Baby Baby Baby Part 4

Baby Baby Baby Part 4

580723_402011323218106_1610248005_n-tile-horz

Author             : Kireynalice

Type                : Sequel

Genre              : Mariage Life, Romance

Rating              : 17

Main Cast        : Hwang Mi Young, Choi Siwon

Other Cast       : Kim Tae Yeon, Park Jung Soo, Jung Soo Yeon, Lee Dong Hae, Choi Soo Young

Disclaimer       : Karakter tokoh dalam cerita ini hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot cerita. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun. Kesamaan ide cerita merupakan hal yang tidak disengaja. Alur dan penokohan murni hasil pemikiran saya.

Desember, saat dinginnya salju membekukan harapanku

Author’s POV

Mi Young berusaha menenangkan dirinya dengan menghela napas panjang. Saat ini jantungnya berdegup kencang. Benda yang baru saja dia gunakan kini sudah menunjukkan hasilnya. Mi Young memejamkan mata sejenak kemudian membukanya dengan perlahan. Seketika wajah tegangnya berubah menjadi raut penuh kekecewaan. Dia berharap keajaiban terjadi, namun sayang benda kecil itu tetap menunjukkan hasil yang sama.

Mi Young kemudian menyenderkan badannya ke dinding. Sebelah tangannya berpegangan pada sisi wastafel untuk menopang tubuhnya yang sedikit lemas. Entah untuk yang keberapa kalinya dia melakukan tes kehamilan. Namun hasilnya tetap sama. Padahal ini sudah beranjak hampir satu tahun semenjak pernikahannya dengan Siwon. Betapa dia begitu ingin membuktikan cintanya pada Siwon dengan kehadiran seorang janin di dalam rahimnya sebagai buah cinta mereka. Tapi kenapa hal itu begitu sulit didapat? Akankah dirinya memiliki kesempatan untuk menjadi seorang istri yang sempurna?

Sebenarnya Mi Young sedang malas kemana-mana hari ini. Angin musim dingin yang berhembus di akhir bulan Desember ini terasa menusuk tulang. Belum lagi perasaannya sedang tidak nyaman karena kejadian tadi. Tapi dia sudah berjanji akan pergi untuk menemani Nyonya Choi ke acara amal yang diselenggarakan oleh para istri pengusaha di kawasan Seoul. Ibu mertuanya itu sangat senang saat Mi Young mengatakan bersedia menemaninya. Jadi, tidak enak rasanya kalau dia harus membatalkan janjinya secara sepihak.

Dari pesta yang diadakan di sebuah ballroom hotel berbintang lima itu sudah jelas terlihat bahwa ini bukanlah sekedar acara amal biasa. Tapi lebih menyerupai perayaan natal yang dikemas dengan judul yang berbeda. Anak-anak kurang beruntung yang diundang ke acara itu terlihat begitu bersemangat saat pemandu acara mengajak mereka untuk menghias pohon natal dengan ornamen lucu dan cantik bersama-sama. Beberapa diantaranya bahkan saling berebut untuk memasangkan hiasan bintang berwarna emas di puncaknya.

Setelah memberikan beberapa lembar cek sebagai bentuk donasi, Ny. Choi mengajak Mi Young untuk bertemu dengan teman-temannya. Mereka berjalan bergandengan menuju ke arah Nyonya Kim yang sedang duduk di meja makan bersama beberapa temannya yang lain. Setiap sahabatnya tampak sibuk dengan obrolan mereka masing-masing.

“Merry Christmas, Yoo Jin-a.” Sapa Nyonya Choi pada wanita yang bernama lengkap Kim Yoo Jin tersebut.

“Ne, merry christmas, Eonni.” Jawabnya sambil berdiri dari duduknya untuk memeluk Nyonya Choi sesaat kemudian melepaskannya. “Lama tidak berjumpa.”

“Kau benar. Kita terakhir bertemu 3 bulan yang lalu.” Jawab Nyonya Choi.

“Annyeonghaseyo, Eomonim.” Kali ini giliran Mi Young yang menyapanya.

“Eoh, annyeong Mi Young-a. Bagaimana kabarmu?” Tanyanya lalu memeluk Mi Young juga.

“Baik, Eomonim.” Jawab Mi Young sopan. “Ah.. Yoona mana?” Tanyanya lagi ketika menyadari bahwa Yoona tidak ada di samping Nyonya Kim. Biasanya wanita itu selalu setia mendampingi ibu mertuanya sehingga Mi Young tidak merasa bosan karena mendapat teman berbincang yang sebaya dengannya.

“Dia sedang beristirahat di rumah, Mi Young-a.” Jawab Nyonya Kim sambil tersenyum.

“Apa dia sakit?” Tanya Nyonya Choi penasaran.

“Aniyo. Menantuku sedang hamil dan sekarang sudah memasuki bulan ke-3. Kemarin dia mengalami kram perut dan sempat mengeluarkan bercak darah, tapi untung kandungannya baik-baik saja. Jadi untuk menjaga hal yang tidak diinginkan dokter menyarankan agar dia beristirahat saja di rumah untuk sementara waktu.” Jelas Ny. Kim dengan wajah yang berbinar.

“Benarkah? Wah, kalau begitu selamat. Sebentar lagi kau akan menjadi halmonie.” Kata Nyonya Choi sambil tersenyum tipis. Sejujurnya dia juga sangat ingin segera menimang cucu. Tapi dia tidak bisa menunjukkannya pada Mi Young.

“Gumawoyo, Eonni. Aku juga tidak menyangka kalau dia akan hamil secepat itu. Pernikahannya berselisih 5 bulan dengan Siwon kan? Oya, bagaimana denganmu, Mi Young-a? Apa kau sudah menunjukkan adanya tanda-tanda kehamilan?” Tanyanya.

“Belum, Eomonim.” Jawab Mi Young singkat. Dia berusaha menjawab dengan tenang meskipun tenggorokannya terasa tercekat.

“Begitu ya. Aku harap kau akan segera menyusul. Sehingga kami bisa memamerkan cucu bersama-sama. Iya kan, Eonni? Kau tahu, tidak ada yang lebih berharga dibandingkan dengan seorang anak, Mi Young-a. Karena disitulah letak kesempurnaan seorang wanita.” Kata Nyonya Kim lagi.

Mi Young berusaha tersenyum mendengarnya. Rasa kecewa dan takut kini menghampirinya lagi. Apa yang teman mertuanya katakan itu memang benar. Tapi entah kenapa semua ucapannya itu seperti ditujukan untuk menyindir dirinya. Dia merasa telah dicap sebagai seorang wanita yang tidak sempurna. Hatinya terasa dicabik-cabik. Ingin sekali rasanya menangis sekencang-kencangnya. Nyonya Choi yang ada di sampingnya langsung menggenggam tangan Mi Young erat berusaha untuk menguatkannya. Dia tahu pasti menantunya kini merasa tertekan lagi.

“Ah.. Yoo Jin-a, aku rasa kami harus pulang sekarang. Kebetulan suamiku pulang cepat hari ini.” Seakan tahu isi hati Mi Young, Nyonya Choi memilih untuk pamit meninggalkan pesta kemudian menggandeng  tangan Mi Young  menuju ke mobilnya.

Di perjalanan Mi Young terus diam dan berusaha menahan tangisnya. Dia hanya memandang ke arah luar. Jalanan yang mereka lalui mulai diterangi oleh lampu kota yang begitu cantik karena dibuat dalam berbagai bentuk. Semarak natal begitu kental terasa. Tapi semua itu tetap tidak bisa membuat hatinya merasa lebih baik. Nyonya Choi yang ada di sebelahnya hanya mampu terdiam dan memerhatikan Mi Young yang sejak tadi tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

“Apa Eomma akan mampir?” Tanya Mi Young setelah mereka tiba di halaman apartemennya.

“Eomma ingin, tapi sepertinya tidak bisa. Appamu akan pulang cepat hari ini. Lain kali saja, ne?” Jawab Ny. Choi lembut. Dia kemudian memeluk tubuh Mi Young dan membelai lembut rambutnya. “Jangan terlalu banyak berpikir. Beristirahatlah, Chagi.”

Mi Young hanya mengangguk kemudian melepaskan pelukan mereka.

“Kalau begitu selamat jalan, Eomma. Berhati-hatilah di perjalanan.” Kata Mi Young sambil menundukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari mobil dan sedikit berlari memburu lobi apartemennya.

Ny. Choi menatap kepergian menantunya itu dengan khawatir. Dia sungguh menyesal telah mengajaknya ke pesta itu. Sempat terpikir untuk menyusul Mi Young dan menemaninya selagi menunggu Siwon pulang. Tapi dia segera mengurungkan niatnya. “Mungkin saat ini Mi Young membutuhkan waktu untuk sendiri.” Pikirnya. Dia kemudian menyuruh Han Ahjussi untuk menjalankan mobil menuju rumahnya.

*********

Sesampainya di apartemen Mi Young memilih untuk duduk di kursi balkon. Beberapa kali dia menghela napas dengan berat. Percakapannya dengan Nyonya Kim saat di pesta tadi kembali terngiang di telinganya. Selama hampir 1 tahun ini dia selalu menunggu dan mengharapkan kehadiran malaikat kecil di dalam rahimnya, tapi kenapa Yoona yang baru menikah beberapa bulan yang lalu saja sudah hamil? Apa dunia mulai bersikap tidak adil padanya?

Pandangannya kemudian tertuju pada pot bunga yang ada di pinggir beranda. Bunga itu dulu ditanamnya bersama dengan Siwon 1 bulan setelah kepindahan mereka ke apartemen ini. Pada awalnya bunga itu hanya berjumlah 1 tangkai, tapi kini batangnya sudah bercabang bahkan 3 kuncup baru sudah muncul dari batangnya saat musim semi yang lalu. Mi Young tersenyum miris melihatnya. Bahkan tanaman saja memiliki anak. Kenapa hanya dirinya saja yang tidak?

Dia kemudian mendongak menatap langit yang berwarna hitam pekat. Kemana perginya bintang yang biasanya berkelap-kelip menghiasi malam? Apa mereka juga merasakan apa yang dirasakan hatinya? Matanya lalu menangkap butiran-butiran putih dan halus yang turun dari langit. Dengan tangan yang gemetar, ia mencoba merasakan butiran salju yang mulai turun. Salju turun beberapa hari lebih awal dari waktu yang seharusnya. Tentu hal ini akan membuat sisa musim ini terasa lebih dingin. Seperti harapannya yang juga mulai membeku.

*********

Di kediaman Keluarga Choi, seorang wanita paruh baya tampak sedang duduk sendiri di ruang tengah. Berkali-kali dia terlihat memikirkan sesuatu dan berkali-kali juga dia menghela napas yang terdengar sangat berat. Dia mendengar suara langkah kaki dari arah belakang yang mendekat ke arahnya, tapi dia tidak bertanya atau menoleh sekedar untuk mengetahui siapa pemilik langkah kaki itu.

“GAKKUNG!!!” Teriak seorang gadis dengan suara yang cukup kencang, tapi Nyonya Choi sama sekali tidak bergeming.

“Berisik.” Hanya suara itu yang keluar dari mulutnya menanggapi lelucon Soo Young.

“Imo tidak terkejut?” Tanyanya heran.

“Tidak.” Jawab Nyonya Choi singkat.

“Aneh. Imo adalah orang yang paling gampang untuk dijahili. Ditepuk dari belakang saja biasanya sudah menjerit ketakutan, tapi kenapa sekarang tidak mempan?” Batin Soo Young.

Nyonya Choi kemudian memejamkan mata sambil memijat keningnya perlahan. Membuat Soo Young berpikir kalau keadaan Imo-nya itu tidak baik-baik saja dan dia sedang menghadapi sebuah masalah.

“Imo.. waeguraeyo? Ada masalah apa? Apa Imo merasa kedinginan karena salju turun lebih awal?” Tanyanya sambil merangkul pundak Nyonya Choi. Tapi bukannya menjawab wanita itu malah menghela napas panjang.

“Aigo.. permaisuri dan putri cantik dari kerajaan antah berantah.. apa yang sedang kalian lakukan disini?” Tuan Choi yang baru selesai membersihkan tubuh dan berganti pakaian mengambil tempat duduk di sofa seberang Soo Young dan istrinya. Tapi tidak ada yang menanggapi gurauannya. Istrinya hanya menatap kosong ke depan sementara keponakannya mengusap-usap pundak istrinya.

“Ada apa denganmu, Yeobo? Tadi pagi kau begitu bahagia karena akan pergi bersama Mi Young, tapi malam ini kau terlihat begitu sedih. Apa yang terjadi?” Tanya Tuan Choi heran.

“Ayolah Imo, Samchon bertanya padamu. Apa pestanya membosankan?” Bujuk Soo Young.

“Ani.” Jawab Nyonya Choi singkat.

“Apa kau bertengkar dengan seseorang?” Tanya suaminya lagi.

“Ani.”

“Atau… apa Imo memergoki Samchon berselingkuh?!” Tanya Soo Young sedikit terpekik.

“Ya! Choi Soo Young! Kau sudah bosan hidup ya?!” Kali ini Tuan Choi yang menjawab pertanyaan Soo Young. Soo Young hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya.

“Hehe.. mianheyo, Samchon. Semua itu karena dari tadi Imo hanya menjawab ‘ani’ dan ‘ani’ saja.”

“Tapi apa tidak ada pertanyaan lain yang bisa kau tanyakan, hah? Dasar anak nakal!” Kata Tuan Choi. Tangannya kemudian menjewer telinga Soo Young hingga gadis itu menjerit kesakitan.

“Aww.. appoyo, Samchon.. mianheyo.. jebbalyo..” Rengek Soo Young. Tapi Tuan Choi malah semakin memutar telinganya hingga jeritan gadis itu semakin menjadi-jadi.

“Aish! Yeobo! Youngie! Kenapa kalian berisik sekali?! Apa kalian tidak tahu kalau aku sedang pusing?!” Bentak Nyonya Choi.

Tuan Choi yang terkejut hanya memandang istrinya sementara jeweran tangannya pada telinga Soo Young mulai berkurang. Hal itu tentu saja dimanfaatkan oleh Soo Young untuk melepaskan diri. Gadis itu mengusap-usap pelan telinganya.

“Kalau begitu ceritakanlah pada kami apa yang sebenarnya terjadi, Yeobo.” Bujuk Tuan Choi.

“Ini tentang Mi Young.” Ujar Nyonya Choi dengan lesu.

“Mi Young? Ada apa dengannya? Apa dia sakit? Atau Siwon berulah?” Tanya Tuan Choi panik.

“Ani. Hubungan mereka baik-baik saja. Hanya hati Mi Young yang tidak baik.” Jawab Nyonya Choi. Soo Young hanya mendengarkan penjelasan bibinya tanpa berkomentar. Dia masih memegangi telinganya yang terasa panas dan berdenyut dengan bibir mengerucut.

“Kenapa begitu? Kau bilang mereka baik-baik saja, lalu kenapa hatinya bisa tidak baik?”

“Kau ingat Yoona menantu Nyonya Kim?” Nyonya Choi balik bertanya. Tuan Choi menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Mereka menikah 5 bulan setelah pernikahan Siwon dan sekarang Yoona sedang hamil muda. Kau tahu kan betapa Mi Young sangat menginginkan seorang anak? Bisa kau bayangkan bagaimana perasaannya.” Jelas Nyonya Choi.

Soo Young menghentikan kegiatannya mengusap telinga setelah mendengar penjelasan dari Imo-nya. Dia memang belum menikah dan sifatnya pun masih kekanak-kanakan, tapi dia juga seorang wanita. Dia mengerti betul apa yang sedang dirasakan oleh kakak iparnya itu.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan? Masalah keturunan bukan kita yang bisa mengaturnya, Yeobo.” Ujar Tuan Choi.

“Iya. Aku pun sependapat denganmu. Memang tidak ada yang bisa kita lakukan.” Pasrah Nyonya Choi.

Soo Young memutar bola matanya. Keluarga ini memang patut diacungi jempol untuk urusan bisnis dan investasi. Perhitungan Samchon-nya itu selalu tepat dan perusahaan bertambah maju di bawah pengawasannya. Hanya 1 kelemahan mereka yaitu ide ‘cerdas’. Tentu saja hal ini membuat Soo Young yang tadinya berniat untuk merajuk dengan melakukan mogok bicara menjadi gagal total. Pada akhirnya dia harus memberikan masukan ide juga.

“Jodoh, kematian, kebahagiaan dan kesedihan memang ada di tangan Tuhan, Samchon. Tapi, kalau kita tidak berusaha maka hal itu tidak akan turun dan selalu ada di tanganNya.” Jelasnya.

“Maksudmu?” Tanya Tuan Choi.

“Kita harus membantu mereka agar berada pada momen yang tepat untuk melakukan proses menuju turunnya anugerah itu.” Jawab Soo Young.

“Maksudnya apa?” Tanya Tuan dan Nyonya Choi hampir bersamaan.

“Aish.. sudahlah. Pokoknya apapun yang aku lakukan nanti, Imo harus membantuku dan Samchon harus menyetujuinya. Setuju?”

“Tidak bisa! Kau harus mengatakan dulu apa rencanamu pada kami. Baru setelah itu Samchon bisa memutuskan. Belum apa-apa saja tadi kau sudah menuduhku yang tidak-tidak.” Tolak Tuan Choi.

“Ei.. Samchon perhitungan sekali! Yang tadi itu kan hanya bercanda. Baiklah, begini…” Soo Young tidak menyelesaikan kalimatnya karena hidungnya mencium sesuatu. “Apa yang Ahjumma masak untuk makan malam? Aromanya harum sekali.”

“Ya! Kenapa di pikiranmu itu hanya ada makanan? Kita sedang membicarakan hal yang serius, Nona Choi!” Tegur Tuan Choi yang kesal karena pembicaraan Soo Young yang bertele-tele.

“Aigo.. kenapa aku yang cerdas ini harus terlahir di tengah-tengah keluargaku yang tidak sabaran?” Ucapnya pada diri sendiri. “Begini, kita bisa membantu Siwon Oppa untuk menciptakan suasana yang mendukung di tempat yang romantis.”

“Maksudmu menyiapkan kamar pengantin di apartemen mereka seperti waktu itu?” Tanya Nyonya Choi.

Soo Young menggeleng sembari menggerak-gerakkan jari telunjuknya ke kiri dan kanan. “Kita tidak mungkin menggunakan cara yang sama untuk kedua kalinya, Imo. Lagipula Mi Young Eonni selalu ada di rumah. Bagaimana mungkin kita bisa menyiapkan kejutan semacam itu lagi?”

“Lalu kita harus bagaimana?” Tanya Nyonya Choi.

“Kita harus menyiapkan sesuatu yang lebih spesial dengan suasana yang lebih romantis di tempat yang berbeda.”

“Ah… apa maksudmu semacam perjalanan bulan madu?” Tanya Nyonya Choi antusias.

Soo Young menjentikkan jarinya. “Tepat sekali Imo. Tapi masalahnya, Siwon Oppa pasti tidak mau meninggalkan Seoul tanpa alasan yang jelas. Apalagi kalau hanya sekedar untuk berbulan madu. Terlebih lagi sekarang perusahaan benar-benar membutuhkannya. Kita memerlukan alasan kuat yang menyebabkannya mau tidak mau harus pergi. Dan yang bisa melakukannya hanyalah seseorang yang berkuasa melebihi Siwon Oppa di kantor.” Jelas Soo Young lagi sambil melirik Tuan Choi. Tuan Choi yang merasa kalau dirinya sedang diperhatikan langsung menoleh ke arah Soo Young.

“Wae? Kau ingin aku memanfaatkan kekuasaanku? Shireo!” Tolak Tuan Choi.

Soo Young kemudian menatap wajah Nyonya Choi dan memberikan isyarat agar Imo-nya itu membujuk suaminya. Nyonya Choi yang mengerti langsung berpindah tempat duduk ke sebelah suaminya dan bergelayut manja di lengannya.

“Yeobo, aku tahu kau paling tidak suka hal seperti itu. Mungkin kau bisa melakukannya pada karyawanmu yang lain, tapi kau adalah Appanya Siwon. Apa kau tidak kasihan pada Mi Young? Aku sungguh tidak sanggup melihatnya. Wajah yang ceria itu akhir-akhir ini terlihat selalu bersedih dan murung. Tidak ada yang tahu kalau mungkin dia sedang menangis meratapi nasibnya sekarang.” Nyonya Choi mencoba memberikan pengertian pada suaminya.

“Lalu kau ingin aku bagaimana? Aku tidak mungkin memberikan Siwon cuti khusus. Kau tahu kan bagaimana keadaan perusahaan saat ini? Kita membutuhkan banyak dukungan agar kerjasama dengan perusahaan asing berjalan lancar. Tidak mungkin perusahaan mengirim Siwon ke luar negeri tanpa tugas yang jelas.”

Nyonya Choi tampak berpikir sejenak. Sesaat kemudian senyum tipis menghiasi wajahnya. “Bukankah kau mengajakku ke Jepang untuk meninjau perusahaan kita disana? Bagaimana kalau mereka saja yang menggantikannya? Lagipula kita belum memesan tiket pesawatnya, Yeobo. Ayolah.. bukannya aku tidak menghargai sikap romantismu yang mengajakku untuk mengenang momen indah kita disana. Tapi membujuk cucu yang menangis karena tidak diajak ke kantor oleh Halabeojinya terdengar lebih menyenangkan untukku.”

Tuan Choi tidak menjawab. Dia hanya menarik napas panjang seperti memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Siapkan dua tiket ke Jepang atas nama Choi Siwon dan Choi Mi Young untuk keberangkatan besok siang.”

Mendengar hal itu Nyonya Choi dan Soo Young hampir bersorak karena gembira. Tuan Choi mengulum senyum melihat tingkah dari istri dan keponakannya itu. Tapi untuk menjaga wibawanya dan menghilangkan kesan mudah dirayu, dia kembali memasang wajah serius.

“Apa kalian senang? Aku mempertaruhkan harga diriku di depan putraku sendiri. Tugasmu adalah mengatur sisanya Soo Youngie. Jadi gunakan kepercayaan yang Samchon berikan padamu sebaik mungkin.” Kata Tuan Choi kemudian. Soo Young melakukan gerakan memberi hormat dengan tangan kanannya.

“Siap, Sajang-nim. Saya tidak akan mengecewakan anda. Tapi tunggu dulu..” Kata Soo Young sambil memicingkan matanya, “Apa Samchon tidak berniat untuk meminta maaf karena sudah menjewerku tadi?”

“Kau yang salah kenapa harus aku yang minta maaf?” Tuan Choi balik bertanya.

“Telingaku panas dan berdenyut, Samchon. Bahkan sampai sekarang sakitnya masih membekas.” Rengek Soo Young menunjukkan telinganya yang masih berwarna kemerahan.

Nyonya Choi terkekeh sebelum akhirnya berkata, “Baiklah, kalau begitu untuk mengurangi rasa sakitnya bagaimana kalau kita memesan chicken?”

“Sebetulnya aku hanya ingin meminta sup. Tapi kalau Imo memaksa, baiklah. Sekalian dengan cokelat panasnya saja, Imo. Tapi sebelum itu ada hal lain yang tak kalah penting.” Ujar Soo Young dengan mimik wajah yang serius.

“Apalagi?” Tanya Tuan Choi.

“Makan malam.”

*********

Siwon pulang lebih awal malam ini. Nyonya Choi meneleponnya 30 menit yang lalu dan menceritakan kejadian yang mereka alami di pesta tadi. Ibunya pun meminta pria itu segera pulang untuk menemani Mi Young. Siwon langsung memburu kamarnya begitu ia tiba dan benar saja wanita itu sedang berdiri di depan jendela.

“Hari ini Oppa pulang cepat.” Ujar Mi Young seraya berjalan menghampiri Siwon. Dia kemudian membuka jas dan dasi suaminya.

“Hmm.. aku memohon pada Nona Baek agar mengizinkanku pulang lebih awal karena rindu padamu.” Kata Siwon.

Mi Young hanya menanggapi candaan dari suaminya itu dengan tersenyum tipis.

“Aku akan menyiapkan air untuk Oppa.” Katanya sembari berlalu menuju kamar mandi.

Saat Siwon menyusulnya masuk ke kamar mandi, Mi Young segera menghapus air matanya. Dia lalu berpura-pura menyalakan keran air hangat. Meskipun Mi Young sudah berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya, tapi Siwon memang ditakdirkan untuk menjadi seorang suami yang peka. Dia dapat melihat perbedaan pada raut wajah Mi Young malam ini. Istrinya itu terlihat sedikit murung. Sekilas dia melihat testpack yang tergeletak di atas wastafel dan dapat menyimpulkan penyebab dari murungnya Mi Young.

“Jangan menangis, baby.” Siwon merentangkan kedua tangannya dan memeluk tubuh Mi Young, membuat isak tangisnya semakin terdengar.

“Aku ingin hamil, Oppa. Aku ingin menjadi seorang ibu.” Bisiknya lirih.

Author’s POV End

*********

Mi Young’s POV

Aku baru saja selesai membuat ekspresso untuk Siwon Oppa saat bel berbunyi. Park Ahjumma yang sedang mengupas wortel berjalan dengan sedikit tergesa untuk membukakan pintu.

“Pagi Eonni!!!” Sapa seorang gadis dengan ceria padaku.

“Eoh? Youngie? Kau mau kemana?” Tanyaku heran. Tidak biasanya dia bangun pagi di akhir pekan seperti ini.

“Tentu saja untuk sarapan bersamamu dan Oppa.” Jawabnya. “Omo.. waffle!” Teriaknya girang seraya mengambil sepiring waffle dari atas meja. Tapi belum sempat mencobanya, Siwon Oppa yang baru keluar dari kamar sudah mengambil alih makanan itu dari tangannya.

“Oppa! Kembalikan. Aku lapar.” Rengeknya.

“Tidak sebelum kau mengatakan alasanmu datang ke rumahku sepagi ini.” Kata Siwon Oppa. “Aish! Aku benar-benar terlahir di keluarga yang tidak sabaran!” Gumamnya pelan. “Ini..” Lanjutnya sembari mengulurkan sebuah amplop berwarna cokelat.

Kami saling berpandangan sebelum akhirnya Siwon Oppa menerimanya sementara Soo Young mendapatkan wafflenya.

“Apa ini?” Tanyanya setelah membuka isinya.

Soo Young hanya memandang kami sambil tersenyum mencurigakan. Aku mengambil benda yang dipegang oleh Siwon Oppa kemudian membacanya.

“Tiket pesawat?”

Soo Young menjawab dengan anggukan kepala. Mulutnya sedang sibuk mengunyah.

“Untuk.. aku dan Siwon Oppa?”

“Tepat sekali.” Jawabnya.

“Hari ini?!” Pekikku tak percaya.

“Ne.”

Aku dan Siwon Oppa saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kami terlalu bingung untuk mencerna apa yang terjadi.

Seakan mengetahui kebingungan kami Soo Young kemudian menjelaskan semuanya, “Kalian berdua akan pergi ke Jepang selama 5 hari.”

“Mwo? Untuk apa? Lagipula aku sedang sibuk Soo Young-a. Banyak yang harus aku urus di Seoul.” Ujar Siwon Oppa.

“Kami tahu kalau Oppa sedang banyak pekerjaan. Maka dari itu Samchon sudah menyuruh Dong Hae Oppa untuk menyelesaikan semuanya. Dan Oppa yang akan menggantikan Samchon untuk pergi ke luar negeri.” Jelasnya lagi.

“Baiklah… mungkin alasan itu bisa kuterima meskipun sedikit aneh. Tapi pergi hari ini? Tanpa persiapan apapun? Apa dia sudah gila?”

“Ya! Dasar anak durhaka! Kenapa kau menyebut ayahmu sendiri gila?” Tegur Soo Young.

“Lalu apa lagi yang harus aku katakan selain itu? Pesawatnya akan take off dalam 6 jam dan kami belum menyiapkan apapun. Bahkan kami belum mandi!”

“Kau tenang saja Oppa. Kami sudah mempersiapkan semuanya. Jadi kau dan Eonni hanya tinggal berangkat saja.”

Siwon Oppa tidak bisa menutupi keterkejutannya sampai-sampai mulutnya sedikit terbuka.

“Jadi, sekarang kalian harus cepat mandi. Dan kau Oppa, jangan melakukan hal apapun yang akan memperlambat mandinya Eonni. Ah.. sebaiknya kalian mandi di kamar mandi yang berbeda saja.” Katanya lagi sambil mendorong kami berdua menuju ke arah yang berbeda.

*********

Siang ini aku dan Siwon Oppa akhirnya berangkat juga. Sebenarnya aku merasa bingung dengan perjalanan ini. Soo Young mengatakan kalau kepergian kami ke Jepang adalah untuk menggantikan Abeonim memantau kemajuan kerja sama perusahaan kami dengan pihak Jepang. Tapi semuanya terlihat terlalu mencurigakan untuk disebut sebagai sebuah perjalanan bisnis. Seluruh anggota keluarga terkecuali Appa, Aboenim dan Jung Soo Oppa berkumpul untuk mengantar kepergian kami. Bahkan si kecil Jung Yeon pun ikut mengantar juga.

“Rasanya aneh sekali pergi ke luar negeri tanpa membawa 1 koper pun.” Komentarku saat menyadari bahwa aku hanya membawa tas kecil milikku saja dengan tangan kiriku sementara tangan kananku menggendong Jung Yeon. Pria kecil yang mengenakan jaket tebal dan penutup telinga itu sedang asyik memainkan kancing mantelku.

“Tenang saja, Eonni. Barang-barang bawaanmu sudah siap semua.” Kata Soo Young.

“Sebenarnya kalau diperbolehkan, aku lebih suka mengemasnya sendiri, Youngie. Kau yakin tidak akan ada yang tertinggal?” Tanyaku.

“Semuanya sudah kami persiapkan dengan baik. Termasuk gaun tidur untukmu.” Kata Soo Young sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

“Awas saja kalau yang kau sebut sebagai gaun tidur itu adalah langerie seperti yang kau siapkan sewaktu awal pernikahan kami.” Ancamku padanya. Soo Young dan Soo Yeon Eonni hanya terkekeh.

Soo Yeon Eonni yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia tiba-tiba merangkulku dan berbisik ke telingaku. “Selamat berbulan madu, dongsaengku sayang. Aku menginginkan keponakan yang lucu. Jadi kuharap kau mengabulkannya.”

“Eonni!” Protesku padanya. Tapi Soo Yeon Eonni hanya terkekeh.

“Ghwenchana. Semua pasangan pengantin baru tentu akan mengalami masa-masa seperti itu. Justru hal itulah yang membuat kalian betah di rumah.” Tambah Tae Yeon Eonni.

Siwon Oppa yang sejak tadi berbincang dengan Dong Hae Oppa di tempat yang terletak sedikit jauh dari kerumunan kami mengampiriku dan membuat para wanita dan gadis itu terdiam seketika. Sepertinya Siwon Oppa tahu kalau aku malu karena mereka terus menggodaku.

“Pesawatnya akan take off 45 menit lagi. Sepertinya kami harus masuk sekarang.” Kata Siwon Oppa.

“Baiklah. Tolong jaga Mi Young baik-baik. Dan kau juga jangan bekerja terlalu lelah.” Eomonim memberikan pesan yang sama padanya.

“Ne, Eomma.” Sahut Siwon Oppa.

“Kami pergi.” Pamitku.

Kucium pipi Jung Yeon berulang kali sebelum menyerahkannya pada Tae Yeon Eonni. Tapi bayi itu langsung menangis. Sepertinya dia mengira kalau dia juga akan diajak serta. Aku kembali menggendong Jung Yeon, mencium keningnya dan mengusap kepalanya lembut.

“Aigo.. uri Aegi.. jangan menangis.. Aunty hanya akan pergi sebentar.” Namun bukannya berhenti tangisannya malah semakin kencang.

“Cup.. cup.. cup.. Yeon-a, kenapa kau jadi manja begini? Kemari, Chagi. Biar Eomma yang menggendongmu. Kau haus? Ayo kita ‘mimi’, sayang. Aunty harus pergi sekarang.” Bujuk Tae Yeon Eonni. Jung Yeon masih tetap menangis. Tangannya bahkan mencengkeram erat bajuku. Siwon Oppa tersenyum lalu ikut mengelus punggung Jung Yeon untuk menenangkannya. Dia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Jung Yeon.

“Bolehkah Uncle meminjam Aunty sebentar? Kami akan membawakan dongsaeng baru sebagai hadiah untukmu. Kalau boleh, berhentilah menangis, Chagi.” Bisiknya pelan. Seakan-akan mengerti tangisan Jung Yeon perlahan mereda.

Siwon Oppa mencium pipinya. “Jadi setelah Eomma-mu sekarang kau ingin memonopoli Aunty juga?” Jung Yeon hanya menjawab dengan senyumnya yang menggemaskan. Aku kemudian memberikannya kembali pada Tae Yeon Eonni.

Siwon Oppa merangkul pinggangku dan membimbingku untuk menuju gerbang keberangkatan. Seorang pramugari meminta kami untuk menunjukkan tiket. Setelah melihatnya, dia kemudian mengantar kami ke tempat duduk yang sesuai dengan nomor yang tertera di atas tiketnya. Kami mengucapkan terima kasih sebelum pramugari itu berlalu.

Siwon Oppa mengambil ponsel dari saku celananya kemudian mulai berkonsentrasi pada layarnya. Mungkin ada pesan yang masuk. Tapi tak berapa lama kemudian dia tersenyum sendiri.

“Wae, Oppa?” Tanyaku. Dia tidak menjawab dan malah memberikan ponselnya padaku.

Sunday, 12.30

From    : Lee Fishy

Ya! Choi Siwon! Manfaatkan kesempatan yang kami berikan padamu dengan sebaik mungkin, eoh? Kuharap kau tidak kembali dengan tangan kosong. Ah.. Matta! Soo Yeon berpesan kalau dia menginginkan keponakan namja. Jadi katakan pada Mi Young untuk tidak bersikap terlalu agresif! Kekeke..

Mataku terbelalak sempurna. Mwo? Agresif? Aku mengerucutkan bibir sambil sedikit melemparkan ponsel itu pada pemiliknya. Siwon Oppa terkekeh melihat reaksiku.

“Apa kau marah, Chagi?” Aku tidak menjawab pertanyaannya. Tentu saja! Semua ini gara-gara kau, Oppa!

“Baiklah. Tidak apa-apa. Kalau begitu selamat marah.” Godanya lagi.

Aku semakin kesal dibuatnya. Jadi kuputuskan untuk tidak menghiraukannya dan melihat ke arah luar. Tadinya aku memilih untuk duduk di dekat jendela karena ingin melihat pemandangan selama penerbangan kami. Tapi, baru saja duduk selama 10 menit aku sudah merasa jenuh.

“Wae, Chagi?” Tanya Siwon Oppa. Aku mengerucutkan bibirku. Bingung harus menjawab apa.

“Kau bosan?” Tebak Siwon Oppa. Aku menggangguk. Siwon Oppa kemudian tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Aku tahu apa maksudnya. Dia menawarkan sebuah pelukan hangat padaku. Dalam keadaan normal mungkin aku akan tanpa ragu berlari ke dalam pelukannya. Tapi sekarang aku sedang marah padanya. Akal sehat dan hatiku berperang karena harus memilih antara harga diri dan kenyamanan. Kau tahu apa yang kupilih? Tentu saja kata hatiku. Jadi, aku menyingkirkan rasa marahku, tersenyum, kemudian menghambur ke dalam pelukannya. Siwon Oppa mencium keningku dan mengusap rambutku dengan lembut. Ah.. bagaimana pun juga pesona dada bidang nan hangat ini jauh lebih menggiurkan.

*********

Aku kira kami akan mendapat kamar dengan fasilitas standar layaknya kelas president suite sebuah hotel berbintang 5. Tapi ternyata dugaanku sepenuhnya salah. Aku tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata. Kamar ini tampak mewah dengan furnitur-furnitur lux yang menghiasinya. Tempat tidur berukuran besar yang terletak di tengah-tengah ruangan dipenuhi bunga-bunga mawar merah yang tampak segar dan juga dihiasi oleh tirai-tirai putih. Ditambah lagi dengan lampu yang tidak dinyalakan dan hanya diterangi cahaya temaram dari lilin disudut ruangan semakin menambah kesan romantis. Siapapun yang melihatnya dapat dengan mudah menyimpulkan untuk apa dan siapa kamar ini ditujukan.

Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Perjalanan kami hanya memakan waktu selama 2 jam, tapi badanku rasanya lelah sekali. Aku merasa sedikit pusing dan mual. Mungkin karena terkena salju kemarin malam. Siwon Oppa mengganti sepatunya dengan sandal lalu mendudukkan dirinya di sampingku. Dia membelai wajahku dan tersenyum hangat.

“Kau pasti lelah ya?” Tanyanya.

“Hmm..” Gumamku singkat. Siwon Oppa mengecup keningku dan beranjak menuju lemari untuk berganti pakaian.

“Aku tahu Soo Young adalah perencana yang baik. Tapi aku tidak menyangka kalau dia akan melakukannya sampai sedetail ini sampai baju kita pun sudah tersusun dengan rapi di dalam lemari.” Katanya sambil menunjuk ke arah lemari.

“Jinjja?” Tanyaku tak percaya sambil berjalan ke arah lemari dan melihatnya.

Benar saja. Pakaian kami sudah berjejer dengan rapi di gantungan lengkap dengan mantelnya. Benar-benar persiapan musim dingin yang sempurna.

“Akhirnya Soo Young memiliki bakat lain selain menjadi seorang food tester. Sepertinya aku bisa memberikannya investasi di bidang travel dan event organizer sepulangnya kita ke Seoul nanti.” Kata Siwon Oppa sambil membuka pakaiannya dan hanya meninggalkan pakaian dalam untuk menutupi tubuhnya.

Aku membolak-balik baju yang ada disana sampai menemukan sesuatu yang menarik perhatianku. Aku kemudian tersenyum dan mengambilnya.

“Oppa..” Panggilku.

“Wae, baby?” Jawab Siwon Oppa sambil menghampiriku.

“Lihat ini.” Kataku sambil menunjukkan benda yang kupegang itu padanya. Siwon Oppa kemudian tertawa melihatnya. Benda yang sangat bersejarah bagi kami.

“Kenapa dia bisa ada di sini?” Tanyanya seolah-olah langerie hitam tipis itu adalah benda hidup.

Aku hanya tertawa sambil mengangkat bahu. Dia kemudian mengambilnya dan melemparkannya ke sembarang arah.

“Kurasa kita tidak memerlukannya lagi, baby. Karena Oppa lebih suka melihat apa yang ditutupinya secara langsung.” Dan setelah menyelesaikan kalimatnya Siwon Oppa kemudian mengangkat tubuhku untuk masuk ke kamar mandi. Kau tahu apa yang kami lakukan? Jangan berpikiran macam-macam dulu! Kami hanya mandi. Tentu saja disertai dengan selingan-selingan yang menyenangkan.

End of Mi Young’s POV

*********

Siwon’s POV

Aku yakin ada maksud tersembunyi di balik semua ini. Kurasa perjalanan ini adalah salah satu upaya untuk menyingkirkanku dari Seoul agar dapat menghabiskan waktu bersama dengan Mi Young. Kalau sepenuhnya untuk urusan pekerjaan, kenapa bukan Appa saja yang memintaku langsung dan malah Soo Young yang mengantarkan tiket pada kami? Selain itu kepergian Appa ke Jepang yang sudah direncanakan sejak 1 bulan yang lalu itu bukan sekedar untuk memantau cabang perusahaan kami melainkan untuk membawa Eomma bernostalgia mengingat masa-masa indah mereka saat masih muda dulu. Kalau murni hanya untuk urusan pekerjaan apa mungkin mereka sampai sebegitu relanya melepaskan kesempatan berharga itu?

Meskipun sedikit tidak suka dengan cara seperti ini, tapi tadinya aku berharap kalau perjalanan ini setidaknya akan menjadi bulan madu kami yang tertunda. Namun pada kenyataannya apa yang terjadi? Setiap hari aku harus berkutat dengan meeting, dokumen, dan presentasi. Padahal aku ingin sekali menghabiskan waktuku bersama Mi Young. Tapi sayangnya aku baru kembali ke hotel saat Mi Young sudah tidur. Jadi dimana letak bulan madunya?

End of Siwon’s POV

Author’s POV

Waktu berlalu dengan cepat. Ini adalah Sabtu terakhir di Bulan Januari. Seoul akan segera memasuki musim semi dalam hitungan hari. Cuaca pun cukup bersahabat. Udara yang sejuk berpadu dengan sinar mentari yang hangat terasa begitu nyaman di kulit. Jalanan masih tampak lengang. Tidak seperti hari-hari lainnya dimana banyak kendaraan yang berlalu lalang.

Di sebuah komplek apartemen yang letaknya hanya beberapa blok jauhnya dari jalur utama tersebut terdapat sebuah taman. Tempat itu terlihat ramai oleh sekumpulan orang yang menikmati sinar mentari pagi ini. Ada yang mengelilingi taman untuk berlari pagi atau hanya sekedar duduk di bangku yang terletak di bawah pohon mapple. Sekelompok ibu muda terlihat sedang berbincang dengan sebayanya sembari mengawasi putra-putri mereka yang sedang bermain di ujung taman.

Sementara itu suara kicauan burung yang bertengger di dahan pohon membangunkan seorang wanita dari tidur lelapnya. Mi Young mulai membuka matanya yang masih terasa sedikit berat dan menghirup udara segar pagi hari. Dia menatap langit yang cerah lewat jendela yang ada dihadapannya. Wanita itu kemudian menoleh ke sebelah kanan dan baru tersadar kalau Siwon tidak ada disampingnya.

“Oppa..” Panggilnya. Barangkali saja Siwon sedang ada di kamar mandi. Tapi tidak ada jawaban.

Dia kemudian mengulurkan tangan kirinya untuk mengambil ponsel yang terletak di atas meja nakas dan memeriksa pesan masuk. Ada beberapa pesan yang diabaikannya. Kebanyakan pesan itu berasal dari Soo Young atau pun Soo Yeon yang mengajaknya pergi ke suatu tempat atau mengirimkan gambar produk branded terbaru. Perhatiannya tertuju pada pesan yang dikirimkan oleh suaminya.

Morning Chagi,

Mianhe karena aku meninggalkanmu. Ada meeting yang harus kuhadiri pagi ini. Sepertinya aku akan pulang terlambat. Tidak usah menungguku. Hati-hati di rumah.

Senyum Mi Young luntur seketika setelah membaca pesan dari Siwon. Hatinya begitu kecewa. Tidak ada hal istimewa dari pesan yang Siwon kirimkan untuknya. Kemana perginya kata “saranghae” yang selalu hadir dalam setiap pesan singkatnya?

“Apa-apaan ini? Kenapa dia pergi duluan? Apa meeting itu lebih penting dibanding aku?” Gerutu Mi Young. Sejak mereka menikah baru kali ini Siwon meninggalkannya di tempat tidur. Biasanya kalau Siwon harus menghadiri suatu acara di pagi hari, pria itu pasti membangunkannya dengan lembut dan akan menyempatkan diri untuk sarapan bersama.

*********

Soo Yeon dan Soo Young dengan setia mendengarkan setiap keluh kesah Mi Young. Sesekali mereka tertawa menanggapi gerutuan Mi Young yang terkadang tidak masuk akal. Sejak Mi Young datang ke butik dan memaksanya untuk pergi bersama, wanita itu tidak berhenti mengomeli suaminya.

“Oppa-mu itu sangat menyebalkan, Youngie! Dia sama sekali tidak peduli padaku! Tadi pagi dia meninggalkanku sendiri padahal hari masih pagi. Apa sekarang meeting itu lebih penting daripada aku?! Seharusnya dulu dia menikah dengan laptopnya saja. Untung Soo Young ada di rumah saat aku meneleponnya dan Eonni juga tidak terlalu sibuk sehingga bisa menemaniku.”

End of Author’s POV

Soo Yeon’s POV

Apa Nyonya Choi ini tidak lelah berbicara terus sejak tadi? Baterai apa yang dia gunakan sehingga bisa bertahan lama seperti itu? Sebenarnya aku merasa kesal sekaligus kasihan pada Siwon Oppa. Sebagai wanita tentu saja aku juga akan merasakan hal yang sama jika suamiku lebih memilih untuk bercinta dengan laptopnya dibanding denganku. Bagaimana mungkin dia mengacuhkan istrinya demi pekerjaan. Tapi kalau dipikir lagi, aku rasa Siwon Oppa juga tidak sepenuhnya salah. Dong Hae Oppa mengatakan kalau Hyundai mengadakan kerja sama dengan investor Asing dari Jepang dan Siwon Oppa adalah penanggung jawab proyek ini. Tentu saja dia akan sangat sibuk.

“Mi Young-a, apa kau tidak merasa kasihan pada Siwon Oppa?” Tanyaku setelah Mi Young selesai dengan gerutuannya.

“Kenapa aku harus merasa kasihan padanya?” Ucap Mi Young santai yang membuatku menggelengkan kepala. Untuk kali ini aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya.

“Inikan salahnya! Dia mengacuhkanku!”

“Tapi saat ini dia sedang sibuk Mi Young-a. Aku rasa seharusnya kau bisa mengerti.”

“Aku tahu dia sibuk dan aku tidak memaksanya menemaniku setiap saat. Tapi dia juga harus bisa mengatur waktu, Eonni. Dia selalu membawa pulang pekerjaannya meskipun telah bekerja di kantor sampai larut malam. Apa dia tidak bisa menyelesaikannya di sana?”

“Dia bertanggung jawab atas proyek yang sangat penting, Eonni.” Soo Young yang sedari tadi hanya menyimak ikut memberi komentar.

“Jadi kau membelanya?” Tanya Mi Young dengan tatapan yang tajam.

“Ani.. aku hanya merasa tindakannya tidak salah dan aku rasa seharusnya kau mengerti keadaannya.”

“Itu artinya kau membelanya, Choi Soo Young! Tidak ada yang mengerti keinginanku! Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan dia lagi. Ayo kita cari kedai yang menjual bulgogi, Eonni.” Pintanya padaku.

“Baiklah, cerewet!” Kataku sambil mulai menjalankan mobil.

Kami pun melanjutkan perjalanan kami. kedai yang menjual bulgogi memang banyak, tapi dari beberapa tempat yang kami singgahi tidak ada 1 pun yang cocok dengan seleranya. Yang ini terlalu ramai, yang itu tempatnya kotor, yang di kiri rasanya tidak enak, sementara yang di kanan tidak mengundang selera. Sebenarnya bulgogi seperti apa yang dia cari? Sebelum-sebelumnya dia tidak pernah seperti ini, tapi kenapa sekarang dia menjadi sangat pemilih? Aku benar-benar dibuat pusing dengan tingkah sahabatku ini!

Setelah hampir 1 jam berkeliling menyusuri jalanan padat di sekitar Seoul, akhirnya kami menemukan sebuah kedai yang menjual bulgogi dan sesuai dengan seleranya. Dia memesan bulgogi dengan wajah yang berbinar dan bersemangat. Tentu saja aku berharap dia bisa menikmati makanannya di sini selagi aku beristirahat. Tapi ternyata aku salah besar. Ketika bulgogi pesanannya datang dia langsung merasa mual setelah mencium baunya. Jangankan dimakan, disentuh pun tidak.

“Eonni, aku tidak mau bulgogi yang ini. Bulgogi ini membuatku mual. Kita cari yang lain ya?” Pintanya.

“Mwo? Menurutku aromanya biasa saja. Seperti bulgogi pada umumnya. Iya kan Youngie?” Tanyaku meminta persetujuan Soo Young. Soo Young kemudian meraih sumpit dan mengambil sepotong kemudian memakannya.

“Ne, bahkan rasanya juga enak, Eonni.” Katanya berusaha meyakinkan Mi Young. Tapi wanita itu tetap menggelengkan kepala sambil menutup hidungnya dengan kertas tissue.

“Entahlah. Aku rasa perutku sedang kembung. Jadi pencernaanku sedikit sensitif hari ini.”

“Makanya jangan terlalu sering menanggalkan bajumu di malam hari, Eonni. Terakhir kali aku ke apartemenmu Siwon Oppa bahkan belum sempat memakai ce…” Soo Young tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Mi Young sudah membekap mulutnya dengan erat membuat gadis itu memberontak.

“Apa maksudmu? Apa yang Youngie bicarakan Mi Young-a? Aku tidak mengerti.” Tanyaku padanya.

“Ani. Bu.. bukan apa-apa Eonni. Kau tahu kan kalau Soo Young sering membicarakan hal yang tidak jelas.” Jawabnya gugup sementara Soo Young mengeluarkan gumaman tidak jelas sebagai protes.

“Sudahlah, Eonni. Itu bukan hal yang penting. Sekarang kita cari tempat yang lain lagi ya? Please.. Aku belum makan apapun sejak pagi ini.” Pintanya dengan tatapan yang memelas.

Aku hanya bisa menghela napas panjang dan menuruti permintaannya. Kami pun mulai berkeliling lagi dan berhenti di 2 kedai yang berbeda. Tapi ternyata hasilnya tetap sama. Bulgogi itu hanya membuatnya mual.

“Mi Young-a, sebenarnya maumu apa? Aku rasa setiap bulgogi rasanya sama. Aku mohon kita pulang saja ne?” Pintaku frustasi karena aku benar-benar sudah tidak tahu lagi harus mencari bulgogi di mana.

“Aku hanya ingin makan bulgogi.” Gumamnya pelan.

“Tapi Eonni, kita sudah mengelilingi Seoul seharian ini. Kita sudah berhenti di 3 kedai yang berbeda dan kenyataannya kau sudah merasa mual bahkan sebelum memakannya.” Kata Soo Young. “Aku sudah sangat kenyang karena harus menghabiskan 3 porsi sendirian.”

“Tapi bulgogi yang waktu itu tidak membuatku mual, Youngie. Aku ingin makan bulgogi itu.”

“Bulgogi yang mana, Mi Young-a?” Tanyaku mulai tidak sabar.

“Emmm.. Bulgogi yang waktu itu kita makan bersama Siwon Oppa. Sebelum kami menikah. Di kedai yang waktu itu.”

“Ya! Choi Mi Young! Kalau begitu kenapa kau tidak bilang dari tadi? Kita kan tidak perlu membuang waktu mengelilingi Seoul sepanjang hari!” Ujarku berusaha menahan emosi.

“Habis tempat itu mengingatkanku pada Siwon Oppa. Aku jadi kesal.” Jawabnya.

Aku hanya memejamkan mata dan menarik nafas panjang untuk mengendalikan emosiku. Sementara Soo Young yang duduk di kursi belakang hanya menatap kakak iparnya dengan malas.

“Eonni, boleh aku menggigitmu?”

*********

Mi Young terus membolak-balik menu dengan gambar makanan yang menggugah selera di hadapannya tanpa mempedulikan kami. Kami kini sudah berada di kedai yang Mi Young maksud. Saat pesanannya datang dia menatap bulgogi, japchae, kimbap, kimchi, tteokbokki, dan seolleontang yang diletakkan seorang pramusaji di atas meja dengan mata yang berbinar seakan dia sudah tidak makan selama 3 hari dan baru saja menemukan harta karun. Sementara aku dan Soo Young hanya menatapnya tak percaya.

“Eonni, kau benar-benar akan memakan semuanya?” Tanya Soo Young dengan mata yang terbelalak.

“Ne. Apa kau mau?” Tawarnya sembari menyodorkan beberapa jenis hidangan. Dengan cepat Soo Young menggeleng.

Mi Young hanya mengangkat bahu dan mulai mencicipi makanan itu satu per satu. Tapi baru beberapa suap yang dia masukkan ke mulutnya, dia meletakkan sumpitnya ke atas meja.

“Aku sudah kenyang. Sisanya untukmu saja, Youngie.”

“Mwo? Kenyang?” Pekikku pelan.

“Ne.” Jawabnya disertai dengan anggukan.

“Kau bahkan baru memakan 1 suap dari masing-masing piring. Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan kalau kau kenyang?” Tanyaku tak percaya.

“Molla. Tapi aku sudah kenyang.” Jawabnya sembari mengelus pelan perutnya.

“Ya! Choi Mi Young. Kita sudah seharian ini mencari makanan yang kau inginkan dan setelah mengelilingi seluruh Seoul untuk akhirnya sampai di tempat ini kau hanya memakannya tidak lebih dari 5 suap?” Kataku dengan nada yang mulai meninggi. Aku benar-benar kesal menghadapi tingkahnya.

“Aish.. kumohon hentikan, Eonni. Aku benar-benar pusing mendengar pertengkaran kalian!” Ujar Soo Young yang sepertinya sudah lelah.

“Tapi dia keterlaluan Youngie. Kita meluangkan waktu untuk menemaninya mencari makanan yang sebetulnya banyak dijual menjadi sulit didapat karena berbagai alasan yang tidak masuk akal.” Protesku.

“Tapi kan Soo Young bisa memakannya.” Jawab Mi Young tanpa merasa bersalah sedikit pun.

“Mwo? Ya! Apa kau tidak sadar kalau hari ini dia sudah makan dalam jumlah yang banyak? Dan bisa kujamin berkat jasamu dia tidak akan menyentuh daging selama 1 minggu ini.”

“Jadi kau tidak suka mengantarku pergi? Kalau begitu katakan saja! Dulu kau tidak pernah protes bahkan saat aku memintamu menemaniku ke Sydney. Tapi kenapa sekarang saat kau menemaniku di sekitar Seoul saja kau sudah mengeluh? Semua orang sudah berubah sikap padaku.” Katanya sambil mulai menangis.

“Ya! Kenapa kau malah menangis? Bukan itu maksudku. Aku hanya..” Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku karena Mi Young sudah memotongnya.

“Sudahlah. Aku lelah. Aku pulang duluan, Youngie.” Katanya sambil bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari kedai ini.

“Aish.. apa-apaan ini?! Seharusnya kan dia yang meminta maaf. Lagipula kenapa dia tidak pamit padaku?” Kataku sambil menatap kepergiannya.

“Sudahlah, Eonni. Tidak biasanya Mi Young Eonni seperti ini. Mungkin dia sedang ada masalah.” Bujuk Soo Young untuk menenangkanku. “Aku akan membicarakan hal ini pada Siwon Oppa. Sekarang apa yang harus kita lakukan pada makanan ini? Sayang sekali kalau dibiarkan begitu saja. Kalau kita minta pada Ahjumma kedai untuk membungkusnya, Otte?”

End of Soo Yeon’s POV

*********

Author’s POV

Mi Young memusatkan pandangannya pada seorang bayi mungil yang sedang menyusu pada ibunya. Wanita itu benar-benar menyayanginya. Biasanya setiap hari Siwon akan mengantar Mi Young ke rumah orang tuanya sebelum berangkat ke kantor dan menjemputnya ketika selesai bekerja. Tidak jarang dia merengek pada Siwon untuk menginap di sana. Dan jika suaminya itu menolak dia akan mengeluarkan rayuan andalannya dengan memeluk tubuh Siwon dan mencium bibirnya. Tapi Siwon sedang sibuk belakangan ini. Jadi dia hanya bisa melihat perkembangan keponakannya lewat layanan skype hampir setiap malam. Dan karena sekarang Mi Young sedang kesal pada suaminya, dia memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya sepulang dari kedai bersama Soo Yeon dan Soo Young tanpa memberitahu Siwon terlebih dulu.

“Tidak terasa Jung Yeon sudah besar ya?” Gumam Mi Young.

Tae Yeon tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Mi Young. Dia tahu betapa adik iparnya itu ingin sekali memiliki anak.

“Mi Young-a, bersabarlah. Aku yakin Tuhan pasti akan memberimu seorang aegi sebentar lagi.” Hibur Tae Yeon.

“Aku harap juga begitu. Tapi sejujurnya aku sudah mulai putus asa.” Kata Mi Young sambil memeluk ibunya dari samping dan menyenderkan kepala di bahunya.

“Kau tidak boleh putus asa, Chagi. Kau harus tetap berusaha dan berdoa. Lagipula ini kan baru 10 bulan dan kalian juga masih muda. Jangan terlalu dipikirkan. Nikmati saja setiap momenmu bersama Siwon.” Nasihat Nyonya Hwang sambil mengusap rambut Mi Young.

“Apa Siwon belum selesai dengan pekerjaannya?” Tanya Tae Yeon mengalihkan pembicaraan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 18.45.

“Mollayo. Akhir-akhir ini dia sering pulang terlambat karena harus lembur.” Jawab Mi Young lesu. Sejujurnya dia merasa sangat kesepian. Meskipun dia tidak benar-benar sendirian karena Park Ahjumma selalu menemaninya, tapi tetap saja hal itu tidak akan sebanding dengan kehadiran Siwon di sisinya.

“Aish.. para namja pekerja keras memang selalu begitu. Terlalu sibuk di kantor dan selalu pulang terlambat. Apa mereka tidak peduli pada anaenya yang menunggu di rumah? Kalau begini terus bagaimana garis dua itu bisa muncul.” Gerutu Tae Yeon.

“Apa kau sudah meneleponnya? Jam berapa dia akan menjemputmu?” Tanya Nyonya Hwang.

“Dia tidak tahu aku disini.” Jawab Mi Young acuh.

“Kalau begitu kau harus segera pulang, Chagi.” Kata Nyonya Hwang.

“Shireo!” Tolak Mi Young.

“Kenapa begitu? Kasihan kan kalau saat dia pulang ke rumah kau tidak ada.” Bujuk Tae Yeon.

“Biar saja! Aku juga sering di tinggal sendiri.”

“Mana boleh begitu. Pulanglah. Biar Goo Ahjussi yang mengantarmu, ne?” Kali ini giliran Nyonya Hwang yang membujuknya.

“Pokoknya aku tidak mau! Kenapa kalian terus memaksaku?!” Jawab Mi Young dengan suara yang mulai meninggi. Dia lalu melepaskan pelukan ibunya, berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Tae Yeon dan ibunya di ruang baca.

Mi Young kemudian berjalan menuju ke ruang tengah, bermaksud untuk mencari teman berbincang yang lain. Benar saja, Tuan Hwang sedang duduk di sofa sambil membaca sesuatu.

“Appa..” Panggil Mi Young sembari duduk di sebelahnya.

“Hmm..” Gumam Tuan Hwang pendek tanpa melihat Mi Young. Dia masih asyik dengan kegiatan membacanya.

“Appa sedang sibuk?”

“Hmm..”

Mi Young yang mulai kesal karena ayahnya hanya bergumam tanpa melihatnya sedikit pun mengambil kertas yang sedang dibaca oleh ayahnya tersebut.

“Mi Young-a, Appa sedang membaca. Kembalikan dokumen itu.” Pinta Tuan Hwang, tapi Mi Young tidak mengindahkannya.

“Appa, aku boleh menginap di sini kan?” Tuang Hwang tersenyum mendengar pertanyaan putrinya.

“Tentu saja, Chagi. Kenapa tidak boleh? Tapi, Siwon belum datang ya?”

“Aish.. kenapa semua orang begitu mempedulikan namja itu?” Gerutu Mi Young pelan. “Appa, bagaimana kalau kita makan ice cream?” Ajak Mi Young.

“Appa sedang sibuk, Chagi. Minta pada Eonni atau Eomma saja untuk menemanimu.”

“Sebentar saja. Kajja kita makan ice cream, Appa.”

“Hwang Mi Young! Appa sedang sibuk. Berhentilah mengganggu!” Tegur Tuan Hwang.

Mi Young begitu terkejut mendengarnya. Seumur hidup baru kali ini dia dibentak. Dia lalu berdiri dan meletakkan berkas milik ayahnya ke atas meja dengan kasar.

“Maaf kalau aku sudah mengganggumu, Tuan Besar Hwang. Selamat malam!” Pamitnya ketus. Setelah itu dia kemudian berjalan menuju ke lantai atas. Sesampai di sana, dia kemudian berteriak dengan kencang sebelum membanting pintu kamarnya.

“AKU BENCI SEMUA NAMJA!!!”

End of Author’s POV

Tae Yeon’s POV

Aku dan Eomma saling berpandangan. Tidak biasanya Mi Young bersikap seperti ini. sejak dulu dia adalah seorang gadis yang pengertian dan lembut. Tapi kenapa sekarang dia begitu mudah tersinggung dan keras kepala?

“Tae Yeon-a, apa Mi Young sedang bertengkar dengan Siwon?” Tanya Eomma yang hanya kujawab dengan gelengan kepala.

“Aku tidak tahu Eomma, tapi sepertinya tidak. Kalau memang dia bertengkar dengan Siwon dia pasti sudah mengatakannya pada kita tadi.”

“Lalu dia kenapa?”

“Mungkin dia sedang merajuk, Eomma.”

“Merajuk? Untuk apa? Tidak mungkin Siwon tidak memenuhi keinginannya.”

Kami sama-sama terdiam. Apa yang Eomma katakan memang benar. Siwon sangat mencintai Mi Young begitu juga sebaliknya. Jadi apapun keinginan Mi Young pasti akan Siwon penuhi.

“Kalau begitu apa yang sebenarnya terjadi?” Tanyanya lagi.

“AKU BENCI SEMUA NAMJA!!! BRAAAKK!!!” Tiba-tiba terdengar suara jeritan Mi young disusul dengan suara pintu yang dibanting dengan keras.

“Huwa.. ma.. mma..” Jung Yeon yang terkejut berhenti menyusu padaku dan mulai menangis.

“Aigo… kau kaget ya, Chagi? Ghwenchana… ini Eomma sayang. Cup.. cup.. Jangan menangis lagi, ne.” Aku berusaha menenangkannya.

Aish.. Choi Mi Young! Kau membangunkan puteraku. Ada apa sebenarnya denganmu?

End Of Tae Yeon’s POV

Author’s POV

Siwon berjalan dengan sedikit tergesa di lobi apartemennya. Dia ingin segera bertemu dengan Mi Young. Saat ini dia benar-benar merindukan istrinya.

“Annyeonghaseyo, Tuan.” Sapa Park Ahjumma ketika membukakan pintu untuk Siwon.

“Annyeonghaseyo, Ahjumma. Mi Young kemana?” Tanya Siwon karena tak menemukan istrinya. Biasanya wanita itu sedang menonton televisi atau membaca majalah di ruang tengah sembari menunggunya pulang.

“Samonim belum pulang, Tuan.” Jawab Park Ahjumma.

Siwon melirik jam tangannya. “Sudah jam 19.00. Kenapa dia belum pulang?” Gumam Siwon pada dirinya sendiri. Siwon segera menghubungi Mi Young, tapi operator lah yang menjawab panggilan masuknya.

“Chagi, sebenarnya kau dimana? Kenapa teleponmu tidak aktif?” Siwon semakin dibuat cemas dengan menghilangnya Mi Young. Dia kemudian terlihat menelepon lagi.

“Yeoboseyo..” Jawab seseorang diseberang sana.

“Youngie, apa Mi Young ada dirumah?” Tanya Siwon tanpa basa-basi saat Soo Young menjawab panggilannya.

“Mollayo, Oppa. Aku masih menemani Soo Yeon Eonni di tempat spa. Memangnya dia belum sampai ke rumah?”

“Eoh. Darimana kau tahu kalau Mi Young pergi?”

“Tadi siang kami memang pergi bersama, Oppa. Tapi Mi Young Eonni marah kemudian meninggalkan kami. Taksi yang ditumpanginya sudah berjalan cukup jauh saat kami akan menyusulnya.” Jawab Soo Young.

“Marah? Wae? Apa yang terjadi?”

“Aish.. seharusnya aku yang bertanya. Apa kalian sedang bertengkar?”

“Bertengkar? Kami memang sedikit berselisih paham, tapi tidak sampai bertengkar. Wae?”

“Ya! Gara-gara Oppa kami terkena getahnya. Perutku sakit karena harus menghabiskan 3 porsi bulgogi yang dipesan olehnya.”

“Mi Young-ku?” Tanya Siwon ragu. Tidak mungkin istrinya bersikap seperti itu.

“Eoh. Dia merasa mual bahkan hanya dengan mencium aromanya saja. Soo Yeon Eonni sampai harus menyetir seharian untuk mencari kedai yang sesuai dengan seleranya. Tapi begitu kami menemukannya, istrimu hanya memakannya sebanyak 5 suap.” Papar Soo Young. Terdengar teriakan seseorang dari belakang Soo Young. Dan detik berikutnya lawan bicara Siwon sudah berganti.

“Oppa?” Sapa seorang gadis lainnya.

“Eoh, Soo Yeon-a.”

“Aku tidak mau tahu. Segera selesaikan masalahmu dengan Mi Young. Aku tidak tahan kalau harus terus menjadi bahan pelampiasan.”

“Bagaimana aku bisa berbaikan dengannya? Aku bahkan tidak tahu dia ada dimana.” Jawab Siwon lesu.

“Coba hubungi Tae Yeon Eonni. Mi Young tidak mempunyai tempat persembunyian rahasia. Hanya ada 2 tempat yang akan dikunjunginya. Tapi karena dia sedang marah padaku, berarti dia ada di rumah keluarganya sekarang.”

“Baiklah. Aku akan menghubungi Noona. Gumawo, Soo Yeon-a.”

“Cheonma, Oppa. Ah.. Matta! Tagihan spa-ku kumasukkan atas namamu ya?”

“Eoh. Terserah kau saja.”

Dan Klik! Sambungan telepon pun terputus.

Siwon kemudian membuka daftar kontak untuk mencari nomor ponsel Tae Yeon dan menghubunginya.

“Ne, Siwonie..” Sapa Tae Yeon di ujung sana.

“Noona? Mianheyo mengganggumu. Apa Mi Young ada disana?”

“Eoh. Dia sedang mengurung diri di kamar setelah berteriak kencang dan membanting pintu. Sebenarnya apa yang terjadi? Cepatlah kemari, Siwon-a. Keadaannya benar-benar gawat!”

*********

Mi Young membanting tubuhnya dengan posisi menelungkup ke atas tempat tidur. Jeritannya yang teredam oleh bantal terdengar berkali-kali. Dia benar-benar merasa kesal, marah, dan sedih. Kenapa semua orang berubah sikap padanya? Kenapa hari ini semua orang begitu menyebalkan?

Dimulai dari suami yang mengacuhkannya, Soo Yeon dan Soo Young yang tidak mau menemaninya, Tae Yeon dan Nyonya Hwang yang tidak mengerti perasaannya, dan Tuan Hwang yang membentaknya. Mereka semua berpihak pada Siwon dan menyalahkan dirinya. Tidak ada yang membelanya. Hanya 1 orang yang tidak terlibat. Siapa lagi kalau bukan Jung Soo. Dan itu pun karena dia belum pulang. Mungkin kalau kakaknya itu ada di rumah dia juga akan melakukan hal yang sama.

Terkadang disaat-saat seperti ini dia selalu menghubungkan semua hal yang terjadi padanya dengan keadaannya. Mungkin kalau dia sedang hamil Siwon akan selalu pulang lebih awal. Mungkin kalau dia sedang mengidam Soo Yeon dan Soo Young akan dengan sabar menemaninya mencari apa yang dia inginkan. Mungkin Tae Yeon dan ibunya juga akan memahami perasaannya sebagai wanita yang sedang hamil. Mungkin ayahnya akan membentaknya karena terlalu banyak memakan makanan manis yang tidak baik untuk kesehatan Mi Young dan bayinya. Dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lain yang hadir di dalam benaknya.

Pok..Pok..Pok..

Tiba-tiba saja Mi Young merasakan tepukan lembut di bagian betisnya. Untuk sesaat dia terpana. Siapa yang menyentuhnya? Dia tidak mendengar ada suara orang yang masuk tadi. Mi Young sudah terlalu dewasa untuk menyimpulkan bahwa hantulah penyebabnya.

Pok..Pok..

Tepukan itu terasa lagi. Mi Young mengangkat wajahnya dari atas bantal tanpa menengok ke arah belakang. Tepukan itu begitu pelan dan terasa kecil. Jadi siapa yang sudah menyentuhnya? Ya Tuhan.. apa mungkin…

“Yeon-a? Apa yang kau lakukan disini?” Mi Young begitu terkejut setelah mengetahui dari siapa tepukan lembut itu berasal. Bagaimana tidak, keponakannya yang baru bisa merangkak dan mengucapkan beberapa kata yang belum jelas itu kini sedang berdiri sambil berpegangan pada sisi tempat tidurnya.

“Kenapa kau bisa ada disini? Padahal pintunya sudah Aunty tutup tadi.” Katanya sambil melirik ke arah pintu yang sekarang ini sudah sedikit terbuka. Mi Young tampak berpikir sejenak. Jung Yeon tidak mungkin merangkak sendiri melewati tangga dari lantai bawah ke kamarnya yang berada di lantai atas. Lagipula tidak mungkin badan sekecil itu bisa menjangkau pegangan pintu dan membukanya. Pasti ada peran orang dewasa dibalik semua ini.

Mi Young melipat kedua tangannya di depan dada sambil memicingkan mata menatap Jung Yeon. “Pasti Eomma yang menyuruhmu datang kemari. Iya kan?”

“Ma.. ma..” Celoteh Jung Yeon dengan terbata. Entah itu memang jawaban atas pertanyaan Mi Young atau karena baru kata itulah yang bisa dia ucapkan.

“Sudah kuduga! Dia pasti mengirimkanmu untuk membujukku. Katakan padanya kalau Aunty masih marah.” Kata Mi Young pada Jung Yeon seakan-akan bayi itu bisa mengerti apa yang dikatakannya.

“Ti.. Ti..” Celoteh Jung Yeon lagi sambil menggapai-gapai ke arah Mi Young. Bayi itu lalu mengusap-usap tempat tidurnya.

Mi Young tersenyum saat mendengar Jung Yeon memanggilnya dan langsung menggendongnya. “Kau ini.. pintar sekali merayu. Kalau begini, bagaimana Aunty bisa membenci semua namja?” Ujarnya sambil mencium pipi Jung Yeon dengan gemas. Dia lalu menggerak-gerakkan dagunya ke perut Jung Yeon hingga bayi itu tertawa terbahak. Setelah puas menggodanya, Mi Young kemudian mendudukkan Jung Yeon di atas tempat tidur sementara dia berbaring disampingnya.

Jung Yeon melihat ke arah langit-langit sambil mengangkat sebelah tangannya ke udara. Kepalanya menengok ke kanan dan kiri. “Ck..ck..ck..” Decaknya sembari menjentik-jentikkan jari.

Mi Young menoleh ke arahnya dan tersenyum. “Apa kau menemukan cicaknya, baby?”

Jung Yeon menunjuk ke atas dengan mulut yang mengerucut. “Tuh..Ti..Ta..”

Mi Young ikut melihat ke atas dan tersenyum. “Mana? Tidak ada, Chagi. Kau membohongi Aunty ya?”

Jung Yeon tersenyum sambil menepuk-nepuk kedua tangannya. Dia kemudian mengusap lembut perut Mi Young. “Gi..Gi..” Celotehnya riang.

“Ne.. Ini Aunty, Chagi.” Kata Mi Young. “Kau mau Aunty gendong?” Tanyanya lagi sambil duduk dan mengulurkan tangannya ke arah Jung Yeon. Tapi bayi itu malah menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Gi..Gi..” Celotehnya lagi. Mi Young mengerutkan keningnya. Dia kira keponakannya itu ingin digendong, tapi ternyata dia tidak mau.

“Aunty tidak mengerti, Chagi. Apa yang kau inginkan, hmm?” Tanyanya.

“Gi..Gi..”

“Mwo?” Mi Young belum juga mengerti. Jung Yeon pun menjatuhkan dirinya ke tempat tidur dengan posisi terlentang seakan lelah karena Aunty-nya belum mengerti juga apa maksud dari celotehannya. Dia lalu berceloteh dengan tidak jelas hingga membuat Mi Young tertawa.

Tok..Tok..Tok..

Terdengar pintu diketuk dari luar bersamaan dengan munculnya Han Ahjumma.

“Jhwesongheyo, Agassi. Anda sudah ditunggu untuk makan malam.”

“Ne. Gumawoyo, Ahjumma. Kami akan segera turun.” Jawab Mi Young.

Han Ahjumma membungkukkan kepalanya sebelum keluar dari kamar Mi Young.

“Ca.. kajja, baby. Sekarang waktunya makan. Kau lapar? Kita makan bubur, ne?” Jung Yeon bertepuk tangan riang saat mengetahui kalau waktu makannya sudah tiba. Mi Young terkekeh pelan.

“Aigo.. kenapa Youngie Imo mewariskan sifat shiksinnya padamu?” Dia pun menggendong Jung Yeon dan membawanya keluar kamar. Mereka berdua menuruni tangga dengan riang. Mi Young terdengar menyanyikan lagu anak-anak kesukaan Jung Yeon.

“Ti..Ti..Pi..Pi..” Celoteh Jung Yeon lagi. Dan setelah itu Mi Young merasakan ada cairan hangat yang membasahi tangannya.

“Eonni!! Kenapa Jung Yeon tidak memakai diapers?!”

*********

Author’s POV

Jung Soo baru saja akan menginjakkan kakinya di teras rumah saat ia melihat sebuah mobil yang sudah tidak asing lagi berhenti tepat di sebelah mobil yang tadi dikendarainya. Pria itu terlihat sedikit mengerutkan kening. “Untuk apa dia datang kemari?” Batinnya.

“Siwon-a, kau datang?” Sapanya saat pengendara mobil itu turun.

“Ne, Hyung. Aku kemari untuk menjemput Mi Young.” Jawabnya.

“Mi Young? Memangnya dia ada di sini? Aku tidak bertemu dengannya saat akan berangkat tadi pagi.”

“Aku memang tidak mengantarnya, Hyung. Dia datang sendiri menggunakan taksi setelah membuat Soo Yeon dan Soo Young kerepotan.” Jelas Siwon.

“Hahaha.. kalimat penjelasanmu membuat Mi Young terdengar seperti anak yang baru berusia 5 tahun. Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Kajja, kita masuk.” Ajak Jung Soo. Pria itu kemudian melangkah menuju rumah sementara Siwon berjalan mengikuti dibelakang. Han Ahjumma membukakan pintu sembari membungkukkan kepala saat mereka masuk.

“Anda sudah pulang, Tuan muda..” Sapanya pada Jung Soo. “Selamat datang, Tuan Siwon.” Lanjutnya pada Siwon.

“Ne, Ahjumma. Aku datang untuk menjemput istriku.” Jawab Siwon.

“Mana Tae Yeon?” Jung Soo bertanya sembari melangkah menuju ruang tengah.

“Aku disini.” Jawab seorang wanita dari arah dapur. Dia kemudian berjalan menghampiri suami dan iparnya sembari menggendong si kecil Jung Yeon.

“Kau sudah pulang, Yeobo?” Sambut Tae Yeon. “Kau juga sudah datang, Wonie?” Tambahnya.

“Ne. Annyeonghaseyo, Noona.” Jawab Siwon.

Merasa tidak ada yang menyapa dan memperhatikan dirinya, Jung Yeon menjeritkan celotehannya. Jung Soo yang baru menyadari adanya pria kecil lain di tengah-tengah mereka segera mengulurkan tangannya untuk menggendong Jung Yeon.

“Uri Aegi, kemari Chagi.” Tapi bayi itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menggapai-gapai ke arah Siwon. Sesuatu yang Siwon bawa telah menarik perhatiannya. Siwon tersenyum kemudian menggendong Jung Yeon.

“Kenapa kau baru datang sekarang? Kami sudah menunggumu sejak tadi.” Tanya Tae Yeon pada Siwon saat mereka sudah duduk di ruang tengah.

“Mianheyo, Noona. Ada beberapa hal yang harus kuurus.” Jawab pria itu sembari mengelus-elus kepala Jung Yeon.

“Mwoya? Kau malah menunggu Siwon dan bukan aku?” Protes Jung Soo.

Tae Yeon terkekeh. “Mianhe harus mengatakan hal yang sebenarnya, Yeobo.” Ujarnya sembari membuka jas dan dasi Jung Soo.

“Kemana Appa dan Eomma?” Tanya Siwon.

“Eomma mengantar Appa ke rumah sakit.” Jawab wanita cantik itu.

“Appa sakit lagi?” Tanya Siwon cemas.

“Ani. Hanya melakukan pemeriksaan rutin saja.” Jelas Tae Yeon.

“Bukankah jadwalnya besok?” Tanya Jung Soo.

“Ok Uisa ada pertemuan mendadak di Yokohama lusa nanti. Tadi asistennya menelepon dan memberitahukan perubahan jadwal.”

“Oh.. Begitu. Pantas saja aku tidak tahu.” Ujar Jung Soo. Mereka pun terlarut dalam perbincangan seputar perkembangan kesehatan Tuan Hwang yang semakin membaik.

Siwon kemudian teringat akan tujuan utamanya. “Apa Mi Young benar-benar marah, Noona?”

“Sepertinya iya. Tidak biasanya dia bersikap seperti itu. Dia bahkan sampai berteriak dan membanting pintu dengan keras sore tadi. Tapi untung saja pangeran tampanku berhasil meluluhkan hatinya.” Jelas Tae Yeon sembari menatap ke arah puteranya. Siwon pun menatap Jung Yeon yang duduk dipangkuannya lalu mencium puncak kepalanya.

“Gumawo karena sudah membantu Uncle, ne.” Bayi laki-laki itu menjawab dengan celotehannya yang tidak jelas sementara tangannya sendiri sedang sibuk memainkan benda yang berhasil diambilnya dari sang Uncle.

“Sebaiknya cepat kau temui dia selagi amarahnya reda, Siwon-a.” Saran Jung Soo.

“Ne, Hyung. Kurasa juga begitu. Kalau begitu aku akan menemuinya dulu.” Pamitnya sembari mencium pipi Jung Yeon sebelum menyerahkannya pada Tae Yeon dan berlalu menuju lantai atas tempat dimana kamar istrinya berada.

“Dan kau sebaiknya cepat mandi, Tuan Hwang. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu.” Kata Tae Yeon pada suaminya.

“Baiklah, istriku sayang.” Dia lalu mengecup kening Tae Yeon dan pipi Jung Yeon sebelum melangkah menuju kamar mereka.

End of Author’s POV

Mi Young’s POV

Selesai makan malam aku langsung kembali ke kamar meskipun Tae Yeon Eonni memintaku untuk berbincang dengannya. Bukannya aku tidak menghargai permintaannya. Tapi itu semua kulakukan karena aku tidak ingin menimbulkan pertengkaran di antara kami. Dia pasti akan memberi nasihat mengenai sikapku hari ini dan aku yakin kalau aku akan sepenuhnya menutup telinga. Jadi daripada harus membuang-buang energi lebih baik aku menghindarinya saja.

Kulirik arloji dipergelangan tanganku dan mengusapnya perlahan. Kemana pemilik dari pasangan arlojiku ini? Padahal sekarang sudah jam 19.30. Apa dia benar-benar tidak tahu kalau aku sedang marah?

Tak lama kemudian telingaku menangkap deru mesin kendaraan bermotor. Dengan cepat aku berdiri lalu sedikit berlari menghambur jendela. Aish.. kukira itu mobilnya. Ternyata Jung Soo Oppa. Aku berdecak pelan sebelum akhirnya berbalik. Tapi sebelum aku kembali membaringkan tubuhku ditempat tidur, suara sebuah mesin mobil terdengar lagi. Maka aku kembali menuju jendela untuk mengintip lagi. Kali ini benar dia.

“Akhirnya kau datang juga Tuan Choi.” Batinku.

Kulihat pria itu tengah mengatakan sesuatu yang membuat Jung Soo Oppa tertawa. Apa yang mereka bicarakan? Aku terus mengamati gerak-geriknya sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah.

15 menit berdiri menunggu di depan jendela membuat kakiku pegal juga. Kuputuskan untuk duduk di sisi tempat tidur. Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan dibawah sana? Kenapa dia belum datang juga untuk merayuku?

“Chagi..” Kudengar seseorang memanggilku dari luar kamar. Aku tidak menjawab. Dengan cepat kuposisikan diriku kembali berdiri di depan jendela pura-pura menatap ke luar. Aku mendengar pintu kamarku dibuka kemudian ditutup kembali. Beberapa detik setelahnya aku merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangku disertai dengan aroma maskulin yang sudah sangat familiar di indera penciumanku.

“Untuk apa kau datang?” Tanyaku ketus pada Siwon Oppa yang saat ini meletakkan dagunya di bahuku dengan nyaman.

“Aku mendapat telepon pengaduan sore ini. Mereka meminta pertanggungjawaban atas ulah yang telah dilakukan oleh istriku yang manis. Salah seorang korban harus pergi ke dokter karena perutnya sakit setelah memakan 3 porsi daging sementara korban yang lain memintaku untuk membayar biaya spa karena tubuhnya pegal akibat menyetir seharian. Lagipula bukankah tadi aku bilang akan menemanimu setelah meetingnya selesai?” Aku tak menghiraukan ucapannya.

“Mianhe, tadi aku meninggalkanmu sendiri. Aku tidak bermaksud untuk mengacuhkanmu, baby. Kau tahu kalau aku sedang sibuk mengurus masalah pekerjaan, bukan? Bahkan waktu bulan madu kita saja harus kuhabiskan bersama dengan tumpukan dokumen yang membosankan dan klien yang menyebalkan. Kalau sekarang kau juga bersikap seperti ini, aku tidak tahu harus bagaimana.” Katanya dengan nada suara manja.

Aku kemudian berbalik menghadap suamiku. Kutatap wajahnya. Selalu tampan dan memesona seperti biasa. Tanganku kemudian terulur untuk membelai wajahnya. Omo! Sejak kapan kantung mata itu ada disitu? Dia pasti sangat kelelahan. Istri macam apa aku ini? Aku bahkan tidak memperhatikan suamiku sendiri.

“Apa meetingnya lancar, Oppa?”

“Hmm.. pihak klien sangat puas dengan presentasi yang kami lakukan. Tapi aku harus mengedipkan mataku berkali-kali untuk menyingkirkan bayangan seorang gadis yang selalu hadir di tiap slide materi presentasinya.”

“Ah.. begitu ya? Pasti dia itu bukan aku.”

“Kenapa bukan kau?”

Aku tersenyum sambil melingkarkan tanganku di leher Siwon Oppa dan berbisik ditelinganya. “Karena aku bukan lagi seorang gadis.” Siwon Oppa terkekeh mendengar jawabanku.

Aku mengusap pelan dada bidangnya yang masih memakai jas kerja dan menyadari ada sesuatu yang hilang.

“Kemana penamu, Oppa?”

Siwon Oppa menunduk untuk melihat sakunya dan tersenyum. “Ah.. ini? Aku dibajak tadi.”

“Jung Yeon mengambilnya lagi? Namja kecil itu.. sudah berapa banyak penamu yang dia koleksi. Apa dia berencana untuk membuka toko buku setelah besar nanti?”

Siwon Oppa terkekeh lagi. “Ayo kita pulang, Chagi.”

“Tidak bisakah kita menginap malam ini, Oppa? Aku masih ingin bersama Jung Yeon.”

“Bagaimana kalau kita melakukan hal lain yang lebih menarik? Kita bisa punya bayi kita sendiri. Baby Choi.” Goda Siwon Oppa yang membuat pipiku terasa panas. “Tapi kita tidak bisa membuatnya disini karena kamarmu tidak kedap suara. Kalau Tae Yeon Eonni mendengar jeritanmu lagi bukan hanya keluarga kita yang tahu, tapi seluruh Seoul akan tahu malam ini kita mengerjakan apa.”

Aku mencubit kulit perutnya. Dia pun terkekeh dan mengecup singkat keningku.

“Kajja.” Ajaknya sambil menggandeng tanganku.

End of Mi Young’s POV

To Be Continued ^_^

144 thoughts on “Baby Baby Baby Part 4

  1. Stlh memutuskan utk hiatus dri ff sifany dan krn pnsaran am updatean ff sifany..jdi ak putusin untk bca lgi..dan bgnilah akibatny memuncak lgi jiwa sifany shipperny dh..hahahaaa
    Marriage life emg sll bkin excited..dtunggu part slnjutny authornim

  2. sepertinya tiffany hamil dech????
    kasihan sooyoung harus menghabiskan makanan tiffany dan kasihan juga jessica harus menyetir mobilnya seharian buat memenuhi ke inginan tiffany… heheheh
    untung ada Jung Yeon yg bisa bikin keselnya tiffany,, sepertinya jung yeon tau dech klau tiffany lagi hamil, cuma tiffany masih belum tau…
    untung ajah tiffany klau marah engga pernah lama” dan siwon tau ajah apa yg bisa bikin tiffany engga marah lagi…

  3. Ah, semoga komentar yang ini gak ngadat kayak kemarin lagi…

    Chapter yang ini makin berwarna deh, awal bacanya ikutan sedih karena kegalauan Miyoung apalagi setelah pestanya itu, huhu T-T
    Tapi, langsung berubah jadi lucu waktu bagian makan Bulgogi, duo SY dikerjain abis-abisan, wkwkwk
    Miyoung sama Siwon kayaknya suka berantem mulu, pertama ngambek terus baikan lagi, tapi momen itu yang paling ngegemesin ^^

    Hwaiting❤❤❤

  4. Kesian sica sama sooyoung tuh kena omel miyoung . Itu miyoung hamil apa gimana yaaa. Ceritanya mereka tambah sini tambah seru deh. Siwon bisa aja bikin miyoung gajadi marah sama dia haha

  5. Cieee sepertinya miyoung udah mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan nih
    Itu maksud baby jungyeon “Gi..Gi..” Mungkin maksudnya aegi bukan?
    Kyaaa… Gak sabar baca part selanjutnya ^^

  6. Wkkwkkk ….. gara2 mi young marah sama siwon .. jd byk makan korban tuh ….
    – soo young yg sakit perut krn kekenyangan bulgogi ..
    – soyeon yg pegel nemenin keluar masuk resto
    – siwon yg hrs byr tagihan dokter soo young & spa so yeon
    Haha … pasangan yg antik ….lucu tp ngeselin ….

    Next …..

  7. Fany unni lagi ngidam deh kayaknya
    Semoga aja beneran hamil ya, fany unni udah engga sabar pengen punya anak tuhh
    Siwonn oppa suami idaman bgtt nihh
    Mupengg
    Thank you ya thor

  8. Fany sensitif banget seperti wanita hamil,tapi mudah2an impian fany ingin jadi momy terwujud dan fany tidak bersedih hati lagi.
    Hehehe…….poor sooyoung dan soo yeon jadi sasaran pelampiasan fany.
    Next thor.keep writing thor.hwaiting.

  9. emg otak soo brilian selain jago mkn. sajing pgnny bntu miyoung pny baby bikin renc romantis niatny,tp siwon te2p aj sibuk.
    alhasil miyoung terakhir ini berskp uring- uringan.
    ap jgn2 hamil tp blm ad yg sdr….
    klo y wah kbr baik tuh….
    keren crtny…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s