[Re-Post] An Assistant’s Love

An Assistant Love

An Assistant’s Love

Author : Elsa Mardian

Cast : Choi Siwon, Tiffany Hwang

Other Cast: Jessica Jung, Im Yoon Ah

Genre: Romance

Rating: PG-17

Disclaimer:

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

An Assistant’s Love

Tiffany Hwang adalah seorang asisten model yang bernama Choi Siwon. Ia bekerja untuk namja tampan itu selama 3 tahun. Dan selama itu pulalah ia memendam perasaannya untuk seorang Choi Siwon. Apa yang kurang dari Siwon. Ia tampan, kaya, terkenal, dan tubuhnya sangat proporsional. Setiap yeoja menggilai Siwon. Apalagi jika melihat senyum lesung pipi namja tersebut. Tiffany Hwang pun tidak luput dari pesonanya.

Namun sifat keras kepala dan kejahilan Siwon selalu membuat Tiffany kewalahan. Siwon acap kali ke klub malam dan terkadang tidak pulang ke apartemennya, membuat Tiffany kewalahan jika mereka punya kegiatan di pagi harinya. Dan ketika Tiffany mengomeli Siwon, namja itu hanya tersenyum-senyum jahil kepadanya. Itu yang membuat Tiffany frustasi.

Seperti pagi ini. Tiffany masuk ke apartemen Siwon sambil membawa beberapa pasang pakaian untuk dikenakan modelnya itu hari ini. Kali ini untuk majalah Men’s Health. Dan seperti biasa, Siwon masih nyenyak dalam tidurnya. Tiffany meletakkan pakaian-pakaian yang cukup berat itu di atas nakas, dan berkacak pinggang memandangi Siwon.

Ia menghela napas dengan berat. Sudah 3 tahun ini ia tidak pernah berani mengungkapkan rasa cintanya kepada Siwon. Jika ia mengungkapkannya, Tiffany takut Siwon akan membencinya dan yang lebih parah, Siwon tak ingin lagi menjadikannya asisten. Hal itu akan menyebabkan Tiffany tidak bisa berdekatan lagi dengan Siwon.

Jadi ia memilih untuk memendam perasaannya saja. Hanya ia yang tahu perasaannya. Juga Tuhan serta buku diarynya. Mungkin tampak sangat kekanakan, tapi Tiffany memang masih menyukai menulis di buku diary. Itu membuatnya lega selain berdoa pada Tuhan.

“Apa aku begitu tampan sampai-sampai kau tidak berkedip memandangiku?” tiba-tiba terdengar suara Siwon. Tiffany terkejut. Ia tidak menyangka kalau Siwon tidak tidur dan menyadari apa yang sedang dilakukannya.

Namja berambut hitam itu membuka matanya dan duduk dari posisi tidurnya tadi. Tiffany masih mematung kikuk. Ya, dia memang sedikit kikuk serta ceroboh. Siwon senang sekali menggodanya dengan panggilan itu.

“M-mianhae, aku masuk tanpa izin. Kenapa belum juga bangun? Kan semalam sudah kuberitahu kalau pagi ini kau ada pemotretan jam 9. Sekarang sudah jam 8.15, Siwon-ssi!” seru Tiffany. Siwon menggeliat dan melihat jam wekernya. Kemudian ia memandang Tiffany dengan senyuman manisnya. Ia tak memikirkan jantung Tiffany yang berdetak kencang saat memandangnya.

“Mianhae, jam wekerku mati. Baiklah, aku akan bersiap-siap, Kikuk.”

Siwon pun bangkit dan berjalan ke arah Tiffany. Tiffany sedikit mundur. Hanya untuk mengantisipasi karena ia melihat seringai jahil di wajah namja itu.

“K-kau mau apa? Kamar mandimu disana!” sembur Tiffany gugup. Siwon terus melangkah ke arahnya, hingga berada sangat dekat dengan Tiffany. Ia menelengkan sedikit kepalanya. Melihat itu, Tiffany kembali melangkah ke belakang, dan sial, ia tersandung sofa dan hampir jatuh jika Siwon tidak menyambut tubuh kurusnya.

“Aigoo, kapan kau berhenti kikuk, huh? Aku hanya ingin menggodamu. Hahaha!” gelak Siwon. Tiffany menggigit bibir bawahnya. Ia sangat gugup dan takut jika Siwon bisa mendengar detak jantungnya saat ini.

“Aku hanya penasaran, kata temanku tadi malam, mencium yeoja kikuk dan ceroboh lebih nikmat daripada mencium model cantik papan atas,” goda Siwon seraya mendekati wajah Tiffany.

Mata Tiffany melebar saking kagetnya. Ia tahu Siwon pasti hanya menggodanya. Tapi rasa gugup dan tersipu itu tidak terelakkan. Ia tidak mau berharap lebih. Karena Siwon tidak akan pernah menyukai yeoja kikuk, ceroboh, dan berkaca mata tebal sepertinya.

Saat melihat wajah Tiffany yang memerah karena malu, Siwon pun tertawa terbahak-bahak dan membalikkan badan ke kamar mandi. Tiffany masih terperangah dengan apa yang baru saja dilakukan Siwon.

“Hahaha! Wajahmu memerah seperti kepiting rebus, Kikuk! Lucu sekali!”

“YAK! DASAR NAMJA YADOOOONG!”

Tiffany yang menyetir mobil sementara Siwon menyantap sarapannya. Ia memakan sarapan yang diberikan Tiffany padanya. Sebenarnya itu saraoan Tiffany. Yeoja itu tidak sempat sarapan karena harus mengurus keperluan pemotretan Siwon. Dan Siwon tidak bisa sarapan di apartemen karena waktu sangatlah sedikit. Jadi ia memberikan sarapannya kepada namja itu.

“Kau sungguh sudah sarapan?” tanya Siwon setelah meminum orange juice-nya. Tiffany mengangguk. Siwon menatap yeoja itu dari ujung kepala hingga ujung sepatu keds-nya. Ia tersenyum diam-diam lalu berdehem.

“Seharusnya kau makan lebih banyak agar tubuhmu lebih berisi, Kikuk. Namja tidak suka dengan yeoja yang tulang bahunya terlihat,” kata Siwon santai. Tiffany menoleh sebentar ke arahnya dan kembali melihat jalanan.

“Mwo? Apa maksudmu?” tanyanya tajam. Siwon mengangkat bahu.

“Ya, itu hanya saranku. Aku seorang namja. Jadi aku tahu apa yang tidak disukai para namja dari yeoja,” jawab Siwon sambil melakukan gerakan-gerakan kecil tangannya. Ia memang sering melakukan gesture tubuh jika berbicara.

“Kalau begitu, gomawoyo.”

Siwon mengangguk. Diam-diam, ia melirik Tiffany dan tersenyum sambil bergumam ,”Kyeopta.”

Mereka sampai di lokasi pemotretan dan terlambat 15 menit. Alhasil, Tiffany harus menerima omelan dari fotografer yang bersangkutan. Namun ia menelan sendiri apa yang diterimanya tanpa diketahui Siwon. Tiffany pun sudah mulai terbiasa. Ia sudah 3 tahun menghadapi hal ini sendiri.

Tiffany duduk di belakang editor saat Siwon sedang diarahkan untuk photoshoot. Namja itu professional, jadi tidak perlu lama-lama mengarahkannya. Semua orang selalu mengagung-agungkan Siwon, walaupun ia sering terlambat. Tetapi Siwon tidak tahu kalau Tiffany yang menerima sendiri dampaknya.

Tanpa disadari Tiffany, ternyata Siwon memperhatikannya dari jauh. Ia merasa yeoja itu sedang bermasalah karena daritadi hanya diam saja. Maka dipertengahan pemotretan, Siwon meminta break sejenak. Fotografer memberinya waktu 10 menit dan Siwon langsung menarik Tiffany ke ruang ganti.

Tiffany bingung namun tetap mengikuti Siwon.

“Hei Kikuk, kau kenapa?”

“Ani. Aish, kenapa kau minta break? Aku ingin cepat selesai dengan majalah ini,” gerutu Tiffany.

Siwon memandanginya sambil bertolak pinggang. Ia tahu Tiffany tidak suka berada disini karena fotografer tadi berlaku dingin pada asistennya ini.

“Baiklah, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat. Kau jangan cemberut seperti itu, aku jadi tidak konsentrasi,” ujar Siwon. Tiffany membetulkan kacamatanya dan memandang heran ke arah Siwon.

“Kenapa harus tidak konsentrasi? Ya jangan melihatku, abaikan saja!”

Siwon melotot pada Tiffany. “Mana bisa aku berkonsentrasi jika kau terus mengerucutkan mulutmu seperti ikan di belakang editor! Tentu saja aku tidak bisa mengabaikanmu begitu saja. Aish! Arra arra, aku akan melanjutkannya.”

Siwon meninggalkan Tiffany yang masih berdiri dengan kesal. Ia tidak mengikuti Siwon ke lokasi pemotretan dan duduk di ruang ganti. Tiffany membuka kacamatanya dan menghapus air mata yang tidak disadarinya telah mengalir. Ia tak tahu kesal karena apa. Ia hanya merasa dadanya sudah sesak karena menahan perasaannya terhadap Siwon sekaligus rasa kesalnya.

Ia mencintai namja yang selalu membuatnya kesulitan dan bersedih. Terkadang Tiffany ingin rasa itu dihapuskan dari hatinya. Namun semakin melihat Siwon, perasaannya malah semakin kuat.

Selesai pemotretan, Siwon tidak mempunyai jadwal apa-apa lagi hari ini. Jadi Tiffany mengantarnya kembali ke apartemen, lalu ia sendiri akan pulang ke rumah. Atau mungkin ia akan ke rumah Jessica dan Yoona, sahabatnya.

“Kita makan siang dulu, ne.”

Siwon yang menyetir mobilnya kali ini. Ia melirik Tiffany dan mencubit lengan yeoja itu karena ia tidak merespon ajakan Siwon.

“Ah! Appo! Yak, Choi Siwon!” teriak Tiffany seraya mengusap-usap lengannya yang dicubit Siwon. Siwon tertawa.

“Siapa suruh kau tidak menjawabku. Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Molla.”

“Dasar yeoja aneh,” gumam Siwon. Tiffany mendengarnya tapi memilih untuk diam saja. Ia sedang tidak ingin berdebat.

“Kau ingin makan dimana?” tanya Siwon.

“Terserah kau saja. Aku sedang tidak nafsu makan,” jawab Tiffany sambil menatap keluar jendela mobil.

Tiffany memang bisa berbohong, tapi perutnya tidak. Tepat setelah ia mengatakan ia tidak nafsu makan, perutnya berbunyi cukup keras hingga terdengar oleh Siwon. Namja itu menahan tawa sedangkan Tiffany hanya menunduk.

“Hei Kikuk, kenapa senang sekali berbohong? Jelas-jelas perutmu keroncongan, masih saja mengatakan tidak nafsu makan. Jinjja.”

Akhirnya Siwon membawa Tiffany ke restoran Jepang dan memesan 2 porsi kari. Mereka duduk di meja rendah di ruangan khusus. Siwon tidak ingin terlihat oleh pengunjung lain. Ia ingin makan siang dengan tenang, berdua dengan Tiffany.

“Apa kau tadi dimarahi fotografer Cho?” tanya Siwon saat mereka mulai makan. Ia masih penasaran kenapa tiba-tiba asistennya menjadi murung. Apa bercandanya terlalu kelewatan?

“Ani. Sudah, makan saja. Aku lapar,” tukas Tiffany cuek. Siwon mendengus lalu tertawa kecil.

“Ch, kau ini. Tadi kau bilang tak nafsu makan. Tapi sekarang kau bilang lapar. Sudah aneh, kikuk, ceroboh. Siapa yang tahan denganmu,” goda Siwon.

Tiffany diam saja. Mungkin ia harus mengambil keputusan cepat untuk melupakan cintanya pada Siwon. Selama 3 tahun ini ia sudah cukup merasakan bagaimana menahan cintanya. Walaupun Siwon tidak pernah serius menjalin hubungan dengan seorang yeoja, Tiffany tetap menyebut dirinya pengecut dengan bersikap layaknya orang yang tak dianggap. Padahal Siwon cukup perhatian padanya.

Selesai makan, Siwon dan Tiffany duduk sebentar untuk minum sake. Dan inilah saatnya, batin Tiffany.

“Siwon-ssi?”

“Mwo?”

Tiffany mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata Siwon.

“Aku rasa, aku ingin berhenti. Aku…ingin mengundurkan diri sebagai asistenmu.”

Siwon tertegun mendengar pernyataan Tiffany yang tidak disangka-sangkanya. Yeoja itu menunduk menatap meja. Siwon membuat keheningan yang sedikit menakutkan. Ia masih memandangi Tiffany selama beberapa detik.

“Andwe!” ucap Siwon tegas. Ucapannya lebih tegas daripada pernyataan Tiffany tadi.

Tiffany menatapnya penuh tanda tanya. “Tapi Siwon-ssi…”

“Kubilang tidak boleh. Aku masih membutuhkanmu,” ungkap Siwon.

Ah, Siwon. Andaikan kau membutuhkanku untuk menemani di dalam hidupmu selamanya, aku bersedia, batin Tiffany.

“Tekadku sudah bulat. Aku tetap akan mengundurkan diri. lagipula, aku memang tidak cocok menjadi asistenmu. Aku ini kikuk, aneh, dan ceroboh. Aku tak ingin menyusahkanmu, Siwon-ssi. Karirmu tidak sebanding dengan kinerjaku. Kau butuh asisten yang lebih cekatan daripada aku. Mianhae,” ungkap Tiffany dengan mata berkaca-kaca.

Siwon menelan ludah. Ia tidak bermaksud menyinggung perasaan Tiffany dengan mengatakan yeoja itu kikuk, aneh dan ceroboh. Ia hanya senang menggoda yeoja manis itu. Tapi sebenarnya bukan itu alasan mengapa Tiffany mengundurkan diri. Siwon hanya tidak tahu saja.

Tiffany memberikan senyuman terbaiknya yang terakhir kali untuk Siwon. Walau yeoja itu mengenakan kacamata, Siwon tetap bisa melihat eye smile Tiffany yang membuatnya selalu terpesona.

“Terima kasih untuk selama ini, Siwon-ssi. Aku tidak akan pernah melupakan kebersamaan denganmu. Mianhae jika selama ini aku merepotkan. Jaga kesehatanmu, ne. Selamat tinggal,” ujar Tiffany. Ia berdiri dari duduknya dan membungkuk 90 derajat kepada Siwon. Siwon masih diam mematung ketika Tiffany sudah melangkah pergi.

Meninggalkannya.

Tiffany pulang ke rumahnya dengan perasaan kacau. Sekarang ia resmi menjadi pengangguran. Bukan hal itu yang membuatnya menangis sekarang. Namun berpisah dengan Siwon adalah hal tersulit yang pernah dilakukannya. Ide itu datang mendadak saat Tiffany dalam keadaan bingung dan sudah bisa membendung perasaannya. Maka ia memilih meninggalkan Siwon serta pekerjaannya.

Sampai di rumah, Tiffany membereskan barang-barangnya. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin. Tiffany tinggal sendiri di Korea. Paman dan Bibi Hwang tinggal di Amerika, sedangkan kedua orang tuanya sudah meninggal saat ia berumur 11 tahun. Karena keluarga yang ia miliki hanyalah Paman dan Bibi Hwang, kemungkinan Tiffany akan kembali ke Amerika.

Saat Tiffany mengeluarkan peralatan tulis dari tasnya, ia menyadari kalau buku diary yang selalu dibawanya hilang. Tiffany memeriksa sekali lagi, siapa tahu benda itu luput dari pencariannya.

“Aish, kemana perginya buku diariku?” gumam Tiffany. Ia mengingat-ingat dimana terakhir kali ia meletakkan buku diarinya. Semalam ia masih menulis di diarinya, mengungkapkan perasaannya tentang Siwon, namja yang dicintainya.

Akhirnya Tiffany menyerah dan beranjak ke kamarnya. Mungkin ia harus tidur untuk memulihkan pikiran dan tenaga. Ia sudah terlalu lelah hari ini.

Siwon melangkah gontai ke dalam apartemennya. Perkataan Tiffany masih terngiang-ngiang di telinganya. Saat Tiffany mengatakan selamat tinggal padanya, entah kenapa hati Siwon terasa hancur dan hampa seketika. Baru kali ini ia merasa kehilangan yang begitu dalam. Menyakitkan untuk melihat yeoja yang 3 tahun selalu menemaninya.

Namja bertubuh tinggi itu dengan mudahnya membuka laci teratas lemari makanan di dapur. Disana ia menyimpan beberapa botol wine yang biasa diminumnya setiap malam jika ia tidak sempat ke klub.

Saat ia menuang wine ke gelas tingginya, pandangannya tertumbuk ke mug berwarna pink dengan motif Teddy Bear. Siwon tersenyum pahit. Itu adalah mug Tiffany. Ia meraih mug tersebut kemudian diusapnya dengan lembut. Pikirannya kembali dipenuhi oleh Tiffany.

“Dasar aneh. Kau pikir semudah itu meninggalkanku, eoh?” gumam Siwon.

Ia meletakkan kembali mug tersebut dan membawa gelas wine-nya ke ruang tengah. Ia menyalakan televisi dan berselonjor di sofa. Lalu, Siwon merasakan sesuatu yang keras terhimpit olehnya. Siwon mengambil benda yang ternyata sebuah buku berwarna pink.

Keningnya berkerut sambil memandangi buku pink yang dipegangnya.

“Ige mwoya?”

Ia merasa tidak mempunyai buku berbentuk aneh dan feminine seperti ini. Kemudian karena penasaran, Siwon membuka halaman pertamanya. Eoh, tulisan Tiffany!

This book belongs to Tiffany

Siwon tersenyum kecil. Jadi ini milik Tiffany. Haha, yeoja itu benar-benar ceroboh. Tak salah aku memanggilnya begitu, batin Siwon. Dengan penuh minat, Siwon membuka halaman selanjutnya. Disana ada sebuah foto, Appa dan Eomma Tiffany. Siwon sudah tahu kalau yeoja itu adalah yatim piatu. Namun begitu, Tiffany adalah yeoja yang sangat tertutup. Ia jarang membicarakan kehidupan pribadinya dengan Siwon.

Tiffany membuat tulisan di bawah foto orangtuanya yaitu menyatakan rasa rindunya yang sangat besar. Mata hitam Siwon terus meneliti setiap kata yang ditulis Tiffany. Tulisan yang indah, katanya dalam hati.

Sampai akhirnya ia menemukan halaman yang membuatnya terkejut. Di halaman itu tertempel foto dirinya dengan Tiffany 1 tahun lalu. Tiffany membuat tanda ♥ di bawahnya. Apa maksudnya ini?

Siwon membaca tulisan Tiffany yang ada di halaman tersebut.

1 Agustus

Today is my day. Thank you Lord for today. Kau memberikan hari ulang tahun yang tak akan pernah kulupakan. Siwon sangat baik padaku hari ini. Ia mengucapkan ulang tahun dan mencium pipiku. Ia juga mengajakku selca ^^

Aku sangat bahagia, Tuhan. Terima kasih.

Walaupun aku menyukainya dan dia tidak tahu perasaanku, rasa cinta ini tak akan pernah hilang untuknya. Dia begitu perhatian meskipun kejahilannya sering membuatku kesal. Apalagi dia sering pulang larut malam karena mengunjungi klub dan terlambat di pagi harinya. Ugh, hal itu tidak bisa diubahnya.

Aku harap, (meskipun mustahil) dia juga mencintaiku, Tuhan.

Siwon menelan ludah. Ia tidak percaya ini. Ternyata Tiffany mencintainya. Siwon tak tahu harus berbuat apa. Ia tidak menyadari kalau ia telah memberi harapan untuk yeoja polos bernama Tiffany Hwang. Yang disadari Siwon kini hanyalah ia sekedar mengagumi Tiffany. Ia tidak tahu apakah dirinya juga mencintai Tiffany.

Namja itu kembali melihat foto mereka berdua. Ia ingat hari itu. Hari dimana ia mulai menyukai Tiffany.

 

Flashback

“Selamat ulang tahun, Tiffany Hwang!” ucap Siwon seraya memberikan setangkai bunga mawar merah. Tiffany tertegun dengan perlakuan Siwon. Ia meletakkan kembali jas yang tadi dipegangnya dan menerima bunga pemberian Siwon. Mereka sedang dalam pemotretan di sebuah majalah dan sekarang Siwon sudah menyelesaikan pemotretannya.

“Gomawo, Siwon-ssi.”

“Biar kutebak umurmu sekarang. Hmm, 32?” goda Siwon.

“Yak!” Tiffany menampar lengan berotot Siwon dan namja itu terkikik.

“Oh, terlalu muda kah? Apa umurmu sudah 40 tahun? Hahaha!” ledek Siwon. Tiffany mendengus sebal.

“Terus saja meledekku. By the way, terima kasih bunganya. Aku tidak bisa menebak kau mengambilnya dimana,” sindir Tiffany. Siwon memegangi kedua bahunya yang kurus.

“Omo! Kau kira aku mencuri bunga ini untuk diberikan padamu? Tentu saja aku membelinya,” protes Siwon.

“Nde, aku percaya. Gomawoyo.”

“Tunggu dulu. Aku punya hadiah yang lain,” kata Siwon cepat. Tiffany membetulkan kacamatanya.

“Mwo?”

Siwon menyeringai jahil dan mendekatkan wajahnya kepada Tiffany. Kemudian ia memberi kecupan lembut dan cukup lama di pipi kanan Tiffany. Jantung yeoja itu berdebar sangat cepat dan tiba-tiba ia merasa tubuhnya kaku. Ia tidak menyangka Siwon akan menciumnya.

“Selamat ulang tahun, Kikuk.”

Tiffany memaksakan dirinya untuk tersenyum. Ia tidak menyangka dengan perlakuan Siwon yang tiba-tiba seperti itu. Belum selesai disitu, Siwon ternyata masih menunjukkan perhatian yang lebih untuknya. Ia mengambil kamera Polaroid miliknya dan memeluk pinggang Tiffany agar mendekat. Tiffany menatapnya tak percaya.

“Kita berfoto bersama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku tidak sempat membelikan kado. Lagipula semua yeoja ingin berfoto denganku, tapi kenapa kau tidak pernah meminta padaku. Ayo, pasang posemu.”

End of flashback

Siwon tersenyum-senyum sendiri mengingatnya. Sejak saat itu ia memang menyukai Tiffany. Yang ia rasakan hanyalah ia butuh yeoja itu untuk terus bersamanya. Memang penampilan Tiffany tidak semodis serta tidak setinggi model-model, namun Siwon melihat kesederhanaan dan kebaikan di dalam diri Tiffany. Yeoja itu selalu sabar menghadapinya.

Ia kembali melanjutkan membaca buku diari itu. Tiffany tidak setiap hari menulis diarinya. Namun di setiap lembar, kebanyakan Tiffany selalu membicarakan Siwon, Siwon, dan Siwon.

Tiba di halaman terakhir, Siwon membacanya dengan seksama.

Tuhan, aku sudah tidak bisa memendam perasaanku ini. Jika seandainya Siwon tetap bersikap perhatian padaku, aku makin tersiksa. Aku percaya dia hanya menganggapku sebagai asistennya, tak lebih. Karena ia adalah namja yang menghormati yeoja. Dia tersenyum padaku, menjahiliku, dan memarahiku jika aku kikuk dan ceroboh. Namun semua itu dilakukannya juga untuk kebaikanku.

Ingin sekali aku menyatakan cintaku padanya. Tapi aku takut dia akan menjauhiku sebab aku sangat tidak sepadan dengannya. Ia seorang namja yang digila-gilai para yeoja dan ia bisa mendapatkan yeoja cantik manapun yang disukainya.

Aku harus melupakannya. Tetapi aku tidak tahu harus berbuat apa😥

Siwon menutup buku diari itu. Hatinya perih membayangkan bagaimana perasaan yeoja itu sekarang. Siwon jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah ia juga mempunyai perasaan yang sama dengan Tiffany?

“Jadi, kau sudah tidak menjadi asisten Choi Siwon lagi?”

Tiffany mengangguk lemah menjawab pertanyaan Jessica, sahabatnya. Hari itu ia berkunjung ke apartemen Jessica dan Yoona, sahabatnya. Kedua sahabatnya tahu bagaimana perasaan Tiffany kepada namja yang bernama Siwon.

“Kau tahu, Tiffany? Jangan salahkan rupamu jika tidak mendapatkan cinta Siwon. Kau sendiri yang pesimis dan pengecut. Kau sebenarnya cantik. Sangat cantik,” ujar Jessica tegas. Tiffany hanya menunduk.

“Fany eonnie, masih banyak namja lain di luar sana jika eonnie mau membuka hati. Eonnie selama ini selalu terfokus pada Siwon. Lupakan dia kalau Eonnie menginginkannya, dan cari namja lain. eonnie pantas dicintai,” tambah Yoona.

“Entahlah. Jujur, aku merasa tak pantas jika bersamanya. Seperti the Handsome and the Beast,” ungkap Tiffany sedih.

“Dongeng apa itu?” bisik Jessica pada Yoona. Yoona mengangkat bahu.

“Sudahlah, jangan difikirkan. Eonnie, bagaimana jika kita membuat eksperimen baru? Aku ingin menunjukkan padamu kalau sebenarnya eonnie tak kalah cantik dari kami,” kata Yoona berseri-seri. Jessica dan Tiffany menatapnya serius.

“Jadi secara tak langsung kau mengatakan kalau dirimu cantik?” tanya Jessica pada Yoona.

“Tentu saja. Hehe,” jawab Yoona lalu terkekeh. Tiffany tertawa kecil melihat maknae mereka.

“Aku rasa itu ide bagus, Yoongie! Mari kita lepaskan kacamata tebal ini, dan kita perbaharui rambut hitam ini. Kau setuju Fany?”

Siwon turun dari mobil dan memandangi rumah sederhana di hadapannya. Ia sudah sampai di rumah Tiffany. Ia bermaksud mengembalikan buku diari milik Tiffany sekaligus untuk mengajak kembali bekerja untuknya. Sudah 2 hari ini ia tidak ke klub dan bepergian sendirian. Ia merindukan Tiffany. Sangat merindukannya.

Jadi malam ini ia harus membuat Tiffany kembali padanya. Ia ingin Tiffany tidak menyerah dalam memperjuangkan cinta. Cinta untuknya.

Siwon menekan bel rumah itu. Sekarang baru jam 7 malam. Mungkin Tiffany sedang makan malam atau menonton. Sekitar 2 menit Siwon menunggu di depan pintu, akhirnya pintu terbuka. Siwon memasang senyum terbaiknya. Ia sudah tidak sabar melihat Tiffany.

Namun yang dilihatnya membuat Siwon terperangah. Seorang yeoja luar biasa cantik. Matanya yang sangat indah, rambut dengan wave sedang berwarna coklat tua, serta tanpa kacamata tebal. Siwon merasakan letupan aneh di dadanya. Ia sedang melihat bidadari.

“Siwon-ssi?”

Suara itu sangat dikenal Siwon. Suara serak dan sedikit berat. Dia adalah Tiffany, si Kikuknya. Apa yang terjadi padanya? Dalam waktu 2 hari ia tidak melihatnya, yeoja itu sudah berubah menjadi kupu-kupu cantik.

“T-Tiffany?”

Tiffany tersenyum ramah. “Ada apa, Siwon-ssi?”

Siwon tertawa. Ia benar-benar tertawa, membuat Tiffany mengernyit heran. Ia tidak tahu apa maksud namja ini mengunjunginya. Tapi jika melihat Siwon tertawa, hati Tiffany serta merta tersinggung. Apa dia menertawai perubahanku? Kata Yoona dan Jessica aku cantik, gerutu Tiffany dalam hati.

“Jika kau hanya ingin menertawaiku, lebih baik kau pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan,” kata Tiffany ketus dan bersiap-siap menutup pintu. Dengan sigap Siwon menahannya. Ia sudah berhenti tertawa, sekarang hanya menyeringai lebar. Seringai yang dirindukan Tiffany.

Siwon berlama-lama menatap wajah Tiffany, membuat pipi yeoja itu merona. Penampilan baru Tiffany mengejutkannya. Sekaligus membuatnya senang.

“Kau tidak menyuruhku masuk? Perutku lapar, kau tahu kan aku tidak bisa masak. Biasanya kau yang selalu membuatkan makanan untukku. 2 hari ini aku terlantar, kau tidak tahu kan? Minggir!”

Sekonyong-konyong Siwon masuk. Sedangkan Tiffany terperangah dengan kesembarangan namja itu. Siwon langsung menuju dapur Tiffany dan benar saja, yeoja itu sedang mempersiapkan makan malam untuk dirinya sendiri. Siwon duduk di salah satu kursi meja makan dan melipat tangannya di atas meja seperti anak penurut.

“Kau membuat sup ya? Kebetulan sekali, diluar sangat dingin. Cepatlah hidangkan, aku sudah lapar,” kata Siwon seenaknya. Tiffany hanya menggelengkan kepalanya, heran dengan sikap Siwon. Sedangkan Siwon, ia sangat bahagia sekarang ini. Ia ingin terus menggoda yeoja ini. Ditambah dengan penampilan Tiffany saat ini.

Ya, Siwon sudah jatuh cinta pada Tiffany. Ia sudah jatuh cinta pada yeoja bernama Tiffany sebelum melihat perubahan ini.

Tatapan Siwon tidak beranjak dari Tiffany saat yeoja itu menghidangkan makanan di atas meja. Ternyata ada seorang putri cantik yang bersembunyi di tubuh tidak modis Tiffany Hwang.

“Neomu kyeopta,” gumam Siwon.

“Ini, makanlah!” ucap Tiffany yang tidak mendengar gumaman Siwon.

Siwon menyantap sup buatan Tiffany dengan semangat. Ia juga rindu masakan Tiffany. Intinya ia merindukan semua hal tentang Tiffany. Sedangkan Tiffany, ia hanya memandangi Siwon. Ia salah jika beranggapan akan melupakan Siwon. Tidak, hal itu sangat berat untuknya. Siwon seperti obat bagi Tiffany. Walaupun namja itu tidak peka dengan perasaannya, namun ia tetap menjadi pil energy Tiffany.

“Kau tak makan?” tanya Siwon. Mulutnya penuh dengan nasi.

“Untuk apa kau kesini?” Tiffany mengabaikan pertanyaan Siwon.

“Omo. Ternyata sifat tempramenmu belum hilang juga. Yak! Terserah padaku ingin kemana saja,” jawab Siwon.

“Kau ini! Kenapa selalu membuatku bingung, Choi Siwon? Aku sudah tak bekerja lagi denganmu, jadi jangan menemuiku lagi.”

Siwon menatapnya lembut. Ia bertanya-tanya kenapa Tiffany pintar sekali menutupi perasaannya. Tapi Siwon tak akan menyerah. Jika Tiffany yang menyerah untuk mengejar cintanya, kini gilirannya yang mendapatkan kembali cinta yeoja ini.

“Aku ingin kau menjadi asistenku lagi. Apa itu salah? Lagipula kau belum mengambil gajimu bulan ini,” ujar Siwon tanpa melihat Tiffany. Ia ingin menyelesaikan makanannya dengan segera. ia penasaran dengan ekspresi Tiffany saat tahu ia sedang memegang buku diarinya.

Tiffany terdiam. Ia tidak menjawab perkataan Siwon alih-alih menyantap makan malamnya yang sedari tadi terabaikan. Siwon tersenyum pada dirinya sendiri.

Tiffany mengantar Siwon ke teras rumahnya setelah makan malam dan duduk sebentar. Siwon mengeluarkan buku diari Tiffany dari dalam saku mantelnya, lalu menyerahkan benda pink itu kepada pemiliknya. Untuk sementara Tiffany berdiri mematung.

Siwon memegang buku diarinya? OMO! Ternyata tertinggal di apartemen Siwon! Tiffany menelan ludah dan mendongak menatap mata Siwon. Siwon tersenyum kecil. Matanya pun memancarkan kelembutan, tidak seperti biasanya.

“Ambillah. Bukankah ini milikmu?” tanya Siwon. Tiffany mengulurkan tangannya yang gemetar dan mengambil buku diarinya.

“A-apa kau mem-membacanya?” Tiffany bertanya tanpa melihat wajah Siwon lagi. ia memandangi kakinya.

“Menurutmu?”

Siwon melangkah mendekati Tiffany. Senyum lebar kini hadir di wajahnya. Tangan Siwon menangkup wajah Tiffany dan mendongakkannya agar ia bisa menemukan mata indah itu. Mata itu sangat indah jika berkilat-kilat seperti ini, batin Siwon.

“Kumohon, jangan tinggalkan aku, Fany-ah. Kau boleh kesal padaku, kau boleh bersikap dingin padaku, tapi jangan pergi dari sisiku. Aku membutuhkanmu. Dan kau sebenarnya juga tidak bisa jauh dariku,kan? Jangan membohongi perasaanmu lagi,” ungkap Siwon.

Tiffany menepis tangan Siwon dan tersenyum tegar.

“Kau salah Siwon-ssi. Sekarang aku tak menyukaimu lagi. Buku ini adalah diriku yang dulu. Kini aku adalah Tiffany Hwang yang baru. Aku sudah melupakanmu, Siwon-ssi.”

Perkataan Tiffany membuat Siwon tercekat. Ia tidak begitu mudahnya percaya dengan apa yang dikatakan Tiffany. Karena gerak-gerik serta mata Tiffany tidak bisa berbohong.

“Begitukah? Seharusnya kau menjadi seorang aktris karena aktingmu sangat bagus. Kau berbohong, Tiffany.”

“Tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku…tidak mencintaimu lagi,” ungkap Tiffany. Matanya tidak menatap mata Siwon.

Siwon mengangguk paham. Mungkin ini harus dilakukan dengan caranya. Ia mendekati Tiffany lagi.

“Bagaimana kalau aku mengatakan kalau aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Tiffany Hwang. Neomu saranghaeyo.”

Tiffany diam. Tatapannya mulai terhalang dengan airmata. Namun sifat keras kepalanya sama dengan Siwon. Kepalanya menggeleng kuat.

“Kalau begitu silahkan mencintai yeoja lain, Siwon-ssi. Aku tidak mencintaimu lagi,” tukas Tiffany tanpa menatap mata Siwon. Ia merasa lemah jika menatap mata itu. Siwon memegangi dagunya.

“Kau berbohong. Tatap mataku kalau begitu. Tatap mataku dan katakan kau tidak mencintaiku lagi,” desis Siwon. Tiffany menelan ludah. Tangan Siwon begitu kuat mencengkran dagu serta pinggang kurusnya. Tiffany memukul bahu Siwon dengan buku yang dipegangnya.

“Lepaskan aku, pabo!”

Siwon tidak tahan lagi melihat yeoja yang sedang meronta-ronta dalam pelukannya itu. Lalu tanpa berpikir dua kali, ia menutup mulut Tiffany dengan mulutnya. Tiffany tercekat. Siwon mencium bibirnya!

Siwon mencium Tiffany dengan segenap perasaannya. Ia tidak membiarkan yeoja itu bergerak melawan. Tangan kokohnya mengunci tubuh kurus Tiffany. Sedangkan mulutnya melumat bibir Tiffany sedemikian rupa. Ia menyesap bibir atas dan bibir bawah Tiffany dengan menggebu-gebu. Yeoja itu terasa manis dan lembut.

Tanpa disadarinya, Tiffany membalas ciuman Siwon. Ia tidak tahu mengapa, tapi hatinya menyuruhnya begitu. Cintalah yang menggerakkan ciumannya terhadap Siwon. Mereka saling melumat seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Kini tangan Siwon menekan leher Tiffany agar ciuman mereka tidak terlepas.

Tiffany mencengkram kuat lengan Siwon, memberi signal kepada Siwon kalau ia hampir kehabisan napasnya. Tiffany menarik tubuhnya dengan susah payah karena Siwon tidak mau melepaskannya. Ciuman pun terlepas dan Tiffany mengambil napas sedalam-dalamnya.

Siwon menyeringai senang dan menempelkan keningnya ke kening Tiffany. Yeoja itu masih menutup matanya.

“Kau memang mempunyai bakat berbohong. Ciumanmu mengatakan kalau kau masih mencintaiku,” ucap Siwon.

Tiffany tidak sanggup lagi membantah. Ia memang masih mencintai Siwon. Selalu mencintainya.

Perlahan Siwon melepaskan pelukan mereka. Ia berjalan mundur tetapi tatapannya tidak lepas dari yeoja yang dicintainya. Tiffany hanya bisa membalas tatapan Siwon dengan tatapan kosong.

“Kutunggu kau besok di apartemenku karena fotografer Ok ingin aku menjadi modelnya. Aku membutuhkanmu. Jika kau tidak datang, aku akan menjemputmu. Arraso?” serunya.

Tiffany hanya tersenyum kecil. Ia memeluk buku diarinya.

“Oh ya, satu lagi. Aku ingin berterima kasih pada sifat cerobohmu yang telah meninggalkan buku diari itu di sofa apartemenku. Buku pink jelek itu telah membuka hatiku, kau tahu? Haha! Selamat malam, Sayangku! Saranghae!”

Dan Siwon pun memasuki mobilnya. Tiffany menahan dirinya untuk menagis bahagia. Namja yang selama ini dicintainya ternyata juga mempunyai rasa yang sama. Dan sebelum pergi, Siwon mengedipkan sebelah matanya pada Tiffany.

Tiffany masuk ke apartemen Siwon dan seperti biasa, namja itu masih tertidur nyenyak di atas ranjang ukuran king size-nya. Tiffany tersenyum melihat wajah itu. begitu tampan dan polos ketika terlelap. Sangat berbeda jika ia sedang marah-marah, jahil ataupun cemberut. Perlahan Tiffany berjalan mendekatinya dan bersimpuh di lantai, wajahnya langsung menghadap wajah Siwon.

Tangan lentiknya menyusuri rahang Siwon dengan lembut.

“Kau menyebalkan, tapi kenapa aku tidak bosan mencintaimu?” bisik Tiffany.

Kemudian dengan gerakan cepat yang tidak disadari Tiffany, Siwon bangun dan mengecup bibir pink lembut itu. Selanjutnya Siwon tertawa terbahak-bahak. Tiffany berdiri sambil menutupi bibirnya.

“YAK! Kau sudah bangun rupanya! Menyebalkan!” sembur Tiffany.

Siwon berdiri di dekat Tiffany. Tawanya masih tersisa namun tatapannya menyapu penampilan Tiffany pagi ini. Yeoja itu mengenakan dress biru laut dan sweater ungu yang membuatnya menawan. Siwon memiringkan kepalanya.

“Good morning, my love.”

Tiffany diam saja saat Siwon mencium keningnya. Sejujurnya ia sangat bahagia.

“Kau bilang hari ini ada pemotretan,” kata Tiffany.

“Memangnya kau bersedia menjadi asistenku lagi? kalau begitu mana kacamatamu?”

“Mwo?”

Siwon melepaskan rangkulannya dan melipat tangan di depan dada. Ia berputar mengelilingi Tiffany, membuat yeoja itu bingung.

“Dilihat dari penampilanmu, aku tidak menerimamu sebagai asistenku. Asistenku itu berkacamata tebal, berambut hitam, kikuk dan ceroboh. Kau tidak masuk criteria,” ujarnya menggoda.

Tiffany mengikuti gesture tubuh Siwon dengan bersidekap dan menaikkan dagunya.

“Lalu, posisi apa yang bagus untukku? Aku rasa yeoja yang kau maksud sudah tidak ada lagi. apa aku tidak bisa menggantikannya?”

Siwon tersenyum. Matanya berkilat penuh cinta. Ia memegangi wajah Tiffany.

“Aku ingin kau menjadi yeojachingu-ku. Atau bahkan wanita yang kucintai seumur hidupku. Apa kau tertarik?” bisik Siwon.

Perasaan Tiffany meletup oleh kebahagiaan yang membuncah. Ia memegang tangan Siwon dan mengangguk.

“Nde, aku bersedia.”

Siwon menatapnya penuh kelembutan dan mencium Tiffany tepat di bibir. Tiffany membalasnya dengan suka cita. Mereka berciuman seakan tak ada lagi hari esok. Siwon sudah yakin dengan perasaannya. Ia berharap Tiffany adalah cinta terakhirnya. Begitu pula dengan Tiffany. Ia bersyukur kepada Tuhan karena mendengar doa-doanya selama ini.

“Neomu neomu saranghae, Tiffany Hwang, nona Kikukku,” ucap Siwon di bibir Tiffany.

“Nado, Choi Siwon, namja jahilku.”

Siwon menciumnya sekali lagi. Kali ini lebih menggebu-gebu. Ia tidak melewatkan setiap inchi di bibir Tiffany.

“C-changkamman..,” desah Tiffany saat ia melepaskan ciuman.

“Waeyo?” protes Siwon dan mencoba mencium Tiffany lagi. tapi Tiffany mengelak.

“Apa kau sudah menggosok gigimu?”

Siwon pura-pura berpikir lalu tersenyum jahil. “Tentu saja belum. Kalau begitu, aku menggosok gigi dulu lalu kita lanjutkan, ne?”

Kemudian Siwon melepaskan cengkramannya pada Tiffany dan berjalan santai ke kamar mandi, meninggalkan Tiffany yang terperangah.

“YAK! CHOI SIWOOON! KAU JOROK SEKALIIII! AISH!”

♥♥♥

THE END

156 thoughts on “[Re-Post] An Assistant’s Love

  1. Hahaha ya ampunnnn ihhhhh sweet banget mereka…. Jantung aku ikut degdeg seerrrrrr pas oppa bilang “Good morning, my love” hihihi..😀

  2. hahaha lucu banget, gokil nih ceritanya
    bikin ketawa sama tingkah lakunya siwon yang ajaib
    yeay cintanya tiffany gak bertepuk sebelah tangan nih

  3. Wah sang asistant jd cintany. lucu bgt, trnyt diblik kejahilianny siwon jg sbnrny sk n terbiasa khdiran fany. n yes✊ akhirny cinta fany terbalaskn.
    SiFany slg cinta n bikin mrk kmbli bersm. Cinta krn terbiasa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s