[AD] TROUBLE MAKER -PROLOGUE-

TM

 

 

 

[41 Days] [….] [Trouble Maker]

By Song Haneul

Trouble Maker….!

 

Prolog

     Tangan kanannya mencabut sebuah pisau tajam yang telah berlumuran darah segar itu, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mencekik leher pria yang membelalakan matanya dengan rintihan parau yang keluar dari bibir pucat pria itu. Pisau tajam yang masih berada digenggamannya itu, menusuk tepat dibagian bawah dada pria berusia 32 tahun tersebut.

Mata laki-laki bermasker itu menatap tajam pria yang kini, sedang menanti detik-detik kematiannya. Tak lama, senyum seringainya muncul dibalik masker hitam yang menutupi wajahnya.

Laki-laki itu melepas cengkeramannya pada leher pria tak bernyawa tersebut. Pun, ia berdiri dari posisi yang sebelumnya terduduk diatas tubuh pria itu, hingga bediri dengan kedua kaki yang mengepung tubuh tak berdayanya. Tanganya masih memegang pisau kecil miliknya, lalu menghujamkan kembali pisau tersebut dengan melemparnya. Tepat menghujam dada kiri pria tersebut, membuat pria malang itu tak memiliki kesempatan untuk hidup walau sedikit saja. Kepalanya terangkat dan menoleh pada samping kirinya, pandangannya langsung tertuju pada sebuah map yang terletak diatas meja kecil. Ia melangkah pelan, membawa diri kearah meja tersebut lalu mengambil map tersebut. Memasukannya kedalam jaket kulit berwanrna hitam yang dikenakan laki-laki berambut hitam kecokelatan itu.

Iris matanya menatap kembali pria tak bernyawa itu. Lidahnya berdecak dengan tatapan yang meremehkan pada pria yang telentang diatas lantai berwarna cokelat muda.

Suara langkah kaki seorang laki-laki lainnya memasuki ruangan yang sama. Sedangkan diluar sana, deruan sirene mobil polisi mulai menderu-deru. Mengganggu pendengaran kedua orang laki-laki bermasker tersebut.

Laki-laki yang baru masuk tadi, melemparkan sehelai kain hitam berbentuk persegi keatas wajah pria tak bernyawa itu. Lalu menjongkokkan tubuhnya, menatap sesaat pria yang wajahnya tertutup kain yang dilemparnya tadi. Tangannya terulur untuk mengambil sebuah benda lainnya dibalik jaket hitam yang dikenakannya. Sebuah botol kecil berisikan cairan merah. Disemprotkannya cairan itu diatas kain hitam polos dihadapannya. Membuat tulisan yang terangkai menjadi 2 kata yang saling terhubung. Meninggalkan jejak aksi mereka kembali malam ini.

Setelah melakukannya, laki-laki itu beranjak bangun dan menoleh kearah laki-laki yang berdiri dibelakangnya. Laki-laki pertama tadi sedang melepaskan sarung tangan hitam yang melekat dikedua tangannya, lalu melemparnya kesembarang arah. Terlihat dari mata laki-laki pertama, memandang jijik ketika melihat darah pria tersebut mengotori sarung tangannya. Keduanya bersitatap setelah laki-laki pertama itu selesai melepas sarung tangannya, lalu menyeringai puas satu sama lain dibalik masker hitam yang menutupi wajah keduanya.

Sirene itu semakin terdengar jelas dikedua telinga laki-laki itu.

Tak lama, hembusan angin yang berasal dari luar jendela kamar tersebut memasuki ruangan. Dilihatnya oleh kedua laki-laki tersebut, helicopter yang terbang rendah didepan jendela kamar yang terbuka. Ada seorang laki-laki bermasker lainnya didalam helicopter tersebut, menuruni helicopter itu dan meloncat kedalam kamar yang terletak dilantai 9. Melemparkan 3 botol tabung kecil yang telah dilepas pengaitnya. Masing-masing, botol pertama menggelinding kebawah ranjang mewah yang menjadi fasilitas utama diruangan tersebut, lalu botol kedua berhenti menggelinding tepat didepan pintu kamar. Sedangkan botol satu lagi dilempar kearah mayat pria yang terbunuh oleh laki-laki bermasker pertama.

Ketiga laki-laki itu saling menatap satu-sama lain, ketika terdengar dobrakan pintu diluar kamar. Laki-laki pertama yang membunuh korbannya berjalan dengan langkah besar namun masih terkesan tenang menuju jendela kamar, dan menaiki helicopter tersebut melalui tangga gantung yang tersedia di helicopter. Lalu, langkahnya diikuti laki-laki kedua yang sebelumnya menyemproptkan cairan merah pada kain hitamnya. Menaiki helicopter yang sama. Begitupun dengan laki-laki ketiga yang mengikuti jejak kedua laki-laki sebelumnya, menaiki helicopter yang ditumpanginya sebelum ia masuk kekamar ini .

Tepat saat pintu kamar itu terbuka dengan paksa oleh beberapa orang polisi, laki-laki ketiga itu masih berada ditangga yang akan membawanya masuk ke helicopter. Matanya menatap dingin kepada mereka, ketika para polisi tersebut menodongkan pistolnya kearah helicopter mereka. Polisi-polisi itu begitu marah ketika melihat tulisan itu lagi, diatas kain hitam yang menutupi wajah pria yang menjadi korban mereka malam ini.

Ketiganya memandang datar kearah mereka yang bersiap menembakkan peluru-peluru mereka keluar dari pistol yang mereka pegang saat ini. Dengan perlahan helicopter tersebut terbang menjauh dari apartement tersebut. Membawa ketiga laki-laki bermasker itu meninggalkan apartement mewah yang memilki 12 lantai.

Kepulan asap putih yang pekat, tiba-tiba menghalangi pandangan orang-orang yang ada didalam kamar tersebut. Membuat para polisi yang ada didalam ruangan itu, merasakan sesak dan perih disekujur tubuh mereka. Napas kelima polisi itu tercekat, dan tanpa sadar menjatuh pistol-pistol mereka. Merintih kesakitan, dan tergeletak dengan tubuh yang mengejang tiba-tiba. Melihat umpannya mulai berjalan, laki-laki ketiga itu menaiki tangga gantung itu kembali. Lalu masuk kedalam helicopter dibantu oleh laki-laki kedua yang memegangi tangannya.

Sang pilot mulai menerbangkan kembali kendaraan yang dikendalikannya, ketika laki-laki pertama menyerukan perintah kepadanya untuk meninggalkan lokasi. Ketiganya menyandarkan tubuh mereka dengan mata yang sama-sama terpejam rapat. Lalu membuka masker hitam yang sejak tadi menutupi wajah ketiganya bersamaan secara perlahan. Tak ada senyum kepuasan atau rasa bangga dari masing-masing wajah mereka. Tatapan mereka terkesan kosong dan hampa, tubuh mereka melemas dengan kepala yang terkulai lemah pada sandaran tempat duduk didalam helicopter tersebut. Arah pandang ketiganya lurus kedepan, menatap kota Seoul dari ketinggian dimana mereka berada saat ini. Ekspresi ketiganya begitu datar dan dingin.

Sedangkan didalam kamar bernomer 804 itu, beberapa orang polisi lainnya memasuki kamar itu. Dan semua begitu tercengang melihat rekan-rekan mereka tergeletak tak berdaya dengan busa putih yang keluar dari masing-masing mulut mereka. Para polisi itu, menutupi indera penciuman mereka dengan lengan masing-masing agar tak menghirup sisa gas beracun yang masih nampak dipandangan mereka.

Salah satu dari mereka mengumpat kesal ketika menarik kain hitam diatas mayat yang berlumuran darah itu. Melempar kain itu kesembarang arah, dan berteriak keras memberikan perintah kepada anak buahnya. Dengan patuh ketiga anak buahnya tersebut berlari keluar kamar untuk menjalankan tugas dari komandan mereka untuk memanggil ambulans dan tim pelacak agar dapat melakukan investigasi dilokasi tempatnya berdiri sekarang ini.

Mata komandan tersebut mendelik tajam kearah kain hitam yang dilemparnya tadi. Mengepalkan kedua tangannya dengan amarah yang memuncak setiap kali kasus ini kembali terjadi. Dan sialnya bagi sang Inspektur itu, ia merasa begitu dipermainkan oleh ‘bandit brengsek’ itu. Sebutan untuk sang… trouble maker.

89 thoughts on “[AD] TROUBLE MAKER -PROLOGUE-

  1. kaya.a bkal sadis n serem. . kira” siw0n jd apa ya dsini ? serem bgtt kal0 jd c.tr0uble maker. .
    tp lanjutkann th0r ^^

  2. Cerita action pasti seru lanjutin thor!!!😀 oh ya ff author yg lain kapan nih dilanjutin udah lama banget nungguin’y seingatku sih ada 3 ff ya bener gak??hehe cepetan dilanjut ya author yg baik😉
    Fighting…!!!

  3. Wah Action action , diawal udah bikin penasaran kira-kira siiapakah mereka? Apakah siwon masuk di kelompok itu? Ditunggu thor karya selanjutnya dan keep writing!

  4. wooahh agak seram tuh ada cabut2 pisau…
    jadi di ff ini yang jadi trouble maker adalah cowo2 tampan itu :’)
    seru nih pengen cepat2 baca part 1,,😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s