(AR) Beside you

Title : Beside You

Untitled

Author : @janisone

Main cast :  Tiffany Hwang – Choi Si won

Support cast :  Lee Dong hae – Seo Joo hyun – Jessica Jung

Length : Oneshoot

Genre : Friendship, Romance

Rating : 15

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan.Cerita ini murni hasil kerja kerasku.

Happy reading…

Si won keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuh atletisnya.Dengan cekatan dia memilih kemeja, jas beserta dasi.Bersiap untuk segera ke kantor seperti biasa.

Pria tampan yang merupakan pewaris Hyundai Group-salah satu perusahaan terbesar di Korea- itu menoleh kearah ranjang.Dimana disana terdapat seorang gadis yang sedang berbaring gelisah.Berganti-ganti posisi membuat ranjang yang tadinya sudah ia rapikan kembali berantakan.

“Ada apa dengan bibirmu?…”

Si won bertanya sambil memasang jam tangannya.Gadis bermarga Hwang yang sedari tadi mengerucutkan bibirnya itu pun makin cemberut.Bukan karena Si won bertanya.Tapi lagi-lagi telfonnya tidak diangkat oleh seseorang diseberang sana.

“Dong hae Oppa tidak mengangkat telfonku…”ucapnya frustasi yang hanya disambut senyum kecil Si won.

“Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan dari pada hanya menjawab telfonmu…”

Tiffany, gadis berambut blonde itu menoleh.Memusatkan pandangan matanya pada sosok Si won yang sedang merapikan letak dasi dan jasnya didepan cermin.

“Itulah kenapa aku benci dengan para pengusaha.Selalu saja sibuk dengan klien dan dokumen tak penting, seperti kau dan Appa…”cibir Tiffany.Ya, dia memang selalu kesepian dirumah karena Appanya yang super sibuk.Belum lagi dia anak tunggal dan Oemmanya sudah tiada.Untung saja dia mempunyai seseorang yang sangat baik padanya seperti Si won.Tapi percuma, pria itu juga sama.Super sibuk.

“Apa bedanya dengan Lee Dong hae itu?….”tanya Si won.Ada perasaan sedikit tak suka saat gadis itu membandingkannya dengan pria lain.Tiffany memamerkan senyum manisnya lalu kembali pada layar smartphonenya.

“Dong hae Oppa berbeda…”

Si won meraih tas kerjanya.Berjalan keluar tanpa mendengarkan Tiffany yang mulai bercerita betapa baik dan perhatiannya Dong hae padanya.Si won bukannya benci mendengar Tiffany menyukai seorang pria yang baik.Tapi entah kenapa hati kecilnya merasa tidak suka dan cemburu.

“Oppa, tunggu!”

***Sifany***

“Fany-ah, kau sudah datang?…”Nyonya Choi tersenyum senang melihat gadis periang itu muncul dengan menggendeng lengan putranya.

“Besok-besok usir saja, Oemma.Tiap hari datang dan meminta makan dirumah orang…”

Tiffany mencibir seraya duduk dikursi yang sudah disiapkan Nyonya Choi untuknya mengikuti Si won.

“Gwenchana, Oemma senang jika Tiffany disini….”balas Nyonya Choi tersenyum.

Tiffany tersenyum penuh kemenangan dan memeletkan lidahnya pada Si won.Merasa menang dari namja itu.

“Semua orang menyayangiku dengan baik…”bangga Tiffany disambut anggukan Nyonya Choi.Si won tersenyum.Dalam hati ia mengiyakan.Siapa yang tidak akan menyayangi gadis cantik dan periang ini.

***Sifany***

“Ah, Oppa.Perutku…”

Tiffany mengerang pelan.Dia bersandar dikursinya tepat disebelah Si won yang menyetir.Bukan salah siapa-siapa sebenarnya.Hanya saja masakan Nyonya Choi selalu meracuninya.

“Siapa suruh kau serakus itu…”sela Si won  sambil terus menyetir.

“Salahkan Oemmamu yang memasaknya terlalu enak.Jadinya aku nambah teruskan…”cerocosnya.

Si won hanya tersenyum kecil sambil terus melajukan Audi hitamnya dijalanan kota Seoul yang hari ini tampak lengang dari biasanya.

Selama perjalanan, Tiffany sibuk dengan ponsel ditangannya begitu pula Si won dengan kemudinya.Tiffany memang selalu mengikuti Si won ke kantor setiap hari.Berhubung dia tidak menyibukkan diri dengan yang namanya pekerjaan-hanya bersenang-senang.

Setiap pagi dia akan datang kerumah Si won.Sarapan bersama keluarga Choi kemudian ikut berangkat ke kantor Si won.Dia tidak pernah sekalipun absen dari rutinitas ini selama tiga bulan terakhir.Ya, setelah dia menyelesaikan kuliahnya di Amerika.Sesuai dengan perjanjiannya dengan sang Appa, dia ingin beristirahat disemester pertama kelulusannya sebelum memutuskan untuk bekerja jika ia mendapatkan gelar sebagai mahasiswa dengan peringkat kelulusan terbaik.

Tiffany tidak pernah merasa bosan ataupun mengganggu.Bukan karena dia tidak pernah ditegur oleh Si won.Tapi hanya dengan cara seperti inilah dia bisa bertemu dengan pria itu.Setelah ini pria itu akan sibuk dengan pekerjaannya.

Lima belas menit kemudian mereka sampai.Si won keluar dari mobilnya diikuti Tiffany.Keduanya masuk ke gedung perkantoran disambut oleh penjaga pintu utama.

“Selamat pagi, Agasshi…”

“Pagi Ahjussi.Wah, kau terlihat lebih segar pagi ini.Selamat bekerja….”

Salah satu daya tariknya adalah sifatnya yang periang dan mudah akrab dengan orang lain.Dia bisa dengan mudah bersosialisasi dan mendapat teman.Meski dia berasal dari keluarga kaya raya yang punya segalanya namun dia tidak pernah memandang orang dari status sosialnya.

Tiffany segera beranjak dari tempatnya begitu sadar kalau Si won sudah menunggunya.Begitu mendekat, ia langsung menggamit lengan kekar Si won.Kalau diperhatikan, mereka terlihat seperti pasangan sungguhan.Jangan salahkan jika pendapat ini keluar dari mulut para karyawan kantor Si won jika apa yang mereka lihat setiap pagi adalah pemandangan seperti ini.

“Fany Unnie….”Tiffany menoleh begitu mendengar seseorang memanggilnya.

“Seo hyun-ah!”pekik Tiffany bahagia.Tangannya yang berada dilengan Si won berpindah untuk memeluk sahabat baiknya itu.Seminggu ini mereka tidak bertemu karena Seo hyun melakukan perjalanan bisnis ke Jepang.

“Aigo, aku merindukanmu Hyunie.Bagaimana kalau kita minum teh bersama?…”ajak Tiffany bersemangat.Bahkan dia lupa kalau beberapa menit yang lalu dia mengeluh karena kekenyangan.

Seo hyun sebenarnya ingin menerima ajakan Tiffany.Tapi dia tidak enak karena sang CEO ada dihadapannya sekarang.

“Mianhe Unnie, sepertinya sebentar lagi jam kantor akan dimulai….”ucap Seo hyun menyesal.

Tiffany beralih menatap Si won.Memasang senyum indah dan eye-smile terbaiknya.Si won tampak menghela nafas.Tahu pasti apa yang sedang dilakukan gadis itu.Selalu saja melakukan trik ampuh itu agar keinginannya dipenuhi.

“Sebentar lagi jam kantor dimulai, Fany-ah.Kalian bisa mengobrol saat jam makan siang, bukan?….”Tiffany melipat kedua tangannya.

“Tidak mau, pokoknya aku mau sekarang!”Si won mendesah melihat perubahan wajah gadis itu.

“Baiklah, ini lebih baik dari pada melihatmu merajuk sepanjang hari….”ucap Si won.Dia meninggalkan dua wanita cantik itu untuk segera keruangannya.

“Gumawo Oppa, kau yang terbaik.Mmuach….”

Tiffany memberikan ciuman jarak jauhnya meski Si won sudah menghilang.Seo hyun yang melihat pemandangan didepannya itu hanya tersenyum kecil.

“Kajja!”

***Sifany***

Tiffany dan Seo hyun duduk dimeja cafeteria kantor setelah mengambil pesanan mereka.Keduanya hanya memesan teh  karena sama-sama sudah sarapan.

“Unnie, gumawo.Karena Unnie dekat dengan Si won Oppa aku bisa diterima dengan cepat diperusahaan ini….”Tiffany mengibaskan sebelah tangannya tak setuju.

“Aniyo, kau diterima karena kau punya potensi Seo-ah, bukan karena aku.Tapi jika dulu mereka tidak menerimamu aku akan meledakkan gedung ini….”Seo hyun tertawa mendengar candaan itu.Dia bersendagu seraya menatap wajah Tiffany yang tengah menyesap tehnya.

“Oh ya,  bagaimana hubungan Unnie dengan Si won Oppa…”

“Kami baik, kau tidak melihatnya tadi? Kami tidak terlihat sedang bertengkar, bukan?…”

Seo hyun mendesah pelan.

“Maksudku bukan itu, Unnie.Yang aku tanyakan hubungan kalian itu sekarang seperti apa.Masih seperti dulu atau sudah terikat?…”

“Terikat? Maksudmu?….”bingung Tiffany.Seo hyun tampak mengeram kesal.Kenapa gadis didepannya ini sangat lamban hari ini.

“Unnie, inikah kau bilang IQ-mu yang tinggi itu? Aku ragu Harvard University memberikan predikat mahasiswa lulusan terbaik mereka padamu….”Seo hyun mencibir dan langsung mendapatkan pukulan dikepalanya.

“YA! Berani sekali kau bicara seperti itu pada Unnie-mu.Jangan mentang-mentang IQ mu lebih tinggi kau seenaknya menghinaku.Kita hanya selisih dua angka, kau tahu itu?…”Seo hyun tersenyum seraya menatap gemas sahabatnya itu.

“Hubungan kami masih seperti biasa, Seo hyun-ah.Teman.Bukankan itu indah?….”

“Teman? Semua orang mengira kalau kalian adalah pasangan…”sela Seo hyun.

“Tapi kau tahukan kalau aku menyukai Dong hae Oppa?….”Seo hyun mengangguk seraya menyesap tehnya.

“Masalahnya, apa Dong hae Oppa juga menyukai Unnie…”Tiffany terdiam.Kenapa Seo hyun bertanya seperti ini padanya?

“Molla, yang jelas dia baik padaku dan aku menyukainya…”

“Sikap baik belum tentu berarti mencintai.Tidak perlu mencari yang jauh Unnie, yang dekat lebih baik untukmu….”

Tiffany menatap Seo hyun dengan kening berkerut.Tanda ia benar-benar tidak  mengerti.

“Maksudmu?…”

Seo hyun memutar bola matanya ketika Tiffany bertanya.Dia bangkit dari kursinya dan meraih tasnya.

“Unnie pikirkan saja sendiri, aku harus keruanganku dulu Unnie.Bye…”Tiffany yang tak mengerti pun makin bingung melihat tingah aneh gadis itu.

“Apa yang anak itu makan di Jepang hingga pulang-pulang jadi seperti ini…”

Tak mau berlama-lama dengan kondisi seperti ini, Tiffany pun meninggalkan cafeteria itu menuju ruang kerja Si won.

***Sifany***

Si won berkonsentrasi dengan laporan keuangan yang baru diserahkan sekretarisnya.Kegiatannya sedikit terganggu karena meja kerjanya yang biasanya hanya untuk komputer, telepon, sebuah miniatur menara eifel  dan tumpukan file pun kini bertambah beban.Apa dan siapa lagi kalau bukan Tiffany.Bukannya duduk disofa gadis itu malah duduk dimeja kerjanya dengan kaki yang menjuntai disebelah kaki Si won.

“Oppa,  lihat baju ini, bagus tidak? Apa cocok denganku?…”

Sudah berulang kali pula Tiffany bertanya.Meminta pendapat Si won  tentang baju yang akan dibelinya.Maklum, dia sedang membuka situs jual beli on-line.

“Semuanya bagus untukmu….”ucap Si won terus sibuk dengan laporan keuangannya tanpa menoleh ke arah tablet yang disodorkan Tiffany.Tiffany mengerucutkan bibirnya kesal.Tak suka karena pria itu tidak memperdulikannya.

Tiffany melempar tabletnya ke atas sofa disebelahnya.

“Membosankan!”gerutunya sebal.Merasa tak tertarik lagi dengan barang itu sekarang.

Tiffany mengambil lollipop yang tadi diambilnya dirumah Si won.Membuka bungkusnya, membuang sampahnya sembarangan dan mulai mengemutnya.

“Oppa, kalian ada berapa meeting hari ini?…”

“Hanya satu….”

“Jjeongmal?…”tanya Tiffany senang.

“Berarti Oppa akan cepat pulang hari ini…”

“Anni, kami ada pertemuan dengan Presdir Kim dari Group Daehan saat jam makan siang.Lalu kami harus mengunjungi proyek untuk melihat kondisi lapangan…”

“Tidak bisakah Oppa libur sehari saja, pekerjaan itu menyebalkan.Tubuh dan otakmu juga perlu istirahat, Tuan Choi…”

Si won tersenyum.Diletakkannya laporan keuangan yang sudah sempurna itu lalu beralih menatap gadis cantik yang duduk didepannya.

“Bukankah aku sudah melakukannya.Kau minta agar aku menemanimu berlibur satu minggu di Paris sebagai hadiah kelulusanmu, bukan?…”Tiffany menghela nafas dan menatap Si won malas.

“Perluku ingatkan Tuan Choi, itu tiga bulan yang lalu….”Si won tertawa.Entah apa yang lucu, tapi dia suka dengan ekpresi kesal gadis itu sekarang.

Si won melirik arlojinya.Kemudian ia bangkit dan memakai jas yang tadi ia letakkan disandaran kursi.

“Kami ada meeting 5 menit lagi.Kalau ingin pulang minta sopir kantor untuk mengantarmu.Jangan coba-coba untuk naik taxi apalagi bus atau kau akan tersesat dan jadi korban penculikan…”

“Aku bukan anak kecil lagi, Oppa…”sebal Tiffany.Bosan jika dia harus mendengar petuah itu setiap hari.

“Aku tahu.Aku juga tahu kalau kau tidak  tahu bagaimana caranya naik transportasi umum…”

Si won benar.Tiffany tidak pernah yang namanya naik transportasi umum apapun selain pesawat.Itu pun bisa dihitung dengan jari karena Appanya merasa lebih tenang dan aman jika dia naik jet pribadi.

“Aku pergi dulu…”pamit Si won.Meninggalkan Tiffany yang sudah beralih ke sofa.

1 menit.2 menit.3 menit.Oh, Tiffany mulai bosan.

Drrtt Drrtt Drrtt

Rasa bosan Tiffany menghilang dalam sekejap ketika melihat siapa orang yang menelfonnya.

“Dong hae Oppa?…”

***Sifany***

`Welcome`

Suara itu dengan otomatis terdengar ketika Tiffany melangkahkan kakinya memasuki café dikawasan Gangnam itu.Mata gadis itu tersenyum indah ketika mendapati seseorang tengah melambai padanya.

“Kau sudah lama, Oppa?…”

“Hm, sekitar satu jam yang lalu….”

“Jjeongmal?…”Tanya Tiffany.Tampak merasa bersalah.Sementara Dong hae hanya terkekeh pelan melihat raut wajah gadis itu.

“Aniyo, aku hanya bercanda.Lagi pula aku baru menelfon 10 menit yang lalu, bukan?…”Dong hae mengingatkan.Tiffany hanya bisa tersenyum malu menyadari kebodohannya itu.

“Kau mau minum apa?…”

“Uhm…soda?…”Dong hae tersenyum.

“Pelayan…”seru Dong hae memanggil pelayan café.

“Ya, Tuan.Anda ingin pesan apa?….”tanyanya ramah.

“Kami ingin pesan satu coffee dan satu vanilla latte….”

Tiffany tidak protes.Dong hae sama seperti Si won.Tidak mengijinkannya menyentuh minuman bersoda apalagi alkohol.

“Mianhe, aku tidak mengangkat telfonmu karena akhir-akhir ini aku sibuk…”

“Gwenchanayo, Oppa.Aku mengerti…”ucap Tiffany manis.Yeah, melihat wajah tampan Dong hae sekarang saja dia sudah senang.

“Oh ya, aku hampir lupa…”

Dong hae mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.Sebuah kertas dengan beberapa lipatan dan hiasan yang indah.

“Ini, untukmu…”

Tiffany meraihnya dengan ragu.Entahlah, perasaannya mulai tak enak.Kertas dengan  warna gold itu tampak seperti sebuah…undangan? Tiffany menelan ludah.Dengan pelan mata Tiffany turun.Melihat dan membaca dengan seksama tulisan yang ada dikertas yang masih berbungkus plastik itu.

Jessica Jung & Lee Dong Hae

“Aku akan menikah minggu depan.Mian, aku belum mengenalkannya padamu tapi dihari pernikahan kami besok aku akan mengenalkannya…”

Tiffany tersentak.Jujur dia tidak tahu harus berbuat apa mendengar penuturan pria itu.Apalagi orang itu terlihat sangat bahagia.Tentu saja, ini tentang pernikahannya.Oh, hatinya terluka.

“Kau akan datangkan, Fany-ah?….”

“Tiffany?…”Tiffany memaksakan sebuah senyum kecil diwajahnya.

“Ne, Oppa, aku…akan datang…”ucap Tiffany tak yakin.Oh, haruskah dia pergi ke pernikahan pria yang disukainya dengan wanita lain? Jadi ini alasan kenapa pria itu sibuk dan sulit dihubungi.Menyiapkan pernikahan dengan kekasihnya? Huh, Tiffany benar-benar kecewa.Kenapa bukan dia kenapa harus wanita lain?

Tiffany memasukkan undangan itu ke dalam tasnya ketika minuman mereka datang.Tanpa menunggu dia langsung meminumnya untuk menghilangkan rasa canggung yang menderanya.Entahlah, setelah mendengar penuturan Dong hae barusan membuatnya merasa kalau mereka adalah orang asing.

“Gwenchana?…”Dong hae bertanya khawatir setelah melihat gelagat aneh Tiffany.Gerakan wanita itu tampak kaku dan terkesan tidak nyaman.

“Ne, Oppa.Gwenchana…”Dong hae mengangguk ragu.

“Jangan lupa ajak Si won, ne?…”

“Ne? Oh…ne…”jawab Tiffany kaku.Dia sibuk memikirkan seperti apa wanita yang telah dipilih Dong hae.Dan sejak kapan mereka berhubungan.Dia tidak pernah tahu kalau Dong hae sedang dekat dengan seorang wanita.

“Oppa…”

“Ne, Fany-ah?…”Pria manis itu meletakkan cangkir coffee yang baru ia teguk.

“Uhm, kenapa mendadak sekali.Apa kalian sudah…”Tiffany tampak ragu.Walau mereka sudah dekat sejak lama tetap saja menanyakan hal yang seperti ini tidak sopan.

“Ne? Hahaha…”Dong hae tertawa dibuatnya.Astaga, dia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini dari Tiffany.

“Ya ampun Tiffany, kau pikir aku ini pria macam apa, huh?…”Tiffany hanya tersenyum kecil dan kembali menyeruput lattenya.

“Mian…”ucapnya pelan.

“Gwenchana.Aku memang merahasiakan hubungan kami dari orang-orang…”

`Mwo? Kenapa tidak terus terang saja.Jadinya aku tidak berharap seperti inikan?`Tiffany membatin kesal.

“Sudah berapa lama, kalian berhubungan?…”

“4 tahun…”

“4 tahun?…”

Tiffany membelalakkan matanya tak percaya.Jadi Dong hae sudah memiliki pacar sejak dia masih berada ditahun terakhir SMA? Dan selama itu dia tidak pernah tahu tentang kekasih Dong hae.Melihatnya jalan dengan wanita lain saja tidak pernah.

Jessica Jung.Jessica Jung.Dia tidak pernah mendengar tentang nama itu.

“Kau bertemu dia dimana, Oppa?…”Tiffany tetap penasaran dengan gadis bernama Jessica Jung itu.

“Kami sudah berteman sejak kecil.Selain itu, keluarga kami juga sangat dekat…”

Tiffany mengangguk pelan.Berarti Dong hae sudah mengenal gadis itu dengan sangat baik.Malang sekali dirinya.

“Aku harus kembali ke kantor, mau ku antar pulang?…”tawarnya.Tiffany menatap Dong hae sendu.Dia akan segera kehilangan pria baik ini.

“Tidak  perlu Oppa, aku bisa pulang sendiri…”

“Gwenchana, mungkin ini terakhir kalinya aku mengantarmu pulang.Karena nanti istriku akan cemburu jika aku mengantar gadis lain pulang…”

Tiffany tersenyum kecil.Kenapa tidak dia saja yang jadi istri Dong hae.

***Sifany***

Si won mendapati ruangannya sepi.Tak ada Tiffany yang sedang menonton TV disofa.Si won beralih ke meja kerjanya.Dia juga tidak melihat ada tanda-tanda keberadaan gadis itu disana.Biasanya jika tidak menonton TV, Tiffany akan bermain game dikomputernya atau mencoret-coret kertas.Baik itu kertas kosong atau dokumen-dokumen penting Si won.Bahkan Si won pernah mendapati dokumen yang harus dia tanda tangani sudah penuh dengan coretan Tiffany.Masih untung jika gadis itu mencoret untuk keperluan desainnya tapi yang ada malah gambar-gambar aneh dengan tulisan babo dan semacamnya layaknya komik anak-anak.

Si won meraih gagang telfonnya.

“Sekretaris Kim, apa Tiffany sudah pulang?…”

“Ne, Sajangnim.Tadi setelah mengobrol dengan Nona Seo hyun, Nona Tiffany  meminta saya untuk memanggilkan supir kantor…”

“Begitukah? Terimakasih…”

“Ne, sajangnim…”

Si won meletakkan kembali telfonnya.Dia mengambil ponselnya dari saku jas.Matanya memicing dengan dahi yang berkerut.Aneh, tidak biasanya Tiffany tidak menghubunginya dalam waktu setengah hari seperti ini.Biasanya gadis itu akan selalu menelfon tak peduli kalau dia sedang  ada meeting penting.

***Sifany***

Tok Tok Tok

“Masuk…”perintah Tifffany cepat.Tak lama muncul seorang pria dengan pakaian serba hitam.Tapi jelas dia bukan perampok atau pelaku tindak kejahatan lainnya.Melainkan pelayan di rumah mewah itu.

“Kau mendapatkannya, Ahjussi?…”tanya Tiffany cepat.

“Ne, Agasshi…”

Pria itu menyalakan proyektor setelah menyiapkan tabletnya.Tak lama didinding kamar Tiffany yang sebelumnya lampu ruangan itu sudah dimatikan muncul beberapa gambar seorang wanita.Wajahnya cantik alami.Kulitnya putih, rambut pirang, mata yang besar dan senyumnya sangat manis.Senyum yang menurut Tiffany bisa menenangkan hati siapa saja yang melihatnya.

“Pantas Dong hae Oppa menyukainya…”gumannya pelan.

“Namanya Jessica Jung.Dia lahir dan besar di California, sama seperti Agasshi…”

“Jjinja?…”kaget Tiffany.

“Ne.Nama Koreanya Jung Soo yeon.Putri dari Pengacara Jung sekaligus pemilik Jung Corp.Dia lulusan Ilmu managemen bisnis di Universitas yang sama dengan Agasshi di Harvard…”

“Jjinja?….”tanya Tiffany tak percaya.Jadi dia dan gadis itu dulunya satu kampus?

“Dia juga satu angkatan dengan Agasshi.Tapi wajar kalau kalian tidak saling mengenal karena kalian berada di fakultas yang berbeda…”

Tiffany mengangguk.Memang benar mereka berbeda fakultas tapi sebagai orang yang memiliki darah Korea dia harusnya mengenal Jessica Jung, bukan? Jangan salahkan Tiffany.Salahkan Appanya yang over protective itu.Dia tidak akan membiarkan putri semata wayangnya keluar rumah selain hanya ke kampus untuk belajar.Dia bisa tinggal di Korea sekarang saja karena Appanya percaya kalau Si won akan menjaganya dengan baik.

“Sepertinya dia gadis yang baik…”

“Ne.Walau sedikit tertutup, dia adalah gadis yang sangat ramah dan mudah bergaul.Sosoknya lembut, hangat dan sangat menyukai anak-anak…”

Tiffany mendesah kecewa.Benar saja Dong hae akan jatuh cinta  jika gadis itu sesempurna Jessica.

“Anda tidak perlu khawatir, Agasshi.Jodoh sudah ada yang mengatur.Jika jodoh Tuan Lee adalah Nona Jung, pasti Tuhan sudah menyiapkankan pria yang lebih baik untuk Agasshi…”

Tiffany menatap pelayannya itu tajam.Pria paruh baya itu berdehem seraya merapikan letak jas dan dasinya.

“Maafkan saya, Agasshi.Saya terlalu banyak bicara.Kalau begitu saya permisi…”Tiffany mengangguk mempersilahkan.

“Tapi Agasshi…”Tiffany menoleh ketika pria itu kembali.

“Tuan Choi menelfon, dia bertanya apakah Agasshi sudah makan malam?….”

“Kau bilang apa?….”

“Belum, Agasshi…”

“Aish! Kalau dia bertanya bilang saja aku sudah makan banyak sampai kekenyangan!”marah Tiffany.Pelayan itu mengangguk paham dan segera pergi.Dia maklum dengan sikap Tiffany, mengingat majikannya itu sedang patah hati.

***Sifany***

“Pagi Oemma…”sapa Si won saat memasuki ruang makan untuk sarapan bersama.Nyonya Choi hanya tersenyum sebagai balasan.

“Tiffany tidak dikamarmu?….”Si won mengangkat wajahnya.

“Ku pikir dia bersama Oemma…”

“Aniyo, Oemma tidak melihatnya sejak tadi…”Si won terdiam.Tumben, ada apa dengan gadis itu?

“Mungkin hari ini dia ingin sarapan dirumahnya…”ucap Si won mulai menyantap sarapannya.Pikirannya kembali tertuju pada Tiffany.Apa yang terjadi pada gadis itu hari ini?

“Sebenarnya seperti apa hubungan kalian?….”Si won menatap sang Oemma yang bertanya.Tak lama kemudian dia tertawa.

“Kenapa Oemma bertanya seperti itu.Bukankah Oemma tahu kalau kami hanya berteman?…”

“Kau yakin?….”selidik Nyonya Choi.

“Kau yakin tidak memiliki perasaan khusus untuk Tiffany?…”tambahnya membuat Si won sedikit gugup.Dia tertawa garing dan kembali menikmati sarapannya.

“Apa aku terlihat seperti itu?…”gumannya pelan.Nyonya Choi bangkit dan mendekat.

“Tertulis disini, Si won-ah…”ucap Nyonya Choi menunjuk kening putranya.

“Kau mencintai Tiffany Hwang.Dan akan melakukan apapun untuk semua kebahagiaannya.Bukan, begitu?….”Tanya Nyonya Choi.Si won menatap wajah Oemmanya dengan senyum lembut.

“Oemma tahu semua apa yang ada dipikiranku…”Nyonya Choi mengangguk.

“Aku Oemmamu, anakku…”

***Sifany***

“Dia juga tidak datang dan memberi kabar?…”tanya Si won untuk kesekian kalinya.Sekretaris cantik itu hanya mengangguk lemah.Sudah lelah untuk menjawab pertanyaan yang sama sejak tadi pagi.Dalam hati dia berharap agar Tiffany tidak sering-sering seperti ini.Dia sangat lelah untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan Si won.

“Baiklah, kau boleh pulang….”

Si won pun keluar dari kantornya.Dia memutuskan untuk pulang kerumah mengingat sekarang sudah malam dan dia sangat lelah.Dia akan menemui gadis itu besok.

***Sifany***

Si won masuk ke kamar yang didominasi warna soft pink itu.Langkahnya mendekati jendela.Membuka gorden berwarna putih bersih  hingga sinar matahari menyeruak masuk.Seseorang yang masih meringkuk nyaman diranjang super empuk itu perlahan membuka matanya.Merasa terganggu oleh sinar terang tersebut.

“Eunggg…”

Tiffany melenguh pelan.Dia bisa melihat ada seseorang yang membuka jendela kamarnya.Walau awalnya pandangannya tampak blur karena baru bangun tidur tapi akhirnya dia tahu siapa orang itu.

Setelah semua jendela terbuka, Si won segera mendekati ranjang Tiffany.Dia tersenyum melihat sang gadis sudah berganti posisi.Bahkan posisinya sekarang jauh lebih nyaman karena wajahnya tidak berhadapan langsung dengan sinar matahari pagi.

“Hei pemalas, bangun….”suruh Si won.Dia menarik kursi belajar Tiffany lalu duduk tepat berhadapan dengan wajah cantik itu.

Tiffany tidak mengubris ucapan Si won.Dia tetap menutup mata indahnya.Terlalu malas baginya untuk bangun.Lagi pula dia baru tidur 4 jam yang lalu karena memikirkan pernikahan Dong hae dan wanita bermarga Jung itu.

“Kau uring-uringan dan mengurung diri seperti ini  hanya gara-gara pria seperti Lee Dong hae?….”

Sontak Tiffany membuka matanya.Menatap Si won yang duduk tepat dihadapannya.Kenapa Si won bisa tahu? Seingatnya dia belum menceritakan apapun.

“Tidak perlu sekaget itu, aku sudah tahu semuanya…”ucap Si won yang mengerti dengan apa yang ada dipikiran Tiffany.Tiffany mengerucutkan bibirnya kesal dan kembali menarik selimutnya.Pasti pelayan Kim yang memberitahunya.Siapa lagi?

“Bangunlah, hari ini jadwalmu untuk lari pagi…”Tiffany tak menurut.Berolah raga hanya akan membuatnya lelah dan berkeringat.Dia benci itu.

“Stephanie…”

“Hwang Mi Young….”

Si won tersenyum melihat gadis itu tetap memejamkan matanya seolah-olah sedang tertidur pulas.

“Baik, jika dalam hitungan ketiga kau tidak bangun maka aku akan menggendongmu ke kamar mandi dan…”

“Ya, aku akan bersiap…”Si won tertawa menyaksikan gadis itu berlari ke kamar mandi.

***Sifany***

Taman memang selalu ramai dihari libur.Meski  sekarang masih sangat pagi tetap banyak orang yang datang untuk lari pagi, bersantai menikmati udara segar atau pun bersepeda.Seperti Si won dan Tiffany.Si won berlari-lari kecil mengimbangi Tiffany yang sedang mengayuh sepedanya dengan sangat pelan.

“Ya! Apa tidak bisa lebih cepat sedikit?…”kesal Si won.

“Kalau Oppa mau cepat pergi saja sendiri.Akukan pakai sepeda jadi aku akan mengejar Oppa nanti…”

Si won mengangguk dan segera berlari.Meski tampak seperti lari-lari biasa tapi dengan tubuhnya yang tinggi dan kakinya yang panjang itu membuatnya sudah jauh dari Tiffany.

“Aish! Kenapa cepat sekali….”gerutu Tiffany.

Tapi dia tidak ada niat untuk mengejar Si won.Dia tetap menjalankan sepedanya dengan kecepatan minimal sambil pikirannya terus pada pernikahan Dong hae.

Tiffany bukannya masih berharap dia masih bisa memiliki Dong hae seperti cerita dalam drama.Dia sudah memerintahkan otaknya untuk berhenti memikirkan hal ini.Tapi percuma. walau bagaimana pun Dong hae dulunya adalah orang yang dia sukai.Tentu ini sedikit sulit untuknya.

Adakah yang bisa mengubah kenyataan ini? Akh, Tiffany sangat berharap ada peri baik hati yang akan menolongnya.Dia tidak akan sanggup kehilangan Dong hae yang begitu baik dan perhatian padanya.Dan mulai minggu depan Dong hae akan memprioritaskan hidupnya untuk seorang wanita saja.

BUGH!

“Kyaa!”

Tiffany memekik ketika lututnya membentur aspal.Tangisnya seketika pecah memenuhi taman saat menyaksikan darah segar mengalir dari lututnya.

Si won menghela nafas melihat gadis itu menangis histeris seperti bocah.Untung saja yang ditabrak Tiffany adalah dirinya, coba kalau orang lain.Ada-ada saja.

Si won mengangkat tubuh Tiffany.Menggendongnya ala bride style menjauh dari tempat itu sebelum mereka menjadi bahan tontonan.Setelah menemukan sebuah bangku Si won segera mendudukkan Tiffany disana.

“Appa! Choi Si won melukaiku! Dia melukai putrimu yang berharga! Hiks…”

Tiffany menangis kencang.Si won sudah pergi menuju mobilnya dan kembali dengan kotak P3K ditangannya.

“Appa, lututku….hiks….Appa…”

Si won meletakkan kaki Tiffany dipangkuannya.Dibersihkannya darah yang menempel dilutut Tiffany dengan kapas dan cairan alkohol.

“Pelan-pelan Oppa, itu sakit…”Ringis Tiffany seraya mencengkram lengan Si won.

“Makanya jangan bergerak, aku kesulitan membersihkannya…”

Tiffany terdiam namun masih terdengar sesenggukannya.Diperhatikannya Si won dan luka dilututnya bergantian.Dia bisa melihat kalau pria itu sangat telaten membersihkan lukanya.Entah kenapa ucapan Seo hyun beberapa waktu lalu terpikir olehnya.

`Tidak perlu mencari yang jauh Unnie, yang dekat lebih baik untukmu`

Tiffany seketika terdiam.Omo! Mungkinkah yang dimaksud Seo hyun itu…Si won? Kalau dipikir-pikir, Si won lebih dekat dengannya, bukan? Pria itu juga orang yang selalu ada untuknya kapan pun.

“Apa sangat sakit?…”tanya Si won seraya membuka plaster dari bungkusnya.Tiffany sedikit terkejut karena suara bass itu.

“Tentu saja, aku terluka dan berdarah…”ketusnya.Si won tersenyum lembut lalu memasangkan plaster itu untuk menutupi luka Tiffany.

“Kenapa tersenyum?…”tanya Tiffany.Sedikit kesal pastinya.

“Anni, setidaknya ini lebih sakit dari pada hatimu yang terluka karena Lee Dong hae…”

“Ne?…” Tiffany bertanya tak mengerti.

“Aku senang karena kau tidak menangis saat tahu Dong hae akan menikah tapi kau menangis seperti anak TK hanya gara-gara lututmu yang berdarah…”

Tiffany terdiam.Benar juga, dia tidak mengeluarkan setetes air mata pun untuk Dong hae.Walau ia merasa kecewa dan terluka tapi dia tidak menangis.

“Kajja, sudah hampir siang.Sebaiknya kita pulang….”Si won mengambil sepeda Tiffany.Melipatnya lalu memasukkannya kedalam bagasi.

“Kenapa masih disitu?….”

Tifany masih duduk dibangku dengan melipat tangannya didada dan memalingkan wajahnya.

“Aku tidak bisa jalan, Oppa tidak lihat kalau lututku terluka…”Si won terkekeh dibuatnya.

“Hei, anak TK pun bisa ikut lomba lari setelah mereka terjatuh dari sepedanya…”Tiffany merengut.

“Aku bukan anak TK…”ketusnya.

“Ya, aku tahu itu…”ucap Si won.Dia membuka pintu disebelah kemudi lalu mendekati Tiffany.Menggendongnya ala bride style untuk masuk ke mobil.Tiffany tersenyum saat kepalanya menepel didada bidang Si won.Entah kenapa rasanya sangat hangat dan nyaman.Tiffany mendongak untuk menatap wajah tampan itu.Ya, Tuhan, dia tidak tahu kalau pria itu ternyata sangat sangat tampan.Kemana dia selama ini?

“Ah, Oppa kau romantis sekali.Kau tahu, ini seperti adegan dalam drama…”ucap Tiffany ketika berada digendongan Si won.Pria itu hanya tersenyum kecil dan memasukkan Tiffany ke mobilnya.

“Oppa…”panggil Tiffany ketika Si won hendak menutup pintu mobil.

“Kau melupakan agedan berikutnya…”

“Ne?….”Si won menautkan alisnya tak mengerti.Gadis itu hanya tersenyum manis seraya menunjuk sebuah tali disebelahnya.

“Pakaikan seatbelt-ku…”Si won berdecak lalu tersenyum.Diraihnya seatbelt itu dan Klik! Sudah terpasang.

“Gumawo, Oppa…”ucap Tiffany manis yang dibalas senyum oleh pria itu.Tiffany mengangkat sebelah alisnya saat pria itu masih didekatnya dengan dimple smilenya yang menggemaskan.Tiffany mendadak gugup ketika pria itu makin mendekat.

“Ke…kenapa masih disini? Bukankah kita…harus pulang?…”tanyanya gugup.

“Bagaimana dengan adegan berikutnya…”

“Ne?….”

“Dalam drama romantis yang kau lihat, apa adegan berikutnya….”

Tiffany tampak menerawang.Setelah berpikir dan mengingat matanya kembali menatap wajah Si won.

“Kiss scene?!”pekiknya tak percaya.Si won mengangguk.Tiffany menggigit bibir bawahnya.Apa yang sedang dilakukan pria itu sebenarnya.

“Hei, kau melamun…”

“Uh, aniyo…”Tiffany menggaruk tengkuknya.Jujur, dia sangat canggung sekarang.

“Uhm, sebaiknya kita pulang Oppa…”

“Lalu, adegan berikutnya?…”Si won masih ditempatnya.Tiffany meringis dan mendorong kepala pria itu pelan.

“Kita pulang sekarang!”

***Sifany***

Malam sudah larut tapi Tiffany sama sekali belum merasakan kantuk.Sejak beberapa menit yang lalu dia hanya menatap ke arah plaster yang ada pada lututnya.Senyumnya mengembang ketika mengingat Si won yang memakaikannya.Ah, rasanya dia tidak  ingin melepas benda itu.

Tiffany menarik selimutnya dan berbaring.Pikirannya kembali pada Si won.Pria itu adalah satu-satunya orang yang dekat dengannya selain sang Appa dan Dong hae.Si won juga selalu ada bersamanya kapanpun kecuali untuk urusan pekerjaan.

Tunggu, Tiffany tidak pernah tahu kalau Si won dekat dengan seorang wanita.Bagaimana kalau nanti tiba-tiba dia mendapat undangan dari Si won secara mengejutkan seperti pada kasus Dong hae.Tiffany menggeleng, tidak bisa.Dia harus mencari tahu tentang ini.Dia tidak rela dan tidak bisa membayangkan jika seandainya hal itu terjadi.

***Sifany***

Rumah Si won memang tergolong mewah dan besar layaknya kediaman konglomerat lainnya.Tapi bagi Tiffany yang sudah terbiasa dengan rumah ini sejak kecil tidak ada masalah.Dia tahu semua seluk beluk rumah ini dan tempat biasa Si won dijam-jam seperti ini.

Ceklek

Tiffany membuka pintu.Dalam ruangan besar itu tidak ada benda lain selain barbel, treadmill dan alat-alat untuk olah raga lainnya.Tiffany melangkahkan kakinya untuk masuk.Dia mendekati Si won yang bersimbah keringat dan berlari diatas treadmillnya.

Lihatlah, saking asyiknya dengan rutinitas paginya itu, Si won sama sekali tidak menyadari kehadiran Tiffany disana.Tiffany tersenyum ketika mendapat sebuah ide.Dia melangkah lebih dekat lalu menekan salah satu tombol untuk mempercepat jalannya benda itu.Otomatis Si won pun mempercepat larinya seraya menoleh kesamping.

“Kau sudah datang? Pagi sekali, lututmu baik-baik saja….”

Tiffany mengangguk.Dia senang Si won masih mencemaskan keadaannya meski kecelakaan kecil itu sudah lewat beberapa hari yang lalu.

Si won menurunkan kecepatan traedmillnya hingga sekarang dia hanya berjalan santai seraya meneguk air minum yang ada didekatnya.Mata Tiffany pun tertuju pada ponsel Si won yang derada didekat botol air tadi.

“Oppa, aku boleh pinjam ponselmu?….”Si won menoleh ke arah Tiffany.

“Tumben bertanya, biasanya kau selalu memakai barangku tanpa izin…”Tiffany tersenyum lalu dengan cepat menyambar benda itu.

“Berarti boleh…”ucapnya.

Si won turun dari treadmill dan beralih mengangkat barbel untuk melatih otot tangannya.Biasanya Tiffany akan selalu memujinya disaat seperti ini.Tapi kali ini gadis itu hanya sibuk dengan ponsel miliknya.

“Sebenarnya apa yang kau lihat?…”

“Uh?….”Tiffany mengangkat wajahnya.

“A-aniyo, siapa tahu Oppa menyimpan foto yeoja seksi atau video yadong disini…”

Si won tertawa dibuatnya.Dia mendekat pada gadis yang masih sibuk menggerak-gerakkan jari lentiknya dengan lincah pada layar touchscreen itu.

“Lalu, jika aku menyimpannya, kau ingin melihatnya?….”

“Ne?….”Wajah Tiffany memerah.Malu? Tentu saja.Apa maksudnya?

“A-aniyo, aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku untuk melihat hal semacam itu…”ucap Tiffany ketus dan keluar dari ruangan itu diikuti Si won yang terus tertawa menggodanya.

***Sifany***

“Fany-ah, kau disini?….”Tiffany yang asyik dengan ponsel Si won menoleh.

“Ahjussi!”Girang Tiffany dan langsung memeluk pria paruh baya dihadapannya.

“Kapan Ahjussi kembali dari Paris?…”tanya Tiffany setelah dia melepaskan pelukannya.

“Semalam.Oh ya, Si won bilang lututmu terluka, apa sudah baikan?…”tanyanya seraya melihat lutut Tiffany.

“Ne, lututku sudah sembuh, Ahjussi…”jawab Tiffany.Pria paruh baya itu mengangguk lega.

“Ahjussi, kau tidak melupakan sesuatu, bukan?….”pertanyaan itu disambut tawa Mr. Choi.Dia menepuk-nepuk pundak Tiffany pelan.

“Tentu , mana mungkin Ahjussi melupakan oleh-oleh untukmu.Kau tunggulah di meja makan, Ahjussi akan mengambilnya….”

“Ne….”

Tiffany menurut.Dia menuju ruang makan dimana Nyonya Choi sedang menata berbagai menu makanan dibantu seorang pelayan.

“Omo, Fany-ah, lututmu sudah baikan?….”Nyonya Choi langsung mendekat dan mengamati lutut Tiffany.Dalam hati Tiffany menggerutu.Kenapa Si won tidak sekalian saja mengatakannya keseluruh Korea tentang hal ini.

“Ne, Ahjumma, aku sudah baikan…”

“Jjinja? Lain kali berhati-hatilah.Kalau beginikan kau juga yang rugi.Bagaimana kalau lukanya parah, lalu berbekas.Aigo, anak gadis harus menjaga tubuhnya dengan baik…”

Tiffany mengangguk pelan dan tersenyum.Cerewetnya Nyonya Choi membuatnya merasa seperti berhadapan dengan Oemmanya sendiri.Setidaknya dia senang ada orang yang bergitu perhatian padanya.Ya, Keluarga Choi adalah keluarga kedua baginya.

“Pagi…”sapa Si won yang sudah selesai mandi dan berganti baju dengan pakaian kantornya.Diikuti Tuan Choi dibelakang.

“Ini, oleh-oleh untukmu…”Tiffany menerima kotak itu.Segera ia membukanya dan tersenyum cerah.

“Parfum?….”

“Ne, aku tidak tahu hadiah apa yang pantas untuk seorang gadis.Aku bertanya pada pelayan toko dan mereka merekomendasikan parfum ini.Kau suka?….”

“Ne, gumawoyo, Ahjussi….”Tuan Choi mengusap kepala Tiffany dan segera duduk dikursinya.Si won yang melihat itu mendekat ketempat sang Oemma.

“Oemma, lihatlah, mereka terlihat seperti pasangan.Tidakkah ini mencurigakan?…”

Tuan dan nyonya Choi tertawa mendengar candaan putra mereka itu.Sementara Tiffany melirik Si won dengan sebal.

“Ayo, sebaiknya kita makan…”

***Sifany***

Semua kontak sudah diperiksa Tiffany.Dari namanya tidak ada satupun nama wanita selain Nyonya Choi dan kontak dengan nama `Fany Babo`.Tiffany merengut sebal, jadi selama ini pria itu menyimpan nomernya dengan nama ini? Tunggu, sepertinya Tiffany ingat kalau dialah yang menghapus kontak semua teman wanita Si won.Aish!

Tiffany beralih pada folder tempat Si won menyimpan foto.Demi Tuhan, Tiffany tidak menemukan foto wanita mana pun selain dirinya sendiri ketika mereka berlibur ke Jeju, New York dan Paris beberapa bulan lalu.Bahkan foto saat kelulusannya pun masih ada.

Tiffany membuka folder video.Tidak ada video selain dari pada kartun spongebob dan tororo.Tiffany ingat, dialah yang menyimpan video itu  dalam perjalanan pulang mereka ke Korea.Tiffany masih ingat waktu itu dia dan Si won sedang dipesawat.Sebenarnya dia ingin menyimpan lebih banyak video lagi tapi seorang pramugari menyuruhnya untuk mematikan gadget itu karena pesawat akan segera take-off.

“Aish!”

Tiffany melempar ponsel Si won.Tidak ada satupun tanda-tanda wanita yang tengah dekat dengan Si won.Apa Si won berhubungan dengan orang kantornya? Sekretarinya mungkin? Tiffany mengangguk, mengingat sekretaris Si won sangat cantik, anggun, dan pintar.Tapi Tiffany kemudian menggeleng.Dia ingat bulan lalu dia menghadiri pesta pertunangan sekretaris itu bersama Si won.

“Argh! Ini membuatku pusing…”erang Tiffany.

Tok Tok Tok

“Agasshi, Presdir Choi menunggu Agasshi di lobi untuk makan siang…”

***Sifany***

Si won melirik Tiffany yang terlihat tidak nafsu makan.Gadis itu dari tadi hanya memainkan makanannya tanpa mau memakannya.

“Kau tidak suka makanannya?…”Tidak ada respon.

“Tiffany?…”

“Ne?…”Tiffany menyahut seperti orang linglung.Maklum dia baru tersadar dari lamunannya.

“Kau ingin ku pesankan makanan yang lain?….”

“Aniyo Oppa, ini juga enak…”ucap Tiffany tersenyum kaku.

“Oh ya, kulihat kau belum memakannya dari tadi….”

“Huh? Benarkah?…”tanya Tiffany.Tak lama kemudian dia tertawa garing.

“Hahaha, ada apa denganku…”tanyanya pada diri sendiri dan mulai memasukkan daging steak itu kemulutnya.

“Kau sudah membeli gaun?…”

“Gaun? Untuk apa?….”

Si won yakin, ada yang sedang dipikirkan gadis itu.Buktinya dia tidak fokus sedari tadi.Tapi apa, seingat Si won tidak ada hal aneh yang terjadi akhir-akhir ini pada gadis itu selain pernikahan Dong hae.Tapi gadis itu sudah baik-baik saja beberapa hari ini.

“Untuk ke pesta Dong hae lusa…”

`Lusa?` batin Tiffany.Aish, haruskan dia datang? Ya, dia harus melihat sendiri seperti apa gadis bernama Jessica Jung itu dari dekat.

“Aniyo, aku belum membelinya…”

“Habiskan makananmu, aku ada sedikit waktu untuk menemanimu berbelanja…”

Tiffany mengangguk saja.Hal yang tidak diduga oleh Si won.Biasanya Tiffany akan sangat senang jika dia menemaninya berbelanja.

“Oppa…”

“Ne…”Si won memperhatikan Tiffany yang menunduk.Tidak biasanya gadis itu bersikap canggung seperti ini padanya.

“Uhm, apa kau sedang dekat dengan seorang yeoja?….”

“Memangnya ada apa?…”Si won balik bertanya.

“Jawab saja pertanyaanku!”sebal Tiffany.Si won  tersenyum seraya memasukkan pasta kemulutnya.

“Hm , kau benar….”angguk Si won.

Tiffany mendongak.Ditatapnya mata Si won.Memastikan kalau pria itu tidak sedang membohonginya.Tapi tidak bisa karena pria itu sudah mengalihkan perhatiannya pada piring pastanya.

“Nugu?….”tanya Tiffany ingin tahu.

“Kenapa kau ingin tahu?…”

Si won yang kembali bertanya membuat Tiffany merasa makin kesal.Dia segera menyambar tasnya dan meninggal meja itu.

“Hei, habiskan makananmu…”

Tiffany tak memperdulikannya.Dia tetap melangkah keluar dari café.Si won yang ditinggalkan hanya tersenyum simpul.

***Sifany***

Si won membuka pintu mobil untuk Tiffany.Mereka sudah tiba dihotel tempat dilaksakannya pesta resepsi pernikahan Dong hae dan Jessica.

“Tersenyumlah, siapa tahu nanti Dong hae berubah pikiran dan memintamu untuk menjadi istrinya.Seperti adegan dalam drama…”

Bukannya tersenyum Tiffany malah mengerucutkan bibirnya.Si won tak bicara lagi.Memangnya sampai kapan gadis itu bisa tahan dengan ekpresi seperti itu.

“Selamat datang…”

Dua pasang suami istri yang merupakan orang tua dari kedua mempelai menyambut tamu di pintu masuk ballroom.Tak terkecuali dua orang yang cukup mereka kenal yakni Si won dan Tiffany.

“Selamat Ahjussi, Ahjumma, kami ikut bahagia dengan pernikahan ini…”Si won menyalami kedua orang tua Dong hae dan Jessica, begitupun Tiffany.

“Aigo, lama tak tertemu Tiffany-ssi, kau tampak makin cantik…”ucap Oemma Dong hae memeluk Tiffany sekilas yang hanya dibalas senyum oleh gadis itu.

“Kalian masuklah, acaranya akan dimulai sebentar lagi…”

Si won menggandeng pinggang ramping Tiffany untuk masuk.Tiffany kembali merasa gugup.Biasanya dia tidak apa-apa jika disentuh oleh Si won.Kenapa akhir-akhir ini rasanya aneh?

***Sifany***

“Pengantin wanita segera memasuki aula….”

Riuh tepuk tangan menggema diballroom itu.Tamu undangan memusatkan perhatian mereka pada sosok yang kini berjalan anggun disebelah pria yang merupakan Appanya.

Tiffany ikut memperhatikan sosok dalam balutan gaun putih nan indah itu.Langkahnya terlihat anggun dengan sebuket bunga ditangannya.Senyumnya terus mengembang seraya matanya menatap seseorang yang tengah berdiri gagah didepan altar.Siapa lagi kalau bukan Dong hae.

Tiffany mendesah pelan.Segera ia alihkan pandangannya dari pasangan yang tengah mengucapkan janji suci pernikahan dihadapan pastur.Dia merasa kecewa? Tentu saja.Semenjak SMA dia sudah menyukai Dong hae dan sekarang dia menyaksikan namja itu mengucapkan janji suci dengan wanita lain dihadapannya.Tapi jauh dari dalam hatinya, Tiffany merasa ikut senang dengan kebahagiaan Dong hae dan Jessica.

Tiffany tersentak ketika tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangannya.

“Oppa…”

Si won tersenyum.Tiffany bisa merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam genggaman hangat itu.Membuat semua beban dihatinya terangkat dan menghilang dalam sekejap.Tak lama kemudian ia ikut tersenyum dan kembali melihat kearah altar.Dimana pasangan pengantin itu tengah berbagi ciuman.

***Sifany***

“Chukkae, Dong hae-ah.Kami ikut bahagia atas pernikahan kalian…”Si won menjabat tangan teman baiknya itu yang dibalas dengan akrab oleh Dong hae.

“Gumawoyo, Si won-ah.Segeralah menyusul…”Dua pria itu tertawa.Tiffany yang berdiri disebelah Si won hanya diam.Sampai pemilik dua bola mata cokelat itu tersenyum padanya.

“Hai…”sapa Jessica manis.Tiffany hanya diam.Bukan hanya suasana ini yang membuatnya canggung tapi juga tangan Si won yang kini melingkar erat diperutnya.Bahkan dengan posisi punggungnya yang menempel pada pria itu.

“Oh, aku hampir lupa.Sica-ya, perkenalkan.Ini temanku, ini Si won dan yang ini Tiffany….”Jessica tersenyum ramah dan menatap Si won juga Tiffany bergantian.

“Annyeong haseyo, aku Jessica…”sapanya hangat.

“Senang bertemu denganmu, Jessica-ssi…”

“Gumawoyo, Si won-ssi…”

Jessica mengalihkan pandangannya pada Tiffany.Dia mengulurkan tangannya.Tiffany yang awalnya hanya terdiam pun dengan ragu menjabat tangan itu.

“Tiffany…”ucap Tiffany pelan.

“Ne, aku sudah banyak mendengar tentangmu dari Dong hae Oppa.Senang bertemu denganmu, Tiffany-ssi….”

Tiffany membalas senyum manisnya.Sepertinya Pelayan Kim benar, gadis ini terlihat hangat dan menyenangkan.

“Ku dengar dulunya kita satu kampus.Sayang sekali karena kita terlambat saling mengenal…”sesalnya.Tiffany tersenyum saja.

“Tapi aku benar-benar belum pernah melihatmu…”

“Aku juga.Aneh rasanya sesama orang Korea dan sekolah diuniversitas yang sama tapi tidak saling mengenal.Ku harap, kita bisa berteman baik…”

“Tentu.Kapan-kapan kita harus menghabiskan waktu bersama, Tiffany-ssi…”

“Pasti, Jessica-ssi…”Si won dan Dong hae tersenyum melihat keduanya yang tampak sudah akrab.

“Sepertinya kita seumuran, tidak usah terlalu formal.Bukankah kita teman?…”Dua wanita itu tertawa.

“Walau penampilannya tampak dewasa tapi dia masih gadis remaja yang manja dan suka bermain-main, Jessica-ssi…”Tiffany menatap kesal Si won dan tak lupa menyikut perut pria itu.

“Gwenchana.Itu menyenangkan, bukan begitu?…”ucap Dong hae meminta pendapat istrinya yang disambut anggukan setuju wanita cantik itu.Tiffany memutar bola matanya.Ok, suasan ini cukup menyebalkan saat orang-orang itu menertawakan dirinya.

“Oppa, kau tidak mengundang Seo hyun?…”Tanya Tiffany tiba-tiba saat menyadari sahabatnya itu tak ada disana.

“Seo hyun? Sudah.Tapi dia tidak bisa hadir karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan di Singapore.Tapi kemarin dia sudah berkunjung dan mengucapkan selamat padaku dan Jessica…”

Tiffany menatap kesal Si won usai mendengar penjelasan Dong hae.Si won yang mengerti kalau gadis itu akan marah karena selalu menyuruh sahabatnya itu keluar negeri pun hanya tersenyum.

“Itu pekerjaannya, Fany-ah.Lagi pula dia tidak pernah menolak…”jelasnya.Tiffany mendengus sementara Dong hae dan Jessica tampak tersenyum manis.

“Mereka terlihat manis…”bisik Jessica.Dong hae tersenyum dan mendekat.

“Istriku jauh lebih manis…”pujinya yang berhasil membuat pipi Jessica bersemu merah.Tiffany yang menyadari itu kembali mendengus.Haruskah dua orang itu bermesraan dihadapannya? Hei, siapa dia melarang pasangan suami-istri  menunjukkan perasaan mereka.Aish, tiba-tiba dia menjadi sangat lapar.

“Kau lapar? Kajja, disana sepertinya makannya enak-enak…”ajak Si won.Tiffany melirik pria tinggi itu, kenapa Si won selalu tahu tentang apa yang ada dipikirannya?

***Sifany***

“Gwenchana?….”

“Eoh…”

Tiffany hanya menjawaab singkat dan bersandar dikursinya.Si won memakaikan seatbelt Tiffany kemudian mulai menyalakan mesin mobil.Dalam perjalanan pulang dari pernikahan Dong hae dan Jessica itu, keduanya hanya diam.Tiffany yang sudah lelah dan mengantuk memilih memejamkan matanya untuk tidur sementara Si won berkonsentrasi pada jalan.

Begitu sampai, Si won menggendong Tiffany untuk membawanya masuk.Pelayan Kim membukankan pintu kamar Tiffany.Menyiapkan selimut dan menyalakan AC.Setelah itu ia pamit membiarkan Si won mengurus Tiffany sendiri.Sesuai perintah pria muda itu.

Si won duduk dipinggir ranjang.Dilepaskannya high heel berwarna merah itu dari kaki Tiffany.Usai menyelimutinya, diperhatikannya wajah cantik yang tengah terlelap itu.

“Eungg…”

Tiffany melenguh pelan.Selimut yang tadinya sudah rapi seketika bernatakan karena pergerakannya.Si won tersenyum.Dirapikannya rambut Tiffany kemudian mencium kening gadis itu.Lama.

“Tidurlah, ada hari esok yang lebih indah menantimu…”

Si won keluar dari kamar luas dengan nuasan pink itu.Membiarkan Tiffany untuk tidur dan beristirahat dengan nyaman.

“Han Ahjumma…”

“Ne, Tuan…”

Perempuan paruh baya itu mendekat dengan secangkir coffee ditangannya.Diletakkannya coffee itu dimeja seraya mempersilahkan Si won untuk menikmatinya.

“Tolong ganti baju Tiffany.Dia akan sulit tidur jika masih memakai gaun…”

“Baik, Tuan.Apa Tuan akan menginap disini? Saya akan menyiapkan kamar….”

“Aniyo, Ahjumma.Aku akan pulang setelah ini…”

Han Ahjumma membungkuk pamit menuju kamar Tiffany.Si won membawa cangkir coffenya.Langkahnya menuju pos satpam kediaman keluarga Hwang.Mengobrol dengan Pelayan Kim  dan pelayan lainnya sepertinya menarik.Mengingat ia cukup sibuk akhir-akhir ini dan sudah lama tidak bercengkrama dengan mereka.

***Sifany***

Tiffany memasang posisi.Kakinya sedikit ia renggangkan.Kedua tangannya mengayun tongkat golf dan memukul bolanya.

PUK!

Gadis itu mendengus.Bukannya melayang bola itu malah hanya mengelinding dengan jarak tidak lebih dari 3 meter.

“Ya Tuhan, Tiffany.Kapan kau bisa melakukannya dengan baik…”gemas Si won.Sudah dua jam mereka dilapangan ini tapi Tiffany sama sekali belum berhasil.

Tiffany melempar tongkatnya.Ditinggalkannya tempat itu dan duduk diatas rumput.Memandangi bunga teratai dalam kolom kecil yang ada dihadapannya lebih baik dari pada mendengarkan Si won.Dia tidak suka berolah raga, kenapa pria itu selalu saja mengajaknya pergi.Dihari libur ini akan lebih baik baginya untuk tidur dan istirahat.

Si won ikut bergabung.Dia duduk disebelah Tiffany dan menyodorkan sebotol air mineral.Tiffany pun meraih minuman itu untuk membasuh tenggorokannya yang terasa kering.

“Apa yang sedang kau pikirkan?….”tanya Si won.Ikut memandangi kolom yang ditumbuhi beberapa bunga teratai dihadapan mereka.

“Kenapa seorang Choi Si won selalu mengajakku berolah raga dan berkeringat…”jawabnya ketus.Pria itu terkekeh pelan.

“Waeyo?…”tanya Tiffany tak suka.

“Anni, ternyata tebakanku salah.Ku pikir kau sedang membayangkan betapa bahagianya Dong hae dan Jessica yang sedang berbulan madu ke Paris…”pria itu kembali tertawa.Tiffany mendengus.Apanya yang lucu?

“Aku akan masuk untuk minum coffee.Kau mau ikut?….”tawar Si won.Tiffany menggeleng singkat.

“Baiklah.Telfon aku jika kau ingin pulang…”

“Kenapa aku harus menelfonmu? Aku bisa pulang sendiri…”Si won terdiam.Sepertinya gadis itu dalam mood kurang baik hari ini.

“Jangan macam-macam, Tiffany.Kau bisa tersesat dan menjadi korban penculikan…”Lihatlah, pria itu mulai lagi.

“Memangnya kenapa kalau aku tersesat dan menjadi korban penculikan.Kau akan datang menyelamatkankukan?…”

“Bagaimana kalau aku tidak sempat menyelamatkanmu?…”Tiffany terdiam.Matanya menatap mata Si won dalam.

“Jadi, kau tidak sayang padaku lagi?….”

Entah apa yang terjadi.Gadis itu menjadi sangat emosional.Bahkan Si won bisa melihat air matanya jatuh.Si won mendekat.Diraihnya tubuh yeoja itu dan mendekapnya hangat.

“Aku akan melakukannya.Apa pun yang terjadi akulah orang pertama yang harus menjaga, melindungi dan menyayangimu, hm?…”Tangis Tiffany makin kencang.Pelukannya pun makin erat membuat pria tampan itu tersenyum.

“Aku menyayangimu, Tiff.Aku menyayangimu.Kau percaya?….”Tiffany menggeleng dalam pelukan Si won.

“Kau bilang kau sedang dekat dengan seorang yeoja.Kau sudah membaginya…”Si won tertawa pelan.Astaga, waktu itu dia hanya bercanda.

“Kau tidak boleh membaginya, Oppa.Dari dulu semuanya milikku dan hanya untukku…”ucapnya terkesan egois tapi entah kenapa Si won menyukainya.

Si won tersenyum dan melepaskan pelukan mereka.Kedua tangannya menangkup pipi mulus Tiffany dengan ibu jarinya menghapus air mata gadis itu.

“Tiffany Hwang, tatap aku…”Tiffany menggeleng.

“Aku bisa kehilangan Dong hae Oppa.Aku juga bisa kehilangan semua yang aku punya.Tapi tidak kau Si won.Seluruh yang ada pada dirimu hanya untukku, benarkan?…”Tanya Tiffany dalam tangisnya.Si won tersenyum menatap mata indah yang basah oleh air mata itu.

“Kau benar.Dari dulu, sampai detik ini bahkan sampai kapan pun.Aku hanya milikmu.Semua yang ada padaku, adalah milikmu…”

Tiffany tersenyum diiringi air matanya yang mengalir deras.Kakinya berjinjit dan memeluk leher Si won erat.

“Aku mencintaimu, Si won…”

Tiffany tidak tahu kenapa dia bisa mengucapkan kalimat itu.Bahkan sekarang dia memeluk pria itu dengan erat dan perasaan yang berbeda dari biasanya.Pelukan yang membuatnya hangat dan nyaman.Si won mengusap punggung gadis itu dan menghembuskan nafasnya pada tengkuk Tiffany.

“Aku juga mencintaimu, Fany-ah…”balas Si won tulus.Benar-benar dari lubuk hatinya yang paling dalam.Setelah sekian lama akhirnya dia bisa mengungkapkannya walau gadis itulah yang lebih dulu menyatakan perasaannya.

Si won melepaskan pelukan mereka.Ditatapnya mata indah itu hangat.Tiffany ikut tersenyum menatap wajah tampan dan sempurna Si won.Perasaannya terasa meletup-letup karena bahagia.Perlahan Si won mendekatkan wajahnya, Tiffany menyadari apa yang akan dilakukan pria itu tersenyum.Tunggu, pria itu akan menciumnya? Ini yang pertama untuknya dan tentu ia sangat gugup sekaligus malu.Dan pria itu akan melakukannya ditempat terbuka seperti ini? Yang benar saja.

Tiffany tersenyum lagi.Dia ikut mendekat.Nafas hangat Si won seketika menerpa kulit wajahnya membuat bulu kuduknya merinding.Dan saat bibir mereka hampir bersentuhan, dia dengan cepat mendorong Si won dan menjauh.

Si won yang menyadari itu tertawa pelan seraya menggaruk tengkuknya.

“Kau harus minta izin pada Appaku dulu, Choi Si won…”teriak Tiffany dari kejauhan.Si won tersenyum dan mengikuti Tiffany yang berjalan mudur beberapa meter dihadapannya.

“Aku yakin kalau aku sudah tidak perlu izin lagi untuk itu…”Tiffany tersenyum.

“Percaya diri sekali…”cibirnya sambil terus melangkah mundur.

“Tapi itu kenyataannya.Appamu sudah menyerahkan dirimu padaku sejak dulu…”

“Benarkah?…”Keduanya saling pandang dengan senyum yang selalu mengembang diwajah bahagia keduanya.Terlebih lagi Si won.Pria itu tampak menyeringai sambil terus melangkah maju.

“Kemarilah, Fany-ah….”Gadis itu terus berjalan mundur dengan senyum diwajahnya.

“Shiro…”

“Kau akan menyesal jika tidak mendengarkan ucapanku, baby?…”Tiffany menyerngit.

“Baby? Panggilan menjijikkan macam apa itu.Aku…”

“Tiff…”

BYURR!!!

Tiffany tercebur kedalam kolom.Si won yang melihatnya tidak berbuat apa-apa selain hanya menahan tawanya melihat Tiffany yang tampak ketakutan.Dia tidak perlu buru-buru membantu Tiffany mengingat kolom itu hanya sebatas lutut.Jadi gadis itu tidak akan tenggelam.

“Arghhhhh!”

Gadis itu memekik histeris.Menyaksikan dirinya basah kuyup dan Si won yang kini sedang tertawa puas melihatnya menderita.

“Hahaha…”Si won mendekat dan berjongkok dipinggiran kolom.

“Bukankah sudah ku bilang, kau akan menyesal jika tidak mendengarkanku.Kemari…”

Si won memberikan tangannya untuk membantu Tiffany naik.Gadis itu menerimanya dengan wajah yang merengut karena kesal.

“Jangan pasang wajah jelek seperti itu…”canda Si won saat Tiffany sudah berdiri dihadapannya dengan baju yang basah kuyup.

“Aku tidak jelek…”kesalnya.

“Ya, ya, ya.Kau cantik.Sangat cantik…”puji Si won.Tiffany yang mendengar itu tersenyum penuh arti.Dia memajukan tubuhnya dan menatap pria itu lebih dekat.

“Kau juga sangat tampan, Oppa…”bisiknya dan…

PUSH!

“YA!”

BYURR!

“Hahaha…”

Giliran Tiffany yang tertawa puas dengan tangan memegang perutnya yang kesakitan karena efek dari tawanya.Melihat wajah panik dan kesal Si won sekarang benar-benar lucu menurutnya.

“Serius, Oppa.Kau tampak lebih tampan sekarang.Hahaha…”

Tiffany masih asyik tertawa.Si won ikut tertawa menyaksikan dirinya yang basah kuyup.Gadis itu terlihat sangat bahagia melihatnya menderita seperti ini.

“Baiklah, bagaimana kalau kita main basah-basahan bersama…”

Tiffany menghentikan tawanya.Sadar Si won tengah naik dan mendekat kearahnya, dengan cepat ia berdiri menghindari pria tinggi itu.

“Ahjussi! Ahjumma!”

Tiffany berteriak memanggil pasangan yang tengah menikmati teh dan roti dihalaman belakang resort mewah itu.Keduanya hanya tersenyum seraya menggeleng melihat Si won dan Tiffany berkejar-kejaran dalam keadaan basah kuyup.

“Aigo, dasar anak muda…”gemas Nyonya Choi melihat Si won yang sudah berhasil menangkap Tiffany dan menyeretnya paksa menuju kolom.Tuan Choi ikut tersenyum.

“Hm, mereka mengingatkanku pada masa muda kita dulu…”

“Nggg?…”Nyonya Choi menyerngit.

“Kau yakin Tuan Choi? Kau sangat tidak romantis dan peka, kau tahu itu…”

“Benarkah?…”Tanya Tuan Choi.

“Ingin buktinya? Coba ingat saat kau ingin membelikan hadiah untuk Tiffany.Kau selalu bertanya pada karyawan toko apa hadiah yang cocok untuk anak gadismu.Itu tandanya kau jarang memberi istrimu hadiah.Bukan begitu?…”Tuan Choi tertawa seraya menyesap tehnya.

“Tapi kau menyukainya, bukan?…”Tuan Choi menggoda.Nyonya Choi mendesis gemas sekaligus geli.Segera ia bangkit untuk memberikan handuk pada Si won dan Tiffany.Sementara Tuan Choi yang ditinggal hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu.Terlebih melihat Si won dan Tiffany yang tengah bermain air ditengah kolom.

“Aigo, mereka benar-benar manis…”

END

 

 

 

145 thoughts on “(AR) Beside you

  1. Aaaaaaaa author entah kenapa aku ingin sequel , ceritanya terasa nanggung soalnya .-.
    Tapi ini cerita bagus banget, aku pikir tadinya SiFany udah nikah karena Tiff ada dikamar Siwon , ternyata mereka hanya TTM , tapi pada akhirnya mereka mengungkapkan cinta dilapangan golf , omo SiFany >.<
    Ayo author kalo bisa buatin sequelnya yah , hihhii , FIGHTING ♡

  2. daebak..
    Awal’y ku bingung, knp Tiffany ada di kamar Siwon, apa mereka udh Nikah, tp gk ada penjelasan sama sekali.. Tp ceritanya so sweet bgt thor…

  3. Ceritanya kerennnn. Bikin squelnya dong authorr. Aku suka noh ff kaya gini soalnya tiffanynya kayanya manja bangett . Fighting author!

  4. aigoooo so sweettt nya mereka. yaa meski tiffany telat buat sadar kalo siwon selalu ada buat dia. tp gpp mereka lucu bgt sempet mikir diawal sifany udh nikah,eh gk taunya cm temen biasa. sequel dong thor🙂

  5. aigoo kyeopta….. lucu deh liat tingkahnya fany eonni,,, bkin senyum2 sndiri bacanya,.🙂 siwon oppa u’re so sweeettttt n romantic….. ❤❤ aku suka bgt ma ceritanya❤

  6. Baper sangat… baper aja kali hehe^^
    Romantis…. ujung ujungnya sama Wonnie oppa juga #eaaa😂😂💓
    Adu du duh…. Fany eonni diem diem ada heart beat🎧📡
    Siwon oppa ngeliatin banget rasa sayangnya….
    Sifany! Sifany! Sifany!
    💑💋💓💞

  7. Ya sll aj sprt itu, knp g dilnjutin mrk nikah sih. kykny reader hrs berimajinasi sndiri. tp oke kok. emg bnr semut yg jauh jarakny terlihat tp gajah didpn mata ta kelihatan.itu yg trjd dgn fany dmn siwon yg sll disisiny, tmni n cintai tp fany jstru sk dgn org lain.
    tp fany sdr kbaikn n ketulusn siwon mmpu mbwt fany sll dicintai n bgt jg dgn fany thdp siwon. sweet n happy..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s