan menguncinya di kamar agar ia tidak pergi ke laut secara diam-diam.

“Seiring dengan berjalannya waktu, Tiffany mulai menyadari keistimewaan dari tubuhnya. Tumbuh dengan penyakit langka seperti itu menjadikan Tiffany sebagai pribadi yang begitu asing dan tertutup pada orang luar. Tiffany tidak mempercayai siapapun selain keluarganya. Ia bisa berbuat apa saja untuk melindungi dirinya, meskipun itu harus melukai orang lain. Pemikiran itu mungkin salah, namun ayah kami yang mendidiknya seperti itu.

“Dan sebenarnya, alasan perpindahan kami adalah penyakitnya. Di sekolahnya yang lama, ia dijahili teman-temannya karena alergi air. Ia nyaris didorong ke kolam jika saja seorang guru tidak menyelamatkannya. Akhirnya ayah kami memutuskan untuk pindah ke Korea, negara kelahiran ibu kami, tempat dimana tidak ada seorangpun yang kami kenal, untuk melindungi Tiffany”

Pelan-pelan Siwon mencerna semuanya. Semua cerita ini terjadi begitu cepat, ia membutuhkan waktu untuk mengerti semuanya. Dan terungkap sudah alasan di balik semua keanehan dan kejanggalan dari Tiffany.

Ketika ia menolak dengan keras untuk tidak duduk di dekat jendela.

Ketika ia tinggal di kelas hanya untuk menunggu hujan berhenti turun.

Ketika ia mengenakan seragam lengan panjang meskipun musim panas menjelang.

Ketika ia menolak disuruh menyiram tanaman.

Ketika ia tidak mengikuti pelajaran renang.

Ketika ia membawa payung setiap hari meskipun cuaca sedang cerah.

Ketika ia terlihat sangat ketakutan saat Siwon datang mendekat sambil membawa payung yang basah.

Ketika ia digendong di punggung Nikchun untuk menghindari genangan air di jalan.

Jika diteliti dengan cermat, semua keanehan dan kejanggalan dari Tiffany mengacu pada satu hal. Ia menghindari air!

Mengapa Siwon baru menyadarinya sekarang?

Siwon merasa sangat bersalah. Andai ia tahu, ia pasti akan melindungi Tiffany sejak detik pertama mereka bertemu. Tiffany tidak pernah mengatakan apapun kepadanya. Ia diam saja, melindungi dirinya sendiri, ketakutan berinteraksi dengan orang lain karena trauma masa lalu. Siwon merasa yakin, di balik sikap judes dan kata-kata yang sinis itu, tersimpan Tiffany yang sesungguhnya. Tiffany yang lembut dan ramah kepada siapa saja.

Seorang dokter keluar dari ruang UGD. Serempak Nikchun dan Siwon berdiri.

“Ia baik-baik saja. Hanya perlu perawatan medis selama beberapa waktu. Yang membuat kami takjub, daya tahan tubuhnya luar biasa sekali. Saat ini ia sudah sadarkan diri meskipun belum bisa menerima banyak hal. Tolong jangan dekatkan air kepadanya. Silahkan jika ingin menemuinya. Saya akan memberikan waktu lima menit saja”

Nikchun dan Siwon berpandangan sejenak, kemudian masuk ke dalam ruang UGD. Tiffany berbaring di sana. Berbagai macam selang infus menempel di tubuhnya. Kulitnya masih merah namun sudah membaik daripada tadi. Terdapat jejak-jejak krim di kulitnya. Mungkin obat yang dioleskan oleh dokter.

“Fany…”, panggil Nikchun perlahan.

Tiffany menoleh. “Kak Nik…”, ujarnya kemudian. Ia menatap seseorang di belakang Nikchun dan terbelalak tidak percaya. “….Siwon?”

Siwon menyadari bahwa inilah pertama kalinya Tiffany memanggil namanya. Dan Siwon tidak menyangka bahwa namanya bisa terdengar begitu indah ketika Tiffany mengucapkannya. Siwon menikmati detak jantungnya yang berirama lebih cepat dari seharusnya. Siwon menikmati kupu-kupu yang terasa terbang di perutnya. Sepertinya ia tahu apa yang sedang ia rasakan.

Berbeda dengan Siwon yang tidak bisa menahan senyumnya, Tiffany justru terlihat kikuk dan tidak nyaman.

“Tidak usah khawatir, Tiffany. Aku sudah tahu”, ucap Siwon, membuat Tiffany menatapnya, “Aku sudah tahu rahasiamu. Percayalah kepadaku. Aku berjanji tidak akan mengatakannya kepada siapapun”

Tiffany terdiam sejenak, “Tapi… kenapa?”

Siwon tersenyum. “Karena aku mencintaimu, Tiffany. Bolehkah aku melindungimu?”

Pertama kali dalam hidupnya, sejak mereka bertemu, Tiffany mengulas sebuah senyuman. Sungguh, ia menawan sekali. Siwon tidak memerlukan penerjemah untuk mengartikan makna di balik senyuman itu. Ia sudah memahaminya.

“Aku percayakan aku kepadamu”

***

“Wajah angkuh dan sombong hanya topeng yang dikenakannya. Semua itu karena ia tidak ingin didekati oleh siapapun dan mengambil resiko orang lain mengetahui rahasianya. Sungguh, ia tidak seperti itu. Jika kamu berhasil membuka hatinya, percayalah bahwa kamu akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia”

The end

58 thoughts on “(LFF) The Secret of Tiffany

  1. aku kira awalnya tiff unnie takut hujan..ternyata alergi air😢 kasian tiff unnie sllu di cemooh n di bully krn mereka smua tak tau apa yg mmbuat tiff unnie judes. aihhh, bayangin siwon oppa pake payung angry bird LOL ahh siwon oppa sekali bilang lngsung ‘i love you’ 😍 daebakk ff ini beda dari yg lain, huaa mian baru baca 😭

  2. Whaaa DAEBAKKK, cerita genre school
    Tiffany eonni kasihan kena bullying huhu😿😿 but there’s still Siwon oppa who want to help her😻😻
    Siwon oppa ternyata jatuh CINTA💞💓 ke Tiffany eonni juga hihi^^
    Tiff eonni akhirnya tersenyum juga*mana eye smile mana eye smile 👀🙈😸 wkwkwk^^
    Dimple Siwon oppa mana(?) Haha
    Ga kebayang mukanya Siwon oppa and Tiffany eonni di fanfiction ini
    Poker face and Beauty Tiffany eonni💁
    Terus facenya Tiff eonni pas jadi orang yang cuek dan dingin….
    Handsome Siwon oppa💃 payung angry bird🐦(?)haha^^
    Author Hwaiting!!👯👯 Can’t wait for your next fanficton
    Saranghae Siwon Tiffany Couple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s