(AD) Could It Be Love Part 5 – End

Could it be love

Cibl

@echa_mardian

Cast : Choi Siwon, Hwang Miyoung

Genre : Romance, Hurt, Sad

Rating : PG 17

 

“Kyaaa kyeopta!” Jessica menjerit bahagia dan hendak mengambil alih bayi Siwon dari gendongan suster. Tetapi Siwon dengan tangkas menarik tangan Jessica dan melotot pada wanita itu. Jessica melengkungkan alisnya pertanda protes.

“Waeyo? Aku ingin menggendongnya, Choi Siwon!”

“Aish, bisakah kau tidak berteriak-teriak di dekat anakku? Wookie, tolong bawa ice princess mu ini keluar!” desis Siwon. Dongwook hanya tertawa kecil lalu dengan lembut menarik Jessica menjauh. Siwon memberi kecupan pada pipi putra kecilnya sebelum menyusul kedua sahabatnya. Suster yang menggendong bayi Siwon dan Miyoung pun kembali ke ruangan bayi.

“Huh, Choi Siwon, jinjja! Kenapa kau hiperbola sekali? Aku hanya ingin menyentuh bayi Miyoung!” Jessica masih menggerutu pada Siwon. Kini mereka bertiga telah berdiri di depan pintu ruang rawat Miyoung.

“Kau kan belum mandi, jadi belum steril. Aku takut kau menularkan sesuatu pada anakku!” tegas Siwon. Dongwook berdecak seraya memijit-mijit pelipisnya. Kenapa dua manusia ini selalu bertengkar, keluh Dongwook dalam hati.

“Tidak steril katamu? Yah! Apa kau ingin kubuat babak belur lagi?!” sembur Jessica. Dongwook segera memeluk kekasihnya dari samping sementara Siwon tertawa puas.

“Sudahlah, kalian berdua! Aku lelah setelah menyetir berjam-jam. Jangan berteriak-teriak di depanku!” lerai Dongwook. “Dan kau Choi Siwon, selamat untuk kelahiran bayimu. Apa kau sudah memberinya nama?”

Siwon mengangguk. “Aku sudah menyiapkan satu nama untuk putraku tetapi aku belum mengatakannya pada Miyoung.”

Jessica mendengus sambil melipat tangannya. “Memangnya kau menamainya siapa? Jangan-jangan Choi Cassanova,” ejeknya.

Bibir Siwon berkedut-kedut hendak membalas ejekan Jessica namun ia memilih untuk mengabaikannya. Ia pun kembali menatap Dongwook. “Aku akan menamainya Choi Ji Hoo, seperti nama Ayahku. Ng…apakah tidak apa-apa? Bagaimana menurutmu, Wookie?”

Dongwook dan Jessica saling bertukar pandang. Ada seulas senyum tulus di wajah mereka. Kemudian Dongwook mengangguk dan menepuk pundak Siwon.

“Nama yang sangat tampan, Siwon-ah. Miyoung juga pasti akan setuju.”

Siwon tersenyum lega.

“Kalau begitu, ayo masuk. Aku sudah sangat merindukan Miyoung. Minggir kalian!” cetus Jessica lalu mendorong Dongwook dan Siwon dari depan pintu. Jessica langsung saja menyerbu ke dalam, meninggalkan Siwon yang mendesis kesal sedangkan Dongwook hanya menggelengkan kepala heran.

“Untung saja Jessica adalah kekasihmu, Wookie. Kalau tidak aku akan mencekiknya!” gerutu Siwon. Dongwook menggigit bibir bawahnya lalu menghentikan Siwon yang hendak masuk ke ruangan Miyoung. Siwon menatapnya heran. “Ada apa, Wookie?”

“Aku…akan melamar Jessica malam ini. Apakah menurutmu ini waktu yang baik?”

Siwon terdiam sejenak. Ia tidak tahu kalau Dongwook lebih mementingkan kebahagiaannya dulu daripada kebahagiaannya sendiri. Dongwook memang seorang sahabat yang sangat loyal padanya. Siwon tersenyum bangga pada Dongwook lalu memeluknya.

“Sangat baik, Wookie. Aku kira kau tidak akan pernah menikahi nenek sihir itu. Hahaha. Tapi aku mendukungmu 100 persen!”

Dongwook membalas pelukan Siwon. Kini tak ada lagi yang mengganjal di hatinya untuk melamar wanita yang sangat dicintainya. Siwon sudah bahagia dengan anaknya serta Miyoung.

Sementara itu di dalam, Miyoung sangat senang bertemu dengan Jessica lagi. Sudah lebih dari 9 bulan tidak bertemu membuat mereka saling merindukan satu sama lain. Miyoung memperkenalkan Yoona kepada Jessica. Sejak awal persalinan Yoona memang tidak beranjak dari Miyoung. Siwon dan Dongwook bergabung tak lama kemudian, membuat senyuman Miyoung semakin melebar.

“Eoh, Yoona-ssi. Apakah kau tidak lelah? Kau butuh istirahat. Apa ingin kuantar pulang?” Siwon menghampiri Yoona. Yoona berdiri dari kursinya dan menggeleng atas penawaran Siwon.

“Tidak perlu, Siwon-ssi. Aku akan pulang dengan taksi saja.”

“Tidak, tidak. Kau tidak boleh pulang sendiri. Biar aku saja yang mengantarmu!” sela Jessica. Yoona melirik Miyoung.

“Jessie benar, Yoong. Kau tidak boleh pulang sendiri,” tambah Miyoung.

“Mm, baiklah. Apa aku tidak merepotkan?” tanya Yoona ragu.

“Tentu saja tidak. Kajja, baby!” seloroh Dongwook seraya menggandeng tangan Jessica. “Aku ikut dengan kalian!”

Dongwook mengedip pada Siwon dan Siwon langsung mengerti. Dongwook mungkin akan melamar Jessica di dalam perjalanan. Ck, ada-ada saja, batin Siwon.

“Baiklah. Miyoung-ah, kami pergi sebentar!” ucap Jessica.

“Eonnie, besok aku kembali lagi kesini, ne!”

“Nde, gomawo Yoong. Jessie, hati-hati di jalan. Kau juga, Dongwook-ssi.”

Lalu mereka pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan Siwon dan Miyoung yang canggung satu sama lain. Beberapa jam yang lalu mereka bertingkah seperti suami istri yang sangat mesra dan sekarang keadaan kembali seperti semula. Siwon begitu gugup ketika Miyoung memandangnya lembut. Ia berjalan perlahan menghampiri ranjang. Sedangkan tatapan Miyoung tak lepas darinya. Miyoung memang gugup, tetapi mulai saat anak mereka lahir tadi, Miyoung berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan menerima Siwon.

“Bagaimana keadaanmu, Miyoung-ah?” tanya Siwon lembut. Ia menempati kursi yang tadi diduduki Yoona, tepat di samping Miyoung.

“Tak pernah sebaik ini, Siwon-ah. Jeongmal gomapta.”

Siwon tertawa kecil. “Untuk apa berterima kasih?”

“Untuk semangat yang tadi kau berikan padaku,” jawab Miyoung praktis. Siwon mengeluarkan desahan lega.

“Silly. Untuk apa berterima kasih untuk hal itu. Sudah kewajibanku menjadi penyemangatmu!”

Miyoung diam saja. Kini ia memperhatikan wajah Siwon lebih seksama. Luka dan memar di wajah Siwon cukup parah. Miyoung bertanya-tanya apakah pria itu tidak merasakan sakit? Perlahan tangannya terulur untuk menyentuh pelipis Siwon yang masih ditutupi perban kecil. Siwon yang terluka tetapi Miyoung yang meringis.

“Gwaenchana?”

Siwon tersenyum penuh arti lalu menggamit tangan Miyoung dan menggenggamnya. “Jangan khawatir. Aku kan Superman.”

Miyoung mendengus sebal. Apa penyakit narsis Siwon muncul lagi? Tetapi Miyoung tidak mengejeknya, melainkan menikmati genggaman hangat tangan Siwon. Tatapan Siwon tidak lepas dari wanita yang baru saja melahirkan buah hati mereka itu. Sesekali Siwon menautkan jari-jari mereka lalu terkekeh konyol.

“Apa kau telah melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib?” tanya Miyoung memecah kecanggungan mereka.

“Aku rasa Tuan Im sudah melakukannya. Aku tidak terlalu peduli pada hal itu sekarang,” ujar Siwon.

“Mwo? Kau tidak ingin mobilmu kembali?” tanya Miyoung heran.

“Tidak. Aku kan sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku mendapatkanmu dan yang terpenting, aku mendapatkan putra yang sangat tampan,” ungkap Siwon.

Miyoung buru-buru melepaskan tautan tangan mereka. Wajahnya merona merah karena gugup. Tentu saja ia ingat dengan apa yang diucapkan Siwon saat di ruang persalinan. Siwon mengatakan bahwa mereka harus menikah setelah ini. Sejujurnya Miyoung tidak ingin menolak, tetapi jika semuanya terlalu cepat ia belum siap. Benar-benar belum siap.

“Waeyo? Apa ucapanku salah?” tanya Siwon sok polos.

Miyoung hanya menggeleng lemah. Matanya menghindari tatapan heran Siwon.

“Miyoung-ah, aku tidak main-main ingin menikahimu. Aku tahu kalau kau sudah bisa menerimaku. Sampai kapanpun aku akan menunggumu siap,” ujar Siwon lembut.

***

 

“Kalau begitu selamat beristirahat, Yoona-ssi. Senang berkenalan denganmu!”

Yoona yang sudah turun dari mobil Dongwook, langsung membungkuk penuh terima kasih pada kedua orang yang baru saja mengantarnya pulang dengan selamat.

“Nado, Jessica Eonnie. Apa kalian yakin tidak ingin mampir sebentar? Kalian juga bisa beristirahat di rumahku,” Yoona menawarkan dengan tulus.

“Terima kasih atas tawarannya, Yoona-ssi. Tapi kami ingin menemani Siwon di rumah sakit.”

Yoona mengangguk setuju setelah mendengar jawaban Dongwook. Ia hanya bisa tersenyum manis ketika sepasang kekasih itu pergi lagi menuju rumah sakit. Yoona melambaikan tangannya dan dibalas Jessica dengan suka cita.

“Kalau saja mobil kita bisa memasuki gang itu, aku ingin sekali melihat rumah Miyoung,” ujar Jessica yang duduk di samping kemudi. Dongwook hanya merespon dengan senyuman kecil. “Pantas saja Miyoung betah tinggal disini. Mempunyai teman seperti Yoona tidak akan membosankan.”

“Kau benar. Selain ramah ia juga cantik. Ssshh, kira-kira dia sudah mempunyai kekasih atau belum?” timpal Dongwook sengaja. Jessica menoleh padanya sambil menyipitkan mata.

“Eih, apa maksudmu Lee Dongwook? Kau ingin mati ya? Berani-beraninya memuji gadis lain di depanku,” desis Jessica.

Dongwook menyeringai kesenangan. Tiba-tiba ia menepikan mobilnya dan berhenti disana, membuat Jessica mengernyit heran. Ia menunggu apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya. Dongwook yang sejak tadi telah menahan perasaannya, kini memutar sedikit posisi duduknya sehingga berhadapan dengan Jessica.

“Baby, mianhae. Tapi aku rasa kita tidak bisa melanjutkan hubungan seperti ini lagi.”

Jessica mengerjap kaget. MWO? Wanita itu menatap tanpa berkedip tepat ke sepasang mata hitam kekasihnya. Dongwook mengatakan hal itu dengan sangat ringan, seolah-olah benar-benar lelah dengan hubungan mereka. Apa Dongwook bergurau? Jessica menelan ludah. Mimik wajah Dongwook bahkan sangat serius.

Tetapi kenapa tiba-tiba Dongwook berkata seperti itu? Padahal mereka tidak mempunyai masalah apapun sebelumnya. Jessica sibuk dengan hipotesa di kepalanya sehingga tidak menyadari bahwa saat ini Dongwook mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.

“Baby? Bagaimana kalau kita merubah status? Sebagai suami dan istri, mungkin?”

Seiring dengan ucapannya, Dongwook membuka kotak kecil yang tadi dikeluarkannya, memperlihatkan sebuah cincin berlian dengan ukiran indah. Jessica terkesiap. Ia menatap Dongwook dan cincin tersebut secara bergantian. Sebenarnya rasa kagetnya belum habis akibat ucapan Dongwook sebelumnya dan sekarang pria itu membuatnya shock untuk kedua kali.

“Maaf jika caraku melamarmu tidak romantis sama sekali. Tetapi aku benar-benar tidak menemukan cara yang tepat. Sepanjang perjalanan mengantar Yoona aku terus berpikir keras. Sebenarnya sudah lama aku ingin melamarmu, tetapi aku tidak bisa melihat keadaan Siwon yang belum menemukan kebahagiaannya. Baby, aku tidak pernah menganggap gadis lain lebih cantik dari dirimu. Jadi jangan salah paham terlebih dahulu. Sekarang, aku ingin bertanya sekali lagi padamu. Apakah kau—“

“Aish, stupid!”

Dongwook terkejut saat Jessica menarik telinganya. Bukan bermaksud menyakiti, tetapi Jessica hanya melampiaskan kekesalannya. Setelah menarik telinga Dongwook, Jessica langsung menarik pria itu ke dalam pelukannya. Kemudian melanjutkan ‘kekerasannya’ dengan memukul-mukul punggung Dongwook.

“Kenapa kau bodoh sekali, Lee Dongwook?! Kau ingin membuatku mati karena kesal? Tentu saja aku ingin menjadi istrimu. Sudah lama aku menantikannya, kau tahu? Aish!”

Dongwook mendesah lega dan tersenyum lebar di pundak Jessica. Sesekali ia menciumi pipi serta leher wanita itu. Untuk sesaat ia menyembunyikan wajahnya disana, menikmati keharuman tubuh calon istrinya.

“Baby?”

“Hmm?”

“Aku belum memakaikan cincinnya di jarimu?”

Jessica terkekeh kemudian melepaskan pelukannya. Dongwook menarik tangan kiri Jessica dan menyematkan cincin indah itu di jari manisnya. Jessica menggigit bibir bawahnya menahan haru. Jujur, saat ia masih kecil dimana selalu memimpikan pernikahan dengan seorang pangeran tampan, Jessica memimpikan cara lamaran yang sangat romantis, seperti di dekat menara Eiffel kemudian sang pria berlutut di hadapannya dan memegangi tangannya. Tetapi Dongwook bisa merubah keadaan biasa dan monoton seperti saat ini menjadi momen yang lebih indah dari impian masa kecil Jessica. Jessica mencintai Dongwook, jadi apapun yang dilakukan pria itu tidak mengurangi kadar cintanya sedikitpun. Dongwook adalah pria yang sangat tepat untuknya. Pria yang bertanggung jawab, merupakan sahabat yang setia, pekerja keras dan yang terpenting, sangat mencintai dirinya.

Dongwook mengecup satu-persatu jari tangan Jessica kemudian kembali menatap lembut mata kekasihnya. “I love you, Jessica Jung.”

Jessica tidak dapat mencegah airmatanya mengalir. Dongwook menariknya agar lebih dekat lalu memberikan ciuman dalam untuk sang kekasih. Ups, maksudnya, calon Nyonya Lee.

***

 

“Choi Ji Hoo.”

Mata Miyoung berkaca-kaca saat membaca nama yang tertera di box bayinya. Nama yang sangat cocok untuk sang buah hati. Tentu saja pemberian dari Siwon. Miyoung mendesah. Seandainya saat ini Tuan Choi masih hidup, pasti beliau sangat bahagia karena cucunya telah hadir di dunia ini, dengan menyandang namanya.

Siwon meremas lembut bahu Miyoung. Ia tetap berdiri di belakang kursi roda wanita itu, bersama-sama memandangi bayi mereka dari luar ruangan bayi. Miyoung mendongakkan kepalanya, meminta perhatian Siwon.

“Terima kasih untuk nama yang sangat indah,” ucap Miyoung. Siwon mengulum senyuman tulus.

“Aku senang kau menyukai nama itu,” balas Siwon. Miyoung mengangguk singkat kemudian kembali memandang ke ruangan bayi.

“Nah, disini kalian rupanya!”

Siwon dan Miyoung serentak menoleh. Ternyata dua sejoli yang tampaknya tengah berbahagia, terlihat dari cengiran lebar Lee Dongwook. Mereka menghampiri Siwon serta Miyoung dan perhatian Miyoung langsung terpusat pada benda mengkilat di jari manis Jessica.

“Apa kalian keberatan jika kami ikut menginap?” tanya Dongwook pada Siwon dan Miyoung.

Siwon tidak menjawab. Matanya juga tertuju pada cincin yang baru tersemat di jari manis sahabatnya. Kemudian tatapannya beralih pada wajah wanita itu.

“Wah, daebak! Akhirnya kau sudah menjadi calon suami nenek sihir ini, Wookie. Chukkae!” seru Siwon, mengabaikan pertanyaan Dongwook sebelumnya. Miyoung menahan tawa.

“Mwo? Apa katamu, Choi Siwon? Yah! Sebaiknya kau cepat-cepat melamar Mi—hmmp!”

Sebelum Jessica melanjutkan omelannya, Dongwook dengan cepat menutup mulut wanita itu. Siwon menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, sedangkan Miyoung salah tingkah. Dongwook tertawa canggung. Tidak seharusnya Jessica memancing Siwon langsung di hadapan Miyoung.

“Engh…ayo kembali ke kamar. Miyoung membutuhkan istirahat!” tukas Dongwook. Jessica masih berdengung di telapak tangannya.

“Ah aku lupa! Kami ingin mengisi perut terlebih dahulu di kantin. Apa kalian ingin memesan sesuatu?” tawar Dongwook.

Miyoung menggelengkan kepala. “Tidak usah, Dongwook-ssi. Lebih baik kalian makan malam dulu, kami akan menunggu di kamar.”

Dongwook melepaskan tangannya dari mulut Jessica kemudian menarik kekasihnya itu menjauh, sebelum kembali mengomel pada Siwon. Mereka berjalan menuju kantin, sementara Siwon dan Miyoung masih berdiri di tempat itu.

Miyoung menunduk memandang lantai. Perkataan Jessica terngiang-ngiang di telinganya. Jika Siwon melamarnya seperti Dongwook melamar Jessica, mungkin Miyoung akan menerimanya. Terlepas dari segala keraguan akan perubahan baik Siwon, namun hati kecil Miyoung mencintai pria itu. Siwon termenung di tempatnya. Di satu sisi ia ikut bahagia atas keberhasilan Dongwook melamar Jessica, di sisi lain ia ketakutan jika nanti Miyoung menolak lamarannya.

Sial, umpat Siwon di dalam hati. Ia bahkan belum membeli cincin untuk melamar Miyoung. Siwon terus berpikir sambil mendorong lembut kursi roda di hadapannya. Ia bingung memilih waktu terbaik untuk melamar Miyoung. Apakah besok adalah hari yang tepat, tanyanya dalam hati. Sepertinya ia perlu berkonsultasi pada Dongwook.

Dan Siwon teringat nasehat Yoona. Gadis itu berkata agar segera melamar Miyoung sebelum semuanya terlambat.

“Siwon-ah?” panggilan Miyoung mengagetkan Siwon.

“Nde?”

“Sampai kapan kau akan melamun? Tidak mau membantuku naik ke atas ranjang?”

Siwon mengerjapkan matanya kemudian terkekeh menyadari kalau mereka sudah sampai di kamar. Siwon segera berpindah tempat ke hadapan Miyoung lalu dengan mudah menggendong tubuh wanita itu. Untuk sesaat Miyoung menikmati pelukannya di dada Siwon ketika Siwon memindahkannya ke ranjang. Siwon sendiri heran mengapa Miyoung tidak melepaskan cengkraman di kemejanya.

“Biarkan seperti ini dulu. Aku…membutuhkanmu.”

Siwon bertumpu pada ranjang agar tidak menghimpit tubuh rapuh Miyoung. Ia tidak percaya dengan pendengarannya. Apa ia sedang bermimpi mendengar Miyoung berkata seperti itu?Perlahan Siwon menunduk dan matanya bisa melihat mata Miyoung sedang terpejam. Siwon tersenyum. Ya, ia tidak salah dengar.

“Kalau begitu kau tidak keberatan jika kita berbagi tempat tidur?” bisik Siwon.

Miyoung merasa wajahnya merona merah. Kemudian tanpa ragu ia menganggukkan kepalanya. Ia memang tidak ingin melepaskan Siwon. Ia tidak tahu hormon apakah yang sedang bekerja di dalam dirinya saat ini, tetapi ia tidak ingin jauh-jauh dari Siwon.

Siwon pun mengangkat tubuhnya ke atas ranjang lalu berbaring di samping Miyoung. Miyoung masih memeluknya erat. Siwon menarik selimut sehingga menutupi tubuh mereka berdua lalu melingkarkan tangannya dengan posesif di pinggang wanita tersebut. Inilah momen yang paling ditunggunya selama ini. Berada sangat dekat dengan wanita dicintainya dan tidak berpikir untuk melepaskan.

 

 

 

“Akhirnya perutku kenyang sekali!” seru Dongwook ketika keluar dari kantin. Tangannya masih menggandeng tangan sang kekasih.

“Baby?”

“Hmm?”

“Kira-kira kapan Siwon akan melamar Miyoung? Aish, aku selalu gemas dengan kebodohan si tengik itu!”

Dongwook tertawa renyah kemudian merangkul bahu Jessica. Mereka terus berjalan menuju kamar rawat Miyoung. Koridor-koridor telah sepi pengunjung sebab waktu telah menunjukkan pukul 11 malam.

“Aku rasa lebih baik secepatnya. Aku belum sempat berbicara banyak dengannya karena persalinan ini. Mungkin nanti,” ujar Dongwook. “Dan kau Ny. Lee, berhentilah mengomel padanya. Dia cukup stress dengan kehadiranmu.”

Jessica langsung mencubit perut Dongwook, membuat pria itu meringis. “Karena dia memang patut diperlakukan seperti itu. Kalau aku tidak menyadarkannya, bisa-bisa ia belum juga melamar Miyoung!”

“Baiklah, baiklah, aku mengerti, baby.”

Tanpa sepengetahuan mereka, tiga pasang mata mengawasi dari kejauhan. Mereka mengawasi serta mempelajari gerak-gerik siapapun yang masuk ke kamar rawat Miyoung. Di samping itu, menunggu waktu yang tepat adalah tugas mereka.

Dongwook memutar handle pintu kemudian membukanya perlahan. Jessica mengikuti di belakangnya. Lalu tiba-tiba tubuh Dongwook berhenti, membuat Jessica menabraknya. Wanita itu mendongak menatap mata Dongwook yang kini tengah terpaku pada pemandangan di hadapan mereka. Serta merta Jessica ikut menoleh.

Siwon dan Miyoung tampak tidur dengan damai di atas ranjang, saling berhadapan dan berpelukkan. Jessica tanpa sadar tersenyum lega, jenis senyuman yang tidak pernah diberikannya kepada Siwon. Miyoung tampak nyaman di pelukan Siwon, sementara Siwon tampak sangat bahagia. Dongwook terkekeh pelan lalu menunduk menatap kekasihnya.

“Aku yakin bukan hanya kita saja yang menemukan akhir yang bahagia.”

Jessica mengangguk setuju. “Kau benar. Ah, betapa menyenangkannya melihat pemandangan ini.”

Baby, sepertinya kita tidak boleh mengganggu mereka. Ayo kita cari penginapan di sekitar sini. Otte?” bisik Dongwook.

Jessica tersenyum lebar. “Baiklah. Lagipula setelah melihat mereka, membuatku…merindukanmu.”

***

 

Pagi-pagi sekali Yoona terbangun dari tidurnya. Ia menyadari ada sesuatu yang kurang dan hal itu adalah ponselnya. Seingat Yoona, ponselnya masih berada di tangan Siwon sejak kemarin. Setelah melakukan panggilan kepada Dongwook, Siwon lupa mengembalikan milik gadis itu. Padahal Yoona harus ke kampusnya pagi ini sebelum nanti akan membesuk Miyoung kembali.

“Aish, aku harus cepat-cepat ke rumah sakit. Kalau tidak Professor Ahn akan mengusirku dari kelas,” gumam Yoona seraya memasukkan satu-persatu alat tulisnya ke dalam tas.

Setelah semuanya lengkap dan rapi, Yoona segera berpamitan pada Ayah dan Ibunya. Pasangan Im itu juga mengatakan kepada Yoona kalau mereka akan mengunjungi Miyoung hari ini. Yoona setuju dan segera memacu mobilnya menuju rumah sakit.

“Heol, apa kedua pasangan itu menginap di dalam satu kamar? Ck, bikin iri saja. Hmm, Im Yoona, seharusnya kau mulai mencari pasanganmu juga,” Yoona berbicara sendiri sambil terus menyetir.

Jujur saja, selama beberapa tahun terakhir ini kisah cintanya selalu menyedihkan. Di saat ia menyukai seorang pemuda, pemuda itu tidak membalasnya. Dan disaat ada pemuda yang menyukainya, ia justru hanya menganggapnya teman biasa. Yoona tahu kalau dirinya belum siap membiarkan orang lain masuk ke dalam kehidupannya setelah ia kehilangan pemuda yang sangat ia cintai. Cho Kyuhyun, kekasihnya sejak kecil yang meninggal 3 tahun lalu karena kecelakaan mobil.

Yoona mempercepat laju mobilnya. Sekitar sepuluh menit lagi, ia akan sampai di rumah sakit.

***

 

“Ssshhh, love, ireona. Sudah pagi,” bisik Dongwook di telinga Jessica. Namun wanita itu masih mendengkur halus. Sepertinya nyenyak sekali. Dongwook tertawa kecil lalu menciumi telinga calon istrinya.

“Hei, apa kau tidak ingin melihat malaikat kecil Miyoung dan Siwon, hmm? Dan apa kau lupa rencana kita semalam?” bisik Dongwook lagi.

Jessica bergumam panjang kemudian membuka matanya perlahan. Dongwook tetap di posisinya, tidur menyamping dan menumpukan kepalanya dengan siku agar dapat memandangi wajah cantik wanita di sampingnya. Dongwook mengelus lembut pipi Jessica kemudian menyelipkan rambut coklat itu di belakang telinganya.

“Hmm..,” gumam Jessica tak jelas. Matanya menatap sendu pada Dongwook. “Tentu saja aku ingin melihat anak itu, tetapi tidak Ayahnya. Dan apa rencana kita semalam?”

Dongwook menggeram saat mendengar suara serak yang seksi itu. Ia merapatkan tubuhnya dan mencium hidung bangir Jessica. “Kau tidak ingat? Aku berpikir kalau bocah tengik itu pasti belum membeli cincin untu melamar Miyoung. Jadi, kita akan ke toko perhiasan pagi ini lalu memberikannya kepada si idiot itu.”

Jessica terkekeh. “Hmm, baiklah. Aku melakukan ini hanya untuk kebahagiaan Miyoung dan anaknya.”

Dongwook tersenyum tipis. “Sebenarnya kau juga menyayangi sahabatmu itu, tetapi kau tidak ingin mengakuinya saja.”

Terdengar dengusan tak sudi dari Jessica. “Tidak, kok!”

“Benarkah? Hm, jangan seperti itu. Jika kau tidak menyayanginya kau tidak akan bersedia membantunya,” Dongwook terus menggoda. Jessica menggeleng kuat sambil membenamkan wajahnya di bantal. Memang kenyataannya seperti itu. Jessica menyayangi Siwon, begitupun sebaliknya. Tetapi Jessica bukanlah tipe seorang sahabat yang secara gamblang mengungkapkan perasaannya. Dan hanya Dongwook serta Siwon yang paham hal itu.

Dongwook menciumi punggung telanjang Jessica ketika ponselnya berdering. Pria tampan itu berdecak malas seraya menjangkau ponsel yang diletakkannya di atas nakas. Jessica mendorong tubuh Dongwook menjauh lalu duduk dari tidurnya, lalu secepat mungkin memakai jubah yang disediakan oleh pihak penginapan.

“Oh, Teuki!” sambut Dongwook hangat saat ia menerima panggilan di ponselnya.

“Wookie-yaa. Apa kau merekam tangis haru Siwon saat melihat anaknya? Kkk,” sahut Leeteuk yang berbicara di seberang line. Dongwook ikut terkekeh.

“Aku terlambat datang, jadi tidak sempat melakukannya. Anaknya laki-laki dan tampan sekali. Dan rencanaku pagi ini adalah ke toko perhiasan untuk membelikan cincin agar si idiot itu bisa melamar Miyoung.”

“Ck, kau sudah seperti Ayah angkatnya saja. Sampai-sampai cincin juga dibelikan. Aish, jinjja! Lalu bagaimana dengan lamaranmu? Apa Sica menerimanya?”

Dongwook tersenyum penuh arti seraya memandangi Jessica yang kini tengah berjalan ke kamar mandi. Lalu dengan anggukan singkat Dongwook juga berucap, “Tentu saja ia menerimaku, Teuki. Sampaikan kabar gembira ini pada Taeyeon, ne!”

*

 

“Akhirnya sampai,” ucap Yoona seraya menginjak rem. Mobilnya tepat berhenti di area parkir sebelah timur rumah sakit. Yoona mematikan mesin mobil sebelum turun. Ia tidak membawa serta tasnya sebab ia hanya akan mengambil ponselnya. Yoona mengutuk dirinya sendiri ketika hampir saja tersandung kakinya sendiri ketika berjalan terburu-buru.

Namun langkahnya otomatis berhenti saat melihat sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Yoona menahan matanya agar tidak berkedip ketika mengawasi pemandangan yang tak jauh darinya. Yoona melihat seseorang memakai seragam perawat  tengah menggendong bayi kecil, dan temannya mendorong sebuah kursi roda di belakangnya. Hal yang membuat Yoona mengernyit bingung adalah sepertinya ia mengenal wanita yang tertidur di atas kursi roda tersebut. Bukan sepertinya, tetapi pasti. Yoona sangat mengenali siapa yang duduk disana!

Miyoung! Dan anak bayi itu pasti bayinya!

Yoona tidak dapat menggerakkan kakinya untuk sementara sampai akhirnya keluarlah satu orang lagi dari pintu emergency tersebut. Mata coklat gadis itu melebar. Ia pernah melihat pria berseragam dokter itu! Seingatnya kemarin ia menabrak pria yang bernama Chung Suk tersebut. Menyadari kalau gelagat yang ditunjukkan Chung Suk dan kedua temannya mencurigakan, barulah Yoona mulai melangkah. Perasaannya tidak nyaman. Ia yakin Chung Suk pasti bukanlah seorang dokter. Lagipula hendak dibawa kemana Miyoung dan bayinya? Dan demi Tuhan, dimana Siwon, teriak batin Yoona.

Dengan tekad bulat, Yoona pun berlari ke arah mereka. Ketiga orang tersebut membawa Miyoung serta bayinya ke sebuah Van yang telah terparkir disana. Yoona merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia masih sempat menoleh ke segala arah tetapi pagi itu masih sangat sepi. Yoona memberanikan diri. Ia tidak ingin terjadi hal buruk pada Miyoung, terlebih lagi mereka juga membawa Choi Ji Hoo yang masih berusia 1 hari!

“Yah! Berhenti kalian!”

Mendengar teriakan lantang Yoona, tentu saja Chung Suk dan kedua temannya tersentak kaget. Salah satu dari mereka dengan cepat masuk ke dalam van, bersama bayi Choi. Sedangkan Chung Suk maju untuk menghampiri Yoona, menyiapkan sebuah pisau di belakang pinggangnya. Meskipun ia tidak berniat melukai Yoona, tetapi hal itu akan terjadi jika Yoona menghalangi pekerjaan mereka.

Yoona berhenti di depan Chung Suk. Dadanya turun naik dan napasnya tersengal. Matanya kini terpaku pada Miyoung yang sepertinya tidak sadarkan diri di atas kursi roda. Sementara teman Chung Suk masih memegang erat kursi roda tersebut. Yoona menatap Chung Suk tajam.

“Kau bukan dokter! Akan kalian bawa kemana Miyoung Eonnie dan bayinya?” tanya Yoona tegas. Sebenarnya ia sedikit gentar melihat tubuh kekar Chung Suk dan temannya, tetapi ia mengetahui sedikit tentang cara berkelahi.

“Ini bukan urusanmu, Agasshi. Jadi, lebih baik kau pergi dan tutup mulut, sebelum aku melukai wajah cantikmu.”

“Tidak semudah itu. Kembalikan mereka atau aku akan melaporkan kalian kepada pihak berwajib!” ancam Yoona.

Chung Suk saling melempar pandang dengan temannya. Mereka tidak ingin waktu terbuang sia-sia hanya karena pengusik yang terlalu percaya diri melawan seperti Yoona. Jadi, Chung Suk pun mengeluarkan pisaunya dari balik pinggang celana, lalu mengacungkannya pada Yoona. Hanya untuk menggertak. Lagipula pekerjaan mereka bukan membunuh.

Yoona terkesiap. Ia menahan napas tatkala Chung Suk mendekatinya dengan tangan memegang pisau. Namun Yoona menolak untuk mundur.

“Aku minta kau pergi sebelum aku melukaimu,” desis Chung Suk.

Yoona menggeleng lemah. Tatapannya terpaku pada ujung pisau. “T-tidak, aku ingin kalian membebaskan Miyoung Eonnie dan bayinya.”

“YAH! BUNUH SAJA DIA!” sepertinya teman Chung Suk sudah tidak sabar. Yoona mengerling kesana dan terkejut Miyoung sudah tidak ada di tempatnya tadi. Hanya kursi roda yang kosong. Sial, Miyoung berhasil dimasukkan ke dalam van saat Yoona terpukau pisau.

“Siapa disana?!”

Ada rasa kelegaan di batin Yoona ketika mendengar suara asing di telinganya. Suara itu mendekat ke arah mereka dan Yoona segera menoleh. Kali ini ia benar-benar melihat seorang dokter. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dari Yoona dan berambut hitam. Yoona melangkah maju dan langsung melayangkan kakinya setinggi mungkin, sehingga ujung sepatunya tepat mengenai tangan Chung Suk.

PRANG!

Pisau tajam itu sukses jatuh ke aspal. Chung Suk tidak peduli dengan dokter yang kini menghampiri mereka. Pria itu menarik tangan Yoona sekuat mungkin, membuat Yoona tersentak ke depan. Mungkin Chung Suk sangat murka kepada Yoona sampai-sampai mengepalkan tinjunya hendak memukul Yoona.

Melihat keadaan Yoona dalam bahaya, sang dokter menerjang ke arah Chung Suk! Ia takut terlambat menghalangi tinju Chung Suk sehingga akan mengenai wajah Yoona. Dan, bruk! Dokter tersebut berhasil membuat Chung Suk terjerembab dengan bahu kiri membentur aspal. Dokter tampan berkulit putih itu segera menarik Yoona ke belakang tubuhnya.

Menyadari keadaan Chung Suk dalam kesulitan, dua temannya yang sudah berada di dalam van kembali turun. Mereka ingin memberi pelajaran kepada Yoona serta dokter tersebut. Yoona gemetar sambil memegangi jubah bagian belakang sang dokter.

“Siapa kalian? Kenapa ingin melukai gadis ini?” tanya dokter itu dengan suara tegas.

“Dia penculik!” seru Yoona dari belakang. Dokter itu terkejut.

Tanpa banyak basa-basi, kedua teman Chung Suk menyerang. Yoona menutup matanya. Ia takut dokter ini tidak dapat berkelahi dengan benar dan justru terluka karena membela dirinya. Tapi Yoona salah besar. Ternyata dokter itu sangat ahli bela diri! Pukulan serta tendangannya membuat Chung Suk dan kedua temannya kewalahan.

Ada segaris senyum tipis di wajah Yoona. Terlebih lagi saat melihat wajah tampan dokter itu. Sungguh gagah berani. Namun gadis itu cepat-cepat tersadar. Bukan saatnya terlena seperti itu. Ia harus mengeluarkan Miyoung dan bayinya dari dalam van!

Yoona menggunakan kesempatan perkelahian tersebut dengan menyelinap ke balik van. Membuka pintu belakang van selebar-lebarnya. Disana ia melihat bayi Choi yang diletakkan di dalam boks dan Miyoung yang masih tak sadarkan diri di salah satu jok. Yoona menggapai boks bayi Choi terlebih dahulu lalu membawanya ke dalam gendongan dengan hati-hati. Bayi itu masih terlalu mungil dibawa keluar seperti ini. Untung saja para penculik itu tidak melepaskan selimut sang bayi.

Sambil melindungi bayi Choi di dalam gendongannya, Yoona terus memanggil nama Miyoung. Ia tidak terlalu ahli menggendong bayi jadi ia tidak berani melepaskan sebelah tangannya. Maka Yoona hanya berdesis-desis, berharap Miyoung terjaga.

“Eonnie?! Miyoung Eonnie! Aku mohon bangunlah! Eonnie!”

Miyoung tidak bergeming. Obat bius berhasil membuatnya tertidur nyenyak. Dan disaat genting seperti itu, terdengar suara deru mesin mobil menyala. Yoona tersentak. Siapa yang menyalakan mesin van ini?

“Ayo kita pergi!” terdengar suara Chung Suk dari balik kemudi. Sejurus kemudian Yoona merasa ada yang mendorong tubuhnya menjauh dari van. Ternyata dua orang teman Chung Suk yang terburu-buru masuk ke dalam van. Mereka sepertinya tidak peduli bahwa Yoona telah berhasil mengeluarkan bayi Miyoung.

Tubuh Yoona terhuyung ke belakang. Ia melangkahkan kaki dengan cepat untuk menyeimbangkan dirinya. Jika ia jatuh, bayi Choi pasti akan terluka. Tetapi dewi Fortuna masih berada di pihak Yoona. Lagi-lagi ada yang menolongnya. Siapa lagi kalau bukan dokter tampan. Dokter tersebut menahan tubuh Yoona dari belakang sehingga gadis itu dapat menyeimbangkan tubuhnya.

Untuk beberapa detik, tatapan Yoona terpaku pada van yang kini menjauh, membawa Miyoung bersamanya. Mata Yoona berkaca-kaca. Ia menyesal tidak dapat menyelamatkan Miyoung. Meskipun ia berhasil merebut bayi mungil yang kini tengah menggeliat di gendongannya.

“Agasshi, gwaenchana?”

Saat suara berat dokter itu menyapa, Yoona pun mengerjap. Ia membalikkan tubuhnya menghadap dokter itu. Yoona masih terkejut, melihat ada sedikit luka gores di rahang sang dokter. Wajah tampannya penuh keringat.

“A-aku tidak apa-apa. Terima kasih, Dokter. T-tapi Anda berdarah,” ujar Yoona. Dokter itu pun tersenyum tipis lalu menyeka darah di rahangnya dengan sapu tangan.

“Hanya luka kecil. Apa mereka mencoba menculik bayimu? Tapi syukurlah, kau bisa merebutnya kembali.”

“Tidak. Mereka berhasil membawa Ibu dari bayi ini!”

Mata dokter itu membulat sempurna. “Mwo?”

Yoona bergerak resah. Kenapa rasa sesaknya baru muncul sekarang? Ia membayangkan hal-hal buruk yang mungkin akan menimpa Miyoung.

“Tenanglah dulu, Agasshi. Namaku Lee Dong Hae, aku adalah dokter anak. Ayo kita masuk terlebih dahulu dan segera menghubungi polisi. Jika memang benar mereka penculik, aku akan meminta polisi untuk bertindak cepat. Ayolah!”

Yoona mengangguk. Ia tidak ingin terlalu heboh sebab akan mengganggu bayi yang ada di dalam dekapannya. Dokter Lee pun merangkul bahu Yoona dan membimbing gadis itu masuk ke dalam rumah sakit. Ia tahu Yoona terserang panik tiba-tiba. Dan bayi mungil itu harus kembali ke ruangan bayi secepat mungkin.

“Aku rasa aku harus ke kamar rawat Miyoung Eonnie, Dokter Lee. Semalam mereka dijaga oleh pria bernama Choi Siwon dan dua sahabatnya. Tidak mungkin penculik itu bisa melakukan aksinya tanpa sepengetahuan mereka.”

“Baiklah, Agasshi. Aku akan mengantarmu kesana. Aku juga akan menghubungi security rumah sakit. Tch, mereka ceroboh sekali sampai membiarkan penjahat masuk.”

Dokter Lee mengantar Yoona dan bayi Choi ke kamar rawat Miyoung. Ruangan itu tampak tenang dan seperti yang ditinggalkan semalam oleh Yoona. Hanya saja tampak Siwon tertidur pulas di atas ranjang tetapi dengan posisi tidak normal. Tubuh Siwon menelungkup dan sebelah tangannya terjuntai ke bawah.

“Siwon-ssi?” panggil Yoona. Ia meletakkan tubuh mungil bayi Choi di dalam boks dengan hati-hati lalu menuding Siwon dengan tangannya. “Siwon-ssi? Yah Siwon-ssi! APA KAU TIDAK TAHU KALAU MIYOUNG EONNIE DAN ANAKMU DICULIK?!”

Dokter Lee segera menutup mulut Yoona, mengingat di dalam ruangan itu masih ada bayi yang sangat kecil. Tetapi Yoona tidak dapat mengontrol emosinya. Dokter Lee memandang berkeliling. Tidak ada yang mencurigakan dari kamar itu. Sepertinya para penculik tadi memberikan obat bius pada Siwon dan Miyoung saat mereka terlelap.

Saat itu juga, pintu kamar rawat kembali terbuka. Kali ini Dongwook dan Jessica. Ekspresi wajah mereka tampak terheran-heran. Tentu saja, sebab mereka bisa mendengar suara teriakan Yoona dari luar. Dokter Lee melepaskan tangannya dari mulut Yoona dan menghadap kedua tamu yang baru datang.

“A-ada apa ini? Yoona-ssi, kenapa kau berteriak?” tanya Dongwook bingung. Jessica menatap Siwon dengan kening mengernyit.

“Kemana Miyoung? Dan kenapa bayinya ada disini?” giliran Jessica yang melontarkan pertanyaan.

Dokter Lee bergerak menjauh, sepertinya hendak keluar.

“Aku akan segera menghubungi keamanan rumah sakit serta polisi. Kalian bantu Yoona untuk membangunkan Siwon. Baru saja terjadi penculikan kepada pasien bernama Ny. Miyoung serta bayinya. Syukurlah nona ehm…Yoona berhasil menyelamatkan bayi ini tetapi penculik-penculik tersebut membawa Ny. Miyoung.”

Jessica mendekap mulutnya, kaget bukan main. Sedangkan Dongwook tercengang di tempatnya. Dokter Lee tidak ingin menjawab atau menjelaskan lebih banyak lagi karena ia harus segera melapor. Diliriknya Yoona sekilas sebelum berlari keluar kamar.

Dongwook tidak ingin berlama-lama tercengang. Ia bergegas berjalan menghampiri Siwon yang masih terpengaruh obat bius. Sedangkan Jessica menghampiri boks bayi, bernapas lega melihat keadaan malaikat kecil itu baik-baik saja. Yoona duduk di tepi ranjang, ikut membantu Dongwook membangunkan Siwon.

“Siwon-ah. Choi Siwon, ireona!” seru Dongwook seraya menepuk-nepuk pipi Siwon. “Siwon! Sadarlah, aku mohon! Miyoung sedang dalam bahaya!”

Butuh waktu sekitar 5 menit untuk membangunkan Siwon. Pria itu langsung memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Seperti orang yang baru saja bangkit dari kematian, Siwon langsung berdiri tegak, meskipun tubuhnya limbung. Lama Dongwook dan Yoona menunggu pria itu berbicara. Jessica menatap kecewa sahabatnya itu sebab gagal menjaga Miyoung dan bayinya.

Akhirnya Siwon sadar sepenuhnya lalu melempar pandangan heran kepada Dongwook. Apa ia tidak tahu apa-apa tentang penculikan ini?

“Wookie, Mi-Miyoung…t-tadi ada seorang pria yang membekapku dan…dan aku tak tahu apa lagi yang terjadi,” racau Siwon. Matanya bergerak liar ke segala arah. Ia menelan ludah. Sesaat ia disekap oleh obat bius, Siwon sempat melihat pria berpakaian dokter tersebut. Reaksi obat bius tersebut menjalar cepat di dalam tubuhnya sehingga Siwon langsung tak sadarkan diri. Begitupun yang terjadi pada Miyoung. Ia mengira Siwon yang masih memeluknya saat tidur, namun ketika ia membuka mata, tiba-tiba mulut dan hidungnya ikut disekap dengan obat bius.

Dengan begitu Chung Suk dan kedua rekannya sangat mudah membawa Miyoung keluar. Mereka juga dengan mudah mengambil Choi Ji Hoo sebab salah satu dari mereka mengenakan pakaian perawat.

“Dimana Miyoung? Apa yang terjadi padanya?” tanya Siwon berat. Kedua tangannya bertumpu pada ranjang.

“Ada tiga orang yang berusaha menculik Miyoung Eonnie dan bayi kalian. Aku melihatnya dan terlibat perkelahian, Siwon-ssi. Maafkan aku karena hanya berhasil merebut bayimu. Mereka…berhasil membawa Miyoung Eonnie.”

Siwon tercengang luar biasa mendengar penjelasan singkat dari Yoona. Jadi yang membiusnya tadi bukan dokter? Ah, Siwon bodoh! Jika memang dokter mengapa melakukan bius secara paksa. Hal itu illegal! Siwon mengepalkan kedua tangannya.

“Apa ini ulah pencuri mobil itu?” desis Siwon. “Aku harus mencari mereka!”

Tanpa menunggu penjelasan dari Yoona lagi, Siwon melangkahkan kakinya dengan cepat keluar. Meskipun ia tidak tahu pasti siapa yang menculik Miyoung, ia akan mencari mereka sampai ke ujung dunia sekalipun. Namun Yoona masih tahu banyak hal. Ia segera mengejar Siwon dan Dongwook mengikuti di belakangnya. Sementara itu Jessica tetap menjaga Ji Hoo di boks-nya.

“Siwon-ssi, tunggu dulu!” seru Yoona. Tetapi Siwon tidak menghentikan kakinya melangkah lebar-lebar. Terpaksa gadis itu merenggut lengan Siwon, membuat pria itu membalikkan tubuhnya. Dongwook berdiri di samping Yoona.

“Aku yakin bukan mereka yang melakukannya,” ucap Yoona tegas. Siwon menelengkan kepala, sangsi dengan perkataan gadis itu.

“Apa yang membuatmu yakin, Yoona-ssi?” tanya Dongwook. Sejujurnya mereka berdua tidak mempunyai bayangan siapa yang melakukan penculikan ini.

“Aku mengenal geng Ji Ro sebab mereka masih tinggal di Namdo. Lagipula saat ini Ayahku sudah melaporkan mereka ke pihak berwajib karena kasus pemukulan terhadap Siwon-ssi dan pencurian mobilnya. Sebenarnya aku sudah pernah bertemu dengan para penculik. Saat aku membeli makanan di kantin kemarin, sebelum Miyoung Eonnie melahirkan, aku tidak sengaja menumpahkan minumanku dan mengenai salah satunya. Mereka berjumlah 3 orang dan salah satunya bernama Chung Suk.”

Siwon dan Dongwook saling pandang. Siwon merasa tidak pernah mempunyai masalah dengan pria bernama Chung Suk. Atau jangan-jangan mereka hanya pesuruh?

“Siwon-ssi, aku akan menjadi saksi untuk kasus ini. Aku harap kau dapat menemukan Miyoung Eonnie kembali,” tambah Yoona lagi.

Dongwook menepuk lembut pundak Yoona. “Kamsahamnida, Yoona-ssi. Kau dan dokter itu telah menyelamatkan Ji Hoo.”

Siwon menunduk dalam. Ia meremas-remas rambutnya sendiri. Ia bingung dengan apa yang harus dilakukannya terlebih dahulu. Rasanya terlalu lama untuk menunggu polisi melacak kemana perginya penculik-penculik tersebut.

Ada apa dengan hidupnya? Disaat ia akan menggapai kebahagiaan bersama Miyoung dan anak mereka, Tuhan memberikan satu lagi cobaan. Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Ia takut terlambat dan mungkin Miyoung akan celaka. Sebenarnya siapa yang merencanakan ini semua?

“Aaaaarrrggghh!” teriak Siwon sekuat-kuatnya, membuat suaranya bergema di koridor itu. Dongwook dan Yoona hanya menatap iba. Mereka tahu, pasti sulit di posisi Siwon sekarang. Dongwook pun maju untuk memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya. Menepuk-nepuk punggung Siwon cukup tegas.

“Hei, masih ada kami disini. Kami akan membantumu sekuat tenaga. Sekarang kita harus menunggu kedatangan polisi karena salah satu dokter disini sudah melaporkannya. Tenanglah Siwon. Aku akan ikut mencari Miyoung.”

***

 

“Hahahaha! Bagus sekali Chung Suk-ssi! Cepat bawa adikku kemari. Aku sudah sangat merindukannya!”

“B-baiklah, Nyonya. T-tapi…kami tidak berhasil mengambil bayinya.”

“Tch, aku sudah mengetahuinya dari Minho. Aku maafkan kebodohanmu, Chung Suk-ssi. Yang paling kubutuhkan adalah Hwang Miyoung, adikku.”

“Kalau begitu, sekitar 20 menit lagi kami sampai, Ny. Chae Ya.”

Miyoung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Matanya melebar. Satu jam yang lalu ia sadar dan menemukan dirinya di dalam sebuah van yang pengap. Di sampingnya ada sebuah keranjang bayi tetapi tidak ada apa-apa di dalamnya. Tidak mungkin van ini milik rumah sakit, pikir Miyoung. Namun setelah dirinya mendengar pembicaraan tiga orang asing di jok depan—antara jok depan dan jok bagian belakang ditutup dengan tirai—terlebih lagi melihat penampilan mereka, Miyoung yakin tidak ada anggota rumah sakit yang seperti mereka.

Puncaknya, Miyoung mendengar salah satu dari tiga orang itu melakukan panggilan melalui ponsel. Dan alangkah terkejutnya Miyoung ketika mendengar nama Chae Ya. Ia dibawa paksa serta dibius oleh orang-orang yang mengenal Chae Ya. Miyoung tercenung. Jika mereka suruhan Chae Ya, harusnya mereka membawa Miyoung dengan cara baik-baik, bukan secara paksa. Ini sama saja dengan penculikan!

Yang membuat Miyoung berpikir keras, kenapa Chae Ya harus menyewa orang-orang ini untuk menjemputnya? Apa Siwon tahu tentang semua ini? Bagaimana jika Siwon tidak tahu?! Tiba-tiba Miyoung panik. Dirinya sendiri belum pulih sepenuhnya setelah melahirkan, masih terasa nyeri di bagian perutnya.

Miyoung terus mengawasi ketiga orang itu dari balik tirai. Jika mereka suruhan Chae Ya, mereka tidak akan menyakitiku, batin Miyoung. Miyoung tidak takut, sebab ia mempercayai kakaknya. Sejahat apapun wanita itu menurut Siwon, namun Miyoung yakin, hubungan darah ia dan Chae Ya akan menjamin keselamatannya.

Miyoung menjalin jari-jari tangannya lalu menutup mata. Ia berdoa. Hanya hal itu yang bisa dilakukannya sekarang. Sementara van terus melaju kencang, membuat Miyoung semakin tak sabar ingin mengetahui kemana dirinya akan dibawa.

***

 

Yoona dan Donghae baru saja selesai memberi kesaksian kepada beberapa polisi yang datang ke rumah sakit. Siwon bahkan menghubungi beberapa detektif dari Seoul untuk mencari keberadaan Miyoung. Sebenarnya ia ingin bertindak sendiri, tetapi Dongwook dan Jessica menahannya. Jadi Siwon sedapat mungkin bertahan di rumah sakit.

“Jadi, sampai kapan aku akan berdiam diri disini seperti orang bodoh sementara Miyoung mungkin dalam bahaya?” tanya Siwon sinis kepada Dongwook dan Jessica.

“Bukan begitu, Siwon. Memangnya kau tahu kemana mereka membawa Miyoung pergi? Apa kau tahu siapa penculiknya?” balas Jessica. Siwon terdiam. Jessica benar. Tetapi tidak ada salahnya mencari daripada berdiam diri saja.

“Ah, aku tidak peduli. Aku akan mencarinya sekarang juga!” tukas Siwon lalu berdiri dari kursinya.

“Yah! Jangan gegabah seperti itu! Biar aku ikut de—“

Drrrttt drrrttt

Ucapan Dongwook terhenti karena getaran ponsel di saku mantelnya. Ia mengiringi langkah Siwon seraya melihat layar ponsel di tangannya. Nomor tak dikenal?

“Yobosaeyo?” Dongwook menjawab panggilan itu selagi kakinya mengiringi langkah-langkah lebar Siwon.

“Annyeong, Tuan Lee. Aku Hwang Chae Ya.”

Mendengar suara si penelepon membuat kaki Dongwook otomatis berhenti melangkah. Tangannya mencengkram lengan Siwon dengan erat, sehingga sahabatnya itu membalikkan badan. Siwon hendak membuka mulutnya, bermaksud untuk protes. Tetapi ucapan Dongwook setelah itu membuat mulutnya terkatup rapat.

“Hwang Chae Ya?” ulang Dongwook sedikit keras. Siwon terpaku.

“Yah, benar. Aku harap kau mengenalku, Tuan Lee. Aku tidak bisa menghubungi ponsel Siwon jadi, aku mencari data tentangmu. Ehem, aku dengar kau sedang berada di dekat sahabatmu itu. Benar, kan?”

Dongwook melirik Siwon. Entah kenapa ia langsung bisa merasakan kalau Chae Ya ada hubungannya dengan penculikan Miyoung. Tetapi, mungkinkah? Chae Ya dan Miyoung adalah saudari kandung!

“Untuk apa kau menghubungiku?” tanya Dongwook dingin. Siwon masih berdiri kaku di depannya.

“Aku hanya ingin memberi tahu kalau adikku sedang bersamaku. Jadi, kalian jangan khawatir. Aku tidak akan menyakiti adikku sendiri. Tetapi, dengan satu syarat.”

Rahang Dongwook berkedut. Ia tidak heran. Chae Ya benar-benar wanita gila. Dengan cepat Dongwook menyerahkan ponselnya kepada Siwon, mengisyaratkan dengan mulutnya bahwa Miyoung ada bersama Chae Ya. Terang saja Siwon murka. Ia menempelkan ponsel di telinga kirinya dan menunggu Chae Ya bersuara lagi.

“Tuan Lee, apa kau masih disana mendengarkanku?” tanya Chae Ya dengan suara mendayu-dayu.

“Apa yang kau inginkan, wanita gila?” desis Siwon.

Tidak ada balasan cepat dari Chae Ya. Sepertinya ia juga kaget mendengar suara Siwon yang tiba-tiba. Akan tetapi Chae Ya berusaha bersikap setenang mungkin.

“Terlebih dahulu aku ingin mengucapkan selamat kepadamu, Siwon-ah. Kau telah menjadi seorang Ayah. Aku ikut bahagia meskipun kau mempunyai keturunan bukan dari rahimku. Tetapi, aku harap kau bahagia dengan adikku,” ujar Chae Ya.

Siwon tetap diam namun genggaman tangannya di ponsel Dongwook semakin erat.

“Bicara tentang adikku, kini ia telah tertidur lelap di rumahku. Mianhae, aku tidak memberitahumu terlebih dahulu. Apa kau kebingungan mencarinya? Ah, aku sangat menyesal,” lanjut Chae Ya dengan nada mencemooh.

“Mwo? Miyoung bersamamu?” suara Siwon terdengar berat sekaligus tajam. Urat nadinya berdenyut kencang.

“Benar sekali. Jadi, apa kau tidak ingin menjemputnya? Siwon-ah, sebenarnya banyak yang ingin kusampaikan kepadamu. Tetapi, aku memilih untuk menunggumu datang kemari. Otte?”

Tanpa mendengar perkataan Chae Ya lagi, Siwon segera memutuskan sambungan. Ia menyerahkan ponsel Dongwook dengan tangan gemetar dan wajah memerah menahan luapan emosi. Kenapa ia tidak pernah berpikir kalau Chae Ya lah yang menculik Miyoung? Lagipula tidak akan pernah terlintas di benak Siwon kalau Chae Ya akan berbuat seperti itu! Miyoung adalah adik kandung Chae Ya, mustahil kalau wanita itu tega menculiknya. Meskipun kenyataannya Chae Ya memang melakukannya!

“Dia benar-benar gila, Siwon. Tega sekali ia menculik adiknya sendiri yang baru saja melahirkan hanya untuk memancingmu datang kesana! Menurutmu apa yang diinginkannya?”

Siwon menggeleng lemah. “Aku tidak tahu apa maksud wanita itu. Lee Dongwook, aku harus segera kesana. Kau dan Jessica harus tetap disini menjaga anakku. Aku pinjam mobilmu, ne!”

***

 

Miyoung membuka matanya perlahan, mengabaikan kesakitan di kepalanya. Sudah dua kali ia tidak sadarkan diri akibat obat bius yang disekapkan ke hidungnya oleh para penculik. Miyoung tidak habis pikir mengapa kakak kandungnya melakukan hal tercela padanya. Jika Chae Ya ingin bertemu dengan Miyoung, Miyoung akan datang secara baik-baik. Bukan dengan cara seperti ini. Miyoung sangat menyesalkan apa yang telah dilakukan Chae Ya.

Terdengar suara derit pintu terbuka, membuat Miyoung menoleh ke arah pintu. Ia melihat pria yang tadi menyekapnya masuk, yaitu Chung Suk. Miyoung menatap pria itu penuh kejengkelan. Apa pria ini tidak tahu kalau perutku masih nyeri sehabis melahirkan? Seenaknya saja menyeret dan membiusku, batin Miyoung kesal.

“Nona Hwang Miyoung,” ucap Chung Suk dengan nada sopan. Tidak terlihat sama sekali bahwa ia baru saja menculik dan membius Miyoung.

“Sebenarnya dimana ini? Apa tujuan kalian menculikku?” tanya Miyoung tajam.

Tepat saat Miyoung menyudahi pertanyaannya, seorang wanita berkaki panjang masuk ke dalam kamar. Miyoung sangat mengenal wanita itu. Siapa lagi kalau bukan Hwang Chae Ya, wanita yang selalu bersamanya sejak orangtua mereka meninggal dunia. Miyoung terpaku di atas tempat tidur itu, menatap sendu pada sang kakak.

Chae Ya tersenyum kepada Miyoung, akan tetapi tidak setulus dulu. Senyuman itu datar tanpa kasih sayang, namun tidak ada kebencian disana. Perlahan Miyoung turun dari tempat tidur. Telapak kakinya sedikit terkejut merasakan dinginnya lantai keramik di bawahnya. Chae Ya mengibaskan tangannya dengan anggun di depan Chung Suk, kemudian pria itupun keluar dari kamar, meninggalkan kakak beradik Hwang.

Lama mereka berdua terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Miyoung ingin sekali memeluk Chae Ya. Ia sangat merindukan kakaknya. Tetapi bukan Chae Ya yang sekarang yang bisa mengobati kerinduan Miyoung. Chae Ya pun menyayangi Miyoung, namun takdir cinta adiknya itu membuatnya buta. Ia menyayangi adiknya yang dulu, bukan Miyoung yang dicintai Siwon seperti saat ini.

Chae Ya membuat langkah pertama menuju Miyoung. Ia berjalan sambil melipat tangannya di depan dada. Miyoung hanya bisa menunggu dan pandangannya tidak lepas dari wajah cantik kakaknya. Sampai saat mereka berhadap-hadapan dalam jarak dekat, Chae Ya menarik Miyoung masuk ke dalam pelukannya. Miyoung memejamkan mata. Meskipun Chae Ya tidak seperti dulu, namun kehangatan pelukannya masih sama.

“Aku merindukan adikku,” ungkap Chae Ya pelan di telinga Miyoung. Miyoung merasakan matanya tiba-tiba memanas, ingin mengeluarkan airmata. Tetapi ini bukan saatnya menangis, batin Miyoung. Ia merasakan elusan lembut tangan Chae Ya di rambutnya.

“Aku dengar kau baru saja melahirkan. Maafkan aku memaksamu datang kemari, Miyoung-ah.”

Miyoung mendorong lembut tubuh Chae Ya sehingga ia bisa melihat dengan jelas wajah kakaknya tersebut. Chae Ya bisa melihat dengan jelas airmata Miyoung yang menumpuk.

“Kenapa Eonnie memerintahkan orang-orang seperti itu untuk menculikku? Tidak bisakah Eonnie memanggilku dengan cara yang lebih halus?” tanya Miyoung.

Chae Ya mengeluarkan desahan yang membosankan lalu berjalan menjauhi Miyoung. Ia berjalan ke arah jendela dan menghadap kesana. Miyoung menangkap kesan kalau Chae Ya sedang mempunyai rencana jahat terhadapnya atau Siwon.

“Jika aku memanggilmu untuk datang, aku takut Siwon akan menghalangimu.”

“Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk menemui kakakku sendiri, Eonnie. Jadi, untuk apa kau melakukan hal ini? Apa kau tahu, rasanya masih sakit setelah melahirkan. Dan aku butuh berada di samping putraku.”

Chae Ya membalikkan tubuhnya ke arah Miyoung. Tatapannya lebih tajam dari sebelumnya.

“Kau tidak tahu siapa Siwon! Dia hanya berpura-pura mencintaimu, Miyoung-ah! Dia hanya ingin merusak hubungan persaudaraan kita karena ingin membalas dendam atas kematian Ayahnya. Dia menyalahkanku dan berencana akan memisahkan kita! Sadarlah! Tidak mungkin pria yang telah menghamilimu bisa mencintaimu dengan tulus!”

Miyoung terkesiap. Chae Ya berkata sangat tegas sehingga membuat Miyoung percaya dengan aktingnya.

“A-apa maksudmu, Eonnie? Siwon tidak pernah menyalahkanmu atas kematian ayahnya.”

Chae Ya mendengus keras. “Cih, kau membelanya. Aku ingin tahu apa yang telah diperbuatnya sehingga kau mempercayainya, Miyoung-ah.”

Miyoung diam. Ia menatap Chae Ya tidak percaya. Kakaknya memang benar-benar berubah menjadi wanita yang sangat arogan dan kasar. Perlahan Miyoung berjalan mendekati Chae Ya. Jalannya masih tertatih sebab ia masih merasakan nyeri di bagian perut serta kewanitaannya. Chae Ya sedikit cemas melihat ekspresi memelas Miyoung, jadi ia ikut menghampiri wanita yang lebih muda itu.

“Eonnie, bolehkah aku bertanya padamu?”

Nada suara Miyoung yang lemah menarik simpati Chae Ya. Tetapi yang dilakukannya hanyalah mengerjapkan mata.

“Chae Ya Eonnie, apakah kau menyayangiku?”

***

Akhirnya Siwon sampai di mansion tempat dimana Chae Ya tinggal. Mansion itu dulunya adalah milik Ayahnya, jadi Siwon sudah tidak asing lagi. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam yang singkat karena mengendarai mobil dengan ugal-ugalan, Siwon sampai dengan selamat. Ia memarkir mobil Dongwook dengan sembarangan lalu menyerbu ke dalam mansion yang dijaga oleh beberapa pria berbaju serba hitam.

Pria-pria itu tentu saja tidak dengan mudah mengizinkan Siwon masuk. Mereka berbaris menghalangi pintu masuk agar Siwon berhenti disana. Tidak ada satupun yang menyadari betapa murkanya Siwon saat ini. Matanya yang merah berair serta urat-urat nadinya yang terlihat jelas tidak cukup bagi pria-pria berbaju hitam itu untuk mengetahuinya. Siwon bisa saja menumbangkan mereka saat ini juga.

“Anda dilarang masuk sekarang, Tuan Choi! Nyonya Choi sedang membutuhkan privasi bersama adiknya,” ucap salah satunya. Siwon mendelik tajam padanya.

“Minggir! Atau aku akan menghabisi kalian semua,” desis Siwon tajam. Meskipun wajahnya masih babak belur ia tidak peduli jika harus berkelahi lagi.

“Nyonya Choi memerintahkan kami untuk menghalangimu masuk sebelum Nyonya Choi sendiri yang memanggilmu.”

Siwon menggeram. Tangannya bergerak cepat untuk menarik kerah jaket pria itu. “Aku tidak ingin membunuhmu disini. Minggir!”

 

 

Chae Ya terdiam mendengar pertanyaan Miyoung. Mata mereka terikat dalam satu pandangan yang sulit diartikan. Miyoung tidak ingin kejahatan Chae Ya semakin menjadi-jadi, tetapi ia juga tidak tahu bagaimana cara merubah kakaknya itu. Chae Ya memang telah dibutakan oleh harta. Setelah ia tidak bisa memiliki Siwon, ambisinya menjadi musuh bebuyutan Siwon sekaligus menguasai hartanya semakin menggila.

Miyoung semakin mempersempit jarak diantara mereka, mengintimidasi kakaknya dengan tatapannya.

“Apa Eonnie menyayangiku seperti dulu? Apa Eonnie adalah kakak yang dulu selalu melindungiku? Jawab aku, Eonnie.”

“Apa yang kau bicarakan, Miyoung-ah? Tentu saja aku menyayangimu!” seru Chae Ya. Miyoung tersenyum miris. Kepalanya menggeleng lambat-lambat.

“Tetapi aku tidak merasakannya lagi. Eonnie, aku rasa kau telah banyak berubah. Tidak ada lagi Hwang Chae Ya yang menyayangi adiknya seperti dulu. Memeluk serta menenangkannya ketika dunia terasa tidak aman. Semua yang kurasakan kini hanyalah kepalsuan,” ungkap Miyoung.

Kata-kata Miyoung singkat tetapi mampu membuat Chae Ya kalah telak. Ia menatap Miyoung dengan nanar, sementara airmata Miyoung sudah mengalir di pipi lembutnya.

“Apa kau tahu, Eonnie? Bagiku kau adalah wanita terhebat. Kau menggantikan posisi Appa dan Eomma, menghidupiku dengan uang hasil kerja kerasmu, serta membuatku merasa aman. Tetapi semua itu terasa berubah saat kau diam-diam mencintai Siwon. Awalnya aku tidak percaya pada Siwon yang mengatakan betapa ambisiusnya kakakku sekarang, tetapi aku telah melihat buktinya. Kakakku yang menyayangiku tidak mungkin akan menculikku seperti ini. Dan aku tahu tujuanmu yang sebenarnya, Eonnie.”

Chae Ya mendengus kasar. Matanya ikut merah dan berair. Hatinya terluka dengan perkataan Miyoung, tetapi semua itu benar!

“KAU BENAR!” bentaknya. Miyoung mengerjap. “Aku memang mencintai Siwon! Aku sangat menginginkannya menjadi suamiku, bukan Ayahnya! Tetapi apa yang terjadi? Semenjak kau datang ke rumah itu perhatian Siwon beralih padamu. Kau merebutnya dariku, Hwang Miyoung!”

Airmata Miyoung semakin deras mengalir. Benar apa yang dikatakan Siwon, Chae Ya sangat terobsesi. Miyoung masih berdiri membeku ketika Chae Ya membalikkan tubuhnya kembali ke jendela. Ia tidak mempunyai kata-kata lagi untuk sekarang.

“Sebenarnya hatiku sangat perih mengetahui kalau Siwon telah menidurimu. Bukan karena kau dikotori, tetapi karena kenapa harus dirimu. Meskipun ia hanya membalaskan sakit hatinya, tetapi aku ingin berada di posisimu, Miyoung. Dan kau mengandung anaknya, benihnya. Membuatku semakin tidak menyukaimu. Aku lega saat kau pergi dari rumah, tetapi kenapa Siwon justru masih bersikeras mencarimu? Apa yang telah kau lakukan padanya sehingga ia tidak bisa melepasmu?!”

Miyoung merasakan kedua kakinya gemetar. Chae Ya mungkin saja sudah tak waras!

“Bahkan ia tetap mengikutimu. Ia rela kehilangan semua miliknya demi mendapatkanmu. Betapa beruntungnya dirimu, Miyoung.”

Miyoung memejamkan matanya. Ya, ia beruntung. Kenapa tidak sejak dulu ia merasakan hal itu? Namun melihat perubahan Chae Ya, semua itu terasa hampa.

“Kini aku meminta satu hal padamu.”

Mendengar itu Miyoung membuka matanya lalu menatap lurus pada Chae Ya.

“Kau telah mendapatkan Siwon dan juga anak darinya. Itu artinya Siwon akan memberikan seluruh harta kekayaannya kepada kalian. Aku minta kau menerimanya dan mengalihkannya atas namaku.”

***

 

Siwon berhasil melewati para penjaga di depan dengan beberapa pukulan yang dilayangkannya. Mereka tidak berani membalas sebab Chae Ya tidak memerintahkan untuk melakukan kekerasan terhadapnya. Siwon memanfaatkan hal tersebut. Ia tidak peduli telah menghajar beberapa orang akhir-akhir ini. Kemudian dengan cepat Siwon mencari keberadaan Miyoung.

“Kau telah mendapatkan Siwon dan juga anak darinya. Itu artinya Siwon akan memberikan seluruh harta kekayaannya kepada kalian. Aku minta kau menerimanya dan mengalihkannya atas namaku.”

Siwon hendak mendorong pintu kamar dimana Chae Ya dan Miyoung berbicara empat mata ketika ia mendengar seruan Chae Ya yang lantang. Tangannya menggenggam erat handle pintu namun mengurungkan niat untuk membukanya. Ia terlalu terkejut mendengar perintah itu.

Jadi Chae Ya menginginkan hartanya? Apa wanita itu sudah benar-benar tak waras sehingga memperalat adiknya sendiri? Siwon sangat penasaran dengan apa yang akan dijawab Miyoung. Ia bertahan di depan pintu seraya menajamkan pendengaran.

“Eonnie. apa kau tahu apa perbedaan kita? Perbedaan yang membuat Siwon memilihku?”

Siwon membeku. Apa Miyoung akan memberikan ungkapan positif atau justru sebaliknya?

“Kau mencintainya dengan nafsumu. Kau hanya mencintai dengan sepihak. Kau tidak mengerti dengan perasaannya. Bahkan kau tidak tahu kalau ia membencimu, Eonnie. Kau tidak berusaha untuk tulus. Yang kau pikirkan hanyalah dirimu sendiri.”

“Huh. Lantas, kau mencintainya dengan tulus, begitu?”

Siwon menahan napas. Ia was-was sekaligus senang saat menunggu jawaban Miyoung. Jika Miyoung menyebutkan hal-hal negative tentang Chae Ya, itu artinya yang dirasakan wanita itu adalah sebaliknya. Apa Miyoung mencintai Siwon dengan…tulus?

Cukup lama Siwon menunggu Miyoung menjawab. Apa wanita itu sudah menjawabnya tetapi tidak terdengar olehnya? Siwon lebih menekankan telinganya ke daun pintu, berharap mendengar jawaban mendebarkan Miyoung secara jelas. Aish, Siwon menahan dirinya untuk tidak menerobos ke dalam.

“Aku tidak tahu.”

Siwon membeku. Apa maksud Miyoung dengan tidak tahu? Siwon enggan menjauhkan telinganya dari daun pintu. Sisi kepalanya sedikit sakit karena menempelkan telinga terlalu kuat. Tapi ia tidak peduli.

“Apa maksudmu dengan tidak tahu? Apa kau mempermainkannya?”

“Tidak mungkin aku mempermainkannya, Eonnie! Apa kau tahu? Perubahan sikapnya membuatku bimbang. Ia tidak lagi Siwon yang kasar dan memperlakukanku sesuka hatinya. Kini ia berubah menjadi pria yang sebenarnya kuharapkan saat aku pertama kali bertemu dengannya. Ia rela kehilangan segalanya demi mendapatkan maafku. Ia rela menurunkan harga dirinya sendiri di depanku. Apa kau tahu bagaimana rasanya di posisiku? Semula aku memang membencinya sebab ia telah menghancurkan masa depanku. Tetapi…semua itu telah berubah. Penyesalannya membuatku luluh…sekaligus—sekaligus ragu. Aku takut kalau semua ini hanyalah mimpi. Siwon yang mencintaiku dan berbuat tulus padaku, aku…aku takut semua itu hanyalah khayalanku.”

Siwon tertegun. Ungkapan Miyoung membuatnya tidak tahu harus bereaksi apa. Ia sangat bahagia! Ingin sekali Siwon masuk ke dalam ruangan itu dan mengatakan kepada Miyoung kalau semua ini bukanlah mimpi dan memberinya pelukan hangat yang erat.

“Eonnie, aku mencintainya. Aku mencintai Choi Siwon, ayah dari anakku.”

Siwon berdecak pelan. Sudahlah, ia tidak tahan lagi. Ia akan masuk ke dalam, persetan dengan Hwang Chae Ya.

Dengan penuh keyakinan dan perasaannya yang campur aduk, Siwon akhirnya memutar handle pintu. Ia mendorong sedikit kuat lalu melangkah ke dalam. Dan hal yang pertama kali memenuhi pandangannya adalah sosok indah wanita yang dicintainya.

Tentu saja kakak beradik Hwang itu terkejut bukan main, terutama Miyoung. Sedangkan Chae Ya tahu Siwon akan datang, namun tidak secepat ini. Wajah Miyoung pucat pasi ketika Siwon melangkah mendekatinya. Ia berpikir apakah Siwon baru datang atau sempat mendengar ungkapannya tadi? Sebab ia baru saja menyatakan bahwa ia mencintainya sesaat sebelum pintu terbuka. Miyoung menelan ludah. Siwon tersenyum kecil namun tulus kepadanya.

Chae Ya mengawasi langkah Siwon yang semakin mendekati Miyoung. Tak ada yang dapat dilakukan wanita itu. Ia belum siap dengan kedatangan Siwon, terlebih lagi ia masih mempunyai urusan dengan Miyoung.

Siwon akhirnya berdiri tepat di hadapan Miyoung—terlalu dekat sehingga mengharuskan Miyoung mendongak untuk menatap wajah Siwon. Seketika kamar itu sunyi senyap. Miyoung hanya bisa mendengarkan detak jantungnya sendiri. Deru napas Siwon menerpa wajah cantik Miyoung yang pucat. Chae Ya mengepalkan kedua tangannya. Apa-apaan Siwon ini?! Menginterupsi pembicaraannya dengan Miyoung!

Siwon tersenyum semakin lebar dan aneh. Ia mengelus kedua sisi wajah Miyoung dengan lembut serta menyeka airmata wanita itu.

“Akhirnya aku mendengar kalimat itu, Miyoung-ah.”

Napas Miyoung tercekat di kerongkongan. Ia menelan ludah dengan susah payah. Apa yang harus diucapkannya sekarang? Menatap mata Siwon yang berbinar bahagia membuat jantungnya berdetak kencang. Bahkan Miyoung melupakan kalau Chae Ya berdiri disana, menonton mereka dengan hati yang terbakar kebencian.

“Apa lagi yang seharusnya kulakukan agar kau mempercayaiku, Miyoung-ah. Aku benar-benar mencintaimu. Kau tidak bermimpi, percayalah padaku.”

Chae Ya tercenung di tempatnya. Kakinya gemetar dan nyaris terhuyung ke belakang ketika Siwon menangkup wajah Miyoung dan menciumnya! Chae Ya segera mengalihkan pandangannya, terlalu perih menyaksikan pemandangan yang disuguhkan Siwon.

Siwon mencium Miyoung dengan dalam dan lembut. Tak ada maksud untuk menyakiti apalagi membuat Chae Ya sakit hati. Ia melakukan hal itu karena ia harus membuktikan kepada Miyoung kalau ciumannya sekarang benar-benar penuh ketulusan, bukan kerakusan seperti dulu. Dan yang terpenting, Miyoung harus tahu kalau cintanya sangat murni.

Miyoung mencengkram lembut kemeja bagian depan Siwon ketika pria itu memagut bibirnya mesra. Airmatanya mengalir hangat di pipi Siwon. Tak ada kata-kata lagi untuk mendeskripsikan perasaan bahagia Miyoung saat ini. Ia mempercayai Siwon karena ia mencintai pria itu.

Siwon berhasil karena Miyoung kini yakin dengan cintanya.

Ciuman mereka pun terlepas dengan sangat lembut dan perlahan. Miyoung bernapas pendek-pendek sebab ciuman mereka menyita oksigen yang diperlukannya. Siwon membuka matanya dan tersenyum konyol melihat rona merah di pipi Miyoung. Serta merta ia memeluk erat tubuh itu, seperti yang sejak tadi diinginkannya.

“Aku percaya padamu, Siwon-ah.”

Lalu terdengar suara tawa menggelegar dari Chae Ya. Suara tawa yang frustasi dan mengerikan. Siwon melepaskan pelukannya dari Miyoung dan menatap Chae Ya. Ia sampai lupa dengan Chae Ya. Kini ia harus meluruskan permasalahan mereka.

Chae Ya terus tertawa dan kini bertepuk tangan keras. Wajahnya memerah dan airmata telah membuat matanya bengkak. Jika ia tidak berdandan seperti wanita elegan, mungkin orang-orang berpikir kalau ia adalah wanita stress yang butuh perawatan di rumah sakit jiwa. Miyoung mematung di samping Siwon, sangat prihatin dengan keadaan sang kakak.

“Waaaa daebak! Kalian benar-benar membuatku mual. Sangat menjijikkan! Kalian pikir masalah kita sudah selesai?”

Rahang Siwon berkedut. “Sebenarnya apa yang kau inginkan, Chae Ya?”

Chae Ya berjalan mendekati mereka. Gerakan tubuhnya tak lagi anggun, melainkan sempoyongan. Miyoung menatap khawatir.

“Choi Siwon, kau telah mendapatkan apa yang kau inginkan. Kini giliranku mendapatkan apa yang kuinginkan!” semburnya.

Siwon bersikap setenang mungkin.

“Berikan semua hartamu kepadaku! Kau telah mendapatkan adikku, Siwon-ah! Aku tidak ingin hanya kau sendiri yang merasakan kemenangan!!!”

Hati Miyoung benar-benar hancur. Ia tidak sanggup melihat Chae Ya. Kakaknya benar-benar berubah menjadi seorang monster.

“Itu artinya, kau menukarkan adikmu dengan harta yang kau inginkan? Ckckck, aku sangat kasihan padamu Hwang Chae Ya. Apa kau masih bisa mengatakan bahwa dirimu adalah seorang kakak? Kau sangat tidak pantas menyandang sebutan itu,” ujar Siwon dengan suara berat dan penuh tekanan.

Miyoung mencengkram lengan Siwon dan pria itu langsung menoleh padanya. “Siwon-ah, jangan berkata seperti itu.”

Miyoung menggeleng-gelengkan kepalanya, memohon kepada Siwon agar tidak berkata seperti itu kepada kakaknya. Siwon hanya mendengus lalu kembali menoleh pada Chae Ya.

“Cih, bahkan adikmu masih menginginkan kebaikan untukmu saat ini.”

Siwon telah membuat Chae Ya semakin gila. Wanita itu tidak sudi ditekan dengan cara seperti itu oleh Siwon. Lalu dengan cepat Chae Ya melangkah ke meja yang ada disana, mengambil beberapa pajangan kristal kemudian tanpa terduga melemparkannya ke arah Siwon. Pajangan kristal itu hancur berkeping-keping di lantai setelah menghantam pelipis Siwon.

“EONNIEEE!!!” pekik Miyoung.

Chae Ya melempar apa saja yang ada di atas meja tersebut ke arah Siwon. Miyoung segera memeluk Siwon, berniat untuk melindungi. Tetapi Siwon berbalik sehingga ia yang melindungi Miyoung. Benda-benda keras dan tajam menghantam punggung Siwon. Chae Ya melempar seraya berteriak-teriak histeris. Tangis Miyoung semakin keras serta membuat hati Siwon pilu mendengarnya. Ia tahu kalau emosi Miyoung sedang bergejolak saat ini. Siwon harus melarikannya keluar agar tidak berdampak buruk bagi Miyoung yang baru saja melahirkan.

Lagipula Chae Ya sepertinya tidak bisa dihentikan.

Seraya menahan kesakitan di punggungnya, Siwon mengajak Miyoung keluar.

“Kalian tidak boleh keluar dari sini!!!” teriak Chae Ya. Ia berlari lebih cepat dari Siwon lalu menutup pintu dengan hentakan keras. “TAK ADA YANG BOLEH MENINGGALKANKU!!!”

Miyoung membenamkan wajahnya di dada Siwon, benar-benar tidak ingin melihat kakaknya. Siwon kehabisan akal bagaimana caranya keluar dari tempat itu. Ia menahan dirinya untuk tidak menyakiti Chae Yak arena ia menghargai Miyoung.

Tepat saat itu, terdengar ketukan keras di pintu yang baru saja ditutup Chae Ya. Ketukan yang tidak sabar dan kasar. Siwon dan Chae Ya sama-sama melihat ke arah pintu, sementara Miyoung masih menyembunyikan wajahnya.

“Nyonya Hwang Chae Ya! Tolong buka pintunya!”

Ketukan terdengar semakin tak sabar sebab Chae Ya belum bergerak untuk membuka pintu. Siwon rasa mereka bukanlah anak buah Chae Ya. Lantas siapa itu?

Dug dug dug

Ketukan semakin keras. “Kami dari kepolisian Seoul membawa surat penangkapan Anda! Tolong segera buka pintunya atau kami akan melakukannya dengan paksa!”

Chae Ya terperajat, sedangkan Miyoung memalingkan wajahnya. Ia menatap nanar ke arah Chae Ya ketika wanita itu membuka pintu dengan tangan gemetar. Siwon menarik Miyoung sedikit mundur. Ia sendiri juga tidak menyangka kalau polisi-lah yang datang.

Saat pintu terbuka, segerombolan polisi masuk dengan dua orang Inspektur diantara mereka. Yang membuat Siwon terkejut adalah kehadiran Leeteuk dan Taeyeon yang juga ada disana. Leeteuk dan Taeyeon menghampiri Siwon serta Miyoung. Leeteuk langsung memeluk Siwon dengan erat. Ia lega mengetahui kalau sahabatnya baik-baik saja. Sementara Taeyeon memeluk Miyoung.

“Aish, pelipismu berdarah, Siwon-ah! Kau tidak apa-apa?” ujar Leeteuk.

Berdarah? Siwon tidak menyadari kalau pajangan kristal yang menghantam di pelipisnya tadi telah menimbulkan luka. Siwon meringis pelan lalu tersenyum.

“Aku tidak apa-apa.”

Di tempatnya, Chae Ya berdiri kaku. Ia menatap datar ke arah polisi-polisi yang seenaknya masuk. Sejenak suasana hening, sampai Insperktur itu membuka mulut. Ia juga mempelihatkan sebuah surat kepada Chae Ya.

“Anda ditangkap atas tuduhan penculikan terhadap Ny. Hwang Miyoung dan penggelapan dana di perusahaan Choi Group.”

Miyoung tersentak mendengarnya. Ia tidak mengerjapkan mata sedikitpun ke arah Chae Ya. Penggelapan dana di perusahaan Siwon? Kejahatan apa lagi yang telah diperbuat kakaknya. Hati Miyoung tidak bisa lagi lebih hancur dari ini. Miyoung tidak lagi mendengar suara-suara lain di ruangan itu, ia fokus menatap Chae Ya. Kenapa Chae Ya masih bisa setenang itu? Wajahnya diam tak berekspresi dengan tatapan mata yang kosong.

Inikah akhir hidup kakaknya? Miyoung tidak ingin Chae Ya mendapatkan ganjaran atas semua ini, tetapi ia memang harus dihukum. Ingin sekali Miyoung menyadarkan Chae Ya, namun semuanya telah terlambat. Miyoung tidak mempunyai Hwang Chae Ya yang dulu dicintai serta dibanggakannya.

“Eonnie…” isak Miyoung ketika tangan Chae Ya diborgol lalu dibawa keluar oleh polisi-polisi itu. Chae Ya tidak melakukan perlawanan lagi, bahkan tak ada sedikitpun suara keluar dari mulutnya. Tatapannya mendadak kosong.

Siwon menahan Miyoung yang hendak berlari mengejar Chae Ya. Sebenarnya Siwon tidak tega mendengar tangisan Miyoung yang semakin histeris. Siwon memeluk Miyoung erat, membenamkan kembali wajah kekasihnya itu di dada. Tangannya mengelus lembut kepala Miyoung, sementara wanita itu masih menangis penuh iba.

Leeteuk dan Taeyeon mendesah prihatin. Mereka lah yang membuat laporan kepada kepolisian Seoul setelah mendapatkan telepon dari Dongwook. Selain itu Leeteuk juga mendapatkan pengaduan dari Tuan Kang, orang kepercayaan almarhum Tuan Choi. Penangkapan terhadap Chae Ya tentu saja didahului dengan proses penyelidikan yang cermat. Dan ternyata banyak bukti yang memberatkan wanita itu. Meskipun masih menyandang gelar sebagai Nyonya Choi, namun penggelapan dana yang dilakukannya tidak bisa dibiarkan. Lagipula perusahaan itu masih atas nama Siwon dan terlindung oleh hukum yang kuat. Chae Ya tidak bisa bermain-main api dengan hal-hal tersebut.

Dan terakhir adalah laporan dari saksi mata, Yoona serta dokter Donghae atas penculikkan Miyoung. Tak ada alasan lagi bagi Chae Ya untuk mengelak.

***

 

5 tahun kemudian…

“Eomma, ini tempat apa? Kenapa banyak sekali orang-orang berpakaian putih seperti Donghae Samchon?”

Seorang anak laki-laki tampan bertanya kepada Ibunya yang tak lain adalah Miyoung. Miyoung menunduk untuk menatap wajah oval anaknya kemudian tersenyum manis. Ia tetap menggandeng anaknya dan memeluk sebuket bunga di tangannya yang lain.

“Kita akan membesuk Chae Ya Imo. Ji Hoo sudah melihat foto Imo kan?”

Kening bocah tampan bernama Ji Hoo itu mengernyit. “Chae Ya Imo? Ne, Ji Hoo sudah melihat fotonya di ruang keluarga, Eomma! Chae Ya Imo tinggal disini?”

“Benar, Ji Hoo-yaa. Ia tinggal disini,” jawab Miyoung seraya merenung. Mereka terus berjalan di lorong gedung itu, diiringi oleh seorang suster di belakang. Ji Hoo berjalan sambil melompat-lompat, senang digandeng Ibunya. Mata Miyoung tertuju pada sebuah pintu kamar 223, tempat dimana Chae Ya dirawat. Tanpa terasa airmatanya sedikit terhalang airmata. Ia membayangkan betapa tersiksanya Chae Ya selama 4 tahun ini, mendekam disana tanpa ditemani siapa-siapa. Yang setia menemani wanita itu hanyalah penyesalan dan khayalan-khayalan liarnya.

“Nyonya Choi, sebaiknya anak Anda tidak masuk ke dalam.”

Miyoung memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan suster yang mengantarnya. “Tidak apa-apa, Suster. Aku ingin Ji Hoo bertemu dengan Bibinya.”

Sejenak suster itu tampak khawatir. Kemudian ia kembali berbicara, “Kemarin Ny. Hwang baru saja mengamuk,” bisiknya agar tidak terdengar oleh Ji Hoo.

Miyoung tersenyum kecil. “Ia tidak akan seperti itu lagi. Aku berjanji akan menjaga Ji Hoo di dalam.”

Suster itu tetap bimbang. Ia memikirkan keselamatan putra Miyoung yang baru saja berusia 5 tahun itu. Sebenarnya tidak baik bagi anak-anak dibawah umur dibawa ke ruangan terisolasi seperti kamar 223 ini. Tetapi Miyoung adalah seorang istri dari pria paling berpengaruh di Korea Selatan. Tidak ada yang bisa menghalangi keinginannya.

“Tapi Nyonya—“

“Suster, percaya padaku. Ji Hoo akan baik-baik saja di dalam sana. Sekarang, bolehkah kami masuk?” potong Miyoung tegas. Suster itupun menghela napasnya. Ia menjulurkan sebuah keranjang ke arah Miyoung.

“Baiklah, Nyonya Choi. Silahkan letakkan benda-benda tajam dan jam tangan Anda disini. Aku akan menunggu diluar pintu.”

Miyoung tersenyum lega. Ia melepaskan gelang, kalung, serta jam tangannya, dan selanjutnya memasukkannya ke dalam keranjang. Miyoung memberikan senyuman hangat kepada putranya sementara si suster membuka pintu kamar 223 tersebut.

Miyoung tentu saja telah mempersiapkan dirinya untuk membawa serta Ji Hoo bertemu dengan Chae Ya. Ia yakin kakaknya itu tidak akan menyakiti dirinya, apalagi Ji Hoo. Lagipula ia telah mendapatkan izin dari Siwon untuk membawa mereka ke tempat ini.

Perlahan pintu di hadapan mereka terbuka. Miyoung menghela napas. Pegangannya pada tangan mungil Ji Hoo semakin erat, membuat putranya itu mendongak padanya. Ji Hoo hanya mengerjap bingung mengapa ekspresi Ibunya cemas seperti itu. Suster itu melangkah mundur agar Miyoung dan Ji Hoo dapat berjalan ke dalam ruangan.

Miyoung mengangguk penuh terima kasih kepada suster tersebut lalu menarik Ji Hoo memasuki kamar 223. Ruangan serba putih dan bersih. Ruangannya berukuran 5×5, mempunyai satu lemari, satu buah meja, satu tempat tidur. Lantainya beralaskan karpet tebal yang juga berwarna putih. Penerangannya tidak begitu terang, tetapi Miyoung berhasil melihat sosok yang meringkuk di sudut ruangan. Tidak ada yang spesial dan menarik dari ruangan itu. Putih, sunyi, serta mencekam.

Miyoung berjalan mendekati meja lalu meletakkan buket bunga yang dibawanya. Pandangannya tidak terlepas dari sosok tersebut, Hwang Chae Ya. Wanita itu mengenakan piyama putih pucat. Rambutnya berantakan, bibirnya membiru, kantung mata yang begitu hitam di bawah mata cekungnya, tubuh kurus kering serta kulit kusam. Miyoung terenyuh setiap melihat keadaan kakaknya. Terlebih lagi melihat borgol yang selalu membelenggu pergelangan tangannya.

Empat tahun lalu, tepatnya setelah dijatuhi hukuman 15 tahun penjara oleh pengadilan, wanita itu mengamuk. Lebih parah saat ia menyerang Siwon dan Miyoung di mansionnya. Chae Ya dibawa ke rumah sakit dan divonis mengalami gangguan jiwa. Meskipun Chae Ya terbebas dari hukumannya, tetapi hati Miyoung tetap hancur berkeping-keping melihat semua kenyataan itu. Chae Ya tidak mendapatkan hukuman dari manusia, tetapi dari Tuhan. Ia menjalani karmanya sampai saat ini.

Sebagai adik yang baik, Miyoung rutin berkunjung ke rumah sakit jiwa ini. Hanya ia yang dimiliki Chae Ya. Siwon telah menikahinya dan mereka hidup berbahagia. Tetapi Miyoung belum merasakan kebahagian yang sesungguhnya jika Chae Ya masih dalam keadaan menyedihkan ini.

“Eomma, kenapa tangan Bibi itu diikat?” tanya Ji Hoo polos.

“Ji Hoo-yaa, Bibi itu adalah Chae Ya Imo. Ji Hoo tunggu disini, ne. Eomma akan mengobrol sebentar dengan Imo,” ujar Miyoung. Ji Hoo mengangguk patuh.

Miyoung berjalan menghampiri Chae Ya. Wanita itu bahkan tidak peduli dengan kedatangan Miyoung dan Ji Hoo. Chae Ya melamun seraya membentur-benturkan kepalanya ke dinding secara perlahan. Miyoung duduk di sampingnya kemudian memegangi kepala Chae Ya.

Merasakan ada yang menyentuhnya, Chae Ya pun mengalihkan tatapannya kepada Miyoung. Sorot mata itu dingin, kosong dan tak berdaya. Chae Ya telah berhenti membentur-benturkan kepalanya. Miyoung memberikan senyuman tulus kepada kakaknya itu.

“Annyeong, Eonnie.”

Seperti biasa, Chae Ya hanya diam membisu. Ia hanya menelengkan kepalanya sesekali.

“Bagaimana keadaanmu saat ini? Apa kau makan dan istirahat dengan teratur? Kau semakin kurus Eonnie.”

Miyoung menyeka airmata yang mengalir di pipinya. “Eonnie, kapan aku bisa melihatmu tersenyum lagi? Aku sudah sangat merindukannya.”

Miyoung merindukan Chae Ya. Ia meletakkan kepalanya di bahu sang kakak dan menangis disana. Tatapan Chae Ya semakin sendu. Tentu saja ia tidak mengerti mengapa wanita yang lebih muda darinya itu menangis tersedu-sedu di bahunya. Miyoung kembali mengangkat kepalanya saat teringat sesuatu yang menjadi tujuannya kemari.

“Oh ya, Eonnie. Apa kau ingat dengan Ji Hoo? Aku selalu menceritakannya kepadamu. Tunggu sebentar.”

Miyoung menoleh pada Ji Hoo yang masih dengan patuhnya berdiri disana. Miyoung melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar Ji Hoo mendekat. Ji Hoo melangkahkan kaki perlahan. Matanya yang bulat dan sangat mirip dengan mata Miyoung berkilat-kilat. Mungkin ia juga penasaran dengan wanita lusuh yang harus dipanggilnya Imo itu. Ji Hoo langsung memeluk Miyoung, tetapi matanya terpaku pada Chae Ya. Chae Ya tidak memandang mereka berdua, melainkan kembali melamun.

“Ji Hoo-yaa, ucapkan salam kepada Imo. Dia Chae Ya Imo,” bisik Miyoung di telinga Ji Hoo.

Anak itu menatap Miyoung sejenak lalu beralih lagi pada Chae Ya. Ini pertemuan pertama bagi mereka. Ji Hoo bingung, kenapa Chae Ya Imo tidak serapi Jessica Imo atau Yoona Imo-nya. Ia terbiasa melihat Jessica dan Yoona berdandan cantik dan selalu tersenyum, sedangkan Chae Ya berbeda 180 derajat. Rambut Chae Ya tidak lurus dan halus seperti kedua Imo-nya yang lain.

“Annyeonghasaeyo, Chae Ya Imo! Perkenalkan, namaku Choi Ji Hoo. Aku adalah putra Choi Siwon Appa dan Choi Miyoung Eomma. Umurku 5 tahun dan aku belajar di playgroup Shinwa.”

Miyoung mengelus kepala anaknya lalu menatap Chae Ya. Ia yakin meskipun Chae Ya terkesan tidak peduli, tetapi wanita itu mendengarkan putranya.

“Eomma, kenapa Chae Ya Imo tidak membalas ucapanku?” tanya Ji Hoo sedikit kecewa.

“Mungkin Chae Ya Imo sedang berpikir kenapa kau sangat cerdas dan tampan,” Miyoung terkekeh menggoda anaknya.

Ji Hoo ikut terkekeh. “Benar. Aku memang cerdas dan tampan ya, Eomma. Seperti Appa!” tukas Ji Hoo.

“Siapa yang seperti Appa?”

Mendengar suara lain di ruangan itu membuat Miyoung dan Ji Hoo menoleh. Siwon. Pria itu hadir di ruangan itu, berdiri di ambang pintu yang terbuka. Sejak kapan Siwon datang ke rumah sakit jiwa ini? Ia sama sekali tidak memberitahu Miyoung. Setahu Miyoung, suaminya itu masih di kantor.

“Appa!!!” seru Ji Hoo lalu melepaskan diri dari pelukan Miyoung. Ji Hoo barlari ke arah Siwon kemudian memeluk kaki panjang Appa-nya itu. Miyoung dan Siwon saling melemparkan senyuman. Siwon menggandeng tangan Ji Hoo, kembali mendekati Miyoung dan Chae Ya.

“Halo, Chae Ya.”

Chae Ya tidak memandang Siwon apalagi membalas salamnya. Ji Hoo duduk di pangkuan Miyoung, sementara Siwon duduk di hadapan Chae Ya. Pria itu semakin berwibawa dan lembut. Tangannya menggapai kedua tangan Chae Ya yang terbelenggu kemudian menggenggamnya hangat. Siwon telah lama memaafkan Chae Ya. Ia menyayangi siapa orang yang disayangi istrinya. Banyak hal telah diajarkan Miyoung kepadanya, terutama cinta, kasih sayang serta pengampunan.

Siwon menatap Chae Ya cukup lama, menaruh prihatin di sorot matanya. Wanita itu tampak sangat kacau. Entah kapan akan kembali normal. Siwon kemudian menepuk-nepuk pelan tangan Chae Ya.

“Chae Ya, apa kau telah melihat Ji Hoo. Lihatlah, matanya sangat mirip dengan Miyoung, tetapi wajahnya tampan sepertiku.”

Miyoung memberikan tatapan tajam pada suaminya itu. Siwon menahan dirinya agar tidak tertawa. “Tapi Chae Ya, aku sangat berharap kau bisa sembuh. Jagalah terus hatimu dan terus berdoa. Kami selalu menunggumu Chae Ya.”

Miyoung terharu mendengar ucapan Siwon. Ia sangat beruntung mempunyai keluarga yang juga menyayangi dan menghargai kakak kandungnya. Dan tibalah waktunya mereka untuk pulang. Ada acara yang akan mereka kunjungi malam ini. Jadi, Siwon menjemput mereka ke rumah sakit untuk bersiap-siap.

Siwon menggendong Ji Hoo untuk keluar terlebih dahulu, sementara Miyoung harus berpamitan terlebih dahulu kepada Chae Ya. Miyoung memeluk tubuh Chae Ya cukup erat, kemudian meninggalkan kecupan manis di kening kakaknya tersebut. Miyoung dapat melihat sebulir airmata mengalir dari mata cekung Chae Ya.

“Aku akan kembali membesukmu, Eonnie. Jaga dirimu.”

Miyoung berdiri dan berjalan keluar, dimana Siwon dan Ji Hoo menunggunya. Ia menatap Chae Ya sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkannya. Suster yang tadi berjaga di luar kembali menutup pintu dan menguncinya. Miyoung mendesah. Berat rasanya harus meninggalkan Chae Ya sendirian. Selagi memakai kembali perhiasannya yang tadi terletak di keranjang, Siwon terus mengawasinya.

Mengawasi istrinya dengan tatapan penuh cinta.

“Kamsahamnida, Suster!” ucap Miyoung kepada suster.

“Sudah tugas kami, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi.”

Miyoung memandangi kepergian suster itu, sementara di sampingnya ada dua laki-laki yang menatap dirinya penuh kekaguman. Tak lama kemudian, Miyoung menoleh. Ia mengernyit heran melihat tatapan Siwon dan cekikikan putra mereka.

“Mwo?” tuntut Miyoung seraya mendekat.

Siwon mengangkat bahu. “Aniyo.”

“Eomma cantik sekali jika sedang melamun seperti itu. Itu kata Appa!” tukas Ji Hoo.

Miyoung menyipitkan matanya ke arah Siwon kemudian melipat tangannya di dada. “Jangan dengarkan Appa-mu. Tanya Appa kenapa bisa berada disini tanpa memberitahu kita.”

Ji Hoo menoleh pada Siwon. “Kenapa Appa datang tanpa memberitahuku dan Eomma?”

“Katakan kepada Eomma kalau kita harus segera bersiap-siap ke pernikahan Donghae Samchon dan Yoona Imo nanti malam. Appa ingin Eomma berdandan secantik mungkin, mengalahkan Jessica Imo.”

“Kita akan ke pernikahan Yoona Imo dan Donghae Samchon? Yeeeaay! Apa Jun Yeon Noona dan Saeng Daniel akan ikut juga?”

Siwon mengangguk tegas, membuat Ji Hoo menari-nari di pelukannya. Jun Yeon adalah putri Leeteuk dan Daniel adalah putra Dongwook.

“Eomma, palliwa! Aku ingin melihat pernikahan Yoona Imo dan Donghae Samchon!” seru Ji Hoo.

“Baiklah, baiklah. Kajja!”

Miyoung dan Siwon berjalan beriringan, sedengkan Ji Hoo berada di gendongan Siwon. Lalu anak itu memberontak minta dilepaskan. Ji Hoo ingin berjalan bersama kedua orang tuanya. Siwon menurunkan Ji Hoo. Kemudian Ji Hoo menggamit tangan kedua orangtuanya. Sesekali Ji Hoo terangkat di udara karena Siwon dan Miyoung menarik tangannya ke atas. Ji Hoo tertawa senang.

Miyoung dan Siwon membalas sapaan pekerja-pekerja rumah sakit dengan ramah. Mereka berdua telah dikenal di lingkungan rumah sakit jiwa ini. Hanya saja mereka baru pertama kali melihat Ji Hoo. Kelincahan dan celotehan Ji Hoo membuat para suster gemas.

“Anak kita lucu sekali sampai-sampai membuat siapa saja tertawa,” ujar Siwon seraya memandang Miyoung.

“Tentu saja. Siapa dulu Ibunya,” goda Miyoung.

Siwon mengerutkan keningnya. “Yang benar, siapa dulu Ayahnya. Ayahnya tampan dan menawan seperti ini, tentu saja anaknya juga seperti itu.”

Miyoung berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Eih, rasa percaya dirimu berlebihan. Jangan tularkan pada Ji Hoo.”

Mereka sudah sampai di tempat parkir rumah sakit. Sopir yang tadi mengantar Miyoung dan Ji Hoo sudah tidak berada di tempat. Mungkin Siwon sudah menyuruhnya pulang.

“Jadi tidak boleh kutularkan pada Ji Hoo? Bagaimana kalau kutularkan pada adiknya?”

Mendengar kelakar Siwon, Miyoung berhenti berjalan. Ia menatap Siwon penuh arti. Pria itu mengedip mesra padanya, berusaha untuk membujuk.

“Adik? Adik siapa? Aku akan mempunyai adik?” celetuk Ji Hoo. Kepalanya mendongak melihat kedua orangtuanya yang saling berhadapan.

“Ji Hoo, tunggu di dalam mobil, ne! Appa ingin berbicara dengan Eomma.”

Ji Hoo mengangguk. Siwon membukakan pintu belakang mobilnya dan membantu putranya untuk masuk ke dalam. Setelah itu Siwon menyandarkan tubuh jangkungnya di pintu mobil yang tertutup, melipat kedua tangannya di dada seraya menatap mesra istrinya.

“Yah, apa maksudmu dengan adik Ji Hoo?”

Siwon menarik tangan Miyoung lembut sehingga mereka berpelukkan. Siwon memeluk pinggang Miyoung sementara kedua tangan Miyoung bertumpu di antara dada mereka.

“Sudah saatnya Ji Hoo memiliki adik. Jika kau tidak ingin 5 anak lagi, 3 saja sudah cukup. Otte?” bisik Siwon seduktif.

Miyoung memukul pelan dada bidang Siwon. “Silly. Sepertinya kau harus menginap di rumah sakit ini.”

Siwon tidak dapat melakukan apa-apa lagi kecuali terkekeh. Ia senang membuat pipi istrinya merona karena malu.

“Yeobo, aku serius. Ji Hoo ingin segera dipanggil Oppa atau Hyung.”

“Sudahlah, nanti kita terlambat ke pernikahan Yoona dan Donghae.”

“Ssst, jangan mengalihkan pembicaraan. Berikan aku jawaban dulu, baru kau kulepaskan. Apa kau setuju Ji Hoo mempunyai 3 orang adik?”

Miyoung menggigit bibir bawahnya. Aish, apa-apaan suaminya ini? Tetapi sepertinya Siwon tidak akan melepaskan sebelum Miyoung memenuhi permintaannya.

“Aish, baiklah. Ji Hoo akan memiliki 3 orang adik. Apa kau puas?” seru Miyoung.

“Belum, sampai saatnya kita bertempur. Hihihi.”

“YAH! BYUNTAE!!!”

Siwon tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Miyoung. Ia memeluknya semakin erat dan membuat wajah Miyoung bersembunyi di pundaknya. Mereka bahagia, sangat bahagia.

“Kalau begitu, satu permintaan lagi.”

Ucapan Siwon membuat Miyoung menghela napas berat. Ia menatap wajah suaminya lekat-lekat.

“Apa lagi, yeobo?”

Siwon mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di bibir. Miyoung tahu apa artinya. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala kemudian akhirnya berjinjit untuk memberikan satu ciuman lembut yang singkat di bibir tipis Siwon.

“Sudah, kan?”

“Belum.”

“Yah!”

Tuk tuk tuk

Terdengar suara kaca mobil diketuk dari dalam. Wajah Ji Hoo menempel di kaca tersebut sehingga membuatnya terlihat lucu. Sepertinya Ji Hoo sudah tak sabar untuk segera ke pernikahan Imo tersayangnya. Siwon melepaskan pelukannya dari Miyoung dan wanita itu langsung membuka pintu mobil.

“Baiklah, kita lanjutkan nanti malam! Kau telah berjanji, Choi Miyoung!”

Miyoung berhenti sejenak dan pura-pura berpikir sebelum menutup pintu. Ia menahan senyuman dan matanya berkilat-kilat penuh cinta.

“Hmm, akan kupikirkan lagi nanti.”

Dan pintu pun tertutup, meninggalkan Siwon terperangah diluar.

“Yah, Choi Miyoung! Aku akan membuatmu memenuhi janjimu! Arraseo?”

 

The end

 

 

Author’s Note:

Aaaaaaaahhh! Akhirnya ff ini selesai #lapkeringet

Sungguh butuh perjuangan menyelesaikannya. Dari keformat sampai kehabisan ide. Hiks hiks. Jadi berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakannya lagi. Semoga readers suka ama endingnya yaa. Sekalian doain Chae Ya supaya cepat sembuh dari penyakit kejiwaannya😄

Btw FF ini terinspirasi dari lakorn Thailand yang berjudul Sawan Biang. Maaf saya lupa ngasih tahu dari awal. FF ini saya persembahkan khusus untuk salah satu dongsaeng saya, Wina Hidayati. Ini buat kado kelulusannya hihihi. Semoga memuaskan^^

Terakhir, terima kasih untuk respon yang baik terhadap penjualan novel JUST LOVE ME. Saya nggak tahu harus ngomong apa lagi. Maaf kalo novelnya banyak kekurangan *deepbow

See u di FF selanjutnya. Saranghae :*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

154 thoughts on “(AD) Could It Be Love Part 5 – End

  1. Waah.. kagum sama ff nya..
    pokoknya daebak lah..
    Dan chae ya dpat ganjaran yg setimpal tuh..
    Habisnya dia jahat bnget smpe segitu-gitu nya..
    Tapi untung aja sifany nya bahagia, seneng jadinya
    eon elsa, bikin sequelnya dong😁
    Kan seru juga ada yoonhae couplenya juga..
    Pokoknya salute deh utk eonni elsa😃😄

  2. Waah.. kagum sama ff nya.. sama authornya juga hihihi😉
    pokoknya daebak lah..
    Dan chae ya dpat ganjaran yg setimpal tuh..
    Habisnya dia jahat bnget smpe segitu-gitu nya..
    Tapi untung aja sifany nya bahagia, seneng jadinya
    eon elsa, bikin sequelnya dong😁
    Kan seru juga ada yoonhae couplenya juga..
    Pokoknya salute deh utk eonni elsa😃😄

  3. Thanks to you Eca udh bikin ff sifany yg keren ini.
    setiap perbuatn psti ad blsanny. hal itu yg trjdi dgn chae ya. berambisi harta n cinta justru mbwt hatiny berubh bhkn tega menyakiti adikny sndiri. to mi young ttp maafkn chae ya krn cintany.

    utk siwon n mi young stlh jln berat ug mrk tempuh utk dpt bersama akhirny mrk bersatu dgn cinta yg ad dlm hati mrk.^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s