41 DAYS

41 Days -Tiffany Side’s-

 41 days

 

Disclaimer :  All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

 

41Days© Song Haneul
Publish by Sifany Island

 

‡‡‡‡

Main Cast

Choi Siwon [Super Junior] || Tiffany Hwang [Girl’s Generation]

Genre

Romance || Sad || Action

Length

Oneshoot

Rating

 PG 17

Category

Fanfic

Summary

This our story of sad ending ?

 

WARNING : TYPO !!!

 

          Aku bahagia. Itu yang aku ketahui saat ini. Tidak ada kata-kata lain yang bisa kusebutkan selain itu. Aku tak mengerti, kenapa aku bisa begitu gila hanya karena laki-laki sepertinya. Yang aku tahu. Dia membuatku merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dan hal ini, membuatku merasa bahagia.

Appa bilang aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Hanya tau bagaimana caranya tersenyum. Aku bahagia! Seperti yang aku katakan sebelumnya. Kalian harus memahaminya! Ini pertama bagiku. Dan, dia. Yang membuatku bisa merasakan semua ini.

Dia begitu mempesona, tampan dan yang pasti satu hal yang paling aku kagumi darinya adalah senyumnya. Aku tak mengerti. Hanya karena melihatnya tersenyum, cintaku bertambah setiap saatnya. Itu membuatku merasa senang dan takut secara bersamaan.

Saat ini aku biarkan angin membelai rambut hitam panjangku. Sengaja tergerai dan bertebangan kecil disekitar wajahku. Aku pejamkan mata ini. Hatiku terus berdetak seiring dengan dentingan jarum jam ditangan kiriku. Kakiku terayun pelan, masih dengan mata terpejam. Aku terdiam. Menanti sesuatu yang sudah biasa kudapatkan setiap harinya selama hampir 33 hari ini.

Bibir kecilku bersenandung lembut, terbawa angin lalu menghilang. Meski begitu, senyumku tak pernah lepas dari sudut-sudut bibirku. Samar-samar, aku mendengar decitan pintu terbuka.

Hey! Itu begitu jauh dari tempat aku duduk saat ini. Bagaimana mungkin aku bisa mendengarnya. Ini gila! Aku harus benar-benar memeriksakan diriku ke-Dokter specialis kejiwaan.

Oh, Tuhan! Kini aku bisa kembali merasakannya. Detak jantungku mulai bergerak tak normal. Ini begitu cepat dan aku kesulitan untuk bernapas dengan baik. Tapi, sungguh! Aku tak berniat membuka mata dan membalikkan tubuhku.

Aku mendengarnya sangat jelas. Derap langkah tegapnya menghantuiku kini. Tanganku yang tergeletak disamping tubuhku mulai bergetar. Aku merasa angin mulai bergerak semakin kencang. Membuat tubuhku menggigil kedinginan.

Dia semakin dekat! Dan aku tau itu. Aroma tubuhnya, mulai menusuk-nusuk hidungku. Sebenarnya, kalau boleh jujur sejak dia masuk melalui pintu itu, aku bisa menghirup kehidupanku disana. Tapi aku abaikan untuk keselamatan hidupku juga.

Aku harus tetap hidup, untuk memastikan akulah yang akan menjadi pendamping hidupnya. Dan aku tidak akan pernah, tidak akan bisa membiarkan orang lain menempatinya. Selain. Aku.

Apa aku egois? Tentu saja!

Dia laki-laki sempurna. Dan aku begitu memujanya. Begitu menyayanginya. Setelah Tuhan, Eomma dan Appa tentunya. Dia hidupku. Tanpa dia. Entahlah! Aku belum bisa memastikannya. Tapi aku rasa, itu tidak akan mudah.

Dia tersenyum –aku tau–. Sesuatu yang aku nantikan sejak 60 detik berlalu, bersama dengan langkah kakinya yang lebar itu. Tangannya mulai melingkar disekeliling pinggangku. Meletakkan dagunya diatas pundakku. Aku merasakan tangan lembutnya menyingkirkan rambutku, menyampingkannya kesisi pundak kananku. Lalu membenamkan wajahnya pada lekekukan leherku. Aku nyaman. Dan lagi-lagi, aku bahagia.

“Kalau kau terjatuh, apa yang harus aku lakukan?”

Aku tersenyum, ini nyata. Dia memang melakukannya. Lagi. Dan selalu seperti ini. Kupejamkan mataku, menikmati saat-saat yang diindah ini.

“Kau pasti menangis didepan pusaraku. Begitu bukan?”

“Hhh, aku pastikan itu tidak akan terjadi.” Aku membuka mataku, dan terkejut begitu mendengar penuturannya. Aku lihat, senyum nakalnya saat aku menghadapkan wajahku padanya.

“Maksudmu?” tanyaku penuh penekanan.

“Maksudku…?”

“Ahhhhhh…. Oppppaaa…..!!!”

Aku mendelik kesal saat laki-laki dihadapanku ini tertawa puas ketika berhasil mengangkat tubuhku dari atas tembok atap gedung ini. Dia selalu saja seperti ini.

“Ya, Oppa! Kenapa kau selalu menurunkan aku dari sini?”

“Emmm….” tangannya mengusap-usap dagunya, dengan tangan yang satu lagi bersedekap. Mencoba menampilkan mimik muka berpikir dengan mata yang menarawang.

“Choi Siwon!”

“Mwoya?” tanya dengan raut wajah kesal. Dalam hati aku terkikik, karena aku yakin dia merasa kesal setiap kali aku hanya memanggil namanya tanpa embel-embel oppa.

“Aku mau naik lagi, minggir!” aku melangkah cepat berusaha menaiki kembali tembok pembatas diatap gedung ini untuk aku duduki. Namun, belum sempat aku berhasil melakukannya. Tangan kekar siwon oppa berhasil melingkar dipinggangku lagi. Dengan sebelah tangannya, dia mengangkat tubuhku menuju pintu keluar.

“Ya. Lepaskan aku!”

“Shireo!”

“Lepas oppa!” aku berusaha melepaskan tangannya tapi tak mampu kulakukan. Kakiku pun berusaha untuk menahan pergerakannya. Namun dia tetap menyeret paksa tubuhku.

“Diamlah Fany! Kau harus pulang. Appa-mu akan menduga aku menculikmu, jika tidak menemukanmu dimeja makan, malam ini.”

“Ahhh… oppa. Itu masih lama.”

Dia berhenti. Tepat di atas anak tangga yang akan membawa kami turun kebawah. Tangannya terlepas dari pinggangku dan membalikkan tubuhku menghadapnya. Aku terdiam, ketika kedua mata teduhnya tersebut menatapku lembut. Aku selalu menemukan ketenanganku disana. Menemukan tempat aku berpijak ketika aku kehilangan arah. Entah mengapa, semua yang ada di dirinya adalah alasan untuk aku menyerahkan diri dalam ketidaksempurnaan diriku ini.

“Dengarkan aku!” aku mengerjap pelan ketika dia mulai berbisik pelan dihadapanku dengan kedua tangan yang memegang kedua pundakku. Dia selalu melakukannya, ketika dia ingin aku memperhatikan baik-baik ucapannya. Memintaku menyimaknya dan melakukannya sesuai perintah. Dan tentu saja, apa yang dia katakan selalu segala hal tentang kebaikanku juga.

“Jangan terlalu sering berada ditempat berbahaya seperti itu. Baik kau hanya ingin menghilangkan rasa sedihmu atau menyalurkan kebahagianmu. Aku tidak ingin, terjadi hal yang buruk padamu. Jadi, bisakah kau menurutinya?”

Aku masih tak bergeming. Aku menyadarinya, dia selalu mengatakan kekhawatirannya ketika aku melakukan hal tadi setiap saat. Dia selalu merasa cemas jika nanti terjadi sesuatu hal yang buruk padaku.

Masih dengan menatap matanya itu. Aku kembali menemukan ketulusan yang selalu aku banggakan dalam relung hatiku. Perlahan senyum itu muncul kembali. Aku tak mengatakan apapun tapi aku yakin dia mengerti maksudku.

“Kajja! Oppa akan mengantarmu pulang.” tangannya melingkar disekitar leherku. Mengucapkan ajakannya dengan ceria karena, seperti yang aku katakan. Dia pasti mengerti apa maksudku.

“Oppa, sepertinya benar-benar takut dengan appa.”

“Tentu saja aku takut.” Aku melihat wajahnya yang memberenggut, seketika membuatku tak bisa menahan senyum geli ketika melihatnya.

“Wae? Kau ingin menertawakanku?” tanyanya sengit.

“A-ni!” kilahku, berusaha menahan senyum dibibirku.

“Appamu menakutkan ketika dia selalu berdiri didepan pintu sambil memegang jarum suntuiknya itu.” Tawaku seketika meledak ketika Siwon oppa menampilkan mimik ketakutannya.

“Ya!”

“Hahahahahaha…… mian… haha. Oppa. Ka-u bagaimana mungkin sebesar ini, jika masih takut dengan jarum suntik? Hahaha.”

“Aishhhh…. Tertawalah sepuasmu.”

Kedua tanganku berusaha membungkam mulutku sendiri untuk meredam tawaku yang masih terdengar.

Kini kami berbelok untuk menaiki lift yang akan membawa kami turun kelantai dasar. Aku lihat wajahnya masih cemberut. Dia terlihat lucu dengan wajahnya yang seperti itu.

“Oppa marah?”

Kami sudah berada didalam lift. Dan hanya aku dan Siwon oppa didalamnya. Kusandarkan kepalaku didepan dadanya. Tangannya yang masih melingkar disekitar leherku, kugenggam.

“Oppa?”

“Hm?”

Aku mendengus sebal, ketika dia hanya berguman lirih menjawab panggilanku.

“Oppa menyebalkan.”

“Memang.”

“Nappeun namja!”

“Yes.”

Mataku mendelik keatas, meliriknya kesal. Dan dia hanya mengerlingkan matanya, mencoba menggodaku. Dan, yah! Aku tergoda.

“Saranghaeyo.”

Ting .. …

Tepat ketika dia membisikkan kata cintanya lagi untuk kesekian kalinya. Pintu lift terbuka. Membuatku kesal setengah mati. Sedangkan Siwon oppa, dia hanya tertawa geli karena wajah cemberutku ini.

Dia kembali menarikku. Bedanya, kini tangannya saling manutkan jari-jari kami. Kami berdua tersenyum bahagia. Namun tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Ada luka kecil dibagian matanya. Seperti luka goresan. Sangat kecil hingga membuatku baru menyadarinya.

“Luka apa ini?”

Belum sempat tanganku menyentuh luka itu. Dengan gesit Siwon oppa menangkapnya dan menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya. Dia tersenyum kecil.

“Luka kecil. Jadi jangan khawatir.”

“Ta-pi….”

“Sssstttt, aku tak ingin berdebat dengan anak kecil.”

“Mwooo? Aku bukan anak kecil.”

Dia terkekeh pelan. Tangan kananku yang baru saja dilepasnya mencubit pinggangnya, membuat dia meringis kesakitan.

Suasana saat ini terlihat sepi dan hening. Tentu saja! Ini hampir memasuki jam 6 sore. Dimana anak-anak kampus sudah banyak meninggalkan tempat ini, untuk mengistirahatkan diri, dari semua kegiatan yang padat hari ini.

Walau begitu, masih ada beberapa anak yang memilih untuk tetap didalam kampus. Menghabiskan waktu mereka untuk saling bercengkrama dengan teman-teman mereka. Berbeda denganku yang menghabiskan waktu diatap tadi. Mereka, lebih memilih berda ditaman atau kantin yang tersedia didalam kampus.

“Kau melamun lagi, Tiffany?”

Aku hanya nyengir tak jelas saat dia kembali menangkap basah diriku yang melamunkan hal-hal yang tak penting menurutnya.

“Ani.”

“Dan kau mengelak lagi.”

“Dimana mobil oppa?”

“Itu.” Tunjuknya ketika kita sudah berada diarea parkir kampus. Aku melihat audi hitamnya tak jauh dari tempat kami berdiri sekarang.

Kami melangkah menuju mobilnya. Namun entah mengapa, tiba-tiba saja dia berhenti melangkah, membuatku mengernyit heran. Aku merasa tubuhnya menegang dengan pandangan yang lurus kedepan. Aku hendak menoleh kearah pandangnya, tapi tertahan oleh kedua tangannya yang menangkup wajahku.

Siwon oppa menghadapkan wajahku didepan wajahnya. Jarak kami begitu dekat membuatku sulit bernapas. Tiba-tiba saja Siwon oppa memeluk tubuhku. Membuatku semakin bingung.

“Chagi, kau naik taxi saja arra?”

“Wae?” aku merasa heran dengan keanehannya hari ini. Aku tak bisa membaca raut wajahnya. Ada apa sebenarnya?”

“Dengarkan aku!” tangan kirinya meremas lembut bahu kiriku. Posisi kami masih berpelukan. Napasnya menggelitik telingaku, ketika ia kembali berbisik pelan tepat disamping telingaku.

“Pulanglah! Aku akan mengikutimu dari belakang, arraci?”

Dia melepas pelukan kami. Dan mendorongku menjauh, matanya mengisyaratkan untuk aku segera melakukannya. Aku mengangguk walau masih tak mengerti. Kakiku melangkah untuk menjauhinya, dan bergegas mencari taxi untuk membawaku pulang kerumah.

Dan setelah itu, aku tak lagi melihatnya.

—41 day’s–

            Aku masih menunggunya dengan gugup ditaman ini sejak 1 jam yang lalu. Ini memang bukan waktu yang ditentukannya. Aku terlalu cepat datang sehingga harus menunggunya begitu lama. Tapi aku benar-benar ingin melihatnya dan memastikan semuanya baik-baik saja.

“Kau terlalu cepat datang, chagi.” Tiba-tiba saja aku merasakan tangan itu kembali melingkar sempurna dipinggangku. Membuatku sedikit tersentak merasakan kehadiarannya yang tiba-tiba.

“Oppa tau?”

“Nde! Aku sudah berada disini sebelum kau datang.”

“Mwo?” aku menatap tak percaya laki-laki yang tersenyum tak bersalah dibelakangku ini, “dan oppa tak segera menemuiku?”

Dia menggeleng lemah, kulihat wajahnya yang terlihat pucat tak seperti biasanya. Dan lagi, aku melihatnya terluka. Bedanya saat ini bibirnyalah yang terluka. Kedua mataku terus tertuju pada luka dibibirnya itu. Baru saja aku ingin menanyakannya. Tapi Siwon oppa menginterupsinya dengan mencium pipiku kilat. Mataku terbuka lebar, ini ciuman pertamanya padaku. Walau hanya dipipi, tapi bisa kurasakan bagaimana wajahku memerah saat ini.

“Boghosippo.” Ucapnya lirih.

“Nado.”

Dia melepaskan pelukannya, dan berjalan mengitariku. Duduk tepat disampingku. Dan menatapku dalam.

“Oppa harus menjelaskannya!”

“Kalau aku tidak mau?”

Dia kembali menyebalkan. Dan aku harus kembali bersabar. “Jebal!”

Kini Siwon oppa bersedekap, kembali berlagak mempertimbangkan permintaanku. “Ah!”

“Mwo?” tanyaku antusias, ketika laki-laki disampingku ini menjentikan jarinya.

“Aku punya sesuatu untukmu.”

Bibirku mengerucut, aku pikir dia menyetujui untuk menjelaskannya tapi ternyata salah.

“Kau tak mau hadiah dariku?”

“Hadiah apa?” tanyaku sengit.

“Hahahaha.” Aku mendelik kesal ketika Siwon oppa tertawa senang.

“Kenapa oppa tertawa?”

“Kyeopta.”

“Ahhhh, appo!” aku berusaha melepas cubitannya dikedua pipiku. Dan berhasil.

“Ini untukmu.”

Apa dia tidak bisa romantis, pikirku. Bagaimana mungkin dia hanya asal memberikannya tanpa melakukan apapun agar terkesan untukku.

“Ambillah! Sebelum aku membuangnya.”

Dengan cepat aku ambil kotak kecil berbentuk balok itu ditangannya. Perlu aku ingatkan, Siwon oppa akan selalu melakukan apa yang diucapkannya. Jadi, sebelum dia benar-benar membuang kotak itu, aku harus mengambilnya.

“Bukalah, dan pakai!” Ucapnya kembali sambil memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang menyapu wajah tampannya yang pucat dan… lelah.

Aku alihkan perhatianku pada sebuah kotak berwarna pink itu. Secara perlahan kubuka kotak yang berada dalam genggamanku. Dan kulihat, sebuah gelang didalamnya. Kembali aku menolehkan wajahku. Siwon oppa masih sama dengan matanya yang tertutup. Gelang ini terlihat biasa saja, pikirku. Terkesan sederhana dan simple.

“Kau terlihat tak menyukainya?”

“Anio. Aku hanya bingung.”

“Bingung apa?” tanyanya kini sudah membuka matanya dan menatapku.

“Untuk apa oppa memberikan ini?”

Dia terdiam sesaat. Matanya kini tertuju pada gelang yang kupegang. Tangannya mengambil gelang itu dan memasangkannya pada pergelangan tanganku. Aku menatap penuh tanya padanya, dan berharap dia mengerti maksudku. Aku butuh penjelasannya.

“Ini memang terlihat biasa saja. Dan… tak berharga,” aku biarkan dia melanjutkan ucapannya. Tak berniat menginterupsinya, “gelang ini, bukanlah gelang mahal. Tapi, gelanglah inilah. Yang nantinya, akan menjelaskan semuanya. Disinilah kejujuranku, dan sosok yang tak pernah kau ketahui, chagi.”

“Hah?” Ya Tuhan, aku benar-benar tak mengerti dan kuharap Siwon oppa paham akan itu.

Dia tersenyum lembut lalu menggenggam kedua tanganku. “Anggap saja. Gelang inilah. yang akan menjelaskan siapa diriku sebenarnya.”

“Jadi gelang ini bisa bicara?”

“Hahahaha…. Fany-ah, gyewo.” Aku mendengus kesal melihat laki-laki dihadapanku ini tertawa bahagia. Apanya yang lucu? Aku-kan hanya bertanya.

Aku menggembungkan kedua pipiku. Memalingkan wajahku agar tak melihat wajahnya yang sedang menertawaiku. Sedetik kemudian, dia menghentikan tawanya.

“Hey! Kau marah?”

Aku tak menjawabnya. Tubuhku bergeser untuk menjauhinya. Aku sebenarnya tidak marah, hanya saja aku ingin dia merasakannya juga. Aku akan balas dendam, dengan pura-pura marah padanya.

“Kau benar-benar seperti anak kecil fany-ah.”

“Aku bukan anak kecil!” laki-laki ini tau betul apa kelemahanku. Dan aku paling tidak suka dipanggil anak kecil olehnya. Umurku sudah 18 tahun. Bagaimana mungkin dia masih memanggilku anak kecil.

“Lihatlah! Bibirmu yang mengerucut itu, seperti anak kecil yang tidak diberi permen oleh ayahnya. Hahahaha.”

“Berhenti menertawakanku, Choi Siwon.”

Dia berhenti tertawa dan menatap tajam kearahku. Kena kau!

“Sudah oppa bilang. Tidak sopan memanggil nama, Tiffany Hwang.” Desisnya tajam dengan menekankan kata oppa diucapannya tadi. Alih-alih merasa takut. Aku memeletkan lidahku dihadapannya.

“Ya, oppa! Lepaskan…. geli…. Ya!” dia menggelitik perutku. Membuatku tak bisa mengehentikan tawaku. Mataku bahkan sampai berair karena ulahnya.

“Oppa jebal! Mianhaeyo. Oppa…” aku memohon padanya. Dan kulihat dia tersenyum puas. Ah, kenapa jadi aku yang  terkalahkan.

“Sekali lagi kau memanggilku hanya dengan nama. Aku akan menciummu!”

“Jinjja?” tanyaku dengan mata yang berbinar. Benarkah dia akan menciumku?

Siwon oppa memandang datar kearahku yang tersenyum manis dihadapannya, “palliwa, popo!” aku memonyongkan bibirku dengan mengetuk-ngetuk jari telunjukku diatasnya. Berharap dia akan memberikan ciumannya. Dan ini akan menjadi ciuman pertama kami.

“Aishh, apa yang kau lakukan anak kecil.”

“Appo!” aku mengelus-elus keningku yang disentil olehnya. Aku lihat dia terseyum kecil dan mengalihkan tatapannya kedepan.

“Oppa. kemana saja seminggu ini?” tanyaku mengalihkan pembincaraan. Masih dengan mengelus keningku dan mencibirnya pelan.

Dia kembali menghadapkan wajahnya kearahku, “ada urusan yang harus oppa selesaikan.”

“Urusan apa?” tanyaku penasaran. Siwon oppa adalah orang yang sangat tertutup. Dia jarang sekali memberitahuku tentang kehidupannya. Selama kami berpacaran, terhitung sampai hari ini. Kami sudah bersama sebagai sepasang kekasih selama 40 hari. Dan tak ada satupun informasinya yang kudapat darinya. Aku pikir, mungkin karena kami baru saja menjalin hubungan. Tapi terkadang, aku sangat ingin mengetahui tentang dirinya.

Aku ingin tau siapa kedua orang tuanya. Yah, walaupun aku tau kedua adik sepupunya. Cho Kyuhyun dan Kim Myungsoo. Ah, ya! Aku bahkan tidak tau apa pekerjaannya. Ini benar-benar keterlaluan. Bahkan dia tak memberitahu dimana dia tinggal. Nappeun!

“Oppa!”

“Hm?”

Aku memutar kedua bola mataku, “aku bertanya. Urusan apa?”

“Rahasia.” Bisiknya tepat ditelingaku.

“Opppaaa!” aku memukul-mukul lengannya, membuat Siwon oppa meringis kesakitan.

“Ya, ya! Appo!”

Siwon oppa mencekram kuat kedua tanganku dan menatapku tajam. Dan itu berhasil membuatku berhenti melakukan aksi anarkis padanya tadi. Aku sedikit takut ketika menatap kedua bola matanya itu.

“Saranghae.”

“Neomu neomu sanghaeyo, Tiffany Hwang.”

“Op-pa.”

Dia memelukku tiba-tiba. Membuat jantungku kembali berdetak abnormal. Aku menahan napas ketika dia membenamkan wajahnya dipundakku.

Kami terdiam cukup lama dengan posisi yang sama. Aku biarkan Siwon oppa memelukku erat saat ini. Aku tak tau, entah mengapa perasaanku tiba-tiba tak enak. Aku merasa, sesuatu hal yang buruk akan terjadi.

“Aku ingin mengatakannya, tapi aku tak punya keberanian itu. Mianhae.”

“Waegeure?” jujur saja aku takut dengan sikapnya saat ini. Siwon oppa tak pernah terlihat lemah seperti sekarang.

“Fany-ah…”

“Nde, oppa?”

“Jangan terlalu mencintaiku.”

DEG

“Waeyo?” aku sadar, suaraku bergetar saat menanyakan perihal itu kepadanya. Dan bukan hanya itu, aku bahkan bisa merasakan tubuhku bergetar didalam dekapan tubuh kekarnya ini.

Siwon oppa mengeratkan pelukannya pada tubuhku, meremas lembut pundakku dengan tangan kanannya. Dia ingin mengatakan sesuatu, dan entah mengapa aku merasa tak siap untuk mendengarnya. Aku merasa ini akan menyakitiku.

“Berapa lama waktu kebersamaan kita, menurutmu?”

Aku terdiam, aku tak berpikir seperti itu. Aku hanya tau dia. Dan hanya dia. Aku yakin selamanya akan bersama dia, tanpa harus menghitung waktu yang kubutuhkan untuk bersamanya.

“Tiffany Hwang. Aku mencintaimu.”

“Aku mencintaimu. Tapi cinta saja tidak cukup, ya ‘kan?”

Aku menggangguk perlahan. “Bahkan walaupun aku sanggup untuk mempertaruhkan nyawaku. Berharap cinta kita abadi. Apa itu menjamin kita akan bahagia?”

Kepalaku menggeleng cepat, dan kedua tanganku yang sejak awal belum membalas rengkuhannya. Secara cepat membalas pelukan hangat yang menakutkan ini.

“Oppa, ada apa?”

“Bisakah aku memintamu untuk menungguku? Bisakah nantinya aku menyakitimu? Membuatmu menangis atau bahkan mati ditanganku?”

“Op-pa.”

“Kau tak mengenalku, Fany-ah. Jadi aku mohon, jangan terlalu mencintaku.”

Aku melepas pelukannya, dan mentapnya dengan mata yang memerah. Siwon oppa menatap datar kearahku. Aku bisa melihatnya, matanya pun berkaca-kaca.

“Aku memang belum mengenal oppa, karena oppa sendiri tidak pernah memberitahukannya padaku.” ucapku lirih. Dia tersenyum lembut ketika air mataku jatuh melalui kedua pipiku. Tangannya terulur untuk menghapusnya.

“Aku mencintaimu, oppa.”

“Arra.”

“Aku sangat sangat mencintai oppa.”

“Sudah oppa bilang jangan-”

“Wae? Ini perasaanku. Oppa tak berhak melarangnya!” aku berteriak marah dihadapannya, yang hanya dibalas tatapanya yang sayu mengarah padaku.

“Wae? Appo?” tanyaku khawatir melihat wajahnya yang semakin pucat.

“Bagaimana kalau besok kita kencan?”

“Oppaa…” aku kesal. Dia selalu saja mengalihkan pembicaraan. Selalu tak pernah memberitahuku tentang keadaannya. Apa dia benar-benar menganggapku kekasihnya?

Tangannya kembali mengambil tangan kananku yang terlilit gelang pemberiannya. Matanya menerawang menatap gelang tersebut. Sambil mengelusnya lembut. Siwon oppa berbicara sangat lirih. Hingga membuatku harus ekstra menajamkan pendengaranku.

“Kau harus menjaganya dengan baik. Dan, oppa berharap kau segera menyadarinya.”

Keningku mengkerut bingung, ketika Siwon oppa mengatakan itu. “Menyadari apa?”

Dia mengangkat wajahnya dan tersenyum simpul. “Besok, oppa akan menjemputmu. Jadi bersiap-siaplah.”

“Ta-”

“Kajja! Kita pulang.” kini Siwon oppa sudah berdiri tegak, dengan kedua tangan yang membenarkan letak jaketnya. Sedangkan aku, hanya memandang tak percaya kearah laki-laki yang sangaaatttt aku cintai ini.

—41 days–

            “Oppa, apa yang kau lakukan?”

“Sssttt, diamlah.” Bisiknya.

Aku mengernyitkan keningku melihat tingkahnya malam ini. Kepalanya menoleh kekanan dan kiri memantau sesuatu.

“Ya, kenapa kau tak turun?”

Aku mendengus sebal, “oppa benar-benar keterlaluan.”

“Mwo?”

“Seharusnya oppa membukakan aku pintu dan mengantarku sampai pintu rumahku.” Ucapku kesal.

Bukannya merasa bersalah atau apa, Siwon oppa hanya memandang datar diriku.

“Turunlah, palli!” Tanpa pikir panjang, aku menjitak kepalanya dengan tanganku.“Auw…. Ya! Apa yang kau lakukan? Kenapa memukulku?”

“Oppa menyebalkan.”

“Mianhae.”

Aku memalingkan wajahku kearah luar melalui kaca mobilnya.

“Fany-ah. Benarkah appa-mu belum pulang?”

Aku tertegun sesaat. Tak lama aku menyadari sesuatu yang membuat senyumku tak pernah lepas dari sudut-sudut bibirku. Aku kembali menatapnya, yang masih menatap penuh selidik kearah rumahku. Tawaku meledak, karena tak mampu menahan rasa geli yang menggelitik perutku kini.

“Kenapa kau tertawa?” tanyanya kesal.

“Jadi, sejak tadi oppa sedang memastikan, appa ada dirumah atau tidak?” tanyaku sambil menahan senyum. Karena tak ingin dia semakin kesal padaku.

Dia menggaruk tengkuknya pelan, sambil tersenyum malu. Ahh, kyeopta.

          Tok .. Tok… Tok ..

Aku tersentak kaget, ketika tiba-tiba saja ada ketukan pelan yang berasal dari samping kaca jendela mobil yang aku duduki.

“Omo ..! Ya Tuhan, Ahn ahjussi?” kubuka kaca jendela mobil Siwon oppa dan kulihat Ahn ahjussi  yang merupakan sopir pribadi appa sedang tersenyum kearahku.

“Maaf aghassi, mengganggu anda. Saya diperintah tuan untuk membawa anda ke rumah sakit.” Ucapnya lembut.

“Ohhh, jeongmalyo?” aku mengalihkan pandanganku kepada Siwon oppa yang tengah memandang lurus kearah… Ahn ahjussi?.

“Biar aku saja yang mengantarmu.” Kata Siwon oppa yang masih memandang lurus kearah Ahn ahjussi. Ada apa dengan sorot mata Siwon oppa. Dia terlihat menyimpan amarah dan begitu dingin.

“Tidak perlu tuan, biar saya saja yang mengantar aghassi.”

Siwon oppa hendak bicara kembali namun segera kupotong, “oppa gwaenchana. Aku bersama Ahn ahjussi saja.” Ucapku sambil tersenyum lembut dan mengelus lengannya.

Siwon oppa menatapku dalam, aku melihat gurat kekhawatiran yang mendalam. Aku tidak mengerti dengan sikapnya hari ini, Siwon oppa bisa terlihat bahagia dan tersenyum begitu lembut padaku. Lalu terdiam, dengan ekspresi dingin dan cuek. Dan baru saja aku melihat auranya yang gelap, seperti akan meledakkan sesuatu.

“Oppa?”

“Arraseo! Pergilah, jaga dirimu baik-baik.”

Aku mengangguk pelan, lagi-lagi dia terkesan dingin bahkan tak memandangku sama sekali. Dengan gerakan perlahan kubuka pintu mobilnya, masih dengan kepala yang mengarah padanya. Berharap Siwon oppa, setidaknya melihatku dan tersenyum. Sikapnya yang seperti ini membuatku khawatir.

Brak ….

“Ayo, ahjussi.”

Ahn ahjussi membungkukkan badannya dan mempersilahkan aku berjalan menuju mobil milik appa terlebih dahulu.

Baru saja aku akan memasuki mobil, sebuah suara yang begitu familiar ditelingaku memanggil namaku. Dan kulihat sosoknya yang berjalan pelan kearahku. Aku tak bisa menyembunyikan senyum bahagia, ketika sosok yang paling kunantikan sejak beberapa detik yang lalu akhirnya benar-benar menghampiriku. Berbicara dan tersenyum dengan lembut.

Dia mencengkram kedua pundakku, masih dengan senyum yang melekat dibibirnya. “Pastikan, dirimu baik-baik saja. Aku tak ingin melihatmu terluka, walau hanya luka kecil yang bahkan tak mampu dilihat oleh kasat mataku. Karena aku akan menjamin, siapapun yang membuatmu terluka akan menyesal seumur hidupnya. Arraci?”

Aku mengangguk kaku, aku melihat sorot matanya yang begitu kelam dan dingin. Walaupun senyum kecil nan lembut itu tak pernah hilang dari wajahnya, berusaha untuk menenangkanku. Kedua tangannya seperti meyakinkanku, bahwa dia akan mendeklarasikan ucapannya jika itu benar-benar terjadi. Kuberikan senyum kikukku. Bukan karena terpaksa, hanya saja, aku terlalu bingung dengan sikapnya ini.

“Masuklah, abheoji pasti menunggumu.”

“Nde, annyeong.”

“Annyeong.” Aku kembali bergerak memasuki mobil. Ahn ahjussi sendiri sudah memasuki mobil sejak tadi. Hanya terdiam dengan pandangan lurus kedepan. Kulihat Siwon oppa  sempat melirik kearah depan, dan lagi-lagi kuyakini dia melirik kearah Ahn ahjussi.

Pintu mobil masih terbuka, karena masih tertahan oleh tangan Siwon oppa yang memagang pintu tersebut. Siwon oppa memasukkan setengah badannya kedalam mobil, mengarah padaku.

Kupejamkan kedua mataku, ketika bibir lembutnya menyentuh keningku. Bisa kurasakan tangan kokohnya, menangkup sisi rahangku lembut. Mengelusnya dengan pelan, mengalirkan sengatan listrik yang membuat seluruh tubuhku bergidik. Napasnya yang hangat membelai wajahku yang mungkin sudah memerah padam karena tindakannya ini. Perlahan, dia melepaskan kecupannya dikeningku, lalu menatapku lembut ketika kubuka secara perlahan kedua mataku.

“Saranghaeyo chagiya.”

Oh, pabboya Tiffany Hwang. Kenapa selalu saja membeku ketika dia membisikkan kata cintanya. Membuatku merasa malu karena tak mampu membalas kata-kata cintanya dengan baik.

Brak .. …

Aku tersadar dari lamunanku ketika Siwon oppa menutup pintu mobilku. Dan kulihat dia tersenyum sambil melambaikan tangannya kearahku. Aku menatapnya sambil terdiam terpesona, ketika angin malam ini menerbangkan anak-anak rambutnya.

Dan sebelum mobil ini bergerak semakin jauh, alih-alih membiarkan kata-kata cintanya membeku. Kuangkat kedua tanganku keatas kepala membentuk hati dan memberikan kecupan jauh kepadanya. Bisa kulihat dia tertawa ringan, dan kembali melambaikan tangannya. Menyuruhku memasukkan kepalaku yang aku keluarkan melalui jendela mobil.

Aku menurutinya, aku masukkan kembali tubuhku. Dan menghempaskannya pada jok mobil. Kepalaku kembali menoleh kebelakang, dan aku masih bisa melihatnya berdiri ditempat yang sama. Masih tersenyum seperti yang tadi. Ketika sosoknya mulai tak terlihat, aku kembali membalikkan tubuhku. Tersenyum ketika jari-jari ini meraba keningku, yang baru saja dicium olehnya.

Kupejamkan kedua mataku, kembali teringat akan kenanganku bersamanya selama ini. Baru sebentar, ini hari ke 41 aku menjalin kebersamaan sebagai sepasang kekasih dengannya. Aku masih memiliki waktu yang panjang bersamanya, dan masih ada cerita lain yang akan kubuat bersamanya.

’Aku ingin selalu bersamanya, bahagia karenanya, menangis karenanya. Satu-satunya orang yang aku ijinkan untuk menyentuh hatiku. Menyakitiku sesuka hatinya dan kubiarkan mengahapus airmataku. Jadi, Tuhan. Aku mohon, biarkan aku menua bersamanya.’

—41 days–

          “Ahjussi, ini bukan jalan menuju rumah sakit. Kenapa kita lewat sini?”

“Tuan Hwang ingin bertemu ditempat lain, nona.”

‘Jinjja?’

Tumben sekali appa mengajak ketemuan selain di rumah sakit. Ada perihal apa sebenarnya?

Beberapa saat aku terdiam, hanya memandang jalan yang dilalui mobil ini. Hingga tanpa kusadari mobil tiba-tiba saja berhenti ditengah jalan. Membuatku mengernyit heran.

“Waeyo ahjussi?”

“Tidak tau nona, saya akan periksa keadaan mobil ini terlebih dahulu.” Kata ahjussi, sambil membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Baru saja aku akan membuka pintu mobil disebelahku, tiba-tiba saja bunyi sebuah tanda bahwa mobil terkunci dari luar terdengar ditelingaku.

“Ahjussi!”

Tangaku masih bergerak membuka pintu mobil, aku berusaha melihat keberadaan Jung ahjussi. Tapi aku tak dapat menemukannya. Aku bergerak gelisah ditempatku, berusaha membuka semua pintu mobil. Namun nihil. Aku tak bisa membukannya, oh Tuhan apa yang harus aku lakukan.

“Ah, majja. My Handphone.”

Aku mencari-cari ponselku didalam tas. Tapi aku juga tak dapat menemukannya.

“Aish, pabbo! Handphoneku tertinggal di mobil Siwon oppa. Ottokhae?”

Tiba-tiba aku merasa sesak, dan mataku menangkap kepulan asap putih yang berasal dari depan mobil. “Ahjussi….”

 

 

Author POV

          Tiffany masih berusaha menyelamatkan dirinya dari kepulan asap yang menyesakkan itu. Sebelah tangannya digunakan untuk menyutupi hidungnya. Dan tangan yang satu lagi ia gunakan untuk  menggedor-gedor pintu mobil. Cairan bening itu mulai membasahi wajah cantiknya.

“Ahjussi!”

“Ahjussi!” wanita berparas cantik itu berusaha membuka pintunya. Dan menggedor pintu itu dari dalam mobil yang mulai berkabut hingga tak mampu terlihat dalamnya.

“Ahjussi! Tolong aku… siapapun tolong aku…. Jebal…..”

Airmatanya terus mengalir, bisa dilihat raut ketakutan diwajahnya yang mulai memucat dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.

“Siwonn oppa… oppa….” Suaranya semakin melemah seiring dengan berlalunya detik per detiknya waktu.

“Oppa…”

          Cleck … ..

 

          Tubuh Tiffany yang bersandar pada pintu mobil terjatuh ketika pintu tersebut terbuka tiba-tiba. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, tapi matanya bisa menangkap sosok laki-laki berpakaian serba hitam dengan masker hitam yang menutupi wajahnya.

Laki-laki itu membopong tubuhnya keluar dari mobil tersebut. Memapahnya menjauh. Lalu melangkah pergi, namun belum sempat ia melarikan diri. Tangan Tiffany mencekram erat pergelangan tangan laki-laki itu.

“Nu-nuguseyo?”

Bukannya menjawab, laki-laki itu justru menghempaskan tangan Tiffany dan berlari secepatnya dari tempat itu.

Tiffany melihat kesekitarnya yang terlihat sepi, tubuhnya bergetar hebat karena rasa takut yang mengelilinginya.

“Siwon oppa, tolong aku.” Bisiknya sambil berusaha bangkit dan memaksa jalan.

Langkahnya terhenti ketika kedua matanya menangkap pemandangan yang tak terduga. Dilihatnya tak jauh dari tempat mobilnya berhenti sekelompok orang berpakaian hitam dan masker yang melekat diwajah mereka berdiri menantang 3 orang yang juga sama persis dengan mereka. 3 orang yang membelakangi Tiffany.

Tubuhnya tiba-tiba menegang ketika suara tembakan menggelegar ditelinganya. Dengan cepat, Tiffany menjongkokkan tubuhnya disamping mobilnya itu. Dan menutup kedua telinganya. Ia berusaha meredam suara-suara menakutkan yang ia dengar tak jauh dari tempatnya berada.

“Appa… Eomma…” ia terus berguman tak jelas. Suaranya tedengar lirih dan serak. Tubuhnya semakin gemetar setiap kali mendengar suara tembakan dan baku hantam disekelilingnya.

“Aaakkkkkhhh….”

“Jangan bergerak! Atau pisau ini akan menggores leher anda aghassi.”

“Ahn-ahn ahjussi?”

Tiffany menatap tak percaya, ketika melihat Ahn ahjussi meletakkan pisau tajamnya disekitar leher Tiffany.

“Tuan muda, hentikan! Atau saya akan membunuh gadis ini.”

Tiffany tersentak, dan dengan gerakan takut. Matanya menatap kearah orang-orang bermasker tersebut. Dilihatnya 3 orang laki-laki yang berbalik cepat dan menatap tajam kearahnya dan Ahn ahjussi.

Ketiga laki-laki itu melangkah pelan kearah mereka berdua. Tiffany tak mampu menahan airmatanya yang terus mengalir. Ia begitu takut. Jantungnya berdetak cepat, membuatnya merasakan sesak yang mendalam. Tiba-tiba terlintas bayangan Choi Siwon, kekasihnya. Saat ini Tiffany hanya ingin bertemu laki-laki itu. Ia ingin memeluk laki-laki itu dan meminta perlindungan.

“Lepaskan!” suaranya terkesan dingin dan penuh penekanan. Tiffany merasa ada yang aneh, ketika mendengar suara laki-laki itu.

“Hhahahaha…. Maaf tuan muda saya tidak bisa melepaskan gadis ini. Saya diperintah untuk membunuhnya.”

Tangan laki-laki itu mengepal, dan kedua orang laki-laki lainnya. Yang berdiri tepat disampinganya menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kau akan tau akibatnya.”

“Saya hanya menjalani tugas saya tuan.”

Tiffany memejamkan matanya, bedoa dalam hati. Ia begitu takut hingga tak mampu bersuara. Meski begitu, telinganya terus memusatkan pendengarnya pada satu suara yang begitu familiar ditelinganya.

Laki-laki itu mengangkat wajahnya secara perlahan, mengesankan keangkuhan yang mendalam pada sosok laki-laki bertubuh tegap itu.

Ketiga laki-laki itu saling melirik, memberikan kode dari kedua mata mereka. Masker hitam yang digunakan mereka membuat siapaun tak mampu membaca gerakan mereka yang terlihat gesit itu.

Dan seketika, Ahn Ahjussi tersungkur kebelakang ketika kaki laki-laki itu menghantam lengannya. Membuat pisau yang ditangannya terhempas jauh dari pegangannya. Dan dengan cepat pula menghantam tubuh pria paruh baya itu kebelakang. Membuat Tiffany ikut terjatuh tak berdaya dengan tubuh yang bergetar.

“Gwaenchana?”

Tiffany membuka kedua matanya perlahan. Lalu menatap wajah didepannya dengan sayu.

          DEG

 

          Mata gadis itu terbelalak ketika kedua matanya bertemu dengan mata laki-laki didepannya. Baru saja ia akan membuka suara, suara hantaman terdengar dari belakangnya. Sebuah balok berukuran besar hampir saja menghantam kepalanya jika tangan laki-laki itu tak menghalaunya.

Laki-laki itu seketika melepas rangkulannya pada Tiffany. Dan dengan gerakan cepat menyerang Ahn ahjussi. Tubuhnya menduduki tubuh Ahn ahjussi, dan menghajar dengan pukulan-pukulan yang keras. Kepalan tangannya yang bertubi-tubi memukul wajah Ahn ahjussi membuat pria itu tak berdaya.

“Hentikan! Tolong hentikan. Jangan pukuli dia lagi.” Teriak Tiffany histeris ketika melihat laki-laki itu terus memukuli Ahn ahjussi yang sudah tak berdaya.

“Andwae… andwae.” Tiffany tercengang ketika laki-laki itu menodongkan sebuah pistol dikepala Ahn ahjussi.

Bukkkk… ..

Laki-laki itu tiba-tiba tersungkur ketika sebuah tendangan dari samping tubuhnya menghempaskan tubuhnya menjauh dari tubuh Ahn ahjussi.

“Sial!” teriak laki-laki itu.

Laki-laki itu berlari kearah seseorang yang menendangnya tadi. Kaki kanannya bertapak pada mobil Tiffany dan melakukan tendangan melayang kearah wajah orang itu. Membuat orang itu tersungkur. Baru saja ia akan kembali menghatamkan kakinya pada orang tersebut. Ahn ahjussi menendang laki-laki itu dari belakang. Membuat laki-laki itu ikut tersungkur.

“Jangan menghalangi pekerjaan kami tuan muda.”

“Brengsek, mati kalian semua.” Laki-laki itu terbangun

Ia memutarkan tubuhnya, lalu memberikan tendangannya lagi. Sekaligus kepada dua orang didepannya. Melihat itu, Tiffany menutup mulutnya tak percaya. Ketika dua orang yang termasuk Ahn ahjussi tersungkur. Dan yang membuat Tiffany semakin tercengang ketika laki-laki itu mengeluarkan pisau kecilnya dan menghembuskannya pada tubuh laki-laki bermasker yang lain itu. Dan seketika, membuatnya mati tak berdaya.

“Tu-tuan, saya- saya hanya menjalankan tugas saya. To-long, ja-jangan –aaghhh…”

Laki-laki itu mencekik Ahn ahjussi dengan tangan kirinya, matanya berkilat marah. Sebelah tangan yang satu lagi, bergerak perlahan memasuki jaket hitamnya. Ingin mengambil sesuatu. Baru saja, ia akan mengambilnya. Secara tiba-tiba Ahn ahjussi memberontak dan tanpa sengaja membuat masker diwajah laki-laki itu terlepas.

Baik laki-laki itu maupun Ahn ahjussi sama-sama tercengang. Bahkan Tiffany sampai membelalakan matanya, dan langsung terduduk tak berdaya ketika kakinya yang lemas tak mampu menopang tubuhnya yang terasa berat. Tiffany tergagap ditempatnya, ia merasakan udara sekitarnya menghilang seketika.

Melihat itu, laki-laki tersebut mengeram marah. Lantas mencabut pistol lainnya yang tersimpan didalam jaketnya. Ahn ahjussi terhenyak melihat sebuah pistol melekat dikeningnya.

Tiffany, yang masih terdiam dan terpaku merasakan tubuhnya semakir bergetar hebat. “O-op-”

“Mati kau!” kata laki-laki itu.

“Hyeong!”

Laki-laki itu melepaskan tangannya yang mencekik Ahn ahjussi dan melangkah mundur. Begitu pula dengan Ahn ahjussi yang melangkah mundur dengan takut.

“Hyeong hentikan!” teriak salah satu dari dua laki-laki uang baru saja datang itu. Setelah seruan dari laki-laki disebelahnya tak dihiraukan. Keduanya baru saja mengurus laki-laki bermasker lainnya. Dan yang membuat mereka tak percaya, ketika melihat masker yang dikenakan laki-laki yang tengah memegang pistolnya itu terbuka. Menampakan wajah tampannya yang terlihat menakutkan saat ini. matanya terlihat tajam dan dingin.

“Op-pa….”

Dorrr..

Doorrrr ….

Doorrrr …………

Tiffany dan kedua orang bermasker itu menatap tak percaya dengan apa yang dilihat mereka saat ini. Laki-laki itu menembak Ahn ahjussi sebayak tiga kali tepat dikepala, jantung dan kembali ke kepala Ahn ahjussi.

Mungkin untuk kedua laki-laki bermasker itu tak masalah pada hal penembakan itu. Yang membuat mereka tercengang ketika dengan nekatnya laki-laki itu, malakukannya tepat didepan… kekasihnya.

“Siwon oppa…” Tiffany berguman lirih, tatapan matanya lurus menatap laki-laki yang baru saja menembak Ahn ahjussi didepan matanya. Yang ternyata adalah Choi Siwon, kekasihnya.

Tangan Siwon bergetar, dengan perlahan tangannya yang tadi terangkat menurun secara perlahan. Kosong dan hampa. Itu terlihat dari sorot matanya saat ini. Ia bahkan tak mampu membalikkan tubuhnya, untuk melihat gadis yang memangil namanya dengan lirih itu.

“Op-pa.”

“Maldo andwae, maldo andwae.” Tiffany merasa ia akan gila saat ini. Ia merasa dunianya menggelap seketika, saat menerima kenyataan yang ada. Ini menyakitkan, dan bukan yang diharapkannya. Tiffany tak mampu lagi berkata-kata, ia kembali mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk menahan sesak yang mendalam itu.

Ia menatap dalam laki-laki yang dicintainya itu. Laki-laki yang bahkan tak mampu menatapnya saat ini. Dan saat itu, Tiffany hanya mampu berbisik dalam hatinya. Hanya mampu menangis dalam diamnya, dan menjerit dalam kebisuannya. Sebelum tubuh lemahnya terrgeletak tak berdaya dan menutupkan matanya merasakan hilangnya sesuatu didirinya. Sesuatu yang membuatnya hidup. Sesuatu yang bahagia. Cintanya, apakah tetap sama?

[END]

 

Annyeonghaseyo, Song Haneul imnida.

Heoh, admin yakin kalian pasti bingung dan mungkin ada yang merasa kesal sama endingnya. Mianhae…..
Ehhhmmm, semoga kalian suka ya.

 

136 thoughts on “41 DAYS

  1. aku kira endingnya si siwon atau tiffany-nya mati. ternyata bukan.
    keren loh thor, ceritanya beda dari yang aku pikirkan
    nanti nanti bikin ff kaya gini lagi yaa
    Fighting!~

  2. Ini awal mulanya TROUBLEMAKER yah ?!
    Keren banget thor (y), endingnya agak ngegantung thor tapi udah ada sequelnya jadi udah nggak. Semoga akhir cerita di sequelnya happy ending
    Keep writing yah thor^^!!!!

  3. Ini ff udah lama banget dan aku baru baca skaranggg. Keren thor.
    Aku mau baca trouble maker tapi kok 4b belom ada ? Lanjutin ya thorr, ditunggu. Fightingg

  4. Jadi ini awal mulanya troublemaker ya.saya baru baca ff ini dan ff ini udah lama.agak bingung sih jalan ceritanya thor,tapi saya suka kok ama sifany.saya akan baca troublemaker selanjutnya, mudah2an happy ending ya thor.
    Thanks buat author for ffnya.

  5. Jadi ini awal mulanya troublemaker.ff ini udah lama ya,soalnya saya baru baca ffb ini,agak bingung sih ceritanya thor.saya akan baca kelanjutannya ditroublemakernya,semogo di
    happy ending ya thor.aku

  6. Masih bingung dengan jalan ceritanya.. Sbnernya pekerjaan siwon apaan?? Misterius banget ceritanya disini.. Tapi aku suka kok walau akhirnya menggantung.. Dan ini awal cerita trouble maker ya?? Hmm brarti masih ada kelanjutan cerita. Oke aku bakalan baca trouble maker deh.. Semangat thor untuk ff selanjutnya 👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s