(LFF) Say Yes!

SAY YES!

say yes2

Author             : kireynalice

Type                : One Shoot

Genre              : Romance

Rating              : PG 17+

Main Cast        : Tiffany Hwang, Choi Siwon

Other Cast       : Jessica Jung, Lee Dong Hae

Disclaimer       : Karakter tokoh hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot cerita. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun. Kesamaan ide cerita merupakan hal yang tidak disengaja. Alur dan penokohan murni hasil pemikiran saya.

And just say yes!

Author’s POV

Seorang namja sedang duduk dengan tangan kanan yang menopang dagunya di depan sebuah meja kerja besar transparan. Dari wajahnya yang muram dan keningnya yang berkerut terlihat bahwa dia sedang menghadapi persoalan yang cukup pelik hingga membuatnya harus berpikir berulang-ulang. Pikirannya kembali melayang pada percakapan yang terjadi antara dia dan kedua orangtuanya tadi pagi.

Flashback

“Bagaimana hubunganmu dengan Tiffany, Siwon?” Tanya ibunya saat sarapan.

“Baik-baik saja, Eomma.” Jawab Siwon setelah meneguk ekspressonya.

“Kapan kalian akan menikah?” Tanya ayahnya langsung.

“Appa, suatu saat nanti kami pasti akan menikah. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja.” Jawab Siwon.

“Kau selalu mengatakan hal yang sama setiap kali aku menanyakan hal itu. Kalian sudah tinggal bersama selama 1 tahun dan tentunya kalian pasti menghabiskan banyak waktu untuk bercengkrama di tempat tidur.” Katanya dengan memberikan penekanan pada kata bercengkrama yang diucapkannya. “Kau sudah membuat keluarga kita kehilangan wibawa di depan keluarga Hwang dengan menggantung status Tiffany. Dia adalah seorang Nona, tapi bukan seorang gadis lagi!” Lanjutnya dengan suara yang meninggi.

“Yeobo, sudahlah. Ini adalah waktu yang baik. Jarang sekali kita bisa berkumpul untuk sarapan bersama.” Bujuk Nyonya Choi pada suaminya.

“Selera makanku sudah hilang karena kelakuan bodohnya.” Jawabnya masih dengan emosi. “Lamar dia secepatnya. Kalau dalam jangka waktu 3 bulan ini kau tidak bisa menjadikannya sebagai menantuku, jangan harap kau bisa menemuinya lagi. Kau harus menikah dengan gadis yang kupilihkan untukmu!” Lanjutnya sambil bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang makan.

Nyonya Choi menghela nafas menatap punggung suaminya sebelum akhirnya menatap Siwon yang terdiam di tempatnya. Siwon begitu terkejut dengan apa yang diucapkan ayahnya. Keluarganya memang mengira kalau Siwon sengaja menunda-nunda pernikahannya dengan Tiffany. Tapi baru kali ini dia menambahkan embel-embel perjodohan di dalam ancamannya. Andai dia tahu apa yang sebenarnya terjadi..

“Maafkan Appamu, Siwon-a. Jangan dimasukkan ke hati, ne?” Nyonya Choi berusaha menenangkan Siwon.

“Tentu saja tidak Eomma. Aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu. Eomma tenang saja.”

“Kau memang harus menghadapinya dengan tenang, tapi kau harus segera memutuskan kelanjutan hubunganmu dengan Fany. Kali ini dia tidak main-main dengan ancamannya. Kemarin Appamu mengadakan pertemuan dengan Tuan Im. Sepertinya mereka membicarakan perjodohanmu dengan putrinya.” Jelas Nyonya Choi pada putranya.

Flashback End

Suara telepon yang berdering membuatnya sedikit tersentak. Dengan segera dia menekan tombol loudspeaker untuk berbicara dengan sekretarisnya.

“Jhwesonghamnida, Sajangnim. Tuan Lee ingin bertemu dengan anda.” Kata sekretarisnya begitu panggilannya terjawab.

“Persilahkan mereka untuk masuk, Nona Park.”

“Ne, Sajangnim.” Siwon menekan tombol sekali lagi untuk mengakhiri percakapan mereka.

Beberapa saat berselang terdengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya.

“Masuk!” Jawabnya tanpa merubah posisi duduk.

Pintu ruangan pun terbuka, lalu muncullah sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai suami istri itu.

“Morning, Siwon..” Sapa sang yeoja dengan ceria yang hanya Siwon tanggapi dengan gumaman kecil.

“Morning.”

“Aigo.. Uri Sajang-nim.. kenapa anda terlihat lesu seperti itu? Apa anda lupa meminum suplemenmu pagi ini?” Kali ini pria bermarga Lee itu yang angkat bicara.

Siwon tidak menjawab, dia hanya menghela napas berat.

“Apa yang terjadi Oppa? Kau sedang bertengkar dengan Fany?” Tanya Jessica kemudian.

“Ani. Hubungan kami baik-baik saja.” Jawab Siwon.

“Lalu apa yang membuat wajahmu tampak muram begitu?” Tanyanya lagi.

“Appa mendesak agar aku segera menjadikan Fany sebagai menantunya.” Jawab Siwon.

“Lalu apa masalahnya? Kau tinggal melamar Fany, menemui keluarganya, lalu menikah dengannya. Selesai.” Kata Dong Hae dengan santai.

Siwon menghela nafas lagi sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu. “Tiffany menolak lamaranku, Hyung.”

“Lagi?!” Teriak Dong Hae tak percaya. Siwon hanya menjawab dengan anggukan kepala.

Dong Hae mengarahkan pandangannya pada Jessica yang berpura-pura acuh. Dia sudah tahu kalau calon suaminya itu akan melayangkan kalimat-kalimat protes atas sikap sahabatnya itu. “Yeobo, sebenarnya apa yang ada dipikiran temanmu itu? Sudah berapa kali dia menolak lamaran Siwon? Aneh! Setahuku wanitalah yang mendesak pria untuk segera menikahi mereka. Tapi ini..” Dong Hae tidak melanjutkan kalimatnya. Dia terlalu bingung mencari padanan kata yang tepat untuk menggambarkan kekecewaannya.

Jesicca tidak menjawab. Meskipun dia tidak terima kalau Dong Hae menjelek-jelekkan sahabatnya sendiri, tapi memang begitu keadaan yang sebenarnya. Tiffany selalu menolak lamaran Siwon dengan alasan yang sama.

“Masalahnya bertambah rumit karena Appa sudah memberikan ultimatumnya padaku. Jika dalam waktu 3 bulan ini aku gagal menikahi Fany, maka aku harus menikah dengan gadis yang sudah ditentukan olehnya.” Jelas Siwon lagi.

Mata Jessica terbelalak, “Mwo?! Kau serius Oppa? Kau tidak boleh meninggalkan Fany begitu saja. Dia sudah cukup menderita dengan semua yang terjadi padanya selama ini. Hanya kau yang dia miliki. Kalau kau meninggalkannya maka dia akan benar-benar hancur.” Kata Jessica tersendat karena menahan air mata.

Dong Hae segera menenangkan Jessica dengan memeluk dan mengusap rambutnya lembut. Calon istrinya itu memang berkarakter melankolis. Sedikit saja perasaannya tersentuh maka dia akan langsung menangis seperti saat ini.

Siwon memejamkan mata karena merasakan kepalanya yang semakin berdenyut. Dia sudah cukup penat dengan masalah yang tengah dihadapinya dan kini ditambah lagi dengan tangisan Jessica. Semakin lengkaplah sudah penderitaannya.

“Sica-ya, kumohon berhentilah menangis. Kumohon. Jangan menambah bebanku dengan air matamu. Kau sendiri tahu kalau aku begitu mencintainya. Aku tidak akan meninggalkan Fany.” Pinta Siwon memelas.

Jessica melepaskan dirinya dari pelukan Dong Hae, “Jinjja?” Tanyanya pada Siwon di tengah isak tangisnya.

“Tentu saja. Aku berani bersumpah untuk itu.” Jawab Siwon yakin.

Jessica melepaskan pelukannya dari Dong Hae dan menghapus sisa air mata di pipinya.

“Aku akan membantumu dengan berbicara pada Fany, Oppa.” Katanya setelah tangisannya reda.

“Apa kau yakin itu akan berhasil?” Tanya Dong Hae ragu.

“Aku tidak tahu. Tapi setidaknya kita harus mencobanya, Oppa.” Jawabnya.

Siwon tersenyum mendengarnya. Dia tahu benar kalau Jessica sangat mempedulikan dan menyayangi Tiffany.

“Gumawo, Sica.” Katanya sembari mendekat dan memeluk Sica.

“Cheonma, Oppa. Aku senang bisa membantu kalian. ”

“Kau memang sahabat terbaik kami.” Kata Siwon lagi. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan mencium pipi Jessica.

“Ya! Tuan Choi! Apa yang sudah kau lakukan pada yeojaku, eoh?! Kau sudah menciumnya!” Kata Dong Hae pura-pura marah.

“Ah.. jadi kau cemburu, Tuan Lee?” Tanya Siwon sambil mendekati Dong Hae dengan senyumnya yang menyeringai dan Chu.. dia mencium pipi sahabatnya itu.

“YA! CHOI SIWON! Aku ini masih normal!” Teriaknya. Sementara itu Jessica dan Siwon tertawa terbahak sambil melakukan high five.

*******

Malam ini Siwon pulang terlambat karena harus menghadiri meeting dengan salah satu relasi bisnisnya. Hyundai Company akan mengembangkan bisnisnya dengan mendirikan pusat perbelanjaan di sebuah negara yang menjadi incaran para investor asing. Dan dialah yang dipercaya untuk mengemban tanggung jawab sebagai pimpinan proyek itu.

Siwon menekan angka kombinasi untuk masuk ke apartemen yang dia tempati bersama Tiffany. Dia memang sengaja tidak memencet bel karena tidak ingin mengganggu tidur kekasihnya. Tapi betapa terkejutnya Siwon saat mendapati Tiffany sedang duduk sendiri di sofa depan televisi sambil menangis tersedu. Siwon yang khawatir segera menghampiri Tiffany dan memeluknya.

“Fany, ada apa? Apa yang terjadi, Chagi?” Tanya Siwon cemas.

“Wae… kalian begitu tega, Oppa.” Jawabnya disela isak tangisnya sambil memukul-mukul pelan dada Siwon.

Siwon merasa sangat bersalah setelah mendengar jawaban Tiffany. Dia memang bodoh! Kemarin malam dia tidak kembali ke apartemen dan memutuskan untuk menginap di rumah keluarganya. Semalam Seoul mengalami pemadaman listrik. Tiffany pasti sangat ketakutan karena harus berada di apartemen sendirian dalam gelap dengan hujan deras dan petir yang menggelegar.

“Mianhe, Chagi. Seharusnya Oppa nekat saja.”

“Kalau begitu kenapa tidak melakukannya? Kenapa malah meninggalkan yeojanya dan membiarkannya menanggung penderitaan sendiri.” Ucap Tiffany dengan nada yang mulai meninggi.

“Oppa memang bersalah karena telah meninggalkanmu sendirian di tengah badai yang terjadi. Tapi Oppa benar-benar menyesal. Maafkan Oppa, baby. Berhentilah menangis.” Pinta Siwon. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Tiffany.

“Kenapa mereka harus berpisah? Aku tidak suka dengan akhir yang seperti ini, Oppa.” Ucapnya tidak jelas karena masih menangis.

“Apa maksudmu? Siapa yang berpisah?” Tanya Siwon bingung. Dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Tiffany. Hubungan mereka baik-baik saja. Dia tidak pernah sekali pun mengucapkan keinginannya untuk berpisah dari Tiffany.

“Alex dan Emma.” Jawab Tiffany sambil menunjuk pada layar televisi yang ada di depan mereka.

“Mwo? Jadi kau menangis hanya gara-gara cerita dalam drama itu?” Tanya Siwon tak percaya. Dia melepaskan pelukannya dari tubuh Tiffany.

“Ceritanya sangat menyentuh, Oppa. Namja itu telah menghamili Emma, tapi dia malah meninggalkannya. Emma begitu menderita.” Jelas Tiffany tak terima.

Siwon menghela nafas. Dia tahu ini bukan saat yang tepat untuk berdebat dengan yeojanya. Bisa-bisa mereka bertengkar karena drama fiktif itu dan dia harus tidur di sofa karenanya.

“Lalu apa yang seharusnya namja itu lakukan?” Tanya Siwon sambil menanggalkan jas yang dia kenakan tanpa membuka dasinya. Dia merubah posisi duduknya menghadap Tiffany. Tiffany sudah mengerti. Membuka dan memakaikan dasi adalah tugas hariannya kecuali di hari libur.

“Tentu saja dia harus bertanggung jawab.” Jawab Tiffany. Tangannya mulai membuka dasi dan kancing kemeja Siwon.

Sebuah ide tiba-tiba terlintas dalam benak Siwon. Dia yakin kalau ini akan menjadi solusi terbaik untuk semua masalah yang menimpanya.

“Jadi kalau seorang namja menghamili yeoja maka dia harus menikahi yeoja itu?” Tanyanya memancing Tiffany.

“Tentu saja! Itu baru namanya namja sejati.” Jawab Tiffany. “Aku akan menyiapkan air hangat untuk Oppa.” Katanya lagi sambil membawa jas serta dasi Siwon dan melangkah menuju kamar mereka.

“Baiklah. Kau sendiri yang telah memberiku ide, Nona Hwang. Jangan salahkan aku jika hal yang tidak kau harapkan terjadi. Bersiaplah, baby.” Katanya penuh keyakinan.

*******

Suara alarm yang berdering memenuhi kamar apartemen itu membangunkan sepasang kekasih dari buaian dunia mimpi. Dengan malas Tiffany bangkit dari tidurnya kemudian duduk sembari memperbaiki letak selimut putihnya. Tangannya kemudian terjulur ke atas nakas di samping tempat tidur untuk meraih segelas air dan sebuah pot plastik transparan. Tiffany mengambil sebutir isinya dan meminumnya.

“Apa yang kau minum, Fany-ya?” Tanya Siwon. Yeoja itu tidak langsung menjawab pertanyaan namjanya.

“Obat.” Jawabnya setelah butiran pil putih itu tertelan.

Mendengar jawaban Tiffany, Siwon begitu terkejut dan sontak bangkit dari tidurnya. Tangannya kemudian menyentuh kening Tiffany untuk merasakan suhu tubuhnya.

“Kau sakit, baby? Kenapa tidak bilang? Kita ke dokter, ne? Tunggu sebentar. 10 menit lagi kita berangkat.” Namja itu terdengar begitu panik. Tiffany tersenyum menanggapinya. Dalam hati dia bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan seorang namja yang perhatian, baik, tampan dan sempurna seperti namjanya ini.

“Ani. Memangnya obat itu hanya untuk orang sakit?”

“Lalu untuk apa kau minum? Kau kan tidak suka obat.” Tanya Siwon heran.

“Siwon Oppaku sayang, aku memang tidak suka minum obat. Tapi aku harus meminumnya. Karena kalau tidak…” Tiffany menggantung kalimatnya.

“Kalau tidak apa?” Tanya Siwon tak sabaran.

“Kalau tidak, saat ini aku mungkin tidak akan bisa bekerja dan harus mengurus anak serta suamiku.” Jelasnya.

“Maksudmu?” Tanya Siwon tidak mengerti.

“Itu pil kontrasepsi, Oppa. Kita akan aman kalau aku tetap meminumnya.” Jelas Tiffany lagi.

“Ah.. maksudmu kau tidak akan hamil?” Tiffany hanya mengangguk mengiyakan. Dia kemudian berdiri menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh karena dia harus menyiapkan sarapan untuk Siwon dan dirinya.

Siwon masih memikirkan penjelasan Tiffany. Aman? Kapan mereka merasa tidak aman? Memangnya kalau Tiffany hamil kenapa? Tentu saja dia akan bertanggungjawab. Bayi itu sudah pasti anaknya. Jangankan menuduh Tiffany berselingkuh dengan pria lain, membayangkannya saja sudah membuat darahnya mendidih. Pantas saja Tiffany tidak kunjung hamil. Padahal Siwon ingin membuat Tiffany terdesak sehingga tidak bisa menolak lamarannya lagi. Tapi apakah rencananya itu akan berhasil kalau Tiffany selalu mencegahnya?

Ini tidak bisa dibiarkan! Dia harus melakukan sesuatu. Ya.. dia harus menghubungi orang itu dan meminta bantuan. Siwon lalu mengambil ponselnya dari atas meja nakas. Setelah menemukan kontak orang yang dimaksud, dia menggeser tombol hijau untuk melakukan panggilan.

“Eoh, Annyeong sepupuku tersayang. Apa kau sedang sibuk?”

“…”

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Apa nanti malam kau ada waktu?”

“…”

“Tidak. Biar aku yang datang ke tempatmu.”

“…”

“Baiklah. Bye!”

“…”

Siwon mengakhiri pembicaraan mereka dan menggeser tombol berwarna merah pada layar ponselnya. Dia harus berhasil. Harus!

“Oppa..! Cepat mandi dan berpakaian. Sebentar lagi waffle dan ekspressomu siap!” Suara teriakan Tiffany dari arah dapur menyadarkan Siwon dari lamunannya.

“Ne, Chagi.” Jawabnya sambil bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.

*******

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 KST namun Siwon masih berada di sebuah rumah sakit kawasan sebelah utara Seoul. Tidak ada masalah dengan kesehatannya. Tiffany juga baik-baik saja. Saat Siwon menghubunginya 30 menit yang lalu dan memberitahu yeoja itu untuk tidak menunggunya karena dia akan pulang terlambat, Tiffany mengatakan kalau dia baru saja selesai berganti pakaian. Mungkin sekarang dia sudah terlelap. Siwon sedang menunggu saudara sepupunya selesai memeriksa pasien untuk berkonsultasi.

“Annyeonghaseyo, namaku Eun Hyuk. Anda…” Seorang namja memperkenalkan dirinya pada Siwon.

“Namaku Choi Siwon. Panggil saja aku Siwon.” Kata Siwon padanya.

“Choi Siwon? Apa anda adalah Choi Siwon putera dari Tuan Choi Ki Ho pemilik Hyundai Company?!” Pekik Eun Hyuk dengan mata yang terbelalak.

“Ne..? A.. ah.. Bukan. Nama kami memang mirip. Tapi aku bukan Choi Siwon yang anda maksud.” Jawab Siwon.

Dia harus berbohong untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi. Kalau dia tertangkap kamera tengah berada di tempat seperti ini tidak ada yang bisa menjamin kalau harga sahamnya tidak akan turun atau bahkan mungkin anjlok. Dia pasti akan mengisi lembar pertama semua surat kabar di negaranya dengan tulisan yang dicetak besar-besar dengan tinta hitam yang tebal. Mungkin tulisan itu akan berbunyi ‘PEWARIS TUNGGAL HYUNDAI COMPANY TERLIHAT DI SEBUAH KLINIK KANDUNGAN RUMAH SAKIT XXX’ atau ‘MENUNGGU DI KLINIK KANDUNGAN, ADA APA DENGAN CHOI SIWON?’ bahkan bisa saja berisi kalimat yang lebih menyakitkan seperti ‘SELINGKUH DARI TIFFANY HWANG, CHOI SIWON MENGHAMILI WANITA LAIN’ dan deretan kalimat-kalimat spekulasi lainnya.

Tidak! Itu tidak boleh terjadi dan tentu saja untuk mencegahnya dia harus melakukan pencegahan.

“Siwon-ssi, apa kau sedang menunggu istrimu juga?” Tanya Eun Hyuk lagi.

“Aniyo. Aku datang kemari untuk berkonsultasi dengan dokter Lee.”

“Ah.. Begitu ya. Kukira kau sama sepertiku. Aku datang kemari untuk mengantar istriku memeriksakan kandungannya. Sebenarnya dia bisa saja pergi sendiri, tapi aku tidak akan rela melewatkan waktu untuk mengetahui perkembangan bayi kami.” Jelasnya tanpa diminta dengan mata yang berbinar. Sepertinya dia sangat bahagia.

“Istrimu mengandung anak kalian yang keberapa?” Tanya Siwon asal. Sebenarnya dia tidak terlalu tertarik untuk mendengarkan cerita namja yang baru dikenalnya itu.

“Ini kehamilan pertamanya. Setelah menunggu selama hampir 4 tahun akhirnya Tuhan mengabulkan doa kami.”

4 tahun? Waktu yang lumayan lama. Kalau begitu cara apa yang mereka lakukan agar istrinya bisa mengandung? Siwon tiba-tiba merasa tertarik pada perbincangan ini.

“Eun Hyuk-ssi, maaf kalau pertanyaanku bersifat pribadi dan tidak sopan. Kalau aku boleh tahu, cara apa yang anda gunakan sehingga istri anda bisa hamil? Emmm.. maksudku.. adakah cara tertentu yang kalian lakukan?” Tanya Siwon.

“Begini Siwon-ssi. Pada awalnya kami hanya melakukannya dengan cara yang standard dan umum. Tapi ternyata cara itu tidak berhasil. Akhirnya berdasarkan informasi dari buku yang aku baca aku menemukan tips-tips yang spesial.” Jelas Eun Hyuk dengan suara yang dipelankan.

“Tolong katakan padaku apa itu?” Pinta Siwon padanya.

“Kau dan istrimu harus membangun suasana yang mendukung. Dan juga jangan lupa berdoa sebelum dan sesudahnya.” Jelas Eun Hyuk panjang lebar.

Siwon menyimak penjelasan Eun Hyuk dengan serius dan seksama. Tapi menurutnya penjelasan yang Eun Hyuk berikan barusan juga standar. Bahkan tanpa diberitahu pun dia dan Tiffany sudah mahir melakukannya. Jadi dimana letak tips spesialnya?

Siwon baru akan bertanya lebih lanjut. Tapi pembicaraan mereka harus berakhir karena istri Eun Hyuk sudah selesai mengambil obat dan mereka harus segera pulang karena malam sudah semakin larut.

“Aku doakan agar kau berhasil kawan. Hwaiting!” Ucapnya ketika mereka berpisah.

Klinik ini sekarang sudah sepi. Tinggal 1 klien terakhir yang saat ini sedang menjalani pemeriksaan. Siwon masih setia menunggu hingga tak lama kemudian asisten dokter memanggil namanya.

“Tuan Choi, Lee Uisa sudah menunggu anda di ruangannya.”

“Ne, gamsahamnida.” Jawab Siwon. Dia kemudian melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang di pintunya bertuliskan ‘dr. Lee Sunny, Sp.OG’ itu.

“Annyeong, Sunny-ya.” Sapa Siwon pada adik sepupunya itu.

“Oppa! Lama tidak berjumpa.” Sunny berdiri dari duduknya, menyambut pelukan Siwon, kemudian melepaskannya.

“Kau mau minum apa?” Tanyanya sembari berjalan ke arah kulkas untuk mengambil minuman.

“Apa saja.” Jawab Siwon singkat.

Sunny kemudian mengambil dua orange juice kalengan dan memberikannya pada Siwon.

“Orange juice? Kau kira aku ini klien ibu hamilmu?” Ejek Siwon. Sunny hanya tersenyum. Dia tahu benar kecintaan berlebih Siwon pada coffe telah membuatnya merendahkan minuman lain.

“Bagaimana kabarmu dan Fany, Oppa?” Tanya Sunny setelah melepas jas putihnya dan duduk di sofa seberang Siwon.

“Baik. Tetap mesra dan manis.” Jawab Siwon asal. Sunny hanya memutar bola matanya dengan malas.

“Aku begitu terkejut saat kau menelponku. Tidak biasanya kau menemuiku di sini. Biasanya kau akan memintaku untuk datang ke apartemenmu agar kau bisa menunjukkan kemesraanmu dengan Fany.”

Siwon terkekeh. “Aku memang sengaja karena dia tidak boleh tahu aku menemuimu.”

“Tapi kau masih ada di sini selarut ini. Alasan apa yang kau berikan padanya?”

“Aku mengatakan ada beberapa dokumen yang harus aku pelajari untuk presentasi besok.”

“Kau memang rajin Sajang-nim, tapi besok itu hari Sabtu, babo!”

“Benarkah?!” Pekik Siwon. “Aku benar-benar, lupa Sunny-ya. Semoga saja dia tidak menyadarinya.”

Sunny menertawakan kebodohan yang sudah dibuat oleh sepupunya itu.

“Berhenti menertawakanku, Lee Sunny!” Kata Siwon dengan nada yang serius.

“Hahaha.. Mianhe Oppa. Kau memang tidak ditakdirkan untuk pandai berbohong. Lalu apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

Siwon kemudian menceritakan penyebab kedatangannya untuk menemui Sunny secara diam-diam. Dimulai dari lamarannya yang selalu ditolak oleh Fany, desakan ayahnya untuk segera menikah, sampai rencana yang akan dia lakukan untuk memaksa Tiffany agar menerimanya.

Sunny mengerutkan kening mendengar penuturan Siwon. “Tiffany tidak mungkin hamil, Oppa.”

Siwon menghela nafas panjang. “Justru itu. Aku baru tahu kalau dia meminum obat itu tadi pagi. Apa yang harus kulakukan, Sunny-ya? Tiffany harus hamil. Karena hanya cara itulah yang bisa menghentikan rencana Appa dan membuat kami tetap bersama.”

“Mianhe Oppa. Aku tidak bisa mengendalikan hal semacam itu. Karena sekuat apapun usaha yang kau lakukan hasilnya akan sia-sia jika dia tetap meminum pil itu.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Tidak ada cara lain Oppa. Kau harus meminta Fany untuk berhenti meminumnya.”

“Lalu dia akan curiga dan semakin waspada? Oh.. tidak, terima kasih.” Tolak Siwon.

Mereka berdua sama-sama terdiam. Bagaimana caranya agar Tiffany tidak curiga dan mau menerimanya? Seseorang yang mengatakan kalau ilham akan datang disaat yang mendesak memang benar. Buktinya Siwon sudah mendapat ide baru lagi. Dia membisikkan sesuatu ke telinga Sunny.

“Ya! Oppa! Kau sudah gila ya? Bagaimana kalau dia sampai tahu? Bukan hanya kalian yang berakhir, tapi hubungan baik kami juga.”

“Kita bisa mengelabuinya, Sunny-ya. Dia akan merasa kalau semua hal berjalan seperti biasanya sementara itu aku bisa melaksanakan rencanaku.”

“Tapi itu terlalu beresiko Oppa. Aku melanggar kode etik profesiku jika menuruti permintaanmu.” Tolak Sunny lagi.

“Ayolah, Sunny. Tolong aku sekali ini saja. Ini bukan permintaan dari seorang pasien kepada dokternya, tapi ini murni permintaan dari seorang kakak kepada adiknya. Aku sangat mencintainya. Apa kau tega membiarkan kami berpisah dan melihatku menikah dengan yeoja yang tidak aku cintai?” Bujuk Siwon.

Sunny merasa bimbang. Otaknya mengatakan bahwa dia harus bersikap professional. Bagaimanapun juga Tiffany adalah pasiennya. Tapi hatinya berkata lain. Bagaimana mungkin dia membiarkan dua sejoli yang saling mencinta itu berpisah?

Dia menghela nafas panjang. “Baiklah, Oppa. Aku akan membantumu. Tapi berjanjilah padaku kalau kau akan selalu menjaganya.”

“Tentu. Kapan aku tidak menjaganya? Tidak pernah. Gumawo Sunny-ya.” Siwon kemudian beranjak dari tempat duduknya dan memeluk sepupunya itu.

“Aish.. cukup Oppa! Aku bukan Fany. Jangan memelukku terlalu erat seperti itu.” Sunny memberontak sambil memukul-mukul punggung Siwon.

Siwon kemudian melepaskan pelukannya. “Mian.. kebiasaan.” Kilahnya.

Sunny bangun dari tempat duduknya dan melangkah menuju meja kerjanya. Dia kemudian mengambil sesuatu dari dalam lacinya. Sebuah pot berisi pil-pil kecil berwarna merah muda dan kertas yang menyerupai brosur.

“Ambillah.” Katanya sembari menyerahkannya pada Siwon.

“Apa ini?” Tanya Siwon tak mengerti.

“Berikan obat itu pada Tiffany dan katakan kalau dia harus meminum obatnya seperti biasa.” Jelas Sunny. Siwon menganguk paham kemudian memasukkan pil yang diberikan Sunny ke saku jasnya.

“Kalau brosur itu untukmu. Jangan biarkan Fany menemukannya kalau kau ingin selamat.” Lanjutnya.

Siwon menerima brosur itu. Disampul depannya terdapat gambar sepasang suami istri yang sedang tersenyum bahagia. Sang istri menggendong seorang bayi perempuan yang tersenyum ke kamera sementara sang suami merangkul pundak istrinya. Sungguh gambaran keluarga yang sempurna, tapi dia tidak boleh iri. Dia juga akan segera memilikinya. Dia akan hidup bahagia bersama Tiffany dan tentu saja bayi mereka. Siwon tersenyum sendiri membayangkannya.

“Jangan terlalu lama tersenyum kalau kau tidak ingin orang lain menganggapmu gila, Oppa!” Ujar Sunny sambil mengambil orange juice milik Siwon dan memberikannya. “Minumlah dulu.”

“Ani. Aku akan membeli coffe di perempatan jalan saja nanti.” Tolaknya.

“Begitu ya? Ya sudah kalau kau tidak mau. Padahal vitamin c cukup membantu dalam program ini.” Kata Sunny.

“Jinjja? Minuman balita ini?”

“Hmm. Kalau kau tidak percaya baca saja brosur yang kuberikan padamu tadi.”

Siwon yang masih tidak percaya dengan perkataan Sunny membuka lembar pertama brosur dan membacanya.

Peran Pria Dalam Mempercepat Kehamilan

  1. Hindari merokok dan konsumsi alkohol
  2. Cukupi kebutuhan vitamin E dan vitamin C
  3. Makan teratur, hindari stress dan banyak istirahat
  4. Gunakan pakaian dalam yang nyaman dan tidak terlalu ketat

Setelah selesai membacanya, namja itu terdiam sejenak seperti memikirkan tindakan selanjutnya. Dan detik berikutnya dia meraih juice orange kalengan dihadapannya dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Sunny hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Oppanya itu.

“Perbanyaklah mengonsumsi makanan sehat dan kurangilah meminum coffe, Oppa.” Saran Sunny padanya.

Coffe juga? OH NO! Bagaimana mungkin aku bisa melalui hariku tanpa minuman itu.” Protes Siwon.

“Semuanya tergantung padamu. Aku hanya sekedar memberi masukan. Tapi, jika kau tetap bersikeras jangan salahkan aku kalau kau tidak akan pernah mendapatkan bayi impianmu. Jangankan namja, yeoja baby pun tidak.” Jelas Sunny tapi terdengar seperti ancaman.

“Namja? Yeoja? Apa maksudmu?” Tanya Siwon tak mengerti.

“Banyak yang berhasil setelah melakukan saran yang tertera disana. Bahkan kita juga bisa memprogram jenis kelamin untuk anakmu.” Jelas Sunny.

“Jinjja? Ada yang seperti itu? Wow.. Daebak!”

“Tentu saja. Ilmu pengetahuan semakin berkembang setiap harinya Oppa.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan agar aku mendapat namja baby?”

“Maka dari itu bacalah brosur itu! Maka kau akan tahu caranya.”

“Gumawo Sunny-ya. Kau memang yeodongsaengku yang terbaik.” Pujinya.

“Kau baru menyadarinya, ya?” Cibir Sunny.

Author’s POV End

*******

Tiffany’s POV

Hari masih gelap saat aku terbangun. Dengan mata terpejam aku meregangkan otot-otot dan berguling ke samping. Tapi gerakanku tertahan oleh tubuh seseorang.

“Mian.” Bisiknya lembut. “Oppa tidak bermaksud membangunkanmu.”

Tubuhku menegang. Menunggu amarah itu datang. Bagaimana mungkin Siwon Oppa mengatakan kalau dia harus mempelajari dokumen untuk meeting sementara besok adalah hari Sabtu? Hah.. yang benar saja! Selain itu jam berapa ini? Bukankah dia pernah berjanji untuk tidak meninggalkanku sendiri lagi?

Tapi suasana begitu tenang dan damai dalam kegelapan kamar. Dan aku tidak peduli bahwa seharusnya aku marah pada Siwon Oppa. Aku malah mengulurkan tangan, menemukannya dalam gelap, dan menarik tubuhnya lebih dekat. Kedua lengan Siwon Oppa melingkari tubuhku, mendekapku di dadanya. Bibirku mencari-cari, menjelajahi daerah sekitar leher Siwon Oppa, naik ke dagunya, sampai akhirnya menemukan bibir namjaku.

Siwon Oppa menciumku lembut sesaat kemudian terkekeh.

“Padahal aku sudah siap untuk kau marahi, tapi malah ini yang kudapat? Seharusnya aku lebih sering membuatmu marah.”

“Beri aku 1 menit untuk bersiap-siap.” Godaku lalu menciumnya lagi.

“Akan kutunggu selama yang kau mau.” Bisik Siwon Oppa di bibirku. Jari-jarinya menyusup ke dalam rambutku.

Jantungku berdebar kencang. “Mungkin besok pagi. Ah.. ani. Aku tidak boleh mengganggu Sajangnim yang sedang sibuk meeting.” Kataku dengan penekanan pada kata terakhirnya.

Siwon Oppa terkekeh pelan. “Baby-ku memang tidak bisa dibohongi.” Tangannya bergerak lambat menuruni lenganku, melintasi rusuk dan terus ke pinggang lalu berhenti di pinggulku.

Aku hampir lupa bagaimana caranya bernapas. Perlakuan lembut Siwon Oppa selalu membuat pasokan udaraku berkurang.

“Tadi sore aku menjenguk Sunny. Sudah 1 bulan aku tidak bertemu dengannya. Kurasa aku mulai berubah menjadi Oppa yang baik karena telah merindukannya, Chagi.” Jelas Siwon Oppa kemudian tanpa diminta.

“Kenapa Oppa tidak mengajakku pergi bersama?” Protesku dengan bibir mengerucut.

“Oppa takut kau lelah, makanya Oppa pergi sendiri.”

“Alasan.” Protesku lagi.

Siwon Oppa terkekeh pelan. Dia kembali menarik wajahku ke wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibirku dengan lembut. Aku hanya diam hingga membuat Siwon Oppa berdecak lalu berguling telentang hingga kami berbaring berdampingan. Tangan kanannya kemudian terjulur ke arah samping untuk menyalakan lampu nakas. Dia kemudian merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu.

“Ini..” Katanya sambil menunjukkan benda itu padaku.

Meski sedikit bingung aku tetap menerimanya. “Mwoya?”

“Molla. Sunny hanya mengatakan kalau kau sudah tahu cara meminumnya.” Jawab Siwon Oppa.

“Jinjja?” Tanyaku tak percaya.

Tiffany’s POV End

Siwon’s POV

Aku menjadi sedikit gugup. “N.. Ne. Tentu saja.”

Tiffany bangun dari tidurnya untuk duduk. Dia lalu menyalakan lampu nakas yang ada di sisinya. Aku merasakan jantungnya berdetak kencang. Bagaimana kalau rencanaku terbongkar? Bisa gawat kalau Tiffany tahu!!

Tiffany memperhatikan pot plastik berisi pil berbentuk bulatan kecil itu dengan seksama.

“Wae, Chagi? Apa ada yang aneh?” Tanyaku untuk mencari tahu.

Dia menoleh ke arahku. “Eoh.. aku benar-benar tak percaya, Oppa.”

Aku menelan ludah. Alasan apa yang harus kukatakan padanya? Beraneka ragam rangkain kalimat yang akan kugunakan sebagai penjelasan berkecamuk di benakku sampai akhirnya Tiffany tersenyum manis lalu memelukku dengan tiba-tiba.

“Wae?” Tanyaku heran.

“Aku senang sekali. Sunny akhirnya menemukan obat berwarna merah muda untukku!” pekiknya bahagia.

Fiuhhh.. aku bernapas lega setelah mendangarnya. Sikap gadisku ini memang tidak mudah untuk diterka. Tapi setidaknya dia tidak curiga sehingga aku aman. Maka aku pun membalas pelukan Tiffany dan mencium puncak kepalanya.

“Mianhe, baby..” Batinku

*******

Aku suka saat-saat seperti ini. Kami saling duduk berhadapan menghabiskan makan malam bersama dan bertukar cerita-cerita ringan tentang hariku dan harinya. Ditemani hidangan lezat buatannya. Tiffany memandangku tanpa berkedip. Berkali-kali gadis itu menanyakan apakah keadaanku baik-baik saja.

“Aku heran. Kenapa Oppa tiba-tiba memintaku memasak sup dan bulgogi.” Aku yang sedang berusaha menelan makanan di mulutku mendongak.

“Aku tidak tahu kalau Oppa juga bisa makan sayur.” Tambahnya.

“Tentu saja. Bukankah kau bilang sayur itu bagus untuk kesehatan? Sekarang aku akan menjadi Oppa yang menurut.” Bohongku.

Ya Tuhan! Aroma tauge ini benar-benar tidak tertahankan! Kalau saja bukan demi hubungan kami, aku tidak akan pernah mau memakannya.

“Ah.. ini.. bukankah kau suka daging? Kau sudah terlalu sering makan sayur. Sekarang kau harus banyak makan daging.” Kataku sambil menaruh potongan bulgogi di mangkuk nasinya.

Tiffany sedikit memicingkan matanya. “Oppa tidak sedang merencanakan sesuatu kan?”

Gawat!

“Ani!” Jawabku terlalu cepat. Dia tidak boleh curiga. “Oppa tidak mau kau sakit, Chagi. banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” Kataku memberi penjelasan yang masuk akal.

“Geurae. Syukurlah kalau begitu. Kalau Oppa menginginkan sesuatu yang lain katakan saja padaku.” Katanya sambil tersenyum manis padaku. Aku membalas senyumannya dengan sedikit kaku. Tiffany lalu beranjak menuju lemari es untuk mengambilkan orange juice untukku.

Saat dia sedang berkonsentrasi membuka botolnya, aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan brosur yang Sunny berikan padaku kemarin malam.

Tips mendapatkan bayi laki-laki

  1. Konsumsi makanan kaya protein
  2. Perhitungkan masa subur wanita

Aku sudah melakukan saran yang pertama. Sejauh ini rencanaku berjalan lancar. Sebentar lagi tujuanku tercapai dan impianku akan jadi kenyataan. Appa akan menyerah, aku dan Tiffany menikah, lalu kami akan tinggal di sebuah rumah mungil di daerah perkebunan. Kami akan menikmati senja bersama, ditemani secangkir teh hangat dan menghabiskan malam di depan perapian saat musim dingin tiba bersama anak-anak kami.

Hingga akhirnya aku dan Tiffany akan sama-sama menua, berkeriput dan berambut putih. Lalu pada waktunya nanti, kami berdua akan saling bergenggaman tangan, menanti anak-anak kami masuk ke dalam pelataran gereja, mengantar mereka menikah dengan pasangan yang diciptakan Tuhan untuk mereka.

Ah.. indah sekali! Membayangkannya saja sudah membuatku terpukau. Apalagi kalau hal itu segera menjadi kenyataan. Aku dan baby-ku..

“Oppa!” Panggilan keras Tiffany membuyarkan khayalanku.

“E.. Eoh? Waegurae, Ghagi?” Tanyaku terkejut.

“Ck.. aku sudah memanggil Oppa berkali-kali. Tapi kenapa Oppa diam saja?” Protesnya.

“Mianhe, Chagi. Oppa sedang melamun tadi. Waegurae?”

Tiffany berjalan menghampiriku. Tangan kirinya membawa gelas berisi orange juice sementara tangan kanannya membawa mangkuk putih.

“Igo..” Katanya sembari menyodorkan kedua benda yang dibawanya tadi padaku.

“Oppa memintaku memasukkan banyak tauge ke dalam supnya. Jadi habiskan, ne?” Tambahnya dengan senyumnya yang memikat.

Aku menghela napas berat. ‘Sayur dengan bau menyengat itu.. oh.. tidak. Seseorang.. tolong selamatkan aku!!!’

Siwon’s POV End

*******

Author’s POV

Tiffany mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya mentari yang masuk melalui celah tirai kamar yang tidak tertutup rapat. Dia mengeliat namun gerakannya tertahan oleh tangan kekar seorang namja yang melingkar di pinggangnya. Siwon tidur sambil memeluknya dari belakang. Mendekapnya dengan erat untuk berbagi kehangatan di tubuhnya. Tiffany tersenyum, kemudian berbalik menghadap ke arah namja itu.

Dia begitu tampan hingga membuatnya tak mampu berpaling atau berpindah ke lain hati. Jari telunjuk Tiffany bergerak menyusuri alisnya yang tebal, turun ke matanya yang tajam, berlanjut ke hidungnya yang mancung kemudian terhenti saat akan menyentuh bagian wajah itu selanjutnya. Yeoja itu tersenyum saat mengingat apa yang telah mereka lakukan semalam. Bibir itulah yang sudah menciumnya, mencumbu setiap jengkal kulitnya, dan merayu tubuhnya. Masih jelas teringat dalam ingatannya bagaimana bibir itu mengucapkan kata-kata lembut penuh cinta ke telinganya.

Ini memang bukan pertama kalinya bagi mereka, tetapi Tiffany tidak pernah bosan untuk mengaguminya. Bagaimana sosok itu begitu memuja, menyanjung, dan menghormatinya.

Dalam hati dia bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada namjachingunya itu. Bukan berarti Tiffany tidak senang, tapi dia merasa Siwon sedikit berbeda. Namja itu menjadi lebih romantis dan perhatian akhir-akhir ini.

Tangan Tiffany kemudian turun menyentuh bagian rahangnya yang tegas, lehernya yang jenjang, dan kembali terhenti saat menyentuh bagian dadanya. Tiffany kemudian membentuk pola melingkar dengan jarinya sambil menghirup aroma maskulin dari tulang selangkanya dan sesekali menciumnya lembut.

“Jangan mencuri start, baby.” Namja itu sudah terbangun dari tidurnya.

Tiffany tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil menghentikan aksinya dan menatap wajah namja itu.

“Pagi ini kau sangat tampan, baby. Bagaimana kalau kita mengulanginya lagi?” Katanya sambil mengedipkan sebelah mata membuat Siwon terbahak melihatnya.

“Itu line-ku, baby. Kau tidak boleh merebutnya dariku. Ckckck.. Baby-ku sudah belajar nakal rupanya.” Jawab Siwon lalu mereka berdua terkekeh. “Jadi dimana?” lanjutnya.

“Apanya?” kening Tiffany berkerut.

“Bukankah tadi kau bilang ingin mengulanginya lagi?” Tanya Siwon lagi membuat Tiffany terkekeh mendengarnya.

“Tawaran yang menggiurkan, Oppa. Tapi aku ingin kita bisa hidup tenang tanpa teror dari Sica.” Perkataan Tiffany mengingatkan Siwon mengenai acara mereka di hari ini. Hari ini Jessica dan Dong Hae akan menikah. Dan Tiffany sudah didaulat untuk menjadi pengiring pengantinnya. Jadi, seandainya mereka terlambat hadir di acara sakral itu, sudah dapat dibayangkan hadiah apa yang akan mereka terima nanti.

“Aish.. Kenapa mereka harus menikah hari ini? Sudah kubilang jangan menikah di hari Minggu. Itu adalah waktuku bersamamu.” Keluh Siwon.

“Memangnya kau bisa mengatur jadwal seenaknya seperti di kantor? Sudahlah, Oppa. Lebih baik kita mandi sekarang. Kalau tidak kita bisa terlambat.” Ajak Tiffany sambil bangkit dari tidurnya. Dia kemudian mengambil kimononya yang tergeletak di lantai.

“Beri aku waktu 15 menit lagi, baby. Aku masih mengantuk.” Kata Siwon, mencoba untuk memejamkan matanya lagi.

Yeoja itu hanya tersenyum. Dia tahu betul kebiasaan namjanya. Dia akan sangat disiplin pada hari kerja, tapi akan menjadi sangat pemalas di hari libur seperti sekarang ini. Siwon bahkan sanggup menghabiskan waktu berjam-jam untuk tidur sampai-sampai dirinya harus kelaparan karena namjanya yang tidak mengizinkannya untuk beranjak dari tempat tidur.

“Kita bisa melakukan hal lain dengan 15 menitmu itu, Oppa.” Tawar Tiffany.

“Silahkan saja. Aku tidak tertarik.” Jawab Siwon masih tetap memejamkan mata.

“Aigo.. Padahal aku baru akan memberikanmu sebuah hadiah.”

“Tidak, terima kasih.” Tolak Siwon lagi kali ini dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Jinjja? Baiklah kalau begitu aku mandi sendiri saja.” Goda Tiffany.

Siwon langsung membuka matanya dan secara otomatis terduduk dari tidurnya. Dengan senyum menyeringai dia kemudian berlari menyusul Tiffany ke kamar mandi.

*********

Suasana pesta begitu meriah dihadiri oleh banyaknya tamu undangan. Disana berdiri kokoh sebuah tenda yang di hiasi berbagai ornamen bunga-bunga kecil yang dirangkai menjadi jalinan mengitari tiap tiang penyangga tenda tersebut.

“Mempelai wanita memasuki ruangan.” Pemberitahuan yang diucapkan oleh pembawa acara membuat seluruh perhatian tamu yang hadir mengarah ke arah pintu masuk. Seorang yeoja terlihat berjalan mendahului mempelai wanita yang berjalan di belakangnya. Dialah Tiffany.

Tiffany terlihat begitu cantik dengan gaun selutut berwarna merah jambu tanpa tali dan riasan yang sedikit lebih berat dibanding dengan riasan sehari-harinya namun tetap terlihat natural. Rambutnya disanggul rapi ke atas dengan hiasan berbentuk mahkota kecil bertahtakan mutiara di puncak kepalanya. Penampilannya sangat memukau hingga berhasil menarik perhatian puluhan pasang mata bahkan sebelum mereka melihat pemeran utamanya. Alunan biola dipadu dengan dentingan piano mengiringi langkahnya untuk mengantar mempelai wanita menuju altar.

Saat melewati deretan kursi kedua dari depan tanpa sengaja matanya bertabrakan dengan tatapan Siwon. Namja itu tersenyum sebelum akhirnya mengucapkan sebuah kata tanpa suara. Tiffany dapat dengan jelas membaca gerakan bibir Siwon yang mengucapkan ‘saranghae’. Dia kemudian tersenyum lembut pada Siwon dan mendapat balasan sebuah kedipan mata. Tiffany tertunduk malu sambil berusaha menyembunyikan tawanya.

Hari ini Tuhan kembali mempersatukan pasangan yang saling mencintai melalui ikatan pernikahan. Tiffany tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua mempelai yang sedang berciuman di altar setelah pendeta menyatakan pasangan itu telah sah menjadi suami istri.

“Apa kau iri dengan mereka?” Tanya Siwon seraya merangkul pinggang Tiffany.

“Ani. Aku sama sekali tidak iri. Kita mungkin belum menikah. Tapi saat ini yang terpenting aku bahagia. Aku mendapatkan namjachingu yang baik, tampan, dan begitu mencintaiku dalam hidupnya. Dan aku merasa beruntung akan hal itu.” Jawab Tiffany seraya tersenyum manis.

Siwon sedikit kecewa mendengar ucapan yeojanya. Sebenarnya bukan jawaban seperti itu yang dia harapkan dari mulut Tiffany. Tapi pada akhirnya dia berusaha untuk mengendalikan diri karena tidak ingin pesta indah ini hancur karena keegoisannya.

Siwon kemudian ikut tersenyum, “Aku juga beruntung bisa memilikimu, baby.”

“Saranghae, Oppa.”

“Aku lebih mencintaimu.” Balas Siwon lalu mengecup bibir Tiffany singkat.

Tiffany mencubit perut namjanya pelan, “Ya! Ini pernikahan Dong Hae Oppa. kenapa kau juga malah menciumku di sini?”

“Wae? Aku mencium yeojachinguku. Apa yang salah dengan itu?”

“Aish, apa kau tidak malu? Di sini banyak orang, Oppa!” Jawab Tiffany risih karena ada beberapa orang yang sempat memperhatikan mereka.

“Ah.. benar juga. Baiklah, aku akan menciummu lagi setelah kita sampai di rumah.” Bisik Siwon menggoda. Semburat merah muncul perlahan di kedua pipi Tiffany.

“Aish, Oppa..!”

Siwon tergelak pelan melihat wajah yeojanya itu.

“Anyeong, Fany baby!” Sapa Dong Hae saat dia dan Jessica sudah berada di dekat Siwon dan Tiffany.

“Kau juga harus menyapaku jika ingin menyapa Fany. Kau tahu kan aku orang yang seperti apa Hyung?!” Siwon memasang tampang dinginnya. Dong Hae tersenyum lalu memukul pelan lengan Siwon dengan tangannya yang tergenggam.

“Ya! Kau tidak cocok memasang tampang seperti itu.” Kata Dong Hae. “Lagipula mulai sekarang kau harus berebut dengan Sica untuk bisa menciumku.” Lanjutnya.

Siwon kembali tersenyum lalu merangkul Tiffany lagi. “Chukkae Hyung!” Ucapnya tulus pada pasangan pengantin baru itu.

“Oppa, chukkae.” Tiffany ikut memberi selamat pada Dong Hae.

“Ya! Kenapa hanya menyelamati Dong Hae Oppa saja? Apa kau tidak ingin memberiku ucapan selamat, Nona Hwang?” Jessica mengerucutkan bibirnya berpura-pura kecewa atas sikap sahabatnya itu.

“Aish, kenapa aku bisa lupa kalau mempelai wanitanya masih ada di sini. Aku rasa karena Fany-ku terlihat lebih cantik hari ini.” Siwon menggoda Jessica membuat sang mempelai wanita melayangkan tatapan mematikan padanya.

“Kurasa kau tidak bisa melihat dengan baik, Tuan Choi. Jelas-jelas aku adalah pemeran utamanya hari ini. Jadi harus aku yang paling cantik. Baik kau setuju atau tidak!” Balasnya.

Ketiga orang lainnya hanya tertawa mendengar jawaban Jessica.

“Chukkae, Sica-ya. Semoga pernikahanmu selalu dipenuhi dengan kebahagiaan.” Ucap Tiffany sambil memeluk tubuh sahabatnya itu. “Katakan padaku jika suatu saat nanti Dong Hae Oppa berbuat macam-macam padamu. Siwon Oppa dengan senang hati akan membantumu membalas dendam.” Tambahnya.

“Gumawo Fany-ya.” Jawab Jessica. “Dan aku akan sangat bahagia jika dapat memastikanmu menjadi gadis selanjutnya yang akan memakai gaun ini.” Lanjutnya dalam hati.

*******

Tiffany’s POV

“1..2..3..4..5..6..7..” Aku menggeleng pelan. “Andwe..” Batinku.

Tak percaya, kubalikkan kalender ke bulan sebelumnya lalu mulai menghitung lagi dengan menunjuk setiap tanggalnya. Benar. Tepat 7 minggu. Biasanya kalau aku meminum obat yang Sunny berikan padaku, periode bulananku datang dengan teratur. Kalaupun tidak, di akhir minggu ke-5 hal itu pasti terjadi. Tapi ini..

Apa caraku salah? Ah.. ani. Aku selalu meminumnya secara teratur setiap hari dijam yang sama. Atau mungkin ada zat lain dalam obat ini yang tidak sesuai dengan tubuhku? Sepertinya aku harus menemui Sunny. Mungkin dia bisa menggantinya menjadi jenis obat yang lain. Aku tidak peduli pada warna merah mudanya yang memikat hati. Yang kuinginkan sekarang hanyalah kenyamanan.

Tunggu dulu! Bukankah dia sedang pergi untuk seminar ke Sydney? Aish! Eottoke? Baiklah.. Tenang, Tiffany. Tenang.. Sunny bukan satu-satunya orang yang bisa dimintai pertolongan. Sebaiknya aku pergi ke apotek saja. Siapa tahu mereka bisa memberikan solusi untuk sementara waktu.

“Annyeonghaseyo, Agassi. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang apoteker saat aku menghampiri counter apotek di depan apartemen.

“Ah.. ne. Dokter pribadi saya baru merekomendasikan pil kontrasepsi baru. Saya baru meminumnya selama 1 bulan. Tapi, kenapa meskipun saya meminumnya sampai habis periode bulanan saya belum juga datang? Apa itu memang efek sampingnya?” Jelasku padanya.

Apoteker itu tersenyum. “Jhwesonghamnida, gogaegnim. Bisa saya lihat obatnya?”

Aku mengambil benda itu dari dalam saku celana dan memberikannya.

Apoteker itu membaca tulisan yang tertera di pot plastiknya dan mengetik sesuatu di komputernya.

“jhwesonghamnida, gogaegnim. Sepertinya Anda membawa obat yang salah.” Katanya beberapa saat kemudian.

Aku mengernyit. Aku yakin tidak salah. Lagipula tidak ada lagi obat seperti itu di apartemen. “Apa maksud anda?”

“Ini bukan pil kontrasepsi, gogaenim. Ini tablet multivitamin.” Penjelasan apoteker itu membuatku tercengang.

Tidak! Jelas-jelas itu obat yang diberikan Siwon Oppa padaku. dia juga mendapatkannya langsung dari Sunny. Bagaimana bisa?

Aku tersentak dari lamunanku saat apoteker itu memanggilku. Dan satu pernyataan yang dia ucpkan berhasil membuat tubuhku melemas.

“Saya sarankan sebaiknya Anda melakukan test kehamilan, gogaegnim.”

Andwe! Tuhanku..

Tiffany’s POV End

*******

Author’s POV

Tiffany sedang berdiri di balkon apartemennya. Meskipun tatapannya mengarah ke bunga-bunga indah yang ada disana, tapi sebetulnya dia sedang melamun. Berbagai macam hal berkecamuk di kepalanya. Hubungannya dengan Siwon, pengakuan Sunny ditelepon tadi, hingga kondisi tubuhnya saat ini. Dia juga kembali merenungkan kata-kata Jessica setelah pesta pernikahannya usai.

Flashback

“Ini.” Jessica memberikan buqet bunga pengantinnya pada Tiffany.

“Apa ini? Kenapa kau memberikannya padaku?” Tanya Tiffany sambil menerimanya meskipun dengan kening yang berkerut.

“Aku tidak mengadakan acara lempar bunga karena ingin secara khusus memberikan buqet ini untukmu.” Jelas Jessica. “Siwon benar-benar mencintaimu. Rasanya tidak adil jika kau menilainya sama dengan pria-pria lain di luar sana. Tidak cukupkah pengorbanannya selama ini?” Tiffany hanya terdiam mendengar perkataan sahabatnya.

“Jangan sampai kau menyesali keputusanmu disaat dia mulai menjauh Fany-ya. Berjanjilah padaku untuk mempertimbangkannya.”

Flashback End

Tiffany tahu dengan jelas apa arti dari penyerahan buqet itu padanya. Jessica berharap agar dia cepat mengikuti jejaknya. Tiffany dan Siwon adalah sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama 3 tahun. Selama 1 tahun terakhir ini semenjak mereka tinggal bersama Siwon telah berulang kali mengajak Tiffany untuk menikah. Dan berulang kali juga dia harus menerima jawaban yang sama dari Tiffany yang menyatakan kalau dia belum siap. Tiffany mengusap perutnya dengan lembut. ‘Haruskah aku menerimanya? Kalau tidak, sampai kapan aku akan menggantungkan hubungan kami? Adilkah ini untukku? Adilkah ini untuk Siwon Oppa? Adilkah ini untukmu?’ Batinnya.

Tiffany terkesiap saat seseorang memeluk tubuhnya dari belakang, tapi saat mencium aroma tubuhnya Tiffany tersenyum lembut.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Tanya Siwon. Dia sedikit membungkuk dan meletakkan dagunya di bahu kanan Tiffany.

“Ani. Hanya mencari udara segar saja.” Bohong Tiffany. Jelas-jelas dia sedang melamun tadi.

“Jika dingin seperti ini bukan kesegaran yang kau dapat tapi hipotermi. Selain itu nafasmu ada di dalam. Jadi apa yang kau cari di sini?” Itulah Siwon dengan segala kegombalannya. Tapi itulah yang membuat Tiffany semakin terperosok ke dalam pusaran cintanya.

Baby..” Panggil Siwon lagi.

“Hmm?” Tiffany hanya menjawab dengan gumaman.

“Kau sangat cantik saat menjadi pengiring Sica tadi.”

“Lalu?” Tanya Tiffany. Sebenarnya dia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Siwon.

“Kurasa kau akan lebih cantik jika memakai gaun seperti yang Sica pakai.”

“Ani. Aku tidak mau memakai gaun itu. Oppa harus membelikanku gaun yang lebih indah dari itu.” Jawab Tiffany.

Tubuh Siwon menegang seketika. “Apa maksudmu, Chagi? kau..”

Tiffany hanya tersenyum kemudian melepaskan dirinya dari pelukan Siwon. Dia lalu membalikkan badannya menghadap ke arah namjanya itu. Ditangkupnya pipi Siwon dengan kedua tangannya lalu menciumnya lembut.

“I do. Aku mau menikah denganmu, Oppa.”

Mata Siwon berbinar. “Kau serius? Chagi.. aku bahagia sekali!” Pekik Siwon. Dia lalu memeluk Tiffany erat.

Baby, Aku mencintaimu. Dan aku juga tahu kau mencintaiku. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membuktikan kalau aku akan selalu jatuh cinta padamu dan tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membuatmu percaya padaku. Tapi aku, Choi Siwon, sudah benar-benar jatuh cinta padamu, Tiffany Hwang, dan aku selalu berdoa agar Tuhan menjaga cinta kita. Hanya itu yang bisa aku janjikan pada mu.”

Tiffany menjawab pernyataan cinta Siwon dengan mengerucutkan bibir.

“Cinta kita saja? Dia bagaimana?” Tanyanya sambil menunjuk perutnya dengan matanya.

“Ne?! apa kau..” Siwon berkata dengan terbata-bata. Jadi dia berhasil? Tiffany sekarang sedang..

“Aku hamil. Usianya sudah 7 minggu. Dokter juga mengatakan kalau dia sehat. Kurasa itu karena obat merah muda yang diberikan Appanya.” Sindir Tiffany.

“Ba.. baby.. Oppa bisa menjelaskannya. Itu..”

“Arra. Aku sudah tahu apa yang kau rencanakan.”

“Chagi, kau tidak marah padaku?” Tanya Siwon tak percaya.

Tiffany menggeleng pelan. “Awalnya aku bingung dengan apa yang harus kulakukan. Tapi kurasa ini saat yang tepat untuk mengukuhkan cinta kita. Aku bisa berhenti bernapas kalau ada wanita lain yang merebut Oppaku.”

Siwon tersenyum dengan mata yang berbinar. “Saranghae, baby. Nomu saranghae.” Siwon mengecup kening Tiffany lalu berlutut dan membuka kaus yang dikenakan kekasihnya sampai perutnya terlihat. Siwon menciumnya lembut dan berlama-lama.

“Appa mencintaimu, baby.” Bisiknya lembut.

“Kami juga mencintaimu, Appa. Sangat mencintaimu.” Balas Tiffany.

Siwon kembali berdiri untuk mengelus lembut pipi Tiffany dan membelai mesra rambutnya. Perlahan dia memiringkan wajah. Tiffany sudah tahu apa maksudnya. Dia menutup mata dan membiarkan Siwon mencium bibirnya dengan lembut. Sebuah ciuman cinta yang begitu hangat dan dalam. Siwon meraih pinggang Tiffany dan memeluknya erat. Dia menarik tubuh Tiffany dan memperdalam ciuman mereka. Tidak ada yang berniat untuk mengakhirinya karena saat ini keduanya tengah meluapkan semua perasaan cinta dan kasih yang mereka miliki.

Siwon mendesah tertahan saat Tiffany melepaskan secara paksa tautan bibir mereka.

“Itu tidak akan cukup, baby.” Ujar Siwon sambil mengedipkan sebelah matanya. Dia lalu meraup tubuh Tiffany dan membawanya menuju kamar mereka.

Tiffany terkekeh pelan. Dia mengerti apa yang namjanya inginkan. Maka dia pun mengalungkan kedua tangannya di leher Siwon kemudian berbisik mesra, “As you wish, honey.”

*******

The End ^_^

104 thoughts on “(LFF) Say Yes!

  1. Siwon frustasi,karena appanya akan menjodohkannya pada gadis lain,kalo dalm 3bln siwon belum menikahi fany.penasaran banget apa yg membuat fany menolak siwon,apa karena fany pernah terluka oleh pria lain atau karena trauma.satu2nya jalan membuat fany hamil dengan meminta bantuan sunny, dokter pribadi fany dan juga sepupunya siwon.
    Aiggo……fany benar2 maniak pink,ampai obatnya aja warna pink,benar2 deh.
    Dalam hitungan wkt,fany telat datang bulan dan hamil 7 mggu.chukae siwon dady dan fany momy
    Hehehe…..akhirnya fany juga menerima lamaran siwon.
    Thanks buat author dan ffnya.
    Daebak buat author author jjang author hwaiting.
    Sifany 4ever♡♡♡♡♡

  2. Crt a kern..buat secuel a dong after merried….msh pensrn nh dg crt a knp lamrn siwon sellu d tolk am fany…ap krn blm yakin dg cint siwon…cukay siwon n fany akan jd dad n mom…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s