(AD) Could It Be Love Part 1

Could It Be Love?

Cibl

@echa_mardian

Cast : Choi Siwon, Hwang Miyoung

Genre : Romance, Hurt, Sad

Rating : PG 17

“Thanks for the idea, Wina Hidayati. This is special for you.”

 

 

 

“I love you no matter how you always avoid me. I’ll chase you until you reach the weakest limit of yours.

Part 1

“Yang benar saja! Aku tidak menyukai wanita itu, Wookie!”

“Siapa yang mengatakan kalau kau menyukainya? Aku kan hanya menyampaikan apa yang aku dengar. Hwang Chae Ya menyukaimu, Siwon-ah. Kkk, terima saja! Lagipula ia mempunyai tubuh yang seksi. Sayang sekali kalau kau lewatkan.”

Siwon hanya mendengus jijik, sementara Lee Dongwook, Jung Jessica dan Park Leeteuk terkekeh di hadapannya. Siwon menggelengkan kepala beberapa kali tetapi tidak bisa menunjukkan kemarahannya kepada sang sahabat, Lee Dongwook, yang baru saja menggodanya.

Choi Siwon sangat beruntung mempunyai paras yang elok, hampir sempurna dan kaya raya. Siapa yang tidak mengenal seorang Choi Siwon, Cassanova abad 21 di kota Seoul. Ia terkenal sebagai pewaris tunggal Choi Group, yaitu perusahaan penyulingan minyak dan petrokimia terbesar di Korea. Selain itu, Siwon pun banyak digilai oleh perempuan-perempuan pribumi bahkan luar negeri. Terang saja takdirnya itu membuat Siwon merasa berdiri di atas awang-awang.

Setiap bulan bahkan minggu Siwon selalu saja gonta-ganti pasangan. Ia tidak pernah puas pada wanita sekaligus tidak pernah memikirkan perasaan mereka. Siwon dan para wanitanya sama-sama mendapatkan keuntungan. Siwon mendapatkan tubuh mereka dan para wanita bodoh itu mendapatkan uangnya. Deal. Hanya satu hal yang belum pernah dilakukan Siwon, yaitu meniduri seorang perawan. Bukannya takut, ia hanya tidak nyaman melakukannya.

Siwon menikmati hidupnya. Ia hidup dikelilingi uang, wanita serta kehormatan. Siwon mengukur segala sesuatu hanya dengan uang karena begitulah cara hidup yang diterapkan Ayahnya. Oleh sebab itu, Siwon tidak mengenal sebuah rasa yang sebenarnya jauh lebih berharga dari pada apapun di dunia ini.

Cinta dan kasih sayang.

Siwon tidak mendapatkan kedua hal itu sejak Ibunya meninggal. Ibunya meninggal ketika pergi keluar kota dengan pria selingkuhannya. Kala itu Siwon berusia 10 tahun. Ia menaruh dendam pada Ibunya dan bersumpah mulai saat itu ia tidak akan menghargai apa itu cinta. Ayahnya pun terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tanpa Siwon sadari sebenarnya kehidupan yang ia miliki telah hancur.

“Jadi,” ucapan Jessica mengambil perhatian Siwon lagi. “Kau benar-benar tidak menyukai Hwang Chae Ya? Bolehkah kami mengetahui alasannya?”

Siwon mengedikkan bahu. Topik mereka masih saja tentang wanita desa yang bernama Chae Ya itu. Chae Ya adalah wanita baik-baik yang bekerja sebagai sekretaris Ayahnya. Wanita itu lebih tua 3 tahun dari Siwon dan terang-terangan mengungkapkan kalau ia sangat mencintai Siwon. Tetapi Siwon sama sekali tidak tertarik padanya. Ia memang seorang playboy, tetapi bukan berarti ia tidak mempunyai kriteria wanita yang membuatnya tertarik.

“Tidak. Aku tidak menyukai wanita sok polos seperti Chae Ya. Aku bisa pastikan kalau wanita itu sangat ketinggalan jaman dan tidak tahu cara bercinta dengan baik,” tandas Siwon sinis. Jessica, Dongwook dan Leeteuk tertawa keras.

“Maafkan kami, Siwon-ah. Kami lupa kalau kau tidak suka wanita yang sangat bodoh di ranjang!” sambar Leeteuk diikuti oleh tawa lepas Dongwook dan Jessica.

Siwon hanya tersenyum miring lalu menenggak segelas wiski di tangannya sampai habis. Ia melirik arlojinya lalu berdecak malas. Sudah pukul 3 pagi dan sepertinya ia harus pulang ke rumah saat ini juga. Ia teringat pesan Ayahnya bahwa besok pagi beliau akan menyampaikan suatu kabar penting.

Lantas Siwon berdiri dari duduknya. Tubuhnya yang tinggi menjulang di hadapan ketiga sahabatnya yang masih duduk di sofa tersebut sangat mencuri perhatian pengunjung club lain. Terlebih para wanita.

“Aku pulang. Besok kita bertemu lagi disini. Park Leeteuk, ajak istrimu sekaligus. Arraseo. Aku tidak ingin kau melirik wanita lain di club ini sementara istrimu menunggu di rumah,” goda Siwon lalu terkekeh. Leeteuk mengangkat gelasnya.

“Aku sangat mencintai Taeyeon, tidak mungkin aku melirik wanita lain. Aku tidak seperti dirimu, Choi Siwon!” tukas Leeteuk lalu dibalas dengan cibiran oleh Dongwook.

Siwon mengacungkan ibu jarinya ke arah Leeteuk. “Dan kau, Lee Dongwook. Jangan pulang terlalu malam! Jika ingin bermain dengan Jessica, jangan pakai kamar VIP-ku. Arraseo?!”

Jessica menendang kaki Siwon sambil berdesis. “Aish, aku rasa kau sedang mabuk. Pergi sana!”

Siwon pun pergi dengan seringaian jahil di wajahnya.

 

***

“Mwo? Eonnie akan menikah? Kenapa mendadak sekali?”

“Pernikahan ini tidak bisa ditunda lagi, Miyoung-ah. Sebaiknya kau segera ke Seoul setelah aku kirimkan alamatnya. Bawa semua pakaian dan keperluanmu karena kau akan tinggal bersama kami. Miyoung-ah, hanya dengan cara ini hidup kita akan sejahtera. Kita tidak akan kekurangan lagi.”

“….”

“Miyoung-ah, kau mendengarku?”

“N-nde, Eonnie. Aku mendengarmu.”

“Kalau begitu, segeralah berkemas. Eonnie akan menunggumu. Hati-hati di perjalanan.”

Klik.

Sambungan telepon terputus. Gadis yang baru saja dihubungi oleh kakak perempuannya itu termenung di tempat duduknya. Ia sebatang kara di rumah yang sekarang di tempatinya, sedangkan kakak satu-satunya, Hwang Chae Ya bekerja di Ibukota. Sebut saja nama gadis itu Hwang Miyoung. Ia adalah seorang penjual susu keliling di desa kecil yang terletak di Jeonju.

Sehari-hari Miyoung mencari uang dengan menjadi kurir susu botol untuk mencukupi keperluannya. Terkadang ia mendapat kiriman uang tambahan atau pakaian dari sang kakak yang selalu mengkhawatirkannya. Sejak Miyoung berusia 5 tahun, ia telah menjadi seorang anak yatim piatu. Hanya Chae Ya yang ia miliki di dunia ini. Jarak usia mereka cukup jauh yaitu 6 tahun. Chae Ya sangat menyayangi Miyoung dan berusaha mendapatkan kehidupan yang layak untuk mereka. Chae Ya merantau ke Seoul satu tahun lalu dan langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan terkenal disana. Terang saja Miyoung ikut bahagia. Chae Ya berjanji pada Miyoung untuk mengajaknya tinggal bersama jika kehidupannya di Seoul sudah mapan betul.

Dan inilah saat yang dinantikan Chae Ya. Sebentar lagi ia akan menikah dan ia berpikir untuk mengajak Miyoung masuk dalam kebahagiaannya.

Miyoung hanya bisa menurut saja. Lagipula, Chae Ya adalah satu-satunya tempat berlindung baginya.

***

Siwon terkejut karena seorang maid membangunkannya. Ia sedang terlena dengan mimpi indahnya, bertemu dengan seorang gadis cantik berkulit putih lembut, rambut hitam yang tebal serta mata paling indah yang pernah dilihatnya. Siwon hampir saja bercinta dengan gadis itu kalau saja maid sialan tidak membangunkannya.

“Tuan Muda, Tuan Besar memerintahkan saya untuk membangunkan Anda.”

“Aish, shit! Kau ingin kupecat ya? Aku masih mengantuk! Katakan padanya kalau aku ingin tidur 2 jam lagi. Apa kau tahu, aku baru bisa tidur pukul 5 pagi!” bentak Siwon.

Maid itu tetap berdiri di dekat ranjang meskipun kakinya gemetar mendengar ancaman Siwon. Tetapi lebih berbahaya baginya jika membantah perintah Tuan Besar Choi. Jadi, ia menerima apa saja caci maki yang keluar dari mulut Siwon sampai pria itu menyerah dan bersedia bangun.

“Aku akan tetap disini sampai Anda bersedia turun,” ucap maid itu dengar suara hilang timbul.

Siwon duduk dari tidurnya dan memberikan tatapan mematikan untuk maid laki-laki tersebut. Kepalanya masih pusing akibat pengaruh alcohol tadi malam.  Tapi, daripada melihat laki-laki itu tidak beranjak dari kamarnya, Siwon memilih untuk memenuhi panggilan sang Ayah.

“Baiklah. Silahkan kau keluar dulu!” pinta Siwon dengan suara keras. Maid itu masih tidak bergeming. Melihat itu Siwon mendadak turun dari ranjangnya dan melayangkan pukulan ke perut laki-laki kurus tersebut. Terang saja laki-laki itu melenguh kesakitan.

“Itulah yang kau dapatkan karena tidak mendengarkan ucapanku. Aku akan keluar kamar 30 menit lagi. Sekarang kuperintahkan kau untuk keluar! Cih!”

 

 

Siwon menemui Ayahnya di ruang kerja setelah merapikan dirinya sendiri. Ia tidak ingin tampil di depan sang Ayah dengan rambut mencuat kesana-kemari serta pakaian yang seadanya. Bagaimanapun juga, ia ingin terlihat berwibawa dan sebagai anak baik-baik tentunya.

Setelah mengetuk pintu ruang kerja sang Ayah, terdengar seruan dari dalam. Suara Ayahnya menyuruh Siwon untuk masuk. Siwon membuka pintu itu perlahan dan melangkah ke dalam. Ia tidak tahu siapa yang menunggunya di ruangan itu.

“Selamat pa—“

Siwon tersentak kaget sehingga ucapannya terhenti mendadak. Matanya terpaku pada sosok yang tidak seharusnya berada di dalam ruangan kerja Ayahnya saat ini. Ayah Siwon, Choi Ji Hoo, tersenyum penuh misteri di kursinya. Siwon tidak mengerti maksud senyuman itu. Ia kembali menatap wanita yang membuatnya terkejut beberapa detik lalu.

Apa yang dilakukan Hwang Chae Ya di ruangan pribadi Ayahnya? Siwon tahu kalau Chae Ya adalah sekretaris Ayahnya, tetapi sekarang adalah akhir pekan yang artinya tidak ada pekerjaan yang mengharuskan mereka bersama.

“Siwon-ah, silahkan duduk! Kemarin aku telah berjanji akan menyampaikan suatu kabar baik padamu.”

Siwon mengangguk. Ia mengambil posisi duduk di depan meja kerja sang Ayah, sementara matanya tak lepas memandangi wanita berambut coklat yang berdiri manis di samping kursi kebanggaan Ayahnya itu.

“Aku tidak pernah melihat Nona Hwang disini pada hari libur,” Siwon tidak tahan untuk berkata. Choi Ji Hoo tertawa lalu menyandarkan tubuhnya ke kepala kursi.

“Dan mulai sekarang, kau harus terbiasa untuk selalu melihatnya di rumah ini. Hahaha!”

Siwon mengernyit hebat. Ia sungguh tak mengerti apa maksud Ayahnya. Ia kembali melirik Chae Ya. Kali ini wanita itu tersenyum penuh arti padanya. Siwon ingin muntah di hadapan mereka saat ini juga.

“Apa yang Abeoji bicarakan? Aku tidak yakin dapat menangkap maksudmu dengan benar,” ujar Siwon tenang.

Dan adegan selanjutnya membuat Siwon terperangah. Sebelah tangan Ayahnya menggamit tangan Chae Ya lalu mencium punggung tangan lentik tersebut. Siwon menyaksikannya dengan mulut setengah terbuka dan kening yang berlipat-lipat. Ia menahan banyak pertanyaan di kepalanya.

“Siwon-ah, putraku, aku dan Hwang Chae Ya akan segera menikah. Tepatnya minggu depan. Dan mulai saat ini, panggil dia dengan sebutan “Eomma”. Apa kau mengerti?”

***

Siwon mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Wajahnya merah padam dan urat-urat di wajahnya timbul karena amarahnya yang begitu besar. Ia duduk di taman belakang rumah, menghabiskan waktu berjam-jam duduk di ayunan untuk menenangkan diri.

Pagi tadi setelah ia mendapat kabar buruk di ruang kerja Ayahnya, Siwon langsung keluar dan membanting pintu. Ia tidak peduli Ayahnya akan tersinggung. Sebab ia jauh lebih sakit hati! Bayangkan saja. Wanita yang pernah dengan gamblangnya mengatakan kalau ia mencintai Siwon, kini akan segera menikah dengan Ayahnya! Siwon shock bercampur geram. Ia tidak mengerti sama sekali apa tujuan wanita itu!

Jika Chae Ya tergila-gila pada Siwon, lalu apa tujuannya menikah dengan Ji Hoo? Siwon memang tidak pernah mau tahu urusan asmara Ayahnya, tetapi tidak pernah terlintas di benaknya bahwa sang Ayah akan menikahi wanita yang selama satu tahun ini menjadi sekretarisnya.

Siwon tidak peduli jika Ayahnya mempunyai banyak wanita simpanan, namun ia sangat tidak setuju jika Ayahnya menikah lagi. Harta kekayaan Ayahnya pasti akan terbagi kepada wanita tersebut. Rahang Siwon mengeras membayangkan kalau sebenarnya Chae Ya tidak mencintai Ayahnya. Ia yakin itu!

Pria itu kemudian mendengar suara klakson mobil Ayahnya. Ia mendongak dan melihat ke halaman. Mobil Ayahnya telah pergi dari rumah. Siwon menyeringai. Ia bisa melihat dengan jelas kalau Chae Ya kembali masuk ke dalam rumah dengan senyum sumringah di wajahnya. Mulai hari ini Chae Ya memang tinggal di rumah Choi Ji Hoo.

“Aku akan membuat perhitungan dengannya,” geram Siwon lalu berderap masuk ke rumahnya.

Langkahnya yang panjang-panjang dengan mudahnya mengejar Chae Ya. Wanita itu hendak menaiki tangga menuju kamar yang telah disediakan oleh Choi Ji Hoo untuknya. Namun ia kalah cepat. Siwon merenggut tangannya dengan kasar untuk turun kembali.

“Siwon-ah…”

“Jangan sekali-kali kau lancang menyebut namaku!” sembur Siwon. Ia mencengkram kedua pundak Chae Ya dengan keras sehingga membuat wanita tersebut meringis.

“Siwon, kita bisa membicarakannya baik-baik.”

“Kau…iblis betina! Apa tujuanmu sebenarnya, eoh? Apa kau hanya menginginkan harta Ayahku saja? Kalau begitu aku akan memberikan berapapun yang kau inginkan asalkan kau pergi jauh-jauh dari kehidupan kami!” desis Siwon murka. Mata Chae Ya berkaca-kaca dalam pandangan Siwon.

“Apa kau belum juga paham dengan maksudku, Siwon-ah? Aku mencintaimu dan inilah satu-satunya jalan untukku bisa berada di dekatmu,” ungkap Chae Ya.

Dada Siwon bergemuruh. Cengkraman tangannya semakin kuat dan Chae Ya yakin kalau sekarang pundaknya kebas.

“Mwo?”

“Aku selalu mencintaimu, Siwon. Jika aku tidak bisa menjadi kekasihmu, hanya dengan cara ini aku bisa berdekatan denganmu. Menjadi istri dari Ayahmu. Dan Ayahmu telah jatuh cinta padaku. Bukankah itu adil?”

Siwon menggeram. Jika Chae Ya laki-laki, ia sudah mematahkan lehernya dari tadi. Siwon tidak pernah semarah ini. Wanita di hadapannya sengaja memanfaatkan Ayahnya hanya untuk berdekatan dengannya. Chae Ya memang wanita freak! Siwon mendorong kasar tubuh Chae Ya sehingga wanita itu terjerembab ke belakang. Siwon tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia ingin menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Chae Ya di depan Ayahnya.

“Aku akan membuatmu keluar dari rumah ini!” Siwon berdesis lagi. Ia melangkah pergi dengan amarah yang berkobar-kobar sementara Chae Ya menangis di lantai tempat ia terjatuh.

“Maafkan aku, Siwon-ah. Tapi aku benar-benar mencintaimu. Hanya dengan cara ini aku bisa melihatmu sepanjang waktu. Dan tidak mungkin aku mengatakan padamu kalau aku ingin kehidupan yang lebih sejahtera. Aku lelah hidup melarat.”

 

***

 

Miyoung telah sampai di rumah Choi Ji Hoo. Ia langsung disambut oleh pelukan hangat kakaknya, Chae Ya. Miyoung sedikit terkejut ketika melihat ternyata calon suami Chae Ya adalah pria tua yang seusia Ayah mereka jika beliau masih hidup. Namun Miyoung lebih suka menyimpan pendapatnya. Ia tidak ingin mencampuri urusan Chae Ya, terlebih lagi Choi Ji Hoo ternyata adalah atasan Chae Ya selama satu tahun ini.

Choi Ji Hoo memberinya kamar di lantai atas, tepat di sebelah kamar Siwon. Miyoung membungkuk tanda hormat dan terima kasihnya lalu setelah itu Choi Ji Hoo meninggalkannya berdua saja dengan Chae Ya. Miyoung memandangi kamar barunya dengan tatapan kagum. Ukuran kamar itu lima kali lipat lebih besar dari kamarnya di desa.

Chae Ya menatap adiknya dengan mata berbinar-binar. Inilah tujuan hidupnya yaitu membuat hidup mereka sejahtera. Selain itu Chae Ya juga bisa melaksanakan tujuan utamanya, yakni berada di dekat Siwon. Sekali mengayuh, dua tiga pulau terlewati.

“Apa kau senang?” pertanyaan Chae Ya membuat Miyoung tersenyum simpul. Senyuman yang sangat cantik menurut kakaknya.

“Aku senang sekali, Eonnie. Aku juga ikut senang untukmu. Selamat Eonnie, akhirnya Eonnie menemukan pria yang baik sebagai calon suami. Aku berharap kalian selalu bahagia,” ungkap Miyoung tulus. Chae Ya memeluk Miyoung lalu mengusap-usap rambut hitam tebal itu.

“Terima kasih, Miyoung-ah. Aku ingin kau ikut merasakan kebahagian ini.”

Miyoung tersenyum haru kemudian menganggukkan kepalanya. Ia beruntung mempunyai kakak seperti Chae Ya.

 

***

 

“Ayolah, Chagi. Aku sangat merindukanmu,” rengek seorang wanita muda di dalam pelukan Siwon. Siwon tidak mendengarkannya apalagi menatap wajahnya. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri sambil terus meneguk bir yang ada di tangannya.

Jessica dan Dongwook saling pandang. Tidak biasanya Siwon mengabaikan gadis cantik yang merengek minta dimanja olehnya. Setidaknya setiap wanita memang minta ditiduri Siwon. Tetapi Siwon sangat berbeda malam ini. Wanita cantik yang selama 4 hari ini menjadi teman dekatnya, Seo Min, terus saja meraba-raba dada Siwon, berharap pria itu akan tergoda.

“Yak! Singkirkan tanganmu dariku! Aku sedang tidak mood!” bentak Siwon murka. Jessica menggigit bibir ketika melihat Seo Min gemetar ketakutan.

“Ta…tapi, a-aku kan kekasihmu, Chagi. Kenapa kau membentakku?” rengeknya lagi. Dongwook menepuk keningnya. Ia tahu apa yang akan selanjutnya terjadi.

“Kalau begitu mulai saat ini kau bukan kekasihku lagi! Aku sama sekali tidak menyukaimu. Aku minta kau pergi sekarang juga!” raung Siwon.

Jessica dan Dongwook yang sejak tadi duduk di hadapan mereka, serentak menggelengkan kepala. Satu lagi korban Siwon malam ini. Adegan selanjutnya adalah wanita itu menangis tersedu-sedu dan berlari keluar club. Sedangkan Siwon menyeringai puas di tempatnya.

“Kau belum mendapatkan karmanya saja, Siwon-ah. Kau pikir menyakiti hati perempuan itu tidak akan mendapatkan balasannya?” tukas Jessica dingin.

Siwon mendengus tanda meremehkan. “Karma hanya berlaku untuk orang lemah.”

Dongwook mengusap-usap tengkuk Jessica, memberi isyarat agar diam saja. Berdebat dengan Siwon sama saja berdebat dengan orang gila. Hasilnya pasti akan membuat kita sakit hati.

Siwon telah menghabiskan dua botol bir. Ia sudah cukup mabuk untuk pulang ke rumah. Rumah? Siwon jijik mendengarnya. Ia bahkan membenci rumahnya sendiri saat ini. Rumah yang dihuni oleh wanita yang kini paling dibencinya. Siwon tetap tidak rela kalau wanita itu menjadi Ibu tirinya. Bagaimanapun caranya, Siwon akan membalas permainan licik Hwang Chae Ya.

“Siwon-ah, mungkin selama ini Chae Ya hanya membual. Tidak mungkin jika ia mencintaimu tetapi menikahi Ayahmu,” komentar Dongwook.

Siwon tersedak minumannya lalu tertawa seperti orang konyol.

“Tidak! Dia tidak membual. Wanita sialan itu memanfaatkan Ayahku untuk mendekatiku. Dia wanita psycho, Wookie!”

Jessica menatap Siwon prihatin. “Eih, kau mulai meracau tidak jelas.”

“Biarkan saja. Ia kan sedang mabuk,” bisik Dongwook di sampingnya.

“Baby, lebih baik kita antarkan Siwon pulang. Ia tidak bisa menyetir dalam keadaan seperti ini,” ujar Jessica. Dongwook mengangguk setuju.

***

Miyoung mengerjap-ngerjapkan mata lalu sesekali menukar posisi tidurnya. Huft, ia mendesah lagi, entah sudah yang keberapa kali. Mungkin karena ia tidur di kamar baru, jadi belum terbiasa. Miyoung melirik jam dinding di kamar itu. Jam 2 pagi! Miyoung pun duduk dari tidurnya dan memandang berkeliling. Tadi ia telah menghabiskan waktu dua jam untuk menyusun pakaian serta barang-barangnya dan tetap saja belum mengantuk.

Miyoung turun dari ranjang dan memakai sandal. Ia pikir jurus pamungkasnya saat ini adalah susu hangat. Miyoung tahu kalau pada jam ini semua orang di rumah telah tertidur. Jadi, ia harus berjalan mengendap-endap agar tidak menimbulkan kebisingan.

Akhirnya gadis itu pun keluar kamar. Ia menutup pintunya dengan sangat perlahan. Meskipun kamar Choi Ji Hoo dan kamar Chae Ya berada di lantai tiga, Miyoung takut penghuni kamar di sebelah kamarnya akan terganggu. Tadi saat makan malam, calon kakak iparnya sempat mengatakan kalau ia mempunyai seorang putra bernama Choi Siwon. Miyoung juga telah melihat foto Siwon yang terpampang besar di lantai bawah.

Menurut Miyoung, Siwon benar-benar seperti seorang Pangeran. Yang pasti bukan Pangeran yang akan menyukai gadis desa sepertinya.

Miyoung sengaja tidak menyalakan lampu di lantai bawah. Dengan penerangan seadaanya dari lampu teras, Miyoung bisa menemukan jalannya menuju dapur. Miyoung berjalan hati-hati agar tidak menyenggol guci-guci antik Choi Ji Hoo. Rumah yang begitu besar membuat Miyoung tak sabaran untuk cepat-cepat sampai ke dapur.

“Mudah-mudahan aku bisa tidur nyenyak setelah ini,” gumam Miyoung untuk diri sendiri. Ia menyeduh susu bubuk di konter dapur dengan penerangan redup dari cahaya kulkas yang sengaja dibukanya. Sekali lagi, Miyoung tidak ingin membuat dirinya ‘terlihat’ tengah malam begini.

Miyoung mengaduk-aduk susu putih hangat sambil bergumam-gumam merdu. Ia akan meminum susu ini selama 10 menit dan akan kembali ke kamar. Tepat ketika Miyoung ingin meniup susunya, ia mendengar derap langkah aneh dan hembusan napas kasar di belakangnya. Kontan saja Miyoung membalikkan tubuhnya dengan cepat.

Gadis itu terkesiap, seolah-olah jatuh dari atap gedung paling atas. Tubuhnya limbung ke belakang dan begitu sepasang tangan mendorongnya agar bersandar di kulkas, ruangan dapur semakin gelap. Hanya ada sebuah lampu di lemari persediaan makanan yang menerangi dapur tersebut.

Miyoung hendak berteriak namun mulutnya langsung tertutup oleh telapak tangan yang lebar. Mata Miyoung melebar sempurna tatkala beradu pandang dengan sepasang mata tajam seperti elang, tepat di depan wajahnya! Miyoung mengernyit mual ketika mencium bau alcohol dari hembusan napas pria itu.

Siwon, menempelkan tubuhnya pada Miyoung sehingga gadis itu tidak dapat berkutik. Siwon menatap Miyoung lekat-lekat. Meskipun ia dalam keadaan mabuk, tetapi ia tahu kalau gadis ini adalah orang asing di rumahnya. Selama 30 detik mereka hanya saling melempar pandangan heran dan ketakutan. Setelah itu Siwon menyeringai.

Saat itu Miyoung pun sadar kalau pria yang kini tengah menekannya ke pintu kulkas adalah Choi Siwon. ia ingat seringaian pria itu di dalam foto. Tapi, pria itu dalam keadaan mabuk. Miyoung mencemaskan dirinya kalau ini adalah keadaan yang mungkin akan berbahaya.

“Kau s-siapa? Apa kau pencuri?” tanya Siwon.

Miyoung berdengung-dengung dalam dekapan tangan Siwon. merasa Siwon tidak akan melepaskan tangannya dalam waktu dekat, akhirnya Miyoung hanya menggelengkan kepalanya.

“Jika kau bukan pencuri, apa yang kau lakukan di dapurku? Apa kau…hantu?” Siwon terkekeh.

Jika dalam keadaan normal ia menganggap seringaian lebar Siwon adalah yang paling menawan yang pernah dilihatnya seumur hidup.

Perlahan tangan Siwon terlepas dari mulut Miyoung. Gadis itu mengambil udara segar sedalam-dalamnya dan berusaha mengabaikan bau alcohol dari mulut Siwon. Siwon menelengkan kepala menatap wajah cantik Miyoung. Ia tidak bisa berpikiran jernih saat ini tetapi masih bisa memuji kecantikan Miyoung di dalam hati.

“M-maafkan aku, Tuan Choi. Aku telah lancang memasuki dapurmu. Aku…aku hanya ingin membuat segelas susu,” jawab Miyoung, gemetar. Siwon mendengus. Sebelah tangannya mengelus sisi wajah Miyoung dan mengagumi kelembutan wajah itu.

“Aku tahu. Pasti kau sulit tidur. Apa kau…memerlukan bantuan untuk tidur nyenyak?” bisik Siwon dengan suara parau.

Miyoung menelan ludah. “A-apa?”

Seringaian Siwon semakin menjadi. Kini tangannya menangkup wajah Miyoung dan memegangnya erat. Jantung Miyoung berdegup liar. Ia belum pernah disentuh pria manapun seintim ini. Seumur hidupnya Miyoung tidak pernah mempunyai kekasih. Yang sering terjadi padanya adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Siwon menarik wajah Miyoung dengan kelembutan teramat sangat kemudian mendekatkan bibir mereka. Miyoung mematung seperti terkena sihir atau hipnotis dan semacamnya. Ia terpaku pada bibir Siwon yang merekah dan mulai bersentuhan dengan bibirnya sendiri.

Ssssrrrhh…Miyoung merasa ada ribuan sengatan yang menyiksa tubuhnya saat bibir mereka bertemu. Ini adalah ciuman pertama Miyoung. Dengan pria asing dan mabuk! Bodohnya Miyoung, ia hanya diam saja seperti sebuah patung pajangan.

Siwon mencium Miyoung seperti ia mencium wanita-wanitanya. Rakus dan kasar. Miyoung menahan tubuh Siwon dengan kedua tangan kurusnya, namun tak kuasa melawan. Siwon menciumnya tanpa rasa hormat, penuh, serta mendesak. Miyoung kesulitan bernapas dan menolak membuka mulutnya. Pada awalnya Miyoung merasa tersihir lalu sekarang ia merasa dilecehkan oleh pria itu.

Miyoung menginjak kaki Siwon sekuat tenaga dan pada saat itulah mulutnya terbebas. Miyoung menghirup udara sedalam-dalamnya. Ia merasa nyeri di bibirnya akibat ciuman paksa Siwon. Miyoung menutup mulutnya, menahan tangisan yang mungkin saja akan meledak sebentar lagi. Siwon menyandarkan tubuh di konter dapur, tersenyum puas seperti seorang bajingan. Miyoung pun segera berlari meninggalkan dapur.

 

***

 

Siwon memasuki ruang makan dengan penampilan seadaanya. Ia hanya mencuci wajahnya dengan air dingin dan persetan dengan penampilan berantakannya pagi ini. Ia tidak ingin lagi tampil penuh wibawa di hadapan Ayahnya. Keputusan Ayahnya untuk menikahi Chae Ya telah menorehkan dendam di hati Siwon. Jadi ia tidak peduli lagi dengan semua orang di rumah itu.

Saat Siwon bergabung di meja makan, tiga orang yang duduk disana hampir menyelesaikan sarapan mereka. Siwon menarik salah satu kursi di meja makan itu tanpa menoleh kepada Ayahnya sedikitpun. Ia bersikap seperti tidak ada siapa-siapa disana. Choi Ji Hoo hanya menggeleng-geleng heran.

“Siwon-ah, ucapkan salam untuk calon Ibumu dan adiknya!” seru Choi Ji Hoo tegas.

Mendengar Ayahnya mengatakan ‘adiknya’, otomatis Siwon mengangkat wajahnya. Apa? Chae Ya dan adiknya? Siwon memandang liar ke setiap orang yang ada disana. Benar, ada wajah baru yang dilihatnya. Seorang gadis berambut hitam yang duduk di samping Chae Ya. Rahang Siwon berdenyut keras. Tentu saja Siwon melupakan kejadian semalam, dimana ia mencium gadis itu dengan nafsu binatangnya. Miyoung menunduk menatap piring sarapannya, tidak berani sama sekali bertemu pandang dengan Siwon.

“Kau siapa?” tanya Siwon dingin kepada Miyoung.

“Siwon, jaga nada bicaramu!” Ayahnya memperingatkan.

Siwon menggeram.

“Dia adalah adikku, Siwon-ssi. Mulai hari ini ia tinggal disini bersamaku,” jawab Chae Ya.

Siwon kehabisan kata-kata. Chae Ya benar-benar tidak tahu malu. Dengan kehadirannya saja sudah membuat Siwon muak. Kini ditambah dengan adiknya! Ingin sekali rasanya Siwon membalikkan meja makan di depannya. Ia menatap tajam pada Miyoung sekali lagi. Entah apa yang dirasakannya, sepertinya ia pernah melihat wajah itu. Wajah yang sangat familiar di dalam benaknya. Namun ketika menyadari Miyoung adalah adik Chae Ya, Siwon bergegas membuang pandangannya. Ia tidak sudi!

Suasana sarapan pagi itupun menjadi sangat membosankan bagi Siwon. Ia tidak menghabiskan makanannya dan kembali ke kamarnya sesegera mungkin. Ia ingin ke apartemen Dongwook saja. Berada di rumah ini lebih lama lagi akan membuat kepalanya meledak. Untuk saat ini Siwon membiarkan Chae Ya merasakan kemenangannya terlebih dahulu. Lalu setelah ini, ia akan membuat wanita itu menyesal seumur hidupnya.

“Eonnie?” panggil Miyoung ketika menghampiri Chae Ya yang akan memasuki kamarnya. Chae Ya tersenyum.

“Ada apa, Miyoung-ah? Apa kau memerlukan sesuatu?”

Otomatis Miyoung menggelengkan kepala. “Ng…ani. Aku hanya ingin bertanya.”

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

Miyoung terdiam sejenak. Namun kejadian tadi malam terus saja mengganggu pikirannya. Miyoung tidak akan mengadukan Siwon, sebab ia sendiri juga bisa malu. Ia hanya ingin menanyakan beberapa hal tentang Siwon.

“Eonnie, sepertinya Siwon-ssi membenciku. Apakah…keberadaanku membuatnya terganggu?” tanya Miyoung akhirnya. Suaranya pelan sekali.

“Kenapa kau menanyakan hal itu? Miyoung-ah, dia memang selalu begitu. Lama-lama kau juga terbiasa. Siwon memang sulit menerima orang baru di rumah ini. Termasuk aku. Tetapi yang penting rumah ini adalah milik Ayahnya, calon suamiku. Jadi, kau tidak perlu khawatir, ne?”

Miyoung tidak menjawabnya. Melihat kegusaran di wajah sang adik, Chae Ya maju untuk memeluknya. Ia sangat menyayangi Miyoung dan tidak ingin adiknya itu merasa tidak nyaman. Sebentar lagi Chae Ya adalah seorang Nyonya Choi di rumah ini, jadi Miyoung tidak perlu mencemaskan seorang Siwon.

“Eonnie, bagaimana kalau aku mencari kerja? Aku tidak ingin hanya duduk saja di dalam rumah yang megah ini,” ujar Miyoung tiba-tiba. Ia memang tidak terbiasa berdiam diri sepanjang waktu karena ia adalah tipe pekerja keras.

“Kau ingin bekerja? Baiklah, akan kubicarakan dengan Tuan Choi, siapa tahu dia bersedia menempatkanmu di perusahaan,” balas Chae Ya ringan. Miyoung kembali menggelengkan kepalanya.

“Tidak perlu seperti itu, Eonnie. Aku akan mencari pekerjaan sendiri. Lagipula aku tidak terbiasa bekerja di perusahaan bonafit seperti Choi Group,” tolak Miyoung lembut. Ia tidak ingin terlalu bergantung pada Tuan Choi Ji Hoo.

“Apa kau yakin? Sebenarnya kau tidak perlu bekerja lagi, Miyoung-ah.”

Miyoung tersenyum penuh arti. “Aish, jangan memanjakanku, Eonnie. Aku tidak tahan jika menganggur saja. Kalau begitu, besok aku akan mulai mencari pekerjaan. Hehe.”

Chae Ya menghela napas. Ia mengerti dengan sifat keras kepala adiknya. Sejak dulu Miyoung tidak pernah meminta bantuan orang lain, tetapi akan menerima apa saja yang diberikan kakaknya. Benar-benar adik yang baik, batin Chae Ya bangga.

Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Ia adalah Choi Siwon. Siwon memperhatikan gerak-gerik Chae Ya dan Miyoung. Dari sana ia dapat menyimpulkan kalau Chae Ya sangat menyayangi adiknya. Siwon menyeringai misterius. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Seorang setan seperti Choi Siwon bisa dengan mudahnya mencari cara-cara licik untuk menghancurkan hidup seseorang, terutama seorang gadis.

 

***

Tanpa disuruh masuk terlebih dahulu, Siwon dengan seenaknya menerobos pintu apartemen Dongwook. Ia mempunyai kunci serta mengetahui password apartemen sahabatnya itu. Siwon langsung menuju dapur untuk mencari sebotol bir. Ia bertanya-tanya apakah Dongwook berada di tempat atau tidak.

“Hey Wookie! Apa kau disini?!” teriak Siwon sambil berjalan ke ruang tengah. Ia menyalakan televisi disana dan menselonjorkan kaki di atas sofa. Tak lama kemudian terdengar pintu kamar terbuka dan Siwon pun menoleh kesana. Siwon tergelak. Ia melihat Dongwook keluar dengan hanya mengenakan celana boxer-nya saja. Tubuhnya berkeringat dan rambutnya berantakan.

Siwon kembali melihat ke televisi. Sedangkan Dongwook menatap penuh dendam kepada Siwon.

“Aish, dasar pengganggu! Kenapa tidak memberitahuku dulu sebelum kesini?” bentak Dongwook sambil bertolak pinggang.

Lalu, selang beberapa detik muncul seorang gadis dari dalam kamar Dongwook. Siapa lagi kalau bukan Jessica. Ia memakai celana pendek serta kemeja Dongwook yang nyaris menelan tiga perempat tubuhnya. Ekspresi wajahnya tidak kalah dongkol dari Dongwook.

“Aku tahu. Kalian pasti sedang dalam ronde terakhir. Yah! Tidak tahukah kalian kalau aku sedang kalut! Jadi berhenti dulu bercinta dan temani aku minum!” seru Siwon marah.

Jessica dan Dongwook saling pandang. Kemudian mereka berdecak sebal. Jessica duduk di sofa lain sementara Dongwook mengambilkan dua botol bir untuk dirinya dan coke untuk sang kekasih. Jessica menyalakan api rokoknya dan menatap Siwon dalam. Gadis cantik itu melipat kaki rampingnya sebelum melontarkan pertanyaan kepada Siwon.

“Sekarang apa lagi? Minggu depan adalah hari pernikahan Chae Ya dan Ayahmu. Jadi, kenapa kau masih kalut? Biarkah saja mereka berbahagia.”

Siwon menguliti Jessica dengan pandangannya. “Kau menyuruhku bahagia? Hei Jung, kau ingin mati muda ya?” desis Siwon. ia tahu tadi Jessica mencemoohnya.

“Jangan coba-coba membunuh kekasihku kalau kau masih sayang dengan nyawamu!” tukas Dongwook yang baru saja bergabung dengan mereka. Ia menaruh sekaleng coke untuk Jessica dan ia sendiri memegang botol bir di tangannya.

“Baby, jangan biarkan Siwon menyakitiku,” rengek Jessica manja. Dongwook mengecup bibirnya mesra.

“Aku tidak akan membiarkanmu disentuh oleh siapapun, Princess.”

Ingin rasanya Siwon menendang mereka berdua karena sengaja bermesraan di hadapannya saat ini. Namun Siwon lebih memilih untuk menatap televisi. Dongwook menyenggol kaki Siwon. ia tahu kalau Siwon sedang membutuhkan teman bicara. Tadi ia hanya bermaksud menggoda Siwon sebagai bentuk balas dendam karena telah membuat sesi bercintanya dengan Jessica ‘tergantung’.

“Hei, ada apa lagi sekarang? Apa pernikahannya dipercepat oleh sebab itu kau kalut?” tanya Dongwook serius.

Siwon menggeleng lemah. Ia meneguk birnya untuk kesekian kali.

“Tidak. Bukan begitu. Kali ini ada masalah baru,” ucap Siwon lalu mendesah.

“Masalah baru?” Jessica mengangkat kedua alisnya. “Apa lagi memangnya?”

Siwon melirik Dongwook dan Jessica bergantian. “Hwang Chae Ya membawa serta adiknya yang datang dari kampung untuk tinggal bersama kami. Ck, dia bertindak seolah-olah dia yang memiliki rumah itu!”

“Jinjja?” seru Jessica. “Wah, Chae Ya sudah keterlaluan! Adiknya laki-laki atau perempuan?”

“Perempuan.”

“Lalu, apakah ia juga genit seperti kakaknya?” Dongwook bertanya.

Siwon mengangkat bahu. “Mana aku tahu. Aku baru bertemu dengannya pagi ini. Tetapi aneh sekali. sepertinya aku pernah melihat wajah gadis itu, tetapi aku tidak ingat dimana?”

Dongwook dan Jessica kembali saling pandang.

“Apakah cantik?” tanya Jessica. Ada seringai jahil di wajah tirusnya. Siwon menatap Jessica sambil mengerjap ragu.

“Mwo?” tanya Siwon.

“Apakah adiknya Chae Ya itu cantik?” Jessica memperjelas pertanyaannya. Siwon berdehem.

“Ng…aku tidak tahu!” jawabnya ketus lalu meneguk birnya lagi. Dongwook menyeringai.

“Jangan bilang kau kalut karena kehadiran gadis cantik di rumahmu. Hahaha!”

Hati Siwon mencelos. Ia menatap Dongwook tajam seakan-akan ingin melipat tubuh sahabatnya itu menjadi empat bagian. Jessica ikut tertawa di samping Dongwook. Siwon mendengus jijik. Mana mungkin ia kalut hanya karena kehadiran Miyoung?!

“Jangan mengada-ada, Wookie! Aku kalut karena rumahku kini seperti penampungan orang kampung! Gadis itu sangat tidak modis dan…dan tidak seksi. Tidak ada yang menarik darinya. Kalau bisa aku menendangnya keluar rumah sekarang juga tanpa sepengetahuan Ayahku, aku akan melakukannya!”

“Baiklah, aku percaya padamu. Jadi, kau sepertinya membenci Nona kecil Hwang itu?” Dongwook bertanya lagi.

“Tentu saja. Aku membencinya dari pertama melihatnya!” tegas Siwon.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan keluar dari rumah itu?” Ada nada menantang dari suara Jessica.

“Apa kau gila? Tentu saja bukan aku yang harus keluar, melainkan kedua perempuan kampung itu! Aku akan melakukan segala macam cara untuk mengusir mereka. Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat,” ujar Siwon sinis.

“Hei, Choi Siwon. Memangnya apa rencanamu?” tanya Dongwook waspada. Ia sangat mengenal Siwon. Jika Siwon mempunyai niat yang tidak baik untuk korbannya, Dongwook dapat memastikan kalau korbannya tersebut bisa menderita seumur hidup.

Pernah dulu saat Siwon berkencan dengan seorang gadis saat mereka masih duduk di bangku universitas, pemuda yang ternyata kekasih gadis yang menjadi teman kencannya tersebut mengetahui hubungan gelap mereka. Pemuda itu menantang Siwon sekaligus memperingatkan agar menjauhi gadisnya. Siwon paling tidak senang jika ada seseorang yang menantangnya. Maka ia melakukan hal yang benar-benar kejam kepada pemuda tersebut. Siwon mengikat tubuh pemuda itu dan menyeretnya dengan mobil, mengelilingi lapangan baseball sampai pemuda tersebut cacat seumur hidup karena mengalami patah tulang yang serius di sekujur tubuhnya. Dan nasib gadis itu sama menderitanya dengan si pemuda. Siwon membayar beberapa orang berandalan untuk memperkosanya.

“Siwon-ah, apa yang kau rencanakan?” tanya Dongwook lagi. Kali ini dengan nada yang lebih serius.

Siwon menyeringai jahat. Ia tidak akan mengeluarkan rencana biadab di kepalanya saat ini. Ia tidak ingin siapapun mengetahuinya karena ia ingin semuanya berjalan lancar.

“Kalian lihat saja nanti.”

 

***

 

Siwon pulang ke rumah tetapi tidak menemukan siapapun selain para maid dan penjaga rumahnya. Ia bertanya-tanya kemana perginya sang Ayah. Tidak mungkin Ayahnya keluar negeri disaat akhir pekan begini. Atau, apakah Ayahnya sibuk mengurusi pernikahan konyol itu? Cih.

“Dimana Ayahku?” tanya Siwon pada Pelayan Shim.

“Tuan Choi berangkat menuju bandara satu jam yang lalu, Tuan Muda. Tuan Choi akan mengurus sesuatu di Thailand selama dua hari sebelum hari pernikahannya,” jawab Pelayan Shim.

Siwon mendengus. Baguslah kalau Ayahnya sendiri yang berangkat ke Thailand. Sebab Siwon sedang malas berpergian kemana-mana untuk urusan bisnis. Ia lebih nyaman kembali ke kantor besok pagi. Lalu, disaat Siwon ingin bertanya satu hal lagi, ia melihat Miyoung melintas di dapur, tidak tahu sedang mengerjakan apa. Siwon memperhatikannya selama beberapa detik, lalu kembali menghadap Pelayan Shim yang masih setia berdiri di depannya.

“Apa wanita itu juga ikut dengan Ayahku?” tanya Siwon dingin.

“Jika maksud Anda Nona Hwang Chae Ya, ya. Ia juga ikut dengan Tuan Choi,” ucap Pelayan Shim.

Siwon mengangguk. “Lalu, apa yang dilakukan gadis itu di dapur?” Siwon menunjuk ke arah dapur. Pelayan Shim mengikuti arah telunjuk Siwon kemudian tersenyum tipis.

“Nona Hwang Miyoung bersikeras untuk memasak makan malam. Ia menolak bantuan Juru masak Seo, Tuan Muda.”

Siwon mengernyit. Dasar gadis kampungan! Pasti ingin mencari perhatian di rumah ini, pikir Siwon. Pria itu kemudian berdecak lalu menaiki tangga menuju kamarnya, sambil mengabaikan suara tawa renyah yang terdengar di telinganya. Suara tawa Hwang Miyoung.

 

 

Akhirnya Miyoung telah berhasil membuat makan malam. Sebenarnya Miyoung telah terbiasa memasak saat tinggal sendirian di kampungnya. Juru masak yang bekerja di rumah Tuan Choi, Seo Rin, memuji masakan yang dibuat gadis itu. Selain cantik, ternyata Miyoung pandai memasak. Tutur katanya sopan serta pakaiannya juga tertutup. Menurut Pelayan Shim dan Juru masak Seo, Miyoung adalah gadis idaman. Bukan idaman Tuan Muda mereka, tentunya.

“In Ju-ssi, tolong panggilkan Tuan Muda. Sudah saatnya makan malam,” seraya Pelayan Shim kepada maid yang bernama In Ju. In Ju membungkuk hormat kepada kepala pelayan itu kemudian menaiki tangga untuk ke kamar Siwon. Miyoung menggigit bibir bawahnya. Ia khawatir Siwon tidak ingin mencicipi masakannya.

“Engh…Nyonya Seo, apakah Siwon-ssi akan menyicipi masakanku?” tanya Miyoung ragu. Juru masak Seo tersenyum menenangkan.

“Tuan Muda pasti menyukainya,” ucapnya yakin.

Sementara itu Siwon telah keluar dari kamarnya dan mengikuti In Ju menuju ruang makan. Mata elangnya mengawasi Miyoung dari jauh. Gadis itu takut-takut berada di dekat Siwon. Meskipun ia baru mengenal Siwon, tetapi hatinya berkata kalau pria itu tidak menyukai keberadaannya.

Lantas, apakah Siwon mengingat apa yang telah dilakukannya malam itu? Malam dimana ia menciumi Miyoung secara tidak hormat. Miyoung tidak ingin mengingat-ingat kejadian itu lagi. Ia merasa dilecehkan. Namun apa yang bisa diperbuatnya? Ia hanya menumpang di rumah ini, walaupun sebentar lagi kakaknya akan menjadi tuan rumah.

Siwon duduk di salah satu kursi di meja makan dan memandangi satu persatu makanan yang dihidangkan di hadapannya. Sedangkan Miyoung masih bersembunyi di dapur. Ia memilih untuk makan di dapur saja bersama maid lain.

“In Ju-ssi?” tanya Miyoung sembari merapikan piring-piring serta alat dapur yang kotor setelah memasak.

“Nde?”

“Aku ingin mencari pekerjaan. Apa kau pernah melihat lowongan pekerjaan di dekat sini?” tanya Miyoung. In Ju tampak berpikir.

“Lowongan pekerjaan, ya? Hmm, coba kuingat-ingat dulu.”

Miyoung bersyukur mempunyai teman sebaya seperti In Ju. In Ju merupakan maid junior di rumah itu. Ia baru 1 tahun bekerja disana dan In Ju merasa nyaman sebab semua maid baik kepadanya. Hanya saja In Ju tidak nyaman jika ada Siwon. Sebenarnya bukan In Ju saja yang merasa demikian, tetapi semua maid dan penjaga rumah.

“Ah, Miyoung-ssi. Aku rasa aku pernah melihat lowongan pekerjaan di toko bunga yang berada di luar komplek ini. Toko itu dimiliki oleh seorang warga Thailand yang baik hati. Coba saja kau tanyakan kesana!”

Miyoung tersenyum lebar. “Benarkah? Nde, besok aku akan melihatnya. Kamsahamnida, In Ju-ssi.”

PRANG!!!

Senyuman tadi yang hadir di wajah Miyoung dan In Ju seketika menghilang. Mereka terlonjak kaget mendengar suara keras yang berasal dari ruang makan. In Ju bergegas menyerbu kesana bersama dengan maid lainnya. Perasaan Miyoung tidak nyaman. Ia pun berjalan perlahan menuju pintu dapur, ikut penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Tepat ketika Miyoung berdiri di pintu dapur, ia mendengar Siwon berteriak murka.

“MAKANAN APA INI?! SHIT!”

Miyoung menelan ludah. Ia melihat semua maid  berkumpul di dekat meja makan. Menundukkan kepala. Sedangkan Siwon berdiri tegap di dekat kursinya, wajahnya merah padam dan matanya pun begitu. Tampaknya ia benar-benar marah. Miyoung tidak mampu bergerak. Apa yang ditakutkannya terjadi. Siwon tidak menyukai masakannya.

“SIAPA YANG MEMASAK MAKANAN SAMPAH INI? JURU MASAK SEO, PEKERJAANMU TIDAK BECUS SAMA SEKALI! DASAR BODOH!”

Miyoung mencengkram tepi bajunya. Juru masak Seo tidak bersalah. Tetapi wanita itu menerima saja cacian yang dilontarkan oleh Siwon. Miyoung memberanikan diri untuk menghampiri mereka. Keberadaannya mengundang perhatian Siwon. Pria itu menyeringai melihat kedatangan Miyoung. Ini yang ditunggu-tunggunya.

“M…maafkan-a..aku, S-Siwon-ssi. A..aku yang m-memasaknya. Ny. Seo tid-dak bersalah,” ucapan Miyoung terbata-bata.

Siwon mendengus jijik. Kakinya melangkah mendekati Miyoung dengan derap yang berbahaya. Miyoung gemetar di tempatnya berdiri. Ia meremas jari-jari tangannya sendiri sementara Siwon mendekatinya. Tubuh Siwon dua kali lebih besar dari Miyoung. Saat ia berdiri di depan gadis mungil itu, terang saja tingginya mendominasi. Miyoung menundukkan kepala, tidak berani bertatap mata dengan pria itu.

“Jadi, kau yang memasak semua itu?” tanya Siwon dengan suara berat dan mencemooh. Miyoung mengangguk ragu-ragu.

“Kau tahu, rasanya sangat menjijikkan. Aku membayangkan itu adalah makanan untuk tikus desa jika kau yang membuatnya. Apa kau tidak mempunyai pekerjaan lain selain memasak makan malam untukku? Kau pikir aku terbiasa dengan masakan orang lain? Terlebih lagi tangan seorang gadis desa yang membuatnya. Cih, selera makanku langsung lenyap.”

Miyoung memejamkan mata. Ya Tuhan, apa pria dihadapanku ini manusia atau iblis? Kata-katanya sangat menyakiti hatiku, batin Miyoung. Airmatanya mendesak keluar, sedangkan matanya menolak untuk dibuka. Hati Miyoung benar-benar perih mendengar hinaan itu. Ia tidak yakin apakah Siwon sadar akan hal itu. Yang jelas, Siwon secara sadar menghinanya.

“Buang semua masakan itu! Aku ingin makan malam di luar saja. Dasar kalian semuanya bodoh!” teriak Siwon kemudian beranjak dari sana dengan seringaian puas di wajahnya.

Sampai kapanpun ia tidak akan mengakui kalau makanan yang dihinanya tadi adalah makanan terenak yang pernah dicicipinya seumur hidup.

 

***

 

Miyoung menangis tersedu-sedu di tepi jendela kamarnya. Ia tidak menyangka akan mendapat hinaan seperti itu dari Siwon. Apa pria itu selalu menghina orang lain dengan kata-kata kasar? Sangat disayangkan karena ia dan Ayahnya adalah orang terpandang di Korea Selatan ini. Miyoung sadar kalau ia adalah orang desa, tetapi Siwon tidak berhak menghinanya dan apa yang diperbuatnya.

Pintu kamar Miyoung diketuk dari luar dan terdengar panggilan pelan dari In Ju. Miyoung mempersilakannya masuk. Lagipula Miyoung membutuhkan seseorang untuk mendengar keluh kesahnya saat ini. peristiwa di ruang makan tadi benar-benar membuat Miyoung seperti orang bodoh dan tidak berguna.

In Ju memeluk Miyoung, mengusap-usap pelan punggungnya. Miyoung menangis di bahu In Ju. Ia membutuhkan kakaknya saat ini. Tetapi hanya ada In Ju yang menemaninya. In Ju tidak tega melihat Miyoung menangis seperti itu. Walau bagaimanapun, Siwon seharusnya tidak menghina kerja keras Miyoung. Dan lagipula, hanya Siwon yang mengatakan kalau masakan Miyoung tidak enak.

“Seharusnya tadi aku tidak memasak, In Ju-ssi. Aku tidak tahu kalau Siwon-ssi akan bersikap begitu,” ujar Miyoung sembari menghapus airmatanya.

“Ssshh, sudahlah. Jangan menangis lagi. Miyoung-ssi, jika kau akan tinggal disini untuk waktu yang lama, kau harus terbiasa dengan sikapnya. Tuan Muda memang kasar dan tidak mempunyai perasaan. Ia hanya bersikap lumayan baik jika Tuan Choi Ji Hoo di rumah,” jelas In Ju.

Miyoung mengangguk paham. Ia tinggal di rumah Siwon, jadi ia yang harus mengalah.

“Tenang saja, masakan yang kau buat tadi sangat lezat, Miyoung-ssi. Dalam 5 menit masakanmu telah habis oleh kami. Hehe,” lanjut In Ju. Miyoung tertawa haru.

“Jinjjayo? Gomawo. Aku kira masakanku benar-benar tidak enak,” ujar Miyoung.

“Lidah Choi Siwon saja yang bermasalah. Atau ia ingin membuat masalah denganmu.”

Miyoung membenarkan dalam hati. Mungkin benar, Siwon ingin membuat masalah dengan dirinya. Itu karena Siwon membencinya. Huft, Miyoung pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya. ia hanya berharap Chae Ya dan Tuan Choi segera kembali ke rumah dan melindunginya dari Siwon.

 

***

 

Pagi ini, disaat kebanyakan orang masih nyenyak dalam tidurnya, Miyoung sudah bersiap-siap untuk keluar rumah. Ia menyapa semua penghuni rumah—kecuali Siwon, tentunya—kemudian siap berjalan kaki keluar komplek. In Ju telah memberinya denah sederhana menuju toko bunga yang dimaksudnya tadi malam.

Miyoung menolak diantarkan oleh supir pribadi Tuan Choi. Ia beralasan sudah terbiasa berjalan kaki. Lagipula berjalan kaki di pagi hari sangat baik untuk kesehatan. Miyoung berharap segera mendapatkan pekerjaan yang cocok baginya agar ia mempunyai kesibukan di luar rumah.

Siwon tidak akan membuatnya tenang di dalam rumah itu. Miyoung sadar kalau ia tidak bisa berbuat apa-apa, sekalipun Chae Ya nantinya akan menjadi Ny. Choi. Miyoung tidak mengerti mengapa kakaknya tidak pernah menceritakan tentang calon suami serta anak tunggalnya. Jika dilihat dari sikap Siwon, sepertinya Siwon juga membenci Chae Ya. Lalu, kenapa Chae Ya mau bertahan di rumah itu? Ah, mungkin karena ia mencintai Tuan Choi Ji Hoo, pikir Miyoung.

Miyoung termenung sambil terus melangkah di tepi jalan tersebut. Jika nanti kakaknya telah menikah, mungkin saja dirinya akan sedikit terabaikan. Miyoung menghembuskan napas berat. Meskipun begitu ia yakin kakaknya akan tetap mencintai dan melindunginya.

Miyoung menendang kerikil yang menghalangi jalannya. “Mungkin aku harus kembali ke Jeonju saja jika tidak mendapatkan pekerjaan disini. Huft, hidup memang keras sekali.”

Ternyata toko bunga yang dimaksud In Ju terletak tak jauh dari gerbang komplek. Miyoung tersenyum tatkala melihat seorang gadis yang sepertinya lebih muda darinya keluar dari toko itu lalu menggantungkan papan kecil yang bertulisan ‘open’ di depan pintu. Semoga saja ia tepat waktu. Dengan langkah penuh semangat, Miyoung mendekati toko yang diberi nama “Khun Flowers” tersebut.

“Tolong berkati aku Tuhan,” gumam Miyoung kemudian mendorong pintu hingga terbuka.

Trriiiiing

Terdengar bunyi bel saat pintu toko itu terbuka, menandakan ada pelanggan yang masuk. Miyoung tersenyum gugup kepada gadis yang tadi menggantungkan papan ‘open’. Gadis berambut coklat terang itu membalas senyuman Miyoung dengan cengiran lebar, memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang rapi.

“Selamat datang, Nona! Ada yang bisa kubantu?” tegur gadis itu ramah.

Miyoung menganggukkan kepala dengan sopan. “Annyeonghasaeyo. Perkenalkan, namaku Hwang Miyoung. Aku bermaksud untuk melamar pekerjaan disini. Aku dengar, toko ini membutuhkan karyawan.”

Mata gadis itu langsung membulat dengan ekspresi senang. Ia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Miyoung.

“Annyeong! Namaku Park Luna. Panggil saja aku Luna. Kami memang sedang mencari satu orang lagi karyawan. Tapi aku bukan pemilik toko ini. Bagaimana kalau Eonnie menunggu dulu sebentar?”

Miyoung mengangguk. “Baiklah. Mmm, bolehkah aku menunggu disini?” tanya Miyoung seraya menunjuk kursi yang disediakan disana.

“Tentu saja, Eonnie!”

Miyoung duduk di kursi tersebut kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Toko itu tidak terlalu besar. Selain menjual bunga-bunga hias seperti lily, aster, mawar, anggrek, tulip dan lain-lain, toko itu juga menjual tanaman-tanaman hias yang Miyoung tebak harganya pasti mahal. Ia tidak begitu ahli dalam bidang tersebut, tetapi beruntung saat di desa ia senang merawat taman bunga kecilnya di depan rumah.

“Sebenarnya masih ada satu karyawan lagi. Dia memang sering terlambat. Namanya Gil. Eonnie pasti bingung saat melihatnya nanti,” ujar Luna sedikit tergelak. Miyoung tertawa kecil.

“Memangnya kenapa?” tanya Miyoung kepada gadis yang kini sibuk menyirami bunga.

“Karena aku sendiri masih bingung, apakah Gil itu perempuan atau laki-laki. Hahaha!”

Miyoung tertawa. Sekarang ia mengerti maksud Luna. Ia mendapati kalau gadis yang baru dikenalnya itu sangat menyenangkan dan ramah. Miyoung memutuskan untuk menghampiri Luna dan bermaksud membantunya menyirami bunga. Ia tidak suka duduk berdiam diri seperti seorang tamu penting.

“Bolehkah aku membantumu?” Miyoung menawarkan.

“Tidak, Eonnie duduk saja. Eonnie kan belum sah menjadi karyawan toko ini. Jadi, biarkan saja aku melakukannya sendiri,” tolak Luna ramah. Kemudian ia menyeringai jahil kepada Miyoung. “Lagipula, jika bos melihatnya, pasti ia akan memarahiku. Tapi, bos selalu tampan meskipun ia sedang marah. Hihihi.”

Miyoung melihat pipi Luna yang bersemu merah. “Wajahmu memerah, Luna-ssi.”

“Jinjja?” Luna menaruh penyiram bunganya lalu mengusap kedua pipinya yang merona. “Ah, memalukan sekali.”

Miyoung hanya menggelengkan kepalanya. Semangatnya semakin kuat untuk bekerja di toko ini. Bukan karena ketampanan bos yang dikatakan Luna, tetapi suasananya yang membuat dirinya nyaman. Semoga saja ‘bos tampan’ yang dimaksud Luna juga orang yang baik hati.

“Apa yang memalukan?”

Sontak kedua gadis itu terlonjak kaget ketika mendengar suara bel lalu dilanjutkan oleh suara berat seorang laki-laki. Miyoung mengerjap kagum. Siapapun laki-laki yang kini berdiri di hadapannya, Miyoung akui, kalau ia adalah laki-laki paling imut yang pernah dilihatnya. Untuk beberapa detik Miyoung dan laki-laki beralis tebal itu saling pandang. Sama halnya dengan Miyoung, laki-laki bertubuh tinggi tegap serta potongan rambut pendek itu juga terpana melihat gadis asing di dalam tokonya.

Luna bergeser ke depan, mendekati laki-laki itu. “Uhmm, Bos. Selamat pagi.”

Miyoung menaikkan kedua alisnya kepada Luna.

“Selamat pagi Luna,” balas laki-laki tersebut. “Siapa gadis itu?” kali ini ia berbisik.

“Ehm, dia adalah Hwang Miyoung. Dia bermaksud ingin melamar pekerjaan disini.”

Kemudian laki-laki itu tersenyum. “Jengmalyo?”

Menyadari kondisi mereka yang sedikit canggung, Miyoung segera mendekati Luna dan Bos tampannya. Miyoung berharap penampilannya saat ini cukup sempurna agar laki-laki itu bersedia menerimanya bekerja disini. Miyoung membungkuk hormat kepadanya.

“Annyeonghasaeyo, Tuan. Aku Hwang Miyoung. Aku dengar toko ini membutuhkan karyawan baru. Jadi, aku ingin mengajukan lamaran dan memenuhi persyaratan yang dibutuhkan,” salam Miyoung sopan.

Laki-laki itu, Nichkun Horvejkul, seorang pemuda asal Thailand sekaligus pemilik toko bunga “Khun Flowers” terkesima saat itu juga. Sebenarnya ia sudah terkesima saat pertama kali beradu pandang dengan Miyoung. Terlebih lagi setelah mendengar suara lembut dan sedikit serak itu. Khun merasakan degupan liar di dadanya, membuat ia tersenyum seperti orang konyol di depan Miyoung.

Terang saja reaksi Nichkhun mengundang keheranan Luna dan tak terkecuali Miyoung. Khun mengulurkan tangannya dan tersenyum penuh percaya diri.

“Panggil saja aku Nichkhun, agar kita lebih akrab. Dan tentu saja, kau diterima di toko ini, Miyoung-ssi. Welcome!”

 

***

 

“Jadi, apa semuanya sudah kau siapkan?”

“Tentu saja sudah, Tuan Choi Siwon. Anda hanya tinggal menikmati tanpa kekurangan apapun.”

Siwon tersenyum miring. Ada kilatan licik di kedua matanya. Sebentar lagi rencananya akan terealisasi tanpa diketahui siapapun, termasuk Ayahnya. Ia memutuskan sambungan telepon dan kembali menghadap laptopnya.

Sekali lagi Siwon tersenyum. Ia sudah tidak sabar untuk melaksanakan rencana yang telah tersusun rapi di otaknya. Ia yakin dengan cara ini ia akan menghancurkan kehidupan orang-orang yang dibencinya. Tetapi Siwon mengingatkan dirinya sendiri agar menunggu waktu yang benar-benar tepat, yaitu setelah pernikahan Ayahnya dengan wanita desa itu.

Dan hari bahagia Ayahnya tersebut adalah esok hari. Disaat semua orang sibuk di rumahnya untuk resepsi pernikahan besok, Siwon malah menyibukkan diri di kantor. Ia bahkan bersedia untuk tidak menghadiri pernikahan sang Ayah jika Ayahnya itu tidak akan murka.

Tok tok tok

Terdengar ketukan di pintu ruangan kerjanya. Siwon berseru, “Masuk!”

Pintu itu terbuka dan muncullah seorang gadis yang merupakan sekretarisnya. Ia membawa beberapa helai gaun serta pakaian wanita lainnya. Siwon mengisyaratkan kepada sekretarisnya untuk menaruh pakaian-pakaian itu di atas sofa. Siwon tersenyum puas. Ia membayangkan betapa manisnya gadis yang ada di dalam benaknya saat ini mengenakan pakaian-pakaian seksi yang terletak di atas sofa itu.

“Hwang Miyoung, sebentar lagi kau akan berada dalam genggamanku.”

 

 

Siwon menyetir pulang setelah pukul 10 malam. Tidak seperti biasanya, kali ini Siwon langsung pulang ke rumahnya. Selain lelah karena pekerjaannya hari ini lebih banyak, besok ia harus bangun pagi untuk menghadiri pernikahan sialan itu. Siwon sampai di rumah dalam keadaan setengah mengantuk dan masih saja melihat keramaian di ruang tengahnya. Entah mengapa Ayahnya ingin membuat pesta pernikahan di rumah mereka, membuat Siwon terganggu. Kenapa Ayahnya tidak menyewa satu hotel saja. Lagipula istri barunya itu pasti ingin sekali menikah dengan cara yang mewah.

Siwon mendengus jijik melihat ruang tamu rumahnya disulap seperti sebuah kastil kerajaan yang akan mengadakan pesta dansa. Ia menendang apapun—balon, karangan bunga, dll—yang menghalangi jalannya. Sambil terus-menerus mengumpat, Siwon akhirnya sampai di tangga menuju kamarnya. Di ruang tamu rumahnya setidaknya ada lebih dari 15 orang yang masih tinggal untuk menyelesaikan dekorasi pesta esok hari.

Dan diantara para pekerja itu, Siwon melihat Miyoung. Langkahnya otomatis terhenti di tengah tangga pualam rumahnya itu dan mengawasi apa yang dikerjakan Miyoung. Gadis itu ikut membantu para maid untuk mengantarkan minuman serta makanan ringan untuk semua orang. Sesekali ia ikut membetulkan letak karangan-karangan bunga yang disusun tidak pas.

Siwon tidak bisa mengingkari hatinya yang memuji keanggunan gadis itu. Kecantikan yang dimiliki Miyoung tidak seperti kebanyakan wanita yang pernah bergaul dengannya. Miyoung mempunyai aura kebaikan yang terpancar dari dalam dirinya. Siwon buru-buru mengalihkan pandangan. Apa yang telah dipikirkannya? Apa baru saja ia memuji gadis desa itu? Cih!

Di tempatnya berdiri, Miyoung sadar kalau Siwon memperhatikannya sebelum kembali naik ke lantai dua. Miyoung terus mengawasi Siwon. Pria itu membanting pintu kamarnya dan Miyoung berdecak sambil menggelengkan kepala. Akhir-akhir ini ia jarang bertemu dengan Siwon karena kesibukan pria itu di kantor dan kesibukannya sendiri di toko bunga.

Miyoung menghela napas. Semoga setelah pernikahan Tuan Choi dan kakaknya, Siwon berangsur-angsur menerimanya di dalam keluarga ini.

 

***

 

Pernikahan Tuan Choi dan Hwang Chae Ya berjalan lancar. Chae Ya sangat lega karena akhirnya ia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Selain berada dekat dengan pria pujaannya, Chae Ya juga mendapatkan kekayaan Choi Ji Hoo. Ji Ho tidak terlalu tua untuk menjadi suaminya, Chae Ya pun tidak terlalu mempedulikan hal itu. Ia kini menjadi seorang wanita yang merelakan apa saja demi mencapai keinginannya.

Siwon terpaksa memeluk Ayahnya untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Para tamu telah berbaur satu sama lain di ruang tamu rumah yang telah disulap menjadi seperti aula. Di sisi Ayahnya, Siwon dapat melihat Chae Ya berdiri, menunggu pelukan yang akan didapatkannya dari Siwon. Siwon merasa kebenciannya kepada wanita itu semakin menjadi-jadi.

“Chukkae, Abeoji.”

“Gomawo, Siwon-ah.”

“Aku harap Abeoji dan…dan Nonya baru Choi berbahagia.”

Tuan Choi tertawa senang dan menepuk-nepuk pundak Siwon. “Kami pasti akan berbahagia, Anakku. Hahaha!”

Siwon tidak ikut tertawa. Kini ia beralih memandang ibu barunya. Cih, Siwon sungguh muak harus hadir di tempat itu. Chae Ya merentangkan tangannya dan Siwon terpaksa memeluk wanita itu. Pelukan pertamanya dengan wanita yang sangat dibencinya. Chae Ya mendekap tubuh Siwon dengan erat.

“Akhirnya aku akan selalu mengawasimu, Siwon-ah. Kau pasti tidak tahu betapa bahagianya aku kini,” bisik Chae Ya di telinga Siwon. Siwon melirik Ayahnya yang hanya tersenyum kepada mereka, jelas-jelas tidak mendengar apa yang dibicarakan wanita itu.

“Lepaskan aku, wanita ular. Aku sebenarnya tidak sudi menyentuhmu, jadi jangan percaya diri terlebih dahulu.”

Siwon segera melepaskan pelukan mereka dan beranjak dari sana tanpa menoleh lagi pada Ayahnya. Lebih baik ia bergabung dengan tamu lainnya di ruang tamu dan minum beberapa gelas wine. Diantara para tamu, Siwon bisa melihat pasangan Leeteuk-Taeyeon dan Dongwook-Jessica. Siwon segera menghampiri sahabat-sahabatnya itu.

“Hai, Siwon-ah! Selamat, kau mempunyai Ibu baru yang sangat cantik! Apa ia bersedia menina bobokan mu setiap malam?” goda Dongwook. Siwon hampir saja meninju wajahnya jika Leeteuk tidak menahan tubuh Siwon.

“Tutup mulutmu, Lee!” desis Taeyeon. “Sudahlah, Siwon. Kau tidak perlu terpancing emosi hanya karena mulut usil Dongwook.”

Siwon menyambar segelas wine dari atas nampan yang dibawa maid dan meneguknya sampai habis. Pelukannya dengan Chae Ya tadi masih menyisakan kemarahan yang menyelubungi tubuhnya. Ia memandangi sekitar. Rata-rata disana terlihat wajah yang menunjukkan keceriaan. Siwon mendengus. Mungkin hanya dirinya yang bermuka masam.

“Siwon-ah, apa dia gadis yang kau maksud? Gadis desa yang memenuhi pikiranmu akhir-akhir ini,” Jessica mengarahkan jari telunjuknya ke suatu titik di ruangan itu. Siwon dan ketiga sahabatnya yang lain ikut menoleh.

Siwon menatap gadis luar biasa cantik yang kini berdiri di dekat Chae Ya. Siapa lagi kalau bukan Hwang Miyoung. Gadis itu memakai gaun indah sepanjang di bawah lutut dengan satu tali yang menggantung di pundaknya. Kulit Miyoung sangat putih dan bercahaya. Permukaannya pasti sangat lembut. Ditambah lagi rambut hitamnya yang ikal dan ada sedikit rambut yang dibiarkannya jauh ke pundak. Saggulnya tertata rapi serta riasan wajah yang tidak terlalu tebal.

Apa-apaan gadis itu? Siwon mengumpat dalam hati. Bukankah saat pernikahan tadi Miyoung mengenakan gaun yang tertutup? Kenapa saat resepsi ini ia berubah menjadi seperti bidadari? Siwon menggeram ketika menyadari dirinya bergairah untuk gadis desa itu.

“Siwon-ah, adiknya tiga kali lebih cantik dari Chae Ya. Apa kau sanggup mengabaikan gadis secantik itu di rumahmu? Kau benar-benar telah kehilangan pamor, Bro!” Dongwook berkata.

“Diamlah, Baby. Kau ingin Siwon mengamuk disini?” desis Jessica kesal. Dongwook buru-buru menutup mulutnya.

Siwon masih memandangi Miyoung saat seorang pria menarik perhatiannya. Siwon menyipitkan mata melihat ke arah pintu masuk. Sepertinya ia mengenal siapa pria yang baru memasuki ruang tamu rumahnya itu. Nichkun si pemilik toko bunga yang ada di depan komplek? Siwon mengenalnya karena ia sering membeli bunga untuk teman kencannya disana.

“Tunggu sebentar!” ucap Siwon kepada keempat sahabatnya yang kini sedang menyicipi kue-kue yang disediakan.

Siwon mengarahkan langkahnya ke tempat Nichkhun berdiri. Pria tampan itu sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan ada dua orang lagi di belakangnya. Siwon juga mengenal kedua orang itu, yakni Luna dan Gil, karyawannya. Tapi siapa yang mengundang ketiga orang itu ke pesta ini?

“Hai!” tegur Siwon. Nada suaranya tidak ramah sedikitpun. Nichkhun menoleh padanya dan tersenyum lebar.

“Hai, Siwon-ssi! Selamat atas pernikahan Ayahmu dan Nona Hwang Chae Ya!” ucap Nichkhun seraya menjabat tangan Siwon. Siwon hanya tersenyum kecil.

“Kamsahamnida,” ucap Siwon. Ia melirik kedua karyawan Nichkhun dengan ekspresi meremehkan kemudian beralih pada pria itu lagi. “Hmm, apakah Chae Ya yang mengundang kalian? Atau…Ayahku?”

Ekspresi Nichkhun langsung berubah segan. “Eoh, bukan. Miyoung-ssi yang mengundang kami.”

Kening Siwon mengernyit. Miyoung? Hwang Miyoung?

“Maksudmu, Hwang Miyoung?” Siwon meyakinkan. Nichkhun mengangguk, diikuti oleh kedua karyawannya. Melihat itu Siwon mendadak resah. Demi Tuhan, bagaimana Miyoung bisa mengenal Nichkhun Horvejkul?

“Kalian mengenal Miyoung?” Siwon terdengar tidak sabar.

“Tentu saja. Miyoung adalah karyawan di toko bunga milikku, Siwon-ssi. Apa kau tidak tahu kalau ia bekerja denganku?”

Siwon terperangah kaget. Ia tidak tahu kalau Miyoung bekerja. Ia juga tidak tahu kalau Miyoung bekerja dengan Nichkhun, pria baik-baik serta ramah. Dan point terpenting adalah pria Thailand itu luar biasa tampan, walaupun ia tidak sekaya Siwon. Menyadari kelebihan-kelebihan Nichkhun membuat Siwon khawatir. Dilihat dari senyuman sumringah Nichkhun saat memasuki ruangan tadi, Siwon mencurigai kalau pria itu tertarik pada adik Ibu tirnya.

“Aku tidak ta—“

“Nichkhun-ssi, Luna-ssi, Gil-ssi!”

Siwon menutup mulutnya rapat-rapat setelah mendengar suara ceria Miyoung di belakangnya. Ia membalikkan badan dan melihat Miyoung menghampiri ketiga tamunya. Siwon tidak bergeming di tempat. Ia ingin melihat, seberapa akrab Miyoung dan Nichkhun.

“Terima kasih telah datang. Mari, aku ingin memperkenalkan kalian pada kakakku!” ajak Miyoung. Siwon menggeram. Gadis itu berbicara seolah-olah tidak melihat keberadaannya disana.

“Baiklah.”

Nichkhun, Luna dan Gil mengangguk sopan kepada Siwon dan mengikuti Miyoung menuju pasangan pengantin. Siwon termagu di tempatnya sambil terus mengawasi Miyoung. Gadis itu benar-benar telah menguji kesabarannya. Ia pastikan, setelah pesta pernikahan ini, gadis itu akan menyesal telah memasuki keluarganya.

 

***

 

“Aku ingin semua villa dan paviliun dikosongkan malam ini juga. Apa kau mengerti?”

“Tidak usah khawatir, Tuan. Kami telah mengosongkannya sejak tadi pagi. Dan kami juga telah menyediakan segala keperluan seperti yang telah Tuan minta tempo hari.”

“Bagus. Karena aku akan kesana malam ini juga.”

Klik.

Siwon memacu mobilnya sangat kencang menuju toko bunga milik Nichkhun. Ia akan menjemput Miyoung disana. Suka atau tidak, Miyoung harus ikut dengannya. Saat ini adalah waktu yang sangat tepat untuk menjalankan rencananya. Ayahnya dan Chae Ya pergi ke London selama 3 hari. Setahu Siwon untuk berbulan madu. Cih. Siwon jijik membayangkannya.

Siwon sampai di toko bunga tersebut tepat ketika Miyoung dan kedua karyawan lainnya keluar. Ternyata toko sudah ditutup. Siwon menyeringai puas. Dengan begini ia semakin mudah untuk membawa Miyoung.

“Hwang Miyoung!” panggil Siwon.

Miyoung terkejut setengah mati mendengar suara Siwon. Lantas ia menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Luna serta Gil. Kebetulan malam itu tidak ada Nichkhun bersama mereka. Siwon mengeluarkan senyum termanisnya kepada Miyoung kemudian berjalan mendekat. Terang saja Miyoung keheranan. Siwon tidak pernah begitu ramah padanya.

“Si-Siwon-ssi?”

“Kajja, kita pulang!”

Tanpa ragu Siwon menggamit tangan Miyoung dan menariknya lembut. Miyoung tersentak kaget. Untuk melindungi dirinya, Miyoung segera menepis tangan Siwon. Siwon sudah bisa menerka reaksi Miyoung akan seperti ini. Tetapi tidak menyurutkan niatnya sedikitpun.

“A-aku bisa pulang sendiri.”

Siwon menghela napas. Sementara Gil dan Luna diam memandangi mereka.

“Kau pulang dengan apa?” tanya Siwon. Ia sengaja melembutkan suaranya.

“Jalan kaki,” jawab Miyoung polos. Memang itu yang rutin dilakukannya saat pergi dan pulang bekerja.

“Tidak baik seorang gadis secantikmu berjalan kaki seorang diri memasuki komplek. Kajja, kau harus pulang denganku!” Siwon kembali menarik tangan Miyoung.

Miyoung tidak dapat membantah Siwon karena cengkraman pria itu sangat kuat di tangannya. Langkahnya seperti diseret menuju mobil Siwon. Tinggallah Luna dan Gil yang terperangah di tempat mereka berdiri. Mereka setengah takjub dan kesal melihat Siwon. Semua orang tahu bagaimana karakter Choi Siwon. Kasar, tempramen, tidak sopan dan playboy. Jelas-jelas sikap manisnya tadi membuat kedua orang itu terpana.

“Apa kau yakin Siwon tulus mengajaknya pulang?” bisik Gil dengan gaya kemayu sembari terus mengawasi mobil Siwon yang kini beranjak pergi. Laki-laki itu sepertinya sangat mencemaskan Miyoung.

“Sudahlah, mereka sekarang adalah keluarga. Tidak mungkin Siwon bersikap kurang ajar seperti sikapnya kepada kebanyakan wanita. Kajja kita pulang!” tukas Luna.

“Uh, kalau saja Choi Siwon bertingkah seperti seorang pangeran, aku bersedia menjadi permaisurinya,” ujar Gil seraya memainkan ujung rambutnya. Luna menatap Gil dengan kejengkelan yang tidak dibuat-buat.

“Kau menjijikkan sekali, Gil.”

 

 

Miyoung menengok ke kanan dan ke kiri dengan panik. Mobil Siwon tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti, bahkan semakin lama semakin cepat. Miyoung melempar pandangan penuh pertanyaan kepada pria yang kini menyetir dengan seringaian jahat di wajahnya.

“Siwon-ssi, kau bilang kita akan pulang ke rumah.”

Siwon tertawa kecil. “Siapa bilang kita akan pulang ke rumah? Aku tidak ingat kalau tadi aku mengatakan kalau kita akan ke rumah.”

Miyoung mulai berkeringat dingin. Ia mencengkram handle pintu mobil dengan erat. Seharusnya tadi ia tidak ikut dengan pria itu.

“Siwon-ssi, aku ingin pulang ke rumah. Jebal.”

Miyoung memohon dengan mata berkaca-kaca. Siwon menoleh kepadanya sekilas lalu tersenyum misterius. “Pulang ke rumahmu? Itu artinya di desa, bukan? Kalau yang kau maksud adalah rumahku, kau salah besar.”

Miyoung menundukkan kepala. Siwon benar. Rumah itu bukan rumahnya, melainkan rumah Siwon dan Ayahnya. Siwon mendengus lagi. “Jadi, sebaiknya sekarang kau diam saja. Aku akan membawamu ke surga sebentar lagi.”

 

***

 

“Miyoung belum pulang?”

“Belum Nyonya. Seharusnya ia sudah sampai di rumah.”

Chae Ya menggigit bibir. Tiba-tiba perasaannya tidak enak dan pikirannya langsung melayang ke adik satu-satunya. Tadi ia menghubungi ponsel Miyoung dan tidak dijawab sekalipun. Hal itu membuat Chae Ya semakin khawatir.

“Kalau begitu, cepat hubungi aku kalau Miyoung sudah pulang.”

“Baiklah, Nyonya.”

Chae Ya melempar ponselnya ke atas ranjang dan mengusap dahinya. Ia tahu kalau saat ini sudah hampir tengah malam di Seoul, oleh karena itu ia sangat mengkhawatirkan Miyoung. Miyoung bukanlah tipe orang yang seenaknya tidak pulang ke rumah tanpa memberi kabar seperti ini.

“Yeobo, ayo kita keluar untuk berjalan-jalan!” seru Tuan Choi dari pintu depan kamar hotel. Chae Ya langsung memasang senyum palsu dan membalas seruan Tuan Choi, suaminya.

“Tunggu sebentar, yeobo!”

 

***

 

“Turun kau!”

Miyoung dengan susah payah menghentikan tangisnya ketika Siwon membentaknya untuk kesekian kali. Setelah perjalanan selama satu setengah jam, mereka berhenti di komplek villa yang sangat sepi. Villa-villa tersebut terletak di tepi pantai yang Miyoung sendiri tidak tahu dimana itu. Miyoung bertahan di dalam mobil, mencengkram erat jok yang didudukinya.

Siwon melotot di samping mobil. Ia sudah membukakan pintu untuk Miyoung tetapi gadis itu masih menolak keluar. Miyoung semakin gemetar ketika mendengar suara gemuruh di langit. Malam itu mendadak dingin dan menyeramkan bagi Miyoung.

“APA KAU TULI? AKU BILANG TURUN!”

Sembari membentak Miyoung, Siwon merenggut tangan gadis itu dengan keras sehingga ia jatuh terjerembab ke tanah. Miyoung tidak bisa menghentikan tangisannya, bahkan semakin keras. Siwon menutup pintu dengan bantingan keras lalu memaksa Miyoung untuk berdiri.

“Siwon-ssi, aku mohon lepaskan aku! Hiks, apa yang akan kau lakukan?” isak Miyoung. Siwon mencengkram kedua lengannya sangat kuat, menimbulkan jejak memar di lengan putih Miyoung.

“Kau ingin tahu apa yang akan kulakukan padamu? Sebaiknya kita cari tahu sendiri. Ayo Sayang, kita bersenang-senang di dalam villa,” desis Siwon.

Miyoung menahan berat tubuhnya ke tanah agar Siwon kesulitan menyeretnya. Namun tenaga Miyoung tidak ada apa-apanya bagi Siwon. Siwon terus menyeret Miyoung tanpa ampun. Wajahnya menunjukkan kebengisan dan sepertinya tangisan Miyoung tidak menyentuh hatinya.

“Siwon-ssi, aku mohon jangan sakiti aku! Aku tahu aku bersalah padamu karena tinggal di rumah. Aku berjanji akan keluar dari sana besok pagi. Lepaskan aku, aku mohon!”

“DIAM KAU!” bentak Siwon lagi. Ia membuka pagar kayu tinggi untuk masuk ke dalam villa. Siwon tidak peduli dengan cengkraman tangannya yang semakin menyakiti pergelangan tangan Miyoung.

Miyoung kehabisan tenaganya. Ia nyaris terjatuh jika Siwon tidak menyeretnya sampai ke dalam vila. Miyoung melihat sekitarnya dengan panik, ia tidak melihat satupun orang disana. Tempatnya sangat sepi dan temaram. Jantung Miyoung berdegup sangat kencang hingga membuat dadanya nyeri.

“TOLOOOONG!” teriak Miyoung frustasi. Siwon tertawa keras. Ia mendorong tubuh lemah Miyoung ke tiang besar di teras villa. Miyoung terus berteriak minta tolong sementara Siwon mulai kehilangan kesabarannya lagi. Suara Miyoung ternyata benar-benar melengking.

“TOLOOOOOONG!” teriak Miyoung lagi.

“YAK!” bentak Siwon seraya mendekat. Kedua tangannya kembali mencengkram lengan Miyoung. Yang dapat dilakukan gadis itu hanya meringis kesakitan.

“Sekali kau berteriak, aku akan membuat mulutmu diam!” ancam Siwon.

Miyoung menggeleng kuat. Ia sangat ketakutan seperti melihat iblis. Ia tidak menyangka kalau Siwon akan sekasar ini kepadanya.

“SESEORANG TOLONG AKUUUU!” teriak Miyoung tanpa menghiraukan Siwon. mendengar itu Siwon naik pitam. Niatnya untuk menyakiti gadis ini semakin menjadi.

“TOLOOO—hmmp.”

Siwon menutup mulut Miyoung dengan ciumannya. Miyoung mencakar apapun yang dapat diraihnya pada tubuh Siwon. Perlawanan Miyoung membuat Siwon semakin gila. Ia mencium Miyoung dalam-dalam dan menekan tubuh Miyoung ke tiang sekuat mungkin. Jika Miyoung kehabisan nafas, ia bisa mati saat itu juga. Siwon terus menciumnya tanpa rasa belas kasihan.

Miyoung merasakan panasnya ciuman Siwon. Mulut pria itu menguasai mulut Miyoung secara menyeluruh. Siwon melumatnya dengan kasar. Sedikit demi sedikit tenaga Miyoung mulai melemah. Cengkramannya tak lagi kuat, sedangkan Siwon mengukung tubuh mungilnya dengan nafsunya. Miyoung hanya bisa menangis dan airmatanya mengalir di pipi Siwon.

Siwon melepaskan ciumannya tiba-tiba, membuat Miyoung terhuyung ke depan. Ciuman Siwon telah merendahkan dirinya. Miyoung tidak sanggup melihat wajah Siwon sementara pria itu menyeringai puas. Gairahnya sudah sepenuhnya bangkit. Ia kembali menyeret Miyoung ke dalam.

“Siwon-ssi, hh…hiks…ampuni aku! Jangan sakiti aku, hiks. Aku mohon…”

“Diam! Kau tenang saja, baby. Aku yakin kau pasti akan menikmatinya.”

Miyoung tidak mengerti apa yang dimaksud Siwon. Pikirannya dipenuhi oleh imajinasi buruk. Jelas sekali Siwon ingin menyakitinya tetapi Miyoung tidak tahu dengan cara apa. Siwon masih menyeretnya dengan paksa, membuat Miyoung merasakan sakit di seluruh tubuhnya.

Siwon membawanya ke sebuah kamar. Disana terdapat ranjang besar bertiang empat. Di atas ranjang tersebut bertaburan kelopak-kelopak bunga mawar dan penerangan kamar itu hanyalah beberapa batang lilin. Siwon terkekeh. Anak buahnya sangat bisa diandalkan. Mereka membuat Siwon merasa seperti pengantin baru.

Lalu dengan kasar Siwon mendorong tubuh Miyoung ke atas tempat tidur. Siwon menutup pintu kemudian menguncinya. Ia tahu tidak ada orang lain yang akan mengganggu mereka, tetapi Siwon hanya mengantisipasi agar Miyoung tidak keluar dari kamar itu.

“Apa kau suka suasananya, Sayang?” tanya Siwon seraya melepas kancing kemejanya satu-persatu. Miyoung turun dari ranjang dengan tubuh gemetar hebat serta kedua tangannya disilangkan di dada. Ia menengok kanan kiri untuk mencari celah agar bisa keluar.

Ia terperangkap!

“Siwon-ssi, jangan lakukan ini padaku,” isak Miyoung. Tubuhnya berkeringat hebat. Ia terus melangkah mundur saat Siwon berjalan mendekatinya.

“Seharusnya kau merasa beruntung karena bisa tidur denganku, Hwang Miyoung. Ckckck, kau tidak akan menyesal,” ujar Siwon dengan suara parau dan menggoda. Ia telah melepaskan kemeja dan sekarang tubuhnya bertelanjang dada.

Miyoung menangis sejadi-jadinya. Ia tidak berdaya saat Siwon menggendongnya kembali ke tempat tidur. Tubuhnya kini mati rasa dan hatinya begitu sakit. Kehormatannya tercabik-cabik saat Siwon mulai menanggalkan pakaiannya. Miyoung memberontak sekuat tenaga, namun pria itu menemukan cara lain untuk membuatnya diam.

Siwon mengikat tangan Miyoung ke tiang ranjang!

“Hmm, kalau seperti ini akan lebih memudahkanku,” ucap Siwon dan bersimpuh di antara paha Miyoung.

“Aku pikir kau lebih baik dari ini, Siwon-ssi. Ternyata aku salah,” ungkap Miyoung dengan isakan yang begitu memilukan hati.

Rahang Siwon berkedut marah. Ia sangat membenci jika ada orang yang menyentuh hatinya. Ia pun menindih tubuh Miyoung dan wajahnya terasa panas di atas wajah gadis itu.

“Kakakmu yang telah membuatku melakukannya,” desis Siwon.

Miyoung menahan napas. “A-apa maksudmu?”

Siwon menyeringai. Sebelah tangannya bergerilya di permukaan kulit perut Miyoung. Tangannya bagaikan menyentuh kulit selembut satin.

“Kau tahu, Hwang Chae Ya sebenarnya mencintaiku, tetapi aku tidak membalas perasaannya. Lalu, ia menikahi Ayahku agar bisa berada terus di dekatku dan merebut harta Ayahku tentunya. Oleh karena itu, aku akan membalas perbuatannya. Aku akan menodai adik kesayangannya dan membuatnya mati oleh rasa cemburu. Apa kau…mengerti?”

Miyoung tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kakaknya tidak mungkin seperti itu. Siwon pasti hanya mengada-ada serta memberi alasan agar dapat menidurinya. Disaat Miyoung hendak memberontak lagi, Siwon telah menangkup wajahnya dan menyerang Miyoung dengan ciuman-ciuman paksa.

Dan gadis itu pun tahu, kalau masa depannya telah hancur. Hancur di tangan Siwon.

 

***

 

Siwon menselonjorkan kakinya yang panjang di atas sofa sementara ia menikmati segelas wiski. Diluar hujan lebat dan udara dingin sekali. Tetapi hal itu tidak membuat Siwon gemetar sedikitpun. Tubuhnya masih cukup panas dan berkeringat. Ia lelah sekali. Siwon terheran-heran dengan dirinya sendiri. Ia tidak berhenti memikirkan percintaannya dengan Miyoung yang baru saja selesai beberapa menit yang lalu.

Baru kali ini Siwon merasakan sesuatu yang lain saat bercinta dengan seorang perempuan. Mungkin karena Miyoung seorang virgin, ada secercah rasa bersalah di hati Siwon. Selama petualangannya dengan wanita-wanita lain, tidak ada yang masih suci seperti Miyoung. Itu benar!

Siwon menghembuskan napas berat. Ia meneguk wiskinya sampai habis dan membanting gelasnya di atas meja. Bayangan wajah Miyoung saat bercinta dengannya tadi menghantui pikirannya. Gadis itu tidak memberontak sama sekali karena tenaganya benar-benar habis. Dan sialnya, Siwon menikmati apa yang diperbuatnya. Ia bercinta dengan lembut, memuja bahkan memeluk Miyoung seperti sedang melindunginya.

Pria itu mengumpat pelan. Apa yang terjadi padanya?

Tidak seharusnya ia merasakan kelembutan saat bercinta. Ia bermaksud menodai atau memperkosa gadis itu, bukan melakukannya dengan hati. Siwon memejamkan mata, berharap bayangan wajah cantik Miyoung terhapus dari benaknya. Ia tidak ingin mengakui kemuliaan gadis itu, ia tidak ingin mengakui kecantikan gadis itu, dan ia sangat tidak ingin mengakui kalau ada rasa iba terhadap gadis itu.

Siwon menggeram lalu mengumpat lagi. Ia bangkit dan berjalan menuju kamar. Ia menyalakan lampu kamar sebab cahaya lilin sudah tidak ada lagi. Saat lampu menyala, Siwon melihat Miyoung meringkuk disana. Dengan tangan yang masih terikat dan tubuh polosnya tertutup selimut seadaanya. Siwon menelan ludah.

Bahkan dengan keadaan kacau seperti itu, Miyoung tetap tampak suci dan tulus. Ia mendekati Miyoung perlahan dan duduk di tepi ranjang. Miyoung tertidur pulsa dan tidak tampak kesakitan lagi. Permukaan kulitnya yang putih bersih, kini tampak jejak-jejak merah ciumannya. Rambut hitamnya yang halus berantakan, sebagian menutupi wajahnya dan menempel oleh keringat. Siwon menyeka bekas airmata di pipi Miyoung.

Kemudian Siwon beralih pada tali-tali yang mengikat kedua tangan Miyoung. Ia melepaskannya dan mendapati pergelangan tangan Miyoung telah memar. Pasti rasanya sakit sekali. Siwon memandangi wajah Miyoung sekali lagi. Ia membetulkan letak selimut sehingga menutupi tubuh Miyoung hingga di bawah dagunya.

“Semoga kau bermimpi indah,” ucap Siwon.

 

***

 

Miyoung merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Tulangnya terasa remuk dan kulitnya panas. Bagian pangkal pahanya sungguh nyeri dan perih. Miyoung menggigit bibir menahan perih yang dirasakannya saat ia mencoba untuk duduk. Di luar hujan lebat tetapi sepertinya malam telah berganti pagi.

Kedua kakinya kaku, sulit untuk digerakkan. Miyoung menyingkap selimut dan terisak pelan saat melihat bercak darah di sprei berwarna putih itu. Siwon telah merenggut kesuciannya semalam. Miyoung terpuruk. Ia merasa tidak berguna lagi sebagai seorang perempuan.

Kesucian adalah satu-satunya harta berharga bagi perempuan dan Siwon sudah merenggut hal itu darinya. Miyoung tidak menyangka cobaan berat yang melanda hidupnya saat ini. Ia telah kotor. Miyoung mendengus, jijik pada dirinya sendiri.

Miyoung mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan dengan matanya yang bengkak. Ia melihat celananya terletak di lantai, sementara blusnya telah robek. Miyoung mengerahkan seluruh tenagannya yang tersisa untuk turun dari ranjang.

“Aaahh,” rintih Miyoung menahan kesakitan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Ketika kakinya menyentuh lantai, tubuhnya langsung ambruk. Apa yang telah dilakukan Siwon padanya? Miyoung tidak bisa lagi menangis, hanya terisak tanpa airmata. Dadanya nyeri, merasakan dentuman jantungnya yang liar. Miyoung merangkak untuk mengambil celananya. Ia tidak melihat Siwon di kamar itu. Jadi ini kesempatan untuk berpakaian.

Miyoung melihat kemeja Siwon tergeletak tak jauh darinya. Tak ada pilihan lain, Miyoung pun memakainya. Ia harus kabur dari villa ini, atau jika tidak, ia akan menjadi mangsa Siwon entah sampai berapa lama.

Miyoung tiba-tiba teringat dengan apa yang dikatakan Siwon tadi malam. Siwon memanfaatkannya untuk membalas perbuatan Chae Ya. Miyoung mempercayai kakaknya. Ia tidak percaya sedikitpun kata-kata Siwon. Tidak mungkin Chae Ya menikahi Choi Ji Hoo tanpa rasa cinta. Miyoung mengenal Chae Ya lebih dari siapapun. Chae Ya tidak pernah memanfaatkan orang lain demi mencapai tujuannya.

Lagipula, Chae Ya pasti tidak mencintai Siwon. Siwon adalah laki-laki paling bejat yang pasti akan dibenci kakaknya itu. Siwon saja yang terlalu percaya diri, pikir Miyoung.

Miyoung berdiri dengan memegang tiang ranjang sebagai penopang tubuhnya. Ia frustasi. Berdiri saja sulit, apalagi kabur dari sini. Tapi, dimana pria itu sekarang?

Clek.

Miyoung membeku ketika pintu bergerak terbuka. Ia belum siap menghadapi Siwon lagi dan tak akan siap, setelah apa yang dilakukan pria itu padanya. Wajahnya semakin pucat saat Siwon masuk. Ditangannya ada sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air mineral. Siwon terkejut melihat Miyoung yang berdiri di dekat ranjang. Ia kira Miyoung tidak dapat bergerak untuk berapa hari ke depan. Ia tahu, perbuatannya semalam sangat menyiksa Miyoung. Baik lahir maupun batin.

“Wah, kau memakai kemejaku. Apa kau merindukanku?” goda Siwon seraya berjalan mendekat. Miyoung berjalan mundur. Melihat Siwon bagaikan melihat singa lapar baginya.

Siwon meletakkan nampan tersebut di atas ranjang dan tersenyum lebar pada Miyoung. Ia tersenyum kepada Miyoung seolah-olah tidak pernah menyakiti gadis itu. Miyoung menatapnya dalam diam. Matanya yang bengkak menyiratkan kelelahan dan kesengsaraan.

“Duduk dan makanlah. Aku tahu kau pasti lapar,” ujar Siwon ringan. Ia duduk di tepi ranjang.

Lapar? Miyoung bahkan tidak bisa merasakan kakinya saat ini, apalagi memikirkan lapar! Miyoung menggeleng pelan.

“Aku…ingin pulang, Siwon-ssi. Aku mohon antarkan aku pulang,” Miyoung memohon. Siwon menatapnya tajam. Ia sedang tidak ingin berdebat saat ini.

“Duduk dan makanlah!” Siwon mengulangi perintahnya. Miyoung tetap tidak bergeming. Mereka saling pandang untuk beberapa detik. Miyoung dapat melihat mata Siwon berkilat-kilat menahan emosinya.

“Ternyata kau ingin dipaksa lagi rupanya,” desis Siwon lalu berdiri dan menghampiri Miyoung. Miyoung gemetar ketakutan dan tidak melakukan perlawanan saat Siwon membopongnya ke atas ranjang.

“Cepat habiskan!” bentak Siwon.

Miyoung tidak ingin menyentuh makanannya. Ia melipat kakinya ke atas dan menumpukan kepala di lutut. Miyoung lebih baik menahan rasa laparnya daripada memakan masakan yang dibuat oleh tangan pria yang telah menyakitinya. Ia membenci Siwon di setiap helaan napasnya.

“Kenapa kau selalu membangkang? Makanan ini berguna untuk tenagamu!” seru Siwon seraya bertolak pinggang.

Miyoung mengangkat kepalanya dan memandang Siwon. “Apa tujuannya sebenarnya?”

Siwon terdiam sejenak. Lalu ia balik bertanya, “Apa maksudmu?”

“Apa kau menggunakan diriku untuk membalas dendam kepada kakakku? Apa kau begitu membencinya? Kenapa kau tidak mengusir kami dari rumahmu? Kau bilang dirimu lelaki sejati dengan memperlakukanku seperti ini? Bagiku kau tidak lebih dari pengecut dan penjahat kelamin,” ungkap Miyoung dengan suara bergetar. Bukan karena ia takut, tetapi kalimat-kalimat itu keluar begitu saja. Dadanya semakin sakit jika ia memendamnya.

Siwon tidak langsung membalas ucapan Miyoung. Ia memikirkan kata-kata berani gadis itu. Terang saja ia tersinggung. Sangat tersinggung! Apa maksudnya dengan penjahat kelamin?!

Pria itu berjalan mendekat. Aura dirinya terasa sangat berbahaya dan panas. Miyoung menahan napas. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi.

“Kau-tidak-tahu-dengan-akibat-dari-perkataanmu,” geram Siwon seraya mencengkram lengan Miyoung. “Makan bubur ini dan tutup mulutmu!”

Siwon berjuang mati-matian menahan hasratnya yang mulai bangkit kembali karena kekeraskepalaan Miyoung. Sebagai pria normal yang emosi dan gairahnya mudah sekali tersulut, sikap yang ditunjukkan Miyoung sama sekali tidak membantu.

“Kau membuatku membencimu, Siwon-ssi.”

Siwon mendengus. “Memangnya siapa yang menyuruhmu menyukaiku?”

Cairan bening itu kembali menumpuk di pelupuk mata Miyoung. “Kau benar-benar pria jahat. Jahat dari hatimu. Hatimu sangat busuk, Tuan Muda Choi!”

Siwon menggila. Ia menendang nampan di dekatnya hingga isinya hancur berserakan di lantai. Miyoung terlonjak kaget. Belum habis keterkejutannya, Siwon telah merengkuh tubuhnya lagi dan menindihnya di ranjang. Kemarahan telah membuat kekuatan Siwon dua kali lipat. Ia tidak peduli kalau sekujur tubuh Miyoung masih kesakitan. Gadis itu sendiri yang telah menyalakan api dalam dirinya.

“Aku akan membenarkan tuduhan, Hwang. Kau bilang aku penjahat kelamin, benar kan? Tapi akan kubuktikan kalau aku bukan pengecut! Setelah menodaimu aku akan memberikan buktinya kepada Ayahku dan kakakmu, tentunya.”

“KAU GILA!!!”

Dan sekali lagi Siwon melakukan hal terkutuk itu pada Miyoung. Tangisan dan jeritan Miyoung adalah nyanyian kemenangan di telinga Siwon. Siwon menikmatinya sementara Miyoung menginginkan hidupnya berakhir saat itu juga.

 

***

 

Nichkhun berulang kali menghubungi ponsel Miyoung tetapi hasilnya tetap saja. Ponsel gadis itu tidak aktif sejak tadi pagi. Hari ini Miyoung tidak masuk bekerja. Nichkhun termenung di meja kasir. Jika Miyoung sakit, ia pasti mendapat kabar. Setidaknya Miyoung pasti mengabari dua karyawannya yang lain.

Pria tampan itu menghela napas. Entah mengapa ia ingin melihat Miyoung setiap saat. Ia mulai merindukan gadis itu disaat-saat sepinya. Sejak Miyoung bekerja di tokonya, Nichkhun tidak pernah beranjak dari sana. Biasanya ia sering keluar untuk refreshing bersama teman-temannya dan kembali saat toko akan tutup. Dan karena kemarin ia tidak sempat kembali saat toko tutup sebab harus menemani Ibunya ke luar kota, jadi Nichkhun merasa sudah lama sekali tidak bertemu dengan Miyoung. Berlebihan mungkin, tetapi itu karena Nichkhun menyukai Miyoung.

Nichkhun tertawa kecil seperti orang konyol. Ya, ia menyukai Miyoung sejak pertama kali melihatnya. Nichkhun sudah lama putus dengan kekasihnya, Victoria. Vic meninggalkannya untuk pria lain dua tahun yang lalu. Nichkhun tidak ingin mengingat-ingatnya lagi.

“Hei, Gil! Kenapa Miyoung tidak masuk hari ini? Apa ia menghubungimu?” tanya Nichkhun pada Gil yang kebetulan melintas di depannya.

“Miyoung-ssi? Ani, aku tidak mendapat telepon ataupun pesan darinya, Bos.”

Nichkhun mengangguk. “Luna!” Ia memanggil Luna yang baru saja selesai melayani seorang pelanggan. Luna segera menghampiri Nichkhun.

“Ada apa, Bos?”

“Apa Miyoung memberitahumu kenapa ia tidak masuk hari ini?” tanya Nichkhun serius. Tidak masalah baginya jika kedua karyawannya tahu kalau ia sedang dimabuk cinta.

“Miyoung tidak memberitahuku, Bos. Aku kira ia telah menghubungimu. Apa mungkin ia sakit?”

Nichkhun menggelengkan kepalanya lagi. Ekspresi wajahnya terlihat khawatir. Luna dan Gil saling sikut. Mereka tidak pernah melihat sang atasan mengkhawatirkan karyawannya seperti ini. Luna berdehem.

“Hmm, kalau Miyoung sakit, aku rasa tidak. Sebab kemarin ia sehat dan masih segar. Ya, kecuali saat Siwon memaksanya pulang bersamanya. Ia langsung berubah pucat dan—“

“Nugu?” Nichkhun menyela ucapan Luna. “Siapa yang memaksanya pulang? Choi Siwon?”

Luna dan Gil mengangguk serentak. Nichkhun terdiam beberapa saat. Mendengar nama Siwon membuat hatinya mencelos. Ia tahu siapa Siwon, tepatnya bagaimana predikat Siwon. Tuan Muda Choi itu terkenal sebagai pemain wanita dan berperilaku tidak baik. Ia tidak pernah menghormati wanita yang telah puas dikencaninya.

“Entah mengapa perasaanku tidak enak jika mendengar nama Siwon,” gumam Nichkhun. Ia melirik Luna dan Gil, lalu tersenyum. “Ya sudah, kembali bekerja.”

***

 

 

Hujan lebat sepertinya tidak akan berhenti sampai nanti malam. Siwon telah membersihkan dirinya, berendam selama satu jam di kamar mandi. Kini ia berdiri di dekat jendela, memandangi kaca jendela di hadapannya yang berembun diterpa air hujan. Tubuhnya kini terasa segar sekali.

Siwon mendengar suara berisik dari dalam kamar mandi. Ia bergegas kesana. Lima menit yang lalu Miyoung masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia menolak berbicara bahkan melihat wajah Siwon. Oleh karena itu Siwon membiarkannya untuk masuk ke kamar sendirian. Meskipun Siwon tahu Miyoung berjalan tertatih-tatih, ia ingin melihat gadis itu sadar akan kesalahannya melawan dirinya.

Sampai di pintu kamar mandi ia melihat Miyoung duduk di bawah shower. Gadis itu sepertinya terpeleset karena posisinya yang duduk menyamping. Siwon menelan ludah melihat gadis itu bersusah payah untuk berdiri. Siwon menghampirinya.

“Kenapa mandi dengan berpakaian lengkap?” tanya Siwon dingin. Ia menarik Miyoung agar berdiri. Gadis itu tidak terkejut melihatnya. Ia tidak malu lagi sebab Siwon telah melihat semuanya. Tatapan Siwon turun ke seluruh tubuh Miyoung. Kemeja yang dipakai Miyoung melekat basah di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuh indah gadis itu.

Siwon membiarkan tubuhnya ikut basah terkena siraman air. Ia tidak melepaskan pegangannya di lengan Miyoung, padahal gadis itu sudah bisa menyeimbangkan dirinya.

“Aku ingin mandi. Tolong keluarlah!” pinta Miyoung seraya menepis tangan Siwon.

“Jangan terpeleset lagi,” Siwon memperingatkan. Miyoung diam saja.

Siwon terkadang heran dengan sikapnya terhadap Miyoung. Ada sisi di dalam dirinya yang tidak tega melihat kepedihan di mata gadis itu. Padahal dirinyalah yang menyebabkan penderitaannya. Siwon berbalik dan melangkah kecil keluar dari bilik kamar mandi.

Miyoung menatap punggung Siwon. Ia telah menyiapkan besi aluminium yang berguna untuk menggantungkan pakaian di kamar mandi itu. Ia melangkah tanpa suara menyusul Siwon. inilah rencananya. Mengundang Siwon ke dalam kamar mandi dan berniat memukul pria itu disaat ia lengah.

Ketika Siwon hendak melangkah keluar melewati pintu kamar mandi, Miyoung mengayunkan besi di tangannya. Ia harus memukul Siwon sekuat tenaga agar pria itu tumbang dan ia bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk kabur.

BUGG!

“Aaaaaaaahhhh!!!”

Terdengar pekikan mengerikan dari mulut Siwon ketika besi itu menghantam kepalanya. Siwon terjerembab ke lantai sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. Sakitnya luar biasa! Wajahnya memerah dan puncak kepalanya itu mengeluarkan darah segar.

Dalam pandangan yang samar-samar dan denyut hebat di kepalanya, Siwon tetap bisa melihat tubuh kurus Miyoung menginjak tubuhnya dan berlari kencang keluar. Siwon menggertakan gigi menahan sakit yang amat sangat sembari berusaha menegakkan tubuhnya kembali.

Shit! Siwon mengumpat dalam hati. Berani sekali gadis itu melukainya. Siwon memiliki kekuatan baru untuk menyakiti Miyoung lagi. Bagaimanapun cara Miyoung keluar dari sini, Siwon tidak akan membiarkannya.

Miyoung tidak merasa di dalam tubuhnya saat ini. Ia baru saja menghantam kepala Siwon dengan besi sekuat tenaga dan bisa saja menyebabkan kematian pada pria tersebut. Namun Miyoung tidak peduli. Ia harus kabur dari tempat terkutuk itu. Miyoung berlari keluar dan menembus derasnya hujan. Ia melihat ke kanan dan kiri kemudian berdecak frustasi. Pagar kayu yang mengelilingi villa itu sangat tinggi.

Dalam kepanikannya yang terasa mendesak, Miyoung melihat ada sebatang pohon yang dahannya mencapai tinggi pagar. Ia bisa memanjat pohon, pikir Miyoung lega. Pohon tersebut terletak tak jauh dari kolam renang di samping villa. Miyoung tidak menoleh lagi ke belakang dan berlari menuju kolam renang.

Siwon masih memegangi kepalanya yang kesakitan. Ia bersandar pada pintu utama yang tadi dibuka Miyoung untuk kabur. Siwon mengedarkan pandangan dengan mata elangnya. Gadis itu mudah sekali untuk ditemukan. Siwon menyeringai keji. Ia melihat Miyoung sedang kesulitan memanjat pohon yang akan membantunya melompati pagar.

“Kau tidak akan bisa lari kemana-mana, Manis!” teriak Siwon. Darah menetes dari kepala sampai bahunya. Saat ini Siwon berjalan cepat melintasi kolam renang dan tertawa mencemooh ketika melihat Miyoung kesulitan memanjat. Tentu saja ia kesulitan, sebab air hujan telah membuat batangnya licin.

Gotcha!”

Miyoung berteriak histeris ketika Siwon mengangkat tubuhnya dengan mudah dan melemparkannya ke bahunya yang bidang. Miyoung meronta-ronta di bahu Siwon, membuat Siwon semakin gemas. Lalu, tanpa berpikir panjang Siwon dengan sangat tidak berperasaaan menceburkan tubuh Miyoung ke dalam kolam.

Miyoung bergidik. Tubuhnya terasa beku oleh dinginnya air. Kaki Miyoung menendang ke segala arah dan tangannya menggapai-gapai ke permukaan air. Miyoung tidak bisa berenang. Sama sekali! Tubuhnya seperti tertarik ke dasar kolam dan air telah masuk dari telinga, hidung dan mulutnya.

Siwon tertawa bagaikan setan di tepi kolam.

“To….tolong…Uhmp…Toloooong!” Miyoung berusaha berteriak. Ia berada di tengah-tengah kolam yang dalamnya lebih dari 2 meter dan Siwon malah berdiri menertawakannya.

“Aku…t-tidak…bisa…Uhmmmp!”

Tawa Siwon berhenti saat mengamati Miyoung. Gadis itu terus menggapai-gapai sambil berteriak. Siwon menatapnya sebentar.

“Aku tidak bisa…berenang…Uhmmp… toloooooong!”

Dan sedetik kemudian, Siwon tidak melihat Miyoung lagi menggerakkan tubuhnya. Siwon membatu. Tubuh gadis itu lama-lama tenggelam dan melayang-layang di dasar kolam. Melihat itu insting waspada Siwon langsung bergerak cepat. Ia melompat ke dalam kolam dan berenang cepat menuju Miyoung. Ia menggapai tubuh gadis itu dan mengangkatnya ke permukaan.

Miyoung tidak sadarkan diri. Entah mengapa Siwon merasa jantungnya berdentum sangat kencang, membuat telinganya berdengung. Siwon mengangkat tubuh Miyoung ke tepi kolam dan selanjutnya ia pun keluar dari kolam itu. Siwon membaringkan tubuh Miyoung dan menyadari kalau wajah gadis itu kini sepucat kertas. Air hujan terus menerpa tubuh mereka.

“Miyoung-ssi, ireona! Yah! Buka matamu!” teriak Siwon. Namun gadis itu tidak bergeming sedikitpun.

Siwon menekan dada Miyoung berulang kali. Mungkin air kolam telah memenuhi jalur pernapasannya. Siwon terus memompa tetapi tak juga berhasil. Miyoung diam seperti mayat hidup.

Siwon bernapas kasar. Sebelah tangannya membuka mulut Miyoung dan tangan lainnya menutup hidung bangir gadis itu. Siwon memberikan napas bantuan. Ia belum mempunyai pengalaman memberikan napas bantuan, tetapi ia paham cara-caranya. Siwon menghembuskan napas di rongga mulut Miyoung secara perlahan.

Ia tidak bisa melihat gadis itu mati sekarang. Bukan seperti ini yang diinginkan Siwon. Mungkin ia telah bertindak terlalu jauh pada gadis yang tidak mempunyai dosa padanya ini. Namun gadis itu harus baik-baik saja.

“Ugh…Uhuk…Ough..Uhuk!”

Siwon menarik wajahnya menjauh saat ia berhasil mengeluarkan air dari mulut Miyoung. Kini Miyoung terbatuk-batuk. Dadanya perih dan hidungnya terasa sakit. Siwon bernapas lega. Ia menarik Miyoung ke dalam pelukannya. Entah apa yang dirasakannya, tetapi ia bersyukur telah melihat Miyoung selamat.

 

***

 

Siwon memandangi tiga helai pakaian yang hendak diberikannya kepada Miyoung. Pakaian yang dibelikan oleh sekretarisnya itu tampak sangat tidak senonoh jika Miyoung mengenakannya. Terlebih lagi cuaca begitu dingin. Gadis itu tetap akan kedinginan kalau ia mengenakan pakaian tersebut. Lagipula, Siwon tidak berniat mengerjai gadis itu lagi. Setelah kejadian di kolam renang, Siwon kini tidak terlalu memikirkan dendamnya kepada Chae Ya.

Jadi, Siwon memutuskan untuk menyimpan pakaian-pakaian seksi itu lagi dan mengambil sweater serta celana trainingnya. Ia berharap pakaiannya tidak kebesaran di tubuh Miyoung.

Ia membuka pintu kamar. Miyoung bergelung di bawah selimut tebal tanpa memakai apapun. Tadi Siwon telah menghangatkan tubuhnya dengan menyalakan perapian di dalam kamar tersebut, namun sepertinya itu tidak cukup. Siwon berdecak kemudian melangkah ke ranjang. Ia bisa melihat Miyoung gemetaran di bawah sana.

“Yah! Pakai ini kalau tidak kau akan mati kedinginan!” seru Siwon seraya melemparkan pakaiannya ke arah Miyoung. Gadis itu masih gemetaran dengan mata tertutup. Bibirnya membiru dan wajahnya pucat pasi.

“Sudah kedinginan seperti itu masih saja tidak mendengarkan perintahku,” geram Siwon. ia meringis merasakan sakit di kepalanya saat akan mengomel lagi. “Kau telah membuat kepalaku terluka. Seharusnya aku menghukummu, kau tahu! Cepat kenakan baju itu!”

“….Eo…Eomma..Eommaaa.”

Siwon tertegun. Miyoung mengigau di ranjang dan ia hanya berdiri mematung. Eomma?

“Eom…maa…Eomma…aku ikut denganmu…Jangan tinggalkan aku.”

Siwon duduk di tepi ranjang menatap wajah Miyoung. Bulir-bulir keringat muncul di kening Miyoung sementara bibirnya terus meracau memanggil Eomma. Siwon tahu kalau Miyoung adalah anak yatim piatu. Sama seperti dirinya yang sudah tidak mempunyai Ibu. Namun mungkin cinta yang membedakan hubungan mereka berdua dengan Ibu masing-masing. Didengar dari igauan Miyoung, sepertinya Miyoung sangat dekat dengan Ibunya. Berbeda dengan Siwon yang sama sekali tidak merindukan Ibunya. Ia terlalu benci untuk merasakan hal itu.

Perlahan Siwon menepis rambut yang menutupi kening Miyoung. Tanpa sengaja ia menyentuh kening gadis itu. Siwon tercekat. Tubuh Miyoung panas sekali! Siwon menempelkan telapak tangannya di kening serta pipinya. Ia juga menyentuh lengan Miyoung. Siwon menelan ludah. Gadis di sampingnya demam tinggi.

Damn, ia demam. Apa yang harus kulakukan?” gumam Siwon. Ia tidak menyadari bahwa dirinya panik.

Miyoung terus mengigau menyebut nama Ibunya. Siwon tidak bisa membiarkan Miyoung jatuh sakit. Semua orang di rumah akan menudingnya jika nanti mereka pulang.

“Tunggu sebentar. Aku akan mengambil handuk dan air dingin untuk mengompres tubuhmu.”

Siwon sedikit berlari kesana-kemari untuk mencari sehelai handuk kecil dan air dingin. Pertolongan pertama memang memberikan kompres secara teratur. Siwon mengutuk dalam hati. Kenapa ia menjadi pria super peduli seperti ini? Biasanya ia tidak akan tersentuh dengan apapun atau siapapun. Ia bisa saja meninggalkan Miyoung sendirian di villa ini dan kembali pulang serta mengurus perusahaannya. Apalagi gadis itu telah melukai kepalanya yang kini dibebat perban putih itu.

Namun entah mengapa Siwon tidak melakukannya. Ia tidak ingin meninggalkan Miyoung. Rencananya untuk menyakiti dan menodai Miyoung telah berjalan lancar, tetapi akibat dari perbuatannya sekarang telah membuatnya berbalik 180 derajat.

Akhirnya Siwon mendapatkan air dingin dan sehelai handuk. Ia bergegas ke kamar dan duduk di samping Miyoung. Ia meluruskan posisi tubuh gadis itu dan menyelimutinya hingga bahu. Siwon memeras handuk yang telah direndamnya di air dingin kemudian meletakkannya di kening Miyoung.

“Eommaa…..”

Siwon menatap gerak bibir Miyoung. Gadis itu masih saja mengigau tidak jelas.

“Kau benar-benar merepotkan,” gumam Siwon. “Andai saja kau bukan adik wanita jahat itu, aku tidak akan menyakitimu seperti ini. Maaf jika aku memanfaatkanmu. Tetapi aku tidak akan membiarkan kakakmu mengambil harta serta perhatian Ayahku.”

 

To be continued

173 thoughts on “(AD) Could It Be Love Part 1

  1. yeaah akhirnya balik lagi kesini😀
    wooaah ceritanya seru nih min !! asli tegang banget kayak beneran feelnya pas baca ff cibl ini ><
    agak ngak suka karakter siwon oppa yg jahat dan sadis banget !!! (aslinya ngak gitu) tapi ya jarang2 sih nemu karakter siwon oppa yg begini😀
    disini fany unnie kasian dan menderita banget akibat ulah siwon oppa😦
    setuju sama jess unnie mereka harus saling jatuh cinta❤
    ohya gomawo buat admin yg udah buat ff super duper keren gini dan admin yg udah ngepost ff ini ^^
    SiFany Island DAEBAK !!!🙂

  2. Wow… FFnya daebak bgt.
    Gak nyesel sy baca ff disini.
    Walaupun ff ini tdk ada adegan nc-nya tp bs dipastikan feelnya itu daebak. Keren bgt deh pokoknya.
    Paling sedih ya waktu siwon membalaskan kebenciannya terhadap org yg salah.
    Biar bagaimanapun miyoung kan gak ada sangkut pautnya dgn apa yg telah kakaknya perbuat. Tp dia yg kena imbasnya siwon fiuhh…
    Ffnya keren bgt chingu…
    Lanjut ya baca part 2 nya..
    Gumawo..

  3. annyeong … aku new reader …..
    ceritanya asli keren banget … siwon oppa kejam banget sma tiffany…
    mau lanjut baca part 2nya yaa….

    • maaf, sebelum komentar lebih baik dibaca sampai selesai part 5. ini memang terinspirasi dr lakorn thailand berjudul Sawan Biang. disini juga dijelaskan. bukan plagiat ya. kamu reader baru ya? salam kenal🙂
      author harap meninggalkan komentar yg baik di ff lain di blog ini. trims

      • ouh begitu ya..maaf ya klu udah guriskan hati kamu..iya aku reader bru disini..salam perkenalan juga..maaf skli lagi jika komentarku kasar kerna aku memang tdak suka plagiat

  4. udah lh wonpa mh emg perfect bgt >< ga ada yg nyaingin holang kaya ganteng kaia wonpa wwww
    deuh urusan ranjang aj hrs pinter. masa iy aq hrs kuliah jurusan yadong dl wonpa -_-"
    heh teukpa ngapain subuh2 msh d club! plg plg bini nungguin jg! hhhhh
    ksar bgt sih wonpa ih ga suka dh! pangeran sih pangeran. pangeran iblis yg ada ~_~ jahat bgt ih sumpah sbel sm wonpa dsni!

  5. Siwon tega banget ampai menodai kesucian fany,
    kasian ama fanyny.saeng unnie suka dengan karakter yg diperanan oleh sifany.
    thanks for part 1 saeng.unnie mau baca part 2nya.

  6. Duhh it sapa kak echa yg komen, serem amat komen ny. Wkwkkk!! *gk sengaja baca komenan tdi.

    Haaaayyyyyyy kak echa, ketemu lagi di could it be love kita 😂😂
    Ntah ini udah yg keberapa kali ny ak baca ne ff tpi ttp aj bikin penasaran dan excited ma kelanjutan ny padahal udh ap yg bakal terjadi.wkwkk

  7. keren, disini karakter siwon jadi kejam gitu yaa,,
    kesel juga kenapa miyoung yg dijadikan pelampiasan dendamnya siwon, suka sama alur ceritanya, sepertinya siwon tanpa sadar justru menyukai yg dia benci

  8. Woah daebak!!
    disini siwon oppa kok nyebelin banget yah..
    terus kenapa lgi tiff eonni malah jadi korbannya..
    padahal kan chae ya yg salah😒😣
    Kak echa, skrang aku tau kenapa para readers suka sama ceritanya😂😄

  9. WOW KEREN…..Inilah yg q tggu2 keren2 krn karakterny beda dsini.q sk bgt. ini bkn siwon yg biasany. bc ini psti geregetn krn siwon sprt itu, tp justru itu yg bikin menarik.

    Krn pstu akn ad seseorg yg akn bs ubh skpny n ituadk titik balik dlm khdpnny. tp syngy jln yg ditempuh salah. krn mi young yg hrs menderita krn dendamny. mi young gadis yg baik. lnjut deh g th hrs komen ap pokokny daebak…

  10. Annyeong thor, aku pendatang baru… Ini ff pertama aku baca disini… Terimakasih author karna udah membuat hasil karya sebagus ini untuk menghibur para sifany shipper🙂
    Komentar aku langsunv aja deh, ini ffnya bagus… Jalan ceritanya jelas, trus di ff ini pas bgian sifany nya makin dibaca,semakin bkin dg2an… Semangat terus buat authorny untuk membuat inspirasi sebagus ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s