[Re-Post] A Thousand Kisses

A Thousand Kisses

 

A Thousand Kisses

Author : Elsa Mardian

Genre: Romance

Rating: PG-17

Cast : Choi Siwon, Tiffany Hwang

Disclaimer:

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

 

 

A Thousand Kisses

Love is like the wind.

You can feel it, but you can’t see it.

Sudah 2 tahun Tiffany Hwang dan Choi Siwon berhubungan. Mereka pertama kali bertemu saat pembuatan iklan lipstick di Paris. Sebelumnya Tiffany dan Siwon adalah teman satu managemen, namun mereka tidak berteman dekat. Siwon mempunyai yeojachingu saat itu, begitu pula dengan Tiffany. Akan tetapi, hubungan mereka sama-sama renggang. Pada saat itulah, mereka dipertemukan di sebuah iklan yang menuntut mereka beradegan mesra.

“Hmm, PDnim, apa adegan kissing ini tidak bisa ditiadakan?” tanya Tiffany berbisik kepada sang produser.

“Tidak bisa, Tiffany-ssi. Ini sudah ada di dalam kontrak dan managermu sudah menyetujuinya,” jawab produser.

Tiffany menghela napas. Seharusnya Jung Jessica berkompromi dulu dengannya mengenai adegan ini. Tiffany beranjak ke ruang make-up tempat ia akan dirias untuk shooting hari ini. Jessica sudah berada di sana, berbicara dengan sang penata rias.

“Nah, ini dia. Darimana saja, Fany-ah?” Jessica langsung menanyai Tiffany yang baru masuk.

“Mianhae, tadi aku berbicara sebentar dengan produser,” jawab Tiffany lesu. Ia duduk di salah satu kursi di depan cermin dan penata rias mulai bekerja dengan alat-alatnya. Tiffany memberikan tatapan garang ke arah Jessica, managernya.

“Waeyo?” tanya Jessica saat sadar Tiffany memandanginya.

“Aish, Jessi. Kau benar-benar yaa! Kenapa kau tidak bilang kalau iklan ini ada adegan kissingnya?” tanya Tiffany marah. Mendengar itu Jessica bukannya takut malah tertawa. Tiffany tidak bisa berbuat apa-apa karena wajahnya sedang dirias.

“Oh, itu! Hahaha. Mianhae, aku tidak memberitahumu. Soalnya sudah lama aku ingin ke Paris. Dan hanya ini kesempatannya. Kau kan juga harus melupakan Nichkhun, jadi cobalah adegan ini dengan Tuan Choi itu. Lagipula, kau kan sudah kenal lama dengannya,” Jessica membela dirinya.

Iklan ini mengisahkan tentang sepasang kekasih yang bertemu di depan sebuah sungai di malam hari. Tiffany dan Siwon pun bersiap-siap pada posisi mereka. Tiffany bisa melihat Siwon yang tersenyum padanya dari kejauhan. Mereka berdiri di sisi yang berbeda dan akan bertemu di tengah-tengah lokasi. Yang mereka tunggu sekarang hanyalah teriakan “Action” dari sang director.

Mau tak mau Tiffany harus professional. Ia akan mengerahkan kemampuan aktingnya semaksimal mungkin. Adegan ciuman kali ini akan dibuatnya senatural mungkin. Ia berharap Siwon dapat menjadi partner yang baik.

“Action!”

Here we go. Tiffany dan Siwon mulai melangkah, berjalan saling menghampiri. Senyum percaya diri yang menunjukkan warna lipstick produk iklan tersebut tak lepas dari Tiffany. Sedangkan Siwon harus berekspresi terkagum-kagum kepadanya.

Maka bertemulah mereka pada satu titik. Siwon terdiam sebentar untuk memandangi dan mengagumi wajah cantik Tiffany, terutama bibirnya. Kemudian Tiffany mengalungkan tangan di leher Siwon. Siwon pun memeluknya. Suasana romantis tak terelakkan. Tiffany tahu kalau ini hanyalah acting, namun ia tidak tahu kenapa jantungnya berdebar-debar lebih kencang.

Dan kini tiba saatnya Siwon harus mencium Tiffany. Tadi director sudah mengarahkan kalau ciumannya hanya ciuman ringan biasa, hanya untuk menunjukkan kecantikan lipstick ini. Perlahan Siwon mendekat dan Tiffany menutup matanya. Tiffany menelan ludah, sebentar lagi bibir Siwon akan bertemu dengan bibirnya.

Namun, sebelum Siwon menciumnya, ia berbisik. Dengan jelas dan lembut.

“Neomu yeppoda.”

Tiffany merasa sengatan listrik saat Siwon menciumnya. Bibir mereka menyatu dan tanpa terelakkan Siwon menyesap bibir bawah Tiffany cukup lama. Awalnya Tiffany tidak merespon ciuman itu. Namun saat Siwon mulai membelai wajahnya dengan penuh kasih sayang yang tidak seharusnya dilakukan saat syuting berlangsung, Tiffany tanpa sadar merespon ciuman Siwon. Mereka berciuman semakin lama semakin menggebu, hingga tidak menghiraukan teriakan director dan decak kagum para kru.

“Yah! Apa kalian tidak dengar aku meneriakkan CUT? Aigoo, kalian berciuman hampir 1 menit!”

Present time…

 

Tiffany POV

Aku melepaskan syal yang melilit leherku dan menekan tombol pesan suara yang masuk di pesawat telepon. Hari ini dingin sekali dan aku sendirian. Karena namjachingu-ku sedang berada di China untuk pemotretan sebuah majalah. Sedangkan aku, di apartemen kami sendirian, di malam Natal yang dingin, dan sepertinya aku terserang flu. Karena aku sering sekali batuk dan terkadang sesak napas. Aku berharap Siwon mengirimkan pesan untukku. Aku rindu suaranya.

“Hai, My Mushroom. Kenapa tidak mengangkat teleponnya? Ponselmu juga tidak aktif. Gwaenchana? Mianhae, aku tidak bisa pulang pada hari Natal. Pekerjaanku masih banyak. Kalau kau merasa kesepian, panggil saja Yoona atau Sooyoung untuk menginap. Jaga kesehatanmu, ne? biasanya kau selalu demam jika cuaca dingin seperti ini. jeongmal bogoshippo, Mushroom. Saranghae. Oh ya, kau berhutang 6 hari ciuman. Hahaha.”

Aku menggeleng-geleng mendengarnya. Siwon Oppa tidak akan pernah lupa dengan kebiasaannya, menagih ciuman dariku. Dia memang seorang skinship, bukan berarti dia pervert. Dia melakukannya dengan cara yang selalu berbeda-beda serta romantis.

Jika sesaat aku tersenyum mengingat keromantisan namjachingu-ku itu, namun tiba-tiba senyumku hilang mengingat ketidakhadirannya saat Natal. Jadi aku akan sendirian di malam Natal ini. ugh, kalau aku tahu begini pasti aku akan pulang ke California menemui Daddy.

Aku menyeduh teh hangat dan membawanya ke kamar. Aku ingin beristirahat total malam ini. Kupandangi pohon Natal yang sudah kuhias bersama Jessica, Yoona serta Sooyoung 2 hari yang lalu. Pohon Natal dan hiasan-hiasan lainnya tidak akan berguna jika Siwon Oppa tidak berada di sampingku.

Ah, ingin menangis rasanya. Aku duduk di tepi jendela, memandangi salju yang jatuh dari langit. Indah sekali sore ini. Tampak anak-anak bersama para orangtuanya berjalan di trotoar dengan membawa bermacam-macam peralatan Natal. Ada pula pasangan-pasangan yang dimabuk cinta, berjalan dan bergandengan tangan dengan mesranya. Aku menghela napas, iri dengan kebersamaan mereka.

Apa aku harus menelpon Jessica, Yoona dan Sooyoung? Tidak. Mereka pasti ingin menghabiskan waktunya dengan keluarga mereka. Aku mengambil selembar tissue dan menyeka cairan bening yang keluar dari hidungku. Sial! Aku benar-benar flu sekarang. Mungkin aku harus tidur sebentar.

Siwon POV

Sepertinya Tiffany percaya kalau aku tidak pulang pada hari Natal. Siapa bilang? Hehe. Kenyataannya sore ini aku sudah sampai di Incheon Airport dan sekarang dalam perjalanan menuju apartemen kami. Aku sengaja mengatakan padanya kalau aku tidak pulang. Aku ingin memberi kejutan untuknya.

Aku membuka bingkisan yang akan kuberikan kepada Tiffany. Sebuah kalung dengan liontin dua buah ‘love’. Aku belum pernah memberinya kalung. Percaya atau tidak, selama 2 tahun kami berpacaran, kami jarang bertukar kado. Hanya di malam Natal kami melakukannya.

Aku harap dia menyukai kadoku. Hmm, aku sudah tidak sabar bertemu dengannya. 6 hari tidak bertemu dengannya terasa sangat lama. Apalagi dengan sikap sedikit cueknya, dia tidak pernah menyatakan kalau ia merindukanku. Walaupun sudah kupancing, dia tetap tidak pernah bilang.

“Sudah sampai, Tuan.”

“O, nde.”

Aku turun dari taxi dan membayar argonya. Dengan segera aku ke dalam gedung apartemen kami. Aku tahu Tiffany sekarang pasti sedang meringkuk sedih di kamar. Dia pasti berpikir kalau ini adalah Natal yang paling menyedihkan. Tunggu saja, my Mushroom.

Aku memasukkan kata sandi untuk membuka pintu apartemen. Hmm, aku rindu suasana dalam apartemen kami. Disinilah kami saling berbagi kasih sayang dan segalanya. Aku meletakkan tasku di atas meja ruang tamu dan mengendap-endap mencari sosok yang paling kurindukan.

Aku melihat pintu kamar kami sedikit terbuka dan kulongokkan kepala ke dalam. Senyumku semakin lebar saat melihat Tiffany meringkuk di atas ranjang. Selimutnya ditarik sampai ke dadanya. Aku berjalan pelan-pelan, takut membangunkannya. Ada apa dengannya? Ini kan masih jam 4 sore, kenapa sudah tertidur pulas seperti ini?

Aku berdiri di samping ranjang dan memandangi wajahnya. Omo, kenapa wajahnya pucat seperti kertas? Apa dia sakit? Aku segera menyentuh keningnya. Suhu tubuhnya panas! Aku duduk di lantai dan mengusap rambut hitam bergelombang miliknya.

Untung saja aku pulang hari ini, jadi bisa menemaninya. Aku akan mengosongkan jadwalku sampai yeojachingu-ku benar-benar pulih. Aku mendekati wajahnya dan mencium bibirnya. Hmm, hal ini sudah kubayangkan sejak 6 hari lalu dan rasanya masih menakjubkan meskipun bibirnya terasa panas.

Mungkin karena aku menciumnya, Tiffany terbangun lalu membuka matanya perlahan. Ia mengerjapkan mata indah seperti bulan sabit itu dan aku pun tersenyum manis padanya.

“Surprise,” ucapku lembut seraya mengelus pipi Tiffany.

“Oppa? A-apakah aku bermimpi?” tanyanya serak. Suaranya sudah mulai terdengar tak jelas. Sepertinya ia flu karena suaranya berat.

“Ani. Kau tidak bermimpi. Ini aku, Siwon Oppa-mu. Mianhae, mengagetkanmu.”

Dia langsung menghambur ke pelukanku. Aku berpindah ke atas ranjang agar dia tidak kesulitan memelukku. Tubuhnya pun panas. Hatiku sedih sebab ini adalah malam Natal dan dia jatuh sakit.

“Oppa! Nappa! Kau bilang padaku kalau tidak bisa pulang. Kau pembohong!” omelnya. Aku tertawa dan mencium pipi kirinya.

“Mianhae, aku hanya ingin mengejutkanmu. Tapi ternyata kau memikirkannya sampai sakit begini? Aigoo, kenapa tadi kau tidak memarahiku di telepon?”

Tiffany menggeleng dan tersenyum, memperlihatkan eye smile-nya yang sangat kukagumi. “Aniya. Aku tidak sakit karena memikirkan itu. Sebenarnya aku sudah flu sebelumnya.”

“Dan kau tidak mengatakannya padaku? Aish,” tanyaku. Aku memeluknya erat dan menghirup keharuman rambutnya. “Hari ini biarkan aku jadi perawatmu. Arraseo?”

“Hahaha, Oppa jadi perawat? Aku tidak yakin!” ledek Tiffany lalu menggigit bahuku pelan. Aku balas menggigit telinga kirinya dengan bibirku. Dia terpekik geli dan aku menindihnya di atas ranjang.

“Yah, Choi Siwon! Kau bisa sakit kalau dekat-dekat denganku. Lebih baik kau mengganti pakaianmu dan biarkan aku membuatkan sup untukmu,” ujar Tiffany. Aku menggeleng-geleng pelan tepat di depan wajahnya, membuat hidung kami bertabrakan.

“Jangan beranjak dari ranjang ini, arraseo? Aku akan mengganti baju lalu membuatkan sup untukmu. Lalu kau harus memakan obatmu. Jangan membalikkan keadaan seolah-olah aku yang sakit.”

Tiffany menatapku lembut. “Nde, arraseoyo.”

“Good.”

Aku memberikan kecupan singkat sebelum turun dari ranjang. Aku menunjuk tempat tidur, mengisyaratkan agar dia tetap berbaring disana. Tiffany hanya tertawa dan mengacungkan jempolnya. Aku membuka lemari dan mengambil sepasang pakaian santai. Mataku tetap terpaku padanya, dan dia pun begitu.

Aku mengganti baju dan Tiffany hanya tersenyum-senyum sendiri memandangiku. Aku mengernyit padanya.

“Waeyo? Kau memandangiku seperti yeoja-yeoja penggemarku,” aku menggodanya. Aku memakai celana pendek dan sekarang dia memandangi perut six-pack ku. Tentu saja aku bangga memperlihatkan padanya.

“Apa kau senang mempertontonkan tubuh itu kepada penggemar-penggemarmu? Tsk, kau percaya diri sekali,” jawab Tiffany menyeringai.

Aku memakai kaos leher V ku dan berjalan ke arahnya. Aku menangkup wajah cantiknya dan mencium ujung hidung yeoja yang sangat kucintai itu.

“Bagiku kaulah penggemar nomor satuku, dan aku juga adalah penggemar nomor satumu. Sekarang duduk manis disini, aku akan membuatkan sup dan membawa obat untukmu.”

Author POV

Setelah 30 menit membuat sup, Siwon meletakkannya di atas baki beserta obat flu dan demam untuk Tiffany. Ia segera ke dalam kamar dan menemukan yeoja itu berbaring di atas ranjang. Siwon tersenyum melihat kepatuhan yeojachingu-nya kali ini. Biasanya Tiffany menjadi orang yang paling keras kepala jika sakit.

Siwon meletakkan baki di atas meja nakas dan duduk di samping Tiffany. Ia menyentuh kening Tiffany. Suhu tubuhnya tidak berubah, bahkan makin panas. Siwon berpikir untuk memanggil Dokter Nam ke apartemen mereka, namun Tiffany menolaknya.

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Tubuhmu makin panas, baby.”

“Hmm, jinjja? Kepalaku pusing, Oppa. Dan napasku sedikit sesak.”

Siwon membantu Tiffany bersandar ke kepala ranjang. Ia mengambil mangkuk sup dan meniupnya.

“Oppa, biar aku saja,” ujar Tiffany dengan suara berat.

“Andwe! Biar aku yang merawatmu,” tolak Siwon. Tiffany tersenyum.

“Gomawo.”

Beberapa menit kemudian…

Selesai makan dan meminum obatnya —meminum obat dengan susah payah—, Siwon memerintahkan Tiffany untuk tidur. Ia keluar kamar dan menghubungi Heechul, managernya. Sebenarnya besok Siwon sudah dijadwalkan menjadi bintang tamu di sebuah acara Talkshow untuk perayaan Natal. Dan itupun live show. Mustahil kalau Siwon ingin membatalkannya. Namun melihat keadaan Tiffany yang sakit seperti itu, Siwon harus memohon kepada Heechul agar membatalkan kontrak tersebut.

“Mwo? Tiffany sakit? Aigoo, kenapa baru memberitahuku sekarang?”

“Mianhae, Hyung. Aku juga baru tahu kalau Tiffany sedang sakit. Aku takut keadaannya tidak semakin membaik, oleh karena itu aku tidak ingin datang ke acara live besok. Otte?”

Heechul terdiam. Dia pasti mengerti keadaan Siwon, tapi ini adalah acara live talkshow. Tidak mungkin dibatalkan. Kecuali acaranya tidak live, masih bisa ditunda.

“Coba kutanyakan dulu kepada PD acara itu. Kau rawat dulu yeoja-mu baik-baik, ne? Agar dia cepat sembuh. Sampaikan salamku padanya.”

Siwon tersenyum. “Nde, gomawo, Hyung.”

Malam Natal pun telah tiba. Siwon tidak pernah jauh dari Tiffany sejak tadi sore. Setiap 15 menit ia mengganti handuk lembab yang diletakkan di kening Tiffany dan syukurlah sekarang panasnya sudah sedikit turun. Kini mereka duduk di lantai, di dekat pohon Natal. Masing-masing mereka mempunyai satu kado di tangan.

“Pohon Natal yang indah, bukan?” Tiffany memuji pohon buatannya. Siwon memandangi pohon itu dan tertawa. Tiffany hanya mengernyit heran, tidak tahu apa yang membuat namjachingu-nya tertawa.

“Yah, Mushroom! Pohon apa yang di atasnya tidak dipasang bintang? Aigoo, kau terlalu pendek sih. Hahahahaha!” Siwon tertawa lagi. Ia suka melihat Tiffany cemberut seperti ini.

“Aku lupa menyuruh Sooyoung atau Yoona. Mereka hanya membantuku menghiasnya, tapi aku lupa dengan bintangnya. Yah! Jangan tertawa lagi!” omel Tiffany.

Siwon mencubit pipinya dengan gemas, tapi Tiffany masih cemberut. Ia berdiri dan mencoba berjalan keluar kamar.

“Kau mau kemana?” tanya Siwon. Tawanya sudah berhenti.

“Aku akan mengambil bintangnya dulu.”

“Oooh.”

Siwon menunggu Tiffany sambil memeriksa pesan di ponselnya. Belum ada kabar dari Heechul. Siwon jadi bertanya-tanya apakah Heechul bisa membujuk pihak acara atau tidak. Entah kebetulan atau apa, tiba-tiba ponsel Siwon berdering. Paggilan dari Heechul. Siwon langsung menjawabnya.

“Yobosaeyo? Hyung, otte?”

“Siwon-ah, mianhae. PD tidak bisa membatalkannya. Dia marah saat aku menyatakan kalau kau tidak bisa ikut mengisi acara itu. Dia bilang kau adalah bintang tamu utamanya. Tidak mungkin kalau kau tidak datang. Lagipula ini adalah acara live, tidak bisa diundur. Ottokhae? Aku juga mengkhawatirkan Tiffany. Apa dia sudah lebih baik?”

Siwon menghela napas. Tepat saat dia akan menjawab pertanyaan Heechul, Tiffany datang. Ia duduk di hadapan Siwon dan sebuah hiasan bintang ada di genggamannya.

“Nde, Hyung. Panas tubuh Tiffany sudah turun. Sepertinya besok dia akan baik-baik saja. Hmm, nanti kutelpon lagi, ne?” ujar Siwon. “Gomawo, Hyung.”

Siwon tersenyum kepada Tiffany dan meletakkan ponselnya di lantai.

“Nugu? Heechul Oppa?” tanya Tiffany.

“Nde. Hmm, Mushroom, sepertinya besok siang aku ada panggilan kerja. Gwaenchana?” tanya Siwon ragu-ragu.

Tiffany terdiam. Sebenarnya ia ingin bersama-sama dengan Siwon di hari Natal. Apalagi dengan keadaannya seperti sekarang. Tapi Siwon harus professional, Tiffany juga tidak ingin menghalangi karirnya. Kemudian Tiffany menampilkan senyum manisnya untuk Siwon.

“Gwaenchanayo. Kau pikir aku anak kecil yang setiap sakit harus ditunggui? Kau harus pergi. Memangnya acara apa?”

“Win Win Show. Live Show, Mushroom. Kau yakin tak apa jika kutinggalkan?” Siwon masih terlihat ragu. Tiffany menangkup wajah kokoh Siwon dan mencium hidung lancipnya.

“Kau tak perlu khawatir, Simba. Aku akan menontonmu di rumah, ne? Kau harus berbicara dengan baik. Jangan lupa memujiku jika ditanya. Hahahaha!”

“Shirro! Apa yang bisa dibanggakan darimu. Hahaha!” goda Siwon.

“Yah!” Tiffany menampar pelan pipi Siwon. Siwon terus tertawa dan merangkul tubuh kurus Tiffany.

“Jangan marah, Mushroom. Sekarang ayo kita pasang bintangnya.”

“Nde.”

Siwon dan Tiffany berdiri. Mereka melihat ke atas puncak pohon yang tingginya kira-kira 2 meter lalu saling pandang. Siwon tersenyum dan mengangkat tubuh Tiffany dengan mudahnya. Ia memeluk paha Tiffany agar Tiffany tidak kesulitan memasang hiasan bintang pada pohon Natal.

“Akhirnya terpasang. Hmm, yeppoda!” ucap Tiffany tersenyum. Siwon tidak menunjukkan tanda-tanda menurunkan tubuh Tiffany ke lantai, oleh karena itu Tiffany menunduk menatapnya.

“Turunkan aku, Mister! Apa kau tidak keberatan?”

Siwon menggeleng. “Shirro. Aku suka memandangmu dari bawah sini.”

Tiffany memukul bahunya. “Yah! Dasar kau pervert! Lagipula apa yang kau lihat kalau aku memakai celana panjang seperti ini? Turunkan aku!”

Siwon tetap menolak, bahkan membawa tubuh indah yeoja-nya menuju ranjang. “Baby, kau mau lihat kadoku dulu atau…”

“Lebih baik kita bertukar kado dulu,” Tiffany cepat-cepat memotong perkataan Siwon. Ia tahu Siwon menginginkan hal lain.

“Kau yakin?” tanya Siwon seraya mendudukkan Tiffany di tepi ranjang.

“Yakin sekali. Karena aku sudah tak sabar memberikan sesuatu untukmu,” jawab Tiffany.

Siwon menaikkan sebelah alisnya dan menggigit lembut dagu Tiffany. “Baiklah. Kajja!”

Mereka kembali duduk di tempat semula, mendekap kado masing-masing. Kemudian mereka saling memberikan kado dengan senyum manis di wajah. Tiffany tak berhenti tersenyum. Walaupun matanya kini tampak sedikit sendu karena masih sakit, tetapi menurut Siwon ia adalah gadis paling mengagumkan di muka bumi.

“Hana…deul…set,” hitung Tiffany.

Mereka pun menbuka kado secara serentak. Siwon langsung tertawa keras sedangkan Tiffany bergumam kagum setelah melihat apa isi kado masing-masing.

Honey, apa ini? Kau benar-benar tulus mengatakan kalau aku mirip si koboy Toy Story ini ya?” tanya Siwon seraya mendekatkan wajah boneka Woody Toy Story ke wajahnya. Tiffany mendadak tertawa puas dan bertepuk tangan.

“Memang benar mirip sekali. hahaha!” ledeknya. Siwon hanya berdecak serta tersenyum-senyum sendiri. Ia mengambil sebuah kartu yang juga disediakan Tiffany disana.

“Oppa, neomu yeppodda. Gomawo Oppa,” ucap Tiffany terharu. Ia memandangi hadiah kalungnya dengan mata berbinar.

“Kau suka?” tanya Siwon. Tiffany mengangguk tegas.

“Sekarang, mari kita membaca kartu ucapannya. Aku dulu, ne.”

Tiffany menunjukkan eye smilenya. “Nde.”

Siwon berdehem. Ia meletakkan Woody di pangkuannya lalu membacakan tulisan indah kekasihnya dengan suara cukup keras agar mereka berdua bisa mendengarnya dengan jelas.

Dear my Lovely Woody, boyfriend, and Simba. Hahaha, too many nicknames, ha? Sebenarnya masih banyak lagi, tapi pasti akan tidak cukup jika hanya selembar kertas. Ehem. Oppa, Siwon Oppa. Kau tahu, aku sangat suka menyebut namamu. Mendengarnya saja membuat semangatku kembali. Kau adalah segalanya bagiku, aku tidak tahu bagaimana menjalani hidup tanpamu. Walaupun kau sangat jahil, jelly, dan keras kepala, tapi aku tetap mencintaimu. Jangan pernah pergi dariku, arraso? Semoga di malam Natal ini dan seterusnya, kita akan selalu membahagiakan satu sama lain. God bless Us. Neomu neomu saranghae, Choi Siwon. From your Mushroom^^ ♥

Siwon menatap intens tepat ke mata kekasihnya yang sedang tersenyum malu-malu itu. Ia tidak dapat mengungkapkan apa-apa lagi saat ini. Yang ia rasakan hanya cinta yang begitu besar.

“Gomawo,” ucap Siwon lalu mengecup lembut bibir Tiffany.

“Sekarang giliranku, ne.”

Hi there My Lovely Mushroom! Tibalah saatnya malam Natal yang selalu menjadi malam favoritmu. Dan menjadi malam favoritku juga. Sebenarnya setiap malam adalah kesukaanku asalkan kau selalu ada disampingku. Gomawo, Tiffany Hwang, kau telah menjadi energy pill-ku selama 2 tahun ini. Aku harap kita akan selamanya bersama, berbagi kasih di malam Natal dan hari-hari lainnya. Tetaplah tersenyum untukku, My Mushy. Saranghae. From your hottie Boyf, Choi Siwon :*

Tiffany melipat kertunya dan langsung menghambur ke pelukan Siwon. airmatanya mengalir karena bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“Gomawo, My Woody. I love you.”

Tiffany sudah duduk manis di depan televisi di dalam kamar dengan ditemani secangkir kopi hangat. Sebentar lagi Siwon akan muncul di sebuah acara live talk show untuk menyambut hari Natal. Siwon menjadi bintang tamu utama, oleh karena itu Tiffany sangat bersemangat ingin menyaksikan wawancara namjachingu-nya.

Gadis itu memandangi Siwon tanpa kedip saat pria itu diwawancarai oleh host acara tersebut. Cara Siwon menggerakkan tangannya tanpa sadar saat berbicara selalu membuat Tiffany gemas. Ditambah lagi dengan kelembutan serta kesopanan Siwon dalam berbicara. Ia bangga memiliki dan dimiliki Siwon. Walaupun Siwon 3 kali lipat lebih sibuk daripada Tiffany, pria itu selalu berusaha untuk bertemu dengan gadisnya. Bagi Tiffany, tak ada yang lebih membahagiakan daripada itu.

MC : Siwon-ssi, bagaimana hubunganmu dengan Tiffany Hwang? Aku dengar kalian akan segera menikah. Apa rumor itu benar?

Tiffany POV

Cairan hangat berwarna hitam menyembur dari dalam mulutku ketika mendengar pertanyaan tak terduga MC DungYeop kepada Siwon Oppa. Entah kenapa kopi yang baru saja kuminum tadi mendesak keluar karena kaget. Aku menajamkan pandangan serta pendengaranku pada televisi, tidak peduli dengan kotoran kopi yang sudah kutumpahkan.

Siwon : *tertawa* benarkah ada rumor seperti itu? Wah, aku kaget karena belum pernah mendengarnya hahaha!

MC : Jadi, rumor itu tidak benar? Padahal kami sedang menantikan undangan pernikahan darimu.

Penonton tertawa.

Siwon : Tidak, rumor itu tidak benar. Jika tentang pernikahan, kami pasti akan menikah. Tapi waktunya belum kami pikirkan. Yang penting bagiku sekarang, kami saling mencintai dan berusaha selalu bersama.

Aku tersenyum. Wajah Siwon Oppa benar-benar berseri ketika mengungkapkan jawabannya. Namun sejujurnya, aku berharap kalau rumor yang dikatakan MC DongYeop itu benar.

MC : Arraseo. Kami sangat iri dengan hubungan kalian. Kalian berani mengambil resiko kehilangan penggemar saat mengumumkan kalau kalian resmi menjadi sepasang kekasih. Kau tahu Siwon-ssi, aku sering menonton ulang episode Strong Heart dimana kau dan Tiffany Hwang menjadi bintang tamu dan mengungkapkan kebenaran hubungan kalian. Aku rasa tak ada yang lebih romantis dari saat itu.

Siwon : Jeongmal? Kamsahamnida, Hyung.

MC : Jadi, apa rencana kalian untuk tahun depan? Memikirkan pernikahan, kurasa?

Penonton kembal tertawa.

Aku senang melihat seseorang menggoda Siwon Oppa. Wajah Woody-nya pasti memerah karena gugup dan lesung pipi yang manis itu tidak hilang dari wajahnya. Aku berdecak gemas lalu mengambil tisu yang terletak di atas meja. Sambil terus menyeka tumpahan kopi di atas meja dan pahaku, aku tetap melihat ke arah televisi. Sampai saat aku menyeka mulutku, tanpa sengaja aku melirik ke arah tisu yang telah basah oleh cairan kopi.

Mataku menyipit melihatnya, berusaha meyakinkan diri kalau cairan kopi yang kubuat tadi berwarna krem, bukan orange. Eoh? Aneh sekali. Aku berusaha keras mengingat serbuk kopi baru yang kubeli 2 hari yang lalu. Aku rasa produk kopi yang kubeli belum expired.

UGH..UHUK..UHUK!!

Tiba-tiba dadaku terasa panas dan sesak sehingga aku terbatuk. Dengan cepat aku menutup mulut dan memegangi dadaku. Rasanya luar biasa sakit dan nyeri. Ya Tuhan, kenapa ada sesuatu yang panas dari dalam mulutku. Aku terus terbatuk dan mengambil tisu, bermaksud untuk menyeka mulut.

Lalu, disaat tanganku terulur untuk mengambil tisu, tatapanku tertumbuk pada telapak tangan yang tadinya kugunakan untuk menutup mulut. Aku menahan napas. Apa penglihatanku masih berfungsi dengan benar? Tapi tidak mungkin aku salah lihat. Sebagian telapak tanganku berwarna merah kehitam-hitaman.

Da…darah? Apakah cairan hangat di mulutku tadi itu…darah?

Sayup-sayup kudengar suara tawa penonton di televisi. Aku beralih menatap benda elektronik yang sedang menampilkan senyuman manis namjachingu-ku. Choi Siwon, sedang tersenyum ke arah kamera seolah-olah sedang menatapku.

Aku terpaku menatapnya.

MC : Sebagai penutup acara, adakah yang ingin kau sampaikan kepada seseorang yang spesial untukmu di hari Natal ini, Siwon-ssi?

Siwon : nde. Aku ingin menyampaikan sesuatu untuk seseorang yang selalu ada dalam hatiku. *menghela napas* Tiffany Hwang, baby. Aku harap hubungan kita akan terus bertahan selamanya sampai waktunya tiba kau menjadi istriku. Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu atau kau akan meninggalkanku. Semoga di tahun-tahun berikutnya kita semua sehat selalu dan dalam lindungan Tuhan. Saranghae.

Author POV

Setelah acara talkshow selesai, Siwon bergegas pulang. Ia menolak dengan halus ajakan makan siang dari MC DongYeop serta Kim Shinyoung  karena tidak ingin meninggalkan Tiffany sendirian di apartemen. Siwon belum yakin kalau Tiffany sudah sembuh benar. Sebab tadi pagi ia merasakan kalau suhu tubuh Tiffany kembali panas.

“Mianhae, Hyung. Besok atau dua hari lagi aku akan ke kantor. Kali ini izinkan aku berlibur, ne? Aku tahu kau pasti juga ingin berlibur dengan kekasihmu. Kekeke. Nde, arraseo Hyung. Gomawo!” ujar Siwon pada line ponselnya. Ia lupa meminta izin kepada Heechul untuk langsung pulang. Oleh karena itu Manager Hyung-nya kehilangan jejak Siwon. Itu sebabnya Siwon memutuskan untuk menelpon manager Hyung-nya tersebut.

Siwon masuk ke gedung apartemennya yang terbilang sepi. Kebanyakan penghuni gedung tersebut menghabiskan waktu di dalam apartemen saja bersama orang-orang yang dikasihinya. Berpelukkan di depan perapian, minum coklat hangat, ke gereja bersama keluarga dan ada pula yang bermain salju di luar.

Dengan langkah-langkah panjang Siwon akhirnya sampai ke unitnya. Ia pun menekan bel di dekat pintu apartemen dan menunggu Tiffany muncul dari balik pintu. Ia sudah tidak sabar bertemu, memeluk serta mencium yeojachingu-nya, padahal baru beberapa jam mereka berpisah.

CLEK

Pintu terbuka dan Siwon tersenyum lebar. Kakinya melangkah masuk dan langsung menarik Tiffany ke dalam pelukannya. Tiffany tidak bisa melakukan apa-apa kecuali tertawa kecil dan membalas pelukan Siwon.

Siwon POV

Aku memejamkan mata, menikmati kenyaman pelukan kami. Aku menyurukkan kepalaku di lehernya yang putih dan wangi. Walaupun suhu badannya tidak berubah sejak tadi pagi, aku senang mendengarnya tertawa. Kasihan sekali Mushroomku. Dia sakit di hari Natal seperti ini. Aku memberi kecupan lembut di leher dan pipi kanannya, kemudian melonggarkan pelukan agar bisa dengan leluasa memandangi wajah semanis peri itu.

“Bagaimana bisa aku merindukanmu padahal baru beberapa jam berpisah,” ungkapku bermaksud membuatnya merona.

Ia hanya tersenyum lemah dan tidak melepaskan tautan tangannya di leherku. Sesaat aku tersadar dengan apa yang kulihat. Wajah Tiffany sangat pucat, dua kali lebih pucat dari kemarin. Matanya tampak sendu sekali seakan-akan sedang mengantuk berat. Dan terkutuklah aku ini, kenapa aku baru menyadari kalau wajah itu semakin tirus saja.

“Omo! Kau tampak pucat sekali. Suhu badanmu juga tidak turun. Baby, gwaenchanha?” aku bertanya khawatir. Aku menangkup wajahnya dengan tanganku. Aku menelan ludah, sepertinya Tiffany belum sembuh. Aku kira ia akan baik-baik saja.

“Ani, gwaenchanhayo. Aku hanya demam biasa. Kau seperti tidak tahu saja kalau aku sedang flu, pasti terlihat pucat sekali,” jawab Tiffany dengan suara seraknya.

Aku menatap intens ke mata indah yang selalu kukagumi. Mata itu sendu namun terlihat tanpa beban. Sebenarnya sangat tersiksa melihat setiap kali yeoja-ku ini sakit. Apa karena kali ini ia terlalu sibuk dengan jadwal photoshoot serta iklannya? Ia pasti sangat kelelahan.

“Kalau begitu, ayo ke kamar. Aku akan membuatkan sup kimchi untukmu, otte?” bujukku seraya menarik  tangannya menuju kamar.

“Aku sedang malas makan, Woody. Bagaimana kalau kita main bola salju?”

Aku berdecak menghadapi sikapnya yang berubah childish. Aku menggeleng kuat sebagai jawaban permintaannya dan ia langsung cemberut. Aku tidak mau tahu. Pokoknya ia harus istirahat total dan nanti kupastikan Dokter Nam akan kemari.

Tiffany masih cemberut saat ia berbaring di atas ranjang kami yang empuk dan hangat. Aku menyalakan penghangat ruangan lalu duduk di tepi ranjang. Ia menolak untuk memandangku walaupun aku telah menggigit lembut jari-jari tangannya.

“Hei, kau merajuk ya?” tanyaku. Tiffany menggeleng.

“Ani.”

Aku menelungkup di sampingnya, memalingkan wajahnya ke arahku. “Lihat aku.”

Wajahnya sudah menghadap kepadaku namun ia sengaja menutup matanya bermaksud untuk menggoda. Aku tahu ia sedang menahan tawanya. Kutumpukan tubuhku dengan siku tangan kananku dan tangan kiriku memegangi wajahnya.

“Dasar nakal. Yah, kau tak dengar perintahku ya? Lihat aku, atau kalau tidak aku akan menciummu sampai kau kehabisan napas,” ancamku balas menggodanya.

Kemudian yang kulihat Tiffany spontan membuka matanya dan menatap lurus padaku. aku tertawa puas.

“Waeyo? Kau benar-benar takut dengan ancamanku ya?”

“Ani. Aku hanya tidak ingin menciummu hari ini. Aku masih merajuk.”

“Mwo? Kenapa kau merajuk?”

“Karena wawancaramu tadi.”

Aku tersenyum. “Kau menontonnya, kan? Bagaimana penampilanku? Pasti sangat memukau.”

Tiffany menyunggingkan sebelah sudut bibir atasnya. “Tch. Sepertinya kau harus terapi tentang rasa percaya diri yang berlebihan. Maksudku, kau tadi gombal sekali di acara itu. Aku kan bisa malu. Tunggu saja sampai besok, pasti managerku Jessi, Yoona dan Syoo akan meledekku habis-habisan.”

“Haha, biarkan saja mereka meledekmu asalkan mereka tidak meledekku. Kau tahu tidak, baby, rating acara itu langsung meningkat pesat karena ada aku.”

Tangan Tiffany menepuk lembut pipi kiriku. “Aish, masih saja membanggakan diri. Tapi aku mencintaimu.”

Aku menggenggam tangannya yang masih berada di pipiku. “Aku tahu kau mencintaiku,” gumamku lalu mencium tangan kurus tersebut. “Kalau begitu, beristirahatlah dulu. Aku akan menelpon Dokter Nam dan membuatkan sup kimchi untuk kita. Arraseo?”

Saat aku akan bangkit, Tiffany menarik lagi tanganku. Entah kenapa aku merasa ia terlihat takut ketika mendengar nama Dokter Nam. Aku mengernyit menatapnya.

“Ada apa, baby?”

“Engh…jangan panggil Dokter Nam. Mungkin saja ia sedang tidak ingin diganggu karena ini hari Natal. Aku akan baik-baik saja, Oppa.”

“Kau tidak akan baik-baik saja. Kemarin kau menolak Dokter Nam dan ini akibatnya. Panasmu tidak turun dan sekarang wajahmu makin pucat. Pokoknya aku harus memanggil Dokter itu!” tegasku padanya. Aku tahu kalau Tiffany takut dengan suntikan maupun obat-obatan, tapi tidak ada jalan lain.

“Shirro! Oppa, aku tidak meminum obat. Jebal!” Tiffany kini merengek. Tangannya semakin erat memegangi lenganku.

“Tch. Baby, aku tahu kau tidak suka dengan obat. Nanti aku akan meminta pada Dokter Nam untuk memberikan obat yang berwarna pink semua. Otte?” bujukku lagi. Tiffany terdiam mendengarnya. Aku tersenyum. Sepertinya aku berhasil membujuknya karena aku mengandalkan kata-kata pink. Hehe, dasar pink addict!

“Tetap saja itu obat. Woody, please! Don’t call him,” Tiffany memohon sambil mengeluarkan airmata. Melihat airmatanya mengalir aku pun segera duduk dihadapannya, membawanya ke dekapanku. Ia melanjutkan tangisannya, pelan namun terasa menyayat hatiku. Ada apa dengan moodnya hari ini? Tadi dia tampak sangat cerah dan sekarang ia menangis.

“Sssh, baiklah, baiklah. Aku tidak akan memanggil Dokter Nam. Uljima.”

Apa karena sedang sakit sehingga ia sedikit berlebihan saat ini. Aku mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Mungkin aku harus memberinya obat yang kemarin agar panasnya turun seperti semalam.

Tiffany POV

Tidak ada cara lain kecuali menangis di hadapannya. Aku tahu ia tidak tega melihatku menangis. Ia memelukku dengan erat hingga membuatku nyaman. Aku tidak ingin membagi ketakutan yang sedang melanda diriku saat ini padanya. Beberapa menit lalu aku batuk darah. Sebelumnya aku tidak pernah mengalaminya. Aku tidak mengerti tentang kesehatan maka tadi aku hanya menanganinya dengan dua gelas air mineral serta obat batuk.

“Kau yakin tidak akan apa-apa, baby?” bisik Siwon Oppa di telingaku. Aku menggeleng lambat-lambat.

“Jangan khawatir, Oppa.”

Besok jika Siwon Oppa tidak berada di apartemen, aku akan memeriksakan sendiri penyakitku ke dokter. Aku tidak ingin membuatnya khawatir.

“Kalau begitu, aku akan menciummu. Siapa tahu penyakitmu akan pindah padaku,” ujarnya menggoda. Ia menangkup wajahku dan menciumku tepat di bibir. Hanya ciuman biasa namun sangat suci. Mungkin ia hanya ingin merasakan seberapa panas bibirku.

“Kau ingin sakit juga, ya? Pabo!” desisku dibibirnya. Ia tersenyum.

“Hmm. Ciumanku ini bisa menyembuhkan penyakitmu. Lihat saja nanti.”

Aku mengangguk patuh. Setidaknya ia mengurungkan niat untuk memanggil Dokter Nam.

“Oppa, bagaimana kalau nanti malam kita ke gereja? Hari ini aku belum keluar rumah.”

“Besok saja atau tunggu kau sembuh total. Cuaca di luar sangat tidak bagus untuk kesehatanmu, baby.”

Aku melahap sup kimchi-ku lagi. Hari ini bosan sekali rasanya terkurung di dalam apartemen. Siwon Oppa benar-benar mengurungku disini. Tanpa sadar aku menahan batukku lagi. Ini sudah yang keduapuluh kali aku menahannya. Aku membiarkan dadaku sakit daripada terbatuk di depan Siwon Oppa. aku tidak tahu apakah batukku berdarah lagi atau tidak. Yang jelas rasanya sakit luar biasa.

Tapi batukku kali ini makin hebat. Aku rasa aku tidak bisa lagi mengendalikannya. Aku tidak sanggup lagi menahan sendok di tanganku lantas sendok itu terpelanting dengan suara nyaring di atas meja makan. Hal ini menarik perhatian Siwon Oppa. Ia menatapku tajam, mengernyit saat aku menutup mulutku dengan tangan.

“Baby, ini sudah kesekian kalinya kau menahan batukmu. Apakah berdahak? Jangan malu, lepaskan saja tanganmu,” ujar Siwon Oppa.

Aku memberanikan diri mengintip ke telapak tanganku. DEG! Lebih banyak darah! Dengan tangan gemetar, aku kembali menutup mulutku. Bagaimana ini?

“Baby, ada apa?”

Aku tidak berani menatap Siwon Oppa yang kini berpindah duduk di sampingku. Ia mengusap-usap punggungku dan menyodorkan segelas air mineral. “Minumlah.”

Aku menggeleng kuat. Lalu tanpa babibu lagi aku segera berlari ke kamar mandi, meninggalkan Siwon Oppa yang menatapku heran. Aku mencuci tanganku dan berkumur-kumur di wastafel. Perasaanku sangat tidak enak saat ini. Penyakit apa ini? Kenapa batukku berdarah?

Aku membasuh wajahku agar terlihat segar. Aku tidak ingin Siwon Oppa curiga. Benar katanya kalau wajahku memang sangat pucat. Aku bagaikan melihat mayat hidup pada bayangan diriku di cermin.

 

No matter what happen, I will always stay beside you

And Let me take over your pain

Siwon POV

Ini sangat aneh. Tiffany tidak berhenti batuk sampai tengah malam. Selain terganggu, aku juga khawatir padanya. Setiap kali aku bertanya apakah ia baik-baik saja, ia selalu menghindariku. Seperti sekarang, sudah pukul 2 pagi. Tiffany masih batuk keras dan bolak-balik kamar mandi. Aku pura-pura tidur ketika ia mengendap-endap ke kamar mandi. Karena kamar kami gelap, aku bisa melihat jelas Tiffany di kamar mandi yang terang. Ia seperti memuntahkan sesuatu ke wastafel.

Aku keluar dari selimut dan menyusulnya ke kamar mandi.

“Baby?”

Ia terkejut mendengar suaraku dan tangannya meraba-raba mencari kran. Aku melihat sesuatu yang janggal dan dengan tangkas menangkap tangannya. Jantungku berdetak lebih kencang ketika mataku melihat darah segar di lubang wastafel dan di bibir Tiffany. Ya Tuhan!

Ia tidak menatap mataku tapi aku tahu ia sedang menangis. Tubuhnya berkeringat sangat banyak seperti orang yang selesai marathon.

“A…apa yang terjadi? Baby, lihat aku! Dan apa ini di mulutmu?”

Tangisnya semakin menjadi. Aku menangkup wajahnya dan mendongakkannya sehingga aku bisa melihat banyak darah di mulut yeojachingu-ku ini. Tiffany menolak membuka mulut sehingga aku harus memaksa dengan ibu jariku.

Kedua ibu jariku menyentuh bibir lembutnya, membujuk dengan lembut agar terbuka. Ia seperti menahan sesuatu dan UHUK UHUK! Mungkin jika aku mempunyai penyakit jantung, aku akan mati seketika karena kaget. Dari mulutnya keluar darah segar yang hangat sehingga mengenai tanganku. Tiffany terus terbatuk keras.

“Kau batuk…berdarah? Ya Tuhanku!” suaraku tertahan.

“Op..Oppa. Dadaku sa..—sakit. Neomu…appo,” rintih Tiffany sambil memegangi dadanya.

Tanpa menunggu waktu lama aku segera menggendongnya. Tiffany telah berbohong padaku. Ia tidak baik-baik saja dan terkutuklah diriku yang mudah saja dibohonginya. Aku mengambil kenci mobilku dan berlari keluar apartemen, dengan Tiffany yang tampak sekarat dalam gendonganku. Aku harap batuknya tidak semakin parah sampai kami tiba di rumah sakit.

Setelah melakukan CT Scan Toraks, Tiffany dipindahkan ke kamar rawat. Aku meninggalkan Tiffany bersama salah satu suster sementara Dokter Kim mengajakku berbicara di ruangannya. Disanalah Dokter menjelaskan apa yang terjadi pada yeojachingu-ku.

“Nona Tiffany Hwang mengalami infeksi pada saluran pernafasannya yang disebabkan oleh jamur serta virus. Hal itu membuatnya batuk terus menerus sehingga pembuluh darahnya menjadi rapuh. Tetapi Tuan Choi, ada sesuatu yang aneh yang belum bisa kami deteksi. Kami khawatirkan sekarang adalah Nona Tiffany bisa saja terserang kanker paru-paru. Untuk itu lebih baik kita melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Apakah Anda setuju, Tuan Choi?”

Aku membeku di tempat. Penjelasan Dokter Kim terasa bagaikan seribu palu yang menghantamku. Aku merinding mendengarnya. Bagaimana bisa yeojachingu-ku yang selalu menjaga kesehatannya—walaupun memang sering sekali sakit—, menderita penyakit itu? Setahuku Tiffany memang menderita penyakit ligamen sejak umur 15 tahun. Tapi penyakit itu tidak sampai parah. Bahkan ia sudah tidak pernah lagi mengeluh soal nyeri di tulangnya. Ia sendiri yang menceritakannya padaku.

“Dokter Kim, lakukan apa saja untuk menyembuhkan Tiffany.”

“Kami akan berusaha semampu kami Tuan Choi. Untuk sementara waktu, Nona Tiffany harus dalam perawatan kami di rumah sakit. Kami akan melakukan pemeriksaan selanjutnya sekrang.”

Aku mengangguk pasrah.

Sudah pukul 6 pagi tapi Tiffany belum sadar juga. Aku tahu kalau ia diberi obat sehingga tertidur pulas seperti sekarang. Aku masih menunggu hasil pemeriksaan dari Dokter Kim dan siap siaga di samping yeojachingu-ku. Aku tidak sanggup melihat ketidakberdayaan Tiffany. Terbaring lemah disana, dengan bantuan infuse serta oksigen. Tadi aku sempat melihatnya sesak napas dan hal itu membuatku mati rasa.

Aku mengelus pipinya yang lembut. Aku ingat caranya kemarin menyanggah fakta bahwa dia baik-baik saja padaku. Jelas-jelas ia merasakan sakit tetapi tidak memberitahuku. Aku mengecup keningnya dan berbisik, “Mianhae, Mushroom. Ciumanku tidak membuatmu pulih.”

Tentu saja Tiffany tidak bereaksi karena ia tengah terlelap. Aku meletakkan kepala di samping kepalanya dan memberinya kekuatan dengan genggaman erat di tangannya. Aku belum tahu apa yang menyebabkan Tiffany batuk berdarah. Informasi pertama sudah kuterima yaitu infeksi pada saluran pernafasannya. Namun saat Dokter Kim menyinggung tentang kanker paru-paru, otomatis aku menjadi was-was. Aku tidak ingin sesuatu yang lebih buruk dari ini terjadi.

“Tuan Choi Siwon, Dokter Kim menunggu Anda di ruangannya,” salah satu suster masuk dan memberitahuku. Aku mengangguk.

“Nde, kamsahamnida.”

Aku yakin hasil tes tentang paru-paru Tiffany sudah di tangan Dokter Kim. Aku pun segera mempercepat langkah menuju ruangan Dokter itu. Dan entah kenapa tanganku sudah licin oleh keringat dan jantungku berdetak lebih cepat. Aku rasa bukan karena cuaca bersalju yang dinginnya kini terasa menusuk tulang.

Author POV

“M-mwo? Tumor sarcoma ewing?” Siwon terperajat.

“Nde, Tuan Choi. Ini ada hubungannya dengan penyakit ligamen yang pernah diderita Nona Tiffany. Karena tumor ini bisa tumbuh di tulang mana saja, termasuk di paru-paru.”

Siwon tidak sanggup menggerakkan anggota tubuhnya.

“Jadi, ternyata Nona Tiffany pernah menderita penyakit itu dan sebenarnya belum sembuh total sampai sekarang. Ia hanya mengkonsumsi obat-obatan dan menjaga kesehatannya. Namun karena ia jarang memeriksa kesehatannya, ada satu penyakit yang tidak terdeteksi, yaitu Tumor Sarkoma Ewing. Tumor ini tumbuh di paru-parunya dan berkembang disana. Tumor ganas ini jarang terjadi pada wanita, Tuan Choi. Mengingat Nona Tiffany juga bukanlah seorang perokok aktif. Tetapi Tumor Sarkoma memang lebih mudah tumbuh di paru-paru. Penyakit ini sulit didiagnosis sehingga ketika sudah terdiagnosis penyebaran sel kanker telah mencapai 30 %. Itulah yang terjadi pada Nona Tiffany Hwang.”

Siwon makin terhenyak. Kata-kata tumor dan kanker terngiang-ngiang di kepalanya. Siwon menatap tajam ke arah Dokter Kim yang tampak prihatin.

“Maksud Anda, Tiffany menderita penyakit…kanker paru-paru?” tanya Siwon hati-hati seolah-olah ia akan mati jika mendengar jawabannya.

“Benar, Tuan Choi. Nona Tiffany positif mengidap kanker paru-paru. Untuk kasusnya, sudah mencapai stadium akhir karena tumor ini termasuk golongan ganas. Kami turut prihatin, Tuan Choi. Tapi jangan khawatir, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya. Kami akan melakukan pembedahan dengan membuang sebagian paru tempat ditemukannya tumor tersebut dan membuang semua kelenjar getah bening yang terkena kanker. Jika Nona Tiffany tidak bisa melakukan operasi, maka akan dilakukan radioterapi atau radiasi dengan sinar-X berintensitas tinggi untuk membunuh sel kanker.”

Siwon termenung di samping ranjang Tiffany. Wajah yeojachingu-nya semakin pucat dan mulai ada pembengkakan di bagian leher. Tapi syukurlah Tiffany sudah bangun dari tidurnya. Hanya saja Tiffany tidak banyak bicara. Suaranya yang memang serak, kini semakin terdengar serak bahkan kadang tidak terdengar.

Operasi pembedahan dan pengangkatan getah bening yang terkena kanker akan dilakukan 3 hari lagi. Siwon sudah menghubungi ayah Tiffany yang tinggal di Amerika serta Jessica, Yoona dan Sooyoung. Ia tidak ingin memberitahu lebih banyak orang karena berita ini akan tercium oleh media. Siwon tidak ingin Tiffany stress sebelum operasinya.

“Oppa?” panggil Tiffany dengan suara yang sangat pelan.

Siwon mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany. “Nde, baby. Apa yang kau butuhkan?”

“Kau.”

Siwon menatap lembut Tiffany. Yeojachingu-nya tersenyum, menunjukkan eye smile yang memikat hati. Siwon merasakan matanya panas dan dipenuhi air mata. Tiffany tidak ingin terlihat kesakitan di depan Siwon. Ia ingin menjaga perasaan namjachingu-nya yang pasti saat ini sedang khawatir.

“Baby, kau harus tahu kalau aku akan selalu disini saat kau butuhkan. Apapun yang terjadi, aku akan selalu disampingmu. Dan jika Tuhan menizinkanku untuk mengambil alih semua rasa sakitmu, aku pasti akan melakukannya,” ungkap Siwon lembut. Tiffany tertawa kecil. Ibu jarinya menyeka airmata yang mengalir dari mata elang namjachingu-nya.

“Oppa, ini masih suasana Natal dan kau menangis seperti anak kecil yang tidak mendapatkan kado dari Santa,” goda Tiffany. Siwon tertawa sambil menangis.

“Jinjjayo? Ah, aku pasti terlihat jelek,” tukas Siwon. Tiffany menggelengkan kepala.

“Aniyo. Kau tetap yang tertampan di mataku,” bisiknya. Siwon semakin mendekatkan kepalanya ke Tiffany.

“Kenapa Mushroom-ku jadi gombal begini, eoh? Kau jarang sekali mengakui kalau aku tampan,” gilirannya menggoda Tiffany. Ia mencium dagu gadis itu dan mengelus pipinya.

“Oppa?”

“Hmm?”

“Mari kita berandai-andai. Hmm, jika operasi ini tidak berhasil, aku tidak ingin kau berlarut-larut dalam kesedihanmu. Aku ingin kau tetap menjadi dirimu yang percaya diri, optimis serta—“

“Jangan bicara seperti itu, Fany-ah. Operasi ini pasti akan berhasil,” sela Siwon.

Tiffany terdiam. Ia sudah tahu apa penyakitnya dan jujur saja, ia tidak mempunyai kepercayaan diri. Sejak ia terbangun tadi pagi sampai sore ini, ia sudah batuk berdarah sebanyak 5 kali. Dan rasanya sesak sekali. Ada sakit yang teramat sangat di dadanya. Itu tidak ia katakan kepada Siwon.

Tangan Tiffany terangkat untuk membelai rahang Siwon. Siwon mengecupnya sesekali.

“Baby, setelah operasi ini aku akan menikahimu,” bisik Siwon lembut. Tiffany mengerjapkan matanya lambat-lambat, berusaha mencerna dengan cepat apa maksud perkataan Siwon.

“Mwo?”

Siwon menggesekkan hidungnya ke hidung Tiffany. “Aku-akan-menikahimu-Tiffany Hwang.”

Ada kebahagian meletup-letup di hati Tiffany sekaligus keperihan yang mendalam. Ia sangat berharap itu bisa terwujud, namun kondisinya tidak membuat gadis ini yakin. Ia menderita kanker paru-paru stadium akhir dan apa lagi yang bisa dilakukannya? Hanya berharap dan berdoa. Semoga saja ada mukjizat yang datang padanya dan niat Siwon akan terlaksana.

“Aku akan dengan senang hati menjadi istrimu, Choi Siwon. Sekarang peluk aku,” ucap Tiffany. Airmata sudah mengalir deras dari matanya.

Tak menunggu waktu lebih lama lagi, Siwon pun menelungkup dan mendekap tubuh kurus Tiffany. Ia tidak memeluknya terlalu erat, takut Tiffany menjadi sesak, namun ia juga tidak ingin melepaskannya.

“Neomu saranghae, My Woody,” gumam Tiffany. Siwon mengangguk dan mengecup lembut bibir Tiffany.

“Terlebih aku. Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar cintaku padamu, Mushroom.”

Malam itu Mr. Hwang, Jessica si manager, Yoona, Sooyoung serta Heechul datang membesuk Tiffany. Mr. Hwang langsung menuju rumah sakit setelah pesawatnya mendarat di Seoul. Beliau tidak seperti dirinya yang biasa saat melihat putri semata wayang yang sangat disayanginya terbaring lemah di atas ranjang rawat. Mr. Hwang terlihat sangat terpukul dan ia tidak bisa menahan airmata. Siwon hanya memandangi dari jauh pemandangan yang mengharukan antara ayah dan anaknya. Sedangkan Jessica, Yoona dan Sooyoung juga menangis di sudut lain kamar inap.

“Daddy, don’t cry. I’m okay and will be okay. Just let me see your precious smile. I really miss that,” ujar Tiffany menenangkan ayahnya. Mr. Hwang berusaha keras menahan isakannya dan memeluk Tiffany.

“Maafkan Daddy, Nak. Daddy terlalu sibuk bekerja sehingga tidak tahu keadaanmu. Daddy juga jarang mengunjungimu disini,” isak Mr. Hwang. Disaat seperti itu Tiffany masih bisa tertawa.

Don’t be silly. Seharusnya aku yang minta maaf karena aku jarang sekali mengunjungimu. Mianhae, Daddy. Jadwalku memang padat,” ujar Tiffany.

It’s okay, darling. Mulai sekarang, Daddy akan selalu berada di dekatmu. Daddy akan menjagamu,” ucap Mr. Hwang.

Tiffany mengangguk. “Thank you, Daddy.”

Siwon senang melihat Tiffany tertawa bahagia melihat kedatangan sahabat-sahabatnya. Heechul, Jessica, Yoona dan Sooyoung bergantian memeluk Tiffany. Mereka adalah semacam obat pembangkit kecerian untuk Tiffany. Sejenak Tiffany melupakan kesedihannya dan bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya. Untung saja Jessica, Yoona dan Sooyoung tidak menunjukkan wajah sedih mereka. Ketiga gadis menyenangkan Tiffany seolah-olah Tiffany tidak sakit.

“Hyung, aku tidak ingin keadaan Tiffany diketahui oleh media. Kau bisa mengatasinya, Hyung?” tanya Siwon pada Heechul. Heechul memberi tepukan pelan di punggung Siwon.

“Tenang saja. Aku dan Jessica bisa mengatasinya.”

“Gomawo, Hyung.”

Siwon tersenyum penuh arti pada Heechul. Lalu, saat itu juga Mr. Hwang datang menghampiri Siwon.

“Siwon-ah.”

“Ye, Daddy?”

“Bisakah bicara di luar?” tanya Mr. Hwang serius. Siwon mengangguk dan mengikuti langkah Mr. Hwang keluar kamar.

Tiffany melirik sekilas Siwon yang dibawa keluar oleh Mr. Hwang. Tiffany yakin mereka akan membicarakan tentang penyakitnya.

Siwon POV

Mr. Hwang mengajakku duduk di bangku tunggu di depan kamar rawat Tiffany. Kami sudah lama tidak bertemu. Kira-kira 9 bulan yang lalu aku bertemu dengan ayah gadis yang kucintai ini. Menurutku Mr. Hwang adalah pria yang hebat. Ia membesarkan Tiffany seorang diri tanpa istri di sisinya. Walaupun ia telah menghasilkan uang yang banyak dari pekerjaannya sebagai direktur perusahaan sepatu di Amerika, Mr. Hwang tidak pernah memanjakan Tiffany dengan uang. Begitu juga dengan Tiffany. Ia tidak pernah membanggakan kekayaan ayahnya dan memilih untuk bekerja sendiri.

Sejenak kami hanya duduk dalam diam. Aku mengerti betapa terpukulnya Mr. Hwang saat ini. Sebab yang ia rasakan tidak sebanding dengan perasaanku. Ia ayahnya dan tentu saja ia takut kehilangan orang yang dicintainya untuk yang kedua kali.

“Siwon-ah?”

“Nde.”

“Terimakasih telah menjaga putriku selama ini. Aku tidak bisa membayangkan jika kau tidak ada disampingnya. Aku tahu aku bukanlah Ayah yang sempurna bagi Tiffany, tapi dengan segenap hatiku aku mengatakan kalau aku sangat mencintainya. Hanya Tiffany hartaku paling berharga saat ini,” ungkap Mr. Hwang.

“Aku mengerti, Dad. Tidak perlu berterimakasih kepadaku, karena sudah menjadi kewajibanku untuk menjaganya,” ujarku tulus. Mr. Hwang menepuk bahuku pelan.

“Kau benar-benar pria yang sangat baik, Siwon-ah. Tiffany beruntung memilikimu. Aku percaya kau mempunyai hati yang sangat tulus.”

Lalu Mr. Hwang menghela napas berat. Aku tahu dia mempunyai hal penting yang akan disampaikannya kepadaku. Jadi sebaiknya aku mendengarkan baik-baik.

“Siwon-ah, aku ingin Tiffany kembali tinggal denganku setelah operasinya. Mungkin perawatan medis disana lebih baik dari Seoul. Aku harap kau mengerti dengan keinginanku.”

Aku mengernyitkan kening. “Maksudmu, tinggal di Amerika?”

Mr. Hwang hanya mengangguk dengan wajah muram. Aku memutar tubuh ke arahnya, berharap pria ini tidak serius dengan yang diucapkannya. Aku berencana menikahi Tiffany setelah operasi ini berlangsung. Aku juga tidak menyalahkan Mr. Hwang atas permintaannya karena beliau tidak tahu rencanaku.

Aku menelan ludah. Yang dikatakan Mr. Hwang benar adanya. Pengobatan di Amerika mungkin lebih baik. Jika Tiffany tinggal disana, bagaimana dengan rencanaku? Aku tidak mungkin meninggalkan Seoul karena masih mempunyai kontrak di beberapa perusahaan.

Mr. Hwang menatapku. “Bagaimana menurutmu, Siwon-ah? Bukannya aku bermaksud memisahkanmu dengan Tiffany. Tetapi ini demi kebaikannya.”

Aku tertunduk. Apa yang harus aku lakukan jika tidak ada Tiffany di sisiku? Dan apakah Tiffany bersedia tinggal disana? Aku memejamkan mata, mencoba menelaah pikiran logisku secara cepat. Aku sangat mencintai Tiffany, dan itu berarti aku harus melihatnya bahagia. Aku ingin dia sehat serta mendapatkan perawatan yang baik. Aku tidak boleh egois. Jika menahannya disini, itu berarti aku tidak memikirkan kesehatannya. Tapi, apakah aku sanggup berpisah dengan Tiffany?

“Bagaimana Siwon-ah?”

Author POV

Selesai membersihkan dirinya, Siwon kembali ke rumah sakit. Ia bergantian jaga dengan Mr. Hwang. Sebenarnya Siwon bersedia menemani Tiffany selama 24 jam, tapi Mr. Hwang memaksanya untuk beristirahat. Menurut Heechul, Siwon tampak seperti homeless person. Kumis dan jambangnya mulai tumbuh dan rambutnya tumbuh sedikit lebih panjang. Itulah yang dibersihkannya di apartemen. Sekaligus memasak makanan untuk Mr. Hwang.

Kini ia sudah berada di rumah sakit, mendapati Mr. Hwang tertidur di sofa, sementara Tiffany terbaring di atas tempat tidurnya. Semakin hari ia semakin lemah. Besok adalah waktunya untuk melakukan operasi. Siwon sangat tidak tega melihat kondisi Tiffany. Suaranya makin parau bahkan tidak terdengar lagi, leher dan wajahnya makin membengkak dan ia bernapas dibantu oleh oksigen cadangan.

Pertama-tama Siwon menghampiri Mr. Hwang, mengusap lembut bahunya. Wajah tua Mr.Hwang tampak kelelahan. Setelah merasakan sentuhan Siwon di bahunya, perlahan Mr. Hwang terbangun. Beliau mengerjapkan mata dan memandang Siwon yang duduk di sampingnya.

“Oh, Siwon-ah. Kau sudah datang?”

“Nde, Daddy. Mianhae membangunkanmu. Apa Daddy sudah makan?” tanya Siwon. Mr. Hwang melirik jam tangannya.

“Sudah siang ternyata. Aku tertidur lama sekali. Ani, aku belum makan apapun sejak tadi malam, Siwon-ah.”

Siwon tersenyum kecil. “Dad, ini aku membawakan makanan untukmu.”

Mr. Hwang memandangi box makanan yang ditaruh Siwon di atas meja. “Kau membelinya?”

“Ani. Aku memasaknya.”

Mr. Hwang menatap takjub kepada Siwon. Pria yang mencintai anaknya ternyata mencintainya juga. Betapa terharunya Mr. Hwang melihat perhatian Siwon. Namun sebagai seorang ayah yang berwibawa, ia hanya bisa menepuk pundak Siwon.

“Baiklah, aku akan memakannya. Kamsahamnida Siwon-ah,” ucap Mr. Hwang.

“Setelah itu Daddy beristirahatlah. Biar aku yang menjaga Tiffany sampai besok. Daddy tampak lelah sekali,” ujar Siwon lagi.

Siwon POV

Aku memberikan alamat serta kata sandi apartemenku kepada Mr. Hwang. Tapi beliau menolak. Beliau lebih memilih tetap tinggal di rumah sakit. Aku tidak memaksanya karena mungkin sama sepertiku saat Tiffany baru masuk kemari. Sedetikpun aku tidak ingin jauh dari Tiffany.

Kini Mr. Hwang sedang di kantin, membawa masakanku bersamanya. Aku senang beliau menerimaku sebagai pria yang mencintai anaknya. Jujur saja, aku pun mencintai Mr. Hwang seperti aku mencintai ayahku sendiri. Karena beliau lah Tiffany ada di dunia ini.

Aku membersihkan tangan, leher dan kaki Tiffany dengan kain lembab. Sepertinya siang ini suster belum membersihkan tubuhnya. Biar aku yang melakukannya. Aku menyentuh kulit sehalus sutera itu dan mengangkat pelan tangannya. Aku menelan ludah. Betapa kurusnya Tiffany sekarang. Berat badannya memang turun drastis.

Setelah membersihkan tubuhnya, aku duduk di samping ranjangnya. Ternyata Tiffany sudah terjaga. Mungkin saja daritadi, namun karena ia tidak bisa berbicara maka aku baru mengetahuinya sekarang. Aku membungkuk untuk mendekatkan wajahku dengannya.

“Annyeong, Mushroom.”

Tiffany mencoba menarik bibirnya membentuk senyuman. Mata cekungnya menatapku sendu. Aku ingin tahu seberapa sakitkah dirinya sekarang. Oh Tuhan, sebenarnya aku tidak sanggup melihat matanya. Hatiku terasa teriris dan nyeri sekali. Biasanya ia tersenyum dengan memamerkan eye smile, berbicara tak henti, melompat-lompat sambil memainkan rambut panjangnya di depanku, dan masih banyak tingkah aktifnya. Tapi sekarang, bernafas saja ia sangat sulit.

Perlahan matanya bergerak ke sekeliling ruangan. Lalu kembali memandangiku dengan keningnya yang mengernyit. Aku mengerti siapa yang dicarinya.

“Kau mencari Daddy? Beliau di kantin. Aku menyuruhnya untuk beristirahat agar aku bisa menjagamu,” ujarku.

Tangan Tiffany tiba-tiba terangkat untuk menyentuh rahangku serta garis di atas bibirku. Aku tertawa kecil.

“Aku mencukur semuanya tadi pagi. Apakah aku semakin tampan? Hmm, aku tahu aku selalu tampan.”

Tiffany membuka mulutnya untuk tertawa kecil. Aku mencium pipinya dan berlama-lama disana. Kenapa badannya selalu panas? Aku memeluk pinggang Tiffany sedikit erat dan ia meletakkan tangannya di punggungku. Aku merasakan ia menepuk-nepuk punggungku lembut. Sekilas aku kembali teringat pembicaraan dan kesepakatanku dengan Mr. Hwang tempo hari.

Aku tidak akan mengingatnya dan tidak ingin mengingat kesepakatan itu. Aku mempunyai rasa sesal saat ini karena telah menyetujui Tiffany tinggal di Amerika pasca operasi. Tiffany belum mengetahui tentang hal ini. Yang ingin kulakukan sekarang adalah menghabiskan waktu sebaik mungkin dengannya.

“Baby, berjanjilah kau akan tersenyum untukku setelah operasi. Aku akan memberikan seribu ciuman untukmu sebagai tanda semoga cepat sembuh. Arraseo?” ujarku menggodanya. Tiffany hanya tersenyum lalu mengangguk.

Tiffany POV

Aku rasa aku bisa bernapas tanpa bantuan oksigen saat ini. Dengan melihat kehadiran Siwon Oppa saja, dadaku tidak terasa nyeri lagi. Melawan perintah Dokter, aku menurunkan masker non rebreathing yang kupakai. Siwon terkejut dan segera memegang tanganku, bermaksud untuk melarangnya. Aku menggeleng dan terus saja melepaskan masker itu.

“Gwaenchanha,” ucapku tanpa suara. Siwon Oppa hanya memandangiku heran.

“Kenapa melepasnya, baby?” tanya Siwon Oppa khawatir.

Aku mengambil ponselku yang terletak di meja dan mengetikkan sebuah pesan untuk dibacanya.

Siapa bilang kau terlihat tampan, wajahmu makin mirip Woody :p

Nde, aku berjanji akan tersenyum padamu. 1000 ciumannya sekarang saja, otte? :p

Aku memberikan ponselku kepadanya dan ia mulai membaca ketikan yang kubuat. Aku bisa melihatnya tersenyum manis lalu kembali meletakkan ponselku di atas meja. Kemudian aku sudah mendapati bibirku dicium lembut oleh Siwon Oppa.

Sebelah tangannya mengelus rahangku dan yang lainnya memeluk pinggangku. Aku merindukan ciumannya. Apalagi tadi malam aku tidak melihatnya disini. Semenjak kedatangan Daddy, Siwon Oppa sedikit menjaga jarak denganku. Ia tidak sering lagi memeluk atau menciumku. Ada apa dengannya? Apa ia canggung dengan kehadiran Daddy?

Siwon Oppa melepaskan ciuman kami saat aku tak sengaja terbatuk. Aku tidak tahu batuk yang datang tiba-tiba ini telah menginterupsi momen kami. Mungkin karena aku memaksakan diri untuk berciuman dengannya sehingga tidak menyadari napasku yang bisa saja mendadak sesak.

“Mianhae, baby. Jeongmal,” ucap Siwon lembut. Aku tersenyum dalam batukku. Astaga, aku mengotori mulutnya dengan darah. Aku berusaha mengusap bibirnya yang terkena darah tapi ia segera menepisnya.

“Gwaenchanhayo,” katanya lagi sambil tersenyum. Ia menyeka bibirku dengan selembar tissue kemudian menyeka mulutnya sendiri. Kemudian ia memasangkan masker non rebreathing ke mulut dan hidungku.

Aku menangis. Kapan ini akan berakhir? Penyakit yang tiba-tiba kuketahui ini membuat orang-orang yang kusayangi sedih serta kesulitan. Mereka harus memberiku perhatian ekstra karena aku menjadi orang yang tidak berdaya seperti ini. Siwon Oppa melihatku menangis dan segera menyeka airmataku.

“Hey, baby. Kenapa menangis?”

Aku tersenyum lalu menggeleng. Aku butuh menggenggam tangannya saat ini. Maka akupun melakukannya. Tanganku terasa lebih mungil di dalam genggamannya.

Gomawo, Oppa. saranghae, ucapku dalam hati. Percuma jika aku mengeluarkan suaraku karena nihil, mereka hanya bisa membaca gerak bibirku. Lalu, seakan kami mempunyai kontak batin, Siwon Oppa mengucapkan kata-kata indahnya.

“Uljima, baby. Aku akan selalu berada di sampingmu apapun yang terjadi. Neomu saranghae.”

…but when she’s gone, what should I do?

Can I still have her love?

Author POV

Siwon, Mr. Hwang, Jessica, Yoona, Sooyoung dan Heechul bersiap-siap akan mengantarkan Tiffany ke ruang operasi. Mereka semua berusaha tampak tegar, walaupun mata dari masing-masing mereka tidak bisa berbohong. Semua sangat berharap operasi ini berjalan lancar. Bahkan sejak semalam Siwon tidak tidur. Ia berdoa setiap saat di ruang khusus di rumah sakit itu.

Tiffany sudah tak sadarkan diri sebelum memasuki ruang operasi. Siwon dan Mr. Hwang ikut mendorong troli ranjang Tiffany. Siwon tidak lepas memandangi wajah secantik malaikan yeojachingu-nya. Wajah yang mungkin akan tidak sering dilihatnya lagi setelah operasi ini karena Mr. Hwang akan membawanya pergi.

Mr. Hwang menahan tangan Siwon ketika pria itu tak sadarkan diri terus melangkah ke dalam ruang operasi. Mereka semua diharuskan menunggu di luar. Siwon mengangguk canggung kepada Mr. Hwang dan memposisikan dirinya duduk di antara Heechul dan Jessica. Badannya sedikit sempoyongan karena kurang tidur dan belum makan apapun sejak sore kemarin.

Tak ada yang sanggup mengeluarkan suara ketika melihat lampu operasi telah menyala. Mulut mereka bagaikan terkunci dan pikiran mereka hanya tertuju pada satu orang, yaitu Tiffany. Siwon dapat melihat Yoona, Sooyoung serta Jessica yang saling menggenggam tangan mereka dan menutup mata. Mereka berdoa untuk Tiffany.

Heechul termenung sedangkan Mr. Hwang masih berdiri dengan gelisah. Sesekali ia berjalan mondar-mandir. Siwon tidak tahu berapa lama operasi ini akan berlangsung. Ia mencoba menutup matanya, berusaha merasakan kelelahan dalam dirinya. Tapi tidak bisa. Tubuhnya benar-benar mati rasa dan jantungnya tidak berhenti berdetak kencang.

“Oppaaaaaa….ireona!”

Tiffany mengguncang-guncang tubuh Siwon cukup kencang, membuat pria yang sedang berselimut itu terbangun. Ia tersenyum lemah ketika melihat yeojachingu-nya melompat-lompat di atas ranjang mereka. Gadis itu hiperaktif sekali, membuat Siwon semakin gemas. Ia menarik tangan Tiffany sehingga gadis itu jatuh di pelukannya.

“Kau sudah pulang? Aigoo, kenapa tidak memberitahuku? Aku kan bisa menjemputmu di bandara,” ujar Siwon. Tiffany terkekeh.

“Hehe, mian. Aku dijemput oleh Yoona yang kebetulan berada di dekat bandara.”

“Pembohong. Kau juga tidak bilang kalau akan pulang hari ini,” Siwon terus cemberut. Tiffany menggigit bibir bawah dan menangkup wajah Siwon.

“Aigoo, Woody-ku suka sekali merajuk. Sebenarnya aku memang tidak dijadwalkan pulang malam ini, tapi Jessi memang cerdas. Ia menyelesaikan segala urusan dalam sekejap dan kami berdua memutuskan untuk langsung pulang. Lagipula aku sudah sangat merindukanmu,” celoteh Tiffany.

Siwon memegangi pinggangnya. “Jinjja? Kenapa aku tidak merindukanmu ya?”

“Yah! Oppa! Aish, jadi kau tidak merindukanku?” Tiffany cemberut. Kontan saja Siwon tertawa. Mana mungkin ia tidak merindukan gadis kesayangannya ini. Setiap menit bahkan setiap detik ia selalu merindukan Tiffany.

“Tentu saja aku merindukanmu,” ucap Siwon seraya mengecup hidung Tiffany. “Baby, apa kau sudah makan malam?”

“Sudah, di pesawat. Aaah, Oppa. Aku benar-benar lelah! Bagaimana kalau kita tidur saja. Aku ingin tidur dalam pelukanmu malam ini,” ungkap Tiffany.

Siwon mengelus rambut panjang Tiffany, menatap lurus ke matanya. Wajah Tiffany menyiratkan kalau dia memang sangat kelelahan. Beberapa hari ini Tiffany memang lebih sibuk dari Siwon. Mulai dari syuting iklannya di luar negeri, pemotretan, musical serta interview-interview yang menguras tenaga gadis tersebut. Sedangkan Siwon lebih banyak di rumah selama 2 minggu ini. Terang saja yang ada di dalam pikirannya hanya Tiffany. Ia takut yeojachingu-nya sakit karena terlalu lelah.

“Baby, kapan waktumu libur? Tidak bisakah Jessica memberimu waktu luang selama beberapa hari? Kau ini wanita, bukan robot,” ujar Siwon. Tiffany berdecak sambil mengalungkan tangannya di leher ketika Siwon mulai memijit pelipisnya.

“Tenang saja, Oppa. Aku menjaga kesehatanku dengan rutin minum vitamin dan olahraga. Aku akan baik-baik saja,” gumam Tiffany dengan mata tertutup. Ia menikmati pijatan lembut di pelipisnya.

“Bagaimana jika aku memberimu obat yang paling ampuh?” bisik Siwon di telinga Tiffany. Tiffany membuka mata.

“Apa itu?” Tiffany balas berbisik.

Siwon mendekat dan memberikan ciuman semanis tatapannya. Ciuman kerinduan yang telah dinantikannya selama beberapa hari Tiffany tidak berada di sisinya. Tiffany dengan senang hati membalas. Walaupun tubuhnya lelah luar biasa, ciuman Siwon memang obat untuk segala dalam dirinya. Sambil melepasnya sesekali, Siwon mengucapkan kata-kata indah cintanya yang seolah-olah tidak kunjung pudar.

“Aku rasa kau memang obat termanjurku. Saranghae,” ungkap Tiffany.

“Oppa! Siwon Oppa!”

Siwon tersentak kaget saat tubuhnya diguncang-guncang oleh Jessica. Sejenak ia mengumpulkan kesadarannya kemudian mendengus. Ternyata baru saja ia memimpikan kenangan manisnya bersama Tiffany. Indah sekali jika ia mengingatnya. Siwon tersenyum kecil lalu mendongak, melihat ke arah siapa yang tadi membangunkannya.

Siwon POV

Aku memandangi orang-orang yang berada di sekelilingku. Yoona dan Sooyoung saling berpelukkan, Jessica terduduk di lantai di dekatku, sedangkan Heechul Hyung masih duduk di sampingku sambil menundukkan kepalanya. Mereka semua menangis. Kontan saja senyum hilang dari wajahku. Aku menelan ludah.

Ada apa ini? Kenapa mereka semua menangis? Sudah berapa lama aku tertidur?

Aku masih duduk di tempatku tetapi mataku memandang liar ke segala arah. Demi Tuhan, ada apa ini? Dimana Mr. Hwang? Jantungku mulai berdebar sangat kencang seakan-akan bisa melompat keluar. Tiba-tiba aku melihat beberapa suster keluar masuk ke ruang operasi Tiffany.

Lampu itu. Lampu operasi yang tadi menyala merah kini telah mati. Aku mencoba menggerakkan tanganku untuk menyentuh pundak Jessica. Aku tidak tahu apa alasan mereka menangis dan jujur saja, aku sangat ketakutan sekarang. Saat tanganku menyentuh pundak gadis pirang yang duduk di lantai tersebut, aku merasakan perasaan yang paling buruk di dunia, yaitu ketakutan itu sendiri.

“Oppa….Tiffany…”

Berkali-kali aku menelan ludah. “K-kenapa Tiffany?”

Ah, shit! Kakiku tidak bisa digerakkan sama sekali! Ingin sekali aku berdiri dan berlari masuk ruang operasi. Keempat orang yang sedang bersamaku tidak melakukan apa-apa selain menangis.

“Sica-yah, ada apa?”

“Tiffany…dia tidak…tidak bisa bertahan.”

Ucapan Jessica bagaikan menyengatku ribuan volt. Apa maksud gadis ini?! Tanganku bergerak gemetar. Tidak, mungkin ini masih bagian dari mimpiku. Seingatku tadi aku tertidur dan mulai bermimpi. Ya, ini pasti masih di alam mimpi. Aku mencoba menggerakkan kakiku dan berhasil. Aku tidak mempedulikan tangisan Yoona, Sooyoung, Jessica serta Heechul Hyung.

Perlahan aku berdiri dan aku tiba-tiba sempoyongan. Beruntung Heechul Hyung dengan tangkas menahan tubuhku agar tetap berdiri.

“Yah! Apa yang kalian tangiskan?!” bentakku tanpa sadar pada mereka. “Hyung-ah, kau ini laki-laki! Hapus airmatamu!”

Heechul Hyung menunduk. Aku tidak bisa membohongi diriku. Menganggap ini hanyalah sebuah mimpi adalah penyangkalan. Ini kenyataan, Choi Siwon! Dengan sangat lambat aku berjalan memasuki ruang operasi.

Tuhan, Jessica hanya berbohong, benar kan? Tiffany pasti bertahan karena kami telah berjanji. Dia telah berjanji akan tersenyum padaku setelah operasinya selesai. Tapi kenapa kakiku terasa sangat berat melangkah? Aku ingin cepat-cepat masuk ke dalam sana dan melihat Tiffany menepati janjinya.

Suasana apa ini? Aku membenci suasana remang-remang serta bau medis yang sangat menyengat di hidungku. Aku mulai membenci semuanya saat Tiffany masuk ke rumah sakit. Di dalam aku melihat beberapa suster, dokter bedah serta Mr. Hwang. Ah, itu dia Mr. Hwang! Aku akan bertanya padanya bagaimana keadaan Tiffany. Saat ini pasti beliau pasti sedang bersama Tiffany.

Aku bergegas menghampiri orang-orang itu. Ketika melihatku mendekat, mereka serentak menyeruak dan membiarkan aku melihat apa yang sedang mereka kelilingi. Sayup-sayup aku mendengar suara tangis yang memilukan. Suara siapa itu? Hanya tinggal beberapa langkah lagi namun aku bisa melihat Mr. Hwang sedang menelungkup dengan badannya yang terguncang hebat.

Pandanganku sedikit kabur karena terhalang airmata. Apa? Airmata? Aku tidak menginginkannya! baru saja membentak Heechul Hyung agar berhenti menangis. Langkahku semakin berat untuk menghampiri Mr. Hwang di meja operasi. Hanya satu orang yang seharusnya berada di atas meja operasi itu, yaitu Tiffany.

Apa…apa itu Tiffany? Yang sedang berada di bawah tangisan Mr. Hwang?

“Dad…,” suaraku lebih seperti mencicit ketika memanggil Mr. Hwang. Aku ingin mengatakan padanya agar tidak terlalu menghimpit Tiffany. Ia bisa sesak napas. Kemudian, setelah aku sudah berada tepat di samping meja operasi, aku dapat melihat Tiffany sedang tertidur.

Apa operasinya akan dimulai? Tapi tadi sebelum tertidur aku sudah melihat lampu operasi menyala. Itu berarti….

Lalu kenapa semua dokter disini hanya diam dan memandangi kami? Dan demi Tuhan! Apa yang dilakukan Mr. Hwang disini, menangis keras seperti tidak mempunyai semangat hidup? Beliau menghalangi operasi atau shit! Apa yang sebenarnya terjadi?

“Tiffany…putriku….! Jangan tinggalkan Daddy! Maafkan Daddy, Nak! Daddy berjanji tidak akan berjauhan denganmu lagi. Maafkan Daddy…..!”

Jantungku terasa berhenti berdetak. Kenapa beliau meraung seperti itu? Tanpa kusadari cairan hangat mengalir dari mataku. Aku menatap wajah Tiffany. Dia cantik sekali, wajahnya bersinar cerah dan aku bersumpah aku melihatnya tersenyum saat ini. Aku ikut tersenyum. Dia menepati janjinya.

Perlahan aku menyentuh wajah gadis yang sangat kucintai ini. Tanganku gemetar menyentuh pipinya. Dingin sekali! Padahal saat masuk ke dalam ruang operasi ini badannya masih terasa panas. Hebat sekali dokter disini bisa menyembuhkan demamnya.

“Baby, ireona,” desisku.

Ia diam saja. Tentu saja, Siwon pabo! Jelas-jelas dia sedang tidur. Kenapa aku membangunkannya?

“Mr. Hwang, Tuan Choi, maafkan kami. Kami sudah berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya, tetapi Tuhan berkehendak lain. Maafkan kami!”

Aku mendengar salah satu dari dokter bedah berbicara dan mereka semua membungkuk lama sekali. Aku mengernyit seperti orang bodoh. Disampingku Mr. Hwang masih menangis tersedu-sedu.

Pikiran logis perlahan-lahan menguasai otakku. Yang dikatakan dokter itu seperti sebuah palu besar yang memukul kepalaku dan membuatku tersadar. Mereka tidak bisa menolong Tiffany…Yoona, Jessica, Sooyoung dan Heechul Hyung menangis di luar… Mr. Hwang yang menangis memeluk Tiffany…dan Tiffany yang tidak bereaksi saat aku dan Daddy-nya menyentuh. Dengan cepat aku menggabungkan semua fakta ini.

Aku menepuk pelan pipi Tiffany, namun ia tidak bergerak bahkan dadanya tidak naik turun seperti orang bernapas normal. Aku menangkup wajahnya yang sedingin es.

“Fany-ah…Mushroom…oh my baby, ireona. Aku mohon. Apa kau tega meninggalkanku sekarang? Kau lupa kalau kita masih mempunyai rencana? Kita akan menikah, baby. Aku akan menyusulmu ke Amerika setelah operasi ini. otte? Mianhae, aku tidak memberitahu mengenai hal ini sebelumnya. Aku pikir Daddy sudah berbicara denganmu. Baby, ireona. Ireona,” aku tidak tahu apa yang kuceracaukan.

Tapi Tiffany tidak menggubris kata-kataku. Aku menciumi bibirnya, tidak peduli dengan orang-orang yang sedang menyaksikan kami.

“Aku sudah menciummu. Kau pernah mengatakan padaku kalau aku adalah obat termanjur. Aku baru saja memimpikan itu, baby. Aku heran karena mimpiku sangat singkat dan saat terbangun, saat terbangun aku melihatmu disini. Baby, katakan kalau kau hanya tidur. Hiks! Baby, jangan tinggalkan aku. Je…jebal. Aku sangat mencintaimu, Tiffany. Buka matamu sekarang.”

Tiffany tetap diam…

Tapi bibirnya tersenyum padaku…

Itu tidak cukup. Aku ingin melihat senyuman di mata indahnya…

Eye smile itu…

Tuhan, beginikah rasanya kehilangan? Sakit sekali Tuhan. Aku rasa aku tidak sanggup lagi…

Bangunkan aku dari mimpi buruk ini, Tuhan…

Sigh! Sayangnya Tuhan tidak melakukannya. Tuhan tidak membangunkanku, ia lebih memilih merangkul Tiffany dalam pelukanNya.

New life, new love…

I wish I could meet you in the future

 

28 tahun kemudian…

Siwon POV

Aku duduk memandangi alam indah yang terbentang luas di hadapanku. Aku menghirup aroma  harum kopi yang tadi kubuat. Rasanya nikmat sekali. Aku kembali melamun. Ini sudah 28 tahun berlalu, semenjak kematian gadis yang paling kucintai, bahkan aku lebih mencintainya daripada istriku saat ini. Setelah kepergian Tiffany, aku sempat terpuruk dalam kesedihan selama 3 tahun. Aku tidak bisa melupakannya begitu saja dan membuka hati untuk gadis lain.

Aku memilih untuk meninggalkan dunia hiburan dan menyendiri di sebuah kota kecil bernama Paradise, Ohio. Disana tidak terlalu banyak orang yang mengenaliku, jadi aku sangat damai tinggal disana. Sesekali Heechul Hyung menjengukku disana. Aku menyendiri di tempat seperti itu hanya untuk menghibur diriku sendiri.

Lalu, ayahku menyuruhku pulang untuk menggantikan posisinya sebagai Presiden Direktur perusahaan mobilnya. Ayahku sudah cukup tua untuk menjalankannya seorang diri. Dan saat itu aku berfikir, tak ada gunanya aku bersembunyi terus. Tiffany juga tidak ingin melihatku menjadi orang yang tidak berguna.

Maka saat aku pulang, ayahku mempunyai rencana lain. Ia telah menjodohkanku dengan putri sahabatnya, Han Chae Ji.

Karena aku tidak tahu lagi apakah aku masih bisa mencintai gadis lain atau tidak, aku pun menerimanya. Chae Ji gadis baik dan perusahaan Ayah berhutang budi pada ayahnya. Kami menikah tanpa rasa cinta namun belajar untuk menerima kenyataan.

Namun di hatiku tetap ada Tiffany, sampai kapanpun itu.

“Aboeji?”

Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Andrew, putra semata wayangku. Aku tersenyum padanya, seperti tersenyum kepada diri sendiri. Ia berjalan dengan gagahnya ke arahku. Tidak ada seorangpun yang pernah menyangkal betapa miripnya kami berdua. Ia memiliki segalanya yang kumiliki. Wajah tirus dengan rahang kokoh, lesung pipi, hidung lancip, bibir yang tipis, sorot mata tajam, dan tubuh yang ditunjang dengan tungkai kaki yang panjang.

Dia memang benar-benar kembaranku. Bahkan terkadang anak kembar tidak seidentik kami.

“Andrew-ah, kau tidak kuliah?”

Andrew duduk di hadapanku. Ia ikut memandangi ke arah pemandangan yang tadi kunikmati.

“Aku libur dua hari ini. Aboeji, diluar kan sedang dingin. Mari kita masuk ke dalam,” kata Andrew.

Aku tersenyum padanya.

“Nanti saja, aku masih ingin menikmati pemandangan pagi hari di kota Jepang. Rumahmu sangat bagus, Nak. Kau pandai mencari pemandangan yang bagus,” ujarku.

Andrew mempunyai selera bagus dalam memilih rumah. Tidak sepertiku yang lebih suka tinggal di apartemen saat masih muda. Andrew kuliah disini, Osaka, karena ingin mencari suasana baru. Ia membeli sebuah rumah disini dan memutuskan untuk tinggal lebih lama bahkan setelah kuliah. Itu rencananya. Ini adalah masa akhir semester kuliahnya. Dan sebentar lagi Andrew akan diminta pulang ke Korea oleh ayahku. Aku bisa memastikannya.

Aku sudah memperkirakan bagaimana nasib anakku ini. Setelah dewasa, Ayah pasti memintanya untuk bekerja di perusahaan kami. Aku tidak memaksakan hal itu kepada Andrew. Namun ayahku sepertinya bersikeras memaksa Andrew. Aku tahu rencana beliau. Ia akan menjodohkan Andrew dengan gadis pilihannya.

Dulu Ayah hanya menyukai satu gadis sebagai menantunya, yaitu Tiffany. Ia menjodohkanku hanya karena kasihan melihatku yang begitu terpuruk. Dan kini Ayah telah berubah banyak. Perusahaannya semakin pesat dan tidak ingin kehilangan itu. Beliau berniat menjodohkan Andrew dengan cucu dari relasi kami yang menguntungkan.

Dan untuk itulah aku disini, membujuk Andrew agar bersedia pulang ke Korea. Karena tak ada yang bisa melakukannya selain diriku. Andrew lebih mencintaiku daripada ibunya. Ibunya yang 10 tahun lalu meninggalkan kami demi pria lain.

“Aboeji, terimakasih telah mengunjungiku. Mianhae jika aku tidak pernah pulang ke Korea selama 3,5 tahun ini.”

“Gwanchanha. Aku tahu kau sangat sibuk dengan kuliah serta teatermu.”

Andrew terdiam sebentar. Aku tahu ada yang ingin disampaikannya, tapi sepertinya ia ragu dan gugup. Melihat itu aku meletakkan cangkir kopiku dan mendekat padanya.

“Ada apa, Andrew-ah? Kau memikirkan sesuatu? Katakan saja,” bujukku. Andrew tersenyum.

“Aboeji, aku tahu, Haraboeji pasti ingin menjodohkanku. Benar, kan?”

Kini giliranku yang terdiam. Aku tahu bagaimana rasanya dijodohkan. Apalagi dengan gadis yang sama sekali belum pernah kau lihat sepanjang hidupmu. Kau harus bersama dengan orang asing dan tinggal bersamanya, selamanya. Aku salah satu yang kurang beruntung, karena jodohku itu pergi dengan pria yang dicintainya. Padahal kami sudah cukup lama hidup berumah tangga.

Sekarang aku lebih memilih sendiri daripada meminta Chae Ji kembali.

“Aku tidak ingin mendapatkan gadis seperti ibu. Ia tega meninggalkan kau dan aku demi si brengsek hidung belang itu,” lanjut Andrew dengan suara lirih.

Aku menepuk lembut punggungnya.

“Jadi, kau tidak ingin dijodohkan? Kau ingin tetap tinggal di Jepang?” tanyaku padanya.

“Soal dijodohkan aku benar-benar menolak. Karena…aku sudah mempunyai kekasih.”

Aku menatapnya lekat-lekat. Jadi putraku sudah mempunyai yeojachingu? Aku tertawa kecil. Kenapa dia tidak pernah menceritakannya?

“Andrew-ah, sejak kapan kau mempunyai yeojachingu? Kenapa tidak pernah menceritakannya?”

Andrew tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipinya yang menarik.

“Aku tidak yakin Aboeji akan menyukainya, apalagi Haraboeji.”

Aku mengernyit.

“Wae?”

Andrew menatap mataku dan wajahnya tampak murung.

“Karena dia tidak mempunyai harta yang banyak seperti yang selalu dibanggakan Haraboeji,” jawabnya tidak bersemangat.

Oh, aku mengerti. Aku tersenyum dan merangkul pundaknya.

“Jinjja? Apa kau tidak bersemangat karena itu? Pabo! Temui dia dan bawa kemari menemuiku. Arraseo?”

Andrew mengerjap tak percaya. “Jeongmal? Aboeji, tidak bergurau, kan?”

“Tentu saja tidak. Kalian saling mencintai, itu yang penting. Urusan perjodohan yang dirancang Kakekmu itu belakangan. Jadi, bawa gadis Jepang itu menemuiku. Ajak ia makan malam di rumahmu,” ujarku.

“Aboeji, dia seorang Korea. Dia sama sepertiku, tinggal disini tanpa siapa-siapa.”

Andrew POV

Yay! Ayahku memang yang terbaik. Aku melaju kencang dengan mobil sportku menuju tempat yeojachingu-ku bekerja. Ia adalah waitress di sebuah kedai nasi kari milik ibu sahabatnya. Kami bertemu disana 2 tahun yang lalu. Terus terang, aku jatuh cinta pada gadis pendiam itu sejak pertama kali melihatnya. Tepatnya saat pertama kali melihatnya tersenyum. Sebagai gadis pendiam, ia sangat jarang tersenyum. Dan ketika aku bisa membuatnya tersenyum 2 tahun yang lalu, aku menginginkan dia selamanya dalam hidupku.

Kami baru berpacaran selama 1 tahun 2 bulan. Butuh kesabaran ekstra untuk meluluhkan hatinya. Ia menyatakan bahwa menjadi yeojachingu-ku adalah hal tersulit dalam hidupnya sebab ia hanyalah seorang waitress yang bekerja di kedai nasi kari.

Tch, yang benar saja. Aku tidak pernah memikirkan tentang apa pekerjaannya dan bagaimana keluarganya. Jika aku mencintainya, tidak ada lagi yang bisa mencegahku.

Sampai disana, aku masuk ke dalam kedai nasi kari dan duduk di salah satu meja pengunjung. Aku bisa melihat Park Ahjumma sedang duduk di meja kasir, membaca sesuatu. Sepertinya siang ini belum terlalu ramai pengunjung yang datang. Karena tak sabar, aku memutuskan untuk menghampiri meja kasir.

“Annyeonghasaeyo, Park Ahjumma!” ucapku. Wanita paruh baya itu mendongak melihatku, sedikit kaget karena aku mengucapkan salam dengan bahasa Korea. Park Ahjumma tertawa, membuat perutnya yang buncit bergetar.

“Annyeong, Andrew-ssi. Aku tidak melihatmu datang, mianhae. Apa kesini ingin makan sesuatu atau menemui pujaan hatimu?”

“Hmm…dua-duanya. Aku ingin seperti biasa, ne. Nasi kari terlezat buatanmu dan dilayani si gadis cantik,” jawabku dengan senyuman manis yang biasanya membuat wanita terpikat.

“Aaaah, baiklah. Andrew-ah, apa ada satu lagi pemuda sepertimu? Karena aku janda, aku selalu membayangkan mendapatkan suami tampan dan romantis seperti dirimu,” ungkap Park Ahjumma genit. Kami tertawa bersama.

Aish, kemana sih dia? Apa tidak mendengar suara tawaku. Aku rasa mungkin ia sedang duduk di dapur.

Seperti biasa, aku memilih tempat duduk di dekat jendela agar bisa melihat pejalan kaki dan kendaraan yang lalu lalang. Aku menunggu pesananku sekaligus kekasihku. Aku tidak memberitahunya sebelum kemari. Aku suka melihat wajah terkejutnya, sangat menggemaskan.

Author POV

“Mi Young-ah, antar pesanan ini ke meja nomor 7!”

“Ye, Ahjumma.”

Seorang gadis berambut pendek seleher membawa baki yang berisi nasi kari dan satu botol minuman jeruk. Pesanan dan tempat duduknya mengingatkan gadis yang bernama Goo Mi Young itu akan kekasihnya. Sudah 3 hari mereka tidak bertemu, apakah pemuda pecicilan itu tidak merindukannya?

Mi Young berjalan ke meja nomor 7 dan langsung mengenali perawakan pemuda yang memesan nasi kari di tangannya. Jantungnya berdebar-debar bahagia menyadari dia adalah Choi Andrew.

“Ini pesananmu, Mr. Skinship.” Mi Young meletakkan pesanan Andrew di atas meja.

Choi Andrew tersenyum lebar sambil menarik tangan Mi Young agar duduk di bangku di sampingnya. Mi Young menatap garang dengan sentuhan yang tiba-tiba itu.

“Hallo, eye smile! Merindukanku?” tanya Andrew lembut. Mi Young tidak tersenyum sedikitpun.

“Ani.”

Andrew cemberut. “Dasar tidak pengertian.”

Mi Young menahan senyumannya. Andrew pun mengambil sendok yang telah disediakan dan mulai mengaduk nasi karinya. Mi Young berdiri lagi dan mengambil bakinya.

“Kau mau kemana? Temani aku makan!” kata Andrew disela kunyahannya.

“Kau tidak lihat aku sedang sibuk? Kalau ingin mengobrol nanti saja, ne.”

Andrew memang keras kepala. Ia menarik tangan yeojachingu-nya lagi. “Tapi yang ingin aku bicarakan ini penting!”

Mi Young berdecak.

“Memangnya ada apa?”

“Ayahku ingin bertemu denganmu malam ini. Jadi, aku kesini untuk menjemputmu,” jawab Andrew santai.

Mata indah Mi Young melotot tatkala mendengar kata ‘Ayah’ dari mulut Andrew. Ia tidak pernah menyangka ayah Andrew memintanya untuk bertemu saat ini.

“A..Ayahmu?”

“Nde, honey. Tenang saja, Ayahku sangat baik. Ia sepertinya excited ingin bertemu denganmu. Kalau begitu, aku makan dulu, ne? Setelah itu aku akan meminta izin kepada Park Ahjumma.”

Andrew mencubit pipi Mi Young yang sedari tadi hanya duduk diam di sampingnya. Mi Young terlambat mengelak, ia malah menepis tangan Andrew. Kedua tangan Andrew kembali memegang kemudi dan ia tertawa kecil melihat kekasihnya yang selalu mengelak seperti tadi. Terkadang Andrew frustasi dengan sikap dingin dan pemalu Mi Young.

Mereka sudah 1 tahun lebih berpacaran namun Mi Young tidak seperti gadis lainnya yang bahkan memuja-muja Andrew agar disentuh oleh Mr. Skinship ini. Mi Young tidak pernah membiarkan tangannya digenggam lama oleh Andrew, memeluk erat, bahkan sejak resmi berpacaran, mereka baru dua kali berciuman. Itupun hanya Andrew yang berinisiatif.

“Mi Young-ah, santai saja. Ayahku tak akan memakanmu,” goda Andrew.

“Aish,” desis Mi Young kesal. “Aku hanya tidak percaya diri saja.”

“Wae?”

Mi Young tidak memberi jawaban. Tidak mungkin ia mengatakan kalau ia tidak percaya diri menjadi yeojachingu seorang Choi Andrew yang mana telah ditakdirkan menjadi penerus perusahaan mobil merk Hyundai di Korea dan telah menjadi bintang kampus serta bintang teater di Jepang. Walaupun Andrew menolak menjadi penerus ayahnya, takdir memang telah menuliskan nama Andrew disana. Andrew merupakan cucu satu-satunya dari ayah yang juga satu-satunya. Andrew tidak bisa menolak. Pemuda itu saja yang keras kepala membantahnya.

Sedangkan Mi Young hanyalah seorang mahasiswi yang bekerja di kedai nasi kari untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Ia sudah tidak mempunyai orangtua dan keluarganya yang lain tinggal di Korea. Mi Young kuliah di Jepang karena ia mendapatkan beasiswa dari prestasi bernyanyinya.

Tapi Mi Young tidak sadar karena kerja keras dan kemandiriannyalah Andrew jatuh cinta padanya. Dan wajah manisnya adalah sebagai bonus untuk Andrew.

“Bagaimana jika Ayahmu tidak menyukaiku? Kau kan belum menceritakan tentangku padanya,” ujar Mi Young.

Andrew menggapai tangan Mi Young lalu menggenggamnya. Saat Mi Young akan menariknya lagi, Andrew makin mempererat. Mi Young menatap protes padanya.

“Untuk kali ini, biarkan aku menggenggam tanganmu. Jebal,” ucapnya lembut. Mi Young melihat keseriusan di mata Andrew yang sempat meliriknya sekilas. Kemudian Mi Young menunduk, menatap tangannya yang hilang dalam genggaman tangan besar Andrew.

“Kita saling mencintai, itu yang penting oleh Ayahku. Beliau adalah Ayah yang paling hebat menurutku, Mi Young-ah. Aku yakin Ayahku pasti menyukaimu,” ungkap Andrew.

Saling mencintai, renung Andrew dalam hati. Setidaknya itulah pemikiran Andrew selama ini. Ia mengatakan pada siapapun kalau mereka saling mencintai. Padahal kenyataannya Mi Young tidak pernah mengungkapkan kata-kata ajaib itu.

Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah Andrew. Andrew kembali memegang tangan Mi Young lalu menggandengnya setelah turun dari mobil. Mi Young berjalan dengan gugup. Ia jarang sekali ke rumah Andrew jika tidak ada momen-momen penting. Sepanjang perjalanan ke dalam rumah, Mi Young terus menunduk. Ia tahu yang akan dihadapinya hanyalah Ayah Andrew, bukan seluruh anggota keluarganya. Tapi perasaan tidak akan diterima oleh beliau terlalu besar dalam dirinya sekarang.

“Rileks, oke?” bisik Andrew dan tanpa diduga mengecup telinga kanan Mi Young. Mi Young terkejut dan bermaksud ingin mengomeli Andrew, namun pemuda itu sudah membuka pintu utama rumahnya. Mi Young hanya mencubit tangan Andrew dan pemuda tampan itupun terkikik geli.

“Kami dataaaang!!” seru Andrew.

Siwon POV

Aku sudah tak sabar menunggu putraku datang membawa serta yeojachingu-nya. Aku sangat mencintai putraku, jadi siapapun gadis yang dicintainya akan kuterima. Kehendak ayahku biar aku yang mengurus. Putraku berhak memilih sendiri calon istri, asalkan gadis itu juga mencintainya.

Selesai memasak makan malam dan menata meja, aku mengganti pakaianku. Aku ingin terlihat sama baiknya dengan Andrew. Kira-kira bagaimana bentuk calon menantuku? Sampai saat ini aku belum pernah melihat satupun yeojachingu Andrew. Lagipula Andrew bukanlah seorang pemuda yang suka bergonta-ganti pasangan. Ia sama sepertiku, jika sudah menetapkan hati pada satu orang gadis, kami akan menjaga kesetiaan itu.

“Kami dataaaang!!”

Ah, itu mereka. Aku merapkan kerah kemeja yang kupakai untuk terakhir kalinya, kemudian keluar dari kamar. Aku menuruni anak tangga dan melihat Andrew dan seorang gadis berambut pendek berjalan menghampiriku. Aku siap-siap memasang senyuman lebar. Andrew tersenyum kepadaku, satu tangannya menggenggam erat tangan yeojachingu-nya.

“Akhirnya yang ditunggu sudah datang,” ucapku ramah. Eoh, kenapa yeojachingu Andrew masih menundukkan kepalanya. Apakah dia takut atau malu? Aku hanya tertawa kecil.

Lalu setelah mendengar sapaanku tadi, perlahan gadis itu mengangkat kepalanya, sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan sempurna.

“Annyeonghashimnika. Choneun Goo Mi Young imnida. Bangapsumnida!”

DEG!

Tubuhku terasa bergetar hebat dan jantungku mungkin akan berhenti berdetak. Aku tidak berkedip memandangi gadis ini. Tidak! Ini tidak mungkin! Pasti karena aku terlalu merindukannya! Pasti karena aku terlalu meminum kafein akhir-akhir ini. Pasti karena aku belum juga bisa melupakannya sampai sekarang.

Tetapi, ini nyata. Untuk kedua kalinya dalam hidupku aku merasakan keterkejutan yang luar biasa. Gadis di hadapanku ini, yeojachingu dari putraku ini, adalah…adalah…Tiffany? Tiffany-ku???

Tanpa kusadari kakiku melangkah mundur dan memegangi pegangan tangga. Butuh waktu yang cukup lama untukku agar kembali menyadari kalau semua ini nyata. Aku tidak lepas memandangi wajah gadis itu. Bentuk wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, serta tahi lalat di lehernya, sama persis dengan Tiffany. Hanya saja rambut mereka sangat berbeda.

Siapa dia sebenarnya?

“Eng…Aboeji? Gwaenchanha?”

Aku merasakan Andrew menahan kedua lenganku. Sentuhannya membuatku tersadar. Aku menatap putraku lekat-lekat. Ia tampak bingung sekaligus khawatir. Aku menggeleng.

“A..ani. Gwaenchanhayo,” bisikku.

“Tuan Choi, apakah Anda sakit? Kenapa Anda tiba-tiba berkeringat banyak sekali?” sekarang gadis bernama Mi Young itu bertanya sopan kepadaku. Ia juga sepertinya mencemaskanku.

Aku merasakan keringat dingin mengalir dari dahi dan pelipisku.

“Ehm… ani. Aku…sehat-sehat saja. Ka-kamsahamnida,” jawabku gugup.

Aku tidak bisa melanjutkan ini. Rasa kagetku belum habis, sepertinya aku tidak bisa makan malam dengan mereka. Melihat gadis itu di hadapanku seperti melihat Tiffany kembali padaku. Aku memegang tangan Andrew.

“Andrew-ah?”

“Nde, Aboeji?”

“Sepertinya aku tidak bisa menemani kalian makan malam. Mianhae.”

Maafkan aku, putraku. Tapi untuk sementara aku belum bisa menghadapi kondisi ini. Andrew tidak pernah kuberitahu perihal Tiffany, begitu pula dengan ayah serta ibuku. Jadi ia tidak tahu seperti apa kekasih lama ayahnya.

“Kalau begitu, baiklah. Tapi sebaiknya Aboeji beristirahatlah, ne?”

Mi Young POV

Benar dugaanku. Ayahnya tidak akan menyukaiku. Oh, rasanya aku malu sekali. Walaupun Tuan Choi tidak mengatakan apa-apa, tapi terlihat jelas dari sikapnya padaku. Kenapa dia tiba-tiba menolak makan malam yang jelas-jelas dia yang mengundangnya? Ah, aku tidak habis pikir.

Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk bersama Andrew. Tidak ada gunanya jika hanya Andrew yang mencintaiku. Jika menjadi istrinya nanti, otomatis aku akan berbaur dengan keluarga besarnya. Aku sadar siapa diriku. Lebih baik mengalah daripada aku harus membuat Andrew malu.

“Andrew, sepertinya aku pulang saja.”

“Mwo? Andwe! Kita akan makan malam berdua. Ayahku sudah menyiapkan makan malam untuk kita!”

Aku menggeleng. “Andrew, aku ingin pulang. Lagipula aku tidak lapar.”

“Andwe!” tegas Andrew.

Aku menantang matanya yang menatapku tajam.

“Sampai jumpa,” ucapku lirih dan berbalik. Aku terus berjalan keluar tanpa menengok ke belakang lagi. Mungkin lebih baik aku pulang saja daripada merasakan suasana yang sangat canggung serta tak enak disini.

Hatiku tiba-tiba terasa sakit. Begitu banyak yang harus kuhadapi untuk mencintainya. Keluarganya dan teman-temannya, belum lagi orang lain yang sepertinya tidak menyukaiku. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Semua hal tentang Choi Andrew sangat sulit kuraih. Bahkan memimpikannya saja aku tidak berani.

“Goo Mi Young, tunggu!”

Aku tersentak ke belakang dan kusadari ternyata Andrew yang menarikku. Aku hampir mencapai jalanan ketika ia menahanku. Aku berusaha memberontak dari cengkramannya, tapi nihil. Tangannya 2 kali lebih besar dari tangan kurusku.

“Lepaskan!”

“Andwe! Mi Young-ah, ada apa denganmu? Kau sudah datang kemari dan pergi begitu saja? Apa kau tidak menghargaiku dan ayahku, eoh? Beliau sudah bersusah payah memasak untuk kita!” bentak Andrew.

Aku mengerjap kaget. Kenapa Andrew semarah ini? Bukankah seharusnya aku yang marah dan tersinggung?

“Apa kau bilang? Menghargaimu dan Ayahmu? Lalu dimana letak harga diriku, Andrew? Aku sudah bersedia datang tetapi Ayahmu menolakku, bahkan beliau belum membalas sapaanku!” aku balas membentaknya. Tidak sudi rasanya disalahkan satu pihak saja.

“Mungkin saja Ayahku sedang sakit. Kau saja yang tidak ikhlas datang kemari.”

Aku terperangah. Andrew tidak seperti dirinya yang biasa. Ia terlihat seperti seseorang yang muak dan jenuh. Apakah karenaku?

“Apa maksudmu tidak ikhlas?” tanyaku dengan suara bergetar.

Ia menatapku. “Benar. Kau seseorang yang tidak ikhlas. Kau tidak pernah bahagia jika aku memintamu melakukan sesuatu. Kau jarang tersenyum, kau menolak jika kusentuh dan kupeluk, kau selalu bilang kau tidak percaya diri, bahkan….bahkan kau tidak pernah menyatakan cinta padaku. Sekarang jawab, apa aku salah? Eoh?”

Aku tidak dapat lagi membendung airmataku. Pemuda ini benar-benar…telah membuatku merasa begitu bersalah.

“Mi Young-ah, tolonglah sekali saja, belajarlah menerima semua hal tentangku. Aku ingin kau mengatakan kalau kau sangat mencintaiku dan jangan menganggap aku ini sebagai orang yang sulit kau raih. Apakah kau tidak bisa melihat keseriusanku? Kau terlalu egois dan merendahkan diri sendiri—“

“Cukup, Andrew!” selaku. Dia berhenti bicara. Aku bisa melihat airmata tergenang di matanya, sama sepertiku.

“Kau tahu, Andrew? Kita memang sangat berbeda. Kau tidak mengerti bagaimana sulitnya berada di posisiku. Setiap hari di kampus semua gadis pasti mengejek dan menghinaku, mereka mengatakan kalau aku sangat tidak pantas untukmu. ketika aku belajar untuk menerima siapa dirimu, bayang-bayang keluarga serta teman-temanmu selalu menghantuiku. Kau pikir tidak sulit menjalin hubungan dengan perasaan was-was seperti itu?”

Andrew menatapku teduh.

“Aku akui aku bersalah padamu. Ketidakpercayaan diriku membuatmu berprasangka kalau aku tidak mencintaimu. Kau salah, Andrew. Karena aku…aku sangat mencintaimu. Selama hidupku aku tidak pernah mencintai seseorang selain orangtuaku. Dan kaulah orangnya. Apa menurutmu kata-kata seperti itu harus diucapkan lewat mulutku? Jika selama ini kau meragukanku, mianhaeyo. Jeongmal mianhae.”

Andrew berjalan mendekatiku, namun aku mengambil langkah mundur.

“Mi Young-ah…”

“Jangan, Andrew. Aku rasa, aku tidak bisa lagi. Maafkan semua kesalahanku. Lebih baik kita sudahi saja. Terimakasih telah menemaniku 2 tahun terakhir, membuat hatiku senang jika bersamamu walaupun aku seorang yang kaku dan jarang tersenyum. Sekali lagi, maafkan aku!”

Aku membungkuk dalam dan menyembunyikan airmataku darinya. Ia tidak boleh melihat kerapuhanku saat ini.

“Shirro! Apapun keputusan yang kau ambil, kita tidak akan putus!” raung Andrew.

“Andrew, jangan memaksakan dirimu. Kau pasti tidak bahagia bersamaku, jadi lupakan saja aku. Selamat tinggal.”

Author POV

Siwon mendengar semua percakapan Andrew dan Mi Young di teras tadi. Andrew pasti sangat tertekan saat ini. Ini semua salahnya. Mi Young merasa tidak diterima di keluarga Andrew. Siwon mengerti perasaan gadis itu. Bukannya ia menolak, tapi Siwon butuh waktu untuk menenangkan dirinya.

Setelah beberapa lama kepergian Mi Young, Siwon menghampiri Andrew di kamarnya. Pemuda itu tampak frustasi, duduk di lantai kamarnya sambil menekuk lutut dan memegangi pelipisnya. Siwon mengetuk pintu kamar Andrew untuk menegaskan kehadirannya.

“Aboeji, masuklah.”

Siwon masuk dan duduk pinggir tempat tidur, tepat disamping anaknya menyandarkan tubuh. Andrew tidak menatap ayahnya alih-alih menundukkan kepala. Siwon menepuk bahu kanan Andrew lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Selembar foto.

“Andrew-ah, lihat ini!” ucap Siwon sambil menyodorkan foto itu kepada Andrew. Pemuda itu mendongak dan mengambil apa yang diberikan ayahnya.

Matanya terpaku pada foto itu selama beberapa detik, mematut-matut sambil mengingat. Keningnya mengernyit hebat.

“Kapan kami mengambil foto ini? Dan sepertinya Mi Young tidak pernah berambut panjang,” gumam Andrew bingung.

Siwon tertawa kecil. “Itu bukan kalian. Itu aku dan yeojachingu-ku.”

Andrew kaget bukan main sehingga tanpa sadar ia berpindah duduk ke samping ayahnya. Matanya berulang kali memandangi foto itu dan Siwon bergantian. Ekspresinya tidak berbeda jauh dengan Siwon ketika melihat Mi Young beberapa jam yang lalu.

“A…Aboeji, ki…kita benar-benar mirip? Ya Tuhan.”

Siwon mengangguk. Ia menghela napas.

“Dia adalah Tiffany Hwang, yeojachingu-ku yang sangat kucintai. Kami saling jatuh cinta setelah lama berkenalan. Aku sangat mencintainya dan begitu juga dengan Tiffany. Dia menjadi penyemangat hidupku dan aku berpikir akan menjadikannya istriku. Semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja, sampai suatu ketika Tiffany divonis terkena kanker paru-paru. Aku tidak percaya dengan kenyataan yang menimpanya. Tiffany yang begitu ceria, penuh semangat, dan tegar berbalik menjadi seorang gadis yang lemah dan tak berdaya. Kanker paru-paru stadium akhir membuatnya terbaring di ranjang rumah sakit, merasakan kesakitan datik demi detik. Tapi, ia tidak pernah menunjukkannya kepada kami.

Aku berusaha optimis agar ia mempunyai semangat hidup. Aku berjanji akan menikahinya setelah operasi selesai. Dia juga akan memberikan senyuman manisnya dan aku membayarnya dengan seribu kecupanku. Karena aku pernah mengatakan padanya kalau ciumanku akan membuatnya sembuh. Tapi apa yang terjadi memang kehendak Tuhan. Tuhan lebih menyayanginya daripada kami. Tuhan begitu cepat memanggil gadis yang kucintai, Andrew. Aku belum sempat menepati janjiku padanya. Mencium dan menikahinya, hanya menjadi khayalanku sampai sekarang. Oleh karena itu, aku begitu terkejut saat tadi melihat Mi Young. Ia sangat mirip dengan Tiffany. Aku harus menenangkan diriku Andrew, bukan menolaknya.”

Airmata haru Andrew mengalir. Ia tersentuh dengan cerita ayahnya. Terlebih lagi Tiffany dan Mi Young mempunyai fisik yang sama.

Siwon menghapus airmatanya yang juga mengalir. Ia tertawa lemah. “Kau tahu, Andrew? Melihat kalian berdiri berdampingan tadi seperti melihat kami di masa lalu. Kalian benar-benar duplikat kami.”

Andrew ikut tertawa.

“Tapi, Aboeji. Mi Young-ku sangat berbeda dengan Tiffany-mu. Mi Young tidak mempunyai semangat seperti Tiffany,” ungkap Andrew sedih.

Siwon menepuk bahu Andrew. “Kalau begitu tunjukkan padanya kalau kau sungguh-sungguh! Bagaimana dia akan semangat kalau kau tidak pernah menanyakan perasaannya. Seharusnya kau yang menjadi penyemangatnya. Jika kau tahu dia seseorang yang pemalu dan tidak ekspresif, kau harus mengerti. Kau tidak boleh keras kepala, Andrew. Apa kau senang sekarang telah membuatnya merasa bersalah?”

Andrew termenung. Ayahnya benar. Andrew hanya mementingkan ucapan cinta dari Mi Young padahal ia tidak meragukannya lagi. Mi Young merasa tidak percaya diri karena Andrew tidak pernah menenangkannya. Andrew hanya berkata, semua akan baik-baik saja tanpa menanyakan apa yang menjadi beban pikiran gadis itu.

“Sekarang, temui dia. Minta maaf padanya dan katakan kalau aku dengan sepenuh hati menerimanya di keluarga kita. Arraseo?”

Andrew menatap ayahnya dengan mata berkilat-kilat. Ia semakin mencintai dan mengagumi ayahnya. Kemudian Andrew menghambur ke dalam dekapan sang Ayah, erat sekali.

“Aboeji, saranghaeyo.”

“Nado, Choi Andrew.”

Malam itu juga, Andrew menyusul Mi Young ke flat sewaannya. Ia membawa satu buket bunga lily pink dan sebuah okulele. Ia tidak peduli apakah Mi Young masih marah padanya atau tidak. Yang jelas dia tidak akan melepaskan gadis itu begitu saja. Tiba di depan flat nomor 32 itu, Andrew mengetuknya keras. Suasana sangat sepi karena sudah pukul 11 malam.

“Mi Young-ah, honey? Buka pintunya! Aku tahu kau belum tidur!” seru Andrew.

Hening, tak ada jawaban. Andrew berdehem.

“Goo Mi Young, buka pintunya, jebal. Mi Young-ah, mianhaeyo. Tolong jangan seperti ini. Kau tahu kan, kalau aku sangat mencintaimu? Apa kau tega melihatku menderita selama sisa hidupku? Mi Young-ah!”

Andrew terdiam sebentar, ingin mendengarkan apakah ada suara di dalam. Ia menyeringai. Ternyata gadis itu masih tidak membukakan pintu.

“Baiklah. Aku akan menunggu sampai kau membukakan pintu sialan ini. jangan salahkan aku ya, kalau aku menghibur diriku sendiri disini. Aku akan bernyanyi Mi Young!”

Andrew tidak peduli nanti ia akan dimaki oleh tetangga-tetangga Mi Young. Ia menjepit bunga di ketiaknya dan mulai memetik okulele. Andrew berdehem berulang kali.

“Ehem…ehem! Dengarkan baik-baik. Aku ini seorang seniman, jadi gitar kecil bersenar 4 ini sangatlah mudah untuk kumainkan dan membuat satu gedung ini terbangun. EHEM!”

Andrew memang gila. Beberapa orang sudah mulai keluar dari flat mereka dan memandang Andrew dengan tatapan membunuh. Terang saja mereka murka sebab ini adalah waktunya istirahat. Tapi Andrew keras hati. Ia malah mulai memetik okulele di genggamannya.

Kemudian, baru saja saat ia membuka mulutnya, pintu flat Mi Young terbuka. Menampakkan wajah terganggu oleh keributan yang dibuat Andrew. Dan yang dilakukan Andrew hanya cengiran tanpa rasa bersalahnya.

“Apa yang sedang kau lakukan, pabo!?” desis Mi Young.

“Membujukmu,” jawab Andrew santai.

“Aish,” Mi Young kembali berdesis. Ia melongok keluar pintu dan melihat beberapa kepala menyembul dari balik pintu flat yang lain. Mi Young bergegas keluar dan membungkuk berkali-kali.

Gomennasai (maaf),” ucap Mi Young. Setelah itu Mi Young menarik Andrew dengan keras sehingga mereka masuk ke flat Miyoung.

“Wah, kau kuat sekali menarikku,” canda Andrew. Walaupun cahaya remang-remang, ia bisa melihat mata Mi Young yang sembab akibat menangis.

“Apa kau gila membuat keributan disini? Kau memang selalu bertindak semaumu,” tukas Mi Young pedas. Andrew meletakkan okulele dan bunga lili di atas rak sepatu Mi Young kemudian berjalan mendekat.

“Mi Young-ah, jeongmal mianhaeyo. Aku juga bersalah dalam hal ini. Aku memang egois dan tidak pernah membuatmu nyaman. Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Maukah kau memaafkanku?”

Mi Young menatap lembut padanya. Sebenarnya ia sudah memaafkan Andrew. Melihat kesungguhan cinta pemuda itu memotivasi Mi Young agar mempunyai semangat yang sama. Jika mereka saling mencintai, tak ada apapun yang menghalangi. Andrew saja bersedia meninggalkan dunianya, kenapa Mi Young tidak bisa?

“Dan sebenarnya, ayahku sangat menyukaimu. Beliau mempunyai alasan kenapa tadi menghindarimu. Mi Young-ah, jawab aku. Kau mau mendengarku berteriak-teriak lagi ya?”

Mi Young masih diam. Andrew membuka mulutnya, bersiap untuk berteriak lagi. Namun Mi Young dengan cekatan membekap mulut Andrew. Ia harus berjinjit untuk melakukannya karena Andrew yang begitu tinggi. Andrew tersenyum penuh arti menyadari skinship yang sedang dilakukan gadisnya.

“Waw, skinship baru,” goda Andrew.

Mi Young menahan tawanya.

“Jadi, kau memaafkanku?”

“Hmm, belum.”

Andrew menyipitkan mata. “Honey, apakah kau percaya dengan reinkarnasi?”

Mi Young mengerucutkan bibirnya.

“Mwo? Aniyo. Wae?”

“Karena aku percaya dan itu terjadi di depanku,” gumam Andrew sambil menatap dalam ke mata indah yeojachingu-nya.

“Apa yang kau bicarakan?”

Andrew tersenyum lalu serta merta mencium tepat di bibir Mi Young. Gadis itu melotot merasakan tekanan yang begitu kuat pada bibir Andrew. Andrew belum pernah mencium dan memeluknya erat sekali seperti ini. Mulut Andrew melumat bibir Mi Young sedemikian rupa. Mi Young menyerah. Ia memejamkan matanya dan tanpa sadar membalas semua yang dilakukan Andrew. Andrew membelainya begitu lembut, menyesakkan napas Mi Young.

“Ini adalah ciuman ketigaku. Kau tahu, aku akan membuatnya sampai seribu,” desah Andrew setelah melepaskan ciuman.

Mi Young menatapnya terkejut.

“Mwo?”

“Aku akan menepati janjinya. Menikahi dan memberi ciuman seribu kali,” gumam Andrew, lebih kepada dirinya sendiri.

Melihat Mi Young yang masih kebingungan dengan apa yang dibicarakan Andrew, membuat pemuda itu tertawa kecil. Ia suka melihat ekspresi bingung yeojachingu-nya. Ia menciumi leher Mi Young dan berlama-lama di keharuman disana.

Mi Young mengelus rahangnya lembut. “Andrew, saranghaeyo. Neomu saranghaeyo.”

Andrew tersenyum penuh arti. Hatinya begitu bergetar mendengar kata-kata indah itu yang akhirnya keluar dari mulut Mi Young. Andrew menarik kembali wajahnya dan menatap Mi Young dalam jarak yang dekat sekali.

“Mwo? Coba katakan lagi. Aku tidak yakin telah mendengarnya.”

Pipi Mi Young merona merah. “Mana bisa seperti itu!”

Andrew menyipitkan matanya, memikirkan sebuah ide jahil di otaknya. Mi Young menahan napas waspada.

“Kalau begitu aku akan memaksamu mengatakannya,” gumam Andrew. “Aku akan melakukan seribu ciuman itu sekarang juga.”

Siwon POV

Aku tersenyum sambil memandangi foto Tiffany yang ada di tanganku. Aku yakin saat ini ia sudah tahu apa yang terjadi padaku serta anakku.

“Baby, apa kau sudah lihat semuanya? Betapa miripnya mereka dengan kita? Aku senang sekali saat ini, Mushroom. Walaupun kita tidak dapat bersama pada saat ini, setidaknya mereka yang akan melanjutkan kisah kita. Dengan akhir yang bahagia tentunya. Aku yang akan memastikannya.”

Aku menatap langit malam yang dipenuhi oleh banyak bintang. Mereka berkelip secara bergantian. Aku balas mengedip, karena aku tahu salah satu diantara mereka adalah dirimu, Tiffany.

“Sampai saat ini aku masih sangat mencintaimu, Tiffany. Bahagialah disana, seperti aku yang bahagia disini memikirkanmu.”

The end

124 thoughts on “[Re-Post] A Thousand Kisses

  1. Hmmmm
    sedih cy sufany’a sad ending
    tp ternyata ada reinkarnasi’a
    ga perlu nunggu lama
    mereka melanjutkan kisah’a dengan jiwa yg berbeda walaupun sangat
    goodddddddddddd

  2. udah berulang kali baca ff author ini :(( berulang kali pula nyeseknya !! feelnya dapet banget.. udah aku baca berulang ulang tapi tetep aja mewek pas tiffany metong huaaa :'(( likelikelike deh *two thumbs*

  3. aduh sad..aku ga bsa baca yg ada meninggalnya salah satu karakternya..pasti mewek trus kbawa mmpi malemnya. hahaha lebay…tp keren ini dapet jasa feelnya..ya mskipun yg akhir siwon ama tiffany jg yg meranin anaknya tp tetep kisah ortunya sedih ..daebak

  4. Huaaaaaaaaa aku nangissssss😥
    Feelnya dapet banget kak..🙂
    Aku gak tau ini happy ending atau sad ending? Jujur.. Walaupun secara fisik Mi Young mirip Fany, entah kenapa mereka tetap berbeda.. Aku inginnya Fany bersatu sama Siwon and NO ninggalin Siwon kaya gini, meskipun kisah Sifany dilanjutin sama Andrem dan Mi Young.. Kangen sama Tiffany Hwang nya kak..😦 Gimana keadaannya sekarang di alam sana ya? #baper .-.
    Mi Young dan Andrew bener-bener kaya reinkarnasi Fany dan Siwon, seolah-olah Sifany terlahir kembali dan dipertemukan dalam kehidupan selanjutnya..
    Ya Allah kak.. Nangis, nyesek, sakit hati, terharu, kesel, romance, apapun semuanya bener bener dapet di ff ini.. Aku suka, sukaaaaaa banget, walaupun masih nyesek.😦 -_-
    Good job.. I can feel this story.. Ahhhhh aku fans kak Elsa😀 Semangat terus ^^

  5. hhhhh terhanyut suasana jd ga denger sutradara blg CUT wwwww trll ‘enak’ kaia’a mreka
    woaaaaaah tw2 ud pcrn aj nih. hrs’a critain eon gmn proses mreka akhir’a bs jadian hehehe
    deuuuuuh perawat’a kaia siwon oppa mh aq ga mw sembuh! hhhhh pgn sakir trs biar d rawat sm wonpa😉
    awww mainan’a gigit gigitan. mw dong d gigit wonpa :*
    ksian bgt ih sumpah trnyta skit parah😥
    so sweet bgt y ampun sumpah >< ud takdir bgt lh jodoh ini mh!❤ mskpn tiff'a ud ga ada tp kbahagiaan'a nurun k anak wonpa & bahkan kaia reinkarnasi :'D so sweet bgt cinta wonpa abadi smpe wonpa tua & anak'a ud gede :')

    as always eon bagus bgt ff'a😀

  6. Ohhh……no fanynya meninggal hiks…hiks…hiks…. andwe,kacian ama siwonnya.walaupun siwon dan fany tidak bisa bersatu,namun andrew mi yong yg akan melanjutkana kisah cinta mereka sampai akhir.
    Unnie sangat tersentuh dengan ff yg satu ini.
    Thanks buat saeng dan ffnya.
    Hwaiting:-).

  7. bener2 terharu deh bacanya, walaupun dipisahkan oleh maut, tapi cinta mereka tetep abadi…..untung aja ada reinkarnasinya tiffany, jd g terlalu sedih bacanya…

  8. sukses bikin nangis nih ceritanya, feelnya dapet banget
    kenapa sedramastis ini, terharu banget
    aku kira bakal jadi sad ending, eee syukurnya berubah haluan hehehe
    bagus banget! acungin dua jempol nih

  9. That’s true love. kenangan dgn org tercinta dlm hdp kita tdk akn lrnh terlpkn. Siwon bktikn hal itu bgmn dia bgt sgt cinta dgn fany. mengasihi, menyayangi setulus hati n sll membhgiaknny.

    Tp takdir berkt lain Tuhan tak ingin biarkn fany menderita terll lm dn mendekapny dgn Kasih SayangNya. berat bg Siwon tp itulh hdo krn dia akn simpn cinta Fany sllmy….

    Tp hdp trs berputar ap yg terjdi dims ll bisa terulg kmbli. calon istri ank siwon Andrew sgt mirip dgn Fany. bhkn siwon merskn hlo fia adlh reinkarnasi Tiffany. pun dlm hdp mrk tak bersatu tp jln hdp n kisah mrk ternyta dijlni oleh ank Siwon. hal itu yg mnjdi kbhgiaany skrg.

    kidah ini sgt menarik bgt, crt ttg cinta sejadi. bs trm tkdir Tuhan n pcy dgn jlnnNy. romantis, mngharukn , 😢😢 tp bikin kita bljr bgmn cinta itu…

  10. ga tau deh hrs ngomong apa, nangiiiiss baca nya. kisah sifany dilanjut kan sm andrew n miyoung. kasian bgt siwon nya, udh ditinggalin tiff, eh ditinggal istri nya selingkuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s