(AR) Embrassed Memory Part 1

            Title: Embarrassed Memory

Data DBD kesehatan

Author: @janisone

Main cast: Tiffany Hwang – Choi Si Won

Support cast: Jessica Jung, Lee Dong Hae

Length: Twoshoot

Genre: Romance

Rating: 15

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan.Cerita ini murni hasil kerja kerasku.

Happy reading…

Part 1

“Tidak, Appa! Aku tidak akan melakukannya! Tidak akan pernah!”

Putus Tiffany.Dia sangat shock ketika Appanya menelfon dan menyuruhnya untuk kembali ke Korea.Bagi Tiffany, dia sudah sangat menikmati kehidupannya disini.Ditempat yang tidak peduli pada tata krama atau pun semacamnya.

“Tidak ada kata tapi.Lusa, kau sudah harus tiba di Seoul…”

“Appa!”

“Kau tinggal pilih, datang sendiri atau dijemput paksa orang-orangku!”

Klik!

Telfon terputus.Tiffany melempar ponselnya ke atas ranjang dengan kesal.Dijemput paksa? Apa dia pelaku kejahatan dan tindakan kriminal?

“Oh, shit!”

Tiffany mengumpat.Disinilah ia sekarang.Korea.Negara yang paling ia benci karena seseorang.

Gadis berambut blonde itu menyeruput lattenya.Jari-jari lentiknya sibuk menyentuh angka-angka pada layar smartphonenya.Cafe ini sengaja dia pilih sebagai tempat untuk istirahat setelah penerbangannya yang melelahkan.

Beberapa pria pengunjung café terlihat mencuri pandang kearah Tiffany.Tentu saja, siapa pun pasti terpesona dengan gadis Korea-Amerika itu.Selain rambut blondenya yang terlihat mencolok, penampilannya juga sangat modis.Dari ekpresi wajahnya sekarang memang seperti gadis angkuh.Tumbuh dikeluarga kaya raya, kecantikan sempurna dan otak yang cerdas membuatnya merasa diatas segalanya.Apalagi dia lahir dan tumbuh di negara seperti Amerika.

Lima menit berlalu.Dipintu masuk café berhenti tiga mobil mewah.Orang-orang dengan pakaian serba hitam keluar.Beberapa diantaranya masuk sementara yang lain menunggu didepan cafe.Pemandangan yang menyita perhatian pengunjung lain itu juga menyita perhatian Tiffany.Dan ketika menyadari siapa orang-orang itu ia langsung bangkit.

“Kalian terlambat bodoh! Aku heran kenapa Appa memperkerjakan orang-orang macam kalian…”

Para pengawal itu menunduk takut.Mereka sudah sering mendengar gadis itu membuat cukup banyak masalah selama ia di Amerika.Jadi mereka sedikit tidak suka dengan kembalinya majikan muda itu.Tidak suka bukan dalam artian membenci.Hanya saja mereka takut dimarahi seperti ini setiap harinya.

“Maafkan kami, Agasshi.Kami sudah memeriksa seluruh bandara tapi kami tidak menemukan Agasshi.Setelah kami melacak dengan GPS, ternyata Agasshi ada disini.Mohon maafkan kami…”

Tiffany tersenyum sinis.Mengerjai para pengawal yang patuh pada Appanya itu adalah hobinya.

Tiffany menatap tiga pria yang menunduk itu satu persatu.

“Ya! Dimana Han Ahjussi?…”hardik Tiffany saat tak mendapati sosok yang ia harapkan itu ada diantara pria-pria muda dihadapannya.

“Maaf Agasshi, Tuan Hwang memberikan tugas ini pada kami karena Manager Han sedang mengurus sesuatu diluar kota…”

Tiffany melipat tangannya.

“Aku tidak akan pulang jika tidak bersama Han Ahjussi…”putus Tiffany dan kembali mengambil tempat dikursinya.Para pengawal itu saling sikut.Meminta salah satu dari mereka untuk membujuk agar sang majikan muda ikut pulang bersama.Setelah beberapa saat saling sikut dan dorong, pria dengan kulit putih bersih dan tubuh yang agak berisi mendekat.

“Maaf, Agasshi.Dibanding Manager Han, tidakkah Agasshi lebih merindukan seseorang?…”tanyanya dengan senyum ramah dan tulus.

Tiffany mendongak seraya memicingkan matanya.

“Appa dirumah?…”tanyanya tak yakin.Bukankah ini masih jam kantor? Lagi pula tumben Appanya ada dirumah mengingat sifat gila kerjanya itu.

“Tentu.Beliau sudah menunggu Agasshi…”

Tiffany tersenyum kecil.Bahagia karena sang Appa rela meninggalkan pekerjaan demi menyambut kedatangannya.Tapi kalau dipikir-pikir ini bukan sesuatu yang harus dibanggakan.Bukankah biasanya para orang tua memang selalu harus menyempatkan diri untuk anaknya? Apalagi yang sudah bertahun-tahun tidak pulang.

“Mari, Agasshi…”

Tiffany bangkit lalu melenggang pergi diikuti dua pengawalnya.Sementara pria yang berbicara tadi dengan cepat mengambil koper, tas, serta ponselnya diatas meja sebelum ikut menyusul.

***Sifany***

Tok Tok

“Masuk…”

Suara yang tegas berwibawa itu berganti dengan suara pintu yang terbuka dan derap langkah kaki seseorang.

“Maaf Sajangnim, kami sudah mendapatkan apa yang Anda perintahkan…”

Si won, pria yang dipanggil Sajangnim itu mengalihkan perhatiannya dari file yang ada ditangannya.

“Benarkah?…”tanyanya sumringah.Terlihat sangat senang dan puas.

“Ne, Nona Hwang sudah sekitar 15 menit yang lalu mendarat di Seoul.Sekarang dia dalam perjalanan pulang menuju mansion mewah kediaman keluarga Hwang bersama para pengawalnya…”lapor pria itu.

“Bagaimana dengan gambarnya, kalian mendapatkannya?…”

“Ne…”Pria manis berkaca mata itu menjawab sembari menyerahkan sebuah camera pada Si won.

“Masih tetap jutek dan bossy seperti dulu…”Komentar Si won seraya memperhatikan foto-foto Tiffany pada camera itu.Ketika dia dibandara, di cafe dan saat memarahi pengawalnya.

“Tapi tetap terlihat cantik, Sajangnim…”tutur pria muda itu membuat Si won tertawa.

“Wae, kau menyukainya?…”pertanyaan itu membuat pria tersebut terkejut.

“A-aniyo Sajangnim, saya tidak berani.Lagi pula, diakan gadis incaran Anda…”Si won kembali tertawa mendengar kata `incaran` yang disebutkan oleh assistantnya itu.Seperti dia hewan buas saja.

“Baiklah, kau boleh pergi…”

“Gamsahamnida, Sajangnim…”Pria itu membungkuk hormat sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut beserta Si won.

Si won kembali pada cameranya yang masih memperlihatkan keangkuhan gadis itu disana.Sesaat dia tersenyum.Tidak menyangka kalau pertemuannya dengan seseorang beberapa waktu lalu membuahkan hasil.

Flashback

Dua pria berbeda generasi itu tampak duduk saling berhadapan.Didepan mereka terhidang berbagai menu makanan ditemani sebotol minuman.

Hwang Sang woo, pria paruh baya yang merupakan konglomerat Korea Selatan itu menatap pria muda dihadapannya.Pria yang dia tahu bukan orang sembarangan.Sebagai sesama pengusaha mereka tentu saling mengenal dalam urusan bisnis.

“Baiklah, Tuan Choi.Apa yang ingin kau bicarakan denganku.Kurasa, soal kerja sama kita tidak ada masalah.Kita sudah saling sepakat dan menandatangani kontrak.Apa yang mengganggu pikiranmu.Apa kau ingin mengubah kesepakatan kita, atau kau ingin membatalkan kontraknya, mungkin?…”

Si won tersenyum kecil.

“Sebenarnya aku meminta waktu bertemu dengan Anda bukan untuk membicarakan tentang pekerjaan, Tuan Hwang…”

Tuan Hwang terdiam sejenak.Tentu dia sedikit terkejut dengan penuturan pria dihadapannya ini.

“Aku ingin membicarakan hal pribadi dengan Anda…”Tuan Hwang mengangkat alisnya.

“Apa itu?…”Tanya Tuan Hwang.Sedikit tertarik karena tidak mungkin orang sesibuk Si won meminta bertemu jika untuk urusan yang tidak penting.

“Maaf jika aku lancang untuk mengatakan ini…”Tuan Hwang tampak diam.Menunggu apa yang akan keluar dari mulut Si won.

“Aku ingin meminta putrimu…”

“Mwo?…”

“Aku ingin meminta putrimu, Tiffany Hwang…”

Tuan Hwang menatap Si won tak percaya.Dari raut wajahnya yang tenang dan serius itu, dia tahu kalau Si won tidak main-main dengan ucapannya.Tapi tetap saja ini mengagetkan untuknya.

“Hahaha…”

Tuan Hwang tertawa dan meneguk minumannya.Sikapnya itu secara tak langsung membuat nyali Si won ciut.Biasanya, seperti apapun keadaan yang Si won alami ia selalu tenang dan percaya diri.Tapi dia tidak menyangka kalau meminta anak gadis orang rasanya akan seperti ini.

“Maafkan aku, Tuan Choi.Tapi aku tidak bisa untuk tidak tertawa…”Si won mengusap tengkuknya.Dia sangat gugup sekarang.

“Tuan Choi, putriku bukan gadis biasa…”Si won tersenyum.Tahu pasti makna dari ucapan pria paruh baya itu.

“Kau sangat pantas bahkan terlalu pantas untuk mendampingi putriku.Aku tahu itu karena kita sudah saling mengenal sejak lama.Bukan hanya sebagai rekan bisnis karena Appamu dan aku berteman baik, tapi…”Tuan Hwang menjeda ucapannya dan menatap Si won.

“Putriku bukanlah orang yang cocok untuk mendampingimu.Dia keras kepala, kekanak-kanakan, sombong dan egois.Dia tidak akan mendengarkanku jika aku tidak memaksanya.Aku khawatir, dia juga tidak akan menghormatimu nanti…”

“Aku sudah tahu itu, Tuan Hwang…”

“Mwo?…”

“Asal dia bersamaku aku yakin semuanya akan baik-baik saja.Lagi pula, aku sudah berjanji padanya…”Tuan Hwang menyerngit.

“Kau mengenal putriku?…”

“Ne.Sepuluh tahun yang lalu.Tepat sehari sebelum dia berangkat ke New York…”

Flashback END

***Sifany***

“Aigo, uri Mi Young-ah.Selamat datang…”

Tuan Hwang membuka lebar-lebar tangannya.Berharap putri cantiknya mendekat untuk memberikannya sebuah pelukan rindu.Tapi yang terjadi Tiffany hanya terdiam dan memalingkan wajahnya.Tuan Hwang yang mengerti pun tersenyum.

“Baiklah, Tiffany Hwang.Peluk Appa…”

Seketika Tiffany tersenyum.Dengan cepat dia berlari dan memeluk Appanya erat.

“Appa, aku merindukanmu…”bisik Tiffany.Walau mereka sering bertengkar tapi tetap saja kalau dia sangat menyayangi sang Appa.Tuan Hwang tersenyum seraya menepuk pundak putrinya pelan.

“Appa juga anakku, sangat-sangat merindukanmu.Penerbanganmu berjalan lancar?…”Tiffany melepaskan pelukan mereka dan mengangguk memberi jawaban.

“Tapi Appa tahu kalau kau sudah membuat masalah begitu tiba di Seoul…”Tiffany tertawa saja.Apa yang tidak diketahui sang Appa tentang dirinya.

“Hanya hiburan kecil untuk menyambut kedatanganku…”kekehnya pelan.Seorang wanita paruh baya dengan seragamnya muncul dari arah belakang.

“Makan malamnya sudah siap, Tuan…”ucapnya memberi tahu.Tak lama matanya terpaku pada sosok gadis yang berdiri disebelah majikannya.Wanita itu tersenyum haru.Dan Tiffany sangat-sangat merindukan senyuman lembutnya.

“Han Ahjumma…”Tiffany memeluk wanita itu erat.Sangat merindukan sosok yang sudah merawatnya sejak kecil itu.

“Aigo, Agasshi.Gwenchana?…”Tanyanya memeluk Tiffany erat.

“Hm, aku makan dengan baik seperti yang Ahjumma katakan…”Han Ahjumma menghapus air matanya yang jatuh.

“Senang melihatmu kembali, Agasshi…”ucapnya dengan suara parau.Tiffany tersenyum dalam pelukan hangatnya.Saat dia memutuskan untuk ke Amerika dulu, Han Ahjummalah yang paling tidak bisa melepasnya.

“Dimana Han Ahjussi?…”Tiffany menanyakan sosok yang dulu juga sering menemaninya kemana pun ia pergi.

“Ahjussi sedang mengurus sesuatu diluar kota.Diakan kembali lusa…”jelas Han Ahjumma.

“Memangnya apa hal penting yang dilakukan Han Ahjussi sampai tidak bisa menjemputku?…”protesnya cemberut.Han Ahjumma hanya tertawa dan menghapus air mata yang mengalir diwajahnya.

“Aish, kalau Ahjumma masih menangis aku kembali ke Amerika saja…”

“Andwae, andwae…”Han Ahjumma menggeleng dan segera menarik tangan Tiffany.

“Kajja, Ahjumma sudah siapkan makanan yang sangat enak dan spesial untuk Agasshi…”

“Jjinja?…”Tanya Tiffany senang.

“Kalau begitu, kajja.Kau pasti merindukan masakan Korea…”ajak Tuan Hwang.

“Eoh, melebihi rinduku pada Appa…”

Gadis itu tertawa dan segera menarik tangan Ahjumma pergi.Tuan Hwang yang ditinggal pun hanya tersenyum lembut dan mengikuti keduanya menuju meja makan.

***Sifany***

Usai makan malam Tiffany masuk ke ruang kerja Appanya.Sudah sepuluh tahun ia tidak menginjak ruangan itu.Namun nuansanya masih sama.Tidak ada yang berubah sedikit pun.Bahkan foto orang yang paling dicintainya masih terpajang rapi ditempat biasa.

“Gumawoyo, Appa…”

Tuan Hwang tersenyum lembut.Tiffany tidak akan mengucapkan terima kasih padanya kecuali untuk satu hal.

Tuan Hwang memeluk putrinya.Keduanya sama-sama terlarut dalam suasana mengingat sosok yang begitu mereka rindukan.

“Aku tahu Appa pasti mengalami hal yang sulit selama ini.Gumawo, Appa sudah menjaga hati Appa untuk Oemma…”Tiffany berucap dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya.Tuan Hwang mengusap pundak Tiffany untuk memberinya ketenangan.

“Aku selalu berharap, aku bisa mendapatkan seseorang seperti Appa.Yang tetap setia walau apapun yang terjadi, sekalipun maut yang memisahkan…”Tuan Hwang menatap wajah mendiang istrinya yang tersenyum cerah bersamanya dan Tiffany.

“Hm, semoga dia yang terbaik…”

“Nugu?…”Tiffany mendongak dengan kening berkerut.Tuan Hwang terkesiap.

“A-aniyo…”ucapnya kembali memeluk Tiffany.

“Aigo, andai putriku selalu bersikap manis seperti ini…”

“Appa…”Tiffany merajuk manja yang dibalas Appanya dengan tawa.

“Aigo, semoga Oemma-mu tidak memarahi Appa karena Appa terlalu memanjakanmu…”Tiffany tersenyum dibahu pria paruh baya itu.

“Aku tahu aku banyak mengecewakan kalian.Mianhe, tapi seperti inilah putri kalian.Ku harap kalian tidak akan membenciku…”Tuan Hwang kembali tertawa seraya menatap foto mendiang istrinya.

“Tidak, sayang.Kau adalah apa yang paling kami syukuri didunia ini…”Tiffany tersenyum dan memper-erat pelukannya.

“Gumawoyo, Appa…”

***Sifany***

“Sunbae…”

Langkah Si won menuju kelasnya terhenti ketika seseorang memanggilnya.Merasa tahu apa yang akan gadis itu lakukan, Si won memilih tidak memperdulikannya dan masuk ke kelasnya.

“Sunbae, tunggu…”

Gadis itu masuk ke kelas Si won, kelas XII A.Gadis itu tersenyum ketika menyadari hanya ada mereka berdua didalam kelas.Itu artinya dia lebih leluasa untuk menyatakan perasaannya.

Si won yang mulai sibuk dengan bukunya mendongak saat gadis itu dengan lancang merampas buku yang ada ditangannya.Dilihat dari seragamnya, sepertinya mereka berada ditingkat sekolah yang berbeda.

“Kenapa kau berada disini? Ini lingkungan anak SMA.Kau tidak takut mendapat hukuman dari pihak sekolah?…”Gadis itu tersenyum manis.

“Ada orang-orang tertentu dan spesial, Sunbae…”Si won mengangguk paham.Sangat mengerti apa maksudnya.

“Baiklah, Nona manis.Apa yang kau inginkan…”Si won mencoba meladeni.Sebenarnya, dia tidak pernah peduli pada gadis-gadis yang selalu mengejarnya.Namun sepertinya gadis yang satu ini cukup nekat.

“Ada yang inginku katakan padamu, Sunbae…”ucap gadis itu malu-malu.Si won tersenyum dan bersandar dikursinya.

“Apa itu?…”

“Sebelumnya perkenalkan, aku Tiffany Hwang dari kelas VII spesial A…”Si won mengangkat sebelah alisnya.Bukan karena dia berada dikelas spesial A yang menunjukkan kemampuan cemerlang dari otaknya.Tapi marga gadis itu.

“Hwang?…”

“Ne, aku putri tunggal, Hwang Sang woo…”

Si won mengangguk mengerti.Jelas terlihat dari penampilannya yang terawat dan berkelas.Dia juga pernah mendengar tentang putri tunggal konglomerat itu dari teman-temannya.

“Aku sepertinya menyukaimu, Sunbae.Anni, aku mencintaimu…”

Gadis yang memperkenalkan diri sebagai Tiffany Hwang itu menyerngit bingung saat Si won tertawa.Apakah ada yang lucu dan pantas untuk ditertawakan?

“Waeyo, Sunbae?…”tanyanya dengan dahi berkerut.

“Aniyo, aku hanya berpikir kalau ini sangat lucu…”ucap Si won begitu menyudahi tawanya.

“Ini pernyataan cinta gadis kelas atas, Sunbae…”terang Tiffany.Terlihat tidak suka karena merasa seniornya itu menertawakannya.

“Oh, ya? Lalu, apa yang harusku lakukan?…”

‘Tentu saja menerima cintaku.Ini kesempatan langka dari pewaris Hwang Group…”Si won terkekeh pelan mendengarnya.Astaga, gadis ini benar-benar.

“Sunbae!”panggil Tiffany.Sedikit kesal dengan sikap acuh Si won.

Si won berdiri dari kursinya.Dia mengitari meja sebelum akhirnya duduk dimeja itu dengan Tiffany yang tetap berdiri dengan jarak satu langkah dihadapannya.

“Kenapa aku harus menerima cintamu, Nona Hwang?…”tanya Si won lembut seraya menatap mata dihadapannya yang dia akui sangat indah.

“Karena aku cantik…”

“Hanya itu?…”Tiffany tampak berpikir sejenak.

“Sebenarnya aku memiliki banyak kelebihan.Bahkan kekuranganku dianggap kelebihan…”Si won melipat tangannya didada.Wow, percaya diri sekali.

“Misalnya?…”

“Aku tidak begitu tinggi, kau suka gadis yang tidak terlalu tinggikan, Sunbae?…”tanya Tiffany bahagia.Si won hanya mengangguk pelan.Ya, gadis itu ada benarnya.

“Baik Nona manis, aku akan memutuskannya…”Tiffany mengangguk manis.Yakin kalau seniornya itu tidak akan menolaknya.

“Berapa umurmu?…”

“Agustus ini 14 tahun, Sunbae…”

“14 tahun, ya? Eum…bagaimana kalau sekarang kau belajar yang rajin dulu…”

“Ne?…”tanya Tiffany tak mengerti.

“Perluku ulangi, Nona Hwang?…”Tiffany menggenggam erat rok seragamnya.Matanya menatap tajam kearah Si won.Hatinya terluka.

“Jadi, kau menolakku, Sunbae?…”lirihnya.

“Maafkan aku, tapi hanya itu yang bisa ku lakukan…”

Tiffany tampak berusaha menahan air matanya yang siap keluar.Ditolak oleh cinta pertama adalah hal yang sangat menyakitkan sekaligus memalukan bagi seorang Tiffany Hwang.

“Kenapa, kau sudah memiliki kekasih? Siapa dia? Apa dia lebih cantik dariku? Atau Appanya lebih kaya dari Appaku?…”

“Tiffany, aku belum memiliki kekasih.Dan kau cantik, aku tahu itu…”terang Si won menenangkannya.

“Uhm, begini saja.Sekarang kau belajar yang rajin dulu dan nikmati hidupmu.Sepuluh tahun kemudian aku akan menemuimu.Kalau perlu aku akan me-”

“Tidak perlu!”balas Tiffany dingin.

“Aku tidak mau melihat pria yang sudah melukai hatiku.Jadi jangan pernah menemuiku atau singa peliharaan grandpa-ku akan mencabikmu!”peringat Tiffany sebelum berbalik pergi.

“Tiffany…”

BLAM!

Tiffany menutup pintu ruang kelas Si won dengan kasar.Sebelum pergi dia sempat berbalik dan menatap pintu kelas itu.

“Aku benci kau Si won! Argh!” Tiffany menendang pintu itu sebelum akhirnya benar-benar pergi.Si won yang ada didalam hanya tersenyum seraya menggeleng.

“Dasar anak SMP…”

“Argggggh!”

Tiffany terbangun dari tidurnya dengan nafas tersengal.Matanya dengan waspada menatap sekeliling untuk melihat dimana ia sekarang.Sesaat ia menghela nafas, menyadari kalau ia baru saja bermimpi.

“Aish!”

Gadis itu mengacak rambutnya.Inilah yang paling ia benci dengan Korea.Susah payah dia membuang kenangan memalukan dan konyol itu tapi semuanya malah semakin jelas disini.Kenapa dia bisa memimpikan pria itu? Dan kenapa mimpinya harus sama persis dengan kejadian sepuluh tahun lalu?

Tok Tok Tok

“Agasshi…”

Seorang wanita muda dengan seragam pelayan masuk kekamar Tiffany.Tiffany yang memang sudah terbangun karena mimpi buruk itu pun hanya menatap wanita itu dengan wajah datar.Maklum, dia masih kesal dengan mimpinya.

“Maaf mengganggu tidur Anda, Agasshi.Diluar ada tamu untuk Agasshi…”

“Nugu?…”tanya Tiffany.Suaranya masih terdengar serak karena baru bangun tidur.

“Dia hanya menyuruh saya untuk memberitahu Agasshi kalau ada yang bertamu…”

Tiffany menyerngit bingung ketika pelayan itu pergi dari hadapannya.Aneh, sebenarnya orang itu bekerja untuknya atau untuk tamu itu.Karena merasa penasaran siapa yang mencarinya sepagi ini, Tiffany pun bangkit dari ranjangnya.Tanpa merapikan gaun tidur, rambut apalagi harus kekamar mandi untuk mencuci muka.

Tiffany menuruni tangga sambil memperhatikan sosok yang berdiri diruang tamu rumahnya.Otaknya mencoba untuk mengenali siapa sosok tinggi yang sedang memunggunginya itu.

“Nuguseyo?…”

Seperti efek slow motion, orang itu berbalik.Dengan senyum manisnya yang membuat Tiffany membeku.Pria itu? Oh God, pria itu adalah alasan kenapa ia tidak menyukai negara ini dan kenapa ia terbangun pagi ini.

“Hai, senang bertemu lagi denganmu, Tiffany Hwang…”

Tiffany masih mematung ketika pria bertubuh atletis itu memeluknya.Bahkan dia lupa bagaimana caranya bergerak dan bernafas ketika pria itu memeluk tubuhnya erat.

“Si…Si won?…”ucapnya terbata.Setelah cukup lama akhirnya ia bisa juga menghirup udara lagi.Padahal rasanya ia hampir mati saat melihat wajah itu.

“Ne, ini aku.Choi Si won.Aku senang karena kau tidak melupakan Sunbaemu…”

Wajah Tiffany bersemu merah.Kejadian sepuluh tahun lalu kembali singgah dipikirannya.Padahal sudah bertahun-tahun dia berusaha untuk melupakan kejadian konyol yang memalukan itu.

“Aish, berani sekali kau memelukku…”

Tiffany mendorong Si won agar pria itu menjauh darinya.Kekesalannya makin bertambah saat pria itu hanya tertawa.Apa yang pria itu tertawakan? Sepertinya pria itu memang memiliki gangguan karena memiliki hobi tertawa yang menyebalkan.Ck, kenapa dulu dia bisa menyukainya?

“Bukankah itu salam ala Amerika? Ku pikir kau sudah terbiasa…”

Tiffany melipat tangannya kesal.Ya, mungkin apa yang dikatakan pria itu benar adanya.Tapi tetap saja dia tidak suka sebab yang melakukan adalah orang yang sudah coba dia lupakan.Orang yang ia benci karena sudah menolaknya.Aish, Tiffany makin pusing memikirkannya.Kenapa dia yang sepuluh tahun lalu begitu bodoh hingga menyisakan kenangan memalukan ini?

“Oh ya, aku punya hadiah untukmu…”Si won menyodorkan buket bunga mawar merah ditangannya pada Tiffany.

“Aku tidak makan bunga…”ketusnya.

“Aku tidak menyuruhmu memakannya, Nona Hwang…”Tiffany melirik namja itu kesal sebelum menyambar buket bunga itu kasar.

“Wow, gadis Amerika memang liar.Aku menyukainya…”

“Mworagu?…”

“Kau cantik…”puji Si won tulus menatap mata indah itu.Mata yang sama bening dan indahnya seperti sepuluh tahun lalu.Tiffany memalingkan wajahnya yang tiba-tiba memanas.Entah kenapa ia merasa malu sekaligus berbunga-bunga saat melihat tatapan serta mendengar pujian itu.Aish! Tiffany sadarlah! Seperti kau baru pernah dipuji saja!

Si won tersenyum memperhatikan penampilan gadis itu dari ujung kaki sampai kepala.Terlihat sedikit berantakan tapi tetap manis dan cantik.Sepertinya akan menyenangkan jika ia bisa melihatnya dalam keadaan seperti ini setiap pagi.

Tiffany menyerngit ketika pria itu terlihat celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.Tetap dengan senyum menyebalkan diwajahnya.

“Apa yang kau lakukan?…”

“Aku senang karena kau tidak membawa singa peliharaan grandpa-mu…”

“Singa grandpa-ku tidak akan mau menyentuh pria menyebalkan sepertimu…”cibirnya.Si won terlihat mengangguk setuju.

“Hm, dia tidak akan tega melukai pria sesempurna diriku…”

“Hah…”Tiffany menghela nafas.Ok, sepertinya keadaan ini semakin menyebalkan.

“Untuk apa kau datang?…”Tiffany bertanya.Lebih cepat dia menanyakan tujuan kedatangan pria itu maka lebih cepat pria itu pergi dari rumahnya.

“Menemuimu.Seperti janjiku sepuluh tahun lalu…”

“Hanya itu? Kau mengganggu tidurku sepagi ini hanya untuk ini?…”tanya Tiffany.Apa pria itu datang hanya untuk sekedar memenuhi janjinya? Memangnya siapa yang berharap kalau pria itu harus menepati janji itu?

“Wae, kau berharap lebih?…”Tiffany tertohok.Mungkinkah?

“M-mwo?!”

“Sebaiknya kau mandi dan ganti baju.Kau menggodaku jika berpakaian seperti ini…”

Tiffany sontak melihat penampilannya.Matanya melebar saat menyadari dirinya keluar dengan menggunakan gaun tidur transparan ini.Aish, memalukan!

“Aku akan menunggumu…”kata Si won sembari mengambil tempat disofa.

“Memangnya kita akan kemana?…”

“Kemana lagi menurutmu, tentu saja berkencan…”

“Ne?…”Tiffany masih seperti orang idiot.Dari tadi tidak ada satupun hal yang dimengerti olehnya tentang apa yang dilakukan pria itu.

“Kapan kita menjalin hubungan?…”

“Aku akan jawab setelah kau siap…”ucap Si won.Tanpa sadar Tiffany mengangguk dan berlalu menuju kamarnya.

***Sifany***

“Apa yang kita lakukan disini?…”

Tiffany bertanya ketika Si won membawanya ke taman.Pria itu tak menjawab karena masih takjub melihat bunga sakura yang bermekaran dimusim semi ini.Tiffany merasa sangat dongkol.Sejak dimobil tadi pria itu memang tidak menjawab apapun pertanyaan yang dia ajukan.

“Si won!”

Si won menoleh.Tahu kalau Tiffany tidak suka dengan sikapnya.

“Jadi kau tidak suka? Ku pikir taman adalah tempat yang tepat untuk berkencan…”

Tiffany melipat tangannya kesal.Hei, mereka bukan pasangan kekasih dan tidak pernah menjalin hubungan.Setidaknya Tiffany sadar akan hal itu dan tidak peduli dengan semua ucapan Si won.

“Oh ya, bagaimana kabarmu?…”

“Cukup buruk setelah kau datang dan mengganggu hidupku…”Si won tertawa mendengar jawaban ketusnya.

“Kau tidak menanyakan kabarku?…”Tiffany memutar bola matanya.Haruskah?

“Untuk?…”tanyanya tak peduli.

“Hanya sekedar berbasa-basi.Apa salah?…”

“Tentu saja salah.Kita tidak sedekat itu…”

“Kalau begitu mari kita menjadi lebih dekat…”

Tiffany menatap pria itu dengan mulut terbuka.Apa sebenarnya yang pria itu lakukan sampai harus bertindak sejauh ini.

“Sepertinya kau sangat terobsesi padaku, Tuan Choi…”

Pria itu tertawa dan bersandar disandaran kursi yang mereka duduki.Tiffany yang dibuat kesal pun memilih meninggalkan tempat itu sebelum ia ikutan gila.

“Aku ingin pulang…”Tiffany bangkit.Namun Si won menahan tangannya sebelum ia menjauh.

“Kita makan dulu saja, aku tahu tempat makan yang enak.Kau mau coba?…”

Tiffany hanya menggerutu dan masuk ke mobil Si won.Dia memutuskan untuk ikut karena dia juga belum sempat sarapan tadi.Ck, masa iya hanya karena ajakan Si won ia rela kelaparan?

***Sifany***

Tiffany mengunyah pelan daging steaknya.Kepalanya mendongak untuk melihat Si won yang ada dihadapannya.Dia sedikit terkejut saat mendapati pria itu juga tengah menatapnya.Hati Tiffany berdesir ditambah detak jantung yang berpacu cepat.Tatapan macam apa itu.Apa mungkin….Andwae! Tiffany menggeleng.Ada apa dengan dirinya hari ini.Ini bukanlah Tiffany Hwang.

Tiffany berdehem dan memperbaiki posisi duduknya.

“Kenapa menatapku seperti itu.Kau ingin bilang kalau aku cantik?…”Si won tersenyum melihat gadis itu sudah kembali menjadi dirinya sendiri.

“Kenapa aku harus melakukannya?…”Si won balik bertanya.

“Semua orang mengatakan hal itu…”

“Jjinja? Dan kau percaya?…”Tiffany mendengus sebal.Apa maksudnya? Apa pria itu ingin bilang kalau orang-orang itu bohong dan tidak mengatakan yang sebenarnya?

“Oh ya, beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan Appamu…”

“Appa? Untuk apa?…”

“Aku meminta putrinya…”

“Ne?..”

“Hm, aku meminta putrinya untuk menjadi istriku…”

“Uhuk Uhuk…”

Tiffany tersedak.Seorang pelayan dengan cepat memberikan segelas air putih beserta sapu tangan.

“Hati-hati, Agasshi.Anda terlalu cantik untuk tersedak daging steak restoran kami…”ucap pelayan itu mengedipkan sebelah matanya sebelum pergi.

Tiffany mengangguk ilfeel dan segera menatap tajam Si won yang sedang menertawakannya.

“Kenapa kau selalu tertawa, huh?…”kesalnya.

“Mianhe, apa kau harus menghajar pria yang baru menggodamu itu?…”tanya Si won yang hanya dibalas tatapan sebal Tiffany.

“Lalu, apa jawaban Appa…”Tanya Tiffany lagi.

“Oh Tiffany, ayolah.Tidak ada yang akan menolak calon menantu sepertiku, hm?…”

“Mwo? Jadi Appa menyetujuinya?…”Si won mengangguk.

“Karena itu dia memintamu kembali ke Korea untuk menyiapkan pernikahan kita…”Tiffany menelan ludah.

“Menikah? Kita? Kapan aku menyetujuinya?!”

“Tidak ada yang meminta persetujuanmu, Nona Hwang.Bukankah kau juga menyukaiku.Appamu sudah tahu apa yang terjadi sepuluh tahun lalu.Jadi dia sangat mendukungku…”

“Itu sudah sepuluh tahun yang lalu dan kau masih mengingatnya? Lagi pula itu hanya cinta monyet anak SMP, Si won…”Si won menatap mata indah itu lekat.

“Jadi menurutmu begitu?…”

Tiffany terdiam dan memalingkan wajahnya.Si won adalah cinta pertama yang sangat sulit ia lupakan walau sampai harus hijrah ke Amerika sekalipun.Sebenarnya hati kecilnya senang karena Si won melakukan ini.Pria itu masih mengingatnya walau tahun demi tahun sudah berlalu.Tapi dia masih bertanya-tanya, atas dasar apa Si won melakukan semua ini.Apa hanya sekedar untuk menepati janjinya?

***Sifany***

“Jessie!”

Tiffany berteriak memanggil sahabat baiknya.Hari ini dia memutuskan untuk bertemu Jessica karena dirumah dia hanya akan stress karena memikirkan Si won.Langkah Tiffany segera menuju meja makan sebab dia mencium wangi masakan dari sana.

“Eoh, kau sudah datang?…”ucap Jessica setelah melirik Tiffany sekilas dan kembali pada masakannya.Tentu Tiffany dibuat cemberut karena merasa diacuhkan.

“Baiklah, sepertinya aku pulang saja…”

Jessica tersenyum setelah mencicipi soupnya.Merasa sudah pas, dimatikannya kompornya lalu beranjak untuk mengambil mangkok.

“Ya! Kenapa kau tidak peduli padaku.Harusnya kau menyambut kedatanganku dan mencegahku yang ingin pergi…”protes Tiffany namun Jessica masih asyik dengan aktivitasnya.

“Jessica Jung!”

“Aish!”Jessica meletakkan mangkok berisi soupnya.Setelah melepas celemeknya dia pun berbalik kearah Tiffany.

“Kemari…”panggil Jessica.Tiffany mendekat dan memeluk sahabat baiknya itu.

“Aku bahkan baru bertemu denganmu minggu lalu…”ucap Jessica melepas pelukannya dan menarik tangan Tiffany kemeja makan.Ya, minggu lalu Jessica memang ke Amerika untuk menemui orang tuanya yang sementara akan menetap disana untuk menemani Krystal, adiknya yang mulai berkuliah disana.

“Kau sudah sarapan?…”

“Kau pikir aku bisa makan mengingat apa yang sudah dan akan terjadi? Apalagi semua pelayan dirumah membuatku pusing karena selalu bertanya tentang Choi Si won.Memang apa hebatnya pria itu?…”

Jessica hanya tersenyum kecil dan mulai menyiapkan mangkok, nasi dan soupnya.

“Jangan menyiksa dirimu sendiri.Dan kenapa kau harus pusing karena hal ini.Seharusnya kau senang, artinya cintamu tidak bertepuk sebelah tangan lagi…”

“Cinta? Itu hanya tindakan konyol anak SMP, Sica-ya…”bantah Tiffany.Jessica menganggukkan kepalanya.

“Ne, sangat konyol sampai kau harus memutuskan pindah ke Amerika.Jujur saja, kau pindah karena ingin melupakannya atau malu karena cintamu ditolak olehnya…”Tiffany mendesah.Sama sekali tidak berminat untuk membahasnya.

“Bisakah aku makan sekarang, sepertinya aku lapar…”Jessica tertawa dan mengangguk mempersilahkan.

“Makanlah yang banyak…”

“Pagi…”

Tiffany yang akan menyendok makanannya tertahan ketika mendengar sesuatu.Dia menoleh dan tampak oleh matanya seorang pria muncul dengan kaos dalam dan celana training mendekat ke tempat mereka.

Mata Tiffany melebar.Pemandangan macam apa ini?

“Sica! Kau gila? Ini Korea bukan Amerika.Pemandangan konyol macam apa ini.Kalian tinggal bersama?…”pekik Tiffany tak percaya.Diliriknya Dong hae dengan tajam saat pria itu duduk disebelahnya setelah mengecup pipi Jessica.

“Lee Dong hae!”Dong hae melirik gadis disebelahnya.

“Selamat datang kembali, Fany-ah.Aku merindukanmu…”

Dong hae bersiap untuk memeluk gadis itu.Namun dia menunda aksinya saat melihat kemarahan yang meliputi gadis itu.Kalau dia tetap melakukan niatnya bisa-bisa dia digampar nanti.

“Lee Dong hae, jawab aku!”

“Ini masih pagi, Fany-ah, haruskah kau berteriak seperti ini?…”

“Ya, kenapa kau bisa dirumah Sica, eoh?…”

“Dong hae Oppa hanya menginap, Tiff…”jelas Jessica seraya menyiapkan mangkok Dong hae.

“Yeah, menginap disaat orang tuamu tidak ada dirumah.Kalian tidur bersama?…”Tiffany menatap Dong hae yang mulai menyantap makanannya dan Jessica yang menyiapkan minum untuknya.

“Anni, sejak kapan kamarku disitu?…”jawab Jessica meletakkan segelas air putih dihadapan Tiffany.Gadis itu mengangguk, setidaknya dia masih ingat kalau kamar yang digunakan Dong hae tadi adalah kamar Krystal.

“Makanlah selagi hangat…”ucap Jessica.Tiffany menurut dan mulai meraih sendoknya.Namun sebelum makanan itu masuk ke mulutnya kembali ditatapnya Dong hae dengan tajam.

“Lee Dong hae, aku akan membunuhmu jika kau melakukan sesuatu pada Jessica, arra?….”Dong hae menghela nafas.Gadis itu memang membencinya dari dulu.Bahkan Tiffany masih menentang hubungannya dengan Jessica hanya karena ia berteman dengan Si won.

“Aku tahu Nona Hwang.Dan cepat habiskan sarapanmu…”suruh Dong hae.Tiffany tampak menggerutu.

“Kau tidak boleh membenciku hanya karena aku berteman dengan Si won.Sebaliknya, kau harusnya ber-“

Dong hae menutup rapat mulutnya saat Tiffany mengayunkan sendok kearahnya.

“Ok, aku akan diam…”ucapnya menurut.Sementara Jessica hanya menggeleng pelan melihat keduanya.

***Sifany***

Tiffany mengganti channel TV-nya dengan asal.Tidak ada satu tayangan pun yang menarik untuknya saat ini.Kenapa hari-harinya selama di Korea begitu menyebalkan? Ck, pasti karena Choi Si won.

Gadis cantik itu meremas remotenya.Benar.Karena pria itulah semua hari yang dilaluinya menjadi sangat menyebalkan.Pria itu selalu mengganggunya.Menelfon untuk bertanya kabar yang seharusnya tidak penting.Mengingatkannya untuk ini-itu.Dan yang paling menyebalkan, kenapa sekarang ia harus stress karena Choi Si won?

“Argh!”

Tiffany mengacak rambutnya dan bangkit.Langkah malasnya ia seret menuju kamar.Namun belum sempat ia menaiki anak tangga pertama, ia menghentikan langkahnya.Matanya mendapati Han Ahjumma tengah bergegas menuju beranda samping.

“Ada apa?…”Tanya Tiffany begitu seorang pelayan muda datang dari arah menghilangnya Han Ahjumma.

“Maaf, Agasshi.Manager Han sudah kembali…”

“Jjinjaeyo?…”tanyanya senang.Pelayan itu mengangguk manis.Senang melihat senyum gadis itu.

Seketika Han Ahjumma masuk bersama Han Ahjussi disebelahnya.Keduanya saling pandang sejenak sebelum memutuskan untuk menghadap Tiffany.

Mata Han Ahjussi memandang Tiffany dari ujung rambut sampai ujung kaki.Senyumnya terukir saat matanya tepat menatap mata indah itu.

“Selamat datang, Agasshi.Maaf, saya baru kembali dan menemui Agasshi…”Han Ahjussi memberi hormat.Tiffany tersenyum sebelum mendekat untuk memeluknya.Bagi Tiffany, dua orang itu sudah seperti keluarga jadi dia sangat menyayangi mereka dengan tulus sebagaimana keduanya juga menyayangi Tiffany dengan sepenuh hati.

Tiffany melepaskan pelukannya lalu melipat tangannya didada.

“Memangnya apa yang Ahjussi lakukan sampai tidak bisa menjemputku yang sudah sepuluh tahun tidak pulang?…”Tanyanya pura-pura kesal.

“Itu masih rahasia, Agasshi…”

“Mwo?…”Pria paruh baya itu tersenyum lembut.

“Agasshi tenang saja.Saya tidak mengerjakan apapun selain hanya untuk Agasshi…”

Tiffany memicingkan matanya.Berarti Han Ahjussi pergi untuk mengurus sesuatu yang akan diperuntukkan baginya.Apa itu? Apa jangan-jangan tentang…Jangan bilang kalau ini ada hubungannya dengan pria itu lagi.

“Apakah untuk-“

“Maafkan saya, Agasshi.Tuan Hwang lebih berhak untuk menjelaskannya…”Tiffany hanya merengut sebal.

“Apa Agasshi ingin Ahjumma siapkan teh hangat?…”tawar Han Ahjumma yang disambut senyum lebar Tiffany.

“Ne, dan tolong bawakan ke taman belakang.Aku ingin mengobrol dengan kalian.Bolehkan?…”Pasangan itu tersenyum lembut.

“Tentu, Agasshi…”

***Sifany***

“Pemandangan sore yang indah, Agasshi…”Tiffany tersenyum lebar kearah Han Ahjussi yang menuangkan teh hangat untuknya.Disebelah kanannya terdapat Han Ahjumma yang memotong buah untuk Tiffany.

“Kapan Appa pulang dari Jepang?…”

“Besok malam.Tuan Hwang harus segera menyelesaikan pekerjaannya untuk mengurus urusan di Seoul…”

Tiffany menerima teh yang disodorkan Han Ahjussi.

“Urusan yang ada di Seoul, apa itu?…”Tiffany bertanya dengan dagi berkerut.Han Ahjussi terlihat sibuk dengan gelasnya tanda ia tidak mau menjawab pertanyaan Tiffany.Gadis itu pun beralih pada Han Ahjumma.Tapi dia baru akan membuka suara ketika Han Ahjumma menyodorkan garpu dengan buah apelnya.

“Agasshi, Tuan Choi sepertinya pria yang baik.Dari sikap dan cara bicaranya, dia juga terlihat sopan dan bisa dipercaya.Ahjumma ikut senang jika kalian bersama…”Kerutan makin jelas diwajah cantik itu.

“Ahjumma, kau mengenal Si won?…”

Perempuan paruh baya itu menutup mulutnya.Matanya bertemu dengan mata sang suami yang tampak mengisyaratkan agar ia tidak melanjutkan obrolan ini lagi.

“Itu…itu…”Tiffany melipat tangannya didada saat menyadari pasangan suami istri yang tengah bersamanya itu saling memberi tatapan aneh.

“Baiklah, kalau Ahjumma tidak mau bicara.Aku tidak akan memaksa…”

“Maafkan Ahjumma, Agasshi.Ahjumma bukannya tidak ingin bicara, hanya saja…”

“Hanya saja?….”

“Hanya saja ini bukan kewenangan kami, Agasshi…”sela Han Ahjussi.

Tiffany membuang nafas kasar.Jika para pelayan yang lain dia bisa marah.Tapi tidak untuk dua orang yang kini bersamanya itu.

“Baiklah, lupakan saja…”

***Sifany***

“Appa, kau sedang bercanda? Ini sama sekali tidak lucu…”marah Tiffany setelah mendengar apa yang dikatakan Appanya.Baru saja pulang dari Jepang Appanya langsung memanggilnya untuk membicarakan sesuatu.Pertunangan? Pernikahan? Apa itu? Bahkan diumurnya yang menginjak usia 24 tahun ini Tiffany tidak pernah sekalipun berpikir bahwa ia akan menjalani yang namanya pernikahan.Apa lagi dengan pria yang sudah pernah menolaknya.Ini sangat buruk dan memalukan.

“Kau pikir pernikahan adalah sebuah lelucon? Appa melakukan yang terbaik untukmu…”jelas Tuan Hwang tenang.

“Pokoknya aku tidak mau.Titik!”putus Tiffany menghempaskan tubuhnya pada sofa diruang kerja Appanya.

“Jebal, Appa.Berhenti melakukan perjodohan gila ini…”

“Ini bukan perjodohan, Fany-ah.Appa tidak menjodohkanmu.Dia sendiri yang datang dan memintamu pada Appa…”

“Dan Appa menerimanya?…”

“Memangnya apa yang salah dari seorang Choi Si won.Dia baik, tampan, sukses, apa lagi yang kau butuhkan?…”

Tiffany terdiam.Dia membenarkan ucapan Appanya barusan.Tidak ada yang salah dari seorang Choi Si won.Hanya saja kenangan sepuluh tahun lalu sangat memalukan untuknya.

“Lihat, kau sendiri bahkan tidak bisa menyebutkan dimana letak kelemahannya.Tidak ada pilihan, kalian akan segera bertunangan dan menikah…”

“Appa!”

“Keputusanmu tidak akan mengubah apapun.Semuanya sudah disiapkan.Minggu depan kalian akan segera bertunangan dan akan menikah bulan depan…”

“Appa…”

Tuan Hwang menghela nafas.Dia akan melunak jika mendengar suara putri semata wayangnya itu bergetar.Dipeluknya sang anak dan menepuk pundaknya pelan.Menenangkannya.

“Maafkan Appa, tapi percayalah, Fany-ah.Appa tidak akan membuatmu menderita.Appa tahu seperti apa Si won dan keluarganya.Mereka baik dan sangat menyukaimu.Kau sendiri juga mengenalnya, bukan? Appa yakin kalian akan baik-baik saja jika bersama…”

Tiffany tidak menjawab.Hanya isak tangisnya yang terdengar.

“Sekali lagi maafkan, Appa.Kalau kau tidak mau melakukannya demi Appa, setidaknya lakukan demi Oemmamu…”

Tiffany tersenyum miris.Appanya sangat tahu kelemahannya.

***Sifany***

Drrtt Drrtt Drrtt

“Yeoboseyo?….”salam Tiffany.

“Kau dimana?…”Tiffany menghela nafas saat mendengar suara itu.

“Dari mana kau tahu nomer ponselku?…”

“Kau tidak perlu tahu.Kau ada dimana sekarang?…”

Tiffany melirik ke sekelilingnya.Dia sedang duduk santai menikmati ice crem disebuah toko dikawasan Myeongdong.

“Kau juga tidak perlu tahu…”ucap Tiffany memasukkan satu sondok ice cream strawberry ke mulutnya.Ehm, dingin dan lezat.

“Jangan keluyuran dan membuang waktumu.Bukankah pertunangan kita beberapa hari lagi.Kau harus banyak istirahat…”

“Benarkah? Kalau begitu aku harus segera pulang…”ucap Tiffany menurut dengan ekpresi wajah sedih yang berlebihan.Terdengar decakan gemas diseberang sana.

“Kajja, ku antar pulang…”

Tiffany menyerngit dan menolehkan kepalanya ke segala arah.Dia mendengus saat melihat pria itu melambaikan tangan kearahnya.

***Sifany***

Tiffany menghembus nafas bosan.Sesekali matanya melirik berbagai perhiasan yang ada disekitarnya.Berbelanja perhiasan adalah suatu kesenangan bagi seorang wanita sepertinya.Tapi mengingat dengan siapa ia pergi sekarang…

Tiffany menoleh kekanan.Dimana Si won tengah memilih cincin ditemani seorang pegawai toko.Cincin yang katanya akan menjadi cincin pertunangan mereka.

“Ini adalah model terbaru toko kami dan dibuat dengan edisi terbatas.Cincin ini sangat cocok untuk cincin pertunangan ataupun pernikahan, Tuan…”Si won mengambil satu dari sepasang cincin berlian dari kotak beludru itu.

“Bagaimana dengan harganya?…”Pegawai itu tersenyum ramah.

“Kita selalu membayar mahal untuk sesuatu yang indah dan berkelas, Tuan.Apalagi jika yang akan memakainya secantik calon istri Anda…”ucap pegawai itu melirik Tiffany yang ada disebelah Si won.

`Itu hanya modus agar kau membelinya, babo`batin Tiffany.

Si won menarik tangan kiri Tiffany.Dipakaikannya cincin itu dijari manisnya.Terlihat sangat indah dan mewah.

“Terlihat bagus…”

“Apa yang tidak pantas untukku…”sombongnya.Si won tersenyum dan kembali menatap pegawai cantik itu.

“Baiklah, kami akan ambil yang ini…”

***Sifany***

“Agasshi, keluarga Tuan Choi sudah datang…”

“Ne?…”

Tiffany yang duduk diranjangnya seketika bangkit.Raut terkejut dan gugup jelas terlihat diwajahnya.Malam ini adalah pertunangannya dengan Si won.Sesaat gadis itu menerawang membayangkan masa depannnya.Tidak, dia belum mau menikah sekarang.Dia akui memang kalau pria itu tidak kurang apapun.Masalahnya, dia belum siap berumah tangga dan berkomitmen.Itu saja.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas diotak Tiffany.Kabur.Ya, dia tahu dia nekat dan Appanya tidak akan memaafkanya nanti.Tapi setidaknya dia harus melakukannya.Berhasil atau tidak, takdirnya lah yang akan menentukan.

Kaki jenjang yang tertutupi gaun merah itu melangkah dengan sangat hati-hati.Hentakan high heelnya sama sekali tidak terdengar dilantai keramik yang licin saking pelan dan lembutnya gerakan gadis itu.

“Agasshi?…”Tiffany mengeram kesal ketika mendengar suara itu.

“Kenapa Agasshi ke belakang, bukankah para tamu ada didepan?…”ucap seorang pelayan wanita mendekat.

“Ne? Oh, aku…aku hanya ingin mengambil minum, ya, minum…itu saja…”ucap Tiffany tergagap.Pelayan muda itu menatapnya aneh.

“Kenapa tidak meminta bantuan saya? Agasshi tunggu disini saja, biar saya ambilkan minuman untuk Agasshi…”Tiffany memaksakan senyum kecil diwajahnya.

“Tidak usah, aku ingin mengambilnya sendiri.Kau pergi saja…”suruh Tiffany lembut.Pelayan itu merasa sangat aneh melihat perubahan sikap majikan mudanya itu.

“Tapi Agasshi…”

“Pergi, kau berani melawanku?…”marah Tiffany.Obrolon tak penting ini hanya akan membuang waktunya.

Pelayan itu menunduk takut sebelum akhirnya pamit.

`Huh, sama saja.Gadis itu memang selalu menakutkan`batinnya.

“Aish, mengganggu saja…”desis Tiffany.Dengan cepat dia berlari menuju dapur.Beruntung tidak ada para pelayannya disini.Mungkin mereka sibuk mengurus tamu dan semacamnya.Terlebih Han Ahjussi dan Han Ahjumma.Mereka pasti merasa sedang menikahkan anak gadisnya.

`Mianhe, Ahjussi, Ahjumma`

Tiffany membuka pintu belakang.Dia keluar dengan cepat menjauh dari bangunan megah itu.Tapi bukan berarti rencananya untuk kabur mulus-mulus saja.Tidak ada jalan keluar disini.Haruskah ia memanjat tembok dengan gaun dan high heel ini?

“Tangga!”seru Tiffany senang saat matanya melihat sebuah tangga disudut taman.Dengan susah payah diseretnya tangga itu dan mulai memanjat.

Hap!

Tiffany menghela nafas lega begitu dia berhasil keluar.Dia bertanya-tanya, kenapa dia tidak melakukan hal ini dari kemarin?

“Sekarang aku harus pergi…”ucap Tiffany yakin.Baru beberapa langkah menjauh dia pun kembali terdiam.

“Dompet dan ponselku!”jeritnya histeris.Aish, kenapa dia bisa melupakannya?

Mata Tiffany disilaukan oleh cahaya lampu dari sebuah mobil.Otak Tiffany langsung bekerja.Akan sangat baik jika dia meminta bantuan orang itu untuk kabur dari sini.Ya, sebelum orang-orang Appanya menemukannya.

***Sifany***

Si won baru saja selesai melakukan pekerjaannya.Dengan cepat dia masuk ke mobil.Hari ini adalah hari pertunangannya dengan Tiffany.Tentu dia tidak ingin terlambat dan mengecewakan.Dia memutuskan untuk bertemu asistannya ini saja harus berdebat kecil dengan Oemmanya.

Si won melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.Tiba-tiba matanya melihat seorang wanita melambaikan tangan dipinggir jalan.Seperti butuh bantuan.

Pria itu mempertajam penglihatannya.Merasa mengenal sosok dalam balutan gaun merah menyala itu.

“Tiffany?…”

Si won menepikan mobilnya.Wanita itu langsung masuk begitu Si won menghentikan mobilnya.

“Huh, akhirnya…”ucap Tiffany lega.Merasa kalau dirinya telah selamat dari suatu peristiwa mengerikan.

“Gumawoyo Tuan, aku tidak akan melupakan ja…”Tiffany menelan ludah.

“Noe…”tunjuk Tiffany tak percaya.Pria itu, kenapa pria itu ada disini? Bukankah seharusnya pria itu sudah ada dirumahnya?

Si won yang melihat ekpresi terkejut Tiffany tersenyum.Dia tahu apa yang akan gadis itu lakukan.

“Ya! Kenapa kau ada disini?!”tanya Tiffany kesal.Sial, sia-sia usahanya kabur.Bahkan tangannya masih sakit saat menyeret tangga tadi.

“Lalu kau, apa yang kau lakukan disini.Bukankah seharusnya kau ada dirumahmu.Menunggu calon tunanganmu yang tampan ini?…”

“Oh, aku tahu.Kau pasti sudah tidak sabar menungguku, bukan? Hingga kau menjemputku kesini?…”goda Si won diikuti tawanya.Sementara Tiffany hanya memasang wajah kesal.

“Baiklah, sepertinya kita hampir terlambat…”Si won mulai menjalankan kembali mobil sportnya.Sesekali diliriknya Tiffany yang hanya menatap kesal kearah jendela.

“Apa kau ingin kabur?…”

‘Tadinya iya, tapi gagal karena kau…”ketus Tiffany membuat pria itu terkikik pelan.

“Aku datang terpisah dari orang tuaku karena ada hal yang harus ku selesaikan dikantor.Dan sepertinya aku tidak rugi.Aku tidak akan membiarkanmu pergi Tiffany, kau ingin mempermalukan keluargaku dan Appamu?…”

Tiffany tak menjawab.Bahkan dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya kalau sampai sang Appa mengetahui aksi kaburnya ini.Dan sekarang, dia akan segera bertunangan dengan pria yang sudah pernah menolaknya.Ya Tuhan, takdir macam apa ini?

***Sifany***

Tiffany berbaring resah diranjangnya.Sejak dua jam yang lalu matanya belum juga bisa terpejam.Dirinya pun masih belum percaya dengan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.

Tiffany memandang cincin yang melingkar dijari manisnya.Cincin yang indah dan tampak begitu sempurna dijari tangannya.

“Huft…”

Tiffany menghembus nafas kasar.Dia kembali mengingat bagaimana acara pertunangannya tadi berlangsung.Semua tamu yang hadir memujinya dan Si won.Dalam hati Tiffany tentu merasa tersanjung dan bangga.Kalau dipikir-pikir, dia dan Si won adalah pasangan yang sangat sempurna, bukan? Tapi mengingat seringaian menyebalkan pria itu membuatnya sangat kesal.Pria itu seolah merasa menang atas dirinya.Aish!

Tok Tok

“Nugu?…”

“Ini Appa…”

Tiffany dengan cepat duduk diranjangnya.Tuan Hwang masuk perlahan kemudian duduk dipinggir ranjang menghadap putrinya.Tiffany menunduk dengan memainkan jarinya.Dia takut kalau sang Appa membahas perihal kemunculannya bersama Si won.

“Appa tidak akan bertanya tentang masalah itu…”ucap Tuan Hwang seolah mengerti apa yang tengah dipikirkan Tiffany.

Tiffany mendongak.

“Ne?…”

“Walau Appa tidak sepenuhnya percaya tapi Appa akan berusaha percaya karena Si won berusaha untuk melindungimu…”

Tiffany menghela napas lega.Sepertinya Appanya sangat percaya dengan Si won.

“Aigo, Appa benar-benar tidak tahu apa yang harus Appa lakukan terhadapmu…”

Tiffany tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

“Kau sudah dewasa, Fany-ah.Jika ingin melakukan sesuatu setidaknya kau harus berpikir dua kali untuk melakukannya.Kau juga harus memikirkan apa dampak dari semua perbuatanmu…”Tiffany kembali menunduk diam.Ya, dia tahu dia salah.Kalau seandainya tadi dia berhasil kabur, pasti Appanya sangat malu pada semua tamunya.

“Mianhe, aku tidak akan mengulanginya lagi…”janjinya pelan.Tuan Hwang tersenyum lembut seraya menatap wajah cantik putrinya.

“Kau tahu, Appa merasa bahagia tapi disaat yang bersamaan Appa juga merasa sedih…”

“Waeyo, Appa?…”Tiffany menatap wajah berwibawa Appanya.

“Appa bahagia karena putri Appa sudah menemukan pria yang baik dan akan segera menikah.Tapi disisi lain Appa juga sedih karena kau akan menjadi milik pria lain…”

Tiffany tersenyum dan beringsut untuk memeluk Appanya.

“Aniyo, Appa.Walau aku sudah menikah, aku akan tetap jadi milik Appa.Itu sudah pasti…”Tuan Hwang tersenyum dipundak Tiffany.

“Berjanjilah untuk bahagia, aratchi?….”

“Ne, Appa…”

“Aigo, Oemmamu pasti merasa sangat bahagia sekarang.Putri kecilnya sudah dewasa…”Tiffany tersenyum haru.Dia merasa sangat merindukan Oemmanya sekarang.

***Sifany***

“Oemma, kau mendengarkanku?…”Tanya Tiffany setelah meletakkan mawar putih digundukan tanah dihadapannya.

“Oemma, datanglah pada mimpi Hwang Sang hwo itu.Oemma tahu betapa dia telah banyak mengatur hidupku?…”adu Tiffany.

“Lihat putrimu Oemma.Anakmu Tiffany Hwang, tumbuh dengan cantik dan masih muda.Aku bukan perawan tua yang tidak laku Oemma, kenapa dia memperlakukanku seperti ini…”Tiffany tetap mengoceh meski ia sadar kalau sang Oemma tidak akan menjawabnya.

“Oemma…”

Tiffany menangis.Bukan karena Oemmanya tidak menjawab.Lebih pada kerinduan yang mendalam.Ditinggal oleh orang terdekat dan dicintainya diusia kecil membuat Tiffany sangat terpukul.Diusia labil seperti itu membuatnya bingung dan merasa tak ada lagi kasih sayang yang tulus untuknya.

Tangis Tiffany terhenti ketika sebuah sapu tangan muncul dihadapannya.Pandangannya beralih pada sang pemilik sapu tangan yang tengah menatapnya dengan lembut.

“Annyeong haseyo, Ommonim.Perkenalkan, aku Choi Si won, tunangan dari putrimu, Tiffany…”salam Si won menatap foto wanita cantik dengan senyum indah yang ada dihadapannya.Tiffany yang tak peduli dengan apa yang pria itu lakukan tiba-tiba terkejut ketika Si won menggenggam tangannya.

“Izinkan aku mendapatkan restumu, Ommonim.Aku berjanji akan selalu menjaga, melindungi dan mencintainya…”

Si won beralih menatap mata Tiffany dan menggenggam tangannya erat.

“Aku akan terus menjaga dan mencintainya, baik disaat sakit maupun senang, dalam keadaan duka maupun suka, sampai maut memisahkan…”

Janji suci pernikahan terucap sudah.Pesta resepsi pernikahan super mewah juga sudah berakhir.Menyisakan kelelahan dan rasa tak percaya diwajah cantik itu.

“Hah…”Tiffany menarik nafas lalu mengeluarkannya dengan pelan.

“Ok, Tiffany.Ini semua hanya mimpi.Kau cukup tenang dan tidur maka kau akan terbangun seperti seharusnya…”

Tiffany mengangguk pasti dan mulai berbaring diranjang.Bersiap memejamkan matanya dan berharap terbangun dengan keadaan yang dia harapkan.Bermimpi didalam mimpi adalah hal yang biasa, bukan? Mungkin saja saat ini dia sedang mengalaminya.

TBC

134 thoughts on “(AR) Embrassed Memory Part 1

  1. Memalukan banget ya😀 tiffany ditolak siiwon , siwon nolak tapi malah ngejar2 skrg😀 . Sweet banget tapi mereka ,oiya saya setuju juga dgn beberapa comment sblmnya kalo diakhir membingungkan tapi overall kereeeen ;;) ditunggu karya selanjutnya dan keep writing!

  2. Senyum senyum sendiri thor baca ff ini, apalagi waktu Fany eonni mau kabur tapi malahan masuk ke dalem mobilnya Siwon, ngakak gila thor..
    Kajja next thor..

  3. Hahaah somplak pas Tiffany mau kabur tapi malah gagal. Aku suka ff yang kaya gini. Seru pasti.lanjutannya jgn lama2 ya thor.🙂

  4. Super duper gemesin deh ini couple. Apalagi si tiffany malumalu mau gitu.😀
    Goodjob thor keep writing fighting. Update soon

  5. malu tapi mau itu fany unnie,, lucu dan somplak pas fany unnie kabur tapi ketemu siwon oppa rencana buat kabur gagal total🙂
    siwon oppa nyolot tapi sweet banget sih❤ fany unnie jaga gengsi tuh,,
    kenangan memalukan yang menjadi cerita sweet romantis^^
    gomawo admin yang udah nulis ff se sweet ini dan gomawo admin yang udah ngepost ff ini ^^

  6. Omoo..ternyata woonie toh dalang dari kembali nya patini dari hijrah nya😀 hhehe btw g sia2 usaha nya wonnie dan akhir nya married deh..hoho😉

  7. I like this story! It’s like dream come true😊😂😇
    Siwon oppa menolak Tiffany eonni waktu masih sekolah tapi 10 years later… datang ke Appanya Tiffany eonni dan melamar😘😘 That’s really amazing..☺
    Tiffany eonni malu malu kucing aja😆😄
    I know both of you are fallen in love💓💞
    Next part ga sabar

  8. Hrsny fany happy kn cinta pertamany akhirny bls conta bhkn ngajak nikah. tp dsr fany gengsi tuh. q sk klo ad fany sll ad jessuca krn sbnrny mrk g bs dipshkn.
    fany…fany…mau tp malu. siwon sgt cocok dgn mu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s