(AR) Embrassed Memory Part 2 -End

Title: Embarrassed Memory

Data DBD kesehatan

Author: @janisone

Main cast:  Tiffany Hwang – Choi Si Won

Support cast: Jessica Jung, Kwon Yuri, Im Yoona – Lee Dong Hae

Length: Twoshoot

Genre: Romance

Rating: 16

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan.Cerita ini murni hasil kerja kerasku.

Happy reading…

Part 2

Tiffany mengguman dalam tidurnya.Istirahatnya terasa terganggu saat sinar matahari menerpa wajah cantiknya.Tak lama mata indah yang terpejam itu perlahan terbuka.Sadar bagaimana ia bisa tertidur semalam, Tiffany kemudian dengan waspada melirik ruangan dimana ia berada sekarang.

“Yeay…”

Gadis 24 tahun itu bersorak.Melompat-lompat diatas ranjang berukuran king sizenya.Dari ekpresi wajahnya sekarang bisa dibayangkan betapa bahagianya ia kini.

“Thanks, Mom.Pasti kau yang menyelamatkanku…”

“Apa yang sedang kau lakukan?…”

Tiffany sontak menghentikan aksinya.Ditolehkannya kepalanya ke asal suara.Matanya membulat saat melihat siapa orang itu.Apalagi setelah menyadari pria itu hanya menggunakan handuk ditubuhnya.

“Si won?…”ucapnya tak percaya.Si won yang mendengar itu tersenyum.

“Si won? Hei, apa tidak ada panggilan yang lebih mesra?….”Si won mendekat.Tiffany menelan ludah.Entah kenapa dia sangat gugup setengah mati dan tenggorokannya terasa kering.

“Pagi…”Si won mengecup kening Tiffany.Gadis itu membuka mulutnya tak percaya.

“Maldo andwae…”gumannya pelan dan terduduk lemah diranjang.

“Jadi, itu semua bukan mimpi? Kita…sudah menikah?…”Si won mengangguk.

“Kau bisa menyalakan TV jika masih ingin melihatnya…”

Tiffany menyerngit.TV? Kenapa ia harus menyalakan TV? Apa pernikahannya diliput dan semua orang bisa melihatnya?

Tiffany mendongak.Mencoba memperhatikan Si won yang mulai membuka lemari untuk mencari bajunya.

“Kau akan ke kantor?…”

Entah apa yang sedang dipikirkan Tiffany.Yang jelas dia juga tidak tahu kenapa malah kalimat itu yang keluar dari mulutnya.Nadanya bahkan terdengar jika ia menginginkan Si won disini.Bersamanya.

Terdengar tawa Si won yang menyadarkan Tiffany dari lamunannya.

“Maafkan aku, sayang.Tapi aku ada pekerjaan penting hari ini.Kita akan menunda bulan madu kita.Kau tidak marah, bukan?…”Tiffany memalingkan wajahnya saat wajah itu tersenyum padanya.

“Kenapa aku harus marah? Akan lebih baik jika kita tidak terlalu sering bertemu…”

“Kau yakin?…”Tiffany terdiam.Kenapa pria itu seolah bisa membaca pikirannya.Ini benar-benar menyebalkan.Aish, lebih baik dia menyegarkan tubuh dan pikirannya dengan mandi.

“Aku mau mandi…”

“Inginku temani?…”

“Jangan bodoh, Si won!”

Si won tertawa puas melihat wajah memerah Tiffany.Tak mau dipermalukan lebih lama, Tiffany dengan cepat masuk kekamar mandi dan menguncinya dari dalam.

“Aish, ini akan jadi hari yang buruk!”

***Sifany***

Usai mandi dan berpakaian, Tiffany memutuskan untuk turun.Sejak keluar dari kamar sampai diruang tengah dia bisa melihat betapa indah dan nyamannya rumah ini.

Tiffany tiba diruang keluarga.Disini ada sebuah sofa panjang dengan dua bantal, sebuah meja berlapis kaca, TV layar datar dan berbagai furniture lainnya.Dan satu hal yang menarik perhatian Tiffany.Foto pernikahannya dan Si won yang terpajang cantik disisi kanan ruangan itu.Cepat sekali foto itu jadinya padahal seingatnya mereka baru menikah kemarin.

Perhatian Tiffany teralihkan saat hidungnya mencium aroma wangi masakan.Dengan segera ia menuju dapur dan melihat Si won tengah menyiapkan piring beserta gelas.

“Kau sudah selesai? Duduklah, kita sarapan bersama…”Si won menyiapkan kursi untuk Tiffany.

“Siapa yang membuat ini?…”Tiffany bertanya sambil menatap pancake yang disiram madu dan diatasnya terdapat buah strawberry.Kelihatannya sangat  nikmat.

“Siapa lagi menurutmu? Disini hanya ada kita berdua, yeobo…”

“Errr….tidak ada panggilan lain?..”Tanya Tiffany.Entahlah, dia sedikit tidak nyaman dengan panggilan baru itu.

“Banyak panggilan sayang untukmu, Fany-ah.Sekarang makanlah, pancake-nya hampir dingin…”

Tiffany mulai memegang garpunya.Dikunyahnya menu itu dengan tenang.Ya, dia harus tenang untuk bisa mencerna semua ini dengan baik.Sepertinya dia tidak bisa memungkirinya lagi.Dia sekarang sudah resmi menjadi istri dari Choi Si won.Bukankah ini merupakan salah satu impiannya? Tapi itu dulu, sekarang mungkinkah dia juga masih mengharapkan hal yang sama?

“Uhm, Si won…”

“Yeah?…”Si won meneguk coffee-nya seraya menatap Tiffany yang tampak menggigit bibirnya.

“Sebenarnya, apa alasanmu untuk melakukan semua ini?…”Pria itu menyerngit.

“Kalau semua ini karena kejadian sepuluh tahun lalu, kau…”

“Memang awalnya karena kejadian sepuluh tahun lalu….”Siwon memotong ucapan Tiffany.

“Aku pria yang bertanggung jawab, Tiff.Aku tidak akan mengingkari janji yang kubuat sendiri, bukan?…”

“Tapi…tidakkah ini terlalu…aneh?…”

“Pada bagian mananya yang aneh?…”

Si won balik bertanya dan menatap wajah cantik itu.Setahunya tidak ada yang aneh.Bukankah gadis itu menyukainya dan membuatnya sangat menunggu sepuluh tahun itu? Si won memang sudah jatuh cinta sejak gadis itu muncul dan menyatakan perasaan padanya.Dan dia tidak akan mengingkari janjinya dan membuat Tiffany kecewa.

“Bukankah dulu kau menolakku tapi kenapa sekarang kau…”

Drrtt Drrtt Drrtt

Suara ponsel Si won menghentikan kalimat Tiffany.

“Sepertinya aku harus ke kantor sekarang.Mian, aku tidak bisa menemanimu sampai selesai…”

***Sifany***

Tiffany menutup laptop yang sudah satu jam ini ia gunakan.Tangannya meraih berkas-berkas yang baru dikirim oleh orang-orang Appanya sesuai perintahnya.Berkas yang berisikan daftar harta dan kekayaan seorang Choi Si won.

“Woah, tidak ku sangka dia begitu kaya diusia muda…”kagum Tiffany.Seharian ini dia menghabiskan waktunya dirumah.Melihat seluk beluk rumah ini beserta sang pemiliknya.Ternyata sejak mulai bekerja, Si won memang sudah tinggal dirumah ini dan terpisah dari orang tuanya.

Kalau dipikir-pikir tidak ada yang salah.Dia menikah dengan pria tampan, kaya, dan baik.Dan saat insiden tadi pagi, dia juga bisa melihat kalau pria itu memiliki bentuk tubuh yang bagus.Tapi Tiffany masih bingung.Kenapa pria yang sempat menolaknya itu kini menikahinya? Apa benar kalau pria itu menikahinya karena mencintainya atau hanya sekedar menepati janjinya.Tapi bukankah pria itu hanya berjanji untuk menemuinya bukan menikahinya?

“Aish, ini membuatku pusing…”

***Sifany***

Tiffany duduk dikursi dengan memutar-mutarnya.Matanya memperhatikan Si won yang kini sedang menyiapkan makan malam.Pria itu pulang satu jam yang lalu.Selesai mandi ia langsung turun kedapur dan memasak.

“Si won…”

“Yeah?…”

“Kau bisa mengerjakan pekerjaan rumah?…”Si won yang sedang memotong sayuran tersenyum.

“Apa yang tidak bisa dilakukan seorang Choi Si won…”bangganya menyombongkan.Tiffany tersenyum cerah.

“Jjinja? Berarti menikah denganmu tidak begitu buruk…”

“Maksudmu?…”

“Uhm, kau kaya, tampan, baik.Kau juga bisa memasak dan mengurus pekerjaan rumah.Tidakkah ini menguntungkan untukku?…”Si won tersenyum.Apa gadis itu baru memujinya?

Pria dengan apron yang melekat ditubuhnya itu mendongak.Menatap Tiffany yang duduk santai tepat dihadapannya.

“Bagaimana kalau kau saja yang mengurus pekerjaan dapur dan rumah.Kau tahukan kalau aku tidak pernah melakukan pekerjaan rumah sebelumnya jadi, akan sangat tidak mungkin bagiku untuk melakukannya…”tambahnya.

“Kenapa tidak mulai belajar…”Si won mendekati kompor untuk memeriksa kuah kaldunya.Gadis itu tersenyum.

“Uhm, kalau aku tidak mau?…”

“Tidak masalah…”Tiffany tersenyum senang.Tidak menyangka kalau begitu mudah bernegosiasi dengan Si won.

“Jjinjayo?…”Tanya Tiffany memastikan.Si won mengangguk.

“Hm, asalkan kau juga melakukan peran istri dengan baik…”Tiffany terdiam.

“Ne?…”

“Hm, tugas seorang istri…”ulang Si won memperjelas.

“M-maksudmu…urusan ranjang?…”Pria itu tersenyum.

“Benar!”

***Sifany***

Tiffany mengelap peluh yang membanjiri wajahnya dengan punggung tangannya.Nafasnya naik turun tanda ia harus mendapatkan pasukan oksigen lebih.Mengepel ruang tamu ini saja dia sudah hampir pingsan, bagaimana dengan ruangan lain dan tugas berikutnya?

“Siapa suruh kau memilih untuk melakukan tugas rumah.Akan lebih baik jika kau menuruti ucapan suamimu.Lagi pula, urusan ranjang itu bukan tugas yang sulit.Kau juga butuh untuk disentuh dan dibelai, Tiff…”

Tiffany memutar bola matanya.Dengan rambut yang sudah berantakan ia berbalik untuk menatap orang yang baru saja menasehatinya.Orang itu, Jessica duduk santai dengan kaki terayun sambil melihat majalah fashionnya.

“Jessica Jung…”

“Hm?…”

“Kita memiliki kontak batin yang cukup kuat, bukan? Tidakkah kedatanganmu hari ini merupakan bagiannya?…”

Jessica mendongak dengan kening berkerut.

“Maksudmu?…”

Tiffany memasang senyum terbaiknya.Mengedipkan matanya seraya menyodorkan sapu pelnya pada Jessica.Jessica yang mengerti maksud dari sahabat baiknya itu menghela nafas dan menutup majalahnya.

“Baiklah, aku harus apa?…”

“Jjeongmalyo? Kau mau membantuku? Kyaa! Kajja!”senang Tiffany yang langsung menarik Jessica untuk mengganti bajunya agar nanti tidak kotor.

“Apa yang harusku kerjakan?…”Tanya Jessica yang masih ditarik Tiffany menuju tangga.

“Banyak pekerjaan rumah yang belum selesai, Jessie…”

“Kau menyuruhku untuk mengerjakan semuanya?….”Tanya Jessica.

“Aku akan membantumu…”

“Mwo? Ya, aku yang membantumu…”Tiffany tertawa dan segera menarik Jessica ke kamarnya untuk berganti pakaian.

***Sifany***

Si won pulang dari kantor.Rasa lelahnya setelah seharian bekerja berkurang begitu sampai dirumah.Rumahnya tampak lebih rapi dan bersih.Makan malam pun sudah terhidang dimeja.Mungkinkah kalau semua ini adalah hasil kerja istrinya? Si won tersenyum kecil.Dimana wanita itu sekarang?

Si won mendekati meja makan.Perhatiannya tertuju pada secarik kertas yang tertempel dipintu kulkas.Segera ditariknya kertas itu dan membacanya.

`Aku akan bersenang-senang dengan teman-temanku malam ini.Jangan beritahu Appa kalau aku mengunjungi club.Anggap saja ini sebagai upahku karena sudah membersihkan rumahmu.Istrimu tercinta, Tiffany CHOI!`

Si won memicingkan matanya.

“Club malam?…”

***Sifany***

“Bwahahaha…”

Tawa khas para wanita itu serasa mengalahkan hingar bingar musik di club tempat mereka berkumpul.Empat wanita yang menempati sofa disudut ruangan itu tampak tertawa puas.Yang menjadi bahan candaan mereka adalah pria berotot yang sedang menggoda seorang wanita seksi dimeja bar yang tak jauh dari mereka.

“Aku setuju, tidak semua pria berotot itu jantan.Aku masih ingat saat aku dan Jessica sedang berlatih dipusat kebugaran beberapa waktu lalu…”

Jessica tertawa renyah.Tiffany dan Yoona hanya bisa menunggu apa yang akan dikatakan Yuri selanjutnya.

“Aku dan Jessica sempat kagum melihat perut six-pack dan otot bisepnya.Tapi saat barbelnya tiba-tiba terlepas, dia berteriak, Kyaaa!”Yuri mempraktekkannya dengan gaya yang agak berlebihan.Kontan saja tawa para gadis itu kembali meledak.

“Aku juga pernah mendengar tentang hal itu.Menakutkan sekali jika kita mendapatkan pria gay…”tambah Yoona.

Tiffany bergidik ngeri.Entah kenapa pikirannya melayang pada Si won.Ia ingat dengan penampilan Si won dipagi hari pertama mereka.Pria itu juga memiliki tubuh atletis yang sangat sempurna.Dan pria itu benar-benar jantan, bukan?

“Waeyo?…”Jessica bertanya saat melihat Tiffany terdiam.Sontak Yuri dan Yoona ikut menatapnya.

“Fany-ah…”Yuri menggerakkan jarinya mengisyaratkan Tiffany untuk mendekat.Tiffany pun menurut.

“Apa suamimu benar-benar jantan? Auw!”Yuri langsung menjerit saat Yoona menoyor kepalanya.

“Ya, Unnie! Apa maksudmu bertanya seperti itu? Choi Si won itu tumbuh dalam lingkungan keluarga dan pendidikan yang baik.Saat menghadiri pernikahan mereka pun aku bisa lihat kalau dia sangat gentle.Bukan begitu, Unnie?….”Yoona menatap Tiffany, begitu pun yang lain.

“Ne? Uhm…Molla…”Serempak semuanya saling pandang.

“Memangnya apa saja yang sudah kalian lakukan?….”Tanya Yuri penasaran.Semuanya menatap Tiffany menunggu jawaban.

“Uhm, itu…kami belum melakukan apapun…”

“Bohong!” cibir Yoona tak percaya.

“Serius, Yoong.Dia hanya pernah mencium keningku sekali…”

“Jjinja? Hanya itu?…”heran Yuri dan Yoona.Jessica hanya tersenyum seraya meneguk minumannya melihat Yuri dan Yoona yang begitu penasaran.

“Si won tidak melakukan apapun pada istrinya yang cantik dengan tubuh seindah ini? Apa mungkin dia…”

Yuri menggantungkan kalimatnya.Tiffany yang mengerti maksud dari sahabatnya itu menggigit bibirnya.Sedikit ngeri membayangkan jika suami yang ia idam-idamkan dari masa SMP itu adalah seorang gay.

“Jangan membicarakan hal-hal bodoh seperti ini.Kita hanya membicarakan pria bertato didepan sana bukan mencurigai Si won.Apa kalian tidak memikirkan perasaan Tiffany?…”tanya Jessica menghentikan Yuri, Yoona mengangguk setuju.

“Tapi kau dengar sendirikan, Sica-ya.Dia tidak melakukan apapun pada Tiffany.Kalau dipikir-pikir, apa iya seorang pria normal akan tahan tidur seranjang dengan wanita seperti Tiffany tanpa melakukan apapun?…”Yuri tak mau kalah.Semuanya terdiam.Ikut berpikir.

“Kau harus mengujinya, Fany-ah…”usul Yuri membuat semuanya terkesiap, terlebih Tiffany.

“Apa maksudmu?…”Tanya Tiffany.

“Saat didekatnya, cobalah mengenakan pakaian seminim mungkin dengan gerakan yang seseduktif mungkin…”

“Mwo? Kau gila?!”Pekik Tiffany.Amat sangat tidak setuju dengan ide gila itu.

“Bagaimana kalau setelah itu dia menyerangku?…”

“Memangnya kenapa? Diakan suamimu…”Jessica dan Yoona tampak menahan  tawa mereka melihat wajah memerah Tiffany.

“Kalau kau yang menolaknya, kau lah yang pantas diragukan…”

“Mwo? Apa maksudmu?…”tanya Tiffany tak terima.

“Kau tau maksudku…”ucap Yuri menyunggingkan senyuman penuh arti, begitu pula dengan Jessica dan Yoona.

***Sifany***

Sejak tadi Tiffany hanya berdiri mematung.Pantulan dirinya dicermin membuatnya menelan ludah.Tubuh polosnya kini hanya ditutupi oleh sepotong lingerie tipis transparan.Belum lagi ukurannya yang benar-benar pas membuat bagian bokong dan dadanya terlihat sangat menonjol.Tiffany menggigit bibirnya, haruskah dia keluar dengan keadaan seperti ini?

Tiffany membuka pintu kamar mandi dengan sangat pelan.Kepalanya menyembul untuk melihat kondisi kamar.Dia ingin memastikan apakah disana ada Si won atau tidak.Semoga pria itu masih ada diruang kerjanya.

“Aish!”

Tiffany meringis kecil saat matanya mendapati sosok Si won yang tengah mengganti pakaiannya dengan piyama.Tapi berhubung pria itu sedang menghadap lemari dan membelakanginya, ini waktu yang tepat baginya untuk segera naik ke atas ranjang.

“Ok, Tiffany.Rileks saja.Jangan gugup atau kau akan mempermalukan dirimu sendiri dihadapannya…”

“Huft…”

Tiffany menghembus nafas pelan.Ia mulai keluar dari kamar mandi dan dengan cepat melompat keatas ranjang.Si won yang sedang mengancingkan piyamanya pun menoleh saat mendengar suara berisik itu.

“Kau sudah selesai? Kenapa lama sekali…”tanya Si won mulai  naik keatas ranjang.Dia mengambil tempat disebelah kanan Tiffany.

Tiffany berdehem untuk menghilangkan rasa gugup yang menderanya.Ia ikut berbaring dengan posisi yang lebih dekat dengan Si won.

Beberapa detik berlalu dan terasa sangat lama bagi Tiffany.Gadis itu menyerngit.Tidak ada komentar atau reaksi apapun? Padahal ia sudah menyanggul rambutnya agar leher jenjang dan putihnya terekpos bebas.Otteokke? Bagaimana kalau ternyata pria yang dari dulu ia sukai itu tidak normal?

“Aku normal, Tiff.Aku bukan gay seperti yang kau dan temanmu bicarakan…”Tiffany spontan menoleh dan menatap wajah Si won.Terkejut.

“K-kau…tahu tentang itu?…”Si won mengangguk.

“Aku berada dimeja tepat dibelakang kalian….”Tiffany memejamkan matanya.Malu? Tentu saja.

“Jadi kau mengikutiku?…”

“Aku hanya ingin memastikan kalau istriku baik-baik saja dan tidak menggoda atau digoda siapa pun…”Tiffany mendengus.Apa maksudnya dengan dia menggoda?

Si won tertawa pelan dan duduk dari posisinya.

“Hei, kau tahu bagaimana susahnya aku menahan gejolak itu? Tinggal bersama wanita yang kucintai dan sangat sempurna dimataku membuatku sangat tersiksa, Fany-ah…”Si won menatap mata indah itu lembut.

“Aku tahu kau belum siap.Aku juga tidak akan memaksa.Aku bisa menunggu sampai hari dan waktu yang indah itu datang…”Tiffany terdiam.Jelas ia terkejut dengan pengakuan Si won.Namun dia juga merasa sangat lega setelah mendengar penjelasan pria itu.

“Tapi…”Tiffany mendongak saat pria itu berseru dan menatap tubuhnya lekat.

“Jika kau yang mengundangku dengan cara seperti ini, mungkin aku bisa berubah pikiran.Otte, kau bersedia, Nyonya Choi?…”Tiffany tersenyum enggan.Dia menggeleng dan mendorong Si won agar menjauh darinya.

“No, thanks…”

Tiffany menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.Bersiap untuk tidur.Tapi dari tadi yang ia lakukan hanya menatap langit-langit kamar.Dia tidak bisa memejamkan matanya mengingat sekarang Si won ada disampingnya.

Greb!

“Kyaa!”

Tiffany memekik dan memejamkan matanya kuat.Tubuhnya menegang dan merinding saat tangan besar pria itu melingkar dipinggangnya.Si won tak peduli.Dia tetap memeluk tubuh itu dengan mata terpejam.

“Si…Si won…”

Tiffany menyentuh lengan berotot Si won dengan jari telunjuknya.Dia sangat gugup dengan detak jantung yang berpacu cepat.

“Hei, kau belum tidurkan?…”Tanya Tiffany.Dia tidak berani melihat wajah Si won.Kalau dia berani mengangkat kepalanya sedikit saja, bisa dipastikan kalau wajahnya dan wajah pria itu bersentuhan.

“Kenapa kau pergi?…”

“Ne?…”

“Kenapa kau pergi setelah  menyatakan perasaanmu padaku?…”Tiffany terdiam mengingat hal itu.

“Apa yang dikatakan teman-temanku benar?…”

“Memangnya apa yang dikatakan teman-temanmu, huh?…”Tanya Tiffany cepat.

“Kau malu pada seluruh sekolah karena aku menolakmu…”

“Mwo?…”

“Aniya?…”Si won menggoda.Tiffany mendengus.Sialan.Jadi setelah dia pergi semua orang bergosip tentangnya? Tentang seorang Tiffany Hwang yang ditolak oleh Choi Si won?

“Si-siapa bilang aku pergi karena itu.Itu hakku untuk pindah kemana pun aku mau…”bohongnya.Si won mengangguk sebagai respon.

“Oh, begitu…”

Si won menarik Tiffany lebih dekat hingga wajah Tiffany kini tepat berada didada bidangnya.Tifany menelan ludah.Darahnya mengalir cepat dengan detak jantung yang makin tidak stabil.

“Kau gugup?…”Si won bertanya.Dia bisa mendengar detak jantung Tiffany dengan posisi sedekat ini.

“Kau juga…”balas Tiffany.Si won tertawa dan makin mendekatkan tubuh ramping itu ke tubuhnya.

“Gwenchana, ini wajar karena kita berada didekat orang yang kita cintai…”

“Ne?…”

“Tidurlah.Sudah larut…”Tiffany mendengus.Pria itu selalu saja suka seenaknya.

“Aku tidak bisa tidur jika seperti ini…”

“Nikmati saja.Kau akan  lebih nyaman.Percayalah…”

Tiffany mendongak ragu untuk menatap wajah Si won.Sepertinya pria itu sudah benar-benar mengantuk jika dilihat dari suaranya yang serak.Dilihat dari jauh semua orang juga tahu kalau pria ini sangat tampan.Apalagi dengan jarak sedekat ini.

Tiffany menahan nafas.Matanya tertuju pada dada bidang Si won.Lebar dan sangat hangat untuknya.Diperhatikannya juga jakun Si won yang naik turun.Tiffany mengeleng pelan.Kenapa berada didekat pria itu membuatnya tak waras begini?

Tiffany menarik nafas lalu membuangnya pelan.Dengan ragu ia menempelkan telinga pada dada Si won dan mulai memejamkan matanya untuk tidur.

***Sifany***

Tiffany membuka matanya ketika matahari masuk kekamarnya.Sadar seperti apa posisinya semalam, ia langsung terduduk dan menoleh kesebelahnya.Tidak ada siapa-siapa.Dimana Si won?

Tiffany melirik jam dinding.

“Mwo? Jam sepuluh?…”

Tiffany terbengong.Ia tidur selama itu? Sejak kapan kebiasaan Jessica menular padanya?

Tiffany dengan cepat bangkit sambil menyambar gaun tidurnya yang tergantung disisi lemari.Dengan cepat ia keluar kamar.Ia ingin melihat apakah Si won masih dirumah atau sudah berangkat kekantor.Langkahnya menjadi lebih cepat saat melihat pria itu duduk santai sambil menonton TV diruang keluarga.

“Si won…”

“Omo, Fany-ah.Kau sudah bangun?…”Tiffany menoleh saat mendengar suara dari arah dapur.Oemma Si won? Perempuan itu ada disini sementara dia baru bangun?

Tiffany melirik kesal kearah Si won.Harusnya pria itu bilang kalau ada ibunya disini.

“Oemma? Oemma disini?…”Tiffany mendekat seraya merapikan rambutnya lalu tersenyum canggung.

“Eoh.Oemma ingin melihat kalian dan menyiapkan sarapan…”jawab perempuan paruh baya itu dengan senyum hangat diwajahnya.

“Waeyo, Oemma tidak perlu melakukannya.Dan kenapa tidak memberitahuku sebelumnya.Akukan bisa bangun lebih pagi…”

“Aigo, kaliankan pengantin baru.Jadi Oemma tidak akan mengganggu…”

“Ne?…”Tiffany melirik Si won yang tampak tersenyum seorang diri.Apa yang sudah pria itu katakan pada Oemmanya?

“Oemma sedang menyiapkan sup untukmu.Kau pasti lelah, bukan? Setelah memakan sup buatan Oemma kau akan segera pulih…”

Tiffany hanya terdiam bengong saat wanita itu berlalu dari hadapannya dengan senyum aneh.Dengan cepat Tiffany mendekat dan duduk disebelah Si won.Dipukulnya lengan pria itu kuat.

“Ya! Apa yang kau katakan padanya, huh?…”

“Aku tidak mengatakan apapun.Saat Oemma datang dia melihatmu tertidur sambil memelukku dan kau terlihat sangat pulas.Makanya Oemma mengira kalau kita baru saja melakukannya…”

Tiffany mendengus seraya melipat tangannya kesal.Tentu saja.Dia tidak ingin dianggap buruk oleh Oemma Si won dengan bangun sesiang ini.Dan mereka tidak melakukan apapun selain hanya tidur.

“Bagaimana, kau tidur nyenyak, bukan?…”Tiffany memutar bola matanya lalu bersandar disofa.

“Aku selalu tidur nyenyak.Asal kau tahu itu…”

“Benarkah? Kau ingin menyambungnya lagi? Hm?…”

“Kya! Apa yang kau lakukan?…”

“Ada apa?…”Keduanya menoleh saat Nyonya Choi muncul.Tiffany yang ada dipelukan Si won tidak berbuat apapun karena tangan Si won mengunci tubuhnya.

“Oh, Aniyo, Oemma.Tiffany bilang dia masih lelah dan ingin istirahat lagi…”

“Ne?…”kaget Nyonya Choi.

“Memangnya kalian seperti apa sampai Tiffany begitu…”

“A-aniyo, Oemma.Sungguh, jangan dengarkan dia…”

“Kau tidak perlu malu, yeobo.Kajja, ku antar ke kamar….”

Tiffany tertegun melihat senyum itu.Dia hanya diam saja saat Si won menggendong tubuhnya ke lantai atas.Sementara Nyonya Choi yang menyaksikan itu tampak tersenyum senang.

“Aigo, mereka manis sekali…”

***Sifany***

Si won masuk kerumahnya dengan tas kantor dan jas ditangannya.Begitu  masuk, langkahnya langsung menuju ruang keluarga dimana Tiffany tengah duduk santai sambil menguyah keripik kentangnya dengan kaki diatas meja.

“Malam…”Si won mengecup pipi kiri Tiffany.Diletakkannya tas beserta jasnya diatas meja sebelum duduk dengan merangkul bahu wanita itu.

“Ada apa?…”Si won bertanya saat mendapati Tiffany menatapnya.

“Bisa kau singkirkan tanganmu, Tuan Choi?…”

“Seorang suami berhak melakukan apapun atas tubuh istrinya.Apalagi kalau hanya sekedar rangkulan dan ciuman…”

Tiffany mencibir.Ia kira sikap menyebalkan pria itu akan berkurang setelah Oemmanya tidak ada.Dia belum terbiasa dengan skinship yang selalu dilakukan Si won.

“Oh ya, bagaimana menurutmu dengan menyiapkan makan malam untuk suami?…”

“Haruskah aku menyiapkan makan malam untuk seseorang yang memaksa menjadi suamiku? Lagi pula, kau sudah banyak menyentuhku selama Oemmamu disini kemarin, jadi kau yang harus menyiapkan makan malam…”sinisnya.Si won tertawa pelan.

Disela aktivitas menonton dan mengunyahnya, Tiffany melirik tangan kekar Si won yang bertengger dibahu kanannya.Lengan itu terlihat kokoh dan kuat.

“Si won…”

“Hm?…”Si won ikut mencomot keripik kentang Tiffany lalu mengunyahnya.

“Sepertinya kau rajin berolah raga…”Si won tersenyum.

“Hanya jika aku ada waktu.Aku memang sudah terlahir untuk menjadi sesempurna ini….”Tiffany mencibir.Sombong.

“Ini juga berkat latihanku saat wajib militer dulu…”Tiffany menatap Si won.

“Mwo? Jadi kau juga ikut wajib militer?…”

“Kenapa kau sekaget itu? Bukankah pria Korea memang harus menjalani wajib militer?…”Tiffany mengangguk.

“Aku pikir orang kaya sepertimu lebih memilih menggunakan uang dan kekuasaan agar terbebas dari wajib militer…”

“Tidak semua orang yang memiliki uang lebih seperti itu, Tiff…”Tiffany mengangguk dan kembali pada keripik kentang dan TV-nya.Si won berganti melirik tubuh Tiffany.

“Kau juga memiliki tubuh yang bagus….”Tiffany terdiam.Apa pria itu memujinya? Tiffany menggeleng cepat dan berdehem.

“Tentu saja.Aku sering melakukan perawatan…”

“Uhm.Untukku?….”Tiffany menyikut perut pria itu.

“Aku melakukannya untuk tubuhku sendiri bukan untuk orang lain.Apalagi kau…”Si won duduk bersila lalu menghadap Tiffany.

“Memangnya kenapa denganku?…”Tiffany terdiam sejenak.Bingung harus menjawab apa.

Si won menangkup wajah Tiffany dengan kedua tangannya.Wajah Tiffany memerah dan terasa panas.

“Si-Si won…”

“Kau yakin, tidak memiliki perasaan seperti sepuluh tahun lalu?…”Tiffany menelan ludahnya dengan susah payah.Posisi ini membuatnya sangat gugup.

“Jawab aku, Fany-ah…”

“A-aku…”

Tiffany menggigit bibir bawahnya.Ia tidak tahu harus menjawab apa.Mungkin dia masih memiliki perasaan itu.Toh, selama ini dia juga tidak berhasil membuangnya.Alasan dia tidak merasa keberatan menjalani pernikahan ini juga karena hati kecilnya merasa senang dan dia sudah bisa menerimanya.Hanya saja alasan Si won menikahinya masih membuatnya ragu.

“K-kau harus menjawab pertanyaanku dulu…”

“Apa itu?…”

“Uhm, bisa kau menjauh sedikit, aku  merasa sedikit tidak nyaman…”Si won tersenyum.Dia segera menurunkan tangannya lalu matanya menatap manik indah itu lembut.

“Jadi, apa pertanyaanmu?…”

“Uhm, alasan kenapa kau menikahiku…”Tiffany memberanikan dirinya menatap wajah Si won.Pria itu tampak tertawa.Tiffany mendesis sebal.Kenapa pria itu selalu tertawa? Apa pertanyaannya barusan adalah sebuah lelucon?

“Jadi kau masih memikirkan hal itu.Kau ragu padaku karena dulu aku sempat menolakmu?…”Tiffany mengangguk membenarkan.

“Tiffany.Tiffany.Kau sudah dewasa.Kenapa tidak bisa menggunakan otakmu dengan baik…”

“Ya! Kau menghinaku?…”Tanya Tiffany tak terima.

“Hei, coba kau pikir.Menurutmu kenapa dulu aku menolakmu?…”Si won memperhatikan Tiffany yang tampak berpikir.Ekspresi bingungnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.

“Karena kau tidak menyukaiku?…”

“Kenapa aku tidak menyukaimu?….”Tiffany kembali berpikir.

“Mungkin, karena kau tidak mengenalku?…”

“Lalu?…”Kening Tiffany berkerut.

“Lalu?…”Tanyanya balik.

“Aku harus mengenalmu lebih dulu agar aku bisa belajar mencintaimu…”Tiffany terdiam.

“Lagi pula, saat itu kau masih kelas 1 SMP, kau mau aku menikahimu diusia sedini itu?…”Tiffany menggeleng.Jelas tidak!

“Dihari kau menyatakan perasaanmu padaku aku langsung mencari tahu semua tentangmu.Begitu aku tahu dan mempelajarinya, besoknya aku mengunjungi kelasmu dengan membawa bekal makanan kesukaanmu.Tapi saat aku datang, Jessica dan teman-temanmu yang lain mengatakan kalau kau pindah ke Amerika…”

Tiffany terdiam.Speechless.

“Jjinja? Kau melakukannya?…”Tanya Tiffany setelah beberapa saat tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Hm, saat itu aku ingin lebih dekat denganmu…”angguk Si won.Hati Tiffany berdebar-debar tak karuan.Bibirnya tak bisa untuk tidak tersenyum.Senang dan malu bercampur jadi satu.Jelas kenapa ia sangat bahagia sekarang.

“Jadi, kau menikahiku bukan hanya sekedar untuk memenuhi janjimu?…”

“Tentu saja.Aku bukan pria jahat yang suka melukai perasaan wanita seenaknya…”

Si won tersenyum melihat wajah merona Tiffany.Istrinya itu terlihat sangat manis dengan ekpresi seperti itu.

“Jangan tersenyum seperti itu, nanti aku menciummu…”Tiffany reflek menurunkan senyumnya dan mendengus.

“Siapa yang tersenyum, kyaa!”

Tiffany menjerit saat Si won menggelitiki pinggangnya.Dengan cepat diraihnya bantal sofa dan memukul pria itu untuk menghentikan  aksinya tersebut.

“Jangan pernah melakukan itu atau aku akan membunuhmu, arassso?!”

“Hei, sudah ku bilang.Seorang suami berhak melakukan apapun atas tubuh istrinya….”

“Kyaa!”Tiffany kembali memekik saat tangan besar pria itu menyentuh pinggangnya.

“Ya, tapi jangan menggelitikiku, aku benar-benar tidak tahan, Si won!”Si won menghentikan aksinya dan tersenyum senang.Didekatkannya wajahnya pada telinga Tiffany dan berbisik.

“Jjinjayo? Kau tahu, para suami biasanya sangat menyukai istri yang penggeli, Fany-ah…”Wajah Tiffany kembali memerah.

“Mwo? Ya! Kau menjijikkan!”Tiffany berniat memukul wajah menyebalkan Si won tapi selalu gagal karena pria itu berhasil menahan tangannya.

“Hahahaa…”

“Berhenti tertawa atau aku akan menutup mulutmu…”

“Seperti ini?…”

Tanpa diduga Si won menarik tangan Tiffany hingga gadis itu maju ke depan.Dengan otomatis bibir mereka bertemu.Tak mau menyiakan kesempatan, Si won langsung melumat bibir manis itu dengan lembut.Si won sangat menikmatinya.Apalagi kenyataan bahwa gadis itu sama sekali tidak menolaknya.

Si won melepas tautan bibir mereka saat menyadari keduanya membutuhkan pasukan oksigen lebih.Dia tersenyum melihat wajah memerah Tiffany.Terlebih bibir merah yang berkilauan itu.

“Sangat menarik, bukan? Kau ingin lagi, yang lebih?…”Pria itu menyeringai.Tiffany dengan cepat menutup wajah itu dengan bantal sofa dan berlari menuju kamar.

Blam!

Tiffany menutup pintu dengan kuat.Kedua tangannya menutup wajahnya yang memerah.Ya Tuhan, kenapa dia tidak bisa menghindari ciuman Si won? Aish, ini sangat memalukan.Bagaimana caranya ia terbangun besok pagi  dan menampakkan wajahnya dihadapan pria itu?

“Aish! Tiffany, kau benar-benar bodoh!”

***Sifany***

Mengepel lantai, menyiapkan sarapan, mencuci dan menjemur pakaian,  semuanya sudah beres.Si won meraih koran paginya sambil menunggu Tiffany turun untuk sarapan bersama.Hari ini hari libur, jadi dia memiliki cukup banyak waktu untuk melakukan pekerjaan rumah.Si won sebenarnya ingin saja menyuruh Tiffany melakukan semua tugas itu.Namun ia juga tahu kalau Tiffany masih perlu banyak belajar dan menyesuaikan diri.

Si won menyimpan korannya ketika Tiffany muncul.Senyumnya terukir saat gadis itu langsung duduk tanpa mau  melihat kearahnya.Apa Tiffany merasa malu karena peristiwa semalam? Tapikan itu hanya sebuah ciuman?

“Ayo, kita sarapan bersama…”ajaknya.Tiffany mengangguk saja.Diraihnya sendok untuk mencoba soup yang dihidangkan Si won.Matanya terus melirik objek apa saja selain Si won.Tanpa sengaja matanya melirik jemuran yang ada dihalaman samping rumah.Pria itu mencuci pakaian mereka? Tiffany menatap seluruh ruangan, juga sudah bersih dan sangat rapi.Tunggu, pria itu mengerjakan semua pekerjaa rumah?

“Si won…”Si won mendongak untuk menatap wajah cantik Tiffany.

“Kau mengerjakan semua pekerjaan rumah?…”tanyanya hati-hati.

“Hm…”

“Karena ciuman semalam?…”Si won terdiam sesaat.Tak lama kemudian dia tertawa mendengar pertanyaan itu.

`Astaga, ternyata cara berpikir wanita sangat sempit`

“Kau sungguh berpikir seperti itu?…”

“Kalau kau mengerjakan  semua pekerjaan rumah hanya karena ciuman semalam, bagaimana kalau aku memberikan diriku utuh?…”Tanyanya pelan, terlihat sedikit ketakutan diwajah putih bersihnya.

“Kau akan memberikannya?…”Tanya Si won senang.Tiffany melotot.

“Tidak sekarang!”

“Berarti nanti…”

“Jangan bermimpi!”Si won tertawa melihat wajah kesal Tiffany.

“Cepat habiskan sarapanmu.Hari ini Halmoni berkunjung ke rumah Oemma jadi kita disuruh kesana…”

“Mwo? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku lebih dulu?…”

“Oemma baru menelfonku tadi pagi.Lagi pula kau tidak memiliki acara lain, bukan?…”

Tiffany diam saja dan kembali melanjutkan sarapan paginya.Semoga hari ini tidak terjadi hal yang buruk.

***Sifany***

Si won membungkuk memberi salam pada nenek dan orang tuanya diikuti Tiffany.Gadis itu tampak kesulitan.Selain ia tidak  pernah melakukan hal semacam ini, hanbok yang ia kenakan pun membuatnya cukup kesulitan.Percuma ia berdebat dengan Si won selama perjalanan kesini kalau akhirnya ia tetap mengenakan pakaian itu.

Tiffany bangkit dan mengulanginya lagi.Entah apa makna dari aktivitas yang membuat betis dan pinggangnya lelah ini.Yang jelas ia hanya mengikuti apa yang Si won lakukan disebelahnya.Saat akan kembali berdiri tanpa sengaja kaki kirinya menginjak bagian bawah hanboknya dan…

“Kya!”

“Omo!”Nyonya Choi dengan cepat membantu Tiffany sebelum menantunya itu terjatuh mencium lantai.

“Hati-hati, Fany-ah…”ucapnya cemas.Tiffany hanya tersenyum kecil dan menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih dan maaf.Kemudian ia duduk disebelah Si won.Dimana dihadapan mereka sudah ada nenek Si won dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana pernikahan kalian?…”

“Sangat bahagia, halmoni…”Si won menjawab santai pertanyaan neneknya.Tiffany melirik pria disampingnya itu.

“Bagaimana denganmu?…”

“Ne?…”Tiffany menatap wajah nenek Si won kaget.Ia meringis.Sepertinya wanita tua itu tidak menyukainya.Buktinya dari tadi Tiffany tidak pernah melihatnya tersenyum.

“Aku…juga bahagia, halmoni…”Halmoni mengangguk.

“Lalu, kapan kalian akan memiliki anak…”Mata Tiffany melebar.Hei, usia pernikahan mereka bahkan baru genap seminggu.

“Secepatnya, halmoni…”

“Mwo?!”Semua orang menoleh kearah Tiffany.Gadis itu tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya.

“Oh, Jjwoesonghamnida…”ucapnya seraya membungkukkan badannya singkat.

“Hohoho…”Nyonya Choi tertawa untuk mencairkan suasana yang tampak menegangkan itu.

“Sudahlah, Oemma.Tiffany pasti malu jika kita membahas masalah ini.Biar saja itu menjadi urusan mereka…”ucap  Nyonya Choi menatap kagum pasangan anak dan menantunya.

“Bagaimana dengan rumah kalian.Kau nyaman tinggal disana?…”Kali ini Tuan Choi yang bertanya.

“Ne, Appa…”jawab Tiffany singkat.Tuan Choi mengangguk paham.

“Kalau kau merasa kurang nyaman katakan saja.Kalian bisa pindah ke rumah baru jika kau mau…”Tiffany menatap Tuan Choi dengan senyum senang.Sejenak dia berpikir, mungkin kebaikan yang ada pada diri Si won menurun dari Appanya.

“Lalu, kalian akan berbulan madu kemana?…”Tiffany melirik halmoni cepat.

“Kami tidak akan melakukan perjalanan bulan madu, halmoni…”jawab Tiffany membuat perhatian para orang tua itu kembali kearahnya.

“Wae, semua pasangan mengiginkannya, Fany-ah…”tanya Nyonya Choi.

“Tidak perlu sungkan, Fany-ah.Sekarang kita keluarga.Katakan saja kau ingin kemana, kami akan menyiapkannya…”ungkap Tuan Choi.

Tiffany tampak menggigit bibir bawahnya.Aish, kenapa pria disebelahnya tidak mengatakan apapun untuk hal ini.

“Fany-ah?….”

“Oh, ne Oemma…”Tiffany mengangkat wajahnya dan tersenyum kaku.

“Itu…kami tidak perlu melakukan perjalanan bulan madu.Bukankah kami bisa melakukannya dirumah?…”Oh, jjinja.Tiffany sungguh butuh bantuan nafas sekarang.Membayangkannya saja dia tidak sanggup.

Si won tersenyum saja mendengar penjelasan Tiffany.Orang tuanya pun tampak mengiyakan.

“Kalau itu sudah jadi keputusan kalian, apa boleh buat…”Tiffany tersenyum sumringah.

“Jjinjayo, Oemma? Aku…”

“Tidak bisa!”Tiffany menatap nenek Si won.

“Kalau  kau tidak bisa pergi ke luar negeri, keluar kota saja.Yang penting kalian harus pergi…”

“Tapi halmoni…”

“Oho! Kau membantah orang tua?…”hardiknya marah.

Tiffany meremas erat jeogorinya.Disikutnya Si won agar pria itu bersuara dan membantunya berbicara.

“Baiklah, kalau itu yang halmoni inginkan.Kami akan melakukannya…”Tanpa Tiffany duga Si won malah menjawab seperti itu.Membuatnya jantungnya hampir melompat keluar.

“Kalian ingin kemana?…”

“Pulan Jeju?….”usul Nyonya Choi.

“Itu sudah biasa Oemma.Kami akan ke pulau Nami saja…”Tiffany menyerngit.Nami? Pulau apa itu? Dia hanya tahu pulau Jeju di Korea ini.

Nyonya Choi melirik Tiffany yang tampak diam sejak tadi.

“Kau sudah pernah ke pulau Nami, Fany-ah?…”Tiffany menggeleng.Nenek Si won tersenyum kecil.

“Ya sudah.Pulanglah dan berkemas.Kalian akan berangkat siang ini juga…”

“Mwo?!”

***Sifany***

Akhirnya usai packing dan berpakaian, kini Tiffany dan Si won menuju dermaga.Mereka akan naik kapal feri menuju pulau yang katanya romantis dan sering digunakan untuk syuting drama itu.Tiffany terus menggerutu, katanya dia memiliki suami kaya raya.Tapi kenapa harus menumpang kapal feri? Kenapa tidak menyewa boat atau menaiki wahana zip ware saja? Tidak keren sekali.

“Kau tidak mabuk perjalanan, bukan?…”

“Kau pikir aku wanita lemah?…”kesalnya.Si won tertawa.

“Aku tahu kau wanita yang kuat…”

Tiffany meninggalkan kursinya dan Si won.Dia memilih menikmati pemandangan dari belakang kapal.Melihat arus air yang ditimbulkan kapal itu membuatnya merasa lebih tenang.Jujur saja, dia sangat gugup memikirkan apa yang akan ia dan  Si won lakukan selama perjalanan bulan madu ini.

Tubuh Tiffany mendadak membeku.Bisa dirasakannya pelukan hangat Si won menjalar keseluruh tubuhnya.Si won memeluknya? Tiffany berusaha untuk menormalkan tarikan nafasnya.Ia tidak boleh gugup.Itu memalukan.

Si won tersenyum dan meletakkan dagunya dibahu Tiffany.

“Kau tidak merasa ini seperti adegan dalam film?…”Tiffany mencibir.Tidak tertarik sama sekali.

“Jangan konyol, Si won.Kau ingin kapal ini tenggelam?…”Si won tersenyum saja dibahu kanan Tiffany.

“Kapan kita sampai?…”tanyanya mengalihkan topik.Dia tidak mau terlarut dalam suasan seperti ini.

“Sekitar 9 menit lagi.Aku bisa memelukmu selama itu jika kau mau…”

Wajah Tiffany memerah.Dia seolah kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan itu.Jadi yang ia lakukan hanya diam sampai kapal itu membawa mereka tiba di tempat tujuan.

***Sifany***

Jam 11.33 siang, Si won dan Tifffany sudah berada di Pulan Nami.Seperti halnya tempat wisata favorit lainnya, tempat ini pun dikunjungi oleh banyak pengunjung yang ingin menghabiskan waktu bersama orang terdekat.

Sebelum menuju penginapan, Si won dan Tiffany mampir disebuah restoran untuk makan siang.Baru setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi tempat yang dipehuni oleh pepohonan tinggi yang berjejer rapi itu.

“Wah, ada burung onta!”seru Tiffany senang begitu melihat dua ekor burung onta yang sedang diberi makan oleh pengunjung lain.Tiffany segera meminta Si won untuk memotretnya bersama burung onta tersebut.

“Baiklah, tersenyum yang indah…”seru Si won bersiap dengan camera ditangannya.

Cret!

“Bagus! Mirip ontanya…”canda Si won tertawa, Tiffany yang kesal segera mengambil camera itu dari tangan Si won.

“Aigo, yeoppota…”seru Tiffany bangga melihat fotonya dan si burung onta yang tampak bersahabat itu.

“Semua orang setuju kalau senyuman ku cantik, apalagi eye-smileku…”bangga Tiffany.Si won bersedekap dan tersenyum.

“Jjinja? Apa buktinya…”

“Buktinya, seorang Choi Si won sangat terobsesi padaku dan menikahiku…”ucapnya seraya pergi meninggalkan Si won yang tersenyum seorang diri.Tapi tak bisa dipungkiri kalau yang dikatakannya itu benar adanya.

Puas dengan burung onta, mereka menyewa sepeda untuk mengelilingi tempat wisata ini.Si won melaju lebih dulu sementara Tiffany dengan susah payah mengayuh sepedanya.Ok, dia memang tidak terlalu bisa bersepeda.Tapi dia tidak akan mengalah dari Si won.

Tiffany berusaha kuat menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh.Akan sangat memalukan jika ia terjatuh dan disaksikan oleh anak-anak kecil yang juga tengah asyik dengan sepeda mereka.

“Aish, kemana pria itu…”Tiffany menggerutu saat matanya tidak melihat sosok Si won.Tak lama kemudian Si won tiba-tiba muncul dari arah belakang dan mengerem sepedanya tepat disebelah Tiffany.

“Kyaa!”Tiffany berusaha sekuat tenaga menjaga agar jalan sepedanya tetap stabil.Untung saja dia bisa mengatasinya hingga ia tidak terjatuh.Si won tertawa melihatnya.

“Ayo, ku bonceng menuju penginapan…”ajak Si won seraya menepuk batang sepeda dihadapannya.

“Mwo? Hei, apa disini tidak ada taksi?…”

“Kau hanya punya dua pulihan.Naik sepeda atau jalan kaki…”

“Mwo? Jalan kaki?…”pekik Tiffany tak percaya.

Seorang Ahjussi terlihat mendekati mereka.Dia adalah orang tempat Si won dan Tiffany  tadi menyewa sepeda.

“Terimakasih Tuan Choi, dan selamat atas pernikahan kalian.Semoga perjalanan bulan madu kalian berjalan lancar…”

“Ne, gumawoyo, Ahjussi…”Ahjussi itu tersenyum hangat dan segera membawa sepeda yang tadi dipakai Tiffany bersamanya.

“Hei, kau mengenalnya? Kenapa kalian tampak akrab sekali? Dan kenapa dia tidak membawa sepedamu?…”

“Tiffany, kita tidak harus saling mengenal untuk bersikap akrab dengan orang lain.Dia tidak membawa sepeda ini karena aku sudah membelinya…”

Tiffany menyerngit.

“Kau membelinya? Wae?…”Si won tak menjawab.Tangannya menarik tangan Tiffany dan mendudukkan wanita itu didepannya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?…”kesal Tiffany ketika bokongnya bersentuhan dengan batang sepeda.

“Duduk dan tenanglah.Kita akan naik sepeda sambil menikmati pemandangan disini.Lebih menyenangkan, bukan?…”

Si won langsung mengayuh sepedanya tanpa mau mendengarkan gadis itu mengoceh lebih lama.Tiffany yang sudah terlanjur duduk pun memilih diam.Walau bagaimana pun dia tidak ingin jatuh apalagi kalau harus jalan kaki.

Semilir angin menerbangkan rambut Tiffany hingga mengenai wajah Si won.Pria itu mengayuh sepedanya sambil terus tersenyum menikmati aroma harum serta sentuhan lembut rambut Tiffany.

“Kau suka?…”Tiffany mengangguk.Wajahnya tersenyum sembari memperhatikan apa saja yang dilakukan setiap orang atau pasangan yang mereka lewati.Tiffany bisa merasakan keromantisan dipulau kecil ini.Dia juga sangat menikmati waktunya bersama Si won sekarang.Bersepeda bersama dan…

Mata Tiffany membesar ketika melihat sebuah mobil melaju disebelah mereka.

“Si won, bukankah itu mobil?…”Tanya Tiffany masih memperhatikan mobil yang sudah jauh meninggalkan mereka.

“Eoh, wae?…”

“Bukankah tadi kau bilang disini tidak ada mobil?…”

“Kau bertanya taksi, Tiff.Bukan mobil.Kalau kau bertanya mobil, aku bisa menjawab kalau disini kita juga bisa menyewa mobil…”

“Mwo?…”

“Diam dan nimkati saja.Sebentar lagi kita sampai…”Tiffany hanya menggerutu dan menopang dagunya diatas setang sepeda.

“Bilang saja kalau kau ingin naik sepeda bersamaku…”cibirnya.Si won hanya tersenyum dan terus mengayuh sepedanya menuju tempat penginapan yang sudah ia pesan sebelum keberangkatan mereka.

***Sifany***

Si won dan Tiffany menginap di villa green garden.Keduanya sudah selesai  makan malam.Tiffany memilih duduk disofa tak jauh dari perapian.Sekarang sudah mendekati musim gugur jadi wajar kalau malam sangat dingin.

Tiffany berselonjor seraya merapatkan selimutnya.Si won memberinya selimut ini beberapa menit yang lalu.Sebelum pria itu sibuk dengan kertas-kertas dan laptopnya.Tiffany mencibir kesal.Katanya pergi bulan madu tapi apa ini? Dan apa yang kau harapkan Tiffany?!

Gadis cantik itu dengan cepat mengalihkan pandangannya saat matanya bertemu dengan mata Si won.Si won yang menyadari itu bangkit.Direnggangkannya otot-ototnya lalu berjalan mendekati Tiffany.Si won menyingkap selimut yang Tiffany gunakan kemudian duduk bersama dan merangkul pinggang rampingnya.

“Kau bisa bersandar dibahuku jika mau.Disini cukup hangat…”

“Tid-Ya!”

Tiffany menyikut perut pria itu.Namun ia tidak menjauhkan kepalanya dari bahu Si won.Dia bisa merasakan kehangatan yang membuatnya nyaman.

Hanya suara jarum jam yang terdengar diruangan itu.Baik Si won maupun Tiffany lebih memilih diam dan menenangkan diri masing-masing.

“Uhm, Si won.Apa yang akan kita lakukan sekarang?…”

Si won tersenyum.Tangan kanannya meraih tablet Tiffany yang menganggur diatas meja.Lalu memindahkan benda itu pada tangan kirinya sementara jari tangan kanannya mulai bermain diatas layar tablet itu.

“Haruskah kita mencari tahu?…”ucap Si won mulai mengetik beberapa huruf disitus pencarian.Tiffany memperhatikannya walau sebenarnya ia sangat gugup karena kedua tangan kokoh itu memeluk tubuhnya erat.

Apa yang dilakukan pasangan suami-istri saat berbulan madu?

Tiffany merinding saat membaca kalimat dengan tulisan warna biru itu muncul.Dia tidak perlu membacanya.Dia sudah dewasa dan dia tahu pasti apa isi dari artikel itu.

“Banyak cara yang bisa dilakukan pasangan pengantin baru untuk melewati malam pertama mereka.Pertama, wanita mengenakan pakaian sexy dan…”

“Ya!”Tiffany menutup mulut Si won sebelum pria itu membaca lebih banyak.Setelah itu dia merebut tablet ditangan Si won dan melemparnya asal.

“Wae?…”Tanya Si won pura-pura tak mengerti dengan apa yang wanita itu lakukan.

“Kau bertanya kenapa? Ck, memalukan mendengarnya.Kau tahu?…”Si won tampak mengulum senyum.

“Mungkin kau benar.Lagi pula artikel itu salah.Kenapa seorang wanita harus mengenakan sesuatu dimalam pertamanya…”

Wajah Tiffany memanas dengan mulut yang terbuka.Tanda ia ingin bicara tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.Tentu Tiffany merasa malu mendengar kalimat itu dari lawan jenisnya.

“Hei, kau sedang membayangkannya?…”Si won kembali menggoda.

“Mwo? Ck, ternyata kau sama saja.Mesum!”umpatnya.Si won tertawa puas.

“Hei, semua pria akan berpikir sama.Apalagi pada istri mereka…”

Tiffany menatap Si won.`Apalagi pada istri mereka?`.Huh, Tiffany sangat gugup sekarang.Haruskah ia mengajak Si won pulang sekarang juga? Dia tidak sanggup kalau mereka akan terus dalam keadaan seperti ini sampai besok pagi.

Tubuh Tiffany menegang saat tangan Si won mulai mengelus halus perutnya.Nafas hangat Si won menerpa kulit wajahnya dan…

Tiffany membeku.Mereka berciuman? Si won menghisap lembut bibir manis Tiffany.Selang beberapa detik kemudian, Tiffany memalingkan wajahnya hingga tautan bibir mereka terlepas.

“Si won…”

“Hm?…”Si won menatap mata indah  itu dalam minimnya penerangan.

“Uhm, bagaimana kalau sekarang kita…”Si won menaikkan alisnya dan menunggu.

“Sekarang kita…”

“Sekarang? Tentu…”Tiffany menahan dada Si won untuk tidak lebih dekat dengannya.

“A-ani.Maksudku bukan begitu.Bagaimana kalau sekarang kita…pulang…”

“Pulang?…”Tiffany mengangguk cepat.

“Sekarang?…”Tanya Si won.Tiffany mengangguk lagi dan bersiap untuk bangkit.

“Kajja, kita harus bersiap…”Gadis itu beranjak namun Si won menahan tangannya.Si won tahu kalau Tiffany hanya ingin menghindari ritual penting ini.

“Tidak ada kapal yang akan berlayar selarut ini, Fany-ah…”

“Ne? Itu…kita bisa menyewa boat, bukan?…”

“Angin laut dimalam hari sangat dingin.Tidak baik untukmu…”

“Atau kita bisa memakai kapal pesiar punyamu, punya keluargaku juga tidak masalah…”

Tiffany terdiam karena Si won hanya diam dan tidak melakukan apapun.Pria itu pasti kecewa padanya.Entah kenapa dia merasa sangat bersalah.

“Mianhe, aku bukannya tidak mau.Hanya saja, aku merasa sangat malu.Kau tahukan, itu…”Si won tersenyum maklum mendengar pengakuan Tiffany.

“Gwenchana, aku mengerti.Tapi sebenarnya tidak ada yang perlu kau khawatirkan.Bukankah ini lazim untuk dilakukan pasangan yang sudah menikah? Kita tidak melakukan hal yang salah, Fany-ah.Kita hanya berbagi satu sama lain dengan orang yang kita cintai…”

Tiffany diam saja.Namun tidak dengan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat dari biasanya.Terlebih ketika pria itu mendekat dan memeluknya.

“Kau tenang saja, aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu.Kau percaya padaku?…”

Lama tak ada jawaban.Tiffany masih bergulat dengan pikirannya.

“Tiff?…”

“Tapi…”

“Ya?…”

“Aku…aku merasa sangat malu…”akunya pelan dan menyembunyikan wajahnya didada Si won.Si won tersenyum lembut.

“Kau malu karena belum terbiasa.Lagi pula, kita sudah menikah.Tidak ada batasan apapun lagi.Milikku milikmu dan milikmu juga milikku.Kita adalah satu.Kau setuju?…”

Tiffany mengangguk.Ucapan Si won seperti sugesti baginya untuk membenarkan semua ucapan pria itu.Selanjutnya, Tiffany tidak tahu apa yang terjadi.Yang jelas, dia tidak pernah merasa seberani, seliar dan sebahagia malam ini.

***Sifany***
Sebuah Audi hitam meluncur dijalanan kota Seoul.Membawa dua insan yang baru saja kembali dari perjalanan bulan madu mereka menuju tempat tujuan.Si won yang mengemudi sesekali melirik Tiffany yang duduk dikursi penumpang.Wanita itu memang menjaga diri untuk tidak menatap matanya sejak mereka terbangun tadi pagi.

Tiffany sejak tadi selalu melihat keluar jendela.Bukan apa-apa, ia hanya malu jika harus bertatap mata dengan Si won setelah apa yang semalam mereka lalukan.Tiffany menegakkan posisi duduknya dan melihat sekeliling.Seingatnya ini bukan jalan menuju rumah mereka.Rumah Appanya dan orang tua Si won pun tidak.

“Bukankah kita akan pulang?…”Tiffany akhirnya berbicara.Si won mengangguk dan membelokkan mobilnya ketika melewati sebuah tikungan.

“Tentu…”jawabnya singkat.Tiffany ingin bertanya lebih, tapi dia memilih  untuk diam dan menunggu.Nanti dia juga akan tahu.

Mereka tiba disebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas.Bangunan modern dan kokoh bercat putih itu tampak begitu indah dan berkelas.Belum lagi halaman luas yang dipenuhi oleh berbagai jenis bunga dan air mancur yang menari-nari seolah menyambut kedatangan mereka.

Si won turun dari mobilnya dan bergegas untuk membukakan pintu bagi Tiffany.Tiffany keluar dan menatap bangunan dihadapannya dengan takjub.

“Kau menyukainya?…”Tiffany mengangguk dengan senyum manisnya.

“Ini, rumah siapa?…”Si won tertawa singkat mendengar pertanyaan itu.

“Karena kita sudah berada disini tentu saja ini rumah kita…”Tiffany menoleh kearah Si won yang tengah mengambil koper mereka dibagasi.

“Mwo?…”Tanya Tiffany.Ingin mendengar penjelasan lebih dari Si won.Pria itu hanya tersenyum.Tangan kirinya menyeret koper dan tangan kanannya meraih pinggang Tiffany.Mengajaknya untuk masuk.

“Aku ingin tangan istriku yang pertama membukanya…”

Tiffany mengangkat sebelah alisnya.

“Ne?…”Tanya Tiffany.Si won menghela nafas.

“Ini rumah baru kita, Fany-ah.Mulai hari ini kita akan pindah dan tinggal disini…”

“Ne?…”Penjelasan Si won malah membuat Tiffany makin bingung.

“Apa kau tidak merasa mengenal bangunan ini?…”

Tiffany memperhatikan rumah berdesain modern minimalis itu dengan lebih detail berikut halamannya.Bangunan modern, berdinding kaca, didominasi cat berwarna putih, gorden-gorden pink yang terlihat dari luar, taman luas yang dipenuhi bunga dan air mancur, serta pintu gerbang yang berwarna merah muda.Bukankah semua itu adalah rumah impiannya? Dan hanya Jessica, Han Ahjussi dan Han Ahjumma yang tahu tentang ini.

“Jadi, rumah ini…”Tiffany tidak bisa melanjutkan kalimatnya.Dia masih belum percaya dengan semua ini.

“Aku melaksanakan wajib militer setelah aku lulus dari SMA.Setelah itu aku melanjutkan kuliahku dan bekerja.Setelah sekian lama, aku tumbuh dengan baik dan dewasa.Aku sudah memiliki semua yang aku inginkan.Jujur saja, setelah tahu kalau kau pindah ke Amerika, aku ikut kecewa.Semakin hari, aku semakin memikirkanmu.Dan saat aku sudah benar-benar matang dan mapan, aku berpikir untuk mengunjungi rumahmu.Tapi saat itu hanya ada Han Ahjussi dan Han Ahjumma karena Appamu sedang berada diluar kota.Mereka menceritakan semua tentangmu padaku dan mengizinkanku untuk masuk ke kamarmu.Disana aku melihat diarymu.Aku membaca semua isinya.Dihalaman terakhir aku melihat sebuah desain rumah dan dibawahnya bertuliskan `rumah masa depanku`.Sebenarnya rumah ini sudah selesai dua tahun yang lalu tapi semua pohon dan bunga-bunga baru tumbuh sempurna setahun terakhir…”

Si won kembali membuat Tiffany kehilangan kata-kata.Pria itu membangun rumah ini untuknya? Tidak mungkin.

“Kau tidak ingin masuk dan melihat isinya?…”Si won menggerakkan kepalanya sebagai isyarat agar Tiffany membuka pintunya.Tiffany menggangguk ragu.Dia masih belum bisa berpikir sekarang.

“Apa, kata sandinya?…”

“Tanggal lahirmu…”Tiffany menoleh tak percaya.

“Jjinja?…”

“Aku membangun rumah ini untuk istriku.Tentu segala hal yang ada dirumah ini harus mencerminkan dirinya, atau…”

Tiffany yang akan menyentuh angka 8 menghentikan gerakannya.Merasa kalau ucapan Si won jauh lebih menarik untuknya saat ini.

“Haruskah aku menggantinya dengan tanggal lahir selingkuhanku?…”bisik Si won.Tiffany tersenyum lalu mendorong dada pria itu pelan.

“Lakukan saja, aku tidak peduli…”balas Tiffany cuek dan segera menekan beberapa digit angka.

`Success`

“Terbuka…”Si won tersenyum melihat wajah bahagia Tiffany ketika pintu itu terbuka.Dia segera menyusul Tiffany masuk dengan koper ditangannya.

Tiffany terdiam melihat betapa indah dan mewahnya isi rumah itu.Apalagi ketika mendapati beberapa orang menyambut kedatangannya dan Si won.Seorang gadis muda memberinya sebuket bunga dan ucapan selamat.

“Selamat kembali dari bulan madu, Tuan dan Nyonya Choi.Dan selamat datang dirumah baru…”Empat wanita lainnya yang juga berada disana bertepuk tangan senang.

“Dan hidangan spesial untuk pengantin baru, sebentar lagi siap…”

Tiffany tersenyum haru saat Han Ahjumma muncul dari arah belakang.Dia tidak mampu mengatakan apa-apa.Untuk pertama kalinya hari ini, ia menatap mata Si won dalam.Berterima kasih atas semua yang telah dilakukan pria itu untuknya.

“Hanya untuk membuatmu lebih nyaman…”ucap Si won seakan mengerti maksud dari tatapan Tiffany.

“Kajja, kau harus melihat kamar kita…”

***Sifany***

Tiffany menatap kagum ruangan yang baru dibukakan Si won.Dalam ruangan yang cukup besar itu, terdapat sebuah ranjang besar yang sangat nyaman dengan berbagai furniture lain sebagai pelengkap.Namun, yang membuat Tiffany kagum bukan ranjang besar dan furniture mewah dan mahal yang ada didalam sana.Melainkan suasana kamar yang begitu nyaman dan sejuk.Pada dinding bagian depan dan sisi kanan kamar seluruhnya terbuat dari kaca.Jadi, dari sini dia bisa melihat keindahan alam dengan pepohonan hijau yang menyejukkan mata.Sungguh seperti rumah impiannya.

Si won menyibak gorden untuk membuka pintu kaca menuju balkon.Sementara Tiffany memilih membuka pintu lain yang ada disisi kiri kamar itu.

Ternyata ruangan yang dibuka Tiffany adalah kamar mandi.Tidak terlalu besar.Didalam sini ada wastafel, shower, tempat handuk, cermin dengan semua perlengkapan mandi serta bath-up.Yang membuat Tiffany sangat menyukai tempat ini adalah desainnya yang modern dengan warna putih dan abu-abu.Seperti halnya kamar, pada sisi depan kamar mandi ini juga berdinding kaca.Jadi ketika berendam dibath-upnya, Tiffany bisa menikmati pemandangan alam yang asri dan indah.

Tiffany melirik Si won yang tengah menikmati view terindah dikediaman baru mereka dari balkon.Wanita cantik itu tersenyum dan memilih bergabung.

“Kau suka dengan kamarnya?…”

Tiffany yang sudah berdiri disebelah Si won mengangguk.

“Syukurlah, berarti kita tidak harus merenovasi ulang…”Tiffany menatap Si won dengan pandangan terima kasih.Hatinya bertanya.Kenapa Si won begitu baik? Apa ini semua karena cintanya? Beruntung sekali dia kalau begitu.

Tiffany diam saja ketika Si won memeluk tubuhnya dari belakang.Dia bukannya tidak menyukai Si won menyentuhnya.Jujur saja, setelah peristiwa semalam, dia merasa mulai terbiasa dengan semua sentuhan Si won.Tapi tetap saja, dia masih merasa aneh dan gugup.

“Coba lihat disana…”Tiffany menurut dan melihat kearah yang ditunjuk Si won.Yaitu, bagian paling ujung dari halaman rumah mereka yang luas.

“Disana banyak bunga-bunga yang indah dan labirin yang luas.Puluhan ikan koi juga hidup dalam sungai buatan mengelilingi tempat itu.Kurasa, itu tempat yang paling cocok untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama anak-anak kita…”

Wajah Tiffany memerah.Pria itu bilang apa? Anak kita? Ya Tuhan, Tiffany sangat ingin menjerit.Dia tidak pernah merasa sebahagia ini.

Si won yang melihat itu ikut tersenyum.Tiba-tiba ia menyeringai dan menempelkan mulutnya ditelinga Tiffany.

“Kau tidak ingin mencoba ranjang baru kita?…”

Tubuh Tiffany menegang mendengar kalimat itu.Terlebih saat suara berat Si won dan nafas hangat pria itu menerpa kulit lehernya.

“Si-Si won…”

Suara Tiffany tertahan.Tangannya mendorong tubuh Si won agar pria itu menjauh darinya.Tapi pria itu malah beralih mencium leher putihnya.Tiffany menggigit bibirnya dengan mata terpejam.Sungguh, dia benar-benar tidak tahan dengan sentuhan Si won.Tiffany memang mengakui semua perasaannya pada pri itu sekarang.Tapi jujur, dia masih gugup setengah mati jika mereka melakukan kontak fisik seperti ini.

Tok Tok Tok

“Agasshi?…”

Si won menghentikan ciumannya ketika suara Han Ahjumma terdengar.Tiffany mengunakan kesempatan ini untuk menjauh namun Si won menahannya hingga ia tetap berada dalam dekapan tangan kokoh dan dada dibidangnya.

“Masuk saja, Ahjumma…”suruh Si won.Matanya melihat wajah Tiffany yang tegang.Sesaat ia tersenyum.Istrinya yang terkenal egois dan keras kepala itu ternyata sangat manis jika seperti ini.

Han Ahjumma masuk dengan dua helai handuk ditangannya.Si won menggenggam tangan Tiffany dan membawanya kembali masuk.

“Handuknya sudah siap, Tuan…”ucap Han Ahjumma meletakkan handuk berwarna putih dan super lembut itu diatas ranjang.

“Gumawoyo, Ahjumma…”Han Ahjumma tersenyum membalas ucapan Si won.Lalu beralih menatap Tiffany yang berdiri disebelah pria tinggi itu.

“Chukhae, Agasshi.Ahjumma sangat senang karena Agasshi bertemu dengan pria yang sangat baik…”Tiffany membalas tatapan Han Ahjumma lembut.

“Kalau begitu, nikmati waktu kalian berdua.Ahjumma akan turun…”

“Ne, Ahjumma.Gumawo…”Si won berseru kencang setalah Han Ahjumma menutup pintu.

“Kenapa denganmu?…”Tanya Tiffany.

“Kenapa denganku? Hei, kau tidak dengar kalau Han Ahjumma bilang, `nikmati waktu kalian berdua`”

Tiffany mencibir dan meraih handuknya lalu segera masuk ke kamar mandi dan menguncinya.

“Hei, Tiff.Aku juga ingin mandi…”ucap Si won mengetuk pintu kamar mandi.

“Kau cari saja kamar mandi lain!”balas Tiffany dari dalam.

Si won tersenyum saja.Langkahnya mendekati meja rias yang sudah dipenuhi oleh kosmetik serta parfum Tiffany lalu membuka lacinya.

“Terima kasih untuk infonya, Ahjumma…”ucap Si won sebelum mendekati pintu kamar mandi.Membukanya dan masuk.

“YA!”

***Sifany***

Mata indah Tiffany terbuka begitu sinar matahari masuk melalui jendela yang gordennya dibuka Si won.Wanita cantik itu menggeliat dan kembali memilih untuk memejamkan matanya yang masih terasa berat.Dia masih ingin tidur dan masih ingin merasakan kehangatan Si won ketika pria itu memeluknya.

“Sudah pagi, Fany-ah.Kau harus mandi dan sarapan…”Si won tersenyum melihat istrinya itu tak mendengarkannya sama sekali.Perlahan ia naik keatas ranjang.Berbaring menghadap Tiffany dan memeluknya hangat.

Tiffany tersenyum saja dalam pelukan hangat Si won.Dia senang karena pria itu tahu apa yang ia inginkan.Sepertinya dia memang tidak salah menyukai Si won sejak dulu.Pria itu baik, pengertian dan romantis seperti Appanya.Tapi, apakah Si won pria yang setia seperti Appanya?

“Sudah merasa cukup?…”Tiffany mengerucutkan bibirnya.Si won balas mencubit pipinya gemas.

“Hei, hari makin siang.Aku harus ke kantor, Fany-ah…”Tiffany mendorong dada Si won pelan dan berbalik memunggunginya.

“Tidak perlu memikirkanku.Kau pergi saja…”Pria itu hanya tersenyum dan memilih masuk kekamar mandi.

“Hei, kalau ingin bergabung juga tidak masalah…”Tiffany menggigit selimutnya mendengar ajakan pria itu.

“Tiff?…”

“Diam Si won!”Terdengar suara tawa Si won dari kamar mandi.Tiffany mendesis sebal dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

***Sifany***

“Amazing! Amazing! Amazing! Choi Si won benar-benar luar biasa, kau tahu?…”

Jessica mengangguk tanda ia tahu tentang itu.Dia sudah mengenal Si won sejak lama jadi tentu saja ia tahu betapa para wanita sangat menggilainya.Belum lagi Tiffany, wanita itu sejak tadi terus saja mengoceh tentang betapa luar biasanya seorang Choi Si won.

“Untuk kali ini, please.Katakan tidak…”Jessica menghela nafas.Kemudian mengangguk malas.

“Kau ingat tidak jika Si won akan melakukan apa saja jika aku menjadi istri yang baik?…”Jessica mengangguk.

“Dia mengerjakan semua pekerjaan rumah setelah malamnya kalian berciuman…”Tiffany mengangguk membenarkan.

“Dan saat aku memberikan diriku utuh,  kau tahu apa yang ku dapat?…”

“Apalagi menurutmu?…”Tanya Jessica menjurus pada hal negative.Gadis blonde itu tertawa saat menyadari raut kesal diwajah Tiffany.

“Aku serius, Jessie…”Jessica menghentikan tawanya seraya meminta maaf.

“Memang apa yang kau dapat? Mobil?…”Jessica bertanya usai menyeruput lattenya.Tiffany menggeleng.

“Perhiasan? Second honeymoon keluar negeri, samudera atau planet, mungkin…”Jessica tertawa puas melihat Tiffany yang benar-benar sudah kesal karena sikapnya.

“Mianhe, mianhe…”ujarnya dengan tawa yang masih tersisa.

“Memangnya apa yang kau dapat? Sepertinya sangat spesial sampai kau memuja Si won sampai sebegitunya…”

Tiffany tersenyum manis lalu bertepuk tangan riang.

“Kajja, aku akan menunjukkannya…”

***Sifany***

Jessica memperhatikan bangunan dihadapannya dengan kagum.Setelah sekian detik, kepalanya mengangguk paham mengingat betapa Tiffany sangat memuja pria itu sekarang.

“Dia membangun rumah impianmu? Namja yang baik.…”Puji Jessica sembari duduk dikursi.Mereka kini tengah duduk dihalaman belakang yang langsung menghadap sungai buatan selebar satu meter itu.Airnya yang jernih serta panjangnya yang mencapai seluruh pekarangan rumah itu membuat puluhan ikan koi tersebut berenang riang tanpa lelah.

Tiffany tersenyum manis dikursinya disebelah Jessica.Jessica yang menyadari itu berdecak gemas.

“Aish, jjinja…”gumannya pelan.

“Pantas kau tidak menampakkan diri selama seminggu penuh.Ternyata kau menghabiskan waktumu diistana baru…”Tiffany tersenyum saja.Dia memang tidak kemana-mana selama seminggu ini selain menghabiskan waktunya dirumah bersama Si won.

“Lalu, apa kau sudah menjadi istri yang baik?…”Pertanyaan Jessica membuat Tiffany menatap sahabatnya itu.

“Mwo?…”

“Mengingat dia sudah berbuat banyak untukmu, apa yang sudah kau lakukan untuk membalasnya…”Tiffany terdiam.Haruskah dia melakukan sesuatu?

“Misalnya?…”Jessica menghela nafas kasar.

“Kau tidak pernah berpikir untuk menjadi istri yang lebih baik dan manis?…”

“Uhm, kenapa harus begitu? Bukankah dia baik-baik saja selama ini?…”Jessica mengibaskan sebelah tangannya.Lelah.

“Lupakan saja…”

***Sifany***

Tiffany duduk diatas meja makan sambil memperhatikan Han Ahjumma mencuci piring sementara para pelayan lain sibuk dengan tugas masing-masing.

“Ahjumma, bagaimana cara menjadi istri yang baik?…”Pertanyaan itu membuat Han Ahjumma terkejut.Namun tak lama kemudian berganti dengan senyuman hangat.

“Apa yang dulu Ahjumma lakukan untuk membuat Han Ahjussi senang?…”Tiffany kembali bertanya.Han Ahjumma menerawang sejenak untuk mengingat masa-masa itu.

“Ahjumma tidak melakukan hal-hal yang khusus, Agasshi.Lagi pula, setiap orang memikili cara yang berbeda untuk menunjukkan kasih sayangnya.Ahjumma hanya mencoba untuk melakukan tugas istri dengan baik serta menyiap semua keperluan dan memasak untuknya…”

`Jadi, aku harus menyiapkan keperluan dan memasak untuk Si won?`pikir Tiffany.Tapi dia tidak bisa memasak.Sama sekali.

“Agasshi tidak perlu cemas memikirkannya.Agasshi berbeda dan Tuan Choi tahu itu.Selama ini Tuan Choi tidak pernah menuntut apapun, bukan?…”

Tiffany mengangguk.Si won memang tidak pernah menuntutnya untuk melakukan apapun.Namun entah mengapa ia merasa ingin melakukan sesuatu untuk Si won.Seperti kata Jessica, pria itu sudah berbuat banyak untuknya.

“Tapi, Ahjumma…”

“Ne, Agasshi?…”

Perempuan paruh baya itu menatap Tiffany yang masih setia duduk diatas meja makan.

“Aku ingin melakukan sesuatu untuk Si won.Bagaimana caranya?…”

Han Ahjumma tersenyum dan mendekat.

“Bagaimana dengan menyiapkan makan malam?…”usul Han Ahjumma semangat.

“Makan malam? Tapi aku…”

“Ahjumma akan membantu, Agasshi.Kajja…”Han Ahjumma menarik tangan Tiffany menuju dapur.Dipasangkannya apron pink ditubuh Tiffany dan mulai menyiapkan bahan.

Ini adalah untuk pertama kalinya Tiffany memasak.Walau agak kelimpungan tapi ia merasa sangat terbantu oleh Han Ahjumma yang selalu mengajarinya dengan sabar.Tak lama kemudian makanan yang dibuat Tiffany sudah tersaji dimeja makan.Tiffany tersenyum senang melihat hasil kerja kerasnya.Sekarang ia harus mandi dan menunggu pria itu pulang dari kantor.

***Sifany***

Makanan yang  disajikan Tiffany dimeja makan sudah dingin.Diruang tengah itu, Tiffany tampak mondar-mandir gelisah.Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam waktu KST.Namun Si won belum juga tampak batang hidungnya.Padahal biasanya pria itu sudah ada dirumah sebelum jam makan malam tiba.

Han Ahjumma yang dari tadi memperhatikan Tiffany dari dapur mendekat untuk menghampirinya.

“Apa Ahjumma sudah menelfon Han Ahjussi?…”Tanya Tiffany begitu Han Ahjumma mendekat.Perempuan itu mengangguk.

“Lalu, kapan Si won pulang?…”

“Tuan Choi belum bisa pulang, Agasshi.Masih ada beberapa hal yang harus beliau kerjakan di luar…”

“Wae?…”Tanya Tiffany.Dia tidak suka diperlakukan seperti ini.Dia sudah bersusah payah menyiapkan makan malam dan menunggu.

“Sebaiknya Agasshi istirahat dikamar.Ahjumma akan bangunkan jika Tuan Choi sudah pulang…”

Tidak ada pilihan lain.Tiffany memilih masuk ke kamarnya dan tidur.Dia sudah sangat lelah dan mengantuk menunggu Si won sejak lima jam yang lalu.

***Sifany***

Paginya, Tiffany terbangun ketika alarm dari ponselnya berbunyi.Saat membuka mata, ia tidak melihat ada Si won disebelahnya.Melainkan hanya sebuket mawar merah dengan kartu bertuliskan…

`I Love You`

“Ck, aku sudah bilang kalau aku tidak makan bunga…”gerutunya sembari menyambar bunga itu dan dengan cepat menuruni tangga.

“Ahjumma!”Panggil Tiffany begitu melihat Han Ahjumma muncul dari arah depan.

“Agasshi sudah bangun?…”

“Dimana Si won?…”tanya Tiffany cepat.

“Tuan Choi? Mianhe, Agasshi.Tuan Choi baru saja berangkat ke kantor…”Wajah Tiffany menegang menahan marah.

“Mwo?…”Tiffany tidak habis pikir.Apa sebenarnya yang dilakukan pria itu sampai ia tidak bisa bertemu dengannya?

“Tidak perlu khawatir, Agasshi.Tuan Choi hanya terlalu sibuk dengan proyek baru mereka.Karena ini proyek besar jadi mereka harus bekerja ekstra…”Han Ahjumma mencoba menjelaskan agar Tiffany tidak salah paham.

“Lalu, makan malamnya?…”Han Ahjumma tersenyum.

“Ahjumma sudah menghangatkannya dan Tuan Choi memakan semuanya…”

“Jjeongmal? Lalu dia bilang apa?…”

“Eiyy, tentu saja enak.Siapa yang berani memprotes masakan Tiffany Choi?…”Tiffany hanya tersenyum kecil.Walau ia yakin kalau Han Ahjumma tidak berbohong namun tetap saja dia ingin mendengar pujian itu langsung dari Si won.

“Dan ini…”Han Ahjumma mengambil sebuah undangan dari atas meja yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Ada pameran berbagai merek perhiasan hari ini.Tuan Choi bilang, Agasshi boleh membeli sebanyak yang Agasshi mau…”

Tiffany menerima undangan itu dari Han Ahjumma.Entah kenapa untuk pertama kalinya ia sama sekali tidak tertarik dengan kata berbelanja.

***Sifany***

“Jess, jebal.Aku sangat bosan dirumah.Temani aku ke pameran perhiasan di Gangnam, ne?…”Terdengar helaan nafas dari seberang telfonnya.

“Maaf, Tiff.Aku bukannya tidak ingin menemanimu tapi aku sedang sibuk sekarang…”

“Sibuk dengan ikan itu maksudmu?…”Jessica tertawa.Tangannya yang sedang membuat pola desainnya terhenti sejenak.

“Sayangnya ikan yang kau maksud sedang berada diluar kota…”Tiffany mendengus.

“Ya, sudah.Aku pergi sendiri saja.Aku juga sudah terlanjur sampai…”

“Oh Jjinja? Ku pikir kau masih di istanamu…”

“Anni.Kalau begitu aku tutup telfonnya.Eoh, bye…”

Tiffany memasukkan ponsel itu kedalam handbagnya.Kemudian ia masuk kesebuah gedung tempat dimana acara itu berlangsung.Sepertinya acara sudah mulai sejak tadi, buktinya semua orang kini asyik melihat-lihat berbagai macam perhiasan yang dipamerkan dalam etalase-etalase kaca.

Tiffany baru akan melangkahkan kakinya memasuki stand dengan brand Tiffany & Co, ketika seorang wanita memanggil namanya.

Tiffany memperhatikan wanita yang tersenyum sok manis itu dengan kening berkerut.Berusaha untuk mengingat apakah mereka saling kenal atau tidak.

“Aku Min hee.Temanmu sewaktu masih dibangku junior high school dulu…”ucapnya mengingatkan.

Kening Tiffany makin berkerut.

“Min hee? Temanku? Aku tidak ingat kalau aku memiliki teman dengan nama itu…”Wanita itu tersenyum sinis dan menyampirkan rambutnya sok anggun.Dan Tiffany benci itu.

Wanita dengan perhiasan yang mencolok dan berlebihan itu tertawa.Membuat Tiffany sangat muak berada didekatnya.

“Kau benar.Kita mamang tidak berteman, lebih tepatnya…ber-mu-su-han…”

Tiffany hanya tersenyum kecut.Tepat sekali.Mereka adalah musuh bebuyutan yang selalu ingin lebih hebat dari siapapun.

“Oh, ya. Ku dengar kau sudah menikah.Chukkae, aku ikut bahagia meski tidak diundang…”Keduanya saling memberi senyuman sinis.

“Mianhe, pesta pernikahan kami hanya untuk keluarga, relasi bisnis dan sahabat dekat.Orang sok kaya dan sok cantik sepertimu tidak pantas menghadirinya…”

“Mwo?…”Tiffany menyadari kalau emosi wanita itu meningkat.Ia bisa melihat wajah gadis itu merah padam menahan amarah.

“Mwo? Memang benarkan? Kau sok kaya padahal Appamu hanya seorang manager diperusahaan kecil.Kau sok cantik padahal itu hanya hasil operasi plastik.Aku masih ingat bagaimana wajah jelekmu dulu…”

“Mwo?…”

Min hee mengepalkan tangannya.Tidak terima dihina seperti ini ketika  pertengkaran mereka sudah menyita perhatian pengunjung pameran lainnya.Min hee tersenyum dan menggemeretakkan giginya menahan amarah.

“Fany-ah, apa yang kau bicarakan?…”Tanyanya berusaha untuk tersenyum kearah semua orang.Berharap orang-orang tak berkepentingan itu pergi dan meninggalkannya hanya bersama gadis angkuh yang sedang tersenyum puas dihadapannya.

“Wae, kau merasa malu?…”Tanya Tiffany.Min hee yang awalnya ketakutan seketika tersenyum manis.

“Anni, kenapa aku harus malu? Bukankah yang harusnya malu itu, kau?…”

“Mwo? Memangnya kenapa denganku?…”tanya Tiffany tak terima.

“Sepertinya aku ingat kalau dulu kau pernah menyatakan perasaanmu pada seorang sunbae dan dia menolakmu.Lalu karena malu, kau pindah ke Amerika.Tapi saat kau kembali, dia datang dan menikahimu.Tidakkah kau tahu, dia menikahimu bukan karena mencintaimu.Dia hanya kasihan denganmu!”

“Apa yang aku bicarakan? Si won menikahiku bukan karena kasihan padaku!”marah Tiffany.Ia jelas tahu alasan kenapa Si won menikahinya.

“Lalu, karena ia mencintaimu? Tapi kenapa kau datang sendiri sementara semua orang datang dengan pasangan masing-masing?…”

“Mwo?…”

Tiffany naik darah saat melihat senyum puas diwajah menyebalkan wanita itu.Tanpa pikir panjang, Tiffany meraih vas berisi tanaman hias disebelahnya.Reflek, Min hee menghindar.Vas itu melayang kemudian menghantam kaca etalase dan jatuh menimpa deretan perhiasan mahal itu.Lalu semuanya hancur.

***Sifany***

Tiffany terus menuduk dalam diam.Dia masih menunggu Si won yang masih berbicara dengan pemillik gedung, polisi, pihak keamanan, direktur dari brand ternama itu serta panitia penyelenggara pameran tentang insiden yang tadi ia sebabkan.Saat orang-orang datang untuk melihat kekacauan itu, hanya ada dia di TKP karena Min hee sudah pergi meninggalkannya.

Tiffany bangkit ketika pintu terbuka.Si won menatapnya sekilas sebelum akhirnya melangkah pergi.Tiffany melangkah kecil mengikutinya.Sejak datang, Si won memang tidak mengatakan apapun padanya.Mungkinkah pria marah padanya? Apa uang ganti ruginya sangat mahal?

***Sifany***

Mereka tiba dirumah.Han Ahjussi membukakan pintu untuk keduanya dan Han Ahjumma menyambut mereka dengan wajah cemas.

“Agasshi, gwenchana? Apa ada yang luka?…”Tiffany tersenyum dan menggeleng.

“Aniyo, Ahjumma.Aku baik-baik saja.Tidak perlu khawatir…”

Tiffany memperhatikan Si won yang sudah menaiki tangga.Ia menggigit bibir bawahnya.

“Ahjussi, apa Si won marah padaku?…”Han Ahjussi tersenyum ditempatnya.

“Tidak mungkin, Agasshi.Tuan Choi hanya kelelahan karena kesibukannya akhir-akhir ini…’Tiffany menghela nafas.Ia merasa sangat bersalah pada Si won.Haruskah ia minta maaf?

“Sebaiknya Agasshi kekamar dan beristirahat.Ahjumma akan menyiapkan makan malam…”

Tiffany mengangguk pelan dan mulai menapaki anak tangga.Untuk pertama kalinya ia merasa takut untuk bertemu pria itu.

***Sifany***

Bibir Tiffany mengulum ujung sumpit yang sudah masuk kemulutnya.Matanya masih mencuri pandang kearah Si won yang tampak sibuk dengan ponselnya.Sejak ia turun, pria itu hanya baru memberinya sebuah senyuman singkat tanpa sepatah kata pun.Selalu saja sibuk dengan ponselnya dan membicarakan pekerjaan dan pekerjaan.Apa mereka tidak punya topik lain? Tentang masalah kemarin, mungkin?

“Apa nasinya terasa aneh, Agasshi?…”Han Ahjumma yang tengah menuangkan air putih untuk Si won bertanya ketika menyadari kalau mangkuk Tiffany masih penuh.Si won yang mendengar itu pun ikut melirik mangkuk Tiffany.

“Kau harus banyak makan agar tetap sehat, Fany-ah…”

“A—“

“Ne, Predir Park, aku mengerti.Ne, kami akan menemui pihak Haeshin Group untuk membahas hal ini lebih lanjut…”

Tiffany meletakkan sumpitnya.Dia sudah terlalu malas untuk melanjutkan sarapannya.

Si won mematikan telfonnya begitu pembicaraan mereka usai.Diraihnya jas dan tas kerjanya sebelum mencium puncak kepala Tiffany sekilas.

“Hati-hatilah dirumah.Aku pergi…”

Tiffany menatap kepergian Si won tak percaya.Hanya itu? Hanya kalimat itu yang ia ucapkan setelah mereka jarang bertemu beberapa hari ini serta insiden yang terjadi kemarin? Tiffany memang takut jika Si won memarahinya tapi setidaknya itu lebih baik dari pada pria itu hanya mendiami dan mengacuhkannya seperti ini.

***Sifany***

Seminggu berikutnya hal yang sama selalu berulang.Si won tidak banyak bicara seperti biasanya.Si won selalu pulang  ketika Tiffany sudah tidur dan sudah pergi saat Tiffany membuka mata.

Tiffany melangkah cepat diantara pejalan kaki lainnya.Hari ini dia akan menumui Si won dikantornya.Tiffany awalnya mencoba mengerti sebab Han Ahjumma selalu menyuruhnya untuk memahami kesibukan Si won.Ok, Tiffany tahu itu.Sangat tahu.Tapi tidak saat matanya mendapati sosok yang ia rindukan itu tengah tertawa bahagia disebuah café yang kebetulan dilaluinya.

Tiffany hanya diam mematung untuk beberapa detik.Melihat bagaimana dua orang itu tertawa bersama membuat hatinya sakit bagai diiris-iris.Apa pria itu tidak tahu bagaimana ia menjalani harinya akhir-akhir ini? Apa pria itu marah dan tidak mau bertemu dengannya hanya karena insiden ditempat pameran itu?

Amarah Tiffany memuncak.Sudah lama sekali dia tidak menjambak rambut orang.

Tiffany masuk dengan cepat tanpa menghiraukan  sambutan pelayan dipintu masuk.Langkahnya menuju meja dimana Si won kini tengah berbincang akrab dengan teman wanitanya tersebut.

Si won mendongak ketika menyadari seseorang berdiri didekat meja mereka.Setelah menyadari siapa orang itu, Si won sempat terkejut.Kenapa Tiffany ada disini? Namun ia segera bangkit dan tersenyum kearah Tiffany.

“Fany-ah? Kau disini?…”Senyum diwajah Si won  turun ketika menyadari tatapan tak bersahabat Tiffany.

“Tiff, gwenchana?…”Si won mencoba menyentuh bahu Tiffany tapi Tiffany menepis tangannya.Pandangannya tertuju pada wanita yang bersama Si won.

Wanita berambut sebahu itu bangkit dari kursinya dan memberikan salam.Tentu dia tahu siapa wanita yang menghampiri mejanya dan Si won itu.

“Annyeong haseyo, Tiffany-ssi.Aku Shin ji hyun dari Group-Akh!”Wanita 26 tahun itu menjerit histeris ketika tiba-tiba Tiffany menjambak rambutnya.Si won lebih terkejut lagi.Apa yang membuat Tiffany sampai berbuat seperti ini pada kliennya?

***Sifany***

Tiffany terduduk diranjang.Dia melipat tangannya didada dan membuang muka.Dihadapannya, tampak Si won yang tengah berkacak pinggang dan mengatur nafasnya berkali-kali.

“Kau harus minta maaf padanya…”Tiffany tersenyum kecut.

“Tidak akan pernah!”

“Tiff, aku mohon.Kau sudah dewasa dan berpikirlah.Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?…”

“Ne, aku menjambak rambut dan memaki selingkuhanmu…”

“Demi Tuhan, Tiffany.Aku tidak berselingkuh…”

“Mana ada maling yang mengaku? Kau berselingkuh dengannnya Si won!”

“Kami tidak berselingkuh.Dia klienku dan kami hanya bertemu untuk urusan bisnis…”

“Bisnis diatas ranjang maksudmu?…”Si won berusaha sekuat tenaga untuk menahan dirinya agar tidak terpancing emosi.Jangan sampai ia menggunakan kekerasan disaat seperti ini.

Si won menghirup banyak-banyak oksigen untuk membuatnya lebih tenang.Setelah dirasa cukup, dia mendudukkan dirinya disebelah Tiffany dan menatapnya.

“Baik, sekarang katakan padaku.Kenapa kau berpendapat kalau aku berselingkuh?…”

“Kau selalu pulang malam!”

Si won mengangguk.Dia mengakui itu karena sekarang ia sedang sibuk-sibuknya untuk merampungkan proyek baru mereka.Tapi dia sudah meminta pada Han Ahjussi dan Han Ahjumma untuk memberi Tiffany pengertian dan penjelasan.Dia akui dia salah.Harusnya dia sendiri yang menjelaskannya pada Tiffany.

“Lalu?…”

“Kau berubah, Si won.Kau tidak mau lagi bicara padaku.Kau tidak peduli lagi  dengan istrimu!”

“Memangnya sejak kapan kau peduli kalau kau istriku?…”Pertanyaan itu sontak membuat Tiffany shock bukan main.

“Si won…”

“Kau selalu saja membuatku cemas dengan masalah-masalah yang kau buat.Kau tahu kalau aku sangat pusing dan sibuk dengan urusanku? Banyak hal yang harus ku selesaikan selain hanya untuk mengurus masalah yang kau timbulkan, Fany-ah…”

Air mata Tiffany mengalir deras.Tidak mungkin.Telinganya pasti salah mendengar.Si won tidak akan berkata sejahat ini padanya, bukan?

Tiffany menutup mulutnya dan menangis sejadi-jadinya.Dia tidak percaya dengan semua ini.Jadi apa arti dari sikap baik pria itu selama ini? Apa manisnya rumah tangga mereka hanya diawal pernikahan saja?

Si won mencoba untuk merangkul bahu Tiffany dan memeluknya.Dia tahu kalau dia salah dan sangat jahat telah mengatakan hal seperti itu.Jujur saja, tadi Si won hanya terbawa emosi.

“Aku minta maaf.Aku tidak bermaksud mengatakan kalimat sejahat itu.Mianhe…”Sesal Si won.Wajar jika Tiffany merasa terabaikan karena ia sangat sibuk akhir-akhir ini.

Tiffany mendorong Si won agar pria itu menjauh darinya.

“Aku benci kau, Si won!”Tiffany mengucapkan kalimat itu sebelum akhirnya berlari keluar kamar dan menghilang.

Si won hanya diam saat Tiffany pergi meninggalkannya.Dia bukannya tidak ingin mengejar tapi ia tahu kalau Tiffany pasti butuh waktu untuk sendiri.Lagi pula Si won tahu kalau ia sudah menyakiti perasaan wanita itu.

***Sifany***

Malam sudah larut namun Tiffany belum juga muncul.Si won dan pasangan Han beserta pelayan lainnya mencoba untuk mencari Tiffany diseluruh penjuru rumah besar itu.Namun dari tadi tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Tiffany.

“Apa sebenarnya yang terjadi, Tuan?…”Tanya Han Ahjumma.Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Tiffany sekarang.

“Kami hanya bertengkar kecil, Ahjumma…”jawab Si won sekenanya.Dia tidak mau orang-orang khawatir dan ikut mencemaskan masalah mereka.

“Ada baiknya jika melihat CCTV, Tuan.Siapa tahu Tiffany Agasshi, keluar…”Si won mengangguk setuju dengan usulan Han Ahjussi.Mereka lalu bergegas menuju pos keamanan untuk melihat rekaman dari kamera pengintai itu.

“Omo! Agasshi, pergi.Apa yang harus kita lakukan? Ini sudah malam dan dimana ia sekarang?…”Han Ahjumma panik ketika melihat Tiffany berlari keluar dari pintu gerbang utama.Sementara security yang bertugas ditempat itu merasa sangat bersalah karena ia tidak ada ditempat ketika Tiffany kabur.

“Maafkan saya, Tuan…”Si won mengangguk dan menepuk pelan bahu pria muda itu.

“Gwenchana.Kembalilah bekerja.Aku akan mencari Tiffany…”

“Saya akan menemani Tuan untuk mencari Tiffany Agasshi…”

“Gumawoyo, Ahjussi.Tapi tidak usah.Aku akan mencarinya sendiri saja…”

Si won baru akan masuk ke dalam Audinya ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.Dari Ayah mertuanya.

`Tidak perlu mencari Tiffany.Dia disini.Kau istirahat saja dan datang besok pagi`

Si won menggenggam ponsel itu dengan senyum lega.Setidaknya ia senang karena Tiffany baik-baik saja dan berada ditempat yang aman.

***Sifany***

Tuan Hwang tertawa usai meneguk minumannya.Diletakkannya kembali cangkir keramik itu diatas meja dan tersenyum kearah Si won.

“Aku sudah mengatakan sejak dulu, bukan? Putriku bukan gadis biasa, Si won-ah…”Si won tersenyum menatap wajah Ayah mertuanya.

“Kami pindah ke Korea ketika umurnya menginjak usia 11 tahun.Waktu itu, sepulang sekolah, ia tiba-tiba merengek agar kami pindah ke Seoul.Usut punya usut, ternyata keluarga Jessica akan pindah jadi dia ingin kami ikut.Dia dan Jessica sudah dekat sejak mereka masih kecil, dan Jessicalah temannya saat matahari mulai terbit sampai terbenam lagi…”Si won menyimak cerita Tuan Hwang dengan baik.

“Hari itu juga kami pundah ke Korea.Dia sangat senang karena dia juga bisa bertemu dengan keluarga kami disini.Awalnya, dia adalah gadis kecil yang sangat manis dan baik, tapi setelah Oemma-nya meninggal, dia menjadi lebih keras dan tidak peduli.Karena aku juga terlalu memanjakannya, sifatnya malah semakin menjadi.Aku tahu kalau kau kecewa…”

“Aniyo, abbonim.Aku menyukai semua yang ada padanya.Selain kecantikan dan senyumannya, jujur saja, aku merasa lebih suka dengan sifat egois, keras kepala dan malu-malu maunya…”Tuan Hwang tertawa mendengar kalimat terakhir Si won.

“Hahaha.Walau bagaimana pun, terima kasih sudah mencintai putriku yang memiliki banyak kekurangan…”ucapnya menatap mata Si won tulus dan Si won membalasnya lembut.

`Aniyo, abbonim.Dia memiliki banyak kelebihan untuk membuatku jatuh cinta padanya.Hanya padanya`.

***Sifany***

Tiffany berbaring malas diranjang sambil membolak-balik majalahnya.Tidak ada satu hal pun yang menarik untuk dia lakukan.Pagi ini dia terbangun tanpa Si won disampingnya.Hatinya merasa sangat asing.Walau akhir-akhir ini dia juga terbangun dengan keadaan yang sama tapi tetap terasa aneh karena ini bukan kamar mereka.

Tapi sepertinya ia harus melupakan pria itu untuk sementara waktu.Jujur saja, Tiffany sangat terluka dengan ucapan Si won semalam.Dia tidak menyangka kalau Si won akan sekasar itu.Namun setelah ia pikir-pikir, semua yang dikatakan pria itu benar.Lagi pula, ucapannya terhadap Si won  jauh lebih kasar.Dan dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat  merindukan pria itu sekarang!

Tiffany menoleh ketika pintu kamarnya terbuka.Seorang pelayan yang akan mengambil pakaian kotor Tiffany masuk.

“Dimana Appa?…”

“Tuan Hwang ada diruang tengah, Agasshi…”jawabnya lembut dan sopan.

“Wae, apa dia sedang ada tamu?…”

“Ne, Agasshi.Tuan Choi Si won datang berkunjung…”

Tiffany sontak bangkit dan meninggalkan majalahnya.Tanpa sadar ia keluar dan  berlari turun.Kesadarannya baru muncul ketika matanya dan mata Si won bertemu.Dan saat pria itu tersenyum, ia memalingkan wajahnya dengan kesal.

“Untuk apa dia datang kesini, Appa? Suruh saja dia pulang…”suruh  Tiffany mengambil tempat disamping Appanya.

Tuan Hwang menatap putrinya dengan gelengan pelan.Namun dia tidak ingin ikut campur dengan rumah tangga anak dan menantunya.Biar saja mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Tuan Hwang bangkit dari sofanya lalu menatap Si won.

“Bicarakan dan selesaikan masalah kalian baik-baik…”pesannya.

Si won membungkuk hormat pada Tuan Hwang.Setelah itu dia kembali duduk disofanya dan tersenyum karena Tiffany kembali memalingkan wajah darinya.

“Apa sebaiknya aku pergi sekarang?…”Si won mencoba menggoda.Tiffany mencibir tak peduli.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi…”Si won bangkit dan berbalik.Tiffany yang melihat itu sontak berdiri dan berteriak.

“Ya!”Si won tersenyum mendengar suara itu dan kembali berbalik.Tiffany memandangnya dengan mata berkaca-kaca kemudian mendekat untuk memeluknya.Si won tertawa dibuatnya.

“Mianhe, kau pasti marah mendengar ucapanku semalam.Aku tahu aku salah jadi aku tidak akan membela diri.Aku minta maaf.Hm?…”ucap Si won sembari mengelus lembut punggung serta kepala Tiffany.

Tiffany mengangguk dalam pelukan Si won.

“Aku juga, minta maaf…”ucapnya pelan.Si won tersenyum.

“Iya, Fany-ah.Aku memaafkanmu.Kita pulang sekarang?….”Tiffany kembali mengangguk dalam dekapan hangat Si won.Si won melepaskan pelukan mereka dan menghapus air mata dipipi Tiffany.

“Kau tahu, rumah terasa sangat sepi tanpamu…”Tiffany tersenyum mendengarnya.

“Aku juga merasa ada yang berbeda pagi ini…”akunya.Si won menaikkan sebelah alisnya dengan mulut terbuka.

“Seorang Tiffany merindukanku? Woah, aku merasa sangat tersanjung…”

Tiffany memukul dada Si won sekuat tenaganya.Tapi tetap saja pria itu hanya tertawa karena pukulan itu terasa seperti tepukan kecil ditubuhnya.

“Kajja…”ajak Si won seraya memberikan tangan kanannya.Tiffany tersenyum dan menerimanya dengan senang hati.

***Sifany***

Si won dan Tiffany menghabiskan weekend mereka dihalaman belakang rumah.Pasangan itu tengah tiduran diatas rerumputan sementara para pelayan sibuk menyiapkan meja untuk sarapan.Si won bahagia dengan Tiffany disisinya begitu pula Tiffany.Walau kejadian memalukan sepuluh tahun lalu banyak membuatnya menderita tapi ia sangat bersyukur.Karena kenangan itulah yang membawanya kembali dan bersama Si won.

“Si won, kalau tidak karena kejadian sepuluh tahun lalu, apakah mungkin kalau kita akan bersama seperti ini?…”

Si won yang mendapat pertanyaan itu tersenyum.Dia merubah posisi tidurnya dan berbaring menghadap Tiffany.Tiffany ikut menatapnya.

“Walau bukan karena kejadian sepuluh tahun lalu, kalau kita memang berjodoh kita akan tetap bersama.Tapi mungkin, caranya saja yang akan berbeda…”

“Cara yang berbeda?…”Si won mengangguk dan tampak berpikir.

“Uhm, bisa dengan cara yang lebih manis atau mungkin lebih konyol…”

“Lebih konyol? Maksudnya?…”Tanya Tiffany lagi.

“Mungkin saja, kau menyewa salah satu stasuin TV lalu datang kekantorku dan memintaku untuk menikahimu…”

“Mwo?…”Si won tertawa puas ketika Tiffany memukul dadanya.

“Ya! Itu tidak mungkin.Walau aku terkadang keras kepala dan egois tapi aku tidak sekonyol itu…”bela Tiffany.

“Benarkah? Aku tidak yakin.Lalu apa yang kau lakukan sepuluh tahu lalu.Itu juga sangat konyol dan memalukan, Fany-ah…”

“Andwae! Kalau bukan seperti sepuluh tahun lalu pasti kau yang mengejar-ngejarku dan memohon-mohon padaku agar aku mau menikah denganmu…”

“Kenapa begitu?…”Tanya Si won.Tiffany memalingkan wajahnya.

“Tidak ada.Hanya saja kalau aku yakin akan seperti itu…”jawabnya.

Si won tersenyum.Tangannya terangkat lalu memeluk Tiffany dengan hangat.

“Hm, kau benar.Kalau bukan kau yang menyatakan perasaanmu, pasti aku yang mengerjar-ngejarmu…”

Tiffany tersenyum dalam pelukan Si won.Tidak peduli siapa yang mengejar siapa.Yang pasti dia sangat bahagia karena kini ia bisa bersama Si won selamanya.Sejak pertengkaran mereka, Si won memang menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya.Sesibuk apapun ia pasti menyempatkan diri untuk menelfon Tiffany.Si won juga sudah pulang dari kantor sebelum jam makan malam tiba.Kalau dia ada kunjungan kerja keluar kota atau keluar negeri, tentu saja Tiffany ikut.Dan Tiffany juga sudah meminta maaf pada wanita yang ia tuduh sebagai selingkuhan Si won itu.

“Hei, kalian.Cepat kesini dan jangan bermesraan terus.Mataku sakit melihatnya…”Keduanya menoleh saat mendengar teriakan itu.Tiffany melihat Dong hae, Jessica serta Yoona dan Yuri yang sudah mengambil tempat dikursi masing-masing.

“Ya! Apa yang kau lakukan dirumahku? Aku tidak mengundangmu…”kesal Tiffany.Dia bangkit dan mendekati meja yang sudah dipenuhi oleh makanan itu.

“Aku memang tidak memenuhi undanganmu tapi aku diundang Si won.Lagi pula kau tega sekali, mengadakan pesta rumah baru tanpa mengundangku…”

“Memangnya kau siapa sampai aku harus mengundangmu?…”Tanya Tiffany tak mau kalah.Dong hae tampak menghela nafas.Semua orang yang ada disitu hanya tersenyum.

“Fany-ah, aku ini kekasih sahabatmu.Jessica pasti sedih karena kau tidak pernah bersikap baik padaku.Bukan begitu, honey?…”Tiffany menepis tangan Dong hae yang menyentuh tangan Jessica.Jessica yang melihat itu hanya tersenyum.Dong hae kembali menghela nafas.

“Si won, bicaralah pada istrimu itu dan minta dia untuk tidak membenciku lagi.Dia membenciku karena aku berteman dengan pria yang dulu menolak cintanya.Tapi sekarang hubungan kalian sudah harmonis, bukan? Tolong katakan padanya untuk bersikap lebih baik dan sopan padaku…”

“Tidak perlu khawatir, Hyung.Aku bisa menjamin hal itu…”balas Si won santai.Yuri tersenyum sementara Yoona tampak masih mengagumi bangunan dihadapannya.

“Oppa, jika seandainya takdir berkata lain dan kalian tidak ditakdirkan untuk bersama.Akan kau apakan rumah ini?…”Si won terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan Yoona.

“Entahlah, terkadang aku juga sempat memikirkannya.Tapi yang jelas, jika seandainya pernikahan ini tidak terjadi aku tidak akan tinggal disini dengan wanita lain…”jawabnya.

“Mudah saja.Tinggal jual padaku dan aku akan tinggal disini bersama Jessica…”Tiffany menatap Dong hae tajam.

“Ck, dasar tidak punya modal.Kenapa kau harus memberikan Jessica rumah yang tidak diinginkan orang lain?…”

“Memangnya kenapa? Dari pada rumah ini tidak dipakai?…”

“Tunda dulu pertengkaran kalian, Unnie.Aku sudah sangat lapar…”ucap Yoona meraih daging sapi panggang dengan sumpitnya.Yuri pun mengikutinya.Sementara Jessica lebih memilih menyiapkan piring untuk Tiffany.

“Ini, kau harus banyak makan, Fany-ah…”Jessica menyodorkan piring berisi daging ikan.Tiffany tiba-tiba merasakan sesuatu diperutnya.Indera penciumannya mencium sesuatu yang sangat tidak bisa diterima oleh dihidungnya.

“Huekkk!”

Tiffany menutup mulutnya dan segera berlari meninggalkan meja serta orang-orang yang menatapnya dengan cemas.Han Ahjumma yang sedang menyiapkan kimchi dengan beberapa pelayan lain tampak tersenyum.Tak terkecuali dengan Si won dan rekan-rekannya.

“Omo, rencana kita berhasil…”sorak Yuri kegirangan.Yoona yang tengah mengunyah dagingnya tampak tersenyum mengiyakan mengingat apa yang mereka bicarakan diclub malam itu.

Dong hae meninju bahu Si won.

“Selamat, Si won-ah.Kau memang hebat…”ucapnya ikut bahagia.

“Aigo, sepertinya aku harus mulai mendesain baju bayi…”ucap Jessica tak kalah semangat.

Si won tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.

“Kalau begitu nikmati makanan kalian.Aku akan ke dalam sebentar…”

“Tentu.Tidak perlu khawatir dengan makananmu, Oppa.Dan Fany Unnie akan baik-baik saja…”jawab Yoona disambut tawa dan anggukan yang lain.

Dengan senyum lebar dan hati yang berdebar-debar, Si won segera masuk untuk melihat keadaan Tiffany diikuti Han Ahjumma.Akhirnya, rumah dan taman mereka akan segera dihiasi tawa dan tangis bayi.Sungguh seperti apa yang selama ini ia impikan.Hidup bersama wanita yang dicintainya, diistana mereka dan bersama anak-anak mereka.

END

Ok readers, ini untuk part 2-nya, semoga tidak mengecewakan ya…

Maaf, kalau dipart sebelumnya banyak yang  merasa bingung pada bagian akhirnya.Aku buat kayak gitu biar agak beda aja, mian kalau jadinya aneh, wkwkwk.Dan untuk bermimpi didalam mimpi? Tidakkah kalian pernah mengalaminya?

Dan juga untuk yang minta baby Lauren, mian aku belum bisa bikin di ff ini.Tapi tenang aja, aku bakal bikin di ff lain.Dan aku bukannya tidak menghormati tragedy kapal feri Sewol#siapatahuadayangkurangsukakarenaakupakaikapalferidisini

Ff ini sudah ada sebelum you are mine-ku yg pertama, jauh, jauuhhh banget sebelum tragedy itu cuma belum selesai aja, jadi mohon pengertiannya.

Terima kasih untuk readers yang sudah menyukai ff ini.Thanks for reading.Keep RCL and bye…

137 thoughts on “(AR) Embrassed Memory Part 2 -End

  1. aaaaaaaaaaaaa finally akhirnya mereka bersatu. so sweet bgt sih mereka ini. gregetan deh liatnya. yaa tiff jgn gitu dong sama donghae. relakan donghae sama jessie yaa. hahhahahah keren thor😀

  2. suerrr ini ff bagus gilak,,, berasa nonton drama korea…ihhh manis bgt ceritanya,,ketawa” sendiri saat baca..kkkk sequel yah thor?? harus.🙂

  3. Ka jani tangannya terbuat dari apa sih ? Aku pengen liat deh tangan author ..
    Jeongmal jinjja-yo ini fanfic keren banget , aku ga ngerti mesti komen dr mana tapi yg jelas aku bener-bener suka ceritanya , author jagonya bikin cerita full of sifany’s sweet moments , seluruh isi cerita ada sifany dan sifany yg manis dan semakin manis , dibuat terharu dan seneng sekaligus ketika baca ..
    Waaah kalo ff ini udh lama author tulis berarti sepertinya banyak ff sifany yg author punya , penasaran jadinya , aku tunggu next ff’nya yah author , terimakasih untuk manis fanfic’nya , hwaiting ♡

  4. seperti biasa, jani eonni ini sweet banget kalo buat fanfic, daebak, gaktau harus koment apa, ditunggu ffnya yang lebih manis eon^^ hwaiting!!!! :))

  5. Huuuwaaah so sweet ! Keren banget thor ! Ihh jadi pengen deh kaya gitu😀. Ceritanya keewren !
    Okesip goodjob buat authornim ! Fighting buat ff sifany lainnya. Sequel dong thor *tetep*

  6. hahahahaha tuh kan siwon oppa nyolot banget🙂
    suka banget sama hubungan siwon oppa dan fany unnie yang sweet dan romantis tapi koplak pakai BGT😀
    beruntung sekali fany unnie apapun di kasi sama siwon oppa,,
    itu anaknya siwon oppa dan fany unnie cewe atau cowo yaa ?? semoga ada kelanjutan cerita nya ^^
    gomawo buat admin yang udah nulis ff selucu dan sweet banget ini dan gomawo admin yang ngepost ff ^^
    SI Daebak ^^

  7. Kayanya bakal tambah rame kolo diceritain sampe anaknya lahir ttuh . Pasti keren banget , tapi sekarang ajah udh keren bangett … Jadi tambah berrharap punya suami kkaya siwon *menghayal* .terimakasih author ♥

  8. Hiks eonni aku udh nggk tau brapa kli bca ni ff mu astagaaa kgn bgt eon sma romance” nya sifany di ff mu, critanya jga >< huhu kpn comeback sih???😥

  9. Yaampun endingnya sweet banget 😍 hahaha kasian DongHae dimusuhin tiffany garagara dia temennya siwon padahal tiffanynya juga udah bahagia sama siwon kkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s