Puzzle Part 1

PUZZLE

Part 1

-Song Haneul-

 

“Saat ini aku berada di Hotel. Appa tidak perlu khawatir. Aku akan menyelesaikan tugasku secepatnya.” Pria itu mengernyitkan dahinya ketika sakit itu kembali menyerang kepalanya. Berdenyut. Dan menyiksanya.

 

            “Kau hanya punya waktu sebulan, Andrew.”

 

“Aku tahu.”

 

            “Bagus,” dan setelahnya, pembicaraan itu terputus tanpa bisa dipahami oleh pria itu. Tatapan matanya lurus menuju pemandangan didepannya. Setelah sebelumnya pria itu menyimpan kembali ponsel androidnya ke dalam saku celananya. Kembali dihela napas panjangnya yang lelah, ketika sakit itu kembali menghujaninya tanpa ampun. Membuat pria tersebut meringis kesakitan dan menjatuhkan tubuh tegapnya di atas lantai hotel kamarnya.

Kedua tangannya mencekeram kuat helaian rambut hitamnya, membuat rambutnya berantakan tak beraturan. Keringat dingin pun mulai membasahi wajah tampannya yang kini mulai memucat.

 

Hyeong!

 

Seorang pria lain yang baru saja memasuki ruang tersebut berteriak dan berlari menghampiri Andrew yang tengah kesakitan.

 

Gweanchana?

 

Andrew tak menjawab, pria itu kini sedang berusaha mengatasi rasa sakit itu. Berusaha mengenyahkan rasa yang tak dipahaminya.

 

Hyeong, gweanchana?” tanya lagi pria itu dengan wajah khawatir.

 

Andrew berhenti merintih, entah karena alasan apa, dia tidak suka pria disampingnya mengkhawatirkannya seperti itu. Perlahan pria itu mengangkat kepalanya dan menatap ke samping, tepat ke arah pria yang kini tengah menatap tajam padanya. seperti ingin memastikan sesuatu.

 

Gweanchana.” Jawabnya dingin, dan langsung menegakkan tubuhnya.

 

Pria bernama El Kim itu diam-diam menghela napas pelan. Berusaha menutupi kekhawatirannya pada partner kerja yang telah dianggap kakak kandungnya sendiri itu. Tak ingin kembali terkena ucapan tajam Andrew karena mencemaskan keadaan pria yang sering kali merasakan sakit dikepalanya.

 

Sebenarnya, El sering kali menyarankan Andrew untuk memeriksakan diri ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Namun pria itu selalu menolak dan mengabaikannya.

 

“Kau sudah mengurus semuanya, ‘kan?”

 

Nde,” jawab El masih memperhatikan wajah Andrew yang pucat.

 

“Bagus.”

 

Setelahnya. Andrew beranjak pergi dan membuat El memejamkan matanya kesal dengan segala sikap dingin Andrew. Meski begitu, El sama sekali tak bisa berbuat apa-apa, mengingat bagaimana Andrew akan menjadi lebih menyeramkan jika pria itu berani untuk bicara lebih lanjut.

 

 

**********

 

“Besok kau sudah bisa langsung bekerja, Andrew-ssi.”

 

“Ya, terima kasih.”

 

“Saya harap, kau bisa menjalankan tugasmu dengan baik. Dan… bertahan.” Ucap seorang pria paruh baya yang duduk di atas kursi kebesarannya penuh harap. Kedua mata sayunya terlihat sangat lelah dengan kerutan-kerutan disekitar matanya yang memberikan kepastian bahwa pria itu tak hidup dalam keadaan baik-baik saja, walau kekayaan mengelilinginya.

 

“Anda tenang saja Presdir. Saya akan melakukan yang terbaik untuk kepercayaan Anda.” Jawab Andrew kalem dengan sorot mata yang dingin.

 

“Baguslah. Saya sangat mengharap janjimu, Andrew-ssi.” Ada ketegasan bercampur keinginan besar dalam ucapan pria berusia 54 tahun itu. Dan kedua matanya tak pernah lepas memandangi wajah tampan pria dihadapannya yang kini berdiri dengan tegap dan menampakan wajah dingin penuh kemisteriusan.

 

“Wanita itu, tidak seperti Wanita lainnya. Dia sangat nakal dan licik. Sudah berapa banyak bodyguard yang ku pekerjakan untuk menjaganya kewalahan dan akhirnya memilih mengundurkan diri. Entah apa yang dilakukan wanita itu pada mereka, hingga membuat orang-orang itu tak lagi berani kembali bekerja untukku, walau aku sudah menawarkan bayaran besar kepada mereka.” Pria paruh baya itu mengerang frustasi setiap kali mengingat segala tindakan yang dilakukan anak perempuan satu-satunya itu yang membuat para bodyguarnya mengundurkan diri. “Aku sungguh berharap padamu Andrew-ssi. Karena jujur saja aku sudah tak tahu apa lagi yang aku lakukan untuk menghadapi kenakalannya.”

 

Andrew sedikit mengangkat kepalanya, dan memandangi wajah penuh lelah itu sekali lagi. Ada sesuatu yang berdesir di dalam tubuhnya ketika memandangi wajah pria paruh baya itu.

 

“Anda tidak perlu cemas, Presdir. Saya tidak akan mengecewakan Anda.”

 

Dan untuk pertama kalinya, pria paruh baya itu merasa begitu tenang setelah hampir 20 tahun hidupnya selalu dibayang-bayangi hal yang menakutkan. Dan kini, hanya karena pria muda yang akan menjadi bodyguard putri kesayangannya, pria paruh baya itu merasa akan baik-baik saja.

 

“Terima kasih. Dan… kalau kau lupa. Nama putriku Mi-Young. Choi Mi-Young.”

 

Dan sekali lagi. Andrew merasa ada yang menghatam keras isi kepalanya ketika dia mendengar nama itu. Seperti ada sesuatu didalam nama itu. Sesuatu yang menyakitkan. Sesuatu yang harus dibuangnya jauh-jauh.

 

“Tolong jaga dia, Andrew-ssi. Dia satu-satunya yang ku harapkan saat ini.” Ucap pria paruh baya itu lagi, sebelum Andrew beranjak pamit keluar ruangan tersebut dan meninggalkan seringai jahat di wajah tampannya.

 

“Bodoh. Kau yang memulai start ini, Presdir Choi.”

 

***********

“Apalagi?”

 

Gadis itu terus menampakan wajah cemburutnya. Merasa kesal karena pria dihadapannya bicara dengan nada mengejek.

 

“Youngie~… lihatlah! Suamimu terus saja mengejekku.”

 

Oppa!

 

Wae? Aku tidak melakukan apapun pada Eonni kesayanganmu, Sayang. Sungguh!” Seru pria itu membela diri dihadapan istrinya yang sepertinya akan memarahinya karena mengira dia melakukan suatu kejahatan pada kakak kesayangannya itu.

 

“Bohong!”

 

“YAK! CHOI MI-YOUNG. KAU INGIN MERUSAK RUMAH TANGGA ORANG, HAH?” teriak pria itu kesal. Yang hanya dibalas juluran lidah gadis bernama Choi Mi-Young itu.

 

“Sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini.” Seorang wanita lain diruangan itu memutar kedua matanya jengah melihat pertengkaran diatara dua orang yang sama-sama dicintainya. Hanya saja, entah disengaja atau tidak wanita bernama Yoona itu selalu saja membela wanita yang telah dianggap kakak kandunganya itu dibandingkan suaminya, Cho Kyu-Hyun. Meski dia tahu bahwa Mi-Young kerap kali berbuat usil pada pria yang telah menjadi suaminya selama hampir 2 tahun ini.

 

“Aku hanya bertanya. Dia saja yang selalu berpikiran buruk padaku.” Gerutu Kyu-Hyun sambil melangkah menghampiri Yoona dan memeluk wanitanya dari belakang lalu meletakan dagunya di atas bahu Yoona.

 

Mi-Young menatap tajam kepada Kyu-Hyun yang menampakan seringainya, ketika pria itu mengeratkan pelukannya dan membenamkan kepalanya dilekukan leher Yoona.

 

“Shit! Kalian membuatku muak,” kata Mi-Young dengan wajah muaknya yang dibuat-buat. Membuat Yoona tersenyum kecil dan Kyu-Hyun yang tertawa ringan dengan kepala yang masih terbenam di leher istrinya.

 

“Aku pergi.” Ucap Mi-Young lagi dengan wajah kesalnya.

 

Melihat Mi-Young akan beranjak dari sofa yang didudukinya. Yoona langsung melepas pelukan suaminya dan segera menghampiri Mi-Young. Mmembuat Kyu-Hyun mencibir sikap perhatian Yoona yang terlalu berlebihan jika menyangkut Choi Mi-Young.

 

Eonni, kau bahkan belum menceritakan apa yang membuatmu kesal hari ini. Kenapa langsung pulang?” tanya Yoona dengan kedua tangan yang memegangi lengan kanan Mi-Young.

 

Tepat saat mereka berada di depan pintu apartemen Yoona dan Kyu-Hyun, Mi-Young menghentikan langkahnya dan menatap Yoona dengan tajam. Namun sepertinya Yoona sama sekali tak takut akan tatapan itu, terbukti dengan senyum yang justru berkembang di bibirnya.

 

“Kalian membuatku muak, kalian tahu?” kata Mi-Young bertanya dengan sinisnya dihadapan Yoona.

 

“Itu karena kau tidak punya pasangan.”

 

Oppa!

 

“Cho!”

 

Kyu-Hyun langsung melarikan diri ketika Yoona dan Mi-Young secara serempak memanggil namanya dan menatapnya keji seakan ingin membunuhnya.

 

“Suamimu menyebalkan.” Gerutu Mi-Young sambil mengenakan kembali kedua high hellsnya.

 

“Itu yang membuatku mencintainya,” Yoona sepertinya suka sekali jika menggoda gadis cantik dihadapannya itu. Terbukti senyum semakin lebar ketika Mi-Young mendelik kesal ke arahnya.

 

Heol… sepertinya kau benar-benar sudah jatuh hati padanya. Dan melupakan aku.” Mi-Young bersidekap dengan wajah merenggut.

 

“Aku masih menyayangimu Eonni, sungguh!”

 

“Kau berbohong.”

 

Yoona hanya tersenyum lembut menghadapi sikap manja Mi-Young yang hanya akan ditunjukkan didepannya.

 

“Dia kembali membayar orang untuk merecoki hidupku.”

 

Mi-Young kembali berucap dengan nada pelan dan raut wajah tak bersahabat. Yoona hanya menghela napas pelan, dengan tatapan yang sulit di artikan. Sepertinya wanita itu tak suka melihat Mi-Young seperti itu.

 

Ahjussi, hanya ingin melindungimu.”

 

“Aku tidak butuh perlindungannya.” Mi-Young menjawabnya dengan cepat, seakan tahu bahwa adik kesayangannya itu akan mengatakan hal serupa yang sepertinya sering diucapkan Yoona setiap kali Mi-Young mengeluh tentang ini.

 

Eonni—

 

“Dia seharusnya melindungi dengan tangannya sendiri. Seharusnya dia pulang ke rumah dan melihat kondisi Eomma. Bukannya selalu berada ditempatnya sekarang dan menyuruh orang-orang itu untuk melindungi anak dan istrinya. Dia—” Mi-Young menahan napasnya ketika merasa suaranya tercekat. Digigitnya bibir bawahnya dengan kuat dan merasakan darahnya sendiri yang keluar karena gigitannya yang terlalu kuat.

 

“Dia yang kami butuhkan. Seharusnya dia tahu itu,” dengan suara lirihnya Mi-Young menundukan wajahnya sedalam mungkin dengan kedua tangan yang terkepal keras di kedua sisi tubuhnya. Menahan laju air mata yang siap menghiasi pipinya.

 

Yoona melangkah maju dan memeluk gadis yang dikenalnya hampir separuh hidunya itu. Tahu dan mengerti bagaimana perasaan Mi-Young saat ini. Seorang yang terlihat kuat namun begitu lemah dan rapuh,

 

Uljima Eonni,”

 

Eomma semakin memburuk. Dia bahkan selalu histeris setiap malamnya. Dan itu membuatku semakin membencinya. Seharusnya dia menamin Eomma bukan? Seharusnya— seharusnya, dia yang berada disisi Eomma. Aku ingin melakukannya tapi aku tak bisa. Aku—” Mi-Young menangis didalam pelukan Yoona dengan napasnya yang tersedat-sedat merasa sesak setiap kali mengingat kondisi Ibunya yang bahkan tak pernah menyentuhnya.

 

Cho Kyu-Hyun berdiri dibalik tembok itu, memandang nanar wajah sahabatnya yang menangis pilu dipelukan istrinya. Ini sudah berlalu begitu lama. Dan tak ada yang dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Membuat Kyu-Hyun hanya bisa mendesah pasrah dan merasa sangat bersalah karena tak mampu membantu wanita yang disayanginya setelah Ibu, kakak dan istrinya tersebut. Yang mampu dilakukan pria itu hanya berdoa agar Mi-Young terbebas dari segala himpitan besar dalam hidupnya. Dan dapat melihat Mi-Young tersenyum tanpa harus berusaha menutupi ketakuatan dan kesedihannya.

 

 

**********

 

Andrew menatap mobil yang baru saja melaluinya dengan pandangan lurus dan tajam.

 

Pria itu kembali menggunakan helm-nya dan menaiki motor sport berwarna hitamnya dan melajukan motor tersebut mengikuti mobil berwarna putih yang digunakan seorang wanita yang dikenalnya. Target barunya.

 

“Sekarang,” ucapnya melalui headseat yang digunakannya dibagian telinga kiriya.

 

Dan tepat setelah pria itu melakukan panggilan itu. Sebuah suara yang mengerikan terdengar tak jauh dari tempatnya. Senyum seringanya terlukis dibalik kaca helm yang digunakannya.

 

Sebuah kecelakaan baru saja terjadi didepannya. Dan terlihat dimatanya sebuah mobil dalam posisi terbalik dengan seorang wanita di dalamnya yang tengah berusaha keluar dari dalam mobil yang sepertinya akan meledak dalam hitungan menit lagi.

 

Pria itu menghentikan motornya tepat didepan mobil itu dengan jarak 4 meter. Menatap lurus seorang wanita yang tengah terluka parah dan begitu kesulitan untuk menyelamatkan dirinya.

Andrew turun dari motornya dan berjalan pelan menghampiri mobil itu. Langkahnya seperti telah diperhiitungkan dan dia dapat melihat dengan jelas percikan api yang berasal dari mobil tersebut.

 

Dan saat pria itu sudah berada didepan mobil tersebut, di depan kaca mobil kemudi—tepat dimana wanita itu berada— Andrew menjongkokkan tubuhnya dan melihat wanita itu menatap dengan tatapan memohon padanya. Mengisyaratkan permintaan tolong pada pria tersebut.

 

Sekali lagi pria itu melihat percikan api itu. Dan setelahnya Andrew memberi isyarat agar wanita tersebut memundurkan tubuhnya menjauhi kaca mobil tersebut. Tanpa aba-aba, pria tersebut memecahkan kaca itu dengan siku tangannya hanya dengan sekali pukulan. Membuat wanita yang berada didalam mobil tersebut menutup kedua matanya dan melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.

 

Setelah berhasil memecahkannya, Andrew menarik wanita tersebut dan menggendongnya—bridal style—dan berlari menjauhi mobil tersebut yang langsung meledak setelah Andrew berhasil sampai disamping motornya.

 

Mi-Young—wanita yang berada digendongan Andrew—membelalakan matanya melihat mobil yang digunakannya meledak tepat didepan matanya. Napasnya terhenti seketika dan dia merasa tenggorokannya kering. Tangannya yang mencengkeram kuat jaket hitam yang digunakan pria yang menolongnya itu bergetar dan memutih karena kuatnya ia mengepalkan kedua tangannya.

 

Andrew menurunkan secara perlahan tubuh Mi-Young yang penuh luka terlebih dibagian kepalanya—walau masih melingkarkan tangannya disekitar pinggang wanita itu. Kedua matanya bertemu pandang dengan kedua mata Mi-Young yang terlihat ketakutan. Dilihatnya napas Mi-Young yang tersengal dan Andrew merasakan getaran dari tubuh Mi-Young yang masih dipegangnya.

 

Wanita itu tak mampu berucap dan hanya dapat melihat helm dengan kaca hitam yang menutupi wajah pria yang meolongnya itu. Mi-Young ingin sekali mengatakan terima kasih namaun tak mampu, setelah ia merasa tatapannya memberat dan tubuhnya melemah secara perlahan. Tidak ada suara apapun setelah itu selain suara sirene mobil polisi dan ambulan. Bahkan Andrew tidak berteriak cemas ketika dilihatnya wanita yang diselamatkan menutup rapat kedua matanya.

 

“Tidur yang nyenyak, Nona. Setelah ini… kau akan sangat lelah.” Bisik pria itu

 

 

**********

 

“Eugh….”

 

“Nona,” suara lembut itu terdengar bergetar diruangan tersebut. Kedua mata sayu itu masih terlihat lembab dan sekarang mulai berkaca-kaca kembali ketika dilihatnya pergerakan kecil dari tubuh Mi-Young yang sejak semalam belum sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan.

 

“Nona,” panggil wanita paruh baya itu lagi.

 

Mi-Young menatap wajah seorang yang begitu dikenal. Seorang wanita yang begitu dekat dengannya. Yang selalu menjaganya selama ini. Dan entah alasan apa yang membuatnya tiba-tiba saja mengeluarkan air matanya. Mi-Young merasakan begitu hampa.

 

Dia mengingatnya, kejadian mengerikan semalam. Masih terasa jelas dibenaknya. Dan Mi-Young tak akan mampu melupakan semua itu. Dan kini saat ia berada didalam ruangan serba putih dengan tubuh tak berdaya. Dia, Choi Mi-Young tidak melihat kedua orang tuanya. Dan itu membuatnya sakit. Jauh lebih menyakitkan dibandingkan luka disekujur tubuhnya. Dan untuk sekian kali. Bibi Hwang adalah satu-satunya yang selalu mendampinginya dan menjaganya.

 

“Presdir datang 2 jam yang lalu, tapi kembali berangkat ke Singapura untuk perjalanan bisnisnya. Beliau sangat mengkhawatirkan Anda, Nona.” Seperti tahu apa yang ada dipikiran gadis cantik tersebut. Bibi Hwang langsung menjelaskannya pada Mi-Young tanpa diminta.

 

Mi-Youn tak berniat menjawabnya. Dia hannya memandangi pintu besar dihadapanya. Sekarang ini gadis itu ditempatkan pada ruang VVIP di sebuah rumah sakit terkenal di Seoul. Begitu mewah dan nyaman. Namun sepertinya itu tak berpengaruh banyak untuk gadis itu. Justru wajahnya terlihat muak dan akan siap meledak kapan saja.

 

Baru saja gadis itu akan mengeluarkan sumpah serapahnya. Pintu ruang rawatnya terbuka dan menampilkan sosok pria asing yang tak pernah dilihatnya sebelumnya, mengenakan setelah jas hitam dengan kemeja putih didalamnya dan juga sebuah headseat yang terlihat digunakannya dibagian kupingnya. Terlihat rapih dan tampan. Sosok yang mempesona terlebih dengan tubuhnya yang tinggi dan tegap menambah kesan sempurna. Namun sayang, wajah itu terlihat datar dan dingin. Sulit tersentuh dan tak mudah dijangkau. Benak Mi-Young bertanya-tanya siapa pria itu? Dia tak merasa mengenal atau memiliki kenalan pria seperti pria yang kini ada disamping Bibi Hwang, memandang lurus padanya.

 

“Perkenalkan Nona, dia adalah bodyguard baru Anda, Andrew Lee.” Ucap Bibi Hwang memecahkan keheningan diantara kedua manusia itu. Memperkenalkan sosok Andrew pada Mi-Young yang langsung dibalas dengusan gadis itu. Merasa jengah ketika lagi-lagi Ayahnya mengirimkan seseorang untuk menjadi bodyguardnya.

 

            “Tsk, apa Appa tidak merasa bosan? Kenapa mengirimkan orang seperti ini lagi?”

 

Mi-Young menatap tajam ke arah Andrew yang dibalas dengan tatapan kalem Andrew. “Pergilah! Kau hanya akan sama seperti yang lainnya. Menyerah dan melarikan diri dari tugas yang diberikan Appa. Jadi, kuberitahu padamu Andrew-ssi. Lebih baik kau pergi sekarang. Karena sekarang atau nanti sama saja bukan. Sama-sama akan menyerah menghadapiku.”

 

Andrew tak langsung menjawab ucapan Mi-Young yang terdengar penuh penekanan. Kepalanya terangkat, dengan satu tangan yang dimasukkannya kedalam saku celananya, yang membuat Mi-Young mengernyit heran. “Dia pikir sekarang dia sedang menjadi model, eoh?” pikir Mi-Young.

 

“Saya baru saja menemui dokter yang memeriksa Anda. Untuk satu minggu kedepan, Anda harus tetap dirawat untuk diperiksa lebih lanjut. Takut jika nantinya ada masalah dibagian kepala Anda yang akan menyebabkan penyakit jangka panjang. Jadi, diharapkan Anda mengikuti segala prosedur di rumah sakit ini.”

 

Mi-Young melongo dengan segala ucapan yang dilontarkan Andrew.

 

“Dan juga, Appa Anda berpesan agar Anda tak merepotkan banyak orang.”

 

“Apa? Merepotkan?” tanya Mi-Young dengan wajah tak percaya. Dan lagi, kenapa pria ini berani bicara panjang lebar dihadapannya, pikir Mi-Young.

 

“Kau! Siapa yang—”

 

“Suster akan segera masuk untuk mengecek kesehatan Anda—”

 

“Hentikan omong kosongmu!” teriak Mi-Young yang langsung digelengkan oleh Bibi Hwang yang merasa khawatir dengan kesehatann Mi-Young.

 

Andrew menghentikan ucapannya dan menajamkan tatapannya pada Mi-Young yang dibalas juga oleh wanita itu tak kalah tajam.

 

Menit berlalu ke menit selanjutnya. Dan Mi-Young merasa semakin sesak dan takut disaat yang bersamaan ketika pria itu terus saja menatapnya tajam. Biasanya bodyguard-bodyguard sebelumnya akan langsung takut dan menundukan kepala mereka setelah diberikan death glear oleh wanita berusia 21 tahun itu.

 

Tapi Andrew sepertinya tak takut sama sekali dan terkesan menantang wanita itu. Membuat Mi-Young mengumpat dalam hatinya karena justru dia yang mulai merasa ciut karena tatapan Andrew semakin memojokannya.

 

“Jadi… Ms. Choi. Bisa saya lanjutkan ucapan saya?” suara Andrew begitu pelan dan penuh penekanan disetiap katanya. Membuat Mi-Young kehabisan kata-kata dan merasa kosong dalam otaknya. Dia hanya mengangguk ragu dan mengalihkan tatapannya pada Bibi Hwang yang hanya tersenyum lirih padanya, yang dibalas dengan wajah cemberut Mi-Young.

 

“Selama satu minggu ini Anda akan dirawat Intensif. Dan Anda tidak boleh keluar dari kamar rawat kecuali jika saya yang mendampingi Anda. Anda mengerti?”

 

Mi-Young mengangguk patuh, namun tak lama ia tersadar akan sesuatu, “Kenapa kau memerintahku? Kau pikir, kau siapa, hah?” teriak Mi-Young.

 

“Nona,” Bibi Hwang memperingati Mi-Young dengan suara lembutnya. Wanita paruh baya itu hanya tak ingin kondisi Mi-Young semakin buruk dengan teriakannya itu.

 

“Akh…,” Mi-Young meringis kesakitan dibagian kepalanya. Wajahnya terlihat menahan sakit dan membuat Bibi Hwang ingin memeriksa dan menolong Nona mudanya itu. Namun tertahan, karena lengannya ditarik pelan oleh Andrew yang juga memberi isyarat dengan gelengan kepalanya.

 

“Sebaiknya mulai sekarang, berhenti berteriak-teriak jika Anda ingin cepat keluar dari rumah sakit ini,” ucap Andrew ketika wajahnya kembali berpaling menatap Mi-Young yang menunjukkan sikap marahnya.

 

“Anda bisa pulang sekarang, Bi. Biar saya yang menjaga, Ms. Choi yang manja ini.”

 

“Apa yang baru saja kau ucapakan?” tanya Mi-Young dengan nada yang lebih rendah karena tak ingin merasakan kepalanya yang berdenyut setiap kali ia berteriak.

 

Andrew tak menggubris ocehan Mi-Young, pria itu kembali menatap Bibi Hwang yang sepertinya enggan meninggalkan Mi-Young. “Mari Bi, saya antar Anda sampai depan.” Tawar Andrew dengan nada ramah.

 

“Ah, tidak perlu Andrew-ssi. Saya bisa pulang sendiri,” ucap Bibi Hwang dengan senyum ramahnya.

 

Setelah mengatakan itu Bibi Hwang pamit kepada Mi-Young yang hanya ditanggapi dingin oleh wanita tersebut karena masih begitu kesal dengan bodyguad barunya tersebut. Dalam hati dia bersumpah akan membalas semua perilaku Andrew setelah dirinya keluar dari rumah sakit.

 

Tak lama setelah Bibi Hwang pergi. Seorang suster memasuki ruang rawat Mi-Young dan memeriksa wanita itu dengan Andrew yang masih berada didalamnya juga. Mengamati setiap gerakan yang suster itu lakuakan padanya. Membuat Mi-Young merasa gugup tiba-tiba. Dan merasakan sesuatu yang jarang didapatkannya. Perhatian.

 

 **********

 

Mi-Young menatap kesal ponsel yang ada digenggamannya kini. Setelah tadi dia menghubungi Yoona dan bertanya kenapa wanita tersebut belum mengunjunginya selama ia berada di rumah sakit selama 3 hari ini. Dan yang membuat Mi-Young kesal adalah jawaban wanita itu yang terkesan tak memperdulikannya. Walaupun sebenarnya jauh dilubuk hatinya, Mi-Young mengerti dengan kesibukan Yoona yang merupakan seorang model terkenal begitupun dengan suaminya yang merupakan seorang anggota kepolisian. Jadi wajar saja jika keduanya kini sangat sibuk dan sangat menyesal karena belum mengunjungi Mi-Young sejak hari pertama wanita itu mendekam didalam ruangan menyebalkan itu. Yah, setidaknya menuurut Mi-Young ruangan yang dtempatinya itu sangat memberi efek yang buruk padanya meskipun ruangan tersebut merupakan ruang VVIP. Dan itu semua karena ada makhluk yang paling menyebalkan di dunia ini yaitu Andrew Lee, bodyguard barunya.

 

“Aku ingin keluar. Aku bosan diruangan ini.”

 

Andrew tak bergeming dan masih asik membaca koran pagi yang belum sempat dibacanya. Tak merespon ucapan Mi-Young sama sekali.

 

“Andrew-ssi, aku-bilang-aku-bosan-dan-ingin-keluar. Sekarang!” ucap Mi-Young lagi geram dengan segala sikap acuh Andrew.

 

Dan sepertinya Mi-Young telah ada dalam batas kesabarannya. Langsung saja ditarik paksa jarum infus yang masih melekat dipergelangan tangan kirinya, menyibak secara kasar selimut yang menutupi tubuhnya sejak beberapa hari ini. Bahkan sampai kedua kaki wanita itu menginjak pada lantai rumah sakit itu, Andrew masih sibuk dengan kegiatannya.

 

“Tsk,” Mi-Young berjalan tertatih menuju pintu keluar dengan melalui Andrew yang entah mengapa terlihat lebih tampan dengan wajah seriusnya ketika sedang membaca artikel didalam koran tersebut. Dan tak menyadari Andrew telah menurunkan Koran yang dibacanya dan meletakkannya di atas meja yang ada dihadapannya.

 

Baru saja tangan Mi-Young menggapai knop pintu didepannya, sebuah tangan kekar menghalau pergerakannya dan menggenggam tangan Mi-Young.

 

“Kau ingin kemana? Aku akan mengantarmu.”

 

Mi-Young mengernyit, bukan karena ucapan pria itu. Tapi sensasi yang dirasakannya ketika tangan Andrew menggenggam pergelangan tangannya. Tanpa pikir panjang Mi-Young menghempaskan tangan Andrew, membuat tautan keduanya terlepas begitu saja, ketika dirinya sadar bahwa ini merupakan kesalahan. Karena seharusnya seorang bodyguad tak diperbolehkan menyentuh atasannya.

 

“Jangan sentuh aku, kau pikir siapa dirimu?” tanya Mi-Young sinis.

 

Namun sepertinya Andrew sama sekali tak memperdulikan ucapan Mi-Young, pria itu justru membukakan pintu yang sebelum akan dibuka Mi-Young dan mempersilahkan wanita cantik itu keluar dari ruangannya.

 

Mi-Young menghembuskan napas kasar menghadapi sikap Andrew yang terlihat tak normal dimatanya. Dengan langkah tergesa-gesa Mi-Young berjalan keluar ruangan dan tak sadar jika langkahnya membuatnya hampir saja terjatuh di atas lantai dingin itu jika saja tangan kekar itu tak melingkar disekitar perutnya. Membawa gelenyar aneh yang membuat seluruh tubuhnya membeku. Terlebih dengan aroma mint yang keluar dari tubuh pria yang berdiri tepat dibelakangnya.

 

“Seharusnya kau lebih hati-hati, Ms. Choi.” Bisik Andrew pelan disamping telinga Mi-Young.

 

“Kau bosan? Bagaimana kalau aku tunjukan sesuatu yang menakjubkan malam ini,” ucap Andrew masih begitu pelan. Dan hanya mampu di jawab anggukan kaku dari Mi-Young.

 

“Sebelumnya, aku hanya ingin mengingatkanmu Nona cantik. Aku-tak-suka-sikap-burukmu, jadi… bersikaplah manis malam ini. Jika kau ingin keluar dari ruanganmu, mengerti?”

 

            “Sialan! Pria ini lebih berbahaya dari dugaanku. Dan brengseknya aku menyukai sensasi yang ditimbulkan pria ini. Oh, Tuhan lindungi aku.”

 

**********

 

 

Annyeonghaseyo, Song Haneul imnida. Setelah hampir 4 bulan lamanya HIATUS. Admin Song kembali lagi, dengan Fanfic Puzzle.

Fanfic ini sebenarnya Fanfic lama yang sebelumnya pernah di posting di Sifany Heeaven’s sebelum blog itu bermasalah. Admin memutuskan untuk tidak mempostingkan kembali Fanfic ini. Namun sekarang Fanfic ini akan Admin persembahkan untuk pemenang lomba di event anniv blog nantinya.

 

Banyak perubahan di Fanfic Puzzle ini dari cast dan juga alur cerita. Tapi, intinya tetap sama.

 

Admin memposting part 1 hanya untuk menandakan kembalinya Admin dari Hiatus panjang Admin. Untuk Fanfic Troublemaker juga akan dijadikan hadiah lomba berbentuk e-book atau mungkin buku dari part 1 hingga part ending. Jadi jika ada yang tanya Troublemaker lagi, maaf ya Fanfic itu akan dijadikan hadiah berupa buku untuk pemenang begitupun dengan Puzzle, tidak akan ada postingan lagi untuk part selanjutnya.

 

Bagi siapa saja yang ingin tahu prosuder perlombaan di blog bisa menghubungi Admin Song melalui :

SMS :0896 6708 3848

Pin BBM : 7F97F44B

 

Untuk semua reader Admin harap partisipasi kalian untuk meramaikan event kita bersama ini. Dan admin harap kalian akan terus menjadi reader setia kami. Terima kasih sebelumnya, Annyeong….. J

85 thoughts on “Puzzle Part 1

  1. wahh bikin penasaran ceritanya thor,,complicated yaa, enaknya yg jadi pemenang ntr dapet cerita lengkapnya..
    mau ikutan lombanya yg buat ff tp masih gak pede menuangkan ide cerita nihh

  2. Kerenn thorr.duhh tipany mau dibawa kemana yethh “-” akhirnya kembali setelah hiatusss next partnya jan lama” ya heheh nae tunggu eon ^^

  3. Annyeong….
    Bikin semangat yg ikut lomba nih, yah sayangnya aku ga bisa ikut, cma bisa jadi reader aja, tpi mudah2an aku termasuk reader yg baik yah, hehe… Gomawo to song ha neul-ssi

  4. Annyeong aku reader baru dsini🙂
    Ff nya seru, tp ada bbrp scene yg aku gk baca yg kyuna😦 soalnya aku seokyu shipper🙂
    Lanjuuuut

  5. omegat kecewa ngga bisa baca part selanjutnya:(mau ikutan limba tapi sibuk banget sekolah udah kelas akhir ngga bisa bikin ini itu:( baca ff juga jarang, tapi da ff teh penting pisan untum bikin bahagia:( . apalagi sifany itu terpesona banget kapelnya. ah. sedih inimah sedih pisan:(
    mau giman lagi da aku mah apa ngga bisa baca lanjutannya:(
    semangat yaa thor buat fanficnya! fitunggu karya lainyaa:*:::*

  6. hai aku reader baru, hehe 😀

    sumpah thor ini ff bagus. tapi kenapa ga dilanjutin…😥 aku penasaran kenapa marga mereka pada acak2an kaya gini ?
    tapi gpp lah klo udah kehendak authornya…….
    keep writing !!!!😀

  7. Yah.. ga di post lg ya next part’a
    penasaran bgt
    Pngen ikut lomba’a
    tp takut ga keburu, butuh wkt lama buat bkin’a soal’a kerja T-T
    Lg coba bkin sh
    yah mudah2’an aja keburu
    abis btuh ketenangan jg biar dpt inspirasi / imajinasi yg kuat buat bkin ff jd lbh bagus and menarik nanti’a *jd curcol

    Gpp dh yg pnting bsa baca yg lain
    keep writing yaa thor
    hwaiting!!

  8. Daebak ffnya author.suka banget deh.waduhhh…. saya telat baca deh ffnya Trouble Maker ama Puzzlenya,apa benar komplit semuanya dan sampai ending admin,pdhal bagus loh ffnya.sedih deh,saya gak bisa baca lanjutannya.author,saya mau tanya nih,seandainya saya mau beli salah satu ffnya,masih ada stocknya gak author.kalo tidak ada,juga gak apa2.saya baca ff yang lainnya deh.tetap ditggu ff lainnya author.authornim jjang
    Sifany jjang.keep writing.fighting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s