(AR) Beautiful Ex

Beautiful Ex

Beautiful Ex (firaanastasya27.wordpress.com)

Neo Xenon

.

| Choi Siwon, Tiffany Hwang, Kim Joonmyun, etc. | PG-15 | Ficlet | Angst, Life, Alternative Universe | The cast are belong to themselves, parents, management and God. I just borrow the name for my story. This story is mine and original by me, so don’t be a plagiator! Sorry if you got the typo. Keep RCL. Inspired by Raisa-Mantan Terindah, Krisdayanti-Kamu Di Hatiku Selamanya, and my imagination. | Cover by firaanastasya27.wordpress.com |

I just can’t hold you again


*****

 

Suapan tobiko sushi tidak mampu sama sekali mengalihkan pandangan Siwon dari dua orang sosok yang juga sedang menyantap makanan mereka di meja lain. Tawa dan canda yang hadir dari bibir pasangan tersebut membuat Siwon tersenyum miris, ocha miliknya pun sudah mendingin manakala pria itu meneguknya perlahan. Ada keinginan membuncah untuk bangkit, lalu bergabung bersama dengan keduanya. Tetapi, sepasang kakinya seperti tertempel keras pada lantai marmer.

Seorang pelayan datang menghampiri, setelah Siwon memberikan tanda untuk mendekat dengan tangan kirinya yang bebas. Wanita paruh baya itu mengangguk patuh dan mencatat semua yang telah dijelaskan oleh Siwon di buku catatan, kemudian kembali pergi menuju dapur untuk memberikan instruksi kepada koki. Siwon memangku wajah dengan salah satu tangan sembari menunggu, tidak sampai 10 menit pintu dapur terbuka dengan seorang koki kepala yang datang sambil mendorong sebuah cake trolley berisi beraneka ragam dan rasa cupcakes serta sebuah black forest berukuran besar yang dihiasi oleh lilin warna-warni, didampingi oleh beberapa pelayan yang membawa gitar dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun ke meja yang diisi oleh dua orang yang sejak tadi diperhatikan oleh Siwon.

Semua orang pun bertepuk tangan meriah, begitupula juga Siwon saat sosok wanita penerima kejutan tersebut berhasil meniup semua lilin di atas kue dan tersenyum haru. Kue mulai dipotong menjadi beberapa bagian dan seperti yang diduga, wanita itu memberikan suapan pertama kepada pria yang sejak tadi ikut makan bersamanya di meja yang sama. Tanpa ada satupun yang menyadari, Siwon mengambil sebuah polaroid dari tas kerja miliknya dan mengabadikan momen indah tersebut. Dan tidak ada pula yang sadar, jika pria itu mulai melangkah keluar dari restoran, kecuali satu orang.

Tiffany Hwang, sang wanita yang berulang tahun hari itu.

 

*****

 

Hyung, aku rasa kau bisa memikirkannya kembali.”

Siwon menanggapi ucapan Joonmyun dengan sebuah gelengan keras. Ia memainkan handuk yang digunakan sebelumnya untuk mengeringkan rambut, kemudian mendudukan diri di samping sang sepupu yang sedang menatapnya bergantian dengan layar televisi yang menampilkan kompetesi acara masak Internasional. Pria itu mengambil alih remote dan mulai mengganti saluran olahraga dengan lesu, Joonmyun mendesah berat mendapati Siwon tidak berminat untuk meneruskan pembicaraan tadi.

“Tapi, Tiffany Noona adalah mantan kekasihmu. Kau masih mempunyai hak untuk membatalkan pernik-“

Joonmyun tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat Siwon mulai menangkup wajah dengan kedua tangan. Ia mendapati pria bertubuh besar di sampingnya sedang menangis tersedu, tidak memperdulikan status yang ia sandang sebagai seorang pria. Kekalahan hati memaksa diri untuk takluk dan menyerahkan diri kepada takdir yang selalu berputar dinamis. Siwon tidak berpikir untuk bertindak lebih jauh, karena pada dasarnya ia tidak memiliki kemampuan akan hal itu. Jadi, sepertinya tidak akan ada pergerakan khusus darinya untuk mencegah sebuah peristiwa sakral yang akan segera terlaksana dalam waktu dekat.

“Aku kalah, Myun. Bahkan itu sudah kusadari, ketika kami berpisah karena tindakan bodohku di masa lalu. Aku… aku sungguh sangat menyesal. Tapi, semuanya sudah terlambat, ia sudah mencintai pria lain dan aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun,” ucap Siwon dan memeluk erat tubuh Joonmyun. Pria itu berhasil mengotori kaus oblong yang dikenakan oleh sang sepupu dengan sebagian besar air matanya. Kini, giliran Joonmyun yang menggelengkan kepala dengan keras.

Hyung… hanya tidak ingin berusaha. Bila memang Tiffany Noona tidak dapat kembali lagi ke pelukanmu, maka buatlah ia menyadari jika kau tidak akan pernah lelah untuk selalu berada di sisinya. Meskipun, bukan sebagai seorang pria yang mampu mencintai sang wanita seutuhnya,” balas Joonmyun, lalu menepuk pundak bidang Siwon lembut.

Keduanya melepaskan tautan mereka, saling menatap satu sama lain dan memberikan semangat. Siwon tersenyum kecil dan menatap ke arah jendela yang berembun karena salju yang jatuh begitu lebat malam ini.

“Aku akan bicara dengannya besok. Meluruskan semuanya hingga akhir,” ucap Siwon, lalu melempar pandangan ke arah sebuah pigura yang berisi foto dirinya dengan Tiffany 3 tahun yang lalu.

 

*****

 

“Boleh aku duduk di sini?”

Tiffany tidak bisa memberikan jawaban lain selain anggukan lemah, saat tiba-tiba saja Siwon datang dengan sebuah nampan berisi makan siang ke meja yang ditempatinya. Baik dirinya dan pria itu hanya saling melempar pandangan asal, masing-masing dari keduanya dilanda kegugupan yang serius. Bahkan, Tiffany hampir saja menjatuhkan cangkir kecil berisi teh panas, jika saja Siwon tidak sigap untuk menahan tangan wanita itu dan menyebabkan sebagian isi minuman tumpah ke lantai.

Siwon menahan agar jantungnya tidak berdegup terlampau keras, tangan halus mantan kekasihnya itu masih saja terasa hangat menyentuh kulit putihnya. Tiffany pun sebenarnya juga melakukan hal yang sama, namun ia lebih mampu mengendalikan diri dengan menjaga ekspresi wajahnya se-normal mungkin. Siwon melepaskan tangannya ketika Tiffany memberikan kode dengan berdeham pelan, keduanya pun saling bergelung kembali dengan makan siang masing-masing.

“Uhm, lama tidak mendengar kabarmu. Bagaimana hubunganmu dengan Taeyeon?”

Uhuk!

Tiffany begitu terkejut dan segera saja mengambil selembar tisu dari dalam tas dan memberikannya kepada Siwon yang masih terbatuk keras di tempatnya. Apa mungkin salah untuk bertanya demikian? Padahal, itu hanya sebuah pertanyaan wajar dari seorang wanita yang pernah disia-siakan oleh sang pria untuk seorang wanita lain yang tidak lebih baik. Siwon meminum air mineral miliknya, lalu mengambil napas sejenak. Tiffany terhenyak saat Siwon menggelengkan kepala dan menunduk dalam, pertanda rasa menyesal.

“Kami sudah tidak bersama lagi, lebih tepatnya ia pergi meninggalkanku untuk seorang pria lain yang ternyata adalah adik kelas kuliahku dahulu. Rasanya bodoh sekali saat mengingatnya, terlebih…”

“Terlebih apa?”

“Kau sepertinya bahagia sekarang.”

Siwon merasa bingung bercampur kecewa melihat Tiffany yang tertawa terbahak-bahak, beberapa orang bahkan memperhatikan dengan raut tidak mengerti. Pria itu kembali meminum air mineral untuk menetralisir perasaan dan menunduk untuk meminta maaf, karena menyebabkan ketidaknyamanan. Tiffany berangsur menghentikan tawanya perlahan, pandangannya menusuk tepat pada kedua bola mata kelam milik Siwon yang masih menatapnya dengan perasaan yang sama.

“Katakan saja apa maumu, Won. Jangan membuang waktu, aku begitu sibuk dan memiliki banyak urusan setelah ini.”

Tiffany menunggu Siwon memberikan jawabannya, sesungguhnya saat ini ia begitu lelah. Pekerjaan dan acara pernikahannya beberapa hari lagi begitu menguras energi serta konsentrasinya. Kehadiran Siwon semakin memperburuk suasana, karena ia semakin merasa terbebani akan perasaannya dahulu. Siwon memberikan sebilah kertas tebal yang berisi gambar gaun pengantin dan sepasang cincin indah.

“Aku akan menemanimu mengambil pesanan. Tunggu aku di dekat Beau Roman Restaurant lusa. Jaga kesehatanmu, aku pergi dulu.”

Siwon mengambil nampan miliknya dan berlalu pergi, meninggalkan Tiffany yang termenung sendiri di kursi. Tanpa wanita itu sadari, lagi-lagi kristal hangat mengalir dari kedua bola mata Siwon dengan derasnya.

 

*****

 

Caramel Machiatto sudah tertinggal setengah volume, berbekas kepulan asap karbondioksida dalam jengkal atas bibir cangkir plastik. Butir jagung halus berwarna putih dari kerongkongan langit, hampir menutup seluruh permukaan bangunan dan menguapkan zat kimia udara di sana. Siwon menelengkan kepala saat seseorang berhasil menarik perhatian dengan menepuk pundaknya pelan, ia tersenyum manis dan segera saja mengajak sosok tersebut untuk masuk ke dalam Mini Cooper yang terparkir tidak jauh dari posisinya sekarang.

Seoul begitu indah di pertengahan musim dingin menjelang, beberapa anak terlihat sibuk bermain dan membuat boneka salju di taman bersama dengan para orang tua, mengingatkan Siwon tentang masa kecilnya dahulu. Pria itu memutar perlahan setir ke arah kiri dan mengubah arah perseneling ke nomor 2, deretan toko dan kafe terlihat berbaris rapi di samping bahu jalan yang berbatas trotoar lebar, berhias ornamen warna-warni, dan tidak lupa pula menawarkan aneka macam promosi agar menarik lebih banyak pelanggan untuk datang berkunjung.

Sampai akhirnya mobil pun berhenti sejenak, karena lampu lalu lintas mulai menyala merah. Siwon menelengkan kepala dan mendapati sosok di sampingnya juga sedang ikut memperhatikannya. Tiba-tiba saja keduanya menjadi salah tingkah, Siwon berusaha menutupi senyum yang merekah kecil di bibir dengan meminum kopi yang masih tersisa, begitupula sosok tersebut yang membuang pandangan ke luar dan menyibukan diri melihat kendaraan lain yang berlalu lalang di bagian jalan lain.

Tidak bisa dikatakan canggung, namun hanya ada suara wiper yang sejak tadi mendominasi suasana. Siwon bimbang untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu, dalam sedikit alasan logis yang hanya ia ketahui saja, pria itu lebih memilih memperpanjang kebisuan di dalam kotak baja beroda tersebut. Bahkan, hingga lampu telah berubah menjadi hijau, sekali lagi tidak ada satupun di antara keduanya yang memiliki inisiatif. Siwon menatap jalanan lenggang dan terus berkonsentrasi mengemudi, berusaha menghilangkan semua teori dan kemungkinan yang terjadi setelah ini, ia belum siap untuk menerima semua sesungguhnya.

“Berbicara terus terang lebih menyenangkan, dibandingkan menyikapi semuanya seperti tidak ada masalah dan baik-baik saja.”

Telapak tangan terasa basah oleh keringat, bukan karena penghangat yang sedang menyala mengusir hawa menusuk. Perkataan Tiffany, wanita yang sedari tadi duduk bersama di dalam satu mobil yang sama dengannya-lah yang membuat Siwon tersudut dalam satu titik sempit, membuat ia tidak mampu berkutik, dan hanya bisa menampilkan senyum kikuk. Tiffany menghela napas panjang, wanita itu tidak terlalu yakin, jika Siwon akan melakukan hal yang seperti ia utarakan tadi. Namun demikian, Tiffany hanya ingin Siwon jujur untuk kali ini saja.

“Kenapa kau berkata demikian, Fany ah? Aku tidak merasa telah berdusta akan sesuatu. Semuanya memang baik-baik saja, bukan? Kurasa kau terlalu berlebihan dalam hal ini,” jawab Siwon dan memperdalam pijakan pada pedal gas, melajukan mobil semakin cepat dari sebelumnya.

“Lupakan saja soal tadi. Oh ya, jangan lupa bahwa kita harus segera pergi ke Saint Mary’s Boutique and Jewerly untuk mengambil pesanan gaun pengantin dan cincin pernikahan secepatnya,” balas Tiffany datar. Wanita itu tidak menyadari perubahan ekspresi Siwon sama sekali.

Perjalanan memakan waktu hampir 1 jam, sampai akhirnya Siwon menepikan mobil di dekat sebuah bangunan mewah besar berarsitektur Yunani kuno dengan dua tiang penyangga besar bergaya Ionia di sisi kanan dan kiri yang menambah kesan elegan sekaligus angkuh. Tiffany turun terlebih dahulu dan memasuki toko yang khusus menjual berbagai macam pakaian formal dan perhiasan kalangan jetset itu, Siwon mengikutinya sepersekian detik kemudian. Seorang wanita berkacamata Rodenstock segera menghampiri keduanya dan memeluk Tiffany erat.

“Kupikir kalian akan telat. Aku dan Daehyun sudah menyiapkan semuanya. Kajja!” ujar Sooyeon, sang pemilik tempat tersebut dan segera menarik Tiffany menuju ruang ganti. Siwon memilih untuk duduk di sofa kulit di dekatnya dan membaca sebuah majalah fashion mengenai koleksi bergaya punk dan hipster. Sudah hampir 3 majalah yang dibacanya, namun tidak ada tanda bahwa akan ada seseorang yang keluar. Memasuki majalah keempat, perhatian Siwon teralih manakala terdengar derap anggun tapak kaki dari arah samping.

Tiffany menunduk dan tidak membiarkan kedua matanya saling beradu dengan kedua manik hitam milik Siwon yang tidak bisa terlepas sama sekali dari dirinya. Pesona wanita bermarga Hwang tersebut membuat Siwon terbius sama sekali, melupakan sejenak mengenai statusnya ke depan nanti. Berbahan satin impor, gaun pengantin yang dikenakan Tiffany begitu pas membalut tubuh rampingnya yang proporsional. Hiasan swarovski memberikan sentuhan high class di sekitar bagian pinggang dan sedikit di bagian dada. Sooyeon mundur sedikit agar Siwon bisa mendekat dan melihat Tiffany lebih jelas lagi.

“Engkau lebih dari sekedar menawan. Kau luar biasa, Fany ah.”

Tiffany tidak menampik, jika dirinya benar-benar menginginkan segala pujian dari Siwon. Tapi, ada banyak kerikil kasar mengganjal dan selalu memperingatkan bahwa dirinya tidak boleh melampaui batas yang sudah dibuat. Semua menjadi serba salah pada akhirnya, bukan hanya pria di hadapannya saja yang merasa tersudut, Tiffany merasakan hal yang sama pula, bahkan mungkin lebih.

Daehyun, sepupu Sooyeon datang mencairkan suasana dengan membawa sebuah kotak beludru safir berisi dua buah cincin platina bermahkotakan ruby dengan potongan heksagonal. Tanpa aba-aba apapun, Siwon mengambil salah satu cincin dan memasangkannya ke jari manis Tiffany, Sooyeon dan Daehyun hanya bisa tersenyum getir dan melihat dari kejauhan. Pria itu menahan agar tidak ada satupun air mata yang terlepas jatuh dari kedua bola mata yang terasa panas terbakar, sedangkan Tiffany menggigit bibir merahnya, menahan gejolak yang memporak-porandakan palung hati. Selanjutnya, Siwon melepaskan tangan kiri Tiffany perlahan dan menatap kearah kedua manusia yang juga ikut menatapnya sekarang.

“Kami ambil yang ini, Yeon.”

 

*****

 

Tiffany mengigit pinggiran Pajeon miliknya, kini ia bersama Siwon sedang menghabiskan sisa hari dengan memandang hamparan sungai Han. Jingga menggores lembaran tipis langit, diselingi awan putih yang menambah gradasi. Wanita itu tersentak saat tangan kanannya  yang bebas terasa digenggam hangat oleh Siwon, Tiffany semakin kehilangan kata-kata ketika pria di sampingnya mulai mencium punggung tangannya. Ada titik air mata yang basah terasa dan ia tahu mengapa Siwon bisa seperti itu.

“Berjanjilah untuk tidak pernah mengingkari janji. Aku adalah yang terakhir dan jangan kau biarkan ada pribadi lain yang tersakiti. Nantinya, kau akan berikrar di hadapan Tuhan untuk saling menjaga dan mencintai seumur hidupmu,” jawab Siwon dan memberikan sebuah pelukan erat. Tiffany membalasnya dan membiarkan hal tersebut berlangsung agak lama, karena dirinya tahu benar, bila mungkin hal yang sama akan terjadi dalam waktu yang tidak bisa dipastikan.

“Kenapa kau tidak mencegahku dulu? Jika kau memang benar mencintaiku setulus hati? Aku mengetahui kau tidak selemah itu, Wonnie.”

“Aku tidak mungkin mencegah seseorang untuk mencintai. Lagipula, kau tidak bisa menipuku untuk hal yang satu ini. Ada yang lebih pantas untuk bersamamu dan kau pun juga selalu ingin bersama dengan sosok tersebut, Fany ah.”

Sia-sia sudah Tiffany menahan air mata, meluncur deras begitu saja dan membasahi kemeja navy milik Siwon. Pria itu hanya membiarkan Tiffany memukul dada bidang miliknya sepuas yang diinginkan, cara terakhir untuk menyalurkan seluruh perasaan yang telah terpendam lama. Siwon menepuk pundak Tiffany, menenangkan sang wanita sejenak agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Ia mengambil ponsel perlahan dari saku jeans yang ia kenakan, menghubungi seseorang nun jauh dari tempatnya berada sekarang.

Annyeong, Myun. Kau bisa ke sini? Aku dan Tiffany masih memiliki beberapa urusan dan kupikir kau bisa membawa pesananku. Kau bisa segera datang ke sungai Han sekarang. Terima kasih banyak.”

Siwon mematikan ponsel miliknya dan segera mengembalikannya lagi ke tempat semula. Ia mendaratkan sebuah kecupan di dahi Tiffany. Pelukan di antara keduanya terasa semakin erat dengan angin dingin yang menerjang lebih keras.

 

*****

 

Siwon menikmati Champagne dalam sekali teguk, upacara pernikahan telah berhasil digelar dan semua undangan nampak bersuka cita untuk penyatuan dua insan yang saling memiliki rasa yang sama. Joonmyun menepuk pundak tegap Siwon dan memberikan sebuah senyum penyemangat yang dibalas dengan anggukan kecil oleh sang sepupu. Kini, saatnya bagi keduanya untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai yang telah menunggu.

Siwon melangkah perlahan setelah menaruh gelasnya, menatap lurus pada sosok Tiffany yang begitu cantik dengan gaun pengantin yang dibeli bersama olehnya lusa kemarin. Namun demikian, sebelumnya ia harus terlebih dahulu memberikan selamat kepada sang Ayah yang tidak lain adalah mempelai pria dalam kesempatan kali ini, sekaligus suami sah Tiffany sekarang.

“Selamat untuk pernikahanmu, Abeoji. Kuharap Abeoji dan Eommonim dapat hidup bahagia dan sehat selalu.”

Tuan Choi tersenyum dan memeluk putranya bahagia, ia menatap ke arah Tiffany yang juga sedang tersenyum menghadapnya. Siwon beralih dan memeluk Tiffany erat, bukan sebagai seorang wanita yang pernah mengisi hatinya dahulu. Tapi, lebih dari sekedar itu.

“Kuharap Eommonim dapat menjaga Abeoji dengan baik. Aku tahu kalian saling mencintai.”

Ne, Wonnie ah. Eommonim berjanji padamu.”

Tuan Choi mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Tiffany. Siwon melihat keduanya saling berjalan beriringan dengan perasaan bahagia yang membuncah. Semua perkiraannya dulu tidak ada yang salah, mengenai bagaimana Tiffany yang notabene hanya seorang sekretaris di Hyundai telah jatuh cinta kepada sang direktur berstatus duda yang tidak lain adalah Ayahnya. Siwon tidak menampik perbedaan umur yang terlampau jauh di antara keduanya, justru ia merasa bersalah, karena berusaha untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai terlebih dahulu dengan menciptakan perasaan lain di hatinya.

Tapi, tetap saja. Tiffany adalah mantan terindahnya. Selamanya.

 

 

-Fin-

 

 

Endingnya… net…net!!!😄

Author mencoba memberikan sebuah FF dengan twist yang grerget. Semoga readers gak ngamuk karena Fany malah nikah sama orang lain, wkwkwk #dilemparpetasan

Sejujurnya, nih FF benar-benar mendadak banget, gara-gara ngedengerin lagunya Raisa, dan jadilah FF yang satu ini! #tebarelpiji3kg

Silent reader dan plagiator menjauh!

RCL selalu ditunggu ^^

Sampai ketemu di FF selanjutnya🙂

 

102 thoughts on “(AR) Beautiful Ex

  1. Ya walaupun skit tp utk kbhgiaan org yg kita syg kita psti berkorbn asl dia bhgia. mgkin suatu nnti ad sesuatu yg indah setelh itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s