(AD) Could It Be Love Part 2

Could It Be Love?

Cibl
@echa_mardian
Cast : Choi Siwon, Hwang Miyoung
Genre : Romance, Hurt, Sad
Rating : PG 17

Part 2

Miyoung terbangun dari tidurnya karena sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kamar. Syukurlah hujan telah berhenti, batin Miyoung. Ia masih merasakan sedikit pusing dan mual. Tubuhnya pun lelah sekali. Miyoung bergerak resah di dalam selimut kemudian meneliti sekelilingnya. Ia berada di bawah selimut yang hangat dengan pakaian lengkap namun terlalu besar di tubuhnya. Ia tahu kalau itu pakaian laki-laki.
Miyoung menoleh ke pria yang berbaring di sampingnya. Jantungnya berdegup kencang. Siwon terlelap seperti bayi dan sebelah tangannya melingkar di pinggang Miyoung. Miyoung menatapnya sendu. Jika dalam keadaan tidur seperti ini, tidak ada seorangpun yang menyangka kalau Siwon adalah pria brengsek yang telah merenggut kesuciannya. Ia tampak seperti anak kecil yang polos dan lembut.
Perlahan Miyoung menyingkirkan handuk kecil di keningnya lalu menempelkan tangan disana. Sudah tidak panas lagi. Ia memandang Siwon sekali lagi. Apakah pria ini terjaga semalaman untuk mengganti kompres secara teratur? Miyoung melepaskan diri dari dekapan Siwon lalu turun dari ranjang. Ia ingin buang air kecil.
Siwon tersentak ketika merasakan tangannya tidak memeluk Miyoung lagi. Matanya menyipit ke arah Miyoung yang berjalan ke kamar mandi. Siwon menopang tubuhnya dengan salah satu siku.
“Hey, kau mau kemana?” tanya Siwon waspada. Miyoung berhenti dan melirik sekilas padanya.
“Kamar mandi. Wae? Tidak boleh?” suara Miyoung terdengar dingin dan penuh kebencian. Siwon diam saja dan mengawasi Miyoung sampai gadis itu hilang di pintu kamar mandi. Siwon menghela napas. Setelah membersihkan diri, ia akan mengajak Miyoung pulang. Misinya telah selesai. Ia telah mengambil beberapa foto saat ia menciumi Miyoung ketika gadis itu tertidur setelah mereka bercinta. Dan foto-foto itu akan ia gunakan untuk menghancurkan Hwang Chae Ya.
Dalam perjalanan pulang, Siwon dan Miyoung saling diam. Siwon memaksa Miyoung untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah ia belikan. Awalnya Miyoung menolak karena pakaian itu terlalu seksi dan terbuka, tetapi ia tidak ingin orang-orang di rumah mencurigai mereka. Jadi, Miyoung akhirnya memakai dress super mini yang diberikan Siwon dan memakai jaket pria itu sebagai penutup bagian atasnya.
Siwon sesekali melirik Miyoung. Rambut hitam gadis itu dibiarkan terurai indah dan menari-nari diterpa angin. Miyoung tidak mengalihkan pandangannya dari luar mobil. Ia tidak sudi saling pandang dengan pria di sampingnya.
“Jadi, sekarang kau adalah milikku. Arraseo?” celetuk Siwon lalu menyeringai.
Miyoung dengan cepat menoleh. “Mwo?”
“Kau adalah mi-lik-ku. Mine!” tegas Siwon. Miyoung mendengus kasar.
“Aku bukan milikmu, aku tidak ingin menjadi milikmu!” bentak Miyoung.
“Ckckck, sayang sekali. Sepertinya kau ingin kuhukum lagi. Hwang Miyoung, aku tidak main-main dengan ucapanku. Sekali aku mengatakan kau adalah milikku, tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu.”
Miyoung menatapnya nanar. “Kau tidak berhak mengatur hidupku, Choi Siwon.”
“Diam kau atau aku akan menciummu disini!”
Miyoung terpaksa menutup mulutnya selama sisa perjalanan mereka. Ia tidak ingin disentuh lagi oleh Siwon. Ingin sekali Miyoung mengadukan perbuatan pria itu kepada orang lain dan meminta perlindungan, tetapi ia tidak mempunyai bukti yang kuat. Bisa dikatakan kalau percintaan mereka bagaikan sepasang kekasih, meskipun dirinya merasa terpaksa. Namun Siwon tidak mengasarinya ketika bercinta. Jadi, apakah itu masih disebut pemerkosaan?
Dan lagi, polisi tidak akan mengusut kasus ini, Miyoung sangat yakin hal itu. Sebab Siwon mempunyai banyak uang dan uang akan memenangkan segalanya zaman ini. Yang dapat dilakukan Miyoung adalah menelan bulat-bulat penderitaannya.
Tiba-tiba Siwon mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya lalu mengulurkannya kepada Miyoung. Benda yang panjang dan berkilau ditempa cahaya. Detik berikutnya Miyoung menyadari kalau benda berbandul tanda love itu adalah kalung. Alih-alih mengambilnya, Miyoung malah menolehkan kepalanya keluar jendela.
“Ambil ini cepat! Jangan menguji kesabaranku, Hwang!” hardik Siwon. Ia melemparkan kalung itu ke pangkuan Miyoung hingga tepat jatuh di telapak tangan Miyoung yang terbuka.
“Pakai itu sebagai tanda kau adalah milikku! Jika kau tidak memakainya, aku berjanji akan bercinta denganmu lebih baik lagi,” ancam Siwon sambil menyeringai.
Miyoung tetap diam. Hatinya hancur berkeping-keping.
“Ingat, mulai saat ini kau berada dalam pengawasanku. Jika Chae Ya bertanya tentang hubungan kita, katakan padanya kalau kau telah menjadi kekasihku. Arraseo?”

***

“Mwo? Siwon, apa kau gila? Kau bukan menidurinya, tetapi memperkosanya! Aku harap kau tidak menyakitinya!”
Siwon membuang pandangan ke jendela. Ia menggigit ujung telunjuknya dengan gugup. Baru kali ini ia menerima tudingan Dongwook terhadap dirinya. Jessica berjalan mendekati Siwon sambil melipat tangannya di dada. Sebagai seorang wanita, ia merasa tersinggung. Siwon telah memaksa Miyoung bercinta dengannya, tidak seperti wanita-wanita lain yang selama ini menjadi teman kencannya.
Jessica duduk di samping Siwon agar bisa melihat mata pria itu.
“Katakan padaku, apakah ia masih virgin?” tanya Jessica serius. Tatapannya yang terkenal sangat dingin menusuk mata Siwon.
Siwon tidak menjawab pertanyaan Jessica. Ia pikir Jessica pasti bisa menebaknya.
“Tentu saja Hwang Miyoung itu masih perawan!” tukas Dongwook. “Baby, Miyoung adalah gadis desa yang masih polos dan baik. Kau bisa melihatnya sendiri, kan?”
Jessica mengangguk. “Jadi, kau melakukannya dengan seorang virgin. Selama ini kau menghindari hal itu dan kini kau melakukannya! For heaven sake, Choi Siwon! Bagaimana kalau ia hamil? Apa kau sudah siap bertanggung jawab??!” sembur Jessica tanpa terduga.
Deg!
Siwon termagu. Ia tidak membayangkan hal itu sebelumnya. Mereka melakukan hubungan intim lebih dari dua kali, besar kemungkinan kalau Miyoung hamil. Siwon menggigiti kuku-kuku jari tangannya. Ia tidak ingin Miyoung hamil.
Terdengar Jessica menghela napas dengan kasar. “Siwon-ah, kali ini kau sangat keterlaluan. Memang selama ini aku hanya diam saja melihat sifat burukmu kepada perempuan, tetapi tindakanmu kepada Miyoung sudah melampaui batas. Ia tidak bersalah padamu. Seharusnya jika kau mempunyai dendam kepada Chae Ya, kau balas padanya, bukan adiknya.”
“Jessica benar, Siwon-ah. Walaupun nanti kau berhasil memperlihatkan foto-foto itu kepada Chae Ya, kau tetap saja akan menyakiti Miyoung. Jika Chae Ya tersakiti hanya sekali, tetapi Miyoung telah tersakiti berulang kali,” timpal Dongwook, mengamini ucapan kekasihnya.
“Brengsek!” raung Siwon seraya berdiri. Wajahnya memerah karena emosi yang tertahan sejak tadi. Ia menuding kedua sahabatnya. “Kalian sebenarnya ada di pihak siapa, hah?! Seharusnya kalian mendukungku, bukan menyalahkanku sepenuhnya! Aku tahu aku telah menyakiti Miyoung, tetapi hanya dia satu-satunya jalanku untuk menghancurkan Chae Ya! Aku ingin mereka berdua pergi dari kehidupan Ayahku!”
Jessica dan Dongwook terdiam.
Siwon menendang meja dengan keras kemudian berjalan keluar dari apartemen Dongwook. Ia membanting pintu dan pulang tanpa pamit. Sebenarnya sejak ia kembali ke rumah bersama Miyoung hari itu, pikirannya kalut. Entah mengapa ia terus memikirkan Miyoung. Tanpa ia sadari sebenarnya perasaan bersalah telah menggerogotinya.
“Sepertinya ia harus belajar tentang cinta,” gumam Dongwook sambil mendudukkan tubuhnya di kepala sofa. Jessica tersenyum dan menghampiri Dongwook. Kedua tangannya melingkar di leher kekasihnya itu.
“Entah mengapa aku turut bersedih untuk Miyoung. Dia tidak bersalah dan harus menanggung perbuatan bejat sahabat kita,” ujar Jessica muram.
Dongwook mengangguk setuju. “Lalu, apa yang bisa kita lakukan?” tanyanya seraya mengusap-usap lengan Jessica dengan lembut.
Jessica tampak berpikir sejenak. Ia serius ingin membantu Miyoung jika ia mampu. Miyoung terlalu baik untuk Siwon tetapi mereka berdua telah melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Jessica belum pernah melihat Siwon segusar ini setelah mempermainkan wanita. Baru pertama kali bagi Jessica maupun Dongwook melihat Siwon merasa terbebani.
“Aku rasa mereka harus jatuh cinta satu sama lain,” ucap Jessica tiba-tiba. Dongwook mengangkat kedua alisnya, tak percaya.
“Jatuh cinta? Baby, itu tidak mungkin. Setelah apa yang dilakukan Siwon, aku yakin Miyoung telah menjadikannya sebagai manusia yang paling terkutuk!” kata Dongwook dengan penekanan di kata terkutuk.
“Segalanya mungkin saja terjadi. Coba kau pikirkan lagi. Bagaimana kalau Miyoung hamil? Apa ia harus menanggung sendiri penderitaannya? Itu tidak adil. Siwon harus menyesali perbuatannya dan merubah sifatnya dari sekarang. Apa kau tidak lelah melihat Siwon terus-terusan menyakiti wanita? Baby, wanita itu adalah makhluk yang harus dihargai dan dicintai. Lagipula pada akhirnya Siwon juga harus menikah, kan! Lalu tidak ada salahnya menurutku untuk membuat mereka saling jatuh cinta. Agar penderitaan Miyoung tidak terlalu berat. Setidaknya orang yang telah mengambil kesuciannya akhirnya menjadi pasangan hidupnya,” tutur Jessica menggebu-gebu.
Dongwook tersenyum simpul. Ia menangkup wajah kekasihnya lalu mencium bibirnya dengan sangat lembut. Jessica menahan senyum gelinya.
“Dan, untuk apa itu?” tanya Jessica mengenai ciuman singkat itu. Dongwook menatapnya lembut.
“Aku bangga padamu, Jessica Jung. Dan aku sangat mencintaimu,” ungkap Dongwook tulus. “Baiklah, kita akan membantu Miyoung dan si bodoh Siwon itu.”

***

Bip bip
Chae Ya mendengar deringan ponselnya ketika mereka makan malam bersama. Di meja makan itu hanya ada Tuan Choi dan Miyoung. Tuan Choi melirik sekilas pada istrinya saat wanita itu membaca pesan yang baru saja masuk.
Sender: Choi Siwon
Temui aku di taman kota depan komplek jam 10 nanti. Aku tidak suka menunggu, jadi kau harus tepat waktu.
Chae Ya tertegun. Apa yang ingin dibicarakan Siwon dengannya? Sekarang masih pukul 7 malam dan pria itu juga tidak ada di rumah. Baiklah, batin Chae Ya. Mungkin Siwon ingin membicarakan hal yang sangat penting dengannya. Chae Ya tersenyum manis kepada suaminya. Ia berharap Choi Ji Hoo tidur cepat malam ini.
“Miyoung-ah, apa kau betah kerja di toko bunga itu?” tanya Tuan Choi memecah keheningan. Miyoung mengangguk singkat sambil tersenyum.
“Nde, Ja-hyeong. Aku sangat betah disana,” jawabnya.
“Apa kau yakin tidak ingin bekerja di perusahaan kami?” Tuan Choi menawarkan, diiringi oleh senyum tulus Chae Ya. Miyoung menggeleng lemah.
“Aku tidak percaya diri bekerja di perusahaan besar dan terkemuka seperti Choi Grup, Ja-hyeong. Jadi, aku rasa lebih baik aku tetap bekerja di toko bunga saja,” tolak Miyoung sopan.
“Padahal aku ingin melihatmu menjadi bagian dari Choi Grup,” timpal Chae Ya. “Bukankah begitu, yeobo?” Chae Ya menggenggam tangan Tuan Choi dan mengelusnya.
Miyoung memandangi gesture tangan sang kakak. Pikirannya langsung melayang kepada Siwon. Benarkah Chae Ya mencintai Siwon dan menjadikan Tuan Choi sebagai tameng? Jika memang benar, bagus sekali akting kakaknya itu. Miyoung buru-buru menepis prasangka buruknya tentang Chae Ya. Bodoh, umpat Miyoung. Mengapa ia meragukan kakak kandungnya dan mempercayai perkataan pria yang jelas-jelas merusak masa depannya?
“Benar, Miyoung-ah. Kau adalah bagian dari keluargaku dan kau juga mempunyai hak di rumah dan perusahaanku,” ujar Tuan Choi.
Miyoung tidak menjawab dan melanjutkan makannya. Ia tidak memerlukan semua itu. Hidupnya bisa terancam jika ia menerima penawaran kakak iparnya. Selama masih ada Siwon, Miyoung tidak bisa menerima apa-apa dari Tuan Choi.
“Akhirnya kau datang tepat waktu, Nyonya Choi yang terhormat!” ucap Siwon saat melihat Chae Ya menghampirinya. Chae Ya menampilkan senyuman termanisnya pada Siwon. Ia cukup senang Siwon ingin berbicara berdua saja dengannya, meskipun tatapan menjijikkan pria itu masih menghujamnya.
“Apa yang ingin kau bicarakan, Siwon-ah. Tidak bisakah kita membicarakannya di rumah?” tanya Chae Ya lembut. Mereka berdiri berhadapan. Siwon mengeluarkan beberapa lembar foto dari saku kemejanya dan menyerahkan kepada Chae Ya.
“Ini, lihatlah. Aku tidak ingin bicara basa-basi denganmu!” ucapnya sinis. Meskipun bingung disodorkan benda yang tidak dimintanya, tetapi Chae Ya tetap melihatnya. Ia menatap empat lembar foto di tangannya dan seketika wajahnya pun memucat.
Mata Chae Ya melotot seakan-akan ingin melompat keluar. Darah menghilang dari wajahnya dan tangannya tiba-tiba berkeringat. Apakah matanya tidak salah lihat? Ini sama sekali bukan foto editan, ia bisa membedakannya. Tetapi, apakah mungkin pria dan wanita di dalam foto itu adalah Miyoung dan Siwon??!
Melihat reaksi keterkejutan Chae Ya menorehkan senyum puas di wajah Siwon.
“Kami juga bersenang-senang saat kau pergi berbulan madu dengan Ayahku.”
Chae Ya menatap Siwon dengan mata berkaca-kaca. “Apa yang telah kau lakukan pada adikku?”
Siwon memutar bola matanya dan mengetukkan jari telunjuk di dagu. “Hmm, menurutmu apa saja yang kami lakukan? Kami menghabiskan malam yang dingin berdua saja, ditemani musik yang romantis di dalam kamar yang bertabur bunga mawar dan cahaya lilin. Aku yakin bulan madumu tidak seindah itu. Benar, kan?”
Perlahan airmata mengalir di pipi Chae Ya. Kenapa Miyoung tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini? Apakah ini kemauan Miyoung juga? Jika Miyoung terpaksa ikut dengan Siwon, lalu mengapa Miyoung diam saja? Apakah Miyoung tidak menganggapnya sebagai kakak lagi?
Berbagai hipotesa hadir di benak Chae Ya. Rasa cintanya kepada Siwon perlahan berubah menjadi rasa aneh yang tidak dapat dijamahnya. Apakah ia membenci atau jijik pada Siwon saat ini, ia sendiri tidak tahu. Ia sangat menyayangi adiknya dan mengenal baik bagaimana Hwang Miyoung. Miyoung bukanlah gadis murahan yang dengan mudahnya memberikan kegadisannya kepada pria.
“Kau menjebaknya. Aku yakin Miyoung terjebak olehmu!” teriak Chae Ya.
Siwon memegang kedua lengan Chae Ya lalu mencengkramnya. “Kau bisa bertanya sendiri padanya. Apakah ia terpaksa tidur denganku atau tidak.”
“Aku tidak percaya padamu, Siwon-ah. Apa tujuanmu sebenarnya?”
Siwon tertawa hambar. “Dasar bodoh! Kau tidak tahu apa tujuanku? Yang benar saja! Kau pikir aku senang melihatmu dan adikmu yang polos itu berkeliaran di rumah untuk mencari perhatian Ayah dan menikmati hartanya? Dengar, Hwang. Aku tidak akan membiarkan dirimu menikmati uang Ayahku lebih lama. Dan yang terpenting, kau tidak akan pernah memilikiku. Apa kau paham? Sekarang, lebih baik kau tinggalkan kehidupan Ayahku dan keluar dari rumah kami!”

***

“Waktunya makan siang!” seru Gil ketika jam dinding berdetak tepat pukul 1 siang. Luna menghampiri Miyoung yang masih sibuk menata bunga aster di dalam pot.
“Miyoung Eonnie!”
“Hmm?”
“Waktunya makan siang. Jangan bekerja terus.”
Miyoung tertawa kecil. “Kalian duluan saja. Aku masih ingin menanam satu pot lagi.”
“Miyoung akan pergi makan siang denganku!”
Mendengar seruan itu, kontan saja Miyoung dan dua orang rekannya menoleh ke arah pintu. Mereka tersenyum melihat Nichkhun yang berjalan menghampiri mereka. Sejak pagi pria itu menghilang entah kemana dan kini baru muncul kembali. Nichkhun tersenyum manis kepada Miyoung.
“Nichkhun-ssi.”
“Miyoung-ah, ayo makan siang denganku. Aku ingin mengajakmu makan siang dengan menu ala Italia siang ini.”
Luna dan Gil berdehem menggoda, sementara Miyoung masih bingung. Ia tidak pernah keluar makan siang dengan Nichkhun. Diperlakukan lebih spesial saja membuat Miyoung tidak enak hati kepada Luna dan Gil, apalagi pergi makan siang bersama. Miyoung masih terdiam ragu.
“Pergi saja, Eonnie! Aku dan Gil akan makan siang berdua saja,” bisik Luna.
“Ayolah, Miyoung-ah. Aku ingin sekali makan siang bersamamu.” Nichkhun tampak sangat berharap. Miyoung tersenyum kecil. Nichkhun adalah orang baik, sopan dan ramah. Ia memperlakukan Miyoung dengan rasa hormat. Tidak seperti Siwon yang—
Ah, kenapa Miyoung sempat memikirkan pria itu?
“Baiklah,” ucap Miyoung akhirnya.
Siwon bergegas keluar dari kantor dan menyetir mobilnya menuju toko bunga Nichkhun. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan Miyoung sambil makan siang. Entah mengapa gadis itu selalu berkeliaran di benaknya akhir-akhir ini. Siwon mengabaikan teman-teman wanitanya yang mengajak kencan karena memikirkan Miyoung. Ia bahkan memimpikan gadis itu!
“Ck, sial! Kenapa aku selalu memikirkannya?” gerutu Siwon seraya terus melaju kencang dengan Black Audi miliknya.
Siwon mengingat mimpinya. Ia bisa mengingat rupa gadis yang selalu hadir dalam mimpinya belakangan ini. Meskipun samar-samar, tetapi ia yakin kalau gadis berambut hitam dengan kulit putih lembut itu adalah Hwang Miyoung.
Tidak! Aku memimpikannya karena aku telah tidur dengannya. Biasanya juga seperti itu…hmm, benar kan?
Mobilnya berhenti mendadak di depan toko bunga Nichkhun. Ia turun dan bergegas memasuki bangunan sederhana itu. Siwon mendengus, meremehkan usaha yang dijalankan Nichkhun. Baginya lelaki yang mengurus pekerjaan wanita seperti toko bunga adalah seorang gay.
“Selamat datang Tuan…—Siwon?” Luna terkejut karena tamu mereka adalah Siwon. Pria yang tidak mereka sukai.
“Ada yang bisa kami bantu?” tanya Gil berusaha ramah.
“Dimana Hwang Miyoung?”
Luna dan Gil saling pandang. Mendengar suara Siwon yang dingin dan kasar membuat mereka merinding. Siwon bertolak pinggang di depan mereka.
“Apa kalian tuli atau bodoh? Dimana Hwang Miyoung?!” kali ini Siwon membentak.
“Miyoung-ssi pergi makan siang bersama Bos Khun, Siwon-ssi!” sahut Luna dan Gil berbarengan.
Siwon mengernyit. Miyoung makan siang bersama Nichkhun? Yang artinya ia pergi dengan pria lain. Siwon menggeram. Dalam waktu singkat darahnya terasa menggelegak dan jantungnya berdegup kencang karena emosi yang tertahankan. Ia berjalan perlahan mendekati kedua karyawan toko itu. Luna dan Gil saling berpegangan, gemetar satu sama lain.
“Apakah Miyoung pergi dengan sukarela?” tanya Siwon. Suaranya semakin berat dan mengerikan. Gil mengangguk cepat-cepat seolah-olah jika tidak dihentikan kepala itu akan putus dari lehernya.
“T-tentu saja, Siwon-ssi. Karena…karena Bos Khun b-bukan tipe yang pemaksa,” tambah Luna tergagap. Siwon menaikkan sebelah alisnya dan menatap Luna sinis.
“Apa maksudmu? Oh, jadi Bos kalian itu tipe yang lebih lembut dibandingkan diriku, begitu?”
Luna menggeleng lemah. “B-bukan itu m..m-maksudku, Siwon-ssi!”
Siwon paling benci jika ada yang lebih hebat darinya. Dirinya bukan untuk dijadikan perbandingan siapapun, terlebih lagi Nichkhun yang jelas-jelas telah mengganggu miliknya. Ya, Miyoung hanyalah miliknya seorang. Di benaknya kini terbayang Nichkhun dan Miyoung menikmati makan siang mereka sambil berpegangan tangan, saling bertatapan lembut dan Miyoung tersipu mendengar pujian-pujian dari Nichkhun.
Siwon merasa bodoh sekaligus sakit hati. Berani-beraninya Miyoung bermain di belakangnya! Dengan satu kali gerakan cepat, tangan Siwon menyambar sebuah vas bunga yang tampaknya bernilai mahal dan membantingnya di depan kaki Luna serta Gil.
PRAAANNG!!
“Aaaah!!!” pekik Luna dan Gil serentak.
Vas bunga berukiran pengrajin Thailand itu pun hancur berkeping-keping di lantai. Gil berlutut untuk melihatnya lebih dekat. Lelaki setengah perempuan itu tiba-tiba terisak sambil memegangi dadanya.
“Huhuhu bagaimana ini? Vas ini kan kesayangan Bos Khun. Aaaa ottokhae? Apa yang harus kita katakan?!” rengeknya.
“Persetan dengan vas dan Bos-mu! Katakan padanya, jangan mendekati Hwang Miyoung lagi karena gadis itu adalah milikku! Cuih!”
Setelah menendang serpihan vas di lantai, Siwon pun keluar dari toko itu. Ia tidak berniat mencari Miyoung dan Nichkhun sekarang. Sebab ia akan membuat perhitungan dengan Miyoung di rumah. Memikirkan hal itu membuat seringai kejam Siwon muncul di wajahnya.

***

Miyoung baru menghabiskan pasta kejunya sebanyak dua sendok, padahal Nichkhun sudah hampir menghabiskan seluruh isi piringnya. Nichkhun menatap Miyoung penuh tanda tanya. Sebagian dirinya merasa kurang nyaman sebab Miyoung sepertinya sangat tidak berminat pergi bersamanya. Nichkhun pun berdehem keras, membuat perhatian Miyoung teralih padanya. Miyoung tersenyum kecil.
“Pastanya tidak enak, ya?”
Menyadari ekspresi kurang nyaman di wajah Nichkhun membuat Miyoung tersadar.
“Oh, ini…enak, kok. Hanya saja aku…aku kurang menyukai makanan Italy,” jawab Miyoung setengah jujur. Nichkhun mengangguk paham.
“Kalau begitu, lain kali aku akan mengajakmu makan ke tempat yang kau sukai,” tandasnya seraya tersenyum manis. Miyoung akui kalau Nichkhun sangat manis dan baik, tetapi…ia tidak merasakan getaran aneh di dadanya.
“Tidak perlu, Nichkhun-ssi. Lain kali kau harus mengajak Luna dan Gil juga,” ujar Miyoung.
“Baiklah, terserah padamu saja. Bagiku, asalkan kau bersedia ikut denganku, aku sudah senang sekali.”
Miyoung cukup paham dengan gelagat yang ditunjukkan Nichkhun padanya. Pria itu sangat perhatian padanya, membelikannya makanan, atau menemaninya bekerja. Terkadang Miyoung merasa tidak enak hati kepada dua rekannya yang lain, namun sepertinya Nichkhun tidak bisa dilarang. Lagipula, ia adalah bos mereka.
“Miyoung-ah, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Nichkhun setelah meneguk air mineralnya. Miyoung mengangguk singkat.
“Hmm sebenarnya ini bukan urusanku. Tetapi aku ingin memberitahumu saja. Malam saat Siwon menjemputmu dan esok harinya kau tidak masuk karena kau bilang kau sakit, sebenarnya aku sangat khawatir,” ujar Nichkhun.
Miyoung ingat, ia beralasan kepada Nichkhun kalau dirinya terkena demam selama dua hari. Oleh sebab itu ia tidak masuk bekerja dan meminta maaf karena tidak memberikan kabar. Untung saja Nichkhun dan kedua rekannya percaya. Lalu sekarang, Miyoung tidak tahu apa yang dikhawatirkan Nichkhun. Tidak mungkin Nichkhun tahu tentang dua hari yang seperti neraka bagi Miyoung tersebut.
“Apa yang membuatmu khawatir, Nichkhun-ssi?” tanya Miyoung hati-hati.
“Kau,” jawab pria itu lembut. Miyoung menatapnya sendu. “Aku mengkhawatirkanmu, Miyoung-ah. Aku rasa kau belum mengenal Choi Siwon lebih dekat. Ia adalah pemain wanita. Hatinya tidak pernah tulus kepada wanita manapun. Bu-bukannya aku takut jika kalian dekat, sebab aku tahu kalian sekarang menjadi keluarga. Tetapi aku hanya cemas jika ia memperlakukanmu seperti ia memperlakukan wanita-wanita yang disakitinya.”
Miyoung menurunkan pandangan ke piring makan siangnya yang masih terisi penuh pasta. Ia tidak ingin Nichkhun tahu kalau tebakannya benar. Apa yang dikhawatirkan Nichkhun telah terjadi padanya. Miyoung tidak ingin menceritakan hal menyakitkan ini kepada siapapun, termasuk Nichkhun. Miyoung bukanlah tipe yang suka membebankan orang lain dengan penderitaannya.
Kemudian Miyoung mengangkat kembali kepalanya dan tersenyum manis kepada Nichkhun. “Siwon tidak akan menyakitiku, Nichkhun-ssi. Aku adalah adik Ibu tirnya. Mustahil jika ia melakukannya. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”
Nichkhun menyengir lega. Tampak jelas ia sangat tenang mendengar perkataan Miyoung.
“Kalau begitu, syukurlah.”
Tak jauh dari meja Nichkhun dan Miyoung, ada dua pasang mata yang mengawasi mereka. Jessica dan Dongwook. Mereka sama sekali tidak membututi Miyoung, namun saat mereka sedang mengantri di depan kasir untuk memesan kopi espresso untuk dibawa pulang, Jessica tidak sengaja melihat Miyoung. Jessica segera memberitahu Dongwook lalu keduanya mengawasi Miyoung dan Nichkhun sejenak.
“Siapa pria yang bersama Miyoung itu? Apa itu kekasihnya?” gumam Jessica sedikit tidak senang.
Dongwook menyipitkan mata. “Molla.”
Jessica menarik tangan Dongwook. “Baby, ayo kita kesana!”
“Mwo? Untuk apa, baby? Jangan mengganggu mereka.”
Jessica menatap dingin dan berdecak. “Ck, aku ingin tahu apa hubungan mereka. Miyoung tidak boleh bersama pria lain selain Siwon bodoh itu.”
Dongwook tergelak. “Baby, kenapa kau seolah fanatik dengan pasangan Miyoung dan Siwon? Lagipula, Miyoung tidak begitu mengenal kita. Kita baru bertemu sekali saat pesta pernikahan.”
“Aku lihat Miyoung adalah orang yang sangat baik. Aku yakin ia masih mengingat kita. Palli !” desak Jessica. Dongwook menyerah. Ia pasrah saat Jessica menariknya menuju meja Miyoung.
Jessica belum pernah melihat pria yang bersama Miyoung. Namun dari cara bicara dan gesture tubuhnya, sepertinya ia menyukai Miyoung. Jessica menyeringai. Ia tidak akan membiarkannya. Bukannya membela Siwon, namun mungkin pendapat Dongwook ada benarnya. Jessica mulai fanatik dengan Siwon dan Miyoung menjadi pasangan.
“Annyeonghasaeyo, Miyoung-ssi!” ucap Jessica saat ia dan Dongwook berdiri di dekat meja Miyoung dan Nichkhun. Otomatis kedua orang itu mendongak. Nichkhun mengernyit, merasa tidak mengenal dua orang yang menginterupsi obrolannya bersama Miyoung.
Lain dengan Miyoung. Ia langsung mengenali Jessica dan Dongwook. Mereka memang baru sekali bertemu di resepsi pernikahan Chae Ya dan Tuan Choi, itupun hanya sekilas. Namun Miyoung hafal wajah Jessica sebab malam itu ia sempat mengagumi kecantikan sahabat Siwon ini.
“Eoh…ehm…Miss Jung?” tebak Miyoung ragu. Jessica mengangguk semangat. Miyoung tersenyum ramah kemudian berdiri. “Annyeonghasaeyo Miss Jung. Ehm, Tuan Lee?”
“Panggil saja aku Wookie!” tukas Dongwook.
Miyoung mengangguk.
“Senang sekali bertemu denganmu lagi, Miyoung-ssi!” ucap Jessica.
“Aku juga, Miss Jung.”
“Panggil aku Jessie,” ralat Jessica. Kemudian ia melirik Nichkhun dan mengangguk formal padanya. Melihat itu Miyoung baru menyadari kalau Nichkhun sebenarnya ingin diperkenalkan.
“Oh, maaf. Jessica-ssi, perkenalkan ini bos di tempatku bekerja. Nichkhun Horvejkul.”
Dongwook dan Jessica saling pandang sekilas lalu tersenyum ramah pada Nichkhun. Pria tampan itu mengulurkan tangannya kepada kedua sahabat Siwon itu.
“Hai, aku Nichkhun. Senang bertemu kalian!” ucapnya.
“Kami juga,” balas Dongwook yang menyambut uluran tangan Nichkhun. Dongwook tidak membiarkan Nichkhun menyentuh tangan kekasihnya dan Nichkhun mengerti itu. Jadi, Nichkhun kembali menarik tangannya.
“Apa kalian ingin bergabung dengan kami?” tawar Miyoung. Lalu Nichkhun memberinya tatapan yang benar saja.
“Tidak, Miyoung-ssi. Kami hanya ingin menyapa. Sebenarnya aku ingin mengobrol lebih banyak sebab Siwon tidak berhenti membicarakanmu. Sebagai sahabat tentu saja aku penasaran. Benar kan, Baby?”
“Benar sekali.”
Wajah Miyoung langsung berubah drastis ketika mendengar nama Siwon. Kira-kira apa yang telah dibicarakan Siwon kepada Jessica dan Dongwook? Namun jika melihat dari cara Jessica menyampaikan, sepertinya Siwon tidak membicarakan hal buruk.
“Miyoung-ssi, bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Kita bisa menjadi teman, kan?”
Miyoung tertawa canggung. “T-tentu saja, Jessica-ssi.”
Sementara itu Nichkhun mengawasi mereka dengan sangat tidak senang hati.

***

Miyoung terus memikirkan perkataan Jessica sampai ia pulang dari toko bunga. Miyoung juga menolak tawaran Nichkhun untuk mengantarnya ke rumah. Ia ingin memikirkan masalahnya sendirian sambil berjalan pulang. Dengan begitu ia bisa menenangkan pikirannya.
Tanpa sepengetahuan Miyoung, ternyata orang yang dipikirkannya telah menunggu dengan tidak sabar di dekat gerbang rumah. Siwon. ia bersembunyi di deretan pohon palem agar tidak terlihat oleh penjaga rumah. Siwon tersenyum sinis ketika melihat gadis itu berjalan sambil melamun. Ia bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan Miyoung. Apakah tentang dirinya?
Siwon mengutuk diri sendiri. Damn! Kenapa aku berharap ia memikirkanku?
Sampai waktunya tiba, Siwon akhirnya melompat keluar, tepat di hadapan Miyoung. Miyoung terkejut bukan main dan bersiap akan berteriak jika Siwon tidak cepat-cepat membekap mulutnya. Siwon menyeret tubuh Miyoung kembali ke persembunyiannya. Ia menekan tubuh kurus Miyoung ke dinding di balik pohon palem. Miyoung melotot padanya.
“Selamat malam, Miss Eyesmile. Coba saja kalau kau berteriak, aku akan menciummu sampai kehabisan napas!” ancam Siwon sebelum melepaskan tangannya dari mulut Miyoung.
Miyoung menatapnya dengan mata yang telah perih menahan airmata. Seketika ia meragukan ucapan Jessica kalau memang benar Siwon menceritakan hal baik tentangnya. Atau siapa tahu Jessica hanya mengada-ada, sebab pria seperti Siwon tidak akan berubah menjadi baik. Ia benar-benar iblis.
Siwon menarik kembali tangannya dan bisa melihat bibir Miyoung bergetar. Siwon terpaku. Ia ingat rasa bibir itu. Sangat lembut dan manis.
“Apa maumu kali ini?” desis Miyoung, mengembalikan kesadaran Siwon. Siwon beralih menatap matanya.
“Kemana saja kau dengan pria Thailand itu siang ini?” tanya Siwon protektif.
“Pria Thailand yang kau maksud mempunyai nama,” sindir Miyoung sinis.
“Aku tidak peduli dengan namanya. Jawab pertanyaanku!”
Miyoung terdiam sejenak. Haruskah ia menggunakan Nichkhun untuk membalaskan sakit hatinya kepada Siwon? Tetapi tentu saja tidak adil untuk atasannya itu.
“Jawab!” Siwon mati-matian menahan suaranya agar tidak membentak Miyoung.
“Aku hanya makan siang bersamanya. Siwon-ssi, lepaskan aku! Kau menyakitiku!” Miyoung berusaha memberontak. Siwon tidak sadar kalau ia mencengkram bahu Miyoung terlalu keras. Kemudian Siwon melonggarkan cengkramannya dan menolak untuk melepaskannya.
“Apa kau lupa kalau aku sudah melarangmu berpergian dengan pria lain?” tanya Siwon tepat di depan wajah Miyoung.
“Aku tidak ingat telah menyetujuinya,” bantah Miyoung. Ia tidak takut lagi dengan ancaman Siwon. Ia hanya takut pembicaraan mereka ini ketahuan oleh orang-orang di rumah.
“Jangan bermain api denganku, Hwang Miyoung. Kau…adalah milikku. Aku adalah pria pertama yang menidurimu. Kau tinggal di rumahku. Jadi kesimpulannya, kau tidak boleh membantah kata-kataku.”
Miyoung mendengus. Ia berusaha melepaskan cengkraman Siwon namun sia-sia. Tenaga pria itu dua kali lebih besar karena amarah. Siwon teringat sesuatu. Miyoung terus saja membantah ucapannya dan kini ia ingin tahu apakah gadis itu memakai kalung pemberiannya.
Dengan kasar tangan Siwon beralih ke kerah kemeja Miyoung dan menaggalkan kancing paling atas tanpa bisa dicegah gadis itu. Miyoung memukul dada Siwon tetapi tidak mempengaruhi senyum penuh kemenangan pria tersebut. Siwon tidak menyangka kalau Miyoung benar-benar memakai kalung pemberiannya. Lantas, mengapa Miyoung masih membantahnya?
“Dasar munafik. Kau terus membantahku tetapi sebenarnya kau perhatian padaku. Buktinya kau memakai kalung pemberianku.”
Miyoung ingin sekali meludahi wajah Siwon.
“Aku jijik padamu, kau tahu? Aku tidak membiarkan diriku kau sentuh lagi, oleh karena itu aku mematuhi perintahmu untuk memakainya.”
Rahang Siwon berdenyut hebat. Ia menangkup wajah Miyoung dengan posesif, membuat gadis itu terkukung dalam dekapannya. Siwon mendekatkan wajah mereka. Seuntai senyum keji hadir di wajah tampannya.
“Kau tidak memberiku pilihan untuk tidak menyakitimu. Semakin kau membantahku, semakin aku menginginkanmu. Bagaimana kalau kita bermain lagi malam ini?”
Miyoung tercekat. Ia tidak ingin malam itu terjadi lagi. Miyoung menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, memberontak dari dekapan Siwon. Siwon tidak bisa mencium wajahnya sebab Miyoung terus menggeleng. Siwon menyesap leher Miyoung dan meninggalkan tanda merah disana. Miyoung terus mendorong tubuh kekar Siwon, tapi percuma.
Sampai sebuah suara membuat jantung Miyoung berhenti berdetak.
“Siapa disana?”
Hwang Chae Ya. Siwon dengan enggan melepaskan pelukannya dan membiarkan Miyoung merapikan rambutnya sendiri. Miyoung mengatur detak jantungnya yang benar-benar tidak normal saat ini. Ia mendorong tubuh Siwon ke samping dan melompat keluar dari persembunyian mereka. Setelah itu, Siwon menyusulnya dari belakang.
Chae Ya terkesiap dengan apa yang dilihatnya. Siwon dan Miyoung bersembunyi di balik pepohonan palem pada malam hari? Seharusnya mereka masuk ke rumah untuk makan malam sebab Chae Ya dan Tuan Choi telah lama menunggu.
Siwon tersenyum bangga pada Chae Ya, sementara Miyoung tidak sanggup menatap mata sang kakak. Ia berdiri di depan Siwon.
“Apa yang kalian lakukan disana? Miyoung-ah, apa yang Siwon lakukan terhadapmu?” selidiknya tajam. Sebenarnya Chae Ya ingin menanyakan perihal foto yang ditunjukkan Siwon saat di taman. Tetapi ia ingin menunggu waktu yang tepat.
“K-kami tidak m-melakukan apa-apa, Eonnie.”
Siwon tertawa kecil sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia ingin melihat kedua bersaudari Hwang ini bertengkar di hadapannya. Dan tentu saja memperebutkan dirinya!
“Apa kau tidak berbohong?” tekan Chae Ya. Miyoung mengangguk kecil. Sejak mereka kecil, Chae Ya tidak pernah memarahi Miyoung. Miyoung adalah adik yang penurut dan tidak pernah berbohong padanya. Namun Siwon telah mempermainkan perasaan Chae Ya terhadap adik kandungnya sendiri.
Karena Siwon, ia mulai berpikir kalau adiknya senang berbohong. Dan karena Siwon, Chae Ya mulai merasakan cemburu yang sebenarnya tidak pantas ia rasakan. Tetapi begitulah perasaan. Chae Ya tidak bisa mengingkari hatinya kalau ia sangat cemburu melihat foto Siwon dan Miyoung bercumbu.
“Kalau begitu, masuklah. Kalian telah ditunggu untuk makan malam.”
Miyoung langsung beranjak dari sana tanpa menoleh lagi pada Siwon. Sedangkan Chae Ya masih berhadapan dengan Siwon, pria yang dicintai sekaligus dibencinya. Ia bahkan tidak tahu perasaan mana yang benar-benar untuk Siwon.
“Siwon-ah, sebenarnya apa hubungan kalian?” tanya Chae Ya. Siwon berjalan mendekatinya.
“Aku kira kau telah menanyakannya kepada adikmu.”
Chae Ya menelan ludah dengan susah payah. Ia memejamkan mata ketika Siwon berjalan melewatinya, mengikuti Miyoung ke dalam rumah.

***

Chae Ya mengetuk pintu kamar Miyoung. Ia memastikan Tuan Choi dan Siwon telah berangkat ke kantor lalu cepat-cepat menemui Miyoung yang juga akan bersiap-siap ke toko bunga. Tak lama berselang, Miyoung membukakan pintu untuk Chae Ya. Ia telah siap dan rapi dalam balutan pakaian kerjanya. Hanya celana jins dan blus sederhana. Miyoung tersenyum melihat kakaknya, namun sebaliknya, wajah Chae Ya tidak menunjukkan keramahan sedikitpun. Sejak sarapan bersama tadi, wanita itu juga tidak banyak bicara. Miyoung merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Bolehkah kita bicara sebentar?” tanya Chae Ya. Miyoung mengangguk singkat. Chae Ya masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang, sementara Miyoung berdiri menghadap wanita yang lebih tua 6 tahun darinya itu.
“Ada apa, Eonnie?” Miyoung bertanya pelan.
Chae Ya menatapnya tajam.
“Hwang Miyoung, kau tahu kan kalau aku sangat menyayangimu? Kau juga tahu kan, kalau aku membawamu tinggal disini agar hidupmu tidak susah lagi?”
Miyoung tertegun mendengar pertanyaan kakaknya. Tetapi gadis itu hanya menganggukkan kepala. Chae Ya terdiam sejenak, memikirkan kata-kata untuk selanjutnya.
“Dan sekarang kau berani berbohong padaku.”
Miyoung mengerjap. Ia yakin pasti ada hubungannya dengan Siwon. Chae Ya berdiri dan mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya lalu menyodorkannya kepada Miyoung. “Jelaskan padaku, Hwang Miyoung.”
Miyoung menerima lembar foto yang diberikan Chae Ya dengan tangan gemetar. Siwon memang tidak main-main dengan ancamannya. Miyoung teringat akan perkataan pria itu jika Chae Ya menanyakan hubungan mereka. Namun, apakah Chae Ya masih akan menyayanginya? Miyoung masih tidak percaya kalau kakaknya ini mencintai Siwon. Jika Chae Ya marah saat Miyoung mengatakan kalau ia dan Siwon telah resmi menjadi sepasang kekasih, itu artinya ucapan Siwon benar.
“Aku…kami…” Miyoung tergagap.
“Kalian apa? Jujur padaku, Miyoung-ah!”
“Kami…menjalin hubungan, Eonnie. Siwon-ssi…dia memintaku menjadi kekasihnya,” jawab Miyoung tanpa melihat mata Chae Ya. Ia menundukkan kepalanya sedari tadi.
Mendengar jawaban Miyoung, membuat Chae Ya terduduk kembali ke tepi ranjang. Ia sangat shock, tidak menyangka kalau pria yang dicintainya kini telah menjadi milik Miyoung. Perasaan marah, sakit hati, terkhianati, dan kecewa bercampur menjadi satu di dadanya. Selama satu tahun ia mengejar cinta Siwon tetapi pria itu tidak memandangnya sedikitpun, sampai-sampai ia rela menikah dengan Ayahnya. Dan sekarang, Miyoung yang baru masuk ke dalam kehidupan mereka, dengan mudahnya menjadi kekasih Siwon!
Dunia memang tidak adil!
Chae Ya berusaha menenangkan perasaannya. Ia tidak ingin Miyoung tahu kalau ia mencintai Siwon. Ia tidak boleh menunjukkan kecemburuan yang jelas. Chae Ya menatap Miyoung—yang masih menunduk—berdiri bagai patung di depannya. Hubungan Siwon dan Miyoung tidak akan bertahan lama, batin Chae Ya. Ia tahu siapa Siwon, pria brengsek yang akan pergi setelah ia puas.
“Miyoung-ah, kenapa tidak menceritakannya kepada Eonnie dari pertama, eoh?” suara Chae Ya dilembut-lembutkan. Miyoung mendongak dan menatap Chae Ya tak percaya.
Kakaknya tersenyum tulus, tidak ada ekspresi tak suka sama sekali. Jadi ucapan Siwon tidak benar. Chae Ya sama sekali tidak cemburu atau memarahinya. Meskipun foto-foto tak senonoh itu di tangannya, Chae Ya tidak marah. Miyoung pun berjalan mendekati Chae Ya dan duduk di sampingnya.
“Eonnie, mianhae. Seharusnya aku memberitahumu dulu,” ucap Miyoung. Ia masih ingin membuktikan lebih jauh kalau perkataan Siwon benar-benar salah.
Chae Ya mengusap kepala adiknya dengan lembut. “Sudahlah, tidak apa-apa. Aku mengerti, kau pasti takut memberitahuku. Miyoung-ah, sebaiknya kau kenali dulu siapa Siwon. Aku telah mengenalnya selama satu tahun dan menurutku dia tak pantas mendapatkan gadis sebaik dirimu. Tapi aku harap, sifatnya yang buruk itu berubah. Jadi ia tidak akan menyakitimu.”
Miyoung diam saja. Ia percaya pada Chae Ya, bukan pria Siwon.
“Aku adalah kakak kandungmu, Miyoung-ah. Kau harus mendengarkan kata-kataku, arraseo?”
Miyoung mengangguk patuh kemudian Chae Ya menariknya ke dalam pelukan. Chae Ya tidak sudi sama sekali jika Siwon dan adiknya berkencan. Ia hanya berpura-pura untuk menutupi luka hatinya yang sangat dalam saat ini. Ia memang menyayangi Miyoung, namun jika adiknya itu bisa memiliki Siwon, Chae Ya akan melakukan apa saja untuk memisahkan mereka.
Maafkan aku, Miyoung. Siwon hanya milikku, meskipun aku adalah Ibu tirinya. Tuan Choi tidak akan hidup lama, oleh karena itu aku menikahinya. Agar setelah ia mati aku akan mendapatkan hartanya. Dan setelah semua itu terjadi, Siwon akan menikahiku sebab ia juga tidak akan rela kehilangan harta kekayaan Ayahnya yang telah menjadi milikku.

***

Tok tok tok
Siwon melirik ke arah pintu ruangan kerjanya sambil terus mengetik. “Masuklah!”
Pintu pun terbuka dan dua orang pria tampan masuk ke ruangan Siwon. Dongwook dan Leeteuk. Siwon tersenyum. Sudah cukup lama ia tidak berkumpul dengan sahabat-sahabatnya itu.
“Duduklah. Yah! Apa yang membawa kalian kemari? Apa kalian tidak bekerja?”
“Kami merindukanmu, Siwon-ah!” jawab Leeteuk.
“Oleh karena itu, kami ingin mengundangmu makan siang. Kajja!” tambah Dongwook.
Siwon mengangguk setuju. Lagipula ia juga merindukan sahabat-sahabatnya.
“Baiklah.”
“Ke pesta 1st Anniversary kau dan Taeyeon?”
“Ya, Siwon-ah. Dan kau harus mengajak pasanganmu. Memangnya kau tidak malu datang sendirian? Kemana Choi Siwon sang Cassanova itu sekarang, eoh? Aku tidak melihatnya berkencan lagi dengan banyak wanita.”
Dongwook tersenyum puas di samping Siwon, sementara Leeteuk terus memanas-manasinya.
“Aku sedang tidak berminat pada wanita,” jawab Siwon malas padahal ada seorang wanita di pikirannya saat ini, bahkan setiap menitnya.
“Benarkah? Hoho, aku rasa sebentar lagi kau kehilangan pamormu!” ledek Leeteuk. “Tapi bukan berarti kau datang ke pestaku sendirian, kan? Kau bisa mengajak Miss Hwang yang cantik itu.”
Diam-diam Dongwook mengedip pada Leeteuk.
Siwon menatap gelas kopinya yang telah kosong dan memutar-mutarnya di atas piring kecil. Tentu saja ia akan mengajak Miyoung sebab hanya gadis itu yang berputar-putar di benaknya sejak mereka bercinta di villa.
“Tapi, Teuki, sepertinya Siwon sedikit kesulitan mengajak Miyoung untuk pergi dengannya. Sebab akhir-akhir ini aku melihat Miss Hwang dekat dengan atasannya,” timpal Dongwook, sengaja ingin melihat ekspresi Siwon.
Siwon tertegun menatap gelasnya.
“Jinjja? Apa hubungan mereka sangat dekat?” tanya Leeteuk antusias, tidak menyadari kalau wajah Siwon telah memerah.
“Menurutku cukup dekat. Miyoung tampak nyaman dengan pria Thailand itu. Siapa sih namanya?”
Siwon mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah Dongwook. “Nichkhun maksudmu?”
Dongwook mengangguk. “Benar. Aku dan Jessica sering melihat mereka hang out bersama,” bohongnya.
Siwon diam-diam menggerutu dalam hati. Sial! Kenapa aku harus kesal mendengarnya? Meskipun aku telah beratus kali mengatakan kalau ia milikku, sepertinya gadis itu tidak mendengarkanku juga, batinnya.
“Siwon-ah, apa Miyoung menolakmu? Kalian pernah bercinta dan dia tetap tidak mempunyai perasaan terhadapmu? Daebak!” pancing Dongwook diiringi tawa Leeteuk.
“Yah! Hwang Miyoung milikku. Ia tidak akan pergi dengan pria lain!” sembur Siwon. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia sangat sensitive dengan hal itu.
“Siwon-ah, tenanglah. Jangan bersikap seolah-olah kau cemburu! Apakah kau jatuh cinta pada gadis itu?” kali ini Leeteuk bertanya seraya menyeringai.
Kontan saja Siwon terdiam. Ia tidak menemukan sangkalannya. Ia tidak akan jatuh cinta pada Miyoung, Siwon terus mengatakan hal itu dalam hati secara berulang-ulang. Namun mulutnya seakan-akan terkunci. Leeteuk dan Dongwook saling pandang.
“Kau benar-benar jatuh cinta, Siwon-ah.”
“AKU TIDAK JATUH CINTA! AISH! KALIAN BENAR-BENAR MENYEBALKAN!” raung Siwon. Dongwook mengusap-usap pundak Siwon sedangkan Leeteuk masih menyeringai di kursinya.
“Kau tidak perlu semarah itu,” ucap Leeteuk tenang. Kini kedua sahabatnya percaya, kalau seorang pemain wanita, seorang Cassanova, dan seorang kurang ajar seperti Siwon, telah jatuh cinta pada gadis desa.

***

Tanpa pemberitahuan apa-apa, Siwon mendatangi toko bunga Nichkhun untuk menjemput Miyoung. Hatinya sudah cukup panas mengingat Miyoung yang sering bepergian dengan Nichkhun. Malam ini Miyoung harus ikut dengannya ke pesta perayaan satu tahun pernikahan Leeteuk dan Taeyeon.
Siwon memasuki toko yang sedang tidak ada pelanggan itu tanpa mengucapkan sepatah salam. Ia langsung menyerbu ke dalam dan melihat Miyoung dan Nichkhun sedang merapikan letak pot-pot bunga di sudut ruangan, sedangkan dua karyawan lainnya sedang menggunting daun-daun kekuningan pada tanaman yang akan mereka jual.
Sosok Siwon bagaikan magnet di ruangan itu. Semua pasang mata menatapnya. Tetapi Siwon hanya membalas tatapan Miyoung yang tampaknya sangat terkejut melihat kehadiran Siwon yang tiba-tiba. Nichkhun waspada di tempatnya.
Siwon melangkah menuju Miyoung tanpa mengeluarkan suara dari bibirnya. Tujuannya ke toko ini untuk menjemput Miyoung, bukan berbasa-basi dengan orang-orang bodoh itu.
“Ikut denganku!” tukas Siwon seraya menarik tangan kiri Miyoung.
“Kemana? Tidak, Siwon-ssi! Aku masih bekerja!” tolak Miyoung seraya merenggut tangannya kembali. Nichkhun tersenyum puas dan maju untuk mendekati Siwon.
“Kau membantahku lagi, ya?” desis Siwon.
“Hey, Bung! Miyoung adalah karyawanku dan saat jam kerja, ia harus mendapatkan izin dariku. Kau tidak boleh membawanya apalagi memaksanya. Jika ia menolak pergi denganmu, maka kau boleh pergi dari sini sekarang juga,” ujar Nichkhun.
Siwon beralih menatap Nichkhun. Matanya sedikit memerah dan tangannya mengepal. Miyoung pernah melihat wajah itu saat di villa. Wajah bengis tanpa belas kasihan. Tetapi Miyoung memang tidak ingin pergi bersama Siwon. Pria itu selalu seenaknya. Terlebih lagi saat ini Chae Ya percaya kalau mereka benar-benar sepasang kekasih. Jadi, Siwon bebas menyentuhnya di rumah. Namun Miyoung tidak akan membiarkan hal itu terjadi di luar rumah.
“Jangan pernah ikut campur dalam urusan kami. Kau mengerti?” geram Siwon. Nichkhun menyipitkan mata padanya. ia tidak gentar sama sekali. Lalu Siwon kembali menoleh pada Miyoung. Gadis itu masih berdiri gemetar. Ia tidak pernah melihat Siwon seperti ini lagi setelah di villa.
“Aku masih bekerja, Siwon-ssi.”
Siwon menarik tengannya lagi, kali ini secara paksa. “Tak ada penolakan!”
“Hei, jangan berteriak di tokoku. Dan lepaskan tangan Miyoung!” sela Nichkhun.
BUGG!!
Miyoung, Luna dan Gil berteriak histeris ketika tubuh Nichkhun terpental ke lantai. Tangan Siwon yang tidak memegangi tangan Miyoung telah sukses menghantam wajah tampan Nichkhun dengan sangat keras. Nichkhun tergeletak tak berdaya di lantai, memegangi rahangnya. Tepi bibirnya mengeluarkan darah segar.
Siwon menyeringai puas saat melihat musuhnya terluka fisik dan harga dirinya. Namun Nichkhun bukanlah pribadi yang kekanakkan yang membalas apa yang telah dilakukan Siwon. Ia berdiri tegak dan menyeka darah di tepi bibirnya. Miyoung memberinya tatapan menyesal. Ini semua adalah akibat penolakannya terhadap Siwon.
“Sekali lagi kau ikut campur, aku akan menghancurkan tokomu!” ancam Siwon. “Ayo, Hwang Miyoung! Mulai saat ini kau tidak bekerja disini lagi!”
Miyoung melotot. “Mwo? Shirreo!” seru Miyoung seraya memberontak. Siwon menyeretnya keluar.
“Ucapkan selamat tinggal pada teman-teman bodohmu dan penggemarmu itu. Hahaha!”
Luna dan Gil mendekati Nichkhun, ingin memastikan apakah atasan mereka baik-baik saja. Nichkhun mengangkat sebelah tangannya dan tersenyum, menyatakan kalau ia tidak apa-apa. Mereka bertiga hanya bisa memandangi kepergian Siwon dan Miyoung. Gil sudah menangis dari tadi. Ia tidak rela jika Miyoung tidak bekerja lagi di toko itu.
“Hiks, kenapa Choi Siwon begitu jahat. Ia seperti reinkarnasi dari iblis terkutuk,” isak Gil. “Aku tidak ingin Miyoung berhenti bekerja disini.”
“Aku juga,” Luna mengamini.
Terdengar Nichkhun menghela napas kasar. Luna dan Gil menatapnya, setengah prihatin dan setengah lagi sedih.
“Siwon tidak bisa mengatur hidup Miyoung. Aku akan berusaha membuat Miyoung kembali bekerja disini. Tenang saja. Sekarang, kembalilah bekerja!” ujar Nichkhun tenang.
Luna dan Gil saling pandang.
“Tapi, luka di mulut Bos harus segera diobati,” ucap Luna. Nichkhun menyentuh lukanya lalu meringis. Rasanya perih dan kaku.
“Aku bisa mengatasinya, Luna.”

***

“Buat dia secantik mungkin. Berikan gaun terbaik yang kalian miliki dan perhiasan-perhiasannya.”
“Baik, Tuan Muda!”
Miyoung mengikuti dua orang pelayan toko menuju ruang ganti tanpa menoleh ke arah Siwon lagi. Kini ia benar-benar membenci pria itu. Akan tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti kemauannya. Daripada orang lain yang harus menanggung akibatnya. Miyoung tidak ingin orang lain menderita karena dirinya. Jika Siwon menginginkan dirinya, lebih baik Miyoung menurutinya saja.
Miyoung memandang berkeliling toko pakaian dan perhiasan itu. Aneh sekali tidak ada pengunjung sama sekali. Namun Miyoung memilih untuk tidak mempertanyakannya. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi.
“Anda benar-benar cantik, Miss.”
Miyoung tersenyum pada salah seorang pelayang yang memujinya. “Kamsahamnida. Panggil saja aku Miyoung.”
“Baiklah, Miss Miyoung. Kita masuk ke ruangan ini,” balasnya lagi. Temannya membukakan sebuah ruangan khusus yang tampaknya hanya dimasuki oleh orang-orang penting.
Miyoung terperangah kagum saat dirinya memasuki ruangan yang dikelilingi oleh berpuluh-puluh gaun, sepatu serta perhiasan. Ruangan berbentuk tabung itu dikelilingi oleh dinding kaca. Dua orang pelayan tadi kini telah membawakan beberapa helai gaun, sepatu serta perhiasan ke hadapan Miyoung.
“Silahkan coba satu persatu, Miss Miyoung.”
“N-nde?”
Sementara itu di luar, Siwon duduk di sofa nyaman yang disediakan khusus untuknya. Sebetulnya toko ini adalah miliknya, jadi ia bebas meminta apa saja. Sebelum ke tempat ini, Siwon telah meminta kepala toko untuk mengosongkan toko dari pelanggan. Ia ingin Miyoung memilih pakaian dengan tenang.
Siwon mengeluarkan ponselnya dan melihat-lihat foto yang berhasil diabadikannya. Tepatnya satu folder yang hanya dipenuhi oleh foto Miyoung. Siwon sering mencuri-curi kesempatan untuk memotret gadis itu. Tentu saja disaat Miyoung tidak sadar. Siwon termenung melihat salah satu foto yang menunjukkan eyesmile Miyoung dengan jelas.
Baru kali ini ia menyimpan foto wanita dan menolak untuk menghapusnya. Bahkan Siwon ingin terus menerus mendapatkan fotonya dan membiarkan dirinya menikmati hal itu. tiba-tiba ia teringat ucapan Leeteuk.
Siwon menelan ludah. Tidak, ia tidak jatuh cinta pada Miyoung. Ia hanya memanfaatkan gadis itu untuk membuat Chae Ya mati perlahan oleh rasa cemburu. Ia ingin kedua bersaudari Hwang itu segera pergi dari kehidupannya dan kehidupan Ayahnya. Dengan tidak mendapatkan uang sepeserpun, tetu saja.
Terkadang Siwon merasa asing dengan dirinya yang sekarang ini. Siwon tidak terlalu tertarik berhubungan dengan wanita lain, apalagi melirik mereka. Siwon juga agak sensitive jika disinggung masalah cinta. Dan yang membuatnya tak menyangka, Siwon mengingat Ibunya akhir-akhir ini.
Siwon menghela napas berat. Ia ingat bagaimana sikap Ibunya disaat ia masih kanak-kanak. Meskipun Ibunya telah berselingkuh, tetapi ia mencintai anak tunggalnya itu. Ibunya yang meninabobokan disaat ia mengalami insomnia, Ibunya yang selalu ada jika ia sakit dan Ibunya yang selalu memberikan kecupan selamat malam di keningnya. Siwon menarik-narik rambutnya sendiri ketika mengingat hal-hal manis tersebut.
Ia membenci Ibunya atas satu alasan. Yaitu perselingkuhan. Tetapi yang tidak diketahui Siwon adalah perasaan Ibunya yang sebenarnya. Apa yang dirasakan Ibunya terhadap sang Ayah sehingga mencari kasih sayang dari pria lain. Siwon tidak mengetahui hal itu sama sekali.
Flashback
“Eomma, aku merasa tak enak badan. Eomma mau kemana?” tanya seorang anak laki-laki berusia 10 tahun sambil bergelayut manja di lengan Ibunya. Wanita cantik yang berlesung pipi itu mengelus kepala si anak.
“Siwon-ah, Anakku. Eomma ada keperluan sebentar. Eomma berjanji akan pulang satu jam lagi. Siwon ingin Eomma belikan apa, hmm?” bujuk Ibunya.
Anak laki-laki bernama Siwon itu menggeleng malas. “Aku hanya ingin Eomma tetap disini.”
Wanita itu, Ny. Choi Jan Di, sebenarnya juga enggan meninggalkan putranya yang tubuhnya memang sedikit panas. Tetapi ia harus pergi saat ini juga. Ada seseorang yang telah menunggunya. Seseorang yang dicintainya.
“Kalau begitu, izinkan Eomma menghubungi teman Eomma terlebih dahulu. Eomma ingin membatalkan pertemuan kami dan menemanimu di rumah. otte?”
Siwon mendongak menatap Ibunya dengan wajah yang berseri-seri. “Jengmalyo? Hmm, Eomma boleh menghubungi teman Eomma!”
Ny. Choi mengecup puncak kepala Siwon. “Changkamman, ne?”
Ny. Choi keluar dari kamar Siwon dan berdiri di depan pintu setelah menekan nomor ponsel seseorang di ponselnya. Selagi Ny. Choi menunggu panggilannya dijawab oleh orang yang dimaksud, ternyata Siwon mengintip dari balik pintu kamarnya. Ia ingin tahu siapa yang akan dihubungi oleh Ibunya.
“Chagiya, sepertinya aku tidak bisa menemuimu hari ini.”
Siwon mengernyitkan kening.
“Apakah sepenting itu? Tapi, Siwon sakit. Aku tidak ingin meninggalkannya,” lanjut Ny. Choi lagi. Ekspresinya benar-benar dilemma.
Siwon masih menyimak di balik pintu.
“Baiklah. Tetapi hanya setengah jam saja. Janji?”
Setelah mendapatkan jawabannya, Ny. Choi mengakhiri panggilan. Siwon kembali ke tempat tidurnya, masih dengan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. Kira-kira siapa yang dipanggil Ibunya dengan panggilan ‘chagiya’ dan hendak kemana mereka?
Ny. Choi kembali masuk ke kamar Siwon dan mendapati putranya itu masih di posisi yang sama. Ia duduk di tepi tempat tidur dan mengelus kening Siwon. Tampak jelas kasih sayang terpancar dari wajah anggunnya.
“Siwonnie, Eomma terpaksa harus pergi. Hanya 30 menit saja. Jika kau merasa bosan, pejamkan saja matamu dan saat kau memejamkan mata, Eomma adalah orang pertama yang kau lihat.”

Flashback end

Itulah kata-kata terakhir Ibunya yang diingat Siwon. Setelah Ibunya pergi, wanita itu tidak kembali lagi. Siwon dan Ayahnya mendapat kabar kalau Ibunya tewas dalam kecelakaan mobil bersama pria yang diketahui adalah kekasihnya. Ayahnya berkata kepada Siwon kalau selama ini Ibunya telah mengkhianati mereka. Disanalah Siwon membenci Ibunya. Perasaan sayangnya yang begitu dalam terluka parah. Ia tidak percaya lagi dengan cinta.
“Tuan Muda Siwon? Tuan Muda?”
Siwon tersentak dari lamunan panjangnya karena seorang pelayan toko laki-laki terus memanggil namanya. Siwon mendesah kemudian memfokuskan pandangannya ke depan, tepat kepada seorang gadis yang memakai gaun sutra panjang berwarna krem.
Awalnya Siwon tidak mengenali siapa yang berdiri di hadapannya, berdiri malu-malu sambil menundukkan wajah. Otak Siwon perlahan mulai memahami sosok itu setelah lamunannya yang cukup menguras ingatannya beberapa saat lalu. Siwon tertegun.
“Bagaimana menurut Anda penampilan baru Miss Miyoung, Tuan Muda?”
Siwon kehilangan kata-kata atau akal sehat, ia sendiri tidak tahu yang mana jawabannya. Matanya terpaku pada Miyoung. Harus diakuinya, saat ini Miyoung luar biasa cantik. Gaun panjang yang indah dengan renda serta lipit-lipit di bagian bawah dadanya sangat pas di tubuh kurus itu. Payudara Miyoung yang biasanya tampak kecil kini sedikit menyembul karena potongan atas gaun yang jatuh tepat di bawah tulang selangka. Kerutan di lingkar dadanya menambah kesan keindahan tubuh gadis itu. Gaun dengan satu tali itu begitu melekat di tubuh Miyoung, sehingga memperlihatkan lekuk bokong serta tulang panggulnya yang sempurna.
Mata Siwon bergerak memandang dari puncak kepala Miyoung hingga ke ujung sepatu berhak tinggi yang dikenakannya. Sempurna, batin Siwon. Pria itu jelas-jelas terpukau.
“Kau berencana untuk diam saja sambil melotot begitu?” tukas Miyoung sinis. Ia risih karena Siwon menelanjanginya dengan tatapan tajam.
“E…apa maksudmu? Dasar gadis desa,” gumam Siwon kesal. Sebetulnya tidak sepenuhnya kesal.
Miyoung memandangi dirinya sendiri lalu berdecak. Ia sama sekali tidak tertarik dengan penampilannya. Bukan itu alasan yang sebenarnya. Ia menyukai gaun, sepatu dan perhiasan yang saat ini melekat di tubuhnya, namun perasaan tak ikhlas kepada Siwon-lah yang membuatnya tidak bersemangat.
“Miss Miyoung sangat cantik dengan gaun itu. Gaun itu adalah yang terbaik disini, Tuan Muda!” kata pelayan toko yang tadi membuyarkan lamunan Siwon. Siwon menggeliat malas, berpura-pura tidak tertarik pada Miyoung.
“Siapa yang meminta pendapatmu, Bodoh?” desis Siwon pada pelayan itu. Miyoung memandang pemuda yang sepertinya lebih muda dari Siwon itu dengan tatapan prihatin. Siwon memang tidak mempunyai perasaan.
***

“Pegang tanganku!” perintah Siwon sambil mengulurkan tangannya ke arah Miyoung ketika mereka turun dari mobil. Siwon tampak tampan dengan setelan Armani-nya. Rambutnya disisir rapi seolah-olah ia terlahir dengan potongan rambut seperti itu. Wajahnya bebas dari bayangan kumis serta jambang. Ia terlihat seperti seorang pangeran, sementara Miyoung sebagai putri mahkota.
Mereka terlihat sempurna.
“Aku tidak ingin terlalu lama disini,” ucap Miyoung seraya menyambut uluran tangan Siwon. Siwon tersenyum manis.
“Tak masalah. Setelah 30 menit kita disini, aku akan membawamu ke suatu tempat. Apa kau ingin menginap di villa-ku yang lainnya?” goda Siwon. Tangannya meremas lembut tangan Miyoung.
“Kau brengsek,” desis Miyoung tanpa takut sedikitpun. Mendengar itu Siwon bukannya marah, melainkan tertawa. Ia menarik Miyoung agar segera memasuki rumah Leeteuk.
“Terserah apa katamu. Yang penting kau milikku. Kau mengerti? Ingat, tersenyumlah saat kita berada di dalam. Kalau tidak, aku tak segan-segan menciummu.”
Miyoung telah terbiasa dengan ancaman-ancaman Siwon. Ia juga terbiasa untuk mematuhinya. Karena pria seperti Siwon benar-benar memegang ucapannya. Jadi, Miyoung tidak punya pilihan lain. Ia telah memasang senyuman manis saat kaki mereka melangkah memasuki rumah Leeteuk yang tak kalah besar dari rumah Siwon itu.
Siwon dan Miyoung langsung disambut oleh Jessica dan Taeyeon. Miyoung begitu lega ketika Jessica menghampiri mereka. Ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Siwon tatkala Jessica dan Taeyeon menyeretnya ke sudut rumah, jauh dari Siwon dan teman-temannya. Sementara itu beberapa gadis cantik yang berpakaian elegan dan terbuka tak habis-habisnya melotot ke arah Miyoung.
“Taeyeon-ssi, selamat hari jadi pernikahanmu yang pertama,” ucap Miyoung demi mengalihkan pikirannya dari tatapan tamu-tamu wanita disana. Taeyeon tersenyum manis.
“Kamsahamnida, Miyoung-ssi. Aku senang kau datang.”
Miyoung mengangguk. Sebenarnya ia juga senang menjadi bagian dari pesta ini, hanya saja ia tidak senang dengan partner-nya.
“Gaun yang sangat indah, Miyoung-ssi!” puji Taeyeon lalu memberikan segelah champagne kepada Miyoung. Miyoung menerimanya dengan canggung. Ini sudah yang kedua kalinya ia berada di pesta mewah seperti sekarang. Yang pertama saat pernikahan kakaknya. Namun atmosfer pesta Leeteuk dan Taeyeon baginya lebih ‘menyeramkan’ mengingat ia harus dalam pengawasan Choi Siwon.
“Kau benar-benar sangat cantik. Siapa yang memilihkan gaun ini untukmu?” kali ini Jessica berkomentar.
“Eh…gaun ini pilihanku sendiri tetapi…ehm—Siwon yang memberinya,” jawab Miyoung gugup.
“Jinjja?” Taeyeon dan Jessica tampak sedikit terkejut. Miyoung heran mengapa mereka harus bereaksi seperti itu. Wajar saja Siwon membelikan gaun dan perhiasan mahal kepada seorang gadis yang menjadi partner di pesta temannya. Pria itu banyak uang.
“Hmm ada yang salah?” Miyoung tidak tahan untuk bertanya. Jessica dan Taeyeon langsung menutupi reaksi mereka dengan tawa.
“Bukan begitu, Miyoung-ssi. Kami hanya terkejut karena kau bilang Siwon yang memberimu gaun itu,” jawab Taeyeon. Jessica mengamini dengan anggukan kepala.
“Memangnya kenapa, Taeyeon-ssi?” Miyoung masih belum mengerti.
“Itu karena Siwon tidak pernah membelikan gaun yang sangat indah kepada pasangannya. Kebanyakan dari wanita-wanita yang menginginkan Siwon hanya mendapatkan uang dan perhiasan. Jika Siwon memberikan gaun, itu artinya ia menganggap wanita tersebut spesial. Ia sendiri yang mengatakan padaku,” jelas Jessica. Kali ini Jessica benar-benar jujur.
Siwon memang tidak pernah membelikan gaun indah seperti yang dikenakan Miyoung saat ini kepada wanita-wanitanya yang terdahulu. Ia hanya memberikan uang dan perhiasan. Jika ia memberikan gaun, terlebih lagi saat menghadiri suatu acara dengannya, itu artinya ia menganggap wanita tersebut spesial.
Miyoung menyesap champagne-nya untuk menutupi kegugupannya. Jika memang Siwon menganggapnya spesial, Siwon tidak akan pernah menyakitinya. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
“Sekarang waktunya pemotongan kue!” terdengar seorang MC berbicara melalui microphone. Taeyeon tersenyum kepada Jessica dan Miyoung lalu bergegas menyusul Leeteuk yang menunggunya di depan meja kue tart yang paling tinggi yang pernah dilihat Miyoung di kehidupan nyata. Lebih tinggi dari kue tart saat pernikahan kakaknya. Miyoung berdecak kagum. Kini cahaya di ruangan meredup dan sebuah lampu sorot mengarah kepada pasangan mengagumkan, Taeyeon dan Leeteuk.
“Jessie?” bisik Miyoung kepada Jessica yang masih setia menemaninya.
“Nde?”
“Kenapa saat masuk tadi, mereka semua memandangiku? Maksudku, tamu-tamu wanita. Apa karena aku orang asing?” tanya Miyoung pelan. Jessica tertawa kecil.
“Santai saja, Miyoung-ah. Mereka hanya iri padamu. Apa kau tahu, 98 persen wanita disini ingin berpasangan dengan Choi Siwon. Dan 2 persen lagi sama sekali tidak tertarik pada posisi itu,” ujar Jessica seraya bergurau.
“2 persen lagi? Nugu?”
“Tentu saja aku dan Taeyeon, hihihi.”
Miyoung ikut tertawa. Jessica tidak sepenuhnya benar. Seharusnya kategori yang tidak tertarik menjadi pasangan Siwon sebanyak 3 persen, termasuk dirinya.
Di sudut lain, Siwon tak lepas memandangi Miyoung. Gadis itu sangat menonjol diantara puluhan tamu wanita yang datang. Separuh hatinya menggerutu sebab Miyoung bisa tertawa lepas bersama orang lain. Sedangkan jika bersamanya Miyoung layaknya tikus yang ketakutan. Siwon menyukai eyesmile Miyoung ketika gadis itu tertawa. Siwon bahkan menyukai bagaimana bibir itu melengkung cemberut ketika Jessica menggodanya.
Jantung Siwon berdegup kencang. Ia ingin mendengar suara tawa Miyoung untuk dirinya sendiri. Siwon bahkan tidak mendengarkan pidato kasmaran Leeteuk di dekat meja kue. Siwon yakin saat ini Miyoung sedang menertawai lelucon-lelucon yang dilontarkan Jessica, sesekali mungkin karena pidato Leeteuk yang menurut Siwon sangat gombal.
Miyoung dan Jessica tertawa bersama tamu-tamu lain ketika kini giliran Taeyeon berpidato. Taeyeon membalas bualan-bualan Leeteuk dengan sindiran-sindiran cerdas yang membuat tamu wanita tertawa. Siwon tanpa sadar ikut tertawa. Bukan karena pidato Taeyeon—Siwon sama sekali tidak mendengar pidato Taeyeon—melainkan karena melihat tawa lepas Miyoung.
Tiba-tiba Dongwook menyenggol Siwon, membuat Siwon mengumpat pelan.
“Apa sih?”
“Yah! Apa yang kau tertawakan, eoh? Apa kau tidak merasa malu?”
Siwon mengernyit tajam, benar-benar tidak mengerti.
“Mwo? Apa maksudmu aku tidak malu? Apakah aku harus malu karena tertawa?”
“Ck, bukan karena tertawa. Apa kau tidak mendengar cerita Taeyeon? Ia mengatakan mengapa setiap pria, khususnya Leeteuk, senang sekali mencium ketiak pasangannya sehabis bercinta. Para pria juga pihak yang malu-malu untuk turun dari ranjang terlebih dahulu. Aish, istri Leeteuk itu memang menyebalkan.”
Siwon melotot. Jadi beberapa saat lalu Miyoung ikut menertawakan pidato Taeyeon? Siwon segera menutup mulutnya. Setidaknya ia senang Miyoung ikut tertawa, karena yang terjadi pada mereka setelah bercinta tidaklah seperti itu.
“Dan, sekarang saatnya kedua insan yang masih dimabuk cinta ini berdansa!” seru MC dan disambut oleh tepuk tangan para undangan. Dongwook menyesap minumannya lalu meletakkan gelas kosong tersebut ke atas meja.
“Sebentar lagi pesta dansa. Aku harus berada di samping ice princess-ku.”
Mendengar itu Siwon teringat Miyoung. Ia mengawasi gadis itu yang kini tersenyum canggung kepada Jessica. Siwon yakin Jessica meminta izinnya untuk kembali kepada Dongwook. Siwon tersenyum. Sebentar lagi ia akan mengajak gadis itu berdansa.
Tanpa diduga, tatapan Miyoung dan Siwon beradu. Miyoung hanya bertahan 5 detik untuk memandang Siwon. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya kepada Leeteuk dan Taeyeon yang berdansa di depan para undangan. Siwon menyeringai kemudian menghampiri Miyoung.
Ada perasaan aneh yang muncul ketika Siwon menghampirinya. Miyoung tidak tahu apakah itu rasa takut atau gugup. Sudah dapat ditebak Siwon akan mengajaknya berdansa. Dan pilihan Miyoung hanya satu, yaitu menerima ajakannya.
“Apa kau ingin berdansa denganku?” tanya Siwon. Suaranya tidak romantis sama sekali.
***
Chae Ya berdiri di dekat jendela kamarnya sambil bersidekap. Matanya berkaca-kaca melihat pemandangan di bawah. Selama satu tahun mengejar cinta Siwon, ia tidak pernah merasakan rangkulan dan gandengan tangan pria itu. Apalagi cumbuannya! Namun saat ini ia disuguhkan pemandangan yang menyakitkan hatinya.
Siwon menyampirkan jasnya di bahu Miyoung yang terbuka. Chae Ya yakin gaun indah itu pasti pemberian Siwon. Ia bertanya-tanya, kemanakah mereka malam ini? Sekarang sudah waktunya semua orang tidur dan kedua orang itu baru pulang ke rumah. Chae Ya terbakar rasa cemburu. Rasa cemburu itu kini telah menghanguskan rasa sayangnya kepada sang adik.
Chae Ya tertawa lirih. Ia menyesal membawa Miyoung ke dalam rumah ini. Jika ia tahu Siwon akan menyukai adiknya, Chae Ya tidak akan repot-repot mengundang Miyoung untuk tinggal bersama mereka.
“Tidak ada seorangpun yang bisa merebut Siwon-ku.”
Miyoung melepaskan jas Siwon yang tersampir di bahunya dan menyerahkan kembali kepada si empunya. Siwon masih memandanginya dengan seringaian yang sama sejak pesta usai tadi. Terang saja membuat Miyoung risih. Sedapat mungkin Miyoung menghindari tatapan Siwon.
“Selamat malam, Siwon-ssi!” ucap Miyoung. Mereka telah sampai di depan kamar Miyoung. Tetapi bukan Siwon namanya jika tidak bertindak diluar akal sehat. Tanpa bisa dicegah, Siwon ikut masuk ke dalam kamar dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat Miyoung. Dan sebelum Miyoung melontarkan kata-kata pedasnya untuk Siwon, pria itu menekannya ke pintu yang tertutup dari dalam. Siwon mengepung kepala Miyoung dengan sepasang tangan kekarnya.
Miyoung menahan napas. Apa lagi sekarang?
“Kau tahu Miyoung, sepertinya aku telah berubah pikiran.”
Gadis itu menatap kedua manik mata Siwon. Sorot matanya tegas namun lembut.
“A-apa maksudmu?”
“Awalnya aku memang berniat untuk mengusir kalian berdua dari rumah ini sebab aku tahu tujuan utama kakakmu adalah untuk merebut harta kekayaan Ayahku. Aku berpikir kau sama seperti kakakmu. Tapi mungkin aku salah. Kau memang benar-benar polos. Lalu, sekarang aku mengubah keputusanku. Aku tidak ingin kalian berdua pergi dari rumah ini, tetapi aku hanya ingin kakakmu saja. Aku ingin Hwang Chae Ya keluar dari rumahku, dan kau tetap disini bersamaku.”
Miyoung tercekat. Ia tidak melihat ketidakseriusan di sepasang mata tajam di hadapannya. Siwon sungguh gila! Tidak mungkin Siwon membuat Chae Ya yang tak lain adalah istri Ayahnya keluar dari rumah ini. Yang seharusnya keluar adalah dirinya.
“Jangan mengada-ada, Siwon-ssi. Kakakku tidak akan keluar dari rumah ini. Jika kau tidak ingin salah satu dari kami disini, aku akan pergi. Aku akan meninggalkan rumah ini bahkan sebelum kau bangun pagi. Apa kau puas?”
Siwon tidak bisa menerima pernyataan Miyoung. Ia tidak ingin Miyoung keluar dari rumah ini karena hatinya sudah terbiasa merasakan keberadaan Miyoung.
“Kau tak akan kemana-mana. Coba saja melarikan diri, aku tak segan-segan menyakiti kakakmu.”
Miyoung menggeram. Berdebat dengan Siwon membuatnya sakit kepala. Mungkin hanya manusia bebal yang tahan dengan Siwon. Miyoung mencoba mendorong tubuh Siwon, namun pria itu malah semakin mendekat sehingga kini tubuh mereka menempel erat.
“Tidak ada ciuman selamat malam untukku?” bisik Siwon seduktif.
“Jangan—“
Tok tok tok
Hati Miyoung mencelos lega saat ketukan di belakangnya menghentikan gerakan Siwon yang akan menciumnya. Mata Siwon mendelik tajam seolah-olah bisa menembus pintu di belakang Miyoung. Ketukan itu terdengar lagi. Sepertinya seseorang di balik itu sudah tidak sabar.
“Damn it!”
“Kumohon menyingkirlah!” desis Miyoung seraya mendorong Siwon kuat-kuat. Pria itu terhuyung ke belakang. Tubuhnya melemah karena hasrat yang telah diinterupsi oleh si tamu. Miyoung bergegas membuka pintu kamarnya dan sedetik kemudian terkesiap ketika Chae Ya berdiri disana. Chae Ya menatap tajam padanya alih-alih melotot kepada Siwon.
“Eo-Eonnie, aku…aku bisa menjelaskan ini,” gumam Miyoung gemetar.
“Kau tidak perlu menjelaskannya, Miyoung-ah!” tukas Chae Ya. Ia beralih kepada Siwon yang berjalan santai keluar kamar. “Choi Siwon, dimana tata kramamu? Kau mengantar seorang gadis sampai ke dalam kamarnya?”
Siwon menghentikan langkah dan berbalik menghadap Chae Ya.
“Ini rumahku dan aku bebas melakukan apa saja disini. Lagipula, Miyoung adalah kekasihku. Kenapa kau sewot sekali?”
Chae Ya tidak menjawab, terlebih lagi Miyoung. Perseteruan melalui tatapan mata diantara Siwon dan Chae Ya saja sudah membuatnya merinding.
“Oh, apa kau cemburu? Karena selama ini kau menyukaiku tetapi aku tidak menginginkanmu? Lalu, apakah Ayahku tidak bisa menggantikannya? Aku dan Ayahku bukannya sama saja? Dimana beliau sekarang, jika boleh kutahu? Aku bertanya-tanya apakah tidurnya tenang sementara istri tercintanya berkeliaran di dalam rumah dan mengganggu kesenangan orang lain,” cemooh Siwon sinis.
Wajah Chae Ya memerah. Siwon sukses membuatnya malu di depan Miyoung.
“A-apa yang kau bicarakan? Dasar kau tidak mempunyai sopan santun!” gertak Chae Ya. Suaranya gemetar ingin menangis.
Miyoung tidak bisa tinggal diam melihat Siwon menyerang kakaknya dengan kata-kata. Ia maju untuk berdiri di samping Chae Ya dan mengalihkan pandangan Siwon padanya.
“Cukup, Siwon-ssi! Kau tidak bisa menghina kakakku lagi!” kata Miyoung dingin. Siwon menatapnya.
“Kalian memang pantas dihina,” desis Siwon. “Kalian pasti tidak menyangka hidup kalian yang dulunya melarat akan sejahtera seperti sekarang ini. Kau, Hwang Chae Ya, menggunakan tubuhmu untuk memikat Ayahku. Kau memanfaatkan pernikahanmu untuk mendapatkan dua tujuan sekaligus. Seharusnya kau malu!”
PLAKK!
Miyoung menutup mulutnya, terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tangan Chae Ya masih berada di udara sementara Siwon tercengang setelah mendapatkan tamparan keras itu. Matanya berkilat-kilat marah menatap Chae Ya. Miyoung bisa mendengar Chae Ya bernapas kasar dan mendesak.
Siwon belum pernah mendapatkan tamparan dari wanita manapun. Tindakan Chae Ya melukai harga diri dan martabatnya. Rahangnya berdenyut hebat dan matanya melotot seolah-olah ingin melompat keluar. Dengan cepat sebelah tangannya menyambar tangan Chae Ya yang menamparnya tadi.
Miyoung melangkah ke depan dan menahan tubuh Siwon. ia menggeleng kuat-kuat. Saat ini Siwon bisa saja melukai kakaknya.
“Jangan Siwon-ssi. Aku mohon!” isak Miyoung. Siwon menelan ludah.
Dengan satu hentakan keras, Siwon mendorong Chae Ya. Chae Ya terhuyung ke belakang dan Miyoung segera menyambar tangan kakaknya. Miyoung mendekap tubuh Chae Ya yang gemetar ketakutan. Siwon berjalan menjauh, menghampiri kamarnya sendiri lalu membanting pintu itu dengan sangat keras.
Miyoung menangis di dalam pelukan Chae Ya. Untung saja Siwon tidak membalas tamparan kakaknya. Chae Ya termenung di bahu Miyoung. Tak ada yang bisa dilakukan Miyoung selain membela kakaknya tersebut.

***

Hari ini Miyoung libur. Namun ternyata pagi ini Tuan Choi berangkat ke Saudi Arabia untuk perjalanan bisnis. Ia harus meninjau lokasi pengeboran minyak disana bersama perusahaan partner-nya. Siwon menolak untuk ikut, sebab ia beralasan ingin fokus kepada rapat direksi yang akan diadakan besok pagi.
Tak lupa Chae Ya dibawa serta. Siwon berharap mereka berdua tidak akan kembali lagi ke rumah agar ia bisa menguasai semuanya disini. Siwon tidak membenci Ayahnya, tetapi ia membenci Ayahnya yang kini sangat terpikat pada Chae Ya. Mereka tidak bisa dipisahkan layaknya pasangan muda.
Dan itu membuat Siwon ingin muntah.
Miyoung mencari kesempatan untuk menemui Siwon. Ia perlu membicarakan sesuatu kepada pria itu. Dan disaat Siwon sedang bermain golf di taman belakang rumahnya, Miyoung memberanikan diri untuk mendekat.
“Siwon-ssi?”
Siwon mendengar tetapi tidak menoleh sedikitpun.
“Aku ingin berterima kasih padamu karena kau tidak membalasnya semalam,” lanjut Miyoung. Siwon menghentikan ayunan tangannya dan menopangkan tangan di stik yang dipegangnya.
“Aku tahu kau sangat membenci kami. Tapi ketahuilah Siwon-ssi, kami tidak bermaksud jahat padamu. Aku bisa menjaminnya kepadamu.”
Siwon membalikkan badan dan mendapati Miyoung berdiri tak jauh darinya.
“Sejak kecil, kami tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Kami hidup dengan bantuan belas kasihan tetangga. Eonnie selalu mengajarkan kepadaku untuk mengingat kebaikan mereka. Jika sudah besar tidak boleh melupakan bagaimana kehidupan kami dahulunya. Aku selalu menanamkan hal itu di diriku, Siwon-ssi. Kau boleh saja mengatakan kami adalah orang kampung karena memang begitulah kebenarannya. Aku tidak menyangkal itu sama sekali. Tapi aku mohon, jangan menganggap kakakku memanfaatkan Ayahmu karena mereka saling mencintai. Usia bukanlah masalah penting untuk kakakku. Aku lihat ia sangat berbakti pada Ayahmu. Kau tidak pernah mengerti mereka, oleh karena itu kau menuduh kakakku yang bukan-bukan.”
Siwon mendengus. “Kau salah, Miyoung. Kakakmu telah dibutakan oleh ketamakan dan cinta. Apa kau tidak pernah mendengar seseorang bisa saja berubah menjadi bukan dirinya saat dipertemukan oleh harta dan nafsu? Kakakmu adalah salah satunya. Aku tidak akan repot-repot menunjukkan kepadamu bahwa kakakmu adalah ular. Aku harap kau akan menyadarinya suatu saat nanti.”
Miyoung tertegun. Siwon melempar stiknya sejauh mungkin kemudian berjalan menjauh. Ia sedang tidak ingin diganggu siapapun saat ini, terutama Miyoung.
Drrrt drrrt
Ponsel di saku celana panjang Miyoung bergetar. Gadis yang masih melamun di tempatnya itu segera mengeluarkan benda tersebut dari sana dan membaca nama pemanggil di layarnya.
“Jessica Jung?”
Siwon menyibukkan diri di ruang gym khusus di rumahnya. Ia berlari di atas treadmill sambil terus memikirkan kata-kata Miyoung tadi. Siwon frustasi karena kini gadis itu telah menguasai 80 persen tempat di memori otaknya.
Gadis itu ternyata berhati lembut, tidak seperti kakaknya. Aku tidak tahu apakah ia begitu polos atau bodoh karena tidak menyadari kejahatan kakaknya. Apakah ia tidak tahu kalau seseorang bisa saja berubah karena cinta?
Siwon tercekat dengan pikirannya sendiri. ia hampir saja terjungkal ke belakang jika tidak cepat-cepat turun dari treadmill yang sedang bergerak itu. Siwon mengatur napasnya yang terengah-engah lalu menyeka wajahnya yang berkeringat dengan handuk.
Ia tidak menyangka bisa memikirkan kalimat terakhir di dalam kepalanya. Seseorang bisa saja berubah karena cinta.
Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Bibirnya terasa kering. Kenapa kalimat itu begitu berpengaruh terhadap detak jantungnya. Siwon buru-buru menggelengkan kepala. Ia tidak mungkin jatuh cinta, tidak mungkin! Sekeras apapun Siwon menyangkalnya, namun kata-kata itu seolah telah menggerogoti hatinya.
Tepat saat Siwon yang mungkin akan membenturkan kepalanya ke dinding, deringan ponselnya pun menginterupsi. Ia mengambil benda persegi panjang itu dari atas kursi dan membaca pesan yang dikirimkan Dongwook.
“Hey, Tuan Choi! Apa kau tahu Jessica mengajak Hwang Miyoung ke acara kencan buta? Cepat selamatkan gadis pujaanmu sekarang juga. Di Jack the Rabbit Café!”
Tanpa sadar Siwon melempar ponselnya ke lantai berkarpet dengan amarah yang meluap-luap. Selalu saja nama gadis itu! Bisakah gadis itu menghilang dari kehidupannya? Untuk beberapa saat Siwon hanya bertolak pinggang dan menatap ponsel yang tak bersalah itu tergeletak di lantai. Ia menahan dirinya agar tidak menginjak benda itu.
“Aish, Miyoung lagi, Miyoung lagi! Lama-lama gadis itu membuatku gila!”

***
“Yeobo?”
“Hmm?”
“Bolehkah aku meminta sesuatu?”
Tuan Choi tersenyum lebar disaat Chae Ya bertanya manja padanya. Wanita itu bersandar di tubuhnya sementara awak pesawat mengalihkan pandangan mereka. Tuan Choi tidak perlu merasa risih dengan sikap manja istrinya sebab mereka terbang dengan pesawat pribadi. Hanya ada beberapa pramugari yang berdiri disana, berpura-pura tidak menyaksikan mereka bermesraan.
“Kau boleh meminta apa saja, Sayangku.”
Chae Ya memainkan kancing kemeja suaminya. “Aku ingin kembali ke perusahaan. Mendampingimu memimpin Choi Grup. Aku sangat bosan di rumah sedangkan Siwon dan Miyoung juga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Bolehkah?”
Choi Ji Hoo menatap Chae Ya serius. “Bukankah mengasyikkan jadi Ibu rumah tangga saja, hmm? Kau bisa belanja sepuasnya dan beristirahat di rumah.”
“Ck, yeobo. Kau kan tahu kalau aku bukan tipe wanita pemalas yang suka menghambur-hamburkan uang. Aku lebih suka bekerja. Apalagi jika mendampingimu di perusahaan.”
Tuan Choi tersenyum melihat istrinya merajuk. Lantas tanpa berpikir panjang, ia mengangguk, pertanda mengizinkan permintaan istrinya.
“Baiklah, kau boleh kembali ke perusahaan. Lagipula, setengah dari perusahaanku adalah milikmu,” ujar Tuan Choi. Chae Ya melebarkan matanya. Ia tidak yakin kalau pendengarannya salah.
“Setengahnya?”
Tuan Choi menghela napas. Sebelah tangannya mengusap-usap pundak sang istri. Matanya yang lelah tampak menerawang.
“Ya, aku telah berencana membagi-bagi harta dan propertiku kepada kalian. Yeobo, sejujurnya aku sedikit meragukan Siwon. Anak itu tidak berubah sejak dulu. Hobinya menghambur-hamburkan uang untuk teman wanita yang dipermainkannya, belum lagi pekerjaannya yang sering ia tinggalkan. Aku memang tidak meragukan kemampuannya memimpin perusahaan, namun sikapnya yang sembrono membuat keyakinanku luntur. Oleh karena itu aku telah membuat surat warisan dari sekarang. Kau tahu, usiaku tidak muda lagi. Lambat laun aku tetap akan memberikan semuanya kepada kalian. Kau dan Siwon, mendapatkan porsi yang menurutku sama. Bagaimana menurutmu, Yeobo?”
Chae Ya tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tetapi yang jelas, ia sangat bahagia saat ini. ia menghambur ke pelukan suaminya, membuat pria itu tertawa. Chae Ya menyeringai penuh kemenangan. Ternyata nasib baik berpihak padanya. Choi Siwon bisa saja menjadi milikku seutuhnya jika semua harta jatuh ke tanganku, batin Chae Ya.
“Gomawo, Yeobo. Jeongmal gomawo. Saranghae.”
Tuan Choi tersenyum. “Nado.”
Tuan Choi menghela napas lagi. Ia berpikir saatnya mengubah Siwon karena usia anaknya itu tidak lagi remaja. Siwon harus belajar tanggung jawab dan menghargai miliknya. Tiba-tiba ia merindukan saat bersama anaknya itu. Mungkin semua yang terjadi pada Siwon bukan sepenuhnya kesalahan anak itu. Mungkin juga…
“Yeobo?”
Chae Ya menoleh.
“Aku rasa aku terlalu mengabaikan Siwon. Apa aku adalah Ayah yang tidak baik?”
Chae Ya mengelus pipi Tuan Choi. “Tidak, Yeobo. Kau adalah Ayah dan suamiku yang sempurna.”

***

“Jessie, apakah kita harus melakukan ini? Bukankah kau sudah memiliki Dongwook?”
Jessica terkekeh. Ia menyeruput jus stroberinya lalu mendesah nikmat. “Ya, itu benar. Kita kan hanya iseng saja. Memangnya hanya lelaki saja yang nakal, hihihi.”
Miyoung hanya tersenyum kecut. Ia sedikit menyesali keputusannya menyetujui ajakan Jessica untuk melakukan kencan buta ini. Tidak tahu apa maksud Jessica, tetapi menurut Miyoung ini adalah pengkhianatan terhadap kekasih gadis itu, Lee Dongwook. Miyoung mengunyah lagi pai apel yang tadi disantapnya. Siang hari yang mendung ini sangat nikmat menyantap pai apel dan secangkir cappuccino.
Sebenarnya Miyoung ingin memesan makanan lebih banyak. Tidak tahu kenapa ia sangat kelaparan. Satu-satunya alasan jujur Miyoung menerima ajakan Jessica tadi adalah karena wanita itu ingin mentraktirnya makanan di restoran mewah di Seoul. Sambil menemaninya kencan buta, tentunya.
Selera makan Miyoung tidak seperti biasanya. Ia menghabiskan lebih dari setengah pai ukuran jumbo itu sendirian, tidak memberi kesempatan Jessica untuk menyicipinya. Jessica yang tidak pernah makan bersama Miyoung, merasa hal itu tidak apa-apa. Ia hanya berpikir Miyoung mungkin adalah tukang makan.
“Pai ini enak. Kau benar tidak mau?” ujar Miyoung. Jessica tersenyum.
“Tidak, terima kasih, Miyoung-ah. Melihatmu makan dengan lahap saja sudah membuatku kenyang,” komentar Jessica. Miyoung tersenyum canggung.
“Sebenarnya aku pun heran, Jessie. Tidak biasanya aku selalu lapar seperti ini. Bolehkah aku jujur? Aku masih lapar,” suara Miyoung semakin lama semakin kecil.
Jessica melebarkan matanya. “Ha? Apa kau serius? Hahaha, kau seorang shikshin ya?”
Miyoung menggeleng seperti anak kecil. “Molla. Baru kali ini aku merasakannya. Mungkin perutku sedang mengalami keanehan.”
Tawa Jessica tiba-tiba berhenti ketika melihat Miyoung mengusap-usap perutnya. Ia terpana untuk beberapa detik. Sikap Miyoung, selera makan serta usapan perut itu menyadarkannya. Jessica menelan ludah.
“Jessie, kenapa kau diam? Apa aku salah bicara?” tanya Miyoung segan. “Oh, kau tidak perlu memesankan makanan lebih banyak lagi. Aku bisa menahannya sampai rumah. Hehehe.”
“Bu-bukan itu maksudku. Tapi—“
“Selamat siang, ladies!”
Jessica dan Miyoung mendongak ketika mendengar sapaan dari dua orang pria yang berdiri di dekat meja mereka. Mereka telah datang; pria-pria teman kencan buta mereka. Jessica menyimpan rasa penasarannya terlebih dahulu dan mendahulukan rencananya bersama Dongwook ini.
“Hello, boys! Silahkan duduk!”
Penampilan kedua pria asing ini jauh sekali dari kesan modis. Salah satu dari mereka bahkan sangat gemuk sehingga Miyoung mengira pria itu akan kesulitan untuk duduk. Pria yang lainnya cukup tampan, dengan kumis dan jenggot yang sangat lebat, membuat hampir seluruh wajahnya tertutupi rambut.
Ternyata Miyoung mendapatkan pasangan pria yang gemuk. Pria itu kesulitan tersenyum sebab pipinya benar-benar gembul. Miyoung balas tersenyum ramah. Ia tahu kencan buta ini tidak akan berhasil. Tetapi demi menjaga perasaan Jessica, ia melakukannya untuk kesenangan saja.
“Oh, halo! Perkenalkan namaku Jessica Jung. Usiaku 25 tahun. Dan dia adalah temanku, Hwang Miyoung.”
Mereka berempat saling berjabatan tangan. Pria yang gemuk bernama Lee HyuJin dan yang berambut banyak adalah Moon HaeGi. Hyujin menggenggam tangan Miyoung sedikit erat. Gadis itu tertawa canggung sambil berusaha menarik kembali tangan mungilnya. Tangan pria itu licin oleh keringat dan sangat berdaging.
“Uhm, bisakah Anda melepaskan tanganku?” pinta Miyoung pada pria yang duduk di hadapannya itu. Jessica menahan tawa disamping Miyoung.
“Panggil aku Oppa,” ucap Hyujin percaya diri.
“Erm, baiklah, O-Oppa.”
“Apakah kalian ingin memesan makanan?” Jessica menawarkan.
“Tentu saja!” tukas Hyujin cepat. “Perutku lapar sekali. Bolehkah aku meminta 3 porsi pai apel?”
Siwon menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata. Bagaimanapun ia harus membawa Miyoung pulang. Jessica Jung selalu membuat ide-ide gila dan anehnya kenapa Dongwook tetap tahan dengannya. Siwon menggumamkan sumpah serapah yang tidak tahu ditujukan untuk siapa. Ia kesal dengan Jessica, Dongwook, Miyoung dan bahkan dirinya sendiri.
Saat ini, Siwon hanya bisa mengerti bahwa dirinya tidak ingin melihat Miyoung bersama orang lain. Ia adalah pemilik Miyoung seutuhnya sebab dirinya adalah orang pertama bagi Miyoung. Siwon tidak peduli dengan perseteruannya dengan Chae Ya. Bahkan Siwon telah mulai melupakan kalau Miyoung adalah umpannya.
Sampai di café yang dimaksud Dongwook, Siwon langsung menyerbu ke dalam. Sorot matanya yang tajam beredar ke seluruh ruangan seperti seekor elang yang mencari mangsanya. Dan disanalah ia menemukan Miyoung dan Jessica. Mereka bersama dua orang pria yang menurut Siwon seperti manusia idiot.
Rahangnya mengeras ketika melihat Miyoung tertawa lepas saat berbicara dengan pria bertubuh gemuk di hadapannya. Mengapa gadis itu selalu tampak bahagia bersama orang lain, sedangkan ia tidak pernah mendapatkan satu senyuman sekalipun? Kedua tangan Siwon mengepal dan melangkah lambat ke arah meja mereka. Ia harus memberi pelajaran kepada pria-pria itu.
“Hoho, apakah aku mengganggu kalian?”
Bagai disengat listrik, Miyoung tersentak kaget ketika mendengar sapaan Siwon. Ia mematung di tempatnya sementara Jessica menatap Siwon dingin. Dan kedua teman kencan Miyoung dan Jessica terdiam bingung.
“S…Siwon-ssi?” gumam Miyoung.
“Apa yang kau lakukan disini, Siwon-ah?” tanya Jessica sinis.
“Hei, Jung! Kau pikir apa yang kau lakukan, eoh? Kau sudah mempunyai Dongwook, kenapa masih melakukan kencan buta dengan orang-orang idiot ini?” Siwon membalas tak kalah dingin. Mendengar pernyataan Siwon, Moon HaeGi berdiri dari kursinya, tersinggung.
“Jaga ucapanmu, Bung!” tukasnya.
Siwon memandang Hae Gi dan HyuJin dengan pandangan mencemooh.
“Hahaha, jinjja! Kalian pikir penampilan kalian sudah sangat keren? Lihat wajahmu itu, seperti hutan rimba. Jika kau ingin menarik perhatian wanita, bersihkan dulu dirimu!” cemooh Siwon pada Hae Gi. Lalu ia beralih menatap HyuJin. “Dan kau, Gendut! Kau makan sebanyak ini, seperti orang yang tidak pernah makan 3 bulan. Wanita bisa kehilangan minat padamu.”
“Cukup, Siwon-ssi!” bentak Miyoung seraya berdiri. Siwon menatapnya.
“Dan kau, Hwang Miyoung. Siapa yang mengizinkanmu keluar rumah untuk melakukan hal bodoh ini? Sekarang pulang denganku!” desis Siwon.
“Siapa kau sebenarnya? Seenaknya saja kau menghina kami dan membawa pulang teman kencanku!” kali ini pria gemuk itu angkat bicara. Ia berdiri dengan susah payah.
Siwon mendekati Hyujin dengan sangat agresif sampai hidung mereka hampir bersentuhan. Siwon menatap keji pada pria tersebut.
“Jika aku memberitahu siapa aku sebenarnya kepadamu, kau mungkin akan lari terbirit-birit pulang ke rumah dan mungkin takut untuk melihat dunia luar. Tetapi yang jelas, aku adalah calon suami dari teman kencanmu. Mengerti?” ujar Siwon tenang.
“Mwo?!” pekik Miyoung.
Siwon menyambar tangan Miyoung dan menariknya dengan kasar. Lalu tanpa menoleh lagi pada Jessica apalagi kedua pria itu, Siwon membawa Miyoung keluar dari café tersebut. Miyoung tak punya pilihan lain—seperti biasa—selain mengikuti Siwon.
Di tempat duduknya, Jessica tersenyum puas. Sangat puas. Ia sudah dapat memastikan bagaimana perasaan Siwon yang sebenarnya. Dasar pria bodoh, batin Jessica. Memang benar kata pepatah, sekeras apapun seorang pria atau seberapa jahatpun mereka, jika telah tersentuh oleh cinta, mereka pasti bertindak di luar akal sehat mereka sendiri.
Sambil menyalakan rokoknya, Jessica tersenyum manis kepada dua pria di hadapannya. “Terima kasih atas kerja sama kalian. Silahkan makan lagi, aku yang akan membayar semuanya.”

***

Miyoung mengurung diri di kamar setelah pulang bersama Siwon. Ia menolak untuk membukakan pintu untuk pria itu. Saat ini Miyoung sangat membenci Siwon. Hidupnya yang dulu tenang dan damai, berubah menjadi seperti neraka setelah bertemu dengan Siwon. Yang membuat Miyoung kesal, dirinya membiarkan pria itu bertindak seenaknya. Siwon memang telah mengambil kesuciannya dan seharusnya Miyoung tidak membiarkan hal itu terjadi. Namun ancaman Siwon selalu menyurutkan tekadnya.
Gadis itu baru saja selesai mandi ketika ia mengalami mual dan pusing yang tidak wajar. Ia duduk di tepi ranjang sambil memegangi kepalanya. Miyoung mengernyit. Apa ia demam? Kenapa tiba-tiba pusing tanpa tahu penyebabnya? Seingat Miyoung, hari ini ia makan cukup banyak tanpa merasakan mulas. Perutnya tenang-tenang saja menerima porsi makanan yang lebih banyak dari biasanya.
Miyoung mengabaikannya. Mungkin karena ia tidak memberi kesempatan tubuhnya beristirahat di hari libur ini. Ia pun mengirimkan pesan kepada Jessica sambil merebahkan tubuh di atas ranjangnya yang hangat dan nyaman.
To : Jessica Jung
“Mianhae, Jessie. Aku tidak menyangka Siwon akan datang dan mengacaukan kencan buta tadi. Sekali lagi, mianhae.”
Miyoung berharap Jessica mengerti. Hmm, tentu saja Jessica akan mengerti, karena ia dan Siwon adalah sahabat. Tentu Jessica lebih mengenal pria itu daripada dirinya. Terkadang Miyoung ingin bercerita tentang Siwon kepada Jessica. Ia ingin tahu apakah Siwon mempunyai sisi baik. Pasalnya, jika dilihat dari sifat-sifatnya selama ini kepada Miyoung, Siwon sama sekali bukan termasuk orang yang mempunyai sisi baik.
Drrrt drrrt
To : Hwang Miyoung
“I’ts okay, dear. Aku tahu siapa Siwon. Ia tidak akan membiarkan orang yang disayanginya dilirik orang lain.”
Miyoung termenung membaca pesan Jessica. Orang yang disayanginya? Huh, yang benar saja! Siwon sama sekali tidak menyayanginya, melainkan bernafsu padanya. Sebab Miyoung bisa merasakan apa itu yang namanya cinta dan kasih sayang yang tulus. Jelas Siwon bukan orang yang seperti itu!
To : Jessica Jung
“Apa maksudmu? Aku tidak yakin kalau dia menyayangiku. Siwon tidak pernah berlaku lembut padaku dan ia telah—“
Miyoung berhenti mengetik pesan. Haruskah ia mengatakan pada Jessica kalau Siwon pernah mengambil kegadisannya. Miyoung menggeleng. Jessica tidak boleh tahu. Itu sama saja mempermalukan diri sendiri.
“Apa maksudmu? Aku tidak yakin kalau dia menyayangiku. Siwon tidak pernah berlaku lembut padaku. Ia membenciku, Jessie.”
To : Hwang Miyoung
“No. Ia menyayangimu, bahkan ia jatuh cinta padamu! Kau harus memperhatikan tingkahnya padamu, dear. Seumur hidupku mengenalnya, baru kali ini aku melihatnya protektif kepada seorang gadis.”
Miyoung membaca pesan Jessica berulang-ulang sampai ia yakin kalau ia tidak salah paham. Hatinya terus menyangkal pernyataan Jessica. Kalaupun Siwon jatuh cinta padanya, Miyoung tidak merasakan hal yang sama. Ia bahkan membenci pria itu.
Tok tok tok
“Miyoung-ssi, saatnya makan malam.”
***

Siwon sibuk mencuri-curi pandang pada Miyoung yang makan di kursi paling jauh dari kursinya. Sejak 15 menit yang lalu waktu makan malam mereka, gadis itu hanya menunduk sambil menghabiskan makan malamnya. Terang saja membuat Siwon kelimpungan. Ia ingin gadis itu menatap wajahnya dan tersenyum padanya!
“Ehem!” Siwon sengaja berdehem keras. Miyoung bahkan bersikap lebih tenang dari sebelumnya.
“Wah, masakan ini enak sekali. Siapa yang memasaknya? Apakah kau Miyoung-ah?”
Miyoung diam. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun, seolah-olah yang baru saja berbicara adalah makhluk halus. Siwon meremas sendoknya.
“Yah! Kau tuli ya? Atau kau bisu?!” bentak Siwon.
Siwon masih tidak mendapatkan jawaban. Miyoung tidak takut lagi dengan gertakannya. Kini ia malah bangkit dari kursi setelah menyeka mulut. Miyoung tersenyum kepada Juru masak Seo yang berdiri tak jauh dari meja makan.
“Gomawo, Ny. Seo. Makan malam yang sangat lezat,” puji Miyoung.
Juru masak Seo tersenyum ragu-ragu. “Eum…nde, gomawo Miyoung-ssi.”
Siwon masih terperangah tak percaya melihat Miyoung dengan berani meninggalkan meja makan tanpa menunggunya. Lantas ia langsung bangkit dan menyusul gadis yang telah menaiki tangga menuju kamar. Sedangkan para maid dan Juru masak Seo memandangi mereka dengan cemas. Semuanya khawatir Miyoung diperlakukan buruk oleh Tuan Muda mereka yang tidak mempunyai tata krama itu.
“Hey, berhenti!” hardik Siwon. Miyoung setengah berlari menuju kamarnya, namun terlambat. Siwon berhasil menangkap tangan kanannya ketika Miyoung hampir mencapai pintu kamarnya.
“Kenapa kau menolak berbicara denganku? Kau bosan hidup ya?” desis Siwon. Matanya kembali berkilat merah karena emosi. Miyoung menantang matanya.
“Ya, kau benar. Aku bosan hidup disini karena selalu melihatmu.”
Siwon mengerjap kaget. Gadis itu tidak takut rupanya.
“Kau berani menantangku?”
“Sekarang aku tidak takut lagi padamu, Siwon-ssi. Jika kau ingin aku keluar dari rumah ini, aku akan melakukannya.”
Miyoung membuat Siwon kalah telak. Bukan ini yang diinginkan Siwon.
“Lalu, kau akan kemana, eoh? Kau ingin kembali kepada teman kencanmu itu? Haha! Kau tidak akan bahagia dengannya, Hwang! Seharusnya kau bersyukur karena aku terus mengikutimu,” ujar Siwon.
Miyoung mendengus. “Kau pikir aku senang? Tidak sama sekali, Siwon-ssi. Aku bahkan tidak ingin menjadi temanmu. Jika di dunia ini ada mesin waktu, aku ingin mengembalikan waktu ke saat kita tidak mengenal satu sama lain. Kita saling mengenal hanya karena hubungan kakakku dengan Ayahmu. Dan jika kau masih ingat, kau lah yang mengambil ciuman pertama dan kegadisanku.”
Siwon tidak berkedip memandangi Miyoung. Mata Miyoung menyiratkan kebencian yang amat sangat. Perlahan tangannya melemah dan Miyoung dengan mudah menarik tangannya kembali. Selanjutnya Siwon tidak mengerti mengapa tubuhnya tidak bisa digerakkan ketika gadis itu masuk ke kamarnya.
Siwon seperti seseorang yang kalah.

***

“Sudah 5 hari gadis desa itu menghindariku. Ck, kenapa aku harus kalut memikirkannya?” desah Siwon seraya menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Pekerjaan di kantor semakin membuat pikirannya suntuk, ditambah lagi dengan memikirkan Miyoung. Hari ini Siwon pulang lebih cepat sebab Ayahnya dan Chae Ya akan pulang malam ini. Sebenarnya Siwon malas menyambut mereka berdua, tetapi jika tidak, Ayahnya akan menyindirnya di meja makan selama berhari-hari.
Siwon mendengar deru motor dari dalam kamarnya dan ia tahu siapa pemilik motor tersebut. Siwon bergegas berdiri dan berjalan menuju jendela kamarnya guna melihat ke bawah. Ia menggeram saat melihat Miyoung turun dari boncengan motor Nichkhun. Lagi-lagi pria itu mengantar Miyoung pulang.
Siwon berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, berusaha untuk menepis Miyoung dan Nichkhun dalam pikirannya. Aku akan belajar melupakan gadis kampungan itu, aku tidak boleh terus-terusan memikirkannya. Jika terus mengharapkannya sama saja akan mempermalukan diri sendiri. lebih baik aku mencari cara untuk menyingkirkan ia dan kakaknya lalu aku mencari wanita lain untuk kukencani. Ya, mungkin begitu lebih baik. Aku tidak akan berkomitmen dengan siapapun, jadi untuk apa aku mengharapkan gadis itu?
Namun Siwon tidak bisa menahan dirinya untuk turun dari kamarnya. ia membutuhkan segelas air mineral dingin untuk menyejukkan batinnya. Lantas, yang didapatnya diluar dugaan. Ia melihat Miyoung masuk ke dalam rumah dengan senyum sumringah. Pipinya merona merah dan tampak malu-malu.
Siwon memasuki dapur dan berpura-pura tidak melihat Miyoung yang berjalan menaiki tangga. Gadis itu menyapa semua maid dengan ramah lalu bersenandung ceria. Siwon menghabiskan segelas air mineral dalam satu tegukan tanpa menarik napas. Mengapa ia merasa semakin kalut? Mendengar suara gadis itu bersenandung membuat telinganya panas.
Tanpa bisa menahan diri lagi, Siwon sedikit berlari mengejar Miyoung. Ia harus menyelesaikan kekalutan hatinya saat ini juga. Tidak peduli ini rumahnya sekalipun!
Tepat saat Miyoung telah membuka kamarnya, Siwon menyergap tubuh kurus itu dari belakang dan menutup mulutnya! Miyoung terkejut bukan main. Ia berusaha untuk berteriak namun bekapan tangan Siwon menghalanginya. Siwon mengunci pintu kamar Miyoung dari dalam lalu menghempaskan tubuh gadis itu ke ranjang.
Miyoung menatapnya nanar.
“Apa maumu?” desis Miyoung.
Siwon menahan dirinya untuk tidak meniduri gadis itu.
“Kenapa kau bersikap seperti ini kepadaku, eoh? Kau bersikap seolah tidak melihatku,” balas Siwon. Ia membungkuk di atas tubuh Miyoung dan mengepung gadis itu dengan kedua tangannya. Mata Siwon terpaku pada leher Miyoung. Gadis itu tidak memakai kalung pemberiannya. Hal itu membuat Siwon semakin terluka.
“Kau melepas kalungku? Kenapa kau melakukannya? Kau sungguh membenciku ya?”
Miyoung tersenyum sinis. “Kau benar sekali. Aku sangat membencimu.”
Tangan Siwon mengepal. Ia belum pernah sesakit ini hanya karena seorang perempuan.
“Kau benar-benar telah menentangku. Kau akan keluar dari rumah ini, Hwang.”
Kali ini Miyoung tersenyum tenang. Ia sama sekali tidak terintimidasi oleh ancaman atau tubuh Siwon yang kuat di atas tubuhnya. “Aku akan keluar rumah dengan senang hati. Aku hanya ingin menunggu kakakku pulang dan berpamitan padanya. Aku tidak akan membiarkanmu melihatku lagi, Siwon-ssi.”
Siwon tercengang. Ia tidak ingin percaya kalau Miyoung bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Siwon hanya menggertak sambal dan lagipula ia mengancam hanya karena ia tersakiti.
“Dan aku akan melupakan semua perbuatan burukmu terhadapku. Sepertinya tak ada gunanya aku menyesali semua yang telah terjadi karena tidak akan kembali seperti semula. Aku akan belajar melupakanmu,” tambah Miyoung lagi.
Siwon menangkup wajah Miyoung dengan kedua tangannya yang kokoh lalu mencium Miyoung agar gadis itu tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan lagi. Ia mencium Miyoung dengan kehausan yang selama ini dipendamnya. Ia mencium Miyoung dengan segala kelembutan yang tidak bisa diduganya. Dan ia mencium Miyoung karena tidak ingin gadis ini benar-benar pergi dari hidupnya.
Miyoung meremas pundak Siwon saat ciuman pria itu semakin dalam. Miyoung sendiri tidak menyangka mengapa ciuman Siwon membuat hatinya bergetar. Pria itu tidak sekasar saat mengambil ciuman pertamanya di dapur. Kali ini Siwon membelainya bagaikan seorang kekasih yang sangat rindu.
“Seandainya kau bukan adik dari wanita yang sangat kubenci…,” desah Siwon. Miyoung merasa bibirnya kering dan tak berani menatap mata Siwon. Lalu pria itu mencium kedua matanya, berlanjut ke hidungnya dan ketika ia akan mencium bibir Miyoung lagi, sebuah ketukan pintu membuat keduanya kembali ke dunia nyata.
“Miyoung-ssi, Tuan dan Nyonya Choi telah datang!”
Miyoung dan Siwon saling pandang. Dan disanalah Miyoung menyadari, ada sorot kelembutan dan keputusasaan di mata Siwon.

To be continued

 

164 thoughts on “(AD) Could It Be Love Part 2

  1. Siwon dibuat frustasi sm miyoung keke…
    Bingungnya tuh sam chae ya, ibu tiri siwon yg udh bener2 buta akan cinta dan sdh ketahuan jg niat buruknya.
    Miyoung tdk salah krn dia tdk tau apa2
    ff nya keren bgt. Sepertinya miyoung lg hamil.
    Gmn ya kelanjutannya… Langsung lanjut ke part 3 ya…
    Gumawo..

  2. Aduh siwon,,uda ngaku ja klw drmu emank da jtuh cnta ma fany..
    Pi gtu pun drmu msih brskap ksar kedrinya..
    Kdang2 ja baiknya..

  3. ga suka bgt ih sm wonpa jahat bgt dsni! pgn bgt rasa’a lempar wonpa k empang haepa! haeuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr ~_~ ~_~ ~_~
    mampus noh kena karma ngerasain karma skrg! sebel abis’a sm wonpa dsni jahat bgt ish nappeun ~_~ bad boy’a kterlaluan!!!
    nah loh skrg gmn cara’a balikin kpercayaan tiff spy dy prcy wonpa tulus sm dy! mka’a jd cwo jng jahat wonpa! tumben kmu jahat hhhhhhh
    kaka tif jjg rese tw s chae ya chae ya itu! dasar gtw diri ih! untung tiff ga gt!
    as always eon ff’a sll bkin aq baper! ksel sedih ksian deg2an!!!😀
    hwaiting echa eon bkin ff lg yg JJANG😉❤

  4. Saeng makin seru aja nih.kyknya fany hamil deh,apakah siwon akan menikahi fany,ahhh unnie jadi penasaran nih,ingin baca yg part 3nya.
    Akhirnya siwon menyadari perasaan terhadap fany.thanks saeng buat part 2nya.

  5. Q g bs byngin klo chae ri benci am mi young pdhal dia adikny hny krn harta n cinta.
    Dsr siwon bodoh g sdr drny tkh jth cinta am mi young n terkena jebakn jessica utk th bgmn perasaan siwon.
    OMO jgn blg mi young hamil hore… yes. rasain lu siwon. qm hrs tnggung jwb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s