The Sweetest Mushroom Ever

THE SWEETEST MUSHROOM EVER

The Sweetest Mushroom Ever!

Author : Echa

Main cast : SiFany

Other cast : Yoona, Sooyoung, Yuri

“SiFany Series”

“Untuk Dongsaeng-ku sekaligus penyemangat, Dona Chilquite”

 

 

 

 

Bagi Siwon cuti tiga hari yang diberikan sang Ayah adalah kado terindah di hari ulang tahunnya. Sang Ayah tahu kalau anak sulungnya tersebut sudah menghabiskan waktu 2 tahun bekerja tanpa libur, kecuali hari raya atau hari spesial lainnya. Siwon merebahkan diri di atas tempat tidur king size di kamarnya dan berencana untuk tidur seharian. Meskipun ia tahu kalau hari ini tidak seharusnya ia bermalas-malasan di kamar.

“Oppaaaaa! Mana ada orang yang sedang berulang tahun tidur terus di kamarnya! Keluaaaaar!”

“Biarkan saja, Eonnie! Kalau Oppa keluar dari kamarnya. itu berarti kita tidak mempunyai kesempatan menghabiskan kue tart yang lezat ini!”

“Hahaha, kau benar Yoongie!”

Siwon yang tadinya menutup mata, kini membelalak kesal. Ia menggeram seraya mengacak-acak rambut hitamnya. Ternyata lebih tenang di kantor daripada di rumahnya sendiri. Jika Siwon boleh memilih, ia ingin beristirahat di ruangan kantornya saja daripada harus menghadapi dua gadis cerewet yang berstatus adiknya, Sooyoung dan Yoona.

Dengan terus menggerutu, Siwon keluar dari kamarnya. Apa boleh buat? Jika ia masih di kamarnya barang sepuluh menit lagi, mungkin gendang telinganya akan terus menari-nari mendengar teriakan-teriakan dua gadis aneh yang berdiri di luar kamarnya itu.

“Ah, akhirnya Oppa keluar juga. Hihihi,” kekeh Yoona. Siwon tidak tertawa. Ia memasang wajah sesangar mungkin.

“Ternyata Oppa tidak tidur. Kalau begitu, ayo kita ke dapur. Eomma sedang memotong-motong kue tart untuk kita bertiga,” timpal gadis yang lebih tinggi dari Yoona, Sooyoung.

“Aku bukan anak kecil lagi, jadi aku tidak tertarik pada kue tart. Sekarang izinkan aku tidur,” ucap Siwon seraya bertolak pinggang.

“Omo! Oppa tidak ingin menyicipi kue tart buatan Eomma? Uh, dasar anak tidak berbakti!” sembur Sooyoung. Siwon mengerjap dan sedikit merasa bersalah. Ia tahu di hari ulang tahunnya ini sang Ibu membuat kue khusus untuk mereka bertiga.

“Tapi—“

“Oppa tidak boleh menolak. Hari liburmu kan masih ada dua hari lagi. Jadi, hari ini gunakan untuk bersenang-senang. Setelah kita makan kue tart, Oppa harus mengajak kami menonton di bioskop. Otte?” timpal Yoona. Siwon mengangkat kedua alisnya.

“Mwo?”

“Oppa kan berulang tahun, jadi harus mentraktir kami makan dan nonton. Apa Eomma juga boleh ikut?” Sooyoung menambahkan.

Siwon membuka dan menutup mulutnya namun tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Sepertinya rencana Siwon untuk tidur seharian gagal total. Tidak ada yang bisa membebaskannya dari kedua gadis itu, bahkan Ibu dan Ayah mereka sekalipun! Bagaimana tidak? Tuan Choi sangat dekat dengan Sooyoung dan Nyonya Choi sangat memanjakan Yoona.

Siwon harus bertahan seorang diri.

“Eomma tidak perlu ikut, Youngie-yah. Kau saja yang pergi dengan Oppa dan adikmu.”

Tiba-tiba Ny. Choi muncul di belakang mereka. Di tangannya ada sebuah kue tart ukuran menengah dan di atasnya tertancap lilin dengan angka 28. “Buatlah permintaan terlebih dahulu dan tiup lilinnya.”

Emosi Siwon yang tadi sempat meninggi langsung mereda tatkala melihat sang Ibu mendekatinya dengan mata berkaca-kaca. Sooyoung dan Yoona ikut bertepuk tangan dan berdiri mengapit sang Ibu. Siwon memandang mereka dengan haru. Andai saja hari ini Ayahnya tidak ke kantor, pasti kebahagiaan Siwon akan terasa lengkap.

“Oppa, doakan aku agar menjadi model terkenal,” ucap Yoona ketika Siwon melipat tangan untuk berdoa. Mata Siwon terpejam.

“Oppa, doakan juga diri Oppa agar segera laku dan menikah secepatnya,” timpal Sooyoung.

Mendengar itu Siwon membuka matanya lagi dan melotot pada adiknya itu. “Kau ini…”

“Sudah, sudah. Siwon, cepatlah make a wish lalu tiup lilinnya!” tukas Ny. Choi antusias.

 

 

Siwon hanya bisa memandangi kedua adiknya yang makan dengan lahap. Ia menelan ludah serta tertawa kecil. Sooyoung dan Yoona tidak menghiraukan tatapan aneh Siwon, sementara mereka berdua sangat kompak menghabiskan makanan. Ini hari ulang tahun Siwon, jadi mereka bisa sepuasnya meminta apapun.

“Boleh aku meminta satu ekor ayam panggang lagi?” pinta Yoona pada waitress yang berdiri tak jauh dari meja. Siwon melotot.

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Siwon mencondongkan tubuh ke depan agar bisa menatap Yoona lebih teliti. “Kau memesan satu ekor lagi? Perutmu karet, ya?”

Yoona mengedikkan bahu sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutnya. “Aku masih lapar, Oppa. Apa Oppa tidak lihat makananku diambil Sooyoung Eonnie?”

Siwon melirik Sooyoung yang sepertinya tidak peduli sekitar jika sedang makan. Ia kembali menatap maknae Choi itu.

“Kau bilang ingin menjadi model terkenal, tetapi porsi makanmu sebanyak 4 orang laki-laki,” sindir Siwon.

“Sunbae-ku mengatakan tak ada salahnya jika aku makan banyak karena berat badanku tidak akan naik drastis,” Yoona membela diri. Siwon mendengus.

“Sunbae-mu pasti jelek dan gendut. Benar, kan?”

Yoona membelalakkan matanya, sedangkan Sooyoung mulai tertarik dengan topik pembicaraan kedua saudaranya itu.

“Mwo? Oppa mengatakan Tiffany sunbae jelek dan gendut? Oppa, menurutku dia yang paling cantik dan hampir sempurna di agensi kami!” tegas Yoona. Sooyoung mengangguk, membenarkan. Sebab ia pernah berkenalan dengan Sunbae yang dimaksud Yoona.

“Nugu? Siapa namanya?” Siwon mengernyit.

“Namanya Tiffany Hwang!” sambar Sooyoung.

“Tapi ia biasa dipanggil Tiffany Mushroom. Aku sendiri tidak tahu. Dan menurutku aku tidak pantas menanyakannya. Meskipun aku tahu ia sangat ramah dan cantik, tetapi tidak sopan jika bertanya kenapa nama panggilannya menjadi aneh begitu,” tutur Yoona.

“Aku yakin Oppa akan berpendapat sama dengan kami jika Oppa melihatnya,” Sooyoung menyela. “Tiffany benar-benar cantik. Ia lebih tua satu tahun dariku, Oppa.”

Siwon menyambar paha ayam panggang yang masih tersisa di piring Sooyoung lalu menggigitnya. “Apakah lebih cantik dari Catherine Zeta Jones?”

Yoona dan Sooyoung serentak mendengus. “Tentu saja lebih cantik Tiffany Hwang! Kami lebih suka produk local!”

 

Yoona dan Sooyoung duduk tenang di jok belakang sementara Siwon menyetir dengan gerutuan sebal yang setiap lima detik keluar dari mulutnya. Kedua adiknya itu tidak lagi banyak bicara setelah perut mereka diisi dengan banyak sekali makanan. Sekarang mereka hampir sampai di bioskop yang mereka tuju.

“Nanti Oppa saja yang mengantri tiket, ne! Perutku kenyang sekali,” kata Sooyoung sambil mengusap-usap perutnya.

“Huft, sepertinya hari ini akan berjalan sempurna. Aku sangat senang kita menghabiskan waktu bertiga sebelum jadwalku yang menggila esok hari. Huft!” tukas Yoona.

Siwon memarkirkan mobil di area parkir yang telah disediakan khusus VIP. Sooyoung mengatakan kalau film yang akan mereka tonton akan diputar sekita 30 menit lagi. Jadi mereka tidak perlu buru-buru mengantri.

Yoona dan Sooyoung saling bergandengan tangan ke dalam gedung bioskop sementara Siwon mengikuti di belakang. Pria itu sudah berkali-kali menghela napas penuh kesabaran. Hang out bersama adiknya sama saja menjadi pesuruh. Kenapa mereka berdua belum juga mempunyai kekasih, jadi aku tidak akan tersiksa seperti ini, batin Siwon.

Tiba di dalam Siwon segera mengantri di loket utama, sedangkan Yoona dan Sooyoung duduk di sofa yang disediakan untuk menunggu. Siwon berada di antrian paling belakang dan berdecak saat melihat banyaknya manusia yang mengantri di depan dan di baris sampingnya. Film yang ingin mereka tonton memang film yang cukup terkenal, jadi Siwon memakluminya.

“Ck, kalau tahu begini aku akan meminta sekretaris Joo untuk membelikan tiket untuk kami,” gumam Siwon.

Bersama dengan calon penonton lain, Siwon ikut di dalam barisan antrian yang rapi dan tertib. Sebenarnya Siwon jarang sekali seperti ini, bersusah payah mengantri demi mendapatkan tiket untuk film yang ingin ditonton. Lebih baik ia masuk ke klub movie freak atau semacamnya, yang tidak membuang-buang waktu membeli tiket.

“Ups, sorry.”

Perhatian Siwon seketika teralihkan karena suara lembut dan sangat feminine tepat di sampingnya. Siwon menghirup udara di sekelilingnya yang tiba-tiba berganti sangat wangi. Kepalanya segera menoleh dan tertegun melihat seorang gadis yang…amat cantik.

Gadis itu tersenyum, membuat matanya melengkung indah. Siwon terpaku. Jarak mereka cukup dekat jika tidak ada besi rel penghalang. Gadis itu mengantri di loket kedua. Ia masih tersenyum kepada wanita di depannya. Sepertinya ia baru saja meminta maaf kepada wanita itu karena tidak sengaja mendorongnya dari belakang. Tapi wanita di depannya tidak marah sama sekali. Mungkin sama dengan Siwon, wanita itu juga tersihir dengan kecantikan senyuman si gadis.

Siwon menyeringai bagaikan orang konyol. Pria di belakangnya bahkan mendorong Siwon agar terus melangkah maju agar mencapai loket. Siwon mengikuti kemauan pria di belakangnya namun tetap memandangi si gadis dengan eyesmile yang menawan. Gadis itu tertinggal sedikit di belakangnya dan Siwon khawatir mereka tidak akan sampai di depan loket bersamaan. Entah mengapa saat itu ia tidak rela kehilangan gadis berambut hitam itu.

“Hanya tinggal untuk dua bangku, Tuan.”

Siwon terkejut. Ternyata ia sudah sampai di depan loket. Dengan enggan Siwon menghadap ke depan. “Nde?”

“Hanya tinggal untuk dua bangku,” penjual tiket itu mengulangi perkataannya. Siwon berpikir lagi. Dua adiknya tidak akan mau mengalah. Jika ia membeli tiket yang tersisa ini, kemungkinan besar dirinyalah yang terdepak.

“Kalau begitu, aku ambil!” akhirnya Siwon memutuskan untuk mengambilnya saja, daripada kedua gadis aneh itu mencakar wajahnya.

Siwon memberikan sejumlah uang untuk menukarkannya dengan tiket ketika ia mendengar lagi gadis menarik itu berseru. Apa lagi sekarang?

“Hanya tinggal satu? Tapi aku ingin membeli dua tiket.”

Siwon tanpa sadar tersenyum memperhatikan gadis itu. Rambutnya yang hitam tergerai indah di bahunya yang tidak tertutupi lengan baju. Pipinya sedikit chubby, hidungnya begitu mancung, bibirnya sedikit tebal di bagian bawah, lehernya yang putih dan bersih bagaikan tidak pernah terkena terik matahari. Mata Siwon turun memandang ke bawah. Gadis itu mempunyai kaki kurus, bahkan lebih kurus dari kaki Sooyoung. Dan bokongnya, Siwon menelan ludah. Salahkan pikiran laki-laki normal sepertinya, tetapi bokong sempurna gadis itu telah memancing khayalan liarnya.

“Tuan, ini tiket Anda. Enjoy the show!”

Siwon mengambil dua helai tiket dari tangan si penjual loket dan keluar dari antrian. Ia mendengar si penjual loket menyuruh sisa antrian untuk menunggu 30 menit lagi. Siwon membalikkan badan, berniat untuk kembali melihat gadis tadi. Namun—

Brukk!

Siwon dengan reflek memegangi kedua tangan gadis yang baru saja ditabraknya. Ia melihat tas gadis itu jatuh ke lantai bersamaan dengan dua tiket di tangannya. Bukan! Ada satu tiket lagi yang jatuh ke lantai dan Siwon rasa milik gadis tersebut. Dan saat melihat ke depan, Siwon mengerjap senang. Ia menabrak gadis eyesmile!

“Uh, sorry! Aish, ada apa denganku? Daritadi sudah dua kali menabrak orang. Maafkan aku, Tuan!” selorohnya. Siwon tidak bisa menahan diri untuk tersenyum lebar. Ia membantu gadis itu untuk mengambil tiketnya yang jatuh.

“Aku juga minta maaf padamu. Ini, milikmu!” ucap Siwon seraya menyodorkan satu lembar tiket.

“Kamsahamnida. Uhm, Anda juga menonton film ini?” tanya gadis itu bersemangat. Susunan giginya rapi dan putih.

“Sebenarnya ini untuk adik-adikku. Aku kekurangan satu tiket untuk masuk ke studio 1,” jawab Siwon. Gadis eyesmile cemberut, membuat jantung Siwon melompat-lompat melihat bibirnya yang mengerucut itu.

“Kalau begitu nasib kita sama! Aku butuh dua tiket, untukku dan temanku!” katanya. Siwon penasaran teman gadis ini laki-laki atau perempuan. Celakalah kalau teman laki-laki!

“Namaku Siwon. Choi Siwon,” Siwon memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya. Gadis itu mengernyit sejanak lalu akhirnya menyambut genggaman tangan Siwon. Siwon menelan ludah. Mengapa tangannya begitu lembut? Apakah ia tidak pernah menyentuh apa-apa?

“Namaku—“

“Oppa!!! Kenapa lama sekali?”

Ucapan si gadis terhenti karena Sooyoung dan Yoona tiba-tiba muncul entah darimana. Siwon dan si gadis bermata indah langsung melepaskan tangan mereka. Namun ternyata Sooyoung dan Yoona bersama seorang gadis lagi. Siwon mendesah. Ia mengenal teman adik-adiknya ini. Sebut saja Kwon Yuri atau lebih akrab dipanggil Yul. Kejahilannya tidak kalah parah dari dua adiknya.

“Fany-ah, kenapa lama sekali? Apa kau mendapatkan dua tiket?” celetuk Yuri. Siwon mengernyit. Yuri bicara pada gadis itu?

“Tiffany sunbae! Senang sekali bertemu sunbae disini,” tambah Yoona seraya sedikit membungkuk pada gadis yang berdiri di hadapan Siwon.

“Annyeong Yoona. Nado, aku juga senang bertemu denganmu. Annyeong, Sooyoung-ssi!” balas gadis yang ternyata Tiffany Hwang itu. Siwon terdiam memperhatikan keempat gadis di hadapannya berbincang ringan. Tampak Yoona, Sooyoung dan Yuri begitu akrab satu sama lain. Siwon teringat dengan pembicaraan dengan Yoona serta Sooyoung ketika makan siang tadi.

Tepatnya ketika ia mengejek kalau sunbae yang dibicarakan Yoona, jelek dan gendut.

“Kebetulan sunbae sudah bertemu kakakku. Perkenalkan, ini Siwon Oppa. Siwon Oppa, ini Tiffany Hwang yang tadi kau bilang jelek dan gen—hmmmp hmmp!”

Yoona tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena Siwon dengan cepat membekap mulut lebarnya itu. Siwon memandang cemas kepada Tiffany, yang kini mengernyit bingung. Tentu saja tadi dia sempat mendengar kalau Yoona mengatakannya jelek. Tiffany tertawa cenggung.

“Aish, Siwon Oppa. Kau pikir kau juga tampan? Seenaknya saja mengatakan sahabatku jelek,” gerutu Yuri.

“Sudahlah, Yul. Gwaenchana,” bisik Tiffany. Kemudian ia kembali menatap Siwon. “Annyeonghasaeyo, namaku Tiffany Hwang. Aku bekerja di agensi yang sama dengan adikmu, Choi Yoona.”

Siwon mengangguk. Wajahnya kini pasti memerah karena malu. Ia juga merasa tidak enak hati karena kecerewetan Yoona. Seharusnya Yoona tidak mengatakan hal konyol tadi. Yoona mendorong Siwon kuat-kuat hingga bekapan di mulutnya terlepas.

“Fany-ah, apa kau sudah mendapatkan dua tiketnya?” tanya Yuri.

“Mianhae, Yul. Aku hanya mendapatkan satu. Aku rasa kau lebih menyukai film ini. Oleh karena itu aku belikan saja untukmu,” jawab Tiffany seraya menunjukkan tiketnya. Melihat itu Siwon bergegas memberikan dua lembar tiket kepada Sooyoung sehingga adiknya itu menerima dengan bingung.

“Hanya dua? Kenapa Oppa hanya membelinya dua? Uangmu kurang ya?”

“Aish, bukan begitu! Hanya tersisa dua tiket saja. Kalian berdua saja yang masuk, aku sedang tidak ingin menonton!” jelas Siwon. Sesekali ia melirik Tiffany dan Yuri yang melihat percakapan mereka.

“Jadi, Sooyoung Eonnie dan Yuri Eonnie bisa ikut menonton denganku. Lalu, Siwon Oppa dan Tiffany sunbae?”

Siwon dan Tiffany saling pandang.

Ya Tuhan, aku tidak tahu kalau kakak sulung Yoona tampan sekali. Apa pria ini sudah mempunyai kekasih? batin Tiffany.

Sekarang hanya tinggal kami berdua. Apa yang harus kulakukan? Siwon berpikir.

Sooyoung, Yuri dan Yoona dapat membaca gelagat keduanya. Tiffany dan Siwon saling pandang dengan cara yang tidak biasa. Maka timbullah ide cemerlang di otak Yoona. Gadis itu berdehem.

“Oppa! Film ini berdurasi 2 jam lebih. Jadi, Oppa tidak usah menunggu. Dan oh ya! Karena Yuri Eonnie juga akan menonton, itu berarti Tiffany sunbae akan sendirian. Kalau kalian mau, kalian bisa jalan-jalan.”

“Nde?” seru Siwon dan Tiffany serentak.

 

“Kau suka es krim?” tanya Siwon pada Tiffany. Gadis itu tersenyum manis.

“Aku suka sekali. Wae?”

“Kalau begitu, ayo kita ke kedai es krim itu!” Siwon menunjuk kedai es krim dan cake yang berada di seberang jalan. Tiffany mengangguk setuju. Sebenarnya ia tidak mempunyai ide untuk hal-hal yang akan mereka habiskan bersama selagi menunggu para gadis jahil menonton film di bioskop. Mereka bertiga telah sukses membuat Siwon dan Tiffany bersikap canggung satu sama lain.

“Kalau boleh aku tahu, berapa jarak usiamu dengan Yoona?” tiba-tiba Tiffany bertanya. Siwon menoleh.

“5 tahun. Bulan depan Yoona genap berusia 23 tahun sedangkan aku berusia 28 tahun ha—“

Tiffany mengangkat kedua alisnya sebab tiba-tiba Siwon menghentikan jawabannya. Siwon menggigit bibir, ragu. Ia bukan tipe pria yang biasa mengatakan kepada orang lain kalau hari ini ia berulang tahun. Tetapi Tiffany sedang menunggu jawabannya.

“Kau berusia 28 tahun…hari ini? Apakah kau sedang berulang tahun hari ini? Jeongmal??” suara Tiffany terdengar bersemangat karena ia tahu tebakannya pasti benar. Siapa yang tidak bisa menebak jika wajah Siwon mendadak merona merah muda seperti anak berusia 5 tahun itu?

“Ng…nde. Aku berulang tahun hari ini,” Siwon membenarkan seraya tersipu.

“Aegyo,” ucap Tiffany gemas. “Kalau begitu, biar aku yang mentraktirmu es krim. Kajja!”

“Nde?”

Tanpa ba-bi-bu lagi Tiffany menyeret tangan Siwon untuk menyebrangi jalan. Siwon tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kemana Tiffany menyeretnya. Lagipula pikirannya mendadak didominasi oleh gadis yang mempunyai senyuman indah itu. Tangannya yang menggenggam tangan Siwon membuat pria itu kehabisan akal. Yang dapat dilakukannya hanyalah tersenyum konyol.

Sampai di kedai itu, Tiffany menyuruh Siwon untuk duduk saja di kursi yang mereka pilih, sementara gadis itu pergi ke etalase cake untuk memesan menu. Tiffany berpikir mungkin sebuah kejutan kecil akan menyenangkan hati Siwon meskipun mereka baru saja saling mengenal. Tiffany menyukai Siwon saat pertama kali mereka berjabat tangan di bioskop tadi. Dan sekarang pria itu rela menemaninya selagi Yuri menonton, padahal ia bisa saja pulang ke rumahnya dan kembali 2 jam kemudian untuk menjemput kedua adiknya. Tapi Siwon tidak melakukan itu. Ia malah menuruti permintaan adiknya untuk menemani Tiffany.

Siapapun pasti terkesan. Dan bonusnya, Siwon adalah pria yang sopan serta…tampan.

“Aku ingin tulisan Happy Birthday Siwon-ssi di atas cake-nya,” pinta Tiffany kepada si pelayan toko.

“Baiklah, Nona. Ada lagi?”

“Es krim stroberi dan coklat. Itu saja.”

Siwon tersenyum ketika Tiffany berjalan ke meja mereka sembari membawa dua mangkuk es krim. Siwon berusaha mengatur degup jantungnya yang menggila setiap kali menatap wajah Tiffany. Bagaimana bisa seorang gadis yang baru saja dikenalnya bisa membuat Siwon selalu salah tingkah? Biasanya Siwon yang selalu bersikap tenang jika menghadapi seorang gadis, sebaliknya, si gadis yang selalu salah tingkah. Tetapi saat Siwon bertemu Tiffany, semua dalam diri Siwon jungkir balik.

Apa ia jatuh cinta pada Tiffany?

“Hmm, es krimnya enak sekali. Oh ya, karena kau lebih tua dariku, lebih baik aku memanggilmu Oppa. Bolehkah?”

Siwon mengangguk semangat. “Tentu saja boleh. Panggil aku Siwon Oppa.”

“So, Siwon Oppa. Apa pekerjaanmu?” tanya Tiffany lalu menjilat sendoknya. Ia tidak tahu efek apa yang ditimbulkan gerakan itu pada Siwon. Siwon buru-buru mengalihkan pandangan dari mulut Tiffany.

“Ahm…aku bekerja di perusahaan Ayahku.”

Tiffany mengangguk paham. Ia mengamati Siwon yang sering kali mengalihkan pandangan darinya dengan pipi merona merah. Lucu sekali, pikir Tiffany. Ia bersikap malu-malu seperti anak remaja yang sedang dimabuk asmara. Jika melihat sikap Siwon sekarang, ia teringat Yoona. Junior yang ia senangi karena kesopanan dan keramahannya. Dan satu lagi yang dikagumi Tiffany dari Yoona, yaitu kecantikan alaminya.

“Siwon Oppa, kau tahu, aku sangat mengagumi Yoona. Bisa dikatakan kalau aku adalah fans-nya. Haha!”

Siwon tertawa. “Jinjja? Kenapa kau mengagumi Yoona? Setahuku dia yang menjadi pengagummu.”

“Jeongmalyo? Ah, gadis itu. menurutku Yoona adalah gadis cantik yang paling sopan dan ramah yang pernah kukenal. Banyak model pria di agensi kami yang menaruh hati padanya. Bahkan model-model wanita juga mencari perhatian Yoona. Dan Yoona bersikap manis kepada siapa saja. Jadi aku tidak heran jika banyak orang yang menyukai adikmu,” jelas Tiffany.

Siwon tergelak lagi. Kali ini lebih keras.

“Apa kau serius? Wah, mungkin maknae kami itu mempunyai kepribadian ganda. Jika kau melihat sikapnya padaku, mungkin kau tidak akan menjadi pengagumnya lagi. Apalagi jika kau melihatnya makan. Ckckck. Dia dan Sooyoung sama saja,” ujar Siwon.

Tiffany tersenyum hangat. “Ya, aku tahu. Aku iri pada mereka karena sebanyak apapun makanan yang mereka makan, tubuh mereka tidak akan membengkak. Hahaha. Sebenarnya itulah daya tarik Yoona di mata laki-laki. Ia tampil apa adanya.”

Siwon mengangguk. Ia bingung kenapa topik Yoona sangat menarik bagi Tiffany. Mungkin Tiffany benar-benar tulus dengan ucapannya. Siwon melirik Tiffany yang kini asyik mengamati es krimnya.

“Lalu, apa kau tahu kalau kau juga mempunyai daya tarik?”

Ucapan Siwon membuat ekspresi datar di wajah Tiffany. “N-nde?”

Siwon menarik sudut-sudut bibirnya untuk memberikan senyuman semanis mungkin. “Eyesmile-mu sangat cantik. Bahkan aku selalu ingin melihatmu tersenyum dan tertawa. Aku lebih menyukai eyesmile-mu daripada eskrim ini.”

Blush.

Pipi Tiffany sukses merona merah. Ia segera menunduk agar hawa dingin es krim menerpa wajahnya. Sebenarnya Siwon bukan orang pertama yang memuji kalau eyesmile-nya sangat cantik, namun kenapa hanya Siwon yang membuat dirinya gugup? Oh, Tiffany takut kalau ia jatuh cinta secepat ini.

Tepat saat Tiffany akan mengucapkan terima kasih, seorang pelayan toko menghampiri meja mereka dengan membaca sebuah cake yang tadi dipesan Tiffany, lengkap dengan lilin-lilin kecilnya yang menyala. Siwon terperangah melihat cake tersebut yang diletakkan di atas meja dan pelayan toko itu pergi setelah mengucapkan selamat ulang tahun pada Siwon.

Siwon menatap Tiffany penuh tanya dan gadis itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.

“Selamat ulang tahun, Siwon Oppa. Anggap saja cake ini adalah kado dariku.”

 

“Mwo? Mengantar jemputku hari ini? Oppa tidak bergurau kan?”

“Tentu saja tidak. Sejak kapan aku bergurau denganmu, Yoongie.”

Yoona berhenti sejenak mengikat tali sepatunya lalu menatap Siwon curiga. Hanya Tuhan yang tahu kenapa tiba-tiba kakak sulungnya begitu baik tanpa dipaksa pagi ini.

“Oppa, kenapa kau baik sekali pagi ini? Semalam mimpimu indah, ya? Atau, kau mempunyai maksud tertentu?” selidik Yoona. Siwon melipat tangannya di dada lalu menyandarkan sisi kiri tubuhnya ke mulut pintu.

“Memangnya tidak boleh kalau aku baik kepadamu? Lagipula dua hari ini aku masih libur, jadi aku tidak mempunyai kegiatan yang begitu penting,” Siwon memberikan alasan logis. Namun sepertinya Yoona belum bisa percaya.

“Aku tahu itu, tapi Oppa tidak biasanya baik kepadaku. Jika kau mempunyai permintaan katakan saja. Aku akan membantu sebisaku,” kata Yoona santai lalu kembali mengikat tali sepatunya.

“Aish, kau ini. Kenapa tidak percaya kepada kakak sendiri, eoh? Aku heran kenapa Tiffany sangat mengagumi gadis sepertimu,” ujar Siwon.

Mendengar nama Tiffany keluar dari mulut Siwon, Yoona langsung mendongak dan wajahnya seketika berseri-seri. Siwon mengerjap heran. Yoona bergegas berdiri dan berjalan menghampiri Siwon.

“Aku tahu sekarang! Oppa pasti ingin lebih dekat dengan Tiffany Sunbae! Yeeeaah!”

Siwon membelalakkan matanya. “Yah! Kenapa kau yang bersemangat seperti itu?”

“Tentu saja. Setelah melihat kalian di bioskop saling berpandangan penuh arti, aku merasakan ada getar-getar cinta yang mengelilingi kalian. Tiffany Sunbae sangat cantik dan Oppa juga tampan. Kalian sangat cocok, kau tahu? Hahaha! Baiklah, ayo kita berangkat! Aku sudah tidak sabar untuk melihat kalian berdua bertemu!”

 

Siwon menyetir mobilnya menuju alamat yang diberikan Yoona padanya. Sesekali ia melirik bunga Lily yang diletakkan di jok samping. Siwon tersenyum simpul. Ia sangat berterima kasih pada Yoona karena telah membuat dirinya dekat dengan Tiffany. Siwon berharap Tiffany tidak merasa terganggu dengan kehadirannya nanti.

 

Flashback

“Mwo? Tiffany sunbae sakit?”

“Nde, Yoona. Tadi ia menghubungiku untuk memberitahukan kalau hari ini ia tidak bisa menghadiri workshop.”

Yoona mengangguk paham mendengar jawaban Yuri, sedangkan Siwon terdiam di belakang Yoona. Ia sangat kecewa tidak bisa melihat Tiffany seperti yang sudah dibayangkannya sepanjang jalan tadi dan kini berubah menjadi sedih mengetahui ternyata gadis itu sakit. Yoona menariknya menjauhi Yuri.

“Oppa, ini waktunya Oppa mendekatkan diri pada Tiffany sunbae.”

Siwon mengangkat kedua alisnya. “M-mendekatkan diri?”

“Ck, tentu saja. Oppa menyukainya, kan? Sekarang gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Belikan Tiffany sunbae bunga Lily pink kesukaannya, lalu pergilah ke apartemennya. Bersikap manis padanya, arraseo?”

“Mwo? Yoona, tidak mungkin kalau aku sendirian saja!” desis Siwon. Bukannya takut, tetapi ia pasti akan canggung setengah mati disana.

“Oppa ingin menjadi teman dekatnya atau tidak? Kalau Oppa menginginkannya, turuti saja perintahku!”

 

Flashback end

 

Siwon tertawa kecil. Ia hampir sampai di apartemen Tiffany. Padahal kemarin mereka masih tertawa bersama dan sekarang gadis itu jatuh sakit. Siwon juga tidak menyangka kalau langkahnya bisa sampai sejauh ini. Siwon merapikan rambut dan blazer yang dipakainya sebelum turun dari mobil.

“Huft, tenang Siwon. Kau pasti bisa!” gumam Siwon pada diri sendiri ketika berjalan di koridor lantai apartemen Tiffany.

Ia tahu dari Yoona kalau Tiffany tinggal sendiri di apartemennya. Siwon ingin tahu dimana orangtuanya, apa pekerjaan Ayahnya, kenapa ia memutuskan menjadi seorang model daripada pekerjaan lainnya di dunia ini, dan apakah ia sudah mempunyai laki-laki yang disukainya bahkan kekasih.

Siwon termenung mendapati dirinya mempertanyakan hal terakhir. Bagaimana jika ternyata Tiffany sudah memiliki tambatan hati? Yoona tidak pernah menyinggung hal itu. Siwon mulai berpikir logis. Ia tidak ingin terlalu berharap karena dirinya baru sehari mengenal gadis cantik itu.

Tiffany baru saja keluar dari kamar mandi ketika mendengar bel apartemennya berbunyi. Dengan menyeret langkahnya ia berjalan menuju pintu. Tubuhnya masih sedikit lemah namun syukurlah suhu tubuhnya sudah mulai menurun. Tiffany menyesal hari ini tidak bisa mengikuti workshop bersama teman-teman satu agensinya. Kemarin malam tiba-tiba ia bersin-bersin dan tubuhnya menggigil hebat. Tiffany memeriksa suhu tubuhnya yang ternyata 4 derjat lebih tinggi dari suhu normal.

Beruntung ia mempunyai obat-obatan yang cukup lengkap di apartemennya. Sebenarnya Yuri yang selalu menganjurkan bahkan membelikan perlengkapan obat untuk Tiffany. Sahabatnya itu tahu bagaimana rentannya tubuh Tiffany di cuaca yang kurang cerah seperti sekarang.

Tiffany melihat ke layar monitor pengawas sebelum membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang berdiri di depan apartemennya. Choi Siwon?

Tiffany merasa wajahnya semakin panas, bukan karena suhu tubuhnya yang kembali naik melainkan karena kedatangan pria itu. What the…dari mana Siwon mengetahui alamatnya? Tiffany mengatur napasnya sejenak kemudian membuka kunci pintunya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

“Oh! Annyeong, Tiffany-ssi!” ucap Siwon nyaris berseru. Ia melihat Tiffany dengan seksama. Gadis itu berpenampilan apa adanya dan tanpa make up sedikitpun. Bibirnya yang begitu menggoda tampak pucat.

“Siwon Oppa? Silahkan masuk!” Tiffany berhasil bersikap tenang.

Siwon melangkahkan kaki ke dalam unit Tiffany dan berjalan lebih dulu. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang dimasukinya. Semuanya tertata rapi dan sesuai dengan letaknya. Banyak foto terpajang di dinding dan yang membuat Siwon tertarik adalah nuansa pink yang kuat sekali di dalam sana!

“Ini untukmu.” Siwon memberikan satu buket bunga yang dipegangnya. “Aku dengar dari Yuri kalau kau sakit. Jadi, aku memutuskan untuk membesukmu. Aku tidak mengganggu, kan?”

Tiffany menerima bunga lily pink kesukaannya dengan senyum cerah. “Tentu saja tidak. Gomawo atas bunganya. Aku senang jika ada yang memperhatikanku ketika aku sakit.”

“Jinjja? Kalau begitu aku akan memperhatikanmu sampai kau sembuh, Tiffany-ssi. Nah, sekarang apakah kau sudah sarapan?”

 

 

Tiffany menikmati secangkir teh madu yang dibuatkan Siwon untuknya sementara pria itu sedang asyik memasak di dapurnya yang tidak terhalang apapun dari meja makan. Ia bebas menyaksikan pria itu memasak sambil bersiul di dapurnya. Sesekali Tiffany tertawa kecil mendengar Siwon bernyanyi-nyanyi kecil.

“Oppa, ternyata kau pandai memasak dan bernyanyi. Imut sekali!” goda Tiffany. Siwon memasukkan wortel yang telah ia potong dadu ke dalam sup yang belum mendidih. Ia menoleh ke tempat Tiffany duduk.

“Hei, jangan bilang aku imut. Kesannya aku laki-laki kemayu. Hahaha!” celetuk Siwon. Tiffany tertawa keras.

“Hahaha aku tidak bermaksud begitu! Tetapi menurutku kau sangat menarik. Kau merupakan paket lengkap. Kau tampan, pandai memasak dan bernyanyi, serta…gentleman. Kekasihmu pasti sangat beruntung memilikimu.”

Tiffany tidak tahu mengapa ia memuji-muji pria yang baru satu hari dikenalnya! Ia pikir ia benar-benar jatuh cinta. Siwon tidak berani berbalik memandang Tiffany. Ia lebih memilih untuk fokus pada sup yang dimasaknya.

“Uhm, gomawo Tiffany-ssi. Tetapi aku tidak sebaik yang kau katakan,” Siwon mencoba merendah. Tapi memang benar. Ia tidak sebaik yang dipikirkan Tiffany. “Dan aku belum mempunyai kekasih.”

Tiffany berdiri dan berjalan menghampiri Siwon. Ia berdiri di samping pria itu dan membantu mencuci tomat dengan air kran. “Tidak mungkin kau belum mempunyai kekasih.”

Siwon menoleh padanya. “Hei, apa yang kau lakukan? Duduk saja, kau masih sakit, Fany-ssi.”

Tangannya menyambar tomat yang dipegang Tiffany sehingga buah itu terjatuh ke dalam bak cuci piring. Alhasil, tangan mereka saling bergenggaman dan tubuh mereka lebih dekat dari sebelumnya. Tiffany tersenyum dan Siwon terpaku pada bibir gadis itu.

Setiap melihat wajahnya membuat hatiku tenang. Aku jatuh cinta padanya. Aaaah ottokhae? batin Tiffany.

Siwon menelan ludah ketika tangan Tiffany menggenggam tangannya lebih erat. Tangan Tiffany dingin karena terkena air kran. Siwon masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari bibir Tiffany yang sedikit terbuka itu. Ia penasaran bagaimana rasanya mencicipi bibir yang indah dan menggoda tersebut.

“Hmm, Oppa?” gumam Tiffany.

“Hmm?” Siwon menjawab asal-asalan.

“Supnya mendidih. Lebih baik diaduk dulu,” kata Tiffany pelan. Mata Siwon mengerjap.

“Oh. Uhm, nde.”

Mereka saling melepaskan tangan dengan enggan dan Tiffany bersandar pada counter dapur, sementara Siwon kembali menghadap kompor. Mereka terdiam sejenak. Hanya terdengar suara air sup yang mendidih. Tiffany melirik Siwon lagi. Pria itu tidak berpengalaman merayu layaknya pria-pria yang pernah merayu Tiffany. Siwon berbicara apa adanya dan berusaha bersikap sebaik mungkin sebagai teman baru.

Tetapi Tiffany menginginkan lebih dari sekedar teman.

“Tiffany, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Siwon tanpa memandang Tiffany.

“Ya, apa itu?”

“Kenapa kau dipanggil Tiffany Mushroom?”

Mendengar pertanyaan itu tawa Tiffany pun meledak. Siwon mau tak mau ikut tertawa dan memandanginya. Sepertinya ada sesuatu yang lucu menyangkut nama panggilan yang unik itu. Siwon tetap bersabar menunggu jawabannya.

“Apakah itu hanya lelucon?” Siwon bertanya lagi.

“Sebenarnya julukan itu diberikan oleh Yuri. Aku lahir dan besar di Amerika, jadi saat aku pindah sekolah ke Seoul, aku belum fasih berbahasa Korea. Aku selalu salah mengeja kata-kata dan berujung diolok-olok oleh teman sekelasku. Pernah satu saat aku mendapat peran menjadi putri berlian di drama sekolah, aku mengulangi kesalahanku. Aku mengeja gems menjadi germs dalam bahasa Hangul, dan itu di depan seluruh penonton. Tentu saja aku kembali diolok-olok dan Yuri-lah yang tidak pernah berhenti melakukannya. Tapi entah kenapa sejak saat itu aku dan Yuri menjadi teman dekat. Aneh, bukan?”

Siwon tertawa geli. Sekarang ia tahu mengapa Tiffany dijuluki Mushroom. “Jadi, kau lama tinggal di Amerika? Apa orangtuamu juga disana?”

Tiba-tiba wajah ceria Tiffany meredup. Ia menundukkan kepalanya sebentar lalu kembali menatap Siwon dengan mata sendu. “Aku sudah tidak mempunyai Ayah dan Ibu. Mereka meninggal karena kecelakaan mobil saat aku berusia 15 tahun.”

Siwon tercekat. Ia memandangi Tiffany tak percaya. Ia tidak tahu sama sekali dan merasa tidak enak hati! Mempertanyakan kedua orangtuanya mungkin membangkitkan kembali luka lama yang selama ini ditutupinya. Siwon merasa bersalah. Ia mematikan kompor lalu mendekati Tiffany.

“Aku sudah terbiasa hidup sebatang kara. Awalnya memang sangat sulit bagiku menjalani kehidupan ini sendirian tanpa sanak saudara di dekatku. Oleh sebab itu kuputuskan untuk pulang ke Korea karena masih ada paman dan bibiku disini. Mereka begitu menyayangiku dan berusaha menjadi sosok orangtua yang kubutuhkan. Aku sangat berterima kasih pada mereka karena telah membantuku mewujudkan impian menjadi seorang model seperti yang kuimpikan sejak kecil.”

“Maafkan aku. Aku tidak tahu keadaannya,” ucap Siwon menyesal. Tiffany tertawa lemah.

Pabo. Untuk apa minta maaf? Jika kau tahu kau pasti tidak menanyakannya,” ucap Tiffany dengan nada menggoda. Tangannya mencubit pipi Siwon dengan gemas. Ia senang Siwon begitu perhatian padanya.

Siwon menahan tangan Tiffany di pipinya. Gadis itu terdiam. Jantungnya kembali memompa darah lebih cepat dari sebelumnya. Saat ini bahkan lebih dekat dari posisi mereka berpegangan tangan tadi. Siwon telah menutup jarak diantara mereka. Matanya mengunci mata Tiffany yang masih berkaca-kaca.

“Tiffany?” bisik Siwon. Wajahnya semakin mendekat.

“Eoh?” gumam Tiffany. Mereka sama-sama memandangi bibir masing-masing.

“Apakah kau mempunyai kekasih?” tanya Siwon pelan. Ia berhenti sejenak seolah-olah sedang menunggu persetujuan Tiffany.

“Nope.”

Siwon menyeringai. Ia kembali mendekatkan wajahnya. Kedua tangan Siwon telah memeluk pinggang gadis itu.

“Good,” bisiknya lagi. Tiffany menahan debaran jantungnya ketika napas lembut Siwon menerpa wajahnya.

“Tapi, aku sedang menyukai seseorang.”

Deg!

Siwon membeku. Ia kembali menarik wajahnya, membuat Tiffany tergantung oleh harapannya sendiri.

“Kau…sedang menyukai seseorang? Nugu?” Siwon bahkan berpikir ia telah diambang kekecewaan. Namun senyum misterius Tiffany membingungkannya. Kedua tangannya kini terangkat dan melingkar di leher Siwon. Siwon menahan napas.

“Pria yang kini berdiri di hadapanku. Aku menyukainya. Ah, ani ani. Mungkin aku…jatuh cinta padanya.”

Tiffany ingin sekali tertawa keras melihat ekspresi kaget Siwon. Pria itu sama sekali tidak menyangka dengan pernyataan Tiffany sedetik yang lalu. Tiffany menarik Siwon agar lebih dekat lagi dengannya kemudian mengecup pipinya. Wajah Siwon benar-benar panas!

“Aku harap aku tidak mempermalukan diri sendiri karena menyatakan perasaanku terlebih dahulu kepadamu, Tuan Choi.”

Siwon menggeram gemas. Ia tersenyum lebar, sangat lebar. “Tentu saja, Mushroom. Sebenarnya aku ingin memarahimu karena telah menyatakannya lebih dulu. Seharusnya aku yang pertama.”

“Kau memanggilku apa?” rajuk Tiffany. Bibirnya cemberut dan Siwon tidak bisa lagi menahannya.

“Mushroom. Kau adalah jamur paling manis yang pernah ada.”

Dan sebelum Tiffany membuka mulutnya untuk mengomel, Siwon telah menyatukan bibir mereka, memberi Tiffany ciuman manis dan lembut. Gadis itu tercekat senang dan dengan gembira menyambut ciuman dan dekapan Siwon. Mereka berpelukkan erat di dapur itu dan mengabaikan sup wortel yang mulai dingin di atas kompor.

Siwon yakin dengan keputusan hatinya memilih Tiffany. Sosok Tiffany adalah gadis yang selama ini ia cari. Tiffany akan menjadi kekasih sempurna untuknya, dengan segala kekurangan dan kelebihan gadis itu. Dan mungkin, Tiffany adalah pelabuhan terakhir hidupnya.

 

♥♥♥

 

 

 

Yuhuuuuu!!!

Untuk Dona dan readers setia yang suka sama “My Grumpy Mushroom”, saya putuskan untuk membuat series-nya. Jadi, saya akan ceritakan dari awal pertemuan mereka dan seterusnya. Semoga saya bisa menulisnya sebaik mungkin dan kalau boleh, saya minta ide-idenya juga ya^^ (saya bener-bener kehabisan ide bikin FF SiFany, jadi sorry kalo ceritanya tidak memuaskan)

Anyway, bagusnya setelah The Sweetest Mushroom Ever ini, hubungan Siwon-Tiffany bagaimana yaa?

Silahkan share di komentar kalian. Nanti saya baca ide-ide briliannya satu persatu. Thank U so much before *bow*

 

xoxo

-Echa-

 

 

 

 

 

164 thoughts on “The Sweetest Mushroom Ever

  1. ow sokyut! iseng iseng cari ff sifany di gugel eh kok ketemunya di blog ini lagi. baru tau ff ini imut banget manis momen sifany nya. baru sehari ketemu udah jadian aja wkwkwk sokyut!

  2. Sumpaaaaaaaaaaaah gua berharap bgt sifany jd couple reallllll bukan cm di ff doang😀 trs ampe married trs pnya anak yg bnyak😀 *aigoo ngayal mulu gua :3 *

  3. i like this story…. alur ceritanya “ROMATISSSSSSSSSSSSS!!!”
    sama sama memendam rasa, cinta, sayang pokoknya cool deh
    lucu banget sihh Siwon oppa & Tiffany eonni Saranghae :*😀
    for Author Hwaiting!!!

  4. Aiggo……saeng,unnnie salah baca deh,awalnya baca
    The Sweetest Mushroom Ever dulu,jadi ff ini awa pertemuan siwon dan fany,so sweet banget pertemuan pertama laungsung jatuh cinta.
    Saeng,unnie kirain My Grumpy Mushroom udah end,ternyata afternya.
    Unnie suka alur ceritanya saeng,romance,funny♡.
    For saeng hwaiting and unnie makin cinta ama sifany♡♡♡

  5. Oh my god sifany couple real…..forever….
    Baca ff sifany bikin lupa sm yg lain mau nya..
    Lagi…. Lagi…. Lagi… Dan lagi…

  6. So ini awlny sifany kenaln n th satu sm lainny. psgn yg termanis mnrtku. dr awl sifany g menampik klo mrk slg cinta n now they official😍😍😍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s