(AR) Somebody To Love Part 1

Somebody to Love Part 1

 StL_poster

Author:

Youngwonie

Cast:

Choi Siwon | Hwang Miyoung

Additional Cast:

Find them in story

Genre:

Romance

Rating:

PG 15

Length:

Series

Disclaimer:

The cast are belong them self, parents and God. I just borrow their name for my story.

The story is mine, so don’t be a plagiator. Keep comment and like if you enjoy this story.

FF ini merupakan sequel dari ‘Sorry, I Love You Oppa’ yang sudah saya janjikan.

Warning : Typo

Summary:

Sehari terasa seperti setahun. Hatiku terus tenggelam karena hanya mencari jejakmu…

 

“Siapa kau?” tanya Siwon penuh selidik sambil memperhatikan orang yang kini berada di dalam mobilnya tersebut. Wajah Miyoung tidak terlihat jelas karena terhalang tangan yang sedang memegang keningnya. Apalagi ia juga mengenakan topi. Membuat Siwon semakin penasaran dan menatapnya was- was.

Miyoung pun perlahan menurunkan tangannya. Siwon membulatkan matanya saat melihat wajah gadis itu dengan jelas. Gadis itu memperlihatkan wajah cantiknya. Mata sipitnya menatap Siwon dengan tatapan ragu.

“Mianhae,,, aku tadi hanya menumpang untuk bersembunyi. Aku tidak bermaksud jahat pada Anda. Aku juga tidak mencuri apapun dari mobil Anda, Tuan.”

Siwon masih diam dalam waktu yang cukup lama. Ia menatap tidak percaya apa yang ada dihadapannya sekarang.

Miyoung yang merasa tidak nyaman dalam keadaan seperti itu, menggerakkan tangannya di depan wajah Siwon untuk menyadarkan namja itu.

“Anda baik- baik saja?” tanyanya. Siwon tidak menjawab pertanyaannya. Ia malah dikagetkan dengan aksi Siwon yang tiba- tiba meraih tangannya sambil menggumamkan sebuah nama.

“Tiffany…”

“Nde?”

“Kau Tiffany kan?” Seru Siwon masih memegang tangan Miyoung.

“Tiff—fany? Ah, Anda pasti salah. Namaku bukan Tiffany.”

“Tidak mungkin. Kau pasti Tiffany. Kau tidak ingat pada Oppa? Aku Suamimu.”

“Mwo?”

“Oppa sudah menunggumu pulang sekian lama, Fany-ah.”

“Mian. Anda pasti salah orang. Aku bukan Tiffany. Dan, bisakah Anda melapaskan tanganku?”

Siwon melepaskan tangannya.

“Mian, tapi—“

“Aku harus pergi. Terima kasih atas tumpangannya.” Potong Miyoung cepat lalu ia segera keluar dari mobil Siwon.

“Ya! Tunggu.”

Siwon mengejarnya. Namun Miyoung tak menghiraukan panggilan Siwon. Ia terus berlari lalu menyebrang. Saat Siwon berusaha mengejarnya, sebuah mobil hampir menabrak Siwon. Untung Siwon punya refleks yang bagus sehingga ia bergerak mundur tepat sebelum bersentuhan dengan mobil itu.

Siwon terpaku di tempatnya. Gadis itu sudah tak terlihat.

“Tidak mungkin. Aku tidak mungkin salah. Dia pasti Tiffany.” gumam Siwon pada dirinya sendiri.

Siwon kembali ke mobilnya lagi. Namun ia berbalik arah menuju kantornya. Ia akan menceritakan kejadian itu pada Donghae.

***

 

“Kau pasti berhalusinasi.”

“Aku menatapnya dengan jarak 10 senti dan memegang tangannya. Dia juga berbicara padaku. Kau pikir itu halusinasi?” Siwon membantah Donghae yang berpikir kalau dia hanya berkhayal melihat Tiffany karena rasa rindunya yang dalam pada gadis itu.

“Tapi dia tidak mengenalimu kan? Mungkin gadis itu hanya orang yang mirip dengan Tiffany.”

“Bagaimana kalau dia amnesia setelah kecelakaan dengan Kyuhyun waktu itu?”

Donghae mendesah panjang,”Kau terlalu banyak nonton drama, Wonnie. Bagaimana orang hanya mengalami amnesia setelah jatuh dari tebing setinggi 100 meter? Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan nyawanya.”

“Tapi keajaiban juga bisa terjadi kan? Aku akan terus mencari Tiffany. Dia berada di kota ini. Kami pasti akan bertemu lagi.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya? Bukankah tadi dia lari karena tidak mengenalimu?”

“Aku akan membuat dia mengenali dan mencintaiku lagi. Dan tidak tidak akan pernah kulepaskan lagi.”

Donghae hanya menatap Siwon miris. Cinta memang gila pikirnya. Siwon terlalu terobsesi dalam pencarian Tiffany. Dan yang tidak bisa dimengerti adalah bagaimana mungkin Tiffany dan Kyuhyun menghilang begitu saja dari TKP padahal mobil mereka berhasil ditemukan. Hal itulah yang masih menjadi misteri sampai saat ini. Donghae mulai berpikir mungkin dugaan Siwon ada benarnya. Tiffany masih hidup dan dia hilang ingatan. Lalu bagaimana dengan Kyuhyun?

***

 

“Yeoboseo, Bora-ya kau dimana? Ne. Gwaenchana. Tadi aku berhasil kabur dari mereka. Geurae. Aku ke sana sekarang.”

Miyoung berjalan kaki memasuki gang sempit menuju alamat yang ditunjukkan Bora padanya. Sesekali ia melirik ke belakang untuk memastikan ia tidak diikuti. Tidak butuh waktu lama sampai di depan rumah sewaan tempat Bora dan Sehun bersembunyi.

Tok! Tok!Tok!

Miyoung mengetuk pintu. Bora yang datang membukakan pintu langsung memeluknya.

“Youngie-ya,,,Kau baik- baik saja?”

“Ne.”

“Tidak ada yang mengikutimu kan?” Bora melirik ke sekitar. Kalau- kalau ada yang membuntuti Miyoung.

“Ani. Aku yakin tidak ada.”

“Syukurlah. Kajja.”

Bora mengajak Miyoung masuk. Rumah yang ditempati mereka tidak sebesar rumah mereka dahulu. Tapi cukup nyaman untuk ditinggali. Miyoung melihat sekeliling rumah itu. Ia juga melihat Sehun yang sedang sibuk di dapur.

“Noona, Gwaenchanayo?”

“ Gwaencahana. Untung Bora cepat- cepat memberitahuku. Saat itu mereka baru saja sampai ke rumah. Tapi, bagaimana mereka secepat itu menemukan kita?”

“Mereka memeriksa semua orang dan juga cctv. Setelah menyadari Noona berdua tidak ada dalam pemeriksaan, mereka menyelidiki tentang kita. Junsu dan Junho bukan orang sembarangan, Noona. Mereka termasuk diantara mafia paling berbahaya di Seoul.” Jelas Sehun.

“Jadi begitu. Berarti mereka tidak akan melibatkan polisi dalam hal ini kan?”

“Ne. Melaporkan pencurian ini pada polisi sama saja membuka tabir kejahatan mereka sendiri.”

“Jadi kita hanya perlu bersembunyi dari mereka.”

“Tapi mereka lebih berbahaya daripada polisi, Noona.”

“Menghadapi bahaya bukankah sudah menjadi keseharian kita? Jangan khawatir Hun-ah. Yang dia inginkan hanya kalung itu. Setelah kita menjualnya, kita akan bebas.”

“Ngomong- ngomong tentang kalung itu, kau berhasil membawanya kan?” Tanya Bora.

“Ne. Tenang saja. Aku sudah menyelamatkannya.” Miyoung tersenyum puas. Lalu ia merogoh saku jaketnya. Miyoung mengerutkan keningnya saat menyadari di sakunya tidak ada apa pun.

“Aku yakin menaruhnya di sini.” Ia bangkit dan memeriksa semua saku jaket dan celana pendeknya.

“Andwae,,,” Miyoung panik.

“Wae? Dimana kalungnya Youngie?”

“Aku yakin menaruhnya di saku jaketku sebelum kabur dari rumah. Aku masih ingat betul.”

“Apa mungkin jatuh saat Noona berlari?”

“Tidak. Waktu aku bersembunyi, kalung itu masih ada—“ Miyoung menggantung ucapannya. Pikirannya menerawang mengingat kejadian saat Siwon menghentikan mobilnya secara mendadak.

“Apa mungkin kalung itu jatuh di sana?” Gumam Miyoung.

“Dimana?” Bora dan Sehun berseru bersama.

“Di mobil tempat aku bersembunyi.”

Miyoung menceritakan pada Bora dan Sehun saat dia bersembunyi di mobil Siwon. Tapi ia tidak menceritakan tentang Siwon yang mengira dirinya adalah Tiffany.

“Kita harus menemukan orang itu untuk mengambil kalungnya.” Ujar Bora.

“Tapi bagaimana cara menemukannya? Namanya saja aku tidak tahu.” Lirih Tiffany pasrah.

“Dimana Noona bertemu dengannya?” tanya Sehun.

“Kalau tidak salah—di depan toko bunga di pinggir jalan.”

“Noona masih ingat tempatnya?”

“Ne.”

“Kalau begitu kita mulai mencarinya dari sana.”

***

 

“Jadi Anda tidak mengenalnya nyonya?” tanya Miyoung pada penjaga toko bunga tempat Tiffany kemarin bersembunyi di mobil Siwon.

“Dia memang sering beli bunga di sini. Tapi aku tidak mengenalnya.”

“Sering maksudnya secara teratur?” tanya Bora.

“Ne. Seminggu sekali. Setiap hari selasa dia membeli bunga lili katanya untuk ibunya yang sedang sakit.” Jelas penjual bunga itu. Ia nampak curiga dengan Miyoung dan Bora yang bertanya- tanya tentang pelanggannya.

“Sebenarnya kalian ini siapa? Kenapa bertanya- tanya tentang pria tampan itu?”

“Aku temannya waktu kuliah dulu. Sudah lama kami tidak bertemu dan kemarin aku melihatnya keluar dari toko bungamu Nyonya. Jadi aku menanyakan tentang dia pada Anda.”bohong Miyoung.

“Oh jadi begitu.”

“Ne. Kalau aku boleh minta tolong, aku ingin nyonya memberitahuku saat dia datang kemari lagi. ini nomor handphoneku.” Miyoung menyerahkan secarik kertas pada penjual bunga itu.

“Baiklah. Nanti kuhubungi.”

“Gamshamidha. Kalau begitu kami permisi dulu Nyonya. Geurom.”

Miyoung dan Bora keluar dari toko bunga itu dengan perasaan kecewa.

“Sekarang kita harus bagaimana?” keluh Bora.

“Tenanglah, pasti ada jalan keluar.”

Tepat setelah Miyoung bilang itu, Miyoung melebarkan matanya seperti menyadari sesuatu.

“Wae?”

“I—itu”

Miyoung menunjuk sebuah sebuah majalah yang dijual di penggir jalan tempatnya dan Bora berdiri. Bora mengikuti arah jari Miyoung.

“Mwo?”

“Orang itu—yang kulihat kemarin.”

“Namja di majalah ini?”

“Ne.”

Bora langsung mengambil majalah yang memasang foto Siwon di covernya dan membelinya.

“PENGUSAHA MUDA PALING SUKSES TAHUN INI, CHOI SIWON CEO SEKLIGUS PEMILIK HYUNDAY GROUP.” Bora membaca tulisan yang tercantum di majalah itu.

“Youngie-ya, dia bukan orang biasa. Kita akan lebih mudah mencarinya.” Bora tersenyum sumringah.

“Kau benar. Sekarang aku tahu harus mencarinya dimana.”

 

Miyoung dan Bora keluar dari taksi tepat di depan Hyunday Tower yang bersebelahan dengan Hyunday World. Mereka menatap takjub bangunan berlantai lima belas yang menjadi pusat perbelanjaan paling besar di Seoul itu.

“Daebbak. Dia pemilik ini semua?” ujar Bora.

“Dia punya nasib yang bagus.”tambah Miyoung.

“Aku jadi penasaran apakah dia masih single, aku akan dengan suka rela menjadi permaisurinya.”

“Sayang sekali. Dia sudah punya istri.” Cibir Miyoung.

“Jinjja? Bagaimana kau tahu?”

“Karena kemarin dia bilang aku—“

“Kau apa? Dia bilang apa?” Bora mendesak Miyoung yang menggantung ucapannya.

“Dia mengira aku adalah istrinya.” Jawab Miyoung akhirnya.

Bora mengerutkan keningnya.

“Maksudnya?”

“Mungkin saja istrinya pernah hilang atau semacamnya.”

“Apa itu berarti kau mirip dengan istrinya?”

“Mungkin saja.”

“Kenapa kau tidak mengaku sebagai istrinya saja? Kita akan kaya raya. Kalung itu tidak akan penting lagi.”

“Mwo? Kau gila. Bagaimana dengan Kim Junsu? Kau pikir dia akan berhenti mengejar kita?”

“Orang seperti Choi Siwon pasti bisa melindungimu.”

“Sudahlah, jangan berpikir yang aneh- aneh. Yang penting sekarang kita harus menemukan kalung itu.”

Miyoung mengajak Bora masuk ke parkiran yang ada di basement gedung.

“Di sini banyak cctv. Kita harus hati- hati.” Bisik Miyoung pada Bora sambil membetulkan letak topinya agar cukup menutupi wajahnya.

“Ne.” Bora pun melakukan hal yang sama. Miyoung memperhatikan satu persatu mobil- mobil mewah yang berjejer di barisan staff Hyunday Group. Sedangkan Bora berjaga- jaga dengan mempaerhatkan sekitar.

“Ini dia mobilnya. Semoga kalung itu masih ada di dalam.” Gumam Miyoung saat menemukan mobil Siwon.

“Bora-ya, lindungi aku.”

“Nde.”

Miyoung pun mencoba membuka mobil itu tanpa membunyikan alarmnya. Dengan sedikit trik yang dikuasainya, ia berhasil membuka pintu belakang mobil Siwon dan masuk ke dalamnya. Miyoung mencari kalung itu di semua bagian di dalam mobil. Namun ia belum juga menemukan yang dicarinya. Sedangkan di luar, ia mendengar Bora yang bercakap- cakap dengan petugas keamanan yang sedang mengawasi tempat itu dengan berpura- pura mencari mobil yang lupa diparkir dimana. Dua orang petugas itu pun membantu Bora dengan senang hati dan mengantarnya berkeliling tempat parkir.

Miyoung masih berusaha mencari. Dan saat itu ia mendengar derap langkah seseorang mendekat ke mobil Siwon. Miyoung menyembunyikan dirinya ke bawah jok mobil seperti yang dilakukannya kemarin. Langkah kaki orang itu semakin dekat.

“Yoon Bora, apa yang sedang kau lakukan?” Lirih Miyoung dalam hati.

Entah dimana Bora sekarang. Seharusnya gadis itu tidak boleh membiarkan seseorang mendekati mobil Siwon.

“Presdir Choi, kau melupakan ini.” Suara seorang gadis terdengar memanggil orang yang mendekati mobil. Orang itu pun menghentikan langkahnya. Dan seperti menerima sesuatu dari gadis itu.

“Gumawoyo, Sunkyu-sshi.”

“Nde. Geurom.”

Siwon masuk ke mobilnya. Lalu menjalankan mobilnya keluar dari parkiran. Miyoung masih di dalam. Ia tidak akan keluar dari sana sampai Siwon menghentikan mobilnya. Ia tidak akan membuat Siwon terkejut seperti kemarin.

“Kau sudah berhasil menemukan gadis itu?”

Miyoung mendengar Siwon bercakap- cakap dengan seseorang di telepon.

“Kali ini kau harus cepat menemukannya. Aku yakin kalau dia adalah Tiffany yang berhasil lolos dari kecelakaan maut itu dan mengalami amnesia. Lakukan segala cara. Aku tidak mau kehilangan Tiffany lagi.”

Siwon memutus sambungan teleponnya. Miyoung menyimak dengan baik percakapan Siwon. Dan dia tahu kalau orang yang dibicarakan Siwon ditelepon itu adalah dirinya.

‘Apa sebenarnya yang terjadi?’ batin Miyoung.

Siwon menghentikan mobilnya di rumahnya. Ia keluar dari mobil tanpa mencurigai keberadaan Miyoung di dalam mobilnya. Setelah merasa kondisi cukup aman, Miyoung membuka pintu belakang mobil lalu mengendap- endap keluar. Ia masuk ke dalam rumah besar Siwon. Rumah itu sangat besar namun sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang bekerja. Miyoung masuk ke sebuah ruangan saat seorang pelayan akan melewatinya. Ia tidak mau tertangkap basah dan dilaporkan sebagai pencuri.

Miyoung mengamati ruangan dimasukinya. Ruangan itu dikelilingi rak buku di dindingnya. Ada juga sebuah meja kerja lengkap dengan peralatannya berada di dekat jendela. Namun, yang menarik perhatian Miyoung adalah sebuah foto keluarga yang di pajang di dinding di belakang meja kerja itu. Sepasang suami istri bersama kedua anak mereka. Ia mengenali wajah anak laki- laki di foto itu adalah Choi Siwon. Dan anak perempuan itu, Miyoung hampir tidak bisa bernafas saat melihatnya.

“Tidak mungkin,,,” gumamnya pelan. Ia mendekat untuk memastikan kalau dia salah. Tapi semakin mendekati foto itu, Miyoung merasa seperti melihat fotonya saat berusia tujuh belas tahun. Miyoung mundur perlahan, tak sanggup menatap foto gadis yang sangat mirip dengannya itu. Tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah buku agenda dari atas meja. Buru- buru Miyoung mengambil buku itu untuk mengembalikannya ke atas meja. Namun, selembar foto menyembul keluar dari salah satu halamannya. Rasa penasaran membuat Miyoung mengambil foto itu. Tampak gambar Siwon dan gads yang mirip dengannya ber-selfie ria dengan menunjukkan cincin di jari manis mereka. Miyoung membaca tulisan dibalik foto itu.

Mokpo, March 18th ’12

‘Hari pernikahanku dan Siwon Oppa’

“Jika mereka satu keluarga, bagaimana bisa mereka menikah?”

Entah kenapa Miyoung merasa penasaran pada kisah Siwon dan Tiffany. Ia pun membuka buku di tangannya. Di halaman pertama buku itu tertulis.

Tiffany’s Diary

Miyoung membuka halaman berikutnya.

Diamond Bar, Callifornia January 20th ‘05

Hari ini Mommy menikah dengan pengusaha dari Korea. Hidup baruku akan dimulai. Keluargaku akan lengkap lagi. Mommy bilang aku akan punya seorang Oppa yang tampan. Aku sungguh senang mendengarnya. Aku sudah tidak sabar untuk pindah ke Korea bersama keluarga baruku. Suami Mommy-ku adalah orang yang sangat baik. Aku yakin putranya juga begitu.

Selama tujuh belas tahun aku hidup bersama Mommy. Sampai sekarang aku tak pernah tahu dimana Daddy kandungku berada, bagaimana keadaannya, apakah dia sehat, bahkan wajahnya saja aku tak pernah bisa membayangkannya. Mommy melarangku bertanya tentang Daddy. Entah apa yang terjadi pada hubungan mereka. Semoga kelak aku bisa bertemu dengannya.

Miyoung membaca halaman demi halaman dari buku itu. Ia seperti membaca sebuah novel roman dari buku diary Tiffany. Sampai pada halaman dimana Tiffany menuliskan kebimbangannya antara menerima cinta Kyuhyun atau mengikuti kata hatinya meneruskan perasaan terlarangnya pada Siwon. Miyoung mendesah panjang.

“Kanapa kau bisa begitu bodoh mencintai kakakmu sendiri Tiffany-sshi.”

Miyoung ingin membuka halaman berikutnya, namun suara langkah yang mendekati ruangan itu membuatnya menghentikan niatnya. Miyoung kembali menaruh foto di salah satu halaman buku dan mengembalikan buku itu lagi di atas meja. Dengan cepat ia keluar dari jendela ruangan yang terbuka.

Miyoung berjalan pelan di sepanjang jalan komplek perumahan Siwon. Ia tak mendapat hambatan berarti saat keluar dari sana. Selama berjalan, Miyoung masih memikirkan catatan- catatan Tiffany yang dibacanya.

“Apa yang terjadi pada Tiffany selanjutnya. Bagaimana dia dan Siwon bisa menikah?” gumam Tiffany.

“Aish, kenapa aku malah memikirkan mereka? Aku sampai lupa tujuanku mencari kalung itu.”

Miyoung merutuki dirinya sendiri. Ia pun menghubungi Bora dan memberitahunya untuk kembali ke rumah dan memikirkan rencana selanjutnya.

***

 

Siwon masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mengambil berkas yang baru dikerjakannya semalam. Ia mengambilnya dari atas meja setelah mengecek sekali lagi hasil kerjanya. Namun, Siwon merasa ada sesuatu yang janggal.

“Diary Tiffany terbalik? Aku yakin sekali semalam sudah menaruhnya dalam posisi yang benar.”

Siwon kemudian menyalakan laptopnya. Memeriksa rekaman cctv ruang kerjanya. Tergambar saat Miyoung masuk ke ruangannya dan memperhatikan foto keluarga juga saat Miyoung membaca diary Tiffany dan kabur melalui jendela.

“Gadis itu? Mungkinkah—“

Siwon segera keluar dari ruang kerja. Ia berlari keluar rumah dan melihat sekeliling halaman rumahnya.

“Tiffany!!!” Dia berteriak memanggil Tiffany.

“Kalau dia berhasil keluar, pasti belum jauh.”

Siwon kembali berlari. Kali ini menuju gerbang utama rumahnya. Ia terus berlari menyusuri jalan di komplek perumahannya. Setelah berbelok, ia melihat seorang wanita menaiki taksi.

“Itu dia. Ya, tunggu!!!” Siwon berusaha mengejar, namun taksi itu sudah berjalan cepat.

“Taksi.” Beruntungnya ada taksi lain yang lewat sehingga Siwon menaikinya untuk mengejar taksi yang ditumpangi gadis itu.

***

 

“Ya, kalau kau tidak mau makan ramennya berikan padaku saja.” Celetuk Bora. Dia memperhatikan Miyoung yang sejak tadi hanya mengaduk- aduk ramennya.

“Bora-ya, kau ingat saat aku bilang kalau Choi Siwon waktu itu mengira kalau aku adalah istrinya?”

“Ne, wae?”

“Tadi aku menyusup ke dalam rumahnya dan melihat foto wanita itu.”

“Lalu?”

“Aku seperti melihat bayanganku sendiri. Ani, sebenarnya dia lebih cantik dan innocence. Tapi, kami benar- benar mirip.”

“Jinjja?”

“Hmm. Pantas saja waktu itu Choi Siwon mengira aku adalah wanita itu.”

Bora tampak berpikir setelah mendengar cerita Miyoung. Lalu ia menatap Miyoung dan menunjukkan seriangaiannya.

“Ya, apa yang kau pikirkan?” protes Miyoung melihat tatapan Bora yang sepertinya menyimpan maksud buruk padanya.

“Kau ingat saranku tadi pagi?”

“Kau memikirkan itu? Aku harus berpura- pura menjadi wanita itu?”

Bora mengangguk.

“Shireo. Aku tidak akan melakukannya. Kalau aku ketahuan, aku bisa masuk penjara. Lagi pula—“

“Apa? Tidak ada jalan lain menemukan kalung itu selain mendekati Choi Siwon. Ayolah, Youngie. Hanya sampai kita menemukan kalungnya. Setelah itu kita bisa kabur ke luar negeri dengan uang dari penjualan kalung itu.”

“Molla. Aku pusing. Akan kupikirkan cara lain selain itu. Aku keluar dulu mencari udara segar.”

“Ne, hati- hati. Siapa tahu anak buah Junsu sedang berkeliaran di sekitar sini.”

“Arra. Aku akan berhati- hati. Ngomong- ngomong, dimana Sehun?”

“Dia belum pulang. Dia tidak bilang mau kemana.”

“Begitu ya. Yasudah.”

Miyoung menyambar topi dan jaketnya lalu keluar dari rumah itu. Dia berjalan- jalan di taman yang yang ada di lingkungan itu. Karena sudah malam, taman itu pun sepi. Miyoung mendekati ayunan yang kosong. Dia menaiki ayunan itu. Miyoung jadi teringat ayahnya yang selalu menyempatkan waktu untuk mengajaknya bermain ayunan di taman setelah pulang bekerja. Dia juga teringat tulisan Tiffany yang katanya tak pernah melihat ayah kandungnya. Ia juga merasakan hal yang sama. Myoung tak pernah melihat wajah ibunya. Ayahnya bilang kalau ibunya meninggal setelah melahirkannya.

Miyoung menatap ke atas, melihat bintang- bintang malam itu, lalu bergumam, “Appa, kau bisa mendengarku? Nan bogoshippo.”

Air mata Miyoung mengalir begitu saja. Ia terisak. Sudah lama rasanya ia tak pernah menangis. Miyoung langsung mengusap air matanya. Dia bangkit dari ayunan dan berniat meninggalkan tempat itu.

“Siapa kau?”

Sebuah suara terdengar dari arah belakang. Miyoung pun berbalik.

“N—neo?” Miyoung tergagap melihat Siwon yang kini berdiri beberapa meter darinya.

“Kemarin kau tiba- tiba muncul di dalam mobilku. Hari ini kau menyusup ke rumahku. Siapa kau sebenarnya? Apa kau benar- benar Tiffany?” Siwon berjalan mendekat pada Miyoung.

Miyoung tidak menjawab. Ia berbalik untuk berlari meninggalkan Siwon. Namun Siwon berhasil menangkap pergelangan tangannya dan merengkuhnya.

“Lepaskan!”

“Tidak, sampai kau mengatakan siapa dirimu.”

Siwon menatap tajam pada Miyoung meminta penjelasan.

“Aku b—“ Tepat saat Miyoung ingin mengatakan kalau dirinya bukan Tiffany, ia melihat anak buah Junsu.

“Aku harus pergi.” Miyoung memberontak hingga ia berhasil terlepas dari Siwon dan berlari.

“Tunggu!” Siwon mengejarnya.

“Itu dia. Kejar wanita itu!” seru salah seorang dari anak buah Junsu. Mereka mengejar Miyoung, dan juga Siwon yang ikut berlari di belakangnya. Kejar- kejaran pun terjadi di lingkungan yang di dominasi lorong- lorong sempit itu. Siwon berhasil mensejajarkan dirinya dengan Miyoung. Ia meraih tangan Miyoung dan membawanya berlari bersama.

“Lewat sini.”

Siwon membawa Miyoung berbelok ke lorong yang gelap dan bersembunyi di sana.

“Lep—“

“Ssst!” Siwon menuntup mulut Miyoung dengan tangannya untuk menyuruh Miyoung diam. Saat itu anak buah Junsu melewati tempat itu. Namun mereka tidak menyadari keberadaan Siwon dan Miyoung. Mereka terus berlari ke depan.

Siwon melihat ke arah lorong yang dilewati anak buah Junsu tadi. Mengawasi keadaan mereka aman atau tidak. Sedangkan Miyoung terus menatap wajah Siwon. Posisinya terjepit antara tembok dan tubuh Siwon, dengan tangan kiri Siwon menekan tembok di sebelah kepalanya dan tangan kanan Siwon di atas bibirnya. Miyoung merasa ada ribuan kupu- kupu berterbangan di dalam perutnya. Dan ia bisa mendengar detak jantungnya yang keras dan deru nafas Siwon.

Setelah merasa cukup aman, Siwon mengalihkan pandangannya dari lorong lalu menghadap Miyoung. Matanya bertemu dengan mata Miyoung yang masih menatapnya. Siwon merasa senang bisa menatap mata itu lagi.

“Gwaenchana?”tanyanya lembut.

Miyoung mengangguk. Lalu memberi isyarat agar Siwon melepaskan tangannya dari mulutnya.

“Oh, mian.”

“Ne. Gumawo.”

“Kenapa mereka mengejarmu?”

“Ceritanya panjang.”

“Aku punya banyak waktu untuk mendengarkan.”

Miyoung berpikir sejenak.

Anak buah Junsu sudah sampai ke tempat ini. Aku, Bora dan Sehun bisa jadi dalam bahaya. Jika ingin selamat, aku harus secepatnya mendapatkan kalung itu dan pergi dari Korea.

“Kalau aku bilang aku adalah Tiffany, apa kau akan percaya?”

***

 

Seorang namja keluar dari pintu kedatangan di bandara Incheon. Namja lain yang lebih muda darinya menyambutnya dengan hangat.

“Selamat datang kembali ke Korea, Hyeong.”

“Gomawo, Taeminie.” namja yang baru datang itu pun memeluk Taemin seperti memeluk adiknya sendiri.

“Kajja. Aku akan antarkan Hyeong ke rumah.”

“Ne.”

Mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Taemin yang mengemudikan mobil sedangkan namja yang dijemputnya di bandara sedang memperhatikan dua lembar foto yang diberikan Taemin padanya.

“Bagaimana menurut Hyeong?”

“Gadis ini benar- benar seperti Tiffany. Dari mana kau mendapatkannya?”

“Anak buah Kim Junsu sedang mengincar gadis itu. Kabarnya dia dan kelompoknya berhasil mencuri perhiasan termasuk kalung paling berharga milik Junsu. Aku mendapat info itu dari salah satu temanku, Henry yang bekerja di bar milik Jun Brothers. Katanya gadis itu menyamar sebagai pelayan bar sebelum melakukan pencurian.” Taemin menjelaskan sambil terus menyetir.

“Jadi dia seorang pencuri?”

“Hmm.”

“Di mana dia sekarang?”

“Masih belum ditemukan. Tapi aku juga sudah menyebar orang untuk mencarinya. Aku tahu Hyeong pasti menginginkannya kan?”

Pemuda itu tidak menjawab. Pandangannya menerawang jauh ke jalan di depannya. Pikirannya kembali pada peristiwa dua tahun yang lalu.

 

“Anneyong, chagiya. Senang bisa melihatmu lagi.”

“K—Kyu,,,”

“Wae? Kau kaget?” Kyuhyun tersenyum licik dan bergerak maju mendekati Tiffany. Tiffany otomatis mundur menghindari Kyuhyun. Bukan tanpa sebab, Kyuhyun yang sekarang berada di hadapannya tidak seperti Kyuhyun yang dikenalnya. Kyuhyun terlihat seperti seorang pemburu yang baru saja berhasil menangkap mangsanya. Tiffany terus bergerak mundur secara perlahan.

“Kau takut melihatku? Kau ketakutan melihat calon suamimu sendiri huh?” Kyuhyun mencengkram pergelangan tangan Tiffany.

“Lepas Kyu,,, appo.”Tiffany meringis, ia berusaha melepaskan cengkraman kyuhyun, tapi tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan Kyuhyun.

“Sakit kau bilang? ini tidak seberapa dibanding yang kurasakan disini.” Kyuhyun menepuk dada kirinya.

“Mianhae—“lirih Tiffany setengah memohon.

“Mian? Kau pikir itu cukup setelah semua yang kau lakukan padaku? Kau berselingkuh dengan oppamu sendiri. Kau meninggalkanku. Meninggalkan pernikahan kita. ” suara Kyuhyun yang meninggi, membuat Tiffany semakin ketakutan. Cairan bening keluar dari kedua sudut matanya.

“Uljima, chagi. Aku datang kesini bukan untuk melihatmu menangis. Aku kesini untuk menjemputmu. Kita akan pulang dan meneruskan pernikahan kita yang tertunda.”

“Andwae…lepaskan aku Kyu, aku sudah menikah dengan Siwon oppa. Jebal…tinggalkan aku.”

“Tidak akan pernah. Kau adalah milikku dan selamanya akan jadi milikku, Tiffany.”

 

“Hyeong!!! Kyuhyun Hyeong, gwaenchana?” Suara Taemin menyadarkannya.

“Nde?”

“Kau melamun.”

“Aku hanya lelah dan ingin cepat sampai ke rumah.”

“Arra. Sebaiknya Hyeong tidur saja. Akan kubangunkan jika sudah sampai.”

Kyuhyun pun mengikuti saran Taemin. Ia tertidur. Dalam mimpi dilihatnya Tiffany yang berdiri tersenyum sambil membalas lambaian tangannya di bandara sebelum ia kembali ke Jepang dua tahun yang lalu, saat Tiffany membalas pernyataan cintanya.

Kyuhyun tersenyum dalam tidurnya. Hanya itulah mimpi indah yang dimilikinya bersama Tiffany. Selain itu, sama seperti Siwon, Kyuhyun melalui malam- malam dengan mimpi buruk tentang Tiffany.

 

 

To be continued…

 

Part ini kuselesaikan ditengah kegalauan setelah mendengar berita KhunFany.

Sumpah, patah hati banget.

Akhirnya aku dengerin lagu ‘Someday’-nya Super junior buat nemenin aku nulis.

Semoga suatu hari nanti hati Siwon dan Tiffany bisa bertemu. Dan mereka bener2 bersatu di dunia nyata. Mungkin mereka cuma belum menyadari cinta mereka seperti yang dibilang suju di lagu ‘Someday’ itu. Amiin.

See U J

108 thoughts on “(AR) Somebody To Love Part 1

  1. JANGAN JANGAN MIYOUNG SAMA TIFFANY ITU KEMBARANN. kenapa baru nyadarr. Eh tapi belum tentu juga sih ya/? Thorr ayo lanjutin dongg, udah setahun jangan jangan ga dilanjutin😦 penasaran sama lanjutannya. Kita tunggu lanjutannya ya thor😘

  2. Dilanjutin donk ffnya thor.masa sih miyoung jadi pencuri.apa benar kalo miyoung itu tiffany…? mudah2an iya.Amin.sampai sekarang kyuhyun masih mencari fany,kyuhyun absesi banget ama fany ya.penasaran nih thor,dilanjutin donk thor ffnya ya.ditggu nih thor.tetap semangat ya thor.
    Author jjang.sifany jjang.

  3. Omo….berarti fany n kyuhyun terslmt dr kecelakaan itu ya…
    Cmn fanyah hilng ingatan kahh…
    Eahh…trus gmn kelnjutan mreeka nti”??
    Apa mungkin fanyah kembali ingatannya n memilih siwon or kyuhyun…?
    Jng smpe fanyah ketemu lg ma kyuhyun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s