(AF) Hello! Stephbrother Part 3 – End

Title : Hello,Stepbrother! Part 3-End

l-tile-crop

Genre : Romance,Family

Main Cast :

      Tiffany Hwang

      Choi Siwon

Other Cast :

      Jessica Jung

      Lee Donghae

Disclaimer  : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

 

“Ada hal yang perlu kukatakan padamu,”

Tiffany mendengus, “Aku sedang tidak ingin mendengar suaramu. Keluarlah!” tukasnya dingin.

Tapi, Siwon tidak beranjak.

“Haruskah aku mengatakannya pada abeoji?”cetus Siwon kemudian.

Tiffany masih bersungut-sungut, “Kenapa kau mengangguku dengan pemikiranmu itu,eoh? Memangnya aku peduli apa?”

“Apakah benar-benar harus kuungkapkan? Bahwa kita masih saling mencintai…”

Demi apapun, Tiffany merasakan desakan kuat di dasar perutnya untuk segera menghantam Siwon. Ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan keras. Dengan tatapan dingin yang ketus, ia menatap Siwon.

“Apa kau bodoh?”

“Setidaknya lebih baik, daripada hanya bertingkah ngambek dan kabur dari  rumah, seperti pengecut!” balas Siwon tenang.

Tiffany memejamkan matanya, desakan untuk menghantam Siwon semakin kuat.

“Kau keluar sekarang dari kamarku, atau aku akan berteriak…”

“Karena seorang kakak masuk ke dalam kamar adiknya tanpa izin?” Siwon tertawa meledek.

Tiffany menggeram menahan amarahnya. Tatapan Siwon masih menghujam ke arahnya. Perpaduan rasa panas dengan perjodohan ini dengan kemarahannya membuat pandangannya perlahan mengabur. Napas Tiffany naik turun tidak beraturan. Siwon masih menatap datar padanya.

Tatapan itu yang membuatnya luluh. Tatapan seperti itu yang dirindukannya.

Jemari Tiffany mengepal kuat. Lebih dari pada kemarahannya karena tidak bisa menolak status baru Siwon, ia terjebak dalam kemarahan pada dirinya sendiri. Kenapa ia tidak bisa melepaskan rasa rindu pada tatapan itu? Di puncak kemarahannya, Tiffany menjerit kencang.

“Tiffany!”

Prang! Brak! Botol-botol kosmetik dan peralatan lainnya berhamburan hanya dengan sekali sentakan. Tiffany kalap. Ia menangis dan menjerit.

Siwon terlonjak dari duduknya dan mencoba menahan Tiffany. Tapi,gadis itu terlanjur marah. Begitu Siwon menyentuhnya, ia semakin memberontak.

“Tiffany! Ada apa denganmu?!”

“Keluar! Keluar kau, Choi Siwon!!”

Prang. Prang.

 

“Kumohon, abeoji!” suara Siwon terdengar parau. “Jangan memaksakan kehendak abeoji padaku seperti ini!”

“Ya, tapi… aku melakukan ini untuk kebaikanmu! Kalian pasangan yang sangat serasi. Kalian akan saling melengkapi. Lagipula, Tiffany sudah memiliki kekasih dan sepertinya hubungan mereka akan menjadi hubungan yang serius. Kau tentu tidak ingin menghalangi hubungan mereka karena kau yang masih tidak memiliki kekasih,kan? Tiffany akan bahagia dengan kekasihnya dan kau juga bisa merasakan hal yang sama. Dengan begitu aku tidak perlu menghawatirkanmu yang kalah oleh adikmu. Ini untuk kebaikan kalian berdua!”

 

“Presdir Hwang sudah memutuskan untuk memikirkan ulang perjodohanmu.”

“Kenapa dia melakukannya? Apa ibu juga membujuknya?” tukas Siwon.

“Ibu tidak bisa melihatmu tertekan karena perjodohan seperti ini, Siwon.”

“Tapi, apa kau tidak bisa mengatakan siapa gadis yang kau cintai sekarang ini sampai kau mati-matian menolak?”

“Aku tidak bisa,eomma.”ujarnya. Karena ini terlalu menyakitkan. Aku tidak ingin melihatmu menderita lagi. Sudah cukup kau menderita menikah dengan ayahku selama 30 tahun.

***

 

Jessica menghela napas panjang begitu ia masuk ke dalam kamarnya. Tiffany masih bergelut di balik selimutnya. Ia beranjak meletakkan nampan berisi sarapan untuk sahabatnya itu di atas meja lalu menyibak gorden kamar.

“Fany-ya…”

Tiffany menggeliat pelan lalu matanya mengerjap karena sinar matahari yang langsung menerpa wajahnya.

“Bangun! Sudah jam sepuluh pagi!” ujar Jessica seraya menyibak selimutnya.

Tiffany mengerang menolak. Tangannya menggapai berusaha menarik kembali selimut itu tapi Jessica juga bersikeras membangunkan gadis itu.

“Ayolah,Tiff! Kau belum makan apa-apa sejak semalam,kan?!”

“I don’t care!”tukas Tiffany. Ia berguling membelakangi Jessica dan memeluk guling dengan erat sebagai ganti selimut yang tidak bisa dimenangkannya. Jessica berdecak gemas melihat tingkahnya.

“Hey,Stephany! Apa kau tidak tahu betapa lelahnya aku memasak untukmu?!”

Tiffany bergumam pelan. Kedengarannya ia mengatakan ketidakpeduliannya.

“Aku juga melewatkan kencanku dengan Hae oppa!”

Tiffany kembali bergumam tak jelas. Jessica meniup poninya karena gemas. Dengan gerakan cepat, ia menepuk bokong Tiffany dengan keras. Gadis itu terpekik kaget dan sontak terbangun. Ia menatap Jessica dengan pandangan horor.

“Ayo,makan!” Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Jessica menyodorkan nampan yang tadi dibawanya ke hadapan Tiffany.

Tiffany mengerang malas.

“Ayolah,baby Hwang!”

Tiffany mengacak rambutnya frustasi lalu meraih sendoknya. Bagaimanapun ia tidak akan bisa bernapas dengan tenang jika masih ada gadis blonde itu yang menganggunya. Saat ia mendongak menatap Jessica, seperti dugaannya, gadis itu menyeringai puas.

“Apa kau benar-benar sudah puas?!”tukas Tiffany. Jessica terkekeh.

“Have a nice eat,honey! Setelah kau menghabiskan sarapanmu, segeralah mandi dan kita akan jalan-jalan. Kau sudah dengar kalau Chanel baru saja meluncurkan tas baru,kan? Aku sudah menelpon managerku untuk menyimpankan limited editionnya untuk kita, jadi kita harus segera ke sana sebelum orang lain mengambilnya!”

Tiffany menghela napas kasar. Ia memang memilih rumah Jessica untuk menghindari keluarganya, tapi siapa yang menyangka jika gadis itu malah menindasnya seperti ini?

“Aku tidak mau,” ujar Tiffany seraya menyuapkan buburnya lagi.

“Kenapa? Biasanya kau akan berlari ke toko kalau kau stress… Wah, ini benar-benar sudah tingkat parah. Apa aku harus memukul kepala Siwon dengan stick golf-ku?”

“Hentikan candaanmu!”tukas Tiffany dingin, “Itu tidak lucu!”

Jessica berdehem pelan. Ia hanya bermaksud untuk menghibur gadis itu. Semalam ia cukup dikejutkan dengan kedatangan Tiffany dengan keadaan sangat kacau. Masalah keluarganya benar-benar rumit. Jessica tidak tahan melihat Tiffany menangis terisak karena pria itu. Argh,Choi Siwon benar-benar bodoh! Kalau sampai ia benar-benar menerima desakan orangtuanya lagi, ia tidak akan segan kehilangan stick golf hadiah Donghae asal ia mematahkannya di atas kepala Siwon! Jessica bersungut kesal. Lihatlah keadaan gadis ini sekarang, mengangkat sendokpun seperti mengangkat selusin piring. Ia menghembuskan napas panjang lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur.

“Yah, buburku tumpah!”tegur Tiffany pelan. Jessica menoleh cepat ke arahnya. Ia menghela napas panjang lalu meraih tissue.

“Apa yang harus kulakukan, baby?”ia bergumam pelan sembari membersihkan tumpahan bubur di celana tidur Tiffany. Tidak ada respon dari Tiffany. Tapi, saat ia mendongak, ia melihat mata cantik itu kembali berair. Segera saja Jessica diserang perasaan bersalah.

“Fany-ya…”

Tiffany menggeleng pelan lalu kembali menyuapkan buburnya dengan gerakan pelan. Terlihat jelas bahwa ia mati-matian menahan tangisannya. Tapi, pada akhirnya ia gagal mencegah air matanya terjatuh. Hati Jessica teriris melihatnya. Tapi,Tiffany terus saja makan tanpa mempedulikan airmatanya ataupun Jessica yang menatapnya iba.

***

“Untuk apa kau menemuiku?” Siwon tidak bisa  menahan nada ketus itu meluncur bersama kalimatnya. Yoona mencibirnya.

“Apa begini cara menyambut calon istrimu?”

Siwon menghembuskan napas kasar. “Masuklah, dan jangan mengangguku!” Ia lalu kembali pada setumpuk dokumennya di meja. Yoona tersenyum kecil lalu beranjak duduk di sofa ruangan itu.

“Kenapa kau tidak berbicara?”tegur Siwon tanpa mengalihkan perhatian dari kertasnya.

“Aku tidak mau berbicara di sini. Selesaikan pekerjaanmu cepat lalu temani aku ke café depan.”

Siwon menghentikan gerakannya lalu mendongak.

“Katakan saja di sini! Kalau kau mau menunggu, kau bisa tidak tidur semalaman,”gumamnya.

“Aish, kau memang keras kepala. Baiklah,” Yoona mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan beranjak mendekati meja Siwon. Ia lalu meletakkan amplop itu di sana. “Aku tidak mau memberitahukan ini padamu, tapi bagaimanapun gadis itu adalah adikmu dan kau mencintainya, jadi kurasa kau harus melindunginya.”

Siwon mendengus pelan, “Ini tujuanmu datang ke sini? Kenapa kau begitu peduli tentang aku dan Tiffany?”

“Karena hanya dengan begitu aku bisa membatalkan perjodohan ini, Siwon-ssi!”

Siwon terdiam. Ia lalu mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya. Ada puluhan lembar foto di sana. Keningnya berkerut melihat siapa yang ada di dalam sana. Nickhun bajingan itu! Setelah berpura-pura gentle di depan Tiffany, dia pikir dia bisa seenaknya berkencan dengan wanita lain?

“Bagaimana kau melakukan ini?”

Yoona tersenyum kecil, “Aku tahu lebih banyak dari yang kau duga, Siwon-ssi. Tiffany eonni pasti sangat menyukai pria itu dan kau tidak bisa mencegahnya. Jadi,berikan itu padanya.”

“Kau pikir ini bisa menghentikan perjodohan ini?”cibir Siwon.

“Jika kau tidak bekerja sama, itu memang tidak bisa terjadi. Baiklah, terserah kau saja. Cegah Tiffany eonni bersama dengan pria ini lalu kau bisa mengambilnya kembali ke dalam pelukanmu. Bersikaplah gentle dan katakan pada Presdir Hwang bahwa kau mencintai putrinya! Itu saja yang perlu kau lakukan!”

Siwon menghela napas panjang. Kalau saja ia bisa melakukan itu, pasti sudah sedari dulu ia melakukannya.

“Siwon-ssi! Aku benar-benar tidak bisa menerima pernikahan ini dan kau harus bekerja sama denganku!”

“Kenapa bukan kau yang berteriak di depan ayahmu bahwa kau menolak,eoh?!”

Yoona menatap Siwon dengan terkejut. Mulutnya terbuka tapi segera tertutup kembali. Matanya mulai berair. Kenapa pria ini begitu pengecut?

“Kau pikir itu mudah bagiku?”tukas Yoona akhirnya.

“Itu juga tidak mudah bagiku! Kalaupun aku berhasil membatalkan perjodohan ini, lalu apa?! Dan harus berapa kali aku melakukan penolakan ini sambil berharap bisa hidup bersama dengan adikku,eoh?! Aku juga pusing dan muak dengan semua ini!!”

Yoona menatap Siwon dengan nanar. Wajah pria itu memerah karena emosinya.

“Kau memang pengecut, Siwon-ssi!”desis Yoona.

Siwon tidak menjawabnya. Sudah dua wanita yang mengatakannya seperti itu. Hatinya terasa remuk dicengkram oleh tangan kasar yang tak terlihat. Siwon menghela napas panjang dan mengusap wajahnya frustasi.

“Kalau kau ingin bersama orang yang kau cintai, sudah seharusnya kau berjuang dan berkorban, bukan hanya duduk dan menerima semua yang diperintahkan padamu!”

Kau tidak mengerti!umpat Siwon. Ini bukan hanya tentang ia dan Tiffany. Ini juga tentang ibu dan Sooyoung. Akh, Siwon mengerang mengingat ibunya. Kenapa ia harus lahir dari rahim wanita yang selama 30 tahun tidak bisa melepaskan cinta pertamanya? Kenapa ia harus hidup bersama dengan keegoisan ini?

“Lakukan sesuatu,Siwon-ssi! Berbicaralah pada Tiffany eonni!”

“Aku akan melakukannya,”gumam Siwon, “Jadi,tenang saja,eoh?! Pergilah, kau menganggu pekerjaanku!”

Yoona menghela napas kasar lalu berbalik. Tapi, sebelum ia membuka pintu, ia kembali menoleh pada Siwon.

“Aku sedang mengandung, dan aku tidak ingin anakku lahir sebagai anakmu, Siwon-ssi!”

Siwon tercengang begitu pintu itu terbanting tertutup. Oh God, apa-apaan ini?!

***

Meskipun Tiffany sudah berusaha menutupi kemuraman wajahnya dengan riasan, ia tetap tidak bisa menghilangkan aura kesedihannya di depan Nickhun.

“Kau sepertinya sedang sakit,Tiff, apa kau baik-baik saja?”

Tiffany tersenyum canggung. “Tidak apa-apa. Sepertinya karena aku kurang tidur,oppa.”

Nickhun tersenyum kecil lalu meraih tangan Tiffany dan menggenggamnya, “Jangan sampai sakit, aku sangat mengkhawatirkanmu.”

“Aku tidak apa-apa,oppa. Sungguh!”

Tiffany tersenyum cantik. Tapi, senyumnya mendadak hilang saat ia melihat Siwon yang menerobos masuk.

“Sudah kukatakan kalau kau tidak boleh masuk,Siwon-ssi!”jeritan Jessica terdengar kemudian.

Tatapan Siwon tertuju pada gadis itu. Nickhun menatap mereka dengan terkejut.

“Pulanglah!”ujar Siwon begitu ia tiba di dekat mereka. Tiffany buang muka. Nickhun kebingungan.

“Tiffany!”

“Hey, kenapa kau membentak perempuan,eoh?”tegur Nickhun ketus. Siwon meliriknya dengan tatapan tajam.

“Kau jangan coba-coba ikut campur di sini,Nickhun dan jangan lagi berpura-pura baik di depan Tiffany! Kau pikir aku tidak tahu tentang hubunganmu dengan banyak gadis selain Tiffany,eoh?!”

Wajah Nickhun pias. Tiffany memandanginya dengan tercengang.

“Jadi, sebelum aku memperlihatkan semuanya, pergilah dari kehidupan Tiffany!”

Nickhun tertawa hambar, “Woah, apa sekarang kau ingin menjatuhkanku di sini?”

Siwon mengeluarkan amplop dari balik saku jas dan menghamburkan isinya di lantai. Tiffany menatapnya dengan shock.

“A-apa ini?”

“Seseorang mengirimkan itu untukku. Kau tidak bisa menyangkalnya lagi, Nickhun-ssi! Dan jangan harap aku akan mengizinkanmu melukai perasaan Tiffany!”

Tiffany meneliti foto-foto itu satu persatu dengan cepat. Napasnya memburu. Bukan hanya satu atau dua, tapi ini adalah kumpulan foto Nickhun bersama dengan para wanitanya.

Plak!

Nichkun meringgis. Tamparan telak di pipinya terasa perih.

“Kau ternyata sama saja, sunbae!” Tiffany mendesis marah sebelum berlalu masuk ke kamar dan membanting pintunya. Jessica meringgis ngeri melihatnya.

“Kau pikir kau bisa tenang, Siwon sunbae?!”

Siwon menyeringai. Ia tidak akan takut pada sorot marah di mata Nickhun.

“Kalau aku jadi kau, aku akan segera menyingkir sebelum semuanya terlambat!”

“Cih, kau bertingkah seperti kau bisa mendapatkannya saja. Apa itu sangat menyiksamu,eoh? Gadis yang kaucintai berkeliaran di sekitarmu, tapi kau sama sekali tak bisa menyentuhnya karena statusmu,kan? Itu benar-benar menyedihkan.”

Siwon menggeram marah. Tapi, ia cukup pintar untuk menahan keinginannya menghantam Nickhun saat itu juga.

“Aish, jinjja kalian ini!”decakan kesal Jessica terdengar. Siwon dan Nickhun menoleh.

“GET OUT FROM MY HOME, RIGHT NOW!!!”

***

Tiffany merasa hidupnya sangat kacau. Semua hal yang ingin dilakukannya saat ini hanyalah berdiam diri dan meringkuk di balik selimut. Ah tidak. Ia ingin pergi dan berlari dari semua ini. Tidak ada Nichkhun. Tidak ada ayahnya. Tidak ada Siwon.

“Hey, Jess, apa kau bisa menemaniku?”

Jessica yang sedang asyik memotong-motong sayuran segera mendongak mendengar suara Tiffany. Ia sedikit terkejut melihat Tiffany yang sudah rapi tapi tetap saja wajah murung itu tidak menghilang.

“Kemana?”

“Kemana saja,”gumam Tiffany malas. Ia lalu beranjak menghempaskan tubuhnya di atas kursi yang berada di hadapan Jessica. Ia meraih gelas dan mengisinya dengan air mineral sebelum menghabiskannya dengan rakus. Jessica berdecak pelan melihat tingkahnya. Bahkan setelah bertahun-tahun menjadi teman dekatnya, ia terkadang masih tidak mengerti kenapa mood gadis itu bertingkah seperti roller-coaster.

“Bagaimana kalau ke Namsan?”usulnya.

“Tidak,”sanggah Tiffany malas. Terlalu banyak kenangannya dengan Siwon di sana.

“Lalu, bagaimana kalau Namdaemun Street?”

“Saat ini aku tidak suka keramaian,”

“Cheonggyecheon Stream?”

“No,”

“Lotte Seaworld?”

“Yah! Kenapa kau bertingkah seperti ingin mengajakku kencan,eoh?! Bisakah kita pergi ke tempat yang normal saja?!”

Jessica terkikik geli. Terang saja Tiffany berteriak seperti itu, semua tempat yang disebutnya memang lebih sering dijadikan wahana kencan. Apalagi karena Tiffany sudah sering mengunjungi tempat-tempat itu bersama Siwon.

“Baiklah, kita berburu Channel dan Prada!”

Kali ini Tiffany tidak menyahut.

***

Dentuman musik keras bergema. Puluhan orang bergoyang liar mengikuti irama musik yang dimainkan oleh DJ. Mereka terlarut dalam tarian mereka dan merasa bisa lepas dari masalah dengan cara seperti itu.

Tidak jauh dari lantai dansa yang dipenuhi dengan puluhan orang yang menari itu, Tiffany sibuk menuangkan vodka ke dalam gelasnya. Matanya sudah mulai memerah, pertanda bahwa ia sudah menghabiskan waktu lebih dari sejam di sana. Jessica menghela napas panjang. Baru kali ini ia melihat sisi lain Tiffany. Biasanya saat marah gadis itu akan senang sekali menghabiskan uangnya di butik Chanel, tapi lihatlah keadaannya sekarang.

“Tiffany Hwang, bisakah kita berhenti dan pulang sekarang? Kau sudah mabuk!”

Tiffany tidak menanggapi. Ia menenggak habis isi gelasnya dengan sekali teguk. Rasa panas itu mengaliri tenggorokannya tapi ia mendesah lega.

“Oh ayolah, Fany!”Jessica mulai putus asa. “Matilah aku kalau Donghae tahu aku ada di sini!”

“Bisakah kau berhenti memamerkan kekasihmu itu, Jung Jessica?”tukas Tiffany dingin. Sebagian cairan vodkanya tercecer saat ia kembali menuangnya ke gelas. Agaknya ia memang mulai mabuk sampai gerakannya jadi kaku begitu. “Apa kau tidak melihat aku sedang menderita seperti ini? Berani sekali kau bersenang-senang dengan kekasihmu…”

Jessica mendesah keras. Tiffany sudah kehilangan kontrol dirinya.

“Baiklah, kita akan tinggal lebih lama lagi di sini! Minumlah sebanyak yang kau mau!”

Tiffany terkekeh senang sementara Jessica bangkit dari duduknya. Bagaimana pun ia tidak bisa membiarkan Tiffany seperti itu. Setelah menitipkan Tiffany pada bartender, ia berlalu ke toilet. Ia harus menghubungi seseorang.

“Hey, Choi Siwon, apa sekarang kau sedang terlelap dengan nyenyak?”sembur Jessica cepat begitu sambungan teleponnya dijawab oleh suara orang baru bangun. Siwon pasti terkejut mendengar teriakannya tapi ia tidak peduli.

“Jangan katakan kalau kau sedang kelelahan mengurus perusahaan! Kemarilah cepat dan lihat apa yang sudah kau lakukan pada Tiffany!”

“Tiffany? Apa yang terjadi?”

Jessica tersenyum kecil mendengar kepanikan itu. Jelas sekali jika mereka memang masih saling mencintai.

“Lacak saja nomor teleponku dengan GPS-mu dan segeralah kemari! Tiffany sudah seperti orang gila sekarang, jadi sebelum terlambat kau harus menyelamatkannya!”

Tanpa menunggu jawaban, Jessica memutuskan panggilan teleponnya. Ia menyeringai kecil membayangkan kepanikan Siwon. Cih, dasar mereka!

“Darimana kau?”tanya Tiffany begitu Jessica sudah kembali ke tempatnya semula.

“Toilet. Bagaimana kau menghabiskan semua itu seorang diri, Tiffany Hwang?”ia menambahkan dengan berdecak melihat tiga botol vodka kosong yang ada di hadapan Tiffany. Yang benar saja… seberanarnya seberapa kuat gadis ini menghadapi serangan alkohol itu sampai masih bisa mengenalinya setelah menghabiskan semuanya? Jessica menggeleng frustasi.

“Ahjussi!”suara berat Tiffany kembali menggema, “Kenapa kau memberiku botol kecil ini? Berikan satu botol lagi!”

“Oh God! Apa kau ingin membunuh dirimu sendiri,Tiffany?”

“Aku masih kuat! Aku akan minum sampai aku lelah. Jangan khawatir, aku yang akan membayarnya jadi pesanlah sesuatu juga!”sahut Tiffany.

Jessica melirik jam di ponselnya. Siwon pasti masih dalam perjalanan. Ia lalu menoleh pada bartender. “Berikan segelas koktail tanpa alkohol untukku!”

“Oh God, Jessie… cobalah sedikit saja!”

“No! Aku harus tetap sadar untuk membawamu pulang, nona Hwang!”

Tiffany terkekeh mendengarnya lalu kembali mengabaikan Jessica.

Tidak cukup lima menit setelah Tiffany kembali menikmati vodkanya, seorang namja tiba-tiba menghampiri mereka. Ia tersenyum kecil pada Jessica sebelum duduk di samping Tiffany.

“Tiffany…”

Mendengar namanya dipanggil, Tiffany menoleh. Matanya melebar terkejut melihat pria itu tersenyum manis padanya. Nichkhun.

“Pergi kau!”desis Tiffany dingin.

“Kau terlihat sangat mabuk, aku akan mengantarmu pulang!”

“Go away!”

Nichkhun tidak menggubris perintah itu. Dengan tenang ia malah menoleh pada bartender dan memesan wine. Tiffany menatapnya garang.

“Apa maumu, Nichkhun?”

Nichkhun tersenyum kecil. “Maafkan aku,”gumamnya pelan. “Aku hanya mengkhawatirkanmu, Tiffany. Kau tidak pernah mabuk-mabukan sampai begini sebelumnya.”

“Kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau mengikutiku?!”tukas Tiffany keras.

“Kalau kau menganggapnya seperti itu, begitulah.”

Tiffany tertawa dingin. Nichkhun benar-benar membuat suasana hatinya semakin muram saja. Ia lalu bangkit dan nyaris terhunyung tapi secara refleks pula Nichkhun dan Jessica menahannya.

“Lepaskan aku, sunbae!”

Sorot kemarahan yang nyata terlihat jelas dalam mata Tiffany. Mau tak mau, Nichkhun melepaskan pegangannya secara perlahan karena Jessica juga mulai memandangnya sinis.

“Ayo pergi dari sini!”gumam Tiffany pada Jessica. Jessica mengangguk tapi ia juga mulai kalut. Aish, Siwon pabo itu! Kenapa dia belum juga muncul? Tiffany menyerahkan kartu kreditnya pada bartender sambil memegangi kepalanya yang terasa berkunang-kunang.

“Tiffany, aku ingin berbicara padamu!”ujar Nichkhun.

Tifffany buang pandang dan begitu transaksinya selesai, ia segera menyambar lengan Jessica dan berlalu meski langkahnya tersaruk-saruk. Melihat itu Jessica semakin menggerutu.

“Kau benar-benar keras kepala, bukankah sudah kubilang jangan minum terlalu banyak?”ia mengomel sambil merangkul Tiffany dan menuntunnya keluar. Tapi Nichkhun yang merasa dicampakkan begitu saja tidak tinggal diam. Ia mengikuti mereka sampai di luar.

“Tiffany…”

“Sunbae, bisakah kau menyerah saja? Tiffany sedang mabuk berat! Kalian bisa berbicara lain waktu!”tukas Jessica galak.

“Hey, bisakah kau tidak mencampuri urusanku?”

Jessica menganga terkejut dengan balasan itu. Ia tiba-tiba meledak tertawa sarkastis.

“Mwoya? Apa sekarang aku terlihat seperti orang yang mencampuri urusanmu?”sambarnya dingin, “Asal kau tahu, sunbae, semua urusan Tiffany adalah urusanku! Bahkan sebelum lahirpun, aku dan dia sudah menjadi saudara yang berhak mencampuri urusan satu sama lain! Kau puas?!!”

Oh tidak, Tiffany meringgis pelan. Nichkhun bodoh itu baru saja menganggu singa kelaparan.

“Baiklah, kita anggap saja begitu, jadi bisakah aku berbicara dengan Tiffany? Dia sepertinya masih sanggup mendengar apa yang perlu kukatakan!”

“YAAAHH!!!”

Puluhan orang sontak menoleh ke arah mereka. Suara lengkingan Jessica sangat-sangat menganggu mereka. Tapi, gadis itu sama sekali tidak peduli. Ia sudah terlanjur marah.

“Kau tidak dengar,ya?” Tatapan dingin Jessica menusuk. Tapi, karena Nichkhun tidak juga beranjak, tanpa pikir panjang, Jessica melepaskan pegangannya pada Tiffany dan melepas sepatu high heelsnya. Nichkhun menatapnya ngeri. Oh, tidak…jangan bilang kalau…

“Tiffany!”

Kemarahan dan perhatian Jessica teralihkan tiba-tiba. Ia segera menoleh dan mendapati Tiffany yang nyaris terjatuh karena limbung sudah dipegangi oleh Siwon. Jessica tercengang dengan sepatu high heels siap lempar di tangannya. Ia pasti sudah tidak sadar tadi dan nyaris membuat Tiffany terjatuh begitu saja.

“Hey, apa kau baik-baik saja?”bisik Siwon cemas. “Oh God, berapa banyak yang kau minum, Fany?”

Tiffany mengerjap pelan mendengar suara itu. Kesadarannyamulai jauh berkurang. Suara Siwon hanya terdengar samar-samar olehnya. Kepalanya pening luar biasa dan tubuhnya terasa begitu lemas. Untunglah pegangan Siwon di lengannya begitu kokoh.

Jessica mendesah lega melihat Tiffany nampak begitu nyaman di pelukan Siwon. Ia lalu kembali mengenakan high heelnya dengan lega. Tapi, tidak dengan Nickhun. Matanya memincing menatap mereka dengan tajam.

Tiffany sudah menjadi incarannya sejak lama. Dan sejak gadis itu datang ke pesta ulangtahunnya, ia telah bertekad akan menjadikan Tiffany sebagai miliknya. Apapun yang terjadi. Lagipula, bagaimana ini bisa mempertahankan gengsinya di hadapan kelompoknya itu? Ia sudah berjanji dengan sombong bahwa ia akan menaklukan Tiffany dan merebutnya dari Siwon. Ia tidak bisa menyerah begitu saja.

“Fany-ya, apa kau baik-baik saja?” suara bisikan cemas Siwon terdengar lagi.

Tiffany mengerang pelan lalu dengan sempoyongan ia mencoba berdiri di atas kakinya sendiri. Kepalanya pening tapi ia harus berdiri.

Kecemasan Siwon semakin menjadi-jadi karena Tiffany memaksa ingin melepaskan pegangannya. Teringat dengan kemarahan gadis itu padanya, dengan perlahan Siwon melepaskan pegangannya dan membiarkan Tiffany mencoba berdiri sendiri.

“Ugh, kaukah itu, Choi Siwon?”suara serak Tiffany terdengar.

“Ya, aku akan mengantarmu pulang. Ayo!” Tangan Siwon kembali terulur hendak merangkul Tiffany tapi gadis itu menepisnya.

“Bukankah sudah kubilang… aku… sangat… membencimu! Jangan mencoba bernegosiasi denganku! Go away!”

Siwon tidak peduli. Tiffany semakin sempoyongan dan sepertinya sudah hampir terjatuh. Tapi baru saja ia mengulurkan tangan, sebuah tangan lain menepisnya. Siwon menggeram. Nichkhun.

“Apa-apaan kau ini?”desis Siwon tajam.

“Bukankah dia sudah menyuruhmu menyingkir? Apa begini cara seorang pria bersikap kesatria?”tukas Nichkhun tak kalah dinginnya.

Emosi Siwon perlahan terpancing. Kepenatan karena pekerjaan, kecemasan pada Tiffany dan kekesalan pada Nichkhun bercampur satu. Sehingga ketika Nichkhun mencengkram tangannya yang hendak merengkuh Tiffany, wajahnya mendadak memerah karena emosi.

“Singkirkan tangan kotormu dariku!”

Nichkhun tertawa sinis, “Kenapa? Kau begitu inginnya ya, memeluk adikmu?”

Siwon menggeram marah melihat seringai mengejek itu. Nichkhun memang sedang memanas-manasinya.

“Ah, kau mungkin bisa menghalangiku mendekati Tiffany, tapi apa yang bisa dilakukan padamu? Selamanya kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri dengan angan panjang tentang pernikahan kalian! Cih, omong kosong!”

Tak pelak lagi, sebuah tinju mendarat di rahang Nickhun. Pria itu meringgis, tapi sejurus kemudian sebuah balasan mengenai Siwon. Dan tanpa bisa dihindari, perkelahian tak penting itu pun berlanjut.

Jessica melongo menatap mereka. Ia berdecak prihatin, bergegas ia segera menghampiri Tiffany. Gadis itu meskipun masih mengawasi perkelahian, nampaknya ia sudah oleng dan sebentar lagi pasti akan terjatuh dari trotoar.

Siwon dan Nickhun masih saling menghantam. Emosi telah membekukan akal sehat mereka. Nafsu menggelapkan pikiran mereka sehingga tidak ada yang berniat menghentikan perkelahian itu.

Sementara Tiffany yang tersenggol oleh Nickhun mendadak kehilangan keseimbangan. Pengaruh alkohol dan high heels yang dikenakannya semakin memperburuk keadaan.

Jessica terpekik, langkahnya menuju Tiffany mendadak terhenti. Klakson mobil meraung-raung. Tiffany oleng. Siwon yang tengah bergulat tercengang.

Dalam slow motion, kejadian itu terjadi begitu saja. Hanya dalam sepersekian detik, mobil itu akan menghantam Tiffany yang terjatuh ke jalan. Jessica sudah berteriak histeris. Tapi, dalam sepersekian detik itu juga, sepasang tangan kekar merengkuh Tiffany, mendorong dan menyelamatkannya.

Suara rem mobil berdecit panjang. Orang-orang membekap mulut terkejut.

Tiffany yang masih berada dalam pengaruh alkohol mendadak sadar demi mendengar jeritan orang-orang. Kesadarannya benar-benar pulih saat ia melihat sesosok tubuh, terpental beberapa meter dari dekatnya, berlumuran darah. Seluruh tubuhnya gemetaran dan ia seperti sebuah patung, hanya diam membatu saat kesibukan mulai bergerak.

Raungan sirine ambulance memekakkan telinga. Segera, tubuh tak sadarkan diri Siwon dibawa ke atas brangkar. Tiffany masih mematung shock dengan tubuh gemetaran.

“Tiffany? Apa kau baik-baik saja,dear?”

Bahkan suara Jessica pun terdengar samar. Detik berikutnya, ia terjatuh. Pingsan. Sebuah ambulance kembali didatangkan.

***

Wajah Jessica yang pucat adalah yang pertama dilihat oleh Tiffany saat ia sadar. Kepalanya masih terasa berat dan ingatannya belum pulih sepenuhnya.

“Oh, kau sudah sadar? Oh thanks God! Fany baby, kau benar-benar sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Kepala? Tangan? Tidak ada yang sakit,kan?”

Tiffany mengerang, “Suaramu menyakitkan pendengaranku, Jess.”

Jessica menghela napas panjang, lega luar biasa.

“Oh, aku akhirnya bisa bernapas kembali. Thanks God! Untuk pertama kalinya aku sangat senang mendengarmu mengomel.”

“Apa yang terjadi?”

Jessica berhenti berteriak-teriak lega. Ia mendadak merasa gugup. Tentu saja Tiffany menyadarinya.

“Apa yang terjadi?” Tiffany kembali mendesak. “Kenapa aku bisa ada di sini? Bukannya tadi kita ada di bar lalu…” Kalimatnya terpotong. Mendadak sebuah kengerian terbayang di wajahnya. “S-siwon…” ia bergumam lirih.

Kelebatan kecelakaan itu kembali terputar ulang. Ia melihatnya. Siwon tertabrak, berdarah dan tak sadarkan diri. Karena menyelamatkannya. Tanpa sempat dicegah lagi, Tiffany melepas paksa jarum infusnya.

“Yah! Apa yang kau lakukan? Kau masih sakit, baby!”

Tiffany tidak peduli. Ia memaksakan dirinya bangkit.

“Tiffany Hwang!”

“Diamlah, Jung Sooyeon! Kau pasti melihatnya juga,kan? Bagaimana mungkin aku bisa berbaring tenang di sini sementara dia…”

Tiffany menelan ludah, getir. Ia tiba-tiba merasa lemas. Untunglah Jessica dengan sigap menahannya.

“A-apa yang terjadi dengannya? Apa yang terjadi dengan Siwon, Sica-ya?” Tiffany berbisik kalut.

“Tenanglah, Fany-ya. Dia akan baik-baik saja, jangan khawatir!”

Bertahun-tahun berteman dengan Jessica membuat Tiffany sadar. Getar suara Jessica mengatakan hal yang sebaliknya. Ia semakin lemas, tangannya mencari pegangan. Ketika ia menemukan tangan Jessica, ia segera meremasnya, berusaha menyalurkan kecemasannya.

“A-apa dia… sudah mati? Apa dia…”

“Fany-ya!”

“Dimana dia sekarang?!” Tiffany menjerit putus asa.

***

Tiffany dan Jessica tiba di depan UGD bersamaan dengan dokter yang memeriksa keluar. Melihat darah yang berceceran mengotori pakaian dokter itu, Tiffany semakin merasa ngeri. Kemungkinan terburuk yang dipikirkannya semakin menghantuinya.

Dengan pelan, Jessica menuntunnya mendekat untuk mendengarkan kabar dari dari dokter. Tidak peduli jika anggota keluarganya ada di sana.

“A-pa yang terjadi? Apa dia baik-baik saja?”

“Pasien masih berjuang melewati masa kritisnya. Kami membutuhkan donor darah karena persedian darah rumah sakit sedang kosong! Bisakah kalian mencocokkan darah dengan pasien?”

Nyonya Hwang menghela napas resah. Ia memandangi suaminya dengan cemas sekaligus bingung.

“Yeobo…”

“Kami akan segera mencarikan donor yang cocok untuk Siwon!”ujar Presdir Hwang segera.

Tiffany memandangi mereka dengan mata menyipit marah.

“Kenapa kalian membuang waktu?!”Tiffany memekik, ia menuding ibunya dengan jemari yang bergetar, “Apa sekarang kau tidak ingin menyelamatkan nyawanya?! Siwon membutuhkan darahmu,ahjumma!!”

Semua orang terperanjat terkejut.

“Tiffany!”

“Bukankah dia anakmu?”suara Tiffany tercekat, “seharusnya kau bisa…”

Nyonya Hwang memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Tiffany.

***

“Mwo? Siwon bukan anak kandungmu?”

Keterkejutan itu mengambang di permukaan. Presdir Hwang nyaris tak bisa bernapas selama beberapa saat sementara nyonya Hwang menunduk dengan terisak pelan.

“Bagaimana… Bagaimana ini bisa terjadi?”suara Presdir Hwang terdengar bergetar pelan, “Kalau dia bukan anak kandungmu, kenapa kau merawat dan berbohong bahwa dia adalah anakmu,eoh?!”

Nyonya Hwang semakin terisak. Meskipun ia tidak melihat secara langsung, ia tahu jika kemarahan mulai mengumpul di wajah suaminya.

“Apa kau tidak tahu seberapa besar masalah yang bisa kau timbulkan karena kebohongan ini? Siapa Siwon sebenarnya?!”

“Maafkan aku,yeobo!”bisik nyonya Hwang pelan, “tapi, saat ini aku sudah menganggap Siwon sebagai anak kandungku sendiri!”

Presdir Hwang menghela napas panjang. Ia berbalik memunggungi istrinya dan berdiri menghadap jendela ruangannya.

“Dia anak dari kekasih suamiku sebelumnya,”

“Mwo?!”

“Kami sedang berada dalam masalah serius waktu itu dan perempuan itu memberi kami pilihan. Aku tahu kalau ini sangat keterlaluan tapi kami tidak ada pilihan selain menerima Siwon. Toh, kami juga bisa menyukainya.”

“Bagaimana mungkin seorang ibu membuang anaknya seperti itu dan menyerahkannya pada kekasihnya yang sudah berkeluarga?! Itu sangat tidak masuk akal!”

Nyonya Hwang tertawa miris, “Ya, itulah kenapa aku merasa tersiksa selama 30 tahun hidup bersamanya. Aku harus merawat anak dari wanita yang pernah mencintai suamiku seperti anakku sendiri sementara aku tidak bisa membuka hatiku untuknya. Itu sangat menyiksaku, yeobo!”

Ada jeda mencengkam yang menyela sesaat. Isakan nyonya Hwang terdengar lebih pilu lagi.

“Tapi, wanita itu membuang anaknya begitu saja dan mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara yang kejam. Itu membuatku tidak bisa mengabaikan Siwon. Bagaimana pun bukan salahnya sampai dia diperlakukan seperti itu oleh ibu kandungnya sendiri. Jadi, kami memutuskan untuk merawatnya seperti anak sendiri. Aku berusaha keras untuk mengubur masa lalu Siwon dan menganggap bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi saat itu.”

Presdir Hwang memejamkan mata sebentar. Rahangnya kembali berkedut.

“Sebesar itukah masalahmu, Minhee-ya?”tanya berbisik dengan suara gemetar. “Selama 30 tahun ini, bagaimana kau melewatinya seperti itu?”

“Aku tidak apa-apa. Kau sendiri pernah bilang bahwa aku ini adalah wanita kuat yang bisa melewati semuanya dengan baik, dan aku selalu mengingat itu. Meskipun ini terdengar sangat egois, selama itu juga aku hanya membuka hati untukmu. Dan itu selalu membuatku merasa bersalah pada keluarga suamiku!”

Presdir Hwang berbalik menghampiri istrinya dan memberinya pelukan. Tangan tuanya bergerak mengelus punggung wanita itu untuk memberinya ketenangan.

“Meskipun ini sangat menyakitkan, aku tetap tidak bisa menerima ini begitu saja. Bagaimanapun hubungan darah itu sangat diperlukan, yeobo!”

Tidak ada balasan yang terdengar. Tatapan Presdir Hwang menerawang jauh.

“Aku akan memikirkan cara terbaik untuk mengatasi ini. Saat ini, Siwon harus pulih lebih dulu. Pihak rumah sakit sudah menemukan darah yang cocok untuknya, kita hanya perlu menunggu sebentar. Jangan terlalu khawatir, jika akan selesaikan ini secepatnya!”

Nyonya Hwang mengangguk pelan. Separuh bebannya telah terlepas.

***

Tiffany mengelus wajah Siwon dengan pelan. Ia terlihat begitu damai dalam tidurnya. Jemari Tiffany menari indah di kening, pipi, hidung dan dengan sedikit bergetar, Tiffany menyentuh bibir Siwon. Ia tiba-tiba terisak.

“Pabo. Kau benar-benar pabo, Choi Siwon! Aku membencimu, kau tahu?!”

Tidak ada balasan selain kesunyian. Tiffany meraih tangan Siwon dan menenggelamkan tangisannya di sana. Bahunya bergetar pelan menahan isakannya.

“Aku membencimu, Choi Siwon!” kata-katanya tidak terdengar jelas karena berbaur dengan isakannya. “Kenapa kau harus berbaring seperti ini,eoh? Apa kau sudah ingin mati? Kenapa kau selalu menyelamatkanku?”

Masih tidak ada jawaban. Airmata Tiffany mengucur semakin banyak saja. Tangan Siwon yang digenggamnya tidak memberi respon apa-apa. Padahal dulu, tangan itu akan selalu menyambutnya jika ia menyentuhnya sedikit saja.

Ia tiba-tiba merindukan kehangatan sentuhan Siwon. Rasanya sudah berlalu begitu lama ia tidak melihat senyuman pria itu dan tangan kekarnya yang memeluknya erat. Persetan dengan status keluarga mereka! Tiffany merindukan Siwon. Ia lalu mencium telapak tangan Siwon dengan isakan tak tertahan lagi.

“Bangun, Siwon pabo! Aku…sangat merindukanmu…”

Tidak cukup sekali, terbawa oleh emosinya, Tiffany mengecup tangan Siwon berkali-kali dan berharap ia menerima respon.

“Aku mencintaimu, apa kau tidak tahu itu?”

***

“Aku akan menghapus nama Siwon dari kartu keluarga,”suara tegas Presdir Hwang memecah keheningan ruang keluarga itu.

Wajah tuanya terlihat jauh lebih tua karena kelelahan akhir-akhir ini. Siapa sangka jika kecelakaan Siwon membuat ratusan pekerjaan kantornya terbengkalai. Presdir Hwang agaknya mulai sadar jika ia terlalu mengandalkan Siwon dalam urusan kantor. Tapi, itu tidak ada apa-apanya jika akhirnya ia harus melepaskan Siwon dari perusahaan.

Nyonya Hwang yang duduk di hadapan suaminya hanya menunduk.

“Seandainya eomma tidak menyembunyikan ini, semuanya pasti tidak akan seburuk ini,” sela Sooyoung tiba-tiba. Ia duduk di samping ibunya dengan bersandar malas di sandaran sofa. Ia jelas saja sudah mendengar masalah itu dari ibunya.

“Ini benar-benar keterlaluan,”suara kesal Sooyoung kembali terdengar. Tapi, tidak seorangpun orangtuanya yang menegurnya.

“Maafkan aku,yeobo!”gumam nyonya Hwang lirih.

Presdir Hwang menghela napas kasar.

“Sudahlah. Anggap saja ini selesai. Nama Siwon akan kucabut dari daftar pewaris dan dia bukan lagi bagian dari keluarga kita!”

Nyonya Hwang mengangguk pasrah.

“Katakan pada rumah sakit untuk memberikan pelayanan terbaik mereka pada Siwon. Aku ingin dia juga hadir di rapat bulan depan!”

***

Tiffany terlalu terkejut untuk bisa berkata-kata lagi saat Jessica mengabarinya tentang perubahan pengurus di perusahaan. Sooyoung juga menambahkan jika Presdir Hwang memutuskan menghapus nama Siwon dari kartu keluarga. Bahkan saat ia dikabarkan tentang status Siwon dalam keluarganya, ia tidak bergeming. Terlalu terkejut untuk mengekspresikan kelegaannya.

Tiffany menghela napas panjang memandangi wajah Siwon yang masih terlelap.

“Sekarang dia bukan siapa-siapa lagi,”gumam Jessica pelan. Tiffany membenarkannya tanpa suara. Jessica lalu menoleh pada Tiffany, “Sudah dua hari kamu seperti ini, Fany-ya. Setidaknya kamu makan dan merawat dirimu! Lihatlah tampang buruk rupamu ini! Kau yakin Siwon masih akan terpesona melihatmu?”

Tiffany tertawa kecil tanpa melepas pandangannya dari Siwon.

“Tidak apa-apa,”gumamnya.

 

“Yak, oppa! Rambutku berantakan! Lepaskan tangan jelekmu itu!”

Bukannya menuruti, Siwon malah semakin mengeratkan pelukannya di leher Tiffany dan semakin mengacak rambutnya dengan brutal. Terang saja Tiffany menjerit habis-habisan.

“Hentikan, PABO!YAAH!”

Siwon refleks menjauhkan wajahnya, tepatnya menyelamatkan telinganya dari teriakan maut itu. Ia terkekeh jahil melihat wajah cemberut Tiffany.

“Kau menyebalkan,pabo!”desis Tiffany marah setelah Siwon akhirnya melepaskannya. Masih dengan bersungut-sungut kesal, ia memperbaiki tatanan rambutnya. Ketika ia melihat pantulan dirinya di cermin, ia berjengit ngeri.

“Oppa pabo! Lihatlah kau benar-benar mengacaukan penampilanku!”

Siwon hanya menyeringai jahil dan tiba-tiba saja sebuah kecupan ringan mendarat di pipi gadis itu. Tiffany tercengang.

“Jangan khawatir, bagaimanapun kacaunya dirimu, kau tetap selalu menjadi yang tercantik di mataku, Stephany Hwang!”

Siwon berbisik pelan. Tiffany mengerjap polos. Pipinya terasa panas dengan ciuman singkat itu. Aish, menyebalkan! Pipinya pasti memerah dan itu terbukti saat Siwon kembali tertawa meledeknya. Ugh! Tiffany mendaratkan pukulan gemasnya di lengan Siwon berkali-kali.

“Hey, aku serius!”

 

“Bagaimana perkembangannya, dokter?”

“Karena masa kritisnya sudah berlalu, kita masih bisa berharap banyak. Siwon hanya perlu dirangsang untuk segera sadar. Tidak ada masalah serius. Mungkin dalam satu atau dua hari lagi dia akan sadar. Tolong, terus berikan dukungan dan rangsangan agar ia segera sadar!”

 

“Oppa, aku mencintaimu!”

Suara lembut itu terdengar miris. Ada nada isakan tertahan yang menyertainya. Siwon tersentak. Rasanya listik ribuan volt baru saja menyengatnya. Ia mengenali suara itu! Ah tidak, ia merindukan suara itu!

Tiffany… kau kah itu? Tiffany!

“O-oppa? Siwon? Ka-kau sudah sadar?”

Siwon mengerjap pelan. Cahaya entah apa masih menyilaukan pandangannya. Akh, kepalanya terasa berdenyut sakit. Dan huek! Bau busuk apa ini?

“Dokter!! Dokter!!”

Di tengah kesadarannya yang masih buram, Siwon mendengar kesibukan. Tubuhnya terasa disentuh oleh benda-benda dingin dan banyak orang yang mengelilinginya. Ia kalut.

Dimana Tiffany?

Ia membutuhkan gadis itu! Singkirkan semua orang-orang ini! Ia hanya ingin melihat Tiffany. Oh, benarkah suara tadi adalah suara Tiffany? Tapi, kemana gadis itu? Apakah ia hanya bermimpi? Siwon merasa putus asa. Kalau ia tidak bisa merengkuh gadis itu dalam pelukannya di alam nyata, lebih baik ia tertidur selamanya saja.

“Siwon-ah? Apa kau mendengarkanku,nak?”

Itu suara eomma. Siwon menggeliat pelan dan mengerjapkan matanya lagi. Perlahan, wajah ibunya terlihat jelas. Tapi, ia mencari wajah lain. Kalut. Dimana Tiffany? Ia mendengar gadis itu sebelumnya!

“Siwon-ah, kalau kau mendengar ibu, tolong gerakkan jarimu!”

Alih-alih mendengar ibunya, bibir kering Siwon bergerak pelan.

”T-ti-tiffa-fany…”

Harapan terakhirnya bertumpu pada jawaban mereka. Pandangannya yang mulai jelas masih mencari Tiffany. Tuhan, tolong kembalikan gadis itu ke pelukanku!

***

Tiffany tidak sadar meremas tangan Jessica terlalu kuat sampai gadis blonde itu meringgis kesakitan. Para dokter masih sibuk memeriksa keadaan Siwon. Jantung Tiffany berdebar tidak karuan.

“Tenanglah, Tiffany, dia pasti baik-baik saja!”bisik Jessica sambil meringgis. Tiffany tidak menggubrisnya. “Hey, bisakah kau melonggarkan tanganmu?”bisik Jessica lagi, “Donghae akan memarahimu kalau kau meninggalkan bekas merah di tanganku!”

Tiffany berdecak kesal lalu menghempaskan tangan Jessica. Para dokter sudah selesai memeriksa keadaan Siwon dan mereka menunggu dengan cemas.

“Perkembangannya luar biasa. Tolong ajak dia bicara supaya kesadarannya semakin meningkat!”

Tanpa buang waktu lagi ibu Siwon segera mendekat dan mengelus lembut pipi putranya itu. Yang lain hanya diam menunggu. Tiffany gelisah.

“T-ti-tiffa-fany…”

Darah Tiffany berdesir. Ia tercengang. Suasana tenang yang hening membuat suara Siwon terdengar jelas. Seluruh orang di ruangan itu menoleh padanya. Termasuk ibu Siwon. Tiffany salah tingkah. Perasaan bahagianya membuncah, tapi menyadari luka di balik tatapan ibu Siwon membuatnya tetap tak beranjak. Padahal kakinya ingin segera berlari memeluk pria itu. Tak sadar ia menggigiti bibir bawahnya.

“Tiffany,”bisik Jessica, “dia mencarimu!”

Tiffany bertukar pandang resah dengan Jessica. Bibir Siwon kembali bergerak, kali ini namanya kembali terdengar lebih jelas. Rasa sesak meremas hati Tiffany. Pandangannya mendadak buram ketika ia mulai melangkah dengan berat mendekati ranjang Siwon.

“Fany-ya…”

Dan ketika ia telah berada di sisi Siwon, airmatanya langsung terjatuh. Mata Siwon masih mencarinya.

“S-siwon-ah!”suaranya bergetar. Dan segalanya terasa membeku begitu pandangan mereka bertemu.

“Fany?”

Tiffany mengangguk, “Aku disini!”bisiknya pelan. Ujung bibir Siwon tertarik pelan. Tiffany mati-matian menahan tangisannya.

“Gomawo,”

Tiffany kembali mengangguk. Siwon sudah sadar sepenuhnya. Dokter Kim segera mendekat kembali dan memeriksa keadaan Siwon. Meskipun begitu, tatapan Siwon masih tertuju pada Tiffany. Mereka berpandangan dalam diam. Perlahan, tangan Tiffany meraih jemari Siwon dan menggenggamnya. Persetan dengan kehadiran keluarganya disana! Persetan dengan kenyataan bahwa ia sedang menjadi tontonan! Ia hanya ingin memeluk Siwon. Dan seperti malam-malam sebelumnya, ketika tangannya menyentuh Siwon, isakan yang sedari tadi ditahannya pun meledak.

“Pabo!”ia berbisik pelan, “Kau benar-benar bodoh, Choi Siwon!”

Siwon tersenyum kecil. Tangannya basah oleh airmata, tapi ia tahu bahwa Tiffany menangis karena bahagia. Tuhan, terima kasih karena sudah menjadikannya terasa begitu nyata.

“Aku mencintaimu, Tiffany.”

Tiffany mengangguk pelan dalam isakannya. Ia bisa merasakan gerakan ibu Siwon yang gelisah, tapi ia tidak mau memikirkan itu.

“Kau…akan kembali?”tanya Siwon lirih. Tiffany tidak menjawab, tapi sembari mencium punggung tangan Siwon dan menenggelamkan isakannya disana, ia mengangguk pelan.

Dan airmata Siwon juga perlahan terjatuh. Di sisi mereka, nyonya Hwang menghela napas panjang dan tersenyum miris. Perlahan, ia beranjak dan meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apa-apa.

***

“Jangan khawatir, aku sudah menepati janjiku untuk menjaga Siwon seperti keinginanmu. Kau juga pasti sudah melihatnya,kan? Kau bisa bangga padanya. Meskipun sekarang dia bukan lagi pewaris perusahaan, aku rasa dia bahagia dengan kehidupannya. Aku harap kau bisa merestuinya,”

Nyonya Hwang terdiam sebentar memandangi figura di depan makam itu. Ia tersenyum kecil.

“Sekarang, biarkan aku melepasnya. Bagaimana pun, dia tetaplah anakmu dan aku tidak berhak atasnya. Aku tidak akan mengekangnya dengan keinginanku lagi. Jadi, saat ia datang mengenalkan calon istrinya, kau juga harus menerimanya,Ah Jinmi!”

Tidak ada balasan apapun selain keheningan. Setelah merasa cukup, Nyonya Hwang mengenakan kembali kacamata hitamnya dan berlalu meninggalkan tempat itu.

“Nyonya, rapat pengurus akan segera dimulai setengah jam lagi!”sambut seorang asistennya saat ia tiba di mobilnya, “Presdir Hwang berpesan agar anda segera menuju ke kantor!”

Nyonya Hwang mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Hari ini Siwon akan dinyatakan resmi terhapus dari daftar pewaris dan pemegang saham di Hwang Group. Tapi, itu tidak akan pernah menjadi masalah karena Tiffany Hwang tetap menjadi pewaris nomor satu. Meskipun ini terdengar terlalu berlebihan, keluarga terhormat seperti keluarga Hwang tetap tidak bisa menerima sembarang orang saja dalam keluarga mereka.

***

“Apa kau marah?”

Siwon tersenyum kecil menanggapi pertanyaan itu. Tiffany sedang sibuk mengupaskan apel untuknya dan kecemasan juga nampak jelas di wajah cantiknya.

“Penghapusan nama dan pencabutan semua aset juga saham itu sepertinya memang keterlaluan. Memangnya apa salahmu?”

Gadis itu masih bergumam sambil bersungut-sungut. Siwon tidak tahan untuk tidak tersenyum mendengarnya. Di matanya, Tiffany selalu cantik dengan caranya sendiri.

“Aku tidak butuh semua itu,”ujarnya tenang. Tiffany meliriknya dengan mencibir, “Serius, Fany-ya! Lagipula, bukankah itu lebih baik?”lanjutnya cepat.

“Apanya yang lebih baik? Kau pikir sekarang kau keren karena kau miskin? Aish, kenapa abeoji memberimu kompensasi yang sedikit sekali? Sekarang kau tidak ada apa-apanya. Memangnya siapa yang mau menerimamu sebagai suaminya,huh?! Membeli dua tas chanel saja kau tidak akan sanggup!”

Tawa Siwon meledak. Tiffany meringgis kesal melihatnya. Apa sekarang Siwon sedang menganggapnya sebagai badut untuk ditertawakan?

“Hey, Choi Siwon!”

Siwon tersenyum tenang. “Kau tidak bisa melihat maksud ayahmu yang sebenarnya,ya?”

Tiffany menyerngit bingung. Terlebih karena ia melihat seringaian Siwon yang aneh itu. Dan belum sempat ia berbicara, tangan kekar Siwon tiba-tiba menarik pinggangnya hingga jarak diantara mereka sangat sedikit. Tiffany menelan ludah,gugup.

“Kau benar-benar tidak tahu,ya?”bisik Siwon begitu dekat. Tiffany menggeleng pelan. Jantungnya berdetak semakin kencang. Aish, apa-apaan ini?!

“Seharusnya dengan begini kau tahu, bahwa satu-satunya pria miskin yang akan mendapatkanmu adalah Choi Siwon.”

Tiffany mengerjap pelan, berusaha mencerna maksud Siwon. Dan detik berikutnya pipinya langsung merona merah. Ia segera melepaskan diri dari cengkraman Siwon.

“Aish, kau menyebalkan, Choi Siwon!”

Siwon hanya menyeringai kecil melihat semburat pink di wajah itu. Oh Tuhan, ia benar-benar merindukannya…

“Aku menjadi pria miskin hanya sementara saja, Tiffany Hwang. Abeoji memang menghapus namaku, tapi aku yakin sebulan lagi namaku akan kembali masuk dalam daftar keluargamu. Percayalah!”

Tiffany mendengus lalu buang muka. Ia sama sekali tidak bisa mengendalikan perasaannya hanya dengan melihat seringaian Siwon. Ia tahu benar apa maksud pria itu.

Tuhan selalu punya cara mengatur kebahagiaan mereka. Ketika Siwon menangkupkan tangannya di pipi Tiffany, gadis itu tidak menolak dan membiarkan melodi cinta kembali bernyanyi di tengah mereka. Ia tersenyum dan segera mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.

“Saranghae,” ia berbisik pelan.

***

Annyeonghaseo, yeorobun! Oraenmanida! *deepbow.

Aku sangat minta maaf atas keterlambatan chapter terakhir ini. Jeongmal jusunghamnida!

Dan juga, terima kasih karena sudah mau menunggunya dengan sabar, mungkin juga kesal karena kelamaan, hehe. Mungkin lebih baik aku tidak membuat ff berchapter,ya? Apalagi yang endingnya kacau begini. Hihi.

Masih banyak yang perlu kupelajari untuk membuat karya yang lebih baik. Dukungan kalian menjadi salah satu suntikan penyemangatku, jadi terima kasih sekali lagi.

RCL-nya tetap ditunggu, ya! Makasih, sampai jumpa di ff selanjutnya!

 

95 thoughts on “(AF) Hello! Stephbrother Part 3 – End

  1. ahhh, akhirny selese bca ny..

    haii saeng. hihii
    akhh.. it udahan ceritany y masih pengen liat moment mrk. it si presdir hwang blon ngrestuin kan y. crtany msih gantung dikit. hii
    pi keren saeng.
    beneran.
    semngat trus y buat kmu..
    see you.

  2. sequel donggggg…
    nanggung nh walaupun sifany berakhir bahagia..

    hnn ternyata siwon bkn anak kandung. coba aj dr dlu tahuny,jd sifany gk segini awkardny kn hub mereka

    bagus… si nick ditinggal kkk*gaje mode on

  3. Ceritanya masih gantung…
    masih belum ada kejelasan status mereka apa dpt restu or ngga setelah penghapusan nama siwon dr daftar keluarga dan ahli waris…
    tp seneng akhirnya tidak,ada penghalang bagi mereka untuk bersatu…

  4. horreee happy ending… tp agak gantung,,aku penasaran,mereka jd nikah? trus keputusan rapatnya kek gimana? teruusss…yoona hamil sama siapa? kkk ada.sequel lbh bagus….🙂 keep wriring🙂

  5. Happy ending deh tapi kurang seru nih thor , sequel yaaw;;) akhirny Sifany bisa bersatu. Ditunggu karya lainnya and keep writing!

  6. Endingnya gantung author ……!!!!!!!
    Tapi tetep keren ko , aku suka ceritanya , rumit tapi yah begitu adanya , dan lagi ada duo pabo jeti disini , uuuhh makin greget .. jadi akhirnya sifany bersatukan ????????? Hihii^^
    Di tunggu next ff’nya yah author , hwaiting ♡

  7. Maaf sblmny knp sih utk endny sll gantung. klo dibwt ampe mrk nikah pst tmbh keren. dr semua itu knp ibu siwon merahasiakn hal itu? ap ibu siwon g th klo fany adl kekasihny? squel…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s