(AR) Angel In Your Eyes

Youngwonie presents:

Angel in Your Eyes ff poster

Angel in your eyes

Choi Siwon & Tiffany Hwang

With:

Lee Donghae

Romance, Angst, Marriage Life

PG 17+

Oneshoot

Disclaimer:

The cast are belong them self, parents and God. I just borrow their name for my story.

The story is mine, so don’t be a plagiator. Keep comment and like if you enjoy this story.

Warning: Typo

‘I see an angel in your eyes,,,’

Seorang gadis tengah duduk di sebuah café dengan pemandangan sungai Thames di depannya. Namun, ia sama sekali tak tertarik dengan pemandangan sungai yang menjadi salah satu icon kota London itu. Ia lebih suka menyusuri kata demi kata yang tercetak pada lembaran buku yang ia pegang. Sesekali ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Dia terlambat lagi.”keluhnya.

Tiffany pov.

Aku meneguk  teh ku yang sudah dingin. Yuri memang keterlaluan. Seharusnya dia sudah sampai sepuluh menit yang lalu.

‘Cheoum boatdeon geu moseub kieok haeyo

sujubeun miso eosaehan malddu chagabdeon

keu so

haru jongil geudaeui saenggakeuro

amugeotdo halsu ga eobseo (michigesseona)’

Sayup- sayup kudengar nyanyian pengamen yang berdiri di tepi Sungai Thames. Biasanya aku tak begitu tertarik, tapi kali ini lain. Karena lagu yang dinyanyikannya berbahasa Korea, bahasa asalku. Aku menajamkan pendengaranku. Menyimak setiap bait nyanyiannya.

Nuneul ddelsu jocha eobseo
geujeo babocheoreom nege bbajo deuleoga
pyeongsaengeul hamkeh balmachueo naga
naega jikyeojulke saranghaeyo oh love

Coz you are so beautiful
nal sumsuiga haneun ne ibseul saranghandanmal oh
Coz you are so beautiful
nae geoteman meomulreo (keudae namanui)
My beautiful , my beautiful oh-oh

 

Tanpa sadar, aku menyunggingkan senyum. Lagunya sangat manis. Ia pun menyanyikannya dengan santai diringi petikan gitar yang mengalung di pundaknya.

Prok, prok, prok!!!

Penyanyi  jalanan itu tersenyum dan membungkuk mengakhiri penampilannya. Beberapa orang meletakkan koin dan lembaran poundsterling pada tempat gitar yang tergeletak di depan sang penyanyi. Entah kenapa aku terus memparhatikannya. Dia punya senyum yang sangat manis. Padahal, jarang aku melihat orang tersenyum di kota ini.

Pada satu kesempatan, dia melihat ke arahku. Aku yang masih memperhatikannya pun terpaksa bertatapan dengan matanya. Ia tersenyum ke arahku.

Deg!

Perasaan apa ini? Aku langsung mengalihkan pandanganku kembali ke novel yang kupegang. Kenapa aku jadi salting begini? Setelah beberapa saat, aku menggerakkan ekor mataku ke arah pengamen itu lagi. Syukurlah, dia sudah pergi dari tempat itu.

“Hi, Tiff. Sorry, I’m too late.“ Yuri baru saja datang dan dia berhasil mengagetkanku.

“Eoh?  Hi,”

“What are you looking?”

“Nope. Nothing.”

“Alright. Then, let’s we go to the business.”

“Ok.”

 

***Angel in your eyes***

Keesokan harinya, Tiffany pergi ke gereja. Ia rutin datang ke gereja setiap hari selasa bukan hari minggu. Karena pada hari selasa, gereja akan sepi seperti saat ini. Hanya ada dua orang yang datang ke gereja termasuk dirinya. Tiffany duduk di bangku ke dua dari belakang.

Setelah selesai berdoa dan menenangkan dirinya, Tiffany keluar dari gereja. Cuaca mendung sejak ia keluar rumah tadi pagi, namun sayangnya ia lupa membawa payung. Sedangkan stasiun bawah tanah letaknya cukup jauh dari gereja.

“Huft…”Ia hanya bisa mendengus pasrah. Mungkin ia akan terlambat ke kantor kliennya hari ini karena menunggu hujan reda.

“Ini.” seseorang tiba- tiba menyodorkan payung kepadanya.

“Eoh?” Tiffany kaget. Penyanyi yang kemarin.

“ Pakailah. Kau lebih membutuhkannya daripada aku.” Orang itu melirik ke arah gulungan sketsa yang dibawa Tiffany.

“Lalu, bagaimana denganmu?”

Orang itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lalu memakai topi hoodie-nya sebelum berlari menerobos hujan gerimis siang itu. Tiffany membeku di tempatnya. Perasaan itu lagi. Perasaan yang sama saat ia melihat mata dan senyum orang itu kemarin. Tiffany meraba dada kirinya. Meresapi sesuatu yang menyelimuti perasaannya saat ini. Sampai getaran ponsel di saku mantelnya menyadarkannya.

Drrrt…drrt…

“Hallo? Ya aku akan segera kesana. Aku sudah membawa sketsanya. Jangan Khawatir. Bye.”

Tiffany menutup sambungan teleponnya. Ia pun segera berjalan membelah jalanan yang diselimuti awan hitam dan guyuran air hujan menuju stasiun kereta bawah tanah.

 

Tiffany pov.

Hari berikutnya, setelah pertemuan di gereja.  Aku  pergi ke café tempat pertama kali aku melihat orang misterius itu. Aku berharap dapat bertemu dengannya lagi. Tentu saja untuk mengembalikan payung miliknya. Namun, tidak ada tanda- tanda orang itu akan datang dan bernyanyi di tepi Sungai Thames lagi.

Aku  melirik arlojiku. Lima belas menit lagi jam 9. Yuri sudah mengingatkanku  untuk bertemu di butik langganannya tepat jam 9. Tapi bagaimana kalau orang itu tidak muncul? Aku tidak ingin menyimpan barang milik orang lain. Aku menatap sejenak payung  yang kuletakkan di kursi samping.

Tiba- tiba kudengar suara petikan gitar. Diikuti nyanyian dengan suara yang tidak asing di telingaku.

Oneuldo geotda uyeonhi neol bwasseo,
Yeojeonhi jal jinae boin ni moseup
Iksukhan perfume, and still I miss you,
Naege judeon miso, oh yeah

Ttansaram chae tago, pyeonhage paljjang kkigo,
Utneun neoran geol
Nan ije gwaenchantago, amureochi antago,
Saenggakhaetdeon nainde,

 

Hajiman nan ajikdo you, you, you, mot ijeonna bwa,
Ajikdo you, you, you, geudaeroinga bwa, yeah
Apeun geoni , apeunga bwa,
I don
’t know , oh no yeah

Seperti terhipnotis, aku perlahan berjalan mendekati asal suara itu. Beberapa orang sudah berkerumun di tempat sang penyanyi jalanan mengalunkan lagunya. Mungkin orang- orang tidak mengerti arti lagu itu sepenuhnya, tapi mereka tetap antusias menyaksikannya. Mungkin memang benar ungkapan ‘Music is language of the world’. Tanpa tahu arti lagunya sekalipun, orang masih bisa menikmatinya.

Lagu berakhir. Orang- orang pun pergi. Tinggal aku seorang yang berdiri di tempat ini. Ia tersenyum melihatku.

“Hai” sapanya.

“Hai.”

“Kau di sini?”

Aku mengangguk, lalu memberikan payung miliknya.”Aku datang untuk mengembalikan ini.”

“Hanya untuk ini? Seharusnya kau tidak perlu repot- repot. Kau bisa menyimpannya untukmu.”

“Terima kasih. Tapi aku tidak bisa menyimpan barang yang bukan milikku. Dan aku juga tidak suka berhutang budi pada seseorang.”

“Oh, ya? Jadi kau akan membalas kebaikanku kemarin?”

Aku mengangguk.

“Dengan apa?”

“Apapun.Asalkan tidak melanggar hukum dan norma yang berlaku.”

Aku mengatakannya dengan tegas agar orang itu tidak mengambil kesempatan atas prinsipku.

Dia terlihat berpikir. Namun sasaat kemudian senyumnya kembali mengembang.

“Baiklah kalau kau memaksa. Aku akan meminta satu hal padamu.”

“Sebutkan.”

“Ini pertama kalinya aku  datang ke London. Aku butuh seseorang yang bisa menjadi guide-ku selama empat hari mengelilingi kota ini. Bagaimana? Apa kau bisa?”

“Empat hari?”

“Ya. Waktuku empat hari lagi di kota ini sebelum aku kembali ke Seoul. Jadi Kau harus menemaniku jalan- jalan sebelum aku pulang.”

“Tidakkah itu sedikit berlebihan? Mengingat kau hanya meminjamkan payung padaku.”

“Kau sendiri yang bilang ingin membalas budi. Lagipula, aku rasa benda yang kau bawa waktu itu sangat berharga dan kau akan rugi jika sampai itu rusak kan?”

Rupanya dia pintar sekali bicara. Aku berpikir sejenak. Tidak ada salahnya kalau aku menuruti keinginannya. Hanya empat hari. Tak akan terjadi apa- apa dalam waktu sesingkat itu.

“Baiklah.” Jawabku pada akhirnya. Ia pun tersenyum puas.

“Jadi, kapan kita bisa mulai?”

“Hari ini aku ada janji. Besok kita bertemu lagi di sini jam 7 pagi. Kau yang menentukan kita akan kemana saja.”

“Aku setuju. Sampai jumpa Miss….”

“Tiffany.”

“Dan kau bisa panggil aku Donghae.”

“Baiklah sampai jumpa besok.”

Kami bersalaman. Lalu berpisah ke tempat tujuan kami masing- masing.

 

***Angel in your eyes***

Tiffany memenuhi janjinya pada Donghae. Selama empat hari mereka mengelilingi kota London dengan mengunjungi beberapa tempat wisata terkenal di sana. Berjalan- jalan di China town dan berbelanja di Pically Cirrus. Juga mengunjungi bangunan- bangunan bersejarah dan museum. Donghae orang yang ramah dan suka bercanda, karena itu Tiffany cepat akrab dengannya.

“Bagaimana kau tahu aku orang Korea?”

“Nde?”

“Waktu di gereja. Saat kau meminjamkan payung padaku. Kau berbicara dengan bahasa Hangul. Berarti kau tahu aku adalah orang Korea kan?”

“Eoh itu, aku tahu saat pertama kali melihatmu duduk di cafe. Kau tersenyum saat aku bernyanyi. Berarti kau mengerti yang aku nyanyikan.”

“Hm, arraseo.”

Donghae ternyata juga suka fotografer, sepanjang wisata mereka ia banyak mengambil foto. Diam- diam sesekali ia juga memotret Tiffany tanpa sepengetahuannya. Sayangnya, di National Gallery pengunjung tak diizinkan mengambil gambar di dalam museumnya. Jadi Donghae hanya memotret air mancur yang ada di halaman museum serta patung- patung singa yang terkenal dengan mitosnya.

“Kata temanku, jika seseorang berfoto dengan salah satu patung singa di sini saat pertama kali ke London, maka dia akan kembali ke London suatu hari nanti.”

“Kau percaya mitos itu?”

“Tidak sepenuhnya. Tapi suatu hari aku ingin kembali ke sini lagi. Jadi tidak ada salahnya mencoba.”

“Kalau begitu akan ku ambil fotomu bersama singa itu.”

Tiffany  menunjuk salah satu patung singa.

“Shireo, aku ingin berfoto berdua denganmu.”

“Waeyo?”

“Karena aku ingin saat kembali ke sini nanti, aku bisa bertemu denganmu lagi. Kau tidak keberatan kan?”

Tiffany terdiam. Donghae menganggap itu sebuah persetujuan. Kemudian ia meminta tolong seseorang untuk memotretnya bersama Tiffany di samping patung singa.

“Stand closer please?” orang yang hendak memotret mereka menyuruh Tiffany dan Donghae berdiri mendekat karena mereka agak berjauhan seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Donghae meminta Tiffany mendekat padanya.

“C’mon Tiff, please.”

“Sorry, I can’t. Kau berfoto sendiri saja ya.”

Tiba- tiba Tiffany berjalan menjauh, spontan Donghae menarik tangannya. Tiffany pun berbaik menghadap Donghae. Mereka bertatapan sejenak. Dan, saat itulah kilatan kamera mengabadikan pose mereka.

Klik!

“Nice pict.” Kata orang yang memotret mereka.

 

***Angel in your eyes***

Sejak di National Gallery, Tiffany lebih banyak diam.  Ia hanya sesekali tersenyum saat Donghae melontarkan candaan. Tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah London Eye. Saat itu sudah matahari sudah terbenam. Tiffany takjub melihat pemandangan kota dengan lampu- lampu yang menghiasinya. Hampir dua puluh tahun ia hidup di London, tapi baru kali ini ia bisa menikmati pemandangan itu.

“It’s so beautiful.”

“Yes. But you more.”

“What?”

“Eoh, ani. Lupakan saja.”

Setelah turun dari wahana itu, mereka menuju tepi Sungai Thames. Memandang Tower Bridge yang menyala membelah sisi sungai yang gelap.

“Tugasku sudah selesai.”

“Ne. Tidak terasa empat hari sudah berlalu. Nan jeongmal gumawoyo Tiffany-sshi.”

Tiffany mengangguk,”Cheonmayo,”

“Aku tidak bisa memberimu hadiah apapun. Tapi, ada yang ingin ku katakan padamu.”

Donghae menatap Tiffany ke dalam manik matanya.

“Saat aku bernyanyi di sini, waktu itu kau sedang membaca di café itu. Lalu kau tersenyum.  Dan aku melihat matamu melengkung ikut tersenyum. Baru kali ini aku melihat eyesmile seseorang yang terukir dengan sangat indah.  Ini memang konyol, tapi sejujurnya aku sudah jatuh cinta padamu sejak saat itu. Dan aku bersyukur pada Tuhan, karena selama empat hari ini aku bisa terus melihat eyesmile itu.”

“You loved me because my eyes?“

“Yes, I loved you because I see an angel in your eyes.”

Kemudian Donghae mengambil selembar foto dari sakunya. Foto saat mereka berpegangan tangan dan bertatapan di samping patung singa. Lalu Donghae menyobek foto itu menjadi dua dan memberikan Tiffany salah satu bagiannya.

“Kau simpan gambarmu, dan aku simpan gambarku. Aku akan pulang ke Seoul besok sore. Sebelum itu, aku akan ke National Gallery dan menunggumu di samping patung Singa tempat kita berfoto tadi siang. Kalau kau mempunyai perasaan yang sama denganku, datanglah ke sana. Lalu akan kuberikan bagian fotoku. Tapi jika tidak, kau bisa membuang bagian foto itu dan melupakanku.”

“Donghae-sshi, aku—“

“Kau tidak perlu mengatakan apapun saat ini. Aku akan menunggumu sebelum jam 5 sore. Good night, Angel.”

Donghae melambaikan tangannya sambil tersenyum dan berteriak,”I’LL BE WAITING YOU TOMORROW!!!”kemudian berlalu meninggalkan Tiffany.

“I’ve been married tomorrow.” Lirih Tiffany setelah Donghae tak terlihat lagi.

***Angel in your eyes***

 

Keesokan harinya, Donghae sudah berada di halaman National Gallery. Tepat di samping patung singa tempatnya dan Tiffany berfoto kemarin. Lima jam lamanya ia menunggu di tempat itu. Donghae melirik jam tangannya sekali lagi. Sudah pukul 4.30 waktu London. Namun tak ada tanda- tanda kedatangan Tiffany sama sekali. Mungkinkah Tiffany tidak datang?

 

Di tempat lain, sebuah upacara pernikahan sedang digelar. Tamu undangan sudah memenuhi barisan kursi di dalam gereja yang telah disiapkan. Mempelai pria sudah berdiri di depan altar dengan tuxedo putihnya. Tinggal menunggu mempelai wanita keluar bersama iring- iringannya.

 

Siwon pov.

Aku tidak percaya kalau hari ini aku akan menikah. Di depan altar aku menunggu mempelai wanitaku, Tiffany. Dia adalah wanita yang langsung membuatku jatuh cinta hanya dengan melihat matanya. Dia juniorku di kampus sekaligus putri dari professor pembimbingku. Aku sering melihatnya di kampus dan saat aku mengunjungi ayahnya. Tapi secara teknis, kami tidaklah saling mengenal. Dan aku tidak menyangka kalau aku adalah pria yang dipilih ayahnya untuk mendampinginya. Aku benar- benar bahagia saat ayahnya melamarku untuk menikahinya.

 

Dia berjalan didampingi ayahnya. Dia menunduk, mungkin malu. Perjodohan sangat umum di Korea, tapi tidak di London. Aku kagum padanya yang mau menerima perjodohan kami.

Sampailah dia di hadapanku. Ayahnya memberikan tangannya padaku bersama pesan untuk menjaganya.

Aku melihat wajahnya sekilas sebelum pemberkatan, dia terlihat lebih cantik dari biasanya. Sayang, saat ini aku tidak melihat eyesmile terukir di wajahnya.

 

Tibalah saatnya pendeta membacakan janji pernikahan.

“Do you Siwon Choi take Tiffany Hwang to be your lawful wedded wife?”

“I do.”Aku menjawab dengan mantap.

“ Will you love, respect and honor her throughout your years together?”

“I will.”

Tentu saja aku akan menjaga dan membahagiakannya sepanjang hidupku. Tak akan kubiarkan dia menangis karena aku.

“Do you Tiffany Hwang take Siwon Choi to be your lawful wedded husband?”

“I do.”

“ Will you love, respect and honor him throughout your years together?”

Tiffany tidak langsung menjawab. Terjadi keheningan beberapa saat. Ku lihat ke arah wajahnya di sampingku. Ada sedikit keraguan dalam matanya.

Namun, akhirnya ia menjawab, “Yes, I will.”

 

Malam harinya, dia duduk bersimpuh di ranjang kami. Setelah mengganti tuxedo dengan pakaian tidur, aku menghampirinya. Aku duduk di sisi ranjang yang lain di sampingnya.

“Kau tidak mengganti pakaianmu?”

Dia diam.

“Apa kau kesulitan melepasnya? Aku bisa membantumu.”

Sontak dia menatap tajam ke arahku. Oops, apa itu terdengar sedikit pervert.

“Mmm, jangan salah sangka. Aku tidak bermaksud apa- apa. Real sebuah bantuan.”

Tiba- tiba dia bangkit dari ranjang. Melepastali gaun dan resletingnya. Gaunnya terlepas. Hanya pakaian dalam yang melekat ditubuhnya sekarang. Sebagai seorang pria normal, tentu saja aku tergoda melihat pemandangan indah yang ditunjukkan istriku. Apa lagi, ini adalah malam pertama kami. Tapi,

“Lakukanlah! Ini yang kau inginkan bukan?” bentak Tiffany. Kemudian ia terisak.

Demi Tuhan, apa salahku hingga dia menangis di depanku sekarang.

Buru- buru aku bangkit dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang setengah telanjang.

“Bukan ini yang kuinginkan.” Perkataanku mungkin sedikit keras padanya. Sejujurnya aku tersinggung dengan perlakuannya. Seolah- olah aku menikahinya hanya karena menginginkan tubuhnya. Aku tidak menyangka dia berpikir serendah itu.

“Sebaiknya kau istirahat.” Kataku sebelum keluar dari kamar meninggalkannya. Dari balik  pintu aku mendengarnya masih menangis. Apa sebenarnya yang menyebabkan dia seperti itu? Apakah dia terpaksa menerima pernikahan ini? Atau, apa ada pria lain dalam hidupnya?

 

***Angel in your eyes***

Tiffany terbangun karena mendengar suara berisik dari arah dapur. Apartemen yang ditempatinya memang tergolong kecil. Meskipun Siwon mampu membeli rumah mewah dengan uang yang dimilikinya, ia lebih suka membeli apartement sesuai kebutuhannya.

Tiffany menatap sekelilingnya. Tidak ada yang berubah di kamar itu sejak ia tertidur semalam. Tubuhnya pun masih terbalut selimut. Mungkin Siwon sama sekali tak masuk ke kamarnya dari selama dia tidur. Tiffany melihat  wajah dan rambutnya yang berantakan lewat cermin besar yang terdapat di meja rias. Ia tidak ingat sampai jam berapa ia menangis. Namun kepalanya terasa pusing. Dan ia sangat butuh mandi sekarang.

Setelah selesai mandi dan mengganti pakainnya, Tiffany pergi ke ruang makan yang menyatu dengan dapur. Di sana ia melihat Siwon sedang menyiapkan sarapan dengan berbagai menu dari nasi, sup dan sayur- sayuran. Terus terang, Tiffany takjub melihat hasil masakan Siwon yang terlihat menggoda selera makannya.

Kruyuk! Kryuk!

Siwon menoleh ke arah Tiffany saat mendengar suara lapar dari perutnya. Tatapan Siwon sangat dingin. Mungkin dia masih marah karena semalam. Tiffany hanya bisa diam di tempatnya berdiri.

“Mungkin kau tidak terbiasa makan ini semua. Tapi ini adalah menu sarapan yang biasa ku buat. Makanlah. Kau belum makan sejak semalam.”

Tiffany berjalan ke meja makan. Ia duduk di kursi berhadapan dengan Siwon. Ia mulai menyendok nasi dan mengambil beberapa sayuran dan menyantapnya. Mereka berdua makan dalam diam. Sesekali Siwon melihat ke arah Tiffany begitu juga sebaliknya. Pemandangan yang jarang sekali terlihat pada pasangan yang baru saja menikah. Tak ada yang berniat bicara sampai mereka menghabiskan sarapan pagi itu.

Dengan cekatan Siwon membereskan meja makan dan mencuci peralatan makannya sendiri. Sedangkan Tiffany kembali ke kamar. Ia menyibukkan diri dengan membereskan tempat tidur. Tiba- tiba bayangan Donghae muncul di atas tempat tidur. Lalu mendekati Tiffany dan mencium keningnya. Tiffany terpejam. Saat ia membuka mata, Donghae menghilang. Kejadian itu bukan pertama kalinya. Setelah pemberkatan, bayangan Donghae juga muncul di antara para tamu undangan. Dengan senyumnya, ia melambai ke arah Tiffany.

“Aku akan menunggumu sebelum jam 5 sore” setelah mengatakan itu ia lalu menghilang.

Saat di pesta, bayangannya muncul lagi. Bahkan saat ia sudah di ranjang pengantin, Tiffany melihat Donghae duduk di hadapannya. Masih dengan senyum terukir di wajahnya,

Donghae berkata,”I loved you because I see an angel in your eyes.” Lalu mengecup punggung tangan Tiffany dan pergi menghilang lagi.

 

“Hiks! Hiks! Hiks!” Tanpa sadar Tiffany terisak lagi. Siwon yang dari tadi memperhatikannya melamun, mendekatinya.

“Uljima. Don’t ever cry again.”

Tiffany mendongak melihat Siwon duduk bersimpuh di hadapannya.

“Aku tidak tahu apa yang membuatmu menangis. Tapi aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan membiarkan kau menderita. Aku sudah berjanji di hadapan Tuhan dan ayahmu untuk menjaga dan mencintaimu. Katakanlah apa yang bisa kulakukan untukmu.”

Tiffany diam.

“Tell me, please.” Siwon memohon. Ia benar- benar ingin Tiffany berbagi kesedihan dengannya.

Tiffany menatap Siwon. Bibirnya kesulitan untuk bergerak.

“Aku—melihatnya.”

“Siapa? Siapa yang kau lihat?”

“Dia—yang membuat ini bergetar saat melihatnya matanya.” Tiffany menunjuk dada kirinya.

“Yang membuat aku tersenyum, saat melihat senyumnya.”

“Dia—yang bilang padaku’ I loved you because I see an angels in your eyes’”

Siwon merasa tembok di sekeliling apartemennya runtuh.

Apa yang ditakutkannya ternyata benar. Tiffany sudah memiliki pria lain. Siwon mengurut pelipisnya. Keringat dingin bercucuran dari wajahnya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan emosinya. Ia bangkit dari duduknya. Dan berdiri menjauh dari Tiffany.

“Tidak mungkin. Bukankah kau tidak memiliki kekasih?”

“Aku mengenalnya empat hari sebelum pernikahan.”

“Empat hari? Dan kau jatuh cinta padanya?”

“Aku tahu kau pasti akan bilang kalau aku gila. Bagaimana cinta bisa datang hanya dalam waktu empat hari. Aku bahkan tidak tahu nama depannya. Tapi itu kenyataan. Aku tidak bisa melupakannya. Dia selalu ada di depanku. Bahkan di rumah ini aku terus melihat bayangannya.  Dia selalu mengikutiku. Dia tersenyum padaku dan menciumku. Dia—Hiks, hiks, hiks—“

Lagi, Tiffany menangis di hadapan Siwon.

Siwon menatap iba ke arah Tiffany. Ia melihat penderitaan di mata wanita yang baru dinikahinya itu. Siwon bingung. Antara marah, cemburu dan terluka.

Siwon memilih meninggalkan Tiffany sendirian seperti semalam. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan pada Tiffany. Batinnya sendiri sangat terguncang mendengar pengakuan Tiffany. Kalau saja Tiffany mengatakannya sebelum pernikahan, Siwon mungkin akan membatalkan pernikahan itu. Waktu tidak bisa diulang. Yang sedang dipikirkan Siwon adalah bagaimana cara memperbaiki keadaan rumah tangganya saat ini. Bagaimana ia bisa hidup dengan wanita yang selalu dihantui bayangan kekasihnya?

 

***Angel in your eyes***

Hari- hari setelah pernikahan mungkin menjadi hari paling manis dan hangat bagi pasangan pengantin pada umumnya. Tapi tidak dengan Siwon dan Tiffany. Mereka melaluinya dengan datar. Siwon bahkan masuk kerja sebelum masa cutinya berakhir. Berada di rumah juga tidak bisa membuatnya tenang. Tiffany memang mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri dengan membereskan rumah, menyiapkan makan dan segala kebutuhannya. Tapi hanya sebatas itu. Mereka jarang sekali bicara. Bahkan dalam satu hari mereka bisa tidak saling bicara sama sekali. Mereka seperti hidup di dunia yang berbeda.

Siwon sering sekali pulang larut malam setelah Tiffany tertidur. Ia memang sengaja meminimalisir pertemuan dengan Tiffany. Karena saat ia melihat Tiffany, kata- kata Tiffany tentang pria itu akan teringat di benaknya dan membuat hatinya sakit.

Malam itu, Siwon pulang larut malam seperti hari- hari sebelumya. Namun, keadaan rumah masih terang. Biasanya Tiffany sudah tidur dan mematikan lampunya. Mungkin Tiffany tertidur dan lupa mematikan lampunya. Pikir Siwon. Ia pun menuju dapur untuk minum.

“Tiffany?”

Siwon kaget mendapati Tiffany tertidur di meja makan. Berbagai hidangan yang biasanya ia temui di rumah orang tuanya tersaji di sana. Serta semangkuk sup rumput laut dan kue tart yang berhiaskan lilin dengan angka 28.

“Eoh, kau sudah pulang?” Tiffany terbangun.

“Semua ini—kau yang menyiapkannya?”

Tiffany mengangguk,”Duduklah.”

Siwon pun duduk. Tiffany mengambilkan makan malam untuknya.

“Thanks.”

Makan malam berlangsung seperti biasanya. Mereka diam satu sama lain. Sampai akhirnya Siwon membuka suara.

“Pria itu—apa kau masih memikirkannya?”

Tiffany berhenti menyendok supnya. Sebenarnya ia tidak ingin menjawab. Karena jika ia mengatakan yang sebenarnya, Siwon pasti akan terluka. Tiffany memilih diam.

“Aku tidak akan memaksamu untuk melupakannya. Kau masih bertahan di sini bersamaku saja itu sudah membuatku senang. Kau melakukan tugasmu dengan sangat baik sebagai seorang istri. Bahkan kau mengingat ulang tahunku dan menyiapkan ini semua.”

“Aku hanya melakukan kewajibanku.”

“Dan sekarang giliranku melakukan kewajibanku.”

Siwon mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya dan menyerahkannya kepada Tiffany.

“Ini—“

“Selama ini aku meminta bantuan temanku mencari tahu tentang turis asal Korea Selatan yang meninggalkan London sebulan yang lalu. Dan aku berhasil menemukannya.”

Tiffany menatap biodata Donghae yang diberikan Siwon padanya.

“Aku akan mengantarkanmu padanya.”

 

***Angel in your eyes***

 

“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Tiffany pada Siwon yang sedang membantunya memakai seat belt.

Siwon berpikir sejenak sambil memasang seat beltnya sendiri.

“Aku melakukan yang seharusnya kulakukan.”

 

‘Kepada seluruh penumpang Korean Airways dari London Inggris menuju Seoul Korea Selatan, pesawat akan segera diberangkatkan. Harap menempati kursi anda dan memasang sabuk pengaman. Terima kasih.’

 

Siwon menutup matanya setelah mendengar pengumuman itu. Ia ingin menghabiskan sebelas jam perjalanannya dengan tidur. Keputusannya membantu Tiffany mencari Donghae ke Seoul sama saja dengan menyerahkan istrinya pada pria lain. Hanya pria bodoh yang melakukannya. Dan Siwon adalah pria bodoh yang tidak bisa membiarkan wanita yang dicintainya menderita.

 

Pukul 5 sore mereka tiba di Incheon. Siwon sudah memesan kamar di hotel terdekat dari bandara.

“Kamar 1037 dan 1038. Ini pass key Anda Tuan. Selamat beristirahat.”

“Gamshamidha.”

Siwon dan Tiffany pun berjalan menuju lift untuk naik ke kamar mereka.

 

Keesokan harinya Siwon dan Tiffany melakukan perjalanan ke Mokpo. Berdasarkan informasi yang Siwon dapatkan, Donghae beralamat di kota pelabuhan itu. Dengan mobil sewaan, mereka menempuh perjalanan selama empat jam.

“Kau tunggu di sini saja, aku akan bertanya pada penduduk sekitar tentang alamat ini.”

“Ne.”

Siwon keluar dari mobil. Ia bertanya pada penjaga toko di pinggir jalan mengenai alamat rumah Donghae. Sedangkan Tiffany menunggu di dalam mobil sambil melihat sobekan foto yang diberikan Donghae waktu itu. Karena merasa bosan, Tiffany keluar. Tiba- tiba angin bertiup kencang. Foto yang dipegang Tiffany terbang tertiup angin.

“Oh, no!!!”

Tiffany berlari mengejar foto itu. Sampai akhirnya foto itu terjatuh di jalan. Tiffany pun memungutnya. Sampai ia tidak menyadari, ada sebuah mobil melaju ke arahnya. Tiffany tidak sempat menghindar.

“AAkkkhhh!!!” dia berteriak. Beberapa saat kesadarannya sempat hilang. Ia tidak merasa sakit sama sekali. Malah ia merasakan kehangatan seperti dalam pelukan seseorang.

“Are you oke?”

Tiffany bangkit setelah Siwon menyadarkannya. Rupanya Siwonlah yang menariknya dari tengah jalan sehingga mereka berdua tersungkur ke trotoar.

“Yeah, I’m fine.”

“Syukurlah. Kenapa kau bisa berada di sini? Bukankah sudah kusuruh menunggu di mobil?”

“Tadi aku mencari foto ini yang terbang tertiup angin sampai kemari.”

Siwon mengambil foto itu dari tangan Tiffany.

“Hanya karena foto ini kau hampir kehilangan nyawamu? Kau sudah gila?” bentak Siwon yang terbawa emosi karena kekhawatirannya.

“Bagimu ini hanya sebuah foto. Tapi ini satu- satunya kenangan yang diberikan Donghae padaku.” Balas Tiffany. Kemudian ia berjalan dengan kesal ke mobil meninggalkan Siwon yang masih berdiri di pinggir jalan. Sebenarnya Siwon pantas menyalahkannya. Tapi ego Tiffany tidak bisa menerima Siwon membentaknya seperti itu.

Mereka meneruskan perjalanan ke rumah Donghae dalam diam. Sampai di depan rumah di tepi pantai, Siwon menghentikan mobilnya.

“Kita sudah sampai.”

Siwon turun dari mobil diikuti Tiffany.Mereka mengetuk pintu rumah sederhana yang terbuat dari kayu itu.

“Nuguseo?” Seorang wanita berumur 40 tahunan yang membukakan pintu.

“Anneyong. Apa benar ini rumah Lee Donghae?” tanya Siwon pada wanita itu.

Sesaat wanita itu memperhatikan Siwon dan Tiffany sebelum menjawab.

“Benar. Aku eommanya. Kalian siapa?”

“Kami temannya dari London, namaku Siwon dan ini Tiffany.”

“Anneyonghasseo, Eommanim.” Sapa Tiffany.

“Kau Tiffany?”

“Nde? Anda mengenaliku?”

Donghae eomma mengangguk senang.

“Donghae pernah bercerita tentangmu setibanya dia dari London. Katanya dia bertemu seorang gadis yang memiliki mata yang sangat indah. Dan ternyata dia benar. Kau memiliki mata seperti malaikat.”

“Gamshamidha Eommanim. Tapi dimana Donghae? Bisakah aku bertemu dengannya?”

“Sayang sekali, Donghae tidak di sini.”

“Mwo?”

“Seminggu yang lalu Donghae pergi ke Seoul untuk menyiapkan pamerannya.”

“Seoul?”

“Eommanim tahu alamatnya mengadakan pameran?”

Eomma Donghae menggeleng.

“Yang ku tahu, Donghae akan memamerkan foto- foto yang diambilnya saat di London besok malam.”

“Bisakah kami meminta nomor ponselnya?”

“Aku juga tdak tahu nomor ponselnya. Biasanya Donghae yang menghubungiku lewat telepon rumah milik bibinya. Jadi aku tidak pernah menyimpan nomornya.”sesal eomma Donghae.

“Kira- kira kapan Donghae kembali?”

“Biasanya dia ada di Seoul hanya untuk pameran, setelah itu dia ke luar kota atau luar negeri untuk memotret lagi. Jadi aku juga tidak tahu pasti kapan dia akan pulang.”

“What can we do now?”Desah Tiffany kecewa.

“Let’s go back to Seoul.”

 

***Angel in your eyes***

Dalam perjalanan menuju Seoul Tiffany melihat kembali foto pemberian Donghae. Siwon memperhatikannya yang kelihatan sedih karena tidak berhasil bertemu dengan Donghae.

“Seoul bukan kota yang besar. Kita pasti bisa menemukannya.”

“I know.”

“By theway, kenapa dia memberikan bagian fotomu, bukan miliknya? Biasanya seorang pria akan memberikan gambar wajahnya pada kekasihnya.”

“Dia akan memberikan bagian lainnya jika aku datang waktu itu.”

“Dan kau tidak datang.”

“Itu berarti aku menolaknya dan tidak perlu mengingatnya lagi. Jadi tak ada alasan untuk menyimpan fotonya.”

‘Tapi dia salah, bahkan tanpa menyimpan fotonya sekalipun, kau selalu melihat bayangannya.’ Batin Siwon.

Rasa sakit itu kembali menggerogoti jantungnya. Wanita yang dicintainya, yang saat ini bersamanya akan dia serahkankan pada orang lain dengan tangannya sendiri. Andai Siwon bisa menghentikan waktu, dia ingin menghentikannya saat ini juga. Saat Tiffany masih di sampingnya. Tertidur di pundaknya. Sekalipun dalam pikiran Tiffany masih mengingat orang itu.

Karena melamun, Siwon tidak menyadari ada mobil yang menyalipnya dari arah kiri. Siwon berusaha menghindar dengan membanting setirnya ke kanan dan kehilangan kendali atas kemudinya. Alhasil ia menabrak pembatas jalan.

BRAAAK!!!!

 

Siwon tidak mengalami cedera apapun. Namun Tiffany mengalami benturan pada kepalanya.

“Tiffany, wake up!!!”

Tiffany tidak menjawab. Ia pingsan. Darah terus mengalir dari kepalanya.

“Tiffany,,, hold on!!!”

Siwon keluar dari mobil dan meminta bantuan pada pengendara lain untuk berhenti dan membawa Tiffany ke rumah sakit.

 

***Angel in your eyes***

 

“Eungh,,,”

Tiffany terbangun di ruangan dengan nuansa biru laut. Ia merasakan nyeri di kepalanya yang sekarang terbalut perban. Dilihatnya jam dinding di ruangan itu. Pukul 8 pagi. Ruangan itu cukup sepi. Dia hanya bisa mendengar deru nafas Siwon yang tertidur di sofa dekat tempat tidurnya.

“Anda sudah sadar, Nyonya?” tanya dokter yang baru saja datang untuk memeriksanya.

“Ne.”

“ Kepala Anda mengalami benturan saat kecelakaan. Untung suami Anda lekas membawa Anda kemari. Kalau tidak, Anda pasti sudah kehilangan banyak darah.”

Tiffany melirik ke arah Siwon.

“Semalaman dia menunggu Anda. Dia tidak meninggalkan ruangan ini sama sekali bahkan untuk makan. Anda beruntung punya suami yang sangat memperhatikan Anda.”

“Dia melakukan kewajibannya dengan baik.”

“Kalau dia sudah bangun, suruh dia menebus obat ini dan mengganti perban Anda.”

“Ne, gamshamidha.”

Beberapa menit kemudian Siwon terbangun.

“Kau sudah bangun?”tanya Siwon yang melihat Tiffanyduduk di ranjangnya.

“Hmm.”

“Are you ok? Is your head still pain?”

“Little.”

“Sorry, it’s happen by my fault. Aku tidak fokus saat itu.”

“Jangan dipikirkan. Oh ya tadi dokter menyuruhmu menebus obat dan mengganti perbanku.”

“Kalau begitu biar kuganti perbanmu dulu. Setelah itu aku akan pergi menebus obat.”

“Dan kau juga harus sarapan. Kau belum makan dari semalam kan?”

“Ok. Aku juga akan sarapan nanti.”

Siwon mulai melepas perban di kepala Tiffany. Satu persatu lilitan kain kasa itu terlepas dari kepela Tiffany.

“Lukanya tidak terlalu dalam, dalam seminggu mungkin akan kering.” Ujar Siwon sambil meneruskan pekerjaannya.

Setelah melepas perban, ia meneteskan cairan anti septic pada luka Tiffany.

“Awww!!!”

“Is it hurt?”

“Yeah.”

“Aku akan meniupnya agar tidak terlalu perih.”

Siwon meniup luka Tiffany seperti katanya. Udara sejuk dari tiupan Siwon membuat Tiffany merasa lebih baik. Tanpa sadar ia terus menatap wajah Siwon yang hanya berjarak beberapa senti darinya.

“Selesai. Bagaimana?” tanya Siwon yang sudah menyelesaikan tugasnya mengganti perban Tiffany. Tiffany tidak menjawab karena masih terpaku dalam mata Siwon. Siwon pun ikut menatapnya. Menatap ke dalam manik matanya.  Tatapan mereka bertemu. Jantung mereka sama- sama berdetak kencang.

“Tiffany—“ lirih Siwon.

“Yes—“

“May I—“ tanya Siwon ragu.

Tiffany memjamkan matanya. Siwon menganggap itu adalah sebuah persetujuan. Diarahkannya bibirnya ke bibir Tiffany. Awalnya hanya sebuah sentuhan. Siwon bingung bagaimana harus memulainya. Tapi instingnya langsung mengambil alih. Digerakkannya bibirnya perlahan menyentuh dan menggoda setiap inci bibir Tiffany.

“Eungh—“

Tiffany melenguh. Siwon mendapat sinyal untuk menyentuh lebih jauh dan lebih dalam lagi. Dimasukkannya lidahnya ke dalam mulut Tiffany. Permainan lidah pun terjadi. Siwon semaikn memperdalam ciumannya. Sampai mereka hampir kehabisan nafas, barulah Siwon melepaskan tautan mereka.

Mereka saling bertatapan lagi.

Kruyuk! Kryuk!

“Sepertinya kau butuh sarapan.”

“Kau benar. Aku pergi dulu.”

“Hm. Cepatlah kembali.”

Siwon meninggalkan ruangan Tiffany dengan perasaan berbunga- bunga. Ia menyentuh bibirnya.

‘ini bukan mimpi.’batinnya senang.

Setelah menebus obat, Siwon mencari sebuah restoran untuk sarapan. Sekalian ia juga ingin mampir ke toko buku untuk membelikan Tiffany sebuah novel.

“Semuanya 600 won.” Kata kasir toko buku itu.

Siwon pun memberikan uangnya dan meninggalkan toko buku. Saat berjalan menuju kembali kerumah sakit, tiba- tiba buku yang baru dibelinya terjatuh.

Bruk!!!

Seorang namja yang kebetulan sedang berdiri di tempat itu mengambilkannya.

“Love Story?”

Namja  itu membaca judul buku itu sebelum mengembalikannya pada Siwon.

“Ini untuk istriku. Dia sedang di rumah sakit. Aku membelinya agar dia tidak merasa bosan.”

“Anda sangat perhatian padanya.”

“Aku sangat mencintainya.”

“Kalau begitu istri Anda sangat beruntung.”

“Hyeong, yang ini di taruh sebelah mana?” seseorang memanggil namja itu dan menunjuk pigura foto berukuran besar yang dibawanya. Siwon yang ikut melihat ke arah orang itu melebarkan matanya. Menatap foto yang dibawa oleh orang itu. Foto Tiffany dan namja yang bersamanya di samping patung Singa hitam yang ada di National Gallery, London.

“Yang itu taruh di tengah- tengah.” Jawab namja yang bersama Siwon.

“Foto itu—“

“Wae?”

“Ani. Kalau boleh kutahu, siapa nama Anda?”

“Namaku Lee Donghae.”

DEG!

Siwon terdiam. Orang yang dicarinya sekarang ada di hadapannya. Di saat dia baru saja mengalami hal terindah bersama Tiffany. Saat ia mulai berharap agar Donghae tak pernah ditemukan dan rumah tangganya bisa dipertahankan.

“Tuan, kau baik- baik saja?”

Siwon tidak memperdulikan Donghae. Ia pergi. Donghae hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Siwon yang tiba- tiba menjadi aneh.

 

***Angel in your eyes***

 

Hujan membasahi kota Seoul. Suara gemuruh sesekali terdengar membuat Tiffany semakin cemas. Siwon belum kembali sejak pagi. Tiffany hanya bisa mondar- mandir di ruangannya. Kemudian pintu ruangannya terbuka. Siwon muncul dari balik pintu.

“Kau dari mana saja? Kau basah kuyup? Apa yang terjadi?” Rentetan pertanyaan Tiffany tidak di jawab oleh Siwon. Siwon malah mendekati Tiffany dan memeluknya.

“Are you ok?”

Siwon mengangguk di pundak Tiffany. Air mata sudah hampir jatuh dari pelupuk matanya. Buru- buru ia menghapusnya dan melepas pelukannya dari Tiffany lalu menatapnya.

“Aku sudah menemukannya. Aku menemukan Donghae-mu.”

 

Taksii yang membawa Siwon dan Tiffany berhenti di depan sebuah gallery seni di kawasan Dongdaemun. Sebelum keluar dari taksi, Tiffany melihat ke arah Siwon.

“Pergilah. Dia ada di dalam.”

Tiffany turun dan memasuki tempat yang ramai oleh pengunjung itu. Beberapa orang memperhatikannya dan mencibir penampilannya yang berantakan. Tapi Tiffany tidak peduli. Matanya takjub pada foto- foto besar yang terpajang di sekeliling gallery. Itu adalah foto- fotonya yang diambil Donghae secara diam- diam waktu di London.

Dan tepat di tengah- tengah gallery itu, terpajang fotonya bersama Donghae di samping patung singa hitam. Tiffany berhenti di depan foto itu. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan potongan foto yang dimilikinya.

“Tiffany?”

Tiba- tiba Tiffany mendengar suara seseorang dari arah belakangnya. Ia pun berbalik.

“Donghae?”

Donghae berdiri tiga meter di hadapannya. Pria yang selama ini ia cari keberadaannya. Sekarang ada di depannya. Seharusnya Tiffany merasa bahagia. Tapi ia tidak merasakan apapun. Tiffany meraba dada kirinya.

‘Kenapa di sini rasanya hampa?’batinnya.

“Tiffany—“ sekali lagi Donghae memanggilnya. Kali ini Tiffany menatap Donghae. Tapi tatapannya aneh.

“Bagaimana kabarmu? Apa kau baik- baik saja?”

“Ya. Aku baik- baik saja. Sampai kau datang dalam kehidupanku. Kau bernyanyi, lalu meminjamkan payungmu dan kita menghabiskan empat hari bersama. Kau tahu, saat kau menungguku di patung singa hari itu, aku sedang menikah. Dengan seorang pria baik- baik yang berjanji pada Tuhan dan ayahku akan menjaga dan membuatku bahagia. Saat itu aku berpikir kalau aku akan baik- baik saja. Aku sudah menikah dan aku pasti akan melupakanmu. Ternyata aku salah. Bayanganmu terus mengikutiku. Kemanapun aku pergi, bayanganmu selalu ada di depanku. Aku seperti orang gila yang menangis setiap malam karena merindukanmu. Tapi dia, pria yang menikahiku, dia tidak pernah sekalipun membenciku karena aku tak bisa berhentin memikirkanmu. Dia masih setia menjagaku. Dia bahkan bersedia membantuku untuk bertemu denganmu.”

Donghae masih menyimak setiap perkataan Tiffany.

“Kau bilang padaku, kalau kau mencintaiku karena melihat malaikat dalam mataku. Hari ini aku juga melihat malaikat. Bukan hanya di matanya. Tapi juga di dalam hatinya. Dia adalah malaikat penjagaku.”

Saat itu, bayangan Siwon tiba- tiba muncul di belakang Donghae. Ia tersenyum kepada Tiffany dan mengulurkan tangannya.

Tiffany sadar, bukan Donghae yang ia inginkan saat ini. Tapi Siwon.

“Aku harus pergi. Sorry.”

Tiffany berlari keluar gallery.

“Semoga kau bahagia.” Ucap Donghae.

Di luar, Siwon masih berdiri di samping taksi yang mereka tumpangi tadi.

“Apa kita jadi ke Incheon Tuan?” Tanya supir taksi.

“Ne. Kita berangkat sekarang.”

Siwon membuka pintu mobil hendak masuk ke dalam taksi.

“Wait!!!!” teriak Tiffany. Siwon pun melihat ke arahnya.

“Tiffany—“

Tiffany langsung menghambur ke pelukan Siwon.

“Hey, what’s going on?”

Tiffany melepas pelukannya. Menatap Siwon sejenak lalu menciumnya dengan tiba- tiba.

“Emph—kenapa kau lakukan ini?” Siwon melepaskan ciuman mereka.

“Ini yang seharusnya aku lakukan sejak sebulan yang lalu.”

“Maksudmu?”

“I Love You. I love you my angel. Aku tidak membutuhkan siapapun lagi. Aku hanya menginginkanmu. I love you. I love—mmph” Siwon memotong ucapan Tiffany dengan ciumannya.

“I love you too.”

Mereka tersenyum. Lalu berciuman lagi.

 

Baby baby baby baby baby uri jeoldae heeojiji malja

Oh my lady lady lady lady lady Naega jeongmal neoreul saranghanda

Shawty shawty shawty shawty shawty ojik neoya nareul seonthaekhan geon

Naui nunmulkkajido, jageun misokkajido.. Ani?

Neorobutheo oneun geoya

 

 

“Thanks for respect me, care about me and always love me.”

 

 

 

Fin!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

142 thoughts on “(AR) Angel In Your Eyes

  1. annyeong, sifany akhirnya bersatu…..
    mianhae, ini sedikit mirip dngn sebuah film india yg pernah kutonton wktu indosiar masih gila bollywood, judulnya aku lupa, tapi klo ga salah pemainnya yg prnah jd miss world itu aiswararai kyknya namanya. mungkin hanya kebetulan ya, ok gomawo utk ff nya

  2. Oh my God ini benar-benar keren author , Angel yang terlihat belum tentu berperan sebagai angel yang sesungguhnya , dan yang sebenar-benarnya kadang memang tidak disadari bahkan telah telat menyadarinya..
    And Sifany forever ♡
    Author youngwonie yang dae-bak , buat lagi sifany yang manis’nya yaaaah , aku menanti b^.^d

  3. Duuhhh
    Siwonie kamu luar biasa
    Sabar bgt
    Ga ada dech cwo yg bisa kaya gt sabar ya sangat menerima istrinya mencintai pria lain bahkan dia nganterin istrinya buat ketemu ma tuh cowo coz yg ada d pikirannya adalah hanya kebahagiaan istrinya
    Omoo
    Suami idaman bgt dech

  4. Aaaa siwon oppa emang suami idaman bgt,, kasian liat siwon oppa digituin
    Sequel dong, kasian siwon oppanya gak menerima perlakuan yg sweet dri tiffany

  5. Hwaaa siwon oppa bner2 namja yg penyabar, pertama baca aku kira siwon oppa yg nyanyi, tp trnyata haeppa.. Dan sifany lah yg bersatu yeyyyyyy, kesabaran akan mmbuahkan hasilnya nanti😉 bner2 so sweet un, sad and happy end :’) di tnggu ff2 daebak lainnya😉

  6. omegoooottt aku kira bakal sm donghae tp nyatanya balik sm siwon aaahhhh bahagianya donghae oppa are you okay? sekali” donghae ksh pasangan thor *eh hahahah

  7. Huaaa keren banget :’) apalagi pas ngebayangin hae nyanyi still you jd keinget mvnya yg emg di london juga ^^,yeay akhirnya tiff sadar juga🙂🙂 sifany jjang ^^

  8. Aduuuhhh siwon oppa baik dan sayang banget sm tiffany. Pas Tiff blg kl tyt dia suka sm co lain aku kok ikutan berasa nyesek ya? Baca cerita ini aku sampe nangis. Untungnya happy ending, kl ga aku bs nangis bombay ^^

  9. Siwon benar2 good man.padahal sifany udah menikah,tapi siwon membantu fany mencari pria yg dijumpainya dilondon.tadinya kirain fany sama donghae.ehhh……ternyata fany balikan ama siwon,dan juga fany menyadari dirinya mencintai siwon dan membutuhkan siwon.
    Sifany sweet kissing,aiggo romantisnya.
    Author daebak……..jjang thor.i like you fanfic.
    Hwaiting.sifany 4ever♥♥♥♥♥

  10. ternyata kesabaran siwon berbuah manis….ketulusan cintanya membuat tiffany luluh juga…kalo donghae cinta ma tiffany karna melihat malaikat di matanya, maka tiffany mencintai siwon karna melihat malaikat di hatinya….

  11. Malaikat tak bersayap. kebaikn hati siwon tlh mnglhkn ego fany. n bnr2 mntpkn hati fany utk siwon. bhgia utk sifany.

    klo diimprove dikit lg dgn maried life mrk psti tmbh oke..

  12. Ahhh..kirain da sedikit drama..sampe siwon ninggalin fanyahhh…haha…
    Tp syukur dech fanyah menyadari..siapa yg jd angelnya…
    Hihihi…
    Klo ada sequel, lebih menarik lg neh thorr..:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s