(AF) Sweet Namja Sweet Darling Part 8

SWEET NAMJA SWEET DARLING PART 8

headf

Title                 : Sweet Namja Sweet Darling

Author             : kireynalice

Type                : Sequel

Genre              : Family, Romance

Rating             : PG 17

Main Cast        : Hwang Mi Young, Choi Siwon

Other Cast       : Kim Tae Yeon, Park Jung Soo, Jung Soo Yeon, Lee Dong Hae, Choi Soo Young

Disclaimer       : Karakter tokoh hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot cerita.

Kesamaan ide cerita merupakan hal yang tidak disengaja. Alur dan penokohan murni hasil pemikiran saya.

Dan inilah saatnya bagiku untuk melepasmu

Mi Young’s POV

Siwon Oppa terpaku menatapku saat aku mengenakan gaun tidur ini. Matanya membulat sempurna, tubuhnya terlihat begitu kaku, dan berkali-kali dia terlihat menelan air liurnya seperti menahan sesuatu dalam dirinya. Aku masih terus menatapnya penuh tanda tanya hingga dia menarikku ke dalam pelukannya.

“Saranghae, baby..” Ucapnya lembut. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Mengira bahwa mungkin ini semua hanya mimpi atau aku yang telah berhalusinasi. Tapi aku masih berada di dalam pelukannya. Tidak! Ini bukan mimpi atau halusinasi. Ini nyata. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di permukaan kulit wajahku karena jarak kami yang begitu dekat. Aku masih menatapnya karena bingung harus mengatakan apa.

Ia merengkuh wajahku dengan kedua tangan dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Ia menciumku. Sentuhan kecil pada awalnya, tapi kemudian menjadi lebih lembut dan dalam.

Aku bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Tidak banyak waktu untuk bertindak. Aku bahkan tidak mampu mengingat kenapa aku harus menghentikannya. Jangankan untuk memikirkannya sekarang saja aku sudah tidak bisa bernapas dengan benar. Ciumannya semakin dalam melumat bibirku, tapi tidak menuntut. Tetap lembut dan begitu manis. Membuat jantungku seakan berhenti berdetak dan akan meledak saat ini juga.

Tanganku mencengkeram lengannya menempelkan tubuhku lebih erat ke tubuhnya. Siwon Oppa berguling pelan menindih tubuhku di tempat tidurnya yang empuk. Tapi, lama kelamaan ciumannya menjadi sedikit menuntut dan kasar. Bibirku kini sudah dilumat olehnya. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa ciuman ini begitu memabukkan? Oh Tuhan, tolonglah aku! Aku tidak ingin tergoda. Aku tidak ingin semudah itu menyerah pada pelukan namja ini.

Siwon Oppa mengeratkan pelukannya di punggungku lalu menggigit bibir bawahku yang masih tertutup hingga terbuka dan sedikit memberikan celah. Dia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, menyusuri rongga mulut, menggoda dan menggelitik lidahku yang tak memberikan respon. Aku tak bisa mengelak lagi kalau aku telah tergoda dan jatuh ke dalam pesonanya. Tanpa sadar aku malah memberinya kesempatan untuk memperdalam ciumannya. Aku membalas permainan bibirnya.

Aku merasa ada sisi lain dari tubuhku yang bahagia atas perlakuannya. Kepalaku dipenuhi oleh aroma tubuhnya. Ani.. Ani.. Ani.. akal sehat dan tubuhku berdebat. Aku menggeleng dan bibir Siwon Oppa beralih ke leherku memberiku kesempatan untuk bernapas. Perlahan kubuka kedua mataku. Apa ini? Kenapa dia menindih tubuhku? Apa yang akan dia lakukan padaku?

“Geumanheyo, Oppa. Changkammanyo.” Suaraku lebih terdengar seperti bisikan.

“Wae?” Bisik Siwon Oppa di tulang selangkaku. Bibirnya kembali menciumi setiap inchi leherku sehingga napasku kembali tercekat. Kini kecupannya telah turun hingga ke bagian atas dadaku. Tangannya yang satu tetap mengelus punggungku sementara tangannya yang lain telah menyusup ke dalam gaun tidurku. Mengelus permukaan kulit perutku lalu merambat naik sampai ke bagian dadaku, menangkupnya lembut kemudian meremasnya pelan hingga menimbulkan sensasi aneh disertai rasa ngilu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku memaksa diriku untuk berkonsentrasi agar tetap fokus pada akal sehatku. Aku berusaha meronta dalam pelukannya untuk melepaskan diriku darinya. Dibutuhkan tenaga yang cukup kuat untuk mendorong dan menjauhkannya dariku.

Siwon Oppa tersentak mundur kemudian memandangiku. Sorot mata itu memancarkan sesuatu yang lain, yang belum pernah kulihat sebelumnya. Mata kelam yang berapi-api.

“Aku.. Aku tidak bisa melakukan ini sekarang Oppa.” Kataku pelan.

“Wae?” Tanyanya lagi. Suaranya terdengar parau. “Aku mencintaimu. Tidakkah kau merasakan hal yang sama denganku?” Lanjutnya.

“Mianheyo Oppa. Jebbal.” Ucapku disela air mata yang entah sejak kapan mulai turun membasahi pipiku. Siwon Oppa tidak menjawab. Dia hanya tersenyum kaku kemudian beranjak turun dari atas tubuhku. “Geure. Aku tidak akan memaksamu. Mianhe Chagi. Tidurlah.” Tambahnya. Dia lalu mengecup keningku dengan sangat lembut. Hingga membuatku berharap kalau waktu akan berhenti sampai di sini dan aku tidak akan pernah terbangun dari mimpi indah ini.

Aku tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi. Aku memang belum siap untuk itu. Tapi kenapa aku merasa kehilangan saat ia menghentikan tindakannya? Siwon Oppa berbaring dengan posisi tubuh yang membelakangiku dan itu membuatku kecewa. Meskipun kami tidak melanjutkan kegiatan tadi, tapi setidaknya kami bisa tidur berhadapan dan dia bisa memelukku seperti kemarin malam. Keanehan terjadi lagi pada diriku. Kenapa tubuhku mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekedar sentuhan lembut atau cumbuan ringannya? Tidak! Sepertinya kau sudah gila Choi Mi Young!

*********

Satu bulan telah berlalu. Dan semuanya berubah sejak kejadian malam itu. Kurasa Siwon Oppa menjaga jarak dariku. Belakangan ini dia selalu membawa pekerjaannya ke apartement kami. Setelah menyibukkan dirinya seharian dikantor dia juga merubah ruang baca menjadi kantor keduanya. Menenggelamkan diri di tumpukan dokumen penting dan laporan perusahaan. Setiap hari dia selalu melakukan hal yang sama bahkan di akhir pekan sekalipun dan hampir setiap malam memilih untuk “menginap” di atas meja kerjanya. Kalaupun dia tidur di kamar kami, dia memilih untuk masuk saat aku sudah terlelap dan bangun ketika aku masih terbuai di alam mimpi.

Sebenarnya bukan ini yang aku harapkan darinya. Karena kurasa bukan menghindarikulah cara yang tepat untuk menyelesaikan persoalan kami. Aku merasa kesepian jika dia tidak menemaniku, terasa ada yang hilang jika dia tidak bersamaku, dan sejujurnya aku merasa gelisah jika dia tidak tidur di sampingku. Aku tidak tahu perasaan apa ini, tapi yang jelas ada suatu bagian dari diriku yang begitu menginginkannya dan ada satu sisi lain yang merindukan kehadiran dan sentuhannya. Aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan. Aku belum pernah seperti ini sebelumnya. Sebenarnya perasaan apakah ini?

Lebih anehnya lagi, sepertinya aku sudah tidak berniat untuk mengganti gaun malamku dengan piyama tidur yang lebih nyaman dan tertutup. Bahkan koleksi ganu malamku kian hari semakin bertambah. Dan apa kau tahu, langerie hitam yang seksi, transparan dan menggoda itu kini menjadi gaun tidur favoritku. Hufftt.. Sebenarnya aku ini kenapa sich? Kenapa seleraku menjadi aneh begini? Adakah yang bisa memberitahuku?

Hari ini seperti biasa kami makan pagi bersama. Suatu kegiatan yang tidak akan mungkin kulewatkan karena aku bisa bertemu dengannya. Hening. Tak ada sapaan atau obrolan yang berarti selain kata “selamat makan” saat sarapan, “aku pergi” saat dia akan berangkat, dan “hati-hati di jalan” saat mobilnya akan melaju meninggalkan halaman apartement kami. Ya, aku memang selalu mengantar Siwon Oppa sampai dia masuk ke dalam mobilnya, cara lain agar aku bisa melihatnya sedikit lebih lama.

Ting.. Tong..

Suara bel di pintu apartemen memecah “perang dingin” kami. Park Ahjumma sedikit tergesa membukakan pintu. Siapa yang datang sepagi ini? Tidak biasanya ada tamu yang berkunjung ke apartemen kami.

Tak lama kemudian muncullah Tae Yeon Eonni dan Jung Soo Oppa diikuti oleh Park Ahjumma.

“Tae Yeon Eonni..”

Aku bangkit dari dudukku untuk menyambut kedatangan pasangan itu.

“Silahkan duduk, Hyung. Kita sarapan bersama.” Tawar Siwon Oppa pada Jung Soo Oppa.

“Gumawo, Siwon-a. Kami sudah sarapan tadi. Lagipula kami hanya singgah sebentar.” Tolak Jung Soo Oppa halus.

“Memangnya sepagi ini kalian mau kemana?” Tanyaku pada mereka.

“Aigo.. apa kalian bangun kesiangan lagi pagi ini? Dasar pengantin baru! Sekarang jam 08.00 Aegi, dan ini sudah siang.” Jawab Tae Yeon Eonni.

“Kami akan memeriksakan keadaan Eonnimu dan baby Hwang Chagi. Dokter Kim akan pergi ke Hongkong untuk seminar sore ini jadi pemeriksaannya dijadwalkan lebih awal.” Jelas Jung Soo Oppa.

“Selain itu kedatangan kami kemari adalah untuk menyampaikan surat ini padamu.” Tambah Tae Yeon Eonni sembari memberikan sebuah amplop berwarna putih padaku.

“Gumawoyo Eonni.” Kataku sambil menerima surat itu. “The University of Sidney.” Tulisan itulah yang tertera di sampulnya. Tae Yeon Eonni mendekat padaku untuk ikut membaca isi dari surat itu.

The University of Sydney

5 May 2014

Ms. Mi Young Hwang

Apgudjeong street

South Korea

Dear Ms. Hwang

Offer of Admission

On behalf of the vice-chancellor, I am pleased to advice that your application for admission to the university of Sydney has been successful. Congratulations.

Details of the program of study and any special conditions are outlined below.

Course: Doctor of Bussiness Management

“Omo! Oppa, Siwon-a, Mi Young diterima di Universitas Sydney!” Pekiknya bahagia lalu memelukku. “Aigo.. Mi Young-a, Chukae!”

“Uri Aegi, Chukae! Kau memang yeodongsaengku yang terbaik.” Kali ini giliran Jung Soo Oppa yang memelukku.

Siwon Oppa dan aku saling bertukar pandang hingga akhirnya dia tersenyum dan memelukku sesaat.

“Selamat, Chagi-ya. Aku turut berbahagia untukmu.” Baru saja aku menikmati pelukannya dia sudah melepaskan tubuhku. Aish.. apa-apaan ini? Padahal aku ingin menghirup aroma tubuhnya lebih lama lagi. Aduh.. untuk yang kesekian kalinya, apa yang ada dipikiranku sekarang? Kenapa aku jadi berotak mesum seperti ini?

“Baiklah. Kalau begitu kami pamit dulu. Aku harus segera menyampaikan kabar gembira ini pada Eomma dan juga Appa.” Pamit Jung Soo Oppa pada kami.

“Ne. Hati-hati di jalan Hyung, Noona.” Kata Siwon Oppa.

Kami mengantar kepergian Tae Yeon Eonni dan Jung Soo Oppa sampai ke pintu depan apartemen dan kembali ke ruang makan setelahnya.

“Mianhe tadi aku memelukmu Mi Young-a. Rasanya terlalu aneh jika semua orang memelukmu sementara aku tidak.” Aku begitu terkejut mendengar kalimat yang diucapkan oleh Siwon Oppa. Mianhe? Kenapa dia harus meminta maaf karena telah memeluk istrinya sendiri?

“Ne. Ghwencanayo Oppa.” Jawabku lirih. Entah kenapa aku tiba-tba merasa sedih.

Setelah itu keheningan kembali menyelimuti kami. Tidak ada suara lain selain deru mesin cuci yang sedang digunakan oleh Park Ahjumma.

“Oppa, siang ini bolehkah aku pergi ke tempat Soo Yeon Eonni? Aku sudah lama tidak berkunjung ke butiknya.” Tanyaku memecah kesunyian.

“Tentu saja. Kau pasti akan merasa bosan jika hanya berdiam diri menungguku pulang seharian. Pergilah.” Izinnya.

“Gumawoyo, Oppa.” Kataku yang hanya ditanggapinya dengan senyuman.

“Aku sudah selesai. Kau tidak usah mengantarku ke mobil. Lanjutkanlah sarapanmu.” Katanya kemudian sambil bangkit dan memakai jasnya.

Aku memandangnya tanpa berkedip. Bukan karena ketampanannya, tapi lebih karena heran. Kalimat yang dia ucapkan sebenarnya biasa saja, tapi nadanya terdengar begitu sedih. Raut wajahnya pun tidak seperti biasanya. Ada apa dengannya?

*********

Setelah Siwon Oppa pergi, aku juga memutuskan untuk keluar rumah. Hari ini aku berjanji akan mengunjungi Soo Yeon Eonni. Soo Yeon Eonni memiliki butik yang ternama di Seoul. Sebagian besar baju yang kumiliki adalah hasil rancangannya termasuk gaun pengantin saat aku menikah dengan Siwon Oppa satu bulan yang lalu.

Soo Yeon Eonni sedang berbicara di telepon saat aku masuk ke butiknya. Mungkin dengan salah satu kliennya. Soo Yeon Eonni yang menyadari kehadiranku mengangkat tangan kanannya sambil menunjuk kearah telepon sebagai isyarat ‘sebentar ya, aku sedang menelpon’. Aku mengangguk paham dan duduk di salah satu kursi yang memang disediakan untuk pelanggannya.

Tak lama kemudian Soo Yeon Eonni terdengar mengakhiri pembicaraannya di telepon.

“Yes, Mam. You are Welcome” Katanya dalam bahasa Inggris. Sepertinya kali ini dia mendapat klien orang asing.

“Hamburger lagi?” Tanyaku padanya. Kami memang mengistilahkan klien asingnya dengan kata ‘hamburger’.

“Ani.. Hanya kimbab rewel yang meng-hamburgerkan dirinya.” Jawabnya asal sambil tertawa.

“Kau mau minum apa?” Lanjutnya.

“Emm.. orange juice saja kurasa.”

“Baiklah. Seohyun-a, tolong bawakan dua gelas orange juice ke ruanganku!” Perintah Soo Yeon Eonni pada asistennya yang bernama Seohyun.

“Ye, Seonsaengnim.” Jawab yeoja berwajah cantik itu.

“Kajja, kita keruanganku.” Ajaknya sambil menarik tanganku.

Ruangan Soo Yeon Eonni tidak terlalu luas, tapi sangat nyaman. Membuatku merasa betah tinggal di sini berjam-jam tanpa merasa bosan.

“Jadi bagaimana perkembangan hubunganmu dengan suamimu, Ny. Choi?” Tanya Soo Yeon Eonni setelah Seohyun keluar sehabis membawakan minuman untuk kami.

“Ya.., begitulah. Masih tetap sama.” Jawabku datar.

“Kalian masih perang dingin? Kalau begitu belum ada ‘ciuman berlanjut’ part 2? Omona.. Siwon Oppa, daebak!”

“Maksudmu?”

“Dia itu hebat Mi Young-a. Bagaimana mungkin dia bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuhmu selama satu bulan ini.”

“Memangnya kenapa? Aku juga biasa saja.”

“Ya! Babo! Kau itu kan yeoja, tentu saja dia berbeda denganmu. Namja memiliki banyak hasrat Mi Young-a.”

“Hasrat? Apa maksudmu?”

“Ckckck.. Kau ini sudah menikah! Bagaimana kau bisa tidak tahu hal itu. Hasrat itu ya hasrat. Desire, lust.” Jelasnya sambil menggerak-gerakkan tangannya.
“Ya! Kau sendiri belum menikah, tapi kenapa kau bisa tahu hal semacam itu?”

“Tentu saja karena aku ini kan Eonni-mu!”

“Ah.. Molla! Aku tidak mau membahas hal itu!” Jawabku ketus. Sebetulnya bukan tidak mau, tapi aku malu. Bagaimana mungkin aku mengatakan pada Soo Yeon Eonni bahwa sepertinya aku juga memiliki sesuatu yang dia sebut sebagai hasrat, desire, lust atau apapun itu.

“Ah.. Matta. Kurasa aku harus mengucapkan selamat untukmu Mi Young.” Katanya mengalihkan pembicaraan.

“Selamat? Untuk apa? Aku tidak berulang tahun hari ini dan pernikahanku juga baru berjalan selama 1 bulan. Jadi tidak ada yang harus dirayakan.” Ujarku.

Dia menghela napas berat. “Aku tidak tahu apa yang membuat Siwon Oppa mencintai yeoja babo sepertimu.” Katanya yang sontak membuatku melayangkan death glare padanya.

“Hahaha.. Jangan menatapku seperti itu Nyonya Choi. Aku sungguh bangga padamu, Chukae atas penerimaanmu di Sydney.” Ujarnya sembari memelukku.

“Gumawoyo Soo Yeon-ssi. Baru kali ini anda memujiku. Aigo.. aku merasa tersanjung sekali.” Kataku sambil melepaskan pelukannya. Entah kenapa ucapan selamatnya tiba-tiba membuatku sedih. Rasanya seperti membuka kembali luka lama dari sebuah kenangan buruk yang ingin kau lupakan.

“Mi Young-a, waegurae?” Tanya Soo Yeon Eonni yang menyadari perubahan sikapku.

“Aku.. Sepertinya ada yang aneh dengan diriku Eonni, tapi aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku.” Jawabku ragu.

“Maksudmu?” Tanyanya lagi.

“Seharusnya aku bahagia karena cita-cita yang kuimpikan sejak dulu kini sudah ada di depan mata. Tapi, hatiku malah merasa tidak nyaman karenanya.” Soo Yeon Eonni mengerutkan keningnya pertanda bahwa dia belum mengerti maksudku.

“Saat aku mengajukan permohonan S2 itu, aku melakukannya tanpa banyak pertimbangan, tanpa beban. Tapi kali ini situasinya berbeda Eonni. Aku sudah menikah. Kalau aku pergi, bagaimana dengan Siwon Oppa? Maksudku, bagaimanapun aku akan meninggalkannya selama setidaknya 1,5 tahun dan aku menjadi ragu atas keputusanku.” Jelasku lagi.

“Mungkin kau tidak menyadarinya karena baru pertama kali mengalaminya. Kurasa sepertinya kau sudah mulai mencintainya.”

“Ci.. Cinta?”

“Iya. Cinta.”

“Aku tidak tahu Eonni. Kurasa aku telah berubah menjadi pribadi yang lain. Aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri.”

“Rasa khawatir pada pasanganmu itu adalah salah satu bentuk kepedulianmu padanya. Dan peduli itu adalah pertanda bahwa kau mulai mencintainya. Dan itu sangat baik.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan Eonni?”

“Bicarakan hal ini dengan Siwon Oppa. Dia adalah nampyeonmu. Kau sepenuhnya menjadi tanggung jawab Siwon Oppa.”

“Bagaimana kalau pada akhirnya kami tidak menemukan jalan keluar dan dia menyerahkan pengambilan keputusan sepenuhnya padaku?”

Soo Yeon Eonni tersenyum, kemudian menatapku lembut.

“Kau ingatkan apa yang aku katakan padamu sebelum kau menikah? Hanya kau yang tahu apa yang terbaik untukmu. Tapi, apapun keputusanmu aku akan selalu mendukungmu.”

“Gumawo, Eonni.” Kataku sambil memeluknya. Kini aku merasa beban di pundakku sedikit berkurang. Aku menjadi semakin yakin dengan keputusan yang akan kuambil. Memiliki seorang sahabat tempatmu berbagi segala hal memang sangat menakjubkan.

Nada dering yang berasal dari ponselku spontan membuatku melepaskan pelukan kami. Kubuka tas tanganku untuk melihat siapa yang menelpon. ‘My Oppa’ itulah nama yang tertera dilayarnya.

“Eonni, Changkamman. Siwon Oppa menelpon.” Izinku padanya yang dia jawab dengan anggukan.

“Chagi-ya, apa kau sudah di rumah?” Tanya Siwon Oppa setelah aku menjawab teleponnya.

“Belum, Oppa. Aku masih di tempat Soo Yeon Eonni. Waeyo?”

“Ah.. Begitu ya? Oppa sedang dalam perjalanan pulang. Bagaimana kalau Oppa menjemputmu?”

“Ghwenchanayo Oppa. Aku akan segera pulang, kebetulan aku diantar oleh Han Ahjussi.”

“Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa di rumah.”

“Ne..” Kuakhiri pembicaraan ku dengan Siwon Oppa dan memasukkan kembali ponselku ke dalam tas.

“Eonni sepertinya aku harus pulang.” Kataku sambil berdiri, Soo Yeon Eonni pun mengikutiku.

“Tapi Siwon Oppa kan belum datang.”

“Aku membawa mobil Eonni, jadi aku pulang bersama dengan Han Ahjussi. Kami akan bertemu di rumah. Kasihan kalau Siwon Oppa harus menjemputku. Dia pasti lelah.” Jelasku sambil berjalan keluar dari ruangannya.

“Aigo.. jadi kau sekarang sudah menjelma menjadi sosok seorang istri yang ideal ya?”

“Begitulah. Apa kau mau mengikuti jejakku? Perlukah aku meminta Siwon Oppa memaksa Dong Hae Oppa untuk melamarmu?”

“Hahaha.. Kau ini ada-ada saja.”

“Tidak usah mengantarku ke depan Eonni. Sampai sini saja.” Kataku pada Soo Yeon Eonni setelah sampai di depan meja resepsionis.

“Baiklah. Hati-hati di jalan, ne?”

“Emm.. Gumawo Eonni. Seohyun-a, Gumawo untuk orange juicenya.” Kataku padanya yang sedang memasangkan gaun pada mannequin.

“Chonmaneyo Eonni. Sudah mau pulang ya?”

“Ne. Siwon Oppa sedang dalam perjalanan pulang dan aku harus ada di rumah sebelum dia tiba.”

“Kalau begitu hati-hati di jalan Eonni”

“Ne..” Jawabku sambil melangkah menuju mobilku yang sudah menunggu di parkiran.

*********

Aku sedang membantu Park Ahjumma menyiapkan makan malam saat bel berbunyi. Karena tidak salah lagi itu pasti Siwon Oppa aku memutuskan untuk membukakan pintu sementara Park Ahjumma melanjutkan pekerjaannya.

Senyumku mengembang saat melihat wajah nampyeonku. “Omo.. Tampannya..” Kataku dalam hati. Siwon Oppa kemudian menyadarkanku dari lamunan singkatku.

“Mi Young-a? Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau memandangiku seperti itu?”

“Ne? A.. Aniyo Oppa. Ghwenchanayo.” Jawabku terbata.

“Mandilah dulu Oppa. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Setelah itu kita makan.” Lanjutku. Dia hanya menjawab dengan senyuman lalu melangkah menuju kamar kami sementara aku kembali ke dapur menghampiri Park Ahjumma.

End of Mi Young’s POV

Siwon’s POV

Sebenarnya aku merasa sedikit tidak rela saat Universitas Sydney menerima Mi Young sebagai salah satu pelajarnya. Karena dengan diterimanya Mi Young disana berarti aku harus berpisah dengannya untuk sementara waktu. Aish.. kenapa waktu itu Hyundai malah mengembangkan sayapnya di Inggris dan bukan di Australia saja? Sehingga dengan begitu aku bisa menemani anaeku disana dengan menjadikan urusan perusahaan sebagai alibinya.

Tapi aku sadar kalau aku tidak boleh egois. Aku mencintainya dan pernikahan ini tidak boleh menjadi penjara untuknya. Dia berhak mengejar impian dan cita-citanya. Toh dia juga tidak kemana-mana. Dia hanya akan pergi sementara waktu saja. Jadi apa yang membuatku harus tidak rela? Ditambah lagi Mi Young terlihat begitu berbeda belakangan ini. Dia mulai memperhatikanku dan tidak mengacuhkanku lagi seperti awal pernikahan kami. Tadi pagi dia sudah menyiapkan handuk dan air hangat untukku mandi. Dia juga sudah menyiapkan pakaian kantorku. Dan saat aku pulang dia menyambutku dengan senyum manisnya yang menggetarkan kalbu. Mi Young-ku bahkan memasak untukku! Ah.. aku bahagia sekali. Rasanya seluruh rasa lelahku menguap seketika.

Saat makan malam tadi, dia begitu perhatian padaku. Dia mengisi gelasku yang hampir kosong tanpa kuminta, mengambilkan sup untukku, dan menaruh lauk ke mangkuk nasiku. Meskipun perhatian semacam itu amat sederhana, menurutku dia sudah menjelma menjadi sosok istri idamanku. Maksudku, sejak awal dia memang sudah menjadi istri idamanku, tapi dengan sikapnya padaku malam ini dia benar-benar sudah 100% menjadi istri idaman bukan hanya untukku tapi kurasa juga untuk semua namja di dunia ini.

Baiklah, cukup pembicaraan mengenai anaeku. Kini saatnya aku kembali fokus pada pekerjaan yang belum sempat kuselesaikan di kantor. Hyundai berencana untuk mengadakan kerjasama dengan investor dari Jepang sehingga banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Mulai dari pengajuan proposal sampai perencanaan keuangan. Hal itulah yang membuatku selalu membawa pekerjaan ke rumah akhir-akhir ini sehingga menyita waktuku untuk bisa bersama dengan Mi Young.

Aku benar-benar tidak berniat untuk menjauh ataupun menghindarinya. Tapi keadaanlah yang membuatku begitu. Malam itu adalah malam terindah bagiku dimana aku bisa menyentuhnya. Meskipun hanya sekedar pelukan atau kecupan, tapi aku sungguh bahagia. Dalam hati aku selalu bertanya sampai kapan keadaan kami akan seperti ini? Saat ini aku mungkin bisa sedikit melupakannya karena kesibukanku, tapi bagaimana nanti saat aku memiliki banyak waktu luang? Melihatnya berjalan mondar-mandir dengan pakaian minim dan tubuh yang menggiurkan benar-benar membuatku tergoda. Demi Tuhan selama ini aku sudah menahan hasratku untuk bisa memilikinya!

Mataku menatap sesuatu yang janggal saat membuka emailku. Ada notifikasi keberhasilan pengiriman pesan. Aneh, rasanya aku tidak mengirimkan apapun pada siapapun pagi tadi. Aku juga baru masuk ke accountku sekarang. Kutekan tanda username pada bagian atasnya. Tertera sign in di account ini atas nama Hwang Ms. Nugu? Hwang Ms.. Ms. Hwang.. Mi Young? Aigo.. Anaeku itu, selain menggemaskan dia juga ceroboh. Untung saja yang dia gunakan adalah komputer pribadi. Bagaimana kalau komputer bersama? Bisa-bisa accountnya habis dibajak.

Aku baru akan melakukan sign out pada account miliknya saat aku tiba-tiba berubah pikiran. Apa yang Mi Young kirimkan? Pada siapa? Aku begitu merasa ingin tahu. Aku tahu aku tidak berhak mencampuri urusan orang lain, tapi dia kan anaeku dan urusannya juga menjadi urusanku. Urusan kami berdua. Jadi kubatalkan niatku semula dan melihat email keluar dari account Mi Young. Ada beberapa email yang dikirimkannya. Pesan rindu untuk Soo Yeon, jaga kesehatan untuk Tae Yeon Noona, I love you untuk Jung Soo Hyung, dan gambar gaun terbaru channel untuk Soo Young. Tidak ada yang aneh, tapi kalimat yang dia kirimkan begitu lucu sampai membuatku tertawa geli membacanya. Keasyikanku terusik saat aku menemukan sebuah pesan terkirim yang membuatku mengernyit. Apa maksud semua ini?

End of Siwon’s POV

Author’s POV

Mi Young cukup terkejut ketika Siwon langsung menerobos masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu atau memanggilnya terlebih dulu seperti biasa. Untung saja saat ini dia sudah selesai berganti pakaian. Apa jadinya kalau Siwon melihatnya dalam kondisi tanpa busana? Sebetulnya gaun tidur yang dia kenakan sekarang memang tidak pantas disebut sebagai busana karena terlalu tipis dan menerawang. Tapi tetap saja.

Siwon tidak mengatakan apapun. Nampyeonnya itu hanya memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Raut wajahnya mengatakan kalau dia sedang marah, tapi sorot matanya memancarkan kesedihan, kekecewaan atau mungkin juga keputusasaan.

“Oppa..” Panggil Mi Young karena namja itu tidak juga mengatakan apapun. Siwon masih tetap diam.

“Oppa, ghwenchanayo? Apa kau sakit?” Tanya Mi Young, terdengar nada khawatir dalam suaranya. Siwon masih enggan menjawab dia hanya tersenyum miris sebelum mendekat ke arah Mi Young. Semakin dia mendekat, Mi Young semakin melangkah mundur untuk menjauh hingga akhirnya punggungnya terbentur menabrak dinding. Siwon memperkecil jarak diantara mereka dengan merangkul pinggang istrinya itu untuk mendekat ke arahnya. Membuat bagian dada mereka bersentuhan sehingga Mi Young dapat dengan jelas merasakan debaran jatuh Siwon. Mi Young menjadi sedikit takut, dia khawatir kalau kejadian di malam hari satu bulan yang lalu itu terulang lagi dan untuk kali ini dia tidak bisa mencegahnya.

“O..Oppa.. Waeguraeyo? Ap.. Hmmpp..” Mi Young tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba saja Siwon telah menyumbat bibir Mi Young dengan bibirnya. Mi Young terkejut dan membelalakkan matanya sehingga secara spontan ia mendorong tubuh nampyeonnya itu menjauh.

“Oppa.. Apa yang kau..” Lagi-lagi ucapannya tak bisa diselesaikan karena Siwon kembali menyumbat mulutnya. Amarah, frustasi, dan juga rasa bersalah yang kini dirasakan Siwon telah bercampur aduk menjadi satu. Siwon menyalurkan perasaan itu melalui ciumannya yang sedikit memaksa. Dia melumat bibir Mi Young dengan menuntut dan kasar. Mi Young meronta dalam pelukannya. Dia berusaha mendorong tubuh nampyeonnya untuk melepaskan diri dari ciuman Siwon yang sangat berbeda dengan ciuman-ciuman lembut yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Tapi usahanya sama sekali tak membuahkan hasil. Sekuat apapun yeoja itu meronta, Siwon tetap lebih kuat darinya, bahkan Siwon malah semakin mempererat pelukannya sehingga tak ada sedikitpun ruang yang tersisa diantara mereka.

Semakin lama sentuhan di bibirnya itu membuat jantung Mi Young berdetak lebih cepat karna getaran asing yang tiba-tiba merasuk ke dalam tubuhnya. Getaran yang membuatnya seakan melayang. Perlahan Mi Young mulai memejamkan matanya mencoba menikmati ciuman Siwon di bibirnya. Tepat saat Mi Young akan membalas ciuman itu, Siwon menghentikan semuanya. Dia melepaskan pelukannya dari tubuh Mi Young dan sedikit menjauh.

“Apakah aku menyakitimu?” Tanyanya sambil memandang manik mata Mi Young dalam.

“N..Ne?” Jawab Mi Young terbata. Dia masih merasa limbung karena ciuman yang memabukkan itu. Bibirnya terasa membengkak karena ciuman yang baru saja mereka lakukan.

“Begitu beratkah pernikahan ini untukmu?” Tanyanya lagi. Mi Young tidak menjawab. Dalam hati dia bertanya-tanya kenapa Siwon menanyakan hal ini?

“Apakah kebersamaan kita membebanimu Chagi?” Lanjut Siwon.

“Apa maksudmu Oppa? Aku tidak mengerti.”

“Aku mencintaimu Mi Young-a, sangat mencintaimu. Hingga nyawaku pun tidak ada harganya jika ditukar dengan kebahagiaanmu. Aku berharap seiring dengan berjalannya waktu kau bisa mencintaiku. Tapi kini aku sadar hal itu tidak mungkin terjadi, cintaku hanyalah bertepuk sebelah tangan.”

“Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu Oppa? Apa aku telah melakukan kesalahan?”

“Ne. Kau telah melakukan kesalahan karena membuatku terlalu banyak berharap, kau telah membuat kesalahan dengan tidak memberitahuku apa yang sebenarnya kau rasakan, kau telah membuat kesalahan dengan membiarkanku untuk semakin mencintaimu dan kau telah membuat kesalahan dengan membiarkanmu terluka karenaku.”

“Oppa, aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu tentangmu. Semua yang kau katakan itu salah besar. Pada awalnya aku memang melakukan semuanya karena terpaksa. Tapi pernikahan ini tidak pernah menjadi beban untukku dan kau tidak pernah membuatku terluka.”

“Kalau begitu, kenapa kau membuang semua impianmu?!” Suara Siwon terdengar mulai meninggi.

“Impian setiap yeoja adalah untuk dapat menikah dengan seorang namja. Aku sudah mendapatkannya. Jadi, maksudmu mimpiku yang mana yang kubuang?”

“Lalu kenapa kau menolak untuk melanjutkan studymu?”

Mi Young menelan ludah. Dia sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi. Memang benar dia sudah mengajukan surat pengunduran diri untuk melanjutkan studynya di Universitas Sydney. Dan dia memang tidak mendiskusikannya terlebih dulu dengan Siwon.

“Wae? Kenapa kau tidak menjawab? Karena aku kan? Akulah yang telah menjauhkanmu dari mimpimu, akulah penghalangmu Chagi.”

“Oppa, aku akui bahwa aku bersalah karena telah melakukannya tanpa izinmu. Tapi semua itu sudah aku pertimbangkan dengan baik-baik.”

“Katakan kenapa kau melakukan semua itu?”

“Karena aku ingin belajar mencintaimu dan itulah salah satu caraku.”

“Cinta? Itu bukan cinta Mi Young-a, tapi pengorbanan. Dan aku tidak mau kau kehilangan apapun demi aku.”

“Oppa, aku..” Mi Young tidak meneruskan kalimatnya, tenggorokannya seperti tercekat.

Siwon menundukkan kepalanya. Sesaat kemudian dia mengangkat kembali wajahnya. Tatapan Siwon melembut dan suaranya melunak. Dihapusnya air mata yang mulai membasahi pipi Mi Young dengan kedua ibu jarinya. Dikecupnya kening istrinya itu. Mi Young merasa jantungnya akan meledak karena perlakuan Siwon padanya.

“Kau memang telah memenuhi impianmu sebagai seorang yeoja dengan menikahi seorang namja. Dan aku sungguh bahagia bisa menjadi namja beruntung itu. Tapi sayangnya kau tidak menikah dengan namja yang kau cintai. Kau hanya menikahiku karena balas budi.”

“Aniyo, Oppa. Bukan itu yang sebenarnya terjadi. Kau telah salah paham. Aku..” Mi Young belum sempat menyelesaikan ucapannya karena Siwon telah mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibir istrinya itu. Siwon menangkup wajah istrinya. Dia tersenyum lalu menatap matanya lembut.

“Mianhe karena telah membuat dirimu menderita karena aku, mianhe karena selama pernikahan kita aku tidak pernah melakukan apapun untuk membahagiakanmu, dan juga mianhe karena aku tidak berhasil membuatmu mencintaiku. Kejarlah mimpimu Chagi, pergilah. Aku melepaskanmu.”

“A.. Apa maksudmu Oppa?” Tanyanya dengan pelan dan terbata.

“Kau bebas Chagi, aku rasa semua ini perlu kita pertimbangkan lagi.”

“Mwo?”

“Kita.. Kita berpisah saja.”

“Maksudmu? Aku tinggal di Sydney dan kau tinggal di Seoul?”

“Ani, Chagi. Kita berpisah. Kita.. bercerai.”

*********

To Be Continued ^_^

Hello, Saeng-i! Part yang ini udah panjang kan? Kalau belum juga, angkat tangan dech.😛

Sesuai dengan judulnya, cerita ini akan berakhir di part ke-9.

Mohon dukungan dan masukannya selalu ya..

See you in the last part!

156 thoughts on “(AF) Sweet Namja Sweet Darling Part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s