(AR) Destiny Lines

Destiny Lines (wineandashes.wordpress.com)

– Destiny Lines-

Main Cast

Choi Siwon

.

Tiffany Hwang

.

Nichkhun Buck Horvejkul

Rating

PG – 15

Lenght

Ficlet

Genre

Romance, Sad, Life, OOC

Disclaimer

The cast are belong to themselves, parents, management and God. I just borrow the name for my story. This story is mine and original by me, so don’t be a plagiator! Sorry if you got the typo. Keep RCL. Inspired by Melly Goeslaw Feat Eric – Apa Artinya Cinta and my imagination.

Poster By

Azureveur

*****

“Hanya orang bodoh yang mengatakan bahwa cinta tidak harus saling memiliki.”

Seteguk cairan bening berbau menyengat mengalir tanpa hambatan, membasahi kerongkongan kering dengan partikel – partikel memabukan. Api pada perapian ikut andil menghangatkan malam yang telah pekat dalam kegelapan, meresap masuk pada pori – pori kecil permukaan kulit yang membeku. Tangan kasar itu kembali meraih gelas sloki kecil diatas meja dan menelan tanpa beban Chase yang tinggal tersisa setengah. Efek halusinasi belum mampu merobohkan dirinya, pria itu terus saja mengenggam sloki di tangan kanan, lalu meremas dadanya yang terasa sesak menghimpit dengan tangannya yang lain. Padahal, persediaan oksigen masih terlampau melimpah hanya untuk sekedar dihirup beberapa saat. Bibir kering milik pria bernama Choi Siwon tersebut berdesis halus, menggumamkan suatu kalimat yang sulit ditangkap indera pendengaran.

Jarum – jarum jam berlomba saling mendahului hingga tak terasa waktu telah bergulir terlalu cepat. Siwon menghela nafas dalam sekali hentakan keras yang menyiksa, penuh rasa sakit, benci, dan kehilangan. Pria dengan tatanan rambut Fauxhawk  itu kembali meraih dadanya yang terbalut kemeja hitam Le Collezioni, meremas kuat hingga terasa rasa sakit yang menjalar. Namun, luka berlubang tak kasat mata di dalam hati, jauh lebih menyakitkan dibandingkan sebuah luka kemerahan yang mudah untuk hilang.

Bibir keruhnya bungkam seribu bahasa, merekat kuat satu sama lain atas kehendak pikiran yang mulai lumpuh. Siwon mereguk oksigen semampu yang paru – paru miliknya bisa. Lalu, dengan cepat mengambil sebuah undangan berwarna dasar putih gading dengan detail emas berkilauan di beberapa sisi yang tergeletak tak berdaya diatas meja kaca. Perlahan namun pasti, kedua bola mata kelam miliknya mampu menangkap rangkaian kata yang tercetak rapi diatas permukaan kertas.

Tiffany Hwang and Nichkhun Buck Horvejkul

.

.

.

Engagement Party

 

Sebuah senyum mengembang setelahnya. Tapi, tidak ada satupun kebahagiaan yang terselip diantara ruang – ruang pecah dan kehitaman. Hanya sebuah senyum hampa dengan beribu pemikiran untuk sekedar menebak arti yang tersirat. Siwon membolak – balikan undangan di dalam genggaman tangannya, akhirnya ia bisa menemukan apa yang sedang ia cari saat ini. Siwon mengusap pelan foto sesosok wanita dengan sebuah senyum manis menawan yang terpancar pada bibir dan kedua bola mata yang melengkung indah laksana bulan sabit.

Grek!

Jari – jari Siwon dengan beringas menusuk foto pria dengan sebuah jas putih yang berada tepat disamping sosok sang wanita cantik tadi. Senyum kini telah berganti menjadi cibiran sinis menakutkan. Siwon semakin menusuk dalam foto pria tersebut dengan kekuatan penuh. Kuku tajam dan panjang milik Siwon pun akhirnya benar – benar membuat foto tersebut tidak berbentuk lagi.

Selanjutnya, Siwon berjalan penuh keangkuhan menuju lemari kaca di ujung ruangan. Bersenandung kecil mengambil sebuah gunting berukuran sedang. Tanpa basa – basi foto dalam undangan di tangan Siwon  telah terbagi menjadi dua dan dengan santainya pula Siwon pun akhirnya melempar foto tersebut ke perapian. Jilatan lidah api mulai membakar foto pria yang berhasil dirusak oleh tangan nakal Siwon, tak perlu waktu lama hingga lembaran tipis penuh lubang tersebut berubah menjadi abu dan berterbangan naik melalui cerobong asap dan terbawa angin malam.

Perhatian Siwon kembali pada sang pujaan hati. Penuh perasaan bibirnya mulai mencumbu foto yang berada dalam genggaman, seakan – akan ia memang benar – benar sedang menikmati setiap inci dari bibir merah muda yang ranum milik sang wanita. Tiffany Hwang, wanita yang pernah dan akan selalu singgah dalam hati, pikiran, serta setiap jengkal kehidupannya.

“Kau hanya milikku, Hwang Miyoung.”

Hembusan angin menggoyangkan tirai yang sejak tadi diam. Siwon tersadar akan suatu hal. Dilirik dengan cepat jam yang telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, secara bergantian pria bertubuh tegap tersebut melirik pada jam dan undangan yang tinggal tersisa setengah di bagian belakang. Ia masih memiliki 8 jam tersisa untuk mengubah garis takdir yang tak seharusnya terjadi.

Tap! Tap! Tap!

Siwon berlari cepat menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2, meraih dompet kulit dan ponsel yang tergeletak diatas nakas kecil disamping tempat tidur. Pria itu tidak membutuhkan koper besar berisi puluhan pakaian untuk pergi ke Sapporo, tempat yang akan ia singgahi. Baru beberapa langkah, Siwon merasa seperti melupakan sesuatu. Paspor! Ya, Siwon lupa pada benda sakral satu itu. Mau tak mau Siwon pun harus kembali memasuki kamarnya, namun kali ini tujuannya adalah lemari.

Siwon membuka lemari dengan kasar, mengaduk – aduk isi kotak besar berbahan mahoni tersebut. Ia menemukan paspornya yang terdapat di dalam laci bagian dasar, tapi sebuah benda lain berwarna hitam berhasil mengusik pendiriannya.

Menunduk dengan dalam dan menghembuskan nafas dengan kasar untuk yang kesekian kali. Kini, sebuah senyum kembali terbit di bibirnya, tapi lagi – lagi bukan sebuah senyum penuh rasa bahagia. Siwon meraih benda hitam yang sedikit dilapisi debu tersebut, mengambil sebuah kantung dan memasukan benda tersebut kedalamnya.

Jeongmal  Saranghaeyo.

Siwon pun meninggalkan ruangan tersebut dengan secepat kilat.

*****

Paras menawan yang terselimut awan kelabu. Lapisan bening kornea tanpa cahaya, mati dalam sebuah artian yang tidak bisa sekedar dituliskan dengan kata – kata. Wanita itu telah kehilangan rasa, meskipun hari ini mungkin akan membahagiakan ratusan manusia diluar sana. Tapi, ini semua terasa tidak adil, terlebih untuk dirinya yang menjadi pemeran utama dalam sebuah sandiwara bodoh keluarga.

Tangannya terangkat, menggengam dengan erat sebuah kalung permata yang melingkari leher jenjang pucat kebanggaan. Titik – titik jahanam itu tidak lagi bisa terbedung untuk tetap diam di tempatnya, tanpa persetujuan meluncur indah menghapus segala jejak tipis di wajah.

“Dimana Pria bodoh itu? Apakah ia tidak tau jika aku sedang merindukannya saat ini?”

Tiffany menggeram dalam hati, berharap bahwa itu semua akan sampai ke telinga para malaikat diatas langit yang nantinya akan mengabulkan permintaannya. Tapi, ia sadar jika itu semua tidak akan terjadi.

Kriet!

Pintu sedikit terbuka dan terpampanglah seorang pria bertubuh ramping dengan sebuah tuxedo menghampirinya. Nichkhun, pria itu mulai mengambil salah satu dari tangan Tiffany dan menggengamnya dengan hangat. Wanita itu hanya bergeming saat Nichkhun mulai tersenyum kearahnya, ia hanya ingin seorang pria diluar sana.

“Aku tau kau begitu gugup. Tak perlu khawatir, aku akan selalu ada disisimu.” Ucap Nichkhun lembut. Tiffany acuh sembari terus bergeming dan lebih memilih untuk menghadap kearah jendela yang berembun serta tertutup salju. Masih berharap jika pria bodoh pujaannya akan datang dan menjemputnya saat ini juga.

“Khun bersiaplah!”

Suara seseorang diluar ruangan berhasil memecahkan kebisuaan diantara keduanya. Nichkhun menatap sekali lagi kearah Tiffany, tersenyum lalu memberikan sebuah kecupan manis di bibir ranum sang calon pendamping hidup. Setelahnya, ia melenggang keluar meninggalkan Tiffany sendiri.

“Brengsek!”

Tiffany menghapus jejak bibir Nichkhun yang sempat tersemat diatas bibirnya menggunakan tisu yang tersedia diatas meja rias. Memaki – maki pria berambut brunette tersebut yang telah dengan lancang mencium dirinya beberapa saat yang lalu.

Jam telah berdetak memasuki waktu pukul 08.00 pagi. Tiffany berharap bahwa waktu akan berjalan lebih lama dari yang seharusnya. Wanita itupun ikut berharap bahwa Tuhan mau memberikannya belas kasihan agar ia bisa menemukan kisah bahagianya sendiri. Bersama pria bodoh yang terus saja akan menguasai hatinya, Choi Siwon.

Krekk…Krekk….Krekk…

Terdengar suara riuh yang berasal dari arah jendela. Tiffany mengambil ancang – ancang sembari memfokuskan kedua matanya pada papan kayu berlapis kaca berukuran sedang dengan engsel kuningan tersebut. Namun, seketika seluruh pendiriannya hancur lebur seperti besi yang meleleh karena panas. Siwon berdiri manis dengan sebuket mawar berwarna putih dalam genggaman, setelah aksi melompatnya yang mengesankan.

“Aku datang untuk menepati janjiku.”

Sebuah garis melengkung indah diatas permukaan bibir seorang Tiffany Hwang, tanpa suatu keraguan ia memilih untuk menghempaskan dirinya pada pelukan hangat sang pujaan. Menelungkupkan seluruh wajah hingga tersisa jejak – jejak hangat pada kemeja Armani berwarna dasar biru tersebut. Siwon hanya bisa tersenyum getir, mencoba menenangkan hati Tiffany yang begitu tak karuan saat ini.

“Kita tak bisa berlama – lama disini. Kau bisa memilih untuk tetap tinggal di tempat ini atau hidup bahagia bersamaku.”

“Kurasa kau tau, jika aku takkan pernah memilih pilihan yang pertama.”

Siwon kembali tersenyum. Tangannya begitu erat menggengam tangan halus Tiffany, begitupula sebaliknya. Pria itu menatap kearah jendela yang ia gunakan sebagai akses masuk ke tempat tersebut dan melemparkan pandangan ke sekitar.

“Apa di ruangan ini ada korek gas?”

*****

Uap hangat terus meluncur deras dari setiap jengkal bibir tipis milik seorang Nichkhun Buck Horvejkul. Ia masih tidak mengerti dengan semua yang terjadi saat ini. Pria itupun masih tidak habis pikir atas semua alasan yang melandasi sebuah perbuatan nekat yang berhasil membuat harga dirinya tidak bisa dikembalikan lagi ke tempatnya semula. Tiffany Hwang, Wanita beraroma cinnamons yang terus menguasai segala hal tentangnya. Pikiran, hidup, dan tak lupa hatinya. Pria itu terlalu jatuh dalam perasaan bodoh bernama cinta pada sosok berwajah stoic tersebut, terlalu lamban untuk menyadari bahwa kehadirannya ternyata tidak diinginkan sama sekali dalam kehidupan wanita bermarga Hwang tersebut.

Lamborghini Gallardo Superleggera yang dikendarai Nichkhun masih terus saja meluncur cepat membakar aspal jalanan yang nyaris membeku tertutup salju. Telapak tangan kirinya yang bebas masih menggengam kuat selembar kertas lusuh yang berhasil ia temukan terdiam diatas meja rias ruangan pengantin beberapa jam yang lalu, selembar kertas yang berhasil menyadarkan seluruh imajinasi yang ia buat atas perasaan tak berbalas pada seseorang nan entah dimana.

Sedangkan di sebuah tempat lain, Siwon masih berusaha untuk meyakinkan Tiffany agar tak membuka kain yang menutupi kedua mata bulan sabit miliknya. Keduanya pun masih terus saja berdiam dibawah sebatang besar pohon tanpa sehelai daun yang tersisa di ranting. Siwon memandang kearah arloji yang telah merujuk pada angka 10, seharusnya takdir awal akan menggariskan ia untuk diam bersimpuh dalam rasa sesak yang menjalar karena kehilangan sebuah hal yang berarti dalam kehidupannya. Namun, Siwon lebih memilih untuk mengingkari semua takdir yang telah digariskan oleh Tuhan untukknya dan memutuskan untuk membuat garis takdirnya sendiri.

“Apa yang sedang kita tunggu?”

Tiffany membuka pembicaraan. Ia sesungguhnya tidak tahan dengan salju yang terus turun dan membuatnya menggigil karena dingin. Siwon tidak menjawab, tapi ia mengerti jika kekasihnya itu merasa tidak nyaman saat ini. Tanpa perintah apapun, Siwon melepaskan tuxedo yang melekat pada tubuhnya dan menyelimuti tubuh Tiffany yang hanya berbalut gaun pengantin, memeluk erat tubuh ramping wanita bermarga Hwang tersebut sembari menghangatkan kedua telapak tangan milik sang kekasih.

Siwon memicingkan mata ketika sinar keemasan menimpa matanya dengan tajam. Tak perlu waktu lama sampai seorang pria berambut brunette keluar dari dalam sebuah Lamborghini Gallardo dan berjalan pelan hingga menyisakan sedikit ruang pemisah diantara keduanya. Nichkhun memandang tidak suka kearah Siwon, terlebih ketika Siwon menunjukan kedua mata  foxy miliknya pada pria Thailand tersebut.

“Kupikir kau tidak akan datang. Aku ha-“

“Tutup mulutmu, Keparat!”

Siwon tersenyum miring mendengarnya. Ia masih terus memeluk tubuh ramping Tiffany, meskipun sebenarnya ia sangat ingin meninju wajah Nichkhun saat ini juga. Tiffany yang tidak mengetahui apapun hanya bisa terdiam dalam pelukan Siwon, tapi ia tau jika sosok yang sedang ditunggu ternyata sudah tiba.

“Jangan bermain – main denganku. Aku tidak mengetahui apapun tentangmu, tapi kupastikan jika aku takkan membiarkan mu hidup dengan tenang, karena berusaha untuk merebut calon istriku!”

Siwon tertawa, bahkan sangat keras. Mendengar penuturan Nichkhun yang begitu geram atas dirinya memunculkan sebuah sisi humor yang menurutnya pantas untuk diapresiasi dengan baik. Tapi, tawa itu tak bertahan lama, Siwon berganti memasang pandangan sinis pada pria dihadapannya.

“Congkak! Kau seperti memandang wajah mu pada air keruh, Tuan Horvejkul. Sebaiknya, kau segera menyadari kesalahanmu sendiri. Siapa dirimu, bagaimana kelicikanmu, dan segala tentang ego mu yang terlalu memaksakan kehendak.” Balas Siwon tenang.

Nichkhun tidak merespon dengan ucapan. Tapi, ia merasa pipinya panas tertampar oleh kata – kata yang melucur lancar dari bibir Siwon. Semua perkataan itu mengisyaratkan tentang dirinya. Ia memang memaksakan kehendak, ia memang tak pernah menyadari bahwa semuanya adalah segala paksaan agar menenangkan seluruh ego yang tersimpan dalam dada. Tapi, ia sungguh tidak pernah menyadari jika semua akan berakhir seperti ini.

“Sudah sadar? Kau boleh menyebutku egois. Tapi, kalau kau mengatakannya, kau akan sangat terlihat munafik.”

Tiffany yang sudah terlalu penasaran pun akhirnya membuka kain yang terus saja menutupi kedua matanya. Wanita itu begitu terkejut saat melihat Nichkhun berdiri terdiam tak jauh dari tempat ia dan Siwon berpijak. Jadi, seorang Nichkhun yang sejak tadi ditunggu oleh Siwon?

“Khun? Apa yang kau lakukan disini?

Pertanyaan dari Tiffany berhasil membuat Nichkhun mendongkak sempurna. Matanya saling beradu jelas dengan mata wanita tersebut. Siwon melepaskan pelukan yang sejak tadi menautkan dirinya dan Tiffany, membiarkan drama ini mencapai klimaks.

“Kembalilah, Aku bisa mencintaimu lebih dari pria keparat tersebut.”

Tiffany menggemerutukan giginya dengan kasar.

“Jaga mulutmu, Nichkhun Buck Horvejkul! Jangan pernah mengatakan hal seperti itu padaku!”

Nichkhun terhenyak, sedangkan Siwon tersenyum penuh kemenangan.

“Oh ya, Apa kau pernah melihat sebuah salju berwarna merah, Fany – ah?”

Belum sempat Tiffany memberikan jawaban, ia sudah dapat melihat jika Siwon telah mengeluarkan sebuah AK – 47SU dan mengarahkan senjata api jenis Karabin tersebut tepat pada kepala Nichkhun. Selanjutnya, ia bisa melihat darah bertumpahan mengotori salju dengan tubuh Nichkhun yang limbung dan terjatuh keatas tanah. Tiffany hanya tersenyum kecil melihatnya dan terus memperhatikan apa yang akan dilakukan Siwon sebentar lagi.

Sedikit demi sedikit tubuh Nichkhun diseret dengan kasar menuju Lamborghini Gallardo Superleggera yang masih terdiam tak jauh. Siwon mengangkat mayat Nichkhun dan melemparnya dengan asal kedalam mobil, Pria itupun tak lupa untuk memutar kunci mobil untuk menyalakan mesin. Siwon mengambil sebatang rokok yang dibelinya sebelum ‘menculik’ Tiffany, lalu membakar gulungan prestis itu dengan korek api gas yang diberikan sang kekasih sebelumnya. Siwon pun menutup pintu setelah menaruh korek api gas tersebut diatas dashboard mobil. Pria itu berjalan dengan cepat dan menghampiri Tiffany yang masih terdiam melihat tingkahnya sembari menghisap rokok di tangan kirinya.

“Kau jahat, Oppa.”

“Memang.”

Dan basa – basi singkat tersebut berakhir dengan suara ledakan besar yang berasal dari mobil dihadapan keduanya. Siwon dan Tiffany sekali lagi tersenyum, keduanya tau jika sebuah korek api gas diletakan diatas dashboard mobil akan menjadi suatu hal yang sangat berbahaya, karena benda tersebut dapat terbakar jika terkena sinar matahari langsung, ditambah mobil dalam keadaan tertutup dengan mesin yang menyala membuat gas berkumpul menjadi satu dan menyebabkan ledakan besar.

“Bagaimana kalau kita menyantap beberapa porsi Robatayaki sebelum pulang ke Korea? Kau setuju, Oppa?”

Siwon mengecup bibir Tiffany singkat.

“Kau selalu tau apa keinginan ku, Mushroom.”

Keduanya pun berjalan meninggalkan tempat sepi tersebut menuju sebuah kedai Robatayaki di pusat kota. Drama pun berakhir dengan bahagia, sesuai versi yang diinginkan oleh keduanya.

-End-

Jeng…Jeng… #tiup terompet #lempar menyan #eh

Sekali lagi Author kembali dengan ff absurd terbaru. Entah kenapa tiba – tiba aja kepikiran buat bikin ff  ini gara – gara stres ulangan Matematika sama Akuntansi  ._.

Maaf ya kalau ceritanya kayak gitu, tapi SiFany nya bersatu kan? Hahahaha #dijitak Nichkhun

Sekali lagi author ingatkan untuk tidak jadi silent readers, tukang bashing, apalagi plagiator! Author yakin kalau kalian good reader yang akan selalu mematuhi peraturan. Dan sekali lagi jangan lupa RCL.

Author akan kembali dengan ff  lainnya, Anyeong!!! #lempar Won #halah

100 thoughts on “(AR) Destiny Lines

  1. Omo siwon-ah jahat sekali dirimu u,u
    ohh okay baru pertama kali, aku baca ff dimana Siwon menjadi penjahat yg sadis ‘-‘)
    Tapi keren sih thor, bahasanya bener-bener punya makna, jadi sebuah kalimat yg mengandung arti yg ‘wow’ gitu thor, aku suka ^^

  2. Jadi SiFany bunuh Nichkun ??? HAHAA It’s funny >.<
    SiFany memang sudah seharusnya melakukan cara apapun agar mereka bisa bersama hidup bahagia selamanya ,hihhiii^^
    Kata-kata tulisannya bagus author , coba jangan dibuat ficlet , buat longshoot dan banyak SiiFany momentsnya pasti makin seru😀
    Next tulis SiFany lagi author , FIGHTING ♡

  3. Keren banget thor ! 2 thumbs up😀 setiap kata yang tertulis keren bingits , tapi SiFanynya kejem amat ya di situ jadi rada kasian sm khunnie. Overall keren deh thor , ditunggu karya lainnya en Keep Writing!

  4. Sadis bnget siwon oppa,,
    demi orang yang dicintai’a dia rela membunuh seseorang dengan cara yang mengenaskan,,cckckck cinta yang penuh dengan pengorbanan,,so sweet ^_-

  5. Huah, Siwon oppa disini kok jadi nyeremin gitu ya di cerita ini? Tapi ga pa pa lah, sekali kali Siwon oppa itu jadi orang yang agak sadis, hehehe..
    Daebak thor ceritanya..

  6. gak bosen bosen y saya baca nih Destiny lines
    tata bahasa y benar” nyentug ke lerung hati dan fikiran.
    well gw berharap ini destiny lines ada sequel y.
    ya alur cerita y yg jelas hrs happy and gmn sih kehidupan mereka stelah brsama?
    apa nikah atau enggk?
    trs keluarga y gmn ?
    and gmn perasaan sifany stelah membunuh?
    apa nanti jd beban trs mreka menyesal atau cuek aja kya gk prnah trjd apa”?
    aahh sangat saya tunggu nih kelanjutan cerita absurd y thor…
    LOVE U ♡♥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s