OUR STORY SERIES “1st-Hurt”

OUR STORY SERIES -HURT-

 

HURT

 

Hurt©Song Haneul
Publish by Sifany Island

 

oOoOo

 

Main Cast

Choi Siwon [Super Junior] || Tiffany Hwang [Girl’s Generation]

Genre

Romance || Hurt || Sad

Length

Oneshoot

Rating

 PG 17

Category

Fanfic

Summary

Mencintaimu. Mengapa sesakit ini?

 

Ω Hurt Ω

 

 

 

 

Siwon masih terdiam diatas sofa putih itu. Termenung memandangi ponsel hitam yang tergeletak tak berdaya diatas meja. Tepat didepannya. Sorot matanya terlihat sendu dan lelah. Terdengar deruan nafasnya yang begitu berat.

 

Kini, kedua tangan besarnya menutup wajah sendunya yang tertunduk. Hening. Hanya itu yang bisa dirasakan laki-laki berwajah tampan itu. Kemeja putihnya yang semula dimasukkan dengan rapi didalam celana bahan hitamnya. Sekarang terlihat kusut dan berantakan. Keluar dari tempatnya semula.

 

Laki-laki yang yang terkenal dengan penampilannya yang rapih dan menawan. Kini terlihat tak berdaya dan kacau.

 

Drrttt… Drrrttt… Drrtttt….

 

 

Suara getaran ponselnya sejak tadipun tak dihiraukan laki-laki berperawakan tegap itu. Pikirannya kacau dan saat ini yang ingin ia lakukan hanya berteriak sekencang-kencangnya. Melampiaskan semua rasa marah dan kesalnya saat ini. Semua kesedihan dan kekecewaannya begitu menyesakan didalam dadanya. Membuat laki-laki itu berulang kali menghembuskan napas kasarnya.

 

 

Drrrtttt… Drrrtttt… Drrrttt….

 

 

Kembali. Suara itu kembali mengusik kehenigan didalam ruangan itu, membuat Siwon mendengus kesal. Disambarnya ponsel tersebut dengan kasar, dan jarinya begerak menerima panggilan tersebut.

 

“Waeee?”

 

“Ya! Bisakah kau tak membentakku?”

 

Siwon terdiam, ketika suara laki-laki disebrang teleponnya itu terdengar kesal dengan sambutan Siwon. Laki-laki tersebut berusaha menetralkan perasaannya dengan memejamkan matanya dan menghembuskan napas perlahan. “Wae hyeong?”

 

“Kenapa kau tak mengangkat teleponmu? Dan… kenapa kau belum datang juga? Kau lupa? Hari ini ada syu-”

 

“Bisakah kau batalkan semua jadwalku hyeong?”

 

“Mwwoooo?” Siwon menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika suara manajernya tersebut, terdengar begitu menyakitkan telinganya.

“Wae? Bagaimana mungkin kau membatalkannya begitu saja. Kita sudah terikat kontrak, dan kau harus menjalankan dengan baik. Siwon-ah, ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?”

 

Siwon memijat pelan pelipisnya dengan sebelah tangannya yang kosong, kepalanya berdenyut nyeri. Masalahnya semakin bertambah dan itu membuat Siwon merasa sangat sakit dibagian kepalanya.

 

“Aku lelah hyeong.”

 

Laki-laki yang merupakan manajer pribadinya Siwon tersebut terdiam sesaat ketika mendengar ucapan Siwon yang begitu lirih ditelinganya. Begitu meyakinkan. Sepertinya, artisnya itu benar-benar lelah saat ini.

 

“Gweanchana?”

 

“Aku hanya butuh istirahat.”

 

Sang manajer terdengar menghembuskan napas kasar. Berpikir sejenak, mempertimbangkan permintaan Siwon yang sulit itu.

 

“Baik, istirahatlah! Hyeong akan bilang ke produser kalau kau sakit dan tak bisa megikuti syuting hari ini.”

 

Siwon tersenyum kecil. “Gomawo hyeong.”

 

Setelahnya, Siwon langsung mematikan panggilan tersebut. Bukannya tak sopan. Siwon jelas tahu, apa yang dilakukan saat ini sangat menyulitkan bagi manajernya. Tapi, apa yang harus dilakukan laki-laki tersebut. Keadaanya sangat kacau dan tak terkendali. Ia tak ingin keadaanya ini berdampak buruk pada orang lain. Itu, tentu jauh lebih menakutkan bukan?

 

Dihempaskan tubuh lelahnya pada sandaran sofa dibelakangnya. Dengan lengan tangannya, laki-laki itu menutup kedua matanya. Tanpa sadar cairan bening mengaliri pipi kanannya.

 

Detik berikutnya, suaranya yang parau terdengar menembus keheningan ruang gelap tersebut.

 

“Neppeun yeoja.”

 

 

***

            SIWON POV

 

          “Argh,”

 

Tanganku mencengkram rambut hitamku. Rasanya sakit sekali. Kuedarkan pandangaku, kesegal penjuru arah dalam ruangan ini. Gelap.

 

Apa ini sudah malam? Kenapa gelap sekali?

 

“Sudah puas tidurnya, oppa?”

 

Aku tersentak mendengar suara wanita yang begitu kukenal itu. Kepalaku mulai bergerak mencari sumber suara. Ruangan ini begitu gelap, membuatku tidak bisa leluasa melihat seseorang yang kucari saat ini.

 

“Mencariku oppa?”

 

“Waaaaaaaa…..”

 

Tubuhku terlonjak kebelakang, begitu sebuah suara lembut seseorang berbisik tepat ditelinga kananku.

 

“Hahahahaha…..”

 

Aku masih berusaha menormalkan detak jantungku, yang berdetak cepat. Napasku memburu karena ulah seseorang yang masih menertawaiku ini. Hah, puaskah dia sekarang? Sepertinya iya, tsk.

 

Tanganku mengambil ponsel yang seingatku masih tergeletak diatas meja didepanku ini. Lalu, tubuhku dengan cepat bergerak kearah tubuh seorang wanita yang masih dengan puasnya menertawai kebodohanku tadi.

 

“Ahh, oppaaaaa!”

 

Wajah cantiknya kini mulai terlihat didepan mataku. Ah, sudah berapa lama wajah ini tak terlihat tepat didepanku? Wajah putihnya yang begitu polos dan menawan. Wajah yang selalu menghiasi mimpiku. Menjadi penyematku disaat aku mulai merasakan jenuh dalam pekerjaanku.

 

Kini, setelah berminggu-minggu tak melihatnya. Wajah cantiknya benar-benar ada dihadapanku. Memerah dan tegang. Ahahaha, dia terlihat lucu ketika gugup.

 

“Wae? Kau tak melanjutkan tawamu?” tanyaku masih dengan ponsel ditanganku yang menyala, menyinari wajah cantiknya.

 

Matanya yang bulat itu mengerjap-erjap pelan. Menatapku lurus, tepat kedalam retina mataku. Membuatku kembali menyimpan tatapan teduhnya itu. Deruan napas hangatnya menerpa wajahku, dan kuyakini deruan napasku pun terasa jelas diwajahnya.

 

Tangan kananku yang semula memegang bahunya, terlepas dan bergerak kearah wajahnya yang semakin memerah. Kusingkirkan anak-anak rambutnya yang hitam dan menyelipkannya dibelakang kuping wanita didepanku.

 

“Op-pa….”

 

Oh Lord, bolehkah aku mencumbunya saat ini juga. Kenapa wanita ini begitu mempengaruhiku? Kenapa hanya dengan melihat wajahnya, suasana hatiku begitu cepat berubah. Hanya dengan menatap matanya yang bersinar itu, semua rasa sakit, marah dan kecewaku menguap begitu saja.

 

“Nappeun yeoja.” Ucapku lirih.

 

Kulihat matanya yang berubah menjadi sendu saat ini. apa dia merasakan hal yang sama? Merasakan sakit yang kurasakan? Jika iya, bisakah dia mengeluarkan kami berdua dari ketersikasaan ini. Kenapa dia selalu membuat ini semakin sulit?

 

“Oppa, mianhae.”

 

Aku tersenyum kecut, untuk kesekian kalinya. Wanitaku, meminta maaf. Haruskah kumaafkan? Bahkan walau dia tak mengatakannya, bisa kupastikan hati ini akan selalu memaafkannya. Sebesar apapun kesalahannya. Apapun. Keundae…..

 

Alih-alih memikirkan hal yang membuat oodku kembali berantakan. Kurengkuh tubuh mungilnya kedalam dekapan. Hangat.

 

“Oppa-”

“Fany-ah…”

 

“Hemmm?”

Tangannya membalas rengkuhanku. Membelai punggung badanku dengan lembut. Bisakah terus seperti ini, Tiffany. Haruskah aku tergeletak tak berdaya. Baru kau menyadari aku begitu lemah tanpamu?

 

“Bisakah kita akhiri ini. Aku hanya ingin melakukannya secara sederhana denganmu. Selalu bersamamu. Bahagia denganmu. Hanya denganmu. Bisakah Tiffany?”

 

“Oppa-”

 

“Apa lagi? Fans? Netizen? Kenapa kau begitu memperdulikannya?” marahku tepat disamping telingaku.

 

 

            Plakkk …. ..

 

 

“Auchhhh…. Ya! Kenapa kau memukulku?”

 

Brukk …..

 

 

“Awwww….”

 

Mataku mendelik kearahnya yang mulai bangkit dari sofa, dan berjalan menjauh. Aih, tega sekali dia mendorongku hingga terjatuh setelah memukul keras tubuh belakang. Lampu diruangan ini mulai menyala, setelah Tiffany menghidupkan saklar lampunya.

Dan kini, lihatlah! Tanpa rasa bersalah karena membuat tubuhku kesakitan seperti ini, dia berdiri. Bersedekap dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada dan kedua mata yang menyipit, mengintimidasiku.

 

“Kenapa kau mendorongku, hah? Kau seperti monster saja.” Uacpaku, sambil meringis kesakitan.

 

Matanya terbelalak lebar, dengan menggigit bibirnya. Kulihat dia mengeram, menahan amarah ditempat dia berdiri sekarang. Oke, kurasa sebentar lagi aku harus merasakan sakit yang lebih dari ini.

 

“Apa katamu oppa? Monster?” tanyanya tertahan.

 

“Ekhm, maksudku-”

 

            Brukk…. Braaakkkk…. Plakkk….

 

 

 

“Ya, ya! Hentikan!”

“Minta maaf padaku, palli!”

 

Kepala terangkat dan menatap tak percaya kepadanya, ketika Tiffany kembali berkata dengan nada kerasnya. Menyuruhku untuk minta maaf padanya. Hey, harusnya dia yang minta maaf bukan? Kenapa jadi aku yang salah?

 

Dia masih terus melayangkan semua benda-benda disekitarya kearahku. Membuatku berusaha mati-matian mengelak dari tindakan ekstrimnya tersebut.

 

“Hwang Mi Young, hentikan!”

 

“Mwoooo? Kau panggil aku apa?”

 

Aish, babo kau Choi Siwon. Kau malah membuatnya semakin marah, babo!

 

“Yaaaaaaa….. Jangan!” kakiku langsung  bergerak maju, menahan pergerakan tangannya ketika kulihat dia akan melemparkan benda keramik itu kearahku.

 

Kulihat dia juga sedikit terkejut menyadari benda tersebut ada ditangannya, dan bersiap melemparnya kearahku.

 

“Kau ingin membunuhku?” tanyaku pelan.

 

Dia melepaskan tangannya dari pegangan diguci ini, ketika dilihatnya tanganku yang juga menyentuh guci tersebut. Membuat kedua tangan kami saling bersentuhan.

 

“Nde, aku memang mau membunuhmu.” Kuletakkan guci tersebut ketempatnya. Lalu menatapnya tajam, ketika mendengar jawabannya yang ketus.

 

“Kau!” telunjukku menunjuk tepat didepan wajahnya. Dan segera kuturunkan, ketika menyadari tindakan ini begitu tak patut aku lakukan pada seorang wanita yang jelas-jelas telah memporak-porandakan kehidupanku.

 

Kuhela napas lelah, dan mengusap wajahku frustasi. Ohhh, kepalaku mulai berdenyut kembali.

 

“Sudahlah. Apa yang kau lakukan disini? Kau tak ada kegiatan dengan snsd?” tanyaku sambil melangkah menjauh darinya. Membereskan semua barang-barang yang baru saja dilemparnya.

 

“Anio. Aku baru saja menyeselaikan latihanku, dan langsung kesini setelah manajer oppa memberitahuku. Bahwa oppa sakit.” Kuangguk-anggukan kepalaku ketika mendengar penjelasannya.

 

“Oppa, sudah makan?”

 

“Wae? Kau ingin memasak untukku?” tanya dengan sebelah alis yang terangkat.

 

“Ani. Oppa kan tau, aku tidak bisa memasak.” Jawabnya enteng, sembari ikut membantuku membereskan barang-barang yang dilemparnya.

 

“Ya, aku tahu. Tapi tenang saja, aku tidak kecewa. Dan aku bisa memakluminya.”

 

Dia menatapku. Aku bisa merasakannya, lewat ujung mataku. “Wae?” tanyaku membalas tatapannya.

 

“An-ni.” Gelengnya.

 

“Boghosippo.” Ucapku lirih. Membuat gerakannya berhenti seketika.

 

Enatah aku yang salah atau tidak. Kulihat matanya memerah, apa dia akan menangis? Aku menrindukan airmatanya. Salahkah aku? Mungkin aku terkesan jahat jika aku berharap dia menangis. Tapi wanitaku ini, adalah yang terkuat dari yang terkuat. Dia, tidak akan mudah menangis. Bahkan walaupun itu menyedihkan. Dia tidak akan mudah menunjukkan kelemahannya, bahkan walau dia sudah berada dititik terbawah. Maka itu, aku selalu ingin Tiffany menunjukkan yang sebenarnya siapa dirinya. Menunjukkan apa yang dia rasakan. Tanpa harus berusaha kuat. Berusaha baik-baik saja. Walau sebenarnya dia tersakit atau bersedih.

 

“Oppa, gweanchana?” tangannya terulur kewajahku. Menyadarkanku dari lamunanku tentangnya.

 

“Gweanchana.” Aku tersenyum lembut kearahnya. Diapun membalasnya tak kalah lembut, dan lagi jantungku kembali berdetak tak karuan. Ketika mata itu melengkung dengan sempurna, menyempurnakan kecantikannya bak dewi rembulan yang selalu menghiasi malam.

 

“Tiffany.”

 

“Nde.”

 

“Tidak bisakah?”

 

Dia menggeleng. Aku hanya dapat menundukkan kepalaku, menghembuskan napas beratku. Kurasakan tangannya bergerak lembut menggenggam kedua tanganku.

 

“Oppa, mianhae.” Mataku menangkap penyesalan mendalam dalam dirinya. Oh, Tuhan bukan ini yang kuinginkan.

 

“Fany-ah-”

 

“Aku milikmu.”

 

Hening. Setelah dia mengatakannya, entah mengapa suasana berubah menjadi canggung. Jantungku kembali berdetak abnormal, kembali merasakan kupu-kupu itu mengelilingi perutku. Tapi, ketika aku teringat kembali akan semuanya. Tubuhku melemah kembali. Dan, kepalaku sakit. Lebih dari sebelumnya.

 

“Siwon oppa-”

 

“Tidak bisakah kau melupakannya? Tidak bisakah kau turuti keegoisanku sekali saja? Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Dan aku ingin, akulah alasanmu bahagia.”

 

“Aku bahagia.” Ucapnya pelan.

 

“Kau tidak bahagia. Kau mencintaiku.” Teriakku didepannya. Kembali. Aku lagi-lagi tak bisa mengontrol emosiku, setiap kali pembahasan ini terbuka diantara kita. Dan, untuk kesekian kalinya. Aku menyakitinya.

 

“Kau mencintaku,” ucapku lirih.

 

Tak sanggup menahan sesak yang kembali menyerangku. Dengan denyutan dikepalaku yang semakin terasa. Kupeluk tubuh mungilnya kembali, menenggelamkan wajahku dibahunya, menahan isak tangis yang sejak sehari ini kutahan.

 

Kalaupun harus jatuh, kalaupun terluka kembali. Aku ingin, hanya dia yang menopang tubuhku yang tak berdaya ini. Aku merasa sangat lelah. Bukan! Bukan untuk mencintainya. Aku hanya lelah menghadapi kekeras kepalaannya. Dan keegoisanku.

 

“Nde, aku mencintaimu.” Terdengar suara isakan. Dan kurasakan bahuku yang basah karena airmatanya.

 

Dia menangis? Sungguh? Apa aku bermimpi? Oh Tuhan, wanita ini menangis. Kenapa rasanya begitu menyakitkan. Ani, bukankah ini yang kuinginkan? Melihatnya menangis, lemah dan berlari kearahku. Meminta pertolonganku untuk mempercayai dirinya untuk kulindungi. Tapi kenapa sekarang menghentikan tangis itu, dan tetap melihatnya tersenyum enteng seperti biasanya.

 

“Aku takut oppa. Fansmu, fansku. Apa mereka akan menerimanya begitu saja? Apa mereka akan baik-baik saja, begitu mengetahui kenyataan diantara kita nantinya? Aku tak ingin menyakiti mereka. Aku tak ingin tersakiti. Dan… aku tak ingin. Kaupun terluka. Mianhae.”

 

Kulepas pelukan diantara kami. Meski harus merelakan kehangatan tubuhnya yang dengan sekejap menghilang dari tubuhku. Kutatap matanya dengan tajam. Lagi, lagi. Kenapa hanya itu yang ada diotaknya.

 

“Bukankah sudah kubilang? Kalau mereka menyayangi kita. Apapun yang kita lakukan, asal itu membuat kita bahagia. Mereka. Yang mengaku. Fans. Jauh lebih bahagia dibanding kita.”

 

“Kenapa kau egois seperti ini oppa?” Ucapnya sedikit keras.

 

“Dan kenapa kau begitu keras kepala, Fany-ah? Aku sudah bilang padamu. Tidak akan ada yang berani menyakitimu. Tidak. Selama aku masih hidup. Bahkan walaupun mereka adalah fansku sekalipun. Aku akan menantang mereka menghadapiku, sebelum mereka menyentuhmu. Percayalah padaku, Fany-ah.” Dia tertunduk dengan airmata yang mengaliri kedua pipinya. Terkutuklah kau Choi Siwon. Kau membuat wanita yang kau cintai menangis sekarang. Tuhan akan benar-benar menghukummu.

 

“Mianhae…”

 

“Bisakah kau berhenti meminta maaf? INI BUKAN SALAHMU!”

 

“Nde, ini bukan salahku. Bukan. Bukan sama sekali,” teriaknya. Membuatku membelalakan mata terkejut. Ini pertama kalinya kulihat dia semarah ini. Merasa begitu frustasi menghadapi sikapku yang begitu egois. “Ini salahmu. Salahmu karena mencintaiku. Salahmu karena terus membuatku merindukanmu, membutuhkanmu… mencintai-mu.”

 

Kulihat tubuhnya yang bergetar dengan kedua tangan yang terkepal erat dikedua sisi tubuhnya. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk, perlahan terangkat pelan dan menatap kedua mataku dengan tatapan yang membuatku ingin membunuh diriku sendiri.

 

“Karena kau Choi Siwon. Karena kau adalah Choi Siwon. Semua ini menjadi salah.”

 

Aku tetap terdiam, membiarkannya terus bicara. Membiarkannya untuk pertama kali, setelah selama 6 tahun hubungan tak jelas kami ini, dia mengungkapkan semua isi hatinya. Mengucapkan kata-kata yang tersimpan dihatinya. Sesuatu yang tak pernah dia keluarkan bahkan walau aku mengemis padanya, memintanya untuk mengetahui isi hati wanita yang bekerja dibawah perusahaan yang sama denganku ini. Dibidang yang sama. Hobaeku. Rekanku. Tiffany Hwang, salah satu member SNSD. Seorang wanita yang begitu aku cintai. Yang begitu kupuja.

 

“Karena kau terlalu bersinar. Karena terlalu besar. Terlalu tinggi untuk aku capai. Aku hampir mati karena terus berusaha sejajar dengamu. Berusaha untuk semua orang memandang aku pantas untukmu. Keundae, aku tetap gagal.”

 

Napasku mulai memburu mendengar penuturannya yang masih diiringi dengan isak tangisnya. Kedua mata kami masih saling bertatap, memandang dalam kerelung hati kami. Membaca bagaimana persamaan satu sama lain.

 

“Aku mencintaimu. Dan aku ingin pantas untukmu. Jadi, bisakah kau bersabar untukku.” Airmata itu, bisakah kau hentikannya Tiffany? Tolong. Berhenti menyakitiku, dengan airmatamu. Aku mohon.

 

“Jika kau masih ingin. Masih mencintaiku. Bisakah kau bersabar sedikit lagi? Biarkan aku yang berjalan. Menjajarkan diriku disampingmu, menggapai tangamu. Memberikan cintaku.” Suaranya semakin parau, dengan tangis yang semakin melemah.

 

“Kau tak perlu melakukan apapun. Cukup tetap ditempatmu. Menungguku. Aku. Akan bergerak, dan berdiri disisimu. Berdua. Selamanya.”

 

Arra, aku tahu. Aku adalah laki-laki yang paling lemah saat ini. Aku menangis, mengeluarkan airmata. Hanya karena mendengar ketulusan hatinya yang seakan menampar semua keegoisanku ini. Membiarkan cairan bening, mewakili semua kegundahanku selama beberapa hari ini. Dan membalas semua airmatanya yang telah keluar, membasahi wajah cantiknya.

 

“Bisakah oppa?”

 

Aku hanya mengangguk. Tak mampu mengatakan apapun. Takut jika aku bersuara, itu hanya akan kembali menyakitinya. Karena kutahu. Keegoisanku tetap berada dilevel yang sama. Ingin memilikinya sekarang. Mendekapnya erat. Tak mengizinkannya melirik laki-laki lain, menaruh hati pada laki-laki lain. Dan menyuruhnya untuk selalu mencintaiku.

 

“Mianhae, aku kembali mengecewakanmu oppa. Dan kembali mmembuatmu terluka. Mian.”

 

Aku terdiam sesaat. Entah apa yang kupikirkan sekarang. Yang aku tahu, aku hanya ingin dia menghapus airmatanya sekarang juga. Atau aku akan benar-benar mati saat ini.

 

Bukannya menjawab penyesalannya. Yang kulakukan saat ini hanya menatapnya dalam. Memberi tahunya, bahwa tak masalah bahkan walaupun hingga aku menua, dengan rambut putih yang mengganti rambut hitamku. Dia terus menyakitiku, menjatuhkanku. Asal dia tetap menjadi Tiffanyku. Wanita yang kucintai. Dan memastikan tempat disisi kananku nanti, saat dialtar, adalah dirinya. Tak apa. Aku merelakan jiwa dan ragaku hancur melebur ditangannya, dengan waktu yang terus berputar kedepannya. Asal hanya dia. Hanya dia yang akan menjadi ibu dari anakku. Yang menyandang marga Choi didepan namanya.

 

“Aku akan tetap disini. Seperti yang kau minta.” Ucapku lembut, dengan kedua tangan menangkup wajahnya yang berurai airmata. Menghapusnya perlahan.

 

“Tetap mencintaimu,” lanjutku. “Walau aku tidak menjamin cintaku akan tetap sama. Walau nantinya cinta ini mungkin berkurang dan bertambah seiringnya waktu. Tapi percayalah. Hanya kau. Satu-satunya nama yang kuadukan kepada Tuhan. Berharap, kaulah pendamping. Meminta. Hanya kaulah pemilik hati ini.”

 

Dan disaat ini, ketika kuselesaikan semua ucapanku yang tulus ini. Aku hanya terus berharap, wajah seperti inilah yang akan terus kulihat. Matanya yang melengkung sempurna. Memberikanku kesejukan. Hanya ini. sesederhana ini. melihatnya tersenyum. Dan itu. Karenaku.

 

“Gomawo oppa.”

 

 

 

[END]

 

 

N/A :

          FF ini aku persembahkan untuk Dona Chilquite, sebagai kado ulang tahunnya. Maaf kalau telat. Untu Minri, uri dongsaeng. Sebago semoga dan menjadikan obat galaunya. Mianhae, karena pembincaraan tadi, bikin kamu jadi galau, heheheh. Dan untuk adik baruku Alika. J

 

          

116 thoughts on “OUR STORY SERIES “1st-Hurt”

  1. Sad story admin,sedih bacanya.hiks…hiks…hiks…
    Kasian sifany gak bisa bersatu,hanya karena memikirkan fans2nya.yg sabar ya sifany.
    Lanjut ya admin.tetap semangat ya.admin jjang.
    Sifany jjang.

  2. Jd ikut sedih krn hdp mrk sbg artis,krn dikorea msh pribadi sgt sensitif.dsni kita jd th akn khdpn mrk.
    skh satuny sifany yg slg cinta tp tak bisa bebas jlni krn semua demi fans mrk. sbr hny itu yg bs dilkukn.
    SiFany hwaiting.,…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s