(AF) BABY.. BABY.. Part 1

BABY.. BABY.. Part 1

 suju10Siwon-tile-horz

Author             : Kireynalice

Type                : Sequel

Genre              : Mariage Life, Romance

Rating             : 17

Main Cast        : Hwang Mi Young, Choi Siwon

Other Cast       : Kim Tae Yeon, Park Jung Soo, Jung Soo Yeon, Lee Dong Hae, Choi Soo Young

Disclaimer       : Karakter tokoh dalam cerita ini hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot cerita. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun. Kesamaan ide cerita merupakan hal yang tidak disengaja. Alur dan penokohan murni hasil pemikiran saya.

Author’s Note : Terima kasih untuk sambutan yang baik atas FF Sweet Namja Sweet Darling. FF ini merupakan sequel dari SNSD dan tercipta karena adanya dukungan teman-teman semua. So, happy reading and keep RCL, please!

Juni, malaikat tampan itu bernama Jung Yeon

Dong Hae’s POV

Biasanya akhir pekan selalu menjadi waktu yang kutunggu-tunggu untuk bersantai sambil menikmati secangkir kopi di pinggir beranda sembari membaca buku atau bermalas-malasan di tempat tidur. Tapi pagi ini aku bangun lebih awal untuk bersiap-siap. Setelah membersihkan tubuh, aku segera memakai kemeja biru yang dipadu dengan celana hitam dan merapikan rambutku di depan cermin untuk memastikan bahwa penampilanku sudah sempurna.

Jalanan kota yang kulalui cukup padat mengingat bulan ini merupakan akhir dari musim semi. Para pengguna jalan itu mungkin berniat untuk menyaksikan hari terakhir dari festival musim semi. Sementara aku mengendarai mobilku menuju ke sebuah apartemen yang terletak di kawasan Gangnam. Setelah memarkirkan mobil, aku segera turun dan menuju ke sebuah kamar yang terletak di lantai 8 apartemen itu.

Aku menekan bel yang terletak di dinding agar orang yang berada di dalam sana menyadari kedatanganku. Tanpa perlu menunggu lama, pemilik apartemen itu membuka pintu dengan senyum manis yang terukir di bibirnya.

“Annyeonghaseyo, Oppa. Kau sudah datang?” Tanya gadis itu padaku.

“Ne. Apa aku datang terlalu pagi?” Tanyaku padanya yang masih berdiri di hadapanku. Dia mengedarkan pandangannya ke arah belakangku.

“Aniyo. Tapi mana Soo Young? Apa kau hanya datang sendiri?” Tanyanya lagi.

“Aku memang tidak menjemputnya. Kita hanya akan pergi berdua hari ini. Tidak apa-apa kan?”

Gadis itu tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum. “Tentu. Aku akan mengambil tasku dulu. Apa Oppa mau masuk?”

“Kalau kau tidak keberatan aku ingin menunggumu di dalam saja.”

“Tentu. Silahkan masuk, Oppa.” Katanya sambil memiringkan tubuhnya untuk memberiku jalan.

Setelah aku duduk, dia langsung menuju dapur kecil yang terletak di sudut kanan apartemennya dan memberikan secangkir kopi untukku sebagai teman selagi menunggunya mempersiapkan diri.

Aku mengedarkan pandang menjelajahi ruangan di sekelilingku. Ruangan ini cukup luas untuk ditempati oleh 1 orang. Furniture-furniture minimalis yang memberikan kesan sederhana namun hangat mengisi ruangan ini. Sangat sesuai untuknya. Kemudian aku berdiri dan menatap satu persatu bingkai foto yang diletakkan di sebuah rak buku. Sebagian besar berisi foto yang sepertinya diambil saat dia pergi berlibur. Aku mengerutkan kening saat menatap salah satu foto dalam bingkai kayu berwarna cokelat. Foto itu bukanlah fotonya dengan keluarganya, fotonya bersama Mi Young atau foto bersama kami saat pernikahan Siwon. Tapi foto itu adalah gambar seorang gadis kecil dengan dua pasangan muda. Sepertinya gadis kecil itu adalah Soo Yeon karena wajah mereka benar-benar mirip. Tapi siapa pria dan wanita yang duduk mengapitnya? Apakah mereka ayah dan ibu Soo Yeon?

“Oppa.. Mianheyo membuatmu menunggu lama.”

Suara Soo Yeon yang baru keluar dari kamarnya membuatku mengalihkan pandanganku dari foto-foto itu dan memerhatikannya. Tanpa sadar aku tersenyum saat melihat penampilannya. Dia mengenakan celana jeans dipadu dengan kaus putih dan blazer berwarna biru. Dia memoles wajah cantiknya dengan riasan tipis dan rambut yang dibiarkan terurai. Dia juga mengenakan sepatu berhak tinggi yang semakin menyempurnakan penampilannya. Sungguh jantungku berdetak kencang saat ini.

“Eoh.. Ghwencana. Kau sudah selesai?” Tanyaku sembari berusaha mengendalikan kerja jantungku.

“Ne, aku sudah selesai. Kajja.”

End of Dong Hae’s POV

Soo Yeon’s POV

Secara tidak langsung pertemuan yang sering kami lakukan untuk membahas masalah yang dihadapi Siwon dan Mi Young membuat hubungan kami semakin dekat. Terlebih lagi setelah Choi Imo memergoki kebersamaan kami saat sedang makan siang bersama. Dia sering menyuruhku berkunjung ke rumahnya dan membuatku semakin sering bertemu dengan Dong Hae Oppa.

Hari ini Dong Hae Oppa menjemputku ke apartemen. Sebenarnya aku sedikit penasaran kemana dia akan mengajakku pergi, terlebih lagi tanpa Soo Young yang menemaninya. Tapi aku mengurungkan niatku untuk bertanya ketika melihat wajahnya yang tampak tegang. Dia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa pun, melewati belokan di depan apartemenku, dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata menjauhi pusat kota Seoul. Selama di perjalanan tanpa sengaja aku memergokinya berkali-kali mencuri pandang ke arahku. Dia terlihat seperti ingin tahu apa yang sedang aku lakukan, tapi dia juga tidak menanyakan apa-apa. Dia benar-benar aneh!

Tak lama kemudian Dong Hae Oppa menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan. Aku memandang ke luar dari kaca mobil dan melihat tulisan ‘La Pasta’ di billboard-nya. Aku mendengar pintu mobilnya terbuka dan melihat Dong Hae Oppa menyerahkan kunci mobilnya pada seorang petugas valet parking.

“Apa yang kita lakukan disini, Oppa?” Tanyaku.

“Kita akan makan pagi bersama.” Jawabnya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Dong Hae Oppa kemudian melangkah keluar dan membanting pintu mobilnya pelan. Dia lalu membuka pintu penumpang dan menungguku. Kulepaskan sabuk pengamanku kemudian bergegas keluar dari mobil. Pada awalnya kami berjalan berdampingan, tapi tiba-tiba dia menggenggam tanganku dan sedikit menarikku untuk mendekat ke arahnya. Merasakan genggaman tangannya yang erat membuat jantungku berdebar kencang.

Restaurant yang kami kunjungi tidak terlalu ramai. Hanya beberapa meja yang terisi. Mungkin karena sekarang masih pagi. Kami disambut oleh seorang resepsionis dengan sangat hangat. Kehangatan yang menurutku terlalu berlebihan untuk di berikan oleh seorang pekerja restaurant pada pelanggannya. Dan yang membuatku lebih terkejut lagi adalah kenyataan bahwa aku tidak menyukainya.

“Selamat datang.” Sambut resepsionis itu. “Untuk berapa orang?”

“2 orang.” Jawab Dong Hae Oppa. Gadis dengan papan nama yang bertuliskan Lee Sun Kyu itu kemudian mengantarkan kami menuju ke sebuah meja. Dong Hae Oppa menggeleng. “Apa ada yang lain? Aku menginginkan tempat yang sedikit lebih tenang.”

“Tentu, Tuan.” Dia kemudian membawa kami ke bagian belakang restaurant yang berupa lorong dengan pintu-pintu di sisi kanan dan kirinya. Sepertinya tempat ini dirancang untuk mengakomodasi para pengusaha yang berniat untuk melakukan pembicaraan bisnis sembari menikmati makan siang. Tapi kurasa tentu saja bukan hal itu yang menyebabkan Dong Hae Oppa membawaku kemari. Lalu sebenarnya untuk apa?

“Bagaimana dengan yang ini, Tuan?” Tanya pelayan itu setelah membuka salah satu pintu ruangan. Ruangan ini berisi meja berbentuk bundar namun berukuran tidak terlalu besar dengan 2 buah kursi yang saling berseberangan. Di sudut-sudut ruangan terdapat rangkaian bunga mawar, freesia, dan bunga-bunga lainnya yang diletakkan dalam vas porselen. Dinding di sisi kanannya terbuat dari jendela kaca yang bisa dibuka dan menghadap langsung ke taman yang ditumbuhi berbagai macam bunga yang indah. Kelopaknya yang bermekaran dengan warna yang beraneka ragam terlihat sedap dipandang mata. Semuanya begitu sempurna, begitu indah, dan begitu… romantis.

“Tepat seperti yang kuinginkan.” Dong Hae Oppa memamerkan senyumnya yang menawan dan membuat resepsionis itu terpana. “Emm.. Nona? Bisa kami menempatinya sekarang?” Tanyanya lagi.

Gadis itu mengerjap kemudian berkata dengan sedikit terbata. “Ne? Ah.. tentu saja, Tuan. Saya akan memanggilkan pelayan untuk melayani anda.” Dia kemudian membungkukkan kepalanya dan keluar dari ruangan kami.

Dong Hae Oppa kemudian menarik salah satu kursinya dan mempersilahkan aku untuk duduk. “Gomawoyo, Oppa.” Ucapku padanya sambil tersenyum. Dong Hae Oppa kemudian duduk di depanku, tapi sepertinya dia merasa sedikit tidak nyaman. Kalau kuperhatikan dia… Ah… Tidak mungkin! Itu pasti hanya perasaanku saja. Mana mungkin dia bersikap salah tingkah di depanku. Lagipula untuk apa dia merasa malu padaku?

“Oppa, apa kau baik-baik saja?” Tanyaku memecah keheningan di antara kami.

“Ne? Ah.. Ne. Aku baik-baik saja.” Jawabnya gugup.

“Jinjja? Kau terlihat aneh hari ini. Wajahmu terlihat tegang sekali. Sebenarnya kenapa kau mengajakku kemari?” Tanyaku lagi.

“Nanti kau juga akan tahu.” Jawabnya.

Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudnya. Kenapa dia menjadi berbelit-belit seperti itu?

Seorang pelayan datang dan memberikan daftar menu pada kami berdua. Dia lalu menaruh peralatan makan kami, sekeranjang roti Prancis dan mengisi gelas kosong kami dengan air putih.

“Apa anda sudah mau memesan, Tuan?” Tanyanya sambil menghadap ke Dong Hae Oppa.

“Soo Yeon-a?” Tanya Dong Hae Oppa. Pelayan tersebut kemudian berbalik menghadapku.

Aku melihat menu sesaat kemudian memilih secara acak. “Mmm… Aku mau lasagna dan hot chocolate.”

“Anda?” Ia berbalik lagi sambil tersenyum.

“Aku memesan menu makan pagi terbaik yang ada di sini dan segelas ekspresso.” Jawab Dong Hae Oppa.

“Tentu, Tuan. Menu istimewa akan segera tersaji untuk anda. Anda bisa memanggil saya lagi kalau ingin memesan yang lain sebagai tambahan.” Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya. Tentu saja. Gadis mana yang tidak akan jatuh dalam pesona seorang Lee Dong Hae dengan senyum maut yang selalu menghiasi wajah tampannya.

“Kau seharusnya tidak melakukan hal itu Oppa.” Protesku setelah pelayan itu berlalu.

“Melakukan apa?”

“Membuat para gadis terpesona.” Jawabku asal. Dong Hae Oppa menatapku dalam.

“Lalu apakah aku membuatmu terpesona?” Tanyanya.

“N.. Ne?” Tanyaku gugup. Bagaimana mungkin Dong Hae Oppa mengajukan pertanyaan yang sulit untuk kujawab dengan seringan itu?

Dong Hae Oppa berusaha tersenyum meskipun terlihat dipaksakan. Setelah itu suasana canggung menyelimuti kami. Untungnya pelayan datang disaat yang tepat dengan membawa pesanan kami. Ia menaruh makanan itu didepanku dan langsung berbalik menghadap Dong Hae Oppa.

“Apa anda ingin saya bawakan yang lain lagi, Tuan?” Tanyanya.

“Tidak, terima kasih.”

“Kalau begitu saya permisi. Selamat menikmati.” Katanya sembari membungkukkan kepala dan berlalu.

Aku pun mengalihkan pandanganku pada pesanan kami yang sudah datang. Dengan senang hati aku menyantap makanan Itali yang kelihatannya lezat itu. Sementara Dong Hae Oppa tak henti-hentinya mencuri pandang padaku yang tentunya membuatku semakin penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi.

“Soo Yeon-a..” Panggilnya tiba-tiba saat aku sedang makan.

“Ne?”

“Ada yang mau aku katakan padamu. Ah.. Ani.. Mungkin lebih tepatnya aku tanyakan padamu.” Ujarnya sembari menatapku.

“Mwoya?”

“Aku menyukaimu. Soo Yeon-a, maukah kau menjadi yeojachinguku?”

Mendengar pengakuan yang keluar dari mulutnya membuatku menghentikan acara makanku. Aku mengalihkan pandanganku pada dirinya dan menatap matanya. Aku melihat ketulusan di dalamnya. Aku ingin mengatakan kalau aku ingin mencoba, tapi… aku belum siap. Aku belum bisa sepenuhnya meyakinkan diriku kalau Mi Young akan menerima hubunganku dengan kakak iparnya. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan kasih sayang dari sahabatku. Aku tidak mau hubungan kami menjadi renggang.

“Oppa, mianheyo. Aku.. Aku tidak bisa.” Akhirnya jawaban itu yang keluar dari mulutku. Aku berusaha untuk bersikap setenang mungkin, berbanding terbalik dengan keinginan hatiku.

Seketika itu juga aku melihat kekecewaan di matanya. Dong Hae Oppa menghela napas panjang kemudian menutup kedua matanya seakan berusaha menerima penolakanku.

“Sudah kuduga.” Gumamnya pelan membuatku semakin merasa bersalah.

“Mianheyo, Oppa. Tapi kurasa ini lebih baik. Aku tidak mau ada yang tersakiti dengan hubungan kita. Lebih baik kita hanya berhubungan sebatas teman saja.” Kataku. Sungguh sebenarnya hatiku merasa sakit saat mengatakannya. Tapi aku tidak boleh begini. Aku tidak boleh terlihat lemah dihadapannya.

Kami menyelesaikan acara makan tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami. Aku tidak lagi bersemangat menyentuh makananku. Entah bagaimana rasa makanan ini sebenarnya karena aku hanya memasukkannya ke dalam mulutku tanpa terlalu banyak berpikir. Tujuanku adalah menghabiskan makanan ini  setidaknya sampai separuhnya.

Selesai makan kami berjalan beriringan menuju mobil untuk pulang. Ia membukakan pintu untukku dan menunggu sampai aku masuk, lalu menutupnya dengan lembut. Aku memerhatikannya berputar ke depan dan tanpa sengaja mengagumi wajah tampannya. Tapi cepat-cepat kusingkirkan pikiran itu dari benakku lalu berpaling ke arah jendela. Begitu masuk ke dalam mobil, Dong Hae Oppa menyalakan pendingin ruangan. Sekarang adalah saat dimana seharusnya aku merasakan kehangatan dari udara di awal musim panas, tapi sepertinya musim dingin telah lebih dulu menusuk hatiku.

Kami sama-sama terdiam selama perjalanan. Aku mengamati kendaraan yang berlalu lalang melintasi jalan raya. Tanpa aku sadari waktu berlalu begitu cepat. Kami sudah tiba kembali di halaman apartemenku. Aku masih terdiam di tempat dudukku, merasa enggan keluar dari mobil ini dan meninggalkannya dengan hati yang terluka.

“Kita sudah sampai.” Katanya memecah kekakuan di antara kami.

“Ne. Terima kasih untuk makan paginya dan terima kasih juga karena telah mengantarku pulang, Oppa.”

Dia tersenyum tipis. “Aku yang mengajakmu tentu saja aku yang harus membawamu kembali.”

“Kalau begitu aku masuk dulu, Oppa.” Pamitku.

“Soo Yeon-a..” Panggilnya saat tanganku sudah menyentuh pegangan pintu dan bersiap untuk membukanya. Aku hanya terdiam tanpa membalikkan badanku menunggu kalimat yang akan dia ucapkan selanjutnya.

“Kau tidak perlu memikirkan apa yang aku katakan tadi. Aku tidak ingin semua itu menjadi beban untukmu.”

Aku hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala. Ada sedikit rasa sakit dalam hatiku saat mendengar kalimat yang baru saja dia ucapkan. Apa dia memutuskan untuk menyerah? Apa hanya sebatas itu saja perjuangannya untuk meluluhkan hatiku dan memperjuangkan cintanya padaku?

“Tapi ingatlah, kalau suatu saat nanti kau berubah pikiran tolong beritahu aku. Karena aku akan selalu menunggumu.” Katanya lagi.

Kali ini aku tak kuasa lagi menahan perasaanku. Butiran-butiran air mata kini sudah menetes membasahi pipiku bahkan tanpa aku sadari. Namun, aku segera menghapusnya dan berusaha mengatur suaraku agar terdengar tetap tenang. “Jangan khawatir, Oppa. Berhati-hatilah di jalan.” Kataku sambil membuka pintu mobil dan bergegas keluar. Aku tidak mau berbalik lagi untuk sekedar melihat kepergiannya. Yang bisa kulakukan hanya meremas baju di bagian dadaku, berusaha untuk menahan rasa sakit yang telah kuciptakan sendiri. Sekuat tenaga aku mengatur nafas, menahan air mataku agar tidak jatuh lagi. Setidaknya sebelum aku menginjakkan kaki di lantai kamar apartemenku.

End of Soo Yeon’s POV

*********

Dong Hae’s POV

Hari ini tepat 1 minggu berlalu semenjak penolakan Soo Yeon terhadap pernyataan cintaku dan berarti genap 1 minggu sudah aku tidak bertemu dengannya. Sebenarnya ingin rasanya aku menghilang dari Seoul sementara waktu untuk sekedar berlibur mengobati kekecewaan dan mengumpulkan kembali serpihan hatiku yang hancur. Tapi itu tidak mungkin kulakukan. Siwon membutuhkan bantuanku saat ini dan aku adalah seorang namja. Bukankah aku harus kuat?

Saat ini aku sedang berjalan ke arah ruangan kerja Siwon, bermaksud untuk mendiskusikan kelanjutan kerja sama perusahaan kami dengan pihak investor dari Jepang. Tapi apa yang kudapat? Sekretarisnya mengatakan kalau Siwon telah pergi meninggalkan kantor setelah menerima telepon dari yang memberitahu kalau istrinya sakit. Apa yang terjadi pada Mi Young? Kemarin dia baik-baik saja. Saat aku menanyakan tempat tujuan kepergian Siwon, Nona Baek mengatakan kalau sekarang dia sedang menjemput Mi Young di butik milik Soo Yeon.

Hatiku terasa sedikit perih saat mendengarnya. Nama itu mengingatkanku pada kejadian memilukan yang terjadi beberapa hari yang lalu. Tapi aku segera mengingatkan diriku. Aku adalah seorang namja dan tidak boleh lemah hanya karena masalah cinta.

Belum habis rasa terkejutku, aku sudah dikejutkan kembali oleh telepon dari Soo Young yang menyatakan kalau Tae Yeon Noona akan melahirkan. Hah… Setelah ini kejutan apalagi yang akan menantiku?

*********

Aku sampai di rumah sakit saat Tae Yeon Noona baru saja memasuki ruang operasi. Jung Soo Hyung terlihat sedang berdiri di depan pintu kamar operasi sementara Siwon sedang duduk sambil memeluk Mi Young. Hwang Imo sendiri sedang menemani Samchon kembali ke ruangannya untuk melakukan pemeriksaan rutin. Sementara Soo Young dan Choi Imo sedang membeli makanan di kantin. Dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar karena kemajuan persalinan Noona tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dokter memprediksi bahwa bayinya terlilit tali pusat karena sampai pembukaan beranjak menuju 6 cm, kepala bayinya tidak mengalami penurunan. Hanya itu informasi yang kudengar berdasarkan penuturan dari Jung Soo Hyung. Selebihnya entahlah, aku juga tidak mengerti.

Aku mengedarkan pandang ke sekelilingku, mencari sosok yang sangat kurindukan. Soo Yeon terlihat sedang berdiri di sudut ruangan yang cukup jauh dengan kamar operasi. Wajahnya terlihat sangat tegang. Merasa iba dengan keadaannya maka dengan menyingkirkan rasa malu dan mengumpulkan keberanian yang tersisa aku pun menghampirinya.

“Soo Yeon-a..” Panggilku padanya. Dia sedikit menengadahkan kepalanya untuk menatapku. Tidak ada yang dia katakan. Dia hanya menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Tiba-tiba saja aku merasa bahwa keputusanku untuk menghampirinya adalah salah. Sepertinya dia tidak mengharapkan kehadiranku. Tepat sebelum aku memutuskan untuk menjauh darinya, dia menarik ujung kemejaku.

“Op.. Oppa.. Jangan tinggalkan aku. Jebbal.” Pintanya dengan suara yang bergetar.

Aku menghentikan langkahku dan menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin yang keluar dari pori-porinya. Ada apa dengan Soo Yeon? Apa dia sakit? Kenapa tubuhnya begitu dingin?

“Soo Yeon-a.. Waegurae? Kenapa badanmu gemetar?” Tanyaku khawatir.

“Aku takut, Oppa. Tolong, jangan tinggalkan aku.” Katanya lagi. Kali ini dengan air mata yang mulai turun membasahi pipinya. Aku segera merengkuhnya ke dalam pelukanku dan membelai rambutnya.

“Sshh.. Jangan menangis. Ghwencana. Semuanya pasti akan baik-baik saja.” Ucapku berusaha untuk menenangkannya.

“Eonni.. Dia.. Akan baik-baik saja kan? Dia tidak akan meninggalkanku seperti Eomma kan?” Tanyanya disela-sela isak tangisnya.

Ya Tuhan.. Aku tidak ingat! Aku sungguh-sungguh tidak ingat! Mi Young sempat menceritakan kalau selama ini Soo Yeon tinggal di Seoul seorang diri. Sejak kecil dia dirawat oleh paman dan bibinya yang tinggal di Amerika. Merekalah yang Soo Yeon panggil dengan sebutan Eomma dan Appa. Sementara ayah kandungnya meninggal saat dia berusia 11 tahun dan ibunya sendiri meninggal akibat perdarahan saat melahirkan saudara perempuannya 16 tahun yang lalu. Lebih malangnya lagi adiknya pun menyusul kepergian ibunya 1 hari setelah ia dilahirkan. Pantas saja Soo Yeon bereaksi seperti ini.

Aku melonggarkan pelukanku dan menatap wajahnya. Kukecup singkat keningnya. “Jangan khawatir. Kau tidak sendiri. Ada aku bersamamu di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Dia mengangguk dan kembali memelukku. Tangisannya semakin jelas terdengar. Jemarinya mencengkeram erat kemeja di bagian punggungku. Untuk sesaat aku terdiam. Terlalu bingung menyimpulkan perilakunya. Apakah mungkin dia benar-benar tidak memiliki sedikit pun rasa cinta untukku sementara sikapnya menunjukkan hal yang berbeda? Tapi aku tidak mau memikirkan hal itu sekarang. Yang aku inginkan hanyalah membantunya menyingkirkan keresahan yang menggelayuti hati dan pikirannya. Aku ingin bersamanya meskipun hanya untuk sementara.

*********

Soo Yeon masih memelukku dari samping meskipun isak tangisnya sudah tidak terdengar lagi saat dokter yang menangani operasi Tae Yeon Noona keluar. Kami semua langsung mendongak dan menghampirinya.

“Uisa-nim, bagaimana keadaan istri dan anak saya?” Tanya Jung Soo Hyung khawatir.

Dokter paruh baya itu membuka masker yang dikenakannya dan tersenyum. “Keadaan Nyonya Hwang baik-baik saja. Putra anda juga sedang ditangani oleh bagian anak.” Jelasnya.

“Pu.. Putra? Anakku.. Laki-laki?” Pekik Jung Soo Hyung.

“Ne. Nyonya Hwang melahirkan seorang bayi yang sehat dan tampan. Beratnya 3.300 gram dan panjang badannya 50 cm. 1 jam lagi mereka sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan. Selamat Tuan Hwang. Saya turut berbahagia. Kalau begitu saya permisi dulu.” Pamit dokter itu.

“Ne. Kamsahamnida, Uisa-nim.” Dokter itu kemudian membungkukkan kepalanya sebelum berlalu meninggalkan kami.

Seluruh keluarga  berbahagia menyambut kedatangan anggota baru. Semuanya saling berpelukan dengan senyum gembira yang menghiasi wajah kami. Tak terkecuali Soo Yeon. Dia memekik senang sambil memelukku erat. Tapi tak lama kemudian dia melepaskan pelukannya dari tubuhku dan meminta maaf dengan canggung. Tidak salah kan kalau aku menjadi bingung?

*********

Mobilku berhenti di halaman depan sebuah apartemen. Soo Young dan Imo sudah pulang bersama dengan Samcon yang singgah untuk melihat Tae Yeon Noona dan bayinya sepulang bekerja. Siwon dan Tiffany memilih untuk tinggal lebih lama di rumah sakit. Sementara tugasku adalah mengantarkan Soo Yeon pulang. Jadi tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau dia harus pulang bersamaku.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang, Oppa.” Katanya sebelum keluar dari mobilku.

“Kau tidak mengajakku untuk mampir? Aku ingin berkunjung ke apartemenmu untuk mendapat segelas kopi hangat sebagai imbalan karena sudah mengantarkanmu pulang.” Soo Yeon tidak menjawab. Tapi meskipun begitu dapat kulihat matanya sedikit terbelalak.  “Tapi sayangnya sekarang sudah malam. Jadi sepertinya aku harus mengurungkan niatku. Kecuali kau mengizinkan aku untuk bermalam.” Lanjutku. Tentu saja aku tidak serius. Aku hanya ingin menggodanya saja.

“N..Ne?!” Tanyanya dengan mata yang membulat. Aku terkekeh melihat reaksinya.

“Masuklah. Jangan tidur terlalu malam.” Kataku sambil membelai rambutnya dan mengecup pipi kirinya. Seketika itu juga kulihat wajahnya memerah. Dengan cepat dia keluar dari mobilku dan berlari menuju lobi apartemennya.

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Jung Soo Yeon. Aku akan melakukan cara apapun agar kau mengakui perasaanmu padaku.” Gumamku pada diriku sendiri sambil melihat punggungnya yang terus menjauh.

End of Dong Hae’s POV

*********

Author’s POV

Pagi ini Soo Yeon terbangun dengan sejuta kegelisahan atas kejadian yang menimpanya tadi malam. Dia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan apa yang sudah Dong Hae lakukan padanya. Pria itu sudah berani menciumnya walaupun hanya sekedar kecupan singkat dipipi. Tapi hal itu membuatnya menjadi semakin bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Dia sudah menolak mentah-mentah pernyataan cinta Dong Hae, tapi tubuhnya bereaksi berlawanan dengan ucapannya. Selama di rumah sakit kemarin dia terus memeluk tubuh pria itu. Yang membuatnya lebih malu lagi adalah kenyataan bahwa dia merasa sangat nyaman. Dekapan Dong Hae memberikan kehangatan pada tubuhnya dan membuatnya merasa terlindungi.

Hingga pagi ini disaat Dong Hae menjemputnya untuk pergi bersama ke rumah sakit, dia belum bisa mengendalikan jantungnya yang berdebar kencang padahal mereka tidak hanya pergi berdua karena Soo Young juga ikut  bersama mereka. Sepanjang jalan Soo Yeon memikirkan apa yang harus dia lakukan agar suasana diantara mereka tidak menjadi canggung sementara Dong Hae berpikir bagaimana caranya membuat Soo Yeon menyerah dan mengakui perasaannya. Sebuah ide pun terlintas di benaknya.

End of Author’s POV

*********

Mi Young’s POV

Hangatnya sinar mentari pagi di punggungku yang terbuka membangunkanku dari tidur lelapku. Aku tidak tahu sudah jam berapa ini. Apakah ini masih pagi atau sudah cukup pantas untuk disebut sebagai siang. Tapi yang jelas aku tahu pasti dimana aku berada dan dengan siapa. Aku merasa sangat nyaman. Berbaring sambil memeluknya dengan dada bidangnya yang hangat sebagai alas tidurku, mendengarkan detak jantungku dan detak jantungnya. Aku tidak membuka mata. Terlalu malu rasanya setelah apa yang terjadi semalam antara aku dan dia. Apalagi mengingat sempat adanya penolakan dariku meskipun pada akhirnya aku harus mengakui kalau aku menikmatinya.

Aigo.. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus berpura-pura tidur sampai dia meninggalkan kamar kami? Masalahnya adalah kapan dia akan melepaskan pelukan possesif kedua tangannya dari tubuhku ini?

Jari-jari Siwon Oppa dengan lembut bergerak menurun menyusuri tulang belakangku membentuk berbagai pola di kulitku. Aish.. sepertinya dia tahu kalau aku sudah bangun. Ottoke?

‘Baiklah.. Mi Young-a, tenangkan dirimu. Bersikaplah seperti saat kau bangun tidur di hari-hari biasanya. Sekarang menguletlah dan lakukan itu dengan senatural mungkin.’ Perintahku dalam hati pada diriku sendiri.

Aku meregangkan tubuhku mencoba untuk mengendurkan otot-ototku. Tuhan… Rasanya sakit sekali! Tubuhku terasa kaku dan nyeri di beberapa bagian. Tapi anehnya semua itu justru semakin membuatku bahagia. Ini semua adalah bukti bahwa apa yang terjadi diantara kami benar-benar nyata. Kami telah saling memiliki seutuhnya.

“Apa tidurmu nyenyak?” Tanya Siwon Oppa datar.

“Hmmm..” Gumamku pelan. Aku terlalu malas untuk menjawab.

Siwon Oppa menghentikan usapan jarinya di punggungku dan menghela napas. “Mianhe. Tidak seharusnya kita melakukan itu semalam. Jheongmal mianhe.”

DEG! Jantungku terasa dihantam oleh suatu benda hingga membuatnya serasa berhenti berdetak untuk sesaat. Maaf? Untuk apa? Apa memang harus kata-kata itu yang pasanganmu ucapkan padamu setelah malam pertama kalian? Kata-kata yang menyiratkan permintaan ampun dan penyesalan yang teramat dalam. Kenapa dia harus mengucapkan kata-kata itu? Apa.. Apa Siwon Oppa telah menyesal karena sudah menyentuhku? Apa dia tidak bahagia karena telah memiliki hati dan ragaku?

Aku kemudian meregangkan pelukanku lalu menopang tubuhku dengan siku agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Wajahnya begitu datar tanpa ekspresi. Tenggorokanku mendadak kering dan napasku terasa tercekat.

“Oppa.. Aku.. Aku tidak tahu apa yang kau harapkan, tapi aku tidak mengira betapa…betapa.. indah dan sempurnanya semua itu.” Aku menarik nafas, mencoba menahan sekuat tenaga agar air mataku tidak tumpah. “Maksudku.. aku tidak tahu apa yang Oppa rasakan, tapi bagiku itulah yang kurasakan.”

Siwon Oppa mengernyit. Dia tampak berpikir dan beberapa saat kemudian tersenyum. “Jadi kau kira aku tidak menikmatinya?”

Aku menunduk. “Aku tidak tahu apakah perasaanmu sama denganku atau tidak. Tapi, sebagai seorang yeoja menurutku tidak pernah ada yang lebih baik dari itu.”

“Sepertinya aku harus meminta maaf lagi.” Katanya sambil membelai rambutku. Aku mendongak menatapnya.

“Untuk apa?”

“Maafku yang sekarang adalah karena sudah membuatmu menjadi salah paham dengan menggodamu. Dan maafku yang tadi adalah karena aku menyesal baru melaksanakan kewajibanku tadi malam. Seharusnya kita menikah dan langsung mencobanya di hari pertama pertemuan kita, Chagi.” Jawabnya dengan senyum yang memperlihatkan kedua lesung pipinya.

Entah kenapa apa yang dikatakan oleh Siwon Oppa justru semakin membuat air mataku mendesak keluar. Tapi ini bukanlah sebuah air mata penyesalan atau pun kesedihan. Siwon Oppa telah membuatku menjadi seorang wanita yang paling bahagia. Sikap dan perilakunya yang lembut membuatku merasa dihargai. Siwon Oppa mengusap air mata dan mencium kedua pelupuk mataku.

“Gumawo, baby. Semalam adalah malam terindah yang pernah kurasakan sepanjang hidupku.”

Sudut bibirku sedikit terangkat. “Jheongmal? Malam terindah yang pernah Oppa rasakan?” Tanyaku dalam isak tangis yang masih tersisa.

Siwon Oppa menangkup wajahku dan mengecup bibirku lama. Dia tidak melumatnya, hanya menempelkan bibirnya pada bibirku.

“Dengar, Chagi. Saat kau menerima lamaranku dan mengatakan ‘saya bersedia’ di depan altar, saat itu juga aku merasa hidupku sempurna. Dan saat kau menyerahkan seluruh kebahagiaanmu padaku, aku tidak pernah merasa sebahagia ini seumur hidupku.”

Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya agar semakin merapatkan tubuhku ke tubuhnya dan memejamkan mata. Menikmati aroma tubuhnya yang membuatku terlena.

“Wae? Kau masih merindukanku? Apa kau mau menambah lagi?” Tanyanya dengan nada suara yang menggoda.

Aku membuka mata dan mendongak untuk menatap matanya. “Tidak, terima kasih. Aku bukan Ms. Shikshin seperti Soo Young.”

Siwon Oppa terkekeh dan mengecup keningku. “Kajja. Kita harus segera mandi agar tidak terlambat sampai ke rumah sakit dan membuat Noona menunggu kedatanganmu.”

“Kajja?”

“Iya, kajja. Bukankah akan lebih menghemat waktu kalau kita mandi bersama?”

“Shireo!” Tolakku. Bagaimana mungkin dia bisa bersikap sesantai itu? Kemarin aku melakukannya karena sudah terlanjur terbuai oleh keadaan. Kalau sekarang aku harus melihat dan memperlihatkan tubuhku padanya lagi tanpa apapun yang melekat di tubuh kami rasanya pasti akan sangat memalukan. Siwon Oppa tersenyum lalu menyingkap selimut yang menyelimuti tubuhnya. Secara otomatis aku menjerit singkat dan menutup mataku dengan kedua tangan. Aku mendengar suara tawa Siwon Oppa. Dia mungkin menertawakanku karena reaksiku yang terlalu berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi aku benar-benar malu.

“Kenapa kau menutup matamu, Chagi? Bukankah kau sudah melihatnya?”

“Oppa! Jangan bicara seperti itu! Lebih baik sekarang kau mandi. Aku baru akan mandi setelah kau selesai.” Kataku sambil mengintip lewat sela-sela jariku.

“Ayolah, bersama saja. Bukankah akan lebih menyenangkan?” Tanyanya sambil berdiri lalu meraup tubuhku.

“OPPA! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” Bukannya mendengarku Siwon Oppa malah mengecupku sambil tetap membawaku ke dalam kamar mandi.

End of Mi Young’s POV

*********

Tae Yeon’s POV

Aku sangat bahagia saat untuk pertama kalinya melihat putraku setelah melalui proses persalinan yang cukup panjang dan melelahkan. Hwang Jung Yeon, bayi yang lahir melalui proses operasi caesar dari rahimku memberi kebahagiaan yang sulit untuk dideskripsikan. Setelah selama 38 minggu dia tumbuh dan berkembang di dalam diriku dan berkomunikasi melalui tendangannya di perutku, akhirnya aku dapat mendengar suara tangisannya yang begitu nyaring di telingaku.

Kebahagiaanku semakin lengkap saat Jung Soo Oppa menggendong dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Rona bahagia begitu terpancar dari wajahnya. Aura kebahagiaan juga menyelimuti seluruh keluarga kami. Appa bahkan sampai menunggu di luar ruang operasi dan baru kembali ke kamarnya setelah melihatku dan cucunya dipindahkan ke kamar perawatan.

Hwang Jung Yeon, Eomma harap kau akan tumbuh dengan baik di tengah-tengah keluarga yang bahagia ini. Eomma harap kau mewarisi sikap bijaksana dari Halaboeji, penyayang dari Halmonie, paras menawan dari Appa dan sikap lembut dari Aunty. Eomma berjanji akan mendidikmu menjadi anak yang sehat, cerdas, dan berbakti pada orang tua. Eomma akan selalu memberikan yang terbaik untukmu.

Hidupku semakin sempurna. Aku memiliki suami yang mencintaiku, putra yang tampan, dan keluarga yang menyayangiku. Aku tidak akan pernah rela menukarnya dengan apapun.

“Gumawo, Yeobo. Kau adalah segalanya bagiku. Saranghae..” Kalimat itulah yang pertama kudengar saat aku membuka mataku pagi ini. Aku berharap bisa seperti ini selamanya. Melewati saat-saat terindah bersama suami yang sangat kucintai. Tapi sayangnya, momen romantis kami tidak bisa bertahan lebih lama. Kalian tahu kenapa? Tentu saja karena ulah fans baru Jung Yeon yaitu Soo Young, Soo Yeon, dan Dong Hae. Mereka datang ke rumah sakit ini bahkan sebelum suster mengantarkan sarapan pagiku.

“Jung Yeon-a, Noona sangat rindu padamu. Apa kau merindukan Noona?” Tanya Soo Young pada Jung Yeon yang tertidur di dalam box bayinya.

“Tentu saja tidak. Mana mungkin dia merindukan seseorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai Noona padahal dia lebih pantas dipanggil Ahjumma. Iya kan, Yeon-a?” Timpal Soo Yeon.

“Jangan dengarkan Yeon Ahjumma. Dia hanya iri melihat kebersamaan kita.” Soo Young tidak menanggapi perkataan Soo Yeon. Dia malah menutup telinganya dan menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.

“Oek..Oek..” Secara kebetulan Jung Yeon terbangun dan menangis hingga membuat kedua nona yang berdiri di depan boxnya kewalahan.

“Omo! Eonni, ottokeyo? Jung Yeon menangis. Cup.. Cup.. Cup.. Chagi.. Jangan menangis, ne?” Katanya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Jung Yeon, tapi putraku tetap menangis.

“Ya! Choi Soo Young! Apa yang kau lakukan? Kenapa tangisannya malah semakin keras?” Tegur Soo Yeon dengan panik.

Aku, Jung Soo Oppa, dan Dong Hae hanya tertawa melihat kepanikan mereka.

“Aish.. Kenapa kalian malah menertawakan kami? Eonni, ottokeyo?” Tanya Soo Young.

“Mungkin dia tidak mau memanggilmu Noona, Youngie. Dia merasa kalau kau sudah tidak pantas dipanggil begitu.” Celetuk Dong Hae sambil tersenyum jahil.

“Memang ada hubungannya ya?” Tanyanya heran.

“Sudahlah, Youngie. Siapa tahu dia berhenti menangis.” Kata Soo Yeon. Soo Young tampak berpikir sebelum akhirnya menarik napas panjang.

“Baiklah. Kau boleh memanggilku Imo, tapi jangan panggil aku Ahjumma. Jadi, sekarang berhentilah menangis dan tidurlah lagi, ne?” Dan ajaib. Tangisan Jung Yeon terhenti seketika meninggalkan Soo Young yang tercengang dan membuat tawa kami semakin terbahak.

“Benar kan? Anak sekecil itu saja tahu.” Goda Dong Hae yang membuat Soo Young melayangkan tatapan mematikan padanya.

“Sudah.. Sudah.. Jangan membuatku tertawa lagi. Perutku masih sakit.” Pintaku.

“Ghwencana, Yeobo?” Jung Soo Oppa langsung panik saat mendengarku mengucapkan kata ‘sakit’.

“Tidak terlalu. Hanya sedikit ngilu.” Jawabku. “Jangan khawatir.”

“Katakan kalau kau merasa kesakitan.” Kata Jung Soo Oppa. Dia kemudian mengecup bibirku singkat.

“Aish.. kenapa disemua tempat aku selalu melihat orang berlovey dovey sich? Di gereja, di butik bahkan sekarang di rumah sakit juga.” Protes Soo Young.

“Gereja? Ya! Jangan mengada-ada! Mana ada orang yang bersikap seperti itu dihadapan Tuhan!” Kata Dong Hae.

“Ada. Siwon Oppa dan Mi Young Eonni. Apa Oppa tidak ingat bagaimana cara mereka berciuman di depan altar setelah upacara pemberkatan?” Jawab Soo Young. Semua orang tampak berpikir kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.

“Lalu siapa lagi yang melakukan hal semacam itu di butik?” Kali ini Jung Soo Oppa yang bertanya.

“Tentu saja masih orang yang sama. Aku dan Soo Yeon Eonni memergoki mereka sedang ber…”

Soo Young belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena Siwon yang baru saja tiba sudah membekap mulutnya. Dia lalu membisikkan sesuatu ke telinga sepupunya itu ,tapi entah apa.

“Siwon-a, jangan begitu. Biarkan Soo Young melanjutkan kalimatnya. Tadi apa yang mau kau katakan Youngie?” Tanyaku penasaran.

“A.. Aniyo, Eonni. Tadi aku hanya akan mengatakan kalau mereka sedang ber… Bincang. Ya, berbincang. Iya kan, Soo Yeon Eonni?” Tanyanya meminta persetujuan Soo Yeon yang hanya gadis itu jawab dengan gumaman pelan. Aku memicingkan mata. Mencurigakan! Tidak mungkin Soo Young seheboh itu kalau hanya melihat Siwon dan Mi Young sedang berbincang. Pasti Siwon mengancam Soo Young agar dia tidak melanjutkan ceritanya. Aish…!

“Bagaimana kabarmu, Eonni? Apa luka operasimu masih sakit?” Tanya Mi Young mengalihkan pembicaraan sambil duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Jung Soo Oppa.

“Baik, tapi perutku masih terasa sedikit ngilu.” Jawabku.

“Kami membawakanmu ini, Noona.” Kata Siwon sembari memberikan bunga kesukaanku.

“Baby breath?! Gumawo Siwon-a. Apa ini yang membuat kalian telat datang pagi ini?” Godaku yang langsung membuat wajah Mi Young memerah. Tubuh adik iparku ini memang sangat jujur.

Mi Young bangkit dari duduknya dengan kikuk menuju box bayi dan menatap putraku.

“Bolehkah aku menggendongnya?” Tanya Mi Young.

“Tentu saja, Mi Young-a. Kau kan Aunty-nya. Dia pasti akan merasa sangat senang.” Kataku sambil tersenyum.  Mi Young kemudian meraup Jung Yeon perlahan.

“Oppa, lihatlah dia manis sekali.” Katanya pada Siwon. Mi Young terlihat begitu senang menggendong Jung Yeon.

“Tentu saja. Appanya juga sangat manis.” Ujar Jung Soo Oppa yang langsung membuat Mi Young memeletkan lidah padanya.

Aku hanya tersenyum melihat pemandangan manis yang tersaji didepanku. Tangan kiri Siwon merangkul Mi Young sementara tangan kanannya mengelus pipi Jung Yeon lembut. Ah.. Benar-benar gambaran sebuah keluarga bahagia. Semoga mereka segera mendapat baby Choi juga. Tapi tiba-tiba Mi Young menyerahkan Jung Yeon pada Soo Yeon dan berjalan dengan cepat ke arah kamar mandi sambil menutup mulutnya. Siwon yang merasa khawatir dengan segera mengikutinya. Kami berlima hanya bisa saling pandang karena tidak tahu apa yang sebenarnya menimpa Mi Young sampai terdengar suara orang yang sedang muntah dari dalam kamar mandi.

Aku dan Jung Soo Oppa saling pandang. Sudah jelas itu adalah suara Mi Young. Apa Mi Young sakit? Apa karena akhir-akhir ini dia sering terlambat makan? Tunggu dulu! Mual dan muntah di pagi hari? Bukankah itu tanda wanita yang sedang… Omo! Secepat itukah Tuhan mengabulkan doaku?

“Mi Young-a, ghwenchana?” Tanya Soo Yeon saat Siwon memapahnya keluar dari kamar mandi.

“Aku hanya merasa sedikit  mual, Eonni. Selebihnya aku baik-baik saja.” Jawabnya pelan.

“Mi Young-a, jangan-jangan kau hamil!” Pekikku membuat semua orang menatap ke arahku.

End of Tae Yeon’s POV

Author’s POV

BRAK!!!

“Eonni…”

*********

To Be Continued ^_^

Annyeong..

Berjumpa kembali dengan saya ^_^

Maaf kalau di part ini Sifany momennya sedikit. Saya ingin menyampaikan cerita yang sedikit meluas dengan menyertakan sudut pandang dari tokoh di luar main cast-nya. Tapi tentu saja cerita Sifanynya lebih mendominasi. Tapi kalau teman-teman merasa tidak perlu, hal tersebut mungkin akan saya hilangkan di part selanjutnya. Kritik dan sarannya ditunggu ya..!

121 thoughts on “(AF) BABY.. BABY.. Part 1

  1. Hahah lucu sama tingkahnya jung soo yoen yg malu” mau sama donghae oppa
    Dan lucu bgt ama fany unni sama siwon oppa
    Semoga nanti fanny unii cepet hamill
    Nice sequel thor
    Fightingg

  2. Kenapa soo yoen menolak cinta donghae,ada apa ya,pdhal soo yoen juga cinta sama donghae?
    Lucu deh,sifany baru aja tadi malam melakukan hubungan,masa udah cepat sekali hamil,ya mgkn saja fanynya kelelahan.hehehe……….
    Daebak thor…..next part thor.keep writing thor.
    Hwaiting.

  3. waduh, tiffany knp tuh??…jessy knp sih nolak bang donghae, kasian kn donghaenya…,tp untungnya donghae g pantang mnyerah buat dapetin jessica…siwonnya disini jd byuntae ni kalo lgi sama tiffany, tp aku suka,he..he…

  4. semua cast n peran romantis bgt. berawl dr Hae yg cinta n syg dg Sooyeon tp krn g mw rusak pershbtn diantara mrk jd sooyeon pendam.n hae trm dgn sbr smpe sooyeon mw trm krn dia th mrk slg syg.
    ditmbh lg baby jooyeon yg hds bikin bhgia. ets to kykny ad yg lbh bhgia nih, yuo sifany stlh lm tunda akhirny mlm pertm tuh…..
    aplg ad tnd2 hamil,smg bnr y….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s