TROUBLEMAKER 2

tm3

—troublemaker–

PART 2

Seoul Central Hospital

12.05 AM

Kyuhyun berlari dengan cepat menelusuri lorong panjang Seoul Central Hospital, ketika ia baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah sakit itu. Gurat wajahnya terlihat khawatir, saat beberapa menit yang lalu sebuah telepon dari rumah sakit memberi kabar bahwa Siwon, kakaknya itu dibawa ke rumah sakit karena mengalami kecelakaan.

Laki-laki yang sejak tadi menunggu kepulangan Siwon dengan cemas di dalam apartemen kakaknya itu. Langsung bergegas pergi, begitu mendengar kabar yang bahwa Siwon masuk rumah sakit. Bahkan laki-laki itu mengendari mobilnya dengan gila-gilaan menuju rumah sakit hanya untuk memastikan bahwa kakaknya itu baik-baik saja. Rasa takut dan cemas membuatnya terus mengacak rambutnya gusar. Takut jika indetitas Siwon terungkap dan cemas memikirkan separah apa kondisi kakaknya hingga harus di larikan ke rumah sakit.

“Pasien bernama Choi Siwon dirawat dimana?” tanyanya langsung tanpa jeda pada resepsionis rumah sakit itu.

“210”

Dan tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun, laki-laki itu kembali berlari menuju kamar yang dimaksud. Matanya menelusuri setiap pintu kamar pasien yang dilaluinya.

“207… 208… 209…”

 

Cleck

“Hyeong…”

Kyuhyun terdiam seketika, mematung di depan pintu kamar itu. Tangannya masih memegang engsel pintu tersebut. Dengan susah payah, laki-laki itu menelan ludahnya karena merasa telah melakukan kesalahan bodoh. Dan sepertinya ia mengutuk kesalahannya ini.

Ya, laki-laki itu salah masuk kamar. Bukan kakak laki-lakinya yang terbaring di atas ranjang itu, melainkan sosok wanita bersurai panjang dengan wajah pucat pasinya sedang terlelap tenang.

Kyuhyun masih terpaku di tempatnya, mata laki-laki itu sama sekali tidak berkedip ketika memandang wajah sayu gadis yang tertidur itu. Detak jantungnya bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Kyuhyun merasa berada di dimensi lain. Ditempat yang tak pernah dijumpainya, hanya ada dirinya dan gadis itu. Kyuhyun bahkan tak berniat meninggalkan tempat itu untuk segera menemui Siwon. Ia seperti orang bodoh yang ingin terus berada disekitar gadis itu.

Laki-laki itu bahkan merutuki dirinya sendiri karena nekat melangkahkan kakinya menuju ranjang di mana gadis itu tidur. Mata tajamnya menelusuri wajah tirus gadis itu. Ia tidak melakukan apapun selain hanya berdiri disamping ranjang itu. Melihat dengan dalam, wajah damai gadis dihadapannya. Ia sama sekali tak mengenal gadis di hadapannya, ini kali pertama bagi Kyuhyun melihat wajah cantik gadis itu. Dan untuk pertama kalinya, Kyuhyun merasakan sesuatu yang selama ini selalu ia olok-olokan tatkala Siwon terpuruk akan cinta pertamanya saat itu.

Kyuhyun menelan ludahnya sendiri saat berkata tidak akan pernah merasakan hal itu. Karena memang mereka—ia dan saudara-saudaranya—besar tanpa cinta dan kasih sayang. Mereka di didik dengan keras dan penuh kekejaman. Maka dari itu Kyuhyun sama sekali tak percaya bahkan tak ingin percaya akan perasaan-perasan lembut seperti itu. Namun kini, apa yang ia rasakan membuat ia ingin memotong lidahnya sendiri. Kyuhyun merasa gila ketika menyadarinya, tapi bahkan ia tak sanggup memalingkan wajah tampannya dari sosok gadis pucat di depannya itu.

Dan, pada akhirnya Kyuhyun hanya bisa mendesah pasrah saat ia menyadari telah kalah pada takdir yang telah di tetapkan Tuhan. Takdir yang memang akan dimiliki setiap insan yang hidup di dunia ini. Takdir untuk mencintai.

***

Wanita cantik dengan jas putih yang melekat di tubuhnya itu menatap tajam sosok laki-laki yang tengah terbaring dengan mata yang terpejam di hadapannya. Kedua tangan gadis itu bersedekap di depan dada. Bibirnya tertutup rapat. Dan sudah hampir satu jam ia duduk terdiam di ruangan itu, menunggu laki-laki di hadapannya itu terbangun.

Tiffany bahkan melupakan janji kepada ayahnya untuk segera pulang ke rumah, hanya untuk memantau keadaan laki-laki di hadapannya. Dan tepat di bawah kursinya terdapat tas ransel hitam milik laki-laki tersebut.

Dalam hati ia terus menggerutu, mencaci maki laki-laki didepannya, bahkan ia ingin memukulnya kalau perlu. Dan menyadari ada gelenyar aneh yang merasuki relung hatinya. Perasaan itu kembali lagi, perasaan marah, kesal, benci dan…

“Aishh, apa yang aku pikirkan.” Gumannya sambil mengacak-acak rambut hitamnya.

“Euh…”

Mata Tiffany terbelalak ketika tubuh laki-laki itu menggeliat pelan di hadapannya. Mata tertutupnya mulai terbuka secara perlahan, membuat Tiffany memincingkan matanya. Kini posisi duduknya kembali tegap dan bersedekap. Wajahnya terlihat datar tanpa senyum yang biasanya menghiasi wajah cantiknya. Ia harus kuat, pikir Tiffany. Walau sebenarnya jantungnya berdetak cepat ketika melihat mata yang begitu di kaguminya itu terbuka sempurna. Namun Tiffany berusaha mengendalikan perasaannya saat ini. Ia tak ingin terlihat lemah saat ini. Ia akan berusaha kuat, walau sesungguhnya gadis itu sendiri tak yakin.

“Akkhh…” laki-laki di hadapannya itu meringis pelan memegangi kepalanya.

“Apa lagi yang kau lakukan Choi Siwon?” suara Tiffany terdengar pelan dan penuh penekanan. Membuat Siwon menoleh ke sumber suara, dan langsung tercengang ketika menyadari siapa yang ada di hadapannya kini.

“Tiffany Hwang?” Siwon meringis kesakitan, memegangi bahu kanannya dan kepalanya secara bergantian saat ia tiba-tiba terbangun dari tidurnya hingga terduduk di atas ranjang itu.

“Nappeun neom.” Desis Tiffany pelan dengan wajah datarnya, lalu beranjak berdiri untuk meninggalkan ruangan itu.

“Changkaman!” teriak Siwon yang lagi-lagi membuat kepalanya berdenyut.

Tiffany menghentikan langkahnya, membiarkan Siwon menyampaikan sesuatu yang akan diucapkannya. Membiarkan indra pendengarnya kembali mendengar suara lembut laki-laki yang sudah lama tak dijumpainya itu.

“K-kau… apa yang kau lakukan disini? Dan.. kenapa aku bisa berada di rumah sakit?” tanya Siwon tak sabar, masih memegangi kepalanya.

Tiffany memutar badan dan kembali bersedekap memandang tajam mata Siwon yang menatap lembut kearahnya. Tiffany tertegun ketika ia harus kembali menatap mata yang begitu disukainya dulu. Lagi dan lagi.

‘Babo,’ batinnya menggerutu. Menyadari kebodohannya karena masih begitu mengagumi sosok di depannya itu, membuat wanita itu segera mengembalikan keadaannya dengan berkata dingin kepada Siwon.

“Apa kau bodoh? Kau tak lihat pakaian yang aku kenakan kini? Dan… apa kau lupa hampir membuat nyawa orang melayang?”

Siwon terdiam sesaat memandangi wajah Tiffany yang dingin menatapnya kini, mengingat-ingat kembali kejadian yang baru saja dialaminya. Beberapa detik kemudian, ia berdecak ketika menyadari kejadian beberapa saat yang lalu. “Kau yang menyelamatkanku? Ahhh, Dr. Hwang? Tsk, lama tidak melihatmu membuat aku terlihat seperti orang bodoh kerena terlalu merindukanmu.”

Tiffany mendelik kesal mendengar ucapan Siwon yang menggodanya dengan kerlingan matanya. “Tutup mulutmu, Choi Siwon-ssi!”

Rahang Siwon mengeras saat Tiffany memanggilnya dengan embel-embel ssi dinamanya. Namun dengan cepat Siwon kembali berucap dengan tenang, “Boghosippo Fany-ah”

“Berhentilah mengatakan hal-hal menggelikan itu Siwon-ssi.”

“Wae?”

“Aku tidak suka mendengarnya.”

Siwon mengangguk-angguk lalu melepas selang infusnya dengan paksa membuat Tiffany memelototkan matanya kaget dengan tindakan Siwon. Di lihatnya Siwon yang menyingkirkan selimut rumah sakit itu dari tubuhnya dan mulai turun dari ranjang yang baru saja di tempatinya.

“Apa yang kau lakukan Choi Siwon?”

“Dimana pakaianku sebelumnya?” tanya Siwon tanpa menoleh kearah Tiffany, sibuk memegangi lengan kanannya yang masih terasa kaku dan juga karena ia sedang memfokuskan penglihatannya untuk memasangkan sandal rumah sakit di kakinya.

Tiffany melangkah kearah Siwon, dan menahan lengan kiri Siwon untuk menghentikan tindakan bodoh laki-laki itu. “Kau harus tetap istirahat Siwon-ssi. Kembali ketempatmu, palli!”

Siwon menoleh dan menatap seduktif ke arah Tiffany dengan memberikan seringai ke arah gadis yang masih memegangi lengannya itu. Tindakan Siwon itu sontak membuat Tiffany gugup dan langsung melepas pegangannya.

“Kenapa kau lepas Fany-ah?” tanya Siwon sembari mendekati tubuhnya ke arah Tiffany. Membuat Tiffany mulai melangkah mundur namun terhenti karena terbentur ranjang pasien Siwon.

“A-pa yang kau lakukan?”

“Boghosippo…” kata lirih, sangat lirih membuat Tiffany hampir saja tak mendengarnya.

“Menjauhlah dariku!” tangan Tiffany berada di depan dada Siwon yang berdiri sangat dekat dengannya. Bukannya menjauh, Siwon justru semakin mendekatkan tubuhnya kepada Tiffany. Tak memperdulikan wajah Tiffany yang sudah memerah. Membiarkan kedua jantung mereka saling berdetak kencang karena posisi mereka yang sangat dekat ini. Tiffany hampir saja terjatuh di ranjang itu, seandainya tangan Siwon tidak melingkar di pinggang ramping Tiffany. Menahan tubuh Tiffany agar tak terjatuh dan tetap berada di jarak yang dapat di jangkau Siwon.

Siwon menatap Tiffany penuh kerinduan dan rasa bersalah, berbeda dengan Tiffany yang mengalihkan tatapannya ke segala arah agar tak langsung bertemu pandang dengan Siwon. Kemana pun, asalkan tidak ke dalam manik mata Siwon. Tiffany sadar, ia sudah berada di zona yang salah. Dan Tiffany yakin, ia tidak akan mampu melewati zona itu.

“Kau terlalu lama mencampakkan ku, chagi. Kemarin itu, terlalu lama. Membuatku gila hanya karena terus memikirkanmu.” Ucap Siwon pelan di hadapan Tiffany, membuat hembusan napas Siwon menerpa wajah Tiffany.

“Si-siwon-ssi,” Tiffany berusaha mendorong tubuh kekar Siwon namun tenaganya tak cukup kuat melawan kekuatan Siwon yang pastinya lebih besar di bandingkan Tiffany, bahkan dalam keadaan Siwon terluka seperti saat ini.

“Kau hidup dengan baik, ‘kan? Tsk, tentu saja bukan? Buktinya kau menjadi wanita yang hebat sekarang. Bahkan, walau tanpa aku di sisimu selama ini.”

“Berhentilah bicara Siwon-ssi dan tolong lepaskan aku sekarang.” Ucap Tiffany mulai cemas dengan perilaku yang Siwon tunjukkan padanya saat ini. Tiffany menahan sesak di dadanya. Berada di jarak sedekat ini dengan Siwon, membuat gadis itu melemah tak berdaya.

Siwon menatap lembut wajah Tiffany yang semakin memerah entah karena malu atau marah, saat ini ia tak ingin memikirkannya. Yang ingin ia lakukan adalah menatap wajah yang ia rindukan selama ini, yang membuatnya terus kecanduan karena selalu ingin mencintai gadis di hadapannya lebih dan lebih setiap harinya.

Mata Tiffany terbelalak ketika bibir dingin Siwon menyentuh permukaan bibirnya. Hanya menempel tanpa melakukan lebih dari itu. Siwon hanya terdiam memejamkan matanya, membiarkan bibirnya berada di tempat yang seharusnya. Membiarkan perasaannya melampiaskan rasa rindunya, walau hanya menempelkannya tanpa melumat dan mencicipi manisnya bibir gadis itu. Walau harus di akuinya, ini bukanlah ciuman pertama Siwon, namun baginya ini jauh lebih menenangkan dan indah daripada ciumannya dengan gadis-gadis lain sebelumnya.

Tiffany sendiri seperti terhipnotis dengan apa yang dilakukan Siwon. Berbeda dengan Siwon, kini untuk pertama kalinya ia merasakan ciuman pertama yang justru ia terima dari seseorang yang ia benci sekaligus di cintainya di masa lalu. Seseorang yang membuatnya kecewa dan begitu marah padanya hingga membuat gadis itu melarikan diri dan mengasingkan diri sendiri ke negeri orang. Namun kini, Tiffany membiarkan dirinya masuk kedalam lingkaran itu lagi. Saat ini Tiffany tak tahu, apa ia mampu untuk keluar kembali. Bahkan gadis itu tak yakin, jika selama ini ia benar-benar keluar dari lingkaran laki-laki yang memberikannya ciuman pertama untuknya itu. Karena yang Tiffany tahu, ia masih selalu memperhatikan laki-laki itu dari tempatnya berdiri selama ini.

Siwon melepaskan tautannya, namun masih tetap pada posisi yang sama dan membiarkan Tiffany berada di dekapannya. Menatap wajah Tiffany yang menatap kosong dan terdiam seperti patung.

“Kau pasti terpesona dengan bibirku bukan?”

Suara Siwon bagaikan peringatan kematian yang menyadarkannya kembali dari alam bawah sadarnya. Dan tanpa peringatan, Tiffany menendang tulang kering Siwon, membuat laki-laki tampan itu menjerit kesakitan.

“Ya! Apa yang kau lakukan pada pasienmu?”

Siwon meringis kesakitan, dan itu membuat kepalanya semakin berdenyut merasakan nyeri.

“Rasakan kau Mr. Pervert.”

“Mwooo? Apa kau bilang tadi? Mr. Pervert?” tanya Siwon tak terima.

“Nde!”

Siwon dan Tiffany saling menatap tajam satu sama lain. Berbanding jauh dengan suasana romantis yang baru saja mereka lewati, suasana kali ini begitu tegang dan penuh ancaman. Tak lama, Siwon tertawa dengan nada mengejek dan memandang Tiffany dengan sudut bibir yang terangkat sebelah.

“Aku Mr. Pervert. Dan… kau Mrs. Pervert.”

“Mwooo?”

Siwon mengangguk polos dengan tangan yang bersedekap di depan dada. Walau kini laki-laki itu terlihat pucat namun senyum manisnya tak pernah lepas dari wajah tampannya. Membuat kedua lesung pipinya muncul, menyempurnakan sosok laki-laki itu.

“Kau.. kau bukannya minta maaf malah mengataiku Mrs. Pervert?” ucap Tiffany bertanya pada Siwon dengan wajah syok.

“Nde.” Jawab Siwon enteng.

Tiffany menatap garang ke arah Siwon yang hanya ditanggapi dengan senyum manis laki-laki itu.

“Apa hakmu menciumku barusan?” teriak Tiffany frustasi.

“Itu bukan ciuman, Dr. Hwang.”

“Ya!”

Bukannya berhenti menggoda, Siwon justru semakin mengatakan hal-hal yang membuat emosi Tiffany meningkat. “Ayolah, itu bukan ciuman chagi. Hanya sebuah kecupan singkat dari kekasihmu ini.”

“KAU BUKAN KEKASIHKU!”

“Nde, aku bukan kekasihmu…” Siwon melihat ekspresi wajah Tiffany yang tiba-tiba menegang. Membuatnya berusaha keras untuk tidak tertawa saat ini. “Tapi calon suamimu.” lanjut Siwon tenang. Membuat semburat rona merah menghiasi pipi Tiffany.

“Brengsek kau Choi Siwon.” Kata Tiffany tajam.

“Ehm…” Siwon mengangguk kalem. Masih dengan tatapan yang tak teralihkan dari wajah Tiffany.

“Nappeun namja.”

“Ehm…”

“Aku membencimu!” desis Tiffany tajam.

“Aku mencintaimu.”

Tiffany terdiam sesaat, hingga akhirnya bibirnya yang gemetar kembali berucap. “Pergilah dari hidupku.” Kini matanya berurai cairan bening yang entah sejak kapan menghiasi wajah cantiknya, tatkala ia kembali berteriak dihadapan Siwon.

“Boghosippo…” untuk kesekian kalinya Siwon kembali mengatakan bahwa ia merindukan gadis itu, tanpa memperdulikan ucapan Tiffany.

Napas gadis itu memburu, dengan dadanya yang naik turun untuk mengambil pasokan oksigen yang mulai berkurang di sekitarnya. Ia merasa sesak setiap kali mengingat sosok Siwon, terlebih karena sosok itu ada di hadapannya. Tiffany merasa dunianya berhenti, membuat tubuhnya lemah tak berdaya di hadapan laki-laki itu.

“Aku membenci Choi Siwon, aku sangat membencimu. Tidak bisakah kau pergi dari hidupku. Kenapa kau terus berada di duniaku, eoh? Kau yang menyuruhku pergi dan sekarang kau melakukan ini padaku?” ucap Tiffany parau.

Siwon menatap nanar wajah Tiffany, rahangnya kembali mengeras. Dengan tangan yang terkepal, Siwon menghembuskan napas diam-diam melalui mulutnya yang terbuka. “Di mana pakaianku?”

Tiffany mengangkat wajahnya yang masih beruraian air mata. Menatap Siwon penuh tanya.

“Aku harus menyerahkan uang ini. Dan melanjutkan pekerjaanku yang tertunda,” seakan tahu Tiffany membutuhkan jawabannya, Siwon kembali menjelaskan dengan suara dinginnya.

“Kau masih terluka.” Ucap Tiffany lirih.

“Aku tahu!”

“Kau harus istirahat, setidaknya sampai besok pagi.”

Siwon terdiam, hatinya merasa pilu mendengar nada khawarir dari ucapan Tiffany.

“Aku akan istirahat tapi tidak di sini. Tempat ini membahayakanku.”

“Apa lagi kali ini?”

Siwon terdiam kembali, menimang-nimang apa yang pantas untuk ia ucapkan di hadapan gadis itu. Jika dulu, ia akan berusaha menutupinya rapat-rapat sekarang ini Siwon memutuskan untuk jujur apa adanya.

“Seperti biasa. Seperti yang kau ketahui 6 tahun yang lalu. Tapi kali ini tidak sekejam dulu atau kemarin malam, aku hanya… sedikit mengambil uang mereka. Walau harus aku akui polisi-polis itu mati dan… itu karena kebodohan mereka sendiri bukan tangan ini yang membunuhnya.”

Tiffany tercengang di tempatnya, saat mendengar ketenangan Siwon mengungkapkan kebenarannya kali ini. Dilihatnya Siwon yang tengah menyelusuri ruangan itu untuk mencari pakaiannya.

“Kau gila?” tanya Tiffany pelan.

Siwon mengangguk-anggukan kepalanya. Tangannya terulur, membuka sebuah lemari kecil di samping ranjangnya. Tersenyum puas ketika menemukan pakaiannya.

“Assa, aku menemukannya.” Ucap Siwon riang yang tengah memegang pakaiannya dan menunjukkannya pada Tiffany.

“Berhentilah.”

Siwon menghentikan gerakannya membuka kancing baju yang di gunakannya saat ini, tatkala di dengarnya suara lirih Tiffany terdengar di kedua kupingnya.

“Berhentilah Oppa.”

Kini gadis itu mulai terisak pelan, kakinya pun mulai melangkah menuju Siwon. Membiarkan kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.

“Berhentilah! Tidakkah kau sadari mengapa aku pergi? Berharap laki-laki yang aku cintai ini mengejarku. Meninggalkan dunianya, menuju duniaku. Tidakkah kau tahu, betapa tersiksanya aku setiap melihat berita-berita itu. Betapa takutnya aku saat memimpikanmu berlumuran darah dengan tubuh yang melemah di atas tanah. Berhentilah Oppa….”

Siwon masih terdiam, menatap gadisnya itu menangis kencang di hadapannya. Tenggorokannya merasa tercekat melihat begitu tersiksanya gadis itu selama ini. Tak berbeda jauh darinya yang juga terpuruk sepeninggalnya Tiffany dari sisinya.

Tiffany mengalungkan tangannya pada leher jenjang Siwon, menenggelamkan kepalanya pada bahu Siwon yang terluka membuat Siwon meringis pelan. Tiffany begitu erat memeluk Siwon. Seakan takut melepasnya kali ini, terlebih ketika melihat laki-laki yang ada di pelukannya itu terluka.

Siwon merasakan kedua lututnya melemas, ia dapat merasakan kehangatan yang selama ini di rindukannya. Laki-laki itu ingin menenggelamkan kepalanya yang terasa berat itu pada lekukan leher jenjang gadisnya itu. Menciumi aroma lembut dari tubuh mungil Tiffany. Mengatakan kecintaan dan kegilaannya akan sosok yang memeluknya ini.

“Ayo kita pergi! Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Kita tinggalkan semua ini, dan mulai hidup yang baru. Di mana orang-orang tak ada yang mengenal kita, di mana hanya ada kita berdua yang berbahagia dengan semua yang kita lakukan nanti. Aku bersedia meninggalkannya untukmu. Maka aku mohon, aku mohon. Tolong tinggalkan dunia gelapmu, aku akan tunjukkan bagaimana terangnya dunia ini padamu, Oppa.”

“Oppa…”

Siwon membisu mendengar setiap penuturan penuh harap dari Tiffany. Laki-laki menggerakkan tangannya ke atas. Menarik Tiffany dari pelukan gadis itu sendiri. Tatapan mata laki-laki itu kosong, di kepalanya terpenuhi bayang-bayang gelapnya selama ini. Bayangan kedua adiknya, darah, perkelahian, suara pistol dan gurat ketegasan dan kekejaman di wajah seseorang yang begitu di seganinya selama ini. Lalu matanya beralih pada kedua bola mata Tiffany yang berair.

Ia harus melakukannya. Siwon harus kembali menyakiti gadis di depannya. Sama seperti 6 tahun yang lalu. Ketika gadis itu mengajaknya kembali, menawarkan diri untuk tetap berada di sisi Siwon. Namun dengan kejamnya pria itu mendorong keluar gadis itu dari hidupnya, membiarkan gadisnya pergi. Menyakiti dirinya sendiri dengan tidak adanya gadis itu di sampingnya.

“Aku menyukai dunia ini. Inilah duniaku, dan aku ingin terus berada di dalamnya. Aku mempertaruhkan segalanya untuk berada di dalam dunia ini, termasuk jika harus melepasmu… Tiffany Hwang, kau terlalu menganggap ku serius. Seperti katamu. Aku adalah laki-laki brengsek, nappeun namja. Tidakkah kau sadar dengan ucapanmu sendiri? Lalu… kenapa kau mengemis di hadapanku kini? Kau pikir aku akan luluh dan menyambut pelukanmu?” ucap Siwon tajam.

“Oppa…”

Siwon bergerak maju, meletakkan tangannya di atas pundak Tiffany dan meremasnya pelan. Menyalurkan kekuatannya, berharap gadis yang di cintainya itu tak akan jatuh ketika ia kembali menyakiti gadis itu dengan kata-katanya. Tangan sebelahnya menghapus air mata yang masih menggenangi wajah Tiffany yang mulai memucat.

“Kau terlalu cantik untuk menangisi laki-laki yang setiap malamnya menghabisi sisa waktunya bersama wanita-wanita jalang di luar sana. Terlalu baik untuk memohon pada laki-laki yang menghabisi banyak nyawa dengan kedua tangannya ini. Dan terlalu suci untuk…”

Siwon menghentikan ucapannya sesaat menatap mata Tiffany yang terluka dalam dengan ucapannya barusan. Tangan yang masih berada di atas pundak kanan Tiffany, semakin meremas kencang pundak itu dan kembali berkata.

“….untuk laki-laki yang bahkan tak pernah mengharapkanmu sama sekali Tiffany-ssi. Bagiku, kau hanya objek menyenangkan untuk menyempurnakan kegelapan di hidupku ini.”

Tiffany tertegun, tak mampu lagi berucap dan terdiam untuk waktu yang lama. Kembali, laki-laki itu menyakitinya, menghujamnya dengan senjata yang paling mematikan dan menghempaskan gadis itu ke jurang kematian. Lalu kembali, menatapnya penuh cinta dan memanggil namanya dengan lembut. Gadis itu sadar akan kebodohannya yang terus masuk kedalam perangkap yang di buatnya sendiri. Jelas sudah laki-laki itu tak mengizinkannya masuk terlalu lama dalam lingkaran hitamnya. Namun, Tiffany. Gadis yang begitu mencintai laki-laki di hadapannya itu, bersikeras masuk dan menarik keluar laki-laki itu. Dan pada ahirnya… gagal!

Tatapannya kosong tak bernyawa, tangannya terangkat untuk menurunkan pegangan Siwon di pundaknya. Mulai menggerakan tubuhnya menjauh dari Siwon. Secara perlahan meninggalkan laki-laki itu di dalam ruang itu sendiri. Kembali sendiri. Kembali di tinggalkan dan terluka. Melihat itu, Siwon hanya menatap nanar kepergian Tiffany dan menggigit keras bibir bawahnya. Menahan sesak di dadanya yang menghimpit jantungnya sedemikian keras. Merasakan sakit yang mendalam. Rasa sakit yang tak mampu ia uraikan dengan kata-kata.

Pintu kamar itu tertutup pelan. Menyisakan keheningan di keduanya. Siwon yang masih terdiam di tempatnya dan Tiffany yang terdiam pula di depan pintu kamar Siwon.

Tiffany sendiri merasa tak mampu untuk berdiri dengan benar, namun di paksakannya kedua kaki jenjangnya itu melangkah menelusuri lorong panjang rumah sakit. Dengan tangisan yang tertahan, gadis itu mencengkeram erat jas putihnya. Berusaha mengusir semua perkataan Siwon yang baru saja di dengarnya itu. Untuk sekali ini, Tiffany biarkan air matanya mengalir. Membiarkan sakit ini membakar tubuhnya hingga berulang kali ia merasa akan menjadi abu dan terbang jauh tertiup angin dan menghilang.

Ya! Tiffany ingin menghilang. Ingin pergi jauh, meninggalkan dunia ini, melupakan semuanya tanpa tersisa. Namun apa daya, Tuhan seperti ingin menguji kesabaran Tiffany. Seperti ingin tahu, sebesar apa kegigihan gadis itu untuk mempertahankan cintanya. Mempertahankan sesuatu yang menyakitinya itu.

 

‘Aku akan tetap menunggumu, akan tetap berada di tempatku. Seperti yang kau bilang. Jika kita masih tetap menunggu, tak peduli selama apapun waktu yang kita butuhkan. Maka apa yang kita tunggu akan datang dengan sendirinya. Karena itu… aku akan menunggumu di sini, dengan doa dan kesabaranku. Aku akan terus bersabar. Dan aku mohon, selama apapun itu, aku mohon lihatlah aku. Dan kembalilah.’

 

Siwon yang kini sudah terduduk di atas ranjang yang sempat di tidurinya tadi, menatap tas ransel yang di dalamnya ada beberapa lembar dolar yang baru saja di ambilnya dari sebuah bank ternama di kota ini. Dilihatnya pula pistol dan masker hitamnya sudah berada di dalam ransel itu. Siwon yakin, Tiffany yang menyembunyikan keduanya di dalam ranselnya bersamaan dengan uang-uang itu. Gadis itu menyembunyikan indetitasnya, berusaha melindungi Siwon dengan caranya.

Siwon terkekeh pelan, ketika ia sadar bahwa ia benar-benar laki-laki bodoh karena kembali melepas gadis itu. Membiarkan gadis yang sangat dicintainya meninggalkannya sendiri. Siwon mengeram kesal, memukul ranjang yang di dudukinya dengan frustasi. Tanpa sadar. air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir dengan sendirinya.

Siwon tidak pernah menangis, bahkan saat 6 tahun yang lalu Tiffany meninggalkannya. Siwon hanya terdiam dan menjadi sangat brengsek dari sebelumnya untuk mengalihkan rasa sakitnya. Namun hari ini, ketika ia melihat gadis itu berada di hadapannya lagi. Bernapas di tempat yang sama dengannya, menangis dan memohon. Siwon tak mampu lagi membendung rasa kecewa dan benci pada dirinya yang tak sanggup memeluk dan meyakini gadis itu bahwa semua akan baik-baik saja. Bukannya tersenyum dan mengatakan betapa ia sungguh-sungguh merindukan gadis itu. Yang Siwon lakukan hanya terdiam dan kembali menyakiti gadis itu dengan kata-katanya.

Siwon mendesah berat, matanya terpejam sesaat dan terbuka tajam melihat dinding putih di depannya. Mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dan menendang keras bangku di hadapannya.

“Brengsek kau Choi Wobin!”

***

Siwon melangkah pergi dari rumah sakit, malam itu juga. Laki-laki itu harus segera kembali untuk menyerahkan uang-uang yang baru saja di ambilnya dari Daimed Bank kepada pimpinannya.

Siwon menenteng tas ranselnya dengan tangan kirinya. Kepalanya masih berdenyut dan juga bahunya yang nyeri membuat Siwon terus meringis pelan. Langkahnya terayun pelan menyusuri koridor rumah sakit itu. Udara dingin malam ini, tak menyurutkan langkah Siwon untuk segera menyelesaikan tugasnya.

Baru beberapa langkah meninggalkan ruangannya, gerakan Siwon terhenti saat ia melihat siluet tubuh laki-laki yang dikenalnya. Terlebih pakaian yang digunakan laki-laki itu mengingatkannya pada…

 

“Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun tersentak mendengar namanya di panggil, kepalanya menoleh kebelakang. Dilihatnya tubuh tegap Siwon dengan wajah pucatnya tengah berdiri di depan pintu kamar rawat gadis yang berada di hadapannya. “Hyeong?”

“Apa yang kau lakukan di tempat ini, Kyuhyun?”

Kyuhyun menegang di tempatnya, mengusap pelan tengkuknya berusaha untuk bersikap tenang. Lalu berdiri dengan tegap, saat Siwon memasuki ruangan itu. Dan memandang penuh tanya pada Kyuhyun, “kau mengenalnya?”

“Eoh? Nu-gu? Dia? Anio!” Jawab Kyuhyun gugup. Siwon tersenyum kecil melihat kegugupan adik sepupunya itu. Kyuhyun jelas menyembunyikan sesuatu, dan Siwon tahu itu dengan pasti. Adiknya itu tidak pintar menyembunyikan sesuatu.Walau terkesan dingin, Kyuhyun jelas bukanlah orang yang mampu menyembunyikan permasalahnya dari Siwon. Beda dengan adik sepupunya yang satu lagi, Kim Myungsoo. Yang memang sangat tertutup dan pendiam dibandingkan ia dan Kyuhyun.

“Kau menyukainya?”

“Mwooo?” Kyuhyun menutup mulutnya saat dirasanya suaranya terlalu kencang, saat menjawab pertanyaan Siwon dengan pertanyaannya lagi.

“Ja-jangan salah paham Hyeong, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita ini. Kenal saja tidak.” Kyuhyun buru-buru menyela ucapan Siwon saat ia melihat mulut Siwon siap-siap untuk mengatakan sesuatu kepadanya.

“Ahhh, jadi kau tidak mengenal gadis ini?” Siwon mengangguk paham, lalu matanya melirik sekilas ke arah papan kecil yang tertempel pada ujung ranjang pasien wanita cantik itu. Lalu tersenyum kecil ketika menangkap sebuah tulisan yang dicarinya.

“Ya sudah kalau begitu, kita pulang sekarang. Kajja!”

“Ya, Hyeong. Apa-”

“Jangan berisik, ini rumah sakit.”

Siwon tertawa dalam hati melihat muka Kyuhyun yang menahan amarahnya karena Siwon dengan seenaknya merangkul leher Kyuhyun dan menyeretnya keluar dari ruangan itu. Kyuhyun menggerutu dalam hati, sedangkan Siwon tersenyum puas, karena berhasil mengerjai adiknya itu.

***

Keduanya sudah berada di area parkir, di mana Kyuhyun memarkir mobil sport merahnya itu. Siwon terlebih dahulu memasuki mobil itu dan sesaat setelahnya, Kyuhyun membuka pintu mobil dan ikut masuk menduduki kursi pengemudinya.

“Wae Hyeong? Gwaenchana?” tanya Kyuhyun saat akan menjalankan mobilnya. Memandang heran ke arah wajah pucat Siwon yang memejamkan matanya dengan menyandar pada jok mobil.

Kyuhyun menangkap tas ransel yang di lemparkan Siwon ke arahnya. Dan laki-laki itu tahu apa isi tas yang baru saja di terimanya, namun yang membuat ia bingung adalah perubahan ekspresi kakaknya itu yang tiba-tiba menjadi murung.

“Apa… lukanya begitu parah?” tanya Kyuhyun hati-hati.

“Sudahlah Kyu, jalankan saja mobilmu ke rumah laki-laki tua itu. Hyeong, butuh istirahat secepatnya.” Ucap Siwon lirih.

“Arraseo.” Kyuhyun yang biasanya akan mendebatkan banyak hal setiap kali bicara dengan Siwon, kali ini memilih diam karena ia memahami Siwon sedang dalam keadaan yang tidak baik. Ditambah suasana hatinya sendiri yang tak karuan, setelah pertemuannya dengan gadis yang dirawat di dalam rumah sakit itu.

Sebelum benar-benar meninggalkan kawasan Seoul Central Hospital, mata Kyuhyun menyipit menatap tajam pada bangunan putih itu. “Aku bahkan tak tahu namanya. Menyedihkan sekali nasib cintaku, tsk.”

            Mobil itu bergerak perlahan meninggalkan rumah sakit itu. Dengan suasana yang hening, keduanya berada dalam dunianya masing-masing. Perasaan keduanya tak menentu, membuat masing-masing dari mereka ingin berteriak sekencang-kencangnya, terlebih Siwon. Ingin sekali ia menarik Tiffany, kembali dalam pelukannya. Tapi Siwon tahu, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membawa gadis itu ke dalam kehidupannya lagi. Bukan saat ini, pikir Siwon.

Sedangkan Kyuhyun, terbayang-bayangi wajah pucat gadis yang ditemuinya tadi. Ia merasa ada yang salah dengan otaknya karena terus terpikir akan siapa gadis itu. Saat sedang di landa banyak pertanyaan tentang gadis itu, suara Siwon membuatnya terhenyak dan tanpa sadar tatapan matanya yang biasanya tajam, berbinar-binar saat mendengar ucapan Siwon.

“Nama gadis itu Im Yoona. Jadi berhentilah menjadi resah karena love frist sight-mu itu Kyu.”

Kyuhyun menahan senyumnya sepanjang jalan menuju kediaman seseorang yang selama ini membesarkannya dan Siwon serta adiknya, Myungsoo. Memilih diam sebagai ucapan terima kasihnya kepada Siwon. Sedangkan Siwon sendiri, hanya mampu menahan rasa sakit dihatinya, ketika ia kembali mengingat Tiffany. Cheos Sarang (Cinta Pertama).

***

Incheon Airport

07.00 AM

          “Di mana anak itu, kenapa lama sekali?”

“Sabarlah Hyeong.” Kyuhyun memutar bola matanya dengan malas, ketika lagi-lagi Siwon menggerutu tentang kedatangan Myungsoo.

“Aish, kita sudah berdiri selama 30 menit dan dia belum tiba juga?”

Kali ini Kyuhyun hanya terdiam, tak berniat memberikan jawaban apapun. Ia sibuk mendengar musik dari headphone-nya. Kyuhyun tampak jengah mendapati wanita-wanita yang melalui mereka berdua dan menatap mereka penuh minat. Bahkan tak jarang dari mereka, dengan tidak tahu malunya berbicara dengannya. Tentu saja, Kyuhyun tak akan merespon wanita-wanita itu. Berbeda dengan Siwon yang masih memberikan senyum ramahnya. Dan kakaknya itu masih terlihat begitu menakjubkan walau wajahnya terlihat pucat.

“Kyu… katakan padaku, jika membunuh saudara sendiri itu tidak dosa.” Kyuhyun menoleh pada Siwon saat tiba-tiba laki-laki itu mengatakan sesuatu dengan nada yang pelan sarat emosi yang sepertinya sudah mencapai batas maksimum. Kening Kyuhyun mengernyit, saat dilihatnya Siwon menatap lurus ke arah depan. Terlebih melihat ekspresi Siwon yang menunjukkan seseorang yang ingin membunuh targetnya. Kyuhyun mengikuti arah pandang Siwon. Dan ketika tahu apa yang dimaksud Siwon, sudut bibirnya terangkat bak setan yang baru keluar dari neraka. Bukannya meredakan emosi kakak sepupunya itu, Kyuhyun justru memanas-manasi Siwon dengan ucapannya.

“Sepertinya untuk kasus ini… Tuhan akan mengampunimu Hyeong.”

“Ya, Kim Myungsoo!” Teriak Siwon, membuat semua orang yang ada disekitarnya menatap heran kearah laki-laki tampan itu. Sedangkan yang dipanggil hanya menoleh sesaat lalu melanjutkan aktivitasnya kembali, memotret sesuatu yang menarik menurut laki-laki itu dengan kamera kesayangannya.

Siwon berjalan kearah Myungsoo dan Kyuhyun mengikuti kakaknya itu dari belakang sembari melepaskan headphone-nya yang dibiarkan menggelantung disekitar lehernya. Ia begitu tertarik mendengar ocehan Siwon yang seperti ajhumma ketika sedang marah.

“Ya! Apa yang kau lakukan bodoh? Kau bosan hidup, eoh?” tanya Siwon langsung, sambil mengapit leher Myungsoo. Membuat laki-laki yang paling muda dari ketiganya itu berontak, merasa napasnya tercekat.

“Hyeong, ka-u i-ngin mem-bu-nuh-ku?” tanya Myungsoo terbata-bata.

“Siwon Hyeong, kau benar-benar akan membunuhnya?” tanya Kyuhyun dengan mimik wajah serius yang dibuat-buat, membuat Myungsoo mendelik kesal ke arahnya.

“Kau pikir aku main-main?” tanya Siwon kembali, sambil mengerling kearah Kyuhyun dan semakin mengapit tangannya di leher Myungsoo. Membuat laki-laki berpakaian serba hitam itu, berteriak parau. Siwon memberi isyarat dengan matanya ke arah Kyuhyun, membuat Kyuhyun menyerigai karena paham maksud Siwon saat ini.

“Ya, ya! Apa yang akan kau lakukan pada kameraku, Hyeong. Kembalikan!”

“Hyeong…” Kyuhyun menyerahkan kamera Myungsoo yang ia ambil barusan kepada Siwon. Dan langsung disambut baik oleh Siwon.

“Kameramu akan Hyeongsita.” Kedua mata Myungsoo melebar dan dengan segera ia berusaha mengambilnya dari tangan Siwon. Kyuhyun tersenyum geli melihat tingkah keduanya yang seperti anak kecil berebut mainan baru.

“Kau tak akan bisa mengambilnya Myungsoo, aku ini lebih tinggi darimu.”

“Kembalikan kameraku Hyeong, jebal…” Pinta Myungsoo dengan tampang memelas yang dibuat-buat dan terkesan aneh. Jika bukan karena kamera kesayangan itu, Myungsoo tidak akan pernah sampai memohon-mohon seperti ini kepada Siwon yang terbilang selalu usil kepadanya.

“Kyuhyun-ah!” Kyuhyun menangkap kamera yang dilempar Siwon dengan sigap, dan menggoyang-goyangkan kamera itu dihadapan Myungsoo.

“Jangan lempar-lempar kemeraku! Aish…” teriak Myungsoo frustasi.

Ketiganya terlihat asik dengan permainan yang mereka buat sendiri, tanpa mereka sadari semua orang yang berada ditempat itu memperhatikan tingkah mereka. Ada yang merasa aneh, ada juga yang justru mengagumi ketiga laki-laki tampan itu. Sama halnya dengan seorang gadis yang memakai tas ransel pink dibelakang punggungnya. Menatap dengan seksama kelakuan mereka, tepat tak jauh dibelakang Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi?”

“Eoh?” Kyuhyun yang merasa namanya dipanggil menoleh kearah seorang gadis mungil dibelakangnya. Menatap heran, bagaimana caranya gadis itu mengetahui namanya. Siwon yang melihat Kyuhyun terdiam membelakangi mereka, berhenti menjahili Myungsoo dengan kamera yang masih berada ditangannya. Melihat itu, Myungsoo tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Langsung di ambilnya kamera itu, dan tersenyum sinis ketika Siwon mendelik kesal kearahnya.

“Kau mengenalku?” tanya Kyuhyun menunjuk diri sendiri kepada gadis di hadapannya yang justru sama sekali tak menatap wajahnya. ‘Apa dia buta?’ pikir Kyuhyun. Tapi setelah dicerna baik-baik, bagaimana caranya gadis itu memanggil namanya jika wajah saja tidak melihat? Kyuhyun menggaruk rambutnya bingung.

“Kyuhyun-ssi, itukah kau?” tanya gadis itu lagi. Berbeda dengan sebelumnya, gadis itu mulai bergerak menghampiri laki-laki di hadapannya. Bukan Kyuhyun yang pasti, membuat Kyuhyun melongo heran. Terlebih Siwon yang posisinya pun menghadap gadis yang kini berada dibelakang Myungsoo, menatap bingung gadis yang memanggil Kyuhyun tapi justru menghampiri Myungsoo.

“Cho Kyuhyun-ssi.” Tangan gadis itu menepuk pundak Myungsoo. Membuat Myungsoo yang sejak tadi tak memperhatikan sekitarnya tersentak kaget, saat dirasanya tangan lembut yang mungil menepuk pundaknya.

Myungsoo membalikkan tubuhnya, menatap kaget bercampur heran pada gadis yang berada di depannya—menatapnya dengan senyum yang lebar. “Cho Kyuhyun-ssi, annyeonghaseyo. Kita berjumpa lagi. Ternyata benar dugaanku, kau orang Korea sama sepertiku.” Ucap gadis penuh semangat.

“Hah?” siwon dan Kyuhyun berteriak serempak, saat mendengar gadis itu memanggil nama Myungsoo dengan sebutan Cho Kyuhyun? ‘Bukankah itu namaku?’ batin Kyuhyun bingung.

“Sejak kapan kau ganti marga?” tanya Siwon heran kepada Myungsoo, menghadapkan wajahnya pada laki-laki yang tengah gugup di tempatnya.

Sedangkan yang ditanya hanya diam, menatap tajam gadis yang pernah ditolongnya saat berada di Jepang kemarin kini ada dihadapannya kembali.

“Dan sejak kapan namamu sama denganku?”

“Ehh?” Soona, gadis yang ditolong Myungsoo kaget saat mendengar penuturan dari mulut Kyuhyun asli.

Myungsoo menghela napas panjang, “Kenapa harus bertemu lagi sih?” ucap Myungso lirih.

“Auw…” Myungsoo berteriak kesakitan saat kepalanya kena jitak dari Siwon.

“Apa yang kau katakan tadi?”

“Ani.”

Soona menatap Myungsoo yang terlihat kesal ketika mendapatkan jitakan dari Siwon, bahkan laki-laki itu mengalihkan pandangannya ketika kedua mata mereka saling bertemu.

“Maaf nona manis, adik kami ini memang suka bersikap aneh jika berhadapan dengan wanita yang disukainya.” Myungsoo membelalakan matanya begitu mendengar penuturan dari bibir tipis Siwon. Dan seketika memberikan tatapan sengitnya kearah Siwon yang hanya dibalas dengan mengangkat bahunya ringan.

“Apa yang dikatakan Siwon Hyeong benar. Myungsoo suka bertingkah aneh ketika ia menyukai seseorang.” Sambung Kyuhyun dengan wajah menahan tawa. Wajah Myungsoo mulai memerah menahan amarahnya karena masuk perangkap kakak-kakaknya itu. Sedangkan gadis itu berguman pelan dihatinya.

‘Jadi namanya Myungsoo?’

“Kalian mau mati?” desis Myungsoo pelan.

“Ohhhhh, aku takut Hyeong!” seru Kyuhyun dengan wajah seperti orang ketakutan membuat Siwon tertawa ringan. Dan mendapatkan death glare dari Myungsoo.

“Jadi, namamu Myungsoo?” tanya Soona hati-hati. Memberanikan diri untuk angkat bicara, setelah beberapa menit terdiam. Memikirkan kenapa laki-laki yang menolongnya itu harus membohonginya.

Myungsoo terlihat canggung ketika Soona menatapnya intens, meminta jawaban langsung dari mulutnya.

“Nde! Lebih lengkapnya, Kim Myungsoo. Itu namanya. Dan Cho Kyuhyun adalah nama laki-laki dibelakangmu itu nona. Sedangkan saya adalah Choi Siwon. Kami bertiga saudara sepupu.” Sela Siwon, memutuskan keheningan diantara Myungsoo dan Soona. Dengan menjelaskan nama Myungsoo sebenarnya dan memperkenalkan diri atas namanya dan Kyuhyun.

Soona mengangguk paham dan tersenyum kecil ketika mendengar penjelasan Siwon. Meski tampak diwajah cantiknya gurat kekecewaan namun gadis itu menghormati Siwon yang dengan suka rela menjelaskan kepada Soona.

“Arraseo! Lain kali aku tidak akan salah menyebut namamu lagi.”

Kyuhyun dan Siwon menahan tawa mereka, saat dilihatnya Myungsoo yang tertunduk malu atas ucapan Soona yang menurut mereka seperti sindiran mematikan untuk Myungsoo. Saat-saat seperti ini, adalah saat-saat yang langka menurut keduanya, karena Myungsoo orang yang cukup pendiam sehingga jarang membuat dirinya nampak diantara ketiganya. Dan kejadian ini, membuat mereka melihat untuk pertama kalinya, wajah gugup adik bungsu mereka itu.

“Emm, kalau begitu aku pamit dulu. Aku harus segera menemui Eonnie-ku.” Ucap Soona berusaha terdengar ceria, walau akhirnya terdengar aneh ditelinga mereka.

“Aku senang sekali bisa bertemu kalian bertiga.” Lanjut Soona memberikan senyum manisnya. Kyuhyun sempat tertegun sebentar saat ia kembali memperhatikan wajah Soona dengan cermat. Mengingatkannya pada wajah seseorang yang memenuhi pikirannya semalaman ini.

Siwon mengacak-acak rambut Soona, dan membalas senyum Soona tak kalah manis. Membuat wajah cantik gadis itu bersemu merah.

“Nado. Kami juga senang bertemu denganmu. Bukan begitu Kyu?” Kyuhyun yang sebenarnya kembali melamunkan gadis yang ditemuinya dirumah sakit itu tersadar dan langsung mengangguk cepat walau sebenarnya tak begitu memperhatikan pertanyaan Siwon. “Mau kami antar?” tanya Siwon kembali, dengan mata yang justru melihat kearah Myungsoo yang terlihat tak peduli dengan percakapan kedua hyeong-nya itu dengan gadis yang ditolongnya kemarin.

Soona menggeleng kuat, dengan tangannya yang mengibas-ngibas didepan wajahnya. “Ani, ani. Gwaenchana, aku bisa pulang sendiri.” Jawab Soona cepat sembari melirik kearah Myungsoo. Namun yang dilihatnya malah sibuk memainkan kamera yang berada ditangan laki-laki itu.

“Baiklah, hati-hati dijalan.” Ucap Siwon lagi, dibarengi dengan anggukan kepala Kyuhyun. Soona sempat tertegun saat mendengar ucapan Siwon yang sama persis seperti ucapan Myungsoo sebelumnya.

“Nde….” Jawab Soona lirih.

“Aku pergi dulu, Oppadeul. Annyeonghaseyo.” Soona membungkuk, untuk berpamitan dengan mereka.

“Annyeong. Hati-hatilah.” Ucap Siwon dan Kyuhyun bebarengan. Sedangkan Myungsoo, masih menunduk sambil menggigit bibirnya.

Siwon dan Kyuhyun saling melirik memberi isyarat yang tertuju kepada Myungsoo ketika mereka melihat, langkah Soona yang terlihat tanpa semangat meninggalkan mereka. Atau lebih tepatnya meninggalkan Myungsoo. Belum sempat Kyuhyun, menyenggol sikutnya ketubuh Myungsoo, saat laki-laki itu berjalan pelan kearah adiknya itu. Namun, Kim Myungsoo akhirnya buka suara dengan sendirinya.

“Changkamman.”

Soona menghentikan langkahnya, mendengar suara Myungsoo kembali terdengar ditelinganya. Gadis itu tidak membalikkan tubuhnya, membiarkan tubuhnya tetap membelakangi Myungsoo. Sedangkan Siwon dan Kyuhyun hanya mampu menahan senyum mereka melihat wajah Myungsoo yang kikuk.

“Ireu-mi Mwo-eyo?” tanya Myungsoo pelan.

Soona mengulum bibirnya, tak mampu menyembunyikan rasa senangnya mendengarkan pertanyaan Myungsoo. Gadis itu membalikkan tubuhnya, menatap kearah Myungsoo yang menatap lurus matanya.

“Soona. Im Soona.”

***

In Car

07.52 AM

Ketiganya terdiam dijoknya masing-masing. Tak ada yang berniat mengeluarkan suaranya. Sampai akhirnya suara deringan ponsel salah satu diantara mereka membuyarkan lamunan ketiganya.

Siwon menekan tombol touchscreen pada tablet Kyuhyun yang terpasang didalam mobil laki-laki itu. Panggilan bermode video call tersebut menampakkan sesosok yang sangat mereka kenal. Membuat wajah ketiganya terlihat semakin suram dan dingin. Terlebih Siwon yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sosok yang ada didalam video itu.

“Sepertinya hari kalian begitu menyenangkan saat ini, hingga menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk menjemput Myungsoo.” Ucap orang itu dengan seringai kecil diwajah kakunya.

“Tsk,”

“Tugas apa lagi yang harus kami lakukan?” Kyuhyun menyela ucapan Siwon yang sepertinya akan kembali berdebat dengan laki-laki tua itu.

Suara tawa yang terdengar menggelikan ditelinga mereka itu terdengar begitu memuakkan bagi ketiganya, terlebih dengan kepulan asap yang keluar dari mulutnya.

“Kau cerdas sekali Kyu. Tidak seperti kedua saudaramu itu.”

Siwon memutar bola matanya, tak peduli dengan ucapan orang tua itu. Sedangkan Myungsoo, kembali menatap pemandangan luar melalui kaca jendela mobil milik Kyuhyun itu.

“Datanglah kemari, karena aku sendiri yang akan menjelaskannya pada kalian.”

“Katakan saja langsung?” tanya Siwon malas.

“Ani! Ini berbeda.”

Ketiganya kembali menatap layar tablet itu dengan tatapan serius, mendengar seruan misterius dari bibir pria itu. Penasaran dengan apa yang direncanakan laki-laki tua itu.

“Datanglah kemari jika kalian ingin tau. Karena ini akan menjadi misi terbesar kita.”

Myungsoo mengernyitkan keningnya, ketika melihat air muka pria itu yang penuh dengan amarah dan dendam yang mendalam. Berbeda dengan Kyuhyun yang sedang fokus dengan kemudinya dan Siwon yang menatap kearah lain karena tak mau memperhatikan mimik wajah pria yang membesarkan mereka itu. Myungsoo jelas dapat merasakan hawa panas disekitar pria itu. Ada rasa kebencian yang begitu besar, yang akan menjadi bom waktu bagi siapa saja yang mendekatinya.

Alih-alih tetap membiarkan rasa penasarannya. Myungsoo akhirnya angkat bicara, menanyakan rasa penasarannya pada laki-laki itu. “Siapa yang harus kami bunuh kali ini?”

Siwon dan Kyuhyun serempak menoleh kebelakang. Memandang Myungsoo penuh keterkejutan, mengingat selama ini hanya Myungsoo-lah yang jarang bicara setiap kali pria itu memberikan tugas kepada mereka. Yang dilakukan laki-laki itu hanya terdiam dan langsung bergerak. Berbeda dengan Kyuhyun yang biasanya menjadi juru bicara keduanya dalam menanyai perihal tugas-tugas mereka selanjutnya atau apa yang harus mereka lakukan sekarang. Sedangkan Siwon, biasanya hanya akan beradu mulut dengan pria itu yang akan berakhir dengan amarah tertahan Siwon yang ia tekan ke titik terendah kembali.

Baik Siwon maupun Kyuhyun akhirnya memperhatikan baik-baik pria itu. Dan Kyuhyun juga harus membagi konsentrasinya pada kemudinya pula. Mengingat Myungsoo yang sudah berkata, mereka yakin ada hal buruk yang akan menimpa mereka. Karena percaya atau tidak adik bungsu Siwon itu memang punya feeling yang paling kuat dibanding dirinya dan Kyuhyun.

“Hahaha… Ada apa denganmu Myungsoo? Kau terlalu serius saat ini.” Tawa pria itu kembali terdengar, membuat ketiganya mendengus kesal.

“Katakanlah Harabeoji!” ucap Kyuhyun kesal.

“Geureu… Harabeoji ingin kalian membunuh keluarga yang telah menghancurkan keluarga kita.” Ucap orang itu langsung dengan tenangnya.

“Mwo?” kali ini Siwon yang angkat bicara.

Ia pernah tahu cerita ini, dimana anak-anak dari harabeoji yaitu ayahnya serta kedua adik dari ayahnya yang merupakan ibu dari Kyuhyun dan Myungsoo. Dan tak lupa ibu kandungnya sendiri. Terbunuh karena ledakan sebuah bom disebuah hotel yang telah direncanakan oleh seseorang. Saat itu keluarga Choi, Cho dan Kim berduka atas peristiwa itu. Kematian 3 orang anak kandung serta seorang menantu membuat kakeknya itu berada dipuncak kemarahannya. Bahkan sampai saat ini ayah dari Kyuhyun dan Myungsoo yang sebenarnya ada ditempat kejadian tak diketahui keberadaanya. Informasi yang didapat dari orang-orang kepercayaan kakeknya itu. Kedua menantu laki-lakinya tersebut melarikan diri, karena ikut terlibat dalam pemboman itu. Mengetahui informasi itu, sang kakek begitu marah dan diliputi kebencian yang memenuhi seluruh ruang hidupnya.

Siwon sebenarnya tak begitu dekat dengan harabeoji dari dulu sebelum kejadian itu hingga detik ini. Namun, kejadian 18 tahun lalu itu membuat diriya dan Kyuhyun serta Myungsoo harus terikat dengan orang itu. Terlebih Kyuhyun dan Myungsoo, yang ayahnya telah mengkhianati laki-laki berusia 71 tahun itu. Mereka harus menjadi tumbal atas pengkhianatan yang dilakukan ayah-ayah mereka itu. Dan Siwon sendiri tidak punya pilihan lain, karena ia merupakan keturunan Choi langsung. Dan tidak memungkinkan dirinya terlepas dari jerat ketua mafia itu. Choi Wobin.

“Siapa mereka?” tanya Siwon kembali dengan wajah datarnya. Tangannya terkepal, sejujurnya Siwon sendiri tak begitu mengenal dan dekat dengan kedua orang tuanya karena selama 10 tahun hidupnya dulu dihabiskan bersama pengurus anak yang telah dipercaya keluarga Choi. Begitupula dengan Kyuhyun dan Myungsoo. Sehingga mereka tidak begitu merasakan kesedihan yang mendalam seperti kakek mereka itu.

“Im Seul Ki. Kalian harus membunuh keluarga Im hingga tak tersisa satupun.”

Kyuhyun menginjak pedal remnya seketika, membuat tubuh ketiga laki-laki itu terpental kedepan. Namun karena ketiganya sama-sama terkaget mendengar ucapan dari mulut kakek mereka itu, tidak ada satupun dari Siwon atau Myungsoo yang protes. Mata mereka sama-sama terbelalak. Mereka memang tidak pernah mengenal orang yang disebut kakek mereka itu. Tidak pernah bertemu dan bertatap muka langsung. Namun entah mengapa, mendengar nama marga orang yang katanya adalah dalang dari pembunuhan keluarga besar mereka itu, membuat jantung masing-masih dari ketiganya berdetak dengan cepat.

Siwon menatap kedua adiknya yang terpaku ditempat mereka masing-masing dengan cemas. Siwon merasa yakin kali ini, dengan apa yang dipikirkannya beberapa menit yang lalu. Myungsoo pasti sudah merasakan ketidakberesan dari tugas mereka kali ini, mengingat Myungsoo harus mengeluarkan suaranya untuk bertanya kepada kakeknya itu.

“Im? Im nugu?” tanya Kyunhyun pelan.

Dan untuk pertama kalinya Siwon berdoa kepada Tuhan, semoga ini bukanlah sesuatu yang buruk. Bukan seperti apa yang ada dipikiran Siwon, Kyuhyun maupun Myungsoo. Siwon menatap tajam sambungan telepon kakeknya yang baru saja mati. Mendengus kesal ketika kata-kata kakeknya yang masuk keindera pendengarnya itu, semakin mengusik batinnya.

‘Datanglah dengan cepat! Harabeoji tidak sabar untuk menghabisi mereka.’

***

Choi’s Mansion

Ketiga laki-laki itu melangkah cepat memasuki sebuah rumah mewah bercatkan gold metalic. Rumah itu terlalu luas dan besar untuk disebut rumah yang hanya ditempati oleh harabeoji seorang. Walau di dalamnya ada berpuluh-puluh pegawai rumah tangga dan petugas keamanan.

Ornamennya yang menyerupai bangunan-bangunan Eropa dengan perabotan-perabotan mewah lainnya, melengkapi kesempurnaan kediaman keluarga Choi tersebut. Dinding-dinding rumah tersebut begitu kuat dan kokoh. Berdiri menopang bangunan bertingkat dua itu. Begitu banyak cctv yang terpasang disetiap sudut rumah tersebut. Bahkan berpuluh-puluh orang berjajar rapih sepanjang koridor rumah itu, mengenakan seragam hitam mereka. Tak lupa dengan bluetooth headset ditelinga mereka masing-masing dan juga sebuah pistol dibalik jas mahal yang mereka kenakan saat ini.

Kyuhyun dan Myungsoo serta Siwon yang berada diantara keduanya menaiki tangga utama rumah itu, mengacuhkan para pegawai dan penjaga didalam rumah yang menyapa mereka disertai bungkukkan tubuh mereka.

Ketiganya terus berjalan menuju ruang utama dilantai dua itu. Tempat dimana orang yang ingin mereka pintai penjelasannya berada. Mereka jarang bertemu langsung dengan kakek mereka. Kalaupun ada tugas yang harus mereka kerjakan, sang kakek hanya menghubungi mereka dengan video call dan jika harus menyerahkan hasil pekerjaan mereka seperti halnya Siwon semalam, ia hanya akan berdiri sampai depan pintu dan memberikannya kepada orang kepercayaan sang kakek. Shin ahjussi.

“Kami ingin bertemu dengan Harabeoji.” Kata Siwon dingin kepada Shin ajhussi yang berdiri tepat didepan pintu ruangan itu.

“Beliau sudah menunggu kalian bertiga sejak tadi. Silahkan!” Shin ajhussi membukakan sendiri pintu ruangan itu. Membungkuk hormat ketika ketiganya melewati pria paruh baya itu untuk memasuki ruang kerja harabeoji­ mereka.

Kini ketiga laki-laki tampan itu berdiri membelakangi harabeoji yang tengah memandang pemandangan didepannya. Sebuah taman besar yang sengaja dibuat untuk memperindahan kediaman keluarga Choi.

Ketiganya terdiam tanpa ada yang berkata apapun, membiarkan harabeoji berbicara terlebih dahulu.

“Sudah begitu lama rumah ini tidak kehadiran ketiga cucuku. Bagaimana kabar kalian?”

“Kami ingin melihat data target selanjutnya.” kata Siwon langsung, tak berniat basa-basi. Membuat wajah Choi Wobin termenung sesaat lalu mengeluarkan seringainya.

Tak lama, pintu ruangan itu terketuk pelan dari luar. Lalu masuk Shin ahjussi membawa sebuah map ditangannya. Lalu diletakkan di atas meja kerja harabeoji. Dan beranjak meninggalkan ruangan itu kembali, setelah sebelumnya memberikan hormatnya kepada harabeoji dan ketiga cucunya.

Harabeoji melangkah menuju meja kerjanya dan mendudukan dirinya diatas kursi yang biasa ia tempati untuk melakukan semua pekerjaannya selama ini. Tongkat penyangga yang digunakannya masih ia pegang dengan tangan kirinya. Sekilas tongkat dengan ukiran-ukiran indah itu terlihat biasa jika hanya dilihat dari jauh. Yang orang-orang, tahu bahwa tongkat itu hanya digunakan sebagai alat penyangga tubuh rentan harabeoji yang sudah tua. Namun siapa sangka, dibalik tongkat itu tersimpan sebuah racun yang kapan saja bisa membunuh orang yang ditembaknya melalui tongkat itu.

Bagi seorang kepala mafia terbesar di Asia, harabeoji diharuskan mempunyai alat perisai untuk melindungi dirinya sendiri. Dan tongkat itulah pelindungnya. Di dalamnya—tepat dibawah tongkat itu—terdapat lubang kecil, yang mana jika harabeoji menekan tombol diatasnya akan mengeluarkan semacam jarum kecil yang telah terisi cairan mematikan. Seperti halnya bisa ular, yang dapat mematikan lawannya dalam hitungan detik. Cairan itu pun akan langsung mematikan siapapun orang yang terkena racunnya. Maka karena itulah, tak ada satupun orang yang berani melawannya. Kecuali jika ia memilik banyak cadangan nyawa untuk hidup.

Siwon, Kyuhyun dan Myungsoo masih berdiri dengan tegap memperhatikan gerak-gerik harabeoji yang kembali menghisap cerutunya dan mengeluarkan kepulan-kepulan asap kecil. Sebelum akhirnya berbicara kepada ketiga cucunya tersebut.

“Harabeojisenang melihat semangat kalian sekarang. Tidak seperti biasanya.”

Siwon baru saja akan mengatakan sesuatu, namun lengan kanannya ditahan oleh tangan Myungsoo. Menyuruhnya untuk diam dalam isyarat tangannya yang meremas pelan lengan laki-laki tampan itu. Kyuhyun sendiri terlihat gugup kali ini. Entah mengapa, firasatnya begitu buruk. Hingga ia merasa jika dibiarkan terlalu lama sedikit saja, akan membuatnya frustasi dan menghancurkan rumah besar ini.

“Ambillah Myungsoo! Hanya kau yang terlihat tenang.” Harabeoji berkata, masih dengan dengan cerutu ditangannya. Menggedikan kepalanya pada map biru itu ke arah Myungsoo. Tanpa ragu Myungsoo melangkah maju dengan tenang dan mengambil map yang dimaksud harabeoji. Kemudian kembali ketempatnya semula, berdiri tepat disamping Siwon.

Harabeoji tidak tau betapa gugupnya Myungsoo saat ini. Namun laki-laki itu masih bisa menyembunyikannya dengan baik. Berbeda dengan Siwon dan Kyuhyun yang terlihat gusar. Tangannya terulur, menyerahkan map itu kepada Siwon. Membiarkan kakak tertuanya itu yang membukanya terlebih dahulu. Dengan cepat Siwon mengambil map itu dan membukanya.

Dilihatnya biodata seorang pria paruh baya bernama Im Seul Ki. Dan tak lupa foto laki-laki itu. Didalam foto itu, tubuh tegapnya yang tinggi membusungkan dada dan tersenyum kecil dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya.

Kyuhyun dan Myungsoo yang ikut melihat isi map yang memang dengan sengaja dibuka lebar oleh Siwon agar kedua adiknya bisa ikut lihat bersamanya, terdiam membisu memperhatikan data-data orang yang ada difoto itu. Im Seul Ki ternyata seorang kepala bandar narkoba yang telah lama menjadi buronan polisi baik di dalam negeri maupun luar negeri. Tak banyak yang tau indetitas aslinya, membuat para kepolisian dan intelegent kesulitan mencari pria itu. Im Seul Ki pun memiliki kelompok-kelompok gangster disetiap wilayahnya. Dan yang lebih mencengangkan, pria itu memilki banyak perusahaan yang cukup besar di Korea. Orang-orang yang mengenalnya hanya tahu bahwa pria tersebut seorang penguasaha sukses, tanpa mengetahui bahwa ialah buronan yang selama ini di cari-cari pihak departemen kepolisian terkait.

Siwon kembali membuka lembaran itu, memperlihatkan data-data yang tercetak dilembar kedua. Disitu terdapat biodata seorang wanita anggun dengan wajah angkuhnya yang masih tetap terlihat cantik diusia yang tak lagi muda itu. Gyo Yoong Ju. Dari data itu, dapat dilihat apa saja kegiatan wanita paruh baya itu. Yang diketahui hanya menghabiskan waktunya untuk berpergian keluar negeri. Menghabiskan harta mereka dengan kegiatan travelling, shopping dan kegiatan lainnya yang tak berarti. Bahkan wanita itu membuka beberapa club malam terkenal yang menyediakan banyak wanita penghibur kelas tinggi.

Baik Siwon, Kyuhyun dan Myungsoo hanya memandang malas orang-orang tak berarti itu. Kehidupan Im Seul Ki dan Gyo Yoong Ju tak jauh berbeda dengan kehidupan mereka. Toh, mereka pun sama-sama buronan kelas kakap yang sulit untuk dibekukan. Mengingat bagaimana licinnya keluarga Choi memperdaya para polisi-polisi itu. Dan jangan lupa, bagaimana kekayaan yang dimiliki keluarga Choi. Hasil dari perampokan yang mereka lakukan, membuat keluarga ini bangkit dari keterpurukan setelah kejadian belasan tahun yang lalu. Dimana Keluarga Im menghancurkan keluarga Choi dengan membunuh anak-anaknya dan juga menantu, serta mengambil beberapa aset berharga milik keluarga Choi.

Maka karena itu pula lah, kini Siwon, Kyuhyun dan Myungsoo melakukan pekerjaan ini untuk mengembalikan kejayaan keluarga Choi. Memperkuat keberadaan mereka berkali-kali lipat dari keluarga Im. Tak heran, bagaimana kerasnya harabeoji menjadikan ketiganya pembunuh berdarah dingin. Agar dapat mengembalikan posisi keluarga Choi ketempat teratas.

Jika keluarga Im dikenal sebagai keluarga pengusaha, yang terlihat sukses dan baik-baik saja dimata masyarakat. Maka berbeda dengan keluarga Choi yang memang terkenal sebagai keluarga mafia. Mereka sama sekali tak berniat untuk membersihkan reputasi mereka agar dipandang baik oleh masyarakat. Keluarga Choi begitu ditakuti, karena harabeoji selalu berhasil menangkap dan menggeret orang-orang yang melawan mereka masuk kedalam penjara. Bahkan para pejabat-pejabat negara yang melakukan penggelapan-penggelapan dana serta kejahatan lainnya tak segan-segan dilempar ke kursi pengadilan, tentunya itu menjadi keuntungan keluarga Choi dalam pandangan masyarakat agar disegani. Satu yang tidak diketahui publik, bahwa cucu-cucu dari keluarga Choi adalah pencuri kelas kakap yang banyak merugikan perusahaan-perusahaan baik milik negara maupun swasta. Dan juga kenyataan bahwa ketiga cucunya merupakan pembunuh bayaran, menghabisi siapa saja yang menjadi target mereka dengan bayaran yang fantastis. Dan hebatnya, hingga waktu 8 tahun ini tidak ada yang bisa mengungkap siapa sosokyang selalu meninggalkan jejaknya hanya dengan selembar kain hitam berbentuk persegi. Yang selalu mereka letakkan pada bagian wajah korban atau tempat dimana mereka melakukan pencurian. Dengan sebuah tulisan berwarna merah yang terlukis dengan indah diatas kain itu, merangkai kata yang menjadi buah bibir dikalangan masyarakat dengan sebutan si Troublemaker.

Sudah berapa banyak polisidan orang-orang intelegent diturunkan untuk mencari keberadaan mereka. Sama halnya dengan keluarga Im yang menjadi buronan. Bedanya, jika keluarga Im tidak melakukan apapun dan hanya terdiam pura-pura tak bersalah dan berkelit. Maka keluarga Choi punya cara yang lebih sadis. Mereka tak segan-segan membunuhnya, dan melenyapkan orang-orang itu hingga tak ada satupun yang dapat menemukan orang-orang itu kembali hidup selayaknya.

Tangan Siwon bergerak membuka lembar ketiga, dilembaran tersebut terdapat foto seorang gadis cantik berwajah putih pucat tersenyum lirih menghadap kamera yang memotretnya saat itu. Membuat kedua mata Siwon maupun Kyuhyun terbelalak lebar. Kyuhyun bahkan merasa napasnya tercekat dan lututnya lemah tak berdaya. Tidak sanggup untuk menahan bobot tubuhnya yang terasa begitu berat saat ini. Seperti ada beribu-ribu ton besi yang menimpa tubuh tegapnya. Wajahnya yang memang sudah memiliki warna kulit putih pucat, semakin pasi ketika menghadapi kenyataan yang menghimpitnya.

Melihat kedua kakaknya terdiam dengan mata melebar, Myungsoo hanya mengernyitkan kening. Lalu mendesah heran, dengan tak sabar dibaliknya lembar ketiga itu menuju lembar selanjutnya. Dan setelah itu, semakin tercenganglah Siwon dan Kyuhyun ditambah Myungsoo yang tersentak kaget ketika dilihatnya sosok gadis yang baru saja dikenal mereka. Kedua mata Myungsoo berkedut, dengan tangan terkepal dimasing-masing sisi tubuhnya. Mereka bertiga terdiam tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Bukan karena siapa kedua orang sebelumnya, tapi karena kedua orang setelah itu. Mereka benar-benar tak menduga dengan semua ini.

“Igeo mwoya?” tanya Siwon berbisik pada dirinya sendiri, namun tetap terdengar dikuping kedua adiknya yang berdiri disamping kanan-kirinya.

“Maldo andwae.” Suara lirih Kyuhyun, menyadarkan lamunan Myungsoo. Lalu, tanpa aba-aba Myungsoo merebut map itu dan melemparkannya keatas meja harabeoji yang terlihat tak peduli dengan keterkejutan ketiga cucunya.

“Kami tidak akan membunuh mereka.” Myungsoo sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Namun hati dan pikirannya, menyuruhnya untuk begerak dan melakukan hal yang baru saja dilakukannya. Dan untuk pertama kalinya, Myungsoo berteriak di hadapan harabeoji. Dan juga menentang orang yang telah membesarkannya itu.

“Benarkah? Kalian-tidak akan melakukannya?”

“Tidak.” Giliran Kyuhyun yang berkata tegas dan menatap haraeboji dengan kilatan tajamnya.

Jari-jari harabeoji mengetuk pelan tongkat yang masih ada dipegangannya itu berulang kali, dengan wajah yang terlihat berpikir keras. Wajah harabeoji mengarah kepada ketiga cucunya itu setelah beberapa saat terdiam. Menatap datar ketiganya dengan rahang yang mengeras. Dan tanpa aba-aba mengangkat tongkatnya lalu mengarahkannya menuju Siwon, Kyuhyun dan Myungsoo. Melihat itu Siwon menarik kedua adiknya kebelakang tubuhnya dan memberikan tatapan tajamnya kepada harabeoji.

“Kalian terlihat begitu saling menyayangi satu sama lain.” Ucap harabeoji, masih dengan tongkat yang terangkat ke udara.

“Turunkan tongkat itu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.” Kata Siwon cepat namun ada ketegasan disetiap kata yang terlontar dari bibir tipisnya.

“Apa kalian pikir, harabeoji akan setega itu membunuh kalian? Tentu saja tidak, sudah berapa banyak uang yang harabeoji keluarkan untuk membesarkan dan mendidik kalian? Dan tentu kalian tahu, harabeoji tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah harabeoji keluarkan. Tapi anggap saja… ini adalah sebuah ancaman kecil untuk kalian. Dan, harabeoji tidak pernah main-main dengan ancaman yang harabeoji berikan. Lagi pula… mau tidak mau, suka tidak suka. Kalian harus tetap membunuh orang-orang yang ada didalam map itu.”

Ketiganya mematung dan mengerang kesal dalam hati. Siwon mendesah lega, ketika tongkat itu mulai diturunkan dan diletakkan diatas meja kerja harabeoji. Tangannya masih memegang masing-masing lengan Kyuhyun dan Myungsoo. Berjaga-jaga dengan tindakan bodoh yang mungkin akan dilakukan keduanya. Sebenarnya Siwon ingin memberontak seperti biasanya, namun laki-laki itu sadar. Saat ini, ia tak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia harus bisa melindungi kedua laki-laki yang ada disampingnya, walau sebenarnya Siwon ingin sekali berteriak di depan harabeoji saat itu juga.

“Seminggu. Waktu yang cukup untuk kalian bukan? Seperti biasa, lakukan sebaik dan serapih mungkin. Jangan biarkan orang lain tau gerak-gerik kita.”

“Semudah itukah?” tanya Kyuhyun dengan tatapan kosong pada lantai ruangan itu.

“Bukankah kalian sudah terbiasa melakukan ini? Atau seminggu itu waktu yang terlalu lama?”

Ketiganya mengangkat wajah secara bersamaan. Menatap tak percaya, ucapan harabeoji. “Ani. Itu waktu yang cukup untuk kami.” Jawab Siwon cepat.

Harabeoji mengangguk pelan. “Lakukan misi ini mulai besok. Karena sore ini kalian harus menuju Museum Nasional Korea terlebih dahulu. Besok pagi akan ada pemeran Diamond Cullinan, kalian pasti tahu betapa berharganya berlian itu. Jadi, Harabeojiingin kalian mengambilnya dengan utuh. Dan berlian itu sudah harus ada diatas meja ini sebelum tengah malam nanti. Ingat! Lakukan sebaik mungkin dan… secermat mungkin. Jangan gegabah, arraci?”

Siwon mengambil napas panjang dan menghempuskannya pelan. Sedangkan Kyuhyun dan Myungsoo terlihat tak fokus.

“Baiklah.” Ucap Siwon setelah cukup lama terdiam

“Harabeojitidak ingin ada kesalahan seperti tadi malam. Lakukan yang terbaik untuk sore ini. Pengawasan akan diperketat 10 kali lipat, jadi berhati-hatilah dan tetap waspada. Berlian itu akan sampai tepat pukul 6 sore untuk dimasukkan kedalam aula tersembunyi dilantai 3. Cari dan temukan secepatnya. Lumpuhkan siapa saja yang menghalangi jalan kalian. Arraseo?”

“Arraseo.” Ketiga berguman lirih.

“Pergilah!”

Ketiganya membungkuk lemah, mereka begitu benci melakukan ini. Namun apa daya, cengkeraman pria tua itu begitu kuat hingga membuat ketiganya tak mampu lari dari dunia mereka ini. Dulu Siwon pernah mencoba untuk berhenti dari semua pekerjaan jahat ini, setelah Tiffany pergi meninggalkannya. Meski akhirnya harus kembali, ketika harabeoji menyiksa habis-habisan Kyuhyun dan Myungsoo dengan cara yang paling kejam. Mencambuk keduanya hingga membuat Myungsoo dilarikan ke rumah sakit akibat sakit yang dideritanya. Dan mengancam akan menghancurkan gadis itu dan siapapun yang berkaitan dengan Tiffany. Dan saat itu, Siwon merasa menjadi sosok yang paling nista karena dengan bodohnya kembali kebelunggu pria itu, menjalankan semua perintahnya ,berharap sang kakek tidak melakukan tindakan keji kepada gadisnya itu. Siwon tahu betul watak harabeoji, ia tidak akan melepas umpan yang dimaksud dan akan benar-benar menghancurkannya hingga akar jika harabeoji mau.

Kepala Siwon berdenyut, mengingat 6 tahun yang lalu. Wajahnya semakin pucat dan ia merasa tidak akan sanggup berdiri dengan benar. Namun kembali ia tampar kesadarannya. Disampingnya masih ada Kyuhyun dan Myungsoo yang membutuhkannya. Dan laki-laki itu sadar, ia harus tetap kuat untuk mereka berdua.

Ketiganya mulai membalikkan tubuh mereka hingga suara harabeoji menginterupsi gerakan mereka. Membuat ketiganya kembali menatap sang kakek. Dan lagi, Siwon meringis pelan dalam hati. Ketika untuk kedua kalinya mendengar ucapan yang sama terlontar dari bibir harabeoji.

“Harabeojitidak tahu, lebih tepatnya belum tau apa hubungan kalian dengan kedua anak gadis Im Seul Ki. Tapi disini, kembali harabeojiingatkan kepada kalian bertiga. Jangan gunakan cinta dan kelembutan kalian untuk hidup didunia ini, karena semua itu akan tetap berakhir dengan kematian dan darah yang mengucur disetiap tubuh orang-orang yang kalian kasihi itu. Jika dalam seminggu kalian gagal melakukan tugas kalian. Maka harabeojisendirilah yang akan membunuh mereka dengan tangan ini. Seperti mereka membunuh anak-anakku.”

***

 

134 thoughts on “TROUBLEMAKER 2

  1. aduh myungso n kyuhyun pasti shock berat,kasihan bgt mereka,padahal mereka tertarik pada anak tuan im,untk tiffany harus merasakan sakit lg,siwon tetep kukuh pd pendiriannya

  2. aigoo poor fany..😥 trnyata siwon msh blm bs luluh dgn bujukan fany utk meninggalkan dunia gelapnya..
    tp aku yakin pasti ada alasan dbalik smua yg dlakukan siwon..
    knp harabeoji nya jahat bgt sih?
    lanjut ah🙂

  3. duh gak tega waktu bacanya waktu siwon harus ninggalin tifany lagy
    luar biasa choi haraboeji, jadi penasaran thor ada hub apa ortu si gadis2 sama si pria2 ko sampai ada pembunuhan tragis d msa lalu..dan anak2nya d masa depan jadi korban..

  4. comment lg teruuuss wkwkkw, itu kakek” tua bangka yee uda tua masih aje, inget umur pak bau tanah juga maen ancem” eh wkakakaka

  5. Wew sdis bner nih kakek..
    Kakeknya si woobin ya..cocok sih,,mkanya kan kejam gtu..haha
    gmna nsib kluarga Im ya..??
    Apa mrka ber-3 bkal mmbnuh kluarga Im..??

  6. kasian yoona unnie smoga aja sakitnya cepet sembuh.
    sifany mometnya bikin greget🙂 tapi jgn bikin tiffany unnie sakit hati lg. kasian tiffany unnie😥

  7. Kakek choi terlalu memaksakan kehendaknya sehingga cucu2nya yang menjadi korban dendamnya Dia . Seharusnya dia berpikir untuk masa depan cucu2nya bukan malah menghancurkan masa depan cucu2nya. Aku penasaran kelanjutannya . Jjang daebak.

  8. Dan ada si kakek kejam yg mementingkan dendam pribadi dibandingkan keluarga..
    Makin menarik aja ini storylinenya.. lanjut lagi yaaa..

  9. Yaaah myungsoo-kyuhyun pasti shock banget >< ck choi wobin bener-bener.. sifany kasiaaan huweeeh putus cuma gegara masalah dendam kakek nya

  10. Kejam banget harabouji mereka. Masak harus membunuh org yg mrka cintai..huuuaa. kisah cinta yg bner2 tragis. Smga si kakek ini nantinya sadar n membiarkan mrka bahagia dgn pasangan masing2.

  11. Kasian fanynya,siwon kembali lagi menyakiti hati fany seperti 6thn yg lalu.
    Ooo….ternyata harabojinya siwon,kyuhyun,myungsoo ternyata seorang mafia
    Jadi penasaran gimn hubungan sifany selanjutnya,dan juga apakah troublemaker sanggup membunuh keluarga im,termasuk im yoona dan im soona.
    Reading next part.
    Thanks buat author dan ffnya,makin seru aja.
    Author jjang author hwaiting.

  12. duh…nyesek banget wktu fany mohon2 ma siwon buat berhenti dari dunianya,,tpi siwon malah nglepasin fany lgi…walaupun dia nyesek juga tuh…

  13. Bls dendam inti dr semua ini n hrs dilkukn krn ini udh jd tujuan kakek siwon. ap mrk akn ttp ad dlm kungkungn kakek? pdhl mrk ingin keluar dr dunia itu n mmbngun klrg.dilema utk siwon aplg yg jd tujuan adl klrg dr wanita yg dicintai adik2ny..penasaran n lnjut trs..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s