[Re-Post]LOVE HURT

Love in Hurts

 

 

 

Author : Vietha Choi

Genre : Sad, Angts, Romance, Brothership, Family(?) and Happy Ending

Main Cast : Choi Siwon, Stephanie Hwang, Park Jungso, Kyuhyun, Choi Jiwon

Ratting : PG-15

Qoute : Something unplaned moment will teaches someone to believe if GOD is everything in this world

 

 

 

 

 

Karakter

__Choi Leetuk__

Anak pertama dari Kel. Choi. Bekerja  sebagai Direktur di perusahaan ayahnya. Bertunangan dengan Jessica Jung. Sangat menyayangi Kedua Dongsaegnya.

__Choi Siwon__

Pangeran tampan kedua di Keluarga Choi. Ikut membantu hyungnya dalam menjalankan bisnis keluarga. Lebih tegas dari Leeteuk, merupakan tunangan dari Tiffany.

__Choi Jiwon__

Putri bungsu dari kel. Choi. Sangat saying kepada kedua hyungnya. Masih Bersekolah di Shinwa High School. Seorang shopaholic dan termasuk siswa cerdas di sekolahnya. Memiliki namjachingu bernama Cho Kyuhyun.

__Stephanie Hwang__

Generasi ke-3 Hwang Company. Menduduki jabatan sebagai analisis keuangan di perusahaannya sendiri. Tipikal yeoja lembut dan memiliki eye smile yang mampu membuat seorang Choi Siwon bertekuk lutut

__Cho Kyuhyun__

Evil dari keluarga Cho yang sedang menempuh pendidikan di Kyunghee University. Apabila melihat sekilas ia akan terkesan seperti namja dingin dan kaku. Namun akan berbeda saat bersama yeojachingunya, Choi Jiwon

 

Love in Hurts-1

Choi Mansion, Seoul

19.00 KST

*Author POV*

Siapa yang tidak mengenal Hyundai Group? Sebuah perusahaan yang memiliki berbagai cabang dan memperkejakan ribuan karyawan. Tak hanya di Korea, New York pun menjadi salah satu tempat berdirinya perusahaan ini. Tak ayal, generasi dari kelarga ini sudah mulai meniti karirnya sejak lulus kuliah. Orang tua mereka sama sekali tidak memaksa untuk ikut masuk ke dalam bisnis keluarga itu. Walaupun hidup serba berkecukupan mereka mendidik putra-putrinya untuk hidup sederhana.

Leeteuk, Siwon dan Jiwon. Ketiga generasi dari Hyundai Group yang siap memegang tahta atas kerajaan bisnis tersebut. Dua dari tiga bersaudara tersebut sudah masuk jajaran bisnis keluarga. Dibalik kesuksesan seorang pria pasti ada wanita tangguh yang mendukungnya. Salah satunya adalah pasangan Choi Siwon dengan kekasihnya. Walaupun mereka memiliki kesibukkan untuk mengurus perusahaan masing-masing, itu bukanlah alasan untuk menhalangi cinta mereka. Kedua keluarga sudah merestui hubungan 2 sejoli itu. Mereka siap melangkah ke jenjang pernikahan setelah Leeteuk menikah dengan tunangannya. Bukankah sudah tradisi di keluarga kalangan atas jika anak pertama akan menikah duluan?

Choi Siwon, dengan fisik yang menunjang tentu membuat gadis-gadis mengincarnya. Namun hanya satu yeoja yang mampu menggetarkan hati pria tampan tersebut. Tiffany. Satu nama yang sudah melekat jelas diingatannya. Bagi siwon, tiffany adalah semangat untuknya untuk melakukan aktifitas. Selain dukungan dari keluarga tentunya. Tiffany adalah yeoja yang mengerti kala ia merasa jenuh dan yeoja yang dewasa. Tapi apakah hal ini berlaku bagi tiffany? Mungkin sedikit berbeda. Bagi fany, siwon jauh dari sosok romantis. Bahkan ia terkesan cool dan sangat menjaga sikap saat berhadapan dengan yeoja. Tapi jangan salah menilai, saat berdua dengat tiffany, sifat siwon bisa berputar 1800. Bukannya Fany yang akan bermanja-manja pada siwon, tapi justru sebaliknya. Siwon akan merengek seperti anak kecil saat harus lembur di hari minggu. Siwon yang akan mengeluh saat menjelang akhir tahun dan mengaudit data perusahaannya sampai larut malam. Namun itulah yang membuat Fany nyaman dengan Siwon. Dan sama sekali tidak keberatan atas sikap tunangannya tersebut.

Tapi malam ini, akankah kebahagian Fany tetap berlanjut? Karena suatu kepedihan siap menguji pasangan ini.

*Leetuk POV*

Aku sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama kedua dongsaeng-ku. Jarang sekali kami bisa seperti sekarang ini. Belakangan urusan di kantor benar-benar menyita waktuku. Memaksaku untuk pergi pagi-pagi sekali dan harus rela meninggalkan sarapan bersama kedua dongsaeng-ku. Tapi sekarang kami akhirnya bias kumpul bersama.

“Oppa, aku senang kita bias berkumpul seperti ini” gumam Jiwon sambil mengambil cupcakes kesukaannya.

“Biasanya aku harus puas nonton tv bersama Siwon oppa, tapi dia malah sibuk dengan Mac-nya untuk mengerjakan audit kantor atau sekedar melihat indeks saham” lanjutnya.

“Yaks, berarti kau tak suka dengan oppa.?” Tanya siwon yang masih asyik dengan iPadnya.

“Bukan begitu oppa, ish oppa ini” Jiwon mengelak. Aku terkekeh pelan melihat kedua dongsaengku ini.

“sudah-sudah yang penting sekarang kita sudah kumpul arra.?” aku angkat bicara. Mereka hanya tersenyum. Lama kami larut dalam perbincangan hangat ini. Sampai suara perut Jiwon mengintrupsi perbincangan kami.

“oppa aku lapar” Jiwon bersuara.

“tanpa kau bilang pun kami semua tau jiwon” balas siwon sambil mencubit pelan hidung Jiwon.

“arraeso mari kita makan” sahutku. Dan akhirnya kami menuju ruang makan.

__end teukie POV__

 

*Siwon POV*

Sungguh menyenangkan bisa bersama seperti ini. Ya meskipun kami tahu bila eomma dan appa ikut tentu akan lebih menyenangkan. Tapi kami bisa apa.? Kehidupan 10000 ribu lebih keluarga bergantung dari perusahaan ku. Ya inilah resiko menjadi anak dari keluarga konglomerat. Tapi aku tetap bersyukur kepada tuhan karena masih memiliki hyung dan dongsaeng yang sangat menyayangiku.

“oppa kenapa melamun.?” Suara Jiwon membawa ku kembali dari lamunanku.

“ah ani, oppa hanya senang kita bisa berkumpul seperti saat ini” kilah ku. “sudahlah saeng, habiskan dulu makanan mu, nanti kau sakit” seru Teuki hyung. “ne arraeso” jawabku sambil tersenyum kepada mereka. Kami makan sambil bersenda gurau. Para pelayan dirumahku menyajikan makanan elite setiap hari. Semuanya baik-baik saja sampai aku merasakan sakit di tanganku saat akan mengambil gelas minum. Tanganku tak bias digerakkan.

“argh..” erangku saat aku berusaha menggerakkan tangan ini.

“siwon gwenchana.?” Tanya teukie hyung cemas. Sontak Jiwon langsung menghentikan makannya dan menatapku.

“oppa waeyo.?” Tanyanya tak kalah cemas.

“Gwencha….aargh” sakitnya makin menjadi.

“oppa waeyo.? Wajahmu pucat sekali” kata jiwon hampir menangis.

“Hyung sakk..it” aku berusaha mengatakannya dengan susah payah. Sampai akhirnya aku merasakan teukie hyung menangkapku sebelum aku terjatuh dan semujanya menjadi gelap.

*End Siwon POV*

*Author POV*

Malam itu berubah menjadi menegangkan setelah sebelumnya Teuki, Siwon dan Jiwon berkumpul dan berbincang hangat. Sampai tiba-tiba Siwon pingsan dan membuat kedua saudaranya panic.

“Pak Tan, tolong bantu aku mengangkat Siwon” kata Teuki menintrupsi seorang pelayan. Dibantu 4 pelayan dirumah itu Teuki membawa siwon ke kamar dan merebahkannya perlahan. Sedangkan Jiwon langsung menelfon Dr. Kim. Dokter pribadi mereka.

“Sudah kau terlfon Dr. Kim.?” Tanya Teuki kepada Jiwon.

“sudah oppa, 15 menit dia sampai” ucap Jiwon bergetar menahan tangisnya. Teuki langsung memeluk Jiwon dan menenangkannya

“tenanglah, Siwon akan baik-baik saja”. Beberapa saat kemudian Dr. Kim dating.

*Jiwon POV*

Aku senang bisa berkumpul dan bercanda bersama kedua oppa ku. Namun semua berubah menjadi tegang saat kami makan bersama dan tiba-tiba siwon oppa mengerang kesakitan dan pingsan. Sungguh aku merasa takut kali ini. Siwon oppa adalah orang yang kuat dan sering berolah raga. Baru kali ini aku melihat dia begitu kesakitan seperti tadi. Jelas aku kaget dan tanpa aku sadari aku menangis. Teuki oppa langsung menenangkankku. Dan Dr. Kim pun dating dengan segera memriksa keadaan siwon oppa yang ada di kamar mewahnya yang bergaya eropa itu. Kami menunggu pemeriksaan itu merasa cemas.

“siwon oppa gwechana” tanyaku pada diri sendiri dan teuki oppa langsung memelukku aku menangis makin jadi

“gwenchana changi, siwon pasti taka pa” kata teuki oppa sambil membelai lembut rambutku. Saat itu aku melihat perawat memasangkan siwon oppa infuse dan masker oksigen. Karena memang penyakit asma siwon oppa kambuh.

“Kita bicara diluar saja” kata dokter kim setelah selesai memeriksa wonpa

*end Jiwon POV*

*Author POV*

Mereka pun berbicara di ruang tengah bangunan megah nan mewah itu. Dr. Kim hanya berbicara dengan Teuki, sedangkan Jiwon menemani siwon dikamarnya. “kundae siwon bias begini dokter.?” Tanya Teukie cemas.

“Maaf sebelumnya tuan muda siwon pernah seperti ini.?” Balas Dr. Kim

“ Ani, siwon baru kali ini seperti skrng” jawab teuki.

“Syukurlah, sebenarnya tuan muda siwon menderita penyakit axeto syndrome, tapi belum parah. Meski sudah termasuk serius”

“axeto syndrome.? Penyakit apa itu dok.?” Tanya teuki tak mengerti.

“itu adalah penyakit dimamana penderita akan merasakan sakit tiba-tiba di salah satu bagian tubuh. Sebeneranya efeknya tidak akan membuat pingsan, namun apada kasus tuan muda siwon asma yang ia derita berkomplikasi dengan penyakit tersebut, dan mengakibatkan kesadaran diri menurun. Penyakit ini akan berkembang cepat, dan akan menyebabkan kelumpuhan.” Jelas Dr. Kim panjang lebar. Teuki yang mendengarnya langsung shock.

“apa masih bias disembukan dok.?” Tanya teuki. Jelas dari nada bicaranya sangat jelas menunjukkan kalau dia sedang berharap.

“tentu ada, tuan muda siwon harus menjalani terapi. Mungkin akan menyakitkan, tapi kemungkinan sembuhnya tinggi.” Dr. Kim member saran.

“baiklah laksanakan yang terbaik untuk dongsaengku dokter” balas teukie dengan wajah nanar.

 

*Jiwon POV*

Aku berdiri disamping king-size bed  siwon oppa. Aku memandangi wajah siwon oppa yang sedikit tertutup oleh masker oksigen. Tetap tampan walau sedikit pucat. Sejak tadi, dia belum sadar dari pingsannya. Sementara teuki oppa sedang bicara dengan Rr. Kim di luar. Kugenggam tangan siwon oppa. “ oppa, kau kenapa” kataku menahan tangis. Aku duduk disebelah ranjangnya dan akhirnya aku tertidur.

 

*Teuki POV*

Setelah mengantar Dr.Kim, aku langsung naik ke kamar siwon. Kulihat Jiwon menggenggam tangan siwon yang belum siuman. “tentu ada, tuan muda siwon harus menjalani terapi. Mungkin akan menyakitkan, tapi kemungkinan sembuhnya tinggi.” Kalimat Dr.Kim masih terngiang ditelingaku.

“cepat sembuh Siwon” aku mengelus lembut rambutnya. Jiwon yang sepertinya mendengar perkataanku tadi menggeliat terbangun.

“mian Jiwon, oppa membangunkanmu” kataku.

“taka pa oppa, apa kata dokter tadi.?” Tanya nya to the point.

“Jiwon sebaiknya kau tidur di kamar, biar oppa yang menjaga siwon” jawabku mengalihkan pembicaraan. Entah mengapa aku belum siap mengatakannya kepada Jiwon.

“Andwe, aku ingin menjaga siwon oppa juga” rengeknya.

“baiklah kalau begitu, aku akan menyuruh ahjuma untuk menyiapkan kasur kecil. Daripada kau tidur seperti tadi” kataku tak bias menolak keinginanya.

“terserah oppa yang penting aku bias ikut menjaga siwon oppa” katanya. Akhirnya aku dan Jiwon tidur di kamar siwon sambil menjaganya.

*end Teuki POV*

*Siwon POV*

Aku membuka mataku karena tertusuk siinar mentari pagi dari balik tirai balkon kamarku. Kulihat masker oksigen sedikit menutupi pandanganku. Lalu kulihat Jiwon dan Teuki hyung sedang tertidur dikamar ku. Lalu sekelebat ingatanku muncul saat dimana tanganku terasa sakit yang teramat sangat hingga aku hilang kesadaran. Teuki hyung bangun lebih dulu dari jiwon. Dia menghampiriku dan bertanya

“How much you love sleep?”. Aku hanya tersenyum. Entah sejak kapan Jiwon bias dengan mudah terbangun dari tidurnya kini dia sudah memelukku seperti tidak pernah bertemu denganku selama ribuan tahun.

“oppa akhirnya kau sadar. Kau tahu betapa aku cemas menunggumu sadar bersama teuki oppa.?!” Suaranya bergetar dan matanya mengeluarkan Kristal bening. Aku berusaha menghapusnya dengan lemah

“mian membuat kalian cemas” kataku parau yang terpantul masker oksigen ini. Saat aku hendak membuka masker ini dengan tangan kanan kurasakan sakit seperti tadi malam hingga aku tak bias mengangkatnya.

“Biar aku yang melepasnya” saran teuki hyung. Sementara Jiwon hanya diam menatapku.

“aku ingin duduk bias kau bantu aku Jiwon.?” tanyaku menyadarkan Jiwon.

“off course Tuan Muda Siwon” ucapnya bercanda. Aku terkekeh pelan, Teuki hyung membantu mendudukkan tubuhku sementara Jiwon menata bantal agar aku merasa nyaman.

*end Siwon POV

*Author POV*

Minggu siang seperti ini adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu di poolside mewah rumah kediaaman keluarga Choi. Namut tidak untuk hari ini. Teuki dan Jiwon justru berada di sebuah kamar bergaya eropa abad modern. Di kamar tersebut banyak terdapat koleksi dari Crocodile maupun merk cloth mahal lainnya. Belum lagi produk keluaran apple seperti iPad, Mac dan iPod tertata rapi di meja berukiran elegan. Sebuah king-size bed mewah yang senada dengan ruangan itu terbaring seorang namja kekar yang tertidur dengan lelap setelah makan dan minum obat. Ya, dia adalah tuan muda Siwon. Yang baru divonis menderita penyakit axeto syndrome yang sukses membuatnya berbaring menahan sakit sejak semalam. Dengan setia Teuki dan Jiwon menemaninya. Dan tentu saja orang yang berharga bagi Siwon, Fany. Yeojachingu siwon sejak 2tahun lalu. Dengan setia dia menemani kekasihnya yang kini tengah kesakitan itu. Mulai dari menyuapinya makan, membantu minum obat dan membuat siwon merasa nyaman. Hingga akhirnya siwon terlelap setelah beberapa saat yang lalu meminum obat yang diberikan oleh Dr. Kim untuk mengurangi rasa sakitnya. Sedangkan Teuki, Jiwon dan Yoona duduk di bangku santai balkon kamar siwon. Mereka khawatir jika siwon terbangun dan memerlukan sesuatu. Meskipun sudah ada sekian banyak Maid yang bersiap melakukannya.

*end Author POV*

*Fany POV*

Memiliki namjachingu seperti Choi Siwon tentu impian semua orang. Dia adalah gambaran pangeran tampan di abad 21 ini. Ber-IQ tinggi, berasal dari keluarga paling terpandang di Seoul dan jangan lupakan ketampanannya. Aku beruntung memilikinya. Aku adalah anak tunggal. Aku sudah terbiasa dengan gaun mahal dari Paris maupun Milan. Liburan ke Los Angles bukanlah hal yang luar biasa bagiku. Aku tak pernah merasa sakit karena suatu hal. Semuanya bisa aku dapatkan hanya dengan jentikan jari. Tapi sekarang aku merasakannya. Merasakan sakit karena harus melihat siwon oppa terbaring lemah dengan infuse tertanam ditangannya. Wajahnya pucat meski tak sedikitpun mengurangi ketampanan yang tuhan berikan kepadanya.

Saat aku sedang meni-pedi di salon Beauty, aku ditelfon oleh teuki hyung yang mengatakan agar aku kerumahnya. Aku terkejut saat itu, bagaimana tidak hari minggu begini biasanya mereka, Choi Siblings akan menghabiskan waktu bersama. Entah itu pergi hang out atau apapun. Dan sama sekali tidak ingin di ganggu. Tapi tadi dia menyuruhku kerumahnya. Sekejap aku merasa ada yang terjadi, tapi aku segera melupakamnnya. Aku segera masuk ke mobil alphard putih dan segera ke rumah, eh ralat istana disneynya choi siblings.

Saat aku tiba teuki oppa sudah duduk diruang tengah dengan banyak berkas.  Langsung dia menyambutku dan mengajakku duduk. Dia menceritakan semuanya, semua tentang penyakit yang diderita siwon. Aku terkejut dan hampir menangis kalau tidak melihat Jiwon turun dari kamar siwon. Teuki oppa bilang kalau siwon harus di terapi. Menyakitkan tapi memberikan kesembuhan. Jiwon langsung memeluku.

*end Fany POV*

*Jiwon POV*

Setelah memastikan para maid siap membantu Siwon oppa membersihkan diri aku segera turun ke bawah karena mendengar suara Fany eonnie. Sure, siwon oppa masih lemah untuk sekedar bangun dari ranjang dan menuju bathroom. Jadi aku menyuruh maid untuk mengaturnya. Tentu adegan seperti ini aku tidak perlu melihatnya bukan😛

Saat turun aku melihat Fany eonnie hampir menangis. What make she like that.?! Yeah absolutely, dia pasti shock mengetahui penyakit yang diderita siwon oppa. Siapa yang menyangka seorang Choi Siwon yang rajin olah raga dan bahkan pernah masuk majalah men health menderita penyakit yang lumayan serius.

Aku memeluk Fany eonnie dan menenangkannya. Sama seperti apa yang dilakukan teuki oppa semalam. Kami tidak langsung memberitahu orang tua kami karena takut membuat mereka khawatir. Aku mengajak Fany eonnie ke kamar siwon oppa. Namun sebelumnya aku menelfon ke kamar siwon oppa memastikan siwon oppa sudah selesai membersihkan diri. Saat sampai di depan kamar siwon oppa, Fany eonnie meremas tangan ku. Aku tersenyum menyiratkan dia-baik-baik-saja.

Saat kami masuk siwon oppa sedang di papah menuju ranjangnya. Setelah sebelumnya keluar dari walk-closetnya. Dia memakai celana dan baju Polo yang membuatnya tampan. Tapi terlihat begitu pucat, meski tak sepucat kemaris. Fany eonnie langsung membantu maid memegang lengan kekar siwon oppa. Lengan yang selalu kujadikan bantal saat bersantai di ruang tv. Sekarang terlihat kaku dan sulit digerakkan. Setelah membaringkan siwon oppa Fany eonnie minta dibawakan sarapan untuk siwon oppa kepada sunbei maid. Siwon oppa hanya menggeleng saat disuruh makan. Beruntung Fany eonnie orangnya sabar dan akhirnya berhasil membujun siwon oppa untuk makan. Meski hanya beberapa suapan.

Setelah sarapan aku keluar dan membiarkan pasangan ini berdua.

*end Jiwon POV*

*Siwon POV*

Aku tidak suka suasana seperti ini. Jiwon dan Teuki hyung sejak semalam sibuk menemani ku dan bahkan rela tidur di kamarku. Aku hanya membuat mereka khawatir terlebih kepada Fany.

“Mian changi, karenaku kau jadi tidak bias liburan” sesalku setelah dia menyuapi dan membantuku minum obat. Sampai sekarang tanganku masih sakit meski tidak sesakit tadi malam.

“Oppa jangan bicara seperti itu, aku senang bias berdua bersama oppa sekarang. Cepat sembuh oppa nanti aku akan menagih imbalan” jawabnya riang.

“Jadi kau tak ikhlas menemaniku eoh.?” Candaku sambil berpura-pura marah.

“ya oppa, kau sensitive sekali kalau sakit, aku hanya bercanda” balasnya sambil menggenggam tangan ku yang tak di infuse. Akhirnya kami berdua tertawa dan bercanda. Teuki hyung dan Jiwon juga ikut bercanda. Hingga akhirnya aku merasa mataku semakin berat.

“Tidurlah oppa, kau terlihat sangat mengantuk” Fany menyarankan.

“Ya..! oppa sejak kapan gila tidur.?” Jiwon bertanya. Belum sempat aku menjawab Teuki hyung sudah lebih dulu mengeluarkan suaranya.

“Jiwon, siwon sedang sakit pasti dia butuh banyak istirahat. Ayo kubelikan kau cupcakes tadi” ajak teuki hyung meninggalkanku dan Fany.

“tidurlah changi aku akan menemanimu” kata Fany sambil mengelus rambutku lembut. Aku mengangguk dan tersenyum. Sesaat kemudian aku sudah terbawa ke dunia ku.

*end Siwon POV*

*Author POV*

Fany, Jiwon dan Teuki duduk di kursi santai balkon kamar siwon sambil melihat pemandangan indah kota Seoul.

“Jadi kapan akan dimulai.?”

 

Love in Hurts -2

*Author POV*

Hari ini, setelah seminggu kabar buruk tersebut-vonis dokter terhadap siwon-suasana di kediaman Choi Siblings nampak normal. Teuki sibuk dengan pekerjaannya, Jiwon sibuk dengan sekolah dan ujiannya sedangkan siwon masih harus menjalani terapi terakhir tahap pertamanya. Sekali lagi kutegaskan-TAHAP PERTAMA. Memang Siwon sudah terlihat lebih baik namun prosedur penyembuhannya belum selesai. Maka dari itu Siwon belum dikatakan sembuh oleh dokter.

Beruntunglah siwon memiliki tunangan seperti tiffany. Dengan sabar ia selalu menyemangatinya saat akan terapi. Hampir tidak pernah absen menemaninya setelah pulang kerja. Keyakinan akan tiffany adalah pilihan yang tepat untuk menjadi pendampingnya kelak semakin tinggi. Tapi apakah hal itu akan terjadi? Apa ia akan melangsungkan suatu proses pernikahan? Ia tak tahu. Melihat kondisinya saat ini, kesembuhanlah yang paling ia harapkan.

“Selamat pagi oppa” kebiasaan tiffany sebelum berangkat kerja. Mengunjungi tunangannya dan memastikan ia sudah makan dan minum obat.

“Morning changiya” siwon mencium tiffany sekilas.

“Kenapa makannya kau biarkan menganggur oppa?” tanya tiffany saat melihat nampan yang berisi sepiring nasi dan segelas susu. Oh dan jangan lupakan, berbagai macam obat.

“Aku menunggu seseorang” kata seseorang disini sudah dapat ditebak fany. Ya harus diakui memang tunangannya akan manja padanya, dan intensitasnya bertambah saat sedang sakit.

Tiffany mengambil tempat disamping tunangannya, dan membantunya duduk bersandar pada ranjang. Setelah itu, dengan telaten tiffany menyuapkan sendok demi sendok nasi pada siwon. Sambil diselingi siwon yang berulang kali mengatakan cukup. Tapi tak sekalipun digubris oleh tiffany,

“Nah oppa, aku berangkat kerja dulu. Jangan khawatir aku akan disini saat kau terapi” pamit tiffany saat selesai melayani siwon.

“Perusahaanmu sedang sibuk Fany-ah. Kau fokuslah bekerja, aku tidak enak pada aboenim”

“Gwenchana, appa sudah mengerti” dan setelah itu tiffany sudah pergi dari hadapan siwon dan menuju kantornya.

*end Author POV*

*Siwon POV*

Entah sudah berapa kali aku bolos dari perusahaan appa. Sebenernya hari ketiga setelah kejadian aku pingsan, aku sudah merasa baikkan. Tapi Teuki Hyung melarangku untuk pergi. Dan sampai saat ini aku masih harus menjalani terapi berkelanjutan untuk menyembuhkan penyakit yang aku sendiri lupa namanya. kulihat di bawah sudah datang rombongan Dr. Kim, yang berarti sebentar lagi terapi menyakitkan itu akan dimulai. Tapi beberapa hari ini aku tidak merasa sakit yang berarti. Mungkin itu karena Fany yeojachingu-ku yang setia menemani terapi ku.

“Anneyong Haseyo Tn Muda, bagaimana kabar anda hari ini?” tanya Dr. Kim berbasa basi.

“Sudah baikkan, ini berkat anda Dr. Kim” Aku menjawab seraya tersenyum.

“Ini belum selesai Tn Muda, anda masih harus menjalani 2 tahap terapi lagi”

“Ya aku tau”. Dr. Kim tersenyum sejurus kemudian peralatan terapiku sudah siap. Tapi, Hey.! Dimana Fany.

“Hai Oppa, maaf telat, aku harus mengantar Eomma tadi” suara merdu yang tak asing bagiku. Aku hanya tersenyum dan kemudian dia mendekatiku sesaat sebelum terapi dimulai.

*end Siwon POV*

*Tiffany POV*

“Ini belum selesai Tn Muda, anda masih harus menjalani 2 tahap terapi lagi” samar-samar kudengar suara dr. Kim

“Ya aku tau” miris sekali mendengar siwon oppa berkata seperti itu.

“Hai Oppa, maaf telat, aku harus mengantar Eomma tadi” tak ingin ia mulai terapi sendirian aku segera masuk ke kamarnya. Dan kemudian mendekatinya sesaat sebelum terapi dimulai.

Untuk memulihkan kondisi Siwon oppa, ia harus menjalani terapi dalam 3 tahap. Dan ini adalah tahap pertamanya. Sejauh ini reaksi tubuhnya cukup baik. Terbukti dari hasil yang diperoleh setelah terapi. Meskipun belum bisa dikatakan sembuh sepenuhnya. Ini adalah terapi ke tiga yang Siwon oppa jalani. Sungguh aku ingin semua ini cepat berakhir. Sebenarnya siwon bisa pergi ke luar negri untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik. Tapi ia menolak untuk beberapa alasan. Setelah melewati proses terapi yang menyakitkan, aku mencoba untuk menghiburnya.

“Ayolah changiya, aku masih bisa berjalan. Apa harus dengan kursi roda?” rajuknya saat kami akan jalan-jalan di halaman rumah kel. Choi ini.

“Oppa memang masih bisa berjalan, tapi aku tau oppa masih terhuyung saat berjalan karena selama 2 hari oppa tidur terus”

“Tapi aku akan terlihat semakin lemah” jawabnya

“Oh ayolah Siwonnie, jangan merajuk. Atau kita tetap dikamar”

“Andwe. Aku sudah hampir mati kebosanan. Arra aku akan menggunakannya” akhirnya siwon oppa mengalah. Sebelumnya aku memakaikannya mantel dan syal untuk melindungi siwon oppa dari hawa dingin. Aku tidak ingin asmanya kambuh disaat yang tidak tepat

Semilir angin sore berhembus perlahan menerpa wajahku. Aku memejamkan sejenak mataku. Semenjak siwon oppa sakit hari-hariku terasa lebih berat. Jika saja aku bisa bertukar posisi dengannya, akan kulakukan. Aku sangat tersiksa melihatnya kesakitan.

“Fany-ah..” panggil siwon

“Ne oppa.? Apa kau kedinginan?” jawab fany

“Ani. Menurutmu apa aku bisa sembuh?” sebuah pertanyaan retorik dari siwon. Aku berusaha mengatur nafas. Jujur aku ingin menangis saat siwon hampir putus asa seperti saat ini. Ku menggenggam tangan siwon yang mulai dingin.

“Tentu oppa. Aku percaya tuhan akan memberikan kesembuhan pada oppa”

“Aku ragu fany. Aku tau tidak banyak orang yang bisa kembali normal setelah menderita penyakit ini. Aku akan cacat fany” lirih siwon oppa yang hampir seperti nada keputus asaan. Aku memeluknya berharap dapat memberi sebuah kekuatan. Aku tak bisa berkata apa-apa saat ini. Kami berdua diam dalam fikiran masing-masing dalam beberapa saat.

“Hmm… sepertinya udara sudah semakin dingin. Kajja oppa harus makan dan minum obat.” Tiffany mendorong kursi roda yang siwon duduki. Siwon oppa menatap miris keadaannya sekarang.

*end Tiffany POV*

*Author POV*

Malam harinya Keluarga Choi merayakan anniversary Leeteuk dan Jessica. Pasangan itu rencananya akan menikah setelah natal. Namun melihat kondisi saat ini, tidak menutup kemungkinan untuk menundanya. Mereka mengadakan BBQ party di halaman rumah mewahnya. Teuki dan Jessica mengenakan baju senada yang membuat semua orang terkesima. Sedangkan Siwon dan Fany memakai setelan polo santai yang cassual namun elegan. Dan terakhir, The Cutest Couple ever Jiwon-Kyuhyun berpakaian paling santai diantara hyungnya.

Semua larut dalam suasana malam yang indah itu. Fany, Jiwon dan Sica membantu para Maid menyiapkan. Sedangkan para namja, bercengkrama sambil melihat para yeoja mempersiapkan semuanya. Benar-benar menyenangkan.

“Fany, aku sudah lama merindukan saat seperti ini” Sica berkomentar sambil mengisi gelas dengan anggur murni dari belanda.

“Me too sica onnie, aku sungguh lelah seminggu ini mengurus sekolah. Belum lagi Siwon oppa” Jiwon berceloteh riang sambil asyik dengan BlackBerrynya.

“Memang kenapa dengan Siwon oppa?” tanya Fany sedikit menyelidik karena melihat sesorang di belakang Jiwon.

“Siwon oppa kan sakit Fany eonnie, jadi aku sebagai adiknya harus merawat oppa sok sibuk yang….” Jiwon ngedumel tidak jelas. Dan sedetik kemudian Jiwon berteriak kegelian karena ulah Siwon yang menggelitiknya.

“Oppa hentikan. Kyaaaa…” Suara Jiwon sukses membuat teuki dan Kyuhyun kaget. “Lanjutkan bicara mu Nona Choi” Siwon belum mengehntikan gelitikannya pada Jiwon.

“Miiaa..nn op..oppaa. Hwaa hentikan oppa…” Jiwon kegeliann hingga tak sadar menabrak maid dan jatuh. Tapi, Hell adegan romantis dmulai. Kyuhyun dengan sigap menangkap Jiwon dan membuat orang disekitarnya menahan nafas.

“Be careful baby” bisik Kyuhyun sambil tersenyum evil.

“Ehmm…” suara teuki mengakhiri adegan tersebut dan mendaratlah sebuah jitakan di kepala Siwon, Jiwon dan Kyuhyun *padahal udah nolong ya*

“Kau Siwon sbg hyung harusnya tidak betindak seperti tadi. Bagaimana jika tidak ada Kyuhyun Jiwon bisa terluka. Sedangkan kau Jiwon, hormat sedikit pada oppamu. Dan kau Cho Kyuhyun, jangan mencari kesempatan terhadap saengku.” Teuki berdiplomasi eh salah memberi nasihat kepada orang tersebut sedangkan sica dan Fany hanya bisa menahan tawa.

Saat menyantap hidangan pun tiba. Semua larut dalam kegembiraan malam itu. Mereka menikmati BBQ dengan wajah ceria, seperti sedang merasakan BBQ terenak di dunia. Setelah selesai mereka menuju ruang tengah untuk bersantai. Sang Ahjuma-kepala maid dikeluarga Choi-datang memberi tahu kalau Choi Kiho ayah dari Choi siblings menelfon. Dan ingin bicara dengan teuki. Segera saja yang bersangkutan mengangkatnya.

“Apa kau bahagia hari ini nona hwang?” tanya siwon saat mereka sedang berbincang di balkon

“Ne, sangat bahagia. Aku sudah membayangkan bagaimana jika kau yang memakaikan kalung seperti yang dilakukan Teuki oppa pada Jessica eonie Tuan Choi”

“Bagaimana kalau aku tidak bisa?” pertanyaan siwon membuat tiffany mengerutkan keningnya.

“Maksud oppa?”

“Bagaimana kalau aku tidak bisa melakukan hal itu?”

“Mengapa tidak?”

“Dengan kondisiku seperti saat ini, mungkinkah kau akan bahagia fany-ah? Aku hanya takut semua kebahagianmu terenggut untuk__”

“Aku tidak melihat oppa dari sisi manapun. Aku mencintai seorang Choi Siwon. Mencintai semua yang ada pada dirinya” sebelum siwon menyelesaikan kata-katanya, tiffany sudah menciumnya lembut. Aneh untuk dilakukan oleh seorang yeoja, namun sebagian darah amerika mengalir pada gadis pirang tersebut.

“Gomawo Fany-ah jeongmal gomawo”

*end Author POV*

*Jiwon POV*

“Dengan kondisiku seperti saat ini, mungkinkah kau akan bahagia fany-ah? Aku hanya takut semua kebahagianmu terenggut untuk__”

“Aku tidak melihat oppa dari sisi manapun. Aku mencintai seorang Choi Siwon. Mencintai semua yang ada pada dirinya” sebelum siwon oppa menyelesaikan kata-katanya, tiffany eonnie sudah menciumnya lembut.

“Gomawo Fany-ah jeongmal gomawo”

Hati saudara mana yang tidak miris mendengar nada keputus asaan kakaknya. Aku mengerti dengan perasaan siwon oppa sekarang. Mungkin jika aku ada dipisisinya saat ini yang kulakukan hanya menangisi keadaanku.

“Hey, what’s wrong?” kutelahkan pandanganu

“Nothing,” jawabku singkat.

“Aku mengenalmu Nona Choi, tell me” desaknya

“Arra, you understand me so well kyunie”

“Hey panggil aku oppa, tidak sopan”

“Tsk, baiklah Cho Kyuhyun oppa” aku mulai menceritakan semua yang mengganjal. Ternyata sebuah ide pun muncul untuk mengembalikan, ah ralat menghibur siwon oppa.

“Sepertinya sebuah ide baru saja singgah di kepalaku oppa”

“Apa itu?” aku menyuruhnya mendekat dan membisikkan sesuatu.

“Aiigo, sepertinya kalau sedang jatuh cinta dunia serasa milik berdua ya fany” oh god, siwon oppa datang di saat yang tidak tepat.

“Seperti kau tidak saja hyung” haha kena kau oppa

“Oppa aku pinjam Fany eonnie sebentar ya. Aku ingin meminta bantuannya untuk memilihkan busana yang pas untuk pesta ulang tahun temanku nanti malam”

“Mwo? Kau sudah fashionista jiwon. Apa gaun dilemari kacamu sudah tidak ada yang berminat?” sepertinya fany eonie sedikit curiga.

“Eh? Bukan begitu.. tapi__”

“Arra. Fany temanilah nona muda kita. Kurasa ia tak hanya ingin minta pendapatmu tentang fashion hanya untuk pergi ke pesta.” Sial. Oppa ku yang satu ini awas saja dia

“Haha, kajja. Kita buat kyunie mu tidak berkedip dan lupa bernafas”

“Eooniie.!” Sepertinya ketiga orang disini kompak membuatku malu. Baiklah, Choi Jiwon, hwaiting, demi oppa mu.

*end Jiwon POV*

*Siwon POV*

“Oppa maaf, hari ini aku harus memeriksa laporan keuangan di kantor appa.”

Itulah pesan singkat yang fany kirimkan padaku. Kesal? Tidak. Hanya saja tidakkah ia ingat sekarang hari apa.? Rabu oke, benar. Maksudku ini adalah anniversary kami. Dan jujur mood ku sudah dibuat hancur oleh semua orang. Tidak ada yang memberi selamat sama sekali. Menenangkan diri dengan berkeliling kota Seoul sepertinya ide yang bagus. Kini aku sudah tak memerlukan kursi roda lagi untuk bergerak. Hanya menggunakan sebuah kruk yang membantu menjaga keseimbangan saat aku berjalan.

“Mari saya bantu tuan muda” kata Pak Tan saat aku hendak masuk ke mobil

Tujuanku adalah kawasan Gangnam. Entahlah aku ingin mengunjungi salah satu departemen store keluargaku. Sekaligus ingin membeli sesuatu untuk Fany, walaupun aku tidak yakin bisa memberikannya hari ini.

“Selamat datang Choi sajangnim, adakah yang yang bisa kami bantu?” tanya salah satu staffku

“Aku hanya ingin melihat-lihat saja. Bagaimana keadaan selama aku tidak ada?”

“2 hari di awal anda absen, saham kita anjlok tuan, investor ragu dengan CEO baru yang menjabat sementara”

Aku menyerngit “Lalu bagaimana?”

“Sajangnim tidak perlu khawatir. Setelah mereka tau siapa CEO itu saham kembali stabil bahkan sempat mengalami peningkatan nilai beli”

“Benarkah? Nuguya?” tanyaku

“Seorang yang cukup berarti untuk sajangnim”

“Ne?” aku dibuat bingung sendiri. Namun staffku tersebut hanya tersenyum. Waktu terasa begitu cepat, tanpa kusadari malampun tiba. Aku memutuskan untuk istirahat sebentar di salah satu foodcourt sambil memesan waffle dan espresso. Kuedarkan pandanganku. Sampai retinaku menangkap sosok yang tidak asing.

Itu Tiffany.!

Tapi siapa yang bersamanya? Seorang namja..??

Karena terlalu terkejut aku langsung bangkit dari tempat duduk dan hendak melangkah tanpa menggunakan kruk….

BRAK…

Oh choi siwon kau sungguh menyedihkan. Beberapa orang membantuku berdiri, setelah berterima kasih aku langsung meninggalkan tempat itu. Saat hendak menyusul orang yang kalau tidak salah fany itu, tiba-tiba seluruh lampu disekitar tempatku padam. Oh tuhan apa sebeginikah kau menguji aku? Tapi anehnya ada secercah cahaya yang membentang lurus menuju kawasan terbuka departemen store ini. Aku bisa melihat sekumpulan orang berdiri disana

DUAR…DUAR…DUAR..

Letusan kembang api menghiasi langit untuk beberapa saat. Setelah menyesuaikan dengan cahaya aku bisa melihat..

“Teuki hyung, Jiwon, Sica dan kyuhyun” gumamku. Dan sedetik kemudian seorang yeoja berambut pirang muncul dengan dress panjang yang anggun. Tiffany.

“Happy anniversary oppa” ucapnya lembut. Aku masih sulit untuk mencerna semua ini. Apakah mereka yang melakukan ini? Membiarkanku sendiri dirumah dan menyiapkan sebuah kejutan? I can’t believe it

“Apa kau tidak menyukainya siwon hyung?” suara kyuhyun membawaku kembali dari lamunanku.

“Tidak ada alasan bagiku untuk menolak ini semua. Hanya saja otakku serasa berhenti bekerja dengan semua ini” tiffany memelukku.

“Maafkan kami, tapi sepertinya ini berhasil membuatmu tersenyum bukan oppa?” aku mengangguk dan membalas pelukannya. Tiba-tiba ia melepas pelukannya

“Oppa, kau kenapa?” tanyanya sambil memperlihatkan lenganku yang memar dan mengeluarkan sedikit darah

“Oh.. err tadi aku sempat terjatuh saat di food court”

“Tejatuh?” ups sepertinya aku salah bicara.

“Bukan hal yang serius, aku hanya lupa menggunakan kruk saat akan berjalan. Oh ya fany aku punya sesuatu untukmu” aku mengeluarkan sebuah kotak dari dalam kantong jas ku.

“Mungkin ini sangat tidak romantis, tapi lihatlah benda itu saat kau rindu padaku”

Aku memberinya sebuah kotak musik kecil.

“Gomawo oppa, aku juga punya sesuatu untuk mu” kemuadian staff yang menemaniku tadi membawa sebuah kotak.

“Apa ini?”

“Bukalah oppa,” aku membukanya. Sebuah syal berwarna abu.

“apa kau membuatnya?” tanyaku. Fany hanya mengangguk lalu memakaikannya.

“sebenarnya ini bisa selesai dalam waktu 1 bulan. Tapi berhubung aku sibuk dengan hyundai, maka baru terselesaikan setelah 3 bukan”

“Tunggu? Hyundai maksudmu?”

“Tiffany lah yang menghandle perusahaan ini selama kau sakit siwon.” Pernyataan teuki hyung membuatku terkejut.

“Ini lah orang yang saya ceritakan tuan, bukankah dia adalah orang yang berarti dalam hidup tuan?” kata staffku.

Aku memeluk tiffany erat. Entahlah lidahku terasa kelu untuk mengeluarkan sepatah kata. Semua yang dilakukan Tiffany membuatku semakin beruntung memilikinya. Yeoja cantik anggun dan dewasa. Aku mencintainya, sangat.

“Saranghae Tiffany” aku mendekatkan wajahnya dan

“Ehm… bisakah kalian melakukannya di tempat yang lebih privasi?”

“Apakah sifat evil kyuhyun menular padamu jiwon?” tanyaku

“Mwo? Hyaa..harusnya oppa berterimakasih karena akulah yang memberikan ide ini” aku menatap tiffany. Ia hanya tersenyum

“Tapi hanya sampai membuatmu kesal dan mati kebosanan oppa. Sisanya adalah ide Tiffany Eonie” urgh.! Kalau saja tiffany tidak cepat menahan lenganku pasti sudah tamat si jiwon.

“Sudahlah, Sica,Jiwon dan kyuhyun ayo kita pulang. Biarkan Siwon dan Fany menghabiskan waktunya berdua”

“Kajja.” Dan akhirnya hanya aku dan tiffany yang menikmati dinner romantis ini.

*end Siwon POV*

*Author POV*

Siwon dan Fany menikmati keindahan langit malam. Ini adalah malam yang sangat indah dan berkesan bagi keduanya.

“Apa kau bahagia?” tanya siwon

“Selama disampingmu, aku selalu bahagia oppa”

“Jeongmal saranghae, Stephanie Hwang”

“Nado saranghae Andrew Choi” dan detik berikutnya mereka berciuman lembut dan semakin lama semakin panas. Mereka melepas tautan mereka saat pasokan oksigen semakin menghimpit paru-paru mereka.

DRRT…DRRRT..DRRTT

Siwon segera meilihat smartphonenya yang bergetar. Dan seketika rahangnya mengeras.

“Something happen in Manhattan, Fany-ah…” ujarnya bergetar.

 

 

Love in Hurts-3

At Incheon Airport, Seoul.

*Author POV*

“Jaga kesehatanmu siwon, Jiwon. Aku hanya sebentar, saat aku kembali aku tidak mau ada masalah. Arraeso?” Teuki memberi nasihat kepada kedua dongsaengnya. Sedangkan yang diajak bicara hanya mengangguk sambil tersenyum.

“sampaikan salamku pada eomma dan appa hyung” Kata siwon sambil memeluk hyungnya sebelum dia berangkat ke New York. Ya kalian pasti masih ingat saat Teuki menerima telfon dari sang Appa yang mengatakan bahwa dirinya membutuhkan Teuki. Dan disinilah pewaris dari keluarga Choi tersebut berada. Siap berangkat ke new york untuk membantu sang Appa mengurus pusat perusahaan karena sang Appa harus pergi ke Prancis mengurus cabang perusahaan yang sedang ada sedikit masalah.

“Ne. Ingat Siwon, kau jangan terlalu lelah, jangan pulang terlalu malam karena kau belum sembuh betul.” Teuki mengingatkan Siwon. Karena untuk sementara siwonlah yang akan menghandle perusahaan Hyundai Grup yang di Seoul.

“Kau tenang saja oppa aku akan mengingatkan Siwon Oppa” kata Jiwon.

“Baiklah, aku berangkat sekarang. Bye” kata Teuki sambil mulai berjalan menuju Boarding pass. Siwon dan Jiwon melambaikan tangan pada Teuki.

Pagi yang cerah mewarnai kota Seoul. Menandakan awal untuk segera memulai beraktifitas. Seorang namja tampan tampak sibuk memasang dasinya di depan cermin. Hari ini adalah hari penting baginya. Dia akan bertemu mulai hari pertamanya bekerja untuk menggantikan Teuki sementara. He’s Choi Siwon. Setelah rapi dia segera turun untuk sarapan.

Jiwon duduk dengan satai sambil sibuk dengan tombol di BlackBerry Bold 9300nya. Siwon yang baru dating langsung berdeham membuat Jiwon menghentikan aktifitasnya dan kembali ke tujuan mereka duduk disana. Yaitu sarapan.

 

*Siwon POV*

Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di posisi utama perusahaan appa. Menggantikan Teuki hyung. Setelah rapi dan siap aku segera turun ke bawah, bergabung dengan Jiwon untuk sarapan.

Lasagna dan segelas capucino menyambut perutku. Ya aku memang lebih menyukai masakan barat untuk sarapanku. Kulihat Jiwon tidak fokus makan.

“Kau kenapa Jiwon?” tanyaku setelah menelan sesendok Lasagna.

“tidak oppa, aku hanya merasa sarapan kita semakin sepi. Padahal biasanya kan ada Teuki Oppa” Jiwon menjelaskan panjang lebar. Seketika aku baru menyadari sesuatu. Yaitu perasaan rindu Jiwon terhadap orang tua kami. Aku bangkit dan segera memeluknya. Kurasakan Jiwon bergetar menahan tangis.

“Mian, oppa tidak peka terhadap perasaanmu. Sebenarnya oppa juga merindukan eomma dan appa. Tapi kita harus mengerti bagaimana kesibukan mereka.” Aku menjelaskan dengan hati-hati kepada Jiwon. Kuangkat wajahnya agar ia menatapku, dan ya tuhan. Aku tidak tega melihat wajah chubbynya berlinang air mata.

“Jangan menangis ne.? Nanti oppa traktir kau makan cupcakes. Bagaimana.?” Tawarku seraya menghapus air matanya. Dia hanya mengangguk.

“Morning, apa aku terlambat untuk ikut sarapan?” seru seseorang

“Fany eonnie.!”

“Hehehe, mianhae aku kemari tanpa memberitahu terlebih dulu. Sejujurnya, this is urgent plan”

“Gwenchana, kami tidak keberatan fany” ucapku. Ia berjalan kearahku dan memeberi kecupan singkat pada pipi kananku.

“Oh, tsk. Bisakah kalian tidak mengumbar kemesraan?”

“Evil.!!” Teriak jiwon yang langsung berhambur memeluk kekasihnya tersebut

“Mengapa bisa kebetulan seperti ini?!” tanya ku bingung.

“Kami semua membaca pesan yang Jiwon broadcat pada kami wonnie” jawab Fany

Aku beralih pada Jiwon yang tersenyum tanpa dosa. Akhirnya pagi itu kami sarapan bersama. Suasana terasa lebih hangat. Setelah sarapan kami bersiap untuk berangkat menuju tempat tujuan masing-masing.

“baiklah kajja kita berangkat, kalian tahu kan ini hari pertama oppa bekerja.?! Jadi aku tidak mau terlambat.” Kataku seraya mengambil tas kerjaku.

“arraeso, ayo oppa kajja” kata Fany. Fany membawa mobil sendiri. Aku harus mengantar Jiwon terlebih dahulu

“nanti kau pulang sendiri atau dijemput.?” Tanyaku saat sudah sampai di gerbang sekolahnya.

“aku pulang bersama seohyun oppa” katanya sambil membuka setbelt.

“baiklah, hati-hati” kataku kemudian meninggalkan sekolahnya dan menuju kantorku.

*end Siwon POV*

*Author POV*

Tepat di jantung kota Seoul berdiri megah sebuah gedung dengan 27 lantai. Itulah gedung dari cabang Hyundai Grop di Seoul. Seorang namja tampan keluar dari mobil sedan altisnya. Dia berjalan dengan gagahnya. Setelah menyapa pegawainya namja tadi menuju ruang kerja barunya. Sebuah ruangan yang luas dan sangat elegan. Di meja kerja ruangan tersebut tertulis “Direktur Choi Siwon”. Yang tertulis namanya disana sedikit terkekeh. Ia mulai hari pertamanya itu dengan mengecek berkas-berkas, menandatangani kontrak, meeting dengan kolega dan lainnya. Siwon merasakan bagaimana hyungnya lelah menghadapi semua ini. Karena, jujur saja ia merasa lelah setelah setengah hari bekerja.

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 12.30 yang berarti sudah masuk jam makan siang. Tapi siwon sepertinya belum mau meninggalkan setumpuk dokumen-dokumen penting. Padahal ia masih harus meminum obat yang diberikan oleh Dr. Kim untuk penyembuhan penyakitnya. Namun apa daya, sifat perfeksionis siwon membuat ia lupa akan hal itu.

Gadis cantik turun dengan balutan busana kantor dari mobil sedan Toyota Alphard hitamnya. Dia melangkahkan kakinya memasuki sebuah gedung megah. Semua karyawan yang melewatinya membungkuk member hormat. Gadis itu membalas sapaan para karyawan dengan ramah yang menampilkan eyesmilenya. Dia segera memasuki ruangan yang sedikit jauh dari keramaian. Sebuah ruangan yang lumayan besar, mewah dan elegan. Di depan ruangan tersebut bertuliskan “Direktur Choi Siwon”.

Perempuan tadi adalah Tiffany. Hari ini Fany sengaja datang ke kantor Siwon untuk membawakannya makanan yang ia buat khusus untuk kekasihnya.

 

Tok..tok..tok..

 

“Masuk” terdengar Siwon dari dalam.

Saat Fany masuk Siwon sedang sibuk dengan segunung dokumen di mejanya. Hingga Siwon tidak menyadari kehadiran Fany. Sebuah ide muncul dikepala Fany. Dengan hati-hati Fany mendekati Siwon dan langsung mengeprak (?) mejanya. Sontak siwon langsung mendongak dan terkejut saat Fany tiba-tiba ada diruangannya. Langsung saja siwon bangkit dan menghampiri kekasihnya.

*end Author POV*

*Fany POV*

Setelah kemarin Teuki Oppa berangkat ke New York, otomatis hari ini Siwon Oppa mulai menggantikannya di kantor. Pagi tadi aku disibukkan dengan rencanaku untuk membuat bekal makan siang untuk siwon oppa. Di rumah aku dibantu oleh Ahn Ahjumma membuat masakan untuk siwon oppa. Dan saat masuk waktu makan siang aku langsung menuju kantornya. Aku yakin siwon oppa pasti belum makan dan meminum obatnya. Mengingat sifatnya yang perfeksionis dalam melakukan segala hal.

Benar saja, dia masih sibuk dengan dokumen-dokumen penting. Bahkan dia tidak menyadari kehadiranku. Namun setelah melakukan sesuatu yang memberinya surprise dia langsung menghampiriku. Saat akan memelukku kulihat dia meringis kesakitan sambil memegangi lengan kanannya.

“oppa gwenchana.?” Tanyaku panik sambil menuntunnya duduk di sofa.

“nan gwenchana” jawabnya setelah berhasil mengatur nafasnya.

Bulir-bulir keringat dingin menghiasi wajah tampannya. Aku segera duduk sambil membuka bekal makan siang yang kubawa.

“Oppa, kau pasti belum minuman obat?” tanyaku penuh selidik. Dia hanya tersenyum sambil mengangguk.

“Baru sehari oppa bekerja sudah begini. Kapan kau akan sembuh kalau begini terus oppa?” kataku sedikit kesal. Dia mendekat

“mian changiya, tapi tadi banyak sekali dokumen yang harus oppa kerjakan. Kau tau sendiri kan ini hari pertama oppa bekerja.” Jawabnya. Aku hanya menggelengkan kepala, memang aku sudah hafal betul sifatnya yang perfeksionis

dalam melakukan pekerjaan.

“Fany-ah..”

“Ne oppa waeyo?”

“Aku mau disuapi..” rajuknya. Aku tidak terkejut dan memandangnya malas. Apa ia tidak malu bila dilihat salah satu karyawannya?!

“Ayolah Fany,.” Rajuknya lagi karena merasa diacuhkan.

“Arra, kalau begitu aa..” dan akhirnya siwon oppa menyelesaikan makan siangnya setelah aku menuruti permintaan untuk menyuapinya.

“Setelah ini kau kembali ke kantor?”

“Hmm, begitulah. Masih banyak pekerjaan”

“Baiklah, hati-hati. Saranghae” ucapnya sambil membawaku ke pelukannya.

“Nado saranghae, jangan terlalu lelah. Kau belum pulih oppa”

“Ne, ny. Choi” blush. Jujur aku bukan lagi gadis remaja yang baru mengenal cinta. Tapi jika sudah begini siapa yang tidak malu?

*end Fany POV*

*Author POV*

Sementara itu, di sebuah Rumah bergaya eorpa yang berdiri megah di kawasan elit New York, Teuki melangkahkan kakinya menuju rumah orang tuanya tersebut. Dia sudah disambut puluhan pelayan. Rumah besar ini sepi sekali, karena memang Mr. & Mrs. Choi sedang pergi ke luar negeri untuk mengurus masalah bisnisnya. Teuki langsung menuju kamarnya yang terletak di Lt. 2. Sebuah kamar yang besar dan elegan dengan nuansa coklat. Sebuah tempat tidur King-Size yang diapit 2 meja nakas berhiaskan ukiran mewah dan LCD TV yang menghadap langsung ke tempat tidur tersebut. Di sudut ruangan nampak meja yang berisi pigura foto keluarga choi, Teuki maupun Jessica.  Setelah puas bernostalgia dengan kamarnya, Teuki pun memutuskan untuk mandi.

Udara di kota New York sedang dingin-dinginnya. Karena memang sekarang sedang masuk musim dingin. Suhunya bisa mencapai -17 derajat celcius. Kalau malam hari bisa lebih rendah lagi. Namun itu bukan hal yang menghalangi kota ini pada malam hari, kota dimana dia dibesarkan saat kecil. Malam ini dia menyusuri kawasan New York karena besok pagi dia bekerja. Namun sesuatu mengganjal dihatinya. Dia seperti memiliki firasat buruk terhadap kedua dongsaeng yang ia tinggal di Seoul. Apalagi saat ia mengingat kalau siwon belum sembuh benar dan masih harus menjalani terapi. Sejujurnya ia menyesal menugaskan siwon menggantikan posisinya. Tapi keyakinan siwon saat menerima pekerjaan tersebut membuatnya berpikir dua kali. Akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya yang terletak di kawasan Park Avenue, Manhattan.

 

Kembali ke seoul, seorang gadis remaja sedikit berlari memasuki salah satu kelas di sekolahnya. Dia hampir terlambat untuk mengikuti pelajaran tambahan. Tapi beruntung dia masih ingat waktu saat kumpul bersama temannya di cafetaria sekolah sambil menunggu kelas ini. Jiwon memasuki kelas tersebut, dan segera duduk di samping namja berambut coklat dengan kulit pucatnya. Siapa lagi kalau bukan cho kyuhyun, namjachingunya sendiri.

*end Author POV*

 

*Jiwon POV*

Omo.! Hampir saja aku terlambat mengikuti kelas Park Songsaenim. Guru yang sudah memiliki imej devil dikalangan siswa Shinwa Senior High School. Tapi ternyata masih ada sedikit keberuntungan untukkku. Mr. Park datang sedikit terlambat. Akupun segera menuju kursi yang sudah ada Kyu Oppa disampingnya. “Aish jinja, kau ini” katanya setelah melihatku duduk disampingnya sambil membuka iPad untuk memudahkan belajarku nanti. “Mian oppa tadi Seouhyun sedang bercerita dan..” ucapanku terputus seketika saat melihat seorang pria paruh baya dengan tatapan killernya masuk ke kelas kami sambil membawa Tablet PC-nya. Dengan masuknya Mr. Park menandakan dimulainya kelas Fisika yang sangat menyebalkan ini.

Saat Mr. Park selesai menjelaskan, beliau memberi intruksi pada kami untuk mengakses soal bab tersebut. Setelah selesai, iapun keluar. Aku yang sedari tadi membacanya sudah mengerjakan 15 dari 30 soal yang ada. Akupun mengeluarkan ponselku untuk memberitahu siwon oppa kalau aku akan pulang sedikit terlambat karena pelajran tambahan ini. Dan juga setelah dari sekolah aku ingin menjenguk Narra yang sedang opname karena tifus. Setelah selesai mengetik pesan kumasukkan kembali BlackBerry ku, dan fokus kembali ke pelajaran.

Akhirnya kelas berakhir tepat pukul 8 malam, aku segera masuk ke mobil Kang Ahjussi yang sudah menunggu di depan sekolah. Akupun segera menuju rumah sakit tempat dimana Narra dirawat. Sepanjang perjalan pikiran ku tertuju pada siwon oppa, aku merasa akan ada hal buruk yang menimpanya. Apalagi jika ia nekat mengemudikan mobil Altis tersayangnya pada malam hari, bagaimana jika penyakitnya kambuh,?! Eothhe.? Kuputuskan untuk mengirim pesan singkat untuknya.

“Oppa jangan pulang malam Ne.? Pokoknya saat aku sampai dirumah oppa harus sudah di ruang TV menungguku. Arraeso.? ^^” akupun menekan tombol send dan tidak lama oppa pun membalas pesanku

“ne arraeso nona choi ^^” akupun merasa sedikit lega sekarang.

*end Jiwon POV*

*Siwon POV*
Aku memijat pelan pelipisku yang berdenyut karena seharian ini berhadapan dengan dokumen dan meeting bersama 2 investor penting aku jadi bisa membayangkan bagaimana Teuki Hyung mampu seperti ini setiap hari. Aku melihat sudah pukul 9 malam. Akupun segera membereskan meja dan merapikan dokumen penting. Namun saat akan mengambil jas , aku merasa sakit di bagian lengan kananku. Ah ini pasti karena aku terlambat minum obat. Seharusnya aku sudah meminumnya 3jam yang lalu. Tapi tidak hanya sakit yang kurasakan pada lenganku, kepalaku juga serasa berdenyut dan mulai berkunang-kunang. Aku memutuskan untuk duduk sebentar sambil mengurangi rasa sakit ini.

Setelah 15 menit menunggu, sakit ditubuhku ini tak kunjung hilang. Akupun memutuskan untuk menghubungi supir Kang menjemputku di Kantor. Akan sangat beresiko jika aku tetap memaksakan diri mengemudi mobil sediri. Aku mengeluarkan iPhone 4s dari kantong celanaku dan segera menekan nomor supir kang.

“yoboseo Tuan muan muda?” jawab supir kang

“yoboseo pak kang, bisakah anda menjemput saya di kantor.? Saya merasa kurang sehat untuk menyetir sendiri.” Tanyaku

“Nde Tuan Muda” setelah supir kang mengiyakan aku memutuskan sambungannya. Aku berjalan sedikit terhuyung karena menahan sakit di lengan dan kepalaku yang masih berdenyut. Saat di pintu keluar aku sudah tidak kuat dan hampir saja jatuh jika tidak berpegangan pada meja informasi. Akupun menuju parkiran dimana supir kang menunggu.

Saat melihatku berjalan terhuyung, supir kang berlari mendekat dan membantuku masuk ke mobil.

“Gomawo pak kang” ucapku setelah duduk dimobil, ku sandarkan badanku di jok mobil.

“Cheomayo Tuan muda, tapi wajah tuan muda nampak pucat sekali. Apa sebaiknya kita ke rumah sakit.?” Tanya pak kang yang terlihat cemas.

“Gwenchana, kita pulang saja. Mungkin aku sedikit kelelahan.” Kataku menenangkan. Diapun hanya menangguk dan mulai menjalankan mobil menuju rumah kami. Saat diperjalanan sakit di lengan dan kepalaku berangsur-angsur mereda.

Setelah sampai dirumah aku langsung menuju kamarku, saat di tangga aku berpapasan dengan seorang maid.

“apa Jiwon sudah datang.?” Tanyaku

“Belum tuan muda” jawabnya sopan. Akupun mengangguk kembali menuju kamarku untuk mandi. Kamarku nampak gelap, aku menyalakan saklar utama. Setelah terang akupun menaruh tas kerjaku di meja, dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena aku merasa sangat gerah.

Setelah rapi akupun keluar dari Walk-in-closet kamarku. Tapi aku kembali merasa sakit di lenganku bahkan lebih sakit. Nafasku pun terasa sangat berat. semua kutahan saat mendengar suara mobil yang kuyakini itu jiwon. Akupun memaksakan diri keluar kamar dan turun untuk menyambutnya. Semuanya semakin sakit, bahkan aku mulai kesulitan bernafas saat menuruni tangga pertama aku merasa lemas dan terakhir aku hanya merasa kepalaku sangat sakit.

*end Siwon POV*

*Fany POV*

Sedari tadi pikiranku merasa tidak enak. Kuputuskan untuk keluar kamar dan mengambil segelas air. Namun PRAANG tiba-tiba saja gelas itu jatuh kelantai. Ahn Ahjumma yang kaget langsung mendekatiku dan bertanaya

“Ya ampun, nona muda ada apa.?”

“anniyo, aku merasa sesuatu hal buruk akan terjadi bi” jawabku cemas

Tak lama kemudian ponselku berdering. Jiwon-ah.? Tanyaku dalam hati, segera kuangkat panggilan tersebut.

“Yoboseo” kataku

“Eonie, Siwon oppa hiks…” kata Jiwon terbata-bata karena menahan tangis. Ya tuhan semoga tidak terjadi apa-apa pada siwon oppa.

“Waeyo Jiwon.? Katakan pada onie” kataku pada Jiwon.

“Siwon oppa terjatuh dan sekarang dalam perjalan ke rumah sakit. eonnie aku takut”

DEG

Segera aku berlari dan megambil mobil di garasi. Tak peduli dengan busana yang ku kenakan sekarang. Di benakku hanya ada siwon oppa. Setelah mengkonfirmasi rumah sakit mana siwon oppa akan dibawa aku pun langsung melajukan mobilku.

Sesampainya dirumah sakit aku berlari kalang kabut ke Ruang UGD. Aku melihat Jiwon duduk sambil menekuk lututnya. Aku mendekatinya dan dia menatapku. Wajah cantiknya berlinang air mata. Segera kupeluk tubuhnya, dia menangis terisak. Setelah tenang, akupun meminta dia bercerita bagaimana hal ini bisa terajadi. Dia pun mulai menceritakan kronologinya.

 

FLASHBACK

Setelah menjenguk Narra, Jiwon pun segera pulang. Karena tadi Siwon sudah mengirim pesan bahawa ia sudah di rumah. Akhirnya Jiwon sampai dirumah. Iapun masuk ke dalam, namun baru sampai di depan pintu utama rumahnya, Jiwon melihat siwon berjalan terhuyung menuruni tangga. “Oppa.!!” pekiknya saat melihat siwon terjatuh dari lantai 2 rumah mewah tersebut. Ia pun berlari untuk menolongnya, namun terlambat. Jiwon mengangkat kepala Siwon ke pangkuannya. Pelipis Siwon mengeluarkan banyak darah. Jiwon pun meminta pertolongan para maid dan segera membawa siwon ke rumah sakit.

END of FLASHBACK

Satu setengah jam siwon oppa sudah berada di dalam ruang UGD. Namun belum ada seorang pun dokter yang keluar. Jiwon menghubungi Kangin Ahjussi, yang merupakan bawahan Teuki. Dimana Kangin sudah ditugaskan untuk menjaga Jiwon dan Siwon saat terjadi apa-apa ketika ia pergi. Sampai akhirnya pintu ruang UGD pun terbuka.

 

CKLEK

 

Dr. Kim melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Sontak membuat Jiwon, Fany dan Kangin menghampirinya.

“Dok, bagaimana keadaan Tn. Muda Siwon.?” Tanya Kangin.

“Mari kita bicara diruangan saya.” Ajak dokter muda tersebut.

“Dokter, bagaimana keadaan oppaku.? Apa dia baik-baik saja.?” Tanya Jiwon setelah mereka masuk ke ruangan Dr. Kim yang terlihat minimalis namun mewah.

“Jiwon, sebelumnya saya ingin bertanya. Apakah Tn. Muda Siwon sudah meminum obatnya tepat waktu.?” Tanya dr. Kim

“Molla..” jawab Jiwon

“Sepertinya tidak dok, dia terlalu sibuk dengan pekerjaan samapai lupa meminumnya. Karena tadi siang saat saya ke kantornya dia belum meminum obatnya” jawabku

“Seperti dugaan saya, penyakit Tn. Muda Siwon kambuh, dan sakitnya sudah tak terhankan sehingga menyebabkan pingsan. Mungkin itulah Tn. Muda Siwon bisa terjatuh seperti tadi.” Dr. Kim menjelaskan argumennya.

“Lalu apa yang terjadi pada Siwon oopa.?” Tanyaku cemas

Dr. Kim menghela nafas sebelum menjawab pertanyaanku. Nampak wajahnya berubah suram

“Karena benturan di kepala Tn. Muda Siwon cukup keras, menyebabkan luka dalam yang cukup serius di bagian otak kecilnya. Jeongmal mianhae, Tn. Muda Siwon….”

 

 

 

Love in Hurts-4

“Karena benturan di kepala Tn. Muda Siwon cukup keras, menyebabkan luka dalam yang cukup serius di bagian otak kecilnya. Jeongmal mianhae, Tn. Muda Siwon mengalami koma.”

 

Jdeerr

 

Semua orang yang diruangan tersebut menatap dokter tak percaya. Wajah Fany seketika memucat, sedangkan Jiwon menangis histeris ditenangkan oleh Kangin. Semua larut dalam kesedihan. Setelah cukup menenangkan diri, mereka menuju ruangan tempat dimana Siwon dirawat di Seoul Internationa Hospital ini. Jiwon yang sudah kelelahan di bawa pulang oleh kangin. Meski awalnya menolak, berkat bujukan Fany iapun luluh. Jadilah Tiffany diantar oleh dr. Kim ke ruangan Siwon.

Fany memasuki sebuah ruangan VVIP dirumah sakit tersebut. Ruangan tersebut luas dengan sebuah ruang tamu, tempat tidur pasien dan tempat tidur penunggu. Bahkan ruangan ini lebih dikategorikan seperti hotel. Memang Jiwonlah yang merservasi agar oppanya mendapat perawatan yang terbaik. Hal itu bukan masalah besar mengingat investor terbesar rumah sakit ini merupakan Tn. Choi Kiho. Fany mendekati ranjang pasien dimana siwon terbaring. Bagian pelipis Siwon ditutup perban. Masker oksigen menutupi wajah tampannya, tangan kanannya digips untuk membenahi posisi patah tulangnya. Disampingnya terdengar teratur nada dari mesin kardiografi. Fany membelai lembut rambut kekasihnya. Bulir-bulir kristal mulai membasahi pipi mulusnya. Fany meraih tangan siwon yang terinfus, di genggamnya tangan kekar itu. Air mata Fany membasahi tangan siwon. Akhirnya Fany pun tertidur sambil menggenggam tangan siwon.

*end Author POV*

 

3 hari kemudian.

 

*Fany POV*

Siang ini, pekerjaan di kantor membuatku penat. Semuanya terasa hampa tanpa siwon oppa. Ya, siwon oppa masih terbaring koma di rumah sakit. Setelah semua urusan di kantor selesai akupun memutuskan untuk mengunjungi siwon oppa. Namun, aku melihat bunga lily putih kesukaan siwon oppa. Jadi aku berhenti sebentar untuk membelinya.

Aku berjalan menuju lift. Ruangan siwon oppa terletak di lantai 4 rumah sakit ini. Aku menenangkan diri sebentar din depan pintu kamarnya. Setelah siap barulah aku masuk. Ku lihat ada eomma dan appa siwon sedang duduk disamping ranjang siwon. Sedangkan Teuki oppa sedang sibuk dengan dokumen yang sengaja ia kerjakan di rumah sakit sambil menunggu siwon siuman. Tepat sehari setelah siwon oppa dibawa ke rumah sakit, Jiwon memutuskan untuk menelfon Teuki oppa. Aku tidak tau bagaimana orang tua siwon juga bisa tau. Saat aku mendekat eomma siwon yang pertama melihat kehadiranku langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiriku

“Kau sudah datang? Bagaimana pekerjaanmu?” sungguh aku merasa sosok Ny. Choi begitu hangat

“Ne eomma, semua lancar” jawabku sambil tersenyum.

“Baiklah. Kau mau menjaga siwon sebentar kan.? Aku dan appanya harus pulang untuk mengambil beberapa pakaian. Biar teuki tetap disini untuk membantumu jika terjadi apa-apa” pesannya

“pulanglah eomma, kau pasti sangat lelah. Aku akan menjaga siwon oppa. jika dia siuman aku pasti akan menghubungi eomma” kataku.

“arraeso, yeobo ayo kita pulang”

Setelah berpamitan, tinggalah aku dan Siwon oppa diruamngan ini. Karena teuki sedang mengantar eomma dan appa siwon.

Aku mengambil sebuah washlap dan kucelupkan ke dalam air hangat. Perlahan aku mulai membasuh wajah siwon oppa. Pipinya tirus dan terlihat pucat, namun itu tak mengurangi ketampanan seorang Choi Siwon. Setelah selesai akupun menata bunga lily yang tadi ku beli. Kuajak siwon oppa bercengkrama meskipun aku tau, ini akan menjadi pembicaraan satu arah. Namun inilah kebiasaanku selama 3 hari terakhir. Berusaha membuat siwon oppa sadar.

“Oppa apa kau tidak mau membuka matamu?”

“……”

“apa kau tidak ingin melihat bunga lily yang indah ini?”

“…..”

“kau tau oppa, semua orang mengkhawatirkan oppa. Lihatlah eomma dan appa mereka langsung ke Seoul dari prancis” Kataku sambil menggenggam tangannya. Air mataku mulai jatuh. Oh tuhan, ku mohon sembuhkan siwon oppa.

*end Fany POV*

*Teuki POV*

Setelah mengantar eomma dan appa, aku kembali ke ruangan dimana siwon dirawat. Kalian pasti bertanya bukan, mengapa orang tua kami bisa tau.?!

FLASHBACK

Saat tengah meeting dengan kolega appa, hp ku berdering. Saat kulihat, ternyata Jiwon. Aku mengabaikannya, karena meeting ini lebih penting. Ketika pulang ke rumah aku baru ingat, kalau tadi siang Jiwon menghubungiku. Akhirnya aku menghubungi Jiwon.

“yoboseo” katanya dengan suara parau

“yoboseo Jiwon, kenapa dengan suaramu? Apa kau sakit.?”

“oppa..hiks..siwon oppa dia..” dia menjawab sambil menangis.

“ada apa.? Apa yang terjadi.?” Tanyaku panik

“siwon oppa dia terjatuh dan sekarang sedang koma”

Deg

“Siwon koma.?” Kataku mengulangi

PRAAANG

Kubalikan badanku dan mendapati eomma berada di depan kamarku. Aku segera menghampirinya.

“Eomma “ pekikku.

“katakan, apa benar yang eomma dengar itu?” kata eomma.

Akhirnya akupun tidak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama. Akupun menceritakan kondisi siwon yang sebenarnya. Dan saat aku selesai menjelaskannya Eomma dan Appa langsung berangkat ke seoul dengan Jet pribadi mereka.

FLASHBACK END

Aku melihat Fany tertidur sambil menggenggam tangan siwon. Sungguh miris melihat keadaan keluargaku sekarang. Aku mendekati ranjang siwon. Bahkan sampai detik ini siwon belum menunjukan perubahan yang signifikan. “cepat bangun Siwon, semua orang menunggumu sadar” aku berbisik tepat di sampingnya. Sebuah cairan kristal turun di pipi Siwon. Dan tak lama setelah itu bunyi mesin kardiografi sedikit berbeda.

“Siwon, apa yang terjadi?” kataku kaget. Fany pun bangun.

“Oppa ada apaa? Lihat, detak jantung siwon oppa tidak stabil” katanya.

Akupun langsung memanggil dokter. Tak beberapa lama, bebrapa dokter ahli pun masuk. Sedangkan aku dan Fany menunggu di luar.

Setelah melakukan pemeriksaan Dr. Kim pun menjelaskan kalau hal itu terjadi karena siwon mendapat rangsangan perasaan dari luar. Mungkinkah karena hal yang kukatakan tadi? Aku segera melihat bagaimana keadaan dongsaenku itu.

“Terimakasih oppa untuk tetap kuat” kata fany sambil menggenggam tangan siwon.

*end Teuki POV*

 

 

VVIP Room, International Hospital Seoul

23.30 KST

*Author POV*

Semua keluarga Choi, Tiffany dan Kangin berkumpul untuk menemani Siwon. Mereka semua menungggu siwon siuman. Ini adalah hari ketiga siwon koma. Fany dengan setia duduk di samping tempat tidur siwon sambil menggenggam tangannya. Perlahan ia merasakan tangan siwon bergerak.

“Oppa.!” Pekik Fany saat menyadari Siwon mulai membuka matanya.

Siwon hanya tersenyum lemah dibalik masker oksigennya. Keluarga Choi pun terbangun mendengar pekikan Fany.

“Siwon kau sudah sadar nak.?” Kata Ny. Choi mengelus lembut rambut siwon. Teuki keluar untuk memanggil dokter. Sebenernya siwon ingin mengatakan banyak hal namun dia hanya mampu tersenyum lemah karena masih merasa sakit di sekujur tubuhnya terutama bagian kepalanya.

Setelah Dr. Kim memeriksanya, Fany menyuapi Siwon bubur karena tadi namjachingun-nya tersebut mengeluh lapar. Setelah itu Appa dan Eomma mereka harus kembali ke Prancis karena sudah terlalu banyak pekerjaan yang terbengkalai. Kondisinya sudah membaik. Semua yang ada diruangn tersebut larut dalam kebahagiaan. Mereka lega siwon sudah sadar dan kondisinya membaik. Tak terkecuali Fany, yang bahagia karena namjachingu-nya tersebut sudah sadar setelah koma selama 3 hari.

*end Author POV*

*Siwon POV*

Aku merasa seperti ada benda berat yang menindih kepalaku saat membuka mata. Samar-samar kulihat Fany menggenggam tanganku. Setelah berhasil membuka mataku secara sempurna aku melihat semua keluarga mengelilingiku. Bahkan Eomma dan Appa juga ada. Ini sungguh membahagiakan karena keluargaku bisa berkumpul, nemun ada perasaan bersalah karena harus membuat orang tuaku meninggalkan pekerjaan mereka.

Setelah aku sadar, Appa dan Eomma pamit untuk kembali ke Prancis. Teuki Hyung mengantar mereka. Sedangkan Jiwon diantar oleh Kangin ahjussi pulang karena dia sangat lelah. Akupun ditemani Fany yang setia menyuapiku bubur. Bahkan aku masih terlalu lemah untuk memegang sendok. Saat Tiffany sudah selesai menyuapiku akupun berusaha untuk duduk bersandar. Namun aku merasa suatu keanehan. Aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Bukan lemas, tapi memang tidak bisa digerakkan bahkan aku mati rasa di seluruh bagian kakiku.

“Oppa kau kenapa.?” Tanya Fany karena melihat perubahan ekspresiku

“Changi, kenapa kaki ku tak bisa digerakka.?” Tanyaku

“Maksud oppa?” katanya kaget

“Kakiku tak bisa digerakkan Fany, seperti mati rasa” aku menjelaskannya sambil berusaha menggerakkan kakiku

“sebentar aku panggil dokter dulu” kata Fany.

Dr. Kim pun datang, dan mulai memeriksa kakikku. Beliau mengetuk-ngetukkan benda ke kakiku. Saat ditanya, aku tidak bisa merasakannya. Wajah dr. Kim menunjukkan ekspresi pasrah, sedih ahh sulit dijelaskan.

“Bagaimana dok? Kenapa kaki dongsaengku tidak bisa digerakkan.?” Tanya teuki hyung yang baru datang dari mengantar eomma dan appa.

“Saat jatuh dari tangga, tulang belakang Tn. Muda Siwon mengalami benturan yang cukup keras, sehingga Tn. Muda siwon mengalami kelumpuhan.”

DEG

Nafasku terasa tercekat mendengar perkataan Dr. Kim barusan.

“Apa bisa disembuhkan.?” Tanya Fany.

“Mungkin jika melakukan pengobatan di luar negri beliau masih bisa disembuhkan”

Kini aku harus menerima kenyataan pahit untuk kedua kalinya dalam hidupku. Setelah vonis penyakit yang memaksaku untuk melakukan terapi yang menyakitkan kini aku harus menerima bahwa aku akan mengalami lumpuh. Parahnya ini tidak bisa disembuhkan dengan terapi seperti penyakitku. Aku merasa hancur. Untuk apa aku hidup jika hanya membebani semua orang.

*end Siwon POV*

 

*Author POV*

“Oppa ayo makan, kau bahkan belum makan dari tadi pagi. Kau kan masih harus minum obat” bujuk Fany pada siwon.

Namun siwon tak bergeming dan masih mengamati keluar jendela dengan tatapan kosong. Memang, sejak malam dimana siwon sadar sekaligus dia mengetahui kenyataan kalau dia harus lumpuh Siwon tidak bicara pada siapapun termasuk Tiffany. Parahnya lagi dia tidak mau makan dan baru mengkonsumsi bubur pada malam sebelumnya. Padahal dia harus meminum obatnya. Fany sedih melihat namjachingu-nya begitu terpuruk. Keadaan siwon melemah karena tubuhnya yang lemah belum mendapat asupan makanan. Bahkan tangannya pun kembali tidak bisa digerakkan. Hingga sore ini, penyakit asma siwon sudah 2x kambuh. Teuki membantu Fany untuk membujuk siwon namun hasilnya nihil. Sedangkan Jiwon sedang ada study penelitian ke jepang. Hingga akhirnya pada malam harinya siwon mau makan sepotong roti meski tidak dihabiskan.

Hari ini Teuki memutuskan untuk membawa siwon pulang, mungkin suasana rumah sakit tidak mendukung untuk pemulihan kondisi siwon. Meski begitu kamar siwon, sudah disiapkan Teuki layaknya ruang perawatan dan dia sudah menyewa beberapa dokter ahli untuk berjaga dirumah. Sebuah mobil alphard putih menjemput mereka di rumah sakit. Siwon menggunakan kursi roda dibantu Teuk, sedangkan Fany membawa beberapa peralatan. Setelah siwon dibantu masuk ke mobil, mereka pun menuju kediaman Kel. Choi. Selama perjalanan suasana hening, beberapa kali Fany mengajak siwon bicara namun siwon masih tak bergeming. Siwon bahkan tak mengucapkan sepatah kata apapun setelah mengetahui kondisinya. Hingga akhirnya mereka sampai di kediaman kel. Choi yang megah.

“oppa kita sudah sampai” kata Fany sambil mendorong kursi roda siwon.

“……”

“oppa untuk sementara kamarmu berada dibawah ya, tidak apa kan.?”

“…..” hening. Namun kali ini kristal bening jatuh membasahi pipi siwon

“oppa keanapa kau menangis.?” Tanya Fany sambil menhapus air mata siwon.

Namun siwon masih belum bicara. Ia hanya memandang kedepan dengan tatapan kosong.

*end Author POV*

 

*Fany POV*

“oppa ayo makan setelah itu minum obatnya” kataku pada siwon oppa

“…..” namun ia masih tak menjawab. Dia hanya diam sambil menatap dunia luar melalui jendela kamarnya.

Sungguh ini sudah seminggu sejak siwon oppa tidak berbicara padaku. Ah ani, bahkan pada semua orang, dia membisu sejak mengetahui keadaan kakinya. Aku tidak bisa begini terus, siapa yang tak sedih melihat namjachingu-nya terpuruk. Siwon oppa begitu terpukul mengetahui semuanya. Namun aku juga tak bisa berdiam diri terus mengetahui pola makan siwon oppa berantakan. Sulit sekali untuk membujuknya makan. Bahkan tubuhnya terlihat kurus dan wajahnya sedikit pucat. Belum lagi sikapnya yang membisu seperti ini. Cukup.! Aku tidak kuat lagi dengan situasi ini. Aku meletakkan nampan yang berisi makanan dan susu untuk siwon oppa di meja nakas sebelah ranjangnya

“oppa mau sampai kapan kau akan mendiamkanku terus.? Apa kau sudah tak cinta pada ku.? Apa kau lebih memilih aku mati karena sikapmu ini.?!”

Siwon oppa menoleh kearahku, tapi kemudian expresi datarnya berubah mejadi ekspresi sedih.

“pergilah Fany, kau berhak bahagia” aku terkejut mendengar perkataan siwon oppa barusan

“maksud oppa.?”

“PERGILAH SEBELUM AKU MENJADI SEPERTI PENDERITA STROKE.! APA YANG BISA KULAKUKAN DENGAN KEADAAN KU SEKARANG SELAIN MENYUSAHKANMU.? SEMUA AKAN MEMANDANGKU LEMAH.! SEORANG NAMJA LUMPUH DAN MEMILIKI PENYAKIT. AKU TIDAK SANGGUP FANY” bentak siwon oppa sambil melempar seluruh bnda yang ada di dekatnya. Makanan yang tadi kubawapun jatuh berantakan.

Inilah titik akhir pertahanan Siwon oppa. Mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini. Tubuhnya berguncang karena menangis, segera ku rengkuh dia dalam pelukanku. Aku menenangkannya sambil tak kuasa menahan air mata melihat siwon oppa berjuang nasibnya.

END

 

 

Haha belum kok belum ._.V

 

“uljima oppa” kataku sambil mengelus lembut punggungnnya. Setelah beberapa saat ku rasakan nafas siwon oppa semakin berat tubuhnya semakin melemah di pelukanku. Aku pun membalikkan badannya, dan betapa terkejutnya aku saat melihat betapa pucat wajahnya. Tidak salah lagi, asmanya kambuh. Aku segera membaringkannya dan memasangkan oksigen yang terletak disebelah ranjangnya. Setelah nafasnya kembali teratur akupun mendekatinya.

“oppa percayalah aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan berada disisimu apapun kekuranganmu” kataku. Siwon oppa tersenyum kemudian menarikku ke dalam pelukannya. Hangat.! Kesan pertama yang kurasakan setelah lama tak mendapat pelukan seperti ini.

“terimakasih chagi” katanya terpantul masker oksigen.

*end Fany POV*

*Author POV*

Sang surya menyapa, bagai alarm alam yang setia membangunkan insan yang terlelap dalam dunia mimpi. Sinarnya mengusik tidur dua insan yang terlelap sambil saling menggenggam tangan. Mereka adalah Fany dan Siwon yang semalam sudah berhasil saling meyakinkan untuk melewati masalahnya. Siwon yang tidur sambil bersandar di kepala tempat tidurnya yang disanggah oleh bantal, sambil tetap memeluk Fany yang bersandar pada tubuh siwon. Sungguh sepasang kekasih yang berhasil lepas akan belenggu cobaan cinta.

Fany mengerjapkan matanya. Menyesuaikan dengan cahaya yang berlomba masuk ke retinanya. Setelah terbiasa iapun sadar tidur dalam posisi berpelukan dengan namjachingu-nya. Senyum tipis terukir di wajah cantik Fany, saat mendapati dirinya tengah dalam pelukan siwon. Perlahan ia berusaha melepaskan pelukan kekasihnya agar tidak membangunkan dari tidurnya. Saat sudah berhasil dan akan bangun ternyata Fany ditarik oleh Siwon kembali ke pelukannya.

“Biarkan seperti ini, I love you and this position make me so relax” bisik siwon di telinga Fany.

“As you wish Wonnie” balas Fany. Siwon melepas masker oksigennya. Fany terkejut dengan tindakkan Siwon. Namun belum sempat ia protes bibirnya sudah dibungkam oleh siwon.

CHU~

“Morning kiss baby” kata siwon tanpa dosa. Sedangkan Fany masih terkejut dengan perlakuan siwon yang tiba-tiba. Setelah berhasil tersadar dari kekagetannya Fany langsung meninggalkan siwon dengan wajah merah karena malu. Dan siwon.? Hanya terkekeh melihat yeojachingu-nya blushing.

At Icheon International Airport

Gate A, VIP Arrived Place

Seorang gadis dengan kacamata Gucci dan pakaian casual yang sangat menawan nampak menarik kopernya. Sambil matanya mencari sesorang, dan begitu menangkap sosok yang dicarinya gadis itu langsung menghampirinya. Orang yang jadi incaran gadis itupun langsung menoleh saat merasakan bahunya ditepuk. Langsung dipeluk erat gadis tersebut olehnya.

“Bogoshipo Jiwon-ah”

“Nado oppa” balas gadis yang tak lain adalah Choi Jiwon yang sedang melepas rindu dengan kekasihnya Cho Kyuhyun. Setelah berpisah selama 8 hari karena Jiwon mengikuti kegiatan sekolahnya ke jepang akhirnya mereka bertemu. Kyuhyun sengaja permisi dari satu mata kuliahnya untuk menjemput sang yeojachingu. Setelah puas berpelukan mereka menuju parkir untuk mengambil mobil dan segera pulang kerumah. Bertemu dengan orang yang dirindukan oleh Jiwon. Terutama oppa-nya yang sedang sakit. Siwon. *end Author POV*

*Jiwon POV*

Senang sekali rasanya bisa kembali ke Seoul. Baru 8 hari aku meninggalkan negeri ginseng ini aku sudah merindukan berbagai hal. Dan jujur saja selama di Jepang aku selalu khawatir akan keadaan oppa-ku, Choi Siwon. Karena saat aku pergi dia belum sadar dari komanya. Namun setelah 2 hari di Jepang aku dikabarkan oleh Teuki oppa bahwa dia sudah sadar. Dan sekarang dia adalah orang kedua yang ingin aku ketahui keadaannya setelah Kyu Oppa. Perjalanan dari jepang ke seoul cukup membuatku lelah. Namun semua hilang saat aku mengobrol dengan Kyu oppa. Tak terasa setelah 45 menit menempuh perjalanan dari bandara, akhirnya mobil kami tiba di depan gerbang besar rumah mewah milik keluargaku. Kami disambut beberapa security dan para maid yang siap membawa barang-barangku. Akupun langsung masuk kedalam bersama Kyu Oppa. aku berlari kecil menuju kamar Siwon oppa. Tapi ternyata kamarnya kosong, kyu oppa pun memberitahuku kalau siwon oppa sedang sarapan di halaman belakang bersama Fany eonnie setelah sebelumnya bertanya pada maid.

Saat sudah sampai dihalaman belakang, aku tidak langsung mendatangi siwon oppa. Aku memperhatikannya dari jauh, ia tengah sarapan sambil dibantu  Fany eonni. Aku sedih melihat siwon oppa harus duduk di kursi roda. Sebelumnya saat aku masih di Jepang, Fany eonnie sempat menelfon dan memberitahuku tentang hal ini.

“Chagiya, mengapa melamun.? Katanya kau akan menemui Siwon hyung” suara kyu oppa sukses membawaku ke dunia nyata

“Ah ne oppa” balasku sambil berjalan menuju tempat Siwon oppa.

“Hei baby, bogoshipo.” Fany eonnie menghampiri sambil memelukku. Akupun membalasnya

“nado Eonie”. Aku pun mendekati siwon oppa yang duduk di kursi roda. Ia tengah asyik dengan laptopnya di meja dekat kolam renang kami.disampingnya terdapat banyak sekali obat dan sarapan yang belum dihabiskan.

“Wonnie, let’s see who come” kata Fany eonnie pada siwon oppa. iapun berbalik dan tersenyum menampilkan 2 lesung pipi yang indah sambil merentangkan tangannya untuk memelukku. Akupun mensejajarkan tubuhku agar Siwon oppa bisa memelukku. Kami berpelukan melepas rasa rindu. Kuperhatikan tubuhnya sedikit lebih kurus dan bahkan pipinya tirus.

“Oppa sangat merindukanmu baby” kata siwon oppa sambil mengacak rambutku.

“Aku juga oppa” balasku dan memeluknya sekali lagi. Kulihat Kyu oppa dan Fany eonnie tersenyum melihat tingkah kami berdua. Setelah puas akupun berdiri.

*end Jiwon POV*

*Siwon POV*

Kehidupan kita ini tak ubahnya bagaikan roda yang terus berputar. Ada saat dimana kita diatas. Namun sudah hukum alam bila suatu saat kita juga akan berada di bawah. Mungkin saat ini aku sedang berada di roda kehidupan yang di bawah. Aku sadar dengan kondisiku saat ini tak banyak yang bisa kulakukan. Hal yang paling kutakutkan adalah sendiri berjuang menghadapi semua ini. Aku adalah namja lemah tanpa dukungan dari orang-orang yang setia berada disisiku. Namun aku bersyukur karena mereka mau menerima kekuranganku dan memebriku dukungan. Hari ini dongsaenku pulang dari Jepang. Aku senang karena rumah tidak akan sepi lagi. Setelah menghabiskan sarapan pagiku, ia mendorongku masuk kedalam rumah. Menggantikan Fany yang biasanya dengan setia akan membantuku mendorong kursi roda. Kami memutuskan untuk berkumpul diruang keluarga. Aku dibantu pindah untuk duduk di sofa. Aku berusaha untuk meluruskan kaki namun sia-sia. Kyuhyun pun membantuku. Setelah nyaman, beberapa maid membawa soft drink dan kue untuk kami.

“oppa kau tahu, di Jepang aku sempat mecicipi Green Tea cupcakes. Mashita” kata Jiwon di sela-sela ceritanya.

“lalu kenapa kau tak bawa untuk kami.?” Tanya Fany

“karena aku membelinya saat mengunjungi daerah Osaka. Kalau aku beli pasti sampai di Seoul sudah rusak” Jiwon memberi penjelasan. Entah kenapa aku selalu merasa mengantuk setiap meminum obat dari Dr. Kim. Namun untuk saat ini aku benar-benar tidak ingin melewatkan waktu berkumpul bersama seperti ini. Minus Teuki Hyung yang sedang bekerja.  Tapi kurasa gagal, karena tanpa sadar aku sudah memejamkan mataku.

*end Siwon POV*

 

Love in Hurts-5

*Tiffany POV*

Aku terkesan dengan tanggung jawab Siwon pada pekerjaannya. Saat sakit seperti sekarang pun ia masih bekerja layaknya orang normal. Menandatangi setumpuk dokumen, memeriksa laporan keuangan, bertemu relasi bisnis dan lain sebagainya ia lakukan dengan serius dan memuaskan. Tapi ia melakukan semuanya di rumah. Ini juga permintaanku agar ia tidak terlalu memforsir tenaganya.

“Oppa, apa kau tidak lelah?” tanyaku saat mengunjungi rumahnya pada jam makan siang.

“Anniyo changi, sebulan lebih bermalas-malasan membuatku rindu dengan semua ini” candanya. Saat ini ia sedang memeriksa laporan stok barang akhir tahun perusahaannya.

“Baiklah tuan choi. Siapa yang tidak tahu sifat aslimu hmm?” aku memeluknya dari belakang. Ia tersenyum dan fokus dengan pekerjaannya.

Aku memang bukan lagi gadis 17tahun yang akan merengek pada kekasihnya saat tidak diperhatikan. Tapi pengecualian, saat ini mood ku sedang tidak dalam kondisi baik. Pekerjaan di kantor yang menghimpitku saat akhir tahun seperti ini, ditambah lagi sikap siwon yang mengacuhkanku sejak tadi. Arghhh kuputuskan untuk meninggalkannya.

“Kau mau kemana Fany-ya?” tanya siwon saat aku akan keluar dari ruang kerjanya.

“Makan siang. Lagi pula aku tidak mau menghabiskan waktu makan siangku untuk berdiam diri seperti ini” ketusku. Ia mendekatiku dan menarik lembut tanganku.

“Kau marah Nona Hwang?” ucapnya innocent

“Tidak”

“Yes you do. Ayo makan siang bersama.” Dan sekali lagi ia sukses membuatku luluh dengan tatapan dibalik kaca mata minusnya yang cukup tebal. Oh mata indah itu. Yang selalu mengagumkan dan membuatku terpana.

“Tunggu.! Biar aku yang melakukannya” kata siwon saat aku akan menyuapkan sesendok sup kimchi ke mulutku. Akhirnya ia menyuapiku. Oh sungguh makan siang yang….eerr romantis. Setelah selesai akupun harus segera kembali ke kantor.

“Nanti malam jangan lupa datang. Teuki hyung sepertinya ingin menyampaikan sesuatu yang penting.” Ingatnya saat kami akan berpisah

“Ne, bye. Sampai jumpa nanti malam”

*end Tiffany POV*

*Author POV

Dugaan siwon benar. Teuki memang akan menyampaikan sesuatu yang penting malam ini. Hal menyangkut hubungannya dengan Jessica. Dan itu adalah rencanya menikah dalam waktu dekat ini. Sebelumnya mereka sudah berdiskusi dengan keluarga masing-masing dan mendapat restu. Namun karena kesibukan kedua keluarga, jadilah mereka diberi kepercayaan untuk mengatur pernikahannya sendiri. Maka dari itu Leeteuk dan Jessica membutuhkan bantuan dongsaeng-dongsaeng mereka.

“Kami berencana akan menikah akhir tahun ini” kata teuki mantap

“Jinja hyung?” tanya siwon tak percaya

“Ne, itupun kalau kau tidak keberatan Siwon”

“Aku?”

“Ya, kami akan menunda pernikahan kami jika kau keberatan karena masih harus menjalani terapi.” Kata Jessica

“Oh tidak, tidak. Justru kalian akan menjadi motivasiku untuk pulih. Karena aku ingin segera menyusul kalian dengan Tiffany” ucapan siwon membuat semua orang disana tertawa. Sedangkan tiffany hanya menunduk malu.

“Baiklah, tapi sebelumnya kami membutuhkan bantuan kalian.”

“Kami siap eoni, selama kami bisa membantu” sahut Jiwon

“Terima kasih” jawab Leeteuk dan Jessica.

Tugas Jiwon adalah membantu Jessica merancang busana pernikahan. Sedangkan Tiffany mengatur segala keperluan resepsi maupun gereja. Mereka semua kompak menjalankan tugas masing-masing. Tak terasa, tinggal seminggu lagi sebelum pengikatan janji suci Teuki dan Sica

“Apa eonie takut?” tanya Fany pada Sica

“Itu pasti, namun aku berusaha menekannya”

“Gwenchana, semua pasti baik-baik saja.” Tiffany mengelus lembut tangan sica. Mencoba mengalirkan ketenangan.

Seoul, 20-12-2012

Suasana salah satu hotel berbintang di Seoul nampak meriah dengan warna putih dan biru muda sepanjang hari itu. Hiasan bunga segar memenuhi ballroom, karpet merah terbentang bagai jalan raja dan ratu, beberapa foto pre wedding yang anggun dan tidak terkesan sok mesra dipasang dibeberapa titik ruangan itu. Musik pengiring yang merdu mengalun lembut sejak tadi. Para undangan berbaur memberi selamat pada keluarga.

Di seluruh ruangan, panitia wedding organizer sibuk memastikan perhelatan megah itu berlangsung sempurna. Mereka memastikan semua tamu, termasuk tamu-tamu kehormatan seperti Presdir, Mentri maupun tokoh lain mendapat perlakuan yang seharusnya. Pasangan pengantin itu terus tersenyum sambil terus menerima ucapan selamat dari hadirin. Choi Leeteuk nampak tampan dan Jessica nampak cantik. Mereka seperti putri dan raja semalam.

Sedangkan di bagian lain ballroom tersebut, Siwon dan Tiffany masih asik mengobrol. Mereka juga larut dalam hingar bingar pernikahan si sulung keluarga Choi.

“Jadi bisa dong ya?” tanya siwon sambil mengangsurkan segelas minuman dingin pada Fany

“Bisa apanya?” tanya Fany, matanya mengawasi petugas catering yang sedang menata hidangan

“Menikah dua atau tiga bulan lagi” ujar siwon sangat pelan. Takut terdengar orang yang berada di dekatnya

“Is up to you Siwon. Bukankah tanpa kau tanyapun sudah tau jawabanku?”

Siwon tertawa geli “Oke oke, if you ready how if tomorrow?”

“Oh siwon, go away” Fany merasa sebal dengan candaan siwon.

“Siwon, please…” Fany memohon ketika dilihatnya Jiwon dan Kyuhyun sedang memperhatikan mereka. Siwon pun tersenyum tak tega dan meninggalkan tempat itu.

Setelah selesai bersalam-salaman kedua belah keluarga bersiap berfoto. Setelah itu Jessica membisikan sesuatu pada teuki. Rupanya tiba saat acara pelemparan buket bunga.

“1..2..3..Hup.!” suara announcer menggema.

Tanpa disangka tiffany menangkap buuket bunga tersebut. Menurut cerita, orang yang menerima bunga itu akan menyusul ke jenjang pernikahan berikutnya. Apa mungkin….

Jeju Island, Seoul. December, 11 2013

“Apa kau bahagia?” tanya seorang pria sambil melingkarkan tangan kekarnya di pinggang ramping seseorang

“Tidak lebih bahagia saat mendengarmu mengucapkan janji suci” yeoja tadi berbalik dan memeluk pria yang sudah resmi menjadi suaminya sejak kemarin.

“Jeongmal Saranghae Choi Mi Young”

“Nado Saranghae Choi Siwon” dan perlahan Siwon mencium lembut bibir Fany. Saat ini mereka sedang menghabiskan waktu honey moon mereka di Pulai Jeju setelah melangsungkan pesta pernikahan di Seoul.

Fany berhasil mencapai puncak karirnya dan posisi manager tepat sebulan yang lalu. Dan ia seperti mendapat hadiah yang silih berganti datang. Fany merasa sangat bahagia. Dan seperti belum berakhir, Choi Siwon, namja yang menjadi kekasihnya datang untuk menyaksikkan pelantikannya. Kebahagiaan Fany bertambah saat siwon membuat sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

 

FLASH BACK

Hari ini adalah hari dimana Fany akan dilantik sebagai manger baru perusahannya. Ia bangga, sudah berhasil mewujudkan keinginan kekasihnya. Meski ia sendiri sedikit sedih karena tak mendapat ucapan selamat dari Siwon. Padahal ia sudah memberitahunya dan pastinya siwon sudah tau. Tapi hingga Fany memasuki ballroom tempat acaranya berlangsungpun siwon belum memberi kabar.

“Hey, mengapa murung begitu?” tanya Kyle, salah satu teman Fany.

“Ah ani, hanya saja aku sedang menunggu sesorang”

“Memangnya siapa?” tanya Kyle lagi

“Tenang eon, Siwon oppa akan memberimu selamat”

“Jiwon?” kaget Fany saat melihat Jiwon sudah berada di belakangnya. Bukan, bukan karena bagaimana caranya ia bisa memasuki tempat ini. Karena hal itu adalah hal mudah bagi anak salah satu relasi perusahaan ini.

“Ne eon ini aku. Selamat atas pelantikanmu”

“Gomawo” ucap Fany sambil memeluk Jiwon. Tanpa ia sadari sebulir air mata sudah meluncur bebas dari matanya. Entahlah hanya saja ia ingin menangis untuk saat ini. Sedih, kecewa, bahagia dan haru menjadi satu. Semua bebannya serasa lepas saat ia memeluk adik tunangannya itu.

“Uljima, make up mu luntur eon. Kajja sepertinya acara akan segera dimulai” dan

merekapun segera menuju tempat acara.

Saat nama Fany dipanggil, tepuk tangan terdengar paling meriah. Setelah

Ia maju untuk pelantikan, mendadak seluruh lampu diruangan itu padam. Dan beberapa saat kemudian, lampu sepanjang pintu masuk ruangan tersebut menyala. Ketika pintu tersebut dibuka, menampilkan seorang pria tampan tersenyum dengan membawa sebuket mawar putih. Perlahan ia melangkah mendekati podium.

“Mungkin ini terkesan norak, tapi apakah kalian keberatan jika aku ingin berbagi kebahagian dengan semuanya yang disini?” Choi Siwon datang dengan balutan tuxedo rapi dan telah merancang ini semua.

Ia mendekati Fany kemudian sedikit demi sedikit fokus cahaya hanya kepada pasangan itu.

“Tiffany Hwang, terima kasih sudah berhasil mewujudkan keinginanku. Tetap setia berada disampingku saat aku terpuruk. Dan sekarang aku yakin, would you marry me Hwang Mi Young?”

“Ne.. I.. do” jawab Fany dengan suara bergetar menahan tangis haru. Tepuk tangan membahana di ruangan tersebut. Semua yang ada disana menjadi saksi pasangan ini.

End of Flash Back

Dan setelah kejadian itu mereka mulai menyiapkan segala sesuatu sebelum pernikahan mereka. Konsep pangeran dan putri menjadi pilihan pasangan ini.

*Fany POV*

Siapa yang menyangka aku akan resmi menyandang status sebagai Ny. Choi? Istri dari lelaki yang tidur disampingku. Aku bahagia. Sangat bahagia, ini seperti mimpi. Aku melewatkan bulan madu ku selama seminggu. Karena aku dan siwon sama-sama akan bersikap profesional terhadap pekerjaan yang sudah menunggu.

Siwon oppa menjabat sebagai Presiden Direktur perusahaan keluarganya. Dan pagi ini kami mulai aktifitas masing-masing. Sepertinya siwon oppa masih karena kami baru tiba di seoul tadi malam.

“Oppa, irreoa. Ppali, kau tak ingin terlambat bukan?”

“Eunggh..” lucu juga ekspresinya saat bangun tidur.

“Ayo bangun, aku akan buat sarapan untuk kita” kataku sambil membuka tirai apartemen kami. Sebenarnya kami tidak ingin tinggal di apartemen, namun berhubung rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami sedang dalam tahap finishing jadilah kami harus tinggal sementara disini.

“Kau tidak ingin memberiku morning kiss?” katanya seperti seorang anak kecil yang merengek ingin dibelikan permen

“Aish, kau belum mandi oppa”

“Hmm arra,” akhirnya ia bangkit dan mengambil handuk kemudian segera mandi. Akupun turun untuk menyiapkan sarapan.

Tidak sulit untuk membuatkan seorang Choi Siwon sarapan. Ia tidak bisa makan makanan padat saat sarapan. Hanya pancake atau waffle ditemani segelas esspresso. Itu adalah menu WAJIB.

“Morning yeobo” katanya sambil memberiku ciuman singkat

“Morning oppa,”

“Apa hari ini kau bekerja?” tanyanya sambil mengambil selembar pancake

“Tentu, tapi agak siang karena aku harus meninjau lapangan”

“Oh begitu, bagaimana kalau nanti malam kita ke rumah appa?”

“Ide bagus, aku juga sudah merindukan Jiwon”

“Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu. Hati-hati” aku mengantarnya sampai di depan pintu apartemen kami.

“Oppa, wait..!” aku menghentikan langkahnya dan segera menghampirinya

“Terima Kasih” ucapnya saat aku selesai membenarkan letak dasinya.

“Ne , hati-hati oppa”

*End Fany POV*

*Siwon POV*

Kebahagiaanku semakin lengkap setelah resmi menjadi suami Fany. Ia merupakan sosok istri yang sangat ideal. Ia bisa memposisikan dirinya sebagai wanita karir namun masih bertanggung jawab sebagai seorang istri.

“Oppa, apa semua barang mu sudah kau cek?” tanyanya

“Sudah changiya, aku sudah memeriksanya. Apa kau sudah siap?” ia mengangguk sebagai jawaban. Hari ini kami akan pindah ke rumah baru kami. Tidak baru sih hanya baru selesai saja hehe. Setelah memastikan semua barang sudah terangkut kami menuju rumah yang akan menjadi tempat untuk menata rumah tangga kami.

Tak terasa kami sudah menempati rumah ini selama 3 bulan. Dan pagi ini aku dikejutkan dengan Fany yang terus saja muntah-muntah.

“Fany ah gwenchana? Wajahmu pucat” kataku

“Gwenchana oppa, aku hanya pusing” jawabnya. Tapi saat ia akan keluar dari kamar tiba-tiba ia jatuh pingsan

“Astaga, Fany” aku segera membawanya ke kamar dan menghubungi dokter.

*end Siwon POV*

*Author POV*

Suara tangisan bayi menggema di rumah mewah ini. Choi Jinsin. Putri pertama pasangan Siwon-Fany. Saat Fany pingsan di depan kamarnya, ia dinyatakan positif hamil. Semua keluarga ikut bahagia. Dan sekarang adalah seminggu sebelum hari natal, Fany dan siwon berencana untuk mengunjungi orang tuanya.

“Cup..cup..cup baby sabar ya, eomma sedang mandi. Kajja bermain bersama appa” bujuk siwon pada putri kecilnya yang baru berusia 11 bulan. Dan seolah mengerti Jinsin berhenti menangis.

“Ternyata kalian disini” Fany menhampiri anak serta suaminya tersebut.

“Tadi jinsin menangis, jadi kuajak bermain saja” kata Siwon. Fany kemudian mengambil Jinsin dan menggendongnya.

“Kajja oppa, kita berangkat”

“Ne” mereka pun masuk ke mobil dan segera menuju kediaman keluarga Choi.

Natal kali ini mungkin akan menjadi natal yang bahagia. Selalu terasa lebih bahagia dari natal-natal sebelumnya. Seluruh keluarga Choi berkumpul, Tn. Dan Ny. Choi sengaja datang dari New York untuk melihat putri bungsunya. Juga untuk melihat cucu dari anak kedua mereka. Tak ketinggalan Leeteuk dan Jessica pun mengambil penerbangan terakhir untuk sampai sebelum orang tua mereka yang lebih memilih untuk menggunakan Jet pribadi.

“Aiigo cucu eomma sudah besar” kata ny choi sambil menggendong Jinsin yang tertidur karena kelelahan setelah berceloteh riang sepanjang perjalanan dari rumahnya.

“Eonie mana si kembar?” tanya Fany saat jessica dan leeteuk datang tanpa putra-putra mereka

“Ah, Jinho dan Minho sedang mengambil koper mereka masing-masing. Mereka tidak mau kejadian tahun lalu terulang” lucu rasanya mengingat hal tersebut. Jinho yang tertukar kopernya dengan sang kakak harus menangis semalaman karena mengira boneka tazmanianya tertinggal di Manhattan. Tapi ternyata koper mereka tertukar saat boarding di airport.

“Bogoshipo hyung” peluk siwon pada hyungnya. Maklum mereka sudah hampir 6 bulan tidak bertemu setelah sebelumnya siwon sempat berkunjung ke manhattan.

“Nado siwon, kau terlihat lebih dewasa.” Siwon membalasnya dengan senyuman.

“Eheem…” kyuhyun berdeham untuk mencari seluruh perhatian.

“Kami tau kau ada evil” kata Fany. Dan semuanya tertawa. Jiwon memeluk eomma dan appa yang sangat ia rindukan. Ia lebih memilih mengambil kuliah di seoul dari pada menerima tawaran ayahnya untuk melanjutkan d Amerika.

 

December, 24 2014

Malam natal dirayakan dengan suka cita oleh keluarga Choi. Mereka menghias bersama pohon natal dan meletakkan hadiah masing-masing dibawahnya. Setelah makan malam mereka menuju kamar masing-masing. Tak terkecuali Siwon dan Fany. Mereka malam ini sedang menikmati pemandangan salju pertama yang mulai turun. Pasangan ini duduk di balkon kamar mereka. Sambil Tiffany menyandarkan tubuhnya pada suaminya. Tanpa gangguan si kecil karena sedang di monopoli oleh Jiwon yang pada dasarnya memang suka anak-anak

“Oppa, tidakkah kita seperti sebuah ulat?” tanya Fany yang membuat siwon menyerngit bingung

“Waeyo?”

“Ulat yang awalnya akan tersiksa saat melewati masa kepompong, tapi derajatnya akan terangkat setelah menjadi kupu-kupu yang indah”

“Lalu hubungannya dengan kita?”
“Bukankah, awalnya masalah datang silih berganti? Tak pelik membuat kita hampir putus asa saat kau divonis menderita penyakit oppa. Tapi lihat sekarang, begitu bahagianya kita” jelas Fany pada siwon

“Ne kau benar. Terima kasih sudah bersamaku sampai saat ini. Saranghae my smilely”

“Nado Saranghae my siwonnie”

 

 

END

 

 

 

49 thoughts on “[Re-Post]LOVE HURT

  1. aaaa lucu lucu. awalnya aku kira bakal sad ending tapi ternyata happy ending. yeeeyy!!!! segini dulu ya aku commentnya, soalnya aku mau menuju ke ff berikutnya nih. hoho! @cindypramudina

  2. author kenapa ya kok aku susah kalo koment di hp ,, jadi harus buka pake laptop supaya bisa komen ,, author cerita nya bagus ,, emhhh gmna ya kabar,a blog sifany’s heaven,,, kenapa di tutup ,, author kalo di protec aku bagi pasword nya ya🙂

  3. Ada ff re-post lagi😀
    Ini adalah salah satu dari banyak ff yg bkin aku makin suka,sayang dan cinta baget sma sifany…
    Du tunggu Re-post ff yg lainya
    SIFANY JJANG🙂

  4. Author dan semua admin sifany island, semua ff yang sebelumnya di post di sifany heaven akan di re-post di sini yaaaa? kalau iya re-post ff yang judulnya ada assistant gitu deh…..waktu sebelum sifany heaven di hack semua ff-nya ku buat di document di laptopku biar bisa dibaca, tapi yang ff judulnya ada assistant gitu aku lupa dan gak tahu kalau jadinya wp-nya di hack…..
    Btw, FF Love Hurt sukses bikin aku nangis dan pingin banget kayak Tiffany eonni bisa menjadi kekasih yang setia. Keep writing author! Author Fighting!

  5. Wahhhhh, terharu bacanya. Bersamasama melewati masa sulit yg akhirnya bisa mencapai suatu kebahagian. Ahhhh, DAEBAK !!! Keep writing thor, fighting (ง`▽´)ง

  6. Daebak….
    Kasian siwon oppa smpe putus asa gto…
    Hebat.y lg fany eonni setia bgt da d smpin siwon oppa trus…

    D tunggu ff sifany lain.y…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s