(AD) Could It Be Love Part 4

Cibl

 

 

@echa_mardian

Cast : Choi Siwon, Hwang Miyoung

Genre : Romance, Hurt, Sad

Rating : PG 17

Could it be love

Part 4

 

 

Siwon termenung di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar dan kipas angin yang berputar di atasnya. Kata-kata pedas Miyoung masih terngiang-ngiang di benaknya. Seenaknya saja wanita itu mengatakan kalau anak di dalam perutnya adalah anak Nichkhun. Siwon mendengus lalu tertawa kecil. Ia duduk dari posisi tidurnya kemudian tawanya pun semakin keras. Siwon memukul-mukul bantal dengan gemas.

“Ah, wanita itu konyol sekali! Dengan mengatakan kalau anak di dalam perutnya sebagai anak Nichkhun, secara tak langsung ia mengakui kalau dirinya adalah wanita yang suka tidur dengan banyak pria. Aish, kenapa kau bodoh sekali, Miyoung-ah? Kau tidak bakat berbohong!”

Siwon terus tertawa lalu turun dari tempat tidurnya. Ia menatap langit yang kembali mendung siang itu. Sepertinya akan hujan lagi. Siwon tersenyum. Jika hujan seperti ini, Miyoung tidak akan keluar rumah untuk menjual tanaman dan bunga. Ia mempunyai kesempatan untuk menemani Miyoung dan bertanya lebih jauh tentang Nichkhun. Siwon cukup bersabar dengan pria itu yang ternyata selama ini tahu keberadaan Miyoung.

Namun Siwon tidak bisa menyalahkan Nichkhun sepenuhnya. Karena Siwon tidak bertanya padanya. Dan lagipula, Miyoung pasti mempunyai alasan mengapa hanya Nichkhun yang tahu keberadaannya. Siwon bertanya-tanya siapa lagi yang tahu dimana Miyoung tinggal.

Siwon keluar dari pondok batunya yang sempit lalu sedikit berlari ke rumah Miyoung. Ketika melintasi pondok tanaman Siwon melihat tanaman yang dicabutnya kemarin telah layu. Ia berdecak sambil mengucapkan duka untuk tanaman itu di dalam hati. Siwon tahu Miyoung pasti belum melihatnya.

Sampai di teras rumah Siwon tersenyum lebar ketika melihat pintu dan jendela yang terbuka. Lalu tanpa mengucapkan salam sepatah pun, Siwon masuk. Ia tidak peduli kalau Miyoung akan berteriak di depan wajahnya lagi. Ia hanya ingin Miyoung jatuh cinta padanya dan ia telah berjanji akan membahagiakan wanita itu.

Siwon benar-benar terfokus pada Miyoung. Wanita itu telah membuatnya kehilangan pikiran akan masalah lain, termasuk perusahaannya. Tetapi ia mempunyai sahabat-sahabat Ayahnya yang bisa mengatasi segalanya, bahkan lebih hebat dari dirinya. Tujuan Siwon saat ini adalah membawa Miyoung kembali padanya, ke rumahnya.

Langkah pria itu terhenti ketika melihat Miyoung yang ternyata beristirahat di kursi panjangnya yang nyaman.Matanya yang indah tertutup dan angin memainkan anak rambut yang ada di keningnya. Siwon termagu menatap Miyoung. Tak ada yang lebih menawan dari Miyoung, menurutnya. Siwon berjalan mendekat lalu berlutut di dekat kursi tersebut, membuat wajahnya sejajar dengan kepala Miyoung.

Wanita hamil membutuhkan tidur siang yang nyaman, batin Siwon. Ia baru menyadari kalau Miyoung telah menghabiskan makan siangnya juga. Terlihat dari piring-piring kosong di atas meja dan kulit apel serta pisang. Semuanya habis tak bersisa. Siwon tersenyum haru. Ia senang Miyoung mencukupi nutrisi makanannya.

Tangan Siwon terangkat untuk merapikan rambut yang menutupi mata Miyoung. Wanita itu pasti tidur sangat pulas karena kekenyangan. Ditambah lagi dengan angin yang sedikit dingin. Siwon tidak bosan menatap wajah cantik di hadapannya. Bulu mata yang bergerak-gerak karena matanya yang berkedut, bibirnya yang terkadang mengerut, lalu dengkuran halus yang terdengar merdu di telinga Siwon.

Mata Siwon berkaca-kaca. Ternyata rasanya sangat membahagiakan jika kita sungguh-sungguh merasakan cinta. Siwon sangat mencintai Miyoung dan ia sangat beruntung bisa menemukannya lagi. Apapun yang akan dikorbankannya, ia takkan melepaskan Miyoung lagi.

Tiba-tiba sudut-sudut bibir Miyoung bergerak-gerak pelan. Siwon menahan napas, waspada. Miyoung pasti akan sangat terkejut jika ia membuka mata dan orang yang pertama yang dilihatnya adalah Siwon. Namun ternyata Miyoung tidak terbangun.

Apa ia sedang bermimpi?

“…ngh…aku mohon pergilah…”

Siwon tertegun. Kepala Miyoung bergerak-gerak pelan.

“…aku ingin kau pergi, Siwon…aku tidak ingin…jatuh cinta padamu…”

Siwon tidak tahu harus bahagia atau sedih mendengarnya. Miyoung mengigau tentang dirinya tetapi sepertinya Miyoung takut jatuh cinta kepadanya. Siwon sudah bisa menyimpulkan hal itu. Jadi Miyoung takut jika Siwon lebih lama disini bersamanya, wanita itu akan jatuh cinta dengan perubahannya. Siwon yakin akan kesimpulan tersebut.

Siwon pun tersenyum manis. Terima kasih Cintaku, kau telah membantuku untuk mencari cara agar akhirnya kau bisa jatuh cinta padaku.

Perlahan tapi pasti, Siwon maju untuk mendekati wajah Miyoung. Matanya terpaku pada bibir Miyoung yang sedikit terbuka. Siwon memejamkan matanya kemudian mendaratkan kecupan hangat dan lembut di bibir Miyoung. Seketika itu aliran hangat mengalir di seluruh tubuhnya. Siwon merinding menyadari betapa ia merindukan ciuman mereka.

Siwon menahan diri agar tidak melumat mulut itu lebih lama. Ia segera menarik tubuhnya dengan perlahan, takut Miyoung terbangun. Namun sepertinya Miyoung benar-benar pulas sehingga ia tidak menyadari Siwon baru saja mencuri ciumannya. Siwon menahan tawa.

Pria itu bangkit dan berjalan ke arah jendela. Siwon menutupnya lambat-lambat. Udara semakin dingin karena gerimis telah turun ke bumi dan udara seperti itu tidak baik untuk Miyoung. Siwon bergerak serba pelan seperti seorang perampok ketika mengambil ember untuk menampung air hujan dari atap yang bocor. Ia tahu rumah Miyoung dalam kondisi tidak baik jika hujan turun.

Siwon teringat akan pakaian yang dicucinya kemarin. Ternyata masih di tali jemuran. Siwon mempercapat langkahnya ke belakang rumah lalu mengangkat pakaian-pakaian yang telah kering tersebut. Siwon ingat betapa murkanya Miyoung ketika melihat Siwon telah mencuci pakaiannya.

Siwon meletakkan pakaian bersih itu di kursi ruang tengah, tak jauh dari tempat Miyoung tidur. Dan ketika ia masih melihat jaket Nichkhun tergantung disana, Siwon langsung mengambilnya dan melemparkannya ke lantai untuk kemudian diinjak-injaknya.

“Aish, aku akan membakar jaket sialan ini!”

Mendengar suara Siwon yang sedikit keras, Miyoung pun terbangun. Ia membuka matanya perlahan. Ia mendapatkan mimpi yang sangat tidak disukainya. Bagaimana bisa ia bermimpi dicium oleh seorang pria yang tak lain adalah Siwon?! Miyoung tidak mengerti mengapa ia memimpikan Siwon. Apa karena akhir-akhir ini ia selalu memikirkan bagaimana bencinya ia kepada pria tersebut?

Masa bodoh dengan itu, tetapi entah mengapa Miyoung senang mendapati bibirnya yang terasa masih hangat. Mimpi yang aneh, batinnya. Mata Miyoung telah terbuka sempurna dan pandangannya tepat pada seorang pria yang tinggi menjulang tak jauhnya, sedang menginjak-injak sesuatu di lantai.

Miyoung mengernyit bingung. Meskipun matanya telah terbuka, namun kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Kenapa Siwon terus memenuhi pandangannya? Apa ia masih bermimpi? Namun setelah mendengar Siwon mengumpat lagi, ia yakin kalau ia telah terbangun.

“Aku ingin tahu kenapa ia tidak memberitahu tentang keberadaan Miyoung. Aish!”

“Choi Siwon?! Kenapa kau disini?” seru Miyoung serak.

Siwon menghentikan kakinya lalu menoleh pada Miyoung. Senyum lebar dan konyol langsung terlihat di wajahnya. Miyoung berdiri dengan susah payah, sehingga membuat Siwon berlari menghampirinya. Miyoung menepis tangan Siwon dengan kasar.

“Aku tidak sudi jika kau menyentuhku!” bentak Miyoung. Siwon terpaku. “Ternyata kau masih tidak mempunyai tata krama. Bahkan gelandangan pun lebih sopan darimu! Keluar dari rumahku! SEKARANG!!!”

Siwon tercekat. Padahal ia masih ingin menemani Miyoung di tengah-tengah hujan yang mungkin akan datang nanti. Tapi tidak ada pilihan lain. Ia tidak ingin memancing emosi Miyoung lebih jauh karena bisa berdampak pada kandungannya. Siwon pun berjalan mundur.

“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Sebentar lagi akan hujan lebat, jadi aku telah mengangkat pakaian bersihmu. Eum…dan aku senang kau menjaga kehamilanmu dengan baik.”

Miyoung diam saja. Ia heran kenapa Siwon masih bisa tersenyum tanpa beban seperti itu.

“Aku pergi. Panggil saja jika kau membutuhkanku. Aku akan siap membantumu.”

Siwon pun keluar dari rumah lalu menutup pintu dari luar. Miyoung merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Kenapa Siwon mulai menyiksa batinnya lagi? Tapi, bukan dalam arti buruk. Pria itu telah membuatnya bimbang, meskipun sedikit demi sedikit.

Dan Miyoung tidak ingin ucapan Yoona terbukti benar!

***

 

Kini hari telah berganti dengan minggu. Kandungan Miyoung semakin tua dan mencapai 8 bulan. Siwon pun tidak dapat dipisahkan dari Miyoung, meskipun ia sering kali mendapatkan bentakan dan makian. Terkadang membuat Yoona heran. Miyoung bersikap membenci Siwon saat berada di dekat pria itu, namun tampak linglung jika pria itu menghilang sebentar saja. Yoona ingin mengemukakan pendapatnya kepada Miyoung, tetapi takut wanita itu akan menyangkalnya lagi.

Siwon berubah semakin baik. Ia membeli buku panduan memasak dan merawat tanaman serta bunga hias lalu mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Miyoung memperhatikan hal itu. Sesungguhnya ia memperhatikan apa saja yang dilakukan Siwon. Hanya saja Miyoung tidak menyadari apa yang dilakukannya.

“Gomawo, Ahjumma!” ucap Miyoung kepada pedagang tahu. Wanita itu tersenyum manis kepada Miyoung yang baru saja membeli barang dagangannya, lalu beralih menatap Siwon yang masih setia mengikuti Miyoung di belakang.

“Aigoo, kalian pasangan yang sangat serasi. Aku baru tahu kalau suamimu sangat tampan, Miyoung-ssi.”

Siwon tersenyum lebar sementara Miyoung cemberut.

“Ahjumma, sudah berulang kali kukatakan kalau dia bukan suamiku. Dia hanya tetanggaku,” sangkal Miyoung.

“Sayang sekali kalau begitu. Aku kira anak muda yang tampan ini adalah suamimu,” sesal si pedagang tahu.

Miyoung menggeleng kecil lalu beranjak dari sana. Siwon kembali mengkutinya. Miyoung telah selesai membeli semua bahan masakannya pagi ini. Ketika ia melangkah menuju rumah, barulah ia merasakan betapa lelah kakinya. Akhir-akhir ini banyak bunga yang harus dijual sebab tanaman-tanaman itu bersemi setelah musim hujan. Meskipun Siwon bersikeras membantunya, tetapi Miyoung tetap mengerjakannya sendiri. Lagipula ia menyibukkan dirinya untuk mengalihkan perhatiannya dari Siwon.

“Aku heran kenapa kau masih menyangkal kalau kau mulai menyukaiku.”

Miyoung berhenti melangkah demi mendengar komentar menyebalkan dari belakangnya. Ia membalikkan badan dan melihat Siwon yang tersenyum dengan sangat percaya diri.

“Apa maksudmu?”

“Kau mulai menyukaiku, Nona Hwang.”

Miyoung membuka mulutnya tanpa suara. Kenapa pria ini selalu menyebalkan?

“Ya Tuhanku, kenapa rasa percaya dirimu tinggi sekali? Memangnya apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” tuntut Miyoung.

Siwon bersidekap. Tatapannya melembut pada Miyoung. “Karena kau mulai terbiasa dengan keberadaanku. Kau tidak pernah lagi mengusirku dan sepertinya…kau menikmati saat aku menggodamu.”

“Mwo??”

“Dan Yoona bilang, kau kebingungan jika aku tidak muncul di hadapanmu. Wah, aku ingin sekali melihat bagaimana bingungnya dirimu.”

Kini Miyoung benar-benar terperangah. “Yoona???”

Siwon mengangguk santai. “Sangat menyenangkan berteman dengannya. Ternyata gadis itu bisa diandalkan untuk dijadikan sumber informasi. Dia juga berkata, kau telah menolak Nichkhun karena kau tidak menyukainya. Itu adalah berita paling baik yang pernah kudengar dalam hidupku akhir-akhir ini.”

Mulut Miyoung terbuka dan tertutup tetapi tidak berhasil mengeluarkan satu patah katapun. Ia tidak tahu kalau Siwon mengorek informasi dari Yoona, teman dekatnya yang mengetahui hampir semua rahasianya. Dan ia tidak menyangka kenapa Yoona berada di pihak pria yang telah menghancurkan hidupnya!

“Aku akan mencekik gadis itu,” gerutu Miyoung pelang, namun tetap terdengar oleh Siwon. Pria itu tertawa.

“Aku tidak akan membiarkanmu mencekiknya, Miyoung-ah.”

Miyoung mendengus. “Oh, kau membelanya ya! Apa kalian berteman sangat dekat hanya untuk mengolok-olokku?” Miyoung berubah sinis.

“Kami tidak mengolok-olokmu! Miyoung-ah, Yoona sangat menyayangimu oleh karena itu ia mempercayaiku untuk menjagamu. Lagipula ia mengatakan yang sebenarnya!”

“Yoona memang menyayangiku, aku tahu itu! Tetapi kau telah menipunya dengan bersikap pura-pura baik agar ia mau membuka mulutnya!”

Siwon mengerjap kaget. “Aku tidak menipunya!”

Miyoung tidak ingin berdebat lebih lama dengan Siwon. ia melanjutkan langkahnya dan pria itu cepat-cepat mensejajarkan langkah mereka.

“Ah, aku tahu sekarang! Kau cemburu padanya, kan?” tebak Siwon sekaligus menggodanya.

“Apa katamu?” bentak Miyoung. Siwon menahan tawa. Miyoung memang menyangkal namun wajahnya memerah karena malu. Siwon tahu tebakannya tepat.

“Aku sama sekali tidak—“

“Miyoung-ah?”

Ucapan Miyoung terhenti karena sebuah suara yang tiba-tiba memanggil namanya. Siwon ikut menoleh bersama Miyoung. Pria itu terdiam saat melihat siapa yang berdiri tak jauh dengan mereka sekaligus yang baru saja memanggil Miyoung.

Senyum hilang dari wajah Siwon, berganti dengan tatapan sinis dari matanya. Nichkhun, pria yang mencoba merebut Miyoung darinya, kini berdiri di mulut gang, di samping motornya. Sepertinya ia baru saja tiba dan melihat perdebatan Siwon dan Miyoung.

Nichkhun sama terkejutnya dengan Siwon. Ia kehilangan kata-katanya melihat ternyata Siwon sudah menemukan Miyoung. Itulah hal yang dicemaskan Nichkhun, akhirnya Miyoung bertemu lagi dengan Siwon.

Selagi kedua pria itu saling melempar tatapan sinis satu sama lain, Miyoung segera menghampiri Nichkhun.

“Nichkhun-ssi, kenapa tidak menghubungiku dulu sebelum kemari? Aku kan bisa memasak untukmu lebih pagi,” seru Miyoung dengan suara ceria. Nichkhun melepaskan pandangannya dari Siwon dan tersenyum pada Miyoung.

“Mianhae. Aku lupa memberitahumu. Bagaimana keadaanmu?” tanya Nichkhun lembut. Sedangkan Siwon hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri.

“Aku sehat, kandunganku juga. Kalau begitu, ayo kita ke rumah! Aku akan memasak untukmu dan kita sarapan bersama! Otte?”

Nichkhun mengangguk. “Baiklah. Aku akan membantumu.”

Miyoung menarik lengan Nichkhun dan membawa pria itu masuk gang bersamanya, tanpa menoleh sedikitpun pada Siwon. Nichkhun masih penasaran mengapa Siwon bisa berada di desa ini, bersama Miyoung! Jelas sekali ada sesuatu yang terlewatkan olehnya. Apa Siwon sudah lama berada disini? Tetapi mengapa Miyoung tidak memberitahunya?

“Miyoung-ah, kenapa Siwon ada disini?” bisik Nichkhun.

“Jangan membicarakannya sekarang. Nanti saja kuceritakan padamu,” balas Miyoung dingin.

Siwon terpaku sementara di tempatnya. Pandangannya tak lepas dari dua orang yang kini telah jauh di depannya. Apa Miyoung sengaja memanas-manasi dirinya? Dan untuk apa Nichkhun kesini? Dari pembicaraan mereka sepertinya Nichkhun memang sering berkunjung ke rumah Miyoung.

Pria itu mengepalkan tangannya. Sejak kematian Ayahnya ia telah belajar bagaimana caranya mengendalikan emosi, meskipun terkadang Siwon masih meledak-ledak. Tapi di kondisi saat ini, melihat Miyoung menggandeng akrab tangan Nichkhun, membuat dada Siwon terasa akan hancur. Sesak sekali dan ia tahu seharusnya ia tidak melihat pemandangan itu. Namun matanya menolak untuk berpaling.

Dengan langkah tergesa-gesa Siwon pun menghampiri keduanya. Seperti Siwon yang dulu, ia tidak menjadi Siwon yang baik hati lagi jika emosinya telah mencapai pucak. Diterkamnya dengan kencang tangan Miyoung yang menjijing keranjang belanjaan dan ditariknya ke belakang, sehingga Miyoung sedikit terhuyung dan bahan-bahan masakannya berserakan di tanah. Beruntung Nichkhun dengan sigap memeluk tubuh Miyoung agar wanita itu tidak terjungkal ke belakang.

“Aaaaah!” pekik Miyoung kaget.

“Siwon-ssi, apa yang kau lakukan?!” sembur Nichkhun seraya menarik Miyoung menjauh dari Siwon.

Siwon berdiri tegap. Tubuhnya keras dan berbahaya. Miyoung menelan ludah melihat betapa mengerikannya Siwon jika sedang marah. Tubuhnya gemetar ketakutan.

“Lepaskan tanganmu darinya!” teriak Siwon.

“Tidak akan jika kau akan menyakitinya lagi,” sergah Nichkhun. Miyoung menggigil di belakangnya.

Siwon melangkah dengan cepat lalu menyambar kerah jaket kulit Nichkhun, menjauhkannya dari Miyoung.

“Sudah lama aku menantikanmu. Aku bertanya-tanya sudah berapa lama kau diam-diam mengunjungi Miyoung. Kenapa kau tidak memberitahuku, eoh?” desis Siwon tepat di depan wajah Nichkhun. Nichkhun menatapnya tajam.

“Bukan urusanmu kalau aku sering berkunjung kesini. Miyoung tidak ingin keberadaannya diketahui oleh siapapun, terutama kau, Choi Siwon.”

BUGG!!

Miyoung menjerit ketika tubuh Nichkhun tumbang ke tanah. Siwon baru saja meninju perutnya dengan keras, membuat Nichkhun melenguh kesakitan. Namun tidak seperti pukulan yang pernah dilayangkan Siwon dulu padanya, kali ini Nichkhun tidak tinggal diam. Siwon telah mempermalukannya sebanyak dua kali di depan Miyoung.

Ia pun bangkit dan dengan kecepatan yang tidak dapat dielakkan Siwon, pria itu meninjunya tepat di wajah. Siwon terjungkal ke belakang. Ia pikir hidungnya patah sebab rasanya benar-benar kebas. Siwon mengerjap-ngerjapkan mata. Pandangannya tak fokus akibat pukulan di wajahnya yang sangat keras dan menyakitkan. Tetapi Siwon masih bisa melihat Miyoung menutup mulutnya dengan tatapan sendu.

Geez, Siwon merasa sangat bodoh saat ini. Dipukul oleh Nichkhun tepat di hadapan wanita yang dicintainya. Perlahan Siwon berdiri sambil menyeka aliran darah di hidungnya.

“Kenapa, Miyoung? Kenapa kau tidak ingin aku menemukanmu? Apakah aku benar-benar orang yang kau benci seumur hidupmu?” tanya Siwon serak. Airmatanya telah berlinangan, begitu juga dengan Miyoung.

“Aku melakukan semua ini karena aku sadar betapa jahatnya aku dulu padamu. Aku tidak pernah marah padamu jika kau mengusir bahkan menghinaku sebab sikapku dulu padamu jauh lebih buruk. Aku tahu, kau tidak mencintai Nichkhun, tetapi haruskah kau bersikap manis padanya di depanku? Apa maksudmu? Jika kau tidak peduli padaku, sebenarnya kau tidak perlu memanas-manasiku, Miyoung. Karena kau peduli oleh sebab itu kau melakukannya. Kau tidak bisa mengelak lagi, Miyoung-ah.”

Airmata telah mengalir di pipi Miyoung. Sedangkan Nichkhun berpikir di tempatnya. Ia sudah dapat menyimpulkan situasi ini.

“Yang aku pedulikan adalah kau pergi dari kehidupanku, Siwon! Kehadiranmu membuatku semakin sengsara. Aku tidak akan pernah menerimamu, apa kau paham hal itu?”

Nichkhun tercekat. Ia menatap Miyoung sungguh-sungguh. Ada kesedihan mendalam di mata indah Miyoung.

“Baiklah,” ucap Siwon praktis. Hati Miyoung mencelos. “Aku akan pergi jika itu yang kau inginkan.”

Miyoung merasa jiwanya hilang seketika dan ia tidak tahu mengapa. Siwon beralih menatap Nichkhun.

“Maafkan aku. Aku harap kau dapat menjaganya, Nichkhun-ssi.”

Dan ketika Siwon membalikkan badan dan berjalan bukan ke arah rumah, saat itu pula Miyoung hampir ambruk dari tempatnya berdiri. Nichkhun memegangi tangan Miyoung.

“Gwaenchana?” tanya Nichkhun. Miyoung mengangguk.

Nichkhun menyadari perubahan di wajah Miyoung. Matanya pun menyorotkan kehilangan yang tidak terduga. Kini Nichkhun tahu, apa alasan Miyoung menolak cintanya. Ia memang bukan ahli cinta, tapi ia bisa membaca apa yang terjadi pada Miyoung.

Dengan senyum yang mengembang di wajah tampannya, Nichkhun berkomentar, “Kau mencintainya, Miyoung-ah. Kau mencintai Choi Siwon.”

***

 

“Apakah kau sudah menemukan dimana adikku berada?”

Pria di hadapan Chae Ya mengangguk dan menyerahkan beberapa lembar foto kepada wanita yang merupakan bosnya itu. Chae Ya tidak ingat telah meminta apapun dari pesuruhnya, ia hanya ingin tahu dimana adiknya sekarang. Namun ia tetap mengambil lembar-lembar foto tersebut. Chae Ya mengalihkan pandangannya kepada objek yang ada di dalam foto.

Chae Ya pun tercekat seketika.

“Nona Hwang Miyoung tinggal di desa kecil bernama Namdo, Mokpo. Ia mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan menanam lalu menjual bunga serta tanaman hias. Dan seperti yang Anda lihat, adik Anda sedang hamil tua. Pria yang bersamanya adalah Choi Siwon. ia berhasil menemukan Nona Miyoung.”

Chae Ya kehilangan kata-kata untuk beberapa menit. Ia terhenyak ke atas kursi yang ada di belakangnya. Dipandanginya foto-foto itu sekali lagi. Usahanya untuk menemukan Miyoung terlebih dahulu ternyata telah dikalahkan Siwon. Chae Ya sungguh cemas saat ini. Terlebih lagi kondisi Miyoung kini tengah hamil tua. Jika dilihat dari besarnya perut Miyoung, kira-kira kandungannya telah melebihi 8 bulan, bertepatan dengan perginya Miyoung dari rumah Tuan Choi.

Chae Ya meremas tepi kursi. Matanya terpaku pada foto Miyoung dengan Siwon yang berjalan di belakangnya. Satu pertanyaan besar di dalam kepala Chae Ya yaitu; siapa yang menghamili Miyoung?

Ia menggigit bibir bawahnya. Ia teringat dengan foto yang diperlihatkan Siwon saat ia baru saja menikah dengan Tuan Choi. Siwon mengatakan kalau ia telah meniduri Miyoung. Hati Chae Ya mencelos. Ia kira Siwon hanya mempermainkannya!

Jadi itu benar. Apakah benar-benar Siwon yang menghamili Miyoung? Lantas, karena itukah Miyoung keluar dari rumah Tuan Choi? Apa Siwon yang telah mengancam Miyoung? Lalu, kenapa saat ini pria itu mengejar adiknya lagi?

“Aaaarrgh!” jerit Chae Ya membuat pesuruhnya terkejut. “Min Ho, ikuti mereka terus! Suatu saat aku akan memisahkan mereka. Siwon tidak boleh mendapatkan adikku sebelum ia memenuhi permintaanku.”

 

***

 

Miyoung menatap langit malam yang gelap dan sedang mencurahkan hujan. Sudah pukul 8 malam tetapi tidak ada tanda-tanda Siwon kembali ke pondoknya. Miyoung teringat komentar Nichkhun tadi pagi. Dua kalimat yang telah menyentuh bagian terdalam hatinya. Miyoung menyeka airmatanya. Jika ia telah jatuh cinta pada Siwon seperti yang dikatakan Nichkhun, lalu kenapa ia menutupinya dengan perasaan benci? Miyoung mengakui kalau perubahan Siwon telah membuatnya lega, tetapi ia tidak yakin apakah ia telah jatuh cinta.

Pernyataan itu selalu berulang-ulang terngiang di benak Miyoung. Hatinya juga ikut mempertanyakan. Namun jawabannya selalu sama; aku membenci Siwon.

Kepalanya tiba-tiba pusing sehingga ia harus berpegangan pada mulut jendela. Ah, masalah yang berhubungan dengan Siwon tidak ada habisnya. Mau tak mau Miyoung memikirkannya. Lalu tak cukup sampai disitu. Rasa sakit yang amat sangat terasa di perutnya, membuat Miyoung tercengang. Demi Tuhan, rasanya sungguh mengerikan! Perut Miyoung terasa bergejolak dengan perih di dekat kewanitaannya.

Miyoung tidak dapat bertahan lagi. ia berlutut dan terdengar erangan kesakitan dari mulutnya. Miyoung memejamkan mata erat-erat, berharap rasa sakit yang baru dirasakannya sekarang itu hilang dalam sekejap. Keringat bercucuran dari pori-pori tubuhnya.

“Akh, sakit sekali. Ya Tuhan, sshh…Toloooong!”

Tidak ada yang mendengar jeritan Miyoung dintara suara deras hujan. Andai saja Yoona tidak pergi ke Pulau Jeju untuk mengunjungi Neneknya, andai saja Nichkhun tidak pulang cepat tadi pagi, andai saja Siwon berada di sisinya saat ini,…

Miyoung meringis kesakitan. Disaat genting seperti ini Miyoung masih bisa memikirkan kehadiran Siwon untuk dapat menolongnya. Ia sangat membutuhkan orang lain saat ini. Perutnya seperti hendak meledak.

“Aaaaaaakh! Tolooooong!”

Kandungannya masih 8 bulan dan belum saatnya melahirkan, tetapi yang dirasakan Miyoung hampir meregang nyawanya. Ia terbaring di lantai rumahnya dan merasakan sesuatu yang hangat mengalir di kakinya.

“Sakit sekaliiiiiii!!!”

Braaakk!

Bagaikan sambaran kilat, pintu rumah Miyoung terbuka dengan bunyi derak yang keras. Siwon! Pria yang kini basah kuyup itu menerjang pintu yang terkunci. Ia tengah berjalan di depan rumah Miyoung di bawah siraman hujan yang tak diindahkannya ketika mendengar teriakan kesakitan Miyoung. Siwon tadinya berjalan sambil terus memikirkan pertengkaran mereka tadi pagi. Siwon tidak benar-benar pergi. Ia menghabiskan waktu dengan menyendiri di dekat pelabuhan, menyaksikan nelayan-nelayan yang pulang dari tengah laut.

Disana Siwon berpikir, tidak ada gunanya ia pergi. Tujuannya adalah mendapatkan Miyoung kembali. Dan ia akan memperjuangkan hal itu sampai tarikan napas terakhirnya.

Dan disinilah Siwon, di dalam rumah Miyoung. Siwon tercekat melihat kaki Miyoung yang bersimbah darah sementara keringat dingin membasahi wajah dan pakaian wanita itu. Siwon segera menghampiri Miyoung dan berlutut di sampingnya. Pria itu mengangkat kepala Miyoung dan mengguncangnya lembut.

“Ya Tuhan, ada apa denganmu? Apa kau tergelincir?” tanya Siwon panik.

Kepala Miyoung menggeleng lemah. Wajahnya pucat pasi. Siwon menelan ludah. Apa yang harus dilakukannya di tengah hujan lebat begini? Ia tidak mempunyai kendaraan untuk membawa Miyoung ke rumah sakit!

“S-Si…Siwon…ss-sakit sekali. Sssiwon,” rintih Miyoung dalam isakannya.

Mendegar suara yang tak berdaya itu, Siwon menggeram. Ia bagaikan mendapatkan kekuatan yang entah dari mana datangnya. Ia bangkit lalu membawa Miyoung ke dalam gendongannya. Tangan kirinya yang memegangi kaki wanita itu telah terkena banyak darah. Demi Tuhan, apa kandungan Miyoung baik-baik saja?

Siwon dengan hati-hati menuruni tangga saat di luar rumah. Dengan tekad bulat ia berlari menembus hujan lebat sambil mengeratkan pegangannya pada Miyoung. Diluar gang ia pasti mendapatkan taksi atau kendaraan umum lainnya. Miyoung menggigil kedinginan karena air hujan langsung menerpa tubuhnya. Ia tidak tahu kemana Siwon akan membawanya.

“Tenanglah, Miyoung-ah. Aku akan membawamu ke rumah sakit. Pejamkan saja matamu, aku akan selalu berada di sisimu.”

Itulah kata-kata terakhir Siwon yang terdengar olehnya ketika ia menutup mata.

***

 

Siwon menyeka airmatanya lalu kembali menggenggam sebelah tangan Miyoung yang terbaring lemah di atas ranjang. Tangan wanita itu telah menjadi hangat, tidak seperti sebelumnya, kaku dan dingin. Siwon menempelkan bibir dan hidungnya di telapak tangan Miyoung. Ia bersyukur tidak terlambat membawa Miyoung ke rumah sakit. Pendarahan wanita itu disebabkan oleh plasenta yang sedikit menutupi leher rahimnya, namun untung saja bisa ditangani dengan cepat. Dan juga faktor kelelahan dan emosional yang sudah tidak bisa dikontrol oleh tubuhnya. Dokter yang menangani Miyoung berkata kalau Miyoung tidak boleh bekerja lagi dan harus beristirahat sekitar 4 hari di rumah sakit.

Siwon belum sepenuhnya lega, mengingat kandungan Miyoung belum 9 bulan. Ia takut anaknya mengalami sesuatu yang buruk di dalam sana. Oleh sebab itu ia meminta dokter tersebut melakukan USG pada kandungan Miyoung. Dokter tersebut menyetujuinya dan Miyoung akan melakukan USG saat terbangun besok hari.

“Mianhae, aku telah banyak menyakitimu,” ungkap Siwon penuh penyesalan. Airmatanya jatuh ke tangan Miyoung. “Jika aku tidak di dekatmu, mungkin kau tidak akan mengalami ini. Tetapi aku tidak bisa jauh darimu. Apa yang harus kuperbuat, Miyoung-ah?”

Siwon mengecup jari-jari tangan Miyoung dengan sepenuh hati. Ia sangat mencintai wanita ini, mungkin melebihi jiwanya sendiri. “Aku sangat mencintaimu, kau harus tahu itu, Hwang Miyoung.”

Pria itu pun bangkit lalu mengecup kening Miyoung. Lembut sekali, seolah-olah takut Miyoung akan hancur bila ia menyentuhnya. Setelah mengecup kening Miyoung cukup lama, ia merasakan wanita itu membuka matanya. Siwon menunduk untuk menatap mata indah itu. Ia tersenyum, lega karena mata itu masih berbinar seperti biasanya.

“Annyeong,” sapa Siwon.

Miyoung tidak terkejut melihat Siwon. ia bahkan telah terbiasa melihat pria itu dimana-mana, baik di dunia nyata atau di dalam mimpinya. Hanya saja Miyoung masih belum ingin menunjukkan perasaannya. Mereka bertatapan dalam jarak pandang yang sangat dekat. Miyoung dapat melihat kelelahan di mata Siwon dan rambut-rambut halus menutupi rahang serta dagunya.

Miyoung sibuk mengamati Siwon sampai-sampai tidak merasakan sakit yang tadi menjalari perutnya. Tetapi, rasa sakit itu memang sudah hilang sebab dokter telah menyuntikkan obat penenang ke dalam tubuhnya.

“Perutmu masih sakit?” tanya Siwon lembut. Miyoung menggeleng lemah. Kemudian ia memandangi tangannya yang digenggam Siwon. Ia mengernyit melihat Siwon masih mengenakan baju dan celananya yang basah.

“Pakaianmu basah,” ucap Miyoung pelan. Siwon tertawa kecil.

“Aigoo, kenapa aku tidak menyadarinya? Ah, jinjja. Biarkan saja, nanti juga kering di badanku.”

Bibir Miyoung mengerucut, jelas-jelas tidak setuju dengan Siwon.

“Kau harus menggantinya atau kau akan sakit.”

Siwon menatap Miyoung penuh arti. Apa Miyoung mulai memperhatikannya?

“Baiklah.”

 

***

 

 

Miyoung membuka matanya pagi itu dan sosok pertama yang dilihatnya adalah—lagi-lagi—Siwon. Pria itu menaruh kepalanya di sisi tempat tidur dan tangannya menggenggam tangan Miyoung. Wanita itu tidak menepis tangan Siwon sebab takut Siwon akan terbangun. Siwon telah menjaganya semalaman, pasti ia membutuhkan istirahat.

Tanpa aba-aba kejadian semalam kembali berputar di otaknya. Siwon datang tepat waktu dan melarikannya ke rumah sakit. Pria itu tidak peduli dengan berat tubuhnya dan hujan lebat yang mengguyur. Siwon benar-benar berubah menjadi pria yang lebih baik.

Miyoung menggigit bibirnya. Apakah ia mulai luluh? Apakah rasa bencinya telah berubah menjadi cinta?

Menyadari pertahanannya yang mulai goyah, Miyoung bergegas menepis tangan Siwon. Tidak terlalu kencang tetapi cukup membuat Siwon tersentak. Pria berambut hitam itu menegakkan kepalanya sambil membuka mata perlahan. Miyoung mengalihkan pandangan.

“Eoh, kau sudah bangun?” gumamnya. Miyoung tidak menjawab.

“Miyoung-ah, aku akan mengambilkan sarapanmu. Tunggu sebentar!” kata Siwon lagi lalu beranjak dari kamar. Miyoung menatap punggung pria yang berjalan meninggalkan kamar itu. Ia menghela napas.

“Apa yang harus kulakukan? Aku membiarkannya berbuat sesuka hati terhadap perasaanku,” gumam Miyoung.

Tak lama kemudian Siwon kembali dengan satu nampan berisi penuh dengan makanan serta buah. Senyum lebar mengembang di wajahnya yang tampan. Ia meletakkan nampan tersebut di meja dorong yang tersedia di kamar itu. Selanjutnya Siwon membantu Miyoung duduk dari tidurnya dan menggeser tiang infuse agar slangnya tidak meregang.

“Nah, selamat makan.”

Miyoung hanya diam dan menatapi mangkuk bubur dan sup di hadapannya. Sebenarnya perut Miyoung lapar sekali, tetapi ia tidak ingin Siwon puas karena telah berhasil membuatnya patuh. Siwon mengernyitkan kening melihat Miyoung yang sepertinya tidak berselera. Siwon tidak percaya kalau wanita hamil ini tidak merasa lapar.

“Hei, tunggu apa lagi? Oh, kau ingin kusuapi ya?” goda Siwon seraya duduk di tepi ranjang. Miyoung langsung memberinya tatapan tajam. Sayangnya tidak melunturkan semangat Siwon untuk mendekatinya.

“Kau lapar dan aku tahu itu. Makanlah sekarang, atau kalau tidak, aku akan menyuapimu.”

Miyoung mengerjap polos padanya. Terang saja Siwon gemas. Maka Siwon pun melingkarkan tangan kekarnya di perut buncit Miyoung. Miyoung terperangah kaget.

“Kau—“

“Atau aku akan menciummu. Kau pilih makan atau kucium? Kalau aku menjadi dirimu, aku akan memilih pilihan kedua.”

Miyoung melepaskan tangan Siwon dari perutnya. “Lebih baik aku makan makanan tak enak daripada harus menciummu. Tolong jauh-jauh dariku, aku ingin makan dengan tenang!”

Siwon menyeringai. “Aku senang mendengarnya haha!”

Miyoung mendengus. “Tch, dasar tidak punya malu.”

“Tetapi kau menyukainya hehe,” sambung Siwon lalu duduk di sofa.

Selama 15 menit kamar rawat itu hening dari suara manusia. Yang terdengar hanya suara denting sendok dan piring dari meja Miyoung. Siwon tidak berhenti mengamati wanita itu meskipun perutnya sendiri juga lapar. Baginya melihat keadaan Miyoung membaik sudah cukup. Ia tidak peduli dengan penderitaan diri sendiri.

Tepat setelah Miyoung menyelesaikan sarapannya, seorang suster masuk dengan mendorong kursi roda. Ia tersenyum ramah kepada Siwon dan juga Miyoung. Siwon berdiri lalu menghampiri Miyoung.

“Selamat pagi Tuan dan Nyonya Choi. Sudah saatnya Ny. Choi Miyoung melakukan USG.”

Mendengar kejanggalan pada namanya Miyoung pun terkejut. Ia menoleh pada Siwon sekilas lalu kembali menghadapi suster.

“Suster, saya rasa ada kesalahan pada nama depan saya,” kritik Miyoung, sementara Siwon menahan senyum di sampingnya.

Suster itu kembali menunduk memandangi catatan di tangannya kemudian tersenyum kepada Miyoung. “Maaf, Nyonya Choi. Nama Anda sesuai dengan data yang diberikan oleh suami Anda.”

Miyoung terperangah melihat arah pandangan Suster tersebut, tepatnya ke arah Siwon. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa-apa lagi, gadis berseragam putih itu membungkuk sopan kemudian berjalan meninggalkan ruangan. Alhasil Miyoung hanya memelototi Siwon yang kini tengah menarik kursi roda ke samping ranjangnya.

Sadar dipandangi secara tajam oleh Miyoung, akhirnya Siwon mendesah. Ia menumpukan kedua tangannya di tepi ranjang dan mencondongkan tubuh ke arah Miyoung.

“Aku tahu kau pasti kesal karena aku mengatakan pada mereka kalau kita adalah suami istri. Tapi apa kau mau orang-orang di rumah sakit ini menganggap kau hamil tanpa seorang suami?”

Miyoung mendengus kasar.

“Aku tidak peduli apa pendapat orang lain. Lagipula memang kenyataannya aku hamil tanpa suami,” tandasnya ketus.

Siwon tertegun. Sekali lagi Miyoung telah membuatnya merasa semakin bersalah. Ia menatap Miyoung dengan tatapan sendu, sementara wanita itu menghindarinya. Siwon tersenyum pahit.

“Jeongmal mianhae,” ucapnya. Miyoung tidak menjawabnya.

“Kalau begitu, kajja! Dokter sudah menunggumu.”

Dengan perlahan dan hati-hati Siwon mengangkat tubuh Miyoung dan mendudukkannya di kursi roda. Miyoung berpegang erat pada pundak Siwon, sehingga wajahnya berdekatan dengan wajah Siwon. Miyoung bisa mencium aroma maskulin pria itu. Jantungnya berdegup kencang seketika dan jika Siwon bisa melihatnya, ada rona merah muda di pipi wanita yang dicintainya itu.

Setelah memastikan posisi Miyoung nyaman di kursi roda, Siwon pun mendorongnya keluar dari kamar rawat. Ternyata Suster tadi menunggu mereka di koridor, bermaksud untuk menunjukkan ruangannya. Miyoung mengelus perutnya lembut, seolah-olah ia bisa menyentuh kepala anaknya dari sana. Ia berharap setelah kejadian semalam kondisi kandungannya baik-baik saja.

Sampai di depan ruangan dokter Seo, Siwon mendorong kursi roda Miyoung masuk kesana. Perlakuannya benar-benar seperti seorang suami sungguhan. Tentu saja hal tersebut menarik perhatian sang dokter. Dokter Seo memandang Siwon dan Miyoung dengan senyuman menenangkan di wajahnya. Tepat ketika Siwon menggendong Miyoung untuk naik ke ranjang, dokter itu yakin kalau Siwon adalah suami yang bertanggung jawab serta sangat mencintai istrinya.

“Apa Nyonya Choi sudah siap? Bagaimana perasaan Anda saat ini? Apa ada keluhan?”

“Nde, saya sudah siap. Saya baik-baik saja, Dok.”

Siwon berdiri sedikit jauh dari ranjang, namun tetap mengawasi dokter Seo dan Miyoung. Siwon memalingkan pandangan ketika dokter Seo menyingkap baju Miyoung sehingga perut wanita itu terekspos. Miyoung juga tidak sanggup memandang Siwon. Pandangannya terpaku pada dokter Seo. Lalu Miyoung menggigit bibir saat dokter Seo membaluri perutnya dengan gel.

“Kalian benar-benar pasangan yang serasi. Kalau boleh tahu, sudah berapa lama kalian menikah?” dokter Seo bertanya untuk mencairkan suasana. Miyoung melirik Siwon.

“Kami telah menikah satu tahun, Dok!” jawab Siwon antusias. Miyoung diam-diam mencibir padanya.

“Pantas saja kalian tampak sangat romantis. Jadi ini adalah kehamilan pertama, begitu ya? Chaa, mari kita lihat.”

Sambil menggerak-gerakkan transduser ke atas dan ke bawah di perut Miyoung, dokter Seo mengawasi layar monitor di dekatnya. Melihat bayangan rahim Miyoung yang mulai terdeteksi, Siwon pun berjalan mendekat. Siwon duduk di tepi ranjang dan matanya tidak mengedip sedikitpun.

Bayangan hitam putih itu mulai tampak jelas. Miyoung dan Siwon sama-sama terpaku menyaksikan gerak-gerak samar si jabang bayi. Ukurannya diperbesar di layar monitor, tangan dan kakinya meringkuk. Hati Miyoung bergetar melihat ada makhluk hidup yang sangat menawan di dalam rahimnya. Sebentar lagi makhluk kecil itu akan segera menghirup udara segar, bertemu dengannya serta Siwon, sang Ayah.

Diam-diam Miyoung melirik Siwon dan ia pun terkejut. Pria itu menangis! Bukan menangis terisak tentunya, tetapi Miyoung dapat melihat cairan bening itu mengalir dari matanya. Kenapa Siwon menangis? Kira-kira apa yang dirasakannya ketika melihat si calon bayi?

Siwon tidak menyadari kalau saat ini ia menangis. Ada hawa menyejukkan di dadanya ketika melihat jabang bayi di rahim Miyoung sesekali bergerak. Ia menangis bahagia, sangat bahagia! Itu adalah anaknya, benihnya! Perlahan tangan kanan Siwon terulur, gemetar dan berkeringat. Apakah ia diperbolehkan menyentuhnya, membelai serta mencintainya?

Jantungnya berdegup tak karuan ketika ujung-ujung jarinya mengusap layar monitor. Ia merasa begitu dekat dengan anaknya. Siwon benar-benar bersyukur kepada Tuhan sebab ia bisa merasakan kasih sayang yang melandanya. Kasih sayang itu datang dari hatinya sendiri atau mungkin dari tampilan rahim Miyoung di hadapannya.

Siwon akan mengenang hal ini seumur hidupnya. Ia berterima kasih pada Miyoung yang telah memberinya kesempatan untuk berada sedekat ini dengan calon bayinya. Siwon berjanji ia akan terus berada di sisi mereka. Miyoung serta calon anak mereka.

“Hai, Anakku. Sebentar lagi kau akan bertemu dengan Appa dan Eomma. Kami sangat menantikan kehadiranmu, Nak.”

Miyoung tidak ingin berbohong pada diri sendiri, namun hatinya benar-benar tersentuh mendengar Siwon berujar seperti itu. Airmatanya ikut mengalir. Perlahan senyum tulusnya mengembang.

***

 

Siwon tidak berhenti dan tidak bosan-bosannya memandangi hasil USG berukuran foto potret yang tadi dimintanya dari dokter Seo. Terkadang ia menciumi foto tersebut lalu tersenyum lebar seperti orang gila. Miyoung kini tengah tertidur lelap di ranjangnya, menyamping ke arah sofa yang ditempati Siwon. Syukurlah dokter Seo mengatakan kalau kandungan Miyoung baik-baik saja. Miyoung hanya memerlukan istirahat yang cukup serta menjaga makanannya.

“Lihatlah, Eomma-mu. Seharian ia hanya bermalas-malasan. Ia menolak Appa ajak jalan-jalan ke taman. Ia lebih senang tidur di kamar yang dipenuhi bau obat ini,” Siwon berbicara pada foto yang dipegangnya.

Kemudian Siwon menyimpan foto tersebut di saku kemejanya dan menghampiri Miyoung. Siwon menarik kursi sehingga kini ia bisa duduk sambil memandangi wajah Miyoung dari dekat. Mata Siwon terfokus pada perut Miyoung yang tertutup oleh selimut tipis. Pria itu tertawa kecil. Ia menggeser kursinya agar bisa menatap perut Miyoung. Siwon menopang dagu dengan kedua tangannya lalu tersenyum pada tubuh Miyoung seolah-olah perut Miyoung bisa membalas tersenyum.

“Annyeong, baby. Apa kau juga tertidur seperti Eomma? Apakah sangat sempit di dalam sana? Baby, maafkan Appa. Selama ini Appa menelantarkanmu dan Eomma. Appa adalah Appa terburuk di dunia. Setelah kau lahir, kau boleh menendang Appa atau memukul Appa dengan tongkat baseball. Appa pantas mendapatkannya. Tapi satu hal, Nak, jangan membenci Appa. Karena Appa sangat mencintaimu. Appa juga sangat mencintai Eomma-mu. Tak ada yang lain selain kalian,” ungkap Siwon lembut. Ia menghela napas berat, kemudian kembali melanjutkan. “Appa harap, setelah kau lahir, Eomma bersedia kembali ke Seoul bersama Appa. Kita akan hidup bahagia disana. Appa berjanji kalian tidak akan kekurangan, Appa berjanji akan terus ada untuk kalian, karena Appa tidak bisa hidup tanpa kalian.”

Siwon mengelus perut Miyoung. Ia mengucapkan janji tersebut dari relung hatinya yang paling dalam. Lalu Siwon menempelkan jari tengah dan telunjuknya di bibirnya kemudian ditempelkannya ke perut Miyoung.

“Selamat malam, Nak.”

Siwon pun berdiri. Ia beranjak ke samping kepala Miyoung. Melihat wajah tidur Miyoung membuat Siwon tersenyum senang. Selanjutnya ia melakukan apa yang tadi dilakukannya pada perut Miyoung. Namun kali ini, Siwon menempelkan kedua jarinya di bibir wanita yang sangat dicintainya itu.

Sweet dreams. Saranghae.

Siwon kembali ke sofa dan berbaring disana. Ia menatap Miyoung sebentar kemudian menutup matanya sendiri. Tubuhnya juga memerlukan istirahat yang cukup. Ia lelah namun semua terobati dengan adanya Miyoung serta hasil USG yang masih tersimpan di sakunya.

Di ranjangnya, Miyoung perlahan membuka mata lalu tersenyum kecil.

 

***

 

Jessica dan Dongwook sedang berbelanja bulanan di sebuah mini market. Dongwook yang bertugas mendorong troli sesekali menguap lebar. Ia lelah dan masih mengantuk, tetapi Jessica memaksanya untuk ikut. Kekasihnya itu tidak akan berhenti berteriak di telinganya sampai ia bersedia menemani.

“Apa Siwon sudah menghubungimu lagi?” tanya Jessica saat memasukkan margarine, saus tomat, serta beberapa pack spagethi.

“Dua hari ini belum. Wae?”

“Aku mengkhawatirkan mereka. Aku takut Miyoung masih menolak Siwon.”

Dongwook mengelus puncak kepala Jessica kemudian mengecup keningnya. “Jangan khawatir, percaya pada Siwon. Aku yakin ia bisa meluluhkan hati Miyoung. Kalau begitu, apakah kau bisa mendorong troli ini ke kasir? Aku ingin mencari kopi kalengan. Mataku benar-benar mengantuk, baby.”

Jessica mengangguk. Dongwook beranjak meninggalkan Jessica lalu mencari lemari pendingin yang menyediakan kopi dingin. Jika ia tidak meminum kopi, mungkin ia akan tetap mengantuk saat nanti menyetir mobil. Tadi Jessica telah menyetir saat kesini, dan tidak mungkin saat pulang nanti ia bersedia menyetir lagi.

Tepat ketika Dongwook akan membuka lemari pendingin yang telah ditemukannya, tangan lain juga menggapai gagang lemari tersebut. Dongwook menoleh dan mengerjap melihat orang di sampingnya.

“Oh, Dongwook-ssi?”

“Nichkhun-ssi?”

 

 

Dongwook, Jessica dan Nichkhun duduk saling berhadapan. Dongwook masih menyimpan kekesalan untuk pria yang duduk tenang di hadapan mereka saat ini. Namun Jessica bersikeras mengajak Nichkhun sarapan bersama. Ia juga mempunyai beberapa hal untuk ditanyakan.

“Jadi, kau selalu mengunjunginya disana? Apa keadaannya baik-baik saja?” tanya Jessica. Ia bertanya perihal Miyoung.

Nichkhun mengangguk. “Dia baik-baik saja, Jessica-ssi. Maafkan aku karena tidak memberitahu kalian. Aku tidak ingin mengingkari janjiku pada Miyoung. Ia sangat membenci Siwon saat itu.”

Dongwook mendelik. “Miyoung tidak membenci Siwon, ia hanya memberi Siwon pelajaran!”

Sadar nada Dongwook agak meninggi, Jessica menyikutnya. Kemudian ia tersenyum kaku pada Nichkhun. “Mian.”

“Gwaenchana, Jessica-ssi. Lagipula tadi aku mengatakan saat itu, bukan saat ini. Aku bisa melihatnya sendiri,” ujar Nichkhun seraya menahan senyuman. Jessica dan Dongwook mengernyit.

“Apa maksudmu, Nichkhun-ssi?” tanya Jessica.

“Saat ini Miyoung telah jatuh cinta pada Siwon. Terakhir aku kesana, aku bertemu dengan Siwon. Aku sempat berkelahi dengannya dan Miyoung menolak menjauh dariku. Siwon pun pergi. Disanalah aku melihat bahwa Miyoung jatuh cinta kepada Siwon. Aku tidak ingin sok tahu, tetapi aku bisa merasakan kalau sebenarnya Miyoung tidak ingin melihat Siwon pergi lagi meninggalkan kehidupannya. Aku cukup tahu diri jika Miyoung tidak pernah membalas cintaku sebab yang sebenarnya ada di hatinya adalah Siwon. Ia hanya menolak menyadarinya karena Siwon telah banyak membuatnya menderita.”

Baik Dongwook maupun Jessica termenung mendengar penjelasan Nichkhun. Pria itu benar. Tidak mungkin Miyoung terus-terusan membenci Siwon sebab pria itu sudah bersungguh-sungguh merubah sifat jahatnya. Lagipula yang paling terpenting, Siwon adalah Ayah dari anak yang dikandungnya.

“Aku ingin meminta maaf pada kalian. Karena aku tidak pernah membuka mulut, kalian mencari Miyoung dengan susah payah. Sekarang takdir telah mempertemukan Siwon dan Miyoung kembali. Aku ikut berdoa untuk kebahagiaan mereka,” tambah Nichkhun lagi.

Jessica tersenyum sangat tulus kemudian menepuk-nepuk tangan Nichkhun dengan gaya bersahabat. “Jeongmal gomapta, Nichkhun-ssi. Kami juga minta maaf padamu.”

***

 

Yoona menggantikan Siwon untuk menemani Miyoung di kamar rawat sementara Siwon mengurus biaya administrasi rumah sakit. Miyoung sudah diperbolehkan pulang sore ini. Dokter berpesan kepada Siwon agar lebih ekstra perhatian kepada kesehatan Miyoung. Tentu saja Siwon bersedia!

“Eonnie, aku langsung kesini setelah Siwon mengirimkan pesan padaku kemarin. Mianhae, aku tidak ada di sampingmu hal itu terjadi,” ujar Yoona dengan wajah memelas. Miyoung tersenyum kecil seraya mengacak-acak rambut Yoona.

“Gwaenchana, Yoona-yaa. Kau tidak harus selalu di sampingku. Lagipula kita tidak tahu kapan musibah itu akan terjadi.”

Yoona menarik tangan Miyoung kemudian menggenggamnya. Hangat. Miyoung hanya bisa tersenyum pada gadis itu.

“Lega sekali rasanya melihatmu dan Siwon tidak bertentangan kali ini. Jika dilihat dari pandanganku, Siwon memang telah menyesali perbuatannya padamu dulu, Eonnie. Ia memperlakukanmu sangat tulus.”

Komentar Yoona membuat Miyoung terdiam. Kali ini Miyoung setuju dengan Yoona. Siwon memang berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Namun bayangan masa lalu di saat Siwon menyiksanya terus menghantui jika ia mulai membuka hati untuk pria itu. Hingga Miyoung berpikir apakah yang terjadi sekarang pada Siwon hanyalah sekedar mimpi indahnya atau bukan.

“Eonnie, mianhae. Aku tidak bermaksud membuatmu berpikir,” ungkap Yoona yang menyadari perubahan raut muka Miyoung.

“Ah, gwaenchana Yoong. Aku tidak memikirkan hal itu saat ini,” sangkal Miyoung.

Tak berapa lama kemudian, pintu kamar rawat Miyoung terbuka. Siwon masuk dengan senyum sumringah di wajahnya. Miyoung sengaja membuang pandangannya, tidak ingin terpesona oleh wajah yang tersenyum bagai malaikat itu. Yoona berdiri dari duduknya dan menunggu Siwon mendekati mereka.

“Apakah sudah selesai, Siwon-ssi?”

“Sudah, Yoona-ssi. Terima kasih sudah menjaga Miyoung,” ucap Siwon seraya sedikit membungkuk. Yoona segera melambai-lambaikan tangannya.

“Ah, tidak perlu berterima kasih. Lagipula kau hanya pergi sebentar. Jadi, sudah boleh pulang sekarang? Kebetulan aku menyetir sendiri kesini.”

***

 

Semua karyawan yang berdiri di koridor menuju ruangan Presiden Direktur di Choi Group membungkuk rendah selagi seorang wanita berjalan di tengah-tengah mereka. Wanita itu siapa lagi kalau bukan Hwang Chae Ya. Sejak kematian Tuan Choi, Siwon yang telah mengambil alih jabatan Ayahnya dan posisi Chae Ya hanya sebagai pemegang saham kedua terbesar disana. Kini Siwon telah lebih dari satu bulan meninggalkan tugasnya kepada wakil direktur perusahaan tersebut yaitu Tuan Kang, yang tak lain adalah orang kepercayaan Ayahnya. Selain itu masih ada sekretaris Seo Ju Hyun yang membantu Tuan Kang.

Kedua orang itu heran melihat Chae Ya memasuki ruangan yang biasanya ditempati Siwon. Lantas mereka segera menyusul Chae Ya, ingin tahu apa maksud wanita itu. Tuan Kang dan Sekretaris Seo tahu persis bagaimana hubungan Chae Ya dengan atasan mereka.

“Selamat pagi, Ny. Choi!” ucap Tuan Kang dan Sekretaris Seo serentak. Chae Ya hanya mengangguk angkuh kemudian berjalan mengitari meja Siwon. Sejenak, kedua kaki tangan Siwon saling melempar pandangan. Chae Ya datang secara tak resmi dan sepertinya tanpa seizing Siwon. Mereka tahu, jika Chae Ya bukanlah pemegang saham disana, Siwon pasti sudah memasukkan namanya ke daftar blacklist perusahaannya.

“Aku dengar perusahaan ini hampir pailit, benarkah?” tanya Chae Ya tanpa basa-basi. Mendengar itu Tuan Kang mendengus.

“Anda salah, Nyonya. Justru sebaliknya. Perusahaan ini berhasil kuselamatkan dua minggu lalu. Kami telah menandatangani kontrak selama 1 tahun bersama perusahaan minyak terkemuka di Saudi Arabia. Tuan Siwon memang belum mengatahuinya karena kami menghormati privasinya.”

Sekretaris Seo menyembunyikan senyuman ketika melihat ekspresi terkejut Chae Ya. Perusahaan ini memang hampir jatuh jika saja perusahaan minyak yang dimaksud Tuan Kang tidak menandatangani kontrak kerja mereka. Dan sepertinya hal itu telah mengecewakan Chae Ya.

Chae Ya berdehem kemudian berusaha bersikap tenang. Wanita itu duduk di kursi Siwon lalu tersenyum-senyum sendiri.

“Oh, baguslah kalau begitu. Sebenarnya aku menyayangkan hal itu tidak diberitahukan padaku. Sebab aku adalah pemegang saham di perusahaan ini. Dan mungkin kalian lupa kalau aku masih berstatus istri mendiang Tuan Choi,” ujar Chae Ya.

Jwesonghamnida. Lain kali kami akan memberitahu Anda. Lagipula kami yakin kalau Anda pasti akan senang mendengar kabar gembira itu.”

Chae Ya tersenyum sinis. “Sudahlah. Maksud kedatanganku kemari adalah untuk menggantikan pekerjaan Siwon sementara. Kalian tahu kan, urusan pribadinya sangat menyita waktunya. Untuk itu butuh orang yang sangat dipercaya untuk menggantikannya.”

Tuan Kang dan Sekretaris Seo terperajat. Hwang Chae Ya, wanita yang sangat dibenci Siwon akan duduk sementara di kursi PresDir? Itu tidak boleh terjadi!

“Maafkan kami, Nyonya Choi. Tetapi hal ini harus menurut persetujuan Tuan Choi Siwon,” Sekretaris Seo angkat bicara.

Chae Ya mendengus. “Kalian tidak tahu posisi kalian apa? Hanya bawahan! Aku adalah Ibunya, istri dari Ayahnya. Tentu saja aku mempunyai hak berada disini!”

“Tapi, Nyonya—“

“Aku juga mempunyai hak untuk memberhentikan pekerja. Apa kalian mengerti?! Jadi tutup mulut kalian dan biarkan aku bekerja dengan tenang!”

***

 

“Mwo? Chae Ya mengambil alih pekerjaanku?!” seru Siwon tertahan. Ia hampir saja membanting ponsel yang sedang digenggamnya itu. Namun sepertinya pembicaraan dengan Tuan Kang lebih penting daripada melakukan hal tersebut.

“Nde, Tuan Muda. Apa Anda bisa secepatnya kembali kesini? Kami takut Chae Ya tidak benar mengurus perusahaan ini.”

Siwon pun bimbang. Tidak mungkin ia kembali sekarang sebab kondisi Miyoung tidak terlalu sehat. Wanita itu sering mengeluh sakit jika malam tiba. Terkadang tubuhnya panas atau kakinya mengalami kram. Siwon benar-benar tidak bisa meninggalkan Miyoung, kecuali Miyoung bersedia ikut dengannya ke Seoul.

“Tuan Kang, aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku akan berusaha kembali ke Seoul. Tetapi jika tidak, aku minta padamu dan staff lain untuk mengawasi Hwang Chae Ya.”

Tuan Kang menghela napas. “Baiklah, saya mengerti. Selamat malam, Tuan Muda.”

“Kamsahamnida.”

Siwon termenung seraya memutar-mutar ponsel di tangannya. Malam ini Siwon mendapatkan dua kabar sekaligus. Kabar baiknya adalah Tuan Kang telah berhasil menyelamatkan perusahaan mereka dari ancaman bangkrut dan kedua, Chae Ya mengambil alih pekerjaannya. Sebenarnya apa maksud wanita itu? Siwon yakin Chae Ya ingin menyalahgunakan kekuasaan.

“Siwon!”

Siwon tersentak mendengar rintihan dari kamar Miyoung. Ia segera berlari ke dalam sana. Sudah satu minggu setelah Miyoung pulang dari rumah sakit, Siwon menginap di rumah wanita itu. Meskipun Miyoung terus mengusirnya, namun Siwon bersikeras untuk tetap tidur di kursi ruang tengah. Ia takut terjadi apa-apa di malam hari pada Miyoung. Dan benar saja, Miyoung selalu mengeluh sakit perut atau kram di malam hari. Sungguh keras kepala, pikir Siwon.

Sampai di dalam kamar Siwon melihat Miyoung sedang meringis kesakitan sambil bersandar pada kepala ranjang. Kedua kakinya ditekuk lebih tinggi namun tampak kaku. Siwon tahu, pasti Miyoung mengalami kram kaki lagi. ini sudah yang kedua kalinya. Tanpa berkata apa-apa, Siwon berlari ke dapur untuk mengambil air hangat serta handuk kecil.

Miyoung merasakan perutnya menegang, membuat napasnya sedikit sesak. Belum lagi kakinya yang kaku tiba-tiba. Ia menggigit bibir bawahnya ketika mencoba menggerakkan kakinya. Ugh, Miyoung melenguh lagi.

“Aku datang!” seru Siwon saat memasuki kamar Miyoung. Ia meletakkan satu ember air hangat di lantai dekat ranjang lalu duduk di samping Miyoung. Siwon merangkul Miyoung kemudian meluruskan tubuhnya pelan-pelan. Terang saja wanita ini sering kram, tubuhnya semakin berat.

“Kau bisa duduk tegak? Kalau begitu, masukan kakimu ke dalam ember,” perintah Siwon lembut. Ia membantu memasukkan kedua kaki Miyoung ke dalam air hangat. Miyoung meringis lagi. Kehangatan air itu membuatnya sedikit terkejut. Siwon duduk di lantai kemudian dengan perlahan memijit betis Miyoung satu persatu.

Melihat keadaan Miyoung yang seperti ini mustahil bagi Siwon untuk meninggalkannya sendiri. Baginya kesehatan Miyoung adalah yang utama. Ia meremas-remas lembut kaki Miyoung yang sedikit membengkak saat ini. Kulitnya begitu halus dan putih, membuat tangan Siwon berlama-lama disana. Miyoung memperhatikan Siwon dari atas. Pijitan Siwon membuat kakinya semakin nyaman.

“Sudah lebih baik?” tanya Siwon. Ia mendongak tiba-tiba sehingga Miyoung tidak sempat mengalihkan tatapannya. Mau tak mau Miyoung menganggukkan kepala.

“S-sudah.”

Siwon tersenyum. Entah mengapa Miyoung tidak dapat mengalihkan pandangannya dari tatapan teduh Siwon. Ia terhanyut sekaligus tersesat disana. Cintanya kepada Siwon mulai tumbuh. Sebenarnya ia tidak tahu kapan rasa cinta itu tercipta di hatinya. Selama ini ia tetap bersikeras untuk membenci pria itu karena telah menghancurkan hidupnya. Namun ada satu hal yang terlewati oleh perasaan peka Miyoung.

“Miyoung-ah?” panggil Siwon.

“Hmm?”

“Jangan menyuruhku untuk pergi darimu lagi. Aku benar-benar tidak sanggup melakukannya.”

Miyoung tertegun. Ia melihat kesungguhan di mata Siwon ketika mengucapkan hal itu. Matanya berkaca-kaca, terlihat sangat rapuh bagi Miyoung.

“Aku akan melakukan apa saja asalkan tetap berada di sisimu, di sisi anakku. Aku tidak akan membiarkan kalian kesulitan sedikitpun. Aku harus menjadi seorang Ayah yang sigap untuk anakku dan…dan seorang kekasih yang mendampingi wanita yang dicintainya. Aku mohon, biarkan aku tetap berada di dekatmu,” ungkap Siwon lagi.

Miyoung menelan ludah. Tak ada kalimat yang bisa dikatakannya. Sekali lagi Siwon telah membuat pertahannya runtuh. Ia mulai meyakini hatinya bahwa yang dirasakannya sekarang bukanlah benci.

“Kau boleh berada di dekatku asal kau tahu batasan-batasanmu, Siwon.”

“Gomawo. Miyoung-ah.”

Miyoung merasa kakinya sudah terasa normal seperti semula. Ia mengisyaratkan kepada Siwon untuk menyudahi pijitannya. Siwon membantu Miyoung berbaring dan mengeringkan kakinya dengan handuk. Kemudian ia meletakkan bantal tinggi di bawah kaki wanita itu. Miyoung tidak lepas memandangi ketelatenan Siwon dalam mengurusnya. Ia menyembunyikan senyuman saat Siwon mengambil krim penghangat di dalam lemari obat.

“Kau pasti ingin mengolesi perutku lagi seperti tempo hari. Andwe!” seru Miyoung. Siwon berhenti di tempat dengan sebotol krim penghangat di tangannya.

“Kau tahu darimana? Aku pikir kau tertidur,” goda Siwon lalu duduk di tepi ranjang. Wajah Miyoung memerah. Saat perutnya kram beberapa hari lalu, Siwon mengolesi perutnya dengan krim penghangat ketika ia tidak sanggup membuka mata. Saat itu Miyoung tidak tidur. Ia sadar kalau Siwon sedang mengusap-usap perut buncitnya. Yang membuat Miyoung malu pada diri sendiri, Miyoung tidak menolak sama sekali, bahkan menikmatinya. Siwon menyangka Miyoung tidur, namun kenyataannya wanita itu justru menikmati skinship mereka.

“A-aku memang tidak sepenuhnya tidur. Sebenarnya aku ingin melarangmu, tetapi kepalaku saat itu pusing sekali!” sanggah Miyoung.

Siwon menaikkan sebelah alisnya. “Jinjja? Lalu, apakah sekarang kau ingin aku melakukannya lagi?”

Sebuah bantal melayang ke kepala Siwon.

“Enak saja. Biar aku yang mengolesinya sendiri. Sekarang keluar dari kamarku!”

***

 

Tok tok tok

Dongwook mendongak dari dokumen yang dibacanya ketika pintu ruangan kerjanya diketuk dari luar. Sejurus kemudian pintu itu pun terbuka tanpa menunggu komando darinya terlebih dahulu. Bukan sekretarisnya ternyata, melainkan Leeteuk. Pria itu tersenyum lebar kepada Dongwook.

“Selamat sore, Wookie!”

“Ternyata kau. Masuklah!” sahut Dongwook.

Leeteuk menutup pintu di belakangnya kemudian berjalan menghampiri meja Dongwook. Dongwook langsung menyambut Leeteuk dengan pelukan hangat. Akhir-akhir ini mereka jarang sekali berkumpul sebab Leeteuk tidak pernah lepas dari istri serta buah hati mereka yang baru berusia 2 bulan. Dongwook bisa melihat aura kebahagiaan dari wajah tampan sahabatnya. Tanpa disadarinya, ia pun membayangkan bagaimana wajah Siwon saat anaknya lahir kelak. Dongwook terkekeh sendiri.

“Wae? Apa yang membuatmu tertawa? Apa ada sesuatu yang lucu?” tanya Leeteuk dengan kening berkerut.

Mereka duduk di sofa yang berbeda di dalam ruangan itu. Dongwook menghentikan kekehannya, yang tertinggal hanyalah senyum manis yang tulus.

“Aniya. Aku hanya membayangkan bagaimana ekspresi Siwon ketika anaknya lahir nanti. Tampang bocah itu pasti sangat konyol,” ungkap Dongwook. Mendengar itu Leeteuk ikut tersenyum.

“Kau benar, Wookie. Ah, aku merindukannya. Apa semuanya berjalan lancar disana?”

Dongwook mengangkat bahu. “Molla. Terakhir Siwon menghubungiku saat Miyoung masuk rumah sakit karena pendarahan. Dia sangat keterlaluan karena memberitahu kalau Miyoung baik-baik saja hanya lewat pesan singkat. Ck, sepertinya dia tidak ingin diganggu, hehe.”

“Aku harap Miyoung bersedia menerima Siwon. Bagaimanapun anak mereka membutuhkan seorang Ayah. Jangan sampai seorang anak kecil yang tidak berdosa menanggung akibat buruk dari kelakuan Ayahnya sendiri,” ungkap Leeteuk serius.

Dongwook mendengus lalu tertawa pelan. “Aigoo, dengarlah seorang Ayah berbicara,” ledek Dongwook.

“Aku benar, bukan? Kau belum merasakan saja betapa bahagianya mempunyai malaikat kecil.”

“Baiklah, aku percaya padamu. Kapan-kapan aku dan Jessica akan mengajak anakmu jalan-jalan. Bolehkah?”

“Tentu saja. Ah, bicara tentang Jessica, kapan kalian akan menikah? Ayolah, Wookie. Kalian saling mencintai. Sudah waktunya kalian menikah. Apalagi yang kalian tunggu? Apa masih menunggu Siwon menyelesaikan masalahnya?”

Dongwook tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan Leeteuk. Ia memang ingin segera menjadikan Jessica istrinya, namun kesusahan Siwon saat ini membuatnya ragu. Hatinya tidak tenang jika menikah sementara Siwon masih menderita karena penyesalannya.

“Aku akan menikah jika Siwon telah berhasil membuat Miyoung kembali padanya, Teuk.”

Leeteuk mengangguk paham. Ia bangga pada rasa kesetiakawanan Dongwook pada Siwon. Ia berharap keduanya mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti yang dialaminya saat ini.

“Kalian adalah sahabat-sahabatku yang hebat. Mari kita berdoa untuk si bocah tengik itu. Semoga ia berhasil menjadikan Miyoung sebagai istrinya.”

***

 

“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Chae Ya kepada Minho, mata-mata yang ditugaskannya untuk menguntit Miyoung dan Siwon.

“Miyoung-ssi masih menjaga jarak dengan Choi Siwon. Tetapi akhir-akhir ini kami lihat kandungan Miyoung semakin berat. Ada kemungkinan Miyoung-ssi akan melahirkan dalam waktu dekat. Kami masih menunggu perintah selanjutnya dari Anda, Nyonya.”

Chae Ya berjalan ke arah jendela ruang kerja Siwon dan memandang keluar. Tangannya dilipat di dada dan ada seulas senyum licik di wajahnya. Sudah lebih dari satu minggu ia duduk di kursi jabatan Siwon, namun hanya bisa menggelapkan sedikit dana. Langkahnya terhalang oleh Tuan Kang yang sangat proterktif kepada keuangan perusahaan. Chae Ya harus mencari cara lain untuk memeras Siwon. Jika ia tidak mendapatkan pria itu, masih banyak hal yang bisa dikuasainya. Termasuk harta serta property keluarga Choi. Chae Ya diuntungkan dengan nama Choi yang masih melekat padanya. Ia bisa bertindak sesuka hati selama perusahaan ini masih warisan Tuan Choi.

Dan membayangkan Miyoung yang sebentar lagi akan berada di dalam genggaman Siwon, Chae Ya semakin cemas. Ia cemas jika Siwon memberikan segalanya untuk adiknya itu, terlebih lagi untuk anak yang dikandung Miyoung. Chae Ya tidak akan membiarkan posisinya terpuruk sedemikian rupa. Setidaknya ia tidak akan kalah telak dari Siwon.

“Awasi terus mereka berdua. Saat Miyoung melahirkan, aku akan memberi tugas untuk kalian!”

Minho membungkuk hormat. “Kami selalu siap, Nyonya.”

Chae Ya menyeringai. “Bagus.”

***

 

Sejak satu jam yang lalu Miyoung hanya bisa memandangi Siwon yang bekerja keras di rumahnya. Mulai dari menyapu, membersihkan halaman serta mencuci pakaiannya. Miyoung mendesah pasrah. Siwon tidak bisa dihentikan. Pria itu tampaknya kecanduan membantu Miyoung. Sejujurnya Miyoung sangat bersyukur Siwon telah berubah banyak, namun masih ada hal yang mengganjal di hatinya. Ia takut kalau ini semua hanyalah mimpi indahnya saja.

“Apa kau harus pergi ke pasar? Miyoung-ah, biar aku saja yang pergi. Kau beristirahatlah di rumah. Berikan saja catatan bahan makanan yang ingin kau beli.”

Kali ini Siwon memaksa ingin berbelanja ke pasar. Tetapi Miyoung tidak mengizinkannya. Ia ingin bergerak atau berjalan sesering mungkin agar saat persalinan nanti ia tidak kesulitan.

“Shirreo! Aku harus berjalan sesering mungkin, Siwon-ssi!” tegas Miyoung, membuat Siwon tidak berkutik. Yang bisa dilakukannya adalah menjaga wanita itu dengan berjalan di belakangnya.

Hari persalinan Miyoung semakin dekat, dapat dilihat dari cara berjalan wanita itu. Siwon memperhatikannya. Miyoung lebih mudah lelah dan sering mengeluh kalau anak di dalam perutnya sering menendang-nendang. Siwon selalu menyembunyikan matanya jika mendengar perkataan Miyoung. Ia tidak ingin Miyoung melihat matanya yang berkaca-kaca penuh haru.

Miyoung sesekali menoleh ke belakang. Ia tahu kalau Siwon tidak akan pernah meninggalkannya. Saat pandangan mereka bertemu, Siwon memberikannya senyuman terbaik yang ia miliki. Terang saja wajah Miyoung merona dibuatnya. Tak dapat disangkal kalau ia gugup. Untuk itu Miyoung kembali menghadap ke depan, sedikit mempercepat langkahnya. Ia menahan senyumnya sendiri.

Sampai di luar gang, ada sesuatu yang menarik perhatian Siwon. Matanya tiba-tiba tak berkedip melihat sesuatu yang melintas di depannya dengan kecepatan rendah. Mobilnya! Tak salah lagi. Ia melihat mobilnya yang hilang melintas di jalan raya! Siwon berdiri kaku seraya menatap tajam mobilnya, melaju semakin lambat hingga akhirnya berhenti di halte di dekat pasar.

Tanpa memberitahu Miyoung, Siwon berlari ke arah halte. Kakinya semakin cepat melompat ketika melihat 3 orang pria yang bertubuh lebih besar darinya turun dari mobil itu lalu berbicara dengan beberapa pria lainnya yang tadi menunggu di halte. Salah satu pria yang menunggu di halte tersebut melihat-lihat kondisi mobil.

Apa yang mereka lakukan? Apa mereka sedang transaksi pembelian mobilku? Tak akan kubiarkan, batin Siwon.

Pria-pria itu adalah preman wilayah Namdo yang sering mencuri mobil orang-orang asing di desa ini. Mereka mempreteli mesin mobilnya terlebih dahulu baru setelah itu menjualnya. Dan itulah yang terjadi pada Siwon. Yang lebih mengherankan, sepertinya polisi-polisi di wilayah ini seolah menutup mata dan telinga atas perbuatan-perbuatan criminal mereka.

Miyoung merasakan kepergian Siwon ketika ia melintasi jalan dan tidak melihat pria itu lagi. Miyoung memutar kepalanya, mencari-cari sosok Siwon. Kemana perginya pria itu, tanya Miyoung di dalam hati. Ada rasa kehilangan di hati Miyoung setiap kali Siwon menghilang dari pandangannya.

Dan akhirnya, Miyoung melihat Siwon kini tengah berdiri di dekat halte. Memperhatikan sekelompok pria yang sedang berbincang dan tertawa. Miyoung bisa melihat kedua tangan Siwon mengepal. Ia pun mengernyit. Apa yang sedang dilakukan Siwon disana? Karena penasaran, Miyoung mengurungkan niat untuk masuk ke dalam pasar. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan Siwon terlebih dahulu.

Di tempatnya, Siwon mengawasi sekelompok preman itu dari jarak dekat. Mereka mungkin tidak mengenali Siwon, tetapi Siwon yakin kalau mobil berwarna hitam itu adalah miliknya. Siwon pun berjalan mendekat dan bersikap seperti orang biasa untuk mendengarkan perbincangan mereka.

“Hahaha! Kau yakin kondisinya masih bagus, Ji Ro? Aku tidak ingin membeli mobil yang sudah rongsokan!”

“Rongsokan katamu? Kau bisa lihat sendiri betapa mulusnya mobil ini! Aku mendapatkannya dengan susah payah, kau tahu?”

Siwon mendengus. Benar-benar brengsek!

“Kalau begitu, akan aku perlihatkan dulu kepada Bos. Siapa tahu dia ingin menawarkan harga yang lebih tinggi. Kalau uangku hanya sebanyak itu, Ji Ro-yaa!”

“Baiklah. Tak masalah. Yang jelas harganya tidak ada diskon lagi!”

Sudah cukup. Siwon tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia pun berjalan mendekati sekelompok preman itu dan berdiri terlalu dekat dengan pria yang bernama Ji Ro. Kontan saja pria-pria tersebut memandang Siwon heran bercampur marah. Seorang pria tak dikenal menginterupsi pembicaraan mereka.

“Selamat pagi, Saudara-Saudaraku! Kalau boleh tahu, bisakah aku ikut menawar mobil ini?” celetuk Siwon. Mereka langsung menjaga jarak dengan Siwon lalu berpandangan satu sama lain.

“Yah! Siapa kau?!” bentak pria bernama Ji Ro.

Siwon mendengus lalu melipat tangannya di dada. “Kau memang tidak punya rasa terima kasih. Sudah mencuri mobilku, sekarang kau membentakku. Apa kau ingin aku membeli mobilmu ini, eoh? Aku tahu persis berapa harganya, Bung.”

Ji Ro dan teman-temannya berjengit. Mereka tidak menyangka kalau Siwon adalah pemilik mobil yang sedang mereka transaksikan. Tetapi mereka tidak takut kepada Siwon. Terlebih lagi pria itu bukanlah warga di wilayah kekuasaan mereka.

“Pria sepertimu adalah pemilik mobil ini? Huh, yang benar saja! Lihat dulu penampilanmu! Bajuku mungkin lebih mahal dari kemeja lusuh yang kau kenakan itu. Hahahahaha!”

“Hahahaha!” teman-temannya ikut tertawa.

Rahang Siwon mengeras. Belum pernah seumur hidupnya ia dihina oleh berandalan-berandalan tengik seperti mereka. Ditatapnya satu persatu wajah itu dengan seringaian bengis. Siwon tidak takut sama sekali, meskipun ini daerah kekuasaan mereka. Ia merasa dirinya benar dan orang-orang yang melanggar hukum ini segera ditangkap pihak berwajib.

Siwon semakin mendekat ke arah Ji Ro dan meraih leher jaketnya. Ia yakin kalau Ji Ro adalah ketua kelompok ini. Ji Ro membelalakkan matanya kepada Siwon. Berani-beraninya pria asing itu mencengkram leher jaketnya! Ji Ro bisa melihat mata merah dan berair Siwon. Alis matanya bertaut tajam. Tidak ada satupun dari mereka yang tahu bagaimana Siwon jika dalam keadaan emosi. Pria itu memang telah lama berubah, telah lama pula bisa menahan emosinya, namun orang-orang di hadapannya sekarang telah membangkitkan dirinya yang lama.

“Jangan pernah menghinaku. Kau kira aku takut pada kalian, eoh?” desis Siwon.

Ji Ro mendengus jijik. Ia mengangkat kedua tangan ketika teman-temannya maju untuk menarik tubuh Siwon. Ji Ro ingin melawan Siwon seorang diri. Lagipula tubuhnya lebih besar dari Siwon!

“Hei, pria asing! Sebenarnya kau ini siapa? Aku tidak pernah melihatmu disini. Apa kau warga gelap? Kau tahu tidak, setiap warga baru disini harus melapor pada kami! Dan bicara tentang mobil ini, enak saja kau mengaku ini mobilmu! Kami menemukannya di Gwangju! Jadi lepaskan tanganmu sebelum aku membuatmu menyesal seumur hidup,” ujar Ji Ro.

Siwon makin mengencangkan cengkramannya. Napasnya menderu panas di wajah Ji Ro, sementara wajahnya telah memerah. Miyoung tercekat di kejauhan. Jantungnya berdegup kencang. Ada apa dengan Siwon? Tiba-tiba ia mendekati pria-pria itu dan mencengkram leher salah satunya. Miyoung melihat kanan dan kiri sebelum kembali menyebrang jalan. Ia harus memisahkan Siwon dengan pria-pria itu.

Miyoung tahu siapa mereka, tetapi selama ini ia terus menghindarinya. Dulu mereka sering sekali mengganggunya, tetapi Yoona selalu ada untuk melindungi. Miyoung mempercepat langkah kakinya ketika melihat salah satu dari mereka menendang kaki Siwon hingga pria itu berlutut di depan Ji Ro. Miyoung menutup mulutnya seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka. Ada beberapa warga yang melihat, namun memilih untuk diam dan menonton saja.

Siwon melenguh ketika kedua lututnya terbentur keras dengan lantai semen yang dipijaknya. Ia mendongak dan menatap marah pada Ji Ro.

“Sudah kuperingatkan padamu untuk melepaskanku. Sekarang pergilah! Kami mempunyai urusan yang lebih penting darimu!” bentak Ji Ro. Teman-temannya yang lain berdiri mengelilingi Siwon. Tetapi bukan Siwon namanya jika ia takut. Ia berdiri dengan cepat lalu meninju tepat di lambung Ji Ro. Kecepatan Siwon tidak bisa terelakkan. Hasilnya, Ji Ro meraung kesakitan seraya memegangi perutnya.

Melihat itu teman-temannya memegangi kedua tangan Siwon hingga mustahil untuk Siwon untuk bergerak lagi. Siwon mengerahkan seluruh tenaganya untuk menumbangkan satu persatu dari mereka. Siwon melayangkan tendangannya, membuat salah satu pria di samping kanannya melenguh karena Siwon berhasil menendang tulang keringnya.

Lalu terjadilah perkelahian antara Siwon dan 8 orang preman. Miyoung merasa tubuhnya gemetar karena ketakutan sementara orang-orang di sekeliling mereka hanya bisa menyaksikan dengan wajah ngeri. Miyoung memberanikan diri untuk mendekati perkalahian itu. Ia tidak yakin Siwon bisa mengalahkan kelompok Ji Ro.

“HENTIKAAAAAAN!!!” teriak Miyoung.

Bertepatan dengan itu, Siwon jatuh menelungkup di kaki Miyoung. Dadanya turun naik masih menahan emosi. Airmata Miyoung telah mengalir deras. Ia menjatuhkan keranjang rotannya dan berusaha membantu Siwon untuk berdiri. Jeritnya tertahan saat melihat hidung dan mulut Siwon telah dipenuhi darah segar. Sedangkan pipi dan matanya sangat merah akibat terkena pukulan.

“Miyoung-ah, pergilah!” desis Siwon. Miyoung menangkup wajah babak belur Siwon dengan tangan mungilnya.

“Siwon, aku mohon jangan lawan mereka. Mereka adalah musuh warga ini. Tidak ada yang pernah melawan mereka,” ujar Miyoung. Suaranya benar-benar serak. Ia menyeka darah di tepi bibir Siwon.

“Mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja, Miyoung-ah. Mereka yang mencuri mobilku!”

“Ya ya ya! Apa kau ingin meminta restu dulu kepada wanita jalang itu?!”

DEG!

Siwon tercekat mendengar teriakan dari Ji Ro. Sedangkan Miyoung membeku di tempatnya. Siwon membalikkan tubuhnya dengan lambat-lambat namun berbahaya. Matanya bertambah merah dan berair. Julukan yang Ji Ro berikan pada Miyoung beberapa detik lalu telah menggetarkan jantungnya. Murka.

“Kau mengatakannya apa?” tanya Siwon tajam. Suaranya besar dan serak.

“Wanita jalang! Apa kurang jelas?!” teman Ji Ro yang menyahut.

Siwon mengepalkan kedua tangannya hingga mati rasa. Miyoung menatap Siwon lalu menggelengkan kepala. Ia tidak ingin Siwon bertindak dalam emosinya yang memuncak seperti ini. Dari jarak sedekat itu ia bisa merasakan aura panas dari tubuh Siwon. Urat-urat nadi di keningnya terlihat jelas.

“Siwon, aku mohon…,” cicit Miyoung.

“Apa dasarmu mengatakan calon istriku seperti itu?!” tanya Siwon, jelas-jelas mengabaikan ketakutan Miyoung di belakangnya. Siwon melangkahkan kakinya lambat-lambat menuju Ji Ro dan teman-temannya.

Ji Ro tertawa mencemooh sebelum menjawab. “Oh, jadi Nona Hwang ini adalah calon istrimu? Wah, kau cukup beruntung menikahinya. Ia sangat cantik menurutku, tetapi sayang, hamil tanpa suami bukanlah wanita baik-baik.”

Siwon berhenti dua langkah di depan Ji Ro. Ia menatap penuh kebencian pada lawannya. Mata elang Siwon sudah mulai membengkak.

“Kau tahu, wanita yang kau hina itu adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku. Lebih berarti dari hidupku sendiri. Dan untuk kau ketahui, pria brengsek yang telah menghamilinya adalah aku.”

Ji Ro dan teman-temannya terpaku. Sementara Miyoung tidak bisa menahan airmatanya untuk tidak mengalir lebih deras lagi. Siwon melangkah lagi. Kini ia benar-benar berniat menghabisi Ji Ro dan siapa saja yang telah menyinggung perasaannya. Dicengkramnya lagi jeket Ji Ro lalu tanpa bisa dicegah, ia membenturkan kepalanya kepada kening Jiro.

Sontak teman-teman Ji Ro terperajat melihat bos mereka terpental ke belakang. Siwon menahan sakit yang amat luar biasa di kepalanya. Ia menjatuhkan diri ke bawah dan duduk di atas perut Ji Ro. Ji Ro masih memegangi kepalanya yang berdenyut. Siwon mencengkram telinga kanan Ji Ro dengan tangan kirinya, kemudian menghantam wajah Ji Ro dengan pukulan yang amat keras.

Mendengar Ji Ro terpekik, teman-temannya segera menarik tubuh Siwon. Lalu entah mengapa saat itu tubuh Siwon begitu kuat. Siwon terus menghantam wajah Ji Ro bertubi-tubi dengan pukulan kedua tangannya. Ternyata hinaan Ji Ro untuk Miyoung tadi telah menimbulkan kekuatan baru untuknya. Siwon tidak merasakan sakit dari tendangan dan pukulan yang ia dapati kelompok Ji Ro di punggung serta kepalanya. Ia melepaskan semua kemarahannya dengan memukul Ji Ro tanpa henti.

Miyoung hampir ambruk di tempatnya jika tidak ada seseorang yang menahan tubuhnya dari belakang. Beberapa warga sudah mendekat dan ada diantara mereka yang menghubungi polisi. Miyoung berpegang erat pada seseorang yang tengah memeluknya dari belakang.

“Eonnie. Ya Tuhan!”

Yoona. Ia memeluk tubuh Miyoung dengan erat sementara Tuan Im yang datang bersama Yoona berjalan cepat menuju perkelahian di halte.

“HENTIKAN!” raung Tuan Im.

“AAAAARRRGGHH!”

Bersamaan dengan teriakan Tuan Im, terdengar pula teriakan kesakitan Siwon. Miyoung tidak tahu apa yang terjadi pada pria itu hingga akhirnya tumbang dari atas tubuh Ji Ro. Siwon memegangi tengkuknya yang berdenyut hebat. Ternyata ada seseorang yang memukulnya dengan potongan balok. Siwon merasakan napasnya sesak. Ia tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Ia hanya bisa merasakan sekelebat bayangan orang-orang yang meninggalkannya.

Tuan Im tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mencegah Ji Ro serta kelompoknya kabur. Ji Ro dibopong tiga orang temannya untuk masuk ke dalam mobil Siwon dan langsung tancap gas. Begitu pula dengan kelompok yang ingin membeli mobil Siwon. Mereka semua tidak ingin berurusan dengan Tuan Im yang merupakan orang terkaya dan berkuasa di daerah ini.

Siwon merasa kepalanya berdarah. Tuan Im berlutut di samping Siwon dan bergidik ngeri melihat wajah Siwon yang penuh dengan luka.

“Ya Tuhan, Siwon-ssi! Kenapa bisa seperti ini? Ayo kita ke rumah sakit, Nak!” Tuan Im membantu Siwon untuk duduk.

Sementara itu di tempatnya, Yoona mendengar Miyoung meringis. Miyoung berkeringat dingin. Yoona menatap cemas. Ia takut Miyoung trauma sebab melihat perkelahian yang baru saja terjadi.

“Eonnie. gwaenchana? Eonnie, bicaralah!” ucap Yoona. Miyoung menatap Yoona dengan mata sendu. Ia berusaha mengatur napas. Ada sesuatu yang hangat mengalir di pahanya! Miyoung berusaha menunduk untuk melihat ke bawah. Mau tak mau Yoona juga mengikuti arah pandang Miyoung.

Dalam hitungan detik matanya melebar. Ia bisa melihat cairan bening mengalir di kaki Miyoung yang saat ini memakai gaun khusus ibu hamil. Yoona tidak bisa menutup mulutnya yang sedang terperangah. Ia dan Miyoung saling pandang untuk sesaat.

“Yoong…cairan amnionku…Yoong, sepertinya aku akan melahirkan.”

***

 

Setelah mendapat telepon dari Siwon, Dongwook dan Jessica segera naik ke mobil mereka dan memutuskan untuk ke Namdo siang itu juga! Siwon memang terluka, namun ternyata tidak terlalu parah. Ia menghubungi Dongwook dan Jessica untuk menemani Miyoung disana. Ia tidak ingin Miyoung merasa sendirian. Sedangkan dalam keadaan wajah babak belur seperti itu, Siwon dilarang masuk ke ruang persalinan yang sangat higienis.

“Siwon berkelahi dengan pencuri mobilnya? Bukankah mobilnya sudah lama menghilang? Aish, bocah itu menyusahkan Miyoung saja!” omel Jessica selagi Dongwook fokus pada jalan yang ditempuh mobilnya.

“Mungkin Siwon bertemu dengan pencuri itu. Sudahlah, baby, yang penting sekarang Siwon baik-baik saja dan Miyoung sebentar lagi akan melahirkan. Kita harus sampai disana secepat mungkin,” tandas Dongwook.

Jessica menghela napas. “Kau benar. Aku juga sudah tidak sabar untuk menemani Miyoung.”

Dongwook tersenyum kecil lalu menggenggam tangan kekasihnya.

 

 

Yoona serta kedua orangtuanya menatap heran pada sosok yang sejak tadi berjalan mondar-mandir di hadapan mereka. Siwon. Pria itu sesekali juga bergumam sendiri. Entah apa yang diucapkannya. Sementara luka-lukanya sudah diobati dan kepalanya sudah diperban. Siwon menahan rasa sakitnya dan lebih memilih kabar dari dokter yang sedang menangani Miyoung di dalam sana.

“Siwon-ssi, bisakah kau duduk di kursi ini? Memangnya kepalamu tidak pusing?” tukas Yoona tiba-tiba.

Siwon menghentikan langkah lalu berdiri menghadap keluarga Im.

“Tidak, Yoona-ssi. Aku tidak bisa berhenti memikirkan Miyoung. Dia sendirian di dalam sana!”

Yoona terkekeh sedangkan ibunya berdiri lalu menghampiri Siwon. Dengan penuh kasih sayang Ibu Yoona mengelus bahu pria itu.

“Aku mengerti kalau kau sedang gugup, Siwon-ssi. Tetapi kau sendiri sedang terluka. Lebih baik kau mengistirahatkan tubuhmu.”

Siwon menghela napas.

“Nde, lagipula di dalam Miyoung Eonnie tidak sendirian. Ada dokter kandungan dan suster-susternya, jadi kau tidak usah khawatir!” tambah Yoona.

“Benar, Siwon-ssi. Miyoung tidak mungkin langsung melahirkan. Persalinan itu ada tahapannya,” Tuan Im ikut menenangkan.

Siwon mengangguk paham. Ia bersyukur ada keluarga Yoona disini. Pada akhirnya Siwon duduk di samping Yoona lalu mengaitkan jari-jari tangannya. Siwon memejamkan mata lalu berdoa di dalam hati. Yoona tersenyum haru memperhatikannya. Tidak ada alasan apapun lagi untuk tidak mempercayai pria ini. Jika Yoona adalah Miyoung, bisa dipastikan kalau Siwon tidak akan tergantikan. Ia adalah pria yang paling sempurna untuk menjadi suami Miyoung.

“Siwon-ssi?” bisik Yoona. Siwon membuka matanya lalu menoleh pada Yoona.

“Nde?”

“Aku sarankan, setelah Miyoung Eonnie melahirkan, kau harus segera melamarnya. Arraseo?”

Siwon terdiam mendengar saran yang baru saja dikatakan Yoona. Sebenarnya ia sudah mempunyai rencana tersebut, namun ia masih ragu melakukannya. Sebab sampai saat ini Miyoung belum menunjukkan tanda-tanda menerima kehadiran dirinya.

“Aku ingin sekali, Yoona-ssi. Tetapi, sikap dinginnya membuatku tidak percaya diri. Sejak dulu ia tidak pernah bersikap manis padaku. Aku tahu karena dulu aku sangat kejam padanya, aku pantas mendapat kebenciannya, Yoona-ssi. Tetapi aku ingin ia menjadi milikku agar aku bisa membahagiakannya. Dan anak kami,” ungkap Siwon. Yoona menepuk bahu Siwon dengan gaya bersahabat.

“Kalau begitu lakukanlah, Siwon-ssi. Miyoung tidak akan selamanya benci padamu setelah melihat pengorbanan yang telah kau lakukan. Aku sangat yakin saat ini ia takut sekali kehilanganmu. Kau bisa melihat betapa takutnya Miyoung Eonnie ketika kau dipukuli tadi? Tubuhnya bahkan gemetar hebat!”

Siwon diam menatap lantai.

“Siwon-ssi, lakukanlah atau kau akan kehilangannya. Jika ia tidak mencintaimu, ia tidak akan menangis untukmu seperti tadi,” tambah Yoona.

***

 

“Jadi, adikku sudah melahirkan?”

Minho tidak mengangguk atau menggeleng. “Belum dapat dipastikan, Nyonya. Tetapi Nona Miyoung telah dilarikan ke rumah sakit. Sudah ada 3 orang anak buahku yang berjaga disana.”

Chae Ya tertawa. “Kalau begitu, hubungi anak buahmu sekarang juga. Aku ingin bicara dengan mereka. Sudah saatnya kalian menjalankan tugas dariku.”

Minho mengangguk. Chae Ya kembali duduk di kursi kerja Siwon. Senyum licik tidak berhenti menghiasi wajahnya. Sementara Minho telah terhubung dengan salah satu anak buahnya yang kini tengah berada di rumah sakit daerah Namdo, tepatnya sedang mengawasi ruang persalinan Miyoung tanpa diketahui Siwon. Minho berbicara sebentar dengan anak buahnya kemudian menyerahkan ponsel kepada Chae Ya.

“Siapa namamu?” tanpa tedeng aling Chae Ya langsung menanyai pria yang ada di seberang line.

“Chung Suk, Nyonya.”

“Bagaimana keadaan disana? Apakah adikku sudah melahirkan?”

Terdiam sebentar. Lalu, “Sepertinya belum, Nyonya. Aku masih melihat Choi Siwon dan 3 orang lain yang datang bersamanya masih duduk di luar ruang persalinan.”

Chae Ya mengangguk paham. “Dengarkan aku baik-baik, Chung Suk. Terus awasi orang-orang disana. Karena aku…mempunyai sebuah tugas penting untuk kalian bertiga.”

***

 

Siwon mengumpat ketika melihat baterai ponselnya. Kosong. Padahal ia akan menghubungi Dongwook. Waktu persalinan yang sangat lama di dalam benar-benar menguji kesabarannya. Sepertinya Miyoung mengalami persalinan yang cukup menyulitkan di dalam sana. Oh Tuhan, Siwon sungguh ingin menemani Miyoung! Ia ingin berada di samping wanita itu, membisikkan semangat dan kata-kata cinta untuknya, bahkan Siwon rela dipukuli kepalanya asalkan Miyoung bisa melepaskan kesakitannya.

Siwon menggeram frustasi. Terutama sekarang hanya ia dan Yoona yang menunggu di depan ruang persalinan. Tuan dan Nyonya Im juga butuh istirahat, jadi Siwon serta Yoona menyuruh mereka pulang. Siwon ingin tahu apakah Dongwook dan Jessica sudah sampai Namdo atau belum, tetapi baterai ponselnya benar-benar tidak membantu sama sekali.

“Kau ingin menghubungi siapa?” tanya Yoona.

“Sahabatku. Aku menyuruh mereka untuk datang kesini. Tetapi ponselku mati,” jawab Siwon resah.

“Pakai saja ponselku!” Yoona mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Siwon tersenyum lalu menerima ponsel dari tangan Yoona.

“Huft! Kenapa melahirkan itu lama sekali? Yoona-ssi, tidak bisakah aku masuk ke dalam sana?” gerutu Siwon seraya mengetuk nomor ponsel Dongwook.

Yoona tertawa kecil. “Tentu saja tidak boleh, Siwon-ssi. Kecuali kalau kau suaminya. Lagipula kondisimu sedang tidak higienis.”

Siwon mengangguk-angguk. Ia menempelkan ponsel ke telinganya. Sudah beberapa jam berlalu, ia yakin Dongwook dan Jessica sudah berada di pertengahan jalan menuju kemari. Yoona berdiri dari kursinya. Menunggu membuat perutnya lapar. Ia membiarkan Siwon berbicara dengan sahabatnya di ponsel lalu berjalan menuju kantin.

Yoona membeli kentang goreng serta jus wortel untuknya dan Siwon. Pria itu pasti juga sedang kelaparan. Yoona melirik jam tangannya lalu mendesah. Ternyata sudah sore. Kasihan sekali Miyoung Eonnie, pasti ia lebih menderita daripada kami yang menunggunya, batin Yoona. Ia membayar sejumlah uang pada kasir lalu mengambil dua kotak menu yang dipesannya tadi.

Lalu ketika Yoona membalikkan badannya, ada seseorang yang tidak sengaja menabrak gadis itu. Untung saja cengkramannya pada plastik yang tengah dipegangnya cukup erat. Tapi sayangnya, jus wortel sukses membasahi baju bagian depan pria yang menabrak Yoona.

“Ops!”

“Omo! Aaa, mianhae Ahjusshi!” Yoona segera membungkukkan badannya berkali-kali. Sementara pria berpakaian serba hitam itu berdecak sebal. Yoona memandanginya. Pria asing berbaju hitam di depannya tampak cukup kesal. Yoona cemberut. Itu artinya ia harus membeli jus wortel yang baru.

“Jeongmal mianhae!” ucap Yoona sekali lagi.

“Gwaenchana, Agashi.”

Saat pria tersebut menatap Yoona, entah mengapa tiba-tiba wajahnya kaku. Sangat jelas ada ekspresi terkejut di wajah pucat tersebut. Yoona mengernyitkan kening. Memang ada apa dengan wajahnya sampai-sampai Ahjusshi tersebut memandanginya dengan ekspresi seperti itu. Ketika Yoona hendak bertanya, dua orang pria menghampiri mereka.

“Chung Suk-ssi, gwaenchana?” tanya salah satu dari mereka. Pria bernama Chung Suk itu mengangguk.

“Kalau begitu, aku ingin membeli minuman baru. Sekali lagi aku meminta maaf karena telah mengotori bajumu, Ahjusshi.”

Dan kini giliran kedua teman Chung Suk yang terpaku melihat Yoona. Yoona memilih untuk mengabaikannya. Ia pun kembali ke kasir dan memesan dua gelas kopi. Sepertinya ia tidak direstui minum jus wortel, pikir Yoona mengada-ada. Chung Suk dan kedua temannya masih mengawasi Yoona. Bahkan setelah Yoona keluar dari kantin tersebut, ketiga pria itu masih memandangi gadis cantik tersebut.

“Bukankah dia gadis yang sedang menjaga Nona Hwang Miyoung?”

Chung Suk mengangguk menanggapi pertanyaan temannya. “Dia sudah melihat wajah kita. Jadi, berhati-hatilah dalam bertindak.”

“Hmm, arraseo.”

***

 

Miyoung memegangi besi yang ada di samping kiri dan kanan ranjang. Keringat bercucuran bagai tak ada henti dari seluruh pori-pori tubuhnya. Miyoung merasakan sakit yang sangat luar biasa di perut hingga pahanya. Inilah siksaan paling menyakitkan yang pernah dialaminya seumur hidup. Tetapi ia harus terus berjuang sendiri agar bayi yang ada di dalam rahimnya segera keluar.

Sesekali Miyoung menarik dan menghembuskan napas seperti yang diperintahkan Dokter Song padanya. Ia kembali mengerahkan seluruh tenaganya untuk memberi dorongan pada si bayi dan berteriak sekencang mungkin. Miyoung tidak berhenti melakukannya sejak 2 jam yang lalu. Proses persalinan Miyoung memang cukup lama mengingat ia mengalami kelainan power, dimana power itu sendiri merupakan tenaga primer yang dihasilkan oleh adanya kontraksi. Power atau kekuatan meneran Miyoung berkurang disebabkan rasa takut yang masih menggerogoti perasaannya.

Yang pertama, ia takut tidak bisa melahirkan bayinya. Mengingat ini adalah pengalaman pertama bagi Miyoung. Dan yang kedua, Miyoung masih mencemaskan kondisi Siwon! Pria itu tidak tampak baik-baik saja ketika ia dibawa ke rumah sakit tadi. Miyoung tidak tahu apakah Siwon dalam keadaan baik-baik saja setelah dipukuli oleh preman-preman tersebut.

“Aaaaaaah! Ya Tuhaaaaaan! Dokter S-Song, sakit sekaliiii!” jerit Miyoung. Air matanya tak kalah deras dari keringatnya sendiri. Dokter wanita yang sedang berada di antara paha Miyoung yang terbuka itu menatap cemas. Ia sangat mengkhawatirkan Miyoung. Kondisi Miyoung semakin melemah sementara Dokter Song sudah bisa merasakan kepala bayi berada di mulut rahim Miyoung.

“Teruslah meneran, Nyonya. Kepala bayi Anda sudah hampir keluar!” seru Dokter Song. Suster-suster yang membantu Dokter Song serta Miyoung saling berpandangan. Mereka membisikkan sesuatu pada Dokter Song.

Miyoung mengerjap-ngerjapkan matanya. Napasnya sudah hampir habis karena meneran. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Rambut hitamnya melekat di sebagian wajahnya. Tangan dan kakinya sudah mati rasa. Miyoung tidak tahu apakah ia masih sanggup melahirkan bayi ini dalam keadaan selamat.

“Apa pria itu suaminya?” Miyoung sayup-sayup mendengar pertanyaan Dokter Song kepada salah satu suster.

“Saya tidak tahu pasti, Dokter Song. Tetapi pria itu sejak tadi menunggunya di depan.”

Dokter pun mengambil keputusan secepat mungkin. “Baiklah. Kalau begitu coba panggilkan dia!”

“Tapi Dokter, masih ada satu masalah lagi,” tandas suster itu. Dokter Song berdecak.

“Apa lagi, Suster Kim?”

“Pria itu dalam kondisi luka-luka. Tadi ia diobati di ruangan—“

“Aku tidak peduli! Panggilkan saja dia! Siapa tahu dia bisa memberi semangat kepada pasien kita!” tegas Dokter Song.

Suster itu pun mengangguk dan langsung menyerbu ke pintu. Dokter Song kembali berteriak menyemangati Miyoung dan direspon lemah oleh wanita itu. Miyoung bernapas terengah-engah. Ia sudah bisa merasakan kepala anaknya mengganjal di daerah kewanitaannya. Tetapi mengapa ia tidak mempunyai kekuatan lebih untuk terus menerannya?

“Fokus, Nyonya. Anda pasti bisa melakukannya. Jangan pikirkan hal lain. Pikirkan bayi Anda!”

“Aaaaaah! Aku t-tidak…hosh…sanggup! Aaarrggh!” erang Miyoung.

 

Sementara itu Siwon masih mencoba menikmati kentang goreng yang dibelikan Yoona untuknya. Demi menghargai pemberian Yoona, Siwon berusaha untuk menelan makanan itu. Tetapi gelagatnya tidak bisa dibohongi. Pikirannya masih dipenuhi dengan Miyoung.

“Siwon-ssi, aku curiga apakah Miyoung Eonnie melahirkan selusin anak? Kenapa lama sekali?” gumam Yoona. Siwon melemparkan pandangan yang benar saja pada Yoona dan gadis itu hanya menyeringai.

“Aku hanya bergurau. Oh ya, sahabatmu sudah sampai dimana?” Yoona mengalihkan pembicaraan.

“Sudah hampir sampai pelabuhan Namdo. Mungkin setengah jam lagi sampai ke rumah sakit ini,” jawab Siwon diiringi senyuman kecil.

“Baguslah kalau begitu.”

Tepat saat itu, pintu ruangan bersalin terbuka. Siwon dan Yoona terlonjak kaget demi melihat satu orang suster hadir di depan mereka. Siwon langsung sigap berdiri. Ada apa ini? Kenapa wajah suster itu tampak cemas?

“Ada apa suster? Apa Miyoung Eonnie baik-baik saja??!” seru Yoona yang tak kalah terkejutnya.

“Dia tidak baik-baik saja, Nona. Nyonya Hwang membutuhkan—“

“APA MAKSUDMU DIA TIDAK BAIK-BAIK SAJA?” tanpa sadar Siwon berteriak. Namun bukan karena marah.

“Tenang, Tuan. Apakah Tuan adalah suaminya?” sang suster mencoba untuk tidak balas menyembur Siwon. ia tahu Siwon sedang panik.

“Nde?”

“Karena Nyonya Hwang membutuhkan seseorang untuk menyemangatinya. Aku kira Anda adalah suaminya. Jika tidak— hey, Tuan!”

Tanpa menunggu penjelasan suster lebih lanjut, Siwon langsung menyerbu ke dalam ruangan. Diikuti Yoona! Mau tak mau suster tadi kembali masuk dan mengunci pintu ruangan bersalin tersebut. Ia menarik lengan kedua orang itu dan menyerahkan dua helai gaun protektif berwarna hijau.

“Hanya Tuan ini yang boleh menghampiri ranjang. Maaf Nona, tunggu saja disini, ne!”

Yoona mengangguk patuh seraya mengawasi Siwon yang menghampiri ranjang persalinan.

Siwon merasakan jantungnya berdegup sangat kencang ketika menyaksikan Miyoung yang kini tengah meneran di atas ranjang, sedangkan Dokter Song berada di antara kedua pahanya yang terbuka. Siwon menelan ludah tatkala melihat wanita yang dicintainya menangis pilu. Teriakan-teriakan Miyoung mengoyak-ngoyak hatinya.

Miyoung bersandar pada kepala ranjang yang sengaja dinaikkan. Keringat telah membasahi bajunya. Siwon berdiri terpaku untuk beberapa detik, menyaksikan perjuangan Miyoung. Seperti inikah Ibunya dulu saat ia lahir ke dunia ini? Hati Siwon terenyuh dan airmatanya tidak bisa dicegah keluar. Sungguh besar perjuangan para wanita dan dulu Siwon bersenang-senang untuk menyakiti mereka.

“TUAN! APAKAH ANDA AKAN DIAM SAJA DISANA?!”

Siwon terlonjak karena Dokter Song membentaknya. Segera saja Siwon menghampiri ranjang, berdiri dekat dengan Miyoung. Siwon dengan cepat menyambar tangan Miyoung dan menggenggamnya erat. Merasakan sesuatu yang hangat menggenggam tangannya, Miyoung membuka mata. Ia menatap Siwon untuk beberapa saat. Siwon menggigit bibir. Ya Tuhan, Miyoung benar-benar kesakitan. Ia bisa melihat itu dari matanya.

“S-Si…won.”

“Miyoung-ah, baby, bertahanlah. Kau pasti bisa, Sayang. Aku disini mendampingimu,” hibur Siwon dengan suara gemetar.

Tangis Miyoung semakin deras. Ia bersyukur di dalam hati akhirnya bisa melihat Siwon ternyata baik-baik saja meskipun wajahnya babak belur disana sini. Siwon mengusap keringat di wajah Miyoung lalu mencium keningnya. Siwon berada sedekat mungkin dengan Miyoung, menggesekkan hidung mereka serta menatap sepasang mata indah itu secara dalam.

“Aku tahu rasanya pasti menyakitkan, tetapi ini semua untuk bayi kita. Bayangkan ia akan lahir ke dunia ini, Miyoung-ah. Dia akan memanggilmu Eomma, dia akan memanggilku Appa. Dia akan berada di dalam pelukanmu dan merengek meminta ASI. Miyoung-ah, teruslah berjuang. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Dan setelah ini kau harus menikah denganku,” bisik Siwon.

Miyoung menangis tersedu-sedu. Sedetik kemudian ia merasakan bibir Siwon mencium bibirnya dengan lembut. Singkat tetapi penuh arti. Lalu entah darimana kekuatan itu berasal, Miyoung mampu meneran sekuat mungkin. Dengan satu kali dorongan dan bantuan Dokter Song, akhirnya mereka mendengar tangisan pertama sang bayi.

“Oooeeeeeeeek!”

Para suster hampir saja melompat kegirangan jika saja Dokter Song tidak melotot pada mereka. Mungkin mereka semua ikut lega karena Miyoung telah berhasil melahirkan anaknya. Putranya. Siwon ikut tertawa bahagia dan Yoona bersorak di tempatnya. Mereka semua memperhatikan bayi mungil yang masih berlumuran darah itu menggeliat-liat di tangan Dokter Song.

Siwon menunduk memandang Miyoung. Ia tidak peduli air matanya jatuh ke pipi wanita itu. Miyoung masih bernapas pendek-pendek namun wajahnya merona bahagia. Miyoung berusaha membuka mata dengan segenap tenaganya yang tersisa. Ia bisa melihat senyum sumringah Siwon sangat dekat dengan wajahnya.

“Kau berhasil. Aku sangat bangga padamu, Hwang Miyoung.”

Miyoung tertawa kecil. “Ciumanmu beraroma kentang goreng, Choi Siwon.”

Lalu mereka berdua pun tertawa. Siwon mempererat genggamannya di tangan Miyoung, bersama-sama menantikan Dokter Song membawa putra mereka ke ranjang. Dokter Song meletakkan tubuh mungil itu dengan sangat hati-hati di dalam pelukan Miyoung. Miyoung menyambutnya dengan tangan gemetar.

Makhluk mungil berwarna merah itu belum bisa membuka matanya tetapi bibirnya bergerak-gerak lucu. Miyoung tertawa dalam tangisnya. Ia mengerling pada Siwon. Reaksi Siwon lebih mengharukan dari Miyoung. Siwon menahan napasnya, menatap putra mereka dengan tatapan memuja.

“Selamat, Nyonya Hwang. Bayi Anda laki-laki dan tampan seperti…seperti…”

“Saya!” sambung Siwon cepat. “Kamsahamnida, Dokter Song.”

Dokter Song pun meninggalkan pasangan itu dengan bayi mereka. Miyoung memainkan kepalan kecil tangan anaknya. Siwon mendekatkan diri pada mereka. Jari telunjuknya menyentuh pipi si bayi. Terasa sangat lembut.

“Annyeong,” ucap Miyoung dan Siwon berbarengan. Mereka tertawa lagi.

“Apa kau mengizinkan aku untuk memberi nama untuk putra kita?” tanya Siwon. Miyoung menatap lekat mata Siwon. Pria itu, yang kini dicintainya, tersenyum ragu. Miyoung memberikan anggukan lemah. Mendengar Siwon menyebut ‘anak kita’, ada kebahagiaan yang membuncah di dadanya.

“Tentu saja. Kau adalah Ayahnya, Siwon-ah.”

Yoona memperhatikan mereka dari kejauhan dengan mata yang berkaca-kaca. Ia ikut bahagia untuk pasangan favoritnya, Siwon dan Miyoung.

“Aku yakin Miyoung Eonnie akan menerima lamaranmu nanti, Siwon-ssi.”

***

 

Author’s Note :

Annyeong readers! Mianhae kalau Could It Be Love ini kepanjangan atau mungkin membosankan. Akhir-akhir ini lagi nggak bisa konsentrasi penuh karena banyak yang harus diurus hehe #soksibuk. Masih ada satu part lagi dan Author pastikan itu part ending. Padahal rencana awal cuma 4 part aja. Doakan inspirasi selalu menyertai Author yaa kkk. Jangan lupa untuk selalu kasih masukan untuk Author. Bubye, luv u all sooo much!!! And for Wina Hidayati, sabar yaa dek FF CIBL hadiah buat kamu ini lama selesainya lama. Luv u :*

 

 

159 thoughts on “(AD) Could It Be Love Part 4

  1. Akhirnya dengan perlahan miyoung mulai merasakan perasaan siwon terhadapnya………… dengan kegigihan siwon untuk mendapatkan hati dari seorang yang telah mengandung buah cintanya……… ah aku mewekkkkkkkkk

  2. Saeng,unnIe minta maaf salah ketik nama,ketik miyoung jadi ketik fany,di part 1 part 2 part 3 jeongmal mianhe saeng.
    Akhirnya miyoung mulai membuka hatinya mencintai siwon,dan miyoung juga melahirkan putra dengan selamat.Amin.
    Unnienya miyoung ada rencana jahat terhadap miyoung,tidak tau rencana apa?pensaran nih?
    Unnie baca part 5 end.thanks buat saeng for ffnya.

  3. Tegang banget pas tiff eonni melahirkan..
    apa lgi coba rencananya chae ya??
    Gk ada kapoknya tuh orang,, bikin gregetan aja..
    Tpi aku yakin pasti Sifany couple bisa ngatasin masalah yang nnti disebabkan sma chae ya..
    Sifany fighting👊😃

  4. Siwon keren utk tunjukn perubhn skp n cintany rela ngelakuin n ad disamping mi young pun mi young g mw trm dia. tp siwon pntang nyerah. bhkn dia rela dipukuli krn ad yg hina mi young

    Y bikin haru lg wktu akn lihiri ankny g mw kluar klo g ad appany daebak.

    Tuhan jgn blg klo chae ra mw culik ank siwon n mi young…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s