(AF) Baby Baby Baby Part 2

Baby Baby Baby Part 2

580723_402011323218106_1610248005_n-tile-horz

Author             : Kireynalice

Type                : Sequel

Genre              : Mariage Life, Romance

Rating              : 17+

Main Cast        : Hwang Mi Young, Choi Siwon

Other Cast       : Kim Tae Yeon, Park Jung Soo, Jung Soo Yeon, Lee Dong Hae, Choi Soo Young

Disclaimer       : Karakter tokoh hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot cerita. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun. Kesamaan ide cerita merupakan hal yang tidak disengaja. Alur dan penokohan murni hasil pemikiran saya.

 

Juli, Serangga besar Mi Young

Mi Young’s POV

Rupanya penyakit lamaku belum hilang juga. Entah kenapa hidungku sangat sensitif setiap mencium bau obat-obatan yang menjadi aroma khas rumah sakit. Aku merasa sangat mual. Ditambah lagi aku memang belum memakan apapun sejak tadi pagi karena takut terlambat. Semua itu gara-gara ulah suamiku yang genit.

“Mi Young-a, ghwenchana?” Tanya Soo Yeon Eonni saat Siwon Oppa memapahku keluar dari kamar mandi.

“Aku hanya merasa sedikit mual, Eonni. Selebihnya aku baik-baik saja.” Jawabku lesu.

“Mi Young-a, jangan-jangan kau hamil!” Pekik Tae Yeon Eonni. Secara otomatis semua yang ada di ruangan ini menatap ke arahnya.

“Tidak mungkin!” Jawabku dan Siwon Oppa bersamaan hingga membuat pandangan mereka langsung beralih pada kami.

“Kenapa tidak mungkin? Kalian sudah menikah selama 2 bulan. Wajar saja kan kalau Mi Young hamil?” Tanya Tae Yeon Eonni.

“Itu.. Emm.. Itu tidak mungkin, Eonni. Karena… Emm..” Aku tidak bisa melanjutkan kalimatku. Bagaimana caranya menjelaskan semua ini pada mereka? Apalagi kalau harus menceritakan secara detail bahwa kami baru saja melewati ‘malam pertama’ tadi malam. Tidak mungkin aku langsung hamil atau lebih tepatnya belum akan hamil. Yang benar saja. Memangnya kami ini Bella dan Edward, tokoh dalam sebuah novel trilogi yang ternama itu?

“Karena.. Mi Young sedang mendapat periode bulanannya, Noona.” Siwon Oppa yang tahu kalau aku sedang kebingungan membantuku menjawab.

Dalam hati aku bersyukur karena mendapat suami yang cerdas seperti dirinya. Menstruasi adalah alasan yang paling masuk akal. Lagipula tidak mungkin membuka urusan rumah tanggaku di depan forum seperti ini. Tapi tanpa aku sadari jawaban spontan Siwon Oppa ternyata malah membuat kami terlibat dalam masalah baru.

“Aigo.. bahkan kau sampai hapal siklusnya Siwon-a. Sebegitu besarkah kerinduanmu pada yeodongsaengku? Kau benar-benar nampyeon yang agresif!” Celetuk Jung Soo Oppa. Dan selama beberapa menit kedepannya kami harus merelakan diri kami untuk menjadi bahan olok-olok mereka.

Tok.. Tok.. Tok..

Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Selang beberapa saat kemudian seorang perawat berwajah cantik dengan postur badan yang tinggi dan sedikit berisi memasuki kamar rawat Tae Yeon Eonni.

“Jhwesonghamnida, Nyonya Hwang. Ini adalah waktu kunjungan dokter spesialis anak. Jadi, saya akan membawa putra anda ke ruang bayi untuk menjalani pemeriksaan rutin.” Kata perawat dengan name tag yang bertuliskan ‘KWON YURI’ itu ramah.

“Ne. Kapan pemeriksaannya selesai? Apakah perlu kami yang menjemputnya sendiri ke ruang bayi?” Tanya Jung Soo Oppa.

Perawat Kwon tersenyum sembari mengambil Jung Yeon yang masih berada dalam gendongan Soo Yeon Eonni lalu meletakkannya ke dalam box bayi. “Saya yang akan mengantarnya kembali setelah pemeriksaannya selesai, Tuan.”

“Baiklah kalau begitu. Silahkan.”

“Apa aku perlu mengantarmu ke sana Suster Kwon? Barangkali kau membutuhkan bantuanku.” Tawar Dong Hae Oppa tiba-tiba.

Perawat cantik itu tersenyum sebelum menggelengkan kepalanya. “Aniyo. Saya bisa melakukannya sendiri. Terima kasih atas tawaran anda, Tuan. Saya permisi.” Tolaknya halus. Perawat itu lalu membungkukkan kepalanya sebelum keluar sembari mendorong box bayi yang berisikan baby Hwang.

“Kenapa kau masih di sini? Lebih baik kau antar saja Suster Kwon itu ke ruangannya. Siapa tahu dia tersandung dalam perjalanan.” Kata Soo Yeon Eonni dengan ketus. Dia menekuk wajahnya dan melipat kedua tangan di depan dada.

“Eonni, waeguraeyo? Kenapa kau jadi marah seperti itu? Dong Hae Oppa kan tidak salah. Dia hanya berbasa-basi pada suster tadi.” Kata Soo Young. Tapi bukannya menjawab Soo Yeon Eonni malah memalingkan wajahnya ke arah jendela.

Sepertinya aku menangkap gejala-gejala tidak wajar di sini. Kenapa dia harus marah saat Dong Hae Oppa menggoda perawat itu? Apa hubungannya dengan Soo Yeon Eonni? Lagipula Dong Hae Oppa juga belum memiliki kekasih. Jadi, wajar-wajar saja kalau dia berusaha untuk menarik perhatian para gadis. Sikapnya benar-benar aneh. Apa mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku? Mungkinkah kalau dia dan Dong Hae Oppa…

“Chagi..” Panggilan Siwon Oppa membuatku kembali ke dunia nyata. “Jam besuknya sudah habis. Kajja, kita pulang.”

“Jinjja? Kenapa cepat sekali? Bahkan Jung Yeon pun belum kembali. Apa kita tidak bisa menunggu sedikit lebih lama? Aku masih ingin bersamanya.”

“Kita bisa mengunjunginya lagi besok, Chagi. Lagipula kasihan Noona. Dia  pasti butuh istirahat.” Bujuknya. Aku hanya mendesah pelan sebelum akhirnya mengangguk.

“Eonni, aku pulang dulu, ne? Besok aku akan datang lagi.” Pamitku pada Tae Yeon Eonni.

“Eoh.. hati-hatilah di jalan. Besok kalau kau datang lagi bawakan aku jeruk, ne?” Aku mengangguk dan mengecup pipi kirinya.

“Istirahatlah, Eonni. Oppa, aku pulang dulu. Tidak usah mengantar kami ke depan. Temani saja Tae Yeon Eonni. Kalau kau membutuhkan sesuatu hubungi saja aku.”

“Eoh.. gumawo, Aegi.” Katanya sambil mengacak-acak rambutku pelan. “Siwon-a berhati-hatilah di jalan. Jangan terlalu cepat mengemudikan mobil. Kecuali kalau kau menginginkan ceramah tak berbatas dari mantan Ms. Hwang ini.” Pesannya.

Setelah aku mengajukan protes kecil pada Jung Soo Oppa, kami berlima pun meninggalkan kamar rawat Tae Yeon Eonni. Siwon Oppa menggandeng tanganku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya merangkul pundak Soo Young sambil sesekali menggodanya dengan mengacak-acak rambutnya. Sementara perang dingin sepertinya masih terjadi pada dua insan yang berjalan di depan kami. Soo Yeon Eonni terlihat berjalan dengan sedikit menghentak-hentakkan kakinya sedangkan Dong Hae Oppa terlihat seperti sedang mengatakan sesuatu padanya. Sebenarnya mereka kenapa? Kalau diperhatikan mereka terlihat seperti sedang melakukan diplomasi antara si perajuk dan pembujuk. Hal yang biasa terjadi pada pasangan.. emm… kekasih?

“Eonni, aku ikut pulang denganmu saja ya?” Bisik Soo Young.

“Boleh saja. Tapi bukannya kau tidak suka melihat kemesraan kami ya?” Tanya Siwon Oppa yang membuatnya mendapatkan hadiah berupa pukulan di lengannya dariku.

“Wae? Memang begitu kan, Chagi? Dia sendiri yang pernah mengatakan hal seperti itu.” Protesnya. Aku tak menghiraukan ucapannya dan melayangkan tatapan tajam padanya.

“Baiklah, Chagi. Aku akan menutup mulutku dan sepenuhnya berperan sebagai Mr. Taxi. Silahkan lanjutkan pembicaraan kalian.” Katanya sambil membuat gerakan seperti sedang mengunci di depan mulutnya. Aku menahan tawaku melihatnya.

“Memangnya kenapa Youngie?” Tanyaku.

“Aku lebih memilih untuk menyaksikan adegan lovey dovey yang menggelikan daripada harus mendengar adu argument yang menyeramkan.” Jawab Soo Young.

“Bukankah kalian tadi pergi bersama? Apa terjadi sesuatu selama diperjalanan?” Tanyaku lagi.

“Aniyo. Semuanya baik-baik saja. Mereka malah terlihat canggung dan malu-malu. Kalau aku perhatikan, Soo Yeon Eonni berubah menjadi aneh setelah suster itu datang.”

“Suster itu? Apa jangan-jangan…”

Aku tidak melanjutkan ucapanku karena mendengar teriakan Dong Hae Oppa.

“Ya! Youngie! Kau mau pulang bersamaku tidak?”

“Aniyo, Oppa. Aku akan pulang bersama Mi Young Eonni saja. Kebetulan Imo menelepon tadi.” Bohong Soo Young.

“Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa nanti.” Katanya sambil melambaikan tangan.

Aku melepaskan genggamanku dari tangan Siwon Oppa dan menghampiri Soo Yeon Eonni. Aku tersenyum lalu memeluknya sesaat sebelum melepaskannya.

“Aku pulang dulu, Eonni. Sampai jumpa lagi besok. Jangan ragu untuk menghubungiku kalau kau membutuhkan sesuatu.” Kataku yang dia jawab dengan anggukan.

“Hati-hati di jalan Oppa, aku menitipkan Soo Young Eonni padamu.” Kataku pada Dong Hae Oppa yang pria itu jawab dengan senyuman.

Setelah itu kami pun berpisah. Aku, Soo Young, dan Siwon Oppa menuju ke basement sebelah barat sementara mereka berjalan ke arah sebaliknya.

Siwon Oppa membukakan pintu belakang untuk Soo Young sebelum membukakan pintu depan untukku kemudian menuju ke kursi pengemudi. Sebuah tindakan yang membuatku semakin mencintainya dan bersyukur karena pria inilah yang menjadi suamiku. Aku pernah mendengar perkataan yang menyatakan bahwa ‘kalau kau ingin mengetahui seberapa besar rasa cinta seorang pria padamu, lihatlah dari caranya memperlakukan ibu dan saudara perempuannya’.

“Oppa, disini panas sekali. Cepat nyalakan pendinginnya.” Kata Soo Young sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah.

“Bersabarlah sedikit, Nona Choi. Aku bahkan belum menyalakan mesinnya.” Kata Siwon Oppa. Dia kemudian menyalakan mesin mobil dan AC-nya. Seketika itu juga kesegaran menggantikan udara panas di dalam mobil.

“Apa semuanya sudah siap?” Tanya Siwon Oppa.

“Ne..!” Jawabku dan Soo Young serempak.

“Kalau begitu, let’s go!” Siwon Oppa mulai menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit.

“Bagaimana kalau kita memesan ice cream cake? Pasti segar sekali.” Ajak Soo Young.

“Aku setuju. Tiramissu cake saja, Youngie.” Usulku. Coffee adalah aroma kesukaan Siwon Oppa selain vanilla.

“Emmm.. Lezatnya. Sepertinya sudah lama aku tidak memakannya.” Jawab Siwon Oppa.

“Baiklah. Kalau semuanya sudah setuju aku akan memesannya sekarang sehingga kita tidak perlu menunggu lebih lama dan bisa langsung memakannya begitu sampai di rumah.” Dia kemudian terlihat menengok ke kanan dan ke kiri seperti tengah mencari-cari sesuatu.

“Apa yang kau cari Youngie?” Tanyaku sambil menengok ke belakang.

“Tas tanganku. Ada dimana ya?”

“Tas? Sepertinya kau tidak membawa apapun saat masuk tadi.” Timpal Siwon Oppa. Soo Young kemudian tampak berpikir dan tak lama kemudian dia menepuk keningnya sendiri dengan telapak tangannya.

“Oppa.. Jebbalyo.. Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” Tanyanya.

“Apa?” Tanya Siwon Oppa tanpa menoleh ke belakang karena sedang berkonsentrasi pada jalanan di depannya.

“Sekali ini saja kumohon jangan memarahiku.” Pinta Soo Young dengan nada suara yang memelas.

“Marah? Kenapa?” Tanya Siwon Oppa lagi.

“Karena aku memintamu untuk kembali ke rumah sakit. Sepertinya tasku tertinggal di mobil Dong Hae Oppa. Mianheyo..”

End of Mi Young’s POV

Soo Yeon’s POV

Aku berjalan dengan cepat menuju mobil Dong Hae Oppa. Tapi pria itu tiba-tiba berjalan mendahuluiku dan menghalangi langkahku untuk masuk ke dalam mobilnya.

“Minggir!” Aku berusaha mendorongnya ke samping, tapi dia malah kembali menghalangi jalanku.

“Aku mau pulang, Lee Dong Hae.” Ucapku lemah. Aku merasa lelah meskipun baru melewati waktu setengah hari. Dong Hae Oppa tersenyum, lalu membukakan pintu depan untukku. Dia memberiku isyarat agar aku duduk sedangkan dia berlutut di hadapanku.

“Kau mau apa?” Tanyaku ketus.

“Kau marah padaku?” Tanyanya tanpa dosa. Aku tidak menjawab dan malah membuang muka.

“Baiklah.. hari ini aku mungkin sedikit menyebalkan. Tapi kau jangan salah paham dulu.”

“Salah paham apa?”

“Aku tahu kalau kau marah padaku karena Suster Kwon itu. Karena aku menggodanya kan?”

Aku terdiam. Apa yang harus kukatakan? Mana mungkin aku dengan mudahnya mengakui kalau aku tidak suka melihatnya melakukan hal itu. Aku tidak suka kalau gadis-gadis mencari perhatian dan berusaha menggodanya dengan berbagai cara. Aku tidak suka kalau dia menanggapi rayuan mereka.

“Apa kau tidak suka kalau aku bersikap seperti itu?” Tanyanya seakan bisa menebak isi kepalaku.

“Wae? Kenapa aku harus tidak suka? Aku justru turut berbahagia kalau akhirnya kau menemukan seseorang yang cocok denganmu.” Jawabku. Sungguh pandai aku berkelit menutupi kebenaran, berusaha untuk terlihat baik-baik saja padahal perasaanku sedang porak-poranda.

“Jinjja? Kau benar-benar akan berbahagia untukku?” Tanyanya lagi.

Ada sesuatu yang mendesak keluar dari dadaku. Getaran aneh yang membuat nafasku sesak dan tenggorokanku terasa tercekat. “Te.. tentu saja. Kenapa aku harus tidak bahagia? Kau dan dia benar-benar pasangan yang serasi. Dia cantik dan seksi. Dia juga…” Aku mendongakkan wajahku untuk bertatapan langsung dengannya. Bersiap untuk melanjutkan perdebatan kami. Tapi tanpa kuduga Dong Hae Oppa malah mendaratkan kecupan di bibirku. Untuk beberapa lama aku tertegun. Saat ini pikiranku benar-benar kosong. Aku begitu terkejut atas tindakannya. Dong Hae Oppa tersenyum lalu meraih tanganku.

“Aku suka kau cemburu. Itu tandanya kau mencintaiku.” Ucapnya sambil menatap lekat kedua mataku.

Aku terdiam sejenak. Sepertinya percuma saja menutupi semua perasaanku darinya. Toh dia juga sudah tahu.

“Aku tidak suka kalau kau bersikap terlalu baik pada semua yeoja.” Kataku pada akhirnya.

“Arra. Aku mengerti perasaanmu. Tapi percayalah cintaku hanya untukmu, Chagi.”

Tadi dia memanggilku apa? Cha.. chagi? Aku tidak salah dengar kan? Wajahku terasa panas saat Dong Hae Oppa mengucapkannya. Aku tidak mampu mengatakan apa pun lagi dan hanya menundukkan kepalaku. Dong Hae Oppa meraih daguku dan menatapku lembut. Oh.. Tuhan.. napasku terasa sesak!

“Kau lebih cantik jika wajahmu bersemu seperti ini. Jadi jangan pernah menyembunyikannya dariku, Chagi.”

Jantungku kembali berpacu dengan cepat saat Dong Hae Oppa kembali mengecup bibirku. Aku segera tersadar dan buru-buru mendorong dadanya agar menjauh.

“Wae?” Tanyanya pelan.

“Kita masih ada di parkiran rumah sakit, Oppa. Kalau ada yang melihatnya bagaimana?”

Dong Hae Oppa tersenyum. “Di sini sepi dan hanya ada kita berdua. Kita bebas melakukan apa pun di sini.” Ujarnya.

Aku terdiam dan kembali menutup mata saat Dong Hae Oppa kembali mengecup bibirku. Satu tangannya mengelus rahangku sementara tangannya yang lain melingkar di pinggangku. Aku membiarkan Dong Hae Oppa menguasaiku kali ini. Aku tak membalas kecupan yang dia berikan. Dong Hae Oppa menggigit sedikit bibir bawahku, memintaku untuk berpartisipasi dalam ciuman kami.

End of Soo Yeon’s POV

Author’s POV

BRAKK…

Tas milik Mi Young jatuh menimpa lantai. Wanita itu membulatkan matanya karena terkejut sekaligus tak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini. Siwon dan Soo Young saling pandang satu sama lain sebelum kembali menyaksikan kedua insan yang sepertinya belum menyadari kehadiran mereka bertiga.

“Eonni…”

Soo Yeon langsung melepaskan tautan bibirnya dengan Dong Hae saat mendengar seseorang menyebut namanya. Soo Yeon terkejut, begitu juga dengan Dong Hae. Menyadari jika ada orang lain yang memergoki mereka saat sedang berbagi kasih membuat mereka menoleh secara bersamaan. Seketika saja mata mereka membesar begitu melihat Soo Young, Mi Young, dan Siwon yang tengah berdiri memandang mereka.

*********

Sore ini rencananya Siwon dan Mi Young akan mengunjungi rumah keluarga Choi untuk berbincang sembari menikmati ice cream cake yang Soo Young pesan. Tapi sepertinya semua itu menjadi gagal total karena kejadian yang mereka lihat tadi.

Saat ini mereka sedang duduk bersama di kursi sebuah cafe. Mi Young hanya diam sambil menatap tajam ke arah Soo Yeon. Merasa kalau dirinya terus diperhatikan membuat Soo Yeon menghindari tatapan Mi Young dan menatap Siwon untuk meminta pertolongan. Siwon yang mengerti hanya tersenyum simpul kemudian merangkul pundak istrinya dan mengusapnya pelan.

“Kau haus, Chagi? Kau mau minum apa? Bagaimana kalau orange juice?” Tanyanya lembut.

“Pilihan yang bagus, Oppa. Aku memang sedang ingin minum orange juice dengan banyaaaak sekali es.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari arah Soo Yeon.

“Mi Young-a, mianhe.” Ucap Soo Yeon dengan nada memohon. Tapi Mi Young tidak bergeming. Dia masih terdiam sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Chagi, Soo Yeon sedang berbicara padamu.” Kata Siwon berusaha membujuk Mi Young.

“Katakan padanya kalau aku sedang tidak mau membicarakan apapun dengannya, Oppa.”

“Mi Young-a, aku benar-benar minta maaf. Aku memang bersalah karena sudah menyembunyikannya darimu.” Kata Soo Yeon lagi.

“Baguslah kalau kau menyadarinya. Kita memang tidak dekat. Kau dan aku baru berkenalan kemarin. Jadi tidak ada keharusan untukmu menceritakan apa yang kau alami padaku!” Sindir Mi Young.

“Aku tidak bermaksud seperti itu. Kemarin kau juga sedang memiliki persoalan yang lebih rumit dibanding aku. Aku tidak mau menambah beban pikiranmu dengan masalahku.”

“Seandainya kami tidak memergokimu, kapan kau akan mengatakannya padaku?”

“Aku takut kalau kau tidak menyetujui kedekatanku dengan Dong Hae Oppa.” Jelas Soo Yeon.

“Babo!” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya. “Bagaimana mungkin kau berpikiran seperti itu? Kenapa aku mesti marah kalau kau dekat dengan kakak iparku? Justru itu akan membuat kita benar-benar menjadi sebuah keluarga.”

“Jadi.. kau tidak marah padaku?” Tanya Soo Yeon. Dia hanya ingin memastikan.

“Tentu saja tidak, Eonniku sayang. Aku justru ingin mengucapkan selamat pada kalian.” Katanya lagi.

“Jadi kami sudah mendapatkan restu kalian?” Tanya Dong Hae. Mi Young hanya tersenyum lalu mengangguk.

“Gumawo, Mi Young-a. Kau tahu, restu darimulah yang selalu membuat Soo Yeon ragu akan hubungan kami.” Dong Hae kemudian meraih tangan Soo Yeon dan mengecup punggung tangannya. “Kau dengar itu, Chagi? Sekarang tidak alasan lagi bagimu untuk mengacuhkanku.” Lanjutnya.

“Tentu saja. Aku tidak akan salah memilih istri, Hyung.” Kata Siwon. Dia lalu mengecup pipi Mi Young singkat hingga membuat wanita itu menoleh dan menatap suaminya dengan pipi yang bersemburat merah.

Sementara itu Soo Young hanya menghela napas panjang. Hancur sudah harapannya untuk mendapat ketenangan di butik Soo Yeon. Cepat atau lambat tempat itu pun pasti akan berubah menjadi wadah bagi pasangan baru itu untuk memadu kasih.

“Youngie, kenapa kuperhatikan dari tadi kau diam saja?” Tanya Siwon.

“Hmm.. waegurae, Youngie? Katakanlah. Mungkin kami bisa membantumu.” Kata Dong Hae.

“Tidak perlu, Oppa. Tidak ada yang bisa kalian lakukan untuk merubah suasana hatiku.  Ghwenchanayo. Aku hanya merasa sedikit menyesal.” Jawabnya.

“Menyesal? Kenapa?” Tanya Soo Yeon.

“Kenapa tadi aku tidak pulang naik taksi saja kalau pada akhirnya aku harus menyaksikan adegan dewasa lagi. Sudah terlalu banyak yang kulihat. Mataku sudah tidak suci lagi.” Katanya lesu sambil mengaduk-aduk mocha latte-nya.

“Kalau begitu kenapa kau tidak mencari namjachingu saja? Aku rasa di kantor banyak namja yang bisa dijadikan sebagai rekomendasi untukmu. Iya kan, Wonnie?” Goda Dong Hae.

“Eoh.. Kau benar, Hyung. Choi Corp. mempunyai banyak stok namja lajang. Sebagai permulaan, bagaimana kalau kita mulai dengan Lee Hyuk Jae?” Tawar Siwon.

“Mwo? Si namja berotak yadong itu? Shireo!!!” Pekiknya cukup kencang hingga menarik perhatian pengunjung cafe yang lain. Sementara ke-4 saudaranya tertawa terbahak melihat reaksinya.

*********

“WELCOME INTO THE NEW WORLD JUNG YEON BABY”

Spanduk berukuran cukup besar itu terpampang di ruang tengah rumah keluarga Hwang. Di sudut atas kanan dan kirinya terdapat balon berwarna-warni dilengkapi dengan hiasan pita yang menjuntai. Ruangan yang biasanya diisi oleh sofa itu pun tampak lengang. Hanya terdapat sebuah meja besar di tengah ruangan yang rencananya akan digunakan sebagai tempat untuk meletakkan jamuan bagi para tamu yang hadir.

Seorang gadis terlihat berjalan mondar-mandir sembari menengok ke kanan dan kirinya untuk memastikan bahwa tidak ada satu detail pun yang tidak sempurna. Suaranya terdengar begitu nyaring saat memberikan arahan pada orang-orang yang membantunya.

“Ahjussi, kenapa balonnya berwarna merah muda? Bukankah kita sudah sepakat hanya akan memakai warna biru dan putih saja?”

“Ahjumma, bunga yang itu kurang banyak. Berikan sedikit tambahan bunga freesia agar warnanya lebih menarik.” Dan masih banyak lagi komentar yang dia berikan.

Mi Young hanya melihat tingkah adik iparnya itu dari arah dapur sambil tersenyum. Percuma saja dia mengajukan protes karena Soo Young pasti akan tetap melakukan hal itu.

“Ini adalah acara penyambutan cucu pertama, Eonni. Jadi kita harus melakukannya sesempurna mungkin.” Itulah jawaban yang dia berikan saat Mi Young memintanya untuk bersikap sedikit lebih santai. Nyonya Hwang memang menyerahkan sepenuhnya persiapan pesta kecil itu pada Soo Young dan tentu saja dia dengan senang hati melakukannya. Apalagi Nyonya Choi juga sama antusiasnya.

Greb!

Mi Young merasakan ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Dari aroma tubuh dan cara tangan itu memeluk dirinya Mi Young sudah tahu siapa orang yang melakukannya.

“Wae, Oppa?” Tanyanya sambil terus mengaduk adonan muffin cokelatnya.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau itu aku?” Tanya Siwon. Dia meletakkan dagunya di bahu Mi Young sambil mengeratkan pelukannya.

“Aku mempunyai perasaan yang bekerja dengan sangat baik, Oppa. Jadi tentu saja aku bisa mengenali namja mana yang menyentuhku.” Jawab Mi Young. Tentu saja dia hanya ingin menggoda suaminya. Melihat bagaimana mata pria itu berkilat saat dia membicarakan pria lain atau cara pria itu memperlakukannya dengan possesif untuk menunjukkan kecemburuannya menjadi kesenangan tersendiri untuknya.

Siwon menegakkan tubuhnya lalu membalikkan tubuh Mi Young agar menghadapnya. Mi Young mengulum senyum melihat reaksi suaminya. Tapi dengan cepat dia merubah ekspresinya dengan memasang wajah polos.

“Wae, Oppa? Aku sedang mengaduk adonan kuenya.” Protesnya.

“Tadi kau bilang apa, Chagi?” Tanya Siwon. Mi Young terdiam sejenak sembari mengerutkan keningnya, pura-pura berpikir.

“Aku sedang mengaduk adonan kue?” Tebak Mi Young.

“Ani. Kalimat yang sebelumnya.”

“Mmmm… Aku mempunyai perasaan yang baik?” Tanyanya lagi.

“Lalu?”

“Lalu.. Kau membalikkan badanku sehingga aku terpaksa harus menghentikan kegiatanku mengaduk adonan kuenya.” Jawab Mi Young. Siwon memicingkan matanya kemudian mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Mi Young agar istrinya itu tidak bisa mengelak darinya.

“Tadi kau mengatakan kalau kau bisa mengenali namja yang menyentuhmu. Katakan dengan jujur padaku, apa ada namja lain selain aku?” Tanya Siwon dengan nada suara yang mulai terdengar serius. Mi Young menjadi semakin bersemangat untuk menggodanya.

“Mianhe karena sebelumnya aku tidak pernah jujur padamu, Oppa. Tapi sebelum dirimu memang ada namja lain yang pernah menyentuhku.” Jawab Mi Young sambil menundukkan kepalanya.

Siwon merasa seperti tersambar petir mendengar penuturan Mi Young. Suami mana yang tidak terkejut saat mendengar pengakuan dari istrinya bahwa dia bukanlah pria yang pertama untuknya? Ada sedikit rasa tak percaya di hatinya. Bukankah 1 bulan yang lalu adalah malam pertama untuk mereka berdua? Bahkan semuanya masih terbayang dalam ingatan Siwon. Dia dapat merasakannya dan yakin kalau dialah pria pertama untuk Mi Young. Jadi bagaimana bisa?

Dengan menahan emosinya Siwon berusaha berbicara setenang mungkin. Dia harus siap menghadapi kenyataan dan menerima masa lalu istrinya sepahit apapun itu. “Katakan siapa yang sudah melakukannya padamu?”

Mi Young mengangkat kepalanya, menatap Siwon, dan mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya.

“Namja yang sudah menyentuhku adalah… Andrew Choi.” Bisiknya diakhiri dengan tawa. Siwon langsung memasang wajah tak percaya. Jadi istrinya itu sudah berbohong dan dia dengan mudahnya masuk ke dalam perangkapnya. Siwon kemudian melepaskan pelukan Mi Young dan menatap wajah istrinya yang masih terkekeh.

“Apa kau merasa puas karena sudah berhasil menjahiliku?” Tanyanya membuat Mi Young semakin terbahak. “Baik. Tertawalah selagi kau bisa. Karena aku tidak akan mengampunimu.” Ancam Siwon.

Seketika itu juga Mi Young menghentikan tawanya. Dia tahu benar kalau suaminya tidak pernah main-main dengan ucapannya. “Ne?”

“Kau sudah mempermainkanku dan harus mendapatkan hukuman.”

“Aish.. Oppa! Aku kan hanya bercanda. Kenapa kau menganggapnya serius?” Protes Mi Young.

“Tidak ada alasan untuk itu. Aku akan tetap menghukummu.”

“Silahkan saja. Aku tidak takut!” Mi Young melipat kedua tangannya di depan dada lalu memalingkan wajahnya.

“Benarkah?” Tanya Siwon. Dia kemudian maju dan otomatis Mi Young mundur menjaga jarak dari Siwon. Siwon terus berjalan mendekati Mi Young hingga wanita itu membentur tembok dan tidak bisa lagi mengelak. Siwon menghimpitnya, merapatkan tubuhnya pada Mi Young hingga dada mereka bersentuhan. Siwon kemudian meraih dagu Mi Young hingga kepalanya mendongak dan menatap mata Siwon.

“Kau mau tahu hukuman apa yang pantas kuberikan untukmu?” Tanyanya yang Mi Young jawab dengan gelengan pelan.

“Aku tidak akan mencukur kumis dan jambangku selama 1 bulan lalu akan menciummu berulangkali. Dan aku tidak akan berhenti meskipun kau meminta ampun.”

Mi Young membelalakkan matanya. Hukuman macam apa itu? Dia pasti akan sangat tersiksa karenanya. Dan sebelum dia dapat menyusun kalimat pembelaannya, pria itu telah lebih dulu menyurukkan kepalanya di leher Mi Young dan melakukan apa yang tadi dikatakannya. Dia menciumi leher istrinya dan dengan sengaja menggesek-gesekkan bagian dagunya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Sontak saja hal itu membuat Mi Young merasa sangat geli.

“Oppa.. hentikan.. geli sekali..” Pinta Mi Young sambil memberontak. Tapi Siwon tidak juga menghentikan aksinya. “Oppa.. jebbal..” Rengek Mi Young. Dia sudah benar-benar tidak tahan.

Pada awalnya Siwon hanya ingin membalas godaan istrinya. Tapi ternyata hukuman itu justru semakin membangkitkan kebutuhan mendesaknya. Dia terus mencumbu dan mencium bagian sensitif di daerah belakang telinga istrinya itu hingga membuat Mi Young terpekik. “Oppa!”

“Eonni..” Panggil seorang gadis. Mi Young langsung mendorong dada Siwon saat mendengar Soo Young memanggilnya.

“Waeyo? Kenapa kau menjerit, Eonni?” Tanyanya di depan pintu. Dia memang langsung datang ke dapur begitu mendengar jeritan kakak iparnya. “Eoh, kau ada di sini juga, Oppa?” Tanyanya heran setelah melihat keberadaan Siwon di tempat yang tidak seharusnya. “Bukankah kau bertugas untuk mengatur taman belakang?”

Dengan segera Mi Young menjawab pertanyaan Soo Young. “A.. ani, Youngie. Tadi aku melihat ada serangga yang menempel di jendela dapur. Karena takut aku menjerit dan Siwon Oppa menghampiriku.”

“Serangga? Sekarang dimana mahluk menjijikan itu?” Tanya Soo Young sembari bergidik ngeri.

“Eo.. eoh? Ah.. serangga itu sudah pergi. Untung saja.” jawab Mi Young terbata.

“Syukurlah kalau begitu. Tadinya kukira kau terluka. Apa muffinnya sudah matang, Eonni?”

“Belum. Mungkin sekitar 10 menit lagi. Aku akan memanggilmu kalau sudah matang.”

Soo Young sedikit mengerucutkan bibirnya. “Baiklah. Aku akan bersabar. Kalau begitu aku akan kembali merangkai bunganya.” Pamit Soo Young yang Mi Young jawab dengan anggukkan kepala.

“Oppa, kenapa kau masih disini? Ayo kembali bekerja.” Kata Soo Young lagi saat menyadari bahwa Siwon belum beranjak dari tempatnya.

“Apa lagi yang harus kukerjakan? Semuanya sudah rapi.” Jawab Siwon.

Soo Young berdecak sebelum menatap kakak sepupunya itu dengan malas. “Kita akan menggunakan taman belakang untuk minum cocktail, Oppa. Apa kau sudah selesai menyusun mejanya?” Siwon menggeleng. “Lalu tunggu apa lagi? cepat selesaikan.”

“Sebentar lagi, Youngie. 5 menit saja. Ada yang ingin kubicarakan dengan Mi Young.” Pintanya.

“Tidak bisa! Aku tidak yakin kalau urusan kalian dapat selesai dalam waktu 5 menit dan itu akan menghambat tugasmu. Jadi bersabarlah seperti aku yang juga bersabar menunggu muffinku matang. Sekarang pergi ke tempatmu dan jangan kembali sebelum kami memanggilmu.” Perintah Soo Young.

Siwon kemudian berbalik dengan langkah yang gontai, tapi baru meninggalkan dapur 2 langkah saja tiba-tiba dia berteriak. “Omo! Serangganya kembali lagi! Awas Youngie, sepertinya dia akan terbang menuju ke arahmu!”

Tentu saja hal itu membuat Soo Young berlari kalang kabut karena takut. “Jinjja? Kyaaaaaaa!!! Pergilah serangga menjijikan!!!”

Siwon tersenyum senang karena rencananya berhasil. Dia kemudian mendekat, memeluk pinggang Mi Young, dan mengusap lembut punggung istrinya itu.

“Ah.. jadi ini serangganya? Kenapa besar sekali?” Canda Mi Young. Tentu saja dia tahu kalau serangga itu hanyalah akal-akalan suaminya saja.

“Hmmm… Serangga ini sangat lemas karena telah seharian bekerja. Dia membutuhkan madu dari kupu-kupu.”

“Apa kau tertidur saat pelajaran biologimu? Kupu-kupu tidak menghasilkan madu, Oppa.”

“Jinjja?” Tanya Siwon dengan kening yang berkerut. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Mi Young dan mencium bibir istrinya singkat lalu melepaskannya. “Tapi kenapa rasanya manis?” Goda Siwon yang membuat Mi Young tersipu.

Mi Young melingkarkan tangannya di leher Siwon dan mengusap tengkuk suaminya.

“Kalau begitu.. apa serangga mau mencoba madu lebih banyak lagi?” Tanyanya. Mi Young tidak menunggu jawaban dari Siwon karena jawabannya sudah pasti ‘iya’. Maka dia pun langsung mencium bibir suaminya. Siwon yang menyadari kalau istrinya menciumnya sambil berjinjit mengangkat bagian bokong Mi Young agar tinggi mereka sejajar. Siwon dapat merasakan Mi Young tersenyum dalam ciumannya. Mereka saling melumat dengan penuh kasih dan kelembutan. Berbagi cinta yang terasa begitu manis di indera pengecap mereka.

“Eonni, apa serangganya sudah pergi? Apa Siwon Oppa masih disana?” Suara nyaring Soo Young kembali menginterupsi keasyikan mereka.

Dengan enggan Siwon melepaskan tautan bibir mereka dan menurunkan Mi Young.

“Dia selalu datang di saat yang tidak tepat, Chagi.” Kata Siwon sembari mendengus kasar. Mi Young terkekeh pelan kemudian mengecup bibir suaminya.

“Kurasa bekal madumu sudah cukup, serangga. Jadi sekarang kembalilah bekerja.”

Siwon menghela nafas panjang kemudian berlalu menuju ke arah taman belakang. Baru saja beberapa menit meninggalkan dapur dia sudah mengintip lagi dari balik jendela. “Baby, taman belakangnya kosong. Bagaimana kalau kita mencoba menransfer madu disana?”

Tapi sebelum Mi Young sempat menjawab, Soo Young telah lebih dulu tiba di depan pintu dapur dan berteriak. “Ya! Choi Siwon! Kembali ke tempatmu!”

Dan Siwon pun segera berlari sebelum adik sepupunya itu berteriak lebih kencang.

“Eonni, kenapa dulu kau mau menikah dengannya? Apa kau tidak tahu kalau dia itu terkadang aneh?” Tanya Soo Young sambil bersender di counter dapur.

Mi Young terkekeh sebelum menjawab. “Ya! Bukankah dia yang kau sebut sebagai orang aneh itu adalah kakak sepupumu? Kenapa kau bukan memuji dan malah menyebutnya aneh?”

Soo Young hanya mengangkat bahu. “Molla. Mungkin dia memang harus seperti itu agar tidak menjadi namja yang benar-benar sempurna.” Jawabnya asal. Mi Young terkekeh lagi.

“Ghwenchana. Setidaknya meskipun suamiku sedikit aneh, tapi aku mendapatkan keluarga yang menyayangiku dan adik ipar yang sangat manis.”

Soo Young tersenyum kemudian memeluk tubuh Mi Young. “Gumawoyo karena telah menjadi istri dari kakak sepupuku, Eonni. Hidup Imo dan Samchon semakin lengkap dengan kehadiranmu.”

Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari arah pintu dapur. Soo Young dan Mi Young pun melepaskan pelukan mereka untuk melihat siapa yang datang.

“Aigo.. hubungan kedua saudara ipar ini benar-benar manis sekali.” Kata Soo Yeon yang baru saja tiba. Tangannya menjinjing 2 kantung plastik besar. Dia dan Dong Hae bertugas untuk mengambil pesanan makanan ringan yang akan disajikan pada tamu. Mereka terpaksa harus melakukannya sendiri karena delivery service-nya sedang penuh.

“Kau sudah datang, Eonni? Mari kubantu.” Kata Soo Young lalu mengambil 1 kantung dan menaruhnya di atas counter. “Omo.. Berat sekali. Mana Dong Hae Oppa?”

“Dia sedang mengeluarkan barang yang lain. Hah… pundakku serasa patah saat membawa barang-barang ini. Kita memang tidak boleh menganggap remeh para pengantar barang itu.” Kata Soo Yeon sambil melangkah menuju lemari es dan mengambil sebotol air mineral lalu meminumnya. “Ah… thank’s God. Rasanya segar sekali.”

Bersamaan dengan itu Dong Hae terlihat masuk diikuti para pekerja sambil membawa kantung-kantung plastik lainnya.

“Wah.. banyak sekali! Assa..! Aku bisa makan banyak kue hari ini.” Ujar Soo Young gembira sementara Dong Hae hanya bergumam pelan.

“Memangnya kapan kau tidak makan banyak?”

“Oya, mana Siwon?” Tanya Dong Hae sambil menerima air mineral yang disodorkan Soo Yeon padanya.

“Dia di taman belakang. Tugasnya mengatur meja untuk cocktail.” Jawab Mi Young.

“Eoh. Siwon Oppa mendapat tugas yang mudah, tapi sampai sekarang belum selesai juga. Dari tadi kerjaannya hanya mengganggu Mi Young Eonni saja.” Timpal Soo Young.

Dong Hae hanya tersenyum menanggapi protes yang diajukan Soo Young. Tanpa sengaja dia melihat arloji di tangannya. “Tuhan, sekarang sudah jam 11.00!”

“Jinjja? Kalau begitu kita harus segera menyelesaikan semua persiapannya dan berganti pakaian. Acaranya akan dimulai jam 15.00.” Kata Soo Young.

Otomatis mereka semua segera mengeluarkan kue-kue itu dari tempatnya dan menyusunnya ke piring saji. Setelah itu Soo Young mulai mengeluarkan teriakan-teriakan perintahnya lagi. Semuanya bergerak cepat untuk memastikan tidak ada 1 bagian pun yang terlewatkan sampai tercium bau hangus dari arah dapur. Mi Young lalu teringat akan sesuatu.

“Omo! Youngie! Muffin cokelatnya!”

*********

Musik klasik mengalun merdu di ruang tengah rumah keluarga Hwang. Dekorasi yang cantik dan elegan semakin menambah hangat suasana. Tetamu yang hadir terlihat asyik berbincang sambil menikmati hidangan yang tersedia. Tidak banyak yang datang, karena pesta ini memang diperuntukkan bagi keluarga dan kerabat dekat saja mengingat kondisi Tae Yeon yang belum pulih benar dan baby Hwang yang masih rentan.

Mi Young yang didampingi oleh Siwon membawa keluar Jung Yeon dari kamar bayinya menuju ke ruang tengah. Sudah menjadi kebiasaan di keluarga mereka bahwa yang menggendong anggota keluarga baru adalah keluarga terdekat yang sudah menikah dan belum memiliki anak. Sementara Tae Yeon dan Jung Soo mengikuti dibelakang mereka. Bayi laki-laki itu tertidur lelap dalam gendongan Aunty-nya. Selimut dan topi rajutan putih yang menghangatkan tubuhnya semakin membuatnya merasa nyaman.

“Ini dia bintang kita hari ini.” Kata Soo Young dengan ceria membuat perhatian semua orang tertuju ke arah sumber suara. Secara bergantian para tamu yang hadir melihat dan memberikan hadiah yang mereka bawa untuk malaikat kecil yang tampan itu. Mereka semua memuji ketampanan parasnya dan juga memberikan doa untuk kesehatannya.

“Aigo.. Aku sudah menjadi seorang Halaboeji. Aku doakan semoga kau menjadi anak yang tampan dan bisa memikat hati setiap wanita yang memandangmu.” Kata Tuan Choi sambil mengelus kepalanya lembut. “Tapi jangan menjadi playboy, ne?” Lanjutnya membuat semua orang tertawa.

“Jadilah anak yang bisa menjaga nama baik keluarga dan membawa perusahaan ke masa kejayaannya kelak.” Kata Tuan Im.

Satu persatu tamu yang hadir secara bergiliran memberikan doanya hingga kini tibalah giliran Shim Halmonie, ibu dari Presdir Shim, ayah Changmin.

“Tumbuhlah dengan baik dan cerdas. Semoga kau menjadi anak yang berbakti pada keluargamu, menghormati yang lebih tua dan menyayangi sesama. Jaga nama baik ayahmu seperti kau menjaga nama baikmu sendiri dan muliakanlah ibumu melebihi rasa cintamu pada dirimu sendiri.” Wanita itu kemudian mengelus bahu Mi Young lembut.

“Selamat, nak. Maafkan aku karena tidak bisa datang ke acara pernikahanmu. Semoga kau selalu diberkati.” Doanya tulus.

“Terima kasih, Halmonie.” Jawab Mi Young sambil tersenyum memperlihatkan mata indahnya yang menawan.

“Besarkan dia dengan penuh cinta dan selalu berikan yang terbaik untuknya. Menjadi ibu memang tidak mudah, Mi Young-a. Melelahkan sekaligus menyenangkan. Selain itu, kalau bisa jangan berikan susu botol padanya.” Nasihat Shim Halmonie.

“Ne?” Tanya Mi Young dengan kening yang berkerut.

“Kau masih menyusuinya kan?”

Mi Young dan Siwon saling berpandangan. Sepertinya ada yang tidak beres disini.

“Halmonie, Jhwesonghamnida. Tapi Jung Yeon bukan bayi Mi Young dan Siwon Oppa. Dia adalah putra dari Tae Yeon Eonni dan Jung Soo Oppa.” Jelas Soo Yeon.

“Jadi, bayi ini bukan penerus Choi melainkan penerus Hwang?” Tanyanya tak percaya. Semua orang menjawab dengan anggukan kepala.

“Aigo.. Mianhe. Pantas saja aku merasa heran. Siwon baru menikah selama 3 bulan, tapi kenapa Mi Young sudah melahirkan. Aku bahkan sempat berpikir kalau Siwon sudah memberikan tanda jadi sebelum pernikahan digelar. Mianhe, Siwonie.” Sesal Shim Halmonie.

“Ghwenchanayo, Halmonie. Semoga Tuhan mendengarkan doamu dan segera memberikan kami seorang putra juga.” Kata Siwon dengan senyum yang menawan.

Shim Halmonie tersenyum lalu memeluk tubuh Siwon. Dia sangat menyayangi Siwon seperti dia menyayangi cucunya sendiri. Pria ini sangat baik dan sopan pada orang tua. Tapi tidak beberapa lama kemudian dia melepaskan pelukannya dan memekik kencang.

“Omo! Aku salah menulis ucapan selamat dikadonya. Yang kutulis malah selamat datang baby Choi!” Dan semua orang pun tertawa terbahak-bahak.

*********

Malam ini sebagai rangkaian dari upacara penyambutan kedatangan Jung Yeon, Mi Young dan Siwon akan menginap di rumah keluarga Hwang. Senyuman Siwon menyambut Mi Young yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri.

“Kemarilah, Chagi.” Pintanya sambil menepuk-nepuk bagian sebelah kanan ranjang. Mi Young menghampiri suaminya, tapi tidak berbaring di bagian yang telah disediakan Siwon untuknya. Dia memilih untuk tidur di sebelah kiri ranjang.

“Aku tidak suka tidur di sebelah kanan, Oppa.”

“Wae?”

“Karena itu membuatku harus tidur dengan posisi miring ke kiri saat memandangmu.” Jelasnya.

Siwon hanya tersenyum lalu memeluk istrinya. “Aku merindukanmu, baby.”

“Rindu? Bagaimana mungkin kau merindukanku kalau aku selalu ada disampingmu?” Tanya Mi Young.

“Kau benar. Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahanku. Siapa suruh kau begitu menggoda.” Jawab Siwon sekenanya. Dia mencium kening dan pipi Mi Young. Bibirnya kemudian menyusuri rahang Mi Young dan bergerak turun untuk mengecup leher putihnya.

“Oppa.. Kita sedang tidak di rumah.” Mi Young memperingatkan suaminya. Tapi Siwon tidak bergeming. Dia tetap melanjutkan kegiatannya.

“Kamarku tidak memakai lapisan kedap suara.” Ucapan Mi Young kali ini mampu membuat Siwon terhenti.

“Bisakah kau mengecilkan suaramu? Kurasa semua akan aman-aman saja kalau begitu. Kita harus bergerak cepat karena kau sudah pantas menjadi seorang ibu, Chagi. Bahkan Shim Halmoni sampai mengira kalau kau adalah ibu Jung Yeon. Selain itu beliau juga berpesan agar kau tetap menyusui bayimu. Karena dia belum ada, bagaimana kalau…”

Mi Young terkekeh kemudian mengecup bibir Siwon sebelum pria itu selesai mengucapkan kalimatnya. “Bukankah kemarin kau bilang pada Tae Yeon Eonni kalau aku sedang mendapat periode bulananku? Mana boleh kita melakukannya?”

“Aish.. baiklah! Aku akan mengalah malam ini, tapi tidak untuk malam-malam selanjutnya.” Dia kemudian memeluk tubuh Mi Young dan mendekapnya erat.

“Tidurlah, Chagi. Selamat malam istriku yang manis. Have a nice dream.”

“Selamat malam juga Oppaku yang tampan. Tidak ada mimpi yang lebih indah selain dirimu.”

*********

To Be Continued ^_^

118 thoughts on “(AF) Baby Baby Baby Part 2

  1. Akhirnya soo yoen mau ngakuin perasaannya ke donghae oppa ya, hahah
    Siwon nempel mulu nih sama tiffany kayak perangkoo
    Giliran sooyoung nih yg masih engga ada gandengan
    Wkwkwkwk
    Nice part

  2. Hehehe…….donghae sengaja membuat soo yeon cemburu dengan menggoda perawat itu,dan secara tidak langsung,donghae tau soo yeon ada perasaan padanya,akhirnya jadian.
    Aiggo…….siwonnya jadi pervert deh.lucu deh siwonnya masa kisseunya pakai transfer madu, emangnya fany lebah kali ya,hehehe……..
    Sweet moment kisseu sifany ala transfer madu
    Hehehe……nice fanfic thor,i like it.thanks dibuatkan ff sifany.next ya thor.hwaiting thor.

  3. aigoo…siwon ni kerjaannya gangguin tiff terus, tp ganggunya dg cara yg manis, semanis madu yg dihasilkan kupu2…ups.. salah, lebah mksudnya….
    akhirnya donghae ma jessica jadian jg, moga cpet2 nyusul sifany y..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s