(AR) A Prince From Another Land

Title: A Prince from another Land

A Prince from another Land

Author: @janisone

Main cast:  Tiffany Hwang – Choi Si Won

Support cast: Im Yoona – Cho Kyu Hyun – Jessica Jung – Lee Soon Kyu –

Kim Tae Yeon – Cho Kyung San – Lee Dong Wook

Length: Twoshoot

Genre: Romance, Fantasy

Rating: 15

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan. Ide cerita ini dari kak Echa, aku hanya mengembangkannya menjadi sebuah cerita.

Ok, ff ini adalah request dari kak Echa sebagai kado untuk ulang tahunnya dan aku persembahkan ff ini special untuknya. Maaf kalau lama kak, aku emang ga bisa bikin cepet-cepet. Dan maaf  banget kalau ff-nya mengecewakan dan enggak sesuai harapan. Btw, selamat tuk buku Just Love Me-nya. Sekali lagi hbbd and enjoy it…

Part 1

Bumbungan awan hitam menutupi langit malam. Kilatan cahaya saling bersahutan dengan tawa wanita berjubah hitam diatas bukit. Tawanya yang menakutkan membuat malam terasa makin mencekam bagi penghuni negeri bernama Flowerialand itu.

Mata besar wanita itu berkilat merah. Pandangan tajam ia tujukan pada sosok pria yang jatuh tersungkur dihadapannya. Pria dalam balutan pakaian kebesaran kerajaan itu terlihat kesakitan meski tidak terlihat luka atau pun darah ditubuhnya.

Wajah garang penuh amarah wanita itu berubah lembut. Dengan wajah penuh iba, ia mendekat dan menyentuh wajah tampan dihadapannya.

“Ada apa, Pangeran? Apa terasa sangat menyakitkan?…”

Pria yang ternyata adalah Pengeran negeri itu menepis tangan kotor yang baru menyentuh wajahnya dengan jijik.

“Aku bukan pria lemah seperti yang kau lihat, Penyihir jahat!”

“Hahaha…”

Tawa khas wanita itu kembali menggelegar didinginnya malam. Dengan sekali gerakan ia bangkit dan menghentakkan tongkatnya ke tanah dengan penuh amarah. Menyebabkan bumi disekitar mereka bergetar karenanya.

“Kau terlalu sombong untuk seorang Pangeran, Choi Si won! Kau tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganku. Aku adalah yang terkuat dan terhebat dinegeri ini!”marahnya. Pandangannya kembali melembut dengan senyum manis namun menakutkan.

“Akan sangat baik jika kita menyatukan kekuatan. Kita bersatu dan bersama-sama memimpin negeri indah ini. Bukan begitu, Pangeran?…”

“Jangan bermimpi. Aku tidak akan menyerahkan diriku apalagi negeri ini untuk iblis sepertimu!” Wanita itu kembali tertawa. Merasa kalau apa yang barusan ia dengar adalah hal yang sangat lucu.

“Baiklah, jika kita tidak bisa mencapai kesepakatan apapun dengan pembicaraan ini, kita akhiri saja…”

Tanpa aba-aba, wanita itu segera mengayunkan tongkatnya. Angin kencang seketika melanda tempat itu. Dengan sekali ayun, tongkat yang hampir sama tinggi dengan tinggi  tubuhnya itu mengeluarkan cahaya. Kumpulan cahaya biru mengelilingi tongkat tersebut sebelum akhirnya ia lemparkan pada sang Pangeran.

“Hahaha…”

Tawa penuh kemenangannya kembali menggelegar dipekatnya malam. Sang pangeran yang tak sempat mengelak atau pun melawan telah berubah menjadi benda kecil tak berdaya. Sebuah boneka.

“Itu adalah akibat karena kau menolak cinta seorang penyihir cantik dan hebat sepertiku. Dan aku bersumpah, kau tidak akan bisa kembali ke wujud aslimu sampai kau bertemu dengan cinta sejatimu!”

JGER!

Dentuman gemuruh dan petir seolah menyempurnakan kutukan penyihir berparas cantik itu.

“Dan selamat menunggu cinta sejatimu ditempat yang sangat jauh, Pangeran bodoh!”

Dengan sekali ayunan tongkat panjangnya, boneka sang Pangeran melayang di udara dan lenyap seketika.

“Sampai bertemu lagi, Pangeran. Aku pasti merindukanmu, hahaha…”

Penyihir itu tertawa puas sebelum ikut lenyap bersama cahaya kemerahan yang membawanya.

***Sifany***

Seoul, South Korea

Kesibukan jelas terlihat di pabrik tempat pembuatan boneka yang terletak dikawasan Apgujong itu. Para pekerja melakukan tugas masing-masing dengan cekatan. Ada yang membuat pola, menggunting, menjahit atau pun mengemasi boneka-boneka yang sudah siap dikirim. Semuanya tampak serius dan rajin, terlebih hari ini. Ketika sang CEO sekaligus owner dari Perusahaan boneka terbaik di Korea Selatan itu berkunjung.

Tiffany Hwang, CEO dari perusahaan yang memproduksi berbagai karakter boneka lucu itu terlihat puas dengan kinerja para karyawannya.

“Maaf, Sajangnim. Ini laporan tentang produk kita yang sudah diterima oleh konsumen…”

Seorang pria muda menyerahkan berkas ditangannya dan diterima oleh Tiffany. Diperhatikannya laporan itu dengan teliti dan seksama. Seulas senyuman cantik terlukis diwajah putih bersihnya.

“Kerja bagus, Suho-ya. Kau memang bisa ku andalkan…”

Pria muda bernama Kim Su ho itu tersenyum malu. Senang karena Tiffany tetap bersikap akrab dengannya meski sekarang masih dalam suasana kerja.

“Gumawoyo, noona. Ini juga berkat Hwang Ahjussi yang mendidik kami dengan baik…”

Tiffany mengangguk pelan. Dia mengerti kalau Appanya sangat peduli pada perusahaan beserta karyawannya. Walau sekarang ia yang menggantikan posisi sang Appa yang sudah pensiun tapi tetap saja sesekali Appanya juga menyempatkan diri untuk ikut dalam kegiatan produksi atau hanya sekedar melihat-lihat.

“Oh ya, bagaimana dengan produk yang akan kita kirim ke Jepang dan Belanda  bulan depan. Apa kalian sudah mulai menyiapkannya?…”

“Karena pesanannya cukup banyak jadi kami sudah mulai memproduksinya. Hanya tinggal melakukan tahap akhir dan pengemasan…”

Tiffany kembali mengangguk mendengar penjelasan pria muda yang menjabat sebagai Manager Produksi itu. Meski usianya masih muda tapi dia mampu melakukan tugasnya dengan sangat baik. Appanya memang tidak pernah salah dalam menilai orang.

“Kita harus bekerja cepat dan tidak boleh mengecewakan konsumen…”

“Tentu, noona…” jawab Su ho pasti. Pria dengan jas hitam itu melirik jam tangannya.

“Sebaiknya noona segera pulang. Lain kali tidak perlu mengunjungi pabrik. Biar kami yang mengurus semua pekerjaan disini. Noona cukup diam saja dikantor…”

“Eiiyy, aniyo. Aku ingin melihat semua proses agar tidak ada konsumen yang komplain nantinya…” terangnya, Su ho tersenyum. Maklum dengan sifat gila kerja wanita itu.

“Aku harus kembali ke kantor sekarang. Kalau sudah selesai disini kau boleh pulang…”

“Baik, noona…”

Su ho membungkuk hormat mempersilahkan wanita dengan kemeja putih itu berlalu dari hadapannya.

***Sifany***

Tiffany keluar dari pabrik dengan diantar seorang security.

“Terima kasih sudah berkunjung, Agasshi. Salam untuk Tuan Hwang…”

Tiffany tersenyum hangat menatap pria paruh baya itu. Dia tahu kalau pria itu sudah bekerja lama ditempat ini dan memiliki hubungan yang baik dengan Appanya.

“Ne, Ahjussi, akanku sampaikan…”

Tiffany membalas salam Kim Ahjussi lalu segera melangkah ke mobilnya. Dia harus kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya yang masih tersisa.

Tiffany membuka pintu mobilnya. Saat akan masuk ke mobil, tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu.

“Ige mwoya?…”

Tiffany membungkuk lalu mengambil  benda itu dari tanah. Diperhatikannya boneka sepanjang 40 cm itu. Boneka itu tidak terlihat seperti boneka pada umumnya. Bentuk wajahnya terlihat sempurna dan sangat detail. Dengan mata yang besar dan tajam, hidung yang mancung dan bibir kecil yang menggemaskan. Belum lagi pakaiannya yang terasa  asing dan aneh. Seperti pakaian kerajaan dalam cerita negeri dongeng.

“Punya siapa ini? Seingatku perusahaan kami tidak mengeluarkan boneka jenis ini…” bingung Tiffany. Tentu saja ia mengetahui semua jenis boneka yang dikeluarkan perusahaannya. Bukan hanya semata karena dia yang mendesainnya tapi karena izin dan persetujuannya jugalah boneka itu bisa dipasarkan.

Tiffany memeriksa seluruh tubuh boneka itu. Tangan, kaki, perut sampai kerah baju yang dikenakan boneka tersebut.

“Tidak ada nama perusahaannya. Apa ini dibuat tangan?….” Jika benar Tiffany sangat mengagumi orang itu.

Merasa diburu waktu, Tiffany memilih melupakan boneka itu. Tangannya terayun untuk melempar boneka itu namun tiba-tiba ia mengurungkan niatnya.

“Ku berikan pada Kyung san saja…”

***Sifany***

Ruang tamu di apartement Tiffany  tampak tenang dan sepi. Hanya terdengar gemericik air dari shower dikamar mandi yang ia gunakan. Lalu berganti dengan senandung lagu The Way milik Ariana Grande dari bibir tipisnya. Tak lama berselang, wanita cantik itu keluar dengan handuk yang melilit tubuh indahnya. Langkahnya menuju lemari. Mengambil sebuah hot pants beserta kaosnya.

Usai berpakaian, Tiffany meraih tabung lotionnya. Dipakaikannya cairan harum nan lembut itu dibagian lengan dan kakinya. Dia ingin segera tidur karena merasa sangat lelah setelah bekerja seharian.

Begitu selesai, Tiffany kembali meletakkan tabung lotion itu diatas meja rias. Saat akan beranjak, matanya tak sengaja melihat boneka yang tadi ia temukan didepan pabrik. Segera diraihnya boneka itu sebelum berbaring diranjang empuknya.

“Aigo, nyaman sekali…”

Tiffany menarik selimutnya. Setelah dirasa nyaman kembali diperhatikannya boneka itu. Kalau dipikir-pikir boneka itu masih bagus. Tapi kenapa sang pemilik membuangnya?

Tiffany menyentuh hidung mancung si boneka.

“Woah, kau sangat tampan ternyata. Sayang sekali karena hanya boneka. Oh ya, siapa yang membuatmu? Aku mungkin bisa bekerja sama dengannya untuk membuat banyak boneka sepertimu. Pasti banyak yang suka. Kita bisa mengalahkan boneka woody…”

Tiffany tertawa begitu menyadari apa yang baru ia ucapkan. Tapi dia memang seorang business woman jadi wajar kalau sifat aslinya keluar.

Tiffany memperhatikan baju yang digunakan boneka itu. Bukan hanya modelnya yang bagus namun jahitannya juga terlihat sangat rapi dan detail.

“Apa kau menyukai baju ini?…” Tiffany bertanya.

“Bagaimana kalau ku ganti dengan kemeja dan jas saja, pasti lebih cocok untukmu…” ujarnya memberi pendapat.

“Uhm, tapi tidak usah. Kau juga tampak cocok dengan baju ini. Dan sepertinya kau tidak akan tinggal lama denganku. Kau akan ku berikan pada Kyung san saja ya? Aku sudah menelfonnya dan dia sangat senang karena akan punya teman sepertimu…”

Tiffany tersenyum menatap wajah tampan boneka yang ada ditangannya. Tanpa ragu Tiffany mencium bibir boneka itu karena gemas. Tiffany tidak tahu mengapa, hanya saja seperti ada dorongan atau kekuatan baginya untuk memperlakukan boneka itu dengan baik. Tiffany tersenyum dan meletakkan boneka itu disampingnya. Setelah itu dia segera tidur karena sudah sangat mengantuk. Tanpa ia sadari, mata boneka yang ada disampingnya itu bergerak dengan bibir yang tersenyum manis.

***Sifany***

Burung-burung penghuni taman berkicau nyaring menyambut matahari pagi. Apartement Tiffany yang berada persis didekat taman itu mau tak mau dapat mendengar kicauan  nyaringnya. Dan seperti biasa, burung-burung itulah yang ikut membangunkan Tiffany dari tidur nyenyaknya.

Gadis itu menggeliat. Matanya setengah terpejam karena beradu dengan sinar matahari pagi. Dia berencana untuk melanjutkan tidurnya karena merasa masih mengantuk. Namun alangkah terkejutnya Tiffany ketika menyadari sesuatu. Tangan siapa yang melingkar diperutnya? Dan pada dada bidang siapa ia bersandar?

Tiffany menelan ludah. Ditolehkannya kepalanya ke belakang dengan pelan dan…

“Kyaa!”

Teriakan yang berpotensi memecahkan kaca apartementnya itu ikut membuat burung-burung yang tengah hinggap dipepohonan berterbangan.

Sementara dikamarnya, Tiffany sudah 100 % sadar. Kantuknya hilang seketika saat matanya mendapati seorang pria asing ada di kamar pribadinya.

“Ya! Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan dikamarku? Huh?!”

Tiffany berteriak marah pada pria yang tak dikenalnya itu. Sementara si pria tampak mengusap wajahnya. Dia juga terkejut dengan lengkingan suara gadis dihadapannya ini.

“Apa yang kau lakukan dikamarku?! Kenapa kau bisa masuk kesini? Kau pencuri? Perampok? Penculik?…” Pria itu tampak berusaha untuk menenangkan Tiffany.

“Agasshi, tenangkan dirimu. Aku akan menjawab jika kau tenang dan tidak berteriak seperti ini…”

“Mwo?…” Tiffany bertanya tak percaya.

“Kenapa jadi kau yang mengaturku?!” tanyanya tak terima.

Pria itu menghela nafas dan duduk diranjang Tiffany. Namun belum sempat bokongnya merasa nyaman dia sudah didorong oleh Tiffany.

“Berdiri disana!” Perintahnya. Pria bertubuh tinggi itu menurut. Dia berdiri tegap didepan ranjang Tiffany. Menunggu wanita cantik itu menyuruhnya untuk bicara dan menjelaskan bagaimana ia bisa berada disini.

Tiffany duduk bersila dengan tangan terlipat didada.

“Kenapa kau hanya diam?…” kesal Tiffany.

“Anda belum menyuruhku bicara, Agasshi…”

Tiffany berusaha mati-matian menahan dirinya untuk tidak menendang pria itu keluar dari jendela apartementnya.

“Baiklah, jelaskan padaku…” suruhnya yang disambut anggukan pria itu.

Tiffany fokus memperhatikan sosok pria yang katanya bernama Choi Si won itu dengan  konsentrasi penuh. Dia mendengar dan menyimak dengan baik semua cerita pria itu. Siapa dia sebenarnya, bagaimana dia bisa berada disini dan kenapa ia disini.

“Jadi, kau adalah seorang Pangeran?…”

“Ne, Agasshi…”

“Pangeran dari negeri bernama Flowerialand yang dikutuk oleh penyihir jahat menjadi sebuah boneka?…”

“Ne, Agasshi…”jawabnya dengan senyuman.

“Dan kau akan kembali menjadi manusia jika bertemu dengan cinta sejatimu. Karena semalam aku mencium bibirmu, maka aku adalah cinta sejatimu, benar begitu?…” tanya Tiffany lagi mengulang pernyataan Si won. Sang pangeran tersenyum senang.

“Ne. Itu benar, Agasshi…” jawabnya.

Tiffany terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa puas sambil memegang perutnya. Dia tidak bisa untuk tidak tertawa setelah mendengar ini semua. Ini sangat lucu. Bahkan terdengar konyol dan tidak masuk akal.

Choi Si won masih berdiri didepan ranjang Tiffany. Menyaksikan gadis itu tertawa terpingkal-pingkal diatas ranjangnya. Entah kenapa, sudut bibirnya ikut terangkat. Ia tersenyum melihat bagaimana gadis itu tertawa. Sangat indah dan menghibur bagi Si won.

Tiffany menghentikan tawanya dan bangkit untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Si won.

“Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya dan apa tujuanmu masuk ketempatku. Tapi jika kau ingin mendekatiku dengan kebohongan tidak masuk akal ini, aku tidak akan tertipu. Aku bukan wanita yang bisa kau tipu dengan modus ini, Tuan. Dan silahkan pergi sebelum aku menelfon polisi!”

“Tapi Agasshi, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku adalah boneka yang kemarin kau temukan…”

Tiffany terdiam sesaat. Diperhatikannya Si won dari ujung kaki sampai kepala. Penampilan pria itu sama persis dengan boneka yang kemarin ia temukan didepan parbrik. Dan sekarang boneka itu sudah tidak ada diranjangnya!

“Bisa saja kau yang melakukan semua kebohongan ini dari awal. Kau membuat boneka yang mirip denganmu lalu meletakkannya didekat mobilku agar aku menemukannya. Dan saat aku tertidur, kau masuk lalu membuang boneka itu dan mengarang cerita konyol ini…”

“Itu tidak benar, Agasshi. Aku benar-benar seorang Pangeran dan…” Tiffany mengangkat sebelah tangannya. Menahan pria itu untuk membela diri.

“Sstt, aku ingin mandi dan ke kantor. Dan saat aku pulang, ku harap kau sudah pergi dari apartementku, Pangeran!”

Tiffany menekankan kata pangerannya dan segera masuk ke kamar mandi. Sementara Si won hanya tersenyum simpul ditempatnya.

***Sifany***

“Ne, gamsahamnida Tuan Han. Kami akan segera mengirimkan produknya ke toko kalian. Ne, tentu saja. Gamsahamnida…”

Tiffany meletakkan gagang telfonnya. Kembali ia menyibukkan diri dengan berkas ditangannya sambil  sesekali mengecek angka penjualan mereka bulan ini pada layar komputer.

Tok Tok Tok

“Masuk…”

Sesosok wanita  berbadan mungil dengan name-tag Lee Soon Kyu masuk. Dengan langkah cepat dan senyum diwajahnya ia segera mengambil tempat dikursi. Duduk dihadapan Tiffany yang sibuk dengan pekerjaannya.

Tiffany melirik sekilas sekretaris sekaligus sahabatnya yang tampak tersenyum menggoda itu.

“Wae, kau sedang sakit perut?…” Gadis itu mengerucutkan bibirnya.

“Kalau aku sakit perut aku tidak akan masuk keruanganmu dan tersenyum seperti ini…” cemberutnya. Tiffany tertawa singkat.

“Ada apa?…” Tanya Tiffany lagi. Gadis yang biasa dipanggil Sunny itu tersenyum dan mengeluarkan note-nya.

“Aku akan membacakan jadwalmu untuk malam ini…”

“Jam kerjaku tidak sampai malam, Sunny-ah. Harusnya kau tahu itu…”

“Aku bukan membaca jadwal kantormu tapi jadwal kencanmu. Malam ini kau mendapat tiga undangan sekaligus. Ada undangan makan malam dari Direktur baru KIA. Undangan pesta dari putra sulung Jaksa Kang. Ada juga undangan pesta dari anak Presdir Park pemilik World Hotel…”

Sunny membacakan jadwal Tiffany dengan penuh semangat. Tapi orang itu malah sibuk sendiri seolah tidak peduli dengan apa yang ia lakukan.

Sunny mendengus kesal.

“Apa aku sedang bicara dengan boneka?…”sebalnya yang mengundang tawa Tiffany.

“Mianhe, Sunny-ah. Seperti yang kau tahu, pria dan cinta adalah hal kesekian dalam hidupku. So, bagaimana kalau kau saja yang menggantikanku?…” Tiffany mengerling. Sunny berdecak melihatnya.

“Ck, aku sudah bosan menggantikanmu, arra? Kau bahkan pernah meminta Yoona menggantikanmu menghadiri undangan makan malam dari pria Jepang itu. Kau benar-benar keterlaluan…”

Tiffany kembali tertawa mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Dia memang mendapat undangan makan malam dari seorang penulis asal Jepang. Tapi berhubung dia malas dengan hal-hal seperti itu dia meminta bantuan temannya, Yoona. Celakanya, dia meminta bantuan pada sahabatnya yang sudah menikah dan punya anak itu. Habislah dia dimarahi  suami temannya tersebut, Kyu Hyun.

Tiffany kembali melanjutkan pekerjaannya. Sunny yang tadinya kesal tiba-tiba tersenyum dan kembali menatap wajah Tiffany dengan pandangan menggoda.

“Tiff, apa benar pria dan cinta adalah hal yang paling kesekian dalam hidupmu?…”

“Tentu. Perusahaan ini dan pekerjaan jauh lebih menyita perhatianku. Lagi pula, Appa sudah menyerahkan semuanya padaku jadi aku tidak ingin mengecewakannya…” Sunny berdecak.

“Tsk, pembohong!” Tiffany sontak menatap sahabat baiknya itu.

“Kau berhasil membohongi kami selama ini, Fany-ah. Kau sungguh kejam…”

“Apa maksudmu?…” Tanya Tiffany. Keningnya berkerut tanda ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan gadis bermarga Lee itu. Sunny menunduk dan mendekatkan tubuhnya kearah Tiffany.

“Kau tahu, dilobi ada seorang pria super tampan mengaku Pangeran. Dia datang dan berkata ingin bertemu calon permaisurinya. Oh my gosh, Tiff. Aku tidak tahu kalau kau ternyata sangat kekanak-kanakan sampai kau harus memanggilnya Pangeran dan dia memanggilmu Permaisuri. Tapi kalian cukup romantis…”

Tiffany seketika berdiri dari duduknya. Apa yang dimaksud Sunny adalah pria asing yang tadi pagi ada dikamar apartementnya?

“Dimana dia sekarang?…” Tanya Tiffany cepat. Tapi sikap tak sabarannya itu disalah artikan oleh Sunny.

“Ciyee, yang tidak sabar bertemu sang pangeran…” Sunny kembali menggoda dan mendapat tatapan tajam dari mata indah itu.

“Lee Soon Kyu, gajimu ku potong!”

“Wae?…”

Sunny menjerit protes tak terima. Namun dia hanya tersenyum saat melihat Tiffany melangkah cepat menuju pintu keluar.

“Aish! Gadis itu!” ucapnya gemas seraya menggeleng pelan.

***Sifany***

Tiffany melangkah cepat begitu keluar dari lift. Keningnya berkerut heran ketika menyadari banyak karyawan wanitanya yang tidak berada ditempat. Kemana mereka sementara ini masih jam kerja?

Tiffany tiba di lobi. Tampak olehnya beberapa karyawan wanita mengelilingi sesuatu. Dari apa yang ia dengar dan lihat, sepertinya ia tahu siapa biang masalahnya. Pria asing itu tampak tersenyum malu ketika ditanyai dan dipuji oleh beberapa wanita disekelilingnya.

“Tuan pangeran, kau benar-benar tampan…” puji salah seorang wanita yang ikut mengerumuni Si won.

“Ne, itu benar sekali…” Sambung yang lain menatap Si won penuh kagum.

“Tuan, apa kau baru dari sebuah Pementasan Musical? Pakaianmu bagus sekali…”

“Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya sampai Tuan bertemu dengan CEO kami?…”

Si won hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuknya saat mendengar apa yang diucapkan para wanita disekelilingnya itu.

“Itu—“

“Ehem…”

Tiffany berdehem. Sontak kerumuman itu berbalik dan terkejut melihat kehadiran Tiffany disana. Dengan cepat mereka membungkuk meminta maaf sebelum membubarkan diri dan kembali ke meja masing-masing.

Si won mendekati Tiffany dengan senyum bahagia diwajahnya. Tiffany memijat pelipisnya. Kenapa pria itu ada disini dengan pakaian konyol ini?

***Sifany***

Si won keluar dari ruang pas usai mencoba baju yang sudah dipilihkan Tiffany untuknya. Sekali lagi ia mematut penampilannya didepan cermin. Ia tampak lebih segar dengan jeans dan hoodie biru ini.

“Sudah lama sekali aku tidak memakai pakaian seperti ini…” ucapnya seorang diri.

Dinegeri asalnya, kehidupan Si won juga sama seperti manusia pada umumnya. Dia juga bergaul dengan teman sebayanya dan menuntut ilmu. Mengingat itu semua membuat Si won merindukan tempat asalnya. Dia juga ingin kembali tapi ia tidak akan kembali jika tidak bersama calon permaisurinya yang cantik jelita, Tiffany Hwang. Ya, Si won sangat yakin. Tiffany adalah cinta sejatinya yang akan menjadi permaisurinya kelak.

“Ne, gamsahamnida…”

Tiffany menerima credit-cardnya dari petugas kasir. Diliriknya Si won sekilas sebelum akhirnya keluar dari toko khusus pakaian pria itu. Si won mengikutinya.

“Agasshi, terima kasih sudah membelikanku pakaian ini…”

“Tidak perlu berterima kasih. Aku juga akan malu berjalan dengan pria berpakaian aneh sepertimu…”

“Pakaianku tidak aneh, Agasshi. Pakaian itu dibuat khusus untukku dan hanya ada satu-satunya…” terang Si won. Bukankah semalam Tiffany juga memujinya dengan baju itu?

Tiffany mengangguk cepat. Tanda ia tidak ingin mendengar apapun dari Si won sekarang.

Langkah Tiffany memasuki sebuah restoran Italy yang terletak dikawasan Gangnam itu. Si won dengan setia mengikutinya dan duduk dimeja yang sama.

“Selamat datang, Tuan dan Nona. Kalian ingin pesan apa?…” Tiffany memesan pasta berikut minumannya. Si won pun memilih menu yang sama.

“Kenapa kau datang ke kantorku?…” tanya Tiffany dingin. Terlihat sekali kalau dia tidak suka dengan kedatangan Si won.

“Aku sangat bosan di apartement jadi ku putuskan untuk mengunjungimu. Lagi pula, sudah hampir jam makan siang, kau pasti butuh seseorang untuk menemanimu makan…”

Tiffany melongo untuk beberapa saat. Siapa pria itu sampai ia harus mengajaknya untuk makan siang bersama? Dia bisa mengajak Yoona, Sunny, Suho atau siapapun. Makan sendiri pun tidak akan ada masalah. Itu lebih menghemat waktu.

“Lalu, kapan kau akan pergi dari apartementku?…”

“Pergi dari apartementmu? Itu tidak mungkin, Agasshi. Kau calon permaisuriku dan aku harus selalu bersamamu…”

Tiffany terdiam sesaat. Sepertinya Si won bukan orang jahat. Kalau pria itu seperti apa yang ia tuduhkan pagi tadi, harusnya dia sudah  kabur dengan membawa barang-barang dari apartementnya, bukan?

“Kalau kau boleh tinggal di apartementku, apa yang akan kau lakukan untukku?…”

Secercah harapan tumbuh dihati Si won. Dia tersenyum lebar. Dan tanpa ia sadari hati Tiffany bergetar dibuatnya. Tiffany menggeleng kuat dan membuang nafas pelan. Diteguknya air minumnya dengan cepat.

“Aku bisa melakukan apa saja, Agasshi…” jawabnya senang. Tiffany menatapnya ragu.

“Kau yakin? Memangnya apa yang bisa dilakukan seorang pangeran?…” Tiffany meremehkan.

“Kehidupan sebagai pangeran tidak selamanya berada di istana. Aku dulu juga bersekolah disekolah yang memiliki asrama. Jadi aku sudah terbiasa mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri…”

Tiffany terdiam. Seorang pangeran bersedia melakukan pekerjaan rumah di apartementnya?

“Kau yakin?…” Tiffany bertanya ragu. Si won kembali tersenyum memamerkan dimple smile-nya yang menawan.

“Tentu, Agasshi…” jawabnya pasti. Tiffany menahan nafas. Ada apa dengan senyuman pria itu? Kenapa hatinya berdebar?

“Baiklah, terserah kau saja. Dan satu lagi, cukup panggil aku dengan nama. Bukan Agasshi apalagi permaisuri karena aku bukan permaisurimu…”

`Sekarang memang belum tapi akan` Si won tersenyum sendiri membayangkan apa yang terlintas dibenaknya barusan.

“Hei, kau mendengarkanku?…”

“Eoh, tentu saja. Kurasa itu lebih baik, Fany-ah…”

Tiffany menghela nafas-lagi. Dia segera menikmati menu makan siang dan melupakan pria itu untuk sejenak.

***Sifany***

Si won membukakan pintu apartement untuk Tiffany. Ditangannya ada beberapa tas yang berisi semua baju dan keperluannya. Tiffany bilang, dia tidak ingin melihat Si won memakai baju anehnya lagi. Padahal bagi Si won itu adalah pakaian kebesaran yang menunjukkan betapa tinggi derajatnya. Tapi Si won sadar kalau sekarang ia sedang berada dibumi dan akan terlihat aneh jika ia berpakaian seperti itu disini.

Tiffany masuk ke kamar dan langsung menutup pintu. Si won yang berada dibelakangnya hampir saja terjungkal kebelakang jika ia tidak bisa menahan berat tubuhnya.

Si won tersenyum saja. Wajar kalau Tiffany masih jengkel dengan kehadirannya. Diliriknya jam tangan yang tadi juga dibelikan oleh Tiffany untuknya.

“Sepertinya aku harus menyiapkan makan malam…”

***Sifany***

Tiffany menatap makanan yang dihidangkan Si won. Ada semangkuk soup, nasi beserta kimchi dan menu pelengkap lainnya. Tiffany terdiam, bukankah pria itu mengatakan kalau dia berasal dari negeri lain? Kenapa ia menghidangkan makanan yang sama dengan menu orang Korea pada umumnya? Tiffany pikir pria itu akan menghidangkan daging buaya atau kuda nil.

“Makanlah. Sepertinya kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu jadi kau harus banyak makan agar staminamu tetap terjaga…” Tiffany melirik Si won yang duduk dihadapannya.

“Kalian juga memakan ini?…” tanyanya pelan. Si won sempat terdiam sebelum akhirnya tersenyum.

“Tentu saja. Kami juga manusia, Fany-ah…” terang Si won pelan.

“Manusia?…” Tanya Tiffany lagi.

“Hm, kami manusia. Kami melakukan apa yang kalian lakukan dan memakan apa yang kalian makan…”

“Kalau begitu kau pasti orang jahat…” tuduh Tiffany cepat.

“Aku? Aku seorang pangeran, Tiffany. Putra tunggal dari Yang Mulia Raja dan Ratu negeri kami. Dan aku bukan orang jahat karena aku tahu pasti apa tugasku sebagai seorang pangeran dan calon Raja negeri kami…”

“Lalu kenapa penyihir itu mengutukmu? Pasti kau berbuat-”

“Aku tidak akan mengulangi penjelasan yang sama. Sekarang, makanlah…” Suruh Si won dengan senyuman lembutnya.

Tiffany akhirnya menurut dan mulai mencicipi makanannya. Tidak ada kata lain. Ini sangat lezat.

Tiffany sesekali melirik Si won yang makan bersamanya. Ada banyak pertanyaan yang masih ingin ia ajukan pada Si won jika benar pria itu adalah seorang pengeran dari negeri lain.

“Hei?…” Si won mendongak ketika merasa Tiffany memanggilnya.

“Apa aku boleh bertanya?…” Si won mengangguk.

‘Tentu. Tanyakan saja apa yang mengganggu pikiranmu. Aku akan menjawabnya semampuku…”

“Uhm, kalau kalian manusia, kenapa tidak tinggal dibumi?…”

“Kami memang manusia tapi, sedikit berbeda. Leluhur kami dulunya memang tinggal dibumi. Tapi mengingat mereka memiliki kekuatan lebih, mereka ingin tinggal ditempat yang baru dan jauh serta tidak tersentuh manusia. Mereka menciptakan tempat baru dan diberi nama Flowerialand. Kami bisa keluar-masuk dari  sana melalui pintu yang ada diatas bukit dibelakang apartement ini…”

Tiffany mengangguk saja meski ia tidak sepenuhnya mengerti. Dia tidak mau pusing memikirkan negeri bernama Flowerialand itu.

“Jika kau mau, aku bisa mengajakmu kesana…”

Tiffany menggeleng enggan.

“Tidak, terima kasih…” ucapnya dan kembali menikmati makanan yang Si won sajikan. Tak lama kemudian dia kembali melirik Si won yang ternyata juga tengah menatapnya.

Tiffany terkesiap. Sedikit berdebar melihat tatapan teduh dan hangat pria itu.

“Wa-wae?…” Tanyanya tanpa menatap wajah Si won. Ia gugup. Jujur, dia belum pernah merasakan hal seperti ini saat bertemu mata dengan seorang pria. Bahkan dari sebanyak-banyaknya pria yang mendekatinya dan memujinya dengan gombalan yang membuatnya ingin muntah dia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Tapi kenapa hanya dengan tatapan Si won bisa membuat hatinya berdebar?

“Anni. Aku hanya berpikir kalau kau sangat cantik…” ungkap Si won jujur. Tiffany tersenyum kecil untuk menormalkan detak jantungnya.

“Ternyata seorang pangeran juga pandai merayu…” Si won tertawa renyah mendengarnya. Hei, dia juga seorang pria.

“Oh ya, kau bisa…sihir?…” Si won mengangguk.

“Ne, tapi  kemampuan kami hanya boleh digunakan jika dalam keadaan terdesak dan hanya untuk kebaikan…”

Tiffany mengangguk lagi. Sepertinya ia bisa mulai percaya meski masih ragu. Baiklah, sepertinya ini tidak cukup buruk.

***Sifany***

Waktunya tidur. Tiffany keluar dari kamar mandi begitu semua urusannya selesai. Dia yang berniat untuk segera berbaring diranjang empuknya terdiam. Keningnya berkerut memperhatikan Si won yang tengah merapikan ranjang. Hei, apa pria itu pikir mereka akan tidur bersama?

“Apa yang kau lakukan?…”

Si won yang tengah mengatur bantal menoleh. Mulutnya ingin menjawab  tapi ia tidak mengeluarkan kata-kata apapun ketika menyadari Tiffany hanya mengenakan lingerie ditubuhnya.

Tentu saja, sebagai seorang pria, Si won merasa adrenalinnya berpacu cepat saat melihat wanita yang begitu sempurna dimatanya memperlihatkan bentuk tubuhnya yang indah.

Tiffany menyadari itu. Dia memilih untuk mengabaikannya dan segera naik keatas ranjang.

“Kau tidur ditempat lain saja…” suruh Tiffany.

“Ne? Tapi dimana, Fany-ah? Bukankah apartementmu hanya memiliki satu kamar?…”

“Kau tidak dengar ya, aku bilang ditempat lain. Terserah kau mau dimana saja…”

Si won mengangguk lalu mengambil tempat disebelah Tiffany. Sontak Tiffany mendorongnya.

“Waeyo?…”

“Ku bilang dimana saja bukan berarti disini. Kau bisa tidur disofa…” Si won melirik sendu sofa putih dikamar itu.

“Tapi, aku tidak biasa tidur disofa. Bukankah semalam kita juga tidur bersama?…” Tiffany memutar bola matanya. Kalau semalam ia tahu lebih awal dia pasti sudah menendang pria itu keluar.

“Terserah. Itu bukan urusanku. Lagi pula, bukankah kau Pangeran dan bisa melakukan sihir? Kau gunakan saja kemampuanmu itu untuk mendatangkan sebuah ranjang yang nyaman untukmu…”

“Ini dibumi, Fany-ah. Kami tidak boleh menggunakan kekuatan kami jika tidak dalam keadaan mendesak…” Si won mencoba menjelaskan.

“Ini juga keadaan mendesak. Kalau kau tidak mau, ya sudah. Tidur saja disofa…”

Tiffany tak peduli dan mulai menarik selimutnya. Si won yang melihat itu menghela nafas pasrah. Dengan berat hati ia mulai mendekati sofa dan berbaring disana.

Beberapa menit berlalu. Tiffany sudah dalam mimpi indahnya. Berbeda dengan Si won. Ia masih mencari posisi yang nyaman agar ia bisa beristirahat disofa panjang ini. Si won hanya berharap, kantuknya segera datang dan ia bisa tertidur dengan lelap.

***Sifany***

“Hoaamm…”

Si won menguap lebar begitu ia membuka mata. Suara kicauan burung-burung  membangunkannya. Dia memang tidak tertidur dengan nyenyak semalam jadi wajar kalau ia akan terbangun jika mendengar suara berisik sedikit saja.

Si won mengarahkan pandangannya kearah ranjang. Sudah tidak ada lagi Tiffany disana. Mungkin wanita itu sudah bangun.

Melakukan pemanasan sebelum beraktifitas sepertinya lebih baik. Si won bangkit dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Berlari-lari kecil ditempat dan melakukan berbagai kegiatan pemanasan lainnya. Walau ia kurang tidur tapi ia tidak boleh bermalas-malasan.

Setelah dirasa cukup, Si won meraih handuk yang ada digantungan baju. Dia harus mandi dan menyiapkan sarapan untuknya dan Tiffany. Namun entah karena efek dari kantuknya yang masih belum hilang, dia tidak menyadari kalau ada Tiffany yang tengah mandi didalam. Dan saat teriakan wanita itu menggema, Si won merasa kalau gendang telinganya akan pecah. Insiden tak sengaja pagi itu berakhir dengan air, sabun, tabung sabun cair, shampoo, pasta gigi dan segala macamnya menghantam tubuhnya.

***Sifany***

Tiffany mengambil beberapa batu es berbentuk dadu lalu membungkusnya dengan handuk kecil. Dengan segera ditempelkannya handuk itu pada kening Si won.

“Argh!” Si won meringis keras.

“Fany-ah, pelan-pelan sedikit. Itu sakit sekali…” ringis Si won kesakitan. Sabun dan tabung-tabung yang dilemparkan Tiffany meninggalkan luka lebam dikeningnya.

Tiffany awalnya memang tidak peduli dengan keadaan Si won. Lagi pula ini adalah akibat yang harus diterima pria itu karena masuk kekamar mandinya sembarangan. Tapi tetap saja, dia tidak tega melihat Si won mengaduh kesakitan. Bagaimana pun dia jugalah yang menyebabkan kening pria itu membiru seperti ini.

“Ck, katanya kau Pangeran dan bisa melakukan sihir. Kenapa lemah seperti ini…”

“Aku juga manusia, Fany-Akh!” Si won kembali menjerit ketika Tiffany menekan kuat keningnya.

“Kalau kau tidak mau membantuku, tidak apa. Biar aku sendiri saja…”

Si won merebut handuk berisi batu es itu lalu mulai menempelkannya pada keningnya dengan hati-hati. Tiffany yang melihat itu menyeringai menggoda.

“Ciyee, seorang Pangeran merajuk. Lucu sekali…”

Tiffany tertawa melihat wajah kesal Si won. Namun ia menghentikan aksinya ketika Si won menatapnya tajam.

“Oo, Pangeran kita marah. Takut…”

Si won hanya menghela nafas dan memilih berkonsentrasi pada rasa sakitnya sementara gadis itu masih asyik menertawakannya. Tak lama Si won tersenyum. Cara gadis itu tertawa tampak sangat indah dimatanya. Bibirnya, matanya yang tertutup serta suara tawanya yang indah.

“Kau tampak sangat cantik tertawa seperti itu…”

Pujian itu sukses membuat tawa Tiffany berhenti. Entah kenapa dia merasa ada yang berbeda ketika mendengar hal itu dari Si won.

“Tiff, kau baik-baik saja?…”

“Tiffany?…”

“Eoh?…” Tiffany menyahut cepat dan tersenyum  kaku.

“Ah…ye, aku baik-baik saja…” jawabnya kemudian bangkit dari sofa dan dengan cepat keluar dari kamar. Si won yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada gadis itu hanya mengangkat bahunya dan kembali mengobati keningnya.

***Sifany***

“Demi Tuhan, Si won! Berhenti mengikutiku!”

Pekik Tiffany menghentikan langkahnya. Dia sangat pusing karena pria itu selalu saja mengikutinya kemana pun ia pergi. Tidak hanya dirumah dan dikantor, ketika Tiffany ada pertemuan dengan kliennya di luar pun pria itu terus mengokerinya. Sampai-sampai orang bertanya siapa pria itu dan hubungan mereka.

Si won menggaruk tengkuknya.

“Aku sangat bosan jika berada di apartement sendirian, Fany-ah…”

“Hei, kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Bukankah aku sudah memberimu ponsel dan credit-card? Kenapa tidak kau gunakan?…”

Si won baru ingat kalau Tiffany memberikan dua benda itu padanya semalam. Segera dirogohnya kedua saku jeansnya lalu tersenyum.

“Sepertinya tertinggal dimeja makan…” ucapnya sambil nyengir lebar. Tiffany memijat pelipisnya.

“Lagi pula akan terasa membosankan jika aku pergi seorang diri. Lebih baik pergi bersamamu. Dengan begitu aku bisa menjagamu…”

“Aku sudah dewasa dan aku bisa menjaga diriku sendiri. Pokoknya aku tidak mau tahu, pergi dari hadapanku sekarang juga!”

“Fany-ah…” Si won menahan lengan Tiffany ketika wanita itu akan beranjak dari hadapannya.

“Ponsel dan credit card-ku ketinggalan. Aku tidak bisa apa-apa jika kau meninggalkanku…”

Tiffany menggigit bibirnya menahan amarah.

“Ya! Bukankah kau bisa melakukan sihir? Gunakan saja kemampuanmu itu untuk mendatangkan ponsel dan credit-card itu. Atau kalau tidak kau bisa melakukan apapun yang kau mau tapi tidak untuk mengikutiku seperti ini!”

Para pejalan kaki yang melewati tempat keduanya terlihat penasaran. Mereka mengira-ngira apa sebenarnya yang diperdebatkan pasangan yang mereka anggap sebagai pasangan kekasih itu.

“Tapi kekuatanku hanya untuk keadaan mendesak, Tiffany…” jelas Si won lagi. Sampai berapa kali ia harus mengulang pernyataan yang sama dihadapan gadis itu.

Tiffany menarik nafas untuk meredam emosinya yang hampir meledak. Dia tidak bisa berpikir sekarang. Matanya melihat sebuah bus yang melaju dibelakang mereka. Entah apa yang ia pikirkan. Yang pasti, ia hanya ingin pria itu pergi dan tidak mengikutinya lagi.

“Baik, kita lihat bagaimana kau menggunakan kekuatanmu itu dalam keadaan yang mendesak…” ucapnya.

Si won tidak tahu apa maksud dari ucapan Tiffany. Tapi dia sangat shock ketika wanita itu berlari cepat ke tengah jalan raya. Melihat ada bus yang siap menghantam tubuh Tiffany, Si won dengan cepat bertindak. Ia berlari dengan kecepatan seperti kilat  dan menarik Tiffany kembali ke trotoar.

“Ya! Noe miccheosso! Kau sadar dengan apa yang baru kau lakukan?!”

Untuk beberapa saat Tiffany hanya terdiam. Dia tidak mampu melakukan apa-apa karena tubuh dan seluruh persendiannya terasa sangat lemas. Bukan karena bentakan keras Si won. Melainkan karena keberaniannya barusan. Apa yang membuatnya berani melakukan hal konyol ini? Bagaimana kalau ternyata Si won berbohong tentang kemampuan sihirnya? Dia pasti sudah menjadi mayat dan korban bunuh diri.

Si won melihat ketakutan diwajah cantik itu. Pasti Tiffany masih shock. Segera dipeluknya Tiffany untuk memberinya ketenangan.

“Gwenchana?…” bisiknya pelan ditelinga Tiffany. Tiffany mengangguk pelan sebagai respon. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya barusan. Namun yang pasti, sekarang ia merasa sangat nyaman dan lebih tenang dalam dekapan hangat pria itu.

***Sifany***

Hari-hari berikutnya terasa sangat berat bagi Tiffany. Dia harus membagi pikirannya antara pekerjaan dan Si won. Tiffany bukannya tidak berusaha untuk mengabaikan Si won. Tapi apa yang bisa ia lakukan kalau pria itu selalu saja mengikutinya dan muncul dihadapannya. Tidak hanya dikantor, dimana pun Tiffany berada pria itu selalu muncul secara tiba-tiba.

Seperti siang ini, Tiffany akan mengunjungi pabrik untuk melihat proses produksi. Dan Si won? Pria itu sudah berada didepan pabrik dengan payung ditangannya. Hari ini Seoul memang sedang diguyur hujan. Tiffany tidak tahu bagaimana pria itu bisa muncul tiba-tiba. Apa mungkin ia menggunakan kemampuan sihirnya? Tapi bukankah sihirnya hanya untuk keadaan yang mendesak?

“Tiffany?…”

Tiffany terkejut ketika Si won memanggil dan mengetuk kaca jendela mobilnya. Dengan segera ia mematikan mesin mobilnya lalu keluar dan berteduh pada payung yang dibawakan Si won.

Tiffany dapat merasakan aroma maskulin yang dikeluarkan tubuh Si won saat pria itu mendekapnya agar terhindar dari tetesan air hujan. Kepalanya mendongak untuk melihat wajah Si won. Pria itu terlihat sangat menjaga dirinya dari hal apapun.

Tiffany tiba-tiba mengingat sesuatu. Beberapa hari lalu ia pernah bertanya pada Si won. Apa kelemahannya dan pria itu menjawab.

`Kau. Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan bisa apa-apa. Percayalah`

Dan ketika Tiffany bertanya kenapa? Pria itu kembali menjawab.

`Karena kau bagian dari diriku. Jika kau bahagia aku ikut bahagia. Tapi jika kau terluka, aku akan lebih tersiksa`

Jujur, Tiffany tidak sepenuhnya mengerti dengan jawaban itu. Kenapa harus dia dan ada apa dengannya?

Su ho dan karyawan lain yang telah tiba lebih dulu memperhatikan Tiffany yang tengah dipayungi oleh pria yang akhir-akhir ini tidak asing dimata mereka. Awalnya memang tidak ada yang percaya bahwa atasan mereka yang super sibuk itu sempat memikirkan pria. Tapi itu manusiawi dan mereka ikut bahagia karenanya.

Si won menurunkan payungnya begitu mereka sampai diteras. Seorang pekerja mengambil alih payung itu dan membawanya kebelakang.

“Silahkan masuk, Agasshi…” Kim Ahjussi mempersilahkan. Tiffany tersenyum sebagai balasan lalu segera masuk bersama Su ho dan karyawan lainnya diikuti Si won.

Si won melihat dengan seksama bagaimana wanita cantik itu bekerja. Wajah seriusnya ketika sedang berdiskusi dan berbincang dengan rekan-rekan kerjanya terlihat sangat lucu dimata Si won. Entahlah, sepertinya hari-harinya selama dibumi terasa sangat menyenangkan walau lebih sering mendapat amarah dan wajah tak bersahabat wanita cantik itu.

Tiffany yang asyik mengamati para karyawannya yang sedang menggunting pola disebuah ruangan tak sengaja bertemu dengan pandangan Si won. Dia terkejut ketika pria itu tersenyum kearahnya. Apa yang dilakukan pria itu terhadapnya? Tiffany dengan cepat menggeleng dan memilih mendengarkan penjelasan Su ho yang sempat ia abaikan beberapa saat lalu. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan pria itu dari pikirannya.

***Sifany***

“Terima kasih untuk hari ini. Semoga hari kalian menyenangkan…”

“Ne, Sajangnim. Kalau begitu kami permisi…”

Tim Su ho beranjak pamit dan segera menuju mobil mereka untuk kembali kekantor dan makan siang. Sementara Su ho masih berdiri ditempatnya karena ada hal yang ingin ia sampaikan pada Tiffany.

“Oh ya, noona. Hwang Ahjussi meminta noona untuk berkunjung…”

“Appa?…” Tanya Tiffany.

“Baiklah, aku juga sangat merindukannya…” ucap Tiffany.

“Kalau begitu, aku juga pergi, noona dan Si won-ssi. Selamat tinggal…”

“Eoh, Hati-hatilah saat menyetir…” Tiffany melirik kesal Si won yang melakukan apa yang harusnya ia katakan. Tapi pria itu hanya tersenyum manis ditempatnya.

“Kapan kita kerumah Appamu?…” Si won bertanya begitu Su ho sudah pergi dengan mobilnya.

Tiffany menaikkan alisnya dan menatap pria itu heran.

“Mianhe, aku tidak mengajakmu dan Appaku tidak mengundangmu…”

Tiffany melangkah pergi menuju mobilnya. Si won yang ditinggal pun hanya tersenyum dan ikut masuk ke mobil yang sama dengan Tiffany.

***Sifany***

“Sayang, cepat pakai bajunya…” Yoona memanggil putranya yang masih asyik bermain dengan sang suami.

“Appa, hahaha, geli. Appa…”

“Aish! Oppa!”

Yoona berteriak kesal karena Kyu hyun selalu mengajak Kyung san bermain. Mereka harus bergegas untuk ke apartement Tiffany pagi ini.

”Kyung san-ah, nenek sihir marah. Cepat sana…” bisik Kyu hyun pada Kyung san. Anak berusia 5 tahun itu tertawa dan segera berlari ke tempat Yoona disisi ranjang. Siap untuk dipakaikan bajunya.

“Oemma, kita akan ke apartement Fany Auntie?…” Yoona tersenyum senang mendengar pertanyaan putranya.

“Eoh. Bukankah Auntie ingin memberi Kyung san hadiah?…”

“Ne!” Serunya senang.

“Auntie bilang, dia akan memberiku boneka pangeran tampan…” Yoona tersenyum lebar.

“Jjinja? Woah, kalau begitu kajja…”

Yoona dengan cepat merapikan baju Kyung san. Setelah selesai anak itu segera berlari keluar dari kamar orang tuanya.

Yoona yang sudah lebih dulu siap pun tertawa melihat tingkah lucu anaknya itu. Diliriknya kearah ranjang dimana Kyu hyun sudah kembali berbaring dengan nyaman.

“Tuan Cho, kau tidak bangun?…” Kyu hyun menyahut malas.

“Ini weekend, yeobo. Aku ingin istirahat…”

“Mwo? Walau ini weekend kau tidak boleh bermalas-malasan, Oppa…” Yoona mendekat lalu menarik selimut hingga Kyu hyun terduduk.

“Ayo, Oppa. Kita harus ke tempat Fany Unnie…” Ajaknya memerintahkan Kyu hyun untuk bangun.

“Baiklah, tapi aku ingin hadiah…”

“Hadiah?…” Tanya Yoona tak mengerti. Kyu hyun memajukan bibirnya. Berharap Yoona akan memberikan morning kissnya.

“Aish!” Yoona tersenyum geli melihat tingkah suaminya itu. Diraihnya sebuah bantal dan memukul pelan wajah tampan Kyu hyun.

“Cepat mandi dan turun! Aku tidak mau terlambat…” Ucap Yoona kesal dan segera keluar kamar. Kyu hyun tampak bertolak pinggang sebal.

“Pasti galak Tiffany menular pada istriku. Aish, wanita itu memang menyebalkan…” Gerutunya sebelum beranjak menuju kamar mandi.

**Sifany***

“Oemma, palli…”

Kyung san menarik tangan Yoona agar berjalan lebih cepat. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk bertemu Tiffany dan menerima hadiah yang dijanjikan. Kyu hyun yang melihat itu tersenyum dan segera menggendong Kyung san. Ketiganya tertawa bersama menuju unit apartement Tiffany.

Ting ning

“Auntie!”

Kyung san berteriak memanggil Tiffany. Tak lama, pintu pun terbuka. Bukannya masuk ketiga orang itu hanya berdiri mematung didepan pintu.

“O-Oppa, sepertinya kita salah unit…” Kata Yoona tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok yang membuka pintu. Kyu hyun yang awalnya juga kaget pun akhirnya tersenyum.

“Aniyo. Kita tidak salah. Ayo masuk…” Kyu hyun menarik tangan Yoona masuk. Si won menyambut ketiganya dengan senyum ramah.

“Selamat datang, Kyu hyun-ssi, Yoona-ssi, dan Kyung san. Senang bertemu kalian…” Sapa Si won ramah. Yoona menatapnya dengan kening berkerut.

“Tuan, kau mengenal kami?…” Yoona tampak heran, seingatnya dia belum pernah bertemu pria ini sebelumnya.

“Mungkin Tiffany yang menceritakannya…” Ujar Kyu hyun yang tampak tersenyum sendiri.

“Ah ne, Tiffany yang menceritakannya padaku…” Jawab Si won. Kemarin saat dia membersihkan rumah, dia melihat foto Tiffany yang tengah berlibur bersama keluarga kecil itu jadi dia bertanya.

”Oh ya, silahkan duduk. Aku akan menyiapkan minuman…”

“Ah, ani, tidak usah. Aku sudah terbiasa mengambilnya sendiri…”  Ujar Yoona. Si won mengangguk paham dan memilih bergabung bersama Kyu hyun dan Kyung san.

“Nomong-ngomong, dimana Fany Unnie?…”

“Tiffany sedang mandi…”

“Mwo?!” Pekik Yoona membuat Si won menatapnya heran. Kyu hyun hanya tersenyum sedangkan Kyung san menatap bingung ekpresi berbeda tiga orang yang bersamanya itu.

“Wae, Yoona-ssi?…”

“Ah, aniyo. Ku pikir Fany Unnie sudah bangun sejak pagi…”

Yoona menatap Si won dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dia sangat penasaran siapa sebenarnya pria itu. Seingatnya Tiffany belum pernah bercerita kalau dia tengah dekat dengan seorang namja.

“Uhm, boleh aku bertanya? Kau siapa?…” Siwon tersenyum. Sadar kalau ia belum memperkenalkan dirinya sejak tadi.

“Perkenalkan, aku Pangeran Choi Si won…”

Kyu hyun dan Yoona saling lirik.

“Uhm, itu sebuah gelar atau hanya panggilan?…” Tanya Yoona, merujuk pada kata Pangeran yang diucapkan pria itu.

“Itu gelarku…” Jawab Si won. Yoona mengangguk pelan.

“Ah, ne. Kau pantas menerimanya. Kau tinggi dan sangat tampan. Sangat cocok menjadi seorang pangeran…”

“Ne, gamsahamnida, Yoona-ssi…”

Yoona tertawa senang ketika mendapat senyum manis Si won. Namun ia dengan cepat menurunkan senyumnya saat menyadari tatapan tak suka seseorang.

“Siapa yang datang?…” Semua orang menoleh kearah Tiffany yang baru muncul.

“Yoong? Kenapa tidak bilang jika kalian akan berkunjung?…” Kaget Tiffany.

“Wae? Kalau aku menelfon lebih dulu, Unnie pasti menyimpannya dilemari…”

“Siapa?…” Tiffany bertanya. Namun sepertinya dia tahu siapa yang dimaksud Yoona. Tiffany baru akan menjelaskannya namun Kyung san lebih dulu menarik tangannya.

“Auntie, dimana boneka pangeran tampannya?…” Pertanyaan itu membuat Tiffany terkejut seketika.

“Ne? A-apa yang kau bicarakan, sayang?…” Tiffany pura-pura tak mengerti dengan apa yang dimaksud bocah itu.

“Bukankah Auntie bilang akan memberiku boneka pangeran tampan?…” Tanyanya lagi.

“Ah, itu…” Tiffany menggaruk tengkuknya. Dia mendengus kesal ketika tahu Si won tengah tersenyum lebar ke arahnya.

“Auntie, dimana boneka pangeran tampannya?…” Kyung san menarik-narik tangan Tiffany tak sabaran.

“Kyung san-ah, kau yakin kau tidak salah dengar? Auntie kemarin bilang boneka jelek dan kuno, bukan?…”

Anak itu menggeleng.

“Aniyo. Auntie bilang boneka pangeran tampan. Iya kan, Oemma?…” Yoona mengangguk membenarkan. Kyu hyun melirik Tiffany sebal.

”Hei Hwang, kenapa kau pelit sekali. Kau tidak kasihan melihat anakku meminta seperti itu…” Marah Kyu hyun. Dia memalingkan wajahnya saat Tiffany menatapnya garang. Yoona mencubit paha suaminya.

“Ya! Aish!” Kyu hyun mengusap bekas cubitan Yooan untuk meredakan rasa sakitnya. Tapi walau sesakit apapun cubitan itu ia tidak akan protes. Tentu saja.

Yoona beralih menatap anaknya sayang.

“Kyung san-ah, mungkin Fany Auntie sangat sibuk sekarang jadi dia belum menyelesaikan hadiahmu. Kalau nanti sudah selesai, Fany Auntie akan segera memberikannya padamu…” terang Yoona lembut.

“Jjinja?…”

“Ah, ne. Sayang, Oemmamu benar. Auntie sangat sibuk akhir-akhir ini tapi Auntie akan segera menyelesaikannya dan memberikannya padamu…” Janji Tiffany. Kyung san mengangguk mengerti dan beralih menatap Si won.

“Auntie, siapa Ahjussi ini?…”

“Ne? Oh, dia…dia…” Kyung san menunggu jawaban Tiffany. Terlebih Yoona, dia juga merasa penasaran apa sebenarnya hubungan Tiffany dan Si won.

“Ahjussi ini kekasih Auntiemu, sayang…” Kyu hyun menjawab.

“Jjinjaeyo?…”

“Aniyo!” sela Tiffany cepat, Yoona yang melihat reaksinya itu tersenyum menggoda.

“Kenapa tidak, Unnie? Kalian tinggal bersama…” Yoona ikut menggoda. Tiffany hanya menghela nafas dan mengibaskan tangannya ke udara.

“Terserah kalian saja…” Ucapnya tak peduli. Biar saja orang berasumsi tentang hubungannya dengan Si won. Yang jelas, mereka tidak memiliki hubungan apapun.

***Sifany***

Yoona dan Tiffany tengah menyiapkan minuman didapur sementara para pria mengobrol dan bermain diruang tamu. Yoona yang tengah mengaduk tehnya menyenggol lengan Tiffany dengan lengannya. Tiffany menoleh dan mengernyit ketika sahabat baiknya itu tersenyum aneh kearahnya.

“Ada apa denganmu?…” Tanya Tiffany sembari memotong cakenya. Yoona tersenyum lebar.

“Dimana Unnie bertemu pangeran tampan?…” tanyanya menggoda. Tiffany menghela nafas. Kenapa dari tadi mereka hanya membahas tentang Choi Si won?

“Dijalan…” Jawab Tiffany sekenanya dan terkesan cuek.

“Jjinja?…” Tanya Yoona.

“Omo, pasti romantis sekali. Bagaimana kalian bertemu? Apa kalian saling bertabrakan?…” Tanyanya penasaran.

“Yoong, jebal. Aku tidak ingin membicarakan dia lagi…”

“Wae? Unnie, kau tidak boleh pelit. Ini berita bahagia. Unnie tega sekali tidak memberitahuku kalau Unnie sedang berkencan. Dengan seorang pangeran pula. Dia dari group dan keluarga mana? Pasti dia juga berasal dari keluarga kaya raya. Siapa orang tuanya?…”

Yoona merengut sebal ketika Tiffany meninggalkannya begitu saja. Namun tak lama kemudian ia tersenyum lalu dengan cepat membawa nampan berisi minuman yang sudah dia siapkan. Mengikuti Tiffany menuju ruang tamu.

“Yeay, Auntie membawa cake…” Girang Kyung san saat Tiffany muncul. Semua orang ikut tersenyum melihatnya. Begitu pula dengan Yoona yang sudah bergabung.

“Ne, cake ini khusus untukmu, anak manis…”

Tiffany menyerahkan piring kecil berisi cake itu pada Kyung san. Sementara Si won dan Kyu hyun harus mengambil sendiri milik mereka.

“Apa cakenya enak?…” Yoona bertanya seraya tangannya membersihkan remahan cake yang menempel dibibir Kyung san. Anak itu mengangguk.

“Ne, apa Fany Auntie yang membuatnya?…”

“Hahaha…”

Pertanyaan Kyung san langsung disambut tawa khas Kyu hyun. Tiffany menatap pria itu sebal.

“Sayang, candaanmu tidak lucu sama sekali, nak. Jangan pernah membayangkan kalau kau memakan masakan Auntiemu yang satu itu. Appa tidak sanggup kalau harus kehilanganmu…”

Kyung san membuka mulutnya kaget.

“Jjinja? Aku bisa menghilang jika memakan masakan Fany Auntie? Oemma, aku ingin mencoba masakan Fany Auntie dan menghilang seperti dalam film…”

Kyung san mulai merengek. Yoona menatap suaminya kesal karena sudah membuat putranya meminta hal-hal aneh seperti itu.

Sementara Si won dan Tiffany saling pandang dan tersenyum melihat pasangan suami istri itu. Tapi detik berikutnya Tiffany menurunkan senyumnya. Apa yang ia lakukan? Tersenyum bersama Si won? Si won yang menyadari itu tersenyum simpul dan beralih menatap Kyung san.

“Appamu hanya bercanda, Kyung san-ah…” Si won berucap. Kyung san beralih menatapnya.

“Jjinjaeyo?…” Tanyanya kecewa.

“Tentu saja. Tidak semua orang bisa melakukan hal-hal semacam itu karena tidak semua orang memiliki kemampuan sihir…”

“Ahjussi bisa melakukannya?…”

Tiffany sontak menatap Si won. Kepalanya  menggeleng. Meminta agar Si won tidak mengatakan apapun tentang kemampuan sihirnya pada anak itu.

“Aniyo. Tapi mungkin kau bisa melihat hal-hal semacam itu suatu saat nanti…”

Kyung san menatap Kyu hyun dan Yoona bergantian. Kyu hyun mengangkat bahunya tak mengerti sementara Yoona hanya tersenyum. Mungkin Si won hanya mencoba untuk menghentikan Kyung san agar tidak meminta hal-hal seperti itu lagi. Semua orang pun memilih untuk menikmati hidangan dihadapan mereka.

“Ngomong-ngomong, kapan kalian akan menikah?…” Tiffany hampir tersedak ketika mendapat pertanyaan tiba-tiba Kyu hyun.

“Mwo?…” Tanyanya tak percaya.

“Tidak perlu sekaget itu, Tiff. Kau harusnya tahu kalau sekarang kau sudah pantas untuk itu. Kau lihat Yoona, dia bahkan sudah menikah dan punya anak sementara dia satu tahun lebih muda darimu…”

“Ya! Yoona tidak akan seperti ini kalau kau tidak memaksa untuk menikahinya ketika dia masih ditahun pertama kuliahnya. Kau tahu, aku sangat prihatin melihatnya pergi kuliah dan mengerjakan tugas dengan perut besarnya…” Kyu hyun mengunyah cake ditangannya.

“Aku tidak pernah tahu. Bukankah kau yang selalu mengerjakan tugasnya?…”

“Itu karena aku tidak ingin melihatnya kesulitan saat sedang hamil. Kau saja yang tidak pengertian…”

“Mwo? Apa maksudmu? Hei, aku adalah suami terbaik untuknya. Dan jangan membuatku marah, aku belum memaafkanmu sepenuhnya atas kejadian beberapa bulan lalu. Kau tahu, pria itu selalu menelfon istriku dan itu sangat mengganggu…”

Si won, Yoona dan Kyung san menatap dua sosok yang sejak tadi terus beradu mulut itu. Tiffany pun terdiam, dia tahu itu kesalahannya dan dia sudah meminta maaf pada Kyu hyun termasuk pada penulis asal negeri sakura tersebut.

“Untuk itu aku sudah minta maaf…” ucap Tiffany pelan. Kyu hyun melipat tangannya dan tersenyum puas. Susah sekali membuat wanita itu merasa bersalah ternyata.

“Hei, Si won-ssi. Kau yakin kalau kau benar-benar mencintai Tiffany? Dia wanita yang sangat menakutkan…”

Si won dan Yoona tersenyum ditempat mereka masing-masing. Sementara Tiffany bersiap melempar wajah Kyu hyun dengan bantal sofa yang ada didekatnya.

“Ya! Pergi kau dari apartementku!”

***Sifany***

Tiffany tersenyum hangat pada Song Ahjumma yang membukakan pintu untuknya.

“Apa kabar, Agasshi?…”

“Aku baik, Ahjumma. Ini, aku membawakan ginseng merah dan beberapa obat herbal. Pastikan Appa meminumnya, ne?…”

Perempuan paruh baya itu menerima bungkusan dari Tiffany dengan senang hati.

“Tentu, Agasshi…”

Song Ahjumma beranjak pamit ketika Tuan Hwang muncul dari arah kanan. Tiffany memperhatikan Appanya dari ujung kaki sampai kepala. Didekatinya pria itu lalu memeluknya hangat.

“Appa, gwenchana?…” Terdengar tawa renyah Tuan Hwang.

“Appa baik-baik saja, Fany-ah. Kau tidak perlu khawatir. Kekuatan Appa 70 % membaik ketika melihatmu…” Tiffany cemberut.

“Hanya 70%? Kemana sisanya?…”

“Ada pada calon menantu dan cucu Appa…” Tiffany melepas pelukannya dan memasang wajah pura-pura kesal. Dia tahu kalau topik ini akan selalu muncul jika mereka bertemu.

Tiffany dan Tuan Hwang duduk disofa ketika Song Ahjumma menghidangkan dua cangkir teh berikut kudapannya.

“Gumawoyo, Ahjumma…”

“Ne. Silahkan diminum, Agasshi…” Ucap Song Ahjumma seraya pamit.

“Appa mendapat salam dari Kim Ahjussi dan karyawan lainnya…”

“Jjeongmal? Appa akan segera mengunjungi mereka…” Kata Tuan Hwang lalu menyesap tehnya.

“Tidak perlu buru-buru, Appa. Kesehatan Appa jauh lebih penting…”

“Appa baik-baik saja, Fany-ah. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan…” Tuan Hwang terdiam ketika ia mengingat sesuatu.

“ Oh, ya, kenapa kau tidak mengajaknya?…” Tiffany yang tengah menikmati kudapannya mendongak.

“Nugu?…” Tanyanya tak mengerti.

“Tidak perlu berpura-pura. Appa tahu kalau kau tinggal dengan seorang pria. Jadi, apa kalian sudah menentukan tanggalnya?…” Tanya Tuan Hwang dengan wajah penuh rona bahagia.

“Ne? Apa maksudmu Appa? Hubungan kami tidak seperti apa yang Appa bayangkan…”

“Lalu?…” Tuan Hwang bertanya meminta penjelasan putrinya.

Tiffany terdiam.  Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya tentang Si won, bukan? Appanya tidak akan percaya. Dia saja masih ragu tentang asal-usul serta kemampuan sihir yang diceritakan pria itu. Ya, walau Si won sudah pernah menyelamatkannya tapi tetap saja ketika itu Tiffany tidak melihat apa-apa. Ia hanya tahu saat bus itu akan menabraknya tiba-tiba tubuhnya melayang dan sudah ada dalam dekapan hangat Si won.

“Dia…dia…hanya tinggal sementara ditempatku karena dia tidak memiliki tempat tinggal…” Kening Tuan Hwang berkerut.

“Tidak memiliki tempat tinggal?…” Herannya.  Tiffany mengangguk cepat.

“Eoh. Dia tidak memiliki keluarga jadi anggap saja aku sedang menolong orang yang sedang kesusahan. Bukankah itu perbuatan yang baik?…”

“Kenapa kau harus pilih-pilih jika ingin menolong orang?…”

“Ne?…” Tanya Tiffany tak paham.

“Kalau kau ingin menolong orang yang kesusahan, kenapa kau harus menolong pria tampan? Kenapa tidak ibu-ibu hamil atau anak-anak yang kelaparan…”

Tiffany menghela nafas lelah. Pembicaraan ini tidak akan berhenti sampai Appanya itu mendapatkan jawaban yang memuaskan. Aish, sepertinya ia harus mencari cara bagaimana agar Si won pergi dari kehidupannya.

***Sifany***

Yoona meletakkan secangkir coffee untuk Kyu hyun usai suaminya itu selesai mandi dan berganti pakaian. Setelah itu dia ikut duduk disofa yang sama dengan pria itu.

“Oppa, apa kau pernah mengenal Si won-ssi sebelumnya?…” Kyu hyun menggeleng setelah meneguk coffeenya.

“Aniyo. Wae?…”

“Anni. Aku hanya penasaran bagaimana mereka bisa bertemu. Karena mereka tinggal bersama, apakah ada kemungkinan kalau mereka sudah lama saling kenal? Tapi aku tidak pernah tahu kalau Fany Unnie tengah menyukai atau dekat dengan seseorang…”  Yoona bingung sendiri memikirkan Si won dan Tiffany. Kyu hyun mengangkat bahunya.

“Aku juga tidak tahu. Mungkin selama ini dia belajar diluar negeri…”

“Eoh, mungkin itu benar. Waktu itu dia mengatakan kalau dia pengeran, bukan? Apa dia berasal dari keluarga salah satu dinasti kerajaan zaman dulu? Apa dijaman sekarang masih ada hal-hal seperti itu?…”

“Mungkin saja. Mereka pasti bangga dengan silsilah keluarga mereka…” Yoona meletakkan telunjuk didagunya. Berpikir.

“Dan kalau dia pangeran dia pasti berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan. Kenapa dia harus tinggal bersama Fany Unnie?…”

Kyu hyun menghembuskan nafasnya dengan pelan.Istrinya itu sangat penasaran tentang pria yang tinggal bersama Tiffany itu ternyata.

“Mereka pasangan kekasih, Yoong. Apa salahnya jika mereka tinggal bersama…”

“Tapi Oppa…”

“Sstt, berhenti membahas Tiffany dan `pangeran`nya itu. Ini waktu kita berdua, yeobo. Bukankah sebaiknya kita menikmatinya bersama?…” Kyu hyun mengedip manja membuat Yoona bergidik.

“Oppa, kau sangat menggelikan…” Ucapnya seraya memukul lengan Kyu hyun pelan. Kemudian meraih ponselnya yang ada diatas meja.

“Aku akan menelfon Sunny Unnie…” Kyu hyun hanya menghela nafas saat istrinya itu pergi dengan ponsel yang sudah menempel dikuping kanannya.

“Baiklah, urus saja Tiffany dan Pangerannya itu…” Gerutu Kyu hyun lalu memeluk bantal sofa dengan wajah cemberut.

***Sifany***

Tiffany tiba di apartementnya ketika Si won baru saja selesai menyiapkan makan malam. Pria itu sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik. Meja makan yang romantis dengan lilin-lilin dan wine diatas meja.

Tiffany terdiam. Apa sebenarnya yang pria itu lakukan? Kenapa semakin hari semakin ia sulit untuk tidak menerima kehadirannya. Apalagi semua perlakuan manis Si won membuatnya sangat terbuai sebagai seorang wanita.

Si won menuangkan winenya kedalam gelas Tiffany.

“Aku seorang pangeran yang romantis, bukan?…” Tiffany mencibir.

“Eoh. Di negerimu kau pasti menggunakan kekuasaanmu untuk merayu para gadis…” Si won tertawa dibuatnya.

“Perlu kau ketahui, Tiffany. Kau adalah wanita pertama yang mendapat kehormatan seperti ini. Kalau di negeriku, para wanita biasanya sangat menghormatiku dan tidak akan ada yang berbuat semaunya apalagi meneriakiku seperti yang kau lakukan…”

“Jadi kau keberatan?…” Si won menggeleng dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya. Dan Tiffany tahu kalau itu sangatlah manis.

“Anni. Jika untuk menyenangkan hati permaisuriku aku tidak akan keberatan. Aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu senang…”

Tiffany terdiam sesaat lalu membuang nafasnya pelan. Pria itu pandai sekali merayu ternyata.

“Spagethinya hampir dingin…” Kata Si won pelan. Yang secara tak langsung menyuruh Tiffany untuk segera memakan spagethinya. Tiffany mengangguk dan mulai meraih garpunya.

Tiffany menggigit bibirnya lalu menatap Si won hati-hati.

“Si won, bolehkah aku melihat kemampuan sihirmu?…” Si won terdiam untuk beberapa saat.

“Untuk?…”

“Aku, hanya penasaran saja…” Si won menimang-nimang untuk beberapa saat.  Kemudian mengangguk.

“Baiklah, kau ingin aku melakukan apa?…” Tiffany meremas erat jemarinya. Entah kenapa dia yang gugup.

“Uhm…itu, power bank-ku tertinggal dikantor. Bisa kau ambilkan?…”

Si won mengangguk menyanggupi permintaan itu. Tiffany memperhatikan Si won dengan seksama. Pria itu tampak memejamkan matanya untuk berkonsentrasi. Si won kemudian mengangkat tangan kanannya dengan jari yang terbuka. Sekumpulan cahaya putih menyilaukan mata berkumpul ditelapak tangan Si won. Dan hanya dalam satu kedipan mata, cahaya itu berganti dengan power bank-nya ditelapak tangan Si won.

Tiffany tertegun. Benarkah apa yang ia lihat? Jadi Si won benar-benar bisa melakukan sihir?

“Ini…” Si won menyerahkan benda kecil berbentuk persegi panjang berwarna pink itu pada Tiffany.

“Kau sengaja meninggalkannya…”

“Ne?…” Kaget  Tiffany. Kemudian ia tersenyum malu karena ketahuan. Ya, Si won benar, dia memang sengaja meninggalkannya tadi siang sebelum ia mengunjungi Appanya.

“Eum, terima kasih…”

“Sama-sama…”

***Sifany***

“Ah, aku sangat lelah hari ini…”

Sunny mengeluh seraya melangkah keluar gedung perkantoran mereka bersama Tiffany. Jam kerja sudah usai dan sekarang saatnya mereka untuk pulang kerumah dan beristirahat. Gadis itu melirik Tiffany yang terus sibuk dengan tablet ditangannya. Sahabatnya itu tengah sibuk memeriksa jadwalnya untuk besok pagi. Sunny menggeleng, dia merasa sudah sangat bosan tapi wanita itu masih saja memikirkan pekerjaan.

“Omo! Pangeran, kau disini?…”

Tiffany mengalihkan perhatiannya ketika menyadari Sunny berlari kecil meninggalkannya. Dan saat matanya melihat kemana langkah wanita itu, ia menghela nafas. Lagi-lagi Choi Si won muncul dihadapannya.

“Pangeran, kau datang untuk menjemput Permaisurimu?…” Tiffany melirik Sunny dengan sebal. Tidak bisakah sahabatnya itu memanggil Si won dengan nama saja? Pasti Sunny sengaja melakukannya untuk menggodanya.

“Ne, Sunny-ssi. Aku menjemput Tiffany…” Jawab Si won dengan senyum manisnya.

“Jjinja? Ah, pangeranku belum datang. Andai aku juga permainsurimu…” Tiffany mencibir saat gadis disebelahnya itu mulai bertingkah imut dan manja.

“Sunny-ssi, apa kau sudah makan malam?…” Sunny menggeleng dengan senyum  menghiasi wajahnya. Dia tahu pasti maksud dari pertanyaan itu.

“Aniyo. Bolehkah aku bergabung dengan kalian, Pangeran?….” Tanya Sunny senang dan disambut anggukan Si won.

‘Tentu. Akan lebih menyenangkan jika kita semua ikut…”

“Tidak perlu, aku makan dirumah saja…” Sunny mengerucutkan bibirnya tak suka.

“Wae? Aku tahu kalau kau hanya ingin berdua dengan pangeranmu, Tiff. Tapi tidak ada salahnya jika sesekali aku ikut…” rengek Sunny. Tiffany tidak bisa berbuat banyak meski alasannya bukanlah apa yang Sunny maksud. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk makan malam bersama diluar.

“Ya! Kau punya uang untuk mengajak kami makan malam?…” bisik Tiffany saat keduanya berjalan dibelakang Sunny. Si won tersenyum.

“Tentu. Bukankah kau sudah memberikannya?….”

Tiffany berdecak sebal mendengarnya.

“Aish! Dasar pangeran miskin!” Si won hanya tertawa dan membukakan pintu untuk kedua wanita itu.

***Sifany***

“Makanan disini benar-benar lezat. Bukan begitu, Pangeran?…”

“Ne, Sunny-ssi. Aku senang jika kau menikmatinya…”

Sunny tersenyum dan kembali pada makanannya. Tiffany yang juga ada bersama mereka memilih untuk menikmati menunya dalam diam. Tidak memperdulikan dua orang yang sejak tadi selalu mengobrol dengan topik yang beragam. Sejak kapan mereka akrab? Pikirnya.

“Pangeran, dimana kau bertemu Tiffany?…” Si won tersenyum kala mendapat pertanyaan itu. Diliriknya Tiffany yang terus fokus dengan makanannya.

“Aku bertemu dengannya di depan pabrik…” Alis Sunny terangkat.

“Pabrik?…” Si won mengangguk.

“Ne…” Sunny menelengkan kepalanya. Apa yang dilakukan Si won dipabrik? Tidak mungkinkan Si won salah satu karyawan disana?

“Waeyo, Sunny-ssi?…”

“Eoh? Aniyo…”

Sunny menggeleng dan kembali pada makanannya. Pandangannya kembali pada Si won yang kini memotongkan daging untuk Tiffany. Dia bisa melihat kecanggungan Tiffany. Apa mungkin karena dia ada disini?

“Tidak perlu canggung, Tiff. Anggap saja sekarang kalian sedang berdua dan tidak ada aku disini…”

Sunny tertawa kecil lalu beralih menatap Si won. Ini lebih baik dari pada melihat tatapan tajam dari sahabat baiknya itu.

“Sepertinya kau sangat menyukai permaisurimu. Apa yang paling kau sukai darinya, Pangeran?…”

Sunny mencoba mencari tahu hubungan keduanya. Tidak akan mungkin bertanya pada Tiffany sebab wanita itu tidak akan buka mulut soal ini.

Tiffany melirik Si won. Entah kenapa ia penasaran dengan jawaban pria itu.

“Matanya…” Dada Tiffany bergemuruh. Bolehkah ia merasa senang?

“Eih, itu sudah biasa…” Komentar Sunny.

“Dan bibirnya…”

Sunny menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Wajahnya mengarah pada Tiffany dengan tatapan tak percaya.

“Kalian sudah berciuman?…” Tanyanya seolah tak percaya.

“Siapa yang lebih dulu melakukannya, Pangeran?…” Si won tersenyum dengan mata yang mengarah pada Tiffany. Untuk kedua kalinya Sunny terperangah.

“Tiff, aku tidak menyangka kalau kau ternyata …”

“Lee soon kyu, please. Itu bukan seperti ciuman yang kau bayangkan…”

“Aish, tetap saja namanya ciuman. Ah, aku harus menelfon Yoona…”

“Mworagu?…” Sunny tersenyum lalu menggeleng pelan.

“Aniyo, aku tidak mengatakan apa-apa…” Ucapnya dengan senyum riang. Tiffany menghela nafas dan kembali pada makanannya. Si won dan Sunny yang melihat itu tersenyum ditempat mereka masing-masing.

***Sifany***

Dentingan suara piano melantun diruangan apartement Tiffany. Butiran krystal berterbangan memenuhi ruang tamu itu. Butiran-butiran halus itu melayang dan jatuh menimpa apa saja hingga semuanya tampak bersih dan berkilau.

Si won tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Sekarang waktunya ia menyiapkan makanan.

Pria tampan itu baru akan bergeser dari tempatnya saat menyadari mata Tiffany terpaku padanya. Si won terdiam. Apa Tiffany melihat semua yang ia lakukan barusan?

“Fany-ah? Sejak kapan kau disini?…” Si won mendekati Tiffany yang masih tampak shock ditempatnya.

“A-aku, aku baru saja datang…” Gugup Tiffany. Dia sudah melihat semuanya dengan jelas. Walau beberapa waktu lalu ia sudah pernah menyaksikannya tapi ia tetap saja terkejut.

“Aku, aku akan ke dapur…”

Si won mengangguk lalu bergeser memberi Tiffany jalan. Wanita itu dengan cepat berlalu dan tanpa sengaja tangannya menyenggol vas bunga dan…

“Hap!”

Tiffany terkejut ketika tiba-tiba Si won sudah ada didekatnya dengan tangan memegang vas bunga yang hampir jatuh itu. Tiffany menghela nafas. Hampir saja.

“Hati-hatilah…”

Tiffany mengangguk dan mulai beranjak menuju dapur. Si won meletakkan kembali vas bunga itu dimeja lalu mengikuti Tiffany dari belakang.

Tiffany mengambil segelas orange jus dari kulkas. Ditegukanya minuman itu sembari duduk dimeja makan. Sementara Si won mulai menyiapkan bahan dari kulkas untuk menyiapkan sarapan. Tiffany meliriknya.

“Eum, kenapa kau harus repot-repot memasak? Gunakan saja kemampuan sihirmu agar lebih cepat dan praktis…” Si won tersenyum mendengarnya.

“Selagi masih punya waktu dan tenaga, apa salahnya jika kita membuatnya sendiri…” Tiffany mencibir.

“Lalu apa yang tadi kau lakukan? Ku lihat kau bukan dalam keadaan darurat sampai harus membersihkan apartementku dengan kemampuan sihirmu…”

“Aku sudah lama tidak melakukannya jadi tanganku terasa gatal…”

“Err, kau yakin?…” Tiffany kembali bertanya.

“Tentu saja. Lagi pula, tidak akan ada orang yang melihatnya jadi sah-sah saja…”

“Tapi aku melihatnya…”

“Kau sudah tahu siapa aku, Tiff. Jadi kau tidak akan sekaget saat pertama kali melihatnya…” Penjelasan itu akhirnya membuat Tiffany menganggukkan kepalanya. Mungkin benar. Kalau orang lain pasti akan sangat shock ketika melihatnya.

Tiffany beranjak dari kursinya untuk mendekat kearah Si won. Pria itu sedang sibuk memotong sayuran untuk soupnya.

“Kau ingin membantuku?…”

“Ne?…” kaget Tiffany. Pria itu tersenyum dan dengan cepat memakaikan apron pink ditubuh Tiffany.

“Apa yang kau lakukan?…” Si won tidak memperdulikan pertanyaan itu dan segera meraih tangan Tiffany.

“Kau hanya perlu mencuci dan memotong sayurannya. Tidak sulit, bukan?…”

Tiffany melirik wortel, tomat dan daun bawang yang ada disebelah wastafel. Sementara Si won sudah mulai menyalakan kompor.

“Huft, baiklah. Tapi aku tidak mau menyentuh daun bawang ini. Aromanya aneh dan membuat mataku perih…” Ucapnya. Si won hanya tersenyum dengan kepala mengangguk setuju.

***Sifany***

Si won terus berganti posisi untuk membuat istirahatnya lebih nyaman. Ia sudah hampir  dua bulan ini tidur disofa. Walau Tiffany sudah membelikannya sofa baru yang lebih besar dan bisa dipakai untuk tidur tapi tetap saja dia merasa kurang nyaman.

Tiffany yang dari tadi memperhatikan Si won pun bangun. Dia mendekat dan mendudukkan dirinya diatas meja. Hingga ia bisa melihat wajah tampan Si won yang tertidur.

“Kau pasti merasa kurang nyaman. Mianhe, aku juga tidak bisa menyuruhmu untuk tidur bersamaku…”

Tiffany merasa bersalah. Dia tidak berani menyuruh Si won tidur bersamanya. Bukan hanya karena ia takut Si won akan melakukan sesuatu terhadapnya namun ia sendiri juga takut kehilangan kendali jika selalu berada didekat pria tampan itu.

Tiffany menatap bibir Si won yang sedikit terbuka. Bibir tipis yang dulu pernah ia cium hingga mengubah boneka pangeran tampan itu berubah menjadi pangeran sungguhan yang sangat sangat tampan.

Tiffany menggigit bibirnya. Kenapa dia berada disini dan mengagumi pria itu?

“Aish, sepertinya aku harus melakukan sesuatu…” Erangnya pelan dan segera kembali keatas  ranjang.

***Sifany***

“Annyeong!”

Suara kencang Tiffany menggema di kediaman Kyu hyun dan Yoona. Pasangan yang sedang asyik membuat cake didapur itu menoleh. Tiffany muncul dengan satu kantong plastik penuh ditangannya.

“Hei, dimana Kyung san?…” Tiffany mendekat dan meletakkan kantong plastik berisi permen dan makanan ringan itu dimeja makan.

“Kyung san baru saja tidur, Unnie…” Tiffany mengangguk begitu mendapat jawaban dari Yoona.

“Ada apa, Unnie?….” Yoona yang tengah mengolesi cakenya dengan cream bertanya.

“Waeyo, apa kedatanganku mengganggu kalian?…”

“Tentu saja, ini quality time untuk keluarga kami. Kyung san saja mengerti kalau ini waktuku untuk bersama Yoona…” Kyu hyun menutup mulutnya ketika Yoona dan Tiffany menatapnya tajam.

“Jadi kau ingin mengatakan kalau anakku pengganggu, Oppa?…”

“Mwo? Hahaha…” Kyu hyun tertawa untuk mereda emosi istrinya itu.

“Anni, yeobo. Kenapa kau bisa berpikir seperti itu…” Ucapnya dengan senyum menggoda. Tiffany mencibir kesal melihatnya.

“Kau benar-benar Appa yang jahat, Kyu. Kalau seperti ini aku akan membawa Kyung san bersamaku saja…” Kyu hyun menolak tak setuju.

“Itu lebih buruk. Anakku bisa kurang gizi karena kau jarang dirumah dan tidak memberinya makan…”

Tiffany mencibir sementara Yoona memilih menghiasi kuenya dengan cream dan buah strawberry agar lebih menarik. Kyu hyun yang ada bersamanya mencolek cream itu dengan telunjuknya lalu mencicipinya.

“Ngomong-ngomong, apa yang membawamu kemari?…” Kyu hyun menanyakan perihal kedatangan Tiffany.

“Aku ingin meminta bantuanmu…” Kyu hyun menatap Tiffany.

“Bantuan? Apa?…”

“Eum, kau punya kenalan seorang wanita?…”

“Wanita? Tentu saja. Aku kenal banyak para wanita di…”

Kyu hyun tidak melanjutkan ucapannya ketika mata Yoona menatapnya tajam. Pria itu tertawa garing lalu mengibaskan tangannya.

“Sebenarnya tidak begitu banyak. Tapi ya, aku punya sekitar dua atau tiga orang…” Kyu hyun mengelus dadanya lega karena Yoona sudah kembali dengan cakenya. Tiffany yang melihat itu  tersenyum.

“Tapi untuk apa jika aku boleh tahu?…” Tiffany menggigit bibirnya dan terdiam sesaat.

“Aku ingin kau mencarikan wanita untuk Si won…” Yoona sontak menoleh. Ditinggalkannya cake dan creamnya beserta  Kyu hyun lalu duduk didekat Tiffany.

”Waeyo, Unnie?…” Tanya Yoona. Tiffany tampak menghela nafas.

“Aku hanya ingin dia pergi dariku…”

“Wae? Kalian bertengkar? Jangan gegabah mengambil keputusan, Unnie. Wajar jika sesekali kalian bertengkar saat menjalin sebuah hubungan…”

Kyu hyun mengangguk setuju.

“Itu benar. Lagi pula, sepertinya Si won pria yang baik untukmu…”

“Hei, jebal. Hubunganku dengan Si won tidak seperti apa yang kalian bayangkan. Dan aku hanya ingin kau mencarikan seorang wanita untuknya, Kyu. Titik!” Pasangan itu menghela nafas. Mereka sangat mengenal seperti apa sifat Tiffany.

“Aku tidak keberatan. Seperti apa wanita yang kau inginkan?…”

“Apa saja. Asal jangan wanita malam…” Yoona tersenyum mendengarnya.

“Wae?…” Tanyanya menggoda.

“Dia takut kalah seksi…” Kyu hyun menimpali. Tiffany dengan reflek melempar Kyu hyun dengan buah anggur didepannya.

***Sifany***

Si won diam saja ketika Tiffany memakaikan jas berwarna hitam itu ditubuhnya. Setelah itu, Tiffany menyemprotkan parfum dan merapikan dasinya.

“Sempurna…” Ucap Tiffany puas. Hari ini dia akan mengajak Si won pergi kesebuah café untuk bertemu dengan wanita yang kemarin direkomendasikan Kyu hyun.

“Kajja, kita hampir terlambat…”

Si won senang sekali karena diajak berkencan oleh Tiffany. Dari tadi dia tidak berhenti untuk terus tersenyum membayangkan betapa indahnya kencan mereka.

Mereka sampai di cafe yang dituju. Tiffany menggandeng lengan Si won mendekati sebuah meja paling pojok. Dimana disana sudah duduk seorang wanita yang berusia sama dengan Tiffany, 25 tahun.

“Kenapa kita tidak mencari meja yang lain saja?…” Si won bertanya tapi wanita itu tidak menjawabnya.

Si won melirik wanita yang mereka hampiri itu.

“Annyeong haseyo. Aku Lee Young ran…” Sapanya ramah dengan mengulurkan tangannya. Tiffany menyikut pinggang Si won, memberinya isyarat untuk menerima uluran tangan wanita itu. Si won pun menerimanya dengan ragu.

“Aku, Choi Si won…”

“Ne, senang bertemu denganmu, Si won-ssi…”

Tiffany tersenyum melihat keduanya.  Sepertinya sekarang saatnya ia pergi dan membiarkan keduanya untuk saling mengenal lebih jauh.

“Baiklah, kalau begitu. Nikmati waktu kalian. Aku pergi…”

Si won menahan lengan Tiffany.

“Kenapa kau pergi? Bagaimana dengan kencan kita?…”

“Mwo? Kencan kita?…” Terdengar tawa merdu wanita itu.

“Mungkin kau salah paham, Si won. Aku tidak bilang ini kencan kita tapi kencanmu…”

“Mwo?…” Wajah Si won tampak bingung. Tiffany tersenyum.

“Mianhe, aku harus pergi sekarang. Bersenang-senanglah…”

“Tiff…”

Si won tidak dapat berbuat banyak ketika Tiffany meninggalkannya bersama wanita itu.

“Si won-ssi?…” Si won melirik wanita dengan dress kuning diatas lutut itu.

“Duduklah…”

Suruhnya dengan senyum lembut. Si won menghela nafas sebelum akhirnya duduk dikursinya. Dia tidak menyangka kalau Tiffany akan membohonginya hari ini. Jelas-jelas wanita itu mengatakan kalau mereka akan pergi berkencan.

***Sifany***

Si won  membalas akrab setiap obrolan dan candaan dari Young ran. Wanita cantik itu memiliki keribadian yang menyenangkan hingga mudah baginya untuk cepat akrab dengan orang lain.

“Si won-ssi, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?…”

“Ne, silahkan saja…”

“Uhm, aku tidak tahu kedepannya kita seperti apa. Tapi aku ingin tetap mengenalmu dan berteman baik…”

Si won menunggu apa yang akan ditanyakan wanita itu.

“Apa hubunganmu dengan Tiffany-ssi baik-baik saja?…”

“Aku dan Tiffany? Tentu. Memangnya ada apa?…”

Wanita itu tampak diam dengan alis yang menyatu.

“Aneh sekali. Kemarin teman lamaku Kyu hyun menelfonku. Dia mengatakan kalau aku harus bertemu denganmu dan membuatmu untuk menyukaiku agar kau tidak mengejar Tiffany lagi…” Si won meletakkan pisau dagingnya.

“Mwo?…”

“Ku pikir Kyu hyun memintaku melakukannya karena hubungan kalian sudah berakhir. Tapi aku cukup terkejut ketika melihat kalian datang bersama…”

Si won tersenyum ditempatnya. Sepertinya dia bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Jadi wanita itu yang merencanakan semua ini dengan meminta bantuan Kyu hyun?  Baiklah, kita lihat nanti apa yang akan terjadi.

***Sifany***

Tik Tok Tik Tok Tik Tok

Tiffany memperhatikan setiap pergerakan jarum jam dinding di ruang tamunya. Sekarang sudah hampir jam 10 malam dan Si won belum pulang. Memangnya apa saja yang Si won dan wanita itu lakukan sampai mereka belum juga pulang selarut ini?

Terdengar suara pintu terbuka. Tiffany dengan cepat meraih remote TV dan mengencangkan volume suaranya.

“Hei, kau belum tidur?…” Si won bertanya lalu duduk disebelah Tiffany. Wanita itu terlihat asyik menonton sambil menopang kepala dengan tangannya.

“Anni. Filmnya seru sekali jadi aku masih belum ingin tidur…”

Si won melihat kearah TV dan tersenyum ditempatnya. Tiffany yang menyadari itu menoleh.

“Wae?…”

“Anni, aku hanya tidak menyangka kalau gadis seusiamu ternyata masih menyukai film anak-anak…”

“Mwo?…”

Tiffany dengan cepat melihat kearah TV. Dia mengeram kesal. Kenapa ada film kartun selarut ini? Apa anak-anak di Korea belum tidur?

“Jujur saja, kau menungguku?…” Si won menggoda, Tiffany memutar bola matanya.

“Kau percaya diri sekali, Tuan Pangeran…” Si won tertawa saja dan mulai beranjak menuju kamar. Tiffany yang melihat itu dengan cepat mematikan TV dan ikut menyusul Si won.

Tiffany duduk di ranjang memperhatikan Si won yang sedang melepas jasnya.

“Uhm, bagaimana kencan kalian?…”

“Menyenangkan…”

“Jjinja?…” Tanya Tiffany setengah berteriak. Dia sendiri tidak tahu kenapa reaksinya malah seperti ini.

“Hm, ternyata dia wanita yang baik dan lembut. Tutur bahasanya halus dan sopan. Dia juga memiliki selera humor yang baik…”

Tiffany mengeluarkan lidahnya seperti ingin muntah.

`Memangnya kapas lembut` batinnya kesal.

“Wae?…” Tiffany menegakkan kepalanya.

“Ah, ani. Aku ikut senang mendengarnya…” Jawab Tiffany dengan sebuah senyuman paksa diwajahnya. Si won  mengangguk dan masuk ke kamar mandi.

Tiffany menghempaskan punggungnya keatas ranjang. Kenapa ia kesal sendiri mendengar Si won memuji wanita itu. Aish!

***Sifany***

Tiffany meletakkan mug berisi colekat panas yang baru diteguknya saat Si won muncul. Pria itu sudah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat.

“Kau akan pergi?…” Tanya Tiffany sembari mengunyah rotinya. Si won tersenyum sebelum menjawab.

“Hm. Young ran ingin aku menemaninya berbelanja hari ini…” Tiffany hampir tersedak ketika mendengar jawaban pria itu.

“Mwo? Memangnya kau pelayannya mau disuruh-suruh?…”

“Wae, kami sedang dekat jadi wajar jika kami saling membantu satu sama lain…”

Tiffany makin dongkol. Pria itu bilang apa? Sedang dekat? Cih!

“Oh ya, Tiff. Aku boleh meminjam mobilmu?…” Pinta Si won.

Tiffany melotot. Pria itu meminjam mobilnya untuk memberikan tumpangan  pada wanita lain? Tidak sudi!

“Shiro!”

“Ayolah, Fany-ah. Kenapa kau pelit sekali…”

“Biar saja…” Tiffany tak peduli dan kembali mengunyah sarapannya. Si won hanya mengangguk pasrah dan segera pergi.

“Ya! Kau tidak sarapan?…”

“Aku sarapan diluar saja…” Si won menjawab dari ruang tamu. Tiffany melempar rotinya kesal.

“Aish! Jjinja!”

***Sifany***

“Ini laporan keuangan yang kau minta…” Sunny menyerahkan berkas ditangannya dan Tiffany menerimanya.

“Eoh, gumawo…” Ucapnya lemas dan mulai memeriksa laporan itu.

“Hei, sepertinya kau kurang semangat hari ini. Wae?…” Sunny mengambil tempat dihadapan Tiffany.

“Anni, aku hanya sedang malas saja…”

“Wae? Dan kemana pangeran tampan? Aku tidak melihatnya akhir-akhir ini…”

Tiffany terdiam.Otaknya berputar-putar memikirkan apa yang sedang pria itu lakukan sekarang. Apa dia sedang bersama wanita itu?

“Tiff, apa kalian sedang bertengkar?…”

“Uh? Anni…” Tiffany kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya.

“Lalu, kenapa dia tidak datang?….”

“Mana aku tahu. Mungkin dia sibuk dengan wanita itu…”

Tanpa sadar Tiffany merasa dongkol sekali memikirkan Si won dan wanita itu. Sunny membuka mulutnya kaget.

“Omo, maksudmu pangeran tampanmu berselingkuh?…” Pekiknya setengah berteriak.

“Tiff, kau tidak boleh membiarkannya.  Kau harus merebutnya kembali dari wanita sialan itu. Dia masih tinggal bersamamu, bukan? Jangan biarkan dia keluar dari apartementmu untuk menemui wanita itu lagi, Fany-ah…” Tiffany terdiam sejenak dan menegakkan posisi duduknya.

“Haruskah aku melakukannya?…” tanyanya. Sunny mengangguk mantap.

“Keuromnyo.Dia milikmu…”

Tiffany mengiyakan dalam hati. Benar, sepertinya dia harus melakukan sesuatu.

***Sifany***

Tawa riang dan canda khas anak-anak terdengar begitu jelas dihalaman sebuah yayasan anak itu. Mereka asyik bermain dengan hadiah baru mereka yang diberikan Si won. Beberapa hari terakhir, mereka bisa selalu tertawa karena kebahagiaan dan keceriaan yang dibawa pria tampan itu.

Sama halnya dengan anak-anak itu, Si won pun merasa sangat senang melihat tawa ceria mereka. Dia melihat tempat ini sepulang dari kencannya yang diatur Tiffany beberapa hari lalu. Merasa ingin menghibur anak-anak kecil itu Si won pun memutuskan untuk masuk dan bermain bersama mereka. Sejak hari itu ia sering mengunjungi tempat ini.

“Terima kasih untuk hadiah dan waktu yang sudah Anda luangkan untuk anak-anak kami, Tuan Choi…” Ungkap Ahn Ahjumma penuh terima kasih. Dijaman sekarang ia senang karena masih ada pria muda berhati mulia seperti Si won.

Pria itu tersenyum.

“Tidak perlu berterima kasih, Ahjumma. Aku sama sekali tidak keberatan. Lagi pula, aku menikmati waktuku bersama mereka….” Keduanya tersenyum melihat anak-anak yang tengah berebut mainan baru mereka.

“Sekali lagi terima kasih, Tuan. Anda pasti dibesarkan dengan baik oleh orang tua dan lingkungan Anda. Sampaikan terima kasih kami pada orang tua Anda…”

Ahn Ahjumma membungkuk sebelum akhirnya pamit dan kembali masuk. Membiarkan Si won bermain bersama beberapa anak perempuan asuhnya. Sementara anak laki-laki sibuk dengan bola mereka.

“Yah, bolanya tersangkut dipohon. Kenapa kau menendangnya begitu tinggi…” Keluh Hwan pada Ji soo.

“Gwenchana, aku akan memanjatnya…” Ucap Ji hoon mendekati pohon dan mulai bersiap untuk memanjatnya.

“Hajima…” Namun teriakan itu menghentikan aksinya.

“Jangan dipanjat, Ji hoon-ah, biar aku panggil Si won Oppa saja…” Anak perempuan dengan rambut dikepang itu menghentikan aksi Ji hoon.

“Hei, Sa rang-ah, yang harus kau panggil Oppa itu aku, kalau Si won Ahjussi itu Ahjussi. Dia jauh lebih tua darimu…” Nasehat Ji hoon layaknya orang dewasa yang bijak. Gadis kurus berusia 6 tahun itu mencibir.

“Biar saja, memangnya kenapa kalau aku memanggilnya Oppa…” Ucapnya tak peduli. Teman-teman yang lain tampak tersenyum menahan tawa mereka melihat wajah kesal Ji hoon.

“Ya sudah, aku saja yang memanjatnya tidak perlu memanggil Oppamu…”

Gerutunya dan mulai memanjat pohon. Pohon itu cukup tinggi memang. Namun pohon ini memiliki banyak ranting sehingga memudahkan siapa saja untuk memanjatnya.

“Hati-hati, Ji hoon-ah…” Seru Eric dari bawah. Ji hoon tersenyum begitu mendapat bolanya yang tersangkut diantara ranting-ranting pohon.

“Yeah, dapat…” Serunya senang.

“Ini…” Ji hoon melempar bolanya kebawah dan disambut oleh teman-temannya. Dia bersiap untuk turun namun tiba-tiba kakinya tergelincir dan…

“Argh!”

“Ji hoon-ah!”

Semua teman-temannya memekik kaget. Si won yang tak jauh dari mereka mendengar teriakan itu. Tahu apa yang terjadi, dengan cepat ia berlari untuk menyelamatkannnya. Tapi ia tidak akan berhasil jika hanya berlari. Si won dengan cepat memejamkan matanya. Seketika tubuhnya menjadi ringan. Lalu melayang dengan cepat dan meraih tubuh Ji hoon sebelum anak itu terjatuh ke tanah.

Wush!!!

“Hap!”

Si won meletakkan anak itu ditanah dengan selamat tanpa luka apapun.

“Gwenchana?…” Tanya Si won. Anak itu tidak berbuat apa-apa. Ia hanya terdiam dengan mata yang terfokus pada sosok Si won.

Si won menaikkan alisnya. Wajahnya berpaling dan mendapati semua anak menatapnya dengan pandangan yang sama. Oo, Si won sepertinya tahu kenapa anak-anak itu menatapnya tanpa berkedip.

“Oppa…bisa terbang seperti Superman?…” Tanya Sa rang penasaran. Si won menggaruk tengkuknya.

“I…itu…”

“Kya! Ahjussi ajarkan kami terbang. Kami ingin terbang!”

Si won hanya bisa tertawa ketika kumpulan anak-anak usia 5 sampai 11 tahun itu dengan cepat mengerumuninya dan menarik-narik lengannya.

***Sifany***

Si won sangat lelah karena anak-anak di yayasan tadi terus merengek untuk diajarkan terbang. Untung saja mereka mau dibujuk untuk belajar bela diri dan trik-trik sulap lebih dulu. Namun ketika akan pulang, mereka tetap menanyakan kapan Si won bisa mengajarkan mereka untuk terbang. Hah, anak-anak terkadang cukup merepotkan.

Si won membuka pintu apartement Tiffany. Begitu masuk, ia sempat terkejut karena mendapati Tiffany berdiri didepannya.

“Kau mengagetkanku, Fany-ah. Kau belum tidur?…” Si won bertanya sembari memakai sandal rumah.

Tiffany menatapnya dengan berkacak pinggang.

“Hei, kau pikir kau siapa bisa keluar-masuk apartementku seenaknya? Ini bukan rumahmu…”

Si won yang melihat tingkah gadis itu menatapnya heran.

“Apa kau baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba marah-marah seperti ini. Kau sedang kedatangan tamu bulanan, ya?…”

“Mwo? Ya! Tidak usah mengalihkan topik. Pokoknya, kau tidak boleh pergi tanpa izinku. Jika kau masih ingin tinggal disini, berhenti menemui wanita itu!” Si won tersenyum sesaat.

“Tapi kenapa tiba-tiba….”

“Aish! Pokoknya ku bilang tidak boleh ya, tidak!” Putus Tiffany dan masuk ke kamar. Si won tampak menahan tawanya. Segera ia masuk dan menyusul Tiffany menuju kamar.

“Tiff, kau yakin kalau kau baik-baik saja?…”

***Sifany***

Si won terus memperhatikan Tiffany yang asyik mengecat kukunya diatas ranjang. Sejak tadi malam wanita itu selalu menyibukkan diri dan tidak mau melihatnya. Bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaannya saja Tiffany tidak lakukan. Sepertinya dia masih marah karena dia selalu membicarakan Young ran dihadapannya.

Mata Si won kembali memperhatikannya. Wanita cantik itu duduk bersila sambil terus mengolesi kuku putihnya dengan cairan pink itu. Penampilan Tiffany memang selalu membuat Si won terpesona. Seperti pagi ini, ia hanya mengenakan kaos putih dan hot pantsnya. Sementara rambut hitamnya ia sanggul asal dengan anak rambut yang menjuntai indah. Bandana pink yang bertengger dikepalanya menambah kesan cantik dan manis bagi Si won.

Pria itu tersenyum. Sepertinya tidak buruk ia dikutuk oleh penyihir itu dan dibuang ke bumi kalau untuk bertemu wanita secantik Tiffany.

Tiffany sudah selesai mengecat kuku sebelah kirinya. Ia tampak kebingungan, bagaimana cara memakaikan kutek itu ditangan kanannya. Aish, harusnya tadi ia menyempatkan diri ke Nail Art Salon langganannya.

“Butuh bantuan?…” Si won mendekat dan mengambil alih kuas kecil ditangan Tiffany berikut botol mungil itu.

“Tidak usah, aku bisa sendiri…” Tiffany merebut kembali kuteknya dari tangan Si won.

“Tidak perlu sungkan, Fany-ah. Kau harus membiasakan diri untuk bergantung padaku…”

“Kenapa aku harus?…” tanyanya acuh.

“Karena kau calon permaisuriku…” Tiffany tertawa sinis mendengarnya.

“Lalu bagaimana dengan wanita itu?…”

“Wanita itu? Siapa, Young ran?….” Tiffany tak memberikan anggukan atau gelengan seolah tidak peduli.

“Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya setelah dicafe waktu itu…” Tiffany menatapnya senang.

“Jjinja?…”

“Hm, kami hanya memutuskan untuk berteman baik…” Tiffany tidak bisa menyembunyikan senyuman diwajahnya.

“Lalu, kemana kau selama beberapa hari ini?…”

“Aku menjadi relawan disebuah yayasan anak-anak…” Tiffany mengangguk dengan senyum senang. Dia lega sekali mendengarnya. Sementara Si won mulai mengecat kuku jari kelingking Tiffany.

“Kenapa kalian tidak bertemu lagi. Apa kau tidak menyukainya?…”

“Tidak sama sekali…”

“Wae?…”

“Karena aku sudah jatuh cinta pada seseorang…” Tiffany tersenyum.

“Nugu?…” tanyanya penasaran. Pasti Si won menjawab Tiffany Hwang. Si won melirik gadis itu sekilas lalu kembali pada kuku Tiffany.

“Hei, siapa wanita yang kau maksud?…” Tanya Tiffany lagi.

“Wae, kau ingin mendengar kalau wanita itu adalah kau?…”

“Memangnya tidak?…” Tanya Tiffany.

Si won menggeleng. Tiffany menarik tangannya dari Si won dan mendorong pria itu. Bahkan Tiffany masih ingat kalau pria itu mengatakan jika dia adalah calon permaisurinya.

“Ya! Keluar dari apartementku sekarang juga!” Murka Tiffany. Si won yang melihat itu tampak tertawa puas ditempatnya.

“Berhenti tertawa, Si won!” Teriak Tiffany kesal. Si won menurut dan kembali duduk didepan Tiffany. Ditatapnya mata indah itu dengan lembut.

“Mianhe. Kau memang benar. Hanya ada satu wanita dihatiku. Dia calon permaisuriku, Tiffany Hwang…”

Tiffany menatap mata Si won lalu membalasnya dengan senyum tulus.

“Gumawo…” Si won ikut tersenyum dan memeluk Tiffany.

“Untuk?…”

“Karena kau masih mencintaiku walau aku selalu memarahimu…”

“Aku menyukai semua yang ada pada dirimu jadi tidak ada masalah bagiku. Sudah sepatutnya kita memahami pasangan dan menerima kekurangan serta kelebihannya. Benarkan?…” Tiffany mengangguk dalam dekapan hangat pria itu.

Si won mengeratkan pelukannya dan menikmati aroma tubuh wanita itu lebih dalam.

“Kau tahu, wangi tubuhmu mengingatkanku pada negeri asalku…” Tiffany menegakkan kepalanya untuk menatap wajah Si won.

“Jjeongmal?…”

“Hm. Beberapa hari sebelum aku dikutuk oleh penyihir itu, aku selalu mencium aroma ini dari jendela kamarku. Tapi aku tidak tahu asalnya dari mana walau aku sudah mencarinya. Ternyata wanginya berasal dari tubuhmu…”

Tiffany diam saja. Dia sebenarnya tidak mengerti dengan penjelasan Si won. Kenapa Si won bisa mencium aroma tubuhnya padahal ketika itu mereka belum bertemu.

“Tiff?…” Tiffany kembali mendongak untuk menatap wajah tampan Si won.

“Ne?…”

“Kau lapar, bagaimana kalau sekarang kita sarapan?…”

Tiffany tersenyum dan segera menjauhkan dirinya dari Si won. Kening wanita itu berkerut hebat ketika pria itu menatapnya dengan senyuman menggoda.

“Wae?…”

“Anni. Aku hanya senang kalau kau merasa nyaman saat dalam pelukanku. Bagaimana kalau nanti malam aku tidur diranjangmu. Aku bisa memelukmu sampai pagi…”

“Aish!”

Tiffany meninju pelan dada  Si won.

“Cepat siapkan sarapan. Aku lapar…” Perintahnya. Si won mengangguk dan segera menggenggam jemari tangan kanan Tiffany.

“Kajja, akan lebih menyenangkan jika kita menyiapkannya bersama…” Ajaknya. Tiffany tersenyum sebelum akhirnya ikut bersama pria tampan itu.

***Sifany***

Tiffany menyaksikan pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuh subur memenuhi taman. Dia dan Si won tengah menghabiskan waktu bersama ditempat yang cukup ramai ini. Setelah peristiwa pagi itu, Tiffany mulai mengakui perasaannya pada Si won. Dampaknya tentu mereka menjadi lebih dekat dan terbuka satu sama lain.

“Si won, pagi itu kau bilang kalau kau di kutuk oleh seorang penyihir…”

“Hm, itu benar…”

“Wae?…” Pertanyaan itu membuat Si won tersenyum. Ia ingat bagaimana wajah murka penyihir itu ketika Si won menolak cintanya.

“Dia marah karena aku menolak cintanya…” Wajah Tiffany menampakkan ekpresi jijik dan menggelikan.

“Err, seorang penyihir jatuh cinta padamu? Berapa usianya?…”

Tiffany penasaran. Kalau penyihir-penyihir yang biasa ia lihat dalam film adalah wanita tua dan kejam. Dan yang jatuh cinta pada Si won adalah nenek-nenek penyihir?

“Usianya sudah ratusan tahun tapi ia masih terlihat muda dan cantik…” Jawaban itu membuat Tiffany terperangah karena kaget. Lebih pada kagum sebenarnya.

“Jjinja? Wae?…”

“Dia hidup di negeri sihir dan memiliki kemampuan sihir yang hebat jadi apapun pasti bisa ia lakukan…” Tiffany mengangguk mengerti. Ah, andai dia bisa melakukannya. Dia ingin tetap muda selamanya.

“Tapi, kenapa harus menjadi boneka? Kenapa tidak yang lain?…”

Si won berpikir sejenak.

“Entahlah, mungkin ini merupakan jalan bagaimana agar kita bisa bertemu…”

“Ne?….” Tiffany tak mengerti. Si won tersenyum melihat wajah bingung wanita itu.

“Kau bertanya kenapa tidak yang lain? Seperti pangeran kodok maksudmu? Hahaha, aku jauh lebih tampan untuk seekor kodok, Fany-ah…” Tiffany mencibir saat pria itu asyik dengan tawanya.

“Sudah berapa lama, kau menjadi boneka?…”

“Aku tidak tahu pasti. Yang jelas tidak begitu lama karena aku dikutuk bukan karena kejahatan yang ku lakukan…” Tiffany mengangguk lega.

“Syukurlah, kau pasti menderita jika menjadi boneka terlalu lama…”

Bibir Si won kembali tersenyum mendengar gumanan gadis disebelahnya.

“Kau barusan bilang apa?…” Tiffany mendongak dan menggeleng cepat.

“Anni…” Ucapnya pelan dan mengalihkan pandangannya ketempat lain.

Mata Tiffany tertuju pada bukit yang ada disebelah utara taman. Seingatnya Si won dulu pernah mengatakan kalau pintu untuk keluar-masuk negeri mereka ada diatas bukit setinggi 15 meter itu.

“Si won…” Si won yang tengah menikmati semilir angin sore itu menoleh.

“Hm?…”

“Seperti apa tempat tinggalmu?…” Si won tersenyum lalu menatap wajah Tiffany. Mungkin ini sudah saatnya ia kembali dan mengajak Tiffany mengunjungi tempat tinggalnya.

“Kau ingin melihatnya? Aku bisa mengajakmu kesana jika kau mau…” Tiffany tersenyum.

“Bolehkah?…” Tanyanya senang. Si won mengangguk.

“Tentu…” Jawab Si won pasti. Tiffany tersenyum senang.

“Kajja…”

Tiffany bangkit karena Si won sudah lebih dulu menarik tangannya. Keduanya menaiki bukit itu sambil berpegangan tangan dan tersenyum. Beberapa pasang kekasih juga terlihat menghabiskan waktu bersama diatas bukit karena mereka bisa melihat seluruh pemandangan taman dari atas sini.

“Si won, apa tidak akan ada yang curiga jika melihat kita tiba-tiba menghilang?…”

“Mereka mungkin melihat kita saat menaiki bukit ini tapi tidak ketika kita sudah sampai didepan pintu menuju Flowerialand….”

“Wae?…”

“Karena memang seperti itu peraturannya…”

Tiffany mengangguk paham. Si won menghentikan langkahnya, secara bersamaan Tiffany pun berhenti dan ikut melihat kearah pandang Si won. Dihadapan mereka, Tiffany bisa melihat sebuah pintu transparan yang terbuat dari kelopak bunga. Seperti yang telah dijelaskan Si won, ini adalah pintu untuk keluar-masuk Flowerialand. Dan dari sini, Tiffany bisa mencium aroma yang sangat harum memenuhi indera penciumannya.

“Ini wangi dari Flowerialand…” Si won menjelaskan. Mulai digenggamnya tangan Tiffany lalu menatap matanya.

“Kau siap?…” Tiffany mengangguk mantap. Dia sudah mempersiapkan dirinya ketika ia memperhatikan bukit ini sejak tadi.

“Ne, aku siap…”

TBC…

Part 2 Preview

“Si won, ini…tempat tinggalmu? Indah sekali…”

“Ne. Dan selamat datang di Flowerialand…”

“Terima kasih telah menyelamatkan Pangeran negeri ini, anakku. Kami berhutang banyak padamu…”

“Selamat datang, Pangeranku. Kau merindukanku? Hahaha…”

“Tsk! Dia berhasil mengelabuiku. Kau tidak akanku biarkan kali ini, wanita jahat! Aish!”

“Oemma, ada Auntie cantik datang dari langit…”

“Si won Oppa mengajak Tiffany mengunjungi Flowerialand. Namun Penyihir Vivian mendengar berita itu dan menculik mereka…”

“Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya padamu sekarang, Yoona-ssi. Tapi aku butuh bantuanmu untuk menyelamatkan Tiffany…”

“Selalu ada yang harus dikorbankan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Jika kau mengambil bunga itu untuk menyelamatkan Si won Oppa maka, kalian tidak akan bisa bertemu lagi…”

RCL-nya, please.Gamsahamnida…

116 thoughts on “(AR) A Prince From Another Land

  1. sumveh critanya keren
    seandai’a ktemu sm pangeran kaya wonppa
    apakah mreka dpt bersama selama’a??
    oh pasti sifany.. *sok tau
    penasaran sm next chap’a
    palg baca preview’a hadooh
    jgn lm2 yaa thor hihi

  2. Seruuuuu seruuuu seruuuuuu………………….
    Menarik banget , aku suka ceritanya >.<
    Eonnie echa idenya kelewat bagus banget , selalu unik dan variatif seperti biasa, Ka jani jg bagusnya selalu berlebih setiap tulis cerita , Dae-bak pokonyaaa kalian berdua *tebarbungaaaaa^^
    Karakter sifany disini cocok banget walaupun ceritanya tinggal di negri yg berbeda , komunikasinya lancar dan lucu seperti khasnya ka jani biasa buat , keren deh (y)
    Ga sabar sama kelanjutannya , tp kalo twoshoot next partnya ending dong ? huuuuaaa garela berakhir secepat ini kisah sifany di flowerialand'nya kaaaaaa …..
    Okay aku tunggu aja yah ka , semangat selalu tulis sifany'nya ♡

  3. aih ada ff sekeren ini knp aku baru membacanya😢 imajinasinya bnr” daebak!! cieeelah tiff unnie akhirnya mengakui prasaannya 😍 siwon oppa bnr” baik batt yaa, pasangan idaman😘

  4. keren crtny g th dpt inspirasi drmn noh authot👍
    ini yg nmny Sengsara membawa nikmat,Siwon dikutuk jd boneka n bisa kmbli lg kl ktm am cinta sejatiny..
    nah ktm am Fany, yg tegas n agk naif.Fany baik tuh mw tampung siwon.
    hdp bsm n timbulh benih cinta mrk…y..wlpn awlny fany g mw akui hatiny,tp siwon berhsl bikin fany jth cinta..
    wah gmn ntr y sifany,wlpn dunia berbeda smg bisa bsm^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s