(AR) Plumeria

Neo Xenon’s Present

.

.

.

.

.

-Plumeria-

Plumeria (kpopfanfiction93.wordpress.com)

Main Cast

Choi Siwon

.

 Tiffany Hwang

Other Cast

 Nichkhun Horvejkul

.

Song Joong Ki

etc

Length

 Oneshot

Rating

 PG – 15

Genre

 Romance, Angst, Life

Disclaimer

 The cast are belong to themselves, parents, management and God. I just borrow the name for my story. This story is mine and original by me, so don’t be a plagiator! Sorry if you got the typo. Keep RCL. Inspired by Raisa – Apalah Arti Menunggu and my imagination.

Poster By

CSJ Artwork | (houseofjinnie.wordpress.com)

*****

Lorong bercat putih gading yang ia lewati terasa panjang dan luas. Langkah-langkah panjang belum berhenti sampai pada belokan dekat koridor Orthopedi. Plumeria yang ia bawa dalam seikat besar plastik berlapis alumunium foil masih segar tercium harum, baru saja dikirim dengan penerbangan pertama. Beberapa suster dan dokter yang ia kenal tak berhenti menebar senyum, namun bukanlah sebuah senyum biasa yang penuh dengan atmosfir ceria. Choi Siwon, mereka mengenalnya sebagai pria dengan kemampuan hal-hal luar biasa. Status, Kekayaan, Sikap, dan Perasaan.

Siwon mengatur nafas sejenak, mengetuk pintu dihadapannya hingga terdengar suara berat mempersilahkannya untuk membuka pintu dan masuk. Nichkhun Buck Horvejkul, nama yang tercetak rapi pada sebuah papan berbahan tembaga yang dilapisi cat berwarna emas segera menyambut Siwon. Sang dokter yang sekaligus merupakan sahabat lama di Universitas, merupakan ahli dalam bidang syaraf. Pria berambut brunette tersebut mengeluarkan sebuah map cokelat berisi hasil röntgen, kemudian mendorongnya pelan hingga Siwon bisa meraih sekaligus membukanya dalam jeda yang tidak terlalu lama.

Air muka Siwon berubah semakin kelabu, Nichkhun hanya bisa melihat dengan sebuah senyum miris dipaksakan. Suasana menjadi canggung, tidak ada yang mencoba untuk membuka pembicaraan menjadi lebih hangat. Keduanya hanya memilih untuk memenjarakan diri dalam hipotesa masing-masing.

“Seandainya aku tidak menelponnya waktu itu.”

“Jangan bahas hal itu lagi, Khun.”

Nichkhun membisu, ia menggengam kuat jas dokter yang ia kenakan. Berbeda jauh dengan Siwon yang lebih memilih untuk membuang pandangan pada burung-burung kenari yang mencicit penuh rasa senang. Jam berdetak dengan volume kecil, menit-menit berlalu dengan lambat ketika semua berjalan dengan cepat. Siwon menutup mata dan kembali mengatur nafas yang kedua kali. Namun, kali ini ia mempersiapkan hati untuk sesuatu yang lebih menguras tenaga.

“Antarkan aku ke kamar rawatnya.”

Nichkhun mengangguk mantap sebagai jawaban. Siwon bangkit, masih menggengam sebuket Plumeria yang ia bawa sejak tadi. Kedua pria tersebut berjalan keluar dari ruangan menuju ruangan lain di lantai yang berbeda. Lift dipilih sebagai media untuk membawa mereka berpindah lantai dengan berbagai alasan. Dalam kotak bertali baja, tidak ada pembicaraan berarti. Hanya formalitas dalam pergaulan untuk mencegah suasana kurang mengenakan seperti beberapa saat yang terlewat.

“Bagaimana dengan keadaan Kiho Ahjussi? Kurasa Jerman mempunyai banyak peralatan mutakhir untuk membantu pengobatan liver,” ucap Nichkhun sebagai pembuka.

Siwon tersenyum, meski hanya kurang dari semenit.

“Abeoji sudah membaik. Ia punya alasan kuat untuk bertahan,” jawab Siwon lirih. Nichkhun mengangguk.

“Karena Tiffany, bukan?”

“Ne. Bahkan, Eommonim dan Jiwon sudah menyerah sejak beberapa bulan yang lalu. Abeoji hanya ingin Tiffany yang menjadi wanita pertama dan terakhir untukku dan menantu untuknya.”

Lift terbuka lebar, keduanya kembali memulai langkah dalam tempo sedang. Lantai 5 berbeda dengan lantai 2 yang ramai dan dipenuhi banyak pasien serta keluarga yang berkunjung. Suasana di tempat ini lebih sepi dan khidmat, cocok untuk para pasien penyakit kronis yang butuh ketenangan ekstra. Nichkhun lebih dulu sampai dan memutar knop pintu, Siwon mengikuti dari belakang.

Suara mesin Electrocardiograph terdengar keras menghantam indera pendengaran. Tapi, fokus utama terletak pada sesosok wanita cantik yang terbaring lemah dengan banyak selang serta alat bantu pernapasan yang terasa mencekik wajah tirusnya. Diletakkannya Plumeria yang ia bawa, lalu dengan sekali gerakan hanya ada sedikit ruang yang memisahkan ia dengan sang kekasih yang tertidur lelap. Siwon menatap secara dekat dengan tenggorokan tercekat hebat. Ah, ia akan selalu kalah ketika harus melihat wajah sang belahan jiwa.

Nichkhun memperhatikan hal tersebut dengan rasa bersalah yang kembali mendominasi hati. Cercaan dan sumpah serapah yang diterimanya 7 tahun lalu seakan-akan kembali dan berputar seperti Bianglala rusak. Ia takkan menyalahkan siapapun yang berani menghujat dirinya sebagai manusia bodoh, karena kenyataan memang tergaris seperti begitu adanya.

Bagi seorang pria, air mata adalah salah satu barang haram yang pantang untuk diperlihatkan. Tapi, bagi seorang Choi Siwon, tangisan mungkin menjadi satu-satunya cara untuk menenangkan hati yang tersakiti cukup lama. Putaran memori dengan tanpa kehendak begitu saja berlalu lalang dalam pikiran kalut. Cukup membuatnya meringis sembari menyalahkan kehendak Tuhan yang terasa tidak adil.

Flashback On

Malam Pergantian Tahun selalu menjadi momen yang ditunggu oleh Siwon. Kotak beludru merah telah ia persiapkan sejak lama untuk merealisasikan sebuah janji yang akan segera ditepati. Ombak bergoyang kecil menghantam seperdelapan badan Yacht, memberikan guncangan yang cukup membuat rasa gugup meningkat dari sebelumnya. Siwon menatap pada walkie talkie yang sejak tadi berada di dalam genggamannya yang lain, menunggu komando dari sang sahabat untuk bersiap – siap dan ketika pemberitahuaan datang, ia segera saja menjadi panik tidak karuan.

Sang putri datang dengan raut kebingungan, selembar kain berhasil membuat dirinya tetap tidak mengetahui rahasia yang sebentar lagi akan diterima. Siwon mengambil telapak tangan halus milik sang kekasih dan membawanya perlahan menuju tengah. Sebuah meja bundar dengan dua batang lilin putih yang menyala, harum mawar putih yang menyeruak masuk ke dalam indera penciuman, dan tak lupa sebuah kejutan yang masih akan dirahasiakan.

Siwon pun membantu Tiffany untuk duduk pada kursi yang telah disediakan. Selama sang kekasih masih bingung dan melihat kekanan serta kekiri dengan curiga, Siwon menarik nafas dalam dan membuangnya secara konstan. Dalam hitungan ketiga, Siwon melepaskan ikatan yang membelenggu pandangan, Tiffany menutup mulut dengan rasa tidak percaya yang bercampur aduk dengan kebahagiaan tiada tara.

“Oppa… Kau?”

Saengil Chukka Hamnida, Uri Mushroom.”

Tiffany menangis tanpa duka sama sekali. Karena semua hal dihadapannya saat ini membuatnya merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia. Tak ada di dalam benaknya jika Siwon akan memberikan kejutan manis seperti ini, mengingat sang kekasih adalah seorang workaholic yang jarang memperhatikan hal – hal berbau romantis.

Dengan sekali tepukan tangan, para pelayan segera masuk dengan membawa berbagai makanan serta minuman pilihan yang tidak lupa merupakan kesukaan keduanya. Siwon menikmati sepiring besar Fillet of Bass with Imperial Osetra Caviar dan segelas besar Ice Americano. Berbeda dengan Tiffany yang menikmati Wagyu Steak dan Irish Coffe. Lantunan musik Swing pun semakin menguatkan suasana romantis yang tercipta. Sesekali Siwon akan mengambil serbet dan mengusap noda saus yang mampir di bibir Tiffany, membuat kedua pipi tembam sang kekasih terselimut semburat merah. Acara makan pun berakhir dengan bersulang bersama sebotol French Rose Wine pilihan.

“Kau suka, Chagi?”

“Tentu, Oppa. Jeongmal Gomawo.”

“Tapi, ini belum acara inti.”

“Eh?”

Siwon bangkit dan berjalan menuju piano Yamaha yang terletak tak jauh dari meja. Melakukan beberapa pemanasan sebelum memulai memainkan sebuah lagu. When I Look At You milik Miley Cyrus menjadi pilihannya. Dan Siwon pun mulai bernyanyi dengan merdu.

Everybody needs inspiration
Everybody needs a song
A beautiful melody
When the nights are long

‘Cause there is no guarantee
That this life is easy

Yeah when my world is falling apart
When there’s no light
To break up the dark
That’s when I, I
I look at you

When the waves are flooding the shore
And I can’t find my way home any more
That’s when I, I
I look at you

When I look at you
I see forgiveness
I see the truth
You love me for who I am
Like the stars hold the moon
Right there where they belong
And I know I’m not alone

Yeah when my world is falling apart
When there’s no light
To break up the dark
That’s when I, I
I look at you

When the waves are flooding the shore
And I can’t find my way home any more
That’s when I, I
I look at you

You appear just like a dream to me
Just like kaleidoscope colors that cover me
All I need
Every breath that I breathe
Don’t you know you’re beautiful
Yeah, yeah, yeah

When the waves are flooding the shore
And I can’t find my way home any more
That’s when I, I
I look at you

I look at you
Yeah,
Whoa-oh,
You appear just like a dream to me

Dan lagi – lagi Tiffany tidak bisa mengendalikan air mata yang terus jatuh. Siwon telah selesai bermain dan kembali menghampirinya, membungkuk, lalu mengeluarkan kotak beludru yang telah dipesiapkan. Pria itu menunduk sebentar, mengumpulkan segala keberanian untuk memulai sebuah sejarah baru, dan membuka kotak yang ia bawa.

“Stephanie Hwang, Would You be Mine? Forever?”

“I Do. I Do, Choi Siwon.”

Tak perlu waktu lama hingga cincin Platina dengan mahkota batu Safir itu masuk ke dalam jari manis kanan Tiffany. Siwon bangkit dan segera membawa tubuh Tiffany untuk mendekap pada tubuhnya, berbagi rasa bahagia yag membuncah dalam dada.

Flashback Off

 

 

Itu semua kembali hanya menjadi putaran memori di masa lalu. Waktu sudah berputar lama hingga membawanya pada kenyataan ini. Siwon menggengam erat pinggiran ranjang dengan titik jahanam yang keluar dari kedua bola mata. Nichkhun sudah menyerah dan memilih untuk tidak mengeluarkan pendapat apapun. Garis pada mesin Electrocardiograph masih terus naik turun, itu berarti sang belahan jiwa masih berada di dalam alam yang sama dengannya, hanya saja keduanya tidak bisa hidup bersama karena keadaan yang tidak memungkinkan.

“Kau pembohong, Stephanie Hwang! Selama 7 tahun ini apa yang kau lakukan, hem? Kau hanya tertidur dengan tenang sembari tersenyum bodoh seperti itu. Bukankah kau sudah mengatakan bahwa kita akan menikah dan memulai hidup bahagia? Tapi, kenapa kau hanya terus saja malas dan tidur? Wae!”

“Siwon, berhentilah.”

“Tutup mulutmu!”

Nichkhun tersentak saat Siwon membentaknya. Pria dengan jas John Galliano tersebut sudah tidak bisa lagi mengendalikan perasaan yang bergejolak. Ia akan menuntaskan semua hingga habis tak bersisa.

“Kau membiarkanku tersiksa. Melihatmu hanya tertidur seperti ini membuatku lelah, kau tau? Lelah! Aku lelah karena aku takut. Aku terlalu pengecut karena tidak pernah ingin kau pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Jangan menjadi seorang yang ingkar janji, Tiffany! Bisakah kau sadar dan membiarkanku untuk memperbaiki semua? Jadi, jangan hanya tidur dan tersenyum bodoh seperti itu!”

Buk!

“Argh!!!”

Siwon memukul tembok dengan kekuatan penuh, ada tanda membekas berupa retakan cat yang jatuh ke lantai. Darah keluar dari buku – buku jari, namun Siwon hanya tersenyum mengejek dengan rasa sakit masih tersisa banyak. Ternyata semua teriakan tadi tidak membuatnya baik – baik saja, ia semakin merasa jika rasa sakit justru menggerogoti hati.

Nichkhun menghampiri Siwon dan membawa pria itu untuk keluar, menghirup udara segar agar pikiran lebih jernih saat berpikir. Ruangan bernomor 801 itu kembali sepi hanya dengan suara mesin yang terdengar. Namun, tidak ada yang menyadari jika ada seseorang lain yang tersakiti. Tiffany, ia adalah orang itu. Dengan sungai kecil yang turun dari salah satu mata sebagai saksi bisu pada diri yang kecewa.

*****

“Bukan kau yang sepenuhnya bersalah, Khun. Lagipula, mereka semua sudah memaafkanmu.”

Joong Ki merasa iba melihat sang hoobae begitu dilingkupi rasa bersalah. Mimpi buruk bernama cacian menjadi hal yang selalu mengantung dalam ingatan Nichkhun. Pria Thailand tersebut kembali menenggak Vermouth miliknya yang baru dicicipi seteguk. Bar masih sepi karena waktu baru saja memasuki sore, biasanya para mahluk nokturnal akan keluar dari sarang mereka sekitar pukul 8 lewat. Joong Ki menepuk pundak Nichkhun dan berlalu, masih ada tugas untuk melakukan bedah plastik beberapa menit lagi.

Dasar Bodoh! Apa yang kau pikirkan hingga menyuruh Tiffany mengendarai mobil sendirian, hah!

Kau Pembawa Sial, Hyung!

Ini semua salahmu!

Nichkhun menundukan kepala untuk menyembunyikan tangis. Ia tidak tau lagi dengan cara apa untuk membuat semua mimpi buruknya menghilang. Mungkin, Joong Ki benar sekaligus salah. Mungkin, semua orang sudah bisa memaafkannya atas tragedi 7 tahun yang lalu. Tapi, ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Bisakah waktu diputar kembali? Bisakah kembali pada malam dimana ia tidak membodohi Tiffany untuk mengendarai mobil sendirian menuju pesta pernikahannya? Bisakah?

Flashback On

Tiffany membuka pintu rumahnya yang terasa berat. Ia baru saja kembali dari pesta lajang sebelum pernikahannya dengan Siwon lusa. Bertemu kembali dengan banyak kawan lama membuat ia senang bukan kepalang. Tentu saja karena para sahabatnya langsung berpencar menuju negara berbeda ketika lulus dari Universitas. Sebut saja Sooyoung dan Yoona yang pergi menuju Jepang untuk melebarkan sayap karir modeling mereka berdua. Hyoyeon dan Yuri yang pergi ke Perancis untuk menjadi dancer sekaligus menekuni Fashion. Joohyun yang melanjutkan S2 Kedokteran di Jerman, Sunkyu yang pergi ke Suriah untuk misi kemanusiaan, Taeyeon yang jarang terdengar setelah pergi ke Korea Utara, serta Jessica yang memilih menikah muda dengan pria pilihan sang ayah atas perjanjian bisnis keluarga di Amerika.

“Ah! Hari ini begitu menyenangkan!”

Tiffany berlari kecil menuju kamar di lantai 2, membuka pintu dengan cepat dan membanting tubuh lelah menuju King Size Bed miliknya dengan cover Sakura yang bermekaran. Baru saja akan terlelap dalam alam mimpi, ponsel berdering dengan tidak sopan menganggu dirinya. Tiffany mendecak sebal saat mengetahui siapa yang berani menganggu malamnya yang tenang, Nichkhun.

“Aku baru saja akan mendarat dengan selamat menuju alam mimpi, sebelum kau dengan seenaknya menelponku di malam yang bahkan sudah nyaris berganti menjelang pagi, Khun!”

Di tempat berbeda, Nichkhun tidak bisa berhenti tertawa puas. Dilihatnya jam yang sudah memasuki waktu pukul 2 pagi. Ternyata perkiraannya benar 100 persen, para wanita di pesta lajang ternyata baru pulang. Jadi, tidak ada salahnya untuk memberikan sedikit joke pengantar tidur.

“Hahaha, Mianhae. Kupikir kau sudah tidur sejak tadi. Oh ya, aku ingin memberitahumu satu hal.”

“Apa?”

Nichkhun tersenyum jahil. “Aku punya usul. Bagaimana jika kau membawa mobilmu sendirian saat akan pergi menuju pesta pernikahanmu? Aku akan memberikan alamat tempatnya.”

Tiffany hanya memutar bola mata dengan malas.

“Terserah kau saja.”

“Ok! Tunggu, ne!”

Dan saat itupula sambungan diantara keduanya terputus. Nichkhun mengirimkan alamat tempat dimana Gereja yang akan digunakan Tiffany untuk pemberkatan pernikahan. Tiffany memperhatikan sejenak pada ponsel miliknya, entah kenapa ia merasa tertantang untuk membungkam mulut besar Nichkhun. Sebelum ia benar – benar tertidur, ia kembali mengirim pesan untuk pria tersebut.

Kau akan menyesal, Khun.-

Tanpa disadari, itu semua benar – benar akan terjadi.

Flashback Off

 

 

Matanya sudah sembab dan merah saat kepala tidak lagi ditundukkan. Nichkhun menatap pada jam yang menempel di dinding, waktu bermalas – malasan yang ia miliki sudah habis. Itu berarti ia harus kembali ke Rumah Sakit dan menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Beberapa lembar ribu Won pun ia letakan diatas meja bartender, lalu keluar dengan langkah gontai menuju kehidupan yang terus berjalan.

*****

Kanvas langit telah terbubuh warna hitam gelap, bertabur sedikit cahaya dari bintang yang saling berjauhan. Purnama bersembunyi malu dibalik awan – awan pekat, tidak berani menampakkan dirinya. Siwon masih saja berdiam diri di dalam Mercedes Benz S Class, meninju setir sesekali. Pandangannya kembali pada hasil röntgen yang Nichkhun berikan. Tidak ada kemajuan spesifik dari perkembangan Tiffany, gelombang otak wanita itu masih saja melaju statis. Siwon kembali memasukan benda tersebut ke dalam amplop, kemudian melemparnya sembarang ke jok belakang.

Apakah tidak ada sedikit harapan yang tersisa untuknya? Apakah selama 7 tahun yang ia gunakan untuk menunggu hanya akan berakhir sia – sia? Bukankah seharusnya ia telah memiliki keluarga kecil yang bahagia bersama Tiffany? Lalu, kenapa ia sekarang lebih terlihat seperti sebuah robot idiot yang terus tersenyum sembari berharap pada sebuah keajaiban yang entah kapan turun dari langit? Pertanyaan bodoh itu kembali tidak mendapatkan jawaban, Siwon bahkan sudah bosan mencari jawaban itu sendiri.

Sedangkan, di tempat berbeda Joong Ki menguap kesal karena operasi ditunda seminggu kedepan. Menggerutu pada sang pasien karena terlalu memaksakan kehendak, meskipun kondisi fisik tidak meyakinkan. Pria itu memilih untuk berkunjung keatas Rooftop, tempat yang selalu ia gunakan untuk menumpahkan uneg – uneg yang tersimpan. Namun, sebelumnya ia harus sampai di  lantai 5 untuk menemukan tangga penghubung.

Joong Ki telah sampai pada lantai yang dimaksud, tidak perlu waktu lama dengan menaiki tangga darurat. Malam sudah menjelang, jadi rumor – rumor mistis aneh yang ia terima benar – benar membuatnya takut untuk menaiki lift. Pria itu terus berjalan sembari bersiul, menatap pada kamar – kamar yang sebagian kosong. Tapi, langkah serta siulan Joong Ki terhenti ketika sebuah pintu berhasil menggoda dirinya. 801, nomor tersebut tertancap kuat pada pintu yang berada dihadapannya sekarang. Joong Ki mengingat ruangan dihadapannya sebagai tempat yang selalu dikunjungi oleh Nichkhun, sang sahabat serta seorang eksekutif muda yang selama 7 tahun ini tidak pernah bosan berkunjung, Siwon.

Entah setan apa yang membisikan sebuah ide gila ke dalam kepala, Joong Ki memutuskan untuk membuka pintu dan masuk secara mengendap – endap. Menatap kearah mesin – mesin dengan berbagai selang yang menyelimuti tubuh Tiffany membuat pria itu miris. Tatapannya beralih pada Plumeria yang telah layu diatas meja, Joong Ki mengambil buket tersebut dan mencium wangi yang tersisa.

Suara Electrocardiograph membuat perhatian Joong Ki teralih kembali. Garis – garis elektronik yang tampil pada monitor kecil membuat Joong Ki penasaran.

“Annyeong, Nona Manis. Kau tidak bosan tidur lelap?”

Tidak ada jawaban, tentu saja karena Tiffany masih terperangkap dalam masa koma. Joong Ki memukul dahinya pelan, benar – benar bodoh. Tapi, ada sebuah rasa penasaran yang membuncah dalam dada. Jadi, ia takkan berhenti begitu saja.

“Kau tau, Nona Manis? Banyak sekali orang yang menunggumu untuk sadar. Kekasihmu, sahabatmu, orangtuamu. Mereka semua telah mengantungkan harapan selama 7 tahun kau tak tersadar. Aku yakin jika kau adalah seseorang yang tidak egois. Intinya, aku hanya ingin mengatakan, bangun Nona Manis.”

Joong Ki tertawa hambar, kenapa ia bisa berpikir untuk melakukan sebuah hal sia – sia? Dirinya menggeleng pelan dan kembali menatap kearah Tiffany. Tapi, kali ini dengan ekspresi tidak percaya. Mesin Electrocardiograph tiba – tiba saja mendengung keras, nomor – nomor yang tertera naik begitu saja. Air mata keluar dengan deras laksana sungai dari kedua bola mata Tiffany yang masih tertutup. Joong Ki benar – benar blank dibuatnya. Dan tindakan selanjutnya yang ia lakukan sukses membuat ia akan didamprat oleh pihak Rumah Sakit.

“NICHKHUN!!!!”

*****

Siwon tidak bisa mempercayai ini semua, ternyata masih ada jalan pada harapan yang nyaris tidak menemukan titik terang. Tanpa basa – basi ia segera kembali menuju Rumah Sakit setelah mendapat telepon dari Nichkhun, tidak peduli dengan fakta bahwa ia terlihat kusut dan berantakan dengan jas yang tertumpah Hot Latte semalam. Mercedes Benz S Class yang ia kendarai benar – benar membuat banyak pengendara mengumpat pada pagi yang masih berselimut kabut tipis, Siwon berkendara layaknya seorang pemain Fast and Furious. Untungnya polisi tidak behasil mengejar dan menangkapnya, jika iya itu semua akan memakan banyak waktu nantinya.

Siwon mengerem dan keluar dengan cepat menuju loby, membiarkan begitu saja mobil terparkir diluar tanpa pengawasan. Pria itu segera berlari memasuki lift dan menekan nomor 5 pada dinding yang berhias banyak tombol. Ia benar – benar tidak sabar untuk memastikan semuanya. Dan suara nyaring dengan pintu lift yang terbuka menandakan bahwa ia telah sampai pada lantai yang diinginkan. Siwon berlari cepat dan menerobos pintu, Nichkhun menyambutnya dengan sebuah senyuman hangat.

“Kita harus bicara, Won.”

“Disini saja.”

Nichkhun mengangguk, diberikannya selembar kertas yang telah ia corat – coret sejak tadi. Siwon menerima benda tersebut dengan raut wajah bingung, namun semua itu berubah menjadi sebuah tangisan haru ketika Nichkhun memberikan penjelasannya.

“Masih ada harapan yang tersisa. Kau lihat! Ini adalah grafik perkembangan otak Tiffany, ternyata ia telah melewati masa kritis, hanya saja ia belum bisa pulih sepenuhnya. Faktanya juga, ia selama ini bisa mendengar semua perkataan kita. Jadi, ia tidak benar – benar tertidur selama ini. Dan aku punya satu cara untuk membantu pemulihannya!”

“Apa?”

Nichkhun membisikan sesuatu pada Siwon. Kedua pria itu mengangguk mantap. Siwon yang baru saja akan pulang untuk menjalankan rencana tiba – tiba merasa ada yang aneh, ia pun kembali menghampiri Nichkhun yang masih memeriksa Tiffany.

“Eh? Ada apa, Won?”

“Tunggu, bukankah kemarin kau bilang jika keadaan Tiffany belum menunjukkan perkembangan. Lalu, sekarang kau bilang jika ia bisa melewati masa kritis. Bukankah kau selalu melakukan pemeriksaan intensif dalam kurun waktu seminggu? Darimana kau mengetahui itu semua?”

Nichkhun menggigit bibirnya tidak yakin, lalu menaikan kacamata yang nyaris melorot.

“Soal itu, ya? Sebenarnya…”

Flashback On

Nichkhun sudah membereskan beberapa barangnya, ia memutuskan untuk menginap sehari di Rumah Sakit. Kebetulan ada beberapa kamar di lantai 1 yang disediakan pihak Rumah Sakit untuk para Dokter serta Perawat yang ingin menginap. Baru saja ia akan beranjak keluar, Sohee yang merupakan salah satu perawat datang dengan tergesa – gesa memasuki ruangannya.

“Perawat Ahn? Ada apa denganmu?”

Sohee mengatur nafas yang berceceran, kemudian menunjuk – nunjuk keatas.

“Dr. Song Joong Ki, dia…”

“Joong Ki Hyung? Kenapa?”

“Ia berteriak keras memanggilmu dari ruang 801. Teriakan kerasnya membuat banyak keributan. Lebih baik anda segera kesana, Dr. Horvejkul.”

Nichkhun mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sepanjang perjalanan ia tidak bisa mengatupkan mulutnya yang terbuka lebar melihat banyaknya kekacuan yang dibuat oleh teriakan Joong Ki. Youngbae, Daesung, Sandara, dan Chaerin yang berlari – lari panik menenangkan pasien penyakit jantung. Sooji, Jiyeon, Taemin, dan Myungsoo yang harus menenangkan para bayi yang menangis di ruang bayi. Yoseob, Jaejoong, serta Hongki yang harus rela wajah tampannya dan tubuhnya terpukul oleh tongkat para pasien lanjut usia yang mengamuk karena waktu tidurnya terganggu. Terakhir, para dokter senior seperti Minwoo, Junjin, dan Andy yang diam dengan wajah pias di ruang tunggu setelah nyaris gagal mengoperasi korban kecelakaan. Terang saja suasana menjadi kacau balau, Joong Ki berteriak sangat keras. Terlebih, ia tidak melakukannya hanya sekali.

“NICHKHUN!!! NICHKHUN!!! NICHKHUN!!! NICHKHUN!!! NICHKHUN!!! KAU DIMANA? CEPAT KE KAMAR 801!!!”

Nichkhun bersumpah akan menyumpal mulut Joong Ki dengan pantofel setelah ini. Dirinya langsung berlari menuju kamar 801 dan menemukan Joong Ki sedang tersenyum sumringah serta bersiap untuk memeluknya.

“Aku tadi tidak sengaja masuk ke dalam ruangan ketika ingin pergi ke Rooftop. Lalu, kuputuskan untuk berbicara sedikit dengan sang nona manis. Dan Voila!” ucap Joong Ki menggebu – gebu sembari menunjuk antusias pada Tiffany.

Nichkhun tidak peduli dengan itu semua karena perhatiannya teralih pada Tiffany, terlebih pada mesin Electrocardiograph yang terpasang disamping wanita bermata bulan sabit tersebut. Sebuah keajaiban telah dikirimkan Tuhan atas doa sang hamba yang tak terputus. Monitor menunjukkan kenaikan drastis dari detak jantung Tiffany. Nichkhun segera mengambil stetoskop yang kebetulan masih ada pada kantung jasnya dan ia tidak bisa berhenti menangis setelahnya.

“Berterima Kasihlah pada Tuhan yang menyelamatkanmu dari serangan pantofel yang akan kusarangkan di mulutmu, Hyung.”

Joong Ki pun semakin tersenyum dengan lebarnya.

Flashback Off

Siwon tidak bisa menahan tawa yang akan meledak. Nichkhun pun hanya bisa mengusap wajah dengan malu mengingat kejadian memalukan beberapa jam yang lalu. 5 menit waktu yang dibutuhkan untuk Siwon agar bisa menetralisir tawa, ia pun menatap iba sekaligus geli kearah sang sahabat.

“Sampaikan pada kawanmu jika aku sangat berterima kasih padanya. Aku pergi dulu, ne!”

“Tunggu!!!”

Siwon berhenti kembali dan menatap Nichkhun dengan jengkel.

“Ada apa lagi, Khun?”

“Ehm..anu…itu… Bisakah kau mencegah media untuk mengetahui hal ini? Kau tidak mau kan jika sahabatmu ini harus digilas oleh pimpinan direksi karena dianggap memicu masalah?”

Siwon tersenyum manis membuat Nichkhun lega.

“Itu bisa diurus. Aku pergi, Annyeong!”

Nichkhun membuang nafas lega dan kembali menatap kearah Tiffany.

Tuhan sudah mengirimkan kuasanya.

*****

Sudah seminggu sejak pertama kali Nichkhun memberitahu rencana. Ia pun sudah menghubungi seluruh keluarga serta kerabat dari pihaknya dan Tiffany untuk datang ke Seoul. Rencana ini tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua pihak. Dan lagi, Siwon kembali mengingat bisikan Nichkhun saat itu.

Ia butuh banyak dukungan dan hal – hal yang dapat menyenangkan dirinya. Berbicaralah hal positif yang ia suka. Kinerja otaknya akan menjadi lebih baik ketika mendapat banyak dukungan.  Terlebih, jangan menangis! Itu semua akan membuat kondisinya menurun!

Siwon mengangguk mantap dan menatap kearah depan, tepat pada jalur kedatangan Internasional. Ia dapat melihat para sahabatnya telah datang dan segera menghampiri dirinya.

“Oppa, Apa benar Fany Eonnie?”

Joohyun dan Yoona membuka pembicaraan yang disambut anggukan oleh Siwon. Semua orang berpelukan haru dan menangis penuh kebahagiaan. Tinggal selangkah lagi penantian akan membuahkan hasil yang manis. Siwon yang telah mempersiapkan limosin segera mempersilahkan para sahabatnya untuk pergi menuju Mansion mewahnya terlebih dahulu. Ia masih menunggu beberapa orang. Tak berselang lama terlihat kedua orang tuanya serta sang adik datang. Tidak lupa, Minho dan Jinri sang sepupu yang juga ikut datang dari Jerman.

“Keadaan Samchon langsung membaik ketika mendengar kabar darimu, Hyung,” ucap Minho yang disambut oleh anggukan anggota keluarga Choi yang lain. Siwon tersenyum dan langsung memeluk sang ayah yang ikut memeluknya.

“Hey! Jangan menangis! Bagaimana kau bisa menjaga Tiffany, jika kau terus saja terlihat seperti anak kecil!” seru Tuan Kiho sembari mendaratkan sebuah jitakan ke kepala Siwon. Semua orang tertawa renyah dibuatnya. Siwon pun menghapus air mata yang masih tersisa di pipi.

“Keluarga Tiffany Eonnie akan datang besok, Oppa. Penerbangan mereka harus ditunda 12 jam karena masalah cuaca. Mereka sudah mengabarkanku via e-mail.”

Kali ini giliran Jiwon yang buka suara, Siwon yang mendengarnya hanya maklum. Akhir – akhir ini cuaca di Amerika sedikit tidak baik. Beberapa kali badai terus menghantam negeri Paman Sam. Semua anggota keluarga Choi pun akhirnya pulang dengan menaiki limosin kedua yang sudah dipersiapkan.

*****

Ini adalah hari pertama dimana rencana akan dijalankan. Siwon mempersilahkan para sahabatnya untuk masuk satu persatu. Yuri, Yoona, Hyoyeon, dan Sooyoung berusaha menahan air mata mereka dengan membuat wajah bodoh. Berbeda dengan Joohyun dan Sunkyu yang lebih tabah. Jessica dan Taeyeon hanya diam tak bersuara di bagian belakang. Nichkhun yang sudah ada sejak tadi segera memberi ruang.

“Annyeong, Eonnie! Bagaimana kabarmu? Kau tau? Aku dan Sooyoung Eonni sudah menjadi supermodel papan atas di Asia! Lihatlah, aku membawa banyak majalah dengan cover kami berdua!”

Yoona dibantu Sooyoung menunjukkan majalah – majalah yang mereka bawa. Siwon melihat kearah Nichkhun yang menatap pada monitor dan mengangguk. Pria itupun memberikan aba – aba pada yang lainnya.

“Kau tau Fany? Saat aku dan Hyoyeon latihan menari bersama murid kami yang lain di Nice. Tiba – tiba saja sepatu kanan Hyoyeon terbang dan mengenai wajahnya sendiri. Hahaha. Aku benar – benar tidak bisa melupakan hal itu! Terlebih ekspresi bodoh Hyoyeon setelahnya!”

Yuri tertawa puas dengan yang lain, membiarkan Hyoyeon menatap kesal kearahnya. Setelahnya para sahabatnya yang lain segera memulai cerita mereka. Joohyun, Sunkyu, Jessica, dan Taeyeon kembali melanjutkan cerita mereka.

“Aku bertemu dengan cinta pertamaku di August, Eonni. Yonghwa Oppa ternyata juga bersekolah di tempat yang sama denganku. Hanya saja kami berbeda jurusan. Sekarang kami sudah menjadi sepasang kekasih.”

“Kau tak perlu risau, Tiff. Keadaanku di Homs baik – baik saja. Bahkan aku bertemu banyak orang baik selama disana. Mianhae, Sungmin Oppa tidak bisa datang. Tapi, ia menitip salam untukmu dan Siwon Oppa.”

“Ternyata perkiraanmu soal Taecyeon Oppa benar. Ia tidak seburuk yang aku pikirkan sebelumnya. Ia bahkan dengan sabar menghadapi sikapku yang kadang terlalu acuh. Jeongmal Gomawo sudah meyakinkanku, Tiff.”

“Hai, Mushroom! Sepertinya kau lelap sekali. Kau ketularan Jessica, ya? Mianhae, selama ini aku tidak mengabarimu dan yang lain selama aku di Korea Utara. Aku berusaha mencari keberadaan Jiwoong Oppa dan Hayeon. Ternyata mereka sudah hidup bahagia di Kaesong. Kau tau, Miyoung? Aku merindukanmu.”

Semua orang mulai berlomba – lomba bicara, mulai dari yang serius sampai yang konyol sekalipun.

“Aku ada cerita lucu! Saat Milan Fashion Week setahun yang lalu, Yoona tidak sengaja menginjak kain dari pakaian seorang model dari Inggris hingga model itu jatuh! Parahnya, tema acara hari itu adalah keindahan laut dan kau tau! Model itu terjatuh ke dalam kolam berisi ikan yang berada persis disamping catwalk! Yoona hanya cengar – cengir bodoh di belakang panggung dan tertawa bersama model lain!” ucap Sooyoung sembari memeletkan lidah kearah Yoona yang malu.

“Yuri lebih parah lagi! Saat kami makan di salah restauran di Bordeaux, ia dengan percaya diri memanggil seorang pemain biola dan memintanya untuk memainkan Hungarian Rhapsody! Padahal, pemain biola itu sudah menolak mentah – mentah permintaannya. Tapi, Yuri justru terus memaksa dan tebak! Saat lagu itu dimainkan, semua kaca serta gelas di dalam restauran langsung pecah dan hancur! Aku langsung saja kabur dan membiarkan ia membayar semuanya sendiri. Itu mengingatkanku pada sebuah adegan dari komik buatan Amerika yang pernah kubaca.”

Hyoyeon membalas dengan pukulan telak. Yuri menggigit bibir sebal dengan tawa membahana dari yang lainnya sebagai latar. Nichkhun dan Siwon menatap antusias pada monitor yang terus menunjukkan perkembangan.

“Kisah Siwon Oppa di kantin Rumah Sakit tadi lebih menggelikan lagi. Ketika kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu, semuanya memilih untuk memesan seporsi Kimbab dan kentang goreng. Tapi, dengan polosnya Siwon Oppa justru bilang jika ia ingin nambah dan memakan bagian Taeyeon! Gara – gara itu Sooyoung dan Yoona ikut mengambil porsi Joohyun dan Jessica. Yuri dan Hyoyeon langsung kabur ke kamar mandi sembari membawa bagian mereka. Sedangkan, aku ditinggal sendiri di meja dengan tatapan aneh dari para pengunjung yang lain. Huft!”

Sunkyu menatap kesal pada semuanya kecuali pada Nichkhun. Hari pertama diakhiri dengan perkembangan yang cukup signifikan.

*****

Selama seminggu para sahabat Tiffany datang silih berganti berkunjung ke Rumah Sakit. Meskipun sudah ada perkembangan yang cukup berarti, tapi itu semua belum cukup untuk membuat Tiffany sadar. Hari ke 8 pun diisi oleh keluarga Choi yang mendapat kesempatan lebih banyak. Tuan Kiho datang dengan banyak Plumeria di tangan, membuat Siwon serta Jiwon hanya bisa menghela nafas melihat reaksi yang ditunjukkan oleh sang ayah.

Semua anggota keluarga pun masuk ke dalam ruangan. Minho sempat melirik tidak suka kearah Nichkhun, tapi dengan cepat Jinri segera menyikut sang kakak untuk berhenti. Tuan Kiho datang mendekat dan menaruh Plumeria yang ia bawa. Menatap kearah Tiffany dengan berjuta perasaan rindu, tak peduli dengan fakta bahwa wanita dihadapannya tidak akan membalas dengan respon apapun.

“Kau semakin cantik dari hari ke hari. Pantas Siwon tidak bisa berpaling darimu, Nak. Kurasa ia benar – benar mencintaimu dan tidak ingin berpisah begitu saja. Padahal, sebelum bertemu denganmu ia benar – benar pria yang tidak mengerti arti wanita sama sekali. Pulang dengan banyak wanita setiap malam, tidak ada hubungan serius sampai kau datang ke kehidupannya.”

Siwon tersenyum kikuk mendengar penjelasan sang ayah. Mengingat masa lalu yang begitu kelam dengan berbagai pengalaman dalam mencari cinta. Tuan Kiho pun kembali melanjutkan ceritanya.

“Saat ia sudah menjalin hubungan denganmu, kehidupannya seperti terbalik begitu saja. Sifat buruk yang ia miliki perlahan berubah menjadi lebih baik. Ia tidak lagi membuat masalah dengan Eommonim dan Jiwon. Bahkan, setiap kali ia pulang ke rumah. Kau adalah topik utama yang selalu diceritakannya di meja makan, banyak hal yang ia ceritakan tentangmu. Kebiasaanmu memotong makanan yang akan kau makan, hobimu berkebun, kesukaanmu pada warna merah muda, rasa bencimu pada serangga. Selalu saja ada topik yang bisa ia ceritakan tentangmu pada kami semua.”

Nyaris saja air mata keluar dari tempatnya, tapi Tuan Kiho segera menghapusnya dengan cepat. Kali ini giliran Nyonya Sunhee dan Jiwon yang maju untuk bercerita. Sementara, Siwon menenangkan sang ayah yang sedang berusaha menahan tangis. Minho memandang pada Nichkhun yang ikut memandanginya juga. Kedua pria itupun akhirnya pergi keluar dan berbicara agak jauh dari ruangan.

“Apa keluarga Tiffany belum bisa datang  juga?”

Minho menggeleng pelan membuat Nichkhun kecewa.

“Sebenarnya dukungan yang paling dibutuhkan oleh Tiffany berasal dari keluarganya sendiri. Karena ada ikatan darah dan emosional yang lebih kuat. Tapi, bukan berarti dukungan dari orang lain tidak berarti sama sekali. Hanya saja akan lebih baik jika keluarganya juga ikut untuk memberi dukungan,” jawab Nichkhun. Siwon pun yang merasa aneh ikut keluar dan menghampiri keduanya.

“Ada apa? Kenapa kalian hanya berdua saja disini?”

Minho menatap pada Nichkhun, kemudian beralih kearah Siwon. Menceritakan semua yang telah diperbincangkan oleh keduanya.  Minho pun akhirnya menunjukkan ponselnya kearah sang kakak sepupu, Siwon yang melihat isi dari pesan yang diberikan oleh Minho benar – benar membuat ia tidak percaya.

“Tuan Hwang tiba – tiba saja membatalkan kunjungan saat mereka transit di Dubai. Aku mendapat pesan ini dari Leo Hyung. Ia tidak mengetahui alasan jelas mengapa Tuan Hwang membatalkan kunjungannya. Bahkan, Michelle Noona sempat bertengkar hebat dengan Tuan Hwang di Bandara saat mengetahui pembatalan secara sepihak tersebut. Kini, mereka telah kembali ke Amerika.”

Siwon memijat pelipisnya, kesal bercampur bingung. Mengapa pria tua yang nyaris menjadi mertuanya 7 tahun yang lalu itu begitu egois? Kenapa ia tidak mau mengunjungi putrinya yang bahkan baru saja menunjukkan perkembangan setelah bertahun – tahun tidak ada hasil yang memuaskan? Pikiran seseorang memang benar – benar tidak bisa ditebak jalannya.

“Mianhae, jika aku lancang. Tapi, aku memiliki sebuah hipotesis tentang hal ini. Entah kalian mau percaya atau tidak, tapi kurasa ini ada hubungannya dengan masa lalu Tiffany dengan keluarganya.”

Ucapan Nichkhun membuat Siwon dan Minho terdiam. Ketiganya pun berpikir, terutama Siwon yang berpikir lebih keras dari Nichkhun dan Minho. Namun, suara Minho membuat Siwon dan Nichkhun berhenti berpikir dan menatap kearah pria bertubuh tinggi tersebut.

“Apakah tidak ada seseorang yang dekat dengan Tiffany Noona? Maksudku, apakah ia tidak memiliki saudara ataupun teman yang suka mendengarkan cerita dan keluh kesahnya? Siapa tau kita bisa menemukan hal – hal yang sama sekali tidak terketahui selama ini tentang Tiffany Noona dan keluarganya.”

Siwon menjentikkan jarinya cepat, membuat perhatian kedua pria disampingnya teralih untuk menatapnya.

“Aku tau siapa orangnya!”

“Nugu?”

Siwon tersenyum kecil.

“Nicole Jung, teman satu jurusan Tiffany di Universitas.”

*****

Siwon menatap ragu pada bangunan besar dengan sebuah plang bertuliskan ‘Jung Korean BBQ’ yang menempel pada bagian depan. Dihirupnya oksigen disekitar, lalu dengan langkah berani memasuki restauran dengan banyak pengunjung tersebut. Sebelumnya, beberapa hari yang lalu ia telah membuat janji dengan sang pemilik yang tenyata adalah Nicole sendiri. Dan tepat ketika Siwon akan melangkah lebih jauh untuk masuk ke dalam restauran, ia dapat menemukan Nicole berdiri di dekat meja kasir dan memberikan tanda padanya untuk mengikuti langkah sang wanita berkacamata.

Kini, keduanya telah duduk santai dengan segelas air mineral dingin yang tersuguh diatas meja kecil yang memisahkan jarak. Siwon memainkan jari – jari tangan untuk mengurangi rasa gugup yang tiba – tiba datang begitu saja. Nicole mengambil gelas miliknya dan meneguk air hingga tersisa setengah.

“Jadi, aku harus memulai cerita darimana?” ucap Nicole membuka pembicaraan yang terasa canggung. Siwon menatap pada sahabat sang kekasih yang lama tidak ditemuinya.

“Jebal, ceritakan semua tentang Tiffany dan keluarganya. Terlebih hubungan Tiffany dengan ayahnya.” Balas Siwon mantap.

Nicole mengangguk mengerti dan kembali meminum air dari gelas hingga habis. Matanya menerawang jauh.

“Rumit, Sulit, dan penuh dengan intrik, kau bisa menyebut hubungan diantara Tiffany dengan ayahnya seperti itu. Kau pasti mengetahui jika Tiffany sudah kehilangan ibunya sejak berumur 11 tahun. Sejak kematian sang istri, Tuan Hwang merasa terpukul dan terus saja meratap tanpa henti. Anak – anaknya yang lain berusaha untuk menyadarkan Tuan Hwang, tapi pria tua itu justru larut dengan dunia kerja untuk menghilangkan kesedihan. Hubungan ia dan keluarganya pun semakin lama semakin renggang. Tuan Hwang seringkali pulang dengan keadaan mabuk dan memukul anaknya, terutama Tiffany. Dalam keadaan seperti itu Tuan Hwang akan selalu menyumpahi Tiffany dengan kata – kata kasar, lalu memukulnya dengan golf stick hingga pingsan. Pria tua itu merasa jika Tiffany adalah penyebab kematian istrinya, karena saat kecelakaan Tiffany ikut bersama.”

Nicole mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan cerita. Siwon pun menawarkan air minumnya untuk Nicole, tapi wanita berkacamata itu hanya menolak dengan halus.

“Setelah bertahun – tahun diperlakukan seperti itu, Tiffany memutuskan untuk pergi ke Korea sendiri. Ia melanjutkan kuliahnya disini. Hal itu membuat hubungan ia dengan ayahnya menjadi tidak harmonis, Tiffany bahkan tidak menghubungi keluarganya di Amerika selama 5 tahun.”

Siwon tidak tau harus mengeluarkan respon apa atas cerita yang diutarakan oleh wanita dihadapannya. Ternyata ini semua lebih rumit dari yang diperkirakan sebelumnya. Nicole membuka kacamatanya dan membersihkan lensa yang sedikit tertempel debu. Wanita itu menatap kearah Siwon dengan pandangan yang sulit diartikan. Siwon sedikit bertanya – tanya, tapi ia justru beralih pada vas bunga di dekat jendela. Ada banyak Plumeria yang tumbuh mekar disana.

“Darimana kau mendapat Plumeria sebanyak itu?”

Nicole melemparkan pandangannya kearah jendela, lalu tersenyum kecil.

“Aku harus mengirimnya langsung dari Meksiko setiap seminggu sekali. Sebenarnya itu adalah bunga kesukaan Tiffany. Plumeria akan selalu membantu Tiffany untuk mengingat keluarganya di Amerika, terlebih bunga itu adalah kesukaan mendiang ibunya.”

Siwon mengangguk mengerti. Nicole menatap kearah jam, sudah sore rupanya. Wanita itupun akhirnya menuliskan sebuah alamat pada kertas kosong yang selalu ia sediakan. Merobeknya, kemudian memberikan benda tersebut kepada Siwon dengan pandangan penuh harap.

“Aku sudah mengetahui keadaan Tiffany. Itu adalah alamat keluarga Hwang di Amerika. Kurasa kau bisa meyakinkan Tuan Hwang untuk datang kesini. Kau adalah harapan terakhir, Siwon. Kumohon bawa keluarga Hwang untuk menemui Tiffany.”

Siwon mengangguk mantap dan menatap lurus kearah Nicole.

“Tentu. Aku pasti akan membawa mereka kesini.”

*****

Suasana bandara John. F. Kennedy selalu padat seperti biasa. Banyak manusia berlalu lalang dengan banyak barang untuk datang dan pergi, melepas ataupun kembali bertemu orang terkasih. Siwon merupakan satu yang datang untuk bertemu dengan salah seorang yang memiliki ikatan kuat dengan orang yang dikasihinya. Ditariknya koper yang tidak terisi penuh, berjalan menuju sebuah taksi dan masuk ke dalam benda beroda dengan dasar berwarna jingga. Siwon memberikan kertas yang tempo hari didapatkannya dari Nicole kepada supir, taksi pun berjalan membelah jalanan yang nyaris terjebak kemacetan.

Siwon hanya terfokus pada pemandangan luar yang dipenuhi gedung – gedung pencakar langit yang berdiri angkuh menantang diri. Mempersiapkan kata – kata yang paling tepat untuk digunakan nanti. Perjalanan memakan waktu hingga 1 jam lebih, tentu saja karena jarak bandara dengan kediaman keluarga Hwang bisa dibilang agak jauh. Taksi pun berhenti pada sebuah rumah berukuran besar dan mewah dengan bagian belakang yang luas, taman – taman hijau dipenuhi oleh banyak bunga dengan sebuah green house yang agak merapat ke samping. Rumah dihadapannya mengingatkan Siwon pada bangunan – bangunan jaman Renaissance yang indah.

Siwon pun keluar dari taksi setelah memberikan beberapa lembar dollar kepada supir, menarik koper yang ia bawa dan sedikit berbicara pada para bodyguard yang berjaga di depan pagar yang menjulang tinggi. Siwon pun dapat masuk setelah melewati diskusi alot yang menguras tenaga. Kini, ia pun sudah sampai pada halaman depan kediaman Hwang. Tanpa banyak bicara, Siwon menekan bel yang terpasang disamping. Seorang wanita yang diketahui adalah Michelle, kakak perempuan Tiffany segera saja mempersilahkan Siwon untuk masuk.

“Daddy ada di taman belakang. Tolong, yakinkan ia untuk mengunjungi Tiffany. Aku dan Leo benar – benar rindu dengannya setelah terakhir kali bertemu saat kalian akan menikah 7 tahun yang lalu.”

“Kau bisa mengandalkanku, Noona.”

Siwon pun kembali berjalan menuju taman belakang, menemui seorang pria tua yang akhir – akhir ini membuatnya naik darah. Tuan Hwang tidak menyadari keberadaan Siwon yang berada persis dibelakangnya dan masih sibuk untuk memotong tangkai menganggu pada mawar putih kesayangan. Siwon berdehem pelan hingga membuat Tuan Hwang berbalik dan menatap penuh kebingungan.

Who are you?

Siwon mengulurkan tangan kanannya, tapi pria dengan nama lengkap Jared Hwang itu tidak menanggapi sama sekali. Siwon kembali menarik tangannya dan tersenyum paksa, ternyata itikad baik yang ia tunjukkan sama sekali tidak bisa melunturkan sifat dingin yang terlihat jelas dari setiap jengkal wajah pria tua dihadapannya. Ditambah lagi, Tuan Hwang menatap Siwon dari atas kebawah berulang – ulang, sukses membuat Siwon merasa risih karena ia disamakan dengan pencuri.

“Oh! Aku lupa mengenalkan diriku. Choi Siwon, kekasih Stephanie Hwang, putrimu.”

“Aku tidak ingat memiliki putri bernama Stephanie.”

Seperti mendapatkan sebuah tamparan keras tepat di pipi, Siwon tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya sama sekali. Tuan Hwang hanya tersenyum miring melihat ekspresi Siwon, kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Pria dengan parfum Prada Amber pour Homme Intense tersebut mencengkram keras lengan Tuan Hwang hingga pria tua itu mengaduh kesakitan. Ada kilatan merah pada kedua bola mata milik Siwon, pria itu sudah tidak tahan lagi.

“Bisakah anda tidak egois? Tiffany sedang menunggu anda sekarang! 7 tahun bukanlah waktu yang singkat, Tuan. Tak bisakah anda membuka hati walau hanya sedikit?”

Tuan Hwang sekali lagi hanya tersenyum miring, melepas cengkraman keras yang membelenggu tangan. Siwon jatuh tersungkur setelah pria tua tersebut memukulnya dengan garpu tanah yang berada tepat disebelah.

“Kau tidak mengetahui apapun, anak muda.”

Siwon bangkit daan menghapus darah yang mengotori bibir. Tuan Hwang memilih untuk membelakangi Siwon, tidak ada yang berhak untuk melihat wajahnya yang kini telah dibasahi oleh air mata.

“Kalau begitu beritahu aku. Beritahu aku apapun yang kau ketahui, Tuan!”

Hanya ada gelengan kepala yang diterima Siwon. Tidak ada yang berani kembali untuk memulai pembicaraan.  Masing – masing dari kedua pria itu hanya bisa menangis untuk mengeluarkan isi hati.

Bruk!

“Apa yang kau lakukan?”

Tuan Hwang benar – benar tidak habis pikir, melihat Siwon bersimpuh dengan memegangi kedua kakinya berhasil membuat pikiran kalut. Siwon mencengkram kedua kaki milik pria yang notabene merupakan ayah dari wanita yang dicintainya. Mungkin, ini adalah jalan terakhir untuk mendapatkan jawaban.

“Berdiri.”

“Tidak!”

“Jangan membuat kesabaranku habis. Cepat berdiri!”

“Aku tidak akan berdiri sebelum anda setuju untuk ikut ke Korea dan menemui Tiffany!”

Tuan Hwang pun menendang keras tubuh Siwon, bertubi – tubi ia melakukan hal tersebut. Namun, Siwon tidak bergeming dan tetap saja terus memegangi kedua kakinya. Tuan Hwang pun berteriak keras dan berhenti. Air matanya tepat jatuh mengenai jas yang dikenakan oleh Siwon.

“Kau tidak akan mengerti sampai kapanpun! Aku sudah menyakitinya selama ini, ia tidak akan mungkin memaafkanku.”

“Anda salah, Tuan. Tiffany justru sangat membutuhkan anda saat ini. Kumohon, Tuan. Ikutlah denganku ke Korea dan temuilah Tiffany.”

Semilir angin menampar dedaunan hingga tergulung terbang keatas langit. Beberapa diantaranya bergoyang dan jatuh dan terinjak. Tuan Hwang menghela nafas untuk yang kesekian kali.

“Aku menyerah. Jam berapa kita akan berangkat?”

*****

Siwon menyandar pada dinding dingin. Menunggu seseorang yang akan datang dari lorong gelap yang menghubungkan dengan pintu keluar. Nichkhun datang dengan Tuan Hwang yang mengikuti dari belakang. Siwon membenarkan posisi, kemudian berdiri tegak. Membuka pintu kamar dan membiarkan pria tua disamping Nichkhun untuk mendapatkan kesempatan.

Tiffany masih berbaring terdiam di kasur pesakitan, itu yang dapat tertangkap oleh kedua mata rabun yang tertutup kacamata minus milik Tuan Hwang. Pria itupun mulai menghilangkan jarak yang memisahkan ia dengan sang putri tercinta, tahun – tahun kelam dengan rasa benci menghilang entah kemana, hanya tersisa rasa rindu dan sebuah pengampunan dari hati terdalam.

“Mianhae, Daddy baru bisa mengunjungimu hari ini.”

Tangan kanan milik Tiffany terangkat, Tuan Hwang mengusap pelan tangan tersebut dengan air mata yang menggenang, Ia sudah menyakiti hati Tiffany dengan semua perbuatan di masa lalu. Waktu memang tidak akan bisa terputar kembali, tapi semua perbuatan bisa saja berubah menjadi lebih baik dengan kesempatan kedua.

“Kau pasti membenci Daddy, iya bukan? Selama ini kau hanya bisa menahan perasaanmu. Daddy harap kau mau memberi maaf pada pria tua yang telah menyakiti hatimu ini.”

Siwon menghela nafas dalam dan membuangnya dalam sekali sentakan keras. Nichkhun menepuk pundak bidang milik pria muda itu, ia tidak kalah sakit dengan Siwon. Keduanya kembali mengintip dari sedikit celah tersisa. Tuan Hwang telah berkali – kali menghapus air mata yang jatuh, bibirnya ikut bergetar menahan tangis.

“Bangunlah, All of us are missing you like crazy. Kau tidak boleh mengecewakan Siwon yang mencintaimu dengan begitu tulus. Kau tidak boleh mengecewakan teman – teman yang sudah mendampingimu selama ini. Kau juga tidak boleh untuk mengecewakan kedua kakakmu yang sudah berjuang untuk meyakinkan Daddy. Wake up, Steph. Please.

Tubuh itu merosot jatuh keatas lantai. Siwon hanya tersenyum bodoh di tempatnya, semua sudah berakhir sesuai yang diprediksi sebelumnya. Nichkhun menatap Siwon dengan perasaan iba sekaligus rasa bersalah yang kembali timbul tenggelam. Tuan Hwang hanya bisa ikut menangis, Tiffany tidak menunjukkan tanda – tanda yang diharapkan.

“Semuanya sia – sia. Aku memang bodoh, Choi Siwon adalah orang yang bodoh.”

“Won, jangan berkata seperti itu.”

Siwon terkikik kecil di tempatnya, air mata sudah habis untuk penantian yang tak berujung. Nichkhun berusaha untuk membantu Siwon untuk berdiri, namun kedua tangan miliknya justru terhempas keras dalam sekali pukulan.

“Ini semua karena dirimu! Kenapa kau harus menelpon dan memberikannya ide gilamu malam itu, huh! Kalau saja kau tidak ada mungkin sekarang Tiffany dan aku sudah hidup bahagia! Ya, hidup bahagia! Hahaha!”

Tawa yang diiringi oleh rasa sakit, Siwon benar – benar telah kehilangan batas. Nichkhun membeku tanpa menemukan satu kata yang pas untuk membungkam bibir Siwon. Kedua pria itu hanya saling menunduk pada akhirnya. Tapi, suara pintu yang terbuka berhasil membuat keduanya tersadar.

“Kalian bisa mencabut semua alat dari tubuh Tiffany. Tidak ada yang perlu ditunggu kembali.”

Siwon menatap kearah Tuan Hwang yang tak jauh berbeda dengannya, lalu memberi anggukan persetujuan kepada Nichkhun. Pintu kembali terbuka, tapi dengan makud tersirat yang lain. Siwon memperhatikan seksama dan memilih untuk menyingkir kebelakang bersama Tuan Hwang. Nichkhun merasa tidak yakin dan kembali menatap kearah Siwon.

“Lakukanlah. Selesaikan babak yang kau telah kau mulai, Khun.”

Mendapat jawaban seperti itu membuat Nichkhun kehabisan kata. Ia pun berbalik dan menatap pada alat yang membantu Tiffany untuk bertahan  hidup selama ini. Dengan tangan bergetar ia mulai menekan beberapa tombol hingga satu demi satu lampu kecil yang menyala mati. Nichkhun yang baru saja akan mematikan Electrocardiograph tiba – tiba saja terhenti ketika mendapati sebuah tangan tua telah mencengkram keras pergelangan tangan. Siwon hanya bisa menunduk ketika menyadari jika sosok yang menghentikan Nichkhun adalah Tuan Kiho.

“Apa yang kalian semua lakukan? Cepat kembali pasang semua alat – alatnya!”

Tuan Kiho yang baru saja datang untuk berkunjung tidak bisa menyembunyikan perasaan amarah yang menyelimuti diri. Mendapati pemandangan yang tak pernah diharapkannya benar – benar membuat ia murka. Siwon menahan tangan sang ayah untuk memberikan Nichkhun kesempatan untuk mematikan alat terakhir.

“Kalian semua keterlaluan! Apa hanya sebatas ini kalian menyayangi Tiffany? Pasang kembali semua alat itu! Cepat Pasang!”

“Diamlah!”

Akhirnya semua perasaan yang tertahan keluar begitu saja. Siwon berteriak dengan keras, ia mengetahui jika semua ini adalah sebuah kesalahan. Tidak seharusnya ia menyetujui usulan bodoh yang sebentar lagi akan selesai teralisasi. Tapi, ia tidak punya kuasa apapun untuk melanjutkan semua, ia sudah terlalu lelah.

“Cepat lanjutkan, Khun. Jangan buang – buang waktumu.”

Nichkhun mengangguk dan kembali berjalan mendekat untuk mematikan alat terakhir. Tuan Kiho terdiam bersama Tuan Hwang yang berada tepat disampingnya. Siwon berjalan tertaih menuju pintu, membuka knop dengan tenaga tersisa. Namun, ia mendapati jika semua ini belumlah selesai.

“Eungh…”

Lenguhan kecil yang Tiffany berikan membuat semua orang terkejut. Siwon berbalik dan menatap pada sosok yang kini mulai menggerakan jari – jari mungilnya dan membuka mata yang telah lama tertutup. Nichkhun segera menekan tombol untuk memanggil perawat, sedangkan Tuan Kiho dan Tuan Hwang hanya bisa mengungkapkan kebahagiaan dengan sebuah senyum haru.

“Op..Oppa.. Siwon… Oppa.”

Kata itulah yang pertama kali keluar. Siwon tau jika Tiffany mencarinya dan ia memutuskan untuk menghampiri sang kekasih. Tiffany mengerjapkan mata dan tersenyum kecil melihat wajah Siwon yang lelah. Perlahan tapi pasti, kedua tangannya terangkat dan mengusap rahang tegas milik Siwon, Tiffany rindu dengan pria yang ada dihadapannya saat ini.

“Pasti Oppa bosan menunggu, ya? Mianhae, aku tidak bermaksud membuat Oppa menungguku.”

Siwon menggeleng, ia hanya bisa menjawab dengan pelukan hangat. Tiffany tersenyum dan menatap pada Nichkhun, Tuan Kiho, dan Tuan Hwang yang tidak bisa berhenti menatap dengan haru.

“Khun, Abeoji, Daddy. Kalian juga pasti bosan menunggu.”

“Tidak, tidak sama sekali. Karena semuanya sudah terbayar sekarang,” balas Nichkhun.

Siwon masih berada di dalam dekapan hangat Tiffany, diam – dia ia menangis dalam diam. Ia harus berterima kasih pada Tuhan yang telah memberinya kesempatan kedua.

*****

 

Impian yang sempat terkubur kini telah mendapatkan kesempatan untuk terulang dengan cara yang lebih indah, pertanyaan yang sempat menjadi sebuah retorik telah menemukan jawaban yang pasti. 7 tahun memang bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu, tetapi arti dari sebuah kesabaran dan keteguhan membawa hikmah yang dapat terus disyukuri. Siwon menyadari hal tersebut dengan letupan – letupan kebahagiaan yang terus mendesak keluar dari dalam hati, kini apa yang ia inginkan terbayar dengan ikatan yang akan mengkaitkan dirinya dengan sang wanita terkasih. Tuhan memberikan jalan terbaik untuk menguji seberapa besar dan kuat gelombang kehidupan yang akan membawa masa depan cerah. Setelah tertunda sekian lama, hari itu akhirnya datang.

Siwon berdiri gugup, dirinya sudah tepat berada diatas altar. Pintu tak lama terbuka, mempelai wanita berjalan perlahan penuh keanggunan dalam balutan gaun pengantin sederhana namun indah. Sebuket bunga mawar putih digenggamnya dengan erat, simbol akan kasih sayang yang tulus tak ternoda. Siwon pun mengambil alih tangan Tiffany dari seorang pria tua yang tak lain adalah Tuan Hwang. Matanya beradu cepat dengan mata tua milik pria tersebut, ada kilatan lembut akan harapan untuk terus menjaga putri tercinta atas alasan apapun. Siwon mengangguk kecil dan membantu Tiffany untuk berdiri sempurna disampingnya. Hadirin yang datang terus menunggu dengan khidmat, hanya ada kebahagiaan yang mereka bawa untuk sebuah hari yang telah ditunggu. Pastur mulai membuka buku bercover hitam yang telah dipersiapkan, membaca doa untuk menyatukan dua insan yang diberikan anugerah oleh Tuhan untuk saling mencintai. Siwon semakin erat menggengam tangan lembut Tiffany, dan itu berlaku juga sebaliknya.

“Choi Siwon, Apakah engkau bersedia menerima Stephanie Hwang sebagai istrimu, dalam keadaan suka ataupun duka, sakit ataupun sehat, miskin ataupun kaya. Sampai maut memisahkan kalian?”

Siwon mengangguk pasti, kemudian mengarahkan pandangannya pada Tiffany yang tersenyum lembut.

“Ne, Aku bersedia.”

“Stephanie Hwang, Apakah engkau bersedia menerima Choi Siwon sebagai suamimu, dalam keadaan suka ataupun duka, sakit ataupun sehat, miskin ataupun kaya. Sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne, Aku bersedia.”

Ledakan itu tidak bisa ditahan lagi, air mata haru yang mengalir menjadi pertanda bahwa kebahagiaan telah diraih. Siwon kembali menatap kearah Tiffany, mengecup lama bibir merah ranum milik wanita yang kini sehidup semati dengannya. Lumatan – lumatan kecil itu berlangsung sekitar 30 detik, Siwon memberikan kesempatan pada Tiffany untuk bernapas lega dengan pipi merah padam. Kini, fokus matanya teralih pada orang – orang yang selama ini juga ikut berjuang dan menunggu bersamanya. Ada Tuan dan Nyonya Choi serta Jiwon, Minho, dan Jinri, Tuan Hwang beserta kedua kakak iparnya, Leo dan Michelle, Nichkhun dan Joongki, para sahabat Tiffany seperti Taeyeon, Jessica, Sunkyu, Hyoyeon, Yuri, Sooyoung, Yoona, Joohyun, dan tak lupa Nicole serta pasangan mereka masing – masing. Ingin rasanya Siwon mengucapkan banyak rasa terima kasih pada mereka semua.

“Chagiya…”

“Ne?”

Siwon berbalik dan mendapati Tiffany memberikan kode bahwa acara lempar bunga akan segera dimulai. Pria itu mengangguk dan mengamit lengan Tiffany untuk berpindah menuju aula tempat acara akan dimulai. Semua tamu pun ikut berpindah menuju aula, bahkan beberapa diantaranya justru turun untuk menguji keberuntungan. Siwon mengernyit bingung saat mendapati sosok Nichkhun dan Joong Ki yang ikut berdesak – desakan diantara para wanita. Namun, pertanyaan itu tidak terjawab karena Tiffany telah menghitung mundur dan bersiap – siap.

3

2

1

Hup!

I Got it! Yessss!

Nichkhun melonjak kegirangan dengan buket yang sudah didapatkannya. Joong Ki cemberut dan menggembungkan pipi karena gagal, seluruh tamu undangan tertawa melihat tingkah aneh pria asal Thailand tersebut. Berbeda dengan Siwon, ia tidak bisa menyembunyikan wajah bodoh penuh rasa bingung, terlebih ketika Nichkhun menunjuk – nunjuk kearahnya.

“Aku akan menyusulmu, Choi Siwon!”

“Heh?”

Tiffany tertawa gemas melihat ekspresi yang ditampilkan oleh suaminya. Ia pun menyenggol pinggang Siwon dan membisikan sesuatu. Pria itu menatap Tiffany dengan tidak percaya dan kembali menatap kearah Nichkhun yang sudah menghilang dari tempatnya.

“Nichkhun sebenarnya sudah mempunyai tunangan di Thailand. Namun, ia harus meninggalkannya karena harus bertanggung jawab akan kecelakaan yang menimpaku dan memutuskan untuk ikut menunda pernikahannya saat itu. Aku baru mengetahuinya ketika Joong Ki Oppa bercerita padaku seminggu yang lalu. Hari ini ia akan pulang ke Chonburi.”

Siwon tersenyum dan terus melihat siluet Nichkhun yang semakin menjauh. Diam – diam ia tidak lagi menyimpan dendam ataupun perasaan buruk apapun terhadap pria tersebut. Justru, Siwon merasa bersalah karena selama ini tidak pernah menyadari ketulusan Nichkhun dalam membantunya.

Langit yang tergores dengan warna cerah semakin menyemarakan hati yang riang. Awan kesedihan sudah musnah berganti dengan pelangi indah yang menghiasi. Mulai dari detik ini hingga seterusnya, tidak akan ada lagi alasan apapun bagi seorang Choi Siwon untuk berhenti berjuang akan kasih dan sayangnya untuk para sosok yang juga telah menyayanginya. Terutama teruntuk Tiffany, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Karena, ia bukanlah keledai yang akan jatuh pada lubang yang sama sebanyak 2 kali.

“Saranghae, Stephanie Hwang.”

“Nado, Choi Siwon.”

-End-

Gimana nih FF nya? Sudah puas?

Apakah sudah cukup menguras air mata? Atau malah ketawa ngakak bacanya? #jedotinkepala

Seperti biasa Author akan menunggu RCL dari para readerdeul sekalian. Silent Reader, Tukang Bashing, apalagi Plagiator siap – siap saja menunggu karma dari Tuhan #jder #efekpetirceritanya

Author akan kembali dengan FF lainnya! Dadah! #terbangbarengTiffany

103 thoughts on “(AR) Plumeria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s