(AD) Could It Be Love Part 3

Could It Be Love?

Cibl

@echa_mardian

Cast : Choi Siwon, Hwang Miyoung

Genre : Romance, Hurt, Sad

Rating : PG 17

 

Author Note : Thank’s Reader. Mianhae CIBL 3 ditunda karena kesalahan teknis hahaha. Happy Reading J. Oh ya…author lagi dalam proses pembuatan buku SiFany. Mohon didoakan biar sukses ya🙂. Semoga jadi dalam waktu dekat ini🙂

Part 3

 

Suasana makan malam tetap seperti biasa, hanya saja lebih ramai karena anggota keluarga lebih lengkap. Tuan Choi dan Chae Ya tampak semakin lengket, sementara Siwon lebih banyak diam. Ia tidak tertarik melirik Chae Ya bahkan Miyoung. Tuan Choi menyadari perubahan Siwon. Selama beberapa terakhir, tepatnya setelah ia menikah dengan Chae Ya, Siwon terkesan semakin tidak peduli padanya. Atau pada tugas-tugas ke luar negri yang sebenarnya perlu turun tangannya.

“Siwon-ah?” panggil Tuan Choi. Siwon menoleh kepada Ayahnya.

“Nde, Abeoji?”

“Besok kita mempunyai jadwal berangkat ke Jepang. Kau dan aku, sebenarnya. Mr. Sakuragi ingin membicarakan proyek pengeboran minyak yang berhubungan dengan kunjunganku ke Saudi Arabia. Kali ini kau harus ikut,” ujar Tuan Choi tenang.

Tanpa diduga Siwon mengangguk. Ia tidak bertanya kenapa Ayahnya pergi lagi padahal baru saja sampai sore ini. Siwon sedang malas berkomentar. Chae Ya melirik Siwon seraya tersenyum tipis. Ia mengangkat tangannya untuk mengelus tangan Siwon, tentu saja gerakan yang wajar dari seorang ibu kepada anaknya, namun karena Miyoung pernah mendengar dari Siwon kalau Chae Ya menyukainya, membuat gadis itu terpana juga. Miyoung tidak bisa menganggap kalau Chae Ya menyentuh Siwon secara wajar. Ia pun mengalihkan pandangannya.

Sedangkan Siwon menatap tajam pada Chae Ya, namun tidak menepis tangannya.

“Uri Siwon sepertinya kelelahan, Yeobo. Bisakah jadwal ke Jepang kita undur barang 2 atau 3 hari lagi? Lagipula kau juga lelah kan, Yeobo?” suara Chae Ya terdengar mendayu-dayu.

“Siwon harus ikut denganku, Yeobo. Sudah cukup lama ia bermalas-malasan,” Tuan Choi bersikeras.

Siwon menepis tangan Chae Ya lalu menjawab, “Tenang saja, Eomma, sudah tugasku ikut dengan Abeoji.”

Miyoung memandang Siwon yang duduk di hadapannya. Mata mereka terpaku untuk beberapa detik. Chae Ya sama sekali tidak suka melihat hal itu. Ia berdehem keras untuk mengambil perhatian semua orang, tetapi tidak dengan Siwon. Siwon masih memandangi Miyoung.

“Miyoung-ah, bagaimana pekerjaanmu?” tanya Chae Ya. Miyoung tersenyum.

“Pekerjaanku baik-baik saja, Eonnie.”

“Oh, baguslah. Oh ya, aku mempunyai oleh-oleh untukmu dari Saudi Arabia. Aku harap kau menyukainya.”

 

***

 

“Pulang ke Jeonju? Apa kau serius?”

Miyoung mengangguk. Ia sama sekali tidak menunjukkan kegusaran di wajahnya. Sebaliknya, Miyoung tersenyum penuh arti kepada Chae Ya, seakan-akan menunjukkan kalau tak ada siapapun yang mengancamnya di tempat ini. Chae Ya menggenggam tangan Miyoung. Perasaan sayangnya kepada sang adik masih tersisa di hatinya yang paling dalam. Namun, sebenarnya ia tidak menolak permintaan Miyoung untuk keluar dari rumah ini. Sebab itu akan membuatnya bebas bersama Siwon.

“Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Siwon? Kau sudah putus dengannya?” Chae Ya berusaha mati-matian menahan nada semangat dalam suaranya.

Miyoung tak tahu harus menjawab apa sebab hubungan mereka hanya mengada-ada. Ia tidak pernah menyetujui menjadi kekasih Siwon. Namun daripada Chae Ya melontarkan pertanyaan lebih banyak lagi, Miyoung akhirnya mengangguk, membenarkan pertanyaan Chae Ya.

“Aku putus dengannya.”

Chae Ya membuat ekspresi sedatar mungkin padahal ia ingin melompat dan bersorak sekeras-kerasnya. Ia menang. Akhirnya Miyoung dan Siwon mengakhiri hubungan mereka, Chae Ya tidak perlu was-was lagi.

“Miyoung-ah, akhirnya kau menyadari kalau Siwon tidak baik untukmu. Dia adalah playboy yang tidak akan menikahi gadis sepertimu. Dia akan mencampakkan kita setelah merasa puas. Tapi untung saja, kalian cepat-cepat putus. Kalau tidak—“

“Kalau tidak Eonnie tidak akan mempunyai kesempatan lagi? Benar kan, Eonnie?” sela Miyoung cepat.

Chae Ya terdiam bagai patung. Ia menatap mata Miyoung yang berkaca-kaca.

“A-apa maksudmu?”

“Siwon pernah berkata kalau Eonnie menyukainya. Apa itu benar?” tanya Miyoung sedikit takut-takut. Ia meremas pashmina sutra yang baru saja diberikan Chae Ya padanya.

Wanita itu menatap Miyoung sengit. “Jadi kau mempercayai kata-kata pria itu? Apakah menurutmu itu mungkin? Aku menyukainya tetapi menikah dengan Ayahnya? Apa menurutmu aku wanita yang seperti itu?”

Miyoung menelan ludah menerima rentetan pertanyaan dari Chae Ya. Wanita itu menutupi salah tingkah dan kebohongannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menakan adiknya. Miyoung tidak menjawab dan menunduk, menatapi pashmina-nya yang sedikit kusut karena diremas. Ia sedikit merasa bersalah.

“M-mianhae, Eonnie. Aku…aku tidak bermaksud mengatakan hal itu. Tentu saja Eonnie bukan orang yang seperti itu,” ujar Miyoung.

Chae Ya tersenyum puas lalu merengkuh Miyoung ke pelukannya. “Kau harus selalu mempercayaiku, Miyoung-ah.”

Miyoung mengangguk patuh. Ia membalas pelukan kakaknya lebih erat karena besok dan di hari selanjutnya ia tidak akan merasakan hal ini lagi. Miyoung tahu kalau tempatnya bukan disini. Mungkin dengan kepergiannya, Siwon akan merasa lega.

“Miyoung-ah, jika kau pulang ke Jeonju, bagaimana dengan pekerjaanmu di toko bunga?” tanya Chae Ya.

“Besok pagi saat aku akan naik kereta, aku akan mampir kesana terlebih dahulu. Aku rasa Nichkhun pasti mengerti,” jawab Miyoung.

Chae Ya mengernyit. “Kereta? Miyoung-ah, supirku akan mengantarmu.”

“Tidak perlu, Eonnie. Aku lebih nyaman pulang sendiri. Besok, setelah Tuan Choi dan Siwon pergi, aku pun berangkat. Tapi, Eonnie, kumohon jangan katakan apapun kepada Tuan Choi. Aku tidak ingin Tuan Choi tahu, terutama…Siwon.”

 

***

 

Pagi-pagi sekali Miyoung sudah bangun dan berkemas. Ia telah memasukkan semua barang dan pakaiannya ke dalam satu koper besar. Miyoung duduk di depan cermin rias sambil menyisir rambutnya yang masih sedikit lembab. Ia sudah yakin dengan keputusannya untuk keluar dari rumah ini. Ia tidak ingin berlarut-larut dengan perasaan sakitnya setiap melihat Siwon.

Siwon, dalam sekejap telah menghancurkan hidupnya. Coba saja Siwon tidak menodainya, mungkin kini ia telah jatuh cinta pada pria itu. Sebab sejak pertama kali melihat potret diri Siwon, Miyoung telah terkesan dan menganggap Siwon adalah pangeran pujaan setiap gadis sepertinya.

Namun kebencian Miyoung telah menutup segala rasa suka maupun kagum. Pria itu tidak seperti yang dibayangkannya. Tetapi biarlah. Miyoung akan membawa dirinya pergi sejauh mungkin dari Siwon.

“Hmmp.”

Tiba-tiba Miyoung merasa mual lagi. Ia menutup mulutnya sambil menahan mual yang amat sangat. Ada apa dengan dirinya? Perutnya terasa aneh akhir-akhir ini. Ia segera bangkit dan berlari menuju kamar mandi kamarnya. Miyoung menyalakan air di kran wastafel lalu membungkukkan tubuhnya.

“Hoooeek…Hooeeek!”

Aneh sekali. Tidak ada apa-apa keluar dari mulutnya, padahal ia merasakan mual yang membuat tubuhnya merinding. Miyoung terus memuntahkan isi perutnya, namun tetap saja tidak ada apa-apa. Miyoung berkumur-kumur dengan air kran dan mendesah laga. Rasanya segar sekali.

Setelah merasa tenang, Miyoung kembali ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Tatapannya jatuh pada kalender meja yang terletak di meja rias. Disana ia melingkari tanggal-tanggal yang menurutnya penting, termasuk dengan keterlambatan haid nya beberapa minggu ini.

Miyoung tercekat. Ia sudah terlambat haid selama 4 minggu!

Itu berarti satu bulan yang lalu. Miyoung mengingat dengan jelas apa yang terjadi saat itu. Disaat ia dalam masa subur dan Siwon melakukan hal itu padanya lebih dari satu kali. Miyoung menahan napas seraya menyentuh perutnya. Airmatanya mulai mendesak. Tidak mungkin dan tidak akan! Ia tidak tahu apa yang terjadi pada hidupnya jika ia benar-benar…hamil.

Dua bulir airmata mengalir di pipinya. Miyoung merasa sesak untuk sesaat. Bagaimana jika ia benar-benar hamil? Miyoung meremas roknya. Ia tidak ingin memikirkan hal itu. Sekarang ia telah membuat keputusan untuk keluar dari kehidupan Siwon dan ia tidak boleh mengandung anak pria itu!

 

 

“Kami pergi. Jaga diri kalian baik-baik!” ucap Tuan Choi ketika Chae Ya dan Miyoung mengantar mereka ke depan pintu.

“Kalian juga harus menjaga diri kalian disana. Satu minggu itu cukup lama. Yeobo, aku pasti akan merindukanmu,” balas Chae Ya seraya bergelayut manja di lengan Tuan Choi. Siwon mendengus jijik. Sementara itu Miyoung tidak memandang Siwon sama sekali.

“Miyoung-ah, jangan terlalu lelah bekerja di toko bunga. Selalu temani kakakmu di rumah, ne!”

“Nde, Ja-hyeong.”

Siwon menatapnya.

“Kalau begitu, kami pergi.”

Tuan Choi memasuki mobil terlebih dahulu. Sementara Siwon masih tidak bergeming. Ada perasaan tidak nyaman ketika ia melihat gadis yang mulai merebut perhatiannya itu.

“Siwon-ah!” panggil Tuan Choi. Siwon mengerjap lalu mengalihkan pandangannya dari Miyoung. Ia membalikkan tubuhnya kemudian masuk ke dalam mobil, duduk tepat di samping sang Ayah.

Miyoung menunduk menatap kakinya. Kenapa ada sedikit rasa sakit yang dirasakannya ketika melihat pria itu pergi?

 

***

 

Setelah berpamitan dengan Chae Ya dan seluruh penghuni rumah, Miyoung pun pergi dari kediaman Choi yang super megah itu. Miyoung menolak diantar sampai stasiun karena ia ingin mampir ke toko bunga terlebih dahulu. Dan Miyoung masih ingin ke tempat lain sebelum benar-benar pergi dari Seoul, yaitu ke apotek. Miyoung ingin membeli testpack, tanpa sepengetahuan siapapun tentunya.

“Kau akan pulang ke kampung halamanmu? Miyoung-ah, kenapa?”

Miyoung tidak heran melihat keterkejutan Nichkhun dan kedua rekan kerjanya saat ia berpamitan. Maklum saja hubungan mereka cukup dekat. Terlebih lagi dengan Nichkhun. Miyoung telah menganggap Nichkhun seperti kakaknya sendiri. Karena hanya dengan pria itu Miyoung nyaman berkeluh kesah. Tetapi ia sama sekali tidak pernah menceritakan masalahnya dengan Siwon.

“Apakah kau akan kembali lagi?” tanya Nichkhun lembut. Miyoung pura-pura berpikir padahal ia sudah tahu jawabannya.

“Sepertinya aku tidak akan kembali lagi. Tetapi aku akan meninggalkan alamatku kepada kalian. Jadi, jika kalian mempunyai waktu luang, datanglah ke rumahku. Aku pasti akan sangat senang sekali.”

Nichkhun sangat sedih. ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Miyoung akan pergi. Tanpa menghiraukan keberadaan Luna dan Gil, Nichkhun maju untuk memeluk Miyoung. Miyoung tertawa haru dan memandang ke arah dua rekannya. Luna dan Gil masih menangis tersedu-sedu.

“Aku tidak ingin kau pergi, Miyoung-ah. Tidak bisakah kau tetap disini?” bisik Nichkhun. Miyoung mengusap-usap punggung pria tersebut.

“Seandainya saja aku bisa,” balas Miyoung. “Berjanjilah untuk sering-sering mengunjungiku, ne!”

 

***

 

Jessica baru saja pulang dari supermarket untuk membeli keperluan bulanannya ketika ia melihat sosok yang tak asing baginya keluar dari sebuah apotek. Kebetulan saat itu lalu lintas di jalan sedang padat merayap, jadi Jessica tidak bisa melaju lebih kencang menuju apotek tersebut. Jessica melihat kekalutan di wajah teman barunya itu dan tangannya menggenggam sesuatu. Jessica berdecak sebal saat gadis itu masuk ke dalam taksi yang sedari tadi telah menunggunya di tepi jalan.

Ada perasaan aneh pada Jessica. Apa Miyoung sakit atau semacamnya? Kenapa wajahnya lesu sekali? Ia harus mencari tahu. Tapi tidak mungkin ia mengejar taksi yang telah menjauh dari halaman apotek tersebut. Jessica memutuskan untuk berhenti di apotek tersebut dan mencari tahu apa yang dibeli Miyoung.

Jessica mengabaikan panggilan Dongwook yang masuk ke ponselnya dan memarkirkan mobil di halaman apotek. Jessica mempunyai firasat sesama wanita yang membuatnya harus menyelidiki.

Ia turun dari mobilnya setelah memarkir mobil dengan benar di depan apotek. Jessica disambut oleh seorang pria berpakaian serba putih dan tersenyum lebar padanya. Jessica mendekati pria tersebut dan bertumpu pada etalase yang berisikan bermacam-macam obat.

“Annyeonghasaeyo, Agasshi! Ada yang bisa kubantu?”

“Eum, aku hanya ingin bertanya. Apa Anda tidak keberatan?”

“Ya, tentu saja.”

“Bolehkah aku tahu apa yang dibeli oleh gadis yang memakai syal berwarna pink tadi? Ia adalah temanku. Baru saja aku melihatnya dari apotek ini.”

Sejenak pria berseragam putih itu tampak mengingat-ingat. Namun tidak berlangsung lama, matanya mengerjap. Tentu saja ia ingat dengan jelas sebab kepergian Miyoung baru sekitar 10 menit yang lalu. Terlebih lagi Miyoung juga pelanggan terakhir yang memasuki apotek.

“Oh, Agasshi yang mempunyai eyesmile yang cantik tadi? Ya, dia membeli sesuatu, Agasshi. Teman Agasshi itu membeli dua buah testpack.”

Jessica mengerjap kaget tetapi ia tidak heran. Sama sekali tidak heran sebab saat mereka melakukan kencan buta palsu itu ia telah menaruh kecurigaan pada Miyoung. Hari itu Miyoung makan cukup banyak dan mengeluh karena terus-terusan merasa lapar. Jessica tahu jawabannya sekarang. Miyoung pasti hamil!

Akhirnya yang ditakutkan Jessica pun terjadi. Jika Miyoung hamil, apakah Siwon akan bertanggung jawab padanya? Sedangkan ia dan Dongwook belum sempat menyatukan mereka. Jessica mendadak paranoid. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Tidak mungkin ia memberitahu Siwon saat ini karena siapa tahu Miyoung tidak hamil! Membeli testpack bukan berarti Miyoung positif hamil.

“Agasshi, apakah Anda baik-baik saja?” suara pria di hadapannya membuat Jessica sadar dari lamunan. Jessica tersenyum canggung.

“Oh, gwaenchana, Ahjusshi. Kalau begitu, terima kasih banyak. Annyeong!”

Pria itu mengangguk dan Jessica pun pergi dari sana. Jessica bergegas masuk ke mobilnya dan segera menyambar ponsel yang diletakkannya di jok samping. Ada 5 kali panggilan tak terjawab dari Dongwook. Tanpa berpikir panjang, Jessica menghubungi kekasihnya itu.

“Baby!” ucap Jessica ketika sambungan mereka telah terhubung.

Baby, kenapa tidak menjawab teleponku? Apa kau telah selesai berbelanja?”

“Tadi aku menyetir. Baby, kau tahu tidak? Aku melihat Miyoung keluar dari sebuah apotek,” ucap Jessica tak sabaran. Terdengar Dongwook terkekeh.

“Lalu? Apa kalian bertemu?”

“Tidak. Aku melihatnya setelah ia keluar dari sana. Aku curiga kalau ia sakit, tetapi tidak bisa mengejar taksinya. Jadi aku turun untuk bertanya kepada penjaga apotek. Dan kau tahu apa yang dibeli Miyoung disana?”

“Apa?”

Jessica menghela napas terlebih dahulu. Kemudian, “Miyoung membeli testpack.”

 

***

 

Siwon dan Ayahnya sangat disibukkan oleh beberapa meeting dan pertemuan pribadi dengan Mr. Sakuragi, jadi Siwon tidak memiliki kesempatan untuk berlarut-larut memikirkan Miyoung, meskipun dalam mimpinya gadis itu selalu menari-nari menggodanya. Seperti malam itu, sehabis pulang dari acara minum sake bersama Mr. Sakuragi dan kolega mereka yang lain, Siwon masih harus menyusun materi dari hasil rapatnya tadi siang. Tuan Choi sengaja tidak membawa sekretaris Siwon agar pria itu tahu bagaimana caranya bekerja keras.

Tuan Choi memperhatikan anaknya dari luar pintu kamar. Mereka menginap di salah satu mansion milik Mr. Sakuragi dan mendapatkan kamar yang terpisah. Tuan Choi melihat ada sedikit perubahan pada anaknya. Siwon terkesan lebih pendiam, suka bekerja lebih keras daripada biasanya dan…tulus?

Sejak istri pertamanya meninggal, Tuan Choi tidak melihat ketulusan pada diri Siwon lagi. Dan semua itu adalah murni kesalahannya. Tuan Choi menyentuh dadanya. Ada rasa sesak disana. Sesak yang selama ini ia tahan seorang diri. Apakah sudah waktunya ia memberitahu Siwon tentang kebenaran?

Perlahan Tuan Choi membuka pintu kamar Siwon yang sedikit terbuka itu. Ia masuk dan Siwon menoleh ke arahnya. “Boleh kutemani?”

Siwon mengangguk lalu kembali mengetik di laptopnya, berusaha bersikap santai. Padahal ia sedikit tidak nyaman jika berdua saja dengan sang Ayah. Tuan Choi duduk di samping Siwon dan mengintip pekerjaan anaknya itu di laptop di hadapan mereka. Tuan Choi mengangguk bangga. Meskipun Siwon selama ini kurang bisa diandalkan, tetapi sepertinya saat ini Siwon sudah sedikit berubah.

“Siwon-ah, apakah sangat membosankan pergi denganku?” tanya Tuan Choi tiba-tiba.

“Ani,” jawab Siwon singkat tanpa menoleh pada Tuan Choi. Pria tua itu menghela napas. Ia tahu Siwon berbohong.

“Jujur saja, aku menerima pendapatmu. Kau tidak biasanya seperti ini,” ujar Tuan Choi. Siwon menghentikan ketikannya dan termenung.

“Seperti apa, Abeoji?”

“Kau lebih pendiam dan tidak keras kepala seperti biasanya. Emosimu juga sedikit terkontrol. Ada apa? Kau bisa bercerita padaku,” ungkap Tuan Choi lembut.

Siwon memutar tubuhnya hingga ia menoleh sepenuhnya pada sang Ayah. Siwon mengamati wajah Ayahnya yang semakin menua dan berkeriput. Sudah lama sekali mereka tidak sedekat ini. Tuan Choi menatapnya dengan sorot mata menyejukkan, membuat Siwon terenyuh.

“Aboeji…juga tidak biasanya seperti ini. Kenapa tiba-tiba sangat perhatian padaku?” Siwon memutar balikkan pertanyaan.

Terdengar helaan napas yang lelah dari mulut Tuan Choi. Di wajahnya ada bayangan penyesalan yang tidak sepenuhnya bisa dimengerti Siwon. Tuan Choi menepuk-nepuk pundak anak semata wayangnya.

“Siwon-ah, tahukah dirimu kalau selama ini aku mengharapkan kau berubah menjadi lebih baik? Semenjak kematian Ibumu, kau tidak seperti Siwon kecilku dulu.”

Siwon menelan ludah. Ia meremas tangannya sendiri alih-alih menatap mata sayup Tuan Choi yang mulai tergenang airmata.

“Aku merasa bersalah padamu, Nak. Aku merasa bersalah atas perubahan sikapmu dulu. Tolong maafkan aku.”

DEG!

Baru kali ini Siwon mendengar suara Ayahnya yang bergetar hebat. Ia menatap lurus mata Ayahnya dan jantungnya berdegup kencang. Apa yang dikatakan Ayahnya ini? Minta maaf? Apa Siwon tidak salah dengar?

“Aku ingat betapa kau menyayangi Ibumu. Kalian sangat dekat dan kau tidak ingin jauh-jauh darinya. Sementara aku selalu tenggelam dengan pekerjaanku di dalam dan di luar kantor. Aku sering mengacuhkanmu dan Ibumu, oleh karena itu kau lebih dekat dengannya. Sampai aku mengetahui kalau Ibumu mempunyai kekasih lain, aku pun hanya bisa berdiam diri. Ibumu tidak salah sepenuhnya, Nak. Lelaki itu lebih memperhatikannya daripada aku, suaminya sendiri. Aku pergi pagi dan pulang larut malam. Aku mengerti mengapa ia akhirnya berselingkuh. Hanya saja…aku tidak mengatakan alasannya kepadamu. Aku menganggap dulu kau tidak mengerti apa-apa.”

Siwon masih tetap menyimak dengan hati yang sangat tidak karuan rasanya.

“Disaat Ibumu meninggal dunia karena kecelakaan tragis itu, aku sengaja mengatakan padamu kalau Ibumu telah berselingkuh. Itu akan memberi kesan kalau aku tidak bersalah. Bahkan beberapa menit sebelum kecelakaan tak terduga itu terjadi, ia memohon padaku agar aku cepat pulang karena kau sedang sakit di rumah. Tetapi aku tidak mempedulikannya. Dan itulah yang terjadi. Aku…aku sangat menyesal, Siwon-ah. Kau yang selama ini tidak menghargai cinta, itu juga kesalahanku. Maafkan aku, Nak. Maafkan aku.”

Airmata Siwon mengalir di pipinya cukup deras. Sudah lama sekali ia tidak menangis. Melihat dan mendengar Ayahnya beberapa detik lalu seolah-olah telah memompa airmatanya yang sangat berharga selama ini. Apa ia berdosa telah menganggap Ibunya sebagai wanita yang tidak pantas dikenang?

Siwon merasa sakit di dadanya. Perngakuannya terlalu menyakit dan menusuk batinnya. Wanita yang selama 10 tahun dianggapnya malaikat berubah menjadi wanita yang dibencinya hanya karena perkataan sang Ayah kalau Ibunya itu berselingkuh. Beribu jarum penyesalan menusuk jantung Siwon. Selama ia membenci Ibunya, selama itulah ia mempermainkan dan menyakiti hati perempuan.

Tuan Choi menangis tersedu-sedu sambil menundukkan kepala, sedangkan Siwon tidak bersuara ataupun bergerak. Pikirannya begitu kacau saat ini, begitu pula dengan hatinya. Tangannya mengepal kuat dan licin oleh keringat.

Siwon berdesis. Rasanya perih jika mengingat ia melupakan Ibunya dengan menyingkirkan foto-foto wanita itu, membuang semua barang pemberiannya dan yang terpedih adalah melupakan memori manis mereka. Tiba-tiba sekelabat bayangan Miyoung melintas di benaknya. Salah satu gadis yang disakitinya. Pantaskah mereka mendapatkan perlakuan buruk Siwon?

Siwon mengutuk dirinya sendiri. Andaikan di dunia ini ada hukum alam yang nyata dan adil, ia mungkin rela mati saat ini juga. Siwon merasa dirinya pantas sekali mendapatkan hukuman itu. berapa banyak hati yang hancur karena dirinya? Siwon jijik pada dirinya sendiri.

“Abeoji, aku…aku harus mendapatkan hukumannya. Aku, hiks, tidak pantas disebut manusia.”

Tuan Choi terenyuh mendengar ungkapan hati Siwon. Putranya tampak seperti orang yang kehilangan arah. Kemudian ia merangkul Siwon, membawanya ke dalam pelukan hangat yang telah lama dinantikan sang anak. Siwon terus meracau menyesali dirinya sementara Tuan Choi mengelus-elus rambutnya dengan penuh kasih sayang. Ia menganggap dirinya sebagai Ayah yang gagal. Tapi bukan berarti ia tidak bisa memperbaiki segalanya.

“Jangan berkata seperti itu, Siwon-ah. Segala kesalahan pasti ada pengampunannya.”

Siwon membalas pelukan Tuan Choi. Perasaan bersalah yang maha besar masih bersarang di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan sang Ayah. Tak ada lagi rasa bangga pada dirinya sendiri. Sebaliknya, Siwon merasa seperti manusia paling terkutuk di atas bumi.

 

***

 

Siwon tidur menyamping di atas ranjangnya. Ia memeluk diri sendiri. Kamar tersebut gelap gulita sementara matanya masih membulat sempurna. Siwon masih menangis menyesali semua kejahatannya selama ini. Tubuhnya menggigil dan keringat dingin keluar dari setiap pori-pori tubuhnya.

Pria itu mengingat siapa-siapa saja yang pernah disakitinya, baik sengaja atau tidak. Dan Miyoung-lah yang menjadi korban terakhirnya. Gadis itu pasti sangat menderita saat ini. Siwon telah menodainya, mengancam bahkan mencoreng harga dirinya. Siwon menangis terisak. Ia betul-betul menyesal.

Betapa jahat dirinya kala itu.

Sebenarnya Siwon telah tersentuh oleh Miyoung sebelum ia berangkat ke Jepang bersama Ayahnya. Oleh sebab itu tanpa disadarinya ia berubah menjadi sedikit pendiam dan sensitive. Tepatnya saat Miyoung menyatakan kalau dirinya membenci Siwon.

Selama hidupnya, Siwon tidak pernah mendengar secara gamblang ada seseorang yang membencinya. ia pikir dirinya dicintai dan dipuja semua wanita. Namun Miyoung telah memukul kelemahan Siwon. Yang Siwon tahu dirinya mulai terbiasa dengan kehadiran Miyoung. Ia tidak ingin gadis itu jauh-jauh darinya. Ia tidak ingin gadis itu menolaknya.

Siwon merenggut-renggut rambutnya sendiri. Ia akan melakukan apapun demi memperbaiki kesalahannya terhadap gadis itu. Ia harus mendapatkan maaf Miyoung.

“Miyoung-ah, maafkan aku…hiks, maafkan aku!”

 

***

 

Miyoung terduduk di lantai kamar mandi dan tangisnya pecah saat itu juga. Sebuah testpack dengan dua garis merah di dalamnya terjatuh dari tangannya. Miyoung bersandar pada bak mandi sambil memeluk diri sendiri. Kecurigaannya terjawab sudah. Pantas saja akhir-akhir ini ia mual-mual dan bernafsu makan banyak.

Miyoung menunduk dalam, airmata jatuh ke pangkuannya. Rasanya sakit sekali menjalani hal ini sendiri. Sekarang apa yang harus dilakukannya? Ia hamil dan sendirian di kampung halamannya. Tidak mungkin jika kembali ke rumah Tuan Choi dan meminta pertanggung jawaban pria itu. Miyoung terlanjur menaruh benci padanya. Di samping itu, mungkin hanya Tuhan yang bisa memaksa Siwon untuk menikahi Miyoung.

Gadis itu merinding kedinginan. Ia berdiri dengan hati-hati dan keluar dari kamar mandi. Tak ada gunanya menangisi kehamilannya. Ia menganggap inilah takdir yang diberikan Tuhan untuknya. Ia harus menerima dengan lapang dada. Hanya saja, tak ada lagi Siwon untuk masa depannya. Miyoung tidak ingin bertemu lagi dengan pria brengsek itu. ia tidak akan memberitahu kepada anaknya kelak kalau Ayahnya adalah seorang pria yang tidak bermoral.

Miyoung memasukkan kembali pakaiannya ke dalam koper. Jika keadaan seperti ini, ia tidak bisa tinggal di rumahnya. Para tetangga pasti mempertanyakan tentang kehamilannya dan siapa suaminya. Miyoung tidak akan sanggup menghadapi hal-hal menegangkan tersebut.

Ia harus pindah ke tempat lain, dimana tidak ada orang lain yang mengenalnya.

 

***

 

“Cepat hubungi Siwon! Apalagi yang kau tunggu?” desak Jessica pada kekasihnya. Dongwook tampak ragu sejenak. Ia belum juga menekan nomor ponsel Siwon seperti yang diperintahkan Jessica. Pria yang mempunyai tinggi 183 sentimeter itu memanfaatkan sepasang kaki panjangnya untuk menghimpit sepasang kaki kurus Jessica. Ia melakukan hal konyol itu hanya untuk menghindari tendangan Jessica jika sawaktu-waktu kekasihnya tersebut mengamuk sebab ia belum juga menghubungi Siwon.

“Baby, bersabarlah sedikit! Sekarang coba kau pikir lagi, jika Miyoung ternyata tidak hamil, bagaimana? Siwon bisa menggantung kita berdua!”

Kaki Jessica mulai memberontak. Namun tidak bisa digerakkan sedikitpun karena kaki Dongwook menekannya ke sofa yang mereka duduki.

“Aish, Lee Dongwook! Aku tidak takut dengan Siwon-mu itu! Walaupun Miyoung tidak hamil, tetapi ia telah membuat gadis itu menderita! Dan turunkan kakimu! Berat sekali, kau tahu!”

Dongwook menghembuskan napas seraya menurunkan kakinya. Tapi belum cukup dua detik kakinya turun, Jessica telah sukses menendang perutnya. Dongwook melenguh kesakitan. Tendangan Jessica memang tidak main-main. Jessica hanya mendengus sebal lalu menyambar ponselnya sendiri.

“Jika kau tidak ingin memberitahu Siwon, aku yang akan melakukannya.”

“Yah yah yah! Baiklah, aku akan menghubunginya! Ck!” decak Dongwook sambil mengelus perutnya yang masih sakit. “Aku takut dia membentak-bentakmu.”

Mendengar itu Jessica tersenyum puas. Ia mengawasi Dongwook yang kini menempelkan speaker ponsel di telinga kanannya. Jessica berharap Siwon mau mendengarkan penjelasan Dongwook.

“Yobosaeyo, Siwon-ah?” ucap Dongwook.

“Wookie. Apa kabar, Sahabatku? Apa kau dan Jessica sehat-sehat saja? Aku merindukan kalian.”

Dongwook mengerjap heran. Bahkan terkejut. Ia terperangah menatap Jessica untuk beberapa detik. Apa ia tidak salah dengar? Kenapa Siwon memberinya pertanyaan-pertanyaan super perhatian dengan nada lembut seperti itu? Atau ia salah menghubungi orang?

Dongwook melihat sekali lagi nama yang tertera di layar ponselnya. Tidak, ia tidak salah orang. Ia menghubungi Siwon, sahabat kecilnya. Tetapi, sepertinya Siwon berubah menjadi bukan Siwon.

“Ada apa?” tanya Jessica.

“Wookie, ada apa? Apa kau masih disana?” Siwon bertanya di seberang line.

“Uh oh, ya, aku-aku masih disini. Aku mendengarmu, Siwon-ah!” balas Dongwook gugup. Jessica mengernyit. Ada apa dengan kekasihnya?

“Aku dan Jessica baik-baik saja, Siwon-ah. Bagaimana denganmu?” mau tak mau Dongwook balas bersikap lembut.

“Seperti yang kau dengar, aku baik-baik saja. Ada apa menghubungiku? Apa kau tidak merindukanku?” goda Siwon. Dongwook tertawa seperti orang konyol. Apa Siwon sedang mempermainkannya? Pria itu bersikap begitu manis seolah-olah mereka sudah sangat lama berpisah. Jessica yang heran dengan nada suara Dongwook mengambil alih ponsel kekasihnya itu.

“Siwon-ah!” seru Jessica dan terang saja Siwon terkejut mendengar suara lengkingnya.

“Jessica? Kau mengagetkanku? Ternyata kalian berdua ingin berbica—“

“Hwang Miyoung kemungkinan hamil, Choi Siwon!”

Hening. Dongwook menutup wajah dengan kedua tangannya, sementara Jessica masih menunggu jawaban Siwon. Siwon belum menutup teleponnya, Jessica tahu itu. Namun yang membuat Jessica semakin bingung, tidak ada dengusan cemooh yang biasa dikeluarkan Siwon jika mendengar hal seperti itu. Pria itu benar-benar terdiam.

“Aku melihatnya keluar dari apotek dan ternyata ia membeli testpack. Jadi aku tidak tahu apakah ia positif hamil atau tidak, sebab aku belum bertemu dengannya lagi. Nomor ponselnya juga tidak bisa dihubungi,” lanjut Jessica seraya memandang Dongwook.

“…..”

“Siwon-ah, apa kau tidak khawatir sedikitpun? Oh Gosh, sadarlah Siwon! Miyoung terlalu baik untuk kau sakiti! Aku mohon, jangan tinggalkan dia.”

Siwon masih tidak menjawab, membuat perasaan kesal dan tak sabar bercampur menjadi satu di hati Jessica. Dongwook mengambil alih ponsel dari tangan Jessica. Ia rasa Jessica benar, tetapi sebaiknya Siwon tidak berbicara dengan Jessica untuk saat ini. karena ia tahu Jessica bukanlah orang yang tepat diajak bicara ketika situasi memanas.

“Siwon-ah, Miyoung adalah adik kandung Chae Ya. Jika ia benar-benar hamil, Ayahmu pasti sangat murka. Hanya kau yang bisa mencari jalan keluarnya, Bro. Tapi urungkanlah niatmu untuk menyingkirkan gadis itu dari rumah. Apa kau tidak kasihan padanya?”

“Wookie, a-aku…aku harus bertanggung jawab. Jika itu…benar, a-aku harus menikahinya.”

Ponsel di tangan Dongwook hampir saja jatuh menyentuh lantai jika Jessica tidak langsung menangkapnya. Pria bermata bulat itu terkesima tanpa satu kedipan di matanya. Jessica melihat ke layar ponsel ternyata sambungan telah terputus. Lantas Jessica mengguncang-guncang tubuh Dongwook.

“Aish, sebenarnya ada apa denganmu? Ekspresimu itu seperti baru saja menghubungi hantu. Apa Siwon memarahimu?”

Kepala Dongwook menggeleng perlahan. “Tidak dapat dipercaya. Ada apa dengan Siwon?”

Jessica berdecak sebal. “Memangnya ada apa?”

Dongwook memegang kedua pundak Jessica erat. “Baby, apa kau tahu? Sepertinya Siwon telah berubah. Ia berbicara sangat lembut dan sopan kepadaku. Dan yang lebih membuatku terkejut, ia mengatakan kalau ia harus bertanggung jawab jika Miyoung benar-benar hamil. Siwon berniat…menikahinya.”

Kontan saja mata Jessica melotot. “J-jinjjayo? Baby, jangan membuat lelucon! Ini situasi serius!”

“Ck, aku tidak membuat lelucon! Kita lihat saja apa yang akan dilakukannya.”

***

 

Chae Ya merasa sangat bebas. Ia berjalan mengelilingi ruang tengah sambil merentangkan tangannya. Akhirnya sebentar lagi ia akan menjadi tuan rumah di rumah super megah ini serta menjadi pemilik sebagian harta dan propertinya. Ia tidak menyingkirkan Miyoung dari hidupnya, tetapi hanya dari rumah ini. Jika ia tidak mengizinkan Miyoung pergi, cintanya kepada Siwon akan terhalang. Chae Ya tahu kalau ia tidak bisa memiliki Siwon saat Tuan Choi masih hidup, tetapi pria itu sudah tua. Chae Ya akan selalu bersikap manis padanya sementara ia juga mencari cara lain agar Siwon jatuh ke dalam pelukannya.

“Siwon bisa saja menjadi milikku jika aku selalu berada di dekatnya. Mustahil ia bisa menolak kesempurnaan tubuhku ini. Aku akan memberinya kenikmatan yang selama ini selalu dicarinya pada wanita-wanita lain. Aaah, rasanya hidup ini sempurna.”

Hari ini Tuan Choi dan Siwon pulang ke rumah setelah satu minggu berada di Jepang. Chae Ya berdandan secantik mungkin. Bukan untuk Tuan Choi saja, tetapi juga untuk Siwon. Chae Ya memang telah dibutakan oleh cinta dan obsesinya menjadi orang kaya. Sebelumnya Chae Ya tidaklah seperti ini. Namun cintanya kepada Siwon telah membuat sisi gelapnya terpancing dan hal itulah yang tidak disadari Miyoung.

Sampai di rumah, Siwon bergegas menuju kamar Miyoung, sedangkan Ayahnya langsung ke kamar bersama Chae Ya. Chae Ya telah menyiapkan air hangat untuk suaminya itu. Siwon masih tidak mempedulikan Chae Ya. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah Miyoung, gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta.

Siwon mengetuk pintu kamar Miyoung berkali-kali namun tetap saja ia tidak mendapatkan sahutan. Siwon melihat jam tangannya. Sudah jam 9 malam, tentu saja Miyoung telah pulang bekerja. Siwon mengetuk pintu itu lagi dengan tak sabaran. Ia butuh melihat gadis itu sekarang juga.

“Miyoung-ah, buka pintunya!” panggil Siwon lembut.

“Tuan Muda?”

Siwon menghentikan ketukan pintu dan membalikkan tubuhnya. In Ju berjalan mendekati Siwon dengan wajah muram.

“In Ju, apa Miyoung sudah tidur?” tanya Siwon.

“Miyoung-ssi telah pergi satu minggu yang lalu, Tuan Muda.”

Siwon mengernyit tajam. “Pergi? Apa maksudmu?”

In Ju menelan ludah. Ia takut Siwon bersikap kasar padanya. Lantas In Ju berbicara tanpa memandang wajah majikannya itu.

“Miyoung-ssi pergi dari rumah ini setelah Anda dan Tuan Besar berangkat ke Jepang. Ia membawa kopernya. Tapi aku tidak tahu kemana tujuannya, Tuan Muda.”

“MWO? MIYOUNG PERGI DAN KALIAN TIDAK MENCEGAHNYA?”

In Ju tersentak kaget. Lagi-lagi Siwon lepas kendali. Ia mengusap wajahnya berkali-kali sambil menenangkan pikiran. Miyoung tidak mungkin pergi dari rumah ini sebab Siwon ingat dulu ia pernah mengancam Miyoung jika ia melakukannya. Miyoung pasti takut saat Siwon mengancam akan menyakiti Chae Ya, meskipun sekarang Siwon tidak mempunyai niat lagi.

“M-maafkan kami, Tuan Muda.”

Siwon menghembuskan napas kasar. “Jika kalian tidak mengetahuinya, aku yakin Chae Ya pasti tahu kemana Miyoung pergi.”

In Ju tidak menjawab.

“Kalau begitu, aku minta kunci kamar Miyoung. Aku ingin melihat apakah ia meninggalkan sesuatu di dalam.”

In Ju mengeluarkan satu set kunci dan memberikannya ke tangan Siwon. Setelah itu Siwon memintanya untuk pergi. Ia ingin mencari tahu apakah Miyoung meninggalkan petunjuk di kamarnya. Siwon membuka pintu kamar dan melangkah ke dalam. Ia memandang berkeliling. Kamar itu tampak seperti sebelum ditempati Miyoung. Kosong dan tidak menarik.

Siwon berjalan menuju meja rias dan melihat sesuatu yang mengkilat. Siwon tertegun. Hatinya mencelos ketika menyadari kalau benda itu adalah kalung yang diberikannya kepada Miyoung. Tangannya terulur mengambil kalung itu, terasa dingin sekali. Sedingin hatinya sekarang.

“Kau sangat membenciku, aku tahu itu. Dan aku pantas mendapatkannya,” gumam Siwon dengan mata berair. Baru kali ini ia merasa tercampakkan oleh seseorang yang pernah disakitinya. Namun Siwon tahu, yang dirasakan Miyoung lebih sakit dari ini. Siwon telah menodai dan menghinanya.

Siwon memejamkan mata dan airmata mengalir di pipinya. Ia menangisi kebodohan dan kekejamannya sendiri. Betapa menyesalnya Siwon. Ia membuka matanya lagi dan menggeram. Ia harus mencari dimana Miyoung. Tekad Siwon benar-benar bulat! Bagaimanapun penolakan Miyoung padanya nanti, Siwon akan terus berusaha mendapatkan maafnya.

Siwon pantas berlulut di kaki Miyoung.

“Siwon-ah.”

Rahang Siwon berdenyut. Hwang Chae Ya berjalan mendekatinya dan dengan berani memeluknya dari belakang. Siwon terlalu bingung untuk bergerak. Chae Ya menyandarkan kepalanya di punggung lebar Siwon.

“Miyoung telah pergi dan ia tidak ingin siapapun tahu kemana ia pergi. Siwon-ah, mungkin ia merasa tidak pantas bersamamu oleh karena itu ia pergi. Tenanglah, Siwon. Masih ada aku disini. Aku pastikan padamu aku lebih baik daripada adikku,” ungkap Chae Ya dengan nada menggoda. Ia tersenyum di punggung Siwon mengingat pria itu belum menepis pelukannya.

Siwon menahan berbagai emosi di dadanya saat ini. Dan yang mendominasi adalah kemarahan. Siwon dengan perlahan membalikkan tubuhnya, lambat namun berbahaya. Wajahnya memerah dan matanya mengkilat oleh airmata. Chae Ya tercengang.

“Katakan padaku kemana Miyoung pergi?” tanya Siwon. Suaranya berat dan dalam. Chae Ya memasang tampang polosnya.

“Miyoung tidak memberitahuku kemana ia pergi,” jawabnya.

Siwon mencengkram kedua lengan Chae Ya dan meremasnya.

“Kau berbohong! Kau adalah kakaknya dan ia pasti mempercayaimu. Katakan padaku kemana ia pergi?!” suara Siwon meninggi dan tegas.

Chae Ya berjalan semakin mundur. Siwon tidak seperti dirinya jika sedang marah. Pria itu keras dan kuat bagaikan monster yang siap menerjang siapa saja di hadapannya. Chae Ya berjalan mundur dengan tubuh gemetar. Sorot mata Siwon membuatnya ketakutan setengah mati.

“K-kenapa kau tidak mempercayaiku, Siwon-ah?” cicit Chae Ya.

“Apa ia pulang ke kampung halaman kalian? Eoh? Cepat berikan alamatnya padaku!” bentak Siwon.

Chae Ya tiba-tiba menghentikan langkahnya sebab ia tidak bisa berjalan mundur lagi. Pagar besi di dekat tangga untuk turun menghalanginya. Sementara Siwon berjalan semakin mendekat, mengintimidasi Chae Ya dengan tubuh besarnya.

“Siwon-ah, mengapa kau repot-repot mencari dimana Miyoung? Apa kau menyukainya? Aku kira kau hanya bermain-main denganku. Kau tidak pernah bertahan dengan satu wanita dan aku tahu itu. Setelah puas kau akan mencampakkan mereka. Bukankah hal itu juga berlaku pada Miyoung? Lalu kenapa kau mencari keberadaannya?” Chae Ya berkata dengan airmata yang mengalir deras di pipinya.

Siwon berdesis. “Bukan urusanmu! Yang ingin kutahu sekarang adalah dimana alamat rumah kalian di desa. Kau harus memberitahuku sekarang juga atau kalau tidak…”

“Bagaimana jika aku tidak ingin memberitahumu?!” sela Chae Ya. Suaranya sangat keras dan Siwon yakin pasti ada maid atau bahkan Ayahnya mendengar teriakan itu. “Sampai kapan aku harus menunggu kau menyukaiku, Siwon-ah? Apa kekuranganku di matamu? Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang seksi? Kenapa kau lebih memilih Miyoung daripada diriku? Kenapa??!!”

Siwon terdiam. Ia terlalu marah untuk menjawab pertanyaan Chae Ya. Sepertinya wanita itu sudah lepas kendali.

Belum cukup sampai disana, Chae Ya memeluk pinggang Siwon dengan erat. Siwon berusaha melepaskan tetapi pelukan Chae Ya sangat posesif.

“LEPASKAN!”

“Jangan lepaskan, Siwon-ah! Aku ingin memelukmu, mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Siwon-ah! Huhuhu! Tolong berikanlah kesempatan untukku agar bisa bersamamu. Aku mohon! Miyoung tidak akan bisa menjadi kekasih yang setia untukmu. Hanya aku yang bisa, Siwon-aaaaaah!”

“KAU GILA!” bentak Siwon. “Kau adalah istri Ayahku! Berani-beraninya kau menyentuhku!”

“Siwon-ah, aku tidak akan menyakiti Ayahmu. Jika kita berhubungan diam-diam, Ayahmu tidak akan tersakiti, Siwon-ah.”

Siwon mendorong Chae Ya sekuat tenaga sehingga wanita itu terjungkal ke belakang dan menghantam keras pagar besi di belakangnya. Chae Ya menjerit kesakitan sedangkan Siwon berjalan mundur. Ia tidak bermaksud menyakiti Chae Ya namun wanita itu teleh memaksanya berbuat kasar seperti itu.

“HWANG CHAE YA!”

Siwon gemetar mendengar raungan itu. Ia tidak berani menoleh ke sumber suara karena ia tahu, malapetaka akan datang sebentar lagi. Chae Ya pun seperti itu, bahkan tubuhnya menggigil. Kehadiran Tuan Choi yang ternyata sejak tadi membuat keduanya seolah kedatangan malaikat pencabut nyawa.

Tuan Choi berdiri tak jauh dari mereka, mendengarkan dengan hati yang tersayat-sayat. Bukan karena Siwon melainkan istrinya sendiri yang sangat dicintainya. Chae Ya berdiri perlahan seraya menahan sakit di pinggangnya.

“Y-yeobo?”

Derap langkah kaki Tuan Choi bergema di lantai dua itu. Degupan jantung Chae Ya terdengar hingga ke telinganya sendiri. Semua maid menonton dari lantai bawah. Tentu saja pertengkaran Siwon dan Chae Ya tadi telah mengundang perhatian seisi rumah. Tuan Choi berhenti di samping Siwon, masih terpana menatap Chae Ya. Chae Ya masih menggigil ketakutan.

Tuan Choi masih mengenakan piyamanya. Sepertinya ia baru saja selesai mandi. Wajahnya yang tadi segar kini memerah karena pertengkaran yang didengarnya. Pengakuan dari mulut Chae Ya lebih menyakitinya.

“Y-yeobo, a-aku b-bisa menjelaskan semuanya,” ucap Chae Ya terbata.

“DIAM KAU!” bentak Tuan Choi. Siwon menatap wajah Ayahnya.

“Kau,” desis Tuan Choi seraya berjalan mendekati Chae Ya. “Berani-beraninya kau mengatakan hal yang tak pantas di rumahku. Apa tujuanmu sebenarnya menikah denganku, HAH?! Kau menginginkan Siwon? Dasar wanita murahan!”

PLAAK

Chae Ya terjerembab ke lantai setelah mendapatkan tamparan keras di pipinya. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Siwon menelan ludah. Baru kali ini ia melihat Ayahnya memukul wanita. Tetapi Chae Ya pantas mendapatkannya mengingat ia telah mempunyai rencana busuk atas niat tulus Tuan Choi menikahinya.

“Maafkan aku, Suamiku!” Chae Ya terisak sambil memegangi kaki Tuan Choi.

“Kau masih berani memanggilku seperti itu? Lepaskan kakiku!”

Chae Ya terjerembab ke belakang ketika Tuan Choi menarik keras kakinya. Wanita itu meraung. Siwon tidak pernah melihat sang Ayah semurka ini. Mereka hanya mendengarkan penuturan jujur Chae Ya mengenai perasaannya.

“Tentu saja aku mencintaimu, Suamiku. Yang kau dengar tadi hanya kebohonganku saja kepada Siwon. Percayalah padaku!”

“Kau bohong!” sembur Siwon. Ia sudah tidak tahan lagi melihat Chae Ya mengelabuhi Ayahnya. Wanita itu benar-benar sangat licik!

“Kau menikah dengan Ayahku hanya karena ingin mengejarku serta menguras hartanya. Jangan bermimpi, Hwang! Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari kami! Cepatlah kau akui semuanya di depan Ayahku!” bentak Siwon.

Tuan Choi benar-benar terkejut mendengarnya. Ia memegangi dadanya yang mendadak terasa sangat nyeri dan sakit. Wajahnya merah padam. Chae Ya dan Siwon tidak menyadari perubahan pada Tuan Choi. Pria itu kini berjuang menahan kesakitan di dadanya.

“Siwon bohong, Yeobo! Aku tidak pernah bermaksud seperti itu!!!” Chae Ya membela diri sambil berlutut di depan Tuan Choi. Siwon maju selangkah untuk menarik Chae Ya menjauh dari Ayahnya.

“Jangan dekati Ayahku! Mulai malam ini kau harus pergi dari rumah ini! Ayahku tidak akan sudi mempunyai istri sepertimu!”

Napas Tuan Choi tercekat. Tangannya gemetar saat menggapai pundak Siwon dan bersandar disana. Siwon yang merasakan berat pada tubuhnya langsung menoleh ke arah sang Ayah. Tuan Choi tersengal dan sepertinya sulit sekali baginya untuk berbicara.

“S-Si…Si..Won…aah..”

“Abeoji?”

Belum sempat Siwon memegangi tubuh Tuan Choi, pria itu telah tumbang terlebih dahulu. Chae Ya tercekat kaget. Siwon segera berlutut untuk menopang tubuh Tuan Choi, dan saat itu ia menemukan pria itu sudah tidak sadarkan diri. Tuan Choi tergeletak tak berdaya.

 

***

 

Siwon tidak bergerak seinchi pun dari pintu kamar ICU selagi Ayahnya ditangani oleh para dokter ahli di dalam sana. Ia tidak ingin kehilangan Ayahnya seperti ia kehilangan Ibunya. Ia telah merasakan kasih sayang sang Ayah yang tidak didapatnya sejak kecil dan ia tidak ingin hal itu berakhir dengan cepat.

Chae Ya tidak berhenti menangis di deretan bangku tunggu paling ujung, beberapa maid menemaninya. Wanita itu menangis sekeras ia bisa agar Siwon bersimpati padanya.

Ia sendiri tidak ingin Tuan Choi selamat. Sebab jika pria itu kembali sadar, yang didapatkan Chae Ya hanyalah surat perceraian, bukan surat warisan yang telah ia idam-idamkan. Chae Ya tahu dari jauh-jauh hari tentang surat warisan itu dan isinya. Jika ia tidak mendapatkan Siwon, ia harus mendapatkan apa yang telah ditulis Tuan Choi di surat warisannya.

Siwon berusaha tidak mempedulikan tangisan Chae Ya. Ayahnya telah berjam-jam berada di dalam ruang ICU. Siwon melipat tangannya, berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan sang Ayah. Siwon berjanji akan menjadi anak yang lebih berguna untuk satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki. Dongwook, Jessica, Leeteuk dan Taeyeon datang untuk menemani Siwon, memberikan pelukan hangat dan kata-kata yang menenangkan hati sahabat mereka. Siwon menangis di pelukan Dongwook sementara Jessica mengelus rambut Siwon penuh perhatian.

Inilah pertama kalinya mereka melihat Siwon begitu rapuh sekaligus sengsara.

“Tenanglah, Siwon-ah. Ayahmu pasti akan baik-baik saja,” bisik Dongwook.

“Aku tidak ingin kehilangan lagi, Wookie. Hanya Ayahku yang kumiliki saat ini,” Siwon terisak.

Chae Ya memperhatikan Siwon dari jauh sambil terus berakting menangis. Ia cukup puas melihat Siwon menderita seperti yang telah dilakukannya pada dirinya.

Setidaknya skor kita sama, Siwon-ah.

***

 

Langit di atas mereka berawan hitam dan udara berhembus sangat dingin seolah ikut berduka dengan kepergian Tuan Choi Ji Hoo. Tuan Choi mengalami serangan jantung mendadak serta kelelahan yang melebihi batas tubuhnya. Pria itu sudah tidak muda lagi, jadi sangat rentan mendapatkan serangan jantung. Ditambah dengan pola istirahatnya yang sangat minim. Mendengar dan terlibat pertengkaran Siwon dan Chae Ya adalah akhir dari kemampuan tubuhnya. Tuan Choi menghembuskan napas terakhir saat di ruang ICU setelah Siwon melarikannya ke rumah sakit.

Siwon tak dapat lagi menangis. Hanya Chae Ya yang tetap bertahan dengan kepura-puraannya. Siwon termenung di atas pusara sang Ayah, sedangkan semua pelayat telah pergi. ia masih ingin menghabiskan waktu di dekat Ayahnya. Sementara itu Chae Ya telah kembali ke rumah dan Dongwook serta Jessica dengan setia tetap menunggu Siwon dari jarak 20 meter.

Jessica memeluk Dongwook dari samping dan kekasihnya itu menaruh dagu di puncak kepalanya, sama-sama memandangi Siwon. Pria itu tampak kacau dari biasanya. Tidak ada lagi Siwon yang arogan, congkak serta sinis. Kini Siwon terlihat seperti manusia yang paling rapuh di dunia. Jiwanya yang kosong tersirat dari matanya yang sendu dan bengkak.

Dua bulir airmata mengalir di pipi lembut Jessica dan gadis itu segera menyekanya.

“Aku tidak tega melihat Siwon seperti itu,” ungkap Jessica sedih. Dongwook mengangguk pelan.

“Nde. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Ia seperti mayat hidup,” Dongwook ikut berkomentar.

“Baby, menurutmu dimana Miyoung? Ia harus tahu kalau Siwon mencarinya,” ucap Jessica.

“Molla.” Dongwook mengangkat bahu. “Mungkin kita harus bertanya kepada Chae Ya dimana adiknya.”

Sementara itu di pusara Choi Ji Hoo, Siwon merasa waktunya sudah habis menemani Ayahnya. Ia memakai kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang membengkak. Siwon menghela napas lalu tersenyum pahit.

“Abeoji, izinkan aku pulang. Masih ada urusan yang harus kuselesaikan dan aku meminta restumu. Tidurlah yang nyenyak, Abeoji. Aku…mencintaimu.”

***

 

“Selamat datang, Pengacara Woo. Silahkan duduk.”

“Terima kasih, Siwon-ssi.”

Siwon dan Pengacara Woo duduk berhadapan selagi menunggu satu orang lagi masuk ke ruang tamu. Siwon melipat kakinya dengan cara yang elegan sambil tersenyum memandangi Pengacara Ayahnya itu mengeluarkan sebuah surat yang disampul dengan map sampul kulit.

“Maaf aku terlambat.”

Akhirnya orang yang mereka tunggu datang. Chae Ya masuk ke ruang tamu dan mengambil tempat di sofa yang berada di dekat Siwon. Mereka semua masih mengenakan pakaian serba hitam meskipun Tuan Choi telah dimakamkan dua minggu yang lalu. Siwon tidak memandang Chae Ya sedikitpun ketika ia menyuruh Pengacara Woo memulai pengumumannya.

“Saya disini untuk membacakan surat wasiat yang dibuat Tuan Choi Ji Hoo pada tanggal 17 Juni. Saya sendiri tidak akan menyangka akan membacakan surat wasiatnya secepat ini. Bagi saya, Tuan Choi adalah pria terhebat yang pernah saya kenal. Saya turut berduka cita, Siwon-ssi dan Ny. Choi,” Pengacara Woo berkata dengan suara bergetar. Siwon diam saja sementara Chae Ya pura-pura terisak.

“Kamsahamnida,” ucap Chae Ya.

“Kalau begitu, saya akan membacakan surat wasiat Tuan Choi.”

Siwon menelan ludah. Ia sendiri juga tidak menyangka akan mendengar surat wasiat Ayahnya dibacakan secepat ini.

“Kepada Anakku Choi Siwon dan Istriku Hwang Chae Ya. Aku berharap kalian berhubungan baik sebagai Ibu dan Anak yang selayaknya. Untuk anakku satu-satunya, Siwon. Aku minta maaf padamu jika tidak bisa menjadi Ayah yang bisa kau jadikan panutan. Kesibukanku telah membuatmu terabaikan, Anakku. Aku merasa gagal menjadi seorang Ayah. Aku merasa bertanggung jawab atas kelalaianmu dalam menjalani hidup ini. Siwon-ah, aku berharap kau bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah aku tidak ada lagi di dunia ini.

Dan untuk Istriku tercinta, Hwang Chae Ya. Aku menikahimu bukan karena kecantikanmu, melainkan karena cintamu padaku. Kau menerimaku apa adanya dan aku sangat terkesan. Aku berharap kau menyayangi Siwon seperti anakmu sendiri.

Untuk itu, aku akan menyerahkan 75 % saham perusahaan kepada Siwon, dan 25 % kepada Hwang Chae Ya. Siwon dan Hwang Chae Ya masing-masing memegang 50 % atas rumah, mansion dan villa yang kumiliki.

Aku harap kalian menggunakannya dengan baik.”

Setelah surat itu dibacakan, Chae Ya langsung berdiri dari tempat duduknya. Kini ia benar-benar menangis, bukan karena kehilangan Tuan Choi tentunya, tetapi karena ketamakannya. Siwon sudah tahu bagaimana reaksi Chae Ya, jadi ia hanya diam dan melihat.

“Surat itu tidak benar!” bantah Chae Ya. Terang saja Pengacara Woo terkejut.

“Apa maksud Anda, Nyonya Choi?” tanya Pengacara Woo masih dalam nada sopan.

Chae Ya gemetar karena kemarahan sekaligus ketakutan yang menguasai dirinya. “Suamiku pernah mengatakan padaku kalau ia akan memberikan semua harta dan property pada kami dengan porsi yang sama. Apa kau dengar, PORSI YANG SAMA!!!”

Pengacara Woo memegangi dadanya, terkejut melihat Chae Ya yang mendadak seperti orang frustasi. Siwon tersenyum sinis lalu berdiri. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.

“Hwang Chae Ya, apa kau tidak bisa dengar kalau kita mendapat porsi yang sama untuk rumah dan semua villa?” cemooh Siwon. Bibir Chae Ya bergetar.

“Tetapi yang kudengar dari suamiku adalah kita mendapat porsi yang sama untuk saham, harta dan proper—“

“CUKUP!!!” sembur Siwon. “Aku tahu maksudmu. Kau pasti sangat mengharapakan saham dan property lainnya selain rumah ini. Benar, kan? Huh, apa isi surat itu tidak sesuai harapanmu, Eomma?”

Chae Ya terdiam. Ia masih tidak dapat mempercayai Tuan Choi tidak sepenuhnya jujur padanya mengenai isi surat itu.

“Kau tidak mempunyai penjelasan lain padaku? Atau, kau ingin kita membuat perjanjian?”

Chae Ya mengernyit tajam. Perjanjian apa yang dimaksud Siwon?

“Perjanjian?”

Siwon mengangguk tenang. “Kau harus mengatakan dimana Miyoung berada lalu aku akan memberimu porsi yang lebih.”

Pengacara Woo tidak mengerti apa yang merasuki kedua orang ini. Ia pun tidak tahu siapa itu Miyoung. Tugasnya hanya membacakan surat wasiat Tuan Choi. Sementara itu Chae Ya mendengus sebal. Tidak mendapatkan harta yang banyak dari warisan Tuan Choi bukan berarti membuatnya melepaskan Siwon untuk Miyoung. Sedapat mungkin Siwon tidak bertemu lagi dengan adiknya itu. Chae Ya pun tersenyum sinis.

“Aku tidak tahu dimana adikku berada, Siwon-ah.”

***

 

6 bulan kemudian

 

“Kamsahamnida, Ahjumma.”

Seorang wanita bertubuh gemuk tersenyum tulus kepada Miyoung lalu menutup rumahnya setelah Miyoung dan temannya pergi dari sana. Miyoung memasukkan sejumlah uang ke dalam tas tangan yang dipegangnya, sementara seorang gadis yang lebih muda darinya hanya memandangi.

“Miyoung Eonnie, bolehkah aku menyarankan sesuatu?” ucap si gadis yang berjalan di samping Miyoung itu.

“Saran apa?” Miyoung bertanya.

“Sebaiknya Eonnie berjualan di rumah saja. Kandungan Eonnie sudah membesar, apa Eonnie tidak lelah?”

Miyoung tersenyum tulus kepada gadis cantik tersebut. Ia mengusap-usap perutnya yang telah membesar dan bersyukur dalam hati karena sampai saat ini Tuhan masih melindunginya dan calon bayinya.

“Aku tidak pernah lelah, Yoona-yaa. Lagipula aku butuh uang untuk membayar uang sewa rumah dan biaya persalinan nantinya,” jawab Miyoung.

Gadis itu, Im Yoona, yang tak lain teman sekaligus tetangganya, hanya mengangguk paham. Sebenarnya ia merasa kasihan pada Miyoung yang sejak awal kehamilannya bertahan sendirian tanpa suami. Tetapi Yoona tahu kisah sedih yang dialami Miyoung karena hanya kepada Yoona-lah Miyoung menceritakannya.

“Tapi, Eonnie. Akhir-akhir ini aku tidak melihat Oppa tampan beralis mata tebal itu datang mengunjungimu. Kau sudah putus dengannya ya?”

Langkah Miyoung terhenti mendengar pertanyaan Yoona. Kemudian ia mencubit pinggang Yoona pelan. Yoona meringis lalu terkekeh.

“Maksudmu Nichkhun-ssi? Yoona-yaa, sudah kukatakan kalau aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya!” tegas Miyoung.

“Tapi dia menyukaimu, Eonnie. Kenapa Eonnie tidak mau membuka hati untuknya?” tanya Yoona seraya merangkul pundak Miyoung.

Miyoung hanya tersenyum kecil.

Sejak ia mengasingkan diri di desa kecil bernama Namdo di dekat perairan Mokpo itu dimana semua orang tidak mengenalnya, Miyoung hanya memberitahu Nichkhun dimana ia berada sebab ia tidak bisa lagi menghubungi nomor ponsel Chae Ya. Nichkhun serta dua rekan kerjanya dulu cukup sering mengunjungi Miyoung, terutama Nichkhun. Dari Nichkhun pula Miyoung tahu kalau Tuan Choi telah meninggal dunia. Miyoung ingin sekali kembali ke Seoul untuk mengunjungi makam Tuan Choi, namun keadaannya tidak memungkinkan. Jika Siwon melihatnya dalam keadaan hamil, Miyoung tidak tahu apa yang akan diperbuat pria itu.

Nichkhun sendiri sangat terkejut mendengar pengakuan Miyoung kalau yang menghamilinya adalah Siwon. Miyoung meminta Nichkhun menutup mulutnya, atau tidak, pria itu tidak boleh mengunjunginya lagi. Nichkhun terpaksa menuruti permintaan Miyoung. Pria itu bersumpah akan melindungi Miyoung dari pencarian Siwon.

Namun yang belum didapat Nichkhun adalah cinta Miyoung. Miyoung menutup hatinya sejak kehamilannya. Ia tidak terlalu mengambil hati perhatian-perhatian pria yang tertuju padanya. Ia fokus kepada dirinya sendiri dan tentu saja pada calon bayinya. Mungkin rasa cinta telah terkikis dari hati Miyoung dan sepertinya Nichkhun masih bersabar menunggu.

“Aku tidak menyukainya, Yoong. Sama sekali. Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat,” ujar Miyoung akhirnya.

“Aku tahu, Eonnie. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Tapi, jika nanti anakmu besar, ia pasti menanyakan dimana Ayahnya,” kata Yoona.

Miyoung pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan Yoona. “Oh ya, Yoong! Malam ini ada festival kembang api di tepi pantai. Kau harus menemaniku, ne! Hehe.”

Yoona hanya menghela napas berat. Lagi-lagi Miyoung tidak mendengarkannya.

***

 

Dongwook berada di ruang ganti di gym langganannya. Ia baru saja selesai mandi dan kini harus segera pulang sebab Jessica telah menghubunginya. Hubungannya dengan Jessica telah semakin serius dan Dongwook berniat melamarnya. Sebenarnya Dongwook ingin melamar Jessica di ulang tahun gadis itu yang ke 26 yaitu bulan lalu, tetapi Dongwook membatalkan rencanya. Ia tidak ingin bersenang-senang sementara sahabatnya, Siwon, masih menyiksa diri sendiri dengan penyesalan.

Siwon benar-benar telah berubah. Ia menutup hatinya untuk wanita lain dan masih menugaskan beberapa detektif untuk mencari dimana Hwang Miyoung. Siwon selalu dihantui mimpi buruk. Meskipun ia telah meminta maaf pada orang-orang yang pernah ia sakiti, ia masih berhutang pada Miyoung. Gadis itu seolah telah memberi karma padanya.

Perusahaan Siwon mengalami penurunan baik secara financial ataupun pekerja, hatinya tidak pernah tenang dan yang lebih parah ia tidak pernah tidur nyenyak di malam hari. Ia jauh lebih kurus dari biasanya.

Itulah yang membuat Dongwook khawatir. Tidak mungkin dalam keadaan Siwon yang seperti itu, ia menikah dengan gadis yang ia cintai. Dongwook lega karena Jessica pun tidak mendesak ingin segera menikah. Ia bersyukur telah memilih Jessica.

“Ryong, aku pulang dulu. Sampai bertemu minggu depan!” salam Dongwook pada temannya. Pria itu melambai ke arah Dongwook.

“Sampaikan salamku pada Jessica!”

Dongwook mengangguk lalu keluar dari ruang ganti. Saat itu masih pukul 10 malam, mungkin Jessica ingin menyegarkan pikirannya di club tempat mereka biasanya menghabiskan waktu. Dongwook ingin mencoba mengajak Siwon, siapa tahu sahabatnya itu setuju. Kalau Leeteuk sepertinya tidak bisa karena Taeyeon sedang hamil muda.

Bruuk!

Tas ransel Dongwook terjatuh saat bertabrakan dengan seseorang di puntu ruang ganti. Pria itu segera mengambil ranselnya lagi dan mendongak. Ia dan orang yang menabraknya sama-sama terkejut. Ternyata Nichkhun, pria yang pernah berkenalan dengannya di rerstoran Italy bersama Miyoung.

“Nichkhun-ssi?” Dongwook memastikan. Pria itu tersenyum ramah.

“Nde. Kau Dongwook, kan? Hai! Lama tak berjumpa,” balas Nichkhun. Dongwook menatapnya dari kepala sampai ujung sepatunya, kemudian kembali memandangi wajah Nichkhun yang berkeringat.

“Nde, sudah lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu, Nichkhun-ssi?”

“Aku baik-baik saja.”

Dongwook tidak sepenuhnya menyukai Nichkhun. Sejak bertemu dengan pria itu di restoran bersama Miyoung, Dongwook tidak menyukainya. Hanya karena pria itu mencoba menarik perhatian gadis itu. Namun tiba-tiba Dongwook merasa harus bertanya kepada Nichkhun tentang keberadaan Miyoung. Sebab ia telah lelah bertanya kepada semua orang tetapi tidak ada yang mempunyai jawaban. Dongwook tertegun. Kenapa ia tidak menanyai Nichkhun? Bukankah Nichkhun mantan atasan Miyoung? Siapa tahu Miyoung mengatakan kemana ia pergi?!

“Kalau begitu, aku ingin ke ruang ganti. Senang bertemu lagi denganmu, Dongwook-ssi.”

“Changkamman!” seru Dongwook. Nichkhun menghentikan langkah dan kembali menoleh pada pria yang lebih tinggi darinya itu.

“Ada apa, Dongwook-ssi?”

“Nichkhun-ssi, bolehkah aku bertanya satu hal padamu. Aku ingin kau menjawabnya dengan jujur.”

Nichkhun tidak mengangguk ataupun menggeleng.

“Apa kau tahu dimana Miyoung berada?”

Pria itu masih terdiam, namun ekspresinya sedikit berubah menjadi gugup. Dongwook menyipitkan mata. Ia curiga Nichkhun mengetahuinya namun tidak ingin membuka mulut, sama seperti Chae Ya. Kemudian Nichkhun menutupi kegugupannya dengan tawa canggung.

“Apa yang membuatmu berpikir aku mengetahui keberadaan Miyoung? Tentu saja tidak. Sejak ia pergi dari kota ini aku tidak bisa lagi melihat ataupun menghubunginya. Kau bertanya kepada orang yang salah,” ujar Nichkhun tenang.

Dongwook mendengus. “Tetapi kau menyukainya.”

“Lalu?”

Dongwook berjalan mendekatinya. “Mustahil kau tidak mengetahui keberadaannya sedangkan kau menjawab pertanyaanku dengan tenang seperti itu. Jika kau benar-benar menyukainya, kau pasti akan berusaha keras mencari tahu dimana ia berada. Benar, kan?”

Nichkhun menelan ludah. Ia adalah pria sejati yang tidak akan mengingkari janjinya pada Miyoung. Miyoung memintanya agar tidak memberitahu siapapun dimana keberadaannya, terutama kepada Siwon dan orang-orang terdekatnya.

“Aku tidak tahu dimana Miyoung, Dongwook-ssi. Maaf telah mengecewakanmu.”

Dongwook menggeram. Ia berusaha menahan keinginannya untuk meninju wajah Nichkhun.

“Kau tahu, Nichkhun-ssi? Siwon yang sekarang bukanlah Siwon yang dulu. Ia mencari dimana Miyoung seperti orang gila. Ia sangat menyesal dan ingin meminta maaf pada gadis itu. Beritahu apa yang kau tahu jika kau ingin menolongnya,” ungkap Dongwook.

Nichkhun tersenyum miring. “Apa yang terjadi pada Siwon bukanlah urusanku. Sekarang izinkan aku pergi karena aku masih mempunyai kegiatan lain.”

Lalu Nichkhun berlalu dari hadapan Dongwook, meninggalkan pria itu tertegun sendirian. Ia yakin Nichkhun pasti mengetahui sesuatu.

***

 

Siwon terbaring lemah di sofa di depan televisi kamarnya sambil mengganti-ganti channel dengan bosan. Tidak ada acara yang menarik perhatiannya. Hanya berita yang mengabarkan tentang isu politik Negara serta Korea Utara yang kembali merusuh. Siwon berdecak sebal lalu berdiri dari tidurnya. Mungkin segelas wine akan menenangkan pikirannya.

Ia pun berjalan lunglai menghampiri meja kecil yang terletak di dekat jendela. Siwon mengintip keluar jendelanya dan melihat kedua penjaga rumahnya yang sedang bercanda satu sama lain. Siwon tersenyum. Temannya di rumah kini hanyalah para maid dan kesepian.

Siwon menuang segelas wine dan menatap langit malam yang hitam. Tidak ada bintang malam ini dan udara sedikit dingin. Tentu saja karena sekarang adalah musim hujan. Siwon termenung. Ia memikirkan Miyoung lagi. Jika turun hujan, dimana gadis itu akan berlindung? Jika turun hujan, apakah ia tidak kedinginan?

Airmatanya kembali terbendung. Ia menjadi pria yang cengeng semenjak kepergian Miyoung dan meninggalnya Tuan Choi. Meskipun Siwon cukup puas karena Chae Ya memutuskan tinggal di mansion Tuan Choi yang lain, tidak seatap dengannya.

Suara sedikit riuh di televisi mengundang perhatian Siwon. Kepalanya tanpa sengaja menoleh ke arah televisi dan perhatiannya terpusat pada berita yang ditayangkan. Seorang reporter berita “News at 10” sedang meliput acara festival yang diselenggarakan di sebuah desa bernama Namdo, Mokpo.

Tarian-tarian tradisional dan penontonnya yang ramai menarik perhatian Siwon. Ia kembali ke sofanya dan menyilangkan kaki kesana. Reporternya cukup cantik, batin Siwon sembari tersenyum. Akhir-akhir ini Siwon hanya bisa memuji kecantikan wanita tanpa berminat untuk mempermainkannya. Ia tidak mempunyai cinta kepada orang lain, itulah penyebab utamanya.

Lalu, tiba-tiba mata Siwon terpaku pada satu sosok yang berdiri tak jauh dari reporter wanita yang sedang memberikan liputan ke kamera. Perlahan Siwon menurunkan gelasnya. Ia tidak ingin berkedip sedikitpun, takut sosok yang dilihatnya hilang begitu saja. Siwon menahan kedipan matanya sampai organ penglihatannya itu perih.

Bukankah itu….

Siwon masih mengingat bagaimana bentuk mata gadis itu saat tersenyum, bagaimana bentuk bibirnya saat cemberut dan bagaimana cara tangannya menutup mulut jika tertawa. Ia yakin sosok itu adalah…Miyoung! Tapi…tapi ia tidak ingat bagaimana keadaan tubuh Miyoung. Maksud Siwon adalah, gadis yang dilihatnya kini sedang hamil besar!

Dan saat reporter itu menyelesaikan liputannya dan berganti dengan berita lain di studio, Siwon hampir saja melempar remote ke arah televisinya. Ia belum selesai menelaah apakah yang dilihatnya sekitar 30 detik tadi adalah Hwang Miyoung.

Siwon teringat perkataan Jessica 7 bulan lalu, dimana sahabatnya itu melihat Miyoung membeli alat uji kehamilan. Siwon menelan ludah. Jadi selama ini Miyoung benar-benar hamil. Miyoung mengandung anaknya. Benihnya!

Tidak salah lagi. Itu pasti anaknya. Siwon yakin itu. Dengan cepat ia menyambar ponselnya dan menghubungi sekretaris Seo. Ia ingin sekretarisnya itu menghubungi program yang meliput festival di desa Namdo dan meminta alamat lengkapnya. Siwon tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Selama berbulan-bulan ia mencari jejak Miyoung dan sekarang ia sendiri yang menemukannya. Siwon harus segera kesana, sekarang juga!

***

 

Miyoung tersenyum melihat kedatangan Nichkhun ke rumahnya. Baru kemarin Yoona menanyakan Nichkhun, sekarang pria itu telah berkunjung. Seperti biasa, Miyoung menjamu Nichkhun dengan teh serta biscuit seadaanya. Mereka duduk di pondok kecil di depan rumah sewa Miyoung yang juga digunakan wanita itu sebagai pondok tempat tanaman-tanaman hiasnya. Tanaman-tanaman hias itulah yang menjadi sumber uang Miyoung. Setelah merawatnya dengan baik, Miyoung akan menjualnya kepada orang-orang kemudian menanam lagi bibitnya. Sebenarnya usaha itu adalah usul Nichkhun dan pria itu dengan senang hati memberi Miyoung bibit-bibit tanaman hias yang ia jual di toko.

“Tanaman-tanaman ini sangat indah. Kau merawatnya dengan baik, Fany-ah.”

“Merawat mereka adalah hobiku, Nichkhun-ssi.”

Nichkhun tersenyum manis lalu menyesap tehnya. Ia berdecak nikmat lalu menatap Miyoung penuh arti. Miyoung sering kali mendapatkan tatapan lembut seperti itu lantas selalu menghindarinya. Ia tidak ingin Nichkhun menganggap kalau ia menerima perhatian khusus tersebut.

“Eng…bagaimana kabar Luna dan Gil? Aku sangat merindukan mereka,” Miyoung mengalihkan perhatian Nichkhun.

“Mereka baik-baik saja dan juga merindukanmu,” jawab Nichkhun setengah malas. “Erm, Miyoung-ah?”

“Hmm?”

Nichkhun memberanikan diri menggamit tangan Miyoung dan meremasnya lembut. Miyoung tertegun.

“Miyoung-ah, apa kau masih belum yakin menerimaku? Kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, aku sangat peduli padamu, tetapi kenapa kau masih belum menerimaku? Aku berjanji akan selalu ada jika kau membutuhkanku. Aku akan menerima kondisimu saat ini.”

Lagi-lagi seperti ini. Miyoung bingung harus menjawab apa lagi kepada Nichkhun. Ia tidak mempunyai perasaan suka sedikitpun kepada pria itu. Terkadang Miyoung berpikir untuk menyerah dan menerima cinta Nichkhun, namun itu sama saja dengan menyakiti Nichkhun. Nichkhun akan lebih tersakiti karena ia mencintai dengan tulus sedangkan Miyoung membalasnya dengan terpaksa. Cinta bukan paksaan.

Dengan lembut dan sopan Miyoung kembali menarik tangannya. Hati Nichkhun mencelos.

“Aku tidak ingin menyakiti orang baik sepertimu. Maafkan aku, Nichkhun-ssi.”

Nichkhun tersenyum getir. Ini sudah penolakan yang kesekian kalinya. Miyoung sendiri tidak paham kenapa Nichkhun masih saja menunggu kesediaan dirinya. Dengan cara yang bersahabat, Miyoung menepuk pundak Nichkhun.

“Hei, lagipula kau bisa menganggapku sebagai adikmu. Aku akan menyayangimu seperti kepada kakakku sendiri. Mulai sekarang kau tidak boleh cemberut lagi. arraseo? Masih banyak gadis yang menyukaimu. Kau ini pria paling tampan dan baik hati yang pernah kukenal. Hihihi,” hibur Miyoung.

Mendengar itu Nichkhun tertawa dan mencubit pipi Miyoung. “Aish, kau ini. Memangnya siapa gadis yang menyukaiku? Kau sok tahu sekali!”

Miyoung memutar bola matanya lalu menjawab tanpa berpikir panjang, “Yoona!”

Nichkhun mengerjap lalu mengernyitkan keningnya. “Nugu? Yoona? Maksudmu, Im Yoona temanmu itu?”

Miyoung mengangguk semangat. “Nde. Bukankah dia cantik? Menurutku bahkan ia lebih cantik dariku. Kau akan cocok jika berpasangan dengannya.”

Wajah Nichkhun memerah. Bagaimana bisa gadis yang disukainya menjodohkannya dengan gadis lain?! Ada-ada saja.

“Tidak mungkin ia mau denganku. Sudahlah, tidak usah kita bahas topik ini lagi.”

Miyoung tertawa. Ia senang sekali menggoda Nichkhun. Bersama Nichkhun ia merasa bebas dan menjadi dirinya sendiri. Ia bisa tertawa sepuasnya dan melupakan masalahnya untuk sejenak.

“Sebenarnya aku merindukan Eonnie. Tetapi tidak mungkin aku mengunjunginya dalam keadaan hamil seperti ini,” ungkap Miyoung. “Aku pun takut bertemu dengan Siwon.”

Nichkhun menatap Miyoung bimbang. Mendengar nama Siwon ia langsung teringat pria yang ditemuinya tempo hari.

“Miyoung-ah, tahu tidak, dua hari yang lalu aku bertemu dengan Dongwook. Kami tidak sengaja bertemu dan mengobrol sebentar,” Nichkhun memberi tahu. Ia merasa harus menyampaikannya kepada Miyoung.

“L-Lee Dongwook? Lalu…apa yang kalian bicarakan?”

Wajah Nichkhun berubah lebih serius. “Dongwook menanyakan keberadaanmu. Ia berkata, Siwon telah…Siwon telah menyesali perbuatannya terhadapmu dan ingin meminta maaf. Ia masih mencarimu sampai sekarang.”

Miyoung membeku. Siwon mencarinya untuk minta maaf? Rasanya seperti mimpi dan Miyoung tidak tahu apakah itu mimpi buruk atau mimpi indah. Ia tidak menyangka kalau Siwon sedang mencari-carinya. Apa pria itu hanya bersandiwara agar bisa menemukannya dan menyakitinya lagi?

Melihat ekspresi cemas Miyoung, Nichkhun segera menambahkan. “Jangan khawatir, aku tidak mengatakan dimana kau tinggal kepadanya. Rahasiamu aman ditanganku selama kau menyuruhku untuk diam.”

Miyoung mengangguk dan tersenyum kecut. “Gomawo. Aku tidak tahu harus berbuat apa kalau Siwon menemukanku.”

Nichkhun menatapnya ragu. “Tapi, Miyoung-ah. Anak dalam kandunganmu—“

“Aku tahu, aku tahu! Aku tidak ingin mendengar nama pria itu lagi, Nichkhun-ssi. Jebal.”

“Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku.”

Miyoung mengelus perutnya. Dalam waktu dua bulan lagi anak di dalam kandungannya akan lahir ke dunia. Dan dari saat itulah, Miyoung harus bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin didengarnya.

***

 

“Kalau begitu, semoga berhasil, Siwon-ah. Kami selalu mendoakanmu.”

“Gomawo, Wookie. Kututup dulu, ne! Aku sudah sampai disini. Nanti akan kuhubungi lagi. Bye!”

“Bye!”

Siwon memasukkan ponsel ke dalam saku celana panjangnya lalu turun dari mobil. Ia memarkir mobilnya tepat di dekat tempat festival kemarin diadakan. Menurutnya pengunjung yang menghadiri festival itu tidak akan jauh-jauh dari tempat ini. Siwon menatap langit senja di tengah laut yang telah berwarna abu-abu gelap. Sebentar lagi malam tiba dan sepertinya akan hujan. Ia harus cepat-cepat menemukan Miyoung.

“Permisi, Ahjumma!” sapa Siwon pada seorang wanita yang berpapasan dengannya.

“Nde?”

Siwon mengeluarkan selembar foto dari saku kemejanya dan memperlihatkan kepada wanita itu. “Apakah Ahjumma mengenal gadis ini? Namanya Hwang Miyoung.”

Mata wanita itu menyipit hingga yang terlihat hanya garis matanya saja. Beberapa detik ia mengamati foto Miyoung lalu berdecak bingung. Siwon menunggu jawabannya.

“Sepertinya aku sering melihat gadis ini berbelanja di pasar. Tetapi aku tidak pernah tahu namanya. Changkamman, bukankah dia sedang hamil?”

“Ahjumma sering melihatnya berbelanja di pasar? Jinjja? Nde, Miyoung sedang hamil.” Ada secercah harapan di senyum Siwon.

“Tapi aku hanya sebatas melihatnya saja. Aku tidak tahu namanya Hwang Miyoung dan dimana tempat tinggalnya. Jika kau ingin tahu, coba tanya para pedagang di pasar itu!”

Siwon mengikuti arah telunjuk wanita itu. Ada pasar tradisional yang terletak hanya 100 meter dari sana. Siwon tersenyum lebar.

“Kamsahamnida, Ahjumma.”

“Nde, cheonmanayo.”

Siwon melangkah tergesa-gesa menuju pasar tersebut. Sedikit lagi langkahnya untuk menemukan Miyoung. Siwon mempercepat langkahnya memasuki pasar, tak sabar ingin menanyai satu-persatu pedagang disana. Ia yakin pasti ada jalan untuknya ke rumah Miyoung, tempat dimana ia bersembunyi.

“Annyeong hasaeyo, Ahjumma.” Siwon menyapa seorang pedagang ikan.

“Annyeong hasaeyo. Apakah Tuan ingin membeli ikan?”

“Mm, bukan. Aku hanya ingin bertanya. Apa Ahjumma tahu dimana gadis ini tinggal? Namanya Hwang Miyoung.”

Si pedagang ikan mengamati foto Miyoung.

“Ah, gadis ini! Aku tahu, ia sedang hamil besar, kan? Tapi ia tidak pernah membeli ikanku karena ia pernah bilang tidak suka ikan. Coba Tuan tanya kepada pedagang belut itu. Miyoung sering belanja disana!”

Tanpa membuang-buang waktu Siwon menuruti perintah si pedagang ikan. Kini ia menghampiri si pedagang belut. Siwon bersyukur orang-orang disana ramah padanya. Hatinya semakin tidak sabar untuk mengetahui dimana Miyoung berada.

“Miyoung Agasshi tinggal tak jauh dari sini. Ia menyewa rumah di tanah Tuan Im, sendirian. Tetapi tidak ada jalan untuk mobil disana, Anda harus berjalan kaki. Aku akan memberikan denahnya pada Anda.”

Siwon ingin sekali melompat dan memeluk si pedagang belut. “Jinjja? Ah, jeongmal gomapta, Ahjusshi.”

***

 

Setelah mengangkat pakaian yang telah kering di halaman belakang, Miyoung membawanya ke ruang tengah untuk dilipat. Miyoung menatap langit melewati jendelanya yang terbuka. Senja yang mendung. Sepertinya akan hujan lagi. Untung saja pakaian-pakaianku telah kering, batin Miyoung.

Sepertinya malam ini Yoona tidak akan berkunjung sebab akan turun hujan lebat. Miyoung menutup pintu rumah dan menguncinya. Ia ke dapur untuk mengambil dua buah ember. Rumah yang berbentuk panggung itu terbuat dari papan, kayu dan sedikit tembok. Sedangkan atapnya tidak baru lagi. Jadi, wajar saja jika ada beberapa bagian yang bocor sehingga Miyoung harus menampungnya dengan ember jika hujan tiba.

“Padahal udara dingin, tetapi kenapa aku masih merasa panas?” gumam Miyoung seraya duduk di kursi ruang tengah. Miyoung mengelus perutnya dan tersenyum. Wajar saja bila wanita hamil merasa selalu kepanasan. Miyoung mulai melipat pakaian yang diambilnya tadi. Beginilah kegiatannya sehari-hari.

Miyoung mencuci tanpa mesin cuci, membersihkan rumah terkadang dibantu oleh Yoona, memasak dan menyetrika sendiri. Di samping itu Miyoung juga harus merawat tanaman hias serta berjalan kaki untuk menjualnya. Miyoung memang lelah karena ia dalam keadaan hamil, namun ia menikmati apa yang dikerjakannya. Meskipun terkadang Yoona dan Ibunya sering menasehati Miyoung agar lebih banyak beristirahat, akan tetapi Miyoung sangat keras kepala.

Beruntung Yoona dan keluarganya sangat menyayangi Miyoung, seperti menyayangi anggota keluarga sendiri. Oleh sebab itu Miyoung sangat betah tinggal di rumah sewa ini.

“Aigoo, aku lupa mengembalikan jaket Nichkhun,” ucap Miyoung saat melihat jaket Nichkhun yang sempat dipinjamnya beberapa minggu lalu. Padahal tadi Nichkhun berkunjung ke rumahnya, seharusnya Miyoung mengembalikan jaket itu. Miyoung menggantung jaket tersebut di dinding dengan bagian punggung menghadap ke depan. Di bagian punggung jaket itu tertulis nama Nichkhun. Miyoung tertegun sejenak lalu tersenyum.

“Aku bersyukur mempunyai teman sepertimu, Nichkhun-ssi.”

Tok tok tok

Miyoung sedikit terkejut mendengar ketukan di pintu rumahnya, ditambah dengan suara-suara gemuruh yang mulai terdengar. Ketukan pintu itu terdengar agak tidak sabar. Miyoung mengernyit. Biasanya Yoona akan berteriak di depan pintu jika Miyoung belum juga membukakan pintu di ketukan pertama. Jadi, siapa kira-kira tamunya?

Miyoung bertumpu pada lengan kursi agar bisa berdiri tegak. Perutnya yang membesar membuatnya sedikit kesulitan bergerak cepat.

“Tunggu sebentar!” seru Miyoung seraya berjalan menghampiri pintu.

Di luar pintu rumah Miyoung, Siwon tertegun mendengar seruan dari dalam. Ia menelan ludah dengan susah payah. Suara Miyoung! Setelah sekian lama ia merindukan suara itu, kini kembali terdengar merdu di telinganya. Siwon merasakan debaran jantungnya menggila di dadanya. Kedua telapak tangannya mendadak dingin dan berkeringat, bukan karena udara yang dingin serta air hujan yang mulai turun, melainkan karena sebentar lagi ia akan berhadapan dengan Miyoung.

Butuh perjuangan mencari rumah sewa Miyoung. Ia harus melewati gang-gang kecil yang berbelok-belok sebelum menemukan rumah kayu panggung yang dicat hijau ini. Dan disinilah Siwon, di depan pintu rumah gadis yang telah lama dicarinya.

Siwon menahan napas ketika terdengar suara nyaring grendel pintu yang dibuka.

Ini dia! Pintu perlahan terbuka dan Siwon bertahan agar tidak berkedip. Isi perutnya terasa jungkir balik dan ia mual saat itu juga. Mengapa ia bisa secemas ini?

“Nu…gu?”

Bagai tersambar petir di siang bolong, Miyoung tersentak ke belakang ketika menyadari siapa yang berdiri di depannya. Darah seolah menghilang dari wajahnya sehingga membuatnya sepucat kertas. Sedangkan Siwon berdiri kaku, terpesona dan terkesima akhirnya bisa melihat Miyoung kembali.

Lama mereka terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun apalagi bergerak. Siwon memandang perut Miyoung dengan sorot mata terluka. Miyoung jauh lebih kurus dibandingkan dulu, padahal ia sedang hamil. Siwon menggeram, benci pada dirinya sendiri. Miyoung pasti sangat menderita hidup sendirian. Apa ia bisa menyantap makanan-makanan sehat yang seharusnya dikonsumsi ibu hamil? Apa orang-orang di kampung halamannya mengejeknya karena hamil tanpa suami sehingga ia bersembunyi di desa ini?

Banyak pertanyaan di benak Siwon namun tidak ada satupun yang sanggup diutarakannya. Bibirnya sangat berat bergerak, sementara matanya tidak lelah memandangi Miyoung selama bermenit-menit yang panjang.

Miyoung berusaha menguasai dirinya agar tidak menangis. Melihat pria yang dibencinya ini lagi membuat batinnya kembali terluka. Dadanya bergemuruh penuh kebencian. Ia tidak tahu apakah karena kebencian ini ia masih mengingat Siwon sampai sekarang.

“Pergi dari hadapanku!” bentak Miyoung tanpa terduga.

Siwon mengerjap kaget, membuat airmata yang tanpa disadarinya telah berlinangan mengalir di pipinya.

Miyoung mengayunkan pintu dengan cepat namun Siwon tidak terlambat untuk menahan. Ia menyelipkan jari-jari tangannya agar pintu itu tidak tertutup. Melihat itu Miyoung semakin mendorong pintu, membuat Siwon menggeram kesakitan. Jari-jarinya terjepit pintu namun Miyoung terus mendorong tanpa rasa kasihan.

“Argh, M-Miyoung-ah. Aku mohon, izinkan aku masuk!” geram Siwon.

Miyoung lega karena airmatanya mengalir deras tanpa terlihat Siwon. “Aku tidak ingin melihatmu lagi! Aku tidak mengenal pria jahat yang telah membuatku menderita! Aku sangat membencimu!”

Siwon terperangah.

“Miyoung-ah! Argh, demi Tuhan! Buka pintu ini!” teriak Siwon. jari-jari tangannya terasa kebas.

“Aku tidak ingin mendengar alasanmu! Sekarang kuminta kau pergi atau kalau tidak, aku akan terus mendorong pintu ini sampai jari-jarimu putus!” Miyoung balas berteriak.

Tak ada pilihan lain, Siwon pun menarik tangannya lagi. Pintu itu langsung tertutup dengan debam yang sangat keras. Siwon meringis kesakitan sambil mengibaskan tangan kanannya yang tadi terjepit. Hujan mulai turun semakin lebat. Siwon mengedarkan pandangannya. Ada satu jendela besar di sisi depan rumah namun sepertinya tidak tergapai oleh Siwon. Siwon tidak mudah putus asa. Ia kembali mengetuk pintu di depannya.

“Miyoung-ah!”

Dug dug dug

“Aku akan terus mengetuk pintu sialan ini sampai kau bersedia membukanya!”

“Pergilah, Siwon!”

“Aku tidak akan pergi! Aku akan tetap berdiri disini bahkan sampai kau ingin membunuhku sekalipun!” gertak Siwon.

Miyoung tidak menjawab. Namun wanita itu tetap berdiri di belakang pintu, masih shock dengan kedatangan Siwon. Miyoung menjaga agar suara tangisnya tidak terdengar sampai keluar. Untung saja suara hujan menyamarkan teriakan-teriakan mereka. Kalau tidak, para tetangga pasti keluar dari rumah mereka dan mendatangi mereka.

“Dengarkan aku, Miyoung-ah! Aku yakin kau mau mendengar penjelasanku. Bukankah kau orang yang bijaksana? Seharusnya kau memberiku kesempatan!” Siwon mencoba menyentuh rasa sensitive Miyoung.

“Chae Ya memang masih terobsesi padaku bahkan saat aku terus menolaknya. Aku percaya padamu kalau dulu ia tidak seperti itu. Namun setelah jatuh cinta padaku dan menikah dengan Ayahku demi uang, ia bukan kakakmu yang dulu. Ia rela menyakiti Ayahku hanya untuk mendekatiku. Miyoung-ah, dulu aku memang sangat jahat karena menjadikanmu korban untuk membalaskan rasa sakit hatiku padanya. Aku lebih biadab dari Chae Ya. Tidak seharusnya aku berbuat jahat padamu. Kau telah menyadarkanku kalau tidak semua orang di dunia ini tunduk padaku. Kau juga telah membuatku sadar kalau sebenarnya aku adalah orang yang paling malang di dunia ini karena tidak pernah merasakan cinta dan kasih sayang.”

Miyoung menyentuh dadanya sambil terus menangis. Apa yang telah diperbuat Siwon pada hatinya?

“Ayahku telah mengatakan kebenaran tentang Ibuku. Kau percaya tidak, sejak Ibuku meninggal, aku menghabiskan waktu hanya untuk membencinya. Ia telah berselingkuh dengan pria lain tetapi ia melakukan hal itu dengan satu alasan, yaitu kurangnya perhatian dan kasih sayang Ayahku. Aku mengabaikan kasih sayang yang dulu diberikan Ibuku hanya karena perselingkuhannya. Aku tidak mencari tahu apa penyebabnya melakukan hal itu dan menghakiminya secara tidak adil. Aku adalah anak durhaka. Dan Tuhan menjadikanku orang yang paling jahat sebagai hukumannya. Aku memuaskan nafsu dendamku dengan menyakiti banyak wanita. Sebab aku berpikir, pengkhianatan yang dilakukan Ibuku harus kubalaskan kepada para wanita yang mendekatiku. Tetapi aku salah, sangat salah. Semakin hari aku semakin berubah menjadi seorang monster. Setiap kali aku mengingat Ibuku, aku selalu ingin menyakiti wanita. Dan melihat Chae Ya yang mempunyai tujuan buruk saat menikah dengan Ayahku, aku semakin menggila. Aku menodai dan menghancurkan gadis baik sepertimu, Miyoung.”

Miyoung bersandar di pintu dan terus menyimak pengakuan Siwon.

“Miyoung-ah, percayalah padaku. Ayahku meninggal, Miyoung-ah. Ia terkena serangan jantung disaat Chae Ya mencoba memaksaku untuk mencintainya. Ayahku…hiks…pergi meninggalkanku disaat aku sedang membutuhkannya.”

Siwon tidak kuasa menahan airmata saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Ia merasakan sakit yang amat sangat di dadanya hingga ia bersimpuh dan berpegangan pada rangka pintu.

“Aku mohon maafkan aku, Miyoung-ah. Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku padamu. Aku akan menikahimu dan menjadi Ayah yang baik untuk anak kita. Aku mohon, Miyoung-ah.”

Miyoung menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan menikah denganmu dan anak yang di dalam kandunganku bukanlah anakmu, Choi Siwon!”

DEG!

Siwon tercekat. Apa Miyoung sedang mempermainkannya? Mengapa Miyoung membantah kalau anak yang dikandungnya bukanlah anak Siwon? Siwon tidak percaya sama sekali.

“Kau bohong! Aku yakin kau sedang mengandung anakku!”

“Terserah padamu, Siwon! Aku tidak peduli padamu. Sekarang pergilah sebelum aku memanggil orang-orang desa untuk mengusirmu!”

Siwon tertunduk lesu dengan airmata yang masih mengalir di pipinya. Sedangkan Miyoung menjauh dari pintu, mematikan semua lampu rumah kecuali lampu kamarnya kemudian tidak bersuara lagi. Siwon tetap bertahan disana sambil terus memikirkan bantahan Miyoung.

Tidak, ia tidak mempercayai Miyoung. Anak itu pasti anaknya. Siapa lagi yang berbuat kepada Miyoung selain dirinya? Siwon tahu kalau ia adalah orang pertama bagi Miyoung, jadi mustahil kalau Miyoung mengandung anak dari pria lain. Siwon tertawa lirih disela tangisnya. Ia memandang langit yang tak henti-hentinya mencurahkan air hujan dan menampung cairan itu di telapak tangannya.

“Aku akan berusaha mendapatkan cintamu, Hwang Miyoung. Bahkan jika aku harus kehilangan nyawaku sendiri, aku akan terus berusaha.”

***

 

Pagi-pagi sekali Miyoung telah terbangun. Sejujurnya ia hanya tidur selama dua jam karena tidak berhenti memikirkan pria yang kini menunggunya di luar rumah. Miyoung tidak tahu pasti apakah Siwon benar-benar menunggu atau tidak. Udara terasa sangat dingin dan lembab setelah semalaman hujan lebat. Miyoung membasuh wajahnya dengan air dingin kemudian menggosok gigi. Sikapnya seolah tidak peduli bahwa di luar rumahnya masih ada seorang pria yang menunggunya dari semalam dan kedinginan.

Miyoung membuka jendela rumahnya dan terkejut mendapati Siwon ternyata tidur di pondok tanaman hiasnya. Ia tertegun untuk waktu yang cukup lama. Siwon meringkuk di bangku panjang sambil memeluk diri sendiri. Ia pasti sangat kedinginan, batin Miyoung.

Lalu Miyoung dengan cepat menepis pikirannya. ia tidak boleh menaruh rasa iba pada Siwon. Pria itu terlalu jahat untuk dimaafkan semudah itu. Miyoung kembali masuk ke kamarnya dan bersiap-siap ke pasar untuk membeli keperluan dapur. Ia harus menganggap Siwon tidak ada.

Suara-suara burung yang berkicau membuat Siwon terjaga. Ia langsung merasakan dingin di permukaan kulitnya. Siwon berdesis, benar-benar dingin sekali. Ia melemparkan pandangan ke rumah Miyoung dan tersenyum melihat jendela telah terbuka. Berarti Miyoung sudah bangun. Siwon berdiri—masih sambil memeluk diri sendiri—dan berjalan perlahan ke tangga diluar rumah. Ia menunggu Miyoung keluar dan menuruni tangga tersebut.

Siwon tidak peduli dengan penampilannya saat ini. Rahangnya yang mulai menggelap tertutup rambut-rambut halus, rambut hitamnya berantakan, ujung kemejanya keluar sebagian dari pinggang celananya dan mata yang memerah karena kurang tidur. Ia hampir menyerupai gelandangan.

Jika Jessica melihat penampilannya saat ini, Siwon bisa memastikan kalau nenek sihir itu akan tertawa terpingkal-pingkal.

Siwon tidak bisa berpikir lagi saat ia melihat pintu rumah Miyoung terbuka. Dan sedetik kemudian, Siwon tersenyum ragu. Miyoung berdiri di puncak tangga dengan keranjang rotan yang menggantung di lengan kanannya.

Tidak ada yang lebih cantik dan keibuan selain Miyoung, menurut Siwon. Miyoung adalah pilihan tepat hidupnya. Kini wanita itu berdiri kaku di puncak tangga, sementara Siwon mengaguminya di bawah. Pria itu sama sekali tidak mengindahkan tatapan tajam dari Miyoung.

“Selamat pagi,” ucap Siwon lembut.

Miyoung membuang pandangan lalu menuruni tangga rumahnya dengan hati-hati. Siwon bergerak waspada. Sebenarnya rumah ini sangat tidak cocok untuk wanita yang sedang hamil. Bagaimana jika anak tangga kayu ini lapuk oleh air dan membuat siapa saja yang menginjaknya terjatuh? Siwon tidak ingin membayangkan hal itu. Miyoung harus pindah dari rumah sewa ini!

“Hati-hati,” ucap Siwon lagi seraya mengulurkan tangannya pada Miyoung. Miyoung menepis tangan Siwon dengan kasar dan berhasil menuruni semua anak tangga dengan benar.

“Aku tidak butuh bantuanmu,” desis Miyoung kemudian berlalu dari hadapan Siwon.

Siwon menyusul Miyoung. Ia mensejajarkan langkah mereka dan tidak pernah melepaskan pandangannya dari wanita cantik itu. Sementara Miyoung menolak mentah-mentah membalas tatapan lembut Siwon. Pria itu jelas-jelas jatuh cinta pada Miyoung. Ia bersikap seperti seseorang yang dimabuk cinta.

“Kau belum memaafkanku, ya?”

Miyoung diam. Mereka melewati rumah-rumah tetangga Miyoung dan ada beberapa yang menatap penuh tanda tanya ke arah Siwon. Mereka berpikir apa hubungan Siwon dengan Miyoung, tetangga mereka. Miyoung berharap keluarga Yoona tidak melihat Siwon.

“Miyoung-ah, apa yang harus kulakukan agar kau bersedia memaafkanku?” tanya Siwon, mendesak. Percuma. Miyoung hanya menganggapnya angin lalu.

Siwon terpaksa bersabar. Ia sendiri tahu kesalahannya begitu besar pada Miyoung. Tidak mudah bagi Miyoung untuk menerimanya lagi. Siwon berjalan di belakang Miyoung dan mengagumi kecantikan wanita itu dari tempatnya. Rambut panjangnya yang berayun-ayun karena semilir angin pagi yang segar, caranya melipat tangan ke depan agar keranjang rotan tidak merosot jatuh dari lengannya, dan caranya berjinjit menghindari lubang di jalan yang basah.

Terutama lekuk pinggul ke bokong indah Miyoung. Karena perutnya yang membuncit tentu saja dadanya membusung ke depan sementara lekukan bokongnya tampak begitu menawan bagi Siwon. Ia bersumpah akan mencongkel mata pria lain yang berani-berani memandangi Miyoung seperti yang dilakukannya sekarang. Egois, memang. Tetapi Siwon pada dasarnya adalah pria biasa.

Ia hanya berpikir Miyoung tetap miliknya. Tidak berubah sejak dulu.

Ia sempurna dan ia milikku, batin Siwon.

Siwon tetap mengikuti Miyoung saat wanita itu telah keluar dari gang. Siwon bisa melihat anak-anak kecil yang akan pergi sekolah dengan sepeda mereka, melambai dan menyapa Miyoung. Miyoung membalas lambaian mereka dan tersenyum cerah.

Siwon merasakan dentuman jantungnya dan nyeri di saat yang bersamaan. Ternyata efek senyuman Miyoung lebih berbahaya daripada serangan jantung. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa melihat eyesmile itu lagi, meskipun tidak ditujukan untuknya. Siwon tertawa pelan layaknya orang konyol dan idiot. Sampai seorang anak kecil yang dibimbing Ibunya mengomentari Siwon, pria yang sejak tadi mengekori Miyoung. Saat itu mereka melewati halte di dekat pasar.

“Eomma, kenapa Ahjusshi itu tertawa sendiri seperti orang gila?”

Sang Ibu langsung menempelkan jari telunjuk di bibir anaknya dan membungkuk pada Siwon. “Maafkan anakku, Tuan.”

“Ah, gwaenchana.”

Ternyata seruan si anak kecil menarik perhatian Miyoung. Ia menengok ke belakang dan melihat Siwon bersikap ramah pada wanita itu serta anaknya. Miyoung memanfaatkan kelengahan Siwon untuk memandangi pria itu. Apakah pria ini benar-benar telah berubah?

Siwon kembali menoleh ke depan dan memergoki Miyoung yang tengah menatapnya. Siwon tak dapat melakukan apa-apa selain tersenyum manis. Namun, Miyoung segera mengalihkan pandangannya dan kembali berjalan memasuki pasar. Siwon hanya mendesah panjang. Ia tahu perjuangannya tidak akan sebentar.

Saat memasuki pasar, Siwon teringat akan mobilnya yang diparkir di dekat pasar. Ia menghampiri Miyoung untuk memberi tahu ia akan menjemput mobilnya sebentar. Siwon takut nanti Miyoung menghilang.

“Miyoung-ah, aku akan mengambil mobilku dulu. Kemarin aku menitipkannya di posko penjaga pasar. Kau jangan pulang dulu, ne!” ujar Siwon tetapi Miyoung berpura-pura tidak mendengarnya. Miyoung bahkan memulai percakapannya dengan si penjual ayam.

“Ahjumma, aku ingin ayam ini dipotong menjadi 8 bagian.”

“Baiklah, Miyoung-ssi.”

Siwon tahu kalau Miyoung mendengar ucapannya. Lantas ia bergegas mencari dimana ia meletakkan mobilnya kemarin. Karena kata si pedagang belut mobil tidak bisa masuk ke gang rumah Miyoung, Siwon terpaksa menitipkannya di dekat posko penjaga pasar. Ia yakin mobilnya aman disana. Hmm, sebenarnya tidak terlalu yakin.

Setidaknya keyakinan itu sirna saat ia melihat di posko itu tidak ada apa-apa. Mobilnya lenyap. Butuh waktu 5 menit sampai kesadaran Siwon sempurna. Ia berjalan lambat-lambat menghampiri posko dan berputar-putar di tempat ia meletakkan mobilnya kemarin. Kini tempat itu kosong dan Siwon tidaklah seorang pikun yang lupa dimana ia memarkirkan mobilnya. Ia yakin kemarin mobilnya terkunci dan tidak bisa berjalan sendiri.

Mobilnya telah dicuri. Siwon menggeram kesal. Ia melihat posko itu kosong, sama seperti kemarin. Siwon memang tidak mengatakan apa-apa pada penjaga pasar. Jika ia meminta izin pada penjaga pasar, kemungkinan besar mobilnya masih ada saat ini. Tetapi karena Siwon terburu-buru, ia tidak memikirkan hal itu.

“Ada apa, Anak muda?”

Siwon tersentak saat bahunya disentuh seseorang dari belakang. Siwon membalikkan badan dan melihat seorang pria berusia pertengahan 60 yang memegang secangkir kopi. Ia memakai seragam yang menunjukkan kalau dirinya adalah penjaga pasar tradisional ini.

“Oh, annyeonghasaeyo, Ahjusshi. Saya Siwon dari Seoul. Kalau boleh saya tahu, apakah Ahjusshi penjaga pasar ini?” tanya Siwon sopan.

“Nde, namaku Sooman. Aku penjaga pasar ini,” jawabnya.

“Ahjusshi, apakah Ahjusshi melihat mobil Audi hitam dengan nomor polisi Seoul terparkir disini? Kemarin aku meletakkannya disini, tetapi sekarang sudah tidak ada. Sepertinya mobilku dicuri,” ujar Siwon.

Sooman tampak terkejut. “Mobilmu hilang? Saat aku pulang kemarin sore aku tidak melihat apa-apa disini. Kau menitipkan mobilmu pada siapa?”

Siwon terdiam. Ia mendesah berat sambil memegangi kepalanya. Ia kehilangan mobil serta barang-barang berharga di dalamnya. Meskipun saat ini ia memegang dompet, tetapi tidak terlalu banyak uang yang ada di dalamnya. Di desa ini tidak mungkin ia membayar apa yang dibelinya atau memberikan ongkos dengan kartu kredit! Ah, sial!

Karena kecerobohan dirinya sendiri ia menjadi gelandangan di desa ini.

“Kau bisa melaporkan kehilangan mobilmu ke pos polisi terdekat, Nak. Aku turut prihatin.”

Si penjaga pasar yang bernama Sooman menepuk-nepuk bahu Siwon kemudian berlalu, memasuki posko dan duduk disana sambil menyeruput kopinya.

“Huft, cobaan apa lagi ini?” gumam Siwon berat.

 

 

Miyoung telah selesai berbelanja dan keluar dari pasar. Hatinya bertanya-tanya kenapa Siwon tidak muncul juga. Bukankah tadi ia mengatakan hanya pergi sebentar? Miyoung memukul kepalanya pelan. Apa-apaan ini? Kenapa ia memikirkan kemana Siwon? Miyoung menghela napas berat kemudian melanjutkan langkahnya.

Ia mengerjapkan matanya dengan cepat saat melihat Siwon di seberang jalan, berdiri di halte dengan wajah paling merana yang pernah dilihat Miyoung. Miyoung mencoba mengabaikan Siwon ketika ia menyebrang jalan dan Siwon kembali mengikutinya dari belakang.

Seperti tadi saat pergi ke pasar, mereka berjalan dalam diam. Miyoung ingin tahu kenapa Siwon berubah lesu. Dan bukankah tadi ia mengatakan akan mengambil mobilnya?

“Mobilku hilang. Sepertinya tadi malam ada pencuri yang melarikan mobilku. Aku benar-benar ceroboh,” ujar Siwon seakan-akan bisa mendengar pertanyaan dalam hati Miyoung.

Miyoung melamun. Jadi Siwon kehilangan mobilnya. Kasihan sekali pria itu, Miyoung menggigit bibir bawahnya. Untung saja Siwon berjalan di belakangnya sehingga tidak bisa melihat ekspresi khawatir di wajahnya.

“Huft, sekarang bagaimana caraku untuk pulang ke Seoul? Miyoung-ah, bisakah aku menginap di rumahmu sampai Dongwook datang menjemputku?”

Mendengar pertanyaan sok polos itu Miyoung segera membalikkan badan. Jika Siwon tidak cepat menghentikan langkahnya, bisa dipastikan ia akan menubruk wanita itu. Miyoung mengernyit padanya, memberikan tatapan tak suka. Sebenarnya ini adalah modus Siwon agar bisa menginap di rumah Miyoung. Bukan kehilangan mobil pastinya. Mobil Siwon benar-benar dicuri tetapi pria itu tidak terlalu sedih. Ia bahkan ingin memanfaatkan itu agar Miyoung memperbolehkannya masuk ke rumah.

Siwon mengerjap takut-takut saat Miyoung belum juga mengomelinya.

“Jangan kira aku akan mengizinkanmu masuk ke rumah karena kau baru saja kehilangan mobil,” ucapnya sinis.

“T-tapi aku harus kemana lagi? Hanya kau yang kukenal disini.” Siwon membuat ekspresi sepolos mungkin.

“Itu bukan masalahku. Kau pikirkan saja sendiri!”

***

 

Jessica tertawa terbahak-bahak seraya memberikan ponsel kepada Dongwook. Dongwook hanya menatapnya heran lalu menempelkan speaker ponsel di telinga kanan. Terdengar Siwon yang bersungut-sungut di seberang line. Dongwook tahu, pasti Jessica sedang menertawakan sahabatnya.

“Aish, bisakah kau menutup mulut nenek sihir itu? Dia terbahak saat aku mengatakan kalau Miyoung menolakku dan mengabaikanku saat mobilku hilang!”

Mata Dongwook membulat sempurna. “Mobilmu hilang? Yah, kenapa ceroboh sekali!”

“Yah! Seharusnya kau prihatin, bukannya mengataiku bodoh! Kalian berdua sama saja!” omel Siwon.

Dongwook berdecak sebal lalu melirik Jessica yang masih tertawa di sampingnya. “Lalu, bagaimana keadaan Miyoung? Apa dia sehat-sehat saja?”

Dongwook tidak bisa melihat Siwon, tapi ia yakin kalau Siwon sedang tersenyum saat ini. “Miyoung sehat-sehat saja, Wookie. Kandungannya juga seperti itu. Kau tahu tidak, ia membantah kalau aku adalah Ayah dari anaknya.”

Dongwook terkekeh. “Kau bodoh jika mempercayainya. Tentu saja itu adalah anakmu! Pokoknya kau harus terus berusaha mendapatkan hatinya, Siwon. Ia membutuhkanmu tetapi aku tidak tahu apakah ia mempunyai perasaan padamu atau tidak. Kau harus mencari tahunya sendiri. Itu jika kau benar-benar serius padanya.”

“Tentu saja, Sobat. Aku akan melakukan apa saja untuknya.”

Jessica sudah berhenti tertawa dan kini tersenyum memandangi kekasihnya.

“Lalu, kau tidur dimana? Siwon, berhati-hatilah. Sekarang musim hujan.”

“Tenang saja, Wookie. Aku sudah menjual jam tanganku dan menggunakannya sebagai sewa satu rumah. Sebenarnya bukan rumah, tetapi seperti pondok satpam yang memiliki satu tempat tidur saja. Letaknya tepat di samping rumah Miyoung. Aku rasa aku masih mempunyai uang untuk makan.”

Dongwook menghela napas. Ia tidak menyangka Siwon akan mengalami masa-masa sulit ini. Mereka mengakhiri pembicaraan dan Dongwook termenung di tempatnya. Ia berharap semoga saja hati Miyoung segera luluh.

“Tenanglah, baby. Siwon pasti bisa melaluinya. Penderitaannya ini tidak seberapa dibandingkan yang diberinya kepada wanita-wanita yang disakitinya dulu.”

Jessica memeluk Dongwook dari samping. Dongwook mengangguk paham kemudian mengecup lembut lengan Jessica yang berada tepat di bawah dagunya.

“Ya, aku tahu. Aku hanya tidak menyangka Siwon bisa berubah sedrastis ini,” ungkap Dongwook. Jessica meremas-remas rambut tebal kekasihnya.

“Bersyukurlah ia berubah menjadi lebih baik,” bisik Jessica kemudian mengecup pipi Dongwook. Pria berkulit putih itu menoleh ke arahnya dan hidung mereka pun bersentuhan. Dongwook berdecak kagum. Ia tidak pernah berhenti mengagumi kecantikan Jessica. Satu-satunya wanita yang selalu disampingnya.

“Baby?”

“Hmm?”

I love you.”

Jessica terkekeh lalu menggesekkan hidung mereka. “Aku tahu. Kau pasti sedang menginginkan sesuatu.”

Dongwook tertawa kecil kemudian memutar tubuhnya. Kemudian dengan sangat mudah ia mengangkat tubuh Jessica yang jauh lebih mungil itu ke pangkuannya. Kini Jessica duduk di pangkuan Dongwook, menghadap pria itu dan melingkarkan kaki di pinggangnya.

Kedua tangan Jessica melingkari leher Dongwook sementara pria itu memeluk pinggang sang kekasih dengan erat dan posesif. Ia merindukan momen-momen mereka setelah beberapa hari ini hanya memikirkan Siwon.

“Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan. Setiap detik aku merasakannya tetapi tidak mungkin jika aku mengatakannya setiap detik pula,” ungkap Dongwook. Jessica mencibir.

“Dasar perayu!”

Dongwook segera menutup mulut Jessica dengan ciumannya. Ia menginginkan wanitanya, sekarang juga.

***

 

Siwon bangun lebih pagi dari Miyoung dan ia bersorak karena itu. Dua hari terakhir ia telah memperhatikan kegiatan Miyoung dan berniat membantunya. Siwon bersyukur karena teman Miyoung yang bernama Yoona mengizinkannya tinggal di pondok batu yang sudah lama tidak dihuni itu. Menurut Siwon tidak masalah jika tempatnya sangat sempit. Ia hanya butuh tempat itu untuk tidur di malam hari.

Dengan penuh semangat pria itu mengintip rumah Miyoung. Pintu dan jendelanya masih tertutup. Itu artinya Miyoung masih belum bangun dari tidurnya. Siwon menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Ia tahu apa yang dikerjakan Miyoung di pagi hari jika tidak ke pasar, yaitu merapikan tanamannya. Memindahkan tanaman ke pot yang lebih bagus agar layak dijual. Setelah itu Miyoung akan merangkai bunga lalu menyapu halaman. Kemarin Siwon juga melihat Miyoung merendam pakaiannya untuk dicuci hari ini. Siwon dengan senang hati akan melakukan pekerjaan yang tidak pernah disentuhnya seumur hidup.

Namun untuk mengambil simpati Miyoung, ia akan melakukan apapun!

Sambil bersiul santai Siwon mempersiapkan pot baru untuk wadah tanaman yang akan dipindahkannya. Ia termenung sebentar sebelum menggali tanaman itu dengan sembarangan. Ia tidak berpengalaman tentang hortikultura atau semacamnya. Yang hanya ia tahu adalah cabut tanaman itu, masukkan ke dalam pot baru dan terakhir timbun dengan tanah serta sedikit pupuk.

Hasilnya, Siwon berhasil mencabut tanaman berbunga merah itu tanpa akar!

Untuk sejenak Siwon tertegun sambil memandangi tanaman tanpa akar itu. Oh, ini buruk. Ia mempunyai firasat tidak baik. Miyoung pasti akan memarahinya. Siwon menelan ludah dengan susah payah. Seharusnya tadi ia lebih berhati-hati.

“Aish, apa boleh buat. Aku pindahkan saja,” gumamnya kemudian mencoba menanam tanaman itu tanpa akar. Siwon memadatkan tanah agar tanaman itu bisa berdiri tegak. Ia membuang akar tanaman itu ke tempat yang tidak bisa dilihat Miyoung lalu bertolak pinggang. Siwon baru mengerjakan satu pot tetapi telah membuat kekacauan. Ia menelengkan kepalanya, bingung.

“Sepertinya aku tidak cocok bekerja mengurus tanaman. Sebaiknya aku menyapu halaman ini saja.”

Saat Siwon ingin menyambar sapu yang terletak di sudut pondok, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya. Bukan Miyoung, melainkan Yoona. Siwon tersenyum lebar seperti seorang anak yang ketahuan mencuri permen. Yoona menatapnya bingung karena pria itu sudah bersiap-siap akan mengambil sapu.

“Siwon-ssi? Apa yang kau lakukan pagi-pagi buta begini?” tanya Yoona seraya mendekat. Gadis bertubuh tinggi itu menyeka keringat di keningnya dengan handuk yang tergantung di leher jenjangnya. Sepertinya ia sedang menikmati waktu jogging-nya dan menemukan ada seorang pria di depan rumah Miyoung yang hendak menyapu halaman.

“A-aku…ingin menyapu halaman ini, Yoona-ssi. Lihatlah, halaman ini dipenuhi daun-daun kering. Sangat tidak bagus dipandang,” ujar Siwon. Yoona melirik jam tangannya dan terkekeh.

“Ya aku tahu. Tapi ini masih pukul setengah 6, Siwon-ssi. Ckck, kau ada-ada saja. Kalau begitu aku ingin membangunkan Miyoung Eonnie dulu dan mengajaknya jalan pagi. Lanjutkanlah pekerjaanmu.”

Kemudian Yoona menaiki tangga ke teras rumah Miyoung sambil terkekeh. Siwon mengusap-usap tengkuknya yang tak gatal. Sebaiknya ia segera menyapu saja sebelum Miyoung keluar dan melarangnya.

Yoona hanya perlu mengetuk pintu sebanyak dua kali dan pintu pun terbuka. Yoona tersenyum pada wanita yang lebih tua darinya itu. Ternyata Miyoung telah siap.

“Selamat pagi, Eonnie! Kajja, kita jalan sekarang! Tapi sebelum itu, coba lihat ke bawah!” ucap Yoona diiringi senyuman jahilnya. Miyoung memang mendengar suara sapu di halamannya. Lantas ia segera melongokkan kepala keluar.

Miyoung mengerjap kaget. Siwon menyapu halamannya dengan gerakan yang benar-benar kaku!

Jika Miyoung tidak merasa kesal pada pria itu, saat ini ia pasti telah tertawa terbahak-bahak.

“Apa yang dilakukannya di halamanku?” Miyoung bergumam lalu keluar rumah. Ia menuruni tangga dengan hati-hati sedangkan Yoona mengikuti di belakangnya.

“Eonnie, sepertinya ia sangat berdedikasi padamu,” goda Yoona.

“Diam, Yoong!” desis Miyoung.

Srrresssh srrreeessh

Suara sapu yang beradu dengan lantai halaman terdengar nyaring di pagi hari itu. Siwon tidak menyadari kalau Miyoung telah berdiri di belakangnya. Ia menikmati pekerjaan barunya meskipun tangannya bergerak kaku.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Miyoung dingin.

“Engh…menyapu halamanmu,” jawab Siwon. Miyoung memutar bola matanya.

“Tak perlu kau katakan aku pun tahu! Maksudku apa yang kau lakukan pagi-pagi di halaman rumah orang? Aku tidak perlu bantuanmu, Siwon-ssi! Sekarang taruh kembali sapu itu dan pergi dari halamanku!” tegas Miyoung.

Yoona menggigit bibir, kasihan melihat Siwon. Yoona tahu kalau Siwon yang menghamili Miyoung. Namun Yoona tidak melihat sisi jahat pada pria itu seperti yang diceritakan Miyoung. Tentu saja Miyoung menceritakan perangai Siwon yang dulu. Dan sekarang, Yoona rasa Siwon benar-benar menyesali perbuatannya.

Tidak ada pria kaya raya yang congkak bersedia mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini! Menurut Yoona itu adalah sebuah bukti kecil dari rasa penyesalan Siwon.

Siwon menurut seperti anak berusia 6 tahun. Ia meletakkan sapu yang dipegangnya kembali ke tempat semula. Miyoung masih menatapnya sinis sampai ia membalikkan badan dan menarik Yoona untuk melaksanakan rencana awal mereka yaitu jalan pagi. Siwon mendesah panjang sambil memandangi kepergian Miyoung dan Yoona.

“Eonnie, aku rasa Eonnie terlalu keras padanya,” komentar Yoona. Miyoung berdehem.

“Itu belum seberapa, Yoong. Bisakah kita tidak membicarakan orang itu dan melakukan jalan pagi dengan tenang?” tukas Miyoung seraya mengelus-elus perutnya.

Yoona tersenyum. “Baiklah, Eonnie.”

 

 

Niat Siwon untuk membantu Miyoung sepertinya tidak akan surut. Ia tidak bisa membiarkan Miyoung kelelahan membersihkan rumah. Belum lagi wanita itu harus memasak dan menjual tanaman-tanaman hias. Setelah 10 menit menyapu, halaman rumah Miyoung bersih dari dedaunan kering. Siwon membuka kemejanya dan hanya memakai kaos putih tipis yang biasa ia gunakan untuk tidur kemudian masuk ke rumah Miyoung. Untung saja wanita itu tidak mengunci pintu.

Siwon langsung menuju tempat mencuci pakaian di rumah Miyoung itu. Letaknya di belakang rumah, di dekat tiang jemuran dan tidak beratap. Namun di sekelilingnya dibangun tembok setinggi 2 meter. Siwon melihat satu ember besar pakaian kotor yang direndam Miyoung dengan air sabun.

“Huft! Apa perutnya tidak sakit mencuci sebanyak ini?” gumam Siwon kesal.

Ia melihat bangku kayu kecil di dekat sana dan mengambilnya. Lalu ia duduk menghadap ember pakaian kotor dan mengaduk-aduknya. Airnya berbusa dan harum. Siwon tersenyum kemudian mulai mencuci.

Siwon tidak pernah menyangka hidupnya akan seperti ini. Berada di ruang cuci Miyoung dan mencuci satu ember pakaian kotor. Namun jika pengorbanannya akan setimpal dengan luluhnya hati Miyoung, apa salahnya? Siwon terus mengucek pakaian-pakaian Miyoung sambil tersenyum.

“Aigoo, pasti ia kelelahan mencuci sebanyak ini. Belum lagi harus memasak, menyetrika, menjual tanaman. Aish!”

Siwon kesal pada diri sendiri mengingat kesulitan Miyoung. Selama berbulan-bulan ia hidup sendiri dengan tegar. Semua ini salahnya, murni kesalahannya. Dan kini Siwon berada disini untuk membayar semua itu.

“Harusnya ia menggunakan jasa laundry atau membeli mesin cuci. Aaah, ternyata lelah juga!” Siwon terus berbicara pada diri sendiri.

Pria itu menghabiskan waktu 30 menit untuk mencuci dan membilas. Kini ia tinggal menjemurnya. Siwon tertawa puas pada hasil kerjanya. Ternyata sangat menyenangkan bekerja dengan hati yang ikhlas. Walaupun fisiknya merasa lelah namun hatinya tetap gembira. Siwon mengangkat pakaian-pakaian bersih yang masih basah itu menuju tali jemuran.

“Wah, sepertinya aku akan menikmati hari-hariku menjadi suaminya nanti,” Siwon terkekeh dengan ucapannya sendiri.

***

 

“Yoong, berhenti dulu sebentar. Aku lelah sekali!”

Sebelum Yoona sempat menjawab, Miyoung telah duduk di bangku beton yang menghadap ke pantai. Yoona duduk disampingnya dan menyodorkan air mineral yang tadi dibelinya. “Minumlah.”

“Gomawo.”

Yoona memandangi wajah kelelahan Miyoung selagi wanita itu meneguk air mineralnya. Ia tahu kalau Miyoung hanya berpura-pura tidak peduli pada Siwon. Bukan sikap Miyoung membenci seseorang sebesar itu. Walaupun Yoona baru mengenal Miyoung dalam waktu beberapa bulan, tapi kebaikan wanita itu seperti dikenalnya sudah lama.

“Aku rasa dia benar-benar berubah,” ucap Yoona tiba-tiba. Miyoung menatap Yoona heran.

“Nugu?”

Yoona mengulum senyum. “Eonnie tahu siapa yang kumaksud.”

Miyoung berubah serius. ia memutar-mutar tutup botol air mineral tersebut kemudian mendengus. “Aku tidak tahu, Yoona-yaa.”

Yoona menoleh ke depan. Matanya yang indah menyipit memandang deburan ombak yang berkejar-kejaran di pantai. “Jika aku menjadi Eonnie, aku akan memberinya kesempatan.”

Miyoung termenung.

“Jika ia bermaksud jahat padamu, ia tidak akan bersusah payah kesini mencarimu. Ia sudah mengakui semua kesalahannya padamu. Eonnie, aku yakin sejahat apapun Siwon dulu ia tidak akan membiarkan anaknya lahir tanpa Ayah.”

Miyoung mengangkat bahu. “Aku belum bisa percaya sampai aku mengetahuinya sendiri, Yoong.”

Yoona mendesah. “Aku mengerti.”

Miyoung terbayang bagaimana Siwon mengikutinya selama dua hari ini. Bagaimana pria itu dengan sabarnya menahan caci maki darinya. Bagaimana pria itu mencoba melakukan apa yang bisa membantunya. Dan Miyoung sebenarnya tersiksa membenci pria itu.

“Memangnya apa yang membuatmu tidak bisa memaafkannya?” kali ini Yoona bertanya dengan nada antusias.

“Entahlah. Aku merasa sepertinya sudah takdirku untuk membencinya dan menjauh dari kehidupannya,” jawab Miyoung tanpa berpikir panjang.

“Eonnie merasa sepertinya? Jadi Eonnie hanya menerka-nerka perasaan Eonnie, begitu?”

Miyoung tertegun.

“Miyoung Eonnie, jangan pernah membenci seseorang diluar kemampuan kita sebab hubungan benci dan cinta sangatlah tipis,” ujar Yoona setengah bergurau.

“Tidak, Yoong. Ini tidak akan menjadi cinta. Percayalah padaku!” tegas Miyoung. Ia sangat serius.

“Hohoho, aku ingin lihat apakah keyakinan Eonnie bisa dipercaya,” Yoona meledek. Gadis itu tidak pernah serius. Miyoung mengabaikan Yoona dan mulai berpikir tentang Siwon. Ia sama sekali tidak merasakan cinta untuk Siwon, setidaknya itulah yang dirasakannya sekarang. Miyoung sendiri bingung dengan perasaannya setelah mendengar komentar Yoona.

Mungkin ia harus bersikap tegas pada Siwon. Lagipula itu sangat berguna untuk memastikan apa yang dirasakannya. Jika pria itu benar-benar pergi dari kehidupannya, mungkin Miyoung berpikir kalau ia memang tidak bisa jatuh cinta pada pria itu.

***

 

“Huft, akhirnya selesai!” seru Siwon seraya memandangi hasil kerjanya menjemur pakaian Miyoung. Tubuhnya telah basah oleh keringat. Ia memandang berkeliling, melihat genangan air yang diciptakannya. Siwon meletakkan kembali ember pada tempatnya dan menampung air bersih untuk dipakai selanjutnya. Siwon tidak tahu untuk apa Miyoung menampung air bersih. Ia tidak melihat adanya kamar mandi tambahan di dalam rumah itu. Siwon membeku. Baru ia sadari kalau disana ada Mirror box tempat menyimpan sabun mandi cair, pasta gigi dan sikatnya, shampoo dan peralatan mandi lainnya.

“Apa ia juga mandi disini?” tanyanya berjengit. Kepala Siwon memutar ke segala arah dan mengamati tembok yang bisa dengan mudah dipanjatnya. Tembok itu berada di luar rumah, otomatis siapa saja bisa memanjat untuk masuk kesini! Jika Miyoung mandi disini, ia bisa saja diintip oleh laki-laki hidung belang di luar sana!

“Aish! Andwe! Miyoung tidak boleh mandi disini! Bagaimana bisa rumah ini mempunyai kamar mandi dengan atap terbuka seperti ini?! Aku harus protes kepada Yoona dan keluarganya. Seharusnya mereka membuat kamar mandi di dalam rumah agar Miyoung tidak diintip oleh laki-laki hidung belang!”

Siwon kembali masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Ia harus bergegas keluar sebelum Miyoung pulang. Bisa-bisa Miyoung mengamuk karena memasuki rumahnya tanpa izin. Namun ruang tengah yang sedikit berantakan dan lantainya yang kasar mengurungkan niat Siwon untuk keluar. Siwon berhenti di ruang tengah itu lalu berpikir. Sepertinya menyapu rumah ini dan membersihkan debunya tidak akan menghabiskan waktu lama.

Tanpa berpikir lebih panjang Siwon menyambar sapu lantai dan mulai menyapu dari sudut ruangan. Lantai yang terbuat dari papan sedikit menyulitkannya membersihkan ruangan itu. Siwon merasakan perutnya keroncongan. Mengerjakan ini itu membuat perutnya lapar.

“Seandainya aku bisa memasak, aku pasti akan memasak untuk Miyoung sekaligus,” gumam Siwon. Ia terus menyapu dengan pikiran yang terus menerawang. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan ketika matanya tertumbuk pada sesuatu yang janggal tergantung di dinding.

Sebenarnya bukan benda yang dilihatnya yang aneh, tetapi tulisannya. Siwon mematung di tempat. Jaket merah bertuliskan nama Nichkhun!

Siwon menjatuhkan sapu lalu menatap jaket tersebut tanpa berkedip. Setahu Siwon, nama Nichkhun adalah nama yang jarang dipakai di Korea Selatan ini. Dan Nichkhun bukanlah seorang artis ataupun atlit yang namanya tertulis di jaket seperti itu. Nichkhun yang dikenal Siwon dan Miyoung mungkin adalah orang yang sama.

“Kenapa ia mempunyai jaket ini?” gumam Siwon. Hatinya sakit menahan perasaan tidak suka. Walaupun hanya sebuah nama, tetapi Siwon yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres. Siwon mengamati bentuknya dari dekat. Jaketnya pun bukan jaket perempuan.

Matanya tiba-tiba melebar. Ini memang jaket laki-laki sebab jaket ini adalah milik Nichkhun! Siwon mengerjapkan matanya yang perih. Ia menatap lantai kayu di bawahnya. Jadi selama ini Miyoung masih berhubungan dengan Nichkhun. Itu artinya Nichkhun tahu dimana Miyoung berada.

Siwon tertawa lirih. Ia merasa dirinya konyol sekali. Apa Nichkhun mengalahkannya? Apa Nichkhun yang telah memiliki hati Miyoung? Apakah karena Nichkhun, Miyoung tidak ingin memaafkannya?

Pertanyaan-pertanyaan di kepala Siwon terhenti karena seseorang masuk ke rumah itu. Siwon menoleh dan sama-sama terkejut dengan wanita yang baru saja masuk. Miyoung!

Miyoung lebih kaget saat melihatnya. Ia menatap Siwon ngeri. Bukankah tadi ia menyuruh pria itu untuk tidak mendekati rumahnya? Apa pria itu tuli?

“Apa yang kau lakukan disini? Lancang sekali kau masuk ke rumahku!” bentak Miyoung. Siwon tidak bergeming. Miyoung mendekati Siwon dan berdiri tepat di hadapannya. Ia sendiri bingung mengapa tubuh Siwon lebih banyak berkeringat dibandingkan dirinya.

“Keluar dari rumahku, Siwon-ssi! Kau masuk tanpa izin sama saja kalau kau ini pencuri!”

Siwon masih diam menatapnya. Matanya menatap sendu pada Miyoung yang membalasnya dengan tatapan marah.

“Apa kau tidak mengerti ucapanku? Kau tidak mengerti bahasa Korea, ya? Aku minta kau p—“

“Apa karena Nichkhun?”

Mulut Miyoung langsung terkatup. Mata Siwon kini berkaca-kaca.

“Apa karena Nichkhun, kau tidak ingin memaafkanku? Apa karena Nichkhun kau tidak ingin memberiku kesempatan kedua?”

Miyoung baru menyadari kalau mereka berdiri di dekat jaket Nichkhun yang tergantung.

“Kau benar,” ucap Miyoung dingin.

Siwon tertawa sinis. “Aku tidak percaya padamu.”

“Aku tidak peduli dengan pendapatmu, Siwon-ssi. Aku minta kau keluar sekarang juga!”

“Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku karena kau sedang mengandung anakku. Kau harus menikah denganku,” ujar Siwon. Ia akan mengalahkan seribu Nichkhun sekaligus demi menikahi wanita yang dicintainya.

“Aku tidak akan menikah denganmu!”

“Oh, begitukah? Apakah kau tega mengatakan kepada anakmu nanti kalau Ayahnya bukanlah pria yang kau nikahi?”

“Memang bukan anakmu, Siwon! Bayi yang kukandung bukanlah anakmu, tetapi anak Nichkhun!”

 

 

To be continued

 

 

165 thoughts on “(AD) Could It Be Love Part 3

  1. Kak Elsa, bagi no hp nya dunk..! oh ya setelah bukunya jadi mau diterbitin di mana? di semua toko buku bakalan ada kan ? itu isinya semua FF sifany kak Echa atau gabungan sama author yang lainnya juga? Good luck ya Kak, semoga bukunya cepet publish, gak sabar deh nunggunya. pasti bagus coz isinya semua mahakarya Kakak

  2. Oh noooo…
    Kenapa nichkun hrs disangkut pautkan..
    Siwon kan sdh bener2 menyesal, kasian jg siwon.
    Apalagi pas ayahnya meninggal dgn mendadak, meninggalkan persoalan yg belum selesai.
    Ff nya makin kereeeeeennn!!
    Daebak!
    Lanjut ya..

  3. Haha siwon akhirnya sdar jga..
    Pi jngan lngsung luluh fany,,biar siwon bnyak brkorban dlu..hehe
    pi fany,,g’ bhong gtu jga x ke siwon klw tu bkan anknya pi anak nickhun..

  4. Fany maafkanlah siwon,kasihan ama siwonnya.
    Saeng,semakin seru aja part 3nya.
    Thanks buat ffnya saeng
    Unnie mau lanjutin baca part 4nya

  5. Gak mungkin anak yg dikandung sma tiff eonni itu anak nickhun..
    Pasti bo’ongan kan itu,,
    Supaya siwon oppa nya pergi..
    Coba kasih kesempatan kedua eon..
    Eon echa, ff nya bagus loh. Aku ngebacanya sampe tegang 😄😁

  6. Ternyata bnr uspn siwon klo chae ra hny incar hartany Th choi. n akhirny Th choi th dgn sndiriny tp akibatny dia hrs meninggl. hal itu jg yg mbwt siwon sdr akn skpny slm ini.
    Mi young prgi dlm keadaan hamil ank siwon. tp rasabnci msh ad dl hatiny bhkn siwon yg mnt maaf pun tdk perduli. mgkin ini saatny siwon mulai dr awl perbaiki hdpny.
    wah mi young msh uji hati siwon nih, bhkn blg klo ankny itu ank nikon. ayo siwon mi young hny uji km aj, jgn nyerah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s