(AR) A Prince from another Land

Title: A Prince from another Land

A Prince from another Land

Author: @janisone

Main cast:  Tiffany Hwang – Choi Si Won

Support cast: Im Yoona – Cho Kyu Hyun – Jessica Jung – Lee Soon Kyu –

Kim Tae Yeon – Cho Kyung San – Lee Dong Wook

Length: Twoshoot

Genre: Romance, Fantasy

Rating: 15

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan. Ide cerita ini dari kak Echa, aku hanya mengembangkannya menjadi sebuah cerita.

Happy reading…

Part 2

“Si won, apa tidak akan ada yang curiga jika melihat kita tiba-tiba menghilang?…”

“Mereka mungkin melihat kita saat menaiki bukit ini tapi tidak ketika kita sudah sampai didepan pintu menuju Flowerialand….”

“Wae?…”

“Karena memang seperti itu peraturannya…”

Tiffany mengangguk paham. Si won menghentikan langkahnya, secara bersamaan Tiffany pun berhenti dan ikut melihat kearah pandang Si won. Dihadapan mereka, Tiffany bisa melihat sebuah pintu transparan yang terbuat dari kelopak bunga. Seperti yang telah dijelaskan Si won, ini adalah pintu untuk keluar-masuk Flowerialand. Dan dari sini, Tiffany bisa mencium aroma yang sangat harum memenuhi indera penciumannya.

“Ini wangi dari Flowerialand…” Si won menjelaskan. Mulai digenggamnya tangan Tiffany lalu menatap matanya.

“Kau siap?…” Tiffany mengangguk mantap. Dia sudah mempersiapkan dirinya ketika ia memperhatikan bukit ini sejak tadi.

“Ne, aku siap…” Si won balas mengangguk sebelum berujar.

“Tutup matamu. Tarik nafas pelan, keluarkan….” Tiffany melakukan seperti apa yang diperintahkan Si won.

“Dalam hitungan ketiga kita masuk. Tidak perlu takut, aku bersamamu…” Tiffany kembali menganggukkan kepalanya singkat.

“Satu, dua, tiga…”

Tiffany seperti merasa sedang menaiki wahana rollercoaster dengan kecepatan yang sangat tinggi. Nyawanya seperti ikut terbang ketika kakinya mulai memasuki pintu itu. Tangannya dengan kuat memeluk tubuh Si won. Dia tidak ingin terjatuh dan menjadi tidak bernyawa begitu mereka sampai ke tempat yang dituju.

“Sekarang, buka matamu…”

Tiffany membuka matanya dengan takut-takut. Cukup merinding membayangkan seperti apa tempat yang baru dimasukinya itu. Apakah sangat indah atau malah sebaliknya? Kelopak dengan bulu mata dan alis indah itu sepenuhnya terbuka. Dan begitu matanya terbuka, Tiffany enggan untuk berkedip sekalipun. Pemandangan yang ia saksikan sekarang benar-benar menakjubkan.

Tiffany melangkah maju untuk melihat pemandangan didepannya lebih dekat. Kedua tangannya membekap mulutnya tak percaya. Ia tengah berada disebuah negeri yang sangat asing baginya. Di tempat ini, semua bangunan tampak modern tak kalah dengan dibumi.Namun yang menjadi perbedaan adalah, jutaan macam bunga tumbuh mengelilingi bangunan dan taman disekitarnya. Penghuninya berlalu lalang sambil bercengkrama. Menikmati pemandangan yang dipenuhi bunga bersama orang terkasih. Bahkan mereka juga mengendarai motor dan mobil layaknya dibumi.

“Si won, ini…tempat tinggalmu? Indah sekali…”

Tiffany masih takjub dan asyik memperhatikan apa yang dilakukan penduduk asli Flowerialand. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan apa yang dilakukan penduduk bumi. Tapi Tiffany tahu, semua orang yang ada disini pasti memiliki kemampuan sihir seperti Si won.

“Ne. Dan selamat datang di Flowerialand…” Sambut Si won tersenyum ramah. Tiffany balas tersenyum. Dia sangat takjub dengan apa yang ia lihat sekarang.

“Indah sekali…” Sekali lagi Tiffany berguman kagum. Langkahnya semakin maju. Ingin melihat tempat nan indah ini lebih dekat.

“Si won, apa manusia pernah datang kesini?….” Si won yang melangkah ringan disamping wanita itu mengangguk.

“Terkadang, ada manusia yang sedang jalan-jalan di bukit lalu tersesat sampai kesini…”

“Apa yang terjadi pada mereka?…” Tiffany terlihat penasaran.

“Hanya ada dua kemungkinan. Jika ketika masuk kesini mereka merasa kagum dan menganggapnya sebagai suatu keberuntungan dan pengalaman yang tak akan terlupakan, maka kebaikan akan menyertai mereka. Tapi jika manusia itu angkuh dan tamak, merasa bangga dan ingin kembali untuk mendapatkan suatu keuntungan, maka mereka akan berakhir dirumah sakit jiwa…”

Tiffany terperangah tak percaya.

“Jjinja?…” Tanyanya takut. Si won menjawabnya dengan anggukan pelan.

Keduanya melanjutkan perjalanan mereka menuju istana. Sebenarnya, Si won bisa menggunakan kekuatannya untuk bisa sampai lebih cepat. Atau mereka bisa menaiki transportasi apa saja di negeri ini dengan tingkat kecepatan yang mereka mau. Tapi Tiffany menolak, dia ingin melihat semua yang ada disini lebih dekat jadi dia tidak ingin melewatkannya.

Tiffany terkejut ketika beberapa kupu-kupu dengan sayap mereka yang indah dan berkilauan menghampirinya dan Si won. Kupu-kupu itu terbang dan menari disekitar wajah dan kepala Tiffany. Tiffany tersenyum menyaksikannya.

“Neomu yeopputa…” Kagumnya. Kawanan kupu-kupu itu berpindah dan berjajar di depan Tiffany. Sayap mereka saling bersentuhan seperti orang yang saling berpegangan tangan. Lalu membungkuk memberi salam layaknya orang Korea pada umumnya.

Tiffany tertawa. Lucu sekali.

“Apa yang sedang mereka lakukan?…”

“Mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas pujianmu barusan. Mereka bilang, kau jauh lebih cantik…” Tiffany tersenyum dengan mata yang masih asyik memperhatikan kupu-kupu yang berterbangan dihadapannya.

“Gamsahamnida…” Ucapnya membungkuk sopan. Kupu-kupu itu berbaris melingkar kemudian berputar. Seketika muncul cahaya berwarna-warni mengelilingi mereka. Dengan kekuatan yang mereka miliki kupu-kupu itu membuat sebuah mahkota dari akar pohon dan beberapa macam bunga serta dedaunan. Lalu meletakkan flower crown yang indah itu dikepala Tiffany sebelum akhirnya terbang menjauh.

Tiffany memegang mahkotanya lalu tersenyum kearah Si won.

“Kau memang yang paling cantik…”

“Aish!” Tiffany tersenyum malu dan segera melanjutkan langkahnya.

Di tengah perjalanan, Si won menjelaskan tentang Flowerialand lebih banyak. Negeri ini terdiri dari empat bagian. Ada Floweria Palace, Floweria City, Floweria Village dan Floweria Garden. Semuanya memiliki kelebihan dibanding yang lain. Dan tempat mereka berada sekarang adalah Floweria City. Tiffany mengangguk, pantas tempat ini terlihat seperti perkotaan yang padat dan ramai. Istana Kerajaan pasti ada di Floweria Palace.

“Dimana istanamu?…”

“Bagian paling timur…”

Tiffany mengarahkan pandangan matanya kearah matahari terbit. Tampak olehnya sebuah bangunan megah dan indah dengan menara-menara tinggi yang menunjukkan betapa megah dan agungnya bangunan itu.

Untuk kesekian kalinya Tiffany berdecak kagum.

“Kau tinggal disitu?…” Tiffany seperti belum percaya dengan apa yang ia saksikan.

“Hm, begitulah…”

“Pangeran?…”

Langkah Si won dan Tiffany terhenti ketika mereka mendengar sebuah suara. Dihalaman rumah bergaya modern minimalis nan indah itu tampak seorang gadis cantik tengah bersantai dikursinya yang terbuat dari kelopak bunga mawar. Gadis yang mengenakan headphone itu meletakkan benda tersebut diatas meja yang dipehuni oleh majalah.

Tiffany terkesiap ditempatnya. Majalah fashion? Mereka mengerti fashion?

Tiffany menelan ludah gugup. Gadis itu melayang di udara dan tiba dihadapannya dan Si won. Jujur saja, dia belum terbiasa melihat hal-hal semacam itu. Si won tersenyum menyambutnya.

“Senang bertemu denganmu, Tae yeon-ssi…”

“Ne. Aku juga, Pangeran. Aku turut sedih mendengar kabarmu yang dikutuk oleh penyihir Vivian…” Sesalnya lalu beralih menatap Tiffany. Ia tersenyum melihat mahkota yang ada dikepala gadis itu. Sepertinya ia diterima dengan baik oleh salah satu penghuni negeri Floweria yang sangat menyukai bunga itu.

“Apa gadis ini yang menyelamatkanmu, Pangeran?…” Tanyanya dengan senyum ramah. Si won tersenyum cerah dan dengan senang hati memperkenalkan Tiffany.

“Kenalkan, ini Tiffany. Dan Tiffany, ini Tae yeon. Dia putri dari salah satu menteri di Flowerialand dan salah satu teman baikku…”

Tae yeon membungkuk sopan dan Tiffany balas tersenyum tulus.

“Hormat saya, Yang Mulia…” Mata Tiffany melebar. Gadis itu memanggilnya apa?

“Kau mendapatkan calon Permaisuri yang sangat cantik, Pangeran…” Ucapnya kemudian. Tiffany menoleh kearah Si won. Matanya mendapati pria itu tersenyum kearahnya.

“Ne, gumawoyo. Kalau begitu, kami permisi dulu. Kami harus segera  menuju istana sebelum gelap…”

“Tentu, Pangeran. Keluarga kerajaan pasti senang melihat kalian datang. Aku akan mengantar kalian dengan unicorn kesayanganku…”

Tiffany memperhatikan unicorn putih bersayap yang tengah memakan bunga-bungaan dihalaman rumah gadis itu. Bulunya putih bersih dengan tanduk pink yang menawan. Indah sekali.

“Gumawoyo, Tae yeon-ssi. Tapi tidak usah, sepertinya Tiffany masih ingin melihat-lihat pemandangan disini dari dekat…” Gadis cantik itu tersenyum seraya menatap Tiffany.

“Ah, ne. Ini pasti pengalaman  yang menyenangkan baginya. Kalau begitu selamat kembali Pangeran dan Tiffany-ssi, senang bertemu denganmu…”

“Ne. Aku juga, Tae yeon-ssi…”

Tae yeon kembali bersantai dikursinya dengan headphone beserta majalahnya. Sementara Tiffany dan Si won kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju istana. Perhatian Tiffany pun kembali pada apa yang tengah dilakukan para penghuni negeri bunga itu. Satu lagi pertanyaan yang muncul dibenak Tiffany.

“Si won…”

“Hm?…”

“Jika kalian bisa menuju suatu tempat hanya dengan satu kedipan mata, kenapa kalian harus memiliki mobil?…” Si won tersenyum mendengar pertanyaan itu.

“Sama seperti halnya dibumi. Kenapa manusia ingin memiliki dua mobil setelah memiliki satu mobil? Itu hanya gaya hidup, Fany-ah…”

Tiffany mengangguk saja. Mungkin benar. Sifat manusia memang seperti itu, tidak pernah puas. Tiffany menghembus nafas pelan. Dia sudah tidak sabar melihat istana Si won dari dekat. Terlebih seperti apa rupa orang tuanya.

***Sifany***

Istana Flowerialand tampak sibuk usai mengetahui tentang kedatangan sang Pangeran yang sudah lama tak mereka jumpai. Para pengawal tampak menjemput mereka dipintu gerbang dengan  dengan senang hati. Didapur istana pun juru masak sudah menyiapkan makanan spesial untuk pangeran dan tentu wanita yang bersamanya.

Tiffany memperhatikan seluruh penjuru ruangan dimana kini ia dan Si won berada. Tiffany bukan orang yang norak dan kampungan jika melihat sesuatu yang indah atau makanan lezat. Tapi jika negeri ini dan meja makan sepanjang 3 meter yang dipenuhi oleh makanan itu, tentu saja dia hanya bisa melongo.

“Hohoho, maaf jika membuatku kaget, Fany-ah. Tapi tidak perlu cemas, kau akan mulai terbiasa…” Ujar sang Ratu yang menyadari sikap Tiffany.

“Ne?…” Ratu tersebut tertawa anggun di kursinya, disebelah sang Raja.

“Kau tidak harus memakan semuanya, anakku. Pilih saja mana yang kau suka, bukan begitu Yang Mulia?…” Sang raja mengangguk penuh wibawa.

“Nikmati makan malammu, Tiffany-ssi. Kami harap kau menyukai jamuan kami malam ini…”

“N-ne…tentu,Yang Mulia…”

Tiffany menunduk gugup dan mulai meneguk air putih didekatnya. Si won tahu Tiffany masih merasa canggung dan belum terbiasa jadi dia memutuskan untuk membantu menyiapkan piring Tiffany. Mengingat para pelayan istana sudah keluar usai diperintah sang Raja. Selain itu, beberapa waktu terakhir dia juga selalu melayani semua kebutuhan wanita itu dengan baik.

“Aku sendiri saja, Si won…” Cegah Tiffany. Dia menunduk ketika menyadari pandangan Raja dan Ratu tertuju padanya.

“Oh, maksudku, biar saya sendiri saja, Pangeran…” Tiffany memperbaiki kalimatnya. Tentu saja dia merasa kalau perkataannya tadi kurang pantas mengingat dimana ia berada sekarang. Si won dan kedua orang tuanya tampak tersenyum menahan tawa.

“Terima kasih sudah menyelamatkan Pangeran negeri ini, anakku. Kami berhutang banyak padamu…” Tiffany menggeleng.

“Tidak apa-apa, Yang Mulia Ratu. Aku juga tidak sengaja menyelamatkan Si-Oh maksudku Pangeran…” Ratu tersenyum, sepertinya gadis dihadapannya masih merasa asing berada disekitar mereka.

“Ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, anakku. Ini sudah takdir makanya terjadi seperti ini. Kau percaya takdir?…”

“Ne?…”

Tiffany menatap sang Ratu dengan kening berkerut. Kembali ia menunduk malu ketika pasangan paling berkuasa di negeri itu menertawakan ekpresi wajahnya sekarang.

“Yang Mulia, hamba mohon jangan membuat calon permaisuri hamba merasa tidak nyaman…” Ucap Si won dengan nada menggoda. Wajah Tiffany semakin memerah. Ratu tersenyum jahil sebelum mengangguk paham. Ia juga tidak ingin Tiffany merasa tidak nyaman.

“Mohon maafkan kami, Pangeran. Dan silahkan nikmati makan malam ini, Fany-ah…” Ucapan halusnya membuat Tiffany mendongak dan tersenyum hangat.

“Ne, gamsahamnida, Yang mulia…”

Tiffany mulai menikmati makan malamnya dengan tenang. Tidak berbeda memang. Makanan yang disajikan sama halnya dengan makanan yang ada dibumi. Tapi karena ini buatan kerajaan tentu rasanya berbeda. Belum lagi setelah menyadari dimana ia kini. Ini benar-benar seperti mimpi.

“Oppppaaaa!”

Suasana tenang itu berganti. Tiffany dan semua yang ada dimeja makan itu menoleh ketika seorang gadis berteriak memanggil Si won. Gadis blonde itu masuk dan langsung memeluk leher Si won yang masih duduk dikursinya.

“Oppa, kau kembali! Aku senang sekali. Kau tahu, aku sedang berada di salon ketika mendengar berita kau kembali dan aku langsung bergegas kesini…”

Gadis itu berceloteh dengan santai tanpa peduli bagaimana pandangan Ratu kearahnya. Tiffany bahkan sangat terkejut melihat keberanian gadis itu. Dia saja bisa merasakan aura kebaikan dan kehangatan yang dimiliki sang Ratu  hingga membuatnya tak bisa bersikap seenaknya pada perempuan yang memiliki kecantikan sempurna itu.

“Aku juga merindukanmu, Sica-ya…” Balas Si won kepada adik sepupunya itu. Jessica tersenyum sebelum melirik Tiffany yang duduk disebelah Si won.

“Biarku tebak, dia yang menyelamatkan mu, Oppa?…” Si won mengangguk.

Tiffany memberi salam dengan menundukkan sedikit kepalanya pada Jessica.

“Tidak perlu seformal itu, Tiff. Santai saja. Aku Jessica, sepupu Si won Oppa…” Tukasnya akrab.

Tiffany mengangguk mengerti. Pantas gadis itu sangat akrab dengan Si won. Tapi dia tidak mengerti bagaimana gadis itu mengetahui namanya. Ah, Tiffany lupa. Ini negeri Flowerialand jadi apa saja bisa terjadi.

Ratu memperbaiki anak rambutnya yang menjuntai bebas lalu menghela nafas.

“Dimana rasa hormatmu, Jessica. Duduk dikursimu…” Perintahnya pelan namun tegas. Jessica mendengus dan mengambil tempat disebelah Tiffany. Dia mendekatkan wajahnya pada telinga Tiffany lalu berbisik.

“Kau tahu, walau dia terlihat anggun dan cantik, tapi sebenarnya dia itu sangat galak. Kau lihatkan, tadi dia seperti ingin memakanku. Ingat, kau harus berhati-hati…”

Jessica terkikik melihat wajah kesal dari perempuan yang ia bicarakan. Yang Mulia Raja dan Si won hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.

“Aigo, untung saja kau keponakanku…” Ujar sang Ratu gemas. Jessica tertawa puas.

“Aigo, beruntungnya aku terlahir sebagai keponakan Ratu…”

Bangga Jessica dan mulai menikmati makanan dihadapannya. Tiffany yang menyaksikan pemandangan itu tersenyum. Entah kenapa ia teringat dengan Yoona dan Sunny saat melihat keakraban antara Bibi dan keponakan itu.

***Sifany***

Ruangan besar yang katanya kamar tamu itu tampak sangat indah. Sebuah ranjang terletak tepat disebelah jendela dengan tirai merah muda berenda. Meja rias yang dipenuhi peralatan kosmetik tertata rapi disebelah lemari yang terbuat dari kayu mahoni. Ditambah dengan cahaya dari lampu-lampu yang berbentuk bunga menerangi seluruh penjuru kamar. Namun Tiffany merasa kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengagumi tempat itu. Dia hanya menunduk dengan meremas jemarinya. Sangat gugup karena sekarang hanya ada dia dan sang Ratu diruangan itu.

Ratu Floweria tersenyum lembut. Dia bangkit dari sofa biru yang didudukinya untuk membuka gorden. Sinar rembulan masuk seolah ingin menyinari sosok anggunnya.

“Bagaimana menurutmu tentang Flowerianland, anakku?…”

“Ne?…” Tiffany mengangkat wajahnya yang semula menunduk.

“Oh, itu…sangat indah dan mengagumkan, Yang Mulia…” Jujurnya. Sang Ratu dengan gaun merah muda itu tersenyum.

“Benarkah? Terima kasih. Kami juga perlu usaha keras untuk membuatnya tetap indah seperti ini…”

Tiffany tersenyum kecil ditempatnya. Ditariknya nafas berkali-kali agar ia merasa lebih tenang. Berdua dengan orang yang baru dikenalnya memang terasa canggung bagi Tiffany. Apalagi mengingat siapa orang itu.

“Tidak perlu merasa tegang, Fany-ah. Sekarang kami adalah keluargamu dan kau adalah bagian dari kami…”

Mata Tiffany menatap tak percaya kearah sang Ratu. Apa maksudnya kalau dia adalah bagian dari mereka?

Ratu beranjak dari tempatnya. Kembali dia menempati single sofanya untuk duduk berhadapan dengan Tiffany. Otomatis, Tiffany kembali bisa melihat betapa luar biasa cantiknya wanita  itu. Gaun merah muda serta mahkota yang berkilaun dikepalanya membuatnya tampak sangat menawan dimata siapapun.

“Sebenarnya, peristiwa mengerikan itu sudah berlalu satu tahun…”

Tiffany menatap wajah sang Ratu.

“Ne? Sudah setahun? Tapi Si- maksud saya, Pangeran mengatakan kalau masa kutukannya tidak terlalu lama…”

Sang Ratu mengangguk.

“Tentu saja. Biasanya orang yang menerima kutukan akan tetap dalam pengaruh itu selama puluhan bahkan ratusan tahun…” Tiffany membuka mulutnya tak percaya. Dia tidak bisa membayangkan hal itu.

Sang Ratu menatap Tiffany dengan senyum diwajahnya.

“Kau tahu, selama Si won dikutuk, dia berada diantara langit dan bumi. Kami tidak bisa mengetahui dimana keberadaannya dengan ilmu sihir atau teknologi secanggih apapun. Tapi suatu hari, kami tiba-tiba bisa merasakan energinya menyatu dengan kami. Setelah mencari tahu, kami bisa menemukannya ditempat tinggalmu…”

Tiffany menelan ludahnya. Itu artinya, pasangan Raja dan Ratu melihat bagaimana perlakukannya terhadap Si won selama ini?

Sang Ratu tertawa anggun ditempatnya. Tahu pasti apa yang dipikirkan Tiffany.

“Tidak perlu merasa bersalah. Kami mengerti kalau kau merasa terganggu pada awalnya. Tapi Pangeran kami sangat tampan, bukan?…” Ratu mengerling menggoda. Tiffany tersenyum malu dibuatnya.

“Maafkan aku, Yang Mulia…”

“Tidak apa-apa, anakku. Kami mengerti…”

Sang Ratu meraih lalu menggenggam tangan kanan Tiffany dengan kedua tangan lembutnya.

“Kau tahu betapa aku sangat bahagia saat menatap matamu? Apalagi melihatmu ada dihadapanku sekarang…” Tiffany mengangkat alisnya. Tidak mengerti maksud dari ucapan wanita itu.

“Yang Mulia, aku tidak mengerti dengan apa yang Anda katakan…” Ratu tersenyum lembut. Mulai diedarkannya pandangan matanya ke tempat lain.

“Uhm, sepertinya obrolan kita cukup sampai disini. Pangeran sudah tidak sabar menunggumu diluar…”

Si won tersenyum dibalik pintu. Ibunya itu pandai sekali menggoda Tiffany ternyata.

***Sifany***

Tiffany masih asyik menikmati pemandangan malam dari balkon istana sebelah utara. Dari sini ia bisa melihat negeri Flowerialand secara keseluruhan. Sungguh suatu pemandangan yang indah dan menakjubkan dimana semua hal tampak bersinar terang. Bahkan bunga-bunga ikut bercahaya untuk menerangi malam.

“Terima kasih sudah mengajakku ke sini, Si won…”

Si won yang sedari tadi ikut menemani Tiffany tersenyum. Dia bangkit untuk berdiri disamping Tiffany dan menikmati pemandangan malam Flowerialand bersama.

“Harusnya aku yang berterima kasih. Aku bisa kembali lagi ke sini karenamu…” Tiffany mengangguk. Namun sesaat kemudian tiba-tiba ia terdiam. Sesuatu mulai mengganggu pikirannya. Dia takut kalau Si won tidak akan kembali lagi ke bumi dan bertemu lagi dengannya.

“Fany-ah…” Tiffany menarik nafas dan membuangnya pelan.

“Ya?…”

Tiffany mendongak untuk menatap Si won yang tak kunjung bersuara. Sepertinya ada hal yang serius yang akan pria itu utarakan.

“Entah kau percaya atau tidak, aku merasa kalau aku sangat membutuhkanmu. Hatiku yakin kalau kau adalah cinta sejatiku. Bukan semata karena kau yang menyelamatkanku dari kutukan itu tapi, aku juga merasa sangat nyaman saat bersamamu. Seperti permintaanku sebelumnya…” Si won menghadap Tiffany dan menatap tepat diiris matanya.

“Jadilah permaisuriku…”

Permintaan dari hati yang paling dalam itu membuat dada Tiffany bergejolak. Ia berteriak mau tapi hanya dalam hati. Walau ia juga merasa sangat membutuhkan Si won disisinya namun ia juga memiliki kekhawatiran. Jika ia bersedia menjadi permaisuri negeri ini, bagaimana dengan kehidupannya di bumi? Appa, Yoona, Sunny, pekerjaannya? Apa ia sanggup melepas itu semua? Tiffany yakin tidak.

“Tiff?….”

“A-aku…aku…”

TENG TENG TENG

Lonceng yang berada dimenara tertinggi di istana berbunyi nyaring. Jarum  jam yang terbuat dari putik bunga raksasa itu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Penghuni Flowerialand yang masih berada diluar rumah segera meninggalkan aktivitas mereka untuk segera pulang dan beristirahat melepas lelah.

Teng Teng Teng

Lonceng lain berbunyi. Dentingannya lebih kecil dan lebih dekat dengan tempat Si won dan Tiffany berada.

Jessica muncul dengan lonceng kecil ditangannya. Setelah tiba dihadapan Si won dan Tiffany, gadis itu melempar sembarangan loncengnya dan benda itu menghilang entah kemana. Tiffany  masih saja takjub walau ia tahu sudah melihat hal-hal magic seperti itu berulang kali.

“Hei, kalian belum tidur?…” Tanya Jessica riang usai mengambil tempat diantara Si won dan Tiffany hingga keduanya terpisah. Si won hanya tersenyum melihat tingkah adik sepupunya itu.

“Aku masih mengagumi tempat ini, Jessica-ssi…”

“Tapi ini sudah malam, Tiff. Bagaimana kalau sekarang kita tidur? Oh ya, kau tahu krim apa yang paling cocok untuk dipakai malam hari?…” Si won menghela nafas malas saat gadis itu sudah mulai berbicara tentang kesenangannya. Kecantikan. Ya, Jessica memang memiliki keistimewaan dengan hobinya itu.

“Apa kulitmu sensitive?…” Tiffany meraih dan memperhatikan kulit lengan Jessica.

“Aniyo. Oh ya, kau pakai produk apa? Aku bisa mencobanya mungkin…”

“Kalian bisa membicarakan ini nanti di kamar, Sica-ya. Sekarang biarkan Tiffany masuk ke kamarnya…” Suruh Si won. Malam sudah larut dan makin dingin jadi sebaiknya mereka masuk ke kamar.

“Benar. Kajja, Fany-ah. Bagaimana kalau kau tidur denganku malam ini?…” Si won menatap Jessica tak setuju.

“Tidak boleh. Tiffany pasti lelah dan butuh istirahat. Kau hanya akan mengganggunya nanti…” Jessica mengernyit melihat Si won lalu beralih pada Tiffany.

“Apa aku mengganggumu, Fany-ah?…” Tiffany menggeleng ringan tanda ia sama sekali tidak keberatan.

“Tuh lihat. Aish, kau berlebihan sekali…”

“Tap—“

Si won terdiam lalu menghela nafasnya ketika Jessica dan Tiffany menghilang dari hadapannya bersama serpihan-serpihan krystal yang membawa mereka. Tapi tak lama kemudian ia tersenyum dan memilih untuk meninggalkan balkon itu juga.

***Sifany***

Lembah yang berada diantara dua bukit itu tampak mencekam. Ratusan kelelawar berterbangan dengan suara yang sangat memekakkan telinga. Dalam bangunan tua yang penuh kegelapan itu, seorang wanita dengan jubah hitam yang menutupi tubuhnya menampakkan senyum manisnya. Dia baru saja menerima berita dari burung gagak kesayangannya perihal kembalinya sang Pangeran.

Senyum licik penuh arti tergambar jelas diwajahnya. Tangan kanannya memegang erat tongkat sihirnya.

“Selamat datang, Pangeranku. Kau merindukanku? Hahaha…”

Tawa kerasnya terasa sangat menyakitkan telinga. Bahkan hewan-hewan yang tinggal disekitar kastil tua itu berlari ketakutan karenanya.

***Sifany***

“Kalau begitu kami permisi, Tuan. Anda tenang saja, kami akan mengupayakan dan melakukan yang terbaik untuk menemukan putri Anda…”

“Ne, aku sangat menunggu kabar baik dari kalian…”

Tuan Hwang mempersilahkan orang-orang dari kepolisian itu keluar. Dia tampak terdiam memikirkan keadaan dan keselamatan putrinya sekarang. Sebagai seorang Ayah, dia tentu mencemaskan putrinya yang sejak kemarin tidak tampak oleh siapa pun. Bahkan dikantornya yang merupakan tempat favoritnya pun Tiffany tidak ditemukan. Bahkan ponselnya saja tidak bisa dihubungi.

Tuan Hwang menghela nafas dan menatap foto Tiffany ditangannya dengan senyum lembut.

“Semoga kau baik-baik saja. Dan cepatlah kembali atau setidaknya hubungi Appa atau siapapun yang kau mau. Kami merindukanmu…”

***Sifany***

Sama halnya dengan Tuan Hwang, Yoona juga tampak sangat gelisah di rumahnya. Semua teman-teman dan kenalannya sudah ia hubungi namun tidak ada satu pun yang tahu dimana Tiffany berada.

“Aku akan menelfon Dong wook Oppa…”

“Kita tunggu saja dulu, siapa tahu Tiffany hanya pergi belibur dengan Si won…” Saran Kyu hyun. Yoona menggeleng tak setuju.

“Oppa, bagaimana kalau ternyata sekarang Tiffany Unnie sedang diculik, atau disiksa? Kita harus segera menyelamatkannya, Oppa…”

“Tapi sama saja. Polisi tidak akan bertindak sebelum 24 jam…” Tambah Kyu hyun lagi.

“Tapi ini hampir 24 jam!”

Yoona tidak peduli. Ia harus melakukan sesuatu untuk menemukan keberadaan Tiffany. Salah satu tugas polisi adalah membantu masyarakat untuk menemukan orang hilang. Apalagi kalau polisi yang akan ia hubungi adalah teman baik mereka.

“Dong wook Oppa?…”

Kyu hyun hanya menghela nafas disofanya. Dia bukannya tidak mencemaskan keadaan Tiffany. Hanya saja ia yakin kalau Tiffany baik-baik saja. Memangnya siapa yang berani dengan wanita angkuh, judes, dan suka marah-marah sepertinya?

***Sifany***

Sinar matahari pagi muncul mengawali hari. Gorden berenda yang menutupi jendela kamar terbuka dengan sendirinya. Sinar mentari pun menerpa wajah cantik yang tampak tertidur sangat pulas itu.

Tiffany menggeliat dan terbangun. Segera ia duduk dari posisinya untuk melihat sekeliling.

“Dimana Jessica?…”

Tiffany bangkit dari ranjang. Dia memperhatikan semua benda yang memenuhi kamar Jessica. Tidak berbeda dengan kamar perempuan lainnya memang. Dikamar ini ada lemari pakaian, ranjang, TV layar datar dengan sofa serta meja rias yang dipenuhi oleh alat kosmetik. Semalam Tiffany sudah mendengar cerita Jessica. Gadis berambut blonde itu memiliki kekuatan magic pada setiap alat kosmetiknya. Apa itu alasan kenapa ia terlihat begitu cantik dan berkelas? Mungkin saja itu merupakan salah satunya.

Dari sekian banyak jenis peralatan kecantikan itu, ada satu benda yang terasa janggal bagi Tiffany. Ada sebuah kayu sebesar telunjuk dengan panjang 30 cm disisi kanan meja rias itu.

Tiffany meraih benda tersebut.

“Ini…tongkat sihir?…” Tangan Tiffany menyentuh setiap sisi tongkat itu. Ringan dan teksturnya halus.

“Sedang apa, Tiff?…”

“Omo!” Tiffany memegang dadanya saat suara gadis itu tiba-tiba terdengar dan mengagetkannya. Diletakkannya kembali benda itu dimeja.

“Aku melihat itu. Apa itu tongkat sihirmu?…” Jessica memilih baju dilemarinya sembari melirik ke arah pandang Tiffany.

“Eoh, itu milikku ketika masih remaja dulu…” Jelasnya singkat. Tiffany mengangguk paham.

“Sekarang aku tidak memakainya lagi. Saat ini semua hal jadi lebih mudah dan simple. Aku bisa melakukannya hanya dengan jariku…”

Tiffany mengangguk lagi. Pasti mudah sekali kalau hanya menggunakan jari tangan.

“Bukankah pagi ini Si won Oppa mengajakmu jalan-jalan? Mandilah. Semuanya sudah siap…”

Tiffany mengangguk dan segera menuju kamar mandi Jessica. Semalam saat ia dan Jessica mengobrol seorang pelayan istana menyampaikan hal itu pada mereka. Tiffany setuju saja. Kapan lagi ia bisa jalan-jalan di negeri ini?

***Sifany***

“Woah, aku tidak pernah menghirup udara sesegar ini. Apalagi pagi seindah ini…” Komentar Tiffany ketika ia dan Si won menikmati pagi di Flowerialand. Jalan-jalan di Floweria Garden sangat menyenangkan. Menghirup udara pagi yang segar dan harum membuatnya tenang dan paru-parunya terasa lapang.

Sepanjang perjalanan Tiffany asyik memperhatikan  setiap orang yang dijumpainya. Semua orang melakukan aktivitas layaknya dibumi. Mereka berteman, membuka toko, berolah raga bahkan tahu tentang trend fashion dan musik. Hanya saja mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau dengan kekuatan mereka selama itu tidak merugikan orang lain. Tiffany sempat berpikir, jika ia bisa melakukan sihir? Apa yang akan ia lakukan untuk pertama kali?

“Fany-ah?…”

Si won menyentuh bahu gadis disampingnya yang tampak melamun. Dia khawatir jika  nanti Tiffany terjatuh atau menabrak sesuatu jika ia tidak memperhatikan jalan.

“Ne?…” Tiffany menjawab sembari menatap wajah Si won.  Pria tampan itu tersenyum lembut.

“Kau haus? Inginku belikan minuman?…”  Tiffany mengangguk cepat.

“Apa saja yang ada disini?…”

“Sama dengan apa yang dijual dibumi…”

“Jjinja? Kalau begitu aku ingin yang segar. Bubble drink?…”

“Seperti yang kau perintahkan, Permaisuriku…” Tiffany tertawa garing untuk menghilangkan rasa malu juga untuk menutupi wajahnya yang memerah. Aish, pria itu selalu saja membuatnya malu.

“Tunggulah disini. Jangan kemana pun sampai aku datang…” Pesan Si won yang disambut anggukan Tiffany.

Begitu Si won menuju sebuah café yang menjual minuman yang dimaksud, Tiffany segera duduk di bangku taman yang terletak disisi kanan jalan. Dia masih ingin menikmati tempat ini sebelum kembali ke bumi nanti malam. Dia tahu pasti semua orang tengah cemas dengan keadaannya. Dia juga sangat merindukan suasana bekerja terlebih kedua sahabatnya, Yoona dan Sunny.

Tak jauh dari tempat Tiffany duduk, seorang wanita yang bersembunyi dibalik pohon maple besar itu tersenyum puas. Seringaian licik timbul diwajahnya tatkala menyadari kalau sekarang Tiffany hanya seorang diri. Tak mau menyiakan kesempatan, dengan segera ia memejamkan matanya. Bibirnya mengucap mantra-mantra dalam bahasa latin. Lalu berkonsentrasi penuh serta memusatkan pikirannya hanya pada satu sosok. Dan hanya dalam hitungan detik, dia berhasil mengubah dirinya menjadi seorang Choi Si won.

***Sifany***

Tiffany bangkit dari duduknya begitu Si won mendekat. Pria itu melangkah ringan  dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya. Namun tanpa Bubble drink ditangannya seperti yang pria itu janjikan.

“Mana minumannya?…” Tiffany bertanya begitu Si won sampai.

“Minumanya sudah habis, kita cari ditempat lain saja…”

Tiffany terkejut ketika Si won meraih kasar pergelangan tangannya. Bahkan jika dia sedang memarahi Si won pun pria itu tidak akan pernah melakukan tindakan seperti ini  terhadapnya. Aura yang dipancarkannya pun dapat Tiffany rasakan berbeda dari biasanya. Dia merasa kalau orang yang kini bersamanya bukan Si won yang ia kenal.

“Si won…”

“Kita tidak punya banyak waktu gadis bodoh. Sekarang juga ikut denganku!” Tiffany menelan ludah dengan susah payah. Ia ketakutan. Mata itu berkilat merah dan sangat mengerikan untuknya.

Tiffany tidak bisa berbuat apa-apa ketika sosok itu menghilangkan kesadarannya dan membawanya terbang entah kemana.

Disaat yang bersamaan, Jessica baru saja keluar dari salon kecantikan tak jauh dari tempat Tiffany duduk. Dia ingin menghampiri Tiffany yang sedang bersama Si won.  Namun langkahnya terhenti ketika melihat Si won menyeret paksa Tiffany dan membawanya pergi.

“Mungkin mereka sedang bertengkar…”

Jessica memutuskan untuk tidak ikut campur. Dia tidak ingin mengganggu keduanya. Lebih baik dia bersenang-senang. Habis massage dan meni-pedi akan sangat menyenangkan jika sekarang ia berbelanja kemudian makan-makan.

Jessica bersenandung ria sembari memilih-milih baju yang dia suka. Namun secara tak sengaja, matanya melihat keluar toko. Lewat dinding kaca itu dia bisa melihat Si won keluar dari sebuah café dengan bubble drink ditangannya. Tiffany pun mendekati Si won.

“Huh? Bukankah mereka baru saja pergi?…”

Jessica merasa ada yang tidak beres. Dengan cepat ia keluarkan kaca mata hitam dari dalam tasnya. Kaca mata itu sudah diprogram dengan system dan mantra yang mutakhir.  Jadi dia bisa melihat apa saja yang ia inginkan dengan hanya mengenakannya.

Mulut Jessica terbuka lebar.  Ia bisa melihat orang lain dalam diri Tiffany.

“Vivian?!”

Jessica berlari keluar toko untuk mengejar penyihir jahat itu sebelum melukai Si won. Tapi ia terlambat karena penyihir itu sudah berhasil membawa Si won menghilang bersamanya.

“Tsk. Dia berhasil mengelabuiku! Kau tidak akanku biarkan kali ini, wanita jahat! Aish!”

Jessica kesal sendiri dibuatnya. Mengetahui Si won dikutuk oleh penyihir itu dulu saja dia sudah tidak tahan untuk menghancurkannya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Raja dan Ratu melarang karena takut Jessica ikut menjadi korban. Dan kali ini Jessica tidak akan memberitahu keduanya. Dia sendiri yang akan menyelamatkan Si won dan Tiffany. Kemudian menghancurkan penyihir itu dengan tangannya sendiri.

Jessica mengacak rambutnya frustasi. Kenapa Si won tidak menyadari kalau yang menghampirinya tadi bukan Tiffany?

“Aish, pria memang lemah jika berhadapan dengan wanita!” Gerutunya sebal.

Jessica bersiap untuk menyusul ketempat penyihir itu tinggal dilembah bukit yang curam dan menakutkan. Namun tiba-tiba ia menghentikan niatnya.

“Tunggu, sepertinya aku butuh bantuan orang lain…” Jessica bukannya ragu dengan kemampuannya. Tapi akan lebih baik jika ia meminta bantuan orang lain mengingat Tiffany sedikit berbeda dengan mereka.

Jessica mengeluarkan tablet dari tas branded yang tersampir dipinggangnya. Dia ingin mencari seseorang yang akan bisa membantunya menyelamatkan Si won dan Tiffany. Dia tidak ingin memberitahukan pihak istana atas insiden ini. Lagi pula untuk apa dia belajar sihir selama ini jika tidak untuk ia gunakan?

Kening Jessica berlipat begitu sebuah nama muncul dilayar tabletnya.

“Im Yoona? Nugu? Apa dia lebih hebat dariku?…” Jessica mencari tahu tentang nama itu lebih banyak. Dan sekarang sepertinya ia mengerti kenapa ia harus membawa gadis itu bersamanya.

***Sifany***

“Lepaskan aku, Vivian! Dimana Tiffany?!”

Vivian tidak melakukan apapun selain hanya tertawa melihat tingkah Si won yang sedari tadi hanya berteriak memanggil nama Tiffany.

“Pangeran, kenapa kau sangat mengkhawatirkan keadaan manusia itu?…” Tanyanya santai.

“Ah, aku mengerti. Karena ciuman cinta sejati itu, kau dan dia menjadi satu. Kau akan sangat tersiksa jika ia terluka, begitu? Hahaha. Baiklah, sepertinya aku harus melakukan sesuatu terhadapnya…”

“Brengsek!”

Si won memukul lapisan kaca yang memenjarakan tubuhnya itu.

“Hahaha, kau terlihat menggemaskan dengan wajah seperti itu, Pangeran….”

“Hei!”

Si won mengepalkan tangannya. Tinjunya melayang saat sosok itu menghilang dari pandangan. Matanya menatap tajam tanpa peduli darah yang mengucur dari tangannya. Yang ada dipikirannya sekarang hanya Tiffany. Dia tidak ingin kalau penyihir itu melakukan sesuatu terhadap Tiffany. Si won bukannya menghawatirkan diri sendiri. Bukan! Andai dia saja yang merasakan sakitnya tidak akan ada masalah. Tapi jangan Tiffany. Sesungguhnya, Tiffany tidak ada hubungan antara perseteruannya dengan Vivian.

Si won menatap sekeliling ruangan itu dari dalam kaca yang mengurung tubuhnya. Pria itu berdecak frustasi. Tidak ada satu kuntum bunga pun disini yang bisa membantunya keluar. Dia tidak mendapat kekuatan apapun untuk melawan sihir yang sudah diberikan Vivian pada kaca itu. Tentu, Vivian tidak akan memberinya kesempatan untuk kabur.

Saat itu juga Si won merasa tubuhnya tersengat. Semua ototnya kaku dan tidak bisa digerakkan. Mata Si won memanas. Tiffany!

***Sifany***

Dirumahnya, Yoona tengah menemani Kyung san bermain di beranda samping. Dia tidak pergi ke rumah sakit untuk bekerja hari ini karena masih menunggu kabar tentang Tiffany. Kecurigaan tentu saja mengarah pada Si won karena pria itu tinggal bersama Tiffany. Tapi hati kecilnya yakin kalau Si won bukanlah orang jahat. Jadi tidak pantas jika ia menuduh pria itu.

Menurut penuturan warga yang melihat Tiffany dan Si won terakhir kali yaitu diatas bukit. Dan sekarang, pihak kepolisian yang dipimpin oleh seorang detektif tengah menyisir wilayah disekitar taman dan perbukitan untuk mencari keberadaan keduanya.

Kyung san yang tengah asyik dengan mobil-mobilannya mendongak ketika melihat seberkas cahaya putih dan sangat terang dari langit. Cahaya itu kian mendekat dan tiba dihadapannya. Cahaya yang awalnya berbentuk bulat itu perlahan berpendar menjadi butiran-butiran krystal sebelum akhirnya berubah wujud menjadi seorang wanita cantik.

“Oemma, ada Auntie cantik datang dari langit…”

Yoona yang tengah menunggu kabar tentang Tiffany menoleh kearah Kyung san. Sontak ia berdiri begitu melihat seseorang bersama putranya.

Dengan cepat Yoona mendekat lalu menarik Kyung san ke sisinya. Dia tentu tidak mau wanita asing itu melakukan sesuatu pada anaknya. Wajar dia curiga. Bagaimana mungkin wanita itu bisa masuk ke lingkungan rumahnya sementara ia belum membukakan pintu pagar?

“Nu…nuguseyo?…” Yoona bertanya sambil memperhatikan penampilan gadis itu. Terlihat modis dan manis. Tidak seperti orang dengan niat jahat sedikit pun.

Jessica yang mendengar pertanyaan itu tersenyum hangat.

“Aku Jessica dari Flowerialand…” Terangnya pelan. Kening Yoona berkerut hebat.

“Flowerialand?…” Ulangnya. Tempat apa itu? Nama Perusahaankah? Majalah? Production House? Taman Nasional?

“Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya padamu sekarang, Yoona-ssi. Tapi aku butuh bantuanmu untuk menyelamatkan Tiffany…”

Yoona tertegun.

“Fany Unnie?…” Tanyanya pelan. Dia kaget mengetahui kalau wanita itu mengenal dan tahu tentang keadaan Tiffany sekarang. Terlebih wanita itu tahu namanya.

“Auntie cantik mengenal Fany Auntie?…” Jessica tersenyum ramah pada anak berusia 5 tahun itu.

“Ne, anak manis. Kau benar…”

“Dimana Fany Unnie sekarang? Dia baik-baik saja?….” Tanya Yoona cepat. Sungguh, dia sangat mengkhawatirkan Tiffany saat ini.

“Maaf jika jawabanku mengecewakanmu. Tapi kita masih memiliki waktu untuk  menyelamatkannya….”

Yoona semakin cemas. Itu artinya sekarang Tiffany dalam bahaya.

“Apa yang terjadi padanya, Jessica-ssi?…”

“Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang, kau harus ikut denganku…”

Yoona mengangguk cepat tandai ia mau. Tapi ia sedikit ragu ketika memikirkan Kyung san. Tidak ada yang menemaninya dirumah karena Kyu hyun masih di kantornya.

Jessica yang mengerti dengan apa yang dipikirkan Yoona berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah menggemaskan anak itu.

“Cho Kyung san?…” Anak itu mengangguk.

“Hei, kau sangat tampan. Apa Auntie boleh meminjam Oemmamu sebentar?…”

“Untuk menyelamatkan Fany Auntie?…” Tanyanya yang memang menyimak pembicaraan antara keduanya sejak tadi.

“Ne, sayang. Kau benar…”

Kyung san mendongak untuk menatap Yoona lalu tersenyum.

“Oemma, cepat kembali dan bawa Fany Auntie, ne?…”

Yoona mengangguk dengan mata yang basah. Dipeluknya Kyung san erat sebelum melepaskannya.

“Jangan kemana-mana dan tunggu Appa, aratchi?…” Kyung san mengangguk patuh.

Jessica menjentikkan jarinya lalu muncul sebuah permen lollipop ditangannya.

“Tada! Ini hadiah untuk anak yang baik dan tampan…” Ucapnya lalu menyerahkan permen itu pada Kyung san. Anak itu menerimanya dengan senang hati.

“Gumawoyo, Auntie….”

Jessica tersenyum manis sebagai balasan. Kemudian diraihnya tangan Yoona agar wanita cantik itu lebih dekat dengannya.

“Kita akan pergi ke tempat yang tidak  pernah kau bayangkan sebelumnya. Kau siap?…”

Yoona mengangguk pasti walau ia tidak tahu tempat apa itu. Yang jelas ia hanya ingin membawa Tiffany pulang bersamanya.

Kyung san kembali menyaksikan serpihan-serpihan krystal bertaburan dihadapannya. Namun kali ini tidak hanya Auntie cantik yang memberinya permen tadi tapi juga Oemmnya. Serpihan-serpihan krystal itu  bersatu dan membentuk cahaya putih yang menyilaukan mata.  Dalam sekejap cahaya itu terbang dan menghilang dari pandangannya.

“Wah, Oemma terbang!” Teriaknya meloncat kegirangan. Kemudian segera mengemut lillopop yang tadi diberikan Jessica dan kembali asyik dengan mobil mainannya.

***Sifany***

“Argh!”

“Hahaha…”

Tiffany meringis kesakitan setelah cahaya dari tongkat sihir Vivian menghantam tubuhnya. Ia merasa tulangnya akan patah ketika akar-akar raksasa dan sangat kuat itu mengikat tubuh lemahnya dengan erat dikursi kayu itu.

“Argh!”

Tiffany menggigit bibirnya menahan tangis. Air matanya mengalir deras. Bukan karena sakitnya. Tapi pria itu, Si won. Jauh sebelumnya Si won sudah mengatakan kalau ia adalah bagian dari diri pria itu. Jika Tiffany bahagia Si won ikut bahagia. Tapi jika ia terluka, Si won akan lebih tersiksa. Dengan keadaannya yang sekarang ia yakin Si won pasti merasa sangat tersiksa. Tiffany menyalahkan dirinya sendiri. Harusnya tadi dia tahu kalau orang yang menghampirinya tanpa bubble drink itu bukan Pangeran Choi Si won.

“Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi…” Mata Vivian menatap Tiffany tajam. Tak peduli kalau gadis itu sudah merasa sangat lemah dan kesakitan.

“Tiffany…” Nadanya tiba-tiba berubah lembut. Seolah saat mengucapkan nama itu ia adalah Ibu bagi gadis tersebut.

“Sekarang aku yakin, kau pasti menyesal karena mencintai Choi Si won…”

“Issh, sama sekali tid-akh…” Tiffany menjawab dengan angkuh walau sebenarnya ia sangat tidak sanggup untuk bicara. Apalagi akar-akar itu kian mengeratkan lilitannya.

“Hahaha. Aku menyukai gadis sepertimu…” Vivian tertawa senang. Perlahan, dia mendekati Tiffany dan mengitari gadis itu. Diperhatikannya wajah Tiffany lebih dekat serta ikut mencium aroma tubuhnya.

“Ck, ternyata kau memiliki aroma yang sama dengan penghuni Flowerialand. Apa Oemma-mu berasal dari sini?…” Tiffany terkejut bukan main. Apa yang wanita itu bicarakan? Oemmanya berasal dari Flowerialand? Itu mustahil.

“N-ne?…”

Vivian berganti menatap wajah Tiffany yang hanya berjarak 5 senti dari wajahnya.

“Menurutmu, lebih cantik aku atau…kau?…” Vivian kembali bertanya tanpa memperdulikan rasa ingin tahu Tiffany tentang pertanyaan pertamanya.

“A—aku…”

Tiffany memejamkan matanya. Tidak mau melihat wajah murka penyihir jahat itu usai ia memberikan jawaban. Namun Vivian masih tempak tenang. Wanita itu malah tersenyum. Namun siapa pun tahu kalau itu merupakan senyum yang menakutkan.

“Wae?…” Tanyanya lembut.

“Karena aku memiliki hati yang lebih baik darimu…”

“Aku sudah cukup baik untuk tidak membunuhmu saat ini, gadis bodoh!”

“Arrghhh!” Akar-akar itu menguatkan lilitan mereka hingga Tiffany kembali memekik kesakitan.

“Kembalilah ke bumi dan serahkan Pangeran padaku…”

“Tid-ak, akan per-nah…” Meski terbata, Tiffany tahu kalau Vivian mendengranya dengan sangat baik.

“Itu pilihanmu? Baik…” Vivian merentangkan tangannya dan mengadahkan kepalanya.

“Tetaplah seperti ini dan lilit tubuh gadis itu lebih kuat. Sihirku tidak akan terlepas sampai ada sebuah ketulusan dari hati yang paling mulia. Hahaha…”

Angin kencang melanda tempat itu hingga lukisan-lukisan kuno dan perabot tua serta usang diruang itu berjatuhan. Tawa wanita jahat itu menggema dan seketika lenyap. Meninggalkan Tiffany yang meringis kesakitan dan Si won yang sudah tidak sadarkan diri ditempatnya.

***Sifany***

Hap!

Jessica dan Yoona mendarat disebuah bukit hijau dan tinggi. Yoona hampir jatuh tersungkur jika Jessica tidak menahan tangannya. Yoona masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Beberapa detik yang lalu dia menghilang dan tiba dibukit tempat Tiffany dan Si won terakhir kali terlihat. Diatas bukit itu dia melihat sebuah pintu transparan yang terbuat dari kelopak bunga. Dan saat Jessica membawanya melewati pintu itu ia sampai ketempat ini. Sebuah negeri nan indah dengan bangunan modern dan megah. Juga dipenuhi oleh jutaan macam bunga dan sangat harum.

“Selamat datang di Flowerialand, Yoona-ssi…” Sambut Jessica.

“Mwo? Flowerialand? Tempat apa ini?…”

“Ini tempat tinggal kami. Lebih indah dari bumi, bukan?….” Yoona menelan ludahnya yang terasa kering. Sekali lagi diperhatikannya tempat dimana ia berpijak sekarang. Dia tidak sedang bermimipi, bukan?

“Kau pasti ingat ketika Si won Oppa memperkenalkan dirinya sebagai Pangeran…” Yoona menatap Jessica. Terkejut.

“Benar…”

“Dia adalah Pangeran negeri ini…”

“Mwo?…”

Jessica tertawa pelan. Dia maklum jika Yoona masih belum bisa percaya tentang semua ini sepenuhnya.

“Si won Oppa adalah seorang Pangeran serta putra dari Raja dan Ratu negeri ini. Dia tumbuh dengan budi pekerti yang baik, cerdas dan tampan. Wanita manapun akan jatuh cinta terhadapnya termasuk, Vivian…”

“Vivian?…” Tanya Yoona.  Merasa tak pernah mengenal nama tersebut. Dan kenapa Jessica mengatakan hal itu padanya?

“Ne, dia adalah penyihir jahat yang masih tersisa di negeri ini. Dia meminta Si won Oppa untuk menikahinya tapi Si won Oppa menolak. Walau bagaimana pun Si won Opp adalah seorang Pangeran dan calon Raja negeri ini.  Tentu dia tidak boleh sembarangan dalam memutuskan pendampingnya. Mereka akhirnya bertengkar dan saling adu kekuatan.  Tapi Si won Oppa kalah dan ia dikutuk menjadi sebuah boneka…”

“Dikutuk menjadi boneka?…” Jessica mengangguk.

“Hm, dan Tiffany-lah yang menyelamatkan Si won Oppa dari kutukan itu.,..”

Yoona terdiam. Sepertinya sekarang ia mengerti. Kenapa Si won bisa tinggal dirumah Tiffany. Serta kenapa Tiffany selalu tidak bisa memberikan boneka pangeran tampan yang ia janjikan pada Kyung san. Ia juga mulai percaya dengan semua penjelasan Jessica. Toh, dia juga sudah berada disini jadi dia tidak punya alasan untuk tidak percaya.

“Lalu, apa yang terjadi pada Fany Unnie?…”

“Si won Oppa mengajak Tiffany mengunjungi Flowerialand. Namun Vivian mendengar berita itu dan menculik mereka…”

“Jadi, dimana Fany Unnie sekarang? Kita harus menyelamatkannya, Jessica-ssi…” Pinta Yoona memohon. Suara Yoona bergetar. Ia ingin menangis. Benar firasatnya kalau Tiffany tengah dalam bahaya.

“Ne, itu pasti…” Jawab Jessica menenangkan wanita yang bersamanya tersebut.

“Tapi, bagaimana cara aku menolongnya. Aku, aku tidak bisa melakukan apa-apa…” Sesal Yoona.

Jessica tersenyum lembut lalu menyentuh bahu kanan Yoona.

“Kekuatan sihir jahat tidak selamanya dikalahkan oleh kekuatan sihir pula. Meski aku tidak tahu kenapa harus kau tapi aku yakin, hatimu yang terhubung dengan hati Tiffany pasti bisa menyelamatkannya…”

Yoona mencerna penjelasan Jessica dengan sangat baik.  Ya, apapun yang akan terjadi dia harus bisa menyelamatakan Tiffany dari penyihir jahat itu.

“Sekarang kita kemana?…”

Jessica mengarahkan pandangannya kearah selatan. Dibalik bukit tempat mereka berdiri sekarang, Yoona dapat melihat lembah curam dengan bangunan tua yang dipenuhi oleh aura mistik dan mencekam. Wanita cantik itu menelan ludah. Tiffany berada ditempat mengerikan itu?

***Sifany***

“Appa…”

Kyung san berlari mengejar Kyu hyun yang baru pulang dari kantor. Pria tampan itu tersenyum cerah dan dengan cepat menggendong putra tercintanya. Setelah seharian bekerja, kembali ke rumah adalah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika mendengar tawa putranya dan melihat senyum manis sang istri.

“Aigo, anak Appa sedang apa?…”

“Aku sedang main mobil-mobilan…”

Kyu hyun mengusap puncak kepala anaknya sayang. Kepalanya celinguk-celinguk untuk mencari keberadaan Yoona. Biasanya istrinya itu akan selalu ada untuk menyambutnya begitu pulang kerja. Tapi kemana wanita itu sekarang?

“Appa mencari Oemma?…” Kyung san bertanya.

“Eoh. Kau melihatnya?…” Kyu hyun bertanya sembari membawa Kyung san masuk.

“Oemma pergi ke langit…”

Kyu hyun tertawa mendengar jawaban Kyung san. Sepertinya anak itu terlalu banyak menonton film atau mendengar cerita dongeng.

“Benar, Appa. Seorang Auntie cantik datang dari langit. Dia meminjam Oemma untuk menyelamatkan Fany Auntie…” Langkah Kyu hyun terhenti begitu mendengar nama Tiffany disebut. Ditatapnya mata Kyung san lekat.

“Kyung san-ah, jangan berbohong pada Appa…”

Anak itu menggeleng.

“Aniyo, Appa. Auntie cantik bilang, dia meminjam Oemma sebentar untuk menyelamatkan Fany Auntie. Kalau sudah selesai dia akan mengantar Oemma dan Fany Auntie kembali. Aku juga dapat permen ini…”

Kyung san menunjukkan lollipopnya yang tak kunjung habis itu. Sementara Kyu hyun tampak membatu ditempatnya. Jujur, dia merasa ragu dengan kebenaran dari cerita anaknya. Tapi apa mungkin anak sepolos dan sesuci ini berbohong?

***Sifany***

Yoona terus mencengkram tangan Jessica ketika mereka memasuki kastil tua penyihir yang dipenuhi sarang kelelawar itu. Kastil itu terlihat sangat menakutkan sekaligus mengkhawatirkan karena dimakan usia. Belum lagi susananya sangat sunyi mencekam membuat bulu kuduk Yoona merinding.

“Kenapa sepi sekali?…”

“Pengikutnya sudah musnah beberapa puluh tahun yang lalu. Hanya tersisa dia dan burung gagak sialannya itu…” Jessica menyingkirkan sarang laba-laba dihadapan mereka. Yoona ikut membantu agar mereka bisa melewati lorong gelap ini dengan cepat.

“Dimana penyihir itu?…”

“Aku disini, manis…”

“Argghhh!”

Yoona memekik histeris ketika wajah seorang wanita muncul dihadapannya kemudian menghilang. Menyisakan tawanya yang masih menggema dimalam yang gelap gulita. Yoona makin menggenggam lengan Jessica erat.

“Kau tenang saja, tidak perlu panik…”

Ruangan gelap itu tiba-tiba berubah terang. Lilin-lilin besar yang berjejer disepanjang dinding ruangan itu menyala. Sesosok wanita berjubah hitam muncul dan duduk dikursi kebesarannya. Ternyata sekarang mereka tengah berada diruangan utama bangunan itu.

“Selamat datang di istanaku yang indah Jessica dan, Yoona-ssi?….” Sambutnya dengan tawa yang menakutkan bagi Yoona. Jessica membisikkan sesuatu pada Yoona.

“Cepat cari Tiffany, aku yang akan mengurus penyihir ini…”

Yoona mengangguk cepat dan segera berlari menuju lorong terdekat. Dia tidak tahu harus kemana namun yang jelas ia harus menemukan Tiffany secepatnya.

Cahaya panas yang akan menghantam tubuh ramping Yoona digagalkan Jessica hanya dengan mengibasakan rambut blondenya. Wajah penyihir itu menegang marah.

“Kau pasti penasaran shampoo apa yang ku pakai?…” Tebak Jessica memainkan rambutnya.

“Mianhe, tapi kami tidak menjualnya. Shampoo itu hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan. Jika kau menggunakannya, aku yakin kau akan menciptakan angin topan besar yang bisa menghancurkan sebagian negeri ini…” Vivian tersenyum kecut mendengar ocehan yang menurutnya sangat tidak penting itu.

“Baiklah, kenapa kau mengunjungi kastilku, Jessica-ssi?…” Vivian bertanya sembari mengelus burung gagak kesayangannya.

“Bohong jika aku berkata kalau aku merindukanmu. Jujur saja, awalnya aku sama sekali tidak pernah bermimpi untuk melihat wajah jelekmu itu. Tapi sepertinya kau sangat tertarik padaku. Kau selalu membuat masalah dan itu membuatku geram…”

“Hahaha…” Tawanya kembali menggema membuat kuping Jessica sakit.

“Ne, kau benar. Aku mungkin tertarik padamu tapi, jujur saja, aku lebih tertarik pada kakak sepupumu…”

Jessca menjilat bibirnya. Ia mengangguk.

“Kau memang berhak untuk bermimpi tapi sepertinya mimpi itu hanya akan menyiksamu. Kau tahu, dilihat dari segi manapun kau tidak pantas sama sekali untuk mendampingi Si won Oppa memimpin negeri ini…”

Mata Vivian berkilat merah tanda ia marah. Dihentakkannya tongkat yang hampir sama tingggi dengan tubuhnya itu hingga bangunan tua itu bergetar.

Yoona yang tengah  mencari Tiffany disuatu ruangan di kastil itu ikut terkena dampaknya. Sebagian atap tua itu rubuh. Beruntung dia bisa menghindar dengan cepat dan tiba disebuah ruangan yang tampak sangat kotor. Perabot yang sudah berusia ratusan tahun sepertinya sudah sangat mengkhawatirkan. Termasuk lukisan-lukisan tua yang ada didinding ruangan itu sudah berjatuhan.

Yoona merasa kalau dia harus keluar dari tempat ini secepatnya agar ia bisa menemukan Tiffany. Namun matanya terpaku pada sebuah kursi diruangan itu. Disana, seorang wanita tampak duduk kesakitan dengan akar-akar sebesar pergelangan tangan mengikat kuat tubuhnya.

“Unnie!!!” Yoona memekik histeris saat menyadari kalau orang tersebut adalah Tiffany.

“Hngg…Yoong…” Meski sangat lemah tapi Tiffany masih bisa membuka matanya saat mendengar suara Yoona. Ia tidak bisa mengungkapkan betapa senangnya ia ketika matanya bisa melihat Yoona ada dihadapannya.

“Unie, aku akan menol-, Akh!”

Yoona terpental begitu tangannya menyentuh akar-akar yang mengikat Tiffany. Dia menyentuh punggungnya yang terasa retak saat menghantam dinding. Yoona menangis. Tapi ia sadar kalau ia tidak boleh lemah. Ia harus bisa menolong Tiffany dan melepasnya dari lilitan akar-akar itu. Tapi bagaimana caranya?

***Sifany***

Braak!

Kyu hyun menggebrak meja. Wajahnya memerah menahan amarah. Apa yang baru ia dengar dari pria dihadapannya itu membuat emosinya makin memuncak.

“Hyung, jadi maksudmu anakku berbohong?…” Tanya Kyu hyun menatap tajam Lee Dong wook. Detektif dari kepolisian Seoul itu adalah orang yang menangani kasus menghilangnya Tiffany dan Si won.

“Aku mengerti kalau kau  cemas dengan keadaan Yoona dan Tiffany. Tapi tidak seperti ini, Kyu…”

“Memangnya kenapa dengan ku? Kyung san melihat sendiri kalau wanita itu turun dari langit dan langsung membawa Yoona bersamanya!”

Dong wook menghela nafas dan bersandar disofa.

“Baiklah, kalau itu mau mu. Tapi keterangan dari Kyung san belum cukup. Anak buahku mendapat keterangan dari warga disekitar bukit tak jauh dari kompleks apartemen Tiffany. Dia melihat Tiffany dan Si won menuju kesana dan menghilang. Kalau yang dikatakan Kyung san benar, kemungkinan wanita itu juga membawa Yoona kesana…”

“Kalau begitu cepat cari disekitar bukit itu…”

“Kami juga sudah menyisir tempat itu sejak 3 hari yang lalu tapi percuma. Jangankan Yoona, Tiffany dan Si won saja tidak ditemukan…”

Kyu hyun menangkup wajahnya. Dia sangat mencemaskan keadaan Yoona sekarang. Dong wook mendekat lalu menepuk bahu sahabatnya pelan. Mencoba memberinya sedikit ketenangan dan kekuatan.

“Gwenchana, aku yakin kalau mereka baik-baik saja…”

***Sifany***

“Hei, tidakkah menurutmu kau itu memalukan? Dimana-mana orang memiliki tongkat sihir tidak lebih besar dari sumpit. Coba lihat tongkatmu, tidakkah itu terlalu berat dan merepotkan? Ah, aku ingat. Kau mencuri tongkat itu dari gurumu lalu membunuhnya, bukan? Aigo, kau memang tidak bisa melakukan apapun selain hanya kejahatan…”

Vivian menghentakkan tongkat panjangnya dengan kesal.

“Dan coba lihat pakaianmu. Apa kau sama sekali tidak mengerti fashion? Kau selalu mengenakana baju yang sama disetiap hari dan musim…”

“Tutup mulutmu, bodoh! Aku tidak butuh komentarmu!” Jessica terkikik ditempatnya.

“Mianhe, aku hanya mengeluarkan pendapatku saja. Dan kau bisa berkonsultasi denganku untuk dua masalah itu…”

“Tsk, aku seharusnya menutup mulut cerewetmu lebih dulu!” Jessica berkacang pinggang sebal.

“Mwo? Ya, kau pikir kau siapa? Sebaiknya kau menyerah saja. Kau tidak takut hanya berjuang seorang diri? Penghuni Flowerialand ini sudah cerdas dan tidak ada yang ingin menjadi budakmu lagi…”

“Itu karena Ratu jelek itu membatasi wilayahku dan melarang penduduk mendekat…”

“Ya! Berani sekali kau menghina Yang Mulia Ratu. Ratu kami memiliki kecantikan yang sempurna. Dan kenapa kau tidak pernah muncul dihadapannya?..” Tanya Jessica memandang remeh penyihir itu.

“Itu karena matamu akan rusak saat melihat kecantikannya dan paru-parumu akan akan hancur saat mencium aroma tubuhnya!”

“Brengsek!”

Vivian mengarahkan tongkatnya kearah Jessica. Reflek, Jessica meraih jepit rambut dikepalanya dan melemparkannya kearah cahaya yang dipancarkan Vivian. Tak mau kalah cepat Vivian pun mengayunkan tongkat miliknya untuk menyingkirkannya ke arah lain.

“Kau pikir aku tidak tahu kalau jepit rambutmu itu beracun?…”

Jessica tersenyum kecut.

“Tapi setidaknya burung kesayanganmu sudah terkapar tak berdaya…”

Vivian sontak menoleh kearah burung kesayangannya. Hewan yang selalu setia bersamanya itu sudah mati mengenaskan karena racun dari jepit rambut Jessica.

Aura hitam mengeliling tempat itu. Suara gemuruh terdengar sangat menakutkan dilangit malam. Bahkan kawanan serigala dihutan pun saling mengaung. Wajah Vivian terlihat sangat murka dan cukup menakutkan bagi Jessica. Tapi ia tidak boleh panik. Dari apa yang ia pelajari disekolahnya, Vivian selalu mengutuk musuhnya jika ia sudah sangat murka. Dan Jessica tidak ingin menjadi yang berikutnya. Cukup Si won menjadi yang terakhir.

***Sifany***

Yoona masih terus memikirkan cara untuk melepaskan Tiffany dari akar-akar yang melilit tubuh wanita itu. Ia tidak sanggup melihat Tiffany harus merasakan sakit lebih lama lagi. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa jika ketika menyentuh benda itu saja tubuhnya seperti tersengat dan terpental ke dinding.

“Unnie, jebal. Bertahanlah…” Pinta Yoona memohon. Andai ia bisa melakukan sihir seperti Jessica, dia pasti sudah membebaskan Tiffany sejak tadi.

Yooan terdiam sesaat. Ya, benar. Jessica, gadis itu pasti bisa menolongnya.

Yoona perlahan mendekati Tiffany. Diperhatikan wajah Tiffany yang tampak sangat lemah dan pucat. Dia benar-benar tidak tega.

“U-unnie…” Yoona menghapus air matanya yang jatuh dengan punggung tangannya. Sebisa mungkin ia tidak ingin menangis walau sebenarnya ia sudah melakukannya sejak tadi.

“Tunggulah disini sebentar. Aku akan mencari Jessica untuk menyelamatkanmu. Ku mohon, Unnie, bertahanlah sampai aku kembali…”

Bahu Yoona bergetar hebat. Air matanya mengalir halus dipipi dan jatuh. Tetesan air mata tulusnya tiba-tiba bercahaya dan jatuh tepat mengenai akar-akar yang melilit tubuh Tiffany. Dan seketika, akar-akar itu lenyap.

Yoona membekap mulutnya tak percaya. Dan ia menangis kencang ketika Tiffany terkulai lemah dilantai.

“Unnie!!!”

***Sifany***

Jessica masih berurusan dengan penyihir licik itu. Jujur saja, kekuatan penyihir itu lebih besar darinya. Beruntung, Jessica memiliki kemampuan otak yang cerdas sehingga ia bisa menghindar. Tapi kalau terus seperti ini dia juga kewalahan dan akan kalah. Lalu dia akan dikutuk oleh penyihir itu?

Jessica menerawang untuk membayangkannya sejenak. Dia tidak mau kalau ia sampai dikutuk lalu dibuang ke planet lain. Jika Vivian membuangnya ke bumi seperti Si won, akan banyak kesempatan sampai dia ditemukan oleh pria tampan. Tapi jika ia dibuang ke planet lain seperti Mars atau bahkan Pluto, siapa yang akan menemukannya? Alien? Jessica menggeleng ngeri saat membayangkannya.

“Jessica-ssi, awas!”

Teriakan Yoona membuat Jessica tersadar dan dengan cepat menghindari serangan Vivian. Ia tersenyum lega saat melihat Yoona tengah memapah Tiffany yang tampak masih lemah.

`Ok, sekarang tugasku melenyapkan penyihir itu dan mencari Si won Oppa` Pikir Jessica.

“Kau akan menerima akibatnya karena sudah mengacaukan rencanaku!” Murka Vivian.

“Rencanamu? Rencana yang mana? Ingin menikahi Si won Oppa? Ck, itu hanya mimpi yang tidak akan pernah kau  capai…” Jessica menatap Vivian dengan senyum yang mengejek.

“Sepertinya aku pernah mendengar cerita dari Guruku. Kau sebenarnya tidak hanya mengincar Si won Oppa. Dari ratusan tahun lalu kau sudah mengincar calon raja negeri ini. Mulai dari Leluhur, sang Raja yang sekarang sampai Si won Oppa. Tapi sayang sekali tidak satu pun dari mereka yang tertarik denganmu, hahaha…”

“Sialan!” Erangnya marah. Jessica tersenyum dan memainkan rambutnya.

“Wae? Kau ingin mengutukku? Menjadi kodok, monyet, atau boneka? Aku boleh request tidak? Dibumi ada boneka bernama Barbie dan aku sedikit mirip dengannya. Kalau kau ingin mengutukku, jadikan saja aku seperti boneka Barbie itu…”

WUSSH!

Yoona memeluk Tiffany erat ketika angin kencang melanda tempat itu. Vivian mengayunkan tongkatnya ke udara. Cahaya kemerahan mengelilinya dan siap untuk diarahkannya pada Jessica. Tak mau kalah cepat, Jessica membalas serangan itu.

Jessica sangat kewalahan. Perutnya terasa sangat mual saking sakit dan pusingnya saat energynya terserap oleh kekuatan yang ia keluarkan. Setelah cukup lama saling bertahan akhirnya keduanya terpental.

“Akh…”

Jessica memegang dadanya yang terasa sesak ketika kekuatan Vivian menghantam tubuhnya.Terlebih dengan Vivian. Wanita itu terlihat mengerang kesakitan sambil memegang dadanya. Jessica menggunakan kekuatan dari ketenangan yang ia pelajari melalui latihan yoga rutin. Meski energynya ikut terserap namun hal itu mampu menghisap sebagian energy musuhnya.

“Aish!”

Jessica bangkit dengan kesal. Dia tidak tahu kalau rasanya akan sesakit ini. Untung saja ia masih kuat untuk berdiri. Jessica mengarahkan pandangannya karena suasana mendadak hening. Ia menutup matanya ketika seberkas cahaya yang menyilaukan mata menerangi tempat itu. Tiffany dan Yoona saling pandang dengan gugup dan penuh ketakutan.

Mata foxy Jessica perlahan terbuka. Ia terdiam untuk beberapa detik. Berusaha mengenal siapa sosok yang ada dihadapannya sekarang. Seorang wanita tua dengan tubuh kurus serta kulit keriput yang kusam. Dia adalah Vivian. Energynya yang hilang menyebabkan dirinya berubah ke wujud  yang sebenarnya.

Jessica menutup mulutnya. Dia tidak tahu apakah sekarang ia harus memekik ketakutan atau tertawa sepuas-puasnya.

Jessica perlahan mendekat.

“Vivian? I-itu kau?…” tanyanya pelan. Mata wanita itu menatapnya tajam penuh dendam.

Jessica tertawa puas ditempatnya.

“Ini rupa aslimu? Omo! Aku tidak tahu kalau kau ternyata semenakutkan ini. Ya, kalian lihat dia?…”

Jessica masih asyik dengan tawanya. Tiffany dan Yoona tidak bisa untuk tertawa. Ini sama sekali tidak lucu bagi mereka. Mereka sangat ketakutan sekarang. Membayangkan kekuatan penyihir tua itu saja mereka sudah tidak sangggup apalagi setelah melihat wajah aslinya.

“Haha, kau jauh berbeda dengan Vivian milik temanku…”

Vivian menghentakkan tongkatnya marah. Dia tahu siapa yang dimaksud. Seorang penari modern Flowerialand bernama Hyo yeon. Ck, dia disamakan dengan hewan peliharaan?

“Gadis sialan! Kau akan menerima akibatnya!”

Wusshhh

“Wahai tongkat sihirku, jadikan gadis dihadapanku ini menjadi boneka yang paling menakutkan yang pernah ada!”

Jessica sangat ketakutan mendengar ucapan penyihir itu. Dia ingin bergerak untuk menghindar tetapi entah kenapa ia tidak bisa. Kakinya seolah melekat pada lantai berdebu itu.

“Andwae!”

Yoona dengan cepat meraih benda apa saja didekatnya untuk menghalangi sihir Vivian mengenai Jessica. Beruntung, yang diraihnya adalah sebuah cermin. Sebuah keajaiban pun terjadi, sihir yang akan diberikan pada Jessica itu mengenai cermin. Kemudian memantul dan kembali kepada pemiliknya.

“Tidaaaakkk!”

Erangan memilukan itu adalah suaran terakhir Vivian. Ia terlambat mengelak karena tidak menyadari tindakan Yoona. Untuk beberapa saat tempat itu sunyi senyap.  Tiffany juga menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana Vivian tersungkur kesakitan sebelum akhirnya berubah wujud menjadi sebuah boneka yang sangat menyeramkan. Jessica tersenyum sinis.

“Ck, memang siapa yang ingin mengambil boneka jelek sepertimu…”

Jessica mengambil botol parfum dari tasnya. Disemprotkannya cairan berwarna gold dengan butiran krystal halus itu diatas boneka Vivian. Dalam sekejap boneka itu berubah menjadi butiran pasir halus dan menghilang. Lenyap tanpa jejak sedikit pun.

Jessica tersenyum puas dan melihat penampilan dirinya dicermin.

“Aish, dia merusak tatanan rambutku…” Gerutu Jessica. Dia menyimpan  parfumnya ketika sadar Yoona dan Tiffany mendekat.

“Tiffany, kau terlihat lemah. Apa kau baik-baik saja?…”

Tiffany mengangguk pelan.

“Dimana Si won?..”  Tanya Tiffany lemah. Jujur, dia sangat kwahatir dengan keadaan pria itu sekarang.

“Aku juga tidak tahu. Sebaiknya kita cari sekarang…”

***Sifany***

Jessica menerangi jalan mereka dalam gelapnya kastil dengan lipstiknya sebagai lightstik. Tiffany dituntun oleh Yoona mengikuti kemana langkah Jessica. Mata mereka terus bergerak liar. Mencoba mencari tahu dimana Si won serta waspada terhadap serangan yang bisa saja datang tanpa diduga. Tapi sepertinya mereka tidak perlu menghawatirkan apapun kecuali Si won sebab penyihir itu sudah musnah untuk selamanya.

“Disini…” Seruan Jessica menggema. Tiffany mempercepat langkah kakinya meski harus dengan susah payah.

“Hati-hati, Unnie…”

Yoona dengan hati-hati menuntun Tiffany menuju sebuah ruangan yang baru dimasuki Jessica. Disana mereka bisa melihat Si won yang sudah tidak sadarkan diri disebuah peti kaca. Mereka mendekati kaca yang masih memiliki kekuatan sihir itu.

“Sepertinya Penyihir sialan itu melumpuhkan semua organ tubuh Si won Oppa. Dan well, sihir yang ia tanamkan pada kaca ini tidak bisa ku lepaskan…”

Jessica pasrah. Dia tidak sehebat itu sampai bisa melakukan apapun yang ia mau. Soal musnahnya Vivian, itu hanya suatu keberuntungan. Dan juga berkat Yoona yang sudah membantunya.

Tiffany menelan ludah. Sesaat kemudian matanya beradu pandang dengan Yoona. Yoona tersenyum lembut lalu mengusap punggung Tiffany untuk memberinya kekuatan.

“Lalu, bagaimana  cara kita menyelamatkannya, Jessica-ssi? Jebal, selamatkan Si won…” Pinta Tiffany dengan air mata yang berderai membuat Yoona ikut menangis karenanya.

Jessica terdiam. Dia juga sangat ingin. Namun dia belum pernah mengalami hal seperti yang terjadi hari ini. Jadi dia bingung harus berbuat apa.

“Tunggu, sepertinya aku pernah mendengar tentang bunga kehidupan…” Seru Jessica seraya mengingat. Gadis itu menjentikkan jarinya.

“Ne, benar. Guru disekolah sihirku pernah bercerita tentang bunga itu. Bunga yang sangat langka dan hanya tumbuh satu dalam 100 tahun di Flowerialand. Bunga itu mampu menyembuhkan penyakit apa saja bahkan bisa menghidupkan orang yang sudah mati…”

Tiffany menatap Jessica penuh harap.

“Katakan padaku dimana bunga itu, Jessica-ssi. Aku akan menemukannya untuk Si won…”

Wajah Jessica berubah sendu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya.

“Tapi, ada yang harus kau korbankan jika kau ingin mengambilnya…”

“N-ne? Maksudmu?….” Tiffany menatap Jessica tak mengerti. Begitu pula dengan Yoona.

“Selalu ada yang harus kita korbankan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan jika kau mengambil bunga itu untuk Si won Oppa, maka…” Jessica menatap Tiffany yang tengah menunggu jawabannya.

“Kalian tidak akan bisa bertemu lagi…”

Tiffany tidak mampu berbuat apa-apa ketika kalimat itu keluar dari mulut Jessica. Bahkan untuk menerima oksigen saja ia sulit. Tidak bisa bertemu Si won lagi?

Tifffany mendekati Si won yang terbaring lemah dalam peti kaca itu. Air matanya mengalir deras. Sanggupkah ia jika tidak akan bertemu dengan Si won lagi? Tapi apa yang harus ia lakukan? Dia juga tidak ingin melihat  Si won hanya terbaring tak berdaya seperti ini.

“Baiklah, kalau begitu. Aku akan mengambil bunga itu agar Si won selamat…”

“Unnie…” Yoona memeluk Tiffany yang tampak berusaha tegar.

“Dia lebih baik hidup dari pada harus seperti ini selamanya, bukan? Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja…”

Tiffany memaksakan sebuah senyuman diwajah pucatnya. Yoona makin memeluknya erat.

“Baiklah. Kau sudah membuat keputusan. Sekarang kita harus mencari bunga itu. Namun sebelum itu, kita harus meminta bantuan seseorang…”

“Siapa itu, Jessica-ssi?…” Tanya Yoona tak habis pikir. Kenapa banyak sekali aturan hanya untuk mengambil bunga di negeri bunga?

“Bunga-bunga di negeri ini dijaga dengan baik, Yoona-ssi. Dan kita harus menemui Tae yeon untuk mengetahui dimana bunga itu berada…”

“Tae yeon-ssi?…”  Ulang Tiffany.

“Ne, kau mengenalnya?…”  Tanya Jessica.

“Eoh, Si won mengenalkanku padanya ketika aku pertama kali datang kesini…” Jessica dan Yoona mengangguk paham.

“Baiklah, kalau begitu sekarang kita harus mencari Tae yeon. Kalian siap?…”

Tiffany mengangguk yakin. Begitu pula Yoona.

***Sifany***

Jessica memencet bel berbentuk bunga tulip yang tertempel didinding rumah keluarga Kim. Sosok yang mereka butuhkan itu pun muncul hanya dalam hitungan detik.

“Omo, Jessica? Apa yang membawamu kemari?…”  Tae  yeon bertanya sembari memperhatikan Tiffany yang berdiri dibelakang Jessica dengan seorang wanita lain disampingnya.

“Hai, Tiffany-ssi, kita bertemu lagi. Bagaimana kabarmu?…” Tiffany tersenyum kecil.

“Ne, Tae yeon-ssi. Aku…tidak begitu baik…” Tae yeon menaikkan sebelah alisnya.

“Wae?…” Tanyanya ingin tahu. Jessica menjawabnya.

“Si won Oppa diculik oleh Vivian…” Tae yeon membuka mulutnya tak percaya.

“M-mwo? Lalu, dimana Pangeran sekarang? Apa pihak istana sudah tahu…”

“Si won Oppa ada dikastil Vivian, dan  ku harap berita ini tidak sampai ke istana…” Terang Jessica. Ratu sudah menelfonnya saat mereka dalam perjalanan kerumah Tae yeon. Dan Jessica mengatakan kalau Si won, Tiffany, dan dia pergi ke sebuah pesta seorang teman dan akan menginap. Jessica bukannya senang untuk berbohong tapi akan sangat sulit jika pihak istana tahu tentang berita ini.

Tae yeon mengangguk paham. Ketika Si won dikutuk dan dibuang ke bumi oleh Vivian dulu saja pihak istana mengatakan bahwa Si won sedang belajar disuatu tempat. Bukannya ingin berbohong, Raja hanya tidak ingin penghuni Floweriland lainnya merasa cemas. Tae yeon bisa mendapat kabar itu karena dia berteman baik dengan Jessica dan Appanya juga salah satu menteri di negeri bunga ini.

“Vivian sudah berhasil dimusnahkan tapi sihir yang telah ia lakukan pada Si won Oppa tidak bisa lepas. Kecuali dengan bunga kehidupan. Kami mencarimu karena kami yakin kau tahu dimana bunga itu tumbuh karena Appamu adalah orang yang bertanggung jawab melindungi bunga-bunga dinegeri ini…”

Tae yeon menggigit bibir bawahnya. Menimbang apakah ia akan mengatakannya pada Jessica atau tidak. Dia bukannya tidak ingin membantu Si won tapi bunga itu sangat rahasia karena banyak yang mengincarnya.

“Tae yeon-ssi, jebal. Kita harus menyelamatkan Si won…” Tae yeon menatap tangan hangat Tiffany yang menggenggam lengannya. Gadis cantik itu tersenyum lembut.

“Tentu. Jika itu yang bisa ku lakukan untuk menyelamatkan Pangeran…” Tiffany tersenyum bahagia begitu pula dengan Jessica dan Yoona.

***Sifany***

Mereka mengendarai dua ekor unicorn bersayap milik Tae yeon menuju tempat dimana bunga tersebut tumbuh. Dua hewan berwarna putih itu mengepakkan sayap mereka dan terbang anggun bersama awan-awan putih yang halus. Membawa Tiffany dan Tae yeon serta Jessica dan Yoona menuju tempat paling akhir dari negeri ini. Dari atas ketinggian, Yoona terus mengagumi negeri Floweriland itu. Jessica dan Tae yeon tertawa melihatnya.

“Indah, bukan? Yoona-ssi?…”

“Ah, ne. Tae yeon-ssi. Aku tidak pernah menyangka akan mengunjungi tempat seindah ini…” Jessica mengangguk mengerti.

“Memang sulit untuk dipercaya tapi semua ini benar-benar ada…”

“Bunganya disana…”

Tiffany mengarahkan pandanganya kearah yang ditunjuk Tae yeon. Bunga itu tidak lebih besar dari telapak tangan. Bentuknya bulat berongga dengan warna putih. Yang membuatnya berbeda dengan bunga lainnya karena bunga itu bercahaya terang  menyilaukan mata.

“Indah sekali…” Yoona berguman kagum. Bahkan dengan jarak sejauh ini mereka bisa mencium aroma harumnya.

Dua Unicorn itu mendarat diatas padang bunga yang luas. Mereka dengan segera turun dan melangkah lebih dekat dengan bunga itu.

“Apa kita boleh mengambilnya sekarang?…” Jessica bertanya pada Tae yeon.

“Ne, tapi tidak semuanya boleh masuk.  Kalian melihat selaput transparan yang mengeliling bunga itu?…” Tiffany mempertajam penglihatannya. Ada lingkaran dengan diameter sekita 3 meter melindungi bunga itu.

“Apa bunga itu memiliki penjaga?….” Tanya Tiffany.

“Hm, tapi hanya selaput itu yang menjaganya. Hanya orang yang benar-benar berniat tulus yang bisa memasukinya. Jika Tiffany-ssi benar-benar berniat untuk menyelamatkan Pangeran, maka dia bisa masuk dan mengambil bunga itu dengan selamat tapi jika tidak, kau tidak akan kembali, Tiffany-ssi…” Tiffany menelan ludahnya. Tegang. Yoona ikut merinding dibuatnya.

“Dan tentu saja, kau tidak akan bertemu Pangeran lagi setelah ini…” tambahnya. Yoona menelan ludah. Digenggamnya tangan Tiffany dengan erat.

“Unnie…” Panggilnya lirih. Walau bagaimana pun dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Tiffany.

“Aku melakukannya dengan hatiku, Yoong. Jangan khawatir, aku pasti baik-baik saja…” Tiffany melepaskan tangannya dari Yoona. Secara perlahan, ia mulai melangkah mendekati bunga yang akan menyelematkan Si won dari pengaruh sihir Vivian tersebut.

“Hati-hati, Unnie…” Jessica dan Tae yeon memeluk Yoona untuk menenangkannya.

“Tidak perlu takut, anggap saja kalau sekarang Tiffany hanya mengambil mainannya dalam gelembung besar…” Hibur Jessica. Untuk selanjutnya, tiga wanita itu hanya terdiam sambil terus mengawasi Tiffany yang mulai memasuki area bunga itu.

Seperti yang telah dijelaskan oleh Tae yeon, Tiffany bisa melewati pelindung bunga tersebut dengan lancar. Selangkah lagi Tiffany bisa menggapai bunga yang terus bersinar itu dengan tangannya. Dengan hati-hati, Tiffany meraih tangkai hijaunya. Ketika ia berhasil menggenggamnya, bunga itu sudah sepenuhnya berada ditangannya tanpa harus bersusah payah ia cabut.

Matanya Tiffany basah sebelum akhirnya air matanya menetes jatuh. Kemudian Tiffany menangis tersedu-sedu. Perasaan bahagianya bercampur dengan kesedihan sekaligus. Tubuhnya merosot jatuh karena mulai saat ini ia tidak akan bertemu dengan Si won lagi. Bulir-bulir air mata Tiffany mengalir jatuh dan berkumpul pada sisa-sisa akar bunga yang tertinggal dilubang bekas bunga tersebut tumbuh.

Tiffany meninggalkan tempat itu dengan langkah lemah. Jessica, Yoona dan Tae yeon dengan cepat menuntun Tiffany untuk menaiki unicorn kembali dan mulai meninggalkan tempat itu. Tae yeon yang sempat melihat cahaya disekitar bunga kehidupan itu tumbuh menoleh untuk mencari tahu apa yang terjadi. Sesaat kemudian dia menatap Tiffany yang duduk dihadapannya dengan senyum bahagia.

***Sifany***

KRING!

“Yeoboseyo?…” Kyu hyun meraih cepat gagang telfon didekatnya.

“Kyu hyun-ah, ini aku, Dong wook…”

“Ne, Hyung. Kau sudah menemukan Yoona, Tiffany dan Si won?…” Tanya Kyu hyun cepat. Dia sudah menunggu berita ini empat hari penuh.

“Eoh, tapi kami hanya menemukan Yoona dan Tiffany, tanpa Si won…”

“Wae?..”

“Kami juga masih mencari tahu. Sekarang sebaiknya kau kerumah sakit karena kami dalam perjalanan kesana. Kau tidak perlu cemas. Mereka baik-baik saja…”

Kyu hyun mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya. Sangat lega karena dua wanita itu baik-baik saja.

“Ne, hyung. Aku berangkat sekarang juga dan terima kasih sudah menemukan mereka…”

“Itu sudah tugasku, Kyu. Tidak perlu berterima kasih…”

Kyu hyun tersenyum hangat penuh terima kasih. Walau Dong wook tidak bisa melihatnya tapi ia yakin kalau sahabatnya itu bisa merasakannya.

“Appa…” Kyu hyun meletakkan gagang telfonnya ketika Kyung san berlari kearahnya.

“Appa, aku dapat permen lagi…”

Kyu hyun memperhatikan permen yang ditunjukkan Kyung san. Sama persis dengan permen yang diterima Kyung san dari wanita asing yang katanya berasal dari langit itu.

“Darimana kau mendapatkan permen ini, sayang?…”

“Auntie cantik memberikannya padaku…”

“Mwo?…”

“Tadi aku sedang bermain dengan mobilku di teras. Auntie cantik  itu datang lagi. Dia bilang terima kasih sudah meminjamkan Oemma. Auntie itu bilang lagi, kalau Oemma dan Fany Auntie baik-baik saja. Karena aku jadi anak baik dan tidak nakal, Auntie cantik memberiku permen lagi…”

Kyu hyun yang mendengar penjelasan Kyung san dengan cepat berlari menuju beranda samping rumahnya. Pandangan matanya yang basah menatap langit cerah sore itu.

“Siapapun kau, terima kasih sudah menjaga dan mengembalikan Yoona juga Tiffany…”

***Sifany***

Tiffany menjalani hari-harinya seperti biasa. Seperti sebelum Si won muncul dalam kehidupannya. Tidak ada lagi si pangeran pengganggu yang dulu ia benci. Namun jelas, Tifffany merasa sangat kehilangan sosok baik dan tampan itu.

Tiffany memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Yoona. Hari ini dia berkunjung untuk memberikan boneka pangeran yang ia janjikan pada Kyung san. Tiffany membuat sendiri boneka itu dengan tangannya. Jadi, boneka itu adalah salah satu karyanya yang paling berkesan.

“Fany Auntie datang!”

Kyung san melompat-lompat riang begitu Tiffany masuk usai dibukakan pintu oleh Yoona. Wanita cantik itu tertawa dan langsung memeluk anak tampan itu.

“Aigo, Kyung san-ah. Auntie merindukanmu…”      Ungkap Tiffany manja dan mengerucutkan bibirnya.

“Jjinja? Auntie merindukanku?…” Tanyanya senang. Tiffany mengangguk.

“Kalau begitu aku akan mencium Auntie. Cup!”

Tiffany terkejut ketika anak itu mencium bibirnya. Tapi tak lama kemudian ia tertawa.

“Aigo, kau manis sekali…” Tiffany mencubit pipi Kyung san gemas. Anak itu tertawa.

“Appa selalu mencium Oemma jika Appa bilang dia merindukan Oemma…” Ucapan polosnya membuat tatapan tajam Tiffany dan Yoona mengarah pada sosok Kyu hyun yang baru muncul. Kyu hyun menatap heran dua orang yang tengah menatapnya itu.

“Waeyo?…” Tanyanya yang memang tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

Tiffany dan Yoona memilih diam dan tidak melanjutkannya. Kyu hyun pun hanya mengangkat bahu dan bergabung disofa yang sama dengan Yoona.

“Auntie, mana bonekanya?…”

“Oh, ini…”

Tiffany menyerahkan tas ditangannya. Kyung san menerimanya dengan senang hati. Dikeluarkannya boneka itu dan berseru senang.

“Tampan sekali, Auntie. Seperti Pangeran Ahjussi…”

Yoona dan Kyu hyun tertawa mendengarnya.

“Sayang, kalau Pangeran ya, pengeran saja, kalau Ahjussi ya, Ahjussi saja. Tidak ada Pangeran Ahjussi…” Ucap Kyu hyun diselingi tawanya. Kyung san mengangguk paham dan mulai asyik bermain dengan boneka Pangeran barunya itu.

“Kenapa Unnie membuat boneka persis seperti Si won Oppa?…” Tiffany yang tengah asyik memperhatikan Kyung san bermain pun menoleh.

“Ne? Bukankah awalnya aku memang ingin memberikannya boneka  itu?…” Balas Tiffany.

“Jjinja?…” Yoona bertanya dengan nada menggoda lalu dengan jahil mencolek pinggang Tiffany.

“Aku tahu itu hanya alasan. Unnie merindukannya, benarkan?…” Yoona terus menggoda. Tiffany menghela nafas.

“Kyu, suruh istrimu itu diam dan berhenti menggodaku…”

“Wae? Yang dia katakan benar, bukan? Kau merindukan Pangeran…”

Tambah kyu hyun membuat kepala Tiffany makin pusing. Bukannya membantu pria itu malah memperparah suasana. Kyu hyun sudah mendengar semua tentang Si won dan Flowerialand. Walau rasanya semua itu mustahil tapi ia percaya karena Yoona sendiri yang mengalami dan menceritakan semua itu padanya.

“Tidak perlu berbohong, Unnie. Aku sudah mendengar dari Sunny Unnie kalau dikantor Unnie selalu tidak bisa berkonsentrasi penuh…”

“Mwo?…”

“Su ho juga mengakatan kalau Unnie banyak melamun ketika mengunjungi pabrik…”

`Karena disanalah aku menemukannya` batin Tiffany.

“Kau tidak perlu memikirkannya, Fany-ah. Jika kalian memang berjodoh semua akan baik-baik saja dan kalian bisa bertemu kembali…” Tambah Kyu hyun bijak.

Tiffany hanya tersenyum kecil. Kemungkinan itu sama sekali tidak ada. Buktinya, setelah sekian lama Si won tidak pernah muncul dan mengunjunginya.  Tiffany mencoba untuk tidak banyak berharap walau hatinya selalu melakukannya. Sekarang yang terpenting, Si won menjalani kehidupannya dengan baik begitu pula dengan dirinya. Bagi Tiffany, itu sudah cukup.

Kyu hyun bangkit ketika bel rumahnya berbunyi. Ia beranjak untuk membukakan pintu dan menemukan Dong wook disana.

“Hyung? Masuklah…”

Kyu hyun membuka lebar daun pintunya mempersilahkan Dong wook untuk masuk. Tiffany dan Yoona berdiri untuk menyambutnya.

“Kebetulan sekali kita berkumpul disini…” Ujar Dong wook mengambil tempat disofa yang tersisa.

“Memangnya ada apa? Bukankah ini masih jam tugasmu, hyung?…”

“Karena ini jam tugasku maka aku datang kesini…”

Tiffany, Yoona dan Kyu hyun saling pandang sejenak.

“Waeyo, Oppa?…” Tanya Tiffany penasaran.

“Aku ingin bertanya tentang kejadian yang menimpa kalian beberapa waktu yang lalu…” Tiffany dan Yoona kembali saling lirik.

“Eoh, memangnya ada apa, Oppa? Bukankah kasus itu sudah ditutup? Kami juga sudah kembali dengan selamat…” Tambah Yoona pula.

“Kau benar, Yoong. Tapi kami sama sekali tidak menemukan jejak Si won…” Tiffany menggigit bibir bawahnya dan bersandar disofa.

“Oppa, kami sudah jelaskan kalau Si won Oppa baik-baik saka. Kau tidak percaya pada kami semua?…” Tanya Yoona. Walau ia menceritakan apa yang ia ketahui tentang Si won pada Kyu hyun tapi dia tidak diizinkan Tiffany untuk menceritakannya pada orang lain.

“Aku mencoba percaya pada kalian meski tanpa bukti apapun tapi, ada hal lain yang juga ingin aku tanyakan pada kalian…” Tiffany melirik Dong wook dengan takut.

“A-apa itu?…” Tanyanya pelan. Semoga pria itu tidak menanyakan hal yang aneh-aneh.

“Kami menemukan kalian ditempat yang sudah puluhan kali kami lewati sebelumnya. Ditempat itu semula tidak ada apa-apa, kemudian tiba-tiba dihari itu kami menemukan kalian tak sadarkan diri disana. Dan juga…”

Tiffany menelan ludah. Cukup tegang menunggu apa yang akan ditanyakan oleh detektif itu.

“Aku melihat seorang gadis berambut pirang menjauh dari TKP ketika kami menemukan kalian…”

“Mungkin itu wanita yang-Aww!”

Kyu hyun mengusap pahanya yang baru saja dicubit oleh Yoona. Dan saat mata itu melotot ke arahnya dia tahu kalau artinya dia harus diam.

“Ada apa, Kyu?…” Kyu hyun tertawa garing ditempatnya. Ia mengibaskan tangannya.

“Apa aku baru mengatakan sesuatu? Hahaha, mungkin kau salah dengar, hyung…” Balas Kyu hyun. Tiffany dan Yoona ikut mengangguk membenarkan. Yah, walau sebenarnya kentara sekali kalau pria itu berbohong.

“Oppa, kenapa kau selalu menyibukkan diri dengan hal-hal seperti ini. Lupakan saja masalah ini. Banyak kasus lain yang harus kau selesaikan…” Komentar Tiffany. Yoona mengangguk membenarkan.

“Kalau begitu aku dan Fany Unnie akan menyiapkan makan siang…” Tiffany langsung bangkit dan mengikuti Yoona menuju dapur. Menghindar.

Dong wook bisa melihat dengan jelas kalau dua wanita itu tengah menyembunyikan sesuatu terhadapnya.

“Kyu, aku tahu kalau kau mengetahui sesuatu…” Kyu hyun menghela nafas dan menatap Dong wook.

“Hyung, jebal. Jangan paksa aku. Kau hanya tidak tahu betapa menakutkannya Yoona dan Tiffany jika mereka sedang marah. Aku tidak sanggup…”

Dong wook mengangguk paham. Baiklah, jika mereka tidak ingin mengatakan apa-apa padanya, dia akan mencari tahunya sendiri.

***Sifany***

Pagi kembali datang dengan cerah. Sinar matahari pagi terasa hangat menyinari bumi. Tuan Hwang meneguk coffeenya sembari matanya terus fokus pada Tiffany. Putri semata wayangnya sudah kembali setelah sebelumnya sempat menghilang. Dan sejak kembali Tiffany memang memutuskan untuk tinggal bersamanya lagi.

Tiffany duduk dikurisnya usai menghidangkan sarapan mereka.

“Selamat makan, Appa…”

Tuan Hwang mengangguk dan mulai mencicipi soupnya. Dia tersenyum.

“Putriku sudah banyak berubah ternyata….” Ujarnya kagum. Tiffany hanya tersenyum kecil. Saat pertama kali ia menyiapkan sarapan Appanya memang sangat terkejut sekaligus senang.

“Sepertinya kau sudah banyak belajar tapi kenapa kalian berpisah?…” Tiffany menghentikan suapannya. Sekuat apapun ia menahan diri tapi ia tetap akan menangis jika mengingat Si won.

“Maafkan Appa jika pertanyaan Appa membuatmu sedih. Kau bisa berbagi cerita pada Appa. Mungkin terjadi suatu kesalahpahaman sampai kalian bertengkar dan memutuskan untuk seperti ini. Katakan apa yang bisa apa perbuat. Appa akan melakukan apa saja untuk membuat senyum putri Appa kembali. Kau tahu, tidak satu orang pun di dunia ini yang boleh membuat putri cantik Appa menangis. Katakan, Appa akan menemuinya untukmu…”

Tuan Hwang mengerjap. Matanya mulai basah. Tiffany menangis dengan menyembunyikan wajahnya dimeja makan. Pria paruh baya itu mendekat dan mengusap punggung Tiffany halus. Ia tersenyum.

“Gwenchana, menangis tidak akan menyelesaikan masalah…” Tiffany menggeleng.

“Kami tidak bisa bertemu lagi, Appa. Tidak bisa…” Isaknya.

“Wae? Apa keluarganya menentang hubungan kalian? Atau dia menghindarimu dengan pergi keluar negeri? Katakan dimana dia, Appa akan menemukannya untukmu….” Tiffany kembali menggeleng.

“Tidak Appa. Dia sangat jauh, sangat jauh, huhuhu…”

“Di Flowerialand?…”

Tiffany tercekat. Isakannya terhenti. Di tegakkannya posisi duduknya lalu matanya menatap sang Appa tak percaya.

“A-appa…” Tiffany terbata. Ia tidak mampu berkata-kata. Appanya mengetahui tentang Flowerialand? Siapa yang menceritakannya? Yoona-kah?

“Jangan terkejut. Appa bertemu dengan Oemma-mu di negeri bunga itu…”

Tiffany tidak bereaksi. Dia terlalu terkejut untuk memberikan responnya. Ia kembali teringat pada pertanyaan Vivian sewaktu penyihir itu menculiknya.

“A-appa, kau pasti bercanda. Itu tidak benarkan? Oemma…Oemma…” Tiffany menatap foto sang Oemma yang terpajang disalah satu sisi  ruangan itu.

“Oemma…” Tiffany kembali menangis. Tuan Hwang beralih memeluknya hangat.

“Dua puluh enam tahun yang lalu, saat Appa merasa lelah dan penat dengan semua pekerjaan, Appa menghabiskan waktu untuk menenangkan diri di taman. Appa terus melangkah, kemana saja asal Appa bisa melihat taman yang indah serta bunga-bunga yang mekar. Appa menemukannya. Sebuah taman dengan berbagai macam bunga yang sangat menakjubkan. Tempatnya pun sangat indah seperti tidak pernah dijamah oleh manusia. Sampai suatu ketika Appa sadar, taman yang Appa kagumi itu bukanlah taman yang sebelumnya Appa masuki. Ditengah kebingungan itu,  seorang gadis menolong Appa. Dia Oemmamu…”

Tiffany makin menangis kencang.

“Kami bertemu dan saling jatuh cinta. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk menikah dan kau pun lahir…” Tuan Hwang tersenyum kecil.

“Tapi sayang, setelah melihatmu lahir, Oemmamu memilih untuk melihat dan menjaga kita dari surga. Memang bukan keinginan siapa-siapa dia pergi tapi memang seperti itu takdir yang sudah digariskan untuk kita. Appa tahu kau berhubungan dengan seseorang dari Flowerialand ketika kau tidak bisa menyebutkan asal usul Si won sebelumnya. Kau tahu kenapa Raja dan Ratu sangat welcome terhadapmu?…”

Tiffany terdiam.

“Mereka memang orang yang baik tapi ada alasan kenapa mereka begitu menyukaimu…”

“Karena aku juga merupakan keturunan salah satu dari mereka?…” Tebaknya. Tuan Hwang mengangguk.

“Dan Oemmamu adalah sahabat baik Ratu Floweria…” Tiffany tersenyum dengan air mata yang mengalir. Pantas saat itu Ratu mengatakan kalau ia adalah bagian dari mereka.

“Tidak perlu menangis. Semua akan indah pada waktunya. Pangeran akan ikut sedih jika kau seperti ini karenanya. Kau tahu, jika yang satunya terluka maka yang lainnya akan ikut tersiksa. Itu adalah prinsip cinta sejati…”

“Jadi cinta sejatiku adalah Choi Si won?…” Tiffany bertanya.

“Jadi kau masih meragukannya?…”

Tiffany tersenyum haru dan memeluk Appanya. Tuan Hwang membalasnya dengan hangat. Ia tersenyum membalas senyuman manis pada foto mendiang istrinya.

“Kau hanya perlu menunggu, anakku. Waktu yang indah itu pasti datang…”

***Sifany***

Sunny mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan pulpen ditangannya. Dari tadi ia hanya bersendagu. Matanya menatap sendu kearah ruang kerja Tiffany. Setelah menghilang dan kembali, Tiffany berubah. Wanita itu lebih suka melamun dan menyendiri. Dia pikir, mungkin Tiffany terlalu merindukan Pangerannya.

“Sayang sekali jika mereka harus berakhir seperti ini…” Lirihnya. Dia sudah mendengar tentang asal-usul Si won. Termasuk tentang siapa mendiang Oemma Tiffany sebenarnya. Mustahil memang tapi tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya sebab itu adalah pengalaman dan kisah sahabatnya sendiri.

Selembar kertas melayang-layang diudara dan berhenti tepat didepan wajah Sunny. Dengan cepat diambilnya kertas yang dipenuhi oleh tulisan warna-warni itu.

`TEMUI AKU DI BUKIT. PANGERANMU!!!”

“Fany-ah! Pangeran mencarimu!”

Sunny berlari memasuki ruangan Tiffany.  Jessica yang melihat itu tersenyum manis ditempatnya.

Jessica menjentikkan jari tangannya. Krystal-krystal bercampur butiran gliter warna-warni  mengelilingi tubuh rampingnya. Kemudian ia menghilang dalam sekejap. Kerajaan memberikan penghargaan dan penyempurnaan ilmu sihirnya atas jasanya yang sudah mengalahkan Vivian. Tidak hanya Jessica, Tae yeon pun juga mendapatkan kehormatan yang sama. Tentu saja, kekuatan keduanya menjadi lebih hebat dari sebelumnya.

***Sifany***

Tiffany mendaki bukit setinggi 15 meter itu dengan nafas tersengal. Bukan karena ia kelelahan menaiki bukit yang dikelilingi taman itu. Melainkan karena ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Si won.

“Si won! Si won, kau dimana?!”

“Pangeran! Choi Si won!” Tiffany berteriak memanggil nama Si won. Tidak peduli dengan pandangan beberapa pengunjung taman yang melihat kearahnya.

Tiffany terus menyusuri bukit itu sambil meneriakkan nama Si won.  Sepuluh menit berlalu namun pria itu sama sekali tidak muncul dihadapannya. Tiffany bahkan sudah berdiri dihadapan pintu tempat dimana penghuni Flowerialand bisa keluar-masuk negeri mereka. Memang tidak sembarang orang yang bisa melihat pintu itu. Tiffany bisa melihatnya karena ia sudah pernah memasukinya.

Tiffany terduduk lemah direrumputan. Air matanya mengalir deras dipipi tirusnya. Walau ia mencoba mengabaikan perasaannya tapi tetap saja dia sangat merindukan pria itu. Ada kekosongan dalam hati dan harinya tanpa kehadiran Siwon disisinya.

“Si won. Aku merindukanmu! Aku sudah tidak tahan lagi, Si won…” Tiffany terisak dalam tangisnya.

“Aku merindukanmu. Ku mohon datanglah…” Isaknya pelan.

“Jjinjaeyo?…”

Tiba-tiba wajah Si won  muncul tepat dihadapan wajah Tiffany. Karena kaget dengan kemunculan Si won yang tiba-tiba, Tiffany akhirnya terjungkal dan jatuh mengelinding menuju kaki bukit.

Si won yang melihat itu dengan cepat melompat keluar dan menggapai tubuh ramping Tiffany dan…

Hap!

Si won berhasil memeluk tubuh Tiffany. Keduanya mengelinding menuju kaki bukit. Anehnya, Tiffany sama sekali tidak merasakan sakit ditubuhnya. Ia seperti tengah berguling-guling diatas kasur yang sangat empuk.

“Akh!”

Mereka berhenti begitu sampai kaki bukit dengan Si won yang berada diatas tubuh Tiffany. Mata mereka bertemu. Cukup lama mereka saling menatap sampai akhirnya tersenyum dan tertawa.

“Menyingkirlah, Pangeran. Kau berat sekali…” Si won tersenyum dan mencubit hidung Tiffany gemas.

“Baiklah, Permaisuriku…”

“Kya!”

Tiffany  memekik kaget ketika Si won berbalik dan mengubah posisi mereka. Namun Tiffany tidak ingin beranjak dari atas tubuh pria itu sedikit pun.

Lagi, Tiffany menatap wajah Si won. Dia sangat bahagia menyadari kalau pria itu kini ada dihadapannya.

“Si won…”

“Hm?…”

“Aku merindukanmu…” Si won tersenyum seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh Tiffany.

“Aku tahu…” Ucapnya dengan santai.

“Mwo? Kau tahu?…” Heran Tiffany.

“Eoh, aku melihat wajah murungmu setiap saat dikamarku…” Tiffany memukul dada Si won kesal.

“Ya! Kau curang!” Rajuknya manja.  Si won hanya tertawa melihat wajah menggemaskan wanita yang dicintainya itu.

“Tunggu, apa kau juga melihatku saat aku sedang dikamar mandi?…” Tanya Tiffany curiga. Pria itu menyeringai. Alisnya terangkat.

“Menurutmu?…”

“Mwo?…” Si won dengan cepat menahan tangan Tiffany yang siap memukul dadanya lagi.

“Tidak, Tiff. Kau tenang saja. Aku pria yang cukup sabar untuk menunggu saat itu datang…” Wajah Tiffany memerah malu.

“Mwo? Kau bilang apa?…” Si won kembali tertawa melihat wajah Tiffany sekarang.

“Aku hanya bercanda, Tiff. Aku adalah seorang Pangeran, yang harus memiliki moral serta perilaku yang baik untuk mencerminkan siapa diriku sebenarnya…”

Tiffany tersenyum lembut. Ya, dia tahu itu. Walau terkadang menyebalkan tapi ia tahu kalau Si won sangat baik.

“Oh, ya, kenapa kau bisa keluar dari Flowerialand? Bukankah kita tidak bisa bertemu lagi setelah aku mengambil bunga kehidupan itu untukmu?…”

“Ne, kau benar. Tapi suatu keajaiban terjadi. Biasanya, bunga kehidupan yang sudah dicabut akan tumbuh seratus tahun kemudian.  Namun tak lama setelah kau mencabut bunga itu, bunga yang baru tumbuh. Para ahli sihir dan ilmuan dari laboratorium kami menjelaskan, semua itu berkat air matamu yang tulus jatuh lalu menyirami akar-akar bunga yang tertinggal. Dengan begitu bunga yang baru tumbuh dan kita bisa bertemu lagi…”

Tiffany tersenyum dengan air mata yang mengalir dipipinya. Sangat bahagia mendengar semua itu.

“Lalu kenapa kau baru muncul sekarang?…” Suaranya terdengar serak karena menahan tangis.

“Aku juga ingin mengunjungimu tapi Jessica melarangnya. Kau tahu, gadis itu sangat cerewet dan selalu mengawasiku sampai aku tidak bisa melakukan apapun. Dia tidak ingin aku berharap padamu sementara aku belum tahu seperti apa perasaanmu yang sesungguhnya. Kalau kau benar-benar merindukanku itu artinya kau juga mencintaiku. Tapi bukankah saat kau mengambil bunga itu untukku semuanya sudah jelas?…” Tiffany tersenyum setuju.

“Dia terkadang memang menjengkelkan…” Ucap Si won mengingat sifat adik sepupunya itu. Kembali dipandanginya wajah Tiffany.

“Tapi dengan cara itu aku tahu kalau aku juga berarti untukmu. Appamu benar, aku sangat sedih jika kau selalu menangis untukku….” Tiffany memeluk Si won dan menyandarkan kepalanya didada pria itu.

“Terima kasih sudah datang untuk menemuiku…” Ucapnya tulus.

“Terimakasih juga, kau sudah menyelamatkanku untuk kedua kalinya…”

Tiffany mengangguk dengan air mata yang  masih mengalir jatuh.

“Aku sudah mendengar dari Raja dan Ratu tentang siapa kau sebenarnya. Aku sangat senang saat mengetaui hal itu. Aku juga sudah melihat seperti apa Oemmamu, dia sangat cantik sepertimu…” Tiffany mengangkat kepalanya. Ia mengangguk dengan senyum haru.

“Penasehat istana kami mengatakan, kau adalah calon permaisuri dan calon Ratu terbaik untuk mendampingiku memimpin Flowerialand.…” Ucap Si won sembari menghapus air mata Tiffany.

“Jjinja?…” Tanyanya.

“Kita bisa membagi waktu antara Flowerialand dan bumi. Apa kau bersedia melakukannya?…” Tiffany mengangguk.

“Dengan senang hati…”  Si won tersenyum cerah. Amat bahagia mendengar jawaban dari Tiffany.

Tiffany menatap bibir Si won yang ada dihadapannya.

“Si won, jika aku menciummu, apa kau akan kembali berubah menjadi boneka?…” Si won mengangguk.

“Ne…”

“Jjinja?…”

“Eoh. Aku akan berubah menjadi boneka. Boneka yang hanya mencintai, menyayangi serta menjagamu selamanya…”

Untuk kesekian kalinya Tiffany kembali tersenyum bahagia. Tanpa ragu dia mendekat dan menempelkan bibirnya pada bibir Si won yang dibalas pria itu dengan penuh kelembutan dan perasaan.

Burung-burung yang tengah mencari makan disekitar taman berterbangan mengeliling keduanya. Seolah ikut bahagia bersama pasangan itu.

Jessica yang memperhatikan keduanya sejak tadi ikut tersenyum bahagia. Keduanya memang pantas untuk bahagia setelah apa yang mereka lalui. Mengingat sudah sore dia memilih untuk pulang dan tidur diranjangnya yang nyaman.

Jarak Jessica dengan pintu menuju Flowerialand  hanya tinggal sekitar 2 meter lagi. Namun langkah kakinya terhenti ketika seseorang menyentuh pergelangan tangan kirinya. Sontak Jessica menoleh. Dia mendapati sesosok pria tinggi tengah menatapnya. Pria itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya dan menunjukkannya pada Jessica.

“Aku Detektif Lee Dong wook dari kepolisian Seoul. Aku yang menangani kasus menghilangnya Tiffany, Yoona berserta Si won dibukit ini…” Jessica menelan ludah.

“Ne? A-apa maksudmu Tuan, aku tidak mengerti. Bukankah kasus itu sudah ditutup?…”

“Ne, kau benar, Agasshi. Dan aku melihat dari awal bagaimana Tiffany datang kesini serta kemunculan Si won yang tiba-tiba…” Jessica menaikkan alisnya. Gugup. Dong wook memperhatikan wajah cantik yang tampak ketakutan itu.

“Ne? Itu…itu…”

“Maaf, Agasshi. Aku akan membawamu ke kantor polisi untuk dimintai keterangan…”

“NE?!”

Jessica tidak bisa berbuat apa-apa saat tangan hangat pria itu membawanya pergi.

END

Epilog

“Tha…tha…”

“Omo. Apa yang kau bicarakan, sayang? Auntie sama sekali tidak mengerti…”

Sunny tertawa mendengar celotehan bayi perempuan berusia lima bulan itu. Tangannya menggapai-gapai ke udara sembari terus berceloteh. Sunny terus tertawa. Sangat lucu melihat tingkah menggemaskan sang bayi.

“Dia meminta makanannya, Unnie. Kenapa Unnie selalu menggodanya?…”

Yoona yang baru selesai mengambil air mineral untuk bayi Tiffany dan Si won mendekat. Diambilnya bayi bernama Choi Ha na itu lalu meletakkannya dipangkuannya. Sunny tertawa dan mulai menyuapinya kembali untuk makan.

Tiffany dan Si won menikah tahun lalu. Dan tahun ini rumah mereka sudah dihiasai oleh tawa dan tangis seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan menggemaskan. Tidak hanya mereka, negeri Floweria bahkan sangat bersuka cita menyambut kelahirannya. Karena mereka hidup di negeri yang berbeda Si won dan Tiffany memang harus membagi waktu mereka untuk bumi dan Flowerialand. Beruntung sejauh ini semuanya berjalan normal dan baik-baik saja.

“Dimana Tiffany?….” Sunny bertanya. Yoona membersihkan sisa bubur yang menempel di mulut mungil sang bayi.

“Bersama Si won, Oppa. Sebentar lagi mereka turun…”

Sunny mengangguk.

“Aigo, anak pintar. Buburnya sudah habis…”

“Tentu saja, akukan memang anak pintar…” Yoona menggendong bayi itu sayang. Sunny mencubitnya gemas. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Ah, bagaimana kabar Jessica dan Tae yeon?…”

Sunny sudah bertemu dengan dua wanita cantik dari Flowerialand itu. Tiffany mengenalkannya dan mereka juga sudah cukup akrab. Terlebih Jessica, wanita itu lebih sering muncul karena ingin bertemu sang detektif.

“Kami baik…”

Keduanya terkejut lalu menoleh saat suara tersebut terdengar. Entah dari mana datangnya, Jessica dan Tae yeon muncul dan segera bergabung. Ha na tertawa senang melihat dua wanita cantik itu. Jessica mendekatinya dan menciumnya manja.

“Ago, Ha na-ya. Auntie merindukanmu…”

“Na do, Ha na-ya. Sangat-sangat merindukanmu…” Tae yeon memanyunkan bibirnya dan mencium bibir mungil bayi itu.

“Dimana Tiffany?…” Tae yeon bertanya karena tak mendapati sosok itu disana.

“Masih dikamarnya…” Yoona menjawab. Jessica membuka mulutnya. Ditolehkannya kepalanya kearah tangga. Berniat untuk mengganggu.

“Ya! Choi Si won! Turun sekarang juga atau aku akan mendobrak pintu kamarmu, arra?…”

Dikamarnya, Si won dapat mendengar empat wanita itu tertawa. Pria itu berdecak.

“Ck, kenapa dia selalu datang seenaknya? Aku bahkan baru melihatnya 10 menit yang lalu. Menyebalkan sekali…” Gerutunya. Tiffany yang tengah mengancingkan kemeja pria itu tersenyum.

“Wae? Akan lebih menyenangkan jika rumah kita selalu ramai…”

“Si won menaikkan sudut bibirnya. Menyeringai.

“Ramai? Ramai seperti apa maksudmu?…” tanyanya dengan senyum menggoda. Tiffany memukul dada suaminya pelan.

“Jangan berpikir macam-macam, Oppa. Kajja, sebaiknya kita turun…”

Ajak Tiffany melangkah lebih dulu. Si won tidak punya pilihan selain mengikuti istrinya dan bergabung dengan yang lain. Ha na tampak sangat senang melihat senyuman cantik sang Oemma.

“Ha na-ya, poppo…” Tiffany mencium bibir putrinya gemas. Bayi itu tertawa saja.

“Selamat siang, Fany-ah…” Sapa Jessica tersenyum riang. Terlebih saat melihat wajah kesal Si won. Tiffany balas tersenyum.

“Ne. Kalian sudah lama?…”

“Aniyo, baru saja…” Tae yeon menjawab.

“Kenapa kalian datang?…” Jessica melirik kesal kearah kakak sepupunya.

“Tidak perlu khawatir, Oppa. Kami datang hanya untuk bertemu Tiffany dan Ha na  bukan dirimu…”

“Mmemangnya siapa yang mau bertemu denganmu…” Balas Si won langsung menuju meja makan yang tak jauh dari sofa itu. Jessica berdecak dibuatnya.

“Ya, apa aku mengganggu kalian?…” Tiffany menggeleng dan tersenyum.

“Aniyo. Si won Oppa baru kembali dari istana. Aku hanya menyiapkan air hangat serta pakaiannya…” Jessica mendengus. Kenapa Si won harus sekesal itu dengannya? Tapi biar saja. Siapa yang peduli?

“Ha na-ya!” Terdengar teriakan lain. Kyung san muncul dengan masih mengenakan seragam sekolahnya. Dia sudah masuk taman kanak-kanak tahun ini.

“Ha na-ya, Oppa datang…” Kyung san berseru senang dan mendekati tempat itu disusul Kyu hyun.

“Oppa tidak perlu berteriak, aku mendengarmu…”  Jessica berujar seolah menggantikan Ha na. Kyung san tersenyum.

“Auntie cantik juga disini?…” tanyanya. Jessica mengangguk senang. Tae yeon merajuk.

“Kenapa hanya Jessica yang disebut cantik…” Keluhnya pura-pura sedih dan mengundang tawa yang lain. Kyung san menggeleng.

“Aniyo, semua Auntie-ku cantik tapi Oemma yang paling cantik…” Semuanya kembali tertawa. Kyu hyun mengangguk setuju dan memberikan high five pada putranya.

“Yeah, tentu saja dia akan berpikiran sama…” Celetuk Sunny tertawa.

“Kyung san-ah, temani Ha na sayang. Oemma dan para Auntiemu akan menyiapkan makan siang…”

Kyung san dengan senang hati melakukannya. Dia segera mengambil tempat ditempat Yoona sebelumnya. Duduk menghadap Ha na yang sudah duduk di kereta bayinya.

Kyu hyun dan yang lain meninggalkan keduanya menuju meja makan. Membiarkan keduanya untuk bermain.

Para wanita tampak asyik menyiapkan makan siang ditemani Si won dan Kyu hyun. Sementara Kyung san dan Ha na pun tampak asyik bermain tak jauh dari meja makan.

“Kyung san-ah, tolong ambilkan mangkok bubur Ha na, sayang. Auntie ingin mencucinya…” Pinta Tiffany.

“Ne…” Kyung san turun dari sofanya untuk mengambil mangkok yang ada diatas meja. Namun tak sengaja lengannya menyenggol vas bunga.

“Hati-hati!”

Semuanya menoleh kearah Kyung san saat Tiffany terpekik. Bersamaan dengan itu, Ha na mengangkat tangan kanannya menunjuk Vas bunga tersebut. Dengan mata telanjang, semua orang bisa melihat cahaya putih bercampur biru dan merah muda muncul dari jemari bayi itu lalu mengelilingi vas tersebut. Semua yang ada disitu tampak membisu. Vas yang harusnya sudah jatuh dan hancur itu masih melayang di udara dan kembali pada tempatnya semula.

Kyung san menganga. Matanya menatap tak percaya kearah Ha na. Sementara bayi itu tampak tertawa tanpa beban dan kembali asyik dengan mainan ditangannya.

“A-apa yang baru saja adik Ha na lakukan, Auntie?…” Tanyanya gugup. Tiffany dan yang lainnya saling lirik dalam diam. Mereka semua jelas tahu apa jawabannya.

END

Sesuai permintaan, ini hanya twoshoot. Maaf kalau jelek dan fantasy-nya aneh, wkwkwk. Makasih buat kak Echa yang udah mempercayakan ff ini untuk aku selesaikan. Dan semoga kakak ga kecewa sama ff ini. Love You, kak ^_^

100 thoughts on “(AR) A Prince from another Land

  1. wuihhh… daebakkk…
    ska bacanya nih seru pula. awalnya enjoy pas baca ehh pas tengah2 agak tegang2 gtu bacanya soalnya gegara lihat aksi heroit dan perjuangan fany buat nyelametin siwon tp semua itu kbayar karna happy ending yeaayy….
    anaknya sifany lucu ya kecil2 udah punya kekuatan super. gmana gedenya?? hehe
    klu ada sequel makin enak nihh #berharap…
    good job buat authornya. very good very nice.

  2. Annyeong….
    Ini….wow! Fantastic…!!! Keren bgt, dan ini part ff terpanjang yg pernah ku baca, tapi bagus, n sepertinya banyak yg minta sequel nih, aku juga nih,.
    Gomawo ya dah buat ff yg bagus ini

  3. omegot omegot sungguh ini ff kerennnnnnnnnnnn banget sungguh jadi kebayang kaya apa tempat indah macam flowerland huhu yak sequel dong bikin crta yg laingtu yayaya di tunggu loh ff daebak yg lain :*

  4. wkwkwkwk… ni crta lucu bnget.. sumvah..
    aq plng sk’ lw di FF tu Siwon ma Jessica sepupuan, pasti jthnya seru n bkin ngkak..
    aq sk” ff ny, n knp hrs end. jd sdih ni..
    pngn sequel, ad ga’ ???
    daebak buat author n ffny. fighting..

  5. Huaaaaaa puas sama jalan ceritanya \(´▽`)/ nice story \(´▽`)/ ternyata tiffany masih keturunan flowerialand;;
    Ditambah epilog yang ngisahin kehidupan stlh kejadian pertemuan kembali antara siwon dan tiffany. Suka bagian akhir epilog yang anaknya tiffany sm siwon punya kekuatan yang buat kyungsan shock. Adegannya lucu gemesin . Ditunggu karya selanjutnya and keep writing \(´▽`)/

  6. “Waktu yang indah itu pasti datang”
    Dan pada akhirnya Siwon dan Tiffany bisa bertemu kembali dan hidup bahagia berkat ketulusan cinta keduanya dan takdir , horeeeeee^^
    Kisah indah dari negri flowerialand dan bumi , kisah yang penuh kejutan , menegangkan serta mengharu biru dan juga menyenangkan ♡
    Ide cemerlang dari eonncha ini benar-benar seperti kisah di negri dongeng , Cerita yang oke pokonya , aku sukkaaa , walau rada sulit dibayangkan tapi terasa indah dan terkesan “wow” , seandainya flowerialand itu benar ada , hihii^^
    Ka jani sukses nih buat fantasy’nya , nagih ga untuk buat lagi ???😀
    Ditunggu karya selanjutnya yah kaa , marriage life lagi kah / fantasy lagi / gendre yang baru , apapun itu aku nantikaaaan , and more romantic again pls , Hwaiting ka janii ♡

  7. Inikah part 2 nya? Ahh.. Keren total (y)
    ceritanya mengharu biru(?), dikira sifany bner2 gk bisa ketemu lgi tpi ternyata mereka ktemu lgi end happy ending..
    Pkoknya satu kata buat ff ini DAEBAK😉

  8. Bru kli ne ff nya daebak,,,,, sperti nton disneyland di tv. Buat lg dong crita2 yg lbih seru kyak gini……… Keep writing thor,annyeong🙂

  9. keren cerita nya apa lg pas bagian epilog nya hana nya masih kecil udh punya kekuatan terus pas bagian jessica yg disuruh ikut ke kantor polisi wkwk

  10. akhirnya setelah sekian lama ff nya di post juga.
    ff ini bener – bener KERENNNN thor, seriusan…. ceritanya, alurnya,
    bagusss bgtttttt….
    aku bingung mau komen apa… ff ini bner2 bkin spicles…baguss bgt
    makasih dah buat FF nya thor

  11. Aigoo baca FF ini buat otak ku berjalan 2x lipat untuk mengahayati hal2 yg fantasy🙂 *Lebayyy*
    sumpah ni kren bgt cr penulisannya pun rapi dan mudah di pahami…
    Salam Reader Baru

  12. Yeyeyeyeyeyeyeyey endingnya serruuuuuuuu !! Hana pasti imut banget dah, belom lagi kyungsan yang seketika merinding pas liat sihirnya Hana wkwk😄 ini keren, bagus banget, keep writing thor! ^^

  13. Astaga penyihir Vivian jahat banget😡 *iyalah dia kan penyihir #plakkk .. Ahaha jessica malah sama detektifnya hahaha … So sweet bangett 😍

  14. Aigoo Hana-ya daebakkkk.. Kecil kecil cabe rawit😀
    Kenapa Tiff gak punya kekuatan? Padahal kan dia keturunan Floweria Ialand?:/ Sama seperti Hana

  15. speachless baca ini bner” keren batt😍😘 kisah nya dari awal manis ke tengah menegangkan n sedih trus endnya sangat bahagia *-* daebak batt!! imajinasi nya awww❤ jess unnie ama siwon oppa bikin ngakak😂 itu detektif lee akhirnya jadian sm jessie unnie yaa ☺ kkk~ hana memiliki kekuatan sihir? smpe bikin kyung san shock😂😂 over all bnr” daebak!! good job thor👍

  16. seru n haru nih part,aplg wktu sica lwn vivian dgn gaya yg cool n cerdikny bs klhkn vivian.
    pngorbnn fany sungguh tulus n patut dptkn hal yg terindag…yup cinta sejatiny Siwon.
    mrk bersatu ats nm cinta sejati n kbhgiaan luar biasa krn hdrny baby choi hana…^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s