(AR) I’ll Be Your Mushroom, Forever!

I’ll Be Your Mushroom,Forever!

I'll be your mush

Elsa Mardian

Main Cast : Choi Siwon,Tiffany Hwang

Other Cast : Im Yoona, Choi Sooyoung, Kwon Yuri, Cho Kyuhyun

Genre : Romantic Comedy

“SiFany Series”

Aku, Choi Siwon, memilih engkau, Tiffany Hwang, untuk menjadi istriku. Aku berjanji untuk setia dan mengabdikan diri dalam suka dan duka, di waktu sehat maupun sakit. Aku akan mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidupku. Dan aku akan mencintaimu selamanya.”

“Aku, Tiffany Hwang, bersedia menerima engkau, Choi Siwon, sebagai suamiku. Aku berjanji untuk setia dan mengabdikan diri dalam suka dan duka, di waktu sehat maupun sakit. Aku akan mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidupku. Dan aku akan menjadi Mushroom-mu selamanya.”

KRIIIIIIIIING

Tiffany terbangun dari tidurnya sambil bersungut-sungut. Salah satu tangannya keluar dari dalam selimut lalu meraba-raba ke atas nakas yang berada di samping ranjang. Tangannya menemukan sumber keributan di pagi itu, yang telah mengacaukan mimpi indahnya. Setelah Tiffany menemukan jam weker yang masih berdering ribut di atas nakas, ia segera mematikan alarmnya. Mau tak mau mata Tiffany terbuka karena tidurnya terganggu.

“Aish, siapa yang mengatur alarm sepagi ini?” gerutu Tiffany seraya duduk dari tidurnya.

Jelas saja Tiffany menggerutu. Hari ini adalah libur akhir pekan pertama untuknya setelah dua minggu yang menyibukkan. Selama dua minggu kemarin ia dan Yuri berada di Karibia untuk menjadi grand ambassador sebuah produk kecantikan. Selanjutnya Yuri dipindahkan ke Paris untuk perpanjangan kontraknya bekerja di agensi mereka, sedangkan Tiffany diizinkan pulang ke Seoul. Beruntung bagi Tiffany karena ia tidak di posisi Yuri yang harus menetap disana selama kurang lebih 2 tahun.

Seolah menjawab pertanyaan Tiffany tentang jam weker tadi, ponsel Tiffany pun berdering. Tiffany melihat nama pemanggilnya malas-malasan, lalu sedetik kemudian matanya melebar. Segera ia mengetuk layar ponselnya untuk menjawab panggilan itu.

Good morning, Mushroom.”

Tiffany tersenyum manis. “Morning.”

“Aku senang kau mematuhi jam weker itu kkk.”

“Yah! Jadi kau yang mengatur alarm sepagi ini? Kau kejam sekali, Choi Siwon. Aku kan masih mengantuk,” omel Tiffany.

“Sekarang sudah pukul 6 pagi, baby. Bangun pagi bagus untuk kesehatanmu.”

Tiffany menguap. Ia tahu itu, tetapi tubuhnya benar-benar lelah setelah perjalanan pulang dari Karibia yang sangat menguras tenaganya. Ia butuh tidur beberapa jam lagi.

Omo, kau masih saja menguap. Ckck, kalau begitu aku akan membuatmu tidak mengantuk lagi. Tunggu aku!”

Klik

Tiffany menatap ponselnya dengan kening berlipat. Apa maksud pria itu dengan menunggunya? Tiffany menghela napas panjang kemudian membaringkan tubuhnya kembali serta menutup mata. Rasa kantuknya membuat gadis itu tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan kekasihnya. Ia ingin tidur lagi dan jika ia beruntung, mimpi indahnya bersama Siwon akan berlanjut.

Tiffany tahu itu hanya sekedar mimpi. Namun kecanduan akan mimpi indah seperti itu tidaklah perbuatan dosa. Tiffany tidak tahu apakah dirinya mengharapkan mimpinya menjadi kenyataan sebab mimpi itu terus menghiasi tidurnya selama beberapa hari terakhir. Ia menikmati saat Siwon mengucapkan janji pernikahan di hadapannya. Semua terasa nyata!

Ah, seandainya…

“Kau tidur lagi ternyata. Dasar tukang tidur.”

Tiffany tersenyum dengan mata terpejam. Ia sangat mencintai pria itu sehingga bisa mendengar suara dan mencium aroma maskulinnya saat ini. Bahkan ia merasakan ciuman singkat di pipi kirinya! Jika ia terus menerus bermimpi seperti sekarang, dapat dipastikan kalau ia akan bergelung seharian di atas ranjang.

“Bangunlah, Mushroom. Atau aku akan menciummu sampai kau kehabisan napas.”

Kini kening Tiffany mengernyit, namun matanya tetap terpejam. Suara Siwon sangat dekat di telinganya. Wah wah mimpi zaman sekarang sudah seperti 3 dimensi!

“Aku akan menghitung sampai 3. Kalau kau belum membuka matamu, aku akan menciummu dan membawamu ke bawah shower.”

Kenapa suara Siwon Oppa jelas sekali di telingaku? Ah, tidak mungkin ia berada disini sekarang!batin Tiffany. Serta merta ia membuka matanya dengan lebar dan tersentak kaget. Wajah Siwon hanya berjarak 5 senti di hadapannya, menyeringai jahil seperti seorang anak remaja. Tiffany membeku selama beberapa detik, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Sejak kapan Siwon berada disini? Bukankah tadi ia menghubungi Tiffany? Tiffany yakin kalau Siwon menghubunginya bukan di dalam mimpi.

Siwon merendahkan wajahnya sekali lagi lalu mengecup bibir Tiffany yang sedikit terbuka.

“Selamat pagi, Pemalas.”

“O-Oppa, bukankah tadi kau menghubungiku lewat ponsel? Kenapa kau sudah ada di kamarku? Kau bisa ber-apparete seperti di film Harry Potter??!”

Mendengar itu Siwon tertawa terbahak-bahak. Ia duduk di tepi ranjang dan menarik tangan Tiffany agar gadis itu duduk. Tiffany cemberut, kesal dengan keisengan kekasihnya. Namun baru ia sadari kalau Siwon memakai setelan jogging-nya. T-shirt abu-abu tanpa lengan serta celana training. Tiffany berdecak. Siwon mengenakan pakaian olahraga tetapi tubuhnya sama sekali tidak berkeringat.

“Katakan padaku kalau kau diantar Yoona atau Sooyoung kemari dengan mobil dan ingin mengajakku jogging, benar kan?” tebak Tiffany. Siwon menjentikkan jari tengah dengan ibu jarinya.

“Tepat sekali, Mushroom. Aku membangunkan kedua gadis pembuat masalah itu untuk mengantarku kesini. Selanjutnya aku akan mengajakmu jogging denganku. Tidak perlu jauh-jauh, hanya sampai taman kota saja.”

Mata Tiffany terbelalak. “Taman kota? Shirreo!!! Itu lebih dari 1 kilometer, Oppa!”

“Kau harus berolahraga, baby. Jangan hanya mengandalkan fitness. Jogging pagi menurutku lebih baik karena kau bisa menghirup udara segar sekaligus.”

Tiffany menendang-nendang selimut yang masih membalut kakinya. “Tetapi aku masih mengantuk, Siwon Oppa. Please!”

Siwon menghela napas berat. Jika dilihat Tiffany memang tampak mengerikan. Rambut yang biasanya tampak indah berkilau kini tampak sedikit kusam, kulitnya yang berwarna putih susu kini tampak sedikit menggelap, dan yang lebih parah Tiffany tampak makin kurus. Pasti iklim di Karibia tidak cocok dengan sang pujaan hati. Siwon terkekeh membayangkan bagaimana hangusnya si hitam Yuri saat ini. Hehe.

“Yah, Oppa! Kenapa tertawa sendiri? Kau mengejekku?” teriakan Tiffany membuat Siwon tersadar. Ia segera mendekat lalu mengecup puncak kepala Tiffany.

“Baiklah kalau begitu. Lanjutkanlah tidurmu. Aku akan memasak sarapan untukmu, oke?”

Tiffany menyeringai senang. “Jinjja??”

Siwon mengangguk. “Lagipula aku tidak tega melihatmu saat ini. Penampilanmu bukan seperti Tiffany yang dulu. Sekarang kulitmu kecoklatan terbakar matahari, persis seperti gadis Ethiopia. Hahahaha!”

“YAAAK! CHOI SIWOOOOON!!!”

 

 

 

Setelah memasak sarapan, Siwon membantu Tiffany—yang sudah mandi serta keramas—memberi vitamin dan masker pada rambutnya. Ia sangat menyukai rambut hitam tebal kekasihnya, oleh karena itu ia sangat bersemangat untuk memulihkan kesehatan rambut gadis itu. Tiffany, bak putri raja, duduk di depan kursi rias seraya memandangi pantulan diri mereka dari cermin di hadapannya. Siwon dengan telaten membaluri rambut lembab Tiffany dengan vitamin rambut, membuat Tiffany tidak berhenti menahan senyuman.

“Biar kutebak, Karibia sangat panas ya?”

“Hmm, lebih panas dari Korea. Dan kami melakukan pemotretan di pantai. Oppa bisa bayangkan betapa panasnya matahari yang menyengat kami.”

Siwon menatap mata Tiffany di cermin. “Kau tidak berpose dengan bikini, kan?”

Entah mengapa, Siwon merasa harus mencekik fotografernya jika itu benar-benar terjadi.

“Eiih, tentu saja tidak. Kami memakai kain pantai. Lagipula yang ditonjolkan adalah produk kecantikan yang dipromosikan, bukan tubuhku atau Yuri. Pabo!”

Siwon tersenyum lega. Ia menarik lembut kepala Tiffany sampai gadis itu mendongak ke atas. Kemudian Siwon membungkuk untuk mencium bibir Tiffany dengan sangat lembut. Tiffany mengerjap senang. Siwon selalu mempunyai cara tak terduga untuk menciumnya.

“Sudah selesai. Sekarang ayo kita sarapan!”

Mereka berdua beranjak ke dapur dan duduk di kursi meja makan. Ternyata Siwon membuatkan pancake stroberi dan susu putih untuk Tiffany, sedangkan untuk dirinya hanya secangkir kopi. Tiffany tak berhenti bersyukur mempunyai kekasih yang hampir sempurna seperti Siwon. Yang terpenting adalah bisa selalu diandalkan. Menurut Tiffany, Siwon sudah sangat memenuhi tipe calon suami idaman.

Bicara tentang calon suami, Tiffany kembali teringat dengan mimpinya. Dimana ia dan Siwon mengucapkan janji suci pernikahan. Kira-kira kapan hal itu akan menjadi kenyataan? Tiffany melirik kekasihnya yang kini tengah membaca koran pagi di depannya. Wajahnya yang tampan terlihat begitu serius di atas lembaran berita tersebut.

Tiffany berpikir apakah Siwon akan menanggapinya jika ia berbicara tentang pernikahan saat ini. Sebelumnya mereka memang belum pernah membicarakannya karena Tiffany takut kalau Siwon tidak akan menanggapinya. Gadis itu mengetuk-ngetuk garpunya di atas piring, membuat Siwon meliriknya. Tiffany segera memasang senyum manis.

“Oppa?”

“Hmm?”

“Semalam aku bermimpi indah,” ucap Tiffany malu-malu.

Siwon menatapnya sebentar kemudian tersenyum lebar. “Jinjja? Baguslah. Pasti aku ada di dalam mimpimu!”

Tiffany mengangguk semangat. “Benar sekali!”

Siwon melipat korannya dan meletakkan di atas meja. “Kalau begitu, apa yang kita lakukan di dalam mimpimu?”

Tiffany menggigit bibir bawahnya dan rona merah sangat jelas di pipi chubby-nya. Siwon mengangkat kedua alis. Jelas sekali ia penasaran dengan apa yang dimimpikan sang pujaan hati. Tiffany menatap dalam-dalam mata Siwon, lalu saat ia akan membuka mulut, deringan ponsel di saku celana training Siwon mengusik mereka.

Seraya mengumpat pelan di dalam hati, Tiffany melipat tangan di dada dan mengawasi Siwon yang kini menjawab panggilan tersebut. Bahkan di akhir pekan Siwon masih berhubungan dengan klien perusahaannya!

 

“Jadi kau bermimpi menikah dengan Siwon Oppa?”

“Yess, Kwon Yuri. Apa menurutmu itu pertanda baik?”

Yuri terdiam sebentar di seberang line. Tiffany merindukannya dan ia pun butuh mencurahkan isi hatinya kepada sahabatnya itu. Biasanya Yuri selalu mempunyai pendapat, walaupun pendapatnya lebih sering membawa ‘bencana’ bagi Tiffany.

“Kau tahu, Fany-ah. Aku pernah dengar dari Nenekku kalau apa yang terjadi di dalam mimpi adalah hal yang berlawanan dari yang akan terjadi di dunia nyata.”

Ucapan Yuri membuat Tiffany terpana dengan mulut terbuka lebar. Ia tidak ingin itu terjadi!

“Andweee!! Yuri-yaa, jangan mengada-ada, eoh! Mimpiku terasa sangat nyata dan aku harap itu akan menjadi nyata. Jangan membuat semangatku turun huhuhu.”

“Baiklah, baiklah. Anggap saja Nenekku tidak pernah mengatakan hal itu. Ssshh, jangan menangis baby mushroom,” bujuk Yuri yang seketika panik mendengar rengekan Tiffany.

“Kau harus pulang jika aku menikah dengan Siwon Oppa. Arraseo?”

“Aku pasti akan pulang. Pegang janjiku! Kalau bisa aku dan duo shikshin akan mengatur perjalan honeymoon kalian.”

Tiffany tergelak. “Oh, aku rasa Siwon Oppa tidak akan menyetujui rencanamu, Kkab Yul.”

“Hahahaha!”

 

Hanya Sooyoung dan Siwon yang hadir di meja makan malam itu. Siwon tahu kalau Ayah dan Ibunya sedang berada di Venice untuk berlibur atau mungkin honeymoon kedua. Tetapi ia tidak tahu sama sekali dimana keberadaan si maknae. Bahkan akhir-akhir ini Siwon jarang melihat Yoona makan malam bersama mereka.

Untuk itu Siwon bertanya kepada Sooyoung.

“Youngie, dimana Yoona?”

Sooyoung mengangkat bahu seraya terus mengunyah makanan di dalam mulutnya. Matanya saja tidak beralih pada Siwon yang sedang bertanya, tetapi tetap menekuri majalah yang dibacanya. Melihat itu Siwon merenggut majalah dari tangan Sooyoung, membuat gadis itu melotot kepada sang kakak.

“Aku sedang bertanya padamu, Choi Sooyoung!”

“Aku sedang membaca majalah itu, Choi Siwon!”

Siwon tidak memberikan majalah itu kembali. “Katakan dimana Yoona? Dia tidak meminta izin padaku keluar rumah hari ini.”

“Ia meminta izin padaku, kok! Aku kan juga kakaknya. Cepat kemarikan majalahku! Aku sedang melihat-lihat model bikini terbaru, Oppa!” gerutu Sooyoung.

“Kau memberi izin kepada Yoona tetapi tidak tahu ia pergi kemana? Kakak macam apa kau ini?” tukas Siwon.

Sooyoung menghela napas. Ia tidak sama dengan Yoona yang takut jika dimarahi Siwon. Justru ia lebih tempramen daripada kakaknya itu. “Yah! Yoona pergi makan malam bersama temannya. Tidak mungkin aku bertanya secara detail. Eomma saja mengizinkannya, kenapa aku melarang. Aish! Oppa menyebalkan! Mengertilah sedikit, bisa tidak? Yoona bukan anak kecil lagi yang terus kau kekang. Lebih baik sekarang Oppa memikirkan kapan akan melamar sahabatku!”

Siwon mengerjap kaget. “Yah! Aku tidak mengekang Yoona. Aku hanya ingin tahu dia kema—“

Siwon mendadak terdiam. Ia baru menyadari kalimat terakhir yang dilontarkan Sooyoung. Untuk sesaat ia memikirkan lagi apa sebetulnya yang dimaksud Sooyoung namun ia tetap bingung.

“Apa katamu? Melamar sahabatmu? Siapa maksudmu?”

“Ck,” decak Sooyoung. “Tentu saja Tiffany Hwang! Apa kau tidak tahu kalau kekasihmu bermimpi menikah denganmu?”

Siwon mengerjap sekali lagi. Tiffany bermimpi menikah dengannya? Apa mimpi itu yang dimaksud Tiffany kemarin? Setelah pembicaraannya di telepon dengan Tuan Jericho, Siwon memang tidak bertanya lagi perihal mimpi tersebut kepada Tiffany.

“Jinjja? Kau tahu darimana? Apa kau tahu arti mimpinya?” tanya Siwon polos.

“Mana aku tahu, aku bukan penafsir mimpi, Oppa! Sudahlah, jangan menanyaiku lagi. Aku ingin makan dengan tenang,” tukas Sooyoung.

Siwon pun membiarkan Sooyoung melanjutkan makannya, sementara dirinya terus memikirkan mimpi Tiffany. Siwon tidak dapat menahan senyumannya. Jika Tiffany bermimpi hal manis seperti itu, apakah gadis itu sebenarnya sudah ingin menjadi pendamping hidup Siwon? Siwon menyeringai. Kini ia tahu apa yang harus dilakukannya.

 

 

“Terima kasih semuanya! Sampai jumpa besok!” seru Tiffany kepada staff dan editor di kantornya. Ia keluar dari ruangan Editor Chang tersebut dengan senyum manis di wajah. Beberapa saat lalu ia mengintip pekerjaan Editor Chang yang sedang menyeleksi foto-fotonya bersama Yuri di Karibia. Ternyata hasilnya menakjubkan. Tiffany tidak sabar untuk melihat hasil jadinya yang akan dipublikasikan bulan depan.

Hari ini Tiffany masih libur. Namun teman-temannya masih bekerja, termasuk Yoona. Tiffany langsung teringat gadis itu dan sadar kalau ia merindukannya. Segera saja Tiffany menghubungi Yoona melalui ponselnya.

“Yobosaeyo, Eonnie?”

“Yoona-yaa, kau dimana? Aku di kantor saat ini!”

“Temui aku di gedung latihan, Eonnie! Palli, ada yang harus kusampaikan padamu, hihihi.”

Tiffany tertawa kecil mendengar suara bersemangat Yoona. “Baiklah. Tunggu aku!”

Segera saja Tiffany memutar arahnya ke gedung latihan para model yang terletak di sebelah selatan kantor mereka. Tiffany bertanya-tanya apa yang akan disampaikan Yoona padanya. Apakah ada hubungannya dengan Siwon? Bicara tentang Siwon, hari ini Siwon belum menghubunginya ataupun mengirim pesan. Tiffany pun sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menanyai keadaan Siwon terlebih dahulu.

Sampai di gedung latihan, Tiffany langsung mencari Yoona ke ruangan yang biasa dipakai gadis itu. Sesekali Tiffany membalas sapaan dari hoobae-nya. Beberapa dari mereka bahkan menatap Tiffany penuh kekaguman meskipun kulit Tiffany saat ini sedikit lebih gelap. Tepat saat Tiffany menyusuri koridor menuju ruang latihan Yoona, ia melihat sesuatu yang janggal di depan pintu ruangan itu.

Tiffany menghentikan langkah dan terdiam di tempatnya. Ia mengamati kedua insan yang sepertinya sedang dimabuk cinta di depan pintu. Tiffany terperangah senang ketika melihat sebuah pemandangan mesra di hadapannya. Kyuhyun dan Yoona sedang…berciuman. Tiffany menutup mulutnya, berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Ia bisa melihat Yoona tersipu malu setelah ciuman mereka terlepas. Kyuhyun pun mengusap-usap puncak kepala Yoona sekilas kemudian pergi dari sana. Tentu saja menuju arah yang berlawanan dari tempat Tiffany berdiri.

Untuk sejenak Tiffany hanya menahan senyuman, mengawasi Yoona yang menari-nari tak jelas di tempatnya. Kyuhyun telah menghilang dari pandangan mereka. Tiffany menunggu Yoona masuk terlebih dahulu ke dalam ruang latihan. Jika ia muncul sekarang, Yoona akan curiga kalau ia telah melihat pemandangan beberapa saat lalu.

Tiffany tidak tahu menahu tentang hubungan Yoona dan Kyuhyun. Yang ia tahu adalah Yoona sesekali memang pergi berkencan dengan Kyuhyun. Tetapi ia tidak tahu hubungan mereka menjadi serius seperti ini. Apa Siwon tahu tentang hal ini?

Merasa sudah waktunya menemui Yoona, Tiffany pun melanjutkan langkahnya. Tiffany membuka pintu ruang latihan dan menemukan Yoona masih menari-nari senang. Wajahnya masih merona merah dan Tiffany tidak tahan untuk memeluk Yoona dari belakang.

“Waaaaaaa!” teriak Yoona kaget ketika Tiffany mengagetkannya dengan back hug. Tiffany tertawa terbahak-bahak.

“Yah! Tiffany Eonnie, kau mengagetkanku!” seru Yoona seraya mengelus dadanya. Tiffany hanya mencibir seperti anak kecil.

“Kelihatannya kau sedang senang sekali. Ada apa? Kau bilang ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Tiffany. Yoona menggandengnya untuk duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan. Tiffany memandang berkeliling. Sepi, hanya ada Yoona disini. Pantas saja ia bebas bermesraan dengan Kyuhyun. Tiffany berharap Yoona mengatakan tentang hubungannya dengan Kyuhyun.

“Nde. Ada yang ingin kusampaikan tentang Choi Siwon. Eonnie, benarkah kau bermimpi menikah dengannya?” tanya Yoona.

Tiffany menaikkan kedua alisnya. “Eoh? Mmm, nde. Kau tahu darimana? Ah, pasti Yuri!”

Yoona terkekeh. “Benar, Yuri Eonnie yang memberi tahu Sooyoung Eonnie. Dan Sooyoung Eonnie menyampaikannya kepada Siwon Oppa.”

Tiffany berjengit. “Mwo? Jadi Siwon Oppa sudah tahu? Bagaimana reaksinya?”

Yoona mengangkat bahu. Saat itu ia tidak berada di tempat, hanya Sooyoung yang menceritakannya. “Molla. Sooyoung Eonnie berkata kalau Siwon Oppa bersikap santai saja. Lalu aku mencoba memancingnya, apakah ia akan melamarmu dalam waktu dekat ini atau tidak.”

“A-apa jawabannya?”

“Siwon Oppa bahkan tidak mendengarkanku,” jawab Yoona cemberut.

Tiffany mendesah kecewa. Ia tidak menyalahkan Siwon atas ketidakpedulian itu sebab yang dialaminya hanya mimpi. Hanya angan-angan dan mungkin saja harapan Tiffany. Tiffany tidak memungkiri kalau dirinya ingin menikah dalam waktu dekat. Tetapi sepertinya tidak bagi Siwon.

“Sudahlah, Yoong. Jangan bahas lagi mimpi itu dengan Siwon Oppa. Mungkin ia tidak terlalu tertarik pada topik pernikahan,” ujar Tiffany.

Yoona menepuk-nepuk pundak Tiffany dengan lembut. “Aku yakin ia memikirkannya, meskipun ia tidak mengungkapkannya. Eonnie seperti tidak mengenal karakternya saja. Jangankan tentang pernikahan, mengungkapkan rasa cemburunya saja sangat sulit. Bahkan kita harus memancingnya terlebih dahulu.”

Tiffany tertawa. Ia setuju dengan Yoona. Siwon tetaplah Siwon, tidak akan berubah sampai kapanpun. Dan Tiffany tidak bisa berubah dalam mencintai pria itu.

 

Siwon melingkari satu tanggal di kalender mejanya. Tanggal 1 Agustus, yaitu ulang tahun Tiffany. Hari itu tinggal 2 hari lagi. Siwon sedang menyiapkan rencana apa yang akan dilakukannya pada hari itu. Setidaknya ia harus memberi kado. Siwon tersenyum-senyum sendiri mengingat apa yang dimimpikan kekasihnya itu. Sampai-sampai Yoona dan Sooyoung selalu ingin tahu apakah Siwon termotivasi untuk benar-benar melamar Tiffany. Beruntung tidak ada Yuri disini, pikir Siwon. Kalau tidak, Siwon tidak bisa membayangkan apa yang akan direncanakan ketiga gadis pembuat masalah itu.

“Besok aku akan membelinya,” bisik Siwon seraya mencorat-coret di atas kertas putih. Coretan berbentuk lingkaran. Ada senyum sumringah tampil di wajah tampannya.

“Oppa ingin membeli apa?”

“Huaaaaaa!!!”

Siwon terjungkal ke belakang—membuat kursi yang didudukinya hampir terbalik ke belakang—dan berteriak histeris ketika mendengar celetukan dari kedua gadis di hadapannya. Sooyoung dan Yoona duduk di depan meja kerjanya, menumpukan dagu pada tangan mereka yang terlipat di atas meja tersebut. Mereka hanya mengerjap polos demi melihat keterkejutan Siwon beberapa detik lalu.

Siwon terperangah sejenak kemudian menggeram kesal.

“Demi Tuhan! Sejak kapan kalian ada disini?! Kalian mengagetkanku!” sembur Siwon.

Yoona dan Sooyoung mengangkat kepala mereka dan duduk tegak.

“Oppa yang tidak mendengar salam kami. Kami berulang kali memanggilmu tetapi kau sibuk mencoret-coreti kalender dan kertas ini,” Sooyoung membela diri, diamini oleh anggukan semangat Yoona.

Siwon mendengus. “Tapi tetap saja kalian masuk tanpa seizinku!” tukasnya kesal. “Sudahlah, keluar sana!”

“Shirreo!” tolak Yoona mentah-mentah. “Beri tahu kami dulu Oppa akan membeli apa. Apa Oppa ingin nasehat kami untuk membeli kado ulang tahun Tiffany Eonnie?”

Siwon serta merta membelalakkan matanya. “Aku-tidak-perlu-nasehatmu!”

Yoona cemberut sementara Sooyoung menggerutu tak jelas. Siwon tidak akan membiarkan kedua adiknya mengacaukan rencananya kali ini. Ia tidak ingin Tiffany kecewa di hari spesialnya. Meskipun Sooyoung dan Yoona adalah sahabat Tiffany, Siwon tetap tidak bisa menjamin keselamatan rencananya. Jadi lebih baik hanya ia yang tahu.

“Oppa, berubahlah demi Tiffany Eonnie. Dia sangat kecewa karena Oppa tidak mempedulikan mimpi indahnya. Kenapa Oppa kembali menjadi tidak peka lagi? Aish!” gerutu Yoona.

Siwon mengernyitkan kening. Kali ini Yoona memang sok tahu. Apa Yoona hanya ingin memancingnya saja? Siwon menyeringai, ia tidak akan terpengaruh. Kedua adiknya harus tahu kalau kini dirinya bukanlah Siwon yang dulu.

“Jangan ikut campur dalam masalahku. Sekarang keluarlah, aku ingin melanjutkan pekerjaanku.”

“Ugh, dasar menyebalkan!” tukas Sooyoung dan Yoona serentak.

“Eomma, Fany-ah, berapa lama lagi aku harus menunggu kalian menyelesaikannya? Perutku lapar sekali,” rengek Sooyoung seraya mengusap-usap perutnya. Tiffany hanya bisa tertawa tanpa bisa mengalihkan perhatiannya pada adonan kue yang sedang diaduknya. Sementara itu Ny. Choi sibuk mempersiapkan salad buah di sudut lain ruangan dapur. Sooyoung tidak membantu mereka sama sekali. Ia hanya duduk di kursi meja makan sambil mengeluhkan perutnya yang lapar setiap dua menit sekali.

“Sabar sebentar, Youngie! Kau bahkan hanya duduk sambil mengeluh saja. Cepat bantu Tiffany memanggang kue-kue ini!” omel sang Ibu.

“Aku bingung mengapa anak gadisku selalu kelaparan. Padahal ia baru saja makan siang. Ckck,” gumam Ny. Choi. Lebih tepatnya menggerutu.

Tiffany selalu menyukai suasana dapur bersama Ny. Choi. Melihat Ny. Choi memasak untuk keluarga, atau mengomel kepada Sooyoung serta Yoona, dan memberi nasehat-nasehat berguna untuk dirinya. Tiffany sangat menyayangi Ny. Choi. Beliau adalah peganti figure Ibu bagi gadis bermata indah tersebut. Ny. Choi pun tidak menganggap Tiffany sebagai kekasih anak sulungnya, namun beliau menganggap Tiffany sebagai anak kandungnya sendiri. Tapi tentu saja Ny. Choi tetap menyadari kalau Tiffany adalah calon istri anak sulungnya.

Ya, Ny. Choi sangat merestui Tiffany jika kelak menjadi istri Siwon.

Siang ini Tiffany makan siang bersama keluarga Siwon. Sebenarnya hanya ada Ny. Choi dan Sooyoung. Namun saat tahu kalau Tiffany ke rumahnya, Siwon pulang sebentar untuk makan siang di rumah. Mereka telah selesai makan siang, jadi Tiffany membantu Ny. Choi untuk membuat kudapan siang.

“Cha…tinggal tunggu 30 menit lagi kau akan segera menikmati cupcakes ini, Sooyoungie!” ucap Tiffany seraya menutup oven dan mengatur waktunya.

Sooyoung tersenyum selebar mungkin. “Gomawo baby.”

Tiffany memberikan kecupan jauh pada Sooyoung kemudian beranjak mendekati Ny. Choi.

“Ada yang bisa kubantu, Eommonim?” tanya Tiffany.

“Sudah hampir selasai, Fany-ah. Beristirahatlah sekarang,” jawab Ny. Choi lembut.

“Aniyo, gwaenchana. Aku suka membantumu, Eommonim.”

Ny. Choi mengecup pipi Tiffany dengan sayang. “Aku menyayangimu.”

Tiffany tersenyum senang lalu melingkarkan tangannya di bahu Ny. Choi. “Lebih sayang padaku atau Siwon Oppa?” godanya.

“Tentu saja aku lebih menyayangimu daripada anakku yang selalu sibuk bekerja itu!”

Ny. Choi sengaja memperkeras volume suaranya ketika melihat Siwon turun dari kamarnya. Siwon sudah rapi dan bersiap-siap kembali ke kantor. Ia hanya mengernyit sebal ketika Ny. Choi dan Tiffany menggodanya dari dapur dan sorakan Sooyoung yang mengganggu. Siwon tahu kalau Ibunya sedang menyindir, maka ia hanya mengabaikan hal itu. Ia terus menuruni anak tangga dan berhenti di samping meja makan.

Sekilas ia dan Tiffany berpandangan.

“Oppa, kau dengar itu? Eomma lebih menyayangi Tiffany daripada orang gila kerja sepertimu,” ledek Sooyoung. Siwon melotot padanya.

“Siwon-ah, kenapa cepat sekali kembali ke kantor? Kau tidak ingin menyicipi cupcakes buatan Tiffany terlebih dahulu?” tanya Ny. Choi.

Siwon pura-pura melihat jam tangannya lalu berdecak. “Aku tidak sempat, Eomma. Ada rapat penting dengan Tuan Jang setengah jam lagi,” bohong Siwon.

Tiffany menghela napas kecewa di samping Ny. Choi.

“Kau ini selalu saja membanggakan rapat,” tandas Ny. Choi seraya mencuci tangannya, berpura-pura tidak menyadari raut wajah kecewa Tiffany.

Siwon memilih untuk mengabaikan komentar Ibunya. “Kalau begitu, aku pergi.”

Tiffany memandangi Siwon yang bersikap acuh padanya. Pria itu memang tidak suka menunjukkan kemesraan di depan keluarganya. Yang dilakukan Tiffany kini hanya melihat Siwon yang keluar dari pintu rumah dan sebentar lagi menghilang dari pandangan mereka.

“Kau tidak ingin mengantarnya keluar?” tanya Sooyoung seraya menahan senyuman. Gadis itu tahu kalau sahabatnya ingin bersama Siwon meskipun sebentar. Tiffany membalas senyuman Sooyoung lalu berlari kecil mengejar Siwon ke teras.

Ny. Choi hanya menggeleng-gelengkan kepala, heran dengan sikap kaku Siwon dan sikap manja Tiffany. Sungguh berbeda, namun membuat mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang manis.

“Jika anak itu tidak menjadikan Tiffany sebagai istrinya kelak, Eomma yang akan menggantungnya di pohon beringin taman belakang rumah kita.”

Sooyoung tergelak mendengar perkataan sang Ibu.

Sementara itu di teras rumah, Tiffany berhasil menarik tangan Siwon agar langkahnya terhenti. Siwon menyembunyikan senyumnya sebelum berbalik menghadap Tiffany. Dan saat mereka berhadapan satu sama lain, Siwon memasang ekspresi serius dan terburu-buru.

“Ada apa, baby? Aku harus segera berangkat ke kantor. Kau di rumah saja bersama Eomma dan Sooyoung, ne! Nanti sore aku akan mengantarmu pulang,” ujar Siwon.

Tiffany melipat tangannya di dada dan cemberut. “Padahal aku ingin kau menyicipi kue buatanku. Kau janji akan mengantarkanku pulang?”

Siwon mengangguk. “Nde, aku janji. Sudah ya?”

Tiffany menarik tangan Siwon lagi, mencegah pria itu pergi. Siwon pura-pura berdecak malas, membuat Tiffany ingin mencubit pipinya saat itu juga.

“Apa lagi, baby?”

“Oppa, apakah akhir-akhir ini Oppa melupakan sesuatu? Maksudku, apakah Oppa mengingat sesuatu yang penting?”

Siwon mengernyit mendengar pertanyaan acak kekasihnya. Ada rona merah di pipi Tiffany. Siwon tahu kalau yang dimaksud Tiffany adalah hari ulang tahunnya. Tentu saja Siwon ingat.

“Sesuatu yang penting? Apa itu?” tanya Siwon sok polos.

Tiffany menghembuskan napas. Percuma berbicara dengan Siwon saat ini. Terlebih lagi Siwon sedang terburu-buru. Akhirnya Tiffany hanya menggeleng serta tersenyum lemah. Tangannya merapikan dasi Siwon kemudian memukul dada bidang kekasihnya itu dengan lembut.

“Lupakan. Nah, sekarang pergilah. Aku tidak ingin kau terlambat. Aku menunggumu disini.”

Siwon mengangguk. Kemudian ia mengecup kening Tiffany sebelum berbalik menuju mobilnya yang terparkir di depan teras. Ada senyum puas di wajah Siwon karena telah berhasil menipu kekasihnya. Siwon ingin mengabulkan mimpi Tiffany, namun tidak pula secepat itu. Sebagai pria dewasa, banyak yang harus dipikirkannya sebelum melangkah ke hubungan yang lebih serius. Dan Siwon akan melakukannya secara bertahap.

Sebelum masuk ke dalam mobil, Siwon berbalik dan mendapati Tiffany yang masih memandanginya dari teras.

“Aku akan pulang setelah rapat. Tunggu aku! Ah, aku hampir lupa! Jangan biarkan si perut karet itu menghabiskan cupcakes buatanmu. Sisakan yang banyak untukku, arraseo?!”

Tiffany tertawa keras. “Hahaha, baiklah Oppa!”

 

“Oppa, bagaimana kalau ada Siwon Oppa di rumah? Aku takut ia melihatmu dan tahu tentang hubungan kita.”

“Aku akan menghadapi Oppa-mu yang pemarah itu. Tenang saja, Chagi.”

Yoona hanya bisa menggigit bibir bawahnya, cemas. Ia mengalihkan pandangan dari pemuda yang kini tengah mengemudi di sampingnya. Pemuda itu adalah kekasihnya, yang tak lain adalah Cho Kyuhyun. Mereka memang baru saja resmi menjadi sepasang kekasih, tepatnya sejak minggu lalu. Selama ini Yoona tidak mengatakan hubungan mereka kepada Siwon, karena ia tahu Siwon membenci Kyuhyun sejak sandiwara mereka beberapa bulan lalu.

Dan kini pemuda yang dibenci kakaknya justru menjadi kekasihnya. Yoona sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi Siwon ketika tahu mereka berpacaran. Siwon pasti mengamuk seperti seseorang kebakaran jenggot.

Tetapi Kyuhyun tidak gentar sedikitpun. Ia sangat mencintai Yoona dan tidak berniat untuk mempermainkan gadis itu. Karena rasa percaya dirinya itulah Kyuhyun berani menghadapi Siwon.

Yoona mematut pemandangan di luar mobil, memandangi setiap pejalan kaki di tepi jalan. Sampai saat matanya terpaku pada satu sosok yang sangat dikenalnya. Sosok itu masuk ke dalam sebuah toko perhiasan yang cukup elit di jalan itu. Beruntung mobil Kyuhyun berhenti karena traffic light di depan mereka.

“Bukankah itu Siwon Oppa?” bisik Yoona. Ia yakin sosok yang dilihatnya tadi adalah Siwon.

“Mwo?” tanya Kyuhyun yang ternyata mendengar bisikan Yoona.

“Aku rasa aku melihat Siwon Oppa masuk ke toko perhiasan,” jawab Yoona sambil lalu. “Apa yang dilakukannya disana?”

Kyuhyun ikut melongok kesana. Baginya wajar saja Siwon masuk ke toko manapun, lalu apa yang diherankan kekasihnya ini?

 

Suasana di dalam mobil hening tanpa ada alunan musik ataupun perbincangan mereka. Siwon fokus pada jalanan yang ditempuh mobilnya sementara Tiffany tidak mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Siwon melirik gadis itu sesekali lalu tersenyum ketika mendapati bibir kekasihnya sedang mengerucut cemberut.

Tentu saja Tiffany cemberut. Pasalnya beberapa jam lagi adalah hari ulang tahunnya, sedangkan Siwon masih bersikap biasa saja. Tiffany ingin Siwon memperlakukannya sedikit spesial seperti mengajak liburan ke sesuatu tempat hanya berdua saja. Atau mengajaknya makan malam atau bahkan menonton film action romance sampai pagi.

Tetapi Siwon tetaplah Siwon yang monoton.

“Ehem!” dehem Siwon untuk meminta perhatian Tiffany. Benar saja, gadis itu langsung menoleh padanya. “Baby, apa kau mengantuk?”

“Sebenarnya tidak. Tetapi aku harus segera tidur karena besok pagi aku harus kembali ke kantor. Ada panggilan mendadak Oppa. Katanya penting sekali,” jawab Tiffany datar kemudian kembali mengetik sesuatu di layar ponselnya.

“Jinjja? Seberapa penting?” tanya Siwon lagi.

Tiffany mengangkat bahu. “Molla. Waeyo?”

“Ani, aku hanya ingin tahu.”

“Kalau begitu besok aku akan memberitahumu.”

Siwon tidak menjawab lagi. ia menyadari nada ketus dalam suara Tiffany. Maka sisa perjalanan mereka kembali diwarnai dengan kesunyian dan kecanggungan. Padahal Tiffany sangat mengharapkan Siwon membujuknya saat ini. Sikap Siwon yang biasa-biasa saja membuat mood-nya buruk. Sesampainya di apartemen Tiffany ingin langsung tidur tanpa menyuruh Siwon mampir terlebih dahulu.

Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di depan gedung apartemen Tiffany. Tiffany mengemasi tas dan sweaternya kemudian membuka pintu mobil. Siwon menatapnya heran. Ia tidak akan bisa tidur nyenyak jika Tiffany meninggalkannya dengan wajah masam seperti itu. Siwon pun langsung keluar dari mobil lalu mengejar Tiffany.

“Hei!”

Siwon berhasil memegangi sebelah tangan Tiffany. Ia memanfaatkan besar tubuhnya untuk menghalangi langkah gadis itu. Tiffany mendongak menatap Siwon. Ia semakin kesal saat melihat seringai jahil yang jarang ditampilkan wajah tampan kekasihnya.

“Apakah tidak ada goodnight kiss untukku? Anggap saja sebagai bayaran mengantarmu pulang,” goda Siwon.

Tiffany merengut. “Mwo? Kau meminta bayaran? Kalau begitu lain kali aku akan menggunakan taksi!”

Baby, aku hanya bergurau. Mianhae,” ucap Siwon. Menyadari Tiffany sepertinya sangat kesal padanya, Siwon pun menciumnya terlebih dahulu. Ia mencium pipi Tiffany lekat sekali lalu menarik wajahnya lagi.

“Semoga tidurmu nyenyak,” ucap Siwon.

Tiffany mengangguk malas. “Hati-hati menyetir. Aku…ingin masuk dulu. Annyeong.”

Tanpa melihat wajah Siwon lagi, Tiffany melanjutkan langkahnya. Siwon mengulum senyum. Ia tidak beranjak dari tempatnya sampai Tiffany benar-benar masuk ke gedung di hadapannya. Tiffany memang sangat menggemaskan jika sedang merajuk. Bibirnya akan mengerucut sepanjang waktu dan keningnya mengernyit aneh. Belum lagi dengusan-dengusan kesalnya yang membuat Siwon ingin tertawa mendengarnya.

“Sekarang kau boleh kesal padaku, tetapi besok kau tidak akan berhenti tersenyum,” gumam Siwon sebelum berbalik kembali ke mobilnya.

 

Tiffany tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada rekan-rekan kantornya yang mengucapkan selamat ulang tahun. Mereka semua bersemangat sekali menyambut kedatangan Tiffany di kantor, diiringi oleh pemberian kue tart ukuran besar bahkan kado! Tiffany hampir saja menangis haru jika Yoona tidak langsung memeluknya dengan erat. Tentu saja Tiffany bahagia sebab rekan-rekan kerjanya adalah keluarga baginya di kota ini.

Sayang sekali Yuri tidak bersamanya. Namun gadis itu adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Tiffany melalui video call. Ada sesuatu yang mengganjal perasaan Tiffany ketika ikut tertawa bahagia bersama rekan-rekan kerjanya. Kebahagiaannya belum terasa lengkap sebab orang yang sangat dicintainya tidak menyadari bahwa hari ini adalah hari spesialnya.

“Mwo? Siwon Oppa belum mengucapkan apa-apa padamu?!” Yoona berjengit sehingga hampir menjatuhkan sepotong kue tart besar di tangannya. Tiffany hanya tersenyum lemah di depan Yoona seraya memperhatikan rekan-rekannya yang kini tengah menikmati kue tart di aula kantor itu.

“Tiffany Eonnie, lihat aku!” tukas Yoona. Tiffany kembali menatap Yoona. Gadis itu sepertinya benar-benar marah sebab ia melupakan porsi kue tart yang lumayan besar di tangannya.

“Gwaenchana, Yoong. Sesuatu yang wajar jika seorang pria melupakan hari ulang tahun kekasihnya,” dalih Tiffany.

“Menurutku itu bukan hal wajar, Eonnie! Dia sudah sangat keterlaluan. Aish! Aku akan mencekiknya nanti,” gerutu Yoona.

Tiffany tertawa kecil. Ia mengambil sendok lalu memotong kue tart yang terletak di atas piring di tangan Yoona. Selanjutnya ia menyumpal mulut Yoona yang sedang menggerutu itu dengan suapan pertama. Yoona hampir tersedak karena terkejut.

“Ya, Eonnie.”

“Sssttt, shut up. Jangan berisik di hari ulang tahunku. Aku mengerti kau kesal sebab aku lebih kesal. Jadi biarkan saja Siwon Oppa itu. Hm, apakah kuenya enak?”

Yoona mengangguk lalu mengerjap polos. Ia mengunyah kuenya dan tatapannya tidak lepas dari Tiffany. Meskipun gadis itu tersenyum, Yoona tahu kalau hatinya sedih. Kakaknya memang keterlaluan. Lalu Yoona mengernyit. Ia teringat sesuatu yang dilihatnya kemarin saat Siwon memasuki toko perhiasan. Yoona sempat berpikir kalau Siwon kesana untuk membelikan sesuatu untuk Tiffany. Namun ternyata mengucapkan ulang tahun saja pria itu lupa, apalagi memberinya kado.

“Eonnie?” panggil Yoona dengan aegyo. Tiffany mengerutkan alis.

“Mwo? Yoong, aku mohon jangan lakukan aegyo anehmu itu saat ini,” ucapnya. Yoona tertawa.

“Memangnya kenapa? Eonnie, aku mempunyai sesuatu untukmu. Tunggu sebentar!” tukas Yoona seraya menempatkan piring kue tart-nya ke tangan Tiffany. Tiffany hanya bisa tersenyum lebar ketika melihat Yoona mengambil tasnya dan mencari sesuatu di dalam sana. Wajah Yoona yang tadinya sumringah berubah menjadi bingung dalam sekejap. Ia mempunyai kado untuk Tiffany dan seingatnya tadi pagi ia menyimpannya di dalam tas. Tetapi kenapa sekarang sudah tidak ada??

Tadinya Yoona berpikir akan memberikan kado itu untuk mengobati rasa kesal Tiffany saat ini. Terlebih lagi Siwon yang membuat mood Tiffany menjadi buruk.

Yoona berdecak kesal. Ia yakin telah memasukkan kado itu ke dalam tasnya tadi pagi. Siapa yang berani-berani mengusik tasnya?! Tidak mungkin Sooyoung sebab kakaknya itu masih tertidur pulas saat Yoona berangkat.

“Ada apa, Yoong?” tanya Tiffany yang ikut bingung.

“Kado untukmu hilang. Aish, tidak mungkin tertinggal di rumah. Seingatku—“

“Mencari ini?”

Sontak kedua gadis cantik itu mendongak saat sebuah tangan mengulurkan kado berbentuk kotak kecil dengan kertas hias berwarna pink dan berpita merah. Yoona tersenyum lebar sementara Tiffany mengerjap heran. Cho Kyuhyun.

Happy birthday, Tiffany Hwang!” ucap Kyuhyun seraya mengulurkan kado tersebut kepada Tiffany. “Kado dari Yoona tertinggal di mobilku. Ia tidak henti-hentinya memperlihatkannya kepadaku sehingga ia lupa membawanya turun.”

“Thanks, Kyu. Jinjja? Ah, Yoong. You’re so sweet.”

Yoona tersipu malu. Ia menatap Tiffany lembut.

“Terimalah kado dariku, Eonnie. Semoga kau menyukainya,” Yoona menambahi ucapan kekasihnya.

Tiffany meletakkan piring kue tart di atas meja yang terletak di depan mereka kemudian dengan tak sabar membuka kado kecil dari Yoona. Satu hal lagi yang membuat Tiffany beruntung menjadi bagian dari kehidupan Siwon, yaitu ia bisa mengenal seorang gadis berhati malaikat seperti Yoona.

Hon, dia pasti menyukainya,” bisik Kyuhyun pada Yoona tanpa didengar Tiffany. Yoona tersenyum tipis.

Tiffany telah membuka kotak kecil tersebut lalu terpaku melihat benda di dalamnya. Sebuah kalung dengan liontin yang membuat keningnya mengernyit. Kemudian Tiffany menatap Yoona dan Kyuhyun bergantian. Matanya berkaca-kaca, terharu.

“Jangan bingung, Eonnie. Liontinnya berbentuk mushroom, seperti julukanmu. Hihihi,” kata Yoona sebelum Tiffany bertanya.

Kontan saja Tiffany tertawa bahagia. Ia segera mengambil kalung tersebut dan mengulurkannya pada Yoona. “Cepat pakaikan.”

Dengan senang hati Yoona memakaikannya di leher Tiffany, sementara Kyuhyun mengambil gambar dari momen tersebut dengan ponselnya. “Kyeopta,” gumam Kyuhyun.

Tiffany memamerkan eye smile cantiknya untuk Yoona setelah kalung itu terpasang manis di leher jenjangnya. Ia memeluk tubuh kurus Yoona seraya mengusap-usap punggungnya. Tiffany benar-benar bersyukur sosok Siwon tergantikan oleh kebaikan hati Yoona saat ini.

“Jeongmal gomapta, honey. You’re the best.”

 

Tiffany pulang ke apartemen dengan membawa selusin kado di tangannya. Betapa menyenangkannya hari ini di kantor. Merayakan ulang tahunnya bersama dan mendapatkan banyak kado sebagai bonusnya. Tiffany tidak ingin peduli pada Siwon untuk hari ini. Baginya pria itu sangat sangat sangat menyebalkan. Jangankan mengucapkan ulang tahun, mengucapkan selamat pagi-siang-malam saja tidak!

Tiffany senang hari ini Yoona, Kyuhyun dan Sooyoung menemaninya. Sooyoung datang ke kantor mereka setelah menyelesaikan materi kuliahnya. Dan ternyata Kyuhyun memang berkencan dengan Yoona. Tiffany bisa membayangkan betapa jengkelnya Siwon nanti jika mengetahui hubungan Kyuhyun dengan adiknya, mengingat dulu Kyuhyun pernah terlibat mempermainkan perasaannya.

“Ah, aku tidak peduli,” gerutu Tiffany seraya masuk ke dalam unit apartemen miliknya. Ia meletakkan kado-kado tersebut di lantai dan bersusah payah menyusunnya sendirian. Baru disadarinya ternyata tubuhnya lelah sekali. Tetapi semua itu terobati dengan kabar yang diberikan Manager Jun tadi sore.

“Kami telah memikirkan hal ini dengan matang, Tiffany-ssi. Kau akan menjadi duta kosmetik perusahaan Nice Look selama satu tahun. Kau bertugas mempromosikan produk ini di media, termasuk berkampanye melalui CF, radio dan beberapa talkshow. Dengan ini, Manager Kim akan menjadi managermu. Sepertinya satu tahun ini akan menjadi puncak karirmu. Chukkae!”

Tiffany berjalan gontai ke dalam unitnya. Tidak dapat dibohongi, meskipun ia senang mendapat kabar dari Manager Jun, akan tetapi pikirannya tetap mengarah pada ketidak pedulian Siwon. Tiffany pasti akan lebih bahagia jika pria itu kini bersamanya.

Tepat ketika Tiffany akan menghempaskan tubuhnya di atas sofa, bel apartemennya berbunyi. Keningnya mengernyit tajam. Siapa yang datang malam-malam begini, gerutu Tiffany. Bel tersebut terus berbunyi, seolah-olah memaksa Tiffany untuk membuka pintu.

“Changkammaaaaan!” seru Tiffany gemas. Ia menghentakkan kakinya sebelum malangkah kembali ke pintu. Jika itu hanya tukang laundry keliling, Tiffany akan menarik-narik rambutnya. Ia mengintip dengan malas lewat monitor kemudian membuka pintu.

Tiffany kembali mengernyit.

Seorang pria bertubuh tinggi serta memakai pakaian koki lengkap dengan topi panjangnya, berkumis lebat dan dengan gigi depan yang besarnya melibihi normal. Di dekatnya ada sebuah troli makanan dengan dua buah hidangan tertutup tudung aluminium. Tiffany tersenyum canggung.

“Ya?”

“Benarkah Anda Miss Tiffany Hwang?”

Tiffany mengangguk singkat. “Nde, saya Tiffany Hwang? Ada apa?”

“Benarkah hari ini adalah hari ulang tahun Anda?”

Tiffany tertawa ragu. “Ya, benar. Aku berulang tahun hari ini. Anda siapa?”

“Bagus kalau begitu, kkk. Permisi, aku ingin masuk.”

“Nde? Whoaa, tunggu—“

Tiffany tidak dapat mencegah saat koki itu masuk seenaknya. Ia mendorong troli makanan sambil bersiul riang, tidak mengindahkan Tiffany yang terperangah di ambang pintu. Tiffany menghargai kalau koki itu mengetahui hari ulang tahunnya, tetapi ia merasa ada kejanggalan disini. Ia harus cepat-cepat menyuruh koki itu pergi karena ia butuh istirahat.

“Yah, tunggu! Aku tidak mempersilakanmu masuk, Mister!”

Koki itu berhenti di tengah-tengah ruang tamu lalu membalikkan tubuhnya kepada Tiffany. Tinggi tubuhnya mengingatkan Tiffany akan Siwon. Ah, lagi-lagi pria itu merasuki pikirannya! Tiffany melipat tangan di dada kemudian menatap tegas pada si koki-kurang-sopan.

“Bukankah kau berulang tahun hari ini? Ada seseorang yang mengirimkan kue-kue ini untukmu!” jelas si koki bersuara aneh.

“Kue? Siapa pengirimnya?” Tiffany segera menghampiri troli, namun si koki dengan sigap menghalangi. Tiffany mendongak lalu menelengkan kepalanya. “Kau bilang ada kue untukku. Aku ingin lihat.”

“Jangan terburu-buru, Miss Hwang. Biar aku yang menunjukkan padamu.”

Tiffany menghela napas. Baiklah, Tiffany akan menuruti koki ini. Ia tetap berdiri di posisinya sementara matanya mengawasi pria berbaju serba putih tersebut. Tangannya menyingkap hidangan pertama, memperlihatkan sebuah kue tart berwarna hitam dan pink. Di atasnya bertengger banyak lilin dengan hiasan kiwi serta stroberi.

Tiffany melangkah mendekati troli, tatapannya terpaku pada kue tersebut. Sementara si koki menyalakan api pada lilin-lilin di atasnya. Mata Tiffany dengan jelas membaca tulisan yang ada di puncak kue bertingkat dua itu.

Happy b’day my mushroom

Tiffany menatap koki itu sengit. “Siapa yang mengirim kue ini?”

Si pria koki mengedikkan bahu. “Pentingkah Anda mengetahui namanya?”

Tiffany melipat kedua tangannya di dada. Ia mulai muak dengan pria di hadapannya itu.

“Tentu saja. Siapa tahu pengirimnya menaruh racun di dalam kue tart ini!” tukas Tiffany. Sontak koki itu tergelak. Kedua tangannya kini bertumpu di pinggang langsingnya. Tiffany masih memberinya tatapan menuntut. Ia tidak akan menerima sesuatu dari orang yang tidak dikenal, kendati itu kue ulang tahun sekalipun. Tapi hanya orang-orang tertentu yang memanggilnya Mushroom. Dan mustahil kalau kue itu dari Yuri!

“Tidak ada yang ingin meracuni gadis berhati malaikat sepertimu, Miss Hwang.”

Tiffany menatap ragu. Bukannya ia terpengaruh dengan pujian sang koki, tetapi dari nada suaranya, Tiffany percaya kalau koki itu benar.

“Ng…baiklah kalau begitu. Apa ada pesan lain darinya?”

Koki itu mengangguk tegas. “Tentu saja. Sebenarnya permintaan si pengirim sedikit merepotkan. Ia ingin aku memotongkan kue dan memberi suapan pertama kepada yang berulang tahun.”

Mata Tiffany membelalak tak percaya. Kali ini ia tidak jengkel kepada si koki saja, tetapi juga kepada si pengirim. Apa ia sedang dikerjai? Cukup lama Tiffany terdiam sampai akhirnya ia mendengus tak sabar.

“Tolong beritahu padaku siapa pengirimnya!”

“Sayang sekali aku tidak bisa, Miss Hwang.”

“Aish! Baiklah. Potongkan saja kuenya dan Anda bisa kembali pada si pengirim kue untuk menyampaikan ucapan terima kasihku.”

“Kau tidak ingin membuat permintaan terlebih dahulu dan meniup lilinnya?”

Tiffany menghela napas kemudian bergerak maju. Ia menggenggam kedua tangannya dan memejamkan mata. Hanya satu permintaan Tiffany, yaitu bisa bertemu dengan Siwon malam ini, ,meskipun ia pikir itu mustahil. Kemudian Tiffany membuka matanya lagi dan meniup lilin-lilin kecil yang tertancap di atas kue.

“Boleh aku tahu apa permintaanmu?” tanya koki itu. Tiffany terperangah heran.

“Apakah itu juga termasuk perintah si pengirim kue?” sindir Tiffany.

Koki itupun tersenyum lebar, membuat bentuk kumisnya memanjang. Tiffany bergidik geli. Kumis itu sangat tidak cocok di wajah tirus si koki, membuatnya tampak konyol. Tiffany mengawasi si koki dari tempatnya. Pria itu kini mengambil pisau pemotong kue yang terletak di atas troli, kemudian tampak berpikir sejenak. Sesekali kedua tangan koki itu seperti mengukur dan mengira-ngira sesuatu. Tentu saja hal itu sukses membuat kening Tiffany berkerut hebat. Apa sih yang dilakukannya, batin Tiffany.

Ketika Tiffany akan membuka mulutnya untuk bertanya, koki itu pun akhirnya menusukkan ujung pisau di tengah-tengah kue kemudian memotongnya dengan hati-hati. Alhasil Tiffany kembali terdiam dan hanya memperhatikan apa saja yang dilakukan koki aneh itu. Setelah memotong satu potongan kecil, koki itu meletakkannya di atas piring kertas yang sudah tersedia. Selanjutnya dengan senyum sangat puas, ia menyerahkannya ke depan wajah Tiffany.

“Selamat ulang tahun, Miss Tiffany Hwang. Silahkan nikmati kuemu!” ucapnya.

Tiffany menerima kue itu dengan senyuman singkat. “Tidak ada sendok?”

“Oh, kau bisa memegangnya, kan?”

Tiffany berdesis sebal. Dengan gaya pasrah akhirnya Tiffany pun menggigit ujung kuenya. Hmm, kue yang sangat lezat ternyata. Lumayan untuk mengurangi kekesalannya kepada si koki dan tentu saja si pengirim kue. Kenapa mengirim kue selezat ini harus merahasiakan identitas, pikir Tiffany. Mungkin pengirimnya adalah salah satu teman sesama agensinya atau…pengagum rahasia?

Tiffany menggigit lagi kuenya. Jangan sampai ada pengagum rahasia karena Siwon tidak akan menyukai hal itu. Tiffany tidak ingin melihat Siwon cemburu lagi. Ia sudah melihatnya sekali dan tidak akan mengulanginya lagi. Dan ngomong-ngomong, kenapa si koki menatapnya penuh minat seperti itu?

“Ada apa menatapku seperti itu?”

Koki itu mengedikkan bahu.

“Bukankah Anda bisa pergi sek—akh! Apa ini??!”

Alih-alih khawatir, si koki justru tampak sangat tertarik melihat Tiffany hampir tersedak sesuatu. Tiffany menggigit sesuatu yang keras dari dalam potongan kue tart. Ia segera meletakkan sisanya di atas piring kertas dan mengeluarkan benda asing itu dari dalam mulutnya. Keningnya mengernyit hebat. Benda yang berlumuran kue itu berbentuk bulat dan keras. Warnanya perak dengan mata mengkilat. Cincin?

Tiffany menggigit cincin di dalam kuenya!

Kepalanya mendongak untuk menatap si koki. Kali ini ia lebih terkejut. Koki tersebut melepas belenggu gigi besar itu dari dalam mulutnya hingga kini Tiffany melihat gigi ukuran normal. Gigi palsu? Ya Tuhan. Siapa pria ini, batin Tiffany.

Belum habis keterkejutannya, selanjutnya si koko menarik kumisnya perlahan hingga akhirnya lepas dari atas mulutnya. Tiffany mendekap mulut dengan kedua tangannya. Ia tidak percaya keadaan ini nyata. Secepat inikah Tuhan mengabulkan permintaanku, batinnya.

“Selamat ulang tahun, Kekasihku.”

Butuh waktu cukup lama sampai Tiffany bernapas normal kembali. Ia masih menggenggam cincinnya, namun tatapannya tidak terlepas dari pria tampan di hadapannya. Pria itu tak lain adalah Choi Siwon. Siwon melangkah semakin mendekat. Senyumannya sangat lebar, membuat kedua lesung pipinya tampak manis sekali.

“Hei, ini aku, Siwon Oppa-mu. Apa kau lebih suka aku berpenampilan dengan gigi tonggos dan kumis tebal menggelikan itu? Kalau kau lebih suka, aku akan memakainya lagi.”

Tiffany menahan kedua tangan Siwon dan memaksanya memandang wajahnya. Tiffany benar-benar cemberut sekarang. Ia menunjukkan cincin itu kepada Siwon.

“Bagaimana kalau aku menelannya? Pabo!” dengusnya. Siwon hanya terkekeh. Ia pun mengambil cincin tersebut lalu membersihkannya dengan tepi baju. Tiffany mengantisipasi. Apa yang akan dilakukan kekasihnya dengan cincin permata itu? Tunggu! Tubuh Tiffany menegang memikirkannya. Jika cincin itu sekedar hadiah ulang tahunnya, tak masalah. Tapi, bagaimana kalau cincin itu untuk…

“Baby, maafkan aku. Beberapa hari ini aku mengabaikanmu. Bukannya aku lupa hari ulang tahunmu, tetapi aku ingin menjadi orang terakhir dan berkesan di hari spesialmu ini. Kau tidak marah, kan?”

Tiffany menatap kilauan sepasang mata tajam di depannya. Ya, tentu saja Siwon tidak akan mengabaikannya. Ucapan Siwon membuat Tiffany semakin gusar. Ia semakin meragukan apa tujuan cincin tersebut. Semoga saja memang hadiah ulang tahunnya, Tiffany berdoa dalam hati.

“Dan, di harimu yang sangat istimewa ini, aku bermaksud menjadikannya istimewa untuk kita berdua. Aku ingin kau selalu mengingat malam ini seumur hidupmu.”

Jantung Tiffany berdegup-degup kencang. Ia mencoba bersikap tenang, sementara Siwon tampak sangat bahagia. Tiffany masih menantikan apa yang akan disampaikan Siwon.

“Tiffany Hwang, aku ingin menjadikanmu milikku selamanya. Aku ingin kau menjadi seorang Ny. Choi yang selalu ada untukku, sebagai pelabuhan cinta terakhirku, dan ibu dari anak-anakku. Kau harus tahu Fany-ah, bahwa tidak pernah sekalipun aku melupakanmu. Aku mengingatmu setiap helaan nafasku, bahkan kau selau hadir di dalam mimpi-mimpi indahku. Mendengar Sooyoung berkata kau bermimpi menikah denganku, membuatku sadar kalau memang sudah seharusnya aku melakukannya. Aku sangat mencintaimu dan aku yakin kau juga mempunyai perasaan yang sama. Oleh sebab itu, aku…membeli cincin ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya melakukan lamaran yang romantic. Apa aku harus berlutut?”

Tiffany tidak tahu harus berkata apa. Penuturan Siwon membuat jantungnya jungkir balik seperti menaiki wahana roller coaster. Ternyata benar terjadi apa yang ditakutinya. Siwon sangat terlambat. Seharusnya ia melakukan ini sejak awal. Setidaknya sebelum Tiffany mendapatkan tawaran kontrak kerja yang sangat menjanjikan.

“O-Oppa, apa kau sedang melamarku saat ini?”

Siwon tercengang sebentar kemudian tertawa kecil. Konyol.

“T-tentu saja. Fany-ah, apa perkataanku kurang jelas?” Siwon menaikkan sebelah alisnya. Tiffany nyaris sukses membuat semangatnya turun.

Tiffany menggeleng-geleng lemah. Seandainya ia bisa, ia pasti menerima lamaran Siwon, memakai cincin permata itu kemudian melompat ke dalam pelukan Siwon. Tapi itu hanya seandainya. Melihat perubahan di wajah Tiffany, membuat kening Siwon mengernyit. Ekspresi Tiffany adalah ekspresi yang sangat dikhawatirkan bagi seseorang yang sedang melamarnya.

“Baby, are you okay? A-apa kau masih marah padaku? Maafkan aku telah membuatmu jengkel dengan penyamaranku tadi. Aku kira dengan mengerjaimu sedikit kau akan—“

“Akutidakbisamenikahdenganmuuntuksaatini.”

Tiffany mengatakan kalimat itu dengan satu tarikan napas. Dadanya turun naik, sesak. Terlebih lagi melihat wajah kebingungan Siwon. Ya, bingung sekaligus kecewa. Siwon tidak bergerak atau bernapas normal untuk beberapa detik. Matanya tak berkedip memandang wajah cantik nan gusar di hadapannya. Meskipun Tiffany berbicara sangat cepat, namun ia bisa menangkap sedikit makna kalimat tersebut. Siwon menelan ludah dengan susah payah.

“B-bisa kau ulangi?” pinta Siwon. Suaranya serapuh daun-daun kering.

Tiffany memejamkan mata. Apakah ia sanggup mengulanginya lagi? Tapi ia harus melakukannya.

“Siwon Oppa, maafkan aku.”

“Tapi…kenapa? Bukankah, kau ingin menikah denganku?”

Tiffany memberanikan diri memandangi Siwon. Matanya sudah dipenuhi cairan bening yang setiap waktu pasti akan mengalir. Tiffany meraih kedua tangan Siwon lalu meremasnya lembut. Ia hanya ingin Siwon tahu, apapun yang terjadi, ia masih sangat mencintai pria itu.

“Aku…tidak bisa menikah untuk waktu dekat ini. Tapi aku memang sangat mendambakannya, Oppa. Aku memang ingin menjadi istrimu.”

Siwon menaikkan kedua alisnya. “Lalu, kenapa? Apa yang membuatmu tidak bisa menikah denganku dalam waktu dekat ini?”

Tiffany menghela napas berat. Ia tidak tahu apakah dirinya egois, tetapi kesempatan yang ditawarkan perusahaan kosmetik Nice Look tidak dapat ditolaknya. Hal itu bisa menjadi puncak karirnya. Telah lama Tiffany menantikannya. Dan jika menikah dengan Siwon dalam waktu dekat ini, impiannya akan hancur.

“Aku mendapatkan kontrak satu tahun dari perusahaan Nice Look. Oppa, aku sangat senang mendapatkan tawaran ini. Hanya sekali seumur hidupku Oppa. Apakah aku boleh meminta waktu padamu? Kita akan menikah satu tahun lagi. Aku berjanji akan selalu menjadi Mushroom-mu. Tapi, bukan sekarang.”

Siwon tertegun. Ia tidak menyangka Tiffany lebih memilih karirnya. Harapannya ketika membeli cincin ini adalah Tiffany akan langsung menyetujui lamarannya. Bahu bidang pria itu merosot. Jelas sekali ia sangat kecewa. Apa Tiffany benar-benar mencintainya?

“Kau…menolakku.”

“T-tidak, tidak. Tentu saja tidak! Oppa, aku mau menikah denganmu! Aku mau menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu kelak. Tetapi belum saat ini. Aku tidak bisa berhenti berkarir saat tawaran yang akan membuat masa depanku cerah datang menghampiri,” jelas Tiffany.

Siwon mendengus pelan. Ia memutar-mutar cincin yang berkilauan itu di telapak tangannya.

“Aku juga bisa membuat masa depanmu cerah, Tiffany. Apa kau meragukanku?”

“Aku tidak pernah meragukanmu, Siwon Oppa. Aku hanya memintamu untuk lebih bersabar. Aku tidak akan kemana-mana dan akan kupastikan menikah denganmu tahun depan!”

Siwon tertawa sinis. “Ya, setelah karirmu berada di puncak kau tidak akan ingat apa yang kau katakan Tiffany Hwang. Tidak ada yang menginginkan cinta disaat namanya dielu-elukan penggemar.”

Perkataan Siwon sukses membuat Tiffany diam tak berkutik. Jadi Siwon berpikir ia sedangkal itu?

“Oppa, apa yang kau katakan? Aku bukan gadis yang seperti itu. Kau tahu itu! Meskipun aku berhasil di dalam karirku, aku tidak akan pernah melupakanmu. And for God sake, aku sangat membutuhkan cintamu setiap menitnya, setiap jam bahkan selamanya! Kenapa kau harus berprasangka buruk terhadapku atau terhadap sesuatu hal yang belum terjadi?!” suara Tiffany mulai meninggi.

“Tetapi aku sudah bisa menebaknya melalui ambisimu, Tiffany. Aku ragu nanti kau bersedia melepaskan karirmu sebagai model dan public figure setelah menikah denganku. For your information, aku tidak ingin istriku selalu sibuk dengan pekerjaan dan penggemar-penggemarnya. Aku menginginkanmu hanya untukku dan keluarga kita, Tiffany! Jadi, sekarang adalah pilihan bagimu.”

Tiffany terperangah. Siwon tidak marah, tetapi tersinggung. Keinginan Tiffany yang kuat untuk berkarir dibandingkan menikah dengannya sangat menyinggung harga dirinya. Tentu saja mereka saling mencintai. Hanya Tuhan yang tahu betapa besarnya cinta kedua manusia itu.

“Kau diam. Baiklah, aku sudah tahu jawabannya. Sekali lagi maafkan aku sudah membuat hari ulang tahunmu terasa sangat…membingungkan.”

Setetes airmata mengalir di pipi kanan Siwon, beruntung ia cepat membalikan badannya. Ia berjalan gontai ke arah pintu. Dari lubuk hatinya ia ingin Tiffany berlari mengejarnya dan memeluknya. Itu saja, Siwon pasti akan merasa sedikit lega. Tetapi semakin Siwon mendekati pintu, ia hanya mendengar suara tangisan Tiffany. Mereka sama-sama tidak bisa mengalah untuk saat ini. Siwon tahu ambisi kekasihnya, namun ia yakin kalau Tiffany juga akan bahagia tanpa mengejar karirnya.

Dan pikiran mereka sama sekali tidak sama.

“Siwon Oppa!”

Tepat ketika Siwon akan memutar handle pintu, suara Tiffany memanggilnya. Siwon berhenti bergerak, akan tetapi tidak membalikkan tubuhnya. Ia menunggu panggilan Tiffany selanjutnya, namun yang dirasakannya jauh lebih nyaman. Sepasang tangan kurus yang berkulit seputih susu itu melingkar di pinggangnya. Siwon merasakan darahnya berdesir. Ia sangat merindukan gadis ini.

Perlahan Tiffany memutar tubuh Siwon hingga ia bisa mendongak menatap wajah tampan kekasihnya. Ada sebuah senyum tulus yang terukir di wajah Tiffany. Ia menunjukkan cincin yang tadi diberikan Siwon padanya. Siwon bahkan lupa cincin itu sudah berpindah ke tangan Tiffany.

“Aku sangat mencintaimu,” ungkap Tiffany tulus. Siwon termagu. Ia tetap diam tak berkutik ketika Tiffany berjinjit di atas kakinya untuk mengecup bibirnya. Siwon memejamkan mata, mencoba meresapi kehangatan ciuman manis Tiffany. Tak lama kemudian Siwon pun merespon. Mereka berciuman singkat untuk sesaat.

“Suatu saat, aku akan mengembalikan cincin ini kepadamu. Aku berjanji, Oppa. Aku berjanji akan menjadi Mushroom-mu untuk selamanya.”

 

Satu tahun kemudian…

 

Sooyoung dan Yoona berdiri di pintu kerja kakak sulung mereka. Meskipun sudah lebih dari 10 menit mereka berdiri disana, Siwon tetap saja tidak menggubris mereka. Sooyoung dan Yoona saling pandang. Sejak kepergian Tiffany menolak lamaran Siwon, membuat pria itu terpuruk. Sehingga jalan satu-satunya yang diambil Siwon untuk mengalihkan depresinya adalah menenggalamkan diri pada pekerjaan. Matanya sedikit lebih berkerut sekarang, membuat Yoona memberikan krim anti aging setiap saat. Siwon terlalu peduli kepada pekerjaan, bahkan tidak mempunyai waktu hanya untuk bercukur. Jika Tiffany melihatnya, gadis itu pasti akan sangat menyesal.

Hari ini Sooyoung berniat mengajak Siwon untuk menonton di bioskop. Sekedar untuk menghibur, siapa tahu Siwon dapat memulihkan pikirannya. Sedangkan Yoona tidak bisa ikut sebab ia mempunyai janji kencan dengan Kyuhyun. Namun sikap dingin Siwon membuat kedua kakak beradik itu sedikit ragu. Mereka takut Siwon akan menyembur di depan wajah mereka.

“Eonnie?”

“Hmm?”

“Kapan kau akan mengajaknya?”

“Erm, aku tidak tahu apakah Oppa bersedia atau tidak. Bagaimana jika nanti dia mengomeli kita?”

“Ck, Eonnie kan belum mencobanya. Coba dekati dia sekarang. Aku mendukungmu dari sini.”

“Aish, kau juga takut, kan? Kenapa tidak mau menemaniku menghampirinya?”

“Karena kau yang akan pergi dengannya, Eonnie.”

“Kau ini…”

“Jika kalian masih berdesis-desis disana seperti ular, aku akan menyumpal mulut kalian dengan makanan sisa kemarin!”

Mendengar suara berat di dalam ruangan, tepatnya Siwon yang duduk di kursi kerjanya, Sooyoung dan Yoona pun terdiam. Mulut mereka langsung bungkam. Sementara Siwon tidak mengalihkan perhatiannya pada catatan yang sedang ia tulis. Lalu karena kedua adiknya tidak menjawab sama sekali, Siwon pun mendongakkan kepala. Ia melihat Sooyoung dan Yoona yang berdiri kaku di ambang pintu.

“Apa ada yang ingin kalian sampaikan?”

Sooyoung berdehem. “Ya. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, Oppa. Kau membutuhkan hiburan dalam hidupmu.”

Siwon mendengus. “Ya, terakhir kali aku melihat hiburan di televisi dan ada kekasihku yang sedang tersenyum bahagia di berbagai show mempromosikan produk kecantikan dan berpasangan dengan model-model pria Eropa. No, thanks!”

“Tapi kali ini aku tidak mengajakmu menonton televisi, Siwon Oppa. Bagaimana jika menonton di bioskop?” Sooyoung mencoba bernegosiasi.

“Tidak, Sooyoung. Aku tidak berminat. Lagipula masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Sekarang silahkan pergi dan tutup kembali pintunya!”

Yoona dan Sooyoung kembali bertukar pandang.

“Tapi ada yang ingin kami bicarakan, Oppa!”

Siwon tetap menggeleng. “Sekali tidak, tetap tidak!”

 

 

Siwon termenung di kursinya. Sebetulnya tak ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Ia hanya tidak ingin mendengar suara-suara bising yang membuat pikirannya terganggu. Matanya terpaku pada sebuah frame yang di dalamnya terdapat foto gadis yang sangat dicintainya. Tangan Siwon terulur untuk mengambilnya.

Lebih dari satu tahun yang lalu, Tiffany menjalankan hari-harinya sebagai sosok yang sangat diidam-idamkannya sepanjang perjalanan karirnya. Tidak ada waktu untuk mengurus percintaan, begitu pikir Siwon. Sebab Tiffany mulai sulit dihubungi. Setiap hari ia sibuk dengan jadwal pemotretan, syuting iklan, bepergian dengan penggemar yang memenangkan undian, serta pulang larut setelah interview di radio-radio. Waktu 1 tahun tidaklah lama bagi Tiffany, akan tetapi berbeda dengan Siwon. Ia menjalani hari-harinya bagaikan di neraka. Tak ada yang membuatnya bersemangat selain membayangkan pernikahannya yang tertunda dengan Tiffany.

Dan mereka tidak pernah bertemu jika tidak tanpa sengaja. Beruntung bagi Yoona yang berada di agensi yang sama dengan Tiffany. Tapi pertemuan Yoona dan Tiffany tidak pula sesering yang mereka inginkan.

Siwon menghela napas berat. Ia membaca kembali pesan-pesan singkat yang dikirimnya untuk Tiffany. Gadis itu tidak cukup sering membalasnya. Mungkin dia sibuk, pikir Siwon. Tetapi ia senang Tiffany masih menunjukkan perhatiannya meski hanya lewat pesan singkat. Siwon yang tidak ingin terlalu mengganggu Tiffany, padahal sebenarnya gadis tersebut bisa melayani percakapan Siwon semampunya.

Terdengar ketukan di pintu yang mengundang perhatian Siwon. Siwon mendesah malas. Pasti kedua adiknya lagi.

“Sudah kubilang aku tidak ingin pergi menonton, Choi Sooyoung!”

Pintu pun terbuka. Kepala cantik menyembul diantaranya. Bukan Choi Sooyoung, melainkan Choi Yoona. Wajah polos Yoona tampak berseri-seri disana.

“Oppa, aku pergi dulu, oke! Tidak apa-apa kan Oppa sendirian di rumah? Seandainya Oppa takut, hubungi aku atau Eonnie atau Appa Eomma untuk segera pulang ke rumah!”

Siwon menggeram. “Aish, kau pikir aku ini anak kecil?!”

Yoona terkikik. “Hihi, aku bilang kan seandainya. Ya sudah, jaga diri Oppa. Annyeong!” Dalam sekejap, Yoona pun menghilang.

Siwon memijit-mijit pelipisnya. “Aku tidak tahu kenapa sampai saat ini aku masih bisa bertahan menjadi kakak kedua gadis aneh itu.”

 

Tiffany meletakkan pulpen yang beberapa detik lalu digunakannya untuk menandatangani sesuatu. Bibirnya mengembangkan senyuman keikhlasan. Seperti tidak ada beban di wajah cantik tersebut. Sementara itu kedua pria paruh baya di depannya mendesah berat. Ditatapnya gadis manis yang setahun ini telah bekerja sama dengan baik dengan mereka.

“Tiffany-ssi, apa kau sudah sangat yakin dengan keputusanmu? Apa kau tidak akan menyesal?” tanya salah satu dari mereka. Tiffany masih tersenyum.

“Aku sangat yakin, PresDir Im. Aku sudah memikirkannya dengan matang bahkan sebelum menerima kontrak dari Anda setahun yang lalu.”

PresDir perusahaan kosmetik Nice Look, Im Jae Hyun, saling pandang dengan Manager Jun, pihak dari agensi Tiffany. Kontrak kerjasama mereka sudah selesai, dan Tiffany sudah sangat membantu kemajuan perusahaan tersebut. Bisa dikatakan berkembang pesat. Nama Tiffany Hwang pun sekarang sudah dikenal banyak masyarakat, produk-produk mereka diekspor tanpa henti setiap bulannya.

Tetapi saat ini Tiffany telah menyudahi kerja sama mereka karena memang di dalam kontraknya tertulis seperti itu. Tiffany menolak untuk memperpanjang kontrak. Ia tidak ingin menjadi gadis bodoh lagi. Cukup sekali ia hampir kehilangan orang yang dicintainya hanya demi karir. Saat itu, ia menolak lamaran Siwon dikarenakan ia telah menyetujui kontrak kerja dengan perusahaan Nice Look. Jika Tiffany membatalkan secara sepihak, Tiffany akan dituntut. Tiffany tidak ingin dirinya bermasalah. Lagipula ia bisa mewujudkan cita-citanya sebagai seorang public figure yang sukses, meskipun ia harus mengorbankan perasaannya. Namun memang begitulah kehidupan gadis berambisi seperti Tiffany.

Dan setelah semua mimpinya terwujud serta membantu meningkatkan perekonomian perusahaan yang lama telah menjadi partner agensinya, kini Tiffany memilih untuk resign. Tidak hanya dari perusahaan kosmetik tersebut, namun juga dari agensi yang telah membesarkan namanya. Tiffany sudah sangat merindukan Siwon. Ia tahu, laki-laki itu adalah tujuan terakhirnya. Kendati ia menjadi seorang idola, ia akan tetap bersama dengan Siwon. Setelah penolakan setahun yang lalu, sekarang Tiffany yang akan mengejar kembali cinta sejatinya. Ia rasa hal itu setimpal. Siwon harus memberinya satu kesempatan lagi.

“Terima kasih atas semua hal baik yang selama ini kudapatkan. Aku sangat berhutang budi kepada siapa saja yang membantu karirku dan mendidikku menjadi seseorang yang lebih baik. Aku bangga pernah menjadi bagian keluarga dari agensi dan perusahaan ini. Kelak di masa depan, hubungan kita harus tetap baik. Kini aku akan mengejar kebahagiaanku yang sebenarnya. Sekali lagi, terima kasih, Manager Jun, PresDir Im.”

 

“Apa Siwon Oppa tidak pernah menanyakan kabarku padamu, Yoongie? Youngie?”

Sooyoung dan Yoona saling pandang dan menggeleng serentak. Yoona menggigit bibir bawahnya ketika melihat wajah Tiffany yang tiba-tiba lesu. Mereka tahu kalau Tiffany sangat merindukan Siwon, begitu pun sebaliknya. Tetapi seperti yang mereka tahu, Siwon tidak pernah memperlihatkan sisi rapuhnya di depan keluarga.

“Aku sangat merindukannya. Dan sekarang semuanya telah selesai. Aku akan memulai sesuatu yang baru bersamanya. Apa menurut kalian Siwon Oppa bersedia bertemu denganku?”

“Tentu saja ia bersedia, Fany-ah! Ia juga sangat merindukanmu. Mungkin Siwon Oppa yang berpikir kalau kau yang tidak bisa bertemu dengannya,” balas Sooyoung.

Tiffany mendesah berat. Sooyoung benar. Tapi itu dulu. Mulai saat ini ia mempunyai waktu setiap saat untuk pria itu.

“Kapan Eonnie berencana akan menemuinya? Eonnie ingin kami yang mengatur pertemuan kalian? Atau Eonnie ingin datang ke rumah? Eomma pasti sangat senang bertemu lagi denganmu!” celoteh Yoona. Tiffany tersenyum manis.

“Baiklah. Besok setelah kita makan siang, aku akan ikut kalian ke rumah. Otte?”

 

Berada di ruang rapat selama hampir 5 jam membuat Siwon suntuk. Sejujurnya ia sudah merasa sangat monoton karena tidak ada sama sekali hiburan di dalam hidupnya. Ia memang mempunyai segalanya, namun tujuan cintanya kepada Tiffany yang belum sempurna membuatnya gusar setiap hari. Rasa rindu yang selalu menyiksanya. Jika hatinya tak dapat menahan perasaan itu, ia berusaha menghubungi Tiffany untuk meminta pertemuan. Namun saat tangannya menyentuh ponsel, perasaan ragu kembali menghalangi. Ia takut keinginannya membuat karir Tiffany terganggu.

Dua puluh menit kemudian, Siwon mendapati dirinya mengemudi di jalan raya yang sedikit padat, mencari-cari resto yang menyediakan menu-menu lezat. Mungkin kali ini ia akan memilih makanan ala Eropa seperti steak, spaghetti, smoke beef dan minuman Negroni. Ah, memikirkan menu-menu lezat itu membuat perutnya bergemuruh seperti kebisingan yang dibuat kedua adiknya.

Siwon menghentikan mobil ketika traffic light menyala merah. Matanya menerawang keluar jendela mobil. Siang hari yang cukup mendung, pikir Siwon. Ia suka cuaca mendung atau gerimis sekalipun sebab tubuhnya merasa nyaman dalam suhu tersebut. Jika cuaca Seoul sedikit tinggi, Siwon bertaruh kalau saat ini ia hanya akan memesan makanan delivery.

Lalu matanya tiba-tiba menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Tak jauh dari traffic light, tepatnya di pinggir jalan yang dipenuhi dengan pejalan kaki, Siwon melihat gadis yang tak lain adalah Choi Yoona, sedang berjalan seraya berangkulan mesra dengan seorang pemuda. Sialnya, ia masih teringat jelas siapa pemuda itu. Pemuda yang pernah membuat hubungannya sedikit kacau dengan Tiffany. Cho Kyuhyun.

Siwon terpaku sesaat. Sejak kapan Yoona dan Kyuhyun seperti itu? Maksud Siwon, apa hubungan adiknya dengan pemuda Cho? Apa mereka berhubungan secara diam-diam? For Heaven sake, sudah lebih dari setahun peristiwa Siwon-Tiffany-Kyuhyun-3 gadis pengganggu terjadi. Apa sejak itu Yoona berhubungan dengan Kyuhyun? Kenapa dirinya tidak tahu sama sekali??!

Keinginan Siwon untuk menghampiri mereka tepat dengan bergantinya warna di traffic light menjadi hijau. Ia harus mencari tahu hal ini langsung ke dua orang itu. Harga dirinya tercabik-cabik jika memang benar Yoona membohonginya. Ia adalah kakak tertua dan ia juga berhak menentukan pemuda seperti apa yang akan menjadi pasangan kedua gadis Choi. Kendati orangtua mereka memberi kebebasan dengan siapa mereka berkencan, tetapi Siwon tidak akan membiarkan Yoona bersama dengan Kyuhyun.

Siwon melihat Yoona dan Kyuhyun memasuki sebuah restoran China. Darahnya semakin mendidih tatkala melihat Kyuhyun mengecup mesra kening Yoona ketika mereka memasuki bangunan tersebut. Siwon mematikan mesin mobilnya dan membuka seatbelt dengan sembrono. Ini tidak dapat dibiarkan, batin Siwon geram. Sikap overprotektifnya menggila.

Langkah beratnya berderap keras memasuki restoran China tersebut. Matanya bergerak liar mencari sosok adik bungsunya itu. Ia mengira-ngira apakah Sooyoung mengetahui hal ini? Ah, tentu saja Sooyoung mengetahui hubungan Yoona dengan Kyuhyun. Ternyata gadis itu sudah duduk di salah satu meja yang dihampiri pasangan Kyuhyun-Yoona!

Wah, pas sekali! Siwon akan menarik telinga kedua adiknya untuk pulang. Seenaknya saja mereka menyembunyikan sesuatu yang sangat penting ini darinya. Siwon melonggarkan dasi yang tiba-tiba terasa mencekik lehernya kemudian melangkah tegap ke arah meja yang ditempati Sooyoung, Yoona serta Kyuhyun.

Sayup-sayup Siwon mendengar suara tawa mereka, membuat hatinya makin panas. Ingin sekali ia mematahkan tangan Kyuhyun yang masih melingkar di pinggang Yoona meskipun mereka sudah duduk! Aish, kenapa Sooyoung membiarkannya? Seharusnya gadis itu menjauhkan Yoona dari pemuda evil itu.

Sebelum sampai di tempat, Sooyoung yang duduk menghadap ke Siwon, terkejut. Matanya melebar ketika melihat Siwon menghampiri meja mereka. Yoona dan Kyuhyun masih sibuk dengan buku menu di hadapan mereka, tidak menyadari kehadiran Siwon si Tempramen di belakang mereka. Siwon menatap tajam ke arah Sooyoung, membuat Sooyoung menelan ludah dengan susah payah.

Baby, aku tidak menyukai mie ini! Menurutku lebih enak jajangmyeon!”

“Oppa, tapi aku ingin kita mencoba ‘Mie Jodoh’ ini! Jika aku memakan salah satu ujungnya, dan kau memakan ujung lainnya, lalu tidak terputus sampai bibir kita menempel, itu artinya kita berjodoh,” ujar Yoona malu-malu. Kemudian ia memandang Sooyoung. “Benar kan, Eonnie?”

Tetapi Sooyoung tidak menatap Yoona, melainkan masih terpaku pada Siwon. Melihat itu Yoona mengernyit. Perlahan Yoona memutar kepala ke belakang. Reaksi Yoona sudah dapat ditebak. Ia terlonjak kaget ketika melihat Siwon yang menatapnya keji tepat di belakang punggungnya.

“S-Siwon Oppa?!”

Kyuhyun ikut berdiri di samping Yoona namun ekspresinya tidak sepanik Yoona atau Sooyoung. Baginya menghadapi Siwon membuatnya teringat kejadian saat bersama Tiffany. Hanya saja saat itu ia tidak mempunyai perasaan apa-apa. Berbeda dengan saat ini. Ia tampak sangat siap menghadapi Siwon dan sangat percaya diri.

“Halo, Siwon-ssi!” sapanya riang. Yoona menggigit bibir bawahnya. Siwon membalas sapaan Kyuhyun dengan dengusan tak suka.

“Jadi, adakah yang kau sembunyikan dari kakakmu, Choi Yoona?” tanya Siwon dingin. Ia melirik Yoona sekilas sebelum berpaling pada Sooyoung. “Kakak laki-lakimu! Sebab aku yakin kakak perempuanmu sangat memanjakanmu sampai-sampai ia mengizinkanmu berkencan dengan pemuda yang…seperti dia.”

Sooyoung berdesis sebal sementara kening Kyuhyun mengernyit tajam.

“A…aku, maafkan aku, Oppa. Sebenarnya—“

“Siwon Oppa, Yoona dan Kyuhyun sudah lama menjalin hubungan. Eomma sudah tahu, kok! Aku tidak mengatakannya kepadamu karena kau selalu berlebihan menjaga Yoona. Bahkan Appa tidak hiperbola sepertimu!” tuding Sooyoung. Siwon mengangkat sebelah alisnya.

“Apa katamu?” desis Siwon. “Kalian sudah tidak menganggapku dan berbohong padaku tetapi tidak meminta maaf?”

Yoona menunduk dalam. Kyuhyun pun maju selangkah mendekati Siwon. Tatapannya kini serius.

“Sudah lama aku menantikan saat ini. Saat dimana kau mengetahui hubungan kami. Tetapi Yoona selalu melarangku sebab ia takut, kau tidak akan menyetujuinya.”

Rahang Siwon berkedut. Tidak ada sedikitpun rasa simpatinya untuk Kyuhyun. Pemuda yang pernah membuatnya bertengkar dengan Tiffany—meskipun itu ide gila ketiga gadis pengganggu—kini menjadi kekasih adiknya. Siwon tidak akan menyetujuinya.

“Ayo, Yoona, Sooyoung! Pulang denganku!” geram Siwon. Yoona menatap bingung ke arah Sooyoung.

“Kami bukan anak kecil lagi, Oppa!” desis Sooyoung seraya maju mendekati Siwon. Kini mereka menjadi tontonan pengunjung restoran. Kyuhyun menggenggam tangan Yoona erat, seolah-olah tak akan melepaskannya. Pemuda itu tidak gentar dengan sikap keras Siwon.

“Tapi kalian harus mematuhi perintahku atau aku akan adukan tentang hal ini kepada Appa. Appa pasti akan mendengarkan ucapanku,” ujar Siwon dengan senyum sinis penuh kemenangan.

Siwon menyambar tangan Yoona dan kemudian menyeretnya. Tangannya tersentak ketika menyadari kalau Yoona tidak bisa pergi kemana-mana. Sebelah tangannya digenggam erat oleh Kyuhyun. Siwon menatap Kyuhyun tak percaya. Berani-beraninya pemuda itu, batin Siwon.

“Kau mencari masalah denganku, Cho?”

Kyuhyun mengedikkan bahu. “Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu kalau Yoona adalah milikku. Ia bukan gadis kecil lagi, Choi.”

Siwon merasa darahnya sudah benar-benar mendidih. Ia menghela napas berat dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. Sadar kalau mereka sedang di tempat umum dan dirinya dalam pikiran yang sedang kacau—ia cemburu melihat kemesraan Kyuhyun dan Yoona sebab ia sangat merindukan Tiffany—Siwon pun memutuskan untuk pergi. Ia menatap kedua adiknya untuk terakhir kali kemudian melayangkan tatapan penuh dendam kepada Kyuhyun sebelum berbalik. Mungkin ia akan menenangkan pikirannya di rumah.

Dan ketika Siwon membalikkan badannya, saat itu dunia terasa berputar. Ia tidak yakin apakah pikiran kacau masih menggerogoti kepalanya. Tetapi kenapa kali ini ia tidak merasakan sesuatu yang buruk seperti beberapa saat lalu. Kini perasaannya tiba-tiba sejuk dan tentram, melihat sepasang mata indah di hadapannya. Napas Siwon tercekat di kerongkongannya.

Tiffany Hwang berdiri tepat di hadapannya.

Mereka terdiam sejenak. Bahkan Siwon menahan napasnya. Mereka memang masih dalam satu kota, tetapi tidak sering bertemu. Dan mengapa pertemuan tak sengaja kali ini membuat jantung Siwon berdetak sangat cepat? Biasanya mereka tidak sengaja bertemu hanya dari kejauhan. Itupun terkadang Tiffany tidak melihat keberadaan Siwon.

Tiffany maju mendekati Siwon hingga jarak mereka terlalu dekat untuk ukuran pasangan yang sama-sama canggung.

“Annyeong, Siwon Oppa.”

Siwon tidak menjawab. Ia sendiri tidak tahu apakah ia terlalu senang atau bahkan sebaliknya.

“Sepertinya ada sedikit masalah disini,” goda Tiffany. Ia melirik sekilas Yoona, Kyuhyun dan Sooyoung dari balik bahu bidang Siwon. “Kebetulan sekali kau hadir disini. Tadinya aku ingin menemuimu di rumah.”

Siwon mengerjapkan mata. “Menemuiku di rumah?”

Yoona dan Sooyoung menahan tawa. Si tempramen Siwon mendadak menjadi pria kikuk saat bertemu pujaan hatinya.

“Hmm, benar. Jadi, bisakah kita bicara sebentar? Hanya berdua.”

 

 

 

Siwon masih diam seribu bahasa sementara Tiffany tidak berhenti tersenyum di sampingnya. Mereka sama-sama tidak menyangka dengan pertemuan yang tidak direncanakan ini. Tiffany memang mempunyai rencana akan menemui Siwon di rumahnya setelah makan siang bersama Choi Sisters serta Kyuhyun. Namun kehadiran Siwon yang mendadak membuat mereka semua terkejut.

“Kau masih kesal dengan Yoona atau kesal melihatku?” akhirnya Tiffany bertanya. Siwon mengedikkan sebelah bahunya.

“Aku tidak kesal dengan Yoona, hanya sedikit kecewa. Dan aku tidak menyukai pemuda itu,” jawab Siwon malas. Tiffany mengangguk paham.

“Berarti kau kesal padaku. Kau belum memaafkanku, ya?”

Cukup lama Siwon terdiam. Ia mencari-cari jawaban yang tepat untuk menjelaskan perasaannya kepada Tiffany. Tentu saja ia tidak kesal, bahkan terlalu bahagia. Ia ingin memeluk Tiffany sekuat tenaganya, menciumi wajah kesayangannya tersebut dan mengatakan kepada semua orang kalau ia masih sangat mencintai gadis itu. Tapi semua itu masih tertahan di dalam hatinya sebab ia tidak tahu apakah Tiffany adalah kekasihnya yang dulu.

“Aku tidak pernah kesal padamu, Fany-ah. Dan tidak ada yang perlu kumaafkan. Mengejar impian bukanlah kesalahan,” ungkap Siwon akhirnya.

Tiffany termenung menatap jari-jari tangannya.

“Jadi, bagaimana kabarmu? Apa pekerjaanmu baik-baik saja? Tidak ada penggemar gila yang mengejar-ngejarmu, kan?”

Tiffany tertawa hambar. “Semua berjalan lancar, Oppa. Tapi sebenarnya aku…sudah tidak bekerja lagi.”

Otomatis Siwon menoleh padanya. Kedua alisnya menyatu, bingung. Sementara gadis cantik di sampingnya mengembangkan senyuman manis.

“Tidak bekerja lagi? Apa maksudmu?”

Tiffany memberikan anggukkan meyakinkan. “Aku sudah tidak bekerja untuk agensiku lagi, begitupun dengan perusahaan kosmetik Nice Look. Aku vakum untuk waktu yang lama sekali, tidak tahu sampai kapan.”

Siwon terdiam lagi. Kali ini ia tidak mengerti apa yang diperbuat kekasihnya. Dulu Tiffany bersikeras mengejar mimpinya menjadi seorang bintang, dan saat ini memutuskan untuk vakum.

“Apa maksudmu dengan vakum untuk waktu yang lama? Bukankah karirmu sedang berada di atas pucak saat ini? Ada masalah apa, Fany-ah? Kau bisa menceritakannya padaku,” tutur Siwon. Tampak jelas kecemasan di wajahnya.

Namun Tiffany menanggapinya dengan senyuman tipis. “Oppa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada masalah apapun denganku apalagi dengan pekerjaanku. Aku memutuskan vakum untuk diriku sendiri. Ada hal yang perlu kulakukan, Oppa. Hal yang menyangkut masa depanku.”

Siwon bergumam tak jelas. Ia masih belum mengerti dengan rencana-rencana ajaib di kepala kekasihnya. Tiffany yang keras kepala ini selalu mempunyai rencana yang tidak pernah terpikirkan oleh Siwon dan gadis itu tidak bisa dicegah sedikitpun. Buktinya tahun lalu saat Siwon melamarnya. Tiffany tidak takut menolaknya demi mengejar impiannya. Ia percaya kalau Siwon memang untuknya. Padahal sebelum itu, menikah dengan Siwon juga termasuk impiannya.

“Oppa?”

“Hmm?”

“Apa yang kau pikirkan? Sepertinya kau tidak senang bertemu denganku,” Tiffany merajuk.

Siwon tertawa kecil melihat ekspresi manja Tiffany, hal yang telah lama tidak terlihat di matanya. Siwon lantas menggelengkan kepala. “Fany-ah, kau tahu kalau aku selalu senang bertemu denganmu. Aku bahkan sudah menanti-nantikan saat ini. Jadi, rencana apa yang kau maksud? Apa kau ingin melanjutkan sekolahmu di luar negeri?”

Tiffany mencibir. Ia memutar tubuhnya ke arah Siwon, tidak peduli dengan minimnya tempat duduk di dalam mobil Siwon itu. “Tidak. Aku bahkan tidak pernah memikirkan itu.”

“Lalu?” Siwon ikut mencondongkan tubuh ke arah Tiffany.

Untuk sesaat Tiffany menatap Siwon dengan intens. Ia merindukan menatap Siwon sedekat ini. Perlahan tangan kanannya terangkat untuk mengelus rahang Siwon. Siwon tercekat. Ia kembali merasakan degupan cinta di dadanya, bahkan sekarang semakin menggila. Sudah 1 tahun ia mengalah, selama itu pula ia menahan perasaan rindunya. Ibaratnya bendungan, ia kini siap untuk meledak kapan saja.

“Aku ingin memulai kehidupan baru dengan pria yang sangat kucintai. Aku telah berjanji padanya akan kembali dan menjadi miliknya sampai akhir hidupku. Aku yakin pilihanku tepat sebab ia pasti akan membuat hidupku bahagia. Ia adalah pria yang hebat dan bertanggung jawab, meskipun terkadang tempramennya tidak bisa dikontrol. Tetapi hanya satu hal yang penting, yaitu kami saling mencintai. Aku tidak bisa lagi menunda hal ini. Menunda sesuatu yang akan membuatku bahagia selamanya,” ungkap Tiffany.

Rahang Siwon berkedut. Kata-kata Tiffany membuat hatinya tersentuh. Kini giliran tangannya yang menangkup wajah Tiffany. Ditepisnya tangan Tiffany dengan lembut kemudian ia menangkup erat sisi wajah yang halus bagai porselen itu. Mata Tiffany berkaca-kaca indah. Siwon mengagumi wajah itu dari dekat, menghirup keharumannya dalam-dalam, dan menikmati skinsipnya dengan kulit halus tersebut.

Kening mereka beradu dan menempel lembut. Tiffany tersenyum miring. Ia menunggu Siwon untuk mengatakan tanggapan atas pernyataannya tadi, namun pria itu hanya ingin bermesraan. Tiffany senang, namun hal ini sangat mendebarkan untuknya. Ia sudah secara gamblang mengungkapkan segalanya, tetapi Siwon tidak memberikan tanggapan langsung. Bagi Tiffany ini cukup membuatnya salah tingkah.

“Sepertinya pria itu sangat berarti bagimu. Wah, beruntung sekali dia!” goda Siwon seraya menggesek-gesekkan hidung mereka.

Tiffany mengangguk malu-malu. Ia tidak berani menatap mata Siwon sebab jika ia melakukannya, ia pasti akan terlebih dahulu mencium pria itu.

“Lalu, dimana cincin yang kau janjikan dulu?” tanya Siwon sok serius.

Tiffany tergelak. Bagaimana ia sampai melupakan hal sepenting itu?

“Oh, hampir saja aku lupa! Changkamman.”

Siwon dengan enggan melepaskan Tiffany dari kungkungan tangannya. Ia mengawasi gerak-gerik gadis menawan itu tanpa berkedip. Tiffany mulai menggeledah tas tangannya pertanda sedang mencari benda yang telah satu tahun disimpannya itu. Dan ketika Tiffany mendapatkannya, Siwon ikut tersenyum cerah.

“Ng…apa aku yang harus mengucapkannya?” tanya Tiffany ragu-ragu. Pipinya dipenuhi rona merah.

Siwon mengerti apa maksud Tiffany, tetapi pria itu memilih untuk menggodanya. Siwon mengangkat sebelah alisnya, berpura-pura tampak polos di depan Tiffany.

“Mengucapkan apa? Kau kan sudah mendapatkan cincinnya.”

Mulut Tiffany sedikit terbuka. Ia tidak tahu harus mulai darimana. Jelas sekali sikap Siwon membuatnya semakin salah tingkah. Aish, Choi Siwon! Kenapa kau membuatku mendamba seperti ini, batin Tiffany.

“Erm…O-Oppa, b-bukankah…pria yang harusnya terlebih dahulu…mengucapkannya?” suara Tiffany semakin lama semakin mengecil.

Siwon mengernyitkan kening. Ia senang sekali membuat kekasihnya ini merona malu. Tidak terbayangkan olehnya akan menghabiskan sisa hidup bersama Tiffany. Sudah dapat ia pastikan kalau hidupnya akan dipenuhi dengan canda tawa, cinta dan kebahagiaan.

“Aish, Oppa! Aku tidak bisa melamarmu terlebih dahulu! Aku tahu kalau aku bersalah telah menolak lamaranmu tahun lalu. Bukan, aku bukan menolaknya, tetapi menundanya. Tapi bukan berarti sekarang ini aku yang harus melamarmu duluan. Aku tidak bisa melakukannya karena pria-lah yang seharusnya melamar wanita. Jangan ragu, Oppa. Kali ini aku pasti akan menerimamu. Kita akan hidup bahagia selamanya, di rumah kita sendiri, bersama anak-anak yang kulahirkan, dan tentu saja aku tidak akan bekerja lagi. Aku bersedia melepas statusku sebagai public figure hanya demi menikah denganmu, Opp—“

Kalimat-kalimat panjang dan tergesa-gesa yang diucapkan Tiffany terpaksa berhenti di tengah jalan karena bibir Siwon telah mendominasi bibirnya. Napas Tiffany tertahan ketika Siwon memperdalam ciumannya. Tangan Tiffany mencengkram lengan Siwon yang tertutup jasnya. Rasa ciuman itu masih seperti biasa. Hangat, lembut dan memabukkan. Siwon menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia hanya ingin menikmati momen saat ini. Bibirnya menjelajah ke bagian-bagian wajah Tiffany yang menjadi favoritenya.

Tiffany tersengal namun kebahagiaannya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tangannya melingkar di leher Siwon sementara tangan Siwon mengelus punggungnya. Suasana yang sangat romantis dan mendebarkan.

I do.”

Ucapan Siwon membuat Tiffany membuka matanya. Bibirnya masih terbuka akibat ciuman yang dilepaskan tiba-tiba oleh Siwon. Dan kini Siwon membuatnya semakin bingung.

I do?”

Siwon terkekeh. “Bukankah tadi kau sedang melamarku. Oleh sebab itu aku ucapkan, I do. Aku bersedia menikahimu, Mushroom-ku. Dan tentu saja aku akan mewujudkan semua impianmu, terutama melahirkan anak-anakku. Kita akan mempunyai banyak sekali anak dan hidup bahagia selamanya.”

Tiffany memukul pelan kepala Siwon, membuat Siwon meringis. “Baby?”

“Apa maksudmu dengan banyak sekali anak? 3 saja sudah cukup, Oppa!”

Siwon tidak tahan untuk tertawa melihat wajah Tiffany yang kini merah padam. “Apa kau yakin hanya 3 orang anak? Bagaimana kalau aku tidak setuju?”

Tiffany tersenyum manis. Ia merengkuh lagi kepala Siwon lalu mengecup ujung hidung lancip pria itu. Cintanya kepada Siwon sudah melewati batas.

“Jangan ributkan hal itu dulu. Sekarang, pakaikan cincin ini untukku.”

Siwon tersenyum lebar kemudian mengambil cincin yang setahun lalu disimpan Tiffany. Tak dipungkiri rasa bahagianya membuat tubuhnya sedikit gemetar. Ia menyematkan cincin tersebut di jari manis Tiffany lalu mengecup jari-jari lentik itu dengan lembut.

“Aku sangat mencintaimu, Tiffany Hwang. Aku berjanji akan selalu menjadikanmu hal terpenting dalam hidupku. Aku berjanji akan membahagiakanmu dengan segenap kemampuanku. Terima kasih karena telah kembali padaku.”

Tiffany mengangguk penuh haru. Ia memeluk Siwon erat, sama seperti rangkulan Siwon padanya. Siwon berkali-kali mengecup pundak Tiffany dan mereguk keharuman di lengkungan leher yang jenjang itu. Tiffany bersedia untuk menikah secepatnya dengan Siwon sebab itu adalah tujuan akhir hidupnya. Well, setidaknya tujuannya saat ini. Ia belum tahu apa tujuan lainnya setelah menikah dengan Siwon. Pastinya, tujuan menuju kebahagiaan.

“Oppa, kapan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan kita? Aku sudah tidak sabar memberitahu teman-temanku. Tetapi tadi pagi aku telah menghubungi Yuri. Ia mengatakan kalau besok pagi ia akan langsung pulang ke Seoul.”

“MWOOO??!!”

 

-Mushroom Series-

 

Halloo readers!!! I’m back :’)

Maaf yaa saya terlalu lama hiatus. Salahkan computer rusak dan kemalasan saya hihihi.

Semoga mushroom series kali ini tidak membosankan dan maafkan jika banyak kesalahan.

Ada satu lagi seri menuju My Grumpy Mushroom, yaitu tentang pernikahan dan honeymoon Sifany. Saya akan berusaha seyadong mungkin di seri itu buahahaha #plak

Anyway, saya mau mengucapkan terima kasih banyak untuk support yang diberikan beberapa readers. Janisone, Nindy, Gladys, Wina, Alika dll yang nggak bisa saya sebutkan satu persatu namanya. Dan khusus untuk Desak Chintia yang selalu pengen cipok saya😄

Kalian semua emejing :*

Sampai jumpa di ff selanjutnya. Keep RCL guys!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

155 thoughts on “(AR) I’ll Be Your Mushroom, Forever!

  1. Utk menuju jln n ujung hub kita n raih kbhgiaan tdklh mdh dilalui. ini jg yg dialami Sifany. fany yg msh memilih mantabkn hatiny memint wktu kpd siwon. n dgn lwt hari dgn sgl aktivitas n tnpa siwon disisiny mbwt fany hmpir kehlngn hatiny. tp sjrg tnp ragu dgn tgglkn khdpn artisny fany mntabbingin hdp dgn siwon.
    siwon dgn rada cintanybyg bsr memaafkn nmbuka kmbli agr bs hdp dgn fany menuju kbhgiaan mrk.
    Krn sifany akn menikah..huh sngny akhirny…..

    thanks krn udh bikin crt yg keren ini. slm cinta dr readermu ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s