(AR) Sweet Story Part 1

SWEET STORY 1: When I Meet You

SWEET STORY

Presented by: Youngwonie

Cast:

Choi Siwon & Tiffany Hwang

Supported cast:

Kyuhyun, Yuri, Donghae, & Yoona

Genre: Romance

Rating: PG 17

Length: Series

Disclaimer: The story is mine. Don’t be a plagiator. Enjoy this story and don’t forget to comment. Your comment is oxygen to my finger and heart to write.

 

 

 

Suatu malam di kawasan kumuh di salah satu sudut kota New York.

Prank…!!!

Suara benda pecah dan teriakan serta makian-makian kasar sudah menjadi konsumsi sehari- hari bagi seorang anak berumur delapan tahun yang tengah mengerjakan PR sekolahnya. Biasanya ia tidak terganggu sedikitpun oleh keributan yang ditimbulkan oleh kedua orang tuanya di ruang tamu. Tapi kali ini, anak itu mendengar suara ibunya menangis. Ia pun terhenyak. Cepat- cepat ia membereskan buku pelajarannya lalu bergerak menuju pintu kamarnya. Membukanya perlahan dan keluar menuju tempat keributan itu berlangsung. Dari balik tembok yang memisahkan ruang keluarga dengan ruang tamu, anak itu mengintip pertengkaran hebat malam itu.

“Aku ingin kita bercerai. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini.” suara sang ibu yang tegas dan penuh emosi sambil mencoba menghapus bulir- bulir air mata yang tadi sempat membasahi pipinya.

“Baiklah. Kalau itu memang keputusanmu. Aku juga sudah muak dengan sikapmu.” Balas sang ayah tak kalah sengitnya.

Mendengar pernyataan itu dari orang tuanya, anak itu hanya terdiam di tempatnya. Matanya memanas. Tapi tak ada setetes pun air mata yang lolos dari pelupuk matanya. Ia memejamkan mata, menguatkan hatinya, dan memendam rasa sakit itu jauh di lubuk hatinya yang terdalam.

‘Aku adalah anak lelaki, aku tidak boleh menangis.’

***

20 tahun kemudian…

Anak kecil itu, Choi Siwon, sudah bertransformasi menjadi pria dewasa yang matang. Tampan, cerdas, bertubuh atletis dan memiliki karir yang menjanjikan sebagai salah satu pengacara handal yang mampu menangani kasus- kasus pelik yang selalu berhasil dimenangkannya.

Siang itu pun dia baru saja keluar dari ruang sidang saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat.

From: Donghae

Yoona pergi dari rumah. Semalam kami bertengkar. Kalau kau tahu keberadaannya, tolong beri tahu aku.

Siwon hanya bisa mendesah membaca pesan singkat dari sahabatnya itu. Kemudian ia menghubungi sahabatnya yang lain sambil berjalan menuju parkiran di mana mobil Audy R8-nya sudah menunggu.

“Kyu, temui aku di tempat biasa.” Hanya itu yang diucapkannya dan setelah mendapat persetujuan dari lawan bicaranya, Siwon pun bergegas masuk ke dalam mobil mewahnya. Namun, sebuah panggilan menghentikannya.

“Excuseme, Mr. Choi Siwon?” Siwon pun berbalik.

Seorang gadis cantik setinggi bahunya, berambut hitam lurus dan kulit seputih porselen berdiri di hadapannya. Siwon mungkin akan terpesona melihat sosok semenarik itu kalau saja ia tidak melihat tatapan gadis itu yang mengintimidasinya.

“Yes, I am. Can I help you miss?” jawab Siwon berusaha sesopan mungkin.

Plakk!!!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi kirinya. Seperti mimpi di siang bolong, Siwon sejenak terpaku oleh aksi tiba- tiba dari gadis itu. Dengan menahan emosinya, Ia pun menatap tajam ke arah gadis yang menamparnya. Kalau saja dia bukan seorang wanita, mungkin Siwon akan menghajarnya karena sudah berani menamparnya di tempat umum seperti itu.

“Apa kau sudah gila? Aku bisa menuntutmu atas tindakan tidak menyenangkan yang baru saja kau lakukan.” kata Siwon sengit pada gadis itu.

“Kau pantas menerimanya.” Jawab gadis itu tak kalah sengitnya. Tak ada ketakutan sama sekali di matanya.

“Apa maksudmu? Aku tidak pernah merasa mengenalmu apalagi merugikanmu nona.”

“Tidak. Kau memang tidak mengenalku. Tapi kau pasti tahu Nicole Anderson. Dia sahabatku yang kau pisahkan dari putranya. Kau memberikan putranya pada mantan suaminya yang bahkan tidak pernah menganggap keberadaan anak itu. Asal kau tahu, pria itu merebut anak itu dari Nicole hanya untuk alat agar mendapatkan warisan dari ayahnya. Bukan karena menyayanginya.” Jawab gadis itu panjang lebar.

“Lalu apa salahku? Aku hanya menjalankan tugasku sebagai pengacara untuk membela klienku. Aku sama sekali tidak tertarik pada masalah pribadi mereka.”

“Itulah alasannya kau mendapat tamparan itu Mr. Choi. Aku berusaha mengingatkanmu. Sebagai seorang pengacara seharusnya kau membela keadilan, bukannya orang- orang yang tidak bertanggung jawab.”

Gadis itu pun pergi setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya. Siwon masih diam di tempatnya menatap punggung gadis itu yang mulai menjauh. Ia memegangi pipi kirinya yang terasa panas. Tamparan gadis itu sangat kuat hingga meninggalkan rona merah di pipi kirinya.

***

“Apa? Kau ditampar? Di parkiran?” tanya Kyuhyun diiringi tawanya yang meledak membuat seisi restoran menatap ke arah mereka berdua. Siwon pun memberikan tatapan yang mengisyaratkan ‘berhenti tertawa atau kubunuh kau’ kepada Kyuhyun hingga pria itu pun berusaha menghentikan tawanya.

“Maaf, aku terlalu terbawa suasana.”

Siwon tidak menanggapi permintaan maaf Kyuhyun. Ia pun fokus menyantap makan siangnya.

“Tapi—bagaimana bisa dia seberani itu? Kau sudah terkenal sebagai pengacara yang ‘kejam’ di kota ini, apa dia tidak memikirkan hal itu? Kalau kau mau, gadis itu bisa saja masuk bui. Iya kan?”

“Mungkin dia belum tahu sedang berurusan dengan siapa.” matanya berkilat mengingat gadis itu.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” Kyuhyun menatap Siwon penasaran.

Siwon mengangkat bahunya,“Aku belum memikirkannya.”

Mereka pun melanjutkan makan siang tanpa berbincang lagi. Siwon sepertinya enggan membahas soal itu karena bisa merusak selera makannya. Tapi dia teringat tujuannya mengajak Kyuhyun bertemu di restoran itu.

“Apa Yoona di rumahmu?” tanya Siwon.

“Eoh. Dia bersama Yuri di rumah.” Jawab Kyuhyun santai.

“Kau tidak memberi tahu Donghae kalau dia di sana?” Siwon terlihat kesal pada Kyuhyun.

“Yoona melarang kami. Dan aku rasa lebih baik mereka tidak bertemu dulu.”

“Tapi Donghae sepertinya mengkhawatirkannya.”

“Aku tahu. Tapi semalam Yoona datang ke apartemen kami dengan kondisi berantakan, dia menangis. Dia bilang dia memergoki Donghae sedang berselingkuh dengan atasannya.”

“Itu tidak mungkin. Donghae bukan orang seperti itu. Yoona pasti salah paham.”

“Aku juga berpikir begitu. Tapi orang bisa saja berubah kan? Yang kudengar dari Yuri, belakangan ini Donghae kurang memperhatikan Yoona. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di kantor bahkan di hari libur sekalipun.”

Siwon membuang nafas dengan kasar. Hubungan Donghae dan Yoona memang merenggang semenjak Donghae mendapat jabatan bagus di kantornya. Padahal, dulu mereka adalah pasangan paling mesra. Donghae yang selalu bersikap romantis sering membuat iri Yuri karena sikap Kyuhyun cenderung lebih cuek dan apa adanya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Siwon kemudian.

“Sebenarnya Yoona memintaku mengurus surat perceraian.” Jawab Kyuhyun.

“What? Lalu kau bersedia?”

“Tentu saja aku menolak. Bagaimanapun Yoona adalah adikku dan Donghae adalah temanku. Aku tidak mau mereka berpisah. Kalaupun itu tetap akan terjadi, aku tidak mau memihak pada salah satunya.”

Siwon menganggu setuju,”Hm. Sebaiknya kita cuci tangan dari masalah rumah tangga mereka dan membiarkan mereka menyelesaikannya sendiri.”

Setelah makan siang dengan Kyuhyun, Siwon kembali ke apartemennya yang terletak di pusat kota New York. Setelah memarkir mobilnya dan menyapa resepsionis di lobi, ia berjalan menuju lift untuk naik ke apartemennya di lantai 8.

Setelah sampai di depan apartemen-nya, Siwon pun memasukkan kode untuk membuka pintu. Saat itu, pintu dari apartemen sebelahnya terbuka dan seorang gadis keluar dari sana. Awalnya Siwon tidak begitu peduli, namun setelah mendengar suara gadis itu yang tidak begitu asing di telinganya, Siwon pun menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah gadis itu.

“Aku puas bisa memberikan pelajaran pada pengacara sombong itu.” ucap gadis itu pada seseorang lewat sambungan telepon tanpa menyadari keberadaan Siwon yang hanya berjarak 5 meter darinya.

“Ok. Kita ketemu di rumahmu setengah jam lagi. bye.” Gadis itu mengakhiri percakapannya. Ia pun menutup pintu apartemennya dan berjalan menuju lift. Otomatis dia melihat Siwon yang berdiri di depan pintu apartemennya. Tatapan mereka bertemu. Keduanya sama- sama kaget. Tapi itu tidak berlangsung lama karena gadis itu berjalan ke arah Siwon dan memberikan tatapan sinis padanya.

“Jadi sekarang kau sudah beralih profesi menjadi stalker?” Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

“Apa?” Siwon menaikkan sebelah alisnya.

“Jangan berlagak bodoh. Kau pasti menguntitku karena ingin balas dendam kan?” kata gadis itu masih dengan tatapan sinisnya.

“Ha ha ha.” Siwon terkekeh sebelum membalas tuduhan gadis itu,“Asal kau tahu, aku tidak menguntitmu seperti yang kau tuduhkan. Kalau pun aku ingin membalasmu, aku pasti akan melakukannya dengan cara yang elegan. Bukan menjadi seorang penguntit. Dan yang terakhir, ini adalah apartemen-ku. Aku sudah tinggal di sini selama lima tahun.” Jawab Siwon dengan percaya diri.

“Mungkin kau yang menguntitku, karena setahuku, apartemen sebelah itu adalah milik seorang professor yang biasanya disewakan kepada mahasiswa yang kuliah di Universitas tempatnya mengajar. Mungkin kau menyewanya karena penasaran denganku.” Siwon mengeluarkan smirk-nya.

“Hey! Jaga mu—“

Siwon menempelkan telunjuknya di bibir gadis itu saat ia baru saja akan melontarkan pembelaan.

“Sst!! Aku lelah dan tidak ingin berdebat denganmu, Miss. Dan soal balas dendam, kau pasti akan mendapatkannya. Tapi tidak sekarang. Aku punya urusan yang lebih penting hari ini.”

Siwon pun masuk ke dalam apartemennya meninggalkan gadis itu yang masih marah- marah di depan pintu apartemen. Memaki- maki dirinya.

***

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Yuri pada Tiffany yang baru saja memeriksa Yoona.

“Hanya demam biasa. Mungkin karena kelelahan dan pengaruh hormon yang tidak stabil.”

Jawaban Tiffany sedikit membuat kekhawatiran Yuri memudar.

“Mungkin karena belakangan ini dia mendapat banyak tekanan.” Ucap Yuri sebelum menutup pintu kamar tamu yang ditempati Yoona dan mengajak Tiffany duduk di ruang keluarga dan meminum teh yang sudah dibuatkannya untuk mereka berdua.

“Kalau bisa, jangan biarkan dia terlalu stress. Itu bisa berpengaruh buruk pada janin yang dikandungnya.”

Ucapan Tiffany membuat Yuri kaget dan hampir saja menyemburkan teh yang sedang diminumnya.

“Janin? Maksudmu?”

“Kau tidak tahu kalau Yoona sedang hamil?” Kini berbalik Tiffany yang terkejut.

Yuri menggeleng pelan.”Yoona belum cerita padaku.”

“Sebelumnya Yoona datang ke rumah sakit menemuiku. Dia bilang, dia tidak mengalami datang bulan sejak dua bulan yang lalu. Aku pun menyuruhnya melakukan tes. Dan hasilnya positif.” Jelas Tiffany.

“Kalau boleh kusarankan, sebaiknya kau menyuruhnya memberitahu suaminya. Karena biasanya wanita hamil akan lebih sensitive dan menuntut perhatian lebih dari suaminya. Hal itu bisa menyebabkan konflik jika sang suami tidak mengerti keadaan istrinya.”

Yuri menyetujui usul Tiffany.”Kau benar. Yoona memang harus memberi tahu suaminya soal ini.”

Saat itu bel apartemen Yuri berbunyi.

“Aku akan membuka pintu dulu. Kau tidak keberatan menunggu di sini kan?”

“Ok.”

Yuri beranjak dari duduknya untuk membuka pintu. Beberapa saat kemudian ia kembali bersama tiga orang pria tampan di belakangnya.

“Oppadeul, kenalkan. Ini Dr. Tiffany Hwang, sahabatku dan Yoona di unversitas. Dia baru saja kembali dari Jerman satu bulan yang lalu.” Ucap Yuri mengenalkan Tiffany pada ketiga pria tampan itu. Tiffany pun berdiri dan tersenyum sambil menyapa mereka dengan bahasa Korea.

“Anneyong hasseo. Tiffany Hwang imnida. Senang bertemu ka—“ ucapannya terhenti saat melihat Siwon berada di antara tiga pria itu. Tatapan mereka bertemu. Keduanya sama- sama terkejut.

***

“Tiffany adalah gadis itu?” tanya Kyuhyun pada Siwon saat meskipun ia sudah tahu jawabannya.

“Dan aku tidak percaya bisa bertemu dengannya untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Semalam pasti aku bermimpi buruk.”

Mereka sedang membantu Yuri menyiapkan makan malam.

“Tapi yang dilakukan Tiffany itu memang benar. Tidak seharusnya Oppa membela orang yang tidak berhak sama sekali pada anak itu. Sebagai sesama wanita, aku mendukungnya.” Timpal Yuri.

Saat itu Tiffany sudah pulang tidak lama setelah Siwon, Kyuhyun dan Donghae tiba.

“Kau tahu, Yul, tidak ada satu pun yang benar dari kedua orang itu. Tidak teman Tiffany, ataupun klienku. Mereka sama- sama tidak berhak atas anak itu.”

“Kenapa?”

“Karena, mereka sama- sama egois dengan tetap memilih perpisahan tanpa memikirkan perasaan anak mereka. Anak itu hanya korban dari ketidakmampuan orang tuanya mempertahankan hubungan mereka.”

“Kalau memang keduanya tidak bisa bersama, tentu saja pilihan terbaik adalah perpisahan. Kalau sudah tidak ada cinta dan kepercayaan, tidak ada gunanya mempertahankan hubungan itu.”

“Bagaimana dengan cinta dan kepercayaan anak itu kepada mereka? Apa mereka memikirkannya? Seorang anak tidak hanya butuh ibunya atau ayahnya. Untuk tumbuh dengan baik, dia butuh keduanya.”

“Tapi—“

“Chagi, sepertinya aku butuh bantuanmu untuk yang satu ini.” Kyuhyun memberi isyarat agar Yuri mencicipi masakan yang dibuatnya. Kyuhyun sengaja melakukannya agar Yuri tidak meneruskan perdebatannya dengan Siwon. Apalagi soal perceraian. Siwon punya trauma terhadap perceraian orang tuanya dulu. Kyuhyun tidak mau istrinya menjadi korban ‘keganasan’ Siwon dalam berdebat. Karena ia tahu, tak ada yang bisa mengalahkan Siwon dalam hal itu.

Yuri pun terpaksa mengikuti instruksi Kyuhyun. Sebenarnya ia masih belum puas berdebat dengan Siwon. Siwon pun mengerti kalau Kyuhyun ingin dia mengakhiri perdebatan itu. Ia berinisiatif  untuk pergi dengan alasan memanggil Donghae dan Yoona untuk ikut makan malam.

“Aku akan memanggil Donghae dan Yoona. Semoga mereka sudah akur sehingga tidak merusak selera makan kita.”

Siwon mengetuk pintu kamar yang ditempati Yoona. Donghae juga berada di dalamnya. Sedang membujuk Yoona untuk baikan.

“Makan malam sudah siap. Kalau kalian lapar, keluarlah dan bergabung bersama kami.” Ucapnya tanpa menunggu jawaban dari dalam. Ia pun langsung berbalik menuju dapur untuk bergabung dengan Yuri dan Kyuhyun. Dan saat itu, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di bawah sofa di ruang keluarga yang memisahkan dapur dan kamar tamu, terselip sebuah benda berwarna pink. Siwon pun mengambilnya. Sebuah dompet wanita. Siwon yakin kalau itu bukan milik Yuri ataupun Yoona karena setahunya mereka berdua bukan penyuka warna pink. Setelah memberanikan membuka dompet itu, ia baru tahu siapa pemiliknya. Dan ia sangat menyesal telah menemukannya.

***

801

Papan nomor yang tertera di pintu apartemen di mana Siwon berada saat ini. Tepat di sebelah apartemennya yang bernomor 802. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Setelah menemukan dompet milik Tiffany dan memberikannya pada Yuri, istri Kyuhyun itu memaksanya mengembalikan pada pemiliknya dengan alasan mereka bertetangga. Karena alasan itulah, Siwon berdiri di sana, di depan pintu apartemen Tiffany, menekan belnya dan menunggu gadis yang 10 jam lalu telah menamparnya itu keluar.

“Kau?”

Ekspresi heran bercampur tidak suka dari Tiffany lah yang pertama didapatkan Siwon saat pintu apartemen itu terbuka.

“Aku hanya ingin mengembalikan ini. Tertinggal di rumah Yuri.” Siwon langsung menunjukkan dompet pink di tangannya dan mengatakan maksud kedatangannya tanpa basa basi.

“Oh, berikan padaku.” Tiffany bermaksud mengambilnya namun Siwon segera menjauhkan tangannya dari raihan Tiffany.

“Tidak secepat itu Miss Hwang. Kau bahkan tidak berterima kasih sama sekali.”

“Lalu apa maumu?” Tiffany melipat tangannya di depan dada dan menatap Siwon kesal.

“Memberi sedikit pelajaran untuk ketidaksopananmu padaku sepanjang hari ini. Terutama saat kau menamparku di parkiran pengadilan.” Ucap Siwon sambil menunjukkan seringaiannya. Ia pun membuka dompet Tiffany dan mengambil salah satu kartu dari dalam dompet itu.

“Hey, apa yang kau lakukan?”

“Aku akan menahan SIM-mu untuk sementara.”

“Kembalikan!” Tiffany berusaha merebut kartu SIM-nya yang berada di tangan Siwon. Tapi tubuh Siwon yang jauh lebih tinggi darinya itu membuat Tiffany tak bisa menjangkaunya.

“Kembalikan!!!”

Siwon tidak perduli dengan teriakan Tiffany, dia pun masuk ke dalam apartemennya meninggalkan Tiffany yang kesal karena tidak berhasil merebut SIM-nya.

Dari dalam, Siwon memperhatikan Tiffany lewat intercom di samping pintu apartemennya. Tanpa sadar ia tersenyum melihat Tiffany yang masih menggedor- gedor pintu apartemennya. Wajah kesal gadis itu tiba- tiba terasa menggemaskan bagi Siwon. Kalau saja gadis itu tidak membuat Siwon marah di awal pertemuan mereka, mungkin Siwon akan tertarik padanya.

***
Tiffany mengencangkan mantel yang dipakainya. Pergantian musim gugur ke musim dingin membuat cuaca buruk yang bisa mengancam kesehatannya. Belum lagi karena SIM-nya yang disita paksa oleh Siwon beberapa hari yang lalu membuatnya harus pulang pergi kerja menggunakan kereta bawah tanah dan berjalan kaki. Untuk tubuhnya sangat fit karena vitamin yang rutin dikonsumsinya. Kalau tidak, mungkin dirinya sudah terserang flu yang sudah menjangkit sebagian besar penduduk kota.

Tiffany baru merasa lega setelah ia memasuki gedung apartemennya. Udara hangat mulai menjalar dari penghangat ruangan yang menjadi fasilitas di apartemen itu. Ia memasuki lift bersama beberapa orang yang hendak naik ke apartemen mereka. Sebelum Tiffany menekan angka 8 di tombol lift, rupanya ada seorang wanita paruh baya yang sudah mendahuluinya. Tiffany pun mengurungkan niatnya. Tapi pikirannya beralih ke wanita itu. Seingatnya, penghuni lantai 8 hanya dirinya dan Siwon, karena hanya ada dua apartemen di lantai itu. Ia juga tidak mengenal wanita itu. Berarti wanita itu ingin menemui Siwon. Siapa dia? Tiba- tiba Tiffany merasa penasaran.

Sampai di lantai 8, wanita itu keluar dari lift diikuti Tiffany di belakangnya. Dan sesuai dugaannya, wanita itu berhenti di depan pintu apartemen Siwon dan menekan belnya beberapa kali. Sedangkan Tiffany berjalan ke arah berlawanan menuju apartemennya sendiri. Sesampainya di depan pintu, Ia pun memasukkan password untuk membukanya. Saat ia menarik gagang pintu untuk masuk, wanita itu tiba- tiba memanggilnya.

“Excuseme, can you help me, Miss?” ucap wanita itu sopan saat ia sudah ada di depan Tiffany.

“Yes, what can I do for you, Mam?” Tiffany pun membalasnya dengan ramah.

“Pemilik apartemen ini, Choi Siwon, apakah dia belum pulang?” tanyanya pada Tiffany.

“Aku tidak tahu. Mungkin dia masih di kantor. Setahuku dia pengacara yang cukup sibuk.”

“Kalau begitu, boleh aku titipkan ini pada Anda?” Wanita itu menyerahkan sebuah termos pada Tiffany.

“Biasanya dia terserang flu saat cuaca buruk seperti ini. Jadi kubuatkan sup ayam untuknya. Kalau dia pulang, tolong berikan padanya dan suruh dia untuk menghangatkannya.” Jelas wanita itu.

Tiffany memperhatikan wanita itu dengan seksama. Kalau dilihat- lihat, mata dan bibirnya mirip sekali dengan Siwon. Karena penasaran, Tiffany pun langsung bertanya.

“Apakah Nyonya ibunya?”

Wanita itu mengangguk,“Benar.”

“Kalau begitu kenapa tidak telepon dia untuk segera pulang? Anda sudah repot- repot datang kemari, seharusnya dia segera pulang untuk menemui Anda. Anda bisa menunggunya di tempatku.”tawar Tiffany. Dia bersungguh- sungguh karena kasihan melihat wanita itu yang sudah melewati buruknya cuaca hanya karena mengkhawatirkan putranya yang terserang flu.

“Tidak usah. Aku harus segera pulang. Tolong bilang saja padanya kalau aku kemari.”

“Tapi Nyonya—“

“Maaf, aku harus pergi. Terima kasih atas bantuannya Nona.”

“Baiklah. Hati- hati di jalan.”

Ibu Siwon pun pergi meninggalkan tanda tanya besar di kepala Tiffany.

“Choi Siwon sangat beruntung masih punya ibu yang mengkhawatirkannya.” ucap Tiffany.  Tiba- tiba ia sangat merindukan ibunya yang sudah meninggal sejak ia masih anak- anak. Ibunya juga suka membuatkan sup ayam kesukaannya saat cuaca buruk seperti ini.

Dua jam kemudian, Siwon baru saja masuk ke dalam apartemennya. Rasa pusing dan nyeri akibat flu yang dideritanya membuat ia ingin cepat- cepat sampai ke kamar dan merebahkan tubuhnya. Sampai suara bel apartemennya menghentikan langkahnya. Dahinya mengernyit melihat intercom-nya dan mendapati Tiffany yang berdiri di depan pintu apartemennya. Ia pun segera membuka pintu.

“Ada apa?” tanya Siwon sinis seperti biasa meskipun keadaannya sedang kurang baik.

“Cih, masih berlagak sombong walaupun sedang sakit?”

“Katakan urusanmu lalu pergi. Aku sedang tidak ingin bertengkar sekarang.”

“Aku juga tidak sedang mood untuk melihat wajahmu kalau saja ibumu tidak meminta tolong padaku untuk memberikan ini.”

Tiffany menunjukkan termos yang berisi sup ayam pemberian ibu Siwon.

“Berikan padaku.”

“Tunggu, tidak semudah itu.”

Tiffany menjauhkan termos itu dari Siwon seperti yang dilakukan Siwon tempo hari saat mengembalikan dompetnya.

“Kau pikir bisa meniruku huh?” jawab Siwon santai.

Meskipun dalam keadaan kurang sehat, Siwon masih punya kekuatan yang lebih besar dari Tiffanyuntuk merebut termos itu. Dengan mudah, termos itu pun sudah berpindah ke tangannya.

“Sekarang kau boleh pergi Miss Hwang.” Siwon mengibaskan tangannya menyuruh Tiffany kembali ke apartemennya.

“Tidak sebelum kau mengembalikan SIM-ku.” Jawab Tiffany tegas.

“Kalau aku tidak mau bagaimana?” Siwon sengaja memancing kekesalan Tiffany.

“Setidaknya kau harus berterima kasih karena aku mau memberikan sup itu padamu dengan cara mengembalikan SIM-ku.”

“Bagaimana kalau aku berterima kasih dengan cara lain?” Siwon menunjukkan seringaian nakalnya.

“Maksudmu?” Tiffany bingung mendengar pernyataan Siwon. Tapi ia tak punya waktu untuk mencernanya karena tiba- tiba Siwon sudah menarik pinggangnya merapat dan menyatukan bibir mereka. Kehangatan langsung menjalar ke tubuh Tiffany yang berasal dari tubuh dan bibir Siwon yang menciumnya dengan panas. Sejenak Tiffany terlena oleh kehangatan yang diberikan Siwon. Namun setelah kesadarannya terkumpul, ia pun mendorong tubuh Siwon menjauh darinya sehingga ciumannya pun terlepas.

Plakk!!!!

Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi kiri Siwon sebelum Tiffany berlari masuk ke apartemennya. Ini kedua kalinya Tiffany melakukannya. Tapi Siwon tidak menunjukkan kemarahan setelah menerima tamparan itu. Ia malah tersenyum. Panas di pipinya karena tamparan itu tidak lebih besar dari panas yang dirasakan bibirnya saat mencium Tiffany tadi. Entah setan apa yang merasukinya hingga ia nekat mencium gadis yang sangat membencinya itu. Tapi ia tidak menyesal. Mungkin Siwon harus mengakui kalau sebenarnya ia mulai menyukai Tiffany.

***

Keesokan paginya, Tiffany terbangun dengan kepala pusing. Tempat tidurnya berantakan. Ia melirik jam digitalnya di atas nakas. Pukul 8 pagi. Untung hari ini dia tidak punya jadwal ke rumah sakit. Jadi dia bisa bersantai. Semalaman dia susah tidur karena memikirkan insiden di depan apartemen Siwon. Ia baru bisa memejamkan matanya sekitar pukul 4 dini hari tadi.

Tiffany sudah duduk di depan meja rias. Menyisir rambut hitamnya yang berantakan sebelum menjepitnya dengan jepit rambut yang biasa ia kenakan sebelum mandi. Pandangannya tertuju pada bibirnya. Bibir yang semalam telah disentuh oleh pria yang sangat dibencinya.

“Akhhhh!!!!”

Tiffany menjerit histeris.

”Kenapa harus dia yang mengambil ciuman pertamaku?”

Tiffany menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Merasa menyesal karena membiarkan Siwon melakukan itu padanya. Padahal bisa saja ia berontak sebelum semuanya terjadi. Tapi, kenyataannya Tiffany juga menikmatinya. Menikmati sensasi yang tercipta saat bibir Siwon menyentuh bibirnya, menghisapnya dan membelitkan lidah mereka. Perasaan baru yang belum pernah Tiffany rasakan sebelumnya. Pipinya pun merona mengingat kejadian semalam.

“Tidak mungkin. Aku tidak mungkin menyukai ciumannya. Itu sebuah pelecehan. Dia harus diberi pelajaran karena sudah melakukannya padaku.” Tekad Tiffany dalam hati.

Sebelum Tiffany beranjak ke kamar mandi, ponselnya berdering.

Yuri. Keningnya berkerut saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

“Kenapa Yuri menelponku sepagi ini?” Tiffany pun menjawab panggilan itu.

“Hallo?”

‘Hallo, Tiff. Apa kau di rumah sekarang?’

Suara Yuri terdengar cemas.

“Ya. Memangnya kenapa?”

‘Bisakah kau melihat keadaan Siwon Oppa? Kemarin dia terserang flu. Dan pagi ini saat Kyuhyun oppa menepon ponselnya, dia tidak menjawab. Dia juga tidak berangkat ke kantor. Kami mengkhawatirkannya.’

Dalam hati Tiffany mencibir,’Dia hanya flu, kenapa kalian secemas itu. Dia bahkan bisa menciumku semalam.’

‘Hallo, Tiff. Kau masih di situ.?’ Yuri bertanya karena Tiffany hanya diam saja.

“Ah, iya. Maaf aku sedang membuat sarapan sekarang.” Bohong Tiffany pura- pura sibuk agar Yuri tidak memergokinya melamun.

‘Oh, kalau begitu kau bisa kan menjenguknya setelah selesai?’

“Ok. Aku akan ke sana. Tapi, kenapa kalian begitu cemas? Bukankah dia hanya flu?” akhirnya Tiffany menanyakan keheranannya.

‘Siwon oppa sangat rentan terhadap flu. Dia bisa langsung drop jika flunya tidak cepat diobati.’

“Benarkah?”

‘Iya. Hal itu sudah terjadi sejak dia kecil. Bahkan dia pernah sampai harus dirawat di rumah sakit selama seminggu hanya karena flunya terlalu lama dibiarkan tanpa pengobatan.’

DEG!

Mendadak Tiffany mengkhawatirkan Siwon.  Mungkin perasaan itu muncul karena instingnya sebagai dokter.

“Kalau begitu aku akan ke apartemennya sekarang. Bye.” Tiffany memetus sambungan teleponnya dengan Yuri. Tanpa mengganti baju tidur berwarna pink-nya ia langsung keluar dari apartemennya menuju apartemen Siwon.

Tiffany menekan bel berulang kali, tapi tak ada jawaban ataupun tanda- tanda Siwon akan membuka pintunya. Ia tidak menyerah. Ditekannya lagi bel apartemen Siwon. Masih tak ada jawaban. Tiffany merasakan jantungnya kini berpacu dengan nafasnya. Ingin rasanya ia mendobrak pintu itu dan menerobos masuk untuk melihat keadaan Siwon.

Kenapa dia tidak membuka pintu? Apa sesuatu terjadi padanya?

***

Siwon membuka matanya perlahan. Sebenarnya ia belum ingin bangun dari tidurnya yang baru dinikmatinya 4 jam yang lalu. Tapi suara nyaring dari bel apartemennya yang berbunyi terus mau tak mau mengganggunya. Ia pun terpaksa bangkit dari tempat tidurnya untuk melihat makhluk yang sudah membuat tidur nyenyaknya terganggu.

Dengan masih menahan kantuknya, Siwon membuka pintu apartemennya.

Cklek!

“Kau—baik- baik saja?” tanya Tiffany setelah Siwon membuka pintunya.

“Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku sepagi ini?” Pertanyaan itulah yang terlontar dari Siwon saat melihat Tiffany berdiri di depan pintu apartemennya.

Tiffany merasa dirinya adalah gadis paling bodoh di dunia. Untuk apa dia mencemaskan pria yang bahkan masih bisa mengejeknya. Kecemasannya pun hilang seketika.

“Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu.” Tiffany segera berbalik menuju apartemennya namun Siwon dengan sigap meraih pergelangan tangannya.

“Tunggu dulu. Apa tadi kau mencemaskanku?” Tanya Siwon menyadari pertanyaan yang Tiffany ucapkan padanya tadi.

“Apa? Jangan berharap, Mr. Choi.” Elak Tiffany. Kalau dia mengaku, Siwon pasti akan semakin percaya diri dan mempermainkannya seperti tadi malam.

“Lalu, kenapa kau datang kemari dan bertanya ’kau baik- baik saja?’” Siwon menirukan ekspresi Tiffany saat menanyakan keadaannya tadi.

“Itu—Emm—Tadi Yuri menelponku untuk menanyakan keadaanmu. Itu saja.“ Jawab Tiffany sambil berusaha menahan rasa gugupnya. Tapi kenapa ia harus gugup berada di dekat Siwon?

Tentu saja karena posisi mereka saat ini sama persis seperti semalam. Sebelum Siwon menciumnya. Mereka berdiri hampir tanpa jarak. Siwon mengunci mata Tiffany dengan tatapannya. Deru nafas dan detak jantung mereka pun saling bersahutan.

“Benarkah? Aku pikir kau datang kemari karena kau menyesal telah menamparku semalam.”

“Tidak mungkin. Kau pantas menerimanya karena kau menciumku tanpa izin.” Tiffany berusaha bergerak menjauhkan tubuhnya dari Siwon. Namun Siwon tak membiarkannya. Ia malah semakin mengunci Tiffany dalam pelukannya dan menatapnya dengan tatapan seduktif.

“Tapi kau menyukainya kan?”

“Tidak!”

“Kau menamparku karena kau malu mengakuinya.”

Wajah Tiffany memanas. Pipinya memerah. Siwon yang melihat perubahan pada wajahnya menjadi semakin tertarik untuk menggodanya. Terutama saat melihat bibir gadis itu. Siwon masih ingat sensasi yang dirasakannya semalam saat bibir itu menyatu dengan bibirnya. Ia bahkan harus terjaga semalaman karena gelisah. Merasakan kerinduan ingin merasakan sensasi itu lagi. Dan kesempatan untuk itu sudah ada di depan matanya. Ia pun perlahan menundukkan kepalanya. Mengikis jarak antara bibirnya dan bibir Tiffany. Ia tahu Tiffany tidak akan menolaknya.

Tiffany sadar kalau sebentar lagi Siwon pasti akan menciumnya. Pikirannya menyuruhnya untuk mencegahnya. Tapi tidak dengan tubuhnya. Tubuhnya dikuasai keinginan merasakan ciuman itu lagi. Hatinya bimbang menentukan pilihan. Akhirnya pikirannya harus mengalah karena saat ini matanya sudah terpejam menunggu saat bibir Siwon menyentuh bibirnya beberapa detik lagi.

“Ehm!!!”

Dan deheman keras itu pun membuyarkan semuanya. Siwon dan Tifany serentak kaget dan melihat ke sumber suara. Kyuhyun dan Yuri berdiri sekitar 3 meter dari tempat mereka.

“Sepertinya Siwon sudah mendapat perawatan yang baik dari teman doktermu itu, chagi.” Cibir Kyuhyun.

Tiffany yang tersadar dengan posisinya dan Siwon saat ini, segera bergerak mundur, menjauh dari tubuh Siwon yang sudah melonggarkan pelukannya. Wajahnya kembali memerah karena menahan malu pada Kyuhyun dan Yuri yang menangkap basah dirinya hampir berciuman dengan Siwon.

“H—hai,“ Tiffany menyapa pasangan suami istri itu dengan gugup. Kalau ia bisa menghilang, ia pasti memilih segera kabur dari tempat itu. Ia berusaha terlihat senormal mungkin seolah tidak terjadi apa- apa.

“Tenanglah, Tiff. Kau tidak perlu segugup itu. Kita sudah sama- sama dewasa. Kami memahaminya kok.” Ujar Yuri yang dibalas dengan senyuman kikuk dari Tiffany.

Sedangkan Siwon malah menatap kesal pada Kyuhyun dan Yuri.

“Seharusnya kalian datang setelah kami menyelesaikannya.”

Mendengar Siwon mengatakan itu, Tiffany spontan memukul lengannya.

“Aww, kenapa kau memukulku? Yang kukatakan benarkan?”

Tiffany memberikan tatapan yang mengisyaratkan ’diam atau kubunuh kau’ kepada Siwon.

“Emm, karena kalian sudah datang, sebaiknya aku kembali ke apartemenku.” Tiffany buru- buru pamit sebelum Siwon mengatakan hal- hal yang bisa membuatnya lebih malu lagi di hadapan Yuri  dan Kyuhyun. Melihat Tiffany yang pergi begitu saja membuat Siwon agak kecewa. Ia kembali menatap Kyuhyun dan Yuri dengan kesal.

“Kalian mau berdiri di situ terus seharian atau masuk ke dalam?”

***

“Jadi Ahjumma kemarin kemari dan menitipkan sup ayam kepada Tiffany?” Tanya Kyuhyun yang dibalas anggukan singkat dari Siwon. Mereka sudah berada di dalam apartemen Siwon.

“Lalu kau sudah menelponnya?” Tanya Kyuhyun lagi. Kali ini Siwon menggeleng.

“Setidaknya kau harus berterima kasih. Beliau mengkhawatirkanmu.”

“Aku tidak memintanya melakukan itu. Jadi untuk apa aku berterima kasih.”

Kyuhyun hanya bisa menghela nafasnya. Kebencian Siwon pada orang tuanya ternyata tidak berkurang sedikitpun. Sepertinya trauma atas perceraian mereka masih membekas di hatinya sampai sekarang.

“Baiklah. Kami kesini hanya ingin memastikan keadaanmu. Karena sepertinya kau baik- baik saja, lebih baik kami pulang.” Kyuhyun menghampiri Yuri di dapur yang sedang membuatkan sarapan untuk Siwon.

“Kau sudah selesai, chagi?”

“Sebentar lagi. Kenapa? Apa kita mau langsung pulang?”

“Eoh. Aku tidak mau lama- lama berada di sini.”

“Tapi aku membuat makanan yang cukup untuk kita bertiga.”

Melihat ekspresi dingin yang ditunjukkan Kyuhyun, Yuri mengerti kalau suaminya itu sedang tidak akur dengan sepupunya.

“Baiklah. Aku akan menyelesaikannya dulu.”

Setelah selesai dengan masakannya, Yuri pamit pada Siwon. Kyuhyun yang masih kesal sudah keluar duluan.

“Aku sudah membuat makanan untuk Oppa. Kalau tidak habis, simpan saja di kulkas lalu hangatkan kalau ingin memakannya lagi. Aku pulang dulu. Kalau flu Oppa kambuh lagi, telepon aku atau datang saja pada Tiffany. “ Yuri berusaha menggoda Siwon pada kalimat terakhirnya.

“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Yul.”

“Tidak usah sungkan. Oppa sudah seperti kakakku sendiri. Dan sebagai adik—aku setuju dengan Kyuhyun Oppa. Jangan terus memusuhi Ahjumma seperti itu. Bagaimanapun, beliau adalah orang tua yang masih Oppa miliki dan sangat menyayangi Oppa.”

“Aku tahu. Aku akan berusaha. Tapi aku tidak janji.”

Yuri mengangguk mengerti. Setelah memeluk Siwon, ia pun menyusul Kyuhyun yang sudah menunggunya di luar apartemen Siwon. Sementara itu, Siwon yang merasa sudah lapar menuju ke dapur untuk sarapan.

“Aku tidak mungkin menghabiskan ini sendirian.” Keluh Siwon melihat makanan yang sudah disiapkan Yuri cukup banyak karena memang awalnya untuk dimakan bersama- sama. Tiba- tiba senyumnya mengembang saat sebuah ide melintas di otaknya.

Ting! Tong! Ting! Tong!

Beberapa kali Siwon menekan bel apartemen Tiffany. Tidak lama kemudian gadis itu pun muncul dari balik pintu dengan keadaan yang lebih rapi dari sebelumnya.

“Ada apa?” Tanya Tiffany to the point.

Dengan sweater warna krem dan celana jeans, Tiffany terlihat sangat manis. Setidaknya itu menurut Siwon yang sejenak memandangi gadis itu sebelum mengatakan tujuannya.

“Kau sudah makan?”

To be Contiued…

147 thoughts on “(AR) Sweet Story Part 1

  1. Tbc nya bikin greget !!
    Siwon nya belum apa apa udah maim cium tiffany aja nih gimana kalau udah nikah ya ……#yadongnyakeluar
    Next ya minthor
    Udah gak sabar

  2. Oh author youngwonie memang dae-baaakkkkk (y)
    Satu lagi tambahan yang menambah deretan ff keren sifany buatan author , dan yang kali ini super seruuu banget sepertinya , diawal aja udah ngegemesin, apalagi selanjutnyaaaa , tak sabar menanti >.<
    Siwon oppa jadi pengacara , Tiffany jadi dokter , tinggal bersebelahan , ini bener-bener menarik dan seruuuuuuu ^^
    Ditunggu sweet story part berikutnya author, kalo bisa lebih panjang dan update as soon as possible , thankyou author , semangaaaaaaaaat ♡

  3. ceritanya bagus thor dari benci jadi sayang lama2 malah jadi cinta hehehe
    tapi sayangny siwon trauma bgt sama yg namanya perceraian semoga saja tiffany bisa mengubah siwon jd baik sama eommanya.
    ditunggu chapter selanjutnya ya thor🙂

  4. THOR INI KEREN BANGEEETTTT ciyus TvT karakter tiffany dan siwon cocok banget disini 💕 tata bahasa ya juga bagus ! Dilanjutin ya thor.. Udah gak Sabar >.< maaf ya Cuma comment dikit, nggak tahu mau comment apa lagi hehe 😶

  5. Wkwkwk! Kece nih FF’a.. Lanjut Next Part!! Ga sabar nih thor.. Keren mah.. Eh, Siwon jadi pengacara kaya gitu ya? Pfffftt.. Lucu! Tapi mungkin kalo kaya pengacara Kasus2 kaya Pembunuhan, Pencurian, Dll itu kayanya lebih Cocok, wkwkwk.. Gara2 suka liat DraKor I Hear Your Voice sama You’re Sorrounded ya gw..😄

    • *tengok kanan kiri cari min ri*
      Ikut jawab ya Min, boleh kan???
      Mian taharani-sshi tu kebijakan dr admin. Aq sbg author ga ngurusin soal postingan di blog. Kn udh prnh dbilang di postingan ‘Event SI’ klo slma masa lomba ff, yg dposting hnya ff lomba. Jd ff yg lain nunggu mpe lomba ff’nya selesai.
      Tapi,,, klo mau baca lnjutan sweet story bs baca di thisislove4ever.wordpress.com
      tu blog pnya aq sendiri. Silakan brkunjung…!!!

      Youngwonie

  6. Duh thor, baca ff ini senyam senyum sendiri masa. Itu first kiss Tiffany eonni di rebut sama Siwon oppa ya kkkkkk~
    Next yah thor..
    Keep Writing

  7. karena mendadak muncul part duanya dan setelah baca sampai hampir setengah ternyata aku sudah lupa, jadi aku balik ke part yg ini dulu.. hehehe.. oke deeeh.. lanjut ke part 2 nya dlu yaa🙂

  8. Aku kira aku uda pernah baca ini cerita trnyata blm astaga siwon oppa maen nyosor aja hahah, gpp berawal dr benci jd cinta aseekk hahahah

  9. Hahahaha ngakak dan senyum-senyum sendiri lah.. :v Jiahhhh malu banget deh dicium sama siwon oppa ditambah makin kesel dan ilfeel sama siwon oppa.. Kekekeke.. Padahal yang dicium kan fany eonni, tapi kenapa aku yang malu sama kesel nya.. Hahaha ngerasain kali ya.. Hehe😀

  10. Wow…..fany jadi dokter pasti keren dan cantik ya, apalagi siwon jadi pengacara,tambah ganteng deh.aiyoo……kasian siwon ditampar ama fany, dan ditampar ke 2 kalinya,karena mencium fany tanpa izin,aiyoo…….kasian siwonnya.siwon masih trauma karena perceraian ortunya,makanya jadi pengacara handal dan terkenal kejam.chukae yoona atas kehamilannya,donghae ah,jaga yoona baik2 ya.yuri dan kyuhyun datang terlalu cepat sih kali tidak sifany udah kisseu.hehehe…….
    Benar2 seru thor,alur ceritanya dan konfliknya.
    Author daebak……is very very nice fanfic is very very great fanfic,i like it.
    Ok i am ready reading next part thor.
    Hwaiting thor.

  11. Q sk crt yg sprt ini berawal ketdk skaan tp jd cinta. aplh ktk dicium siwon g nolak tuh. psti seru nih ap fany trs benci y am siwon?
    siwon knp g mw ktm ibuny ap trauma krn ortuny pisah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s