Don’t Know How To Love Part 5a

Dont Know How to Love

Part 5A [Flashback Memories]

DKHTL (5)

Don’t Know How to Love© Song Haneul
Publish by Sifany Island

oOoOo

 

Main Cast

Choi Siwon [Super Junior] || Tiffany Hwang [Girl’s Generation] || Kim Myungsoo [Infinite] || Choi Soona [Oc] || Jessica Jung [Girl’s Generation] || Han Maru [Oc]

Genre

Romance || Hurt || Family

Length

Chaptered

Rating

 PG 17

Category

Fanfic

Summary

Someone who is unable to truly love one person has no right to love

 

WARNING :

  • TYPO !!!
  • Semuanya merupakan author POV
  • Part ini secara keseluruhan merupakan Flashback

 

PART 1| 2|3|4

 

Kediaman Kim
10.43 AM

 

          Kim Myungsoo terduduk dalam kegelapan yang mencekam didalam kamarnya. Tak ada satu lampu pun yang dibiarkannya menyala malam itu. Tubuhnya tergeletak lemah tak berdaya disamping kasurnya, terduduk diatas lantai kamar yang begitu dingin malam ini. Wajahnya masih terlihat pucat dengan sisa-sisa keringat dingin yang membuat wajahnya sayu.

          Laki-laki berusia 21 tahun tersebut merasa begitu frustasi dan bisa hancur kapan saja. Walau wajahnya tak menggambarkan ekspresi apapun. Karena yang terlihat hanya tatapan yang kosong, memandang luruh kedepan dengan jari-jari tangannya yang bergetar.

          Ruangan itu senyap dan sunyi. Hanya suara dentingan jam dinding yang tertempel pada dinding kamar tersebut yang terdengar didalamnya. Sudah sejak siang laki-laki itu membiarkan tubuhnya melemah ditempat itu. Tidak melakukan gerakan apapun selain diam. Ia biarkan tubuhnya beristirahat. Seakan-akan ia baru saja melakukan sesuatu yang paling melelahkan didalam hidupnya.

          Kini matanya terpejam setelah hampir 10 jam, laki-laki itu dalam posisi yang terdiam tak melakukan apapun didalam kamarnya. Kepalanya bergerak kebelakang tubuhnya. Merebahkan kepalanya diatas kasur miliknya. Menghela nafas kasar berulang kali,berusaha mengeluarkan sesak yang melingkupi dadanya. Dan membuatnya kesulitan nafas.

          Bayang-bayang kelam itu kembali melanda otaknya. Menusuk-nusuk hatinya tak berperasaan. Rasa sakit itu kembali membuka luka yang sampai saat itu belum mengering. Membuat laki-laki itu memejamkan kedua matanya erat, dan memegangi dada kirinya yang berdetak tak karuan. Wajahnya terlihat kesakitan, dengan bibir tipis yang terbuka dan bergetar. Kim Myungsoo menahan semua sakit yang kembali melandanya. Setalah selama bertahun-tahun berusaha ia tutupi dan lindungi supaya tidak ada satu orangpun yang mampu membuka dan kembali melukainya. Tapi hari ini, ia tak menduga akan kembali terluka. Kembali merasakan sakit yang begitu mematikan. Sakit yang hanya dapat diberikan oleh satu orang yang ada dalam hidupnya. Seseorang yang sama. Seseorang yang begitu ia benci. Seseorang yang mau tidak mau ia panggil. Ayah.

 

***

Coef Café
11.00 AM

 

          Berulang kali Tiffany melihat pergelangan tangan kirinya. Berusaha menghalau udara dingin yang menusuk-nusuk permukaan kulitnya. Berdiri dengan tubuhnya yang menggigil. Nafas lelahnya terkadang membuat wanita itu terlhat menyedihkan. Lagi. Wanita itu kembali melihat arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Kembali menghembuskan nafas lelah ketika ia menyadari berapa lama waktu yang dilaluinya untuk menunggu seseorang yang sudah berjanji akan menjemputnya. Sepulang ia dari kerjanya.

          Dan kini wanita bernama lengkap Tiffany Hwang itu, merasa kedua matanya mulai memanas. Entah mengapa, ia merasa begitu lelah malam ini. Tapi ia pun tak ingin menyerah begitu saja. Wanita itu masih ingin membuktikannya. Walau ia tahu jawaban apa yang akan diterimanya.

          Sama seperti saat-saat sebelumnya. Dimana wanita itu akan selalu menunggu. Menunggu hingga rasanya ia tak memiliki waktu lagi untuk hal lainnya. Karena yang ia tahu, ia hanya ingin bertemu dengan seseorang ini. Seseorang yang dicintainya. Seseorang yang hanya ialah yang mampu membuat Tiffany mempercayai hidupnya kepada laki-laki ini. Kekasihnya. Choi Siwon.

          Ini bukan untuk pertama kali, kedua, ketiga, keempat atau kelima kalinya. Tiffany bahkan sudah tidak mampu menghitung keberapa kalinya, laki-laki itu memperlakukan wanita itu seperti ini. Tapi untuk keberapa kali itu pula, Tiffany memaafkannya. Memahaminya. Dan berusaha menjadi satu-satunya orang yang selalu disamping laki-laki itu. Tak peduli seberapa banyak rasa sakit yang diterimanya.

          Wanita itu terdiam dengan kepala yang tertunduk kebawah menatap kedua kakinya dengan tatapan kosong. Tanpa menyadari bahwa airmatanya telah membasahi kedua pipinya. Tangan kanannya memegang buket bunga yang baru saja diterimanya dari Siwon tadi pagi, mencengkram dengan kuat buket tersebut.

          “Dia pasti datang. Oppa pasti datang kali ini. Ya, dia pasti datang…” suaranya terdengar parau dan lemah. Tiffany berusaha menghalau laju air matanya. Berusaha menguatkan dirinya. “Dia pasti datang. Kau hanya perlu menunggunya sebenetar lagi, Tiffany.” Bisiknya lirih.

          “Se-ben-tar lag-i. Hanya seben-tar lagi Tiffany.” Ucapnya lagi dengan suara yang bergetar. Bukan hanya suaranya, bahkan tubuhnya kini mulai terguncang. Siap merobohkan pertahanan wanita itu.

          Dan Tiffany terisak, bahkan bunga yang dipegangnya sudah tak mampu dipegangnya. Wanita itu sudah tak mampu lagi menegakkan kedua kakinya. Tiffany melemah dan terjatuh begitu saja. Terduduk didepan café, tempatnya bekerja. Kedua matanya menatap lurus kedepan, tepat pada jalan setapak. Bahkan wanita itu tidak berusaha menghapus air matanya. Tangannya bergerak perlahan menyusuri saku mantelnya. Mencari-cari benda persegi panjang yang entah sudah berapa kali ia gunakan untuk menghubungi Siwon sejak 4 jam yang lalu. Tapi kali ini, bukan laki-laki itu yang akan dihunginnya. Tapi seseorang yang lain. Seseorang yang menjadi tempat terakhir dimana ia akan menyerahkan diri, setiap kali kekasihnya itu kembali berlaku hal yang sama.

          Lama nada sambungan telepon itu berusaha menghubungi nomer laki-laki tersebut. Namun tak kunjung diangkat oleh laki-laki itu. Hingga akhirnya suara wanita yang menjadi operator tersebut berbicara. Memberitahukan kepada Tiffany bahwa sang pemilik nomer tersebut tak mengangkat panggilannya.

          Cukup lama Tiffany terdiam mendengar suara operator wanita itu. Hingga akhirnya Tiffany berbicara sendiri. Menyampaikan sesuatu kepada seseorang itu. Dengan suara yang lirih dan parau. Tiffany bahkan tak mampu lagi menahan isakannya yang semakin kencang ketika memanggil nama laki-laki itu. Seakan-akan laki-laki tersebut ada dihadapannya. Menatapnya dengan tatapan teduhnya dan menghapus air matanya seperti apa yang biasanya laki-laki itu lakukan setiap kali Tiffany menangisi kekasihnya. Kakak dari laki-laki itu.

          “Myungsoo-yah…” Tiffany terdiam sesaat, sedang mengontrol tangisannya sendiri. “Dia tidak datang. Dia kembali tidak datang. Aku sudah menunggunya. Menunggu hingga rasanya aku ingin mati karena merasa lelah dan sesak. Aku berusaha untuk tetap tersenyum dan berdiri disini. Aku berusaha-” ucapan Tiffany terhenti dan tak mampu melanjutkan ucapannya. Tangisannya pecah ketika ia kembali teringat akan semua rasa sakit yang terus kembali terulang. Oleh laki-laki yang sama. Oleh laki-laki yang dicintainya. Laki-laki yang dipercayainya.

          “Myu-ng-soo…”

          Tiffany menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Lalu mencengkram erat lengan kirinya yang yang ia gunakan untuk memegang ponsel warna pink-nya itu. Kembali terisak. “Siwon Oppa. Dia tidak menemuiku. Dia bilang dia akan menjemputku, akan makan malam denganku. Menghabiskan malam ini denganku.”

          “Aku lelah. Myungsoo-yah, ottokae? Ottokaji?”

          Dan pada akhirnya Tiffany tak mampu lagi bersikap baik-baik saja. Ia membutuhkan laki-laki itu. Kim Myungsoo. Laki-laki yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Laki-laki yang selalu melindunginya. Yang selalu berada disampingnya. Tak peduli berapa banyak orang yang meninggalkanya. Laki-laki itu akan tetap disampingnya.

          Tapi hari ini, laki-laki itu tidak disampingnya. Tidak memeluknya dan menenangkannya. Berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Menghapus airmatanya dan meyakinkan Tiffany bahwa Siwon tak ingin membuat Tiffany tersakiti. Yah, laki-laki itu. Akan selalu membela Siwon. Dan meyakinkan Tiffany untuk tetap memaafkan setiap kesalahan laki-laki itu.

          Dan, Tiffany. Pada akhirnya hanya akan mengangguk patuh. Mempercayai setiap ucapan Myungsoo. Bahwa Siwon sangat mencintainya. Bahwa laki-laki itu tidak pernah berniat menyakit hatinya. Tiffany selalu mempercayainya. Tapi sekarang, tidak ada lagi yang mengatakan bahwa Tiffany harus bertahan. Ini hanya tentang masalah waktu. Ini hanya tentang bagaimana Tiffany harus bersabar. Tentang bagaimana cara untuk mencintai.

          ‘Mencintai itu…hanya tahu tentang bagaimana menjadi bodoh. Karena kau selalu memaafkannya. Karena entah seberapa banyak dan menyakitkannya seseorang itu karena telah melukaimu. Kau akan tetap tersenyum untuknya, seperti seorang. Idiot. Kemudian kau hanya tahu tentang bagaimana menjadi egois. Karena kau hanya akan melihatnya. Menjadikannya alas an utama untuk hidup dan bahagia. Tidak peduli, walau banyak diluar sana yang menawarkan kebahagian yang jauh lebih baik dari kekasihmu. Kau hanya akan bersamanya, dan menjadikannya poros hidupmu. Dan mencitai itu, sesungguhnya adalah ketika kau bertindak tidak tahu malu. Karena ketika kau menangis dimalam harinya. Mengumpatnya dengan kata-kata kasar. Terjatuh dan bahkan merintih kesakitan dengan airmatamu. Paginya kau akan terbangun dengan tegap, menggandeng tangannya. Menatapnya dengan cara memujanya. Kau akan kembali tersenyum dan berdiri disampingnya dengan benar. Tak perduli betapa marah dan bencinya kau padanya sebelum itu. Kau akan tetap berada disisinya.’

          Tangisan wanita itu semakin pilu. Ia bahkan tak mampu mengendalikan dirinya, ketika semua ucapan Myungsoo kembali teringat dimemori otaknya dan berputar dengan sendirinya. Menambah rasa sesak dihatinya.

          Kini ia sendiri. Tak tahu harus melampiaskan rasa sakitnya kepada siapa. Yang ia tahu. Ia harus menangis. Ia harus memuaskan rasa sakitnya. Sehingga ketika ia melihat cahaya fajar itu menyongsong dipelataran langit biru. Wanita itu mampu bangkit kembali. Tersenyum.

         

***

Incheon Airport
11.30 A.M

 

          Siwon mengeram dengan kesal. Ia bahkan berulang kali bergerak gelisah diatas sofa cream itu. Terdengar helaan nafas frustasinya. Beberapa kali matanya melirik sekilas kearah samping kirinya. Seorang laki-laki tua yang masih terlihat begitu kuat dan sehat diusianya yang memasuki angka 50 tahun.

          Bibirnya bergerak ragu, ingin mengatakan sesuatu. Namun berulang kali Siwon mencobanya. Berulang kali itu juga Siwon tak mampu melakukannya.

          Tangannya memijat pelan pelipisnya, keitka ia merasa mulai merasakan pusing yang mendera kepalanya. Membayangkan bagaimana ia kembali mengecewakan wanita yang dicintainya. Dan entah untuk keberapa kalinya Siwon telah membuat wanita itu menangis dan kecewa.

          Siwon meringis ketika ia melihat bayangan Tiffany yang menunggunya lama dan kedinginan diluar sana. Ingin sekali Siwon berlari secepat mungkin dan menghampiri wanita tersebut. Memeluknya dengan erat dan bersujud meminta maaf pada wanita itu.

          Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya Siwon merasa matanya mulai memanas dan siap megeluarkan cairannya. Namun ia menahannya karena ia tahu hal itu percuma ia lakukan. Kerena ia sudah menjadi pria brengsek untuk kesekian kalinya.

          “Kau terlihat gelisah Siwon?” sebuah suara yang dingin membangunkannya dari lamunan panjangnya tentang wanita yang akan dinikahinya dalam hitungan hari itu. Membuat Siwon menoleh menatap pria yang begitu dihormatinya itu.

          Sedangkan pria itu sendiri hanya menatap lurus depannya tanpa ekspresi. Seolah tak peduli, dan hanya sekedar basa-basi semata dengan anak tirinya itu. Wajahnya yang tua itu terlihat begitu beribawa dan dingin. Membuat Siwon menghela nafas ketika akan menjawab ucapan pria itu.

          “Anio Abhoji. Aku hanya merasa sedikit lelah.” Jawab Siwon sopan dan pelan.

          “Hmm…kau bisa istirahat setelah ini.”

          “Nde.” Ucap Siwon pelan.

          Siwon membuang nafasnya diam-diam. Entah mengapa, ia masih saja merasa gugup ketika ia harus bicara didepan pria yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri. Pria yang membawa keluarganya kedalam hidup yang lebih baik dari masa lalunya yang begitu kelam.

         

          Brakkk….

 

          Siwon terlonjak kaget ketika mendengar suara pintu yang terbuka secara kasar, memperlihatkan seorang laki-laki yang berdiri dengan wajahnya yang datar dan dingin mentapa kearahnya. Laki-laki yang sudah sejak 4 jam yang lalu berusaha dihubunginya itu. Namun tak mendapatkan jawaban yang membuat Siwon tenang seperti sebelum-sebelumnya. Ketika ia harus kembali mengingkari janjinya pada Tiffany dan meninggalkan kekecewaan yang mendalam pada gadisnya. Laki-laki yang sejak 4 jam yang lalu ia harapkan berada disisi kekasihnya saat ini. Menggantikan posisinya untuk menemani Tiffany. Seperti sebelumnya.

          “Kim Myungsoo.”

          “Hyung.”

          “Ye?”

          “Pergilah!” Siwon terdiam tak mengerti maksud dari Myungsoo.

          “Pergi dan temui Noona.” Siwon tertegun ditempatnya, ketika Myungsoo kembali berkata padanya. Namun sejak tadi buka Siwon lah yang ditatap laki-laki itu melainkan pria lainnya. Ayah mereka.

          Myungsoo mengalihkan pandangannya menatap Siwon pada aikhirnya, memberi kode pada laki-laki itu untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Dan segera menemui Tiffany.

          “Kim Myungsoo.” Siwon memperingati Myungsoo untuk tidak melakukan apapun. Walau sebenarnya ia merasa ingin melakukan apa yang diperintahkan adiknya tersebut.

          “Pergilah! Biar aku yang mengurus tamu special itu.” Dan tepat ketika Myungsoo mengatakan ‘tamu special’, Appa-nya menatap Myungsoo. Menatap lurus pada kedua mata elang itu. Kedua mata yang sama persis dengan kedua mata miliknya.

          Siwon baru saja akan menjawab ketika Myungsoo berteriak kesal kepada Siwon. Membuat laki-laki itu terdiam cukup lama dan membeku.

          “PERGI ATAU KAU AKAN MENYESAL!”

          Myungsoo berjalan kearah Siwon dan menarik kerah kemeja Siwon. Tanpa aba-aba langsung melayangkan tinju kewajah tampan Siwon. “Pergi sekarang atau aku akan membunuhmu.” Desis Myungsoo tajam.

          “Kim Myungsoo.” Myungsoo mendengarnya. Dengan jelas. Namanya disebut oleh pria itu. Suara yang sudah lama tak didengarnya. Suara yang jarang sekali memanggil nama Myungsoo. Tapi laki-laki itu mengabaikannya, tetap fokus kepada Siwon yang menatapnya dengan tatapan memohon. Memohon, agar laki-laki itu tidak berulah dan mempuat Appa mereka marah.

          “Pergilah.” Mata Myungsoo yang semula berkilat marah menahan emosi yang bergejolak dihatinya, perlahan-lahan meredup ketika ia melihat luka disudut bibir Hyungnya. Luka yang baru saja ia berikan. “Jebal.”

          Siwon mengerjap-erjapkan matanya. Ia jelas melihatnya. Melihat genangan air itu dipelupuk mata Myungsoo.

          Myungsoo menarik Siwon dan membantunya bangkit. “Temui dia.” Lalu mendorong tubuh Siwon kearah pintu keluar. Tanpa memperdulikan tatapan sang ayah yang sudah sangat tegang karena menahan amarahnya melihat kelakuan anak kandungnya itu.

          Siwon terlihat ragu dalam langkahnya. Untuk sekali lagi ia menatap Myungsoo yang menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang mengepal keras dikedua sisi tubuhnya. Dan ketika ia membalikkan tubuhnya, ia melihat sesosok wanita cantik yang tengah memperhatikan mereka didepan pintu masuk ruang tunggu VIP tersebut.

          Seketika Siwon bisa menebak siapa wanita itu. Wanita yang menurut ayahnya adala seseorang yang special, sehingga membuat Siwon harus berada ditempat ini dan menelantarkan Tiffany. Hanya untuk menyambut wanita yang bahkan tidak ia ketahui siapa namanya.

          Siwon melangkah dengan pasti ketika tiba-tiba saja ia mulai menangkap maksud dari ayah tirinya itu. Kakinya melangkah keluar dengan cepat tanpa menoleh kembali. Karena ia tahu, jika sekali saja ia menoleh, maka ia akan benar-benar kehilangan wanita itu. Wanita yang dicintainya. Tiffany Hwang.

 

***

Coef Café
11.30 AM

        

          Tiffany masih berada diposisi yang sama. Dan tertegun ketika ia melihat sebuah tangan yang terlapisi mantel hitam, terulur kearahnya. “Bangunlah, kau terlihat seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.” Ucap seseorang lembut kepadanya.

          Tiffany sempat terdiam dan belum berani mengangkat kepalanya. Otaknya sedang berusaha mengenali suara laki-laki tersebut. Berharap suara itu miliki Siwon atau Myungsoo. Namun nihil. Suara ini bukan diantaranya. Dengan sigap Tiffany menghapus airmatanya cepat. Dan menenangkan dirinya. Berusaha bangun dengan susah payah tanpa menerima uluran tangan laki-laki tersebut. Membuat laki-laki berambut cokelat itu tersenyum kecut melihat respon Tiffany yang mengacuhkan uluran tangannya.

          “Untung saja kafe kita tutup lebih awal. Karena kalau tidak, pelanggan kita akan lari ketakutan mendengar tangisanmu.” Ucap laki-laki itu lagi, berusaha mencairkan situasi diantara mereka. Terlebih ketika ia melihat wajah Tiffany yang sembab dan basah setelah menangis seperti tadi.

          Tiffany tersenyum kecil masih dengan kepala yang menunduk. Ketika ia mendengar teman satu tempat kerjanya tersebut, berusaha membuat lelucon khas laki-laki itu.

          “Mau masuk?” tanya laki-laki itu. Dan pertanyaannya mampu membuat wanita cantik tersebut mengangkat kepalanya, mengernyitkan dahi.

          “Bukankah kuncinya ada di Cho Minsu?” laki-laki itu menggeleng.

          “Aku baru saja mengambil darinya, karena ingin mengambil barangku yang tertinggal.”

          Tiffany mengangguk paham. Dan ketika kedua matanya menangkap bunga yang tergeletak tak berdaya, tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Tiffany langsung terdiam dan melangkah palan menuju bunga itu. Mengambilnya dan menatapnya lama.

          “Jadi…kau mau masuk atau-”

          “Maru-ssi.” Tiffany dengan cepat mengintrupsi ucapan Maru dan menoleh kebelakang. Menatap Maru penuh harap.

          “Hmm?”

          “Bisa buatkan aku kopi dan memberikan kunci itu?”

 

***

         

          “Ini kopinya……dan ini kuncinya.”

          Han Maru tiba-tiba datang dan mengagetkan Tiffany yang terbengong dimejanya, menunggu Maru yang tadi sedang membuatkan kopi untuk keduanya.

          Maru tersenyum, melihat wajah kaget Tiffany yang terlihat lucu dimata laki-laki itu. “Apa aku mengagetkanmu?”

          Tiffany tersenyum kikuk, dan menyibukkan dirinya dengan meminum kopi yang baru saja dibuatkan Maru untuk Tiffany. Melingkari telapak tangannya pada cankir kopi tersebut. Hangat, pikir Tiffany.

          Keduanya terdiam. Maru sibuk dengan ponselnya. Dan membiarkan kopi panas miliknya, mengepulkan uap tipis diatas meja. Sedangkan Tiffany sibuk meminum kopi tersebut. Dengan pikiran yang terkesan kosong.

          “Maru-ssi.”

          “Hmm,” Maru hanya menjawab seadanya tanpa sedikitpun memalingkan wajahnya dari ponsel hitamnya tersebut.

          “Apa kau pernah mencintai seseorang?”

          Han Maru. Laki-laki dengan tinggi 183 cm. Berwajah tampan dan manis. Memiliki kulit seputih susu dan mata yang polos. Yang membuat semua anak-anak sekolah yang menjadi pelanggan di Café tersebut selalu tersipu malu jika berhadapan dengan laki-laki tersebut. Satu-satunya alas an gadis-gadis muda tersebut datang ke Café milik Siwon.

          Han Maru terdiam dan menghentikan gerakan jarinya diatas layar touchscreen ponselnya ketika Tiffany menanyakan perihal itu kepada laki-laki kelahiran Mokpo tersebut. Untuk detik-detik yang mengejutkan itu. Maru menatap kosong ponselnya. Dan menarik nafas diam-diam ketika ia tersadar dari lamunannya.

          “Tentu saja.” Jawabnya terkesan. Dingin?

          Entah mengapa Tiffany merasa ada yang salah dari jawaban laki-laki didepannya itu. Apa ia menyinggung perasaan laki-laki tersebut.

          Keduanya kembali terdiam. Tiffany tak tahu apa ia harus kembali berbicara atau memilih untuk tidak melanjutkannya. Walau entah mengapa ia menjadi penasaran dengan laki-laki yang pernah berada didalam satu Panti Asuhan milik ibunya Kim Myungsoo bersamanya.       

          “Han Maru-ssi.” Panggil Tiffany pelan, ketika ia melihat raut wajah Maru yang tegang ditempatnya.

          Maru mengangkat kepalanya dan menatap keduan manik mata yang memandangnya khawatir itu. Tersenyum lirih. Sangat lirih hingga Tiffany tak yakin itu adalah sebuah senyuman.

          “Wanita itu cantik. Sangat cantik. Dia…memiliki senyum yang indah. Dan ketika dia tertawa bahagia. Dia bahkan jauh lebih cantik dari apa yang kita bayangkan. Wanita itu,” Maru terdiam sesaat. Seperti tertegun dengan ucapannya sendiri. Namun tak lama, laki-laki itu mampu mengendalikan perasaannya yang tiba-tiba menjadi sesak. Dan mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. “Memiliki suara yang lembut dan menenangkan. Dia begitu, perhatian dan baik hati. Sempurna.”

          “Tapi, itu semua bukan milikku. Bukan aku yang diizinkannya untuk membuat wanita itu tersenyum dan tertawa bahagia. Bukan aku yang menggenggam tangan dan memeluk tubuh mungilnya. Dan sialnya, bukan aku yang dicintainya.” Tiffany tiba-tiba merasa begitu takut dengan tatapan tajam yang diberikan Maru kepada wanita tersebut. Tatapan yang tidak pernah dilihatnya dari laki-laki itu.

          “Mari-ssi….gweanchana?”

          Belum ada jawaban apapun dari mulut Han Maru. Laki-laki itu masih terdiam sembari menatap wajah sendu Tiffany. Wajah yang biasanya ceria dan cerah itu. Berubah menjadi mendung dan menyakitkan hari ini.

          “Fany-ah.” Laki-laki itu memanggil dengan lembut membuat Tiffany memundurkan tubuhnya perlahan. Merasa aneh ketika ada laki-laki lain yang memangginya seperti itu kecuali kekasihnya Siwon.

          “Nde?”

          “Apa kau tahu, rasa sakit itu?”        Tiffany mengerjap-erjapkan matanya. Menatap tak mengerti laki-laki tersebut.

          “Ketika kau mencintai, tapi dia bahkan tidak mengetahuinya. Ketika kau melindungi, bahkan kau tak mampu menyentuhnya. Ketika…dia bahagia. Tapi bukan kau yang membuatnya tersenyum. Apa-”

          Jantung Tiffany berdetak dengan cepat, seakan jantung itu paham dan mengerti maksud ucapan laki-laki didepannya. Jari-jari Tiffany yang tersembunyi dibawah meja bergetar tanpa alasan. Alasan yang tidak diketahuinya. Yang hanya mampu diketahui seluruh tubuhnya. Dan tidak untuk hati dan otaknya. Seakan seluruh tubuhnya mengkhianati Tiffany. Untuk tetap bungkam.

          “Kau tahu rasanya?”

          Tiffany menutup matanya rapat-rapat. Memutar kembali kaset-kaset rusak didalam otaknya. Mengumpulkan puing-puing kehancuran yang baru saja meluluhlantakan dirinya. Membuatnya menangis meraung-raung seperti orang kesakitan didepan Café ini. Dan entah kekuatan dari mana. Tiffany menjawab tengan tenang. Tanpa keraguan sedikitpun. Ia bahkan tersenyum walau airmatanya kembali mengalir. Bukan karena merasakan sakit itu kembali. Tapi karena ia tahu. Bahwa sejauh apapun ia lari. Sedalam apapun ia jatuh kedalam lubang menyakitkan itu. Pada akhirnya, ia akan kembali pulang. Ketempat dimana ia memiliki banyak alasan. Untuk tetap berada disisi laki-laki itu.

          “Aku tahu rasa yang sama, tapi tidak benar-benar seperti itu. Tahu rasanya, bagaimana menjadi seseorang yang tidak diinginkan tapi sangat dibutuhkan. Tahu bagaimana rasanya dikhianati tapi kembali dipuja. Tahu…bagaimana merasa diacuhkan, tapi menjadi sumber kekuatan orang yang kita cintai. Aku tahu semua rasa itu. Dan itu menyakiti.”

          “Tapi meski seperti itu. Meski tersakiti berulang kali. Aku tahu, bahwa dia hanya hidup untukku, tersenyum untukku. Dan menjadikanku satu-satunya alasannya untuk tetap bertahan. Satu-satunya yang mampu untuk dicintainya selain keluarganya. Satu-satunya tempat dia menangis, walau banyak alasan untuk dia bahagia dimanapun dia berada.”

          “Han Maru-ssi.” Tiffany menatap lekat wajah yang tengah menatapnya sejak tadi. Menajamkan tatapannya, seakan memberi sebuah keyakinan dan ketetapan dalam tatapan tersebut. Sesuatu yang tidak dapat diubah dan ia harap laki-laki itu paham. “Aku mencintai dengan semua rasa sakitku. Dan dia mencitaiku dengan segala cara dia menyakitiku. Dan aku bahagia karena itu.”

          Dan untuk sesuatu yang tidak ia mengerti. Tiffany merasa begitu berani menghadapinya. Berani untuk kembali menantang rasa sakit itu. Entah nantinya akan terluka seperti apa, akan menangis sekencang apa. Tiffany tahu, ia akan bertahan. Walau ia tahu, sesuatu setelah ini akan jauh lebih menyakitkan. Dan menakutkan.

 

***

          Krekkkkk….

 

          Suara pintu terbuka dengan cepat membuat wanita berwajah putih yang sudah mulai memucat itu menoleh. Menatap dengan lembut dan tersenyum lirih kepada laki-laki yang berdiri didepan pintu itu. Dilihatnya wajah dan pakaian laki-laki itu yang basah karena keringat yang membasahi tubuh lelah laki-laki tampan tersebut. Laki-laki itu tertegun ditempatnya, tak mampu menahan rasa sakit didadanya melihat wanita didepannya menunjukkan senyum terbaiknya.

          Choi Siwon, dengan langkah perlahan mendekati wanita tersebut. Matanya menyiratkan rasa bersalah yang mendalam. Bibirnya yang membiru mulai bergetar. Seakan hanya itu yang mampu ia lakukan saat ini. Dan kini, ia sudah berada dihadapan wanitanya yang terduduk di salah satu kursi yang berada didalam Café tersebut.

          Masih dilihatnya, sang kekasih yang tersenyum lirih dengan wajah lelahnya. Mengatakan melalui sorot matanya.

          ‘Semua baik-baik saja. Aku baik-baik saja.’

          Siwon merasa sentuhan dingan pada permukaan kulit tangannya. Membuatnya hangat seketika. Bukankah ini aneh? Tangan mungil itu terasa amat dingin digenggamannya. Namun, enatah mengapa laki-laki itu merasakan kehangatan itu. Kehangatan yang selalu ia rasakan setiap kali berada disisi wanitanya tersebut. Merasa bahwa ini ada tempat terbaiknya. Karena ketika ia berada disisi wanitanya itu, Siwon seakan pulang.

          “Pulang?” Tanya Siwon pelan. Dan dibalas anggukan oleh Tiffany.

          “Kajja!”

          Siwon menarik pelan tangan Tiffany. Merangkul tubuh mungil Tiffany. Menyalurkan kehangatan pada tubuh dingin wanita cantik tersebut. Walau sebenarnya, ia pun merasakan hawa dingin itu. Namun Siwon tidak peduli, ia hanya ingin melakukannya dengan benar kali ini. Ia ingin benar-benar melakukan segala hal yang tak pernah ia lakukan pada wanita tersebut. Berdiri disamping Tiffany, menautkan jari-jari mereka. Tersenyum manis untuk wanitanya. Dan melihat mata indah itu.

                   

***

Incheon Airport
11.32 A.M

 

          Wanita itu melihat dengan jelas bagaimana seorang laki-laki yang baru saja berlalu meninggalkan ruangan tersebut tanpa menoleh bahkan melirik padanya. Entah apa alasannya, hati wanita itu merasa sakit.

          Jessica Kim. Tentu tahu siapa laki-laki yang baru saja keluar dari ruangtunggu tersebut. Walau ini adalah pertemuan pertama mereka. Tapi Jessica mengatahui siapa laki-laki itu dan seperti apa laki-laki tersebut. Yang ia tidak tahu. Bahwa bahkan sebelum wanita cantik tersebut memeperkenalkan dirinya. Laki-laki itu seperti tak berniat atau bahkan sama sekali tak memikirkannya.

          Gurat kekeceawaan tergambar jelaas pada wajahnya. Namun segera ia abaikan semua perasaanya itu karena menyadari ia harus tetap menemui seseorang yang begitu di rindukannya.

          Dan ketika Jessica mengangkat wajahnya. Ia kembali melihat bagaimana wajah laki-laki yang berdiri menyamping didepannya. Terlihat begitu mengerikan. Dengan bibir yang mengatup dan rahang yang mengeras. Kedua tangan laki-laki tersebut mengepal keras. Siap untuk menghantam dinding-dinding penghalangnya.

          “Tsk!”

          Jessica menahan nafasnya ketika laki-laki itu memutar tubuhnya dan menatap tajam kearahnya. Berdecak lidah ketika ia mengamati wajah wanita tersebut.

          Dilihatnya pria dibelakang laki-laki itu ikut berdiri dari duduknya. Menegakkan tubuhnya dengan wajah yang dingin. Membuat Jessica sempat mengerjapkan mata sesaat ketika ia menyadari. Betapa miripnya kedua orang tersebut.

          “Kau sudah datang?” Jessica tersentak. Lalu memfokuskan penglihatannya pada pria tua yang baru saja menyapanya itu. Kedua sudut bibirnya tertarik pelan. Penuh keanggunan. Lalu mengangguk singkat.

          “Nde.”

          “Duduklah.” Pria tua itu mempersilahkan Jessica masuk dan duduk disampingnya. Mengacuhkan laki-laki yang masih berdiri ditempatnya dalam ruangan tersebut.

          Langkah kaki Jessica terdengar sangat berirama ditelinga Myungsoo. Seakan menunjakkan bahwa wanita tersebut begitu terlatih. Jalanya penuh keangunan sehingga memancarkan ke eleganan didalam diri wanita tersebut. Dan tepat ketika wanita itu bersisian dengannya. Myungsoo kembali berkata. Membuat Jessica mematung, dan menoleh cepat. Tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Myungsoo.

          “Kau menakjubkan. Noo-na.” Ucap Myungsoo lirih.

          Keduanya bersitatap. Tanpa mengatakan apapun. Jessica menyelami mata tajam Myungsoo yang terlihat sendu itu. Begitu pula Myungsoo yang menatap mata dingin nan lembut milik Jessica.

          “Duduklah Nona Jessica.” Wanita itu kembali tersadar dan segera tersenyum lalu menangguk patuh pada pria itu. Sedangkan Myungsoo masih diposisinya.

          “Kau tak duduk?” tanya Jessica.

          “Biarkan saja dia. Jadi…bagaimana perjalananmu hari ini?” tanya Tn. Kim pada Jessica, mencoba mengalihkan perhatian wanita itu dari Kim Myungsoo.

          “Berjalan lancar. Dan aku ingin minta maaf, karena telah membuat anda menunggu lama, Tn. Kim.”

          Tawa ringan Tn. Kim terdengar setelahnya. Membuat Myungsoo merasa dikuliti. “Gweanchana. Saya senang menunggumu, Nona Jessica.”

          “Nde. Ghamsahamnida.” Ungkap Jessica enuh hornat sambil membungkukkan badannya.

          “Maafkan saya, Choi Siwon sedang memiliki kesibukan. Sehingga dia terburu-buru untuk pergi dan tidak bisa menunggu anda, Nona Jess-”

          “Jessica Kim. Seharusnya Appa memanggilnya dengan nama lengkapnya. Dan memanggilnya Nona-Kim.” Kim Myungsoo tiba-tiba saja menginterupsi ucapan sang ayah. Ia sudah merasa muak dan ingin menghancurkan apapun disekitarnya saat ini juga.

          “Tutup mulut Kim Myungsoo.”

          “Siwon Hyung harus menemui calon istrinya. Makanya dia pergi begitu saja, Noo-na.” Tn. Kim membelalakan matanya. Terkejut dengan apa yang menjadi panggilan Myungsoo untuk Jessica. Tidak seperti Jessica yang sepertinya sudah tahu akan seperti ini. Tn. Kim mengeram marah.

          “KAU!”

          “Mwo?” tanya Myungsoo tenang.

          “Tutup mulutmu dan pergi dari tempat ini.”

          Myungsoo mengangkat wajahnya. Memberikan kesan angkuh pada dirinya. Menatap mata sang ayah dengan tanang dan tersenyum miring ketika ia tahu bahwa mungkin sebentar lagi ia akan kena tampar ayahnya. Mungkin.

          “Aku akan keluar. Tanpa perlu kau perintah, Tn. Kim. Dan kupastikan. Satu hal kepada Anda Tuan.”

          Myungsoo berjalan mendekati kursi sang ayah. Menantang ayahnya untuk melakukan yang biasanya dilakukan pria tua tersebut.

          “Mereka.akan.tetap.menikah.”

         

          Plakkkk

 

          “Berani kau bicara seperti itu pada Appa-mu?” hardik Tn. Kim setelah menampar pipi kanan anaknya itu.

          Myungsoo tersenyum kecil dan menatap tenang ayahnya. Merasa tak kaget ketika sang ayah melayangkan tamparannya pada laki-laki tampan tersebut. “Appa?”

          “Ahhh, benar. Appa! Ya…kau Appa-ku. Aku hampir saja lupa kalau kau adalah Appa-ku.”

          Jessica memandang khawatir keduanya yang bersitegang dihadapannya tersebut.

 

          “Mengingat. Bagaimana sibuknya kau dengan anak selingkuhanmu ini. Jessica Kim.”

         

          Plaaakkkk…. …..

 

          Jessica membelalakan matanya kembali ketika tamparan yang kedua kali mengenai wajah Myungsoo. Wanita itu bahkan sampai berdiri dari duduknya. Berniat untuk memisahkan keduanya. Namun ia urungkan. Begitu ia merasa keduanya sudah benar-benar berada dalam pucak amarah mereka.

          “Jaga mulutmu Kim Myungsoo. Atau kau akan menyesal.”

          “Wae? Kau akan mengusirku? Mencoret namaku dari nama keluargamu? Atau…kau akan membunuhku. SEPERTI KAU MEMBUNUH EOMMA.”

          “Kim Myungsoo.” Panggil Jessica lirih. Jessica memegang lengan Myungsoo yang bergetar ketika ia berteriak histeris didepan sang ayah.

          “Kau ingin membunuhku? Bunuhlah. Aku ingin tahu. Seperti apa rasa sakitnya Eomma saat itu.” Kata Myungsoo tertahan.

          “Appa-” Jessica menutup mulutnya dengan tangan sebelahnya ketika ia kelepasan bicara didepan Myungsoo.

          Ketika ia berfikir akan melihat sorot mata tajam itu semakin menajam dan mungkin saja melihat laki-laki itu akan murka. Namun ia salah, ia tak menemukannya. Ia tak melihat ekspresi apapun. Kini Myungsoo seakan berdiri dengan nyawa yang sudah tidak ada didalam tubuhnya. Matanya terbuka dan bibirnya mengatup rapat. Menatap lurus sang ayah yang juga mematung. Sekilas Jessica melihat rasa bersalah diwajah pria tua itu. Namun kerasnya hati pria itu, membuat sosok itu mampu mengendalikan perasaannya.

          “Hentikan Appa. Cukup sekali kau menyakiti hati keluargamu. Hentikan. Karena jika tidak. Maka aku yang akan mengehentikannya.”

 

***

Apartemenent Tiffany

 

          Siwon dan Tiffany masih terdiam didalam mobil Audi hitam itu. Kedua tangan mereka pun masih saling bertautan.

          “Ekhmm, chagiya.”

          “Hmm?”

          “Mianhae.” Ucap Siwon pelan dan setelahnya menghembuskan nafas lewat mulutnya. Tiffany tersenyum kecil melihat kegugupan diwajah kekasihnya tersebut.

          Tiffany sengaja tidak menjawabnya, ingin tahu apa lagi yang akan dikatakan kekasihnya itu.

          Siwon mengeratkan pegangannya pada tangan Tiffany, berusaha menghalau kecemasannya. “Mianhae. Aku kembali mengecewakanmu. Aku. Tidak bermaksud menyakitimu. Sungguh! Aku ingin menemuimu. Tapi tiba-tiba saja Appa memintaku menemaninya. Aku ingin menolaknya, tapi aku juga tidak ingin mengecewakannya.”

          Siwon menghadapkan wajahnya kesamping kanannya, untuk memberanikan diri menatap wajah Tiffany. “Demi Tuhan. Aku tidak ingin menyakitimu. Aku merasa sangat brengsek, karena kembali melakukan ini. Aku minta maaf Fany-ah. Aku sungguh-sungguh sudah mempersiapkan semuanya. Keundae-”

         

          CUP

 

          Siwon tertegun ditempatnya. Merasakan bibir dingin Tiffany yang menempel pada sudut bibir kanannya. Bekas luka, dimana Myungsoo memukul wajahnya. Laki-laki itu tersenyum kecil, membiarkan wanita itu mengobati luka kecil itu. Dan sepertinya Siwon harus benar-benar mengucapkan terima kasih kepada Myungsoo karena membuat luka ini. Dan ia yakin…

          “Kenapa bisa terluka seperti ini?” tanya Tiffany masih menempelkan bibirnya diatas bibir Siwon.

          Tangan kiri Siwon merambat naik kebelakang tengkuk wanita itu. Menahannya dengan lembut, mengusap dan sedikit memberi tekanan ketika Siwon memberikan jawabannya.

          “Jadi…Tiffany. Kau memaafkan laki-laki brengsek ini?”

          Dan sesaat sebelum mendengar jawaban dari Tiffany. Siwon sudah memiringkan kepalanya, menekan tengkuk Tiffany. Membuat kedua bibir mereka saling menyatu. Perlahan Siwon mengecap bibir bawah kekasihnya itu. Merasakan aroma vanilla itu menyeruak disekitar penciumannya. Tiffany belum membalasnya, namun matanya sudah terpejam rapat. Membiarkan Siwon yang kini melumat lembut bibirnya secara bergantian. Lalu kembali menyesap bibir atas dan bawahnya. Dan melumatnya kembali bersamaan dengan Tiffany yang membalas ciuman itu. Membuka mulutnya dan meloloskan lidah Siwon memasuki mulutnya. Menyapu pelan rongga mulut Tiffany.

Tangan kanan Siwon tidak diam begitu saja. Tangannya telah menarik tubuh Tiffany semakin dekat dengan tubuhnya. Merapatkan tubuh keduanya, sedangkan Tiffany mengalungkan satu tangannya dileher Siwon. Dengan tangan sebelah yang mengusap lembut pipi kanan Siwon.

          Keduanya masih menikmati ciuman mereka yang terkesan begitu lemah dan hati-hati. Entah mengapa Siwon tidak ingin melakukannya terburu-buru. Ia ingin memastikan bahwa Tiffany baik-baik saja dan ia yang akan terus disisi Tiffany. Tak peduli ia mungkin nantinya akan melakukan sebuah kesalahan lagi. Kesalahan yang lebih fatal dari sebelumnya. Siwon ingin Tiffany tahu. Siwon akan terus bersamanya. Bahkan jika wanita itu tak lagi mencintainya, membencinya dan membuangnya jauh-jauh dari hidup wanita itu. Siwon akan tetap mencintainya, berjalan disekitar wanita itu dan melindungi sang kekasih.

 

***

 

        Kedua mata itu masih intens memperhatikan sepasang kekasih yang tengah mencurahkan segala perasaan mereka. Memberikan kecupan-kecupan singkat pada masing-masing bibir pasangannya itu.

          Tak tahan dengan semua yang dilihatnya, laki-laki itu membalikan tubuhnya. Berjalan pelan dengan langkah yang tertatih. Menatap jalan yang akan dilaluinya dengan tatapan kosong. Tubuhnya melemas, dengan kedua tangan yang terkulai tak berdaya dikedua sisi tubuhnya.

          Tanpa disadari laki-laki tersebut. Semua gerakannya telah diperhatikan oleh sesosok yang berdiri tak jauh dari belakang mobil milik Choi Siwon. Memandang heran kearah laki-laki itu.

          Semula laki-laki itu mengabaikan kehadiran laki-laki yang sejak tadi memperhatikan kedua insan yang sedang berciuman tersebut. Namun langkahmya yang akan memutar balik tubuhnya. menjauh dari sepasang kekasih itu. Terhenti ketika ia melihat laki-laki itu membalikkan tubuhnya dan kembali menatap lurus Siwon dan Tiffany yang menyudahi ciuman panjang mereka dan kini terlihat bahagia satu sama lain dengan senyum yang terukir dimasing-masing wajah mereka. Jelas bagi Myungsoo memahami arti tatapan laki-laki itu. Tatapan yang sama dengan seseorang yang begitu ia kenal. Tatapan rasa kesakitan dan kasih yang meluap. Bibir yang tertahan mengeluarkan erangan dan histeris didepan orang yang dikasihi tangah bersama seseorang yang teramat dicintai wanita yang kita cintai itu. Dan Myungsoo semakin membelalakan matanya ketika tatapan itu berubah tak semestinya. Tatapan itu semakin gelap dan tak terbaca. Dan tanpa pikir panjang Myungsoo menurunkan tatapannya kearah bawah tangan laki-laki tersebut yang terkepal erat. Dilihatnya sebuah pisau kecil yang sudah terbuka. Tergenggam erat oleh tangan tersebut. Mengeluarkan cairan merah pekat dari kepalan tersebut.

          Tanpa mampu berkata-kata lagi, Myungsoo melangkah mundur secara perlahan ketika ia menyadari sesuatu. Sesuatu yang bisa membahayakan kedua orang yang dikasihaninya tersebut. Dan Myungsoo harus melakukan sesuatu. Namun tepat ketika Myungsoo akan benar-benar pergi.

‘Sial!’

Myungsoo mengutuk dirinya sendiri dalam hati ketika kedua mata laki-laki itu menangkap sosoknya. Beradu tatapan tajam melalui kedua mata mereka yang bertemu. Hingga laki-laki yang menatapnya itu mengangkat pisau ditangannya dan melempar pisau itu tak jauh dari posisi berdiri laki-laki tersebut.

Dan disaat-saat terakhir itu, Myungsoo bisa menangkap arti tatapan laki-laki tersebut. Seperti menyampaikan sesuatu lewat tatapannya. Menyampaikan, bahwa…

‘Mereka tamat. Bersiaplah.’

 [to be Countinued]

Preview Part 5b

 

          “Kau gila? Walaupun Hyung sangat mengingikannya, Hyung tidak akan melakukannya tanpa kehadiran Appa Kim dan Oemma.”

         

“Aku hanya ingin membalas kebaikan beliau, apa salah? Bahkan walau aku tidak menginginkannya. Hanya ini yang bisa aku berikan. Maafkan aku, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu.”

 

“Anda menderita Tumor otak….”

 

“Aku mencintaimu. Kalau kau pergi lalu bagaimana denganku?”

 

“Anda tenang saja Tuan, tidak akan lama lagi.”

 

 

 

Author Note :

Annyeong, author di sini hanya ingin menjawab komentar kalian di part sebelumnya. Udah lama banget ya….. Mian…. Kalau kalian lupa atau mungkin belum baca, Author udah sedian linknya di atas.

 

dwiaprilia644

November 7, 2013 pukul 2:28 pm

wooo jadi kayak gitu toh ceritanya. paham deh sekarang sama alurnya. tp ada lagi yg bikin bingung,knp siwon sama tiffany sama sama gk inget satu sama lain,trs knp saling benci? itu yg bikin bingung. tp seru ceritanya cinta segi brp ini yaa 4 kali,tp ttp ending harus sifany forever thor, lanjut🙂

For dwiaprillia644 : kenapa mereka ga saling ingat, jawabanya akan ada di 2 part setelah ini. Jadi… sabar ya. Cinta segi berapa? eumm, author rasa gak ada segi-segian di sini. Kekeke. Karena memang sangat jelas. Walaupun di sini Myungsoo menyukai Tiffany tapi peran dia bukan sebagai laki-laki yang akan merebut Tiffany dari Siwon. Dia punya kisah tersendiri dengan Soona.

 

wenceu

November 5, 2013 pukul 11:14 pm

Akhirnya terungkap yg sebenarnya
Nah klo sekarang baru bener ngerti sm jln ceritanya thor
Suka banget sm part’y sifany yg romantis banget
Tp memang banyak hub yg rumit antara semua karakternya klo menurutku
Apalagi appa myungsoo yg jahat mau misahin sifany,kenapa mereka gaboleh bersama
Dan smpe bisa sifany ga inget satu sama lain mungkin amnesia ya kayanya,nah itu yg bakalan d nangikan sekarang
Author emg daebak deh bisa bikin ff seperti ini
Keren banget pst aurhor lebih pusing lg dr pd reader
Oh ya boleh ngaaih dikit masukan ga thor ?
Gimana klo panggilan “kamu” d gnti “kau” jd biar lebih enak bacanya
tp itu jg tergantung author,aku cm ngasih dikit saran…
Pko’y author bnr” daebak deh
Ga sabar banget nunggu part selanjutnya,semoga banyak part sifany’a d part selanjutnya

For wenceu : Di part 5b kamu bisa tahu alasan kenapa appa Myungsoo tidak menginginkan Siwon dan Tiffany bersama. Di tunggu aja ya. Dan untuk daran kamu terima kasih banyak. Udah author ubah kok. Maaf ya sebelumnya, kalau kurang nyaman.

 

anhiehwang0111

November 5, 2013 pukul 11:23 pm

Udh ngerti thor hubungan2 ny,
dilanjut y thor masih pengen taw knpa ayah myungso gk suka siwon merit ama fany. Trus msih pnsran jg, siapa sich cowok yg gk rela tiffany dimiliki capa pun it.
Ceritany menarik thor walaupun agak ribet awalny, pi skrg udh ad pencerahan.
Lanjut y thor.

For anhiehwang0111 : Author kasih clue ya. Liat di poster atau ga di name castnya. Di situ ada nama cast pria lainnya kan. Nahh…… udah tau?

 

nur oktaviani

November 9, 2013 pukul 4:23 pm

wah jelas sudah cerita’a…
d’tunggu part selanjut’a…
klo bsa part selanjut’a d’selingin sma msa skrang’a…
knpa siwon n tiffany gga saling knl stlh 5thn berpsh…

For nur oktaviani : Eumm, karena ini masih abu-abu, jadi part selanjutnya akan tetap dalamm flashback. Mian…

 

 

annisa

Januari 7, 2014 pukul 3:20 pm

Maaf ya sebelumnya. Fanfic nya bagus tapi, alur cerita nya gak jelas, dan membingungkan yg tadi nya Myungsoo lagi ngapain tiba – tiba langsung ke Tiffany lagi sama Siwon. Jadi cerita nya terkesan buru – buru. Terus di fanfic ini kebanyakan bagian Myungsoo SiFany moment nya kurang bahkan gk ada. Padahal ini kan SiFany fanfic.🙂

For annisa : Saya maafkan hehehe. Eumm, alurnya gak jelas ya?Author ga paham dengan maksud alur cerita yang gak jelas dan ceritanya yang terkesan terburu-buru. Bisa di kasih tau bagian mananya. Mungkin nanti author bisa memperbaikinya di tulisan selanjutnya. Dan kenapa ini banyak bagian Myungsoo-nya di bandingkan Sifany Moment. Kalau kamu baca part ini, kamu pasti mengerti kenapa bagian Myungsoo di FF ini terkesan banyak. Emang iya. Karena…. udah ketemu alasan kenapa Myungsoo mendapat banyak bagian. Kira-kira kalau ga ada Myungsoo, bisakah cerita ini berjalan? Sifany moment tidak ada, pasti udah tau alasannya kan? Dan author tau ini Sifany fanfic.

 

Terima kasih banyak ya buat yang komentar di FF ini sebelumnya, dan maaf karena baru ngelanjutin lagi. Author akan posting Part 5b dua hari lagi. Itu pun kalau komentarnya sebanding dengan pembacanya. Hehehe Annyeong…..

 

74 thoughts on “Don’t Know How To Love Part 5a

  1. hai authorrrrr!!!
    lama banget gk jumpa. haaa
    ak aj sempet kelupaan ma ini epep. maaf y *bow
    o iya mksih udh jawab pertanyaan ak thor.
    jdi semakin penasaran ma kelanjutan nya. kykny msih panjang bgt y tr ending ny…

    jdi kasian ma myungsoo, ngorbanin prasaanny demi hyung ny. ad prasaan mo mrh jg ma siwon pi ad iba ny juga. bingung *drritalho!! haaaa

    btw, makasih thor
    sampai ketemu dipart selanjutny

  2. weeeiii thor ini lama bgt loh sampe keluapaan. eh trs inget begiyu liat comment aku ada diatas. hehehehhehe. ini kaya flasback nya cerita siwon sama tiffany dulu,ternyata mereka dulu sama sama tersakiti. dan yg buat jengkel bgt appa tirinya siwon oppa a.k.a appa myungsoo yg mnyebebkan semua itu. myungsoo jg kasihan bgt disini hrs mnderita demi lindungi fany,next yaa thor😀

  3. Msih bingung unnie😦 pdhal SiFany awalnya romantis bnget ?😥 knp mesti amnesia ? Smoga SiFany cpt bersatu😦 next eon, jngn lma” nde.. Udah pngen lihat happy end nya😥 di tunggu unnie.. Hwaiting😉

  4. Lama bgt dilanjutnya thor, aku jd lupa ceritanya jd baca dri part 1 -_- hmm udh paham kok sma ceritanya, awal2 baca emg msh bingung tp stlh baca smpe part flashback bru ngerti ceritanya. Part slanjutnya cpt dilanjut ya thor, penasaran

  5. Lama banget sih thor:” udah hampir lupa malah, selanjutnya jangan lama2 ya thor:” Oh begini ya , tapi masih sedikit bingung sih. Tapi ceritanya emang dipartnya tergantung sm myungsoo . Kasian banget liat myungsoo. Kenapa juga myungsoo sm bapaknya trus jessica. Overall kereeeen dan aku suka😀. Ditunggu secepatnya part beriktnya and keep writing!

  6. kasian myungsoo oppa😥
    kenapa hubungan myungsoo oppa sama appa nya begitu ?? terus appa myungsoo oppa punya maksud apa jodohin siwon oppa dengan cewe lain ?? untung ada myungsoo oppa yang datang :’)
    fany unnie sabar banget sama siwon oppa sampai rela banget nungguin berjam-jam gitu…,, salut sama fany unnie🙂
    penasaran siapa yang mau mencelakakan siwon oppa dan fany unnie ?’
    gomawo admin udah nulis ff yang bagus kayak gini dan gomawo admin yang udah ngepost ff ^^

  7. ikutan koment ah
    .. jujur ni fanfic adalah fanfic yg paling saya tunggu tunggu .. dari awal d.post .. sampe skrang ni fanfic masih bkin saya penasaran . .. tapi saya akan tetap smngat nunggui ni fanfic sampe selsesai .. krna saya ingin tahu knpa tifgany dan siwon lupa ingtan .. huhuhuuuu

  8. y ampun ceritanya bner2 bkin nyesek.. poor tiffany😥 mskipun ia terus2n trsakiti oleh siwon, tp ia tetep brtahan n mau memaafkn smua ksalahan siwon.. knp ayah tiriny siwon jahat bgt sih? dan siapa lg itu jessica? apa mksud khadirannya? myungsoo bner2 gentle, ia mau mengorbankn cintanya demi hyung tirinya n ia jg tanpa takut melawan ayahnya.. aduh jgn2 maru yg selama ini memata matai sifany,, salut deh buat author yg dh bkin para readers penasaran tingkat akut ampe bkin nangis bca ni ff. lanjut thor.. figthing ^^

  9. Pria itu siapa ya,yg memperhatikan sifany yg bermesraan….?misterius banget pria itu.
    Kasian myungsoo ditampar appanya.
    Bagus thor ffnya.penasaran akut tingkat tinggi thor.ditunggu next partnya thor.jangan lama ya, udah gak sabar nih,baca kelanjutannya.tetap semangat ya thor.keep writing thor.
    Author jjang.sifany jjang.

  10. Thor makin bikn pnasaran ni.
    Tlg cpt publish ya……
    Jarang2 ada ff sifany bergenre kyak gni.,,…..
    Jessica kakanya myungsoo…….
    Pnsaran ma hbungan myunsoo n soona.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s