OUR STORY SERIES “2nd-With U”

sa

 

WITH U

 

With U©Song Haneul
Publish by Sifany Island

 

oOoOo

 

Main Cast

Choi Siwon [Super Junior] || Tiffany Hwang [Girl’s Generation]

Genre

Romance || Hurt || Sad

Length

Oneshoot

Rating

 PG 17

Category

Fanfic

Summary

Tempatku adalah bersamamu.

 

Hurt

 

 

 

 

 

Author POV

 

 

Ting Tong …. Ting Tong ….

 

 

Suara bel yang berasal dari luar ruangan tersebut terus berbunyi. Bisa dipastikan orang yang melakukannya tak sabar untuk segera dibukakan pintunya. Dan, dari arah sebuah kamar yang didalamnya didominasi dengan warna pink tersebut, keluar sesosok wanita yang masih mengenakan paju tidurnya yang juga berwarna pink dengan rambut yang berantakan dan wajah sayu layaknya orang yang baru terbangun dari tidur panjangnya.

 

Kaki jenjangnya melangkah menuju pintu dorm yang sepertinya kedatangan tamu yang tak diundang. Wanita itu mendengus sebal. Mengingat orang tersebut mengganggu waktu tidurnya itu.

 

Sebelum benar-benar membuka pintu tersebut. Tiffany Hwang. Wanita yang sejak tadi menggerutu sebal mendengar suara bel yang terus berdenting, melihat kearah intercom. Untuk mengetahui siapa orang yang telah mengganggunya pagi-pagi seperti ini.

 

“Oppa?”

 

Tiffany terkejut, dengan kedua mata yang melebar penuh ketika mengetahui siapa orang yang sejak tadi diumpatnya. Tanpa pikir panjang lagi, wanita itu bergegas menuju pintu dormnya. Bersiap membukakan pintu tersebut untuk laki-laki yang sangat dikenalnya tersebut.

 

Clekk …

 

 

“Op-”

 

“Kau lama sekali sih?” belum sempat Tiffany berkata, laki-laki tersebut langsung masuk seenaknya. Tak memperdulikan wajah terkejutnya Tiffany, melihat tindakan laki-laki tersebut.

 

Merasa ada yang aneh, laki-laki itu membalikkan badan. Dan, mengernyitkan keningnya. Merasa heran, melihat Tiffany yang masih mematung ditempatnya.

 

“Apa yang kau lakukan disitu? Kau tak ingin menyambut tamumu ini?”

 

Tiffany mengerjakan kedua matanya. Tersadar akan kebodohannya. Digeleng-gelengkan kepalanya ringan. Dan segera menutup pintu tersebut dengan rapat. Melihat tingkah aneh Tiffany. Laki-laki itu hanya menggedikan bahunya tak peduli. Dihempaskannya, tubuh tegapnya tersebut diatas sofa berwarna putih tulang itu. Dan memejamkan matanya sesaat, sebelum sebuah suara yang berasal dari Tiffany mengganggu ketenangannya.

 

“Apa yang oppa lakukan?”

 

“Duduk. Sambil memejamkan mata. Emmm, berusaha tidur.”

 

Tiffany mengangkat sebelah alisnya, “aku bertanya padamu oppa.”

 

“Dan aku sudah menjawabnya.” Jawab laki-laki itu enteng.

 

Tiffany membuang napas kasarnya, lalu bergerak menuju sisi laki-laki tersebut. Terduduk disampingnya, menatap laki-laki yang telah mengisi hari-harinya tersebut dalam diam. Tangannya terulur merapihkan rambut laki-laki tersebut yang terlihat berantakan dengan lembut, membuat laki-laki tersebut tersenyum senang. Masih dengan mata yang tertutup.

 

“Aaaaaaa.”

 

Laki-laki tersebut menarik tangan Tiffany dengan cepat, membuat tubuh wanita tersebut menimpa tubuh kekarnya. Meletakkan kepala wanita tersebut diatas dada bidangnya. Membiarkan Tiffany mendengar detak jantungnya yang berdetak begitu cepat ketika ia berada disekitar wanita yang memiliki eye smile tersebut.

 

“Siwon oppa, apa yang kau lakukan?” Tiffany berontak, ingin melepaskan pelukan sepihak Siwon itu. Merasa panas dingin, ketika telinganya mendengar detak jantung Siwon yang berdetak sama persis seperti detak jantungnya saat ini.

 

“Aku ingin terus seperti ini.”

 

Tiffany langsung terdiam dan menghentikan aksi pemberontakannya ketika suara Siwon menginterupsi dirinya. Wanita itu mendongakkan wajahnya. menatap Siwon tak mengerti.

 

Siwon yang sejak tadi tidak benar-benar tertidur, membuka matanya secara perlahan. Dan menundukkan wajahnya. Menatap wajah Tiffany yang sedang memandangnya penuh tanya. Laki-laki itu tersenyum senang, melihat wajah cantik itu terlihat menggemaskan ketika sedang bingung seperti ini. Tanpa sadar, memajukkan wajahnya. Dan memberikan kecupan singkat, tepat diatas bibir ranum milik Tiffany.

 

“Yak!” Tiffany langsung membelalakan matanya, dan melepaskan diri dari pelukan Siwon. Menatap garang laki-laki dihadapannya itu.

 

“Wae?” tanya Siwon polos. Dan, detik itu juga Siwon mulai merasa terancam keberadaannya. Tangannya mulai meraba disekitar sofa tersebut. Mencari sesuatu yang mungkin, bisa melindungi nyawanya. Yah. Seperti. Bantal, misalnya.

 

“Ya, ya. Appoooo!” Siwon berusaha menghindari pukulan Tiffany yang dilayangkan kearah tubuhnya secara bertubi-tubi. Dan Tiffany sepertinya tak memperdulikan suara teriakan Siwon yang merintih kesakitan.

 

“Appo!” teriak Siwon.

 

“Appo? Rasakan ini, hah! Siapa suruh oppa menciumku?” teriak Tiffany kesal, masih memukuli tubuh kekarnya Siwon.

 

“Hentikan. Jebalyo!” mohon Siwon masih berusaha menghindari serangan Tiffany.

 

“SHIREO!”

 

“Awwww, Yak!”

 

Keduanya masih sama sibuk dengan kegiatan mereka. Tiffany yang terus memukuli tubuh Siwon dan Siwon sendiri yang terus berusaha menghindari amukan Tiffany.

 

Hingga akhirnya, Siwon merasa sangat frustasi merasakan sakit ditubuhnya karena pukulan wanita didepannya tersebut. Lalu, dengan gerakan cepat. Siwon mencekram erat kedua tangan Tiffany, lalu mendorong tubuh wanita tersebut kebelakang sofa. Membuat Tiffany terjatuh. Dengan tubuh Siwon yang berada diatasnya.

 

Mata Tiffany terbelalak, apalagi ketika ia menyadari posisi Siwon yang berada tepat diatasnya. Mencengkram erat kedua tangannya.

 

Keduanya masih terdiam, saling memandang satu sama lain. Merasakan detak jantung yang bergerak cepat didada mereka. Menyesapi hembusan napas keduanya yang saling menerpa wajah mereka masing-masing.

 

“Appo.” Ucap Siwon sedikit mengerucutkan bibirnya.

 

“Tsk, kau pikir kau terlihat bagus dengan bibir yang seperti itu? Kau tak ingat umurmu,eoh?” tanya Tiffany sinis.

 

“Kau ini galak sekali, chagi.”

 

“Yak!” Siwon menjauhkan wajahnya, tangan satunya terlepas menepuk-nepuk kedua telinganya yang berdengung ketika mendengar teriakan Tiffany.

 

“Kau ini kenapa?” tanya Siwon kesal, masih betah diposisinya saat ini. Berada diatas Tiffany.

 

“Kau yang kenapa? Menciumku? Lalu memanggil aku chagi.” Tiffany mendorong kuat Siwon. Namun tak berhasil karena kekuatan Siwon yang terlalu kuat, untuk wanita itu lawan.

 

“Ehehehe…” Siwon nyegir tanpa rasa bersalah. Menampilkan wajah polosnya. Membuat Tiffany mendengus kesal.

 

“Menyingkirlah, oppa.” Ucap Tiffany sambil mendorong tubuh Siwon untuk menjauh dari atas tubuhnya.

 

“Sebentar saja.” Kata Siwon pelan.

 

Lalu Siwon memeluk gadis itu lembut, membenamkan wajahnya pada leher Tiffany. Menghirup kehidupannya disana.

 

“Anggap saja, itu bahan untuk kita belajar. Sebelum kita benar-benar menjadi sepasang kekasih.”

 

 

***

Tiffany POV

 

          Siwon oppa memelukku dengan lembut. Membenamkan kepalanya pada lekukan leherku. Yang katanya, adalah sumber kehidupannya. Tempat dimana dia akan menghirup oksigennya sebanyak-banyaknya dan setelahnya baru dia akan mampu untuk melanjutkan hidupnya.

 

“Anggap saja, itu bahan untuk kita belajar. Sebelum kita benar-benar menjadi sepasang kekasih.” Ucapnya pelan. Sangat pelan, hingga aku hampir saja tak mampu mendengarnya.

 

Tubuhku tiba-tiba melemah. Entah mengapa, setiap kali pembicaraan ini menyangkut tentang satu masalah yang sama. Aku tidak mampu untuk berfikir dengan baik. Semua terasa memusingkan dan membuatku kacau.

 

Alih-alih menjawab pertanyaan laki-laki yang tengah mendekapku ini. Aku pun ikut membenamkan wajahku dibahunya. Bisakah, aku berkata jujur. Bukan hanya dia yang menggapku adalah sumber kehidupannya. Karena akupun menggantungkan hidupku dibahunya ini. Bahu tegapnya. Tempat dimana aku melampiaskan segala perasaanku. Airmata dan kebahagiaanku. Kutenggelamkan dibahunya ini.

 

Aroma mint bercampur kesejukan pohon pinus melekat erat disekujur tubuhnya. Aroma favoritku. Dan tanpa sadar, kugigit bahunya. Karena merasa gemas dengan semua tingkah laku laki-laki yang masih betah memelukku ini.

 

“Kau suka sekali menggigitku?” katanya terdengar kesal. Membuatku terkikik dipelukannya.

 

“Wae?” tanyanya. Kini wajahnya sudah terangkat dan menatap heran kearahku.

 

Apa? Salahkah aku tertawa? Tsk. “Anio.”

 

“Tsk,” dia melepaskan pelukannya dan mulai kembali duduk tegap ditempatnya. Membantuku bangun dari posisiku yang tak mengenakan ini.

 

“Aku akan menemanimu seharian ini.” aku mengernyit. Apa yang dikatakannya barusan? Menemaniku? Memangnya kenapa?

 

“Hari ini kalian liburkan? Dan semua membermu pulang kerumah keluarganya masing-masing. Jadi, aku yang akan menemanimu disini. Mumpung suasananya mendukung.” Ucapnya menggoda pada akhirnya. Heol, apa aku perlu melempar laki-laki ini kejurang?

 

“Apa maksud oppa?” tanyaku dengan menampilkan wajah datarku.

 

“Ehehehe, mian. Bercanda.” Ucapnya sambil memberi tanda peace dengan jari telunjuk dan jari tengahnya yang terbuka.

 

Aku menghembuskan napas kasarku, lalu menyandarkan kepalaku pada bahunya.

 

“Waegeure?”

 

Kugelengkan kepalaku pelan. Terdiam. Kami masing-masing saling membisu satu sama lain. Hingga, Siwon oppa memulai kembali percakapan diantara kami. “Kau merindukan appamu?”

 

Ya, dia benar. Entah mengapa, Siwon oppa selalu tau apa yang kurasakan. Apa yang kupikirkan. Dan itu cukup mengerikan.

 

“Apa sudah menghubungi appamu?”

 

“Belum. Aku belum sempat menghubunginya.” Kurasa dia menganggukan kepalanya, setelahnya dia ikut menyenderkan kepalanya diatas kepalaku. Tangannya pun mengelilingi pinggangku dari samping.

 

Bisakah aku menghentikan waktuku. Seperti ini. hanya ingin selalu seperti ini. Bisakah? Tsk, baboya Tiffany. Kau, kenapa begitu naïf, eoh? Kau yang selalu mendorongnya menjauh. Tapi sekarang kau berharap terus seperti ini dengannya? Arra, kenapa aku seperti orang gila yang ngomel-ngomel sendiri. Hah, tapi aku sungguh-sungguh dengan ucapanku tadi. Aku ingin lebih lama lagi seperti ini.

 

“Oppa.”

 

“Nde.” Tangannya makin mengeratkan pelukannya ditubuhku.

 

“Aku dengar kau sedang dekat dengan salah satu trainee SM. Nugu?” tanyaku padanya. Ketika aku mengingat kembali percakapanku dengan para member yang tengah membicarakan beberapa artis SM. Yah, kebiasaan perempuan kalau tidak ada kerjaan tentunya. Bergosip.

 

Entah apa sulitnya menjawab pertanyaanku ini, Siwon oppa terdiam cukup lama. Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk memandangnya. Dan kulihat wajahnya yang terlihat sedang berpikir keras. Seperti mengingat-ingat sesuatu. Apa yang dipikirkannya? Serius sekali.

 

Siwon oppa balik memandangku, dan bisa kulihat tatapan matanya yang terlihat berbeda. “ Mwo?” tanyaku waspada.

 

“Kau… cemburu?” tanya dengan senyum yang menyerigai. Membuatnya terlihat lebih menakutkan dibandingkan Kyuhyun oppa yang terkenal dengan senyum setannya itu.

 

“Ani.” Elakku. Kupalingkan wajahku untuk tak menatapnya. Memandang kearah manapun asal tidak menatap wajahnya.

 

“Jinjja?” tanyanya lagi. Suaranya terdengar kecewa ketika mendengar jawabanku tadi. Apa aku salah menjawab?

 

Kurasakan tangannya mulai bergerak melepas pelukannya ditubuhku. Ya Tuhan, aku sepertinya membuat kesalahan lagi. Siwon oppa memegang kedua sisi tanganku, menghadapkan tubuhku kearahnya.

 

“Kenapa kau tak pernah cemburu ketika aku bersama wanita lain?”

 

“Kenapa aku harus cemburu?” tanyaku.

 

Siwon oppa menghembuskan napas pelan, dan melepas pegangannya pada tanganku.

 

“Benarkah kau mencintaiku? Kau- hah. Molla.” Kulihat wajahnya yang begitu frustasi menghadapi sikapku ini.

 

“Kenapa oppa selalu menanyakan itu?”

 

Dia kembali menatapku, setelah sebelumnya menundukkan kepalanya. “Karena kau tak pernah cemburu padaku.” ucapnya sambil kembali mengerucutkan bibirnya. Aigoo, dia itu, aishh.

 

“Apa cemburu bisa membuktikan rasa cinta seseorang?” tanyaku malas menanggapi tingkahnya. Kulihat dia mengangguk cepat. Dan setelahnya, menunduk dalam.

 

Plakk …

 

 

“Auwww…”

 

“Kenapa memukulku?” tanyanya kesal. Dengan matanya yang mendelik kearahku.

 

“Kenapa kau bodoh sekali oppa? Aishh, imagemu benar-benar hancur dimataku.”

 

“Aku tidak peduli dengan imageku.” Katanya ketus.

 

“Aku tidak akan cemburu. Tidak akan.” Dia membelalakan matanya. Menatapku penuh kekesalan yang sepertinya akan memuncak sebentar lagi.

 

“Neo…”

 

“Aku percaya padamu oppa. Hatiku mempercayaimu.” Ucapku penuh penekanan, mengehentikan segala ucapannya.

 

Kulihat Siwon oppa terdiam. Aku mengambil napas dalam-dalam, dan menatapnya teduh.

 

“Aku tahu kau tak pernah menyukai wanita-wanita itu. Kau masih mencintaiku. Masih berada ditempatmu berada.”

 

Siwon oppa menghela napasnya, lalu menatapku sayu. Apa kini, dia kembali berpikir tentang ketidakpastian hubungan diantara kami berdua? Haruskah ini terus diungkit setiap kali kami berdua? Tidak bisakah semua berjalan apa adanya. Aku tak ingin terus menyakitinya.

 

“Tau darimana aku masih berada ditempatku? Kalau ternyata aku mencintai wanita lain sekarang. Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya

 

“Tidak ada,” aku kembali mengambil napas panjang sebelum melanjutkan ucapanku. “Kau tidak akan mungkin berada disini sekarang, jika kau mencintai wanita lain. Meluangkan waktumu untuk nappeun yeoja sepertiku. Kau, oppa. Tidak akan memelukku dan menatapku selembut ini. Jika memang kau mencintai wanita lain.”

 

Kulihat kedua sudut bibirnya terangkat. Mengukir senyum kecil yang membuat diriku melayang, merasa kehilangan pijakanku. Walau hanya melihat senyum sekecil itu.

 

“Aku masih berusaha oppa.”

 

“Tolong jangan lelah untuk menungguku.” Ucapku lagi. Memohon lewat sorot mataku, berharap dia mampu untuk menangkap sinyal dariku untuknya. Aku sangat mencintainya. Hanya itu yang ingin kusampaikan.

 

“Aku tidak akan lelah. Mungkin, nanti keegoisanku akan semakin memuncak dan menyakitimu. Tapi percayalah, aku tidak akan lelah Fany-ah. Tidak sekalipun. Dan kuharap, kau juga tidak akan lelah menghadapiku.” Siwon oppa mengulum bibirnya. Memberikan senyum terbaiknya.

 

Kami tertawa begitu saja, lalu tangannya terulur mengusap rambutku.

 

“Siwon oppa, kau belum menjawab pertanyaanku.”

 

“Mwo?” tanyanya, masih dengan senyum yang merekah dibibirnya.

 

“Siapa trainee itu? Kau tau? Aku sangat penasaran, karena para member membicarakannya setiap saat. Mereka selalu bertanya-tanya sendiri siapa trainee itu.” Tanyaku, dengan rasa penasaran yang tinggi.

 

“Kau bilang tidak cemburu. Kenapa malah menanyakannya lagi, eoh?”

 

Kuhela napas kasar. “Oppa, apa salah aku bertanya? Siapa tau aku bisa mengklarifikasi masalah ini. Supaya tidak jadi gossip yang tak jelas.”

 

Siwon oppa mendengus, ketika mendengar aku menjelaskan maksudku. Apa yang salah? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.

 

“Kenapa tidak kau bilang saja. Kau berpacaran denganku, dan aku sama sekali tidak punya hubungan dengan wanita manapun kecuali dirimu. Gampangkan.”

 

Mwo? Apa katanya? Mengatakan kami pacaran? Apa dia ingin membunuhku?

 

“Kenapa aku harus mengatakan itu? Itu namanya aku membohongi mereka.”

 

“Kalau begitu. Pacaranlah dengaku. Jadi, kau tidak perlu takut untuk dikatakan membohongi mereka.” Aku menatap tak percaya laki-laki tampan dihadapanku ini.

 

“Bukankah aku su-”

 

“Arra, arra. Nan arraseo. Kau. Mau membuktikan bahwa kau pantas untukku dulu bukan? Arraaa.” Ucapnya sedikit kesal dengan wajah yang memberenggut didepanku.

 

Membuatku tak dapat menyembunyikan senyum diwajahku. Alih-alih membiarkannya terus menampakkan wajahnya yang seperti itu. Wajahku dengan cepat mendekati wajahnya. Dan mencium cepat pipi kanannya. Membuat Siwon oppa membelalakkan matanya tak percaya melihat aksiku tadi. Ahahaha, dia pasti sangat terkejut.

 

“Mwooyaa. Kau sepertinya benar-benar mencintaiku Tiffany-ssi.” Godanya sambil mengerlingkan matanya kepadaku.

 

Aku hanya menatap kesal dengan bibir yang kumajukan. Menandakan aku tak suka digoda seperti itu. Terlebih aku merasa wajahku memanas saat ini, dan aku yakin kini warna wajahku sudah berubah menjadi merah padam. Memalukan.

 

“Ahahahaha, lihatlah! Kyeopttaaa…..”

 

“Aaaaa, appo!” kulepas dengan kesal kedua tangannya yang baru saja mencubit kedua pipiku.

 

“Ehehehe, kau manis sekali Tiffany.” Ucapnya lembut.

 

***

Siwon POV

 

          Tiffany menjerit kesakitan, dan melepas paksa tanganku yang mencubit pipinya tersebut.

 

“Ehehehe, kau manis sekali Tiffany.” Ucapku lembut. Memndangnya dengan senyum yang terus merekah diwajahku.

 

Kulihat wajahnya yang masih cemberut. Dia pasti kesal karena aku mencubit pipinya. Ya, Tiffany Hwang. Gadis yang kucintai ini memang paling tidak suka jika aku mencubitnya.

 

“Kau menyebalkan oppa.” Gerutunya, sambil mengusap-usap kedua pipinya. Oh, apa benar-benar menyakitkan?

 

“Gweanchana? Apa benar-benar sakit?” tanyaku khawatir.

 

“Nde! Apposeo!” ucapnya dengan nada tinggi. Oke, sepertinya itu memang benar-benar sakit.

 

“Mianhaeyo, oppa hanya gemas melihat wajahmu.” Kataku pelan, penuh penyesalan. Dan kuharap, dia tidak akan mogok bicara padaku. Seperti kejadian 2 bulan yang lalu.

 

“Ahahahahaha…..” aku mengernyit heran melihatnya tiba-tiba tertawa. Tunggu! Jangan bilang…

 

“Kau mengerjaiku?” tanyaku kesal.

 

“Ahahaha, oppa kau lucu sekali. Ahahaha.” Kulihat Tiffany yang begitu puas menertawaiku. Hingga airmatanya keluar, membasahi matanya. Ya, ya. Tertawalah.

 

Aku mendengus, dan tanpa sadar ikut tersenyum melihatnya tertawa seperti ini. Matanya yang begitu bersinar, dengan lengkungan yang sempurna pada kedua kelopak matanya itu. Membuatnya semakin mempesona.

 

Haruskah aku mengatakannya pada wanita ini? Bahkan tanpa dia harus berusaha menyulitkan dirinya untuk bisa dianggap pantas untukku. Sesungguhnya, dia lebih dari segala hal tentang diriku. Dia wanita terhebat dan paling mempesona dimataku. Tidakkan itu lebih dari cukup. Aku bahkan tak memperdulikan apapun yang orang katakan tentangnya. Bagiku. Selama dia baik-baik saja. Dan dapat terus tertawa bahagia itu sudah cukup untukku. Karena keberadaannyapun telah mengalahkan seluruh system kerja tubuhku. Melemahkan semua organ tubuh seorang Choi Siwon ini. Choi Siwon, yang menurutnya terlalu besar dan tinggi untuk dijangkaunya. Tidakkah dia menyadarinya, dia jauh lebih berarti. Jauh lebih baik dariku.

 

“Oppaaaa…”

 

“Eo..eohh?” aku tersentak  kaget, ketika tangan putihnya itu bergerak-gerak didepanku. Menyadarkanku dari lamunanku. Aish, akhir-akhir ini aku sering melamun hanya untuk memikirkan segala hal tentang wanitaku ini. Tiffany Hwang.

 

“Aku bertanya padamu oppa.” Tanyanya lembut. Eh, sejak kapan Tiffany berhenti tertawa?

 

“Mwo? Tentang trainee itu?”

 

Dia mengangguk, dan tersenyum simpul. Tsk, sepertinya dia benar-benar tak cemburu tentang berita itu. Aishh, jangan pikirkan itu lagi Choi Siwon!

 

“Siwon oppa!”

 

“Nde! Emm, itu… aish, Tiffany kau tau ‘kan aku orang yang mudah dekat dengan semua orang yang kukenal?” dia mengangguk kecil. “Dan tentu kau juga tau, aku terkenal dengan sebutan Mr. Skinship.”

 

“Itu tidak perlu diragukan lagi.” Jawabnya tenang. Aku melongo, menatap tak percaya atas jawabannya yang terkesan biasa saja.

 

“Yah, seperti itulah. Tapi aku hanya ingin bersikap ramah dan sopan saja. Hanya itu da-”

 

“Jadi oppa… apa intinya?” aku menggaruk rambutku yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Merasa tak enak hati, karena menjawab pertanyaannya dengan penjelasan yang bertele-tele.

 

“Jadi. Aku tidak ada hubungan apapun dengan trainee itu. Tidak sama sekali. Sungguh.” Dia mengangguk paham. Ahh, aku jadi penasaran apa yang dirasakannya ketika mendengar berita itu. Tapi? Apa nantinya aku akan mengecewakannya lagi? Takut, dia menganggapku tak mempercayainya.

 

“Aku tidak suka.”

 

Kepalaku terangkat, masih sedikit linglung dengan maksudnya. “Mwo?”

 

“Aku tidak suka orang membicarakan oppa seperti itu. Mengatakan kalau oppa adalah laki-laki yang terlalu mudah berdekatan dengan banyak wanita. Mempermainkan perasaan wanita yang telah mengharapkan oppa. Aku tidak suka mendengarnya. Karena aku tahu, oppa bukan laki-laki yang seperti itu.”

 

Aku kembali menyimaknya. Yah, hal yang paling menyenangkan ketika dia –Tiffany Hwang–. Mengungkapkan perasaanya tentang diriku. Membuatku merasa begitu disayanginya.

 

“Dibandingkan dengan kata cemburu. Aku lebih ingin dibilang aku tidak menyukai pemberitaan itu. Mencemburui seseorang itu lelah oppa. Karena kita hanya akan terus terbawa pikiran negatif dan berakhir negatif pula. Aku ingin memprotekmu, menyelamatkan dari segala hal yang negatif itu. Begitulah caraku mencintaimu.”

 

“Berhentilah membuatku terlalu mencintaimu, Tiffany Hwang.” Ucapku tajam. Dan dapat kulihat, tubuhnya yang menegang ketika mendengar ucapanku.

 

“Berhentilah! Atau aku akan memilikimu sekarang juga,” ucapku lagi. “Kau tahu, kau yang terlalu bersinar untukku. Membuatku sulit untuk melihatmu, sulit untuk menjangkaumu. Kau sosok sempurna untukku. Tidakkah kau sadar itu?”

 

Kami terdiam. Sejenak kubiarkan dia berfikir. Dan memahami maksudku.

 

“Jangan terlalu merendah Tiffany. Tidak ada satupun didunia ini yang selalu berada diatas. Mungkin saat ini, aku berada ditempat tertinggiku. Dipuja dan dieluk-elukkan. Dan aku, tidak tahu apa yang akan terjadi pada 1 tahun kemudian, 2 tahun, 5 tahun atau 10 tahun mungkin. Dan selama itu pula. Bahkan walaupun kau butuh waktu selama itu untuk menunggu berada ditempat yang sama denganku. Bukankah cinta itu akan jadi obsesi belaka nantinya? Tapi meskipun nantinya tetap seperti itu, aku akan tetap menunggumu. Memastikanmu menjadi milikku.”

 

“Mereka. Tidak tahu siapa kita Tiffany. Mereka tidak tahu kau terbaik untukku. Tidak tahu, jika kau menghilang dari hidupku. Apalah aku ini? Tanpa harus menunggu 1 tahun, 2 tahun, 5 tahun dan 10 tahun. Aku telah hancur Tiffany. Apa kau mau buktinya? Maka, tinggalkanlah aku. Berlarilah dengan laki-laki lain. Dan saat itu, kau akan tahu. Orang-orang yang kau bilang fansku. Orang-orang yang kau bilang begitu menyangiku, melebihi dirimu. Akan jauh lebih sakit, ketika melihat aku terluka dan hidup bagaikan mayat. Maukah kau lihat itu?”

 

“Aku hanya ingin kau tahu. Walaupun aku tidak memilikimu sebagai kekasihku. Aku akan tetap mencintaimu. Aku, akan berusaha tetap ditempatku. Aku janji. Tapi, berhenti membuatku semakin menggilaimu. Karena keegoisanku ini begitu besar untuk memilikimu sekarang juga.”

 

Aku mengatur napasku yang tercekat, begitu aku menyelesaikan kata-kataku. Akhirnya, aku bisa mengatakan padanya. Setidaknya dia harus tahu. Dia jauh lebih berarti, tanpa harus dia mengubah apapun. Dan berusaha untuk pantas bagiku. Karena hanya dia yang seperti ini. Sudah mampu bersanding ditempatku. Karena memang hanya dia. Wanita yang terbaik, yang telah kutetapkan sebagai wanita terakhirku.

 

“Aku mencintaimu oppa. Dan aku ingin selalu bersamamu. Tunggu aku. Sebentar saja.” Kutatap matanya dalam. Dia. Tiffany Hwang. Bukanlah wanita yang mudah mengatakan cinta padaku. Maka dari itu, ketika kata cinta itu keluar. Aku pastikan bahwa tempatku hanya untuk dirinya. Dan tempatnya hanya untukku.

 

 

[end]

 

 

 

Annyeonghaseyo, ketemu lagi sama Song Haneul. J

Sebelumnya terimakasih untuk Dhydi yang ternyata masih yimpen Fanfic aku yang sudah aku buat. Hiks….

 

Fanfic ini sebenernya udah lama dibuat. Intinya ini dibuat setelah admin buat OUR STORY –Hurt. Tapi, karena Laptop admin rusak dan semua data hilang. Admin ga bisa untuk mempublishnya. Begitu pula degan semua Fanfic yang sudah admin buat. Huaaa, sedih jadinya.

Tapi untungnya, ada salah satu teman admin yang masih menyimpan beberapa Fanfic admin. Karena dia selalu menjadi pembaca pertama Fanfic admin. Gomawo sekali lagi Dhydi.

 

Admin juga mau bilang. Untuk semua prophet, jangan terus galau ya. Apapun yang terjadi kita tetep prophet. Keluarga yang saling mendukung Sifany. Apapun pilihan mereka. Berarti itu yang terbaik. Ayo, kita tetap cintai mereka dengan cara kita. Jangan jadi fans yang ga baik buat mereka. Dan merusak nama mereka hanya karena keegoisan kita. Sekarang ini yang perlu kita lakukan adalah terus dan selalu dukung keduanya. Jikapun mereka memiliki pasangan masing-masing. Berdoa saja semoga memang keduanya bahagia.

 

Dan juga, maukah FF series ini dilanjut? Jika iya, apa kalian punya ide untuk cerita selanjutnya? Kalau ada, kalian bisa memberikan ide kalian di kolom komentar.

 

Cukup sekian. Next see u time. Pyonggg~

 

106 thoughts on “OUR STORY SERIES “2nd-With U”

  1. GoodJob thor,kereen,lanjuut bikinin sequel yah.,penasaran knp Tiffany masih meragukan Siwon oppa, buat next story request genre cerita yg penuh tantangan sblum Sifany bersatu,bersama slmanya🙂 oya,yg Happy End ia eon?😀

  2. Daebak admin.bagus ffnya admin.saya suka.
    Pingin banget siwin dan fany bersatu dan tanpa ada halangan apapun.ditggu ya lanjutannya min.
    Tetap semangat admin.keep writing.admin jjang.
    Sifany jjang.

  3. Br kali ini FF yg dibwt bs tunjukkn kita bhwa kbhgiaa fans diats kbhgiasn kita. ini yg hrs dijlni sifany krn mrk ingin bnr2 dpt restu dr fans yg cintai mrk.
    tp q jg heran smpe mrk bisa pendam hati mrk pdhl mrk yg sm sprti kita yg ingin rasakn bhgia.
    so q hrp mrk bs bsm n ayo dkg mrk appun keadaan mrk.so ttp ditunggu lnjutanny^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s