(AR) The Rain Part 5

Title: Rain Part 5 [Lost]

Rain poster New

Author:

Youngwonie

Cast:

Choi Siwon | Tiffany Hwang

Additional Cast:

Hwang Chansung | Choi Seunghyun|Cho Kyuhyun | Kim  Yoojin

Genre:

Romance, sad, angst, action

Rating:

PG 15

Length:

Series

Disclaimer:

The cast are belong them self, parents and God. I just borrow their name for my story.

The story is mine, so don’t be a plagiator. Keep comment and like if you enjoy this story.

Warning : Typo

“Something happen when the rain is fall…”

_____ Rain Part 5 [Lost]_____

”Ini memang bukan jalan ke apartemenmu Tuan, tapi ke kuburanmu.”

DEG!

Siwon baru menyadari akan bahaya yang sebentar lagi akan menimpanya.

“HENTIKAN MOBILNYA!” bentak Siwon. Namun Si supir taksi tak menghiraukannya. Siwon berusaha membuka pintu mobil.

“Percuma, kau tidak akan bisa keluar.” Junho, orang yang menyamar sebagai supir taksi itu menyeringai puas. Rupanya ia sudah mengunci pintu semenjak Siwon menaiki taksi itu.

Siwon berpikir keras agar ia bisa keluar dan menyelamatkan dirinya. Tanpa aba- aba, Siwon membelenggu leher Junho dari belakang dengan menggunakan lengannya.

“Hentikan atau kita mati bersama- sama.” Ancam Siwon.

Junho kehilangan keseimbangan karena tindakan Siwon. Tapi ia tidak juga menghentikan taksi yang dikendarainya. Mobil itu terus berjalan oleng ke kiri dan ke kanan. Junho berusaha melawan Siwon sambil terus mengendalikan kemudi.

“Lep—askan!”

“Tid—ak akan per—nah “

Siwon mengeratkan belenggunya, Junho kehilangan kendali sehingga mobil terus melaju ke arah kanan jalan dan hampir menabrak sebuah pohon besar. Menyadari hal itu, Junho mengerem mobil dengan mendadak. Mobil berhenti sebelum menabrak pohon. Siwon terpental ke depan menembus kaca mobil dan menerjang pohon besar yang berada tepat di depan mobil itu lalu terjatuh ke tanah.

Bruuk!!!

Beruntung Siwon masih selamat. Junho yang sudah mengatur nafasnya kembali, segera keluar dari mobil. Siwon yang terkulai di tanah mencoba bangun dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Junho menghampirinya lalu merenggut kerah jaket Siwon dan melayangkan tinju ke perutnya. Siwon meringis, namun ia segera membalas dengan meninju rahang Junho hingga mulut namja itu mengeluarkan darah. Junho hendak melayangkan pukulan balasan, namun Siwon dengan sigap menghalaunya dan menarik badan Junho lalu membantingnya ke tanah. Tak sia- sia Seunghyun mengajarinya taekwondo, kini Siwon merasa berterima kasih pada hyung-nya itu.

Junho memekik kesakitan. Kelengahan itu dimanfaatkan Siwon untuk lari. Meskipun tak tahu sedang berada dimana ia sekarang, Siwon terus melangkahkan kakinya meninggalkan tempat dimana Junho menghentikan taksinya tadi. Cuaca mulai gelap, bukan hanya karena hari sudah senja. Namun rintik hujan kecil pun mulai turun. Tak ada kendaraan lewat di tempat itu. Kanan kiri yang dilihat Siwon hanyalah pohon dan hutan. Langit semakin gelap dan hujan semakin deras. Siwon tersesat dalam dua hal buruk itu.

Drrtt…Drrrt….

Ponselnya berdering. Karena kejadian menegangkan tadi, Siwon sampai lupa kalau dirinya masih membawa handphone dalam saku jaketnya. Siwon buru- buru menjawab panggilan itu.

“Yeoboseo”

‘Wonnie, kau dimana? Aku sudah sampai di apartemenmu.’ Siwon lega mendengar suara hyung-nya di seberang sana.

“Hyung, aku dalam bahaya. Selamatkan aku. Ada penja—“

Tut! Tut! Tut!!!

Sambungan teleponnya terputus.

“Sial! Tidak ada sinyal.” Siwon memaki keadaan buruknya saat ini. Ia terus berjalan ke depan. Berharap keajaiban datang padanya. Sepertinya Tuhan mengabulkan doanya,  sebuah cahaya yang bersumber dari sebuah mobil menuju ke arahnya. Siwon melambaikan tangannya untuk menghentikan mobil itu. Berharap mendapatkan tumpangan.

“Chogiyo…!!!”

Mobil itu pun berhenti. Siwon bernapas lega. Ia mengetok kaca mobil dan sang pengemudi pun menurunkan kaca mobilnya. Siwon melihat sesosok namja dengan salah satu tangan memegang kemudi dan yang lainnya memegang ponselnya. Sepertinya orang itu tengah menyetir sambil menelpon.

“Anneyong, tolong aku tuan. Aku butuh tumpangan.”

Pengemudi mobil itu tersenyum pada Siwon. Lebih tepatnya menyeringai.

“Aku menemukannya.” Ucap orang itu. Bukan kepada Siwon, tapi kepada lawan bicaranya di telepon.

Siwon yakin ia sudah salah meminta tumpangan. Namja di depannya ini kemungkinan besar adalah rekan dari penjahat yang menyamar sebagai supir taksi tadi. Tanpa pikir panjang, Siwon mengambil langkah seribu dari tempat itu. Ia berlari masuk ke dalam hutan. Kalau ia tetap lari di jalan, penjahat itu pasti mengejarnya dengan mobil dan ia takkan sanggup menghindari kejaran mereka.

Siwon berlari masuk terus ke bagian dalam hutan yang entah kemana jalan keluarnya. Nafasnya tersengal- sengal. Berlari di tengah hutan dalam kondisi hujan lebat membutuhkan kekuatan yang besar, yang saat ini tidak dimiliki Siwon.  Sakit di sekujur tubuhnya menambah keharusan dirinya untuk berhenti sejenak. Ia terduduk di bawah salah satu pohon. Mencoba mengatur nafasnya kembali. Beberapa saat kemudian, Siwon mendengar suara derap langkah dan cahaya senter mendekat ke arahnya. Siwon menghindari cahaya lampu senter dengan bergeser ke sisi lain pohon. Membelakangi arah cahaya lampu itu.

“Lari kemana dia?” Tanya salah seorang yang mengejarnya yang Siwon kenali sebagai suara orang yang menjadi supir  taksi alias Junho.

“Dia terluka kan? Pasti tidak jauh dari sini.” Jawab Junsu. Namja yang mengemudikan mobil yang hendak ditumpangi Siwon. Mereka berhenti beberapa meter dekat persembunyian Siwon. Junsu seperti menyadari keberadaan Siwon. Ia menyorot sekeliling tempat itu. Beruntung pohon yang dipakai Siwon untuk bersembunyi sangat besar sehingga menutup seluruh tubuhnya dari sorotan lampu senter milik Junsu. Siwon menutup mulutnya agar deru nafasnya tidak terdengar oleh Junsu dan Junho.

“Wae hyung?” Tanya Junho lagi.

“Ani. Kita teruskan pencarian.”

Mereka berdua melangkah menjauhi tempat persembunyian Siwon.

Drrrt….Drrrt….drrrrrt…!!!!

Ponsel  Siwon berdering di saat yang tidak tepat. Siwon sendiri kaget dan segera mematikan ponselnya. Namun terlambat, Junsu  dan Junho sudah mendengarnya. Mereka menghentikan langkah dan berbalik menuju sumber suara ponsel. Siwon tertangkap basah. Ia bangkit untuk kabur lagi. Namun, Junsu dan Junho kini sudah berdiri di hadapannya.

“Mau kemana Tuan Choi?” Junho menatap penuh dendam pada Siwon.

“Si—apa kalian? Apa yang kalian inginkan?”

“Perkenalkan, kami adalah Jun Brothers. Utusan dari Presdir Hwang. Kau mau tahu tujuan kami?” Kali ini Junsu yang berbicara pada Siwon.

Ponsel Siwon berdering lagi. Junsu dengan sigap merebutnya dari tangan Siwon lalu membantingnya ke tanah dan menginjaknya sampai hancur.

“Kami dikirim untuk melenyapkanmu. Mau tahu alasannya?” Junsu menarik kerah jaket Siwon.

“Pertama, kau memacari putri kesayangannya, Tiffany.”

Buk!

Junsu memberikan satu pukulan di perut Siwon sebelum melanjutkan perkataannya.

“Kedua, kau diam- diam menyelidiki tentang Jung Il Woo. Orang yang berbahaya bagi Presdir, yang sudah kami lenyapkan enam bulan yang lalu.”

Buk!

Satu pukulan lagi melayang ke rahang Siwon yang membiru karena dingin. Bukannya tak ingin melawan, namun Siwon sudah kehabisan tenaga setelah berlari tadi.

“Ketiga, kau masuk tanpa izin ke dalam ruangan Chansung dan mengambil sesuatu dari sana.”

Breet!

Junsu membuka resleting jaket Siwon dan mengambil dokumen yang dibawa Siwon dari ruangan Chansung.

“Kau pikir dengan mudah bisa membawa bukti- bukti ini dan menyerahkannya kepada jaksa Cho? Tsk, harusnya kau tahu kalau di ruangan itu dipasang kamera cctv. Jadi, pasti kau akan ketahuan oleh pemiliknya.”

“Ka—lian i—ngin mem—bunuh—ku?”

“Tentu saja. Tapi kami ingin bermain- main sebentar denganmu.” Junsu mengeluarkan smirk jahatnya. Ia melirik Junho yang membalas dengan kedipan sebelah matanya.

***

Kyuhyun terbangun dari tidurnya. Ia menggerakkan leher dan lengannya yang kaku akibat aktivitasnya beberapa jam yang lalu. Ia melirik jam digital yang terletak di atas nakas. Pukul 6 sore. Sudah tiga jam ia tertidur pulas setelah ‘bermain’ dengan istrinya. Ia pun menatap wajah polos seorang yeoja yang masih terlelap di sampingnya. Setelah membelai rambut dan mengecup pipi sang yeoja, Kyuhyun keluar dari kamarnya menuju ruang tv. Ia mengecek ponselnya yang tergeletak di meja depan tv.

12 panggilan tak terjawab dan 1 pesan masuk. Semuanya dari nomor yang sama. Kyuhyun membuka pesan itu.

Aku sudah menemukan bukti- buktinya. Datanglah ke apartemenku sekarang’

Kyuhyun yakin pesan itu dari Siwon. Ia langsung menghubungi nomor itu. Namun panggilannya direject. Ia mencoba lagi. Kali ini telepon yang ditujunya dimatikan. Kyuhyun panik. Pasti terjadi sesuatu pada Siwon, pikirnya. Berikutnya Kyuhyun menghubungi Jong In yang ia tugaskan untuk mengawal Siwon. Namun Jong In tak juga menjawab teleponnya meskipun sudah berkali- kali dicobanya. Tidak biasanya Jong In seperti itu. Kyuhyun bertambah khawatir. Ia langsung menyambar mantelnya dan keluar dari apartemen.

“Hyung, kau masih di kantor? Aku butuh bantuanmu. Aku ke sana lima belas menit lagi.”

Setelah menghubungi seseorang, Kyuhyun mengemudikan mobilnya menuju apartemen Siwon. Setelah memarkirkan mobilnya, Kyuhyun berlari sampai di depan pintu rumah Siwon.

Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong!

“SIWON-SSHI, BUKA PINTUNYA!!!” Kyuhyun berteriak di depan pintu apartemen Siwon. Ia tidak perduli dengan tatapan sinis penghuni apartemen lain yang kebetulan melintas.

“YA, CHOI SIWON! KALAU KAU DI DALAM, BUKA PINTUNYA!”

Kyuhyun mendesah frustasi. Sepertinya Siwon memang tidak ada di dalam apartemennya. Ia berlari lagi menuju mobilnya dan melesat menuju Markas Kepolisian Gangnam. Sesampainya di sana, Kyuhyun lengsung menuju ruangan kepala polisi Kim yang merupakan seniornya dulu sekaligus oppa dari istrinya.

“Wae geurae? Kau tak terlihat cukup baik, Kyu.” Tanya Kim Young Won.

“Aku ingin hyung membantuku melacak nomor ini.” Kyuhyun menyerahkan ponselnya yang tertera nomor Siwon.

“Lima belas menit yang lalu nomor ini masih aktif. Tapi sekarang tidak lagi. Aku ingin kita melacak lokasi terakhir nomor ini.”

“Apa ini ada hubungannya dengan kasus Hwang Corp?”

“Nde. Itu adalah nomor saksi baruku yang…” Kyuhyun tidak melanjutkan kalimatnya.

“Tiba- tiba menghilang seperti waktu itu kan?” Young Won menyela. Kyuhyun mengangguk.

“Geurae. Kajja.”

Young Won mengajak Kyuhyun menuju ruangan bagian pelacak GPS yang terdapat di dalam kantornya. Saat mereka ke luar ruangan, terjadi sedikit keributan antara petugas dengan seorang namja.

“Ige mwoya?” Tanya Young Won pada bawahannya.

“Orang ini melapor tentang kehilangan adiknya. Aku sudah bilang padanya kalau sebelum dua puluh empat jam, adiknya yang berusia 27 tahun tidak bisa dinyatakan hilang. Tapi dia tetap ngotot agar kami mencari keberadaan adiknya.”

“Apa Anda kepala polisi di sini? Tolong cari keberadaan adikku. Namanya Choi Siwon. Setengah jam yang lalu aku menghubunginya dan dia bilang kalau dirinya dalam bahaya. Setelah itu telepon terputus. Dia tak bisa dihubungi lagi. Aku tidak tahu harus mencarinya dimana. Tolong bantu saya.” Seunghyun, yang merupakan orang yang diceritakan oleh opsir tadi langsung berbicara kepada Kepala Polisi Kim.

“Tunggu dulu, Anda bilang namanya Choi Siwon?” Kyuhyun menatap tak percaya pada Seunghyun.

“Benar. Ini fotonya.” Seunghyun menunjukkan foto Siwon yang sedang bersama dirinya yang selalu ia bawa di dompetnya. Kyuhyun melihatnya. Benar dugaannya, Choi Siwon yang dimaksud Seunghyun sama dengan Choi Siwon yang sedang ia cari.

“Hyung, dia adalah pemilik nomor itu.”bisik Kyuhyun pada Young Won.

“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Seunghyun.

“Tidak ada. Kami akan segera mencari keberadaan adikmu. Sebaiknya anda pulang dulu. Kami akan menghubungi Anda jika sudah menemukannya.” Kata Young Won.

“Baiklah. Ini kartu namaku. Anda harus secepatnya menghubungiku.”

“Jangan khawatir.”

***

Tiffany sudah berada di restoran yang terletak di lantai paling atas hotel Zeus. Ia sengaja memilih meja yang berada di sisi kaca besar yang menjadi dinding restoran itu. Ia teringat kata- kata Siwon kemarin.

‘Di bawah sinar bulan, aku akan berlutut dan memintamu menjadi istriku.’

Ia tersenyum sendiri sambil menatap cincin bertahtakan tiga batu safir yang melingkar di jari manisnya. Walaupun malam ini bulan tidak muncul, rintik hujan bisa menggantikannya, pikir Tiffany senang. Ia melihat ke arah jam dinding restoran. Sudah pukul 8 lebih 10 menit. Toh Siwon memang selalu terlambat setiap mereka kencan, jadi Tiffany tidak begitu khawatir. Seorang pelayan menghampirinya.

“Mau pesan sesuatu Agashi?”

“Aku sedang menunggu namjachinguku. Kami akan pesan setelah dia datang.”

“Baiklah kalau begitu.”

Pelayan itu pun meninggalkan mejanya. Tiffany kembali menatap langit yang semakin gelap dan hujan yang semakin deras. Sudah masuk awal Desember. Namun salju belum juga turun. Hanya hujan lebat yang sering datang hampir setiap hari. Tiffany membayangkan bisa menghabiskan waktu bersama Siwon selama musim dingin nanti. Bermain boneka salju, ski, dan merayakan natal bersama. Pasti akan sangat menyenangkan. Apalagi Abeoji-nya tidak lagi melarang hubungan mereka dan mereka akan segera menikah.

Di tempat lain, Kyuhyun mengemudikan mobilnya menuju hutan dimana terakhir kali ponsel Siwon masih bisa dihubungi. Kyuhyun tidak terlihat baik. Apalagi setelah mendapat kabar bahwa Jong In dan Sehun ditemukan tewas. Itu pasti ulah Presdir Hwang. Mereka berdua bukan hanya rekan kerja bagi Kyuhyun, tapi sudah dianggapnya adik sendiri. Kematian mereka sudah pasti membuatnya sangat terpukul.

Kim Young Won dan dua mobil anak buahnya juga ikut dalam pencarian Siwon. Kyuhyun, Young Won dan beberapa orang polisi menyebar mencari jejak Siwon di dalam hutan. Mereka juga membawa anjing pelacak. Salah satu anjing pelacak itu mengonggong di bawah pohon tempat Siwon berlindung sebelumnya.

“Kepala Kim,” opsir yang membawa anjing tersebut memanggil Young Won agar melihat tempat itu.

Young Won, Kyuhyun dan Seunghyun langsung mendatangi tempat itu. Young Won berjongkok memeriksa tanah di bawah pohon dan sekitarnya. Dengan melihat jejak- jejak yang belum terhapus sepenuhnya oleh air hujan, Young Won mencoba membayangkan apa yang terjadi di tempat itu sebelum mereka datang.

“Dia terduduk di sini, lalu dua orang menghampirinya. Mungkin waktu itu bertepatan saat kau menghubunginya. Ponselnya direbut, lalu diinjak.” Young Won memungut ponsel Siwon yang sudah hancur menjadi empat bagian dan memasukannya ke dalam kantong transparan lalu menyerahkannya kepada salah sau anak buahnya.

Kemudian Young Won melanjutkan hipotesisnya,”Dia di seret meninggalkan tempat ini.”

Young Won menyorot jejak- jejak kaki Siwon dan Jun Bro yang berjalan meninggalkan tempat itu dengan senternya.

“Kita ikuti jejak ini. Kemungkinan mereka membawa Siwon-sshi keluar dari hutan. Kajja. Semoga mereka belum membahayakannya.” Perintah Young Won.

Mereka berjalan setengah berlari menyisir jejak kaki yang perlahan menuju keluar dari hutan itu. Sampai di luar hutan, tak ada lagi petunjuk. Young Won pun melibatkan lebih banyak polisi lagi untuk melacak keberadaan Siwon di daerah itu. Mereka harus bergerak cepat, kalau tidak, nyawa Siwon bisa menjadi taruhannya.

***

Siwon sedang berdiri di tengah sebuah lingkaran yang dibentuk oleh putaran mobil Junsu dan taksi yang dikemudikan Junho. Seperti tawanan yang siap dieksekusi, Siwon hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan Jun Brothers kepadanya. Suara decitan ban, cipratan air, cahaya lampu mobil, serta guyuran air hujan dan angin, silih berganti menyerang tubuh Siwon. Sedangkan Junsu dan Junho tertawa puas dari dalam mobil mereka melihat penderitaan yang dialami Siwon. Mereka terus berputar- putar di sekitar Siwon hingga Siwon terduduk lemas ke tanah. Ia kehabisan nafas. Tubuhnya basah kuyup dan kedinginan. Siwon merasa kematian sudah ada di depannya. Junsu dan Junho menghentikan aksi mereka saat sebuah SUV warna silver berhenti di dekat mereka. Pengemudi mobil itu pun turun. Junho dan Junsu memundurkan mobil mereka memberi jalan pada namja yang baru turun dari mobilnya untuk mendekati Siwon.

Siwon mendongak menatap namja itu,”Chan—sung,,,” lirih Siwon.

Chansung membantu Siwon berdiri. Ia memegang pundak Siwon dengan kedua tangannya.

“Maaf, kakak ipar. Aku terpaksa melakukan ini padamu. Semua kulakukan untuk melindungi Abeoji, diriku, dan juga Tiffany. Aku harap kau bisa mengerti.”

Setelah menepuk pundak Siwon, Chansung kembali ke mobilnya. Ia menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya mengarah ke Siwon. Siwon yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa pasrah saat mobil Chansung menabraknya dan membuat tubuhnya terlempar ke jurang yang berada beberapa meter di belakangnya.

“Siwon sudah diselesaikan.” Lapor Chansung pada ayahnya lewat telepon. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Dia tidak tersenyum puas seperti Junsu dan Junho. Juga tidak merasa bersalah atau menyesal sama sekali.

Setelah beberapa menit, Chansung melajukan mobilnya dari tempat itu diikuti oleh Jun Brothers. Hanya Tuhan yang tahu nasib Siwon di bawah sana. Tapi bagi mereka, Siwon sudah mati dan tak akan mengganggu urusan mereka lagi.

Pukul 11 malam. Tiffany masih menunggu di restoran.

“Jeoseohamidha Agashi, anda yakin namjachingumu akan datang? Ini sudah sangat larut. Dan kami akan segera tutup.” Pelayan yang menanyai Tiffany sebelumnya kembali menghampirinya karena Tiffany belum juga meninggalkan restoran sementara restoran sudah mau tutup.

Tiffany tersenyum pada pelayan itu.” Maaf sudah merepotkan. Aku tidak tahu dia mau datang atau tidak. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Tidak biasanya dia seperti ini. Kalau begitu aku akan segera pergi. Sekali lagi maaf sudah merepotkan.” Tiffany bangkit dari kursinya. Meskipun Tiffany mencoba membuat wajahnya senormal mungkin, tapi sang pelayan dapat melihat kecemasan dan kekecewaan yang dirasakan Tiffany.

Tiffany menunggu taksi yang dipesannya di lobi hotel. Ia melihat hujan yang tak kunjung berhenti sejak petang tadi. Biasanya ia senang jika hujan turun. Karena saat hujanlah kenangan- kenangan indah bersama Siwon tercipta. Tapi kali ini, Siwon justru membuat kenangan buruk dengan tidak datang memenuhi janjinya.

“Oppa,,,” lirih Tiffany. Ia memegang dada kirinya yang entah kenapa terasa sedikit nyeri dan air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya.

***

Keesokan harinya,  Tiffany datang ke kantor seperti biasanya. Semua berjalan normal kecuali satu hal. Siwon tak datang. Tiffany menatap pintu ruangan Siwon yang tak juga terbuka karena kedatangan pemiliknya.

“Wae?” Hyo menanyakan padanya karena sejak pagi Tiffany terlihat murung.

“Dia tidak datang semalam. Sekarang pun tak datang ke kantor.”

“Sudah coba telepon dia?”

“Ponselnya tidak aktif. Aku sudah ke apartemennya tadi pagi. Dia juga tak ada di sana.”

Hyo menepuk pundaknya,” Tenanglah, mungkin dia sedang ada urusan mendesak dan belum sempat menghubungimu. Ayolah Tiff, dia baru menghilang semalam kau sudah begitu cemas.”

“Mungkin kau benar. Kajja, kita lanjutkan pekerjaan.”

Tiffany mencoba bersabar menunggu Siwon muncul di hadapannya ataupun sekedar menghubunginya. Namun, penantiannya harus berlangsung lebih lama dari yang dipikirnya. Sudah satu minggu sejak Siwon menghilang. Tiffany pun tak bisa menyimpan kekhawatirannya lebih lama lagi. Ia meminta ayahnya membantunya mencari keberadaan Siwon.

“Apa sudah ada kabar mengenai Siwon oppa?”

Presdir Hwang menggeleng,”Sampai sekarang kami belum menemukannya.”

“Tidak mungkin. Bagaimana Siwon oppa bisa hilang begitu saja. Apa tidak ada kemungkinan dia pergi keluar negeri?”

“Aku sudah memeriksa bagian imigrasi. Tidak ada catatan mengenai kepergian Siwon ke luar negeri.”

Tiffany menghela nafas frustasi.

“Mianhae, Tiff. Abeoji sudah berusaha untuk membantumu semaksimal mungkin.”

“Gwaenchana. Aku bisa menerimanya. Geurom.”  Tiffany pamit dari rumahnya. Ia berjalan menuju halte bus seperti biasanya. Tiba- tiba salju turun. Tiffany mendongak ke atas. Ia benar- benar melihat salju. Kemudian ia menadahkan tangannya, sebutir salju jatuh ke telapak tangannya. Ia tersenyum melihat butiran salju itu. Kemudian ia malah terisak. Semakin lama tangisnya semakin pecah.

“hiks hiks hiks”

Bug!

Sebuah bola salju tiba- tiba mendarat di bahunya. Otomatis Tiffany melihat ke arah asal bola salju itu. Seketika ia tersenyum melihat namja yang menatap ke arahnya dengan senyum lesung pipi yang dirindukannya.

“Oppa?!!!” seru Tiffany. Ia langsung menghapus air mata dengan kedua tangannya. Siwon oppanya datang. Ia meihat namja yang dirindukannya datang menghampirinya.

“Pabo. Kenapa berjalan di tengah salju dengan pakaian seperti ini?”

Tiffany tidak protes saat Siwon memarahinya. Ia malah tersenyum senang. Apalagi Siwon menariknya kepelukannya dan menyelimuti dengan mantel yang dipakainya. Tiffany merasa hangat dan damai dalam pelukan Siwon dan mantel tebalnya.

“Bogoshippo, baby.”

“Nado.”

Siwon mengecup kening Tiffany. Tiffany pun memejamkan matanya merasakan kecupan hangat di keningnya. Namun, tiba- tiba  ia merasakan hawa dingin menusuk kulitnya. Saat ia membuka matanya, Siwon tak ada di depannya. Hanya hembusan angin dan butiran salju yang dilihatnya sekarang.

“Oppa!!! Eodiga?”

“Op-pa!!!! hiks, hiks, hiks,,,”

Tiffany terisak kembali. Menyadari hal yang dialaminya barusan hanyalah sebuah halusinasi karena kerinduannya pada Siwon. Tanpa diketahuinya, rupanya Chansung mengikutinya sejak ia keluar dari rumah mereka. Chansung menatap miris saudaranya yang terlihat menderita karena kehilangan kekasihnya. Ia yang sudah membuat Tiffany seperti itu.

Chansung keluar dari mobilnya untuk menghampiri Tiffany.

“Fany,,,”

Chansung memakaikan mantel yang sengaja dibawanya untuk Tiffany.

“Aku akan mengatarmu. Kajja.”

Tiffany mengangguk. Ia naik ke mobil Chansung.Selama perjalanan menuju apartemennya, Tiffany tidak membuka suara.

“Liburan musim dingin nanti, bagaimana kalau kita pergi ke Amerika? Katanya natal di sana sangat meriah. Sejak lulus kuliah, kita belum pernah liburan bersama kan?”

Tiffany masih diam. Ia tidak mendengarkan Chansung. Matanya menatap kosong ke arah jalanan. Chansung menghentikan mobilnya di tepi jalan.

“Tiffany,,,” Chansung memanggil Tiffany, kali in ia membuat Tiffany menghadapnya.

“Eoh?”

“Aku sedih melihatmu seperti ini terus. Aku ingin mengajakmu liburan minggu depan. Kau harus setuju. Aku memaksa.”

Tiffany tidak menjawab. Chansung menganggap itu sebuah persetujuan. Ia kembali mengemudikan mobilnya menuju apartemen Tiffany.

***

“Hentikan semuanya, Kyu.” Ujar Young Won pada Kyuhyun.

“Maksud hyung?”

“Pertama Jung Il Woo. Sekarang Choi Siwon. Berikutnya kita tidak tahu lagi siapa yang akan menjadi korban kekejaman Presdir Hwang. Bisa saja yang berikutnya adalah kau sendiri.”

“Aku rela mati asalkan bisa menghentikan kejahatannya.”

“Bagaimana dengan Hyuna? Kau tidak memikirkannya dan anakmu yang sedang dikandungnya? Kalau terjadi sesuatu padamu. Bukan hanya Hyuna yang akan kehilangan suaminya, tapi juga anakmu akan menjadi yatim. Aku tidak mau adikku dan keponakanku menderita nantinya. Aku mengerti itu adalah tugasmu sebagai penegak hukum. Tapi Presdir Hwang terlalu berbahaya. Aku juga tidak mau kehilanganmu, Kyu. ”

Kyuhyun mendengar dengan seksama penuturan kakak iparnya. Apa yang dikatakannya memang benar. Mungkin semua ini harus diakhiri, pikir Kyuhyun. Presdir Hwang berada pada level jauh di atasnya. Ia tidak yakin sanggup mengalahkannya.

Kyuhyun mengambil ponsel dari sakunya untuk menghubungi seseorang.

“Yeoboseo, Choi Seunghyun-sshi. Kami sudah menemukan adikmu. Dia mengalami kecelakaan. Aku akan mengirim alamat rumah sakit tempat dia dirawat.”

Setelah menghubungi Seunghyun, Kyuhyun masuk ke dalam salah satu ruangan di rumah sakit itu. Tempatnya berada bukan rumah sakit biasa. Itu adalah rumah sakit milik pemerintah yang berkedok klinik swasta. Tempat itu dikhususkan untuk merawat dan melindungi korban dan saksi sebuah kejahatan yang hanya diketahui oleh polisi dan aparat hukum tertentu yang mendapatkan izin.

Ruangan yang dimasuki Kyuhyun sekarang adalah ruangan tempat Jung Il Woo dirawat semenjak ditemukannya enam bulan yang lalu. Jung Il Woo masih dalam keadaan tak sadarkan diri akibat luka- luka yang dideritanya. Sama seperti keadaan Siwon saat ini. Siwon pun mengalami nasib yang sama. Ia masih terbaring koma di ruangannya selama satu minggu setelah peristiwa malam naas itu.

“Mianhae, ahjusshi. Aku tidak bisa memenuhi janjiku menuntaskan kasus ini. Ku lakukan semuanya untuk melindungi keluargaku. Sekali lagi mianhae.”

Kyuhyun menatap nanar pria berumur lima puluhan itu. Ia menghapus air matanya sebelum meninggalkan ruangan. Ia menemukan Seunghyun sudah datang sedang bertanya kepada resepsionis. Ia pun memanggil Seunghyun dan membawanya ke ruangan tempat Siwon dirawat.

“Keadaan Siwon-sshi tidak cukup baik. Luka yang dideritanya sangat parah. Kami tidak bisa memperkirakan kapan dia bisa sadar. Kalaupun dia sadar nanti, kemungkinan besar dia akan mengalami amnesia akibat benturan keras di kepalanya.” Kata dokter menjelaskan keadaan Siwon kepada Seunghyun.

“Aku ingin membawa Siwon kembali ke Amerika dan melakukan pengobatan di sana. Aku punya kenalan dokter terbaik di rumah sakit California.” Ujar Seunghyun.

“Itu berita bagus. Sebaiknya Anda cepat membawanya ke sana. Agar Siwon-sshi bisa secepatnya disembuhkan.” Dokter menyetujui usulan Seunghyun.

“Baik Dokter.”

Kyuhyun pun berpikir itu adalah langkah terbaik untuk menjauhkan Siwon dari Presdir Hwang. Kyuhyun mengatur keberangkatan Seunghyun dan Siwon ke Amerika agar tidak diketahui oleh Presdir Hwang. Jika mereka tahu Siwon masih hidup, Siwon akan kembali menghadapi bahaya.

“Seunghyun-sshi, boleh kuminta satu hal padamu?” kata Kyuhyun saat mengantar Seunghyun keluar dari rumah sakit.

“Silahkan.”

“Kalau nanti Siwon sadar dan kehilangan ingatannya, jangan pernah beritahu padanya kalau dia pernah ke sini. Jangan tanya kenapa. Lakukan saja hal itu untuk melindunginya. Kau ingat saat dia menelponmu dan bilang kalau dia sedang dalam bahaya, itulah alasannya. Kau harus menghapus ingatannya di Seoul. Biarkan dia menjalani kehidupan barunya.”

“Aku tidak mengerti yang kau katakan. Tapi kalau itu memang untuk kebaikan Siwon, aku akan melakukannya.”

“Terima kasih. Dan kalau ada sesuatu yang terjadi pada Siwon atau jika dia sadar dan dapat mengingat semuanya, tolong hubungi aku. Ini kartu namaku.”

Seunghyun menerima kartu nama Kyuhyun. Ia memang tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi pada Siwon. Tapi yang terpenting sekarang adalah dia harus membawa Siwon ke keluarganya dan menjauhkan Siwon dari penjahat- penjahat yang bisa membahayakan nyawanya.

***

Seminggu kemudian, Tiffany menginjakkan kakinya di bandara internasional Los Angeles, California. Ia bersama Chansung yang memenuhi janjinya untuk mengajak Tiffany liburan di Amerika. Mereka menaiki taksi yang akan membawa mereka ke hotel. Sepanjang jalan, Tiffany melihat pernak- pernik natal menghiasi toko- toko dan rumah- rumah penduduk. Banyak anak- anak sedang bermain ski dan membuat boneka salju.

“Kau ingat, dulu kita sering berlomba membuat boneka salju. Siapa yang bisa membuat lebih besar dan bagus, dialah yang menang.” Ujar Chansung mengingatkan masa kecil mereka.

“Ne. Dan kau curang karena meminta eomma membantumu membuatkannya.”

“Kau juga meminta bantuan Abeoji. Akhirnya yang bertanding saat itu adalah Abeoji dan Eomma.”

“Ha ha ha” mereka tertawa bersama. Chansung senang akhirnya Tiffany bisa tertawa kembali semenjak ia kehilangan Siwon. Mungkin idenya membawa Tiffany liburan bisa berdampak baik untuk suasana hati Tiffany.

Chansung dan Tiffany menghabiskan waktu liburan mereka selama tiga hari dengan berkeliling kota paling glamour di Amerika itu. Tiffany cukup terhibur. Sekarang adalah malam natal. Chansung mengajaknya ke pameran pohon natal raksasa di tengah kota.

“Kau kedinginan?”

“Sedikit.”

“Aku akan beli kopi dulu. Kau duduk saja di sini.”

“Ne.”

Chansung pergi ke kedai kopi terdekat. Tiffany duduk di salah satu bangku di pinggir jalan dekat pohon natal raksasa. Semakin malam tempat itu semakin ramai dikunjungi orang. Banyak yang datang bersama keluarga, teman dan juga pasangan mereka. Tiffany menatap pohon natal raksasa di hadapannya. Ia ingin membuat sebuah permohonan. Bukankah selalu ada keajaiban saat malam natal?

Tiffany mulai memejamkan matanya. Ia berharap bisa bertemu dengan Siwon. Ia ingin tahu bagaimana keadaan kekasihnya itu sekarang. Bagiamana wajahnya, rambutnya, tubuhnya, apakah ia baik- baik saja, apakah ia juga merindukan Tiffany seperti Tiffany merindukannya. Air mata mengalir menghangatkan pipinya. Lalu Tiffany membuka matanya perlahan. Kembali menatap pohon natal raksasa dan orang- orang yang berkerumun di bawahnya. Saat itu juga ia melihat seorang namja duduk di sebuah kursi roda di depan sebuah café tengah menatap pohon natal raksasa. Namja itu juga memejamkan matanya, berdoa seperti yang dilakukan Tiffany tadi. Tiffany melebarkan matanya. Meyakinkan dirinya sendiri kalau yang dilihatnya adalah Siwon.

“Oppa!!!”

Tiffany bangkit dari bangkunya. Ia berlari menuju cafe tempat Siwon berada. Banyaknya orang di tempat itu membuatnya kesulitan. Chansung yang hendak menghampirinya setelah membeli kopi, terpaksa mengikutinya yang terus berjalan menembus kerumunan orang- orang di bawah pohon natal raksasa. Setelah berhasil melewati kerumunan orang, Tiffany melihat kembali ke arah Siwon berada tadi, namun Saat seorang wanita paruh baya keluar dari café itu, ia membawa Siwon bersamanya masuk ke dalam sebuah mobil. Tiffany tercekat. Ia berlari kencang mengejar mobil itu tanpa memperhatikan jalan.

“Oppa…!!!!”

Tiffany terus berlari.

Chansung yang masih mengejar Tiffany melihat sebuah mobil yang melaju ke arah Tiffany. Ia berteriak memperingatkan Tiffany.

“Tiffany,,,,awas!!!”

Namun terlambat.

Bruuuk!!!!

Tiffany tertabrak. Ia jatuh terjerembab di aspal dengan darah mengalir dari kepalanya dan selangkangannya.

Chansung berteriak histeris, “Tiffany!!!”

***

Di rumah sakit, Tiffany segera mendapat tindakan dari dokter setempat.

“Apakah anda walinya?” tanya dokter yang memeriksa Tiffany.

“Ya dokter.”

“Tolong tanda tangani surat persetujuan untuk operasi ini.”

Chansung membaca surat itu sebelum menandatanganinya.

“Operasi pengangkatan janin?” Chansung menautka alisnya.

“Sepertinya Miss Hwang mengalami keguguran. Kami harus segera mengangkat janin yang ada dikandungannya dan membersihkannya rahimnya. Anda tidak tahu soal kehamilannya?”

“Tiffany hamil?”

“Benar. Usia kandungannya menginjak empat minggu. Sayang sekali ia harus kehilangan janinnya karena kecelakaan itu.”

To be continued…

Anneyong,,, readerdeul!!!

Jujur aku sedih banget pas bikin part ini. Semua orang harus kehilangan. Sesuai judulnya, LOST yang artinya hilang.

Siwon harus kehilangan ingatannya, Tiffany kehilangan Siwon dan calon bayinya, Kyuhyun kehilangan harapannya untuk menangkap Mr. Hwang demi istri dan calon anaknya, dan Chansung, dia kehilangan apa ya? Ada yang tahu?

 

80 thoughts on “(AR) The Rain Part 5

  1. Chansung kehilangan hatinya -_-”
    Aigoo author , cerita ini bener-bener tragedy , aku suka tapi harus tetep happy ending nantinya yaaaah^^
    Hampir” lupa sama cerita ini karena banyak flashbacknya , tapi setelah inget jadi semangat, semoga part berikutnya banyak SiFany moment’nya😉
    Sayang SiFany harus kehilangan bayinya , tapi author bisa dong bikinin lagi nanti biar SiFany punya baby lagi , hihiii😀
    Fighting author , Update soon please ^^

  2. AAAAAAAHHHHH !!!! ><
    seneng banget akhirnya bisa balik baca ff rain ini lagi setelah sekian lama sibuk dgn persiapan ujian yg bikin stres T.T
    ini pun masih nyolong waktu buat baca ff + komen D:
    aaaaaiiihhh udah ketinggalan banyak ff nih, kangen banget sama ff dan admin yang ada di sifany island ^^

  3. yeeeayy ff rain is back !!!!
    gak kerasa udah part 5 aja, kangeeenn banget sama ff kesayangan aku ini T________T
    kenapa cerita nya makinnn seruuuuu heuh ??!!!??? kan jadi penasaran tingkat akut ^,^
    hayoo min tanggung jawab kekeke🙂
    di part 5 ini judul nya lost dan benar semua kebahagiaan hilang bawaannya sedih mulu TT.TT
    iiiihhhh pokok nya keren keren keren !!!!
    gomawo admin udah ngepost ff rain part 5 ini ^^

  4. something happen when the rain is falls …

    hujan di part 5 hujan kesedihan TT____TT
    chansung oppa sama ayahnya fany unnie jahat banget !!!
    sampai2 siwon oppa hilang ingatan fany unnie kehilangan anak nya dan siwon oppa😦
    rumit banget permasalahan nya tapi keren dan bagus banget ^^
    next part —–>> part 6 can’t wait :^)
    admin fighting !!!!

  5. Aku lupa dr part 1 mpe yg ke 5 dah coment blm ya, klo blm n bru coment, maaf bngt ya. Aku bca klo ga salah dr part 3, ceritanya bagus, alurnya rapi, jd nyaman mencerna ceritanya, ditunggu next part nya ya, gomawo

  6. Chansung kehilangan perasaannnya #duar
    Tuan Hwang jahat banget, nyebelin -,-
    SiFany harus happy ending pokoknya! #kibarkibarbendera

  7. Hduhhh knpa tif nya jd kguguran bgtu mr hwang jahat bingitttt nylkain orang jh krjaan nya.kyuhyunnie dh pnya istri dan itu hyuna ya allah ga bsa byangn nya😀 lbh ska kyu sm sooyoung . . . Hduhhh klo bsa tiff nya jgn kggran dund kn ksian baby nya.hiks mga wonnie nya jf ga ilng ingtan .aminnn

  8. Tuan Hwang jahat sekali memisahkan sifany dan mengakibatkan fany kecelakaan dan keguguran.
    Jjang thor.hwaiting thor.next part thor.

  9. Lost? Semuanya aja hilang, kehilangan…😢😢
    Siwon oppa, Fany eonni… harus kehilangan kebahagiaan…😨😱😲
    Abeoji Fany eonnj jahat… kasian Fany eonni….
    Mau nangis baca part ini😢😣😦
    Penasaran kelanjutannya
    Next next next

  10. Kejam y mr hwang. tega mbwt fany mnderita pun fany tdk th. bhkn yg lbh bikin sedih fany hamil tp hrs keguguran….bikin haru…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s