[Re-Post] Perfect Two Part 2

Perfect Two

PERFECT TWO

Author             :  2hyunfamily

Genre              :  Romance, happy

Rating             :  PG 15

Cast                 :  Siwon, Tiffany, others

Disclaimer       :  They are belong to god and their parents, except this ff, it’s originally mine!

-o0o-

~(Part 2)~

Merasa diperhatikan Tiffany pun melirik Siwon yang ternyata masih menatapnya. Kegugupan itu pun melandanya. Dengan segera dia menjauhkan dirinya dari Siwon dan melanjutkan kegiatannya memakan sushi yang sempat tertunda.

“ Mianhae Siwon~ssi, bukan bermaksud lancang… hanya saja, Yoona sering melakukan hal yang sama. Aku jadi sedikit terbiasa dengan cara makannya yang sedikit berantakan “

Siwon menelan ludahnya gelisah dan kembali menunduk memperhatikan potongan-potongan sushi yang telah dibuatnya. Lidahnya terasa kelu tiba-tiba. Rasanya begitu sulit hanya untuk membuka pembicaraan dengan Tiffany malam ini.

“ Baiklah… aku permisi dulu… “ langkah Tiffany tampak terburu-buru mengambil kedua kantung belanjaannya dan segera pergi dari apartment itu.

Siwon berniat mengejar yeoja itu. Tapi, untuk pertama kalinya dia merasa takut untuk bertemu dengan Tiffany. Yang bisa dilakukannya hanya merutuki kebodohannya sendiri. Diletakkan sumpitnya kasar dan menyapu kasar wajah tampannya yang terlihat kelelahan.

“ Paboya! Apa yang kau lakukan??!!! “

Nafas Siwon terhela berat. Cukup lama hingga dia mengingat kembali sesuatu yang tadinya ingin ia berikan pada Tiffany. Diambilnya sebuah kotak yang berasal dari satu-satunya kantong belanjaan miliknya. Diperhatikannya kotak beludru biru yang mewah itu dan membukanya perlahan.

“ Hufftt… aku bahkan belum memberikan ucapan terima kasih ku pada mu Tiffany… “

LLL

Minggu yang cerah di kota Seoul. Cuaca yang terasa hangat, tak terlalu panas ataupun dingin diperlengkap langit yang cerah tanpa ada satu awan pun menutupi sinar matahari. Seorang yeoja berjalan riang disepanjang trotoar jalan dengan senyum mengembang manis. Sesekali dia tertawa kecil. saat melewati beberapa etalase toko. Yeoja itu berkacak pinggang dan bergaya meihat penampilannya yang terpantul dikaca toko. Tak seperti dandanannya yang begitu elegan seperti hari-hari kerjanya, kini dia hanya mengenakan sepotong jeans dan t-shirt yang terlihat pas ditubuhnya. Rambutnya yang biasanya digerai kini mendadak diikat dan ditambah sentuhan akhir berupa topi ‘yang biasa-biasa saja’. Siapa yang menyangka dibalik penampilannya itu dia ternyata menjabat sebagai direktur diperusahaan keluarganya sendiri.

Yeoja itu –Yoona- menghentikan langkahnya di sebuah café classic disudut kota Seoul yang hampir dipenuhi gedung pencakar langit. Yoona mengambil nafas dalam. Dilakukannya berulang kali hingga dia merasa tenang kemudian melangkah masuk kedalam café itu.

“ Anda datang lagi Agassi? “

Yoona tersenyum menjawab pertanyaan yeoja manis berkepang dua dihadapannya itu.

“ Silahkan…. “ sahut yeoja berkepang dua itu lagi sambil mencarikan tempat duduk untuk Yoona. “ Ingin pesan apa? “

“ Seperti biasa… “

Yeoja itu berlalu menuju ruangan yang sepertinya dapur café itu. Sementara Yoona duduk gelisah dikursinya. Kepalanya mengedar diseluruh ruangan mencari hal yang begitu penting untuknya.

“ Agassi silahkan… “

Yoona tersentak melihat segelas latte dan kentang goreng yang telah disajikan untuknya. Yeoja manis itu berniat pamit diri tapi Yoona lebih dulu menghentikan langkahnya.

“ Jeogi… dimana pelayan café satu lagi? “

“ Eh? “ yeoja itu menautkan alisnya bingung. “ Satu lagi? “

“ Ne… namja yang beberapa hari ini membantu di café ini… “

Yeoja itu sejenak diam memikirkan siapa yang dimaksud pelanggan setianya itu. Tak lama kemudian dia tersenyum seolah mengerti sesuatu. “ Donghae oppa? “

“ Namanya Donghae? “ sahut Yoona berusaha tidak menunjukkan sebesar apa kebahagiaannya saat itu. Jika saja pelayan cantik itu menyadarinya, pasti dia sudah bisa melihat rona merah yang menyapu pipi Yoona.

Namun ternyata yeoja itu tahu. Dia terus tersenyum melihat Yoona dengan mata indahnya menunggu informasi lebih lanjut yang mungkin bersedia ia katakan. “ Karena kau pelanggan tetap kami maka aku akan mengatakannya… “ yeoja manis itu menggoda membuat Yoona merasa pipinya semakin memanas.

“ Sebelumnya aku Lee Jinri… “ tangan yeoja manis itu mengulur, Yoona pun membalasnya sesopan mungkin. “ Dan yang kau cari itu adalah oppa ku… “

“ Ni oppa? “

“ Ne… keurigo, aku tidak perlu memanggil mu agassi lagi kan? Eonni bukannya kau menyukai oppa ku? Wajah mu saja memerah… “

Yoona menundukkan wajahnya salah tingkah. Bagaimana bisa dia bertindak sebodoh itu dihadapan dongsaeng namja yang disukainya sendiri. Yoona merutuki dirinya, dengan abal diminumnya segelas latte tadi dan buru-buru pergi dari café itu.

Tapi…

Deg…

Yoona seperti ingin pingsan saat itu juga saat melihat orang yang sejak tadi ditunggunya kini hanya berjarak beberapa centi darinya.

“ Mi… mi… mian “ sahutnya gugup.

“ Gwenchana? “

‘eotteokke?’

“ Agassi gwenchana? “ ulang Donghae –namja yang tadi berpapasan dengannya dipintu-. Yoona semakin kehilangan kata-katanya. Jantungnya berdegup tak karuan.

“ Ne… gwen… gwenchana… “

Donghae melirik Yoona yang terus menunduk kemudian beralih kearah dongsaengnya yang langsung angkat bahu seolah tak ingin disalahkan.

“ Permisi aku haru segera pergi… “ Yoona berusaha keras membuka suaranya yang terdengar begitu gemetar.

“ Agassi, diluar sedang hujan… “ Donghae mencegahnya. Tangan Yoona yang semula sudah memegang knop pintu café itu pun berangsur ditariknya.

“ Bukan kah kau juga belum menghabisi makanan mu? “

Yoona kehilangan langkahnya. Dia berbalik dan berjalan kembali kemejanya diikuti dengan Donghae dibelakangnya. Sementara ditempat duduknya Yoona hanya diam sambil sesekali menyesap latte dan memakan kentang gorengnya.

“ Kenapa bisa hujan sih! Tadi kan cerah-cerah saja… aigo… membuat ku malu saja… “ Yoona menggumam tak jelas. Baru kali ini dia merasa tak betah berada dicafe itu. Bagaimana jika dia semakin terlihat bodoh didepan Donghae. Yoona benar-benar tidak sanggup memikirkannya!

“ Agassi, igeon… pakailah… “

Yoona menatap sekotak tisu itu lekat-lekat lalu beralih menatap Donghae yang memberikan benda itu.

“ Gomawo… “

“ Kau terlihat berkeringat dan… jeogi, ada noda dibibir mu… “

“ Eo? “ Yoona buru-buru mengambil beberapa lembar tisu dan segera menyapu daerah disekitar bibirnya.

“ Boleh aku duduk disini? “

“ Mwo?! A… e… mian… maksud ku… silahkan… “

Setelah dipersilahkan Donghae pun mengambil duduk tepat dihadapan Yoona. Keduanya diam cukup lama, bahkan Donghae tak tahu alasan kenapa dia seberani itu meminta persetujuan Yoona untuk membiarkannya duduk disatu meja dengannya.

“ Kau punya keluhan tentang restoran kami? “ tanya Donghae santai.

“ Anni, eobseo… aku suka tema yang kalian pilih… jarang ada yang mengangkat tema café se-klasik ini “

“ Keurae?, café ini merupakan restoran turun temurun dikeluarga kami makanya terlihat sedikit tua… “

“ Jinjja? “

Donghae mengangguk.

Ntah sejak kapan keduanya mulai aktif dan tidak sungkan untuk berbicara satu sama lain. Keduanya larut dalam suasana yang mereka buat sendiri. Banyak hal yang mereka bicarakan namun tak ada satupun yang terasa akan berakhir atau menjenuhkan. Yoona merasa bagaikan berpuluh-puluh kembang api yang sudah meletup-letup dijantungnya, membuat organ vital itu berdegup kencang terus menerus.

Setengah jam berlalu dan tampaknya obrolan menyenangkan mereka harus disudahi. Yoona beranjak bangkit sementara Donghae langsung berniat mengantarkan Yoona hingga depan pintu café-nya.

“ Sampai jumpa lagi… “ sahut Donghae dengan seberkas nada pengharapan dikalimatnya.

“ Ne… aku… akan sering datang kesini… “ Yoona menjawab pasti. Dia pun berbalik, namun lagi-lagi Donghae menghentikannya.

“ Agassi… “

“ Ye? “

“ Jeogi… ireumi mwoyeyo? “

“ Eo… Yoona imnida. Im Yoona… “ Yoona menjawab tersipu begitupun dengan Donghae yang terlihat salah tingkah. “ Baiklah… aku… permisi dulu Donghae~ssi… “

“ Ne… hati-hati ne “

Yoona tersenyum kecil dan segera keluar. Dia menghela nafas panjang. Jantungnya masih berdetak sama kencangnya seperti tadi, namun dadanya terasa lapang seakan membiarkan semua oksigen masuk memenuhi paru-parunya. Tapi tunggu…

“ Bukannya tadi hujan? “ Yoona bergumam bingung. Matanya tak menangkap sedikit pun bekas genangan air dijalanan, semuanya masih dalam keadaan kering dan udara tak jauh lebih dingin dari sebelumnya.

“ Tapi tadi…. “ Yoona menghentikan ucapannya. Senyum manis merekah diwajah cantiknya saat baru menyadari bahwa hujan adalah alasan Donghae untuk menahannya.

JJJ

The number you are calling is not active

Please try again in a few minute

Siwon menghela nafasnya putus asa. Berulang kali dicobanya menghubungi ponsel Yoona tapi tak ada satu pun panggilan yang terjawab. Siwon merasa semakin tidak percaya diri untuk mendapatkan Yoona. Diliriknya sebuah keranjang yang terletak begitu saja disebelah kursi pengemudi mobilnya. Dia menunduk kecewa. Rasanya Yoona memang sudah memiliki namja lain dihatinya.

“ Eotteokaji? “

Siwon memasukkan kembali ponselnya kedala saku celananya. Dia berniat untuk masuk kemobilnya dan segera pergi dari gereja itu setelah menyelesaikan urusannya dengan tuhan. Tapi tiba-tiba matanya memicing melihat seseorang yang dikenalnya tengah berlari-lari kecil menuju kearah tempat dia berada. Orang itu pun sama kagetnya saat melihat Siwon yang sedang menatapnya bingung.

“ Fany~ya… “

“ Siwon~ssi… “

Mereka tertawa bersamaan. Keduanya sama-sama berjalan menghampiri satu sama lain. Kedua jari telunjuk mereka pun secara bersamaan menujuk hidung masing-masing.

“ Neo… “ ucap keduanya bahkan serentak.

“ Siwon~ssi, wae… wae yeogie isseo? “

“ Cih… seharusnya aku yang bertanya pada mu… apa yang kau lakukan disini? “

“ Na? Aku… aku memang ke gereja ini setiap minggu… “

Keduanya bungkam dan sama-sama berpikir. Mungkin ini lah alasan kenapa mereka merasa familiar saat pertama kali bertemu. Ternyata mereka sudah sering bertemu digereja meskipun tak ada yang saling mengenal. Keduanya pun tertawa.

“ Pantas saja aku merasa wajah mu tidak asing bagi ku Fany~ya… “

“ Nado, tapi aku bahkan tidak mengingat dimana aku pernah bertemu dengan mu! “

Keduanya kembali tertawa dan merasa lucu dengan kejadian-kejadian yang diluar prediksi mereka.

“ Jadi, kau mau kemana sekarang? “ tanya Siwon sambil memperhatikan Tiffany dari atas kebawah.

“ Ya! Berhenti menatap ku seperti itu! Tentu saja aku ingin menghadiri kebaktian pagi di gereja… Siwon~ssi, kenapa kau tidak masuk? “

Siwon mengernyit bingung. “ Kebaktian pagi? “

“ Ne! “

“ Ya Fany~ya! Acara sudah selesai satu jam lalu! “

“ Mwo?!!!! “ Tiffany mendelik tak percaya. Lantas dia langsung melihat arloji ditangan kirinya dan langsung menepuk dahinya sendiri. Arloji itu ternyata sudah tidak bernyawa. Siwon hanya tertawa geli melihat Tiffany yang sepertinya sedang menyalahkan dirinya sendiri.

“ Keundae Siwon~ssi, kenapa kau disini? bukannya kau ingin piknik dengan Yoona? “

Wajah Siwon yang semula cerah kini mendadak mendung. Dia menundukkan wajahnya tak semangat. “ Yoona tidak datang… “ jawabnya pelan.

Tiffany tampak menyesal. Ekspresi yang ditunjukkan Siwon benar-benar ekspresi yang tidak disukainya. Dia pun bingung harus mengatakan apa.

“ Mianhae… “ ucap Tiffany tiba-tiba. Ntah apa alasannya dibalik ucapan maaf itu.

“ Wae? “

“ Keunyang… mianhae… “

Siwon tersenyum tipis. Diraihnya lengan Tiffany dan berusaha menariknya. Namun Tiffany membantu diposisinya, dia berusaha meminta penjelasan lebih dulu pada Siwon sebelum membiarkan dirinya ditarik namja itu.

“ Eoddi? “ tanya Tiffany pelan.

“ Mau menemani ku piknik? “ Siwon balik bertanya, namun hal itu lebih kesebuah ajakan yang memang ditujukan oleh Tiffany. “ Aku tidak menerima penolakan kau tahu? “

Tiffany pun akhirnya pasrah ditarik begitu saja memasuki mobil Siwon. Keduanya mulai melakukan perjalanan yang ntah kemana. Merasa bosan karena tak ada satu pun yang berbicara, Siwon akhirnya menghidupkan music player dimobilnya. Lagu bergenre energic pun menggema diruang tertutup itu. Keduanya secara perlahan mulai bernyanyi bersama.

“ Aku baru tahu suara mu bagus… “ puji Siwon disela-sela nyanyiannya. Tiffany pun menanggapinya dengan gurauan kecil.

“ Banyak bakat ku yang tidak kau ketahui Choi Siwon`ssi… “

Keduanya kembali bernyanyi bersama sambil sesekali tertawa saat salah satu dari mereka lupa lirik selanjutnya. Siwon tersenyum lebar, rasa sakit hatinya yang semula membuncah kini terasa hilang termakan kesenangannya bersama Tiffany. Perjalanan mereka belum selesai, masih butuh waktu lama untuk menuju tempat yang Siwon pikirkan. Tempat yang seharusnya menjadi tempat kencan pertamanya bersama Yoona. Tapi Siwon tak menyesalinya, dia justru merasa bersyukur ada Tiffany yang bisa menemaninya saat itu.

Satu jam berlalu…

Namun sepertinya tak ada tanda-tanda  bagi Siwon untuk memberhentikan mobilnya. Tiffany pun mulai letih menghabiskan perjalanan selama itu.

“ Siwon~ssi eodikayo? “

“ Wae? Kau sudah berjanji ingin menemani ku “

“ Ne… tapi setidaknya beritahu kemana kita akan pergi? “ Tiffany mulai cemberut. Pipinya menggembung dan bibirnya mengerucut. Siwon tersenyum lucu melihatnya.

“ Arrasseo arrasseo… apa kau lelah? “

“ Keureom! Bagaimana mungkin aku tidak lelah jika dari tadi kita tidak sampai-sampai! “

Siwon terkekeh lagi namun kali ini dibiarkannya Tiffany dalam rasa kesalnya. Ntah kenapa dia ingin menjadikan tempat ini sebuah kejutan untuk Tiffany. Siwon tak mengerti alasannya, tapi dia ingin Tiffany terkesan dengan apa yang dilakukannya hari ini.

“ Bangunkan aku jika sudah sampai! “ dengan ketus Tiffany mengingatkan. Diturunkannya sandaran kursi mobil Siwon dan berbaring sambil menikmati semilir angin yang berhembus. Tak butuh lama yeoja itu pun sudah tertidur.

Sedangkan Siwon terus menjalankan mobilnya. Melihat jalanan yang sudah tidak seramai tadi membuat dia mempercepat sedikit laju mobilnya. Tanpa sengaja dia menoleh kearah Tiffany yang tertidur menghadap kearahnya. Siwon tersenyum kecil, apa matanya bermasalah atau Tiffany memang terlihat semakin cantik tiap harinya.

“ Kau harus semakin mendekatkan diri padanya…. Im International Boutique sedang menjadi incaran saat ini! Jika kau bisa mendapatkan hati Yoona maka jalan menuju pasar internasional bukan hal sulit untuk Choi  Corporation “

Kata-kata kakeknya tiba-tiba terlintas lagi. Siwon tidak boleh seperti ini, dia tidak boleh larut dalam perasaannya yang salah. Seharusnya dia berusaha lebih keras jika benar-benar ingin mendapatkan Yoona! Bukannya dari awal dia juga menyukai Yoona? Fokuskan pikiran mu Choi Siwon! Tapi ntah lah, Siwon baru menyadari satu hal. Tiffany lah yang selalu ada disisinya selama ini! Bukan Yoona!

“ Emmhh… “ Tiffany melenguh, matanya terbuka perlahan dan seperti dugaannya mobil itu belum berhenti juga, selain itu… hal yang pertama ia dapati saat membuka matanya adalah Siwon sedang melihat sekilas kearahnya. Kenapa?

“ Kita belum sampai? “ tanya Tiffany kalem berusaha menepis harapannya.

“ Belum, kau bahkan belum tidur setengah jam… “

“ Jauh sekali tempatnya… “ protes Tiffany sambil kembali merebahkan tubuhnya.

“ Jauh, tapi indah! Sudah tidur lah… “

Tiffany kembali memejamkan matanya dan tertidur lagi, menunggu kemana Siwon akan membawanya.

JJJ

Tak terasa 4 jam sudah berlalu. Jam yang awalnya masih menunjukkan pukul 10 pagi kini mulai beranjak siang. Namun bukannya semakin panas, cuaca malah sedikit mendung. Siwon pun terlihat mulai melambatkan laju mobilnya. Dilihatnya Tiffany yang masih tertidur, dia urungkan niatnya untuk membangunkan Tiffany mengingat mereka belum tiba benar dilokasi yang dituju. Beberapa menit berlalu dan akhirnya kendaraan mewah beroda empat itu benar-benar berhenti. Sesuai janjinya Siwon pun dengan perlahan membangunkan Tiffany.

“ Tiff… “

“ Tiffany… “ tangan Siwon dengan lembut menggoyang-goyangkan tubuh Tiffany. Cukup lama hingga akhirnya Tiffany benar-benar terbangun.

“ Ajig? “

Siwon mengangguk. “ Palli… “ Siwon pun turun dari mobilnya diikuti Tiffany yang tak lupa mengambil keranjang piknik mereka.

“ Urineun eodiya? “

“ Molla? Kita ada di daegu arboretum! “

“ Dae… dae… daegu?! Mwo?! Kita pergi sejauh itu? “

“ Wae? “

Tiffany mengerjapkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa Siwon mengajak piknik hingga tempat sejauh itu. Tiffany kehilangan seluruh kata-katanya. Melihat kecengangan Tiffany Siwon pun menjadi tak sabar dan segera menarik yeoja itu masuk kesalah satu taman terindah yang dimiliki korea selatan.

Tapi benar saja, pemandangan di kebun bunga ini benar-benar hijau dan mampu menghilangkan stress para pengunjungnya. Tak terkecuali Tiffany, dia seolah tak mampu menyembunyikan rasa senangnya. Dibukanya high heels yang sejak tadi dipakainya dan dengan riang dia berjalan diatas rumput hijau yang terasa dingin dan basah.

Siwon tertawa kecil, dari jauh diperhatikannya Tiffany yang tampak sangat senang melihat pemandangan asri dihadapannya. Seandainya dia mengajak Yoona… apa reaksinya akan sama?

“ Siwon~ssi… palliwa! “ Tiffany menyeru memanggil Siwon untuk ikut bergabung dengannya. Siwon tersenyum padanya dan ikut membuka sepatunya dan bertelanjang kaki menginjak rumput hijau disana.

Keduanya mulai berjalan sambil menikmati udara segar yang tak mereka dapat di Seoul. Keduanya lebih banyak diam karena sama-sama menikmati indahnya pemandangan yang tersaji.

“ Kau tidak lapar? “ tanya Siwon lembut.

“ Aku belum lapar… wae? Kau ingin makan? “

Siwon mengangguk dan memegangi perutnya yang terasa kosong sejak tadi. Siwon dan Tiffany pun kemudian mencari bangku terdekat yang bisa mereka duduki. Tak jauh dari sana sebuah bangku taman yang masih kosong pun langsung menjadi incaran mereka. Dengan berlari kecil keduanya meraih bangku itu.

“ Hah… hah… lari mu cepat sekali Siwon~ssi… “ nafas Tiffany tersenggal. Tubuhnya pun ambruk dikursi taman itu.

“ Cepat keluarkan makanannya… “

“ Ne… “

Tiffany mulai membuka keranjang itu dan membagikan piring pada Siwon dan dirinya sendiri. Matanya mendadak sayu melihat sushi yang sudah dibuat Siwon. Tiffany semakin kehilangan selera makannya. Dia merasa tidak pantas memakan sushi itu bersama Siwon. Bukan dia yang sebenarnya Siwon harapkan pastinya. Tiffany pun menunduk dan tetap memakan sepotong sushi untuk menghargai Siwon.

“ Seandainya Yoona tahu kau akan membawanya ketempat seperti ini… “

Siwon memperlambat kunyahannya. Sekarang rasanya dia malah tidak berminat untuk membicarakan Yoona ataupun mengorek informasi tentang yeoja itu dari Tiffany.

“ Sayang sekali Yoona tidak ada… “

“ Geumanhae… “ Siwon tak mengerti dirinya sendiri, namun dia benar-benar tak ingin mendengarkan Tiffany membahas hal lain selain yang sedang terjadi diantara mereka berdua. “ Aku juga tidak menyesal pergi dengan mu… “

Deg…

Tiffany memalingkan wajahnya, dia semakin takut melihat wajah Siwon, semakin takut akan jatuh terlalu dalam oleh perasaannya sendiri. Ditolehkannya wajahnya menatap Siwon sesaat. Dipandanginya wajah itu selekat mungkin, ekspresinya sama santainya dengan ucapan yang baru saja diucapkannya.

‘Ck… sudahlah Tiffany! Berhenti membodohi diri mu sendiri!’

Tiba-tiba Siwon berhenti memasukkan potongan sushi kedalam mulutnya. “ Tiff… “ panggilnya pelan. Tiffany pun menoleh, menunggu Siwon melanjutkan ucapannya. Tapi namja itu tak bergeming. Siwon malah memindahkan keranjang yang tadi menjadi jarak diantara mereka berdua. Diraihnya tangan kiri Tiffany dan memakaikan ‘tanda terima kasihnya’ dipergelangan tangan yeoja itu.

“ Gomawo… “ ucapnya lirih.

Tiffany membeliak kaget melihat jam yang kini sudah melingkar dipergelangan tangannya.

“ Siwon~ssi ige… “

“ Itu ucapan terima kasih ku untuk yeoja yang selalu ada dipihak ku. joha? “

Tiffany mengangguk terharu melihat jam tangan itu. “ Gomawo… “ sahutnya senang dan memberikan senyum termanisnya pada Siwon.

Deg… Deg… Deg… Deg…

Jantung Siwon berpacu cepat, rasanya… dia semakin tak bisa mengendalikan dirinya melihat mata indah Tiffany yang ikut tersenyum padanya. Dia pun balas tersenyum, ntah apa yang membuat pikirannya tak terkendali, Siwon malah menggenggam telapak tangan Tiffany yang sejak tadi memang belum dilepaskannya.

Deg… Deg… Deg… Deg…

Sekarang giliran Tiffany yang kaget saat Siwon menggenggam erat tangannya. Tak ingin salah paham karena tindakan itu Tiffany berusaha menarik pergelangan tangannya, namun Siwon seakan tak mengizinkan hal itu terjadi. Masih digenggamnya erat telapak tangan Tiffany membuat Tiffany perlahan membiarkan namja itu menggenggam tangannya sedemikian rupa.

“ Mian… tapi tolong jangan lepaskan… “ Siwon meminta dengan tulus pada Tiffany.

Wajah Tiffany merunduk, ntah semerah apa wajahnya sekarang ini pastinya.

“ Apa kau kedinginan? Tangan mu dingin sekali… “

“ Bukan tangan ku… tangan mu yang dingin Siwon~ssi… “

“ Keurrae? “

Genggaman tangan Siwon kian mengerat, tak diizinkannya sedetik pun Tiffany melepaskan genggaman tangan mereka. Kehangatan tubuh Tiffany dan aroma parfumenya yang jelas terasa membuat Siwon semakin larut dalam suasana. Dibaringkannya kepalanya dipundak Tiffany dan kali ini Tiffany tak berusaha menolaknya. Dia tidak tahu kenapa Siwon menjadi semanja ini padanya, tapi saat itu dia merasakan sisi lain Siwon… namja itu sendirian.

“ Fany~ya… “

“ Hmmh? “

“ Sebenarnya… Yoona tidak mencari ku kan? “

Tiffany menegak ludahnya gugup lalu menunduk menyesal. Dia tak menjawab, meskipun begitu Siwon tahu pasti apa jawaban yang ingin disampaikan Tiffany.

“ Boleh aku bercerita? “

“ Eo… “

“ Aku ingin bertemu orang tua ku… “

“ … “

“ Bogoshipeosseo… “

“ Belum saatnya kau kesana Siwon~ssi… “

“ Arra, aku hanya merindukan mereka. Jika mereka ada… hidupku tidak mungkin membosan kan seperti ini… “

Tiffany menghela nafas pelan dan membiarkan Siwon melanjutkan kembali ceritanya.

“ Saat aku kecil, aku paling senang menginap dirumah harabeoji… rumahnya besar, banyak permainan dan halmeoni selalu membuat kan kue untuk ku… tapi, saat orang tua ku meninggal, tinggal bersama harabeoji malah seperti penjara bagi ku… “

“ Siwon~ssi… “

“ Dia banyak menyuruh ku, memaksa ku, dan mendesak ku… aku sadar dia menaruh harapan besarnya untuk ku… tapi kadang aku hanya ingin menjadi Siwon yang dulu… “

Tangan kanan Tiffany bergerak ragu untuk menggenggam tangan Siwon yang masih bertautan dengan tangan kirinya. Dia tidak berniat lancang, tapi… dia tak mampu mengatakan apapun saat itu.

“ Eotteokke Fany~ya… eotteokke? Harabeoji meminta ku menikahi Yoona… eotteokke… “

Tiffany terdiam lesu. Nafasnya semakin memburu dan rasanya dia ingin menangis saat itu. Tapi apa yang akan dikatakannya jika Siwon tahu? Tiffany menggigit bibir bawahnya kasar berusaha meredam tangisnya yang siap meledak. Tangan Siwon yang masih menggenggam erat tangannya tak mampu lagi dia balas. Yoona begitu penting untuk Siwon dan jika dia nekad meneruskan perasaannya pada namja ini, dia sendiri yang nantinya akan terluka.

Dress… Dress…

Gerimis mulai turun perlahan dan berangsur menjadi hujan. Keduanya pun berlari kembali menuju mobil, dalam perjalanannya… air mata Tiffany turun bersamaan dengan derasnya hujan. Dia tak mampu menahannya dan Siwon tak boleh tahu kalau dia sedang menangis untuknya.

Didalam mobil Siwon langsung menutup semua jendela dan menyalakan penghangat mobilnya. Untunglah mereka tidak terlalu basah.

“ Kau kedinginan? “ tanya Siwon khawatir melihat Tiffany sibuk mengeringkan rambutnya yang terikat.

“ Anniya, mobil mu cukup hangat… “

Siwon hanya mengangguk. Menunduk diam untuk mengontrol ulang pikirannya.

‘Eotteokke Fany~ya eotteokke… bagaimana jika ternyata aku mencintai mu… eotteokke…’

JJJ

Udara yang semakin dingin membuat Tiffany meringkuk di kursi mobil Siwon. Dia terus menunggu hujan yang tak kunjung reda. Kadang dia gelisah, tapi Dia terlalu takut melihat Siwon yang sepertinya sedang berbaring dikursinya.

“ Sepertinya kita harus bermalam dimobil… “ ujar Siwon pelan.

Tiffany hanya menghela nafas dalam dan tetap melihat kearah jendela yang tertutup kabut.

“ Mianhae… “ Siwon kembali bergumam. “ Seharusnya hari ini akan menjadi menyenangkan… “

“ Gwenchana… hari ini memang menyenangkan… “ Tiffany menoleh akhirnya. Dilihatnya Siwon yang ternyata masih berbaring dikursinya dengan mata terpejam. Wajahnya pucat pasi, namun Tiffany takut untuk bertanya kenapa.

“ Apa kau kedinginan? Apa kita perlu bermalam di hotel? “

“ Anni… tidak perlu…” Tiffany menjawab singkat. Dia masih tidak tenang dengan kondisi Siwon yang terlihat sangat kedinginan. “ Siwon~ssi… “ panggilnya ragu.

“ Hmmh? “

“ Gwenchana? “

“ Eo… gwenchana… “

“ Geojitmal! Angwenchana… “

Kekhawatirannya membuat Tiffany dengan berani menyentuh leher dan dahi Siwon. Benar saja, seluruh tubuh Siwon panas.

“ Siwon~ssi… badan mu panas… “

“ Gwenchana… “

“ Anni… chankan… aku membawa obat di tas ku… “

Dengan cepat Tiffany membongkar seluruh isi tas-nya. Tangan dan tubuhnya ikut bergetar karena rasa paniknya. “ Eotteoke… dimana obatnya… “ pikiran Tiffany mendadak kacau namun tangannya masih terus mencari berharap cadangan obatnya terselip disuatu tempat. “ Ah… ige… minumlah… “

Dimasukkannya obat itu kedalam mulut Siwon dan membantu Siwon meminumnya. Siwon tak bisa melakukan apa-apa selain menuruti perintah Tiffany. Menit berselang dan keadaan Siwon tampak tak membaik. Dengan cemas Tiffany meraih tangan Siwon dan menggenggamnya erat. Tangan Siwon bahkan lebih dingin dari sebelumnya dan Tiffany pun semakin panic.

“ Siwon~ssi… apa kau kedinginan? Aku… aku bisa menyetir, ingin kucarikan hotel? “

“ Anni… “ Siwon menjawab lirih. Kepalanya terlalu berat untuk dibuka tapi satu hal yang dirasakannya. Tangan Tiffany sangat hangat untuk digenggam.

“ Omo eotteoke?! Demam mu belum turun juga Siwon~ssi… “

Tak ingin membuat Tiffany semakin cemas Siwon pun membuka matanya dan melihat mata Tiffany yang meneduhkan. Pelupuk matanya basah dan wajah memerah, mungkin menahan tangisnya. Siwon tertawa kecil lalu berusaha menenangkan Tiffany.

“ Nan gwenchana. Lagi pula hanya demam ringan… “

Tiffany malah menangis. Belum pernah dia merasa sekhawatir ini bahkan saat Yoona juga mengalami hal yang sama. Lama kelamaan tangisnya mulai sesegukan, dilepaskannya genggamannya dari tangan Siwon dan buru-buru mengambil sesuatu lagi dari dalam tas-nya.

“ Chankanman… aku akan segera kembali… “ Tiffany mengingatkan. Segera dibukanya payung yang tadi ia bawa dan berjalan keluar dari mobil Siwon. Suasana sangat berkabut dan cukup gelap, padahal saat itu masih pukul 7 malam. Meskipun bingung harus mencari obat pereda demam dimana, namun Tiffany tetap melanjutkan langkahnya. Ditengah guyuran hujan yang hampir menyerupai badai, Tiffany melihat cahaya terang lampu diujung jalan. Dia segera berlari kesana.

“ Oh… thanks god! “ Tiffany buru-buru masuk ketoko kecil itu. Segera diambilnya plester penurun panas dan membeli 2 cup coklat panas serta beberapa makanan untuknya dan Siwon. Tiffany pun segera kembali.

.

.

Dimobilnya Siwon hanya mampu melipat kedua tangannya menahan rasa dingin yang menusuk hingga kesendinya. Badannya menjadi ngilu dan sakit untuk digerakkan. Siwon memijat pelan pelipisnya dan berusaha mengatur nafasnya yang menderu. Sial! Kebiasaannya belum hilang juga ternyata. Dia masih tidak tahan terkena air hujan. Siwon menertawai dirinya sendiri jika mengingat dia bisa jatuh sakit seperti ini sedangkan Tiffany yang malah seorang yeoja mampu bertahan dan sehat-sehat saja.

“ Siwon~ssi igeo… “

Siwon menoleh dan mendapati Tiffany membawa sebungkus plastic besar ditangannya.  Payunngnya ia lipat kembali dan meletakkannya asal didalam tas-nya. Siwon tertawa.

“ Utgo? “ tanya Tiffany heran saat melihat Siwon tersenyum dan tertawa kecil melihatnya.

“ Kau sudah seperti Doraemon saja… “

“ Mwo?! “

“ Apalagi yang kau bawa ditas mu? Pisau? Gas air mata? Aksesoris cadangan… “

“ Aku memang membawa semua hal yang kau bilang “

“ Jinjja? “ Siwon semakin tertawa. Tiffany pun merasa dipermalukan saat mendengar Siwon begitu terhibur dengan kata-katanya barusan.

“ Aisshh! Sikkeureo! “ bentak Tiffany tak terima. Dia terdiam cukup lama memandangi wajah Siwon. Diambilnya plester penurun demam dari kantong plastic tadi dan menempelkannya dengan kasar didahi Siwon.

Deg… Deg…

Dada Siwon kembali terasa berdenyut-denyut. Bukan hanya tubuhnya yang sekarang menghangat, hatinya pun merasakan hal yang sama. Disentuhnya plester didahinya dan menoleh kepada Tiffany yang sepertinya masih kesal karena ejekannya. Ini kah alasan Tiffany nekad menerjang hujan beberapa menit yang lalu? Tiffany benar-benar mengkhawatirkannya dan pergi mencari plester itu?

“ Minum dan makan lah… “ tangan Tiffany menyodorkan se-cup coklat panas dan sepotong roti kearah Siwon. Siwon pun menerimanya.

Beberapa menit berselang dan keduanya masih terlihat menikmati roti dan coklat panas mereka yang sepertinya harus disebut ‘coklat dingin’ sekarang.  Keduanya sama-sama menunggu hujan reda, walaupun ntah kapan.

“ Gomawo… “ sahut Siwon lirih. Badannya yang sudah jauh lebih baik membuatnya mampu duduk dan membuka matanya.

“ Cheonma… “

“ Mian aku telah mengejek mu tadi… “

Tiffany tak menjawab. Tampak dia sedang berpikir bagaimana harus menanggapi permintaan maaf Siwon.

“ Tak apa… “ jawabnya akhirnya. “ Memang sedikit aneh tapi bermanfaat… “

“ … “

“ Semenjak menjadi sekretaris pribadi Yoona, membawa barang-barang itu mulai menjadi kebiasaan ku… Yoona sering bepergian kesana kemari dan sebagai sekretarisnya aku harus berjaga-jaga… “ Tiffany menjelaskan. Diseruputnya lagi coklat panasnya yang tersisa.

“ Kau sudah seperti baby sitter hehe… “ Siwon bergurau kecil dan keduanya pun tertawa.

“ Aku rasa… kalian berdua cocok dan pantas bersama “ Tiffany menunduk diam, dan berusaha mengalihkan wajahnya kearah lain, ke derasnya hujan yang sepertinya senang berlama-lama untuk turun membasahi bumi.

“ Wae? “ tanya Siwon datar meminta alasan Tiffany atas pernyataannya.

“ Anni, hanya saja terkadang kalian terlihat mirip… sama-sama keturunan keluarga kaya, sama-sama punya wajah yang bagus dan tentunya hampir mempunyai kebiasaan yang sama! “ Tiffany berusaha tersenyum meskipun sebenarnya menyembunyikan lukanya sendiri.

“ Benarkah kami secocok itu? “

“ Ne! “

Hati Siwon bergemuruh dan dia semakin tidak ingin mendengarkan cerita tentang Yoona ketika bersama Tiffany. Ditatapnya Tiffany tajam dan langsung ke manik mata Tiffany yang bersinar.

“ Lalu… bagaimana jika aku benar-benar bersamanya? “

Wajah Tiffany seketika menunduk lagi, jantungnya semakin berdenyut cepat dan kian terasa sakit. Dia terdiam cukup lama, masih bisakah dia berbohong? Ditariknya nafasnya dalam dan tersenyum kearah Siwon.

“ You guys will be the best couple ever! “

Siwon menegak ludahnya kecewa. Bukan jawaban itu yang ingin didengarnya, ntah lah… tapi saat ini dia ingin Tiffany menahannya. Dan mata itu, mata Tiffany tak menyiratkan hal yang sama. Matanya yang teduh tak berbinar seperti biasanya, sayu dan terlihat menyakitkan. Siwon menarik dirinya kembali kekursinya dan menghempaskan tubuhnya. Dia tersenyum kecil tak tahu kenapa.

“ Keurigeo… namja beruntung seperti apa yang bisa mendapatkan mu Fany~ya? “

“ Eo? “

“ Hmmhh… siapapun namja itu dia pasti sangat beruntung memiliki yeojachingu seperti mu! “

Tiffany diam saja dan kembali memandangi hujan yang sudah tak deras seperti sebelumnya. hanya tinggal suara gerimis kecil ditemani angin malam yang akan segera berganti pagi.

JJJ

Mata tajam Siwon yang semula terpejam kini mulai mengerjap beberapa kali saat cahaya matahari menyilaukan matanya yang baru saja terbuka. Dilihatnya Tiffany masih tidur disebelahnya dengan masih memegang cup coklat panas kemarin yang pastinya sudah kosong. Siwon tersenyum dan mengambil cup itu perlahan.

Ntah apa yang sedang dipikirkannya namun Siwon dengan perlahan mendekatkan bibirnya kepipi Tiffany yang mulus dan kemerahan. Dikecupnya pipi itu singkat dan tersenyum sumringah. Baru saja ingin menyalakan mobilnya, Tiffany tampak menggeliat kecil dan membuka matanya perlahan-lahan.

“ Kau sudah bangun? “ sapa Siwon hangat dengan masih berusaha menghidupkan mesin mobilnya.

“ Jam berapa sekarang? “ ucapnya lebih kepada dirinya sendiri. “ Mwo?!! Jam 7! “ teriaknya nyaris seperti orang gila.

“ Sepertinya kau harus libur hari ini Fany~ya “

“ Mwo? Libur?! Andwe… andwe… “

“ Wae? Lagi pula hanya libur sehari… “

Tiffany masih terlihat tak terima dan mengentak-henatakkan kakinya kesal. Wajahnya tertekuk dan bibirnya terkatup rapat. Tapi saat dia mendengar suara derum mobil, tiba-tiba saja dia ingat akan satu hal.

“ Siwon~ssi gwenchana?! “ tanyanya tiba-tiba. Siwon pun terkaget mendengar teriakan level atas itu. Kekagetnnya semakin bertambah saat Tiffany dengan gerakan acak menyentuh permukaan kulitnya. “ Omo… syukurlah… “ Tiffany mengurut dadanya lega.

“ Gwenchana, aku hanya tidak bisa terkena air hujan “

“ Siwon~ssi, biar aku saja yang menyetir sampai tiba di Seoul… tidak apa-apa biar aku saja… “

“ Tidak perlu, nan gwenchana! “

“ Jinjja? “

Siwon tersenyum. Dipegangnya kedua pundak Tiffany dan mendudukkan yeoja itu dengan tenang dikursi penumpang. “ Neo… duduk saja dengan tenang… “

Tiffany mengangguk menurut.

“ Benar-benar tidak sakit? Bi.. “

“ Tiffany… “

“ Hmmhh… “ Tiffany kembali mengangguk dan membiarkan Siwon menyalakan mobilnya. Mereka pun siap kembali ke Seoul.

JJJ

“ Kau tinggal disini? “ Siwon bertanya singkat dengan mata yang memperhatikan sebuah bangunan yang cukup besar dihadapannya.

“ Ne… gomawo telah mengantar ku pulang… “ Tiffany menundukkan kepalanya. Namun Siwon tak beranjak dari sana sedikit pun.

“ Siwon~ssi… angayo? “

“ Ka? Kau tidak ingin mempersilahkan ku masuk? “

“ Mwo? “

“ Selama 4 jam aku menyetir dan bahkan kau tidak berniat untuk menyajikan makan siang sedikit pun? “

“ Mwo? “ Tiffany melirik jam tangan barunya. Sudah jam 12 memang, tapi… “ Siwon~ssi, kenapa aku harus menyajikan makanan untuk mu? Bukannya, kau memang seharusnya bertanggung jawab untuk memb… “

“ Geumanhae… na baegopa… “

Siwon pun masuk begitu saja keapartment Tiffany. Tiffany pun hanya bisa menuruti permintaan Siwon tanpa berani mengeluarkan suara sedikit pun. Tapi, dia juga tak menyesali keadaan ini. dengan begini, dia bisa berada disamping Siwon sedikit lebih lama.

Tiffany membuka pintu apartmentnya dan mempersilahkan Siwon masuk. Benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan apartmentnya memang. Tapi itu bukan masalah. Siwon duduk disofa krem Tiffany dan menunggu Tiffany yang sedang berkutat membuatkan minum didapurnya.

“ Itu appa mu? “ tanya Siwon saat melihat foto berbingkai paling besar yang tergantung tepat diatas tv. “ Lalu siapa namja dan yeoja ini? “

“ Michelle and Leo, my siblings… untuk sementara, kau bisa meminum teh ini. Aku akan menyiapkan makanan… “

“ Aku ingin makan bubur “

“ Ya Siwon~ssi! “

“ Orang sakit memang harus makan bubur kan? “

Tiffany mencibir pelan lalu kembali kedapur menyiapkan pesanan Siwon. Puas memandangi barang-barang sederhana milik Tiffany, Siwon pun menyusul yeoja itu didapur. Dia duduk dimeja makan sambil memperhatikan Tiffany yang sedang memasak.

“ Keureom, kenapa kau ke korea? Bukan kah seluruh keluarga mu disana? “

Tiffany bungkam. Jika boleh memilih, dia tak ingin menjawab pertanyaan Siwon. Tapi dia sadar dia harus menjawab pertanyaan itu.

“ Aku tidak suka disana… “

“ Emmm, wae? “

“ Tidak ada eomma disana! “ seru Tiffany dengan suara parau.

“ … “ Siwon terdiam saat mendengar Tiffany yang mulai terisak kecil. Sesekali dilihatnya Tiffany menyeka air matanya kemudian melanjutkan memotong beberapa sayuran untuk melengkapi masakannya.

“ Appa, Michelle, dan Leo punya kegiatan mereka sendiri! Sedangkan aku… selain kuliah aku hanya menghabiskan waktu ku dirumah bersama eomma! “ Tiffany bercerita perlahan. Tangisnya semakin pecah dan tubuhnya sedikit gemetar agar bisa mengatur emosinya yang berantakan. “ Saat eomma sudah meninggal, mereka bisa dengan cepat bangkit… tapi aku… tiap hari aku bersama eomma dan menghabiskan hampir 24 jam waktu ku bersamanya… aku… “

“ Arra… uljima… “

Tangan lembut Siwon mengelus perlahan rambut panjang Tiffany yang berkilau, berulang kali dan berusaha membuat Tiffany merasa tenang. Tiffany yang semula sesegukan layaknya anak kecil pun langsung tersentak saat Siwon melakukan hal manis itu padanya. Didongakkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Siwon, namja itu tersenyum hangat padanya.

“ Aku tahu bagaimana rasanya kehilang orang tua, keundae… jika kau tidak bisa melupakan eomma mu, maka bangkitlah dengan kenangan indah yang pernah kalian buat… “

Tiffany tergugu melihat Siwon. Saat ujung jari Siwon menyeka air matanya, tangis Tiffany malah semakin ingin meledak. Memandang wajah itu membuat Tiffany kembali keharapan semunya. Padahal kenyataannya, dia tidak akan bisa memiliki Siwon.

“ Uljima… “ sahut Siwon lagi. Ditepuknya puncak kepala Tiffany pelan dan tersenyum menyemangati yeoja itu. “ Eomma mu pasti juga tidak suka melihat mu menangis… “

Tiffany pun akhirnya mengangguk membenarkan perkataan Siwon. Disekanya air mata terakhirnya dan kembali memasak makanannya yang hampir selesai. Siwon pun tersenyum dan kembali ke meja makan menunggu Tiffany menyiapkan semuanya.

.

.

“ Mian membuat mu menunggu… “ Tiffany datang dengan dua mangkuk besar bubur di nampan yang ia bawa. Dihidangkannya satu mangkuk itu kepada Siwon dan mempersilahkan namja itu untuk segera memakannya.

“ Gomawoyo… “

“ Ne… “

“ Keundae Fany~ya, apa kau tidak takut tinggal sendiri? “ tanya Siwon lembut sambil tetap menyuapkan bubur kemulutnya.

“ Anniya, aku sudah terbiasa “

“ Ingin ku temani? “

“ M… m-mwo?! “ pipi Tiffany memanas dan spontan merona merah mendengar godaan Siwon.

“ Kalau kau merasa takut, kau bisa memanggil ku… “ goda Siwon lagi sambil tersenyum jahil.

“ Anniya! Tidak bisa… “

“ Wae? “ Siwon bertanya lagi, kini dia merasa bodoh sendiri sudah mengatakan hal itu pada Tiffany.

“ Karena… jeogi, eeee… namjachingu ku datang 2 kali seminggu… “

Deg… Deg…

Hati Siwon mencelos mendengar kalimat yang baru saja dikatakan Tiffany. Tubuhnya bergerak bangkit secara tiba-tiba. Ditundukkanya sedikit wajahnya agar bisa melihat wajah Tiffany yang sejak tadi menunduk.

“ Namja… chingu? “ tanya Siwon memastikan.

Tiffany mengigir bibir bawahnya takut dan merutuki kebodohannya sendiri telah mengatakan hal yang tidak masuk akal itu. Bagaimana bisa dia mengatakan kebohongan demi kebohongan dihadapan Siwon. Dilirknya Siwon sekilas yang kini berdiri sangat dekat dengannya. Namja itu berusaha melihat wajahnya dan Tiffany pun terus saja mengelak.

“ Kau punya namjachingu? “

Tiffany menarik nafasnya dalam kemudian memberanikan diri mengangkat wajahnya. “ Neo molla? “ tanyanya setenang mungkin. “ Aigoo… apa aku belum pernah memberitahu mu? “

“ Geojitmara “ Siwon menyangkal. Saat menatap mata Tiffany dia tak menemukan keyakinan apapun disana.

“ Aku tidak berbohong “ jawab Tiffany berusaha terlihat semeyakinkan mungkin.

Siwon terpaksa diam. Dia kembali kemejanya dan tak lama setelah itu Tiffany telah menghidangkan 2 mangkuk bubur sebagai makanan mereka berdua. Keduanya makan dalam diam. Meskipun berusaha bersikap tenang, nyatanya Tiffany semakin bingung dan khawatir tentang ‘namjachingu’ yang baru saja dikatakannya.

‘I done! Memang siapa namjachingu ku?!!! eotteoke?’

Sedangkan Siwon terlihat memakan buburnya tak selera. Kata-kata Tiffany membuatnya khawatir dan bingung harus mengatakan apa.  Ada rasa tidak terima yang tiba-tiba muncul begitu saja. Siwon membuang nafasnya perlahan dan mencoba menanyakan hal itu lagi kepada Tiffany.

“ Benar-benar namjachingu mu? “

“ Eo? Ne… kami memang belum lama berpacaran “

Siwon kembali mengatupka mulutnya rapat. Ntah lah… dia tidak ingin banyak bicara sekarang. Masih ada yang terasa mengganjal dihatinya meskipun berulang kali Tiffany menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sama. Selesai makan Siwon pun terasa tak ingin berlama-lama disana. Dia terlalu penat  memikirkan semua hal diotaknya yang berlomba-lomba untuk lebih dulu diselesaikan.

“ Na galke… “ Siwon berpamitan dan Tiffany hanya bisa mengantarkan namja itu hingga pintu apartmentnya. Siwon pun pergi. Untuk sesaat Tiffany hanya bisa meratapi dirinya sendiri yang telah bertindak begitu ceroboh.

“ Eotteokke?! “

Tiffany menghempaskan tubuhnya kasar diatas sofanya. Berbohong kini menjadi hal lazim bagi yeoja ini dan sekarang dia bingung bagaimana harus mengatasinya. Tangannya meraih remote tv-nya dan menyalakan benda petak itu guna menghilangkan sedikit stress diotaknya. Tv yang menyala seakan tak membuat Tiffany bisa melupakan masalahnya.

“ Aku harus segera mencari namjachingu… “

“ Keundae, eotteokke? “

“ Arrggghhh… “ Tiffany menghentak-hentakkan kakinya geram. Dibaringkannya kepalanya dipunggung sofa dan memejamkan mata-nya sesaat.

“ Chankan… hah! “

JJJ

Seperti biasa dan layaknya hari-hari sibuk sebelumnya, Siwon menyempatkan dirinya untuk mengunjungi kantor Yoona. Tapi, kali ini tujuannya lain. Dia ingin menemui orang lain. Orang yang sebenarnya telah ia temui selama beberapa minggu terakhir. Kakinya yang panjang melangkah sigap kelantai tiga dan masuk keruangan paling besar dikantor itu. Senyumnya mengembang saat melihat orang yang ingin ditemuinya sudah bersiap-siap membereskan pekerjaannya.

“ Tiffany, oraenmaniya… “

Sontak Tiffany pun menoleh. Matanya berbinar melihat Siwon yang akhirnya datang lagi kekantor ini setelah hampir 2 minggu tidak bertemu. Tapi buru-buru dia menepis rasa senang itu. Dia harus ingat tujuannya sendiri! Dia harus menjaga jarak dengan namja itu sebelum perasaannya semakin dalam.

“ Eo Siwon~ssi… wasseo? “

Siwon tersentak. “ Wasseo? “ gumamnya pelan. Kenapa sambutan Tiffany sedatar itu padanya. Siwon menarik nafasnya dalam dan berusaha tersenyum menghampiri Tiffany.

“ Fany~ya kajja… “

“ Mianhae Siwon~ssi, tapi aku sudah ada janji dengan seseorang jeongmal jweseonghae… “ Tiffany membungkukkan badannya sekilas dan segera berlalu meninggalkan Siwon yang membatu ditempatnya.

Tiffany pun berjalan santai menuju lift. Sungguh dia ingin kembali dan menerima tawaran Siwon untuk makan siang bersama. Tapi dia tidak bisa, dia tidak ingin menjadi semakin bodoh karena menyukai calon pasangan bos-nya sendiri.

“ Tiffany! “ seru Siwon dengan kencang. Tangannnya secara cepat meraih pergelangan tangan Tiffany seolah menahan yeoja itu untuk tidak pergi.

“ Si…Siwon… Siwon~ssi, wae geurrae? “

“ Eodiga? “

“ Na? aku, aku sudah ada janji “

“ Keureon naya? “

Tiffany menundukkan kepalanya sekali lagi dan meminta maaf. “ Jweseonghae… “ ucap Tiffany menyesal. Bersamaan itu pintu lift terbuka, dan Tiffany pun segera masuk kesana.

Siwon menendang pintu lift itu dengan kesal. Dalam hatinya dia terus bertanya apa benar Tiffany sudah memiliki namjachingu hingga membuat yeoja itu berubah sedemikian dinginnya. Siwon tak tahu apa jawabannya. Dengan lesu dia turun ke parkir mobil dan membawa mobil itu menjauh dari kantor Yoona. Ntah lah, Siwon tak bisa menerima perubahan sikap Tiffany padanya. Dia sudah terbiasa dengan Tiffany-nya yang dulu. Saat tengah mengemudikan mobilnya dengan rasa suntuk, matanya menangkap sosok Tiffany yang baru saja memasuki sebuah taksi. Tanpa buang waktu lama pun Siwon mengikuti arah taksi itu pergi.

Dan taksi itu…

Berhenti di restoran pertama yang mereka kunjungi…

LLL

 

~TBC

 

61 thoughts on “[Re-Post] Perfect Two Part 2

  1. waahhhh..
    bikin penasaran, sepertinya tiffany merencanakan sesuatu
    apakah dia bertemu seseorg direstoran untuk merencanakan sesuatu??
    apakah ia menemui org yang akan menjadi pacar bayarannya?
    dan apakah siwon akan percaya dengan apa yang diucapkan tiffany?
    ayo thor…. next y.
    jangan lama2 plissss
    penasaran nii

  2. ok aku komen ff overdose disini aja ^^

    heuummmmmmmmm siwon oppa kasian T.T
    nickhun lagi nickhun lagi -.-
    nyesek kembali hati ini </3
    cerita ff ini menyedihkan,, gak kebayang kalau di kenyataan begini juga #amit2deh .., semoga ngak !!!
    gomawo admin udah nulis ff yang sedih kayak gini dan gomawo admin yang udah ngepost ^^

  3. woooaaahhh siwon oppa mulai suka tuh sama fany unnie❤
    tas fany unnie udah kayak kantong ajaib doraemon aja hihhi.., lagian siwon oppa ngapain piknik sampai jauh begitu adeuuh ada2 aja hahaha
    romantis banget deh siwon oppa dan fany unnie waktu mereka berduaan❤❤
    gomawo admin udah nulis ff yang bagus ini dan gomawo admin yang udah ngepost ff ^^

  4. Klo emg udh rasa g bida dipendam. to semua terhlg oleh tujuan. bgt jg dgn sifany. mrk slg sk tp ad halangn bsr menanti. sp siwon ak menyerah?
    kencan mrk sweet tp siwon sakit n sbnrny disitu bs dilht klo fany bgt khawatir dgn siwon..

  5. Siwon oppa cemburu nih ciee, oppa gk terima Fany eonni punya namjachingu? Ambillah oppa, kalo gk terima*eaa😆
    Fany eonni jadi sering bohong ya, bohong sama perasaan sendiri😯 Jujur aja oppa, eonni siapa tahu malah beneran
    Fany eonni khawatir banget sama Won oppa ya pas sakit padahal baru kenal😊 Siwon oppa romantis banget, kasih semangat buat Fany eonni😍
    Next…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s