(AD) Mission Completed Part 3

Mission Completed

MISSION COMPLETED

Author : Elsa Mardian

Genre: Romance, Angst, Hurt

Rating: PG-17

Cast : Choi Siwon, Tiffany Hwang, Jung Yunho, Jessica, Yoona, Lee Dongwook

Disclaimer:

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

Part 3-End

Mission Completed

PART 3-END

 

Author POV

“Yeobosaeyo, Sica Eonnie?”

“Yoong… kau-kau sekarang dimana?”

Yoona mengernyit mendengar suara Jessica yang terbata-bata. Ia melirik ke arah Kyuhyun yang sedang memandanginya.

“Aku di amusement park dengan Kyu Oppa. Waeyo? Eonnie, kenapa kau gugup begitu? Ada apa?”

Yoona selalu bisa merasakan keadaan buruk kakaknya. Apalagi setelah mendengar suara Jessica yang terbata-bata serta mencicit seperti itu. Bukankah tadi ia pergi dengan Dongwook Oppa?

“Oh… Yoongie. Aku..aku benar-benar takut saat ini. Tapi jangan khawatir, aku masih bersama Dongwook Oppa. Kami berada di suatu tempat,” ujar Jessica lagi.

Yoona semakin bingung, membuatnya duduk dengan gelisah. Tepat saat itu, Kyuhyun datang menghampirinya dengan dua kaleng minuman. Ia melihat ekspresi wajah Yoona yang tidak secerah tadi, walaupun gadis itu masih berusaha tersenyum manis padanya. Lalu Kyu memutuskan untuk duduk di samping Yoona, tidak ingin mengganggu pembicaraan gadis itu dengan si penelepon.

“Eonnie, apa yang membuatmu ketakutan? Katakan padaku!” tukas Yoona.

Terdengar Jessica mendesah panjang. Hanya ia yang mengetahui rahasia tentang Tiffany langsung dari mulut Dongwook. Bukan hanya itu, bukti-bukti seperti foto dan dokumen-dokumen juga meyakinkan. Namun dalam kasus ini Tiffany bukanlah tersangka, melainkan korban yang sebenarnya.

“Yoongie-yah, kau harus berjanji akan menuruti perintahku kali ini. Kau harus percaya padaku. Apa kau mengerti?” suara Jessica terdengar sangat serius.

Yoona melirik Kyuhyun yang sedang mengernyitkan kening padanya. Jika Jessica sedang bersama Dongwook, apa yang membuatnya setakut ini?

“N-nde, Eonnie.”

Jessica menghela napasnya sebelum memulai pembicaraan.

“Yoona, ini tentang Tiffany Hwang….”

Tiffany menyetir masih dalam keadaan menangis dan hati yang tercabik-cabik. Ia terpaksa mengikuti perintah Yunho karena memang dengan cara membunuh In Ha, semua dendamnya terbalaskan. Tiffany hanya tidak sanggup membayangkan kehilangan Siwon. Namun itu semua adalah konsekuensi yang harus ditanggungnya. Walaupun Yunho telah mengajarinya bagaimana cara menembak, memberi racun serta memberi perlindungan hukum setelah melakukannya, batin Tiffany masih tidak bisa menerima.

Ia mulai bertanya kepada hatinya, apa aku memang sudah ditakdirkan menjadi seseorang berhati dingin dan dendam? Apakah orangtuaku senang melihatku seperti ini? Apakah mereka setuju dengan rencana Yunho Appa?

Tiffany masih ingat betapa lemah lembut ibu angkatnya, Ahra. Wanita itu memberikan kasih sayang kepada Tiffany layaknya anak sendiri. Berbeda dengan Yunho. Setelah kematian sang istri lah ia baru memperhatikan Tiffany, tapi bukan dengan kasih sayang, melainkan dengan didikan keras serta sangat disiplin.

Kemudian setelah mengenal arti sesungguhnya dari Siwon, hati Tiffany yang awalnya kaku, sekarang telah menghangat. Ia kembali merasakan kasih sayang Ahra, dan sekarang dari seorang laki-laki. Tiffany mendapatkan banyak kasih sayang dari Joseph Hwang dahulunya, tapi tentu saja ia tidak bisa mengingat apa-apa.

Siwon-lah laki-laki yang pertama mencintainya dengan tulus.

Tiffany menoleh ke samping. Matanya masih panas oleh airmata ketika melihat pistol itu terletak di atas tasnya. Kata-kata ancaman Yunho masih terngiang-ngiang di telinga wanita itu.

“Apa maksud Appa dengan memastikan tidak akan melihatnya lagi?”

“Tidakkah jelas olehmu? Jika hanya karna perasaan bodohmu itu kepada Siwon menghalangi semua rencana kita, aku akan pastikan kalau kau hanya bisa melihat jasadnya saja. Jadi, kau bunuh Choi In Ha, Siwon akan selamat. Jika kau tidak membunuh Choi In Ha, aku yang akan membunuhnya….sekaligus anak kesayangannya itu.”

Tiffany menginjak rem mendadak tepat di tepi sungai Han. Ia membenamkan wajah di stir yang digenggamnya erat. Dadanya terasa sesak sekali. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Tubuhnya masih gemetar merasakan kebencian, kemarahan, keputusasaan, dan kebimbangan yang amat sangat dan ia sendiri tidak mengerti perasaan itu untuk siapa. Apakah untuk In Ha, Yunho, atau bahkan untuk dirinya sendiri?

“AAAAAAAAARRRRRGGGGHHH!” teriak Tiffany di dalam mobil. Ia berharap masalah-masalahnya keluar seiring teriakan itu. Tiffany ingin masalah ini cepat berakhir, ia ingin segera berhadapan dengan Choi In Ha agar semuanya jelas.

Apakah ia harus membunuh atau melihat orang yang sangat dicintainya ikut menjadi korban?

Tanpa disadari Tiffany, ada sepasang mata yang mengawasinya dari jauh. Dia mengikuti Tiffany dan mengawasi gerak-gerik wanita itu sejak keluar dari rumah Yunho tadi.

Yoona diam seribu bahasa dalam perjalanan menuju gedung apartemen Siwon dan Tiffany berada. Kyuhyun tidak tahu apa-apa selain perubahan mood Yoona setelah pembicaraan di telepon dengan Jessica. Ia penasaran setengah mati apa yang sedang terjadi. Namun Kyu berpikir mungkin ini adalah masalah keluarga, jadi ia hanya bertugas mengantarkan Yoona ke tempat yang gadis itu inginkan.

Sebenarnya Kyu ingin mengungkapkan rasa suka pada Yoona saat di amusement park. Tapi telepon Jessica menggagalkan segalanya. Kini Kyu merasa sedikit kecewa dan putus asa karena besok Yoona sudah pergi dari Negara ini.

Entah kapan mereka akan bertemu kembali.

“Oppa, terimakasih telah mengajakku jalan-jalan hari ini. Maaf jika aku harus pergi sekarang sebab ada masalah yang sangat penting. Tapi aku berjanji akan menemuimu setelah masalah ini selesai,” ungkap Yoona sebelum turun dari mobil Kyuhyun. Mereka sudah sampai di depan gedung apartemen.

“Baiklah. Yoona-yah, apa ada yang bisa kubantu?” tanya Kyu tulus. Ia memegang pergelangan tangan Yoona.

Gadis berambut panjang itu tersenyum. “Doakan saja aku. Oke?”

Kyuhyun tidak menjawab ataupun mengangguk. Namun ia dengan berat hati melepaskan tangan Yoona.

“Kalau begitu, aku pergi. Sampai bertemu lagi, Oppa.”

Yoona memberanikan dirinya untuk meninggalkan ciuman singkat di pipi Kyu, membuat pria tampan itu tercekat senang. Yoona menarik lagi dirinya sambil tersipu, kemudian keluar dari mobil.

Yoona tidak menoleh lagi ke belakang. Ia melanjutkan langkahnya yang sedikit tergesa-gesa. Ia secepatnya harus menemukan Tiffany. Itulah tujuannya kesini, bukan untuk menemui Siwon. Ia telah mengetahui rahasia Tiffany dari Jessica. Sama seperti kakaknya, Yoona juga belum tahu modus Tiffany yang sebenarnya. Setidaknya Yoona mengetahui siapa penjahat dalam masalah yang baru ia ketahui ini. Yoona dan Jessica memang tidak ada hubungannya dengan misi jahat Tiffany serta Yunho, namun mereka tidak akan membiarkan Siwon dan Pamannya tersakiti.

Yoona berharap Tiffany ada di apartemennya, bukan di apartemen Siwon. Sesuai perintah Jessica dan Dongwook, Yoona harus menemukan Tiffany segera sebelum mereka berangkat ke Paris esok hari.

Sampai di lantai dimana unit Tiffany berada, Yoona berjalan ke pintu berlabel 707. Apartemen Tiffany. Yoona merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka ikut terjun ke dalam masalah yang sangat pelik ini. Tapi ia menyayangi Tiffany seperti kakaknya sendiri.

Yoona menekan bel lalu menunggu. Telapak tangan Yoona mulai berkeringat, kenapa Tiffany tidak kunjung membuka pintunya? Yoona menekan sekali lagi. Tetap saja tidak mendapat jawaban. Apa Tiffany tidak ada di dalam? Yoona khawatir. Bagaimana sekarang? Mungkin ia harus menghubungi Jessica lagi untuk perintah selanjutnya.

Gadis cantik itu membuka tas yang tergantung di lengan kanannya, bermaksud untuk mengambil ponsel. Tapi…

“Dimana ponselku? Bukankah tadi sudah kumasukkan ke dalam tas?” gumam Yoona panik.

Sial! Kemana ponselnya? Seingatnya tadi setelah pembicaraan dengan Jessica, ia masih memegang benda itu. Kemudian Kyu mengantarnya kesini. Yoona tidak kemana-mana lagi selain masuk ke mobil Kyu. Tunggu! Apa ponselnya terjatuh di dalam mobil Kyu? Yoona mengutuk dirinya sendiri. Pabo!

“Aish, Im YoonAh paboya! Apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Yoona-yah? Apa yang kau lakukan disini?”

Yoona terlonjak kaget. Ia membalikkan tubuhnya ke belakang dengan super cepat. Yoona menahan napas sesaat, menatap tanpa berkedip pada sosok yang kini berhadapan dengannya. Yoona menelan ludah dengan susah payah.

“T..Tiffany Eonnie?”

Yoona bisa melihat mata Tiffany memerah dan sembab walaupun ia memakai kacamata berbingkai tebal. Tiffany mendekati Yoona.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tiffany mengulangi pertanyaannya.

“Aku…aku ingin menemuimu, Eonnie.”

“Kenapa tidak menghubungi dulu? Apa kau sudah menunggu lama?”

Yoona menggeleng cepat. Tiffany memberikan senyum kecil lalu maju dan menekan kombinasi password untuk membuka pintu apartemennya. Ia tidak curiga dengan kedatangan Yoona sedikitpun. Kemudian Tiffany mempersilakan Yoona masuk ke apartemennya.

“Duduklah, aku akan membuatkan minuman untukmu,” ucap Tiffany datar. Yoona hanya mengangguk lemah. Matanya mengawasi Tiffany yang berjalan ke dapur, masih dengan tas pink yang tergantung di lengannya. Wajah Tiffany juga tampak sangat menyedihkan, tertekan dan frustasi.

Yoona memutuskan untuk mendekati Tiffany. Ia yakin, seberapapun jahat niatnya kepada In Ha, Tiffany tidak akan menyakiti orang lain. Yoona berdiri di ambang pintu dapur sementara Tiffany menyibukkan diri di counter dapur.

“Eonnie?” panggil Yoona. Tiffany menghentikan adukan tehnya dan menoleh ke arah Yoona.

“Nde? Bukankah tadi aku menyuruhmu duduk?”

Tiffany dan Yoona saling pandang untuk beberapa saat. Keduanya sama-sama was-was. Tiffany cemas karena Yoona datang ke apartemennya di saat yang tidak tepat—karena ia masih membawa pistol sialan itu—sedangkan Yoona cemas karena Tiffany bisa ‘meledak’ kapan saja.

“Eonnie, batalkan rencanamu.”

Tiffany POV

Jantungku terasa berhenti tiba-tiba setelah mendengar pertanyaan Yoona. Gadis itu menatapku tajam. Apa yang ada di dalam pikirannya? Yang lebih penting, apa yang diketahuinya sehingga ia melontarkan pertanyaan seperti itu padaku? Aku berjalan mendekatinya dan aku melihat dengan jelas ia mundur beberapa langkah. Ia juga menelan ludah, sangat terlihat di leher kurusnya.

Jelas sekali ia takut meliatku!

“Apa maksudmu?” tanyaku tajam. Meskipun Yoona jauh lebih tinggi dariku, tetapi ia tampak lebih rapuh.

“Eon…Eonnie, aku ya-yakin kalau kau tak akan…tak akan tega menyakiti seekor lalat sekalipun. Eonnie, kau harus mengetahui kebenarannya,” cicit Yoona. Ia terus mundur sampai terkepung oleh sofa serta tubuhku.

Aku membeku mendengar kata-kata Yoona. Kecurigaanku beberapa saat lalu benar. Ia mengetahui sesuatu. Aku memegang erat tali tas yang masih kugantung di lengan. Jangan sampai aku menggunakan benda ini untuk menutup mulutnya. Tidak! Gadis ini adalah Yoona, gadis baik.

“Katakan Im Yoon Ah! Apa yang kau ketahui?” desakku sambil melepaskan peganganku pada tas kemudian mencengkram erat kedua lengan kurus Yoona.

Mata Yoona mulai berair. Sebentar lagi sepertinya ia akan menangis.

“Tiffany Eonnie, aku tahu tentang masa lalumu. Kau sudah salah paham selama ini. Ada seseorang yang memberitahuku. Jangan percaya dengan Jung Yunho, aku sangat memohon padamu. Kau sudah dimanfaatkannya. Tiffany Eonnie, jebal!”

Kemudian yang aku dengar hanyalah isakan Yoona. Mataku tak berkedip memandanginya. Satu persatu kata-kata yang diucapkan Yoona beberapa detik lalu masuk ke otakku. Aku mencernanya sebaik mungkin. Dia tahu tentang Yunho serta rencananya. Tanganku semakin kuat mencengkram lengan Yoona yang tidak dilindungi lapisan baju.

“Yoona, siapa yang mengatakan ini kepadamu? Eoh?!” desisku.

“Lebih baik kau mendengar langsung darinya, Eonnie. Aku hanya perantara disini,” jawab Yoona.

Aku masih tidak terima diberi informasi yang tidak jelas seperti ini. Aku pun semakin mendesak Yoona agar mengatakan siapa informannya. Sebagian dari diriku sudah ketakutan. Apa Siwon sudah tahu apa yang diketahui adik sepupunya ini?

“Eonnie, izinkan aku menghubungi Jessica Eonnie terlebih dahulu. Setelah itu kita pergi dari sini. Kau dalam bahaya, Eonnie. Percayalah padaku!”

“Yoona! Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Kau ada di pihak musuhku. Kau bisa saja menipuku!” tandasku keras. Aku akan berbuat apa saja untuk melindungi diriku saat ini.

“Percayalah padaku, Eonnie! Baiklah, aku akan mengatakan sedikit kepadamu agar kau percaya padaku. Eonnie, aku tahu kalau kau anak angkat dari Jung Yunho. Aku tahu kalau kau sudah yatim piatu sejak usiamu 5 tahun. Orangtuamu dibunuh Eonnie, bukan kecelakaan biasa,” aku bisa melihat mata Yoona berkilat-kilat oleh airmata.

“Aku sudah tahu itu, Yoona. Dan Choi In Ha lah pembunuhnya! Choi In Ha, pamanmu! Bajngan itu yang membunuh orangtuaku!” teriakku di depan wajah Yoona.

Gadis itu menahan tangisannya yang dalam. Dadanya turun naik dengan cepat. Kepalanya menggeleng kuat-kuat, seolah-olah membantah kata-kataku.

“Bukan, Eonnie. Bukan! Kau salah paham. Bukan Pamanku yang membunuh orangtuamu!”

Aku termagu. Apa dasarnya ia membantah fakta itu? mendengar Yoona membela bajingan tengik itu membuat darahku mendidih hingga ke ubun-ubun.

“Lalu, siapa? Kau membela Pamanmu, tentu saja!” cetusku seraya mendengus sinis.

“Eonnie, aku tahu pembunuhnya. Aku tahu dari sumber yang dapat dipercaya. Pembunuh Ayah dan Ibumu adalah…Ayah angkatmu sendiri, Jung Yunho.”

Yoona POV

“Eonnie, aku tahu pembunuhnya. Aku tahu dari sumber yang dapat dipercaya. Pembunuh Ayah dan Ibumu adalah…Ayah angkatmu sendiri, Jung Yunho.”

Tiffany Eonnie tercekat. Ia pucat pasi bagaikan mayat hidup. Aku sangat iba padanya. Andaikan aku mempunyai kekuatan, aku pasti akan menyembuhkan luka hatinya saat ini. Aku tahu ia tidak akan dengan mudahnya percaya dengan apa yang kusampaikan. Tapi ia harus percaya! Setidaknya Dongwook Oppa dan Jessica Eonnie mempercayaiku untuk meyakinkan Tiffany Eonnie lalu membawanya pergi.

M-mwo?”

“Sekarang Jessica Eonnie sedang bersama Lee Dong Wook. Dia merupakan seorang polisi Intel yang menangani kasusmu. Mereka memerintahkanku untuk membawamu pergi ke tempat mereka. Tapi sekarang aku kehilangan ponsel—“

Changkamman! Lee…Dong Wook?” Tiffany Eonnie tampak makin frustasi.

“Nde. Dia adalah pria yang menghubungi Sica Eonnie saat kita makan siang. Eonnie, aku tahu semua ini pasti berat untukmu walaupun aku belum tahu semua ceritanya. Aku yakin kalau Pamanku bukan seorang pembunuh. Beliau orang baik, Eonnie. Apa kau percaya padaku?”

Author POV

“Tuan, aku sudah mengikuti Tiffany. Dia masuk ke apartemennya 20 menit yang lalu dan belum melihatnya keluar. Tadi ia sempat berhenti di tepi sungai Han tapi aku tidak melihat ia membuang senjata api itu.”

“Benarkah? Gin, jangan sampai kau kehilangan jejak Tiffany. Sejak pembicaraan kami tadi, aku curiga ia mulai melemah. Aku takut dia membatalkan niatnya ataupun membuang senjata api yang kuberikan!”

“Baik, Tuan Jung.”

Gin, seorang pria bayaran Yunho yang sejak tadi mengikuti Tiffany. Ia diperintahkan untuk tetap mengikuti Tiffany dan memastikan wanita itu tidak membatalkan niatnya membunuh In Ha. Gin juga ikut terbang ke Paris esok hari tanpa sepengetahuan Tiffany. Dalam mobil yang berkaca gelap, Gin bisa memantau keadaan diluar.

Tak lama kemudian, Gin terkejut melihat Tiffany keluar dari gedung itu dengan mobilnya. Dan Tiffany tidak sendirian. Ia bersama seorang gadis yang hampir sebaya dengannya. Gin langsung tanggap. Ia menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti mobil Tiffany. Dari kaca belakang mobil Tiffany, Gin bisa melihat ternyata bukan Tiffany yang menyetir. Jika begitu, berarti Tiffany pergi tidak atas kemauannya. Ia dibawa pergi oleh gadis di sampingnya.

Gin memperdalam injakan gasnya. Ia belum pernah melihat gadis itu. Apa hanya sekedar teman biasa atau ada hubungannya dengan Choi Siwon? Tiffany juga belum mengganti pakaiannya. Ia masih membawa tas pink yang berisi pistol pemberian Yunho.

Sementara itu di dalam mobil Tiffany, Yoona masih berkonsentrasi menyetir. Sesekali ia melirik Tiffany yang masih meringkuk frustasi. Tadi ia sudah menghubungi Jessica dan meminta alamat dimana mereka akan bertemu. Yoona benar-benar kehilangan ponselnya. Jika memang terjatuh di dalam mobil Kyu, ia berharap pria itu menyimpannya.

Sampai di jalan yang sedikit sepi menuju markas Dong Wook, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menyalip jalan Yoona dan Tiffany. Mobil Gin. Yoona terkejut ketika mobil itu berhenti di depannya, membuat Yoona menginjak rem mendadak. Beruntung Yoona ataupun Tiffany mengenakan sabuk pengaman.

Gin keluar dari mobilnya dan berdiri disana untuk beberapa saat. Ia menatap lurus ke arah mobil Tiffany. Baik Tiffany maupun Yoona tidak mengenal Gin. Mereka hanya terdiam di tempat duduk masing-masing.

“Siapa dia? Eonnie, apa kau mengenalnya?” tanya Yoona pelan.

Tiffany menggeleng. Mata mereka mengawasi langkah laki-laki berpakaian serba hitam tersebut. Ia semakin mendekat ke mobil Tiffany.

“Hallo, ladies. Keluarlah!” seru Gin sambil mengetuk kaca mobil di sisi Tiffany. Tiffany saling pandang dengan Yoona dan memegang pegangan pintu. Dengan tangkas Yoona menarik tangan Tiffany kembali. Ia mempunyai perasaan tidak baik saat ini.

“Jangan dibuka, Eonnie!” cegah Yoona.

Tiffany menatap Yoona sebentar. “Yoona, kita harus tahu apa maksudnya menghalangi jalan kita.”

Tiffany membuka pintu mobilnya dan turun. Ia tidak mempunyai rasa takut lagi saat ini. Jika cerita yang diberitahu Yoona tadi benar, Tiffany berani membunuh Jung Yunho saat ini juga. Tapi sekarang semua hal masih samar-samar baginya. Melihat itu Yoona ikut turun. Gin tampak lebih menyeramkan dari dekat. Rambut panjangnya diikat sembarangan. Kulitnya sangat pucat dan tatapan matanya sangat dingin.

“Tiffany Hwang, aku adalah teman Ayahmu, Jung Yunho. Kalau aku boleh tahu, kau akan kemana dengan teman cantikmu ini?”

Tiffany dan Yoona terkejut. Ternyata pria itu suruhan Yunho. Tiffany berusaha bersikap setenang mungkin karena ia telah terbiasa. Tangan kanannya terkait dengan tangan Yoona yang gemetar.

“Bukan urusanmu. Sekarang menyingkirlah, kau menghalangi jalan kami,” ucap Tiffany sinis.

Gin tertawa, memperlihatkan gigi-giginya yang kuning. Ia semakin mendekati Tiffany serta Yoona. “Pantas saja Yunho menjadi Ayahmu. Kau mewarisi keberaniannya.”

Tiffany menatap tajam kepada Gin. “Dia bukan Ayah kandungku.”

Gin mengangkat bahu. “Aku tahu itu. Tapi ia mencintaimu seperti anaknya sendiri. Dan kau harus mematuhi perintahnya sebagai tanda balas budi.”

Kali ini Yoona yang terperangah. Pria ini pembohong besar. Ia pasti sedang mencoba mempengaruhi Tiffany. Yoona menarik tangan Tiffany, membuat perhatian Gin jatuh padanya. Tatapannya membidik Yoona.

“Eonnie, dia berbohong. Kajja, kita harus segera pergi!”

Terlambat. Sebelum Yoona menarik Tiffany menjauh, tangan kekar Gin memegangi mantel tangan Tiffany lebih kuat. Tiffany meringis kesakitan. Tangan Gin yang lain menggapai pergelangan tangan Yoona lalu menariknya mendekat. Ia semakin yakin kalau Yoona adalah pengacau.

“Wah wah wah. Kau kan belum memperkenalkan diri kepadaku. Siapa namamu, Nona Cantik?” tanya Gin seraya menyeringai lebar.

“Lepaskan!” teriak Yoona. Tiffany pun ikut memberontak. Tapi Oh Tuhan! Pria ini kuat sekali. Padahal ia hanya menggunakan satu tangannya untuk memegangi Tiffany. Namun rasanya tulang Tiffany bisa remuk karena cengkramannya.

“Tidak akan kulepaskan sampai kau memberitahuku akan membawa Tiffany kemana,” desis Gin di telinga Yoona.

“Kemana saja asalkan tidak bertemu lagi dengan orang jahat sepertimu dan Yunho!” tukas Yoona tegas. Tiffany menahan napas. Ia tahu ini pasti akan berujung buruk.

“Yoona…,” ucap Tiffany sambil menggeleng.

Gin tersenyum sinis. Ia membasahi bibirnya dengan lidah lalu menatap Tiffany dengan sadis. Mata itu sangat gelap membuat siapa saja akan bergidik melihatnya. Ia melepaskan tangan yang mencengkram tangan Yoona dan mengambil sesuatu di pinggangnya.

Sebuah pistol.

Yoona membeku di tempatnya. Ia tidak mungkin lari meninggalkan Tiffany yang masih dipegangi Gin. Tapi Gin tidak menoleh lagi ke arah Yoona. Ia masih fokus memandangi Tiffany dengan pistol yang diputar-putarnya dengan ahli.

“Sepertinya rahasia kecil kita sudah terbongkar. Wah wah wah. Apa kau seorang pengkhianat, Tiffany Hwang?” tanya Gin tajam. Tangannya makin keras mencengkram tangan Tiffany, membuatnya mati rasa.

Perlahan pistol Gin terangkat dan mengarahkannya bukan ke Tiffany, melainkan kepada Yoona. Yoona gemetar hebat saat ujung pistol itu mengarah ke dadanya. Tiffany menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Kumohon, jangan sakiti dia.”

Gin mengangguk-angguk seperti orang bodoh. “Kau ingin teman cantikmu ini tetap hidup? Kalau begitu, ikut denganku. Kalian berdua, masuk ke mobilku!”

Jessica berjalan mondar-mandir di dalam ruangan bawah tanah Dongwook. Siwon dan Jong Kook juga ada disana. Siwon lebih shock mendengar semua hal tentang Tiffany, tapi sekarang Dongwook dan Jong Kook masih melarangnya keluar.

“Bagaimana aku bisa tenang jika wanita yang kucintai sedang dalam bahaya di luar sana?! Lepaskan aku!” teriak Siwon sambil berontak dalam rangkulan Jong Kook. Walaupun pria itu bertubuh lebih besar dari Siwon, tapi tadi Siwon nyaris memukul wajahnya karena terus dihalangi untuk keluar.

“Tenanglah dulu, Siwon-ssi. Sekarang Yoona sedang dalam perjalanan membawanya ke tempat ini. Dan Woo Jang juga mengawasi mereka!” sahut Dongwook. “Tapi kemana si Woo Jang itu, ia belum juga memberitahu keberadaan kedua gadis itu?” gumam Dongwook setelahnya.

“Nah! Kau sendiri meragukan orang-orangmu. Bodoh!” bentak Siwon. Ternyata ia mendengar gumaman Dongwook. Dongwook hanya melirik kesal. Ia segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Woo Jang lagi.

“Oppa, jaga bicaramu!” desis Jessica kepada Siwon.

“Kau juga! Kenapa tidak menghubungi Yoona lagi?” kali ini Siwon memarahi Jessica.

“Aku tidak bisa, Oppa. Tadi Yoona menelpon dengan telepon di apartemen Tiffany, ia mengatakan kalau ponselnya hilang! Sekarang sabarlah. Pasti sebentar lagi mereka sampai,” jelas Jessica. Ia sendiri menyesalkan kenapa ponsel Yoona hilang. Ia sudah berkali-kali menghubunginya, namun tidak ada yang menjawab.

“Woo Jang, demi Tuhan! Kau dimana? Seharusnya gadis-gadis itu sudah sampai disini?!” bentak Dongwook yang telah berhasil terhubung dengan Woo Jang.

“Komandan, aku kehilangan mereka. Disini ada mobil Nona Hwang, tetapi Nona Hwang dan Nona Im tidak ada.”

MWO??!! Kenapa bisa begitu? Woo Jang, kau benar-benar lalai!”

“Maafkan aku. Aku akan berusaha menemukan mereka lagi. Bisa tolong berikan nomor ponsel Nona Hwang atau Nona Im? Aku akan melacak mereka.”

Kyuhyun baru saja keluar dari rumahnya. Sepulang dari mengantar Yoona tadi, Kyu kembali ke rumah dan sekarang memutuskan untuk pergi bermain squash. Ia tidak ingin berlarut-larut memikirkan kepergian Yoona esok hari. Lebih baik ia menghabiskan waktunya dengan berolah raga.

Saat memasuki mobilnya, ia melihat sebuah benda asing di lantai jok samping, tempat dimana Yoona duduk tadi. Ponsel? Ah, ceroboh sekali gadis itu, pikir Kyuhyun seraya mengambilnya.

Ponsel berwarna putih itu adalah milik Yoona. “Kenapa tadi aku tidak melihatnya? Pasti sekarang dia sedang mencari-cari benda ini. ck!” gumam Kyu. Karena penasaran Kyu membuka menunya. Ternyata tidak dikunci. Disana tertera beberapa panggilan tak terjawab dan semuanya dari Jessica.

Kyu berpikir sejenak. Yoona sedang berada dalam masalah, Kyu tahu itu. Dan sekarang Jessica beberapa kali menghubunginya. Pastilah Jessica mengkhawatirkan adiknya. Kyu menyentuh layar ponsel Yoona dan memutuskan untuk menghubungi Jessica. Setidaknya Jesica harus tahu kalau ponsel Yoona berada di tangan yang aman.

Hallo?” terdengar suara dengan logat Inggris yang amat kental.

“Oh, Jessica-ssi. Ini aku, Kyuhyun.”

“Kyuhyun-ssi? Jadi ponsel Yoona ada padamu?” semprot Jessica.

Mianhae. Ponselnya terjatuh di lantai mobilku, tapi aku tidak menyadarinya. Jangan khawatir, aku akan mengembalikannya sekarang,” ujar Kyu.

Tidak ada sahutan dari Jessica. Hanya suara sedikit ribut dari beberapa pria. Kyu mengernyit. Sebenarnya Jessica ada dimana?

“Jessica-ssi? Apa kau mendengarku?”

Masih terdengar ribut. Kyu hanya menghela napasnya penuh kesabaran. Tidak mungkin ia langsung mematikan panggilan ini.

“Kyuhyun-ah!”

Mendengar suara berat yang sangat dikenalnya, Kyu terkejut. “Hyung? Ah, jadi Jessica sedang bersamamu. Mianhae, Hyung. Ponsel Yoona ada padaku sekarang.”

“Kyu, Yoona menghilang. Kini kami sedang melacaknya.”

Kyu tidak dapat berkata apa-apa untuk beberapa detik yang panjang. Yoona menghilang? Bukankah tadi ia ke apartemen kakak sepupunya?

“Hyung, jangan bergurau, ne. Tadi jelas-jelas aku sudah mengantarnya ke gedung apartemen kakak sepupunya,” tukas Kyu. Tapi tak dapat dipungkiri kalau Kyu mulai cemas.

“Aku tidak bergurau, Kyu. Yoona mungkin dalam keadaan bahaya saat ini. Lebih baik kau ke markasku sekarang.”

Mobil Gin berhenti di depan sebuah gedung tua yang jauh dari keramaian kota Seoul. Ternyata Gin tidak membawa Tiffany dan Yoona ke rumah Jung Yunho. Ia ingin memastikan terlebih dahulu siapa Yoona sebenarnya. Gin juga merupakan seorang pembunuh berdarah dingin. Sudah lama ia menjadi orang kepercayaan Yunho dalam menghabisi nyawa musuhnya. Misalnya, Gin akan turun tangan menghabisi seseorang yang menjadi penghalang bisnis mobil illegal Yunho.

Gin telah mengikat tangan kedua gadis yang disanderanya. Tiffany dan Yoona. Disana mereka disambut oleh beberapa orang pria yang tak kalah buruk dari Gin. Mereka memandangi Tiffany dan Yoona penuh minat. Karena jarang sekali Gin membawa mangsa selain laki-laki.

“Yong Min, bawa mereka ke ruang bawah tanah. Aku akan menghubungi Tuan Jung terlebih dahulu,” perintah Gin kepada salah satu anak buahnya. Ia mendekati Tiffany dan mengelus rahang wanita itu dengan mulut pistolnya.

“Sepertinya permainan ini akan seru. Kita akan lihat bagaimana akhir hidup pengkhianat kecil ini,” desisnya.

Tiffany merasa bodoh dan marah pada saat yang sama. Dalam keadaan yang masih sangat membingungkan baginya saat ini, hatinya lebih berpihak kepada Yoona. Karena jika memang benar Yunho menyayanginya, ia tidak akan disandera Gin seperti sekarang ini.

“Kau menjijikkan,” balas Tiffany tak gentar. Mendengar itu Gin tertawa keras alih-alih marah. Ia menepuk-nepuk pelan pipi kanan Tiffany dengan gemas.

“Hahaha, aku suka wanita pemberani sepertimu,” bisik Gin. Yoona ingin muntah melihat pria itu.

“Bawa mereka!”

Pemuda bernama Yong Min dan satu orang lagi temannya menarik tangan Yoona serta Tiffany dengan kasar. Yoona mulai panik karena tadi ia mendengar Gin menyuruh mereka ke ruang bawah tanah. Ia takut dengan ruang bawah tanah sebab disana pasti sangatlah sempit dan gelap.

Yoona menahan kakinya di lantai, membuat Yong Min yang memeganginya ikut berhenti. Namun sekuat apapun Yoona memberontak, pemuda itu jauh lebih besar kekuatannya. Yoona menangis, memohon agar tidak dimasukkan kesana. Tiffany yang sudah terlebih dahulu turun ke ruang bawah tanah yang benar-benar gelap itu cemas mendengar teriakan-teriakan Yoona.

Jebal, jangan bawa aku turun! Lepaskan aku! Eonnie, aku takut! Tolong aku Eonnie!!”

Tiffany menelan ludah. Ia tidak bisa melihat apa-apa selain Yoona dan Yong Min yang bergulat di atas tangga. Hanya lubang pintu menuju ruang bawah tanah itu yang mengeluarkan cahaya.. Di pintu itu ada sebuah tangga menuju ke bawah. Tiffany masih dipegangi oleh teman Yong Min, jadi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak.

“Pemuda bodoh! Jangan sakiti dia! Apa kau tidak lihat dia sangat ketakutan?!!” bentak Tiffany.

“Jangan masukkan aku ke ruang bawah tanah. JEBAALLL!!” Yoona masih berteriak histeris.

“Aaarrgh, menyusahkan sekali!” bentak Yong Min lalu menggendong Yoona di bahu lebarnya. Yoona masih saja memberontak walaupun tangannya terikat ke belakang. Beruntung Yong Min bisa menyeimbangkan tubuh untuk turun menyusul Tiffany dan temannya.

“KELUARKAN AKUUU! TOLONG KELUARKAN AKU!! EONNIE, AKU SANGAT TAKUT KEGELAPAN. EONNIEEEE!!!”

Hati Tiffany pilu mendengarnya. Gadis semanis dan seceria Yoona kini berteriak-teriak histeris seperti orang terkena serangan mental. Yoona di dudukkan di samping Tiffany dan dalam kegelapan sekalipun Tiffany bisa merasakan tubuh Yoona bergerak liar seperti orang kejang.

“Yoona, aku disini bersamamu. Mendekatlah, Yoona!” seru Tiffany. Ia sangat berharap Yoona bisa menyadari kehadirannya. Yoona masih saja memberontak padahal Yong Min dan temannya sudah berdiri di hadapan mereka.

Yoona adalah seorang claustrophobia dan Tiffany tidak tahu itu.

“YAH! Lepaskan ikatan kami agar aku bisa menenangkannya!” bentak Tiffany. Yong Min dan temannya saling pandang. Lalu, mungkin karena terganggu dengan teriakan-teriakan Yoona yang masih membahana di ruangan itu, Yong Min berjalan menjauh dari mereka sedangkan temannya membuka ikatan di tangan Yoona serta Tiffany.

“Kalau kau bukan anak angkat dari Bos besar, aku sudah menguliti kalian daritadi,” gerutu teman Yong Min.

Tiffany POV

Setelah ikatan di tangan kami terlepas, aku langsung menggapai tubuh kurus Yoona dan menariknya ke dalam pelukanku. Ya Tuhan, tubuhnya dingin sekali dan berkeringat hebat. Apa yang terjadi padanya? Ia masih saja histeris dan aku makin memeluknya erat. Ia pun membenamkan wajahnya di leherku dan tangannya memeluk erat pinggangku.

Lima detik kemudian aku melihat cahaya orange yang berasal dari sebuah lilin besar. Cahaya itu mendekat dan aku bisa melihat Yong Min-lah yang membawa lilin itu. Ia meletakkan lilin tersebut di meja kayu kecil di depan kami. Dalam sekejap aku dapat melihat dimana aku berada, walaupun masih tidak jelas.

Aku dan Yoona duduk di lantai ubin yang dingin, sangat dingin. Di temaramnya cahaya lampu aku masih bisa melihat ruangan bawah tanah itu sangat berdebu dan penuh dengan barang rongsokkan. Kakiku merasakan kotornya lantai yang sedang kami duduki. Aku bertanya-tanya kapan binatang-binatang kotor akan muncul di sekitar kami. Sebab disini pasti sangat banyak ular, tikus, kalajengking, serta sejenisnya.

Jujur aku juga sangat ketakutan. Bukan takut kegelapan seperti Yoona, tapi dengan rasa sunyi dan binatang-binatang kotor. Namun aku harus kuat demi Yoona. Aku juga meyakinkan diriku sendiri kalau Dongwook dan Jessica pasti sedang mencari kami. Dan Siwon, dimana dia? Aku harap Siwon baik-baik saja diluar sana.

Kajja,” aku mendengar Yong Min mengajak temannya. Mereka pun menaiki tangga menuju rumah, meninggalkan kami berdua di ruangan bawah tanah ini. Disaat mereka telah mencapai puncak tangga, aku melihat cahaya putih di atas sana mulai menghitam, pertanda mereka telah menutup pintunya.

Kini, hanya aku dan Yoona yang masih menangis. Tangis Yoona mereda saat ia melihat ada cahaya temaram dari lilin yang dinyalakan Yong Min. Ia masih memelukku dengan erat. Aku merasa bersalah padanya. Karena dirikulah ia menjadi ketakutan seperti ini.

“Sudahlah, Yoona. Aku disini bersamamu,” bujukku di telinganya.

“Eonnie, aku takut kegelapan. Aku bisa melihat monster dan makhluk-makhluk jahat disini. Aku sangat takut, Eonnie. Keluarkan aku, aku mohon.”

“Sssshh…tidak ada makhluk jahat apalagi monster disini, Yoona. Ini hanya ruang bawah tanah. Sebentar lagi Jessica dan Dongwook akan datang menyelamatkan kita,” aku terus membujuknya. Mungkin ia mengidap phobia terhadap kegelapan.

“Aku butuh Sica Eonnie. Aku butuh Sica Eonnie. Aku butuh Sica Eonnie.”

Sial! Aku tidak tega melihat Yoona. Andai saja pria bernama Gin itu tidak mengambil task u. disana aku masih menyimpan pistol pemberian Yunho Appa.

Aku terdiam lalu mendengus. Pantaskah aku masih memanggilnya Appa? Aku semakin yakin dengan apa yang dikatakan Yoona. Bukan Choi In Ha yang membunuh kedua orangtuaku. Tapi Jung Yunho.

Tanganku mengepal. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Betapa bodohnya selama ini aku tidak menyadari siapa penjahat yang sebenarnya. Dia dengan kejamnya telah membuatku yatim piatu dan sekarang memanfaatkanku untuk membalaskan dendamnya kepada Choi In Ha.

Kini ketakutanku akan kematian sudah hilang. Meskipun aku harus kehilangan nyawaku sendiri, aku akan tetap melawan Yunho dan membunuhnya. Aku tidak peduli dengan apapun lagi. Mungkin sebaiknya aku bertemu orangtuaku disana.

“Eonnie, kapan mereka akan datang? Dingin sekali disini,” gumaman Yoona menyadarkanku.

Aku mengelus rambut panjangnya. “Sebentar lagi. Tunggu saja, ne!” hiburku. Tepatnya lebih menghibur diri sendiri.

Author POV

“Mungkin sudah saatnya aku pulang, Siwon-ah. Aku…akan menghadapi Jung Yunho.”

“Apa kau yakin, Abeoji?”

“Nde. Tiffany Hwang harus tahu kebenarannya. Siwon-ah, Ayah akan pulang dengan penerbangan sore ini. Ayah harap semua akan baik-baik saja sampai Ayah tiba.”

“Semoga saja. Abeoji, gomapta.”

Choi In Ha, yang tak lain adalah kunci dari permasalahan ini, akhirnya memutuskan untuk pulang setelah mendapat berita dari Siwon. Siwon sangat berharap saat ini mereka menemukan keberadaan Tiffany dan Yoona. Ayahnya tidak boleh terlambat. Karena penerbangan dari Paris ke Seoul saja sudah memakan waktu 16-18 jam. Itu artinya Ayahnya akan berada di Seoul pagi hari.

Tiba-tiba setelah pembicaraan Siwon dan Ayahnya berakhir, giliran ponsel Dongwook yang berbunyi. Woo Jang! Akhirnya!

“Nde? Apa kau sudah bisa melacaknya?”

“Sudah, Komandan. Beruntung ponsel Nona Hwang sedang dalam keadaan aktif. Lokasinya menunjukkan di jalan Dongbuk dekat sungai Han. Sekarang saya dalam perjalanan kesana, Komandan.”

Dongwook sedikit merasa lega. “Kalau begitu kirim alamat tepatnya. Secepatnya, arraseo?”

“Siap, Komandan! Tapi, apakah tidak perlu kita membawa pasukan? Aku rasa kita kalah jumlah.”

“Jangan khawatirkan itu, Woo Jang. Aku sudah mengurus semuanya. Yang penting kau kesana dan jangan sampai mereka melihatmu. Jika kau kesana beramai-ramai, itu akan menimbulkan kecurigaan mereka.”

“Aku mengerti.”

Dongwook mematikan ponselnya. Ia berdiri tegap di hadapan Jessica, Siwon, Kyuhyun serta Jong Kook.

“Woo Jang sudah menemukan tempat dimana Tiffany dan Yoona. Sepertinya mereka disandera. Aku yakin orang-orang Jung Yunho pelakunya. Kajja!”

Mendengar itu Siwon menggeram. Ia berjanji akan menghajar siapapun yang menyakiti Tiffany dan Yoona. Jessica menangis di sampingnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ketakutan Yoona saat ini. Ia takut gagal menjaga adiknya itu.

Siwon merangkul Jessica ketika mereka keluar dari markas Dongwook. Jong Kook menghubungi beberapa polisi lainnya, namun jangan datang sekarang. Polisi lain diperintahkan Dongwook untuk menunggu komando selanjutnya.

“Sebentar lagi perang akan segera dimulai,” Kyuhyun dapat mendengar gumaman Hyung-nya sebelum mereka menaiki mobil.

Woo Jang sudah sampai di gedung tua dimana Tiffany dan Yoona disekap. Ia yakin disana tempatnya karena ada dua orang yang mengobrol di depan pintu gedung tua. Mereka pasti penjaga gedung ini, pikir Woo Jang. Pria bertubuh jangkung itu mengintip dari pagar gedung. Untung saja tidak ada yang menjaga pagar tinggi tersebut. Woo Jang dengan segera mengirimkan alamat tempat ini ke Jong Kook yang sedang menyusulnya.

“Aku harus memanjat pagar ini selagi mereka sedang mengobrol,” gumam Woo Jang.

Woo Jang sudah terbiasa bergerak sendiri. Dalam penangkapan Dong Jun saat itu ia bekerja sama dengan Jong Kook. Berbeda dengan misi kali ini. Berurusan dengan kelompok Jung Yunho sama saja dengan membuat nyawa kita diujung tanduk. Tapi Woo Jang adalah seorang Intel yang sangat professional. Yang hanya ada dalam pikirannya saat ini adalah menyelamatkan Tiffany dan Yoona.

Tepat di saat akan melompat turun dari puncak tangga, Woo Jang melihat dari kejauhan sebuah mobil yang sangat dikenalnya. Matanya melebar menyadari itu adalah mobil Jung Yunho. Woo Jang serta merta melompat sebelum keberadaannya diketahui. Woo Jang jatuh ke aspal dengan mantap dan langsung menyembunyikan dirinya di tepi dinding. Jantungnya berdegup cukup kencang. Bagaimana kalau tadi ada yang melihatnya memanjat?

Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil di depan pagar. Woo Jang mengawasi kedua penjaga yang tadi mengobrol di pintu depan, membukakan pintu pagar dengan tergesa-gesa. Ternyata Yunho sendirian di dalam mobilnya. Woo Jang dapat melihat wajah Yunho yang sepertinya sedang murka.

Jantung Woo Jang semakin berdebar kencang. Ia berharap gadis-gadis di dalam baik-baik saja sampai Dongwook dan yang lainnya datang. Woo Jang mendengar mesin mobil Yunho dimatikan. Ia mengintip sedikit dari balik dinding, cukup dekat dari Yunho dan kedua penjaga.

Yunho turun dari mobil dan merapikan tuxedo hitam yang melekat di tubuh berototnya. Wajah Yunho menunjukkan kebengisan dan kemurkaan. Ia menjentikkan cerutu yang belum habis dihisapnya ke aspal dan berjalan menuju pintu gedung. Kedua penjaga tersebut memberikan bungkukan hormat yang dalam padanya.

“Dimana mereka?” terdengar suara Yunho begitu lantang.

“Di bawah tanah, Tuan!” jawab kedua penjaga serentak. Yunho langsung melangkahkan kakinya ke dalam, diikuti oleh kedua penjaga. Woo Jang cepat tanggap. Ia mengeluarkan pistol dari pinggang celananya dan mengendap-endap menuju pintu samping. Gedung tua itu mempunyai banyak sekali pintu. Tapi Woo Jang yakin kalau semua pintu mengarah ke ruang utama gedung tersebut. Pertanyaannya, pintu mana yang akan diambilnya untuk menuju ruang bawah tanah?

“Ponsel, pistol yang kau berikan, serta beberapa alat make up. Dia pasti menyimpan racun itu di suatu tempat, Tuan.”

Gin mengeluarkan semua isi tas pink yang tadi dibawa Tiffany kepada Yunho. Pria itu hanya bergumam tak jelas sambil berpikir.

“Aku rasa gadis yang bersamanya mengetahui sesuatu tentang masa lalu Tiffany. Aku yakin jika begitu, dia adalah salah satu dari kelompok Choi In Ha,” tambah Gin.

“Jangan menerka-nerka. Sekarang, bawa mereka berdua ke hadapanku. Aku sudah tidak sabar mewawancarai tikus-tikus pengganggu itu,” ujar Yunho tenang. Matanya berkilat-kilat kejam.

Gin mengangguk patuh. Kemudian ia menyerukan kepada Yong Min serta Seo Bang untuk membawa Tiffany dan Yoona ke tempatnya. Sebuah ruangan di dalam gedung yang tertutup tetapi tidak segelap ruang bawah tanah.

Yunho duduk santai di kursi yang sudah disediakan Gin. Rencananya bisa dikatakan gagal karena rahasianya telah terbongkar. Yunho mencari cara baru. Sepertinya menjadikan Tiffany sebagai sandera akan memancing Choi Siwon ke sarangnya. Mendapatkan Choi Siwon sama saja hampir mendapatkan Choi In Ha.

“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tuan?” tanya Gin memecah kesunyian.

Yunho terdiam sejenak sebelum menjawab, “Tiffany akan tetap hidup, setidaknya sampai kita mendapatkan Choi Siwon dan Choi In Ha.”

“Lalu, gadis yang satunya lagi?”

Ada keheningan sejenak yang diciptakan Yunho. Ia menyalakan satu lagi cerutu baru. Menyesap pangkalnya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke udara. Ada seringai licik di bibir tipisnya.

“Bunuh dia setelah aku menanyakan beberapa hal padanya.”

Gin tersenyum lebar. Itu yang ditunggu-tunggunya, menghabisi nyawa seseorang. Terlebih lagi makhluk secantik Yoona. Ia bisa memanfaatkan tubuh gadis itu terlebih dahulu sebelum sampai ke misi utamanya.

“Dengan senang hati, Tuan.”

Tak perlu waktu lama. Yong Min dan Seo Bang berhasil membawa Tiffany serta Yoona secara paksa. Tiffany masih sanggup berjalan, sedangkan Yoona harus digendong oleh Seo Bang karena tubuhnya sudah sangat lemas. Begitu melangkahkan kaki ke dalam, Tiffany melihat Yunho sedang duduk dengan santainya di sebuah kursi. Pria itu tersenyum manis kepada Tiffany seolah-olah mereka bertemu di acara formal.

Hal tersebut membuat Tiffany naik pitam. Ia menggigit tangan Yong Min sehingga membuat pemuda itu menjerit kesakitan. Tiffany lepas dari cengkraman Yong Min dan langsung menerjang ke depan. Yunho cepat membaca situasi. Saat Tiffany berlari ke arahnya, ia pun berdiri dan siap untuk menyambut Tiffany dengan tamparan keras di pipi wanita cantik itu.

“Eonnie!” jerit Yoona ketika melihat Tiffany terjerembab ke lantai dengan ujung bibir berdarah.

Tiffany merasa sedikit pusing dan mual. Ia menghapus darah di ujung bibirnya lalu kembali berdiri. Tapi kali ini ia tidak bisa apa-apa sebab Yong Min memegangi tubuhnya lagi.

Yunho mengusap telapak tangannya bagaikan mengusir sejumput debu. Ia menatap tajam tepat ke mata Tiffany. Gin, Yong Min dan Seo Bang menyeringai senang tatkala Yunho berjalan mendekati Tiffany. Sebelah tangannya memegangi dagu Tiffany dengan kasar.

“Kau tahu, Nak? Baru kali ini tanganku memukulmu. Kau telah membuatku menjadi Ayah angkat yang kejam,” ujar Yunho dengan ekspresi diiba-ibakan. Tiffany merasakan deru napasnya sendiri memanas. Ingin sekali ia menancapkan pisau di kedua bola mata Yunho.

“Kau…tidak pantas kupanggil Appa. ternyata selama ini aku hidup dengan seorang serigala. Kau yang telah membunuh kedua orangtuaku, Jung Yunho! KAU PEMBUNUH!”

“HAHAHAHAHA!”

Gema tawa Yunho dan ketiga laki-laki lainnya memenuhi ruangan itu. Yunho tertawa geli sekali sambil berputar-putar di tempatnya berdiri. Yoona dapat melihat kebencian yang amat sangat di mata Tiffany.

“Tiffany….Tiffany… Kasihan sekali dirimu. Kini kau lebih percaya pada musuh kita daripada aku, orang yang sudah melindungimu selama 19 tahun?”

Kemudian kepala Yunho berputar ke arah Yoona yang terduduk lemah di lantai, menyandarkan tubuh kurusnya ke dinding. Yunho tersenyum. Kini ia berjalan menghampiri Yoona.

“Dan kau gadis manis. Siapa namamu?” tanya Yunho sambil berjongkok di depan Yoona. Yoona tidak menjawab. Ia hanya meringkuk ketakutan bagai seorang kucing yang akan dimangsa.

“Kau bisa bicara, kan? Katakan, siapa namamu dan apa hubunganmu dengan Tiffany? Apa kau juga mempunyai hubungan dengan Choi In Ha?” tanya Yunho seraya mengelus rambut coklat Yoona.

Yoona menelan ludah. Ia menantang tatapan Yunho dengan beraninya.

“Nde, aku adalah keponakan Choi In Ha. Namaku Im Yoona.”

Tiffany terkejut sekaligus takut mendengar Yoona menjawab pertanyaan Yunho. Tidak seharusnya Yoona memberitahu itu, karena ia bisa ikut celaka. Prediksi Tiffany benar. Yunho tentu saja sangat membenci orang-orang yang ada hubungannya dengan Choi In Ha. Perlahan tangan Yunho terulur dan mengelus rambut halus Yoona. Ia bersikap seakan-akan ingin membelai gadis itu, namun sebaliknya. Tiba-tiba tangannya menggenggam sejumput rambut Yoona kemudian menariknya dengan kasar agar berdiri.

“Aaaaaaarrgghh!” jerit Yoona kesakitan. Untuk berdiri saja ia sulit, sekarang ia diseret menuju kursi yang diduduki Yunho. Tiffany memberontak dari cengkraman Yong Min. Ia ingin lepas dan menyelamatkan Yoona.

“LEPASKAN YOONA! JANGAN COBA-COBA MENYAKITINYA!!!” raung Tiffany. Tapi Yunho tak peduli. Ia memerintahkan Seo Bang untuk mengikat Yoona di kursi tersebut, sementara Gin membuka lemari kayu yang ada disana dan mengambil sesuatu.

Yoona tidak bisa memberontak sedikitpun karena energinya terkuras habis saat di ruang bawah tanah tadi. Ia hanya bisa berteriak dan menangis, membuat hati Tiffany pilu. Percuma memohon kepada iblis seperti Jung Yunho.

“Tenanglah sedikit, Nona Manis. Aku tidak akan menyakitimu kecuali kau menjawab pertanyaanku dengan jujur,” ujar Yunho sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepala Yoona. Sebelah kakinya menginjak paha kurus gadis itu. Kontan saja Yoona mengerang kesakitan.

“Aku mohon jangan sakiti dia,” Tiffany memohon. Ia tidak sanggup melihat Yoona kesakitan seperti itu.

“DIAM KAU! YONG MIN, IKAT TANGAN DAN TUTUP MULUT GADIS ITU!” bentakan Yunho menggelegar. Yong Min dengan sigap mengambil seutas tali dan Seo Bang membantu untuk menutup mulut Tiffany dengan lakban hitam.

Tiffany menendang apa saja yang ada di dekatnya. Ia mencakar lengan Yong Min sebelum pemuda itu mengikat pergelangan tangan sekaligus kakinya. Seo Bang menahan kepala Tiffany dan merekatkan ujung lakban di kedua pipi putihnya. Dalam sekejap, Tiffany sudah tidak dapat bergerak banyak serta bersuara. Ia terbaring di lantai, menghadap Yunho dan Yoona.

“Hmmmmppph….Hmmmmpphh!” Tiffany hanya bisa berdengung di balik penutup mulut itu.

“Nah, kalau begitu, mari kita lanjutkan sesi tanya jawab ini,” ujar Yunho santai. Mata Yoona dan Tiffany saling pandang dalam kesakitan. Tiffany tidak dapat mengontrol airmatanya lagi. Ia akan membenci dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Yoona.

“Jadi, Im Yoona-ssi. Kau adalah keponakan Choi In Ha. Apa saja yang kau katakan kepada putri angkatku?” tanya Yunho. Suaranya halus tapi terdengar mencekam.

Yoona menatap Yunho untuk beberapa saat. Matanya yang indah itu memancarkan kebencian yang amat sangat.

“Aku mengatakan kebenarannya,” jawab Yoona mantap.

Yunho menyeringai. Ia semakin menekan sebelah kakinya di paha Yoona, menciptakan erangan yang lebih keras dari gadis itu.

Tiffany terus berdengung keras di lantai.

“Oh, jadi kau tahu hal ini dari Pamanmu itu? Atau dari orang lain?”

Yunho mengerutkan alisnya, pura-pura bingung. Saat itu Gin datang dengan membawa botol yang sangat dikenal Tiffany. Botol bening dengan kayu bulat sebagai penutup mulut botolnya. Seketika tubuh Tiffany seperti tersengat ribuan volt listrik. Matanya melebar cemas.

Gin mendekati Yunho serta Yoona dengan satu botol racun Batrachotoxin di tangannya!

Tidak! Mereka tidak boleh melakukan ini kepada Yoona!

“Kau tidak menjawab pertanyaanku. Baiklah! Mari kita buat kesepakatan!” seru Yunho kemudian menurunkan sebelah kakinya yang sejak tadi menyakiti Yoona.

Ia berjalan mengelilingi kursi Yoona sambil melipat tangan di belakang tubuhnya.

“Jika kau tidak menjawab satu pertanyaanku, kau akan mendapatkan hadiah manis dariku,” lanjut Yunho tenang. Ia mengambil botol racun dari tangan Gin. “Ini. Satu pertanyaan tanpa jawaban, akan kuberi satu tetes. Dua pertanyaan, dua tetes. Dan begitu seterusnya. Apa kau setuju, Nona Im?”

Tiffany menggeleng-geleng kuat. Dadanya terasa sakit akibat meredam tangis dan teriakan dalam waktu yang bersamaan.

“HHHMMMPPH HHMMMPPHH!” dengung Tiffany. Ia menggeliat bagai belut di lantai yang licin.

“Diamlah, Tiffany. Aku akan memperlihatkan pertunjukkan bagus di depan matamu. Lagipula ia keponakan musuh kita, apa kau lupa?” tukas Yunho dengan tampang tak berdosa.

“Nona Im, aku masih menunggu jawabanmu. Apa kau ingin racun ini masuk ke dalam tubuhmu?” lanjut Yunho sambil mengelus pipi kiri Yoona.

Yoona tidak bisa berpikir jernih lagi. Jika ia harus mati sekarang, yang ia inginkan hanyalah keadilan untuk Tiffany dan Pamannya. Yoona mengangguk lemah, memberi respon kepada pertanyaan Yunho.

“Pamanku tidak mengatakan apa-apa padaku,” jawab Yoona akhirnya. Yunho mengangkat kedua alis sementara Gin, Yong Min serta Seo Bang saling pandang. Kemudian Yunho berjongkok di depan Yoona, masih menggenggam erat botol racun.

“Itu artinya kau tahu dari orang lain. Nugu?” desis Yunho.

Belum sempat Yoona membuka mulut, tiba-tiba….

DOORR!

Semua yang ada di dalam ruangan itu tersentak mendengar letusan senjata api yang berasal dari luar. Yunho menyipitkan mata dan menajamkan pendengarannya. Terdengar suara baku hantam serta teriakan-teriakan anak buahnya. Yunho segera berdiri. Tanpa menunggu komando dari bos besar mereka, Yong Min dan Seo Bang segera berlari keluar.

Shit! Gin, coba kau lihat ada apa diluar!” perintah Yunho.

“Baik!”

Gin dengan sigap melangkah keluar dan bersiap-siap mengeluarkan pistol dari pinggang celananya. Tiffany dan Yoona saling pandang. Suara-suara itu….

BRAAAK!!!

Baru saja Gin keluar dari pintu ruangan, tiba-tiba tubuhnya terpental kembali ke dalam. Tiffany dan Yoona tersentak kaget. Pintu ruangan terbuka lebar dan mereka bisa melihat Lee Dong Wook berdiri dengan gagahnya disana. Ia mengarahkan pistolnya kepada Yunho yang berdiri di belakang Yoona.

“Jung Yunho, kau ditangkap! Serahkan dirimu sekarang juga!” teriak Dongwook.

Yunho terkejut melihat Dongwook. Selama ini ia mengenal Dongwook sebagai pembeli mobil illegalnya. Tapi ternyata…

Yunho menggeram murka. Lantas, bukannya mengangkat tangannya tanda menyerah, melainkan mengambil pistol Tiffany yang masih bertengger manis di atas meja. Ia menyeringai bagai iblis dan mengarahkan benda berbahaya itu ke pelipis Yoona. Dan Dongwook pun lalai. Ia tidak memperhatikan Gin yang tadi ditendangnya ke dalam. Pria itu kini juga mengarahkan pistol ke kepala Tiffany.

“Wah wah, kau pikir aku akan menyerah dengan sangat mudah? Ingat Tuan Lee Dongwook, kau berada di tempatku,” ujar Yunho dengan suara tenang. “Sekali kau melangkah ke dalam, aku pastikan peluru dalam pistolku akan bersarang di kepala cantik ini.”

Tangan Dongwook gemetar hebat karena kemarahan yang memuncak. Ia masih mengarahkan pistolnya kepada Yunho.

Tepat saat itu, ada dua orang lagi yang muncul di belakang Yunho. Kyuhyun dan Jong Kook! Wajah mereka sedikit lebam karena pertarungan dengan anak buah Yunho yang sangat ramai di depan. Tiffany berdengung lagi. Kemana Siwon-nya? Ia sangat membutuhkan pria itu sekarang!

“Yoona!!” teriak Kyu yang ingin melangkah ke depan. Namun Dongwook segera menahannya. Tangannya sekarang sudah turun. Ia juga tidak ingin terjadi apa-apa kepada Yoona serta Tiffany.

“Jangan! Kau akan membahayakan Tiffany dan Yoona. Lebih baik kalian membantu Siwon melawan anak buah Yunho. Dan tetap lindungi Jessica!” bisik Dongwook kepada Kyu dan Jong Kook.

Tiffany POV

Aku bisa melihat kedua pria yang tadi di belakang Dongwook pergi. Mereka menatap kami penuh kecemasan ketika menjauh dari situ. Kenapa mereka pergi? Dan kemana Siwon? Dimana ia saat ini?

“Buang senjatamu dan kunci pintunya dari dalam. Cepat!!!” bentak Yunho kepada Dongwook.

Aku melihat Dongwook menuruti perintah Yunho. Ia meletakkan pistol di kakinya kemudian mengunci pintu. Aku mendengar Gin terkekeh di belakangku.

“Jadi, kau adalah kunci dari semua rahasia yang terbongkar. Aku mengerti sekarang. Ternyata kau telah menyelidiku sejak lama. Harusnya aku tahu itu. Apa kau juga yang menangkap Dong Jun?” kata Yunho.

“Ya, kau benar sekali. Menyerahlah, Jung Yunho. Kasusmu sudah sampai di tangan Jaksa dan akan segera dinaikkan ke pengadilan. Semua bukti sudah berada di tangan kepolisian dan sebentar lagi tempat ini akan dikepung,” jelas Dongwook tenang.

Benarkah? Aku lega mendengarnya. Tapi aku masih butuh cerita lengkap dari masalah ini!

“Oh, begitu ya? Jadi, bukti-bukti apa saja itu? Aku sangat penasaran. Hahahaha!” seru Yunho tak peduli. Gin juga ikut-ikut tertawa sementara pistolnya tidak lepas dari kepalaku.

Dasar iblis!

“Kau terbukti sebagai pembunuh dari Joseph Hwang dan istrinya, penggelapan dana perusahaan KIA, perjual-belian mobil illegal, serta pembunuhan terhadap terdakwa Dong Jun. Apa masih ada yang terlewat olehku?” ujar Dongwook tenang.

Penggelapan dana perusahaan KIA? Aku menahan napas. Kini aku baru menyadari kalau selama ini Yunho memutar balikkan fakta kepadaku. Pembunuh Ayah dan Ibuku serta menggelapkan dana perusahaan? Selama ini aku benar-benar mengira Choi In Ha pelakunya! Aku menyentak keras, membuat Gin makin mencengkram lenganku dengan kasar.

Jung Yunho! Aku akan membunuhmu!

“Kau membunuh ketiga korban dengan racun yang sama, yaitu Batrachotoxin atau biasa dikenal dengan racun kulit katak panah. Kau membunuh pasangan Hwang saat mereka makan malam di rumah mereka. Racun ini membunuh dengan sangat cepat, jadi tak perlu waktu lama bagimu untuk melihat kematian mereka. Kau membeli hukum dengan menyuap hakim serta jaksa di persidangan, kemudian mengambil hak asuh Tiffany Hwang agar kau benar di mata hukum.

Kasus pembunuhan selanjutnya adalah Dong Jung. Kau memberi minuman beracun kepada terdakwa Dong Jun melalui anak buahmu yang membesuknya saat itu. Kau takut kegiatan illegalmu terbongkar dan memutuskan membunuh Dong Jun agar ia tidak bisa bersaksi di pengadilan.”

Author POV

Prok prok prok!

Yunho bertepuk tangan sambil tertawa geli. Gin ikut tertawa bersamanya. Semua yang dikatakan Dongwook benar, dan Yunho sebenarnya tidak menyangka kalau rahasianya terbongkar dengan mudah.

Dongwook menatap Tiffany dan Yoona yang sudah sangat lemas. Dongwook menggeram. Ia harus mencari akal agar bisa keluar dari ruangan terkutuk ini. Dongwook berharap, Siwon, Jong Kook dan Kyuhyun bisa mengalahkan semua anak buah Yunho. Dan satu lagi! Dimana Woo Jang? Kenapa ia selalu menghilang disaat-saat genting?

“Hebat! Kau sangat hebat! Tebakanmu benar sekali. Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Menangkapku? Tangkaplah! Hahahaha!”

Tiffany merasakan kebencian yang amat sangat di dadanya. Andai saja tangannya tidak terikat saat ini, ia pasti sudah membunuh Yunho.

“Sebelum kau melakukannya, aku akan membunuh gadis-gadis manis ini,” desis Yunho diikuti oleh tawa menggelegar Gin.

Tangan Dongwook terkepal erat. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa mengambil kembali pistolnya dan menembak Yunho dan Gin dalam waktu singkat. Tapi ini berbahaya. Walaupun ia yakin dengan kemampuan menembaknya yang superior, namun ia juga yakin kalau Yunho dan Gin juga seorang ahli menembak.

Salah perhitungan saja, Dongwook akan menyesal seumur hidup.

“Kalau begitu, kau tinggal pilih Dongwook-ssi. Ingin melihat Nona Hwang atau Nona Im yang mati terlebih dahulu?” tanya Gin dengan antusias.

BRAAKKK!!!

Lagi-lagi mereka diinterupsi oleh suara debam keras dan membuat pintu terbuka. Ternyata ada seseorang yang mendobrak benda tersebut. Yunho berdecak malas lalu mereka melihat siapa yang hadir di depan pintu.

Ada seringai puas di wajah Yunho, sementara Tiffany dan Yoona tercekat lega.

Siwon.

Tiffany bergerak-gerak liar di tempatnya, berdengung keras karena mulutnya masih tertutup rapat. Ia sangat senang melihat Siwon. Meskipun tubuh Siwon sedikit terluka akibat cabikan pisau musuhnya, tapi ia berdiri gagah di ambang pintu. Tatapan mata elangnya menusuk ke arah Yunho yang menyandera kedua gadis yang dicintainya.

“Choi Siwon? Waaaah, sepertinya semakin seru. Aku belum sempat memanggilmu kemari dan sekarang kau sendiri yang datang ke hadapanku. Betapa menyenangkannya hari ini,” sambut Yunho seolah-olah sedang menyambut tamu terhormat.

“Lepaskan mereka, Pria kotor!” maki Siwon. Langkahnya berderap berbahaya mendekati mereka.

“Yah! Jangan dekat-dekat! Aku tahu kau merindukan kekasihmu, tapi jika kau melangkah lebih dekat lagi, ia akan mati dengan cara menggenaskan,” desis Yunho.

Siwon menghentikan langkahnya tepat di belakang Dongwook berdiri. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Tiffany dan Yoona. Melihat kondisi Yoona dan Tiffany sekarang saja membuat hati Siwon terenyuh.

Kemudian entah darimana datangnya, Yong Min muncul di belakang Siwon lalu mengacungkan sebuah tongkat baseball  di udara. Tiffany melotot dan berdengung keras. Mungkin pembuluh darah di lehernya bisa pecah kapan saja karena menahan teriakan berkali-kali.

“OPPA, AWAS DI BELAKANGMU!” teriak Yoona panik.

Tapi, terlambat. Dan….

BUG! BUG!

Dua pukulan keras menghantam tengkuk kedua pria gagah itu. Yoona berteriak histeris melihat Dongwook dan Siwon tumbang ke lantai setelah mendapatkan pukulan yang sangat keras dari Yong Min.

Mereka langsung tak sadarkan diri.

Yoona dan Tiffany hanya dapat menangis hebat. Inilah akhir hidup mereka di tangan penjahat bernama Jung Yunho. Mereka kalah.

“Ckckckck, kasihan sekali dua laki-laki ini. Mereka harus pingsan dengan tidak jantan di depan para gadis cantik,” decak Gin.

“Cih! Yong Min, ada berapa orang lagi diluar?” tanya Yunho kepada YongMin yang masih menyeringai penuh kemenangan.

“Dua orang laki-laki dan satu orang gadis. Kami sudah membereskannya, Tuan.”

“Kalau begitu, bawa mereka semua ke ruang bawah tanah. Kita akan melakukan pembantaian besar-besaran. Hahahahaha!”

Ternyata, Kyuhyun, jessica dan Jong Kook sudah tertangkap terlebih dahulu. Para lelaki diikat sementara Tiffany, Yoona dan Jessica bebas. Tapi tetap saja Yoona dan Jessica masih ketakukan di ruang bawah tanah. Yunho memerintahkan Gin untuk menyalakan lampu agar ia bisa melihat satu persatu sanderanya.

Kini Yunho terfokus kepada Tiffany. Pria itu duduk sambil mengangkat sebelah kakinya dan menghisap cerutu. Dia ditemani Gin serta Yong Min, sedangkan anak buah lainnya diperintahkan untuk berjaga-jaga di luar.

“Kau sudah tahu semuanya, kan? Tiffany, maafkan aku telah membunuh kedua orangtuamu. Tapi aku terpaksa, Tiffany-ah. Mereka mengancamku dan ingin menjebloskanku ke penjara. Padahal aku adalah sahabatnya. Seharusnya dia memaafkanku,” ujar Yunho dengan nada diiba-ibakan.

Tiffany mendelik tajam pada Yunho. Meskipun ia tidak diikat, pistol Gin tetap mengarah ke kepalanya.

“Kau bukanlah manusia, Jung Yunho! Kau biadab!” desis Tiffany. Yunho mengankat bahu. Asap cerutunya mengepul, terlihat jelas di bawah lampu putih yang redup.

“Aku sudah bilang aku terpaksa. Aku menggelapkan dana karena kulihat Ayahmu mulai dekat dengan Choi In Ha, teman barunya. Waktunya mulai habis dengan berteman dengan In Ha, bahkan mereka ingin bekerja sama. Ayahmu mulai melupakanku sebagai sahabatnya. Itu membuatku cemburu dan sedih. Ayahmu sangat pilih kasih. Ia lebih menyayangi teman baru daripada sahabat lamanya. Dan apa boleh buat!”

“Tapi kau tidak harus membunuh mereka, bajin*an!” jerit Siwon dari tempatnya.

Yunho menoleh dan mendengus.

“Hai bocah tengik, kau diamlah! Ini urusanku dengan putriku!” serunya santai.

“Aku bukan putrimu. Aku tidak sudi menjadi putri seorang iblis,” tukas Tiffany.

Yunho cemberut. “Fany-ah, apa kau ingin membuatku sedih juga? Kau tidak ingin menyusul kedua orangtuamu, kan?”

Tiffany terdiam.

“Kalau begitu, penuhi permintaanku! Panggil Choi In Ha ke Seoul. Aku sudah merindukannya!” ujar Yunho sambil mengelus pistolnya.

“Jangan khawatir. Ayahku dalam perjalanan kemari. Apa kau puas?” tukas Siwon.

Yunho mengerjap beberapa kali kemudian ia tertawa bersama Gin dan Yong Min. Mereka tertawa penuh kemenangan seperti kumpulan regu yang berhasil mencapai skor tertinggi dalam sebuah pertandingan. Yunho melambai pada Siwon yang terikat di sudut ruangan.

“Kamsahamnida, Choi Siwon-ssi. Sepertinya kita harus merayakan ini dengan makan makanan yang enak. Ayo, Gin, Yong Min! kita ke atas! Kita makan sepuasnya sambil menunggu rombongan polisi bodoh yang akan mengepung kita dan juga Choi In Ha tentunya.”

Tiffany POV

Setelah ketiga lelaki itu naik ke atas dan menutup pintu yang menuju ruang bawah tanah, aku segera menghampiri Siwon dan memeluknya. Aku tidak bisa membebaskan mereka karena mereka terikat oleh rantai besi. Siwon membenamkan wajahnya di lekukan leherku.

“Kau baik-baik saja, baby?” bisik Siwon. Aku mengangguk.

“Aku lebih mengkhawatirkan kalian, terlebih Yoona karena ia telah membantuku. Yunho sangat menyakiti Yoona, Siwon-ah,” isakku di dadanya.

“Sudahlah. Dia tidak akan bisa lagi menyakiti Yoona, kau dan kita semua. Tenanglah. Sebentar lagi polisi lain akan menyelamatkan kita,” ujar Siwon. Ia menunduk untuk melihat mataku.

“Si…Siwon, maafkan aku.”

Siwon tersenyum tipis. “Untuk apa kau meminta maaf. Kau tidak bersalah sedikitpun. Kau belum melakukan kejahatan yang diperintahkan Yunho. Seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa melindungimu,” jawab Siwon.

Aku adalah manusia terhina di dunia jika sampai menyakiti orang-orang baik seperti Siwon dan Ayahnya. Walaupun aku pernah berniat membunuh Choi In Ha, tak ada niatku untuk menghancurkan Siwon setelah jatuh cinta padanya. Aku memeluk tubuhnya erat sekali, merasakan tubuhnya yang lebih panas dari biasanya. Aku berharap waktu cepat berlalu, sampai Choi In Ha datang dan menjelaskan semuanya.

Gwaenchana, baby. Aku akan selalu bersamamu,” bisik Siwon di telingaku. Aku hanya dapat menangis haru, mendekap erat tubuhnya. Tangannya diikat dengan rantai yang sambung menyambung kepada Dongwook, Kyuhyun serta Jong Kook.

Aku harus mencari cara untuk menyelamatkan kami semua dari ruang bawah tanah ini. Jika para laki-laki ini terperangkap, aku, Yoona dan Jessica harus bisa membantu mereka. Aku menghapus airmataku dan berdiri. Untung saja sedikit terang sekarang, tidak seperti redupnya lilin ketika aku bersama Yoona tadi. Aku melihat sekelilingku, mencari-cari sesuatu yang bisa memutus rantai besi tersebut.

“Apa yang kau cari?” tanya Siwon. Aku tidak menjawabnya dan berjalan menghampiri Yoona serta Jessica yang meringkuk di sisi ruangan yang lebih terang. Aku berjongkok di depan mereka, melihat Jessica masih memeluk adiknya yang gemetaran. Tanganku terulur untuk mengelus rambut Yoona.

“Yoona, mainhae.”

Jessica menatapku namun tidak sedingin biasanya. Tatapannya melembut dan sulit untuk kuartikan. Ia boleh marah padaku saat ini karena akulah yang menyebabkan adiknya menderita seperti ini.

“Eonnie? Gwaenchanayo. Apa kau baik-baik saja?” tanya Yoona dengan suara lemah.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu seperti itu,” jawabku. “Jessica-ssi, bantu aku sekarang, ne? Kita harus memutus rantai besi yang mengikat tangan mereka,” ajakku pada Jessica. Terserah padanya jika masih marah padaku.

“Tentu saja,” jawaban Jessica membuatku lega.

Yoona melepaskan pelukan kakaknya kemudian aku dan Jessica menyusuri tiap sudut ruangan. Ada banyak sofa lusuh, kursi plastik dan benda-benda material lainnya. Aku harus menemukan gergaji besi atau kapak. Pokoknya sesuatu yang cukup keras untuk memukul rantai tersebut.

“Apa kalian perlu bantuan?”

Author POV

Yunho melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah tengah malam rupanya. Ia melongok keluar jendela. Sekarang makin ramai polisi yang berdatangan dan menyerukan agar Yunho berserta pasukannya menyerah. Namun tak ada satupun dari mereka yang berani memasuki pagar gedung. Adapun yang sok berani, anak buah Yunho sangat ahli menembak. Polisi-polisi itu telah banyak tewas.

Polisi bodoh, caci Yunho. Gin dan Yong Min masih setia menemani Yunho di ruangannya. Sesekali Yong Min memeriksa dari tangga ruang bawah tanah bagaimana keadaan sandera mereka.

Dongwook, Siwon, Kyuhyun dan Jong Kook masih berada di tempatnya dan para gadis meringkuk di sudut lain. Terakhir ia memeriksa 3 jam yang lalu. Tentu saja tidak ada minuman apalagi makanan untuk mereka. Dan anehnya, para polisi di luar tampak tidak menyerah maupun melawan.

“Sebenarnya apa yang membuat Tuan mengulur-ulur waktu? Polisi semakin banyak mengepung kita. Ayo, kita bunuh saja mereka yang ada di ruang bawah tanah itu,” ujar Gin.

Yunho mengangkat sebelah tangannya di udara. “Jangan terburu-buru, Gin. Aku ingin menantikan waktu yang paling tepat. Yaitu membunuh Choi Siwon di hadapan Choi In Ha. Aku ingin melihatnya menderita. Dengan begitu, dendamku akan terbalaskan.”

“Oh, masalah perselingkuhan it—“

“DIAM KAU!”

Ucapan Gin terhenti saat Yunho membentaknya. Yunho menatap buas ke arah Gin. Yong min ikut gemetar menyaksikannya.

“Jangan-pernah-menyebutkan-hal itu lagi di depanku! Apa kau mengerti?!!!”

Gin mengangguk cepat. Yunho masih menatapnya marah. Ia tidak ingin lagi mengingat-ingat apa dendam pribadinya kepada In Ha.

“Aku kira kau telah tertangkap oleh mereka, Woo Jang-ah!” kata Jong Kook sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang kesakitan karena daritadi dibelenggu rantai. Ternyata Woo Jang berhasil masuk saat Tiffany dan Jessica mencari-cari benda keras untuk memutuskan rantai tadi.

Saat Yong Min mengintip mereka dari atas tangga, sebenarnya rantai itu telah putus. Dongwook, Siwon, Kyuhyun dan Jong Kook hanya bersandiwara agar Yong Min tidak curiga.

“Tadinya aku terperangkap di dalam gedung. Lalu aku melihat tikus-tikus dan mengikuti arah mereka. Tentu saja sarang mereka disini. Ternyata ada sebuah pintu kecil di sudut sana, apa kalian lihat?” tunjuk Woo Jang ke arah pintu tempat ia masuk tadi. “Karena gelap tentu saja kalian tidak melihatnya.”

“Lalu, apa kau tidak tahu keadaan di luar?” tanya Dongwook.

“Tentu saja aku tahu. Ada Inspektur Park dan Jaksa Kim diluar. Mereka mengatakan kalau Tuan Choi In Ha yang menahan mereka. Tuan Choi diperkirakan akan sampai pukul 6 pagi ini,” jawab Woo Jang.

“Ayahku? Dia tahu kita disandera?” suara Siwon terdengar serak.

“Nde, Siwon-ssi. Jaksa Kim yang menghubunginya. Dan sekarang aku tidak bisa menghubungi mereka yang diluar karena tidak ada signal disini,” ujar Woo Jang lagi.

Sesaat mereka terdiam. Siwon masih menggenggam tangan Tiffany dan merangkul bahunya. Ia ingin memberikan kekuatan pada kekasihnya melalui sentuhan hangat. Ia tahu pasti ini sangat menyakitkan bagi Tiffany.

“Aku ingin bertemu dengan Ayahmu,” gumam Tiffany. Siwon tersenyum memandangnya.

“Nde, pasti kau akan bertemu dengannya,” jawab Siwon lalu mengecup kening Tiffany.

“Siwon-ah?”

“Hmm?’

Tiffany terdiam sesaat. Matanya berkilat-kilat oleh airmata terlihat jelas dalam ruangan redup tersebut.

“Berjanjilah padaku. Apapun yang akan terjadi, kau harus menyelamatkan dirimu sendiri dan berbahagialah. Kau pantas mendapatkannya,” ungkap Tiffany sambil menahan tangisnya.

Siwon berubah serius dan geram. Sorot matanya sangat tajam. Kemudian ia menangkup wajah Tiffany, memegangnya erat.

“Jangan ucapkan kata-kata itu lagi. Kau tahu, apapun yang akan terjadi, kau adalah orang pertama yang harus kulindungi. Tugasku adalah membahagiakanmu. Arraseo?”

Akhirnya Choi In Ha datang.

Ia masuk ke dalam gedung tua sendirian sementara Inspektur Park dan Jaksa Kim serta pasukannya menunggu di luar. Mereka akan berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang buruk. Yong Min dan Gin menyambut In Ha dengan tangan terbuka, seolah-olah mereka akan mempertemukan Pemimpin dengan tamu terhormatnya.

Yunho sudah berada di ruangannya, tidak sabar bertatap muka dengan In Ha. Ayah dari Choi Siwon itu mempunyai fisik yang tinggi tapi tidak sekekar Yunho. Sikapnya pun tenang dan berwibawa. Ia tidak menunjukkan kecemasan di wajahnya. Padahal di dalam hati ia sangat khawatir dengan putra serta keponakan-keponakannya.

Gin membukakan pintu untuk In Ha. Maka melangkahlah pria itu ke dalam. Yunho yang sedang memunggungi pintu masuk, segera membalikkan badannya tatkala terdengar suara derik pintu tersebut. Dan dalam hitungan detik, mereka pun bertatapan.

Ada suasana yang hening serta mencekam seiring bungkamnya Yunho dan In Ha. Mereka mengepalkan tangan dan menahan diri untuk menyerang terlebih dahulu. Yunho yang pertama membuka suara.

“Cho In Ha, senang bertemu lagi denganmu. Silahkan duduk!” tegurnya ramah. In Ha berdecak.

“Tidak perlu. Dimana kau sekap anak dan keponakanku?” suara In Ha terdengar sama berbahaya dengan Yunho. Yunho membalas dengan seringaian liciknya.

“Wah, sudah tidak sabar untuk melihat mereka disiksa ternyata. Baiklah! Apa kau yakin?”

“Kau tidak akan bisa menyakiti mereka. Jika kau melakukan sesuatu yang buruk, kau tidak akan bisa lari kemana-mana karena tempat ini sudah dikepung,” ancam In Ha.

Terdengar suara gelak tawa Yunho.

“Hahaha! Kau tidak tahu betapa ahlinya diriku, Choi In Ha! Kau pikir aku ini penjahat kelas bawah, eoh? Aku saja dengan mudahnya mengenali siapa saja pengawal anakmu,” Yunho berujar penuh kemenangan.

In Ha menggeleng. “Bukan. Aku tidak pernah menyuruh siapapun untuk mengawal anakku. Mereka adalah orang-orang dari kepolisian yang sedang menyelidiki kasusmu,” jelas In Ha dengan tenang. Ketenangan In Ha itulah yang justru membuat Yunho semakin dipenuhi amarah.

Yunho menghela napas kemudian mengedikkan kepalanya ke arah Gin. Pria suruhannya itu mengerti. Perlahan ia mendekati In Ha dari belakang dan ditangannya terdapat borgol yang sudah disiapkannya sejak tadi. Kemudian tanpa terelakkan, In Ha terkejut saat kedua tangannya di tarik ke belakang lalu menguncinya dengan borgol.

“Ah, mudah sekali menangkapmu,” ucap Yunho. “Bawa dia ke ruang bawah tanah. Akan ada pertunjukkan hebat disana. Hahahaha!”

Saat pintu ruang bawah tanah terbuka, Dongwook dan yang lainnya kembali ke posisi semula. Rantai-rantai itu dibentangkan ke lantai dan para lelaki menyembunyikan tangan di belakang punggung mereka. Siwon tercekat ketika melihat sosok baru yang dibawa oleh Yunho, Gin serta Yong Min.

“A…Abeoji?”

“Ahjussi!” teriak Yoona dan Jessica bersamaan. Namun saat mereka ingin bangkit, Yong Min segera menodongkan senjata ke kepala mereka.

“Jangan bergerak! Diam di tempat kalian!” bentaknya.

Kali ini Tiffany bisa melihat Choi In Ha. Ia rasa pertama kali dalam hidupnya. In Ha mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, melihat satu persatu sandera Yunho. Kecuali Woo Jang yang bersembunyi di balik lemari di bagian sudut ruangan yang gelap. Ia menggenggam erat pistolnya.

“Siwon-ah…”

Yunho tersenyum geli bersama Gin kemudian mendudukkan In Ha dengan kasar di sebuah bangku kayu. Saat Yunho menarik rambut belakang In Ha, Siwon menahan dirinya untuk bangkit. Dongwook memegangi tangannya.

“Wah, mengharukan sekali pertemuan keluarga kecil ini. Yah, In Ha, apakah kau tidak ingin menyapa menantumu?” desis Yunho.

In Ha menjatuhkan pandangannya kea rah gadis lain selain kedua keponakannya. Ia bisa memandang Tiffany cukup jelas. Kecantikan itu sama seperti kecantikan Ibunya dulu. in Ha tersenyum kepada Tiffany.

“Tiffany, apa kau baik-baik saja?” tanya In Ha. Tiffany sedikit tersentak karena ditegur oleh orang yang baru dikenalnya.

“N-nde, aku baik-baik saja.”

“Kau harus tahu yang sebenarnya, Tiffany. Bukan aku yang membunuh Ayah dan Ibumu. Kami berteman baik. Apa kau tidak ingat dulu aku sering berkunjung ke rumahmu?”

Tiffany menelan ludah. Ia tidak ingat apapun.

“Hai, Bodoh! Tiffany sudah tahu kalau aku yang membunuh kedua orangtuanya!” tukas Yunho sambil memukul kepala In Ha cukup keras.

“Jangan kau coba-coba menyentuhnya!!” teriak Siwon. Dongwook masih mencengkram tangan Siwon. Ia takut kalau Siwon bergerak sekarang, akan banyak nyawa yang menjadi korban.

Sementara itu Woo Jang makin menggenggam erat senjatanya.

“Sekarang In Ha, giliranmu yang mengakui dosa-dosamu disini. Jangan berlagak seperti seorang malaikat, huh!”

In Ha menatap mata Yunho tajam.

“Dosa-dosa apa maksudmu? Aku bukan seorang pembunuh berdarah dingin sepertimu,” desis In Ha.

Yunho mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke leher In Ha. Ia benci mengangkat topik ini. Namun orang-orang harus tahu kalau Choi In Ha juga pernah menyakiti hatinya.

“Dosa yang kau lakukan dengan istriku.”

Semua orang terdiam. Siwon memandangi mereka tanpa berkedip.

“Kau hanya salah paham saat itu, Jung Yunho. Aku dan istrimu tidak—“

BUG!

Bunyi debam keras berasal dari pukulan Yunho di pipi In Ha. Matanya mulai berair menahan emosi. Siwon ingin sekali menerjang Yunho dari belakang, namun kata-kata terakhir Ayahnya tadi membuat kakinya membeku.

In Ha mengerang kesakitan dan di bibirnya mengeluarkan darah segar.

“Apa kau akan menyangkal lagi, Choi In Ha-ssi? Kau dan istriku, bermain di belakangku. Kalian saling memadu cinta dan apa kau pikir aku tidak tahu?!”

DEG!

Jantung Siwon berdegup kencang. Sangat kencang sehingga menyesakkan dadanya. Semua orang seperti itu. Tiffany mengalihkan pandangannya kepada Siwon. Ia mencemaskannya.

“Kau salah. Ahra yang mencintaiku. Dia menyatakan jatuh cinta padaku sejak kita menghadiri pesta di perusahaan kalian. Kau pikir aku melayaninya? Kau gila. Aku sudah mempunyai Yoon Hee dan Siwon. Dan aku hanya mencintai keluargaku!” In Ha mengatakan yang sebenarnya.

“Aku tahu karena itulah kau mengkambing hitamkanku sebagai pelaku penggelapan dana dan pembunuhan terhadap sahabatmu sendiri. Kau begitu menjijikkan, Jung Yunho. Kau pikir aku pengecut? Aku tidak melaporkanmu dan lari ke luar negeri hanya karena satu alasan. Kau mengancam akan membunuh putri Joseph yang sudah kau adopsi jika aku masih berada di Negara ini!”

Tiffany POV

Aku tidak tahu saat ini aku berada di alam nyata atau hanya novel fiksi belaka. Semuanya sudah jelas bagiku. Yunho lah dalang di balik semua ini. Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri, tak peduli aku akan terluka ataupun kehilangan nyawa.

Aku memegang ujung tangkai kapak yang tadi kami gunakan sebagai pemutus rantai. Tentu saja tidak ada yang memperhatikanku sebab semuanya terfokus pada Yunho serta In Ha.

“Memang benar. Tapi apa kau tahu kenapa aku ingin memburumu lagi? Bertahun-tahun kemudian istriku masih mencintaimu. Bahkan ia mengigaukan namamu dalam mimpinya. Ia pernah mengatakan kepadaku kalau ia tidak bahagia hidup bersamaku. Kau tahu betapa menyedihkannya itu, In Ha?”

“Oleh karena itu ia bunuh diri?” tanya In Ha tajam.

Yunho tertawa. “Hahaha, ternyata benar kau masih memperhatikan istriku. Pasti kau menonton beritanya di televisi,” tukasnya riang.

Aku menggeram. Yunho memang pria gila.

“Tidak, kau salah. Dia tidak bunuh diri. Aku yang membunuhnya.”

Aku tersentak, begitu pula dengan yang lainnya. Jantungku kembali berdegup kencang dan mataku memanas. Apa dia bilang? Dia yang membunuh…Eomma? Ahra Eomma, wanita yang menyayangiku seperti anaknya sendiri. Yunho yang membunuhnya?

Tanganku mulai menarik kapak mendekat. Aku bisa melihat Yong Min  masih menodongkan pistolnya ke kepala Yoona dan Jessica. Aku akan memulai pertarungan ini.

“Jadi, kau terkejut? Tidak usah berbelasungkawa, itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Gin, mari kita mulai pertunjukkan ini. Lebih baik dengan racun atau pistol?” Yunho berdendang.

Aku bergerak perlahan mendekati Yoona dan Jessica. Ini mudah, aku meyakinkan diri sendiri. Yoona mengerling saat aku berada di sampingnya, kemudian dengan kecepatan yang kumanfaatkan dalam kelengahan Yong Min, aku mengayunkan tanganku dengan mantap dan…

“AAAAAARRRGGHH!”

Author POV

Yong Min terjatuh ke lantai dengan tangan yang bersimbah darah. Tiffany segera menyambar pistolnya kemudian berdiri, menodongkan pistol itu ke arah Yunho tanpa gemetar sedikitpun.

Semua orang bangkit dan itu membuat Gin serta Yunho kaget. Dongwook, Jong Kook serta Woo Jang ikut menodongkan pistol ke arah Yunho dan Gin. Yunho tak kalah cepat menempelkan mulut pistolnya ke pelipis In Ha lalu membawa pria itu bangkit.

“Dasar curang!” umpat Yunho. “Turunkan senjata kalian. Atau aku tidak segan-segan menembaknya,” ancam Yunho.

Tidak ada yang mendengar perintah Yunho, bahkan Tiffany dengan mantap berjalan mendekatinya.

DOOOR!

Terdengar suara tembakan, namun tidak berasal dari pistol Yunho maupun Tiffany. Ternyata Woo Jang telah menembak Gin tepat di dadanya karena ia sudah menarik pelatuk, hendak menembak Tiffany.

Melihat orang kepercayaannya tewas dan yang satu lagi sekarat dengan lengan hampir putus, Yunho tak segan-segan menarik pelatuk di kening In Ha.

“Hentikan! Jangan tembak atau kau akan kukejar dan kusiksa sampai ke ujung dunia sekalipun!” ancam Siwon yang kini juga mendekati Yunho.

“Jinjja? Kalau begitu…”

Yunho memutar arah tangannya, tidak ke pelipis In Ha, melainkan ke kaki Siwon. Kemudian….

DOOORR!

Yunho menjerit kesakitan ketika senjatanya dilucuti oleh Dongwook. Senjatanya terjatuh ke lantai dan cengkramannya pada In Ha pun terlepas. Sekarang ia tidak mempunyai senjata apapun. Tiffany mengambil kesempatan ini untuk mengejar pria yang sudah lari ke lantai atas tersebut.

“Dongwook-ssi, biarkan aku yang menghadapinya. Aku mohon!”

“Tapi—“

Belum sempat Dongwook dan Siwon mencegah, Tiffany sudah berlari ke atas. Siwon memeluk ayahnya sekilas. Ia bersyukur Ayahnya tidak terluka parah.

“Siwon, lindungi Tiffany. Kejar dia!” perintah In Ha.

Siwon mengangguk. Tidak ada lagi membuang-buang waktu. Ia dan Dongwook segera menyusul ke atas sementara yang lain mengurus Choi In Ha.

Terdengar suara tembakan dan teriakan di atap gedung. Tidak ada polisi yang mencapai ke atas sana karena terlalu banyak orang-orang Yunho yang harus di berantas. Tiffany telah melepaskan satu tembakan ke betis kanan Yunho, membuat laki-laki itu tumbang. Namun ia tetap menyeret tubuhnya menjauh dari kejaran Tiffany.

Entah setan apa yang merasuki wanita berusia 24 tahun itu. Ia tiba-tiba mahir menggunakan pistol yang diajarkan Yunho hanya sekali dalam hidupnya. Tiffany tidak peduli jika di belakangnya ada orang-orang Yunho yang setiap saat bisa saja menerkamnya. Dan untungnya tidak ada.

Dari kejauhan Tiffany melihat ada sebuah helicopter mini yang sepertinya akan mendarat di atap gedung. Sial! Yunho selalu sukses mengantisipasi keadaan. Orang-orangnya dengan siaga membantunya.

Tidak! Bantah Tiffany di dalam hati. Sekali lagi ia melepaskan tembakan ke bahu kiri Yunho.

DOOORR!

“AAAAARRRRGGH!”

Kini Tiffany sudah berada di dekatnya, hanya berjarak 5 meter. Tiffany yakin masih ada beberapa peluru lagi di dalam pistol yang dipegangnya.

“Aku akan menghabisi nyawamu sekarang juga, Jung Yunho! Kau…pembunuh biadab!”

DOOORR!!

Kepulan asap mesiu keluar dari mulut pistol yang telah menyarangkan pelurunya di dada kanan Yunho. Laki-laki itu sudah tidak berdaya dengan tubuh yang bersimbah darah. Terang saja. Di tubuhnya sudah bersarang 3 butir peluru.

Tapi Yunho tak kunjung mati.

Tiffany bisa mendengar derap kaki di belakangnya, lebih dari satu orang. Namun ia tetap pada posisinya, menodongkan pistol ke wajah Yunho yang sudah terbaring lemah.

“JANGAN MENDEKAT!”

Tiffany mengenali suara itu. Ternyata suara Dongwook yang sedang mengancam laki-laki yang ada di dalam helicopter mini yang hendak mendarat di atap itu. Dongwook menembaki helicopter tersebut beberapa kali, dan tentu saja laki-laki di dalam sana ketakutan. Ia memang anak buah Yunho, tapi jika harus mempertaruhkan nyawanya untuk menjemput Yunho ke bawah, ia memilih untuk menyelamatkan diri sendiri.

Helicopter pun terbang menjauh, membuat wajah Yunho semakin penuh ketakutan. Kini pistol yang masih ditodongkan Tiffany ke wajahnya bagaikan maut yang akan menjemput.

“Ampuni…aku..Anakku!” Yunho menempelkan kedua telapak tangannya, memohon di kaki Tiffany. Tiffany mundur dua langkah, takut jika nanti Yunho mengunci kakinya.

“Kau tidak bisa diampuni. Kau tidak pantas mendapat kebaikan dari siapapun. Kau pantas mati, Jung Yunho!”

DOOORR!

Peluru keempat. Kali ini di paha kanan Yunho. Laki-laki itu terpelanting ke belakang dengan teriakan mengerikan yang keluar dari mulutnya. Dongwook dan Siwon yang sudah berada di belakang Tiffany, hanya menonton pemandangan mengerikan itu sambil menahan napas. Siwon sangat mengerti perasaan Tiffany saat ini. Jikapun wanita yang sangat dicintainya menjadi seorang pembunuh, Siwon bisa menerima hal itu. Yunho memang sangat pantas disiksa.

“Itu untuk orangtuaku serta Ahra Eomma. Kau telah membuatku kehilangan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku.”

Yunho tidak mampu lagi berbicara. Ia sudah sangat kesakitan menahan reaksi panas peluru di dalam tubuhnya.

“Dan ini…,” ucap Tiffany lirih dan kembali menarik pelatuk dan melepaskan tembakan.

Peluru kelima mengenai tepat di dada sebelah kiri Yunho.

“….untuk Siwon. Kau hampir membuatku menyakitinya dan Ayahnya.”

Siwon menelan ludah. Kokohnya kaki Tiffany berdiri di hadapan Yunho membuatnya tidak mengenal wanita itu. Dia tidak seperti Tiffany yang dikenalnya selama ini.

“Dan ini yang terakhir, untukku. Untuk luka hatiku yang selama ini kau ciptakan. Selamat tinggal, Jung Yunho!”

Dongwook dan Siwon menutup matanya ketika Tiffany menembak tepat di kening Yunho. Tangan Tiffany bergetar hebat dan tubuhnya jatuh lunglai seketika. Napasnya sesak, lebih mendesak daripada seorang pelari marathon. Keringatnya sudah membanjiri tubuhnya. Ia menatap sekali lagi laki-laki yang tewas dalam keadaan mata terbelalak di depannya.

Ini sudah berakhir, Tiffany. Misimu telah selesai, batin Tiffany. Ia memandangi telapak tangannya yang memerah karena menahan panasnya pistol revolver tersebut. Kemudian Tiffany tidak dapat menahan tangisnya lagi. Ia telah membunuh. Meskipun ia melakukan itu dan menganggapnya benar, tapi tetap saja itu membunuh. Ia merasa kotor dan tak pantas.

Tiffany memeluk lututnya dan membenamkan wajah disana. Tak lama kemudian Siwon menghampiri dan memeluknya dari belakang. Tiffany tersentak seperti ada yang mengejutkannya dan bergegas menjauh dari Siwon.

“Jangan! Jangan dekati aku! Aku pembunuh, Siwon. Aku…tanganku…sudah kotor!” isak Tiffany seraya terus mundur. Siwon menarik paksa tangannya karena jika Tiffany terus mundur ia akan jatuh dari atap gedung tersebut.

Dongwook menelan ludah. Ia mengerti kenapa Tiffany tiba-tiba menjadi histeris begitu. Perasaan setelah membunuh memanglah sangat buruk. Ia memeriksa mayat Yunho dan mengernyit. Tiffany memang menembakinya tanpa ampun.

“Jangan sentuh aku Siwon!”

“Diamlah Tiffany! Aku tidak akan melepaskanmu! Tidak akan pernah!” bentak Siwon. Ia juga tidak dapat mengontrol emosinya melihat Tiffany seperti ini. Tangis Tiffany semakin menjadi. Ia tersedu-sedu membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi terenyuh. Siwon menarik Tiffany ke dalam pelukannya, sangat erat. Tiffany harus tahu kalau sekarang semuanya sudah aman dan Siwon tidak akan pernah meninggalkannya.

“Bodoh sekali kau menyuruhku menjauhimu,” ujar Siwon lalu mengecup puncak kepala Tiffany.

“Tapi kau tak pantas mendapatkan wanita pembunuh sepertiku,” isak Tiffany lagi.

“Sssshhtt. Kau hanya panik, Tiffany. Kau bukan pembunuh dan aku sangat pantas mendapatkan wanita sepertimu. Jadi sekarang tenanglah!” hibur Siwon.

Kemudian Siwon tersenyum merasakan pelukannya dibalas oleh Tiffany. Ia berjanji kepada diri sendiri kalau ia tidak akan meninggalkan wanita ini, apapun yang terjadi. Ia pernah kehilangan satu kali dalam hidupnya, dan ia harap untuk yang kali ini ia bisa mempertahankannya.

epilog

5 tahun kemudian…

“Baiklah, Gyuri-ssi. Tolong kosongkan jadwal untukku dua minggu ke depan. Aku akan mengunjungi orangtuaku di Paris. Kamsahamnida.”

Siwon mengakhiri panggilannya dengan Gyuri, sekretarisnya di kantor. Hari ini ia hanya menyibukkan diri di rumah, menyelesaikan pekerjaan di ruangan kerja sendirian. Sekarang sudah hampir pukul 8 malam dan perutnya terasa sangat lapar. Tapi pekerjaannya tinggal sedikit lagi, jadi tanggung sekali jika ia meninggalkannya begitu saja.

Di saat Siwon sedang mengetik paragraph terakhir pada proposalnya, tiba-tiba pintu ruangan kerjanya terbuka perlahan. Siwon tahu pintu itu terbuka, tapi ia tidak bersusah payah untuk melihat siapa tamunya. Ia harus menyelesaikan proposalnya dalam waktu 15 menit lagi.

Namun langkah-langkah kecil serta bisik-bisik dari suara sehalus anak kucing menarik perhatian Siwon. Jari-jarinya berhenti mengetik, lantas kini matanya mengawasi dua sosok mungil yang masuk dan berjalan mendekati meja kecil di tengah-tengah ruangan.

Siwon tidak dapat melakukan apa-apa selain tersenyum penuh kagum.

“Oppa, apa Daddy akan menyukai sup ini?” bisik si bocah perempuan berusia 3 tahun.

“Tentu saja Daddy akan suka. Aku kan koki hebat seperti Daddy dan Mommy,” respon si bocah laki-laki yang setahun lebih tua dari adik perempuannya.

Siwon berdiri tanpa suara.

“Tapi, Oppa. I’m sorry,” tiba-tiba si bocah perempuan menundukkan kepalanya.

“Kenapa kau meminta maaf?” tanya si bocah laki-laki dengan polos.

Adiknya mengerjapkan mata, memperlihatkan mata indah bulan sabitnya. “Tadi aku mencicipinya. Dan rasanya asin.”

Mendengar itu Siwon tertawa terbahak-bahak. Kontan saja dua bocah itu segera membalikkan badan ke arah Siwon dan menunduk malu.

“Minho-yah, Sulli-yah, kemarilah!” seru Siwon lalu duduk di sofa panjang. Dua anaknya yang bernama Choi Minho dan Choi Sulli itu menghampiri Siwon dengan wajah tersipu-sipu. Siwon mendudukkan mereka masing-masing di pahanya.

“Daddy, mianhae kami berisik,” ucap Sulli sambil memeluk leher Siwon. Siwon mencium pipi Sulli dan Minho bergantian.

“Sekarang katakan kepada Daddy, kenapa kalian masuk diam-diam seperti Prince Fluffy?” tanya Siwon sok serius.

Prince Fluffy adalah anak anjing peliharaan anak-anaknya.

“Kata Mommy, antarkan makan malam untuk Daddy. Karena Daddy pasti lapar setelah seharian bekerja,” ujar Minho.

Siwon mengangguk paham kemudian melihat tiga mangkuk kecil sup jangung di atas nampan perak.

“Kalian yakin Daddy akan kenyang dengan hanya tiga mangkuk kecil itu?” tanya Siwon lagi.

“Kata Mommy, Daddy bisa minta ke dapur jika ingin porsi besar!” seru Minho seraya membuat lingkaran besar dengan tangannya.

“Tapi rasanya asin,” tambah Sulli seraya terkekeh. Matanya melengkung membentuk eye smile yang sangat cantik.

“Jangan meledeknya asin lagi, Saeng-ah!” Minho cemberut.

Sulli berhenti menertawakan Minho kemudian meminta maaf lagi. Ia menggoyang-goyangkan kakinya yang tergantung di udara. Siwon sangat bahagia bahkan tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata ketika melihat kedua anaknya saling menyayangi. Ia memeluk mereka erat, merasakan kebahagian hidup yang masih akan terus berlanjut dan melupakan kenangan-kenangan buruk di masa lalu.

“Daddy, ayo kita makan! Satu untuk Daddy, satu untuk Sulli, dan satu untukku!” ajak Minho.

“Baiklah. Hmm, perut Daddy sudah lapar sekali,” ujar Siwon seraya menurunkan kedua anaknya.

Kemudian mereka duduk di lantai mengitari meja kecil tempat ketiga mangkuk itu terletak. Siwon memperhatikan wajah kesenangan Minho karena masakannya akan disantap oleh Ayahnya.

Sedangkan Sulli hanya memandangi sup jagungnya tidak berminat. Ia melipat tangan kecilnya di atas meja dan memandangi kedua laki-laki di hadapannya.

Siwon mengacak-acak rambut Minho sebelum menyuapkan sup itu ke mulutnya sendiri.

“Pasti asin,” gumam Sulli sangat pelan agar tidak terdengar oleh kakaknya.

Siwon memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya dan langsung meneguk kuah sup tersebut. Untuk sesaat Siwon hanya diam tak melakukan apa-apa, termasuk bernapas. Sulli dengan susah payah menahan tawanya.

Minho yang tadinya ingin menyuap sup miliknya, terheran-heran melihat ekspresi sang Ayah. Ia kembali menaruh sendoknya dan mendekati wajah Siwon yang kini mulai memerah.

Ya Tuhan, Sulli benar. Rasanya asin sekali! Apa yang harus kukatakan pada Minho?

Minho mengerjap tanpa dosa. “Daddy, bagaimana masakanku? Mommy yang mengajariku membuatnya. Kata Mommy, rasanya enak sekali. kalau memang benar enak, aku akan membuatkannya juga untuk Grandpa dan Grandma di Paris!”

Siwon menarik napas dan menghembuskannya dengan lembut. Rasa asinnya sangat melekat di lidah. Apa ini yang disebut enak. Siwon rasa Minho sendiri belum mencobanya. Dengan senyum manis serta lesung pipinya yang makin menawan, Siwon merangkul anak sulungnya.

“Aigoo, pintar sekali putraku memasak. Kalau boleh Daddy tahu, apa benar-benar kau yang membuatnya?” tanya Siwon.

“Sebenarnya aku hanya membantu, Daddy. Mommy yang memasukkan rempah-rempahnya,” jawab Minho polos.

“Dan aku melihat Mommy memasukkan banyak sekali garam,” tambah Sulli sambil membulatkan tangan kecilnya.

Siwon memejamkan mata. Tak salah lagi, bukan anak-anak yang mengerjainya, melainkan…

“Hmm, sebaiknya Daddy ke dapur untuk meminta…porsi yang lebih besar.”

Minho dan Sulli memandangi Siwon yang berdiri lalu mulai melangkah ke pintu.

“Daddy, kalau begitu bolehkah kami bermain game di game box milik Daddy?” tanya Minho penuh semangat. Ia sudah melupakan sup jagungnya.

Siwon membalikkan badan sebelum benar-benar keluar dari ruangan kerjanya. “Tentu saja. Dan Minho-yah, jangan menyentuh pekerjaan Daddy. Arraseo? Sulli-yah, bermain saja dengan Oppa-mu, ne?”

Arraseo Daddy!” jawab kedua anak Choi itu serentak.

Setelah Siwon menghilang dari hadapan mereka, Sulli menyenggol Minho.

“Oppa, aku tidak percaya Daddy suka sup ini,” ujarnya masih bingung. Minho tersenyum bangga sambil bertolak pinggang.

“Tentu saja. Sudah kubilang rasanya tidak asin,” katanya pamer. “Kalau begitu, ayo kita bermain! Jangan menyentuh meja kerja Daddy, ne?”

“Hmm!” Sulli mengangguk mengerti.

Sementara itu Siwon turun ke dapur. Ia sudah tidak sabar untuk menemui ‘pelaku’ utama yang membuat makanan asin untuknya. Siapa lagi kalau bukan Tiffany Choi. Siwon berhenti di pintu dapur, memperhatikan dengan seksama gerak-gerik wanita cantik yang tengah sibuk memasak sesuatu di counter dapur.

Sudah beberapa tahun berlalu, wanita itu semakin menawan. Rambutnya yang dulu hitam kini berwarna kecoklatan dan pendek seleher ( rambut Tiffany di MV Genie Korean version ), kulitnya masih putih bersih dan yang terpenting Tiffany yang sekarang lebih baik dari Tiffany 5 tahun yang lalu.

Siwon melipat tangan di depan dada bidangnya dan berdehem.

“Ehem! Sepertinya ada yang menyalahgunakan bumbu dapur disini,” sindir Siwon.

Tiffany menyeringai di atas kompornya kemudian membalikkan tubuh dan memasang ekspresi datar.

“Eoh? Annyeong, Tuan Choi Siwon! Aku baru melihatmu sejak pagi tadi,” Tiffany balas menyindir. Ia mematikan api kompor karena masakannya telah matang kemudian membasuh tangan di kran cuci piring. Siwon berjalan mendekati sang istri.

“Apa kau sengaja memberi makanan asin padaku?” tanya Siwon. Tiffany menahan senyuman lebar kemudian berbalik. Ia sedikit kaget karena Siwon berdiri terlalu dekat sehingga ia harus bersandar di counter dapur.

“Lalu, apa kau suka?” Tiffany menaikkan sebelah alisnya dengan gaya menggoda. Siwon tidak bisa marah, sama sekali!

“Tentu saja tidak. Rasa asinnya masih melekat di lidahku, kau tahu?” bisik Siwon.

Ia mengangkat tubuh langsing Tiffany dan mendudukkannya di counter. Tiffany tersenyum manis sambil mengalungkan tangan di leher suaminya.

“Wah, jinjja? Mianhae, Suami tampanku. Karena jika tidak begitu, kau tidak akan keluar dari ruangan kerjamu,” jelas Tiffany sambil mengerucutkan bibirnya.

Siwon mengecup hidung bangir Tiffany. “Jeongmal mianhaeyo, baby. Aku harus menyelesaikan proposal sebelum kita berangkat ke Paris dua hari lagi. Aku berjanji akan menyelesaikannya malam ini. Wae? Apa kau sudah sangat merindukanku?”

Tiffany menggigit bibir bawahnya. “Tentu saja.”

Siwon menarik Tiffany lebih dekat sehingga puncak kepalanya sejajar dengan istrinya. Tidak ada lagi jarak diantara wajah mereka. Tiffany bisa merasakan hembusan hangat Siwon menerpa wajahnya.

Baby, sepertinya aku membutuhkan sesuatu yang manis agar rasa asin ini hilang,” desah Siwon di bibir Tiffany yang terbuka.

“Apa itu?” tanya Tiffany nyaris tanpa suara.

“Ini.”

Siwon meremas bokong Tiffany selagi mencium istrinya itu dengan dalam. Bibir Tiffany menyambut Siwon dengan senang hati karena memang ia sangat merindukan suaminya. Ciuman itu semakin lama semakin dalam. Tiffany balas meremas rambut hitam Siwon selagi lidah Siwon mengeksplorasi bagian dalam mulutnya.

Bibir Tiffany sangat manis, lebih manis dari madu sekalipun. Siwon menyesapnya bergantian, tidak memberi ruang bernapas untuk Tiffany. Suara decak ciuman mereka bergema sangat seksi di ruangan dapur.

Setelah keadaan mereka yang sangat buruk 5 tahun lalu, Siwon dan Tiffany hanya menginginkan kehidupan yang bahagia di masa depan. Beruntung Siwon dan Tiffany saling memiliki. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Apalagi sekarang sudah ada dua malaikat kecil yang menemani mereka.

Neomu neomu saranghae Mrs. Tiffany Choi,” ucap Siwon setelah melepaskan ciuman yang menyita pasokan oksigen mereka.

“Terlebih aku,” balas Tiffany lalu memberi kecupan ringan di kedua mata Siwon.

Mereka berencana akan berciuman lagi saat terdengar suara teriakan lengking Sulli mengalihkan perhatian mereka.

“Daddy!! Minho Oppa tidak sengaja menumpahkan sup jagung di atas meja kerja!!!”

Teriakan itu seperti memukul Siwon tepat di kepala. Ia segera melepaskan pelukannya dari Tiffany dan berlari bagai kilat ke ruangan kerjanya.

Hey, Daddy! Jangan mengurusi itu dulu. Sebentar lagi Yoona, Jessica, Dongwook dan Kyuhyun akan datang untuk makan malam di rumah kita!” sorak Tiffany lalu tertawa membayangkan betapa paniknya Siwon saat ini.

“Aku tidak peduli! Aaaarrgh, dokumen-dokumenku! Minho-yah, Sulli-yah! Kalian nakal sekali! Sudah Daddy bilang jangan dekat-dekat dengan meja kerja ini!!!”

Tiffany tidak bisa mengontrol tawanya di dapur saat mendengar teriakan frustasi Siwon. Suaminya pasti sangat jengkel sekarang. Tapi ia tahu kalau Siwon tidak membentak anak-anak mereka. Laki-laki itu hanya berteriak gemas. Ia bahagia dengan suara-suara ribut tersebut. Menandakan Siwon adalah kepala keluarga yang benar-benar mendapatkan sebuah keluarga yang sangat istimewa. Istri yang sangat mencintai suami serta kedua anaknya yang nakal. Terdengar sempurna di telinga Tiffany.

Misi hidup Tiffany sudah selesai. Kini ia hanya menjalani bonusnya saja.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Tiffany berjalan ke meja makan dengan sebelah tangan membelai perutnya.

“Tenang saja, Nak. Mommy pastikan Daddy-mu tidak akan pernah marah-marah lagi. Asal kau tidak senakal kedua kakakmu itu.”

The end

 MISSION COMPLETED

171 thoughts on “(AD) Mission Completed Part 3

  1. daebak bgt ceritanya, menegangkan n romantisnya tetep ada.. hehe.. kasian fany eonni, untung smuany trbongkar tpat pd waktunya,. tp aku msh penasaran ma part 2 nya, thor please….. mnta pw nya dong? gmn caranya?

  2. Pw nya dm aja ke kak elsa mardian, dia baik kok pasti dikasih🙂 untuk kak elsa, ff ini bagus sekali sangat sangat sangat daebakkk..!! Cast tiffany disini, beuh sexy, cantik, dan jago dlm hal menembak. Keren dia, tembakan tiff mommy selalu tepat sasaran. Dan anak” mereka bikin aku jengkel juga, kasihan ke siwon daddy, pasti siwon daddy udh capek bgt ngurusin dokumen” yg amat sangat very neomu penting. *lol*, tapi minho&sulli sama bikin gemes hihihi. Widih.. anak sifany bejibun kak, ada 3 lansung wkwk,capek tuh pasti mommy, ngurusin mereka semua. Pokoknya seneng bgt sama ff ini. Klo ff buatan kak elsa, udh bisa ditebak, pasti gk bakal mengecewakan. Ditunggu ff karya kk selanjutnya. Semangat buat kak elsa yg amat baik. Love you as always :* :* :*

  3. Ahhhhh gila… Ceritanya seru bangetttttttt…
    Ada tegang-tegangnya tapi ada juga romantisnya.. Seimbang and i like it😉
    Part 2 nya kak minta pw..🙂
    Oh ya kak, bikin novel lagi dong.. Hihihi tapi bukan yang softcopy, melainkan yang berbentuk buku.😀
    Yayayaya kak?😀 Please🙂

  4. bagus thor ……. akhirnya happy end juga ……. deg degan pas bagian action nya palagi pas fany eonni melesatlan pelurunya aigoo gx bisa ngebayangin fany eonni se emosi itu ….
    Keep write author

  5. Part 3nya sangat menengangkan sekali thor,
    saya suka actionnya apalagi fanynya saat menembak yunho,bikin saya ikutan tegang.
    akhirnya juga sifany jadi nikah dan punya anak.
    happy ending deh .
    Thanks buat author for ffnya.
    hwaiting.

  6. wahhh daebak happy ending❤❤❤
    Sifany couple Saranghae..
    wihhh Tiffany eonni disini kesannya Sexy, Smart, akhh pokoknya perfect lah🙂
    Siwon oppa heeh gausah ditanya lagi dasar Mr.Pervert wkwkwk😀
    Fany eonni brave banget sampai nembak Yunho kayak gitu… aku tau rasanya kok, kalau aku jadi Tiff eonni pasti gak akan tahan😦
    For Author 2 Thumbs Up!!! ekhhhh 4 Thumbs Up lahhh❤❤❤
    I like this story, good story yo~~~

  7. Ahhh akhir a happy end jg…seng bc a walaupun part crt pertm a mau bls dendam alhirnya tiffany rupa a hany d manfaatkn y …..untung aja yunho a mati n sifany akhr a bs hdp tenang n bahagia…apalagi mendptkn anak ug lucu n nakal…..yah chingu minta PW part 2 dong……please…

  8. yeey…happy ending…kluarga yg harmonis…sifany g cukup punya dua malaikat kecil, trnyata tiffany lgi hamil malaikat yg ke tiga….btw, kasian jg siwon, dokumen2nya ketumpahan sup, wahh..g jdi slesai dong kerjaannya…

  9. Terungkp sdh smua rahasia hdp fany. marah,benci,dendam n sedih jdi satu saat th semuany. tp smua itu terbyr lunas krn dgn kmrhn yg selimuti ht fany ia dgn berani blik bunuh yunho. ktkutn, frustasi telah fany rskn tp dgn kasih syg siwon rs itu hlg. yup siwon bgtu cinta fany n tak prnh tngglkn fany slmny.
    sifany mbwt dunia mrk dgn anugrah kbhgiaan stlh hal buruk yg terjdi n ditmbh lg ank2 yg lucu dn slg menyayangi aplg skrg ad anggotabr yg akn bergbung di Choi family.

    Happy n Lovely to SiFany…..thanks to Eca daebak….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s