(AR) You’re Mine 2

Tittle : You are Mine 2

yam 2

Author : @janisone

Main cast :  Tiffany Hwang – Choi Si won

Support cast : Daniel Hyunoo Lachapelle –

Im Yoona – Lee Dong hae – Jessica Jung – Kwon Yuri

Length : Oneshoot

Genre : Married Life

Rating : 16

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan.Cerita ini murni hasil kerja kerasku.

Happy reading…

Bulan ke 3

Suara air keran terdengar jelas dari arah dapur.Didekat wasteful tampak semangkuk buah strawberry  yang baru selesai dicuci oleh Si won.

“Ji eun-ah, kau sudah menyiapkan minuman herbalnya?…”Si won bertanya pada wanita muda disebelahnya.Para pelayan sedang menyiapkan makan malam.

“Nyonya Choi bilang akan meminumnya saat akan tidur saja.Beliau hanya memintaku untuk menyiapkan madu hangat…”terangnya.Si won mengangguk saja dan mulai melangkah meninggalkan dapur.Tak lupa membawa mangkuk berisi buah yang sudah ia cuci tadi.Melihat itu tiga pelayan lainnya tampak saling sikut dan tersenyum.Ketiganya berniat mengikuti sang majikan sampai suara Ji eun mengintrupsi aksi ketiganya.

“Kalian mau kemana? Makan malamnya belum siap…”Tanya Ji eun.

“Kami ingin melihat Tuan dan Nyonya Choi sebentar…”jawab Eun joo disambut anggukan senang dua rekannya.

“Mwo? Hei, berhentilah melakukan hal itu sebelum kalian ketahuan…”

“Kami tidak akan ketahuan jika kau tidak banyak bicara…”sela Soo mi.

“Ne, kajja…”Ye mi langsung menarik kedua rekannya pergi.Ji eun yang ditinggal pun hanya menggeleng.Tapi tak lama kemudian dia tersenyum sendiri dan segera pergi untuk bergabung dengan rekan-rekannya.

***Sifany***

Si won melewati ruang makan, ruang keluarga lalu belok kanan.Tujuannya adalah beranda samping rumah.Dimana disana terdapat sebuah sofa panjang dengan seorang wanita cantik yang sedang duduk diatasnya.

“Jjinja? Pasti menyenangkan sekali….”Si won dapat mendengar suaranya.Sepertinya orang itu sedang menelfon karena jelas ia melihat benda pink menempel pada kuping kanannya.

“Si won Oppa?…”Si won menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar namanya disebut.Sosok itu memang belum menyadari kehadirannya karena posisinya yang membelakangi Si won.

“Eoh, sangat menyebalkan.Kau tahu, aku tidak melakukan apapun selain hanya makan dan tidur…”

Itu benar.Si won melakukan semua yang dikatakan orang tua dan neneknya.Begitu pula apa yang ia baca diberbagai buku mengenai apa saja yang boleh  dan tidak dilakukan oleh wanita hamil.Berdasarkan dengan apa yang ia dengar dan baca, Tiffany hanya boleh melakukan hal yang baik, memikirkan hal yang baik, mendengarkan yang baik dan melihat yang baik.Semuanya hal positif yang bertujuan untuk kesehatan dan keselamatan Tiffany dan calon buah hati mereka.

Si won mendengar wanita itu terkikik.Pasti seseorang diseberang sana sedang mengatakan hal-hal konyol dan jelek tentangnya.Berani sekali dua orang itu membicarakannya.

Si won tersenyum.Dia mencondongkan tubuhnya dan…

“Oppa…”Tiffany protes saat Si won merebut gadget itu dari tangannya.

“Onnie, waeyo?….”Terdengar suara Yoona dari seberang sana.

“Rusa jelek.Berhenti menghubungi dan mengganggu Tiffany.Dia harus banyak istirahat…”

“Kami hanya mengobrol ringan, Oppa…”balas Yoona kesal.Tak suka obrolannya diputus begitu saja.

“Kalau kau ingin mengobrol datang kesini saja.Jangan menelfon.Kau tahu, radiasi yang ditimbulkan oleh benda ini tidak baik untuk Tiffany dan calon bayi kami…”

“Ya Tuhan, Si won.Jangan berlebihan…”geram Yoona dengan tangan terkepal.Dia sangat kesal dengan sikap Si won yang makin hari makin menjengkelkan.

“Aku tidak berlebihan.Ini karena aku peduli padanya…”tegas Si won.Detik kemudian dia memutuskan sambungan itu dan tertawa.Membayangkan Yoona yang kini tengah mengumpat kesal padanya.

“Waktunya makan buah, Fany-ah…”Si won duduk disebelah Tiffany.Tiffany yang bersandar malas disofa tak memberi respon apapun.

“Ayo, buka mulutmu…”suruh Si won lembut.Tangannya sudah memegang satu buah strawberry.Siap untuk dimasukkan ke mulut Tiffany saat wanita itu membuka mulutnya.

Tiffany tak menurut.Dia tetap menutup mulutnya tanpa melihat kearah Si won.Si won tertawa singkat melihat tingkah istrinya itu.

“Aigo, istriku manja sekali.Baiklah…”Si won memasukkan strawberry itu ke mulutnya.Tiffany yang melihat itu tersenyum dan segera mengubah posisi duduknya agar berhadapan dengan Si won.

Tiffany mengangkat sedikit tubuhnya.Perlahan ia mendekat.Menempelkan bibirnya dengan bibir Si won.Sejak seminggu terakhir dia selalu ingin makan buah strawberry dan ia hanya ingin makan dengan cara seperti ini.Dan pria itu, selalu saja curang.

“Oppa…”Tiffany merajuk tak terima.Dia sudah mencium pria itu lama tapi Si won tetap menutup mulutnya.Bahkan mengunyah dan menelan buahnya sendiri.

“Hahaha…”Si won tertawa.Kebiasaan baru Tiffany ini sangat lucu sekaligus menyenangkan untuknya.

“Ayo, kali ini aku tidak akan curang lagi….”Si won mengambil satu buah strawberry lagi.Tiffany mengembungkan pipinya tak percaya.Biasanya pria itu akan menepati janjinya pada buah ke empat atau ke lima.

“Fany-ah, ayolah.Aku tidak akan curang lagi, hm?…”bujuk Si won.

“Tapi Oppa tidak boleh menggingit atau mengunyahnya.Aku ingin memakannya utuh…”

“Apa yang ada pada diriku semuanya utuh untukmu, Fany-ah…”Tiffany tersenyum manis dan memeluk Si won.Si won membalas pelukan itu dengan hangat.

“Oppa, sepertinya aku ingin buah yang lain….”

“Eum? Buah yang mana maksudmu?…”Si won menggoda.Tiffany memukul dada bidangnya pelan sebelum akhirnya menjauh.

“Aku ingin buah semangka…”Si won melebarkan matanya.

“Mwo? Semangka? Hei, kau tidak menyuruhku memasukkan buah semangka ke mulutku, bukan?…”Tanyanya cemas.Tiffany menggeleng.

“Kita bisa memotongnya kecil-kecil, Oppa…”

`Huh, untung saja` batinnya.

“Tapi sepertinya kemarin aku tidak membeli buah semangka.Kita ganti saja, bagaimana kalau buah leci atau cherry, mungkin?…”

“Tapi aku mau buah semangka…”rengek Tiffany menarik-narik lengan Si won.

“Mereka sama-sama berwarna pink, Fany-ah…”

“Semangka juga berwarna pink, Oppa…”

“Semangka itu merah, Tiffany…”

“Leci dan cherry juga merah Oppa bukan pink!”Tiffany melipat tangannya kesal.Si won yang melihat itu pun tersenyum dan merangkulnya sayang.

“Aigo, punya istri hamil itu ternyata sangat merepotkan…”

“Omo, mereka manis sekali…”bisik Soo mi iri.Mereka tengah bersembunyi dibalik pintu untuk mengintip pasangan itu.

“Ne, senangnya kita dipindahkan ke rumah ini.Melihat hal yang indah dan manis setiap harinya…”sambung Ye mi yang mendapat anggukan setuju dari Ji eun dan Eun joo.

“Sebaiknya kita kembali ke dapur…”ajak Ji eun.

“Tapi mereka belum sele-…”Ji eun langsung menarik Ye mi dan Eun joo pergi.Soo mi yang ditinggalpun menggerutu.

“Dia itu tidak asyik sekali…”gerutunya sebelum akhirnya ikut diseret oleh Eun joo.

***Sifany***

Bulan ke 4

            Tiffany memperhatikan dirinya dihadapan cermin.Ia tersenyum sendiri seraya mengelus perutnya sudah sedikit terlihat.Rasanya dia sudah tidak sabar untuk melihat buah hatinya lahir.

“Ada apa, Nyonya?…”Ji eun yang baru mengambil pakaian kotor dari kamar mandi bertanya.

“Eoh? Aniyo…”Tiffany tersenyum saja dan duduk dikursi meja riasnya.

“Kemana Si won Oppa?….”Tanya Tiffany.Setelah ia mandi dan makan malam pria itu keluar dan belum kembali sejak satu jam yang lalu.

“Tuan Choi sedang keluar, tadi beliau meminta Eun joo untuk menemaninya membeli beberapa alat kosmetik…”Tiffany menyerngit sebelum melirik meja riasnya.Sepertinya tidak ada satu pun yang kurang.Semuanya masih lengkap.

“Tuan Choi bilang lotion Nyonya sudah habis.Jadi dia pergi untuk membelinya…”

“Ne?…”kaget Tiffany.

“Aigo, Anda beruntung sekali, Nyonya.Nyonya tahu betapa kami sangat iri? Hah, andai saja pria seperti Tuan Choi banyak kami pasti tidak akan merasa seperti ini…”Tiffany tertawa mendengar penuturan gadis muda itu.

Ceklek

Pintu terbuka.Si won masuk dengan kantung berisi lotion yang biasa dipakai Tiffany ditangannya.

“Kalau begitu saya permisi, Nyonya.Katakan saja jika Nyonya menginginkan sesuatu…”Tiffany mengangguk mengiyakan.

“Gumawo, Ji eun-ah.Oh ya, aku membeli pizza, turunlah jika kau tidak ingin teman-temanmu yang lain menghabiskannya…”

“Ne, Gamsahamnida, Tuan…”Pamitnya sebelum memutuskan untuk keluar.Meninggalkan Si won dan Tiffany diruang pribadi mereka.

“Kemari, Fany-ah.Kau harus pakai lotionnya…”panggil Si won naik ke atas ranjang.Tiffany menurut dan duduk berhadapan dengan pria itu.

Si won menuangkan cairan putih nan harum itu pada telapak tangan kirinya.Lalu menggosoknya dengan tangan kanan.Setelah dirasa merata diraihnya lengan kanan Tiffany dan mulai mengolesi lengan putih itu sampai jari-jari lentiknya.

Tiffany menatap pria itu dengan senyum bahagia.Benar kata Ji eun, dia sangat beruntung memiliki seseorang seperti Si won.

“Aku bisa melakukannya sendiri, Oppa…”

“Memang…”Si won menjawab singkat.

“Kalau begitu aku saja yang melakukannya.Oppa sebaiknya tidur…”

“Aku akan melakukannya selama aku bisa.Lagi pula, ini pelayanan spesial untuk istri tercinta.Kau suka?…”Tiffany mengangguk.

“Hm, gumawo…”ucapnya tulus.Si won mendongak dan menatap wajah cantik istrinya.Jelas tatapan itu penuh rasa terima kasih.

“Aigo, aku tersanjung….”Si won kembali menuangkan lotion ditangannya lalu kembali mengolesi bagian tubuh Tiffany yang lain secara merata.

“Kau beruntung menikah denganku, Fany-ah.Jika dulu kau memilih Dong hae, sekarang kau pasti sedang menunggunya pulang kerja, atau tidur sendiri karena dia masih sibuk dikantor…”Kening Tiffany berkerut.

“Siapa tahu aku akan mendapat pelayanan yang lebih baik jika bersama Dong hae Oppa…”Si won sontak mengangkat wajahnya.

“Hei, dia itu playboy.Rayuan dan gombalannya pasti sama untuk setiap wanita.Ck, bodoh sekali jika kau menginginkannya…”Tiffany tersenyum kecil mendengarnya.Apalagi saat melihat wajah kesal Si won.

“Pria sibuk sepertinya juga tidak akan punya banyak waktu untukmu.Dia tidak akan sempat menyiapkan air mandimu, apalagi mengolesi kulit halus ini dengan lotion.Lagi pula, aku juga tidak akan rela…”tegas Si won pasti.

Tiffany kembali tersenyum.Ya, dia akui kalau pria itu memang mau melakukan apapun untuknya walau tanpa diminta.Bahkan terkesan memaksa.Tapi Tiffany sangat menyukainya.

“Sekarang lepaskan…”Tiffany menaikkan alisnya.

“Apanya?…”tanyanya tak mengerti.Si won menunjuk dengan dagunya.

“Maksud Oppa, ini?…”Tiffany menunjuk lingerienya yang disambut anggukan dari Si won.

“Aniyo.Aku tidak mau…”Tiffany menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.Si won yang melihat itu menyeringai dan mendekat.

“Baiklah, jika kau ingin aku melakukannya didalam selimut….”

“Oppa!”

***Sifany***

Bulan ke 5

            “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Oppa.Kandungan Fany Unnie baik-baik saja.Dia sehat begitu pula calon bayinya.Tapi kita tidak boleh terlalu lengah, tetap berikan asupan gizi serta selalu dampingi Fany Unnie agar perkembangan calon bayi kalian tidak terganggu…”

“Aku akan selalu memberikan yang terbaik.Gumawo, Yuri-ah…”Ucap Si won pada dokter cantik itu.Dokter kandungan Tiffany dia sendiri yang memilihnya.Pilihannya jatuh pada Yuri.Selain karena Yuri memiliki kemampuan yang sangat baik dibidangnya, dia juga sudah mengenal Yuri sejak lama karena dokter muda itu berteman dengan Yoona semasa SMA.Sebelum ia melanjutkan studi kedokterannya ke Jepang.Selain itu tentu saja karena Yuri adalah seorang perempuan.Haram baginya mengizinkan laki-laki lain menyentuh kulit tubuh istrinya.

Yuri tersenyum dan menatap Tiffany yang ada disebelah Si won.

“Kau wanita yang sangat beruntung, Unnie.Aku sangat iri…”ucapnya yang hanya disambut senyum Tiffany.

“Benar bukan? Semua orang setuju….”bisik Si won.Tiffany hanya menghela nafas pelan.

“Yuri-ah, aku sangat baik jika dibandingkan dengan Lee Dong hae, bukan?….”

“Ne?…”Yuri melirik Si won dan Tiffany bergantian.Tak lama kemudian dia tertawa.

“Mianhe, Oppa.Aku tidak mengenal Dong hae karena saat itu aku berada di Jepang jadi kau tetap yang terbaik.Tapi aku akan mencoba bertanya pada Yoona…”

`Yoona?` batin Si won.Tiffany segera menegakkan duduknya lalu menerima selembar kertas yang disodorkan Yuri.

“Rajinlah minum obat dan vitaminnya, Unnie…”

“Walau aku lupa aku tidak akan pernah untuk tidak memakannya, Yuri-ah…”ucap Tiffany.Dua wanita itu tertawa dan bangkit diikuti Si won.

“Kalau ada waktu berkunjunglah kerumah…”ajak Si won.

“Ne, jika aku punya waktu aku akan mampir…”Yuri mengantar keduanya sampai keluar.

“Kami pergi, Yuri-ah.Salam untuk suamimu…”ucap Tiffany.

“Ne, akan ku sampaikan…”Pasangan itu keluar dari ruangan Yuri.Keduanya berjalan dikoridor rumah sakit sambil berpegangan tangan.

“Kita kemana sekarang?…”

“Oppa tidak ke kantor?…”

“Aku akan menemanimu jalan-jalan hari ini…”

“Jjinja?…”Si won mengangguk melihat Tiffany yang begitu senang.

“Kajja, aku ingin melihat produk bayi….”

***Sifany***

Mata indah itu terus menyusuri deretan barang-barang yang ada dietalase toko.Berbagai macam perlengkapan dan mainan anak-anak ada disini.

Tiffany masuk ke toko yang menjual baju bayi.Beberapa baju ia pegang dan tak lupa untuk mengaguminya karena sangat lucu.Tapi dia tidak ada niat untuk membeli.Selain karena kandungannya masih terhitung 5  bulan, dia juga tidak perlu repot-repot memikirkan kebutuhan bayinya.Jangankan untuk pakaian dengan segala macamnya, pendidikan anaknya pun sudah diurus oleh keluarga suaminya.Suami? Tiffany menoleh ke belakang.Mencari sosok yang sejak tadi selalu menemaninya memuaskan mata.

Tiffany celingak-celinguk untuk mencari keberadaan Si won.Matanya tak mendapati sosok itu sampai sebuah tangan menyentuh bahunya.Dan saat ia menoleh, bibir pria itu langsung mendarat dipipinya.

“Oppa, ini tempat umum…”Tiffany mengingatkan.Si won hanya tertawa tak peduli.

“Kita berada di Hyundai Department Store, Nyonya Choi.Salah satu anak perusahaan Hyundai Group.Tempat ini milik kita, siapa yang berani melarang, huh?…”Tiffany mencibir pelan.Sombong sekali.

“Kau sudah selesai? Sebaiknya kita pulang, kau harus istirahat…”

“Oppa, kita baru satu jam disini.Lagi pula aku ingin mencari sesuatu…”

“Apa?…”Si won bertanya penasaran.Seingatnya tadi wanita itu hanya  ingin melihat produk bayi.

“Tidak ada disini.Kajja…”

Tiffany menggandeng lengan Si won pergi.Pria itu menurut saja.Senyumnya mengembang saat Tiffany membawanya masuk ke toko khusus pakaian pria.Dan sekarang, Tiffany sedang memilih dasi dan mencocokkannya dengan warna kemeja dan kulitnya.

“Kau ingin membeliku dasi, Fany-ah? Tidak perlu, bukankah seminggu yang lalu kita baru membelinya? Bahkan belum ku pakai semua…”

“Siapa yang membelinya untuk Oppa?…”

“Mwo?…”Tiffany tampak serius memilih dasi terbaik dari deretan dasi itu.Dan wajahnya tersenyum saat menemukan dasi yang dirasa sangat cocok.Warna cokelat tua dengan garis-garis putih.

“Oppa, apa warna ini cocok dengan warna kulit Dong hae Oppa?…”Mata Si won seketika melebar.

“Mwo? Kau membelanjakan uang yang ku berikan untuk membeli dasi mantan kekasihmu?…”Tanya Si won tak suka.

“Kemarin Yoona menelfon.Dia bertemu Oemma Dong hae Oppa saat membeli pakaian untuknya.Oppa tahukan kalau dia tinggal sendiri di Swiss.Dia juga sangat sibuk jadi tidak punya banyak waktu untuk hal-hal seperti ini…”

Si won melipat tangannya.Tak peduli.

“Kita beli yang ini ya, Oppa…”pinta Tiffany manis.

“Tidak.Mall ku tidak menjual barang untuk seorang Lee Dong hae…”putus Si won.Tiffany mendengus.

“Sejak kapan Oppa jadi pelit seperti ini…”

“Sejak sekarang…”tegas Si won.Tiffany meletakkan dasinya sembarangan.

“Ya sudah…”ucapnya kesal lalu meninggalkan toko itu.Si won yang ditinggal pun melirik dasi itu kesal.

“Ya sudah…”ucapnya menirukan  ekpresi kesal Tiffany lalu segera menyusul wanita itu sebelum ia menjauh.

***Sifany***

Bulan ke 6

“Wah, masshita…”

Tiffany sangat menikmati topokkinya.Jessica dan Yuri yang juga berkunjung ke rumah Tiffany hanya tersenyum dan ikut menikmati jajanan lain yang tersaji dimeja.Berbeda dengan Yoona yang terlihat frustasi melihat bagaimana Tiffany menikmati jajanan pinggir jalan yang nikmat itu.Disinilah letak masalahnya, Tiffany menelfonnya dan ingin makan topokki.Parahnya Tiffany tidak mau topokki yang dibuat dirumah melainkan yang dijual dipinggir jalan.Dan masalah yang paling besar adalah dia yang membeli itu semua.

“Unnie, jebal.Hentikan, kau sudah makan cukup banyak…”Tiffany menolak.Dia sangat ingin memakan topokki sebab Si won baru sekali mengizinkannya memakan makanan tersebut.

“Tapi aku masih ingin, Yoong.Kenapa kau tidak ikut makan, biasanya kau sangat menyukainya, bukan?…”

“Bagaimana aku bisa menikmatinya kalau sebentar lagi aku akan dicekik…”gumannya sinis.Jessica dan Yuri tertawa mendengarnya.

“Kau tenang saja, Yoona-ya.Si won tidak akan bisa marah pada Tiffany lebih dari 10 detik…”kata Jessica menenangkannya.

“Ne, dia memang tidak bisa marah pada Fany Unnie, tapi dia akan membunuhku…”

“Hei, dia tidak akan setega itu…”tambah Yuri ikut menenangkan sahabat baiknya tersebut.Yoona hanya menghela nafas.

“Bagaimana kandungan Tiffany?…”Tanya Jessica sebelum memasukkan sebuah mandoo ke mulutnya.

“Sangat baik.Ini karena aku punya partner yang bisa diandalkan…”Tiffany dan Jessica tertawa.Tahu pasti siapa partner yang dimaksud.

Tit Tit!

Yoona sontak berdiri dari duduknya.Semua orang tampak panik dan dengan cepat memanggil pelayan.

“Ne, Nyonya…”Ji eun datang mendekat.

“Cepat bawa semua yang ada disini dan buang.Jangan sampai Si won Oppa melihatnya, aratchi?…”ucap Yoona panik.Sial, kenapa pria itu pulang lebih cepat hari ini.

Ji eun mengangguk paham dan segera membawa piring-piring itu pergi.Hanya tersisa beberapa buah dan bungkusan snack ringan.Tepat saat itu, Si won masuk dan mendapati empat wanita itu berdiri dan tersenyum canggung menyambutnya.

`Ada apa dengan mereka?` pikirnya.

Si won mendekat.Matanya memperhatikan meja yang sedikit berantakan karena penuh dengan makanan.Belum lagi aroma masakan yang begitu menyengat.

“Kau membawa sampah sebanyak ini ke rumahku?…”Yoona menampakkan ekpresi terkejutnya.

“Sampah? Ya, Oppa.Ini makanan.Kau tidak boleh menyebutnya sampah.Dan semua ini tanpa bahan pengawet dan ditanam dengan pupuk organik.Kau puas?….”

Si won melirik Jessica dan Yuri bergantian.

“Apa rusa jelek ini membelikan Tiffany jajanan pinggir jalan?…”Keduanya menggeleng kaku plus senyum yang sedikit berlebihan bagi Si won.

“Anni….”jawab mereka kompak.Si won beralih menatap Tiffany.

“Fany-ah…”Wanita itu tersenyum.

“Benar, Oppa.Kami hanya makan buah dan soup yang dibawakan Jessica untukku…”

“Kau yakin?…”

Tiffany melirik semua temannya dan mengangguk ragu.Si won mendekat.Tanpa diduga dia menempelkan bibirnya pada bibir Tiffany.Lidahnya menyapu saus yang menempel disudut bibir istrinya itu.

Yoona bersandar lemas disofa.Tamatlah riwayatnya.

“Yoo-…”

“Aku sudah melarangnya Oppa tapi Fany Unnie tetap ingin memakannya.Kau tahukan kalau keinginan wanita hamil itu aneh-aneh?…”

“Tapi kau bisa membuatnya dirumah, bukan? Kenapa harus memberikan Tiffany dan calon anakku jajanan dipingir jalan.Kau bisa menjamin kalau makanan itu sehat?

“Belum ada yang mati karena memakan jajanan pinggir jalan, Oppa…”

“Gwenchanayo, Oppa.Mengkonsumsi topokki itu baik karena bahannya juga sehat.Sesekali mengkonsumsinya tidak akan mengganggu kesehatan Fany Unnie dan bayi kalian…”kata Yuri mencoba menjelaskan.

“Dengar, tidak masalah, bukan? Kau saja yang berlebihan…”Yoona kembali diam saat Si won menatapnya tajam.

“Kalau sudah selesai pulanglah…”usir Si won.

“Mwo?…”Tanya ketiganya kompak.

“Wae? Kalian sudah disini sejak pagi, bukan? Tiffany harus tidur siang…”Tiffany hanya tersenyum sebagai ucapan selamat tinggal pada teman-temannya.Yoona mendesis kesal melihat Si won yang tengah membawa Tiffany ke lantai atas.

“Aish, kau benar-benar memilih pria yang salah, Unnie!”teriak Yoona kesal.Jessica dan Yuri tertawa mengiyakan dan mulai merapikan meja dibantu Ji eun yang sudah kembali.

***Sifany***

Bulan ke 7

            Tiffany merapikan letak hanboknya.Sekarang dia tengah berada dirumah orang tua Si won.Keluarga besar itu baru saja menggelar sebuah acara sebagai wujud rasa syukur mereka atas kehadiran calon keturunan keluarga Choi tersebut.

“Kau kelelahan, sayang?….”Tiffany tersenyum saat Choi Halmoni duduk disebelahnya.

“Gwenchanayo, Halmoni…”balasnya lembut.Choi Halmoni balas tersenyum dan mengelus perut Tiffany.

“Aigo, penerus keluarga Choi akan segera lahir.Halmoni sudah tidak sabar…”Tiffany tersenyum melihat ekpresi wajah perempuan disebelahnya.Sungguh, dia sangat bersyukur atas semua yang sudah keluarga ini berikan padanya.Perhatian , kasih sayang.Semuanya.

“Gumawoyo, Halmoni…”

“Aigo, berhentilah mengucapkan terima kasih.Kamilah yang harusnya berterima kasih karena kau akan melahirkan keturunan keluarga ini…”

“Itu benar, Fany-ah…”Oemma Si won muncul dengan segelas air putih ditangannya.

“Minumlah, kau pasti lelah…”Tiffany menerima gelas itu lalu meneguknya.

“Oemma, harusnya kita mengadakan acara seperti ini setiap bulannya…”ucap Oemma Si won memberi usul.

“Ne, tapi semua orang terlalu sibuk dengan pekerjaan.Lagi pula Tiffany akan kelelahan nantinya…”

Oemma Si won mengangguk setuju.Walau bagaimana pun kesehatan Tiffany juga sangat penting.

“Kalau kau merasa ada yang sakit cepat beri tahu kami.Kita harus pastikan kalau kau dan bayimu baik-baik saja…”pesan Oemma Si won.Tiffany tersenyum lembut.

“Ne, Oemma…”

“Hi ladies, membicarakanku?…”Choi Halmoni yang ada didekat Tiffany tertawa mendengar suara itu.Si won langsung mengambil tempat disebelah kanan Tiffany sementara Oemmanya duduk disofa yang terpisah.

“Otte? Kakekmu tidak salah pilih, bukan?…”Tanya Choi Halmoni merapikan rambut Tiffany.

“Tentu saja tidak…”jawab Si won pasti yang dibalas senyum manis istrinya.

“Fany-ah, kau tahu? Waktu kami mencoba mengenalkan Si won padamu dia sempat menolaknya…”cerita Oemma Si won.

“Oemma…”sela Si won cepat.Tak mau sang Oemma melanjutkan cerita itu.Namun sepertinya tidak ada yang peduli.

“Ne, itu benar…”tambah Halmoni.

“Dia bilang dia belum ingin menikah karena belum ada wanita yang cocok dengannya.Saat Appamu mengundang keluarga kami untuk makan malam dia sempat beralasan akan ke Jeju untuk urusan pekerjaan…”sambungnya.

“Ne, tapi Haraboeji akan menendangnya jauh jika dia tidak menghadari makan malam itu…”Tiga perempuan itu tertawa.Terlebih lagi Oemma Si won.

“Oemma ingat bagaimana wajah Si  won saat melihat Tiffany untuk pertama kalinya?…”

“Ya!Ya!Ya! Hentikan!”peringat Si won yang mulai  tak suka.Tak mau dia dipermalukan dihadapan Tiffany.

“Tentu.Aku bahkan sangat malu pada Tuan Hwang karena dia terlihat seperti ingin menerkam anak gadis orang…”

“Bwahaha…”Ketiganya kembali tertawa.Tak mau dibuat malu lebih lama Si won bangkit dan dengan cepat menggendong Tiffany pergi.

“Ya, mau dibawa kemana?….”

“Pulang…”

“Aigo, Jjinja…”Oemma Si won berseru gemas melihat tingkah putranya itu.Dua perempuan itu kembali saling pandang dan tertawa.Tuan Choi yang baru muncul menatap heran dua perempuan tersebut.

“Ehem…”

“Omo, yeobo, ada apa?…”Oemma Si won bertanya saat suaminya mendekat.

“Sejak kapan kalian tertawa begitu berisiknya?…”Keduanya kembali tersenyum tapi tak ada yang menjawab satupun.

“Oh ya, dimana menantuku?…”tanyanya seraya matanya melihat sekeliling.Tapi sepertinya dia tidak melihat apa yang ia cari.

“Eoh? Sudah dibawa sama yang punya…”sahut Oemma Si won seraya menunjuk kearah pintu.

“Mwo? Kenapa pergi tanpa pamit?…”tanyanya lagi.Dua perempuan itu kembali tersenyum tanpa memberikan menjawab.Kemudian beranjak dari sofa mengikuti Tuan Choi meninggalkan ruang tengah.

***Sifany***

Bulan ke 8

            Mata tajam Si won  fokus dengan apa yang ada dihadapannya.Dia sekarang tengah berada di ruang senam ibu-ibu hamil.Sebenarnya tidak ada kepentingan untuknya masuk dan ikut  menemani Tiffany disini.Tapi berhubung instruktur senam yang biasanya hari ini berhalangan hadir dan digantikan oleh assistentnya yang ternyata pria, tentu dia wajib ada disana.Dia ada didalam saja pria itu berani menyentuh Tiffany untuk membenarkan posisinya yang salah.Ck, benar-benar pemandangan yang memuakkan.

“Baik, tarik nafas, tahan, lepaskan…”Pria itu memberi intruksi.Sepuluh wanita hamil diruangan itu ikut melakukan hal yang sama.Suara instrument musik yang memenuhi ruangan itu seolah ikut membantu mereka merasa lebih rileks.

“Terima kasih untuk hari ini.Semoga persalian kalian semua berjalan lancar dan bayinya juga sehat…”

“Ne, Gamsahamnida…”Pria itu keluar usai membungkuk sekilas pada Si won.Si won pun bangkit dari kursinya sambil menatap sebal kepergian pria itu.

“Ck, menjadi instruktur senam pasti hanya modus…”gerutunya sebal dan segera mendekati Tiffany untuk membantunya berdiri.Dia tahu wanita hamil  itu pasti sulit bergerak karena beban berat diperutnya.

“Kau lelah?….”Tiffany mengangguk.

“Sedikit.Tapi ini cukup menyenangkan dan membuat tubuhku ringan…”Si won tersenyum kecut dibuatnya.

“Karena instruktur itu?…”tanyanya kesal.Tiffany tersenyum, pria itu mulai lagi.

“Dia tampankan, Oppa?….”

“Tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku.Kajja, kita harus pulang.Kau harus mandi dan istirahat….”

Ucap Si won pasti.Ya, dia harus membersihkan tubuh Tiffany agar bersih dari kuman penyakit.Apalagi keringat instruktur itu.

***Sifany***

Bulan ke 9
Tiffany bersandar dikepala ranjang dengan kaki lurus kedepan.Perutnya sudah semakin membesar dan ini cukup menyulitkannya untuk leluasa bergerak.

“Annyeong…”Si won menyapa bayinya.Berinteraksi dengan calon anaknya adalah hal yang selalu ia lakukan saat pagi dan sebelum tidur.

“Omo, dia merespon…”ucap Tiffany.

“Jjinja? Aigo, kau sudah mengenal Daddy ternyata…”Si won menempelkan telinganya pada perut Tiffany.

“Kapan kau akan keluar, huh? Daddy sudah tidak sabar ingin melihatmu, tampan…”Tiffany tersenyum seraya merapikan rambut Si won.Mereka sudah melakukan USG sejak kandungan Tiffany masih muda.Dan dimulai sejak janin itu bernyawa dan berkembang sampai sekarang, sudah dipastikan ia berjenis kelamin laki-laki.

“Kau juga harus melihat Mommy.Kau ingin tahu sebuah rahasia?…”Si won bertanya.

“Daddy sebenarnya tinggal dengan seorang dewi.Karena dewi yang cantik dan baik itu milik Daddy jadi kau juga akan menjadi bagian dari diri kami.Sebelum lahir ke dunia kau pasti berjanji pada Tuhan, bukan? Apa kau juga mau berjanji pada Daddy?….”

Tiffany menunggu dengan penasaran apa yang akan keluar dari mulut pria itu.

“Jadilah anak yang baik.Patuh pada  orang tua dan menyayangi sesama.Dan yang paling penting…”Si won menjeda ucapannya lalu menatap wajah cantik Tiffany.

“Jangan jatuh cinta pada Mommy-mu, dia hanya milik Daddy…”

“Mwoya…”Tiffany merajuk.Si won bangkit dan merangkulnya sayang.

“Eum, Oppa.Menurutmu dia akan mirip siapa?…”

“Hei, tentu saja dia mirip denganku.Kenapa dia harus mirip Lee Dong hae?…”sewot Si won.Tiffany tersenyum saja.Pria itu tidak menyukai Dong hae tapi kenapa selalu menyebut namanya.

“Begitukah? Tapi kalau dia mirip Dong hae Oppa pasti lebih manis…”tanggap Tiffany yang makin membuat pria itu kesal.

“Mwo?…”

“Aku hanya mengatakan pendapatku.Apa salah?…”

“Tentu saja salah.Ini darah dagingku.Tidak ada alasan kenapa dia harus mirip dengan Lee Dong hae…”putus Si won.Tiffany yang melihat wajah kesalnya hanya tersenyum.Aigo, kapan sifat cemburu suaminya itu berkurang?

Persalinan

Si won menggenggam tangan Tiffany erat seirama dengan kuatnya genggaman wanita itu padanya.Tiffany tengah berjuang untung sang buah hati.Jeritan dan rintihannya membuat Si won tidak tahan.Percaya atau tidak, pria itu menangis.Menyaksikan Tiffany yang kesakitan seperti ini dengan mata kepalanya sendiri membuatnya sangat tersiksa.Jika ia bisa berganti posisi, dia akan melakukannya untuk Tiffany.

Si won memperhatikan wajah Tiffany yang tampak kesakitan dan penuh dengan keringat.Setelah ini dia akan lebih menyayangi Tiffany karena perjuangannya ini.Dia yang sebagai suami dan Ayah dari anak itu saja tidak berbuat apa-apa selain hanya menyaksikan Tiffany yang kesakitan.

“Kita lakukan caesar saja, Yuri-ah…”usul Si won.Tidak ingin melihat Tiffany kesakitan lebih lama.

“Fany Unnie masih kuat, Oppa.Dia bisa melakukan proses ini dengan lancar.Ayo, Unnie, sedikit lagi…”

Si won kembali menatap Tiffany yang tampak mengatur nafasnya.Tak lama kemudian dia mengejan kencang dan detik berikutnya terdengar tangisan bayi memenuhi ruangan itu.

Tangan Tiffany melemah begitu pula Si won.Pria itu dengan cepat meraih sapu tangan dan mengelap wajah Tiffany yang berkeringat dengan hati-hati.

“Kau hebat, Fany-ah.Gumawo…”ucap Si won menatap mata indah itu.Tiffany mengangguk diiringi senyumnya.

Tiffany memejamkan matanya.Lelah.Lega.Bahagia.Dia akui dia memang sangat lelah tapi entah kenapa dia tetap bisa tersenyum.Apalagi saat mendengar tangisnya.

“Chukkae, Unnie, Oppa.Putra kalian lahir dengan sehat dan selamat…”

Hari Pertama

            Ruang rawat VVIP yang ditempati Tiffany penuh oleh tawa bahagia.Semua keluarga berkumpul untuk menyambut kehadiran anggota baru dalam keluarga Choi itu.Tak hanya keluarga, teman dekat dan para rekan bisnis pun ikut datang mengucapkan selamat.

Bayi tampan itu pun sudah menjadi idola.Setelah dimandikan oleh suster dan menyusui pada Tiffany, setiap orang berebut untuk menggendongnya.Setelah semua keluarga mendapat giliran, kini sang bayi digendong oleh Nyonya Lee, Oemma Dong hae.Si won tidak pernah tahu kalau Oemmanya mengenal orang tua Dong hae.

Si won yang melihat pemandangan diruangan yang terpisah dengan tempat tidur Tiffany itu segera mengalihkan pandangannya pada istri tercinta.Wanita itu terlihat sangat cantik setelah persalinannya semalam.Kulitnya juga tampak lebih bersinar.Entahlah, Si won merasa kalau aura Tiffany membuatnya sangat dan lebih mencintai wanita itu dari sebelumnya.

“Kau baik-baik saja?…”

“Eum?….”

Tiffany menoleh untuk menatap pria yang selalu berada disisinya itu.Suaminya itu tidak akan beranjak jika tidak ingin ke kamar mandi.

Tiffany meletakkan tangan kirinya diatas tangan Si won yang terus menggenggam hangat tangannya.

“Aku baik-baik saja, Oppa…”ucapnya lembut diiringi senyuman.Pandangannya kembali pada kumpulan orang-orang yang tampak tertawa bersama.Si won ikut memperhatikannya.

“Kau tahu apa yang sedang dipikirkan Nyonya Lee sekarang?…”

“Apa?…”Tiffany kembali menatap suaminya.Pria itu mendekat.

“Dia pasti berpikir begini, `Aigo, andai bayi tampan ini cucuku`…”Tiffany tertawa seraya mencubit kecil perut Si won.

“Siapa tahu kalau itu benar-benar cucunya?…”

“Mwo? Jadi maksudmu bayi itu adalah hasil hubungan gelapmu dengan Lee Dong hae?…”

“Apanya yang gelap?…”Pasangan itu menoleh saat nenek Si won muncul dengan segelas susu hangat ditangannya.

“Annimnida, Halmoni…”ucap Tiffany.Nenek Si won tersenyum lalu menyerahkan gelas susunya pada Tiffany.

“Minum lalu tidurlah, kau butuh istirahat…”suruhnya lembut sebelum menoleh pada Si won.

“Bisakah kau menjauh sebentar saja? Tiffany butuh istirahat, kau selalu saja mengganggu…”

“Aku mengganggumu, Fany-ah?…”Tanya Si won dengan ekpresi sedihnya.Sang nenek menatapnya gemas.

“Tiffany harus banyak istirahat agar ia cepat pulih…”

“Kehadiranku disini mempercepat pemulihannya, Halmoni.Bukan begitu, yeobo?…”

“Anni! Bagaimana Fany Unnie cepat pulih kalau Oppa terus berbaring disampingnya.Menggenggam tangannya dan bertanya setiap lima detik sekali.Aku yang melihatnya saja risih…”

Si won mengeram kesal melihat Yoona yang baru muncul  dari balik punggung Halmoni.Aish, gadis itu benar-benar.

“Kau juga, sebaiknya keluar…”

“Halmoni…”Yoona merajuk menggoyang-goyangkan lengan sang nenek.Tentu Si won balas mengejeknya.

“Keluar dan antar Nyonya Lee pulang…”perintah Halmoni sebelum keluar.Yoona hanya merengut kesal dan segera mendekati ranjang Tiffany.

“Unnie baik-baik saja?…”Tiffany mengangguk.

“Hm…”

“Pasti sangat sakit…”Yoona menggenggam tangan kiri Tiffany yang dibalas hangat oleh wanita itu.

“Memang, tapi menyenangkan saat mendengar tangisnya, Yoong…”Yoona tersenyum.Tanda ia ikut bahagia dengan kebahagiaan Tiffany sekarang.

“Kalau sudah selesai pergilah…”usir Si won menarik tangan Tiffany dari tangan Yoona.Gadis itu mengeram kesal.Sungguh, dia menyesal kenapa Oemmanya harus kakak-adik dengan Appa Si won yang menyebabkannya menjadi saudara dari pria menyebalkan itu.

“Aku akan menyuruh Yuri Unnie untuk mengusirmu dari sini, Oppa…”

“Dia sudah mengizinkanku untuk menemani Tiffany disini…”

“Pasti kau yang memaksa…”

“Yoona-ya….”Yoona menoleh saat Oemmanya memanggil.

“Ne, Oemma…”

“Antar Nyonya Lee pulang, ne?…”

“Ne, Oemma.Jjangkamman…”Yoona kembali menatap Tiffany.

“Istirahatlah Unnie, aku pergi dulu…”Yoona melirik sinis Si won yang dibalas senyum oleh pria itu.

“Bukannya dari tadi…”gumannya, Yoona yang mendengarnya ingin berbalik tapi tidak jadi karena ia tidak mau kalau Oemma Dong hae harus menunggu lama.

***Sifany***

Hari pertama bayi Tiffany dan Si won dirumah.Seperti halnya saat dirumah sakit, dirumah pun berbagai hadiah dan ucapan selamat menyambutnya.Keluarga inti tampak dalam kumpulan yang sedang berbahagia itu.

“Aigo, dia sangat gagah seperti Daddynya…”ucap Choi Haraboji menatap bayi berusia 5 hari yang ada digendongannya.Bayi itu diberi nama Choi Hyunoo.Namun mereka sepakat memanggilnya dengan nama Danny.

“Ne, dia akan jadi idola para yeoja…”tambah Oemma Si won senang.

Tiffany tersenyum bahagia melihat keluarga Choi sibuk bermain dengan putranya.Dia sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga ini.

“Kau lelah, Fany-ah.Sebaiknya kau istirahat…”

“Gwenchanayo, Oppa…”

“Si won benar, sayang.Kau harus banyak istirahat agar cepat pulih.Kajja, Oemma antar ke kamar…”Oemma Si won membantu Tiffany untuk berdiri.

“Dan kau Si won-ah, bantu para pelayan menyiapkan meja makan…”perintahnya.

“Wae? Oemma menyuruh pewaris Hyundai Group melakukan itu?…”protes Si won.Dia ingin tetap berada didekat Tiffany.

“Siapa bilang kau pewaris Hyundai Group?…”sela nenek Si won tiba-tiba.

“Kami sudah mendapatkan pewaris Hyundai yang baru jadi kami tidak membutuhkanmu lagi…”sambung Appa Si won, semua orang yang ada diruangan itu tampak tertawa.Tak terkecuali Si won sendiri.Aigo, keluarganya ini benar-benar.

“Kajja, Fany-ah…”

Oemma Si won membawa Tiffany ke atas.Si won yang ditinggal sendiri pun memilih menuju dapur sebab semua orang masih asyik dengan si kecil.

Pria itu tersenyum saat melihat seseorang tampak sibuk dimeja makan.Bukannya ikut membantu orang itu malah sibuk mengisi perutnya.

“Oppha…”Yoona protes dengan mulut penuh makanan saat piring berisi kimbabnya direbut Si won.

“Ya, halmoni menyuruhmu untuk membantu bukannya makan….”ucap Si won.Yoona mengunyah dan menelan makanan dimulutnya dengan cepat.

“Dimana Fany Unnie?….”

“Oemma mengantarnya ke kamar…”

“Danny?…”

“Bersama haraboeji…”

“Aish!”Si won menatap gadis itu dengan kening berkerut.

“Ada apa?…”tanyanya.

“Oppa tahu, sejak Danny lahir aku hanya pernah menggendongnya satu kali.Itupun hanya beberapa detik karena halmoni bilang Danny harus istirahat.Aish, keluarga ini benar-benar membuatku kesal…”

“Memangnya kau bukan berasal dari keluarga ini?…”Tanya Si won mencomot sebuah kimbab dan memakannya.Yoona mendengus kesal dan kembali merebut piring itu dari Si won.

“Ini milikku!”tegasnya dan berlalu.

***Sifany***

Bulan Pertama

Udara pagi yang segar, suara kicauan burung yang merdu dan cahaya matahari pagi yang cerah.Sungguh suasana pagi yang nyaman dan hangat.Sejak beberapa menit yang lalu, Si won asyik menikmati cuaca indah ini bersama putra yang ada digendongannya.

Bayi tampan itu menggeliat dalam tidurnya.Tak mau anaknya terbangun, Si won menggenggam dan mengelus tangan mungilnya.Kakinya melangkah pelan mengitari halaman dengan senandung lagu yang melantun dari bibirnya.

Tiffany yang memperhatikan keduanya sejak tadi hanya tersenyum dari balkon kamar.Walau terkadang menyebalkan suaminya adalah orang yang sangat bisa diandalkan.Dia selalu ingin ambil bagian dalam setiap kegiatan Daniel.Bahkan saat Tiffany harus terjaga tengah malam karena Daniel, pria itu akan ikut bangun untuk menemaninya.

Tiba-tiba Tiffany tersenyum.Yoona bilang, Si won melakukan itu bukan karena menyayangi Daniel tapi karena dia tidak mau Tiffany berlama-lama bersama Daniel.

`Suit suiiit`

Tiffany menoleh ke bawah saat mendengar seseorang bersiul.Si won mengedipkan sebelah matanya lalu menunjuknya.Mengisyaratkan Tiffany untuk turun melalui gerakan telunjuknya.

“Aish!”Tiffany tersenyum geli dan segera masuk ke kamarnya.Berniat untuk bergabung dengan keduanya.

“Kau kelelahan, Oppa? Berikan saja Danny padaku….”

“Aniyo…”Si won meraih pinggang Tiffany dengan sebelah tangannya karena tangannya yang lain masih menggendong Daniel.Mereka menuju kursi dibawah pohon mapple yang  tumbuh dihalaman samping itu.

“Kya, kyeopta…”seru Tiffany mencubit hidung bayinya gemas.

“Tentu saja, anak siapa dulu…”bangga Si won mengelus lembut pipi Daniel yang tertidur lelap dipangkuannya.Tiffany hanya tersenyum manis tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah mungil dan bersih itu.

“Jangan menatapnya seperti itu.Sebagai sesama pria aku merasa cemburu…”

“Aish, kau lucu sekali, Oppa…”Tiffany memukul pelan lengan Si won.Pria itu tersenyum dan bangkit dari duduknya.

Si won memberikan tangan kanannya.

“Kajja, sebaiknya kita masuk.Matahari sudah semakin tinggi.Tidak baik untuk kulitmu dan Danny…”

Tiffany tersenyum.Diraihnya tangan itu dan mereka berjalan beriringan menuju beranda samping.

Eun joo yang melihat pemandangan itu asyik tersenyum.Mengabaikan pekerjaannya yang belum selesai sejak tadi.

“Hei, matahari sudah hampir tenggelam dan kau belum selesai menjemur pakaiannya?….”Teriak Soo mi dari arah belakang.

Gadis muda itu menatap langit dan menyerngit.

“Apa sudah mau gelap? Aigo, mereka sangat manis sampai aku lupa waktu…”ucapnya kembali menjemur beberapa baju Daniel yang tersisa.

***Sifany***

Bulan Kedua

Tiffany menatap bayinya yang terbaring diatas ranjang dengan senyum lebar.Digenggamnya jari-jari mungil itu untuk memberinya kehangatan.Dia sangat bersyukur atas anugerah yang tak ternilai ini.Walau sedikit direpotkan tapi dia sangat menikmati peran barunya sekarang.

“Berhenti tersenyum seperti itu.Aku tahu kau sangat bahagia….”Tiffany menoleh seiring terdengarnya suara itu.Jessica masuk dan ikut naik ke atas ranjang.

“Aigo, Danny-ah.Auntie merindukanmu….”Jessica mengecup pipi anak itu sayang.

“Dimana Yoona?…”

“Danny-ah!”Tiffany dan Jessica tertawa mendengar teriakan itu.Tak lama muncul sosok Yoona dengan senyum riangnya.

“Aigo, Danny-ah.Auntie benar-benar merindukanmu…”Yoona memanyunkan bibirnya.Bersiap mendekat untuk mencium bayi tampan itu.Tapi semuanya terhenti ketika seseorang menarik kerah kemeja yang dikenakannya.

“Ya! Lepaskan!”teriaknya kesal.

“Ya! Jangan berteriak.Telinga bayiku masih baru dan kau jangan merusaknya.Lagi pula siapa yang menyuruhmu naik ke ranjang.Ini tempat ku dan Tiffany.Dan juga, apa kau sudah steril? Jangan sampai kau membawa kuman dan menularkannya pada bayiku….”

Yoona mendesis kesal saat Si won melepaskannya.Aish, pria itu benar-benar cerewet seperti perempuan.

“Siapa bilang Danny bayimu, dia juga bayi Fanny Unnie.Dan aku tidak membawa kuman.Sica Unnie saja boleh naik kenapa aku tidak?…”Si won melipat tangannya.

“Jessica sudah mencuci tangannya sebelum ia masuk.Sudah sana, cuci sampai bersih…”

“Aish! Jjinja!”Yoona menggerutu lalu masuk ke kamar mandi.Tiffany dan Jessica hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.

“Daddymu sangat berlebihan, Danny-ah…”ucap Tiffany mengusap kepala Danny sayang.Bayi itu tertawa tanpa suara melihat wajah cantik sang Mommy.Si won yang ingin ikut bergabung pun ditahan oleh Jessica.

“Diranjangmu ada dua wanita, Oppa.Sebaiknya kau keluar…”

“Kau mengusirku?…”Jessica tersenyum kemudian menatap Tiffany.

“Fany-ah….”

“Sebaiknya Oppa keluar saja.Kami ingin mengobrol antar wanita…”

Si won yang mendengar itu langsung dari Tiffany pun tidak bisa berbuat banyak.Ia menghela nafas dan beranjak keluar.Yoona yang baru keluar dari kamar mandi tertawa melihatnya wajah muram Si won.Seketika dia tersenyum cerah dan berlari kearah ranjang.

“DANNY-AH!

“YA!”

***Sifany***

            Kesibukan menjadi orang tua sudah dirasakan Tiffany sejak tiga bulan yang lalu.Dimana ia harus begadang dan terjaga ditengah malam.Dia beruntung memiliki Si won yang selalu siaga untuknya dan sang bayi.Bahkan disaat dia tidak terbangun karena kelelahan, Si wonlah yang menenangkan Daniel.

Sejak Daniel lahir pun Si won selalu berusaha untuk pulang kantor lebih awal.Dan saat berada dirumah pria itu tidak akan menyentuh yang namanya pekerjaan.Ia hanya fokus pada Tiffany dan bayi mereka.Dia juga selalu ingin ikut dalam setiap kegiatan Daniel.Tak jarang dia juga yang memandikan dan memasang diapersnya.

Kini, Si won duduk disisi Tiffany dengan tangan kanannya memeluk pinggang wanita itu.

“Dia sudah tidur?…”

“Kau selalu bertanya setiap lima detik sekali, Oppa…”

Si won tertawa pelan lalu menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Tiffany.Sementara matanya menatap bayi yang tengah menyusui itu.

“Aigo, tampan sekali…”ucap Si won.Tiffany ikut tersenyum mengiyakan.Ya, anak itu mewarisi semua wajah Si won.Hanya matanya yang mirip dengan Tiffany.

“Hm, seperti Daddynya…”ucap Tiffany.Keduanya saling pandang sejenak dan tersenyum.

“Aigo, istriku cantik sekali…”Tiffany tersenyum dan kembali menatap wajah putranya.Si won dengan usil mendekat dan menyurukkan kepalanya pada leher Tiffany.

“Oppa…”Tiffany menegur suaminya yang mulai bertingkah aneh.

“Hm?….”Tiffany menggeliat geli saat pria itu benar-benar mencium lehernya.

“Bayiku masih kecil, Oppa.Dia tidak boleh melihat adegan orang dewasa…”

“Dia sedang tidur…”

“Oppa, jangan mengganggunya…”

“Dia juga sering menggangguku bahkan dimalam hari…”bela Si won tak mau kalah.Tiffany mendesis gemas dibuatnya.

“Oee…Oee…”

“Omo, baby, Gwenchana?….”Si won otomatis menjauh saat Daniel menangis.Walau bagaimana pun dia tidak ingin bayinya merasa terganggu.Dan sialnya, tangis itu mereda saat itu juga.Seolah itu adalah peringatan agar sang Daddy menjauh.

“Sepertinya dia benar-benar mencari masalah denganku…”Tiffany tersenyum saja.Si won mencubit hidung anaknya gemas.

Untuk beberapa saat keduanya hanya terdiam memperhatikan bayi mungil itu.Dengan hati yang terus mengucapkan terima kasih.

“Sepertinya dia benar-benar sudah tidur…”

“Jjinja? Kau pasti lelah.Berikan padaku, aku akan mengantarnya ke dalam box….”Si won menggeser duduknya.Namun belum sempat ia bangkit tiba-tiba tangan Tiffany mencengkram erat baju dagian dadanya.

“Akh…”

“Wae? Waeyo, Fany-ah?…”Si won bertanya khawatir.Dia dibuat makin cemas.Wanita itu tampak memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit.

“Oppa, akh…”Si won yang tadinya khawatir tiba-tiba tersenyum begitu menyadari apa yang sebenarnya terjadi.Aigo, bayinya nakal sekali.

Si won menunduk.Mendekatkan wajahnya pada telinga kecil putranya.

“Sayang, lepaskan, ne? Mommy-mu kesakitan, hm?…”

Si won merasakan pegangan Tiffany padanya melemah.Itu artinya dia sudah baik-baik saja dan Daniel sudah melepas gigitannya.Sejak giginya mulai tumbuh, Daniel memang terkadang selalu menggigitnya.Membuat Tiffany terkejut dan merasa sakit.

“Anak pintar…”Si won mencium Daniel dan mengambilnya dari gendongan Tiffany.Langsung diletakkanya anak itu ke dalam box sementara Tiffany membenarkan bajunya.

“Sebelumnya Daddy sudah bilang, bukan? Jangan jatuh cinta pada Mommymu.Dan tadi, apa itu? Kau merebut milik Daddy…”

Si won tertawa sendiri dan mencium kening putranya lagi sebelum menutup box itu dengan kelambu agar nyamuk tidak masuk dan menggigit putranya.

“Good night…”ucapnya berlalu dan kembali ke ranjang.

“Gwenchana?…”

“Eoh…”Tiffany bangkit dari duduknya.

“Sebaiknya kita turun.Oppa belum makan malam, bukan?….”

Si won tersenyum seraya melirik jam tangannya.Waktu yang tepat.Beruntung Daniel terbangun hingga ia tidak perlu membangunkan Tiffany lagi.

“Aku akan turun lebih dulu, kau menyusul saja.Eum, lima menit lagi…”

“Wae?….”Si won tak menjawab dan segera melangkah keluar.Meninggalkan Tiffany yang tampak menyerngit bingung.

“Apa yang akan ia lakukan?…”Tanya Tiffany pada dirinya sendiri.Mengingat dia disuruh menunggu, Tiffany pun memilih ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar tidak mengantuk saat menemani Si won makan nanti.

***Sifany***

Tiffany menutup pintu kamar setelah memastikan Daniel baik-baik saja.Langkahnya yang akan menuruni tangga terhenti sejenak.Lampu-lampu dilantai bawah sudah mati.Apa suaminya sedang berada diruang kerja? Bukankah pria itu harus makan malam?

Tiffany baru akan kembali melangkah ke atas saat matanya melihat cahaya dari arah ruang makan.Cahaya lilin?

Karena merasa penasaran Tiffany memilih turun.Dianak tangga terakhir dia melihat sebuket mawar merah tergeletak disana.Segera diraihnya bunga itu dan tersenyum.Pasti ulah suaminya.

Dengan senyum indah yang terukir diwajahnya, Tiffany langsung mendekati meja makan bersama buket mawar ditangannya.Tiffany tersenyum haru, diruangan yang penerangannya minim itu dia bisa melihat cake yang dihidangkan Si won berikut sebotol wine lengkap dengan gelasnya.Dia sepertinya ingat ada perayaan apa hari ini.

“Happy first anniversary…”Si won muncul dari arah belakang dan langsung memeluk Tiffany yang dibalas hangat oleh wanita itu.

“Gumawo…”ucapnya pelan.Si won tersenyum seraya mencium puncak kepala Tiffany singkat.

“Kajja, kita harus tiup lilinnya…”Si won memegang tangan Tiffany dan menuntunnya menuju meja makan.Tiffany menurut dan duduk dikursinya yang sudah disiapkan Si won.

Si won meraih cake yang dihiasi  lilin berangka satu itu lalu mendekatkannya pada Tiffany.Dipeluknya leher Tiffany dari belakang.

“Make a wish dulu…”Tiffany menutup matanya.Kedua tangannya tetap memegang buket mawarnya sementara dirinya dipeluk dengan erat oleh pria itu.Tidak ada doa yang diucapkan Tiffany selain untuk kebahagiaannya bersama Si won, putra mereka serta keluarga mereka, begitu pula dengan Si won.

Tiffany membuka matanya usai doanya terucap.Si won yang baru selesai ikut membuka matanya dan menatap Tiffany.

“Kita tiup sekarang?….”Tiffany mengangguk.Keduanya membungkuk dan meniup lilin itu bersamaan.Sesaat keduanya tertawa.Entah apa yang lucu.

Si won beralih dari tempatnya.Membuka botol wine dan menuangkannya untuk Tiffany.

“Gumawo….”Si won tersenyum sebagai balasan lalu duduk dikursinya.

“Tidak terasa, satu tahun telah berlalu.Bagaimana perasaanmu?…”

Tiffany tampak berpikir sambil bersendagu menatap pria itu.

“Aku bahagia.Apalagi sekarang aku menjadi seorang Ibu…”Si won tersenyum sembari memberikan gelas berisi wine pada Tiffany.

“Bagaimana dengan menjadi seorang istri?…”Tiffany terdiam sesaat.

“Sangat sangat bahagia.Gumawo…”Tiffany menatap mata elang itu dan keduanya tersenyum manis.Meski kalimat itu pendek tapi Si won sangat mengerti maknanya.

“Lalu, bagaimana perasaanmu, Oppa?….”Si won tersenyum.

“Tidak perlu bertanya.Aku adalah pria paling bahagia dimuka bumi ini karena memiliki istri sepertimu…”

Tiffany kembali tersenyum.

“Gumawo.Aku juga sangat beruntung memiliki suami sepertimu.Kau selalu ada untukku, mengutamakanku dan mau melakukan apapun untuk membuatku bahagia.Aku akan berusaha untuk menjadi istri yang lebih baik lagi, Oppa….”Si won tersenyum.Sangat bahagia mendengarnya.

“Aigo, kau benar-benar istriku yang paling cantik…”pujinya.Tiffany menyerngit.

“Aku yang paling cantik? Berarti ada yang jelek?….”

“Mwo?….”Keduanya kembali tertawa.

“Jangan konyol, Fany-ah.Hanya kau satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku…”Tiffany tersenyum senang.

“Arrayo…”ucapnya bangga.

Tiffany memperhatikan sekitarnya saat Si won memotong cake mereka.Apa Si won sendiri yang menyiapkan semua ini?

“Kemana para pelayan?…”Tanya Tiffany.Sejak tadi sore dia memang tidak melihat tanda-tanda keberadaan para pelayan muda itu.

“Mereka dapat libur hari ini…”Tiffany mengangkat sebelah alisnya.

“Libur?…”tanyanya tak percaya.Namun dia sangat senang mendengarnya.

“Harusnya kau melakukan hal ini sejak dulu, Oppa.Mereka juga butuh waktu bersama keluarga dan kekasih mereka di hari libur…”

Si won mengangguk.Dia tahu apa sebenarnya maksud Tiffany.Menyuruh para pelayan libur dan dia yang akan menangani tugas rumah.Tapi Daniel masih kecil jadi Si won tidak ingin mengambil resiko.

“Baiklah, akan ku pikirkan…”ucapnya.Niat sebenarnya mengizinkan para pelayannya libur malam ini hanya karena dia ingin berdua bersama Tiffany.

“Kita bersulang untuk kebahagiaan keluarga kecil kita…”Si won mengangkat gelasnya.Tiffany tersenyum dan ikut melakukan hal yang sama.

“Tentu…”

Tring!

***Sifany***

            Si won keluar dari sebuah toko dengan kantong berisi susu dan suplemen untuk Tiffany ditangannya.Langkah panjang pria itu mendekati Audi hitamnya yang terparkir dipinggir jalan.Namun saat sudah mendekat langkahnya tiba-tiba terhenti.Matanya menangkap sosok pria yang cukup dikenalnya.Belum lagi saat menyadari siapa yang menemani pria itu dan tempat apa yang baru mereka kunjungi.

Si won tiba dirumah.Ji eun menyambutnya dan menerima kantung belanjaan dari Si won.

“Tiffany dikamar?…”

“Ne, Tuan…”Si won mengangguk kemudian masuk.Saat sampai diruang tengah matanya mendapati beberapa bingkisan yang sepertinya untuk Daniel.

“Ji eun-ah…”

“Ne, Tuan…”

“Apa ini?…”tanya Si won memperhatikan tumpukan barang-barang itu.Sepertinya mainan anak-anak.

“Oh, ini semua hadiah untuk Tuan Muda Daniel.Dikirim langsung dari Swiss…”

“Swiss?…”

Si won segera menuju kamar dan masuk.Tiffany yang baru saja menidurkan Daniel segera mendekat.Memberinya sebuah ciuman singkat sebelum membuka jas berserta dasinya.Si won tersenyum dan memeluk pinggang rampingnya erat.

“Sepertinya ada yang terlalu bahagia hari ini….”Tiffany tersenyum.

“Hm, aku mendapat kunjungan spesial setelah sekian lama…”Si won tertawa dibuatnya.

“Untuk apa dia kembali? Bukankah dia akan berada di Swiss selama tiga tahun? Kenapa dia datang saat usia pernikahan kita baru genap berusia satu tahun kemarin?…”

“Molla.Mungkin dia terlalu merindukanku?…”Si won mencubit gemas hidung istrinya.

“Jaga sikapmu Nyonya Choi.Kau sudah melahirkan putraku…”Tiffany tertawa mendengarnya.

“Aku sudah menyiapkan air mandimu, Oppa.Mandilah…”Si won mengikuti Tiffany yang memasukkan dasi dan jasnya ke dalam keranjang khusus pakaian kotor.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Fany-ah…”Tiffany berbalik.

“Yang mana?….”

“Kenapa dia kembali…”Tiffany menghela nafas sedih.Si won menyerngit.

“Oh itu, sepertinya Dong hae Oppa sudah menemukan penggantiku…”

“Jjinja?…”kaget Si won.

“Nugu?…”Tanya Si won penasaran dengan sosok wanita itu.Jangan bilang kalau wanita itu adalah orang yang ia lihat bersama pria itu barusan dibutik khusus gaun pengantin.

Tiffany menatap Si won dengan alis menyatu.

“Oppa belum diberi tahu oleh Haraboeji?….”

“Mwo?….”

“Dong hae Oppa akan menikah dengan Yoona…”

“Yoona? Yoona yang mana?….”Si won memastikan pendengarannya.

“Memangnya ada berapa cucu haraboeji bernama Yoona?…”

“MWO?!”

***Sifany***

Yoona terus meringis seraya menggenggam erat bantal sofa.Dia terperangkap ditempat itu sejak 15 menit yang lalu.Dan apa yang ia dengar hanyalah kemarahan Si won padanya.Berulang kali dia meminta bantuan pada Tiffany tapi sepertinya Si won memang tidak bisa dikontrol sekarang.

“Ck, memalukan.Apa maksudmu akan menikah dengan Dong hae, huh?…”marah Si won.Jadi ini alasan kenapa Oemmanya dan Oemma Dong hae saling mengenal? Mereka akan menikah sementara ia tidak tahu apapun?

“Aish, memangnya kenapa kalau kami menikah….”desisnya pelan.

“Hei, Dong hae itu mantan kekasih Tiffany yang kini sudah menjadi istri dari kakak sepupumu.Apa kau tidak malu?…”

“Semua orang punya masa lalu, Oppa.Dan tidak ada yang salah dengan semua itu.Fany Unnie dan Dong hae Oppa dulu hanya pura-pura berkencan…”balas Yoona.

“Tapi kau tahukan Dong hae itu menyukai Tiffany? Dan sekarang kau ingin menikah dengannya.Siapa tahu kau hanya menjadi pelarian atau ini adalah modus agar dia lebih dekat dengan Tiffany…”

“Ya Tuhan, Si won.Berhenti berprasangka buruk terhadap Dong hae Oppa.Semua orang memiliki masa lalu masing-masing.Mungkin dulu dia menyukai Fany Unnie tapi, hati seseorang bisa berubah, Oppa.Kau mau Dong hae Oppa tetap menyukai Fany Unnie lalu suatu saat saat dia tidak bisa menahannya dan dia membawa pergi istrimu, kau mau?…”

Si won menatap gadis itu.

“Berhenti menasehatiku.Pokoknya aku tidak setuju.Aku akan ceritakan semua keburukan pria itu pada Haraboeji agar pernikahan kalian tidak pernah terjadi…”

Yoona tersenyum sinis.Ekspresi itu membuat Si won menoleh pada Tiffany.Wanita itu tampak menggigit bibir bawahnya serta menggaruk tengkuknya.

“Eum, itu…Haraboeji menanyakan  padaku seperti apa sosok Dong hae Oppa…”tuturnya pelan.

“Lalu, kau bilang apa? Kau mengatakan semua hal yang baik-baik tentangnya?…”

“Aku memang tidak tahu keburukannya selain dia playboy…”

“Mwo?….”Tanya Si won tak percaya.Kembali ditatapnya Yoona.

“Inilah akibatnya jika Haraboeji terlalu memanjakanmu.Kau selalu memilih apapun seenaknya.Haraboeji menyuruhmu mengurus perusahaan kau malah menolak dan memilih pekerjaan dengan hobi desainmu itu.Harusnya dari awal aku juga tidak menyetujuinya…”

“Kalau aku tidak memilih fashion kau pasti juga kesulitan untuk mengenal Fany Unnie karena aku lebih dulu mengenalnya.Aku tidak memilih perusahaan karena aku tidak suka.Seperti kata Halmoni, kau namja satu-satunya jadi kau yang lebih pantas.Dan bukankah Oppa yang selalu mendukung bakatku didepan Haraboeji dan Halmoni?…”Si won terdiam.Memang benar.Tapi kalau dia tahu begini akhirnya dia juga tidak akan menyetujuinya.

“Ta-..”Yoona yang sudah sangat bosan terus diceramahi oleh Si won pun segera meraih tasnya.

“Aku pergi Unnie, mian aku tidak sempat melihat Danny.Aku akan kembali besok…”Yoona pergi begitu saja tanpa memperdulikan Si won yang memanggilnya.

“Aish, anak itu…”

Si won melipat tangannya dan menghempaskan tubuhnya disofa.Tiffany menghela nafas pelan dan mendekat.Tangannya terangkat dan mengusap punggung Si won pelan.

“Gwenchanayo, Oppa.Lagi pula tidak ada yang harus disalahkan.Yoona benar, perasaan seseorang bisa berubah.Kalau Oppa ingin marah jangan marah pada Yoona, marahi aku saja karena sudah berbicara pada haraboeji…”Si won beralih menatap wajah cantik itu.

“Kau ingin aku memarahimu lalu kau akan pergi dan mengadu pada Lee Dong hae?…”

“Aish…”

Tiffany memukul lengan kekar itu pelan dan pergi.Si won tersenyum.Marah pada Tiffany? Mana mungkin.Lagi pula kenapa ia harus marah pada istrinya sementara penyebabnya adalah orang lain.Si won marah bukan karena alasan yang ia sebutkan tadi.Hanya saja dia agak kesal karena dia tidak tahu apa-apa tentang pernikahan itu.Dan kenapa semua orang terkesan tidak ingin ia mengetahuinya?

***Sifany***

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat KST.Namun Si won masih berkutat dengan komputer diruang kerjanya.Sebenarnya tidak ada hal yang perlu ia lakukan.Ia hanya mengecek beberapa laporan untuk mengisi waktu luang.Daniel sudah tidur.Tiffany? Istrinya itu tadi pamit untuk pergi ke pusat kebugaran dan perawatan tubuh bersama Jessica dan Yoona.Tempat yang selalu dikunjungi wanita-wanita itu setiap minggunya.

Sejauh ini konsentrasi pria tampan itu baik-baik saja.Tapi semuanya langsung terganggu saat sebuah bayangan melintas dipintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka.

Si won tertawa singkat.Ditinggalkannya komputer itu karena sudah tidak menarik lagi.

Si won mengikuti kemana bayangan itu pergi.Menuruni tangga, melintasi ruang tengah, belok kanan dan tiba dimeja makan.Si won tersenyum memperhatikannya.Sang pemilik bayangan mengambil sebuah gelas, mengisinya dengan air lalu meneguknya.

Tiffany meletakkan gelasnya begitu usai.Dia tersenyum, tahu kalau sosok itu sudah ada dibelakangnya.

Tiffany berbalik.

“Omo! Oppa, Apa yang kau lakukan disini?…”

“Ck…”Si won berdecak gemas.Tahu kalau wanita itu pura-pura terkejut.Si won melipat tangannya didada seraya bersandar didinding.

“Katakan, kau sengaja bukan?….”

“Uhm?…”

“Kau sengaja lewat didepan ruang kerjaku dengan pakaian seperti itu, bukan?…”tanya Si won seraya melirik tubuh istrinya.Tiffany ikut melihat ke bawah.Memperhatikan tubuhnya yang hanya ditutupi oleh lingerie tipis transparan berwarna hitam.

Tiffany mengangkat wajahnya dan tersenyum.

“Wae? Sangat menggoda, bukan?…”Si won tertawa pelan.

“Kemari…”perintahnya.Tiffany yang melihat itu ikut melipat tangannya dan memalingkan wajahnya.

“Shiro, kenapa harus aku yang datang…”ucapnya dengan nada kesal.Si won tertawa pelan dan mulai mendekat.

“Kau akan menyesal, Fany-ah…”seringainya.Tiffany hanya tersenyum manis menatap suaminya penuh cinta.

“Tidak akan…”bisiknya pelan.

Si won memeluk tubuh ramping itu dan mendudukkannya dimeja makan agar ia lebih jelas menatap wajah Tiffany.Dua pasang mata itu saling menatap penuh cinta.Senyum keduanya terukir indah dan tulus.

Si won perlahan mendekat.Deru nafas keduanya semakin terasa menerpa kulit.Menambah sensasi yang mengalir dalam diri keduanya.Tiffany mengalungkan lengannya dileher Si won.Membuat jarak diantara mereka semakin kecil hingga hidung mereka bersentuhan.Dan saat Si won ingin mencicipi bibir tipis itu, sang pemilik malah menghindar dan beralih  memeluknya.Ok, wanita itu memang selalu menggodanya yang akan membuatnya semakin tidak terkendali.

“Oppa…”

“Hm?…..”Si won menjawab sambil menghirup wangi tubuh itu seraya tangannya mengelus punggung Tiffany.

“Ada yang ingin kukatakan padamu…”

“Katakan saja…”ucap Si won yang mulai menciumi leher putih Tiffany.Wanita itu tersenyum lalu menempelkan bibirnya pada telinga Si won.

“I love you…”bisiknya pelan.Si won sontak menghentikan aksinya.Tentu dia kaget mendengar pernyataan itu.Ini adalah ungkapan cinta pertama Tiffany selama pernikahan mereka.Tentu dia sangat bahagia.Tidak terkecuali Tiffany.Dia senang bisa mengucapkan kalimat yang akan membuatnya lebih dicintai oleh pria itu.

Sebenarnya, ini bukan yang pertama.Dulu, Tiffany sempat mengucapkan kalimat itu saat mereka tengah bercinta.Namun karena situasi dan kondisi saat itu, Tiffany tidak bisa mengucapkan kalimatnya dengan lancar.Hasilnya, kata-kata yang keluar adalah Sarang- Hae.Dan saat itu juga Si won berseru…

`Kau sedang bercinta dengan Choi Si won, Tiffany.Bukan Lee Dong hae`

Sungguh, Tiffany tidak akan bisa berhenti tertawa jika mengingat hal itu.Karena itu jugalah dia tidak mengucapkan kalimat tersebut dalam hangul.Tentu dia tidak ingin mencari masalah, bukan?

“Gumawo.Aku sangat senang mendengarnya.Kapan aku bisa mendengarnya lagi?…”

“Eum, tahun depan?…”

“Bagaimana kalau malam ini?…”tanya Si won.Tiffany menggeleng mantap.

“Tidak akan…”ucapnya pasti.Pria itu menyeringai dan segera menggendong Tiffany menuju kamar.

“Kita lihat saja nanti…”

***Sifany***

Tiffany membuka matanya saat merasa cahaya matahari menerpa kulit wajahnya.Saat matanya terbuka, yang pertama ia lihat adalah wajah tampan suaminya.Tiffany tersenyum.Tangannya terangkat dan jari telunjuknya menelusuri kening, hidung, bibir hingga rahang kokoh pria itu.

“Omo!”

Tiffany berseru kaget ketika tiba-tiba Si won menarik pinggangnya hingga jarak keduanya kian dekat.

“Apa sudah pagi?…”Tanya Si won dengan suara serak dan mata yang masih terpejam.

“Hm…”Si won tertawa geli karena wanita itu memainkan jakunnya.

“Oppa…”

“Hm?….”Si won mencium puncak kepala Tiffany.

“Sepertinya Danny sudah bangun…”Si won mempertajam pendengarannya.Bisa terdengar olehnya suara khas bayi yang tengah tertawa.Mungkin ia asyik bermain dengan mainannya.

“Gwenchana, dia tidak menangis, bukan?…”Tiffany hanya tersenyum kecil didada bidang Si won.

“Oppa…”

“Hm?…”Tiffany mendongak untuk menatap wajah itu.

“Kau sangat tampan…”Si won tertawa mendengar pujian itu.

“Itu sudah biasa…”sombongnya.Tiffany mencibir pelan.Dia tiba-tiba terkesiap saat Si won mencium bibirnya.Jangan salahkan Si won, kenapa wanita menggerakkan bibirnya.Tentu Si won tidak tahan dan menciumnya.Si won berpikir, haruskah mereka melanjutkannya sebab wanita itu sangat konsisten dengan ucapannya semalam? Ciuman Si won makin dalam saat Tiffany membalasnya.Dan saat ia ingin berbuat lebih, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka.

“Ya! Oppa, palli, irona…”Si won sontak menghentikan aksinya dan menoleh ke arah datangnya suara.Si won berdecak kesal karenanya.

“Ya! Haruskah kau masuk ke kamarku sepagi ini?…”marah Si won.Yoona balas berdecak sebal sebelum menutup mata dengan kedua tangannya.

“Kau tidak perlu memamerkan perut six pack-mu itu, Oppa.Kau pikir aku tertarik?…”Yoona berlalu dan dengan cepat berpindah ke box Daniel.Mengacuhkan Si won yang tampak sangat kesal karenanya.

“Aigo, Danny-ah.Auntie merindukanmu.Poppo…”Si won baru akan protes saat Yoona menggendong Daniel.Namun Tiffany mencegahnya dengan menyentuh lengan pria itu.

“Onnie, cepatlah mandi.Aku akan membawa Danny turun…”Gadis dengan cardigan biru dan hot pants putih itu melirik Si won.

“Dan jangan lakukan apapun yang memperlambat mandinya, arasso?…”Yoona memperingatkan sebelum memutuskan untuk keluar.

“Ya!”panggil Si won kesal.

“Kajja, kita bertemu Dong hae Ahjussi…”Si won sontak melirik Tiffany.

“Apa maksudnya bertemu Dong hae.Pria itu ada dirumahku?…”Tiffany hanya mengangkat bahu tanda ia tak tahu apa-apa.

***Sifany***

“Aigo, Dany-ah.Kau sangat tampan…”Yoona mencubit gemas hidung Daniel yang berada digendongan Dong hae.

“Eoh, sepertinya dia mewarisi ketampanan Daddynya…”ucap Dong hae.Yoona yang mendengarnya tersenyum.

“Wae?….”Tanya Dong hae menanyakan arti dari senyum itu.

“Anni.Oppa menyesal karena ketampanannya tidak berasal darimu?…”Dong hae tertawa mendapat pertanyaan itu.

“Setidaknya, ketampananku akan menurun pada anak kita…”Wajah Yoona bersemu merah mendengarnya.

Sungguh, dia sangat bahagia sekarang.Tepat sebelum Dong hae berangkat ke Swiss tahun lalu, pria itu menghubunginya dan mengajaknya bertemu.Dan Yoona tidak percaya kalau Dong hae memintanya untuk menunggu.Pria itu bilang dia ingin berpaling dari Tiffany dan membuka hatinya untuk gadis lain.Yoona awalnya tidak percaya kalau gadis itu adalah dirinya.Namun pria itu berhasil meyakinkannya dan berjanji untuk setia padanya.Sejak itulah keduanya mulai dekat dan berhubungan.Tiffany memang sudah tahu mengenai hal ini sejak lama, tapi mereka merahasiakannya mengingat Si won tidak menyukai Dong hae.

“Itu mereka…”seru Dong hae saat melihat Si won dan Tiffany menuruni tangga.Si won yang melihat anaknya tengah digendong Dong hae tampak tidak suka.Tiffany tahu itu, dia bisa merasakan langkah pria itu menjadi lebih cepat.Tiffany tersenyum, sifat suaminya benar-benar tidak berubah.

“Ha-…”

Tiffany menggandeng lengan Si won lebih mesra.Si won beralih menatapnya.

“Jangan menyinggung perasaannya, Oppa.Dong hae Oppa tidak akan membawa kuman untuk putramu.Jadi jangan membahas hand sanitizer dihadapannya…”

“Jadi kau takut kalau dia merasa tersinggung? Manis sekali…”Tiffany tersenyum dan meninggalkan pria itu.

“Apa kabar, Oppa?…”Sapa Tiffany ramah.

“Aku baik, Fany-ah.Dan aku yakin kalau kau jufa dalam keadaan yang sangat baik…”Tiffany mengangguk dan mengambil tempat disofa.Berhadapan dengan calon pasangan baru itu.Si won ikut duduk di sebelahnya.

“Wah, sepertinya kalian juga sudah siap memiliki bayi…”Tiffany menggoda dan sukses membuat pasangan itu salah tingkah.Terlebih Yoona, dia tersenyum malu dan memegang wajahnya yang memerah.

“Unnie, kau membuatku malu…”Si won mendesis gemas melihatnya.

“Sok manis…”gumannya pelan yang dapat didengar oleh Yoona.

“Jadi, kapan hari bahagia itu?…”Tanya Tiffany.

“Haraboji meminta kami untuk lekas menikah.Jadi kami memutuskan bulan depan…”

“Jjinja? Wah, kita harus mempersiapkannya mulai sekarang.Kalian sudah mencari gaun?..”

“Ne, kami sudah mencarinya beberapa hari yang lalu…”jawab Yoona.Tiffany mengangguk.Dia bersandar disofa, agar lebih dekat dengan Si won.

“Katakan sesuatu, Oppa…”bisiknya.Si won tampak berpikir.Rasanya malas sekali untuk berbicara.

“Setelah menikah kalian akan menetap di Seoul?….”Tanya Si won akhirnya.

“Aniyo, masih ada yang perlu ku lakukan di Swiss untuk dua tahun kedepan…”Si won melipat tangannya dan tersenyum sinis  kearah Yoona.

“Lalu, rusa jelek ini kau tinggalkan disini?….”

“Aniyo, Yoona akan ikut bersamaku…”Yoona mengangguk dengan senyum puas membalas tatapan Si won.Si won mengangguk saja.

“Ku harap kalian bisa bahagia.Dan juga, jangan membuat adik sepupuku ini terluka.Kau tidak akan ku maafkan jika itu terjadi, Dong hae-ssi…”

Yoona tersenyum.Pria itu, tidak bisakah menunjukkan rasa sayang padanya dengan lebih manis? Tapi bagi Yoona tidak masalah.Dia tahu kalau kakak sepupunya itu menyayanginya dengan baik.

“Jangan terlalu khawatir, Oppa.Aku yakin Dong hae Oppa akan menjaga Yoona dengan baik.Bukan begitu, Oppa?….”Dong hae tersenyum.

“Tentu, aku akan melakukan yang terbaik…”Janji Dong hae.Tiffany dan Yoona saling bertukar pandang dan tersenyum.

“Aku pegang janjimu…”ucap Si won.Sebagai kakak tentu dia tidak ingin Yoona disakiti oleh siapa pun.

Yoona menatap Daniel yang masih betah digendongan Dong hae.

“Danny-ah, Auntie pasti sangat merindukanmu.Jadilah anak yang baik dan jangan nakal aratchi?…”

“Tentu saja.Dia harus tumbuh dengan baik dan pintar…”tambah Dong hae.

Tiffany melihat keduanya dengan mata berkaca-kaca.Rasanya sulit sekali untuk berpisah dengan Yoona dalam waktu selama itu.Si won yang mengerti dengan segera merangkulnya hangat.

“Gwenchana, kalian masih bisa saling menelfon, bukan?…”Yoona yang menyadari keadaan Tiffany pun mendekat untuk memeluknya.

“Kami akan baik-baik saja, Unnie.Jangan terlalu khawatir…”Tiffany mengangguk dibahu Yoona.

“Hm.Berjanjilah untuk selalu menelfonku…”

“Ne, Unnie.Asal tidak ada yang memarahiku soal radiasi…”Tiffany, Yoona dan Dong hae tampak tertawa.Sementara Si won hampir saja melempar wajah cantik itu dengan bantal sofa.Tapi akhirnya dia ikut tertawa bersama saat Daniel juga tertawa dengan gayanya sendiri.

***Sifany***

8 Tahun Kemudian

“Dad, lihat.Aku mendapatkan nilai A+ saat ulangan matematika tadi siang…”bangga Daniel memperlihatkan nilainya pada Si won.

“Jjinja? Wah, putra Daddy memang hebat…”Si won mengusap kepala anaknya sayang.Sekarang Daniel sudah menginjak usia 7 tahun.Dia juga baru memulai sekolahnya ditingkat dasar.Si won sangat bersyukur karena anaknya tumbuh dengan baik dan cerdas.

“Wah, Dong hae Ahjussi…”

Anak itu berseru senang saat berita Dong hae muncul di TV.Liputan itu adalah wawancara khusus yang menampilkan Dong hae atas terpilihnya ia sebagai pengusaha paling sukses tahun ini versi sebuah majalah bisnis ternama.Daniel sangat mengidolakan Dong hae.Dan Si won sangat tidak menyukai itu.

“Danny-ah…”

“Ne, Dad…”

“Bukankah Daddy lebih tampan?…”Daniel memperhatikan wajah Si won dan Dong hae yang ada di TV bergantian.

“Ne, Daddy lebih tampan tapi Dong hae Ahjussi lebih manis…”Si won menyerngit.

`Mwo? Manis`

“Hei, Mommy yang mengajarimu?….”

“Anni, Daddy tidak dengar apa yang reporter itu katakan…”Si won memalingkan wajahnya kearah TV.

“Tapi Daddy lebih hebat darinya, sayang…”tambah Si won.Tetap tidak suka saat putranya lebih mengidolakan orang lain dibanding dirinya sendiri.

“Jjinja?…”tanyanya tak percaya.

“Tentu saja…”jawab Si won pasti.

“Tapi kalau Daddy hebat kenapa Dong hae Ahjussi yang diwawancara.Kenapa tidak Daddy?….”

“Itu…itu karena dia beruntung saja untuk tahun ini.Kau tahu bukan, tahun-tahun sebelumnya gelar itu Daddy yang dapatkan?….”

Kening anak itu berkerut.

“Jjinja? Berarti sekarang Daddy tidak hebat lagi?….”

“Mwo?…”Si won melipat tangannya.Astaga, anak ini.

Tiffany yang melihat adegan itu dari dapur hanya tersenyum lembut.

“Dad, aku ingin ke kamar mandi sebentar…”

“Eoh…”Anak itu turun dan segera berlari.Si won menyerngit saat anak itu berlari ke arah yang tidak seharusnya.

“Mom…”

“Iya, sayang…”Tiffany mencium anaknya sebelum menggendongnya dan mendudukkannya di kursi.Setelah itu ia kembali dengan pekerjaannya.

“Apa tadi Mom melihatnya? Daddy terlihat sangat kesal saat aku membicarakan Dong hae Ahjussi…”Tiffany tertawa.

“Ne, sangat lucu, bukan?…”

Daniel ikut tertawa tanpa suara agar tidak terdengar oleh Daddynya.Beberapa waktu terakhir ia sering berkominukasi dengan Yoona.Keluarga Auntienya itu akan segera kembali ke Seoul.Setelah kembali dari Swiss keluarga Lee itu kembali ke Korea.Namun setahun yang lalu keluarga kecil itu pindah ke Jepang.Dan bulan depan mereka akan kembali ke Seoul.Tentu Daniel sangat merindukan Auntienya beserta adiknya yang cantik, Hye na.

“Mom, apa aku harus bilang pada Daddy kalau aku ingin menjadi seperti Dong hae Ahjussi saat sudah besar nanti?….”Tiffany yang tengah menyiapkan bahan cakenya tertawa.

“Terserah kau saja…”

Daniel mengangguk dan melihat sekeliling.Tampak olehnya seseorang tengah bersandar dipintu dapur.

“Mom…”

“Hm?….”

“Sepertinya ada yang mendengar pembicaraan kita?….”Tiffany tetap dengan aktivitasnya.

“Bukankah biasanya selalu begitu? Saat kita berdua, selalu ada sosok yang tak kasat mata berkeliaran disekitar kita…”

Si won tertawa dibuatnya.Daniel ikut cekikikan dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?…”Tiffany menatap anaknya dengan eye-smile cantiknya.

“Abaikan saja…”Daniel mengangguk setuju.Namun sedetik kemudian dia menjerit histeris karena Si won menggelitiki pinggangnya.

“Ampun, Dad…ampun…”Teriaknya tak tahan.

“Dad, jebal, kyaaa…”

“Kau tahu kalau anak nakal harus dihukum? Rasakan ini…”Si won terus menggelitiki Daniel yang meronta-ronta digendongannya.Namun tak lama kemudian dia menghentikannya karena tak mau anaknya kehabisan nafas karena tertawa.

“Hosh…hosh…”Daniel mengatur nafasnya.Si won berjongkok dan merapikan baju Daniel yang sedikit berantakan.

“Mainlah diruang tengah…”suruh Si won menepuk bokong Daniel.Anak itu mengangguk manis.

“Apa aku boleh mengajak Mommy?…”Si won berdiri dan menggeleng.

“Tentu tidak…”jawabnya pasti.Daniel mengangguk paham dan berbalik.

“Aku tahu itu…”ucapnya berlalu.Si won dan Tiffany yang mendengar itu tersenyum.

Si won mendekat ketempat Tiffany.Wanita cantik itu terlihat sibuk.Beberapa waktu terakhir, Si won memang sudah mengizinkan Tiffany untuk melakukan tugas rumah mengingat Daniel sudah besar.Dia juga memenuhi permintaan Tiffany agar para pelayan libur dihari weekend.Jadinya mereka bertemu kekasih dan akhirnya satu persatu dari mereka menikah.Selain itu, tentu saja karena wanita itu terus meyakinkannya kalau ia bisa mengurus rumah dengan baik.

“Masih sibuk?…”

“Hm…”jawab Tiffany seadanya.

“Perlu bantuan?….”Si won meraih tepung.Tiffany kini sedang mencampur telur dan gula dengan mixer.Mungkin setelah ini wanita itu akan membutuhkannya.

“Aku tidak memerlukan bantuan yang akan membuatku membutuhkan bantuan lainnya, Tuan Choi…”balas Tiffany.Dari pada disebut membantu pria itu akan lebih mengacaukan pekerjaannya.

Si won tampak tertawa.

Tiffany mematikan mixernya.Telur dan gula sudah tercampur dan mengembang.Sekarang dia membutuhkan tepung.Dan  bahan itu sudah menghilang dari tempatnya.

“Butuh bantuan?…”tanya Si won.Tiffany tersenyum dan menatapnya.

“Baiklah, apa yang harus ku lakukan…”

“Uhm, ungkapan cinta?…”

“Bukankah sudah semalam?…”Ya, hari ini tepat delapan tahun usia pernikahan mereka.Sama seperti tahun-tahun sebelumnya pasangan itu selalu merayakannya dengan manis dan romantis.

“Mulai hari ini aku ingin mendengarnya setiap hari.Kau tahu, mendengarnya sekali setahun itu agak keterlaluan…”

“Kenapa sekarang baru protes?…”Tanya Tiffany.Si won hanya tersenyum.

“Baiklah….”

“Jjeongmal?…”Tanya Si won senang.

“Jadi Oppa ingin aku berbohong?….”

“Tentu saja tidak…”Tiffany tersenyum.Ia berjinjit dan mendekatkan mulutnya ketelinga Si won.Pria itu memeluk pinggangnya erat.

“I love you…”bisik Tiffany mesra.Si won tersenyum dipundak wanita itu.

“Gumawo…”ucapnya pelan.Tiffany tersenyum.Tangannya bergerak naik turun mengusap punggung Si won.

“Kalau Oppa begitu menyukainya, aku akan mengucapkannya setiap hari bahkan kalau perlu setiap detiknya…”Si won tersenyum bahagia dan mempererat pelukannya.Oh, tidak dia mulai bertingkah aneh.

“Oppa…”

“Hm?…”Si won hanya mengguman sambil menciumi leher putih Tiffany.

“Aku harus menyelesaikan cakenya…”

“Sebentar saja…”ucapnya tak jelas.

Tiffany tersenyum saja.Terlebih saat melihat Daniel tengah berlari menuju dapur.

“Mom…”

Panggilan itu reflek membuat Si won menjauh.Dan saat dia menoleh anak itu tengah menatapnya dengan kening berkerut.

“Eoh, wae?….”tanya Si won.Tiffany meninggalkan keduanya dan memilih untuk menyelesaikan adonan kuenya sebelum hancur.

“Mom dan Dad bertengkar?…”Tanyanya cemas.

Si won menggeleng.

“Aniyo….”

“Lalu kenapa Dad menggigit leher Mommy.Seperti dracula dalam film saja…”Mulut Si won terbuka.Tak ada suara yang keluar karena dia juga tidak tahu harus berkata apa sekarang.Diliriknya Tiffany, wanita itu hanya tersenyum sambil terus sibuk dengan pekerjaannya.

“Itu…itu sebenarnya bukan menggigit…”Si won mencoba menjelaskan.Namun kening anak itu makin berkerut tanda ia tak mengerti.

“Lalu, apa namanya?…”

Si wo  mengusap tengkuknya.Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya bukan? Anak itu belum cukup umur.

“Aku akan adukan pada Halmoni, Dad menggigit leher Mommy…”

“Mwo?…”kaget Si won.

“Aku juga sering melihat Daddy menggigit bibir Mommy?…”

“Hei, kau mengintip?…”tuduh Si won menunjuk wajah anak itu.

“Aku bilang melihat Dad, bukan mengintip…”

“Mwo?!”Si won benar-benar gelagapan.Tiffany yang menyadari itu meninggalkan pekerjaannya dan berjongkok dihadapan putranya.

“Danny-ah…”Mata bening anak itu menatap wajah cantik Tiffany.

“Ada beberapa hal yang tidak perlu kita bicarakan dengan orang lain.Yang kau sebutkan tadi salah satunya.Karena kau masih kecil jadi kau tidak akan mengerti.Jadi Mom harap, kau tidak akan menyinggung hal ini didepan Halmoni atau siapapun.Mommy dan Daddy tidak bertengkar sayang.Itu hanya cara orang dewasa untuk mengungkapkan perasaan mereka…”

Anak itu terdiam cukup lama.Namun beberapa detik kemudian ia mengangguk.

“Baiklah, aku tidak akan membicarakannya dengan siapapun…”

“Anak pintar.Beri Mommy sebuah ciuman…”Tiffany memajukan bibirnya.Daniel tersenyum senang kemudian langsung menciumnya.Si won yang melihat keduanya ikut tersenyum bahagia.

“Aigo, anak Mommy pintar sekali…”Daniel tersenyum senang mendapat pujian itu.

“Oh ya, ada apa kau memanggil?…”Tiffany bertanya perihal kemunculan anak itu.

“Oh,  halmoni menelfon.Dia bertanya kapan kita akan sampai…”

“Lalu, anak Mommy bilang apa?….”

“Tadi aku bilang, kita akan pergi setelah cakenya matang.Tapi sepertinya masih lama karena Daddy  mengganggu Mommy…”Tiffany tertawa begitu pula Si won.

“Jadi sekarang bantu Mommy agar cakenya cepat matang dan kita bisa pergi kerumah Halmoni segera…”

“Ne….”serunya senang.Si won menggendong Daniel untuk mendudukkannya di kursi.Kemudian ketiganya mulai sibuk menyelesaikan cake mereka dengan penuh canda tawa.

***Sifany***

Keluarga Choi sudah berkumpul dimeja makan.Dihadapan mereka terhidang berbagai menu makanan serta cake yang tadi dibuat Si won, Tiffany dan Daniel.Dihari bersejarah ini, semua orang berkumpul untuk merayakannya.

“Tidak terasa sudah 8 tahun berlalu, bukan? Rasanya baru kemarin aku bertemu Tiffany…”ucap Choi Haraboji disambut anggukan yang lain.

“Rasanya juga baru kemarin aku melihat Tiffany untuk pertama kalinya…”balas Choi Halmoni yang diiyakan Oemma Si won.

“Dan rasanya baru kemarin seorang pria bodoh hampir melepaskan takdirnya, hahaha…”Oemma Si won tertawa lepas begitu pula nenek Si won.

“Tapi rasanya sudah lama aku melihat kalian tertawa begitu berisiknya…”Oemma Si won merengut mendengar ucapan suaminya.Dan itu menimbulkan tawa dari yang lain.

Tuan Choi melirik putra dan menantunya bergantian.

“Setiap rumah tangga pasti memiliki masalah.Tinggal bagaimana kita menghadapi dan menyikapinya.Aku sangat bangga karena kalian bisa menjalaninya dengan baik.Delapan tahun bukan waktu yang lama, kalian harus tetap bersama sampai akhir.Apa Appa bisa percaya?…”

“Tentu, Appa…”jawab Si won pasti.Tuan Choi beralih menatap Tiffany.Wanita itu tersenyum.

“Ne, Appa.Mohon terus doakan dan bimbing kami…”

Tuan Choi mengangguk dan menatap Daniel yang ada disebelah Tiffany.

“Cucu haraboeji, tumbuhlah dengan baik dan membanggakan keluarga, aratchi?…”Daniel mengangguk.

“Ne, haraboji.Aku akan melakukannya…”Choi halmoni tersenyum.

“Aigo, dia tumbuh dengan baik dan pintar…”gemasnya mengusap wajah tampan Daniel.Semua orang ikut tertawa dan mulai menikmati makanan mereka.

“Itu karena dia dibuat dengan doa dan cinta….”Tiffany sontak menyikut lengan pria itu.

“Omo! Omo, lihat dia.Aish, bicaralah yang lebih sopan dihadapan orang tua…”Oemma Si won menatap putranya seraya menggeleng.

Choi Halmoni mengangguk prihatin.

“Itu benar.Kita bisa melihat anak jaman sekarang.Mereka suka melawan orang tua dan berbuat seenaknya.Itu karena nafsu sesaat dari orang tua mereka dan…”

“Oemma, berhentilah membicarakan orang lain…”ucap Tuan Choi menghentikan Choi Halmoni.Choi halmoni hanya mendengus sebal dan kembali makan.

Choi Haraboeji yang melihat kebersamaan keluarganya itu tersenyum.Diumurnya yang sudah tua ini dia masih bisa tersenyum bersama istri, anak, menantu, cucu, cucu menantu dan cicitnya.

“Aigo, aku pasti orang yang paling beruntung didunia ini.Aku memiliki keluarga yang lengkap dan saling menyayangi satu sama lain …”ungkap Choi haraboeji bahagia.

“Appa salah, akulah yang paling beruntung.Aku memilliki istri yang baik, anak yang sukses, manantu yang cantik dan cucu yang pintar.Dan juga, aku memiliki Appa yang hebat …”sambung Tuan Choi tertawa.

Si won meralat ucapan Haraboeji dan Appanya.

“Kalian salah, haraboeji, Appa.Akulah yang paling beruntung.Kalian sudah memberikan yang terbaik untukku selama ini.Mulai dari semua kebutuhanku, pendidikan dan semuanya.Yang paling penting, aku mendapatkan Tiffany dan Danny.Aku sangat berterima kasih pada kalian semua.Gumawoyo….”Si won menundukkan kepalanya memberi hormat.Semuanya tersenyum lembut.

“Sebenarnya, akulah yang paling beruntung…”ucap Tiffany.

“Kalian sudah mengizinkanku untuk menjadi bagian dari keluarga yang hangat ini…”Choi halmoni dan Oemma Si won tersenyum haru.Si won menggenggam tangannya hangat.

“Aniyo…”Semua orang menoleh pada sosok anak yang berseru itu.

“Akulah yang paling beruntung.Aku memiliki haraboeji dan halmoni besar yang sangat menyayangiku.Haraboji dan halmoni juga sangat baik padaku.Aku juga memiliki Daddy yang tampan.Semua teman yeoja disekolahku menyukai Daddy.Dan yang paling penting, aku memiliki Mommy yang sangat baik dan cantik.Seperti Daddy, aku juga selalu senang jika melihat mata Mommy…”Semuanya mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut anak itu.

“Aku akan menjadi anak yang bisa dibanggakan.Aku akan tumbuh sehebat Daddy dan sebaik Mommy…”Semua orang tersenyum, terlebih Si won.Tentu dia bangga karena anaknya ingin menjadi sepertinya.

“Tapi…”Semua orang tampak bingung dengan perubahan raut wajahnya.

“Wae?….”Tanya Choi Halmoni.

“Bukankah haraboeji besar yang menemukan Mommy?…”

Choi Haraboeji yang mendapat pertanyaan itu mengangguk.

“Ne, waeyo?….”tanyanya penasaran.

Semua orang menunggu apa yang akan keluar dari mulut mungil itu.

“Ku harap Haraboeji besar selalu sehat.Dan bisakah Haraboji menemukan orang seperti Mommy juga? Untukku….”

“Ne?…”Semua orang tampak shock.Namun tak lama kemudian tertawa canggung.

Anak itu menggaruk tengkuknya malu.Terlebih saat Tiffany tersenyum lembut kearahnya.

“Aigo, kau masih belum cukup umur untuk hal-hal seperti itu, Danny-ah…”ucap Si won menahan tawanya.

“Wae?…”seru Oemma Si won tak setuju.

“Anak jaman sekarang tumbuh lebih cepat, Si won-ah…”tambahnya.

“Eoh, memangnya seperti dirimu.Kau terlambat untuk mengenal Tiffany, kau tahu?…”balas sang nenek.Si won tertawa saja.Keluarganya memang suka mengolok-olok dirinya.

“Danny, kau tidak perlu khawatir sayang.Asal kau tumbuh dengan baik dan cerdas.Kau akan mendapatkan wanita seperti Mommy-mu….”ucap Oemma Si won menatap cucunya.

“Jjinja?…”Tanyanya senang.

“Tentu…”balas Choi haraboji disambut tawa yang lain.

“Tapi sepertinya itu akan sulit…”ucap Si won.

“Perlu kau ketahui Danny-ah, orang seperti Mommy-mu, hanya untuk Daddy…”ucap Si won menggoda.Tiffany menggeleng dan menatap anaknya lembut.

“Aniyo, kau bahkan akan mendapatkan yang lebih baik dari Mommy…”tambah Tiffany.Daniel tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.Dia bangkit dari duduknya untuk memeluk Tiffany erat.

Semua orang saling bertukar pandang dan tersenyum.

“Aigo, ini adalah pemandangan yang manis.Kenapa air mataku rasanya ingin keluar…”ujar Choi Halmoni.Semua orang kembali tersenyum.

“Kajja, makanannya hampir dingin…”ucap Tuan Choi mengalihkan perhatian.

Daniel kembali ke tempatnya untuk melanjutkan makan siangnya.Semua orang ikut melanjutkan acara makan itu sambil sesekali tertawa dengan obrolon mereka.Si won yang memperhatikannya tersenyum.Sungguh, dia sangat bersyukur dengan kebersamaan keluarganya yang seperti ini.Dia berharap mereka akan bisa seperti ini selamanya.

Seperti kata kakeknya tadi, rumah tangga Si won dan Tiffany bukan selamanya manis tanpa masalah.Selama 8 tahun mereka bersama sangat banyak yang terjadi.Ada saatnya mereka harus saling diam dan berbeda pendapat.Namun mereka tahu bagaimana mengatasinya.Jika seseorang meledak-ledak, yang lain sebaiknya diam.Dan jika seseorang bersalah, harus meminta maaf dan tidak akan melakukan hal sama yang akan menyebabkan hubungan keduanya makin renggang.

Si won berencana untuk melanjutkan suapannya.Namun gerakannya terhenti saat menyadari mata indah itu tengah menatapnya lembut.

Si won mengangkat kedua alisnya seolah bertanya.

`Ada apa?` Namun wanita itu hanya menunjukkan eye-smilenya dengan mulut yang terbuka tanpa suara.Tapi Si won mengerti apa yang keluar dari mulut manis itu.

`I Love You`

END

FF ini untuk lanjutan You are Mine dan aku kasih judul You are Mine 2, wkwkwk aku ga dapet ilham harus gimana judulnya.Ada sih beberapa tapi aku putusin yang ini aja.Sama seperti ff sebelumnya disini juga ga ada konflik yang berarti, aku ceritakan dari sisi bahagianya aja.Karena ada yang minta Yoonhae, aku bikin Yoonhae walau awalnya sempet ragu karena Yoongie udah jadi milik seung gi.Maaf jika ada typo dan merasa kurang memuaskan.Ditunggu RCL-nya.Annyeong…

 

 

155 thoughts on “(AR) You’re Mine 2

  1. Benar2 so sweet family,happy family thor,pingin banget kayak keluarga sifany dan juga anaknya.
    Suka sama adegan2 romantis sifany dan juga kisseunya,sweet moment.
    Daebak thor.nice fanfic thor.thanks banget buat author dan ffnya.keep writing thor.hwaiting.
    Sifany 4ever♥♥♥♥♥

  2. Daebak!
    Aduh sweet’a ga ketulungan
    Nice ff
    Walaupun udh prnh baca ttp aja ga bosen2 saking sweet’a
    Haha..
    Dan stiap baca ff sifany (trutama yg romance – marriage life) selalu b’harap jd kenyataan hehe
    Sifany jjang!
    Author jjang!
    Hwaiting

  3. Bc aj udh ikut bhgia ap lg ad didlmny. klrg yg penuh cinta kasih n bahagia. kko diblg Sempurna. klo ad NCny dikit psti tmbh oke….
    tp crtny bgs n keren bgt….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s