TROUBLE MAKER

TROUBLE MAKER

Title : Trouble maker

Author : @janisone

Main cast :  Tiffany Hwang – Choi Si won

Support cast :  Lauren Hanna Lunde – Jessica Jung – Lee Dong hae –

 Im Yoona – Kim Tae yeon

Length : Oneshoot

Genre : Merried Life

Rating : 15

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan.Cerita ini murni hasil kerja kerasku.

Happy Reading!

Tiffany membanting pintu mobil dengan kasar.Dengan segera ia masuk ke rumah tanpa memperdulikan Si won yang terus memanggilnya.Bertengkar.Satu kata yang selalu terjadi hampir setiap harinya.

“Tiffany, aku ingin bicara denganmu!”marah Si won.Tapi wanita itu sama sekali tidak menanggapinya.Si won mengikutinya masuk ke kamar mereka.

“Tiffany!”Si won terlihat sangat marah karena wanita itu mengacuhkannya.

“Apa?! Kau ingin aku mendengarkan pria egois sepertimu?!”

“Kau yang keras kepala! Tidak mau mendengarkan ucapan suami!”

“Ne, aku memang keras kepala.Harusnya kau tahu itu dan tidak usah mencegah apa yang ingin aku lakukan!”

“Hei!”

Si won meraih tangan Tiffany.Tak peduli kalau wanita itu tengah merintih kesakitan karena kuatnya genggaman Si won.Ya, Si won tak peduli.Emosinya naik saat wanita itu tidak menghormatinya sedikit pun.

“Si won sakit…”Tiffany merintih.Sungguh dia ingin pria itu melepaskan tangan kanannya yang pasti sudah memerah sekarang.

“Sakitmu tidak sebanding dengan sakit yang aku rasakan.Aku sudah bilang berkali-kali bukan, aku tidak mengizinkanmu untuk bekerja.Kau istriku, tugasmu hanya mengurus suami dan rumah.Apa semua yang kuberikan selama ini tidak cukup untukmu?…”Pria itu tertawa congkak.

“Hei Tiffany, ayolah.Kau menikah dengan pengusaha sukses dan putra tunggal konglomerat di Korea ini.Kau tidak akan kekurangan apapun kecuali jika kau ingin mencari perhatian pimpinan ditempat kerjamu itu…”

Tiffany tertawa singkat.Inilah yang paling dia benci dari Si won.Selalu mencurigainya berselingkuh diluar sana.Apalagi pemikiran Si won yang primitive tentang seorang wanita.Sekarang jaman sudah modern.Wanita bukan saatnya lagi berkutat dengan dapur dan kasur.Hampir dua tahun hidup bersama tidak cukup untuk membuat mereka saling mengerti dan memahami satu sama lain.

“Kau ingin aku hanya dirumah, Oppa? Harusnya kau tahu seberapa besar rumah ini.Kau ingin aku mengepel semua lantainya? Yang benar saja Si won, aku tidak pernah melakukan pekerjaan rumah sebelum aku menikah denganmu.Dan kau ingin aku hanya mengurusmu? Ck, bagaimana bisa aku melakukannya sementara kau lebih sering menghabiskan waktu bersama sekretarismu itu!”

Si won menatap manik mata Tiffany tajam.Sangat marah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut wanita itu.

“Mworagu? Jadi kau menuduhku yang berselingkuh?…”Tanya Si won geram.Tiffany tak menjawab.Takut dengan tatapan tajam pria itu.

Drrtt Drrtt Drrtt

Si won menoleh pada ponsel Tiffany yang bergetar.Direbutnya smartphone itu dengan kasar untuk melihat siapa yang menguhubungi istrinya.

“Hah…”Si won tertawa singkat.Ada tulisan Dong hae`s calling dilayar touch screen itu.

“Berikan padaku, Si won…”pinta Tiffany seraya tangannya mencoba merebut ponsel miliknya.Tapi mengingat tubuhnya yang kalah tinggi dari Si won, pria itu bisa dengan mudah menjauhkan benda tersebut hingga Tiffany tidak bisa menjangkaunya.

“Untuk apa dia menelfon istri orang selarut ini? Menanyakan kau yang pulang tanpa sepengetahuannya?…”Si won tersenyum sinis.Ya, Si won memang menjemput paksa Tiffany  ditempat kerjanya.

“Kau tidak perlu tahu…”balas Tifany sengit.Sungguh, dia tidak suka Si won yang seperti ini.Pria itu selalu saja mencurigainya.Padahal Si won tahu pasti kalau dia sudah bekerja di perusahaan fashion milik Dong hae jauh sebelum mereka kenal.Mungkin Si won patut marah karena Dong hae dulunya juga menyukai Tiffany.Tapi tetap saja Tiffany merasa kalau masalah ini terlalu dibesar-besarkan.

Brak

“Kya!”

Tiffany menjerit histeris.Menyaksikan ponsel pink kesayangannya dibanting ke dinding dan hancur berkeping-keping.

“Wae, kau tidak terima? Aku bisa membeli perusahaannya jika kau mau…”

Si won masuk ke kamar mandi.Tiffany tampak menahan diri untuk tidak melanjutkan pertengkaran ini agar tidak menjadi lebih buruk lagi.

***Sifany***

            “Oh, Fany-ah, kau pulang dengan selamat? Kau baik-baik saja?…”Tanya Jessica bertubi-tubi saat melihat Tiffany diloby.Dia melihat dengan jelas bagaimana sahabatnya itu diseret paksa  oleh Si won kemarin.

“Eoh, semarah apapun dia tidak akan membunuhku, bukan?…”canda Tiffany saat keduanya memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai 11.Ruang kerja mereka.

“Hm, kalau pun dia membunuhmu dia pasti ikut bunuh diri karena selalu ingin bersamamu…”celetuk Jessica disambut tawa keduanya.

“Apa hidup berumah tangga begitu sulit?…”Tanya Jessica yang memang belum menikah.

“Anni, hal seperti ini biasa terjadi.Namanya juga kita hidup dengan orang yang berbeda…”Tiffany tersenyum kecil memikirkan apa yang baru terlontar dari mulutnya.Benarkah pada pernikahan orang lain juga sering terjadi kesalah pahaman dan pertengkaran seperti yang dia alami? Entahlah, rasanya hanya dia yang mengalaminya.

Jessica menatap cincin berlian yang melingkar dijari tangannya.

“Huh, aku tidak akan menikah!”putus Jessica.

“YA! Kau tidak bisa hidup seperti itu.Aku dulu juga tidak ingin menikah.Tapi setelah bertemu  Si won semuanya berubah.Aku selalu ingin bersamanya disetiap waktuku sampai kapan pun.Dan semuanya menjadi sangat menyebalkan saat sifat cemburunya yang berlebihan itu muncul…”ucap Tiffany sedikit kesal membayangkan pertengkarannya dengan Si won semalam.Jessica tersenyum dan merangkul sabahatnya itu.

“Itu artinya dia sangat mencintaimu.Tidak peduli bagaimana pun sikap possesifnya itu, yang penting dia mencintaimu…”Tiffany tersenyum lembut.Takjub dengan ucapan bijak Jessica barusan.

“Wah, aku takjub dengan kemampuan berpikirmu yang semakin matang.Ku pikir isinya hanya shooping dan barang bermerek…”

“YA!”

Jessica berlari mengejar Tiffany yang sudah keluar dari lift.Keduanya berhenti bermain dan berkejaran saat bertemu dengan Dong hae, Presiden Direktur sekaligus pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.

“Pagi, Presdir…”Sapa Tiffany.Walau mereka bersahabat namun dikantor mereka memang harus bersikap formal satu sama lain.Namun berbeda dengan Jessica, dia terlihat lebih santai dan cuek sebab statusnya yang sebagai tunangan dari pria berdasi itu.Lihat, Dong hae dan Jessica sudah bertunangan dan Si won masih saja mencurigainya.

“Pagi…”balas Dong hae ramah.

“Tiffany, apa yang kau lakukan disini?…”pertanyaan Dong hae membuat Tiffany dan Jessica saling pandang.

“Bukankah Tiffany bekerja disini? Ya, Lee Dong hae, kau sedang amnesia?…” Jessica melirik Dong hae kesal.Pria manis itu tersenyum lembut.

“Si won sudah menyerahkan surat pengunduran dirimu…”

“MWO?!”pekik Tiffany dan Jessica bersamaan.Tentu saja mereka kaget, terlebih lagi Tiffany.Bahkan Si won tidak mengatakan apapun padanya tentang hal ini.

“Kau menerimanya, Oppa.Wae? Kau tahu aku sudah bekerja lama, harusnya kau bisa mempertimbangkanku…”

“Walau hari ini aku tidak menerimanya, besok aku juga tidak yakin akan bisa menolaknya.Dia bisa saja mengancam untuk menjatuhkan perusahaan ini…”

Tiffany menghela nafas.Ya, Si won pasti akan menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan.

“Semalam aku menelfon karena banyak karyawan yang mengatakan kalau kau dijemput paksa oleh seorang pria.Kau baik-baik saja?…”

“Oh? Ne….”jawab Tiffany pelan.

“Gwenchana, Si won hanya ingin kau menjadi istri yang baik dan lebih memperhatikannya.Sica-ya, tolong bantu Tiffany mengemasi barang-barangnya.Aku ada meeting 5 menit lagi…”

“Ne…”Jessica mempersilahkan Dong hae pergi.Sesaat keduanya hanya terdiam dilorong yang sunyi itu.Jessica menghela nafas berat.

“Huh, aku tidak percaya ini…”

Tiffany hanya diam dan mulai melangkah memasuki ruangannya yang mulai hari ini akan menjadi bekas ruangannya.

***Sifany***

Dibantu oleh Jessica, Tiffany mulai mengemasi barang-barang pribadinya.Seperti peralatan untuk mendesain dan barang lain seperti lukisan dan fotonya bersama Si won.

“Setelah ini apa yang akan kau lakukan?…”tanya Jessica yang sedang memasukkan barang-barang Tiffany kedalam kardus.

“Molla, mungkin menjadi babu dirumah mewahnya itu…”

Jessica menghela nafas kecewa.Dari dulu dia sudah bekerja dengan Tiffany.Membuat berbagai model pakaian dengan kreativitas mereka yang selalu menjadi trend di Korea.Mungkin setelah ini dia akan mendapatkan rekan kerja baru tapi dia merasa hanya akan cocok dengan Tiffany karena mereka sudah dekat sejak mereka masih ditaman kanak-kanak.Saat mereka masih tinggal di Amerika.

“Lalu bagaimana dengan proyek kita.Kau tahu musim panas sebentar lagi?…”

“Kau desainer hebat Sica-ya, aku yakin kau mampu melakukannya dengan baik…”

“Tapi aku ingin denganmu…”rengek Jessica.

Tiffany terdiam.Jujur, dia juga ingin.Menjadi desainer adalah cita-citanya.Tapi sekarang apa yang harus ia lakukan.Ada seseorang yang mengatur dan mengendalikan hidupnya.Sayangnya tidak ada seorang pun yang bisa membantunya untuk hal ini.Appanya saja sudah menyerahkan dia sepenuhnya pada Si won.

***Sifany***

Tiffany menghempaskan kardus berisi barang-barangnya diatas meja ruang tamu.Ditinggalkannya ruangan itu menuju dapur.Membuka kulkas dan meneguk segelas air putih dari sana.

Tiffany mendekati meja makan.Tampak olehnya sebuah kotak yang dari gambarnya dia yakini kalau isinya adalah I-phone5s.Ia juga yakin kalau itu dari Si won.Siapa lagi?

“Ck, kenapa tidak membelikan perusahaannya…”gerutu Tiffany kesal seraya membuka kotak itu.Dia mulai mengaktifkan nomernya.Nomer yang dia masukkan adalah nomer Si won, Jessica, Appanya dan kedua mertuanya.Ya, karena hanya itu yang dia ingat.Untuk nomer Dong hae dia memang tidak ingin memasukkannya.Takut Si won akan membanting benda itu lagi.Dia juga lelah jika mereka harus bertengkar dengan topik yang sama.

Mata Tiffany beralih untuk menatap isi rumahnya.Mungkin untuk ruangan ini terlihat bersih dan rapi karena sering digunakan.Tapi kalau untuk ruangan lain selain kamar Tiffany tidak yakin.Pasti debunya sangat tebal.Apa ia harus membersihkannya? Tentu jawabannya harus iya!

***Sifany***

“Huft….”

Tiffany menghembuskan nafas lega.Berendam dibath-up sambil menghirup wangi aroma dari sabun yang ia gunakan mampu menenangkan dan menyegarkan kembali otak dan tubuhnya setelah bekerja seharian.Dia baru saja menyelesaikan semua pekerjaan rumah.Mulai dari mengepel, mengelap kaca, mencuci piring, baju dan lainnya.Semua pekerjaan itu membuat tubuhnya sangat lelah karena sebelumnya dia tidak pernah melakukan semuanya dalam sehari.

Biasanya, Tiffany membagi tugas rumahnya.Misalkan hari ini dia mengepel lantai, besok baru dia akan mencuci begitu seterusnya.Tapi beberapa waktu terakhir dia sangat jarang melakukannya karena pekerjaannya cukup menyita waktu.Mungkin inilah salah satu alasan kenapa dia dan Si won selalu bertengkar akhir-akhir ini.

***Sifany***

Wangi lavender memenuhi rongga hidung Si won begitu dia masuk ke kamar.Tampak olehnya Tiffany sedang mengolesi kulit putih susunya dengan lotion sebelum ia tidur.

Cup!

Tiffany terus melanjutkan aktivitasnya.Seolah tak peduli pada kecupan singkat yang baru diberikan Si won pada pipi kenyalnya.Tiffany memang tidak suka dengan sikap Si won yang seperti ini.Bagaimana mungkin pria itu bersikap biasa saja setelah kemarin mereka bertengkar hebat.

Si won tersenyum lembut.Tahu kalau Tiffany masih marah padanya.

“Kau masih marah karena aku menghancurkan ponselmu?…”Tiffany mengangkat wajahnya.

“Ini bukan hanya masalah ponsel, Oppa…”

Si won mengangkat kedua alisnya dan mulai beranjak untuk melepas segala atribut kantornya.

“Lalu, karena aku mengirimkan surat pengunduran dirimu?…”

Tiffany menghela nafas.Tak mau membahas masalah ini lagi.Dia terlalu lelah setelah mengurus semua pekerjaan rumah.Dia memutuskan untuk pergi tidur tapi gerakannya yang akan menaiki ranjang terhenti ketika Si won meraih tangannya.

“Aku melakukannya untuk kebaikan kita…”

“Kita? Mungkin maksudmu hanya untuk kebaikanmu, Oppa…”

“Tiffany…”

“Kalau kau juga memikirkan kebaikanku, kau tidak perlu melakukan ini.Tiga tahun aku menghabiskan waktuku untuk belajar fashion di Paris.Apa semua itu harus ku abaikan begitu saja?…”

“Aku sudah katakan berulang kali, aku suamimu yang akan memenuhi semua kebutuhanmu.Kau tidak akan kekurangan apapun karena aku akan memberikanmu semuanya…”

“Apa Oppa pikir semua ini hanya karena uang?…”

“Lalu?…”Si won menatap dalam kedua manik mata Tiffany tajam.

“Karena pria itu?…”

“Mwo?…”Tiffany tak habis pikir.Kenapa Si won selalu mengungkit hal itu.

“Oppa…”

“Sudah malam, tidurlah….”Suruh Si won berlalu ke kamar mandi.Tiffany yang melihatnya hanya terdiam.Apa ada sebenarnya dengan pria itu?

***Sifany***

Si won sudah berangkat ke kantor sejak tiga jam yang lalu.Tiffany masih berkutat dengan piring kotornya setelah mencuci baju yang begitu banyak.Ingin rasanya Tiffany melempar piring-piring itu.Sungguh, dia baru sadar kalau pekerjaan rumah itu tidak ada habisnya.Selesai yang satu yang lain pasti menunggu.

Ting Ning

“Aish, siapa sih yang bertamu disaat orang sibuk seperti ini…”gerutu Tiffany sebal.Dengan cepat dia mematikan keran, melepas sarung tangan dan segera berlari ke depan untuk membuka pintu.Dan begitu pintu terbuka, Tiffany langsung shock.Ada Ibu dan Nenek Si won dihadapannya.

***Sifany***

Tiffany duduk setelah menghidangkan teh hijau hangat untuk Ibu mertuanya dan nenek Si won.Jujur, Tiffany tidak nyaman dengan kedatangan orang-orang itu.Mungkin akan baik-baik saja jika yang datang hanya Ibu Si won.Wanita yang sudah dianggapnya sebagai pengganti Ibunya yang sudah hidup tenang disurga sana.Tapi nenek Si won…

“Rumahmu cukup terawat, aku tidak percaya kau bisa melakukannya dengan baik…”Ucapan sinis itu disambut senyum sinis oleh Tiffany.Dari dulu dia dan nenek Si won memang tidak saling menyukai satu sama lain.

“Oemma, berhentilah menyudutkan Tiffany.Kita harus bangga karena dia mau meninggalkan pekerjaannya demi mengurus suami dan rumah…”

Tiffany menatap Ibu mertuanya.Pasti Si won yang menceritakan kalau dia sudah berhenti bekerja.Makanya dua orang itu datang kesini.

“Fany-ah…”

Tiffany tersenyum saat suara lembut dan tangan hangat Oemma Si won menyentuh tangannya.

“Oemma tahu ini berat untukmu.Tapi yakinlah, ini semua untuk kebaikan kalian juga…”

Tiffany hanya tersenyum kecil.Entahlah, dia sendiri saja tidak yakin.

“Aku pulang…”seruan Si won membuat semuanya menoleh.Oemma Si won menyambut putranya dengan sebuah pelukan.Tiffany? Dia hanya duduk disofa tanpa mau beranjak dari sana.Tentu saja, mereka masih bertengkar.Lagi pula tumben pria itu pulang cepat.Biasanya dia selalu pulang larut malam bahkan lebih sering menginap dikantornya.

Tiffany sadar kalau dua bola mata itu tengah mengarah padanya.Dan saat dia menoleh, benar saja.

“Apa yang kau lakukan? Sambut suamimu lalu buka jas serta dasinya!”

Tiffany rasanya ingin menangis saat bentakan itu ditujukan padanya.Bahkan disudut sana, Si won dan Oemmanya tidak melakukan apapun selain menatapnya dengan iba.

“Si won-ah, ajak Tiffany masuk.Oemma harus pulang sekarang…”

“Wae, Oemma tidak ikut makam malam disini?…”Tanya Si won.

“Aniyo, Appamu akan pulang dari Jepang sore ini.Oemma, Kajja…”

“Aniyo, aku akan tetap disini…”ucap nenek Si won.Sontak Tiffany menatapnya.

“Wae, kau tak suka?…”Tanya nenek Si won ketus.Tiffany hanya tersenyum kecut dan segera meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya.

***Sifany***

“Apa ini, semuanya makanan Amerika? Kau sengaja memasak semua ini agar aku tidak bisa memakannya, bukan? Makanan seperti ini tidak baik untuk kesehatan.Kau ingin membuat suamimu mati karena serangan jantung?…”

Tiffany memejamkan matanya.Mencoba menutup kupingnya agar ucapan itu berlalu begitu saja.Tapi tetap saja, ini terlalu menyakitkan untuknya.

“Halmoni, makanlah.Lihat, Tiffany juga menyiapkan kimchi untuk halmoni…”

Si won membantu menarik kursi untuk neneknya.Dia juga ingin melakukan hal yang sama untuk Tiffany tapi wanita itu lebih dulu menarik kursinya dengan kasar.

“Ck, dasar gadis amerika.Sikapmu kasar dan  tidak hormat pada orang tua.Kau bahkan memberiku makanan yang sudah beberapa bulan ini tidak kau sentuh dikulkas…”

Gumanan itu terlalu besar untuk tidak didengar oleh telinga Tiffany.Ingin rasanya dia menyumpal mulut itu dengan gelas yang sedang dipegangnya sekarang.

“Si won-ah…”

“Ne, halmoni…”nenek Si won melirik Tiffany yang terlihat tidak berselera makan sebab wanita itu hanya mengaduk nasinya.

“Kapan kalian akan memiliki anak…”Si won menghela nafas.Dia tahu kalau Tiffany sangat benci dengan topik ini.

“Aku belum tahu, Halmoni.Mungkin aku dan Tiffany masih ingin menghabiskan waktu kami berdua….”

“Tapi sampai kapan…”Si won bungkam.Mata nenek Si won beralih pada Tiffany.

“Dulu kau selalu berkata sibuk dan banyak pekerjaan.Bukankah sekarang waktu yang tepat.Kau tidak mencoba untuk mencari alasan lain, bukan?…”

Tiffany tak menjawab.Dan akhirnya menu makan malam itu masuk juga ke mulutnya meski dengan terpaksa.

“Kau harus memikirkan keluarga ini.Keluarga Choi butuh penerus.Jangan hanya karena keegoisanmu kami semua harus menunggu lama.Tidakkah pernah terbersit dihatimu untuk menjadi wanita yang sempurna? Membahagiakan suami dan keluargamu? Kalau kau terus seperti jangan salahkan cucuku jika nanti dia bosan dan mencari wanita lain…”

Tiffany tersenyum kecut mendengarnya.

“Inilah alasan kenapa aku tidak menyetujui pernikahan kalian.Wanita mandiri dengan pemikiran modern sepertimu sulit untuk diajak bicara.Lihat Yoona, dia bahkan sudah melahirkan putra pertamanya…”

PRANG

Tiffany melempar sendoknya kasar.Cukup.Cukup sudah wanita tua itu menjelek-jelekkannya.

“Apa yang kau lakukan?!”marah nenek Si won.Matanya menatap tajam kearah Tiffany.

“Wae, aku tidak boleh membela diri?! Aku tahu kau tidak menyukaiku, halmoni.Aku tahu kau membenciku karena aku orang Amerika.Karena aku bukan cucu menantu yang kau harapkan.Tapi bisakah kau berhenti untuk menyudutkanku? Kau semarah ini hanya karena aku tidak ingin melahirkan anak?…”

“Fany-ah…”

“Tidak usah menghentikanku, Oppa.Kau ingin membelanya? Tentu saja karena dia adalah keluargamu sementara aku hanya orang asing disini.Kau bahkan tidak berusaha sedikit pun saat dia menjelek-jelekkanku.Saat dia marah dan membentakku seperti orang bodoh.Tidakkah kau memikirkan perasaanku, Oppa?…”

“YA! Kau berani membentak suamimu!”Nenek Si won tampak naik darah.Sungguh dia terkejut dengan apa yang dia lihat.

“Wae, kau tak suka, Halmoni?! Kalau kau tidak suka kau boleh pergi…”

“M…mwo, kau mengusirku dari rumah cucuku? Kau…”

“Rumah cucumu? Harusnya kau tahu kalau cucu kesayanganmu itu membeli rumah ini untukku!”

“Mwo?…”Nenek Si won tampak sangat marah.Tangannya gemetar saking terkejutnya.

“Halmoni sudahlah, Tiffany hanya sedang tidak enak badan jadi emosinya sedikit terganggu…”

Si won menenangkan sang nenek.Sementara Tiffany sudah berlari masuk kekamarnya.Tidak mau lagi melihat wanita tua yang hanya akan membuatnya naik darah itu.

“Aigo, aigo…”Nenek Si won memegang dadanya yang terasa perih.

“Halmoni, gwenchana?…”tanya Si won cemas.Perempuan itu tampak menarik nafas dan menenangkan dirinya.

“ Antarkan aku pulang…”

***Sifany***

“Aigo, aku benar-benar tidak percaya ini, wanita itu, dia…”

“Halmoni tenanglah, nanti kau bisa sakit…”Si won membopong neneknya masuk.Mr. dan Mrs. Choi yang mendengar suara itu segera mendekat.

“Oemma sudah pulang?….”tanya Mrs. Choi membantu Ibu mertuanya duduk di sofa.

“Oemma, ada apa.Kau kelihatan tidak baik…”heran Mr. Choi.Nenek Si won tampak mengatur nafasnya sebelum menjawab.

“Ini semua gara-gara kalian.Sudah aku bilang bukan, aku tidak suka wanita itu tapi kalian tetap menjadikannya menantu…”

Mr. dan Mrs. Choi hanya saling pandang dan menghela nafas.

“Sudahlah Oemma, kita tidak perlu ikut campur dengan rumah tangga Si won dan Tiffany.Mereka sudah dewasa…”kata Mr.Choi.

“Mwo? Kalian membelanya? Kalian tahu betapa kasar ucapannya padaku.Dia marah saat aku menyinggung soal anak bahkan membentak Si won dihadapanku…”

“Oemma, Tiffany bukan hidup dijaman kita dulu.Dia wanita yang mandiri dan modern.Mengertilah Oemma, Tiffany masih 25 tahun.Dia masih ingin menikmati masa mudanya…”terang Mrs. Choi dengan tenang.

“Ya, aku saja yang mengandung suamimu saat umurku masih 18 tahun…”

“Tadi istriku sudah katakan Oemma, Tiffany dan kita hidup  dijaman yang berbeda…”ulang Mr.Choi lagi lalu beralih menatap Si won.

“Si won-ah…”

“Ne, Appa…”

“Pulanglah.Selesaikan masalah kalian baik-baik.Kau sudah berjanji dihadapan Tuhan untuk selalu menyayangi dan menjaganya.Jangan kecewakan siapapun terlebih  Tuan Hwang.Kau ingat, dia sudah mempercayakan Tiffany sepenuhnya padamu…”

“Ne, Appa.Kalau begitu aku pamit.Oemma, halmoni…”

“Ne, hati-hatilah dijalan…”ucap Mrs. Choi mengantar Si won ke depan pintu.

“Aish, Jinja! Semua orang disini menyebalkan.Lebih membela orang asing dari pada keluarga sendiri…”

“Siapa yang Oemma sebut orang asing?….”

“Siapa lagi? Tentu menantu kesayanganmu itu.Dia menghidangkan menu Amerika dengan nama yang aneh-aneh saat makan malam.Dia benar-benar menghinaku…”Mr. Choi hanya mengangkat bahu.Diraihnya pinggang Mrs. Choi yang baru kembali dari arah pintu dan membawanya pergi.

“Ya, kalian mau kemana?…”

“Tidur Oemma, ini sudah malam…”

“Aish! Anak, menantu, cucu semuanya sama saja!”

***Sifany***

Tiffany tersenyum menatap pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu.Perlahan air matanya jatuh.Disaat seperti ini dia sangat ingin dipeluk oleh Appanya.Ingin rasanya dia bercerita tapi dia tidak mau kalau Appanya yang super sibuk itu harus memikirkan masalah pribadinya.

“Fany-ah, kau menangis, nak?…”

Suara itu membuat Tiffany dengan cepat menghapus air matanya.Dia lupa kalau sekarang dia menggunakan layanan skype.Pasti Appanya bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Aniyo Appa, aku hanya merasa senang karena melihatmu…”

“Hahaha, aigo putri kecilku, kau tahu betapa Appa sangat merindukanmu?…”

“Jjinja?…”Tiffany kembali menyeka air matanya yang baru tumpah.Mr.Hwang menatap foto keluarganya yang terpajang dimeja ruang kerjanya.

“Tentu.Matamu yang indah selalu membuat Appa tersenyum dan bersemangat…”

“Appa ingin aku menunjukkannya?…”

“Tentu harus…”

Tiffany tersenyum.Dia yang tadinya tengkurap diranjang pun duduk.Mengangkat sedikit tablet PC-nya agar wajahnya terlihat sepenuhnya.

“Appa…”

“Ne, anakku.Appa disini…”

“Appa harus janji untuk tidak pingsan saat aku menunjukkannya, arra?…”Mr.Hwang kembali tertawa.

“Appa tidak akan pingsan, hanya saja tidak sadarkan diri…”

Tiffany tersenyum.Secara otomatis dua sudut bibirnya terangkat.Kedua matanya ikut melengkung indah, menutup bak bulan sabit terbalik hingga bagian matanya tak terlihat.Dia melakukannya dengan sempurna.Eye-smile indah seorang Tiffany Hwang yang mampu memikat siapa saja.Termasuk Choi Si won.

Mr.Hwang tersenyum lembut menyaksikannya.

“Kau sangat mirip Oemma-mu…”lirih Mr.Hwang mengingat mendiang istrinya.

“Tentu, karena aku anaknya dan Appa…”bangga Tiffany.

Hening sesaat.Tidak ada yang bersuara karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Ada yang ingin kau sampaikan pada Appa?…”

“Ne?….”kaget Tiffany.

“Kau bertengkar dengan Si won?…”tebak Mr.Hwang.Dia ayah dari wanita cantik itu.Tentu dia tahu apa yang tejadi dengan putri semata wayangnya tersebut.

“Ne? A-aniyo….”jawab Tiffany dengan raut wajah yang dia buat seserius mungkin.Tapi itu malah membuat Mr.Hwang tertawa.

“Appa…”Tiffany merajuk karena sang Appa masih sibuk menertawakannya.

“Aigo, aku tahu putriku tidak berbakat untuk berbohong.Sekarang apa lagi, kau membuat kesalahan?…”

“Kenapa Appa malah membelanya?…”

“Biasanya para wanitalah yang selalu mencari masalah…”Tiffany menghela nafas kasar.

“Appa…”

“Hm?…”

“Appa membenciku?…”

“Ya, pertanyaan macam apa itu?…”kaget Mr.Hwang.Tiffany kembali menghela nafas.

“Appa akan membenciku jika aku tidak memberimu cucu?…”Mr.Hwang yang tadinya kaget pun tersenyum lembut.

“Menurutmu, Appa sudah tua, Fany-ah.Memangnya apalagi yang kami butuhkan selain kehadiran cucu…”

“Jjinja?…”

“Ada apa, kau bertengkar dengan Si won hanya gara-gara masalah ini? Rasanya tidak mungkin…”

“Aniyo.Aku bertengkar dengan Halmoni…”

“Mwo?!”

***Sifany***

“Jjinja? Fany-ah, kau gila…”

Jessica tampak shock setelah mendengar cerita dari Tiffany.Tiffany yang melihat aksi berlebihan sahabatnya itu hanya mencibir lalu menyeruput latte-nya.

“Kau…kau bertengkar dengan nenek Si won Oppa, kau serius?…”

“Aish! Memangnya harus berapa kali ku katakan agar kau percaya…”kesal Tiffany.Aneh, kenapa semua orang berlebihan seperti ini.Bahkan semalam Appanya memarahinya karena hal tersebut.

“Ah, aku benar-benar tidak percaya kalau kau senekat ini.Hei, kau boleh berasal dari Amerika Stephany, tapi ini Korea.Berkata dan bersikap kasar pada orang tua itu fatal akibatnya.Apalagi jika sudah nenek-nenek, kalau dia terkena serangan jantung lalu mati, kau akan bagaimana?…”

`Bagaimana lagi, tentu saja dikubur.Kalau perlu dikremasi sekalian` batin Tiffany.Lagi pula lebih cepat orang tua itu mati lebih baik untuknya.

“Ck, aku tidak akan pernah melahirkan kalau dia masih hidup.Aku tidak akan membuatnya bahagia dengan kehadiran anakku…”ucap Tiffany.Jessica hanya mengangkat bahunya.Tak tahu harus berbuat apa karena sepertinya hubungan keduanya sangat buruk.

“Lalu bagaimana dengan Si won Oppa, dia marah padamu?…”

“Molla, kami tidak bicara satu sama lain…”jawab Tiffany mengingat hubungannya dan Si won akhir-akhir ini.Ini sudah beberapa hari sejak kejadian malam dimana dia bertengkar dengan nenek Si won.Tapi mereka masih belum bicara.Sebenarnya Si won sempat beberapa kali menyapa atau sekedar pamit untuk ke kantor.Tapi dia bersikap acuh padahal ia tahu kalau ia butuh.

“Tiffany…”

“Hm?…”Tiffany yang asyik melamun mengalihkan pandangan dari latte-nya kearah Jessica.

“Kau lelah, bagaimana kalau kita ke tempat spa?…”

Tiffany mengangguk setuju.Dia memang butuh perawatan mengingat akhir-akhir ini banyak hal yang membuatnya marah yang akan memicu keriput di wajah cantiknya.Selain itu dia juga sering merasa pusing dan cepat lelah.

“Kajja…”

***Sifany***

Hanya suara detak jarum jam yang terdengar diruang tamu mewah itu.Si won tampak makin resah.Sudah larut tapi Tiffany juga belum pulang.Ponselnya juga tidak aktif sama sekali.

Si won kembali memikirkan hubungannya dan Tiffany akhir-akhir ini.Wanita itu selalu menghindari dan mengacuhkannya.Si won tahu kalau sikapnya sedikit keterlaluan karena terlalu mengekang Tiffany.Tapi semua itu ia lakukan karena ingin wanita itu hanya memprioritaskannya.Bukan pekerjaan apalagi orang lain.

Belum lagi permasalahan Tiffany dengan neneknya.Keduanya dari awal memang selalu bermasalah.Ada saja hal yang akan memicu kemarahan neneknya.Sifat keras kepala Tiffany yang sudah mendarah daging pun membuat perseteruan diantaranya makin rumit.Yang tua selalu marah-marah sementara yang muda tak mau mengalah.

Si won baru akan bangkit dari duduknya untuk mencari Tiffany.Tapi tiba-tiba pintu terbuka dan muncul sosok Tiffany yang tampak lebih fresh setelah perawatan yang dia lakukan.

“Kau dari mana saja?…”tanya Si won mendekati Tiffany yang sedang mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Aku dari tempat spa…”jawab Tiffany seadanya tanpa menoleh ke arah Si won.

“Sampai selarut ini?…”Tiffany berlalu begitu saja.Tak peduli pada pertanyaan Si won yang menurutnya menyebalkan itu.

“Tiffany…”

“Aku hanya terlalu lelah dan ketiduran, Oppa.Kenapa kau selalu bertanya tentang hal seperti itu…”kesal Tiffany.

Si won menghela nafas.Dia hanya terlalu khawatir.Kenapa wanita itu sama sekali tidak  mengerti.

“Mandilah, aku sudah menyiapkan air panas untukmu…”suruh Si won berlalu keruang kerjanya.Tiffany yang melihat itu hanya terdiam.Tapi dia tidak mau ambil pusing.Bukannya pria itu memang selalu seperti ini?

***Sifany***

Si won bersandar dikepala ranjang dengan tangan terlipat didada.Matanya sibuk memperhatikan apa yang dilakukan Tiffany.Wanita itu membersihkan wajahnya dimeja rias.Kemudian mengambil gaun tidurnya dilemari lalu masuk ke kamar mandi.Cukup lama disana, wanita itu keluar dan berbaring ditempatnya.Disebelah Si won.

Si won membalikkan tubuhnya untuk menghadap Tiffany.Sampai kapan mereka akan bersikap seperti ini.Tanpa bicara bahkan saling pandang.

“Fany-ah…”

“Maafkan Halmoni, dia tidak bermaksud seperti itu padamu.Dia hanya ingin kau menjadi lebih baik…”

Tiffany tersenyum kecut mendengarnya.Jadi selama ini dia adalah orang yang jahat?

Tiffany merasakan Si won menyentuh telapak tangan kanannya dan menggenggamnya hangat.

“Aku juga minta maaf.Sikap cemburuku memang sangat keterlaluan dan mengganggu.Tapi ada alasan kenapa aku seperti ini.Aku mencintaimu dan aku tidak mau kehilangan dirimu.Aku akan berubah Tiff, asal kau tidak mengacuhkanku seperti ini lagi.Kau tahu betapa tersiksanya aku?…”

Tiffany menggingit bibirnya seraya matanya menatap langit-langit kamar.

“Fany-ah…”

Tiffany memejamkan matanya.Dari suara lirih Si won dia tahu kalau pria itu bersungguh-sungguh.Saat melakukan perawatan spa tadi siang Tiffany juga memikirkannya.Mungkin sifat cemburu Si won memang mengganggunya.Tapi dia justru lebih mengganggu bagi pria itu.Dia susah diatur, egois, keras kepala.Semua itu ada padanya.Dan parahnya lagi, dia juga kasar pada nenek dari suaminya itu, juga tidak hormat pada suaminya sendiri.

“Fany-ah, aku minta maaf…”

Tiffany membuka matanya.Ditatapnya Si won yang masih setia memegang tangannya disampingnya.Dia mengangguk.

“Aku juga minta maaf, Oppa…”tulus Tiffany.Si won tersenyum senang.Apalagi saat wanita itu membalas senyumnya.

“Jiinja? Gumawo Fany-ah, jjeongmal gumawo…”

Si won berseru dan mendudukkan wanita itu untuk memeluknya.Lama mereka dalam posisi seperti ini.Tiffany merasa nyaman dengan kehangatan yang disalurkan Si won.Sementara pria itu sibuk menikmati aroma wangi tubuh wanita itu.Rasanya sudah lama sekali.

“Maafkan aku.Menikah denganku pasti membuatku tertekan dengan sikapku, belum lagi Halmoni.Rasa cemburuku pada Dong hae juga tanpa alasan mengingat dia sudah bertunangan…”Si won menarik nafas dan membuangnya pelan.

“Aku juga minta maaf karena sering menghabiskan waktuku untuk pekerjaan.Kau pasti sangat marah dan merasa kecewa.Mulai saat ini aku akan lebih memperhatikanmu, aku janji…”

Tiffany hanya tersenyum kecil dibahu Si won.Dia tahu, Si won sebenarnya adalah pria yang sangat sangat baik terlebih terhadapnya.Pria itu tidak akan pernah marah atas sikap kasarnya pada Halmoni.Asalkan saja mereka tidak membahas pria lain.Jika itu terjadi Si won bisa berubah menjadi sangat menakutkan.

“O-Oppa…”

Tiffany membuka matanya, terkejut ketika bibir hangat Si won menyentuh kulit lehernya.Tapi sepertinya pria itu sudah tidak mendengarkannya lagi.

***Sifany***

 “Huek…Huek…”

Tidur Si won merasa tergangu ketika mendengar seseorang muntah-muntah.Sadar kalau orang itu pasti Tiffany, dia dengan cepat bangkit dan masuk ke kamar mandi.

“Fany-ah, gwenchana?…”Si won memijat leher bagian belakang Tiffany.Tiffany tidak menjawab karena tengah membasuh mulutnya dengan air dari wastafel.

“Hosh…hosh…”

“Kau muntah?…”Tiffany menggeleng.

“Hanya mual…”Si won menaikkan alisnya.Mual? Bukankah mual-mual dipagi hari adalah ciri-ciri wanita…

“Fany-ah, jangan-jangan kau…”

Tiffany sontak membeku.Matanya menatap dirinya yang ada dipantulan cermin.Dia juga bisa melihat wajah bahagia Si won dari sana.

“Tidak mungkin…”ucap Tiffany dingin seraya menepis tangan Si won dari pundaknya.Dia melangkah keluar kamar mandi diikuti Si won.

“Kita sudah menjalani program, Oppa.Aku tidak akan hamil setidaknya sampai tahun depan…”

Si won hanya menghela nafas.Ya, dia tahu itu.Tapi dalam hati kecilnya tetap saja dia berharap.

***Sifany***

Setelah dengan ribuan kali bujukan dan paksaan, Si won akhirnya bisa membawa Tiffany ke rumah sakit.Tentu Si won tidak mau istrinya terus mual-mual.Tiffany juga tidak mau makan dengan alasan tidak berselera dan akan muntah.Dia tidak bisa tenang saat bekerja dibuatnya.

Kini Si won dan Tiffany tengah menunggu dokter yang sedang keluar untuk mengambil hasil lab pemeriksaan Tiffany.Tak ada yang bicara.Hanya keheningan yang tercipta diruangan yang didominasi warna putih dan dipenuhi bau obat-obatan itu.Membuat Tiffany kembali merasakan sesuatu diperut dan tenggorokannya.

“Mau ku temani ke kamar mandi?…”Tiffany menggeleng.

“Aku baik-baik saja….”jawab Tiffany.Bersamaan dengan itu sang dokter masuk dan duduk dikursinya.

“Bagaimana, Dokter Kim?…”tanya Si won cepat.Dokter itu tersenyum menatap pasangan dihadapannya bergantian.

“Selamat Tuan Choi, istri anda hamil dua bulan…”

“Jjeongmal?…”Si won tersenyum bahagia.Sungguh, dia tidak bisa melukiskan betapa bahagianya dia sekarang.Dia akan menjadi seorang Appa.Buah cintanya dan Tiffany.

“Maldo andwae!”pekik Tiffany.

Si won dan dokter terkejut dibuatnya.Terlebih lagi dokter itu, baru kali ini dia melihat ada seorang istri yang tidak senang dengan kehamilannya.

“Tiffany…”

Si won mencoba meraih tangan Tiffany agar wanita itu kembali duduk disampingnya.Tapi Tiffany menangkisnya.

“Aniyo.Hasil lab-nya pasti tertukar.Aku tidak mungkin hamil dokter, kami sudah menjalani program sampai tahun depan…”

Tiffany mencoba untuk membantah kenyataan ini meski dia sadar kalau kehadiran jabang bayi itu sudah ditunjukkan beberapa waktu terakhir.Baik dengan jatah bulanannya yang tak ada serta gelaja pusing, cepat lelah dan mual-mualnya.

“Ne, Nyonya Choi, saya mengerti.Tapi tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak.Lagi pula kehadiran anak adalah anugerah bagi orang tua.Jadi siapapun harus mensyukurinya…”

Tiffany terduduk lemah dikursinya.Tidak mungkin.Dia tidak memiliki persiapan apapun untuk ini.Andwae!

***Sifany***

“Oh Shit!”

Umpat Tiffany melempar tasnya dengan kasar.Dia terduduk lemas diranjang.Meratapi dirinya yang akan mengalami perubahan bentuk badan dalam beberapa bulan kedepan.

Tiffany makin kesal ketika mengingat nenek Si won.Pasti wanita itu sangat bahagia dengan kehamilannya ini.Bagaimana mungkin dia membuat orang yang paling dibencinya itu bahagia.

“Argh!”

***Sifany***

Tiffany menatap jengkel wanita cantik yang sedang tersenyum menggodanya itu.

“Kau belum puas menertawakanku, Jung Soo yeon?…”kesal Tiffany.

Jessica yang tadinya hanya tersenyum seketika meledak dalam tawanya.Benar-benar tertawa puas membuat Tiffany makin kesal.

“Aigo, seseorang tolong bantu aku untuk menghentikannya.Ini lucu sekali, hahaha…”

Jessica masih dalam tawanya yang bahagia plus mengejek.Sementara Tiffany menatap lemas deretan puluhan obat herbal untuk ibu hamil yang ada disekitar ruang tengah.Juga puluhan rangkaian bunga sebagai ucapan selamat.Berita memang cepat tersebar.Belum 3 hari dokter menvonis kalau dirinya hamil ucapan selamat beserta bingkisan sudah memenuhi rumahnya.Tiffany yakin jika dia menjual seluruh barang-barang itu dia bisa menjamin kehidupan bayinya untuk 2 tahun kedepan.

“Ah, tidakku sangka kalau aku akan secepat ini jadi Auntie…”ucap Jessica melirik Tiffany dengan senyum manis plus menggoda.

“Memangnya aku harus bagaimana lagi, dia sudah terlanjur ada…”ucap Tiffany lemas.Ya, walau dia tidak menginginkannya tetap saja dia tidak akan tega menyingkirkannya.Jujur, hati kecilnya bahagia.Bagaimana tidak karena yang sedang tumbuh dirahimnya adalah buah cintanya bersama Si won.Apalagi pria itu juga berubah menjadi pria yang sangat perhatian dari sebelumnya.Tapi saat mengingat nenek Si won…

Drrtt Drrtt Drrtt

Tiffany melirik ponselnya yang ada dimeja.Begitu melihat siapa yang menelfon dia kembali bersandar malas.Jessica yang melihat reaksinya pun dengan cepat mengambil ponsel tersebut.

“Halmoni?…”ucap Jessica.

“Eoh, setiap jam dia menelfon hanya untuk menanyakan kabarku.Tidakkah itu keterlaluan? Aku berani bersumpah, selama dua tahun ini dia tidak menyimpan nomerku diponselnya…”

“Itu karena bayi yang ada diperutmu.Harusnya kau senang kalau  dia berubah, Tiff…”

“Oh yeah? Aku akan lebih berterima kasih kalau dia membenciku.Kau tahu betapa aku ingin mati melihat wajahnya yang berbinar-binar saat Si won Oppa mengatakan kalau aku hamil.Dia berseru paling kencang, memeluk dan menciumku seperti bayi.Aish, aku harus luluran sampai tiga kali untuk menghilangkan bau parfumnya…”

Jessica hanya mengeleng mendengarnya.Dia maklum, wanita hamil itu sensitive.

“Bagaimana dengan Si won Oppa?…”

“Setidaknya dia lebih memperhatikanku dari sebelumnya…”

“Ku dengar memang seperti itu.Para suami menjadi lebih perhatian dan peduli pada istrinya yang sedang hamil…”

“Yeah, karena ada anaknya…”ucap Tiffany malas.

“Bukan itu saja, wanita hamil itu biasanya manja dan sangat sensitive jadi sering marah-marah tak jelas.Maka dari itu suami menjadi lebih sabar karena istrinya tidak boleh stress karena akan berdampak pada janinnya…”

“Jjeongmal?…”tanya Tiffany senang disambut anggukan Jessica.Tiba-tiba Tiffany tersenyum misterius membuat Jessica bingung.Tapi sepertinya dia mengerti arti dari senyum itu.

“Jangan bilang kalau kau ingin menggunakan kesempatan ini untuk membuat Si won Oppa lebih sering bersamamu…”tebak Jessica.Tiffany mengangguk manis.

Ponsel Tiffany kembali bergetar.Dia tersenyum lebar dan meraih benda tersebut.

“Si won Oppa?….”tebak Jessica.

“Eoh, sssttt…”Jessica hanya tersenyum.

“Yeoboseyo…”jawab Tiffany dengan nada lemas tak bersemangat.Pura-pura tentunya.

“Kau sudah makan siang?…”

“Aniyo, aku tidak berselera makan…”

“Tiffany, kau tetap harus makan kalau ingin tetap sehat…”

“Percuma Oppa, kalau aku makan aku juga akan memuntahkannya…”

“Bukankah dokter sudah memberimu obat untuk mengurangi rasa mual? Kenapa tidak kau makan?…”

“Pokoknya aku tidak mau makan…”

“Tiffany…”

KLIK

Tiffany menutup telfonnya.

“Ku pastikan Si won Oppa akan pulang 15 menit lagi…”ucap Jessica melirik arlojinya.Tiffany hanya mengangguk seraya tersenyum puas.

***Sifany***

“Sekretaris Park…”

“Ne, Sajangnim…”

“Batalkan semua jadwalku hari ini…”

“Ne?…”

Sekretaris cantik itu terdiam bingung melihat Si won yang sudah berlalu.Si won memutuskan untuk pulang karena khawatir dengan kondisi Tiffany.

Begitu tiba diluar Si won langsung masuk ke mobil yang sudah disiapkan sopir.Setelah menghidup mesin Si won langsung menginjak pedal gas seraya memasang haedseat ke telinganya.Menelfon Tiffany.

“Kau ingin makan sesuatu?…”

“…”

“Bubur kacang merah?…”

“…”

“Baiklah, tapi aku akan marah jika nanti kau tidak memakannya, arra?…”

“…”

“Hm, jaga dirimu…”

Usai membeli bubur yang dipesan Tiffany di sebuah café, Si won langsung pulang kerumah.Saat tiba puluhan karangan bunga ucapan selamat beserta obat herbal untuk wanita hamil dan vitamin menyambutnya.Dan sepertinya obat-obatan itu belum disentuh oleh Tiffany sedikitpun.Bahkan tonik dari nenek dan orang tuanya saja masih terbungkus rapi.

Si won mencari Tiffany diruang keluarga, kamar dan dapur.Tidak ada wanita itu di sana.Secara tak sengaja mata Si won melirik ke arah luar.Dari dinding kaca itu dia bisa melihat Tiffany duduk dipinggir kolom ditaman belakang.Menyaksikan ikan koi yang berenang bebas diantara kakinya yang menjuntai masuk.

Tiffany tersenyum manis melihat Si won berjalan ke arahnya dengan nampan berisi makanan.

“Kau ingin membuat bayiku kedinginan?…”tanya Si won lembut seraya mengangkat kaki Tiffany dan mengeringkannya dengan handuk kecil yang dia bawa.Tiffany memalingkan wajahnya.

“Jadi sekarang Oppa hanya peduli dengan bayi ini?….”Tanya Tiffany yang hanya disambut senyum manis Si won.

“Aku sudah membawakan buburnya, ayo buka mulutmu…”

Tiffany tak menurut.

“Tiffany…”panggil Si won.

“Oh Oppa, sepertinya aku ingin makan sup ayam ginseng, japchae  sepertinya juga enak…”Si won menghela nafas.Tapi melihat Tiffany yang begitu senang membuatnya luluh.Lagi pula inikan hal wajar bagi wanita hamil yang mengidam.

“Kau akan membelikannya, Oppa?…”Tanya Tiffany.

“Hm, tapi kau harus tetap makan bubur ini.Kalau tidak aku tidak akan mau membelikannya…”

Tiffany mengangguk manis.Detik kemudian satu sendok bubur masuk kemulutnya.

***Sifany***

Tiffany keluar dari sebuah toko mainan dikawasan Apgujong.Ditangannya terdapat 2 buah tas yang berisi mobil-mobilan dan robot mainan.

Tit Tit

Tiffany melambaikan tangannya.Setelah itu dia segera masuk ke dalam BMW putih bersih itu.

“Kita akan kemana?…”Tanya Jessica.Dihari libur ini Tiffany malah mengajaknya pergi.Padahal dia hanya ingin bermalas-malasan dirumah mengingat akhir-akhir ini dia sangat sibuk karena mundurnya Tiffany.

“Waeyo?….”

“Anni, apa kau sudah menyelesaikan tugas rumah?….”Tiffany tertawa saat mendapat pertanyaan itu.

“Kau tidak perlu khawatir.Halmoni tua itu sudah mengirim seorang pelayannya ke rumahku…”Jessica tampak terkejut.

“Jjinja?…”

“Hm, dan dia hanya berpesan kalau aku harus selalu istirahat, tidak boleh kelelahan dan jangan banyak pikiran.Cukup pikirkan kondisimu, kesehatan calon bayiku dan suamiku.Oh, so sweet….”Ucap Tiffany sinis.Jessica hanya menggeleng seraya tersenyum.

“Kita akan kemana sekarang?…”

“Ke rumah Yoona…”

“Yoona?…”Jessica menyerngit.Bukan apa-apa.Hanya saja matanya melihat apa yang dibawa sahabat karibnya itu.

“Kau membeli ini untuk putra Yoona?..”

“Ne, waeyo? Bukankah anak laki-laki menyukai mobil-mobilan dan robot-robotan….”Tanya Tiffany memperhatikan barang bawaannya lalu beralih pada Jessica.

“Eoh, salah besar jika kau membelikannya boneka Barbie.Tapi Min ho baru berusia 3 bulan Tiff, dia belum menyukai robot-robotmu…”

“Jjinja?…”

Tiffany tampak kecewa.Aish, kenapa tidak terpikirkan olehnya tentang hal ini.Memangnya apa yang bisa dilakukan bayi berusia tiga bulan selain tidur, menangis dan poop.

“By the way, kenapa kau ingin kerumah Yoona? Apa karena sekarang kau sedang hamil muda jadi sifat keibuanmu mulai tumbuh.Benar begitu?…”Jessica terlihat penasaran.

“Jesisca Jung….”

“Yes, Stephany Choi.I`m here…”

“Jalankan mobilnya…”

“Aish!”

***Sifany***

“Kya, kyeopta…”

Jessica berseru gemas melihat Min ho yang sedang tertawa saat dipasangkan diapers oleh Yoona.Tiffany hanya memperhatikan.Melihat seperti apa Yoona mengurus bayinya.Mungkin dia bisa sedikit belajar.Eh? Sejak kapan dia peduli dengan hal seperti ini.Entahlah.

Tiffany bisa melihat betapa bahagianya Yoona sekarang.Hidup dengan suami dan putra mereka yang lucu.Tapi dia tahu, dari dulu Yoona sangat menyukai anak kecil, sementara dia?

“Aigo Min ho-ya, lihat Fany Auntie membawakanmu banyak sekali mainan.Ucapkan gumawo…” Yoona menggendong Min ho ditangan kanannya.

“Gumawoyo Fany Auntie, kau baik sekali…”ucap Yoona lagi menirukan suara anak kecil yang disambut tawa Jessica dan senyum Tiffany.

“Apa dia sangat rewel, Yoong? Ku dengar bayi selalu terbangun tengah malam…”

“Eoh, dia bahkan bangun jam 1 sampai jam 3 dan menangis tanpa henti…”Tiffany membuka mulutnya kaget.

“Jjinja?…”tanyanya tak percaya.

“Eoh, tapi menyenangkan melihatnya tumbuh dan berkembang setiap hari, Unnie…”Tiffany hanya mengangguk kecil memperhatikan bayi yang tengah menatapnya itu.

“Eoh, dia jatuh cinta padamu, Tiff…”ucap Jessica asal yang langsung disambut tawa Yoona dan senyum kecil Tiffany.

“Jangan jatuh cinta padaku Min ho-ya, jika kau tidak ingin berurusan dengan Si won Oppa…”tanggapnya.Jessica mengangguk setuju dan tertawa menyadari apa yang mereka bicarakan sekarang.Ini bukan topik yang cocok untuk didengarkan bayi berusia 3 bulan.Tapi siapa peduli, toh dia juga tidak mengerti.

“Ku dengar Unnie hamil, chukkae…”ucap Yoona ikut senang.

“Benar, tapi…kau dengar dari siapa?…”tanya Tiffany.Setahunya ia dan Jessica belum membahas hal ini sejak tadi.

“Halmoni, kemarin dia kesini menjenguk Min ho…”terang Yoona singkat.Tiffany dan Jessica saling pandang.

“Jjinja? Waoh, sepertinya dia benar-benar menyesal karena tidak menjadikanmu cucu menantu…”

Yoona tersenyum.Dulu, keluarganya dan nenek Si won memang berniat untuk menjodohkan Yoona dan Si won.Namun keduanya menolak perjodohan itu karena sudah menemukan pasangan masing-masing.

“Mwoya, itu masa lalu Unnie, kau tidak perlu membahasnya lagi.Lagi pula Halmoni kesini untuk menyampaikan berita bahagia itu.Dia sangat senang mendengar kau hamil.Dia pikir dia tidak akan melihat penerus keluarga Choi sampai ia mati…”

“Hahaha…”Jessica tertawa.

“Rencananya memang seperti itu, tapi sepertinya takdir berkata lain…”sambungnya.Tiffany terlihat mendengus pelan.

“Dia senang karena bayi ini, setelah bayi ini lahir dia akan membenciku lagi….”

“Berhentilah berpikiran buruk pada orang lain, Fany-ah.Kau harusnya menerima baik apa yang dilakukan Halmoni.Aku bisa bayangkan bagaimana tersiksanya jika ada salah satu anggota keluarga membenci kita…”ucap Jessica.

“Setidaknya aku tidak menyukainya jadi tidak masalah jika dia membenciku…”balas Tiffany tak peduli.Jessica melemparnya dengan bantal kecil Min ho.

“Aish, kalau aku yang jadi halmoni aku pasti juga akan membencimu walau kau melahirkan seratus anak…”

“Aku tidak akan melahirkan seratus anak!”Yoona hanya tertawa melihat pertengkaran kecil kedua sahabatnya itu.

“Kau salah besar Unnie.Justru halmoni sangat perhatian padamu…”

“Perhatian? Memperhatikan segala keburukanku maksudmu?…”Yoona menghela nafas dan meletakkan Min ho dikasurnya.

“Unnie tahu, setiap dia berkunjung untuk melihatku atau Min ho.Unnielah yang paling sering ditanyainya.Apa kesukaan Unnie, apa yang Unnie benci dan semuanya….”

Tiffany dan Jessica saling pandang.Tak sepenuhnya percaya pada ucapan Yoona barusan.

“Ku harap kau sedang berbohong, Yoong…”Yoona menggeleng.

“Aku mengatakan yang sebenarnya, Unnie.Melunaklah, Unnie lebih muda dan harus mengalah.Kalian tidak mungkin selamanya akan seperti ini, bukan? Saat Unnie hamil Unnie pasti bisa melihat betapa sayangnya halmoni pada Unnie…”

Tiffany terdiam.Benar.Seminggu terakhir dia tahu betapa baik dan pedulinya wanita itu terhadapnya.Menelfon setiap jam dan menanyakan keadaannya.Mengirimkan makanan yang sehat dan segala macamnya.

“Tapi terkadang berlebihan dan itu menyebalkan, Yoong…”Jessica tampak meringis sebal.

“Bisakah kau diam dan menurut sekali saja…”sela Jessica melihat sifat Tiffany.Wanita itu hanya mendengus pelan.

“Jangan sok mengajariku, Nona Jung!”

“Kau yang harus menghilangkan sifat keras kepalamu, Nyonya Choi!”

“Oee…Oee…”

“Omo, Min ho menangis….”pekik Jessica mendekati bayi yang sudah kembali berada digendongan Yoona.

“Itu karena kau berteriak sangat kencang…”tuduh Jessica pada Tiffany.

“Mwo? Kenapa aku? Teriakanmu lebih kencang…”balas Tiffany tak terima

“Kau!”

“Kau!”

“Kau!”

“Aish! Unnie!”

***Sifany***

Tiffany menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.Belum habis anak tangga itu ia tapaki, ia menyerngit.Pintu kamarnya terbuka, apa Si won sudah pulang? Inikan masih siang.

Tiffany masuk ke dalam kamarnya.Tak didapatinya sosok Si won didalam sana melainkan seorang perempuan tua dengan kain ditangannya.

“Halmoni?….”kaget Tiffany.Wanita itu mendongak dan bangkit.

“Kau sudah pulang?…”tanyanya lembut dengan senyum yang menyertai.Tiffany yang melihat itu hanya mengangguk ragu seraya matanya memperhatikan seluruh kamarnya.Dia benar-benar tidak percaya ini.Perempuan itu membersihkan kamarnya?

“Mianhe, jika kau merasa Halmoni sedikit tidak sopan.Halmoni baru saja mengelap lantai dan mengganti sprei.Jika ruangan ini bersih dan nyaman akan baik untukmu dan janinmu…”

Tiffany menatapnya tak percaya.Tapi entah kenapa hati kecilnya sangat berterima kasih.

“Tapi kenapa Halmoni yang melakukannya, bukankah sudah ada Ahjumma?…”

“Gwenchana, Halmoni senang melakukannya…”

Halmoni mendekat ketempat Tiffany.Tangan kirinya memegang tangan kanan Tiffany sementara tangan kanannya menyentuh perut rata Tiffany.

“Apa dia ingin makan sesuatu? Halmoni akan membuatkannya…”

“Ne? A-aniyo, Halmoni…”

“Jjeongmal? Kau sudah makan siang?…”Tiffany menggeleng.

“Mandilah lalu turun.Halmoni akan menyiapkan soup untukmu…”ucapnya lalu meninggalkan Tiffany yang masih terdiam.

***Sifany***

Tiffany benar-benar dibuat takjub hari ini.Segala apa yang dilakukan orang yang ia tahu dari dulu tidak menyukainya itu selalu membuatnya berpikir kalau apa yang dialaminya hari ini mustahil.Salah satu oarng penting dalam keluarga Choi itu membersihkan kamarnya, menyiapkan makanannya dan sekarang ia sedang dipijat olehnya.

Tiffany memiringkan kepalanya untuk melirik sosok yang kini dengan telaten memijat kaki bagian betisnya.Bukan karena mereka tidak terlalu dekat yang membuat Tiffany merasa tidak enak.Tapi membiarkan orang itu memijatnya yang hanya berbalut selembar kain tipis ini rasanya tidak pantas.

“Sejujurnya, kau tidak perlu melakukan ini, Halmoni…”ungkap Tiffany pelan.Perempuan tua  itu tersenyum.

“Gwenchana.Aku senang melakukannya.Dulu, saat Oemma Si won hamil aku juga sering memijatnya seperti ini.Ini baik untuk tubuhmu…”

“Tapi aku bisa pergi ke tempat perawatan tubuh, halmoni…”

“Kenapa harus keluar jika dirumah sendiri bisa melakukannya…”Tiffany diam saja.Meski sudah berumur pijatannya sangat terasa.Tiffany bisa merasakan tubuhnya ringan dan rileks.

Sesaat Tiffany tersenyum.Mungkin ada baiknya dia bersikap baik pada nenek Si won mulai sekarang.Toh, orang itu juga sangat peduli terhadapnya.Setidaknya dia harus mendengarkan Yoona dan Jessica, bukan? Lagi pula akan sangat keterlaluan jika ia selalu kasar pada orang tua.

“Gumawoyo Halmoni dan juga…mianhe…”ucap Tiffany pelan.Choi Halmoni menghentikan pijatannya sejenak.Dia tersenyum.

“Sudah seharusnya kita bersikap layaknya keluarga seperti ini.Mianhe, dari awal aku tidak memperlakukanmu dengan baik.Kau pasti membenciku…”

Tiffany terdiam.Dalam hati dia mengiyakan kalau ia membenci perempuan itu.Orang yang selalu sinis dan berkata menyakiti hatinya.Tapi sekarang ia tahu, kalau sebenarnya orang itu sangat baik.

Tiffany duduk dari posisinya untuk menatap nenek Si won.

“Aku yang harusnya minta maaf padamu, Halmoni.Aku kasar, egois, dan tidak sopan.Aku juga tidak pernah bersikap baik dihadapanmu.Mianhe…”Nenek Si won tersenyum.Diraihnya tangan Tiffany dan menggenggamnya erat.

“Gwenchana, sekarang itu semua hanya masa lalu…”ucapnya lembut.Keduanya saling pandang dan tersenyum.

Si won yang bersandar dipintu sejak beberapa menit yang lalu ikut tersenyum.Senang melihat dua perempuan yang selalu tak akur itu dalam keadaan seperti ini.

“Woah, pemandangan apa ini?….”Si won menggoda seraya melangkah masuk.Keduanya tertawa kecil.

“Pemandangan yang mana maksudmu.Istrimu yang tanpa busana ini?….”Si won terkekeh mendengarnya.

“Halmoni, kau tahu saja apa yang ada dipikiranku…”Si won mendekati Tiffany.Berniat ingin memberinya sebuah ciuman namun sayang karena Halmoni menariknya untuk menjauh.

“Tiffany harus istirahat.Kau sebaiknya keluar…”ucapnya.

“Tapi aku…”

“Fany-ah, istirahatlah.Jangan pikirkan hal-hal yang akan membuatmu terganggu…”

“Ne, halmoni…”

Halmoni keluar.Si won duduk disisi ranjang dan membantu merapikan selimut Tiffany.

“Apa yang terjadi?…”tanyanya.Seolah masih belum percaya dengan apa yang baru ia saksikan.

“Wae, apa terlalu buruk untuk kami berbaikan?…”Si won tertawa.

“Kau sudah makan?…”

“Hm.Oppa percaya tidak? Tadi halmoni membuatkan soup untukku..”

“Jjinja? Pasti sangat enak…”Tiffany mengangguk.Dia juga tidak mual saat menyantap makanannya tadi.

“Kalau begitu, sekarang tidurlah…”Tiffany mengangguk dan mulai memejamkan matanya.

“Oh ya, ingin ku temani?…”Tiffany membuka sebelah matanya menatap wajah yang tersenyum sangat manis itu.

“Asal tidak macam-macam, tidak masalah…”Si won menyeringai dan menindih tubuh itu.

“Tapi aku ingin macam-macam…”bisiknya lembut dan mulai membelai wajah Tiffany.Bibirnya yang hampir menyentuh bibir Tiffany tiba-tiba terhenti saat mendengar suara pintu terbuka.

“Ya! Ku suruh keluar!”

***Sifany***

“Oppa…jebal…Oppa…”

Tiffany terus merengek.Meminta agar pria yang sibuk dengan komputernya itu mendengarkan ucapannya.Atau setidaknya menoleh dan memperhatikannya.Tapi sepertinya orang itu tak menggubrisnya sedikit pun sejak satu jam yang lalu.

“Oppa…”

“Tiffany, sudah ku bilang jangan mengganggu…”

“Mwo?…”

Tiffany melepaskan tangannya yang dari tadi menarik-narik lengan Si won.Ia tampak kesal.Bisa-bisanya pria itu menganggapnya pengganggu.Jadi sikap baik pria itu hanya bertahan beberapa minggu saja?

“Oh, jadi sekarang Oppa menganggapku pengganggu?…”tanya Tiffany tak terima.Si won menghela nafas dan beralih menatap wanita cantik yang ada disebelahnya.

“Fany-ah, kau tahu sekarang aku sedang sibuk.Kita bisa bicara nanti dirumah…”

“Tidak perlu.Oppa tinggal saja disini dengan sekretarismu yang sok cantik itu…”

Tiffany pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu.Si won mengusap wajahnya.Mood Istrinya itu memang sering berubah.Apalagi semenjak dokter menvonisnya hamil.Dia menjadi sangat sensitive.Sukanya memaksa dan marah-marah.Terkadang sangat baik dan manis namun terkadang bisa menjadi sangat menyebalkan.Lihat siang ini, bukannya istirahat dirumah wanita itu malah berkunjung ke kantornya.Jika terjadi sesuatu dialah yang akan dimarahi neneknya.

”Hah…”

Si won menghela nafas.Untung saja dia ingat  ada calon bayinya yang sedang tumbuh dirahim wanita itu.Jadi dia masih bisa mengontrol emosinya.Mengingat dialah penyebab semua ini.Ya, setidaknya itulah yang dikatakan Tiffany.

***Sifany***

“Mungkin Si won Oppa benar-benar sedang sibuk, Tiff…”

“Tapi dia mengatakanku pengganggu, Sica-ya…”

“Tentu saja, kau datang disaat jam kantornya sedang berlangsung…”ucap Jessica yang terus sibuk dengan pulpen dan kertasnya.Sketsa gambarnya sudah hampir jadi.

Jessica menoleh kearah laptopnya.Dia tersenyum saat melihat wajah sedih Tiffany disana.Ya, sekarang mereka berkomunikasi lewat layanan skype.

“Tidak ada yang perlu kau pikirkan, Tiff.Harusnya kau senang karena Si won Oppa mengkhawatirkanmu….”

“Dia hanya peduli dengan bayi ini Sica-ya, tidak denganku…”

Jessica memutar bola matanya.Kapan wanita itu akan berubah.Bahkan sifat keras kepalanya makin menjadi-jadi.

“Oh ya, aku ada rencana untuk ke rumahmu lusa.Kau ingin sesuatu? Makanan, cokelat, atau permen mungkin?…”Tiffany menggeleng.

“Cukup kau saja…”lirihnya.Jessica tersenyum lembut.

“Oh My Gosh.Kau tahu betapa aku sangat merindukanmu? Apalagi calon keponakanku itu…”

“YA!”pekik Tiffany.Jelas terlihat kalau dia tidak menyukai topik itu.

“Hahaha, baiklah.Aku harus tidur karena besok banyak yang harus ku selesaikan.Bye, Tiff…”

“Bye…”

Tiffany melempar tabletnya.Dia bersandar disofa menatap langit-langit ruang tengah.Bosan? Tentu saja.Dia tidak melakukan apapun selain hanya dirumah.Mendesain pun tidak boleh karena Si won tidak mau dia stress dan banyak pikiran.Lagi-lagi karena bayinya.

Mata Tiffany turun ke bawah untuk  melihat perutnya yang masih rata.Dalam beberapa bulan kedepan, bagian itu akan membesar.Kemungkinan tubuhnya juga akan ikut melar.Tiffany menggeleng takut.Merasa berada dalam fase itu adalah hal yang sangat mengerikan.

“Argh, aku akan terlihat seperti monster…”erangnya frustasi.

“Kalau monsternya cantik tidak masalah…”

Tiffany menoleh ke asal suara.Tampak olehnya Si won mendekat dengan tas kantor ditangan kirinya dan jas dilengan kanannya.Lengan kemejanya sudah ia lipat sampai siku.Ditambah lagi dengan dasi longgar dan kancing kemeja bagian atas yang terbuka.Walau penampilannya berantakan tapi entah kenapa terlihat sangat tampan.`Aish Tiffany, apa yang kau pikirkan?!`

Tiffany diam saja ketika Si won memeluknya.Mencium kening dan bibirnya bergantian.Ia tidak menolak atau pun membalasnya.Dia tidak menolak karena merasa membutuhkannya.Ada perasaan bahagia yang tidak bisa ia ungkapkan ketika pria itu menyentuhnya.Membalasnya? Yang benar saja,  mereka sedang bertengkar, bukan?

“Masih marah, hm?…”Si won menggoda.Tiffany mengerucutkan bibirnya.Didorongnya dada bidang itu pelan dan kembali duduk disofa.

Si won yang melihat itu hanya tersenyum.Diletakkannya tas kantor beserta jasnya diatas meja sebelum ikut duduk bersama Tiffany.Ditariknya wanita itu agar bersandar pada dada bidangnya.

“Tidurlah, sudah larut.Tidak baik untukmu dan bayi kita…”

Jika sudah seperti ini, hanya butuh hitungan detik maka Tiffany akan terlelap dalam kehangatan yang disalurkan oleh pria itu.

***Sifany***

Tiffany menatap berbagai menu makanan yang ada dihadapannya.Tangannya mulai menyentuh makanan yang ada pada lembar-lembar majalah itu.Sangat ingin tapi dia tidak bisa memakannya.Bukannya tidak mampu membeli, bukan.Tapi untuk apa dia makan jika dia akan memuntahkannya.Dia tengah berada dalam siklus morning sickness.Dimana dia harus mengalami pusing dan mual-mual dipagi hari.Sungguh, dia sangat benci berada difase ini.

Tiffany melempar majalah itu lalu berbaring disofa.Dia bosan.

“Fany-ah, buburnya datang…”Si won berseru entah dari mana dan muncul dihadapan Tiffany.Ditangannya ada semangkuk bubur yang sepertinya lezat.

Tiffany duduk dari posisinya.Ditatapnya bubur itu dengan jijik.

“Oppa, kau yakin ini bubur? Ini seperti poop.Aku tidak mau…”

Tiffany mendorong mangkuk yang dipegang Si won dan kembali berbaring malas.Si won yang melihat tingkah istrinya yang akhir-akhir ini cukup menyebalkan itu hanya menghela nafas.Salahnya membuat wanita itu seperti ini jadi dia harus menanggung segala resikonya.

Si won duduk disofa yang sama dengan Tiffany.Dengan penuh kelembutan dan kesabaran pria itu meraih tangan istrinya untuk mendudukannya kembali.

“Tiffany, sampai kapan kau akan seperti ini, huh? Kau tidak sayang dengan bayi kita? Kau harus makan agar bayinya sehat…”

Tiffany menatap Si won kesal.

“Ck, jadi sekarang Oppa hanya peduli dengan bayi ini?….”

“Hey, apa maksudmu?….”

“Sudahlah, aku lelah.Ingin tidur…”ketus Tiffany.Dia langsung pergi menuju kamar meninggalkan Si won, buburnya serta majalah-majalah yang bertebaran dilantai.

`Oh Tuhan, beri hamba-Mu ini kesabaran lebih`batin Si won.

Dia berjongkok untuk membersihkan lantai yang dipenuh dengan majalah itu.

“Tuan? Biar saya saja yang membersihkannya…”seru Han Ahjumma.

“Gumawoyo, Ahjumma…”ucap Si won masih terus mengumpulkan majalah-majalah tersebut dibantu Han Ahjumma.

“Anda harus memiliki kesabaran lebih untuk menghadapi Nyonya, Tuan …”ucapnya yang disambut tawa kecil Si won.

“Wanita hamil memang lebih sensitive.Mereka membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih.Lagi pula, ini kehamilan pertama bagi Nyonya Choi, mungkin akan sedikit merepotkan…”

“Ne, Ahjumma.Aku mengerti…”Si won tersenyum dan bangkit begitu majalah-majalah itu sudah beres mereka rapikan.

“Tuan ingin sesuatu?…”

“Aku akan ke ruang kerjaku untuk memeriksa beberapa pekerjaan…”

“Baik Tuan, saya akan menyiapkan coffee…”

Si won mengangguk lalu berjalan menuju ruang kerjanya begitu pula Han Ahjumma yang langsung menuju dapur.

***Sifany***

Sudah sejak tadi siang Tiffany bermalas-malasan diranjangnya.Sekarang sudah malam bahkan dia tidak bisa tidur.Menjadi pengangguran memang membosankan.

“Aish, menyebalkan!”gerutu Tiffany.Ditariknya selimut tebalnya untuk menutup seluruh tubuhnya.Bukannya terlelap dia malah kesulitan untuk bernafas.

Tiffany melirik jam.Sekarang bahkan sudah lebih dari jam 10 malam.Kenapa dia belum merasa kantuk sama sekali? Wanita cantik itu bangkit dari ranjang.Dia melangkah keluar tanpa alas kaki menuju ruang kerja Si won.

“Ahjumma?…”

“Nyonya? Nyonya belum tidur? Kenapa keluar dengan pakaian seperti ini…”Wanita paruh baya itu bertanya cemas.Majikan wanitanya itu keluar hanya dengan lingerie tipis dan tanpa alas kaki.

“Dikamar sangat panas Ahjumma, aku tidak bisa tidur…”

“Jjinja? Ahjumma akan menyalakan AC-nya…”

Tiffany mengangguk meski sebenarnya ini bukan masalah AC.Hanya saja dia tidak bisa tidur.

“Apa itu, Ahjumma?…”Tiffany bertanya saat melihat sesuatu ditangan wanita itu.

“Ini coffee untuk Tuan Choi…”

“Coffee? Kalau begitu biar aku saja yang membawanya, Ahjumma….”Tiffany meraih cangkir berisi coffee itu.

“Hati-hati Nyonya,  itu panas…”

“Gwenchanayo,  Ahjumma…”ucap Tiffany yakin lalu segera menuju ruang kerja Si won.

Ceklek

Si won mendongak ketika mendengar suara pintu terbuka.Senyumnya terukir ketika kepala Tiffany muncul disana.

“Kemarilah…”

Tiffany menurut.Dia masuk dan segera duduk dipangkuan Si won.Sesuai instruksi namja itu.

“Woah, coffee untukku?…”Tiffany mengangguk.Si won meraihnya dan bersiap meminumnya.

“Kau yang membuatnya?….”

“Kau mau mati tersedak karena meminum coffee buatanku, Oppa? Kau tidak boleh mati, Oppa, kau harus menjagaku dan bayi ini…”Tiffany merengek manja.Si won yang baru selesai meneguk coffeenya tertawa pelan.Diletakkannya cangkir coffe itu lalu menarik Tiffany ke pelukannya.

“Kau tidak bisa tidur?…”

Tiffany mengangguk dengan kepala yang menempel didada Si won.Tangannya memainkan kancing kemeja dan jakun Si won bergantian.Si won sama sekali tidak merasa terganggu dengan tingkah istrinya ini.Moodnya memang gampang sekali berubah.Entahlah ini bawaan bayi yang ada dikandungannya.Yang jelas wanita itu sangat sensitive.Hal sekecil apapun akan menjadi besar.Jadi dia harus berhati-hati dalam segala hal.

Bosan dengan kancing dan jakun Si won, Tiffany beralih melirik tangan kiri Si won yang melingkar diperutnya­­­­-tangan kanan pria itu masih sibuk dengan mouse.Dia tersenyum.Dipegang punggung tangan itu lembut dengan mata terpejam.

“Oppa…”

“Hm?….”

“Oppa…”

“Ne, Fany-ah…”

“Oppa…”

Si won menggenggam erat mousenya.Matanya terpejam dan tampak menarik nafas beberapa kali agar ia merasa lebih tenang.Tak lama terdengar deru nafas yang teratur dari Tiffany.

“Astaga, kau benar-benar membuatku gila…”guman Si won.Dia tersenyum menatap wajah Tiffany yang sudah tertidur didadanya.Segera digendong wanita yang sudah terlelap itu menuju kamar mereka agar tidurnya lebih nyaman dan pulas.

***Sifany***

“Apa ini?…”

Tiffany bertanya saat matanya mendapati berbagai bingkisan dan tas memenuhi meja diruang tengah rumahnya.

“Kau tidak tahu? Ini semua perlengkapan bayi.Kau lihat, ada selimut, makanan, susu juga peralatan mandi.Semua ini adalah adalah produk terbaru dan limited edition.Simpan baik-baik, ne?….”

Tiffany menatap sebal Jessica yang baru saja menerangkan apa saja yang dibawanya.Dia sudah bilang tidak usah membawa apa-apa.Tapi wanita itu malah membawa hampir satu toko produk untuk bayi.

“Janin ini baru berusia 3 bulan Sica-ya, kau terlalu cepat menyiapkannya…”protes Tiffany.

“Memangnya kenapa, ini bentuk antusiasku menanti kelahiran bayimu.Aish, kau tidak pengertian sekali…”

Tiffany tersenyum dan mulai melihat-lihat barang-barang yang dibawa Jessica.Diraihnya sebuah handuk berwarna putih.Bahannya sangat lembut dan akan sangat cocok untuk kulit bayi.

“Kau yang membuat handuk ini…”

“Hm, bagus bukan? Sangat bagus untuk kulit bayi yang halus…”

Tiffany mengangguk dan beralih ke berbagai barang lainnya.Dia tidak perlu membeli perlengkapan mandi lagi kalau begitu.Semuanya sudah lengkap disini.

“Fany-ah, kau ingin anak namja atau yeoja?…”Tiffany tampak berpikir.Dia sama sekali belum pernah memikirkan hal ini sebelumnya.

“Ku pikir anak namja lebih baik.Dia akan tumbuh dengan tampan dan cerdas seperti Si won Oppa…”terangnya senang.

“Anak yeoja lebih menggemaskan, Fany-ah.Kita bisa bersama setiap waktu, pergi bersama, berbagi cerita.Bukankah itu menyenangkan?…”

Tiffany mengangguk setuju.Tapi sedetik kemudian dia menggeleng.

“Dan Si won Oppa akan menduakanku, begitu? No!”

“Anak yeoja saja, Fany-ah.Aku ingin mengecat kukunya.Aku juga ingin mengikat rambutnya.Pasti menyenangkan…”ungkap Jessica senang.Tiffany tampak diam.Kalau dipikir-pikir benar juga.Anak perempuan biasanya lebih manis dan penurut.Dia juga bisa mendandani anaknya setiap hari.Baju pink, ikat rambut pink, bando pink, kutek pink, boneka-boneka Barbie.Ah, cute!

“Tapi bagaimana kalau dia ternyata lebih cantik dariku.Si won Oppa tidak akan sayang padaku lagi, Jessie…”rengeknya seperti anak kecil.

“Aish! Yang aku khawatirkan anak itu mewarisi semua sifat burukmu!”

Ucapan Jessica saat itu seolah menjadi kutukan.Anak itu lahir dengan sehat dan sempurna dengan jenis kelamin perempuan.Jika semula Tiffany menganggap anak perempuan itu manis dan penurut, enam tahun kemudian dia menyesal memiliki pemikiran seperti itu.Lebih menyesal lagi kenapa dia harus melahirkan anak menyebalkan itu.Mengganggu setiap waktu dan selalu membuat masalah.

Seperti hari ini.Dalam sebulan terakhir Tiffany sudah 2 kali dipanggil pihak sekolah.Kenapa? Tentu saja karena putrinya itu membuat ulah.Semua pekerjaannya banyak terganggu hanya karena ulah bocah itu.

Tiffany menatap anak yang duduk didepannya dengan nafas yang naik turun.Wanita cantik itu terlihat mengontrol emosinya.Bagaimana tidak.Putrinya itu pulang dari sekolah dengan keadaan kacau.Seragam sekolahnya yang tadi pagi baik-baik saja sudah kotor dan robek.Rambut yang semula dikepang rapi olehnya kini berantakan dan kusut.Belum lagi bekas gigitan dan cakaran yang meninggalkan tanda kemerahan dilengan putri kecilnya.Dan yang lebih parah lagi, anak itu kini asyik dengan tablet PC-nya.Tidak peduli betapa frustasinya orang yang ada didahapannya sekarang.

Sret!

“Mom!”

Lauren, anak itu protes.Tak terima karena sang Mommy merebut paksa gadget itu dari tangannya.Namun begitu melihat mata sang Mommy, anak itu memilih diam dan bersandar di sofanya.

“Kali ini apa lagi?….”

Setelah cukup lama terdiam, Tiffany akhirnya bersuara.Lauren yang tahu kalau nada itu cukup berbahaya pun menunduk.Merasa bersalah? Entahlah, mungkin dia hanya tidak mau menatap wanita cantik itu sekarang.

“Bulan lalu kau bertengkar dengan Aleyna karena kau tidak suka melihatnya bermain bersama Min ho.Minggu sebelumnya kau bertengkar dengan Bella karena dia tidak sengaja mematahkan pensilmu.Dan hari ini kejadian itu terulang lagi.Kalian saling jambak, saling gigit dan saling cakar.Oemma tidak mengerti kenapa kau begitu nakal setelah masuk sekolah dasar…”

“Astaga Lauren, apa sekolah mengajarkanmu untuk menjadi anggota gangster? Atau Mom dan Dad pernah mengajarkannya padamu?…”

Lauren memainkan rok seragamnya yang kotor oleh tanah.Terlihat tidak peduli.

“Lauren Choi, kau mendengarkanku?….”

“Sure!”

“Lalu kenapa kau tidak menjawab?!”

“Bukankah Mom sudah tahu dari Tae yeon Songsaengnim kalau aku bertengkar dengan Keira?…”

“Lalu menurutmu kau menjambak rambut dan mencubit anak itu tanpa sebab?….”

Lauren mendongak untuk menatap wajah cantik itu.Raut wajahnya yang semula biasa-biasa saja pun berubah.Mata beningnya terlihat basah oleh air mata yang siap keluar.

“Kenapa Mom tidak  pernah membelaku…”lirihnya.

“Karena kau salah dan tidak pantas dibela…”

Ceklek

Dan tepat saat pintu terbuka tangisnya pecah.Si won segera masuk mendekati keduanya dan menggendong Lauren yang tengah  menangis hebat.Diusapnya punggung putrinya dengan sayang untuk menenangkannya.

“Uljima, Mommy tidak memarahimu, hm?….”

Si won melirik Tiffany, istrinya itu tampak terduduk lemas disofa sambil memijat pelipisnya.

“Aku akan membawanya ke kamar…”

Tiffany mengangguk saja.Dia sudah cukup pusing dengan pekerjaannya akhir-akhir ini.Ditambah lagi dengan ulah bocah itu.

***Sifany***

Si won mendudukkan Lauren diranjang.Dia bertumpu dengan lututnya pada lantai seraya menatap penampilan putrinya sekarang.Si won tersenyum, dirapikannya rambut yang berantakan itu dengan tangannya.Tangis Lauren memang sudah reda ketika dia membawanya kesini.

“Lihat Daddy…”

Lauren mendongak dengan kondisi yang masih sesenggukan.Senyum sang Daddy  seolah mampu menenangkannya.

“Kau bertengkar lagi?…”Lauren mengangguk kecil.Si won tersenyum dan mulai melepas sepatu dan kaos kaki putrinya.

“Aku bertengkar dengan Keira…”

“Apa dia merusak barang-barangmu?….”Lauren menggeleng.

“Dia mengejekku…”

“Hm? Dia bilang putri Daddy tidak cantik?…”Lauren menggeleng lagi.

“Lalu?…”

“Dia membawa foto adik bayinya yang lahir kemarin…”Si won menyerngit tanda ia tak mengerti.

“Dia bilang   pada semua teman dikelas kalau dia punya adik baru.Bella dan Jin ri juga punya.Hanya aku yang tidak…”Si won tersenyum.Astaga, dia tidak menyangka kalau anaknya akan bertengkar hebat hanya karena masalah ini.

“Dia mengejekku karena aku tidak punya adik.Dia menunjukkan foto adik bayinya yang sangat tidak cute itu, ku robek saja…”tambahnya kesal.

“Kau merobeknya?…”tanya Si won tak percaya.

“Eoh, dia marah dan bilang kalau Mommy dan Daddy tidak sayang padaku.Padahal aku sudah bilang kalau aku juga akan punya adik.Dia tetap tidak percaya, ku tarik saja rambutnya kuat…”

Si won mengangguk mengerti.Dia bisa melihat hasil dari aksi putrinya itu.Sangat mengecewakan memang.Tapi dia mengerti, mereka masih anak-anak.

“Dad…”Si won menatap mata putrinya lembut.

“Ne, Daddy disini…”

“Aku ingin punya adik bayi juga.Semua teman-temanku punya, hanya aku yang tidak…”

Si won tampak gelagapan.Bagaimana dia harus menjawab permintaan itu.Sebenarnya mudah saja untuknya.Tapi hanya saja dia tahu kalau Tiffany tidak mau repot-repot hamil, melahirkan serta mengurus bayi karena dia sudah kembali disibukkan dengan pekerjaannya sejak Lauren berumur dua tahun.Mendapatkan Lauren saja butuh waktu dan kesabaran ekstra.

“Kita beli dirumah sakit saja Dad, disanakan banyak adik bayi….”

“Mwo? Kita tidak bisa membeli adik bayi, sayang.Lagi pula adik bayi dirumah sakit itu sudah ada yang memilikinya…”Si won menjelaskan.

“Lalu kita harus beli dimana.Apa di supermarket ada? Atau dibutik Mommy dan Sica Auntie?…”

Si won tersenyum mendengar ucapan polosnya.Diusapnya  kepala sang anak dengan sayang.

“Sekarang ganti bajumu untuk mandi.Daddy akan panggilkan Han Ahjumma…”

“Tapi adik bayinya?….”

“Nanti kita bicarakan lagi.Sekarang kau mandi dulu…”Lauren mengangguk semangat dan turun dari ranjang.Si won yang melihatnya pun menggeleng pelan.

“Dasar anak-anak….”

***Sifany***

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu KST.Namun Tiffany masih belum merasakan kantuk karena masih sibuk dengan pensil dan kertasnya.Ada desain yang harus dia selesaikan untuk produk musim mendatang.

Clep

Tangan Tiffany yang sibuk menggores pensilnya terhenti.Dia mendongak.Semuanya tampak gelap.Mati lampu?

Clep

Ruangan kembali terang.Dan saat itu juga Tiffany menghembuskan nafas kesal.

“Jika tidak bocah itu kau yang menggangguku, Oppa…”

Si won yang bersandar pada dinding pun tersenyum.Kakinya melangkah mendekati ranjang dimana Tiffany sibuk dengan kertasnya.Dia ikut duduk.Memeluk Tiffany dari belakang dan menyandarkan dagunya pada bahu wanita itu.

“Kau sedang mengerjakan desainmu?….”

“Hm.Oh ya, Oppa.Bagaimana dengan proyek baru kalian?…”

“Semua berjalan lancar.Apa yang tidak bisa dilakukan Choi Si won…”bangganya.

“Aish!”

Tiffany menyikut pelan perut suaminya itu.Sementara yang disikut hanya mengaduh pura-pura kesakitan.

“Putrimu sudah tidur?…”

“Hm, baru saja…”Tiffany mengangguk seraya menghela nafas.

“Syukurlah.Kau tahu Oppa, sikapnya sangat menyebalkan akhir-akhir ini.Aku tidak tahu apa yang membuatnya menjadi sangat sensitive.Bahkan hal kecil saja dia sampai harus saling jambak dan cakar…”

“Tidak mengherankan memang, mengingat dia mewarisi sifatmu…”Tiffany terdiam sejenak lalu tersenyum kecil.

“Yeah, dia mewarisi semua sifat burukku.Ck, sayang sekali…”

“Gwenchana, aku menyukainya….”Si won mengeratkan pelukannya.Tiffany hanya tersenyum dan tetap pada pekerjaannya.

“Ngomong-ngomong, apa alasannya bertengkar hari ini…”Tiffany menatap Si won.Pria itu tersenyum dan berbisik ditelinganya.

“Dia menginginkan adik bayi…”

“MWO?!”

***Sifany***

“Ne, arasso.Gumawo, Sica-ya.Mian aku banyak merepotkanmu…”

“Gwenchana, inikan untuk kemajuan butik dan karir kita juga…”

Lauren hanya diam memperhatikan Tiffany yang sibuk menelfon sambil memasang seragam sekolahnya.

“Ne.Kita harus mendapatkan bahan sesegera mungkin.Baiklah…”Tiffany menjauhkan ponsel dari kupingnya.

“Baby, ambil kaos kakimu…”

Lauren mengangguk dan mulai mengambil kaos kaki dari lemari tempat Han Ahjumma biasa menyimpan kaos kakinya.Sementara Tiffany kembali sibuk dengan lawan bicaranya.

“Jjeongmalyo?….”

“Oemma ini….”Tiffany meraih kaos kaki itu dan memakaikannya dikaki Lauren.

“Ne, kau atur saja pertemuannya.Nanti biar aku yang bicara dengan pihak mereka.Ne…”

Beep!

Tiffany mematikan telfonnya.Bersamaan dengan itu ia selesai memasangkan kaos kaki Luaren.

“Selesai.Kajja, kau harus sarapan…”ajak Tiffany.Namun Lauren masih diam ditempatnya.Mau tak mau Tiffany kembali duduk diranjang Lauren agar wajahnya sejajar dengan anak itu.

“Lauren…”

“Mianhe, Mom.Aku anak yang nakal dan selalu membuat Mommy marah.Mianhe…”Tiffany tersenyum seraya tangannya merapikan seragam Lauren.Wajah sedih anak itu membuatnya luluh.

“Mommy memaafkanmu…”

“Jjinja?…”tanya Lauren senang.Tiffany mengangguk dan langsung mendapatkan pelukan dari Lauren.

“Aku sayang Mommy…”

“Mommy juga sayang Lauren…”Anak itu kembali tersenyum bahagia dan melepas pelukannya.

“Jjinja, berarti Mommy akan memberiku adik bayi….”Tiffany tersentak.

“Ne?…”

“Appa bilang adik bayi tidak bisa dibeli.Hanya Mommy yang bisa memberikannya.Apa itu benar, Mom?…”Wanita itu tampak gelagapan.

“Ne? Ah, ne….”jawab Tiffany ragu.

“Yeay, aku akan punya adik bayi….”

Lauren bersorak senang.Tiffany yang melihatnya hanya tersenyum kecil.Dia sudah mendengar dari Si won tentang alasan kenapa anak itu bertengkar.Dan mengenai permintaannya ini Tiffany tidak tahu harus bagaimana.Dia bukannya tidak mau.Siapa yang akan menolak jika dikaruniai lagi seorang bayi mungil dan lucu yang akan menambah kebahagiaan keluarga mereka.Tapi mengingat pekerjaannya sekarang sepertinya mustahil.

“Mom…”

“Kajja, kau harus sarapan…”

***Sifany***

“Kau mau tambah lagi, sayang?…”

“Aniyo, Auntie.Aku sudah kenyang…”

“Lauren, Tae yeon songsaengnim itu guru kita.Harusnya kau memanggilnya songsaengnim bukan Auntie.Inikan disekolah…”ucap Keira.Hari ini Tae yeon memang menemani anak-anak makan siang bersama dikelas.

“Memangnya kenapa? Tae yeon songsaengnimkan Auntieku.Dia teman baik Mommyku.Bilang saja kau iri karena Auntie lebih sayang padaku…”balas Lauren sinis.Tae yeon yang ada diantara dua anak itu mengerti kalau dia harus mengambil tindakan agar kejadian kemarin-kemarin tidak terulang lagi hari ini.

“Anak-anak, jam makan siang hampir habis.Kalau sudah selesai cuci tangan kalian setelah itu kembali lagi ke kelas.Aratchi?…”

“Ne…”Anak-anak menjawab kompak minus Lauren.Matanya terpaku pada tas Keira yang sudah ditinggal pemiliknya dikursi.Ada foto yang sama dengan foto yang ia sobek beberapa waktu lalu disana.Seorang bayi yang tersenyum ke arah camera.

Tae yeon yang baru selesai merapikan kotak makan Lauren mengikuti arah pandang anak itu.Sepertinya dia mengerti.

“Auntie…”

“Ne?…”

“Sepulang sekolah aku boleh main ke rumah Auntie?…”Tae yeon mengangguk diiringi senyum lembutnya.

“Tentu.Adik Joon soo pasti merindukanmu.Kajja, Auntie bantu untuk cuci tangan…”Lauren mengangguk dengan senyum cerah dan turun dari kursinya.

“Lauren…”

“Min ho Oppa…”Lauren tersenyum senang saat anak berusia setahun lebih tua darinya itu  menghampiri kelasnya.

“Sedang apa Oppa disini?…”

“Hanya ingin melihatmu.Kau sudah makan siang?…”

“Ne, Tae yeon Auntie menemani kami makan siang hari ini…”

“Omo, Min ho-ya…”Tae yeon berseru senang melihat anak tampan itu muncul.

“Annyeong haseyo, songsaengnim….”sapanya sopan.

“Hm, kau sudah makan siang?…”

“Ne…”

“Oppa, nanti aku akan kerumah Tae yeon Auntie untuk bermain dengan adik Joon soo.Oppa mau ikut?…”

“Jjinja? Boleh, Oppa mau…”

“Bolehkah, Auntie?…”tanya Lauren meminta persetujuan Tae yeon.

“Tentu saja boleh…”jawabnya senang.

“Yeay, asyik…”Luaren bersorak senang.

“Kajja, kita cuci tangan.Sebentar lagi bel…”ajak Tae yeon.

“Aku saja yang menemani adik Lauren, songsaengnim…”ucap Min ho.Tae yeon tersenyum mengizinkan.Kedua anak itu pun pergi meningalkan kelas dan Tae yeon yang tampak tersenyum manis.

***Sifany***

Lauren tertawa menyaksikan video yang direkam Tae yeon saat dia dan Min ho bermain bersama Joon soo.Dia terlihat sangat senang melihat bayi berusia satu tahun setengah itu.

“Laulen noona!”Lauren menoleh saat mendengar suara itu.Tak lama tampak olehnya seorang anak berusia 4 tahun tengah berlari masuk ke kamarnya.

“Aiden? Omo, kau disini?….”Anak lelaki tampan itu tersenyum manis.Lauren langsung membawanya naik keatas ranjang untuk menonton bersama.

“Noona sedang apa?…”Tanyanya setelah mereka duduk.

“Melihat adik Joon soo.Kemaren noona main dengannya dan Min ho Oppa…”

“Jjinja?….”Lauren mengangguk.Aiden tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi.

“Aigo, kyeopta…”Lauren mencubit pipi chubbynya gemas.Anak itu cemberut.

“Noona menyebalkan.Noona celalu mencubit pipiku…”sebalnya.Lauren hanya tertawa dan kembali mencubit pipi chubby itu gemas.Dan berakhir dengan keduanya yang berguling-guling diranjang sambil menyerang satu sama lain.Jessica yang melihat itu dari pintu tersenyum sebelum memutuskan untuk turun meninggalkan keduanya.

“Dimana mereka?…”Tiffany bertanya saat Jessica muncul didapur.

“Dikamar, menonton video yang direkam Tae yeon kemarin…”

Tiffany hanya ber-oh ria lalu menghidangakan cake yang dibawa Jessica dan telah selesai ia potong dimeja makan.

“Tiff…”

“Hm?…”

“Apa kau tidak kasihan dengan Lauren? Dia sangat menginginkan adik, Fany-ah.Kau lihatkan akhir-akhir ini dia selalu main ke rumah Tae yeon? Dia juga selalu menyuruhku untuk membawa Aiden jika akan berkunjung…”

“Bukankah itu sudah cukup? Dia sudah punya 2 adik.Aiden dan Joon soo…”

Jessica menghela nafas.

“Itu berbeda, Fany-ah…”

“Tidak ada bedanya, Sica-ya.Dia menyayangi keduanya dengan baik…”

Jessica meraih cakenya.Percuma saja bicara dengan wanita keras kepala itu.Mungkin hanya nenek Si won yang bisa merubahnya.Tapi hubungan mereka sudah sangat baik, bukan? Jadi sepertinya keinginan Lauren yang satu ini cukup sulit sebab tidak akan ada yang menuntut wanita itu untuk hamil lagi.

Sesaat Jessica terdiam.Sepertinya dia punya ide.

“Kau sudah potong cake untuk Lauren dan Aiden?…”Tanya Jessica.Tiffany mengagguk.Tampak olehnya wanita blonde itu bangkit.Meraih sebuah nampan lalu mengambil dua piring cake yang sudah ia potong tadi berserta dua gelas susu.

“Aku akan ke atas sebentar.Sebaiknya kau tidak menganggu, aratchi?…”pesan Jessica memperlihatkan senyum manisnya sebelum pergi meninggalkan ruang makan itu.Tiffany menggerutu.

“Memangnya apa yang akan dia lakukan…”

***Sifany***

 “Mom…”

“Mommy…”

Tiffany tetap pada kegiatannya.Tak peduli sudah berapa kali gadis kecil itu memanggilnya.

“Mom!”

Lauren meletakkan dagunya diatas meja dengan kaki berjinjit.Diperhatikannya orang yang dari tadi dipanggilnya itu terus sibuk dengan coretannya.Oke, itu bukan coretan sebab profesinya adalah seorang desainer.

“Mom…”

“Jangan mengganggu Mommy, sayang.Mommy sangat sibuk sekarang, kau tahu?….”ucap Tiffany.Dia susah berkonsentrasi jika bocah itu terus mengganggunya.

Anak itu tidak menyerah.Dia tidak suka diacuhkan seperti ini.Siapa suruh gen wanita itu lebih dominan dalam dirinya.Tanpa rasa takut anak itu mengangkat sebelah tangan mungilnya.Dengan gerakan cepat ditariknya kertas HVS yang sedang digunakan Tiffany untuk menggambar pola desainnya.Tentu coretan panjang yang tak diinginkan muncul disana.

“Oh God!”

Tiffany memejamkan matanya menahan kesal.Tanpa dosa anak itu membuang kertas itu di belakangnya dan kembali menatap Tiffany.

Tiffany melipat tangannya dimeja.Ditatapnya sang putri yang masih betah berdiri didepan mejanya.

“Kau tahu ini sudah jam berapa, sweetheart?…”Anak itu mengangguk dengan dagu yang tetap tertumpu pada meja.

“Jam 9 lewat 23 menit, Mom…”

“Lalu, kenapa kau masih disini.Bukankah kau harus cuci muka, gosok gigi, berdoa lalu tidur?….”

Anak itu mengangguk lagi.Tanda ia tahu apa kebiasaan yang selalu diajarkan orang tuanya sebelum tidur.

“Aku ingin tidur dengan Mommy….”

“Honey, kau sudah besar.Kau punya kamar sendiri dan  kau bisa tidur sendiri….”Lauren mengerucutkan bibirnya.Membuatnya tampak cute dan menggemaskan.

“Aku baru 6 tahun, Mom dan aku masih kecil….”ucap Lauren tak terima.Tiffany menghela nafas.Lelah untuk berbicara dengan bocah itu.

“Tidak bisa, bukankah biasanya kau juga tidur sendiri?…”

“Aku takut…”

“Tidak ada monster yang akan memakanmu baby, percayalah….”

Lauren terdiam.Sebenarnya dia sudah terbiasa untuk tidur sendiri sejak dia masuk playgroup tapi untuk malam ini dia ingin berada didekat Tiffany untuk mengatakan keinginannya tentang adik bayi.Mengingat intensitas pertemuan mereka yang semakin berkurang karena Tiffany selalu sibuk diluar.

“Kalian masih disini?…”

Dua perempuan itu menoleh kearah suara.Si won masuk mendekati keduanya lalu menggendong Lauren.

“Kau belum tidur, sayang?…”Anak itu menggeleng dengan wajah muram.

“Wae, ini sudah malam.Besok kau harus ke sekolah, bukan?….”

“Aku sudah ingin tidur sejak tadi tapi Mommy masih sibuk dengan coretannya…”Tiffany melotot.Anak itu bilang apa? Coretan?

Si won terkekeh pelan dibuatnya.

“Aku ingin tidur bersama Mom dan Dad, tapi Mommy tidak mengizinkanku untuk tidur bersama karena aku sudah besar.Dad, katakan pada Mommy kalau aku masih kecil…”Lauren merengek.Si won tersenyum seraya mengusap rambut putrinya.

“Mommy-mu benar, sayang.Kau sudah besar dan harus membiasakan tidur sendiri.Lagi pula, tidak baik jika anak kecil terus tidur bersama dua orang dewasa.Itu sangat menganggu….”

Si won mengedipkan sebelah matanya kearah Tiffany.Wanita itu menggigit bibir bawahnya disertai mata yang melotot.Tanda ia tidak suka dengan ucapan suaminya barusan.

“Mom….”

“Baiklah.Hanya untuk malam ini…”putus Tiffany.Lauren bersorak senang digendongan Si won sementara pria itu hanya tersenyum kecil.

***Sifany***

Lauren sudah mengenakan piyama yang sama dengan kedua orang tuanya.Dia berbaring diantara pasangan itu sambil bercerita tentang dirinya yang hari ini bermain dan menonton video Joon soo bersama Aiden dan Jessica.

“Adik Joon soo sudah besar.Dia sudah bisa berjalan, Dad…”

“Jinjayo? Woah itu bagus…”seru Si won yang sesekali melirik Tiffany yang tampak gelisah karena tahu kalau percakapan ini akan mengarah kemana.

“Adik Joon sooo juga sudah bisa bicara.Dia memanggilku noona, Mom…”Tiffany tersenyum kecil.

“Jjinja? Itu juga bagus…”sahutnya malas.

“Mom, kita kapan akan memiliki adik bayi?….”Tiffany melemas.Akhirnya anak itu  bertanya juga.

“Lauren, kita butuh waktu untuk itu semua, sayang…”Si won mencoba menjelaskan.Lauren terdiam dan menunduk kecewa.Namun tak lama kemudian dia melompat turun dari ranjang.

“Omo, aku lupa…”Tiffany yang terbaring seketika duduk, begitu pula dengan Si won.

“Ada apa?…”Tanya keduanya.

“Kata Sica Auntie kalau aku ingin adik bayi aku harus membiarkan Mom dan Dad berdua.Benar begitu, Dad?…”Si won tampak menahan tawanya.

”Tentu…”jawabnya pasti yang langsung dipelototi Tiffany.

“Kalau begitu aku tidur dikamarku saja.Good night, Mom.Dad fighting!”

Anak itu mengepalkan tangannya lalu berlari keluar.Tiffany terdiam cukup lama.Apa-apaan itu?

“SICAA!”

“Omo!”Jessica tiba-tiba berseru seraya menutup telinganya.

“Wae?…”Dong hae yang ada disebelahnya menoleh khawatir.

“Molla.Tiba-tiba telingaku berdengung, aneh sekali…”jawab Jessica seraya mengusap kedua telinganya.

“Jjinja, apa perlu kita periksa ke dokter?..’

“Uhm? Anniyo Oppa.Aku baik-baik saja…”Dong hae mengangguk.Segera ia matikan TV dan menaikkan selimut mereka.

“Sebaiknya kita tidur.Sudah malam….”

***Sifany***

Tiffany baru pulang dari butik.Dia memilih menuju kamar untuk mandi dan istirahat mengingat sudah malam dan waktunya untuk tidur.Niatnya menuju kamar terhenti ketika melihat pintu kamar Lauren yang sedikit terbuka.

“Dia belum tidur?…”

Tiffany mendekati pintu tersebut dan memasukkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi didalam sana.

“Mwo? Mommy-ku galak?…”Tiffany melebarkan matanya.Dengan siapa anaknya bicara?

“Hm, kau benar.Mommy memang galak tapi dia sangat cantik.Walau dia jarang bersamaku tapi aku tahu kalau Mommy menyayangiku…”

Hati Tiffany terenyuh.Benarkah selama ini dia jarang menghabiskan waktu bersama sang putri? Tiffany menggigit bibirnya, benar.Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan.

“Pororo-ya, kau tahu, kemarin aku bertengkar dengan Keira.Dia mengejekku karena aku tidak punya adik bayi.Tidakkah dia itu menyebalkan? Kata Daddy, aku juga akan punya adik bayi dan pastinya 1000 kali lebih cute dari adik siapapun didunia ini…”

Tampak anak itu menghela nafas dengan ekpresi sedih.

“Tapi sepertinya tidak mungkin.Daddy bilang semuanya tergantung pada Mommy.Aku pasti tidak boleh minta apa-apa karena Mommy bilang aku sangat nakal…”

“Pororo-ya, sudah malam.Kajja kita tidur…”Lauren menarik selimutnya usai meletakkan pororo disebelahnya.Setelahnya dia tertidur dengan memeluk bonek kecil itu.

Tiffany tersenyum.Ditutupnya pintu kamar Lauren dengan pelan agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu tidur sang putri.Ketika berbalik dia sedikit terkejut saat menyadari ada Si won dibelakangnya.

“Oppa?…”

***Sifany***

Tiffany menerima segelas anggur yang disodorkan Si won.Mereka duduk bersama dengan sebotol anggur diatas meja.Diteguknya minuman itu seraya memperhatikan kamar mereka.Cukup romantis karena ruangan ini hanya diterangi oleh lampu diatas nakas sebelah ranjang dan sebuah lilin yang terdapat dimeja.Apalagi Si won juga memutar instrument musik disudut ruangan.

“Ada perayaan apa hari ini?…”Tiffany bertanya usai meneguk winenya.

Si won hanya tersenyum tanpa  menjawab.Pria itu bangkit dari duduknya dan meraih sesuatu dari saku celananya.

Tiffany bisa merasakan kalau Si won tengah mengalungkan sesuatu dilehernya.Tak lama dia bisa melihat sebuah kalung nan indah bertengger di leher jenjangnya dari pantulan cermin meja rias.

“Ini…”

“Hadiah untukmu.Saengil chukkae…”Si won mengecup pipi Tiffany sekilas lalu kembali pada kursinya.

Tiffany masih memegang kalungnya.Dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.Sangat berterima kasih atas semua yang telah diberikan pria itu untuk dirinya.Terutama cintanya yang begitu besar.

“Gomawoyo, Oppa.Kau telah bersedia mendampingiku selama ini dengan semua kekuranganku.Kau pasti merasa lelah dengan sikap keras kepalaku, belum lagi ulah putriku …”

Si won tertawa.

“Kau juga memiliki banyak kelebihan, sayang.Dan ingat, dia bukan hanya putrimu tapi juga putriku…”Tiffany menatapnya dengan penuh rasa terima kasih.

Si won tersenyum lalu mengangkat gelasnya.Mengajak Tiffany untuk bersulang dan disambut baik oleh wanita itu.

Tring

Suara gelas yang beradu terdengar begitu jelas.Keduanya menikmati minuman itu dengan senyum manis dan saling menatap satu sama lain.

“Oh ya, kau tidak ingin memberiku sesuatu?…”Tiffany menautkan alisnya.Sesaat kemudian dia tersenyum dan meletakkan gelasnya.

“Hm, aku juga akan memberi Oppa hadiah…”

“Jjeongmal?…”Tanya Si won antusias.Sebenarnya tadi dia hanya bercanda.

“Mwoga?…”tanyanya penasaran.

“Na…”

“Hm?…”Si won melebarkan bola matanya.

“Maksudnya?…”

“Setelah ku pikir-pikir, tidak ada salahnya jika kita memberikan Lauren adik…”ucap Tiffany pelan.Si won sebenarnya tidak tahu apa yang membuat Tiffany memenuhi keinginan putri mereka itu.Tapi walau bagaimana pun dia senang.

“Hm, dia pasti kesepian karena selalu sendiri dirumah.Dia juga sudah besar untuk memiliki seorang adik, hmpt…”Tiffany menyerngit saat melihat Si won tengah berusaha menahan tawanya.

“Wae?…”Tanya Tiffany.

“Ani, aku hanya berpikir kalau istriku sangat mahal…”

“Mwo?…”

“Untuk mendapatkan putrinya aku harus menunggu 2 tahun.Dan untuk mendapatkan satu lagi anak darinya setelah aku memberikannya kalung limited edition dari  Tiffany & Co.?…”

Tiffany mengangguk diiringi senyum manisnya.

“Siapa suruh Choi Si won itu bodoh…”cibir Tiffany dan kembali meneguk minumannya.

“Hm, kau benar.Aku bodoh karenamu dan mati tanpamu…”Tiffany mendengus jijik dengan gombalan menyebalkan itu.

“Aku serius Nyonya Choi…”ucap Si won.Tahu kalau wanita itu menertawakannya.Apa yang dia ucapkan barusan bukan sekedar gombalan tapi kenyataan.

“Hm, aku tahu betapa Choi Si won sangat membutuhkanku…”bangga Tiffany menyibak rambutnya dan menyampirkannya ke bahu kanannya dengan gaya seduktif.Si won tertawa singkat.Tahu kalau wanita itu tengah menggodanya dengan mengekpos leher jenjang nan putih itu.

“Ngomong-ngomong soal hadiahmu, bisa kita mulai sekarang…”Wanita itu menatapnya dengan senyum manis disertai pancaran matanya yang indah dan penuh cinta.

“Sure!”

***Sifany***

Tiffany ikut menata makanan yang sudah disiapkan Han Ahjumma dimeja makan.Dimana disana sudah ada Si won mendengarkan Lauren yang sibuk bercerita tentang nilai sekolahnya kemarin.

“Bagaimana Dad, aku pintarkan?..”tanya Lauren memperlihatkan nilainya.

“Tentu saja, anak Daddy…”

“Yeay!”Lauren meloncat-loncat senang dikursinya sampai sepasang tangan menghentikannya dan mendudukkannya dengan baik.

“Duduklah jika kau tidak ingin jatuh…”ucap Tiffany kemudian menyiapkan piring.Lauren mengerucutkan bibirnya, padahal dia juga ingin wanita itu ikut memuji nilainya.

“Ada apa dengan bibirmu, dicium pororo? Hahaha…”

Tiffany tertawa menggoda.Lauren mendengus sebal melihat Daddynya ikut tertawa dengan lelucon menyebalkan itu.

Lauren menatap Tiffany yang tengah menuangkan air minum ke dalam gelas.Bermaksud menanyakan tentang adik bayinya.Namun sesuatu menarik perhatiannya.Dia berdiri dikursinya dengan ekpresi kaget dan cemas.

“Mom, ada apa dengan lehermu?…”

“Hm?….”tanya Tiffany tak mengerti.Lauren menurunkan leher baju Tiffany hingga bahu dan sedikit belahan dadanya terlihat.

“Mom, ada banyak tanda merah disini?….”pekik Lauren kaget.Tiffany yang menyadari apa sebenarnya yang dibicarakan anak itu dengan cepat merapikan letak baju dan rambutnya.Menutupi tanda-tanda itu seraya menatap sebal kearah Si won yang hanya tersenyum ditempatnya.

“Mom…“

“Ini hanya bekas gigitan nyamuk, baby.Jangan terlalu khawatir…”ucap Tiffany.

“Dad…”Lauren menoleh kearah Daddy-nya.Terlihat sekali kalau dia benar-benar mencemaskan Tiffany.

“Mommy-mu hanya digigit nyamuk, baby.Nyamuk yang sangat besar….”Si won mengedipkan sebelah matanya kearah Tiffany yang dibalas pelototan oleh wanita itu.

“Jjinja?…”Tanya Lauren.Dengan cepat dia turun dari kursinya dan berlari meninggalkan meja makan.

“Lauren, sarapanmu!”

***Sifany***

“Halmoni…”Lauren berseru senang saat Oemma dan nenek Si won masuk ke rumahnya.

“Aigo, Hana-ya.Halmoni besar merindukanmu…”Nenek Si won memeluk cicitnya sayang.Lauren mengerucutkan bibirnya.

“Wae?…”Tanya nenek Si won cemas.

“Aku tidak suka dipanggil dengan nama itu.Aku ingin dipanggil seperti Mom dan Dad menganggilku saja…”

“Jadi kau marah?…”Tanya nenek Si won.Anak yang tadinya cemberut itu tiba-tiba tersenyum.

“Tidak jika itu Halmoni…”jawabnya tertawa.Nenek Si won ikut tertawa dan menggelitiki pinggangnya gemas.

“Oemma, Halmoni? Kenapa tidak kabari kami dulu jika ingin berkunjung?…”Tanya Tiffany mendekati Ibu mertuanya.

“Tadi Lauren menelfon.Katanya Oemma harus membeli obat nyamuk karena dikamar kalian banyak nyamuk.Bukan begitu, sayang?…”Lauren mengangguk.

“Ne, Halmoni.Kata Daddy nyamuknya sangat besar dan menggigit leher Mommy…”Oemma dan nenek Si won menyerngit.Dileher?

“Hahaha…”

Oemma Si won tak kuasa menahan tawanya saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi begitu pula sang mertua.Apalagi setelah melihat ekpresi wajah Tiffany yang memerah malu.Aigo, cucunya memang benar-benar.

“Halmoni, kita harus semprot obatnya.Dia tidak boleh menggigit Mommy lagi…”

“Tentu.Nanti kita semprot obatnya…”ucap nenek Si won menyanggupi.Dibawanya Lauren menuju ruang tengah sementara Tiffany dan Oemma Si won menuju arah lain.

“Halmoni besar, kita akan bermain apa hari ini?….”

Nenek Si won terdiam.Tak lama kemudian dia bersandar lemas disofa dan memegang kepalanya.

“Aigo, kepalaku sakit sekali…”erang pelan.Lauren yang mengerti pun dengan cepat turun dari sofa.

“Sebentar, Nyonya.Aku akan segera memeriksa kondisi Anda…”Lauren pergi dan tak lama muncul dengan peralatan dokter mainan ditangannya.Oemma Si won dan Tiffany yang melihat itu dari arah dapur tertawa.

“Aigo, mereka bermain sangat puas…”Komentar Oemma Si won senang.Sementara Tiffany hanya tersenyum sambil terus memotong wortelnya.

“Kami para orang tua akan lebih berumur panjang saat bermain dengan cucu, Fany-ah…”Tiffany tersenyum senang.Bahagia karena keluarga Choi menyayangi putrinya dengan sangat baik.

“Ngomong-ngomong….”Nyonya Choi meninggalkan kuah kaldunya.

“Bagaimana menurutmu dengan bayi laki-laki….”

“Ne?…”Tiffany menatap ibu mertuanya.

“Oh, mianhe jika kau merasa tersinggung.Oemma tidak bermaksud apapun.Hanya saja, akan lebih ramai jika anggota keluarga kita bertambah…”Tiffany tersenyum kecil.Jadi semua orang benar-benar menginginkan bayi lagi darinya?

“Gwenchanayo, Oemma.Aku dan Si won Oppa sudah memikirkannya…”

“Jjeongmalyo? Aigo, aku sangat senang.Gumawo Fany-ah, gumawo….”

Tiffany tersenyum melihat rona bahagia diwajah wanita paruh baya itu.Terlebih lagi melihat Lauren yang masih asyik bermain bersama nenek Si won.

***Sifany***

Lauren duduk diatas ranjang tepat disebelah Tiffany yang tertidur.Matanya fokus pada perut sang Mommy yang sudah membesar.Sesekali keningnya berkerut, masih bertanya-tanya kenapa adik bayinya harus ada didalam sana.

“Dad…”Lauren memanggil pelan Si won yang baru keluar dari kamar mandi.Dia sengaja memelankan suaranya agar tidak mengganggu tidur Tiffany.

“Ne, Lauren.Kau belum tidur?…”Lauren menggeleng memperhatikan Si won yang mulai berbaring.Dia berada tepat diantara kedua orang tuanya.

“Kapan adik bayinya akan keluar, Dad?…”

“Tidak lama lagi sayang, kau tenang saja…”Lauren kembali melirik perut Tiffany yang tertutup selimut.

“Apa adik bayinya bisa bernafas didalam sana?…”

“Hm, Tuhan sudah mengatur semuanya jadi adik bayinya akan baik-baik saja…”Lauren mengangguk paham.Dia sangat senang karena sebentar lagi dia akan mendapatkan seorang adik.Dia juga sudah tidak sabar menunggu adiknya lahir.Teman-teman yang lain pasti iri dengannya.

“Gumawo, Mom…”Lauren mencium pipi Tiffany sekilas lalu ikut berbaring dan tertidur diantara Si won dan Tiffany.

***Sifany***

Lauren  menatap wajah mungil nan super cute dihadapannya dengan senyum lebar.Adik bayi yang ia idam-idamkan akhirnya lahir dengan jenis kelamin laki-laki.Dia adalah orang yang sangat bahagia sekarang.

“Kyeopta…”

Lauren mencium adiknya yang tengah tertidur itu dengan gemas.Setelah itu dicubitnya pipi dan hidung kecil sang adik.Merasa terganggu, bayi itu pun terbangun dan  menangis kencang.

“Wah, kau sudah bangun.Kajja, main sama noona…”ucap Lauren kembali mencium adiknya yang tengah menangis itu berkali-kali.Dia juga mencubit pipi anak itu saking gemasnya.

“Astaga, Lauren.Sudah berapa kali Mommy bilang, jangan ganggu adikmu…”ucap Tiffany masuk dan segera mengambil bayinya yang tengah menangis kencang.

“Aku tidak mengganggunya Mom, aku hanya ingin main dengannya…”

“Dia baru berumur beberapa hari Lauren, dia belum menyukai mainanmu.Sebaiknya kau ke kamar dan tidur siang…”perintah Tiffany.Dia menuju ranjang untuk menyusui bayinya yang tengah menangis tersebut.Dia benar-benar pusing karena ulah putrinya.Selalu saja mengganggu.Dia mengerti kalau anak itu menyayangi adiknya tapi tetap saja, Tiffany tidak bisa melakukan hal lain selain menegur Lauren dan menenangkan bayinya yang menangis.

Lauren mengerucutkan bibirnya.Rasanya semenjak adik bayinya lahir dia selalu dimarahi.Semua orang juga tampak berubah.Tidak seperti dulu.

Karena sudah diusir dan tidak ingin mengganggu adiknya, Lauren pun memilih keluar.Dibawah dia bertemu dengan Si won yang baru mengangkat jemuran.Sepertinya itu baju-baju adiknya.

“Dad…”

“Jangan sekarang, sayang.Kau main saja dengan pororo dulu, ne? Daddy harus mengantar baju adikmu ke kamar…”

Lauren  hanya bisa menatap kecewa kearah Si won yang berlalu meninggalkannya.Daddy-nya juga selalu sibuk mengurus keperluan adik bayinya.Padahalkan ada Han Ahjumma.

“Tidak ada yang sayang padaku lagi…”sedihnya dan bersendagu dianak tangga.

Ting Ning

“Sica Auntie…”Lauren mendekat kearah Jessica ketika wanita itu masuk ke rumah.Ada Taeyeon, Yoona, Min ho dan Aiden juga.

“Oh, anyeong Lauren.Dimana adikmu?…”Jessica dan Tae yeon menyapa anak itu manis.

“Ne?…”Lauren mendengus kecewa.

“Lihat, Auntie membawa banyak mainan untuknya.Kajja…”Ajak Yoona mengikuti Jessica dan Tae yeon menuju arah tangga.Semua orang pergi begitu saja setelah mengajaknya untuk pergi bersama.Anak itu mengepalkan tangannya.Kenapa semua orang mengacuhkannya dan hanya memperdulikan adik bayinya? Bahkan kemarin Grandpa, Halmoni kecil, Halmoni besar dan Harabojinya berkunjung juga untuk bermain dengan adik bayinya.Bukan dia.

“Lauren, kau tidak mau ikut?….”Min ho bertanya saat dia sudah mencapai anak tangga teratas.Lauren mendongak dengan tatapan kesal.

“Aku benci Oppa…”desisnya pelan.

“Mwo?….”Min ho bertanya karena tak terlalu mendengar suara Lauren yang jauh dibawah sana.Dia hanya terdiam bingung saat anak itu berlari menjauh.

“Ada apa dengannya?…”

“Noona!”Aiden memanggil Lauren yang sudah pergi tapi sepertinya anak itu tidak mendengarkannya.

“Kenapa dengan Laulen noona, hyung?…”

“Molla, kajja kita lihat adik bayinya…”

***Sifany***

Beberapa murid TK tampak bermain menghabiskan waktu istirahat mereka.Namun Lauren hanya bisa melihat pemandangan itu dari jendela kelasnya.Dia tidak mau bermain juga tidak mau keluar.Dia masih kesal dengan hal yang ia alami dirumah.

Lauren memilih meninggalkan jendela itu menuju kursinya.Tapi dia menunda niatnya saat melihat Keira duduk seorang diri di meja guru.Merasa bosan karena dari tadi dia hanya sendiri Lauren pun ikut duduk disebelah Keira setelah memanjat kursi.

“Kenapa kau tidak main dengan yang lain?…”

“Aku tidak mau saja…”jawabnya cuek.Dia menoleh saat menyadari Lauren menunduk sedih.

“Ada apa? Kenapa kau juga tidak ikut main…”Lauren menggembungkan pipinya seraya tangannya menarik-narik kecil ujung roknya.

“Aku tidak mau main.Aku masih kesal dengan adik bayiku…”ucapnya.

“Aku juga…”Lauren menoleh hingga keduanya saling pandang.

“Mommy dan Daddy mengacuhkanku karena adikku jadi aku membencinya…”

“Jjinja? Mommy dan Daddymu juga seperti itu?..”Tanya Lauren yang disambut anggukan pasti dari Keira.

“Eoh, mereka hanya memperdulikan adik bayi dan tidak sayang padaku lagi.Saat ku suruh mereka membuangnya mereka malah memarahiku…”

Lauren terdiam.Membuang adik bayinya?

***Sifany***

“Ah, Kyeopta…”

Tiffany mencubit kecil hidung bayi tampannya.Walau bayi itu masih berusia dua minggu tetap saja wajahnya sudah terlihat mewarisi wajah Si won yang tampan sempurna.

“Siapa dulu Daddy-nya…”bangga Si won yang tengah menggendong bayi mereka.Tiffany tersenyum mengiyakan.Tentu saja itu anak Si won.

“Oppa…”

“Hm?…”

“Apa menurutmu Lauren baik-baik saja?…”Si won yang tengah memperhatikan wajah bayinya melirik Tiffany yang duduk dihadapannya.

“Memangnya ada apa dengan Lauren.Setahuku dia baik-baik saja…”Tiffany mendesah pelan.

“Dia selalu mengganggu adiknya Oppa…”

“Dia hanya ingin bermain, Tiff.Kau tahukan selama ini dia sangat menginginkan adik bayi?…”Tiffany menganguk.Ya, dia mengerti itu.Tapi terkadang dia sangat lelah menghadapi tingkah polah putrinya tersebut.

BRAK!

“Omo!”

Tiffany memekik kaget saat pintu kamar terbuka dengan kasar.Sedangkan Si won hanya menghela nafas.Untung saja bayi yang ada digendongannya tidak terbangun.

Keduanya menoleh kearah pintu.Disana muncul sosok Lauren dan mendekati keduanya dengan wajah kesal.

“Lauren, ada apa denganmu?….”

“Mom, buang adik bayinya!”

“MWO?!”

***Sifany***

Lauren duduk dipangkuan Si won.Matanya menatap adiknya yang sudah berpindah ke gendongan Tiffany.Si won dan Tiffany tengah membujuk anak itu untuk membatalkan keinginan konyolnya itu.Tentu saja mereka tidak akan mengizinkannya.

“Lihat, adik bayi sangat cute, bukan?…”Tanya Tiffany manis.Lauren mendengus.Tentu saja sangat cute.

“Lauren tega membuang adik bayi se-cute ini dijalan? Bagaimana kalau orang lain mengambil adik bayi lalu mengajaknya tinggal bersama?…”Anak itu tak menjawab.

“Kalau seandainya mereka melapor ke polisi, polisi akan mencari siapa yang membuang adik bayi.Lalu Mom dan Dad akan dipenjara.Kalau itu terjadi, Lauren akan tinggal bersama siapa?….”

Lauren tercengang.

“Jika kita membuang adik bayi, polisi akan menangkap Mom dan Dad?…”Si won mengangguk sedih.Membuat wajah anak itu ikut muram.

“Aku tidak mau Mom dan Dad dipenjara…”ujarnya sedih.

“Kalau begitu biarkan adik bayi tinggal bersama kita.Mommy tahu kau kesal karena Mommy jarang memperhatikanmu.Mommy tidak bermaksud mengacuhkanmu, sayang.Lauren tahukan, adik bayi masih kecil.Dia belum bisa melakukan semuanya sendiri jadi Mom dan Dad harus selalu ada didekatnya…”

“Mommy akan berusaha yang terbaik.Mommy akan membagi waktu untukmu dan adik Kevin.Tapi Lauren juga harus janji…”

Lauren menatap Tiffany.

“Lauren tidak boleh nakal dan jangan sering mengganggu adik bayi, aratchi?…”Lauren mengangguk dengan senyum manisnya.

“Aku sayang adik Kevin…”ucapnya mencium adiknya gemas.Si won dan Tiffany tersenyum lega.Huh, akhirnya.

“Kapan adiknya besar dan bisa bicara, Dad?…”

“Tidak lama lagi sayang, asal kita sabar menunggu…”Lauren mengangguk.Tangannya meraih kedua tangan mungil itu.

“Kyeopta.Kevin-ah, cepatlah besar dan bicara.Noona akan mengajakmu bermain.Kau juga bisa main bersama Min ho hyung, Aiden hyung, dan Joo soo hyung…”ajaknya manis yang disambut senyum lembut Tiffany.Dia tahu kalau sebenarnya Lauren sangat menyayangi adiknya.

“Oh ya…”Si won dan Tiffany menatap anak itu.

“Kenapa hanya aku yang yeoja, kenapa semuanya anak namja?…”

Tiffany dan Si won saling pandang.Benar juga.Diantara anak para sahabatnya hanya Lauren satu-satunya anak yeoja.

“Itu bagus, sayang.Kau memiliki banyak orang yang akan menjagamu nanti…”ucap Tiffany.Lauren melipat tangannya angkuh.

“Shiro! Mom, aku ingin adik yeoja juga!”

Si won menutup mulutnya untuk menahan tawanya agar tidak keluar.Sementara Tiffany mendesis gemas melihat tingkah anak itu.Mwo, anak itu ingin adik perempuan? Bahkan bayinya belum genap berusia satu bulan.

“Aish! Lauren Choi!”

END

Hai readers, gimana ff-nya? Ini sebenarnya gabungan dari dua ff karena aku gak tahu harus buat kayak mana endingnya, jadi aku gabungin aja ama ff yang udah jadi.Pada bagian Tiffany ke kantor Si won dan Lauren muncul, itu sebenarnya adalah ff untuk sequel ff you are my dream.Aku rubah dikit aja biar sesuai ama ff awal.Oh ya, sekalian aja sequel ff still love you yang Lauren minta adik, wkwkwk…aku ga ada ide buat bikin konflik dan alur yang baru.Dan yang mau sequel ff you are mine, aku udah siapin.Tunggu aja, Ok? Jangan lupa RCL-nya.Bye bye…

205 thoughts on “TROUBLE MAKER

  1. TOP BGT q sk bgt. khdpn klrg yg sll ad warna dlm khdpn Sifany. slg mengerti, mengalah,perhatian n cinta kasih n perselisihan adlh bumbu dlm khdpn klrg SiFany terutm dtgny buah hati mrk.
    terkdg ap yg kita tkutkn akn beratny mengurus klrg tak terasa berat kla suara kcl jd penyejuk .
    Fany yg kdg keras kpl, cemburuan n sensitif diimbangi oleh siwon yg sbr, perhatin n sll menjaga hati n klrgany.
    G bs bygin klo ini jd nyata utk hub SiFany. bikin lg thor yg sprt ini tp ksh sdkt NC ny dong psti seru….

  2. Lucu n gemesin lht klrg Siwon.awl pernikh klrg siwon dibikin kesal krn skp fanybyg keras kepala n tdk mw dikekang skrg hal itu menurun pd Lauren. hrs ekstra sbr. tp dr semuany siwon yg plg sbr hdpi fany n lauren. skrg mrk hdp bhgia..

  3. Wahhh, ceritanya keren bngt thor. Ketawak ketiwik sndiri hahahha. So sweet jugak, jadi baper sndiri bacanya hoho
    Oiyaa thor, bkn ff yg tntng perjodohan tapi yg awalnya sdkt rumit karna apa gituuu. HahhHaa.
    Btw, aku new reader thor, salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s